P. 1
Makalah Anak Dengan Difteri

Makalah Anak Dengan Difteri

|Views: 98|Likes:
Published by psikb

More info:

Published by: psikb on Oct 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as ODT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/30/2013

pdf

text

original

MAKALAH ANAK DENGAN DIFTERI

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN DIFTERI Disusun Oleh : 1. Anung Prapmita (07005) 6. Lusiyana (07026) 2. Dedi Sudrajat (07052) 7. Lince Romatua (07071) 3. Dewi Nopia (07053) 8. Reni Soraya (07080) 4. Evi Aristi Pertiwi (07016) 9. Rina Rizky (07036) 5. Frisda Norma (07065) 10. Yunita Hapsari (07046) AKPER RUMKIT POLPUS RS SOEKANTO JAKARTA 2009 - 2010 KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas mata ajar Keperawatan Anak I yang berjudul “Asuhan Keperawatan Anak dengan Difteri”. Dalam menyelesaikan makalah ini penulis banyak mendapatkan bantuan baik moril maupun materil dari banyak pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. KOMBES POL Yuyun Kurniasih, Skep, Mkep, selaku direktur Akper Rumkit Pol Pus Rs Soekanto Jakarta. 2. AKBP Enida Thamrin, Skm, Skep, selaku koordinator mata ajar keperawatan Anak I. 3. Harti Budi L,Skep selaku pembimbing makalah Keperawatan Anak dengan Difteri. 4. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, Baik susunan maupun isi makalah ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi perbaikan makalah ini di masa yang akan datang Penulis mengharapkan dengan tersusunnya makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan mahasiswa / i Akper Rumkit Polpus Rs Soekanto pada khususnya. Jakarta, Mei 2009 Penulis i DAFTAR ISI Kata pengantar …………………………………………………. ( i ) Daftar isi ……..………………………………………….. (ii) BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang ……….………………………………………… ( 1 ) B. Tujuan Penulisan ……….………………………………………… ( 2 ) C. Ruang Lingkup ……….………………………………………… ( 2 ) D. Metode Penulisan ……….………………………………………… ( 2 )

..................................... ( 6 ) 1.……………….. Patofisiologi a) Etiologi ……………………………………………....... ( 9 ) D........ usia dibawah 15 tahun....... Pelaksanaan Keperawatan …………………………………………………… (15) BAB IV Penutup A... ( 8 ) C. difteri merupakan penyebab umum dari kematian bayi dan anak-anak muda......... Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri corynebacterium diphtheria yaitu kuman yang menginfeksi saluran pernafasan.... Pengertian ………………….......... (10) BAB III Asuhan Keperawatan A...... yaitu sampai menimbulkan kematian... ( 5 ) c) Manisfestasi klinis ……………………....…………………….. Pengkajian Keperawatan …………………...... Penyakit ini juga dijmpai ... terutama bagian tonsil.. Penatalaksanaan ……………………...... ( 6 ) d) Komplikasi ……………………..................... Penderita difteri umumnya anak-anak..............……………………………… ( 4 ) B. (12) B....................... Dilaporkan 10 % kasus difteri dapat berakibat fatal... Latar Belakang Difteri merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (contagious disease)... Selama permulaan pertama dari abad ke-20........... Perencanaan Keperawatan …………………………………………………… (12) D..........………………………………………… ( 3 ) BAB II Tinjauan Teori A.......... juga melalui batuk dan bersin penderita.......E......A Klasifikasi ……………………. Sistematika Penulisan ……….............. Gambar ……………………...... Diagnosa Keperawatan ...... Saran …………………………………………………… (17) Daftar Pustaka ii BAB I PENDAHULUAN A...…… ( 5 ) b) Perjalanan Penyakit ......... (12) C... Kesimpulan …………………………………………………… (16) B................ Nasofaring (bagian antara hidung dan faring atau tenggorokan) dan laring. udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh...... Penularan difteri dapat melalui hubungan dekat.

Tetanus). Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah : 1. Oleh karena itu. penyakit difteri jarang dijumpai. dikatat dan sumber ilmiah lain yang berhubungan dengan judul dan permasalahan dalam karya tulis ini. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksi difteri akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Tujuan Umum a) Untuk memenuhi tugas Mata Ajar Keperawatan Anak dengan Difteri b) Diperoleh pengalaman dalam membuat Asuhan Keperawatan Anak dengan Difteri 2. Sejak diperkenalkan vaksin DPT (Dyptheria. yang terdiri dari Latar belakang. pejalanan . Sistematika Penulisan Makalah ini terjadi dari 4 bab yang disusun secara sistematika dengan urutan sebagai berikut : BAB I : Pendahuluan. Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit. menjaga kebersihan diri sangatlah penting. Pertusis. D. Tujuan. karena berperan dalam menunjang kesehatan kita. B. Tujuan Khusus a) Mampu melakukan pengkajian pada anak dengan Difteri b) Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien anak dengan Difteri c) Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada anak dengan Difteri d) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien anak dengan Difteri e) Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada anak dengan Difteri C. E. Vaksi imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. yaitu dengan mengumpulkan data. dan studi kepustakaan dengan mempelajari bukubuku. Metode penulisan. patofisiologi (yang terdiri dari etiolagi. Metode Penulisan Dalam penulisan makalah ini. BAB II : Tinjauan Teoritis yang meliputi pengertian. menganalisis dan menarik suatu kesimpulan. Ruang Lingkup Dalam penyusuna makalah ini penulis hanya membatasi masalah mengenai Asuhan Keperawatan pada anak dengan Difteri. Ruang lingkup.pada daerah padat penduduk dingkat sanitasi rendah. dan sitematika penulisan. penulis menggunakan metode deskriftif.

BAB III : Asuhan Keperawatan yang terdiri dari Pengkajian keperawatan. Patofisiologi a. buku pegangan pediatric. (Merensien kapian Rosenberg.com) Difteri adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tansil. susu dan lender yang telah mengering. hidung. Diagnosa keperawatan. faring. Masa inkubasi 1-7 hari (rata-rata 3 hari). biasanya ditenggorok dan paling sering pada bulan-bulan dingin pada daerah beriklim sedang.com) 2. Bakteri ini ditularkan melalui percikan ludah yang dari batuk penderita atau benda maupun makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri.penyakit. 337) Difteri adalah suatu infeksi. BAB IV : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran BAB II TINJAUAN TEORI 1. komplikasi). Penyakit ini menyerang bagian atas murosasaluran pernafasan dan kulit yang terluka. tetapi tahan hidup sampai beberapa minggu dalam es. Pengertian Difteri adalah suatu penyakit infeksi toksik akut yang menular. Tanda-tanda yang dapat dirasakan ialah sakit letak dan demam secara tiba-tiba disertai tumbuhnya membrane kelabu yang menutupi tansil serta bagian saluran pernafasan. Pelaksanaan keperawatan. Biasanya bakteri berkembang biak pada atau disekitar permukaan selaput lendir mulut atau tenggorokan dan menyebabkan peradangan beberapa jenis bakteri ini menghasilkan teksik yang sangat kuat. air. b. Etiologi Penyebabnya adalah bakteri corynebacterium diphtheriae. disebabkan oleh corynebacteri um diphtheriae dengan ditandai pembentukan pseudomembran pada kulit dan atau mukosa. Evaluasi keperawatan. Perjalanan Penyakit . adakalanya menyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau vagina. edisi 2 Hal. Hal. laring. Difteri adalah suatu infeksi demam akut. akut yang mudah menular dan yang sering diserang adalah saluran pernafasam bagian atas dengan tanda khas timbulnya “pseudomembran”. dan penatalaksanaan. Hasil difteria akan mati pada pemanasan suhu 60oc selama 10 menit.podnova. (Ngastiyah perawatan anak sakit. diphtheriae).Perencanaan keperawatan. 41) Diferi adalah penyakit akibat terjangkit bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriae (c. manifestasi klinis. (www. Dengan adanya imunisasi aktif pada masa anak-anak dini.padnova. (www. yang dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan otak.

Difteria faring dan tonsil (difteria fausial) Paling sering dijumpai (I 75%). Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai foring dan laring. polimorfonukleus. Difteria hidung Gejalanya paling ringan dan jarang terdapat (hanya 2%). mulainya seperti radang akut tenggorok dengan suhu yang tidak terlalu tinggi dapat ditemukan pseudomembran yang mula-mula hanya berapa bercak putih keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring. a. penurunan jumlah eritrosit dan kadar albumin. 3. tetapi kemudian secret yang keluar tercampur sedikit yang berasal dari pseudomembren. Manifestasi Klinis Masa tunas 3-7 hari khas adanya pseudo membrane. Hal ini disebabkan oleh paresisi palatum mole. Gejala mungkin ringan.c. Gejala ini biasanya disertai dengan gejala khas untuk setiap bagian yang terkena seperti pilek atau nyeri menelan atau sesak nafas dengan sesak dan strides. Mula-mula hanya tampak pilek. pucat nyeri kepala dan anoreksia sehingga tampak penderita sangatlemah sekali. Diftheria Laring dan trachea Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil (3 kali lebih banyak dari pada primer . selanjutnya gejala klinis dapat dibagi dalam gejala umum dan gejala akibat eksotoksin pada jaringan yang terkena. sedangkan gejala akibat eksotoksin bergantung kepada jaringan yang terkena seperti iniokorditis paralysis jaringan saraf atau nefritis. Klasifikasi : 1. Pada pemeriksaan darah dapat terjadi penurunan kadar haemoglobin dan leukositosis. sedangkan pada urin mungkin dapat ditemukan albuminuria ringan. 2. Pada penyakit yang lebih berat. Gejala umum yang timbul berupa demam tidak terlalu tinggi lesu. nafas berbau dan timbul pembengkakan kelenjar regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck) Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stridor inspirasi walaupun belum terjadi sumbatan faring. Hanya berupa radang pada selaput pada selaput lendir dan tidak membentuk pseudomembran. dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita.

Komplikasi a. Aluran Pernafasan Obstruksi jalan nafas dengan segala bronkopnemonia atelaktasio b. kelainan dapat mengenai otot muka. Urogenital Dapat terjadi Nefritis d. maka harus dilakukan desentitisasi dengan cara besderka b. 3. Kortikosteroid obat ini di maksudkan untuk mencegah timbulnya komplikasi miokarditis yang sangat berbahaya. 3. Pada pemeriksaan laring tampak kemerahan sembab. sehingga dapat mengakibatkan strabisinus gangguan akomodasi.000 untuk kgbb/hari sampai 3 hari bebas panas. Penatalaksanaan Medis a. dilatasi pupil atau ptosis. banyak secret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran. kesukaran menelan sifatnya reversible dan terjadi pada minggu ke satu dan kedua. Paralisis / paresis otot-otot mutu.mengenai laring. Dapat pula timbul di daerah konjungtiva. yang setelah minggu ke tiga. istirahat mutlak ditempat tidur. Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck. isolasi penderita dan pengawasan yang ketat atas kemungkinan timbulnya komplikasi antara lain pemeriksaan EKG tiap minggu. Paralisis umum yang dapat timbul setelah minggu ke 4. . d. c. Susunan daraf Kira-kira 10% penderita difteria akan mengalami komplikasi yang mengenai system susunan saraf terutama system motorik Paralisis / parese dapat berupa : 1. Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan trake ostomi sebagai pertolongan pertama. vagina dan umbilicus. Paralasis / paresis palatum mole sehingga terjadi rinolalia. leher anggota gerak dan yang paling penting dan berbahaya bila mengenai otot pernafasan. Slanosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium. Penatalaksanaan Mandiri Terdiri dari : Perawatan yang baik. ditambahkan kloramfenikol 75 mm/kg bb/hari dibagi 4 dosis. Gejala gangguan jalan nafas berupa suara serak dan stridor inspirasi jelas dan bila lebih berat dapat timbul sesak nafas hebat. Anti Diphteria Serum (ADS) diberikan sebanyak 20.000 untuk hari selama 2 hari berturut-turut dengan sebelumnya dilakukan uji kulit dan mata bila ternyata penderita peka terhadap serum tersebut. Kardiovaskuler Miokarditir akibat toksin yang dibentuk kuman penyakit ini c. Diftheria Faeraneus Merupakan keadaan yang sangat jarang sekali terdapat. 2. Dapat diberikan prednison 2 mg/kkbb/hari selama 3 minggu yang kemudian dihentikan secara bertahap. Penatalaksanaan 1. Tan Eng Tie (1965) mendapatlan 30% infeksi kulit yang diperiksanya megandung kuman diphtheria. 2. Antibiotika diberikan penisilan 50. Pada penderita yang dilakukan trakeostomi. 4.

Suction jalan nafas jika terdapat sumbatan . Tidak efektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan jalan nafas efektif KH : Jalan Nafas Kembali Normal Intervensi : 1. Resiko penyebarluasan infeksi berhubungan dengan organisme virulen 3. Atur posisi kepala dengan posisi ekstensi 3. status immunisasi 2. Diagnosa Keperawatan 1. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang. tonsil/faring. dan laring 3. Perencanaan Keperawatan 1.4. Pengkajian Keperawatan 1. Kaji tanda-tanda yang terjadi pada Nasa. Resiko kurangnya volume cairan berhubungan dengan proses penyakitnya (metabolisme meningkat. 4. intake cairan menurun). 3. Tidak efektif bersihan jalan Nafas berhubungan dengan obstruksi pada jalan nafas 2. Kaji status pernafasan. Riwayat Keperawatan. Lihat dari Manifestasi klinis berdasarkan atur patofisiologi 2. observasi irama dan bunyi pernafasan 2. Riwayat terkena penyakit infeksi. Gambar Penyakit Difteri Diftheria Faeraneus Bull’s neck Pseudomembrane diphtheria BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1.

Berikan oksigen sebelum dan setelah dilakukan suction 5. 3. Lakukan Intubasi jika ada indikasi. KH : Anak dapat mempertahankan keseimbangan cairan Dehidrasi tidak terjadi Intervensi : 1. Kolaborasi untuk pemberian nutrisi parenteral 4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang kurang. Resiko Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan organisme Virulen Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perluasan infeksi tidak terjadi. 6. Tempatkan anak pada ruang khusus 2. Evaluasi :  Keseimbangan cairan dapat dipertahankan 4. Kaji adanya tanda-tanda Dehidrasi (membrane mukosa kering. Persiapkan anak untuk dilakukan trakeostomi 7. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan volume cairan terpenuhi. frekuensi denyut jantung dan pernafasan. Evaluasi :  Tanda-tanda kebutuhan nutrisi terpenuhi . (APD). Pertahankan isolasi yang ketat di RS 3. Resiko tinggi tejadinya kekurangan volume cairan berhubungan dengan penyakit (Metabolisme meningkat. Kaji ketidakmampuan anak untuk makan 2. Berikan Antibiotik sesuai Intruksi dokter Evaluasi :  Penyebarluasan infeksi tidak terjadi. Pasang NGT untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak 3. membran mukosa) yang adekuat. Gunakan Prosedur terlindungi infeksi jika melakukan kontak dengan Anak. lingkar lengan. 2. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral jika pemberian cairan melalui oral tidak memungkinkan. Produksi urin menurun. kulit kurang. Monitor intake output secara tepat. 8. KH : Tidak ditemukan perluasan infeksi Intervensi : 1. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi. turgor. meningkat.4. 4. 3. Lakukan fisioterapi dada.Berat badan anak bertambah . tekanan darah menurun. KH : . Lakukan pemeriksaan Analisa Gas Darah. fontanel cekung). Monitor indicator terpenuhi kebutuhan nutrisi (berat badan.Turgor kulit baik Intervensi : 1. intake cairan menurun). pertahankan intake cairan dan elektrolit yang tepat. Evaluasi :  Jalan nafas kembali efektif 2.

maka disarankan untuk anak-anak wajib diberikan imunisasi yaitu vaksin DPT yang merupakan wajib pada anak. Agar implementasi (pelaksanaan) perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan.4. Membrane ini tidak mudah robek dan bewarna keabu-abuan. yaitu lapisan selaput yang terdiri dari sel darah putih yang mati. bakteri. Saran Karena difteri adalah penyebab kematian pada anak-anak. dkk. Selain itu juga kita dapat menyarankan untuk mengurangi minum es karena minum minuman yang terlalu dingin secara berlebihan dapat mengiritasi tenggorokan dan menyebabkan tenggorokan tersa sakit. 2000). Pelaksanaan Keperawatan Pada tahap ini untuk melaksanakan intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. penderita dengan difteri harus diberikan isolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan langsung menunjukkan tidak terdapat lagi C. B. Penularan difteri dapat melalui kontak langsung seperti berbicara dengan penderita. pakaian. dan lebih sering menyerang anak-anak. Vaksin imunisasi difteri diberikan pada anak-anak untuk meningkatkan system kekebalan tubuh agar tidak terserang penyakit tersebut. (Doenges E Marilyn. Berdasarkan gejala dan ditemukanya membran inilah diagnosis ditegakkan. melalui udara yang tercemar oleh carier atau penderita yang akan sembuh. Pertusis. BAB IV PENUTUP A. terutama laring. . Gunakan prosedur terlindungi infeksi jika melakukan kontak langsung dengan anak (APD). dan lingkungan karena difteri mudah menular dalam lingkungan yang buruk dengan tingkat sanitasi rendah. Kesimpulan Difteri adalah suatu infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri penghasil racun corynebacterium diphtheria. Sehingga orang dewasa sebaiknya menjalani vaksinasi booster (DT) setiap 10 tahun sekali. dan bahan lainnya. Anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin akan lebih rentan terhadap penyakit yang menyerang saluran pernafasan ini. Memantau dan mendokumentasikan pelaksanaan perawatan. tonsil. dan faring. Tetapi tidak jarang racun juga menyerang kulit dan bahkan menyebabkan kerusakaan saraf dan juga jantung. Tetapi sejak diperkenalkan vaksin DPT (Difteri. dan harus dilakukan pencarian dan kemudian mengobati carier difteri dan dilkaukan uji schick. Tetanus). Dan makanan yang dikonsumsi harus bersih yaitu makan makanan 4 sehat 5 sempurna. didekat tonsil dan bagian faring yang lain. juga melalui batuk dan bersin penderita. Sedangkan untuk melihat kelainan jantung yang terjadi akibat penyakit ini dilakukan pemeriksaan dengan EKG. Membran inilah penyebab penyempitan saluran udaraaau secara tiba-tiba bias terlepas dan menyumbat saluran udara sehingga anak mengalami kesulitan bernafas. penyakit difteri jarang dijumpai. Sedangkan untuk perawat. Jika membran ini dilepaskan secara paksa maka lapsan lender dibawahnya akan berdarah. Juga menjaga kebersihan badan. Pada serangan difteri berat akan ditemukan psudomembran. Bakteri ini biasanya menyerang saluran pernafasan. Tidak jarang dilakukan pemeriksaan terhadap lendir di faring dan dibuatkan biakan dilaboratorium. diphtheria 2x berturut-turut. tetapi kekebalan yang diperoleh hanya selama 10 tahun setelah imunisasi.

1999.com www. Lynda Juall.com Posted by Rheny Raya at 06:29 .Jakarta: Fkui www.Asuhan Keperawatan anak.podnova.Jakarta Supriadi.EGC.dkk.Jakarta: Sagung seto Staf pengajar Ilmu kesehatan Anak.2001.EGC.Daftar Pustaka Carpentino.Buku Saku :Diagnosa keperawatan edisi: 8 Peneterjemah Monica Ester. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3 penterjemah Monica Ester.2004.Ilmu Kesehatan Anak.medicastore. E Marlynn.Naya.Jakarta Doengoes.Pediatric.com www.2005.com www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->