P. 1
Transportasi Pasien Kritis

Transportasi Pasien Kritis

|Views: 969|Likes:

More info:

Published by: Bambang Herawansyah B on Oct 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/19/2013

pdf

text

original

PROSEDUR TETAP TRANSPORTASI PASIEN KE RUMAH SAKIT Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit.

Serangkaian tugas harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih oleh pihak rumah sakit. A. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi Tindakan di bawah ini harus diperhatikan dalam mempersiapkan pasien yang akan ditransport: 1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway), pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. 2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans.Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. Kelalaian mengunci alat dengan sempurna pada kedua ujung usungan bisa berakibat buruk saat ambulans bergerak. 3. Posisikan dan amankan pasien. Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Bukan berati bahwa pasien harus ditransport dengan posisi seperti itu. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal, ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. 4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri. 5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung. 6. Melonggarkan pakaian yang ketat. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun, jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya, termasuk memperbaiki pakaian pasien. 7. Periksa perbannya. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. 8. Periksa bidainya. Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada

rasa nyeri. atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit. kebingungan. Salah satufactor yang menentukan keberhasilan penanggulangan pasien gawat darurat adalah faktor Transportasi. 10. keributan. dan pengumpulan informasi oleh Anda akan menimbulkan kesan pengalaman yang menakutkan bagi pasien anak. menenangkan pasien. bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit. Keadaan penderita diharapkan menjadi lebih baik pada setiap tahap penanggulangan. biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi-bukan di ruang pasien. kehilangan orang tua. beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. perawatan atas cedera yang ada. tetapi bagaimana kita dapatmengangkut penderita dari tempat kejadian ke rumah sakit yang sesuai dengan cepatdan aman. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal. Naikkan barang-barang pribadi. )Penanggulangan penderita gawat darurat dilakukan pada fase pra rumah sakit. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan. pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. Jika dompet. melonggarkan pakaian. tapi juga karena merasa tiba-tiba dipisahkan dari anggota keluarga dan teman-temannya. atau mungkin diperlukan rujukan dari suatu rumah sakit ke rumah sakitlain yang mempunyai kemampuan tenaga dan fasilitas yang lebih tinggi. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. TRANSPORTASI PENDERITA GAWAT DARURAT Penderita gawat darurat dapat berupa kasus bedah ( misal : trauma gawatabdomen. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. memeriksa perban dan bidai. faserumah sakit. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya. maka tahap persiapan.tempatnya.Ada beberapa hal yang merupakan factor pendukung keberhasilan transportasipenderita gawat darurat yang meliputi : Akses Komunikasi Stabilitasi Sarana transportasi Respon timePrinsip utama dalam penanggulangan penderita gawat darurat adalah janganmembuat penyakit / cidera penderita men jadi lebih parah ( Do not further harm ). dsb. ) atau kasus non bedah ( misal : status asmatikus. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. 11. pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. Tenangkan pasien. tas.mulai dari tempat kejadian sampai kerumah sakit yang dapat member therapyparipurna. stroke. dan sensasinya 9. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. Jika barang pasien telah Anda bawa.karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Ingatan akan kejadian tabrakan. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi. koper. fungsi motorik. dll. Tidak hanya karena diikat dengan tali pengaman yang kuat atau karena berada dalam ruangan yang sempit. Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. Dengan demikian tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa . Pengertian Transportasi dalam hal ini tidak hanya sekedarmengangkut penderita ke suatu rumah sakit saja. cedera.

transportasi merupakan salah satu factor yang menentukan keberhasilan penanggulangan penderita gawat darurat.Masyarakat awam atau awam khusus diharapkan mampu melakukan : Bantuan hidup dasar ( Basic Life Support ) Mengatasi perdarahan eksternal Memasang pembalut dan bidai Memilih sarana transportasi yang sesuaiApabila yang datang ke tempat kejadian adalah tim gawat darurat ( Ambulan 118 ). TUJUAN: Memindahkan penderita/korban bencana dengan penderita/korban ke sarana kesehatan yang memadai. Apabila system pre hospital telah terbentuk. Kendaraan pengangkut (ambulance) aman tanpa memperberat keadaan 2. . KEBIJAKAN: Sarana transportasi terdiri dari: 1. Serangkaian tugas harus dilakukan sejak pasien dimasukkan ke dalam ambulans hingga diambil alih oleh pihak rumah sakit. StabilisasiMerupakan tindakan yang harus dilakukan terhadap penderita gawat darurat agarkondisi penderita ( ABCDE ) tidak semakin buruk atau meninggalkan cacat dikemudian hari.Dengan demikian tidak terjadi keterlambatan penanggulangan penderita di Unit GawatDarurat. Stabilisasi dilakukan secara optimal sesuai dengankemampuan tenaga dan sarana yang tersedia ditempat kejadian.maka dapat dilakukan : Penilaian assessment sekaligus resusitasi terhadap problem yang mengancam jiwa penderita ( ABCDE ). menentukan rumah sakit penerima penderita dan memberikan informasimengenai kondisi penderita kepada rumah sakit yang akan dituju sehingga rumah sakit tersebut dapat memberikan tenaga dan sarana yang diperlukan. maka tim gawat darurat ( Ambulan 118 )yang mendatangi penderita gawat darurat ditempat kejadian dapat melakukan stabilisasi. Didalam penanggulangan penderita trauma. Peralatan medis dan non medis. misal : Mempertahankan kelancaran jalan nafas / airway Member therapy oksigen Member bantuan ventilasi mekanik TRANSPORTASI PASIEN / HELPER SAAT KEADAAN BENCANA PENGERTIAN: Tranportasi bukanlah sekedar mengantar pasien ke rumah sakit. sebelum dilakukantransportasi maka penderita gawat darurat harus dilakukan stabilisasi agar penderitaselamat selama transportasi sampai ke rumah sakit tujuan dengan kondisi yang stabil (ABCDE tidak semakin memburuk ).

Jangan menghabiskan banyak waktu untuk merawat pasien dengan cedera yang sangat buruk atau korban yang telah meninggal.Memindahan pasien ke ambulans . 6. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk transportasi penderita/korban bencana adalah: a. Penyelimutan pasien membantu menjaga suhu tubuh. mencegah paparan cuaca. Denyut nadi 5. 7. 2. . 8. Pada beberapa kasus tertentu.Pemilihan alat yang digunakan untuk mengusung pasien.3. 4.Memasukkan pasien ke dalam ambulance 5. melakukan prosedur penanganan emergensi di tempat dia terbaring. Sebelum Diangkat: 1.Stabilisasi pasien untuk dipindahkan. Pernafasan 3. 2. Pada saat ambulans datang anda harus mampu menjangkau pasien sakit atau cedera tanpa kesulitan. Selama perjalanan harus dimonitor : 1. Keadaan luka PROSEDUR: Memindahkan pasien ke ambulans 1. 9. Patah tulang telah difiksasi b. dan yang ketiga setinggi tungkai. . kepala harus distabilkan secara manual dan penyangga leher (cervical collar) harus dipasang dan pasien harus diimobilisasi di atas spinal board. Alat angkut (carrying device) pasien harus memiliki tiga tali pengikat untuk menjaga posisi pasien tetap aman. Kesadaran 2. Gangguan pernafasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi. Pada prinsipnya. Yang pertama diletakkan setinggi dada. Perawatan luka dan cedera lain yang diperlukan harus segera diselesaikan. Pemindahan pasien ke ambulans dilakukan dalam 4 tahap berikut : . . segera transpor dengan cepat. Petugas (medis/paramedis) 4. memeriksa kondisinya. kapanpun seorang pasien dikategorikan dalam prioritas tinggi. Jika dicurigai adanya cedera spinal. Luka-luka telah ditutup 4. dan seluruh balut serta bidai harus diperiksa sebelum pasien diletakkan di alat pengangkut pasien. benda yang menusuk harus difiksasi. dan kemudian memindahannya ke ambulans. dan menjaga privasi. 3. Perdarahan telah dihentikan 3. Pasien sakit atau cedera harus distabilkan agar kondisinya tidak memburuk. Obat-obatan life saving dan life support. misalnya pada keadaan lokasi yang berbahaya atau pasien yang memerlukan prioritas tinggi maka proses pemindahan pasien harus didahulukan sebelum menyelesaikan proses pemeriksaan dan penanganan emergensi diselesaikan. Tekanan Darah 4. yang kedua setinggi pinggang atau panggul. Kadang-kadang digunakan empat tali pengikat di mana dua tali disilangkan di dada.

Selama pemindahan ke ambulans. jelaskan dahulu apa yang akan Anda lakukan dan alasannya. 7. 5. Perban yang telah di pasang dengan baik pun dapat menjadi longgar ketika pasien dipindahkan ke ambulans. sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman tetapi tidak terlalu ketat yang dapat mengganggu sirkulasi dan respirasi atau bahkan menyebabkan nyeri.maka disyaratkan untuk menggunakan tali kekang yang dapat mencegah pasien tergelincir ke depan jika ambulans berhenti mendadak. 8. Periksa setiap perban untuk memastikan keamanannya. pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan. Tandu pasien dilengkapi dengan alat pengunci yang mencegah roda usungan brgerak saat ambulans tengah melaju. Jika penderita/korban tidak mungkin diangkut dengan tandu misalnya pada penggunaan spinalboard dan hanya bisa diletakkan di atas tandu/usungan ambulans (ambulance stretcher). Alat-alat imobilisasi dapat juga mengendur selama pemindahan ke ambulans. letakkan spinal board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan. Pada pasien tak sadar yang tidak memiliki potensi cedera spinal. Pada pasien dengan kesulitan bernafas dan tidak ada kemungkinan cedera spinal akan lebih nyaman bila ditransport dengan posisi duduk. Tali ikat keamanan digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans. Periksa anggota gerak yang dibidai perihal denyut nadi bagian distal. Amankan posisi tandu di dalam ambulans. Posisikan dan amankan pasien. fungsi motorik.10. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung. Perdarahan hebat dapat terjadi ketika tekanan perban dicabut secara tiba-tiba. termasuk memperbaiki pakaian pasien. Pasien syok dapat ditransport dengan tungkai dinaikkan 8-12 inci. Melonggarkan pakaian yang ketat. Tapi sebelum melakukan tindakan apapun. Pakaian dapat mempengaruhi sirkulasi dan pernafasan. dan sensasinya. Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung. Luruskan pakaian yang tertekuk di bawah tali ikat pengaman. 2. Pasien dengan potensi cedera spinal harus tetap diimobilasasi dengan spinal board dan posisi pasien harus diikat erat ke usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway). Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Periksa alat-alat traksi untuk memastikan bahwa traksi yang benar masih tetap terjaga. Ini dilakukan agar tidak perlu membuang banyak waktu untuk meletakkan dan memposisikan papan seandainya jika benar terjadi henti jantung. 3. Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. pastikan bahwa pasien mendapat pertukaran aliran yang cukup saat diletakkan di atas usungan. Jangan menarik perban yang longgar dengan enteng. Periksa perbannya. Mempersiapkan Pasien untuk Transportasi 1. . Longgarkan dasi dan sabuk serta buka semua pakaian yang menutupi leher. Periksa bidainya. ubah posisi ke posisi recovery (miring ke sisi) untuk menjaga terbukanya jalan nafas dan drainage cairan. Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit. 6. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. 4. Perubahan posisi di dalam ambulans dapat dilakukan tetapi harus disesuaikan dengan kondisi penyakit atau cederanya. Periksa perban atau kain mitella yang menjaga bidai kayu tetap pada tempatnya.

Lakukan pemeriksaan menyeluruh dan monitor terus vital sign. Lakukan penilaian ulang vital sign setiap 5 menit untuk pasien tidak stabil dan setiap menit untuk pasien stabil. Periksa ulang perban dan bidai. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien. Perlu diingat bahwa mainan seperti boneka beruang dapat berarti banyak untuk menenangkan pasien anak yang ketakutan. Jika usaha bantuan hidup (life support) telah dimulai sebelum memasukkan pasien ke dalam ambulans. Peningkatan denyut nadi secara tiba-tiba misalnya. 7. Jika terdapat tanda-tanda henti jantung. Catat vital sign dan laporkan perubahan yang terjadi pada anggota staf bagian emergensi segera setelah mencapai fasilitas medis. minta pengemudi untuk menghentikan ambulans sementara Anda melakukan Resusitasi dan memberikan AED (defibrilator). 2. Beberkan informasi hasil pemeriksaan dan penanganan pasien yang sudah Anda lakukan. koper.karena dapat mempengaruhi proses perawatan pasien. Bila tidak ada cara lain bagi keluarga dan teman pasien untuk bisa pergi ke rumah sakit. 3.9. 13. berikan dukungan emosional. lakukan resusitasi. Gabungkan informasi tambahan pasien. Pertahankan pembukaan jalan nafas. dan beri tahu perkiraan waktu kedatangan Anda. maka tahap persiapan. Perawatan Pasien selama Perjalanan. bahkan pemeriksaan vital sign dapat ditangguhkan dan dilakukan selama perjalanan daripada harus diselesaikan tetapi menunda transportasi pasien ke rumah sakit. Jika pasien sudah sadar dan Anda telah mempertimbangkan bahwa perawatan emergensi selanjutnya tidak akan terganggu. dapat menandakan syok yang dalam. 5. memeriksa perban dan bidai. 11. 12. Beritahu fasilitas medis yang menjadi tujuan Anda. Jika dompet. beri tanda kepada pengemudi untuk memulai perjalanan ke rumah sakit. pastikan Anda telah memberi tahu polisi apa saja yang dibawa. atau barang pribadi pasien lainnya dibawa serta. Ketika anda merasa bahwa pasien dan ambulans telah siap diberangkatkan. Jika yang Anda tangani ini adalah pasien prioritas tinggi. 4. Kecemasan dan kegelisahan seringkali menerpa pasien ketika dinaikkan ke ambulans. Pastikan bahwa UGD mengetahui adanya henti jantung. Tenangkan pasien. tapi kendalikan emosi Anda. 1. maka prosedur tersebut harus dilanjutkan selama perjalanan ke rumah sakit. 6. pastikan barang tersebut aman di dalam ambulans. maka Anda dapat mulai mencari informasi baru dari pasien. Naikkan barang-barang pribadi. 10. melonggarkan pakaian. Jika barang pasien telah Anda bawa. Senyum dan nada suara yang menenangkan adalah hal yang penting dan dapat menjadi perawatan kritis yang paling dibutuhan oleh pasien anak yang ketakutan. Ikuti polisi dan isilah berkas-berkas sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bercakap-cakap terkadang berguna untuk menenangkan pasien yang ketakutan. Beri tahu pengemudi untuk menjalankan ambulans lagi setelah memastikan bahwa henti jantung telah teratasi. menenangkan pasien. biarkan mereka menumpang di ruang pengemudi . Bicaralah dengan pasien. Lanjutkan perawatan medis emergensi selama dibutuhkan. Adalah hal yang sangat membantu jika Anda memang secara rutin selalu meletakkan . Ucapkan beberapa patah kata dan tenangkan pasien dengan cara yang simpatik. dan lakukan hal lain yang diperlukan termasuk mencatat temuan baru dari usaha pemeriksaan awal (initial assesment) pasien.bukan di ruang pasien. tas. Pastikan mereka mengunci sabuk pengamannya.

7. Petugas evakuasi harus membekali diri dengan segala keperluan pribadi serta membekali diri dengan membawa alat dan obat untuk pertolongan pertama. 4. Minta diri untuk meninggalkan rumah sakit. Jika benda-benda berharga pasien dipercayakan penuh pada penjagaan anda. 5. 2. sehingga rumah sakit dapat mempersiapkan diri. 4. Korban yang tingkat kegawatannya tinggi dan beresiko mati. Korban luka berat segera dievakuasi ke RS rujukan wilayah/RS Polri / RS TNI terdekat. Mendahulukan korban yang masih bernyawa dan kemungkinan besar dapat diselamatkan. 6.jenis penyakit.. Komunikasikan rencana untuk mengangkat dan mengangkut dengan rekan anda. KEBIJAKAN 1. Segera setelah Anda tidak lagi menangani pasien. 3. Korban luka ringan dan sedang diperlakukan sama seperti masyarakat umum. 3. lebih baik ditinggalkan terlebih dahulu. EVAKUASI KORBAN BENCANA PENGERTIAN Memindahkan korban/penderita bencana dari lokasi bencana ke tempat yang lebih aman dan mengusahakan penderita/korban yang masih bernyawa untuk dapat diselamatkan. apakah memerlukan bantuan tambahan dalam mengangkat dsb.jumlah korban. siapkan laporan perawatan pra rumah sakit. Serahkan barang-barang pribadi pasien ke pihak rumah sakit. Korban yang memerlukan perawatan lebih lanjut dapat dievakuasi ke pusat rujukan melalui jalan darat/sungai/laut/udara sesuai sarana yang dimiliki. sisa SDM dan akses jalan menuju lokasi bencana. Menyampaikan hasil survey awal ke rumah sakit. 2. Bertanyalah kepada dokter atau perawat UGD apakah layanan anda masih dibutuhkan. TUJUAN Menyelamatkan nyawa penderita/korban yang masih hidup dan memindahkan penderita/korban yang sudah tidak bernyawa. Beritahu setiap perubahan kondisi pasien yang telah Anda amati. . 1. 2. 2. bantalan keras di antara matras pelbet (cot) dan punggung pasien yang memiliki resiko tinggi mengalami henti jantung. Memindahkan Pasien Ke Unit Gawat Darurat : Dampingi staf UGD bila dibutuhkan dan berikan laporan lisan atas kondisi pasien Anda.1. PROSEDUR: 1. luas wilayah.sarana dan prasarana yang tersisa. 3. Memindah Dan Mengangkat Penderita/Korban : 1. Menentukan skalasi bencana . Sebelum mengangkat penderita perlu memperhatikan beberapa hal seperti berapa berat objek. Petugas lapangan menilai tingkat kegawatan korban untuk korban luka ringan dan sedang di beri pertolongan pertama di tempat kejadian atau pos kesehatan lapangan. segera serahkan kepada staf UGD yang bertanggung jawab.

o Jaga beban sedekat mungkin dengan tubuh anda. 4. Pada saat mengangkat penderita. o Jaga beban dekat dengan tubuh anda. jika memungkinkan gunakan kursi tangga daripada tandu. o Jaga punggung tetap lurus/terkunci. . o Jaga garis tarikan melalui pusat tubuh anda dengan menekuk lutut. o Hindari mendorong atau menarik melebihi kepala. dorong atau tarik dari posisi berlutut. Diantaranya: o Posisikan kaki dengan baik. o Ketika membawa penderita pada tangga. o Ketika mengangkat dengan satu tangan. Usaha untuk berbelok atau berputar ketika mengangkat merupakan penyebab utama cedera. jika memungkinkan. Diantaranya: o Jaga punggung tetap dalam posisi lurus/ terkunci. Semakin jauh beban dari tubuh anda. o Hindari menjangkau yang berkepanjangan ketika diperlukan usaha yang besar 5. o Jika beban dibawah pinggang. jangan mengkompensasi. o Ketika mengangkat. Pada saat menjangkau penderita. Jaga punggung anda tetap lurus dan terkunci. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. o Hindari menjangkau lebih dari 15-20 inchi di depan tubuh anda. jangan berputar atau membuat gerakan lain selain mengangkat. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. Diantaranya: o Lebih baik dorong daripada tarik. bukan punggung anda untuk mengangkat. Pada saat mendorong atau menarik penderita. Kaki harus kokoh.3. menapak pada permukaan dan diposisikan sepanjang lebar bahu. o Hindari bersandar ke sisi manapun. ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. gunakan kaki anda. o Ketika mengangkat. o Hindari berputar ketika menjangkau. semakin besar kemungkinan anda cedera.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->