Munculnya kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim hampir bisa dipastikan berkaitan erat dengan perdagangan internasional antara India dan Cina dan perdagangan regional di antara daerah-daerah di Nusantara, antara daerah di Nusantara dan kawasan Asia Tenggara dan antara daerah di Nusantara dengan Cina. Dengan kemampuan untuk mengelola aktivitas perdagangan yang berlalu-lalang di kawasan Nusantara bagian barat, pada puncak perkembangannya Sriwijaya mampu mengontrol kawasan Selat Malaka dan Selat Sunda. Seperti diketahu bahwa jika suatu negara hidup dari perdagangan berarti penguasanya harus menguasai jalur-jalur perdagangan dan pelabuhan-pelabuhan tempat barang-barang dagangan itu ditimbun untuk diperdagangkan. Tindakan yang demikian ini jelas memerlukan kontrol langsung dari penguasa. Kesetiaan dan kontrol langsung merupakan persoalan yang sangat penting dalam negara maritim. Oleh karena itu Sriwijaya mengembangkan politik yang berorientasi pada kontrol atas sumber-sumber perdagangan. 1(Pierre-Yves Manguin, „Palembang and Sriwijaya: An Early Malay Harbour-City Rediscovered‟, JMBRAS 1 (66) (1993) 33). Dengan kemampuannya mengamankan alur pelayaran di kawasan selat Malaka, Sriwijaya yang berpusat di Palembang ini pada abad ke-13 mampu menguasai titik-titik simpul perdagangan di kawasan Asia Tenggara.2(Lihat R. Braddell, „An Introduction to the Study of Ancient Times in the Malay Peninsula and the Straits of Malacca‟, JMBRAS 14 (1936) 1-71). Sriwijaya sebagai sebuah negara maritim, telah mengembangkan strateginya untuk bertahan dan sekaligus untuk meneguhkan dan mengembangkan kekuasaannya. Sriwijaya telah mengembangan diplomasi internasional dengan negara-negara adidaya di sekitarnya yang diperkirakan memiliki kemampuan untuk menghancurkannya, yaitu India dan Cina. Diplomasi dengan India, misalnya, dilakukan dengan pendirian sebuah wihara di Nalanda atas perminataan raja sriwijaya yang bernama Balaputadewa. Sementara itu dengan Cina, Sriwijaya telah mengirimkan utusan yang pada intinya mengakui kekuasaan kekaisaran Cina yang patut mendapatkan upeti. Setiap saat ada ancaman terhadapnya, Sriwijaya selalu memohon bantuan Cina. Di pihak lain untuk meneguhkan dan mengembangkan kekuasaannya, Sriwijaya melakukan penguasaan-penguasaan terhadap simpul-simpul perdagangan dan arus perdagangan yang ada dengan menggunakan berbagai cara termasuk cara ekspedisi militer.3 ( J.W. Christie, „Asia Sea Trade between the Tenth and Thirteenth Centuries and Itas Impact on the States of Java and Bali‟, in: H.P. Ray (ed.), Archeology of Seafaring: The India Acean in the Ancient Period (Delhi: Pragati, 1999), hlm. 221-222). Namun Sriwijaya bukan satu-satunya kekuatan maritim yang pernah berjaya di kawasan Nusantara. Ada kekuatankekuatan maritim yang muncul di Jawa yang juga memiliki ambisi untuk mengontrol urat nadi perdagangan di perairan Nusantara khususnya kawasan sekitar Selat Malaka. Oleh karena itu hampir selalu terjadi persaingan antara Sriwijaya dengan kekuatan kerajaan-kerajaan di Jawa terutama sejak masa wangsa Isyana hingga masa Majapahit. Kerajaan Majapahit akhirnya mampu menghacurkan Sriwijaya dan menggantikan dominasinya atas kawasan di Nusantara. Kunjungan Tome Pires di pelabuhan-pelabuhan di Jawa pada awal abad ke-16 (sekitar satu abad setelah kehancuran Majapahit) mendengarkan dengan telinganya sendiri mengenai kebesaran Majapahit yang masih beredar di kalangan banyak orang pada waktu itu.4 (A. Cortesao, The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East, from the Red Sea to Japan, Written in Malacca and India in 1512-1515 (London: Hakluyt Society Series, 1944), hlm. 74. Lihat juga B.E. Colless, „Majapahit Revisited: External evidence on the Geography and Ethnology of East Java in the Majapahit Perios‟, JMBRAS 2 (1975), hlm. 124-161). Tulisan ini salah satu bukti kongkrit yang bisa memberikan pemahaman kepada kita keberadaan Sejarah Maritim sebagai salah satu bentuk sejarah bernuansa keruangan. Semacam dengan tulisan-tulisan sejarah maritim lainnya seperti tulisan Braudel tentang Laut Mediterania, Chauduri dengan Laut di Asia Tenggara, AB.Lapian dengan Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut, Susanto Zuhdi dengan Sejarah Pelabuhan Cilacap, dll. prediksi selanjutnya adalah disintegrasi yang memungkinkan menuju perpecahan bangsa.”Hal yang senada disampaikan Syafuan Rozy (2003: 121-122) bahwa konflik sosialterjadi dikarenakan oleh kondisi yang buruk dalam struktur sosial yang menyebabkanorang mudah untuk marah satu sama lain. Franz Magnis Susesno (2003: 121)mengatakan bahwa setidaknya ada empat factor tambahan dalam konflik sosial diIndonesia. Pertama, konfli budaya berhubungan dengan konflik primordialisme berdasarkan agama, ras, etnik, dan daerah. Kedua, berhubungan dengan perasaankebencian dan dendam yang terakumulasi. Orang-orang dengan mudah terprovokasi olehyang lainnyadan mereka cenderung memposisikan sikap ekslusif berdasarkan aga,a dankelompok etnik. Ketiga, sistem politik era yang baru memposisikan kekuatan militer yang cenderung untuk menyelesaikan masalah dengan pendekatan yang tidak demokratis. Pasurdi Suparlan (2003:79) juga mengatakan bahwa beberapa masyarakat plural,Indonesia di masa mendatang menjadi sensitive oleh konflik-konflik sosial yang tidak terukur yang mengancam integrasi sosial. Potensi integrasi sosial dibuat dari kompetisidari individu dan kelompok dalam bentuk “sumber sosial” menggunakan ke-etnikanuntuk menguatkan kekuatan. Mempengaruhi satu sama lain akan memanipulasi ke-etnikan sebagai sebuah jalan untuk mengumpulkan kekuatan berdasarkan solidaritas dankelompok, kemudian menggunakan ke-etnikan dalam konflik untuk memperolehkekuasaan tertentu, pada struktur kekuasaan sosial local, seperti politik dan ke-etnikansebagai potensi yang dapat menghancurkan struktur sosial dan tingkat komunitas. Untuk itu, realitas sosial kehidupan bangsa sekarang ini telah menguatkan hubungandengan realitas sejarah sosial sebelumnya. Analisa ini, dari aspek pengetahuan sosialterlihat seperti mengarahkan kita untuk pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentangmasalah kebangsaan sekarang ini secara komprehensif dan mencegah dari analisa parsialdan subjektif yang hanya akan mengaburkan masalah substantive. Oleh karena itu, studiini membutuhkan keberadaan proses dialektika antara nilai-nilai local atau integrasi nilainilai sosial kerajaan Sriwijaya dengan realitas sosial yang berjalan saat ini.Walaupun, bangsa Indonesia telah mencapai kemerdekaan sejak 63 tahun yang lalu, padaumumnya, sosial, budaya, ekonomi, jurang politik dan pendidikan masih terjadi.Terlebih, ada seseorang yang mengklaim bahwa jurang ekonomi dan sosial identik dengan tindakan dominan dari orang-orang Cina dalam bidang ekonomi. Tentu saja, pandangan dan klaim dengan cara tersebut dapat mengaburkan penguatan integrasi sosialdan integrasi bangsa. Kasus kerusuhan sosial yang berdasarkan nuansa ke-etnikan danagama pada Mei 1998 berhubungan dengan jurang sosial dan ekonomi dalam masyarakat.Lingkungan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan perkembangan kebijakan politik terhadap semua partai di masyarakat yang multikultural di Indonesia.Dalam sepuluh tahun terakhir (1997-2007), menunjukkan intensitas dan pelebarankonflik sosial di masyarakat benar-benar terjadi. Konflik sosial dapat berupa horizontaldan konflik vertical. Konflik sosisal horizontal adalah konflik yang terjadi diantaraanggota masyarakat, seperti tawuran antar kampong, etnik, dan para pemeluk agama. Nuansa konflik ke-etnikan dan agama terjadi seperti di Pontianak, Poso, Ketapang, Kupang, Sambas, dan Ambon-Maluku. Potensi konflik memiliki nuansa kesukuan,agama, ras, dan status sosial (SARA) tidak dapat dilihat ke dalam konsekuensi karenaseperti halnya “api dalam sekam” yang suatu saat dapat membara lebih dasyat lagi.Konflik sosial yang bernuansa vertical, disebut konflik antara masyarakat dengan pemerintah. Antara konfli horizontal dan certikal dapat dihubungkan dan dipicu satusama lain. Kebanyakan daerah di Indonesia memiliki separatism, dalam dimensi konflik verticalseperti kasus di Aceh, Papua, dan Maluku, memiliki muatan “sumber daya alam”. Dariindicator keberadaan level propinsu, jumlah keseluruhan dari angka investasi asingmemiliki korelasi positif dengan potensi dengan keberadaan konflik sosial. Permintaankemerdekaan dari sebagian orang di propinsi merupakan bentuk kekecewaan terhadap pemerintah dalam perkembangan hasil manajemen sumber daya yang ada. Hal inimerupakan sebuah ancaman disintegrasi sosial dan disintegrasi bangsa memberikanlegitimasi untuk memotivasi perjuangan separatism. Bagaimanapun, berbagai konflik sosial dan agama di Indonesia hampir diluar masalah idiologi keagamaan, tapi lebihdisebabkan oleh aspek-aspek lainnya, seperti ketidakadilan distribusi hasil alam. Ketika Negara kita mengalami berbagai masalah konflik sosial yang membahayakanuntuk terciptanya disintegrasi sosial dan bangsa, peran nilai-nilai local, nilai-nilaiintegrasi kerajaan Sriwijaya sangat positif dalam membangun ulang dan menguatkanintegrasi sosial dan nasional nanti. Oleh karena itu, tingkatan ancaman disintegrasi bangsa seperti dinyatakan oleh sejumlah peneliti sosial diharapkan dapat diminimalisir.Walaupun bangsa yang plural, hal ini sangat beresiko untuk munculnya konflik sosial, halini tidak berarti tidak dapat diminimalisir.Louwis A. Coser (1985:47-48), konflik merupakan disfungsi bagi sebuah kelompok. Konflik sebagai sebuah proses merupakanmekanisme yang dibentuk oleh kelompok-kelompok dan batasannya. Konflik dapatmenyatukan semua anggota kelompok melalui inagurasi ulang terhadap identitaskelompok. Kemungkinan konflik sebagai sumber dari pembuaran kelompok diejawantahkan dalam bentuk perasaan stress, isu tentang konflik, cara untuk bagaimanamenangani stress, dan pentingnya tipe struktur dimana bahwa konflik meluas. D. Implikasi Taksiran Integritas Sriwijaya Kemajuan Sriwijaya pada realitasnya paling sedikit telah ditentukan oleh kemajuanteknologi maritime, pendidikan dan pendalaman agama (etika/ moral), perdagangandunia (ekonomi), dan dukungan serta birokrasi masyarakat yang kokoh, yang dalamartikel ini disebut sebagai “nilainilai integrasi sosial” di Sriwijaya. Implikasi penting darinilai-nilai integrasi Sriwijaya, disebutkan: Pertama, sebagai kerajaan maritime yang kuat, kerajaan Sriwijaya telah memfokuskan pada potensi samudra sebagai sumber kehidupan dan kelangsungan kerajaan.Kebanyakan wilayah kerajaan memiliki beckground wilayah perairan, sehingga teknologikelautan/ perkapalan menjadi prioritas utama. Wilayah perairan tidak hanya dilihatsebagai sebuah sumber ekonomi dan transportasi tapi juga sebagai pertahanan keamanankerajaan. Perhatian pada pengembangan wilayah perairan harusnya menjadi prioritas bagi Negara kepulauan seperti Indonesia yang riskan terhadap ancaman keamanan wilayah, pembajakan, dan pencurian ikan, dsb. Kedua, pengembangan pendidikan, pengetahuan, dan penelitian pada Budhisme.Kerajaan Sriwijaya dulunya merupakan kerajaan Budhisme memiliki ikatan emosial yangkuat dengan Tiongkok, karena orang Cina yang datang ke Sriwijaya pada umumnyamemeluk Budhisme. Keberadaan kerajaan Budhisme telah mendorong I-Tsing untuk memperdalam pengetahuan agama Budhisme melalui penelitian sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi ke Nalanda, India. Inclusifisme dan toleransi beragama sangat terlihat jelas pada masa Sriwijaya. Sebagai atapnya yaitu Budhisme danyang lainnya ada komunitas Islam Cina, yang dikembangkan oleh orang-orang IslamCina yang datang ke Tiongkok. Hal ini telah menunjukkan bahwa masalah keagamaan,etika, dan moralitas menjadi elemen penting bagi sebuah kerajaan. Ketiga, aktifitas ekonomi dan perdagangan di kerajaan Sriwijaya pada masa itu telah berskala Internasional. Perdagangan menjadi prioritas utama bagi kerajaan. Hubungankerajaan tidak hanya dengan gugus kepulauan nusantara tapi juga dengan berbagai Negara luar seperti Cina, Arab, dan Persia.Yang terakhir bahwa kerajaan Sriwijaya telah mengaplikasikan “wilayah otonomi” yangwalaupun secara formal Sriwijaya di bawah sayap Cina daratan, mereka masih menikmatiotonomi yang luas. Oleh karena itu, masa ini dapat dibilang sebagai hubungan intensiveantara nusantara dengan bangsa Cina, seperti yang ditulis oleh Taher (1997:40). Tidak ada maslah perbedaan minoritas dan mayoritas, tapi rasa saling menghargai antar sesamemembutuhkan (simbiosis mutualisme) seperti yang dicontohkan oleh Sriwijaya denganCina Daratan yang focus pada nilai-nilai demokrasi, keadilan, potensi dan pluralitas. Aplikasi otonomi wilayah di Indonesia pada arti yang sesungguhnya diharapkan untuk mampu mengurangi intensitas berbagai potensi konflik sosial. Kelemahan dalamimplementasi otonomi wilayah (2001-2008) diharapkan untuk diperbaiki sebagai usahauntuk penghargaan dan kepentingan reformasi 1998, sebagai sebuah usaha untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Hal ini merupakan beberapa nilai-nilai integrasi sosial yang dimiliki oleh kerajaanSriwijaya yang diharapkan mampu menjadi inspirasi dalam melengkapi pengembanganIndonesia yang lebih baik nantinya. Sumber sejaraha.)a.)Menurut I-tsing, agam Budha semakin berkembang ketika banyak pendetaMenurut I-tsing, agam Budha semakin berkembang ketika banyak pendeta dari negeri Cina dan India berdatangan ke Sriwijaya. Di Sriwijaya terdapatdari negeri Cina dan India berdatangan ke Sriwijaya. Di Sriwijaya terdapat Pendeta Budha yang mahsyur dan telah menjelajah lima negeri di India untukPendeta Budha yang mahsyur dan telah menjelajah lima negeri di India untuk menambah ilmunya, yaitu SAKYAKIRTI. Dia adalah salah seorang mahagurumenambah ilmunya, yaitu SAKYAKIRTI. Dia adalah salah seorang mahagurub.) Buddha di Sriwijaya. Atas bantuan seorang guru besar agama Buddha darib.) Buddha di Sriwijaya. Atas bantuan seorang guru besar agama Buddha dari India yaitu Dharmapala, perguruan di Sriwijaya mengalami kemajuan yangIndia yaitu Dharmapala, perguruan di Sriwijaya mengalami kemajuan yang sangat pesat.sangat pesat. Berikut merupakan sumber sejarah yang berasal dari luar negeri. PrasastiBerikut merupakan sumber sejarah yang berasal dari luar negeri. Prasasti tersebut menggunakan bahasatersebut menggunakan bahasa Sanskerta Sanskerta atauatau Tamil Tamil ♠♠ Prasasti LigorPrasasti Lig orditemukan di thailandditemukan di thailand ♠♠ Prasasti KantonPrasasti Kantonditemukan di Kantonditemukan di Kanton ♠♠ Prasasti SiwagrahaPrasasti Siwag raha ♠♠ Prasasti NalandaPrasasti Nalandaditemukan di Indiaditemukan di India ♠♠ Piagam LeidenPiag am Leidenditemukan di Indiaditemukan di India ♠♠ Prasasti SrilangkaPrasasti Srilang kaditemukan di srilangkaditemukan di srilangka ♠♠ Prasasti TanjorPrasasti Tanj oree ♠♠ Piagam GrahiPiag am Grahi SUMBER SEJARAH YANG BERASAL DARI KRONIK CHINA YAITU :SUMBER SEJARAH YANG BERASAL DARI KRONIK CHINA YAITU :oKRONIK dari Dinasti TangoKRONIK dari Dinasti TangoKRONIK dari Dinasti SungoKRONIK dari Dinasti SungoKRONIK dari Dinasti MingoKRONIK dari Dinasti MingoKRONIK PERJALANAN I – tsingoKRONIK PERJALANAN I – tsingoKRONIK CHUoKRONIK CHU -FAN-CHI -FAN-CHI oleh Chau Ju-kuaoleh Chau Ju-kuaoKRONIK TAO CHIN LIO oleh Wang Ta YanoKRONIK TAO CHIN LIO oleh Wang Ta YanoKRONIK LING-WAI TAI-TA oleh Chou Ku FeioKRONIK LING-WAI TAI-TA oleh Chou Ku FeioKRONIK YING-YAI SHENG-LAN oleh Ma HuanoKRONIK YING-YAI SHENG-LAN oleh Ma HuanKerajaan Sriwijaya juga mempunyai peninggalan sejarah antara lain :Kerajaan Sriwijaya juga mempunyai peninggalan sejarah antara lain :JJPrasasti Kedukan BukitPrasasti Kedukan BukitJJPrasasti Talang TuoPrasasti Talang TuoJJPrasasti Telaga BatuPrasasti Telaga BatuJJCandi Biaro BahalCandi Biaro Bahal
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful