P. 1
MAKALAH UMKM

MAKALAH UMKM

|Views: 3,368|Likes:
Published by fvanhollen

More info:

Published by: fvanhollen on Oct 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/31/2013

pdf

text

original

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SEKTOR USAHA MIKRO KECIL MENENGAH SEBAGAI PERCEPATAN PEREKONOMIAN NASIONAL Oleh : Muh.

Fandhi Fanani, SH, M.Hum ABSTRAK

PENDAHULUAN Hukum dan pembagunan adalah terjemahan dari Law and Development, yang mulai berkembang di Amerika Serikat sesudah perang dunia kedua. Jika menurut pada pengertian yang dikembangkan di Amerika khususnya yang berhubungan dengan organisasi United States Agency for International Development (USAID) dan lembaga seperti ford Foundation atau Rockefeller Foundation, maka perkembangan ekonomi dan pembangunan infrastruktur.1 Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa hukum yang modern itu memberikan fasilitas dan ruang pada perencanaan ekonomi sebab hukum modern itu sebagai sarana yang tepat untuk membangun masyarakat.2 Setidaknya dalam dua dasawarsa terakhir keuangan mikro telah menjadi suatu wacana global yang diyakini oleh banyak pihak menjadi metode untuk mengatasi kemiskinan. Berbagai lembaga multilateral dan bilateral mengembangkan keuangan mikro dalam berbagai program kerjasama. Pemerintah di berbagai negara berkembang juga telah mencoba mengembangkan keuangan mikro pada berbagai program pembangunan. Tidak ketinggalan berbagai lembaga keuangan dan lembaga swadaya masyarakat turut berperan dalam aplikasi keuangan mikro. Di Indonesia sendiri posisi keuangan mikro dalam tataran wacana dan kebijakan masih marjinal meski sebenarnya keuangan mikro memiliki sejarah yang amat panjang. Pada beberapa waktu lalu terakhir wacana keuangan mikro kembali diangkat mengikuti perhatian
1

Cao Lan, Book Review Law and Economic Development: A New Bargaining? Texas International Law Journal, Vo.32, hlm.546. 2 Ibid, hlm.550

yang juga semakin besar untuk mencari pendekatan alternatif untuk menanggulangi kemiskinan dan memberdayakan ekonomi rakyat yang peran strategisnya semakin diakui (Krisnamurthi, 2002). Krisis yang terjadi di Indonesia pada 1997 merupakan momen yang sangat menakutkan bagi perekonomian Indonesia. Krisis ini telah mengakibatkan kedudukan posisi pelaku sektor ekonomi berubah. Usaha besar satu persatu pailit karena bahan baku impor meningkat secara drastis, biaya cicilan utang meningkat sebagai akibat dari nilai tukar rupiah terhadap dolar yang menurun dan berfluktuasi. Sektor perbankan yang ikut terpuruk turut memperparah sektor industri dari sisi permodalan. Banyak perusahaan yang tidak mampu lagi meneruskan usaha karena tingkat bunga yang tinggi. Berbeda dengan UKM yang sebagian besar tetap bertahan, bahkan cendrung bertambah.3 Kemampuan usaha mikro di dalam menghadapi krisis dan kemampuannya memberikan berbagai kontribusi tersebut disebabkan oleh4 : a. Sektor Mikro dapat dikembangkan hampir disemua sektor usaha dan tersebar diseluruh wilayah Indonesia. b. Karena sifat penyebarannya yang sangat luas (baik sektor usaha dan wilayahnya) sektor mikro juga sangat berperan dalam proses berusaha dan pemerataan kesempatan kerja. c. Usaha berskala kecil/mikro termasuk usaha-usaha anggota koperasi pada umumnya sangat fleksibel, karena skala usaha yang tidak besar serta kesederhanaan spesifikasi dan teknologi yang digunakan akan lebih mudah menyesuaikan dengan perubahan/perkembangan yang terjadi. d. Usaha kecil/mikro merupakan industri padat modal, serta dalam struktur biaya produksinya komponen tersebar adalah biaya variable yang mudah menyesuaikan dengan

perubahan/perkembangan yang terjadi. e. Produk-produk yang dihasilkan sebagian besar merupakan produk yang berkaitan langsung dengan kebutuhan primer masyarakat.

3 4

http://portaljakarta.com/peran-ukm-dalam-mendorong-kekompetitifan-perekonomian-indonesia Glen Glenardi, Peran Perbankan Dalam Pengembangan Keuangan Mikro, disampaikan dalam rangka diskusi kelompok C-2 Temu Nasional dan Bazar Pengembangan Keuangan Mikro tanggal 24 Juli 2002.hlm.290.

f. Usaha kecil/mikro lebih sesuai dengan dan lebih dekat dengan kehidupan pada tingkat bawah (grassroot) sehingga upaya mengentaskan masyarakat dari keterbelakangan akan lebih efektif dengan mengembangkan koperasi dan usaha kecil-mikro. Namun demikian, dibalik potensi dan kekuatan sektor mikro tersebut, sebagian besar dari pengusaha Mikro ini belum tersentuh oleh pembiayaan dari Lembaga keuangan (Bank). Hal ini disebabkan oleh kendala intern sektor mikro yang relatif tidak mampu memenuhi persyaratan Bank teknis baik dari segi yuridis maupun kemampuan di dalam penyediaan agunan yang dipersyaratkan oleh Perbankan. Usaha Mikro kecil dan Menengah setiap tahun mengalami peningkatan, dimana jumlah UMKM di Indonesia pada tahun 2008 sebanyak 48,9 Juta unit, terbukti memberikan kontribusi 53,28% terhadap PDB (Pendapatan Domestik Bruto) dan 96,18% terhadap penyerapan tenaga kerja.5 Sedangkan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) bakal bertumbuh sekitar 25% pada 2010 dibandingkan prediksi 2009 yang berkisar 15-20 %.6 Indonesia memiliki salah satu sektor keuangan mikro yang paling banyak aneka ragamnya serta merupakan salah satu paling luas didunia. Secara garis besar, sektor itu dapat dibagi atas bank dan bukan bank, berikut ini 7: 1. Bank a. BRI Unit: berupa kantor-kantor cabang pembantu BRI. b. BPR: berupa bank-bank mikro yang tunduk pada undang-undang Perbankan serta P&P oleh BI. 2. Bukan bank

5

Abdullah Abidin, pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai kekuatan strategis dalam mempercepat pembangunan daerah. Jurnal Umum Program Pasca Sarjana Universitas Hassanudin.Hlm.2 6 http://www.depkop.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=303:2010-sektor-umkm-diprediksitumbuh-25&catid=54:bind-berita-kementerian&Itemid=98 7 Dominique Galmann, Lembaga Keuangan Mikro Indonesia. Gema PKM Indonesia. Hlm.112.

a. Keluarga LKM bukan bank yang besar (LKDP seperti LPD di Bali, BKK di jawa tengah dan sebagainya, BKD di Jawa dan Madura, BMT dan BK3D, dengan simpanan atau aktiva yang berjumlah besar. b. Keluarga LKM bukan bank yang kecil, dengan simpanan atau aktiva yang berjumlah kecil, walaupun mencangkup banyak LKM. c. Berbagai progam keuangan mikro, NGO, dan ratusan ribu asosiasi tidak resmi, kelompok swadaya masyarakat, dll. Berdasarkan data tersebut di atas, keberadaan UMKM sangat strategis baik secara nasional maupun di daerah. UMKM memiliki posisi penting, bukan saja dalam penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia, dalam banyak hal mereka menjadi perekat dan menstabilkan masalah kesenjangan sosial. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu upaya untuk menumbuhkan iklim kondusif bagi perkembangan UMKM dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi. Analisa mengenai kondisi ekonomi dan keuangan Indonesia saat ini telah banyak disampaikan baik dalam laporan resmi berbagai lembaga publik maupun dari para ekonom. Secara umum dikatakan bahwa stabilitas ekonomi makro Indonesia hingga kini dapat terjaga secara baik, seperti tercermin pada deficit fiskal yang terkendali, laju inflasi yang relatif rendah, maupun nilai tukar rupiah yang stabil. Akan tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapai masih moderat. Sumber utama pertumbuhan ekonomi masih bertumpu pada konsumsi sementara pertumbuhan investasi dan ekspor neto masih relatif rendah. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini, kemampuan ekonomi Indonesia untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan kemiskinan juga terbatas.8 Yang perlu ditekankan dalam anatomi ekonomi Indonesia saat ini adalah perubahan struktural ekonomi yang tengah berlangsung dan implikasinya bagi penguatan kebijakan publik yang diperlukan ke depan. Dalam kaitan ini, perubahan struktural ekonomi setidaknya bisa dilihat dari dua sisi, yaitu di sektor riil, perubahan struktural yang
8

Perry wajiyo, Pembiayaan Pembangunan Sektor UMKM : Perkembangan dan Strategi Ke Depan, Makalah Pusat Pendidikan dan Kebanksentralan (PPSK) Bank Indonesia. Hlm.30.

terjadi berkaitan erat dengan beratnya permasalahan yang dihadapi sektor korporat sejak krisis tahun 1997. Kompleksitas permasalahan yang masih dihadapi oleh perusahaan-perusahaan besar (korporat) seperti ini telah membawa beberapa perubahan struktural dalam ekonomi Indonesia, antara lain sebagai berikut :9 1. Struktur ekonomi Indonesia telah mengalami perubahan dengan peran sektor UMKM yang lebih besar dibandingkan dengan periode sebelum krisis. Hal ini mengingat sementara sektor korporat masih dalam proses restrukturisasi yang berjalan lamban, sektor UMKM telah menunjukkan perkembangan yang terus mengalami peningkatan. 2. Permasalahan di perusahaan besar di sektor industri manufaktur telah menimbulkan terjadinya proses deindustrialisasi dalam struktur ekonomi Indonesia. Sebagai contoh, dari 30 kelompok komoditi ekspor nonmigas Indonesia sejak krisis hanya 10 kelompok komoditi yang tumbuh tinggi (di atas 10%) dan 8 diantaranya adalah komoditi primer (pertanian dan pertambangan). 3. Beratnya permasalahan sektor riil antara lain tercermin pada masih rendahnya pemanfaatan apasitas produksi yang secara rata-rata tidak lebih dari 60% kapasitas terpasang. Kondisi sektor riil seperti ini telah menyebabkan meningkatnya Increamental Capital Output Ratio (ICOR) yang sebelum krisis berada pada kisaran angka 3 kini menjadi lebih dari 5. 4. Permasalahan struktural di sektor riil juga menyebabkan masih tingginya resiko kredit dari sisi perbankan. Tingginya resiko kredit pada sektor korporat lebih terkait dengan proses restrukturisasi yang berjalan lambat, sementara resiko kredit untuk sektor UMKM terutama didorong oleh kemampuan kewirausahaan dan belum berjalannya lembaga penjaminan kredit khususnya di daerah. Suatu perusahaan atau perorangan yang mempunyai total assets maksimal Rp. 600 juta tidak termasuk rumah dan tanah yang ditempati. Untuk Kementerian Perindustrian kriteria usaha kecil sama dengan Bank Indonesia. Biro Pusat Statistik (BPS); Usaha rumah tangga
9

Ibid.Hlm.31.

mempunyai : 1-5 tenaga kerja, Usaha kecil mempunyai : 6-19 tenaga kerja, Usaha menengah mempunyai : 20-99 tenaga kerja. Kamar Dagang Industri Indonesia (KADIN); Industri yang mempunyai total assets maksimal Rp.600 juta termasuk rumah dan tanah yang ditempati dengan jumlah tenaga kerja dibawah 250 orang. Kementerian Keuangan; Suatu badan usaha atau perorangan yang mempunyai assets setinggi-tingginya Rp. 300 juta atau yang mempunyai omset penjualannya maksimal Rp. 300 juta per tahun.10 Pada umumnya permasalahan yang dihadapi oleh Usaha Kecil dan Menengah (UKM), antara lain meliputi 11: 1. Faktor Internal a. Kurangnya permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan untuk

mengembangkan suatu unit usaha. Kurangnya permodalan UMKM, oleh karena pada umumnya usaha kecil dan menengah merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup, yang mengandalkan pada modal dari si pemilik yang jumlahnya sangat terbatas, sedangkan modal pinjaman dari bank atau lembaga keuangan lainnya sulit diperoleh, karena persyaratan secara administratif dan teknis yang diminta oleh bank tidak dapat dipenuhi. b. Sumber Daya Manusia (SDM) yang terbatas sebagian besar usaha kecil tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga yang turun menurun. Keterbatasan SDM usaha kecil baik dari segi pendidikan formal maupun pengetahuan dan keterampilannya sangat berpengaruh terhadap manajemen pengelolaan usahanya, sehingga usaha tersebut sulit untuk berkembang dengan optimal. Disamping itu dengan keterbatasan SDM-nya, unit usaha tersebut relatif sulit untuk mengadopsi perkembangan teknologi baru untuk meningkatkan daya saing produk yang dihasilkannya. c. Lemahnya Jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar usaha kecil yang pada umumnya merupakan unit usaha keluarga, mempunyai jaringan usaha yang sangat terbatas dan mempunyai kualitas yang kurang kompetitif. Berbeda dengan usaha besar

10 11

Op Cit. hlm.2 Abdul Rosyid, Manajemen Usaha Kecil Menegah dan Koperasi. Dalam suatu makalah. Hlm. 5.

yang telah mempunyai jaringan yang sudah solid serta didukung dengan teknologi yang dapat menjangkau internasional dan promosi yang baik. 2. Faktor Eksternal a. Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif kebijaksanaan pemerintah untuk

menumbuhkembangkan usaha kecil dan menengah (UMKM), meskipun dai tahun ke tahun terus disempurnakan, namun dirasakan belum sepenuhnya kondusif. Hal ini terlihat antara lain masih terjadinya persaingan yang kurang sehat antara pengusahapengusaha kecil dengan pengusaha-pengusaha besar. b. Terbatasnya Sarana dan Prasarana Usaha kurangnya informasi yang berhubugan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan sarana dan prasarana yang mereka miliki juga tidak cepat berkembang dan kurang mendukung kemajuan usahanya sebagaimana yang diharapkan. c. Implikasi Otonomi Daerah dengan berlakunya Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, kewenangan daeah mempunyai otonomi untuk mengatur dan mengurus masyarakat setempat. Perubahan sistem ini akan mengalami implikasi terhadap pelaku bisnis kecil dan menengah berupa pungutan-pungutan baru yang dikenakan pada usaha kecil dan menengah (UKM). Jika kondisi ini tidak segera dibenahi maka akan menurunkan daya saing Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Disamping itu semangat kedaerahan yang berlebihan, kadang menciptakan kondisi yang kurang menraik bagi pengusaha luar daerah untuk mengembangkan usahanya di daerah tersebut. Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) pada hakekatnya merupakan tanggungjawab berikut 12: 1. Penciptaan Iklim Usaha yang Kondusif bersama antara pemerintah dan masyarakat. Dengan mencermati

permasalahan yang dihadapi oleh UKM, maka kedepan perlu diupayakan hal-hal sebagai

12

Mohammad Jafar Hafsah, Upaya Pengembangan Usaha Kecil dan Menengah. Hlm. 43

Pemerintah perlu mengupayakan terciptanya iklim yang kondusif antara lain dengan mengusahakan ketenteraman dan keamanan berusaha serta penyederhanaan prosedur perijinan usaha, keringanan pajak dan sebagainya. 2. Bantuan Permodalan Pemerintah perlu memperluas skim kredit khusus dengan syarat-syarat yang tidak memberatkan bagi UKM, untuk membantu peningkatan permodalannya, baik itu melalui sektor jasa finansial formal, sektor jasa finansial informal, skema penjaminan, leasing dan dana modal ventura. Pembiayaan untuk Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebaiknya menggunakan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang ada, maupun non bank. Lembaga Keuangan Mikro bank antara Lain: BRI unit Desa dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Sampai saat ini BRI memiliki sekitar 4.000 unit yang tersebar diseluruh Indonesia. Dari kedua LKM ini sudah tercatat sebanyak 8.500 unit yang melayani UKM. Untuk itu perlu mendorong pengembangan LKM . Yang harus dilakukan sekarang ini adalah bagaimana mendorong pengembangan LKM ini berjalan dengan baik, karena selama ini LKM non koperasi memilki kesulitan dalam legitimasi operasionalnya. 3. Perlindungan Usaha Jenis-jenis usaha tertentu, terutama jenis usaha tradisional yang merupakan usaha golongan ekonomi lemah, harus mendapatkan perlindungan dari pemerintah, baik itu melalui undang-undang maupun peraturan pemerintah yang bermuara kepada saling menguntungkan (win-win solution). 4. Pengembangan Kemitraan Perlu dikembangkan kemitraan yang saling membantu antara UKM, atau antara UKM dengan pengusaha besar di dalam negeri maupun di luar negeri, untuk menghindarkan terjadinya monopoli dalam usaha. Disamping itu juga untuk memperluas pangsa pasar dan pengelolaan bisnis yang lebih efisien. Dengan demikian UKM akan mempunyai kekuatan dalam bersaing dengan pelaku bisnis lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri. 5. Pelatihan Pemerintah perlu meningkatkan pelatihan bagi UKM baik dalam aspek kewiraswastaan, manajemen, administrasi dan pengetahuan serta keterampilannya dalam pengembangan

usahanya. Disamping itu juga perlu diberi kesempatan untuk menerapkan hasil pelatihan di lapangan untuk mempraktekkan teori melalui pengembangan kemitraan rintisan.

6. Membentuk Lembaga Khusus Perlu dibangun suatu lembaga yang khusus bertanggung jawab dalam mengkoordinasikan semua kegiatan yang berkaitan dengan upaya penumbuhkembangan UKM dan juga berfungsi untuk mencari solusi dalam rangka mengatasi permasalahan baik internal maupun eksternal yang dihadapi oleh UKM. 7. Memantapkan Asosiasi Asosiasi yang telah ada perlu diperkuat, untuk meningkatkan perannya antara lain dalam pengembangan jaringan informasi usaha yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan usaha bagi anggotanya. 8. Mengembangkan Promosi Guna lebih mempercepat proses kemitraan antara UKM dengan usaha besar diperlukan media khusus dalam upaya mempromosikan produk-produk yang dihasilkan. Disamping itu perlu juga diadakan talk show antara asosiasi dengan mitra usahanya. 9. Mengembangkan Kerjasama yang Setara Perlu adanya kerjasama atau koordinasi yang serasi antara pemerintah dengan dunia usaha (UKM) untuk menginventarisir berbagai isu-isu mutakhir yang terkait dengan

perkembangan usaha. Untuk melakukan pemberdayaan masyarakat secara umum dapat diwujudkan dengan menerapkan prinsip-prinsip dasar pendampingan masyarakat (Karsidi, 1988), sebagai berikut: 1. Belajar Dari Masyarakat Prinsip yang paling mendasar adalah prinsip bahwa untuk melakukan pemberdayaan masyarakat adalah dari, oleh, dan untuk masyarakat. Ini berarti, dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri. 2. Pendamping sebagai Fasilitator, Masyarakat sebagai Pelaku

Konsekuensi dari prinsip pertama adalah perlunya pendamping menyadari perannya sebagai fasilitator dan bukannya sebagai pelaku atau guru. Untuk itu perlu sikap rendah hati serta ketersediaan untuk belajar dari masyarakat dan menempatkan warga masyarakat sebagai narasumber utama dalam memahami keadaan masyarakat itu sendiri. Bahkan dalam penerapannya masyarakat dibiarkan mendominasi kegiatan. Kalaupun pada awalnya peran pendamping lebih besar, harus diusahakan agar secara bertahap peran itu bisa berkurang dengan mengalihkan prakarsa kegiatan-kegiatan pada warga masyarakat itu sendiri.

3. Saling Belajar, Saling Berbagi Pengalaman Salah satu prinsip dasar pendampingan untuk pemberdayaan masyarakat adalah pengakuan akan pengalaman dan pengetahuan lokal masyarakat. Hal ini bukanlah berarti bahwa masyarakat selamanya benar dan harus dibiarkan tidak berubah. Kenyataan objektif telah membuktikan bahwa dalam banyak hal perkembangan pengalaman dan pengetahuan lokal (bahkan tradisional) masyarakat tidak sempat mengejar perubahan-perubahan yang terjadi dan tidak lagi dapat memecahkan masalah-masalah yang berkembang. Namun sebaliknya, telah terbukti pula bahwa pengetahuan modern dan inovasi dari luar yang diperkenalkan oleh orang luar tidak juga dapat memecahkan masalah mereka. Bahkan dalam banyak hal, pengetahuan modern dan inovasi dari luar malah menciptakan masalah yang lebih besar lagi. Karenanya pengetahuan local masyarakat dan pengetahuan dari luar atau inovasi, harus dipilih secara arif dan atau saling melengkapi satu sama lainnya.

RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimanakah cara UMKM mendapatkan akses fasilitas pembiayaan dari pihak perbankan? 2. Bagaimanakah peranan Pemerintah terhadap UMKM baik ditingkat pusat maupun daerah?

3. Bagaimanakah penyelesaiannya apabila di dalam UMKM terjadi kegagalan pasar (Marketing Failure) dan penurunan belanja barang (deficit spending unit)?

TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana cara debitur UMKM mendapatkan akses fasilitas pembiayaan dari pihak Perbankan 2. Untuk mengetahui bagaimanakah kerjasama UMKM dengan pihak Pemerintah. 3. Untuk mengetahui penyelesaian sengketa apabila di dalam melaksanakan UMKM terjadi kegagalan pasar (Marketing Failure) dan penurunan belanja barang (Deficit Spending Unit)?

METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam penulisan karya ilmiah ini menggunakan metode yuridis normatif, yaitu : penelitian dengan menerangkan ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundangan-undangan yang berlaku, dihubungkan dengan kenyataan yang ada dilapangan, kemudian dianalisis dengan membandingkan antara tuntutan nilai-nilai ideal yang ada dalam peraturan perundang-undangan dengan kenyataan yang ada di lapangan.13 Sedangkan sifat penelitiannya bersifat kualitatif, yaitu : Data mentah dari dunia empiris, yang berujud uraian terinci, kutipan langsung, dan dokumentasi kasus. Data ini dikumpulkan sebagai suatu yang terbuka (open-ended narrative), tanpa mencoba mencocokan suatu gejala dengan kategori baku yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana jawaban pertanyaan dalam kuesioner.14 Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan terhadap data yang bersifat sekunder yang ada di perpustakaan. Dimana dalam penelitian pada umumnya untuk menentukan jenis dari suatu penelitian itu dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. Yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer (atau dasar), sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder.
13

http://www.skripsi-tesis.com/06/27/tinjauan-yuridis-tentang-perlindungan-hukum-terhadap-uang-tunai-dibank-oleh-perusahaan-asuransi-2-pdf-doc.htm 14 Ivanovich Agusta, Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Kualitatif, dalam suatu makalah.hlm.1.

Data Sekunder mencakup (Soerjono Soekanto, 1982:52): Bahan Hukum Primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat berupa norma dan peraturan perundang-undangan, yaitu : 1. Undang-Undang No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah 2. Inpres RI No.6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil, dan Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil, dan Menengah. 3. Peraturan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Republik Indonesia No.02/Per/M.KUKM/I/2008 tentang Pedoman Pemberdayaan Business Development Services-Provider (BDS-P) untuk Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM). 4. Peraturan Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia No.30/Per/M.KUKM/VIII/2007 tentang Petunjuk Teknis Perkuatan Permodalan Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Lembaga Keuangannya dengan Penyediaan Modal Awal dan Padanan Melalui Lembaga Modal Ventura 5. Peraturan Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia No.28/Per/M.KUKM/VII/2007 tentang Pedoman Program Sarjana Pencipta Kerja Mandiri (Prospek Mandiri). 6. Peraturan Menteri Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia No.14/Per/M.KUKM/VII/2006 tentang Petunjuk Teknis Dana Penjaminan Kredit dan Pembiayaan Untuk Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Bahan Hukum sekunder, yang memberikan penjelasan menganai bahan hukum primer, seperti rancangan UU, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum dan seterusnya. Bahan Hukum Tertier, yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder; contohnya adalah kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan sebagainya.

Jadi penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka, dapat dinamakan penelitian hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemberdayaan Masyarakat Sektor UMKM Kebijakan tenaga kerja terkait erat dengan strategi pengembangan ekonomi dan kebijakan stabilitas sosial. Dan keberhasilan pada satu sisi suatu kebijakan tergantung pada keberhasilan yang lain. Unsur-unsur interaksi mempengaruhi keberhasilan kebijakan tenaga kerja meliputi seberapa baik kebijakan itu sejalan dengan seluruh strategi pengembangan ekonomi, yang juga harus membangun jejaring dengan layanan organisasi ekonomi dan sosial lain, dan bagaimana kondisi sosial dan ekonomi mempengaruhi fleksibilitas implementasinya. UMKM dan bisnis pemula menjadi penghela penciptaan tenaga kerja di tingkat lokal. Penumbuhan UMKM dan bisnis pemula mempunyai andil pending dalam penyusunan kebijakan tenaga kerja diberbagai wilayah. Agar kebijakan UMKM dan bisnis pemula berjalan dengan baik, otoritas pemerintah daerah harus melibatkan mereka dalam setiap proses penyusunan dan implementasi kebijakan. Pendirian organisasi pelatihan lokal perlu koordinasi antar pembisnis, tega ahli, dan perguruan tinggi. Masukan dari pebisnis dapat membantu menjamin kandungan pelatihan dapat merefleksikan keterampilan yang sesuai dengan alam kebutuhan pasar tenaga kerja. Otoritas daerah dapat menawarkan insentif untuk mengembangkan pelatihan keterampilan, dan mendorong partisipasi dalam pelatihan. Dalam era globalisasi, keterampilan yang dibutuhkan pasar berubah cepat. Tenaga kerja harus fleksibel mampu beradaptasi dengan perubahan. Oleh karena itu sangat penting untuk mempercepat kapasitas pekerja untuk mempelajari keterampilan baru, dan alih keterampilan bagi industri yang lain.

Dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk UMKM keterlibatan stakeholder sangat menentukan keberhasilannya. Semua peran dan keterlibatan stakeholder UMKM berkembang sesuai dengan cara pandang mereka terhadap UMKM. Adapun keterlibatan stakeholder UMKM dalam pemenuhan kebutuhan pemberdayaan masyarakat untuk UMKM yang sudah terjadi dan banyak dilakukan selama ini, dapat diidentifikasikan seperti tertera pada tabel 1. Keterlibatan tersebut masih sendiri-sendiri dan kurang intergratif antara stakeholder satu dengan yang lain.

Tabel 1. Analisis Pemenuhan Kebutuhan Pemberdayaan UMKM Dari berbagai Instansi Terkait (Stakeholder)

No. 1

Kebutuhan Pembelajaran Kemampuan Teknologi

Keadaan Sekarang Instansi Disperindagkop PKM Perguruan Tinggi LSM Spesifikasi Pelayanan Pelatihan Pembinaan Pengabdian Masyarakat Bimbingan Usaha Pelatihan Kursus Magang Pembinaan Pelatihan Pembinaan organisasi Pendaftaran Perizinan Pembinaan niaga Kemitraan Pembinaan koperasi

Sekolah Kejuruan, Disnaker -

2

Pengetahuan Permodalan

Disperindagkop dan PKM

-

3

Pengetahuan Pemasaran

Disperindagkop dan PKM

-

4

Peningkatan Kreativitas

-

Secara khusus belum ada

5

Peningkatan Prakarsa

-

Secara khusus belum ada

6

Peningkatan Keuletan Berusaha

-

Secara khusus belum ada

7

Peningkatan Keberanian Beresiko

Secara khusus belum ada

8

Peningkatan Kewirausahaan

-

Disperindagkop dan PKM Perguruan Tinggi LSM Disnasker BUMN Perbankan Promosi Pinjaman Modal Terkait Proyek Pelatihan-pelatihan

9

Layanan Permodalan

-

(Sumber : Karsidi 2003)

Berikut diajukan pola alternatif hubungan antar peran masing-masing stakeholder UKM yang diharapkan mampu memberikan sumbangan yang signifikan bagi kemajuan UKM (Karsidi dan Irianto, 2005): 1. UMKM UMKM sebagai pelaku memegang peran yang sangat penting (pemegang kunci) dalam rangka pemberdayaan mereka sendiri. Dalam memberdayakan UMKM perlu diberikan motivasi dan manfaat dari berbagai peluang dan fasilitasi yang diberikan oleh berbagai pihak (stakeholder yang lain) karena tanpa partisipati UMKM secara individu maupun kelompok akan berakibat gagalnya usaha pemberdayaan yang dilakukan. Namun demikian perlu disadari setiap program pemberdayaan harus berangkat pada pemenuhan kebutuhannya, meski kadang untuk menentukan kebutuhan tersebut membutuhkan pendampingan pula.

2. Kelompok/Koperasi Beragamnya jenis usaha dan skala usaha memang memerlukan beragam perlakuan yang berbeda. Untuk itu, perlu dilihat masalah demi masalah, apakah ada masalah yang perlu penanganan secara kelompok atau dilakukan secara individual. Masalah permodalan misalnya akan lebih mudah penanganannya dengan sistem kelompok karena dapat mengurangi risiko dan memudahkan dalam pembinanaannya. Kalau kelompok usaha mikro kemudian menjadi lebih besar dan teradministrasi dengan baik, maka kemudian dapat dikembangkan menjadi koperasi. Melalui koperasi diharapkan bisa memperkuat kekuatan tawar pasar baik dalam mendapatkan bahan baku, proses produksi, maupun penjualan produk. Demikian pula dengan berbagai fasilitas yang tersedia bagi lembaga koperasi akan dapat dinikmati oleh para anggotanya. 3. Asosiasi Usaha Asosiasi Usaha dapat membantu UKM dalam berbagai aspek bagi anggotanya terutama dalam hal ini kaitannya dengan pasar akan memperkuat posisi tawar dalam perdagangan, baik dalam penetapan harga maupun sistem pembayaran dan menciptakan persaingan usaha yang sehat. 4. Lembaga Keuangan (Bank dan Non Bank) Salah satu masalah klasik pemberdayaan UMKM adalah masalah kekurangan modal, namun UMKM enggan untuk datang ke bank khususnya karena terkait oleh banyaknya persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh fasilitas kredit dari perbankan. Sebaliknya sering lembaga keuangan menghadapi masalah bagaimana memasarkan “modal” yang dihimpun dari masyarakat tersebut dapat Seminar Nasional Pengembangan SDM Indonesia,Bogor 21 September 2005, 8 (delapan) tersalur kepada pengusaha UMKM dengan aman. Artinya kedua belah pihak sebenarnya dapat membentuk hubungan yang saling menguntungkan. Untuk itu perlu diupayakan pendekatan baru perbankan terhadap UMKM, yang salah satunya dengan pendekatan melalui Kelompok Simpan Pinjam (KSM) maupun kelompok usaha (koperasi) dalam memberikan layanan kredit terhadap UMKM. Adanya pendekatan kelompok tidak akan efektif jika pandangan Bank terhadap UMKM masih menggunakan paradigma lama bahwa kredit terhadap UMKM tidak ekonomis dan berisiko. Untuk itu perlu

menggunakan paradigma baru, dimana UMKM harus dipandang tidak sebagai pemanfaat kredit saja, namun juga sebagai sumber potensial tabungan. Secara lengkap perbandingan paradigma bank terhadap UMKM. 5. Pasar Pasar perdagangan hasil produksi UMKM dapat berupa pasar dalam negeri (domestik) maupun pasar ekspor. Hubungan baik antara pelaku UMKM dan pelaku pasar (pembeli maupun ekspotir ) perlu dijaga kesinambungannya. Demikian pula dengan adanya perubahan kondisi pasar harus cepat dapat diantisipasi. Dalam hal ini dapat difasilitasi oleh pemerintah, Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun Asosiasi usaha. 6. Pemerintah Peran pemerintah dalam mengembangkan UMKM maupun lembaga lain yang terkait dengan pemberdayaan UMKM seperti koperasi, Asosiasi, Perguruan Tinggi,dan Lembaga Keuangan, dapat diwujudkan dengan kebijakan yang berpihak terhadap pengembangan usaha UKM itu sendiri. 7. Perguruan Tinggi Perguruan Tinggi memiliki peran sebagai konsultan pengembang usaha dalam berbagai aspek, yaitu: manajemen, produksi, pasar dan pemasaran bahkan sampai fasilitasi dalam menghubungkan UKM ke lembaga keuangan baik bank maupun non bank. Idealnya jasa layanan yang diberikan Perguruan Tinggi harus dapat ditanggung pembiayaan oleh UKM sendiri, namun sampai saat ini belum banyak UMKM yang menanggung atas jasa yang diterimanya. Pemberdayaan Masyarakat Untuk usaha mikro pendekatan pembinaannya adalah welfare approach (pendekatan Kesejahteraan ) yang bobotnya lebih pada pendekatan sosial. Sedangkan usaha kecil dan menengah diberdayakan dengan business approach ( pendekatan Bisnis ). Untuk itu, ada beberapa sasaran fokus yang dapat di lakukan 15:

15

http://peoplecrisiscentre.org/index.php?option=com_content&view=article&id=97:berita&catid=1:artikel

1. Fokus dalam sektor. Kalau kita lihat sektor-sektor dominan dalam UMKM maka kita perlu bedakan antara sektor pertanian dan non-pertanian. Sektor pertanian membutuhkan penanganan tertentu yang berbeda dengan sektor non-pertanian. 2. Dari pantauan yang kami lakukan maka disini juga perlu dipilih kelompok UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang kiranya dapat menjadi penghela bagi yang lain. Kami fokuskan pada UMKM kecil/ menengah yang mempunyai potensi ekspor. 3. Dari fokus ini maka kami menyarankan agar pembinaan diarahkan kepada pembinaan kompetensi – melalui mekanisme ekspor. Kami melihat ini menjadi penting karena dengan segera kita dapat menumbuhkan berbagai kompetensi sekaligus dan terarah kepada persayaratan usaha yang mantap dalam era pasar bebas. Dalam kerangka pemikiran tersebut, ada beberapa model ekonomi rakyat, baik yang sudah ada maupun belum yang dapat dikembangkan, antara lain :

Industri di desa, yaitu industri yang mengambil lokasi di desa untuk mengatasi masalah urbanisasi, antara lain industri sepatu, garment, dan industri pembuatan gagang cangkul.

Industri pedesaan, yaitu industri yang mengolah produk-produk pedesaan antara lain singkong untuk gaplek; kayu sengon untuk vineer, papan laminasi, dan kusen pintu; industri kopi; teh dan lainnya,

Integrated atau mixed farming, yaitu pertanian terpadu yang antara lain meliputi ternak ayam, kambing/ domba dan sapi, kolam ikan dikombinasikan dengan tanaman padi, jagung, dan sayur mayur lainnya untuk menghasilkan organic farming,

Pola PIR, seperti model kelapa sawit, tebu, dan lainnya. Upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat UMKM dapat dilakukan melalui cara16:

1. Perkuatan permodalan dan manajemen lembaga keuangan 2. Penggalangan dukungan dan fasilitasi pembiayaan UMKM dengan lembaga keuangan; 3. Penggalangan partisipasi berbagai pihak dalam pembiayaan UMKM (Pemda, Luar Negeri, dll);
16

Ibid

4. Optimalisasi pendayagunaan potensi pembiayaan UMKM di daerah (Bagian Laba BUMN, Dana Bergulir, Yayasan, Bantuan Luar Negeri); 5. Peningkatan Capacity Building UMKM 6. Training bagi pengelola UMKM, untuk meningkatkan kapasitas pengelola 7. Perlu adanya lembaga penjamin untuk menjamin kredit UMKM Contoh Pemberdayaan Masyarakat sektor UMKM dapat diketemukan dalam daerah pedesaan misalnya Upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Danone Aqua mungkin dapat dijadikan salah satu inspirasi bagi dunia industri. Sebagai salah satu pelaku industri, PT Tirta Investama, produsen air minum dalam kemasan Aqua melakukan sejumlah pemberdayaan masyarakat dan dukungan pengembangan UMKM sebagai bagian dari kegiatan CSR Danone Aqua. Program CSR telah dilakukan Danone Aqua sebelum melakukan investasi di berbagai daerah melalui pembangunan pabriknya. Hal ini berbanding terbalik dengan kebiasaan investor yang baru mulai melakukan CSR ketika pabriknya sudah berdiri. Tujuan peningkatan ekonomi masyarakat menjadi target dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM oleh Danone Aqua. Di wilayah Pasuruan tempat 2 lokasi pabrik Aqua berdiri menjadi salah satu contoh dimana Tim CSR Danone Aqua bekerjasama dengan LSM membentuk kelompok-kelompok kerja. Salah satunya kelompok kerja Jati Anom di Desa Karangjati yang mengelola sampah plastik menjadi sebuah kerajinan dan sampah organik menjadi kompos.17 Ada juga kelompok kerja lainnya dari warga desa yang terdiri dari kaum pria yang melakukan budidaya jamur tiram dan keripik. Contoh lain juga dilaksanakan di Desa Dayurejo dimana CSR Danone Aqua membantu pemberdayaan masyarakat sekitar lewat pengolahan sabun sereh, arang, dan budidaya tanaman kopi. Di daerah Kebon Candi, Danone Aqua juga membantu pertanian organik, peternakan sapi perah dan kambing etawa masyarakat sekitar. Diluar dukungan pemberdayaan masyarakat di lapangan, beberapa pelatihan kerja berupa motivasi kewirausahaan, teknis kewirausahaan, pemberian bantuan modal awal, alat-alat,
17

http:// www.beritajatim.com/ detailnews . php / 1 / Ekonomi /2011 – 02 -15/92834/ Inilah _ Pemberdayaan _ Masyarakat _ lewat _CSR _ ala _ Aqua

bahan baku hingga pendampingan juga dilakukan Danone Aqua dan LSM. Bahkan Danone Aqua bekerjasama dengan UMKM di Pasuruan mengembangkan Koperasi bernama “Akar Daun” untuk keberlanjutan dan kemandirian kelompok kerja yang ada. Hal ini memudahkan pengembalian modal kerja sehingga dapat bermanfaat untuk pengembangan usaha masyarakat yang lainnya. Danone Aqua juga secara aktif memberikan media promosi bagi produk UMKM tersebut dengan mengikutsertakan mereka dalam sejumlah pameran dalam skala regional. Contoh lainnya upaya pengembangan dan peningkatan kinerja UKM yang telah dilaksanakan oleh pemerintah Kota Probolinggo antara lain dengan memperluas jaringan pemasaran yang berorientasi pada peningkatan akses pasar dalam rangka memotong rantai distribusi dan mengenalkan produk potensi daerah pada tingkat Nasional maupun Internasional melalui pameran dan Expo yang diselenggarakan di dalam maupun di luar negeri. Salah satu contoh UKM yang bergerak dibidang usaha Handycraf mengikuti pameran di Jepang untuk memamerkan hasil produknya melalui fasilitasi pemerintah daerah Kota Probolinggo. Berkat adanya pameran tersebut, jaringan pemasaran produknya telah dikenal dan memasuki pasar kota-kota besar di Indonesia. Upaya lain yang telah dilaksanakan dalam pemberdayaan UKM adalah melalui penyaluran sarana penunjang usaha yang diberikan secara langsung kepada pengusaha skala kecil, menengah guna memotivasi UKM untuk berinovasi dan berkreasi meningkatkan usahanya sehingga meningkatkan pendapatan keluarga khususnya dan masyarakat pada umumnya. Kepedulian pemerintah Kota Probolinggo terhadap keberadaan UKM tidak sampai disini saja, dengan memanfaatkan salah satu potensi daerah berupa hasil laut yang diolah menjadi krupuk ikan jenggelek, rempeyek tulang ikan, rambak ikan dan tepung udang sebagai produk unggulan Kota Probolinggo terus diperkenalkan dan dipromosikan. Merupakan langkah yang tepat dan tanggap dengan menyediakan show room sebagai sarana mewujudkan gelar promosi produk unggulan Kota Probolinggo dengan dibangunnya pusat Oleh-Oleh di kawasan Ruang Tatanan Hijau.18

18

http:// www.bangertelecenter.com / index.php/informasi/klinik-ukm/76-perkembangan-ukm-di-kotaprobolinggo.html

Secara konseptual pemberdayaan UMKM terutama dapat dilakukan dengan sistem pemberdayaan pelaku UMKM itu sendiri. Keberhasilan pemberdayaan sangat bergantung pada partisipasi UMKM sebagai pelaku maupun stakeholder lain yang turut serta dan berperan dalam pengembangannya. Dalam hal ini lebih banyak menitikberatkan pada metode “bottom up”, dimana perencanaan lebih diupayakan menjawab kebutuhan sasaran dan dilakukan secara partisipatif. Dalam praktek pemberdayaan UMKM, untuk menggugah partisipasi masyarakat sasaran langkah-langkah yang dilakukan (Karsidi, 2005), adalah: 1. Identifikasi Potensi 2. Analisis Kebutuhan 3. Rencana Kerja Bersama 4. Pelaksanaan Program Kerja Bersama 5. Monitoring dan Evaluasi. Identifikasi potensi, dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik Sumberdaya Manusia (SDM) UMKM dan lingkungan internalnya baik lingkungan sosial, ekonomi dan Sumberdaya Alam (SDA) khususnya yang terkait dengan usahanya, maupun lingkungan eksternal UKM. Dengan langkah ini diharapkan setiap gerak kemajuan dapat bertumpu dan memanfaatkan kemampuan dan potensi wilayah masing-masing. Dalam identifikasi ini melibatkan stakeholder UKM dan tokoh masyarakat maupun instansi terkait. Analisis kebutuhan, tahapan analisis ini dilakukan oleh perwakilan UMKM yang dapat difasilitasi oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun instansi terkait tentang berbagai kebutuhan dan kecenderungan produk dan pasar. Dengan pola analisis kebutuhan semacam ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya manifestasi kebutuhan UKM selaku individu pengusaha dan sebagai anggota kelompok. Dengan demikian antara individu pelaku UKM dan kelompok dapat diharapkan saling beriringan dan saling mendukung dalam mencapai tujuan kemajuan bersama. Rencana program kerja bersama, setelah kebutuhan dapat ditentukan maka kemudian disusun sebuah rencana program kerja bersama untuk mencapai kondisi yang diinginkan berdasarkan skala prioritas yang ditetapkan bersama. Dalam tahap ini baik Perguruan Tinggi/LSM/Swasta, maupun instansi terkait sebagai fasilitator.

Pelaksanaan program kerja bersama, jikalau program kerja telah disepakati maka langkah berikutnya adalah pelaksanaan program kerja. Dalam tahap ini fungsi instansi pemerintah terkait selaku fasilitator, sedangkan Perguruan Tinggi/LSM/Swasta dapat bertindak selaku pemberi jasa konsultansi. Sebagai konsultan, idealnya Perguruan Tinggi harus mendapatkan jasa dari layanan yang diberikan kepada UKM. Kebutuhan akan permodalan UKM salah satunya dapat dipenuhi dengan memperankan fungsi fasilitasi Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) bagi pengrajin maupun kelompok. KKMB ini lahir sebagai perubahan paradigma baru terhadap UMKM dari perbankan (lihat tabel 2), bahwa: 1. UMKM mempunyai potensi menabung 2. Bank perlu aktif menjemput Bola 3. UMKM membutuhkan kemudahan memperoleh kredit/layanan perbankan 4. Bank perlu memobilisasi tabungan dari UMKM 5. Biaya dapat ditekan melalui pendekatan kelompok 6. Risiko dapat ditekan melalui pendekatan kelompok Selain Bank memberikan kredit sebagai tugas utamanya, Bank dapat membantu UMKM dengan memberikan pendampingan (Technical Assistant/TA) baik dilakukan oleh Bank sendiri atau bekerjasama dengan pendamping yang dibentuk oleh Perguruan Tinggi/LSM/Swasta. Monitoring dan evaluasi, berfungsi tidak saja untuk mengetahui hasil pelaksanaan program kerja bersama apakah yang dikerjakan sudah sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan bersama, namun juga untuk membuat penyesuaian-penyusuaian jika diperlukan sesuai dengan perubahan kondisi lingkungan. Beranjak dari konsep pemberdayaan UMKM tidak terlepas dari asas dan Tujuan pemberdayaan UMKM itu sendiri, adapun asas-asas dan tujuan UMKM adalah sebagai berikut19 : Asas-Asas UMKM : 1. Kekeluargaan; Yang dimaksud dengan “asas kekeluargaan” adalah asas yang melandasi upaya pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah sebagai bagian dari perekonomian nasional
19

Pasal 2 dan Pasal 5 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah

yang diselenggarakan berdasarkan atas demokrasi ekonomi dengan perinsip kebersamaan, kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi nasional untuk

kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. 2. Demokrasi Ekonomi; Yang dimaksud dengan “asas demokrasi ekonomi” adalah pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah diselenggarakan sebagai kesatuan dari pembangunan perekonomian nasional untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. 3. Kebersamaan; Yang dimaksud dengan “asas kebersamaan” adalah asas yang mendorong peran seluruh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dan Dunia Usaha secara bersama-sama dalam kegiatannya untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. 4. Efisiensi Berkeadilan; Yang dimaksud dengan “asas efisiensi berkeadilan” adalah asas yang mendasari pelaksanaan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan mengedepankan efisiensi berkeadilan dalam usaha untuk mewujudkan iklim usaha yang adil, kondusif, dan berdaya saing. 5. Berkelanjutan; Yang dimaksud dengan “asas berkelanjutan” adalah asas yang secara terencana mengupayakan berjalannya proses pembangunan melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan secara berkesinambungan sehingga terbentuk perekonomian yang tangguh dan mandiri. 6. Berwawasan lingkungan; Yang dimaksud dengan “asas berwawasan lingkungan” adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengutamakan perlindungan dan pemeliharaan lingkungan hidup. 7. Kemandirian; Yang dimaksud dengan “asas Kemandirian” adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah yang dilakukan dengan tetap menjaga dan mengedepankan potensi, kemampuan, dan kemandirian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.

8. Keseimbangan Kemajuan; dan Yang dimaksud dengan “asas keseimbangan kemajuan” adalah asas pemberdayaan Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah yang berupaya menjaga keseimbangan kemajuan ekonomi wilayah dalam kesatuan ekonomi nasional. 9. Kesatuan Ekonomi Nasional; Yang dimaksud dengan “asas kesatuan ekonomi nasional” adalah asas pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, Menengah yang merupakan bagian dari pembangunan kesatuan ekonomi Nasional. Sedangkan Tujuan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah adalah : 1. Mewujudkan struktur perekonomian nasional yang seimbang, berkembang, dan berkeadilan. 2. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah menjadi usaha yang tangguh dan mandiri; 3. Meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan. Bagi masyarakat yang ingin menyelami UMKM ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi antara lain 20: (1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut: a. Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah). (2) Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut: a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau

20

Pasal 6 UU No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, Menengah.

b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah). (3) Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut: a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah). (4) Kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, dan ayat (2) huruf a, huruf b, serta ayat (3) huruf a, huruf b nilai nominalnya dapat diubah sesuai dengan perkembangan perekonomian yang diatur dengan Peraturan Presiden.

Sebagai Percepatan Perekonomian Nasional Usaha skala kecil, Mikro, dan menengah (UMKM) di daerah selama ini sering dikaitkan dengan masalah-masalah ekonomi dan sosial di daerah itu sendiri, seperti tingkat kemiskinan yang tinggi; jumlah pengangguran yang besar, terutama bagi golongan masyarakat yang berpendidikan rendah; ketimpangan distribusi pendapatan; proses pembangunan yang tidak merata antara kota dengan desa serta masalah urbanisasi dengan segala aspek negatifnya. Artinya keberadaan usaha kecil dan menengah di daerah diharapkan dapat memberikan suatu kontribusi positif yang signifikan terhadap upaya-upaya penanggulangan masalah-masalah tersebut. Ketidakberdayaan masyarakat salah satunya akibat kebijakan yang mismatch di masa lalu, yaitu kebijakan yang melupakan sektor pertanian sebagai dasar keunggulan komparatif maupun kompetitif. Berkaitan dengan itu pembangunan ekonomi kerakyatan di Indonesia difokuskan kepada pemberdayaan petani terutama di pedesaan, nelayan, perajin, dan pengusaha industri kecil. Untuk memajukan ekonomi nasional sebagai percepatan pembangunan ekonomi yang berbasis kerakyatan, maka perlu dikembangkan UMKM sebagai sokoguru perekonomian masyarakat. Berkembangnya UMKM di daerah diharapkan dapat

memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Nasional dan sekaligus meningkatkan ekonomi pendapatan perkapita bagi negara.21 Presiden Susilo Bambang Yudoyono mengeluarkan enam program baru untuk mendukung percepatan ekonomi di Indonesia. Keenam program baru tersebut meliputi ketahanan pangan, sektor energi, pengadaan infrastruktur, pengadaan sarana transportasi laut dan udara, pembenahan di sektor pembiayaan, serta mendorong berkembangnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Modernisasi pasar tradisonal yang dilakukan pemerintah saat ini bisa menjadi langkah awal untuk melindungi UMKM di tengah merajalelanya pusat-pusat perbelanjaan. Pemberian stimulus melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan program-program pengembangan ekonomi lokal harus terus dilakukan untuk menciptakan persaingan yang sehat antara UMKM dengan pengusaha besar.22 Tujuan UMKM dalam Pasal 3 UU No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro kecil dan Menengah dijelaskan yaitu menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. Hal tersebut berarti pemerintah memang sangat mendukung diadakannya program UMKM bagi masyarakat khususnya bagi masyarakat pedesaan dan umumnya untuk pertumbuhan perekonomian secara nasional. Seorang wirausaha secara umum mampu memanfaatkan kesempatan untuk pengembangan kapasitas ekonomi dan pengalokasian sumber daya secara efektif. Sejalan dengan tren baru dalam pembangunan ekonomi, wirausaha juga harus mampu menghadapi kompetisi dan berinovasi, menghasilkan pertumbuhan ekonomi, pembaharuan teknologi, penciptaan lapangan kerja dan perbaikan kesejahteraan masyarakat setempat. Ada dua hal yang dijadikan kriteria pertimbangan intervensi dalam pengembangan kewirausahaan, yaitu23 : (a) justifikasi intervensi publik, serta (b) kegagalan dan hambatan pasar dalam pengembangan kewirausahaan.

21

Almasdi Syahza, Percepatan Ekonomi Pedesaan Melalui Pengembangan Koperasi Berbasis Agribisnis di Daerah Pedesaaan. Lembaga Penelitian Universitas Riau. Hlm.1 22 http://economy.okezone.com/read/2011/05/02/279/452084/menelaah-program-baru-penunjang-ekonomi 23 I wayan Dipta, Menumbuhkan Kewirausahaan: “belajar dari APEC-UKM di Santiago”. Makalah.hlm.1

Kebijakan promisi kewirausahaan di kawasan ekonomi APEC merespon akan kebutuhan untuk mengkoreksi kegagalan pasar yang mencegah alokasi sumberdaya produktif secara optimal. Selain kegagalan pasar, pertimbangan justifikasi intervensi publik yang lain dalam ekonomi, adalah : distribusi pendapatan yang tidak merata, ketidakseimbangan ekonomi makro; pencarian harmonisasi sosial dan etnis; ketidakseimbangan antara perkembangan desa dan kota; dan kesamaan gender. Prioritas diantara tujuan-tujuan tersebut diatas tergantung pada opsi-opsi kebijakan yang dipilih oleh konstituen. Secara keseluruhan, kegagalan pasar meliputi, antara lain : kekurangan kompetisi, keberadaan barang publik, eksternalitas, pasar tidak lengkap, ketidaksimetrisan informasi, dan keterbatasan akses kredit untuk pelatihan modal manusia. Secara khusus, kebijakan aksi promosi kewirausahaan ditujukan untuk mengatasi kegagalan pasar serta memperkuat sektor swasta penghela wirausaha. Kegagalan dan hambatan pasar yang mampu mencegah keterbatasan aktivitas pengembangan wirausaha sering merupakan isu lintas sektor di sebagian besar kawasan ekonomi APEC, yaitu : a) Asimetrik informasi; b) Pelatihan modal manusia yang jelek; c) Keterbatasan akses dana; d) Keterbatasan kemampuan inovasi; e) Birokrasi pemerintahan yang berlebihan; dan f) Biaya transaksi masuk dan keluar pasar. Sumber daya lokal harus dimanfaatkan untuk mendorong pengembangan bisnis dengan memfasilitasi pengusaha untuk mengakses informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, modal, dan sumber daya manusia yang dibutuhkan bagi keberhasilan bisnisnya. Lebih penting lagi, otoritas daerah harus mampu melakukan upaya penyederhanaan proses administrasi bagi usaha pemula (new business start-up). Sistem inovasi lokal merupakan mekanisme fundamental untuk penguatan kapasitas inovasi ditingkat lokal. Adapun aktor utama dalam sistem ini meliputi pemerintah setempat, industri, lembaga riset dan perguruan tinggi. Untuk penguatan operasi sistem inovasi lokal,

pemerintah daerah perlu mengembangkan kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi dengan menyediakan insentif untuk pengembangan usaha patungan antara pengusaha daerah dan perguruan tinggi. Pengembangan inkubator akan meningkatkan diseminasi ilmu pengetahuan dalam sistem inovasi. Pembentukan klaster akan mampu merangsang penumbuhan bisnis baru dan menarik perusahaan bisnis baru dari luar daerah, sehingga menigkatkan output industri dan menciptakan kesempatan kerja baru. Melalui interaksi dan berbagai sumber daya dalam jejaring, inovasi dan perbaikan teknologi dapat ditingkatkan. Dalam kaitan ini pemerintah daerah perlu menumbuhkan iklim usaha yang kondusif sesuai dengan kondisi lokal untuk pengembangan industri klaster. Di banyak daerah, masalah strategi pemasaran menjadi perhatian utama, khususnya untuk produk budaya lokal. Industri budaya lokal yang tradisional mungkin masih menggunakan metode pemasaran kadaluarsa. Ini bisa membuat industri ini mengalami penurunan. Tetapi, upaya mengembangkan industri budaya lokal dengan pemasaran inovatif dan modern bisa membantu meraih kembali keuntungan pasar. Kebijakan seperti ini dapat mencegah hilangnya nilai budaya dan sejarah karena dampak globalisasi. Produk dari industri budaya lokal merupakan ekspresi budaya dan seni, yang biasanya banyak menarik bagi pembeli asing dan memiliki potensi ekspor tinggi. Walaupun secara umum, sebagian dari industri ini adalah usaha mikro yang kesulitan pemasaran di luar negeri. Pengembangan e-commerce merupakan strategi yang dapat membantu memasarkan produknya keluar negeri dengan biaya yang murah. Sebelum itu, memperkecil kesenjangan digital perlu dilakukan dan sekaligus pembangunan infrastruktur internet. Untuk mengatasi keterbatasan ukuran dan sumber daya, pembisnis budaya lokal dapat menerapkan strategi pembangunan kerjasama, seperti kerja sama pemasaran dengan pebisnis di industri budaya lokal dan bisnis lain yang saling menguntungkan. Para pasangan bisnis ini dapat bekerja sama untuk membangun asosiasi atau jejaring untuk mempromosikan produk.

Mempertimbangkan situasi dan karakteristik yang dihadapi rakyat miskin, maka keuangan mikro dalam berbagai pendekatannya perlu mencangkup tiga elemen penting, yaitu24 : 1. Menyediakan beragam jenis pelayanan keuangan. Keuangan mikro dalam pengalaman masyarakt tradisional indonesia seperti arisan, lumbung desa, lumbung pitih nagari, dan sebagainya menyediakan pelayanan keuangan yang beragam seperti tabungan, pinjaman, pembayaran, deposito, maupun asuransi. Beragam pelayanan keuangan yang diberikan karena memang keuangan mikro didesain tidak dari perinsip dan metodologi perbankan modern akan tetapi didesain dan dikembangkan berdasarkan kebutuhan riil rakyat yang dilayani. 2. Melayani rakyat miskin. Keuangan mikro hidup dan berkembang karena melayani rakyat yang terpinggirkan oleh sistem keuangan formal yang ada karenanya keuangan mikro memiliki karakteristik yang khas sesuai dengan rakyat miskin. Melakukan ”modernisasi” keuangan mikro dengan mengabaikan karakteristik khas yang dengan sendirinya akan meninggalkan konstituen keuangan mikro yaitu rakyat miskin. 3. Menggunakan prosedur dan mekanisme yang kontekstual dan fleksibel. Sebagai konsekuensi dari kelompok masyarakat yang dilayani, prosedur, dan mekanisme yang dikembangkan untuk keuangan mikro akan selalu kontekstual dan fleksibel. Ketiga elemen ini haruslah ada untuk membuat suatu aktivitas keuangan dapat disebut sungguh-sungguh keuangan mikro. Dengan demikian keuangan yang berskala sangat kecil akan tetapi harus berarti pula bahwa kelompok masyarakat yang dilayani adalah rakyat miskin dan prosedur dan mekanisme yang digunakan dalam melayani mereka harus kontekstual dan fleksibel.

24

Bambang Ismawan, Keuangan Mikro dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat. Gema PKM Indonesia.hlm.91

PENUTUP Berdasarkan permasalahan di atas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Permasalahan yang tengah dihadapi saat ini oleh UMKM salah satunya sulitnya akses dalam mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perbankan. Permasalahan tersebut pada dasarnya sangat terkait dengan profil dari debitur-debitur UMKM yang kebanyakan kurang atau bahkan tidak bankable (tidak memenuhi persyaratan persyaratan teknis perbankan). Tidak bankable-nya debitur UMKM menjadikan aspek kelayakan (feasibility) debitur UMKM terabaikan. Hanya karena tidak dapat memenuhi persyaratan-persyaratan teknis perbankan, calon debitur UMKM kehilangan kesempatan untuk mendapatkan fasilitas kredit dari perbankan. Untuk menjadi bankable biasa debitur diharuskan, antara lain, memenuhi dokumen – dokumen administratif maupun dokumen atau pencatatan yang terkait dengan operasional usaha. Kedua dokumen tersebut dibutuhkan untuk kepastian atau legalitas debitur dan usahanya, serta prospek dari usahanya itu sendiri. Upaya untuk menjadi debitur UMKM menjadi bankable telah dilakukan Bank Indonesia melalui program Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). Program KKMB berintikan pada kegiatan pendampingan konsultan terhadap debitur UMKM dalam berhubungan dengan bank. Bentuk pendampingan tersebut adalah pemberian ketrampilan dan pengetahuan, misalnya, dalam menyusun studi kelayakan usaha dan pembukuan dan manajemen usaha (akuntansi dasar dan penentuan harga pokok penjualan). Namun selain itu, terdapat pula dokumendokumen administratif yang dibutuhkan oleh debitur UMKM yang terkait dengan legalitas usaha, misalnya, Surat IjinTempat Usaha (SITU), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan KTP. Terkadang debitur UMKM terkendala dikarenakan tidak dapat memenuhi dokumen-dokumen teknis dimaksud sehingga diperlukan peran dari instansi atau dinas terkait dalam membantu proses keluarnya izin-izin tersebut secara tepat waktu dengan biaya yang terjangkau. 2. Peran pemerintah sebagai penyeimbang telah ditunjukkan dengan dilaksanakannya berbagai program perkuatan untuk UMKM sebatas kemampuan pemerintah. Oleh karena kondisi keuangan negara sekarang ini memang kurang memungkinkan untuk dapat memberikan bantuan yang lebih besar lagi kepada kelompok UMKM, maka idealnya fungsi

pengawasan pemerintah terhadap kondisi yang terjadi dalam pasar uang dapat lebih ditingkatkan lagi. Pemerintah dapat saja mengeluarkan berbagai regulasi di bidang perbankan yang diharapkan dapat mendorong terciptanya keseimbangan pasar kredit. Selain itu peran pemerintah juga dapat ditemukan dalam Pasal 21 UU No.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yaitu : a. Pemerintah dan Pemerintah daerah menyediakan pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil b. Badan Usaha Milik Negara dapat menyediakan pembiayaan dari penyisihan bagian laba tahunan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro dan kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. c. Usaha Besar Nasional dan asing dapt menyediakan pembiayaan yang dialokasikan kepada Usaha Mikro, Kecil dalam bentuk pemberian pinjaman, penjaminan, hibah, dan pembiayaan lainnya. d. Pemerintah, pemerintah daerah, dan dunia usaha dapat memberikan hibah, mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan bantuan luar negeri, dan mengusahakan sumber pembiayaan lain yang sah serta tidak mengikat usaha Mikro dan Kecil. e. Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat memberikan insentif dalam bentuk kemudahan persyaratan perizinan, keringanan tarif, sarana dan prasarana, dan bentuk insentif lainnya yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan kepada dunia usaha mikro dan kecil 3. Perlu ada langkah ’intervensi’ untuk mengkoreksi kegagalan tersebut. ’Intervensi’ itulah apa yang dimaksud dengan peran pemerintah pusat, daerah, Bank Indonesia, perbankan, departemen atau dinas teknis, dan institusi terkait lainnya. Dengan menggunakan analisa kurva penawaran dan permintaan kredit, dapat dijelaskan bahwa upaya meningkatkan pasokan kredit perbankan dengan tingkat suku bunga perbankan dapat ditempuh dengan intervensi pemerintah dan pihak terkait. Intervensi dapat pula disebut kemitraan dengan berbagai pihak terkait untuk memfasilitasi, mendukung, dan menstimulasi kegiatan produksi yang mencangkup proses alih keterampilan di bidang produksi, pengolahan, pemasaran, permodalan, sumber daya manusia, dan teknologi. Hal tersebut dapat

meningkatkan hasil produksi yang beorientasi pada dunia ekspor, penyerapan tenaga kerja, serta penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->