P. 1
Sejarah Pembentukan Dan an Hukum Islam

Sejarah Pembentukan Dan an Hukum Islam

|Views: 615|Likes:
Published by kurokaze66

More info:

Published by: kurokaze66 on Oct 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2013

pdf

text

original

TUGAS MATA KULIAH

HUKUM ISLAM

“SEJARAH

PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM”

UNIVERSITAS PADJADJARAN Nama : Fauzi Rahman NPM : 110110100373

1

yaitu mengetahui dan memahami dalil berupa Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. Ia setuju dengan pembagian Syekh Khudari Bek sampai periode kelima. dikalangan ulama fiqh kontemporer terdapat beberapa macam cara. Periode sahabat kecil dan thabi'in. Cara kedua. kekuasaan pembentukan hukum berada di tangan Rasulullah SAW. Yang disebut terakhir ini dinamakan sunnah Rasulullah SAW. yaitu: [1] 1. al-Madkhal al-Fiqhi al-'Amm (Pengantar Umum fiqh Islam). dengan bimbingan Allah SWT menentukan hukum sendiri. 2 Periode para sahabat besar. ilmu dan fiqh pada masa Rasulullah SAW mengandung pengertian yang sama. yaitu: 1. Istilah fiqh dalam pengertian yang dikemukakan ulama fiqh klasik maupun modern belum dikenal ketika itu. Sumber hukum Islam ketika itu adalah Al-Qur'an. Periode awal. maka ia. Cara pertama. tetapi ia membagi periode keenam menjadi dua bagian. dan 6. Ia membagi masa pembentukan hukum (fiqh) Islam dalam enam periode. Pada zaman Rasulullah SAW para sahabat dalam menghadapi berbagai masalah yang 2 . Periode awal abad ke-2 H sampai pertengahan abad ke-4 H. Periode jatuhnya Baghdad (pertengahan abad ke-7 H oleh Hulagu Khan [1217-1265]) sampai sekarang. 5. Secara lengkap periodisasi sejarah pembentukan hukum Islam menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa adalah sebagai berikut. dan 2. Dua diantaranya yang terkenal adalah cara menurut Syekh Muhammad Khudari Bek (mantan dosen Universitas Cairo) dan cara Mustafa Ahmad az-Zarqa (guru besar fiqh Islam Universitas Amman. pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Mustafa Ahmad az-Zarqa dalam bukunya.Tarikh at-Tasyri' al-Islamy (Sejarah Pembentukan Hukum Islam).SEJARAH PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM Dalam menyusun sejarah pembentukan dan pembinaan hukum (fiqh) Islam. Periode Kedua Masa al-Khulafa' ar-Rasyidin (Empat Khalifah Besar) sampai pertengahan abad ke-l H. Apabila ayat AlQur'an tidak turun ketika ia menghadapi suatu masalah. 3. sejak Muhammad bin Abdullah diangkat menjadi rasul. Pada periode ini. Periode sejak munculnya Majalah al-Al-Akam al-'Adliyyahsampai sekarang. Periode sejak pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al'Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada tahun 1286 H. Periode pertama Masa Rasulullah SAW. periodisasi pembentukan hukum (fiqh) Islam oleh Syekh Muhammad Khudari Bek dalam bukunya. 4. Periode berkembangnya mazhab dan munculnya taklid mazhab. Yordania). Ia membagi periodisasi pembentukan dan pembinaan hukum Islam dalam tujuh periode.

di samping kasus-kasus yang mereka hadapi bersifat sederhana dan pemecahannya tidak banyak memerlukan logika dalam berijtihad. Kedua aliran ini menganut prinsip yang berbeda dalam metode ijtihad. di Irak muncul pula fiqh Syiah yang dalam beberapa hal berbeda dari fiqh Ahlusunnah wal Jama'ah (imam yang empat). yaitu bersifat aktual. dibandingkan dengan yang dihadapi Madrasah alHijaz. Apabila sahabat yang menghadapi persoalan itu tidak memiliki teman musyawarah atau sendiri. Madrasah alHijaz dikenal sangat kuat berpegang pada hadits karena mereka banyak mengetahui haditshadits Rasulullah SAW. masih tetap ada yang menyembunyikan perselisihan dan tipu daya terhadap Mu’awiyah dan keluarganya. Oleh karena itu tahun 41 Hijriyah disebut ‘amul jama’ah (tahun persatuuan Islam) hanya saja benih perselisihan politik tidak padam. baik secara kualitas maupun kuantitas.menyangkut hukum senantiasa bertanya kepada Rasulullah SAW. maka ia melakukan ijtihad sesuai dengan prinsip-prinsip umum yang telah ditinggalkan Rasulullah SAW. sedangkan kasus-kasus yang mereka hadapi jauh lebih berat dan beragam. Periode Ketiga Periode ini dimulai dari pemerintahan Mua’wiyah bin Abu Sufyan tahun 41 Hijiriyah. Di samping itu. Oleh sebab itu. Pada periode ketiga ini pengaruh ra'yu (ar-ra'yu. bertambah luasnya wilayah kekuasaan Islam membuat persoalan hukum semakin berkembang karena perbedaan budaya di masing-masing daerah. Hal ini mereka lakukan karena hadits-hadits Rasulullah SAW yang sampai pada mereka terbatas. Mereka itu dua golongan. ketentuan hukum bagi suatu masalah terbatas pada kasus itu saja. para sahabat berupaya untuk melakukan ijtihad dan menjawab persoalan yang dipertanyakan tersebut dengan hasil ijtihad mereka. sedangkan ulama Irak berhadapan dengan masyara'at yang relatif majemuk. Oleh sebab itu. Pengertian fiqh dalam periode ini masih sama dengan fiqh di zaman Rasulullah SAW. tidak merambat kepada kasus lain secara teoretis. Sedangkan Madrasah alIraq dalam menjawab permasalahan hukum lebih banyak menggunakan logika dalam berijtihad. yaitu golongan Khawarij dan Syi’ah. Madrasah al-hadits kemudian dikenal juga dengan sebutan Madrasah al-Hijaz danMadrasah alMadinah. bukan teori. menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa. Sampai timbulnya segi-segi kelemahan pada akerajaan Arab yakni pada awal abad ke II H. Dari perbedaan metode yang dikembangkan para sahabat ini kemudian muncullah dalam fiqh Islam Madrasah al-hadits(madrasah = aliran) dan Madrasah ar-ra'yu. sedangkan Madrasah ar-ra'yu dikenal dengan sebutan Madrasah alIraq dan Madrasah al-Kufah. [4] 3 . pemikiran tanpa berpedoman kepada Al-Qur'an dan sunnah secara langsung) dalam fiqh semakin berkembang karena ulamaMadrasah al-hadits juga mempergunakan ra'yu dalam fiqh mereka. Ketika itu para sahabat melakukan ijtihad dengan berkumpul dan memusyawarahkan persoalan itu. Artinya. Ditambah lagi. rujukan untuk tempat bertanya tidak ada lagi.[3] Dalam keadaan seperti ini. tidak mengherankan jika ulama Irak banyak menggunakan logika dalam berijtihad. setelah ia wafat. Ulama Hijaz (Hedzjaz) berhadapan dengan suku bangsa yang memiliki budaya homogen. para sahabat besar melihat bahwa perlu dilakukan ijtihad apabila hukum untuk suatu persoalan yang muncul dalam masyara'at tidak ditemukan di dalam Al-Qur'an atau sunnah Rasulullah SAW. periode ini dimulai dengan bersatunya pendapat jumhur Islam pada Mu’awiyah bin Abu Sufyan.

Ulama lebih banyak mencurahkan perhatian dalam mengomentari. menurut Imam Muhammad Abu Zahrah. sedangkan sebelum periode ini. yaitu: 4 . Ada tiga ciri pembentukan fiqh Islam pada periode ini.'Adliyyahsampai sekarang. para hakim yang ditunjuk oleh penguasa adalah ulama mujtahid yang tidak terikat sama sekali pada suatu mazhab. hal ini pun. bahwa pertentangan ini tidak berlangsung lama. Periode ini disebut sebagai periode gemilang karena fiqh dan ijtihad ulama semakin berkembang. Imam Muhammad Abu Zahrah menyatakan beberapa penyebab yang menjadikan tertutupnya pintu ijtihad pada periode ini. karena ternyata kemudian masing-masing kelompok saling mempelajari kitab fiqh kelompok lain. Munculnya buku-buku fiqh yang disusun oleh masing-masing mazhab. Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa pada periode ini muncullah anggapan bahwa pintu ijtihad sudah tertutup. yaitu sebagai berikut: 1. Mazhab Syafi'i dan Mazhab Hanbali. tetapi telah beralih pada sikap mempertahankan pendapat mazhab secara jumud (konservatif). sehingga hukum fiqh yang diterapkan hanyalah hukum fiqh mazhabnya. Periode ini diawali dengan kelemahan semangat ijtihad dan berkembangnya taklidserta ta'assub (fanatisme) mazhab. guru besar fiqh di Universitas al-Azhar. Periode Ketujuh Sejak munculnya Majalah al-Ahkam al. Periode Kelima Pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Munculnya sikap ta'assub madzhab (fanatisme mazhab imamnya) di kalangan pengikut mazhab. membuat umat Islam mencukupkan diri mengikuti yang tertulis dalam buku-buku tersebut. Periode ini ditandai dengan menurunnya semangat ijtihad di kalangan ulama fiqh. Pada periode inilah muncul berbagai mazhab. 2. Periode Keenam Pertengahan abad ke-7 H sampai munculnya Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah pada tahun 1286 H. seperti yang diungkapkan oleh Imam Muhammad Abu Zahrah. Penyelesaian masalah fiqh tidak lagi mengacu pada Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW serta pertimbangan tujuan syara' dalam menetapkan hukum. Dipilihnya para hakim yang hanya bertaqlid kepada suatu mazhab oleh pihak penguasa untuk menyelesaikan persoalan. Mesir. dan 3. Mazhab Maliki. Pertentangan antara Madrasah alhadits dengan Madrasah ar-ra'yu semakin menipis sehingga masing-masing pihak mengakui peranan ra'yu dalam berijtihad.Periode Keempat Pertengahan abad ke-2 sampai pertengahan abad ke-4 H. Lebih jauh. Ulama ketika itu merasa lebih baik mengikuti pendapat yang ada dalam mazhab daripada mengikuti metode yang dikembangkan imam mazhabnya untuk melakukan ijtihad. yaitu Mazhab Hanafi. khususnya mazhab yang empat. bahkan mereka cukup puas dengan fiqh yang telah disusun dalam berbagai mazhab. memperluas atau meringkas masalah yang ada dalam kitab fiqh mazhab masing-masing. Upaya mentakhrij (mengembangkan fiqh melalui metode yang dikembangkan imam mazhab) dan mentarjih pun sudah mulai memudar.

Untuk mencapai tujuan ini dibentuklah sebuah panitia kodifikasi hukum perdata. Setelah berhasil dengan penyusunan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah. Munculnya kodifikasi hukum Islam dalam bentuk Majalahal-Ahkam al'Adliyyah dilatarbelakangi oleh kesulitan para hakim dalam menentukan hukum yang akan diterapkan di pengadilan. Berkembangnya upaya kodifikasi hukum Islam. Pada abad ke-19 muncul berbagai pemikiran di kalangan ulama dari berbagai negara Islam untuk mengambil pendapat-pendapat dari berbagai mazhab serta menimbang dalil yang paling kuat diantara semua pendapat itu. pidana. Memilih pendapat terkuat dari berbagai kitab fiqh merupakan kesulitan bagi para hakim di pengadilan. menurutnya. dan Munculnya pemikiran untuk memanfaatkan berbagai pendapat yang ada di seluruh 3. sesuai dengan kebutuhan zaman. pemerintah Turki Usmani berpendapat bahwa harus ada satu kitab fiqh/hukum yang bisa dirujuk dan diterapkan di pengadilan. Oleh sebab itu. yaitu Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah SAW. maka pada tahun 1333 H pemerintah Turki Usmani menyusun kitab hukum keluarga (al-Ahwal asy-Syakhsiyyah) yang merupakan gabungan dari berbagai pendapat mazhab. Pengambilan pendapat dilakukan tidak saja dari mazhab yang empat. Menurutnya. sementara kitab-kitab fiqh muncul dari berbagai mazhab dan sering dalam satu masalah terdapat beberapa pendapat. Pada tahun 1286 H panitia ini berhasil menyusun hukum perdata Turki Usmani yang dinamai dengan Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah yang terdiri atas 1. 5 . tetapi juga dari para sahabat dan thabi'in. para penguasa di negeri-negeri Islam yang tidak tunduk di bawah kekuasaan Turki Usmani mulai pula menyusun kodifikasi hukum secara terbatas. Akan tetapi. tetapi juga ulama dari disiplin ilmu lainnya. hukum fiqh menjadi lebih akomodatif jika dibandingkan dengan hukum fiqh dalam kitab berbagai mazhab. [6] Ali Hasaballah. tidak hanya ulama fiqh. dengan syarat bahwa pendapat itu lebih tepat dan sesuai. seperti bidang kedokteran dan sosiologi. ijtihad jama'i (kolektif) harus dikembangkan dengan melibatkan berbagai ulama dari berbagai disiplin ilmu. di samping memerlukan waktu yang lama.851 pasal. baik bidang perdata. mazhab. Dengan demikian. Munculnya Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah sebagai hukum perdata umum yang diambilkan dari fiqh Mazhab Hanafi. tetapi dengan melakukan ijtihad kembali ke sumber aslinya. pembentukan dan pengembangan hukum Islam tersebut. ahli fiqh dari Mesir. 2. tidak harus mengacu kepada kitab-kitab fiqh yang ada. Bersumber dari berbagai pendapat atas pendapat terkuat dari berbagai mazhab. maupun ketatanegaraan.1. mengatakan bahwa upaya penerapan hukum Islam di berbagai neqara Islam semakin tampak.

Berkembangnya komunitas muslim di wilayah itu kemudian diikuti oleh berdirinya kerajaan Islam pertama di Tanah air pada abad ketiga belas. kemudian di Sulawesi dan Maluku berdiri Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate serta Tidore. 6 . VOC pun membebaskan penduduk pribumi untuk menjalankan apa yang selama ini telah mereka jalankan. Kerajaan ini dikenal dengan nama Samudera Pasai. Dan kondisi terus berlangsung hingga para pedagang Belanda datang ke kawasan nusantara. Mataram dan Cirebon. Sebagai gerbang masuk ke dalam kawasan nusantara. kawasan utara pulau Sumatera-lah yang kemudian dijadikan sebagai titik awal gerakan dakwah para pendatang muslim. Aceh Timur. Penetapan hukum Islam sebagai hukum positif di setiap kesultanan tersebut tentu saja menguatkan pengamalannya yang memang telah berkembang di tengah masyarakat muslim masa itu. lalu di pulau Jawa berdiri Kesultanan Demak. Fakta-fakta ini dibuktikan dengan adanya literatur-literatur fiqh yang ditulis oleh para ulama nusantara pada sekitar abad 16 dan 17. penggunaan hukum Belanda itu menemukan kesulitan. Tentu saja dengan menggunakan hukum Belanda yang mereka bawa. Ini disebabkan karena penduduk pribumi berat menerima hukum-hukum yang asing bagi mereka. Secara perlahan. Akibatnya. atau yang lebih dikenal dengan VOC. dapat dicatat beberapa “kompromi” yang dilakukan oleh pihak VOC. atau pada sekitar abad ketujuh dan kedelapan masehi.Hukum Islam pada Masa Pra Penjajahan Belanda Akar sejarah hukum Islam di kawasan nusantara menurut sebagian ahli sejarah dimulai pada abad pertama hijriyah. gerakan dakwah itu kemudian membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak. Pengaruh dakwah Islam yang cepat menyebar hingga ke berbagai wilayah nusantara kemudian menyebabkan beberapa kerajaan Islam berdiri menyusul berdirinya Kerajaan Samudera Pasai di Aceh. VOC dapat dikatakan memiliki peran yang melebihi fungsinya. Karena itu disamping menjalankan fungsi perdagangan. Sebagai sebuah organisasi dagang. Kaitannya dengan hukum Islam. dinyatakan bahwa hukum kewarisan Islam berlaku bagi para pemeluk agama Islam. Ia terletak di wilayah Aceh Utara. Kesultanan-kesultanan tersebut sebagaimana tercatat dalam sejarah. Dalam kenyataannya. Hukum Islam pada Masa Penjajahan Belanda Cikal bakal penjajahan Belanda terhadap kawasan nusantara dimulai dengan kehadiran Organisasi Perdagangan Dagang Belanda di Hindia Timur. VOC juga mewakili Kerajaan Belanda dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan. yaitu: Dalam Statuta Batavia yag ditetapkan pada tahun 1642 oleh VOC. Hal ini sangat dimungkinkan sebab Pemerintah Kerajaan Belanda memang menjadikan VOC sebagai perpanjangtangannya di kawasan Hindia Timur. itu tentu saja kemudian menetapkan hukum Islam sebagai hukum positif yang berlaku. Tidak jauh dari Aceh berdiri Kesultanan Malaka.

Islam tidak memiliki para pegawai di bidang agama yang terlatih di masjid-masjid atau pengadilan-pengadilan Islam. Kebijakan pemerintah Belanda telah memperlemah posisi Islam. yang intinya perkara perdata sesama muslim akan diselesaikan dengan hakim agama Islam jika hal itu telah diterima oleh hukum adat dan tidak ditentukan lain oleh sesuatu ordonasi. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan (1945) Perdebatan panjang tentang dasar negara di BPUPKI kemudian berakhir dengan lahirnya apa yang disebut dengan Piagam Jakarta. Gowa dan Bone. lembaga-lembaga dan kebiasaan pribumi dalam hal persengketaan yang terjadi di antara mereka. Cirebon. mereka menyadari bahwa Islam adalah suatu kekuatan di Indonesia yang dapat dimanfaatkan. Upaya ini diselesaikan pada tahun 1760. — Atas dasar nota disampaikan oleh Mr. ia belum diterima oleh hukum adat setempat). Abikusno Tjokrosujoso menyatakan bahwa. Ketika pasukan Jepang datang. Kalimat kompromi paling penting Piagam Jakarta terutama ada pada 7 . Bila ingin disimpulkan. Scholten van Oud Haarlem. — Atas dasar teori resepsi yang dikeluarkan oleh Snouck Hurgronje. — Pada tahun 1925. masa pendudukan Jepang lebih baik daripada Belanda dari sisi adanya pengalaman baru bagi para pemimpin Islam dalam mengatur masalah-masalah keagamaan. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1922 kemudian membentuk komisi untuk meninjau ulang wewenang pengadilan agama di Jawa dalam memeriksa kasus-kasus kewarisan (dengan alasan. Lemahnya posisi hukum Islam ini terus terjadi hingga menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di wilayah Indonesia pada tahun 1942. selama tidak bertentangan dengan asas kepatutan dan keadilan yang diakui umum. maka upaya pembatasan keberlakuan hukum Islam oleh Pemerintah Hindia Belanda secara kronologis adalah sebagai berikut : — Pada pertengahan abad 19. seperti di Semarang. Pemerintah Belanda menginstruksikan penggunaan undang-undang agama. dilakukan perubahan terhadap Pasal 134 ayat 2 Indische Staatsregeling (yang isinya sama dengan Pasal 78 Regerringsreglement). Belanda menjalankan kebijakan politik yang memperlemah posisi Islam. Adanya upaya kompilasi serupa di berbagai wilayah lain.Adanya upaya kompilasi hukum kekeluargaan Islam yang telah berlaku di tengah masyarakat. Pemerintah Hindia Belanda melaksanakan Politik Hukum yang Sadar. Kompilasi ini kemudian dikenal dengan Compendium Freijer. yaitu kebijakan yang secara sadar ingin menata kembali dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia dengan hukum Belanda. Klausa terakhir ini kemudian menempatkan hukum Islam di bawah subordinasi dari hukum Belanda. Hukum Islam pada Masa Pendudukan Jepang tidak ada perubahan berarti bagi posisi hukum Islam selama masa pendudukan Jepang di Tanah air. Namun bagaimanapun juga.

Isa Ashary mengatakan. sangat sulit untuk dikatakan sebagai konstitusi yang menampung aspirasi hukum Islam. Hal lain yang patut dicatat di sini adalah terjadinya beberapa pemberontakan yang diantaranya “bernuansakan” Islam dalam fase ini. Perjuangan mengganti UUD Sementara itu kemudian diwujudkan dalam Pemilihan Umum untuk memilih dan membentuk Majlis Konstituante pada akhir tahun 1955. lahirlah apa yang disebut dengan Konstitusi Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. samasekali tidak menegaskan posisi hukum Islam sebagaimana rancangan UUD 1945 yang disepakati oleh BPUPKI. Mukaddimah Konstitusi ini misalnya. Indonesia memasuki masa-masa revolusi (1945-1950). yang bahkan dipengaruhi oleh faham liberal yang berkembang di Amerika dan Eropa Barat. Namun delapan bulan sebelum batas akhir masa kerjanya. Namun ia melepaskan aspirasinya untuk kemudian bergabung dengan Republik Indonesia. serta rumusan Deklarasi HAM versi PBB. Hukum Islam pada Masa Kemerdekaan Periode Revolusi Hingga Keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1950. Dari beberapa pertempuran. Selama hampir lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan. Menyusul kekalahan Jepang oleh tentara-tentara sekutu. bahkan menurut Anwar Harjono lebih dari sekedar sebuah “dokumen historis”. atau dua hari sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Tetapi ketika kontrol RI terhadap wilayahnya semakin merosot akibat agresi Belanda. Namun bagaiamana dalam tataran aplikasi? Lagi-lagi faktor-faktor politik adalah penentu utama dalam hal ini. Majlis ini dibubarkan melalui Dekrit Presiden yang dikeluarkan pada tanggal 5 Juli 1959. Majelis yang terdiri dari 514 orang itu kemudian dilantik oleh Presiden Soekarno pada 10 November 1956. terutama setelah diproklamirkannya Negara boneka Pasundan di bawah kontrol Belanda. Pada akhirnya. maka UUD 1945 dinyatakan berlaku sebagai konstitusi Republik Indonesia yang merupakan satu dari 16 bagian negara Republik Indonesia Serikat. Kartosuwirjo sesungguhnya telah memproklamirkan negara Islamnya pada tanggal 14 Agustus 1945.kalimat “Negara berdasar atas Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Hal ini tentu saja mengangkat dan memperjelas posisi hukum Islam dalam UUD. Belanda ingin kembali menduduki kepulauan Nusantara. kejadian mencolok mata sejarah ini dirasakan oleh umat Islam sebagai suatu ‘permainan sulap’ yang masih diliputi kabut rahasia…suatu politik pengepungan kepada cita-cita umat Islam. Konstitusi RIS sendiri jika ditelaah. hingga akhirnya tidak lama setelah Linggarjati. status hukum Islam tetaplah samar-samar. Berbagai perundingan dan perjanjian kemudian dilakukan. dimana ia kemudian mendirikan negara-negara kecil yang dimaksudkan untuk mengepung Republik Indonesia. Yang paling fenomenal adalah gerakan DI/TII yang dipelopori oleh Kartosuwirjo dari Jawa Barat. Hal penting terkait dengan hukum Islam dalam peristiwa Dekrit ini adalah konsiderannya yang menyatakan bahwa “Piagam Jakarta tertanggal 22 Juni menjiwai UUD 1945” dan merupakan “suatu kesatuan dengan konstitusi tersebut”. ia 8 . Dengan berlakunya Konstitusi RIS tersebut. Pengejawantahan kesimpulan akademis ini hanya sekedar menjadi wacana jika tidak didukung oleh daya tawar politik yang kuat dan meyakinkan. Belanda berhasil menguasai beberapa wilayah Indonesia. Demikian pula dengan batang tubuhnya. di periode ini. Menurut Muhammad Yamin kalimat ini menjadikan Indonesia merdeka bukan sebagai negara sekuler dan bukan pula negara Islam.

menurut sebagian peneliti. hukum Islam telah berlaku secara langsung sebagai hukum yang berdiri sendiri. yang mengakui Pengadilan Agama sebagai salah satu badan peradilan yang berinduk pada Mahkamah Agung. Hal ini ditunjukkan oleh K. upaya ini kemudian dilanjutkan dengan mengajukan rancangan hukum formil yang mengatur lembaga peradilan di Indonesia pada tahun 1970. Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada bulan Februari 1988. namun lagi-lagi ketidakjelasan batasan “perhatian” itu membuat hal ini semakin kabur.H. Meskipun hukum Islam adalah salah satu kenyataan umum yang selama ini hidup di Indonesia. terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. dan atas dasar itu Tap MPRS tersebut membuka peluang untuk memposisikan hukum Islam sebagaimana mestinya. yang mencoba mengajukan Rancangan Undang-undang Perkawinan Umat Islam dengan dukunagn kuat fraksi-fraksi Islam di DPR-GR. dengan sendirinya menurut Hazairin. Kita dapat melakukan langkah-langkah pembaruan. untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita. di era reformasi ini. Hal ini kemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk mengompilasikan hukum Islam di bidang-bidang tertentu. seorang menteri agama dari kalangan NU. 14 Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan. dan menginstruksikan penyebarluasannya kepada Menteri Agama. Upaya ini kemudian membuahkan hasil dengan lahirnya UU No. dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam. Meskipun gagal. Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde Baru Mungkin tidak terlalu keliru jika dikatakan bahwa Orde Lama adalah eranya kaum nasionalis dan komunis. Soeharto sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu. namun upaya-upaya untuk mempertegasnya tetap terus dilakukan. Lalu bagaimana dengan hukum Islam? Meskipun kedudukan hukum Islam sebagai salah satu sumber hukum nasional tidak begitu tegas di masa awal Orde ini. Mohammad Dahlan. Dengan demikian. Dengan UU ini. 9 . lebih banyak diakibatkan oleh kekecewaan Kartosuwirjo terhadap strategi para pemimpin pusat dalam mempertahankan diri dari upaya pendudukan Belanda kembali. Dan peran hukum Islam di era inipun kembali tidak mendapatkan tempat yang semestinya. dan bukan atas dasar apa yang mereka sebut dengan “kesadaran teologis-politis”nya.14/1970.000 korban tewas itu. Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. Salah satu buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Nomor 11 Tahun 2002. Sementara kaum muslim di era ini perlu sedikit merunduk dalam memperjuangkan citacitanya. Hukum Islam di Era Reformasi Upaya kongkrit merealisasikan hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata di era ini. Namun pemicu konflik yang berakhir di tahun 1962 dan mencatat 25.pun memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1948.

Dan upaya ini membuahkan hasil saat pada bulan Februari 1988.Penegasan terhadap berlakunya hukum Islam semakin jelas ketika UU no. Salah satu buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Nomor 11 Tahun 2002. Hukum Islam di Era Reformasi Upaya kongkrit merealisasikan hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata di era ini. 14 Tahun 1989 tentang peradilan agama ditetapkan. terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat melakukan langkah-langkah pembaruan. di era reformasi ini. Soeharto sebagai presiden menerima hasil kompilasi itu. untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif yang berlaku dalam hukum Nasional kita. Hal ini kemudian disusul dengan usaha-usaha intensif untuk mengompilasikan hukum Islam di bidangbidang tertentu. dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan berlandaskan sistem hukum Islam. 10 . dan menginstruksikan penyebarluasannya kepada Menteri Agama. Dengan demikian.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->