P. 1
MAKALAH HUKUM LINGKUNGAN

MAKALAH HUKUM LINGKUNGAN

|Views: 249|Likes:
Published by Ryan Aditya Pratama

More info:

Published by: Ryan Aditya Pratama on Oct 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/22/2014

pdf

text

original

MAKALAH HUKUM LINGKUNGAN PRINSIP-PRINSIP PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM DINAMIKA HUKUM NASIONAL FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS

TRUNOJOYO BANGKALAN 2009 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Pengelolaan serta pelestarian lingkungan hidup tidak hanya butuh kuantitas yang besar melainkan konsistesi yang sustainable.Hal ini di karenakan lingkungan tidak hanya di manfaatkan saat ini saja,melainkan akan menjadi tempat hunian masyarakat luas selamanya.Maka peran pemerintah mutlak sangatlah besar.Sebagai pelindung masyarakat,sudah semestinya pemerintah memiliki konsep paradigma berpikir yang peduli lingkungan.Tidak hanya itu,regulasi yang tepat akan menjadi penyelamat korelasi antara manusia dengan lingkungan yang manfaatnya akan kembali juga pada masyarakat itu sendiri. Dalam mainstream pemikiran yang berkembang, lingkungan hidup diperlakukan sekedar sebagai obyek manajemen. Sementara itu kita tahu bahwa misi dari manajemen adalah pemuasan kepentingan para subyeknya yaitu manusia. Lingkungan tidak memiliki makna atau nilai (value) lebih dari sekedar alat pemuas umat manusia. Dalam kepungan utilitarianism ini menejemen lingkungan hidup terjebak dalam suatu paradoks. Di satu sisi manajemen lingkungan hidup berusaha menekan kerusakan lingkungan hidup, di sisi lain keserakahan ummat tetap diumbar. Lebih dari itu, fokus perhatian kita pada dimensi managerial dalam pengelolaan lingkungan hidup telah menjadikan kita lalai terhadap kenyataan bahwa kemapaanan sistem manajemen sebetulnya juga menyimpan kemampuan umat manusia untuk menghasilkan kerusakan sistemik. Pandangan yang selama ini telah difahami adalah bahwa, supaya manusia bisa mendapatkan manfaat yang optimal, maka lingkungan hidup harus dikelola. Dalam hal ini, manusia memperlakukan dirinya sebagai subyek dan lingkungan hidup sebagai obyek manajemen. Tersirat di sini, lingkungan hidup yang diatur dan di tata sedemikian rupa sehingga manusia tidak sengsara, umat manusia bisa sejahtera. Pertanyaan yang perlu kita renungkan sekarang: bisakah lingkungan hidup terus-menerus di eksplorasi sistem kerjanya agar upaya untuk meningkatkan kesejahteraannya tidak terganggu ?. Semakin terorganisir suatu tatanan sosial, semakin sistemik masyarakat tersebut mengubah alam dan efek yang ditimbulkan juga semakin kompleks. Paradigma yang mengacu pada konsep sustainable merupakan suatu proses perubahan yang terencana yang didalamya terdapat keselarasan serta peningkatan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia. Hal ini berarti bahwa konsep sustainable dapat menjamin adanya pemerataan dan keadilan sosial yang ditandai dengan lebih meratanya akses peran dan kesempatan. Sustainable lingkungan menekankan pada adanya keterbatasan lingkungan sehingga penting untuk dilindungi dan dilestarikan untuk keberlanjutan hidup generasi yang akan datang, sehingga penting untuk menciptakan suatu sisten kinerja pengelolaan lingkungan yang memiliki koridor sustainable. Paradigma sustainable lingkungan juga mengacu pada konsep keadilan yang dimaknai dengan adanya keterwakilan dan pendistribusiannya, terkait dengan bagaimana kebijakan dalam pengelolaan lingkungan hidup dapat menjadi suatu regulasi yang benar-benar mewakili aspirasi dari masyarakat luas. Melalui konsep regulasi yang jelas serta kepedulian lingkungan yang tinggi, diharapkan nantinya tercipta peningkatan kualitas kehidupan dan kesejahteraan generasi masa

Sumber daya alam seperti air. dll g. intragroup. pengawasan dan evaluasi i. konflik sosial. Konflik bisa diartikan sebagai gangguan emosi yang merupakan akibat benturan pandangan yang saling bertentangan atau ketidakmampuan menangani pandangan-pandangan dengan pertimbangan realistis maupun moral. setidaknya keberadaan sumber daya alam memiliki berbagai fungsi. Konflik Banyak definisi yang berkaitan dengan konflik. Namun. yaitu . Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan. berdasar bentuk potensi penyelesaian konflik : melalui hukum adat. konflik kepentingan/kekuasaan. maka perlu ada regulasi hukum yang jelas terkait kepada pengelolaan lingkungan hidup terutama dalam hal pelaksanaannya. politik. Berdasar bentuk/dampak yang muncul dari konflik : Konflik Tertutup & Konflik Terbuka. dan kedua. dan pengendalian lingkungan hidup.kini tanpa mengabaikan kesempatan generasi masa depan memenuhi kebutuhannya Paradigma umum berikutnya adalah yang mengacu pada konsep partisipatif. pemulihan. pemeliharaan. dimana didasari dengan adanya kesetaraan dan kebersamaan dalam pengelolaan lingkungan. pengorganisasian. hutan dan lainnya merupakan sumberdaya yang penting bagi kelangsungan hidup mahkluk hidup termasuk manusia. Fungsi ekonomi dan sosial/budaya. Berfungsi ekonomi maksudnya sumber daya alam menyediakan beragam materi dan energi yang dibutuhkan untuk menunjang kelangsungan proses produksi. ekonomi/perebutan SDA. mengarah pada kekerasan/kerusakan c. Klasifikasi berdasarkan rencana target : Konflik Sistematis & Konflik Non-Sistematis e. tetapi juga dapat memberikan kontribusi besar terhadap kesejahteraan yang lebih luas. implementasi. ekologis/sistem penyangga kehidupan 2. Berdasar level konflik : Intrapersonal. Berdasar tahapan kegiatan : perencanaan. karena pengelolaan yang buruk berdampak pada kerugian yang akan ditimbulkan dari keberadaan SDA. semua itu bergantung pada bagaimana pengelolaan SDA tersebut. Diharapkan dengan adanya partisipasi dari berbagai pihak. data/informasi. penyelesaian Dalam hal ini. dan sebagainya. Bahkan. udara. dll h. struktural. Konflik dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. Sedangkan fungsi sosial/budaya berkaitan dengan keberadaannya sebagai media sebagian masyarakat dalam berinteraksi antar kelompok sosial maupun dengan sistem kepercayaan . tanah. Klasifikasi berdasarkan lamanya konflik : Konflik Sesaat (spontan) & Konflik Berkepanjangan (underlying) d. misalnya dalam bentuk banjir. Berdasar bidang konflik : etnis. RUMUSAN MASALAH Bagaimana prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan hidup dalam dinamika hukum nasional? Sebagai produk regulasi untuk melindungi lingkungan hidup . pemanfaatan. Berdasar Posisi para pelaku : Konflik Horisontal & Konflik Vertikal b.. Konsep ini menekankan pada pentingnya pelibatan dari berbagai pihak terkait terutama masyarakat. interpersonal. lingkungan dapat dikelola dengan efektif dan efisien. kombinasi. melihat dimana level konflik terjadi (top manajemen. SDA ini tidak hanya mencukupi kebutuhan hidup manusia. dll. 1. pengembangan. nilai/budaya. Mengacu pada kedua paradigma ini. middle atau low manajemen) f. intergroup. pengawasan. Berdasar sumber/akar konflik : perbedaan kepribadian. pencemaran air.apakah undang-undang nomor 23 tahun 1997 telah cukup berparadigma pengelolaan lingkungan yang sustainable? Bagaimana peran pemerintah daerah dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan serta sumber daya alam yang berbasis pada pelestarian lingkungan hidup itu sendiri? Bagaimana partisipasi masyarakat dalam penbgelolaan lingkungan hidup yang sustainable? TINJAUAN PUSTAKA IV.

Tuntutan untuk membalik kerangka seacara radikal ini tidak dengan mudah bisa dipenuhi oleh khalayak. yakni manajemen lingkungan hidup. Cara pandang yang ekosentrik ini jelas bertolak belakang dengan cara pandang yang umum. yang diharapkan akan memastikan terkelolanya persoalan-persoalan lingkungan hidup. Teori-teori manajemen. Menurut kaum environmentalis radikal ini diyakini bahwa.dengan tuhannya atau mempunyai fungsi psychophysiologic (sebagai insprasi sumber kepercayaan dan aktifitas religius). Tidaklah mengherankan kalau kita kemudian terbiasa menggantungkan diri pada penggunaan otoritas negara dalam meregulasi pengelolaan lingkungan hidup. Belum lagi kalau diingat. dan ekspektasi mereka juga terus meningkat. Manusia ingin memperlakukan manusia obyek yang diharuskan untuk tunduk dan patuh pada hukum alam. ada keperluan untuk menjajagi berbagai kerangka konseptual alternatif. PEMBAHASAN Pada dasarnya. manusia dibayangkan sebagai fihak yang menentukan perubahan dan lingkungan ada fihak yang harus disesuaikan melalui berbagai disain. Sialnya. seberapa jauh daya dukung alam ini bisa di-melar-kan Ingat. Oleh karena itu. Kontradiksi atau perdebatan di antara dua kutub pemikiran tersebut di atas telah berlangsung lama. semakin dia boros atau rakus dukungan sumberdaya utuk mencukupi kebutuhannya. Alam diyakini telah memiliki hukumnya sendiri. justru bekerjanya mesin birokrasi pemerintahan justru menjadikan lembaga yang satu dengan mudahnya melempar tanggung jawabnya ke pada lembaga lain. yang mereka sebut sebagai cara pandang yang anthropo-centric (yang pada dasarnya mengandaikan manusia sebagai pusat perhatian) atau techno-centric (yang mengandaikan kemampuan teknik ummat manusia sebagai pilar tertib sosial). dan pandangan yang ditawarkan kalangan environmentalis radikal yang bercorak eco-centric (ekosentrik) tetap tidak populer. mereka tidak akan memiliki kemampuan yang sempurna untuk mengendalikan alam. Kenyataan bahwa alam telah memiliki hukumnya sendiri. selama ini pengelolaan lingkungan itu difahami sebagai tugas negara. Point yang ingin dikedepankan di sini adalah bahwa pendekatan yang saat ini populer. Artinya. . memiliki keterbatasan serius manakala pendekatan ini mendudukan lingkungan sebagai obyek dan manusia sebagai subyek. berambisi untuk selalu menawar daya dukung alam. Artinya. sehingga kesejahteraan bisa terjamin. berkaitan dengan berbagai komponen lingkungan yang membentuk ekosistem dan keseimbangannya diperlukan dalam menjaminkan berbagai aktivitas kehidupan makhluk hidup. Fungsi ekologis. Lebih jauh lagi.Maunya tampil sebagai problem solver. dalam konteks ini. Para environmentalis radikal berkeinginan untuk membalik logika yang managerialistik tersebut di atas. daya ubah manusia modern semakin hari semakin dahsyat. educational and scientific services (penelitian dan pendidikan lingkungan) serta source of land and living space (sumber lahan dan tempat tinggal suku-suku tertentu). Bekerjanya birokrasi pemerintahan. tak tahunya justru menjadi trouble maker. semakin modern cara hidup seseorang. Pertanyaan yangtersisa. alam diperankan sebagai subyek dan manusia harus memposisikan diri sebagai obyek pengelolaan ekuilibrium alam. Dalam kajian manajemen lingkungan sebetulnya telah lama dikenal adanya batas daya dukung alam (carrying capacity). Para pengkaji manajemen lingkungan meyakini bahwa batas daya dukung alam ini bisa dinaikkan melalui manjemen yang baik. Cara memandang persoalan yang demikian ini disebut sebagai cara pandang yang eco-centric (ekosentrik). betapapun hebatnya kemampuan manusia untuk mengembangkan budaya dan kreativitasnya. justru menciptakan masalah lingkungan itu sendiri. negaralah yang bertanggung jawab mengelola perilaku kolektif ummat manusia melalui kebijakan-kebijakan yang diambilnya. dan kerusakan lingkungan pada dasarnya adalah konsekuensi dari pelanggaran hukum alam. strategi atau teknik manajemen. harus diikuti dengan penyesuaian tata kehidupan manusia agar tidak bertabrakan dengan hukum alam tersebut.

namun juga komitmen untuk tidak melanggar hukum-hukum alam (hukum-hukum yang dijelaskan dalam kajian ekologi). Lingkungan hidup perlu dikelola dengan sentuhan etika baru: etika lingkungan. nasib lingkungan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan menertibkan perilaku negara agar konsisten dengan kaidah-kaidah ekologis. Hanya saja. yang mengejar optimalnya peprolehan atau minimalnya resiko demi manusia. Sebaliknya. Perlu diingat. perlu dikemukakan bahwa selama pemerintah sebetulnya telah mencoba untuk mendorong perubahann tata nilai. energinya terserap untuk melakukan perlawanan terhadap fihak-fihak yang dianggap sebagai perusak lingkungan. sebetulnya menyembunyikan tata nilai baru.Cara fikir yang ekosentris menjanjikan bukan hanya keberpihakan terhadap lingkungan. bagaimana perubahan tata nilai bisa dilangsungkan ke arah yang digariskan oleh faham ekosentrik ? Sebelum menjawab pertanyaan ini. Kalau kerangka fikir ekosentrik ini ingin diadopsi. Oleh karena itu. namun birokrasi pemerintahann sejauh ini masing harus berkutat dengaan persoalan egosektoral. hukum alam tetap akan berjalan. Selama ini rasionalitas yang berkembang adalah rasionalitas antroposentrik. adalah rasional justru kalau ummat manusia mengikuti hukum-hukum alam. Birokrasi pemerintahan tidak bisa diandalkan untuk diperankan sebagai instrumen pengelolaan lingkungan hidup karena sistem nilai yang ada di dalam birokrasi pemerintahan tersebut tidak sensitif terhadap premis-premis ekologis. Oleh karena itu. Berfungsinya ekosistem tidak pernah mengenal yurisdiksi spasial para pejabat negara. Dalam memikirkan proses perubahan nilai-nilai yang kondusif bagi kelestarian lingkungan hidup. gerakan lingkungan yang sebetulnya sangat potensial dalam menumbuhkembangkan etika baru. Singkat kata. Adanya keperluan untuk menjadikan negara sebagai sasaran penertiban inilah yang menginspirasi penulis untuk mengusulkan penggunaan konsep governance sebagai framework alternatif. melainkan dari kacamata kolektif. kegagalan birokrasi pemerintah dalam menyelenggarakan skema-skema manajemen lingkungan adalah karena tidak adanya komitmen terhadap nilai-nilai ekologis. Sebagai suatu organisasi yang memiliki kontrol terhadap sumberdaya dan kekuatan paksa. dan pelanggaran terhadap hukum alam pada gilirannya justru mengancam manusia itu sendiri. Cara fikir ekosentrik mengajak untuk berfikir secara lebih seksama. negara memiliki kemampuan mengubah kondisi alam dalam skala yang massif. Terlepas dari apapun kepentingan manusia. Environmental governance dalam makalah . yang dikelola bukan lingkungan hidup melainkan interaksi sosial yang mengkondisikan kerusakan-kerusakan lingkungan hidup itu sendiri. maka rasionalitas manusia yang perlu diformat ulang. sudahnya basis sumberdayanya lemah. mendorong muncul dan berkembangnya etika baru. Persoalannya. Alam telah memiliki hukumnya sendiri.kalkukasi rasional-irrasional dalam cara pandang ekosentrik ini tidaklah dari kaca mata individual. melainkan ekosistem dunia dengan manusia sebagai salah satu komponennya. di masa-masa mendatang kita memerlukan kepiawaian dalam mengelola interaksi-interaksi sosial yang secara sistemik memiliki kapasitas merusak ekosistem dan habitat kehidupan ummat manusia. dan mereka tetap saja bersiteguh dengan pemilahan fungsi secara spasial. Kalau selama ini kajian manajemen lingkungan hidup telah mencurahkan perhatiannya kepada lingkungan sebagai entitas bio-fisik. Unit yang dianalisis tidak hanya manusia dengan segala kepentingannya. Hanya saja. mereproduksi etika lingkungan. pendekatan manajerial justru bisa dipakai. kala cara pandang teknosentrik hanya peduli dengan kepentingan manusia maka cara pandang teknosentrik justru mengharuskan ummat manusia mengekang kapasitas teknosentrik yang ada supaya “kedaulatan” hukum-hukum ekologi tidak terganggu. selama ini negara mengalami kesulitan untuk mereproduksi nilai-nilai. Ekosistem tidak mengenal batas-batas kewenangan sektoral. Digulirkannya wacana „pembangunan berwawasan lingkungan‟.

pre emptive dan represif. strict liability dan hak gugat instansi pemerintah. Sedangkan hak atas informasi dan mengeluarkan pendapat sebagai bentuk berpartisipasi secara tegas diatur dalam pasal 28F dan 28C ayat (3). Sementara itu Ilyas Assaad. Kondisi saat ini menunjukkan bahwa regulasi yang ada hanya kaya akan jumlah namun miskin dengan penataan. gugatan perdata biasa. dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Hukum pengelolaan lingkungan bukan hanya sebagai formalitas nasional dalam meratifikasi konfrensi lingkungan hidup baik Stockholm. Lebih lanjut menurut Prabowo. UU ini mengaitkan hak atas informasi dalam pasal 5 ayat (2) dengan hak setiap orang atas lingkungan yang baik dan sehat dalam pasal 5 ayat (1) dan hak setiap orang untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan dalam pasal 6 ayat Akses masyarakat dalam penegakan hukum lingkungan keperdataan yaitu pertama di luar pengadilan meliputi sukarela. keterbatasan kapasitas budget dan ketiadaan akses informasi dan partisipasi yang menyebabkan kontrol eksternal menjadi tidak efektif. Dalam penegakan hukum lingkungan yang efektif tersebut menurut Rino memiliki kendala seperti perbedaan persepsi dan rendahnya koordinasi di antara aparat penegak hukum terkait. Selama 2008 ada 68 kasus yang ditangani dengan putusan 4 kasus. prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan hidup dalam dinamika hukum nasional Undang-undang nomor 23 tahun 1997 adalah salah satu produk hokum sebagai bukti eksistensi hokum penglolaam lingkungan hidup dalam dinamika hokum nasional. Keterlibatan negara.rio de jeneiro maupun johanesberg.karena sebagai bangsa yang berperadaban tinggi Hak untuk mendapatkan lingkungan hidup yang sehat sesungguhnya telah dijamin dalam UUD 1945 pasal 28 H. jasa pihak ketiga dan lembaga penyedia. penegakan hukum lingkungan saat ini berada pada posisi stagnasi yang berkelamaan. Penegakan hukum lingkungan hanya sebagai tools yang bertujuan akhir sebuah compliance. tidak terbatas pada ganti kerugian. kedua di dalam pengadilan meliputi class action. buruknya implementasi dari aturan yang diterbitkan. ternyata tidak menjamin berlakunya sistem manajemen lingkungan yang diberlakukan. legal standing NGO. perlu adanya kesinambungan antara upaya preventif. Point yang ingin dikedepankan adalah bahwa skenario untuk “memperalat” negara untuk memberlakukan prinsip-prinsip manajemen lingkungan ternyata tidak berjalan mulus. non pidana. yaitu tidak akan membiarkan pelaku-pelaku pencemar dan perusak lingkungan hidup sehingga akan menghambat investasi selanjutnya. Persoalan polusi industri sudah sejak lama merebak. KNLH mengarah pada pro investasi. Hak atas keadilan juga telah dijamin dalam pasal 28C ayat (2). UU No 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup juga telah menjamin hak masyarakat untuk mendapatkan informasi. Deputi Penegakan Hukum Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) menyatakan bahwa dalam penegakan hukum lingkungan hidup. Juga perlu adanya pemahaman scientific evidence oleh aparat penegak hukum.tetapi lebih pada kesadaran masayarakat Indonesia bahwa kesadaran akan pengelolaan lingkungan secara arif dan sustainable mutlak di perlukan. Namun dia mengakui bahwa seharusnya lebih banyak kasus yang bisa diselesaikan. dalam penegakan hukum lingkungan perlu adanya rekonstruksi kembali terhadap perumusan regulasi yang applicable. lemahnya pengetahuan teknis dan integritas aparat penegak hukum (judicial corruption). serta hanya sekedar mengutamakan instrument command and control. bahkan otorisasi negara untuk menggunakan tindak kekerasan dan paksaan.tentu saja tidak berhenti sampai disini.ini difahami sebagai frameework pengelolaan negara melalui interaksinya dengan rakyatnya.pemerintah perlu lebih konsisten dalam menerapkan regulasi yang efektif. berpartisipasi dan mendapatkan keadilan. dan naga-naganya tidak .

perlu diadopsi wawasan ekologis yang memadai. Perencanaan lingkungan idealnya inheren dalam perencanaan alokasi ruangan. Pertanyaannya. Mereka punya seribu satu alasan untuk menghindar dari kewajiban untuk meminimalisir dampak lingkungan negatif dari kegiatan usahanya. Para pejabat justru mencari keuntungan pribadi melalui pemberlakuan perijinan. Dengan cara itu beliau berharap negara menginternalisasi pengelolaan pengelolaan lingkungan di dalam pengelolaan pembangunan. Berbagai kerangka pengelolaan lingkungan hidup telah dirumuskan dan diberlakukan. dalam proses budaya kita. Kalau yang mencari untuk pribadi hanya satu orang. kebijakan dan regulasinya ? Apakah berlebihan ketika para pemikir kebijakan mengharapkan negara melakukan manajemen lingkungan dalam keseharian penyelenggaraan pemerintahan ? Ada cukup banyak alasan untuk menjawab „ya !”. untuk memastikan bahwa eksploitasi hutan dilakukan secara terencana. Apakah negara tidak melakukan pengelolaan lingkungan dengan baik melalui rutinitas prosedur. Sungguhpun potensi krisis dan krisis lingkungan dalam skala kecil sudah banyak dipublikasikan. dengan mengembangkan potensi terjadinya krisis. Yang dilupakan dalam hal ini adalah bahwa para pejabat negara sebetulnya berpolitik dibalik berbagai teknikalitas manajemen lingkungan yang telah dirancang. pengembangan wawasan ini tidak cukup berhasil. Skema managemen kehutanan seakan tidak pernah ada. munkin sistem perijinan tersebut tidak terlalu bermasalah. strategi pengembangan investasi dan sebagainya. melainkan sekedar sebagai persoalan teknis. namun efek positif yang dihasilkan tetap saja tidak sebanding dengan lingkup dan derap kerusakan yang berlangsung. karena luasan dan kualitas hutan di negeri ini terus saja menurun. Ada sesuatu yang secara mendasar bermasalah dalam cara hidup kita. Kedua. Artinya. mengapa berbagai kerusakan lingkungan tersebut terus saja terjadi. alokasi sumberdaya alam. Prof. Kalau demikian halnya. Sebagai contoh. Para penganjur pendekatan manajerial berpretensi bahwa persoalan lingkungan bukanlah persoalan politik. maka krisis lingkungan akan menjadi suatu keniscayaan. pendekatan managerial cenderung menghindar atau terkelupas dari persoalanpersoalan politik. Emil Salim sadar betul tentang hal itu. proses pembangunan tetap jalan terus namun di dalam setiap unit dan sektor pelaksanaan pembangunan. maka setiap kegiatan penebangan hutan harus mendapatkan persetujuan pejabat negara (melalui pemberian ijin). Kalau kecenderungan kerusakan lingkungan hidup ini terus berlangsung. manajemen lingkungan sebetulnya melekat dalam manajemen pembangunan dan manajemen kepentingan publik. Kalau kita renungkan baik-baik.akan membaik dalam waktu dekat. Namun kalau praktek mencari keuntungan sambil berpura-pura menyelenggarakann sistem perijinan ini dilakukan oleh orang banyak dan terjadi secara terus menerus. Artinya keinginan untuk melakukan kontrol terhadap kualitas lingkungan melalui sistem perijinan harus kandas terbentur oleh politisasi (atau tepatnya komersialisasi) prosedur perijinan. Skema kerja manajemen lingkungan seperti AMDAL jarang dihayati sebagai keperluan. AMDAL sejauh ini tetap saja dihayati sebagai kewajiban yang harus . kesadaran tentang lingkungan hidup masih belum jelas terlihat. mengapa hal itu terjadi ? Pertama. Sewaktu menjabat Menteri Lingkungan Hidup. maka perijinan tadi kehilangan fungsi managerialnya. Sayangnya. Manakala perijinan dalam rangka kontrol kualitas lingkungan difahami sebagai cara yang “wajar” dalam penyelenggaraan birokrasi pemerintahan. Analisis mengenai dampak lingkungan yang diwajibkan kepada para pengusaha seakan tidak pernah ada karena dampak lingkungan yang mereka ciptakan tetap saja tidak terkendali. perencanaan. dengan mudah bisa kita fahami bahwa kita sebetulnya meniti kemajuan dengan sambil tetap saja membiarkan kerusakan lingkungan terus berlangsung. dan dalam rangka mengintegrasikan manajemen lingkungan ke dalam manajemen pembangunan beliau sangat gencar mewacanakan konsep pembangunan berwawasan lingkungan. maka kewajaran manajemen lingkungan sebetulnya telah sirna.

di kalangan masyarakat beredar harapan yang berlebihan bahwa AMDAL akan mengatasi masalah-masalah lingkungan. Managemen lingkungan yang dipercayakan kepada negara ini tidak diimbangi dengan pesatnya environmentalisme. Di sini ada dua hal yang perlu dicermati. Kalau dari kajian AMDAL ini terdeteksi adanya potensi kerusakan lingkungan yang besar. kita telah lama mengetahui bahwa kerusakan lingkungan akan berbuntut kerusakan tatanan sosial. Menggejalanya kerusakan lingkungan senantiasa menyeret konflik lingkungan hidup kini semakin merajalela. Krisis lingkungan akan memicu krisis sosial. Implikasinya. hampir-hampir tidak ada penolakan meskipun ada cukup banyak kegiatan yang mempertaruhkan lingkungan hidup secara besar-besaran. Perlu di catat. Kalaupun kajian AMDAL sudah dilakukan dengan baik dan disajikan dalam dokumen AMDAL. keseriusan dan kemampuan menanggulangi dampak. Celakanya. AMDAL pada dasarnya hanyalah janji calon investor bahwa dirinya akan melalukan pengelolaan lingkungan sesuai dengan kalkulasi dampak.dipatuhi. Dalam kasus AMDAL ini masyarakat sebetulnya manaruuh harapan yang berlebihan karena beberapa alasan: • Banyak studi AMDAL yang tidak cukup seksama • Para pejabat yang seharusnya mengambil rujukan pada dokumen AMDAL dalam pembuatan keputusan perijinan ternyata tidak terlampau mempedulikan dampak lingkungan dari keputusannya • Negara tidak menyediakan sumberdaya (uang. banyak orang yang justru berharap terlalu banyak terhadap berbagai skema manajemen lingkungan. tidaklah mengherankan kalau kerusakan lingkungan hampir-hampir tidak terkendali. informasi dan personel) yang memadai untuk memastikan para pengusaha menunaikan janji-janji pengelolaan lingkungan yang telah dituangkan dalam dokumen AMDAL. majamenen lingkungan dilakukan tanpa penghayatan yang memadai tentang apa yang dilakukannya. Permasalahan tentang semakin parahnya pecemaran . Mengingat adanya kecenderungan umum yang dipaparkan di atas tersirat bahwa manajemen lingkungan dikembangkan dengan penghayatan yang sangat tipis. masing-masing harus menanggung kerugian ekologis: merelakan kerusakan lingkungan. Dalam berbagai manifestasi dan skala. dan potensi kerusakan ini sulit dikelola maka sang pejabat harus tidak memberikan ijin. Sebaliknya. Kedua. Melalui suatu kajian yang ditulis dalam dokumen AMDAL seorang pejabat publik bisa mengetahui potensi dampak yang akan terjadi ketika suatu investasi pembangunan akan dijalankan. Padahal. Bagi para fihak yang berperang. Lebih dari itu. dan sebagai konsekuensinya. siapapun yang menang. penjelasan-penjelasan tersebut di atas mengisyaratkan adanya kepercayaan diri yang berlebihan (over-confidence) bahwa negara bisa diserahi tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan berbagai skema manajemen lingkungan. Skema AMDAL tidak ada gunanya sama sekali kalau kajian tidak dilakukan secara serius. bukan instrumen yang harus dikelola baik-baik. tepat tidak antisipasi dampak yang akan diatasi. Pada dasarnya AMDAL adalah suatu perangkat manajerial untuk memastikan pengambil keputusan kebijakan publik. Dalam prakteknya selama pemberlakukan kewajiban untuk melakukan studi AMDAL di Indonesia. Pemberlakuan skema AMDAL adalah illustrasi yang bagus. kemenangan adalah difahami sebagai hal yang paling esensial. Tapi. atau konflik yang berskala lebih luas. krisis lingkungan tidak akan pernah bisa dibatasi lingkupannya sekedar sebagai krisis lingkungan semata. konflik sosial yang terjadi tidak jarang justru memicu penggunaan sumberdaya alam dan pada gilirannya menghasilkan konflik sosial yang baru. baik di kalangan pejabat pemerintah maupun masyarakat. tidak ada jaminan bahwa dampak lingkungan bisa terkendali pada level minimal. Singkat kata. Pertama. kerusakan lingkungan hidup ini pada gilirannya justru menghantarkan munculnya masalah-masalah sosial baru. Ketiga. Ancaman terjadinya krisis lingkungan kini harus diterima.

apakah birokrasi memang merupakan intrumen yang tidak bermasalah dalam menjalankan rencana-rencana pengelolaan lingkungan. masing-masing fihak yang terlibat saling menyalahkan. Dari segi manajemen. justru menyeret kita pada persoalan-persoalan yang tidak terantisipasi sebelumnya. idealnya setiap individu atau setidaknya setiap rumah tangga adalah suatu unit manajemen lingkungan. dan baru beberapa puluh tahun terakhir mendapatkan perhatian serius dan luas. saling menunjukkan benarnya sendiri. Mereka terus-menerus menjalin interaksi dengan lingkungan untuk menyambung hidupnya. Kalau begini jadinya. Menurutnya. Untuk itu. dan penggunaan kekuasaan negara untuk kepentingan pengelolaan lingkungan hidup. Birokrasi. manakala masalah lingkungan menyeruak dan bermuara pada jalan buntu. Dalam melakukan refleksi ini ada hal penting untuk dicermati. Ketika pembangunan ekonomi menjadi obsesi pemerintahan Orde Baru. untuk mengejar kemajuan dan kesejahteraannya. Akibatnya. persoalan pembangunan dipecah-pecah ke dalam wilayah-wilayah pembangunan yang sama dan sebangun dengan yurisdiksi para pejabat birokrasi. negara tidak diciptakan secara khusus untuk menjadi pengelola lingkungan hidup. Tetapi. Kapasitas negara untuk menjalankan suatu skema manajemen sangat tergantung dari kapasitas kelembagaan birokrasi pemerintahan. Pesatnya perkembangan kajian ini sejalan dengan semakin seriusnya ancaman yang mengedepan karena kerusakan lingkungan. Ketika ditargetkan agar pembangunan berlangsung berlangsung di seluruh wilayah negeri ini.dengan mudah merembet menjadi masalah terancamnya kesehatan masyarakat. lembaga-lembaga tersebut memang tidak memungkinkan mereka satu-satunya fihak yang harus dimintai pertanggungjawaban. penanganan pembangunan senantiasa terhalang oleh persoalan koordinasi. pada dasarnya. Artinya kajian manajemen lingkungan sebetulnya adalah kajian yang relatif baru. Kita tahu bahwa masalah lingkungan sebetulnya telah lama menggejala. Namun. Ketika lingkungan tercemar oleh industri. dan lembaga yang mengeluarkan ijin ini memang tidak secara khusus/serius ditugasi untuk menjaga kualitas lingkungan hidup. pejabat pemerintah yang dirujuk punya alasan banyak alasan untuk mengelak. Pertanyaannya. mengatasi masalah apapun dengan cara mengurai persoalan ke dalam kepingan-kepingan yang bisa ditangani. mengangkat kasus-kasus tertentu di tingkat KNLH sementara kasus yang lain di daerah serta peningkatan kapasitas dari aparat penegak hukum terkait. maka mutlak diperlukan “mesin” manajemen yang memungkinkan tergalang respon yang sepadan dengan skala permasalahan yang mengedepan. Dalam setting pemikiran seperti itulah maka berkembanglah keinginan untuk menggunakan negara sebagai mesin manajemen lingkungan. Kerusakan lingkungan hidup telah hadir sebagai suatu ancaman krisis yang berskala luas. Perusahaan mengelak untuk bertanggung jawab terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi karena sudah mendapat berbagai ijin yang diminta oleh pemerintah. beban atau persoalan pembangunan pecah-pecah secara sektoral. Harap dimaklumi. Bukan lembaga ini yang memberikan ijin usaha. Hal ini sejalan dengan menyeruaknya tuntutan publik agar negara melakukan sesuatu agar persoalan lingkungan bisa teratasi. Instansi yang menggunakan nomenklatur lingkungan hidup (misalnya: Kementerian Lingkungan Hidup atau Dinas/Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) adalah lembaga yang kemungkinan besar akan dituding bersalah. ancaman kerusakan lingkungan hidup telah hadir dalam skala yang massive. Kelangkaan sumberdaya alam akibat dari eksploitasi yang berlebihan pada gilirannya mengundang berkecamuknya konflik-konflik sosial. masyarakat menyalahkan perusahaan yang memiliki kegiatan industri. Dalam rangka . rencana nyata dalam penyelesaian masalah pelanggaran hukum lingkungan selanjutnya meliputi membangun sistem penataan. Upaya untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup dilakukan dengan cara “memperalat” negara. dengan mengacu pada berbagai aturan main yang ada. Tentu saja. yang namanya „masalah‟ tetap saja „masalah‟. Singkat kata.

Apa yang hendak dilakukan oleh (tepatnya atas nama) negara. Dalam penyelenggaraan negara. Karena adanya sistem manajemen ini. Secara ekonomi-politik kita melihat ada sekelompok kecil orang yang kaya raya dari bisnis pengusahaan hutan. Wal hasil. Disain teknis manajerial yang ditetapkan banyak yang tidak ditepati oleh pemegang HPH dan manajemen pemerintahan yang ada telah membiarkan pelanggaran ketentuan HPH ini tidak terkena sanksi. luasan kawasan hutan merosot. Untuk meyakinkan proposisi tersebut di atas. yang karena berposisi sebagai presiden atau menteri. Managemen lingkungan hidup ditumbuhkembangkan si setiap sektor birokrasi pemerintahan. Melalui organisasi yang bernama birokrasi.pengelolaan lingkungan hidup sebagai suatu entitas ekologis yang utuh. diberlakukan melalui jenjang komando yang dikendalikan secara hierarkhis. Para pakar lingkungan yang menggeluti kajian managemen lingkungan memperjuangkan agar negara menggunakan kapasitasnya untuk itu. Mohon tidak dilupakan. hal ini ditandai dengan pembentukan Kementerian Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Apa yang terjadi setelah pemberian SK ini sangat jelas. Pertama-tama mereka melakukan serangkaian advokasi kebijakan agar negara memiliki organ khusus yang memilikirkan dan menangani persoalan-persoalan lingkungan yang mengedepan. para pengusaha memiliki hak untuk menebangi ratusan ribu hektar kawasan hutan. dan di sisi lain ada jutaan manusia yang kehilangan hutan sekaligus kehilangan jasa-jasa ekologis yang sebelumnya bisa dinikmatinya begitu saja. kerusakan hutan dalam skala yang massif ini telah menghadirkan serentetan dampak yang sebelumnya tidak terantisipasi dengan baik. Kepada perusahaan tertentu Departemen ini memberikan hak pengelolaan hutan melalui selembar Surat Keputusan (SK HPH). Kedua. memiliki efek sistemik terhadap lingkungan ketika diberlakukan. pemerintah sebetulnya telah melengkapi diri dengan serangkaian prosedur dan ketentuan untuk menjalankan skenario manajemen sumberdaya hutan. Yang terjadi justru sebaliknya. Hal-hal tersebut di atas. Artinya keputusan yang dibuat oleh seseorang. kita tahu para pejabat teras memiliki kewenangan untuk memetapkan kebijakan di dalam lingkup tugasnya. Point yang ingin diperlihatkan dari ilustrasi di atas adalah bahwa penggunaan otoritas negara (tepatnya penandatanganann sebuah SK HPH) punya implikasi serius bagi nasib hutan. birokrasi pemerintahan telah melengkapi diri dengan lembaga koordinasi dan prosedur koordinasi. Departemen Kehutanan mengeluarkan kebijakan yang esensinya membuka diri bagi keterlibatan perusahaan swasta untuk melakukan eksploitasi hutan. Atas nama Undang-undang Kehutanan yang dikeluarkan pada tahun 1967. direncanakan oleh berbagai unit perencanaan. keputusan-keputusan politik yang dibuat oleh para pejabat bisa diberlakukan dan bahkan dipaksakan oleh negara. yang belakangan ini berubah menjadi Kementerian Lingkungan Hidup. penggunaan kekuasaan negara . Untuk jelasnya. Birokrasi pemerintahan diharapkan untuk menyelesaikan masalah-masalah publik yang mengedepan. degradasi hutan dalam skala yang massif di negeri ini harus kita terima sebagai realita yang memilukan. kerusakan hutan tetap saja tidak terelakkan. mari kita lihat kasus sederhana: efek sistemik dari penandatanganan SK tentang HPH (Hak Pengusahaan Hutan) kepada suatu perusahaan. birokrasi pemerintah dimanapun di muka bumi ini mengalami permasalahan serius karena kecenderungannya untuk memotong-motong persoalan dalam keratan sektoral dan teritorial. Sejak diberlakukannya skema HPH di awal Orde Baru. Keterbatasan birokrasi pemerintah untuk diperankan sebagai instrumen utama pengelolaan lingkungan hidup sejauh ini tidak pernah diwacanakan di Indonesia. mari kita cermati negara sebagai suatu sistem manajemen. Di Indonesia. negara memberlakukan berbagai kegiatan manajemen. Singkat kata. Sungguhpun demikian. Pertama. Untuk mengkoordinasikan kegiatan instansi di berbagai sektor. Adanya lembaga yang secara khusus memikirkan lingkungan hidup ini telah memungkinkan terjadinya replikasi pendekatan managerialistik dalam setiap organ pemerintahan.

ekonomi dan politik antara para pihak. pihak pemerintah daerah merasa memiliki peran wewenang yang lebih besar dibandingkat pemerintahan pusat. termasuk dalam akses terhadap Sumber Daya Alam (SDA). Demikian juga perubahan disuatu lokasi akan meningkatkan akibat ditempat lain. diharapkan kepada pihak pemerintah. SDA pada dasarnya bersifat terbatas dan bersifat langka (scarcity). baik antara pemerintah pusat dan daerah maupun antara kebijakan yang telah lama dengan kebijakan yang baru. adanya kebijakan yang tumpang tindih antara pusat dan darerah serta adanya tumpang tindih kebijakan lama dan kebijakan yang baru. Terdapat berbagai konsep yang dapat menjelaskan penyebab timbulnya konflik lingkungan. Orang berkompetisi terhadap lahan. Banyak konflik lingkungan yang timbul sebagai akibat dari adanya kebijakan yang kabur (tidak jelas). Konflik yang timbul pada tingkatan ini nantinya akan menimbulkan suatu konflik yang bersifat struktural. sedangkan disi lain kebutuhan dan permintaan akan selalu meningkat. sehingga banyak terjadi eksploitasi dan monopoli terhadap lingkungan. 3. Di satu sisi. Di satu sisi masyarakat merasa memiliki lingkungan sekitarnya yang merupakan hak turun temurun dari leluhur mereka sementara di sisi lain mereka tidak memiliki bukti-bukti / legalitas secara hukum. khususnya DPRD dan Dewan Evaluasi Kota agar dapat mensinergiskan berbagai kebijakan maupun regulasi yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. yakni: a. Konflik lingkungan timbul sebagai akibat dari konsep bahwa lingkungan adalah sebuah sistem yang dapat mengalami kerusakan pada waktu dan bagian tertentu. Terkait dengan SDA. Bercermin pada hal ini. 2. 2. Konflik kebijakan pengelolaan Konflik pada tingkatan ini merupakan konflik yang berada pada tataran regulasi dan kebijakan dalam pengelolaan lingkungan. konflik struktural sering menjadi penyebab terjadinya konflik lingkungan/SDA. Tentu saja untuk mengidentifikasinya kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana kondisi dan latar belakang sosial yang ada. sehingga antar kebijakan maupun peraturan dapat saling mendukung. secara umum terdapat beberapa hal yang menjadi faktor rentan konflik. dimana akan terjadi terik menarik kewenangan . Sementara disisi lain pemerintah pusat mengklaim bahwa peran dan wewenang tersebut berada di tangan mereka. konflik biasanya terjadi seputar permasalahan hak ulayat. dan praduga bahwa negara adalah manajer lingkungan yang baik ternyata sulit diyakini kebenarannya dalam praktek di Indonesia. artinya adanya ketidakseimbangan satu komponen akan berakibat pada komponen yang lain. Hal ini didukung seiring dengan diberlakukannya sistem otonomi daerah. Konflik yang terkait terhadap isu-isu di level grass root Pada tingkatan ini. SDA digunakan masyarakat dengan cara yang ditentukan oleh budaya dan latar belakangnya. Bagaimana mungkin melaksanakan pengelolaan lingkungan dengan baik apabila pada tingkatan regulasi saja sudah terdapat berbagai tumpang tindih regulasi. Terdapat enam hal yang menjadi penyebab utama timbulnya konflik lingkungan. SDA bersifat dependent dan keterpautan. 1. proverty dan disparitas dalam pengelolaan lingkungan. Untuk itulah akan terjadi persaingan antar pihak yang berkepentingan terhadap SDA tersebut. Lingkungan bersifat common resources. hutan dll bukan hanya sebagai sumber ekonomi tetapi juga bagian dari cara hidupnya/budaya 1. Konflik ini berpangkal pada adanya ketimpangan sosial.memiliki efek sistemik yang luas. Banyak terdapat sistem pelaksanaan yang mengakibatkan munculnya tarik menarik peran. KONFLIK Dalam hal ini. b. Konflik kewenangan dan peran Konflik ini biasanya muncul sebagai akibat dari adanya tarik menarik peran antar pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Mewujudkan. mengembangkan. dimana pada dasarnya lingkungan juga memiliki fungsi sebagai identitas sosial Peran Pemerintah : DPRD dan Dewan Evaluasi Kota Secara umum. DPRD dan Dewan Evaluasi Kota memiliki berbagai peran yang berada pada tataran kebijakan dan fasilitasi. dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup d. 2. Hal ini menjadi dasar yang sangat penting mengingat pengelolaan lingkungan yang berbasis pada kosep tersebut dapat meminimalisasi terjadi konflik khususnya konflik dalam pengelolaan lingkungan. dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup c. 4. menumbuhkan. Dalam hal ini DPRD dan Dewan Evaluasi Kota diharapkan dapat berperan sebagai : 1. Secara lebih spesifik. menumbuhkan. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup h.dan tanggungjawab antara pihak-pihak yang terkait dan yang berpotensi untuk terlibat. Mewujudkan. Mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup e. pihak DPRD diharapkan dapat membuat berbagai regulasi yang dituangkan dalam bentuk Perda ataupun peraturan perundang-undangan dimana pembentukan peraturan tersebut berdasarkan pada prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan yang berbasis pada sustainibility dan partisipatif. Konsep lingkungan yang hanya dipandang pada koridor ekonomi saja. 3. DPRD secara mendasar memiliki fungsi legislatif. Konflik lingkungan timbul sebagai akibat dari regulasi yang mengatur tata cara pengelolaan lingkungan tersebut. Memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup Sementara itu. dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkunagn hidup f. Regulator dalam pembuat kebijakan-kebijakan yang menyangkut pengelolaan lingkungan hidup. DPRD dan Dewan Evaluasi Kota juga harus berada pada koridor . mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat. dimana pada waktunya nanti akan terjadi suatu kelangkaan sehingga muncul berbagai keinginan dari berbagai pihak yang cenderung untuk menguasai 5. Dalam konteks pengelolaan lingkingan. mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup b. preventif. Mengembangkan dan mengembangkan perangkat yang bersifat preemtif. dimana berfungsi memfasilitasi stakeholders lain (masyarakat dan dunia usaha) dalam usaha melakukan pengelolaan lingkungan yang baik dan berkelanjutan 3. Sebagai mitra dari eksekutif dan legislatif untuk melakukan evaluasi atas berbagai kebijakan pembangunan lingkungan di suatu daerah 4. Menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat. DPRD dan Dewan Evaluasi Kota memiliki peran yang mengacu pada UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 (Pasal 10) kewajiban pemerintah adalah : a. mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No 6 tahun 2005. anggaran dan pengawasan. i. Mediator multi stakeholders. Memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup g. Mewujudkan. DPRD memiliki wewenang untuk membentuk Perda dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Perda dan peraturan perundang-undangan lainnya. menumbuhkan. Bersifat scarcity. Menyiapkan rekomendasi atas berbagai temuan masalah dan hasil evaluasi yang dilakukan Selain hal tersebut diatas.

Hal ini relevan meningat beberapa hal berikut ini. „negara‟ dan „pasar‟ adalah mekanisme yang secara alamiah telah terpola dalam . kerentanan pada tataan sistemik bisa meruntuhkan sistem sosial maupun sistem bio-fisik (ekosistem). Bekerjanya sistem yang birokratis sangat ditentukan oleh kepatuhan terhadap yang telah dirumuskan secara hierarkhis. Bekerjanya sistem bio-fisik (ekosistem) memiliki pengaruh tertentu terhadap bekerjanya sistem sosial. Sebaliknya. Sungguhpun demikian. ini terkait kepada tingkatan DPRD dan Dewan Evaluasi Kota adalah pada pengambil kebijakan. bekerjanya sistem sosial mempengaruhi proses bio-fisik yang terkait. tata kehidupan modern semakin mengandalkan pada bekerjanya tatanan yang sifatnya terlembaga. Oleh karena itu. bahwa lingkungan hidup tidak semestinya diperlakukan sebagai benda yang independent. dan pola yang lain kita kenal sebagai mekanisme pasar. Ketiga. • Mekanisme pasar pada hakekatnya adalah mekanisme transaksi suka sama suka. Keempat. atau antara pemasok dan pembeli berlangsung. kunci dari pengelolaan lingkungan adalah pengelolaan pola interaksi sosial. memotivasi dan mengembangkan kapasitas dan kapabilitas untuk melakukan aksi. Modernitas membawa kehidupan yang secara sistemik semakin riskan. namun juga bekerjanya sistem-sitem sosial yang berlangsung. Kehidupan modern hanya bisa berlanjut ketika ditunjang oleh suatu bentuk ketahanan sistemik. Implikasi Konseptual Terdapat urgensi untuk menggusur cara pandang yang antroposentris. Perlu juga menjadi perhatian bahwa untuk mewujudkan konsep environmental leadership.konsep environmental leadership dalam melaksanakan fungsi dan perannya. sehingga diharapkan segala regulasi yang dibentuk dapat benar-benar dibentuk sinergis dengan berbagai elemen stakeholders. Lingkungan hidup tidak cukup difahami semata-mata sebagai realita bio-fisik. Kedua. Ada corak yang sangat mengandalkan konsistensi hierarkhis di satu ekstrim. Pola interaksi yang pertama sangat jelas terlihat pada bekerjanya birokrasi pemerintahan. Artinya: • Yang perlu di-manage bukan hanya lingkungan sebagai entitas bio-fisik tersebut. Dalam melaksanakan fungsi dan perannya DPRD dan Dewan Evaluasi Kota sebaiknya dapat membangun kesadaran kritis terhadap isu-isu lingkungan. Ini berarti bahwa. terbakukan secara struktural dan membudaya. • Birokrasi bekerja atas dasar perintah yang ditentukan dari atasan atau fihak yang memiliki kewenangan lebih tinggi. Pertama. kemajuan peradaban berjalan seiring dengan kemampuan untuk mengubah kondisi alam (lingkungan bio-fisik). Ini berarti bahwa. Perkembangan kehidupan masuarakat yang semakin modern berjalan seiring dengan pola konsumsi sumberdaya alam yang semakin tinggi. titik strategis dalam pengelolaan lingkungan adalah pencermatan terhadap bekerjanua mekanisme pasar maupun bekerjanya mesin pemerintahan. harus didukung oeh suatu sistem yang benar-benar kondusif sehingga peningkatan kapasitas dapat dilakukan seiring dengan perbaikan sistem. pola interaksi yang ada pada dasarnya bisa dipetakan coraknya. Hal ini mengartikan sejauh mana orang mempunyai pemahaman yang koperhensif beta pentingnya menjaga lingkungan. agar lingkungan itu kondusif buat generasi selanjutnya sepanjang masa. • Yang perlu dicermati bukan hanya perubahan kondisi bio-fisik lingkungan. Oleh karena pertimbangan di atas itulah maka diyakini bahwa. dan penciptaan limbah yang semakin besar. lingkungan hidup perlu senantiasa difahami kaitannya dengan masyarakat yang berinteraksi dengannya. Melalui pertukaran (exchange) antara yang kelebihan dengan yang kekurangan. namun juga pola interaksi sosial yang berlangsung. Poin yang ingin dikedepankan di sini adalah bahwa nasib lingkungan hidup sangat ditentukan oleh bekerjanya mekanisme pasar maupun bekerjanya birokrasi pemerintahan. interaksi sosial sejauh memiliki bentuk yang beraneka ragam. Pada saat yang sama. dan ata corak yang sangat mengandalkan mekanisme transaksi suka rela.

Di masa lalu. koordinasi merupakan titik strategis dalam pengembangan environmental governance. issue sentral dalam pemikiran dan pengembangan governance adalah kesadaran akan adanya keterkaitan berbagai fihak. bukan hanya memuaskan dirinya sendiri.kehidupan sehari-hari. perlu kiranya dicermati adanya kecenderungan untuk mengedepankan peranan pasar dalam memahami good governance. melainkan melibatkan seluas mungkin stake holder. Sehubungan dengan hal itu. Dalam bentuk seperti inilah wacana good governance erat kaitannya dengan pelembagaan format a la neo-liberal. Pembahasan sekelumit tentang wacana good governance tersebut di atas memang relevan mengingat negara justru bermasalah ketika mengemban tanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup. Hanya saja. Sebagai contoh. „Negara‟ dan „pasar‟ bukanlah pilihan. Untuk itu. Format yang diiedealkan adalah yang kuat namun lingkupannya hanya pada hal-hal yang tidak bisa dikelola oleh aktor-aktor non negara. KESIMPULAN . Oleh karena itu. maka kesadaran tentang sistem merupakan persoalan sentral. Hanya saja. pada pelaku pasar tersebut perlu mengadopsi etika lingkungan sedemikian sehingga transaksi-transaksi yang terjadi hanya dilakukan di atas kepatuhan terhadap spirit ekologis. Pengamatan sejauh ini memperlihatkan bahwa kebijakan negara sangat sensitif terhadap sentimen pasar. Seiring dengan semakin dominannya pola interaksi berbasis pasar dalam kehidupan sehari-hari maka wacana yang berkembang mengalami pergeseran. Kalau toh pengelolaan lingkungan hidup harus mengandalkan mekanisme pasar. kalau kita ingin tetap memakai framework managerial dalam pengelolaan lingkungan hidup. tidak ada kita juga harus ingat bahwa pengurangan peran pemerintah tidak menjanjikan apa-apa kalau masyarakat juga memiliki kesalahan yang sama dengan pememrintah: berfikir etnosentrik ataupun teknosentrik. Yang dipentingkan bukan agency yang terlibat namun juga interaksi antar agency tersebut. Perlu diingat. Kedua. Implikasi Praktis Sebetulnya tidak fair kalau dikatakan bahwa upaya untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup selama ini tidak membuahkan hasil sama sekali. Sehubungan dengan point keempat tersebut di atas. teknokrat dan tokoh-tokoh yang lain. Pertama. melainkan pola yang harus dicermati dan dikelola. good governance adalah penyelenggaraan pemerintahan yang tidak didominasi pemerintah melainkan pemerintahan yang partisipatif. mari kita cermati contoh kasus berikut ini. pengusana. Sehubungan dengan hal itu. Nasib lingkungan hidup sangat ditentukan oleh kemampuan negara. Paralel dengan hal itu. Yang sebetulnya terjadi adalah. dan sebaliknya sentimen pasar sangat mengkondisikan apa yang akan diputuhkan oleh pejabat. dari „government‟ ke „governance‟. kemapuan untuk mengatasi persoalan lingkungan tidak diikuti dengan penghentian kecenderungan destruktif: seperti pola konsumsi sumberdaya alam yang terus meningkat dan bahkan semakin boros seiring dengan tingkat kesejahteraan yang dicapai. yang harus disadarkan tentang bekerjanya sistem bukan hanya masyarakat awam melainkan justru para aktor strategis: pejabat. para pejabat negara bisa mengemban amanat pengelolaan lingkungan hidup dibalik setiap keputusan yang diambilnnya sekiranya mereka juga mengadopsi etika lingkungan. perlu dicatat bahwa koordinasi tidak cukup melibatkan aparat birokrasi atau para manager. Pemerintahan yang baik adalah yang akuntabel. maka pengembangan etika dan etos yang konsisten dengan kepentingan lingkungan menjadi keharusan yang tidak bisa di tawar. yang menjadi persoalan terpenting bukan memilih interaksi yang dilakukan birokrasi namun juga interaksi sosial yang berdasar mekanisme pasar. ketika yang menjadi kepedulian adalah peran negara maka yang menjadi kerangka fikir adalah apa yang harus dilakukan oleh negara dalam pengelolaan lingkungan hidup.

(2) pembangunan sosial. Pengembangan prinsip-prinsip Deklarasi Stockholm ke dalam prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan merupakan perkembangan mendasar pada pembentukan hukum sumberdaya dan lingkungan baik nasional maupun internasional. 1995 36 Johannesburg Summit 2002. kata pembangunan membawa kondisi dan nilai-nilai baru yang akan mempengaruhi nilai-nilai yang ada. khususnya dalam pengelolaan sumberdaya alam terkait dengan pendekatan hukum baru yang mengintegrasikan pembangunan lingkungan.a. Memperkuat metode yang telah ada dan mengembangkan prosedur baru untuk menghindari dan memecahkan pertikaian lingkungan dan masalah. Secara harfiah. ekonomi dan sosial sebagai komponen pembangunan berkelanjutan36. Pengelolaan sumberdaya alam (to rainforce existing methods and develop new procedures for avoiding and resolving disputes on environment and resource management issues). misalnya dengan istilah „the optimum level of whale stocks‟. dan (3) perlindungan daya dukung ekosistem. seperti dalam hukum laut yang mengatur pemanfaatan sumberdaya laut. Pertama prinsip pembangunan berkelanjutan akan membawa pengaruh pada prinsip hukum tradisional. b. Pada tahap ini pendekatan bottom-up as a . Prinsip-prinsip yang telah berkembang sejak Laporan Komisi Brundtland 1987 dikukuhkan dalam konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup di Rio de Jenairo pada tahun 1992. baik konvensi Internasional tentang Lingkungan Hidup maupun Undang-Undang Lingkungan Nasional telah mengalami perubahan mendasar. Memperkuat dan memperluas aplikasi ketentuan hukum yang berlaku sekarang dan persetujuan internasional untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (to strengthen and extend the application of existing and international agreement in support of sustainable development) b. yang harus menyesuaikan diri pada perkembangan ilmu dan teknologi yang membawa dimensi baru pada aspek-aspek hukum dari proses pembangunan (development concept). dan melaksanakan kaidah-kaidah baru pada perilaku negara dan antar negara untuk memungkinkan pembangunan berkelanjutan dapat diwujudkan (to recognise and respect the reciprocal rights and responsibility of individuals and State regarding sustainable development. Mengakui dan menghormati hak-hak dan kewajiban individu dan negara secara timbal balik bertalian dengan pembangunan berkelanjutan. yaitu (1) pembangunan ekonomi. c. Rencana Pelaksanaan KTT Pembangunan Berkelanjutan d. Implikasi dari Prinsip-prinsip Pembangunan Berkelanjutan Dalam Pengelolaan Sumberdaya Alam Pada Pembentukan Hukum Nasional a. c. 35 Philippe Sands. yang dikenal luas sebagai World Summit on Sustainable Development membawa perkembangan baru yang memperkuat dalil saling ketergantungan dan saling memperluas antar komponen pembangunan berkelanjutan. sehingga diperlukan proses penyesuaian terhadap kebutuhan baru (new need). baik secara ekonomi maupun sosial. Sustainable dalam arti ini dapat diartikan sebagai pemanfaatan secara optimal. Principles of International Environmental Law. „optimum sustainable yields‟ dan optimum utilization yang didasarkan pada standar yang menjamin pelestarian lingkungan35. and to apply new norms for State and interstate behaviour to enable this to be achieved). KTT Johannesburg. Prinsip yang mengatur pembangunan berkelanjutan disamping prinsip-prinsip pengelolaan lingkungan juga prinsip yang memberikan refleksi pendekatan „sustainable‟ sebagai standar tingkat penggunaan atau eksploitasi sumberdaya alam tertentu.

kebutuhan praktis baik sebagai dasar kebijakan kegiatan dalam pembangunan. Perkembangan hukum baru ini disebut oleh Maurice Strong. Sebagimana diuraikan diatas. Dalam perkembangan selanjutnya. sebagai legal Officer UNEP di Asia Pasifik yang berkedudukan di Bangkok. juga meletakkan dasar konsep hukum lingkungan baru. . telah melakukan pembahasan terhadap kerangka hukum pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan. Sejak berkembang konsep. New Zealand. f. resistensi. yang akan memberikan arah perkembangan hukum sumberdaya di masa yang akan datang perlu diberikan peluang memperoleh pengujian secara akademis. Filipina. Pendekatan hukum yang bersifat holistik yang telah berkembang baik melalui hukum lingkungan. Gagasan dan prinsip-prinsip hukum pengelolaan sumberdaya alam yang terbentuk dalam keputusan Majelis ini. antara lain. Terbentuknya kebijakan dasar di atas. maupun kebutuhan praktek di kalangan pengguna jasa hukum dalam arti yang luas. seperti antara lain bidang kehutanan. bidang hukum pengelolaan sumberdaya alam telah membawa perspektif baru pembentukan hukum melalui perjanjian internasional dan perundangundangan nasional. pertanahan. berbagai negara. peneliti saya di beberapa unversitas di Amerika Serikat terhadap pengembangan hukum pengelolaan sumberdaya alam. Arah perkembangan. Dalam rangka pembahasan rancangan perundang-undangan pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Prinsip-prinsip dalam Deklarasi Stockholm telah menjadi model pembentukan undang-undang lingkungan hidup (UULH) nasional di berbagai negara. pengairan. university of Michigan melalui penelusuran kepustakaan hukum sumberdaya alam menunjukkan pentingnya pendekatan hukum ini terintegrasi dengan hukum lingkungan. merupakan salah satu bentuk refleksi tuntutan baru sistem hukum sumberdaya alam Indonesia di bawah konsep pembangunan berkelanjutan. termasuk Indonesia. menuntut perubahan secara mendasar dari ketentuan hukum lama yang bersifat sektoral. selain terjadinya perubahan cara pandang baru pembentukan hukum dari yang semula berpusat pada budaya manusia saja (anthropo-centric) ke dalam paradigma baru yang berpusat pada budaya ekosistem (eco-centric). pemikiran dan diskusi di bidang pengelolaan sumberdaya alam.new Von Savigny theory of law in scientific perspective dapat memberikan peluang baru bagi teori hukum Van Savigny dilihat dari perspektif ilmu sosial melalui modelmodel paparan yang memiliki „descriptive power‟ bagi analis hukumnya37. Berdasarkan pradigma baru telah mendorong terbentuknya kebijakan makro pemerintah dalam bentuk TAP MPR No: IX/2002 tentang pembaharuan dan pengelolaan sumberdaya alam. i. Sejak tahun 2000. pertambangan. sebagai pembicara tamu menjelaskan perkembangan pembentukan hukum yang mulai mengintegrasikan UUHL dan UU sumberdaya alam dalam satu kerangka hukum (legal Framework) . Pada tahun 1974. e. seperti di Amerika Serikat. penguat peranan dan kemampuan otoritas-otoritas lokal dan institusi pembangunan berkelanjutan. h. g. perikanan. dan pertanian. Perkembangan hukum pembangunan berkelanjutan mempengaruhi pula gagasan pembentukan hukum pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. Sekertaris Jenderal Konferensi PBB tentang lingkungan Hidup sebagai „a first step in development international environmental law‟. terutama pada tahun 1990-an. perdebatan konsep dan gagasan baru hukum sumberdaya alam dalam perspektif sosial dan ekonomi menuntut partisipasi semua kelompok utama. prinsi-prinsip hukum pembangunan berkelanjutan melalui komisi ahli hukum lingkungan dan pembangunan sejak tahun 1990-an. Manjit Iqbal.

l. Persoalan selanjutnya. kewenangan mengatur dan mengambil keputusan dalam sistem pemberian izin kegiatan. dikeluarkannya TAP MPR No. pendekatan hukum baru ini bersifat multi dan interdisipliner. b. maka perlu pengembangan institusi yang mempunyai: a. selain itu.oleh karena itu. kepemimpinan yang tidak berpihak dan memahami konsep pembangunan berkelanjutan‟ dan f. unit lembaga yang mempunyai peran koordinasi yang efektif. koodinasi lintas sektor yang produktif. j. bertalian dengan makin menguatnya posisi daerah dalam pengelolaan sumbedaya alam ialah pengembangan kapasitas lembaga di daerah. kemampuan menumbuhkan pembentukan dana lingkungan. merupakan perubahan secara mendasar dalam pembentukan peraturan yang bersifat operasional di daerah saat ini. . kemampuan menginternalisasikan budaya partisipasi dan kinerja yang baik. kemampuan untuk melakukan koordinasi lintas sektor. Undangundang baru juga membuka peluang baru bagi daerah memasuki perjanjian internasional dan regional secara tegas. Kajian akademis terhadap ketentuan hukum dalam peraturan perundang-undangan tentang sumberdaya alam yang berlaku saat ini. Pembentukan peraturan daerah (PERDA) di bawah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) misalnya. masih memperlihatkan berbagai masalah hukum yang bersifat mendasar. desentralisasi keputusan yang acceptable dan efektif. d. Pengaruh perkembangan globalisasi dalam perkembangan hukum lingkungan dan sumberdaya alam di daerah perlu diperhatikan dalam proses pembentukan peraturan daerah. Secara politik. Pengaruh dari konsep pembangunan sosial budaya dapat pula dilihat dari paradigma baru yang menyertai otonomi daerah serta mendorong perkembangan baru dalam pembentukan peraturan daerah berdasarkan UU No. berdasarkan alasan-alasan di atas. suatu kedekatan yang umum dianut saat ini. IX Tahun 2001 tentang pembaharuan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. gagasan pengembangan hukum pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan terbuka pada pertimbangan ilmu dan teknologi secara positif. merupakan penguatan ke arah gagasan pembaharuan hukum pengelolaan sumberdaya alam. pendekatan hukum lintas sumberdaya yang memperhatikan daya dukung lingkungan. c. Desentralisasi pengambilan keputusan dalam sistem perizinan dalam pembangunan daerah merupakan salah satu perkembangan baru bagi pembentukan kaidah-kaidah hukum pembangunan nasional. m. Pengembangan institusi yang mampu mendorong perubahan konsep budaya partisipasi masyarakat yang konstruktif. berjalan efektif. k. e. cukup beralasan saat ini. Agar pengaruh yang makin kuat ini. bentukan peraturan daerah dalam pembangunan berkelanjutan dalam pengelolaan sumberdaya alam yang berorientasi pada peranan pemangku kepentingan di daerah akan membawa pengaruh pada bentuk-bentuk peran serta berdasarkan konsep baru mekanisme konsultasi publik.

38:3 /.3/.9:.3-..5:.7.:.3502-.7.-075709038-.2 574808-:/.8.3 /.750784.930./3.8:9.3.0.8 907-039:7405498.. 2..-.7.3/03.93..4394 :39: 202. $0.3:3.50784.:0.9:-0.9.3:39:20232./. 9..9 07-...3 3:3.3549 20./..:.3909.720.3909.3 0-.8.2.3805079...3.7..3.83:3..503:8.3.3/30073907:88.2033907..:57.5.-.02033:3..:.:9070:5.31:382.9 $02.3.3907.307:8.3-0.9.2 50703./80.:7:939.7:8./458.3..3.38.9:...3:8..507:8.3507809::.-.343974907.3.3 50784..850304.3 907:8-07.3-./:59..9.9/...33:3.3 .857480/:7  50703.33:3.309.2.33:3.3/07..:9.8 $02..7..  203.3...33:3..:.50.:3909.930.33  !.7.3:....280-.530.3/:590.380.70.20339073.5.0...03/07:32033/.033.0203502-.33:5/.0203502-..9.3/03.3.3.5073.30703/. 503/0..33 9/.780-.:.:.350304.7.7 0.25..3907:83.250304.9050302-.82.3549 !.9:47.35:- !0703.-.3.07..07.703.3/.907.3.3.3 793.3.- .3.3 . 90.307:8..3:3.5.3.4.703...3 507:/.2.37883:3./.703:3.39039.80-09:3.9./.32...87:.350304.3 80.9.3..:889025073.2 809.: -072.70:39:3.50..34047..32.3-:.8..8.  .33..203/.3.3/.980-.7:8203/.33889025073.27..2:3//..3/.3.3 203.788  !079.../20.7.3 $0-.809. 20.5.3:3.3  $:3:5:3549038788/.:/02.38:3  2..3/:52.:502-07.. 03.7883:3.58.33.3 5030-.02033:3.3-.8:/..58.5:39/..88:2-07/.:502-07.380-09:3....3 2.9:907.3.3..50784. 070../.9/.33.-8.80..3502-.27.3..8.:.3202-.. 3:3.7.7..7..3/. 3:3..3.5:3.370:.2080.3..3.0507:.38094750.380.9 80-.8.873.2:3.8../.3-.28.7.8.3 3:3.7../7:2:8.8.50304.7.3./8:.3:3.90703/.8./.2 503003.3:3.33:3.8820303.3 2..3909.25.3:39: 20.:905.07../ !079.89.9/.8/.58.02033:3.3.9..-.2--075:7.3/..70:39:3.3/.7/.3.9..7.7.9..3.::5-..390780-:9907:88.7-072.39.3 /:5.-.3.3 2:33889025073.33/. -.3.9: /.80-09:3.3:7503/0.:.3.903.3 .90703.3/-07./.357-.3.5. /03. -07-.3. 203.7.07..3 :39:2033/....3 $...9..2. 793.0..8.20. /.3 203.320.33:3.33:3.-..35073.089.3/.2.203902./..807-:8. .390780-:99/.7:8 .3/:53907:8-07..330.2-.9:203..8.808:.:.3:9.-.02033:3.9/..02030:9...42078.:8.3 -07./..3:39:203.. 07..20.3.85020739.3.50784.200.9.32.-07-.203:7:3 3.3.350.-07549/-. 5:7.43974:..3 202.903.2:3010 54891.7.3..9..2 2.3.7..38:3 /03.7:39:57-.83:3.5.-070-..5.3..59..20..3549038907..3/.:-07.90203.3.38./..32:/.3 ..3203./.7.3/0./.380-09:3..3.8/.3.3 08..3 80-..503..320302-.-.50..3.390.3/.. 203003. .3/3/03.343805502-././0.25.58.03/07:3.5..1. 30.7.3/:5 !741 2$.8..7.3 3.3.:.3.5073..3.3 -07.32070.30/.3/1..32.3.33:3..7..39038 .. 574808502-.9:897:203..7.3800/.3//. ./..5.305.7.3503003.4.5073.50270-.8-0:20.02033:3.0203050393.3.87/.::5-07.8:9.7.2-909.3/.3.8.907..8907.9:/0..7.2..3 5020739..3.3. 2..2 897.8 57480/:75073. 50302-.91/.7-09: 9039.5073.7 /.3..30448.22.9.80-.39/.330.8./7.3....9039073:3.3/.3./ 5.39/.02033:3.07:8.32....9:038. .3-747.3.3:3.8 ..202-.3/..3.3:3.3.8.3/..28.83.380..  0/:. /5:-.08549.907:8 20307:8 2.

8.  .3 2.9.83.3 .7./..99/.7.8/.9.3:897:202. -0-07..35.33.0203 3:3.2/4:2038047.35.3:307:./.9039.3.3.3.:..350...50.-..203:3..9.3 .8 /.25.3907. $0-./09.-503::39: 203003.-..3.3 5030. .39.503:8.9.33:3.3202.3-..35.39.354903807:8.8 .25.8.33:3.9. 5.:39:202.1./-.2579/.:20250/:.:3.433.7.3-.9..3-.8..2030/.7.0.350304.20307.7. 431848.9958 /.35..3507:/.30.3-07507.2/.25.2/4:203  9/../.90.7.33:3./.0.2.3 907.848. 2.::5808...202-07.-08.93.-.3.3/7..3508.7.7.02.3.5..3-08.:431..80..3.5.0. 90703/.338:9/04.38..7: .7 /./. 3../807.0 -.33:3.431/03.203.8..3 ... %..380.7: !072.. 07:8.3/:580.9./.3/.8.8..9.7. W!..3..7..2579/.2.3  $3././73./.95020739.5.25.3  0...2.90703/.8..7:83.3202.8.:.89.3..8 502-.3-070-.80. 203.89.38:2-07/.-8.3 . /9:.25.3./.38:/.32025079.304482070.7.7.:-..2.3 2:3.3..9:.5907. . 2.:8 !..7:.:897:203.9..33.8:.25.. 030.33.-.7.3802.3:3.705:9:8.3503./.8/.7:8/9072.47. 905.2.03/07:3.82038.3/9:8/.35073.3803. 9/.03..8:832./.:897.5.3202..3/.33:3.2.3:3.7.3 31472./4:203/..3 -070-.7.. 83.257./.83.9 25.....9:507.32085:3..980-09:3.7.320.2-7::.0507..3.7.3.33907/0908. .780-..:.3.02033:3./....3.3 -07-:39:907:8.3./.3.2. 2.3802.3.7.7883:3..20309.3.:..2.7./1./.83:5..3..3 0203. 2.. 9.02033:3.33:3.9.3.:549038/.8.0-:.39/.8.7.3./.35.-.3. 4380:0383.:/.2. W0.9.39/.800/.3.3-.3203.3.9..7::.5.3/.7..350..9 .23..3../.9/.9.7.9.-.9-070/.820 -.:.3./9/..907.3. /.5-07-.07...3.2/4:203  033...802.3 W.3-078..3:39: 20.::5-.2 502-:.3:3.907.35073....8 0/:.3 .07 .3.9-.3/.07:8.7.380.33.8./. -. . 0-/..9/.30.3:3./03.2.92.203033:3..89:/....35.:.257 .5.3.3..8.3.3-070-...5034../2-./.257 .25.:07:8.-.83 2.280-.3.3. 7883:3.9.3 /507. 7883:3.807:8  .../3.39/.503.350304.3207.3 07:8.0..8.39.  $02.:503:3.35:- 0..3 /.2..2-07-.9.38:2-07/.3/5.25:..33:3...903.33.82./.2.3/.2.9 7883:3.38. :.3/03.802..3:.3/.3/02-..20309.389://3/4308.39.8..3/..50./.3 4.:.9/.5.8.3.8:.3 0-./5.:-.3-07-..39039.:.7.3.3 /..3431848./.3848.3203.089.3.3.3/...072.9.3/:535..308038.3:897:-07..7:8/04.2..3/03..8./.79:  -.3-..9.3.:.35078430 ...3.33:3.502-07.350.3.  09.8/.390..3. 20307094313:3.7.8.7432039.5.:39: 202..:.3.7:8203.3....:5:32.39/. .380-./ ./.305.9.3/.3808:..549038 07:8.7:89/.3./.5  8. 5030.39073.:788848...3 ..3985.0203 3:3..73.390780-:9/.3/8.:3..3503.3:2:2.:8:../.2-05:9:8.73.3/:53802.30.3.5:3.9:3.3 203././:.9 !079.-8..8.3907..33:3..:5:3..3.703.9: -:...33897:203. 0807:8.3.890787.3802.3 !02-07.9.31089./.3-8.33 .9 5:--8.7 -08.08947-...0232.3/03.3.32.7.305:9:8.3.3 !.  !07:/.3.302.3:3.07:8.33.

23.5...803/7 ./2.-907.3 -070.....3-.2:3.35....8.3/239.:39:-079.3 8:2-07/.3-:39: 2.334203..3-070-.8.-.708549..3.3. 0203907.8.././03...431 431848..8...-..8.3.203:3/.. 2.7.5.83 2.. 2.9... 389.703.9-07-.3907.7.8.907.9. %039:8.9:73:3.95020739..831.40 5020739.:3.2.32:/.3:3.3-072:.080.38.02.58.8.3 203...3 8.3:3.3507:8.33:3.8:/.9203..9.3 20307:.3907-.73.33.3.:-03.3.7. 2.3.32030.8.8.98.33/:897 !07:8..3:39: 2030...9.3 2020.3.3. 909.3/7::5:3.20702-09203..5 07:8. $3..3..9.32./3.3/:5 28./.9 0.3-03..8./.2.../.  09.33:3. 50.7.3/:5.203/.7403/:897 2.2.9/.3203:3./.33... .3203:3:.3907.3:3.

.3  .3 02-.: 5..9:7.5079..80.3 9/. 02-.302:33.3!0303/.7.3/9:/3-078.90780-:9202.3.7../..3.32030:.3:3.9:3.8.-07-. %09..33:8../....:8:8.-. 202:33.. /.25.3 :.333202. 02-.3..02-.32070.9: 8.3203.3.32.3:3...3./.7:8/239.3-08..39/.1./.5 /03..7...302-..3202-07.

:39:203.2.502-.38.33:3. 703.02038.82.9.0  07:8.33907.0203 3:3..809.33 80.9  9.3:3. .7..2083 2./.80-..32030/05.5.. /.38:3/80:7: .. .89. 50.7.3 .7502-.9. 20.7 ..3447/3.8/03..907....9 5030.9.9..3  ..3:3.2:9../9.30:.3/03.3..5.:.9.3.3.5072.3.3.0203 /0.-072..39.2.2..3502-.072.02033:3. .../.93.3/.07:8..2030.7..730..3788..9.3808:.02033:3.32030/05.:.9.7.9907.3.38.3-07.380.3.32.. 502-.3:3.80947.  ./7/.3:..3:3.907.3:3/03.8079.27./.7802.8 793..8..-747.330../50304.-0702-.  503../.3 503:3.8202.:39:203..9.73.33.33:3.3..3..3:3.3.8/..8 5.2..3:388902503.3 2083 2.3502-.3//.3.3.39/.50.3.:.380-09:3.../507:.3/:5 /.7.3 .38:3-07...7:-0-07.3.7..7.3.3 708543... 703.3-../9./.709..9.3 3:3.8  &39:9: 2..2..:..0/.9/.5.::2907.3-8.9.3..3907.3. 203.3 203..50702-.3703.:.50..330.7.9 &5.38:.7..380-.3 80.3::23:3./..3./:.3.3 747.3.50393:39:/.34050784. 09..9802039.3.2.7...  .:.33.7.7: -0-.2-:3/:53.3 50784.8:8.35:-.3 8050799:.85020739.32.9:.:-.3.9::392.3202:33..3 070..220.7.5.5:3/03.30/.57:2.7./.33:3.3 09.3:39:203:3.350.3.3/03.33:3.3.3.28.88..8:89079039:/ 93.3/03.53/.370.8:8 ..5.320307:...304342 203.3..203:7. 50784.3 !079.8:39:203.3. 202507.2:3 ..3../..8 50784.3397:203.3.3.8.9..33:3.3/50.59.3./.33:3.2809935027..3:3..9:.9:39:9.3 207:5..:8:8:39:203..3:39:203.89.8.50784.807:8/9:.5.2053.3:3.:39:050393.3:78/85...8.89.750784.3.7.830.7..:50784.9.2..3..9.8 .3/:5 :897: 20307099.3507.907.3-8.8.93.3803..307:8.. 50..5/2..3/03.:809/.880-0:23.8002-.7: !08.8.39:3/.3.8 -.3985.7..3.350304.7203/.3:3..3-078.3:93.3.50304.9-747.5..9..033.3502-.3 053.5033.2503008. :39:2030.8  .90.91-.:2  30..8.32.30073 50784.3.07..3 7/0.3802.:3907.907.3805.702./.-.3/:590.3 3:3.205:9202-..3. .703.9:802.5.380-09:3. 5::9.3/:5  03:7:93.9 30.3701083.380.39/.3807:8/.8.3. 80...3807:83.0203.3./4-8085020739...3-747.907:8 20307:8203.3.8:.3.3./780-.3/:5/....5. 8:.2203.2...2.3080.809...3/:590../.83:3.

8503/0. .  2.3 07:8.:47.5.02038:2-07/..3/.89.3.02033 05:9:8. !03:8.38809.380947...:80.5/7/03.3.9./.5:- .3:9.802.503.3//.9:88902 2.83.3/:580./.  793.80-.9.503:8.85020739.7$:7.8.50.2.9.:39/.:..:03..3807.9/./0203907..3907.9.3..8202003.3:39:203.3/.3/.3 202507:.23:59:.730.2809..9..90703..:.3 &39:203447/3./.38/ -07-. :39:2024943 2494350784.3. 5020739. 7/0.0448 .3/.85020739..7 ./7.3-. 2.02033:3.350.89/.3 20.8-:9.3  .340 905.0907-.01088902/.8/.8:880/07.8.3 549.502-07.-.3.9..8.9070..32.33..7902030:9.3:9: -747.8.5.349479..9..32..:.30.3/:5 /.203.5.7.:9.8807:8-.330../3.7.3 .:9.8 :9..$! 5:3.:39:/507. .3907.8.3:39:203008.3/..3.3:9.3-747.:5.3.3389.3.9.3 !02-. .3.50304.303/.8:9.3/.3.8 /-07.3.8/03...:3 05.3.20.503:3.8.80-09:3.3 $:3:5:3 /02..203.8:.33:3.:..507:8..3/.3 3:3.3.:.25.3.5....7902033202-07..28./:5./.3/-:.32.5/7/03./..8.9.3.889022.380-0:23.20.33-07:-.3.8.7: :.85020739.3.8 .03/07:3. /2.940808047.3 /.309039:.32030:.9/.9-8..3.3/0:.333/507.37-:09..:.3 /03/.342.80-.3907947.703..7.742.350784.8.7..2503003.3 3/4308.:.9.70.-747.3 07:8.9:507:8.3.37..8 2.-.380-0:23.3-073.881/30073.3..33:3./-07.07.85020739.3.3.3/:5 .3.3/..:39:9:  !079. $3.730.3803.83./.3203.3:9.93./...2.9./. ..:8002-.3..5. 747..3 8. 30.2.3  !439./.05:9:8.5708/03..202 47.2.3 $0.340-07-.3:9.7.3/-:.3 3:3.7...3...3.&3/.50..3.30.38.9:0399.32.703.3:39: 20209.3  &39:20.3/4.3/..8.!/. 9.39/.33..02033:3.8.2070.2.072. 9.9405020.830.302-.3/3/4308...53:3.8.2003. 503:3.3.3 05.3507:8.447/3..7.:8:82027.:3950703.8/.-09:8.47.3:9./7-.8:.390.3897:203:9..35.9072.9./. 0.-. 905.38 .3.7.80947 -747./.8.7:89.30203907..3 5020739. 5.3.25.3 57480/:7447/3.80042540.0.9..905:9:8. 9..3!/.3/5.50304.3/.30:.7.3807:8.9907.83.330..3.3 202:..: 203907 20201088902907.3985.:39:20.3:8:8.34030./905..73:3.580947-747.7.3/.-8.04342 549 9..32.28...930.8.3.80-.80448.90./.7..9.3 .3!39/.3/.83.3/:580-.4.7.3 080383.0203 5.380.3.3/:5/9:2-:02-.3.3! .7.3.3..79.3$9039..32030:9.3!03.33:3.7503./03.90.3  4439/..547.5073. $0...3.9..3.7.7.3 :3/.3..7.3502-039:.3 . .7:897.3.25072.308549.3380-:.30-...50304.3.30-.38.202-.32030/05.3.3 /909.3 80703909.7.907..3 !.703.7.8.02-.:39:2030-./-07.3.89./.58.8 30.3.3.9.8 5020739.93.7.202..02035020739.3574548890780-:9/.3:3.705.32..9.32.309039:.8 !079.30:9......9.3 50784.3.3.3 05.7.3 $! 5.33:3.32027.3 /88.-07548880-.3:9.3.309.9405.390382.9.3.3 &39:0.3.3 2074849 0/:./..:.3907.39079039:05....5:3/2:.3807.3..3.7-838503:8...357480/:7 /.203:3.3 05:9:8.3:9..202:33./8090..881390.  /703...9.8:.3/:53 90.32.202-:...380.79.3 .78 .-:23203.8.07.7....3./-07.93.2..3$3 8.3909./:897: 80-.202-07.83.7.3-0..  0907-.0203 0.3.7..3-./..380-.2./32..90...90780-:9/.3/9.320.2003..3:9.3 2030/05.3-.9.8  /07.207.380.3-07-..3.07.9:8.3:8.

073:3.    ..3:.9.431 3:3.257.33..3 431897:9:7.20201088902.30.3./.3./5030-.357.7.-907.8:9/..8073203..8 /./3.9073.7.2..90/3/4308.30-03./.-.2.3 ./:.3-.

9 &39:9:.3 .309075.3.5 :..7..3..3.2./5078.9/03./.3507239.-0781.  7.39.3907.7.802-.5./..-.3:.3.0925../..3....9 80/..5.340-:/.95.7..5$:2-07./.3/8.$ 4313-075.3/..9/0503/039/././.3/9039:.8:/./:53.9.3  - $5.3.3-07.3.7./..7 5.7. $-0781..3$ 80.:2033.7.5.3-07050393. 04342/.32033.3 0-:9:.8.:9.38./.8.8:2-0704342909.5. 8..:2:2907/.2 $ %07.9 /03.3.3.3.3 .380.808907.9:4.3 :9.73.-.9.9.9/9025..-.3848.5.3907.3.3.5.3/.39.3/8:.793.3431 .3..9907-.9-0-07..7..32.3 549.9: 4254303.9477039..3/-:..3-0781.7-0../..3203..9.7.33.9. 9072.3.3.507:-.3-07425098907.09/./1.5$90780-:9  $/:3.4254303.3.80-./..8 .8/..3 02..

507.3.39.33:3.9207.8/../805:9./.3 .33207:5.2.3/03.75020739.907/.8. 8.3/03.88.98890250. 3 /.707.202 3:3.30--08..9/..3..3809.3/.5.32070../.2.3..30-..:5:3507.35:8.07.70-.390780-:9-07.7203.75072.7.3/./....2:3320.370:.8./.3.3.3/.39. /..7507./.9/..7.4313:3.3.0-.9...5:8.393/0-.33 431-.2.5.3 4315. .7./9.:./.5:8.9:7.5020739..35020739.3//::38073/03.392-:80-./.7507.9.3/.3 0-.3...3.7203.32070..:.7:   431003.7 /..39.-.:3.8.350304.3 8.79.5020739.73.9./.:.-.9 .3-.5.88902 494342/./.7: .9:7:3902:7:3/.9 574.202-:9 -:9..3.3..3..5.8.3.7./.8/./03.3.32.202507.-.8079..5:8.305.3.8.3 -.39:25.5..3.9:88 5.7.8.33:3.70::72070..3-07.3.3.3.3-07.-..:5:3.9.350304.5.887449 !.0-.393/ .3./.2.8 .07.3207:5.9/.3 .:80-..-:/.3 /85.5:8..9:882.9.30.907/.393/70:.8 07.207.3/.7.907..250304.98.3.802039.2-.  4310-.33.3907.3 203/::3 -.39.39.079/..849.0-.!#/..0.07.95020739..9.30-.-:7 9/.9/.93..3./.3./88.7.8.3.3-07-.3203.58: 8:/0..250304.3507.33:3.2:3.370:..390..9/. ..9 203..8.35020739.3 2:3.:5:370:.3003.7.33:3.9 $02039.3 4313-./.3/-07./.5.3 ./. :8:83./ 88.9.0-..   431.3/.07.7/-... 93.3/:5 803.9.3 50304.3.93.5020739.07235.3.9.3/3.9-07-.8:/..920383078./.9:25.07.8.3003.9907...3.5.32.7.3431.9:25.7.5.3-.

3.9:/.3.9.392-:80-.29070-/.9.3-0781.35030-.3-0781./.333.9897:9:7../907203.3907.3.-:9.93.9/.32032-:.2.7.3/.5. %07/.:39:203/0391. 92-:3.3203.207:8.92030.5...::2 431.80-:..53:3.880. 43/8/.3243454907.3  %039:8.-92-:3.9.3 .8/.4313:3..7003.-...3. 907.43805./5030-. 88902..3-.::-..2./08549.903./.././.743805-.3   4313:3..3848.9.422437084:7.4313:3.  %07/.9./.......7-0.3.392-: 5..5.38:.3.-.39079039: 803.35.3   3:3.2.0.393.8.9-07-.9203.507:202.83.5...9:431.3:3.3/.08 /2.3.

.3.3/.3 203:2-:..38...9: 203.. 0-.25:33:3.33:3.8.5. 2..04/078.35020739.9-07507.5.320302-.:..7.3.7.3/.8-07-..3.3704203/.47./.:.843.8.7..9 /:3.8848.3507.5. 5.3503.3..390780-:9   0781.3/-/./.7.3 /.#05:-3/4308.3./::3/.03/07:3:39:203:.5.3:.32033..39.3 -070.3503.3 203:2-:.5..9.!#/..8.30-./.49.8-07-...8 !#/.0-85081 !#/.5.-.32.32030-.250304.-5.9  02-07.-071:382021.8./::3/....7.8.5. 0::/..3!020739.50304.3 2.3.3.3..380-.3.33:3.20.04/078 /2.83:3.3:3.91/.3 203:2-:.308.3/:5 / 0302-./.7:8-07.:8.:. 50304.3/:5 0 0302-.30..3507:3/.9 /.9.3.50089.3. /.33:3.3.947/.91 ./8:..3!07/.3/:5 - 0::/.3.308.502-039:...30297.202507../. 2:3.3!020739.8..8.33:3..3/.3.9../..3.39.9:/.8.480590780-:9/.331472.849.3:3.2:5.89.25:33:3.3./-/..3.3-07549038:39:907-.3/.3.3/:5  030/.9 50304.3..9   4313:3.902:.3 /:5 1 02./. .9.3.70:./.2021:3880-.3507.3-07.2-039:!07/. .3  $0-.8..3..3 574.3.885.350302-.35.3.3/8:.33:3.431/.39../.3-.3 $0.3/:3.3.8907.:5.8.2390750.8...7.//.33.9... 0::/.3.72021:3808..5.3-07.2.390344.3.39.. $0./..3./.:.3/.9:7.47/47043428.30.3.9:79.2:8.3/.9/.7.  438053:3.91:39:20..3!#/.73.89.3 20302-.7..3/.3907.98.3/.0..3.3203.3.2502-:. /2.9/.3:39:202-039:!07/./.885./.39./.33:3.3/9:.:5.!07.05.:./.9472:989.7.8.9.3 :3/.503..3502-.889.8.:2:2 !#/.320302-.7.../.3/:5 .:.8..3/..3203..3..3.8.8.3/.320.25:33:3.9:7.7.30.3-07-.3.3507:3/.9503932033.  #0:.3.3 20302-.33:3.7985. /.2./..3!020739.:3   !#80. !07.:8.-3:3. /. /..7.:..7.3:3 .7.-2.3 /.39...3503./.:..:02-.3 5.3907./.../.32033.:.770:..3.-.3.33:3.7:....3507..31.8.3/.3203...7-07-..9.2:5.:-07-.5./.-.8.3.7.849.7..:..9 /2. & &#!& $  #%& !.30./.7.57385 5738550304.  0.3.920232..3.3 0-.7.250304.3/:5  03003.47/47 .0391 /.9-07-.7.3 /:5   0/.9.3803.3/.9:7.9.7.3 /:5 $02039.91 .3 :3/.3.305.33:3.7.95700291 570...9..3/.3/.033.3/2..5.8.7./.7.308.202-07-.9202-:.31.3-0781.7080:91/..3/.35.849.3./ 431:8:83.3  $0.5 50.3../. 9.8.3/:5/.7.3/.3.3:3.35.3:950304..849.9.3 !# 202003.9:7.250304.5.3503:7:3.5.33:3.3/:5 ./5.350309..297.3/.24390850304. 5.7. 8:89./.3-07-..30.3/.3-9/.3203.8.30.32033.2-05:9:8.80.350304.3/..:.9:3./.3 33.07.9.3.320307.3 20302-..8.3203.8 .30-.3....:.503.3/.33:3.9.:5:3507./::3/.9/..9:0.3:3.3.  03.3:9..3 90780-:9-07/.392-:80-.!#/.3907...90780-:9/..203/.33.7.3.33:3.9./0399./.849..33.90-..507..9.8.

.-07.9  0.33.750304.7.8020893.3...89.38.5.38205./509.88902848..7  W747.3.3802.9.9.3.3-07..2 20.84 /.3.7 -03.8/.3802.7432039.5.30:7... .:5:3-007.503.9.9/9039:.3.-9.9.8.33.8:39:20.3907.93.2.9.8.9  30.2 802.5.3-08./.7 3:3..8:.3 3.88902848.5...: 5079:.8.8.3 .3/:59/.0020389.35.-4 18 007.380.3.93.8.79.  09.88902 8902848../.-007. 2. 02.33.38205..3.3.9.47.:.3  0025.0.382097.3.7 .8.0/:5.5.-8..3.3.9.3 !.5-007...:.38:3  0/:.3/83..-747.3 40-007..3.:39:20::/..897:9:7.5.3202-:/.203.300-.3/.. 20.2:3:./03.8.:2..4380503..7..7432039...3.380.35.88:..89.3/:5507: 803.7:8//::3408:.3!#/.3.3-4 18 !0702-.9.3-07.3.502. -.47. %07/./..79 -../..503.././0785 .3203.85020739.3802.8..880..07...3 4380503.90702-.3.3 2025:3.3.73.-007.3202 003.70..95.5.:1.3.3/:58.9:-039:09.072..43/8 .3. 20.  :3.31:38/..38:3  !43.3507:/..80-.72./1.324/073 -07.9 203.8 907..3 20249.8..3.38./7:2:8.8.3-07..39.33:3. 07039.-.2 .80.70:.33/0503/039 3:3.381.320.8/. -007.:.382097.3  54.39.397454803978 .9.80-.-07:93 !079./.3 -07-.3 .3 0.2:3 :.9:7038:39:203:8:7...7.3:308.0/:5.7. 9.:..3-.3798907.9/.7.. !4.203.7 43/:81803.3203. 202503.9..9-:.3 803.3.380.-...38. 907-./.50304.90.8 . 3907..8.5033.8/.9.0-:.7./.20.7.703.2.3907./..38.3 2033.2.3.9/9039:.3.988.507:-.../.388902  25.:. 3907.3/:59/.. 99897./.3.:.50792-.32..3408:.38.!#/.30.2.7.:.47.5.3:3.7.9.30 .5.04/078 !07::. /.3.59.7/-039:83078/03./507.8-007.849.3 78..8-4 1890780-:9 3.380-../.3/.345070381-09./.72./.3 3-07.35079.34388903807.9.3.390.3:93.354. $0-.438:288:2-07/.:5:3-007.3.503933.9 203.25:..3/.5.20835020739.3 .9.33:3.393 /..9..333/0/05..7.3:3.8202-.8848.9 202-.3.9.8..3 2-.3.2 3:3.703. 0/:5./.3-073907../.88:.89:.7 4/0739.8:.20.2 $:3:5:3/02.80-.3/.38:3  W.3.38205. /507./.3. /.320302-.75.3.3907..79-.....3907.2..849.3 907.905.3/03.2..32.750739../.3..324/073802.7. 9.3.88902-4 18 0488902 202 503.2.7.3..3.3 5.8-3:3.3-.7.38073/03.9:08972 /.343/8-4 183:3.8.3507.072.3.3503.54..33.3.8438059:.9-0-07.-747.30.388902 3 -07.502.3:3.3.207:39:.3-07.3.3507-.9.88902.3. /.9./.70.380..9..::5/1.9:88902.3.:202-039:.3507.39./0785/.3.3/9039:.:5:3 88902-4 18 0488902  0.3:.8.. 793.380./.8848.34005./.805..388902848.03.38073/03.3./.3..3.30.3.58: 8:3:3.8.-8. 0.2.302.5..9.3:39:203:-.9-03.0.8/03..9:./..9./.7..3907.78  W0.220.8.3:909.47.3.3507:/ 2.5.32.9: 3:3../9:3. 93.90.3820.8.3-03.3.3. W.20.7 -03.3.2.3./.7.3/-039:/.5.8848.39.3/.3. -007.3700.2-0-.38073/03.-03/.30/:5.3507.3.90307.7:574808-4 18.5-007.908/./.8/.3 /..7:9079039:907.354.388902-8.3502-0-07..31:38/.3-747.3907..0399.380.90754..30-93 007.3 24/073.38205.78/8.3.2./..39:43/:81-:.:.85020739.250304.8.0.88902802.3.3/.354.380-..8..

3.8.0907. 3907.3 /..5.950304.:9.25:.3 /.32033.3.3907....:.340 02. 0.7.80.8./.3/04.203.3.380-.304 -07.34.93.250302-. 20302-.7.330.3:3. 8.5.3/50393.7 .. 507:/.9/.3:39:2030/05.073.3.9.09.250304.8 848.2.31472.3907-.790780-:9507:203.380-09:3.3.3.8202. 90347.9..7.3 /:5 447/3.7 5.3.3907:82033. $0:-:3.3.34388903/03.2.3..03/07:3.9803891907.3.3-07/.-8.2.9 .4394 44/4.97.8-07-..7:8/.803/7 ./.3 5.7.82:3389.073.9 20343/8..3/:5/-.2 0/:5./.9: 5.3..3.3907.9/.3.7432039.20208.-8./050/:.073.3-07-.8..3 /:580.2202.3.8207:5.2-33.9: 2.7 !03..3:3.220. /.9  503:8.:39:203.0.3.807.3:39:203..320-.5:.0732039 0 4./45809./.-./:9/03.50302-.202:.073.8./07.8.438:288:2-07/.9.5..9.2.380..3907.380..3.:.8.9/.3..78..885.3 -.35002-.3.32023907./0.-0717093480397 .3/..7 .25070807.38205.809.3.33:3.3/:58....7..072.3503039.33:3.2.17.7:8.3203.3507. :.3203.8:8-07:93  $!& .2.9  0..3/0897:9180507954.7.34030.33909.3:897:5.3.3.990780-:9/.320.7.0/:5.2:3:.33...7 /.-0 -:.. 20302-.3.3-0702-..  02./.9080.3 20..3.25027.1.34050.9:.3-./.720./03./.5.354390025.007.3.930... 472.3.9-747..8.3/03.3.3:.073. $0:-:3..9 .:3202507.3 54.947 ..33:3.073.3.3 0..072..../9. .8 507:7.54. ..9.8.35020739..2:3:.3.33..3.9.3.3 /03.350302-.-/.3050393.393./03.7  0.3/:5 .33:3.08.303.3.3203. 507.7:8203..3.90780-:9  $0:-:3.380397.8... ....7:8/8.203.7985../..399897.3203.8.3.9.8.04/07 &39:9: 2.380/02.3..505:9:8.0/03.98 $0-09:3..8.0  .9/9039:.33:3.94734330.88.39039.3 /:5.9:..80392035.3-47488073/03.805.3.090780-:9/.3  0/:.3.39/.83.:/.7./..7.3800:299039.20472.40.-8.5.073. 88902-:.7 -:..35020739.39.79.39.:5.30948.3944 944..380.1.39/.0  $0-./..9 .3../ 50784..17.8.3/.-.7.:39..580392035.9.0.3.9: ./.3.3/423.4..7..:5.3.:.:5:3903480397  25.250304.3.38.3.3700.3.7.3.3:3.5.:.3/:5 ... !07:/3..38.9./.3.:5.7..930. 88:080397.3/0/0.7.9/.7:8/. 2./.3 .8..3./.7./..7 4.7. //423.9.3.3-747. ..907.3.: 09..7.3/..3. $073/03..850784.3-:.50.3.3-007.39/.2:33:5..3 3:3.7.2.35.9.3.:9450304.3.3-.8 97.250304.380:.2070. ..7.072.3507.85020739.3.03.503:7..350784.33:3.3/.3.38205. !02-.07 20...8.330.35.::520-.5202....38.3 88902207:5..9.447/3...503003..20.3802.3.947897.03/07:3.3/ ./.3. /...3.703.7..9-.4394.202-:.244/4.9-.9.35020739.3.../.585790448 !.330.8.2-039:8050793.3. /04.390750393-:.7 .3.9.3... 2.908/.33:3. 9/.5.5.33.89/.72.9.39/...9/.9. .0-..3203.9: 2.0 .8..8-3:3./.3.8./.7/.3.9./.../.8!7./.3907.03.850784.9.44/ 4.7/..2.44/4.39039.907.3  !079..3/73..9.3803.3-.3.3.350202739.3802.8.8.3/03.3.3.90850..93.3/5:9:.-../458 09.08.9./..07.7:83.50.7.91 !020739.8..2.309.3.:897:-072.3..: 2.../.3.39/.

7.3..3../..38:2-07/.5.3  04342/.92-..700203938:55479418:89.3 2:/. 904592:20..33/.9.9.3:3.3/70850.3202507:.32.03839073.3:3.390.8.502.3308-:7 .8  4592:28:89.5.7.:30.9.3. .0452039  - 03... :39:202:33.850::2/.7.32033907.3207:5../.8.39:3.2.43./.-09894-0.3.3 80./.2 !0304.53503/0...389.9. 502-039:....3:9..4:79403.3202-.3 503/0.33:3.2 947.3//0.2350089.3202-07./.-00/8 /.3.43/8/. !0302-. ./.3 57480850308:.3:3. !7385 57385.3  .3:9.3203/.3:3./2038-.2::2.7 .-0/.30..5.3:9.3.9..3::28:2-07/.7.02.3/.503.3.8./:/.3203472.7: 3.9039.3203.3.:5:3 39073.3.243107038!9039.33:3.3.3:3.33:3.38:2-07/.3::2.90-0.7.7:5..88:2-07/.3   5073/:3.0452039 .7. !079.9/.745.3/8./.3/.80-.3.250304. .3:3.8.3-.7/.79.943.553034728147 $9.3.9.3::2.33:3.793/.9:7502.2507:-.7:5.3::2-.39.0203988:08  25.3 0907.25357385 57385 50304.3 9489703903.3-070./.380.547..  4.90.3:9.3 /:52.3./.-079.008932094/8..943..57385502-.:3 -.3-070.3 &3/.3-070. 57385::297.3 8:2-07/.3203.9.9/03.420/.3/..75. 803.730.:08549.0/  .89.43.7.3/ 7084:7.350702-.3/390789./.2.3:3.7432039..3/$9.3/.  !0304.8. 3.507.50-:9:.843..8.:39:203/::3502-.3-070..3/.8 .7.3.330.3/85:9084303.3  !550$..7!7385 57385!02-.7:.3502-./507:..!0. -.9/.3:9.3:9.-0/0.0452039202-.4380..:9.809039:..3:9.3 94 70....35.3:9.3-070.380-.843.8.3.3/8 !73.-.3//::.3:3.3202503.059 $0.-./.3502-.3848.9:  502-. 805079/.2.3:3.0/:708147.843.33:3.041.3:.7:820308:..3%%!02-.3 203/....3.3. ./.843.47/$:22943$:89. .3 /.3 20.90. /.31.3203.3/:5/ #4/003././..880-.3/ 39073.3.-.3:3.-....5084139073.4254303502-.2!.3.7: :39:2033/.3-49942 :5.843..3/94.38..3.7: 30300/  - !7385.3147..34592:2:9./03.3:3..3/0903/90.32020.57385./:.: 80.390344.943410893.045 30574.304342   502-./..:5:3&3/.:5:3848..3/.798...99070.4592. .203.843.3/.7432039.50702-.390.29079039: $:89./.3428 7:3/9.7....7..9/::/.793.:.8.71.9503:3.8.3. 80. 3.850 .3/03.-0702-...3202507:.3-070.9070.3 / %%4.35079.043422.55.3.80.33:3.0452039.3202-.3//.3308-:7$:229  #03.3 /0.4/3.9:7502-.-0/0.3/.8..3..50702-.3.33.:9 28.357385 573850.3070./.3:9./.339073.3/7084.9/.3.-0 0.3:3.3-.39.3-.74254303502-..9.3..3:9.320302-.370108503/0..7:.7 :8:83.0894...257385 57385 502-.31./..3502-. 502-.-0 80-.3/75.. 02507:.8. 02507:.7/38:89.3070./::30488902 !..7 574808502-.8/.3/03... ..9.7.3:3.3202-.:/.3:3.8$94.3:3.3 -070.7:5.3848.3 .9.!02-039:.2907.3 8:89.357480/:7-.3.3202507:.92094/0.33:3./843..943.0.89.7:.33:3.3/7085438-9413/.3 -070..3507809::.3907.3$:2-07/.574.3-07.

.350:.9.3 502-039:.759.7:-.30'43$.7:5:./.9047::2'.507850.3.74 5020739.3-070.2  07/..3 -.5.3:3.3202503.38:2-07/.7.9/.38.0/.3202 /08.05407 -.3904741.3/.9202-07.5.  0 !0702-.7:90.32.3/...2/3/4308...3.357.-.9..3/8:8/-/.3::2502-.3.0391..7.350304.0-.8.8.3:9.3$.:3  5027...3::250304.38:2-07/.203/4743907-039:3.. $0...8::23.2-039:%!!#4..:24/024/0 5.20..7507850912:848./2.

3-0781..:3.8..$07.3 ::28:2-07/.320..3.3:3.8.3507:/-07.7.3.980947.....3:9.3 50304.3:3.3.3/:5 && 3./..3-070/:/:../. 9072.3 :3/.3/ 907:9.-075:8..7:502-039:..0.:428.50702-...8/03.8 49479.3 20250740503:.3./2...03.-0702-.7:88902::28:2-07/.7.339073./ -07-. 805079/207.:::23:3.380.943..7.2..3-0781... 43107038!9039.0$9743 $0079.843. !7385 57385/.. /.3.-0702-..3.../2..79.3.30.38:2-07/.7.32:. $07...7:.3.3:3/..2.3/.3:3.20.380.3 -/.202-. 0488902 0.3507:3/. 00.3.743805::23:3.::23:3.5.9.7.3/.3.3&&8:2-07/.2.0397..33:3.30:9.3::2.9.:5:30-:9:.343805/.3::250304.0397.9.8..3::2/.843..95. 9039..84.81.7..357.3.3 &&/..3502-..3.. 8.250785091848.!.3..   .3:8.3503933.7..3 -070.3-.3 502-.3::250304.25:.33:3.8 .3.3::239073907.5.3502-.::250304.3 5079. .3   $0-..3-.507:-.3 90.302.3/.3::2.3.8.20.8.34 80-.28.. 0/.343805 5738 57385::2502-.3-.7: 502-039:..3/.3-..349479.3802:..3:9. . .8..9.2-.7985../24/0502-039:..3.9..2203:3:.502-.3/:580-.8.396-.2 ..9:07.3:93.3-075:8./028 0-:9:..3 503.305:89.-:/..:3 503098.2009...50702-.9507..7/. -07-.3..-:/.178989053/0.3 2.2047   .8.80-. :.2/.3.8.203/.843..-.3907.7.3507:3/..::2/.2..2.7.:..3  1 %07-039:3./.3::2.8 !03/0.3-070.3.7.083 207:5.3.8$94. ..0789.8.2/3/4308.. 503:.250702-.3 !..38:2-07/. 11.3 8:2-07/. ./. 203.9..9.  805079.04254:9.3/.37.3/.30.3 507.3907..2.304342203:39:95...550302-.3..::2 0.50785091 -..3 203:39:9 507:-.7..3.3/.2/.9 489.3-/.8 80.3 /.3.3/.3:9.3::220.502-...3502-039:.7 0-..9./.3.7:.98-.95./3.35079.43805502-...33899:8502-./:7.357385 57385::250304.3::2-.350:.3.39..357.23/4308.8/207.3 50304..4 .3/.3/.3:3.4290.:7.20../.3 3..2502-.9:-039:701089:39:9.7:  !0702-.3.3/.7:::2 8:2-07/.2: 2030.25. 80-.507.5.3 :3.390.30.:3  .3::28:2-07/.503/0.0-.8.38:2-07/.7.3-070.90/./.7.38:2-07/.2033907.709039:.2.:3 .07 &!/8.3:3.8:3/4308.380.2/./ -...3   7..3 $0..205:9:8..:5030:8:7.3907-039:/.3202-07.078941.7432039..3 70889038 507/0-.7.8.290.9  53.:507.3::2 3:3..8 802:.9././-0-07.8.3-..3.3 :3/.7:3/80-:940.9..38:2-07/.3:3/.380.0452039 39073.3 3:3..9.39./.320.2 ..3.3  5079.3 503:3..3:. .397454 .9907.7/...27.7803/07.350702-.38.

7:. 0 0502253.8... 5./.3:3. -07/.3:3.34-.320339073.3203.//.3507.3/03.3202.90.3203:.33907/85307 8:.843.07.3 3899:8.9:7/.3507.494342/./028 907.93   $0. !# 28.343805-. ::2.3203.38..380.07..3:3. 50792-.3 -070..8.343897:91 44/3.2502-..3307...343805-:/.3/.839..39/.3/.3 #.3.3 ..:3 9039.54891  2 -039:.3.38:2-07/.2574808502-039:.7:/./..8.7503.30.3.3507.7.8.8.07...9:7.9:7.9.2 .07.3 ::250304.8.350302-.../.2//.843..3:9.9203/.7.8.3 /.507.7.3 -...-....2502-039:.50:..805:9:8.7:-.8 !03.3/.32.9./.39039.203/.32.8:507...-07/..3502-.3:3/.8..9: -07/.89./.3:3.9:7.9.9.::5-07.3/.3.3.843.8.32.3 30./..3.07.202.3 3..8503.3.25:.. 207:5.5..7 5.3 1 02.39: 503/0.0.3..2 502-039:./::33:3.3/..2.85.32025:3.3//.7:.38:2-07/.509039:.802-...  .38.3:39:20..3:2:2/.7./.3.3.5...3  !0302-.:8.3/.3-.250702-.8202507.3/..5488/.9:0/0./..38:2-07/./.503./.8.3-07-.3-0781.32:/.3-.7.3::2-.3/..3503:.7.37043.3507:-.93 -07.3-0781..9:7.. .3203079..9./..:3  9039.3/.7.7:-.243805502-.. 02.3507.380.3.::2502-.7:.743805502-.3:98..7:5.3907-:. .8.2 889025073.5.9..7:3-0781.502-039:..3.38:2-07/.-039: -039:507.3 8:2-07/..07.8.8 /.07.8.80.7:20.3 :3/.3/.880947.8079. 003..3/..3.3:3.3: 050393..3$:2-07/.2-05:9:8.9. !# /-.94507.2 50304.7985./.3447/3.3 39073.3507..3507:3/.3::2/.93   !03..3447/3.8...202-:.40.3::239.9. -079.2507.3:.82.-075..7:/.:. .38079.9.07.3.32025:3.507..3.8..059.8..2/3/4308.25:.3 / 02.3&&4 %.3502-.9:7.3.8/.880947 - :3902-.3-070.3!07.38:2-0/.3:9..3502.. .3-:/..839...25:203/4743507:-.3 /..8 ..3.39034480.50302-.549 /0:.   !0784.3.9: 50702-.2-.9.93 &3/.5.703..3:3.3.288902502-07.3/.3/.7985.305:9:8.3.3574/:91  /080397..7...7:50702-.-0/.301091 503/0.3502-039:.9/.3.3..8.33.3 7.3!0304.9:7..07.8..2502-.7../.%!!#4 %.92:9 /.3202507..7/.2.85:-   .3./2.8..3 -.3848.207:5.8.25:...2.7.3!020739.07.9.07.3::23:3..93./.7.93 2.7 80..3-0747039.7.3202-.2 207:5.3-07.8 8:2-07/.//.507: /507.33899:8..301091 ..07..3203:2-:.2 50304.507:50302-.2.3-..95:. !02-039:.301091 2.07.7::.3820438:9.3::250304. 080397.07.3.3/.3.-:/..203/474350702-.3:93..7:.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->