Aliran intuisionisme dipelopori oleh Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881–1966) yang berkebangsaan Belanda.

Aliran ini sejalan dengan filsafat umum yang dicetuskan oleh Immanuel Kant (1724-1804). Intusionis mengklaim bahwa matematika berasal dan berkembang di dalam pikiran manusia. Ketepatan dalildalil matematika tidak terletak pada simbol-simbol di atas kertas, tetapi terletak dalam akal pikiran manusia. Hukum-hukum matematika tidak ditemukan melalui pengamatan terhadap alam, tetapi mereka ditemukan dalam pikiran manusia. Keberatan terhadap aliran ini adalah bahwa pandangan kaum intusionis tidak memberikan gambaran yang jelas bagaimana matematika sebagai pengetahuan intuitif bekerja dalam pikiran. Konsep-konsep mental seperti cinta dan benci berbeda-beda antara manusia yang satu dengan yang lain. Apakah realistik bila menganggap bahwa manusia dapat berbagi pandangan intuitif tentang matematika secara persis sama? Tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan intuisionisme dalam filsafat matematika antara lain : 1. Luitzen Egbertus Jan Brouwer (1881 – 1966)

Brouwer dilahirkan di sebuah kota di Overschie, Belanda. Di kalangan temantemannya, Brouwer sering dipanggil dengan nama “Bertus.” Pada tahun 1897, Brouwer mengikuti kuliah di universitas Amsterdam untuk belajar matematika dan fisika. Salah seorang dosennya, Diederik Korteweg, dosen matematika, kelak memberi pengaruh besar bagi dirinya. Korteweg terkenal karena mengemukakan suatu persamaan yang disebut persamaan Korteweg – de Vries. Dosen lain yang mempengaruhinya adalah Gerrit Mannoury, dosen filsafat. Karya pertama Brouwer adalah rotasi pada ruang empat dimensi di bawah bimbingan Korteweg. Menurut Brouwer, dasar dari intuisionisme adalah pikiran. Namun pemikiranpemikiran yang dicetuskannya banyak dipengaruhi oleh pandangan Immanuel Kant. Matematika didefinisikan oleh Brouwer sebagai aktifitas berpikir secara bebas, namun eksak,suatu aktivitas yang ditemukan dari intuisi pada suatu saat tertentu. Dalam pandangan intuisionisme tidak ada realisme terhadap objekobjek dan tidak ada bahasa yang menjembatani, sehingga bisa dikatakan tidak ada penentu kebenaran matematika diluar aktivitas berpikir. Proposisi hanya berlaku ketika subjek dapat dibuktikan kebenarannya (dibawa keluar dari kerangka pemikiran). Singkat kata, Brouwer mengungkapkan bahwa “tidak ada kebenaran tanpa dilakukan pembuktian”. Brouwer konsisten dengan falsafahnya. Hal ini dinyatakannya apakah matematika perlu dibenahi agar kompartible atau tidak-kompartible dengan matematika klasik adalah pertanyaan yang kurang penting lagi, dan tidak dijawab. Pandangannya terhadap matematika tradisional, dia menganggap dirinya hanya sekedar menjadi seorang tukang revisi. Disimpulkan, dimana artimatika intusionistik adalah bagian (sub-sistem) dari aritmatika klasik, namun hal ini tidak berlaku untuk analisis.

Brouwer memegang prinsip bahwa matematika adalah aktivitas tanpa-perludiutarakan (languageless) yang penting. Brouwer mencoba mengesampingan semua itu dan mau memahami matematika apa adanya. prinsip yang tidak akan memicu kontradiksi. Semua itu digunakan sebagai pertimbangan dalam memilah antara matematika dan metamatematika (istilah yang digunakan untuk ‘matematika tingkat kedua’). prinsip berkesinambungan. sehingga logika bergantung pada matematika (suatu studi tentang pola) dan bukan sebaliknya. diucapkan. Hal ini membuat Brouwer tidak mengindahkan metode aksiomatik yang memegang peran utama dalam matematika. prinsip tidak termaktub di tengah (PEM/Principle of the Excluded Middle). dan hanya meninggalkan bilangan ordinal terbatas (finite) dan tidak dapat diselesaikan atau terbuka (open-ended) bagi sekumpulan bilangan ordinal tak-terhingga/infinite. Brouwer bersiap merombak kembali teori himpunan Cantor. The Unreliability of The Logical Principles. tanpa ada alasan positif untuk menerima bahwa hal itu benar dan sahih. dimana Brouwer memberikan contoh-contoh. prinsip yang membuat secara matematika mudah dikerjakan. Membangun logika sebagai studi tentang pola dalam linguistik yang dibutuhkan sebagai jembatan bagi aktivitas matematikal. Tetap konsisten dengan pandangan falsafatnya. Bukan berarti pandangan Brouwer ini tidak ada yang mendukung. tapi juga gagal. menginterpretasikan p v ‫ ד‬p sebagai ‫ ד‬p → ‫ ד‬p Lewat tulisanannya pada tahun 1908. Disadari bahwa metodenya tidak berlaku dan tidak dapat menyelesaikan kategori-kategori bilangan lebih tinggi. dan bahasa itu sendiri hanya dapat memberi gambaran-gambaran tentang aktivitas matematikal setelah ada fakta. pandangan ini didukung oleh Herman Weyl. yang diformulasikan pada kuliah Brouwer pada tahun 1916. dalam istilah-istilah umum. Tidak lama dia juga mau menerima prinsip dalam logika. . tetapi tidak ada analisis intusionistik secara klasik diterima. kritiknya terhadap PEM: meskipun dalam bentuk sederhana p v ‫ ד‬p.Untuk analisis. Memilih suatu deret memberi mereka impresi awal secara intuisi menerima obyek yang ditulisnya pada buku yang terbit pada tahun 1914. Brouwer mengformulasikan. Berdasarkan pandangan ini. Brouwer mengambil langkah ini dengan segala konsekuensinya dengan sepenuh hati. Di luar negaranya. yang didiskusikannya dengan David Hilbert. Inovasi ini memberi intuisionisme mempunyai ruang gerak lebih besar daripada matematika konstruktif aliran-aliran lainnya (termasuk di sini disertasi Brouwer) adalah pilihan-pilihan dalam melihat suatu deret.. namun dalam disertasinya dia tetap berpikir bahwa semua itu benar dan sahih namun tidak memberi manfaat. Belanda. Banyak diketahui deret-deret bilangan tak-terhingga (atau obyek-obyek matematikal lain) dipilih mendahului yang lainnya oleh setiap matematikawan sesuai keinginan mereka masingmasing. Ketika upaya ini mulai dilakukan dengan ‘membongkar’ kategori bilangan sekunder (bilangan ordinal tak terhingga/infinite) dan kategori bilangan ordinal infiniti yang lebih besar. tidak semua analisis klasikal diterima atau dipahami secara intusionistik.

Dummet mengeksplorasi matematika klasik dengan menggunakan bentuk pemikiran yang . Guna mengukuhkan teori spread dan teori titik-titik ini yang digunakan sebagai dasar ini. Dummet tidak memiliki orientasi memilih. Founding Set Theory Independently of the Principle of the Excluded Middle. matematika dan logika adalah linguistic dari awal. murid Brouwer yang memiliki pengaruh besar pada perkembangan intuisionisme filsafat matematika adalah Arend Heyting. Oleh karena itu. tetapi tidak seperti Heyting. Semantic akan menggambarkan suatu perhitungan seperti sebuah penyelesaian kanonikal untuk setiap permasalahan. titik-titik dalam (bidang) kontinuum (bilangan-bilangan nyata) yang diidentifikasi dengan memilih deret yang memenuhi persyaratan kondisi-kondisi tertentu. Pada suatu penemuan metode baru memungkinkan kita untuk memperluas system formal.Tujuan utama memilih deret merupakan rekonstruksi analisis. Sebaliknya pendekatan utama Dummett. tetapi satu yang tidak diyakini system formal menggambarkan secara utuh domain pemikiran matematika. Seperti Brouwer. Memilih berbagai pilihan deret dapat dilakukan dengan menggunakan alat uang disebut dengan ‘spread’. bahasa intuisionisme seharusnya dimengerti dalam faktorfaktor syarat-syarat penyelesaian. Keduanya. logika menyangkut bentuk yang berlaku untuk penyebaran media ini dan tentu saja focus langsung pada bahasa dan logika telah jauh berpindah dari permasalahan yang seharusnya. dan awalnya Brouwer menggunakan istilah ‘gabung’ (‘himpunan’) untuk berbagai spread. Semantic matematika klasik menggambarkan suatu kondisi dalam pernyataan benar atau salah. Sistem ini dinamakan ”Predikat Kalkulus Heyting”. Heyting menegaskan bahwa dari asumsi metafisika yang pokok dalam kebenaran realism-logika klasik. System formalnya adalah dirinya sendiri sebagai sebuah legitimasi konstruksi matematika. Heyting tidak bermaksud pekerjaannya pada logika untuk menyusun pertimbangan intuisionistik. 3. Dalam buku “Intuitionism” (1956: 5) dia mengemukakan pendapat Brouwer. termaktub dalam dua makalah yang diterbitkan pada tahun 1918/1919. Sir Michael Anthony Eardley Dummett (1925 – sekarang) Mengingat kembali Brouwer dan Heyting yang mengatakan bahasa merupakan media tidak sempurna untuk komunikasi konstruksi mental matematika. Sebagai pengganti. Heyting menegaskan logika bergantung pada matematika bukan pada yang lain. Semantic seperti ini tidak tepat untuk intuisinisme. bahasa adalah media tidak sempurna untuk mengkomunikasikan konstruksi nyata matematika. Heyting mempunyai andil dalam pandangan Brouwer mengenai kelaziman kontruksi mental dan down playing bahasa dan logika. Heyting membangun sebuah formalisasi logika intuisionisme yang sangat tepat. yang mempunyai fungsi mirip dengan analisis klasik Cantorian. bahasa matematika klasik adalah pengertian faktor-faktor objektivitas syarat-syarat kebenaran yang terbaik. Arend Heyting (1898-1980) Di lain hal. Filosofinya lebih interest pada logika intuisionistik daripada matematika itu sendiri. 2.

harus mengandung kapasitas untuk menggunakan pernyataan pada alur yang benar. kemudian dia tidak dapat menyampaikan muatan tersebut dengan arti simbol atau formula tersebut. harus berdasarkan pemikiran individu yang memahami arti tersebut. Untuk membuatnya. seseorang mengerti ekspresi yang ada dalam bahasa “ jika dan hanya jika”. Dummet menegaskan bahwa arti suatu pernyataan tidak bisa memuat suatu unsur yang tidak menunjukkan penggunaannya. maka mereka pun menyetujui artinya. Sebagai contoh. Ia mengusulkan beberapa pertimbangan mengenai logika adalah benar yang pada akhirnya harus tergantung pada arti pertanyaan. Pemahaman seharusnya dapat dikomunikasikan kepada penerima. maka penerima tidak akan bisa memahaminya. Jika seorang individu dihubungkan dengan simbol matematika atau formula.tidak valid pada suatu jalan legitimasi penguraian pernyataan alternatifnya. yang kemudian disebut sebagai terminologi logika. . dimana hubungan tersebut tidak berdasar pada penggunaan. Jika dua individu secara bersama setuju dengan penggunaan pernyataan yang dibuat. Alasannya bahwa arti pernyataan mengandung aturan instrumen komunikasi antar individu. Ia juga mengadopsi pandangan yang diperoleh secara luas. Acuan arti pernyataan matematika secara umum.