P. 1
makalah Sumber Hukum Islam

makalah Sumber Hukum Islam

|Views: 1,660|Likes:
Bagus Fery Yanto 081116055
Bagus Fery Yanto 081116055

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: O Jelaimtyf-Ms Xemiq on Oct 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Fiqih islam merupakan kumpulan hukum islam yang
berkenaan dengan amal perbuatan, yang digali dari
sumber/dalilnya secara terperinci. Dalil pokok yang merupakan
sumber fiqih itu adalah wahyu Tuhan. Satu-satunya pemilik dan
penguasa hukum.
Pengertian wahyu sebagai satu-satunya sumber hukum,
ialah bahwa dialah yang berhak menetapkan adanya sumber lain
yang dapat dijadikan dasar bagi fiqih islam, di antaranya
dinyatakan adalah : Qur’an , Hadist dan sumber hukum
pelengakap islam lainnya.
Sedangkan saat ini kita tidak hanya menggunakan 3
hukum tersebut. Kita menggunakan hukum yang dibuat oleh
pemimpin negara Indonesia yang berupa Undang-Undang.
Akan tetapi di Indonesia muncul Undang-Undang Islam yang
terbaru sampai saat ini adalah KHI (Kompilasi Hukum Islam).
Semoga tulisan kami ini bisa membantu pembaca dalam
mempelajari hukum islam.






BAB II
PEMBAHASAN

A. SUMBER HUKUM ISLAM
a. Al-quran
i. Arti Definisi Dan Pengertian Al Qur'an
Al-Qur’an adalah firman atau wahyu yang berasal dari Allah
SWT kepada Nabi Muhammad SAW dengan perantara melalui
malaikat jibril sebagai pedoman serta petunjuk seluruh umat manusia
semua masa, bangsa dan lokasi. Alquran adalah kitab Allah SWT
yang terakhir setelah kitab taurat, zabur dan injil yang diturunkan
melalui para rasul
Al-Qur’an Sebagai Sumber Hukum Islam
1. Dasar Kehujjahan Al-Qura’an dan Kedudukannya sebagai
Sumber Hukum
Alqur’an merupakan sumber hukum utama dan menempati
kedudukan pertama dari sumber-sumber hukum yang lain dan
merupakan aturan dasar yang paling tinggi. Sumber hukum
maupun ketentuan norma yang ada tidak boleh bertentangan
dengna isi Al-Qur’an
Sebagaimana kita ketahui Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan disampaikan kepada umat manusia adalah
untuk wajib diamalkan semua perintah-Nya dan wajib
ditinggalkan segala larangan-Nya.
Firman Allah SWT :
Artinya : “Sesungguhnya kami telah menurunkan Kitab
kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu
mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah
wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantan
karena membela orang-orang yang khianat”(An-Nisa ; 105)
2. Pedoman Al-Qur’an dalam Menetapkan Hukum
Pedoman Al-Qur’an dalam menetapkan hukum sesuai
dengan perkembangan dan kemampuan manusia, baik secara
fisik maupun rohani. Manusia selalu berawal dari kelemahan
dan ketidakmampuan. Untuk itu Al-Qur’an berpedoman kepda
tiga hal, yaitu :
a. Tidak memberatkan
ºº ÷-ggU·¯NC +.- ·O^¼4^ ·º)³
E_E¬¯cNÒ _ E_·¯ 4` ;e4:=OE
Og¯OÞU4N4Ò 4` ;e4:=O4^- ¯
E4+4O ºº .4^'Og·-E·¬> p)³ .4L1´O4e
uÒÒ¡ 4^··Cu=Ò¡ _ E4+4O ºº4Ò ¯g©¯··>
.4L^1ÞU4N -6O;)³ E©E +O4·UE©EO
OÞ>4N ¬-¯g~-.- }g` 4L)U¯:·~ _ 4L+4O
ºº4Ò E4·Ug-©E·¬> 4` ºº ·O·~·C E4·¯
·gO) W ÷-;N-4Ò E44N ¯Og¼^N-4Ò
E4·¯ .4L;©EO¯O-4Ò _ =e^Ò¡
4L¯·¯¯O4` 4^¯OO^·· OÞ>4N
g¬¯O·³^¯- ¬-¯jOg¼E:^¯- ^ggg÷
286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa
(dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): "Ya Tuhan Kami,
janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan
Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri
ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami,
Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir."(Al-Baqoroh : 286)

NO¯gE+ 4pº_4`4O -Og~-.- 4·@O^q¡
gO1g· Np-47¯O¬³^¯- O1³¬- +EE4Ug¢¯
±eE4´)O44Ò =}g)` ¯OE³÷_^¯-
÷p·~¯O¬¼^¯-4Ò _ }E©·· E³jgE+ Nª7¯4g`
4O¯gO´¯- +O;©O41·U·· W }4`4Ò 4pº±
¯_CjO·· uÒÒ¡ _OÞ>4N ¯OE¼Ec ¬EO³g¬··
;}g)` `¬+CÒ¡ 4OE=q¡ ¯ ÷³C@ONC +.-
Nª¬:) 4O¯ON1^¯- ºº4Ò ÷³C@ONC Nª¬:)
4O;ON¬^¯- W-O¬Ug©-:+-g¯4Ò
ÞEO³g¬^¯- W-Ò+O´)¯E:+-g¯4Ò -.-
_©Þ>4N 4` ¯ª7¯.E³E- ¯ª¬:^UE¬·¯4Ò
¬]ÒNO7¯;=Þ ^¯g)÷
185. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat
tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan
Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah
baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang
lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu
bersyukur.(Al-Baqoroh : 185)
b. Meminimalisir beban
Dasar ini merupakan konsekwensi logis dari dasar yang
pertama. Dengan dasar ini kita dapati rukhshah dalam
beberapa jenis ibadah, seperti :
Menjamak dan mengqashar salat apabila dalam perjalanan
dengan syarat yang telah ditentukan.
c. Berangsur-angsur dalam menetapkan hokum
Al-Qur’an dalam menetapkan hukum adalah secara bertahap,
hal ini bisa kita telusuri dalam hukum haramnya minuman-
minuman keras dan sejenisnya, berjudi serta perbuatan-
perbuatan yang mengandung judi ditetapkan dalam Al-Qur’a
b. Hadist
i. Pengertian
Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan
ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang
dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits
dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma
dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan
sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
ii. Kedudukan hadist sebagai sumber hukum islam
Semua umat islam telah sepakat dengan bulat bahwa hadist
rosulullah adalah sumber dan dasar hukum islam setelah alquran,
dan umat islam diwajibkan mengikuti dan mengamalkan hadist
sebagaimana diwajibkan mengikuti dan mengamalkan alquran.
Alquran dan hadist merupakan dua sumber hukum pokok
syariat islam yang tetap dan orang islam tidak akan mungkin bias
memahami syariat islam secara mendalam dan lengkap tanpa
kembali kepada kedua sumber islam tersebut. Seorang mujtahid dan
seorang ulama pun tidak diperbolehkan hanya mencukupkan diri
dengan mengambil salah satu dari keduanya.
Banyak kita jumpai ayat ayat alquran dan hadist hadist yang
memberikan pengertian bahwa hadist merupakan sumber hukum
islam selain alquran yang wajib diikuti dan diamalkan baik dalam
bentuk perintah maupun larangannya.

Dalil Alquran
E` 4p~E +.- 4OEO41g¯
4×-gLg`u·÷©^¯- _OÞ>4N .4`
¯ª+^Ò¡ gO^OÞU4N _/4®EO 4OOg©4C
E+1)l·C^¯- =}g` ´Uj´O-C¯- ¯
4`4Ò 4p~E +.- ¯ª7¯E¬)U;CN1g¯
OÞ>4N ´U^O4¯^¯- O}´¯·¯4Ò -.-
/´¯4-^_·© }g` ·g¡)-÷cGO }4`
+7.4=EC W W-ON4g`4*·· *.)
·g¡)-÷c+O4Ò _ p)³4Ò W-ON4g`u·¬>
W-O¬³+-·>4Ò ¯ª7¯ÞU·· vO;_Ò¡ _¦1g¬4N
^¯__÷
179. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam Keadaan
kamu sekarang ini[254], sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik
(mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan
tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya[255]. karena itu
berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu
pahala yang besar. (Ali imron : 179)
Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.-
W-EON44`-47 W-ON4g`-47 *.)
·g¡).O÷c4O4Ò ´U4´¯^¯-4Ò
Og~-.- 4·EO4^ _OÞ>4N ·g¡).O÷c4O
´U4´:^¯-4Ò -Og~-.- 4·4O^Ò¡
}g` N¯:·~ _ }4`4Ò ¯O¬¼'¯4C *.)
·gOg·¯j·^ÞU4`4Ò ·gO)l+74Ò
·g¡)-÷c+O4Ò g¬¯O4O^¯-4Ò
@O´=E- ;³·³·· E=¯ ©EÞU=¯
-·³Og¬4 ^¯@g÷
136. Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada
kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.
Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya,
dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (Annisa’ : 136)

Dalam surat ali imron diatas Allah membedakan antara orang orang
yang beriman dengan orang orang yang munafik dan akan
memperbaiki keadaan orang orang yang beriman dan memperkuat
iman mereka. Oleh karena itu orang mukmin dituntut agar tetap
beriman kepada Allah dan Rosul-Nya. Sedangkan pada surat An-
Nisa’ , allah menyerukan kaum muslim agar mereka tetap beriman
kepada Allah dan Rosul-Nya, Alquran dan kitab yang diturunkan
sebelumnya. Kemudian pada akhir ayat allah mengancam orang
orang yang mengingkari dan menentang seruan-Nya.

Selain itu Allah memerintahkan orang islam agar percaya kepada
Rosul SAW juga menyerukan agar mentaati dan melaksanakan
segala bentuk perundang undangan dan peraturan yang dibawahnya ,
baik berupa perintah maupun larangan.
Dalil Hadist
Mari kita pahami dalam salah satu pesan rosulullah SAW
berkenaan dengan kewajiban menjadikan hadist sebagai pedoman
hidup disamping alquran untuk pedoman utamanya, beliau bersabda
Yang artinya: “aku tinggalkan dua pusaka untukmu sekalian, yang
kalian tidak akan tersesat selagi kamu berpegang teguh pada
keduanya, yaitu berupa kitab Allah dan sunnah Rosul-
Nya”.(HR.Malik).
Dalam hadist lain rosul bersabda
Yang artinya : “wajib bagi sekalian berpegang teguh dengan
sunnahku dan sunnah khulafa ar-Rasyidin (khalifah yang mendapat
petunjuk), berpegang teguhlah kamu sekalian dengannya”.(HR.Abu
Daud dan Ibnu Majah).
Hadist hadist tersebut diatas kita anggap cukup untuk menunjukkan
bahwa berpegang teguh kepada hadist atau menjadikan hadist
sebagai pegangan dan pedoman hidup itu adalah wajib, sebagaimana
wajibnya berpegang teguh kepada alquran.

C. Ijtihad
i. Pengertian dan fungsi
Secara bahasa ijtihad berarti pencurahan segenap
kemampuan untuk mendapatkan sesuatu. Yaitu penggunaan akal
sekuat mungkin untuk menemukan sesuatu keputusan hukum
tertentu yang tidak ditetapkan secara eksplisit dalam al-Quran dan
as-Sunnah. Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abdullah bin
Mas'ud sebagai berikut : " Berhukumlah engkau dengan al-Qur'an
dan as-Sunnah, apabila sesuatu persoalan itu engkau temukan pada
dua sumber tersebut. Tapi apabila engkau tidak menemukannya
pada dua sumber itu, maka ijtihadlah ". Kepada Ali bin Abi Thalib
beliau pernah menyatakan : " Apabila engkau berijtihad dan
ijtihadmu betul, maka engkau mendapatkan dua pahala. Tetapi
apabila ijtihadmu salah, maka engkau hanya mendapatkan satu
pahala ". Muhammad Iqbal menamakan ijtihad itu sebagai the
principle of movement. Mahmud Syaltut berpendapat, bahwa
ijtihad atau yang biasa disebut arro'yu mencakup dua pengertian :
a. Penggunaan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang
tidak ditentukan secara eksplisit oleh al-Qur'an dan as-
Sunnah.
b. Penggunaan fikiran dalam mengartikan, menafsirkan dan
mengambil kesimpulan dari sesuatu ayat atau hadits.
Adapun dasar dari keharusan berijtihad ialah antara lain
terdapat pada al-Qur'an surat An-Nisa ayat 59.
Og¬³Ò^4C 4ׯg~-.-
W-EON44`-47 W-ON¬OgCÒ¡ -.-
W-ON¬OgCÒ¡4Ò 4·O÷c·O¯-
Oj¯Òq¡4Ò jO¯··- ¯¦7¯Lg` W p)¯··
u®7+;N4O4L·> O)× ¡7¯/E* +ÞÒ·1NO··
OÞ¯)³ *.- ´·O÷c·O¯-4Ò p)³
u®7+47 4pONLg`u·¬> *.)
g¬¯O4O^¯-4Ò @O´=E- _ Elg¯·O
¬O¯OE= ÷}=O;OÒ¡4Ò ECjÒ··> ^)_÷
59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara
kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa’ : 59)
ii. Kedudukan Ijtihad
Berbeda dengan al-Qur'an dan as-Sunnah, ijtihad terikat dengan
ketentuan-ketentuan sebagi berikut :
a. Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan
keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal
pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang
relatif maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif.
b. Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku
bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu
masa / tempat tapi tidak berlaku pada masa / tempat yang lain.

c. Ijtihad tidak berlaku dalam urusan penambahan ibadah mahdhah.
Sebab urusan ibadah mahdhah hanya diatur oleh Allah dan Rasulullah.

d. Keputusan ijtihad tidak boleh bertentangan dengan al-Qur'an dan as-
Sunnah.

e. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor
motifasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-
nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.
iii. Cara-cara ijtihad
a. Qiyas = reasoning by analogy. Yaitu menetapkan sesuatu hukum
terhadap sesuatu hal yang belum diterangkan oleh al-Qur'an dan as-
Sunnah, dengan dianalogikan kepada hukum sesuatu yang sudah
diterangkan hukumnya oleh al-Qur'an / as-Sunnah, karena ada sebab
yang sama. Contoh : Menurut al-Qur'an surat al-Jum'ah 9; seseorang
dilarang jual beli pada saat mendengar adzan Jum'at. Bagaimana
hukumnya perbuatan-perbuatan lain ( selain jual beli ) yang
dilakukan pada saat mendengar adzan Jum'at ? Dalam al-Qur'an
maupun al-Hadits tidak dijelaskan. Maka hendaknya kita berijtihad
dengan jalan analogi. Yaitu : kalau jual beli karena dapat
mengganggu shalat Jum'at dilarang, maka demikian pula halnya
perbuatan-perbuatan lain, yang dapat mengganggu shalat Jum'at,
juga dilarang. Contoh lain : Menurut surat al-Isra' 23; seseorang
tidak boleh berkata uf ( cis ) kepada orang tua. Maka hukum
memukul, menyakiti dan lain-lain terhadap orang tua juga dilarang,
atas dasar analogi terhadap hukum cis tadi. Karena sama-sama
menyakiti orang tua. Pada zaman Rasulullah saw pernah diberikan
contoh dalam menentukan hukum dengan dasar Qiyas tersebut.
Yaitu ketika Umar bin Khathabb berkata kepada Rasulullah saw :
Hari ini saya telah melakukan suatu pelanggaran, saya telah
mencium istri, padahal saya sedang dalam keadaan berpuasa. Tanya
Rasul : Bagaimana kalau kamu berkumur pada waktu sedang
berpuasa ? Jawab Umar : tidak apa-apa. Sabda Rasul : Kalau begitu
teruskanlah puasamu.
b. Ijma' = konsensus = ijtihad kolektif. Yaitu persepakatan ulama-
ulama Islam dalam menentukan sesuatu masalah ijtihadiyah. Ketika
Ali bin Abi Thalib mengemukakan kepada Rasulullah tentang
kemungkinan adanya sesuatu masalah yang tidak dibicarakan oleh
al-Qur'an dan as-Sunnah, maka Rasulullah mengatakan : "
Kumpulkan orang-orang yang berilmu kemudian jadikan persoalan
itu sebagai bahan musyawarah ". Yang menjadi persoalan untuk saat
sekarang ini adalah tentang kemungkinan dapat dicapai atau
tidaknya ijma tersebut, karena ummat Islam sudah begitu besar dan
berada diseluruh pelosok bumi termasuk para ulamanya.
c. Istihsan = preference. Yaitu menetapkan sesuatu hukum terhadap
sesuatu persoalan ijtihadiyah atas dasar prinsip-prinsip umum ajaran
Islam seperti keadilan, kasih sayang dan lain-lain. Oleh para ulama
istihsan disebut sebagai Qiyas Khofi ( analogi samar-samar ) atau
disebut sebagai pengalihan hukum yang diperoleh dengan Qiyas
kepada hukum lain atas pertimbangan kemaslahatan umum. Apabila
kita dihadapkan dengan keharusan memilih salah satu diantara dua
persoalan yang sama-sama jelek maka kita harus mengambil yang
lebih ringan kejelekannya. Dasar istihsan antara lain surat az-Sumar
18.
d. Mashalihul Mursalah = utility, yaitu menetapkan hukum terhadap
sesuatu persoalan ijtihadiyah atas pertimbangan kegunaan dan
kemanfaatan yang sesuai dengan tujuan syari'at. Perbedaan antara
istihsan dan mashalihul mursalah ialah : istihsan mempertimbangkan
dasar kemaslahan ( kebaikan ) itu dengan disertai dalil al-Qur'an / al-
Hadits yang umum, sedang mashalihul mursalah mempertimbangkan
dasar kepentingan dan kegunaan dengan tanpa adanya dalil yang
secara tertulis exsplisit dalam al-Qur'an / al-Hadits.

B. FUNGSI HUKUM ISLAM
1. Fungsi Ibadah : sebagai alat untuk menegakkan ibadah.
2. Fungsi amar ma’ruf nahi munkar : perintah kebaikan dan pencegah
kemunkaran.
3. Fungsi zawajir : sebagai alat penjeraan .
4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah: penataan organisasi dan rehabilitasi
masyarakat .
5. Fungsi Jawabir : sebagai penebus dosa.

C. Kontribusi umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum Nasional
1. Konstribusi Umat Islam Dalam Perumusan Sistem Hukum Islam.
a. Sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia
Kemerdekaan indonesia tidak lepas dari orang-orang islam juga.
Dapat dilihat dari organisasi-organisasi kemerdekaan jaman dahulu
seperti oraganisasi serikat islam dan organisasi islam lainnya.
b. Perumusan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
Pada saat sidang BPUPKI dulu sebagin besar orang yang mengikuti
sidang tersebuat adalah orang islam seperti M. Yamin
Dan pada saat sidang PPKI juga banyak sekali orang islam yang
ikut rapat tersebut
D. Lahirnya Undang-Undang Perkawinan, Peradilan Agama, Zakat, dll
1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1946
2. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1948 & Undang-undang Darurat
Nomor 1 Tahun 1951
3. Undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951
4. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974
5. KHI (Kompilasi Hukum Islam)
BAB III
KESIMPULAN

Dalam menentukan hukum, islam sangatlah sistematis yang pertama
dalam menentukan hukum islam menggunakan Al-Qur’an terlebih dahulu. Al-
Quran dalam menetapkan hukum tidak memberatkan, memminimalisisr beban
dan berangsur-angsur dalam menetapkan hukum. Kemudian Al-Hadist dan yang
terakhir adalah sumber hukum pelengkap yang salah satunya ijtihad.















DAFTAR PUSTAKA
LKS Fiqih XII Ma.Ganjil, Hikmah
Abdullah, Dr. H. Sulaiman, Sumber Hukum Islam Permasalahn dan
Fleksibilitasnya, Jakarta, Sinar Grafika, 1995.
Idris Ramulyo, Mohammad, Hukum Perkawinan, Hukum Kewarisan, Hukum
Acara Peradilan Agama dan Zakat Menurut Hukum Islam, Jakarta, Sinar Grafika,
1995

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->