Erika . 0706291243 . Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .

Universitas Indonesia ESSAY TEORI HUBUNGAN INTERNASIONAL Nama NPM Jurusan : : : Erika 0706291243 Ilmu Hubungan Internasional

Perkembangan Perspektif Realisme dan Liberalisme,
Sebuah Refleksi Kritis pada Perkembangan Realisme dan Liberalisme, serta Signifikansinya pada Fenomena Dunia Internasional

Dalam perkembangannya, teori-teori dalam ilmu hubungan internasional telah mengalami banyak perubahan dan perdebatan. Pada jaman dahulu, perdebatan yang paling tajam dalam ilmu hubungan internasional terletak pada pandangan optimis liberalisme melawan pandangan pesimis realisme. Seiring dengan perkembangan jaman, berbagi teori-teori hubungan internasional pun dirasa sudah tidak sesuai, sehingga menuntut perlunya perubahan dan perkembangan dalam teori-teori hubungan internasional, misalnya saja perubahan pada dua teori besar hubungan internasional : Realisme dan Liberalisme. Kedua teori itu berkembang dan menghasilkan bentuk Neorealisme dan Neoliberalisme. Tulisan ini kemudian akan menganalisa perkembangan kedua teori utama hubungan internasional tersebut, serta signifikansi perkembangannya dalam menganalisa peristiwa-peristiwa dunia. Teori yang disebut-sebut sebagai teori pertama dalam ilmu hubungan internasional, Realisme, pada dasarnya didasarkan pada anggapan bahwa hubungan internasional bersifat konfliktual, konflik antar negara pasti terjadi sebagai manivestasi dari sifat dasar manusia yang selalu tidak pernah puas. Realis memandang sifat dasar manusia pada dasarnya buruk, dan hal tersebut tidak dapat diubah. Konflik yang terjadi antar negara itu kemudian memaksa negara lemah tunduk pada negara kuat. Konsep inilah yang kemudian mendorong munculnya istilah “keadilan adalah hak bagi mereka yang lebih kuat”, “Justice is the right of the stronger”. Paham realisme yang pertama muncul adalah realisme klasik, dengan pemikir-pemikir seperti Thucydides, Niccolo Machiavelli, Thomas Hobbes, George Hegel, dan Max Weber. Realisme klasik berintikan pada empat asumsi dasar, yaitu pandangan pesimis atas sifat manusia, keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya konfliktual dan bahwa konflik internasional pada akhirnya diselesaikan melalui perang, penitikberatan pada nilai-nilai keamanan nasional dan kelangsungan hidup negar, serta skeptisisme dasar bahwa terdapat kemajuan dalam politik internasional seperti yang terjadi dalam kehidupan politik domestik1. Dalam pemikirannya, Thucydides menyebutkan bahwa negara kuat akan melakukan apa yang dapat mereka lakukan dengan power-nya, sementara negara lemah akan menerima apa yang

1

Robert Jackson dan Georg Sorensen. Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hal. 88. Page | 1

Perkembangan ini ditandai dengan munculnya Neorealisme. Contending Theories of International Relations. pemerataan kekuasaan (balance of power). Hal inilah yang mendasari mengapa politik internasional seringkali digambarkan oleh kaum realis sebagai politik kekuasaan (power politics). Pemikir realisme klasik berikutnya. hal yang juga disebutkan oleh Hans J. Ketakutan itulah yang kemudian memunculkan istilah “dilema keamanan”(“security dilemma”) dalam ilmu hubungan internasional. Senada dengan penitikberatan aktivitas politik pada masalah power. ditandai dengan kemunculan pemikir utama realis. hal. karena kebijakan ekonomi pada dasarnya bersifat subordinat dengan politik. Max Weber menyebutkan bahwa karakteristik prinsipal dari politik adalah perjuangan kekuasaan (struggle of power). Realisme klasik juga menitikberatkan teorinya pada pentingnya power. Perspektif realisme pun terus berkembang setelah masa Realisme Klasik. dan bahwa moral universal tidaklah penting dalam suatu negara. dan pengaturan kekuasaan dalam dunia anarki/tanpa pemerintahan3. dan bahwa power merupakan perhatian utama dalam segala aktivitas politik. bahwa manusia selalu berada dalam kondisi ketakutan. 3 Ibid. Morgenthau dalam teorinya. Pemikiran Morgenthau bersumber pada pemikiran bahwa negara merupakan aktor yang sangat esensial perannya. Weber juga lantas menjelaskan bahwa politik merupakan sumber dari segala kebijakan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .. yaitu Hans J. ketakutan akan keselamatan dirinya. 1997). Perkembangan realisme yang signifikan juga terjadi pada pertengahan abad 20. Thomas Hobbes menyebutkan. Morgenthau juga mengatakan bahwa politik dipandang sebagai usaha untuk memperjuangkan kekuasaan. Seperti yang telah disebutkan Max Weber. Inc. dan bahwa para pengambil keputusan dalam negara bertindak dengan dan atas nama kepentingan nasional untuk memperoleh dan meningkatkan power yang dimilikinya. Perkembangan dunia yang semakin kompleks kemudian juga menuntut adanya perubahan dan perkembangan dalam perspektif realisme. Morgenthau yang diyakini menjadi Bapak dari Perspektif Realisme. Melanjutkan pemikiran realisme klasik. perbedaan fokus neorealisme dengan realisme juga terletak pada struktur yang 2 James E. sebagai perspektif realisme yang telah beradaptasi dengan perkembangan jaman kala itu. (New York: Addison-Wesley Educational Publisher. Dougherty dan Robert L. Georg Hegel lantas menjelaskan bahwa negara memiliki kekuasaan penuh atas individu-individu. Morgenthau menjelaskan bahwa inti dari pandangan realis terletak pada signifikansi kepentingan nasional (national interest). dan bahwa negara memiliki standar moral yang berbeda dan lebih superior dari moral yang dimiliki individu. Universitas Indonesia seharusnya mereka terima2. A Comprehensive Survey. 63. dan ketakutan akan adanya serangan dari pihak lain. Dalam konsepsi realisme. baik pada tingkat domestik maupun pada tingkat internasional. kekuasaan (power). 71. melainkan pada politik. Kekuasaan inilah yang mendasari pemikiran bahwa negara dipandang sebagai satu-satunya aktor yang paling berpengaruh dalam hubungan internasional. Selain berfokus pada politik.Erika . Niccolo Machiavelli kemudian menekankan bahwa politik selalu dicirikan dengan adanya perbenturan kepentingan. hal. Pfaltzgraff. Page | 2 . Mengenai sifat dasar manusia yang buruk. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . 0706291243 . Perbedaan pertama neorealisme dengan realisme terletak pada penitikberatan dari perspektif neorealisme yang diletakkan bukan lagi pada power. Jr.

negara akan membutuhkan kerjasama sebagai alat untuk menyelesaikan masalah dilema keamanan (security dilemma) yang dihadapinya. semakin kecil kebutuhan untuk persenjataannya. yang didefinisikan sebagai perbandingan biaya/beban untuk melakukan usaha penyerangan dengan biaya untuk meningkatkan pertahanan. memelihara eksistensinya dan secara luas. Hal inilah yang kemudian mendasari pemikiran kaum neorealis yang berbeda dengan kaum realis. dan Little menjelaskan keberadaan unit-unit kapabilitas. koersi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . Glaser yang dikenal dengan Realisme Kontingen (Contingent Realism)-nya. maka negara akan melakukan perubahan dalam sistem yang telah ada. Persebaran pengaruh inilah yang. Telah disebutkan sebelumnya. neorealisme berpendapat bahwa keberadaan struktur merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dalam kajian ilmu hubungan internasional. hal yang kemudian berpengaruh pada struktur sistem. dan militer mereka. Mengenai hal ini. bahwa neorealisme lebih berfokus pada struktur. sistem internasional akan berada dalam kondisi seimbang/mencapai ekuilibrium bila aktor-aktornya merasa puas dengan kondisi status quo teritori. Kenneth Waltz menyebutkan bahwa pendekatan neorealis berbasiskan pada hubungan antar negara dalam sistem anarki dunia dalam bentuk struktur. Realisme kontingen kemudian memfokuskan pada usaha penyeimbangan penyerangan-pertahanan (offense-defence balance) yang dilakukan oleh negara. aliansi. Buzan. Jones. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . menurut Robert Gilpin. Tidak seperti realisme yang tidak peduli pada struktur. Mengenai hal ini. Mengenai pandangannya pada negara. Unit kapabilitas ini mencakup teknologi dan norma bersama serta organisasi. serta sebagai distribusi kapabilitas antar unit. Universitas Indonesia membentuk hubungan politik antar negara. Robert Gilpin menyebutkan pentingnya kalkulasi analisa keuntungan-kerugian (cost-benefit analysis) dalam menentukan kebijakan bagi para pengambil keputusan. memperoleh dominasi universal. dan persebaran pengaruh. Menurut teori realisme kontingen. secara sempit. kemudian menjadi tujuan penting yang harus dicapai negara dalam ekonomi global. yaitu bahwa kerjasama dalam bentuk kerjasama ekonomi dan aliansi merupakan hal yang perlu dilakukan oleh negara. Lebih lanjut lagi. Ketidakpuasan yang ditimbulkan karena sistem dalam status quo lebih mendatangkan kerugian daripada keuntungan bagi suatu negara akan mendorong negara itu untuk meningkatkan pengaruhnya dalam negara lain melalui cara-cara ancaman. Realisme kontingen dengan ini memandang bahwa usaha pertahanan (defence) lebih penting daripada usaha penyerangan. Waltz menyebutkan bahwa negara adalah unitari aktor yang bertujuan. Robert Gilpin juga menjelaskan. bila keuntungan yang diperoleh tidak sebanding dengan kerugian yang diterima. politik. Pemikir kedua neorealisme. Struktur di sini didefinisikan Waltz sebagai cara unsur-unsur dalam hubungan internasional diatur. Jones. 0706291243 . yang lantas menyebabkan neorealisme sering disebut-sebut sebagai struktural realisme. Buzan. dan Little juga menyebutkan bahwa para Page | 3 . Dalam teorinya. Pentingnya kerjasama dalam pemikiran neorealisme juga disampaikan oleh Charles L. demi tujuan peningkatan pengaruhnya untuk lebih mendapat keuntungan dalam sistem internasional demi mengubah status quo. Glaser menyebutkan bahwa dalam usahanya untuk bergantung pada dirinya sendiri (self-help system). semakin suatu negara memfokuskan pada kapabilitas pertahanannya.Erika .

lebih memandang ke dalam unit-unit domestik negara yang dipandang berpengaruh pada proses pengambilan keputusan. sehingga kemungkinan terjadinya perang dan konflik akan sangat kecil. Sehingga neorealisme. dan Little. mereka akan lebih memilih untuk mencapai kerjasama yang saling menguntungkan. bertindak. Negara yang menjamin kebebasan individu. karena menjamin pemenuhan hak-hak individu. yaitu adanya keyakinan bahwa hubungan internasional lebih bersifat kooperatif daripada konfliktual. Universitas Indonesia pengambil keputusan tidak bisa secara unitari menentukan kebijakan hanya dengan melihat struktur dari sistem internasional—seperti yang dikatakan kaum realis. teori liberalisme pun mengalami banyak perkembangan sejak masa ditemukannya. Struktur domestik sangat berpengaruh pada unit-unit yang menyusun sistem internasional. melainkan harus juga memperhatikan struktur dalam negara itu sendiri. John Locke. Akan tetapi kaum liberal memandang. dan bahwa karena manusia itu rasional. itulah yang dikatakan Buzan. hanya saja karena pada dasarnya manusia itu rasional. Dengan kata lain. Kaum liberal sepakat bahwa. yang dapat berkembang dalam negara yang menjamin kebebasan individu. Selain realisme. Pandangan optimis liberalisme pada dasarnya berawal dari pandangan bahwa setiap manusia itu baik dan rasional. salah satu pemikir besar liberalisme. kerjasama yang saling menguntungkan demi tercapainya kepentingan semua pihak merupakan hal yang akan terus-menerus berlaku dalam hubungan internasional. menurut kaum liberalis adalah negara dengan sistem pemerintahan demokrasi. berbeda dengan realisme. dan bertingkah laku. Senada dengan pemikiran tersebut. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . sehingga negara menjadi kekuasaan tertinggi/leviathan. yaitu bahwa tujuan adanya negara adalah demi menjamin terlaksananya kebebasan bagi individu-individu/rakyatnya. persaingan itu akan menyadarkan individu pada pentingnya kerjasama demi terwujudnya kepentingan mereka yang berbeda-beda sehingga pada akhirnya individu-individu akan cenderung memilih cara kooperatif dibandingkan perselisihan. mereka akan menginginkan adanya kerjasama untuk mencapai kepentingan bersama dan perdamaian. Pemikiran bahwa sistem demokrasi adalah sistem terbaik juga disampaikan oleh Woodrow Wilson. yang mengatakan perdamaian dunia akan dapat dicapai bila Page | 4 . Kepada negaralah.Erika . Pemikiran liberalisme juga didasari pada pandangan tentang kebebasan individu. kaum liberal tidak menegasikan kemungkinan terjadinya konflik dan perang dalam ilmu hubungan internasional. Jones. salah satu teori yang juga sangat berpengaruh pada perkembangan ilmu hubungan internasional adalah liberalisme. Sama seperti realisme. melihat bahwa potensi besar bagi kemajuan manusia terletak dalam perekonomian kapitalis modern. individu menyerahkan semua haknya. pandangan yang dikemukakan oleh Thomas Hobbes. Pandangan akan pentingnya kerjasama antar manusia inilah yang kemudian menuntut pada salah satu asumsi dasar kaum liberalis. Kaum liberalis memandang sistem demokrasi adalah sistem yang terbaik. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . yang lantas menyebabkan lahirnya persaingan dalam berbagai hal. Kaum liberal mengakui bahwa terkadang individu memang mementingkan diri sendiri. serta mewujudkan kebebasan individu dalam berpikir. dengan menciptakan keamanan dan keteraturan dalam masyarakat. 0706291243 .

namun kaum ini tidak lantas menyimpulkan dengan adanya institusi internasional negara-negara akan hidup dalam kondisi teratur dan tanpa konflik. kaum liberalis memandang organisasi internasional yang didesain secara rasional dan cerdas mungkin untuk mengakhiri perang dan mencapai perdamaian yang kurang lebih permanen5. Keberadaan institusi institusional dipandang selain dapat memajukan kerjasama antar anggotanya juga dapat bertindak sebagai penyangga yang membantu menyerap kejutan yang menyerang seluruh Eropa Barat di akhir Perang Dingin dan reunifikasi Jerman 6 . diakses pada 1 Desember 2008. liberalisme percaya akan adanya kerjasama antar negara dalam wadah organisasi internasional. Sama seperti realisme yang mengalami perkembangan dan menghasilkan berbagai teori neorealisme demi menyesuaikan diri pada tuntutan perkembangan jaman. Liberalisme institusional didasarkan pada pandangan bahwa institusi internasional merupakan bentuk institusi yang penting bagi suatu negara dalam hubungannya dengan negara lain. Lebih lanjut lagi. liberalisme juga pada perkembangannya mengalami banyak perubahan dan membentuk neoliberalisme.cit. Pertama. pukul 05. Realisme juga dianggap gagal dalam menjelaskan periode pasca 4 “ 5 6 ”. terutama dari kaum liberalis yang tidak setuju dengan asumsi dasar realis bahwa manusia itu buruk dan tidak bisa diubah. 0706291243 . Kaum liberalis institusional menyadari pentingnya institusi internasional dalam memajukan kerjasama antar negara. Selain itu.Erika . mengenai Realisme. kaum liberalis institusional mengatakan bahwa institusi-institusi internasional dibuat untuk mengatasi ketidakpercayaan yang timbul antar negara. Perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam ilmu hubungan internasional disebut-sebut telah menghasilkan teori yang lebih baik dan lebih berguna bagi perkembangan ilmu hubungan internasional. hal. hal. Akan tetapi kemudian dalam perkembangannya.stmartin. 157. Page | 5 Jackson dan Sorensen. . Universitas Indonesia semua negara menggunakan sistem demokrasi4. Akan tetapi jika mau ditilik lebih lanjut. yaitu liberalisme institusional. realis mendapat banyak kritik.htm. Approaches to the Study of International Politics : Realism.. Kemunculan realisme pada masa-masa Perang Dunia dan pada saat terjadinya konfrontasi Timur-Barat bisa dibilang membawa angin segar bagi perkembangan disiplin hubungan internasional kala itu. Liberalism. 50. institusi internasional kemudian digunakan sebagai media penyebaran informasi di antara anggota-anggotanya.edu/Fac_Staff/rlangill/PLS%20300/Competing%20World%20Views-Lamborn. institusi internasional membantu mengurangi rasa takut negara anggota satu sama lain yang timbul karena adanya sistem dunia yang anarki. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . karena ternyata dalam setiap teori hubungan internasional masih terdapat celah-celah yang membuatnya tidak mampu menjelaskan peristiwa-peristiwa dunia. Penulis kemudian akan membahas salah satu bentuk neoliberalisme. mengingat perkembangan teori hubungan internasional itu lantas memberikan warna baru dalam ilmu hubungan internasional. Karena fungsinya inilah. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Hal tersebut benar adanya. Ibid. op.58. karena dianggap dapat menjelaskan fenomena hubungan internasional kala itu. http://homepages. and Marxism. sebenarnya perkembangan itu tidak lantas membuat teori-teori tersebut menjadi signifikan perannya dalam memetakan hubungan antar aktor-aktor internasional.

Akan tetapi lagi-lagi liberalisme mendapat kritik dari kaum neorealis. sama seperti kaum liberalis memandang hubungan internasional akan selalu mengarah pada terjadinya kemajuan dengan adanya kerjasama dalam institusi internasional. Kaum neorealis beranggapan. 0706291243 . Neorealis mengatakan. Kemenangan kaum neoliberalis atas neorealis bukan lantas menjadikan neoliberalis menjadi satu-satunya teori paling baik dalam ilmu hubungan internasional. Sekilas terlihat kaum neorealis seperti memenangkan perdebatan. Karena seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. yang lantas mendatangkan kondisi ketidakamanan dan rasa takut di sekitarnya. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . bahkan jauh sebelum Perang Dunia Kedua. Universitas Indonesia perang. kaum neorealis telah melupakan signifikansi institusi internasional tersebut dalam analisanya mengenai keadaan dunia anarki. Realisme juga dipandang terlalu sempit dan tidak valid dalam menjelaskan fenomena hubungan internasional. akan tetapi salah besar bila kondisi dunia yang anarki diartikan sebagai kondisi tanpa kekuasaan dan menimbulkan rasa takut bagi negara-negara. Kegagalan realisme dalam menjelaskan fenomena hubungan internasional pasca kondisi perang yang berpusat pada peningkatan kerjasama antar negara dalam organisasi internasional membuat paham liberalisme mendapat tempat tersendiri di kalangan pelajar ilmu hubungan internasional. yang mengatakan bahwa asumsi dasar liberalisme yang menitikberatkan pada terjalinnya kerjasama untuk memperkecil kemungkinan konflik adalah salah dan tidak terbukti benar. lantas akan mampu menghilangkan ketakutan dan ketidakamanan yang dirasakan oleh negara-negara anggotanya. Liberalisme kala itu dianggap mampu menjelaskan mengenai fenomena bergabungnya negara-negara ke dalam organisasi internasional. anarki tidak berarti tidak ada pemerintahan sama sekali di dunia. Namun ternyata liberalisme bangkit kembali dalam wujud neoliberalisme dan kembali mempertanyakan beberapa aspek dari pemikiran neorealis yang dinilai tidak masuk akal. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik .Erika . seperti ketidakmampuan kaum neoliberalis dalam menjelaskan kemunduran yang terjadi pada negara-negara Eropa dan negara-negara Dunia Ketiga. akan tetapi pandangan kaum liberalis yang mengatakan kerjasama itu pada akhirnya akan menghilangkan konflik dibantah mentah-mentah oleh kaum neorealis. kaum neoliberalis. Karena ternyata neoliberalis sendiri masih memiliki banyak kekurangan. Neoliberalis menilai. kaum neoliberalis menjelaskan bahwa keadaan dunia yang anarki memang tidak bisa dipungkiri. suatu keadaan dunia tanpa pemerintahan dan kekuasaan. sejak dahulu interdependensi ekonomi antar negara sudah terjadi. saat kerjasama dalam organisasi internasional mulai „mewabah‟ dan menjadi tren di kalangan negara-negara kala itu. kerjasama antar negara memang penting adanya. Menanggapi anggapan kaum neorealis mengenai kondisi dunia yang anarki ini. lanjut kaum neoliberalis. Aspek yang cukup mendapat sorotan tajam dari kaum neoliberalis adalah aspek anarki yang diusung kaum neorealis. yang Page | 6 . Akan tetapi ternyata interdependensi ekonomi itu tidak lantas menghilangkan kemungkinan terjadinya konflik dan perang antar negara. karena asumsi dasarnya yang hanya menitikberatkan peran negara sebagai satu-satunya unitari aktor hubungan internasional. yaitu dalam bentuk institusi internasional. karena kenyataannya ada elemen yang signifikan dari kekuasaan internasional yang efektif. Institusi internasional ini. Neoliberalis mengatakan. Asumsi ini kemudian ternyata tidak dapat menjawab mengenai kemunduran negara Dunia Ketiga.

tidak mengalami pembangunan. yang didominasi oleh isu-isu non konvensional. yang lebih dikenal dengan nama teori post-positivis. Akan tetapi perkembangan teori post-positivis ini bukan lantas menegasikan signifikansi dua teori utama dalam hubungan internasional yang telah dibahas sebelumnya. Berdasarkan uraian mengenai perdebatan dalam teori hubungan internasional dan implikasinya pada perkembangan dunia. Dapat dikatakan. akan tetapi bersifat dinamis dan mengikuti perkembangan jaman.Erika . alam. dan lain-lain. karena setiap teori masih memiliki celah-celah yang sebenarnya bisa ditutupi dengan melakukan penggabungan dengan teori hubungan internasional yang lain. hanya saja dibutuhkan perkembangan lebih lanjut agar semakin sesuai dengan perkembangan jaman. penulis menyimpulkan bahwa sebenarnya teori hubungan internasional itu bila dilihat sendiri-sendiri merupakan teori yang tidak lengkap. Penulis juga memandang. dalam menanggapi isu non konvensional ini. 0706291243 . karena sebenarnya fokus dari teori-teori tersebut adalah masyarakat. dan bahkan tidak sedikit yang hancur setelah beberapa kejadian. Teori hubungan internasional bukanlah teori yang dapat berdiri sendiri dan karenanya tidak mungkin menggunakan hanya satu perspektif dalam hubungan internasional untuk menjelaskan semua peristiwa di dunia. Jurusan Ilmu Hubungan Internasional . Penulis menilai. telah dikembangkan berbagai teori yang sesuai. lingkungan. Akhirnya. realisme dan liberalisme. Sebenarnya. Pandangan optimis neoliberalis lantas gagal untuk menjelaskan hal ini. Page | 7 . Realisme dan liberalisme tetap dapat digunakan. penulis menutup dengan menyimpulkan bahwasanya teori-teori hubungan internasional itu tidaklah bersifat statis. hanya cocok untuk diaplikasikan di beberapa kasus/peristiwa tertentu. yang terus mengalami perkembangan. Universitas Indonesia walaupun telah bergabung dengan berbagai institusi internasional tetap berada dalam kondisi miskin. setiap teori dalam hubungan internasional itu hanya bersifat kasuistis. penulis menemukan perkembangan dunia yang sekarang ini sudah tidak berfokus pada isu-isu keamanan ataupun ekonomi seperti yang diusung masing-masing oleh realisme dan liberalisme. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik . perhatian masyarakat dunia sekarang ini lebih mengarah pada isu-isu non konvensional seperti hak asasi manusia. keduanya berlaku baik untuk yang klasik maupun yang sudah mengalami perkembangan. Teralihnya perhatian dunia pada isu-isu non konvensional inilah yang kemudian menuntut teori hubungan internasional untuk terus berbenah. Selain itu. misalnya realisme yang cocok dipakai dalam kondisi peperangan dan perselisihan seperti pada masa Perang Dingin dan liberalisme yang hanya cocok dipakai dalam kasus pasca peperangan yang melibatkan kerjasama antar negara dalam organisasi internasional. teori post-positivis inilah yang sekarang lebih cocok digunakan untuk menganalisa fenomena-fenomena dalam hubungan internasional.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful