P. 1
Chapter II

Chapter II

|Views: 1,147|Likes:
Published by Amy Purple

More info:

Published by: Amy Purple on Oct 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

Konvergensi dan divergensi yang merupakan proses dalam peristiwa

tutur adalah dua aspek dalam akomodasi. Seseorang dalam bertutur atau

berinteraksi selalu berusaha untuk menyesuaikan tuturannya dengan mitra

tuturnya. Proses penyesuaian itu apabila menuju ke arah penyamaan tuturan

dengan mitra tuturnya disebut konvergensi, tetapi apabila menuju ke arah

ketidaksesuaian disebut divergensi. Dengan kata lain seorang penutur

berusaha mengakomodasikan tuturannya dengan mitra tuturnya agar tercapai

keseimbangan atau kesesuaian di antara mereka.

Weinreich (1954: 359 dalam Auer Peter, Frans Hinskens, dan Paul

Kerswill 2005: 2) mendefinisikan konvergensi sebagai kesamaan yang parsial

yang selanjutnya meningkat pada adanya perbedaan. Konvergensi dan

divergensi adalah gagasan yang berhubungan, yakni mengacu pada proses dan

hasil dari proses tersebut. Selanjutnya, Auer Peter, Frans Hinskens, dan Paul

Kerswill (2005: 4) menjelaskan bahwa proses perubahan bahasa hanya

menyelesaikan hal-hal yang ada dibalik perubahan bahasa, baik secara

intrasistemik (misalnya, perubahan bunyi secara leksikal yang menyebar)

maupun di antara variasi bahasa yang berdekatan (misalnya, dialek atau

gaya/style). Dalam dialektologi tradisional banyak perhatian telah diberikan

Universitas Sumatera Utara

65

pada variasi intrasistemik. Alam dan manusia dianggap berpotensi

menjelaskan lokasi batas dialek sebagai hasil dari divergensi dialek (atau tidak

konvergensi).

Dalam Masinambow (1976: 139-140) dijelaskan bahwa konvergensi

terjadi karena adanya persamaan aspek struktur bahasa A dengan bahasa B

atau sebaliknya pada masyarakat yang bilingualisme. Misalnya, persamaan

pola urutan konstituen sintaksis tertentu. Persamaan pola dapat juga terjadi

tanpa adanya persentuhan langsung antara bahasa A dan bahasa B. Ini terjadi

karena adanya hubungan genetis (cognat) yang sama dari dua bahasa itu.

Dalam rangka interaksi antaretnis (sehubungan dengan penelitiannya)

persamaan pola sebelum persentuhan mengakibatkan pengukuhan

(reinforcement) dari persamaan itu, sedangkan perubahan pola berbeda yang

menjadi identik menghasilkan penyimpangan dari norma bahasa yang

dipengaruhi.

Dalam penelitian Mahsun (2005) dijelaskan bahwa terjadinya

konvergensi dan divergensi dalam masyarakat bahasa adalah karena adanya

kesepadanan adaptasi linguistik dengan adaptasi sosial. Adaptasi linguistik

adalah proses adopsi ciri-ciri kebahasaan bahasa tertentu oleh bahasa yang

lain atau kedua-duanya saling melakukan hal yang sama, sehingga bahasanya

menjadi lebih serupa, mirip, atau sama, antara satu sama lain. Adaptasi sosial

adalah proses yang terjadi akibat adanya kontak sosial yang melibatkan dua

Universitas Sumatera Utara

66

kelompok yang memiliki perbedaan budaya atau ras melakukan penyesuaian

satu sama lain atau salah satu di antaranya, sehingga memiliki sejumlah

solidaritas budaya yang cukup untuk mendukung terciptanya eksistensi

kehidupan yang solider dan harmoni di antara mereka. Apabila adaptasi sosial

lebih tinggi (melalui adaptasi linguistik), akan terbentuklah kondisi harmoni,

tetapi sebaliknya, apabila adaptasi sosial rendah, kondisi tidak harmonilah

yang terbentuk. Ini berkaitan dengan penyesuaian bahasa atau pilih bahasa

atau konvergensi dan divergensi bahasa. Di sini Mahsun menerapkan konsep

konvergensi dan divergensi dengan menghubungkannya dengan situasi dalam

masyarakat demi terciptanya keharmonisan dalam sosial masayakat. Konsep

ini tidak sepenuhnya menjadi acuan dalam penelitian ini. Konsep konvergensi

dan divergensi yang dimaksudkan di sini adalah adanya upaya masyarakat

untuk menyesuaikan tuturannya dengan mitra wicaranya sehingga komunikasi

di antaranya dapat terjalin.

Munculnya variasi bahasa/dialek dalam kajian sosiolinguistik ditandai

dengan adanya perbedaan daerah, status sosial penuturnya, usia, ragam,

gender, dan keetnisan. Dengan mengandalkan teori ini, akan diperoleh variasi

bahasa dari proses konvergensi dan divergensi karena penutur berusaha

menyeimbangkan tuturannya. Penutur berusaha mengakomodasikan tuturan

dengan mitra wicaranya atau sebaliknya, baik itu dengan cara penyederhanaan

tuturan maupun pembakuan tuturan ke arah yang lebih formal. Semua tuturan

Universitas Sumatera Utara

67

yang dihasilkan penutur ketika berinteraksi akan selalu bervariatif bergantung

pada siapa yang bertutur, kepada siapa, bagaimana, kapan, dan topik apa.

Dalam hubungannya dengan penelitian ini adalah bahwa penelitian ini

mengamati sejauh mana penutur dialek BMA mengakomodasikan tuturannya

pada mitra tuturnya yang berbeda etnis. Jadi, konvergensi dan divergensi yang

diamati dari peristiwa tutur ini adalah pilih bahasa atau campur bahasa yang

akan muncul dan ini dapat disejajarkan dengan campur kode atau alih kode,

yang merupakan peristiwa yang lazim dalam masyarakat yang multilingual.

Linguistik historis komparatif (diakronis) diterapkan dalam penelitian

ini juga mengamati bagaimana konvergensi dan divergensi dialek yang

muncul. Apabila variasi yang muncul itu masih menujukkan retensi dari

bahasa protonya, artinya telah terjadi konvergensi. Namun, apabila variasi itu

merupakan bentuk yang inovatif, baik yang masih dapat ditelusuri

kekognatannya dengan bahasa proto atau tidak berada dalam etimon yang

sama dengan bahasa kognatnya, artinya telah terjadi divergensi. Divergensi

merupakan pemisahan ketika terjadi inovasi, yaitu ketika keluarga bahasa

sebagai suatu keseluruhan mengalami pemisahan.

Dalam Auer Peter, Hinskens Frans, dan Paul Kerswill (2005: 3)

dijelaskan bahwa manifestasi dari divergensi dialek sangat tampak jelas dalam

sejarah bahasa. Proses yang cukup panjang membedakan bahasa Proto Indo

Eropa ke dalam keluarga bahasa dan keluarga bahasa ke dalam bahasa-bahasa

Universitas Sumatera Utara

68

yang terjadi dalam prasejarah linguistik. Hasil divergensi direpresentasikan

secara visual dalam garis cabang diagram pohon dalam linguistik sejarah.

Dalam Mbete (2002:13) dijelaskan bahwa jika kesamaan dan kemiripan yang

ditemukan setelah perbandingan yang dilakukan secara cermat dan sistematis

tidak hanya dijelaskan sebagai pinjaman dari bahasa kerabat dan nonkerabat,

tidak hanya diterima sebagai gejala kebetulan, dan tidak hanya diterima

sebagai kecenderungan semesta, kekuatan divergensi menjadi tumpuan

teoretis tentang adanya warisan bersama. Warisan bersama itu dihipotesiskan

sebagai berasal dari protobahasa yang sama pula. Dengan demikian, melalui

hipotesis keterhubungan keasalan dan hipotesis keteraturan perubahan,

protobahasa dapat dijajaki dan dirakit kembali sebagai suatu sistem.

Analisis konvergensi dan divergensi ini memanfaatkan sejumlah

perubahan bunyi dari leksikon yang dibandingkan. Selain itu, linguistik

historis komparatif dalam kajian ini juga dimanfaatkan dalam upaya

penelusuran kekognatannya apakah lebih dekat pada bahasa penuturnya atau

lebih dekat kepada bahasa mitra tuturnya. Bila penutur yang berakomodasi itu

menggunakan bahasa Indonesia, penelusuran kognat dilakukan bertumpu pada

bahasa Melayu. Pembakunya adalah Kamus Bahasa Melayu Wilkinson.

Variasi bahasa yang dibandingkan, yaitu leksikon, disusun dalam perangkat

ciri-ciri yang berkorespondensi dalam wujud korespondensi fonemis.

Korespondensi dalam kajian ini disebut juga sebagai perubahan bunyi yang

Universitas Sumatera Utara

69

muncul secara teratur, sedangkan yang muncul secara tidak teratur disebut

variasi. Jadi, variasi-variasi bahasa yang muncul itu akan dikaji dengan teori

ini apakah kemunculannya beraturan atau tidak beraturan. Langkah terakhir,

setelah diperoleh perangkat ini adalah penelusuran bagaimana bahasa proto

itu merefleksikan variasi itu.

Singkatnya, kajian konvergensi dan divergensi dalam disertasi ini

berlandaskan pada konsep dasar bahwa masyarakat yang berbeda latar

belakang geografi, etnis, dan sejarah cenderung memodifikasi tuturannya

menjadi sama atau berbeda dengan gaya tutur mitra tuturnya. Masyarakat

yang selalu cenderung menyesuaikan diri dengan lingkungannya dalam

berinteraksi sehingga tuturannya menjadi sama merupakan proses

konvergensi. Sebaliknya, apabila ada kecenderungan untuk memodifikasikan

tuturan sehingga menjadi tidak mirip atau berbeda merupakan proses

divergensi. Terjadinya pemodifikasian tutur melalui peristiwa konvergensi

dan divergensi menyebabkan terjadinya perubahan dalam bahasa, tetapi

perubahan yang dihasilkan berbeda. Perbedaan perubahan ini juga terjadi

karena tidak semua pelaku konvergensi dan divergensi memodifikasi fitur

linguistik yang sama pada derajat yang sama dan situasi yang sama. Di

samping itu, juga tidak semua penutur berkonvergensi atau berdivergensi pada

situasi tutur tertentu. Perubahan yang berbeda inilah yang mengakibatkan

terjadinya variasi bahasa (lihat Francis 1983: 15 dalam Dhanawaty 2004: 2).

Universitas Sumatera Utara

70

Apabila masyarakat yang merupakan komunitas tutur itu terpisah

dengan komunitas tutur lainnya, berada dalam wilayah geografi yang berbeda,

lama-kelamaan akan mengalami pergeseran, baik lafal maupun kosa katanya.

Dalam kajian dialek peristiwa akomodasi ini termasuk dalam jenis akomodasi

jangka panjang (long-term accomodation) (lihat Trudgill 1986) karena

sifatnya menjadi permanen dan menjadi identitas bagi sekelompok komunitas

yang berbeda latar belakang sejarah atau geografi. Pada sisi lain, adanya

upaya menyamakan tuturan dengan mitra tuturnya karena adanya perbedaan

sosial dan situasi tutur yang juga dapat mewujudkan konvergensi dan

divergensi bahasa/dialek termasuk dalam jenis akomodasi jangka pendek

(short-term accomodation) karena sifatnya tidak permanen. Namun, sifat yang

tidak permanen ini apabila berlangsung secara terus menerus dan konsisten

dengan perubahan/pergeseran yang diwujudkannya, akibat adanya keinginan

untuk berakomodasi, akan dapat menjadi suatu identitas atau ciri yang

permanen dalam suatu komunitas tutur. Selanjutnya, identitas itu tetap ada

ketika mereka berinteraksi dengan latar sosial dan situasi yang berbeda.

Dalam kajian lingusitik diakronis gejala seperti ini dapat disejajarkan dengan

variasi untuk akomodasi jangka pendek dan korespondensi untuk akomodasi

jangka panjang.

Dari uraian di atas disimpulkan bahwa konvergensi dan divergensi

dapat dikaji secara sinkronis maupun diakronis. Kedua-duanya bertumpu pada

Universitas Sumatera Utara

71

usaha menyamakan dan membedakan. Dalam kajian sinkronis adanya

akomodasi tuturan dari para peserta tutur dapat berwujud konvergensi dan

divergensi. Apabila proses penyesuaian itu menuju ke arah penyamaan tuturan

dengan mitra tuturnya disebut konvergensi, tetapi apabila menuju ke arah

ketidaksesuaian disebut divergensi. Secara diakronis, disebut konvergensi

apabila variasi yang muncul itu masih menujukkan retensi dari bahasa

protonya. Sebaliknya disebut divergensi apabila variasi itu merupakan bentuk

yang inovatif, baik yang masih dapat ditelusuri kekognatannya dengan bahasa

proto maupun tidak berada dalam etimon yang sama dengan bahasa

kognatnya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->