P. 1
Chapter II

Chapter II

|Views: 1,147|Likes:
Published by Amy Purple

More info:

Published by: Amy Purple on Oct 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

Istilah variasi dalam konsep penelitian ini merupakan padanan dari

kata variety dan bukan variation. Variation dipadankan dengan kevariasian

atau keragaman. Karena itu, istilah variasi di sini dapat disejajarkan dengan

ragam (menurut istilah yang dipakai oleh Asim Gunarwan).

Variasi bahasa bukan hanya terjadi karena penuturnya tidak homogen,

melainkan juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan juga

beragam. Secara garis besar variasi dapat dibedakan atas variasi yang bersifat

internal dan yang bersifat eksternal. Variasi yang bersifat internal terjadi

karena adanya faktor-faktor intralinguistik, misalnya mencakup perbedaan

Universitas Sumatera Utara

72

realisasi morfem {-s} pemarkah jamak dalam bahasa Inggris yang

direlisasikan sebagai [s], [z], [iz], atau [Ø]. Variasi yang bersifat eksternal

terjadi karena adanya faktor-faktor ekstralinguistik, seperti perbedaan

wilayah, dimensi sosial, dan situasi tutur. Variasi yang bersifat internal lebih

hakiki, yang merupakan ciri alamiah sebuah bahasa dan ini dianggap sebagai

variasi dalam linguistik, sedangkan variasi yang bersifat eksternal bukan ciri

yang hakiki dan karenanya mudah berubah sesuai dengan faktor-faktor

eksternal tadi. Sehubungan dengan pandangan de Sussure, keragaman bahasa

terjadi pada tingkat parole dan bukan pada tingkat langue, sedangkan variasi

atau ragam berada pada tingkat langue. Alasannya adalah karena dalam wujud

ragam/variasi itu telah terkandung aspek sosial yang turut membentuk variasi

tersebut dan akhirnya menjadi sistem dalam variasi bahasa/dialek tersebut. Ini

dapat disejajarkan dengan etik dan emik (konsep Pike). Karena itu, dalam

kajian sosiolinguistik dan dialektologi variasi yang dikaji adalah variasi

bahasa yang bersifat eksternal (band. Nababan 1984 dan Gunarwan 2004).

Variasi bahasa dapat dibedakan berdasarkan (a) latar belakang

geografi, (b) latar belakang sosial penutur, (c) medium yang digunakan, (d)

pokok pembicaraan, dan (d) latar belakang sejarah. Variasi bahasa

berdasarkan latar belakang geografi disebut dialek. Dialek ini lazim disebut

sebagai dialek regional atau dialek geografi. Variasi bahasa berdasarkan latar

belakang sosial penuturnya disebut juga sosiolek atau dialek sosial. Dialek ini

Universitas Sumatera Utara

73

berkenaan dengan dimensi sosial penutur, seperti etnis, usia, pendidikan, jenis

kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi. Variasi

yang ketiga, yaitu berdasarkan medium yang digunakan adalah bahasa tulis

dan bahasa lisan. Berdasarkan pokok pembicaraan bahasa dibedakan atas

bahasa ilmu, bahasa hukum, bahasa niaga, bahasa jurnalistik, dan bahasa

sastra. Variasi yang terakhir, yaitu berdasarkan latar belakang sejarah atau

variasi historis, dibedakan atas bahasa yang inovatif dan bahasa konservatif.

Kedua jenis variasi yang terakhir ini diacu dari sejauhmana bahasa tuturan

mengalami perkembangan dari bahasa protonya. Bila bertahan atau terwaris

secara linier berarti konservatif. Sebaliknya, bila mengalami perubahan atau

pergantian disebut inovatif.

Variasi regional, variasi sosial, dan variasi historis merupakan objek

kajian dialektologi, sebaliknya, variasi bahasa berdasarkan medium atau

pokok pembicaraan yang juga dikenal sebagai ragam atau register merupakan

objek kajian sosiolinguistik. Ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh

Halliday. Halliday (1979: 184 dan lihat juga Kridalaksana 1993: 42)

mengklasifikasikan variasi bahasa sebagai dialek dan register. Dialek adalah

variasi bahasa yang terjadi karena adanya perbedaan pemakai bahasa,

sedangkan register terjadi karena adanya perbedaan pemakaiannya.

Lebih lanjut Petyt (1980: 11 – 16) berpendapat bahwa dialek adalah

variasi yang berbeda dari bahasa yang sama. Istilah dialek mengacu pada

Universitas Sumatera Utara

74

perbedaan antara jenis-jenis bahasa yang berbeda kosa kata atau bahasanya,

begitu pula pelafalannya. Hal ini berbeda dengan aksen yang semata-mata

mengacu pada perbedaan lafal.

Pada kajian dialek, variasi bahasa tidak hanya dapat direkam dalam

wilayah geografi dan variasi bahasa tidak semata-mata bergantung pada

transkripsi fonetis saja tanpa memperhatikan sistem dan struktur bahasa atau

dialek yang diperamati. Kajian dialek harus memahami bahwa variasi bahasa

dapat muncul karena bahasa mempunyai sistem tersendiri dan mempunyai

sistem fonemik dalam struktur fonologi bahasa tersendiri. Sistem fonemik,

misalnya dapat dikaji berdasarkan prinsip (1) penyebaran bunyi yang saling

melengkapi, (2) kesamaan bunyi, (3) adanya pasangan minimal (Petyt 1980:

119-120; Chambers dan Trudgill 2004: 43-35).

Kajian dialek yang berdasarkan pada tempat yang berbeda-beda

disebut geografi dialek. Wardhaugh (1988: 42) menjelaskan bahwa geografi

dialek adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan usaha pembuatan

peta pada distribusi ciri-ciri variasi linguistik yang menunjukkan asal lokasi

bahasa tersebut. Selanjutnya, variasi-variasi linguistik tersebut sampai pada

usaha memetakan sebagaimana langkah akhir penelitian geografi dialek.

Selanjutnya, Trudgill (1984: 33) memberikan gambaran tentang tujuan

kerja dialektologi, yaitu membuktikan kesinambungan dan perkembangan

sejarah bahasa dan menyediakan sebagai suatu dasar sejarah terhadap studi

Universitas Sumatera Utara

75

lebih lanjut yang dapat diukur. Seorang dialektolog secara khusus

memusatkan perhatian pada perekaman dan pemeliharaan dialek yang lebih

kuno sebelum dialek tersebut punah.

Beberapa ahli memberi pendapat tentang kerja dialektologi, seperti

Bloomfield (1995: 333 – 334) mengatakan bahwa geografi dialek tidak hanya

membantu kita untuk mengilhami fakor-faktor di luar bahasa, tetapi juga

melalui bukti-bukti berupa bentuk-betuk peninggalan dan stratifikasi-

stratifikasi, memberikan banyak hal yang terperinci mengenai sejarah setiap

bentuk. Begitu juga dengan Collins (1986: 75) mengatakan bahwa

penyelidikan geografi dialek sangat penting untuk menentukan batas-batas

dialek serta menyelidiki jaringan dialek dari segi linguistik.

Berdasarkan uraian di atas semakin jelas bahwa variasi yang akan

dibahas dalam penelitian ini mencakup variasi regional, variasi sosial, dan

variasi historis. Kajian variasi regional dalam penelitian ini adalah mengamati

kemungkinan variasi dialek yang muncul dari dua dialek yang dituturkan oleh

peserta tutur saat berinteraksi. Kedua dialek tersebut adalah DTB dan DBB

yang status kedialektalannya telah diuji secara geografis dan historis. Kajian

variasi sosial yang dimaksudkan di sini adalah mengamati variasi dialek yang

muncul saat peserta tutur yang berbeda etnis berinteraksi. Selanjutnya, kajian

variasi historis adalah membandingkan variasi dialek yang muncul dari dua

kajian sebelumnya dan kemudian membandingkannya dengan bahasa proto.

Universitas Sumatera Utara

76

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa objek kajian dialektologi

yang mengamati variasi bahasa adalah variasi regional, variasi sosial, dan

variasi historis. Ini berbeda dengan objek kajian sosiolinguistik yang

mengamati variasi bahasa berdasarkan medium atau pokok pembicaraan yang

juga dikenal sebagai ragam atau register. Dialek adalah variasi bahasa yang

terjadi karena adanya perbedaan pemakai bahasa, sedangkan register terjadi

karena adanya perbedaan pemakaiannya. Variasi regional adalah variasi

bahasa/dialek berdasarkan perbedaan tempat atau daerah. Variasi sosial

adalah variasi bahasa/dialek berdasarkan perbedaan sosial penutur, seperti

etnis, usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan,

keadaan sosial ekonomi. Jadi, variasi bahasa adalah keragaman yang terjadi

karena adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan peserta tutur sangat

beragam. Variasi bahasa ini bersifat internal dan eksternal. Bersifat internal

karena adanya perbedaan di dalam bahasa itu sendiri, seperti perbedaan

fonologi, sedangkan bersifat eksternal adalah karena adanya perbedaan di luar

bahasa, seperti perbedaan geografi, sosial, sejarah, dan sebagainya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->