P. 1
Chapter II

Chapter II

|Views: 1,147|Likes:
Published by Amy Purple

More info:

Published by: Amy Purple on Oct 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/12/2013

pdf

text

original

Unsur-unsur bahasa/dialek yang ditemukan disusun dalam sebuah

perangkat perbandingan. Ciri-ciri yang dibandingkan selanjutnya disusun

dalam perangkat korespondensi. Korespondensi adalah perubahan bunyi yang

muncul secara teratur pada sejumlah data yang diamati, sementara perubahan

bunyi yang muncul secara tidak teratur disebut variasi. Korespondensi

berdasarkan sudut pandang dialektologi adalah suatu kaidah perubahan yang

berkaitan dengan aspek linguistik dan aspek geografi. Dari aspek linguistik,

perubahan yang berupa korespondensi itu terjadi karena persyaratan

lingkungan linguistik tertentu dan variasi terjadi bukan karena persyaratan

lingkungan linguistik tertentu. Karena itu, data yang menyangkut peubahan

bunyi yang berupa variasi terbatas pada satu atau dua contoh saja. Dari aspek

geografi, kaidah perubahan bunyi disebut korespondensi jika sebaran leksem-

leksem yang menjadi realisasi kaidah perubahan bunyi itu terjadi pada daerah

Universitas Sumatera Utara

86

pengamatan yang sama dan disebut variasi jika daerah sebaran geografinya

tidak sama (Mahsun 1995: 28-29).

Korespondensi dalam kajian dialektologi diakronis melibatkan refleksi

fonem proto dalam fonem turunannya. Fonem turunan ini pun harus pula

ditentukan pada dialek mana dan bagaimana bentuk refleksnya. Misalnya, *u/

---K-dv# > [i] [I]. Kaidah ini menjelaskan bahwa fonem proto *u yang

berakhir dengan konsonan yang bukan dorsovelar berubah menjadi [i] yang

berkorespondensi dengan [I]. Karena korespondensi bersifat teratur dan

terkondisi, proses perubahan itu terjadi pada seluruh data vokal [u] yang

disyarati oleh lingkungan tersebut.

Berbeda dari korespondensi, variasi sifatnya sporadis dan tidak

disyarati oleh lingkungan linguistik tertentu. Perubahan bunyi yang tergolong

jenis ini adalah (1) asimilasi, (2) disimilasi, (3) metatesis, (4) kontraksi, (5)

aferesis, (6) sinkope, (7) apokope, (8) protesis, (9) epentesis, dan (10) paragog

(band. Lehman 1975: 159 -168; Bynon 1979: 29 - 30; Crowley 1987: 25 - 47;

de Saussure 1988: 25; Hock 1988: 62- 116). Jenis yang tergolong variasi ini

juga dibedakan atas perubahan bunyi yang berdasarkan kualitas bunyi dan

perubahan berdasarkan tempat.

Universitas Sumatera Utara

87

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->