PANDUAN

PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA/MMA) DI WILAYAH COREMAP II - INDONESIA BAGIAN BARAT

Penyusun: Budy Wiryawan Agus Dermawan Editor : Suraji

CORAL REEF REHABILITATION AND MANAGEMENT PROGRAM COREMAP II 2006

DAFTAR ISI
1. KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA) 1.1Pengantar 1 1

2.

1.2 Nomenklatur MMA 1.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia 1.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) 1.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA 1.6 Strategi Pencapain Tujuan MMA 1.7 Desain Pengelolaan MMA 1.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota RENCANA KELEMBAGAAN MMA 2.1 Dasar Kelembagaan MMA 2.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah 2.3 Perspektif Kelembagaan MMA ke depan 2.4 Mekanisme kerja Kelembagaan MMA 2.5 Lembaga Pengelola MMA 2.6 Sekretariat Pengelola MMA 2.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA 2.8 Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA 2.9 LPSTK dan Pihak Swasta 2.10 Pendanaan MMA DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT 31. Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di Desa 3.2 Kelompok Masyarakat Pengelola DPL 3.3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat 3.4 Metoda Pengelolaan DPL 3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan 3.6 Zonasi Kawasan 3.7 Lokasi dan Ukuran 3.8 Partisipasi Masyarakat PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL 4.1 Tahapan dan Pembentukan 4.2 Pemilihan Lokasi MMA 4.3 Sistem Biaya Masuk 4.4 Kelompok Pengelola 4.5 Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa 4.6 Pengelolaan DPL 4.7 Pembuatan Rencana Pengelolaan 4.8 Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan 4.9 Pendidikan Lingkungan Hidup 4.10 MCS dan Penegakan Hukum 4.11 Pemantauan dan Evaluasi 4.12 Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain (scaling-up) DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

2 5 10 11 12 14 14 19 19 23 25 25 27 27 28 28 29 30 33 33 36 37 39 39 41 42 44 47 47 50 53 53 54 57 58 71 72 73 73 75 77 79

3.

4.

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tahapan, Kegiatan, Hasil dan Indikator pengembangan DPL ............................... 48 Tabel 2. Matrik Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang ................................... 70

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Konseptual MMA secara umum ............................................................ Gambar 2. Jaringan DPL dalam satu Unit Pengelolaan KKLD Kabupaten/Kota ................ Gambar 3. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Kota Batam ................... Gambar 4. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Daerah Kep. Mentawai .... 12 14 16 18

Gambar 5. Usulan Kelembagaan MMA ............................................................................ . 31 Gambar 6. Tahapan Pembentukan Daerah Perlindungan Laut ......................................... 49 Gamabr 7. Tahapan Proses Pembentukan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Perlindungan Laut .............................................................................................. 56 Gambar 8. Siklus Kebijakan pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir ............................. 57 Gambar 9. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang .................. 63

ADB .

Tebet Raya No.Jakarta Selatan 12820 Telp : (62-21) 83783931 Fax : (62-21) 8305007 e-mail : coremapii@dkp. 91.com Website : www.Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II COREMAP II Direktorat Jenderal Kelautan.dkp.id . Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN Jl.go. Tebet . coremap2@yahoogroups.go.id.

Pengantar 1. Buku Panduan ini. secara singkat dijelaskan tahapan dalam pengembangan MMA di lokasi proyek. Diharapkan.6. dalam pengembangan rencana pengelolaan kawasan konservasi laut ke depan. yang dalam istilah proyek COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area). Generalisasi konsep dan ide-ide. serta kearifan lokal mereka.1. Desain Pengelolaan MMA Buku dalam panduan ini disusun program berdasar pengalaman COREMAP II ADB mengimplementasikan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Indonesia bagian barat. Pedoman ini ditujukan untuk para praktisi. baik potensi maupun masalah. Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA 1. yang menjelaskan langkah-langkah partisipatif dalam mengembangkan Kawasan Konservasi Laut (Marine Protected Area). Nomenklatur MMA 1.2. terutama CRMP/USAID untuk model Daerah Perlindungan Laut. COREMAP II ADB 1 .1. KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA) 1. serta dari pengalaman program pengelolaan pesisir di Indonesia.7. yaitu mulai dari mengidentifikasikan isu-isu. para praktisi dan perencana dapat meningkatkan proses partisipasi stakeholders. namun demikian para pembaca yang menginginkan informasi yang lebih spesifik disarankan melihat referensi yang digunakan buku ini.3.1 Pengantar 1. Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia 1. Manfaat yang diharapkan dari buku ini adalah untuk memfasilitasi perencana dan paktisi dalam mengembangkan MMA dengan memanfaatkan pengetahuan lokal. Strategi pencapaian tujuan MMA 1. serta ‘lesson-learned’ yang dijelaskan dalam buku ini diharapkan dapat diterapkan para pembaca. Buku ini didesain sebagai pustaka dalam pengembangan kawasan konservasi laut di wilayah pesisir di Indonesia. perencana dan pengambil kebijakan untuk wilayah pesisir.5. Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) 1.4.

1994).2 Nomenklatur MMA Walaupun istilah Marine Management Area atau Marine Conservation Area ataupun Marine Protected Area mempunyai persamaan arti. 1. Untuk menyamakan persepsi.sebagai basis dalam terbentuknya kolaboratif manajemen MMA. (e) Protected Landscape/Seascape. IUCN mengelompokkan Kawasan Lindung menjadi 6 kategori : (1) Strict Nature Reserve/Wilderness Area. konservasi adalah manajemen biosfer secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. (d) Habitat/Species Management Area. dan dikelola melalui upaya-upaya hukum atau upaya-upaya efektif lainnya (IUCN. Definisi dari IUCN dan UNDANG-UNDANG Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. yang akan menjamin perikanan dan pariwisata berkelanjutan. (c) Nature Monument. yang dipadankan dalam bahasa Inggris disebut ’locally-managed Marine Management Area (MMA)’. Kawasan dilindungi (protected area) adalah suatu kawasan. (b) National Park. maka penggunaan istilah MMA di dalam buku panduan ini digunakan istilah Kawasan Konservasi Laut (KKL) di tingkat kabupaten. 2 Panduan Pengembangan Marine Management Area . baik darat maupun laut yang secara khusus diperuntukkan bagi perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati dan budaya yang terkait dengan sumber daya alam tersebut. dan (f) Managed Resources Protected Area. namun demikian berikut akan dijelaskan tentang asal-usul istilah tersebut. Sedang kawasan konservasi laut pada skala desa dalam panduan ini disebut dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL).

yaitu : konservasi kawasan.surut) beserta flora fauna. (4) Pengelolaan sumberdaya laut dalam skala lokal secara efektif. Bentenan. 2003). Tumbak di Minahasa dan Pulau Sebesi di Lampung Selatan.Marine Protected Area (Kawasan Konservasi Laut) adalah daerah intertidal (pasang-surut) atau subtidal (bawah pasang. konservasi jenis. (5) Pengaturan pengelolaan. dsb. MMA merupakan pendekatan baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork. seperti di desa Blongko. karakteristik pengelolaan dan dibentuk berdasarkan perbedaan tujuan. sejarah dan corak budaya dilindungi sebagai suaka dengan melindungi sebagian atau seluruhnya melalui peraturan perUndangUndang an (IUCN. konservasi jenis peruaya dan locally-managed Marine Management Area (MMA). Perbedaan bentuk. 1995). atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat maupun oleh perwakilan pemerintah daerah. Di dunia Internasional MMA dikenal sebagai suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar kawasan. yang terdapat di beberapa desa pesisir di Indonesia. ukuran. (2) Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut. (3) Pemanfaatan sumberdaya laut yang berkelanjutan. Dengan melihat perkembangan KKL di Indonesia. Secara umum terdapat empat jenis MPA. maka MMA dapat dipadankan dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) berbasis masyarakat pada skala desa. Adapun maksud pembentukan KKL dimaksudkan untuk : (1) Menjamin kelestarian ekosistem laut untuk menopang kehidupan masyarakat yang tergantung pada sumberdaya yang ada. aktivitas masyarakat dalam kawasan COREMAP II ADB 3 .

tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi Laut (KKL). Saat sekarang. reproduksi dan biomassa sumberdaya ikan. bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk MMA atau MCA. aplikasi di lapangan tidak mesti menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP II. (3) Peningkatan kapasitas lokal untuk mengelola sumberdaya ikan. (5) Peningkatan pendapatan masyarakat dari sumberdaya alam. dijelaskan bahwa Kawasan Konservasi Perairan ditetapkan oleh pengelolaan Propinsi. (c) Taman Wisata Perairan. (b). Dengan alasan. yang akan diterbitkan pada tahun 2006. Pada PP ini juga mengacu pada 4 Panduan Pengembangan Marine Management Area . (c) Konservasi Peraiaran terdiri dari : (a) Kawasan Konservasi Perairan Konservasi Konservasi Perairan Kabupaten/Kota. Menteri. (d) Suaka Perikanan.Sedang tujuan pembentukan KKL adalah : (1) Peningkatan kualitas habitat (terumbu karang. Nasional. yaitu : (a) Taman Nasional Perairan. Terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA (Marine Conservation Area). padang lamun. Pemerintah Indonesia sedang memformalkan Rancangan Peraruran Pemerintah (RPP) tentang Konservasi Sumberdaya Ikan menjadi Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumberdaya Ikan (PP KSDI). Suaka Alam Perairan. dan hutan mangrove). (2) istilah Kawasan Konservasi Perairan di dalam UndangUndang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan) dikategorikan menjadi 4. (4) Peningkatan kohesif antara lingkungan dan masyarakat. Berdasarkan (b) Kawasan lingkup kewenanganya. Perairan Pada Pasal 10 PP Kawasan Kawasan tersebut. Namun demikian. (2) Peningkatan populasi.

terdiri dari pengaturan dan pengelolaan aktifitas kelautan secara individual sektor. an sebagaimana diuraikan di atas jenis kawasan konsrvasi berdasar tujuan pengelolaan.508 pulau dengan garis pantai ± 85. Biasanya pendekatan kedua tersebut dilengkapai dengan pengaturan penggunaan alat-alat penangkapan ikan. dengan tujuan yang serba guna dan sistem pengelolaan yang terintegrasi. lautan Indonesia yang terletak pada garis khatulistiwa COREMAP II ADB 5 . dengan total panjang garis pantainya terpanjang keempat di dunia. swasta.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Perkembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia sejalan dengan perubahan pendekatan dunia terhadap konservasi laut. dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia 1. adalah dengan pembentukan kawasan konservasi laut pada skala kecil (desa) yang merupakan salah satu upaya pengelolaan sumberdaya ikan. Pendekatan kedua. Pendekatan ketiga tersebut merupakan pendekatan yang relatif baru di Indonesia dan akan dilakukan pada pengembangan Kawasan Konservasi Laut atau MMA oleh COREMAP II. Mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut lebih besar dari pada luas daratan. Pendekatan pertama yang dimulai pada abad lalu. yang merekomendasikan tersebut. sesuai dengan Peraturan perUndang-Undang memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi dan proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah.000 km 2004). Biasanya kurang koordinasi dan perhatian pengelolaan kawasan pesisirnya. Wilayah (WRI. maka Indonesia memiliki jumlah pulau sebanyak ± 17. seperti perikanan komersial dengan berbagai tingkatan koordinasi dan peraturan dari berbagai sektor.Undang-Undang Undang-Undang Nomor 31 tentang Perikanan. Pendekatan ketiga adalah pembentukan Kawasan Konservasi Laut dengan skala luas.

dan 40. Dari hasil penelitian P2O-LIPI (1998). Kerusakan tersebut pada umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan destruktif. serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan. (1) Orientasi pengelolaan kawasan konservasi laut lebih fokus pada manajemen teresterial. Pelaku kerusakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir tetapi juga oleh nelayan-nelayan modern dan nelayan asing. Kekayaan sumberdaya tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkannya.22 % dalam kondisi sedang.3 % dalam kondisi baik.terkenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alamnya. (2) Pengelolaan bersifat sentralistik dan belum melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. kondisi terumbu karang di Indonesia hanya 6. terumbu karang). Akan tetapi sampai dengan saat ini. Degradasi ekosistem terumbu karang telah teridentifikasi sejak tahun 1990-an. sehingga dikenal sebagai ’coral triangle’ sebagai pusat mega-biodiversitas. hutan mangrove. racun cyanida dan juga penambangan karang. pembuangan jangkar perahu dan sedimentasi.14 % dalam kondisi rusak.41 % dalam kondisi sangat baik . Wilayah pesisir juga memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut.(3)Tumpang tindih pemanfaatan ruang dan benturan kepentingan 6 Panduan Pengembangan Marine Management Area . terutama sumberdaya alam yang dapat pulih (seperti perikanan. 29. yaitu penggunaan bahan peledak. Sumberdaya kelautan dan perikanan merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. disebabkan oleh . Kencenderungan di atas dikarenakan kurang optimalnya pengelolaan kawasan konservasi laut yang berbentuk Taman Nasional atau yang lainnya. pemanfaatan sumberdaya alam tersebut kurang memperhatikan kelestariannya sehingga berakibat pada menurunnya kualitas serta keanekaragaman hayati yang ada. sampai saat ini kerusakan ekosistem pesisir dan penurunan kualitas lingkungan laut sudah memprihatinkan. 24.

Landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang No. Desain secara komprehensif pemanfaatan laut diharapkan dapat menyatukan beberapa kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat seperti : Taman Nasional Perairan. serta ekosistemnya menjadi kawasan konservasi laut. disamping kawasan konservasi nasional lainnya sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. (4) Banyaknya pelanggaran yang terjadi di kawasan konservasi laut. Taman Wisata Nomor Kawasan Konservasi Laut atau Daerah Perlindungan Laut. Melalui cara tersebut diharapkan upaya perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Rancangan Peraturan Pemerintah Kawasan Konservasi Laut merupakan paradigma baru. Suaka Alam Laut dan Cagar Alam Perairan. pengawetan sumber plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari dapat terwujud. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. maka desain terpadu pengelolaan sumberdaya kelautan sangat diperlukan. Perairan. yaitu pada pasal 18 dijelaskan bahwa salah satu kewenangan daerah di wilayah laut adalah eksploitasi dan konservasi sumberdaya alam di wilayahnya. sesuai dengan Nomenklatur yang terdapat pada Undang-Undang tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam laut yang lestari. Kegiatan penyusunan desain KKL ini dimaksudkan untuk mendesain pokok-pokok pengelolaan konservasi laut yang berskala daerah dan atau COREMAP II ADB 7 . gejala alam dan keunikan. Salah satu bentuk pengelolaan dan perlindungan sumberdaya laut adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.para pihak. Taman Wisata Perairan.

Dalam pandangan pemerintah. 8 Panduan Pengembangan Marine Management Area an pada akhirnya melahirkan suatu produk . melainkan negara memperoleh mandat dari rakyat sebagai pemilik sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya untuk melakukan pengelolaan dan upaya-upaya lainnya yang bermanfaat bagi rakyat banyak. Untuk menghindari berbagai permasalahan yang berkembang dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dapat berdampak pada konflik vertikal (tumpang-tindih perundangundangan) serta konflik horizontal (masalah pemanfaatan dan pengelolaan SDI) maka dibutuhkan suatu kajian yang mendalam terhadap berbagai peraturan perUndang-Undang yang telah berjalan dan perUndang-Undangan yang menguntungkan berbagai pihak. pemerintah melakukan berbagai upaya perlindungan diantaranya dengan menetapkan kawasankawasan konservasi laut yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia. Pemerintah telah merancang suatu model pengelolaan kawasan di wilayah laut yang diberi nama Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Secara umum terdapat empat jenis MPA. Perbedaan bentuk. penggunaan sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya melalui kegiatan konservasi laut akan bermanfaat bagi rakyat banyak bila secara ekonomis. karakteristik pengelolaan dan dibentuk berdasarkan perbedaan tujuan. sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya sangatlah penting untuk dikelola. Dengan demikian. Arti dikuasai dalam kaitan ini bukan dimiliki. ukuran. Untuk melindungi sumberdaya alam ini. Sampai tahun 2006. politis. karena sebagai sumber daya alam yang terkandung di dalam bumi dan air Indonesia menurut Pasal 33 ayat (3) UUD dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. sosiologis dan kultural menguntungkan.regional bahkan nasional karena lintas wilayah administrasi daerah otonom. sebanyak 9 Kabupaten yang telah menetapkan sebagian wilayah pesisirnya sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah.

Suaka Alam Perairan. 2003). Peraturan perUndang-Undangan sebagaimana diuraikan di atas memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi dan proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah. konservasi jenis peruaya dan Locally Marine Managed Area (LMMA). atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat maupun oleh perwakilan pemerintah daerah. swasta. (2) istilah Kawasan Konservasi Laut di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan) dikategorikan menjadi 4. konservasi jenis.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) COREMAP II ADB 9 . aplikasi di lapangan tidak mesti menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP II. LMMA merupakan pendekatan baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork. dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia 1. yang sedang dikembangkan oleh COREMAP II di Indonesia bagian barat. yaitu suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar kawasan. terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA. Dengan alasan. Taman Nasional Perairan. Sekali lagi. Namun demikian. LMMA ini sepandan dengan konsep MMA di skala Kabupaten dan DPL di skala Desa. Untuk di Indonesia bagian barat. dan Taman Wisata Perairan. bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk MMA atau MCA.yaitu : konservasi kawasan. tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi Laut (KKL). Seperti juga disebutkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan (draft Agustus 2006). yaitu : Suaka Perikanan. Di dunia Internasional LMMA dikenal sebagai Locally Managed Marine Area. satu Kabupaten/Kota hanya terdiri dari satu Unit MMA.

keterkaitan antar kawasan. yaitu untuk meningkatkan daya tahan dan keutuhan Kawasan Konservasi Perairan terhadap pengaruh iklim global. perlu dikembangkan Jejaring kawasan konservasi perairan. dan tekanan manusia. Jejaring kawasan konservasi perairan dikembangkan atas dasar: a. limnologi. kemitraan antar lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan dan/atau antara lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan dengan lembaga non-pemerintah nasional dan/atau asing. dikembangkan dengan mempertimbangkan bukti ilmiah meliputi aspek oseanografi. misalnya. dan aspek ekonomi. keterkaitan biofisik antar Kawasan Konservasi Perairan. 10 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Kriteria yang dapat digunakan untuk pemilihan lokasi MMA diterakan dalam Box di bawah ini. Seperti disebutkan dalam Pasal 28 Rencana Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan. biologi perikanan. Sedang rencana dan desain Jejaring Kawasan Konservasi Perairan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan dan strategi nasional konservasi sumber daya ikan. daya tahan lingkungan. iklim musiman. sosial serta budaya.Dari beberapa MMA Kabupaten/Kota diupayakan membentuk jejaring MMA. kelembagaan pengelolaan. b. Jejaring Kawasan Konservasi Laut.

budaya. ukuran. efektivitas. konflik kepentingan. ketergantungan. daya pulih dan penegakan hukum. adalah faktor dimana ancaman yang muncul dibalik ancaman langsung. Gambar 1 menjelaskan model konseptual MMA dengan 5 komponen didalamnya. adalah kondisi dimana lokasi MMA difokuskan yang langsung berpengaruh terhadap aktivitas MMA. produktivitas. (2) Ancaman langsung. tingakt ancaman. yaitu : (1) Target (ekosistem terumbu karang). ketersediaan dan kawasan pemijahan ikan. keamanan. rekreasi. Kriteria Ekologi: Keanekaragaman hayati. pendidikan. kesadartahuan masyarakat dan kecocokan Kriteria Ekonomi: Nilai penting spesies. COREMAP II ADB 11 . keterwakilan. peluang. keterjangkauan kawasan. kealamiahan. keunikan. estetika. kesehatan masyarakat. (Salm et al.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA Konsep MMA berikut merupakan kesepakatan yang diambil dari kesepakatan para praktisi MMA di Asia-Pasifik yang terjalin dalam MMA Network. sifat-sifat ancaman. integritas. Kriteria Regional: Urgensi Regional dan daerah Kriteria Fragmatik: Kepentingan. adalah faktor dimana ancaman secara tibatiba bisa mempengaruhi target. (3) Ancaman tidak langsung. nilai penting perikanan. keuntungan ekonomi dan pariwisata. ketersediaan.Contoh Kriteria Pemilihan KKL Kriteria Sosial: Penerimaan sosial. 2002) 1.

yaitu perlindungan penuh terhadap sumberdaya alam suatu kawasan. Model Konseptual MMA secara umum (Sumber LMMA Network. 2003) 1. strategi adalah individu atau organisasi yang memiliki keterampilan dan kapasitas untuk mengimplemntasika strategi- Praktisi Strategi MMA Ancaman Tak Langsung Ancaman Langsung Target Gambar 1. pengelola kawasan. hanya terdapat satu strategi MMA (5) Parktisi.(4) Strategi. Untuk satu jaringangan MMA. MMA merupakan kawasan habitat laut yang dikelola oleh masyarakat setempat. 12 Panduan Pengembangan Marine Management Area . adalah aksi yang dilakukan terhadap ancaman suntuk mencapai target. Kawasan tersebut sering disebut ’Sanctuary’ (Suaka) atau ’Daerah Larang Ambil’ atau ’fully protected area’.6 Strategi pencapaian tujuan MMA COREMAP II melakukan antisipasi terhadap ancaman langsung maupun tak langsung yang akan mempengaruhi target melalui beberapa strategi. atau yang berhubungan dengan organisasi dan atau pengaturan bersama dengan perwakilan lembaga pemerintah. Tiga komponen spesifik dari strategi pengelolaan sebuah MMA adalah : (1) Full Reserve (Perlindungan yang Menyeluruh).

pembatasan tingkat usaha penangkapan ikan (seperti : jumlah ikan. yang mempunyai skala dan status dapat berbeda. maka diharapkan berbagai pemanfaatan kawasan laut seperti. jumlah perahu. Melalui MMA. kuota terhadap jumlah penangkapan. Perijinan oleh penangkapan ikan atau pemanfaatan tertentu di suatu kawasan. Seperti ditargetkan dalam COREMAP II ADB. indusrti transportasi dan kegiatan lain yang selaras dengan tujuan konservasi kawasan dapat diakomodasi. adalah pembatasan penangkapan terhadap spesies tertentu atau beberapa spesies atau individu dengan ukuran atau jenis kelamin tertentu. pola pemanfaatan lain yang diperbolehkan (seperti wisata selam) dan pembatasan perijinan.000 Hektar ekosistem terumbu karang dapat dilindungi sampai 2009. MMA merupakan pusat koordinasi pengelolaan kawasan konservasi. penangkapan ikan. MMA berfungsi sebagai penghubung jaringan antara kawasan konservasi laut berbasis desa (Daerah Perlindungan Laut/DPL) berbasis desa. (3) Effort or behavioral adalah Restrictions pengaturan (Pengurangan pembatasan Lokal Upaya usaha Penangkapan). budidaya. Dengan adanya DPL-DPL sebagai komponen COREMAP II ADB 13 . setelah terbentuknya 40-45 Lembaga Pengelola Terumbu Karang berbasis Desa. bahwa sekitar 60.(2) Species Specific Refugia (Pembatasan Penangkapan Spesies tertentu. pariwisata. Pemerintah/Pengusaha menyangkut pembatasan tipe teknologi yang digunakan. pertambangan. Namun pada prinsipnya. mengingat proses pembentukan dari masing-masing DPL berbasis desa bervariasi. maka per lokasi diharapkan terbentuk sebuah MMA yang mempunyai luas 1000 sampai dengan 1500 Hektar terumbu karang. pengaturan musim. Karena COREMAP ADB mempunyai 8 lokasi kabupaten/kota. Banyaknya gugus DPL dalam suatu MMA dapat senantiasa berkembang.

yaitu : Taman Nasional Perairan. Jaringan Daeral Perlindungan Laut (DPL) dalam satu Unit Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Kabupaten/Kota.dari MMA. diharapkan suatu kawasan konservasi dapat lebih memberikan manfaat ekologi yang pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. Karena perlindungan kepada spesies yang bermigrasi (seperti ikan dan mamalia laut) dapat lebih optimal jika habitatnya secara utuh dilindingi. maka Jaringan KKLD dapat berupa Kawasan-Kawasan Konservasi lain sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 dan Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan. yaitu dengan kehutanan pertambangan. Suaka Alam Perairan dan Suaka Perikanan. Keterpaduan pengelolaan MMA juga meliputi aktivitas sosial dan administrasi dan 14 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Keterangan : Jenis-jenis DPL pada skala desa. kegiatan ekonomi. Pengelolaan suatu MMA haruslah dirancang secara terpadu. DPL DPL DPL KKLD/MMA DPL DPL Gambar 2.7 memadukan perikanan. Taman Wisata Perairan. dan seperti perhubungan laut. 1. Desain Pengelolaan MMA segenap pariwisata.

(3) Pendekatan memfokuskan Ekosistem. terutama dalam perencanaan dan penetapan kawasan. Sementara dampak penting dari lingkungan. dsb). Pengelolaan yang adaptif terhadap perubahan dan informasi baru untuk memperbaiki kinerja pengelolaan suatu MMA.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota (1) MMA dibentuk dari Jaringan Daerah Perlindungan Laut (DPL) skala desa. Di dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Penetapan MMA Kabupaten/Kota menyebutkan batas-batas MMA dengan koordinat geografis. pada Pengelolaan ekosistem ekosistem dengan integritas mempertimbangkan aspek pemanfaatan. MMA-2: Pulau TigaSedanau. (2) Berkelanjutan.kepemerintahan). Pengelolaan suatu MMA diharapkan menganut prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : (1) Adaptif. seperti pencemaran. Pengelolaan contoh-contoh bersama untuk mengimplementasikan sumberdaya yang baik. Di dalam satu Sub-MMA merupakan jaringan atau kumpulan dari Daerah Perlindungan Laut (DPL) terdekat secara hamparan COREMAP II ADB pengelolaan 15 . Upaya-upaya pemanfaatan dilaksanakan berdasar pada azas keberlanjutan dan ekologis. Pengelolaan dengan mengikuti proses untuk alokasi sumberdaya dan pengambilan keputusan. 1. (4) Manfaat Ganda. erosi dan sedimentasi memerlukan pertimbangan khusus dalam desain pengelolaan MMA. Adapun Sebuah MMA Kabupaten dapat terdiri lebih dari satu Sub-MMA (seperti MMA-1: Pantai Timur Natuna. (5) Pengelolaan Bersama.

dan Zona Penyangga. (Lihat Lampiran : Rancangan Surat Keputusan Walikota Batam. maka dalam penetapannya batas-batas DPL tidak perlu untuk menetapkan posisi geografis dengan Lintang dan Bujur. Bupati Mentawai. (Lihat Lampiran: Laut). dan Natuna tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah) Karena luasan DPL desa biasanya kecil. Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Gambar 3. yaitu kawasan larang-ambil ekstraktif. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Kota Batam 16 Panduan Pengembangan Marine Management Area . yang ditetapkan dan diatur oleh Peraturan Desa masing-masing.di desa-desa yang bertetangga. seperti Zona Inti. tetapi cukup dengan ukuran jarak (meter).merupakan zona pemanfaatan terbatas di sekeliling Zona Inti. Zona-zona yang dibuat di dalam DPL diupayakan sesedehana mungkin. Dalam penetapan batas-batas DPL sebaiknya digunakan tanda-tanda alam (land mark) dan nama-nama lokal batas-batas zona inti. dalam lingkup Hektar (misal 10-20 Hektar).

Atau Surat Keputusan Desa. misalnya: DPL-1: Pulau Nguan-Batam. sedang DPL hanya disebutkan desadesanya saja.(2) Daerah Perlindungan Laut (DPL) dapat terdiri dari Sub-DPL Sebuah Daerah Perlindungan Laut yang ditetapkan oleh Desa dapat terdiri dari satu atau lebih sub-DPL sebagai Zona Inti. dengan DPL. sedang DPL adalah Daerah Perlindungan Laut yang ditetapkan oleh Peraturan Desa. (3) MMA desa-desa. Kelurahan tidak menerbitkan Peraturan Desa. Beberapa pertimbangan. Kawasan Konservasi atau kawasan lindung seperti yang termaktub dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. seperti Cagar Alam. yaitu : Kawasan Konservasi yang telah ada. DPL-2: Pulau Abang-Batam. DPL-3 dsb. karena kelurahan tidak otonom. Khusus untuk Kota Batam. Satu MMA yang disyahkan oleh Surat Keputusan Bupati/Walikota dapat merupakan jaringan antara Kawasan. digabung dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) di 17 . kenapa Desa menetapkan lebih dari satu Zona Inti dalam lokasi DPL adalah : a) Desa terdiri dari beberapa dusun (Rukun Warga) yang tersebar di beberapa pulau. Taman Wisata Laut. sehingga COREMAP II ADB dapat terdiri dari jaringan antara Kawasan Konservasi yang telah ada. yang terdisri dari 3 zona inti sebagai sub-DPL. (Lihat Lampiran : Peraturan Bupati Berau tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau) Dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota batas-batas MMA telah di sebutkan dengan posisi geografis. untuk satu desa. Peraturan dan pengelolaan DPL dijelaskan dengan Perturan Desa/SK Kepala Desa. dengan jarak yang relatif jauh untuk keperluan pengawasan. b) terdapat lokasilokasi potensial untuk dilindungi sebagai Zona Inti di sepanjang pesisir desa. dsb. Contoh lain adalah DPL di desa Botohilitanu di Nias Selatan. sehingga perlu membuat batas-batas.

termasuk pengelolaan DPL-DPL nya. Gambar 4.untuk pembentukan MMA langsung dengan SK Walikota.. Usulan Geografis Kawasan Konservasi Laut Daerah Kepulauan Mentawai. 18 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

RENCANA KELEMBAGAAN MMA 2. Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA 2.9. Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA 2. provinsi sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat dapat melakukan inisiatif untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di kabupaten/kota. di Lingga Dinas Pengelolaan SDA) (2) (3) Dinas Kehutanan.10. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) atau dinas yang bertanggungjawab dalam bidang lingkungan hidup did aerah (4) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Pendanaan MMA Sesuai otonomi jawab dengan asas otonomi Undang- seluas-luasnya. Gugus Tugas Pengelolaan MMA 2. Undang-Undang COREMAP II ADB 19 .1 Dasar Kelembagaan MMA 2. Lembaga pemerintah di tingkat Provinsi yang terkait dengan upaya pengembangan MMA terutama meliputi: (1) Dinas Perikanan dan Kelautan (Di Batam Dinas KP2.5.4. maka barulah Depdagri turun tangan.7. Dalam kaitan ini.2. Perpektif Kelembagaan MMA ke depan 2. Semua permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan urusan pemerintahan daerah hendaknya dapat diselesaikan oleh daerah sendiri sebagai konsekuensi dari penerapan otonomi. Apa bila permasalahan tersebut menyangkut kepentingan nasional. yang dianut oleh nyata dan otonomi yang bertanggung Undang Nomor Nomor 32 Tahun 2004.6. LPSTK dan Pihak Swasta 2.1.8. Sekretariat Pengelola MMA 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo. Depdagri sebagai aparat pusat tidak ingin menimbulkan kesan adanya campur tangan pusat dalam urusan pembentukan Kawasan Konservasi (MMA). Dinas Perikanan dan Kelautan berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo. Lembaga Pengelola MMA 2. Dasar Kelembagaan MMA 2.3. Status Kelembagaan COREMAP II Daerah 2.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo.Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk melakukan konservasi laut di wilayah laut selebar 12 mil diukur dari garis pantai. Bapedalda kewenangan provinsi MMA. termasuk pengembangan MMA. serta masih bergabungnya bidang kehutanan dalam Dinas KP2 dan Dinas Pengelolaan Sumberdaya Alam. Bapedalda berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 97 jo. dengan mempertimbangkan usulan dari daerah kabupaten/kota. Bappeda berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk membuat perencanaan pembangunan dan menetukan alokasi pendanaannya untuk seluruh kegiatan pembangunan yang ada di wilayah. Masalah batas wilayah laut yang tidak kasat mata tersebut sering menimbulkan perbedaan paham tentang batas-batas kewenangan di lapangan antara DKP Provinsi dan DKP Kabupaten/Kota. Departemen Kehutanan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 jo. Untuk Kota Batam. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah Provinsi . Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mempunyai kewenangan konservasi. dan melakukan koordinasi terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan oleh DKP Kabupaten dan Kota di wilayah laut selebar 4 mil diukur dari garis pantai. Bappeda dengan sangat baik dapat memposisikan diri sebagai Panduan Pengembangan Marine Management Area melakukan pelestarian fungsi-fungsi lingkungan di wilayah laut yang menjadi dan melakukan koordinasi terhadap kegiatan pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup dalam upaya pengembangan 20 . dan Lingga pertentangan mengenai masalah kewenangan konservasi antara DKP dan Dishut memang kurang menonjol karena Dishut disibukan dengan masalah lain yang lebih besar. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan MMA. Sebagai pengendali alokasi dana. baik konservasi di darat maupun di laut.

Dinas Perikanan dan Kelautan. Pengawas (PSDKP). dilakukan melalui koordinasi perencanaan dan Keterlibatan Bappeda alokasi pendanaan yang diajukan oleh Bappeda Kabupaten . COREMAP II ADB 21 . c. perbedaan paham haruslah diantisipasi terutama tentang kewenangan konservasi yang akan menjadi semakin kompleks dengan bergabungnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat yang diberi mandat langsung oleh DKP untuk menegakan kebijakan penetapan Taman Nasional yang akan dikeluarkan oleh pemerintah pusat di Pulau Abang. Kewenangan tersebut juga mencakup kewenangan untuk melakukan konservasi laut. b. Namun demikian. dan bahkan pada kenyataannya Dishut telah lebih dulu melaksanakannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. Bappeda lebih terlibat langsung dalam pengembangan MMA. Dishut juga merasa mempunyai kewenangan di bidang konservasi laut. Batam. Misalnya untuk Kota Batam. DKP berdasarkan peraturan perUndang-Undang an yang berlaku Sumber Daya Kelautan dan Perikanan memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah perairan laut selebar 1/3 dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi diukur dari garis pantai. f. Dinas Kehutanan. Secara umum lembaga pemerintah di tingkat Kabupaten yang terkait secara langsung dengan pengembangan MMA meliputi: a. Dalam kaitan ini. e. Dinas Pariwisata. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda).koordinator dari berbagai kegiatan proyek pembangunan di daerah. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). d.

sangat penting untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat pesisir dan pulaupulau kecil. Setelah fasilitasi pengelolaan terumbu karang oleh COREMAP II selesai. yang akan menjadi lokasi-lokasi Marine Management Area (MMA). rehabilitasi lingkungan. diperlukan suatu kelembagaan dan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di lokasi proyek. pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup. Bappeda sesuai kewenangannya di bidang perencanaan dan alokasi dana dapat melakukan inisiatif untuk mengkoordinasikan pengembangan MMA dari sudut perencanaan dan alokasi dana. serta melakukan koordinasi semua kegiatan di bidang lingkungan hidup di Kabupaten/Kota. penanggulangan akibat pencemaran dan perusakan lingkungan.Dinas Pariwisata (Dispar) berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten/Kota dengan tujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pelestarian dan Pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya terumbu karang di lokasi-lokasi COREMAP II yang telah diidentifikasi. Demikian juga halnya dengan Bappeda yang akan selalu membantu mengalokasikan dana pembangunan MMA sesuai dengan skala prioritas pembangunan. Bapedalda berdasarkan peraturan perUndang-Undang an yang berlaku mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup. Dispar merasa berkepentingan terhadap terwujudnya MMA . Kelembagaan dan Rencana Strategi (Renstra) pengelolaan terumbu karang kedepan haruslah memadukan kepentingan para pemangku 22 Panduan Pengembangan Marine Management Area . pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan. Oleh karena itu. dan penindakan para pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan. Sehubungan dengan itu. Dispar diharapkan akan selalu mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan pengembangan MMA.

nasional. Berikut adalah Target Lembaga yang diusulkan untuk mendapatkan Training dan Penyuluhan untuk memperkuat kinerja dalam pengelolaan terumbu karang di daerah. dalam hal penyediaan informasi. COREMAP II ADB 23 .kepentingan para pihak yang selaras dengan konteks pembangunan global. Renstra yang berisi arahan-arahan strategis pengelolaan terumbu karang dalam kerangka MMA di 8 lokasi COREMAP II di Indonesia bagian barat. Renstra diharapkan dapat memberikan keuntungan. pembentukan komitmen dan alokasi sumberdaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan berkelanjutan. 2. dan (iv) pengembangan mata pencaharian alternatif. Pengertian kelembagaan dalam COREMAP adalah seluruh lembaga. yang akan dijadikan pegangan oleh seluruh anggota organisasi dalam menjalankan segenap aktivitas untuk mencapai tujuan bersama. Ruang lingkup dari PBM mencakup empat sub-komponen. Baik pengelola maupun pelaksana COREMAP dilapangan mempunyai wewenang hukum untuk terlibat langsung ataupun tak langsung dengan program COREMAP. (iii) pengembangan infrastruktur dasar dan fasilitas sosial. (ii) pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat. regional dan lokal. dalam hal ini pengelola COREMAP. baik pemerintah sebagai pengelola maupun lembaga non-pemerintah yang kemungkikan untuk melaksanakan program COREMAP.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah Secara umum kelembagaan dapat diartikan sebagai aturan yang dianut oleh organisasi. terdiri dari : (i) pemberdayaan masyarakat. Salah satu komponen utama dari COREMAP II adalah Pengelolaan Sumberdaya dan Pembangunan Masyarakat Berbasis Masyarakat (PBM).

pemilihan motivator desa. maka 24 Panduan Pengembangan Marine Management Area motivator desa. RCU di Propinsi. (8) (9) Membantu penanganan / resolusi konflik di tingkat desa. 2. Memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok masyarakat.3 Perpektif Kelembagaan MMA ke depan Untuk mencapai tujuan Program Pengelolaan MMA sehingga dapat mendukung pengelolaan sumberdaya perikanan yang lebih baik. dan kelompok – kelompok . pengawas lapangan dan pembentukan Lembaga Pengelola Sumberdaya (LPS) Terumbu Karang.LSM. (6) Memfasilitasi proses-proses pengadaan dan pelaksanaan kegiatan di tingkat desa melalui fasilitator lapangan. Fungsi fasilitasi di lapangan COREMAP dilakukan oleh LSM yang telah terpilih.LIPI dan PMO. (5) Memfasilitasi penyusunan dokumen-dokumen PBM di tiap-tiap desa. (2) Menangani aspek administrasi kegiatan di tingkat desa hingga kabupaten/kota. (7) Mendorong terbentuknya Peraturan Daerah dalam mendukung pelaksanaan PBM. yang mencakup laporan hasil pemantauan teknis dan keuangan agar sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku mengacu kepada. (4) Memfasilitasi pelatihan dan studi banding bagi fasilitator lapangan. masyarakat. (3) Melakukan koordinasi dengan UPP kabupaten/kota dan instansi-instansi terkait di tingkat Kabupaten. PIU . Adapun tugas dan fungsi dari LSM sebagai motivator lapangan berlaku sampai proyek selesai. yaitu : (1) Menyiapkan fasilitator senior yang berkedudukan di kabupaten/kota dan berfungsi sebagai koordinator dari para fasilitator lapangan yang bekerja di desa.

Transparan bagi semua pihak yang berkepentingan untuk mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan 2. Hasil Program Pengelolaan MMA dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat pengguna 5. 2. adalah : 1. Mereka akan memilih COREMAP II ADB 25 . Adapun prinsip-prinsip yang akan dikembangkan dalam Program Pengelolaan MMA secara terpadu.diperlukan pembangunan Kelembagaan Program Pengelolaan MMA yang didukung oleh lembaga terkait yang memiliki kepedulian terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan. Mekanisme Kerja Pengelola MMAdapat dijabarkan secara singkat sbb : • Bupati dan Gubernur merupakan anggota ex-officio karena jabatan pada Dewan/Badan Pengelola MMA. Keberadaan kelembagaan Program Pengelolaan MMA diharapkan dapat diterima oleh masyarakat industri perikanan dan secara jangka panjang akan tetap berjalan. Dinamis untuk mengakomodasi perubahan untuk perbaikan Program Pengelolaan MMA. Struktur organisasi yang efisien dengan pengawasan yang efektif dan dikelola secara profesional 3.4 Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA Untuk menjalankan sistem pengelolaan MMA diperlukan suatu mekanisme kerja yang dapat menjamin proses koordinasi para pemangku kepentingan. Keberadaan kelembagaan yang terpadu dan kuat akan menentukan keberhasilan pelaksanaan program. Adanya kelengkapan peraturan dan menerapkan prinsip dan norma hukum dalam pengelolaan Program Pengelolaan MMA 6. Kejelasan tugas pokok fungsi dan tanggung jawab dari masing-masih unit pengelola program 4.

5 Lembaga Pengelola MMA 26 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Sekretariat Lembaga Pengelola memberi dukungan dan mengkoordinasikan semua aspek pengelolaan MMA. swasta. Pelaksanaan hal-hal teknis dilakukan oleh anggota pelaksana teknis dan akan melaporkan secara rutin kemajuan pelaksanaan kegiatan di lapangan kepada sekretariat dan memberikan masukan-masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pengelolaan MMA. Gugus Tugas dapat merupakan penjelmaan dari koordinatorkoordinator bidang pada PIU Kabupaten saat ini. • • Bupati akan mengangkat anggota dan ketua Kelompok Kerja dan Pelaksana Teknis untuk mengimplementasikan pengelolaan MMA. 2. • Tugas-tugas dimaksudkan untuk mengembangkan strategi MMA di Kabupaten. Gugus tugas akan ditentukan oleh Bupati dan memberikan dukungan kepada upayaupaya yang akan dilakukan untuk pengelolaan MMA sesuai dengan bidangnya. lembaga teknis pemerintah dan LSM. Pelaksana teknis ini merupakan unit pelaksana operasional dalam menjalankan program dan kegiatan pengelolaan terumbu karang daerah (MMA) di lapangan.perwakilan dari representasi para pemangku kepentingan utama untuk duduk dalam Lembaga Pengelola • • Lembaga Pengelola MMA akan mengadakan pertemuan rutin yang terbuka untuk umum. Pelaksana teknis merupakan pengembangan dari LPS-TK yang beranggotakan : pokmas-pokmas. Bupati dan Gubernur akan mengangkat sekretaris • Penasehat ilmiah dan teknis berfungsi untuk memberikan masukanmasukan ilmiah dan teknis merupakan orang-orang ahli di bidang keilmuan dan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan MMA.

kepada Lembaga Pengelola MMA. teknologi. Seketariat mempunyai tanggung jawab.6 Sekretariat Pengelola MMA Tugas Sekretariat Pengelolaan MMA adalah memberi dukungan dan mengkoordinasikan semua aspek usaha pengelolaan MMA. Tanggung jawab Lembaga Pengelola adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) Mengadopsi dan mengamandemen Renstra Pengelolaan Terumbu Karang Daerah Menyetujui usulan program-program dan kegiatan pengelolaan MMA untuk pendanaannya Mendorong upaya-upaya mobilisasi sumberdaya. sbb : (1) Memberikan dukungan. seperti dana. berupa memfasilitasi pertemuan. SDM dari luar untuk pengelolaan MMA Memfasilitasi resolusi konflik antar pengguna MMA Mendorong kerjasama antara Eksekutif dan Legislatif (DPRD) untuk mengefektifkan pengelolaan MMA Membuat jaringan pengelolaan MMA di tingkat Propinsi/Region dan ikut berpartisipasi aktif dalam jaringan MMA Nasional (7) Mendelegasikan wewenang dan menyediakan dana operasional dalam tugas-tugas kesekretariatan. Komite Penasehat Teknis. 2. (2) (3) Mebuat dan mempublikasikan hasil-hasil pengelolaan MMA Memfasilitasi persiapan proritas anggaran tahunan untuk pengelolaan MMA COREMAP II ADB 27 . Gugus Tugas dan Pelaksana Teknis.Lembaga Pengelola MMA akan membuat kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penyelenggaraan program pengelolaan MMA secara terpadu. termasuk penggalangan partisipasi dari stakeholder.

8 Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA Unit Pelaksana Teknis di Kabupaten/Kota (UPT) MMA bertugas untuk mengawasi pelaksanaan program dan menjadi penghubung. penelitian dan keterlibatan masyarakat dengan lembaga-lembaga partner dan media massa. 2. terutama tentang informasi ilmiah. serta memberi dukungan pengelolaan MMA antara pemerintah kabupaten dan desa-desa.(4) (5) Memfasilitasi penyiapan proposal dan pencarian dana dari pihak luar untuk mendukung pengelolaan MMA yang efektif Memfasilitasi program pendidikan. sumberdaya perikanan dan jasa lingkungan di lokasi MMA. 2. (3) Memberikan saran penelitian terapan yang akan digunakan untuk peningkatan pengelolaan MMA. pengelolaan dan penyempurnaan pengawasan (MCS) jangka panjang. untuk pengelolaan MMA (6) Membuat laporan tahunan mengenai kemajuan pengelolaan MMA.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA Komite teknis akan memberikan pedoman dan arahan untuk memastikan bahwa rencana dan program pengelolaan MMA dibuat dengan pertimbangan ilmiah dan teknis. Adapun tanggung jawab Komite Penasehat Teknis : (1) (2) Memberikan saran mengenai perencanaan. Mempromosikan dan memfasilitasi pertukaran informasi antara pengguna tentang manfaat MMA bagi masyarakat. Berikut adalah tanggung jawab UPT : 28 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

2. melalui Gugus Tugas. COREMAP II ADB 29 . kegiatan dan anggaran tahun yang akan datang. Pengusaha Perikanan.(1) Mengembangkan lokasi MMA dan melaksanakan program-program pengawasan pemanfatan dan perlindungan sumberdaya di (2) (3) Membantu dalam mengembangkan kemampuan kelembagan pelaksana teknis dalam rangka pengelolaan MMA Memberikan rekomendasi berdasar masukan dari keleompok kerja di Pelaksana Teknis (LPS-TK) mengenai inisiatif prioritas program. maupun dengan berbagai lembaga di daerah dan nasional. Kelompok Swadaya Masyarakat dan Pihak Swasta (pengusaha Wisata. (4) (5) (6) Merekomendasikan usulan mobilisasi sumberdaya dalam rangka memfasilitasi program dan pengelolaan Mengkomunikasikan pelaksanaan program dengan pemerintah dan perwakilan desa Mengkoordinasikan kerja antar Gugus Tugas.) akan melaksanakan kegiatan konservasi di Tugas pelaksana teknis adalah untuk menjalankan program/rencana aksi tahunan pengelolaan MMA yang telah disetujui dan disyahkan oleh Lembaga Pengelola Adapun tanggung Jawab Pelaksana Teknis MMA: (1) (2) Membantu Gugus Tugas dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang terkait dengan pengelolaan MMA Membantu pelaksanaan kegiatan yang telah diusulkan oleh Kelompok Kerja (berdasarkan isu-isu pengelolaan MMA di lapangan). dsb.9 LPS-TK dan Pihak Swasta Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) beserta Kelompok-kelompok Masyarakat (pokmas).

Disarankan Lembaga Pengelolaan MMA meninjau kemajuan lembaga dan program kerjanya dan akan memulai siklus Perencanaan Program Tahunan. maka secara operasional perencanaan program dan pendanaan pengelolaan MMA dapat disesuaikan dengan siklus perencanaan program dan pendanaan tahunan pemerintah. setelah MMA terbentuk. Sinkronisasi dan harmonisasi program dan pendanaan antara Kabupaten dan Provinsi dalam perencanaan dan pengelolaan MMA disarankan untuk menuangkannya ke dalam Kesepakatan Bersama atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kabupaten dan Provinsi.10 Pendanaan MMA Untuk menjamin pendanaan yang berkelanjutan. setelah diadakannya Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan).2. baik ditingkat Kabupaten dan Provinsi. 30 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Sebelum pendanaan disetujui menjadi Daftar Isian Proyek (DIP). Sinkronisasi program kerja sangat diperlukan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat (DKP). maka lembaga terkait sektoral akan menerahkan usulan anggaran program/kegiatan ke DPRD. Proses pendanaan progran pemerintah akan mengikuti siklus pendanaan. yang akan diawali pada bulan Januari sampai Desember setiap tahunnya.

Training Kelompok Kerja Provinsi LPSTK: Pokmas : koordinatif Swasta/ Asosiasi : konsultatif Gambar 5.Lembaga Pengelola KKLD Sekretariat Komite Pengarah Teknis Unit Pelaksana Teknis KKLD Kelembagaan /SDM Pengelolaan Berbasis Masyarakat Penyadaran Masyarakat Pemantauan dan Pengawasan /MCS Sistem Informasi. Usulan Kelembagaan MMA di Tingkat Kabupaten/Kota COREMAP II ADB 31 .

1 Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa 3.5.8. 3. Bersama dengan BPD menetapkan rencana pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa dan peraturan-peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir di 32 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) di desa sebagai lembaga formal yang ditetapkan oleh Pemerintah Desa.DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT 3. sehingga sesuai dengan RPTK (Rencana Pengelolaan Terumbu Karang) terpadu di DPL. 3. Tujuan LPS-TK adalah untuk mengorganisir melaksanakan dan mengkoordinir pokmas-pokmas II.6.3. mengoptimalkan pemerintah desa dan lembaga formal di desa meskipun lembaga-lembaga formal di desa-desa belum berfungsi sebagaimana diharapkan masyarakat.4. yang ada itu dalam juga program PBM-COREMAP Disamping mensinergikan kegiatan pada masing-masing pokmas.7. COREMAP telah memfasilitasi terbentuknya Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK). 3. 3. 3. Lembaga ini adalah lembaga resmi di tingkat desa yang memiliki peran dalam menjalankan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang di Kawasan Konservasi atau Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang akan disusun secara bersama-sama oleh seluruh Pokmas dan Kelompok Pengawasan Terumbu Karang dan difasilitasi oleh Fasilitator Lapangan.1. LPS-TK bertanggung jawab kepada masyarakat desa melalui BPD atas pelaksanaan rencana pengelolaan pesisir desa. 3.2. Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa Kelompok Masyarakat Pengelola DPL Membangun DPL Berbasis Masyarakat Metode Pengelolaan DPL Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan Zonasi Kawasan Lokasi dan Ukuran Partisipasi Masyarakat Dalam pengelolaan COREMAP melembagakan sumberdaya berupaya untuk peran terumbu karang di tingkat desa. 3.

serta Badan Pengelola di desa terlibat secara aktif dan melakukan fungsi dan perannya sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pengelolaan sebagai panduan dalam pelaksanaan. Sekretaris. dan staf administrasi. pemerintah desa. anggota Pokmas dan anggota pengawas terumbu karang. LPS-TK melakukan koordinasi dan kerjasama dengan LPS-TK dari desa tetangga. LPS-TK berperan dalam membantu Pemerintah Desa dalam menjalankan fungsi pengelolaan sumberdaya terumbu karang di tingkat desa. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan pelaksanaan rencana pengelolaan pembangunan di desa merupakan suatu lembaga yang sudah ada di desa yang dapat melaksanakan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang di Tingkat Desa yang dilaksanakan oleh LPS-TK beserta dengan Pokmas-Pokmas. Dalam mengoptimalkan pelaksanaan Rencana pengelolaan. LPS-TK memiliki pengurus yang terdiri dari Ketua. BPD. LPS-TK beranggotakan wakil-wakil dari para motivator desa. LPS-TK dibentuk dan diarahkan menjadi lembaga resmi yang berbadan hukum. Dalam pengelolaan suatu kawasan lintas desa. Peran Badan Perwakilan Desa (Legislatif) bersama dengan Pemerintah desa menyusun dan menetapkan rencana pembangunan dan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa serta peraturan-peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa. pengurus Pokmas dan Pengawas Terumbu Karang dan Perwakilan Desa. dengan anggota terdiri dari seluruh motivator desa. COREMAP II ADB 33 . Bendahara.desa. Oleh pemerintah desa Lembaga Pengelola ini ditetapkan melalui surat keputusan pemerintah desa untuk memberikan dukungan secara hukum kepada lembaga dan personil yang akan melaksanakan tugas. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan sumberdaya terumbu karang.

10) Melakukan pemantauan dan evaluasi RPTK. 7) 8) 9) Mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro yang akan melaksanakan Unit Simpan Pinjam (USP). serta disetujui oleh PIU kabupaten/kota. oleh dan untuk masyarakat yang difasilitasi oleh fasilitator lapangan dan disahkan oleh Kepala Desa. Menyalurkan dana bagi kelompok-kelompok masyarakat yang diterima dari PIU.LPS-TK dibentuk dari. Melakukan koordinasi dengan LSM dan Konsultan. Melakukan koordinasi dengan Kepala Desa dan PIU dalam keseluruhan program pengelolaan berbasis mayarakat. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat secara langsung. untuk membangun sistem koordinasi yang akomodatif antara desa dan kabupaten rapat koordinasi dilakukan secara berkala. Koordinator-koordinator Project Implementation Unit (PIU) Kabupaten yang terdiri dari dinas-dinas teknis di Kabupaten/Kota disepakati untuk memberikan rekomendasi serta kajian teknis atas usulan kegiatan desa dalam RPTK sekaligus memasukkan usulan kegiatan ke dalam usulan kegiatan dinas teknis yang akan dibiayai 34 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Tugas LPS-TK adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Menyiapkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) Mengimplementasikan RPTK Menyusun usulan-usulan kegiatan berdasarkan usulan dari pokmas-pokmas dan kelompok pengawas terumbu karang. Pada saat Proyek COREMAP masih berjalan. Melaksanaan kegiatan administrasi keuangan sesuai dengan SE-Ditjen Anggaran.

Penguatan Pokmas adalah suatu proses meningkatkan kemampuan dan peran suatu kelompok masyarakat ke arah bidang kegiatan tertentu (konservasi. produksi. Proses pembentukan kelompok masyarakat difasilitasi oleh fasilitator lapangan. perempuan). 3. Pengembangan Prasarana Dasar dan Peningkatan Kapasitas dan Kesadaran Masyarakat. Dalam satu desa dapat dibentuk beberapa kelompok masyarakat menurut kesamaan minat. peningkatan peran dan kemampuan perempuan). adanya ancaman terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang serta `upayaupaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang. agar dapat berperan aktif dalam pelaksanaan pengelolaan terumbu karang. Berperan aktif dalam penyusunan Rencana Pengelolaan (2) Terumbu Karang Terpadu (RPTK Terpadu) yang mencakup Program Pengelolaan Terumbu Karang.2 Kelompok Masyarakat Pengelola DPL Kelompok masyarakat atau Pokmas adalah kelompok kecil yang dibentuk di tingkat desa. Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif. Pokmas mempunyai tugas dan tanggung jawab utama : (1) produksi. Pembentukan Pokmas adalah suatu proses membentuk kelompok atau organisasi masyarakat yang akan mempunyai peran dan fungsi bidang tertentu (konservasi. (3) Mengimplementasikan RPTK Terpadu sesuai dengan bidang Pokmas yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) di desa-desa lokasi COREMAP. misalnya Pokmas Konservasi COREMAP II ADB 35 . peningkatan peran dan kemampuan Menyebarluaskan informasi kepada masyarakat tentang arti dan nilai penting ekosistem terumbu karang.melalui Proyek COREMAP.

Kelompok masyarakat disahkan oleh Kepala Desa. hutan mangrove. masyarakat dan pihak lain.melaksanakan program-program pengelolaan terumbu karang. dan pengelolaannya yang dilakukan secara bersama antara pemerintah. akan dikelola oleh satu Unit Pengelolaan yaitu Marine Management Area (MMA) di tingkat Kabupaten/Kota yang akan dikelola secara kolaboratif. Dalam hal ini. dengan memberikan penekanan bahwa DPL-DPL dalam skala desa. (2) (3) (4) (5) (6) 3. Persyaratan pembentukan kelompok masyarakat: (1) Kelompok masyarakat dianjurkan dibentuk dengan anggota antara 5 sampai 9 orang dengan anggota yang memiliki kesamaan minat. yaitu ketua dan bendahara. Anggota kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan secara proporsional. MMA ini berbeda dengan Taman 36 Panduan Pengembangan Marine Management Area .3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) merupakan kawasan pesisisir dan laut yang dapat meliputi terumbu karang. COREMAP II ADB memodifikasi definisi tersebut. Pengurus kelompok harus memiliki kemampuan baca dan tulis. (4) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program kegiatan masing-masing Pokmas. yang bertanggung jawab dalam aspek administrasi teknis dan keuangan. lamun dan habitat lainnya secara sendiri atau bersama-sama yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan biota laut. memantau. dalam merencanakan. Kelompok masyarakat memilih 2 (dua) orang pengurus. Anggota kelompok yang dipilih adalah orang yang tergolong dewasa. dan mengevaluasi pengelolaannya (Tulungen et at. 2003).

Nasional Laut atau daerah konservasi dalam skala luas lainnya. Taman Nasional Laut Bunaken di Sulawesi Utara, misalnya, mimiliki luas 89.065 Ha dan ditetapkan serta dikelola oleh Pemerintah secara nasional, walaupun saat sekarang dikelola secara kolaboratif oleh Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken, yang beranggotakan stakeholders di daerah. DPL dibentuk berdasarkan ekosistem yang ada, terutama terumbu karang yang terkait dengan ekosistem pesisir lainnya. Keberadaannya dapat ditetapkan melalui peraturan Desa untuk Kabupaten, yang sudah otonom. Khusus untuk Kota (Batam), maka penetapan DPL dilakukan oleh walikota, karena Kelurahan di Kota tidak otonom. DPL dibentuk untuk melindungi dan memperbaiki sumberdaya terumbu karang dan perikanan di wilayah yang mempunyai peranan penting secara ekologis. DPL ini diharapkan merupakan alat pengelolaan perikanan yang efektif, karena adanya pengaturan perikanan, perlindungan daerah pemijahan dan pembesaran larva, sebagai asuhan juvenil (anak ikan), melindungi kawasan dari penangkapan berlebihan, dan menjamin ketersediaan stok ikan secara berkelanjutan.

Tujuan Penetapan DPL: • Meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar • Menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati terumbu karang, ikan, dan biota lainnya • Dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata • Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pengguna • Memperkuat masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang • Mendidik masyarakat dalam konservasi dan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan • Sebagai lokasi penelitian dan pendidikan tentang keanekaragaman hayati laut

COREMAP II ADB

37

3.4 Metode Pengelolaan DPL Walaupun DPL yang akan dibentuk adalah DPL yang berbasiskan masyarakat, tetapi pembentukan dan pengelolaannya harus dilakukan bersama antara masyarakat, pemerintah setempat dan para pihak (stakeholder) yang ada di desa. Pemerintah daerah, terutama pemerintah desa, haruslah bekerjasama dalam proses penentuan lokasi dan aturan DPL, pendidikan masyarakat, bantuan teknis dan pendanaan awal. Tanggung jawab dalam menentukan lokasi dan tujuan pengelolaan DPL ditetapkan oleh masyarakat, sedangkan bantuan teknis dan pendanaan, serta persetujuan terhadap peraturan ditetapkan oleh pemerintah atas kesepakatan masyarakat. Masyakarat dapat bekerja sama dengan pihak lain,seperti LSM dan Swasta untuk pengelolaan DPL supaya lebih efektif. 3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan Berfungsinya DPL secara pengelolaan adalah apabila terdapatnya suatu zona inti di dalam DPL, yaitu suatu zona larang ambil permanen. Di dalam zona inti atau dapat dikatakan zona tabungan perikanan, tidak diperkenankan adanya kegiatan eksploitatif atau penangkapan ikan. Kegiatan eksploitasi hewan laut seperti karang, teripang, kerang-kerangan atau organisme hidup lainnya dilarang untuk diambil. Zona inti dalam DPL tidak diperkenankan dieksploitasi secara musiman atau waktu-waktu tertentu, sehingga DPL tidak sama dengan ‘Sasi’ di Maluku atau ‘Mane’e di Sangir-Talaud. Pembukaan musiman dapat menyebabkan fungsi DPL dan zona intinya tidak berfungsi efektif. Zona inti biasanya berisi ekosistem terumbu karang yang sehat, karena tidak mengalami gangguan oleh manusia, sehingga biota karang termasuk ikan karang, mempunyai kesempatan untuk kembali pada keadaan terumbu karang yang baik. Zona inti
38
Panduan Pengembangan Marine Management Area

cenderung dipilih yang mempunyai kondisi dan tututan karang yang baik, dan dihuni oleh beberapa biota dari berbagai ukuran, termasuk pemangsa besar, seperti kerapu dan hiu. Diharapkan bahwa zona inti yang tidak diganngu oleh kegiatan penangkapan ikan atau sangat jarang dikunjungi oleh nelayan, akan memiliki ukuran ikan yang besar dan ikan-ikan yang hidup di zona inti akan menjadi induk yang sehat. Ukuran rata-rata ikan yang ada di zona inti yang berfungsi baik, cenderung memeiliki ukuran yang lebih besar dari pada ikan yang ada di luar zona inti (zona pemanfaatan). Dari penelitian diketahui bahwa, semakin panjang dan besar ukuran induk ikan akan memberikan telur yang jauh lebih besar secara exponensial. Apabila rata-rata umur dan ukuran ikan semakin muda dan kecil, maka telur dan larva yang akan dihasilkan juga semakin sedikit. Sehingga, salah satu peran dari zona inti yang ditutup dari kegiatan penangkapan ikan adalah, untuk menghindari kegagalan perikanan akibat tidak tersedianya induk ikan yang mampu berkembang biak untuk menghasilkan juvenil ikan, yang akan menjadi besar dan siap untuk dimanfaatkan oleh kegiatan perikanan. Yang perlu kita perhatikan adalah, DPL tidak dapat mengatasi masalahmasalah yang berhubungan dengan tangkap lebih (over fishing) di suatu kawasan, tetapi DPL merupakan salah satu cara yang mudah untuk membantu menjaga kelestarian habitat, mengurangi cara-cara penangkapan ikan yang merusak, dan membantu nelayan memahami konsep pengelolaan perikanan. Fungsi rehabilitasi habitat dapat diperankan oleh DPL, apabila DPL ditetapkan pada kawasan terumbu karang yang mungkin sudah mulai rusak oleh kegiatan manusia atau suatu kawasan yang aktivitas perikanannya sudah berlangsung lama. Dengan adanya DPL maka habitat di kawasan tersebut mempunyai kesempatan untuk pulih dan biota yang hidup di dalamnya berkembang biak. Sehingga, DPL menjadi kawasan terumbu karang penyedia (source reef) telur, larva dan juvenil, serta induk yang sehat,
COREMAP II ADB

39

kegiatan penangkapan ikan diperbolehkan tetapi dengan 40 Panduan Pengembangan Marine Management Area . pelepasan jangkar serta penggunaan galah untuk mendorong perahu juga tidak diperbolehkan. sepeprti berenang. Namun demikian perlu kesepakatan dengan masyarakat kegiatan apa saja yang boleh dilakukan di zona inti. Sedang kegiatan yang tidak ekstraktif. sehingga fungsi zona tersebut dapat optimal. Dilain pihak. serta desa-desa lain di Sulawesi Utara. DPL dapat juga menarik ikan-ikan yang ada di luar kawasan karena habitat di dalamnya yang terpelihara untuk hidup. serta DPLDPL di Filipina.yang akan mengekport ikan-ikan keluar kawasan. Zona yang umum dipunyai oleh DPL adalah Zona Inti dan Zona Penyangga.6 Zonasi Kawasan DPL haruslah mempunyai perencanaan zonasi. sedang di luarnya adalah Zona Pemanfaatan. Mekanisme export larva-larva karang dan telur ikan pada zona inti DPL dipengaruhi oleh arus perairan. seperti pengambilan karang. Bentenam dan Tumbak. yang merupakan zona di sekeliling zona inti. 3. yang ditetapkan secara sederhana. yang dapat sampai jauh di luar kawasan DPL. di desa Sebesi. tumbuh dan berkembang biak. seperti : di desa Blonko.Lampung. Di Zona penyangga. artinya mudah dipahami dan dilaksanakan. menunjukkan bahwa DPL akan memberikan manfaat kepada perikanan yang ada di sekitar kawasan sekitar 3-5 tahun. Begitu pula kegiatan yang merusak terumbu karang. Zona Inti adalah suatu areal yang di dalamnya kegiatan penangkapan ikan dan aktivitas pengambilan sumberdaya alam laut lainnya sama sekali didak diperbolehkan. sedang DPL akan menunjukkan perubahan kepadatan ikan dan terumbu karang hidup dalam waktu setelah setahun DPL ditetapkan. Pada umumnya DPL. makan. snorkling dan menyelam untuk tujuan rekreasi masih diperbolehkan. memiliki 2 zona utama yaitu zona inti (no-take zone) dan zona penyangga (buffer zone). serta dipatuhi oleh masyarakat. sampai beratus-ratus mil laut. Dari pengamatan para ahli.

7 Lokasi dan Ukuran Lokasi dan Ukuran DPL sangat menentukan keberhasilan fungsi DPL dalam mendukung pengelolaan perikanan. dari pengalaman dan persetujuan dengan masyarakat. seperti pancing dan memanah dengan perahu tradisional. namun demikian ilmuwan merekomendasikan’ semakin luas ukuran DPL akan semakin baik fungsinya’. sedang apabila ukuran DPL terlalu luas di suatu desa. Namun demikian. kegiatan wisata dan perlindungan keanekaragaman hayati. Apabila terlalu kecil ukuran DPL maka DPL tidak akan berfungsi secara ekologis. dan konflik dengan apa pengguna (nelayan) akan memjadi besar. 3. yaitu : • Kondisi tutupan karang cukup tinggi (lebih dari 50% dianjurkan) COREMAP II ADB 41 . lamun dan terumbu karang. maka fungsi kontrol masyarakat terhadap DPL menjadi kurang. Berikut adalah beberapa prinsip-prinsip ekologi yang dipertimbangkan untuk penentuan lokasi dan ukuran DPL Berbasi Masyarakat. berdasar dari lesson-learned dari CRMP/USAID di Sulawesi Utara dan Lampung (2003). Cakupan DPL sebaiknya mulai dari garis pantai sampai ke kawasan lepas pantai yang mencakup asosiasi ekosistem mangrove.menggunakan alat-alat tradisional. maka saat sekarang DPL berbasis desa yang ada di beberapa negara menunjukkan luasan sampai 50 hektar zona inti. merekomendasikan bahwa 30% dari habitat ikan karang akan memberikan hasil yang optimal untuk pengelolaan perikanan. Sebenarnya tidak ada ukuran yang ideal untuk DPL. Para ahli dari PISCO 2002. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan lampu (light fishing) dan beberapa alat tangkap yang potensial merusak terumbu karang masih dilarang di zona penyangga. Pada umumnya DPL ditempatkan di sekitar pulau-pulau kecil atau di sepanjang garis pantai pulau besar. Pendapat ahli menyebutkan bahwa ukuran yang optimal adalah 1030 % dari luasan terumbu karang di suatu desa.

jaringan DPL masyarakat. polusi dari sungai Akses masyarakat untuk mengawasi DPL mudah Bukan merupakan lokasi utama panangkapan ikan nelayan Bukan merupakan kawasan penambatan perahu yang intensif. namun hendaknya dipandang sebagai pendukung. baik sebagai penerima (sink reef) ataupun dapat sebagai sumber (source reef) untuk larva ikan dan karang. Untuk meningkatkan efektifitas fungsi ekologis sebagai suatu kawasan konservasi.• • • • • • • • Kepadatan ikan karang dan biota laut lannya tinggi Mencakup 10-20% dari keseluruhan habitat terumbu karang Habitat karang termasuk Rataan Terumbu dan Lereng. akan sangat ideal untuk saling menopang dan mendukung suatu sistem Kawasan Konservasi yang lebih besar (MMA). serta asosiasi dengan habitat lain Tempat pemijahan ikan karang Terhindar dari sedimentasi. 3. Karena kecenderungan ukuran DPL di desa berukuran kecil. maka DPL sebaiknya bergabung menjadi suatu Jaringan (network) DPL-DPL di desa yang menjadi satu menjadi Dengan MMA (Marine suatu Management sistem Area) di tingkat berbasis Kabupaten/Kota. masyarakat juga akan membantu dalam implementasi program dan terlibat aktif dalam pemeliharaan selama dan sesudah program dilaksanakan. menunjukkan bahwa 98% masyarakat menilai partisipasi sangat penting dengan bebagai alasan. masyarakat akan lebih merasakan manfaat dari program yang dilaksanakan. maka sebaiknya DPL tidak dipandang sebagai pengganti Kawasan Konservasi yang berskala besar seperti Taman Nasional Laut. Dari hasil survei di masyarakat yang memiliki DPL Pulau Sebesi. begitu. Misalnya. partisipasi masyarakat sangat penting dalam menunjang keberhasilan program pengelolaan sumberdaya pesisir. Selain itu.8 Partisipasi Masyarakat Dalam pandangan masyarakat desa. 42 Panduan Pengembangan Marine Management Area . dengan proses partisipasi.

bantuan teknis dan bantuan aspek hukum suatu kawasan konservasi sangat diperlukan. Dengan demikian. Pengelolaan DPL berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan sendiri untuk memperbiki kualitas kehidupannya. partisipasi masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama sejak awal kegiatan dari mulai perencanaan. maka dukungan dan kerja sama dengan lembaga pendidikan.pengelolaan sampai evaluasi suatu DPL sangatlah penting. oleh karena itu dukungan dan persetujuan dari pemerintah dalam hal memberikan pengarahan. pada kenyataannya pengelolaan yang murni berbasis masyarakat kurang berhasil. sehingga biaya penegakkan hukum dan pengawasan kawasan menjadi kecil. seperti pariwisata dan tarif COREMAP II ADB 43 . akan membuat program penggalangan dana untuk operasional DPL melalui kegiatan ekonomi. dan dapat membuat aturan sendiri untuk ditetapkan di lingungannya Masyarakat masuk. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh karena proses partisipatif dalam merencanakan dan mengelola DPL adalah : • Pelibatan masyarakat dapat membantu bahkan bertanggung jawab dalam penegakan aturan. Selain dukungan dari pemerintah. Pengelolaan berbasis masyarakat bertujuan untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan DPL. penelitian serta LSM juga dibutuhkan untuk menentukan lokasi DPL dan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar DPL. dll. Namun demikian. sehingga dukungan yang diperlukan adalah menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat.DPL berbasis masyarakat yang dimaksudkan adalah co-management (pengelolaan kolaboratif). • • Masyarakat merasa memiliki DPL.

• Menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerjasama dalam bentuk organisasi di tingkat desa. 44 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

Berikut adalah tahapan. Tahapan dan Pembentukan 4. Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan 4. Pendidikan Lingkungan Hidup 4. kurangnya kesadaran masyarakat. Pengelolaan DPL 4.1 Tahapan dan Pembentukan 4. atau dengan kata lain merupakan bagian dari Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di suatu desa atau kabupaten/kota. Kelompok Pengelola 4. Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa 4. degradasi habitat. MCS dan Penegakan Hukum 4.1.12. Pemantauan dan Evaluasi 4. hasil.6. Sistem Biaya Masuk 4.7.2. kegiatan.PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL 4.4. Penetapan suatu DPL tidak dapat dipisahkan dengan agenda besar pengelolaan wilayah pesisir.3.9.5.8.11.10. dan indikator yang diharapkan dalam pengembangan DPL (Tabel 1) COREMAP II ADB 45 . Pembuatan Rencana Pengelolaan 4. tangkaplebih merupakan isu-isu yang juga berkaitan dengan pengembangan suatu DPL. Pemilihan Lokasi MMA 4. Isu-isu pengelolaan pesisir. seperti penangkapan ikan yang merusak. Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain (Scaling-up) Proses perencanaan pengelolaan penetapan DPL dan dilakukan wilayah dengan mengikuti proses kebijakan sumberdaya pesisir.

Persetujuan Peraturan Desa • Pembuatan draft Perdes • Diskusi formal/inform al • Perbaikan draft Perdes • Musyawarah Desa • Peresmian Perdes • Peresmian Formal oleh • Pemahaman Masyarakat • Peta Karang • Peningkatan Pengawasan • Dukungan masyarakat • Kapasitas masyarakat meningkat • Kapasitas dalam pengelolaan sumberdaya • Partisipasi dalam pembuatan Perdes • Konsensus tentang aturan DPL • Penerimaan DPL secara formal • Dasar Hukum • Jumlah pelatihan/penyuluh an • Jumlah peserta pelatihan • Jumlah kelompok masyarakat • Jumlah proposal kegiatan kelompok • Pelaporan penggunaan dana • Jumlah pertemuan • Jumlah peserta dalam penyiapan Perdes • Jumlah peserta setuju dengan Perdes • Jumlah musyawarah • Penandatanganan Perdes • Peresmian DPL oleh Pemerintah 46 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Pelatihan. Tahapan. Kegiatan. Pendidikan. Pengembangan Kapasitas Masyarakat • Lokasi desa dipilih • Penempatan Penyuluh • Survei data dasar • Pembuatan Profil Desa • Diskusi program pendampinga n masyarakat • Studi banding DPL • Penyuluhan DPL dan lingkungan • Pelatihan Pemetaan Kawasan • Pelatihan Kelompok • Identifikasi isu-isu Sosioekono mi dan budaya dipahami • Pendekatan dapat dipahami bersama • Deskripsi data dasar • Profil lingkungan disebarkan kepada masyarakat • Jumlah pertemuan masyarakat ttg DPL 3. Pengenalan dan Sosialisasi Program Kegiatan yang dilakukan Hasil yang diharapkan Indikator Hasil 2.Tabel 1. Konsultasi Publik 4. Hasil dan Indikator pengembangan DPL Tahapan Proses Perencanaan dan Pengelolaan 1.

dari hasil pembelajaran dari DPL yang difasilitasi oleh CRMP USAID di Lampung dan Sulawesi Utara.Tahapan Proses Perencanaan dan Pengelolaan 5. COREMAP II ADB 47 . yang disesuaikan dengan perencanaan oleh COREMAP II ADB. Pelaksanaan Kegiatan yang dilakukan Hasil yang diharapkan Indikator Hasil • • • • • • • Pemerintah Pemasangan Tanda Batas Rencana Pengelolaan Papan Informasi Rencana pengelolaan terumbu karang (RPTK) Pertemuan Pengelola Monitoring Penegakan Hukum Penyuluhan dan pendididkan • Ketaatan • Pengelolaan efektif • Tutupan Karang meningkat • Kepadatan biota meningkat • Hasil tangkapan meningkat • Jumlah Pelanggaran menurun • Jumlah pertemuan kelompok • Survei monitoring • Data statistik perikanan di DPL Berikut adalah tahapan pembentukan DPL yang dapat diusulkan di lokasi COREMAP II ADB.

Hasil Tangkapan ikan meningkat. Peta Karang. konsensus DPL Langkah 4 Persetujuan Peraturan Desa tentang DPL • Musyawarah Desa • Peresmian Perdes • Formalisasi oleh Pemerintah Penerimaan secara Formal dan Dasar Hukum Langkah 5 Pelaksanaan dan Pengelolaan DPL • Pemasangan Tanda Batas • Papan Informasi • RPTK dan Pengelola Pengelolaan Efektif. Ketaatan Langkah 6 Monitoring dan Evaluasi DPL • Monitoring DPL • Penegakaan Hukum • Penyuluhan dan Pendidikan Tutupan Karang Meningkat. pendapatan Masyarakat Meningkat Gambar 6 . pendekatan disetujui bersama Langkah 2 Pelatihan dan Pengembangan Kapasitas Masyarakat ● Studi Banding DPL ● Pendidikan Lingkungan ● Pelatihan Pemetaan DPL ● Pelatihan LPSTK/Pokmas Pemahaman dan dukungan masyarakat.Langkah Checklist ● Lokasi dipilih ● Penempatan Penyuluh ● Survei data dasar ● Pembuatan Profil Desa ● Pendampingan masyarakat Hasil Langkah 1 Pengenalan dan sosialisasi COREMAP dan DPL Identifikasi Isu sosioekonomi. Tahapan dalam Pembentukan Daerah Perlindungan Laut 48 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Peningkatan Pengawasan sumberdaya Langkah 3 Konsultasi Publik • • • • Pembuatan Draf Perdes Diskusi Formal/Informal Perbaikan Draf Perdes Ketentuan DPL Partisipasi Masyarakat. budaya dipahami.

Banyak spesies yang bergerak bebas secara luas dan arus air membawa material genetik melalui jrak yang sangat jauh. Di laut. di laut kasus ekologi untuk proteksi biasanya tidak selalu tergantung pada habitat kritis biota langka beserta ancamannya. yaitu : • • • Untuk menjaga proses-proses ekologi penting dan penyangga kehidupan. Oleh karenanya. habitat biasanya jarang dibatasi secara persis atau secara kritis dibatasi. Daya tahan hidup dari spesises tidak dapat dihubungkan secara spesifik dengan lokasi. Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan. Contoh tentang Batas-batas Kawasan Konservasi Laut yang dapat dipadankan dengan MMA tertera pada Lampiran 2. Melindungi keanekaragaman hayati. Berikut adalah daftar faktor-faktor atau kriteria yang akan digunakan dalam memutuskan bahwa suatu kawasan harus termasuk dalam sebuah MMA atau untuk menentukan batas-batas MMA: • • • Kealamiahan kawasan Kepentingan biogeografi Kepentingan ekologi COREMAP II ADB 49 . namun perlindungan dapat diupayakan dengan pertimbangan perlindungan habitat kritis untuk keperluan komersial.2 Pemilihan Lokasi Kawasan Konservasi Laut Mendefinisikan calon lokasi KKL atau DPL yang akan menjadi bagian dari jaringan KKL mencakup berbagai penekanan pada pertimbanganpertimbangan yang lebih detail dari pada penetapan kawasan lindung di daratan. rekreasi dan perlindungan tipe habitat dengan asosiasi genetik dalam komunitasnya. walaupun alasan utama dari pembentukan kawasan konservasi keduanya sangat mirip.4.

maka penentuan lokasi yang sesuai dengan lokasi zona inti dan penyangga DPL perlu disepakati oleh masyarakat. namun dapat digeneralisasikan untuk digunakan pada DPL berbasis desa. Kawasan-kawasan terumbu karang yang merupakan ”bank ikan karang ” dan mempunyai ketahanan terhadap ‘coral bleaching’ (pemutihan karang) akibat perubahan iklim. Berdasarkan halhal tersebut. Hal ini sangat mempengaruhi pemilihan lokasi dan besar ukuran daerah perlindungan laut. 2002) telah membuatkan kriteria dalam penentuan Kawasan Konservasi. menjadi prioritas untuk dilindungi. Pemilihan lokasi biasanya merupakan suatu kompromi antara pertimbangan kebutuhan praktis (kemudahan pengelolaan) dan prinsip-prinsip konservasi (kondisi terumbu karang yang baik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi). Hal lain yang harus diperhatikan adalah kualitas aspek estetika kawasan ditinjau dari kualitas terumbu karang dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. sejumlah kriteria diajukan untuk menentukan daerah perlindungan laut yang dikelola oleh masyarakat desa IUCN (Salm et al. dan tingkat ancaman terhadap kelestarian terumbu karang. Walaupun kriteria dari IUCN diperuntukkan kepada Kawasan Konservasi yang luas. Berbagai hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah daerah perlindungan laut adalah kemampuan masyarakat desa dalam mengawasi kawasan dimana kegiatan eksploitatif tidak diperkenankan. Namun demikian.• • • • • Kepentingan ekonomi Kepentingan sosial Kepentingan ilmiah Kepentingan nasional dan internasional Kepraktisan dan kelayakan pengelolaan Jika suatu pulau atau suatu desa sudah terpilih menjadi lokasi DPL. kesepakatan masyarakat tentang pengelolaan dan pemanfaatan daerah perlindungan laut. 50 Panduan Pengembangan Marine Management Area . haruslah mempertimbangkan juga faktor-faktor sosial ekonomi.

atau lokasi COREMAP II ADB 51 . 2003) yang dapat diaplikasikan di lokasi COREMAP II. segi lima. peluang ekonomi dan politik. namun dapat sampai 30% dan dapat dipertimbangkan dengan kepadatan biota lainnya Lokasi DPL mencakup perwakilan habitat.3 Sistem Biaya Masuk Pelaksanaan sistem biaya masuk dalam DPL dapat diperlakukan ke dalam kawasan yang mempunyai potensi untuk wisata perairan. padang lamun dan habitat penting lainnya Lokasi DPL masih dalam jangkauan pengawasan dan pantauan masyarakat Ukuran besar/kecilnya kawasan sebenarnya dapat mengacu pada luasan terumbu karang yaitu: 20-30% dari luasan habitat terumbu karang. yaitu rataan dan lereng terumbu. maka berikut adalah kriteria yang telah digunakan untuk pemilihan lokasi DPL pada skala desa di Lampung dan Sulawesi Utara (CRMP. Pada prakteknya luasan DPL di desa mencapai 50 hektar. Faktor sosial-ekonomi dan budaya pada masa lalu masih belum merupakan kriteria dalam penentuan DPL ataupun jaringan DPL yang disebut KKL/MMA. yaitu : • Lokasi DPL sedapat mungkin bukan merupakan lokasi utama penangkapan ikan masyarakat setempat. untuk menghindari konflik yang besar dengan para pengguna sumberdaya • • • • Tutupan karang cukup tinggi.seperti kepentingan publik. idealnya 50%. 4. mangrove. • • • • Lokasi DPL terhindar dari sedimentasi dan polusi dari sungai atau tidak di dekat muara sungai Lokasi DPL merupakan daerah potensi wisata penyelaman DPL merupakan habitat dari satwa langka atau satwa endemik atau tempat pemijahan ikan karang Lokasi DPL sebaiknya mengikuti kontur perairan dan mudah untuk digambarkan batas-batasnya. Dari segi praktisnya. seperti segi empat. dsb.

yang akan melaksanakan pengelolaan DPL. Sumbangan sukarela dari pengunjung dapat juga diusulkan oleh pengelola DPL.yang dijadikan sebagai percontohan dengan frekwensi kunjungan yang tinggi. misalnya untuk pemeliharaan dan pengelolaan DPL (pelampung. Uang denda tersebut harus dikembalikan lagi kepada pengelola untuk tujuan konservasi dan pengelolaan DPL. dsb. tanda batas. Pokmas Konservasi sebagai pengelola DPL di lokasi COREMAP II. 4. Sebagian dana akan diberikan kepada Kelompok Masyarakat Konservasi. papan informasi dsb). yaitu uang yang dibayarkan oleh masyarakat yang melanggar aturan DPL. diterapkan juga uang denda masuk. Salah satu penggunaan dana masuk dapat digunakan untuk pemandu wisata lokal yang dapat dianggap sebagai kompensasi waktu mereka selama bertugas. Pokmas Konservasi sebagai pengelola DPL disarankan membuat suatu struktur organisasi yang sederhana. melaksanakan kegiatan konservasi di lokasi DPL dan di jaringan DPL (MMA Kabupaten/Kota). Penggunaan dana tersebut. misalnya menangkap ikan di dalam zona inti. Besarnya biaya masuk ke DPL yang telah ditetapkan sebagai suatu obyek wisata. Selain biaya masuk dari para wisatawan. Secara garis tugas dan tanggung jawab dari Pokmas Konservasi dalam pengelolaan DPL adalah : 52 Panduan Pengembangan Marine Management Area . untuk mengusulkan rencana kerja tahunan. akan dikoordinasikan oleh Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) yang bersama pemerintah di desa.4 Kelompok Pengelola Kelompok Pengelola DPL adalah Kelompok Masyarakat (Pokmas) Konservasi. dan seksi-seksi. apabila ada keinginan dari wisatawan untuk memberikannya. bendahara. sekretaris. sebaiknya ditetapkan oleh pemerintah daerah. misalnya terdapat ketua Pokmas.

dengan partisipasi aktif dari pemerintah desa. karena nelayan adalah pengguna sumberdaya yang berkepentingan dengan DPL. Bagaimana isi yang ideal dari suatu Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK)? Karena RPTK merupakan dokumen pengelolaan yang akan digunakan untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pengelolaan terumbu karang. pelampung. alat-alat selam/snorkle. Kelompok Konservasi sebaiknya disyahkan dengan Surat Keputusan Desa.• Membuat rencana operasional pengelolaan DPL berdasar pada Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) yang disiapkan oleh LPS-TK • • • Bertanggung jawab dalam pemantauan dan pengawasan DPL. aturan perlu diformalkan menjadi Peraturan Desa atau Keputusan Desa yang khusus mengatur pengelolaan DPL. sehingga pemerintah COREMAP II ADB 53 . 4. maupun juga masyarakat di luar desa. dengan panduan pelaksanaan MCS dari LPS-TK Melakukan pemantauan DPL secara berkala Bertanggung jawab dalam pemeliharaan peralatan DPL. baik di dalam desa yang mengelola DPL. seperti tanda batas. Pada era otonomi daerah. tokoh masyarakat. Peraturan Desa atau Keputusan Desa tersebut akan mengikat masyarakat. Disarankan bahwa pengurus Pokmas adalah nelayan.5 Proses Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa Aturan-aturan yang dibuat berdasar kesepakatan masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengelolaan suatu DPL. kepala kampung/dusun dan nelayan. papan informasi dan pusat informasi • Memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat Pembentukan Pokmas Konservasi pengelola DPL melalui proses pemilihan dan musyawarah desa yang dikoordinasikan oleh LPS-TK.

Konsultasi masyarakat dilakukan dengan berbagai cara. sehingga nantinya Perdes tersebut tidak tumpang-tindih atau kontradiktif dengan aturan adat. Berikut adalah proses dan tahapan pembuatan Peraturan Desa Pengelolaan DPL : • Identifikasi kelompok pengguna. 54 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Contoh Keputusan Desa Tentang Pengelolaan DPL tercantum dalam Lampiran: Contoh Keputusan Kepala Desa tentang DPL. • Sosialisasi dan Persetujuan Formal.) dapat berperan serta mengambil keputusan terhadap aturanaturan yang akan diterapkan untuk pengelolaan DPL. Setelah Rancangan Perdes terbentuk. maka tahap selanjutnya adalah sosialisasi dengan musyawarah dan konsultasi final kepada masyarakat. dusun sampai pada pertemuan formal di tingkat desa. Yang perlu diperhatikan. Konsultan atau fasilitator diperlukan pada tahap ini untuk menuangkan kedalam Rancangan Perdes. dsb. juga harus dipertimbangkan kesepakatan adat setempat yang tidak tertulis.desa dan Pokmas Konservasi mempunyai dasar hukum untuk melarang atau menindak pelanggaran yang terjadi di lokasi DPL. Tahap ini adalah untuk memformulasikan ide masyarakat yang terkumpul kedalam bahasa atau norma hukum. Identifikasi kelompok pengguna diperlukan supaya semua pengguna (pengumpul biota laut. • Konsultasi Penyusunan Perdes. pengambil kayu bakau. penangkar ikan hias. mulai dari musyawarah nelayan. dan selanjutnya disyahkan menjadi Perdes. Tahap awal pertemuan masyarakat adalah penentuan aturan-aturan tentang kebolehan dan larangan dalam DPL. yaitu Peraturan Desa. nelayan pancing. selain aspek partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan Peraturan Desa. • Formulasi aturan dalam Perdes. nelayan jaring.

dampak potensial Perdes baru Langkah 2 Identifikasi Landasan Hukum dan Perundang-Undangan ● Inventarisasi hukum ● analisis SDM ● Analisis Penegakan Hukum Daftar aturan hukum terkait. disosialisasikan kepada masyarakat Gambar 7. analisis pelaksanan aturan terkait Langkah 3 Penulisan Rancangan Peraturan Desa • Susun dari umum ke detil • Gunakan format baku • Ketentuan apa yang boleh dan dilarang • Ketentuan sanksi Draft Ranperdes dalam bentuk awal Langkah 4 Penyelenggaran Konsultasi Publik • Undang seluruh stakeholders • Gunakan komunikasi dua arah • Catat semua masukan Draft akhhir Ranperdes dalam bentuk final Langkah 5 Pembahasan di BPD • Gunakan sebagai konsultasi public • Undang semua stakeholders Ranperdes dalam bentuk final yang siap untuk ditanda-tangani Langkah 6 Sosialisasi & Pengesahan Perdes DPL • Lakukan sosialissi sebelum dan sesudah pengesahan • Undang semua stakeholders Peraturan Desa yang sudah disahkan oleh BPD dan Kepala Desa.Berikut adalah tahapan proses pembuatan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Laut. Tahapan Proses Pembuatan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Laut. Langkah Checklist ● Identifikasi masalah ● Identifikasi akar masalah ● Identifikasi stakeholders ● Identifikasi dampak potensial RanPerdes DPL Hasil Langkah 1 Identifikasi Permasalahan dan Pemangku Kepentingan Daftar masalah dan akar masalah. COREMAP II ADB 55 . dari hasil pembelajaran CRMP USAID dan disesuaikan dengan pengembangan DPL COREMAP II ADB. pemangku kepentingan. analisis SDM.

4. baik di tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat Desa.Contoh dari Sulawesi Utara dan Lampung tentang Materi Muatan dalam Peraturan Desa/SK Desa Tentang Pengelolaan DPL : • Dasar pertimbangan pembentukan DPL • Dasar hukum yang terkait dengan DPL • Ketentuan Umum. meliputi batas dan zonasi • Tugas dan tanggung jawab PokMas Pengelola • Kewajiban dan kegiatan yang diperbolehkan di DPL • Kegiatan yang dilarang di DPL • Sanksi pelanggaran • Pengelolaan Dana • Pengawasan • Penutup • Lampiran Peta DPL. Siklus kebijakan yang dimaksud adalah : (1) Identifikasi dan pengkajian isu (2) Persiapan program (3) Adopsi program secara formal dan penyediaan dana (4) Pelaksanaan Program (5) Evaluasi Gambar 8. 2003) 56 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Siklus Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir (sumber CRMP/USAID.6 Pengelolaan DPL Pengelolaan DPL dilakukan melalui tahapan yang sesuai dengan siklus kebijakan pengelolaan wilayah pesisir terpadu (Integrated Coastal Management/ICM). berisi definisi komponen DPL • Cakupan Wilayah DPL. dilengkapi dengan koordinat.

misi DPL. Rencana Pengelolaan ini merupakan panduan bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk pengelolaan DPL. akan dijelaskan langkah-langkah yang dapat menjadi panduan pengelolaan suatu DPL. yaitu : (1) Pembuatan Rencana Pengelolaan DPL (2) Pemasangan serta pemeliharaan tanda batas dan papan informasi (3) Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup (4) Pengawasan. sehingga masyarakat dapat memetik manfaat untuk perikanan dan wisata berkelanjutan. rencana pengelolaan DPL dapat dirancang sebagai satu bagian dari Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) di lokasi COREMAP atau Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (RPWPT) di tempat lain. agar pengelolaan DPL berfungsi dengan baik.7 Pembuatan Rencana Pengelolaan Suatu DPL haruslah mempunyai Rencana Pengelolaan yang dibuat bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat. Pada bagian ini. haruslah dapat mengidentifikasi isu yang berhubungan dengan pengelolaan DPL. Hasil rangkuman isu-isu pengelolaan suatu DPL dapat diterbitkan menjadi satu kesatuan dengan Profil Desa. dan Penegakan Hukum (5) Pemantauan dan Evaluasi DPL 4. tujuan COREMAP II ADB 57 . yang merupakan tahap awal dari siklus pengelolaan sumberdaya pesisir. yang dapat dianggap menjadi data dasar.Jadi. Identifikasi Isu Pengelolaan.Pemantauan. Selanjutnya data dasar tersebut dapat dijadikan untuk menyusun visi.

kegiatan serta sumber pendanaan. Draft Perencanaan Strategis Pengelolaan Perikanan secara berkelanjutan Brosur. Pada Lokasi COREMAP pemerintah desa menyusun Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). maka Rencana Pengelolaan sebaiknya menjadi bagian dari RPTK tersebut. Rencana Pengelolaan suatu DPL dapat merupakan bagian dari rencana umum pengelolaan sumberdaya pesisir atau pun dapat disusun secara terpisah. strategi. Referensi yang relevan untuk pembuatan rencana pengelolaan perikanan. Fasilitator Desa dan LSM Pendamping. (Lihat Lampiran1). 58 Panduan Pengembangan Marine Management Area . dilakukan perumusan program kerja pengelolaan terumbu karang terpadu yang terarah berdasarkan isu dan masalah yang ada. berdasarkan visi dan sasaran. Di tahap awal. Program tersebut dihasilkan dari kesepakatan bersama antara berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Pengelolaan Berbasis Masyarakat (Coremap II. 2005). Penyusunan dan Penetapan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) Tahapan penyusunan kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang terpadu berbasis masyarakat yang disusun bersama-sama oleh LPSTK dan masyarakat dengan dipandu oleh Motivator Desa. baik dari aspek legal maupun teknis Peta-peta tematik yang telah didigitasi seperti peta Rencana Strategis Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan. buku-buku dan alat-alat tulis.pengelolaan DPL. Adapun bahan dan alat yang diperlukan untuk pembuatan rencana pengelolaan terumbu karang dimaksud terdiri dari : Hasil Pengkajian cepat (RRA) yang telah dilakukan Hasil Pengkajian Partisifatif (PRA) yang telah dilakukan berupa profil desa/kampung/pulau Hasil Studi baseline dan monitoring CRITC.

LSM Pendamping atau Fasilitator memfasilitasi pembentukan tim inti penyusunan tingkat desa yang terdiri dari anggota LPSTK dan tim pendukung yang terdiri dari Kepala Desa dan BPD (Badan Perwakilan Desa) 2. COREMAP II ADB 59 . Tim inti melakukan penggalangan input dari berbagai pihak yang berada di desa/kampung/pulau. Tokoh Agama.Sistematika RPTK meliputi : Gambaran Umum (Profil) Desa Isu-isu pokok pengelolaan terumbu karang terpadu Visi pengelolaan terumbu karang Sasaran/target yang ingin dicapai Strategi dan jenis jenis kegiatan yang akan dilakukan Organisasi pelaksana Waktu pelaksanaan dan biaya yang Pihak-pihak yang akan terlibat dalam kegiatan pembuatan rencana pengelolaan terumbu karang adalah : Kepala Desa/Kampung Badan Perwakilan Desa (BPD) Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Nelayan setempat Pengumpul /penggarap hasil sda dari terumbu karang. perdagangan dan lain sebagainya. termasuk pendatang yang melakukan aktifitas penangkapan. Strategi Pelaksanaan Pembuatan RPTK : 1.Motivator Desa Fasilitator Masyarakat dan LSM Pendamping Anggota masyarakat desa secara umum (Tokoh Masyarakat. 3. bakau dan padan lamun Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang telah terbentuk . Tim inti dan pendukung menyusun jadwal dan agenda pembuatan RPTK. Kegiatan ini dapat berbentuk diskusi dusun (kampung). Organisasi Wanita. dsb).

pengelolaan sumberdaya berkelanjutan. beragamnya pemangku kepentingan yang memiliki aspirasi berbeda dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ekosistem terumbu karang. Tim inti dan pendukung melakukan verifikasi. teknis dan lain sebagainya pada tingkat Kecamatan dan Kabupaten. selanjutnya disosialisasi dan dikonsultasikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan feedback.interview. kompilasi serta penyelarasan data dan informasi yang akan dimasukkan sebagai bahan-bahan dalam pembuatan draft RPTK. Draft yang telah jadi. 9. observasi. Proses pembuatan RPTK membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang. sistematika dan lain-lain yang diperlukan. Tim inti dan pendukung meminta bantuan kepada LSM Pendamping. 4. kurang lebih 6 hingga 9 bulan. Fasilitator dan PIU untuk penyesuaian redaksi. mengingat bervariasinya hal-hal yang perlu diatur dalam RPTK. RPTK merupakan produk dokumen yang sifatnya strategis dan vital dalam pelaksanaan pengelolaan sumberdaya. Dalam konteks demikian. selanjutnya mengkonsultasikan dengan tim pendukung. Isi dari materi-materi yang termuat dalam RPTK yang perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan dokumen RPTK dan tahapan-tahapan teknis yang perlu dilakukan. Potensi-potensi ini dapat digunakan dengan berbagai cara termasuk pengelolaan perikanan jangka panjang yang berkelanjutan dan pariwisata. 5. Namun dengan tekanan pembangunan ekonomi dan bertambah harapan masyarakat maka terdapat tingkat resiko yang tinggi dimana tidak ada pengelolaan akan bertahan lama dalam waktu yang panjang tanpa perencanaan pengelolaan yang disetujui dan dipahami oleh 60 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Tim pendukung melakukan konsultasi dengan berbagai pihak utamanya yang terkait dengan biota laut. 7. Kepala Desa akan menertibkan Surat Keputusan tentang Rencana Pengelolaan Terumbu Karang berbasis masyarakat. Tim inti dan pendukung melakukan revisi secara akomodatif berdasarkan masukan (feedback) yang diperoleh. antara lain : (1) Penataan Wilayah atau Sistem Zonasi Wilayah laut dan pantai dalam kawasan lokasi program COREMAP mengandung sumberdaya laut yang kaya. aspek legal. 6. Tim inti melakukan validasi data dan informasi terkait dengan aspirasi/kepentingan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang. dan 10. melalui workshop tingkat desa 8.

Dengan berbagai bentuk kepentingan dan pemanfaatan sumberdaya umumnya membutuhkan perencanaan Zonasi dan Tata Ruang yang dapat mengalokasikan pemanfaatan dan tingkat dampaknya terhadap wilayah-wilayah spesifik.masyarakat lokal yang memfasilitasi antara pemanfaatan dan perlindungan sumberdaya alam. ada wilayah yang menjadi pusat masyarakat menangkap ikan untuk umpan. karena COREMAP Phase I telah melaksanakan pemilihan lokasi DPL-DPL. lokasi pemacingan umpan dan lain-lain). (2) Sistem dan Mekanisme Pengelolaan Masyarakat diharapkan paham dan menerima kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan rencana yang dibuat dalam RPTK.bagaimana mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dan masih banyak lagi hal-hal yang harus diatur untuk mendukung pelaksanaan sistem zonasi yang telah dibuat. Suatu penataan wilayah yang berbasis pada masukan dan diskusi masyarakat serta dianalisa oleh tim formulator akan menghasilkan dasar untuk kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Participatory Rural Appraisal (PRA) akan mengidentifikasi bahwa ternyata pada wilayah-wilayah tertentu memiliki kekhasan sendirisendiri. pembesaran ikan dan lain-lain) Wilayah perlindungan masyarakat atau konservasi sebagai Zona Inti dan Wilayah yang menjadi alur transportasi perairan pedalaman Desa atau pulau. PRA telah dilakukan untuk Kabupaten Lingga. ada wilayah yang menjadi pusat masyarakat memancing ikan kerapu dan lain sebagainya. Penataan wilayah atau sistem zonasi selain mengatur pola pemanfaatan sumber daya laut yang tersedia agar dapat berkelanjutan juga diharapkan dengan adanya penataan wilayah atau sistem zonasi ini dapat meredam kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik lokasi tangkapan antar pengguna dari dalam dan luar. Dalam sistem dan mekanisme pengelolaan secara rinci dibahas tentang : COREMAP II ADB 61 . Beberapa kategori wilayah yang penting dibuat yaitu: Wilayah pemanfaatan tradisional (wisata. kerang. Keadaan inilah yang harus dikelola agar keberadaan wilayah dan kekhasan tersebut dapat terpelihara. Wilayah pengembangan budidaya laut (rumput laut. sebagai contoh terdapat wilayah yang menjadi pusat keanekaragaman karang dan ikan hias.

Dalam RPTK telah dirumuskan beberapa program yang dinggap dapat mendukung visi dan misi desa atau pulau antara lain : a. Pembagian tugas seperti ini dimaksudkan agar tumbuh sikap dan rasa tanggung jawab terhadap tugas. yang direkomendasi oleh masyarakat. Program konservasi dan penyadaran masyarakat. disana tertera dengan jelas siapa yang melakukan apa. Program peningkatan mutu pendidikan. e. Program peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat. Definisi kawasan konservasi (minimum 10 % daerah terumbu karang yang ada di desa). dan Tata cara pengelolaan dan menjalankan sistem zonasi. f. Untuk mengefektifkan sistem dan mekanisme pengelolaan dibutuhkan seperangkat kelembagaan atau organisasi yang akan bertanggung jawab menjadi pelaksana RPTK dan sebuah kerangka tata hubungan kerja antar unsur di tingkat desa atau pulau yaitu Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK). Masing-masing unsur yang terlibat dalam struktur pelaksana RPTK maupun dalam tata hubungan kerja memiliki gambaran tugas masingmasing (seperti yang tercantum dalam penjelasan kelembagaan RPTK). Jenis biota laut yang boleh dan tidak boleh ditangkap atau dimanfaatkan (jenis biota laut yang dapat dimanfaatkan secara terbatas). kesehatan dan kesetaraan jender. d. Jenis alat tangkap yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam masing-masing zona.Jenis kegiatan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam zona yang telah ditetapkan. (3) Perencanaan Program Keberadaan program-program sangat dibutuhkan untuk menjalankan RPTK. setiap rencana program yang disusun dalam RPTK dilakukan oleh masyarakat. akan tetapi melibatkan terkait berdasarkan kapasitas dan kompetensinya. Program penentuan daerah perlindungan masyarakat (DPL) Program pengembangan Mata Pencaharian Alternatif (MPA). Alur transportasi tradisional yang boleh dilewati. c. yang bersifat pengawasan dan penegakan hukum Pelaksanaan dari tidak hanya akan pihak-pihak yang Program-program 62 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Program Pembangunan Prasarana Pendukung RPTK. b.

membius dan lain-lain. seperti pelanggaran terhadap areal perlindungan atau kawasan konservasi masyarakat (community sanctuary). Untuk penerapan dan keberlanjutan materi-materi yang terkandung dalam sanksi-sanksi sebaiknya bersumber dari kearifan lokal yang sejak lama dianut oleh masyarakat. maka penanggung jawab pelaksana RPTK akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum formal. Kepatuhan masyarakat atau pihak-pihak lain terhadap aturan bergantung bagaimana sanksi ditegakkan. Sementara pelanggaran yang bersifat kriminal lingkungan dan bobotnya besar seperti membom.misalnya akan didukung oleh aparat penegak hukum formal (Polisi. pengalaman dan proses berfikir masyarakat. Sehingga aturan baru seyogyanya berbasis pengetahuan. Jagawana dan Tentara AD/AL). maka akan semakin rapuh pula aturan yang telah dibuat. tetapi sebaliknya semakin konsisten untuk menegakkan sanksi akan semakin kuat aturan yang ada. Penerapan sanksi dilakukan dengan pola bertingkat yang juga bergantung seberapa besar bobot pelanggaran yang dilakukan. Dalam RPTK diatur jenis-jenis pelanggaran yang dapat diselesaikan ditingkat desa atau pulau oleh penanggung jawab pelaksana RPTK lokal. Program-program yang lain yang membutuhkan biaya yang relatif besar akan didukung oleh pihakpihak ketiga atau Pemerintah Kabupaten melalui unit-unit kerjanya dan mungkin juga dari pihak ketiga seperti dari COREMAP melalui Dana Bantuan Desa (Village Grant). masuk pada wilayah-wilayah yang tidak dibolehkan dan lain-lain. COREMAP II ADB 63 . (4) Sanksi-Sanksi Hal yang paling mempengaruhi kesuksesan sebuah perencanaan utamanya yang dibangun di atas konsensus berbagai pihak (stakeholders) adalah konsekuensi dari konsensus tersebut yang biasanya dituangkan dalam bentuk sanksi-sanksi. Semakin longgar penegakan sanksi.

fokus dan berdaya guna. masyarakat dapat mengelola sumberdaya secara sistematis.Gambar 9. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) (Sumber COREMAP II. kapasitasnya semakin baik. jaringan kemitraannya semakin luas. Dengan membuat perencanaan sumberdaya dalam bentuk Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). dengan demikian masyarakat akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya untuk mengelola sumberdaya secara efektif. dan dapat menjamin strategis keberlanjutannya. untuk dimanfaatkan saat ini dan demi kepentingan generasi yang akan datang. 64 Panduan Pengembangan Marine Management Area . 2005) Adapun tahapan-tahapan. maksud pada tiap langkah tersebut serta jenis detail kegiatan penyusunan sebuah RPTK seperti terlihat pada Gambar 9 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Tahapan Pembuatan RPTK (1) Sosialisasi dan Diseminasi Masyarakat harus mengetahui dan memahami pentingnya sumberdaya ekosistem terumbu karang dikelola secara baik. COREMAP hadir untuk mendukung dan memfasilitasi masyarakat agar pemahamannya semakin meningkat.

Pembuatan profil desa/kampung dilakukan dalam bentuk PRA (3) Pembentukan Tim Penyusun Dais dan berbagai kepentingan harus diorganisir serta dikelola secara baik. dan mengolah bahan-bahan yang akan dijadikan materi-materi dalam RPTK. akan dibentuk tim penyusun oleh LPSTK yang terdiri sekitar 7 – 10 orang. Membuat profil desa/kampung salah satu cara untuk mengumpulkan dais tentang kondisi obyektif di desa. mengkompilasi. Untuk itu. Fasilitator Masyarakat dan Motivator Desa. Selanjutnya SETO dan Fasilitator Masyarakat akan memfasilitasi pembuatan dokumen RPTK. merekap. dengan pertimbangan merekalah yang memiliki banyak informasi dan paling mengenali desa/kampungnya. Penyusunan draf RPTK dilakukan melalui pemahasan pleno oleh tim yang dibantu dan difasilitasi oleh SETO. Tim ini akan melakukan diskusi tingkat dusun. Pembuatan profil desa/kampung dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. diskusi tingkat lingkungan dan diskusi tingkat desa/kampung untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya Dais. (3) Membuat Draft RPTK Hasil Dais dan aspirasi dari masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang telah dikumpulkan akan diolah dan selanjutnya dikonstruksi menjadi dokumen RPTK sesuai dengan sistematika yang ada. sehingga hal-hal yang penting untuk dimasukkan dalam RPTK akan termuat. dengan berkonsultasi dengan konsultankonsultan COREMAP utamanya konsultan manajemen perikanan dan COREMAP II ADB 65 .(2) Pembuatan Profil Desa/Kampung Data dan informasi (DAIS) tentang kondisi sosial dan sumberdaya merupakan bahan-bahan dalam membuat RPTK pada lingkup desa/kampung. Tim ini akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan aspirasi.

Apabila telah disepakati materi-materi RPTK. Semua tanggapan. (6) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Rencana pengelolaan merupakan dokumen yang memiliki tata aturan yang sistematis dan jelas. masukan dan kritikan akan dicatat oleh tim penyusun. masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam penyusunan RPTK perlu memahami kerangka fikir. Kepala Desa dan BPD melalui rapat konsultasi. Kepala Desa dan BPD akan membahas substansi RPTK dan hal-hal yang lain yang terkait dengan proses pengesahaannya. maka Kepala Desa akan mengesahkan RPTK atas persetujuan BPD menjadi lembar desa sebagai salah satu pedoman pembangunan tingkat desa. dengan demikian akan memudahkan bagi masyarakat dan pihak-pihak lain untuk memahami dan melaksanakannya. dan lainlain. (5) Persetujuan dan Pengesahan Hasil revisi dokumen akan dibahas kembali secara mendalam oleh tim penyusun. kelompok disosialisasikan kepada khalayak umum melalui musyawarah desa oleh masyarakat. yang kemudian dilakukan analisis untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu dimasukkan sebagai revisi dokumen. (4) Konsultasi Publik dan Revisi Akomodatif Dokumen RPTK yang dihadiri yang telah dibuat dalam bentuk draf akan unsur pemerintah desa. Sebelum menyusun/membuat RPTK. struktrur dan alur penyusunannya. petugas teknis instansi. BPD. Acara akan fifasilitasi oleh SETO/Fasilitator Masyarakat/Motivator Desa. Agenda utamanya adalah penyampaian/presentasi RPTK oleh tim penyusun.konsultan legal terkait dengan substansi dan teknik penulisan dokumen. 66 Panduan Pengembangan Marine Management Area . aparat hukum lokal.

Sasaran Terjaminnya Jangka kelestarian Panjang sumberdaya 2. Sasaran Jangka Panjang : 1. Pembagian areal terumbu karang (zonasi) ke dalam zona lindung dan zona pemanfaatan 2. Masyarakat dapat memahami arti penting ekosistem terumbu karang bagi lingkungan dan kehidupan manusia. dan 3. Strategi Sasaran Program 1. Tidak terjadi perusakan terhadap ekosistem terumbu karang. 4. Pengintegrasian COREMAP II ADB 67 hak-hak pengelolaan tradisional ke .Sebagai gambaran. 3. berikut disajikan sebuah struktur dan alur penyusunan rencana isu pengelolaan hingga terumbu karang. 2. Penghasilan masyarakat meningkat. kegiatan mulai dari mengidentifikasi penyusunan pengelolaan ekosistem terumbu karang. Matriks Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Tersedianya lembaga keuangan mikro di desa/kampung sebagai penunjang pelaksanaan usaha produktif masyarakat. Tabel 2. Masyarakat berpartisipasi dalam pengelolaan terumbu karang. Sasaran Jangka Pendek : 1. Contoh VISI dalam RPTK: Terjaminnya kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat setempat melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat. 2. Seluruh areal terumbu karang yang ada telah ditata sesuai dengan fungsinya ke dalam zona inti (10 % daerah terumbu karang). Sasaran terumbu Jangka karang dan Pendek kesejahteraan Penyusunan masyarakat Rencana setempat Pengelolaan melalui Terumbu penerapan Karang prinsip-prinsip Berkelanjutan Visi Kegiatan 1. Masyarakat dapat mengerti program pengelolaan terumbu karang.

1. 3. Dasar pengelolaan. dalam rencana pengelolaan Konservasi dan rehabilitasi Penyusunan dan penetapan aturan pemanfaatan sumberdaya alam laut Penyusunan mekanisme pemecahan konflik Identifikasi jenis-jenis usaha Pemilihan jenisjenis usaha yang akan dikembangkan Penyusunan studi kelayakan Pelatihan teknis dan manajemen usaha Pembentukan Lembaga Keuangan mikro dan Manajemen Idenffikasi kebutuhan prasarana Penetapan jenis jenis prasarana dasar yang akan dibangun Penyusunan Rancangan Teknis dan Usulan Kegiatan. Altematif 5. Mata Pencaharian 4.pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan usaha ekonomi bagi masyarakat setempat. 1. 2. 4. Pengembangan 2. 5. Identifikasi jenis-jenis pelatihan yang diperlukan 2. Pengembangan 3. Pemilihan jenis- 68 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Kapasitas pengelolaan uang desa dan Prasarana 3. Peningkatan Kapasitas Masyarakat 1.

COREMAP II ADB 69 . Tanda batas diusahakan dibuat dengan material sederhana namun kuat dan tahan terhadap kondisi laut. maka diperlukan pemasangan patok batas dengan ditancapkan pada tanah. seperti kuning dan merah. yang memungkinkan untuk kemudahan upaya pengelolaan dan khususnya pemantauan. setelah Peraturan Desa ditetapkan. Dengan survei tersebut diharapkan panjang tali pelampung serta pemberat/jangkar dapat dipasang sesuai dengan kedalaman perairan.8 Pemasangan tanda batas dan pemeliharaan Lokasi DPL perlu dibuatkan tanda batas. maka peneglolaan dan pemantauan sulit untuk dilakukan.jenis kegiatan pelatihan Penyusunan rencana kegiatan pelatihan. arus dan tidak korosif. seperti tahan terhadap gelombang. Material patok dari beton atau baja anti karat biasanya merupakan bahan patok batas yang ideal. sehingga diusahakan pemasangan tanda batas dilakukan pada saat pasang tertinggi. Batas-batas kawasan diupayakan di pasang baik di pantai maupun di laut. Warna patok batas di laut atau di darat diupayakan yang mencolok. 4. Jika tanda batas tidak ada atau kurang jelas terlihat. Jika batas DPL mencakup daratan pantai. Pemasangan tanda batas dilakukan setelah survei kedalaman perairan melalui penyelaman yang dilakukan oleh anggota masyarakat dan ahli. Pertimbangan dalam pemasangan adalah pasang-surut perairan laut. supaya tanda pelampung tetap muncul di permukaan air.

misalnya : ‘Terumbu Karang Sehat Ikan Berlimpah’ atau ‘ Kekayaan Alam Laut adalah bukan warisan nenek moyang. pengajaran. melalui kegiatan pendidikan. ekosistem terumbu karang dan pengelolaan DPL. biasanya Papan Informasi tersebut juga dapat dihiasi dengan gambar/poster tentang Konservasi Terumbu Karang dan Perikanan. tetapi pinjaman dari anak cucu kita’ . Papan Informasi sangat penting sebagai upaya sosialisasi kepada masyarakat dan pengunjung/wisatawan atau juga kepada masyarakat di luar desa. Selain perlu mempertimbangkan bahan Papan Informasi yang awet atau tahan lama. misalnya dengan mengganti bagian yang rusak atau hilang. Pelatihan dan penyuluhan semasa proyek masih berjalan dilaksanakan oleh COREMAP. peningkatan keterampilan. Pendidikan tentang lingkungan hidup dan pengelolaan terumbu karang dan operasional DPL bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan pesisir.Pemeliharaan Tanda Batas diperlukan secara rutin. yang terdapat dalam Peraturan Desa Tentang Pengelolaan DPL. Pendidikan lingkumgan hidup adalah upaya penyadaran dan peningkatan pengetahuan masyarakat. pelatihan. sedang nantinya peran para Kader Desa dan Pengelola DPL 70 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Papan Informasi biasanya berisi tentang pesan-pesan penting. diskusi-diskusi formal dan informal (focus group discussion) tentang lingkungan hidup yang ada di sekitar mereka termasuk pengelolaan sumberdaya alam. seperti larangan. sehingga mereka dapat mengelola dan memanfaatkan sumberdaya pesisir di desa mereka secara berkelanjutan. penyuluhan. 4. dsb.9 Pendidikan Lingkungan Hidup Pendidikan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan DPL. Kelompok Pengelola akan bertanggung jawab untuk pemeliharaan tanda-tanda batas DPL.

11 Pemantauan dan Evaluasi COREMAP II ADB 71 .10 MCS dan Penegakan Hukum DPL yang telah ditetapkan melalaui Peraturan Desa perlu diawasi dari kegitan-kegiatan masyarakat yang mungkin belum memahami manfaatnya. serta Standar Operation Procedures (SOP) tentang mekanisme pelaporan. Oleh karena itu. maka disarankan untuk membuat Kelompok Pengawasan Masyarakat (Pokmaswas). Pokmaswas perlu dilatih tentang penyidikan dan prosedur penangkapan. Apabila terjadi pelanggaran aturan DPL. Untuk menjamin adanya pengawasan dan penegakan aturan. termasuk terumbu karang Kemungkinan ancaman dan degradasi sumberdaya alam di sekitar mereka 4. tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. 4. Sanksi yang dikenakan haruslah sesuai dengan ketentuan dalam Perdes. Jika seseorang melanggar aturan beberapa kali. dapat dikatakan pelanggaran tersebut sudah layak untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum. maka aturan yang telah disepakati bersama perlu ditegakkan dan sanksi diberikan kepada pelanggar. beserta barang bukti. Ada tiga hal yang dapat dipakai menjadi prinsip dasar pemahaman masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang.ataupun Penyuluh Perikanan dapat menggantikan peran sebagai penyuluh tentang pengelolaan lingkungan hidup di desa. yaitu : • • • Rasa memiliki masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang dan lokasinya Manfaat ekologis dan ekonomis sumberdaya alam.

dsb. Dengan adanya pemantauan dan evaluasi. seperti informasi jumlah pertemuan. baik dampak terhadap perbaikan lingkungan maupun dampak sosial-ekonomi masyarakat. maka program yang telah dibuat dapat terus disesuaikan dengan perubahan permasalahan. Kegiatan pemantauan dan evaluasi memerlukan informasi yang dikumpulkan secara periodik. perubahan pola pemanfaatan sumberdaya terumbu karang. kita dapat mengetahui efektifitas dari DPL yang telah kita kembangkan. maka proses belajar secara mandiri dalam pengelolaan DPL (pengelolaan adaptif) dapat berjalan sesuai dengan perubahan situasi yang berkembang di lokasi. dsb. merupakan hasil dari kegiatan pemantauan dan evaluasi. metode pemantauan kondisi terumbu karang dapat menggunakan metode Manta Tow dengan snorkle. seperti perubahan tutupan karang dan jumlah kepadatan biota dalam DPL. jumlah penurunan kegiatan penangkapan ikan yang merusak.Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi merupakan hal yang penting dalam siklus kebijakan pengelolaan DPL. maka kita dapat mengamati kemajuan setelah penetapan DPL dan pengelolaan DPL diberlakukan. Sedang pemantauan dan evaluasi tentang pola pemanfaatan sumberdaya. Dari hasil pemantauan dan evaluasi. Melalui kegiatan pemantauan dan evaluasi. jumlah partisipasi masyarakat. misalnya tentang frekwensi penggunaan alat-alat yang merusak. Informasi tentang dampak ekologis. maka perlu diupayakan metode pemantauan dan evaluasi yang mudah dan tidak memberatkan masyarakat. Mengingat untuk mendapatkan informasi dari kegiatan pemantauan dan evaluasi memerlukan biaya yang cukup mahal. Misalnya. Melalui pemantauan dan evaluasi. 72 Panduan Pengembangan Marine Management Area . maka diperlukan suatu pola pemantauan dan evaluasi yang sederhana tetapi dapat dipertanggung jawabkan. Agar supaya kegiatan pemantauan dan evaluasi dapat dilaksanakan oleh masyarakat.

maka peran dari universitas diperlukan dalam penyiapan para kader untuk pemantauan kondisi tutupan terumbu karang. 4. Implementasi dalam bentuk penetapan daerah perlindungan laut tanpa proses yang mengakomodasi aspirasi masyarakat harus dihindarkan. Oleh karena itu implementasi adopsi daerah perlindungan laut di tempat lain harus melihat perkembangan kesiapan masyarakat. sebuah proyek yang berciri community-based sebaiknya melakukan pemantauan terhadap kesiapan masyarakat tersebut. kebanggaan masyarakat desa sebagai desa yang berhasil terkandung mewujudkan keinginannya. Selain itu. Hal ini disebabkan karena kemajuan proyek harus didasarkan pada kesiapan masyarakat untuk maju ke tahap proyek selanjutnya. mengingat sejarah yang mereka alami dan mendengar atau menyaksikan keberhasilan upaya konservasi melalui pendirian daerah perlindungan laut. Untuk pemantauan kondisi terumbu karang. sesuai dengan pesan yang Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004. setelah mendapat pelatihan dari para Fasilitator Lapangan dari COREMAP. turut dalam meningkatkan motivasi tersebut. Untuk lebih menjamin kesinambungan tanggungjawab masyarakat dalam mengelola daerah perlindungan laut.12 Penyebarluasan konsep DPL ke lokasi lain (scaling-up) Masyarakat desa diharapkan semakin termotivasi setelah mengikuti penyuluhan. maka prinsip nomor satu yang menekankan pada perlunya masyarakat diberi kesempatan (waktu). Dari sudut pelaksanaan proyek. Oleh karena itu.Kelompok Pengelola dan LPS-TK diharapkan menjadi motor untuk kegiatan monitoring dan evaluasi. COREMAP II ADB 73 . Jika hal ini terjadi. ciri community-based memberikan implikasi bahwa waktu penyelesaian tahapan proyek ataupun pencapaian milestone perkembangan proyek kemungkinan mengalami keterlambatan (delayed). maka yang akan ada hanyalah papan-papan tanda adanya daerah perlindungan laut tanpa tindakan pengelolaan sebagaimana mestinya.

Memfasilitasi pembentukan dan pembinaan kelompok pengelola. Mengadakan asisten penyuluh lapang dari lingkungan desa setempat.Beberapa prinsip yang diterapkan proyek untuk memfasilitasi pendirian DPL: • • • • • • • Perlu ada waktu yang cukup bagi masyarakat untuk memahami persoalan dan isu. Menyediakan informasi/data sekunder hasil survei-survei. Menempatkan masyarakat. Penyuluhan tentang DPL dan masyarakat mengkonsultasikan idenya ke berbagai pihak. Mengakomodasi peran penting pemerintahan desa dan instansi lainnya penyuluh lapang secara tetap di tengah 74 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

T.Siirila. 77pp. E.2003.PUSTAKA COREMAP II ADB. Pedersen. Marine Protected and Coastal Protected Areas.Rotinsulu. B. www.R. M.A.Lmmanetwork. B. Rencana Pembangunan dan Pengelolaan Pulau Sebesi. COREMAP II WB. Departemen Kelautan dan Perikanan.bunaken.C. N. 2000. M. C. Lampung Selatan. Aguide for Planners and Managers.Haryanto. Departemen Kelautan dan Perikanan.O.Susanto. V Erdmann. www. CRMP/USAID. IUCN. 2002. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan UNDANG-UNDANG Daerah UNDANG-UNDANG 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan COREMAP II ADB 75 . J. Proceeding of Coastal Zone Asia Pacific Conference.Kasmidi. Pangalil. H. JJ. B. A. 2004. 2004. Locally-Managed Marine Management Area.Sukmara. Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Wowiling.M. Jakarta..org M. 2006. M.Yulianto.Tangkilisan. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.Crawford.R. Wiryawan. Science of Marine Protected Area.. 370 pp.I. I. and Arsyad. Sustainability of an Integrated Coastal Management Model:Case Study in South Lampung. Australia.org Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.. 2005.pisco. B. Salm.Clark. Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan (draft Agustus 2006).R. Panduan Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat. Direktorat Jenderal Kelautan. Indonesia. No.info Wiryawan. Panduan Pembentukan&Pengelolaan Daerah Pelindungan Laut Berbasis Masyarakat. CRMP/USAID. Direktorat Jenderal Kelautan. www. Manual Tata Kelembagaan COREMAP II ADB (Governance Manual). Mongdong. 2003. Brisbane. 2002. Merrill P.Dimpudus. 49pp PISCO. The Bunaken National Marine Park CoManagement Initiative. Tulungen. R.Bayer. Departemen Kelautan dan Perikanan.

76 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

Contoh Surat Keputusan Kepala Desa Tentang Aturan Pengelolaan DPL. 8) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 9) Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 32 tahun 2000 Tentang Peraturan Desa Dengan Persetujuan Badan Perwakilan Desa Memutuskan Menetapkan: Aturan Daerah Perlindungan Laut BAB I COREMAP II ADB 77 .LAMPIRAN 1. dan beberapa tokoh masyarakat untuk menentukan aturan Daerah Perlindungan Laut Mengingat: 1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya 2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia 3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah 5) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan 6) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. Badan Perwakilan Desa. SURAT KEPUTUSAN KEPALA DESA TEJANG PULAU SEBESI NOMOR : 140/02/KD-TPS/16.01/I/2002 TENTANG ATURAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT Menimbang: a. Hasil musyawarah pada hari Jumat. b. 25 Januari 2002 di Balai Desa Tejang yang dihadiri oleh aparat Desa Tejang. Adanya Daerah Perlindungan Laut di Desa Tejang yang bertujuan untuk melindungi kawasan terumbu karang. 7) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian dan/atau Perusakan Laut.

3. Daerah Perlindungan Laut terdiri dari 4 lokasi yang ada di pesisir Pulau Sebesi yang bernama Kebon Lebar dan Sianas. Nelayan adalah penduduk yang pekerjannya sebagai pencari ikan di laut yang berasal dari desa dan atau luar Desa Tejang. Masyarakat Desa adalah seluruh penduduk Desa Tejang Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku. Pulau Umang dan Kayu Duri. BAB III 78 Panduan Pengembangan Marine Management Area . d. BAB II CAKUPAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT Pasal 2 1. Titik batas II merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah laut dari titik batas I c. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kayu Duri adalah: a. 2. b. Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis lengkung yang mengikuti garis pantai. dengan surat keputusan Kepala Desa 4. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kebon Lebar dan Sianas adalah: a. d. Pulau Sawo. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Sawo adalah seluruh kawasan terumbu karang yang ada di Pulau Sawo 2. Badan Pengelola Daerah Perlindungan Laut adalah organisasi masyarakat yang dibentuk melalui keputusan bersama masyarakat. Titik batas I merupakan titik yang bernama Pekonnampai b. 1. Titik batas I merupakan titik batas antara Regahan Lada dan Kebon Lebar. 3. Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah laut dari titik batas III e. Titik batas III merupakan daerah yang bernama Kayu Duri. Daerah Perlindungan Laut adalah bagian pesisir dan laut tertentu yang ternasuk dalam daerah administratif Pemerintahan Desa Tejang. Titik batas II merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah laut dari titik batas I c. Titik batas III merupakan daerah Sianas yang bernama Sianas.KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah laut dari titik batas III e. 2. Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis lengkung yang mengikuti garis pantai. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Umang adalah seluruh kawasan terumbu karang di sekitar Pulau Umang. Pasal 3 Zona penyangga merupakan daerah disekitar Daerah Perlindungan Laut dengan radius sejauh 50 meter.

terlebih dahulu melapor dan memperoleh ijin dari Badan pengelola. 4. Badan Pengelola berhak melakukan penangkapan terhadap pelaku yang terbukti melanggar ketentuan dalam keputusan ini. Badan Pengelola yang dibentuk bertugas membuat perencanaan pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang disetujui oleh masyarakat. yaitu penelitian. 3. Badan Pengelola bertanggung jawab dalam perencanaan lingkungan hidup untuk pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang berkelanjutan. diperuntukkan sebagai dana pendapatan untuk pembiayaan petugas atau kelompok pengawasan/patroli laut. 2. dan wisata. Setiap penduduk desa dan atau kelompok mempunyai hak dan bertanggung jawab untuk berpartisipasi dalam perencanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah yang dilindungi. mengawasi dan memelihara kelestarian daerah pesisir dan laut yang dilindungi. yang akan ditentukan kemudian oleh Badan pengelola. menjaga pelestarian dan pemanfaatan Daerah yang dilindungi untuk kepentingan masyarakat. BAB V TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENERIMAAN DANA Pasal 6 1. pembelian peralatan penunjang seperti pelampung. 3. 4. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam Daerah yang dilindungi (Zona Inti). Badan Pengelola yang dibentuk bertugas untuk mengatur. 2. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam Zona Penyanggah. adalah kegiatan orang-perorang dan atau kelompok. dan tata cara pemungutannya oleh petugas yang ditunjuk melalui keputusan bersama Badan pengelola Daerah COREMAP II ADB 79 . Setiap penduduk desa wajib menjaga. Badan Pengelola berhak melaksanakan pengamanan atas barang dan atau alat-alat yang dipergunakan sesuai ketentuam yang berlaku dalam keputusan ini. harus terlebih dahulu melapor dan memperoleh ijin dari Badan pengelola. bendera laut dan biaya lain-lain yang diperlukan dalam upaya perlindungan daerah pesisir dan laut. pemeliharaan rumah/menara pengawas. dengan membayar biaya pengawasan dan perawatan. 5. BAB IV KEWAJIBAN DAN HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN Pasal 5 1.TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB BADAN PENGELOLA Pasal 4 1. Setiap orang atau kelompok yang akan melakukan kegiatan dan atau aktivitas dalam Daerah Perlindungan (Zona Inti). Dana yang diperoleh dari kegiatan dalam daerah perlindungan. 5. adalah pemanfaatan terbatas oleh nelayan.

dan menandatangani surat 80 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Pasal 8 Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona inti sebagai berikut : 1. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati kecuali ikan 3. Membuang sampah disekitar Daerah Perlindungan Laut 9. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu di sekitar Daerah Perlindungan Laut pada malam hari 5. Membuang sampah 6.Perlindungan Laut. Melakukan penambangan BAB VII SANKSI Pasal 10 1. Memelihara rumput laut dan ikan karang disekitar Daerah Perlindungan Laut 7. Melakukan penambangan di Daerah Perlindungan Laut Pasal 9 Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona penyangga sebagai berikut : 1. 2. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat pertama berupa permintaan maaf oleh pelanggar. Memancing/menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap 3. Menempatkan bagan di sekitar Daerah Perlindungan Laut 8. Membuang jangkar di sekitar Daerah Perlindungan Laut 6. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu pada malam hari 4. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati 4. mengembalikan semua hasil yang diperoleh dari Daerah Perlindungan Laut dan atau diamankan. BAB VI HAL-HAL YANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN ATAU DILARANG Pasal 7 Semua bentuk kegiatan yang dapat mengakibatkan perusakan lingkungan dilarang dilakukan di daerah pesisir dan laut yang sudah disepakati dan ditetapkan bersama untuk dilindungi (Zona Inti dan Zona Penyanggah). Barang siapa melakukan perbuatan melanggar ketentuan pasal 7. Menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap kecuali pancing dan panah 2. Dana-dana lain yang diperoleh melalui bantuan dan partisipasi pemerintah dan atau organisasi lain yang tidak mengikat yang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan pengelolaan Daerah Perlindungan Pesisir dan Laut. Melintasi/melewati/menyebrangi Daerah Perlindungan Laut kecuali darurat 2. Memelihara rumput laut dan ikan karang 5.

Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan kedua kalinya seperti yang ditentukan dalam pasal 7. dan kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian sebagai penyidik. Daerah yang dilindungi adalah merupakan daerah pesisir dan laut yang telah dipilih dan disetujui bersama oleh seluruh masyarakat Desa Tejang. 3. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat ketiga yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola. 2. 8 dan 9 lebih dari tiga kali dikenakan sanksi sanksi berupa sanksi seperti pasal 10 ayat (3) diatas. Daerah yang dilindungi dijaga kelestariannya untuk kepentingan masyarakat Desa Tejang. sehubungan dengan pelestarian Daerah Perlindungan. akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Musyawarah Desa. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat kedua yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola dan mengamankan semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah Perlindungan Laut 3. BAB IX PENUTUP Pasal 12 1. tentang Perlindungan Daerah Pesisir dan Laut sudah dibuat dengan benar dan apabila dipandang COREMAP II ADB 81 . Hal hal yang perlu diatur dalam keputusan Desa ini sepanjang mengenai pelaksanaan Perlindungan Daerah Pesisir dan Laut. membetulkan mck dll) atau sanksi lain yang ditentukan kemudian oleh aparat dan masyarakat desa 4. 2. apabila mengetahui tindakan-tindakan perusakan lingkungan dan lain-lain yang dilakukan oleh orang-perorang dan atau kelompok. Setiap anggota masyarakat berkewajiban melaporkan kepada Badan pengelola atau Pemerintah Desa. Keputusan Masyarakat Desa ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Demikian keputusan Masyarakat Desa Tejang. BAB VIII PENGAWASAN Pasal 11 1. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan seperti yang ditentukan dalam pasal 7. badan pengelola dan masyarakat.pernyataan tidak akan mengulangi lagi pelanggaran yang dilakukan di hadapan aparat desa. mengamankan semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah Perlindungan Laut dan diwajibkan melakukan pekerjaan sosial untuk kepentingan masyarakat (kerja bakti. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan ketiga kalinya seperti yang ditentukan dalam pasal 7. untuk diproses sesuai dengan ketentuan peraturan dan perUndang-Undang an yang berlaku. 2.

Ketua BPD Tejang Pulau Sebesi (Syaifullah HFF. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan segala sesuatunya akan di perbaiki sebagai mana mestinya Menyetujui.) Ditetapkan di : Pulau Sebesi Pada Tanggal : 28 Januari 2002 Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi 82 Panduan Pengembangan Marine Management Area .perlu dapat disempurnakan kembali sesuai musyawarah dengan suatu keputusan bersama masyarakat dan Pemerintah Desa Tejang. dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

Lampiran 2. Contoh Peraturan Bupati Berau Tentang Kawasan Konservasi Laut PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR: 31 TAHUN 2005 TENTANG KAWASAN KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU Menimbang: a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 sebagai pengganti UndangUndang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan mengelola sumberdaya pesisir dan laut dengan tetap memperhatikan kewenangan propinsi sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia; bahwa wilayah pesisir dan laut Kabupaten Berau memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga perlu dilindungi dan dikelola, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 (Lembaran Negara tahun 1959 Nomor 72) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-Undang (Memori Penjelasan dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 1820); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 1; Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994) jo. Pengumuman

b.

Mengingat:

1.

2.

3.

COREMAP II ADB

83

Pemerintah Republik Indonesia tentang Kontinen Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969; 4.

Landas

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 76; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319); Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara 3501); Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang-Undang Kehutanan; Undang-Undang Perikanan; Nomor 41 Tahun 1999 tentang Nomor 31 Tahun 2004 tentang

5.

6.

7.

8. 9. 10 . 11 . 12 . 13 .

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (mulai berlaku 19 Agustus 1998); Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1978 Nomor 51);

84

Panduan Pengembangan Marine Management Area

14 .

Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 73); Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterflow Habitat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 73); Keputusan Menteri Pertanian Nomor 604/Kpts/Um/8/1982 tentang Penunjukan Areal Hutan Pulau Semama Beserta Perairannya Seluas 220 Ha Yang Terletak di Daerah Tingkat II Berau, Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Sebagai Suaka Marga Satwa dan Penunjukan Areal Hutan Pulau Sangalaki Beserta Perairannya Seluas 280 Ha yang Terletak di Daerah Tingkat II Berau, Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Sebagai Taman Laut (mulai berlaku tanggal 19 Agustus 1982); Peraturan Daerah Kabupaten Berau No. 24 Tahun 2002 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten Berau; Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 2 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Program Pembangunan Daerah Kabupaten Berau Tahun 20012005; Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 3 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Tahun 2001-2011.

15 .

16 .

17 . 18 .

19 . Memperhatika n:

Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Berau tanggal 14 Desember 2005 Nomor:170/358/DPRD.II/XII/2005 MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU BAB I KAWASAN

COREMAP II ADB

85

terdiri dari masyarakat adat dan masyarakat lokal yang merupakan komunitas nelayan. e. Kawasan Pesisir adalah bagian dari wilayah pesisir yang memiliki fungsi tertentu berdasarkan karakteristik fisik. b. dan pengusahaan sumber daya ikan secara terencana dan hati-hati dengan menjamin keberadaan. wisata bahari.KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan: a. f. Perikanan Berkelanjutan adalah semua proses upaya (seperti penangkapan dan pembudidayaan ikan) pengambilan. termasuk pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya. ketersediaan. hukum dan perUndang-Undang an serta bentuk-bentuk tindak pidana lainnya. dan kesinambungan (keberlanjutan) sumber daya tersebut agar tetap tersedia bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Laut adalah suatu proses perencanaan. perencanaan antar sektor. Pengamanan dan Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan disekitar kawasan konservasi. kegiatan perikanan berkelanjutan. Kawasan Konservasi Laut (disingkat KKL) adalah kawasan pesisir. ekosistem darat dan laut. sosial dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya. Pasal 2 Menunjuk Kawasan Pesisir dan Laut Kabupaten Berau sebagai Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau sebagaimana peta terlampir. c. h. penggunaan. yang memiliki sumberdaya hayati dan karakteristik sosial budaya spesifik yang dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif. pembudidaya ikan dan bukan nelayan. baik secara tetap maupun sementara. Wilayah Pesisir adalah kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan laut yang sangat rentan terhadap perubahan aktivitas manusia di darat dan laut. dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. d. Pasal 3 Kawasan Konservasi Laut dapat dimanfaatkan untuk keperluan: a. Bupati adalah Bupati Pemerintah Kabupaten Berau (definisi menurut UNDANG-UNDANG 32/04) b. pemanfaatan dan pengendalian sumberdaya pesisir dan laut secara berkelanjutan yang mengintegrasikan antara kegiatan pemerintah. dengan tujuan memelihara keamanan serta mencegah terjadinya pelanggaranpelanggaran peraturan. Masyarakat adalah masyarakat pesisir yang bermukim di sekitar kawasan konservasi dan mata pencahariannya tergantung pada pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. pengembangan. dunia usaha dan masyarakat. g. ilmu pengetahuan. biologi. 86 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

(3) pertimbangan kearifan lokal. (8) pemanfaatan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. (10) perlindungan jenis dan kualitas genetik ikan. (4) pendekatan kehati-hatian. penelitian dan pengembangan. BAB II RUANG LINGKUP DAN ASAS KONSERVASI LAUT Pasal 4 Kawasan Konservasi Laut mencakup fungsi perlindungan. pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. Batas KKL di wilayah pesisir ditetapkan sesuai dengan batas kawasan lindung hutan mangrove berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (2) COREMAP II ADB 87 . berkeadilan dan berbasis masyarakat. BAB IV CAKUPAN BATAS KAWASAN KONSERVASI LAUT Pasal 7 (1) Batas KKL di wilayah laut ditetapkan mengikuti pengukuran laut territorial Indonesia sejauh 4 mil yang diukur dari garis pangkal pulaupulau terluar dalam wilayah Kabupaten Berau. d. (2) penggunaan pertimbangan bukti ilmiah.c. (7) pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat. e. keterpaduan. 3 tahun 2004. berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Berau. Pasal 5 Konservasi Laut dilakukan berdasarkan asas manfaat. pengembangan sosial ekonomi masyarakat. (5) keterpaduan pengembangan wilayah pesisir. BAB III PRINSIP KONSERVASI LAUT Pasal 6 Konservasi laut dilakukan dengan prinsip: (1) pencegahan tangkap lebih. (9) perlindungan struktur dan fungsi alami ekosistem perairan yang dinamis. (6) pengembangan alat dan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan. (11) pengelolaan adaptif. berkelanjutan. keseimbangan. pemanfaatan sumberdaya laut lainnya secara lestari. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten Berau.

Apabila terjadi perubahan batas KKL diluar 4 mil laut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemanfaatan sumber daya ikan dan jasa lingkungan. 3 tahun 2004. yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi Laut akan dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Berau Pasal 9 (1) Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dilakukan oleh Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi Laut secara kolaboratif dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat (2) Pengelolaan KKL dikonsultasikan dengan pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat Pasal 10 Pengamanan dan pengawasan KKL Kabupaten dinas/instansi terkait dan masyarakat setempat. BAB V PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT Pasal 8 1) 2) 3) 4) Penunjukan Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau direalisasikan dalam bentuk penataan batas. pengelolaan habitat dan populasi. Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dilakukan melalui kegiatan: a. upaya pengelolaan meliputi pengawasan dan pengendalian. keterpaduan antara pemanfataan ruang daratan dan lautan. inventarisasi. d. penelitian dan pendidikan. Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Laut akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Berau dengan melibatkan para pihak terkait. b. akan ditetapkan kemudian berdasar kesepakatan dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur.(3) Kabupaten Berau. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 11 Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya peraturan ini dibebankan kepada APBN. monitoring dan evaluasi. dan monitoring potensi sumber hayati dan lingkungan sumber daya hayati. c. Identifikasi. serta pengembangan sosial ekonomi masyarakat. APBD Propinsi dan APBD Kabupaten Berau serta sumberBerau dilakukan 88 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

27 Desember 2005.sumber pendanaan lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. Ditetapkan di Tanjung pada tanggal. 27 Desember 2005 BUPATI BERAU Redeb Diundangkan di Tanjung Redeb HAPK pada tanggal. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 12 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BERAU DRS. IBNU SINA ASYARI LEMBARAN BERITA DAERAH KABUPATEN BERAU TAHUN 2005 COREMAP II ADB 89 . Agar setiap orang dapat mengetahuinya.MAKMUR H. memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Berita Daerah Kabupaten Berau..

31 Tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau 90 Panduan Pengembangan Marine Management Area .LAMPIRAN: PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR: 31TAHUN 2005 TENTANG: KAWASAN KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU Keterangan : Koordinat Batas KKL ke rah darat dan laut terlampir dalam Peraturan Bupati No.

COREMAP II ADB 91 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful