PANDUAN

PENGEMBANGAN KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA/MMA) DI WILAYAH COREMAP II - INDONESIA BAGIAN BARAT

Penyusun: Budy Wiryawan Agus Dermawan Editor : Suraji

CORAL REEF REHABILITATION AND MANAGEMENT PROGRAM COREMAP II 2006

DAFTAR ISI
1. KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA) 1.1Pengantar 1 1

2.

1.2 Nomenklatur MMA 1.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia 1.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) 1.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA 1.6 Strategi Pencapain Tujuan MMA 1.7 Desain Pengelolaan MMA 1.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota RENCANA KELEMBAGAAN MMA 2.1 Dasar Kelembagaan MMA 2.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah 2.3 Perspektif Kelembagaan MMA ke depan 2.4 Mekanisme kerja Kelembagaan MMA 2.5 Lembaga Pengelola MMA 2.6 Sekretariat Pengelola MMA 2.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA 2.8 Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA 2.9 LPSTK dan Pihak Swasta 2.10 Pendanaan MMA DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT 31. Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di Desa 3.2 Kelompok Masyarakat Pengelola DPL 3.3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat 3.4 Metoda Pengelolaan DPL 3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan 3.6 Zonasi Kawasan 3.7 Lokasi dan Ukuran 3.8 Partisipasi Masyarakat PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL 4.1 Tahapan dan Pembentukan 4.2 Pemilihan Lokasi MMA 4.3 Sistem Biaya Masuk 4.4 Kelompok Pengelola 4.5 Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa 4.6 Pengelolaan DPL 4.7 Pembuatan Rencana Pengelolaan 4.8 Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan 4.9 Pendidikan Lingkungan Hidup 4.10 MCS dan Penegakan Hukum 4.11 Pemantauan dan Evaluasi 4.12 Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain (scaling-up) DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

2 5 10 11 12 14 14 19 19 23 25 25 27 27 28 28 29 30 33 33 36 37 39 39 41 42 44 47 47 50 53 53 54 57 58 71 72 73 73 75 77 79

3.

4.

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tahapan, Kegiatan, Hasil dan Indikator pengembangan DPL ............................... 48 Tabel 2. Matrik Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang ................................... 70

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Konseptual MMA secara umum ............................................................ Gambar 2. Jaringan DPL dalam satu Unit Pengelolaan KKLD Kabupaten/Kota ................ Gambar 3. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Kota Batam ................... Gambar 4. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Daerah Kep. Mentawai .... 12 14 16 18

Gambar 5. Usulan Kelembagaan MMA ............................................................................ . 31 Gambar 6. Tahapan Pembentukan Daerah Perlindungan Laut ......................................... 49 Gamabr 7. Tahapan Proses Pembentukan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Perlindungan Laut .............................................................................................. 56 Gambar 8. Siklus Kebijakan pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir ............................. 57 Gambar 9. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang .................. 63

ADB .

Jakarta Selatan 12820 Telp : (62-21) 83783931 Fax : (62-21) 8305007 e-mail : coremapii@dkp.Coral Reef Rehabilitation and Management Program Phase II COREMAP II Direktorat Jenderal Kelautan. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil DEPARTEMEN KELAUTAN DAN PERIKANAN Jl.go. 91. Tebet . Tebet Raya No.com Website : www.dkp.go. coremap2@yahoogroups.id.id .

1 Pengantar 1. Buku ini didesain sebagai pustaka dalam pengembangan kawasan konservasi laut di wilayah pesisir di Indonesia. Desain Pengelolaan MMA Buku dalam panduan ini disusun program berdasar pengalaman COREMAP II ADB mengimplementasikan pengelolaan sumberdaya terumbu karang di Indonesia bagian barat. perencana dan pengambil kebijakan untuk wilayah pesisir. Pedoman ini ditujukan untuk para praktisi. yang dalam istilah proyek COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area). dalam pengembangan rencana pengelolaan kawasan konservasi laut ke depan. yaitu mulai dari mengidentifikasikan isu-isu.1. Pengantar 1.3.7.6. Nomenklatur MMA 1. secara singkat dijelaskan tahapan dalam pengembangan MMA di lokasi proyek. serta kearifan lokal mereka. namun demikian para pembaca yang menginginkan informasi yang lebih spesifik disarankan melihat referensi yang digunakan buku ini. terutama CRMP/USAID untuk model Daerah Perlindungan Laut.5. COREMAP II ADB 1 . baik potensi maupun masalah. serta ‘lesson-learned’ yang dijelaskan dalam buku ini diharapkan dapat diterapkan para pembaca. Generalisasi konsep dan ide-ide. Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA 1. Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia 1. Strategi pencapaian tujuan MMA 1. serta dari pengalaman program pengelolaan pesisir di Indonesia. yang menjelaskan langkah-langkah partisipatif dalam mengembangkan Kawasan Konservasi Laut (Marine Protected Area).2. para praktisi dan perencana dapat meningkatkan proses partisipasi stakeholders. KAWASAN KONSERVASI LAUT DAERAH (MARINE MANAGEMENT AREA) 1.4.1. Diharapkan. Manfaat yang diharapkan dari buku ini adalah untuk memfasilitasi perencana dan paktisi dalam mengembangkan MMA dengan memanfaatkan pengetahuan lokal. Buku Panduan ini. Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) 1.

sebagai basis dalam terbentuknya kolaboratif manajemen MMA. (e) Protected Landscape/Seascape. yang dipadankan dalam bahasa Inggris disebut ’locally-managed Marine Management Area (MMA)’. IUCN mengelompokkan Kawasan Lindung menjadi 6 kategori : (1) Strict Nature Reserve/Wilderness Area. (b) National Park. (c) Nature Monument. Sedang kawasan konservasi laut pada skala desa dalam panduan ini disebut dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL). Kawasan dilindungi (protected area) adalah suatu kawasan. baik darat maupun laut yang secara khusus diperuntukkan bagi perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati dan budaya yang terkait dengan sumber daya alam tersebut. dan dikelola melalui upaya-upaya hukum atau upaya-upaya efektif lainnya (IUCN. yang akan menjamin perikanan dan pariwisata berkelanjutan. 1994). dan (f) Managed Resources Protected Area. 1. namun demikian berikut akan dijelaskan tentang asal-usul istilah tersebut. konservasi adalah manajemen biosfer secara berkelanjutan untuk memperoleh manfaat bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. (d) Habitat/Species Management Area. Definisi dari IUCN dan UNDANG-UNDANG Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Untuk menyamakan persepsi. maka penggunaan istilah MMA di dalam buku panduan ini digunakan istilah Kawasan Konservasi Laut (KKL) di tingkat kabupaten.2 Nomenklatur MMA Walaupun istilah Marine Management Area atau Marine Conservation Area ataupun Marine Protected Area mempunyai persamaan arti. 2 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

yang terdapat di beberapa desa pesisir di Indonesia. Dengan melihat perkembangan KKL di Indonesia. konservasi jenis peruaya dan locally-managed Marine Management Area (MMA). 2003). Secara umum terdapat empat jenis MPA. ukuran. karakteristik pengelolaan dan dibentuk berdasarkan perbedaan tujuan.Marine Protected Area (Kawasan Konservasi Laut) adalah daerah intertidal (pasang-surut) atau subtidal (bawah pasang. Di dunia Internasional MMA dikenal sebagai suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar kawasan. dsb. 1995). sejarah dan corak budaya dilindungi sebagai suaka dengan melindungi sebagian atau seluruhnya melalui peraturan perUndangUndang an (IUCN. (4) Pengelolaan sumberdaya laut dalam skala lokal secara efektif. Bentenan. atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat maupun oleh perwakilan pemerintah daerah. maka MMA dapat dipadankan dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) berbasis masyarakat pada skala desa. konservasi jenis. Tumbak di Minahasa dan Pulau Sebesi di Lampung Selatan. (2) Perlindungan terhadap keanekaragaman hayati laut. Adapun maksud pembentukan KKL dimaksudkan untuk : (1) Menjamin kelestarian ekosistem laut untuk menopang kehidupan masyarakat yang tergantung pada sumberdaya yang ada. aktivitas masyarakat dalam kawasan COREMAP II ADB 3 . Perbedaan bentuk. seperti di desa Blongko. (5) Pengaturan pengelolaan.surut) beserta flora fauna. MMA merupakan pendekatan baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork. (3) Pemanfaatan sumberdaya laut yang berkelanjutan. yaitu : konservasi kawasan.

dijelaskan bahwa Kawasan Konservasi Perairan ditetapkan oleh pengelolaan Propinsi. tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi Laut (KKL).Sedang tujuan pembentukan KKL adalah : (1) Peningkatan kualitas habitat (terumbu karang. (d) Suaka Perikanan. (3) Peningkatan kapasitas lokal untuk mengelola sumberdaya ikan. Perairan Pada Pasal 10 PP Kawasan Kawasan tersebut. Saat sekarang. Terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA (Marine Conservation Area). Namun demikian. reproduksi dan biomassa sumberdaya ikan. (5) Peningkatan pendapatan masyarakat dari sumberdaya alam. (c) Taman Wisata Perairan. (b). (c) Konservasi Peraiaran terdiri dari : (a) Kawasan Konservasi Perairan Konservasi Konservasi Perairan Kabupaten/Kota. aplikasi di lapangan tidak mesti menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP II. Nasional. yaitu : (a) Taman Nasional Perairan. bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk MMA atau MCA. dan hutan mangrove). Pada PP ini juga mengacu pada 4 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Menteri. Dengan alasan. Pemerintah Indonesia sedang memformalkan Rancangan Peraruran Pemerintah (RPP) tentang Konservasi Sumberdaya Ikan menjadi Peraturan Pemerintah tentang Konservasi Sumberdaya Ikan (PP KSDI). (2) Peningkatan populasi. padang lamun. (2) istilah Kawasan Konservasi Perairan di dalam UndangUndang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan) dikategorikan menjadi 4. Suaka Alam Perairan. yang akan diterbitkan pada tahun 2006. Berdasarkan (b) Kawasan lingkup kewenanganya. (4) Peningkatan kohesif antara lingkungan dan masyarakat.

Pendekatan ketiga tersebut merupakan pendekatan yang relatif baru di Indonesia dan akan dilakukan pada pengembangan Kawasan Konservasi Laut atau MMA oleh COREMAP II.Undang-Undang Undang-Undang Nomor 31 tentang Perikanan. Pendekatan pertama yang dimulai pada abad lalu. Mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang memiliki luas wilayah laut lebih besar dari pada luas daratan. Biasanya kurang koordinasi dan perhatian pengelolaan kawasan pesisirnya. yang merekomendasikan tersebut. maka Indonesia memiliki jumlah pulau sebanyak ± 17. Pendekatan ketiga adalah pembentukan Kawasan Konservasi Laut dengan skala luas. Wilayah (WRI. dengan total panjang garis pantainya terpanjang keempat di dunia. dengan tujuan yang serba guna dan sistem pengelolaan yang terintegrasi. sesuai dengan Peraturan perUndang-Undang memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi dan proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah.3 Pengembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia Perkembangan Kawasan Konservasi Laut di Indonesia sejalan dengan perubahan pendekatan dunia terhadap konservasi laut. dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia 1.508 pulau dengan garis pantai ± 85.000 km 2004). adalah dengan pembentukan kawasan konservasi laut pada skala kecil (desa) yang merupakan salah satu upaya pengelolaan sumberdaya ikan. seperti perikanan komersial dengan berbagai tingkatan koordinasi dan peraturan dari berbagai sektor. terdiri dari pengaturan dan pengelolaan aktifitas kelautan secara individual sektor. swasta. an sebagaimana diuraikan di atas jenis kawasan konsrvasi berdasar tujuan pengelolaan. Pendekatan kedua. Biasanya pendekatan kedua tersebut dilengkapai dengan pengaturan penggunaan alat-alat penangkapan ikan. lautan Indonesia yang terletak pada garis khatulistiwa COREMAP II ADB 5 .

41 % dalam kondisi sangat baik . serta memiliki potensi sumberdaya alam dan jasa lingkungan. sampai saat ini kerusakan ekosistem pesisir dan penurunan kualitas lingkungan laut sudah memprihatinkan. racun cyanida dan juga penambangan karang. kondisi terumbu karang di Indonesia hanya 6. Akan tetapi sampai dengan saat ini.3 % dalam kondisi baik. (1) Orientasi pengelolaan kawasan konservasi laut lebih fokus pada manajemen teresterial. Pelaku kerusakan tersebut tidak hanya dilakukan oleh masyarakat pesisir tetapi juga oleh nelayan-nelayan modern dan nelayan asing. Wilayah pesisir juga memiliki arti strategis karena merupakan wilayah peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut.22 % dalam kondisi sedang. 29. Kencenderungan di atas dikarenakan kurang optimalnya pengelolaan kawasan konservasi laut yang berbentuk Taman Nasional atau yang lainnya. terumbu karang). hutan mangrove. pemanfaatan sumberdaya alam tersebut kurang memperhatikan kelestariannya sehingga berakibat pada menurunnya kualitas serta keanekaragaman hayati yang ada. Degradasi ekosistem terumbu karang telah teridentifikasi sejak tahun 1990-an. 24. sehingga dikenal sebagai ’coral triangle’ sebagai pusat mega-biodiversitas. (2) Pengelolaan bersifat sentralistik dan belum melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat. Kekayaan sumberdaya tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkannya. dan 40. pembuangan jangkar perahu dan sedimentasi.14 % dalam kondisi rusak.terkenal memiliki kekayaan dan keanekaragaman sumberdaya alamnya. terutama sumberdaya alam yang dapat pulih (seperti perikanan. disebabkan oleh . Dari hasil penelitian P2O-LIPI (1998).(3)Tumpang tindih pemanfaatan ruang dan benturan kepentingan 6 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Sumberdaya kelautan dan perikanan merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki Indonesia dan banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Kerusakan tersebut pada umumnya disebabkan oleh kegiatan perikanan destruktif. yaitu penggunaan bahan peledak.

Melalui cara tersebut diharapkan upaya perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan. Taman Wisata Perairan. Perairan. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan dan Rancangan Peraturan Pemerintah Kawasan Konservasi Laut merupakan paradigma baru. pengawetan sumber plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam secara lestari dapat terwujud. yaitu pada pasal 18 dijelaskan bahwa salah satu kewenangan daerah di wilayah laut adalah eksploitasi dan konservasi sumberdaya alam di wilayahnya. Suaka Alam Laut dan Cagar Alam Perairan. maka desain terpadu pengelolaan sumberdaya kelautan sangat diperlukan. (4) Banyaknya pelanggaran yang terjadi di kawasan konservasi laut. gejala alam dan keunikan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Desain secara komprehensif pemanfaatan laut diharapkan dapat menyatukan beberapa kebijakan yang ada sehingga dapat mengakomodir kebutuhan masyarakat seperti : Taman Nasional Perairan. sesuai dengan Nomenklatur yang terdapat pada Undang-Undang tentang Konservasi Sumberdaya Ikan. Kegiatan penyusunan desain KKL ini dimaksudkan untuk mendesain pokok-pokok pengelolaan konservasi laut yang berskala daerah dan atau COREMAP II ADB 7 . Taman Wisata Nomor Kawasan Konservasi Laut atau Daerah Perlindungan Laut. Landasan hukum lainnya adalah Undang-Undang No. Dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam laut yang lestari. serta ekosistemnya menjadi kawasan konservasi laut.para pihak. disamping kawasan konservasi nasional lainnya sebagaimana diatur dalam UndangUndang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Salah satu bentuk pengelolaan dan perlindungan sumberdaya laut adalah menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.

regional bahkan nasional karena lintas wilayah administrasi daerah otonom. Sampai tahun 2006. pemerintah melakukan berbagai upaya perlindungan diantaranya dengan menetapkan kawasankawasan konservasi laut yang terdapat di beberapa daerah di Indonesia. karena sebagai sumber daya alam yang terkandung di dalam bumi dan air Indonesia menurut Pasal 33 ayat (3) UUD dikuasai oleh negara untuk dipergunakan bagi sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. sebanyak 9 Kabupaten yang telah menetapkan sebagian wilayah pesisirnya sebagai Kawasan Konservasi Laut Daerah. sosiologis dan kultural menguntungkan. Arti dikuasai dalam kaitan ini bukan dimiliki. Perbedaan bentuk. Pemerintah telah merancang suatu model pengelolaan kawasan di wilayah laut yang diberi nama Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). Dengan demikian. melainkan negara memperoleh mandat dari rakyat sebagai pemilik sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya untuk melakukan pengelolaan dan upaya-upaya lainnya yang bermanfaat bagi rakyat banyak. Secara umum terdapat empat jenis MPA. politis. penggunaan sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya melalui kegiatan konservasi laut akan bermanfaat bagi rakyat banyak bila secara ekonomis. Dalam pandangan pemerintah. 8 Panduan Pengembangan Marine Management Area an pada akhirnya melahirkan suatu produk . karakteristik pengelolaan dan dibentuk berdasarkan perbedaan tujuan. Untuk melindungi sumberdaya alam ini. ukuran. sumber daya alam hayati laut dan ekosistemnya sangatlah penting untuk dikelola. Untuk menghindari berbagai permasalahan yang berkembang dalam pengelolaan kawasan konservasi yang dapat berdampak pada konflik vertikal (tumpang-tindih perundangundangan) serta konflik horizontal (masalah pemanfaatan dan pengelolaan SDI) maka dibutuhkan suatu kajian yang mendalam terhadap berbagai peraturan perUndang-Undang yang telah berjalan dan perUndang-Undangan yang menguntungkan berbagai pihak.

LMMA ini sepandan dengan konsep MMA di skala Kabupaten dan DPL di skala Desa. (2) istilah Kawasan Konservasi Laut di dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Pasal 13 ayat 1 (dan penjelasan) dikategorikan menjadi 4. terminologi yang dipakai oleh COREMAP II ADB disebut MMA (Marine Management Area) dan oleh COREMAP II WB disebut MCA. dan masyarakat dalam rangka mengembangkan MMA di Indonesia 1. tetapi diterjemahkan menjadi Kawasan Konservasi Laut (KKL). Namun demikian. Peraturan perUndang-Undangan sebagaimana diuraikan di atas memberi mandat hukum atau kewenangan sesuai dengan kompetensi dan proporsinya masing-masing kepada lembaga-lembaga pemerintah. Di dunia Internasional LMMA dikenal sebagai Locally Managed Marine Area. yang sedang dikembangkan oleh COREMAP II di Indonesia bagian barat. yaitu : Suaka Perikanan. Untuk di Indonesia bagian barat. Dengan alasan. yaitu suatu kawasan di suatu wilayah perairan pesisir yang secara aktif dikelola oleh masyarakat lokal/keluarga setempat di sekitar kawasan. Seperti juga disebutkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan (draft Agustus 2006). Sekali lagi.yaitu : konservasi kawasan. atau oleh pengelolaan kolaboratif baik oleh masyarakat setempat maupun oleh perwakilan pemerintah daerah. 2003). aplikasi di lapangan tidak mesti menggunakan istilah yang sama dengan istilah di dalam COREMAP II. konservasi jenis. Suaka Alam Perairan. Taman Nasional Perairan.4 Jejaring Kawasan Konservasi (MMA) COREMAP II ADB 9 . dan Taman Wisata Perairan. swasta. konservasi jenis peruaya dan Locally Marine Managed Area (LMMA). LMMA merupakan pendekatan baru terhadap Marine Protected Area (LMMAnetwork. bahwa (1) istilah dalam bahasa Indonesia yang tepat untuk MMA atau MCA. satu Kabupaten/Kota hanya terdiri dari satu Unit MMA.

10 Panduan Pengembangan Marine Management Area . dan tekanan manusia.Dari beberapa MMA Kabupaten/Kota diupayakan membentuk jejaring MMA. Jejaring Kawasan Konservasi Laut. keterkaitan biofisik antar Kawasan Konservasi Perairan. b. iklim musiman. perlu dikembangkan Jejaring kawasan konservasi perairan. daya tahan lingkungan. limnologi. Kriteria yang dapat digunakan untuk pemilihan lokasi MMA diterakan dalam Box di bawah ini. Seperti disebutkan dalam Pasal 28 Rencana Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan. dikembangkan dengan mempertimbangkan bukti ilmiah meliputi aspek oseanografi. Jejaring kawasan konservasi perairan dikembangkan atas dasar: a. dan aspek ekonomi. misalnya. kelembagaan pengelolaan. Sedang rencana dan desain Jejaring Kawasan Konservasi Perairan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebijakan dan strategi nasional konservasi sumber daya ikan. biologi perikanan. kemitraan antar lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan dan/atau antara lembaga pengelola Kawasan Konservasi Perairan dengan lembaga non-pemerintah nasional dan/atau asing. sosial serta budaya. yaitu untuk meningkatkan daya tahan dan keutuhan Kawasan Konservasi Perairan terhadap pengaruh iklim global. keterkaitan antar kawasan.

integritas. ketersediaan dan kawasan pemijahan ikan. efektivitas.5 Konsep MMA dan Desain Kelembagaan Pengelolaan MMA Konsep MMA berikut merupakan kesepakatan yang diambil dari kesepakatan para praktisi MMA di Asia-Pasifik yang terjalin dalam MMA Network. keterjangkauan kawasan. tingakt ancaman.Contoh Kriteria Pemilihan KKL Kriteria Sosial: Penerimaan sosial. kealamiahan. keunikan. konflik kepentingan. ketersediaan. 2002) 1. rekreasi. ukuran. pendidikan. Kriteria Ekologi: Keanekaragaman hayati. kesadartahuan masyarakat dan kecocokan Kriteria Ekonomi: Nilai penting spesies. produktivitas. daya pulih dan penegakan hukum. sifat-sifat ancaman. (3) Ancaman tidak langsung. adalah faktor dimana ancaman yang muncul dibalik ancaman langsung. (2) Ancaman langsung. (Salm et al. COREMAP II ADB 11 . ketergantungan. keterwakilan. keamanan. yaitu : (1) Target (ekosistem terumbu karang). adalah faktor dimana ancaman secara tibatiba bisa mempengaruhi target. keuntungan ekonomi dan pariwisata. budaya. Kriteria Regional: Urgensi Regional dan daerah Kriteria Fragmatik: Kepentingan. kesehatan masyarakat. Gambar 1 menjelaskan model konseptual MMA dengan 5 komponen didalamnya. nilai penting perikanan. peluang. estetika. adalah kondisi dimana lokasi MMA difokuskan yang langsung berpengaruh terhadap aktivitas MMA.

Model Konseptual MMA secara umum (Sumber LMMA Network. yaitu perlindungan penuh terhadap sumberdaya alam suatu kawasan. pengelola kawasan. 12 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Tiga komponen spesifik dari strategi pengelolaan sebuah MMA adalah : (1) Full Reserve (Perlindungan yang Menyeluruh). 2003) 1. strategi adalah individu atau organisasi yang memiliki keterampilan dan kapasitas untuk mengimplemntasika strategi- Praktisi Strategi MMA Ancaman Tak Langsung Ancaman Langsung Target Gambar 1.(4) Strategi. Kawasan tersebut sering disebut ’Sanctuary’ (Suaka) atau ’Daerah Larang Ambil’ atau ’fully protected area’. MMA merupakan kawasan habitat laut yang dikelola oleh masyarakat setempat. atau yang berhubungan dengan organisasi dan atau pengaturan bersama dengan perwakilan lembaga pemerintah. adalah aksi yang dilakukan terhadap ancaman suntuk mencapai target. Untuk satu jaringangan MMA. hanya terdapat satu strategi MMA (5) Parktisi.6 Strategi pencapaian tujuan MMA COREMAP II melakukan antisipasi terhadap ancaman langsung maupun tak langsung yang akan mempengaruhi target melalui beberapa strategi.

adalah pembatasan penangkapan terhadap spesies tertentu atau beberapa spesies atau individu dengan ukuran atau jenis kelamin tertentu. Perijinan oleh penangkapan ikan atau pemanfaatan tertentu di suatu kawasan. MMA merupakan pusat koordinasi pengelolaan kawasan konservasi. pertambangan. yang mempunyai skala dan status dapat berbeda. pariwisata. bahwa sekitar 60. pengaturan musim. Karena COREMAP ADB mempunyai 8 lokasi kabupaten/kota. Namun pada prinsipnya. mengingat proses pembentukan dari masing-masing DPL berbasis desa bervariasi. jumlah perahu. pembatasan tingkat usaha penangkapan ikan (seperti : jumlah ikan. pola pemanfaatan lain yang diperbolehkan (seperti wisata selam) dan pembatasan perijinan. budidaya. maka per lokasi diharapkan terbentuk sebuah MMA yang mempunyai luas 1000 sampai dengan 1500 Hektar terumbu karang. Seperti ditargetkan dalam COREMAP II ADB. penangkapan ikan.000 Hektar ekosistem terumbu karang dapat dilindungi sampai 2009. (3) Effort or behavioral adalah Restrictions pengaturan (Pengurangan pembatasan Lokal Upaya usaha Penangkapan). MMA berfungsi sebagai penghubung jaringan antara kawasan konservasi laut berbasis desa (Daerah Perlindungan Laut/DPL) berbasis desa. maka diharapkan berbagai pemanfaatan kawasan laut seperti. Melalui MMA. Banyaknya gugus DPL dalam suatu MMA dapat senantiasa berkembang. setelah terbentuknya 40-45 Lembaga Pengelola Terumbu Karang berbasis Desa. kuota terhadap jumlah penangkapan. indusrti transportasi dan kegiatan lain yang selaras dengan tujuan konservasi kawasan dapat diakomodasi. Pemerintah/Pengusaha menyangkut pembatasan tipe teknologi yang digunakan.(2) Species Specific Refugia (Pembatasan Penangkapan Spesies tertentu. Dengan adanya DPL-DPL sebagai komponen COREMAP II ADB 13 .

7 memadukan perikanan. Keterpaduan pengelolaan MMA juga meliputi aktivitas sosial dan administrasi dan 14 Panduan Pengembangan Marine Management Area . DPL DPL DPL KKLD/MMA DPL DPL Gambar 2.dari MMA. diharapkan suatu kawasan konservasi dapat lebih memberikan manfaat ekologi yang pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat. yaitu : Taman Nasional Perairan. Pengelolaan suatu MMA haruslah dirancang secara terpadu. Karena perlindungan kepada spesies yang bermigrasi (seperti ikan dan mamalia laut) dapat lebih optimal jika habitatnya secara utuh dilindingi. dan seperti perhubungan laut. Suaka Alam Perairan dan Suaka Perikanan. 1. Keterangan : Jenis-jenis DPL pada skala desa. Desain Pengelolaan MMA segenap pariwisata. maka Jaringan KKLD dapat berupa Kawasan-Kawasan Konservasi lain sesuai dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 dan Rancangan Peraturan Pemerintah Konservasi Sumberdaya Ikan. yaitu dengan kehutanan pertambangan. kegiatan ekonomi. Taman Wisata Perairan. Jaringan Daeral Perlindungan Laut (DPL) dalam satu Unit Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Kabupaten/Kota.

Pengelolaan contoh-contoh bersama untuk mengimplementasikan sumberdaya yang baik. 1. Pengelolaan yang adaptif terhadap perubahan dan informasi baru untuk memperbaiki kinerja pengelolaan suatu MMA.kepemerintahan). (4) Manfaat Ganda. erosi dan sedimentasi memerlukan pertimbangan khusus dalam desain pengelolaan MMA. (5) Pengelolaan Bersama. Pengelolaan suatu MMA diharapkan menganut prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : (1) Adaptif. Di dalam satu Sub-MMA merupakan jaringan atau kumpulan dari Daerah Perlindungan Laut (DPL) terdekat secara hamparan COREMAP II ADB pengelolaan 15 . Upaya-upaya pemanfaatan dilaksanakan berdasar pada azas keberlanjutan dan ekologis. Sementara dampak penting dari lingkungan. seperti pencemaran. Adapun Sebuah MMA Kabupaten dapat terdiri lebih dari satu Sub-MMA (seperti MMA-1: Pantai Timur Natuna. Di dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota tentang Penetapan MMA Kabupaten/Kota menyebutkan batas-batas MMA dengan koordinat geografis. Pengelolaan dengan mengikuti proses untuk alokasi sumberdaya dan pengambilan keputusan. dsb). terutama dalam perencanaan dan penetapan kawasan.8 Opsi-opsi Desain MMA Kabupaten/Kota (1) MMA dibentuk dari Jaringan Daerah Perlindungan Laut (DPL) skala desa. pada Pengelolaan ekosistem ekosistem dengan integritas mempertimbangkan aspek pemanfaatan. MMA-2: Pulau TigaSedanau. (3) Pendekatan memfokuskan Ekosistem. (2) Berkelanjutan.

seperti Zona Inti.di desa-desa yang bertetangga. Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Gambar 3. dan Zona Penyangga. Zona-zona yang dibuat di dalam DPL diupayakan sesedehana mungkin. Dalam penetapan batas-batas DPL sebaiknya digunakan tanda-tanda alam (land mark) dan nama-nama lokal batas-batas zona inti. Bupati Mentawai.merupakan zona pemanfaatan terbatas di sekeliling Zona Inti. yang ditetapkan dan diatur oleh Peraturan Desa masing-masing. tetapi cukup dengan ukuran jarak (meter). (Lihat Lampiran: Laut). dan Natuna tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah) Karena luasan DPL desa biasanya kecil. Usulan Batas Geografis Kawasan Konservasi Laut Kota Batam 16 Panduan Pengembangan Marine Management Area . (Lihat Lampiran : Rancangan Surat Keputusan Walikota Batam. yaitu kawasan larang-ambil ekstraktif. maka dalam penetapannya batas-batas DPL tidak perlu untuk menetapkan posisi geografis dengan Lintang dan Bujur. dalam lingkup Hektar (misal 10-20 Hektar).

yang terdisri dari 3 zona inti sebagai sub-DPL. sehingga COREMAP II ADB dapat terdiri dari jaringan antara Kawasan Konservasi yang telah ada. Beberapa pertimbangan. (3) MMA desa-desa. kenapa Desa menetapkan lebih dari satu Zona Inti dalam lokasi DPL adalah : a) Desa terdiri dari beberapa dusun (Rukun Warga) yang tersebar di beberapa pulau. Satu MMA yang disyahkan oleh Surat Keputusan Bupati/Walikota dapat merupakan jaringan antara Kawasan. b) terdapat lokasilokasi potensial untuk dilindungi sebagai Zona Inti di sepanjang pesisir desa. Contoh lain adalah DPL di desa Botohilitanu di Nias Selatan. Khusus untuk Kota Batam. misalnya: DPL-1: Pulau Nguan-Batam. DPL-2: Pulau Abang-Batam. seperti Cagar Alam. untuk satu desa. karena kelurahan tidak otonom. Kelurahan tidak menerbitkan Peraturan Desa. (Lihat Lampiran : Peraturan Bupati Berau tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau) Dalam Surat Keputusan Bupati/Walikota batas-batas MMA telah di sebutkan dengan posisi geografis. Atau Surat Keputusan Desa. sedang DPL hanya disebutkan desadesanya saja. yaitu : Kawasan Konservasi yang telah ada. sedang DPL adalah Daerah Perlindungan Laut yang ditetapkan oleh Peraturan Desa.(2) Daerah Perlindungan Laut (DPL) dapat terdiri dari Sub-DPL Sebuah Daerah Perlindungan Laut yang ditetapkan oleh Desa dapat terdiri dari satu atau lebih sub-DPL sebagai Zona Inti. Peraturan dan pengelolaan DPL dijelaskan dengan Perturan Desa/SK Kepala Desa. sehingga perlu membuat batas-batas. Kawasan Konservasi atau kawasan lindung seperti yang termaktub dalam Rencana Tata Ruang Wilayah. digabung dengan Daerah Perlindungan Laut (DPL) di 17 . dengan jarak yang relatif jauh untuk keperluan pengawasan. DPL-3 dsb. dsb. Taman Wisata Laut. dengan DPL.

18 Panduan Pengembangan Marine Management Area .untuk pembentukan MMA langsung dengan SK Walikota. termasuk pengelolaan DPL-DPL nya. Gambar 4.. Usulan Geografis Kawasan Konservasi Laut Daerah Kepulauan Mentawai.

7.1.8. Semua permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan urusan pemerintahan daerah hendaknya dapat diselesaikan oleh daerah sendiri sebagai konsekuensi dari penerapan otonomi.2. Gugus Tugas Pengelolaan MMA 2. yang dianut oleh nyata dan otonomi yang bertanggung Undang Nomor Nomor 32 Tahun 2004.3.RENCANA KELEMBAGAAN MMA 2. Dalam kaitan ini.9. Pendanaan MMA Sesuai otonomi jawab dengan asas otonomi Undang- seluas-luasnya. Dasar Kelembagaan MMA 2. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) atau dinas yang bertanggungjawab dalam bidang lingkungan hidup did aerah (4) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda). Undang-Undang COREMAP II ADB 19 . provinsi sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat dapat melakukan inisiatif untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di kabupaten/kota. maka barulah Depdagri turun tangan. Lembaga Pengelola MMA 2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo.6. Sekretariat Pengelola MMA 2. Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA 2. Dinas Perikanan dan Kelautan berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 jo. Status Kelembagaan COREMAP II Daerah 2. Perpektif Kelembagaan MMA ke depan 2.1 Dasar Kelembagaan MMA 2. di Lingga Dinas Pengelolaan SDA) (2) (3) Dinas Kehutanan. Lembaga pemerintah di tingkat Provinsi yang terkait dengan upaya pengembangan MMA terutama meliputi: (1) Dinas Perikanan dan Kelautan (Di Batam Dinas KP2. Depdagri sebagai aparat pusat tidak ingin menimbulkan kesan adanya campur tangan pusat dalam urusan pembentukan Kawasan Konservasi (MMA). LPSTK dan Pihak Swasta 2. Apa bila permasalahan tersebut menyangkut kepentingan nasional.5.4.10. Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA 2.

termasuk pengembangan MMA. serta masih bergabungnya bidang kehutanan dalam Dinas KP2 dan Dinas Pengelolaan Sumberdaya Alam.Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk melakukan konservasi laut di wilayah laut selebar 12 mil diukur dari garis pantai. dan melakukan koordinasi terhadap kegiatan konservasi yang dilakukan oleh DKP Kabupaten dan Kota di wilayah laut selebar 4 mil diukur dari garis pantai. Bappeda dengan sangat baik dapat memposisikan diri sebagai Panduan Pengembangan Marine Management Area melakukan pelestarian fungsi-fungsi lingkungan di wilayah laut yang menjadi dan melakukan koordinasi terhadap kegiatan pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup dalam upaya pengembangan 20 . Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 jo. Sebagai pengendali alokasi dana. Bapedalda kewenangan provinsi MMA. Departemen Kehutanan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 jo. Dalam kaitannya dengan upaya pengembangan MMA. baik konservasi di darat maupun di laut. Bapedalda berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 97 jo. dan Lingga pertentangan mengenai masalah kewenangan konservasi antara DKP dan Dishut memang kurang menonjol karena Dishut disibukan dengan masalah lain yang lebih besar. Bappeda berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk membuat perencanaan pembangunan dan menetukan alokasi pendanaannya untuk seluruh kegiatan pembangunan yang ada di wilayah. dengan mempertimbangkan usulan dari daerah kabupaten/kota. Masalah batas wilayah laut yang tidak kasat mata tersebut sering menimbulkan perbedaan paham tentang batas-batas kewenangan di lapangan antara DKP Provinsi dan DKP Kabupaten/Kota. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mempunyai kewenangan konservasi. Untuk Kota Batam. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup di wilayah Provinsi .

Dalam kaitan ini. Secara umum lembaga pemerintah di tingkat Kabupaten yang terkait secara langsung dengan pengembangan MMA meliputi: a. Dinas Pariwisata. c. perbedaan paham haruslah diantisipasi terutama tentang kewenangan konservasi yang akan menjadi semakin kompleks dengan bergabungnya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat yang diberi mandat langsung oleh DKP untuk menegakan kebijakan penetapan Taman Nasional yang akan dikeluarkan oleh pemerintah pusat di Pulau Abang. f. Bappeda lebih terlibat langsung dalam pengembangan MMA. Misalnya untuk Kota Batam. dilakukan melalui koordinasi perencanaan dan Keterlibatan Bappeda alokasi pendanaan yang diajukan oleh Bappeda Kabupaten . Kewenangan tersebut juga mencakup kewenangan untuk melakukan konservasi laut. b. dan bahkan pada kenyataannya Dishut telah lebih dulu melaksanakannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. COREMAP II ADB 21 . d. Dinas Perikanan dan Kelautan. Dishut juga merasa mempunyai kewenangan di bidang konservasi laut. DKP berdasarkan peraturan perUndang-Undang an yang berlaku Sumber Daya Kelautan dan Perikanan memiliki tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan di wilayah perairan laut selebar 1/3 dari wilayah laut yang menjadi kewenangan provinsi diukur dari garis pantai. Dinas Kehutanan. e.koordinator dari berbagai kegiatan proyek pembangunan di daerah. Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda). Pengawas (PSDKP). Batam. Namun demikian. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

dan penindakan para pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan. Kelembagaan dan Rencana Strategi (Renstra) pengelolaan terumbu karang kedepan haruslah memadukan kepentingan para pemangku 22 Panduan Pengembangan Marine Management Area . pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan. Demikian juga halnya dengan Bappeda yang akan selalu membantu mengalokasikan dana pembangunan MMA sesuai dengan skala prioritas pembangunan. penanggulangan akibat pencemaran dan perusakan lingkungan. Pelestarian dan Pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya terumbu karang di lokasi-lokasi COREMAP II yang telah diidentifikasi. pelestarian fungsi-fungsi lingkungan hidup. Dispar diharapkan akan selalu mendukung dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan pengembangan MMA.Dinas Pariwisata (Dispar) berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku memiliki tugas pokok dan fungsi untuk mengembangkan pariwisata di Kabupaten/Kota dengan tujuan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sehubungan dengan itu. Setelah fasilitasi pengelolaan terumbu karang oleh COREMAP II selesai. Bapedalda berdasarkan peraturan perUndang-Undang an yang berlaku mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melakukan pengelolaan lingkungan hidup. diperlukan suatu kelembagaan dan rencana strategis pengelolaan terumbu karang di lokasi proyek. Bappeda sesuai kewenangannya di bidang perencanaan dan alokasi dana dapat melakukan inisiatif untuk mengkoordinasikan pengembangan MMA dari sudut perencanaan dan alokasi dana. sangat penting untuk menunjang kegiatan ekonomi masyarakat pesisir dan pulaupulau kecil. rehabilitasi lingkungan. serta melakukan koordinasi semua kegiatan di bidang lingkungan hidup di Kabupaten/Kota. Dispar merasa berkepentingan terhadap terwujudnya MMA . Oleh karena itu. yang akan menjadi lokasi-lokasi Marine Management Area (MMA).

terdiri dari : (i) pemberdayaan masyarakat. nasional. yang akan dijadikan pegangan oleh seluruh anggota organisasi dalam menjalankan segenap aktivitas untuk mencapai tujuan bersama. Baik pengelola maupun pelaksana COREMAP dilapangan mempunyai wewenang hukum untuk terlibat langsung ataupun tak langsung dengan program COREMAP. COREMAP II ADB 23 . Pengertian kelembagaan dalam COREMAP adalah seluruh lembaga. (ii) pengelolaan sumberdaya berbasis masyarakat.2 Status Kelembagaan COREMAP II Daerah Secara umum kelembagaan dapat diartikan sebagai aturan yang dianut oleh organisasi. dalam hal penyediaan informasi. Renstra yang berisi arahan-arahan strategis pengelolaan terumbu karang dalam kerangka MMA di 8 lokasi COREMAP II di Indonesia bagian barat. (iii) pengembangan infrastruktur dasar dan fasilitas sosial. Renstra diharapkan dapat memberikan keuntungan. regional dan lokal. Ruang lingkup dari PBM mencakup empat sub-komponen. pembentukan komitmen dan alokasi sumberdaya yang dibutuhkan untuk pengelolaan berkelanjutan. dalam hal ini pengelola COREMAP.kepentingan para pihak yang selaras dengan konteks pembangunan global. 2. Berikut adalah Target Lembaga yang diusulkan untuk mendapatkan Training dan Penyuluhan untuk memperkuat kinerja dalam pengelolaan terumbu karang di daerah. dan (iv) pengembangan mata pencaharian alternatif. Salah satu komponen utama dari COREMAP II adalah Pengelolaan Sumberdaya dan Pembangunan Masyarakat Berbasis Masyarakat (PBM). baik pemerintah sebagai pengelola maupun lembaga non-pemerintah yang kemungkikan untuk melaksanakan program COREMAP.

(5) Memfasilitasi penyusunan dokumen-dokumen PBM di tiap-tiap desa.LIPI dan PMO. (2) Menangani aspek administrasi kegiatan di tingkat desa hingga kabupaten/kota. (8) (9) Membantu penanganan / resolusi konflik di tingkat desa. 2. masyarakat. Fungsi fasilitasi di lapangan COREMAP dilakukan oleh LSM yang telah terpilih. (7) Mendorong terbentuknya Peraturan Daerah dalam mendukung pelaksanaan PBM. (3) Melakukan koordinasi dengan UPP kabupaten/kota dan instansi-instansi terkait di tingkat Kabupaten. RCU di Propinsi. maka 24 Panduan Pengembangan Marine Management Area motivator desa. pengawas lapangan dan pembentukan Lembaga Pengelola Sumberdaya (LPS) Terumbu Karang. (4) Memfasilitasi pelatihan dan studi banding bagi fasilitator lapangan. dan kelompok – kelompok . Adapun tugas dan fungsi dari LSM sebagai motivator lapangan berlaku sampai proyek selesai. Memfasilitasi pembentukan kelompok-kelompok masyarakat. PIU . yaitu : (1) Menyiapkan fasilitator senior yang berkedudukan di kabupaten/kota dan berfungsi sebagai koordinator dari para fasilitator lapangan yang bekerja di desa. (6) Memfasilitasi proses-proses pengadaan dan pelaksanaan kegiatan di tingkat desa melalui fasilitator lapangan.3 Perpektif Kelembagaan MMA ke depan Untuk mencapai tujuan Program Pengelolaan MMA sehingga dapat mendukung pengelolaan sumberdaya perikanan yang lebih baik. yang mencakup laporan hasil pemantauan teknis dan keuangan agar sesuai dengan prosedur dan aturan yang berlaku mengacu kepada. pemilihan motivator desa.LSM.

Adapun prinsip-prinsip yang akan dikembangkan dalam Program Pengelolaan MMA secara terpadu. Mekanisme Kerja Pengelola MMAdapat dijabarkan secara singkat sbb : • Bupati dan Gubernur merupakan anggota ex-officio karena jabatan pada Dewan/Badan Pengelola MMA. Struktur organisasi yang efisien dengan pengawasan yang efektif dan dikelola secara profesional 3.diperlukan pembangunan Kelembagaan Program Pengelolaan MMA yang didukung oleh lembaga terkait yang memiliki kepedulian terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan. Kejelasan tugas pokok fungsi dan tanggung jawab dari masing-masih unit pengelola program 4.4 Mekanisme Kerja Kelembagaan MMA Untuk menjalankan sistem pengelolaan MMA diperlukan suatu mekanisme kerja yang dapat menjamin proses koordinasi para pemangku kepentingan. Adanya kelengkapan peraturan dan menerapkan prinsip dan norma hukum dalam pengelolaan Program Pengelolaan MMA 6. Hasil Program Pengelolaan MMA dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat pengguna 5. Keberadaan kelembagaan Program Pengelolaan MMA diharapkan dapat diterima oleh masyarakat industri perikanan dan secara jangka panjang akan tetap berjalan. 2. adalah : 1. Keberadaan kelembagaan yang terpadu dan kuat akan menentukan keberhasilan pelaksanaan program. Dinamis untuk mengakomodasi perubahan untuk perbaikan Program Pengelolaan MMA. Mereka akan memilih COREMAP II ADB 25 . Transparan bagi semua pihak yang berkepentingan untuk mendukung pengelolaan perikanan yang berkelanjutan 2.

Pelaksanaan hal-hal teknis dilakukan oleh anggota pelaksana teknis dan akan melaporkan secara rutin kemajuan pelaksanaan kegiatan di lapangan kepada sekretariat dan memberikan masukan-masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pengelolaan MMA.perwakilan dari representasi para pemangku kepentingan utama untuk duduk dalam Lembaga Pengelola • • Lembaga Pengelola MMA akan mengadakan pertemuan rutin yang terbuka untuk umum. Pelaksana teknis ini merupakan unit pelaksana operasional dalam menjalankan program dan kegiatan pengelolaan terumbu karang daerah (MMA) di lapangan. Gugus tugas akan ditentukan oleh Bupati dan memberikan dukungan kepada upayaupaya yang akan dilakukan untuk pengelolaan MMA sesuai dengan bidangnya. Bupati dan Gubernur akan mengangkat sekretaris • Penasehat ilmiah dan teknis berfungsi untuk memberikan masukanmasukan ilmiah dan teknis merupakan orang-orang ahli di bidang keilmuan dan teknologi yang berkaitan dengan pengelolaan MMA. Pelaksana teknis merupakan pengembangan dari LPS-TK yang beranggotakan : pokmas-pokmas. • Tugas-tugas dimaksudkan untuk mengembangkan strategi MMA di Kabupaten. lembaga teknis pemerintah dan LSM.5 Lembaga Pengelola MMA 26 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Sekretariat Lembaga Pengelola memberi dukungan dan mengkoordinasikan semua aspek pengelolaan MMA. Gugus Tugas dapat merupakan penjelmaan dari koordinatorkoordinator bidang pada PIU Kabupaten saat ini. 2. swasta. • • Bupati akan mengangkat anggota dan ketua Kelompok Kerja dan Pelaksana Teknis untuk mengimplementasikan pengelolaan MMA.

6 Sekretariat Pengelola MMA Tugas Sekretariat Pengelolaan MMA adalah memberi dukungan dan mengkoordinasikan semua aspek usaha pengelolaan MMA. termasuk penggalangan partisipasi dari stakeholder. teknologi. sbb : (1) Memberikan dukungan. Seketariat mempunyai tanggung jawab. Gugus Tugas dan Pelaksana Teknis. berupa memfasilitasi pertemuan. 2. seperti dana. Komite Penasehat Teknis. (2) (3) Mebuat dan mempublikasikan hasil-hasil pengelolaan MMA Memfasilitasi persiapan proritas anggaran tahunan untuk pengelolaan MMA COREMAP II ADB 27 . Tanggung jawab Lembaga Pengelola adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) Mengadopsi dan mengamandemen Renstra Pengelolaan Terumbu Karang Daerah Menyetujui usulan program-program dan kegiatan pengelolaan MMA untuk pendanaannya Mendorong upaya-upaya mobilisasi sumberdaya. kepada Lembaga Pengelola MMA.Lembaga Pengelola MMA akan membuat kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penyelenggaraan program pengelolaan MMA secara terpadu. SDM dari luar untuk pengelolaan MMA Memfasilitasi resolusi konflik antar pengguna MMA Mendorong kerjasama antara Eksekutif dan Legislatif (DPRD) untuk mengefektifkan pengelolaan MMA Membuat jaringan pengelolaan MMA di tingkat Propinsi/Region dan ikut berpartisipasi aktif dalam jaringan MMA Nasional (7) Mendelegasikan wewenang dan menyediakan dana operasional dalam tugas-tugas kesekretariatan.

serta memberi dukungan pengelolaan MMA antara pemerintah kabupaten dan desa-desa.7 Komite Penasehat Teknis Pengelolaan MMA Komite teknis akan memberikan pedoman dan arahan untuk memastikan bahwa rencana dan program pengelolaan MMA dibuat dengan pertimbangan ilmiah dan teknis. pengelolaan dan penyempurnaan pengawasan (MCS) jangka panjang. sumberdaya perikanan dan jasa lingkungan di lokasi MMA. Adapun tanggung jawab Komite Penasehat Teknis : (1) (2) Memberikan saran mengenai perencanaan. Mempromosikan dan memfasilitasi pertukaran informasi antara pengguna tentang manfaat MMA bagi masyarakat. Berikut adalah tanggung jawab UPT : 28 Panduan Pengembangan Marine Management Area . (3) Memberikan saran penelitian terapan yang akan digunakan untuk peningkatan pengelolaan MMA. 2. untuk pengelolaan MMA (6) Membuat laporan tahunan mengenai kemajuan pengelolaan MMA. terutama tentang informasi ilmiah.(4) (5) Memfasilitasi penyiapan proposal dan pencarian dana dari pihak luar untuk mendukung pengelolaan MMA yang efektif Memfasilitasi program pendidikan. penelitian dan keterlibatan masyarakat dengan lembaga-lembaga partner dan media massa. 2.8 Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan MMA Unit Pelaksana Teknis di Kabupaten/Kota (UPT) MMA bertugas untuk mengawasi pelaksanaan program dan menjadi penghubung.

dsb.) akan melaksanakan kegiatan konservasi di Tugas pelaksana teknis adalah untuk menjalankan program/rencana aksi tahunan pengelolaan MMA yang telah disetujui dan disyahkan oleh Lembaga Pengelola Adapun tanggung Jawab Pelaksana Teknis MMA: (1) (2) Membantu Gugus Tugas dalam pelaksanaan program dan kegiatan yang terkait dengan pengelolaan MMA Membantu pelaksanaan kegiatan yang telah diusulkan oleh Kelompok Kerja (berdasarkan isu-isu pengelolaan MMA di lapangan). COREMAP II ADB 29 . maupun dengan berbagai lembaga di daerah dan nasional. Pengusaha Perikanan. 2.(1) Mengembangkan lokasi MMA dan melaksanakan program-program pengawasan pemanfatan dan perlindungan sumberdaya di (2) (3) Membantu dalam mengembangkan kemampuan kelembagan pelaksana teknis dalam rangka pengelolaan MMA Memberikan rekomendasi berdasar masukan dari keleompok kerja di Pelaksana Teknis (LPS-TK) mengenai inisiatif prioritas program. kegiatan dan anggaran tahun yang akan datang. (4) (5) (6) Merekomendasikan usulan mobilisasi sumberdaya dalam rangka memfasilitasi program dan pengelolaan Mengkomunikasikan pelaksanaan program dengan pemerintah dan perwakilan desa Mengkoordinasikan kerja antar Gugus Tugas.9 LPS-TK dan Pihak Swasta Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) beserta Kelompok-kelompok Masyarakat (pokmas). melalui Gugus Tugas. Kelompok Swadaya Masyarakat dan Pihak Swasta (pengusaha Wisata.

2. Sinkronisasi dan harmonisasi program dan pendanaan antara Kabupaten dan Provinsi dalam perencanaan dan pengelolaan MMA disarankan untuk menuangkannya ke dalam Kesepakatan Bersama atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kabupaten dan Provinsi. yang akan diawali pada bulan Januari sampai Desember setiap tahunnya. Disarankan Lembaga Pengelolaan MMA meninjau kemajuan lembaga dan program kerjanya dan akan memulai siklus Perencanaan Program Tahunan.10 Pendanaan MMA Untuk menjamin pendanaan yang berkelanjutan. Sinkronisasi program kerja sangat diperlukan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat (DKP). baik ditingkat Kabupaten dan Provinsi. Proses pendanaan progran pemerintah akan mengikuti siklus pendanaan. setelah diadakannya Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan). Sebelum pendanaan disetujui menjadi Daftar Isian Proyek (DIP). maka lembaga terkait sektoral akan menerahkan usulan anggaran program/kegiatan ke DPRD. maka secara operasional perencanaan program dan pendanaan pengelolaan MMA dapat disesuaikan dengan siklus perencanaan program dan pendanaan tahunan pemerintah. setelah MMA terbentuk. 30 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

Usulan Kelembagaan MMA di Tingkat Kabupaten/Kota COREMAP II ADB 31 .Lembaga Pengelola KKLD Sekretariat Komite Pengarah Teknis Unit Pelaksana Teknis KKLD Kelembagaan /SDM Pengelolaan Berbasis Masyarakat Penyadaran Masyarakat Pemantauan dan Pengawasan /MCS Sistem Informasi. Training Kelompok Kerja Provinsi LPSTK: Pokmas : koordinatif Swasta/ Asosiasi : konsultatif Gambar 5.

3. yang ada itu dalam juga program PBM-COREMAP Disamping mensinergikan kegiatan pada masing-masing pokmas.3. Tujuan LPS-TK adalah untuk mengorganisir melaksanakan dan mengkoordinir pokmas-pokmas II.1 Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa 3. 3. Lembaga ini adalah lembaga resmi di tingkat desa yang memiliki peran dalam menjalankan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang di Kawasan Konservasi atau Daerah Perlindungan Laut (DPL) yang akan disusun secara bersama-sama oleh seluruh Pokmas dan Kelompok Pengawasan Terumbu Karang dan difasilitasi oleh Fasilitator Lapangan.4.1.7. Kelembagaan Konservasi Terumbu Karang di desa Kelompok Masyarakat Pengelola DPL Membangun DPL Berbasis Masyarakat Metode Pengelolaan DPL Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan Zonasi Kawasan Lokasi dan Ukuran Partisipasi Masyarakat Dalam pengelolaan COREMAP melembagakan sumberdaya berupaya untuk peran terumbu karang di tingkat desa. 3. mengoptimalkan pemerintah desa dan lembaga formal di desa meskipun lembaga-lembaga formal di desa-desa belum berfungsi sebagaimana diharapkan masyarakat.2. LPS-TK bertanggung jawab kepada masyarakat desa melalui BPD atas pelaksanaan rencana pengelolaan pesisir desa. 3. sehingga sesuai dengan RPTK (Rencana Pengelolaan Terumbu Karang) terpadu di DPL. COREMAP telah memfasilitasi terbentuknya Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK).5. 3.8. 3. Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) di desa sebagai lembaga formal yang ditetapkan oleh Pemerintah Desa. 3. Bersama dengan BPD menetapkan rencana pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa dan peraturan-peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir di 32 Panduan Pengembangan Marine Management Area .DAERAH PERLINDUNGAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT 3.6.

dengan anggota terdiri dari seluruh motivator desa. Dalam pengelolaan suatu kawasan lintas desa. LPS-TK memiliki pengurus yang terdiri dari Ketua. dan staf administrasi. serta Badan Pengelola di desa terlibat secara aktif dan melakukan fungsi dan perannya sebagaimana diamanatkan dalam Rencana Pengelolaan sebagai panduan dalam pelaksanaan. LPS-TK beranggotakan wakil-wakil dari para motivator desa. COREMAP II ADB 33 . BPD.desa. Bendahara. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan sumberdaya terumbu karang. Oleh pemerintah desa Lembaga Pengelola ini ditetapkan melalui surat keputusan pemerintah desa untuk memberikan dukungan secara hukum kepada lembaga dan personil yang akan melaksanakan tugas. pengurus Pokmas dan Pengawas Terumbu Karang dan Perwakilan Desa. pemerintah desa. LPS-TK melakukan koordinasi dan kerjasama dengan LPS-TK dari desa tetangga. LPS-TK berperan dalam membantu Pemerintah Desa dalam menjalankan fungsi pengelolaan sumberdaya terumbu karang di tingkat desa. LPS-TK dibentuk dan diarahkan menjadi lembaga resmi yang berbadan hukum. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan desa dan pelaksanaan rencana pengelolaan pembangunan di desa merupakan suatu lembaga yang sudah ada di desa yang dapat melaksanakan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang di Tingkat Desa yang dilaksanakan oleh LPS-TK beserta dengan Pokmas-Pokmas. Sekretaris. anggota Pokmas dan anggota pengawas terumbu karang. Peran Badan Perwakilan Desa (Legislatif) bersama dengan Pemerintah desa menyusun dan menetapkan rencana pembangunan dan pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa serta peraturan-peraturan mengenai pengelolaan sumberdaya wilayah pesisir desa. Dalam mengoptimalkan pelaksanaan Rencana pengelolaan.

Menyalurkan dana bagi kelompok-kelompok masyarakat yang diterima dari PIU. Melakukan koordinasi dengan Kepala Desa dan PIU dalam keseluruhan program pengelolaan berbasis mayarakat. oleh dan untuk masyarakat yang difasilitasi oleh fasilitator lapangan dan disahkan oleh Kepala Desa. Melakukan koordinasi dengan LSM dan Konsultan. untuk membangun sistem koordinasi yang akomodatif antara desa dan kabupaten rapat koordinasi dilakukan secara berkala. Pada saat Proyek COREMAP masih berjalan. Tugas LPS-TK adalah sebagai berikut: 1) 2) 3) 4) 5) 6) Menyiapkan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) Mengimplementasikan RPTK Menyusun usulan-usulan kegiatan berdasarkan usulan dari pokmas-pokmas dan kelompok pengawas terumbu karang. 10) Melakukan pemantauan dan evaluasi RPTK. Melaksanakan kegiatan-kegiatan pembangunan infrastruktur sosial yang dapat dilaksanakan oleh masyarakat secara langsung. Koordinator-koordinator Project Implementation Unit (PIU) Kabupaten yang terdiri dari dinas-dinas teknis di Kabupaten/Kota disepakati untuk memberikan rekomendasi serta kajian teknis atas usulan kegiatan desa dalam RPTK sekaligus memasukkan usulan kegiatan ke dalam usulan kegiatan dinas teknis yang akan dibiayai 34 Panduan Pengembangan Marine Management Area . serta disetujui oleh PIU kabupaten/kota.LPS-TK dibentuk dari. 7) 8) 9) Mengembangkan Lembaga Keuangan Mikro yang akan melaksanakan Unit Simpan Pinjam (USP). Melaksanaan kegiatan administrasi keuangan sesuai dengan SE-Ditjen Anggaran.

Proses pembentukan kelompok masyarakat difasilitasi oleh fasilitator lapangan. produksi.2 Kelompok Masyarakat Pengelola DPL Kelompok masyarakat atau Pokmas adalah kelompok kecil yang dibentuk di tingkat desa. Berperan aktif dalam penyusunan Rencana Pengelolaan (2) Terumbu Karang Terpadu (RPTK Terpadu) yang mencakup Program Pengelolaan Terumbu Karang. agar dapat berperan aktif dalam pelaksanaan pengelolaan terumbu karang. (3) Mengimplementasikan RPTK Terpadu sesuai dengan bidang Pokmas yang bersangkutan. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) di desa-desa lokasi COREMAP. adanya ancaman terhadap kelestarian ekosistem terumbu karang serta `upayaupaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kelestarian ekosistem terumbu karang. Pengembangan Prasarana Dasar dan Peningkatan Kapasitas dan Kesadaran Masyarakat. peningkatan peran dan kemampuan Menyebarluaskan informasi kepada masyarakat tentang arti dan nilai penting ekosistem terumbu karang. Penguatan Pokmas adalah suatu proses meningkatkan kemampuan dan peran suatu kelompok masyarakat ke arah bidang kegiatan tertentu (konservasi. misalnya Pokmas Konservasi COREMAP II ADB 35 . perempuan). 3. Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif.melalui Proyek COREMAP. peningkatan peran dan kemampuan perempuan). Pembentukan Pokmas adalah suatu proses membentuk kelompok atau organisasi masyarakat yang akan mempunyai peran dan fungsi bidang tertentu (konservasi. Pokmas mempunyai tugas dan tanggung jawab utama : (1) produksi. Dalam satu desa dapat dibentuk beberapa kelompok masyarakat menurut kesamaan minat.

Persyaratan pembentukan kelompok masyarakat: (1) Kelompok masyarakat dianjurkan dibentuk dengan anggota antara 5 sampai 9 orang dengan anggota yang memiliki kesamaan minat. yaitu ketua dan bendahara. Pengurus kelompok harus memiliki kemampuan baca dan tulis. hutan mangrove. Kelompok masyarakat memilih 2 (dua) orang pengurus. akan dikelola oleh satu Unit Pengelolaan yaitu Marine Management Area (MMA) di tingkat Kabupaten/Kota yang akan dikelola secara kolaboratif. MMA ini berbeda dengan Taman 36 Panduan Pengembangan Marine Management Area . dan pengelolaannya yang dilakukan secara bersama antara pemerintah. masyarakat dan pihak lain. memantau. lamun dan habitat lainnya secara sendiri atau bersama-sama yang dipilih dan ditetapkan untuk ditutup secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan biota laut. dengan memberikan penekanan bahwa DPL-DPL dalam skala desa.3 Membangun DPL Berbasis Masyarakat Daerah Perlindungan Laut Berbasis Masyarakat (DPL-BM) merupakan kawasan pesisisir dan laut yang dapat meliputi terumbu karang. dan mengevaluasi pengelolaannya (Tulungen et at. Anggota kelompok terdiri dari laki-laki dan perempuan secara proporsional. yang bertanggung jawab dalam aspek administrasi teknis dan keuangan.melaksanakan program-program pengelolaan terumbu karang. (4) Membuat laporan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program kegiatan masing-masing Pokmas. (2) (3) (4) (5) (6) 3. COREMAP II ADB memodifikasi definisi tersebut. Anggota kelompok yang dipilih adalah orang yang tergolong dewasa. dalam merencanakan. Kelompok masyarakat disahkan oleh Kepala Desa. 2003). Dalam hal ini.

Nasional Laut atau daerah konservasi dalam skala luas lainnya. Taman Nasional Laut Bunaken di Sulawesi Utara, misalnya, mimiliki luas 89.065 Ha dan ditetapkan serta dikelola oleh Pemerintah secara nasional, walaupun saat sekarang dikelola secara kolaboratif oleh Dewan Pengelola Taman Nasional Bunaken, yang beranggotakan stakeholders di daerah. DPL dibentuk berdasarkan ekosistem yang ada, terutama terumbu karang yang terkait dengan ekosistem pesisir lainnya. Keberadaannya dapat ditetapkan melalui peraturan Desa untuk Kabupaten, yang sudah otonom. Khusus untuk Kota (Batam), maka penetapan DPL dilakukan oleh walikota, karena Kelurahan di Kota tidak otonom. DPL dibentuk untuk melindungi dan memperbaiki sumberdaya terumbu karang dan perikanan di wilayah yang mempunyai peranan penting secara ekologis. DPL ini diharapkan merupakan alat pengelolaan perikanan yang efektif, karena adanya pengaturan perikanan, perlindungan daerah pemijahan dan pembesaran larva, sebagai asuhan juvenil (anak ikan), melindungi kawasan dari penangkapan berlebihan, dan menjamin ketersediaan stok ikan secara berkelanjutan.

Tujuan Penetapan DPL: • Meningkatkan dan mempertahankan produksi perikanan di sekitar • Menjaga dan memperbaiki keanekaragaman hayati terumbu karang, ikan, dan biota lainnya • Dapat dikembangkan menjadi tempat tujuan wisata • Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pengguna • Memperkuat masyarakat dalam pengelolaan terumbu karang • Mendidik masyarakat dalam konservasi dan pemanfaatan sumberdaya berkelanjutan • Sebagai lokasi penelitian dan pendidikan tentang keanekaragaman hayati laut

COREMAP II ADB

37

3.4 Metode Pengelolaan DPL Walaupun DPL yang akan dibentuk adalah DPL yang berbasiskan masyarakat, tetapi pembentukan dan pengelolaannya harus dilakukan bersama antara masyarakat, pemerintah setempat dan para pihak (stakeholder) yang ada di desa. Pemerintah daerah, terutama pemerintah desa, haruslah bekerjasama dalam proses penentuan lokasi dan aturan DPL, pendidikan masyarakat, bantuan teknis dan pendanaan awal. Tanggung jawab dalam menentukan lokasi dan tujuan pengelolaan DPL ditetapkan oleh masyarakat, sedangkan bantuan teknis dan pendanaan, serta persetujuan terhadap peraturan ditetapkan oleh pemerintah atas kesepakatan masyarakat. Masyakarat dapat bekerja sama dengan pihak lain,seperti LSM dan Swasta untuk pengelolaan DPL supaya lebih efektif. 3.5 Peran DPL untuk Pengelolaan Perikanan Berfungsinya DPL secara pengelolaan adalah apabila terdapatnya suatu zona inti di dalam DPL, yaitu suatu zona larang ambil permanen. Di dalam zona inti atau dapat dikatakan zona tabungan perikanan, tidak diperkenankan adanya kegiatan eksploitatif atau penangkapan ikan. Kegiatan eksploitasi hewan laut seperti karang, teripang, kerang-kerangan atau organisme hidup lainnya dilarang untuk diambil. Zona inti dalam DPL tidak diperkenankan dieksploitasi secara musiman atau waktu-waktu tertentu, sehingga DPL tidak sama dengan ‘Sasi’ di Maluku atau ‘Mane’e di Sangir-Talaud. Pembukaan musiman dapat menyebabkan fungsi DPL dan zona intinya tidak berfungsi efektif. Zona inti biasanya berisi ekosistem terumbu karang yang sehat, karena tidak mengalami gangguan oleh manusia, sehingga biota karang termasuk ikan karang, mempunyai kesempatan untuk kembali pada keadaan terumbu karang yang baik. Zona inti
38
Panduan Pengembangan Marine Management Area

cenderung dipilih yang mempunyai kondisi dan tututan karang yang baik, dan dihuni oleh beberapa biota dari berbagai ukuran, termasuk pemangsa besar, seperti kerapu dan hiu. Diharapkan bahwa zona inti yang tidak diganngu oleh kegiatan penangkapan ikan atau sangat jarang dikunjungi oleh nelayan, akan memiliki ukuran ikan yang besar dan ikan-ikan yang hidup di zona inti akan menjadi induk yang sehat. Ukuran rata-rata ikan yang ada di zona inti yang berfungsi baik, cenderung memeiliki ukuran yang lebih besar dari pada ikan yang ada di luar zona inti (zona pemanfaatan). Dari penelitian diketahui bahwa, semakin panjang dan besar ukuran induk ikan akan memberikan telur yang jauh lebih besar secara exponensial. Apabila rata-rata umur dan ukuran ikan semakin muda dan kecil, maka telur dan larva yang akan dihasilkan juga semakin sedikit. Sehingga, salah satu peran dari zona inti yang ditutup dari kegiatan penangkapan ikan adalah, untuk menghindari kegagalan perikanan akibat tidak tersedianya induk ikan yang mampu berkembang biak untuk menghasilkan juvenil ikan, yang akan menjadi besar dan siap untuk dimanfaatkan oleh kegiatan perikanan. Yang perlu kita perhatikan adalah, DPL tidak dapat mengatasi masalahmasalah yang berhubungan dengan tangkap lebih (over fishing) di suatu kawasan, tetapi DPL merupakan salah satu cara yang mudah untuk membantu menjaga kelestarian habitat, mengurangi cara-cara penangkapan ikan yang merusak, dan membantu nelayan memahami konsep pengelolaan perikanan. Fungsi rehabilitasi habitat dapat diperankan oleh DPL, apabila DPL ditetapkan pada kawasan terumbu karang yang mungkin sudah mulai rusak oleh kegiatan manusia atau suatu kawasan yang aktivitas perikanannya sudah berlangsung lama. Dengan adanya DPL maka habitat di kawasan tersebut mempunyai kesempatan untuk pulih dan biota yang hidup di dalamnya berkembang biak. Sehingga, DPL menjadi kawasan terumbu karang penyedia (source reef) telur, larva dan juvenil, serta induk yang sehat,
COREMAP II ADB

39

Dilain pihak. DPL dapat juga menarik ikan-ikan yang ada di luar kawasan karena habitat di dalamnya yang terpelihara untuk hidup. sepeprti berenang. Dari pengamatan para ahli. di desa Sebesi. sedang di luarnya adalah Zona Pemanfaatan. memiliki 2 zona utama yaitu zona inti (no-take zone) dan zona penyangga (buffer zone). serta desa-desa lain di Sulawesi Utara. snorkling dan menyelam untuk tujuan rekreasi masih diperbolehkan. serta dipatuhi oleh masyarakat.6 Zonasi Kawasan DPL haruslah mempunyai perencanaan zonasi. sedang DPL akan menunjukkan perubahan kepadatan ikan dan terumbu karang hidup dalam waktu setelah setahun DPL ditetapkan. 3.yang akan mengekport ikan-ikan keluar kawasan. serta DPLDPL di Filipina. Sedang kegiatan yang tidak ekstraktif. Di Zona penyangga. kegiatan penangkapan ikan diperbolehkan tetapi dengan 40 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Zona Inti adalah suatu areal yang di dalamnya kegiatan penangkapan ikan dan aktivitas pengambilan sumberdaya alam laut lainnya sama sekali didak diperbolehkan. yang ditetapkan secara sederhana. sampai beratus-ratus mil laut. Mekanisme export larva-larva karang dan telur ikan pada zona inti DPL dipengaruhi oleh arus perairan. artinya mudah dipahami dan dilaksanakan. Pada umumnya DPL. Zona yang umum dipunyai oleh DPL adalah Zona Inti dan Zona Penyangga. makan. Bentenam dan Tumbak. Begitu pula kegiatan yang merusak terumbu karang. yang dapat sampai jauh di luar kawasan DPL. menunjukkan bahwa DPL akan memberikan manfaat kepada perikanan yang ada di sekitar kawasan sekitar 3-5 tahun.Lampung. Namun demikian perlu kesepakatan dengan masyarakat kegiatan apa saja yang boleh dilakukan di zona inti. seperti pengambilan karang. seperti : di desa Blonko. sehingga fungsi zona tersebut dapat optimal. yang merupakan zona di sekeliling zona inti. pelepasan jangkar serta penggunaan galah untuk mendorong perahu juga tidak diperbolehkan. tumbuh dan berkembang biak.

maka saat sekarang DPL berbasis desa yang ada di beberapa negara menunjukkan luasan sampai 50 hektar zona inti. Pada umumnya DPL ditempatkan di sekitar pulau-pulau kecil atau di sepanjang garis pantai pulau besar. kegiatan wisata dan perlindungan keanekaragaman hayati. namun demikian ilmuwan merekomendasikan’ semakin luas ukuran DPL akan semakin baik fungsinya’. dan konflik dengan apa pengguna (nelayan) akan memjadi besar. Sebenarnya tidak ada ukuran yang ideal untuk DPL. Apabila terlalu kecil ukuran DPL maka DPL tidak akan berfungsi secara ekologis. berdasar dari lesson-learned dari CRMP/USAID di Sulawesi Utara dan Lampung (2003). seperti pancing dan memanah dengan perahu tradisional. 3. Para ahli dari PISCO 2002. lamun dan terumbu karang. merekomendasikan bahwa 30% dari habitat ikan karang akan memberikan hasil yang optimal untuk pengelolaan perikanan.7 Lokasi dan Ukuran Lokasi dan Ukuran DPL sangat menentukan keberhasilan fungsi DPL dalam mendukung pengelolaan perikanan. Cakupan DPL sebaiknya mulai dari garis pantai sampai ke kawasan lepas pantai yang mencakup asosiasi ekosistem mangrove. maka fungsi kontrol masyarakat terhadap DPL menjadi kurang. sedang apabila ukuran DPL terlalu luas di suatu desa. Pendapat ahli menyebutkan bahwa ukuran yang optimal adalah 1030 % dari luasan terumbu karang di suatu desa. Kegiatan penangkapan ikan dengan menggunakan lampu (light fishing) dan beberapa alat tangkap yang potensial merusak terumbu karang masih dilarang di zona penyangga.menggunakan alat-alat tradisional. Berikut adalah beberapa prinsip-prinsip ekologi yang dipertimbangkan untuk penentuan lokasi dan ukuran DPL Berbasi Masyarakat. yaitu : • Kondisi tutupan karang cukup tinggi (lebih dari 50% dianjurkan) COREMAP II ADB 41 . Namun demikian. dari pengalaman dan persetujuan dengan masyarakat.

Karena kecenderungan ukuran DPL di desa berukuran kecil. serta asosiasi dengan habitat lain Tempat pemijahan ikan karang Terhindar dari sedimentasi. Untuk meningkatkan efektifitas fungsi ekologis sebagai suatu kawasan konservasi. maka DPL sebaiknya bergabung menjadi suatu Jaringan (network) DPL-DPL di desa yang menjadi satu menjadi Dengan MMA (Marine suatu Management sistem Area) di tingkat berbasis Kabupaten/Kota. dengan proses partisipasi. Dari hasil survei di masyarakat yang memiliki DPL Pulau Sebesi. maka sebaiknya DPL tidak dipandang sebagai pengganti Kawasan Konservasi yang berskala besar seperti Taman Nasional Laut. Selain itu. namun hendaknya dipandang sebagai pendukung. jaringan DPL masyarakat. polusi dari sungai Akses masyarakat untuk mengawasi DPL mudah Bukan merupakan lokasi utama panangkapan ikan nelayan Bukan merupakan kawasan penambatan perahu yang intensif. masyarakat akan lebih merasakan manfaat dari program yang dilaksanakan. partisipasi masyarakat sangat penting dalam menunjang keberhasilan program pengelolaan sumberdaya pesisir.8 Partisipasi Masyarakat Dalam pandangan masyarakat desa. 42 Panduan Pengembangan Marine Management Area . masyarakat juga akan membantu dalam implementasi program dan terlibat aktif dalam pemeliharaan selama dan sesudah program dilaksanakan. menunjukkan bahwa 98% masyarakat menilai partisipasi sangat penting dengan bebagai alasan. 3. akan sangat ideal untuk saling menopang dan mendukung suatu sistem Kawasan Konservasi yang lebih besar (MMA). Misalnya. baik sebagai penerima (sink reef) ataupun dapat sebagai sumber (source reef) untuk larva ikan dan karang. begitu.• • • • • • • • Kepadatan ikan karang dan biota laut lannya tinggi Mencakup 10-20% dari keseluruhan habitat terumbu karang Habitat karang termasuk Rataan Terumbu dan Lereng.

pada kenyataannya pengelolaan yang murni berbasis masyarakat kurang berhasil. Pengelolaan berbasis masyarakat bertujuan untuk melibatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan perencanaan dan pelaksanaan suatu pengelolaan DPL. sehingga biaya penegakkan hukum dan pengawasan kawasan menjadi kecil.pengelolaan sampai evaluasi suatu DPL sangatlah penting. Namun demikian.DPL berbasis masyarakat yang dimaksudkan adalah co-management (pengelolaan kolaboratif). partisipasi masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama sejak awal kegiatan dari mulai perencanaan. sehingga dukungan yang diperlukan adalah menyadarkan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan demikian. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh karena proses partisipatif dalam merencanakan dan mengelola DPL adalah : • Pelibatan masyarakat dapat membantu bahkan bertanggung jawab dalam penegakan aturan. dan dapat membuat aturan sendiri untuk ditetapkan di lingungannya Masyarakat masuk. maka dukungan dan kerja sama dengan lembaga pendidikan. yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh masyarakat bersama-sama dengan pemerintah setempat. • • Masyarakat merasa memiliki DPL. akan membuat program penggalangan dana untuk operasional DPL melalui kegiatan ekonomi. Pengelolaan DPL berbasis masyarakat berawal dari pemahaman bahwa masyarakat mempunyai kemampuan sendiri untuk memperbiki kualitas kehidupannya. seperti pariwisata dan tarif COREMAP II ADB 43 . penelitian serta LSM juga dibutuhkan untuk menentukan lokasi DPL dan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar DPL. oleh karena itu dukungan dan persetujuan dari pemerintah dalam hal memberikan pengarahan. bantuan teknis dan bantuan aspek hukum suatu kawasan konservasi sangat diperlukan. Selain dukungan dari pemerintah. dll.

• Menciptakan kesempatan kepada masyarakat untuk bekerjasama dalam bentuk organisasi di tingkat desa. 44 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

PERENCANAAN DAN PEMBENTUKAN DPL 4.11. Tahapan dan Pembentukan 4.12. Pengelolaan DPL 4. Berikut adalah tahapan. Pemilihan Lokasi MMA 4.9. seperti penangkapan ikan yang merusak. MCS dan Penegakan Hukum 4. Pemasangan Tanda Batas dan Pemeliharaan 4.6. Pemantauan dan Evaluasi 4.8. Pendidikan Lingkungan Hidup 4. Sistem Biaya Masuk 4. Penyebarluasan Konsep DPL ke Lokasi Lain (Scaling-up) Proses perencanaan pengelolaan penetapan DPL dan dilakukan wilayah dengan mengikuti proses kebijakan sumberdaya pesisir.4.5. Penetapan suatu DPL tidak dapat dipisahkan dengan agenda besar pengelolaan wilayah pesisir. Isu-isu pengelolaan pesisir. dan indikator yang diharapkan dalam pengembangan DPL (Tabel 1) COREMAP II ADB 45 . tangkaplebih merupakan isu-isu yang juga berkaitan dengan pengembangan suatu DPL. Kelompok Pengelola 4. atau dengan kata lain merupakan bagian dari Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu di suatu desa atau kabupaten/kota. Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa 4. degradasi habitat. hasil.1.3.7.2. kegiatan.10. Pembuatan Rencana Pengelolaan 4.1 Tahapan dan Pembentukan 4. kurangnya kesadaran masyarakat.

Pengenalan dan Sosialisasi Program Kegiatan yang dilakukan Hasil yang diharapkan Indikator Hasil 2. Pelatihan.Tabel 1. Persetujuan Peraturan Desa • Pembuatan draft Perdes • Diskusi formal/inform al • Perbaikan draft Perdes • Musyawarah Desa • Peresmian Perdes • Peresmian Formal oleh • Pemahaman Masyarakat • Peta Karang • Peningkatan Pengawasan • Dukungan masyarakat • Kapasitas masyarakat meningkat • Kapasitas dalam pengelolaan sumberdaya • Partisipasi dalam pembuatan Perdes • Konsensus tentang aturan DPL • Penerimaan DPL secara formal • Dasar Hukum • Jumlah pelatihan/penyuluh an • Jumlah peserta pelatihan • Jumlah kelompok masyarakat • Jumlah proposal kegiatan kelompok • Pelaporan penggunaan dana • Jumlah pertemuan • Jumlah peserta dalam penyiapan Perdes • Jumlah peserta setuju dengan Perdes • Jumlah musyawarah • Penandatanganan Perdes • Peresmian DPL oleh Pemerintah 46 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Tahapan. Hasil dan Indikator pengembangan DPL Tahapan Proses Perencanaan dan Pengelolaan 1. Kegiatan. Pengembangan Kapasitas Masyarakat • Lokasi desa dipilih • Penempatan Penyuluh • Survei data dasar • Pembuatan Profil Desa • Diskusi program pendampinga n masyarakat • Studi banding DPL • Penyuluhan DPL dan lingkungan • Pelatihan Pemetaan Kawasan • Pelatihan Kelompok • Identifikasi isu-isu Sosioekono mi dan budaya dipahami • Pendekatan dapat dipahami bersama • Deskripsi data dasar • Profil lingkungan disebarkan kepada masyarakat • Jumlah pertemuan masyarakat ttg DPL 3. Konsultasi Publik 4. Pendidikan.

COREMAP II ADB 47 .Tahapan Proses Perencanaan dan Pengelolaan 5. yang disesuaikan dengan perencanaan oleh COREMAP II ADB. dari hasil pembelajaran dari DPL yang difasilitasi oleh CRMP USAID di Lampung dan Sulawesi Utara. Pelaksanaan Kegiatan yang dilakukan Hasil yang diharapkan Indikator Hasil • • • • • • • Pemerintah Pemasangan Tanda Batas Rencana Pengelolaan Papan Informasi Rencana pengelolaan terumbu karang (RPTK) Pertemuan Pengelola Monitoring Penegakan Hukum Penyuluhan dan pendididkan • Ketaatan • Pengelolaan efektif • Tutupan Karang meningkat • Kepadatan biota meningkat • Hasil tangkapan meningkat • Jumlah Pelanggaran menurun • Jumlah pertemuan kelompok • Survei monitoring • Data statistik perikanan di DPL Berikut adalah tahapan pembentukan DPL yang dapat diusulkan di lokasi COREMAP II ADB.

pendapatan Masyarakat Meningkat Gambar 6 . Peningkatan Pengawasan sumberdaya Langkah 3 Konsultasi Publik • • • • Pembuatan Draf Perdes Diskusi Formal/Informal Perbaikan Draf Perdes Ketentuan DPL Partisipasi Masyarakat.Langkah Checklist ● Lokasi dipilih ● Penempatan Penyuluh ● Survei data dasar ● Pembuatan Profil Desa ● Pendampingan masyarakat Hasil Langkah 1 Pengenalan dan sosialisasi COREMAP dan DPL Identifikasi Isu sosioekonomi. Hasil Tangkapan ikan meningkat. Tahapan dalam Pembentukan Daerah Perlindungan Laut 48 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Ketaatan Langkah 6 Monitoring dan Evaluasi DPL • Monitoring DPL • Penegakaan Hukum • Penyuluhan dan Pendidikan Tutupan Karang Meningkat. konsensus DPL Langkah 4 Persetujuan Peraturan Desa tentang DPL • Musyawarah Desa • Peresmian Perdes • Formalisasi oleh Pemerintah Penerimaan secara Formal dan Dasar Hukum Langkah 5 Pelaksanaan dan Pengelolaan DPL • Pemasangan Tanda Batas • Papan Informasi • RPTK dan Pengelola Pengelolaan Efektif. pendekatan disetujui bersama Langkah 2 Pelatihan dan Pengembangan Kapasitas Masyarakat ● Studi Banding DPL ● Pendidikan Lingkungan ● Pelatihan Pemetaan DPL ● Pelatihan LPSTK/Pokmas Pemahaman dan dukungan masyarakat. budaya dipahami. Peta Karang.

Berikut adalah daftar faktor-faktor atau kriteria yang akan digunakan dalam memutuskan bahwa suatu kawasan harus termasuk dalam sebuah MMA atau untuk menentukan batas-batas MMA: • • • Kealamiahan kawasan Kepentingan biogeografi Kepentingan ekologi COREMAP II ADB 49 . namun perlindungan dapat diupayakan dengan pertimbangan perlindungan habitat kritis untuk keperluan komersial. Contoh tentang Batas-batas Kawasan Konservasi Laut yang dapat dipadankan dengan MMA tertera pada Lampiran 2. Daya tahan hidup dari spesises tidak dapat dihubungkan secara spesifik dengan lokasi.4. Di laut. Menjamin pemanfaatan jenis dan ekosistem secara berkelanjutan. habitat biasanya jarang dibatasi secara persis atau secara kritis dibatasi. yaitu : • • • Untuk menjaga proses-proses ekologi penting dan penyangga kehidupan. Oleh karenanya. walaupun alasan utama dari pembentukan kawasan konservasi keduanya sangat mirip. Melindungi keanekaragaman hayati. di laut kasus ekologi untuk proteksi biasanya tidak selalu tergantung pada habitat kritis biota langka beserta ancamannya.2 Pemilihan Lokasi Kawasan Konservasi Laut Mendefinisikan calon lokasi KKL atau DPL yang akan menjadi bagian dari jaringan KKL mencakup berbagai penekanan pada pertimbanganpertimbangan yang lebih detail dari pada penetapan kawasan lindung di daratan. Banyak spesies yang bergerak bebas secara luas dan arus air membawa material genetik melalui jrak yang sangat jauh. rekreasi dan perlindungan tipe habitat dengan asosiasi genetik dalam komunitasnya.

kesepakatan masyarakat tentang pengelolaan dan pemanfaatan daerah perlindungan laut. dan tingkat ancaman terhadap kelestarian terumbu karang. 2002) telah membuatkan kriteria dalam penentuan Kawasan Konservasi. Walaupun kriteria dari IUCN diperuntukkan kepada Kawasan Konservasi yang luas. Pemilihan lokasi biasanya merupakan suatu kompromi antara pertimbangan kebutuhan praktis (kemudahan pengelolaan) dan prinsip-prinsip konservasi (kondisi terumbu karang yang baik dengan keanekaragaman hayati yang tinggi). namun dapat digeneralisasikan untuk digunakan pada DPL berbasis desa.• • • • • Kepentingan ekonomi Kepentingan sosial Kepentingan ilmiah Kepentingan nasional dan internasional Kepraktisan dan kelayakan pengelolaan Jika suatu pulau atau suatu desa sudah terpilih menjadi lokasi DPL. Berdasarkan halhal tersebut. Kawasan-kawasan terumbu karang yang merupakan ”bank ikan karang ” dan mempunyai ketahanan terhadap ‘coral bleaching’ (pemutihan karang) akibat perubahan iklim. haruslah mempertimbangkan juga faktor-faktor sosial ekonomi. sejumlah kriteria diajukan untuk menentukan daerah perlindungan laut yang dikelola oleh masyarakat desa IUCN (Salm et al. Hal ini sangat mempengaruhi pemilihan lokasi dan besar ukuran daerah perlindungan laut. menjadi prioritas untuk dilindungi. 50 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Hal lain yang harus diperhatikan adalah kualitas aspek estetika kawasan ditinjau dari kualitas terumbu karang dan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Berbagai hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah daerah perlindungan laut adalah kemampuan masyarakat desa dalam mengawasi kawasan dimana kegiatan eksploitatif tidak diperkenankan. maka penentuan lokasi yang sesuai dengan lokasi zona inti dan penyangga DPL perlu disepakati oleh masyarakat. Namun demikian.

yaitu : • Lokasi DPL sedapat mungkin bukan merupakan lokasi utama penangkapan ikan masyarakat setempat. Faktor sosial-ekonomi dan budaya pada masa lalu masih belum merupakan kriteria dalam penentuan DPL ataupun jaringan DPL yang disebut KKL/MMA. untuk menghindari konflik yang besar dengan para pengguna sumberdaya • • • • Tutupan karang cukup tinggi. Dari segi praktisnya. seperti segi empat. 2003) yang dapat diaplikasikan di lokasi COREMAP II. dsb. namun dapat sampai 30% dan dapat dipertimbangkan dengan kepadatan biota lainnya Lokasi DPL mencakup perwakilan habitat. padang lamun dan habitat penting lainnya Lokasi DPL masih dalam jangkauan pengawasan dan pantauan masyarakat Ukuran besar/kecilnya kawasan sebenarnya dapat mengacu pada luasan terumbu karang yaitu: 20-30% dari luasan habitat terumbu karang.seperti kepentingan publik. mangrove. segi lima. Pada prakteknya luasan DPL di desa mencapai 50 hektar. atau lokasi COREMAP II ADB 51 . 4. idealnya 50%. yaitu rataan dan lereng terumbu.3 Sistem Biaya Masuk Pelaksanaan sistem biaya masuk dalam DPL dapat diperlakukan ke dalam kawasan yang mempunyai potensi untuk wisata perairan. peluang ekonomi dan politik. maka berikut adalah kriteria yang telah digunakan untuk pemilihan lokasi DPL pada skala desa di Lampung dan Sulawesi Utara (CRMP. • • • • Lokasi DPL terhindar dari sedimentasi dan polusi dari sungai atau tidak di dekat muara sungai Lokasi DPL merupakan daerah potensi wisata penyelaman DPL merupakan habitat dari satwa langka atau satwa endemik atau tempat pemijahan ikan karang Lokasi DPL sebaiknya mengikuti kontur perairan dan mudah untuk digambarkan batas-batasnya.

Pokmas Konservasi sebagai pengelola DPL di lokasi COREMAP II. misalnya terdapat ketua Pokmas. yang akan melaksanakan pengelolaan DPL. 4. sebaiknya ditetapkan oleh pemerintah daerah. yaitu uang yang dibayarkan oleh masyarakat yang melanggar aturan DPL. papan informasi dsb). sekretaris. Salah satu penggunaan dana masuk dapat digunakan untuk pemandu wisata lokal yang dapat dianggap sebagai kompensasi waktu mereka selama bertugas. dan seksi-seksi. Pokmas Konservasi sebagai pengelola DPL disarankan membuat suatu struktur organisasi yang sederhana. Sumbangan sukarela dari pengunjung dapat juga diusulkan oleh pengelola DPL. diterapkan juga uang denda masuk. misalnya menangkap ikan di dalam zona inti.yang dijadikan sebagai percontohan dengan frekwensi kunjungan yang tinggi. melaksanakan kegiatan konservasi di lokasi DPL dan di jaringan DPL (MMA Kabupaten/Kota). untuk mengusulkan rencana kerja tahunan. apabila ada keinginan dari wisatawan untuk memberikannya. Sebagian dana akan diberikan kepada Kelompok Masyarakat Konservasi.4 Kelompok Pengelola Kelompok Pengelola DPL adalah Kelompok Masyarakat (Pokmas) Konservasi. bendahara. Selain biaya masuk dari para wisatawan. Besarnya biaya masuk ke DPL yang telah ditetapkan sebagai suatu obyek wisata. tanda batas. Penggunaan dana tersebut. Secara garis tugas dan tanggung jawab dari Pokmas Konservasi dalam pengelolaan DPL adalah : 52 Panduan Pengembangan Marine Management Area . akan dikoordinasikan oleh Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPS-TK) yang bersama pemerintah di desa. Uang denda tersebut harus dikembalikan lagi kepada pengelola untuk tujuan konservasi dan pengelolaan DPL. dsb. misalnya untuk pemeliharaan dan pengelolaan DPL (pelampung.

Bagaimana isi yang ideal dari suatu Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK)? Karena RPTK merupakan dokumen pengelolaan yang akan digunakan untuk mengimplementasikan kegiatan-kegiatan pengelolaan terumbu karang. sehingga pemerintah COREMAP II ADB 53 . karena nelayan adalah pengguna sumberdaya yang berkepentingan dengan DPL. aturan perlu diformalkan menjadi Peraturan Desa atau Keputusan Desa yang khusus mengatur pengelolaan DPL. maupun juga masyarakat di luar desa. dengan panduan pelaksanaan MCS dari LPS-TK Melakukan pemantauan DPL secara berkala Bertanggung jawab dalam pemeliharaan peralatan DPL. alat-alat selam/snorkle. dengan partisipasi aktif dari pemerintah desa. seperti tanda batas. papan informasi dan pusat informasi • Memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat Pembentukan Pokmas Konservasi pengelola DPL melalui proses pemilihan dan musyawarah desa yang dikoordinasikan oleh LPS-TK. Disarankan bahwa pengurus Pokmas adalah nelayan. baik di dalam desa yang mengelola DPL. Peraturan Desa atau Keputusan Desa tersebut akan mengikat masyarakat. Pada era otonomi daerah. Kelompok Konservasi sebaiknya disyahkan dengan Surat Keputusan Desa.5 Proses Peraturan Desa atau Surat Keputusan Desa Aturan-aturan yang dibuat berdasar kesepakatan masyarakat sangat menentukan keberhasilan pengelolaan suatu DPL. pelampung. kepala kampung/dusun dan nelayan.• Membuat rencana operasional pengelolaan DPL berdasar pada Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) yang disiapkan oleh LPS-TK • • • Bertanggung jawab dalam pemantauan dan pengawasan DPL. 4. tokoh masyarakat.

54 Panduan Pengembangan Marine Management Area . • Formulasi aturan dalam Perdes. juga harus dipertimbangkan kesepakatan adat setempat yang tidak tertulis. penangkar ikan hias. Yang perlu diperhatikan. nelayan pancing. Konsultasi masyarakat dilakukan dengan berbagai cara. • Sosialisasi dan Persetujuan Formal. sehingga nantinya Perdes tersebut tidak tumpang-tindih atau kontradiktif dengan aturan adat.desa dan Pokmas Konservasi mempunyai dasar hukum untuk melarang atau menindak pelanggaran yang terjadi di lokasi DPL. • Konsultasi Penyusunan Perdes. Tahap ini adalah untuk memformulasikan ide masyarakat yang terkumpul kedalam bahasa atau norma hukum. nelayan jaring. mulai dari musyawarah nelayan. pengambil kayu bakau.) dapat berperan serta mengambil keputusan terhadap aturanaturan yang akan diterapkan untuk pengelolaan DPL. Identifikasi kelompok pengguna diperlukan supaya semua pengguna (pengumpul biota laut. Berikut adalah proses dan tahapan pembuatan Peraturan Desa Pengelolaan DPL : • Identifikasi kelompok pengguna. selain aspek partisipasi masyarakat dalam proses pembuatan Peraturan Desa. Konsultan atau fasilitator diperlukan pada tahap ini untuk menuangkan kedalam Rancangan Perdes. yaitu Peraturan Desa. dusun sampai pada pertemuan formal di tingkat desa. dan selanjutnya disyahkan menjadi Perdes. dsb. Setelah Rancangan Perdes terbentuk. Contoh Keputusan Desa Tentang Pengelolaan DPL tercantum dalam Lampiran: Contoh Keputusan Kepala Desa tentang DPL. Tahap awal pertemuan masyarakat adalah penentuan aturan-aturan tentang kebolehan dan larangan dalam DPL. maka tahap selanjutnya adalah sosialisasi dengan musyawarah dan konsultasi final kepada masyarakat.

dari hasil pembelajaran CRMP USAID dan disesuaikan dengan pengembangan DPL COREMAP II ADB. dampak potensial Perdes baru Langkah 2 Identifikasi Landasan Hukum dan Perundang-Undangan ● Inventarisasi hukum ● analisis SDM ● Analisis Penegakan Hukum Daftar aturan hukum terkait. Tahapan Proses Pembuatan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Laut.Berikut adalah tahapan proses pembuatan Peraturan Desa/Surat Keputusan Desa tentang Daerah Perlindungan Laut. analisis SDM. disosialisasikan kepada masyarakat Gambar 7. COREMAP II ADB 55 . analisis pelaksanan aturan terkait Langkah 3 Penulisan Rancangan Peraturan Desa • Susun dari umum ke detil • Gunakan format baku • Ketentuan apa yang boleh dan dilarang • Ketentuan sanksi Draft Ranperdes dalam bentuk awal Langkah 4 Penyelenggaran Konsultasi Publik • Undang seluruh stakeholders • Gunakan komunikasi dua arah • Catat semua masukan Draft akhhir Ranperdes dalam bentuk final Langkah 5 Pembahasan di BPD • Gunakan sebagai konsultasi public • Undang semua stakeholders Ranperdes dalam bentuk final yang siap untuk ditanda-tangani Langkah 6 Sosialisasi & Pengesahan Perdes DPL • Lakukan sosialissi sebelum dan sesudah pengesahan • Undang semua stakeholders Peraturan Desa yang sudah disahkan oleh BPD dan Kepala Desa. Langkah Checklist ● Identifikasi masalah ● Identifikasi akar masalah ● Identifikasi stakeholders ● Identifikasi dampak potensial RanPerdes DPL Hasil Langkah 1 Identifikasi Permasalahan dan Pemangku Kepentingan Daftar masalah dan akar masalah. pemangku kepentingan.

Siklus Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir (sumber CRMP/USAID. baik di tingkat Kabupaten/Kota atau tingkat Desa.6 Pengelolaan DPL Pengelolaan DPL dilakukan melalui tahapan yang sesuai dengan siklus kebijakan pengelolaan wilayah pesisir terpadu (Integrated Coastal Management/ICM). 4. 2003) 56 Panduan Pengembangan Marine Management Area . meliputi batas dan zonasi • Tugas dan tanggung jawab PokMas Pengelola • Kewajiban dan kegiatan yang diperbolehkan di DPL • Kegiatan yang dilarang di DPL • Sanksi pelanggaran • Pengelolaan Dana • Pengawasan • Penutup • Lampiran Peta DPL.Contoh dari Sulawesi Utara dan Lampung tentang Materi Muatan dalam Peraturan Desa/SK Desa Tentang Pengelolaan DPL : • Dasar pertimbangan pembentukan DPL • Dasar hukum yang terkait dengan DPL • Ketentuan Umum. Siklus kebijakan yang dimaksud adalah : (1) Identifikasi dan pengkajian isu (2) Persiapan program (3) Adopsi program secara formal dan penyediaan dana (4) Pelaksanaan Program (5) Evaluasi Gambar 8. berisi definisi komponen DPL • Cakupan Wilayah DPL. dilengkapi dengan koordinat.

7 Pembuatan Rencana Pengelolaan Suatu DPL haruslah mempunyai Rencana Pengelolaan yang dibuat bersama oleh pemerintah desa dan masyarakat. Identifikasi Isu Pengelolaan. yang dapat dianggap menjadi data dasar. Hasil rangkuman isu-isu pengelolaan suatu DPL dapat diterbitkan menjadi satu kesatuan dengan Profil Desa. haruslah dapat mengidentifikasi isu yang berhubungan dengan pengelolaan DPL. yang merupakan tahap awal dari siklus pengelolaan sumberdaya pesisir. sehingga masyarakat dapat memetik manfaat untuk perikanan dan wisata berkelanjutan.Jadi. misi DPL. agar pengelolaan DPL berfungsi dengan baik.Pemantauan. rencana pengelolaan DPL dapat dirancang sebagai satu bagian dari Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) di lokasi COREMAP atau Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu (RPWPT) di tempat lain. Selanjutnya data dasar tersebut dapat dijadikan untuk menyusun visi. yaitu : (1) Pembuatan Rencana Pengelolaan DPL (2) Pemasangan serta pemeliharaan tanda batas dan papan informasi (3) Pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup (4) Pengawasan. Pada bagian ini. Rencana Pengelolaan ini merupakan panduan bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk pengelolaan DPL. akan dijelaskan langkah-langkah yang dapat menjadi panduan pengelolaan suatu DPL. tujuan COREMAP II ADB 57 . dan Penegakan Hukum (5) Pemantauan dan Evaluasi DPL 4.

Rencana Pengelolaan suatu DPL dapat merupakan bagian dari rencana umum pengelolaan sumberdaya pesisir atau pun dapat disusun secara terpisah. Adapun bahan dan alat yang diperlukan untuk pembuatan rencana pengelolaan terumbu karang dimaksud terdiri dari : Hasil Pengkajian cepat (RRA) yang telah dilakukan Hasil Pengkajian Partisifatif (PRA) yang telah dilakukan berupa profil desa/kampung/pulau Hasil Studi baseline dan monitoring CRITC. baik dari aspek legal maupun teknis Peta-peta tematik yang telah didigitasi seperti peta Rencana Strategis Pengelolaan Terumbu Karang Berkelanjutan.pengelolaan DPL. dilakukan perumusan program kerja pengelolaan terumbu karang terpadu yang terarah berdasarkan isu dan masalah yang ada. buku-buku dan alat-alat tulis. Pada Lokasi COREMAP pemerintah desa menyusun Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). 2005). (Lihat Lampiran1). Fasilitator Desa dan LSM Pendamping. 58 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Program tersebut dihasilkan dari kesepakatan bersama antara berbagai pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program Pengelolaan Berbasis Masyarakat (Coremap II. Draft Perencanaan Strategis Pengelolaan Perikanan secara berkelanjutan Brosur. strategi. berdasarkan visi dan sasaran. Di tahap awal. Penyusunan dan Penetapan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) Tahapan penyusunan kegiatan pengelolaan ekosistem terumbu karang terpadu berbasis masyarakat yang disusun bersama-sama oleh LPSTK dan masyarakat dengan dipandu oleh Motivator Desa. Referensi yang relevan untuk pembuatan rencana pengelolaan perikanan. kegiatan serta sumber pendanaan. maka Rencana Pengelolaan sebaiknya menjadi bagian dari RPTK tersebut.

3. Strategi Pelaksanaan Pembuatan RPTK : 1. Tim inti melakukan penggalangan input dari berbagai pihak yang berada di desa/kampung/pulau. termasuk pendatang yang melakukan aktifitas penangkapan. dsb). LSM Pendamping atau Fasilitator memfasilitasi pembentukan tim inti penyusunan tingkat desa yang terdiri dari anggota LPSTK dan tim pendukung yang terdiri dari Kepala Desa dan BPD (Badan Perwakilan Desa) 2. bakau dan padan lamun Kelompok Masyarakat (Pokmas) yang telah terbentuk . perdagangan dan lain sebagainya. Organisasi Wanita.Motivator Desa Fasilitator Masyarakat dan LSM Pendamping Anggota masyarakat desa secara umum (Tokoh Masyarakat. Kegiatan ini dapat berbentuk diskusi dusun (kampung).Sistematika RPTK meliputi : Gambaran Umum (Profil) Desa Isu-isu pokok pengelolaan terumbu karang terpadu Visi pengelolaan terumbu karang Sasaran/target yang ingin dicapai Strategi dan jenis jenis kegiatan yang akan dilakukan Organisasi pelaksana Waktu pelaksanaan dan biaya yang Pihak-pihak yang akan terlibat dalam kegiatan pembuatan rencana pengelolaan terumbu karang adalah : Kepala Desa/Kampung Badan Perwakilan Desa (BPD) Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK) Nelayan setempat Pengumpul /penggarap hasil sda dari terumbu karang. Tim inti dan pendukung menyusun jadwal dan agenda pembuatan RPTK. COREMAP II ADB 59 . Tokoh Agama.

Potensi-potensi ini dapat digunakan dengan berbagai cara termasuk pengelolaan perikanan jangka panjang yang berkelanjutan dan pariwisata. 7. RPTK merupakan produk dokumen yang sifatnya strategis dan vital dalam pelaksanaan pengelolaan sumberdaya. Draft yang telah jadi.interview. selanjutnya disosialisasi dan dikonsultasikan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan feedback. dan 10. Tim inti dan pendukung melakukan revisi secara akomodatif berdasarkan masukan (feedback) yang diperoleh. beragamnya pemangku kepentingan yang memiliki aspirasi berbeda dalam mengelola dan memanfaatkan sumberdaya ekosistem terumbu karang. Fasilitator dan PIU untuk penyesuaian redaksi. 6. observasi. Tim inti melakukan validasi data dan informasi terkait dengan aspirasi/kepentingan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya terhadap sumberdaya ekosistem terumbu karang. 4. teknis dan lain sebagainya pada tingkat Kecamatan dan Kabupaten. 5. melalui workshop tingkat desa 8. antara lain : (1) Penataan Wilayah atau Sistem Zonasi Wilayah laut dan pantai dalam kawasan lokasi program COREMAP mengandung sumberdaya laut yang kaya. aspek legal. sistematika dan lain-lain yang diperlukan. Tim pendukung melakukan konsultasi dengan berbagai pihak utamanya yang terkait dengan biota laut. mengingat bervariasinya hal-hal yang perlu diatur dalam RPTK. kompilasi serta penyelarasan data dan informasi yang akan dimasukkan sebagai bahan-bahan dalam pembuatan draft RPTK. Dalam konteks demikian. Isi dari materi-materi yang termuat dalam RPTK yang perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan dokumen RPTK dan tahapan-tahapan teknis yang perlu dilakukan. selanjutnya mengkonsultasikan dengan tim pendukung. 9. Kepala Desa akan menertibkan Surat Keputusan tentang Rencana Pengelolaan Terumbu Karang berbasis masyarakat. Tim inti dan pendukung meminta bantuan kepada LSM Pendamping. Namun dengan tekanan pembangunan ekonomi dan bertambah harapan masyarakat maka terdapat tingkat resiko yang tinggi dimana tidak ada pengelolaan akan bertahan lama dalam waktu yang panjang tanpa perencanaan pengelolaan yang disetujui dan dipahami oleh 60 Panduan Pengembangan Marine Management Area . kurang lebih 6 hingga 9 bulan. pengelolaan sumberdaya berkelanjutan. Proses pembuatan RPTK membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang. Tim inti dan pendukung melakukan verifikasi.

lokasi pemacingan umpan dan lain-lain). ada wilayah yang menjadi pusat masyarakat menangkap ikan untuk umpan.masyarakat lokal yang memfasilitasi antara pemanfaatan dan perlindungan sumberdaya alam. (2) Sistem dan Mekanisme Pengelolaan Masyarakat diharapkan paham dan menerima kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan rencana yang dibuat dalam RPTK. ada wilayah yang menjadi pusat masyarakat memancing ikan kerapu dan lain sebagainya. Keadaan inilah yang harus dikelola agar keberadaan wilayah dan kekhasan tersebut dapat terpelihara. PRA telah dilakukan untuk Kabupaten Lingga. Participatory Rural Appraisal (PRA) akan mengidentifikasi bahwa ternyata pada wilayah-wilayah tertentu memiliki kekhasan sendirisendiri. sebagai contoh terdapat wilayah yang menjadi pusat keanekaragaman karang dan ikan hias. karena COREMAP Phase I telah melaksanakan pemilihan lokasi DPL-DPL. Wilayah pengembangan budidaya laut (rumput laut. Dalam sistem dan mekanisme pengelolaan secara rinci dibahas tentang : COREMAP II ADB 61 . Suatu penataan wilayah yang berbasis pada masukan dan diskusi masyarakat serta dianalisa oleh tim formulator akan menghasilkan dasar untuk kegiatan konservasi dan pemanfaatan yang berkelanjutan. Dengan berbagai bentuk kepentingan dan pemanfaatan sumberdaya umumnya membutuhkan perencanaan Zonasi dan Tata Ruang yang dapat mengalokasikan pemanfaatan dan tingkat dampaknya terhadap wilayah-wilayah spesifik.bagaimana mengawasi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut dan masih banyak lagi hal-hal yang harus diatur untuk mendukung pelaksanaan sistem zonasi yang telah dibuat. pembesaran ikan dan lain-lain) Wilayah perlindungan masyarakat atau konservasi sebagai Zona Inti dan Wilayah yang menjadi alur transportasi perairan pedalaman Desa atau pulau. kerang. Penataan wilayah atau sistem zonasi selain mengatur pola pemanfaatan sumber daya laut yang tersedia agar dapat berkelanjutan juga diharapkan dengan adanya penataan wilayah atau sistem zonasi ini dapat meredam kemungkinan-kemungkinan terjadinya konflik lokasi tangkapan antar pengguna dari dalam dan luar. Beberapa kategori wilayah yang penting dibuat yaitu: Wilayah pemanfaatan tradisional (wisata.

b. Program peningkatan mutu pendidikan. kesehatan dan kesetaraan jender. Jenis alat tangkap yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam masing-masing zona. Untuk mengefektifkan sistem dan mekanisme pengelolaan dibutuhkan seperangkat kelembagaan atau organisasi yang akan bertanggung jawab menjadi pelaksana RPTK dan sebuah kerangka tata hubungan kerja antar unsur di tingkat desa atau pulau yaitu Lembaga Pengelola Sumberdaya Terumbu Karang (LPSTK). akan tetapi melibatkan terkait berdasarkan kapasitas dan kompetensinya. e. Program konservasi dan penyadaran masyarakat. dan Tata cara pengelolaan dan menjalankan sistem zonasi. Masing-masing unsur yang terlibat dalam struktur pelaksana RPTK maupun dalam tata hubungan kerja memiliki gambaran tugas masingmasing (seperti yang tercantum dalam penjelasan kelembagaan RPTK). Program Pembangunan Prasarana Pendukung RPTK. (3) Perencanaan Program Keberadaan program-program sangat dibutuhkan untuk menjalankan RPTK. d. f. yang direkomendasi oleh masyarakat. Dalam RPTK telah dirumuskan beberapa program yang dinggap dapat mendukung visi dan misi desa atau pulau antara lain : a. Definisi kawasan konservasi (minimum 10 % daerah terumbu karang yang ada di desa). Pembagian tugas seperti ini dimaksudkan agar tumbuh sikap dan rasa tanggung jawab terhadap tugas. Jenis biota laut yang boleh dan tidak boleh ditangkap atau dimanfaatkan (jenis biota laut yang dapat dimanfaatkan secara terbatas).Jenis kegiatan yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan dalam zona yang telah ditetapkan. setiap rencana program yang disusun dalam RPTK dilakukan oleh masyarakat. Program peningkatan kapasitas kelembagaan masyarakat. disana tertera dengan jelas siapa yang melakukan apa. yang bersifat pengawasan dan penegakan hukum Pelaksanaan dari tidak hanya akan pihak-pihak yang Program-program 62 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Program penentuan daerah perlindungan masyarakat (DPL) Program pengembangan Mata Pencaharian Alternatif (MPA). Alur transportasi tradisional yang boleh dilewati. c.

misalnya akan didukung oleh aparat penegak hukum formal (Polisi. pengalaman dan proses berfikir masyarakat. Sementara pelanggaran yang bersifat kriminal lingkungan dan bobotnya besar seperti membom. maka akan semakin rapuh pula aturan yang telah dibuat. Penerapan sanksi dilakukan dengan pola bertingkat yang juga bergantung seberapa besar bobot pelanggaran yang dilakukan. Dalam RPTK diatur jenis-jenis pelanggaran yang dapat diselesaikan ditingkat desa atau pulau oleh penanggung jawab pelaksana RPTK lokal. (4) Sanksi-Sanksi Hal yang paling mempengaruhi kesuksesan sebuah perencanaan utamanya yang dibangun di atas konsensus berbagai pihak (stakeholders) adalah konsekuensi dari konsensus tersebut yang biasanya dituangkan dalam bentuk sanksi-sanksi. tetapi sebaliknya semakin konsisten untuk menegakkan sanksi akan semakin kuat aturan yang ada. Jagawana dan Tentara AD/AL). membius dan lain-lain. Semakin longgar penegakan sanksi. Program-program yang lain yang membutuhkan biaya yang relatif besar akan didukung oleh pihakpihak ketiga atau Pemerintah Kabupaten melalui unit-unit kerjanya dan mungkin juga dari pihak ketiga seperti dari COREMAP melalui Dana Bantuan Desa (Village Grant). seperti pelanggaran terhadap areal perlindungan atau kawasan konservasi masyarakat (community sanctuary). COREMAP II ADB 63 . Kepatuhan masyarakat atau pihak-pihak lain terhadap aturan bergantung bagaimana sanksi ditegakkan. masuk pada wilayah-wilayah yang tidak dibolehkan dan lain-lain. maka penanggung jawab pelaksana RPTK akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum formal. Sehingga aturan baru seyogyanya berbasis pengetahuan. Untuk penerapan dan keberlanjutan materi-materi yang terkandung dalam sanksi-sanksi sebaiknya bersumber dari kearifan lokal yang sejak lama dianut oleh masyarakat.

2005) Adapun tahapan-tahapan. jaringan kemitraannya semakin luas. dengan demikian masyarakat akan lebih mudah untuk mencapai tujuannya untuk mengelola sumberdaya secara efektif. COREMAP hadir untuk mendukung dan memfasilitasi masyarakat agar pemahamannya semakin meningkat. kapasitasnya semakin baik. dan dapat menjamin strategis keberlanjutannya. masyarakat dapat mengelola sumberdaya secara sistematis.Gambar 9. Dengan membuat perencanaan sumberdaya dalam bentuk Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK). fokus dan berdaya guna. 64 Panduan Pengembangan Marine Management Area . untuk dimanfaatkan saat ini dan demi kepentingan generasi yang akan datang. Pentahapan Penyusunan Rencana Pengelolaan Terumbu Karang (RPTK) (Sumber COREMAP II. maksud pada tiap langkah tersebut serta jenis detail kegiatan penyusunan sebuah RPTK seperti terlihat pada Gambar 9 diatas dapat dijelaskan sebagai berikut : Tahapan Pembuatan RPTK (1) Sosialisasi dan Diseminasi Masyarakat harus mengetahui dan memahami pentingnya sumberdaya ekosistem terumbu karang dikelola secara baik.

sehingga hal-hal yang penting untuk dimasukkan dalam RPTK akan termuat. Penyusunan draf RPTK dilakukan melalui pemahasan pleno oleh tim yang dibantu dan difasilitasi oleh SETO. mengkompilasi. akan dibentuk tim penyusun oleh LPSTK yang terdiri sekitar 7 – 10 orang.(2) Pembuatan Profil Desa/Kampung Data dan informasi (DAIS) tentang kondisi sosial dan sumberdaya merupakan bahan-bahan dalam membuat RPTK pada lingkup desa/kampung. Pembuatan profil desa/kampung dilakukan dalam bentuk PRA (3) Pembentukan Tim Penyusun Dais dan berbagai kepentingan harus diorganisir serta dikelola secara baik. Untuk itu. diskusi tingkat lingkungan dan diskusi tingkat desa/kampung untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya Dais. Tim ini akan bertanggung jawab untuk mengumpulkan aspirasi. dengan pertimbangan merekalah yang memiliki banyak informasi dan paling mengenali desa/kampungnya. dengan berkonsultasi dengan konsultankonsultan COREMAP utamanya konsultan manajemen perikanan dan COREMAP II ADB 65 . Tim ini akan melakukan diskusi tingkat dusun. (3) Membuat Draft RPTK Hasil Dais dan aspirasi dari masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang telah dikumpulkan akan diolah dan selanjutnya dikonstruksi menjadi dokumen RPTK sesuai dengan sistematika yang ada. Pembuatan profil desa/kampung dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan masyarakat. Fasilitator Masyarakat dan Motivator Desa. Selanjutnya SETO dan Fasilitator Masyarakat akan memfasilitasi pembuatan dokumen RPTK. merekap. dan mengolah bahan-bahan yang akan dijadikan materi-materi dalam RPTK. Membuat profil desa/kampung salah satu cara untuk mengumpulkan dais tentang kondisi obyektif di desa.

(4) Konsultasi Publik dan Revisi Akomodatif Dokumen RPTK yang dihadiri yang telah dibuat dalam bentuk draf akan unsur pemerintah desa. Kepala Desa dan BPD akan membahas substansi RPTK dan hal-hal yang lain yang terkait dengan proses pengesahaannya. Acara akan fifasilitasi oleh SETO/Fasilitator Masyarakat/Motivator Desa. Kepala Desa dan BPD melalui rapat konsultasi. 66 Panduan Pengembangan Marine Management Area . aparat hukum lokal.konsultan legal terkait dengan substansi dan teknik penulisan dokumen. (5) Persetujuan dan Pengesahan Hasil revisi dokumen akan dibahas kembali secara mendalam oleh tim penyusun. Sebelum menyusun/membuat RPTK. Semua tanggapan. maka Kepala Desa akan mengesahkan RPTK atas persetujuan BPD menjadi lembar desa sebagai salah satu pedoman pembangunan tingkat desa. BPD. dengan demikian akan memudahkan bagi masyarakat dan pihak-pihak lain untuk memahami dan melaksanakannya. petugas teknis instansi. kelompok disosialisasikan kepada khalayak umum melalui musyawarah desa oleh masyarakat. yang kemudian dilakukan analisis untuk menentukan hal-hal apa saja yang perlu dimasukkan sebagai revisi dokumen. masukan dan kritikan akan dicatat oleh tim penyusun. Agenda utamanya adalah penyampaian/presentasi RPTK oleh tim penyusun. dan lainlain. Apabila telah disepakati materi-materi RPTK. masyarakat dan pihak-pihak terkait dalam penyusunan RPTK perlu memahami kerangka fikir. (6) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Rencana pengelolaan merupakan dokumen yang memiliki tata aturan yang sistematis dan jelas. struktrur dan alur penyusunannya.

Pembagian areal terumbu karang (zonasi) ke dalam zona lindung dan zona pemanfaatan 2. Tidak terjadi perusakan terhadap ekosistem terumbu karang. berikut disajikan sebuah struktur dan alur penyusunan rencana isu pengelolaan hingga terumbu karang. Tabel 2. Sasaran Jangka Pendek : 1. 2. Sasaran Jangka Panjang : 1. Pengintegrasian COREMAP II ADB 67 hak-hak pengelolaan tradisional ke . 4. 3. Sasaran Terjaminnya Jangka kelestarian Panjang sumberdaya 2. Contoh VISI dalam RPTK: Terjaminnya kelestarian sumberdaya terumbu karang dan kesejahteraan masyarakat setempat melalui penerapan prinsip-prinsip pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan mata pencaharian alternatif bagi masyarakat setempat. Masyarakat dapat memahami arti penting ekosistem terumbu karang bagi lingkungan dan kehidupan manusia. dan 3. Sasaran terumbu Jangka karang dan Pendek kesejahteraan Penyusunan masyarakat Rencana setempat Pengelolaan melalui Terumbu penerapan Karang prinsip-prinsip Berkelanjutan Visi Kegiatan 1. Strategi Sasaran Program 1. 2.Sebagai gambaran. Masyarakat dapat mengerti program pengelolaan terumbu karang. Masyarakat berpartisipasi dalam pengelolaan terumbu karang. Matriks Rencana Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Tersedianya lembaga keuangan mikro di desa/kampung sebagai penunjang pelaksanaan usaha produktif masyarakat. kegiatan mulai dari mengidentifikasi penyusunan pengelolaan ekosistem terumbu karang. Seluruh areal terumbu karang yang ada telah ditata sesuai dengan fungsinya ke dalam zona inti (10 % daerah terumbu karang). Penghasilan masyarakat meningkat.

pengelolaan berkelanjutan ramah Iingkungan dan pengembangan usaha ekonomi bagi masyarakat setempat. Peningkatan Kapasitas Masyarakat 1. 1. Dasar pengelolaan. Identifikasi jenis-jenis pelatihan yang diperlukan 2. Mata Pencaharian 4. Pemilihan jenis- 68 Panduan Pengembangan Marine Management Area . 1. Pengembangan 2. 2. 3. 4. 5. Pengembangan 3. Altematif 5. dalam rencana pengelolaan Konservasi dan rehabilitasi Penyusunan dan penetapan aturan pemanfaatan sumberdaya alam laut Penyusunan mekanisme pemecahan konflik Identifikasi jenis-jenis usaha Pemilihan jenisjenis usaha yang akan dikembangkan Penyusunan studi kelayakan Pelatihan teknis dan manajemen usaha Pembentukan Lembaga Keuangan mikro dan Manajemen Idenffikasi kebutuhan prasarana Penetapan jenis jenis prasarana dasar yang akan dibangun Penyusunan Rancangan Teknis dan Usulan Kegiatan. Kapasitas pengelolaan uang desa dan Prasarana 3.

jenis kegiatan pelatihan Penyusunan rencana kegiatan pelatihan. Pemasangan tanda batas dilakukan setelah survei kedalaman perairan melalui penyelaman yang dilakukan oleh anggota masyarakat dan ahli. yang memungkinkan untuk kemudahan upaya pengelolaan dan khususnya pemantauan. arus dan tidak korosif. supaya tanda pelampung tetap muncul di permukaan air. Pertimbangan dalam pemasangan adalah pasang-surut perairan laut. sehingga diusahakan pemasangan tanda batas dilakukan pada saat pasang tertinggi. Dengan survei tersebut diharapkan panjang tali pelampung serta pemberat/jangkar dapat dipasang sesuai dengan kedalaman perairan. seperti tahan terhadap gelombang. setelah Peraturan Desa ditetapkan. seperti kuning dan merah. Material patok dari beton atau baja anti karat biasanya merupakan bahan patok batas yang ideal. Warna patok batas di laut atau di darat diupayakan yang mencolok. 4.8 Pemasangan tanda batas dan pemeliharaan Lokasi DPL perlu dibuatkan tanda batas. COREMAP II ADB 69 . Tanda batas diusahakan dibuat dengan material sederhana namun kuat dan tahan terhadap kondisi laut. maka peneglolaan dan pemantauan sulit untuk dilakukan. Jika batas DPL mencakup daratan pantai. Jika tanda batas tidak ada atau kurang jelas terlihat. maka diperlukan pemasangan patok batas dengan ditancapkan pada tanah. Batas-batas kawasan diupayakan di pasang baik di pantai maupun di laut.

misalnya : ‘Terumbu Karang Sehat Ikan Berlimpah’ atau ‘ Kekayaan Alam Laut adalah bukan warisan nenek moyang. pengajaran. dsb. Kelompok Pengelola akan bertanggung jawab untuk pemeliharaan tanda-tanda batas DPL. Papan Informasi sangat penting sebagai upaya sosialisasi kepada masyarakat dan pengunjung/wisatawan atau juga kepada masyarakat di luar desa. 4. misalnya dengan mengganti bagian yang rusak atau hilang. Pendidikan tentang lingkungan hidup dan pengelolaan terumbu karang dan operasional DPL bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungan pesisir. tetapi pinjaman dari anak cucu kita’ . yang terdapat dalam Peraturan Desa Tentang Pengelolaan DPL. Pendidikan lingkumgan hidup adalah upaya penyadaran dan peningkatan pengetahuan masyarakat. Papan Informasi biasanya berisi tentang pesan-pesan penting. sedang nantinya peran para Kader Desa dan Pengelola DPL 70 Panduan Pengembangan Marine Management Area . peningkatan keterampilan. ekosistem terumbu karang dan pengelolaan DPL. Pelatihan dan penyuluhan semasa proyek masih berjalan dilaksanakan oleh COREMAP. seperti larangan. pelatihan.9 Pendidikan Lingkungan Hidup Pendidikan masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pengelolaan DPL. penyuluhan. diskusi-diskusi formal dan informal (focus group discussion) tentang lingkungan hidup yang ada di sekitar mereka termasuk pengelolaan sumberdaya alam. sehingga mereka dapat mengelola dan memanfaatkan sumberdaya pesisir di desa mereka secara berkelanjutan. biasanya Papan Informasi tersebut juga dapat dihiasi dengan gambar/poster tentang Konservasi Terumbu Karang dan Perikanan. Selain perlu mempertimbangkan bahan Papan Informasi yang awet atau tahan lama. melalui kegiatan pendidikan.Pemeliharaan Tanda Batas diperlukan secara rutin.

Apabila terjadi pelanggaran aturan DPL. maka aturan yang telah disepakati bersama perlu ditegakkan dan sanksi diberikan kepada pelanggar. Oleh karena itu. termasuk terumbu karang Kemungkinan ancaman dan degradasi sumberdaya alam di sekitar mereka 4. Sanksi yang dikenakan haruslah sesuai dengan ketentuan dalam Perdes. tidak boleh ditambah ataupun dikurangi. Untuk menjamin adanya pengawasan dan penegakan aturan. 4. Ada tiga hal yang dapat dipakai menjadi prinsip dasar pemahaman masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang. Jika seseorang melanggar aturan beberapa kali.11 Pemantauan dan Evaluasi COREMAP II ADB 71 . beserta barang bukti. serta Standar Operation Procedures (SOP) tentang mekanisme pelaporan. maka disarankan untuk membuat Kelompok Pengawasan Masyarakat (Pokmaswas). Pokmaswas perlu dilatih tentang penyidikan dan prosedur penangkapan. yaitu : • • • Rasa memiliki masyarakat terhadap sumberdaya terumbu karang dan lokasinya Manfaat ekologis dan ekonomis sumberdaya alam. dapat dikatakan pelanggaran tersebut sudah layak untuk diserahkan kepada aparat penegak hukum.ataupun Penyuluh Perikanan dapat menggantikan peran sebagai penyuluh tentang pengelolaan lingkungan hidup di desa.10 MCS dan Penegakan Hukum DPL yang telah ditetapkan melalaui Peraturan Desa perlu diawasi dari kegitan-kegiatan masyarakat yang mungkin belum memahami manfaatnya.

Kegiatan Pemantauan dan Evaluasi merupakan hal yang penting dalam siklus kebijakan pengelolaan DPL. maka kita dapat mengamati kemajuan setelah penetapan DPL dan pengelolaan DPL diberlakukan. Informasi tentang dampak ekologis. Melalui pemantauan dan evaluasi. kita dapat mengetahui efektifitas dari DPL yang telah kita kembangkan. seperti informasi jumlah pertemuan. Dengan adanya pemantauan dan evaluasi. jumlah partisipasi masyarakat. baik dampak terhadap perbaikan lingkungan maupun dampak sosial-ekonomi masyarakat. 72 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Kegiatan pemantauan dan evaluasi memerlukan informasi yang dikumpulkan secara periodik. maka proses belajar secara mandiri dalam pengelolaan DPL (pengelolaan adaptif) dapat berjalan sesuai dengan perubahan situasi yang berkembang di lokasi. merupakan hasil dari kegiatan pemantauan dan evaluasi. seperti perubahan tutupan karang dan jumlah kepadatan biota dalam DPL. Dari hasil pemantauan dan evaluasi. perubahan pola pemanfaatan sumberdaya terumbu karang. Misalnya. dsb. maka perlu diupayakan metode pemantauan dan evaluasi yang mudah dan tidak memberatkan masyarakat. metode pemantauan kondisi terumbu karang dapat menggunakan metode Manta Tow dengan snorkle. Mengingat untuk mendapatkan informasi dari kegiatan pemantauan dan evaluasi memerlukan biaya yang cukup mahal. jumlah penurunan kegiatan penangkapan ikan yang merusak. misalnya tentang frekwensi penggunaan alat-alat yang merusak. maka program yang telah dibuat dapat terus disesuaikan dengan perubahan permasalahan. Agar supaya kegiatan pemantauan dan evaluasi dapat dilaksanakan oleh masyarakat. maka diperlukan suatu pola pemantauan dan evaluasi yang sederhana tetapi dapat dipertanggung jawabkan. Melalui kegiatan pemantauan dan evaluasi. dsb. Sedang pemantauan dan evaluasi tentang pola pemanfaatan sumberdaya.

mengingat sejarah yang mereka alami dan mendengar atau menyaksikan keberhasilan upaya konservasi melalui pendirian daerah perlindungan laut.Kelompok Pengelola dan LPS-TK diharapkan menjadi motor untuk kegiatan monitoring dan evaluasi. setelah mendapat pelatihan dari para Fasilitator Lapangan dari COREMAP. sesuai dengan pesan yang Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.12 Penyebarluasan konsep DPL ke lokasi lain (scaling-up) Masyarakat desa diharapkan semakin termotivasi setelah mengikuti penyuluhan. Oleh karena itu implementasi adopsi daerah perlindungan laut di tempat lain harus melihat perkembangan kesiapan masyarakat. maka prinsip nomor satu yang menekankan pada perlunya masyarakat diberi kesempatan (waktu). Implementasi dalam bentuk penetapan daerah perlindungan laut tanpa proses yang mengakomodasi aspirasi masyarakat harus dihindarkan. turut dalam meningkatkan motivasi tersebut. maka yang akan ada hanyalah papan-papan tanda adanya daerah perlindungan laut tanpa tindakan pengelolaan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan karena kemajuan proyek harus didasarkan pada kesiapan masyarakat untuk maju ke tahap proyek selanjutnya. Untuk lebih menjamin kesinambungan tanggungjawab masyarakat dalam mengelola daerah perlindungan laut. maka peran dari universitas diperlukan dalam penyiapan para kader untuk pemantauan kondisi tutupan terumbu karang. Oleh karena itu. ciri community-based memberikan implikasi bahwa waktu penyelesaian tahapan proyek ataupun pencapaian milestone perkembangan proyek kemungkinan mengalami keterlambatan (delayed). Jika hal ini terjadi. Selain itu. 4. Dari sudut pelaksanaan proyek. COREMAP II ADB 73 . Untuk pemantauan kondisi terumbu karang. kebanggaan masyarakat desa sebagai desa yang berhasil terkandung mewujudkan keinginannya. sebuah proyek yang berciri community-based sebaiknya melakukan pemantauan terhadap kesiapan masyarakat tersebut.

Memfasilitasi pembentukan dan pembinaan kelompok pengelola. Penyuluhan tentang DPL dan masyarakat mengkonsultasikan idenya ke berbagai pihak.Beberapa prinsip yang diterapkan proyek untuk memfasilitasi pendirian DPL: • • • • • • • Perlu ada waktu yang cukup bagi masyarakat untuk memahami persoalan dan isu. Mengakomodasi peran penting pemerintahan desa dan instansi lainnya penyuluh lapang secara tetap di tengah 74 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Menyediakan informasi/data sekunder hasil survei-survei. Mengadakan asisten penyuluh lapang dari lingkungan desa setempat. Menempatkan masyarakat.

Pangalil. 77pp. Panduan Pengelolaan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat. 2003.A. B. Lampung Selatan. B. 2004. COREMAP II WB. Departemen Kelautan dan Perikanan.Rotinsulu. Wowiling. Indonesia.R.Crawford.M. V Erdmann.Susanto. E. 2002.Haryanto.R.Tangkilisan. B. Pedersen. 2006. 2002.2003. Departemen Kelautan dan Perikanan. Rencana Pembangunan dan Pengelolaan Pulau Sebesi. T. Australia. M. CRMP/USAID. Panduan Pembentukan&Pengelolaan Daerah Pelindungan Laut Berbasis Masyarakat. B. H. J. Science of Marine Protected Area. 49pp PISCO. 370 pp. CRMP/USAID. IUCN. Merrill P.Clark. 2004. Manual Tata Kelembagaan COREMAP II ADB (Governance Manual).. A. Aguide for Planners and Managers. www. I. www. 2000. N. Locally-Managed Marine Management Area.. Direktorat Jenderal Kelautan. www.info Wiryawan.org M.R. M. JJ.Yulianto. R. Mongdong. Salm. and Arsyad. The Bunaken National Marine Park CoManagement Initiative. M. Wiryawan.Siirila. Direktorat Jenderal Kelautan. Sustainability of an Integrated Coastal Management Model:Case Study in South Lampung. Departemen Kelautan dan Perikanan.bunaken.Lmmanetwork. Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.Kasmidi. Brisbane. C.Bayer.org Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.I. Jakarta. Rancangan Peraturan Pemerintah Tentang Konservasi Sumberdaya Ikan (draft Agustus 2006). Proceeding of Coastal Zone Asia Pacific Conference.PUSTAKA COREMAP II ADB.C. Pesisir dan Pulaupulau Kecil.Sukmara. Tulungen. No.. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan UNDANG-UNDANG Daerah UNDANG-UNDANG 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan COREMAP II ADB 75 . Marine Protected and Coastal Protected Areas. 2005.pisco.Dimpudus.O.

76 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

LAMPIRAN 1. 8) Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom 9) Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 32 tahun 2000 Tentang Peraturan Desa Dengan Persetujuan Badan Perwakilan Desa Memutuskan Menetapkan: Aturan Daerah Perlindungan Laut BAB I COREMAP II ADB 77 . SURAT KEPUTUSAN KEPALA DESA TEJANG PULAU SEBESI NOMOR : 140/02/KD-TPS/16. 25 Januari 2002 di Balai Desa Tejang yang dihadiri oleh aparat Desa Tejang. 7) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian dan/atau Perusakan Laut.01/I/2002 TENTANG ATURAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT Menimbang: a. b. Contoh Surat Keputusan Kepala Desa Tentang Aturan Pengelolaan DPL. Hasil musyawarah pada hari Jumat. dan beberapa tokoh masyarakat untuk menentukan aturan Daerah Perlindungan Laut Mengingat: 1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya 2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1996 Tentang Perairan Indonesia 3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 4) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah 5) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan 6) Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985 tentang Perlindungan Hutan. Badan Perwakilan Desa. Adanya Daerah Perlindungan Laut di Desa Tejang yang bertujuan untuk melindungi kawasan terumbu karang.

3. BAB II CAKUPAN DAERAH PERLINDUNGAN LAUT Pasal 2 1. Daerah Perlindungan Laut adalah bagian pesisir dan laut tertentu yang ternasuk dalam daerah administratif Pemerintahan Desa Tejang. Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah laut dari titik batas III e. Pulau Umang dan Kayu Duri. Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis lengkung yang mengikuti garis pantai. Pasal 3 Zona penyangga merupakan daerah disekitar Daerah Perlindungan Laut dengan radius sejauh 50 meter. Titik batas III merupakan daerah Sianas yang bernama Sianas. b. Pulau Sawo. d. 2. dengan surat keputusan Kepala Desa 4. Titik batas III merupakan daerah yang bernama Kayu Duri. BAB III 78 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Titik batas II merupakan titik yang berjarak 200 meter kearah laut dari titik batas I c. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Sawo adalah seluruh kawasan terumbu karang yang ada di Pulau Sawo 2. Titik batas IV merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah laut dari titik batas III e.KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Badan Pengelola Daerah Perlindungan Laut adalah organisasi masyarakat yang dibentuk melalui keputusan bersama masyarakat. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kebon Lebar dan Sianas adalah: a. Titik batas I merupakan titik yang bernama Pekonnampai b. Nelayan adalah penduduk yang pekerjannya sebagai pencari ikan di laut yang berasal dari desa dan atau luar Desa Tejang. 3. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Kayu Duri adalah: a. 2. Garis yang menghubungkan titik batas II dan IV merupakan garis lengkung yang mengikuti garis pantai. d. Daerah Perlindungan Laut terdiri dari 4 lokasi yang ada di pesisir Pulau Sebesi yang bernama Kebon Lebar dan Sianas. Batas lokasi Daerah Perlindungan Laut Pulau Umang adalah seluruh kawasan terumbu karang di sekitar Pulau Umang. Titik batas I merupakan titik batas antara Regahan Lada dan Kebon Lebar. Titik batas II merupakan titik yang berjarak 100 meter kearah laut dari titik batas I c. 1. Masyarakat Desa adalah seluruh penduduk Desa Tejang Pulau Sebesi dan Pulau Sebuku.

4. menjaga pelestarian dan pemanfaatan Daerah yang dilindungi untuk kepentingan masyarakat. Badan Pengelola berhak melakukan penangkapan terhadap pelaku yang terbukti melanggar ketentuan dalam keputusan ini. 3. adalah pemanfaatan terbatas oleh nelayan. bendera laut dan biaya lain-lain yang diperlukan dalam upaya perlindungan daerah pesisir dan laut. mengawasi dan memelihara kelestarian daerah pesisir dan laut yang dilindungi. yang akan ditentukan kemudian oleh Badan pengelola. pemeliharaan rumah/menara pengawas.TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB BADAN PENGELOLA Pasal 4 1. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam Daerah yang dilindungi (Zona Inti). diperuntukkan sebagai dana pendapatan untuk pembiayaan petugas atau kelompok pengawasan/patroli laut. Badan Pengelola bertanggung jawab dalam perencanaan lingkungan hidup untuk pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang berkelanjutan. Setiap orang atau kelompok yang akan melakukan kegiatan dan atau aktivitas dalam Daerah Perlindungan (Zona Inti). 5. Setiap penduduk desa dan atau kelompok mempunyai hak dan bertanggung jawab untuk berpartisipasi dalam perencanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah yang dilindungi. pembelian peralatan penunjang seperti pelampung. Badan Pengelola yang dibentuk bertugas membuat perencanaan pengelolaan Daerah Perlindungan Laut yang disetujui oleh masyarakat. BAB V TATA CARA PEMUNGUTAN DAN PENERIMAAN DANA Pasal 6 1. yaitu penelitian. 4. BAB IV KEWAJIBAN DAN HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN Pasal 5 1. 3. harus terlebih dahulu melapor dan memperoleh ijin dari Badan pengelola. adalah kegiatan orang-perorang dan atau kelompok. 2. dan tata cara pemungutannya oleh petugas yang ditunjuk melalui keputusan bersama Badan pengelola Daerah COREMAP II ADB 79 . Badan Pengelola yang dibentuk bertugas untuk mengatur. dan wisata. Kegiatan yang dapat dilakukan di dalam Zona Penyanggah. terlebih dahulu melapor dan memperoleh ijin dari Badan pengelola. dengan membayar biaya pengawasan dan perawatan. 5. Setiap penduduk desa wajib menjaga. Dana yang diperoleh dari kegiatan dalam daerah perlindungan. 2. Badan Pengelola berhak melaksanakan pengamanan atas barang dan atau alat-alat yang dipergunakan sesuai ketentuam yang berlaku dalam keputusan ini.

Membuang sampah 6. Memelihara rumput laut dan ikan karang disekitar Daerah Perlindungan Laut 7. Melakukan penambangan BAB VII SANKSI Pasal 10 1. Menempatkan bagan di sekitar Daerah Perlindungan Laut 8. Memelihara rumput laut dan ikan karang 5. mengembalikan semua hasil yang diperoleh dari Daerah Perlindungan Laut dan atau diamankan. dan menandatangani surat 80 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Melakukan penambangan di Daerah Perlindungan Laut Pasal 9 Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona penyangga sebagai berikut : 1. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati kecuali ikan 3. Memancing/menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap 3. 2. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat pertama berupa permintaan maaf oleh pelanggar. Barang siapa melakukan perbuatan melanggar ketentuan pasal 7. Dana-dana lain yang diperoleh melalui bantuan dan partisipasi pemerintah dan atau organisasi lain yang tidak mengikat yang dipergunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan pengelolaan Daerah Perlindungan Pesisir dan Laut. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu pada malam hari 4. Melintasi/melewati/menyebrangi Daerah Perlindungan Laut kecuali darurat 2. BAB VI HAL-HAL YANG TIDAK DAPAT DILAKUKAN ATAU DILARANG Pasal 7 Semua bentuk kegiatan yang dapat mengakibatkan perusakan lingkungan dilarang dilakukan di daerah pesisir dan laut yang sudah disepakati dan ditetapkan bersama untuk dilindungi (Zona Inti dan Zona Penyanggah). Menangkap ikan dengan segala jenis alat tangkap kecuali pancing dan panah 2. Membuang sampah disekitar Daerah Perlindungan Laut 9.Perlindungan Laut. Membuang jangkar di sekitar Daerah Perlindungan Laut 6. Mengambil biota hewan dan tumbuhan yang hidup ataupun mati 4. Pasal 8 Hal-hal yang tidak dapat dilakukan/dilarang dalam zona inti sebagai berikut : 1. Menarik ikan dengan sengaja menggunakan lampu di sekitar Daerah Perlindungan Laut pada malam hari 5.

badan pengelola dan masyarakat. mengamankan semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah Perlindungan Laut dan diwajibkan melakukan pekerjaan sosial untuk kepentingan masyarakat (kerja bakti. dan kemudian diserahkan kepada pihak kepolisian sebagai penyidik. membetulkan mck dll) atau sanksi lain yang ditentukan kemudian oleh aparat dan masyarakat desa 4. 2. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan ketiga kalinya seperti yang ditentukan dalam pasal 7. 8 dan 9 lebih dari tiga kali dikenakan sanksi sanksi berupa sanksi seperti pasal 10 ayat (3) diatas. Daerah yang dilindungi adalah merupakan daerah pesisir dan laut yang telah dipilih dan disetujui bersama oleh seluruh masyarakat Desa Tejang. Hal hal yang perlu diatur dalam keputusan Desa ini sepanjang mengenai pelaksanaan Perlindungan Daerah Pesisir dan Laut. 3. Keputusan Masyarakat Desa ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. tentang Perlindungan Daerah Pesisir dan Laut sudah dibuat dengan benar dan apabila dipandang COREMAP II ADB 81 . BAB VIII PENGAWASAN Pasal 11 1. untuk diproses sesuai dengan ketentuan peraturan dan perUndang-Undang an yang berlaku. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan kedua kalinya seperti yang ditentukan dalam pasal 7. Demikian keputusan Masyarakat Desa Tejang. apabila mengetahui tindakan-tindakan perusakan lingkungan dan lain-lain yang dilakukan oleh orang-perorang dan atau kelompok. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat kedua yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola dan mengamankan semua peralatan yang dipakai dalam pelanggaran aturan Daerah Perlindungan Laut 3. sehubungan dengan pelestarian Daerah Perlindungan. 2. Daerah yang dilindungi dijaga kelestariannya untuk kepentingan masyarakat Desa Tejang.pernyataan tidak akan mengulangi lagi pelanggaran yang dilakukan di hadapan aparat desa. BAB IX PENUTUP Pasal 12 1. 2. Setiap anggota masyarakat berkewajiban melaporkan kepada Badan pengelola atau Pemerintah Desa. Barang siapa dengan sengaja melakukan perbuatan seperti yang ditentukan dalam pasal 7. akan diatur lebih lanjut dengan keputusan Musyawarah Desa. 8 dan 9 dikenakan sanksi tingkat ketiga yaitu sanksi berupa denda berupa sejumlah uang yang akan ditentukan kemudian dalam aturan badan pengelola.

) Ditetapkan di : Pulau Sebesi Pada Tanggal : 28 Januari 2002 Kepala Desa Tejang Pulau Sebesi 82 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Ketua BPD Tejang Pulau Sebesi (Syaifullah HFF. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila di kemudian hari terdapat kekeliruan segala sesuatunya akan di perbaiki sebagai mana mestinya Menyetujui.perlu dapat disempurnakan kembali sesuai musyawarah dengan suatu keputusan bersama masyarakat dan Pemerintah Desa Tejang. dalam jangka waktu yang tidak ditentukan.

Lampiran 2. Contoh Peraturan Bupati Berau Tentang Kawasan Konservasi Laut PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR: 31 TAHUN 2005 TENTANG KAWASAN KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU BUPATI BERAU Menimbang: a. bahwa dengan ditetapkannya Undang-Undang nomor 32 tahun 2004 sebagai pengganti UndangUndang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan mengelola sumberdaya pesisir dan laut dengan tetap memperhatikan kewenangan propinsi sebagai bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia; bahwa wilayah pesisir dan laut Kabupaten Berau memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga perlu dilindungi dan dikelola, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1959 (Lembaran Negara tahun 1959 Nomor 72) tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II di Kalimantan (Lembaran Negara Tahun 1953 Nomor 9) sebagai Undang-Undang (Memori Penjelasan dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 1820); Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831); Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1973 Nomor 1; Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994) jo. Pengumuman

b.

Mengingat:

1.

2.

3.

COREMAP II ADB

83

Pemerintah Republik Indonesia tentang Kontinen Indonesia tanggal 17 Pebruari 1969; 4.

Landas

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 44; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260); Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 76; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319); Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 49; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115; Tambahan Lembaran Negara 3501); Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang-Undang Kehutanan; Undang-Undang Perikanan; Nomor 41 Tahun 1999 tentang Nomor 31 Tahun 2004 tentang

5.

6.

7.

8. 9. 10 . 11 . 12 . 13 .

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (mulai berlaku 19 Agustus 1998); Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1978 Nomor 51);

84

Panduan Pengembangan Marine Management Area

14 .

Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1989 Nomor 73); Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterflow Habitat (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 73); Keputusan Menteri Pertanian Nomor 604/Kpts/Um/8/1982 tentang Penunjukan Areal Hutan Pulau Semama Beserta Perairannya Seluas 220 Ha Yang Terletak di Daerah Tingkat II Berau, Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Sebagai Suaka Marga Satwa dan Penunjukan Areal Hutan Pulau Sangalaki Beserta Perairannya Seluas 280 Ha yang Terletak di Daerah Tingkat II Berau, Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Sebagai Taman Laut (mulai berlaku tanggal 19 Agustus 1982); Peraturan Daerah Kabupaten Berau No. 24 Tahun 2002 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten Berau; Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 2 Tahun 2003 tentang Rencana Strategis Program Pembangunan Daerah Kabupaten Berau Tahun 20012005; Peraturan Daerah Kabupaten Berau Nomor 3 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Kabupaten Tahun 2001-2011.

15 .

16 .

17 . 18 .

19 . Memperhatika n:

Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Berau tanggal 14 Desember 2005 Nomor:170/358/DPRD.II/XII/2005 MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU BAB I KAWASAN

COREMAP II ADB

85

b. baik secara tetap maupun sementara. pembudidaya ikan dan bukan nelayan. Wilayah Pesisir adalah kawasan peralihan yang menghubungkan ekosistem darat dan laut yang sangat rentan terhadap perubahan aktivitas manusia di darat dan laut. Kawasan Pesisir adalah bagian dari wilayah pesisir yang memiliki fungsi tertentu berdasarkan karakteristik fisik. hukum dan perUndang-Undang an serta bentuk-bentuk tindak pidana lainnya. dan pengusahaan sumber daya ikan secara terencana dan hati-hati dengan menjamin keberadaan. ekosistem darat dan laut. wisata bahari. Pengamanan dan Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan disekitar kawasan konservasi. d. Pasal 2 Menunjuk Kawasan Pesisir dan Laut Kabupaten Berau sebagai Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau sebagaimana peta terlampir. Bupati adalah Bupati Pemerintah Kabupaten Berau (definisi menurut UNDANG-UNDANG 32/04) b. 86 Panduan Pengembangan Marine Management Area . g. Perikanan Berkelanjutan adalah semua proses upaya (seperti penangkapan dan pembudidayaan ikan) pengambilan. dunia usaha dan masyarakat. yang memiliki sumberdaya hayati dan karakteristik sosial budaya spesifik yang dilindungi secara hukum atau cara lain yang efektif. f. Masyarakat adalah masyarakat pesisir yang bermukim di sekitar kawasan konservasi dan mata pencahariannya tergantung pada pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. e. kegiatan perikanan berkelanjutan. Pengelolaan Kolaboratif Kawasan Konservasi Laut adalah suatu proses perencanaan. h.KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan: a. pengembangan. terdiri dari masyarakat adat dan masyarakat lokal yang merupakan komunitas nelayan. Kawasan Konservasi Laut (disingkat KKL) adalah kawasan pesisir. ilmu pengetahuan. perencanaan antar sektor. biologi. pemanfaatan dan pengendalian sumberdaya pesisir dan laut secara berkelanjutan yang mengintegrasikan antara kegiatan pemerintah. termasuk pulau-pulau kecil dan perairan sekitarnya. penggunaan. sosial dan ekonomi untuk dipertahankan keberadaannya. ketersediaan. c. dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pasal 3 Kawasan Konservasi Laut dapat dimanfaatkan untuk keperluan: a. dengan tujuan memelihara keamanan serta mencegah terjadinya pelanggaranpelanggaran peraturan. dan kesinambungan (keberlanjutan) sumber daya tersebut agar tetap tersedia bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

keseimbangan. (11) pengelolaan adaptif. (7) pertimbangan kondisi sosial ekonomi masyarakat. yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No.c. (5) keterpaduan pengembangan wilayah pesisir. BAB IV CAKUPAN BATAS KAWASAN KONSERVASI LAUT Pasal 7 (1) Batas KKL di wilayah laut ditetapkan mengikuti pengukuran laut territorial Indonesia sejauh 4 mil yang diukur dari garis pangkal pulaupulau terluar dalam wilayah Kabupaten Berau. berkelanjutan. BAB II RUANG LINGKUP DAN ASAS KONSERVASI LAUT Pasal 4 Kawasan Konservasi Laut mencakup fungsi perlindungan. pemanfaatan sumberdaya laut lainnya secara lestari. e. (3) pertimbangan kearifan lokal. sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten Berau. berkeadilan dan berbasis masyarakat. penelitian dan pengembangan. BAB III PRINSIP KONSERVASI LAUT Pasal 6 Konservasi laut dilakukan dengan prinsip: (1) pencegahan tangkap lebih. (9) perlindungan struktur dan fungsi alami ekosistem perairan yang dinamis. pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan laut. (6) pengembangan alat dan cara penangkapan ikan yang ramah lingkungan. (10) perlindungan jenis dan kualitas genetik ikan. (4) pendekatan kehati-hatian. keterpaduan. 3 tahun 2004. (8) pemanfaatan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. d. Pasal 5 Konservasi Laut dilakukan berdasarkan asas manfaat. pengembangan sosial ekonomi masyarakat. (2) penggunaan pertimbangan bukti ilmiah. Batas KKL di wilayah pesisir ditetapkan sesuai dengan batas kawasan lindung hutan mangrove berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (2) COREMAP II ADB 87 . berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Berau.

Identifikasi. Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi Laut akan dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten Berau Pasal 9 (1) Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dilakukan oleh Lembaga Pengelola Kawasan Konservasi Laut secara kolaboratif dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat (2) Pengelolaan KKL dikonsultasikan dengan pemerintah Propinsi dan Pemerintah Pusat Pasal 10 Pengamanan dan pengawasan KKL Kabupaten dinas/instansi terkait dan masyarakat setempat. penelitian dan pendidikan. Penyusunan Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Laut akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Berau dengan melibatkan para pihak terkait. keterpaduan antara pemanfataan ruang daratan dan lautan. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 11 Segala biaya yang timbul akibat ditetapkannya peraturan ini dibebankan kepada APBN. monitoring dan evaluasi. akan ditetapkan kemudian berdasar kesepakatan dengan Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur. yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah No. BAB V PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT Pasal 8 1) 2) 3) 4) Penunjukan Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau direalisasikan dalam bentuk penataan batas. serta pengembangan sosial ekonomi masyarakat. APBD Propinsi dan APBD Kabupaten Berau serta sumberBerau dilakukan 88 Panduan Pengembangan Marine Management Area . Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dilakukan melalui kegiatan: a. Apabila terjadi perubahan batas KKL diluar 4 mil laut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). inventarisasi. d. b. dan monitoring potensi sumber hayati dan lingkungan sumber daya hayati. pemanfaatan sumber daya ikan dan jasa lingkungan.(3) Kabupaten Berau. upaya pengelolaan meliputi pengawasan dan pengendalian. pengelolaan habitat dan populasi. 3 tahun 2004. c.

27 Desember 2005.sumber pendanaan lain yang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku.. Ditetapkan di Tanjung pada tanggal. 27 Desember 2005 BUPATI BERAU Redeb Diundangkan di Tanjung Redeb HAPK pada tanggal. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN BERAU DRS. BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 12 Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. memerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penempatannya dalam Lembaran Berita Daerah Kabupaten Berau. IBNU SINA ASYARI LEMBARAN BERITA DAERAH KABUPATEN BERAU TAHUN 2005 COREMAP II ADB 89 .MAKMUR H.

LAMPIRAN: PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR: 31TAHUN 2005 TENTANG: KAWASAN KONSERVASI LAUT KABUPATEN BERAU Keterangan : Koordinat Batas KKL ke rah darat dan laut terlampir dalam Peraturan Bupati No.31 Tentang Kawasan Konservasi Laut Kabupaten Berau 90 Panduan Pengembangan Marine Management Area .

COREMAP II ADB 91 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful