P. 1
Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

|Views: 1,419|Likes:
Published by Aditya TroJhan
Author : Aditya Halim Perdana Kusuma
Year : 2011
Leaguange : Indonesian
Country : Indonesia
Author : Aditya Halim Perdana Kusuma
Year : 2011
Leaguange : Indonesian
Country : Indonesia

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Aditya TroJhan on Oct 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/31/2012

pdf

text

original

1

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU KONSUMEN PADA LAYANAN JASA PERCETAKAN DI CV. KARYA ASRINDAH

Author : Aditya Halim Perdana Kusuma Leaguage : Indonesia Year : 2009 (Rewrite 2011) Country : Indonesia

2

Latar Belakang Masalah Pemasaran merupakan salah satu dari beberapa kegiatan pokok yang dilakukan oleh para pengusaha dalam upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya untuk memperoleh keuntungan yang optimal. Dalam perkembangan manajemen dewasa ini khususnya manajemen pemasaran, telah dikembangkan suatu konsep pemasaran yang memprioritaskan kegiatannya dengan melakukan riset perilaku konsumen agar penjualannya dapat ditingkatkan. Satu hal yang sangat terkait dengan perilaku konsumen adalah keputusankeputusan tentang suatu pembelian. Beberapa faktor-faktor yang tidak dapat dikendalikan. Penjual yang professional harus mengetahui kebutuhan seorang pembeli dengan seksama, mencari ide-ide baru yang lebih kreatif dan inovatif serta terhadap tekanan sosial serta psikologis dapat mempengaruhi pembelian. Jika kita ingin mengacu pada kebutuhan orang, maka jumlahnya cukup banyak dan sering berubah. Pengidentifikasian jumlah kebutuhan dan perubahan tersebut dinamakan pengenalan kebutuhan. Beberapa dari kebutuhan ini dapat timbul sendiri karena pengaruh fisik dan psikologi, sedangkan kebutuhan lain bersifat tersembunyi akan muncul apabila didorong oleh pembeli dari orang lain atau periklanan dari perusahaan, meskipun banyak periklanan promosi dan peragaan yang khusus ditujukan untuk menimbulkan kebutuhan banyak pembelian yang diakibatkan oleh orang lain. Pembelian sering terlihat dari banyaknya orang yang menyukai barang tertentu. Struktur sosial dan kebudayaan dapat mempengaruhi kegiatan orang-orang menjadi berbeda-beda dan keputusan membeli juga diambil sesuai dengan kegiatan tersebut. Reaksi ini akan terlihat lebih jelas pada pembelian barang-barang nyata seperti pakaian, meubel dan motor. Rekasi tersebut akan selalu ada, baik disadari maupun tidak disadari dan ini harus dipertimbangkan. Kecenderungan ini akan dapat meningkatkan jumlah pembelian yang tidak direncanakan lebih dahulu. Dalam perkembangan dewasa ini, kemajuan hampir di semua sektor dan nampak jelas perkembangannya. Hal ini seiring dengan kemajuan di bidang teknologi. Lebih jauh dari itu perkembangan tersebut lebih dituntut lagi berkenaan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk yang secara otomatis memerlukan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya. Aktivitas pemasaran dewasa ini, yang semakin meluas, utamanya menyangkut penjualan atau upaya mencapai tujuan pemasaran itu sendiri, dalam hubungannya dengan aktivitas pemasaran itu maka untuk mengukur apakah perusahaan berhasil atau tidak ditentukan oleh laris tidaknya produk yang dipasarkan dengan sasaran mencapai laba yang semaksimal mungkin. Dalam memasarkan produk tersebut perusahaan menghadapi persaingan-persaingan, untuk itu diharuskan setiap perusahaan untuk aktif mencari pembeli, mempertahankan pembeli, menambah keyakinan pembeli dan mengusahakan pembeli yang berulang-ulang. Manajer yang ingin sukses dituntut memahami kondisi yang terjadi dalam dunia usaha untuk mengukur kelemahan dan kekuatan perusahaan, maka dapatlah diputuskan mengenai

3

strategi apa yang akan ditempuh untuk mengatasi persoalan yang tengah dihadapi dan mempertahankan siklus hidup perusahaan. Dalam hal ini perusahaan harus mampu memasarkan produk perusahaan dalam mengadapi persaingan apakah melalui peningkatan kualitas yang baik, pelayanan yang prima terhadap para pelanggan dalam upaya untuk mempertahankan pelanggan atau dengan pemberian harga yang relatif terjangkau bagi pelanggan. CV. Karya Asrindah adalah perusahaan yang bergerak dalam jasa layanan cetak (Offset Printing), dan telah berkiprah sejak tahun 1992 dan tetap eksis sampai sekarang ini. Seperti yang telah diketahui bersama perkembangan dari hari kehari semakin menampakkan tapak tilas pergerakannya, bagi percetakan misalnya, faktor harga bukan lagi faktor utama yang menjamin apakah perusahaan itu dapat bersaing atau tidak, tetapi bagaimana kualitas dan pelayanan yang memuaskan, sehingga pelanggan tertarik untuk melirik produk tersebut. Berdasarkan pemikiran diatas, timbul gagasan dari penulis untuk membahas masalah yang berjudul Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Terhadap Layanan Jasa Pada Percetakan CV. Karya Asrindah.

A. Pengertian Pemasaran Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini maka diperlukan adanya teori-teori atau konsep-konsep yang memerlukan penjelasan. Dalam banyak perusahaan dewasa ini, pemasaran memegang peranan sebagai suatu faktor penting untuk tetap bertahan menjalankan usaha dan bergelut dalam menjalankan usahanya, yang terutama berhubungan dengan konsumen. Kata pemasaran sendiri berasal dari kata pasar, atau biasa juga diartikan dengan mekanisme yang mempertemukan permintaan dan penawaran. Menurut Philip Kotler ( 2002 : 9 ) “Pemasaran adalah proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”. Menurut Stanton ( 1996 : 6 ) “Pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial”. Menurut Lamb, Hair, Me Daniel ( 2001 : 6 ) “Pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan sejumlah ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi”. Dari hasil defenisi beberapa ahli diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa memuaskan pelanggan adalah merupakan kunci sukses dalam melaksanakan usaha mulai dari proses perencanaan produksi, penetapan harga, pelayanan yang prima serta penjaminan kualitas baik pada saat proses pembelian sampai kepada pasca

4

pembelian, dengan tujuan bahwa konsumen akan terpuaskan. Berbagai tanggapan dari pelanggan perlu diterima sebagai masukan yang berharga bagi pengembangan dan penyusunan strategi perusahaan berikutnya. Oleh karena itu perusahaan dalam mencapai tujuannya tersebut utamanya bagi pemasar harus mengetahui apa yang diinginkan dan yang dibutuhkan oleh pelanggannya, dengan cara mempelajari bagaimana persepsi, preferensi dan prilaku pelanggannya. Namun tidak mudah bagi pemasar untuk mengenal watak dan prilaku dari pelanggannya, karena bisa jadi apa yang diungkapkan itu bertolak belakang dengan sebenarnya. Untuk melihat prilaku konsumennya, pemasar harus dapat melihat dari penjualan sehari-hari di lapangan. Hal ini tidak terlepas pula dari perusahaan untuk terus melakukan riset terhadap konsumennya. Pemantauan tersebut bukan hanya di lihat sebelum pembelian yaitu faktor-faktor apa yang mempengaruhi konsumen membeli produk (intern dan ekstern), namun juga memperhatikan bagaimana kesudahannya dalam pembelian tersebut sangat penting untuk terus dapat mempertahankan pelanggan. Pada dasarnya pemasaran bukan hanya kegiatan menjual barang maupun jasa tetapi juga meliputi kegiatan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan dengan berusaha mempengaruhi konsumen untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk yang bernilai. Hal ini sangat penting bagi manajer pemasaran untuk memahami tingkah laku konsumen tersebut. Sehingga perusahaan dapat mengembangkan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan produk secara lebih baik. Dengan mempelajari perilaku konsumen, manajer akan mengetahui kesempatan, mengindentifikasi, serta menentukan segmentasi pasar secara tepat dan akurat. B. Perilaku Konsumen Saat ini konsumen begitu dimanjakan dengan berbagai produk yang dapat dipilih untuk memenuhi kebutuhan. Era produsen mengendalikan konsumen telah berlalu dan telah digantikan dengan era dimana konsumen memegang kendali. Konsumen yang mendikte produk apa yang seharusnya diproduksi oleh perusahaan. Perusahaan harus berfokus pada konsumen, konsumen adalah bagian terpenting dari perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu mengerti bagaimana konsumennya berperilaku. Pada dasarnya perilaku konsumen merupakan tindakan/perilaku, termasuk didalamnya aspek-aspek yang mempengaruhi tindakan itu, yang berhubungan dengan usaha untuk mendapatkan produk (barang dan jasa) guna memenuhi kebutuhannya. Tidak ada kesamaan defenisi yang dikemukakan para ahli, perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan sudut pandang. Perilaku manusia sangat kompleks sehingga sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Namun untuk memperluas pemahaman tentang perilaku konsumen, akan saya paparkan beberapa defenisi perilaku konsumen yang dikemukakan oleh beberapa pakar. Pengertian perilaku konsumen menurut Engel et al., ( 1994 : 3 ) adalah tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan

5

menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses yang mendahului dan menyusul dari tindakan ini. Mowen ( 1990 : 5 ) mengatakan bahwa perilaku konsumen adalah studi unitunit dan proses pembuatan keputusan yang terlibat dalam menerima, menggunakan dan penentuan barang, jasa dan ide. Defenisi tersebut menggunakan istilah unit-unit pembuat keputusan, karena keputusan bisa dibuat oleh individu atau kelompok. Defenisi tersebut juga mengatakan bahwa konsumsi adalah proses yang diawali dengan penerimaan, konsumsi, dan diakhiri dengan penentuan. Tahap penerimaan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi pilihan konsumen terhadap produk, tahap konsumsi menganalisa bagaimana konsumen senyatanya menggunakan produk yang diperoleh. Tahap penentuan menunjukkan apa yang dilakukan konsumen setelah selesai menggunakan produk tersebut. Perilaku konsumen adalah dinamis, artinya konsumen bergerak sepanjang waktu. Implikasinya adalah generalisasi perilaku konsumen biasanya terbatas untuk satu jangka waktu, produk, dan konsumen tertentu. Perilaku konsumen melibatkan interaksi antara pengaruh (afeksi) dan kognisi, perilaku dan kejadian di sekitar. Untuk memahami konsumen dan mengembangkan strategi pemasaran kita harus memahami apa yang dipikirkan (kognisi) apa yang dirasakan (efeksi) dan apa yang mereka lakukan serta kejadian sekitar yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa yang dipikirkan, dirasa, dan dilakukan konsumen. Konsumen dapat dibedakan menjadi dua yaitu konsumen individu dan konsumen industri. Konsumen individu atau konsumen akhir adalah individuindividu yang melakukan pembelian untuk memenuhi kebutuhan pribadi/konsumsi rumah tangganya. Sedangkan konsumen bisnis atau lembaga adalah individu atau sekelompok individu yang melakukan pembelian atas nama dan untuk digunakan lembaga. Dalam hal ini lembaga bisa berarti perusahaan, lembaga pemerintah, dan lembaga lainnya. Memahami konsumen dan proses konsumsinya memberikan berbagai keuntungan antara lain : membantu manager dalam membuat keputusan, memberikan dasar teoritis bagi peneliti dalam menganalisa konsumen, membantu legislatif dan pemerintah dalam menyusun undang-undang dan membuat keputusan serta membantu konsumen untuk membuat keputusan yang lebih baik. Lebih dari itu studi tentang konsumen dapat membantu kita untuk lebih memahami tentang faktor-faktor psikologi, sosiologi, dan ekonomi yang mempengaruhi perilaku konsumen. Analisis konsumen merupakan dasar dari managemen pemasaran. Perencanaan dan strategi pemasaran yang harus disusun berdasarkan pemahaman akan konsumen yang menjadi target pasar bagi perusahaan. Pentingnya pemahaman mengenai konsumen dapat dijumpai dalam defenisi pemasaran. Pemasaran adalah aktivitas manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Dari defenisi tersebut ada dua hal penting. Pertama, pemasar berusaha memuaskan kebutuhan dan keinginan orang lain. Kedua, pemasar melibatkan studi tentang pertukaran dalam mana orang saling menyerahkan sumber

6

daya. Agar menjadi pemasar yang berhasil mereka harus memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keinginan dan kebutuhan konsumen. Secara sederhana Assael ( 1994 : 14 ) mengemukakan bahwa ada tiga faktor pokok yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Pertama adalah individu konsumen, dimana pemilihan produk dan jasa dipengaruhi oleh; kebutuhan, persepsi, dan sikap terhadap alternatif-alternatif serta demografi konsumen, gaya hidup dan kepribadian. Kedua adalah faktor lingkungan yang diperlilhatkan oleh kebudayaan, kelas social, kelompok referensi dan faktor situasional. Ketiga adalah strategi pemasaran yang mengawasi konsumen dengan variabel-variabel produk, harga, promosi, dan distribusi. ( Assael, 1994 : 527 ). Belk ( 1975 : 158 ) mendefinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama terhadap tempat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang (intra individual) dan stimuli (alternatif pilihan) dan memiliki bukti dan pengaruh sistematis pada perilaku saat ini. Pengaruh situasional adalah kekuatan sesaat yang tidak berasal dari dalam diri seseorang atau berasal dari produk atau merk yang dipasarkan ( Wilkie, 1990 : 453 ). Pengaruh situasional pada konsumen adalah faktor personal dan lingkungan sementara yang muncul pada aktivitas konsumen, sehingga situasi konsumen meliputi faktor-faktor seperti; (1) melibatkan waktu dan tempat dalam mana aktivitas konsumen terjadi, (2) mempengaruhi tindakan konsumen seperti perilaku pembelian, dan (3) tidak termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka panjang. Situasi konsumen relatif merupakan kejadian jangka pendek dan harus dibedakan dengan lingkungan makro atau faktor-faktor personal yang memiliki jagka waktu lama. Pengaruh situasional telah menjadi pertimbangan bagi banyak peneliti perilaku konsumen. Kenyataannya semua perilaku konsumen mungkin dipengaruhi oleh pengaruh situasional. Peneliti harus mampu mengindentifikasi variabel situasional mana yang paling umum mempengaruhi perilaku konsumen. Problem pemasaran dapat disederhanakan jika fokusnya hanya diarahkan pada situasi yang paling mempengaruhi pembelian produk. Penelitian telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternatif ( Kolm, Monroe, dan Glazer, 1987, dalam Titus dan Ernett, 1996 ). Terdapat tiga jenis situasi yang berkaitan dengan pemasar yaitu: situasi konsumsi, situasi pembelian, dan situasi komunikasi ( Assael, 1994 : 527 ). Situasi konsumsi adalah keadaan dimana merk digunakan. Suatu parfum mungkin digunakan untuk acara tertentu sedangkan parfum yang lain digunakan untuk sehari-hari. Konsumen mugkin minum kopi bubuk untuk menjamu tamu dan minum kopi instant untuk menu sehari-hari. Situasi demikian sebagaian dapat diantisipasi, misalnya akan pergi ke suatu tempat atau akan kedatangan tamu tertentu. Sebagian yang lain tidak bisa diantisipasi misalnya tiba-tiba ada tamu yang datang. Keadaan demikian memaksa konsumen membeli sesuatu secara cepat dan rela

7

membayar lebih karena keterbatasan waktu untuk berkeliling mencari harga yang murah. Situasi pembelian berkaitan dengan: Pertama, lingkungan di dalam toko seperti ketersediaan produk, perubahan harga, dan kemudahan belanja yang berkaitan dengan pilihan berbelanja. Kedua, situasi pembelian berkaitan dengan apakah produk yang dibeli untuk hadiah atau untuk dirinya sendiri. Konsumen biasanya menggunakan kriteria yang berbeda dan mungkin memilih merk yang berbeda jika ia membeli untuk dirinya sendiri. Ketiga, situasi pembelian berkaitan dengan keadaan mood konsumen ketika berbelanja. Keadaan senang atau keadaan susah mempengaruhi pemprosesan dan pencarian informasi tentang produk. Situasi komunikasi adalah keadaan dimana konsumen terbuka untuk informasi baik dari orang seorang ataupun informasi yang bersifat impersonal. Situasi komunikasi dapat menentukan apakah konsumen akan mengumumkan, memahami dan menahan informasi. Dengan mengacu pada pendapat Belk dalam Assael (1994 : 530), Engel et. Al (1994 : 210), dan Mowen (1990 : 536) terdapat lima jenis situasi konsumen yaitu; lingkungan fisik, lingkungan social, defenisi tugas, perspektif waktu, dan pernyataan sebelumnya. Analisis perilaku konsumen yang realistik hendaknya menganalisis juga prose-proses yang tidak dapat atau sulit yang diamati, yang selalu menyertai pembelian. Mempelajari perilako konsumen tidak hanya mempelajari apa (what) yang dibeliatau dikonsumsi (where), bagaimana kebiasaan (how often) dan dalam kondisi macam apa (under what conditions) barang-barang dan jasa-jasa dibeli.

C. Kebutuhan Dan Motivasi Konsumen 1. Kebutuhan Konsumen Kebutuhan dapat didefenisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami suatu kenyataan dengan dorongan ada dalam diri. Apabila konsumen kebutuhannya tidak terpenuhi, ia akan menunjukan perilaku kecewa, sebaliknya jika kebutuhan terpenuhi, konsumen akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi rasa puas. Kebutuhan merupakan fundamen yang berdasarkan perilaku konsumen, kita tidak mungkin memahami perilaku konsumen tanpa mengerti kebutuhannya. Kebutuhan konsumen mengandung elemen dorongan biologis, fisiologis, psikologis dan sosial. Maslow berpendapat dikutip oleh Sumarni (1997, hal 56) bahwa hirarki kebutuhan manusia adalah : a. Kebutuhan fisiologi, yaitu kebutuhan untuk makan, minum, perlindungan fisik, bernafas, seksual. Kebutuhan ini diangkat sebagai kebutuhan paling dasar. b. Kebutuhan rasa aman yaitu kebutuhan akan perlindungan dan ancaman bahaya, pertentangan dan lingkungan hidup.

8

c. Kebutuhan untuk merasa memiliki yaitu, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok berafiliasi, berinteraksi dan kebutuhan untuk mencintai serta dicintai. d. Kebutuhan akan harga diri yaitu, kebutuhan untuk dihormati dan dihargai oleh orang lain. e. Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri yaitu kebutuhan untuk menggunakan ide-ide memberi penilaian dan kritikan terhadap sesuatu. Menurut MC. Leiland diterjemahkan Mangkunegara (1198, hal 8) bahwa ada tiga macam kebutuhan yaitu : a. Need achievement yaitu, kebutuhan untuk berprestasi yang merupakan refleksi dari dorongan akan tanggung jawab untuk memecahkan masalah b. Need for affiliation yaitu kebutuhan untuk beraplikasi yang merupakan dorongan untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. c. Need for power yaitu, kebutuhan akan kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan mencapai autoritas untuk memiliki pengaruh terhadap orang lain. d. 2. Motif dan Motivasi Motif merupakan suatu dorongan kebutuhan dalam diri konsumen yang perlu dipenuhi agar konsumen dapat menyesuaikan diri terhadap lingkungannya sedangkan motivasi adalah kondisi atau dorongan dalam diri yang menggerakkan konsumen agar mampu mencapai tujuan motifnya. Teori motivasi lainnya yang dikemukakan oleh Hezberg dikutip Kotler (1997, hal 64) yaitu dengan mengembangkan teori motivasi dua faktor yang membedakan dissatisfier ( faktor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan) dan satisfier (faktorfaktor yang menyebabkan kepuasan). Ketidakpuasan (dissatisfier) tidaklah cukup sebabnya satisfier harus ada secara aktif untuk motivasi suatu pembelian. Teori motivasi Herzberg memiliki dua implikasi, yaitu pertama penjual harus berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari dissatisfier. Kedua, pabrik harus mengidentifikasi satisfier atau motivator pembelian dalam pasar dan kemudian menyediakannya. Dalam membeli barang dan jasa yang ditawarkan konsumen didasari oleh beberapa faktor motivasi antara lain : 1. Produk buying motive (motif yang menyebabkan konsumen melakukan pembelian barang tertentu). Motif ini dibedakan atas a. Motif pembelian yang rasional dimana konsumen membeli barang dan jasa dengan pertimbangan rasio, seperti kualitas yang tinggi, ekonomis, tahan lama, dan lain-lain b. Motif pembelian yang emosional, dimana konsumen membeli barang atau jasa tanpa mempertimbangkan rasio, melainkan hanya mempertimbangkan emosi seperti ingin meniru, ingin beda sensasi dan lain-lain.

9

2. Patronage buying motive (motif yang didasarkan pada pembelian barang dan jasa pada tempat penjualan tertentu) motif ini dibedakan atas : a. Motif pembelian yang rasional, diana konsumen membeli barang atau jasa pada tempat-tempat tertentu dengan mempertimbangkan rasio seperti dekat dengan tempat tinggal, dapat memberikan pelayanan yang memuaskan dan sebagainya. b. Motif pembelian yang irrasional, dimana konsumen membeli barang atau jasa pada tempat tertentu tanpa mempertimbangkan rasio seperti etalase yang menarik, kebiasaan dan sebagainya Begitu pentingnya peranan konsumen bagi produsen dalam membeli barang atau jasa sehingga produsen senantiasa untuk mendapatkan konsumen yang baru disamping tetap memlihara konsumen yang telah ada. Oleh sebab itu produsen yang harus mengetahui dengan pasti data perilaku konsumen yang sangat membantu dalam proses perencanaan produksi dan pemasaran. Jadi pada dasarnya pengambilan keputusan pembelian dari konsumen terhadap suatu barang dan jasa dimulai dengan adanya rangsangan dan dorongan dari luar (eksternal) yang selanjutnya berintegrasi dengan dorongan dari konsumen (internal) sampai melahirkan suatu keputusan pembelian sekaligus mencerminkan sikap dan perilaku permintaannya. Rangsangan yang bersumber dari luar dapat berbentuk produk, harga, promosi dan sedangkan rangsangan dari dalam dapat berupa kebudayaan, selera dan tingkat sosial ekonomi masing-masing individu. D. Tahap-Tahap Dalam Proses Pembelian Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam pembelian mereka. Menurut Swastha (1995, hal 103) proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyelesaian masalah yang terdiri dari enam tahap. 1. Menganalisa keinginan dan kebutuhan : Penganalisaan keinginan dan kebutuhan ini ditujuan terutama untuk mengetahui adanya keinginan dan kebutuhan yang belum terpenuhi atau terpuaskan. Jika kebutuhan tersebut diketahui maka konsumen akan segera memahami adanya kebutuhan yang belum perlu segera dipenuhi atau masih ditunda pemenuhannya, serta kebutuhan-kebutuhan yang sama-sama segera dipenuhi. 2. Menilai sumber-sumber : Tahap kedua dalam proses pembelian ini sangat terkait dengan lamanya waktu dan jumlah uang yang tersedia untuk membeli. Jika jumlah uang yang tersedia tidak begitu banyak, sedangkan kebutuhannya cukup besar, maka konsumen akan lebih menyukai pembelian secara kredit. Jika produk yang akan dibeli memerlukan uang yang cukup besar, biasanya diperlukan waktu yang agak lama didalam mempertimbangkan pembeliannya. 3. Menetapkan tujuan pembelian : Tujuan pembelian bagi masing-masing pembelian tidak selalu sama, tergantung pada jenis produk dan kebutuhannya. Ada konsumen mempunyai tujuan membeli utnuk meningkatkan pretise (pembelian mobil) ada yang hanya sekedar ingin memenuhi keinginan jangka

10

pendek (pembelian makanan), ada juga yang ingin meningkatkan pengetahuan (pembelian buku) dan sebagainya. 4. Mengidentifikasikan alternatif pembelian : Setelah tujuan pembelian ditetapkan konsumen, perlu mengidentifikasikan alternatif pembeliannya untuk meningkatkan pretise, misalnya beberapa alternatif pembelian yang mungkin dilakukan adalah membeli mobil, membeli rumah, motor dan sebagainya. 5. Keputusan membeli setelah tahap-tahap tersebut dilakukan : Tiba saatnya pembeli untuk mengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Jika dianggap bahwa keputusan yang diambil adalah membeli, maka pembeli akan menemukan serangkaian keputusan yang menyangkut jenis produk, bentuk produk, merek, penjual, kuantitas, waktu pembelian dan cara pembayarannya. 6. Perilaku sesudah membeli : Dari tahap pertama sampai dengan tahap kelima adalah bersifat operatif. Bagi perusahaan, perasaan dan perilaku sesudah pembelian juga sangat penting. Perilaku mereka dapat mempegaruhi penjualan ulang dan juga mempengaruhi ucapan-ucapan pembeli kepada pihak lain tentang produk perusahaan. Adapun kemungkinan bahwa pembeli memiliki ketidaksesuaian sesudah ia melakukan pembelian karena mungkin harganya dianggap terlalu mahal, atau mungkin karena tidak sesuai dengan keinginan atau gambaran sebelumnya. Untuk mencapai keharmonisan dan meminimumkan ketidak sesuaian antara lain : menghindari iklan untuk produk lain untuk membuat evaluasi sebelum membeli. Untuk mengurangi ketidaksesuaian tersebut, perusahaan dapat bertindak dengan menekankan segi-segi tertentu akan servis dari produknya. Bagi produsen mobil yang harganya relatif tinggi. Program servis sesudah penjualan merupakan faktor penting untuk mengurangi ketidaksesuaian. E. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Konsumen. Pelanggan dalam memutuskan pembelian suatu produk ada 2 (dua) kepentingan utama yang diperhatikannya yaitu: 1. Keputusannya pada ketersediaan dan kegunaan suatu produk. Konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk, jika produk yang ditawarkan tersebut tersedia dan bermanfaat baginya. 2. Keputusan pada hubungan dari produk atau jasa, konsumen akan memutuskan untuk membeli suatu produk jika produk tersebut mempunyai hubungan dengan yang diinginkan konsumen. Menurut Kotler ( 2002 : 183 ) Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen, yaitu : a. Faktor Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh paling luas dan mendalam terhadap perilaku konsumen. Terdiri dari budaya, sub budaya, dan kelas social. Budaya yang merupakan karakter paling penting dari suatu social yang membedakannya dari kelompok budaya lain yang menjadi penentu dan keinginan dan perilaku yang paling mendasar. Masing-masing budaya terdiri

11

dari sub budaya yang memberikan lebih banyak ciri-ciri dan sosialisasi. Sub budaya adalah suatu kelompok homogennya atas sejumlah orang yang terbagi menjadi beberapa bagian dari keseluruhan suatu budaya. b. Faktor Sosial Pada umumnya konsumen sering meminta pendapat dari orang sekitar dan lingkungannya tentang produk apa yang akan dibeli. Karena itulah lingkungan sosial memberikan pengaruh terhadap perilaku konsumen. Faktor sosial terdiri dari 3 bagian yaitu : kelompok acuan, keluarga, dan peran. Kelompok acuan adalah semua kelompok yang memiliki pengaruh langsung terhadap sikap / perilaku seseorang. Dengan pendapat yang diperoleh dari suatu kelompok maka konsumen dapat membuat keputusan konsumsi. Keluarga sebagai organisasi pembelian konsumen yang paling penting juga berpengaruh secara langsung terhadap keputusan seseorang dalam membeli barang sehari-hari. Sedangkan peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan seseorang. Suatu produk atau merk dapat menggambarkan peran dan status pemakaiannya. c. Faktor Pribadi Mulai dari bayi hingga dewasa dan menjadi tua, manusia selalu membutuhkan barang dan jasa. Pilihan barang yang dibeli secara otomatis dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan gaya hidup yang bersangkutan. Gaya hidup adalah cara hidup seseorang yang terlihat melalui aktivitas sehari-hari, minat dan pendapat seseorang. Seseorang dengan pendapatan yang tinggi dan gaya hidup mewah tentunya akan menentukan pilihan pada barang dan jasa yang berkualitas. Selain itu kepribadian dan konsep diri juga mempengaruhi pilihan produk. Konsep diri adalah bagaimana konsumen mempresepsikan diri mereka sendiri, yang meliputi sikap, persepsi, keyakinan, dan evaluasi diri. d. Faktor Psikologis Sikap pembelian psikologis dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi, pembelajaran dan kepercayaan. Motivasi merupakan kebutuhan yang mendorong seseorang dalam melakukan sesuatu yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Melalui motivasi proses pengamatan dan belajar seseorang memperoleh kepercayaan terhadap suatu produk yang secara otomatis mempengaruhi perilaku pembelian konsumen. Para konsumen mengembangkan beberapa keyakinan mengenai ciri-ciri dari suatu produk dan selanjutnya akan membentuk suatu sikap konsumen terhadap produk tersebut F. Harga Keberhasilan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat dapat dilihat dari keberhasilan perusahaan tersebut dalam memadukan keempat variable bauran pemasaran, yaitu; produk, harga, promosi dan saluran distribusi. Dari sudut pandang pemasaran harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan suatu barang atau jasa. Harga merupakan satu-satunya bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan bagi

12

perusahaan melalui penjualan. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu menetapkan harga produknya dengan baik dan tepat sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan. Berikut ini beberapa definisi mengenai harga yang penulis kutip dari beberapa ahli ;  Menurut Buchari ( 2000 : 169 ) mengemukakan pengertian harga sebagai berikut:“Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang”.  Menurut Saladin ( 2003 : 95 ) mengemukakan pengertian harga sebagai berikut :“Harga adalah sejumlah uang sebagai alat tukar untuk memperoleh produk atau jasa”.  Menurut Dharmesta dan Irawan ( 2005 : 241 ) mengemukakan pengertian harga sebagai berikut : Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, harga adalah sejumlah uang yang dibutuhkan sebagai alat tukar untuk memperoleh sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Berikut ini merupakan berbagai pilihan teknik / strategi penentuan harga : A. Stretegi Penentuan Harga Pada Produk Baru 1. Skimming Price Strategi skimming adalah menetapkan harga awal yang tinggi ketika produk baru diluncurkan dan semakin lama akan terus turun harganya. Contoh handphone nokia, laptop, komputer, dan lain sebagainya. 2. Penetration Price / Harga Penetrasi Strategi harga penetrasi adalah menentukan harga awal yang rendah serendah rendahnya atau murah dengan tujuan untuk penetrasi pasar dengan cepat dan juga membangun loyalitas merek dari pada konsumen. Contoh : tarif layanan operator baru three / 3, mie selera rakyat, so klin MB, dan lain-lain. B. Stretegi Penentuan Harga Yang Mempengaruhi Psikologis Konsumen 1. Prestige Pricing / Harga Prestis Strategi harga Prestige Price adalah menetapkan harga yang tinggi demi membentuk image kualitas produk yang tinggi yang umumnya dipakai untuk produk shopping dan specialty. Contoh : roll royce, rolex, guess, gianni versace, prada, vertu, dan lain sebagainya. 2. Odd Pricing / Harga Ganjil Strategi harga odd price adalah menetapkan harga yang ganjil atau sedikit di bawah harga yang telah ditentukan dengan tujuan secara psikologis pembeli akan mengira produk yang akan dibeli lebih murah. Contoh : Barang yang tadinya dihargai Rp. 100.000,- diubah menjadi Rp. 99.990,- di mana konsumen mungkin akan melihat 99.990 jauh lebih murah daripada Rp. 100.000,-. 3. Multiple-Unit Pricing / Harga Rabat Strategi harga multiple unit price adalah memberikan potongan harga tertentu apabila konsumen membeli produk dalam jumlah yang banyak. Contoh : Jika

13

harga sebuah sebungkus indomie goreng pedas adalah Rp. 1.500,- maka konsumen cukup membayar Rp. 1.ooo,- perbungkus jika membeli satu dus isi 40 bungkus indomie. 4. Price Lining / Harga Lini Strategi harga lining pricing adalah memberikan cakupan harga yang berbeda pada lini produk yang beda. Contoh : bioskop grup 21 memberikan harga standar untuk konsumen bioskop jenis standard dan mengenakan harga yang lebih mahal pada konsumen bioskop 21 jenis premier. 5. Leader Pricing / Pemimpin Harga Strategi harga leader price adalah menetapkan harga lebih rendah daripada harga pasar / harga normal untuk meningkatkan omset penjualan / pembeli. Contoh : biasanya ritel jenis hipermarket memberikan promosi harga yang lebih murah daripada harga normal. C. Stretegi Penentuan Harga Diskon / Potongan Harga Strategi harga diskon pada penjual adalah strategi dengan memberikan potongan harga dari harga yang duah ditetapkan demi meningkatkan penjualan suatu produk barang atau jasa. Diskon dapat diberikan pada umum dalam bentuk diskon kuantitas, diskon pembayaran tunai / cash, trade discount. D. Stretegi Penentuan Harga Kompetitif 1. Relative Pricing / Harga Relatif Strategi harga relative price adalah menentukan harga di atas, di bawah atau sama dengan tingkat harga persaingan di mana gerakan harganya mengikuti gerakan pesaing. 2. Follow The Leader Pricing Strategi harga follow the leader price adalah penetapan harga produk baik barang maupun jasa diserahkan para pimpinan pasar / penimpin pasar dan tidak menetapkan harga sendiri. G. Kualitas Dari segi linguistik kualitas berasal dari bahasa latin quails yang berarti „sebagaimana kenyataannya‟. Definisi kualitas secara internasional ( BS EN ISO 9000 : 2000 ) adalah tingkat yang menunjukkan serangkaian karakteristik yang melekat dan memenuhi ukuran tertentu ( Dale, 2003 : 4 ). Sedangkan menurut American Society for Quality Control kualitas adalah totalitas bentuk dan karakteristik barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang tampak jelas namun tersembunyi ( Render dan Herizer, 1997 : 92 ). Beberapa pakar kualitas mendefinisikan kualitas dengan beragam interpretasi. Juran ( 1989 : 16-17 ), mendefinisikan kualitas secara sederhana sebagai „kesesuaian untuk digunakan‟. Definisi ini mencangkup keistimewaan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen dan bebas dari defisiensi. Sedangkan Deming berpendapat kualitas adalah „mempertemukan kebutuhan dan harapan konsumen secara berkelanjutan atas harga yang telah mereka bayarkan‟. Filosofi Deming membangun kualitas sebagai suatu system ( Bhat dan Cozzolino, 1993 : 106 ).

14

Pengertian kualitas lebih luas (Bina Produktivitas Tenaga Kerja,1998 : 24-25), adalah; a. Derajat yang sempurna (degree of exelence); mengandung pengertian komperatif terhadap tingkat produk (grade) tertentu. b. Tingkat kualitas (quality level): mengandung pengertian kualitas untuk mengevaluasi teknikal. c. Kesesuaian untuk digunakan (fitness for purpose user satisfaction): kemampuan produk dan jasa dalam memberikan kepuasan kepada pelanggan. Sedangkan delapan dimensi kualitas menurut Philip Kotler ( 2000 : 329-333 ) adalah sebagai berikut : a. Kinerja (performance): karakteristik operasi suatu produk utama. b. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (feature). c. Kehandalan (reliability): propabilitas suatu produk tidak berfungsi atau gagal. d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to specifications). e. Daya tahan (durability). f. Kemampuan melayani (serviceability). g. Estetika (estethic): bagaimana produk dipandang dirasakan dan didengarkan. h. Ketepatan kualitas yang dipersepsikan. Dalam kenyataannya kualitas adalah konsep yang cukup sulit untuk dipahami dan disepakati. Dewasa ini kata kualitas mempunyai beragam interpensi, tidak dapat didefinisikan secara tunggal, dan sangat tergantung pada konteksnya. Beberapa definisi kualitas berdasarkan konteksnya perlu dibedakan atas dasar: organisasi, kejadian, produk, pelayanan, proses, hasil, kegiatan, dan komunikasi ( Dale, 2003:4 ). Lebih lanjut pengertian kualitas mencangkup: kualitas produk (product), kualitas biaya (cost), kualitas penyajian (delivery), kualitas keselamatan (safety), dan kualitas moral (morale) atau sering disingkat menjadi P-C-D-S-M (Bina Produktivitas Tenaga Kerja, 1998). Secara garis besar ada dua argumentasi yang efektif atas arti pentingnya kualitas bagi perusahaan (Goodman et al, 2000:47). Date ( 2003 : 12-20 ), menyimpulkan beberapa hasil survey yang terfokus pada persepsi arti pentingnya kualitas produk dan jasa, diantaranya: persepsi public atas kualitas produk dan jasa yang semakin luas, meningkatnya pandangan dan peran manajemen puncak, kualitas tidak dapat dinegosiasikan (quality is not negotiable), kualitas meliputi semua hal (quality is all-pervasive), kualitas meningkatkan produktivitas, kualitas mempengaruhi kinerja yang lebih baik pada pasar, kualitas berarti meningkatkan kinerja bisnis, biaya non kualitas yang tinggi, konsumen adalah raja, kualitas adalah pandangan hidup (way of life). Sedangkan Render dan Herizer ( 2004 : 93-96 ) berpendapat bahwa kualitas terutama mempengaruhi perusahaan dalam empat hal, yaitu:

15

a. Biaya dan pangsa pasar: kualitas yang ditingkatkan dapat mengarah kepada peningkatan pangsa pasar dan penghematan biaya, keduanya juga dapat mempengaruhi profitabilitas. b. Reputasi perusahaan: reputasi perusahaan mengikuti reputasi kualitas yang dihasilkan. Kualitas akan muncul bersamaan dengan persepsi mengenai produk baru perusahaan, praktek-praktek penanganan pegawai, dan hubungannya dengan pemasok. c. Pertanggungjawaban produk: organisasi memiliki tanggung jawab yang besar atas segala akibat pemakaian barang maupun jasa. d. Implikasi Internasional: dalam era teknologi, kualitas merupakan perhatian operasional dan internasional. Agar perusahaan dan negara dapat bersaing secara efektif dalam perekonomian global, produknya harus memenuhi kualitas dan harga yang diinginkan. e. H. Tingkat Pendapatan Kebutuhan masyarakat kadang kala diperhadapkan dengan masalah ketidakmampuan dari segi materil karena disebabkan karena rendahnya tingkat pendapatan mereka. Begitu pula sebaliknya masyarakat yang mempunyai tingkat pendapatan relatif tinggi akan lebih leluasa untuk memenuhi berbagai jenis kebutuhannya. Penentuan harga produk jasa cetakan misalnya harus diperhitungkan dengan tingkat pendapatan masyarakat sehingga produk benar-benar sesuai dengan tingkat kemampuan konsumen. I. Arti Penting Sebuah Pelayanan Pelayanan merupakan rasa menyenangkan yang diberikan kepada orang lain yang disertai keramahtamahan dan kemudahan-kemudahan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Pada perusahaan jasa, pelayanan merupakan strategi untuk merebut pangsa pasar dalam menghadapi persaingan. Karena pelayanan yang baik serta berkualitas kepada konsumen, maka konsumen akan merasa mendapat kepuasan dan dihargai sehingga akan tetap merasa senang untuk menjadi pelanggan perusahaan, demikian juga sebaliknya. Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa, pelayanan merupakan suatu bentuk strategi karena pelayanan yang dikerjakan secara profesional akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan dan nama baik perusahaan. Jika pelayanan diabaikan maka bisa menimbulkan rasa tidak puas di pihak pelanggan dan ini jelas akan merugikan pihak perusahaan. Moenir (1992 : 16) mendefenisikan pelayanan adalah "Suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung". Sedangkan menurut Soekadijo (1996 : 188) menyatakan : Pelayanan adalah fasilitas pelayanan jasa yang penyajiannya disertai keramah-tamahan yang menyenangkan untuk para pelanggan, sebagai suatu yang menyenangkan juga suatu merupakan daya tarik, sehingga keramah-tamahan dapat mengangkat pemberian jasa menjadi suatu atraksi bagi calon pelanggan, memberikan pelayanan yang baik kepada

16

orang lain pada hakekatnya menunjukkan perasaan senang kepada orang lain. Memuaskan langganan/pelanggan sebenarnya adalah memuaskan kebutuhankebutuhan mereka. Sebagai seorang pemberi pelayanan maka dihadapkan pada tantangan untuk dapat memenuhi kebutuhan pelanggan. Kotler (1994 : 119) memberikan suatu defenisi tentang pelayaaan sebagai berikut : Layanan jasa adalah setiap tindakan atau perbuatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain yang pada dasarnya betsifat intengible (tidak berwujud fisik) dan tidak menghasilkan kepemilikan sesuatu. Prodaksi jasa bisa berhubungan dengan produk fisik maupun tidak. Selanjutnya Soetjipto (1997 : 18) menyatakan tentang kualitas pelayanan (service qualiy) : Service quality dapat didefenisikan sebagai seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas pelayanan yang mereka terima. Service quality dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas layanan dengan layanan yang benar-benar mereka terima. Kualitas pelayanan menurut pernyataan diatas merupakan sebuah perbandingan akan kenyataan yang diperoleh pelanggan, apakah sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. Jika sesuai dengan yang mereka inginkan, dapat dikategorikan bahwa pelayanan tersebut berkualitas baik.

17

A. Metode Analisis Adapun metode analisis yang digunakan dalam penyusunan laporan ini yaitu menggunakan Metode Analisis Linier Multiple Regression (regresi linear berganda), metode ini menerangkan hubungan antara dua variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y) dimana : Y : Perilaku Konsumen a b1 s/d b5 X1 X2 X3 X4 X5 e : Konstanta : Koefisien Regresi : Harga Produk : Kualitas Produk : Pelayanan : Desain Produk : Promosi : Faktor Gangguan (diukur dengan satuan biaya) (diukur dengan satuan biaya) (diukur dengan satuan biaya) (diukur dengan satuan biaya)

Adapun teori yang mendasari Metode Analisis ini menurut beberapa ahli bedasarkan kutipan dari tinjauan pustaka yaitu : 1. Menurut Assael ( 1994 : 14 ) mengemukakan bahwa ada tiga faktor pokok yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan. Pertama adalah individu konsumen, dimana pemilihan produk dan jasa dipengaruhi oleh; kebutuhan, persepsi, dan sikap terhadap alternatif-alternatif serta demografi konsumen, gaya hidup dan kepribadian. Kedua adalah faktor lingkungan yang diperlilhatkan oleh kebudayaan, kelas social, kelonpok referensi dan faktor situasional. Ketiga adalah strategi pemasaran yang mengawasi konsumen dengan variabel-variabel produk, harga, promosi, dan distribusi. Landasan teori ini disimbolkan sebagai Variabel Y atau Keputusan Konsumen 2. Menurut Buchari (2000 ; 169) mengemukakan harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang. 3. Menurut Dharmesta dan Irawan ( 2005 : 241 ) mengemukakan pengertian harga sebagai berikut : Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa produk kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya. Landasan teori ini disimbolkan sebagai variable X1 atau harga produk

18

4. Menurut Juran ( 1989 : 16-17 ), mendefinisikan kualitas secara sederhana sebagai „kesesuaian untuk digunakan‟. Definisi ini mencangkup keistimewaan produk yang memenuhi kebutuhan konsumen dan bebas dari defisiensi. Sedangkan Deming berpendapat kualitas adalah „mempertemukan kebutuhan dan harapan konsumen secara berkelanjutan atas harga yang telah mereka bayarkan. Landasan teori ini disimbolkan sebagai variable X2 atau kualitas produk 5. Moenir (1992 : 16) mendefenisikan pelayanan adalah "Suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain secara langsung". Landasan teori ini disimbolkan sebagai variable X3 atau Pelayanan 6. Menurut Hermawan Kartajaya (1996 : 263), “Packaging protects what it sells (Kemasan melindungi apa yang dijual).” Sekarang, “Packaging sells what it protects (Kemasan menjual apa yang dilindungi).” Landasan Teori ini disimbolkan sebagai variable X4 atau desain produk. 7. Lamb, Hair, Me Daniel ( 2001 : 6 ) “Pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan sejumlah ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi”. Dari analisis teori diatas maka disusunlah fungsi Metode Analisis Linier Multiple Regression (regresi linear berganda), sebagai bahan acuan penelitian yaitu : Y = a + b1 . X1 + b2 . X2 + b3 . X3 + b4 . X4 + b5 . X5 + e Untuk mengetahui skala pengukuran hasil tanggapan responden terhadap variabel-variabel penelitian ini maka digunakan skala likkert. Data interval dibagi menjadi 5 (lima) skala interval dan masing-masing memiliki skor interval penilaian sebagai berikut : Skala 1 Skala 2 Skala 3 Skala 4 Skala 5 Sangat Setuju Setuju Ragu-ragu Kurang Setuju Sangat Tidak Setuju = Skor 5 = Skor 4 = Skor 3 = Skor 2 = Skor 1

B. Defenisi Operasional Variabel 1. Harga (X1) Melihat tanggapan konsumen mengenai variabel harga produk yang ditetapkan dibandingkan dengan harga produk pesaingnya yang sejenis.

19

2. Kualitas (X2) Melihat tanggapan konsumen mengenai kualitas produk yang dibeli. 3. Pelayanan (X3) Melihat tanggapan konsumen mengenai pelayanan yang diberikan oleh pihak perusahaan kepada konsumen, baik dalam proses pembelian dan pasca pembelian produk. 4. Desain Produk (X4) Melihat tanggapan konsumen mengenai desain produk yang dibuat oleh pihak perusahaan kepada konsumen. 5. Promosi (X5) Suatu bentuk komunikasi pemasaran seperti aktivitas untuk menyebarkan informasi, mempengaruhi, membujuk konsumennya untuk membeli produk tersebut. Sebagai alat ukur terhadap hasil yang diperoleh maka ditetapkan kelima variabel Dependent diukur berdasarkan satuan biaya (Rp.100 ), dimana hasil dari pengukuran bertujuan untuk mengetahui pengaruh biaya terhadap peningkatan permintaan. Asumsi dari permintaan akan melahirkan suatu kepuasan dan hasil dari kepuasan akan menciptakan perilaku konsumen.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh penulis, dalam hal ini adalah dengan metode kuesioner sebanyak 57 responden, yaitu responden yang berasal dari para konsumen CV. Karya Asrindah, baik dari instansi pemerintahan dan swasta, data yang diperoleh mengggunakan metode analisis Regresi Linear Berganda dengan memakai 5 variabel X (Dependent variable), terdiri dari : Harga Produk (X1), Kualitas Produk (X2), Pelayanan (X3), Promosi (X4) dan Desain Produk (X5) dan Perilaku Konsumen sebagai variable Y (Independent Variable), kemudian data kuesioner tersebut diolah dengan menggunakan program SPSS 15.0 A. Harga Produk Keberhasilan suatu perusahaan dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat dapat dilihat dari keberhasilan perusahaan tersebut dalam menentukan harga produk. Dari sudut pandang pemasaran harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan suatu barang atau jasa. Harga merupakan satu-satunya bauran pemasaran yang menghasilkan pendapatan bagi perusahaan melalui penjualan. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu menetapkan harga produknya dengan baik dan tepat sehingga konsumen tertarik dan mau membeli produk yang ditawarkan sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan. Menurut Dharmesta dan Irawan ( 2005 : 241 ) mengemukakan pengertian harga sebagai berikut : Harga adalah jumlah uang yang dibutuhkan untuk

20

mendapatkan sejumlah kombinasi dari produk dan pelayanannya, oleh karena itu harga dianggap sangat penting sebagai tolak ukur dalam menentukan minat seseorang dalam menentukan pilihan pembelian meskipun harga bukanlah faktor yang paling berperan akan tetapi penerapan harga yang cukup relatif terhadap pendapatan seseorang adalah hal yang paling utama, berbagai macam cara yang ditempuh oleh perusahaan dalam menetapkan harga jual antara lain : Strategi harga Prestige Price adalah menetapkan harga yang tinggi demi membentuk image kualitas produk yang tinggi yang umumnya dipakai untuk produk shopping dan specialty. Contoh : roll royce, rolex, guess, gianni versace, prada, vertu, dan lain sebagainya, strategi harga odd price adalah menetapkan harga yang ganjil atau sedikit di bawah harga yang telah ditentukan dengan tujuan secara psikologis pembeli akan mengira produk yang akan dibeli lebih murah, strategi harga multiple unit price adalah memberikan potongan harga tertentu apabila konsumen membeli produk dalam jumlah yang banyak, strategi harga lining pricing adalah memberikan cakupan harga yang berbeda pada lini produk yang beda, strategi harga leader price adalah menetapkan harga lebih rendah daripada harga pasar / harga normal untuk meningkatkan omset penjualan / pembeli. Akan tetapi pada penerapannya CV. Karya Asrindah dalam menetapkan harga jual kepada para konsumen yaitu berdasarkan harga terendah dari pasar atau strategi harga leader price yang bertujuan agar konsumen merasa tertarik dan meningkatkan omset penjualan, mengapa demikian karena para konsumen dari CV. Karya Asrindah adalah sebagian besar Instansi Pemerintah dan Swasta yang tentunya untuk dapat bersaing dipasaran adalah harus menurunkan harga pada level tertentu karena melewati proses tender proyek, adapun konsumen lain adalah para Freelance Printing Marketing atau para makelar cetakan yang cara kerja mereka menerima cetakan dari pihak lain yang kemudian dicetak oleh CV. Karya Asrindah, tentunya timbul pertanyaan baru mengenai kualitas yang dihasilkan apakah harga yang rendah mampu menghasilkan kualitas yang tinggi. Umumnya harga yang diberikan oleh para percetakan lain di Kota Makassar ini menerapkan pola penetapan harga yaitu dengan istilah dua kali kerja error artinya harga bahan baku dan biaya produksi serta keutungannya telah dinaikkan sebesar 2 kali lipat, misalnya harga bahan baku dan biaya produksi beserta keutungannya sebesar Rp. 2.500 akan tetapi harga jualnya kepada konsumen menjadi Rp. 5.000, mengapa demikian ? karena untuk mengantisipasi apabila terjadi kesalahan pada cetakan pertama, masih ada keuntungan yang diperoleh dari perbaikan pada cetakan kedua. Inilah strategi dari penetapan harga yang dilakukan oleh CV. Karya Asrindah sehingga mampu bersaing hingga saat ini yaitu cukup mengambil keuntungan dari hasil cetakan pertama tetapi dengan tingkat resiko bahwa kualitas dari cetakan harus dijaga dengan baik dengan memperhatikan pola kerja yang mendetail agar terhindar dari kesalahan yang berakibat fatal. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan berdasarkan data dari hasil kuesioner dan program SPSS yaitu nilai R yaitu sebesar 87,3 %, R2 sebesar 76,2 %, dengan level signifikansi (α = 5%) dan perubahan signifikansi dari F yang

21

menunjukan proporsi keragaman variable tak bebas yang dijelaskan oleh variable bebas sebesar dengan tingkat signifikansi sebesar 95 % sehingga dapat disimpulkan bahwa secara simultan variable bebas berpengaruh terhadap variabel tak bebas (sig < 0,05 ). Sehingga dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 1.1 Model Summary yang menunjukan nilai R1 dan R2

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Tabel 1.2 Anova yang menjelaskan tingkat signifikansi secara simultan yang menunjukan adanya pengaruh antara variabel bebas dan tidak bebas (sig < 0,05 ).

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Adapun tingkat signifikansi yang ditunjukan oleh Harga Produk (X1) dari hasil olah data yang dihasilkan adalah sebesar 0,06 % dari nilai R sebesar 87,3 % dan berpengaruh sebesar 37,4 % secara parsial yang mengasumsikan bahwa harga produk berpengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen (Y). sehingga hasilnya dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 1.3 Coefficients a yang menjelaskan tingkat signifikansi antara variabel X dan Y

22

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Berarti secara matematik menunjukan harga konstanta besarnya 2,846 harga koefisien X1 besarnya 0,390, artinya bahwa jika harga turun sebesar satu satuan menyebabkan permintaan naik sebesar 0,390 dengan asumsi variabel X2, X3, X4, X5 tetap atau sebaliknya jika harga dinaikan sebesar satu satuan (100) maka akan menyebabkan permintaan turun sebesar satu satuan sebesar 39 dengan asumsi varibel X2, X3, X4, X5 tetap. B. Kualitas Produk Kualitas adalah dimensi yang sangat sulit untuk diukur/dinilai secara objektif, kualitas seringkali diselaraskan dengan tampilan produk yang nyata (McLaughlin, et.al., 1991). Kualitas pengalaman (experience quality) adalah suatu karakteristik yang hanya dinilai, jika konsumen telah menggunakannya. Kualitas disini yang dimaksud adalah kualitas control (Quality Control)antara lain kualitas dari barang cetakan yang meliputi kualitas dari warna cetakan, kualitas bahan baku cetakan serta ketahanan fisik dari produk cetakan itu sendiri. Menurut K. Ishikawa berpendapat bahwa kualitas adalah kepuasan pelanggan, dengan demikian sebagaian proses dalam organisasi memiliki pelanggan, maka kepuasan pelanggan internal menyebabkan kepuasan pelanggan organisasi. Menurut Joseph M. Juran bependapat bahwa kualitas berarti kesesuaian dengan penggunaan seperti sepatu kets yang dirancang untuk olahraga atau sepatu kulit yang dirancang untuk ke pesta atau ke kantor. Pendekatan Juran merupakan orientasi pada upaya pemenuhan harapan pelanggan. CV. Karya Asrindah dalam meningkatkan kepercayaan para konsumennya adalah melakukan strategi Quality Control yang baik dan mendetail. Dalam hal ini strategi yang dilakukan oleh CV. Karya Asrindah dalam menjaga hal itu adalah strategi kerja yang dikoordinasikan dengan baik antara bagian operasional dan bagian bagian umum yang menangani kualitas cetakan, strategi lain yang diberikan adalah memberikan penjelasan tertulis mengenai spesifikasi produk yang diajukan oleh pihak konsumen kepada perusahaan atau sebaliknya dan memperlihatkan bukti fisik mengenai spesifikasi yang diajukan, dalam hal ini pihak perusahaan juga memberikan pandangan apabila dianggap perlu kepada pihak konsumen apakah spesifikasi yang diajukan sesuai atau tidak, kemudian spesifikasi tersebut disetujui beserta contoh cetakan berupa paraf sebagai tanda persetujuan antara pihak perusahaan kepada konsumen sebelum pesanan ini mulai diproduksi untuk menghindari kesalahpahaman antara pihak perusahaan dan pihak konsumen setelah produk pesanan selesai dikerjakan. Mungkin dikatakan berbelit-belit tentang proses yang dijalankan tapi ini dirasakan sangat efektif oleh CV. Karya Asrindah untuk menjaga hubungan baik antara pelanggan dan pihak perusahaan. Inilah wujud rasa tanggung jawab dan profesionalisme CV. Karya Asrindah dalam menjaga image baik kepada para konsumen.

23

Berdasarkan hasil analisa perhitungan regresi, Kualitas Produk (X2) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,09 % dari nilai R yaitu sebesar 87,3 % dan mempunyai hubungan korelasi 3,54 % secara parsial. Secara matematik menunjukan konstanta besarnya 2,846 koefisien X2 sebesar 0,209 Tabel 2 Coefficients a yang menjelaskan tingkat signifikansi Kualitas Produk (X2) terhadap Perilaku Konsumen (Y)

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Berarti secara matematik menunjukan harga konstanta besarnya 2,846 dan koefisien X2 besarnya 0,209, artinya bahwa jika biaya untuk kualitas produk dinaikan sebesar satu satuan menyebabkan permintaan naik sebesar 20,9 dengan asumsi variabel X1, X3, X4, X5 tetap atau sebaliknya jika biaya untuk kualitas produk diturunkan sebesar satu satuan (100) maka akan menyebabkan permintaan turun sebesar -99,791 dengan asumsi varibel X1, X3, X4, X5 tetap. C. Pelayanan Dengan kondisi persaingan yang semakin tinggi antar perusahaan, setiap perusahaan saling berpacu untuk memperluas pasar. Harapan dari adanya perluasan pasar secara langsung adalah meningkatnya penjualan, sehingga perusahaan akan memiliki lebih banyak konsumen. Namun ada beberapa hal yang harus dipahami oleh perusahaan selaku produsen, bahwa semakin banyak konsumen maka perusahaan akan semakin sulit mengenali konsumennya secara teliti. Terutama tentang suka atau tidaknya konsumen terhadap barang atau jasa yang ditawarkan dan alasan yang mendasarinya. Pelayanan merupakan rasa menyenangkan yang diberikan kepada orang lain yang disertai keramahtamahan dan kemudahan-kemudahan dalam memenuhi kebutuhan mereka. Pada perusahaan jasa, pelayanan merupakan strategi untuk merebut pangsa pasar dalam menghadapi persaingan. Bagi perusahaan yang bergerak dibidang jasa, pelayanan merupakan suatu bentuk strategi karena pelayanan yang dikerjakan secara profesional akan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan dan nama baik perusahaan. Jika pelayanan diabaikan maka bisa menimbulkan rasa tidak puas di pihak pelanggan dan ini jelas akan merugikan pihak perusahaan. Kualitas pelayanan merupakan sebuah perbandingan akan kenyataan yang diperoleh pelanggan, apakah sesuai dengan harapan yang mereka inginkan. menurut Soekadijo (1996 : 188) menyatakan : Pelayanan adalah fasilitas pelayanan jasa yang penyajiannya disertai keramah-tamahan yang menyenangkan untuk para

24

pelanggan, sebagai suatu yang menyenangkan juga suatu merupakan daya tarik, sehingga keramah-tamahan dapat mengangkat pemberian jasa menjadi suatu atraksi bagi calon pelanggan, memberikan pelayanan yang baik kepada orang lain pada hakekatnya menunjukkan perasaan senang kepada orang lain. Memuaskan langganan/pelanggan sebenarnya adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan mereka. Dengan adanya kualitas pelayanan yang baik di dalam suatu perusahaan, akan menciptakan kepuasan bagi para konsumennya. Setelah konsumen merasa puas dengan produk atau jasa yang diterimanya, konsumen akan membandingkan pelayanan yang diberikan. Apabila konsumen merasa benar-benar puas, mereka akan membeli ulang serta memberi rekomendasi kepada orang lain untuk membeli di tempat yang sama. Bersamaan dengan adanya perubahan lingkungan yang terjadi dan adanya perubahan perilaku manusia, maka semakin mendorong bertambahnya permintaan akan kebutuhan pemakaian jasa percetakan. Semakin bertambahnya permintaan akan kebutuhan pemakaian jasa hotel dewasa ini mendorong para pengusaha di bidang jasa percetakan khususnya dalam hal ini adalah CV. Karya Asrindah ikut bersaing untuk menawarkan kelebihan-kelebihannya. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk mempengaruhi konsumen berupa kualitas pelayanan itu sendiri yang dapat diberikan oleh perusahaan sehingga konsumen merasa terpuaskan. CV. Karya Asrindah merupakan salah satu alat pengusaha yang termasuk dalam usaha sarana penyedia layanan jasa percetakan yang menyediakan fasilitas dan pelayanan konsumen. Pada garis besarnya, perusahaan harus berusaha untuk mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen, termasuk memahami perilaku konsumen dan hal-hal yang dapat memberi kepuasan kepada konsumen. Menyadari hal tersebut di atas, tampak betapa pentingnya usaha pemahaman akan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen untuk mencapai keberhasilan pemasaran. Dalam menghadapi hal tersebut ada beberapa dimensi kepuasan yang dapat mempengaruhi perilaku konsumen untuk mempergunakan jasa CV. Karya Asrindah antara lain dimensi tangible, meliputi penampilan gedung kantor dan penampilan karyawan, dimensi reliability, meliputi kemampuan perusahaan untuk memberikan pelayanan-pelayanan yang terbaik, dimensi responsiveness, meliputi kesediaan karyawan hotel untuk membantu konsumen dan memberikan pelayanan yang cepat, dimensi assurance, meliputi sopan santun para karyawan dan kemampuan mereka untuk membangkitkan rasa kepercayaan dan rasa percaya konsumen, serta dimensi empathy, yang meliputi rasa peduli dan perhatian secara pribadi yang diberikan pada konsumen. Kelima dimensi diatas dikembangkan oleh Pasuraman et. al. yang disebut SERVQUAL (service quality) yang merupakan suatu alat ukur terhadap kualitas pelayanan (Fandy Tjiptono, 1996 : 71). Dalam hal ini CV. Karya Asrindah dituntut harus mampu memberikan pelayanan yang prima berupa kecepatan dan ketepatan dalam menanggapi keinginan konsumen termasuk juga didalamnya pengerjaan barang cetakan yang sesuai tepat

25

pada waktunya yang tentunya sebagai wujud dari rasa tanggung jawab dan profesionalisme CV. Karya Asrindah sebagai penyedia jasa layanan percetakan. Dari hasil perhitungan dengan SPSS 15 menunjukan bahwa Pelayanan (X3) berpengaruh terhadap Perilaku Konsumen (Y) sebesar 68,2 % pada Tabel Hubungan Korelasi, dan berpengaruh signifikansi sebesar 0,20 % serta berpengaruh 31,8 % secara parsial pada tabel Koefisien. Tabel 3.1 Menyatakan Korelasi antara Pelayanan (X3) terhadap Perilaku Konsumen (Y)

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Tabel 3.2 Coefficients a yang menjelaskan tingkat signifikansi Pelayanan (X3) terhadap Perilaku Konsumen (Y)

Sumber : Data Olahan SPSS 15.0

Berarti secara matematik menunjukan harga konstanta besarnya 2,846 dan koefisien X3 besarnya 0,247, artinya bahwa jika biaya untuk pelayanan dinaikan sebesar satu satuan menyebabkan permintaan naik sebesar 0,247 dengan asumsi variabel X1, X2, X4, X5 tetap atau sebaliknya jika biaya untuk pelayanan diturunkan sebesar satu satuan (100) maka akan menyebabkan permintaan turun sebesar -99,753 dengan asumsi varibel X1, X2, X4, X5 tetap.

26

D. Promosi Belakangan ini promosi banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan, persepsi konsumen tentang promosi sangat membantu sekali dalam hal meningkatkan mutu pelayanan suatu perusahaan dengan tujuan mencapai tingkat labayang maksimum. Promosi merupakan usaha perusahaan dalam hal mendorong penjualan melalui komunikasi langsung atau tidak langsung terhadap pembeli. Dalam bisnis ritel promosi merupakan faktor penting untuk mengangkat omset penjualan, tapi ini tidak berarti penjualan tidak akan terjadi tanpa adanya promosi. Misalnya konsumen yang rumahnya dekat dengan lokasi toko mungkin suka dengan kenyamanan, orang yang kebetulan lewat mungkin tiba-tiba tertarik hatinya untuk melakukan pembelian walaupun dari rumahnya tidak ada niat untuk melakukan pembelian. Seperti yang dikemukakan oleh Mc Charty (Agus Dharma, 1993 : 247) bahwa : “Promosi merupakan kegiatan mengkomunikasikan informasi dari penjual kepada pembeli dalam saluran untuk mempengaruhi sikap dan prilaku”. Sedangkan menurut Djaslim Saladin (1996 : 68) menyatakan bahwa : “Promosi adalah suatu komunikasi informasi penjual dan pembeli yang bertujuan untuk merubah sikap dan tingkah laku pembeli”. Promosi secara tidak langsung berpengaruh terhadap persepsi keputusan pembelian konsumen. Suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan kehidupan saat ini telah berubah dengan sangat cepat, yang rnengakibatkan timbulnya berbagai macam kebutuhan dan keinginan atas jasa. Untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut, produsen selaku penyedia berusaha untuk menciptakan suatu produk atau jasa yang dapat memenuhi keinginan dari konsumen. Namun produk atau jasa tersebut tidak mungkin dapat mencari sendiri pembeli/peminat. Oleh karena itu produsen dalam kegiatan pemasaran produk atau jasanya harus membutuhkan konsumen mengenal produk atau jasa yang dihasilkan. Salah satu usaha yang digunakan produsen (perusahaan) dalam bidang pemasaran untuk tujuan meningkatkan hasil produk yaitu melalui kegiatan promosi. Dengan melihat dari hasil perhitungan ternyata ditemukan hasil yang tidak signifikan antara variabel Promosi (X4) terhadap Perilaku Konsumen (Y) yaitu sebesar 1,20 % dari nilai R yaitu 87,3 % dan dikatakan tidak signifikan karena > 0,05 %. Tabel 4 Coefficients a yang menjelaskan Promosi (X4) yang tidak signifikan terhadap Perilaku Konsumen (Y)

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

27

Berarti secara matematik menunjukan harga konstanta besarnya 2,846 dan koefisien X4 besarnya 0,111, artinya bahwa jika biaya untuk Promosi dinaikan sebesar satu satuan menyebabkan permintaan naik sebesar 0,111 dengan asumsi variabel X1, X2, X4, X5 tetap atau sebaliknya jika pelayanan diturunkan sebesar satu satuan (100) maka akan menyebabkan permintaan turun sebesar -99,889 dengan asumsi varibel X1, X2, X3, X5 tetap. Adanya hasil yang tidak signifikan Itu dikarenakan adalah CV. Karya Asrindah sebagai pihak perusahaan tidak melakukan promosi baik dimedia cetak ataupun media elektronik, akan tetapi promosi yang dilakukan selama hampir kurun waktu 1992 – 2009 adalah sebatas dari mulut ke mulut saja sehingga pasar yang diraih belum begitu maksimal, meskipun begitu dari hasil penelusuran Penulis dilapangan menyatakan bahwa CV. Karya Asrindah adalah salah satu perusahaan percetakan yang keberadaannya cukup dikenal dan diperhitungkan baik bagi kalangan industri percetakan yang sudah lama berdiri ataupun bagi perusahaan percetakan yang baru memulai aktivitasnya. Pendapat mengenai promosi tidak disangkal oleh CV. Karya Asrindah, dan para industri percetakan sejenis CV. Karya Asrindah di Kota Makassar ini promosi tentunya dianggap penting untuk memperluas jangkauan pemasaran, tetapi disisi lain anggapan mengenai promosi bagi industri tersebut memerlukan post-post dana yang cukup besar sehingga mengapa perusahaan percetakan di Kota Makassar ini mengabaikan tentang promosi. Alternatif lain yang menjadi strategi CV. Karya Asrindah dalam melakukan promosi adalah selain mengandalkan promosi dari dari mulut ke mulut, adalah mengandalkan media desain produk yang dihasilkan contohnya media sebuah undangan pernikahan dengan cara mencantumkan label perusahaan di amplop sebuah undangan yang diharapkan bahwa orang lain akan tertarik dengan desain undangan yang diproduksi dan mencari label produsen undangan tersebut. E. Desain Produk Desain produk salah satu faktor penting dalam keberhasilan suatu perusahaan untuk bersaing dipasaran, peran desain akan suatu produk dirasakan sangat penting kehadirannya dalam membangun pretise sendiri akan produk tersebut, adalah bukan hal yang mustahil jika hampir sebagian konsumen justru melihat dari desain suatu produk terlebih dahulu untuk menentukan pilihan membeli produk tersebut, tentunya pada perusahaan jasa juga harus mampu membangun citra yang baik melalui desain yang dibuat sehingga pelanggan merasa tertarik. Seiring dengan perkembangan zaman, desain produk menjadi salah satu trade mark bagi disektor industri baik manufaktur atau pun jasa, kita dapat melihat dari beberapa perusahaan yang menjadikan desain produk sebagai faktor kedua terpenting setelah pelayanan, karena faktor harga adalah relative, tetapi yang terpenting adalah bagaimana membuat para konsumen merasa puas akan kualitas desain tersebut dan membuat para konsumen merasa nyaman akan sebuah pelayanan yang prima.

28

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, sekitar 45 % dari konsumennya merasa tertarik dengan percetakan tersebut bukanlah dari faktor harga tetapi lebih kepada desain yang telah dibuat dan mereka merasa puas akan hal itu. CV. Karya Asrindah sendiri dalam mendesain sebuah produk melakukan inovasi – inovasi yang baru dan kreatif dengan dukungan dari beberapa operator computer yang merupakan ujung tombak dalam menghasilkan sebuah ide-ide tentang desain produk, para operator desain grafis yang berusia relative muda yang direkrut oleh CV. Karya Asrindah menganggap bahwa usia muda bagi para operator desain grafis mempunyai ide-ide yang kreatif untuk saat ini dan dianggap up to date mengenai info-info terbaru mengenai perkembangan dunia desain grafis. Desain yang dibuat tidaklah semata-mata langsung diproduksi begitu saja tetapi diadakan lagi koordinasi kepada konsumen sebagai bahan pertimbangan, tujuan dari strategi kerja dari CV. Karya Asrindah pada intinya untuk meningkatkan kepuasan kepada para konsumennya. Berdasarkan hasil perhitungan yang diperoleh desain produk (X5) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,53 % dari perilaku konsumen (Y), dan mempunyai hubungan secara parsial sebesar 74,7 % dan secara matematik menunjukan konstanta sebesar 2,846, koefisien X5 sebesar 0,265 Tabel 5 Coefficients a yang menjelaskan tingkat signifikansi Desain Produk (X5) terhadap Perilaku Konsumen (Y)

Sumber : Data Olahan SPSS 15.00

Berarti secara matematik menunjukan harga konstanta besarnya 2,846 dan koefisien X5 besarnya 0,265, artinya bahwa jika biaya untuk Desain Produk dinaikan sebesar satu satuan menyebabkan permintaan naik sebesar 0,265 dengan asumsi variabel X1, X2, X4, X5 tetap atau sebaliknya jika pelayanan diturunkan sebesar satu satuan (100) maka akan menyebabkan permintaan turun sebesar -99,735 dengan asumsi varibel X1, X2, X4, X5 tetap.

29

SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan Dari hasil pembahasan dan analisis yang telah diuraikan sebelumnya maka penulis dapat memperoleh kesimpulan sebagai berikut : 1. Adanya hasil yang signifikan dari beberapa variabel X itu berarti menunjukan hasil yang maksimal yang diperoleh secara matematis dan adanya hasil yang tidak signifikan berarti perusahaan harus lebih memperhatikan lagi faktor tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal. 2. Berdasarkan dari hasil analisa koefisien yang ditunjukan maka secara sistematis dapat disimpulkan berdasarkan rumus Regresi Linear Berganda adalah : Hasil analisis menunjukkan nilai konstanta besarnya 2,846; Harga Produk (X1) besarnya 0,390 dan Kualitas Produk (X2) besarnya 0,209, Pelayanan (X3) besarnya 0,247, Promosi (X4) besarnya 0,111, Desain Produk (X5) besarnya 0,265 Semua koefisen tersebut signifikan karena masing-masing signifikansinya 0,00. Jadi persamaan regresinya adalah : Y=0,390X1+0,209X2+0,247X3+0,111X4+0,265X5+2,846 Korelasi parsial untuk X1, X2, X3, X4, dan X5, besarnya masing-masing 0,374, 0,354, 0,318, 0,216, dan 0,268. 3. Hasil uji koefisien menunjukan bahwa Harga Produk (X1) memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,06 %, Kualitas Produk sebesar 0,09 %, Pelayanan sebesar 0,20 %, dan Desain Produk sebesar 0,50 % dari nilai R sebesar 67,3 %, sehingga hipotesis diterima dan dari hipotesis tersebut faktor yang dominan berpengaruh terhadap keputusan penggunaan jasa layanan pada percetakan CV. Karya Asrindah adalah faktor Harga Produk (X1) dan Kualitas Produk (X2), kemudian Pelayanan (X3), dan terakhir Desain Produk (X5). B. Saran 1. Berdasarkan hasil penelitian penulis pada CV. Karya Asrindah maka sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan perusahaan, maka penulis menganjurkan saran yaitu hendaknya perusahaan lebih memperhatikan lagi masalah Promosi, baik promosi dimedia massa atau pun dimedia elektronik dengan tujuan memperluas jangkauan pemasaran bagi CV. Karya Asrindah yang tentunya akan membawa dampak positif bagi perusahaan. 2. Mengenai data tambahan berupa grafik tentang aktivitas produksi bulanan perusahaan yang menjadi sumber acuan perusahaan dalam melakukan evaluasi tahunan diupayakan ada sehingga memudahkan untuk

30

mengetahui kelemahan yang terjadi sehingga diharapkan strategi-strategi kerja dapat dioptimalkan lagi.

31

DAFTAR PUSTAKA
Stanton, William J. 1996 Prinsip Pemasaran (terjemahan). Edisi 7, Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Lamb, Hair, Mc Daniel. 2001. Manajemen Pemasaran (terjemahan). Edisi Bahasa Indonesia, Jilid Pertama, Salemba empat Jakarta. Kotler, Philip. 2002. Manajemen Pemasaran (terjemahan). Edisi Millenium, Jilid 1. PT. Prenhallindo. Jakarta. Enggel, Blackwell, Miniard. 1994. Perilaku Konsumen (terjemahan). Edisi 6, Jilid Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta. Fitriadi, Agus. 2003. Analisis beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan dalam pembelian pada UD Microcom di Banjarmasin, Skripsi. Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Subiyakto, Haryono, 1995, Statistika (Inferen) untuk Bisnis. Edisi Pertama Cetakan Pertama. Bagian Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta Mangkunegara, Prabu Anwar, 1998, Perilaku Konsumen, Cetakan Pertaman, Penerbit PT. Eresco, Bandung Soehardo Sigit, 2001. Manajemen Pemasaran Suatu Pendekatan Modern. Cetakan Pertama, Penerbit : Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Http:\www.wikipedia.com\pengertian-dan-arti-penting-kualitas.html Http:\www.wikipedia.com\Peranan Desain Produk dan Kemasan Dalam Dunia Pemasaran http://digilib.petra.ac.id/defenisi-kualitas.html Http:\www.Statistik.com\olah-data-regresi-linier-berganda.html McLaughlin, C., R. Pannesi, dan N. Kathuria. 1991. The Different Operations Strategy Planning Process For Service Operations. International Journal of Operations and Production Mangement. Vol. 11. No. 3. pp. 63-76.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->