ASUHAN KEBIDANAN III (NIFAS

)

PERUBAHAN-PERUBAHAN PADA MASA NIFAS
(SISTEM REPRODUKSI, SISTEM PERKEMIHAN, SISTEM PENCERNAAN, DAN SISTEM MUSKULOSKELETAL) DISUSUN UNTUK MEMENUHI NILAI MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN III (NIFAS)

DISUSUN OLEH: 1. Munawwarah 2. 3. 1732420 TINGKAT IIA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES BANDUNG Azizatul P 1732420 Destiana Puttri P 17324209004 Evi Septiani P

1

JURUSAN KEBIDANAN BOGOR 2010 KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun berhasil menyelesaikan. makalah yang berjudul ”Perubahan – Perubahan Pada Ibu Nifas” tepat pada waktunya. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan 3. Makalah ini membahas tentang perubahan fisiologis pada sistem reproduksi, perubahan fisiologi pada sistem perkemihan, perubahan fisiologi pada sistem pencernaan, perubahan fisiologi pada sistem muskuloskeletal. Dalam menyusun makalah ini penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen mata kuliah Pendidikan Asuhan Kebidanan 3 yaitu Ni Nyoman Sasnitiari, M.Keb yang telah membimbing kami agar dalam penyelesaian makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penyusun sendiri maupun bagi pembaca umumya.

Bogor, September 2010

2

2 B... Latar Belakang…………………………………………………………... Perubahan Fisiologis Pada Sistem Reproduksi…………………………. Perubahan Fisiologis Pada Sistem Perkemihan………………………….i DAFTAR ISI………………………………………………………………………ii BAB I PENDAHULUAN A. Definisi Nifas…………………………………………………………….. Saran ………………………………………………………………….1 B.18 B. Pembagian Masa Nifas…………………………………………………. …..8 C. Tujuan Penulisan…………………………………………………………1 BAB II KONSEP DASAR NIFAS.2 BAB III PERUBAHAN FISIOLOGIS MASA NIFAS.. A.18 DAFTAR PUSTAKA Kesimpulan………………………………………………………… 3 . Perubahan Fisiologis Pada Sistem Pencernaan…………………………11 D.Penyusun DAFTAR ISI KATA PENGANTAR……………………………………………………………. Perubahan Fisiologis Pada Sistem Muskuluskeletal……………………12 BAB IV PENUTUP A. A.3 B.

pemulihan adalah sesuatu yang pasti terjadi dan menjadi seorang ibu adalah proses fisiologis yang normal. 2.BAB I PENDAHULUAN 1. Mengetahui perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem perkemihan pada ibu nifas. Hal yang sama pentingnya adalah menyadari potensi morbiditas pascapartum dalam jangka panjang dan faktor-faktor yang berhubungan dengannnya seperti obstetrik. Namun. Pengetahuan menyeluruh tentang perubahan fisiologis dan psikologis pada masa puerperium adalah sangat penting jika bidan menilai status kesehatan ibu secara akurat dan memastikan bahwa pemulihan sesuai dengan standar yang diharapkan. Bagi banyak wanita. 2. Tujuan 1. beberapa studi terbaru mengungkapkan bahwa masalah-masalah kesehatan jangka panjang yang terjadi setelah melahirkan adalah masalah yang banyak ditemui dan dapat berlangsung dalam waktu lama. Mengetahui perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem reproduksi pada ibu nifas. Latar Belakang Kehamilan dan kelahiran dianggap sebagai suatu kejadian fisiologis yang pada sebagian besar wanita berakhir dengan normal dan tanpa komplikasi. pemulihan persalinan secara umum dianggap telah lengkap. 4 . Pada akhir masa puerperium. 3. Mengetahui perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem pencernaan pada ibu nifas. Pandangan ini mungkin terlalu optimis. anestesi dan faktor sosial.

Periode pascapartum adalah masa pulih kembali alat-alat kandungan kembali seperti sbelum hamil (Mochtar :1999).4. 2. 3. Puerperium intermedial. Puerperium dini. 2. yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalis yang lamanya 6 – 8 minggu. Remote puerperium. Mengetahui perubahan fisiologis yang terjadi pada sistem musculoskeletal pada ibu nifas. Definisi Masa Nifas Masa Nifas ialah masa 2 jam setelah plasenta lahir (akhir kala IV) sampai 42 hari (Manuaba: 2001). BAB II KONSEP DASAR NIFAS 1. 5 . Masa Nifas adalah masa dari kelahiran plasenta dan selaput janin (menandakan akhir periode intrapartum) hingga kembalinya traktus reproduksi wanita pada kondisi tidak hamil (Hellen Varney dkk :2007). waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Dapat disimpulkan bahwa masa nifas adalah masa setelah lahirnya hasil konsepsi sampai pulihnya organ reproduksi seperti sebelum hamil. Pembagian Masa Nifas Nifas dibagi dalam 3 periode : 1. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.

Adapun perubahanperubahan yang terjadi pada sistem reproduksi ibu nifas adalah sebagai berikut: a. Sistem Reproduksi Perubahan alat-alat genital baik interna maupun eksterna kembali seperti semula seperti sebelum hamil disebut involusi. Sebagai bukti dapat dikemukakan bahwa kadar nitrogen sangat tinggi. Sisa dari penghancuran ini diabsorbsi dan kemudian dibuang dalam urine.BAB III PERUBAHAN FISIOLOGI IBU NIFAS 1. istilah ini lebih spesifik menunjukkan adanya perubahan retrogresif pada uterus yang menyebabkan berkurangnya ukuran uterus. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut: a) Iskemia Miometrium – Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi. Uterus 1) Involusi Uterus Meskipun istilah involusi telah digunakan untuk menunjukkan perubahan yang retrogresif yang terjadi di semua organ dan struktur saluran reproduksi. b) Atrofi jaringan – Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon estrogen saat pelepasan plasenta. Autolysis – Merupakan proses penghancuran diri sendiri (zat protein) yang terjadi di dalam otot uterus. Enzim c) 6 . Involusi uterus dapat diartikan juga sebagai pengerutan uterus yang merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil.

Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu. Percampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan lokia. Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali.proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan. Segera setelah plasenta lahir. d) Efek Oksitosin – Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Akibat involusi uteri. pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron. lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik. 7 . Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lokia. Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri. Luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua basalis. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Hal ini disebabkan karena diikuti pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. dengan cepat luka mengecil.

Total jumlah rata-rata pengeluaran lokia sekitar 240 hingga 270 ml. selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati. serosa dan alba. Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. juga terdiri dari leukosit dan robekan Alba >14 hari Putih laserasi plasenta Mengandung leukosit. sanguilenta. 8 . Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra. Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat sebagai berikut: Lokia Rubra Waktu 1-3 hari Warna Merah kehitaman Ciri-ciri Terdiri dari sel desidua. merah 7-14 hari Kekuningan/ kecoklatan Umumnya jumlah lokia lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi berbaring daripada berdiri. verniks caseosa. rambut lanugo. Hal ini terjadi akibat pembuangan bersatu di vagina bagian atas saat wanita dalam posisi berbaring dan kemudian akan mengalir keluar saat berdiri. sisa mekoneum dan Sanguilenta Serosa 3-7 hari Putih bercampur sisa darah Sisa darah bercampur lender Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum.Lokia adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal. yang hanya memiliki efek jangka pendek. Banyaknya lokia dan kecepatan involusi tidak dipengaruhi oleh pemberian preparat ergot (ergotrate. Akan tetapi menyusui akan mempercepat proses involusi. Methergine). Lokia mengalami perubahan karena proses involusi.

Perubahan ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain: ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi. tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk. Oleh karena hiperplasi dan retraksi serviks. Namun demikian. Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar.Segera setelah melahirkan. ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan saat melahirkan. robekan serviks dapat sembuh. sedangkan serviks tidak berkontraksi. tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi. ligamen. kembali seperti sedia kala. Serviks mungkin memar dan edema. fasia.5 cm 7. Setelah bayi lahir. terutama jika ada tahanan anterior saat persalinan. Segera setelah bayi dilahirkan. terutama pada pinggir sampingnya. terkulai dan berbentuk seperti corong. ostium eksternum tidak sama waktu sebelum hamil. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena penuh pembuluh darah.5 cm 5 cm 2. sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri membentuk cincin. serviks menjadi lembek. jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.5 cm 9 . selesai involusi. Perubahan-perubahan normal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut: Involusi Uteri Plasenta lahir 7 hari (minggu 1) 14 hari (minggu 2) 6 minggu Tinggi Fundus Uteri Setinggi pusat Pertengahan pusat dan simpisis Tidak teraba Normal Berat Uterus 1000 gram 500 gram 350 gram 60 gram Diameter Uterus 12. Oleh karena robekan ini terbentuk bibir depan dan bibir belakang dari serviks. kendor.

tinggi fundus uteri (TFU) terletak sekitar dua per tiga hingga tiga per empat bagian atas antara simfisis pubis dan umbilikus. sejajar dengan umbilikus dalam beberapa jam. setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali 10 . terdapat keseragaman untuk memfasilitasi generalisasi penurunan uterus. Letak TFU kemudian naik. Walaupun terdapat variasi lokasi umbilikus terhadap simfisis pubis pada setiap individu dan variasi ukuran ruas jari di antara pemeriksa dengan pemeriksa lain sehingga membuat adanya rentang normal dalam penurunan dan lokasi TFU harian. yaitu uterus turun dari abdomen dan kembali menjadi organ panggul. Tinggi fundus uteri pada masa nifas b. Vagina dan Perineum Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan.1.Penurunan ukuran uterus yang cepat ini direfleksikan dengan perubahan lokasi uterus. TFU tetap terletak kirakira sejajar (atau satu ruas jari di bawah) umbilikus selama satu atau dua hari dan secara bertahap turun ke dalam panggul sehingga tidak dapat dipalpasi lagi di atas simfisis pubis setelah hari kesepuluh pascapartum. yang diilustrasikan pada gambar 3. Perubahan Pada Vulva.1. Gambar 3. Segera setelah pelahiran.

Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu. agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum. terjadi selama 2 hari setelah melahirkan. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Begitu sebaliknya. c. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian. b. Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum mengalami robekan. Meskipun demikian. Namun demikian. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga.dalam keadaan kendor. Sistem Perkemihan Pada masa hamil. sehingga menyebabkan miksi. antara lain: a. Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil. Adanya udema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 1236 jam sesudah melahirkan. 11 . perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama. pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.

• Tekanan intra uretral yang diberikan oleh musculus pubococcygeus dan campuran serabut-serabut yang saling menyilang pada sepertiga bagian tengah uretra. kadar hormon estrogen akan menurun. hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2. dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum.5 kg selama masa pasca partum. yang mengendalikan tekanan intra vesical. bersin. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu. Sudut ini yang menutup meatus internus yang dikendalikan oleh otot-otot dasar pelvis. Ketiga faktor tersebut tadi secara bersama-sama mencegah keluarnya urin secara involunter pada saat tekanan intra abdominal meningkat karena tertawa. hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. • Pengendalian sphincter yang merupakan sudut urethrovesical pada cervix vesicae. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadangkadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy). Resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Secara fisiologis. atau batuk. kontinensia urin dipertahankan dengan tiga cara: • Tonus otot vesica urinaria (musculus detrusor).Setelah plasenta dilahirkan. Otot-otot ini beserta dengan saraf yang menginervasi otot-otot tadi (nervus pudendus dan cabang-cabang fleksus sakralis) sangat peka terhadap 12 .

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Latihan-latihan tersebut antara lain berenang. kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa. Insidensi tadi juga meningkat pada wanita yang lebih tua (sebagian karena perubahan hormonal) dan wanita yang mengalami persalinan lama dan kelahiran dengan alat bantu. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian . diantaranya tingginya kadar progesteron yang dapat mengganggu keseimbangan cairan tubuh. Trauma pada saraf tadi akan mengurangi kekuatan otot-otot yang diinervasi yang telah mengalami regangan berlebihan dan telah melemah. tonus otot tadi akan segera membaik. Tetapi pada persalinan berikutnya otot tadi akan mengalami stres yang berulang. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam. senam. aerobik dan sebagainya. akan sangat kecil kemungkinan terganggunya karena terjadi inkotinensia stres. Walaupun pada kebanyakan wanita yang sehat yang melakukan latihan secara teratur. 13 . dan insidensi inkontinensia stres akan meningkat dengan meningkatnya paritas. Namun demikian. Sistem Pencernaan Sistem gastrointestinal selama kehamilan dipengaruhi oleh beberapa hal. dan melambatkan kontraksi otot-otot polos.stres dan trauma selama melahirkan pada saat otot-otot dan saraf-saraf tadi teregang dan mengalami desakan. meningkatkan kolestrol darah. Pasien primigravida yang memulai persalinan dengan seluruh ototnya mempunyai tonus yang bagus. lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. faal usus memerlukan waktu 3-4 hari untuk kembali normal. mempertahankan kesehatan. kadar progesteron juga mulai menurun. Pasca melahirkan. bila volume urine < 200 ml.

Beberapa cara agar ibu dapat buang air besar kembali teratur. tidak ada alasan untuk menunda pemberian makan pada wanita pasca partum yang sehat lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengkajian awal. asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau dua hari. Hal ini disebabkan tonus otot usus menurun selama proses persalinan dan awal masa pascapartum. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal. penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Motilitas Secara khas. b. c. Kecuali ada komplikasi kelahiran. biasanya ibu merasa lapar sehingga diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan. Wanita mungkin kelaparan dan mulai makan satu atau dua jam setelah melahirkan. Pengosongan Usus Pasca melahirkan. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan.Beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan pada sistem pencernaan. hemoroid ataupun laserasi jalan lahir. antara lain: 1) Pemberian diet / makanan yang mengandung serat. dehidrasi. Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu untuk kembali normal. ibu sering mengalami konstipasi. 14 . enema sebelum melahirkan. 2) Pemberian cairan yang cukup. 3) Pengetahuan tentang pola eliminasi pasca melahirkan. kurang makan. Nafsu Makan Pasca melahirkan. diare sebelum persalinan. antara lain: a. Pemulihan nafsu makan diperlukan waktu 3–4 hari sebelum faal usus kembali normal.

baik peroral ataupun supositoria. Pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rektus abdominis. meliputi: a. Kulit abdomen Selama masa kehamilan. relaksasi dan mobilitas. Dinding perut dan peritoneum Dinding perut akan longgar pasca persalinan. bergesernya pusat akibat pembesaran rahim. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan. Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu. Wanita mungkin menahan defekasi karena perineumnya mengalami perlukaan atau karena ia kurang pengetahuan dan takut akan merobek atau merusak jahitan jika ia melakukan defekasi. d. melonggar dan mengendur hingga berbulan-bulan. Konstipasi Konstipasi mungkin menjadi masalah pada puerperium awal karena kurangnya makanan padat selama persalinan dan karena wanita menahan defekasi. Adaptasi muskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan. 5) Bila usaha di atas tidak berhasil dapat pemberian huknah atau obat yang lain. b. Jika penderita hari ketiga belum juga buang air besar. pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih kembali. Namun demikian. kulit abdomen akan melebar. maka diberi obat pencahar. Otot-otot dari dinding abdomen 15 . Sistem Muskuloskeletal Perubahan sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum.4) Pengetahuan tentang perawatan luka jalan lahir. fasia tipis dan kulit. untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.

diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. c. Namun demikian.dapat kembali normal kembali dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal. 16 . Hal ini disebabkan adanya ketegangan postural pada sistem muskuloskeletal akibat posisi saat persalinan. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur ataupun waktu berjalan. aktivitas. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar. ligamen-ligamen. d. Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca melahirkan. e. Striae Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding abdomen. Tingkat diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui keadaan umum. Pemisahan simpisis dapat dipalpasi. bahkan ada yang menetap. paritas dan jarak kehamilan. Simpisis pubis Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Perubahan ligamen Setelah janin lahir. sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi. hal ini dapat menyebabkan morbiditas maternal. Adapun gejala-gejala sistem muskuloskeletal yang biasa timbul pada masa pasca partum antara lain: • Nyeri punggung bawah Nyeri punggung merupakan gejala pasca partum jangka panjang yang sering terjadi.

namun mandi dengan air hangat dapat menberikan rasa nyaman pada pasien. Gejala ini timbul sebelum nyeri punggung bawah dan disfungsi simfisis pubis yang ditandai nyeri di atas sendi sakroiliaka pada bagian otot penumpu berat badan serta timbul pada saat membalikan tubuh di tempat tidur. Mengatur posisi yang nyaman saat istirahat maupun bekerja. Nyeri ini dapat menyebar ke bokong dan paha posterior. Fungsi sendi simfisis pubis adalah menyempurnakan cincin tulang pelvis dan memindahkan berat badan melalui pada posisi tegak. akan terdapat fungsi/stabilitas pelvis yang abnormal. yang dapat 17 . Bila sendi ini tidak menjalankan fungsi semestinya. Gejala ini dapat mempengaruhi aktifitas dan ketidaknyamanan pada ibu post partum. posisi istirahat. diperburuk dengan terjadinya perubahan mekanis.Penanganan: Selama kehamilan. Pereda nyeri elektroterapeutik dikontraindikasikan selama kehamilan. • Nyeri pelvis posterior Nyeri pelvis posterior ditunjukan untuk rasa nyeri dan disfungsi area sendi sakroiliaka. • Sakit kepala dan nyeri leher Pada minggu pertama dan tiga bulan setelah melahirkan. wanita yang mengeluh nyeri punggung sebaiknya dirujuk pada fisioterapi untuk mendapatkan perawatan. Sakit kepala dan nyeri leher yang jangka panjang dapat timbul akibat setelah pemberian anestasi umum. serta mengurangi aktifitas dan posisi yang dapat memacu rasa nyeri. dan aktifitas hidup sehari-hari penting diberikan. • Disfungsi simfisis pubis Merupakan istilah yang menggambarkan gangguan fungsi sendi simfisis pubis dan nyeri yang dirasakan di sekitar area sendi. Anjuran perawatan punggung. Penanganan: pemakaian ikat (sabuk) sakroiliaka penyokong dapat membantu untuk mengistirahatkan pelvis. sakit kepala dan migrain bisa terjadi.

latihan meningkatkan sirkulasi. • Diastasis rekti Diastasis rekti adalah pemisahan otot rektus abdominis lebih dari 2. Gejala ini ditandai dengan nyeri. kelemahan otot abdomen dan postur yang salah. serta adanya hendaya (tidak dapat berjalan). bayi besar. mobilisasi secara bertahap. kecuali posisi telungkup-lutut. Penanganan: tirah baring selama mungkin. poli hidramnion. memasang penyangga tubigrip (berlapis dua jika perlu). menindaklanjuti pengkajian oleh ahli fisioterapi selama diperlukan. mengatur ulang kegiatan sehari–hari.mempengaruhi gaya berjalan suatu gerakan lembut pada sendi simfisis pubis untuk menumpu berat badan dan disertai rasa nyeri yang hebat. pemberian bantuan yang sesuai. Penanganan: melakukan pemeriksaan rektus untuk mengkaji lebar celah antara otot rektus. juga disebabkan gangguan kolagen yang lebih ke arah keturunan. fraktur tulang belakang dan panggul. memastikan tidak melakukan latihan sit-up atau curl-up. pemberian pereda nyeri. rujuk ke ahli fisioterapi untuk latihan abdomen yang tepat. perawatan ibu dan bayi yang lengkap.5 cm pada tepat setinggi umbilikus sebagai akibat pengaruh hormon terhadap linea alba serta akibat perenggangan mekanis dinding abdomen. latihan transversus dan pelvis dasar sesering mungkin. dari area xifoid sternum sampai di bawah panggul. Selain itu. • Disfungsi Dasar Panggul 18 . Kasus ini sering terjadi pada multi paritas. • Osteoporosis akibat kehamilan Osteoporosis timbul pada trimester ketiga atau pasca natal. berkurangnya tinggi badan. pada semua posisi. sehingga ibu dan anak mengalami diastasis. ketidakmampuan mengangkat atau menyusui bayi pasca natal. postur tubuh yang buruk.

Inkontinensia alvi disebabkan oleh robeknya atau merenggangnya sfingter anal atau kerusakan yang nyata pada suplai saraf dasar panggul selama persalinan (Snooks et al. Prolaps uterus adalah penurunan uterus. Bagi ibu yang tetap menderita gejala ini disarankan untuk dirujuk ke ahli fisioterapi yang akan mengkaji keefektifan otot dasar panggul dan memberi saran tentang program retraining yang meliputi biofeedback dan stimulasi. Terapi : selama masa antenatal. Masalah berkemih yang paling umum dalam kehamilan dan pasca partum adalah inkontinensia stress. Penanganan : rujuk ke ahli fisioterapi untuk mendapatkan perawatan khusus. sedangkan rektokel adalah prolaps rektum kedalam vagina (Thakar & Stanton. memfiksasi otot ini serta otot transversus selama melakukan aktivitas yang berat. 2) Inkontinensia alvi. 3) Prolaps Prolaps genetalia dikaitkan dengan persalinan per vagina yang dapat menyebabkan peregangan dan kerusakan pada fasia dan persarafan pelvis. ibu harus dianjurkan untuk mempraktikan latihan dasar panggul dan transversus segera setelah persalinan. 2002).Disfungsi dasar panggul. Sistokel adalah prolaps kandung kemih dalam vagina. ibu harus diberi pendidikan mengenai dan dianjurkan untuk mempraktikan latihan otot dasar panggul dan transversus sesering mungkin. 1985). Selama masa pasca natal. 19 . meliputi : 1) Inkontinensia urin Inkontinensia urin adalah keluhan rembesan urin yang tidak disadari.

2. Pada masa ini banyak terjadi perubahan yang dialami oleh wanita post partum. pengosongan usus. nyeri punggung dan sensasi tarikan yang kuat. perubahan ligamen. involusi tempat plasenta. perubahan pada serviks. tenaga kesehatan terutama bidan harus memahami perubahan-perubahan tersebut agar dapat memberikan penjelasan dan intervensi yang tepat kepada pasien. Oleh karena itu. Pada sistem reproduksi terjadi Involusi uterus. Pada sistem pencernaan terjadi perubahan nafsu makan. Terjadi juga perubahan pada sistem perkemihan seperti kesulitan buang air kecil dan inkontinensia urin. dan konstipasi. BAB IV PENUTUP 1. tutut serta dalam menjaga kesehatan ibu. perubahan ligamen dan simpisis pubis Perubahan-perubahan tersebut ada yang bersifat fisiologis dan patologis. keluarnya lokia. Penanganan: prolaps ringan dapat diatasi dengan latihan dasar panggul. Masyarakat Bagi suami maupun keluarga diharapkan agar lebih aktif. motilitas organ-organ pencernaan. Sistem muskuloskeletal pun mengalami perubahan seperti pada dinding perut dan peritoneum. timbulnya striae. Dan dapat memberikan dukungan secara 20 . perubahan pada vulva. kulit abdomen.Gejala yang dirasakan wanita yang menderita prolaps uterus antara lain: merasakan ada sesuatu yang turun ke bawah (saat berdiri). Saran a. vagina dan perineum. Kesimpulan Masa nifas adalah masa setelah lahirnya hasil konsepsi sampai pulihnya organ reproduksi seperti sebelum hamil.

Pemerintah Bagi pemerintah diharapkan agar berupaya meningkatkan pemberdayaan tenaga kesehatan khususnya bidan.psikis maupun moril terhadap ibu yang menghadapi masa post partum. khususnya bidan diharapkan agar meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan asuhan kebidanan. Mendukung kinerja pemerintah dalam menurunkan AKI. b. agar persalinan dapat ditangani oleh tenaga ahli secara komprehensif untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi agar terlaksana dengan baik. serta lebih peka untuk mengidentifikasi tanda bahaya dalam persalinan agar dapat segera ditangani. c. 21 . Tenaga kesehatan Bagi tenaga kesehatan.

Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. 2007.wordpress. Ilmu Kebidanan. Anatomi dan Fisiologi Terapan Dalam Kebidanan. Bandung : Percetakan / Penerbitan Eleman. Varney. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. http://ratihrochmat. Oebstetri Fisiologi. Helen. Sylvia. Verralls.com/2008/06/26/masa-nifas/ 22 . 1998.DAFTAR PUSTAKA Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Dkk. Manuaba. Ida Bagus Gde. 1997. 1983. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.