Praktik Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Kesepakatan

Created © by Wikarso

Profil:
Mail to : wikarso@gmail.com Add as Friend : http://www.facebook.com/wikarso Follow me : http://twitter.com/wikarso Visit to : http://wikarso.blogspot.com Go to : http://wikarso.blogdetik.com Publish on : http://scribd.com/wikarso

Baca juga yang ini:
Menambahkan Video ke Dalam Microsoft PowerPoint Menulis Simbol dan Rumus di Microsoft Word Mudah Membuat Surat Menggunakan Microsoft Office

Kepada para pembaca DIPERBOLEHKAN untuk mengutip sebagian atau seluruh dokumen ini dengan syarat : 1. Bukan untuk tujuan komersil 2. Artikel dikutip utuh tanpa ada penambahan atau pengurangan, ataupun digabungkan dengan tulisan yang lain yang bukan berasal dari Wikarso 3. Setiap naskah kutipan harus menyebutkan sumber (judul, halaman, dll)

008-04-21102011

PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN ( STUDI KASUS DI DESA JATIBOGOR KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Dalam Ilmu Syariah

Oleh: NURKHALIMAH 2311.07.003

JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN 2011

PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN ( STUDI KASUS DI DESA JATIBOGOR KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Dalam Ilmu Syariah

Oleh: NURKHALIMAH 2311.07.003

JURUSAN SYARIAH SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) PEKALONGAN 2011
i

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini: Nama NIM Jurusan : Nurkhalimah : 2311.07.003 : Syariah

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul : “Praktik Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Kesepakatan ( Studi Kasus di Desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal” Adalah betul-betul karya sendiri, kecuali dalam bentuk kutipan yang telah kami sebutkan sumbernya. Dan apabila di kemudian hari diketahui bahwa skripsi tersebut adalah plagiat maka penulis siap untuk dicabut gelarnya. Demikian pernyataan ini penulis buat dengan sebenar-benarnya.

Pekalongan, Oktober 2011 Penulis

Nurkhalimah NIM : 2311.07.003

ii

NOTA PEMBIMBING
Lamp : 3 (tiga) Eksemplar Hal : Naskah Skripsi Sdri. Nurkhalimah Kepada Yth. Ketua STAIN Pekalongan C/q Ketua Jurusan Syariah Di – PEKALONGAN Assalamu’alaikum Wr. Wb Setelah kami adakan penelitian dan perbaikan, maka bersama ini kami kirimkan naskah skripsi saudari: Nama NIM Jurusan Judul : Nurkhalimah : 2311.07.003 : Syariah : Praktik Pembagian Harta Warisan berdasarkan Kesepakatan ( Studi Kasus di Desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal) Dengan permohonan agar skripsi saudari tersebut dimunaqasahkan. Demikian harap menjadi perhatian dan terima kasih. Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Pekalongan, Oktober 2011 dapat segera

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. A. Tubagus Surur, M. Ag NIP . 19691227 199803 1 004

M. Hasan Bisyri, M.Ag NIP. 19731104200003 1 002

iii

PERSEMBAHAN

Karya Ini Penulis Persembahkan Kepada :  Ayahanda dan Ibunda tercinta Bapak Tasmu’i dan Ibu Solikha yang selalu memberi motivasi baik berupa moril maupun materiil serta mendo’akan untuk kebahagiaan hidup. Jazaahumallah.  Kakakku Mukhtadi, Mukhlisin, dan Khusnul Umaroh yang aku sayangi.  Teman-teman kuliahku angkatan 2007/2008 yang selalu menemani belajar di bangku perkuliahan.  Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

v

MOTTO

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhan dan melaksanakan shalat, sedang mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Asy-Syura : 38)

vi

ABSTRAK

Nama NIM Judul Skripsi

: Nurkhalimah : 231107003 : PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN (STUDI KASUS DI DESA JATIBOGOR KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL)

Hukum kewarisan merupakan hukum yang mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang bertanggung jawab menjadi ahli warisdan berapa bagiannya masing-masing. Adapun system kewarisan Islam termasuk dalam kategori “individual bilateral”. Pihak lakilaki dan perempuan masing-masing mempunyai hak intuk mewarisi. Adapun bagian untuk anak laki-laki adalah dua kali bagian anak perempuan, dalam istilah Jawa sering disebut sepikul segendong. Hukum kewarisan Islam yang telah diatur secara rinci dalam Al Qur’an dan Sunnah, tidak sepenuhnya dilaksanakan oleh umat muslim Indonesia, seperti yang terjadi di desa Jatibogor. Penulis melakukan penelitian lapangan (field research) di desa Jatibogor kecamatan Suradadi kabupaten Tegal dengan metode pengumpulan datanya melalui wawancara yang mendalam kepada informan, dari data yang diperoleh kemudian dianalisa dengan pendekatan filsafat hukum. Adapun yang hendak penulis ketahui adalah bagaimana praktik pembagian harta warisan di desa tersebut? Dan bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di desa tersebut. Dari data yang penulis peroleh, dapat diketahui bahwa di desa Jatibogor terdapat 3 (tiga) macam sistem hukum yang dapat digunakan dalam membagi harta warisan, yaitu: (1) sistem “ hukum pemerintah” (2) sistem kewarisan Islam (faraidh) dan (3) sistem musyawarah keluarga. Sistem pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah keluarga digunakan oleh sebagian masyarakat desa Jatibogor dengan alasan, di antaranya: pembagian harta warisan yang dilaksanakan dengan kesepakatan itu tidak melanggar hukum, sistem pembagian harta warisan dalam Islam kurang membawa maslahat, dan sistem pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah keluarga lebih memberi maslahat. Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa kewarisan adalah hak, sehingga terdapat kebolehan untuk memberikan sebagian harta warisan yang menjadi haknya kepada ahli waris lain dan apabila ada kerelaan penuh dari semua pihak yang terkait dalam pembagian harta warisan maka harta warisan dapat dibagi secara kesepakatan.

vii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam yang selalu memberikan barokah dan rahmat serta karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad saw, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman yang terang benderang seperti sekarang ini. Selanjutnya, dengan kerendahan hati, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada: 1. 2. Bapak Dr. Ade Dedi Rohayana, M.Ag, selaku Ketua STAIN Pekalongan Bapak Drs. H. Asmuni Hayat, M.Ag, dan Bapak Jalaluddin, MA selaku Pembimbing dalam penulisan skripsi. 3. Seluruh Dosen yang telah membimbing dan mengajar Penulis dalam kegiatan belajar di bangku perkuliahan. 4. Seluruh Staff dan Karyawan yang telah memperkenankan Penulis mengadakan penelitian dalam hal ini Library Research, sehingga mampu mendapatkan sumber atau bahan literatur dalam penulisan skripsi ini. 5. Segenap keluarga yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar baik dorongan moril maupun materiil. 6. Seluruh rekan-rekan yang telah banyak membantu dan mendukung sehingga terselesainya skripsi ini.

viii

Akhirnya kepada Allah SWT penulis berserah diri, semoga apa yang telah dilakukan ini mendapatkan ridlo-Nya dan dapat bermanfaat bagi Penulis serta mampu menjadi kontributor ilmu dalam pengetahuan hukum Islam di Jurusan Syariah STAIN Pekalongan.

Pekalongan, April 2011

Penulis

ix

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ........................................................................ i HALAMAN PERNYATAAN .......................................................... ii HALAMAN NOTA PEMBIMBING ................................................ iii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................... iv HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................... v HALAMAN MOTTO ..................................................................... vi ABSTRAK ...................................................................................... vii KATA PENGANTAR ................................................................... viii DAFTAR ISI .................................................................................... x

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .......................................................... 1 B. Rumusan Masalah ................................................................... 5 C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ............................................. 5 D. Telaah Pustaka ........................................................................ 6 E. Kerangka Teori ......................................................................... F. 9

Metode Penelitian ................................................................... 13

G. Sistematika Penulisan ............................................................ 15

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM KEWARISAN ISLAM A. Pengertian Hukum Kewarisan Islam ........................................ 17 B. Sumber dan Dasar Hukum Kewarisan Islam .......................... 19 1. Al-Qur’an ......................................................................... 19 2. As Sunnah ......................................................................... 20

x

3. Ijma’................................... ................................................ 20 4. Ijtihad.................................................................................... 20
C. Asas-Asas Kewarisan Islam ..................................................... 21 1. Asas Ijbari........................................................................... ... 21 2. Asas Bilateral................................................................... ...... 21 3. Asas Individual.................................................................. .... 22 4. Asas Keadilan Berimbang.................................................. ... 22 5. Asas Semata Akibat Kematian........................................... ... 23 D. Rukun dan Syarat kewarisan................................................... ... 23 1. Rukun Kewarisan................................................................... 23 2. Syarat Kewarisan.............................................................. ..... 24 E. Sebab-Sebab dan Penghalang Hak Waris................................ .. 24 1. Sebab-Sebab Adanya Hak Waris....................................... .... 24 2. Penghalang Hak Waris........................................................... 26 F. Furudhul Muqaddarah dan Ahli Waris..................................... .. 27 1. Ahli Waris Ashabul furudh................................................. ... 28 2. Ahli Waris Ashabah........................................................... .... 31

BAB III PRAKTIK

PEMBAGIAN

HARTA

WARISAN

BERDASARKAN KESEPAKATAN A. Monografi dan Demografi Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi,
Kabupaten Tegal......................................................................... 33

1. Kondisi Geografis................................................................ ... 33 2. Kondisi Demografis .............................................................. 34 B. Praktik Pembagian Harta Warisan di Desa Jatibogor, kecamatan
suradadi, Kabupaten Tegal.......................................................... 38 1. Sistem “Hukum Pemerintah” ................................................ 39 2. Sistem Kewarisan Islam (Faraidh) ........................................ 41 3. Sistem Musyawarah Keluarga ............................................... 42

xi

C. Pandangan Ahli Waris Terhadap Praktik Pembagian Harta warisan
Berdasarkan Kesepakatan ........................................................... 48

1. Pembagian Harta Warisan Yang Dilaksanakan dengan
Kesepakatan Tidak Melanggar Hukum.................................. 48

2. Menjaga Kerukunan dan Persaudaraan Setelah Pewaris
Meninggal Dunia .................................................................. 49

3. Sistem Pembagian Harta Warisan dalam Islam Kurang
Membawa Maslahat .............................................................. 49

4. Lebih Memberi Maslahat ...................................................... 50 5. Pembagian Harta Warisan Secara Islam Tidak Adil........... .... 51 BAB IV ANALISIS TERHADAP PRAKTIK PEMBAGIAN

HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN A. Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Kesepakatan Perspektif
Tekstual Al-Qur’an. .................................................................... 52

B. Pembagian Harta Warisan Berdasarkan Kesepakatan Perspektif
Kemaslahatan dan Keadilan ...................................................... 57

BAB V

PENUTUP A. Kesimpulan .............................................................................. 65 B. Saran-saran .............................................................................. 66

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR RIWAYAT

xii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang penduduknya sangat beragam dari segi etnik, budaya, dan agama. Sedangkan mayoritasnya sekitar 88 % dari lebih dua ratus juta orang beragama Islam. Indonesia pernah dijajah oleh Belanda selama sekiter 350 tahun, masa yang tidak sebentar. Di samping itu pernah juga dijajah oleh Inggris dan Jepang dalam waktu yang tidak lama dibandingkan dengan masa penjajahan Belanda. Dari gambaran tersebut dapat kita pahami adanya pluralisme sistem hukum yang berlaku di Indonesia. 1 Sistem hukum yang ada dan berlaku di Indonesia akibat perkembangan sejarahnya sampai saat ini masih bersifat plural (majemuk). Hal ini terbukti dengan masih berlakunya beberapa sistem hukum yang mempunyai corak dan susunan tersendiri. Pluralisme hukum ini juga terjadi dalam bidang hukum waris, sehingga pengaturan masalah kewarisan belum dapat keseragaman. Bentuk dan sistem hukum waris sangat terkait dengan bentuk masyarakat dan sifat kekeluargaan. Sedangkan sistem kekeluargaan yang ada di Indoneia berpokok pangkal pada sistem menarik garis keturunan yang pada

1

A. Qadri Azizy, Eklektisisme Hukum Indonesia, (Jogjakarta : Gama Media, 2002), h. 123

1

2

dasarnya dikenal ada 3 macam, yaitu: Matrilinial, Patrilinial, dan Bilateral atau Parental.2 Hukum Islam adalah hukum yang bersifat universal, karena merupakan bagian dari ajaran agama Islam yang universal sifatnya, yaitu berlaku bagi setiap orang di manapun ia berada dan apapun nasonalismenya. Adapun tujuan dari hukum Islam pada hakikatnya adalah untuk merealisir kemaslahatan umum dan mencegah kemafsadatan bagi umat manusia.3 Di dalam hukum Islam masalah kewarisan mendapat perhatian besar dan merupakan bagian yang terpenting dalam sistem hukum Islam, sehingga Islam mengatur pembagian warisan secara rinci agar tidak terjadi perselisihan sesama ahli waris sepeninggal orang yang hartanya diwarisi. Pengaturan ini dikenal dengan Hukum Kewarisan Islam, yaitu aturan yang mengatur pengalihan harta dari seseorang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya. 4 Hukum kewarisan Islam pada dasarnya berlaku untuk umat Islam di mana saja di dunia ini. Sungguhpun demikian, corak suatu negara Islam dan kehidupan masyarakat di negara atau daerah tersebut memberi pengaruh atas hukum kewarisan di daerah itu.5 Tata cara pembagian harta warisan dalam Islam telah diatur sebaikbaiknya. Al-Quran menjelaskan dan merinci secara detail hukum-hukum yang

2

M. Idris Ramulyo, Hukum Kewarisan Perdata Barat, (Jakarta : Sinar Grafika, 2006), h.4

Muhtar Yahya, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam, (Bandung : Al-Ma'arif, 1993), h. 333 4 Zainuddin Ali, Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), Cet ke-1, h. 33 5 Sajuti Thalib, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), Cet ke-9, h.1

3

3

berkaitan dengan hak kewarisan tanpa mengabaikan hak seorang pun.

6

Pembagian masing-masing ahli waris baik itu laki-laki maupun perempuan telah ada ketentuannya dalam Al-Quran. Allah SWT telah berfirman:

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan. (QS. An Nisa:7) 7 Dalam syari’at Islam telah ditetapkan bahwa bagian ahli waris lakilaki adalah lebih banyak daripada bagian perempuan, yakni ahli waris lakilaki dua kali bagian ahli waris perempuan. Allah SWT berfirman: ‫مل‬ ُ ْ‫ِث‬

Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.(QS.An Nisa : 11)8

Demikian juga Rasulullah SAW, memerintahkan agar kita membagi harta warisan menurut Al-Quran sesuai dengan sabdanya:
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, (Jakarta : Gema Insani Press, 1995), Cet. Ke-1, h. 32 7 Departemen Agama RI, Al Qur'an dan Terrjemahan, (Semarang : Toha Putra, 1989), h.116 8 Depag RI, Al-Quran Dan Terjemahnya, h. 116
6

4

Dari Ibnu Abbas berkata : Bersabda Rasulullah SAW. Bagilah harta warisan di antara ahli waris sesuai dengan ketentuan Kitabullah”. (HR. Muslim dan Abu Dawud).9

Namun demikian, dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa pembagian harta warisan juga dapat dilakukan melalui jalan perdamaian berdasarkan kesepakatan antara ahli waris sebagaimana disebutkan dalam Pasal 183 yang berbunyi : “Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam pembagi harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya”.10

Masyarakat desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal, sebuah desa yang masyarakatnya muslim dan menganut asas bilateral atau parental, laki-laki dan perempuan sama-sama mempunyai hak mewarisi harta peninggalan orang tua ataupun kerabatnya. Pembagian harta warisannya dikenal dengan istilah sepikul segendong, di mana bagian laki-laki adalah dua kali dari bagian perempuan. Pembagian harta warisan ini sudah dilaksanakan dari dahulu hingga sekarang. Akan tetapi, penulis menemukan sebagian masyarakat yang melaksanakan pembagian harta warisan berdasarkan

9

Adib Bisri Mustafa, Terjemah Shahih Muslim, (Semarang : Asy-syifa, 1993), Jilid III, h.

146 Penerbit, Undang-Undang Republik Indonesia NO.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam, ( Bandung : Cutra Umbara, 2007), Cet 1, h. 295
10

5

kesepakatan hasil musyawarah. Melihat adanya praktik yang demikian, mengingat agama dan sifat kekeluargaan yang dianut masyarakat di desa tersebut, penulis tertarik melakukan penelitian dengan judul : PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN (STUDI KASUS DI DESA JATIBOGOR KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL).

B. Rumusan Masalah Untuk memudahkan serta terangnya penelitian ini, maka dirumuskan masalahnya sebagai berikut : 1. Bagaimana praktik pembagian harta warisan di desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal ? 2. Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di desa tersebut?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : a) Untuk mengetahui praktik pembagian harta warisan di desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal. b) Untuk mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap praktik pembagian harta warisan tersebut.

6

2. Kegunaan Penelitian a) Sebagai sumbangan penelitian bagi pengembangan hukum Islam di Indonesia yang berkaitan dengan penggunaan hukum keluarga di kalangan masyarakat muslim. b) Sebagai bahan wacana keilmuan di bidang ilmu, khususnya hukum waris dan bahan perkembangan hukum Islam di Indonesia. c) Menambah wawasan dan pengetahuan empiris bagi penulis dan menambah khazanah pustaka.

D. Tinjauan Pustaka Sejauh pengetahuan penulis, buku-buku yang membahas tentang kewarisan sudah banyak. Buku-buku tersebut kebanyakan membahas teoriteori tentang kewarisan, baik kewarisan menurut hukum Islam, hukum adat, maupun HUKPerdata. Padahal jika melihat di lapangan, ada praktik-praktik yang tidak sesuai dengan teori mengingat kemajemukan masyarakat Indonesia. Seperti halnya buku Hukum Kewarisan Islam karya Prof. Dr. Amir Syarifuddin. Di dalam buku ini menguraikan tentang teori kewarisan Islam dan wacana tentang hukum kewarisan Islam serta penerapan hukum tersebut di Indonesia. Prof. Dr. Amir Syarifuddin dalam bukunya tersebut mengemukakan : meksipun kewarisan merupakan ajaran agama, namun tidak semua umat Islam mengetahuinya. Alasannya ialah pertama karena peristiwa kematian yang menimbulkan adanya kewarisan itu dalam suatu keluarga

7

merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Kedua, tidak semua orang yang mati itu meninggalkan harta yang patut menjadi urusan, karena tidak semua orang Islam itu kaya. Ketiga, ajaran tentang kewarisan itu membicarakan angka yang bersifat sistematis yang tidak semua orang tertarik kepadanya.11 Bebeda dengan Amir Syarifudin, Zainuddin Ali dalam bukunyayang berjudul Pelaksanaan Hukum Waris Di Indonesia beliau mengungkapkan tentang pembagian harta warisan melalui musyawarah. Pembagian ini dilakukan oleh para ahli waris berdasarkan hak pemilikan individu terhadap harta warisan mereka, baik di wilayah penduduk perkotaan (palu), pegunungan dan dataran (Biromaru dan Dolo) maupun penduduk pesisir pantai (Banawi dan Tawaeli). Kemufakatan tersebut terjadi karena adanya ahli waris yang dituakan atau adanya kerukunan keluarga di antara para ahli waris. 12 Berbeda lagi dengan Amisr Syarifuddin dan Zainuddin Ali, Dr. Abdul Ghofur Anshori, SH., MA dalam bukunya Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia; Eksistensi dan Adaptabilitas beliau mengungkapkan bahwa : prinsip segendong sepikul dalam kewarisan (Islam) Jawa misalnya masih banyak dijalankan. Prinsip segendong-sepikul mengandung makna antara laki-laki dan perempuan sama-sama memperoleh hak mewarisi yang sama. Namun bagian masing-masing berbeda, pihak laki-laki yang karena dianggap

11 12

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 322. Zainudin Ali,.Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, h. 154-155.

8

memiliki peranan dan tanggung jawab yang lebih besar, memperoleh bagian yang lebih banyak (sepikul) dari pada perempuan (segendong).13 Selain dari buku-buku tentang kewarisan, sepengetahuan penulis skripsi-skripsi yang membahas tentang kewarsan tidak banyak, dan belum ada yang membahas tentang praktik pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan, antara lain: Santi Yuniarsih yang berjudul Gugatan Atas Harta Waris Yang Dihibahkan Semua Kepada Anak Angkat (Studi Analisis Terhadap Putusan No. Perkara 214/pdt.G/2002/PA kjn).14Di dalamnya membahas tentang gugatan atas harta waris, di mana gugatan ini diajukan karena si pewaris tidak membagikan harta warisannya kepada saudara kandungnya, tetapi si pewaris memberikan semua harta warisannya kepada anak angkatnya. Skripsi ini mencoba menganalisis praktik pembagian harta warisan, tetapi bukan pembagian berdasarkan kesepakatan, sehingga berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, Rizqiyah yang berjudul

Kajian Tentang Hibah Orang Tua kepada Anak Hubungannya Dengan Warisan (Studi Analisis Terhadap Pasal 211 KHI)15 Di dalam skripsi ini membahas tentang hibah yang dihubungkan dengan masalah waris. Skripsi
Abdul Ghofur Anshori, Hukum Kewarisan Islam di Indonesia; Eksistensi dan Adaptabilitas, ( Yogyakarta: EKONOSIA, 2995), Cet Ke-1, h. 2-3 14 Santi Yuniarsih, Gugatan Atas Harta Waris Yang Dhibahkan Semua Kepada Anak Angkat (Studi Analisis Terhadap Putusan No.Perkara 214/pdt.G/2002/PA kjn), (STAIN Pekalongan : tidak diterbitkan). Rizqiyah, Kajian Tentabg Hibah Orang Tua Kepada Anak Hubungannya Dengan Warisan (Studi Analisis Terhadap Pasal 211 KHI),(STAIN Pekalongan : tidak diterbitkan).
15 13

9

ini mencoba mencari titik temu antara adat 'hibah' dengan hukum waris dalam KHI, sehingga berbeda dengan penelitian yang dilakukan penulis. Penelitian tentang Kewarisan juga pernah dilakukan oleh Zaenal Arifin dengan judul Tinjauan Hukum Islam Tentang Pengakuan Anak Di Luar Nikah Implikasinya Terhadap Kewarisan Menurut Hukum Perdata ( Telaah Pasal 280 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata) 16. Skripsi ini membahas tentang implikasi hukum kewarisan menurut KUHPerdata kaitannya dengan pengakuan anak di luar nikah. Dalam skripsi ini tidak membahas tentang pembagian harta warisannya, sehingga berbeda dengan penelitian penulis. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa penelitian yang akan dilakukan penulis dengan judul “PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN DI DESA JATIBOGOR

KECAMATAN SURADADI KABUPATEN TEGAL” tersebut belum pernah diteliti oleh orang lain.

E. Kerangka Teori Bagi setiap pribadi muslim adalah kewajiban baginya untuk melaksanakan kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan yang ditunjuk oleh peraturan-peraturan yang jelas (nash-nash sharih). Selama peraturanperaturan tersebut ditunjukkan oleh peraturan atau ketentuan lain yang
16

Zaenal Arifin, Tinjauan Hukum Islam Tentang Pengakuan anak Di Luar nikah Implikasinya Terhadap Kewarisan Menurut Hukum Persata (telaah Pasal 280 Kitab UndangUndang Hukum Pedata), (STAIN Pekalongan : Tidak ditebitkan).

10

menyebutkan ketidakwajibannya, maksudnya setiap ketentuan hukum agama Islam wajib dilaksanakan selama tidak ada ketentuan lain (yang datang kemudian sesudah ketentuan terdahulu) yang menyatakan ketentuan terdahulu tidak wajib. Demikian pula mengenai hukum faraidh tidak ada satu ketentuan pun (nash) yang menyatakan bahwa membagi harta warisan menurut ketentuan faraidh itu tidak wajib. Bahkan sebaliknya di dalam Surah An-Nisa ayat 13 dan 14 Allah SWT menetapkan: 17

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. 18

Hukum Islam sebagaimana hukum-hukum yang lain mempunyai asas dan tiang pokok. Kekuatan suatu hukum, sukar mudahnya, hidup matinya, dapat diterima atau ditolak masyarakat tergantung kepada asas dan tiang-tiang pokoknya. Asas-asas hukum tersebut antara lain adalah;
19 Suhrawardi K. Lubisdan Komis Simanjuntak, Hukum Warisan Islam Lengkap & Praktis), (Jakarta: Sinar Grafika, 2007), h.3 18 Departemen Agama RI, Al Qur'an dan Terjemah, h. 118

11

1.

Seiring dengan Kemaslahatan Manusia Hukum Islam dihadapkan kepada bermacam-macam jenis manusia dan ke seluruh dunia. Maka tentulah pembina hukum memperhatikan kemaslahatan masing-masing mereka sesuai dengan adat dan kebudayaan mereka serta iklim yang menyelubunginya. Jika kemaslahatan-kemaslahatan itu bertentangan satu sama lain, maka pada saat itu didahulukan maslahat umum atas masalahat khusus dan diharuskan kita menolak kemadharatan yang lebih besar dengan jalan mengajak mengerjakan kemadhorotan yang kecil. 19

2.

Mewujudkan Keadilan yang Merata Nash-nash Al-Qur’an tidaklah membatasi keadilan kepada sesuatu golongan manusia. Keadilan di dalam Islam diterapkan kepada semua manusia. Muhammad Abduh di dalam Kitabnya Al-Islam wan Nasraniyah mengatakan bahwa hampir seluruh umat Islam berpendapat bahwa apabila berlawanan antara akal dengan naqal, ambillah yang ditunjuki akal. Dalam menghadapi naqal, kita mempunyai dua jalan: Pertama : mengakui keshalihan naqal itu, kita tidak sanggup memahaminya, dan menyerahkan urusan pemahamannya kepada Allah.

19

TM Hasbi Ash Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986) cet

ke-II, h.80

12

Kedua

: kita takwil dengan memperhatikan aturan bahasa agar maksudnya sesuai dengan ketentuan akal. 20 Tujuan hukum hanyalah mewujudkan kemaslahatan masyarakat,

baik di dunia maupun di akhirat, menolak kemadharatan dan kemafsadatan, serta mewujudkan keadilan yang mutlak.21 Dua prinsip dasar dalam filsafat Islam, yakni prinsip tauhid dan prinsip keadilan. Prinsip tauhid berarti bahwa dalam sistem hukum Islam, pembuat hukum yang hakiki adalah Allah. Kelanjutan prinsip tauhid adalah prinsip keadilan, karena kadar potensi manusia antara satu dengan lainnya tidak sama, maka praktik pelaksanaan kewajiban-kewajiban hukumnya pun tidak sama. Sebagai manusia mukallaf, seorang mempunyai kewajiban hukum yang sama. Namun ketika kewajiban itu akan dilaksanakan, maka pelaksanaannya sangat tergantung pada kemampuan masing-masing. Inilah keadilan yang disebut oleh Al Qur’an yakni keseimbangan dan moderasi, keseimbangan antara kewajiban melaksanakan hukum dan kemampuan manusia untuk

melaksanakannya. 22 Keadilan dalam Islam merupakan perpaduan yang menyenangkan antara hukum dan moralitas. Islam tidak bermaksud untuk demi

mengahancurkan

kebebasan

individu

tetapi

mengontrolnya

kepentingan masyarakat yang terdiri dari individu itu sendiri, dan

TM Hasbi Ash Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, h.83-86 TM Hasbi Ash Shiddieqy, Falsafah Hukum Islam, h.123 22 Juhaya S. Praja, Hukum Islam di Indonesia Pemikiran dan praktik, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994) h.269-270
21

20

13

karenanya juga melindungi kepentingan yang sah. Hukum memainkan perannya masyarakat dalam dan mendamaikan bukan kepentingan dengan kepentingan diperbolehkan

sebaliknya

individu

mengembangkan hak pribadinya dengan syarat tidak mengganggu kepentingan masyarakat. Ini mengakhiri perselihan dan memenuhi tuntutan keadilan. Karena itu, berlaku adil berarti hidup menurut prinsipprinsip Islam. 23

F. Metode Penelitian Dalam rangka menjawab pertanyaan yang telah dirumuskan di atas, maka guna menghasilkan kesimpulan dari analisa yang tepat dan bertanggung jawab penulis menggunakan metode sebagai berikut: 1. Jenis Penelitian Pada dasarnya jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang dilakukan di Desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal yang meneliti subjek penelitian yaitu tokoh masyarakat dan orang yang melakukan pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan. 2. Sumber Data Untuk mencapai tujuan penelitian dipelukan sumber data sebagai berikut:

Muhammad Muslehuddin, Filsafat Hukum Islam dan Orientasi Studi Perbandingan Sistem Hukum Islam, (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1991) h.83

23

14

a.

Sumber Data Primer Yaitu data yang diperoleh dari data sumber-sumber asli yang memuat informasi data tersebut.24 Sumber data primer yang digunakan penulis adalah hasil wawancara mendalam.

b.

Sumber Data Sekunder Yaitu data yang diperoleh dari data yang bukan asli yang memuat tentang informasi atau data-data tersebut.25 Adapun data sekunder yang gunakan adalah buku-buku pokjok yang memuat tentang halhal yang berkaitan dengan pokok bahasan. Adapun buku-buku yang dijadikan sumber data sekunder antara lain: 1) Al-Qur'an dan Terjemahnya dan hadits tentang kewarisan. 2) Buku-buku tentang kewarisan Islam, antara lain: a) Hukum Waris Islam (Praktis dan Lengkap), karya Suhrawardi dan K Lubis Simanjuntak. b) Hukum Kewarisan Islam, karya Amir Syarifuddin. c) Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia, karya Zainuddin Ali. 3) Kompilasi Hukum Islam

3.

Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data ini adalah dengan menggunakan teknik wawancara (interview) dan studi kepustakaan; a) Wawancara (interview) yaitu suatu data untuk mendapatkan informasi atau data dengan bertanya langsung kepada informan.
24

Tatang M. Amrin, Menyusun Rencana Penelitian, (Jakarta : PT Raja Grafindo, 1995), Tatang M. Amrin, Menyusun Rencana Penelitian, h. 133

h. 132
25

15

Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukannya secara bebas yang bersifat komprehensif (mendalam) terhadap informan yaitu para ahli waris dan pejabat desa yang mengurusi masalah kewarisan dalam hal ini adalah kasi

pemerintahan. b) Studi Kepustakaan, kegiatan ini untuk mencari data-data yang tidak diperoleh di lapangan, seperti buku-buku dan arsip. 4. Metode Analisis Data Metode analisis adalah suatu proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diinterpretasikan. Metode analisis melalui pendekatan filsafat hukum, maksudnya penulis menggambarkan tentang praktik pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan yang dilakukan oleh sebagian masyarakat di tempat penelitian kemudian menganalisisnya dengan pendekatan filsfat hukum. Data yang terkumpul kemudian diuraikan dengan metode deduktif dan metode induktif.

G. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pembahasan, maka penelitian akan digunakan struktur penulisan sebagai berikut : Bab I tentang pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

16

Bab II secara teoritis membahas tentang hukum kewarisan Islam yang meliputi : pengertian hukum kewarisan, sumber dan dasar hukum kewarisan, asas-asas kewarisan Islam, rukun dan syarat kewarisan, sebab-sebab dan penghalang hak waris, dan furudhul muqaddarah dan ahli waris. Bab III Secara deskriptif membahas tentang praktik pembagian harta warisan yang mencakup : monografi dan demografi desa Jatibogor kecamatan suradadi kabupaten Tegal dan praktik pembagian harta warisan di desa Jatibogor kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal serta pandangan para ahli waris tentang pelaksanaan pembagian warisan berdasarkan kesepakatan. Bab IV secara analisis membahas tentang tinjauan hukum Islam terhadap praktik pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan di desa tersebut yang meliputi analisis Perspektif tekstual Al Qur’an dan analisis perspektif kemaslahatan dan keadilan. Bab V Penutup berisi kesimpulan dan saran-saran.

BAB II TINJAUAN UMUM HUKUM KEWARISAN ISLAM

A. Pengertian Kewarisan Istilah kewarisan berasal dari bahasa Arab al-irst yang secara leksikal berarti perpindahan sesuatu dari seseorang kepada orang lain. 1 Kata al-irst merupakan bentuk mashdar dari kata waratsa, yaritsu, irtsan. Mashdar yang lain menurut ilmu sharaf masih ada beberapa bentuk, yaitu wirtsan, wiratsatan, mirats. 2 Secara bahasa, kata waratsa memiliki beberapa arti : pertama, ”mengganti”. Ini dapat dilihat dalam QS. An-Naml : 16 sebagai berikut :

“Sulaiman menggantikan kenabian Daud…” 3 Maksud dari ayat tersebut adalah nabi Sulaiman menggantikan kenabian serta mewarisi ilmu pengetahuannya. Kedua, ”memberi”. Ini dapat dilihat dalam QS. Az-Zumar : 74 sebagai berikut :

Muhammad Ismail Ibahim, Mu’jam al-alfaz wa al-A’lam Al-Qur’aniyah, ( Kairo : Dar al-fikr al-Araby, 1986), h.570 2 Ahmad Kuzari, Sistem Asabah ( Dasar Perpindahan Hak Milik Atas Harta Peninggalan), (Jakarta : Rajawali Press, 1996), h.1 3 Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, ( Semarang : Toha Putra, 1998), h.351

1

17

18

“Dan telah (memberi) kepada kamu tempat ini, sedangkan kamu (diperkenankan) menempati tempat di surga di mana saja kamu kehendaki”4 Dan ketiga adalah “mewarisi”. Ini dapat dilihat dalam QS. Maryam : 6 sebagai berikut :5

“Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya‟kub”. 6 Berangkat dari makna dasar ini, maka dari segi makna yang lebih luas, kata al-irts mengandung arti perpindahan sesuatu dari

seseorang kepada seseorang atau perpindahan sesuatu dari suatu kaum kepada kaum lainnya, baik berupa harta, ilmu, atau kemuliaan.7 Sedangkan pengertian secara istilah hukum kewarisan berarti hukum yang mengatur pembagian warisan, mengetahui bagian-bagian yang diterima dari harta peninggalan itu untuk setiap yang berhak. 8 Dalam redaksi yang lain, Hasby Ash-Shiddiqy mengemukakan , hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur siapa-siapa orang yang mewarisi dan tidak mewarisi, bagian penerimaan setiap ahli waris dan
4 5

Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang : Toha Putra, 1998), h.551 Ahmad Rofiq, Hukum islam di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Press, 1998), h.355 6 Depag RI, Al-Quran dan Terjemahnya, ( Semarang :Toha Putra, 1998), h.372 7 Muhammad Ali ash-Shabuni, al mawarits fi Syari’ah al islamiyah, diterjemahkan oleh AM. Basalamah dengan judul Pembagian Waris menurut Islam, ( Jakarta : Gema Insani Press, 2001), h.33 8 Muhammad Syrbini Al-khattib, Mugni Al-Muhtaj, ( Kairo : Mustofa al-Baby alhalaby, 1958), Juz ke-3, h.3

19

cara-cara pembagiannya . 9 Berbeda dengan definisi di atas, Wirjono Projodikoro menjelaskan warisan adalah soal apa dan bagaimana berbagai hak dan kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal akan beralih kepada orang lain yang masih hidup. 10 Dalam istilah fiqh Islam, kewarisan (al-mawarist – kata tunggalnya al-mirast) lazim juga disebut dengan kata faraidh, jamak dari kata faridhah. Kata faridhah diambil dari kata fardh dengan makna ketentuan atau (takdir). “al-fardh” dalam terminologi syar‟i ialah bagian yang telah ditentukan untuk ahli waris. Ilmu yang membahas perihal kewarisan umum dikenal dengan sebutan ilmu kewarisan (‘ilm al-mirast/ al-mawarist) atau imu faraidh (‘ilm al-faraidh).11

B. Sumber dan Dasar Hukum Kewarisan Islam Hukum kewarisan islam bersumber pada: 1. Al-Qur’an Al-Qur‟an merupakan sebagian sumber hukum waris yang banyak menjelaskan ketentuan-ketentuan fardh tiap-tiap ahli waris, seperti tercantum dalam surat An-Nisa ayat 7,11,12,176 dan surat yang lainnya.

T.M Hasby As-Shiddiqy, Fiqih Mawaris, (Jakarta : Bulan Bintang, 1973), h.18 Wirjono Projodikoro, hukum Kewarisan di Indonesia, (Bandung : Sumur, 1983), h.13 11 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, (Jakarta : PT. Raja Grafindo persada, 2005), h.109
10

9

20

2.

As Sunnah Hadits Nabi Muhammad SAW yang secara langsung mengatur tentang kewarisan antara lain:

“Dari Ibnu Abbas berkata: Nabi SAW bersabda: „Berikanlah bagian-bagian tertentu kepada orang-orang yang berhak dan sisanya untuk orang laki-laki yang lebih utama (dekat kerabatnya).” (HR. Bukhari-Muslim) 12 3. Ijma’ Ijma‟ yaitu kesepakatan para ulama atau sahabat sepeninggal Rasulullah SAW, tentang ketentuan warisan yang terdapat dalam Al Qur‟an maupun Sunnah karena telah disepakati oleh para sahabat dan ulama, ia dapat dijadikan referensi hukum. 13 Sebagai contoh adalah kesepakatan jumhur ulama tentang perbedaan agama menjadi sebab tidak mendapatkan hak waris, yakni seorang muslim tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi oleh orang non muslim apapun agamanya. 4. Ijtihad Ijtihad yaitu pemikiran para sahabat atau ulama dalam

menyelesaikan kasus-kasus pembagian warisan yang belum atau tidak disepakati. Misalnya terhadap masalah radl atau „aul, di
M. Fuad Abdul Haqi, Al Lu’lu Wal Marjan, (Surabaya: Bina Ilmu), Jilid-II, Terjemah : H. Salim bahreisy, ttt), h.586-587 13 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Rajawali Press, 1998), h.381-382
12

21

dalamnya terdapat perbedaan pendapat sejalan dengan hasil ijtihad masing-masing sahabat, tabi‟in atau ulama.14 C. Asas-Asas Kewarisan Islam Kewarisan Islam mengandung berbagai asas yang

memperlihatkan bentuk karakteristik dari hukum kewarisan Islam itu sendiri. Asas-asas kewarisan Islam tersebut antara lain: 1. Asas Ijbari Kata Ijbari sendiri secara leksikal mengandung arti paksaan (compulsory), dijalankannya asas ini dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti bahwa peralihan harta tersebut terjadi dengan sendirinya menurut ketentuan Allah SWT tanpa tergantung kepada kehendak dari pewaris ataupun permintaan ahli warisnya, sehingga tidak ada satu kekuasaan manusia pun dapat mengubahnya dengan cara memasukkan orang lain atau

mengeluarkan orang yang berhak.15 2. Asas Bilateral Asas bilateral dalam hukum kewarisan Islam mengandung arti bahwa harta warisan beralih kepada ahli warisnya melalui dua arah (dua belah pihak). Hal ini berarti bahwa setiap orang menerima hak kewarisan dari kedua belah pihak garis kerabat, yaitu pihak kerabat garis keturunan laki-laki dan pihak kerabat

14 15

Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, h.382 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h.18

22

garis keturunan perempuan.16 Hanya saja, bagi ahli waris yang hubungannya dengan pewaris tidak langsung, tidak dapat menerima hak waris sebab kewarisan Syafi‟i bercorak patrilinial atau mengutamakan garis keturunan laki-laki. 3. Asas Individual Hukum Islam mengajarkan asas kewarisan secara

individual dengan arti bahwa harta warisan dapat dibagi-bagi untuk dimiliki secara perorangan. Masing-masing ahli waris menerima bagiannya secara tersendiri, tanpa terikat dengan ahli waris lain. Keseluruhan harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang mungkin dibagi-bagi, kemudian jumlah tersebut dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menurut kadar bagian masingmasing. 17 4. Asas Keadilan Berimbang Asas keadilan berimbang maksudnya adalah

keseimbangan antara hak dan kewajiban dan keseimbangan antara yang diperoleh dengan keperluan dengan kegunaan. Dengan perkataan lain dapat dikemukaan bahwa faktor jenis kelamin tidaklah menentukan dalam hak kewarisan. Dasar asas ini dapat dijumpai antara lain dalam ketentuan QS. An-Nisa ayat 7,11,12, dan 176.18

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h.20 Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h.21 18 Suhrawardi K Lubis dan Komis Simanjutak, Hukum Waris Islam (Lengkap dan praktis), (Jakarta : Sinar Grafika, 2007), h.39
17

16

23

5.

Asas Semata Akibat Kematian Hukum Islam menetapkan bahwa peralihan harta

seseorang kepada orang lain dengan menggunakan istilah kewarisan hanya berlaku setelah yang mempunyai harta meninggal dunia. Asas ini berarti bahwa harta seseorang tidak dapat beralih kepada orang lain (keluarga) dengan nama waris selama yang mempunyai harta masih hidup. Juga berarti bahwa segala bentuk peralihan harta seseorang yang masih hidup baik secara langsung maupun terlaksana setelah ia mati, tidak termasuk ke dalam istilah kewarisan manurut hukum Islam. 19

D. Rukun dan Syarat Kewarisan 1. Rukun Kewarisan Rukun waris ada tiga, yaitu:20 a. Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya. b. Ahli Waris, yakni mereka yang berhak untuk menguasai atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan atau lainnya. c. Harta Warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah dan sebagainya.

19 20

Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h.28 Ahmad Rofiq, Fiqh Mawaris, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993), h.22

24

2.

Syarat Kewarisan Syarat-syarat kewarisan ada tiga, yaitu: 21 a. Meninggalnya seseorang (pewaris) baik secara hakiki maupun secara hukum (misalnya dianggap telah meninggal). b. Adanya ahli waris yang hidup secara hakiki pada waktu pewaris meninggal dunia. c. Seluruh ahli waris diketahui secara pasti, termasuk jumlah dan bagian masing-masing.

E. Sebab-Sebab dan Penghalang Hak Waris 1. Sebab-Sebab Adanya Hak Waris Hal-hal yang dapat menyebabkan seseorang dapat mewarisi terbagi atas tiga macam, yaitu: a. Ahli Waris Sababiyah (sebab) perkawinan antara suami dengan istri Dalam hubungan perkawinan, kaitannya dengan hukum kewarisan Islam, berarti hubungan perkawinan yang sah menurut hukum Islam. Apabila seorang suami meninggal dan meninggalkan harta warisan dan janda, maka janda tersebut ahli warisnya. Demikian pula sebaiknya. 22 Ahli waris tersebut yaitu suami istri.

21 Muhammad Ali Ash Shabuni, Pembagian Waris Menurut Islam, h.39-40 22 Umar Syihab, Hukum Kewarisan Islam dan Pelaksanannya di Wajo, (Makassar: 1998) h.84

25

b.

Ahli Waris Nasabiyah (hubungan kekerabatan) Seperti kedua orang tua (bapak-ibu), anak, cucu dan saudara, serta orang bernasab dengan mereka. 23 Allah SWT berfirman:

...

“Dan orang-orang yang mempunyai hubungan Kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (dari pada yang bukan kerabat) di dalam kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”24 (QS. Al Anfaal: 75) Ditinjau dari garis yang menghubungkan nasab antara yang mewariskan dengan yang mewarisi, dapat digolongkan dalam tiga golongan, yaitu sebagai berikut: 25 1) Furu; yaitu anak turun (cabang) dari si mayit. 2) Ushul; yaitu leluhur (pokok atau asal) yang menyebabkan adanya si mayit. 3) Hawasyi; yaitu keluarga yang dihubungkan dengan si mayit melalui garis menyamping, seperti saudara, paman, bibi dan anak turunannya dengan tidak membeda-bedakan laki-laki atau perempuan. c. Ahli Waris karena hubungan “Wala” (karena pembebasan budak)

23

Dian Khairul Umam, Fiqh Mawaris, (Bandung: CV. Setia Budi, 1999), h.17 24 Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1993), h.62
25

Fathurrahman, Ilmu Mawaris, (Bandung: PT. Al-Ma‟arif, 1987), h.116

26

Yaitu seseorang yang telah membebaskan budak, berhak terhadap peninggalan budak itu, dan sebaliknya orang yang membebaskan budak, apabila tidak ada ahli waris yang lain. 26 2. Penghalang Hak Waris Ada tiga hal yang menyebabkan seseorang tidak berhak mewarisi harta peninggalan si pewaris, yaitu: a. Perbudakan Status seorang budak tidak dapat menjadi ahli waris, karena dipandang tidak cakap mengurusi harta dan telah putus hubungan kekeluargaan dengan kerabatnya. Bahkan ada yang memandang budak itu statusnya sebagai harta milik tuannya. Dia tidak dapat mewariskan harta peninggalan, sebab ia sendiri dan segala harta yang ada pada dirinya adalah milik tuannya. Dia tidak memiliki harta.27 b. Pembunuhan Para ahli hukum Islam sepakat bahwa tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh ahli waris terhadap pewarisnya, pada prinsipnya menjadi penghalang baginya untuk mewarisi harta warisan pewaris yang dibunuhnya. 28 Rasulullah SAW bersabda:

M. Idris Ramulyo, Perbandingan Hukum Kewarisan Islam di Pengadilan Agama dan Kewarisan Menurut Undang-undang Hukum Perdata (BW) di Pengadilan Negeri, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1992), h.113 27 A. Hasan, Al Faraid, (Jakarta: Pustaka Progresif, 1996), h.43 28 Moh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, h.76

26

27

“Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah SAW bersabda: „Barangsiapa membunuh seseorang maka ia tidak dapat mewarisi orang itu, sekalipun ia tidak punya ahli waris selainnya.” (HR. Ahmad, Baihaqi) b. Berlainan Agama Berlainan agama adalah adanya perbedaan agama yang menjadi kepercayaan antara orang yang mewarisi dengan orang yang mewariskan.29

F. Furudhul Muqaddarah dan Ahli Waris Syariat Islam menetapkan jumlah furudul muqaddarah (bagian-bagian yang sudah ditentukan) ada 6 (enam) macam, yaitu : dua pertiga ( ⅔ ) sepertiga ( ⅓ ), seperenam ( 1/6 ), seperdua ( ½ ), seperempat ( ¼ ), seperdelapan ( 1/8 ). Di samping Furudhul Muqaddarah yang enam di atas, terdapat juga satu macam furudul muqaddarah hasil ijtihad para Jumhur Fuqaha, yaitu sepertiga sisa harta peninggalan. 30

29

Fatkhurrahman, Ilmu Waris, h.98

Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Al Husaini, Kifayatul Ahyar, (Bandung: Syirkatun Ma‟arif, 1983), h.32

30

28

1.

Ahli Waris Ashabul Furudh Yaitu ahli waris, waris yang mendapatkan bagian tertentu sesuai dengan yang ditentukan Al Qur‟an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. 31 Ahli waris Ashabul Furudh ada 12 (dua belas) orang, yaitu delapan orang perempuan dan empat orang laki-laki. Mereka itu adalah : Istri, anak perempuan, cucu perempuan, saudari kandung, saudari sebapak, saudari seibu, ibu, nenek,suami, bapak, kakek dan saudara seibu. Adapun hak-hak atau bagian ahli waris Ashabul Furudh, yaitu:32 a. Ahli waris yang mendapat bagian ⅔ (dua pertiga) ada 4 orang: 1) Dua anak perempuan atau lebih apabila si mayit tidak meninggalkan anak laki-laki. 2) Dua cucu perempuan pancar laki-laki atau lebih apabila si mayit tidak meninggalkan anak dan cucu laki-laki. 3) Dua saudari sekandung atau lebih dengan apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, bapak, kakek dan saudara laki-laki sekandung. 4) Dua saudari sebapak atau lebih apabila si mayit tidak meninggalkan anak perempuan sekandung, cucu

perempuan pancar laki-laki, saudari kandung, bapak, kakek dan saudara sebapak.
Dian Khairul Umam, Fiqh Mawaris, h.60 Muh. Muhibbin dan Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia, h.85-89
32 31

29

b.

Ahli waris yang mendapat bagian ⅓ (sepertiga) ada 2 (dua) orang, yaitu : 1) Ibu apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu dan saudara perempuan lebih dari seorang, sekandung atau sebapak atau seibu saja. 2) Dua saudari seibu apabila tidak ada anak, cucu, bapak dan kakek.

c.

Ahli waris yang mendapat bagian 1/6 (seperenam) ada 7 (tujuh) orang, yaitu : 1) bapak apabila si mayit meninggalkan anak dan cucu. 2) Ibu apabila si mayit meninggalkan anak, cucu dan saudara lebih dari seorang. 3) Kakek apabila si mayit meningalkan anak dan cucu. 4) Nenek apabila si mayit tidak meninggalkan ibu. 5) Saudara seibu, laki-laki maupun perempuan apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, bapak dan kakek 6) Cucu perempuan pancar laki-laki seorang atau lebih, apabila si mayit bersama-sama dengan seorang anak perempuan . 7) Seorang saudari sebapak atau lebih, apabila si mayit meninggalkan seorang saudara perempuan sekandung dan tidak meninggalkan anak laki-laki, cucu laki-laki, bapak, saudara laki-laki sekandung dan saudara laki-laki sebapak.

30

d.

Ahli waris yang mendapat ½ (setengah) ada 5 (lima) orang, yaitu: 1) Seorang anak perempuan apabila ia tidak bersama-sama dengan anak laki-laki. 2) Cucu perempuan pancar laki-laki apabila ia tidak bersamasama dengan anak atau cucu laki-laki. 3) Suami apabila si mayit tidak meninggalkan anak dan cucu. 4) Saudari kandung apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, saudara laki-laki sekandung, bapak dan kakek. 5) Saudari sebapak apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, bapak, kakek, saudara laki-laki sekandung, saudara perempuan sekandung dan saudara laki-laki sebapak.

e.

Ahli waris yang mendapat ¼ (seperempat) ada 2 (dua) orang, yaitu: 1) Suami apabila si mayit tidak meninggalkan anak dan cucu. 2) Istri apabila si mayit tidak meninggalkan anak dan cucu.

f.

Ahli waris yang mendapat bagian 1/8 (seperdelapan) ada 1 (satu) orang yaitu istri, seorang atau lebih apabila si mayit meninggalkan anak.

g.

Adapun bagian 1/3 (sepertiga) ada 2 (dua) orang, yaitu: 1) Ibu apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, saudara lebih dari seorang.

31

Saudara seibu lebih dari seorang apabila si mayit tidak meninggalkan anak, cucu, bapak dan kakek. 2. Ahli Waris Ashabah Ahli waris ashabah ialah ahli waris yang tidak

mempunyai yang tegas ditentukan dalam Al Qur‟an dan nash atau bagian sisa setelah diambil oleh ahli waris ashabul furudh.33 Adapun macam-macam ashabah ada tiga, yaitu: a. Ashabah bi nafsih Yaitu kerabat laki-laki yang bernisbah kepada mayit tanpa diselingi oleh orang perempuan. Ketentuan ini

mengandung dua pengertian, yaitu bahwa antara mereka dengan si mayit tidak ada perantara sama sekali, seperti anak laki-laki dan bapak atau terdapat perantara tetapi perantaranya bukan orang perempuan seperti cucu laki-laki dan anak lakilaki. 34 b. Ashabah bil ghair Yaitu ahli waris yang memiliki kedudukan sebagai ashabah karena ditarik oleh orang lain dan harus memiliki derajat yang sama. Mereka itu ialah:

33

Hasbiyallah, Belajar Ilmu Waris, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007) Hasbiyallah, Belajar Ilmu Waris, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007)

h.34
34

h.35

32

1) Anak perempuan sekandung bersama anak laki-laki sekandung. 2) Cucu perempuan bersama cucu laki-laki sekandung. 3) Saudara perempuan sekandung bersama dengan laki-laki sekandung. 4) Saudara perempuan seayah bersaudara laki-laki seayah. c. Ashabah ma‟al ghair Yaitu ahli waris bersama-sama yang lain, dia mempunyai kedudukan ashabah karena bersama orang lain. Mereka itu ialah: 1) Saudara perempuan sekandung baik satu atau lebih ketika bersama-sama anak atau cucu perempuan. 2) Saudara perempuan seayah (satu atau lebih) ketika bersama-sama anak atau cucu perempuan.

BAB III PRAKTIK PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN

A. Monografi dan Demografi Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal Kabupaten Tegal adalah sebuah Kebupaten yang terletak di Provinsi Jawa Tengah. Adapun letak geografis Kabupaten Tegal adalah : a. Sebelah Utara b. Sebelah Selatan c. Sebelah Timur d. Sebelah Barat 1. Kondisi Geografis Desa Jatibogor merupakan salah satu desa di Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal. Adapun desa ini mempunyai garis batas wilayah yaitu :  Sebelah utara : Desa Sidoharjo, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal  Sebelah timur : Desa Jatimulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal  Sebelah barat : Desa Tanjungharja, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal : Laut Jawa : Kabupaten Banyumas : Kabupaten Pemalang : Kabupaten Brebes

33

34

 Sebelah selatan

: Desa Karangmulya, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal

Luas wilayah desa Jatibogor adalah 535 Ha, yang terdiri dari dua bagian yaitu:1  Lahan Pertanian  Lahan Pemukiman = 507 Ha = 28 Ha

Iklim desa Jatibogor adalah tropis dan memiliki dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau sebagaimana daerah-daerah Indonesia pada umumnya, dengan suhu udara ± 26-30 derajat celcius. Sedangkan curah hujan berkisar antara 800 mm/ Ha sampai dengan 1500 mm/ Ha. 2. Kondisi Demografis Keberadaan penduduk masyarakat di desa jatibogor kecamatan suradadi kabupaten Tegal berdasarkan data sensus penduduk (BPS) tahun 2010 terdiri atas laki-laki dan perempuan, baik yang masih usia bayi, usia anak-anak, usia remaja, usia dewasa/ orang tua maupun orang lanjut usia. Warga masyarakat yang terdiri dari yang berstatus telah menikah atau yang belum menikah dan juga yang berstatus telah janda maupun duda keseluruhannya berjumlah kurang lebih 12.828 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat data berikut :

Data diperoleh dari Pemerintah desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal pada tanggal 9 Maret 2011

1

35

Tabel I Jumlah penduduk desa Jatibogor Kecamatan Suradadi2 No 1 2 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah 6.150 6.378 12.528

a. Keadaan perokonomian Sebagaimana pada daerah-daerah lain, penduduk desa Jatibogor mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian pokok dalam memenui kebituhan hidup sehari-hari. Mengingat desa Jatibogor sebagian besar wilayahnya merupakan lahan pertanian yang digunakan untuk bercocok tanam, maka tidak mustahil apabila sebagian besar pendapatan ekonomi pendududk berasal dari hasil pertanian, seperti padi, jagung, tebu, dan sebagainya. Selain bertani, ada pula yang mempunyai pekerjaan lain sebagai mata pencaharian pokoknya, yaitu PNS, pedagang, sopir, dan wiraswasta. Di samping itu, ada pula yang bermata pencaharian dari sektor buruh industri, buruh bangunan, jasa dan lainlain. Untuk lebih jelasnya mata pencaharian masyarakat dapat dilihat pada tabel berikut :

2

Data monografi desa Jatibogor Suradadi, tanggal 9 Maret 2011

36

Tabel II No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mata Pencaharian Buruh Tani Petani Nelayan Pedagang Tukang Kayu Tukang Batu Penjahit PNS Pensiunan Jumlah 2.963 2.237 36 293 83 97 16 46 12 4 13 5 25 566 55 6.451

10. TNI/ Polri 11. Perangkat Desa 12. Pengarajin 13. Industri kecil 14. Buruh Industri 15. Sopir Jumlah

b. Keadaan pendidikan Untuk keadan tingkat pendidikan masyarakat desa Jatibogor Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal dapat dilihat pada table berikut: Tabel III No. 1. 2. 3. 4. SD SMP SMA Diploma / Sarjana Pendidikan Prosentase 57 % 24% 16% 3%

37

Tingkat pendidikann masyarakat Jatibogor dapat dikatakan masih rendah yang hanya 3% untuk tingkat Diploma dan Sarjana. Tingkat tertinggi pada Sekolah Dasar yang mencapai 57%, 24% untuk tingkat SMP, sedangkan untuk tingkat SMA hanya 16%. Akan tetapi masyarakat desa Jatibogor sangat memperhatikan masalah pendidikan agama. Hal ini terbukti dengan terbentuknya yayasan pendidikan agama mulai dari TPQ, Madrasah Diniyyah awwaliyah (MDW), Madrasah diniyyah wustha (MDW) yang sampai saat ini telah menampung banyak peaerta didik, baik dari dalam masyarakat desa Jatibogor maupun dari luar desa Jatibogor. Selain melalui pendidikan formal, anak-anak juga dapat memperoleh ilmu agama melalui pengajian yang diadakan oleh para ustadz di pondok pesantren dan majlis ta’lim. Selain pendidikan untuk anak, para orang tua juga dapat memperoleh ilmu agama yaitu melalui pebgajian rutinan yang diadakan pada hari tertentu dalam setiap minggunya.

c. Sarana dan prasarana Desa Jatibogor Adapun sarana dan prasarana yang dimiliki desa Jatibogor kecamatan Suradadi sebagai sarana umum yang dapat oleh anggota masyarakat setempat dapat dilihat pada tabel berikut :

38

Tabel IV No. 1. Uraian Sarana Pendidikan a. TK b. SD/ MI c. SLTP/ MTs d. Ponpes/ Madrasah 2. Tempat Ibadah a. Masjid b. Musholla 3. Sarana Kesehatan Puskesmas 4. Sarana Olah raga a. Lapangan Sepak Bola b. Lapangan Bulu tangkis c. Lapangan Voli 5. Sarana Perekonomian Pasar 1 unit 1 unit 5 unit 1 unit 1 unit 5 unit 49 unit 3 unit 6 unit 1 unit 4 unit Jumlah

B. Praktik Pembagian Harta Warisan di Desa Guna memperoleh data dalam penelitian ini penulis mengadakan

wawancara kepada pejabat desa yang menangani masalah pembagian warisan dan warga yang pernah melaksanakan pembagian harta warisan. Dapat diuraikan bahwa di desa Jatibogor ada beberapa macam sistem dalam

39

pembagian harta warisan, yaitu sistem “hukum pemerintah”, sistem kewarisan Islam (faraidh) dan sistem musyawarah keluarga. 3 1. Sistem “Hukum Pemerintah” Sistem “hukum pemerintah” yaitu sistem hukum yang digunaka oleh pemerintah berdasarkan ketetapan dari pemrintah menenai suatu hukum. 4Pembagian harta warisan dalam sistem “hukum pemerintah” tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang dibedakan adalah asal harta warisan yang akan dibagikan kepada ahli waris. Jika harta warisan adalah harta warisan adalah harta gunakarya (harta gonogini), maka istri atau suami berhak mendapat setengah bagian dari harta pewaris, sedangkan jika harta warisan adalah harta pusaka (harta gono) yang diperoleh dari orang tua istri atau suami saja, maka istri atau suami berhak mendapat bagian yang sama dengan bagian yang diperoleh anak-anak pewaris. Contoh 1 : Keterangan : A = Pewaris B = Istri Pewaris C, D, E dan F = Anakanak pewaris

Gambar 1

3 4

Joko Lelono, Kasi Pemerintah Desa Jatibogor, Wawancara tanggal 7 Maret 2011 Joko Lelono, Kasi Pemerintah Desa Jatibogor, Wawancara tanggal 7 Maret 2011

40

Harta warisan adalah harta gunakarya (harta gono gini), maka B mendapat ½ dari harta warisan, sedangkan C, D, E dan F masing-masing mendapat ⅛ dari harta warisan. Adapun untuk cucu pewaris yang orang tuanya meninggal lebih dahulu daripada pewaris adalah sama dengan bagian yang diterima oleh saudara-saudara orang tuanya dibagi sejumlah anak. Contoh 2 : Keterangan : A = Pewaris B = Istri Pewaris C, D dan E = Anak-anak pewaris F dan G = Cucu pewaris

Gambar 2 Maka bagian yang diperoleh B, C, dan D masing-masing adalah ¼ dari harta warisan. E yang meninggal lebih dahulu dari pada A maka bagiannya dibagikan untuk anak-anaknya yaitu F dan G masing-masing mendapat ⅛ dari harta warisan. Adapun prosedur pelaksanaan pembagian harta warisan dengan menggunakan system hokum pemerintah sebagai berikut :

41

1) Keluarga atau semua ahli waris melakukan musyawarah yang menghasilkan keputusan bahwa pembagian harta warisan sepakat dilakukan dengan menggunakan hukum pemerintah. 2) Salah satu ahli waris melapor ke pejabat kelurahan yang menangani pembagian harta warisan bahwa harta warisan akan dibagi dengan menggunakan hukum pemerintah. 3) Pembagian harta warisan dilaksanakan oleh pejabat kelurahan yang disaksikan oleh segenap ahli waris dan dua orang tokoh masyarakat pada hari yang telah ditentukan. 4) Penandatanganan semua ahli waris tentang hasil pembagian harta warisan sebagai bukti pemindahan hak milik dari pewaris kepada ahli waris yang berhak sesuai hasil pembagiannya.

2. System Kewarisan Islam (Faraidh) Pembagian harta warisan dalam sistem kewarisan Islam (faraidh). Ada perbedaan bagian yang diperoleh laki-laki dan perempuan dengan perbandingan 2:1 atau biasanya orang jawa menyebut dengan istilah sepikul segendong, biasanya dilaksanakan oleh orang yang berpegang teguh pada ajaran agama Islam seperti ulama, kyai dan ustadz. Baik pembagian harta warisan dengan menggunakan sistem “hukum pemerintah” maupun sistem kewarisan Islam, sama-sama harus melalui proses administrasi di kelurahan. Adapun prosedur pembagian harta

42

warisan dengan menggunakan sistem kewarisan Islam (faraidh) sebagai berikut : 1) Semua ahli waris melakukan musyawarh yang menghasilkan kesepakatan bahwa pembagian harta warisan akan dilaksanakan dengan manggunakan sistem kewarisan Islam (faraidh). 2) Ahli waris menunjuk seorang ulama yang dipercaya mampu untuk melaksanakan pembagian harta warisan denga ilmu faraidh. 3) Pelaksanakan pembagian dihadiri oleh saksi tokoh masyarakat dan prjabat desa pada hari yang telah ditentukan. 4) Penandatanganan semua ahli waris tentang hasil pembagian harta warisan sebagai bukti pemindahan hak milik dari pewaris kepada ahli waris yang berhak sesuai hasil pembagiannya.

3. Sistem Musyawarah Keluarga Sistem ini biasanya dilaksanakan oleh masyarakat yang

menghendaki pembagian harta warisan dengan musyawarah keluarga, dengan pembagian sesuai dengan kesepakatan hasil musyawarah tersebut. Adapun alasan yang biasanya dikemukakan adalah untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan sesama ahli waris. Menurut Joko Lelono,5 kebanyakan masyarakat yang melaksanakan pembagian harta warisan secara musyawarah keluarga tidak melaporkan hasil pembagiannya ke pejabat desa yang terkait, sekalipun dalam

5

Joko Lelono, Kasi Pemerintah Desa Jatibogor, Wawancara tanggal 7 Maret 2011

43

pembagiannya biasanya ada saksi dari ulama setempat atau orang lain yang dipercaya untuk melaksanakan pembagian harta warisan (biasanya ahli hitung). Karena pembagian harta warisan yang berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah tidak tercatat pada data kelurahan, maka penulis melakukan wawancara langsung kepada ahli waris yang pernah melaksanakan pembagian harta warisannya berdasarkan kesepakatan, diantaranya : a. Mudzakir meninggal tahun 1994. Ia meninggalkan warisan kepada ahli waris yang terdiri atas seorang istri, 5 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Harta itu terdiri atas tanah sawah seluas 2 ¼ bau atau 15.750 m2 (1 bau = 7.000m2) dan tanah pekarangan seluas 96 ru atau + 1.344 m2 (1 ru = 14 m2). Harta warisan dibagi oleh ahli waris melalui musyawarah berdasarkan hak pemilikan individu terhadap harta warisan mereka. 6 Keterangan : A = Pewaris B = Istri Pewaris C, F, G, H, J = Anak laki-laki pewaris D, E, I = Anak perempuan pewaris Gambar 3 Pembagian harta warisannya, sesuai kesepakatan hasil musyawarah adalah sebagai berikut:
6

Hj. Fatonah, wawancara, 23 Februari 2011.

44

 

B mendapat ¼ bau tanah atau 1.750 m2. C, F, G, H, J, D, E, dan I masing-masing mendapatkan ¼ bau tanah sawah dan 12 ru tanah pekarangan (tanah perumahan).

Musyawarah pembagian harta watisan yang dilakukan oleh ahli waris Mudzakir tersebut, dapat terlaksana karena adanya kerukunan diantara para ahli waris dan adanya ahli waris yang dituakan. b. Ratib meninggal tahun 1975. Ia meninggalkan harta warisan kepada ahli warisnya yang terdiri atas seorang istri dan 2 orang anak lakilaki. Sebenarnya ada seorang anak laki-laki yang menjadi ahli waris tetapi lebih dahulu meninggal dari pada pewaris yaitu tahun 1960. Harta itu terdiri atas 13/8 bau atau 11.375 m2 tanah sawah dan 1.624 m2 tanah perumahan. Harta terebut dibagi pada tahun 1997.7 Keterangan : A = Pewaris B = Istri Pewaris D dan E = Anak-anak pewaris F, G, H = Cucu-cucu pewaris

Gambar 4 Harta warisan dibagi oleh ahli waris melalui musyawarah berdasarkan status hak pemilikan individu terhadap harta warisan

7

Zaeni Maward, salah satu ahli waris Ratib, wawancara, 9 Maret 2011

45

mereka. Adapun bagian yang diterima masing-masing ahli waris tersebut adalah:  D dan E masing-masing mendapat 5/8 bau atau 4.375 m2 tanah sawah dan 812 m2 tanah perumahan.  C mendapat 3/8 bau atau 2.625 m2 tanah sawah. Ini bukan dihitung sebagai hak warisnya tetapi sebagai hibah yang diberikan oleh ahli waris yang masih hidup untuk anak-anak C yaitu F, G dan H.  B tidak mendapat warisan, tetapi seluruh biaya kehidupan ditanggung oleh D dan E yang menjadi penanggung jawab bila mereka telah dipilih B untuk tinggal serumah dengannya. Musyawarah pembagian harta warisan yang dilakukan oleh ahli waris ratib tersebut, dapat terlaksana karena adanya kerukunan di antara para ahli waris dan karena anak ahli waris semuanya laki-laki. c. Sarijah meninggal tahun 1976. Ia meninggalkan harta warisan kepada ahli waris yang terdiri dari atas seorang suami, 4 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Harta itu terdiri atas tanah sawah seluas 1.500 m2 dan tanah perumahan seluas 36 ru atau 504 m2. Harta warisan dibagi melalui musyawarah berdasarkan status hak pemilikan individu terhadap harta warisan mereka pada tahun 1998.8

8

Ust. Takhrudin, salah satu ahli waris Darijah, wawancara pada tanggal 9 Maret 2011

46

Keterangan : A = Suami Pewaris B = Pewaris C, D, E, F dan G = Anakanak pewaris

Gambar 5 Pembagian harta warisan tersebut terdiri atas:  A (Suami pewaris) mendapat ½ bagian dari tanah sawah atau 150 m2.  C, D, E, F, dan G masing-masing mendapat 1/10 tanah sawah dari sisa A, yaitu 1/10 x 750 = 75 m2. Dan tanah perumahan masing-masing mendapat 1/5 bagian atau 7,2 ru (1 ru = 14 cm2 ) = 100,8 m2. Musyawarah pembagian harta warisan yang dilakukan oleh ahli waris Sarijah tersebut dapat terlaksana karena ada salah satu ahli waris yang mengusulkan supaya harta warisan yang menjadi bagian anak-anak pewaris dibagi rata dan usul ini disepakati oleh semua ahli waris. d. Wisma meninggal tahun 1975. Ia meninggalkan harta warisan kepada ahli waris yang terdiri dari atas seorang istri, 5 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Harta itu terdiri atas 20/8 bau atau 17.500 m2 tanah sawah dan 86 ru atau 1.204 m2 tanah perumahan. Harta warisan dibagi oleh ahli waris melalui

47

musyawarah berdasarkan status hak pemilikan individu terhadap harta warisan mereka pada tahun 1996.9 Keterangan : A = Suami Pewaris B = Pewaris C, D, E, F = Anak-anak pewaris

Gambar 6 Keterangan : A = Pewaris B = Istri kedua Pewaris H dan I = Anak-anak pewaris

Gambar 7 Harta warisan pernikahan pertama antara A dan B tidak dibagi kepada anak-anak pewaris. Harta warisan dibagi setelah A menikah dengan B dan kemudian A meniggal dunia. Adapun pembagian harta warisannya adalah:  Bagian C, D dan E adalah masing-masing mendapat tanah perumahan seluas 15 ru atau 210 m2 dan F mendapat 17 ru atau 231 m2.

9

Tasmui, salah satu ahli waris Wisma, wawancara tanggal 9 Maret 2011

48

H dan I masing-masing mendapat bagian tanah perumahan seluas 12 ru atau 168 m2.

Tanah sawah dibagi untuk G adalah ¼ bau dan sisanya 18/6 bau dibagi rata ke semua anak-anak ahli waris.

Adanya bagian yang berbeda untuk masing-masing ahli waris karena membedakan antara anak dari istri pertama dan anak dari istri kedua.

C. Pandangan Ahli Waris Terhadap Praktik Pembagian Harta Warisan berdasarkan Kesepakatan Dari data yang diperoleh penulis mencatat bahwa masyarakat yang melaksanakan pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah secara umum mengetahui tentang sistem kewarisan Islam bahwa antara laki-laki dan perempuan pembagiannya tidak sama yaitu laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan, biasanya mereka menyebut dengan istilah sepikul segendong. Adapun pandangan dan alasan tentang pembagian harta warisan yang mereka laksanakan adalah : 1. Pembagian Harta Warisan yang Dilaksanakan dengan Kesepakatan tidak Melanggar Hukum Menurut Mawardi10 pembagian harta warisan yang dilaksanakannya tidak melanggar “hukum Islam” maupun “hukum pemerintah” karena tidak ada ahli waris perempuan dalam keluarganya dan sudah kesepakatan dengan semua ahli waris. Untuk menjaga persaudaraan dan kerukunan

10

Zaeni Mawardi, Wawancara tanggal 9 Maret 2011

49

antar ahli waris, anak yang meninggal lebih dahulu dari pewaris diberi hibah dari ahli waris yang masih hidup untuk cucu-cucu pewaris yang orang tuanya meninggal lebih dahulu dari pewaris. Adapun untuk bagian istri pewaris tidak perlu dihitung. Karena ibunya hanya seorang diri dan tidak ada tanggungan sehingga biaya kehidupan berdasarkan kesepakatan ditanggung oleh anak yang dipilih ibunya untuk tinggal bersamanya, kecuali setelah ibunya meninggal dunia biaya ditanggung oleh kedua anak pewaris. 2. Menjaga Kerukunan dan Persaudaraan setelah Pewaris Meninggal Dunia Hal ini diungkapkan oleh Solikhin. 11 Menurutnya, setelah pewaris meninggal dunia biasanya harta warisan menjadi rebutan sehingga terkadang malah menjadi sebab putusnya persaudaraan. “Sebagai anak tertua dari pewaris, saya merasa berkewajiban untuk membina dan menjaga kerukunan dengan adik-adik saya, sehingga saya melaksanakan pembagian harta warisan ayah saya secara musyawarah yang

menghasilkan kesepakatan semua ahli waris”, kata Solikhin. 3. Sistem Pembagian Harta Warisan dalam Islam Kurang Membawa Maslahat Pembagian harta warisan yang diatur dalam Islam sudah adil tetapi dirasa kurang membawa maslahat. Solikhin berpendapat bahwa kewarisan Islam jika diterapkan di Indonesia kurang pas meskipun masyarakat

11

Solikhin, Anak Tertua dari Pewaris Mudzakir, Wawancara 11 Maret 2011

50

Indonesia mayoritas muslim, hal ini dikarenakan negara Indonesia berbeda dengan negara Islam lainnya. Misalnya Arab Saudi, perempuan di sana bekerja hanya di dalam rumah, sedangkan perempuan di Indonesia selain bekerja di dalam rumah juga ada yang bekerja di luar rumah, sehingga jika perempuan mendapat bagian setengah dari bagian laki-laki dirasa kurang adil, dan tidak jarang sering menimbulkan masalah. Begitu pula tentang bagian ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada pewaris, dalam kewarisan Islam ahli waris tersebut tidak berhak mendapatkan harta warisan dari pewaris sehingga biasanya menimbulkan perpecahan persaudaraan. 4. Sistem Pembagian berdasarkan Kesepakatan Musyawarah Keluarga lebih Memberi Maslahat Menurut Ust. Takhrudin12, pembagian harta warisan yang didasarkan kesepakatan hasil musyawarah lebih memberi maslahat karena setiap ahli waris bisa berpendapat tentang pembagian yang akan dilaksanakan sehingga pelaksanaan tidak bertentangan satu sama lain. Selain itu juga, sebagai manusia kita mempunyai dua tugas yaitu menjaga hubungan baik dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannash). Jika ada hukum Allah yang dilakukan tetapi bertentangan hablum minannash maka yang lebih utamakan adalah menjaga hubungan baik sesama manusia.

12

Ust. Takhrudin, Wawancara, 9 Maret 2011

51

5. Pembagian Harta Warisan secara Islam tidak Adil Dalam kewarisan Islam, bagian laki-laki dan perempuan tidak sama yaitu laki-laki mendapat dua kali bagian perempuan biasanya dikenal dengan istilah sepikul segendong. Menurut Tikhanah 13, pembagian semacam ini tidak adil karena perempuan juga mempunyai hak yang sama dengan laki-laki sebagaimana yang diatur negara. Perempuan juga punya tugas yang lebih banyak dari laki-laki sehingga perempuan seharusnya bisa mendapatkan bagian lebih banyak daripada laki-laki. Tikhanah adalah satu-satunya anak perempuan pewaris tetapi dia mendapatkan bagian yang terbanyak dibanding ahli waris lain. Hal ini terjadi karena adanya perasaan tidak adil jika perempuan mendapat bagian yang lebih sedikit dibandingkan oleh ahli waris lain dan adanya kerelaan ahli waris lain untuk memberikan sebagian harta warisannya kepada ahli waris demi untuk menjaga kerukunan dan persaudaraan.

13

Tikhanah, Salah Satu Ahli Waris Wisma, Wawancara, 11 Maret 2011

BAB IV ANALISIS TERHADAP PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN

A. PEMBAGIAN HARTA WARISAN BERDASARKAN KESEPAKATAN DALAM PERSPEKTIF TEKSTUAL Al Qur‟an sebagai sumber hukum utama umat Islam, berisi tentang perintah dan larangan yang tujuannya tidak lain adalah untuk kemaslahatan manusia. Di antara hukum yang paling rinci dijelaskan dalam Al Qur‟an adalah hukum kewarisan. Ketentuan waris ini jelas sekali termaktub dalam syariat Allah SWT. Berbagai hal yang masih memerlukan penjelasan, baik yang bersifat menegaskan ataupun yang bersifat merinci, disampaikan Rasulullah SAW melalui haditsnya. Hukum Islam merupakan hukum Allah yang menuntut kepatuhan dari umat Islam untuk melaksanakannya menurut kelanjutan dari keimanannya terhadap Allah, termasuk juga melaksanakan ketentuan hukum waris. Dalam surat An Nisa ayat 13 dan 14 Allah SWT berfirman :

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah kemenangan yang besar. Dan

52

53

Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS. An Nisa: 13-14)1 Setelah menjelaskan rincian bagian-bagian untuk masing-masing ahli waris; kedua ayat di atas memberi dorongan peringatan serta janji dan ancaman dengan menegaskan bahwa bagian yang ditetapkan di atas ( َ ‫ِل‬ ‫ت ْك‬ ‫ ) ُ ُوْ ُاهلل‬itu adalah batas-batas Allah, yakni ketentuan-ketentuan Nya yang ‫حد د‬ tidak boleh dilanggar. Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul Nya dengan mengindahkan batas-batas itu dan ketentuan Nya yang lain, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungaisungai, sedang mereka kekal di dalamnya, itulah keberuntungan yang besar. Bukan keberuntungan semu atau sementara seperti yang diduga oleh sementara orang ketika mampu memperoleh kemegahan duniawi. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul Nya di atas, atau dan yang lain, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka. Sedang ia kekal di dalamnya, dan yang mendurhakai Allah tapi tidak mempersekutukan Nya, maka baginya siksa yang menghinakan, setimpal dengan sikap mereka melecehkan ketentan Allah dan meremehkan orang-orang yang mereka halangi hak-haknya.2 Sementara Imam al Qurthubi menafsirkan ‫ ِل َ ُ ُوْ ُاهلل‬adalah hukum‫ت ْك حد د‬ hukum yang telah Allah jelaskan kepada kalian agar kalian mengetahui serta mengamalkannya ‫ ومن يطع اهلل ورسىله‬dan “barang siapa taat kepada Allah dan Rasul Nya” dalam hal pembagian harta warisan, sehingga ditetapkan dengan

Departemen Agama RI, Al Qur‟an dan Terjemahnya, Semarang: Toha Putra, h.118 M. Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah: Pesan, kesan dan keserasian Al Qur‟an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002). Vol.II, h.367-368
2

1

54 hukum tersebut dan beramal dengannya seperti perintah Allah SWT ‫ومن يطع‬ ‫ اهلل‬yang dimaksud adalah pembagian warisan yang tidak ditunaikan dan diamalkan. ‫ يدخله نارا خالدين فيها‬yaitu maksiat yang dimaksudkan kufur, sehingga menjadikannya kekal di dalam api neraka, tetapi jika yang dimaksud adalah dosa besar dan menyelisihi perintah-perintah Allah SWT, maka kekalnya sementara.3 Tidak jauh berbeda dengan kedua penafsiran di atas, Hamka dalam tafsirnya menyebutkan: Yang demikian itu batas-batas Allah” yaitu peraturan-peraturan yang telah Allah tentukan, sehingga tidak timbul lagi fitnah dan hasad dengki dalam keluarga dan tidak ada lagi aniaya yang lebih tua kepada yang masih kecil. “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.” Disebutkan taat kepada Allah diikuti dengan taat kepad Rasul. Sebab aturan faraidh dalam hal perinciannya bila terjadi misalnya „ashabahah, „aul atau penjelasan kalalah, Rasulullah memberi tafsirnya dengan Sunnah.4 Dengan berpatokan pada surat An-Nisa ayat 13 dan 14, tampaknya para mufssir tidak ada perbedaan tentang hukum pembagian harta warisan, yakni pembagian harta warisan harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuanketentuan Allah yang tersebut dalam Al-Qur‟an, bahkn diakhir ayat14 surat An-nisa allah mengancam orang-orang yang tidak mentaati ketentuan
pembagian harta warisan dan memasukkannya ke dalam neraka selama-lamanya.

Namun, masyarakat ada yang melaksanakan pembagian harta warisan yang tidak sesuai dengan ketentuan Al-Qur‟an, yakni berdasarkan
3

Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2008), Jilid 5 Hamka, Tafsir Al Azhar Juz IV, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1983) h.369

h.197-198
4

55 kesepakatan hasil musyawarah. Misalnya Zaeni Mawardi5, dia melaksanakan pembagian hata warisan yang ditinggalkan bapaknya secara kekeluargaan atau kesepakatan berdasakan hasil musyawarah. Dia berpendapat bahwa praktik yang dilaksanakannya tidak melangga “hukum Islam” maupun “hukum pemerintah”. Adapun ahli aris dalam praktik pembagia harta warisan tersebut adalah : seorang istri, 2 anak laki-laki dan 3 cucu laki-laki (dari anak lai-laki pewaris tetapi lebih dahulu meninggal daripada pewaris). Sesuai hasil kesepakatan, harta warisan dibagi kepada 2 anak laki-laki, 3 cucu laki-laki mendapatkan hibah dari sebagian harta warisan, sedangkan bagian untuk istri tidak ditentukan. Dalam kewarian Islam (faraidh), bagian untukanak laki-laki tidak ditentukan, sedangkan ketiga cucu tidak berhak mendapat harta warisan karena termahjub anak laki-laki. Akan tetapi menurut kitab Undang-undang Hukum Wasiat Mesir yang meng-istinbat-kan dari ijtihad para ulama muqaddimin, mereka diberi warisan berdasarkan wasiat wajibah. Besarnya wasiat wajibah ialah sebesar yang diterima oleh orang tuanya, sekiranya orang tuanya masih hidup dengan ketentuan tidak melebihi 1/3 harta peninggalan. Bagian untuk istri pewaris, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-nisa ayat 12 yang artinya : “Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mepunyai anak. Jika kamu mempunyai anak maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan.”6 Berdasarkan ayat tersebut, maka bagian yang seharusnya diterima oleh istri adalah seperdelapan dari harta pewaris karena pewaris
5 6

Zaeni Mawardi, Wawancara, tanggal 9 maret 2011 Depag RI, Al-Qur‟an dan Terjemahnya, (semarang : CV Toha Putra, 1993), h.62

56

meninggalkan anak. Namun, dalam pelaksaannya bagian istri tidak ditentukan. Hal ini terlaksana karena adanya kesepakatan semua ahli waris dan adanya kerelaan dari pihak terkait. Dalam ajaran Islam, praktik pembagian harta warisan semacam ini boleh, dengan syarat keharusan adanya kecakapan bertindak secara hukum yang didasarkan atas kerelaan penuh dari pihak-pihak yang terlibat dalam pembagian warisan. 7 Pembagian harta

warisan berdasarkan kesepakata diakui pula oleh pasal183 yang berbunyi : Para ahli waris dapat bersepakat melakukan perdamaian dalam membagi harta warisan, setelah masing-masing menyadari bagiannya. Merujuk pada surat An-Nisa ayat 14, bahwasanya kewarisan merupakan hak bukan kewajiban. Tidak ada teks yang menyebutkan kewajiban mewarisi, tetapi yang ada adalah hak mewarisi. Dan hak mewarisi merupakan hak hamba atau perorangan. Maksudnya, hak-hak tersebut apabila dilanggar akan merugikan diri orang yang bersangkutan, sehingga apabilahak tersebut dilanggar maka sepenuhnya terserah kepada pemilik yang dilanggar, apakah ia akan menuntut atau memaafkan. Hal ini dipertegas oleh pendapat Muhammad Abu Zahrah, beliau menegaskan bahwa hak seseorang untuk mewarisi harta peninggalan ahli warisnya yang meninggal dunia termasuk ke dalam hak hamba secara murni. Beliau menyejajarkan hak untuk mewarisi dengan untuk menagih atau piutang dan masalah-masalah lain yang berhubungan dengan pemilikan harta.8 (melanggar ketentuan-ketentuan-Nya) dalam konteks kasus ini, maka tidak dapat dikatakan melanggar hak orang lain, karena pembagian harta

Satria effendi M zein, Problematika Hukum keluarga Islam Kontemporer, (Jakarta : Prenada Media, 2004), h.343 8 Satria Effendi M zein, Problematika hukum Keluarga islam Kontemporer. H.342

7

57

warisan dilaksanakan dengann dasar kesepakatan hasil musyawarah semua ahli waris dan adanya pengetahuan ahli waris tentang bagian yang menjadi bagiannya serta adanya kerelaan dari ahli waris yang berkaitan untuk memberikan sebagian harta warisan yang menjadi haknya kepada ahli waris lain.

B. PEMBAGIAN

HARTA

WARISAN

DALAM

PESEPEKTIF

KEMASALAHATAN ATAU KEADILAN Tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia baik rohani maupun jasmani, individual dna sosial. Kemaslahatan itu tidak hanya untuk kehidupan di dunia saja, tetapi juga untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. Abu Ishaq al Shatibi9 merumuskan lima tujuan hukum Islam, yaitu memelihara (1) agama, (2) jiwa, (3) akal, (4) keturunan, (5) harta yang biasa disebut dengan Al Maqashid Al Khamsh atau Al Maqashid Al Syariah. Menurut ajaran Islam, harta adalah pemberian Tuhan kepada manusia, agar manusia dapat mempertahankan hidup dan melangsungkan hidupnya. Oleh karena itu, hukum Islam melindungi hak manusia untuk memperoleh harta dengan cara-cara yang halal dan sah serta melindungi kepentingan harta seseorang, masyarakat, negara, misalnya dari penipuan (QS. An Nisa: 29), penggelapan (QS. An Nisa: 38), perampasan (QS. Al Maidah: 33), pencurian (QS. Al Maidah: 38), dan kejahatan lain terhadap orang lain. Peralihan harta seseorang setelah ia meninggal dunia pun diatur dengan baik dan adil

9

Mustofa dan Abdul Wahid, Hukum Islam dan Kontemporer, (Jakarta: Sinar Grafika,

2009), h.6

58

berdasarkan fungsi dan tanggung jawab seseorang dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat (QS. An Nisa: 7, 11, 12, 176, dan lain-lain).10 Hukum tentang waris, pembagiannya telah diatur secara rinci dalam Al Qur‟an, namun dalam praktiknya di masyarakat terkadang tidak sesuai denagn ketentuan yang telah diatur dalam Al Qur‟an sebagaimana yang terjadi di sebagian masyarakat harta Jatibogor warisan yang dengan beragama muslim hasil

melaksanakan

pembagian

kesepakatan

musyawarah diantara semua ahli waris. Salah satu alasan yang mereka kemukakan adalah karena pembagian harta warisan dalam Al Qur‟an dinilai tidak adil karena membedakan bagian antara laki-laki dan perempuan, sebagaiman yang diungkapkan oleh Tikhanah. 11 Padahal, jika diperhatikan, disadari dan diimani prinsip yang diterapkan Allah untuk menegakkan keadilan dalam pembagian harta warisan berdasakan atas prinsip keadilan („adl) dan kesetaraan/ persamaan (musawah). 12 Sayyid Quthb dalam tafsirnya mengungkapkan bahwa sistem kewarisan ini merupakan sistem yang adil dan sejalan dengan fitrah juga relevan dengan realias kehidupan keluarga dan kemanusiaan dalam semua keadaan. Hal ini tampak jelas ketika dibandingkan dengan sistem manapun yang dikenal manusia pada zaman jahiliyyah kuno maupun jahiliyyah modern, di tempat manapun di muka bumi ini. 13 Menurut pendapat M. Quraisy Shihab, bahwa kalau merujuk kepada teks keagamaan, baik di dalam Al Qur‟an maupun Sunnah ditemukan fungsi

Mustofa dan Abdul Wahid, Hukum Islam dan Kontemporer, h.8-9 Tikhanah, Wawancara, tanggal 11 maret 2011 12 Muhammad Shahrur, Metodologi Fiqh Islam Kontemporer. Terj. Sahiroh Syamsuddin dan Burhanudin, (Yogyakarta: Elsaq Press, 2004) h.33 13 Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur‟an Di Bawah naungan Al-Qur‟an, ( Jakarta : Gema Insani Press, 1992), Terj. As‟ad Yasin, dkk, Jilid II, h.295
11

10

59

dan tugas yang dibebankan kepada mereka. Pria dibebankan oleh agama membayar mahar, membelanjai istri dan anak-anaknya. Sedangkan wanita tidak demikian. Maka bagaimana mungkin Al Qur‟an dan Sunnah akan mempersamakan bagian mereka?14 Thabathana‟i menambahkan dalam analisanya bahwa pemberian untuk laki-laki dua kali lipat untuk perempuan, bukan saja di samping mereka mempunyai kewajiban memberi nafkah kepada istri dan keluarganya, tetapi juga karena laki-laki memiliki keistimewaan dalam bidang pengendalian emosi yang lebih tinggi dari wanita. Ini menunjukkan bahwa pengendalian harta atas dasar pertimbangan akal harus didahulukan daripada pengendaliannya atas dasar emosi15. Menurut Ali Ash Shabuni bahwa terdapat hikmah mengapa dalam syariat Islam bagian laki-laki dua kali lipat bagian perempuan, yaitu sebagai berikut16 : 1. Perempuan itu dicukupi kebutuhannya maka ia wajib diberi nafkah oleh putranya atau ayahnya atau saudara laki-lakinya. 2. Perempuan tidak dibebani untuk menafkahi seseorang, sebaliknya lakilaki diwajibkan menafkahi keluarga dan para kerabatnya. 3. Nafkah yang dikeluarkan laki-laki lebih banyak dan kewajibankewajibannya lebih besar, maka kebutuhan kepada harta lebih banyak dari pada perempuan.

14 15 16

M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah: Pesan, kesan dan keserasian Al Qur‟an.h.369 M. Quraish Shihab, Tafsir al Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur‟an.h.370 Hasbiyallah, Belajar Mudah Ilmu Waris, ( Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2007

),h.10

60

4.

Laki-laki

memberi

mahar

kepada

perempuan

dan

diwajibkan

mengeluarkan biaya, tempat tinggal, makanan dan pakaian bagi istri dan anak-anaknya. 5. Biaya sekolah dan pengobatan bagi istri dan anak-anaknya dibayarkan oleh laki-laki bukan perempuan. Dalam kitab tafsir al Muntakhab yang disusun oleh sekelompok ulama terkemuka dan pakar Mesir, berpendapat sebagai berikut17 : Sistem pembagian harta warisan yang dijelaskan Al Qur‟an ini, merupakan aturan yang paling adil dalam semua perundangan yang dikenal selama ini. Secara garis besar keadilan sistem tersebut terangkum dalam halhal berikut : Pertama, hukum waris ditetapkan oleh syariat bukan oleh pemilik harta, tetapi itu tanpa mengabaikan keinginan pemilik, karena ia masih berhak menentukan sepertiga dari harta yang ditinggalkannya itu sebagai wasiat kepada siapa yang dinilainya membutuhkan atau wajar diberi selain dari yang berhak menerima bagian warisan. Tetapi wasiat itu tidak boleh dilaksanakan bila bermotifkan maksiat atau mendorong berlanjutnya kemaksiatan. Kedua, harta warisan ditetapkan Allah pembagiannya itu, diberikan kepada kerabat terdekat, tanpa membedakan antara yang kecil dan yang besar. Anak-anak mendapat bagian yang lebih banyak dari lainnya karena mereka merupakan pelanjut dari orang tuanya yang meninggal yang pada galibnya masih lemah. Meskipun demikian, selain mereka masih ada yang

17

M Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah : Pesan, Kesan dan keserasian Al Qur‟an, h. 370-

371

61

berhak menerima seperti ibu, nenek, bapak, kakek walau dalam jumlah yang lebih kecil. Ketiga, dalam pembagian diperhatikan juga sisi kebutuhan. Atas dasar ini, bagian anak menjadi lebih besar. Sebab kebutuhan mereka lebih banyak dan mereka diduga masih menghadapi masa hidup yang lebih panjang. Pertimbangan kebutuhan ini pula yang menjadikan bagian perempuan separuh dari bagian laki-laki sebab kebutuhan lelaki terhadap harta lebih besar, seperti tuntutan memberi nafkah kepada anak dan istri. Hal ini sesuai dengan fitrah manusia dimana wanita bertangung jawab mengatur rumah dan mengasuh anak, sedangkan lelaki bekerja mencari nafkah di luar rumah dan menyediakan anggaran kebutuhan rumah tangga. Demikian keadilan diukur dengan kebutuhan, karena bukanlah keadilan apabila keduanya diperlakukan sama sementara kebutuhan dan kewajiban masing-masing berbeda. Keempat, ketentuan pembagian warisan ini, adalah distribusi, bukan monopoli. Sehingga harta warisan tidak hanya dibagikan kepada anak sulung saja, atau laki-laki saja atau anak-anak yang meninggal saja. Kerabat yang lain, seperti orang tua, saudara, paman, juga berhak. Bahkan hak waris juga bisa merata dalam satu suku, meskipun dalam prakteknya diutamakan dari yang terdekat. Hampir tidak pernah terjadi, harta warisan diterima oleh satu orang saja. Kelima, wanita tidak dihalangi menerima warisan, seperti yang terjadi dalam masyarakat Arab dahulu. Dengan demikian, Islam menghargai wanita dan memberikan hak-haknya secara penuh. Bahkan hukum waris ini, memberi juga bagian warisan kepada kerabat pihak perempuan, seperti

62

saudara laki-laki dan perempuan dari ibu. Hal ini merupakan penghargaan terhadap wanita, yang sebelumnya belum pernah terjadi. Basis pembagian waris 2:1 untuk anak laki-laki dan perempuan adalah surat an-Nisa ayat 11 dan 176 yang menyatakan anak laki-laki memperoleh dua bagian anak perempuan. Jelas kedua ayat ini merupakan induk aturan waris yang menjadi acuan dan rujukan dalam fiqh klasik. Bagi jumhur ayat ini merupakan ayat muhkamat ( jelas penetapan hukumnya) atau qath‟i ( pasti hukumnya), sehingga tidak lagi dimungkinkan untuk melakukan ijtihad atau memberikan makna selain itu. Memang benar surat An-Nisa ayat 11dan 176 adalah dalil yang bersifat qath‟i dan muhkamat yang tidak mungkin dilakukan ijtihad, karena manusia hanya bersikap menerima sami‟na wa atha‟na.namun menurut Harun nasution, sifat ke-qath‟i-annya pada segi asalnya yaitu dari Allah SWT dan maknanya bersifat matematis. Dengan demikian dalam pelaksanaannya dapat bersifat dhanny, jadi pembagian 2:1 bisa merupakan pilihan. Ketika sebuah keluarga sebagai ahli waris bersepakat untuk memilih jalan laindengan landasan kesepakatan dan saling rela, demi kemaslahatan keluarga dan kemudian membagi 1:1, maka mereka tidak dapat dikategorikan menentang ayat Al-Qur‟an. Alahan keluarga tersebut tidak akan berdosa atas kesepakatan memilih jalan lain untuk membagi hara warisan pewaris. 18 Dalam pada itu, Muhammad Abduh memberikan peluang besar untuk mentakwilkan ayat dengan tetap memperhatikan aturan bahasa agar maksudnya sesuai dengan ketentuan akal. Dengan pertimbangan akal
18

Hasbi Hanan, Pembagian Waris 2:1 dalam Perspektif Hadits Ahkam, dalam Suara Uldilag No.7 MARI Uldilag, ( Jakarta : 2005), h. 94

63

Muhammad Abduh meminta umat Islam agar melakukan ijtihad untuk menemukan penafsiran atau rumusan baru terhadap ayat Al-Qur‟an asal tidak tekait dengan ibadah. Sehingga dapat memberikan penafsiran yang lebih tepat dan cocok sesuai dengan kondisi nyata masyarakat Islam yang selalu berkembang. Pembagian 2:1 yang tercantum secara harfiyah dalam ayat Al-qur‟an merupakan pesan keadilan yang harus dijunjung tinggi oleh setiap umat Islam dalam membagi hara warisan sebagai wujud pengamalan Al-Qur‟an. Kini pembagian dengan perbandingan 2:1 telah nyata tidak sesuai dengan rasa keadilan yang telah tergeser akibat pergeseran di masyarakat, di mana peran laki-laki dan perempuan sudah tidak ada perbedaan. Keadaan masyarakat sekarang ini sudah berbeda dengan keadaan masyarakat ketika ayat waris diturunkan. Peran perempuan masa sekarang tidak lagi di lingkungan keluarga, tetapi sudah keluar ke bidang-bidang yang dulunya dikuasai lakilaki. Di samping pemikiran masyarakat tersebut, dalam perubahan pembagian waris 2:1 menjadi 1:1 antara laki-laki dan perempuan juga dapat dilihat dari pemikiran rasionalis atau ta‟aquly. Pemikiran ta‟aquly ini menurut Ibrahim Hosen bertumpu pada maqashid syar‟i (tujuan hukum) yaitu pendekatan yang memungkinkan dan memberi peluang kepada akal untuk menetapkan tujuan hukum sesuai dengan kemaslahatan umat. Atas dasar pemikiran ini maka tidak semua ketentuan yang qath‟i dengan sendirinya diberlakukan dalam segala zaman dan keadaan. Inilah yang dimaksud unsur pelaksanaan (tathbiq) mempertimbangkan keadaan kemaslahatan. Hal ini

64

tampak dalam pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan untuk mebagi sama antara laki-laki dan perempuan menunjukkan ketentuan 2:1 yang bersifat qath‟i disesuaikan dengan kondisi tertentu.19 Jadi, pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan pada dasarnya hukumnya boleh demi mencapai kemaslahatan. Yang mana kemaslahatan di sini dinilai dengan keadilan pembagian yang tidak berbasis 2:1, tetapi sesuai dengan kesepakatan hasil musyawarah. Berdasarkan hal tersebut adalah sah apabila ada di antara ahli waris yang merelakan haknya dalam pembagian harta warisan untuk diserahkan kepada ahli waris lain. Dengan demikian, praktik yang dilaksanakan tidak melannggar hukum atau tidak bertentangan dengan maqashid syar‟i (tujuan hukum), di mana hukum bertujuan menciptakan kemaslahatan. Corak kemaslahatan itu bisa berkembang dan berubah sesuai dengan kondisi masyarakat dan perubahan pandangan atau penilaian masyarakat terhadap kemaslahatan.

Jalaluddin Rahman, Perumusabn Ulang Hukum Waris Islam. Dalam mimbar No.63 ( jakarta : Yayasan Al-Hikmah, 2004), h.90

19

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Setelah melakukan kajian terhadap penulisan penelitian ini, penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Pembagian harta warisan dalam Islam telah diatur secara rinci dalam AlQur’an dan Sunnah, akan tetapi praktik di masyarakat muslim Indonesia ada yang tidak menggunakan sistem kewarisan Islam. Hal ini terjadi mengingat sistem hukum waris sangat terkait dengan bentuk masyarakat dan sifat keluargaan. Sedangkan sistem kekeluargaan di Indonesia berpokok pangkal pada sistem menarik garis keturunan yang di kenal ada (3) macam, yaitu matrilinial, patrilinial, dan bilateral atau parental. Masyarakat Jatibogor yang mayoritas muslim dan menganut sistem bilateral, sebagian masyarakatnya ada yang menggunakan sistem kesepakatan hasil musyawarah dalam membagi harta warisan mereka. Adapun alasan mereka menggunakan sistem ini antara lain adalah karena sistem kewarisan Islam dinilai tidak adil, sistem kewarisan Islam dinilai kurang membawa maslahat dan sistem pembagian harta warisan berdasarkan kesepakatan dinilai lebih memberi maslahatat.

65

66

2. Kewarisan merupakan hak. Adanya hak mewarisi dan diwarisi, karena kewarisan adalah hak maka tidak ada kewajiban menerima atau meminta yang bukan menjadi haknya, tetapi ada hak untuk memberikan sebagian harta warisan yang telah menjadi haknyakeoada ahli waris lain. Dengan demikian, apabila hal tersebut didasari atas kerelaan penuh dari semua pihak yang terkait maka harta warisan dapat dibagi secara kesepakatan.

B. Saran-saran 1. Prinsip agama Islam sebagai agama universal yang membawa rahmat bagi alam semesta, hendaknya benar-benar diterapkan oleh pemeluknya. Dengan demikian, hukum Islam berlaku di manapun berada dan dalam kondisi apapun. Sehingga agama Islam dengan hukumnya yang universal dapat membawa para pemeluknya mencapai kebahagiaan dan

kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. 2. Hendaknya dalam pembagian harta warisan yang dilaksanakan berdsarkan kesepakatan benar-benar didasarkan atas hasil musyawarah semua ahli waris dan mencapai mufakat, sehingga pembagian harta warisan benarbenar atas dasar kerelaan pihak terkait bukan karena terpaksa. 3. Penulis sudah berusaha dengan maksimal dalam pembuatan skripsi ini, oleh karena itu apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan skripsi ini penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Zainuddin. 2008. Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika. Al-khattib, Muhammad Syarbini. 1958. Mughni Al-Muhtaj. Kairo: Mustofa Al-baby al-ahlaby. Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2008. Tafsir Al Qurthubi. Jakarta: Pustaka Azzam. Amrin, Tatang M. 1995. Menyusun Rencana Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo. Anshori, Abdul Ghofur. 2005. Hukum Kewarisan di Indonesia.; Esistensi dan Adaptabilitas. Yogyakarta ; EKONOSIA. Arifin, Zaenal. Tinjauan Hukum Islam Tentang Pengakuan Anak di Luar Nikah Implikasinya Terhadap Kewarisan Menurut hukum Perdata (Telaah Pasal 280 Kitab Undang;unadang Hukum Perdata). STAIN Pekalongan: tidak diterbitkan. Ash-shabuni, Muhammad Ali. 1995. Pembagian Waris Menurut Islam. Jakarta : Gema Insani Press. Ash-shiddiqy, Hasbi. 1986. Falsafah Hukum Islam. Jakarta: Bulan Bintang. ____________.1973. Fiqh Mawaris. Jakarta : Bulan Bintang. Azizy, A. Qadri. 2002. Eklektisisme Hukum Indonesia. Yogjakarta : Gama Media. Bakar, Taqiyuddin Abi. 1983. Kifayatul Akhyar. Bandung: Syirkatun Ma’arif. Fathurrahman. 1987. Limu mawaris. Bandung: PT. al-Ma’arif. Fatkhuddin. 2011. Wawancara Fatonah. 2011. Wawancara Hamka. 1983. Tafsir Al Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas. Hanan, Hasbi. 2005. Pembagian Waris 2:1 dalam Persprktif Hadits Ahkam. Jakarta: Suara Uldilag No.7 MARI ULdilag. Haqi, M, fuad Abdul. Ttt. Al lu’lu Wal Marjan. Surabaya : Bina Ilmu. Hasan, a. 1996. Al-faraudh. Jakarta: Pustaka Progesif. Hasbiyallah. 2007. Belajar Mudah Ilmu Waris. Bandung: PT. Remaja rosdakarya. Ibrahim, Muhammad Ismail. 1986. Mu’jam al-alfaz wa al-A’lam Al Qur’qniyah. Kairo: Dar al-fikr alAraby. Kuzari, Ahmad. 1996. System Asabah (Dasar Perpindahan Hak Milik Atas Harta Peninggalan). Jakarta: Raja Wali Press.

Lelono, Joko. 2011. Wawancara Lubis, Suhrawardi K dan Simanjuntak, Komis. 2007. Hukum Waris Islam (Lengkap dan Praktis). Jakarta : Sinar Grafika. Mawardi, Zaeni. 2011. Wawancara Muhibbin, Moh. Dan Wahid, Abdul. Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia. Muslehuddin, Muhammad. 1991. Filsafat Hukum Islam dan Orientasi Studi Perbandingan Sistem hukum Islam. Yogjakarta : Tiara Wacana Yogya. Mustafa, Adib Bisri. 1993. Terjemah Shahih Muslim. Semarang : Asy-syifa. Mustofa dan wahid, Abdul. 2009. Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: Sinar Grafika. Penerbit. 2007. Undang-Undang Republik Indonesia No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Bandung : Citra Umbara. Praja, Juhaya S. 1994. Hukum Islam di Indonesia, Pemikiran dan Praktik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Projodikoro, Wirjono. 1983. Hukum Kewarisan di Indonesia. Bandung: Sumur Quthb, Sayyid. 1992. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an di Bawah Naungan Al Qur’an. Jakarta : gema Insani Press. Rahman, Jalaluddin. 2004. Perumusan Ulang Hukum Waris Islam. Jakarta: Yayasan Al-Hikmah. Ramulyo, M Idris. 2006. Hukum Kewarisan Perdata Barat. Jakarta : Sinar Grafika. ____________.1992. Perbandingan Hukum Kewarisan Islam di Pengadilan Agama dan Kewarisan Menurut Undang-undang Hukum Perdata (BW)di Pengadilan Negeri. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya. RI, Departemen Agama. 1989. Al-Qur'an dan Terjemahnya. Semarang : Toha Putra. Rizqiyah. Kajian Tentang Hibah Orang Tua Kepada Anak Angkat Hubungannya Dengan Warisan (Studi Analisis Terhadap pasal 211 KHI). STAIN Pekalongan: tidak diterbitkan. Rofiq, Ahmad. 1998. Hukum Islam di Indonesia. Jakarta : Rajawali Press. ____________.1993. fiqh Mawaris. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Shahrur, Muhammad. 2004. Metodologi Fiqh islam Kontemporer. Yogyakarta: Elsaq Press. Shihab, M Quraisy. 2002. Tafsir Al Misbah: Pesan, kesan dan Keserasian Al Qur’an. Jakarta: Lentera Hati. Solikhin. 2011.Wawancara

Summa, Muhammad Amin. 2005. Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam. Jakarta: pt. raja Grafindo Persada. Syarifuddin, Amir. 2004. Hukum Kewarisan Islam. Jakarta : Kencana. Syihab, Umar. 1998. Hukum Kewarisan Islam Dan Pelaksanaannya di Wajo. Makassar. Tasmu’i. 2011. Wawancara Thalib, Sajuti. 2008. Hukum Kewarisan Islam di Indonesia. Jakarta : Sinar Grafika. Tikhanah. 2011.Wawancara Umam, Dian Khairul. 1999. Fiqh Mawaris. Bandung: CV. Setia Budi. Yahya, Muhtar. 1993. Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islam. Bandung : al-Ma'arif. Yuniarsih, Santi. Gugatan Atas Harta Waris Yang Dihibahkan Semua Kepada Anak Angkat (Studi Analisis Terhadap Putusan No. perkara 214/ pdt.G/ 2002/ PA Kajen). STAIN Pekalongan: tidak diterbitkan. Zein, Satria Effendi M. 2004. Problematika Hukum Keluarga Islam kontemporer. Jakarta: Prenada Media.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama Tempat, tanggal lahir Status Jenis kelamin Alamat Alamat email No. Telp/HP Agama Kewarganegaraan

: Fredi Novianto : Pekalongan, 24 November 1982 : Belum menikah : Laki-laki : Jl. KHM. Mansyur Bendan Gg. 3 No. 34 Pekalongan 51119 : ppdaw_mutiara@yahoo.co.id : 085640762620 : Islam : Indonesia

Riwayat Pendidikan 1. Pendidikan Formal :  TK Mina Bahari Pekalongan lulus tahun 1989  SD Negeri Bendan 03 Pekalongan lulus tahun 1995  SLTP Negeri 02 Pekalongan lulus tahun 1998  SMU Al Irsyad Pekalonganlulus tahun 2001  S1 Matematika UNNES lulus tahun 2007 2. Pendidikan Non Formal :  Praktek Kerja Lapangan di Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Ungaran Kab. Semarang tahun 2005  Training entrepreneurship di Magistra Utama (The House of Candidate & School of Entrepreneur) Semarang  Training baca kitab kuning dan bahasa arab metode amtsilati di UNNES  Pendidikan agama dan kepribadian di Majlis Ta’lim Sunan Kalijaga Kergon Pekalongan (1989 – 1998), Ponpes Sunan Bonang Sampangan Pekalongan (1998 – 2001), Ponpes Durrotu Ahlisunnah Waljama’ah Gunung Pati Semarang (2001 – 2007) 3. Pengalaman Organisasi :  Seksi kewirausahaan dan berkarya OSIS SMU Al Irsyad Pekalongan  Bendahara umum IPNU Komisariat Besar UNNES  Seksi Pengkaderan dan Dakwah Study Islamic Group of Mathematic Himpunan Mahasiswa Matematika UNNES  Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Semarang  Seksi kerohanian Ponpes Durrotu Ahlissunnah Waljama’ah Semarang 4. Pengalaman Kerja :  Guru Privat Matematika Semarang dan Pekalongan (2002 – 2007)  Operator Komputer di Semarang (2002 – 2007)  Guru Pengajar Ponpes Durrotu Ahlissunah Waljamaah Semarang (2002 – 2007)  Distributor Independen PT. Richindo Citra Handal Semarang (2003 – 2007)  Guru SMK Islam’45 Wiradesa Pekalongan (sekarang)

5. Keahlian :  Bahasa  Komputer

: Indonesia, Inggris, Arab : Windows XP, Linux, Microsoft Office Product (Word, Excel, PowerPoint), SPSS, Minitab, Photoshop, ACD See

6. Judul Skripsi : Analisis Reliabilitas Untuk Data Tahan Hidup Sampel Tersensor Tunggal Tipe I dan Tipe II Di Bawah Model Distribusi Weibull Melalui Prosedur Inferensi Statistik Serta Simulasinya Menggunakan Program Komputer Minitab 14.0

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful