BUKU PANDUAN PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL 1 PENGUJIAN MERUSAK (DESTRUCTIVE TESTING

)

Dr. Ir. Akhmad Herman Yuwono, M.Phil.Eng.

DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2009

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802)

Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Kata Pengantar

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh, Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT atas terselesaikannya “Buku Panduan Praktikum Karakterisasi Material 1: Pengujian Merusak (Destructive Testing)” ini. Buku panduan ini ditujukan sebagai suatu bahan pegangan bagi mahasiswa-mahasiswa Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia yang sedang menjalankan Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS310802). Sangat disadari bahwa praktikum adalah salah satu komponen penting dalam proses belajar-mengajar, terutama dalam kaitannya dengan pengembangan keahlian praktis dan kemampuan analitis yang sangat dibutuhkan bagi para lulusan pada saat terjun ke dalam dunia kerja sebagai seorang sarjana teknik metalurgi dan material. Praktikum Karakterisasi Material 1 merupakan bagian dari Kurikulum 2008 yang sebelumnya bernama Praktikum Metalurgi Fisik pada Kurikulum 2004. Praktikum ini menitik beratkan pada pengujian merusak (destructive testing) untuk mengetahui respon material terhadap pembebanan mekanis. Oleh sebab itu buku petunjuk praktikum ini didisain sebagai salah satu alat pendukung utama bagi mahasiswa untuk bisa memahami dan mendalami teori-teori yang diberikan dalam mata kuliah Metalurgi Fisik 1 pada semester 3. Target utama yang ingin dicapai dengan penyelengaraan praktikum ini adalah agar mahasiswa mampu memahami: 1. Karakteristik dislokasi sebagai salah satu bentuk cacat di dalam material, dimana di satu sisi kehadiran mereka dalam jumlah besar harus dihindari tetapi di sisi lain dibutuhkan karena dengan adanya dislokasi inilah material khususnya logam dapat dideformasi dan dibentuk sesuai dengan aplikasi yang diinginkan; 2. Mekanisme pergerakan dislokasi sebagai sebab kegagalan logam maupun kemampu bentukannya (formability); 3. Interaksi dislokasi dengan berbagai macam penghalang (obstacle) di dalam material sehingga pada akhirnya para mahasiswa mampu menjelaskan dengan baik bagaimana kekuatan di dalam logam dapat ditingkatkan dengan berbagai mekanisme penguatan di dalam material yang dapat diterapkan dalam aplikasi praktis di dalam industri dan masyarakat. Untuk menunjang tercapainya tujuan pembelajaran tersebut, materi dalam buku panduan ini mencakup 2 bagian utama: 1. Teori Dasar Pengujian Mekanik pada Material 2. Modul Praktikum Pengujian Mekanik pada Material

ahyuwono@metal.ui.ac.id

1

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802)

Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

Tentunya buku panduan praktikum ini masih jauh dari sempurna. Saran dan kritik konstruktif dari semua pihak sangat diharapkan bagi perbaikan buku ini demi tercapainya tujuan proses belajar-mengajar di Departemen Metalurgi dan Material ini, yaitu dihasilkannya lulusan sarjana teknik metalurgi dan material yang memiliki kemampuan komprehensif dalam disain material dan teknologi proses. Tak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan diktat ini.

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarakatuh. Depok, Maret 2009

Dr. Ir. Akhmad Herman Yuwono, M.Phil.Eng. NIP : 132 137 843

ahyuwono@metal.ui.ac.id

2

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802)

Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

BAGIAN 1: TEORI DASAR PENGUJIAN MEKANIK PADA MATERIAL

ahyuwono@metal.ui.ac.id

3

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802)

Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia

BAB 1 PENGUJIAN TARIK

1.1.

Tujuan instruksional umum

Mahasiswa mampu menganalisis hasil uji tarik beberapa jenis logam sebagai respon mekanis terhadap deformasi dari luar dan mampu menganalisis karakteristik perpatahan yang dihasilkan. 1.2. Sasaran pembelajaran

Setelah mempelajari teori dasar pengujian tarik ini mahasiswa mampu: 1. Memahami kurva tegangan-regangan hasil uji tarik dari beberapa jenis logam (besi tuang, baja, tembaga dan alumunium) 2. Mendeskripsikan titik-titik penting (batas proporsionalitas, batas elastis, titik luluh, daerah necking dan sebagainya) dalam kurva tegangan-regangan yang menjelaskan perilaku mekanis logam-logam tersebut. 3. Menerapkan beberapa formulasi dasar dan menganalisis kurva beban-perpanjangan untuk memperoleh nilai-nilai kekuatan tarik, titik luluh, persentase elongasi, modulus elastisitas, modulus ketangguhan untuk beberapa jenis logam. 4. Menjelaskan perbedaan antara kurva tegangan-regangan rekayasa dan kurva teganganregangan sesungguhnya. 5. Menerapkan dasar pengamatan kerusakan untuk menganalisis bentuk perpatahan (fraktografi) hasil uji tarik beberapa jenis logam serta mengkaitkannya dengan kurva tegangan-regangan yang telah dicapai.

1.3.

Pengantar

Tujuan dari dilakukannya suatu pengujian mekanis adalah untuk menentukan respon material dari suatu konstruksi, komponen atau rakitan fabrikasi pada saat dikenakan beban atau deformasi dari luar. Dalam hal ini akan ditentukan seberapa jauh perilaku inheren (sifat yang lebih merupakan ketergantungan atas fenomena atomik maupun mikroskopis dan bukan dipengaruhi bentuk atau ukuran benda uji) dari material terhadap pembebanan tersebut. Di antara semua pengujian mekanis tersebut, pengujian tarik merupakan jenis pengujian yang paling banyak dilakukan karena mampu memberikan informasi representatif dari perilaku mekanis material.

ahyuwono@metal.ui.ac.id

4

Data-data penting yang diharapkan didapat dari pengujian tarik ini adalah: perilaku mekanik material dan karakteristik perpatahan. Selanjutnya bila bahan terus diberikan tegangan (deformasi dari luar) maka batas elastis akan ahyuwono@metal. Prinsip pengujian Sampel atau benda uji dengan ukuran dan bentuk tertentu ditarik dengan beban kontinyu sambil diukur pertambahan panjangnya.1. Daerah proporsionalitas merupakan bahagian dari batas elastik ini. Kurva tegangan-regangan dari sebuah benda uji terbuat baja ulet b. Gambar 1. x mewakili regangan dan m mewakili slope kemiringan dari modulus kekakuan). Batas elastis (elastic limit) Daerah elastis adalah daerah dimana bahan akan kembali kepada panjang semula bila tegangan luar dihilangkan.ui. Data yang didapat berupa perubahan panjang dan perubahan beban yang selanjutnya ditampilkan dalam bentuk grafik tegangan-regangan. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 1. 1.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1.4. Informasi penting yang bisa didapat adalah: a.id 5 . Perilaku mekanik material Pengujian tarik yang dilakukan pada suatu material padatan (logam dan nonlogam) dapat memberikan keterangan yang relatif lengkap mengenai perilaku material tersebut terhadap pembebanan mekanis. dimana y mewakili tegangan.1 di bawah ini menunjukkan batas proporsionalitas dari kurva tegangan-regangan.4. Batas proporsionalitas (proportionality limit) Merupakan daerah batas dimana tegangan dan regangan mempunyai hubungan proporsionalitas satu dengan lainnya. Setiap penambahan tegangan akan diikuti dengan penambahan regangan secara proporsional dalam hubungan linier σ = Eε (bandingkan dengan hubungan y = mx. Titik P pada Gambar 1.ac.1.1.

Dengan kata lain dapat didefinisikan bahwa batas elastis merupakan suatu titik dimana tegangan yang diberikan akan menyebabkan terjadinya deformasi permanen (plastis) pertama kalinya. batas luluh ini harus dicapai ataupun dilewati bila bahan (logam) dipakai dalam proses manufaktur produkahyuwono@metal. Gejala luluh umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet dengan struktur kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial solid solution dari atom-atom carbon. tekan bending atau puntiran.ui.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia terlampaui pada akhirnya sehingga bahan tidak akan kembali kepada ukuran semula. Pada Gambar 1. Umumnya garis offset OX diambil 0. hidrogen dan oksigen. Titik luluh (yield point) dan kekuatan luluh (yield strength) Titik ini merupakan suatu batas dimana material akan terus mengalami deformasi tanpa adanya penambahan beban.ac. Kurva tegangan-regangan dari sebuah benda uji terbuat dari bahan getas Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran kemampuan bahan menahan deformasi permanen bila digunakan dalam penggunaan struktural yang melibatkan pembebanan mekanik seperti tarik.id 6 .2 di bawah ini garis offset OX ditarik paralel dengan OP.1 di atas. Untuk menentukan kekuatan luluh material seperti ini maka digunakan suatu metode yang dikenal sebagai Metode Offset. sehingga perpotongan XW dan kurva tegangan-regangan memberikan titik Y sebagai kekuatan luluh. Tegangan (stress) yang mengakibatkan bahan menunjukkan mekanisme luluh ini disebut tegangan luluh (yield stress). Dengan metode ini kekuatan luluh (yield strength) ditentukan sebagai tegangan dimana bahan memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi tertentu dari proporsionalitas tegangan dan regangan .2% dari regangan total dimulai dari titik O. c. Di sisi lain.1 – 0. Baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas umumnya tidak memperlihatkan batas luluh yang jelas. Kebanyakan material teknik memiliki batas elastis yang hampir berimpitan dengan batas proporsionalitasnya. Titik luluh ditunjukkan oleh titik Y pada Gambar 1.2. boron. Gambar 1. Interaksi antara dislokasi dan atom-atom tersebut menyebabkan baja ulet eperti mild steel menunjukkan titik luluh bawah (lower yield point) dan titik luluh atas (upper yield point).

drawing. Dalam kaitannya dengan penggunaan struktural maupun dalam proses forming bahan.ac.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia produk logam seperti proses rolling. UTS = F maks Ao (1. bending.1) Pada bahan ulet tegangan maksimum ini ditunjukkan oleh titik M (Gambar 1. Kekuatan tarik maksimum (ultimate tensile strength) Merupakan tegangan maksiumum yang dapat ditanggung oleh material sebelum terjadinya perpatahan (fracture). drawing. kekuatan maksimum adalah batas tegangan yang sama sekali tidak boleh dilewati.2). stretching dan sebagainya. Pengujian tarik memberikan dua metode pengukuran keuletan bahan yaitu: • Persentase perpanjangan (elongation) Diukur sebagai penambahan panjang ukur setelah perpatahan terhadap panjang awalnya. cutting dan sebagainya. stretching. Nilai kekuatan tarik maksimum σ uts ditentukan dari beban maksium Fmaks dibagi luas penampang awal Ao. Untuk bahan yang bersifat ulet pada saat beban maksimum M terlampaui dan bahan terus terdeformasi hingga titik putus B maka terjadi mekanisme penciutan (necking) sebagai akibat adanya suatu deformasi yang terlokalisasi. Sifat ini . Dapat dikatakan bahwa titik luluh adalah suatu tingkat tegangan yang: • • Tidak boleh dilewati dalam penggunaan struktural (in service) Harus dilewati dalam proses manufaktur logam (forming process) c. Kekuatan Putus (breaking strength) Kekuatan putus ditentukan dengan membagi beban pada saat benda uji putus (Fbreaking) dengan luas penampang awal Ao. ε (%) = [(Lf-Lo)/Lo] x 100% dimana Lf adalah panjang akhir dan Lo panjang awal dari benda uji. (1.1) dan selanjutnya bahan akan terus berdeformasi hingga titik B.ui. hammering. d. harus dimiliki oleh bahan bila ingin dibentuk (forming) melalui proses rolling.id 7 . e. Bahan yang bersifat getas memberikan perilaku yang berbeda dimana tegangan maksimum sekaligus tegangan perpatahan (titik B pada Gambar 1. Keuletan (ductility) Keuletan merupakan suatu sifat yang menggambarkan kemampuan logam menahan deformasi hingga terjadinya perpatahan. Pada bahan ulet kekuatan putus adalah lebih kecil daripada kekuatan maksimum sementara pada bahan getas kekuatan putus adalah sama dengan kekuatan maksimumnya. dalam beberapa tingkatan. Elongasi.2) ahyuwono@metal.

Modulus elastisitas suatu material ditentukan oleh energi ikat antar atom-atom.ui.2). modulus kekakuan tersebut dapat dihitung dari slope kemiringan garis elastis yang linier. sehingga besarnya nilai modulus ini tidak dapat dirubah oleh suatu proses tanpa merubah struktur bahan.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia • Persentase pengurangan/reduksi penampang (Area Reduction) Diukur sebagai pengurangan luas penampang (cross-section) setelah perpatahan terhadap luas penampang awalnya. Modulus elastisitas (E) Modulus elastisitas atau modulus Young merupakan ukuran kekakuan suatu material.3. diberikan oleh: E = σ/ε atau E = tan α (1.ac. (1.3 di bawah ini yang menunjukkan grafik tegangan-regangan beberapa jenis baja: Gambar 1.id 8 .1 dan 1. Semakin besar harga modulus ini maka semakin kecil regangan elastis yang terjadi pada suatu tingkat pembebanan tertentu. Reduksi penampang.3) f. Grafik tegangan-regangan beberapa baja yang memperlihatkan kesamaan modulus kekakuan ahyuwono@metal. R (%) = [(Ao-Af)/Ao] x 100% dimana Af adalah luas penampang akhir dan Ao luas penampang awal. Pada grafik tegangan-regangan (Gambar 1. Sebagai contoh diberikan oleh Gambar 1. atau dapat dikatakan material tersebut semakin kaku (stiff).4) dimana α adalah sudut yang dibentuk oleh daerah elastis kurva tegangan-regangan.

4. h. sementara untuk mendapatkan kurva tegangan-regangan sesungguhnya diperlukan luas area dan panjang aktual pada saat pembebanan setiap saat terukur.1. tetapi menjadi signifikan pada rentang terjadinya pengerasan regangan (strain hardening). Sementara pada kurva tegangan-regangan sesungguhnya luas area aktual adalah selalu turun hingga terjadinya perpatahan dan benda uji mampu menahan peningkatan tegangan karena σ = P/A.1.id 9 . yaitu setelah titik luluh terlampaui. Kurva tegangan-regangan rekayasa dan sesungguhnya Kurva tegangan-regangan rekayasa didasarkan atas dimensi awal (luas area dan panjang) dari benda uji. Secara khusus perbedaan menjadi demikian besar di dalam daerah necking. Pertimbangan disain yang mengikut sertakan modulus ketangguhan menjadi sangat penting untuk komponen-komponen yang mungkin mengalami pembebanan berlebih secara tidak disengaja.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia g. Modulus ketangguhan (modulus of toughness) Merupakan kemampuan material dalam menyerap energi hingga terjadinya perpatahan.ac. Perbandingan antara kurva tegangan-regangan rekayasa dan sesungguhnya dari baja karbon rendah (mild steel) ahyuwono@metal.ui.4 di bawah ini memperlihatkan contoh kedua kurva tegangan-regangan tersebut pada baja karbon rendah (mild steel). i. Gambar 1. Material dengan modulus ketangguhan yang tinggi akan mengalami distorsi yang besar karena pembebanan berlebih. Secara kuantitatif dapat ditentukan dari luas area keseluruhan di bawah kurva teganganregangan hasil pengujian tarik seperti Gambar 1. Modulus kelentingan (modulus of resilience) Mewakili kemampuan material untuk menyerap energi dari luar tanpa terjadinya kerusakan. Nilai modulus dapat diperoleh dari luas segitiga yang dibentuk oleh area elastik diagram tegangan-regangan pada Gambar 1. tetapi hal ini tetap disukai dibandingkan material dengan modulus yang rendah dimana perpatahan akan terjadi tanpa suatu peringatan terlebih dahulu. Gambar 1. dapat diketahui bahwa benda uji secara aktual mampu menahan turunnya beban karena luas area awal Ao bernilai konstan pada saat penghitungan tegangan σ = P/Ao. Pada kurva tegangan-regangan rekayasa. Perbedaan kedua kurva tidaklah terlampau besar pada regangan yang kecil.

5 di bawah ini: Sangat ulet Sangat getas Gambar 1. (d) ahyuwono@metal.ac. Mode Perpatahan Material Sampel hasil pengujian tarik dapat menunjukkan beberapa tampilan perpatahan seperti diilustrasikan oleh Gambar 1.6 . (b) Pembentukan rongga-rongga kecil (cavity). a.ui.4.2. Tahapan terjadinya perpatahan ulet pada sampel uji tarik: (a) Penyempitan awal. Perpatahan Ulet Gambar 1. Ilustrasi penampang samping bentuk perpatahan benda uji tarik sesuai dengan tingkat keuletan/kegetasan Perpatahan ulet memberikan karakteristk berserabut (fibrous) dan gelap (dull). (d) Perambatan retak.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1.5. (c) Penyatuan rongga-rongga membentuk suatu retakan. sementara perpatahan getas ditandai dengan permukaan patahan yang berbutir (granular) dan terang. (e) Perpatahan geser akhir pada sudut 45°.6 di bawah ini memberikan ilustrasi skematis terjadinya perpatahan ulet pada suatu spesimen yang diberikan pembebanan tarik: (a) (b) (c) Gambar 1.id (e) 10 . Perpatahan ulet umumnya lebih disukai karena bahan ulet umumnya lebih tangguh dan memberikan peringatan lebih dahulu sebelum terjadinya kerusakan Pengamatan kedua tampilan perpatahan itu dapat dilakukan baik dengan mata telanjang maupun dengan bantuan stereoscan macroscope. Pengamatan lebih detil dimungkinkan dengan penggunaan SEM (Scanning Electron Microscope).

Contoh perpatahan getas dari suatu benda uji berbentuk pelat diberikan oleh Gambar 1. Retak/perpatahan merambat sepanjang bidang-bidang kristalin membelah atom-atom material (transgranular). Tidak ada atau sedikit sekali deformasi plastis yang terjadi pada material 2. Pada material lunak dengan butir kasar (coarse-grain) maka dapat dilihat pola-pola yang dinamakan chevrons or fan-like pattern yang berkembang keluar dari daerah awal kegagalan.ac. Tampilan permukaan patahan dari suatu sampel logam yang ditandai dengan lubang-lubang dimpel sebagai suatu hasil proses penyatuan rongga-rongga kecil (cavity) selama pembebanan berlangsung.id 11 .Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tampilan foto SEM dari perpatahan ulet diberikan oleh Gambar 1. Perpatahan Getas Perpatahan getas memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1.7. ahyuwono@metal.8 di bawah ini. 5. b. Material amorphous (seperti gelas) memiliki permukaan patahan yang bercahaya dan mulus. 4.7 berikut: dimples Gambar 1. 3. Material keras dengan butir halus (fine-grain) tidak memiliki pola-pola yang mudah dibedakan.ui.

ui.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Gambar 1.id 12 . Perpatahan getas pada dua sampel logam berpenampang lintang persegi panjang (pelat) Sedangkan hasil foto SEM sampel dengan perpatahan getas diberikan oleh Gambar 1.ac.9 pada halaman berikut ini: ahyuwono@metal.8.

ac.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Gambar 1.9. Perhatikan bentuk perambatan retak yang menjalar (a) memotong butir (transgranular fracture) dan (b) melalui batas butir material (intergranular fracture) ahyuwono@metal. Foto SEM sampel dengan perpatahan getas.id 13 .ui.

Menjelaskan makna nilai kekerasan material dalam lingkup ilmu metalurgi dan ilmu-ilmu terapan lainnya 2. untuk para insinyur mineralogi nilai itu adalah ketahanan terhadap goresan. Sasaran pembelajaran Setelah mempelajari teori dasar pengujian kekerasan ini mahasiswa mampu: 1. 2. Mengaplikasikan beberapa formulasi dasar untuk memperoleh nilai kekerasan material dengan uji Brinell dan Vickers. 2.4.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia BAB 2 PENGUJIAN KEKERASAN 2. Menjelaskan kekhususan pengujian kekerasan dengan metode Brinell.3. Vickers dan Rockwell. pantulan ataupun ahyuwono@metal. Prinsip pengujian Dari uraian singkat di atas maka kekerasan suatu material dapat didefinisikan sebagai ketahanan material tersebut terhadap gaya penekanan dari material lain yang lebih keras. 4.ui. Penekanan tersebut dapat berupa mekanisme penggoresan (scratching). untuk insinyur lubrikasi kekerasan berarti ketahanan terhadap mekanisme keausan. Begitu banyak konsep kekerasan material yang dipahami oleh kelompok ilmu. 2. pantulan dan indentasi. Menjelaskan perbedaan antara pengujian kekerasan dengan metode gores. 3.id 14 .2.ac. Tujuan instruksional umum Mahasiswa mampu menguasai beberapa metode pengujian yang umum dilakukan untuk mengetahui nilai kekerasan logam. walaupun demikian konsep-konsep tersebut dapat dihubungkan pada satu mekanisme yaitu tegangan alir plastis dari material yang diuji. dan untuk para mekanik work-shop lebih bermakna kepada ketahanan material terhadap pemotongan dari alat potong.1. Bagi insinyur metalurgi nilai kekerasan adalah ketahanan material terhadap penetrasi sementara untuk para insinyur disain nilai tersebut adalah ukuran dari tegangan alir. Pengantar Makna nilai kekerasan suatu material berbeda untuk kelompok bidang ilmu yang berbeda.

5). 6) tetapi tidak mampu digores oleh Apatite (no.1. sebagaimana dimiliki oleh intan. Tinggi pantulan (rebound) yang dihasilkan mewakili kekerasan benda uji.2 Metode elastik/pantul (rebound) Dengan metode ini. Quartz 8. 2. Corundum 10.ac. sebagaimana dimiliki oleh material talk. 4. dikenal 3 metode uji kekerasan: 2. Skala ini bervariasi dari nilai 1 untuk kekerasan yang paling rendah. Brinell pada tahun 1900. jelas terlihat bahwa metode ini memiliki kekurangan utama berupa ketidak akuratan nilai kekerasan suatu material. Berdasarkan prinsip bekerjanya metode uji kekerasan dengan cara indentasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Metode indentasi Pengujian dengan metode ini dilakukan dengan penekanan benda uji dengan indentor dengan gaya tekan dan waktu indentasi yang ditentukan. Berdasarkan mekanisme penekanan tersebut. 5. Topaz 9.4.3. Metode gores Metode ini tidak banyak lagi digunakan dalam dunia metalurgi dan material lanjut. tetapi masih sering dipakai dalam dunia mineralogi. Pengujian kekerasan dilakukan dengan memakai bola baja yang diperkeras (hardened steel ball) dengan ahyuwono@metal. Diamond (intan) Prinsip pengujian: bila suatu mineral mampu digores oleh Orthoclase (no. Talc Gipsum Calcite Fluorite Apatite 6.id 15 . yang ditunjukkan oleh dial pada alat pengukur.ui. ditemukan bahwa nilai-nilainya berkisar antara 1-9 saja. Kekerasan suatu material ditentukan oleh dalam ataupun luas area indentasi yang dihasilkan (tergantung jenis indentor dan jenis pengujian). maka kekerasan mineral tersebut berada antara 5 dan 6. hingga skala 10 sebagai nilai kekerasan tertinggi. kekerasan suatu material ditentukan oleh alat Scleroscope yang mengukur tinggi pantulan suatu pemukul (hammer) dengan berat tertentu yang dijatuhkan dari suatu ketinggian terhadap permukaan benda uji. Berdasarkan hal ini. Dalam skala Mohs urutan nilai kekerasan material di dunia ini diwakili oleh: 1. Semakin tinggi pantulan tersebut. maka kekerasan benda uji dinilai semakin tinggi.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia indentasi dari material keras terhadap suatu permukaan benda uji. Bila kekerasan mineral-mineral diuji dengan metode lain. 3.A.4. Metode Brinell Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh J. 2. Orthoclase 7. sedangkan nilai 9-10 memiliki rentang yang besar.4. Metode ini dikenalkan oleh Friedrich Mohs yang membagi kekerasan material di dunia ini berdasarkan skala (yang kemudian dikenal sebagai skala Mohs). 2.

Gambar 2. pembebanan 500 kg selama 30 detik. Untuk kondisi yang lain. D diameter indentor (mm) dan d diameter jejak (mm). beban 3000 kg selama waktu 1—15 detik. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 2. Untuk logam-logam ferrous. nilai kekerasan HB diikuti angka-angka yang menyatakan kondisi pengujian. Hasil indentasi Brinellberupa jejak berbentuk lingkaran dengan ukuran diameter dalam skala mm. Contoh pengukuran hasil penjejakan diberikan oleh Gambar 2. Gambar 2.ac. ahyuwono@metal. Contoh: 75 HB 10/500/30 menyatakan nilai kekerasan Brinell sebesar 75 dihasilkan oleh suatu pengujian dengan indentor 10 mm. Walaupun demikian pengaturan beban dan waktu indentasi untuk setiap material dapat pula ditentukan oleh karakteristik alat penguji.1. yang harus dihitung diameternya di bawah mikroskop khusus pengukur jejak. Nilai kekerasan suatu material yang dinotasikan dengan ‘HB’ tanpa tambahan angka di belakangnya menyatakan kondisi pengujian standar dengan indentor bola baja 10 mm. waktu indentasi biasanya sekitar 10 detik sementara untuk logamlogam non-ferrous sekitar 30 detik. Hasil penekanan adalah jejak berbentuk lingkaran bulat. Pengukuran nilai kekerasan suatu material diberikan oleh rumus: BHN = (πD )(D − 2P D2 − d 2 ) (2.1.1) dimana P adalah beban (kg).2.ui.2. Skematis prinsip indentasi dengan metode Brinell Prosedur standar pengujian mensyaratkan bola baja dengan diameter 10 mm dan beban 3000 kg untuk pengujian logam-logam ferrous. atau 500 kg untuk logam-logam non-ferrous.id 16 .Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia beban dan waktu indentasi tertentu.

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia b. seperti diperlihatkan oleh Gambar 2.2) d2 dimana d adalah panjang diagonal rata-rata dari jejak berbentuk bujur sangkar. Metode Rockwell Berbeda dengan metode Brinell dan Vickers dimana kekerasan suatu bahan dinilai dari diameter/diagonal jejak yang dihasilkan maka metode Rockwell merupakan uji kekerasan dengan pembacaan langsung (direct-reading). Variasi dalam beban dan indetor yang digunakan membuat metode ini memiliki banyak macamnya. Metode Vickers Pada metode ini digunakan indentor intan berbentuk piramida dengan sudut 136o. Prinsip pengujian adalah sama dengan metode Brinell. walaupun jejak yang dihasilkan berbentuk bujur sangkar berdiagonal. Skematis prinsip indentasi dengan metode Vickers c.3. Metode ini banyak dipakai dalam industri karena pertimbangan praktis. Contohnya 82 HRB.ac.3.ui. Oleh karenanya skala kekerasan Rockwell suatu material harus dispesifikasikan dengan jelas. Gambar 2.1 yang memperlihatkan perbedaan skala dan range uji dalam skala Rockwell: ahyuwono@metal. Nilai kekerasan suatu material diberikan oleh: 1.854 P VHN = (2. Walaupun demikian metode Rockwell lainnya juga biasa dipakai.id 17 . yang menyatakan material diukur dengan skala B: indentor 1/6 inci dan beban 100 kg. Metode yang paling umum dipakai adalah Rockwell B (dengan indentor bola baja berdiameter 1/6 inci dan beban 100 kg) dan Rockwell C (dengan indentor intan dengan beban 150 kg). Panjang diagonal diukur dengan skala pada mikroskop pengujur jejak. Berikut ini diberikan Tabel 2.

1.id 18 .Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tabel 2.ac.ui. Skala pada Metode Uji Kekerasan Rockwell ahyuwono@metal.

Prinsip pengujian Dasar pengujian impak ini adalah penyerapan energi potensial dari pendulum beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji sehingga benda uji mengalami deformasi. Sasaran pembelajaran Setelah mempelajari teori dasar praktikum mengenai pengujian tarik ini mahasiswa diharapkan mampu: 1. Gambar 3. Menjelaskan tujuan dan prinsip dasar pengukuran harga impak dari logam.3. Pengujian impak merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau konstruksi dimana beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan datang secara tiba-tiba.id 19 . Inilah yang membedakan pengujian impak dengan pengujian tarik dan kekerasan dimana pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan.ui.ac.2. Menjelaskan perbedaan antara metode Charpy dan Izod.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia BAB 3 PENGUJIAN IMPAK 3. Tujuan instruksional umum Mahasiswa diharapkan mampu menganalisis hasil uji impak beberapa jenis logam sebagai sebagai fungsi temperatur dan karakteristik perpatahan yang dihasilkan. 3. Menerapkan dasar pengamatan kerusakan untuk menganalisis bentuk perpatahan (fraktografi) hasil uji impak baja struktural pada berbagai temperatur serta mengkaitkannya dengan harga impak yang dicapai 3. contoh deformasi pada bumper mobil pada saat terjadinya tumbukan kecelakaan.1. 2. 3.4. 3. Pengantar Pengujian impak merupakan suatu pengujian yang mengukur ketahanan bahan terhadap beban kejut.1 di bawah ini memberikan ilustrasi suatu pengujian impak dengan metode Charpy: ahyuwono@metal.

Suatu material dikatakan tangguh bila memiliki kemampuan menyerap beban kejut yang besar tanpa terjadinya retak atau terdeformasi dengan mudah.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Gambar 3. Pada pengujian impak. Harga impak (HI) suatu bahan yang diuji dengan metode Charpy diberikan oleh : E (3.1 di atas dapat dilihat bahwa setelah benda uji patah akibat deformasi. Ilustrasi skematis pengujian impak dengan benda uji Charpy Pada pengujian impak ini banyaknya energi yang diserap oleh bahan untuk terjadinya perpatahan merupakan ukuran ketahanan impak atau ketangguhan bahan tersebut.1) HI = A dimana E adalah energi yang diserap dalam satuan Joule dan A luas penampang di bawah takik dalam satuan mm2.25 mm dan kedalaman 2 mm.1.ac. banyak digunakan di Amerika Serikat dan batang uji Izod yang lazim digunakan di Inggris dan Eropa. Benda uji Izod mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dengan takik V di dekat ujung yang dijepit.ui. Benda uji Charpy memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 x 10 mm) dan memiliki takik (notch) berbentuk V dengan sudut 45o. Benda uji diletakkan pada tumpuan dalam posisi mendatar dan bagian yang bertakik diberi beban impak dari ayunan bandul. sebagaimana telah ditunjukkan oleh Gambar 3. dengan jari-jari dasar 0.id 20 . bandul pendulum melanjutkan ayunannya hingga posisi h’. Perbedaan cara pembebanan antara metode Charpy dan Izod ditunjukkan oleh Gambar 3. Secara umum benda uji impak dikelompokkan ke dalam dua golongan sampel standar yaitu : batang uji Charpy sebagaimana telah ditunjukkan pada Gambar 1.2 di bawah ini: ahyuwono@metal. Pada Gambar 3. Bila bahan tersebut tangguh yaitu makin mampu menyerap energi lebih besar maka makin rendah posisi h’.1. energi yang diserap oleh benda uji biasanya dinyatakan dalam satuan Joule dan dibaca langsung pada skala (dial) penunjuk yang telah dikalibrasi yang terdapat pada mesin penguji.

Ditandai dengan permukaan patahan berserat yang berbentuk dimpel yang menyerap cahaya dan berpenampilan buram. 2. Perpatahan berserat (fibrous fracture).2. Secara umum sebagaimana analisis perpatahan pada benda hasil uji tarik maka perpatahan impak digolongkan menjadi 3 jenis.5 di bagian akhir bab ini. yang dihasilkan oleh mekanisme pembelahan (cleavage) pada butir-butir dari bahan (logam) yang rapuh (brittle). Perpatahan campuran (berserat dan granular). lihat Gambar 3. Ditandai dengan permukaan patahan yang datar yang mampu memberikan daya pantul cahaya yang tinggi (mengkilat). Perpatahan granular/kristalin. Sementara uji impak dengan metode Izod umumnya dilakukan hanya pada temperatur ruang dan ditujukan untuk material-material yang didisain untuk berfungsi sebagai cantilever. 3. Merupakan kombinasi dua jenis perpatahan di atas.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Gambar 3. takik dapat pula dibuat dengan bentuk lubang kunci (key hole).id 21 . Ilustrasi skematik pembebanan impak pada benda uji Charpy dan Izod Serangkaian uji Charpy pada satu material umumnya dilakukan pada berbagai temperatur sebagai upaya untuk mengetahui temperatur transisi (akan diterangkan pada paragrafparagraf selanjutnya). Takik (notch) dalam benda uji standar ditujukan sebagai suatu konsentrasi tegangan sehingga perpatahan diharapkan akan terjadi di bagian tersebut. Gambar 3.ac. Pengukuran lain yang biasa dilakukan dalam pengujian impak Charpy adalah penelaahan permukaan perpatahan untuk menentukan jenis perpatahan (fracografi) yang terjadi.3 berikut ini memperlihatkan ilustrasi tampilan perpatahan benda uji hasil uji impak Charpy: ahyuwono@metal. Selain berbentuk V dengan sudut 45o.ui. yaitu: 1. yang melibatkan mekanisme pergeseran bidangbidang kristal di dalam bahan (logam) yang ulet (ductile).

polimer dan logam-logam BCC dengan kekuatan luluh rendah dan sedang memiliki transisi rapuh-ulet bila temperatur dinaikkan. pengukuran ketangguhan suatu bahan dapat dilakukan dengan memperkirakan berapa persen patahan berserat dan patahan kristalin yang yang dihasilkan oleh benda uji yang diuji pada temperatur tertentu. Fenomena ini berkaitan dengan vibrasi atom-atom bahan pada temperatur yang berbeda dimana pada temperatur kamar vibrasi itu berada dalam kondisi kesetimbangan dan selanjutnya akan menjadi tinggi bila temperatur dinaikkan (ingatlah bahwa energi panas merupakan suatu driving force terhadap pergerakan partikel atom bahan). contoh sistem penukar panas (heat exchanger). vibrasi atom relatif sedikit sehingga pada saat bahan dideformasi pergerakan dislokasi menjadi lebih mudah dan benda uji menjadi lebih mudah dipatahkan dengan energi yang relatif lebih rendah. misalnya dari temperatur di bawah nol derajat Celcius hingga temperatur tinggi di atas 100 derajat Celcius.id 22 . Dengan semakin tinggi vibrasi itu maka pergerakan dislokasi mejadi relatif sulit sehingga dibutuhkan energi yang lebih besar untuk mematahkan benda uji. Vibrasi atom inilah yang berperan sebagai suatu penghalang (obstacle) terhadap pergerakan dislokasi pada saat terjadi deformasi kejut/impak dari luar.ui. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda. Hampir semua baja karbon yang dipakai pada ahyuwono@metal. Ilustrasi permukaan patahan (fractografi) benda uji impak Charpy Selain dengan harga impak yang ditunjukkan oleh alat uji. Semakin banyak persentase patahan berserat maka dapat dinilai semakin tangguh bahan tersebut. Pada pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda maka akan terlihat bahwa pada temperatur tinggi material akan bersifat ulet (ductile) sedangkan pada temperatur rendah material akan bersifat rapuh atau getas (brittle). Cara ini dapat dilakukan dengan mengamati permukaan patahan benda uji di bawah miskroskop stereoscan. Informasi lain yang dapat dihasilkan dari pengujian impak adalah temperatur transisi bahan.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Gambar 3. Bahan keramik. Hampir semua logam berkekuatan rendah dengan struktur kristal FCC seperti tembaga dan aluminium bersifat ulet pada semua temperatur sementara bahan dengan kekuatan luluh yang tinggi bersifat rapuh. Informasi mengenai temperatur transisi menjadi demikian penting bila suatu material akan didisain untuk aplikasi yang melibatkan rentang temperatur yang besar. Sebaliknya pada temperatur di bawah nol derajat Celcius.ac.3.

Gambar 3.ui.4 memberikan ilustrasi efek temperatur terhadap ketangguhan impak beberapa bahan.id 23 .ac. Efek temperatur terhadap ketangguhan impak beberapa material. Bentuk dan dimensi benda uji impak berdasarkan ASTM E23-56T ahyuwono@metal. kapal. Gambar 3. Gambar 3.4.5 menyajikan bentuk benda uji impak berdasarkan ASTM E-2356T.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia jembatan. jaringan pipa dan sebagainya bersifat rapuh pada temperatur rendah. sedangkan Gambar 3.5.

4. Tujuan instruksional umum Mahasiswa mampu menganalisis hasil uji puntir beberapa jenis logam dan karakteristik perpatahan yang dihasilkan. as roda dan sebagainya (full-scale test). Menjelaskan tujuan dan prinsip dasar pengujian puntir pada logam/material. karena bentuk ini mewakili geometri paling sederhana dalam penghitungan tegangan yang terjadi pada material.3. 4.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia BAB 4 PENGUJIAN PUNTIR 4. Menjelaskan kekhususan pengujian puntir dibandingkan uji tarik.1. 4. terutama untuk memperoleh kurva tegangan geser dan regangan geser dari suatu material.2. Pengantar Pengujian puntir merupakan jenis pengujian yang lebih spesifik dibandingkan pengujianpengujian terdahulu (tarik.4. kekuatan luluh puntir dan modulus pemuluran (rupture).ac.id 24 . 2. Menerapkan dasar pengamatan kerusakan untuk menganalisis bentuk perpatahan (fraktografi) hasil uji puntir pada beberapa logam serta mengkaitkannya dengan kurva tegangan-regangan geser yang dicapai. kekerasan dan impak). 4. Dalam batas elastis tegangan geser bervariasi secara linier dari nol di bagian pusat lingkaran hingga ahyuwono@metal. Sasaran Pembelajaran: Setelah mempelajari teori dasar pengujian puntir ini mahasiswa mampu: 1. pengujian puntir mampu memberikan informasi penting tambahan mengenai modulus elastisitas dalam arah geser (shear). Prinsip pengujian Benda uji puntir umumnya memiliki penampang lintang silinder. Menjelaskan derivasi formula dari momen puntir dan sudut puntir menjadi tegangan geser dan regangan geser.ui. Walaupun karakteristik mekanis material telah dapat diketahui dari hasil uji tariknya. 3. Pengujian ini umumnya dilakukan pada materialmaterial yang getas seperti baja perkakas dan pada komponen-komponen hasil fabrikasi seperti poros.

2) τ= dimana τ adalah tegangan geser (N/mm2). Pengujian dilakukan dengan mencengkam salah satu ujung benda uji silinder pada grip pemegang (chuck). Pengujian puntir pada benda uji silinder pejal Momen luar yang ditimbulkan pada salah ujung benda uji mendapat tahanan dari tegangan geser material. sementara ujung lainnya diberikan pembebanan melalui kepala beban. Untuk benda uji silinder pejal dimana J = πD4/32 maka tegangan maksimum yang terjadi pada permukaan adalah: M D/ 2 16 M T τ max = T 4 = (4.ui.1 di bawah ini memberikan ilustrasi deformasi pada benda uji puntir: Gambar 4.1) dengan r2dA adalah momen inersia polar dari benda uji dan biasa dinotasikan dengan J.4) πD / 32 πD 3 sementara benda uji silinder tubular J = π/32(Do4.ac. tegangan geser maksimum adalah: ahyuwono@metal. r jarak radial dari pusat (mm) dan J momen inersia polar yang tergantung geometris benda (mm4).id MT r J (4. MT momen puntir (N-mm). Gambar 4.3) 25 . Tegangan tersebut bernilai nol pada pusat benda uji dan meningkat secara linier dengan penambahan jarak terhadap titik pusat.Di4) dengan Do diameter luar dan Di diameter dalam. Sehingga MT = dan τJ r (4. Kondisi kesetimbangan antara momen pemuntir luar dan momen reaksi dari material menghasilkan: M T = ∫ τ r dA = r =0 r =a τ r a 0 2 ∫ r dA (4.1. Deformasi diukur dengan alat pengukur sudut puntir (twisting) yang dinamakan troptometer. Penentuan deformasi didasarkan atas perpindahan sudut (angular displacement) dari suatu titik yang berada dekat ujung benda uji terhadap posisi suatu titik dengan elemen longitudinal yang sama di ujung lainnya.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia mencapai maksimum pada permukaan terluar benda uji.

Diagram momen puntir-sudut puntir Pada daerah elastis.2. sebagaimana halnya hukum Hooke pada uji tarik.2) dan (4.ac.8) Keadaan tegangan internal yang terjadi pada suatu titik pada permukaan benda uji puntir pejal ditunjukkan oleh Gambar 4.ui.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia τ max = 16 M T Do π ( Do4 − Di4 ) (4.5) Besarnya regangan geser γ ditentukan oleh sudut puntiran θ (dalam satuan radian): rθ γ = tan φ = (4. momen puntir dan sudut puntir: G= MT L Jθ (4.6) ke persamaan menghasilkan persamaan untuk modulus geser sebagai fungsi dari geometri benda uji.id 26 .2 berikut: Gambar 4.3 berikut: Gambar 4. G menghasilkan persamaan: τ = Gγ (4.6) L dimana L adalah panjang benda uji pada Gambar 4.1. maka tegangan geser dapat dianggap proporsional dengan regangan gesernya. Konstanta proporsionalitas dalam hal ini adalah modulus kekakuan/elastisitas dalam geseran. Pada saat pengujian maka pengukuran yang dilakukan adalah momen puntir MT dan sudut puntir θ untuk memperoleh diagram seperti ditunjukkan oleh Gambar 4.7) Substitusi persamaan (4. Keadaan tegangan pada benda uji silinder pejal yang mengalami momen puntir ahyuwono@metal.3.

Jenis kegagalan material dalam pembebanan puntir: (a) kegagalan ulet akibat mode geser) dan (b) kegagalan getas akibat mode tarik Material getas akan mengalami kegagalan dalam pembebanan puntir sepanjang bidang yang tegak lurus terhadap arah tegangan tarik maksimum. σ1 adalah tegangan tarik sementara σ3 tegangan tekan. Tegangan intermediat σ2 adalah nol. Karena bidang ini memotong sudut antara dua bidang tegangan geser dan membentuk sudut 45o terhadap arah-arah longitudinal dan transversal.3) dan (4. maka perpatahan akan berbentuk heliks.id 27 . (a) (b) Gambar 4. Tegangan utama σ1 dan σ3 menghasilkan sudut 45o terhadap sumbu longitudinal dan setara nilainya dengan tegangan-tegangan geser.4. Keadaan tegangan inilah yang dapat dipakai untuk menjelaskan bentuk perpatahan pada benda uji ulet dan getas. tegak lurus terhadap sumbu longitudinal yy dan sejajar dengan sumbu longitudinal xx.4. lihat Gambar 4.ac. Bandingkan dengan kondisi tegangan dan perpatahan pada material ulet atau getas bila dikenakan pembebanan tarik atau tekan! Pengujian puntir memiliki kelebihan daripada pengujian tarik dalam hal pengukuran dasar mengenai plastisitas material.4. Logam ulet akan mengalami kegagalan karena mekanisme geser yang terjadi sepanjang salah satu bidang tegangan geser maksimum. seperti diperlihatkan oleh Gambar 4. Pengujian puntir mampu menghasilkan secara langsung kurva tegangan geser-regangan geser. Umumnya bidang perpatahan tegak lurus terhadap sumbu longitudinal.a.ui.b.6). Nilai regangan yang besar mampu diperoleh dalam uji puntir tanpa komplikasi terjadinya penciutan (necking) dalam penarikan ataupun penggembungan (barreling) karena efek gesekan dalam penekanan.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tegangan geser maksimum terjadi pada dua bidang yang saling tegak lurus. yaitu melalui persamaan (4. ahyuwono@metal.

ui. Keausan telah menjadi perhatian praktis sejak lama.id 28 . tetapi hingga beberapa saat lamanya masih belum mendapatkan penjelasan ilmiah yang besar sebagaimana halnya pada mekanisme kerusakan akibat pembebanan tarik. Menganalisis beberapa faktor luar (beban. 3. Sasaran Pembelajaran: Setelah mempelajari teori dasar pengujian puntir ini mahasiswa mampu: 1. Saat ini. Menjelaskan beberapa mekanisme keausan yang mungkin terjadi pada logam/material.1. Telaah mengenai ketiga subyek ini yang dikenal dengan nama ilmu Tribologi. 2. Hal ini disebabkan masih lebih mudah untuk mengganti komponen/part suatu sistem dibandingkan melakukan disain komponen dengan ketahanan/umur pakai (life) yang lama. Salah satunya adalah dengan metode Ogoshi dimana benda uji memperoleh beban gesek dari cincin yang berputar ahyuwono@metal. Tujuan Instruksional Umum: Mahasiswa mampu menganalisis mekanisme keausan yang terjadi pada beberapa jenis logam 5.ac.3. impak. Menjelaskan tujuan dan prinsip dasar pengujian keausan pada logam/material. puntir atau fatigue. melainkan response material terhadap sistem luar (kontak permukaan). Pembahasan mekanisme keausan pada material berhubungan erat dengan gesekan (friction) dan pelumasan (lubrication). 5. Material apapun dapat mengalami keausan disebabkan mekanisme yang beragam.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia BAB 5 PENGUJIAN KEAUSAN 5.4. prinsip penggantian dengan mudah seperti itu tidak dapat diberlakukan lebih lanjut karena pertimbangan biaya (cost). Keausan bukan merupakan sifat dasar material. 5. kecepatan dan jarak luncur) terhadap laju keausan beberapa jenis logam.2. Prinsip pengujian Pengujian keausan dapat dilakukan dengan berbagai macam metode dan teknik. yang semuanya bertujuan untuk mensimulasikan kondisi keausan aktual. Pengantar Keausan umumnya didefinisikan sebagai kehilangan material secara progresif atau pemindahan sejumlah material dari suatu permukaan sebagai suatu hasil pergerakan relatif antara permukaan tersebut dan permukaan lainnya.

Pengujian keausan dengan metode Ogoshi Dengan B adalah tebal revolving disc (mm).x (5. seperti diperlihatkan oleh Gambar 5. Ilustrasi skematis keausan adhesive ahyuwono@metal.2.ac. b lebar celah material yang terabrasi (mm) maka dapat diturunkan besarnya volume material yang terabrasi (W): (5. Semakin besar dan dalam jejak keausan maka semakin tinggi volume material yang terlepas dari benda uji.b3/12r. material jenis apapun akan mengalami keausan dengan mekanisme yang beragam. r jari-jari disc (mm). Pembebanan gesek ini akan menghasilkan kontak antar permukaan yang berulang-ulang yang pada akhirnya akan mengambil sebagian material pada permukaan benda uji. Ilustrasi skematis dari kontak permukaan antara revolving disc dan benda uji diberikan oleh Gambar 5.2) Sebagaimana telah disebutkan pada bagian Pengantar. abrasi.2. yaitu: keausan adhesive. Gambar 5.ui.1: ω = kecepatan putar P B ω r h b Gambar 5. Besarnya jejak permukaan dari material tergesek itulah yang dijadikan dasar penentuan tingkat keausan pada material. lelah dan oksidasi.1.1) W = B. Keausan adhesive: terjadi bila kontak permukaan dari dua material atau lebih mengakibatkan adanya perlekatan satu sama lain dan pada akhirnya terjadi pelepasan/pengoyakan salah satu material. Di bawah ini diberikan penjelasan ringkas dari mekanisme-mekanisme tersebut: 1.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (revolving disc).id 29 .b3/12r Laju keausan (V) dapat ditentukan sebagai perbandingan volume terabrasi (W) dengan jarak luncur x (setting pada mesin uji): V = W/x = B.

ac. Ilustrasi skematis keausan lelah 4. Keausan oksidasi: seringkali disebut sebagai keausan korosif.4 memberikan skematis mekanisme keausan lelah. Sebagai contoh partikel pasir silica akan menghasilkan keausan yang lebih tinggi ketika diikat pada suatu permukaan seperti pada kertas amplas. Pada kasus pertama partikel tersebut kemungkinan akan tertarik sepanjang permukaan dan mengakibatkan pengoyakan sementara pada kasus terakhir partikel tersebut mungkin hanya berputar (rolling) tanpa efek abrasi. sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 5. Permukaan yang mengalami beban berulang akan mengarah pada pembentukan retak-retak mikro (t1). Gambar 5. Pada prinsipnya mekanisme ini dimulai dengan adanya perubahan kimiawi material di bagian permukaan oleh faktor lingkungan. Retak-retak tersebut pada akhirnya menyatu (t2) dan menghasilkan pengelupasan material ((t3).Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2.4.3.ui. Kontak dengan lingkungan ini akan menghasilkan pembentukan lapisan pada permukaan dengan sifat yang berbeda dengan material induk. Sebagai ahyuwono@metal. Keausan lelah: merupakan mekanisme yang relatif berbeda dibandingkan dua mekanisme sebelumnya. Keausan abrasif: terjadi bila suatu partikel keras (asperity) dari material tertentu meluncur pada permukaan material lain yang lebih lunak sehingga terjadi penetrasi atau pemotongan material yang lebih lunak. yaitu dalam hal interaksi permukaan.id 30 . Gambar 5. Tingkat keausan sangat tergantung pada tingkat pembebanan. Gambar 5. Tingkat keausan pada mekanisme ini ditentukan oleh derajat kebebasan (degree of freedom) partikel keras atau sperity tersebut. Baik keausan adhesive maupun abrasif melibatkan hanya satu interaksi sementara pada keausan lelah dibutuhkan interaksi multi.3. Ilustrasi skematis keausan abrasif 3. dibandingkan bila partikel tersebut berada di dalam sistem slury.

ui. Ilustrasi skematis keausan oksidasi ahyuwono@metal.id 31 .Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia konsekuensinya.5. material pada lapisan permukaan akan mengalami keausan yang berbeda Hal ini selanjutnya mengarah kepada perpatahan interface antara lapisan permukaan dan material induk dan akhirnya seluruh lapisan permukaan itu akan tercabut.ac. Gambar 5. Gambar 5.5 memperlihatkan skematis mekanisme keausan oksidasi/korosi ini.

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia BAGIAN 2: MODUL PRAKTIKUM PENGUJIAN MEKANIK PADA MATERIAL ahyuwono@metal.ac.id 32 .ui.

impak dan torsi berdasarkan hasil uji mekanisnya dan karakteristik dasar logam-logam tersebut.ac. impak. paduan tembaga dan paduan alumunium.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia Tujuan Instruksional Umum: Mahasiswa mampu menguasai teknik dan prosedur standar beberapa pengujian mekanis pada logam dan menganalisis hasil-hasil pengujian tersebut berdasarkan teori-teori dasar metalurgi fisik yang telah diberikan pada bab-bab sebelumnya. Membandingkan hasil pengujian mekanis pada logam-logam menganalisisnya berdasarkan teori-teori dasar metalurgi fisik. torsi dan keausan pada baja lunak (mild steel). 3. Menganalisis tampilan perpatahan beberapa logam hasil uji tarik.ui.id 33 . Sasaran Pembelajaran: Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa mampu: 1. Memahami dan menguasai teknik dan prosedur standar pengujian-pengujian mekanis yaitu pengujian tarik. besi tuang. Sistem Evaluasi: Tes Pendahuluan (TP) Laporan Pendahuluan (LP) Praktikum (P) Laporan Akhir (LA) Presentasi LA + Ujian Lisan : : : : : 15% 15% 20% 25% 25% ahyuwono@metal. tersebut dan 2. kekerasan.

Sampel uji tarik (besi tuang. 4. tembaga dan alumunium). Lulus tes pendahuluan. Prasyarat: Sebelum anda melakukan modul praktikum ini. baja.ui. 4. 2. Menyelesaikan Laporan Pendahuluan Praktikum (prelab report) dan menyerahkannya kepada asisten penanggung jawab/koordinator praktikum. Untuk membandingkan titik luluh logam-logam tersebut 3. Buatlah sketsa dari benda uji dan masukkan hasil pengukuran dimensi tersebut pada lembar data Anda. Untuk membandingkan modulus elastisitas dari logam-logam tersebut. Untuk membandingkan tampilan perpatahan (fraktografi) logam-logam tersebut dan menganalisisnya berdasarkan sifat-sifat mekanis yang telah dicapai.2. Untuk membuat. Servopulser Shimadzu kapasitas 30 ton Caliper dan/atau mikrometer Spidol permanen atau penggores (cutter) Stereoscan macroscope. 1. 3.1. Prosedur: 1. 5. Untuk membandingkan fenomena necking pada logam-logam tersebut. 6. membandingkan serta menganalisis kurva tegangan-regangan. 7. Universal testing machine. Membaca Teori Dasar Praktikum Metalurgi Fisik (Bab 1) dan buku-buku teks yang dianjurkan. Peralatan dan material: 1. Tujuan Pengujian: 1. 5. baja.ac. 1. 3.4. Untuk membandingkan tingkat keuletan logam-logam tersebut. melalui penghitungan % elongasi dan % pengurangan luas. 1. Untuk membandingkan kekuatan maksimum beberapa jenis logam (besi tuang. Membaca buku prosedur panduan praktikum Metalurgi Fisik ini. baik kurva rekayasa maupun sesungguhnya dari beberapa jenis logam. tembaga dan alumunium) 2. anda harus: 1.id 34 . ahyuwono@metal. Ukurlah dimensi (diameter rata-rata) dari benda uji dengan menggunakan caliper atau mikrometer. 4. 2.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia MODUL 1 PENGUJIAN TARIK 1.3.

Tandailah panjang ukur (gauge length) berupa jarak antara dua titik pada benda uji dengan menggunakan penggores (cutter) atau spidol permanen.ac. Indikasikanlah titik luluh. Berikanlah penjelasan! 3. tembaga dan alumunium. Berdasarkan grafik beban-perpanjangan setiap logam. Pertanyaan dan Tugas: 1. Mulailah penarikan dan perhatikan dengan baik mekanisme deformasi yang terjadi pada benda uji serta tampilan grafik beban-perpanjangan yang terlihat pada recorder Teruskan pengamatan hingga terjadinya beban maksimum dan dilanjutkan dengan necking lalu perpatahan 5. 6. Lakukanlah pengujian untuk material yang berbeda jenisnya. kekuatan maksimum dan titik perpatahan. Buatlah panjang ukur yang simetris dengan panjang benda uji keseluruhan dan mengacu kepada standar (ASTM atau JIS) 3. (ii) kekuatan tarik maksimum. Buatlah sketsa tampak samping dan permukaan patahan (fractografi) benda uji pada lembar data Anda. Dari logam-logam yang diuji manakah yang: (i) paling kuat? (ii) paling ulet? (iii) paling kaku? Dukunglah penilaian anda tersebut dengan data-data hasil pengujian. Catatlah setiap langkah operasional setting pengujian dengan seksama. satukan kembali patahan benda uji dan ukurlah panjang akhir (Lf) antara dua titik (gauge marks). Apakah logam yang ulet selalu logam yang tangguh? ahyuwono@metal. buatlah diagram tegangan-regangan sesungguhnya dari sampel-sampel tersebut. 9. daerah deformasi elastis dan plastis. Tandailah pada grafik beban-perpanjangan titik-titik terjadinya beban maksimum dan perpatahan. Ukurlah pula diameter akhir dari bagian benda uji yang mengalami necking.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2. Apa makna penting dari nilai-nilai % elongasi dan % pengurangan area dari suatu material? Apakah kedua nilai tersebut sama ataukah berbeda? Mengapa? 4. 8. (v) modulus elastisitas. Lepaskan benda uji dari grip mesin uji. Amati dan catat karakteristik tipe perpatahan yang terjadi dengan menggunakan stereoscan macroscope. hitunglah dengan formulasi yang sesuai dari nilai-nilai sebagai berikut: (i) titik luluh. 1. 8. Pada tahap ini anda akan didampingi oleh teknisi lab. 2. Catatlah hasil-hasil pengukuran ini di dalam lembar data.id 35 . 7. (iii) persentase elongasi.ui. Buatlah grafik tegangan-regangan rekayasa dari pengujian tarik yang telah Anda lakukan pada sampel besi tuang. Dengan formulasi yang Anda susun pada Laporan Pendahuluan. Mengapa besi tuang kelabu secara mekanik dinilai lemah? Ukuran apakah yang dipakai sehingga dinilai lemah secara mekanis? Bagaimana halnya dengan besi tuang nodular? 6. Pasanglah benda uji dengan hati-hati pada grip mesin uji Shimadzu. Indikasikanlah dimana mulai terjadinya perbedaan yang signifikan antara grafik ini dengan grafik teganganregangan rekayasa. 4.5. Mengapa baja menunjukkan adanya titik luluh sementara besi tuang tidak? 5. (iv) persentase pengurangan area. baja. Bagaimana perbedaan perpatahan antara baja dan besi tuang? 7.

tembaga dan alumunium) 2. Tujuan Pengujian: 1.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia MODUL 2 PENGUJIAN KEKERASAN 2.a. Untuk memahami dan menguasai prosedur metode uji kekerasan Brinell. anda harus: 1.4.ui. Membaca Teori Dasar Praktikum Metalurgi Fisik (Bab 2) dan referensi yang dianjurkan Membaca buku prosedur panduan praktikum Metalurgi Fisik ini. Metode Brinell dan Vickers (sampel silinder pejal) 1. baja. diindikasikan dengan permukaan benda uji yang cukup mengkilat. Peralatan dan material: 1. Persiapkan sampel uji kekerasan berbentuk silinder (besi tuang. tembaga dan alumunium). 2. Untuk membandingkan nilai kekerasan (Brinell dan Vickers) dari beberapa jenis logam (besi tuang. 5. Prasyarat: Sebelum anda melakukan modul praktikum ini. ahyuwono@metal. Pengujian kekerasan makro 2. Prosedur: 2. baja. Menyelesaikan Laporan Pendahuluan Praktikum (prelab report) dan menyerahkannya kepada asisten penanggung jawab/koordinator praktikum Lulus tes pendahuluan. 2.id 36 . 2. 3.1.1.2.1. 3. Vickers dan Rockwell. 4. 4.4. Untuk mengestimasi nilai kekuatan tarik beberapa logam berdasarkan nilai kekerasan Brinellnya. 2. baja. Vickers dan Rocwell) Buehler Micromet 2100 series microhardness tester (metode Vickers) Micrometer Measuring microscope Sampel uji silider pejal dan uji tarik (besi tuang. 4. Hoytom macrohardness tester (metode Brinell. tembaga dan alumunium) dengan cara melakukan pengamplasan dan pemolesan yang memadai. Untuk mengetahui prinsip dan teknik pengujian kekerasan mikro (Vickers) dan mengaplikasikannya untuk mengetahui nilai kekerasan fasa-fasa di dalam logam baja/besi tuang. 3. 2.4.ac.3.

Putar poros tempat dudukan benda uji searah jarum jam hingga indentor menyentuh benda uji dengan perlahan-lahan. Metode Brinell (sampel uji tarik) Pengujian kekerasan ini dilakukan pada sampel-sampel uji tarik sebelum dilakukan penarikan. hanya saja lokasi pengujian adalah pada bagian grip sampel uji tarik. 3. Pilihlah beban yang sesuai dengan benda uji. Lakukan pengujian kekerasan Brinell pada beberapa lokasi di bagian grip (min. Putar tuas beban ke arah belakang dengan hati-hati lalu lepaskan tuas tersebut hingga berputar perlahan-lahan. 2. Pilihlah indentor dan beban yang sesuai.1. 5.a. 8. Berhati-hatilah agar tidak terjadi pemutaran poros tersebut searah jarum jam karena akan mengakibatkan rusaknya jejak hasil indentasi. Lakukan tahap-tahap operasional di atas untuk lokasi atau benda uji lainnya. yaitu dengan memutar poros dudukan berlawanan arah jarum jam. Indentasi pada satu lokasi telah selesai. 2. putarlah terus poros dudukan sampel hingga jarum merah kecil pada lingkaran dalam menyentuh batas merah. Prinsip pengujian pada dasarnya adalah sama dengan metode Brinell dan Vickers. Hitung nilai kekerasan dengan rumus yang sesuai dengan metode uji (Brinell atau Vickers). Ukurlah diameter jejak indentasi dengan menggunakan mikroskop pengukur jejak. ahyuwono@metal.b. Lepaskan kontak indentor dengan benda uji secara hati-hati. Pada tahap ini berlangsung pembebanan indentasi pada benda uji selama 10-15 detik hingga jarum pada lingkaran dalam dan luar kembali ke posisi awal. Lihat buku manual alat 4.4.1. Langkah ini merupakan preload dari indentasi. Catatlah hasil pengukuran pada buku lembar data anda.id 37 . 7. Setelah benda uji bersentuhan dengan indentor. 4. Ukurlah diameter jejak yang dihasilkan. Prosedur pengujian adalah sama dengan prosedur I.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 2. Pasanglah indentor untuk masing-masing metode dengan seksama. Hati-hati! Jagalah agar indentor tidak sampai menghujam benda uji karena hal ini akan mengakibatkan kerusakan berat pada mata indentor itu.4. 6. 3. Metode Rockwell (sampel silinder pejal) Metode Rockwell merupakan pengujian untuk mengetahui nilai kekerasan material melalui pembacaan langsung (direct reading).ui. 2. Pastikan bahwa peralatan uji (Brinell dan Vickers) telah di set-up dengan baik. 6. Lakukan pada benda uji lainnya. Hitung nilai kekerasan dan bandingkan dengan nilai yang diperoleh dari sampel uji silinder pejal. Tujuannya adalah untuk mengetahui korelasi antara nilai kekuatan tarik dan kekerasan Brinell dari logam. 10. 5. Gunakan keduanya untuk mengestimasi nilai kekuatan tarik logam. Tempatkan sampel uji tarik tersebut dalam pemegang khusus (anvil) dalam posisi horisontal. 3 titik).c.. Jangan teruskan putaran poros bila batas ini telah tercapai. 9. Amplaslah bagian grip sampel uji tarik dengan kertas amplas hingga diperoleh permukaan yang relatif rata dan mampu memantulkan cahaya. Bila perlu lanjutkan pengamplasan dengan tingkat kehalusan yang lebih tinggi. 1.ac.

10. poles dan etsa. Biarkan tuas bergerak dengan halus selama beberapa waktu. lihatlah buku manual alat. Atur waktu indentasi. 10. 8. 2. Pasang indentor yang sesuai (Rockwell B atau C). Tentukan lokasi (fasa) yang akan diuji. Lanjutkan pengujian untuk lokasi atau material lain. 3. Gunakan zat etsa nital 3% untuk memperoleh fasafasa penting dalam material-material tersebut. 2. Untuk Rockwell C pilihlah skala terluar (merah) sedangkan Rockwell pakailah skala dalam (hitam). Bila diperlukan aculah standar ASTM. Area yang dipilih harus ditempatkan di tengahtengah ruang pandang mata pengamat (okuler). antara 10-15 detik. 6. 2. Sesuaikan skala tersebut dengan metode Rockwell yang dipilih. Lakukan indentasi dengan menekan tombol “Start”. Jangan sekali-kali melakukannya dengan kejutan. 4. Bacalah nilai kekerasan material pada dial yaitu posisi jarum hitam panjang sesuai metode Rockwell yang dipakai. 1. Lakukan preload dengan memutar poros dudukan benda uji searah jarum jam hingga jarum kecil pada dial pembaca menyentuh batas merah. Lakukan pembebanan dengan memutar tuas beban ke belakang dengan hati-hati.ui. 4.ac. Siapkan benda uji dengan tahapan-tahapan uji metalografi sebagai berikut: amplas kasar. Persiapkan benda uji dengan baik (amplas dan poles secukupnya). amplas halus. Pilih beban yang sesuai dengan memutar dial beban (di bagian samping atas) dengan hati-hati. Dapatkan tingkat pencahayaan yang sesuai dengan mengatur kontrol iluminasi di bagian samping. Lampu”Loading”akan menandakan indentasi berlangsung selama waktu yang telah ditentukan sebelumnya. 5.4. Putarlah turet indentor-lensa obyektif hingga diperoleh perbesaran 40 X. 3. Putar ring dari dial pembaca sehingga jarum panjang berwarna hitam menunjuk angka nol pada skala. 7. 7.2. 5. 9. 6. Tombol pengatur indentasi terletak di bagian amping bawah. Pasang beban yang sesuai. Tempatkan benda uji pada dudukan dengan permukaan yang akan diuji tegak lurus terhadap indentor intan. Lepaskan benda uji dengan memutar poros dudukan benda uji berlawanan arah jarum. Nyalakan instrumen Micromet dengan menekan tombol switch-on di bagian samping alat uji. Aturlah fokus struktur mikro benda uji dengan memutar handel pengangkat di bagian samping alat uji. ahyuwono@metal.id 38 . Konsultasikan dengan teknisi lab bersangkutan bila menemui masalah dalam memunculkan fasa-fasa tersebut. Pengujian kekerasan mikro Pengujian ini bertujuan untuk memperoleh nilai kekerasan mikro dari fasa-fasa penyusun besi tuang (kelabu dan nodular) dan baja karbon rendah. Direkomendasikan waktu indentasi untuk hampir semua pengujian kekerasan mikro adalah 10-15 detik. 8. Kembalikan tuas beban ke posisi semula dengan hati-hati.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 1. Lampu power berwarna merah akan menyala pada panel muka. 9. Putar turet indentor-lensa obyektif hingga diperoleh posisi indentor.

9. Perhatikan skala nol pada right mikrometer yang terletak pada fillar adjustment knob. putarlah turet ke posisi lensa obyektif kembali (40 X) dan mulailah pengukuran lebar jejak. Tunggulah agar lampu indikasi loading benar-benar berhenti menyala. 17. austenit. 18. grafit berbentuk serpih. ahyuwono@metal. Mengapa terkadang diperlukan estimasi kekuatan tarik material dari nilai kekerasannya dibandingkan peroleh nilai UTS secara langsung dari pengujian tariknya? Apakah nilai kekerasan Brinell. Jangan sekalikali menggerakkan benda uji ataupun mencoba memutar turet indentor-lensa obyektif sebelum indentasi selesai dengan sempurna.id 39 . 2. Inilah jarak diagonal dari jejak pada benda uji. perlit. Indentasi selesai. grafit berbentuk nodul? Bandingkanlah hasil pengujian anda dengan literatur. 16.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 11. 13.5. 7. Catatan: satu kali putaran mikrometer adalah 25 mikron atau penambahan 1 skala adalah sama dengan 0. Lakukan pengujian untuk fasa atau lokasi lain.5 mikron. Putar fillar adjustment knob sehingga garis kanan akhirnya mencapai ujung kanan terluar dari jejak. 14.ac. Seberapa besarkah perbedaan kedua nilai tersebut? Berikanlah alasan yang mampu menjelaskan hal tersebut. 15. 2. Bandingkanlah nilai estimasi ini dengan nilai yang diperoleh dari pengujian tarik. Hitung nilai kekerasan fasa dengan rumus yang sesuai. Ulangi langkah pengukuran untuk jarak diagonal lainnya dengan memutar kedua adjustment knob dalam posisi vertikal. Pertanyaan dan Tugas: 1. Berapakah nilai VHN dari fasa-fasa: ferit. Setelah melakukan pengujian kekerasan dapatkah anda memberikan batasan/definis pengujian kekerasan mikro itu? Apakah bedanya dengan kekerasan makro? Pada aplikasi lain apa sajakah pengujian kekerasan mikro dilakukan? 3. 6. 12. Putar right fillar adjustment knob sehingga bagian kanan terdalam dari right fillar line berimpit dengan bagian kiri terdalam dari left fillar line. 8. 5.ui. Apakah satuan dari nilai kekerasan Brinell dan Vickers? Apakah hasil penjejakan Brinell yang anda lakukan betul-betul berbentuk tembereng (spherical)? Distorsi bentuk apakah yang umum terjadi? Bagaimana halnya dengan distorsi jejak Vickers? Mengapa diperlukan permukaan benda uji yang mulus/licin pada saat melakukan uji kekerasan Brinell atau Vickers? Mengapa pengujian Vickers atau Rockwell C tidak disarankan untuk besi tuang? Hitung nilai kekuatan tarik dari logam berdasarkan hasil uji kekerasan yang diperoleh. Vickers dan Rockwell dari suatu logam dapat dikonversikan satu sama lainnya? Apakah mungkin dihasilkan persamaan matematis untuk menghubungkan ketiga skala kekerasan tersebut. 10. Sebagai patokan: nilai kekuatan tarik maksimum (UTS) = 0.35 HB kg/mm2. Pengukuran dilakukan dengan memutar left fillar adjustment knob (bagian kiri dari lensa okuler) sehingga bagian garis kiri terdalam menyentuh ujung kiri terluar dari jejak. 4.

2.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia MODUL 3 PENGUJIAN IMPAK 3.3. Tujuan Pengujian: 1. anda harus: 1. Membaca Teori Dasar Praktikum Metalurgi Fisik (Bab 3) dan buku-buku teks yang dianjurkan 2.ui. Untuk mengetahui temperatur transisi perilaku kegetasan baja struktural ST 42. 4. 2. Persiapkan sampel uji untuk temperatur rendah (<0oC) dan temperatur tinggi (> 1000C). Ujilah satu demi satu sampel pada: temperatur ruang (Tr). 5. 3. Catatlah hasil pengukuran anda di dalam lembar data. Caliper dan/atau mikrometer Stereoscan macroscope. 7. 3. Membaca buku prosedur panduan praktikum Metalurgi Fisik ini 3. Prasyarat: Sebelum anda melakukan modul praktikum ini. Prosedur: 1. 3. Lulus tes pendahuluan. 2.4. Untuk menganalisis permukaan patahan (fractografi) sampel impak yang diuji pada berbagai temperatur.1. Sampel uji impak baja ST 42 (4 buah) Dry ice 3. 3. Termometer Furnace. 2. Menyelesaikan Laporan Pendahuluan Praktikum (prelab report) dan menyerahkannya kepada asisten penanggung jawab/koordinator praktikum 4. Dengan menggunakan caliper/mikrometer lakukan pengukuran luas area di bawah takik dari sampel-sampel uji anda.ac. Peralatan dan material: 1. yaitu dengan memasukkan masing-masing ke dalam wadah berisi campuran dry ice + alkohol 70% dan furnace. Impact testing machine (metode Charpy) kapasitas 30 Joule. 6. <0oC dan >100oC dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: ahyuwono@metal.id 40 . 0oC.

Lepaskan tombol pada tangkai pendulum sehingga pendulum berayun dan menumbuk benda uji. Lakukan pengereman dengan menarik tuas rem sehingga ayunan pendulum dapat dikurangi. Bersiaplah melakukan pengujian pada posisi di samping alat uji. Letakkan benda uji pada tempatnya dengan takik membelakangi arah datangnya pendulum.id 41 . Tingkat kehati-hatian lebih tinggi diperlukan dalam menangani sampel temperatur tinggi. Berhati-hatilah. Bacalah nilai yang ditunjukkan oleh jarum merah pada skala yang sesuai (300 Joule). Apakah penampakan perpatahan pada benda uji anda mendukung pernyataan ini? Jelaskan! ahyuwono@metal. Putarlah handel untuk menaikkan pendulum hingga jarum penunjuk beban berwarna hitam mencapai batas merah. Buatlah sketsa patahannya di dalam lembar data anda. 3. Sifat fisik apakah yang ditentukan oleh pengujian impak? Berikanlah beberapa contoh dimana gaya impak bekerja secara aktual pada komponenkomponen logam! Buatlah grafik harga impak sebagai fungsi temperatur dari hasil pengujian anda. 3. tariklah centre setting ke posisi semula. 6. Tugas dan pertanyaan: 1. 4.ui. Jangan sekalikali meninggalkan centre setting ini di belakang benda uji karena akan ikut mengalami tumbukan oleh pendulum. Ambil benda uji dan amatilah permukaan patahannya di bawah stereoscan macroscope. Bila benda uji telah siap. Pastikan benda uji tepat berada di tengah dengan bantuan centre setting. jangan berdiri pada garis ayunan gaya pendulum. Tentukanlah temperatur transisi dari logam yang diuji! Buatlah pula grafik persentase luas area getas sebagai fungsi temperatur! Apakah yang menyebabkan terjadinya ‘data scatter’ hasil pengujian anda? Bagaimanakah grafik HI vs Temperatur bila takik pada benda uji dibuat (a) lebih tajam atau (b) lebih lebar? Jelaskan! Kegagalan getas umumnya diindikasikan oleh alur cleavage sepanjang bidang kristalografi tertentu. 5. 7. 2.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia • • • • • • • • • • Pastikan jarum skala berwarna merah sebagai penunjuk harga impak material berada pada posisi nol. Hitunglah harga impak material dengan rumus dasar.5.ac. Nyatakan dalam persentase terhadap luas area total di bawah takik! Ulangi pengujian untuk sampel-sampel lain. Ukurlah luas area getas dan ulet dari masing-masing sampel uji.

Pasang sampel uji dengan baik. Membaca Teori Dasar Praktikum Metalurgi Fisik (Bab 4) dan buku-buku teks yang dianjurkan 2. Periksa dan pasang jarum penunjuk momen puntir pada skala nol. Gunakan alat bantu bila perlu. Pasang beban tersebut 5. paduan tembaga dan paduan alumunium) 4.ui. 9. Peralatan dan material: 1. Persiapkan sampel uji kawat (panjang 300-350 mm). Putarlah grip pemegang ke arah yang sesuai.1. paduan tembaga dan paduan alumunium) 2. 11. Pasang kertas pencatat pada silindernya. 7. 3. 6. anda harus: 1. Atur skala pendulum sesuai dengan beban yang diinginkan (6 kg-m atau 3 kg-m). 8. Caliper dan/atau mikrometer 3. Untuk memperoleh kurva tegangan geser-regangan geser dan nilai modulus geser (G) dari beberapa jenis logam (baja. Untuk menganalisis permukaan patahan (fractografi) sampel hasil uji puntir. Lulus tes pendahuluan. Menyelesaikan Laporan Pendahuluan Praktikum (prelab report) dan menyerahkannya kepada asisten penanggung jawab/koordinator praktikum 4. 10. Stereoscan macroscope.3. Tujuan Pengujian: 1.ac.4.2. Atur jarum penunjuk sudut puntir pada skala nol. Lakukan uji coba terlebih dahulu pada kertas dan silinder pencatat tersebut.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia MODUL 4 PENGUJIAN PUNTIR 4. Atur jarum penunjuk momen puntir pada skala nol. 2. Pastikan pengencangan yang dilakukan tidak terlalu rendah maupun terlalu besar. Membaca buku prosedur panduan praktikum Metalurgi Fisik ini 3. 4. Prosedur: 1. 4. Pastikan bahwa oil dumper tersedia dalam jumlah yang memadai. 4. Prasyarat: Sebelum anda melakukan modul praktikum ini. 4. Sampel uji puntir (baja. Atur penunjuk jumlah puntiran ahyuwono@metal. Torsee torsion testing machine 2.id 42 .

Apa yang membedakan tampilan tersebut? Jelaskan! ahyuwono@metal. • tiap 90o untuk satu putaran selanjutnya. 15. Tariklah tuas main switch pada dinding tembok ke posisi on 13. Amati dan catat momen torsi pada penambahan sudut puntir: • tiap 30o selama dua putaran • tiap 60o selama putaran ke 3 dan 4. 14. Dari kurva tersebut tentukanlah nilai modulus geser (G) dari setiap jenis logam. • tiap 120o untuk satu putaran selanjutnya.ac. • tiap 180o untuk satu putaran selanjutnya. 4. Ulangi pengujian untuk jenis logam lainnya. Bandingkanlah nilai tersebut dengan nilai G yang diperoleh dari nilai E hasil uji tarik. 2. Nyalakan tombol hijau untuk memulai pengujian.id 43 . 3.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 12.ui. Buatlah sketsa dan deskripsi dari patahan tersebut. Dengan rumus yang sesuai. Bandingkanlah tampilan fraktografi patahan hasil uji puntir dan patahan hasil uji tarik untuk setiap jenis bahan.5. 4. 16. • tiap 360o hingga benda uji putus. Lepaskan benda uji dan amati di bawah stereoscan microscope. Buatlah kurva momen puntir terhadap sudut puntir dari setiap jenis logam yang diuji. ubahlah kurva momen puntir-sudut puntir tersebut menjadi kurva tegangan geser-regangan geser. Tugas dan pertanyaan: 1. (melalui rumus yang sesuai dan nilai v untuk setiap jenis logam dari literatur).

Ukur tebal (B) dari cincin pemutar (revolving disc). Untuk membandingkan ketahanan aus beberapa jenis logam (baja lunak. besi tuang. Kencangkan benda uji dengan memutar baut pada window tersebut searah putaran jarum jam. 3. 5. Persiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan selama pengujian: sampel uji (5 buah). anda harus: 1. 2. Pasang pada tempatnya dan kencangkan dengan memutar mur pengikatnya.3. Pemasang-pembuka gir (tracker) 4. Membaca Teori Dasar Praktikum Metalurgi Fisik (Bab 5) dan buku-buku teks yang dianjurkan 2. Ogoshi wear testing machine 2.ui.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia MODUL 5 PENGUJIAN KEAUSAN 5. ahyuwono@metal.2.ac. Aturlah parameter pengujian (beban. Prasyarat: Sebelum anda melakukan modul praktikum ini.4. Lulus tes pendahuluan. Menyelesaikan Laporan Pendahuluan Praktikum (prelab report) dan menyerahkannya kepada asisten penanggung jawab/koordinator praktikum 4.1. 4. Pasang benda uji pada sample holder yang berada pada tengah-tengah lever. Peralatan dan material: 1. besi tuang. Tujuan Pengujian: 1. Untuk mengetahui mekanisme keausan yang dominan pada logam-logam tersebut 5. 2. Membaca buku prosedur panduan praktikum Metalurgi Fisik ini 3. Lihatlah tabel penunjuk variasi tersebut. Prosedur: 1. paduan tembaga dan paduan alumunium) 5. tracker.id 44 . satu set gir. kecepatan dan jarak luncur) dengan men-set variasi gir. Mikroskop pengukur (Measuring macroscope) 5. Caliper dan/atau mikrometer 3. paduan tembaga dan paduan alumunium). Sampel uji keausan (baja. Pastikan daerah yang akan diuji berada tepat di bawah garis penanda pada window.

8. 2. Buatlah sketsa dan deskripsi jejak tersebut.5. Hitunglah laju keausan pada sampel-sampel uji dengan parameter yang telah ditetapkan. Amati pula jejak keausan yang anda peroleh. lakukan kembali langkah 5. 6. Ulangi pengujian untuk lokasi atau sampel lain.Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia 5.ac. Aturlah pasangan gir beban (yang berhubungan langsung dengan sample holder) sehingga diperoleh skala 4. Apakah ada korelasi antara kekerasan logam dan ketahanan ausnya. Tugas dan pertanyaan: 1. 7. Jelaskan! 4.id 45 . 10. 9. 3. Bila belum diperoleh maka tekanlah spring adjusting handle sambil diputar ke arah increase bila angkanya masih di bawah nol atau decrease bila angkanya melewati nol. Lepaskan sampel bila mesin telah mati. Tekan tombol switch-on untuk memulai pengujian.ui. Bila posisi ini belum diperoleh. Jelaskan berdasarkan tinjauan metalurgi fisik dan struktur mikro. 11. Mekanisme keausan apakah yang terjadi pada sampel-sampel uji anda? 5. Pastikan set-up parameter pengujian telah sesuai. Sekarang sentuhkan sampel uji yang telah terikat pada sample holder dengan revolving disc. 5. Catat pada lembar data anda. Buatlah grafik laju aus terhadap beban dan kecepatan luncur dari setiap jenis material. Aturlah skala pada lubang intip pada posisi nol. Ukurlah dengan measuring microscope lebar celah (b) yang diperoleh. Bandingkanlah ketahanan aus dari material-material tersebut. Bersihkan mesin uji dari benda-benda yang membahayakan (kain. Bagaimana usaha/cara untuk meningkatkan ketahanan aus dari logam-logam tersebut? ahyuwono@metal. 12. gir. obeng dsb).5 pada lubang intip sebagai suatu pembebanan awal (preload).

Praktikum Karakterisasi Material 1 (MMS 310802) Departemen Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia LAMPIRAN ahyuwono@metal.id 46 .ui.ac.

kg Beban putus.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI TARIK Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : Mesin Uji Chart speed Cross-head speed : ……………………………… : ……………………………… : ……………………………… Tabel 1. Lf (mm) Beban luluh . kg Beban maksimum. kg/mm2 Kekuatan Putus. Sifat Mekanik Hasil Pengujian Tarik Benda uji Diameter benda uji. Ao (mm2) Akhir. % . Af (mm2) Panjang ukur Awal. d (mm) Luas area • • • • Awal. kg/mm2 UTS. kg/mm2 Elongasi. kg Kekuatan Luluh. Lo (mm) Akhir.

1.Tabel 2. Sketsa Patahan Sampel Uji Tarik Benda uji Tampak samping Penampang Lintang Deskripsi patahan Asisten Lab : ………………………. . Paraf :……………………….

PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI KEKERASAN METODE BRINELL Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : No Benda uji Kondisi Indentasi D = P = t = mm kg detik 1 2 D = P = t = mm kg detik 3 D = P = t = mm kg detik 4 D = P = t = mm kg detik 5 D = P = t = mm kg detik Inden -tasi 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 d1 Jejak (mm) d2 d ave BHN BHN rata-rata Keterangan Asisten : …………………… Paraf : ……………………. .

.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI KEKERASAN METODE VICKERS Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : No Benda uji Kondisi Indentasi P = t = kg detik Indentasi 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 d (mm) VHN VHN rata-rata Keterangan 1 2 P = T = kg detik 3 P = t = kg detik 4 P = t = kg detik 5 P = t = kg detik Asisten : …………………… Paraf : …………………….

.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI KEKERASAN METODE ROCKWELL Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : No Benda uji Kondisi Indentasi P = t = kg detik Indentasi 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 HRC HRB HRC rata2 HRB rata2 Keterangan 1 2 P = t = kg detik 3 P = t = kg detik 4 P = t = kg detik 5 P = t = kg detik Asisten : …………………… Paraf : …………………….

.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI IMPAK Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : Sketsa benda uji: a b a = tinggi section di bawah takik (mm) b = lebar sampel (mm) A = luas penampang di bawah takik = a x b (mm2) U = Energi yang diserap (J) HI = Harga Impak = E/A (J/mm2) Material : ………………. . Metode : Charpy Beban impak : ………… Joule T (oC) a (mm) b (mm) A (mm2) E (Joule) HI (Joule/ mm2) Bentuk patahan Deskripsi patahan No 1 2 3 4 Asisten Lab: …………………… Paraf : …………………….

21. 19. 6. 38. 41. 13. 11.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI PUNTIR Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : Benda uji : ………………………… • Panjang sampel : awal = …………. 29. 35. 32. 33. 46. 3. 44. 48. 14.mm Sudut Puntir (o) No Momen Puntir T (kg-mm) 1. 2. mm • Diameter sampel : awal = …………. 4. 39. 12. 50. 31. 30. 25. Sketsa patahan 26. 42. 34. 36.mm akhir = ……………. 10.. 8. 17. 22. 24. 7. 43. 37. 16. mm Momen Puntir T (kg-mm) Sudut Puntir (o) No akhir = ……………. 9. Deskripsi patahan: Asisten Lab : ……………………………. 5. 23. 20. Paraf :……………………………. 15. 45. 18. 27. 40. . 28. 49. 47.

6.PRAKTIKUM KARAKTERISASI MATERIAL-1 Laboratorium Metalurgi Fisik Departemen Metalurgi dan Material FTUI LEMBAR DATA UJI KEAUSAN Nama NPM : : Kelompok : Tanggal praktikum : Benda uji : ………………………… Temperatur : ………………………. 5. 8. 2. Asisten Lab : …………………… Paraf : ………………. mm No Jarak Luncur (mm) Beban (kg) Kondisi uji : Pelumasan Non-pelumasan Bahan revolving disc : ………………… Lebar celah aus. b (mm) Laju aus Deskripsi jejak aus Kecepatan (mm/detik) 1. 10... . Diameter revolving disc: ………….. 9. 7. 4. 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful