C.

Statistika dan Teori Peluang Sebagai Sarana Berpikir llmiah

Statistik berasal dari bahwa latin, yaitu status yang berarti Negara yang memiliki persamaan arti dengan state dalam bahasa Inggris yang berarti negara atau untuk menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan. Pada awalnya statistik hanya berkaitan dengan sekumpulan angka mengenai penduduk suatu daerah atau negara dan pendapatan masyarakat.Pada mulanya kata statistik diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data) baik yang berwujud angka maupun yang bukan angka, yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi negara. Statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan dalam bidang keilmuan yang melalui pengujian-pengujian yang berdasarkan kaidah-kaidah statistik. Bagi masyarakat awam kurang terbiasa dengan istilah statistika, sehingga perkataan statistik biasanya mengandung konotasi berhadapan dengan deretan angka-angka yang menyulitkan, tidak mengenakan, dan bahkan merasa bingung untuk membedakan antara matematika dan statistik. Berkenaan dengan pernyataan di atas, memang statistik merupakan diskripsi dalam bentuk angka-angka dari aspek kuantitatif suatu masalah, suatu benda yang menampilkan fakta dalam bentuk ”hitungan” atau ”pengukuran”. Statistika merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah yang dapat menentukan sebagai sarana berpikir untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Dalam fungsinya sebagai alat metode ilmiah, maka statistika membantu melakukan generalisasi atau menarik kesimpulan umum tentang sifat suatu peristiwa secara lebih pasti, yaitu terhindar dari faktor kebetulan. Dalam penelitian terdapat keadaan dimana kita harus menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Jika kita akan meliput kasus-kasus sebagai keseluruhan populasi tanpa statistika, sepertinya hal tersebut tidak mungkin untuk dilakukan. Di sinilah letak keunggulan statistika, sehingga peneliti merasa beruntung karena terbuka jalan keluar. Dengan statistika dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum dengan membatasi pengamatan hanya kepada sebagian dari populasi yang bersangkutan. Untuk itu tersedia teknik pengambilan sampel sesuai dengan persyaratan metode ilmiah. Adalah benar bahwa dengan pengamatan seluruh populasi secara sensus akan diperoleh pengetahuan dengan kebenaran ilmiah yang sangat teliti menuju kebenaran yang mutlak. Akan tetapi dengan adanya statistika, penggunan sampel menjadi efisien dan ekonomis, yang didukung pula oleh teori keilmuan yang tidak menganut pencapaian pencapaian pengetahuan yang bersifat absolut. Namun yang penting adalah bahwa dari sampel populasi yang terbatas, diperoleh kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan berkat persyaratan metode

Teori peluang sebenarnya merupakan cabang dari matematika. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari 2 cabang utama. 1. Sejarah Perkembangan Statistika Sekitar tahun 1645. Dengan demikian. Statistika juga memberi kemampuan untuk menguji peluang kebenaran kausal di mana terlibat dua atau lebih variabel. menghitung peluang dan sebagainya.ilmiahnya terpenuhi. Begitu dasar-dasar peluang ini dirumuskan maka dengan cepat bidang telaahan ini berkembang. Adapun kunci keunggulan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah berupa alat metode ilmiah terletak pada konsep peluang yang mendasari teori statistika. Descartes. Dengan semikian. Chevalier de Mere. penarikan kesimpulan yang bersifat umum mempunyai peluang untuk benar dan tingkat peluang kebenaranya itu dapat dihitung secara pasti. yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences). Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang di kembangkan sarjana muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang. merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani kuno.Tertarik dengan permasalahan yang berlatar belakang teori ini dan kemudian mengadakan korespondensi dengan ahli matematika Prancis lainnya Piere de Fermat (1601 – 1665 ). Hal ini berati pula bahwa matematika sebagai sarana penalaran deduktif pada tempatnya diimbangi secara sepadan dengan statistika sebagai sarana penalaran induktif. Romawi bahkan Eropa dalam abad pertengahan. yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences). seorang ahli matematika amatir. Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi 2 kelompok lagi. Statistika terapan meliputi teknik penarikan kesimpulan. ketika mempelajari hukum di . sedangkan statistika sendiri adalah merupakan disiplin ilmu yang mandiri. mengajukan beberapa permasalahan mengenai judi kepada seorang ahli matematika Prancis Blaise Pascal (1623-1662). maka siklus empiris metode ilmiah tercapai secara lengkap dengan dikuasainya statistika untuk menarik kesimpulan ilmiah yang sah. sehingga terjadi proses berpikir ilmiah yang utuh dan tangguh. sebagai alat metode ilmiah yang ampuh untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum secara sah. dan keduanya mengembangkan cikal bakal teori peluang. Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika. Statistika berakar dari teori peluang. mengambil sampel dari populasi.

eksperirnentasi terjadi untuk membuat atau mengganti objek atau hal-hal yang harus dipelajari.Universitas Poitiers antara tahun 1612 sampai 1616. Observasi ini disertai juga dengan penggolongan yang merupakan satu langkah di luamya. maka secara berurutan sebagai proses penalaran dapatlah disusun sebagai berikut: 1. pendeta Thomas Bayes pada tahun 1763 mengembangkan teori peluang subyektif berdasarkan kepercayaan seseorang akan terjadinya suatu kejadian. (d) Hipotesis harus dapat menjelaskan fakta-fakta yang dipersoalkan. Langkah kedua dalam induksi ialah perumusan hipotesis. tetapi dibalik tahap elementer ini observasi tersebut diberi petunjuk oleh sesuatu teori atau sekumpulan pengetahuan dalam bidangnya sehingga observasi dan eksperimennya bersifat selektif. Verifikasi dan pengukuhan. Observasi pendahuluan dalam sesuatu hal yang baru mungkin hanya sekedar bersifat penjajagan untuk membatasi persoalannya. Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika. merupakan konsep yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno. 1996) dalam rangka penelaahan sarana berpikir ilmiah ini. Sedangkan. yakni pola induksi imiah dan penyimpulan kausal yang merupakan sebab akibat induktif. (b) Hipotesis harus terbuka dan dapat meramalkan bagi pengembangan konsekuensinya. Logika dan Statistika Menurut Bakry. Romawi. (c) Hipotesis harus runtut dengan dalil-dalil atau prinsip-pririsip yang sudah dianggap benar. Hipotesis ilmiah. Penalaran induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak pada sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum ilmiah. juga bergaul dengan teman-teman yang suka berjudi. logika dan statistika yang sebagai sarana induktif hanya akan dibahas secara umum saja. 2. Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut: (a) Hipotesis harus dapat diuji kebenarannya dengan cara membandingkan dengan fakta yang diamati. Observasi dan eksperimen. Metode khusus yang digunakan adalah observasi (pengamatan) dan eksperimen. Hipotesis ialah suatu dalil sementara yang diajukan berdasarkan pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi penelitian lebih lanjut. Langkah ketiga dalam penalaran induktif ialah mengadakan . Langkah pertama adalah mengumpulkan fakta-fakta khusus. 3. namun bukan dalam lingkup teori peluang 2. Hipotesis ilmiah yang dimaksudkan ialah dalil sementara atas dasar observasi dan penggolongan yang didukung oleh pengetahuan ilmiah. Sedangkan teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang dikembangkan sarjana Muslim. bahkan Eropa pada abad pertengahan. Teori ini berkembang menjadi cabang khusus dalam statestika sebagai pelengkap teori peluang yang bersifat subyektif. Observasi harus dikerjakan seteliti mungkin.

maka hipotesis itu kemudian dapat memperoleb derajat sebuah teori. Mengundi dengan sebuah mata uang logam atau sebuah dadu. 1956).verifikasi. membaca temperatur dengan termometer tiap hari. 4. 1. merupakan eksperimen yang dapat diulangi. Segala bagian yang mungkin didapat dari hasil ini dinamakan peristiwa. dan masih banyak contoh yang lain. menghitung barang rusak yang dihasilkan tiap hari. Demikian sebaliknya makin sedikit bahan bukti yang mendukungnya semakin rendah pula tingkat ketelitiannya. maka teori itu dapat dipandang sebagai hukum ilmiah (Herbert l_ Searles. Ini juga mencakup generalisasi. 3. untuk menemukan hukum atau dalil umum sehingga hipotesis tersebut menjadi suatu teori. Persoalan yang dihadapi oleh induksi ialah untuk sampai pada suatu dasar yang logik bagi generalisasi dengan tidak mungkinnya semua hal diamati. 2. Bila bahan-bahan bukti yang mendukung telah terkumpul. makin banyak bahan bukti yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. mencatat banyak kendaraan yang melalui pertigaan jalan tertentu setiap jam. Hipotesis adalah sekedar perumusan dalil sementara yang harus dibuktikan atau diterapkan terhadap fakta-fakta alau juga diperbandingkan dengan fakta-fakta lain untuk diambil kesimpulan umum. Hasil terakhir yang diharapkan dalam induksi ilmiah ialah untuk sampai pada hukum ilmiah. Untuk diterapkan bagi semua hal ini harus merupakan suatu hukum ilmiah yang derajatnya dengan hipotesis adalah lebih tinggi. Tngkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut. Hasilnya bisa didapat 0. peluang dipakai antara lain terkait dengan cara pengambilan sampel dari suatu populasi. Semua hasil yang mungkin terjadi bisa dicatat. Teori Peluang Peluang diperlukan untuk mengetahui ukuran atau derajat ketidakpastian suatu peristiwa. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif. 3. Menverifikasi adalah membuktikan bahwa hipotesis ini adalah dalil yang sebenarnya. atau dengan kata lain untuk menentukan pembenaran yang logik bagi penyimpulan berdasarkan beberapa hal untuk diterapkan bagi semua hal. … buah kendaraan setiap jam yang melalui tikungan . dan bila teori itu saling berhubungan secara sistematis dan dapat menerangkan setiap peristiwa yang diajukannya hanya sebagai contoh. Teori dan hukum ilmiah. Di dalam statistik. Suatu hipotesis dapat dipandang sebagai yang paling awal atau paling rendah di dalam urut-urutan derajatnya. Contoh: Eksperimen mencatat banyak kendaraan yang melalui sebuah tikungan X setiap jam.

dsb. maka peluang peristiwa E terjadi adalah n/N dan dinyatakan dengan P(E) = n/N. Misal: A berarti tidak ada kendaraan yang melalui tikungan dalam satu jam. Jika E = muka G di atas. 3. Pengundian dengan mata uang logam yang homogen dengan muka G dan muka H untuk menyatakan kedua sisinya. 4. Jika muka G dan muka H digunakan untuk menyatakan dua sisi dari mata uang logam yang homogin. …. Jika E menyatakan suatu peristiwa terjadi. Muka G dan muka H merupakan dua peristiwa yang saling ekslusif. maka E digunakan untuk menyatakan peristiwa itu tidak terjadi. Definisi: Jika peristiwa E dapat terjadi sebanyak n kali di antara N peristiwa yang saling eksklusif dan masing-masing terjadi dengan kesempatan yang sama. B. Contoh: 1. Contoh: 1. Dalam hal ini akan didapat enam peristiwa yang saling eksklusif. Sebuah dadu dengan muka 6 memiliki muka satu (1 titik). maka E digunakan untuk menyatakan barang yang dihasilkan tidak rusak. Definisi: Dua peristiwa atau lebih dinamakan saling ekslusif jika terjadinya peristiwa yang satu mencegah terjadinya yang lain.X. Beberapa peristiwa yang didapat misalnya: tidak ada kendaraan selama satu jam. …. dsb. Dua peristiwa E dan E jelas saling eksklusif. C. maka bila dilakukan pengundian dengan mata uang logam tersebut muka antara muka G dan muka H tidak akan pernah muncul secara bersamaan. Bila dilakukan pengundian dengan dadu akan tampak hanya ada satu muka yang menghadap ke atas. B berarti ada 10 kendaraan yang melalui tikungan dalam satu jam.baik disertai indeks atu tidak. lebih dari tiga kendaraan selama satu jam. Jika E menyatakan barang yang dihasilkan rusak. 2. Peristiwa-peristiwa E dan E jelas saling eksklusif. ada 6 kendaraan dalam satu jam. muka tiga. maka P(E) = P(muka G di atas) = ½ dan P(E) = P(H) = ½ . Simbol untuk menyetakan peristiwa misalnya dengan huruf besar A. muka enam. muka dua (2 titik).

atau … atau Ek sama dengan jumlah peluang tiap peristiwa. 3. 2. Sebuah kotak berisi 20 kelereng yang identik kecuali warnanya. Kecuali warna. Ek. maka P(E) = P(muka 4 di atas) = 1/6. maka berapakah peluang warna merah atau hijau yang terambil dari kotak jika kelereng diambil secara acak dengan mata tertutup? Jawab: Misal A = mengambil warna merah . Contoh: 1. 18 kelereng hijau. Jika peluang mendapat hadiah adalah P(Hadiah) = 0. Contoh: 1. dan sisanya warna hijau. P(E1 atau E2 atau … atau Ek) = P(E1 + E2 + E3 + … + Ek). Jika E menyatakan bukan peristiwa E.2. maka peluang mengambil kelereng berwarna merah P(Merah) = 5/20 = ¼. Sebuah kotak berisi 10 kelereng merah. E2. maka berarti jika P(E) = n/N maka P(E) = 1 – P(E). Peristiwa-peristiwa yang saling eksklusif dihubungkan dengan kata ATAU . dan 22 kelereng kuning. E3.61 = 0.61. Jika kelereng dalam kotak di aduk-aduk dan diambil secara acak dengan mata tertutup (setelah diambil dikembalikan lagi). P(E) = P(muka 2 di atas) = 1/6. Di dalam kotak tersebut terdapat 5 kelereng warna merah. Secara matematika dituliskan 0 ≤ P(E) ≤1. P(E) = P(muka di atas) = 1/6. Hal itu berarti P(E) + P(E) = 1. …. Untuk itu berlaku aturan: Jika k buah peristiwa E1. dan peluang mengambil kelereng berwarna hijau P(Hijau) = 3/20. lain-lainnya identik. Berdasar rumus peluang dan beberapa contoh tersebut di atas. peluang mengambil kelereng berwarna kuning P(Kuning) = 12/20 = 3/5. maka peluang untuk terjadinya E1 atau E2. Dengan cara yang sama dapat diperoleh untuk P(E) = P(muka 1 di atas) = 1/6. saling eksklusif. Bila semua kelereng dimasukkan ke dalam kotak dan diaduk-aduk. Untuk E = muka 4 di atas. Jika peluang muncul muka 6 pada pengundian dengan dadu adalah P(E) = P(6) = 1/6 maka peluang muncul bukan muka 6 adalah P(E) = P(bukan muka enam) = 1 – 1/6 = 5/6.39. maka peluang tidak mendapat hadiah adalah P(Tidak dapat hadiah) = 1. 12 warna kuning. Pengundian dengan sebuah dadu yang homogen menghasilkan 6 peristiwa.0. dapat dikatakan bahwa P(E)= 0 bila n = 0 dan P(E) = 1 bila n = N.

Dasar dan teori statistika adalah teori peluang. Statistika teoretis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika. distribusi. dengan jalan mengumpulkan fakta mengenai kesukaan musik orang-orang muda. Menurut bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoretis dan statistika terapan.2 + 0.44 = 0. bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat peluang. maka 64 dari setiap 100 kali mengambil akan terambil kelereng warna merah atau kuning. bagaimana menghitung harga rata-rata dan sebagainya. Demikian juga statislika memberikan jalan bagaimana kita menarik kcsimpulan yang bcrsifat umum dari contoh tersebul dengan tingkat peluang dan kekeliruannya.2 P(B) = 18/(10+18+22) = 0.. Tentu saja kita tidak bisa mengadakan wawancara dengan seluruh orang muda dan untuk itu statistika terapan memberikan jalan bagaimana memilih sebagian dari orang muda tersebut sebagai contoh yang representif dan obycktif dari keseluruhan populasi orang muda tcrsebut.44 Ketiga peristiwa di atas adalah saling eksklusif. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut. Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoretis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya. Di sini diterapkan atau dipraktekkan teknik-teknik penarikan kesimpulan seperti bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh. Jelaslah kiranya bahwa tanpa mcnguasai statistika adalah tak mungkin untuk dapat menarik kesimpulan induktif dengan sah. penaksiran dan peluang.64 Hal itu berarti jika pengambilan kelereng dilakukan dalam jangka waktu lama. dimulai dari teori penarikan contoh. sehingga berlaku: P(A atau C) = P(A) + P(C) = 0. Kegiatan ilmiah memerlukan penelitian untuk menguji hipotesis yang diajukan. Jika umpamanya kita mempunyai hipotesis bahwa orang muda suka musik pop namun tidak musik keroncong maka kita harus melakukan pengujian untuk memperdebatkan bahwa hipotesis tersebut benar. Bahwa penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah .B = mengambil warna kuning C = mengambil warna hijau P(A) = 10/(10+18+22) = 0. Penelitian pada dasarnya merupakan pengamatan dalam alam empiris apakah hipotesis tersebut memang didukung oleh fakta-fakta.36 P(C) = 22/(10+18+22) = 0. Teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri.

Information Communications Technologies (ICT) Definisi secara umum menurut Fitrihana (2007). sebab kesimpulan yang ditarik adalah tidak sah. Dalam hipotesis terdahulu mengenai kesukaan musik orang muda tidak jarang kita langsung menarik kesimpulan berdasarkan wawancara kita dengan beberapa orang muda yang kebetutan kita kenal. (2006:4). menghasilkan. a.sering sekali dilupakan orang. menganalisis. maka teknologi informasi dapat diartikan sebagai hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima. Kesimpulan seperti ini sukar untuk diterima sebagai premis untuk berpikir selanjutnya. Prosedur penarikan kesimpulan yang subyektif ini. Pengertian Information Communications Technologies (ICT). Informasi Menurut Budi Sutedjo (2002:168) dan Rahayuningsih. ICT adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil. mengolah serta menyebarkan informasi. Kita cenderung untuk berpikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif. Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai sarana berpikir ilmiah 1. yang bersumber pada kekacauan penggunaan logika induktif dan deduktif. Kalau dilihat dari susunan kata. Rochaety. menyimpan dan menyampaikan informasi data menjadi sebuah informasi. merupakan salah satu penghalang kemajuan ilmu. menyajikan. Teknologi Informasi atau IT (Information Technology) merupakan mata rantai dari perkembangan SI (Sistem Informasi). dimana Informasi itu sendiri merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa sehingga manusia dapat membedakan antara satu dengan yang lainnya b. Teknologi Informasi Menurut (Main. c. yakni kata teknologi dan informasi. 2008) TI dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan. memindahkan. . Informasi merupakan pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu di negara kita. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. Yanti. D.

.Menurut Hariyadi (1993: 253) dalam Ardroni. sesuai dengan apa yang kita inginkan. dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi. penyimpanan. pengolahan. karena didalam komputer semua dapat diakses. Jadi jika komputer dimasukan kedalam katregori ini maka wajar-wajar saja. teknologi informasi diberi batasan sebagai teknologi pengadaan. dan semua dijawab dan semuanya ada. Pada zaman sekarang ini patut dijadikan salah satu sarana berfikir ilmiah adalah alat telekomunikasi seperti halnya komputer.

Ma’in. Noor. 2006.co. Bakry. Ms. Sumarna.2. Pustaka Sinar Harapan.G.google. Pontjorini dan Yanti. (2006). Diakses pada tanggal 12 Oktober 2011 http://www. USU Repository. J. Jakarta: Bumi Aksara Suriasumantri. Fitrihana. Mulia Press . Filsafat Ilmu. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2011 Mahmudin.S. Vol.id. http://batikyogya.wordpress. Noor. C. No. “Sistem Informasi Manajemen Pendidikan”. E.1. halaman 32. Filsafat Ilmu. 1996. Filsafat Ilmu. 2008.. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi”.Liberty.com/author/batikyogya. 2007. Bandung. “Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya”. (2005). M. 2007.. Rahayuningsih. Abdul M.DAFTAR PUSTAKA Ardoni. Jakarta. Yogyakarta.2011. Semarang.P. (2008) ”Teknologi Informasi dalam Sitem Jaringan Perpustakaan Perguran Tinggi”. Pemanfaatan ICT (Information and Communication Technology) Di Perpustakaan.teori peluang (doc). Rochaeti. ICT dan Perubahan Sosial. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. IAIN Sunan Ampel Surabaya Rachman. UPT MKU UNNES.

9.8 ./. !   ! 2:.

2- /02-. ..:. /.2-80.  2. 207... 50:.. .249.7.73./03.:  .73.3 .249.   ../: .73.9079:9:5 8090.9..3/0390.32.3.73.. /./:/. 00703/..3/. .49./.3 88.9  00703 .2- 00703 -07.    $0-:. :33  /.73. ! 07. 207.90780-:9 907/..5.3.3 203.-078 00703.

  50:.:33! :33 .2-00703-07.3203.73.

  .

 /.:! .: .3203..2-00703-07.73.350:.

9.3 /.7.439490780-:9/../9:8.2.  2.3!  -. 203.9.5.9.3-0-07.3-:.   07/.8..79.9.8 /.3-. !   -.3 $0..350789..9/..3 ^!  ^ .5.-07.3/.77:2:850:.!  3..902.

3 /03. 503:3/. 2.: 2:. 50:.3 2:3..9: -07.3 /./: ..  5.!   !  ././. !    !    .79!   !     4394   .

 2..2  .:-:.50:..32:.03./..32:.!  ! -:.32:3.

.

9.5 50789.00703/.9.5.:  4394   $0-:.249.3  ..30/. 50:. 50:..73.9.9.33.2- /.    .  -:. -078   00703 207. 50789. .2.9 ../.3 .5.   00703 . 207.     2..5.3 .2-80./.    8.3 08:81 /:-:3. 49.9.:. -07. .00703/2.:   .3 .203.3 :2.9079:9:5 . .9.3 9/.  .- 8.! %/.:  /.9.32.       :39: 907.207.: ! .3  00703 :33  0. /03.7 49./039 ..3907..9.2-./.73./03. .: !        .802:.       !0789.3 08:81  2.3 /.9:7./../3. 50789.38.. ! . 203/...3 203/.: ./.9.7.: .3 ././.:./:  2.9.5. 50:.: . 50:./: ./.73...8:. 50:. .9 .  ..3 9. %&  &39:9: -07.3/03.:  8..

.2-.:33 203.73.     203.: !   .73.2-.

     !  .

     !  .

 /03.3 47.3 203:25:.2 02578 .. 203.3.2039:3.9.. 207:5.9/.3  !0309.3.3 . 1.3 89.9:.  /2:..3907.207:5..989.3.2./.:.300703/.90. 9.7080:7:. /.5 .8..2.3 2:/.7 9047 503.3 50:. 90780-:9 80-.33.3 007:. 9.7 /.3 /.3  $9.9.73..3 /.9.3 207:5.3 .33..::33  $9.3 80. .8.3 ...2.7 47.9 9.2:9.. 2039:3 7039.3 5..3 3/:91 /03.3 80-.. 2025:3. .3 /...31..989.9.3 -. 89. 907.3 :39: 202507/0-.3:.825:..3 /808:.5.989.989.32:847. 8:. 9047098 207:5.781.308:81 803.7/.37057080391/.989. .3 -.. 549088 -.3 /03..3..33.503.7 .3 -.350:.. ..  0. 2.9-07572.3 .390780-:9 .50789...2- 80-.3 /.9.989. 202-07.3 .989.8.:.3  %047 50:.4394 .. /.904750:.3. 47.3:39:/.3/:91-07/.. 89..7.3 .3.7..2.. 203.3 0825:.-07.      09.9.3 50309. 7.3 89. 203. 2:8 0743.  ..2..3 545:..34-.5.9. :25.9. 202 80-.3. 7.3 :39: 9: 89.87.5./.2-.3 :39: 203: 549088 .503:.3 .350309.7 2..:39:203.98.4394  -. 9047098 /.3 /. %039:8.3 /853 907803/7  03:7:9 -/..989... ./03.3 .. 9047098 .3 /.989../.7.. 907.08:./..9 :2:2 /..3 -/..: ! . 80/.2.73. -. 803/7 207:5.70825:.3 93.8 80-.9. 2:8 545 3../507:.989.79.9..3 503:.  .4394 90780-: /03.7.3 503.3 50309.32:/.: !   !       .2.3 2:/.8.5.3 -.3:.7.3.3. 9.3.7..989.3 203.3.: /57.9 50307.2-.2 ..3 //::3 40 1.9.989. 9. 2.3 503.3 80:7: 47.8.9.38.5.91/.2-00703.7:8 20.7809.-.  0.3 .3 93. 549088 90780-:9 -03.9.3 503:3.847. /.7. 89.3 207:5.3  -..3 202-07.3 9025.2. 549088 90780-:9 202. 89.989.3.3 /.   83 /907.:.3/.4394  /897-:8  503.3 007:.-8.9 50:.9 50:.3 89.3  $9.380-.3..780-:9 02.203.3202:33.20303./. /.:./..3904789. /. 20207:. -0/. 907.207.9 203.3545:.7 9047 89. /.7.8.3 2:/.39.389./.43 2.902.7 .8.5.3 805079 -.2.9.7 0825:.8..3 2. .7  /03.5.9. .5. 2:33 :39: /.8.3 903 903 503.8.35.9:-07.5.. 9..2:3 9/.32:/.3 8.:.7.

34408 %  .907.3 31472.9: :39: 203.7.  31472.3 50309.3/03.3 .9.3 2:/.7.: % 31472. .8.7.3.7 8:8:3.  9.25.03/07:3 :39: -0757 48 ../0/:91807380.5 00203 88902 203.9438%0.3 2:/.8/.331472...... 88902 . 7. 0..3  20325.3 /.943 %0.3.-07572.3/:91/.8.7.8 207:5.3 4. .. 3/:91  0.  31472...2. 80-.:338  #4.3.3 9.  !03079. .3 /.79.:.8.3 -07/.3 8. 03.3 /:3.9438%0.3 -0757 48 80.3 /.. 0825:.8 03:7:9  :/ $:90/4    /../.2 549088 907/.347..3..203.7. /5.3 80-.:./. . 3.8.:.-.3 #.3 8.8.3. 47.3  203.38:. 90344 /. /03.3 -078:2-07 5.3 503:3.8  2.3 2:/..9 /.3 /0/:91  207:5./..3 $ $8902 31472.7.344  207:5.3/9.. 9.34. :2:2 203:7:9 97.3 0-09:9.3 50274808.  !7480/:7 503. 9/.9 2070/:8 -..3 2030-.5.8 %0344 31472.9.8 /.:: 20303.3 2:8 47.31472.3     % /.3:8.3 9.3 /.57028:39:-075780. .8 9: 803/7 207:5.8/./..8079./.3 203.3:8. /0/:91 /.3 8:-091 3  ...3 .    % .8.3.9:/03.3 203.3 80-.9.943422:3.   .3.2030-. 9.33.3:93.39.7.5...3 /50740 /.3 31472...7.9.    %034431472.8  .807380. 90344 31472..9 /.5.9 /.3 7:.3 207:5.09  .3 :39: 20325.: /.7..  31472.3 .8  .7.33.5574808503./ -039: .331472..9.-0825:.  -  %034431472./..9.38:3 203.9./80-:.: 90344 ..2.3 -0702-.7..3 :7.3 0825:..9./:5.3.943422:3.8 70.3. 2: / 30.3 57480/:7 .2.5.8.7503720503072.803.3 5073.8.8 /.25.3 2034.7.3 07574880.8   .79.39. ..3 -0-07.9:50789.3 20307... :39: 0825:.... 08:.3 /.7 0825:.331472.3 .. /.880-.7 809.. 90344 .3 2.8 03:7:9 .39      31472.3 700.7 50702-.:.3 /-:9:.3 2:  80-..3 2030.3 .7:39:/9072.3 ...:.2-  2023/.88  203.5.342:3.  .9: 503..3  /2.2 /.3 02. .9.9202-0/.3 .3 .380507938:.9/.7.8.34408 %  0138 80.3 3/:91  ..5.

3 5030-..78.2.425:907/2.9.703.3  50325.3 802:. . .- /..7.3 425:907 /. /03.2425:907802:.9: 8..31472.990042:3.  808:. /..3 202. 90344 503./4743.7 .5.7.3 90042:3.8 /03.2 7/743   90344 31472.3:.8805079. 33.3 80.3./.7.80./.425:907 ..//./.59.2..7..9.808  /.5.3. 038 31472.2034.8:.3 9.32.5.3 -07-..  ...3..3:8.8  !. /..3 /.9./.8 /-07 -.3 802:.3 8.3 ./    /.9:39:203.703.3.../.8.30/.9704732.9:9 /.3 .31...3 3 5..390344-.9..3 .3. ..9203. 8.03:7:9 ./.3  /. .7. -0717 2..8 .9 /./.2-.3 /4743.7:.3  5034.3 80-.

3 31472.3.1.  447     % /...9.8  '4   4   &$& #0548947  ...8 08.3 !:89.  995.3   . -079   97.3 02.31..  :73.%#!&$%   7/43     %0344 31472.33.7 447 8  8.79.92: 4.3 !07:-.2.5..3 /. $9:/ !075:89...3 $48.

.

94. 47/57088 .-.42.

:947..

.94.3/422:3..808 5.3  ./.-.  94-07   .943%0..808 5.  94-07   995.31.3% 31472. 9.9.3.3./. 9.  ..344  !075:89.2:/3   !02.943.

.

39  !      $8902 31472.#.3 .!7088      ..79.    8.3%3 $:3.3250$:7...:28.4 / 904750:.3 &!%&&$   #4.92: .0203!03//..39.397   $     8.7 !45:07  . 440 .2.92:  $02.3.7.5. !03.  $:7.  !:89.7.3 .7.2 $902 .9 2: $0-:.09    #.1..:338  !439473 /.3/:3 :.3 !07:7.1..79.   .3   $:2.. 3  -/:      %0344 31472..1.8 /. $3.8:2.7.73.-..8 .73.3    8..3 !075:89.3 /4.