C.

Statistika dan Teori Peluang Sebagai Sarana Berpikir llmiah

Statistik berasal dari bahwa latin, yaitu status yang berarti Negara yang memiliki persamaan arti dengan state dalam bahasa Inggris yang berarti negara atau untuk menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan. Pada awalnya statistik hanya berkaitan dengan sekumpulan angka mengenai penduduk suatu daerah atau negara dan pendapatan masyarakat.Pada mulanya kata statistik diartikan sebagai kumpulan bahan keterangan (data) baik yang berwujud angka maupun yang bukan angka, yang mempunyai arti penting dan kegunaan yang besar bagi negara. Statistika merupakan sekumpulan metode untuk membuat keputusan dalam bidang keilmuan yang melalui pengujian-pengujian yang berdasarkan kaidah-kaidah statistik. Bagi masyarakat awam kurang terbiasa dengan istilah statistika, sehingga perkataan statistik biasanya mengandung konotasi berhadapan dengan deretan angka-angka yang menyulitkan, tidak mengenakan, dan bahkan merasa bingung untuk membedakan antara matematika dan statistik. Berkenaan dengan pernyataan di atas, memang statistik merupakan diskripsi dalam bentuk angka-angka dari aspek kuantitatif suatu masalah, suatu benda yang menampilkan fakta dalam bentuk ”hitungan” atau ”pengukuran”. Statistika merupakan salah satu sarana berpikir ilmiah yang dapat menentukan sebagai sarana berpikir untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Dalam fungsinya sebagai alat metode ilmiah, maka statistika membantu melakukan generalisasi atau menarik kesimpulan umum tentang sifat suatu peristiwa secara lebih pasti, yaitu terhindar dari faktor kebetulan. Dalam penelitian terdapat keadaan dimana kita harus menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Jika kita akan meliput kasus-kasus sebagai keseluruhan populasi tanpa statistika, sepertinya hal tersebut tidak mungkin untuk dilakukan. Di sinilah letak keunggulan statistika, sehingga peneliti merasa beruntung karena terbuka jalan keluar. Dengan statistika dapat ditarik kesimpulan yang bersifat umum dengan membatasi pengamatan hanya kepada sebagian dari populasi yang bersangkutan. Untuk itu tersedia teknik pengambilan sampel sesuai dengan persyaratan metode ilmiah. Adalah benar bahwa dengan pengamatan seluruh populasi secara sensus akan diperoleh pengetahuan dengan kebenaran ilmiah yang sangat teliti menuju kebenaran yang mutlak. Akan tetapi dengan adanya statistika, penggunan sampel menjadi efisien dan ekonomis, yang didukung pula oleh teori keilmuan yang tidak menganut pencapaian pencapaian pengetahuan yang bersifat absolut. Namun yang penting adalah bahwa dari sampel populasi yang terbatas, diperoleh kebenaran ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan berkat persyaratan metode

mengambil sampel dari populasi. Chevalier de Mere. penarikan kesimpulan yang bersifat umum mempunyai peluang untuk benar dan tingkat peluang kebenaranya itu dapat dihitung secara pasti. Teori peluang sebenarnya merupakan cabang dari matematika. Adapun kunci keunggulan statistika sebagai sarana berpikir ilmiah berupa alat metode ilmiah terletak pada konsep peluang yang mendasari teori statistika. ketika mempelajari hukum di . yakni ilmu alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences). Dengan semikian. yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences). 1. Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika.Tertarik dengan permasalahan yang berlatar belakang teori ini dan kemudian mengadakan korespondensi dengan ahli matematika Prancis lainnya Piere de Fermat (1601 – 1665 ). merupakan konsep baru yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani kuno. seorang ahli matematika amatir. mengajukan beberapa permasalahan mengenai judi kepada seorang ahli matematika Prancis Blaise Pascal (1623-1662). sehingga terjadi proses berpikir ilmiah yang utuh dan tangguh. sedangkan statistika sendiri adalah merupakan disiplin ilmu yang mandiri. Hal ini berati pula bahwa matematika sebagai sarana penalaran deduktif pada tempatnya diimbangi secara sepadan dengan statistika sebagai sarana penalaran induktif. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari 2 cabang utama. Statistika terapan meliputi teknik penarikan kesimpulan. Sejarah Perkembangan Statistika Sekitar tahun 1645. Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi 2 kelompok lagi. menghitung peluang dan sebagainya.ilmiahnya terpenuhi. sebagai alat metode ilmiah yang ampuh untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum secara sah. Statistika berakar dari teori peluang. Dengan demikian. Teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang di kembangkan sarjana muslim namun bukan dalam lingkup teori peluang. Descartes. dan keduanya mengembangkan cikal bakal teori peluang. maka siklus empiris metode ilmiah tercapai secara lengkap dengan dikuasainya statistika untuk menarik kesimpulan ilmiah yang sah. Begitu dasar-dasar peluang ini dirumuskan maka dengan cepat bidang telaahan ini berkembang. Statistika juga memberi kemampuan untuk menguji peluang kebenaran kausal di mana terlibat dua atau lebih variabel. Romawi bahkan Eropa dalam abad pertengahan.

(c) Hipotesis harus runtut dengan dalil-dalil atau prinsip-pririsip yang sudah dianggap benar. maka secara berurutan sebagai proses penalaran dapatlah disusun sebagai berikut: 1. Penalaran induktif dalam bidang ilmiah yang bertitik tolak pada sejumlah hal khusus untuk sampai pada suatu rumusan umum sebagai hukum ilmiah. Sedangkan teori mengenai kombinasi bilangan sudah terdapat dalam aljabar yang dikembangkan sarjana Muslim. Verifikasi dan pengukuhan. Observasi dan eksperimen. yakni pola induksi imiah dan penyimpulan kausal yang merupakan sebab akibat induktif. Hipotesis ilmiah harus memenuhi syarat sebagai berikut: (a) Hipotesis harus dapat diuji kebenarannya dengan cara membandingkan dengan fakta yang diamati. Langkah kedua dalam induksi ialah perumusan hipotesis. (d) Hipotesis harus dapat menjelaskan fakta-fakta yang dipersoalkan. (b) Hipotesis harus terbuka dan dapat meramalkan bagi pengembangan konsekuensinya. Observasi ini disertai juga dengan penggolongan yang merupakan satu langkah di luamya. Metode khusus yang digunakan adalah observasi (pengamatan) dan eksperimen. Romawi.Universitas Poitiers antara tahun 1612 sampai 1616. merupakan konsep yang tidak dikenal dalam pemikiran Yunani Kuno. Sedangkan. Langkah pertama adalah mengumpulkan fakta-fakta khusus. eksperirnentasi terjadi untuk membuat atau mengganti objek atau hal-hal yang harus dipelajari. logika dan statistika yang sebagai sarana induktif hanya akan dibahas secara umum saja. bahkan Eropa pada abad pertengahan. pendeta Thomas Bayes pada tahun 1763 mengembangkan teori peluang subyektif berdasarkan kepercayaan seseorang akan terjadinya suatu kejadian. juga bergaul dengan teman-teman yang suka berjudi. Observasi pendahuluan dalam sesuatu hal yang baru mungkin hanya sekedar bersifat penjajagan untuk membatasi persoalannya. tetapi dibalik tahap elementer ini observasi tersebut diberi petunjuk oleh sesuatu teori atau sekumpulan pengetahuan dalam bidangnya sehingga observasi dan eksperimennya bersifat selektif. Hipotesis ilmiah yang dimaksudkan ialah dalil sementara atas dasar observasi dan penggolongan yang didukung oleh pengetahuan ilmiah. Hipotesis ialah suatu dalil sementara yang diajukan berdasarkan pengetahuan yang terkumpul sebagai petunjuk bagi penelitian lebih lanjut. namun bukan dalam lingkup teori peluang 2. 1996) dalam rangka penelaahan sarana berpikir ilmiah ini. 3. Teori ini berkembang menjadi cabang khusus dalam statestika sebagai pelengkap teori peluang yang bersifat subyektif. Observasi harus dikerjakan seteliti mungkin. Hipotesis ilmiah. Peluang yang merupakan dasar dari teori statistika. Logika dan Statistika Menurut Bakry. Langkah ketiga dalam penalaran induktif ialah mengadakan . 2.

Di dalam statistik. untuk menemukan hukum atau dalil umum sehingga hipotesis tersebut menjadi suatu teori. Contoh: Eksperimen mencatat banyak kendaraan yang melalui sebuah tikungan X setiap jam. Segala bagian yang mungkin didapat dari hasil ini dinamakan peristiwa. 1956). Hipotesis adalah sekedar perumusan dalil sementara yang harus dibuktikan atau diterapkan terhadap fakta-fakta alau juga diperbandingkan dengan fakta-fakta lain untuk diambil kesimpulan umum. 3. Suatu hipotesis dapat dipandang sebagai yang paling awal atau paling rendah di dalam urut-urutan derajatnya. dan bila teori itu saling berhubungan secara sistematis dan dapat menerangkan setiap peristiwa yang diajukannya hanya sebagai contoh. 2. Untuk diterapkan bagi semua hal ini harus merupakan suatu hukum ilmiah yang derajatnya dengan hipotesis adalah lebih tinggi. 1. merupakan eksperimen yang dapat diulangi. maka hipotesis itu kemudian dapat memperoleb derajat sebuah teori. Menverifikasi adalah membuktikan bahwa hipotesis ini adalah dalil yang sebenarnya. maka teori itu dapat dipandang sebagai hukum ilmiah (Herbert l_ Searles.verifikasi. makin banyak bahan bukti yang diambil maka makin tinggi pula tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. membaca temperatur dengan termometer tiap hari. Statistika mampu memberikan secara kuantitatif. … buah kendaraan setiap jam yang melalui tikungan . Tngkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut. dan masih banyak contoh yang lain. Ini juga mencakup generalisasi. Hasilnya bisa didapat 0. Bila bahan-bahan bukti yang mendukung telah terkumpul. mencatat banyak kendaraan yang melalui pertigaan jalan tertentu setiap jam. Semua hasil yang mungkin terjadi bisa dicatat. atau dengan kata lain untuk menentukan pembenaran yang logik bagi penyimpulan berdasarkan beberapa hal untuk diterapkan bagi semua hal. Mengundi dengan sebuah mata uang logam atau sebuah dadu. Demikian sebaliknya makin sedikit bahan bukti yang mendukungnya semakin rendah pula tingkat ketelitiannya. 3. Teori dan hukum ilmiah. menghitung barang rusak yang dihasilkan tiap hari. peluang dipakai antara lain terkait dengan cara pengambilan sampel dari suatu populasi. Teori Peluang Peluang diperlukan untuk mengetahui ukuran atau derajat ketidakpastian suatu peristiwa. Hasil terakhir yang diharapkan dalam induksi ilmiah ialah untuk sampai pada hukum ilmiah. Persoalan yang dihadapi oleh induksi ialah untuk sampai pada suatu dasar yang logik bagi generalisasi dengan tidak mungkinnya semua hal diamati. 4.

…. dsb. B berarti ada 10 kendaraan yang melalui tikungan dalam satu jam. Dua peristiwa E dan E jelas saling eksklusif. maka P(E) = P(muka G di atas) = ½ dan P(E) = P(H) = ½ . Muka G dan muka H merupakan dua peristiwa yang saling ekslusif. Beberapa peristiwa yang didapat misalnya: tidak ada kendaraan selama satu jam. …. Dalam hal ini akan didapat enam peristiwa yang saling eksklusif. Definisi: Jika peristiwa E dapat terjadi sebanyak n kali di antara N peristiwa yang saling eksklusif dan masing-masing terjadi dengan kesempatan yang sama. Definisi: Dua peristiwa atau lebih dinamakan saling ekslusif jika terjadinya peristiwa yang satu mencegah terjadinya yang lain. maka peluang peristiwa E terjadi adalah n/N dan dinyatakan dengan P(E) = n/N. muka enam. lebih dari tiga kendaraan selama satu jam. Jika E menyatakan barang yang dihasilkan rusak. Bila dilakukan pengundian dengan dadu akan tampak hanya ada satu muka yang menghadap ke atas. B. dsb. Jika E menyatakan suatu peristiwa terjadi. ada 6 kendaraan dalam satu jam. muka dua (2 titik). muka tiga.X. 3. Peristiwa-peristiwa E dan E jelas saling eksklusif. Misal: A berarti tidak ada kendaraan yang melalui tikungan dalam satu jam. 4. maka bila dilakukan pengundian dengan mata uang logam tersebut muka antara muka G dan muka H tidak akan pernah muncul secara bersamaan.baik disertai indeks atu tidak. Contoh: 1. Pengundian dengan mata uang logam yang homogen dengan muka G dan muka H untuk menyatakan kedua sisinya. maka E digunakan untuk menyatakan barang yang dihasilkan tidak rusak. maka E digunakan untuk menyatakan peristiwa itu tidak terjadi. Simbol untuk menyetakan peristiwa misalnya dengan huruf besar A. Jika E = muka G di atas. Jika muka G dan muka H digunakan untuk menyatakan dua sisi dari mata uang logam yang homogin. Sebuah dadu dengan muka 6 memiliki muka satu (1 titik). Contoh: 1. C. 2.

Untuk E = muka 4 di atas. Bila semua kelereng dimasukkan ke dalam kotak dan diaduk-aduk. Peristiwa-peristiwa yang saling eksklusif dihubungkan dengan kata ATAU . saling eksklusif. atau … atau Ek sama dengan jumlah peluang tiap peristiwa. Contoh: 1. Kecuali warna. Jika peluang mendapat hadiah adalah P(Hadiah) = 0. 12 warna kuning. 3. maka berapakah peluang warna merah atau hijau yang terambil dari kotak jika kelereng diambil secara acak dengan mata tertutup? Jawab: Misal A = mengambil warna merah . Contoh: 1. Jika E menyatakan bukan peristiwa E. Hal itu berarti P(E) + P(E) = 1. maka berarti jika P(E) = n/N maka P(E) = 1 – P(E). Secara matematika dituliskan 0 ≤ P(E) ≤1. maka peluang untuk terjadinya E1 atau E2.0.2.61. dapat dikatakan bahwa P(E)= 0 bila n = 0 dan P(E) = 1 bila n = N. P(E) = P(muka 2 di atas) = 1/6. E2. Ek. ….39. 18 kelereng hijau. maka peluang mengambil kelereng berwarna merah P(Merah) = 5/20 = ¼. Sebuah kotak berisi 20 kelereng yang identik kecuali warnanya. Pengundian dengan sebuah dadu yang homogen menghasilkan 6 peristiwa. lain-lainnya identik. Sebuah kotak berisi 10 kelereng merah. maka peluang tidak mendapat hadiah adalah P(Tidak dapat hadiah) = 1. Untuk itu berlaku aturan: Jika k buah peristiwa E1. dan 22 kelereng kuning. P(E) = P(muka di atas) = 1/6. E3. dan peluang mengambil kelereng berwarna hijau P(Hijau) = 3/20. Jika kelereng dalam kotak di aduk-aduk dan diambil secara acak dengan mata tertutup (setelah diambil dikembalikan lagi). Di dalam kotak tersebut terdapat 5 kelereng warna merah. maka P(E) = P(muka 4 di atas) = 1/6.61 = 0. Berdasar rumus peluang dan beberapa contoh tersebut di atas. Dengan cara yang sama dapat diperoleh untuk P(E) = P(muka 1 di atas) = 1/6. dan sisanya warna hijau. peluang mengambil kelereng berwarna kuning P(Kuning) = 12/20 = 3/5. 2. P(E1 atau E2 atau … atau Ek) = P(E1 + E2 + E3 + … + Ek). Jika peluang muncul muka 6 pada pengundian dengan dadu adalah P(E) = P(6) = 1/6 maka peluang muncul bukan muka 6 adalah P(E) = P(bukan muka enam) = 1 – 1/6 = 5/6.

64 Hal itu berarti jika pengambilan kelereng dilakukan dalam jangka waktu lama. Demikian juga statislika memberikan jalan bagaimana kita menarik kcsimpulan yang bcrsifat umum dari contoh tersebul dengan tingkat peluang dan kekeliruannya. Statistika terapan merupakan penggunaan statistika teoretis yang disesuaikan dengan bidang tempat penerapannya. Menurut bidang pengkajiannya statistika dapat kita bedakan sebagai statistika teoretis dan statistika terapan.44 = 0. Di sini diterapkan atau dipraktekkan teknik-teknik penarikan kesimpulan seperti bagaimana cara mengambil sebagian populasi sebagai contoh.B = mengambil warna kuning C = mengambil warna hijau P(A) = 10/(10+18+22) = 0. Tentu saja kita tidak bisa mengadakan wawancara dengan seluruh orang muda dan untuk itu statistika terapan memberikan jalan bagaimana memilih sebagian dari orang muda tersebut sebagai contoh yang representif dan obycktif dari keseluruhan populasi orang muda tcrsebut.44 Ketiga peristiwa di atas adalah saling eksklusif. sehingga berlaku: P(A atau C) = P(A) + P(C) = 0. Statistika teoretis merupakan pengetahuan yang mengkaji dasar-dasar teori statistika.2 + 0. Jelaslah kiranya bahwa tanpa mcnguasai statistika adalah tak mungkin untuk dapat menarik kesimpulan induktif dengan sah. Jika umpamanya kita mempunyai hipotesis bahwa orang muda suka musik pop namun tidak musik keroncong maka kita harus melakukan pengujian untuk memperdebatkan bahwa hipotesis tersebut benar. bagaimana cara menghitung rentangan kekeliruan dan tingkat peluang.36 P(C) = 22/(10+18+22) = 0. Kegiatan ilmiah memerlukan penelitian untuk menguji hipotesis yang diajukan. distribusi. dimulai dari teori penarikan contoh. maka 64 dari setiap 100 kali mengambil akan terambil kelereng warna merah atau kuning. Penelitian pada dasarnya merupakan pengamatan dalam alam empiris apakah hipotesis tersebut memang didukung oleh fakta-fakta. Teori peluang merupakan cabang dari matematika sedangkan statistika sendiri merupakan disiplin tersendiri. bagaimana menghitung harga rata-rata dan sebagainya.. Bahwa penguasaan statistika mutlak diperlukan untuk dapat berpikir ilmiah dengan sah . dengan jalan mengumpulkan fakta mengenai kesukaan musik orang-orang muda.2 P(B) = 18/(10+18+22) = 0. Dasar dan teori statistika adalah teori peluang. penaksiran dan peluang. Statistika merupakan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk menarik kesimpulan secara induktif berdasarkan peluang tersebut.

Yanti.sering sekali dilupakan orang. menyajikan. Berpikir logis secara deduktif sering sekali dikacaukan dengan berpikir logis secara induktif. menyimpan dan menyampaikan informasi data menjadi sebuah informasi. dimana Informasi itu sendiri merupakan pernyataan yang menjelaskan suatu peristiwa sehingga manusia dapat membedakan antara satu dengan yang lainnya b. mengolah serta menyebarkan informasi. merupakan salah satu penghalang kemajuan ilmu. menganalisis. yang bersumber pada kekacauan penggunaan logika induktif dan deduktif. (2006:4). Rochaety. Pengertian Information Communications Technologies (ICT). maka teknologi informasi dapat diartikan sebagai hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari pengirim ke penerima. yakni kata teknologi dan informasi. ICT adalah sistem atau teknologi yang dapat mereduksi batasan ruang dan waktu untuk mengambil. Informasi merupakan pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan dan dibutuhkan. a. sebab kesimpulan yang ditarik adalah tidak sah. Teknologi Informasi Menurut (Main. memindahkan. D. Kesimpulan seperti ini sukar untuk diterima sebagai premis untuk berpikir selanjutnya. Dalam hipotesis terdahulu mengenai kesukaan musik orang muda tidak jarang kita langsung menarik kesimpulan berdasarkan wawancara kita dengan beberapa orang muda yang kebetutan kita kenal. 2008) TI dapat diartikan sebagai teknologi yang digunakan untuk menyimpan. Kalau dilihat dari susunan kata. menghasilkan. c. Prosedur penarikan kesimpulan yang subyektif ini. Informasi Menurut Budi Sutedjo (2002:168) dan Rahayuningsih. Information Communications Technologies (ICT) Definisi secara umum menurut Fitrihana (2007). Kita cenderung untuk berpikir logis cara deduktif dan menerapkan prosedur yang sama untuk kesimpulan induktif. Kekacauan logika inilah yang menyebabkan kurang berkembangnya ilmu di negara kita. . Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai sarana berpikir ilmiah 1. Teknologi Informasi atau IT (Information Technology) merupakan mata rantai dari perkembangan SI (Sistem Informasi).

Menurut Hariyadi (1993: 253) dalam Ardroni. penyimpanan. sesuai dengan apa yang kita inginkan. dan penyebaran berbagai jenis informasi dengan memanfaatkan komputer dan telekomunikasi yang lahir karena adanya dorongan-dorongan kuat untuk menciptakan teknologi baru yang dapat mengatasi kelambatan manusia mengolah informasi. dan semua dijawab dan semuanya ada. Pada zaman sekarang ini patut dijadikan salah satu sarana berfikir ilmiah adalah alat telekomunikasi seperti halnya komputer. pengolahan. . karena didalam komputer semua dapat diakses. Jadi jika komputer dimasukan kedalam katregori ini maka wajar-wajar saja. teknologi informasi diberi batasan sebagai teknologi pengadaan.

IAIN Sunan Ampel Surabaya Rachman.Liberty.G. Rochaeti. Vol. Filsafat Ilmu.DAFTAR PUSTAKA Ardoni. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2011 http://www. C.teori peluang (doc).id. 1996. ICT dan Perubahan Sosial. Ms. M. http://batikyogya. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi”.google. Pemanfaatan ICT (Information and Communication Technology) Di Perpustakaan.2011. Abdul M. (2008) ”Teknologi Informasi dalam Sitem Jaringan Perpustakaan Perguran Tinggi”. Yogyakarta. Bakry.S. Noor. (2005).2. Jakarta: Bumi Aksara Suriasumantri. Noor. (2006).co. UPT MKU UNNES. Semarang. Bandung.P. Sumarna.. halaman 32. 2006.. Mulia Press . “Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya”. No. Jakarta.com/author/batikyogya.wordpress. 2007. USU Repository. Diakses pada tanggal 12 Oktober 2011 Mahmudin. J. Pontjorini dan Yanti. Rahayuningsih. E. “Sistem Informasi Manajemen Pendidikan”. Filsafat Ilmu. Pustaka Sinar Harapan.1. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 2008. Fitrihana. Ma’in. Filsafat Ilmu.

/. !   ! 2:.9.8 .

:.. /.249. :33  /. ! 07.. ..2- /02-.73.9. .3/./:/.    $0-:..3./.5.3/0390.49..9  00703 .  2..73.3 . /.:  . 207..9079:9:5 8090.73. 50:.73..2- 00703 -07.   . 207.3 203.90780-:9 907/.73.32..-078 00703./: ./03.2-80. .3.3 88.7.249. 00703/.

  50:.:33! :33 .3203.73.2-00703-07.

  .

:! .2-00703-07. /..73.350:.3203.: .

 !   -.9.9..!  3.3 /.8 /.8.79.7.3-0-07...3-.350789. 203..439490780-:9/./9:8.5.77:2:850:.902.9.-07.9/.  2.3!  -.3 $0..   07/.5.3/.3 ^!  ^ ..3-:.2.9.

3 2:3./.!   !  . 2.79!   !     4394   . 50:.  5.3 /.. !    !    ../. 503:3/.3 /03.9: -07.: 2:./: .

.32:.2  .03.32:.32:3. 2./..50:..:-:.!  ! -:.

.

 .3907..9:7.  .2- /./..3 9/. 50789.3  .9.     2.    ./.802:.9 ./: .33./:  2.:.9..32.9. 50:. .- 8.  -:.9. 50789...9. 50:.:   .  .5 50789.:  /.00703/2.8:..9.       !0789.9.3 9./.:  8./039 .38.9.9.9079:9:5 .5..3 .: .00703/.3  00703 :33  0.9. -07.:  4394   $0-:.: !        .207.3 .9 .3 203/..3 .249.5.2. %&  &39:9: -07.3 /. 49.:.3 08:81  2./.3/03.   00703 .! %/..5./.73./. .73.30/.2-80.. 50:.. 50:./3.3 08:81 /:-:3./.: ! .    8./03.7.: .73. ... ! . 207. -078   00703 207.2-..203. ./.5.3 . 50:.: .7 49. /03.       :39: 907.3 :2. 203/.

:33 203.     203.73.2-..2-.: !   .73.

     !  .

     !  .

7.9 9.2 02578 . 7. 1.989.  0.989.300703/.7 9047 89.  0..3 007:..7.3 903 903 503..39.7/. 20207:..4394 90780-: /03.9. .8 80-.3  -../.847.3 50309.9/.3 -.3 805079 -.8..3 /./.7 2.3 545:.3 3/:91 /03. /..203.3202:33. /03. . 9.9.9.3 80:7: 47.2.8.9. 8:.32:/.70825:.8.  .390780-:9 .3 /.:.207:5.3 207:5.781.32:/.9.. 2039:3 7039. 803/7 207:5. 9..3 93. 7. 2:33 :39: /.3.38.3 .9. 89.2-.503:.3 /.34-..3 /.3904789.3 47.308:81 803.3 503:.3  $9.5 .3 2:/.989.5.989.7. 2.902.989..  /2:.3 89. 9./03. 9047098 207:5.      09.3 503:3.2:3 9/.9 50:..:.:.2.:..3 .90.825:.3. 2:8 545 3./...8. 907.7 0825:./. 2:8 0743.3  !0309..3907.9.989. 549088 -. 907.3  %047 50:.3 .3 89..2.3545:.989.. /.9:.3 .3 ./.7..3 5.8. 47.8.3 203:25:.-07.3 207:5. 202 80-..3 /.73.3. %039:8.5. 89.7809.5..:..989. 9047098 /. 2.9-07572.989.3.3 . 9047098 .: ! .3..350:.7:8 20. 203.3.3 /808:.5.. /.9..2.2- 80-.3 503.2-00703.3.7.503..8.3 /.3/.9 203.7.2039:3.32:847.7080:7:.7 /. 203.9.: !   !       . 2025:3.. 549088 90780-:9 -03.8.3 :39: 202507/0-..3 :39: 9: 89. -0/.3 -.989..3 203.4394 .3 //::3 40 1.3 0825:. 202-07.9..33.08:.-.3 50309..3:..3 202-07.904750:.3 :39: 203: 549088 .9.3  $9..3 /03.3 8.. 80/.3 2:/.. 9.9.7 9047 503. .7 47.3 -./.3:39:/. :25.79.4394  /897-:8  503.2.3 .9 :2:2 /..91/. 89.87. 90780-:9 80-.3..3 /853 907803/7  03:7:9 -/. .5.. 549088 90780-:9 202.7 .3. .9.989.7  /03.2-.3 -/.3 80-.389..2..3 2:/.3 .3. .. 907.3 2.989.207./507:.5.3 89..3 /.9 50:.:39:203.  .. 207:5. 89.5. .-8.3 .7.5.8.2 .780-:9 02./.33.::33  $9.35.3 9025.3:.3 007:.7..3/:91-07/.989.20303. -... /. 203. 9.3 93.4394  -.37057080391/.380-.7 .9..   83 /907.73.2:9.9 50307.3.33.3.43 2.7.9:-07.3.3 503.3 50:..2.3 -..31.8..3 80.50789.98..2.5.2.350309.: /57.9. /. /.

3.9:/03..7. 90344 .39..9 /.3     % /.3 -0757 48 80. /03.3 9.9.203.88  203.8/.:.3:8..3 80-..8.3 ./.:338  #4.3:93.3.8.3 4.7..-07572.3  20325.3 8.  31472.8  2.79.347. 08:.2-  2023/.3 2:8 47.3 /50740 /.3 80-.2.331472. ..5574808503.. 03.8 207:5.7.33..7.3 2034.3.9438%0.    %034431472.3 2.2 /. 9..943 %0.3 3/:91  .8../:5. 9...-..: % 31472./ -039: . 9/.8..7 8:8:3.3 20307.3 2:  80-.3 07574880.09  ../80-:..9:50789.5.880-.3 7:.31472. /.3 /-:9:.2.9: 503... :39: 0825:.8.3.   .8 03:7:9 .803..8.7..943422:3.331472. 0.3 9./0/:91807380.8/.:: 20303..7.5 00203 88902 203..3 203.3 2:/.9438%0.3 #.2 549088 907/..3 50309.8079..3 :39: 20325. 88902 .3 /.9: :39: 203.: /. .9.9.9 /.8 /.5.3 2:/.3 0-09:9.3 ..-0825:.7 0825:..3 503:3. .39.7503720503072.7.03/07:3 :39: -0757 48 .3:8..3./.  -  %034431472..8  .3  203. .7.3 02.33.3/03. 47.3 8.380507938:. .3 -0702-./.9 /.7..: 90344 .8 %0344 31472.8 /.  !7480/:7 503.3.3 .3 8:-091 3  .5.3 .:.5.  9.7.  31472.3 /0/:91  207:5. 3/:91  0.9 2070/:8 -.3 50274808.38:3 203.3 0825:.9.34.3. /5.5.34408 %  ./.8..3 31472. 2: / 30....3 ..9.3 .3 .:.:. 90344 /. 3.8 03:7:9  :/ $:90/4    /.7:39:/9072.. .8 9: 803/7 207:5.25.9.25. 7..38:.943422:3..9..3 :7.331472..34408 %  0138 80. :2:2 203:7:9 97.3 207:5.9202-0/.3.3 57480/:7 .8   .3 2030-.3 2:/.3 /.342:3.  .3 $ $8902 31472.. 90344 31472.8.  !03079.3 2030./.3 /:3...8  ..807380.9. .7 50702-.3 -07/.79.7..    % . /0/:91 /.3/:91/./.3.7 809.3 /.2030-.39      31472.7.344  207:5.3 -078:2-07 5.3 .8.9..5.3 31472.3 /.9/.  31472.57028:39:-075780.8 70.:. 0825:. 80-.3 /.3  /2.3/9.2.907.3 203.7.3 5073.3 -0-07.3 700.

.808  /.5.2... . /.3 /.//.9203..8805079.3 202./.78.3 80..3.8.3 .3 5030-./.3 90042:3.3 80-. .390344-.31./.03:7:9 .8 .3  /./.2 7/743   90344 31472.7.8 /03.425:907/2.2-./    /.  808:.3 425:907 /. 8.9 /..3 3 5.3 /4743.7 .9:9 /.7.. 33.3:8..5.3 802:. .3:./.32. 038 31472.3 .9.2034.31472.3 .3.- /..80.703.9: 8./4743.9.7:.3 802:.8  !.59.2..9./.7...9704732. /03..8:..990042:3.3 -07-..703.425:907 .  .3 8./.8 /-07 -.. /. .3 9.2425:907802:.30/..3  50325.9.9:39:203.5.3.3  5034. 90344 503...3. -0717 2.7.7..3.

 447     % /....3 02..3 !07:-..3 31472.33.8 08.3   ..31.%#!&$%   7/43     %0344 31472.  :73.7 447 8  8..3 /.3.5.3 !:89. -079   97.8  '4   4   &$& #0548947  ..9.1. $9:/ !075:89.2.  995.92: 4.79.3 $48.

.

94.-. 47/57088 .42.

:947..

/.  94-07   .3  .3.94.  .-.3% 31472.808 5.  94-07   995.808 5..9./.31.3/422:3.943.3.344  !075:89.943%0..2:/3   !02.. 9.. 9.

.

3..8 /.3%3 $:3.:28.3/:3 :.4 / 904750:.2.9 2: $0-:.8 .1.3 .!7088      .39  !      $8902 31472.39.8:2.5.397   $     8.  !:89.    8. !03.. 440 ...79. $3.  $:7.09    #.1.2 $902 .73..3 !075:89.7.79..3250$:7.7.1..7.:338  !439473 /..3    8.3 &!%&&$   #4.73.92:  $02. 3  -/:      %0344 31472.#.92: .3 !07:7.   .0203!03//..7.3 /4.-..3 .3   $:2.7 !45:07  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful