Mata Kuliah : PKKDM II Koordianator M.K : Ns. Grace B. Polii, S. Kep.

Kelas : A Kelompok Praktek RS Tondano

“ ASKEP STROKE NON HEMORAGIC”

Disusun oleh : Makfud Boham Shintia Mangodeng Ivone Pande Desy Bawiling Endang Wangkanusa Dianasranni Tampanguma Fernando Hengkelare Nadia Runtunuwu Alfiester Reppi Ofrida Goyugut Feby R. Bawinti Dety Nusali (09061009) (09061012) (09061013) (09061016) (09061019) (09061023) (09061030) (09061032) (09061037) (09061052) (09061055) (09061060)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS KATOLIK DE LA SALLE MANADO 2011

i

PRA KATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmatnya tim penulis telah berhasil menyusun dan menyelesaikan ASKEP ini dengan baik. ASKEP ini ditulis dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah PKKDM II untuk praktek RS. Penulis juga tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada Dosen Pembimbing RS yang sudah memberikan arahan dalam menyusun makalah ini, juga buat Orang Tua tim penulis yang sudah memberi dukungan dalam menyusun ASKEP ini, dan tidak lupa juga buat teman-teman kelas A Fakultas Keperawatan 2009 Universitas Katolik De La Salle Manado yang telah berpartisipasi dalam pembuatan ASKEP ini, serta semua pihak yang telah membantu tim penulis dalam proses pembuatan tugas ini. Akhirnya, harapan tim penulis semoga Asuhan Keperawatan Kepada Pasien dengan Stroke Non Hemoragik ini bermanfaat bagi pembaca. Tim penulis telah berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan ASKEP ini, namun penulis menyadari ASKEP ini belumlah sempurna. Oleh karena itu, penulis dan saran yang sifatnya membangun guna

mengharapakan

kritik

menyempurnakan ASKEP ini.

Manado, 01 Juni 2011

Tim Penulis

i

DAFTAR ISI
PRA KATA .............................................................................................................. i DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii BAB I LAPORAN PENDAHULUAN ................................................................... 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.6 1.6 1.7 1.8 1.9 1.10 1.11 Definisi ..................................................................................................... 1 Etiologi ..................................................................................................... 1 Anatomi dan Fisiologi .............................................................................. 4 Patofisiologi.............................................................................................. 6 Patoflow.................................................................................................... 8 Manifestasi Klinis................................................................................... 10 Pemeriksaan Diagnosis ........................................................................... 11 Terapi ...................................................................................................... 12 Komplikasi ............................................................................................. 14 Prognosis ................................................................................................ 14 Pencegahan ............................................................................................. 15

BAB II ASKEP TEORI ........................................................................................ 16 2.1 2.2 Data Dasar Pengkajian ........................................................................... 16 Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/ Intervensi serta Rasional .................... 22

BAB III ASKEP PADA KLIEN ........................................................................... 31 3.1 3.2 3.3 3.4 Pengkajian Data Dasar ........................................................................... 31 Analisis Data Dan Diagnosa................................................................... 42 Perencanaan/ Intervensi .......................................................................... 47 Implementasi Dan Evaluasi .................................................................... 56

DAFTAR ISTILAH .............................................................................................. 60 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 63

ii

BAB I LAPORAN PENDAHULUAN
1.1 Definisi Menurut WHO ( 1986 ), Stroke adalah gangguan peredaran darah ke otak atau disebut cerebro vascular accident (VCA) atau, stroke adalah tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat fungsi vocal (global), dengan gejalagejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih ataupun menyebabkan kematian, tanpa adanya penyebab lain yang ada selain vaskuler. Menurut Feigin, 2006 Stroke atau sering disebut juga dengan ”cerebrovasculer accident” adalah gejala kelainan neurologi akibat dari penyakit pembuluh darah otak. Stroke adalah penyakit otak yang paling destruktif dengan konsekuensi berat, termasuk beban psikologis, fisik, dan keuangan yang besar pada pasien, keluarga, dan masyarakat. Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA (Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak (dalam beberapa detik) atau secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono,1996, hal 67). Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).

1.2

Etiologi

1. Penyebab-penyebabnya antara lain: a. Trombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak ) Trombus yang lepas dan menyangkut di pembuluh darah yang lebih distal disebut embolus. b. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain ) Emboli merupakan 5-15 % dari penyebab stroke. Dari penelitian epidemiologi didapatkan bahwa sekitar 50 % dari semua serangan

1

iskemik otak, apakah yang permanen atau yang transien, diakibatkan oleh komplikasi trombotik atau embolik dari ateroma, yang merupakan kelainan dari arteri ukuran besar atau sedang, dan sekitar 25 % disebabkan oleh penyakit pembuluh darah kecil di intyrakranial dan 20 % oleh emboli jantung. Emboli dapat terbentuk dari gumpalan darah, kolesterol, lemak, fibrin trombosit, udara ,tumor, metastase, bakteri, benda asing. Emboli lemak terbentuk jika lemak dari sumsum tulang yang pecah dilepaskan ke dalam aliran darah dan akhirnya bergabung di dalam sebuah arteri. c. Hemorargik cerebral (Pecahnya pembuluh darah serebral dengan perlahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak). Akibatnya adalah gangguan suplai darah ke otak , menyebabkan kehilangan gerak, pikir, memori, bicara, atau sensasi baik sementara atau permanen. d. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak) Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika tekanan darah rendahnya sangat berat dan menahun. Hal ini terjadi jika seseorang mengalami kehilangan darah yang banyak karena cedera atau pembedahan, serangan jantung atau irama jantung yang abnormal.

2

2. Penyebab lain terjadinya stroke non hemoragik adalah : a. Aterosklerosis, Terbentuknya aterosklerosis berawal dari endapan ateroma (endapan lemak) yang kadarnya berlebihan dalam pembuluh darah. Selain dari endapan lemak, aterosklerosis ini juga mungkin

karena arteriosklerosis, yaitu penebalan dinding arteri (tunika intima) karena timbunan kalsium yang kemudian mengakibatkan bertambahnya diameter pembuluh darah dengan atau tanpa mengecilnya pembuluh darah. b. Infeksi, Peradangan juga menyebabkan menyempitnya pembuluh darah, terutama yang menuju ke otak. c. Obat-obatan, Ada beberapa jenis obat-obatan yang justru dapat menyebabkan stroke seperti: amfetamin dan kokain dengan jalan

mempersempit lumen pembuluh darah ke otak. d. Hipotensi, Penurunan tekanan darah yang tiba-tiba bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak, yang biasanya menyebabkan seseorang pingsan. Stroke bisa terjadi jika hipotensi ini sangat parah dan menahun. 3. Ada beberapa faktor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ; a. Hipertensi b. Aneurisma pembuluh darah cerebral c. Kelainan jantung / penyakit jantung, d. Diabetes mellitus (DM), e. Usia lanjut, f. Polocitemia, g. Peningkatan kolesterol (lipid total), h. Obesitas, i. Perokok,

j. kurang aktivitas fisik,

3

1.3

Anatomi dan Fisiologi

1. Otak Otak merupakan pusat kendali fungsi tubuh yang rumit dengan sekitar 100 millar sel saraf , walaupun berat total otak hanya sekitar 2,5 % dari berat tubuh, 70 % oksigen dan nutrisi yang diperlukan tubuh ternyata digunakan oleh otak. Berbeda dengan otak dan jaringan lainya. Otak tidak mampu menyimpan nutrisi agar bisa berfungsi, otak tergantung dari pasokan aliran darah, yang secara kontinyu membawa oksigen dan nutrisi. Pada dasarnya otak terdiri dari tiga bagian besar dengan fungsi tertentu yaitu: a. Otak besar, Otak besar yaitu bagian utama otak yang berkaitan dengan fungsi intelektual yang lebih tinggi, yaitu fungsi bicara, integritas informasi sensori ( rasa ) dan kontrol gerakan yang halus. Pada otak besar ditemukan beberapa lobus yaitu, lobus frontalis, lobus parientalis, lobus temporalis, dan lobus oksipitalis. b. Otak kecil, Terletak dibawah otak besar berfungsi untuk koordinasi gerakan dan keseimbangan. c. Batang otak,

Berhubungan dengan tulang belakang, berbagai mengendalikan fungsi tubuh

termasuk koordinasi gerakan mata, menjaga keseimbangan, serta mengatur pernafasan dan tekanan darah. Batang otak terdiri dari, otak tengah, pons dan medula oblongata. 2. Saraf kepala dibagi dua belas yaitu: a. Nervus olvaktorius, Saraf pembau yang keluar dari otak dibawa oleh dahi, membawa rangsangan aroma (bau-bauan) dari rongga hidung ke otak.

4

b. Nervus optikus, Mensarafi bola mata, membawa rangsangan penglihatan ke otak. c. Nervus okulomotoris, Bersifat motoris, mensarafi otot-otot orbital (otot pengerak bola mata), menghantarkan serabut-serabut saraf para simpati untuk melayani otot siliaris dan otot iris. d. Nervus troklearis, Bersifat motoris, mensarafi otot- otot orbital. Saraf pemutar mata yang pusatnya terletak dibelakang pusat saraf penggerak mata. e. Nervus trigeminus, Bersifat majemuk (sensoris motoris) saraf ini mempunyai tiga buah cabang, fungsinya sebagai saraf kembar tiga, saraf ini merupakan saraf otak besar. Sarafnya yaitu: 1). Nervus oltamikus: sifatnya sensorik, mensarafi kulit kepala bagian depan kelopak mata atas, selaput lendir kelopak mata dan bola mata. 2). Nervus maksilaris: sifatnya sensoris, mensarafi gigi atas, bibir atas, palatum, batang hidung, ronga hidung dan sinus maksilaris. 3). Nervus mandibula: sifatnya majemuk ( sensori dan motoris ) mensarafi otot-otot pengunyah. Serabut-serabut sensorisnya

mensarafi gigi bawah, kulit daerah temporal dan dagu. f. Nervus abdusen, Sifatnya motoris, mensarafi otot-otot orbital. Fungsinya sebagai saraf penggoyang sisi mata. g. Nervus fasialis, Sifatnya majemuk (sensori dan motori) serabut-serabut motorisnya mensarafi otot-otot lidah dan selaput lendir ronga mulut. Di dalam saraf ini terdapat serabut-serabut saraf otonom (parasimpatis) untuk wajah dan kulit kepala fungsinya sebagai mimik wajah untuk menghantarkan rasa pengecap. h. Nervus auditoris, Sifatnya sensori, mensarafi alat pendengar, membawa rangsangan dari pendengaran dan dari telinga ke otak. Fungsinya sebagai saraf pendengar. i. Nervus glosofaringeus, Sifatnya majemuk (sensori dan motoris) mensarafi faring, tonsil dan lidah, saraf ini dapat membawa rangsangan cita rasa ke otak.

5

j. Nervus vagus, Sifatnya majemuk ( sensoris dan motoris) mengandung saraf-saraf motorik, sensorik dan para simpatis faring, laring, paru-paru, esofagus, gaster intestinum minor, kelenjar-kelenjar pencernaan dalam abdomen. fungsinya sebagai saraf perasa. k. Nervus asesorius, Saraf ini mensarafi muskulus sternokleidomastoid dan muskulus trapezium, fungsinya sebagai saraf tambahan. l. Nervus hipoglosus, Saraf ini mensarafi otot-otot lidah, fungsinya sebagai saraf lidah. Saraf ini terdapat di dalam sumsum penyambung.

1.4

Patofisiologi Infark ischemic cerebri sangat erat hubungannya dengan aterosklerosis dan

arteriosklerosis.

Aterosklerosis

dapat

menimbulkan

bermacam-macam

manifestasi klinis dengan cara: 1. Menyempitkan lumen pembuluh darah dan mengakibatkan aliran darah. 2. Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadinya thrombus dan perdarahan aterm. 3. Dapat terbentuk thrombus yang kemudian terlepas sebagai emboli. 4. Menyebabkan aneurisma yaitu lemahnya dinding pembuluh darah atau insufisiensi

menjadi lebih tipis sehingga dapat dengan mudah robek. Faktor yang mempengaruhi aliran darah ke otak: a. Keadaan pembuluh darah. b. Keadan darah : viskositas darah meningkat, hematokrit meningkat, aliran darah ke otak menjadi lebih lambat, anemia berat, oksigenasi ke otak menjadi menurun. c. Tekanan darah sistemik memegang peranan perfusi otak. Otoregulasi otak yaitu kemampuan intrinsik pembuluh darah otak untuk mengatur agar pembuluh darah otak tetap konstan walaupun ada perubahan tekanan perfusi otak. d. Kelainan jantung menyebabkan menurunnya curah jantung dan karena lepasnya embolus sehingga menimbulkan iskhemia otak. Suplai darah ke otak dapat berubah pada gangguan fokal (thrombus, emboli, perdarahan

6

dan

spasme

vaskuler)

atau

oleh

karena

gangguan

umum

(Hypoksiakarena gangguan paru dan jantung).

Arterosklerosis

sering/cenderung sebagai faktor penting terhadap otak. Thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotikatau darah dapat beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh embolusmenyebabkan oedema dan nekrosis diikuti thrombosis dan hipertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebral yang sangat luas akan menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan penyakit cerebrovaskuler. Anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan irreversible dapat anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi, salah satunya cardiac arrest.

7

1.6

Patoflow

Faktor-faktor penyebab / pencetus Stroke Non Hemoragik

Terganggunya Kerja Jantung

Suplai darah dari ventrikel kiri

Jantung memompa darah ke seluruh tubuh/sistemik

Arteroklerosis

Trombosis

Emboli

TIA

Suplai darah ke serebral menurun

NDx: Perubahan Perfusi Jaringan

Iskemia

Hipoxia Jar. Otak

Kerusakan Otak

Reversibel

Ireversibel

Menurunnya Kesadaran

Edema Jar. Otak

8

NDx: Kerusakan Menelan

Defisit Jar. Otak

NDx: Kurang Perawatan diri

Koma

Hemaparasis

Paralisis

Afasia

Bed Rest

NDx: Gangguan Harga diri

NDx: Kerusakan Menelan

Dekubitus

Pneumonia
NDx: Kurang Perawatan diri NDx: Kerusakan Mobilitas Fisik

Inkontinensia Uri

9

1.6

Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala bervariasi, tergantung pada arteri yang diserang (dan, akibatnya, bagian otak yang disuplainya), keparahan kerusakan, dan perluasan sirkulasi kolateral yang berkembang untuk membantu otak mengimbangi suplai darah yang berkurang. 1. Stroke hemisfer kiri: gejala di sisi tubuh sebelah kanan 2. Stroke hemisfer kanan : gejala di sisi tubuh sebelah kiri 3. Stroke yang menyebabkan kerusakan saraf kranial : tanda disfungsi saraf kranial disisi yang sama dengan terjadinya hemoragi 4. Gejala biasanya diklasifikasikan menurut arteri yang diserang : a. Arteri serebral tengah : afasia, disfasia, potongan bidang visual dan hemiparesis disisi yang diserang (lebih parah diwajah dan lengan daripada di kaki) b. Arteri karotid : lemah, paralisis, mati rasa, perubahan sensorik, dan gangguan visual disisi yang diserang ; perubahan tingkat kesadaran ; bunyi abnormal ; sakit kepala; afasia dan ptosis. c. Arteri vertebrobasilar : lemah disisi yang diserang, mati rasa disekitar bibir dan mulut, potongan bidang visual, diplopia, koordinasi buruk, disfagia, bicara mencerca, pusing, amnesia dan ataksia. d. Arteri serebral anterior : konfusi, lemah dan mati rasa (terutama dikaki) disisi yang diserang, inkontinensi, hilang koordinasi, gangguan fungsi motorik dan sensorik, dan perubahan kepribadian. e. Arteri serebral posterior : potongan bidang visual, gangguan sensorik, disleksia, koma, dan kebutaan kortikal. 5. Gejala juga diklasifikasikan sebagai premonitorik, tergeneralisasi, atau fokal 6. Premonitorik (jarang) :mengantuk, pusing, sakit kepala, dan konfusi mental. 7. Tergeneralisasi : sakit kepala,muntah,gangguan mental, sawan,koma,rigiditas nukal,demam, dan disorientasi. 8. Fokal (misalnya perubahan sensorik dan refleks): merefleksikan tempat hemoragi atau inarksi dan bisa memburuk.

10

Tanda dan gejala lain dari stroke adalah (Baughman, C Diane.dkk,2000): 1. Kehilangan motorik. Disfungsi motorik paling umum adalah hemiplegia (paralisis pada salah satu sisi) dan hemiparesis (kelemahan salah satu sisi) dan disfagia. 2. Kehilangan komunikasi Disfungsi bahasa dan komunikasi adalah (kesulitan berbicara) atau afasia (kehilangan berbicara). 3. Gangguan persepsi Meliputi disfungsi persepsi visual humanus, heminapsia penglihatan perifer dan kehilangan sensori. 4. Kerusakan fungsi kognitif, parestesia (terjadi pada sisi yang berlawanan). 5. Disfungsi kandung kemih, meliputi : inkontinensia urinarius transier, atau kehilangan disatria

diplopia, gangguan hubungan visual, spesial dan

inkontinensia urinarius peristen atau retensi urin (mungkin simtomatik dari kerusakan otak bilateral), Inkontinensia urinarius dan defekasi yang berlanjut (dapat mencerminkan kerusakan neurologi ekstensif). Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung dengan daerah otak yang terkena: a. Pengaruh terhadap status mental: tidak sadar, konfus, lupa tubuh sebelah. b. Pengaruh secara fisik: paralise, disfagia, gangguan sentuhan dan sensasi, gangguan penglihatan. c. Pengaruh terhadap komunikasi: bicara tidak jelas, kehilangan bahasa. d. Dilihat dari bagian hemisfer yang terkena tanda dan gejala dapat berupa

1.7

Pemeriksaan Diagnosis

1. Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah : a. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb. b. Computed tomography (CT) scan kepala untuk mengetahui lokasi dan

luasnya perdarahan atau infark. Menunjukkan adanya stroke hemoragis

11

dengan segera tetapi bisa jadi tidak mnenunjukkan adanya infarksi trombotik selama 48-72 jam. c. MRI( magnetic resonance imaging ), untuk mengetahui adanya edema, infark, hematom dan bergesernya struktur otak, bisa membantu

mengidentifikasi area yang mengalami iskemia atau infarksi dan pembengkakan serebral. MRI menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik. d. Angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu 2. Pemeriksaan penunjang : a. Oftalmoskopi bisa menunjukkan tanda hipertensi dan perubahan

aterosklerotik dalam arteri retina. b. Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark c. Membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri d. Fungsi Lumbal 1) menunjukan adanya tekanan normal 2) tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan e. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik f. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena

g. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal (DoengesE, Marilynn,2000 hal 292)

1.8

Terapi Pemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.

Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak variasinya agar pasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi. Ada yang berpendapat bahwa pendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu tidak menggunakan satu metode saja melainkan dengan penggabungan yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan

12

kondisi dan kemampuan pasien agar memperoleh hasil yang maksimal. Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yang terdiri dari latihan perbaikan postur, latihan weight bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan aktifitas fungsional. 1. Latihan dengan mekanisme reflek postur Gangguan tonus otot (spastisitas) secara postural pada pasien stroke, dapat mengakibatkan gangguan gerak. Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur mendekati status normal, maka seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol spastisitas otot secara postural. Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan. Dalam upaya melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan (Key Point of Control) 2. Latihan weight bearing Bertujuan untuk mengontrol tonus pada ekstrimitas dalam keadaan spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi pada persendian untuk menyangga (Rahayu, 1992 ). 3. Latihan keseimbangan dan koordinasi Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien. Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan mempertahankan tonus ke arah normal (Pudjiastuti, 2003). Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya repetisi. 4. Latihan aktifitas fungsional Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery pasien terjadi gerak anggota tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi

13

dalam gerak untuk aktifitas fungsional dan membentuk pola abnormal. Latihan aktifitas fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktifitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain. Terapi suportif awal : 1. Seringkali kajilah status neurologis pasien untuk menentukan deficit. 2. Pantaulah tekanan darah, berih labelatol ( trandate ) untuk hipertensi. 3. Jaga kepatenan jalan napas dan status oksigenasi. 4. Pantau kadar glukosa darah 5. Jika pasien mengalami sakit kepala beri analgesic.

1.9

Komplikasi

Komplikasi pada stroke non hemoragik adalah: 1. Berhubungan dengan imobilisasi: infeksi pernafasan, nyeri pada daerah tertekan, konstipasi. 2. Berhubungan dengan paralise: nyeri punggung, dislokasi sendi, deformitas, terjatuh. 3. Berhubungan dengan kerusakan otak: epilepsy, sakit kepala. 4. Hidrosefalus

1.10 Prognosis Prognosis stroke sulit dipastikan karena ada yang sembuh dan dapat beraktifitas semula namun ada yang cacat bahkan ada juga yang meninggal. Prognosis stroke ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain : lokasi dan luas area lesi, umur, tipe stroke, cepat lambatnya penanganan serta kerjasama tim medis dengan pasien dan keluarga. Cacat mempengaruhi 75% dari penderita stroke yang cukup untuk menurunkan kelayakan kerja mereka. Stroke dapat mempengaruhi pasien secara fisik, mental, emosional, atau kombinasi dari ketiganya. Hasil stroke sangat bervariasi tergantung pada ukuran dan lokasi lesi. Disfungsi sesuai dengan daerah di otak

14

yang telah rusak. Beberapa cacat fisik yang dapat hasil dari stroke termasuk kelemahan otot, kesemutan, luka tekanan, pneumonia, inkontinensia, apraxia (ketidakmampuan untuk melakukan gerakan-gerakan belajar), kesulitan

melakukan kegiatan sehari-hari, kehilangan nafsu makan, kehilangan bicara, kehilangan penglihatan, dan rasa sakit. Jika stroke cukup parah, atau di lokasi tertentu seperti bagian dari koma, batang otak atau kematian itu dapat terjadi.

1.11 Pencegahan 1. Cara mencegah stroke tidak sulit jika Anda mengambil tindakan pencegahan tertentu. Menurut asosiasi stroke nasional, pasien disarankan untuk mengetahui berikut: a. Berhenti merokok b. Minum alcohol c. Makan diet rendah lemak adalah sama pentingnya. d. Biarkan dokter Anda mengecek untuk itu termasuk risiko stroke. e. Mengambil langkah-langkah yang memadai untuk mengontrol diabetes. f. Membuat latihan merupakan bagian integral dari rutinitas harian Anda. g. Pergilah untuk memeriksa kolesterol. h. Fokus pada diet rendah garam. i. Cari gejala stroke dan terburu-buru untuk perhatian medis segera. Gejala termasuk penglihatan kabur, sakit kepala hebat, pusing, kelemahan dari wajah atau bahkan batas. Anda harus ingat bahwa tekanan darah tinggi adalah penyebab utama stroke. 2. Berikut adalah langkah-langkah tertentu untuk mencegah stroke: a. Anda harus mengontrol tekanan darah Anda. b. Merokok secara langsung terkait dengan risiko stroke. c. berolahraga secara teratur senam ringan perlu membuat jantung lebih kuat dan meningkatkan sirkulasi. d. Fokus pada diet yang sehat. e. Anda harus mengontrol diabetes Anda.

15

BAB II ASKEP TEORI
2.1 Data Dasar Pengkajian

1. Adapun hal yang perlu di kaji pada klien dengan penyakit SNH yaitu : a. Identitas diri klien 1) Pasien (diisi lengkap) : Nama, Tempat/Tgl. Lahir, Umur, Jenis Kelamin, Alamat, Status Perkawinan, Agama, Suku Bangsa, Pendidikan, Pekerjaan, Lama bekerja, Tgl Masuk RS. 2) Penanggung Jawab (diisi lengkap) : Sumber informasi, Keluarga terdekat yang dapat dihubungi, Pendidikan, Pekerjaan, Alamat. b. Status kesehatan saat ini
1) Alasan Kunjungan/Keluhan Utama, 2) Faktor Pencetus, 3) Lamanya keluhan, 4) Timbulnya Keluhan, 5) Faktor yang memperberat, 6) Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya, 7) Diagnosa Medik.

c. Riwayat kesehatan yang lalu 1) Penyakit yang pernah dialami, 2) Alergi, 3) Imunisasi, 4) Kebiasaan, 5) Obat – obatan, 6) Pola Nurtisi, 7) Pola Eliminasi, 8) Pola tidur dan istirahat, 9) Pola Aktifitas dan Latihan, 10)

Pola bekerja.

16

d. Riwayat keluarga dalam bentuk Genogram e. Riwayat lingkungan f. Aspek psikososial 1) Pola piker dan persepsi 2) Persepsi diri 3) Suasana hati 4) Hubungan/ komunikasi 5) Kehidupan berkeluarga 6) Pertahanan koping 7) System nilai – kepercayaan 8) Tingkat perkembangan g. Pengkajian fisik

1) Tanda-tanda vital saat pasien masuk rumah sakit 2) pemeriksaan persistem a) sistem persepsi & sensori (pemeriksaan 5 indera penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecap, perasa), b) Sistem persarafan (bagaimana tingkat kesadaran, GCS, reflek bicara, pupil, orientasi waktu & tempat), c) Sistem pernafasan (Nilai frekuensi nafas, kualitas, suara, dan jalan nafas), d) Sistem kardiovaskuler (nilai TD, nadi dari irama, kualitas dan frekuensi), e) Sistem gastrointestinal (nilai kemampuan menelan, nafsu

makan/minum, peritaltik, eliminasi), f) Sistem integument (nilai warna, turgor, tekstur dari kulit pasien), g) Sistem reproduksi, h) Sistem perkemihan (nilai frekunsi BAK, volume BAK) . 2. Pengkajian Primer a. Airway

17

Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk b. Breathing Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi c. Circulation TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut 3. Pengkaian Sekunder a. Aktivitas dan istirahat Data Subjektif: - Kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis. - Mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang otot ) Data objektif: - Perubahan tingkat kesadaran - Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis ( hemiplegia ), kelemahan umum. - Gangguan penglihatan b. Sirkulasi Data Subjektif: - Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia. Data objektif: - Hipertensi arterial - Disritmia, perubahan EKG - Pulsasi : kemungkinan bervariasi - Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal c. Integritas ego

18

Data Subjektif: - Perasaan tidak berdaya, hilang harapan Data objektif: - Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan - Kesulitan berekspresi diri d. Eliminasi Data Subjektif: - Inkontinensia, anuria - distensi abdomen ( kandung kemih sangat penuh ), tidak adanya suara usus( ileus paralitik ) e. Makan/ minum Data Subjektif: - Nafsu makan hilang, nausea / vomitus menandakan adanya PTIK, kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia, riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah Data objektif: - Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum dan faring ). Obesitas ( faktor resiko ) f. Sensori neural Data Subjektif: - Pusing / syncope ( sebelum CVA/ sementara selama TIA ) - Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid. - Kelemahan, lumpuh/mati - Penglihatan berkurang - Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral ( sisi yang sama ) - Gangguan rasa pengecapan dan penciuman Data objektif: kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti

19

- Status mental ; koma biasanya menandai stadium perdarahan , gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif - Ekstremitas : kelemahan / paraliysis ( kontralateral pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam ( kontralateral ) - Wajah: paralisis / parese ( ipsilateral ) - Afasia ( kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa, kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya. - Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil - Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik - Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral. g. Nyeri / kenyamanan Data Subjektif: - Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya Data objektif: - Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial h. Respirasi Data Subjektif: - Perokok ( faktor resiko ) i. keamanan Data objektif: - Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan - Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit - Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali

20

- Gangguan merespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh - Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri j. Interaksi social Data objektif: - Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi. k. Pengajaran / pembelajaran Data Subjektif : - Riwayat hipertensi keluarga, stroke - Penggunaan kontrasepsi oral l. Pertimbangan rencana pulang - Menentukan regimen medikasi / penanganan terapi - Bantuan untuk transportasi, shoping , menyiapkan makanan , perawatan diri dan pekerjaan rumah.

21

2.2

Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/ Intervensi serta Rasional

1. Diagnosa : Perubahan perfusi jaringan, serebral berhubungan dengan interupsi aliran darah : gangguan oklusif, hemoragi, vasospasme serebral, edema serebral. Tujuan : Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik, fungsi kognitif dan motorik/sensori. Mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK. Menunjukan tidak adanya kelanjutan deteriorasi/kekambuhan defisit. Perencanaan/intervensi Rasional

Mandiri 1. Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan - Mempengaruhi penetapan intervensi. Kerusakan/kemunduran keadaan/penyebab khusus selama koma/penurunan perfusi tanda/gejala neorologis atau kegagalan memperbaikinya setelah serebral dan potensial terjadi peningkatan TIK. fase awal memerlukan tindakan pembedahan daan/atau pasien harus dipindahkan ke ruang perawatan kritis untuk melakukan pematangan terhadap peningkatan TIK. 2. Pantau/catat status neurologis sesering mungkin dan - Mengetahui kecenderungan tingakat kesadaran dan potensial bandingkan dengan keadaan normalnya/standar. peningkatan TIK dan mengetahui lokasi, luas dan kemajuan kerusakan SSP. Dapat menunjukan TIA yang merupakan tanda terjadi thrombosis CVS baru. 3. Pantau tanda-tanda vital, seperti catat : - Variasi mungkin terjadi oleh karena tekanan serebral pada Adanya hipertensi/hipotensi, bandingkan tekanan darah yang daerah vasomotor otak. Hipertensi/hipotensi postural dapat terbaca pada kedua lengan. menjadi faktor pencetus. Hipotensi dapat terjadi karena syok. Penningkatan TIK dapat terjadi karena edema adanya faktor pembekuan darah. Tersumbatnya arteri subklavia dapat dinyatakan dengan adanya perbedaan tekanan pada ke dua lengan. Frekuensi dan irama jantung : auskultasi adnaya mur-mur. - Perubahan terutama adanya bradikardia dapat terjadi sebagai 22

Catat pola dan irama dari pernapasan, seperti adanya periode apnea setelah pernapasan hiperpentilas, pernapasan cheynestrokes. 4. Evaluasi pupil catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya.

5. Catat perubahan dalam penglihatan, seperti adanya kebutaan, gangguan lapang pandang/kedalaman persepsi. 6. Kaji fungsi-fungsi yang lebih tinggi, seperti fungsi bicara jika pasien sadar. 7. Letakan kepala dengan posisi agak ditinggikan dan dalam posisi anatomis/netral. 8. Pertahankan keadaan tirah baring ; ciptakan lingkungan yang tenang; batasi pengunjung/aktivvitas pasien sesuai indikasi. Berikan istirahat secara periodic antara aktivitas perawatan, batasi lamanya setiap prosedur. 9. Cegah terjadinya mengejan saat defekasi, dan pernapasan yang memaksa (batuk terus-menerus).

akibat adanya kerusakan otak. Distrimia dan mur-mur mungkin mencerminkan adanya penyakit jantung yang mungkin telah menjadi pencetus CSV. - Ketidakteraturan pernapasan dapt memberikan gambaran lokasi kerusakan serebral/peningkatan TIK dan kebutuhan untuk intervensi selanjutnya termasuk kemungkinan perlunya dukungan terhadap pernapasan. - Reaksi pupil diatur oleh saraf kranial okulomotor dan berguna dalam menentukan apakah batang otak tersebut masih baik. Ukuran dan kesamaan pupil ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya. Respon terhadap refleks cahaya mengkombinasikan fungsi dari saraf kranial optikus dan saraf kranial okulomotor. - Gangguan penglihatan yang spesifik mencerminkan daerah otak yang terkena, mengindikasikan keamanan yang harus mendapat perhatian dan mempengaruhi intervensi yang akan dilakukan. - Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari lokasi/derajat gangguan serebral dan mungkin mengindikasikan penurunana/peningkatan TIK. - Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirkulasi/perfusi serebral. - Aktivitas/stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan TIK istirahat total dan ketenangan mungkin diperlukan untuk pencegahan terhadap pendarahan dalam kasus stroke hemoragik/pendarahan lainnya. - Maneuver valsalva dapat meningkatkan TIK dan memperbesar resiko terjadinya pendarahan

23

10. Kaji ragiditas nukal, kedutan, kegelisahan yang meningkat, - Merupakan indikasi adanya iritasi maningeal. Kejang dapt peka rangssang dan serangan kejang. mencerminkan adanya peningkatan TIK/trauma serebral yang memerlukan perhatian dan intervensi selanjutnya. Kolaborasi : 11. Berikan oksigen sesuai indikasi. 12. Berikan obat sesuai indikasi : antikoagulasi, seperti natrium warfarin (coumadin), heparin.

- Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan tekanan meningkat / terbentuknya edema. - Dapat digunakan untuk meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat mencegah pembekuan saat embolus/trombus merupakan faktor masalahnya. Merupakan kontraindikasi pada pasien dengan hipertensi sebagai akibat dari peningkatan resiko perdarahan. Antifibrolatik, seperti asam aminokaproid (amicar). - Pengunaan dengan hati-hati dalam perdarahan untuk mencegah lisis bekuan yang terbentuk dan perdarahan berulang yang serupa. Antihipertensi - Hipertensi lama/ kronis memerlukan penanganan yang hati-hati, sebab penenganan yang berlebihan meningkatkan resiko terjadinya perluasan kerusakan jaringan. Hipertensi sementara seringkali terjadi selama fase stroke akut dan penangulangannya seringkali tanpa intervensi terapeutik. Vasodilatasi perifer, seperti siklandelat, papaverin, - Digunakan untuk memperbaiki sirkulasi kolateral atau isoksupresin. menurunkan vasospasme. Steroid, deksametason. - Pengunaannya kontrolversial dalam mengendalikan edema serebral. Fenitoin, fenobarbital. - Dapat digunakan untuk mengontrol kejang dan / atau untuk aktivitas sedatif. Catatan : Fenobarbital memperkuat kerja dari anti epilepsi. Pelunak feses. - Mencegah proses mengejan selama defekasi dan yang

24

berhubungan dengan peningkatan TIK. 13. Persiapan untuk pembedahan, endarterektomi, bypass - Mungkin bermanfaat untuk mengatasi situasi. mikrovaskuler. 14. Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, seperti - Memberikan informasi tentang keefektifan pengobatan/ kadar masa protrombin, kadar dilantin. terapeutik.

2. Diagnosa : Kerusakan mobilitas fisik, berhubungan dengan Keterlibatan neuromuskuler : Kelemahan, parestesia, Paralisis hipotonik (awal), Paralisis spastis. Tujuan : Mempertahankan posisi optimal dari fungsi yang dibuktikan oleh takadanya kontraktur, footdrop. Mempertahankan/ meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau kompensasi. Mendemonstrasikan teknik/ perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas. Mempertahankan integritas kulit.

25

Perencanaan/intervensi

Rasional

Mandiri 1. Kaji kemampuan secara fungsional/ luasnya kerusakan awal - Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan dan dengan cara yang teratur. informasi mengenai pemulihan. Bantu dalam pemilihan terhadap intervensi, sebab teknik yang berbeda digunakan untuk paralisis spastik dengan flaksid. 2. Ubah posisi minimal setiap 3 jam (Terlentang,miring) dan - Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan. Daerh sebagainya dan jika memungkinkan bisa lebih sering jika yang terkena mengalami perburukan/sirkulasi yang lebih jelek diletakkan dalam posisi bagian yang terganggu. dan menurunkan sensasi dan lebih besar menimbulkan kerusakan pada kulit/dekubitus. 3. Letakkan pada posisi terlengkuk satu kali atau dua kali sehari - Membantu mempertahankan ekstensi pinggul funngsional; jika pasien dapat mentoleransinya. tetapi kemungkinan akan meningkatkan ansietas terutama mengenai kemampuan pasien untuk bernapas. 4. Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada - Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu semua ekstermitas saat masuk. Anjurka melakukan latihan mencegah kontraktur. Menurunkan resiko terjadinya seperti latihan quadrisep/gluteal, meremas bola karet, hiperkalsiuria dan osteoporosis jika masalah utamanya adalah melebarkan jari-jari dan kaki/telapak. perdarahan. Catatan; stimulasi yang berlebihan dapat menjadi pencetus adanya perdarahan berulang. 5. Sokong ekstermitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan - Mencegah kontrakur/footdrop dan memfasilitasi kegunaannya papan kaki (footboard) selama periode paralisis flaksid, jika berfungsi kembali. Paralisis flaksid dapat mengganggu pertahankan posisi kepala netral. kemampuannya untuk menyangga kepala, dilain pihak paralisis spastik dapat mengarah pada deviasi kepala kesalah satu sisi. 6. Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi - Selama paralisis flaksid, penggunaan penyangga dapat tegak, sesuai indikasi. menurunkan resiko terjadinya subluksasio lengan dan “sindrom bahu-lengan”. 7. Evaluasi penggunaan dari kebutuhan alat bantu untuk - Kontraktur fleksi dapat terjadi akibat dari otot fleksor lebih kuat pengaturan posisi atau alat pembalut selama periode paralisis dibandingkan dengan otot ekstensor. spastik. 26

8. Tempatkan bantal dibawah aksila untuk melakukan abduksi - Mencegah adduksi bahu dan fleksi siku pada tangan. 9. Tinggikan tangan dan kepala - Meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terbentuknya edema. 10. Tempatkan “hand roll” keras pada telapak tangan dengan jari- - Alas/dasar yang keras menurunkan stimulasi fleksi jari-jari, jari dan ibu jari saling berhadapan. mempertahankan jari-jari dan ibu jari pada posisi normal (posisi anatomis). 11. Posisikan lutut dan panggul dalam posisi ekstensi. - Mempertahankan posisi fungsional. 12. Pertahankan kaki dalam posisi netral dengan - Mencegah rotasi eksternal pada pinggul. gulungan/bantalan trokanter. 13. Gunakan papan kaki secara berganti, jika memungkinkan. - Penggunaan yang kontinu (setelah perubahan dari paralisis flaksid ke spastik) dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada sendi peluru kaki, meningkatkan spastisitas, dan secara nyata meningkatkan fleksi plantar. 14. Bantu untuk mengembangkan keseimbangan duduk (seperti - Membantu dalam melatih kembali jaras saraf, meningkatkan meninggikan bagian kepala tempat tidur) respons propioseptik dan motorik. 15. Observasi daerah yang terkena termasuk warna, edema, atau - Jaringan yang mengalami edema lebih mudah mengalami tanda lain dari gangguan sirkulasi. trauma dan penyembuhannya lambat. 16. Inspeksi kulit terutama pada daerah-daerah yang menonjol - Titik-titik tekanan pada daerah yang menonjol paling beresiko secara teratur. untuk terjadinya penurunan perfusi/iskemia. Stimulasi sirkulasi dan memberikan bantalan membantu mencegah kerusakan kulit dan berkembangnya dekubitus. 17. Bangunkan dari kursi sesegera mungkin setelah tanda-tanda - Membantu menstabilkan tekanan darah (tonus vasomotor vital stabil kecuali pada hemoragik serebral. terjaga), meningkatkan keseimbangan ekstrenitas dalam posisi normal dan pengosongan kantung kemih /ginjal menurunkan resiko terjadinya batu kandung kemih dan infeksi karena urine yang statis. 18. Alasi kursi duduk dengan busa atau balon air dan bantu pasien - Mencegah/menurunkan tekanan koksigeal/kerusakan kulit.

27

untuk memindahkan berat badan dengan interval yang teratur. 19. Susun tujuan dengan pasien/orang terdekat untuk berpartisipasi - Meningkatkan harapan terhadap perkembangan/peningkatan dalam aktivitas/latihan dan mengubah posisi. dan memberikan perasaan kontrol/kemandirian. 20. Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan - Dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak dengan menggunakan eksternitas yang tidak sakit untuk menjadi lebih terganggu dan memerlukan dorongan serta menyokong/menggerakkan daerah tubuh yang mengalami latihan aktif untuk “menyatukan kembali” sebagai bagian dari kelelahan. tubuhnya sendiri. Kolaborasi 21. Berikan tempat tidur dengan matras bulat (seperti egg crate - Meningkatkan distribusi merata berat badan yang menurunkan mattress), tempat tidur air,alat flotasi, atau tempat tidur khusus tekanan pada tulang-tulang tertentu dan membantu untuk (seperti tempat tidur kinetik) sesuai indikasi. mencegah kerusakan kulit/terbentuknya dekubitus. Tempat tidur khusus membantu dengan letak pasien obesitas (kegemukan), meningkatkan sirkulasi dan menurunkan terjadinya vena stastis untuk menurunkan resiko terhadap cedera pada jaringan dan komplikasi seperti pneomonia ortostatis. 22. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan - Program yang khusus dapat dikembangkan untuk menemukan resistif, dan ambulasi pasien. kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, kordinasi, dan kekuatan. 23. Bantulah dengan stimulasi elektrik, seperti TENS sesuai - Dapat membantu memulihkan kekuatan otot dan meningkatkan indikasi. kontrol otot volunter. 24. Berikan obat relaksan otot, antispasmodik sesaui indikasi, - Mungkin diperlukan untuk menghilangkan spastisitas pada seperti baklofen, dantrolen. ekstremitas yang terganggu. 3. Diagnosa : Kerusakan menelan, resiko tinggi terhadap kerusakan neuromuskuler/perseptual. Tujuan : Mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah. Mempertahankan berat badan yang diinginkan.

28

Perencanaan/intervensi Mandiri : 1. Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual, catat luasnya paralisis fasial, gangguan lidah, kemampuan untuk melindungi jalan napas. Timbang BB sesuai kebutuhan. 2. Tingkatkan upaya untuk dapat melakukan proses menelan yang efektif, seperti : 3. Bantu pasien dengan mengontrol kepala. 4. Letakan pasien pada posisi duduk/tegak selama dan setelah makan. 5. Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan di atas bibir/dibawah dagu jika di butuhkan. 6. Letakan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu. 7. Sentuh bagian pipih bagian dalam dengan spatel lidah/tempatkan es untuk mengetahui kelemahan lidah. 8. Berikan makan dengan perlahan pada lingkungan yang tenang. 9. Mulai untuk memberikan makanan per oral setengah cair, makanan lunak ketika pasien dapat menelan air. Pilih/bantu pasien untuk memilih makanan yang kecil/tidak perlu mengunyah dan mudah di telan, contoh : telur, agar-agar, makanan kecil yang lunak lainnya. 10. Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan. 11. Anjurkan orang terdekat untuk membawa makanan kesukaan pasien. 12. Pertahanakan masukan dan keluaran dengan akurat, catat

Rasional - Intervensi nutrisi/pilihan rute makanan di tentukan oleh faktorfaktor ini - Menetralkan hiperekstensi, membantu mencegah aspirasi dan meningkatkan kemampuan untuk menelan. - Menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan risiko terjadinya aspirasi. - Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler. - Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan. - Dapat meningkatkan gerakan dan kontrol lidah (pentingnya untuk menelan) dan menghambat jatuhnya lidah. - Pasien dapat berkosentrasi pada mekanisme makan tanpa adanaya distraksi/gangguan dari luar. - Makanan lunak/cairan kental lebih mudah untuk mengendalikannya di dalam mulut, menurunkan resiko terjadinya aspirasi. - Menguatkan otot fasial dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak. - Menstimulasi upaya makan dan meningkatkan menelan/masukkan. - Jika usaha menelan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan cairan dan makanan, harus dicarikan metode alternatif untuk makan. - Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang 29

jumlah kalori yang masuk. meningkatkan perasaan senang dan meningkatkan nafsu 13. Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan atau makan. kegiatan - Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk memasukkan Kolaborasi: 14. Berikan cairan melalui IV dan/atau makanan melalui selang. segala sesuatu melalui mulut.

30

BAB III ASKEP PADA KLIEN

3.1

Pengkajian Data Dasar

I. Identitas Diri Klien N a m a Tempat/Tgl. Lahir U m u r Jenis Kelamin Alamat : Ny. AN Tanggal masuk RS : 28 April 2011 Pukul 12.15

: Tondano, 14 Oktober 1927 : 83 tahun : Perempuan : Watulambot Ling III

Sumber Informasi : Anak pasien Keluarga terdekat yang dapat segera dihubungi (Orang Tua/Wali, Suami, Istri, dan lain-lain): Anak

Status Perkawinan A g a m a S u k u Alamat Pendidikan Pekerjaan Lama Bekerja

: Janda : Kristen Protestan : Minahasa : Kec. Singkil : SMA : IRT :-

Pendidikan Pekerjaan Alamat

: SMA : Swasta : Watulombat

II. Status Kesehatan Saat ini 1. Alasan Kunjungan/Keluhan Utama : Penuruna kesadaran dialami sejak + 6 jam. Awalnya pasien sedang tidur, setelah keluarga berusaha membangunkan pasien tidak sadar, lemah dan tidak bergerak. 2. Faktor Pencetus : Fakor usia, obat-obatan yg dikonsumsi sebelum sakit, riwayat penyakit yang lalu (hipertensi), faktor makanan. 3. Lamanya Keluhan : + 6 jam SMRS 4. Timbulnya Keluhan : ( ) bertahap () mendadak 5. Faktor yang memperberat : kondisi kesehatan 6. Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya : 31

Sendiri: Oleh orang lain langsung dibawa RS 7. Diagnosa Medik : 1. SNH Tanggal : 2 Mei 2011

II. Riwayat Kesehatan yang lalu 1. Penyakit yang pernah dialami : a. Kanak – Kanak : Tidak b. Kecelakaan : Tidak

c. Pernah dirawat penyakit waktu Hipertensi + 5 tahun lalu d. Operasi 2. Alergi : Tipe 3. Imunisasi : Tipe Tidak ingat 4. Kebiasaan : merokok/kopi/obat/alkohol/lain-lain 5. Obat – obatan : Amdixal 10 mg (1x1- 1/2 tab), Neurodex (1x1- 1 tab), Ranitidin, sandox Lamanya: perbulan Sendiri : Orang lain (resep): Dokter 6. Pola Nurtisi :  Frekwensi makan : Berat Badan     : 46 kg Reaksi Tindakan Reaksi Tindakan : tidak

Tinggi Badan : 158 cm Jenis makanan : Makanan bergizi

Makanan yang disukai : Daging ayam, ikan mujair dan sayur ca. Makanan yang tidak disukai : Tidak Makanan pantang : Tidak 32

Nafsu makan

: () ( ) ( )

baik Sedang – alasan : mual/muntah/sariawan Kurang – alasan : mual/muntah/sariawan

Perubahan berat badan 6 bulan terakhir : ( ) ( ) () bertambah tetap berkurang 3 kg ……………………kg

7. Pola Eliminasi : 1. Buang air besar Frekwensi W a k t u W a r n a Konsistensi 2. Buang air kecil Frekwensi W a r n a B a u : normal : kuning encer : normal : 2 kali Penggunaan pencahar : tidak

: pagi/siang/sore/malam : kekuningan : padat

8. Pola tidur dan istirahat Waktu tidur (jam) Lama tidur/hari Kebiasaan pengantar tidur Kebiasaan saat tidur Kesulitan dalam hal tidur : 10 malam : 6 jam / hari : tidak : tidak : ( ) menjelang tidur ( ) ( ) sering/mudah terbangun merasa tidak puas setelah bangun tidur 9. Pola Aktifitas dan Latihan 1. Kegiatan dalam pekerjaan : 2. Olah Raga : - Jenis - Frekwensi : tidak : tidak 33

3. Kegiatan di waktu luang

: santai dengan anak dan cucu

4. Kesulitan/keluhan dalam hal : () pergerakan tubuh ( ) mandi ( ) mengenakan pakaian ( ) bersolek ( ) berhajat ( )sesak napas setelah mengadakan aktifitas ()mudah merasa kelelahan 10. Pola bekerja : 1. Jenis pekerjaan 2. Jumlah jam kerja 3. Jadwal Kerja 4. Lain-lain (sebutkan) : IRT :::Lama : sejak menikah Lama : -

VI. Riwayat Keluarga Genogram :

Ket:

Laki-laki Perempuan

Pasien SNH

Meninggal

V. Riwayat Lingkungan 34

Kebersihan : baik Bahaya Polusi : tidak : baik

VI. Aspek Psikososial 1. Pola pikir & persepsi a. Alat bantu yang digunakan : () Kaca mata ( ) alat bantu pendengaran b. Kesulitan yang dialami : ( ) sering pusing ( ) menurunnya sensitifitas terhadap sakit ( ) menurunnya sensitiftas terhadap panas/dingin () membaca/menulis 2. Persepsi Diri Hal yang amat dipikirkan saat ini : Harapan setelah menjalani perawatan : Perubahan yang dirasa setelah sakit : -

3. Suasana Hati : Rentang perhatian : anak dan cucu menjadi lebih perhatian 4. Hubungan/komunikasi 1. Bicara ( ) jelas ( ) relevan ( ) mampu mengekspresikan ( ) mampu mengerti orang lain 2. Tempat Tinggal 35 Bahasa Daerah: dialek Manado Bahasa Utama : Bahasa Indonesia

( ) sendiri () bersama orang lain, yaitu Anak dan cucu 3. Kehidupan Berkeluarga Adat istiadat yang dianut : ……………………………

Pembuat keputusan dalam keluarga : Pasien Pola komunikasi Keuangan : baik : () memadai ( ) Kurang

4. Kesulitan dalam Keluarga : ( ) Hubungan orang tua ( ) Hubungan dengan sanak saudara ( ) Hubungan perkawinan 5. Kebiasaan Seksual 1. Gangguan hubungan seksual disebabkan kondisi sebagai berikut : ( ) fertilitas () Libido ( ) Ereksi ( ) menstruasi ( ) kehamilan ( ) alat kontrasepsi

2. Pemahaman terhadap fungsi seksual : -

6. Pertahanan Koping 1. Pengambilan Keputusan : ( ) sendiri () dibantu orang lain : sebutkan Anak 2. Yang disukai tentang diri sendiri : 3. Yang ingin dirubah dari kehidupan : 4. Yang dilakukan jika stress : ( ) pemecahan masalah

( ) makan ( ( ( ) tidur ) makan obat ) cari pertolongan 36

( ) lain-lain (misal : marah, diam, dll) sebutkan : 5. Apa yang dapat dilakukan perawat agar anda nyaman dan aman :7. Sistem Nilai - Kepercayaan 1. Siapa atau apa sumber kekuatan : Tuhan 2. Apakah Tuhan, Agama, Kepercayaan penting untuk anda ? () Ya ( ) Tidak

3. Kegiatan agama atau kepercayaan yang dilakukan (macam dan frekwensi) sebutkan: Masuk gereja setiap minggu 4. Kegiatan agama atau kepercayaan yang ingin dilakukan selama di Rumah Sakit, Sebutkan : Berdoa 8. Tingkat Perkembangan : Usia : Last Age Karakteristik : normal sesuai usia dan kulit keriput

VII.

Pengkajian Fisik Tanda-tanda Vital Saat Pasien Masuk Rumah Sakit : 370 C : 92 kali /menit : 26 kali /menit : 130/60 mmHg

-

Suhu tubuh Denyut Nadi Pernafasan Tekanan Darah

Kepala, Mata, Kuping, Hidung & Tenggorokan Kepala : bentuk : simetris Keluhan yang berhubungan : Pusing/sakit kepala : -

M a t a

: Ukuran pupil 5 mm

Isokor:

Reaksi terhadap cahaya : pupil tidak bereaksi terhadap cahaya Akomodasi : kurang baik 37

Bentuk : simetris Konjunctiva : merah pucat Fungsi penglihatan : - Baik/kabur/tidak jelas : - Dua bentuk: - Rasa sakit : Tanda-tanda radang tidak ada Pemeriksaan mata terakhir : tidak pernah Operasi tidak Kaca mata : pasien mengguanakan kacamata untuk membaca Lensa Kontak pasien tidak menggunakan lensa kontak

Hidung

: Reaksi Alergi : tidak Cara mengatasinya tidak Pernah mengalami flu : Pasien pernah mengalami influensa Bagaimana frekwensinya dalam setahun sering Sinus normal perdarahan tidak ada

Mulut & Tenggorokan

: Gigi geligi geraham 4 bawah tercabut

Kesulitan/gangguan berbicara pasien tidak dapat berbicara Kesulitan menelan paasien sulit untuk menelan Pemeriksaan gigi terakhir tidak pernah

Pernafasan :

Suara paru : vesikuler Pola Nafas : abdomen Sputum: tidak Batuk tidak Nyeri: -

Kemampuan melakukan aktifitas sulit Batuk darah Rontgen Foto terakhir tidak dilakukan Hasil tidak ada

38

Sirkulasi

: Nadi Perifer 92 kali pemenit Capilary Refilling : 3 detik Distensi Vena Jugularis Tampak Suara Jantung normal Suara Jantung tambahan Tidak dilakukan Irama jantung (monitor) Tidak dilakukan Nyeri : Palpitasi Tidak ada Edema : tidak Baal: tidak

Perubahan warna (kulit, Kuku, Bibir, dll) : kemerahan Clubbing tidak ada Keadaan Ekstremitas :(mobilitas berkurang) Syncobe Tidak Rasa pusing : Monitoring Hemodinamik : CVP Tidak dilakukan mm H2O

Nutrisi

: Jenis Diet : tidak ada Rasa mual : Intake Cairan 6-7 gelas/hari

nafsu makan : baik Muntah : tidak

Eliminasi

: Pola rutin -----(b.a.b) Penggunaan Laxan Tidak diterapkan Colostomy Tidak diterapkan Ileostomy Tidak diterapkan Konstibasi tidak diterapkan Diare tidak (b.a.k) Inkontinensia Infeksi Tidak ada Nematuri Urine Output > 2000 ml Catheter digunakan

Reproduksi

: Kehamilan ______________________ Buah dada _______________ Perdarahan 39

Pemeriksaan Pap Smear terakhir Hasil ________________________________________ Keputihan _____________________________________ Pemeriksaan Sendiri ___________________________ Prostat tidak ada Penggunaan Kateter digunakan

Neurologis

: Tingkat kesadaran koma Orientasi : pasien koma Koordinasi : pasien tidak dapat menggerakkan anggota gerak tubuhnya Pola tingkah laku Riwayat epilepsi/kejang/parkinson tidak ada Refleks tidak ada Kekuatan menggenggam : pasien tidak dapat menggenggam objek Pergerakan Ekstremitas : ekstremitas terganggu

Muskuloskeletal : Nyeri Kekakuan Pola latihan gerak Kulit : Warna : kemerahan seara umum Integritas : kering Turgor : sedang Data Laboratorium:  Tanggal: 29 April 2011 Ureum 38 mg/dl Creatinine 1,0 mg/dl Cholestrol 267 mg/dl HDL: 49 mg/dl LDL: 158 mg/dl  Tanggal: 30 April 2011 40 10-50 0,5-1,6 < 226 L: >45/P: >35 <150

Hb 13,9 Leukosit 15.900/mm3 LED 50/84 Ureum 40 mg/dl Creatinine 1,0 mg/dl Uric acid 5,2 mg/dl Cholesterol 236 mg/dl HDL: 49 mg/dl LDL: 164 mg/dl

L: 13,5-17,5/P:11,5-16,5 L: 4.000-10.000 L: 20/1 jam / P:15/1 jam 10-50 0,5-1,6 L:2,0-7,0/P:2,0-5,7 <226 L: >45/P: >35 <150

Pengobatan di RS: • Inj Benocetam 3 gr/ 6 jam/IV • • • • • • • Bralin 500 mg/hr/IV Levoxal 1 btl/hr/IV Cernevit 1 vial/hr/dripe NGT Kateter Pemasangan Oksigen 2 L/m IVFD RL 20 gtt/mnt

41

3.2 No 1

Analisis Data Dan Diagnosa Data DS: - Anak mengatakan Pasien pasien
Terganggunya Kerja Jantung

Etiologi
Faktor pencetus

Masalah Perfusi Jaringan

NDx Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan interupsi aliran darah

tidak sadarkan diri + 6 jam SMRS DO: - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1) TTV: - Td: 130/60 mmHg - N: 92 x/m - R: 26 x/m Pemeriksaan lab. Tgl 30 April 2011 Cholesterol: 236 mg/dl HDL: 49 mg/dl LDL: 164 mg/dl 2 DS: - Anak mengatakan lemah bergerak. DO: - Rentang gerak pasien terganggu - KU: Berat dan Pasien pasien tidak

Arteroklerosis

Penurunan Suplai darah ke serebral

Faktor pencetus

Mobilitas Fisik

Terganggunya Kerja Jantung

Arteroklerosis

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan keterlibatan neuromuskuler : paralisis

Penurunan Suplai darah ke serebral

42

- Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1) TTV: - Td: 130/60 mmHg - N: 92 x/m - R: 26 x/m
Defisit Jar. Otak Edema Jar. Otak Kerusakan otak Hipoxia Jar. Otak

Hemaparisis, Paralisis

3

DS: - Anak mengatakan tetap tidak Pasien pasien sadar sudah

Faktor pencetus

Kerusakan komunikasi verbal

Terganggunya Kerja Jantung

walaupun dibangunkan. DO: - Pasien afasia - KU: Berat - Kes: Coma

Arteroklerosis

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan sirkulasi serebral

Penurunan Suplai darah ke serebral

Hipoxia Jar. Otak

- GCS: 3 (E:1, V:1, M:1)
Kerusakan otak

Edema Jar. Otak

Defisit Jar. Otak

43

Afasia

4

DS: - Anak mengatakan tetap tidak pasien pasien sadar sudah

Faktor pencetus

Persepsisensori

Terganggunya Kerja Jantung

walaupun dibangunkan. DO: - Pasien tidak

Perubahan persepsisensori berhubungan dengan defisit jar. otak

Arteroklerosis

bisa Penurunan Suplai darah ke
serebral

merespon panggilan - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1,
Kerusakan otak Hipoxia Jar. Otak

M:1) TTV: - Td: 130/60 mmHg - N: 92 x/m - R: 26 x/m
Defisit Jar. Otak Edema Jar. Otak

44

5

DS: - Anak mengatakan lemah bergerak. DO: - Pasien tidak mampu beraktivitas normal. - Aktivitas dibantu normal orang lain dan pasien pasien tidak

Faktor pencetus

Kurang Perawatan diri

Terganggunya Kerja Jantung

Arteroklerosis

Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler : penurunan kekuatan dan ketahanan

secara Penurunan Suplai darah ke
serebral

Hipoxia Jar. Otak

(mis: bab, bak, dll)
Kerusakan otak

- KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1)
Defisit Jar. Otak Edema Jar. Otak

Hemaparisis, Paralisis

6

DS: DO: - Kapasitas fisik pasien untuk melaksanakan

Faktor pencetus

Gangguan harga diri

Terganggunya Kerja Jantung

peran terganggu - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, Penurunan Suplai darah ke
serebral Arteroklerosis

Gangguan harga diri berhubungan dengan kurangnya perawatan diri.

M:1)
Hipoxia Jar. Otak

Kerusakan otak

45

Edema Jar. Otak

Defisit Jar. Otak

Hemaparisis, Paralisis

7

DS: - Anak mengatakan lemah bergerak - Pasien tidak sadar DO: - Pasien menelan karna kesadaran - KU: Berat tidak dan Pasien pasien tidak

Faktor pencetus

Gangguan menelan

Terganggunya Kerja Jantung

Kerusakan menelan berhubungan dengan penurunan kesadaran

Arteroklerosis

bisa Penurunan Suplai darah ke
serebral

makanan penurunan
Hipoxia Jar. Otak

Kerusakan otak

- Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1)
Penurunan Kesadaran

Diagnosa Yang Di Prioritaskan 1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan interupsi aliran darah. 2. Kerusakan mobilitas fisik behubungan dengan keterlibatan neuromuskular: paralisis. 3. Kerusakan menelan berhubungan dengan penurunan kesadaran.

46

3.3

Perencanaan/ Intervensi Umur: 83 Tahun Rencana Keperawatan Tujuan Diharapkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan selama ± 3 hari pasien dapat meningkatkan tingkat kesadaran biasanya atau membaik, fungsi kognitif dan motorik sensori. Menunjukkan TTV stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Kriteria Evaluasi

Nama: Ny. AN Diagnosa No Keperawatan 1 Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan interupsi aliran darah. DS: - Anak Pasien mengatakan pasien tidak sadarkan diri + 6 jam SMRS DO: - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1) TTV: - Td: 130/60 mmHg - N: 92 x/m - R: 26 x/m Pemeriksaan lab. Tgl 30 April 2011 Cholesterol: 236 mg/dl HDL: 49 mg/dl LDL: 164 mg/dl

Ruangan: ICU Intervensi Rasional

Tingkat kesadaran membaik, TTV stabil tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.

Mandiri 1. Tentukan faktor-faktor yang - Mempengaruhi penetapan berhubungan dengan intervensi. keadaan/penyebab khusus selama koma/penurunan perfusi serebral dan potensial terjadi peningkatan TIK. 2. Pantau/catat status neurologis - Mengetahui kecenderungan sesering mungkin dan tingkat kesadaran dan DO: bandingkan dengan keadaan potensial peningkatan TIK dan - KU: Normal normalnya/standar. mengetahui lokasi, luas dan - Kes: Compos kemajuan kerusakan SSP. Mentis 3. Pantau tanda-tanda vital, - GCS: Normal seperti catat : TTV: - Adanya - Hipertensi/hipotensi postural -Td: 120/80 hipertensi/hipotensi, dapat menjadi faktor pencetus. mmHg bandingkan tekanan darah -N: 60-80 x/m yang terbaca pada kedua -R: 16-20 x/m lengan. - Perubahan terutama adanya Pemerikksaan - Frekuensi dan irama bradikardia dapat terjadi Lab: jantung : auskultasi adnaya sebagai akibat adanya - Cholesterol: mur-mur. kerusakan otak. < 226 mg/dl. - Catat pola dan irama dari - Ketidakteraturan pernapasan - HDL: L: >45/P: pernapasan, seperti adanya dapt memberikan gambaran >35 mg/dl. periode apnea setelah lokasi kerusakan LDL: <150 mg/dl pernapasan hiperpentilas, serebral/peningkatan TIK. pernapasan cheyne-strokes. 4. Evaluasi pupil catat ukuran, - Ukuran dan kesamaan pupil 47

ditentukan oleh keseimbangan antara persarafan simpatis dan parasimpatis yang mempersarafinya. 5. Catat perubahan dalam - Gangguan penglihatan yang penglihatan, seperti adanya spesifik mencerminkan daerah kebutaan, gangguan lapang otak yang terkena. pandang/kedalaman persepsi. 6. Kaji fungsi-fungsi yang lebih - Perubahan dalam isi kognitif tinggi, seperti fungsi bicara dan bicara merupakan jika pasien sadar. indikator dari lokasi/derajat gangguan serebral dan mungkin mengindikasikan penurunanan/peningkatan TIK. 7. Letakan kepala dengan posisi - Menurunkan tekanan arteri agak ditinggikan dan dalam dengan meningkatkan drainase posisi anatomis/netral. dan meningkatkan sirkulasi/perfusi serebral. 8. Pertahankan keadaan tirah - Aktivitas/stimulasi yang baring ; ciptakan lingkungan kontinu dapat meningkatkan yang tenang; batasi TIK istirahat total dan pengunjung/aktivvitas pasien ketenangan. sesuai indikasi. 9. Cegah terjadinya mengejan - Manuver valsalva dapat saat defekasi, dan pernapasan meningkatkan TIK dan yang memaksa (batuk terus- memperbesar resiko terjadinya menerus). pendarahan 10. Kaji ragiditas nukal, - Kejang dapat mencerminkan kedutan, kegelisahan yang adanya peningkatan meningkat, peka rangssang TIK/trauma serebral yang dan serangan kejang. memerlukan perhatian dan 48

bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya.

Kolaborasi : 11. Berikan indikasi.

intervensi selanjutnya. sesuai - Menurunkan hipoksia yang dapat menyebabkan vasodilatasi serebral dan tekanan meningkat / terbentuknya edema. 12. Berikan obat sesuai indikasi - Dapat digunakan untuk dari dokter. meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat mencegah pembekuan saat embolus/trombus merupakan faktor masalahnya. 13. Pantau pemeriksaan - Memberikan informasi tentang laboratorium sesuai indikasi, keefektifan pengobatan/ kadar seperti masa protrombin, terapeutik. kadar dilantin. oksigen

49

2

Diharapkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan selama ± 3 hari kondisi pasien dapat menunjukan DS: peningkatan - Anak Pasien kekuatan dan mengatakan fungsi bagian pasien lemah dan tubuh yang terkena tidak bergerak. atau kompensasi. Mempertahankan DO: integritas kulit. - Rentang gerak pasien terganggu - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1) TTV: - Td: 130/60 mmHg - N: 92 x/m - R: 26 x/m

Kerusakan mobilitas fisik behubungan dengan keterlibatan neuromuskular: paralisis.

Pasien dapat mempertahankan posisi yang optimal, terjadi peningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena, pasien dapat mendemonstrasik an perilaku yang memungkinkan aktivitas. DO: - Rentang gerak pasien normal - KU: Membaik (normal) - Kes: Compos Mentis - GCS: Normal - TTV - Td: 120/80 mmHg - N: 60-80 x/m - R:16-20 x/m

Mandiri 1. Kaji kemampuan secara fungsional/ luasnya kerusakan awal dan dengan cara yang teratur. 2. Ubah posisi minimal setiap 3 jam (Terlentang,miring) dan sebagainya dan jika memungkinkan bisa lebih sering jika diletakkan dalam posisi bagian yang terganggu. 3. Letakkan pada posisi terlengkuk satu kali atau dua kali sehari jika pasien dapat mentoleransinya. 4. Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstermitas saat masuk. Anjurkan melakukan latihan seperti latihan quadrisep/gluteal, meremas bola karet, melebarkan jari-jari dan kaki/telapak. 5. Sokong ekstermitas dalam posisi fungsionalnya, gunakan papan kaki (footboard) selama periode paralisis flaksid, pertahankan posisi kepala netral. 6. Gunakan penyangga lengan ketika pasien berada dalam posisi tegak, sesuai indikasi.

- Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dan dapat memberikan informasi mengenai pemulihan. - Menurunkan resiko terjadinya trauma/iskemia jaringan. Kerusakan pada kulit/dekubitus.

- Membantu mempertahankan ekstensi pinggul funngsional.

- Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur.

- Paralisis flaksid dapat mengganggu kemampuannya untuk menyangga kepala, dilain pihak paralisis spastik dapat mengarah pada deviasi kepala kesalah satu sisi. - Selama paralisis flaksid, penggunaan penyangga dapat menurunkan resiko 50

terjadinya subluksasio lengan dan “sindrom bahulengan”. 7. Evaluasi penggunaan dari - Kontraktur fleksi dapat kebutuhan alat bantu untuk terjadi akibat dari otot pengaturan posisi atau alat fleksor lebih kuat pembalut selama periode dibandingkan dengan otot paralisis spastik. ekstensor. 8. Tempatkan bantal dibawah - Mencegah adduksi bahu dan aksila untuk melakukan fleksi siku abduksi pada tangan. 9. Tinggikan tangan dan kepala. - Meningkatkan aliran balik vena dan membantu mencegah terbentuknya edema. 10. Tempatkan “hand roll” keras - Alas/dasar yang keras pada telapak tangan dengan menurunkan stimulasi fleksi jari-jari dan ibu jari saling jari-jari. berhadapan. 11. Posisikan lutut dan panggul - Mempertahankan posisi dalam posisi ekstensi. fungsional. 12. Pertahankan kaki dalam - Mencegah rotasi eksternal posisi netral dengan pada pinggul. gulungan/bantalan trokanter. 13. Gunakan papan kaki secara - Penggunaan yang kontinu berganti, jika (setelah perubahan dari memungkinkan. paralisis flaksid ke spastik) dapat menyebabkan tekanan yang berlebihan pada sendi peluru kaki, meningkatkan spastisitas, dan secara nyata meningkatkan fleksi plantar. 51

14. Bantu untuk - Membantu dalam melatih mengembangkan kembali jaras saraf, keseimbangan duduk (seperti meningkatkan respons meninggikan bagian kepala propioseptik dan motorik. tempat tidur) 15. Observasi daerah yang - Jaringan yang mengalami terkena termasuk warna, edema lebih mudah edema, atau tanda lain dari mengalami trauma dan gangguan sirkulasi. penyembuhannya lambat. 16. Inspeksi kulit terutama pada - Titik-titik tekanan pada daerah-daerah yang menonjol daerah yang menonjol paling secara teratur. beresiko untuk terjadinya penurunan perfusi/iskemia. 17. Bangunkan dari kursi - Membantu menstabilkan sesegera mungkin setelah tekanan darah (tonus tanda-tanda vital stabil vasomotor terjaga), kecuali pada hemoragik meningkatkan keseimbangan serebral. ekstremitas. 18. Alasi kursi duduk dengan - Mencegah/menurunkan busa atau balon air dan bantu tekanan koksigeal/kerusakan pasien untuk memindahkan kulit. berat badan dengan interval yang teratur. 19. Susun tujuan dengan - Meningkatkan harapan pasien/orang terdekat untuk terhadap berpartisipasi dalam perkembangan/peningkatan aktivitas/latihan dan dan memberikan perasaan mengubah posisi. kontrol/kemandirian. 20. Anjurkan pasien untuk - Dapat berespons dengan baik membantu pergerakan dan jika daerah yang sakit tidak latihan dengan menggunakan menjadi lebih terganggu dan eksternitas yang tidak sakit memerlukan dorongan serta 52

untuk latihan aktif untuk menyokong/menggerakkan “menyatukan kembali” daerah tubuh yang sebagai bagian dari tubuhnya mengalami kelelahan. sendiri. Kolaborasi 21. Berikan tempat tidur dengan - Meningkatkan distribusi matras bulat (seperti egg merata berat badan yang crate mattress), tempat tidur menurunkan tekanan pada air,alat flotasi, atau tempat tulang-tulang tertentu dan tidur khusus (seperti tempat membantu untuk mencegah tidur kinetik) sesuai indikasi. kerusakan kulit/terbentuknya dekubitus. 22. Konsultasikan dengan ahli - Program yang khusus dapat fisioterapi secara aktif, dikembangkan untuk latihan resistif, dan ambulasi menemukan kebutuhan. pasien. 23. Bantulah dengan stimulasi - Dapat membantu elektrik, seperti TENS sesuai memulihkan kekuatan otot indikasi. dan meningkatkan kontrol otot volunter. 24. Berikan obat relaksan otot, - Mungkin diperlukan untuk antispasmodik sesaui menghilangkan spastisitas indikasi, seperti baklofen, pada ekstremitas yang dantrolen. terganggu.

53

3

Kerusakan menelan berhubungan dengan penurunan kesadaran. DS: - Anak Pasien mengatakan pasien lemah dan tidak bergerak - Pasien tidak sadar DO: - Pasien tidak bisa menelan makanan karna penurunan kesadaran - KU: Berat - Kes: Coma - GCS: 3 (E:1, V:1, M:1)

Diharapkan Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan selama ± 3 hari keluarga pasien dapat membantu perawat dalam memberikan metode makan tepat untuk situasi dan kondisi pasien dengan aspirasi tercegah. Mempertahankan berat badan yang diinginkan.

Mendemonstrasik Mandiri : an metode makan 1. Tinjau ulang patologi/ tepat untuk kemampuan menelan pasien situasi individual secara individual, catat luasnya dengan aspirasi paralisis fasial, gangguan tercegah. lidah, kemampuan untuk Mempertahankan melindungi jalan napas. berat badan yang Timbang BB sesuai diinginkan. kebutuhan. 2. Tingkatkan upaya untuk dapat DO: melakukan proses menelan - Keluarga yang efektif. Bantu pasien memahami dengan mengontrol kepala. metode makan 3. Letakan pasien pada posisi yang tepat. duduk/tegak selama dan - Pasien dapat setelah makan. makan tanpa bantuan alat 4. Stimulasi bibir untuk menutup medis dan membuka mulut secara (mis:NGT) manual dengan menekan - KU: Normal ringan di atas bibir/dibawah - Kes: Compos dagu jika di butuhkan. Mentis 5. Letakan makanan pada daerah - GSC: Normal mulut yang tidak terganggu.

- Intervensi nutrisi/pilihan rute makanan di tentukan oleh faktor-faktor ini.

- Menetralkan hiperekstensi, membantu mencegah aspirasi dan meningkatkan kemampuan untuk menelan. - Menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan risiko terjadinya aspirasi. - Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler.

- Memberikan stimulasi sensori yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan. 6. Sentuh bagian pipih bagian - Dapat meningkatkan dalam dengan spatel gerakan dan kontrol lidah lidah/tempatkan es untuk (pentingnya untuk menelan) mengetahui kelemahan lidah. dan menghambat jatuhnya lidah. 54

7. Berikan makan dengan - Pasien dapat berkosentrasi perlahan pada lingkungan yang pada mekanisme makan tenang. tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar. 8. Mulai untuk memberikan - Makanan lunak/cairan makanan per oral setengah kental lebih mudah untuk cair, makanan lunak ketika mengendalikannya di dalam pasien dapat menelan air. mulut, menurunkan resiko terjadinya aspirasi. 9. Anjurkan pasien - Menguatkan otot fasial dan menggunakan sedotan untuk otot menelan dan meminum cairan. menurunkan resiko terjadinya tersedak. 10. Anjurkan orang terdekat - Menstimulasi upaya makan untuk membawa makanan dan meningkatkan kesukaan pasien. menelan/masukkan. 11. Pertahanakan masukan dan - Jika usaha menelan tidak keluaran dengan akurat, catat memadai untuk memenuhi jumlah kalori yang masuk. kebutuhan cairan dan makanan, harus dicarikan metode alternatif untuk makan. 12. Anjurkan untuk berpartisipasi - Dapat meningkatkan dalam program latihan atau pelepasan endorfin dalam kegiatan otak yang meningkatkan perasaan senang dan Kolaborasi: meningkatkan nafsu makan. 13. Berikan cairan melalui IV - Mungkin diperlukan untuk dan/atau makanan melalui memberikan cairan selang. pengganti.

55

3.4 Implementasi Dan Evaluasi Nama: Ny. AN No 1 Hari/ Tanggal Jumat, 06 Mei 2011 Waktu 09.00 NDx 0 Umur: 83 Tahun Implementasi Waktu Ruangan: ICU Evaluasi NDx 1 S: O: - Ku: berat - Kes: somnolent - GCS: 6 - TTV: Td : 97/54 mmHg N : 58 x/m R : 20 x/m St : 36,6 0 C A: Masalah utama belum teratasi. P: Intervensi lanjut: 1. Mengobservasi Ku pasien dan Kes. Pasien. 2. Mengkaji TTV. 3. Mengobservasi pupil klien. 4. Mempertahankan keadaan tirah baring. 5. Meletakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan. NDx 2 S:O: - Ku: berat - Kes: somnolent 56 TTD

09.00

1/3

09.15

1/7

09.20

1/11

09.30

1/10 + 3/4

1. Mengobservasi Ku pasien dan Kes. 12.30 Pasien. Hasil: Ku: berat. Kes: somnolent 2. Mengkaji TTV. Hasil : Td : 97/54 mmHg N : 58 x/m R : 20 x/m St : 36,6 0 C 3. Mengobservasi pupil klien, catat ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya. Hasil: ukuran pupil 5 mm, pupil tidak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi kurang baik. 4. Mempertahankan keadaan tirah baring, lingkungan yang tenang; memberikan istirahat secara periodik. Hasil: kerjasama dengan keluarga 5. Meletakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan. Hasil: Posisi semi fowler

12.00

3/9 6. Memberikan/melayani makanan per + oral setengah cair/makanan lunak via 3/14 NGT. Hasil:

11.00

11.15

11.30

2/1 7. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam. Hasil: posisi miring kiri dan miring kanan (sims) 2/4 8. Menggerakkan ekstremitas atas dan bawah pasien. Hasil: menghindari adanya kekakuan 2/9 9. Meninggikan tangan dan kepala pasien. Hasil: memberikan bantal sebagai penyangga kepala dan tangan

- GCS: 6 A: Masalah dalam Ndx 2 belum teratasi. P: Intervensi Lanjut: 1. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam. 2. Menggerakkan ekstremitas atas dan bawah pasien. 3. Meninggikan tangan dan kepala pasien. NDx 3 S:O:Pasien masih tidak bisa menelan penurunan kesadaran A:Masalah pada NDx 3 belum teratasi P : Lanjutkan intervensi: 1.Meletakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan. 2.Memberikan/melayani Jumat, 06 makanan per oral setengah Mei 2011 cair/makanan lunak via NGT. NDx 1 S: O: - Ku: berat - Kes: somnolent - GCS: 6 - TTV: Td : 130/81 mmHg N : 67 x/m 57

2

Sabtu, 07 08.00 Mei 2011 08.00

08.15

4. Mengobservasi Ku pasien dan Kes. 12.30 Pasien. Hasil: Ku: berat. Kes: somnolent 1/3 5. Mengkaji TTV. Hasil : Td : 130/81 mmHg N : 67 x/m R : 16 x/m St : 36 0 C 1/7 6. Mengobservasi pupil klien, catat

0

08.30

09.00

ukuran, bentuk, kesamaan dan reaksi terhadap cahaya. Hasil: ukuran pupil 5 mm, pupil tidak bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi kurang baik. 1/11 7. Mempertahankan keadaan tirah baring, lingkungan yang tenang; memberikan istirahat secara periodik. Hasil: kerjasama dengan keluarga 1/10 8. Meletakkan kepala dengan posisi + agak ditinggikan. Hasil: Posisi semi 3/4 fowler 3/9 9. Memberikan/melayani makanan per + oral setengah cair/makanan lunak via 3/14 NGT. Hasil: 2/1 10. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam. Hasil: posisi miring kiri dan miring kanan (sims) 2/4 11. Menggerakkan ekstremitas atas dan bawah pasien. Hasil: menghindari adanya kekakuan 2/9 12. Meninggikan tangan dan kepala pasien. Hasil: memberikan bantal sebagai penyangga kepala dan tangan

R : 16 x/m St : 36 0 C A: Masalah utama belum teratasi. P: Intervensi lanjut: 1. Mengobservasi Ku pasien dan Kes. Pasien. 2. Mengkaji TTV. 3. Mengobservasi pupil klien. 4. Mempertahankan keadaan tirah baring. 5. Meletakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan. NDx 2 S:O: - Ku: berat - Kes: somnolent - GCS: 6 A: Masalah dalam Ndx 2 belum teratasi. P: Intervensi Lanjut: 1. Mengubah posisi minimal setiap 2 jam. 2. Menggerakkan ekstremitas atas dan bawah pasien. 3. Meninggikan tangan dan kepala pasien. NDx 3 S:O:Pasien

12.00

11.00

11.15

11.30

masih

tidak

bisa 58

menelan penurunan kesadaran A:Masalah pada NDx 3 belum teratasi P : Lanjutkan intervensi: 1.Meletakkan kepala dengan posisi agak ditinggikan. 2.Memberikan/melayani makanan per oral setengah Sabtu, 07 cair/makanan lunak via NGT. Mei 2011

59

DAFTAR ISTILAH

Atherosclerosis : Bentuk arteriosklerosis dimana ateroma mengandung kolestrol, bahan lipoid, dan lipofag yang terbentuk di dalam intima dan media interna arteri berukuran besar dan sedang. Maneuver : Tindakan yang terampil atau mahir (penderita disuruh membongkok kedepan pada pinggang dengan dagu tetap keatas dan lengan direntangkan kearah pemeriksa) Endocharditis : Perubahan peradangan proliferatif dan eksudatif pada endokardium, biasanya ditandai denganh adany vegetasi dipermukaan endokardium atau di endokardiumnya sendiri, dan paling sering mengenai katup jantung, tapi juga menyerang lapisan dalam rongga jantung atau pada endokardium disegala daerah. Policitemia Incontinentia : Peningkatan jumlah total masa sel darah : Kelainan hereditary dimana pada mulanya terjadi lesi veskular dan kemudian lesi verikosa serta lesi kulit pigmentasi yang aneh dan berhubungan disertai cacat pada mata, tulang dan sistem saraf pusat Diplopia Paralysis : Persepsi adanya dua bayangan dari satu objek : Kehilangan atau gangguan fungsi motorik pada suatu bagian akibat lesi pada mekanisme saraf atau otot. Ischemia : defisiensi darah pada suatu bagian, biasanya akibat kontruksi fungsional atau obstruksi actual pembuluh darah.

60

Hematoma

: Pengumpulan darah setempat umumnya menggumpal, dalam organ, rongga, atau jaringan, akibat pecahnya dinding pembuluh darah.

Pneumonia Apraxia

: Radang paru-paru disertai eksudasi dan konsolidasi. : Hilangnya kemampuan untuk melakukan gerakan bertujuan yang sudah biasa dilakukan walaupun tidak terdapat gangguan motorik atau sensorik, terutama ketidakmampuan untuk menggunakan suatu objek dengan benar.

Anosognosia

: Ketidakwaspadaan atau penyangkalan dari deficit neurologis, seperti hemiplegia.

Hemiplegia Nausea

: paralisis suatu sisi tubuh. : Sensasi tidak menyenangkan yang secara samar mengacu pada epigastrium dan abdomen dengan kecenderungan untuk muntah.

Serebro Vaskuler : Stroke Aneunisme : Kantong yang terbentuk oleh lokalisasi, dilatasi dinding suatu arteri, vena, atau jantung. Insuficienci Oklusi : tidak mampu melaksanakan tugas yang diberikan. : gerakan menutup atau gerakan tertutup; obstruksi atau sumbatan. Hubungan gigi maksilar dan mandibular pada waktu berkontak fungsional selama aktivitas mandibula. Embolus/emboli : bekuan darah atau sumbatan lain (besarnya fragmen udara atau fragmen kalsium)yang terbawa oleh darah dari satu pembuluh darah dan terdesak ke dalam pembuluh yang lebih kecil, sehingga menyumbat sirkulasi darah.

61

Stenosis Hemisfer

: penyempitan atau striktura, duktus atau kanal. : separuh dari sferis/struktur/organ yang berkurang berbentuk bulat.

TIK

: Tekanan intra kranial

Obstruksi arteri : arteri tersumbat Devisiasi okuler : penyimpangan sikap ke dua bola mata ke satu arah Inflamasi : reaksi tubuh terhadap mikroorganisme dan benda asing yang di tandai oleh panas, nyeri dan gangguan fungsi organ tubuh. Aparaksia : hilangnya kemampuan melakukan koordinasi pergerakan anggota tubuh.

62

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes Marilynn. E, dkk. 2000, Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Penerbit buku Kedokteran EGC: Jakarta. Novak, Patricia D. 1998. Kamus Saku Kedokteran Dorland Cetakan I. Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Akperppnisolo. 2008, Sistem Persarafan Stroke Non Hemoragik. Blogspot. Dalam http://www.akperppni.ac.id/sistem-persarafan/stroke-non-hemoragik. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:00 WITA. Anonim. 2000, Manifestasi Klinik Stroke Non Hemoragik. Blogspot. Dalam http://www.infofisioterapi.com/manisfestasi-klinik-stroke.html. Diakses pada 05 Mei 2011 20:43 wita. Anonim. 2000, Konsep Dasar Stroke Non Hemoragik . Adobe Acrobat Dokument. Dalam http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-

garniscint-5431-2-babii.pdf. Diakses pada 05 Mei 2011 Pukul 19:22 WITA. Boy. 2008, Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Stroke. Blogspot. Bengkulu. Dalam http://mhs.blog.ui.ac.id/fer50/2008/09/17/asuhan-keperawatan-

pada-klien-dengan-stroke/. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:01 WITA. Hidayat. 2009, Stroke Non Hemoragik. Wordpress. Dalam Diakses

http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/23/askep-stroke-non-hemoragik/. pada 05 Mei 2011 20:17 WITA.

Indeks . 2011, Nursing: Memahami Berbagai Macam Penyakit. Cetakan I. www.indeks-penerbit.com. Jakarta Barat. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 21:00. Fariyansyah, Nurhadi Febrian. 2009, Patofisiologi Dan Diagnosis Stroke. Blogspot. Dalam http://kedokteran-febrian.blogspot.com/2009/02/patofisiologi-dandiagnosis-stroke.html. Diakses pada 06 Mei 2011 pukul 11: 05 WITA. Wikipedia. 2000, Stroke. Wikipedia. Dalam

http://en.wikipedia.org/wiki/Stroke. Diakses pada 05 Mei 2011 pukul 20:15 WITA.

63

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful