P. 1
Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana

Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana

|Views: 611|Likes:
Published by TAKI - TAKI

More info:

Published by: TAKI - TAKI on Oct 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/11/2013

pdf

text

original

PANDUAN

KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

PANDUAN Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana Desain dan Tata Letak : Asep Firman Gambar Ilustrasi : PNPM Mandiri, PBBM Yayasan IDEP Cetakan ke -1 : Juni 2011 : 21 x 29,7 cm ; 46 hlm Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Barat

DAFTAR NOMOR TELEPON PENTING DAN DARURAT
Nomor telepon di bawah ini dapat dihubungi dengan mudah tanpa masalah dari telepon biasa maupun Hp di wilayah mana saja di Jawa Barat. Sebaiknya nomor dibawah ini dicoba dahulu dan cari nomor lokal.

POLISI PEMADAM KEBAKARAN SAR (Search and Rescue) AMBULANCE/RSU PLN Polda Jawa Barat PMI Jawa Barat BPBD Jawa Barat
Lembaga
Kantor DESA Kantor KECAMATAN BPBD Kab/Kota PMI Kab/Kota BMKG RS/RSUD Klinik terdekat PUSKESMAS terdekat Media Radio Media Televisi Media Koran

: 112 : 113 : 115 : 118 : 123 : 022-7800013 : 022-4207051 : 022-7310952
Alamat Telp 1 Telp 1

Tulis disini nomor telepon dan alamat lembaga penanganan bencana di wilayah anda

Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr. Wb. Dengan mengucapkan puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa kami telah dapat menyusun sebuah buku Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana bagi desa/kelurahan di wilayah Kabupaten dan Kota seluruh Provinsi Jawa Barat. Buku pedoman ini disusun dengan tujuan agar dapat menjadi pedoman bagi desa/kelurahan didaerah-daerah lain di Jawa Barat yang memerlukan suatu alat atau instrumen di bencana di daerahnya masyarakat seperti Pendahuluan. Bab II tentang Kategori dan meliputi kategori berpotensi terjadi beserta dampak dan Selain itu juga, bab kriteria suatu kejadian beserta tingkatan sifat menguraikan tentang yang meliputi kelembagaan, dalam pengurangan resiko dalam bentuk kelembagaan diuraikan dalam Bab I pedoman ini menguraikan Kriteria Bencana, yang kebencanaan yang di wilayah Jawa Barat penanggulangannya. ini menguraikan tentang diartikan sebagai bencana kebencanaannya. Bab III kelembagaan masyarakat

KATA PENGANTAR

proses pembentukkan

Daftar isi

kewenangan kelembagaan,

struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi kelembagaan, dan mekanisme pelaksanaan kelembagaan tersebut. Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihakpihak yang telah membantu dalam penyusunan pedoman ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu. Semoga pedoman ini bermanfaat bagi pengurangan resiko bencana di wilayah desa di kabupaten/kota serta pihak-pihak lain yang memerlukannya dalam kerangka penanggulangan bencana Wassalamualaikum Wr. Wb. Kota Bandung, Penyusun Juni 2011

BPBD Provinsi Jawa Barat

vi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR ISTILAH BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Tujuan Lingkup Panduan Cara Menggunakan Panduan Ini

ii vii ix x xi I-1 I-2 I-11 I-11 I-12 II-1 II-2 II-2 II-40 II-44 II-51 II-51 II-51 II-52 II-52 II-52 II-55 II-1 III-2 III-2 III-3 III-3 III-4 III-5 III-7 III-7 III-7 III-8 III-9 III-10

i

BAB II KATEGORI DAN KRITERIA BENCANA Kategori Bencana Bencana Alam Bencana Non Alam Bencana Sosial Kriteria Bencana Kriteria Bencana Alam Kriteria Bencana Non ALam Kriteria Bencana Sosial Tingkatan Bencana Penanggulanangan Bencana Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat BAB III KELEMBAGAAN BENCANA Umum Pembentukkan Kelembagaan Manfaat Kedudukan Keanggotaan Struktur Organisasi Tanggung Jawab dan Tugas Koordinator Umum Koordinator Bagian Penanggulangan Koordinator Bagian Operasi Koordinator Bagian Komunikasi Koordinator Bagian Kesejahteraan vii vi

DAFTAR ISI
Regu Deteksi Dini Regu Pemetaan Regu Perintis Regu SAR dan Tandu Regu Keamanan Regu Pengungsian Regu Kebakaran Regu Administrasi dan Dokumentasi Regu Media dan Hubungan Luar Regu Relawan Regu Pertolongan Pertama dan Kesehatan Regu Dapur Umum Regu Hubungan Sosial Tahapan Pembentukkan Kelompok Masyarakat - SB Sosialisasi Musyawarah Pembentukan Kelompok Masyarakat - SB Rapat Penyusunan Agenda Kerja BAB IV PENUTUP DAFTAR PUSTAKA III-10 III-11 III-12 III-13 III-14 III-14 III-15 III-16 III-18 III-19 III-20 III-22 III-23 III-24 III-24 III-26 III-27 IV-1 V-1

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sebaran Jumlah Kejadian Bencana yang Terjadi di Kota/Kabupaten Provinsi Jawa Barat, Tahun 2005-2010 halaman I-5

viii ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Peta Kawasan Rawan Bencana Di Wilayah Jawa Barat halaman I-3

Gambar 1.2 Persentase Kejadian Bencana Berdasarkan Jenis Bencana di Provinsi Jawa Barat Hingga Tahun 2005-2010 halaman I-7

x

DAFTAR ISTILAH
Ancaman bencana adalah kejadian-kejadian, gejala atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial ekonomi atau kerusakan lingkungan. Bahaya dapat mencakup kondisi-kondisi laten yang bisa mewakili ancaman di masa depan dan dapat disebabkan oleh berbagai hal: alam atau yang diakibatkan oleh proses-proses yang dilakukan manusia (kerusakan lingkungan dan bahaya teknologi). Bahaya dapat berbentuk tunggal, berurutan atau gabungan antara asal dan dampak mereka. Setiap bahaya dicirikan oleh lokasi, frekuensi dan peluang. Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar pada saat keadaan darurat berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan, kesehatan, sanitasi dan air bersih. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror. Daya tahan adalah kapasitas sebuah sistem, komunitas atau masyarakat yang memiliki potensi terpapar pada bencana untuk beradaptasi, dengan cara bertahan atau berubah sedemikian rupa sehingga mencapai dan mempertahankan suatu tingkat fungsi dan struktur yang dapat diterima. Hal ini ditentukan oleh tingkat kemampuan sistem sosial dalam mengorganisir diri untuk meningkatkan kapasitasnya untuk belajar dari bencana di masa lalu untuk perlindungan yang lebih baik di masa mendatang dan untuk meningkatkan upaya-upaya pengurangan risiko. Deteksi adalah kegiatan penelitian suatu keadaan, hal, unsur, tindakan yang tersembunyi Deteksi dini adalah sebuah kegiatan untuk mengetahui kemungkinan bencana. Donor adalah pemberi bantuan perorangan atau instansi yang menyumbang bantuan berupa uang, bahan-bahan, tenaga ahli, pelatihan, dan lain-lain. xi x

DAFTAR ISTILAH
Kapasitas adalah penguasaan sumber daya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat, yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan dan mempersiapkan diri, mencegah, menanggulangi, meredam, serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana. Kedaruratan adalah suatu keadaan kritis yang terjadi dengan cepat dimana kehidupan dan kesejahteraan suatu masyarakat terancam. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana. Kemampuan adalah penguasaan sumber daya, cara dan kekuatan yang dimiliki masyarakat, sehingga memungkinkan untuk mengurangi tingkat risiko bencana dengan cara mempertahankan dan mempersiapkan diri, mencegah, menanggulangi, meredam, serta dengan cepat memulihkan diri dari akibat bencana. Kapasitas bisa mencakup cara-cara fisik, kelembagaan, sosial atau ekonomi serta karakteristik keterampilan pribadi atau kolektif seperti misalnya kepemimpinan dan manajemen. Kapasitas juga bisa digambarkan sebagai kemampuan (capability). Kerentanan adalah kondisi atau karakteristik biologis, geografis, sosial, ekonomi, politik, sosial, budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan masyarakat tersebut mencegah, meredam, mencapai kesiapan dan menanggapi dampak bahaya tertentu. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdayaguna. Konflik adalah pertentangan fisik antara dua pihak atau lebih yang menyebabkan hilangnya hak kelompok masyarakat, timbulnya rasa takut, terancamnya keamanan dan ketentraman, terganggunya keselamatan atau martabat, hilangnya aset dan terganggunya keseimbangan kehidupan masyarakat. Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia akibat bencana. Lembaga internasional adalah organisasi yang berada dalam lingkup struktur organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang menjalankan tugas mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa atau organisasi internasional lainnya dan lembaga asing nonpemerintah dari negara lain di luar Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lembaga usaha adalah setiap badan hukum yang dapat berbentuk badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, koperasi, atau swasta yang didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang menjalankan jenis usaha tetap dan terus menerus yang bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

xii

DAFTAR ISTILAH
LSM adalah lembaga swadaya masyarakat nirlaba yang bergerak dalam berbagai aspek untuk membantu masyarakat. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. MPBI (Masyarakat Penanggulanagn Bencana Indonesia) adalah badan yang menampung jaringan organisasi yang bergerak dalam bidang penanggulangan bencana di Indonesia. Pemerintah Daerah adalah gubernur, bupati/walikota, atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana. Pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat

xiii xii

DAFTAR ISTILAH
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat. SAR (Search and Rescue) adalah Lembaga atau kegiatan untuk mencari dan menyelamatkan orang, hewan atau barang akibat bencana. Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi dari institusi/badan yang diberi tugas untuk menanggulangi bencana. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana. Trauma adalah cedera yang terjadi pada batin dan tubuh akibat suatu peristiwa tertentu.

xiv

PENDAHULUAN

1
I-1

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

1. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang rawan bencana, baik itu karena perbuatan manusia atau alam. Kerusuhan sosial etnik akibat kesenjangan ekonomi, gempa bumi, gunung meletus, gelombang pasang (tsunami), banjir, dan lain sebagainya akibat posisi yang berada di dua lempengan. Keadaan tersebut membawa kerugian pada penduduknya, terutama bila bencana terjadi di perkotaan yang merupakan pusat perekonomian dan kependudukan. Sehingga apabila bencana terjadi, jumlah kerugian yang diderita lebih berat dari pada bencana yang terjadi di luar daerah perkotaan, seperti banyaknya kuantitas korban, rusaknya infrastruktur fisik, tekanan psikologis korban, dan kerugian dalam bentuk investasi maupun kemanusiaan lainnya. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi memadai baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun tempat industri strategis internasional. Jawa Barat juga merupakan provinsi yang terpadat penduduknya yang mencapai 43 juta jiwa, yaitu sekitar 18 % dari total penduduk Indonesia dengan 26 Kabupaten/Kota. Kondisi geografis sebelah utara dataran rendah, tengah dan selatan merupakan daerah pegunungan yang memanjang dari barat ke arah timur. Wilayah Jawa Barat memiliki curah hujan yang tinggi yaitu rata-rata 219 mm/th dengan curah hujan yang tinggi. Selain itu, Provinsi Jawa Barat berada diatas garis lempengan yang yang memanjang dari pulau sumatra dan berada pada jalur gempa tektonik yang topografinya bergunung-gunung dan aliran sungai yang pada umumnya bermuara diwilayah pantai utara. Sehingga kondisi geografis, geologis, hidrologis dan demografis yang dimiliki Jawa Barat diprediksi secara ilmiah dan dimungkinkan sebagai daerah yang rawan dengan bencana sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.1.

I-2

I- 3

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Menurut hasil pengolahan data yang bersumber dari Dekonsentrasi Kementerian Negara Perumahan Rakyat, BNPB, dan Departemen Kesehatan RI hingga tahun 2010, tercatat jenis bencana yang dominan terjadi di wilayah Propinsi Jawa Barat ada 6 (enam) jenis bencana, yaitu banjir, longsor, puting beliung, kebakaran, gempa bumi, dan rob. Diantara jenis bencana tersebut, kejadian bencana longsor di wilayah Jawa Barat memiliki persentase terbesar yaitu 29,57% (532 kejadian) yang tersebar di 22 Kabupaten/Kota. Selanjutnya diikuti kejadian kebakaran sebesar 23,40% (421 kejadian) yang tersebar di 14 Kabupaten/Kota. Jenis bencana angin puting beliung memiliki persentase kejadian sebesar 16,62% (299 kejadian) yang tersebar di 24 Kabupaten/Kota. Jenis bencana banjir memiliki persentase kejadian sebesar 14,56% (262 kejadian) yang tersebar di 24 Kabupaten/ Kota. Kejadian bencana gempa bumi memiliki persentase sebesar 1,78% (32 kejadian) yang tersebar di 17 Kabupaten/Kota. Sedangkan bencana rob meiliki persentase terkecil sebesar 0,5% (9 kejadian) yang tersebar 7 Kabupaten/Kota. Untuk kejadian bencana banjir, Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang tertinggi jumlah kejadiannya, yaitu sebanyak 40 kejadian. Untuk kejadian bencana longsor yang terbanyak terdapat di wilayah Kabupaten Garut, yaitu 102 kejadian. Sementara untuk kejadian bencana puting beliung, yang tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Bogor, yaitu dengan 64 kejadian. Kejadian bencana kebakaran yang tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Garut, yaitu 143 kejadian. Sedangkan kejadian bencana gempa bumi tertinggi terdapat di wilayah Kabupaten Tasikmalaya, yaitu sebanyak 6 Kejadian. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.1 dan Gambar 1.2.

I-4

Tabel 2.1 Sebaran Jumlah Kejadian Bencana Yang Terjadi di Kabupaten/Kota Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2010

I- 5

Sumber : Dekonsentrasi Kemenpera RI, BNPB, Depkes RI Tahun 2010

I- 6

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Gambar 1.2. Persentase Kejadian Bencana Berdasarkan Jenis Bencana di Provinsi Jawa Barat Tahun 2005-2010

Terdapat interaksi minimal 4 (empat) faktor utama yang dapat menyebabkan bencana-bencana tersebut menimbulkan banyak korban dan kerugian besar, yaitu : 1. Kurangnya pemahaman terhadap Karakteristik Bencana (hazard). 2. Sikap atau perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumber daya alam (vulnerability). 3. Kurangnya informasi dan peringatan dini (early warning) yang menyebabkan ketidaksiapan. 4. Ketidakberdayaan/ketidakmampuan bahaya. Kelembagaan masyarakat lokal yang diharapkan paling berperan dalam mengurangi resiko bencana yaitu kelembagaan RT, RW, desa LKMD, PKK, Karang Taruna, dan lain-lain. Namun dalam penanggulangan bencana, umumnya lembaga-lembaga ini kurang berkoordinasi dalam dalam menghadapi ancaman

I-7

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

mengoptimalkan perannya, karena didalam kelembagaan tersebut tidak mengatur mengenai tata cara dalam penanggulangan bencana. Kondisi ini diperkuat dengan tidak adanya lembaga lokal masyarakat yang khusus dibentuk untuk menangani penanggulangan bencana di wilayahnya. Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, maka penyelenggaraan penanggulangan bencana diharapkan semakin baik, karena pemerintah pusat dan daerah menjadi penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sistem lama yang lebih bergantung pada status darurat diubah menjadi pencegahan (preventif ), dengan memberikan kewenangan pada pemerintah daerah dalam menentukan rencana penanggulanganbencana yang digunakan sesuai dengan kearifan lokal setempat. Namun begitu, kejadian bencana tetap menunjukkan peningkatan, baik intensitasnya maupun dampak kerugiannya. Untuk memperkuat peran pemerintah dalam penanggulangan bencana, perlu adanya pelibatan masyarakat secara aktif dalam proses penanggulangan bencana tersebut. Hal tersebut dikarenakan masyarakat merupakan objek utama yang menerima dampak bencana yang terjadi di wilayahnya. Penyederhanaan kelembagaan yang diatur dalam Undang-Undang No.24 Tahun 2007 hanya sampai kelembagaan (BPBD) di tingkat Kabupaten/kota, belum mengatur hingga tingkat masyarakat lokal. Namun begitu, kebutuhan pembentukan kelembagaan masyarakat lokal dalam upaya penanggulangan bencana dapat diwujudkan dengan adanya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 5 Tahun 2007 yang mengatur tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan. Kelompok masyarakat yang merupakan kekuatan sumber daya di suatu wilayah, seharusnya dapat dimanfaatkan guna mengatasi bencana yang sering terjadi dan akan terjadi. Sehingga diperlukan sinergisme kelembagaan lokal masyarakat di suatu wilayah guna penanggulangan bencana yang terkoordinasi di tingkat kelembagaan komunitas akar rumput, baik itu sebelum bencana, saat bencana, dan setelah bencana.

I-8

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Terutama RT/RW yang berpengaruh besar sebab mereka mempunyai hubungan langsung dengan masyarakat lokal. Maksudnya adalah RT/ RW merupakan lembaga yang hidup langsung dan juga bersama dengan masyarakat. RT/RW juga merupakan lembaga pertama yang mendapatkan masukan dan juga kritik dari masyarakat lokal. Oleh karena itu cukup beralasan bahwa RT/RW menjadi lembaga yang paling mengetahui secara menyeluruh permasalahan masyarakat lokal. Desa, sebagai salah satu kelembagaan lokal yang merupakan aktor utama dalam manajemen bencana adalah titik tolak untuk berangkat dalam pembahasan institusi lokal. Peran desa merupakan kepanjangan tangan pemerintah yang merupakan pemegang otoritas wewenang pembuat kebijakan. Namun, desa berpengaruh lebih sedikit daripada RT/RW karena desa berada pada tahapan ketiga dalam mengetahui keadaan dari masyarakat, yaitu setelah RT dan RW. Desa berkoordinasi dengan RT/RW dalam menyampaikan keinginan pemerintah dalam penanganan bencana, dan begitu juga sebaliknya. Lembaga lokal lainnya yang juga diharapkan berpengaruh adalah Karang Taruna. Karang Taruna perlu memperoleh pelatihan untuk menanggulangi bencana. Misalnya, pemuda Karang Taruna memperoleh pelatihan tentang SAR dan pertolongan dalam kejadian bencana banjir. Selain itu juga, mereka dapat dilatih dan menjadi Balakar guna mengatasi bencana kebakaran yang sewaktu-waktu bisa tejadi. Karang Taruna dan PKK juga berperan membantu sosialisasi upaya-upaya pencegahan bencana. Kelembagaan lokal di tingkat masyarakat dalam hal penanggulangan bencana sesungguhnya dapat menjadi aktor yang berperan vital dengan membentuk rangkaian jembatan yang berkonstruksi jaringan koordinasi lembaga-lembaga lokal. Keadaan ideal inilah yang merupakan pertanyaan apakah keterlibatan institusi lokal dapat membentuk rangkaian yang sinergis dan terkoordinasi? Atau lembaga tersebut berjalan sendiri-sendiri guna mendapatkan popularitas dan menambah modal. Sehingga tidak ada aktor pengorganisir lembaga dan bertanggung jawab atas penanggulangannya.

I-9

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Dengan adanya kelembagaan lokal sebagai kekuatan sumber daya di suatu wilayah, seharusnya hal ini dapat dimanfaatkan guna mengatasi bencana yang sering terjadi dan akan terjadi. Sehingga diperlukan sinergisme kelembagaan lokal masyarakat di suatu wilayah guna penanggulangan bencana yang terkoordinasi di tingkat kelembagaan komunitas akar rumput, baik itu sebelum bencana, saat bencana, dan setelah bencana. Pada saat tepat terjadinya bencana, masyarakat yang menjadi korban bencana yang sebenarnya berperan paling besar. Pada fase ini terutama pada saat tepat terjadinya bencana, masyarakat yang menjadi korban bencana yang berperan dalam penanganannya. Masyarakat secara spontan berusaha menyelamatkan diri dan bahu-membahu berupaya mengatasi bencana. Pada fase ketiga dalam siklus bencana, yakni fase pemulihan atau pasca terjadinya bencana, peran kelembagaan lokal yang dominan dilaksanakan oleh pemerintah lokal. Desa mendapatkan dana dan bantuan dari pemerintah pusat. Selain dari pemerintah pusat, Desa juga menerima sumbangan dari masyarakat yang tidak terkena bencana dan ingin turut menolong. Sehingga sebenarnya Desa lebih bersifat sebagai sebuah lembaga yang bertugas melakukan manajemen bantuan yang datang dari berbagai pihak untuk disalurkan secara tepat bagi masyarakat yang terkena bencana. Inilah alasan dari lebih dominannya Desa dalam fase pemulihan setelah bencana, yaitu karena Desa mempunyai posisi yang paling strategis dalam fase ini. Desa juga yang berperan dalam pendataan kerusakan bangunan dan fasilitas publik, berinisiatif dalam perbaikan sarana dan prasarana publik yang rusak tersebut, mengkoordinasi dalam pembersihan lingkungan dan yang terpenting adalah Desa merupakan lembaga yang berwenang dalam mengajukan usulan pembiayaan program penanggulangan bencana kepada pemerintah pusat. Peran lainnya dalam fase pasca bencana ini dilaksanakan oleh lembaga yang memang mempunyai tujuan lembaga bukan untuk menangani bencana. Seperti kelompok Forum Masyarakat, yang merupakan sebuah kelompok masyarakat yang memiliki orientasi khusus/tertentu.

I - 10

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Peran dari berbagai lembaga lokal sebenarnya masing-masing berperan penting dan dibutuhkan keberadaannya. Kekuatan hubungan koordinasi dan kepekaan terhadap lingkungannya menjadi hal yang sangat penting untuk mereduksi resiko maupun dampak bencana. Dalam melihat peran yang dapat dilakukan oleh kelembagaan lokal ini akan dikaji dalam beberapa tahapan terjadinya bencana yaitu pra bencana, saat bencana, dan juga pasca bencana. Kondisi tersebut diatas mendorong diperlukannya suatu inovasi dalam melakukan pencegahan bencana di tingkat kelembagaan masyarakat melalui model kelembagaan masyarakat sadar bencana yang dapat dijadikan panduan untuk mengungkap sejauh mana peran kelembagaan lokal yang ada di tingkat komunitas dapat memiliki arti strategis dalam konteks penanggulangan bencana. Sehingga dengan demikian, dampak dari bencana yang dirasakan oleh masyarakat dapat dikurangi secara signifikan. 2. TUJUAN Buku Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana ini ditujukan untuk memberikan pengetahuan dan acuan bagi pembentukan kelembagaan bencana di tingkat masyarakat desa sebagai upaya institusional untuk mengurangi potensi dan resiko bencana, sehingga kerugian baik materi mapun non materi dari potensi maupun dampak bencana dapat dikurangi. 3. LINGKUP PANDUAN Lingkup tahapan dalam buku Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana, secara garis besar adalah : 1. Pendahuluan, yang meliputi : a. Latar Belakang b. Maksud dan Tujuan c. Lingkup Panduan d. Istilah Kebencanaan Yang Perlu DIpahami I - 11

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. Kategori dan Kriteria Bencana, yang meliputi : a. Katagori Bencana b. Kriteria Bencana 3. Kelembagaan Bencana, yang meliputi : a. Pembentukan Kelembagaan b. Kewenangan c. Struktur Organisasi d. Tugas, Pokok, dan Fungsi Organisasi e. Mekanisme Kelembagaan 4. Lampiran (format-format)

4. CARA MENGGUNAKAN PANDUAN INI Buku Panduan Kelembagaan Masyarakat Sadar Bencana ini merupakan hasil kerjasama BPBD Provinsi Jawa Barat dengan mitra kerjanya dan para ahli di berbagai bidang yang menggabungkan pengalaman dan penelitiannya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh kelompok masyarakat. Buku panduan ini menggabungkan masukan dan rekomendasi dari para ahli, praktisi dan masyarakat. Strukturnya disederhanakan sehingga lebih ringkas dan lebih mudah diikutinya dengan tetap mempertahankan keutuhan isi panduan. Buku panduan ini dibuat untuk masyarakat di wilayah Jawa Barat yang berisiko terhadap bencana. Oleh karena itu, pengalaman, pembelajaran, usul dan pemikiran Anda tentang buku ini sangat penting. Namun begitu, panduan ini dapat dijadikan referensi juga bagi masyarakat di wilayah lainnya di Indonesia. Buku ini dipergunakan khususnya oleh masyarakat Jawa Barat. Oleh karena itu dibuat sesuai dengan kondisi dan situasi Jawa Barat secara umum. Penyesuaian lebih lanjut dari materi ini harus dibuat oleh masyarakat

I - 12

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

setempat untuk memperoleh hasil yang maksimal, karena kondisi daerah di Jawa Barat beragam. Panduan ini juga dapat digunakan oleh organisasi kemanusiaan, lembaga pemerintah dan unsur masyarakat yang membutuhkan. Buku panduan dan lampiran yang menyertainya akan sangat berguna apabila seluruh isinya dibaca dan dipahami sebelum bencana terjadi. Anda juga dapat menggunakan buku ini pada saat atau setelah bencana terjadi dengan langsung membuka bagian yang tepat dan diperlukan. Kelembagaan masyarakat sadar bencana di wilayah Anda dapat

mengaktifkan dukungan dan keterlibatan seluruh anggota masyarakat. Buku panduan ini sebaiknya diperkenalkan kepada seluruh masyarakat melalui pertemuan desa atau umum untuk menjelaskan seluruh isinya. Sosialisasi kelembagaan ini dapat dilakukan dengan koordinasi lembaga pemerintah yang tepat (misalnya Desa, Kecamatan, BPBD Kab/Kota, dan BPBD Provinsi), sehingga mereka tahu kegiatan Anda dan bisa saling membantu. Seluruh tahap praktis dalam pembentukkan kelembagaan masyarakat sadar bencana dituangkan dalam BAB 3 beserta lampirannya. Bab 1 Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, lingkup panduan dan tujuan agar dapat menjadi panduan bagi desa/kelurahan didaerah-daerah lain di Jawa Barat yang memerlukan suatu alat atau instrumen di dalam pengurangan resiko bencana di daerahnya dalam bentuk kelembagaan masyarakat. Bab 2 Kategori dan Kriteria Bencana, menguraikan tentang Kategori dan Kriteria Bencana, yang meliputi kategori kebencanaan yang berpotensi terjadi di wilayah Jawa Barat beserta dampak dan penanggulangannya. Selain itu juga, bab ini menguraikan tentang kriteria suatu kejadian diartikan sebagai bencana beserta tingkatan sifat kebencanaannya. Bab 3 Kelembagaan Bencana, menguraikan tentang kelembagaan masyarakat yang meliputi proses pembentukkan kelembagaan, kewenangan kelembagaan, struktur organisasi, tugas pokok dan fungsi kelembagaan, dan mekanisme pelaksanaan kelembagaan tersebut. I - 13

KATEGORI & KRITERIA BENCANA

2
II - 1

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

1. KATEGORI BENCANA Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa suatu kejadian dapat di definisikan sebagai bencana adalah jika terjadi ancaman dari luar terhadap kehidupan manusia dengan yang berdampak merugikan manusia dan lingkungan dan tidak adanya kemampuan masyarakat lokal untuk menanggulanginya.Secara garis besar ada tiga kategori bencana, yaitu bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial.

A. Bencana Alam Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa; gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Jika dilihat dari tempo kejadiannya, ancaman dapat terjadi secara mendadak, berangsur-angsur atau musiman, contoh ancaman yang terjadi secara mendadak adalah gempa bumi, tsunami dan banjir bandang, ancaman yang berlangsung secara perlahan-lahan atau berangsur-angsur adalah banjir, genangan, kekeringan dn ancaman yang terjadi musiman adalah banjir banding (dimusim hujan), kekeringan (di musim panas) dan suhu dingin. Dari hal diatas bencana dapat di katagorikan berdasarkan sumber dari bencana serta tempo kejadiannya, pemahaman katagori bencana akan menjadi dasar dalam perencanaan penanganan bencana di di lokasi bencana itu terjadi, dan masyarakat sebagai individu yang terkena dampak akan secara dini dapat menyiapakan program penangan bencana.

II - 2

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Gempa Bumi
Gempa Bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. Tipe gempa bumi, meliputi: Gempa bumi vulkanik (Gunung Api) . Gempa bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut. Gempa bumi tektonik. Gempa bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan (tenaga) yang terjadi karena II - 3

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tectonic plate (lempeng tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik. Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa bumi akan terjadi. Pengaruh Dampak Gempa bumi dapat menyebabkan kerusakan sarana seperti bangunan, jembatan dan jalan-jalan yang besar dan luas. Gempa juga dapat diikuti tanah tsunami. tertimpa bencana longsor Korban alam seperti dan jiwa berbahaya

biasanya terjadi karena bagianbagian bangunan roboh atau objek berat lain seperti pohon dan tiang listrik. Orang sering dalam terperangkap bangunan runtuh. Gempa bumi sering diikuti oleh gempa susulan dalam beberapa

II - 4

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

menit, jam, hari atau bahkan minggu setelah gempa yang pertama, walaupun sering tidak sekuat yang pertama. Ancaman gempa susulan adalah runtuhnya bangunan yang telah goyah dan rusak akibat gempa pertama. Tindakan Kesiapsiagaan Tindakan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana Gempa Bumi bukan hanya terhadap perencanaan fisik bangunan akan tetapi yang lebih penting adalah kesiapan melindungi nyawa manusia dengan segala aktifitasnya. Tindakan kesiapsiagaan dapat di lakukan dengan cara : √ Prinsip Rencana Siaga Untuk Rumah Tangga Sederhana - Rencana darurat rumah tangga di buat sederhana sehingga mudah diingat oleh seluruh anggota keluarga. Bencana adalah situasi yang sangat mencekam sehingga mudah mudah mencetus kebingungan. Rencana darurat yang baik hanya berisi beberapa rincian saja yang mudah dilaksanakan. Tentukan jalan melarikan diri - Pastikan anda dan keluarga tahu jalan yang paling aman untuk keluar dari rumah saat gempa dengan memperhitungkan akibat gempa. Tentukan tempat bertemu Dalam kemungkinan beberapa jalan yang putus atau tertutup

keadaan anggota keluarga terpencar, misalnya ibu di rumah, ayah di disawah atau diladang , sementara anakanak di sekolah saat gempa terjadi, tentukan tempat bertemu. Yang pertama semestinya di lokasi aman dan dekat rumah. Tempat ini biasanya menjadi

II - 5

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

tempat atau lapangan

di luar desa, digunakan dalam keadaan

anggota keluarga tidak bisa kembali ke rumah. Setiap orang mestinya tahu tempat tersebut. √ Prinsip Rencana Siaga Untuk Sekolah Sama dengan prinsip rencana siaga di rumah tangga. Gedung sekolah perlu diperiksa ketahanannya terhadap gempa bumi. Sebaiknya sekolah dibangun berdasarkan standar bangunan tahan gempa. Anak-anak sekolah perlu sering dilatih untuk melakukan tindakan penyelamatan diri bila terjadi gempa, misalnya sekurangkurangnya 2 kali dalam setahun. √ Menyiapkan Rumah Tahan Gempa a. Minta bantuan ahli bangunan. Tanyakan tentang perbaikan dan penguatan rumah seperti serambi, pintu kaca geser, garasi dan pintu garasi. Setidaknya ada bagian rumah yang tahan gempa sebagai titik atau ruang berlindung. b. Periksa apakah pondasi rumah anda kokoh c. Jika mempunyai saluran air panas dan gas, pastikan tertanam dengan kuat. Gunakan sambungan pipa yang lentur. d. Letakkan barang yang besar dan berat di bagian bawah rak dan pastikan rak tertempel mati pada tembok. e. Simpan barang pecah-belah di bagian bawah rak atau lemari yang berlaci dan dapat dikunci. f. Gantungkan benda seperti gambar, lukisan dan cermin jauh dari tempat tidur, sofa atau kursi dimana orang duduk. g. Segera perbaiki kabel-kabel yang rusk dan sambungan gas yang bocor. h. Perbaiki keretakan-keretakan pada atap dan pondasi rumah dan pastikan hal itu bukan karena kerusakan struktur.

II - 6

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

i.

Pasang pipa air dan gas yang lentur untuk menghindari kebocoran air dan gas.

j.

Simpan racun serangga atau bahan yang berbahaya dan mudah terbakar di tempat aman terkunci serta jauh dari jangkauan anak-anak.

k. Hiasan gantung dan lampu diikat kuat agar tidak jatuh pada saat gempa. l. Bila memungkinkan sediakan kasur gulung di dekat tempattempat tertentu sebagai alat pengaman kejatuhan barang dari atas. m. Menyediakan helm dekat dengan tempat kerja atau tempat tidur dan gunakan segera ketika terjadi gempa.

Tindakan Saat Terjadi Gempa Bumi 1. Bila Anda berada dalam bangunan, cari tempat perlindungan, misalnya di bawah meja yang kuat, Hindari jendela dn bagian rumah yang terbuat dari kaca. Gunakan bangku, meja atau perlengkapan rumah tangga yang kuat sebagai perlindungan. 2. Tetap di sana namun bersiap untuk pindah. Tunggu sampai goncangan berhenti dan aman untuk bergerak. 3. Menjauhlah dari jendela kaca, perapian, kompor atau peralatan rumah tangga yang mungkin akan jauh. Tetap di dalam untuk menghindari terkena pecahan kaca atau bagian-bagian bangunan. 4. Jika malam hari dan berada di tempat tidur, jangan lari keluar, cari tempat yang aman di bawah tempat tidur atau meja yang kuat dan tunggu gempa berhenti. Jika gempa sudah berhenti periksa anggota keluarga dan carilah tempat yang aman. Ada baiknya kita mempunyai lampu senter dekat tempat tidur.

II - 7

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Saat gempa malam hari, alat murah ini sangat berguna untuk menerangi jalan mencari tempat aman, terutama bila listrik padam akibat gempa. Lilin dan lampu gas sangat berbahaya dan sebaiknya tidak digunakan. 5. Jika anda berada di tengah keramaian, cari perlindungan. Tetap tenang dan mintalah yang lain untuk tenang juga. Jika sudah aman, berpindahlah ke tempat yang terbuka, jauh dari pepohonan besar atau bangunan. Waspada akan kemungkinan gempa susulan. 6. Jika andan di luar, cari tempat terbuka jauh dari bangunan, pohon tinggi dan jaringan listrik Hindari rekahan akibat gempa yang bisa sangat berbahaya. 7. Jika anda mengemudi, berhentilah jika aman, tetapi tetap dalam mobil. Menjauhlah dari jembatan, jembatan layang atau terowongan. Pindahkan mobil jauh dari lalulintas. Jangan berhenti dekat pohon tinggi, lampu lalu lintas atau tiang listrik. 8. Jika rumah berada di daerah pegunungan, dekat dengan

lereng atau jurang yang rapuh, waspadalah dengan batu atau tananh longsor yang runtuh akibat gempa. 9. Jika rumah berada di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau berjarak beberapa ratus meter dari pantai. Gempa bumi dapat menyebabkan tsunami selang beberapa menit atau jam setelah gempa dan menyebabkan kerusakan yang hebat.

Tindakan Setelah Gempa Bumi Berlangsung Saat keluarga terlepas dari ancaman akibat gempa awal tindakan yang dilakukan adalah :

II - 8

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

1. Periksa adanya luka. Setelah menolong diri, Bantu menolong mereka yang terluka atau terjebak. Hubungi petugas yang menangani bencana, kemudian berikan pertolongan pertama jika memungkinkan. Jangan coba memindahkan mereka yang luka serius karena justru bisa memperparah luka. 2. Periksa kondisi rumah setelah gempa dengan melihat : √ Api atau ancaman kebakaran √ Kebocoran gas tutup saluran gas jika diduga bocor dari adanya baud dan jangan dibuka sebelum diperbaiki oleh ahlinya. √ Periksa meteran dan kabel-kabel listrik dari kerusakan akibat gempa. √ Periksa barang-barang yang jatuh dari lemari saat gempa terjadi. √ Periksa pesawat telepon, pastikan telepon pada tempatnya. 3. Lindungi diri anda dari ancaman tidak langsung dengan memakai celana panjang, baju lengan panjang, sepatu yang kuat dan jika mungkin juga sarung tangan. Ini akan melindungi anda dari luka akibat barang-barang yang pecah. 4. Bantu tetangga yang memerlukan bantuan. Orang tua, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui dan orang cacat mungkin perlu bantuan tambahan. Mereka yang jumlah anggota keluarganya besar juga memerlukan bantuan tambahan pada keadan darurat. 5. Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya, termasuk pecahan gelas, kaca dan obat-obatan yang tumpah. 6. Waspadalah dengan gempa susulan, sebagian besar gempa susulan lebih lemah dari gempa utama. Namun beberapa dapat cukup kuat untuk merobohkan bangunan yang sudah goyah akibat gempa pertama. Tetaplah berada jauh dari bangunan. Kembali ke rumah hanya bila pihak berewenang sudah mengumunkan keadaan aman.

II - 9

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tsunami
Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang, tsu berarti nami berarti menghasilkan pelabuhan, dan Tsunami air yang gelombang. gelombang

bergerak ke daratan,

yang gerakan

gelombangnya jauh lebih besar dan lebih lama, sehingga memberika kesan seperti gelombang pasang yang sangat tinggi. Tsunami gangguan dapat terjadi jika terjadi

yang

menyebabkan

perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau. Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai

II -10

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter. Gempa yang menyebabkan tsunami, meliputi : 1. Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km) 2. Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter 3. Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun.

Dampak 1. Banjir dan gelombang pasang yang tinggi 2. Kerusakan pada sarana dan prasarana di sekitar kawasan pesisir 3. Pencemaran sumber-sumber air bersih

Tindakan Kesiapsiagaan Mengenali gejala yang mungkin terjadi 1. Biasanya diawali gempa bumi yang sangat kuat, biasanya lebih dari 6 skala richter, berlokasi di bawah laut. Anda dapat merasakan gempa tersebut jika berada dekat dengan pusat gempa. Namun tsunami bisa tetap terjadi meskipun anda tidak merasakan goncangan. II -11

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. Bila anda menyaksikan permukaan laut turun secara tiba-tiba, waspadalah karena itu tanda gelombang raksasa akan datang. 3. Tsunami adalah rangkaian gelombang. Bukan gelombang pertama yang besar dan mengancam, tetapi beberapa saat setelah gelombang pertama akan menyusul gelombang yang jauh leih besar. 4. Bila anda melihat laut menjadi berwarna gelap atau mendengar suara gemuruh lebih keras dari biasanya, itu dapat berarti gelombang tsunami sedang mendekat.

Saat mengetahui ada gejala akan terjadi tsunami segera sampaikan pada semua orang, khususnya aparat pemerintah setempat sehingga mereka dapat memberikan tanda peringatan untuk mengungsi. Segera lakukan pengungsian, karena tsunami bisa terjadi dengan cepat hingga waktu untuk mengungsi sangat terbatas. Mengungsi kedaerah yang tinggi dan sejauh mungkin dari pantai, mengikuti tanda evakuasi, melalui jalur evakuasi ke tempat evakuasi. Ikuti perkembangan terjadinya bencana melalui media atau sumber yang bisa dipercaya. Mengurangi Dampak Tsunami 1. Hindari bertempat tinggal di daerah tepi pantai yang landai kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Berdasarkan penelitian daerah ini mrupakan

II -12

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

daerah yang mengalami badai dan angina rebut.

kerusakan terparah akibat bencana tsunami,

2. Disarankan untuk menanam tanaman yang mampu menahan gelombang seperti bakau, palem, ketapang, waru, beringin atau jenis lainnya. 3. Ikuti tata guna lahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat. 4. Buat bangunan bertingkat dengan ruang aman di bagian atas. 5. Bagian dinding yang lebar usahakan tidak sejajar dengan garis pantai.

Tindakan Saat Tsunami Berlangsung Prinsip-prinsip cara penyelamatan diri. 1. Bila sedang berada di pantai atau dekat laut dan merasakan bumi bergetar segera berlari ke tempat yang tinggin dan jauh dari pantai. Naik ke lantai yang lebih tinggi atap rumah atau memanjat pohon. Tidak perlu menunggu peringatan tsunami. 2. Tsunami dapat muncul melalui sungai dekat laut jadi jangan berada disekitarnya. 3. Selamatkan diri anda,

bukan barang anda. 4. Jangan kerusakan di hiraukan sekitar

teruslah berlari. 5. Jika terseret tsunami

carilah benda terapung yang dapat digunakan sebagai rakit. 6. Saling nolong, tolong-meajaklah tet-

angga tinggal di rumah anda bila rumah anda selamat anak-anak, utamakan wanita II -13

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

hamil, orang jompo dan orang cacat. 7. Selamatkan diri melalui jalur evakuasi tsunami ke tempat evakuasi yang sudah disepakati bersama. 8. Tetaplah bertahan di daerah ketinggian sampai ada pemberitahuan resmi dari pihak berwenang tentang keadaan aman. 9. Jika anda berpegangan pada pohon saat gelombang tsunami berlangsung jangan membelakangi arah laut supaya terhindar dari benturan benda yang dibawa oleh gelombang. Anda dapat membalikkan badan saat gelombang berbalik arah kembali ke laut. 10. Tetap berpegangan kuat hingga gelombang benar-benar reda.

Tindakan Setelah Tsunami Terjadi 1. Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi dan laporkan jika menemukan

kerusakan kepada PLN. 2. Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman 3. Jauhi reruntuhan bangunan 4. Laporkan diri ke lembaga pemerintah, lembaga adapt atau lembaga keagamaan.

II -14

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

5. Upayakan penampungan sendiri kalau memungkinkan. Ajaklah sesama warga untuk melakukan kegiatan yang positif. Misalnya mengubur jenazah, mengumpulkan benda-benda yang dapat digunakan kembali, sembahyang bersama dan lain sebagainya. Tindakan ini akan dapat menolong kita untuk segera bangkit dan membangun kembali kehidupan. 6. Bila diperlukan, carilah bantuan dan bekerjasama dengan sesama serta lembaga pemerintah adat, keagamaan atau lembaga swadaya masyarakat. Ceritakan tentang bencana ini kepada keluarga, anak dan teman anda untuk memberikan pengetahuan yang jelas dan tepat. Ceritakan juga apa yang harus dilakukan bila ada tanda-tanda akan datang.

Letusan Gunung Api
Gunung api meletus akibat magma didalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Apabila gunung berapi meletus,

II -15

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

magma yang terkandung di dalam kamar magmar di bawah gunung berapi meletus keluar lahar atau lava. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Gunung api bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan gunung Krakatau di Propinsi Banten. Ketika melutus, gunung api mengeluarkan material sebagai berikut: 1. Lava yaitu cairan larutan silika pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah gunung api atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan yang bentuknya bermacam-macam. 2. Awan Panas terdiri dari batuan pijar bersuhu tinggi kurang lebih 6000C. 3. Abu/pasir vulkanik atau jatuhan piroklastik yaitu bahan material vulkanik jatuhan yang disemburkan ke udara saat terjadi letusan, terdiri dari ukuran besar sampai berukuran kecil atau halus. 4. Gas vulkanki, yaitu gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung api. 5. Hujan lumpur, apabila terdapat danau, maka bila terjadi letusan dapat menghasilkan hujan lumpur. 6. Lahar letusan, terjadi pada gunung apai yang mempunyai danau kawah. 7. Aliran lahar, terjadi pada gunung apai yang baru meletus yang mengakibatkan banyak matrial lepas.

Dampak Dampak dari letusan gunung merapi adalah : 1. Gas vulkanik 2. Lava dan aliran serta batu panas. 3. Lahar 4. Tanah longsor II -16

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

5. Gempa bumi 6. Abu letusan 7. Awan panas Gas Vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung berapi. Gas-gas yang dikeluarkan antara lain karbon, monoksida (CO), Karbon Dioksida (CO2), Hidrogrn Sulfida (H2S) Sulfur Dioksida (SO2) dan Nitrogen (N2) yang membahayakan bagi manusia. Lava adalah cairan magma bersuhu sangat tinggi yang mengalir ke permukaan melalui kawah gunung api. Lava encer mampu mengalir dari sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir tidak jauh dari sumbernya. Lahar juga merupakan salah satu ancaman bagi masyarakat yang tinggal di lereng gunung api. Lahar adalah banjir banding di lereng gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai bongkah. Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat Lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur in bisa panas atau dingin. Awan panas adalah hasil letusan gunung api yang paling berbahaya karena tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari awan panas tersebut tersebut kecuali melakukan evakuasi sebelum gunung meletus. Awan panas bisa berupa awan panas aliran, awan panas hembusan dn awan panas jatuhan, Awan panas aliran adalah awan dari material letusan besar yang panas, mengalir turun dan akhirnya mengendap didalam dan disekitar sungai dan lembah. Awan panas hembusan adalah awan dari material letusan kecil yang panas , dihembuskan angina dengan kecepatan mencapai 90 km per jam . Awan panas jatuhan adalah awan dari material letusan panas besar dan kecil yang dilontarkan ke atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan jatuh mencapai puluhan,

II -17

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

ratusan bahkan ribuan kilometre dari puncak karena pengaruh hembusan angina.Awan panas dapat mengakibatkan luka baker pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leheratau kaki dan juga menyebabkan sesak material letusan yang sangat halu. Karena hembusan angina dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometre jauhnya. Dampak Abu letusan 1. Permasalahan pernapasan 2. Kesulitan penghilatan 3. Pencemaran sumber air bersih 4. Badai listrik 5. Gangguan kerja mesin dan kendaraan bermotor 6. Kerusakan atap 7. Kerusakan lading dan lingkungan sekitar 8. Kerusakan infrasrukturnseperti jalan dan Bandar udara.

Tindakan Kesiapsiagaan Persiapan dalam menghadapi letusan gunung api 1. Mengenali tanda-tanda bencana, karakter gunung api dan ancamanancamannya II -18

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman. 3. Membuat system peringatan dini 4. Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi status gunung berapi. 5. Mencermati dan memahami Peta kawasan Rawan gunung api yang diterbitkan oleh instansi berwenang. 6. Membuat perencanaan penanganan bencana. 7. Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama) jika diperlukan. 8. Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting. 9. Memantau informasi yang diberikan oleh pos pengamat gunung api.

Tindakan Saat Terjadi Letusan Gunung Api Jika letusan gunung api telah terjadi tindakan yang harus dilakukan adalah : 1. Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran sungai kering dan daerah aliran lahar. 2. Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan 3. Masuk ruang lindung darurat bila terjadi awan panas 4. Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan. 5. Kenakan pakaian yang bisa

melindungi tubuh, seperti baju lengan panjang, celana panjang, topi dan lainnya. 6. Melindungi mata dari debu bila ada gunakan pelindung mata seperti kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke dalam mata. II -19

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

7. Jangan memakai lensa kontak 8. Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung. 9. Saat turunnya abu gunung api usahakan untuk menutup wajah dengan kedua belah tangan.

Tindakan Setelah Terjadi Letusan Gunung Api Setelah letusan gunung api terjadi tindakan yang dilakukan adalah : 1. Jauhi wilayah yang terkena hujan debu. 2. Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau meruntuhkan atap bangunan. 3. Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa merusak mesin motor, rem dan pengapian.

Banjir
Banjir adalah peristiwa terbenamnya daratan oleh air. Peristiwa banjir timbul jika air menggenangi daratan yang biasanya kering. Banjir pada umumnya disebabkan oleh air sungai yang meluap ke lingkungan sekitarnya sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Kekuatan banjir mampu merusak rumah dan menyapu fondasinya.Air banjir juga membawa lumpur berbau yang dapat

II -20

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

menutup segalanya setelah air surut. Banjir adalah hal yang rutinn Banjir sudah temasuk dalam urutan bencana besar, karena meminta korban besar. Bencana banjir memiliki ciri-ciri dan akibat sebagai berikut. 1. Banjir biasanya terjadi saat hujan deras yang turun terus menerus sepanjang hari. 2. Air menggenangi tempat-tempat tertentu dengan ketinggian tertentu. 3. Banjir dapat mengakibatkan hanyutnya rumah-rumah, tanaman, hewan, dan manusia. 4. Banjir mengikis permukaan tanah sehingga terjadi endapan tanah di tempat-tempat yang rendah. 5. Banjir dapat mendangkalkan sungai, kolam, atau danau. 6. Sesudah banjir, lingkungan menjadi kotor oleh endapan tanah dan sampah. 7. Banjir dapat menyebabkan korban jiwa, luka berat, luka ringan, atau hilangnya orang. 8. Banjir dapat menyebabkan kerugian yg besar baik secara moril maupun materiil.

Berdasarkan sumber air yang menjadi penampung di bumi, jenis banjir

II -21

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

dibedakan menjadi tiga, yaitu banjir sungai, banjir danau, dan banjir laut pasang. 1. Banjir sungai terjadi karena air sungai meluap. 2. Banjir danau terjadi karena air danau meluap atau bendungannya jebol. 3. Banjir laut pasang Terjadi antara lain akibat adanya badai dan gempa bumi. Secara umum, penyebab terjadinya banjir adalah sebagai berikut: 1. Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi, 2. Pendangkalan sungai, 3. Pembuangan sampah yang sembarangan, baik ke aliran sungai mapupun gotong royong, 4. Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat, 5. Pembuatan tanggul yang kurang baik, Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan Banjir dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup berupa: 1. Rusaknya areal pemukiman penduduk, 2. Sulitnya mendapatkan air bersih, dan 3. Rusaknya sarana dan prasarana penduduk. 4. Rusaknya areal pertanian 5. Timbulnya penyakit-penyakit 6. Menghambat transportasi darat

Dampak 1. Ancaman wabah penyakit setelah banjir – Pada saat dan sesudah banjir, ada beberapa tempat yang bisa menyebabkan tersebarnya penyakit menular, seperti : tempat pembuangan limbah dan tempat sampah yang terbuka, sistem pengairan yang tercemar dan sistem kebersihan yang

II -22

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

tidak baik. Bakteri bisa tersebar melalui air yang digunakan masyarakat, baik air PAM maupun air sumur yang telah tercemar oleh air banjir. Air banjir membawa banyak bakteri, virus , parasit dan bibit penyakit lainnya, termasuk juga unsurunsur kimia yang berbahaya. 2. Penyakit Diare – diare mempunyai masa pertumbuhan antara 1 – 7 hari. Ikuti petunjukpetunjuk kebersihan di bawah ini untuk menghindari risiko terjangkit penyakit ini harus mendapat perawatan khusus karena apabila dibiarkan terlalu lama bisa terancam khususnya pada orang tua dan anak-anak. 3. Penyakit yang disebarkan oleh nyamuk – banjir bisa meningkatkan perkembangbiakan nyamuk secara luas. Bibit-bibit penyakit yang dibawa oleh serangga ini termasuk Demam Berdarah, malaria, dll. Untuk mencegah sebuah tempat menjadi sarang nyamuk, kosongkan air yang tergenang dan tutup tempattempat yang terbuka.

Tindakan Kesiapsiagaan 1. Persiapan dalam pencegahan kemungkinan banjir – untuk

menrhindari risiko banjir. Sebaiknya membuat bangunan di daerah yang aman seperti di dataran yang tinggi dan melakukan tindakan-tindakan pencegahan. Untuk daerah-daerah yang beresiko banjir sebaiknya : 2. Mengerti akan ancaman banjir – termasuk banjir yang pernah terjadi dan mengetahui letak daerah apakah cukup tinggi untuk terhindar dari banjir. 3. Melakukan persiapan untuk mengungsi – dan melakukan latihan pengungsian, Mengetahui jalur evakuasi, jalan yang tergenang air dan masih bisa di lewati. Setiap orang harus mengetahui tempat evakuasi, kemana harus pergi apabila terjadi banjir.

II -23

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

4. Mengembangkan

program

penyuluhan

untuk

meningkatkan

kesadaran akan ancaman banjir dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memperhitngkan ancaman banjir dalam perkembangan masa depan. 5. Memasang tanda ancaman pada jembatan yang rendah – agar tidak dilalui orang pada saat banjir. Adakan perbaikan apabila diperlukan. 6. Mengatur aliran air ke luar daerah – pada daerah permukiman yang berisiko banjir. 7. Menjaga sistem pembuangan limbah dan air kotor - tetap bekerja pada saat terjadi banjir 8. Memasang tanda ketinggian air – pada saluran air, kanal, kali atau sungai yang dapat dijadikan petunjuk pada ketinggian berapa akan terjadi banjir atau petinjuk kedalaman genangan air.

Tindakan di rumah-rumah 1. Simpan surat-surat penting di dalam tempat yang tinggi, kedap air dan aman 2. Naikkan panel-panel dan alt-alat listrik ke tempat yang lebih tinggi sekurang-kurangnya 30 sm di atas garis ketinggian banker maksimum. 3. Pada saat banjir, tutup kran saluran air utama yang mengalir ke dalam rumah dan matikan listrik dari meterannya. 4. Pindahkan barang-barang rumah tangga ke tempat yang lebih tnggi. Kegiatan yang dapat di lakukan untuk mengurangi risiko banjir 1. Buat sumur resapan bila memungkinkan 2. Tanam lebi banyak pohon besar 3. Membentuk kelompok Masayarakt pengendali Banjir 4. Membangun atau menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir 5. Membangun kebersihan saluran air limbah 6. Memindahkan tempat hujian ke daerah bebas banjir atau tinggikan

II -24

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

bangunan rumah hingga batas ketinggian banjir jika memungkinkan 7. Mendukung upaya pembuatan kanal atau saluran dan bangunan pengendali banjir dan lokasi evakuasi. 8. Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga daerah resapan air.

Tindakan Saat Terjadi Banjir 1. Segera menyelamatkan diri ke tempat yang aman. 2. Jika memungkinkan ajaklah anggota keluarga atau kerabat atau orang di sekitar anda untuk menyelamatkan diri. 3. Selamatkan barang-barang berharga sehingga tidak rusak atau hilang terbawa banjir. 4. Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga bisa nmenjadi dasar untuk tindakan selanjutnya.

Tindakan Setelah Terjadi Banjir 1. Air untuk minum dan memasak Di saat dan sesudah terjadinya banjir, penting untuk memperhatikan kebersihan air yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. a. Gunakan

air bersih untuk mencuci piring, mencuci Jangan nakan air dsb. yang menggu-

telah tercemar. b. Rebus atau

proses air sebelum digunakan.

II -25

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Menembus air bisa membunuh bakteri dan parasit rebus dan biarkan air mendidih 7 menit. Hanya minum air yang sudah direbus, bukan air mentah. c. Gosok gigi atau buat es dari air bersih yang sudah direbus. d. Air juga bisa diolah dengan klorin atau yodium atau dengan mencampur 4 tetes klorin pemutih pakaian tanpa pewangi ( 5,25% sodium hypochorite) dalam 2 liter air. Campur dengan baik untuk mengolah air tapi tidak bisa membunuh semua kuman atau parasit jika menggunakan yodium, campurkan 11 tetes youdium (2%) ke dalam 2 liter air. Jika menggunakan tablet pemurni air, ikuti instruksi penggunaannya. Junlah klorin dan yodium harus digandakan jika air sangat kotor dan keruh. 2. Hal – hal penting tentang sanitasi dan kebersihan Air banjir bisa mengandung kotoran dari limbah air kotor dan limbah industri. Walaupun kontak dengan kulit tidak membahayakan, namun mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar air banjir bisa berisiko bagi kesehatan masyarakat. pada saat bencana, sangat penting untuk mereapkan langkah-langkah dasar kebersihan ini. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih : 1. Sebelum memasak atau makan 2. Setelah buang air 3. Setelah melakukan pembersihan 4. Setelah menangani apa saja yang telah tercemar air banjir. 3. Pembersihan di rumah setelah banjir Setelah menentukan suatu daerah aman dari banjir, semua permukaan harus dibersihkan dan diberi obat pembasmi kuman untuk mencegah tumbuhnya jamur dan lumut. Jika memungkinkan pakai sepatu karet dan sarung tangan selama melakukan proses pembersihan ini. a. Dinding, lantai dan permukaan lain harus dibersihkan dengan air sabun dan diberi obat pembasmi kuman dengan campuran 1 cangkir cairan pemutih per 2 liter air. II -26

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

b. Perhatian khusus makanan, kulkas dll.

diberikan pada tempat-tempat bermain anak-

anak dan tempat-tempat makanan seperti dapir, meja makan, lemari

c. Untuk barang-barang yang sulit dibersihkan seperti kasur, jok kursi dll keringkan diluar rumah di bawah panas matahari dan kemudian diberi obat pembasmio kuman. Barang-barang yang tidak bisa dibersihkan sebaiknya di buang saja. Perlu diingat bahwa bibit penyakit seperti bakteri dan jamur bisa tumbuh dan berkembang lama setelah tindakan pembersihan selesai . Oleh sebab itu disarankan pada masyarakat yang daerah yang telah di landa banjir untuk mengadakan tindakan pembersihan berulang kali. 4. Beberapa tindakan untuk menjaga kebersihan a. Buatlah pagar untuk mengelilingi tempat air bersih supaya binatang tidak masuk b. Bakarlah sampah yang dapat dibakar. Sampah yang tidak dapat dibakar sebaiknya ditanam dalam lubang khusus. Jarak lubang sampah paling tidak 20 meter dari permukiman dan 500 meter dari sumber air bersih c. Buanglah barang-barang yang sudah kotor terkena air banjir d. Jangan buang air besar maupun air kecil di dekat tempat air bersih ataupun rumah permukiman e. Selalu mencuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih √ Sebelum memasak atau belum √ Setelah buang air √ Setelah melakukan pembersihan √ Setelah memegang apa saja yang telah tercemar air banjir

II -27

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tanah Longsor
Pengertian tanah longsor adalah runtuhnya tanah secara tiba-tiba atau pergerakan tanah atau bebatuan dalam jumlah besar secara tiba-tiba atau berangsur yang umumnya terjadi di daerah terjal yang tidak stabil. Faktor lain yang mempengaruhi terjadinya bencana ini adalah lereng yang gundul serta kondisi tanah dan bebatuan yang rapuh. Hujan deras adalah pemicu utama terjadinya tanah longsor. Tetapi tanah longsor dapat juga disebabkan oleh gempa atau aktifitas gunung api. Ulah manusia pun bisa menjadi penyebab tanah longsor seperti penambangan tanah, pasir dan batu yang tidak terkendali. Gejala Umum 1. Muncul retakan-retakan di lereng yang sejajar dengan arah tebing 2. Muncul air secara tiba-tiba dari permukaan tanah di lokasi baru. 3. Air sumur di sekitar lereng menjadi keruh. 4. Tebing rapuh dan kerikil mulai berjatuhan. Wilayah-wilayah yang rawan akan tanah longsor 1. Pernah terjadi bencana tanah longsor di wilayah tersebut II -28

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. Berada pada daerah yang terjal dan gundul. 3. Merupakan daerah aliran hujan 4. Tanah tebal atau sangat gembur pada lerang yang menerima curah hujan tinggi.

Dampak Tanah dan material lainnya yang berada di lereng dapat runtuh dan mengubur manusia, binatang, rumah, kebun, jalan dn semua yang berada di jalur longsornya tanah. Kecepatan luncuran tanah longsor, terutama pada posisi yang terjal, bisa mencapai 75 kilometer per jam. Sulit untuk menyelematkan diri dari tanah longsor tanpa pertolongan dari luar. Tindakan kesiapsiagaan 1. Tidak menebang atau merusak hutan 2. Melakukan penanaman tumbuh-tumbuhan berakar kuat, seperti nimba, bamboo, akar wangi, lamtoro dsb, pada lereng-lereng yang gundul. 3. Membuat saluran air hujan. 4. Membangun dinding penahan di lereng-lereng yang terjal. 5. Memeriksa keadaan tanah secara berkala. 6. Mengukur tingkat kederasan hujan. II -29

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tindakan saat terjadi tanah longsor 1. Segera keluar dari derah longsoran atau aliran reruntuhan atau puing ke area yang lebih stabil. 2. Bila melarikan diri tidak memungkinkan, lingkarkan tubuh anda seperti bola dengan kuat dan lindungi kepala anda. Posisi ini akan memberikan perlindungan terbaik untuk badan anda. Tindakan setelah terjadi tanah longsor 1. Hindari daerah longsoran, dimana longsor susulan dapat terjadi. 2. Periksa korban luka dan korban yang terjebak longsor tanpa langsung memasuki daerah longsoran. 3. Bantu arahkan SAR ke lokasi longsor 4. Bantu tetangga yang memerlukan bantuan khususnya anak-anak, orang tua dan orang cacat. 5. Dengarkan siaran radio lokal atau televisi untuk informasi keadaan terkini. 6. Waspada akan adanya banjir atau aliran reruntuhan setelah longsor. 7. Laporkan kerusakan fasilitas umum yang terjadi kepada pihak yang berwenang 8. Periksa kerusakan pondasi rumah dan tanah disekitar terjadi longsor. 9. Tanami kembali daerah bekas longsor atau daerah disekitarnya untuk menghindari erosi yang telah merusak lapisan atas tanah yang dapat menyebabnkan banjir banding. 10. Mintalah nasihat untuk mengevaluasi ancaman dan teknik untuk mengurangi resiko tanah longsor. Cara-cara menghindari korban jiwa dan harta akibat tanah longsor 1. Membangun permukiman jauh dari daerah yang rawan. 2. Bertanya pada pihak yang mengerti sebelum membangun. 3. Membuat peta ancaman 4. Melakukan deteksi dini. II -30

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Angin Puting Beliung
Angin Puting Beliung adalah angin kencang dengan kecepatan 120 km per jam atau lebih. Angin topan bisa mempunyai kekuatan hembusan angin sampai 200 km per jam yang dibarengi oleh hujan yang sangat lebat sehingga menyebabkan badai di daerah pesisir dan gelombang yang besar yang sangat kuat di laut. Di pusat badai, mata angin ribut yang bertekanan rendah membentuk kubah air yang tinggi, ketika seluruh badai bergerak ke daratan, ia mendorong kubah air, sehingga menyebabkan banjir di daratan. Tanda-tanda terjadinya angir ribut : 1. Penurunan suhu dan tekanan udara yang drastis dan tiba-tiba 2. Terlihat gumpalan awan gelap dan tinggi 3. Petir dan guruh terlihat dari jauh 4. Terdengar suara gemuruh ato guntur dari kejauhan. 5. Peingatan dari BMG yang disampaikan melalui media televisi, radio atau surat kabar. Dampak Kekuatan Angin dan Hujan : 1. Menyebabkan kerusakan atau kehancurn bangunan 2. Mengangkat dan memindahkan benda-benda yang tidak stabil 3. Meruak jaringan listrik II -31

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

4. Menyebabkan erosi di daerah pesisir 5. Menyebabkan banjir 6. Membahayakan keselamatan

Tindakan saat terjadi angin puting beliung Tetap berada di rumah kecuali apabila dianjurkan untuk mengungsi. Walaupun tidak ada anjuran, masyarakat harus tetap bersiap untuk mengungsi. 1. Apabila dianjurkan untuk tinggal di dalam rumah maka 2. Semua persidaaan sudah disiapkan 3. Jika diperlukan, tinggal di suatu ruangan yang paling aman di dalam rumah 4. Matikan semua sumber api, aliran listrik dan peralatan eletkronik. 5. Terus mendengarkan radio agar mengetahui perubahan kondisi. 6. Hindari banjir apabila air masuk kedalam rumah, jika memungkinkan naik ketempat yang lebih tinggi

Tindakan setelah terjadi angin puting beliung 1. Usahakan untuk tidak segera memasuki daerah sampai dinyatakan aman. Banyak kegiatan berlangsung untuk membenahi daerah yang abru terlanda bencana ini. Untuk memperlancar proses ini sebaiknya orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk. 2. Gunakan senter untuk memeriksa kerusakan. Jangan menyalakan aliran listrik sebelum dinyatakan aman. Jauhi kabel-kabel listrik yang terjatuh di tanah. Untuk menghindari kecelakaaan jalan terbiak adalah menjauhi kabel-kabel ini. 3. Matikan gas dan aliran. Untuk menghindari kebakaran, apabila tercium bau gas segera matikan aliran gas dan apabila ada kerusakan listrik segera matikan aliran listrik dengan mencabut sekring. Ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang benar-benar paham tentang listrik.

II -32

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

4. Pergunakan telepon hanya untuk keadaan darurat. Jaringan telepon akan menjadi sangat sibuk pada saat seperti ini. Kepentingan untuk meminta bantuan harus diutamakan. 5. Mendngarkan radio untuk mengetahui perubahan kondisi.

Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan adalah kebakaran yang diakibatkan oleh faktor alam seperti akibat sambaran petir, kekeringan yang berkepanjangan, leleran lahar, dan lain sebagainya. Kebakaran hutan menyebabkan dampak yang luas akibat asap kebakaran yang menyebar ke banyak daerah di sekitarnya. Hutan yang terbakar juga bisa sampai ke pemukiman warga sehingga bisa membakar habis bangunan-bangunan yang ada. Penyebab Kebakaran hutan, antara lain: 1. Sambaran petir pada hutan yang kering karena musim kemarau yang panjang.

II -33

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. Kecerobohan manusia antara lain membuang puntung rokok sembarangan dan lupa mematikan api di perkemahan. 3. Aktivitas vulkanis seperti terkena aliran lahar atau awan panas dari letusan gunung berapi. 4. Tindakan yang disengaja seperti untuk membersihkan lahan pertanian atau membuka lahan pertanian baru dan tindakan vandalisme. 5. Kebakaran di bawah tanah/ground fire pada daerah tanah gambut yang dapat menyulut kebakaran di atas tanah pada saat musim kemarau. Dampak yang ditimbulkan dari kebakaran liar antara lain: 1. Menyebarkan emisi gas karbon dioksida ke atmosfer. 2. Terbunuhnya satwa liar dan musnahnya tanaman baik karena kebakaran, terjebak asap atau rusaknya habitat. Kebakaran juga dapat menyebabkan banyak spesies endemik/khas di suatu daerah turut punah sebelum sempat dikenali/diteliti. 3. Menyebabkan banjir selama beberapa minggu di saat musim hujan dan kekeringan di saat musim kemarau. 4. Kekeringan yang ditimbulkan dapat menyebabkan terhambatnya jalur pengangkutan lewat sungai dan menyebabkan kelaparan di daerah-daerah terpencil. 5. Kekeringan juga akan mengurangi volume air waduk pada saat musim kemarau yang mengakibatkan terhentinya pembangkit listrik (PLTA) pada musim kemarau. 6. Musnahnya bahan baku industri perkayuan, mebel/furniture. Lebih jauh lagi hal ini dapat mengakibatkan perusahaan perkayuan terpaksa ditutup karena kurangnya bahan baku dan puluhan ribu pekerja menjadi penganggur/ kehilangan pekerjaan. 7. Meningkatnya jumlah penderita penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan kanker paru-paru. Hal ini bisa menyebabkan kematian bagi penderita berusia lanjut dan anak-anak. Polusi asap ini juga bisa menambah parah penyakit para penderita TBC/asma.

II -34

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

8. Asap yang ditimbulkan menyebabkan gangguan di berbagai segi kehidupan masyarakat antara lain pendidikan, agama dan ekonomi. Banyak sekolah yang terpaksa diliburkan pada saat kabut asap berada di tingkat yang berbahaya. Penduduk dihimbau tidak bepergian jika tidak ada keperluan mendesak. Hal ini mengganggu kegiatan keagamaan dan mengurangi kegiatan perdagangan/ekonomi. Gangguan asap juga terjadi pada sarana perhubungan/transportasi yaitu berkurangnya batas pandang. Banyak pelabuhan udara yang ditutup pada saat pagi hari di musim kemarau karena jarak pandang yang terbatas bisa berbahaya bagi penerbangan. Sering terjadi kecelakaan tabrakan antar perahu di sungai-sungai, karena terbatasnya jarak pandang. 9. Musnahnya bangunan, mobil, sarana umum dan harta benda lainnya.

Dampak Dampak bagi kesehatan manusia – kebakarn hutan atau lahan menghasilkan bahan kimia berbahaya 1. Karbon dioksida 2. Sulfur 3. Methan 4. Berbagai bahan organik II -35

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

5. Partikel kecil yang dilepaskan dari elemen karbon 6. Karbon monoksida 7. Dioksida 8. Nitrogen oxida 9. Amonia Semua bahan di atas tersebut sangat berbahaya apabila dihirup oleh manusia. Penyakit yang bias ditimbulkan diantaranya infeksi saluran pernafasan akut, bronkitis, keracunan dan diare hingga bisa menyebabkan kematian. Dampak Sosial Budaya dan Ekonomi. 1. Hilangnya sejumlah mata pencarian masyarakat dan terganggunya aktivitas sehari-hari 2. Peningkatan jumlah hama 3. Terganggunya kesehatan. Infeksi saluran napas, diare dll 4. Dampak terhadap ekologis dan kerusakan lingkungan. 5. Hilangnya sejumlah species flora dan fauna 6. Terjadinya banjir di daerah yang hutan gambutnya terbakar 7. Polusi udara dan air. 8. Pada jangka panjang dapat menurunkan kesuburan tanah

Secara fisik 1. Tanah menjadi rusak dan terbuka sehingga ketika hujan lapisan tanah teratas akan terbawa ke sungai dan mengendap disana (sedimentasi). Lama kelamaan sungai menjadi dangkal sehingga ketika musim hujan yang panjang akan terjadi banjir. 2. Mempercepat proses penggerusan lapisan hara yang dibutuhkan tnaman untuk tumbuh subur.

II -36

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Secara Kimia Terjadinya peningkatan keasaman tanah. Secara biologi Membunuh organisme tanah yang bermanfaat bagi upaya peningkatan kesuburan tanah. Kerugian dari kebakran hutan atau lahan : 1. Hilangnya tegakan kayu hutan di hutan 2. Hilangnya hasil hutan nonkayu, seperti karet, dmar, rotan dll 3. Hilangnya tumbuhan maupun bibit yang bermanfaat bagi manusia, misalnya tanaman obat, dll 4. Hilangnya tempat berekreasi 5. Hilangnya fungsi penyediaan air bagi pertanian 6. Hilangnya flora dan fauna yang memperkaya pengetahuan manusia 7. Cepatnya perubahan iklim dan pemanasan global

Tindakan kesiapsiagaan 1. Jangan melakukan pembakaran untuk melakukan pembukaan lahan 2. Mintalah petunjuk kepada Dinas Kehutanan dan Perkebunan maupun Dinas Pertanian setempat tentang tata cara pembukaan lahan tanpa membakar 3. Informasikan dan minta masyarakat waspada pada efek negative pembakaran hutan Bila dinas setempat tidak memiliknya, lakukan cara berikut ini : 1. Tebanglah pohon dan semak belukar pada lahan yang ingin Anda gunakan untuk berkebun 2. Potong-potong/cacah pohon/ranting/semak tersebut dan sebarkan ke sekeliling lahan Anda II -37

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

3. Jangan gunakan bahan kimia untuk mematikan pohon/semak. Dalam jangka panjang, penggunaan bahan kimia terus menerus akan membuat tanah kehilangan kemampuan untuk beregenerasi (mengembalikan kesuburan), akibatnya kebutuhan Anda akan pupuk di masa mendatang akan semakin meningkat 4. Biarkan sisa semak dan pepohonan yang telah Anda cacah tersebut mongering selama lebih kurang sebulan. Bila memungkinkan siramkan air ke segala penjuru lahan Anda untuk mempercepat proses pembusukan 5. Tanamlah bibit Anda di sela-sela batang pohon, potongan ranting atau semak tersebut. Hal tersebut sangat berguna sebagai pupuk bagi tanaman Anda 6. Bangunlah sumur di lahan Anda sehingga Anda tidak akan kesulitan mencari air seandainya terjadi kebakaran yang tidak terkendali di lahan ataupun di luar lahan Anda. Jangan lupa agar kampong anda menyediakan setidaknya dua buah mesin pompa air untuk menyedot dan menyemprotkan air ditambah selang sepanjang minimal 50 meter, dua buah

II -38

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

7. Bila memungkinkan, galilah parit di sekeliling rumah lahan Anda Anda, dengan di sekeliling atau dalam

lebar minimal 30 x 30 cm. Periksalah menjelang musim kemarau agar tidak terjadi pengdangkalan. Parit ini sangat bergunauntuk mencegah api memasuki lahan atau daerah rumah Anda. 8. Ajak tetangga dan warga kampong Anda untuk membuat system peringatan yang sederhana apabila terjadi kebakaran. Kentongan merupakan sarana paling murah untuk sebuah system peringatan. Pukullah kentongan sebanyak mungkin apabila terjadi kebakaran hutan atau lahan untuk memperingatkan tetangga-tetangga Anda. Yang dilakukan bila kebakaran hutan dan lahan mengurung Anda : 1. Jangan panik 2. Basahi telunjuk Anda dan acungkan untuk mengetahui arah angin 3. Kumpulkan keluarga Anda, minta mereka untuk memakai sepatu yang bukan terbuat dari karet dan supaya memakai celana panjang dari bahan katun yang cukup tebal 4. Ambil selimut atau seprai tebal atau kain sarung dari katun atu bahan nonsintetis (misalnya rayon, polyster dll.) berlapis-lapis dan tutuplah sekujur tubuh Anda kecuali mata 5. Siramlah air sebanyak-banyaknya sehingga selimut, seprai, sarung dan tubuh Anda menjadi basah kuyupTeroboslah api sambil berlari mengikuti arah angina sampai ke tempat benar-benar aman. Jangan lari melawan arah angin.

II -39

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

B. Bencana Non-Alam Bencana Non Alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaia peristiwa yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.

Gagal Teknologi
Gagal teknologi adalah semua kejadian bencana yang diakibatkan kesalahan desain, kesalahan pengoperasian, kelalaian, dan kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan atau industri, Penyebab kegagalan teknologi aantara lain meliputi : kebakaran, kegagalan atau kesalahan desain keselamatan pabrik prosedur dan teknologi, kesalahan kerusakan pengoperasian,

komponen, dan lainnya. Kebakaran Untuk kasus kebakaran pada umumnya disebabkan oleh listrik atau adanya hubungan pendek arus listrik. Ditinjau dari frekuensi dan periode kejadian kebakaran, terdapat kecenderungan bahwa antara bulan Juni hingga Oktober kebakaran sernakin rneningkat. Hal ini sangat berkaitan dengan kondisi cuaca, ketika pada bulan-bulan tersebut berlangsung rnusim kemarau yang kering sehingga material-material menj adi lebih rnudah terbakar. Potensi kebakaran kawasan industri dan perniukirnan di masa rnendatang akan semakin besar. Kecelakaan Industri Kecelakaan industri adalah kejadian kecelakaan yang terjadi di tempat II -40

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

kerja

khususnya

di

lingkungan kejadian kerja

industri. kecelakaan dari

Kecenderungan meningkat

tahun ke tahun Kecelakaan secara disebabkan industri umum oleh dua

hal pokok yaitu perilaku kerja yang berbahaya dan kondisi yang berbahaya. Faktor manusia memegang pernanan penting timbulnya kecelakaan kerja.

Kesalahan Desain dan Prosedur Kegagalan teknologi yang terkait dengan kesalahan desain dan prosedur pengoperasian sehingga menimbulkan kecelakaan atau bencana adalah meledaknya tabung gas LPG di permukiman masyarakat. Meledaknya tabung gas LPG yang terjadi di permukiman yang disebabkan oleh rendahnya kualitas dari tabung gas, selang, regulator dankomponennya. Kebijakan konversi minyak tanah ke LPG untuk mengurangi beban subsidi pada awalnya belum disertai dengan pengadaan sarana prasarana yang cukup balk sehingga tabung gas dan komponennya untuk ukuran 3 kg yang didistribusikan kepada masyarakat tidak rnelalui tahapan Standard Nasional Indonesia (SNI) terlebih dahulu.

Kecelakaan Transportasi Kecelakaan transportasi terus terjadi peningkatan yang sangat besar. Penyebab timbulnya kecelakaan transportasi sebagian besar disebabkan o1eh faktor pengendara kendaraan (human error). Diperkirakan di tahuntahun rnendatang kecelakaan transportasi akan sernakin meningkat. Hal ini karena niakin meningkatnya jumlah kendaraan sementara jaringan in-

II -41

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

frastruktur

pertumbuhannya

relatif tidak mengalami kenaikan yang berarti dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah kendaraan. Untuk kereta api timbulnya kecelakaan sebagian besar disebabkan oleh anjlokan rel kereta api, sedangkan tabrakan antar kereta api, dan kereta api menabrak kendaraan. Trend kecelakaan kereta api rnengami peningkatan dibandingkan dengan periode sebelumnya. Faktor semakin tuanya. usia sarana prasarana perkerata apian, rendahnya disiplin pengendara dan rnakin rneningkatnya lalulintas kendaraan menyebabkan kecelakaan kereta api meningkat.

Jebolnya Bendungan Bendungan adalah setiap bangunan penahan air buatan, jenis urugan atau jenis lainnya untuk menahan air ternlasuk pondasi, bukitf tebing tumpuan, serta bangunan pelengkap sehingga terbentuk waduk, tetapi tidak termasuk bendung dan tanggul (termasuk juga penahan kumpulan Limbah yang merupakan buangan dari proses penarnbangan atau industri). Kegagalan bangunan bendungan adalah keruntuhan sebagian atau seuruh bangunan bendungan atau bangunan pelengkapnya, yang menimbulkan kerugian masyarakat atau negara, akibat kesalahan perencanaan, pelaksanaan,operasi dan pemefiharaan bendungan. Penyebabnya, secara urnutn jebolnya bendungan-bendungan adalah intensitas curah hujan tinggi dan bertambahnya beban pada struktur tanggul.

II -42

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Gagal Modernisasi Konsep modernisasi gagal dalam mengantisipasi kelemahan-kelemahannya karena pendekatan yang selalu berorientasi pada iptek mengasumsikan bahwa masalah kemanusiaan dapat diatasi dengan menggunakan Iptek tersebut. pendekatan ini sangat kontra produktif ketika tekanan penggunaan iptek pada industri adalah “padat modal”. Industri yang berbasis Iptek tersebut memerlukan tenaga kerja yang sedikit namun dengan kualifikasi yang sangat tinggi. Kondisi yang tidak mungkin terdapat di pedesaan dengan jumlah tenaga kerja menggunakan konsep “padat karya” melimpah namun kualifikasi yang ada sangat rendah. Di pedesaan lebih cocok dengan industri yang

Wabah Wabah adalah istilah umum untuk menyebut kejadian tersebarnya penyakit pada daerah yang luas dan pada banyak orang, maupun untuk menyebut penyakit yang menyebar tersebut. Wabah dipelajari dalam epidemiologi. Dalam peraturan yang berlaku di Indonesia, pengertian wabah dapat dikatakan sama dengan epidemi, yaitu berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Epidemi Epidemi digolongkan dalam berbagai jenis berdasarkan pada asal-muasal dan pola penyebarannya. Epidemi dapat melibatkan paparan tunggal (sekali), paparan berkali-kali, maupun paparan terus-menerus terhadap penyebab penyakitnya. Penyakit yang terlibat dapat disebarkan oleh vektor biologis, dari orang ke orang, ataupun dari sumber yang sama seperti air yang cemar.

II -43

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Kelaparan Kelaparan adalah suatu kondisi di mana tubuh masih membutuhkan makanan, biasanya saat perut telah kosong baik dengan sengaja maupun tidak sengaja untuk waktu yang cukup lama. Kelaparan adalah bentuk ekstrim dari nafsu makan normal. Istilah ini umumnya digunakan untuk merujuk kepada kondisi kekurangan gizi yang dialami sekelompok orang dalam jumlah besar untuk jangka waktu yang relatif lama, biasanya karena kemiskinan, konflik politik, maupun kekeringan cuaca.

C. Bencana Sosial Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antar kelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror. Bencana sosial hakekatnya timbul karena ulah manusia sendiri dan memiliki dampak yang tidak kalah destruktifnya daripada bencana alam, maka upaya mereduksi bencana sosial perlu dilakukan sejak dini sebagai langkah antisipasi dan menjadi bagian dari sistem peringatan dini (early warning system).

Konflik Sosial
Secara konflik sosial orang dimana pihak sosiologis, diartikan antara atau salah dua lebih satu sebagai suatu proses

(bisa juga kelompok) berusaha

II -44

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Faktor penyebab konflik 1. Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur. 2. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadipribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran

II -45

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. 3. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadangkadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. 4. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam

masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah

II -46

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahanperubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

Akibat konflik Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut : 1. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. 2. Keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. 3. Perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dan lain-lain. 4. Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. 5. Dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Jenis Konflik 1. Konflik antara pendukung dalam pemilihan kepala desa. 2. Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar kampung/desa). 3. Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).

II -47

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

4. Konflik antar agama dan/atau konflik antar agama dengan kepercayaan serta kepercayaan dengan kepercayaan. 5. Konflik antar politik atau keyakinan yang dianut.

Kerusuhan sosial
Kerusuhan sosial adalah rangkaian tindakan seseorang dan kelompok massa berupa pengrusakkan dan pembakaran sarana dan fasilitas umum, sosial, ekonomi, hiburan, agama-agama, dapat terjadi di dan lain-lain. desa Kekerasan dan kerusuhan sosial wilayah maupun perkotaan. Kekerasan dan kerusuhan sosial dapat dilakukan oleh masyarakat berpendidikan maupun yang tak pernah mengecap pendidikan; mereka yang beragama maupun tanpa agama. Kekerasasan sosial atau tindak kekerasan kepada seseorang serta masyarakat [tertentu], bisa dan biasanya dilakukan terencana [terang-terangan maupun diam-diam] oleh pemerintah, umat [yang katanya] beragama, kelompok suku dan sub-suku, maupun pribadi. Hal itu dilakukan dengan cara-cara bringas, brutal, dan tanpa prikemanusaan dan melanggar HAM. Misalnya, melalui genocide atau pembersihan etnis; pembasmian suku dan sub-suku; perang antar suku; tawuran antar desa; termasuk di dalamnya membunuh bayi laki-laki atau perempuan yang baru lahir, karena dianggap tidak berguna; melantarkan anak-anak cacad fisik dan mental. Pada umumnya korban kekerasan dan kerusuhan sosial menjadi trauma,

II -48

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

telantar, tercabut secara sosial dan geografis, serta dipaksa dan terpaksa melarikan diri lingkungan hidup dan kehidupannya, lalu menjadi pengungsi ataupun mencari suaka di negara lain. Secara khusus, kekerasan sosial mempunyai karakteristik dan pemicu yang hampir sama, antara lain yaitu: 1. Sentimen SARA; merupakan sumbangan terbesar dalam kerususuhan sosial; biasanya terjadi akibat adanya berbagai gap pada komunitas masyarakat; termasuk umat beragama yang bertindak atas nama agama sebagai penjaga dan polisi moral; dalam arti kelompok masyarakat agama melakukan pengrusakan fasisilitas umum dan hiburan, karena dianggap sumber maksiat serta melanggar etika dan norma sosial serta agama; pada sikon ini, kadangkala, ajaran agama dipakai sebagai alat kekerasan oleh orang-orang yang penuh iri hati serta munafik; mereka penuh dengan kebencian dan iri terhadap kemajuan orang lain 2. Provokasi dari para provakator; biasanya merupakan kekerasan dan kerusuhan pesanan, yang direncanakan agar menutupi ketidakadilan dan kejahatan lainnya 3. Ketidakmampuan menerima kekalahan pada pemilihan pimpinan daerah [wilayah] maupun politik; ada banyak kasus kerusuhan sosial yang terjadi di Indonesia akibat [sesaat] setelah pemilihan lurah [kepala desa], bupati, walikota, bahkan gubernur; calon atau kandidat yang kalah, secara langsung maupun tidak, menggerakkan massa pendukungnya agar melakukan protes dan demonstrasi, yang diakhiri dengan kekerasan serta kerusuhan. 4. Penyebaran dan pemaksaan ideologi terhadap masyarakat, mereka yang menolak, akan ditindas; jika ada komunitas yang menolak maka, mereka akan mengalami berbagai kekerasan berupa pembersihan etnis. 5. Pengaruh kekerasan dari media massa; artinya mereka yang melakukan tindak kekerasasn, terinspirasi oleh media massa, kemudian ingin bertindak sama dengan apa yang didengar, dibaca dan ditontonnya.

II -49

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Teror
Teror tidak atau selalu Terorisme dengan identik kekerasan. Terorisme adalah puncak terrorism aksi is the kekerasan, apex of

violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi Sasaran sedangkan Korban atau sabotase. dan tidak. intimidasi terorisme

sabotase umumnya langsung, tindakan Terorisme

seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Terorisme modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya. Ciri dari suatu tindakan terorisme adalah: 1. Adanya rencana untuk melaksanakan tindakan tersebut. 2. Dilakukan oleh suatu kelompok tertentu. 3. Menggunakan kekerasan. 4. Mengambil korban dari masyarakat sipil, dengan maksud mengintimidasi pemerintah. 5. Dilakukan untuk mencapai pemenuhan atas tujuan tertentu dari pelaku, yang dapat berupa motif sosial, politik ataupun agama. II -50

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

2. KRITERIA BENCANA A. Kriteria Bencana Alam Kriteria adalah ukuran yang menjadi dasar penilaian atau penetapan sesuatu; patokan, barometer, parameter dan ukuran. Kriteria bencana alam didasarkan pada: 1. Jumlah korban penduduk desa yang terkena bencana kurangnya satu Rukun Warga 2. Kerusakan sarana dan prasarana yaitu sekurang-kurangnya 5% dari sarana dan prasarana yang ada 3. Cakupan luas yang terkena bencana yaitu sekurang-kurangnya lebih dari satu Rukun Warga dan 4. Dampak sosial-ekonomi yang timbul yaitu sekurang-kurangnya sekurang-

terhambatnya aktivitas sosial dan ekonomi lebih dari satu Rukun Warga Kriteria tersebut di atas bersifat alternatif dan/atau kumulatif, akan menentukan apakah sebuah peristiwa disebut bencana atau bukan. Konsekuensinya adalah Pemerintah Desa yang harus bertanggung jawab dan membayar ganti ruginya. B. Kriteria Bencana Non Alam Kriteria bencana non alam meliputi: 1. Tersebarnya wabah/epidemi/kegagalan teknologi dan bencana non alam lainnya yang sekurang-kurangnya dialami oleh warga dalam satu wilayah Rukun Warga 2. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal yang menyerang dalam satu wilayah Rukun Warga 3. Timbulnya suatu serangan hewan/binatang secara masal dan masif (meluas) sekurang-kurangnya dalam satu Rukun Warga

II -51

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

C. Kriteria Bencana Sosial Kriteria bencana sosial meliputi: 1. Kesenjangan sosial-ekonomi yang mencolok dalam satu Rukun Warga 2. Rasa ketidakadilan terhadap perlakukan dalam segala bidang kehidupan 3. Tidak tegasnya aparat pemerintah dalam menghadapi persoalan disegala bidang 4. Tidak ada toleransi beragama 5. Munculnya ketakutan yang masal dan masif sekurang-kurangnya dalam wilayah satu Rukun warga.

3. TINGKATAN BENCANA Tingkat bencana lokal pedesaan meliputi: 1. Bencana ringan meliputi satu Rukun Warga 2. Bencana sedang meliputi dua Rukun Warga 3. Bencana berat meliputi lebih dari dua Rukun Warga Penetapan status dan tingkatan bencana kategori, dan kriteria bencana di atas dengan mempertimbaņgkan sumberdaya manusia, finansial, dan teknologi yang tersedia di Desa.

4. PENANGGULANGAN BENCANA Pengertian penanggulangan bencana adalah serangkaian kegiatan baik sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana yang dilakukan untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan memulihkan diri dari dampak bencana. Secara umum kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :

II -52

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

A. Pencegahan Pencegahan adalah upaya yang dilakukan untuk menghilangkaan sama sekali atau memngurangi ancaman, melalui tindakan : 1. Pembuatan hujan buatan untuk mencegah terjadinya kekeringan di suatu wilayah 2. Melarang atau menghentikan penenbangan hutan 3. Menanam tanaman bahan pangan pokok alternative. 4. Menanam pepohonan di lereng gunung.

B. Mitigasi atau Pengurangan Mitigasi atau pengurangan adlah upaya untuk mengurangi atau meredam risiko, kegiatan mitigasi dapat dibagi menjadi dua yaitu fisik dan non fisik yaitu : 1. Membuat bendungan tanggul, kanal untuk mengendalikan banjir, pembangunan tanggul sungai dan lainnya. 2. Penetapan dan pelaksanaan peraturan sanksi, pemberian penghargaan mengenai penggunaan lahan, tempat membangun rumah, aturan bangunan. 3. Penyediaan informasi, penyuluhan, pelatihan, penyusunan kurikulum pendidikan penggulangan bencana.

C. Kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan adalah upaya menghadapi situasi darurat serta mengenali berbagai sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu. Hal ini bertujuan agar warga mempunyai persiapan yang lebih baik untuk menghadapi bencana, dengan tindakan yang dilakukan antara lain : 1. Pembuatan system peringatan dini 2. Membuat system pemantauan ancaman II -53

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

3. Membuat system penyebran peringatan ancaman. 4. Pembuatan rencana Evakuasi 5. Penyusunan rencana darurat, rencana siaga. 6. Pelatihan gladi dn simulasi atau ujicoba. 7. Memasang rmbu evakuasi dan peringatan dini D. Tanggap Darurat Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera setelah bencana terjadi untuk mengurangi dampak bencana, seperti penyelamatan jiwa dan harta benda dengan tindakan yang dilakukan anatara lain : 1. Evakuasi 2. Pencarian dan penyelamatan 3. Penanganan Penderita gawat Darurat 4. Pengkajian cepat kerusakan dan kebutuhan 5. Penyediaan kebutuhan dasar seperti air sanitasi, pangan, sandang papan, kesehatan, konseling untuk mendukung kelancaran kegiatan tanggap darurat. E. Pemulihan Pemulihan adalah upaya yang dilakukan untuk mengembalikan kondisi hidup dan kehidupan masyarakat seperti semula atau lebih baik disbanding sebelum terkena bencana melalui kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi dengan tindakan yang dilakukan adalah : 1. Memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar fisik pendidikan,

kesehatan, perekonomian. 2. Pendampingan secara physicologi agar mengembalikan kepercayaan masyarakat dan menumbuhkan smanagat hidup masyarkat. 3. Memperbaiki kondisi lingkungan dengan memperhatikan daya dukung alam agar tidak terjadi over exploitasi sehingga daya dukung alam tetap terjaga. II -54

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

4. Penyusunan kebijakan dn pembaharuan struktur penanggulangan bencana di Pemerintahan.

5. PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT Penanggulangan bencana berbasis masyarakat adalah upaya yang dilakukan oleh anggota masyarakat secara terorganisir baik sebelum, saat dan sesudah bencana dengan menggunakan sumber daya yang mereka miliki semaksimal mungkin untuk mencegah, mengurangi, menghindari dan memulihkan diri dari dampak bencana. Beberapa alasan pentingnya penanggulangan bencana berbasis masyarakat adalah : 1. Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab semua pihak bukan pemerintah saja. 2. Setiap orang berhak untuk mendapatkan perlindungan atas martabat, keselamatan dan keamanan dari bencana. 3. Masyarakat adalah pihak pertama yang langsung berhadapan dengan ancaman dan bencana, karena itu kesiapan masyarakat menentukan besar kecilnya dampak bencana di masyarakat. 4. Masyarakat yang terkena bencana adalah pelaku aktif untuk membangun kembali kehidupannya. 5. Masyarakat meskipun terkena bencana mempunyai kemampuan yang bias dipakai dan dibangun untuk pemulihan melalui keterlibatan aktif. 6. Masyarakat adalah pelaku penting untuk mnegurangi kerentanan dengan meningkatkan kemampuan diri dalam menangani bencana. 7. Masyarakat yang menghadapi bencana adalah korban yang harus siap menghadapi kondisi akibat bencana.

II -55

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Peran Masyarakat Dalam Penanggulangan Bencana Pada saat kritis masyarakat setempatlah yang mengatasi dampak bencana pada keluarga dan tetangga dengan menggunakan kemampuan yang mereka miliki. Dalam tahap pemulihan yang seringkali membutuhkan waktu panjang dan sumber daya yang banyak, masyarakat memerlukan dukungan karena sumber daya mereka menipis atau habis. Umumnya yang terjadi adalah Pemerintah atau lembaga bantuan dari luar negeri hanya memusatkan perhatian pada upaya tanggap darurat melalui konsultasi yang minim sekali dengan masyarakat setempat dan seringkali masyarakat hanya menjadi objek proyek bantuan darurat. Pada tahap pemulihan kegiatan pemerintah dan lembaga bantuan sangat terbatas apalagi pada tahap sebelum bencana. Melihat kedua hal tersebut di atas maka penting bagi masyarakat untuk menyiapkan diri dengan cara mengurangi ancaman melakukan kegiatan pengurangan dampak ancaman, kesiapsiagaan dan meningkatkan kemampuan dalam bencana.

II -56

KELEMBAGAAN BENCANA

3
III - 1

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

1. UMUM Bencana merupakan kejadian yang tidak dapat dihindarkan, meski ada beberapa bencana yang dapat dihindarkan (terutama bencana akibat ulah manusia). Namun demikian, bila peristiwa itu terjadi, persiapan dan kesiapan masyarakat sebelumnya pada daerah yang terlanda bencana memberikan andil yang sangat signifikan dalam keandalan penanganannya. Hal ini dikarenakan masyarakat setempatlah yang menjadi korban dan mereka pula yang menghadapi situasi dan kondisi akibat bencana tersebut. Adapun para pihak yang ikut bagian dalam penanganan bencana hanya sebatas membantu dan memperingan beban yang diderita. Menilik keadaan yang demikian, di tingkatan masyarakat lokal (kelurahan/ desa) perlu adanya kelembagaan lokal yang memiliki fokus pada penanggulangan bencana. Kelompok ini merupakan kelompok partisipatif aktif dari setiap komponen masyarakat setempat yang berangkat dari kesadaran akan bahaya bencana.

2. PEMBENTUKKAN KELEMBAGAAN Kelembagaan lokal masyarakat penanganan bencana idealnya tumbuh dan terbangun dari kesadaran masyarakat setempat. Mengingat kurangnya informasi yag cukup memadai dan pengetahuan akan kebencanaan, ‘campur tangan’ dari instansi/lembaga yang membidangi kebencanaan mutlak dibutuhkan, yang sudah barang tentu sebagai fasilitator. Lembaga yang dibentuk hendaknya beranggotakan laki-laki dan

perempuan, dan disepakati oleh masyarakat setempat. Keanggotaan bersifat aktif dan sukarela tanpa mengorbankan tanggung jawab yang diembannya. Keterlibatan aktif dari unsur pemerintahan desa, LMD, RW/ RT, Karang Taruna, PKK, Keagamaan, Kependidikan, Ketokohan, dan lain sebagainya, diperlukan dalam lembaga ini.

III - 2

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

A. Manfaat Lembaga penanggulangan bencana ini memiliki banyak manfaat.

Diantaranya adalah, pada jam-jam pertama kejadian bencana dimana merupakan masa kritis bagi korban bencana. Situasi panik (cenderung chaos), banyak korban yang akhirnya meninggal atau menjadi cacat seumur hidup karena tidak mendapatkan pertolongan segera. Oleh karena itu perlu disiapkan sebuah kelompok masyarakat untuk mampu menanggulangi hal-hal seperti itu. Salah satu tugas utama lembaga ini adalah membuat perencanaan untuk mengurangi dampak bencana yang mungkin terjadi di wilayahnya. Apabila diperlukan kemudian, lembaga ini bisa bekerja sama dengan pihak-pihak yang terkait dalam menanggulangi bencana dibawah koordinasi Satlak Penanggulangan Bencana dan Penanganan Pengungsi baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun tingkat Propinsi.

B. Kedudukan Berdasarkan UU tentang Desa, lembaga masyarakat penanggulangan bencana ini merupakan lembaga yang bersifat koordinatif. Lembaga ini secara organisasi di bawah pengawasan LMD, dan merupakan mitra strategis dari pemerintah desa. Kedudukan yang demikian memiliki implikasi bahwa secara periodik, lembaga masyarakat penanggulangan bencana ini diwajibkan memberikan laporan kepada LMD dan ditembuskan kepada kepala pemerintahan desa. Mengingat lembaga masyarakat penanggulangan bencana ini merupakan mitra strategis bagi perintah desa dalam hal penanggulangan bencana, maka dalam menjalankan kegiatannya sudah menjadi keharusan untuk senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah desa. Meskipun lembaga ini bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana, tidaklah berarti memiliki kewenangan mutlak dalam memutuskan misalnya, tingkat bencana, evakuasi, distribusi bantuan, dan sebagainya. Pada tahapan tertentu, lembaga ini memberikan masukan bagi pengambil keputusan tingkat desa dengan menyajikan data-data yang akurat. Namun demikian, bila keadaan sangat mendesak (darurat) lembaga ini dapat mengambil keputusan tanpa harus khawatir melanggar kewenangannya. III - 3

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

C. Keanggotaan Sehubungan watak lembaga yang aktif dan sukarela, keanggotaan lembaga sebaiknya berangkat dari inisiatif warga sendiri. Namun demikian, mengingat tanggung jawab dan tugas berat yang diembannya, terdapat beberapa syarat utama untuk menjadi anggota. Syarat mutlak adalah kesehatan mental dan fisik. Ketenangan dalam menghadapi situasi kritis dan kemampuan mengatasi tekanan keadaan akibat bencana menjadi syarat berikutnya. Kemudian, orang-orang yang tergabung dalam lembaga ini hhendaknya dikukuhkan secara resmi oleh pemerintahan desa setempat dan diumumkan kepada warga desa agar diketahui keberadaan, tugas, dan fungsi dari lembaga ini maupun para anggotanya. Kompleksitas akibat bencana mempunyai implikasi pada keanggotaan. Peran aktif kaum perempuan dalam keanggotaan lembaga ini menjadi penting keberadaannya. Peranan kaum perempuan ini didasarkan atas kenyataan bahwa selama ini merekalah yang sahari-hari mengurusi dan mengelola kebutuhan hidup keluarganya. Pengalaman dan keterampilan tersebut sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tugas-tugas penanggulangan bencana. Jumlah anggota lembaga ini tergantung pada besarnya wilayah dan besarnya cakupan kemungkinan bencana. Untuk sebuah desa yang ratarata mempunyai 500 keluarga, anggota yang diperlukan untuk membentuk lembaga ini sekurang-kurangnya sekitar 45 orang. Lembaga ini dipimpin seotang coordinator umum, dan menurut pengalaman dan kompleksitas akibat bencana, lembaga ini sebaiknya dibagi menjadi 13 regu yang masing-masing memiliki tugas khusus. Masing-masing regu dipimpin oleh seorang koordinator. Sebaiknya penempatan orang-orang pada tiaptiap regu didasarkan atas kemampuan yang menjadi tuntutan tugas dan tanggung jawab regu tersebut. Keanggotaan dari lembaga ini hendaknya mewakili unsur-unsur : a. Tokoh RT/RW b. Tokoh Karang Taruna c. Tokoh Perempuan III - 4

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

d. Masyarakat Terlatih (Tagana, dan sejenisnya) e. Anggota/aktivis LSM masyarakat setempat f. Tokoh Agama/Rohaniawan

g. Tokoh Adat h. Masyarakat Umum yang berminat Kombinasi pria dan perempuan dalam keanggotaan ini perlu diperhatikan. Kenggotaan perempuan dalam lembaga ini bukan sekedar memenuhi kuota perempuan dalam sebuah organisasi. Keanggotaan perempuan dalam lembaga ini hendaknya berimbang. Dari 45 orang anggota, sebaiknya jumlah perempuan tidak kurang dari 20 orang.

3. STRUKTUR ORGANISASI Secara umum, struktur organisasi lembaga ini dibagi sebagai berikut: Koordinator Umum (1 orang) Bidang Penanggulangan (1 orang koordinator) Bidang Operasi (1 orang koordinator) Bidang Komunikasi (1 orang koordinator) Bidang Kesejahteraan (1 orang koordinator) Regu Deteksi Dini (1 orang koordinator) Regu Pemetaan (1 orang koordinator) Regu Perintis (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu SAR dan Tandu (1 orang koordinator dan 4 orang anggota) Regu Keamanan (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu Pengungsian (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu Kebakaran (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) III - 5

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Regu Administrasi dan Dokumentasi (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu Media dan Hubungan Luar (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu Relawan (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Regu Kesehatan dan Pertolongan Pertama (1 orang koordinator dan 4 orang anggota) Regu Dapur Umum (1 orang koordinator dan 3 orang anggota) Regu Hubungan Sosial (1 orang koordinator dan 2 orang anggota) Adapun struktur organisasinya adalah sebagai berikut: Bagan 3.1. Struktur Organisasi Lembaga Penanganan Bencana Tingkat Warga

III - 6

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tanggung Jawab dan Tugas 1. Koordinator Umum Tanggung Jawab Memimpin, mengkoordinasi, memberikan dukungan maupun pemecahan masalah lembaga. Tugas Umum • • • • Menampung masalah yang berkenaan dengan bencana Menjalin dan membina hubungan baik ke dalam maupun keluar Mencukupi kebutuhan seluruh anggota lembaga Menjadi juru bicara masyarakat serta memenuhi kebutuhan organisasi disetiap tahap penanggulangan bencana, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan

Tugas Pokok • • Melakukan koordinasi dengan BPBD KAB/KOTA Menyampaikan beberapa informasi penting pada waktu dibutuhkan kepada para pihak yang berkepentingan • Melakukan koordinasi dan memberikan dukungan penuh segala kegiatan bagian-bagian dan regu-regu dengan menjalin kerjasama yang baik.

2. Koordinator Bagian Penanggulangan Tanggung Jawab Memimpin, mengkoordinasi, memberikan dukungan maupun pemecahan masalah serta memenuhi kebutuhan anggota Bagian disetiap tahap penanggulangan bencana, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Bagian Penanggulangan yaitu Regu Deteksi Dini dan Regu Pemetaan. Tugas Umum • Menampung masalah yang berkenaan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya III - 7

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

• • •

Menjalin dan membina hubungan baik ke dalam maupun keluar Mencukupi kebutuhan seluruh anggota Bagian Menjadi juru bicara masyarakat

Tugas Pokok • Melakukan koordinasi dengan organisasi terkait bidang yang menjadi tanggung jawabnya • Menyampaikan beberapa informasi penting pada waktu dibutuhkan kepada para pihak yang berkepentingan • Melakukan koordinasi dan memberikan dukungan penuh segala kegiatan regu-regu dibawah koordinasinya dengan menjalin kerjasama yang baik.

3. Koordinator Bagian Operasi Tanggung Jawab Memimpin, mengkoordinasi, memberikan dukungan maupun pemecahan masalah serta memenuhi kebutuhan anggota Bagian disetiap tahap penanggulangan bencana, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Bagian Operasi yaitu Regu Perintis, Regu SAR dan Tandu, Regu Keamanan, Regu Pengungsian, dan Regu Kebakaran. Tugas Umum • Menampung masalah yang berkenaan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya • • • Menjalin dan membina hubungan baik ke dalam maupun keluar Mencukupi kebutuhan seluruh anggota Bagian Menjadi juru bicara masyarakat

III - 8

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tugas Pokok • Melakukan koordinasi dengan organisasi terkait bidang yang menjadi tanggung jawabnya • Menyampaikan beberapa informasi penting pada waktu dibutuhkan kepada para pihak yang berkepentingan • Melakukan koordinasi dan memberikan dukungan penuh segala kegiatan regu-regu dibawah koordinasinya dengan menjalin kerjasama yang baik.

4. Koordinator Bagian Komunikasi Tanggung Jawab Memimpin, mengkoordinasi, memberikan dukungan maupun pemecahan masalah serta memenuhi kebutuhan anggota Bagian disetiap tahap penanggulangan bencana, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Bagian Komunikasi yaitu Regu Administrasi dan Dokumentasi, Regu Media dan Hubungan Luar, dan Regu Relawan. Tugas Umum • Menampung masalah yang berkenaan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya • • • Menjalin dan membina hubungan baik ke dalam maupun keluar Mencukupi kebutuhan seluruh anggota Bagian Menjadi juru bicara masyarakat

Tugas Pokok • Melakukan koordinasi dengan organisasi terkait bidang yang menjadi tanggung jawabnya • Menyampaikan beberapa informasi penting pada waktu dibutuhkan kepada para pihak yang berkepentingan • Melakukan koordinasi dan memberikan dukungan penuh segala kegiatan regu-regu dibawah koordinasinya dengan menjalin kerjasama yang baik.

III - 9

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

5. Koordinator Bagian Kesejahteraan Tanggung Jawab Memimpin, mengkoordinasi, memberikan dukungan maupun pemecahan masalah serta memenuhi kebutuhan anggota Bagian disetiap tahap penanggulangan bencana, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Bagian Kesejahteraan yaitu Regu Pertolongan Pertama dan Kesehatan, Regu Dapur Umum, dan Regu Hubungan Sosial. Tugas Umum • Menampung masalah yang berkenaan dengan bidang yang menjadi tanggung jawabnya • • • Menjalin dan membina hubungan baik ke dalam maupun keluar Mencukupi kebutuhan seluruh anggota Bagian Menjadi juru bicara masyarakat

Tugas Pokok • Melakukan koordinasi dengan organisasi terkait bidang yang menjadi tanggung jawabnya • Menyampaikan beberapa informasi penting pada waktu dibutuhkan kepada para pihak yang berkepentingan • Melakukan koordinasi dan memberikan dukungan penuh segala kegiatan regu-regu dibawah koordinasinya dengan menjalin kerjasama yang baik.

6. Regu Deteksi Dini Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan pendeteksian dini, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • Melakukan perkiraan dan penelitian atas situasi dan kondisi lingkungan.

III - 10

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Menjalin dan membina hubungan baik dengan organisasi-organisasi deteksi dini.

• •

Membuat penilaian awal atas sarana dan prasarana yang ada di desa. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan untuk meminimalisasi kemungkinan bencana.

Tugas Tahap Penanganan • Memantau perkembangan suatu bencana dan terus mengawasi kemungkinan-kemungkinan bencana susulan. • Menilai dampak bencana yang terjadi.

Tugas Tahap Pemulihan • Menentukan kebutuhan atas listrik, system komunikasi sementara, serta sanitasi dan pengelolaan sampah. • Menentukan prioritas kebutuhan sarana dan prasarana dasar yang mendesak dan dibutuhkan sehari-hari guna mengurangi penderitaan yang dialami masyarakat.

7. Regu Pemetaan Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan pemetaan dan pendataan, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • Mengumpulkan data dan

keterangan dari masyarakat dan keadaan lingkungan. • Membuat peta bahaya dari

III - 11

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

data

dan

keterangan

yang

didapat. Tugas Tahap Penanganan • Membantu Bagian Operasi.

Tugas Tahap Pemulihan • Menentukan tenaga kerja dan bahan-bahan tersedia pemulihan. • Membuat peta pemulihan. setempat yang untuk kebutuhan

8. Regu Perintis Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan perintisan (clearance area), dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait

Tugas Tahap Penanganan • • Menjamin kelancaran jalur keluar masuk lokasi bencana Membantu menyiapkan tempat penampungan pengungsi

Tugas Tahap Pemulihan • Membantu pembangunan kembali, termasuk pembuatan fasilitas

III - 12

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

sanitasi dan permukiman sementara 9. Regu SAR dan Tandu Tanggung Jawab Mengkoordinasi, naan dengan dan men-

jalankan aktifitas yang berkepenyelamatan dan pencarian korban, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan • Mengikuti pelatihan dan

membina hubungan dengan organisasi terkait Tugas Tahap Penanganan • Menolong, menyelamatkan, mencari korban, serta menangani korban yang meninggal • • • Memilah korban bencana menurut kondisinya Mencari orang yang belum diketemukan Membuat dan menyediakan laporan orang yang belum diketemukan, dan kondiri para korban ke Posko Bencana setempat Tugas Tahap Pemulihan • Menentukan tenaga kerja dan bahan-bahan setempat yang tersedia untuk kebutuhan pemulihan • Membuat peta pemulihan

III - 13

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

10.Regu Keamanan Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan keamanan wilayah bencana dan para korban, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait

Tugas Tahap Penanganan • Mengamankan jalur, menutup daerah bencana dari orang-orang yang tidak berkepentingan. • • Melarang orang yang tidak berwenang masuk ke daerah bencana. Menjaga keamanan lokasi bencana agar Regu lainnya dapat melakukan tugas tanpa gangguan. • Menutup daerah bencana dengan memberikan tanda batas.

Tugas Tahap Pemulihan • • Mengatur arus masuk bantuan ke lokasi bencana. Memasang petunjuk jalan mulai dari luar batas jalan desa sampai ke lokasi bencana untuk kemudahan jalur bantuan. • • Memperbaiki kerusakan jalan untuk kelancaran kendaraan lewat. Mencegah terjadinya tindakan kriminal di lokasi bencana dan menjaga tempat penyimpanan persediaan.

11.Regu Pengungsian Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan pengungsian/konstruksi sementara, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. III - 14

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • Mendata dan menentukan lokasi yang aman untuk mengungsi • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan • Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait Tugas Tahap Penanganan • Mendirikan fasilitas POSKO, dan

sementara

POS-POS bantuan kemanusiaan. • Mempersiapkan fasilitas dan lokasi apabila masyarakat perlu melakukan pengungsian. • Menghitung kebutuhan kendaraan, memanfaatkan kendaraan yang dimiliki warga setempat, maupun meminjam kendaraan warga sekitar apabila kendaraan yang tersedia kurang mencukupi. Tugas Tahap Pemulihan • Koordinasi konstruksi permukiman sementara, termasuk sanitasi dan kebutuhan lain.

12.Regu Kebakaran Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan

penanganan kebakaran, dan bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan.

III - 15

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait.

Tugas Tahap Penanganan • • • • Memadamkan kebakaran. Mematikan aliran listrik. Memindahkan barang berbahaya. Memberikan keterangan kepada Pemadam Kebakaran akan lokasi sumber-sumber air. • Membantu Regu SAR dalam mencari korban.

Tugas Tahap Pemulihan • Membantu pembangunan kembali, termasuk pembuatan fasilitas sanitasi dan permukiman sementara.

13.Regu Administrasi dan Dokumentasi Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan men-

jalankan aktifitas yang berkenaan dengan administrasi dan dokumentasi, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan

dan Pencegahan • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan. • • Menjaga komunikasi diantara Regu dan diantara Bagian. Menyebarluaskan brosur kepada masyarakat.

III - 16

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Memperbanyak dan menyebarkan formulir-formulir isian, dan mengarsipkan hasilnya.

Tugas Tahap Penanganan • Mengatur POSKO, memberikan keterangan kepada orang yang datang, serta mengatur hubungan ke luar • Mempersiapkan daftar tugas untuk semua Regu dan membagikannya sesuai tugas. • Memperbanyak, menyebarkan formulir-formulir isian, membantu mengisi, dan mengarsipkan hasilnya • • Membantu pelapor dalam mengisi permohonan pencarian Menerima laporan daftar kelompok kondisi korban dan membuat laporan jumlah korban • Mengurus papan pengumuman, dan mengisi keterangan umum yang dapat dilihat oleh masyarakat • Mengisi daftar orang yang belum diketemukan, dan hasilnya ditempel pada papan pengumuman POSKO serta diserahkan kepada Regu SAR dan Tandu untuk pelaksanaan pencarian • Menjaga komunikasi diantara Regu dan diantara Bagian

Tugas Tahap Pemulihan • Mengatur POSKO, memberikan keterangan kepada orang yang datang, serta mengatur hubungan ke luar. • Memperbanyak, menyebarkan formulir-formulir isian, membantu mengisi, dan mengarsipkan hasilnya. • Membuata kesimpulan kebutuhan, menentukan prioritas penyaluran sumber daya yang tersedia, mengurus pembukuan dalam proses pemenuhan kebutuhan. • Menerima dan menyalurkan bantuan, serta menjamin transparansi pelaksanaannya. III - 17

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

• •

Mengumpulkan dan meneliti kebutuhan kesejahteraan. Membuat laporan atas seluruh rangkaian proses pemulihan untuk kemudian dilaporkan dalam rapat umum lembaga.

Menjaga komunikasi diantara Regu dan diantara Bagian.

14.Regu Media dan Hubungan Luar Tanggung Jawab • Mengkoordinasi, menjalankan media dan dan aktifitas hubungan

yang berkenaan dengan dengan pihak luar, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait

Tugas Tahap Penanganan • • • • Menghubungi instansi gawat darurat. Menyampaikan informasi bantuan yang dibutuhkan di lapangan. Memberikan laporan tentang keadaan kepada BPBD KAB/KOTA. Menjaga hubungan dengan organisasi-organisasi yang bisa memberi bantuan pada saat darurat dan mendorong penggunaan sumber daya dan SDM lokal. Tugas Tahap Pemulihan • Mencari dan mengenali sumber-sumber bantuan (perseorangan,

III - 18

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

pemerintah, perusahaan, maupun organisasi bantuan resmi). • Dibawah koordinasi BPBD KAB/KOTA, bekerja sama dengan sumber bantuan : √ Menjelaskan keadaan masyarakat. √ Menindak lanjuti bantuan sesuai dengan persyaratan yang diminta. √ Melaporkan perkembangan keadaan setempat kepada sumber bantuan. √ Melaporkan masyarakat. • Dibawah koordinasi BPBD KAB/KOTA, menjaga hubungan dengan media masa : √ Mempersiapkan pernyataan pers dan lembaran fakta. √ Membantu juru bicara dalam wawancara apabila dibutuhkan. √ Memilih dan mempersiapkan orang yang akan diwawancarai. √ Mendampingi orang pada saat diwawancarai. √ Menjelaskan isi lembaran fakta dan pernyataan pers kepada orang yang akan diwawancarai supaya bisa dimengerti sebelum saat wawancara. kembali tanggapan dari sumber bantuan kepada

15.Regu Relawan Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan para relawan penanggulangan bencana, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan Mengumpulkan informasi tentang relawan yang bisa membantu lembaga Mengorganisir relawan yang dapat membantu dalam persiapan Mengikuti pelatihan dan membina hubungan dengan organisasi terkait

III - 19

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tugas Tahap Penanganan • • • Membuat daftar kebutuhan relawan Menghubungi instansi relawan Mencatat data-data pribadi relawan • Menempatkan Regu terkait • Mengatur penginapan dan kebutuhan relawan Tugas Tahap Pemulihan • • • Menjaga hasil pekerjaan semua relawan Mencari relawan lain bila dibuthkan Mengevaluasi pekerjaan relawan dan melaporkannya kepada relawan dalam

Koordinator Umum untuk kebudian disebarluaskan

16.Regu Pertolongan Pertama dan Kesehatan Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan pertolongan pertama dan kesehatan, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan. Mengikuti pelatihan, memperkirakan kebutuhan medis, dan membina hubungan dengan instansi-instansi kesehatan terdekat maupun organisasi terkait. • Mencatat nomor telepon, nama instansi, dan nama orang yang bisa dihubungi, serta kapasitas dan jenis perawatan yang dapat ditangani oleh instansi bersangkutan.

III - 20

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tugas Tahap Penanganan • Dibawah pengawasan dokter yang ada, mengumpulkan semua persediaan obat-obatan yang sudah tersedia di masyarakat. • • Mengurus Pos Kesehatan. Melakukan pertolongan pertama gawat darurat dan pertolongan medis untuk mengurangi penderitaan korban. • • Memberikan alternative tempat untuk melakukan perawatan bagi korban Melakukan penilaian cepat dan laporan tentang perkiraan kebutuhan kesehatan umum. • Melakukan penilaian kondisi mental korban dan langkah-langkah

pertolongannya. Tugas Tahap Pemulihan • Memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat (obat-obatan, vitamin, kesehatan mental, dan sebagainya). • • Melakukan perawatan untuk pasien rawat jalan. Melakukan kerja sama dengan organisasi-organisasi kesehatan untuk bisa mendapatkan, menyimpan, menyalurkan, dan menjaga persediaan peralatan medis dan obat-obatan di bawah pengawasan dokter, apoteker, dan petugas kesehatan yang ada. • Membuat laporan yang kemudian diserahkan kepada Regu Administrasi dan Dokumentasi untuk meminta bantuan dari luar. • Menjaga ketersediaan peralatan medis dan obat-obatan dibawah

pengawasan dokter, apoteker, dan petugas kesehatan. • Membuat laporan rutin atas situasi dan kondisi kesehatan masyarakat berikut perkembangannya untuk kemudian diteruskan kepada Kepala PUSKESMAS setempat.

III - 21

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

17.Regu Dapur Umum Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan operasionalisasi dapur umum, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu.

Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan. Mengikuti pelatihan, memperkirakan kebutuhan untuk mendirikan dapur umum, dan membina hubungan dengan organisasi terkait. Tugas Tahap Penanganan • • Membawa peralatan dan perlengkapan memasak. Memberikan saran kepada masyarakat setempat tentang peralatan yang diupayakan dan mampu dibawa. • • Membawa barang yang berguna untuk keadaan darurat. Mengupayakan dan menyediakan kebutuhan dasar seperti minuman, makanan, dan lainnya, untuk masyarakat dan semua orang yang bertugas.

III - 22

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Tugas Tahap Pemulihan • Menyiapkan dan menyediakan makanan dan minuman bagi mereka yang membutuhkan.

18.Regu Hubungan Sosial Tanggung Jawab Mengkoordinasi, dan menjalankan aktifitas yang berkenaan dengan administrasi dan dokumentasi, serta bertanggung jawab atas segala kegiatan Regu. Tugas Tahap Persiapan dan Pencegahan • • Membantu Regu Deteksi Dini dalam usaha pencegahan. Mengikuti pelatihan, dan membina hubungan dengan organisasi terkait.

Tugas Tahap Penanganan • • Mengatur Pos Kesejahteraan. Mendata dan memperkirakan kebutuhan dasar dan melaporkannya kepada Regu Media dan Hubungan Luar. • Mencari sumber daya yang ada di sekitar untuk memenuhi kebutuhan darurat. • Menyalurkan langsung barang yang sudah diperoleh kepada Regu atau Bagian yang membutuhkannya. Tugas Tahap Pemulihan • • • Mengurus Dapur Umum. Mengatur penempatan orang ke lokasi penampungan sementara. Melakukan penelitian dan mempersiapkan daftar kebutuhan masyarakat yang sedang dilanda bencana (termasuk kebutuhan dasar perorangan atau keluarga, kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan permukiman). • Mencari sumber daya yang ada di sekitar untuk memenuhi kebutuhan darurat.

III - 23

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Melakukan koordinasi dan kerja sama dengan Regu Administrasi dan Dokumenntasi untuk menyalurkan langsung barang yang sudah diperoleh kepada keluarga atau orang-orang yang membutuhkannya.

Mengumpulkan perkiraan kebutuhan dasar dan melaporkannya kepada Regu Media dan Hubungan Luar.

Melakukan kerja sama dengan Dinas Sosial dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, meliputi: √ Air √ Makanan √ Kebutuhan kesehatan √ Cadangan pangan √ Sanitasi √ Tempat perlindungan √ Bahan bakar dan alat masak-memasak √ Kebutuhan pokok lainnya

5. TAHAPAN/LANGKAH-LANGKAH PEMBENTUKAN KELOMPOK MASYARAKAT SADAR BENCANA A. Sosialisasi Tujuan • Membangun/membentuk pemahaman warga akan kebencanaan

(apa saja bencana itu, sebab-akibatnya, maupun antisipasi untuk mengurangi resiko bencana) • Membangun/membentuk kesadaran warga akan pentingnya kelompok (Kelompok Masyarakat Sadar Bencana) penanggulangan bencana di wilayahnya • Membuat kesepakatan bersama untuk membentuk dan mendukung

III - 24

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

tugas-tugas

Kelompok

Ma-

syarakat Sadar Bencana penanggulangan bencana. Keluaran • Warga paham akan bencana, sebab-musababnya, serta akibat yang ditimbulkannya. • Kesepakatan warga untuk

membentuk dan mendukung Kelompok Masyarakat Sadar Bencana bencana. • Beberapa calon relawan terjaring untuk bergabung dalam Kelompok Masyarakat Sadar Bencana penanggulangan bencana melalui sosialisasi tingkat basis maupun tingkat desa/kelurahan. • Agenda pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Bencana penanggulangan

penanggulangan bencana. Pelaksana • BPBD Kabupaten/Kota dibantu oleh Pemerintahan Kecamatan, Desa, LMD, dan Fasilitator. Peserta • • • • • • • Tokoh masyarakat/agama lokal Kader PKK Kader Posyandu Penggiat Karang Taruna Pengurus RT/RW Perwakilan warga dari tiap-tiap RT Masyarakat lainnya yang merasa perlu untuk mengetahui kegiatan sosialisasi ini III - 25

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Langkah Pelaksanaan 1. Pembukaan. 2. Penyampaian Materi Kebencanaan dilanjutkan dengan Tanya-jawab. 3. Penyampaian Pentingnya Kelompok Masyarakat Sadar Bencana

penanggulangan bencana dilanjutkan dengan Tanya-jawab. 4. Fasilitasi pembuatan kesepakatan agenda pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Bencana penaggulangan bencana. 5. Penutup.

B. Musyawarah Pembentukan Kelompok Masyarakat Sadar Bencana Tujuan • Membangun/membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Bencana.

Keluaran • • Struktur organisasi dan susunan orang-orang yang mengisinya Agenda Penyusunan Kelompok Rapat Aktivitas Masyarakat

Sadar Bencana Pelaksana • Pemerintahan tator. Peserta • Para baik relawan atas lokal inisiatif dalam Desa

dibantu LMD dan Fasili-

pribadi maupun hasil penjaringan tahap sosialisasi

III - 26

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Langkah Pelaksanaan • • Pembukaan Penyampaian gambaran akan ‘bencana’ yang mungkin menimpa di wilayah bersangkutan • Penyampaian fungsi atau tugas yang sebaiknya ada atau dilakukan berdasarkan bencana yang mungkin menimpa • Penyampaian bentuk dan struktur organisasi yang ‘ideal’ untuk menjalankan fungsi dan tugas yang ada • • Fasilitasi penyusunan dan penempatan orang-orang dalam struktur Penyampaian bentuk dan struktur organisasi yang ‘ideal’ untuk menjalankan fungsi dan tugas yang ada • • Penyampaian penyusunan agenda kerja selanjutnya Penutup

C. Rapat Penyusunan Agenda Kerja Kelompok Masyarakat Sadar Bencana Tujuan • Menyusun agenda kerja penanggulangan bencana tahap persiapan

Keluaran • • Agenda kerja penanggulangan bencana tahap persiapan Daftar lembaga/organisasi/instansi untuk berkoordinasi dan yang akan dijadikan mitra, terutama dalam penggalangan sumber daya dan pelatihan Pelaksana • Kelompok Masyarakat Sadar Bencana dibantu Fasilitator

Peserta • Seluruh anggota Kelompok Masyarakat Sadar Bencana

III - 27

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Langkah Pelaksanaan • • • Pembukaan Penyampaian gambaran tahapan penanggulangan bencana Pendataan dan inventarisasi lembaga/organasisi/instansi yang

berkaitan dengan kebencanaan, berikut kontak personnya • Menginventarisir aktivitas yang berkenaan dengan penanggulangan bencana tahap persiapan, dan menyusunnya dalam rangkaian kegiatan • • Membagi tugas Penutup

III - 28

PENUTUP

4
IV - 1

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Buku panduan ini dibuat untuk membantu masyarakat dalam meningkatkan usaha penanggulangan bencana yang mandiri supaya bisa bertindak secara cepat dan tepat pada waktu bencana terjadi. Dampak bencana bisa dikurangi karena kemampuan orang-orang yang siap bertindak tepat pada waktu yang diperlukan. Di samping itu, beberapa bencana juga bisa dicegah dengan melakukan tindakan yang tepat. Penggunaan panduan ini bisa membantu masyarakat dalam merencanakan tindakan penanggulangan bencana secara keseluruhan. Dengan penerbitan buku ini, diharapkan bisa meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi tantangan yang mungkin terjadi. Kami berharap seluruh masyarakat yang berkeinginan bisa melaksanakan program penanggulangan bencana di wilayahnya sendiri. Kami juga berharap keberhasilan penuh bagi seluruh masyarakat dalam menciptakan kehidupan yang aman dan berkelanjutan

IV - 2

DAFTAR PUSTAKA

5
V- 1

PANDUAN KELEMBAGAAN MASYARAKAT SADAR BENCANA

Paul Bennet dan Barbara Taylor, Planet yang Bergolak, Jakarta : Erlangga for Kids. S. Arie Priambodo, Panduan Praktis Menghadapi Bencana, Yogjakarta, Kanisius, 2009. Soemarso Slamet Rahardjo, Kembang Iilalang Di Musim Hujan", Jakarta : PT Balai Pustaka, 2003. Usman Syihab, Mencerdasi Bencana: Banjir, Tanah Longsor, Tsunami, Gempa Bumi, Jakarta : Gunung Api, Kebakaran, Jakarta : Grasindo. Yayasan Idep, Penanggulangan Masyarakat Sadar Bencana, Jakarta : Yayasan Idep, 2005. www.jappy.8m.net/whats_new.html http://mis.bnpb.go.id/userfiles/file/jurnal/jurnal%202/04_%20Karakteristik%20Bencana%20Gagal%20Teknologi%20di%20Indonesia.pdf. http://id.wikipedia.org/wiki/Bencana

V- 2

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->