P. 1
makalah sumber hukum islam full

makalah sumber hukum islam full

|Views: 13,624|Likes:

More info:

Published by: O Jelaimtyf-Ms Xemiq on Oct 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/13/2015

pdf

text

original

Ijma' sebagai dasar hukum walaupun terjadi perbedaan, namun

mayoritas ulama' telah sepakat sebagai sumber hukum Islam yang ke

tiga setelah Al-Qur'an dan AI-Hadits. Apabila sudah terjadi ijma' maka

hukum tersebut menjadi dasar beramal yang tidak boleh diingkari.

Artinya :

"Apa-apa yang menurut pendapat kaum muslimin baik,

maka baik (pula) di sisi Allah (HR. Ahmad di dalam Kitab Sunnah-nya)".

Artinya :

"Umatku tidak bersepakat atas kesesatan". (H. R. Ibnu

Majah

3. Macam dan Tingkatan Ijma’

a. Ijma' Sharih, (Sharih dari segi bahasa artinya jelas) yaitu Ijma'

yang memaparkan pendapat banyak Ulama' secara jelas dan

terbuka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Pada saat semua

Ulama' memaparkan pendapatnya, ternyata mereka menghasilkan

pendapat yang sama atas hukum suatu perkara. ljma' jenis ini kita

akui sangat langka karena sangat sulit dicapai darim sekian

banyak Ulama' memberikan sebuah paparan yang sama. Oleh

karena itu, sebagian Ulama' berpendapat bahwa Ijma' semacam ini

hanya dapat terlaksana pada zaman sahabat ketika jumlah mujtahid

masih sedikit dan tempat mereka berdekatan. Ijma' Sharih ini

menempati peringkat Ijma' tertinggi. Hukum yang ditetapkannya

bersifat qat'i, sehingga umat wajib mengikutinya. Maka seluruh

Ulama' sepakat dan menerima untuk menjadikan ijma Sharih ini

sebagai dalil yang sah dan kuat dalam penetapan hukum syari'at

Islam.

b. ljma' sukuti, (Sukuti dari segi bahasa artinya diam) yaitu sebagian

mujtahid memaparkan pendapat-pendapatnya secara terang dan jelas

mengenai suatu hukum suatu peristiwa melalui perkataan atau

perbuatan, sedangkan mujtahid yang lain tidak memberikan

komentar apakah ia menerima atau menolak. ljma' sukuti ini

bersifat dzan dan tidak mengikat. Oleh seabab itu, tidak ada

halangan bagi para mujtahid untuk memaparkan pendapat yang

berbeda setelah Ijma' itu diputuskan. Bagi Imam Syafi'i dan Imam

Malik berpendapat bahwa ljma' sukuti ini tidak dapat dijadikan

dasar hukum. Namun Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin

Hambal berpendapat lain yaitu menjadikannya sebagai dasar

hukum. Mereka yang menerima ljma' sukuti sebagai hujah sebab

menurut kedua Imam tersebut, diamnya mujtahid sebagai tanda setuju.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->