PENGARUH KONDISI EKONOMI KELUARGA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS IV SDN TAWANGREJO 1 TAHUN AJARAN 2009/2010

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional berdasarkan UU RI NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sebagai berikut: Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan pendidikan yang hendak dicapai pemerintah Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pemerintah telah memberikan kesempatan yang luas untuk memperoleh pendidikan bagi seluruh Rakyat Indonesia. Dalam tugasnya sehari-hari guru dihadapkan pada suatu permasalahan yaitu ia harus memberi pengajaran yang sama kepada murid yang berbeda-beda. Perbedaan itu berasal dari lingkungan kebudayaan, lingkungan sosial, jenis kelamin dan lain-lain. Salah satu tujuan siswa bersekolah adalah untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal sesuai dengan kemampuannya. Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui 2 (dua) jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan diluar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Keberhasilan pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga (orang tua), anggota masyarakat dan pemerintah. Pemerintah dan masyarakat menyediakan tempat untuk belajar yaitu sekolah. Sekolah menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang atau kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Bahar dalam Yerikho (2007), menyatakan bahwa: pada umumnya anak yang berasal dari keluarga menengah kaeatas lebih banyak mendapatkan pengarahan dan bimbingan yang baik dari orang tua mereka. Anak-anak yang berlatar belakang ekonomi rendah, kurang dapat mendapat bimbingan dan pengarahan yang cukup dari orang tua mereka, karena orang tua lebih memusatkan perhatiannya pada bagaimana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang dikenal oleh anak dan dalam keluarga ini dapat ditanamkan sikap-sikap yang dapat mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Keluarga bertanggung jawab menyediakan dana untuk kebutuhan pendidikan anak. Keluarga (orang tua) yang keadaan sosial ekonominya tinggi tidak akan banyak mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sekolah anak, berbeda dengan orang tua yang keadaan sosial ekonominya rendah. Contohnya: anak dalam belajar akan sangat memerlukan sarana penunjang belajarnya, yang kadang-kadang harganya mahal. Bila kebutuhannya tidak terpenuhi maka ini akan menjadi penghambat bagi anak dalam pembelajaran.

Bagi Orang Tua Dapat menemukan solusi untuk meningkatkan prestasi belajar anaknya. Keragaman latar belakang ekonomi orang tua tersebut dapat berpengaruh pula pada kemampuan membiayai kepada anak-anaknya.Keadaan yang demikian terjadi juga di SD Tawangrejo 1 Kab. sehingga keadaan sosial ekonomi orang tua merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pendidikan anak. . Manfaat Penelitian Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah : Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini memberi sumbangan kepada ilmu pendidikan tentang pengaruh kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap prestasi belajar siswa. Untuk mengetahui besarnya pengaruh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang berbeda terhadap prestasi belajar Siswa. Manfaat Praktis Bagi Guru Dapat mengetahui prestasi belajar siswa yang dipengaruhi kondisi sosial ekonomi keluarga. dimana sekolah ini menampung siswa-siswinya dari berbagai macam latar belakang ekonomi orang tua yang berbeda. Blora. Perumusan Masalah Perumusan Masalah pada penelitian ini sebagai berikut : Bagaimankah gambaran tentang keadaan sosial ekonomi keluarga siswa kelas IV SD Tawangrejo 1 Kabupaten Blora? Bagaimanakah pengaruhnya kondisi sosial ekonomi keluarga yang berbeda terhadap prestasi belajar Siswa? Tujuan Penelitian Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah : Ingin mengetahui bagaimanakah kondisi sosial ekonomi keluarga kelas IV SD Tawangrejo 1 dan pengaruhnya terhadap prestasi belajar Siswa.

dan hati nurani) serta jasmani (panca indera dan keterampilan-keterampilan). sedang. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan tinggi rendahnya keadaan ekonomi orang tua di masyarakat. memiliki pengetahuan dan ketrampilan. serta keterampilan yang diperlukan dirinya. dan kemampuan yang dikembangkan. 1) Pendidikan prasekolah. Sosial ekonomi menurut Abdulsyani (1994) adalah kedudukan atau posisi sesorang dalam kelompok manusia yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. bangsa dan negara. kesehatan jasmani dan rohani. a. dan rendah. cipta. Pendidikan menurut UU No. akhlak mulia. pendidikan dasar. jenis rumah tinggal. rasa. tujuan yang akan dicapai. Kondisi Ekonomi Keadaan ekonomi setiap orang itu berbeda-beda dan bertingkat. 20 Tahun 2003 pasal 1. Landasan Teori 1. kepribadian yang mantap dan bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. yaitu rokhani (pikir. Jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) terdapat jenjang pendidikan sekolah. pendapatan. prestasinya. pendidikan menengah. pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan . Tingkat Pendidikan Menurut UU RI No. dan pendidikan tinggi. 27 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000). dan jabatan dalam organisasi. Menurut UU RI No. pada dasarnya jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik. 20 Tahun 2003 pasal 3 Pendidikan bertujuan untuk “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan adalah aktivitas dan usaha untuk meningkatkan kepribadian dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya. ada yang keadaan ekonominya tinggi. tingkat pendidikan. pengendalian diri. kepribadian. kecerdasan. dan hak-hak serta kewajibannya dalam hubunganya dengan sumber daya. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didika secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan. masyarakat. pendidikan diselenggarakan melalui jalur pendidikan sekolah (pendidikan formal) dan jalur pendidikan luar sekolah (pendidikan non formal). Untuk mencapai tujuan tersebut.BAB II KAJIAN TEORETIK A. sedangkan menurut Soerjono Soekanto (2001) ekonomi adalah posisi seseorang dalam masyarakat berkaitan dengan orang lain dalam arti lingkungan peraulan. Menurut PP No. jenjang pendidikan sekolah pada dasarnya terdiri dari pendidikan prasekolah. tingkat pendapatan dan pemilikan kekayaan atau fasilitas. diantaranya tingkat pendidikan.

Sekolah Menengah Kedinasan. Pendapatan . yang dapat berbentuk akademi. Semakin lama orang tua bersekolah berarti semakin tinggi jenjang pendidikannya. 28 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000) pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun. 4) Pendidikan Tinggi Menurut UU No. atau menciptakan ilmu pengetahuan. pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan bagi pendidikan dasar. Sekolah Menengah Kejuruan. politeknik. mengembangkan. Contohnya. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi. yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Bentuk satuan pendidikan yang terdiri atas: Sekolah Menengah Umum. 2 tahun 1989 dalam Kunaryo (2000). institut atau universitas. 29 tahun 1990 dalam Kunaryo (2000). Tujuan pendidikan dasar adalah untuk memberikan bekal kemampuan dasar kepada peserta didik untuk mengembangkan kehidupan sebagai pribadi anggota masyarakat. Orang tua yang memiliki pendidikan yang tinggi mempunyai dorongan atau motivasi yang besar untuk menyekolahkan anak mereka. 3) Pendidikan Menegah Menurut PP No. dan kesenian. Diselengarakan selama enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah lanjutan tingkat pertama atau satuan pendidikan yang sederajat. teknologi. 2) Pendidikan dasar Menurut PP No. b. Tingkat pendidikan yang pernah ditempuh orang tua berpengaruh pada kelanjutan sekolah anak mereka. warga Negara dan anggota umat manusias serta mempersiapkan peserta didik untuk mengikuti pendidikan menengah. pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik atau professional yang dapat menerapkan.jasmani dan rohani peserta didik di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. sekolah tinggi. orang tua yang hanya sekolah 6 tahun berarti hanya sekolah sampai SD berbeda dengan orang yang sekolahnya sampai 12 tahun berarti lulusan SMA. Sekolah Menengah Keagamaan. Dalam penelitian ini untuk mengetahui tingkat pendidikan orang tua selain dilihat dari jenjangnya juga dapat dilihat dari tahun sukses atau lamanya orang tua sekolah. dan Sekolah Menengah Luar Biasa.

Biro Pusat Statistik membedakan pendapatan menjadi dua yaitu: 1) Pendapatan berupa barang Pendapatan berupa barang merupakan segala penghasilan yang bersifat regular dan biasa. Fasilitas atau kekayaan itu antara lain: 1) Barang-barang berharga Menurut Abdulsyani (1994). bahwa pemilikan kekayaan yang bernilai ekonomis dalam berbagai bentuk dan ukuran seperti perhiasan. Besar kecilnya pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk akan berbeda antara yang satu dengan yang lain. akan tetapi tidak selalu berupa balas jasa dan diterimakan dalam bentuk barang atau jasa. yaitu hasil bersih usaha yang dilakukan sendiri. Pendapatan sektor formal adalah segala penghasilan baik berupa barang atau uang yang bersifat regular dan diterimakan biasanya balas jasa atau kontrasepsi di sektor formal yang terdiri dari pendapatan berupa uang.Pendapatan adalah jumlah semua pendapatan kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya yang diwujudkan dalam bentuk uang dan barang. hal ini karena dipengaruhi oleh keadaan penduduk sendiri dalam melakukan berbagai macam kegiatan sehari-hari. Demikian juga penerimaan barang secara cuma-cuma. pengobatan. meliputi: gaji. c. 2) Pendapatan berupa uang Berdasarkan bidang kegiatannya. dan pendapatan dari usaha sendiri. televisi. . Pemilikan kekayaan atau fasilitas adalah kekayaan dalam bentuk barang-barang dimana masih bermanfaat dalam menunjang kehidupan ekonominya. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pendapatan orang tua adalah penghasilan berupa uang yang diterima sebagai balas jasa dari kegiatan baik dari sektor formal dan informal selama satu bulan dalam satuan rupiah. pendapatan meliputi pendapatan sektor formal dan pendapatan sektor informal. transportasi. pendapatan yang diperoleh dari keuntungan sosial. kulkas dan lain-lain dapat menunjukkan adanya pelapisan dalam masyarakat. Barang dan jasa yang diterima/diperoleh dinilai dengan harga pasar sekalipun tidak diimbangi ataupun disertai transaksi uang oleh yang menikmati barang dan jasa tersebut. perumahan. Pendapatan sektor informal adalah segala penghasilan baik berupa barang maupun uang yang diterima sebagai balas jasa atau kontraprestasi di sektor informal yang terdiri dari pendapatan dari hasil infestasi. Berdasarkan jenisnya. komisi dan penjualan dari hasil kerajinan rumah. pembelian barang dan jasa dengan harta subsidi atau reduksi dari majikan merupakan pendapatan berupa barang. upah dan hasil infestasi dan pendapatan berupa barang-barang meliputi: beras. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas. maupun yang berupa rekreasi.

Menurut slameto. akrab dan penuh kasih sayang akan memberi motivasi yang mendalam. sehingga dapat memotivasi anak untuk berprestasi. mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Barang-barang yang berharga tersebut antara lain tanah. Juga orang tua yang terlalu keras mendidik anak mengakibatkan anak menjadi penakut. 4. 2) Suasana keluarga. Perlu ditanamkan kepada anak kebiasaan-kebiasaan yang baik agar mendorong semangat anak dalam belajar. sawah. Pengertian Prestasi Belajar. 5) Latar belakang kebudayaan. maka setelah anak sekolah akan menjadi siswa yang kurang bertanggung jawab dan takut menghadapi tantangan kesulitan. masyarakat. dapat menjadi penghambat anak dalam belajar. menyebabkan anak kurang semangat untuk belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar. Bila anak sedang belajar jangan diganggu tugas-tugas rumah. Semakin banyak kepemilikan harta yang bernilai ekonomi dimiliki orang tua maka akan semakin luas kesempatan orang tua untuk dapat menyekolahkan anak-anaknya. Menurut Catharina (2006) prestasi belajar .Dalam penelitian ini barang-barang dapat menunjukkan keadaan ekonomi seseorang. faktor jasmaniah. Faktor intern meliputi. Seseorang yang telah melakukan suatu pekerjaan tentunya mengaharapkan untuk memperoleh suatu hasil dari kegiatanya. Misalnya: orang yang mempunyai mobil akan merasa lebih tinggi tingkat ekonominya dari pada orang yang mempunyai sepeda motor. anak dalam belajar kadang-kadang memerlukan sarana yang kadang-kadang mahal. tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga. sekolah. Barang-barang tersebut bisa digunakan untuk membiayai pendidikan anak. rumah dan lain-lain. hubungan keluarga yang kurang harmonis. Kendaraan pribadi dapat digunakan sebagai alat ukur tinggi rendahnya tingkat ekonomi orang tua. orang tua yang memanjakkan anaknya. 4) Keadaan ekonomi keluarga. Apabila anak mengalami kesulitan di sekolah diharapkan orang tua untuk membantu memecahkan kesulitan tersebut. secara umum faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor intern dan faktor ekstern Slameto (2003:54). orang tua memberi dorongan semangat kepada anaknya. Suasana yang menyenangkan. anak dalam belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. 2) Jenis-jenis kendaraan pribadi. 3) Pengertian orang tua. 5. kelelahan dan psikologis sedangkan faktor ekstern meliputi faktor keluarga. Bila keadaan ekonomi keluarga tidak mencukupi. dan orang tua dapat mencukupi semua fasilitas belajar anak. Faktor keluarga juga dibagi menjadi 5 bagian yang meliputi : 1) Cara mendidik.

menganalisis. Kerangka Berfikir Berdasarkan landasan teori tersebut. Untuk mengetahui prestasi belajar setiap siswa perlu dikatakan penilaian atau evaluasi. Berbeda dengan keluarga yang mempunyai penghasilan relatif rendah. Menurut Hamalik (1983) keadaan ekonomi yang baik dapat yang menghambat ataupun mendorong dalam belajar. Pengaruh Kondisi Ekonomi Terhadap Prestasi Belajar Keluarga dengan pendapatan cukup atau tinggi pada umumnya akan lebih mudah memenuhi segala kebutuhan sekolah dan keperluan lain. Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh. sehingga suatu perolehan perubahan tingkah laku baru dapat diartikan sebagai hasil belajar. dan bentuk dari hasil belajar itu dapat berupa pengetahuan.merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar. keterampilan ataupun nilai-nilai hidup. belajar itu sendiri merupakan proses latihan yang berfungsi efektif untuk jangka waktu tertentu dan hasil belajar itu perlu. begitu juga dengan keperluan lainnya. Masalah biaya pendidikan juga merupakan sumber kekuatan dalam belajar karena kurangnya biaya pendidikan akan sangat mengganggu kelancaran belajar. namun dalam penelitian ini yang dimaksud dengan “Prestasi Belajar” adalah informasi nilai yang menunjukkan tingkat ketercapaian tujuan pembelajran yang telah ditetapkan dalam garis-garis program pembelajaran dalam hal ini prestasi belajar ditunjukkan dengan nilai raport semester 1 pada kelas IV. sebab segala kebutuhan anak yang berkenaan dengan pendidikan akan membutuhkan ekonomi keluarga (orang tua). kondisi ekonomi keluarga (independent) yang dilambangkan (X) mempunyai hubungan dengan prestasi belajar siswa sebagai variabel terikat (dependent) yang dilambangkan (Y) yang didapat anak di sekolah. karena berfungsi positif bagi tingkah laku lain. Salah satu fakta yang mempengaruhi tingkat pendidikan anak adalah pendapatan keluarga. Tidak semua perubahan tingkah laku dapat dikategorikan sebagai suatu hasil belajar. pada umumnya mengalami kesulitan dalam pembiayaan sekolah. jadi hasil belajar itu harus membawa perubahan dan perubahan itu terdapat dalam keadaan sadar dan disengaja. Jika nilai raport > 65 berarti sudah mencapai ketuntasan. Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan suatu perubahan tingkah laku dikategorikan sebagai hasil belajar. garis-garis besar program pengajaran atau dalam perangkat perencanaan kegiatan pembelajaran lainnya.dengan kondisi aB . tetapi jika nilai raport < 65 maka belum mencapai ketuntasan. Penilaian proses dan hasil belajar bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pendidikandan atau tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Hasil belajar itu merupakan usaha dari kegiatan yang disadari. Ada beberapa persyaratan. Tingkat ekonomi keluarga mempunyai pengaruh yang tinggi terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. Persyaratan itu adalah bahwa hasil belajar itu merupakan pencapaian dari suatu tujuan belajar. 6. dan menafsirkan data tentang proses yang berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna pengambilan keputusan.

(independent) (X) Kondisi Ekonomi Keluarga Variabel Terikat (dependent) (Y) Prestasi Belajar Siswa C. . BAB III METODE PENELITIAN A. Oleh karena itu dimungkinkan dengan kondisi ekonomi keluarga.ekonomi keluarga (X). diharapkan prestasi belajar (Y) anak dapat lebih baik. prestasi belajar anak menjadi lebih baik dibandingkan kondisi ekonomi keluarga yang rendah. Hipotesis Dari paparan teoritis sebagaimana uraian diatas maka dapat dirumuskan hipotesis bahwa ada pengaruh tingkat ekonomi keluarga (orang tua) terhadap prestasi belajar siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1. Subyek Penelitian Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh orang tua siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010 yang terdiri dari 35 orang tua siswa.

Variabel terikat (Y) Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar. Metode angket Dalam penelitian ini. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan tujuan mendapatkan sampel yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan. adalah kondisi ekonomi keluarga. Variabel Bebas (X) Variabel bebas dalam penelitian ini.adalah: 1. yaitu: 1. D.Sampel dan Tekhnik Sampling. Hubungan antara faktor yang mempengaruhi tingkat ekonomi keluarga (variabel babas) terhadap prestasi belajar (variabel terikat) dapat ditunjukkan pada skema berikut: Variabel bebas (X) (Tingkat Ekonomi Keluarga) Tingkat Pendidikan Tingkat Pendapatan Kepemilikan Kekayaan/Fasilitas Variabel Terikat (Y) Prestasi Belajar Siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 Keterangan variabel bebas X mempengaruhi variab leterikatY. yang terdiri dari: a. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang dipakai. Tingkat Pendidikan b. 2. angket digunakan untuk mengetahui kondisi ekonomi keluarga. yaitu rata-rata nilai raport semester 1 siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010. Siswa yang masih memiliki orang tua dan masih bekerja dalam suatu instansi maupun wiraswasta. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010. Pemilikan Kekayaan atau Fasilitas 2. Metode dokumentasi . Kriteria dalam pengambilan sampel adalah : Seluruh siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun ajaran 2009/2010. Tingkat Pendapatan c.

Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden. Mencari persamaan garis regresi. Untuk alternatif jawaban c diberi skor 2 4). Analisis Regresi Sederhana Metode ini digunakan untuk menghitung sejauh mana pengaruh antara kondisi ekonomi keluarga terhadap prestasi belajar siswa. yang berasal dari angket bertingkat maka perlu diketahui skor yang diperoleh responden dari hasil angket yang telah diisi (Arikunto. Untuk itu perlu ditentukan kriteria penskoran sebagai berikut : 1).Metode dokumentasi digunakan untuk mengetahui nilai raport semester 1 siswa kelas IV SDN Tawangrejo 1 tahun pelajaran 2009/2010. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menggunakan teknik analisis ini. Menurut Ali dalam Aryana (2004) langkah yang selanjutnya adalah menentukan skor tersebut kedalam rumus sebagaiberikut: DP = n x 100% N Keterangan: DP = Deskriptif persentase n = Nilai yang diperoleh N = Jumlah seluruh nilai yang diharapkan Data yang di peroleh melalui angket (sebagai metode utama) dianalisis dengan langkahlangkah sebagai berikut: 1). yaitu: Membuat tabel distribusi jawaban angket X dan Y Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan. Digunakan tekhnik analisis regresi linear satu variabel. 2006). Membuat tabulasi data. Untuk alternatif jawaban a diberi skor 4 2). Untuk alternatif jawaban b diberi skor 3 3). Untuk mempermudah analisis data. 2005): . 2). Metode Analisis Data 1. Data yang telah ditabulasi kemudian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi sederhana untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kondisi sosial ekonomi orang tua siswa terhadap prestasi belajar. E. Deskriptif Presentatif Deskriptif presentatif digunakan untuk memberikan deskriptif atau pembahasan dalam penelitian ini. dengan persamaan sebagai berikut (Sugiyono. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis adalah sebagai berikut: a. Untuk alternatif jawaban d diberi skor 1 2. 3). Mengelompokkan data sesuai dengan jenisnya.

Y = a + bX Y : Variabel terikat (Prestasi belajar) a : konstanta b : koefisien regresi variabel X X : variabel bebas (Kondisi sosial ekonomi) b. Koefisien determinasi . Uji signifikan garis regresi dari harga F regresi. c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful