P. 1
HAKIKAT PEMBELAJARAN

HAKIKAT PEMBELAJARAN

|Views: 197|Likes:
Published by Abank Mukhlisin

More info:

Published by: Abank Mukhlisin on Oct 23, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/28/2014

pdf

text

original

DAFTAR ISI DAFTAR ISI ……………………………………………………………………. 1 BAB I PENDAHULUAN …...…………………………………………………………..

2
 Pengetian Hakikat Pembelajaran …………………………………………. 4

 Jenis-Jenis Pembelajaran …………………………………………………. 5
 Jenis Pembelajaran berdasarkan Pendekatan ...…………………………… 9

 Tinjauan dan Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran ……………………….. 11
 Strategi Pembelajaran …………………………………………………… 19

KESIMPULAN …………………………………………………………………. 25 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………... 26

1

BAB I
PENDAHULUAN
Ditinjau dari prosesnya pendidikan adalah komunikasi dalam arti kata bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen yang terdiri atas manusia, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Lazimnya pada tingkatan bawah dan menengah pengajar itu disebut guru, sedangkan pelajar disebut dengan murid; pada tingkatan tinggi pengajar dinamakan dengan dosen, sedangkan pelajar dinamakan dengan mahasiswa. Pada tingkatan apapun proses komunikasi antara pelajar dan pengajar itu pada hakekatnya sama saja. Perbedaannya hanyalah pada jenis pesan serta kualitas yang disampaikan oleh si pengajar kepada di pelajar. Perbedaan komunikasi dan pendidikan terletak pada tujuannya atau efek yang diharapkan. Ditinjau dari efek yang diharapkan itu, tujuan komunikasi sifatnya umum, sedangkan tujuan pendidikan sifatnya khusus. Kekhususan inilah yang dalam proses komunikasi melahirkan istilah-istilah khusus seperti penerangan, propaganda, indoktrinasi, agitasi dan pendidikan. Tujuan pendidikan adalah khas atau khusus, yaitu meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Jelas perbedaannya dengan tujuan penerangan, propaganda, indoktrinasi dan agitasi sebagaimana disinggung di atas. Tujuan pendidikan akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Dalam pendidikan, terdapat proses pembelajaran. Pembelajaran ialah membelajarakan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Mengajar sendiri adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti yang luas. Sedangkan belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, prilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar.

2

Hal ini membedakan dengan mengajar dalam arti menanamkan pengetahuan. Perbedaan itu ditunjukkan pada mengajar di sini adalah usaha dari pihak guru untuk mengatur lingkungan. sedangkan guru hanya dapat membimbing anak. sehingga terbentuk suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar. Artinya yang belajar adalah anak sendiri. dan guru berperan sebagai meneger of learning. Dari pengertian tersebut mengajar mempunyai dua arti.Dengan demikian maka mengajar haruslah mengatur lingkungan agar terjadi proses belajar mengajar dengan baik. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku siswa. Dua arti belajar di atas menunjukkan bahwa pelajaran lebih bersifat pupil-centered. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa mengajar bukan upaya guru untuk menyampaikan bahan. yaitu: menyampaikan pengetahuan kepada siswa dan membimbing siswa. sedangkan tugas guru adalah mengatur lingkungan dan 3 .BAB II HAKIKAT PEMBELAJARAN  Pengertian dan ciri-ciri pembelajaran Pembelajaran atau mengajar adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku siswa. Sedangkan proses pembelajaran Menurut Corey (1986: 195) adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkan laku tertentu dalam kondisi.kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu. Mengajar yang berarti menanam pengetahuan. tujuannya adalah penguasaan pengetahuan anak. Uraian di atas memberikan batasan-batasan yang benar mengenai belajar yaitu: Mengajar adalah membimbing aktivitas anak. Artinya yang belajar adalah anak itu sendiri dan berkat kegiatannya sendiri. yang biasanya pelajaran bersifat teacher-centered. tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan. Hal ini disebabkan karena pembelajaran adalah upaya guru untuk supaya siswa mau belajar. Hal di atas berbeda dengan pengertian belajar: “suatu aktivitas mengatur dan mengorganisasi lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar”.

merasa. Dari pengalaman. Ia harus belajar berpikir. untuk itu pelajaran hendaknya dihubungkan dengan kehidupan anak dalam lingkungannya. Komponen pembelajaran secara garis besar terdiri dari. Lingkungan jauh lebih luas dibandingkan dengan buku dan kata-kata guru. Dan perlu pula memperhatikan dari pelaku belajar (siswa) dan pelaku pembelajaran (guru). metode dan media pembelajaran dan penilaian. Dengan upaya tersebut diharapkan anak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. kecakapan. anak memperoleh pengertian-pengertian. penghargaan. tujuan. Pengalaman adalah proses dan hasil interaksi anak dengan lingkungan. Artinya mengajar adalah mengantarkan anak agar bakatnya berkembang. Dalam pelaksanaan pembelajaran. Mengajar berarti membantu anak berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungan. dan lain sebagainya. bahan. disamping memperhatikan ke 5 komponen dasar di atas ternyata masih harus dipertimbangkan pula lingkungan untuk membentuk situasi yang menyenangkan di dalam pembelajaran. sehingga terjadi proses belajar. yaitu: • • Adanya tujuan. Seluruh lingkungan anak adalah sumber belajar. Hal ini agar lebih sanggup mengatasi masalah-masalah dalam kehidupannya. Seluruh rangkaian penjelasan tentang mengajar di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan mengajar di sini adalah juga termasuk di dalamnya mendidik. 4 . Mengajar berarti membimbing pengalaman anak. sikap. tetapi juga membimbing ke arah norma yang benar.membimbing aktivitas anak. Adanya bahan yang sesuai dengan tujuan. Jadi bukan saja mentransfer pengetahuan. Sedangkan membantu anak untuk supaya dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dapat diupayakann dengan memberikan pelajaran yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. Jadi interaksi dengan lingkungan itulah yang dinamakan belajar. termasuk lingkungan sosialnya. kebiasaan. dan berbuat sesuai dengan norma-norma lingkungan. Untuk itu dalam pembelajaran perlu adanya komponen-komponen pendukung dengan tujuan supaya proses pembelajaran berjalan dengan baik. Atau dapat dikatakan bahwa mengajar atau pembelajaran adalah aktivitas mengatur lingkungan. Dari sini dapat ditunjukkan ciri-ciri pembelajaran.

Tiga cara tersebut adalah pembelajaran secara individual. Siswa dapat memiliki kesempatan untuk menyusun program belajar 5 . Adanya siswa yang melaksanakan belajar. dan intensitas belajar dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan. Tujuan pembelajaran individual adalah memberi kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri. Adanya situasi yang subur. Pemberian bantuan dan bimbingan secara individual dapat dilakukan pada pembelajaran individual ataupun pembelajaran klasikal. Pembelajaran individual dalam pembelajaran individual dengan cara guru memberi bantuan pada masing-masing pribadi. Berdasarkan cara mengorganisasi siswa. Kebebasan menggunakan waktu belajar. Jenis-jenis Pembelajaran o Jenis belajar berdasarkan cara mengorganisasi siswa Jenis pembelajaran dapat ditentukan dari cara mengorganisasi siswa ataupun dari pendekatan pembelajarannya. Adanya guru yang melaksanakan pembelajaran. Keleluasaan dalam mengontrol kegiatan. Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual adalah keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri. ada 3 cara yang dapat dilakukan guru dalam mengelola siswa. Contohnya misalnya siswa diminta untuk membaca dalam hati pada pokok bahasan tertentu. Adanya penilaian. Siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar. pembelajaran secara kelompok dan pembelajaran klasikal. supaya pembelajaran berjalan efektif dan efisien.• • • • •  Adanya metode dan media pembelajaran. kecepatan. sedangkan bantuan individual dalam pembelajaran klasikan dengan cara guru memberi bantuan individu secara umum. o Pembelajaran secara individual Pembelajaran secara individual adalah kegiatan pembelajaran yang menitik beratkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masingmasing individu.

Penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa bertujuan untuk menimbulkan perasaan bebas dalam belajar. (3) mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan. Cara yang dapat dilakukan antara lain: 6 . membuat program sesuai dengan kemampuan siswa. (4) membagi perhatian pada sejumlah siswa.sendiri. materi. Dalam kegiatan ini guru berperanan sebagai penasihat atau pembimbing. (2) membuat variasi belajar supaya tidak menimbulkan kebosanan. dan membantu siswa untuk melihat kemajuan. (2) mendengarkan secara simpatik terhadap segala ungkapan jiwa siswa. dan sumber. dengan tujuan untuk mempermudah proses belajar. merencanakan pelaksanaan belajar. Fasilitator yang mempermudah belajar. dengan cara antara lain membantu menetapkan tujuan belajar. Dilakukan dengan cara antara lain: (1) membuat hubungan akrab dan peka terhadap kebutuhan siswa. menurut tugas dan kebutuhan siswa. (3) tanggap dan memberi reaksi positip terhadap siswa. Dalam pengorganisasian ini guru berperan sebagai pengatur dan memonitor semua kegiatan dengan cara: (1) memberi orientasi umum sehubungan dengan belajar topik tertentu. (4) membina suasana aman sehingga siswa bebas mengemukakan pendapat. Pengorganisasian kegiatan belajar. Kedudukan guru dalam pembelajaran individual adalah membantu dalam perencanaan kegiatan belajar. (5) memberi balikan terhadap setiap siswa. dan (6) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unjuk hasil belajar.

Pada peran guru dalam pembelajaran kelompok adalah pembentukan kelompok. (4) menjadi teman dalam mengevaluasi keberhasilan. Tiap anggota mempunyai tanggung jawab terhadap kelompok. antara 3-8 orang. Memiliki rasa saling membutuhkan dan saling tergantung. 7 . Mengembangkan sikap sosial dan bergotong royong. latar belakang pengalaman siswa. Penekanan pembelajaran ini pada peningkatan kemampuan individu sebagai anggota kelompok. Pertimbangan dalam pembentukan kelompok adalah tujuan yang akan diperoleh siswa dalam kelompok.Mengembangkan kemampuan memimpin. Ada interaksi dan komunikasi antar anggota.(1) membimbing siswa belajar. (5) memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki diri. (3) memberi penguatan belajar. minat atau pusat perhatian siswa.  Pembelajaran secara kelompok Pembelajaran kelompok adalah pembelajaran dengan cara kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti siswa. Tujuan pembelajaran kelompok adalah memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional. Ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok. (2) menyedia media dan sumber belajar. Prosedur dan cara kerja dimengerti siswa.Tiap siswa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok.Tidak semua bidang studi atau pokok bahasan sesuai diorganisasi dengan pembelajaran ini.Pembelajaran ini dapat efektif bila disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa. Kelemahan pembelajaran individual adalah bila jumlah siswa banyak maka pembelajaran ini kurang efisien. karena akan melelahkan guru. Kedudukan siswa dalam kelompok adalah tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok.

Sedangkan pengelolaan kelas biasanya dilakukan karena adanya masalah disaat pembelajaran. (2) saat siswa berdiskusi tugas guru sebagai fasilitator. Tujuannya untuk saling melengkapi dalam pemecahan masalah pelaksanaan. di mana sumber masalah tersebut antara lain dari kondisi tempat belajar ataupun dari siswa yang terlibat dalam pembelajaran. yaitu pengelolaan pembelajaran. Tugas guru dalam tugas kelompok antara lain: (1) memberi informasi umum tentang pelaksanaan diskusi. Contoh sumber masalah dari kondisi tempat belajar misalnya ruang kotor. Karena guru harus menghadapi siswa dengan jumlah banyak. kursi rusak. sedangkan pengelolaan kelas adalah penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. yaitu: (1) dengan paralel. dan lain sebaginya. Melaksanakan tindakan-tindakan antara lain: Penciptaa tertib belajar di kelas. Pengelolaan pembelajaran adalah kegiatan untuk melaksanakan desain instruksional. 8 . Kelemahan ini dapat diatasi dengan memberikan pembelajaraan individual dalam pembelajaran klasikal. Kelebihan pembelajaran ini adalah efisien dan murah. (2) dengan komplementer. Evaluasi hasil belajar kelompok. Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah untuk menentukan bentuk tugas. Sedangkan kelemahannya adalah kurang dapat memperhatikan kebutuhan individual. Sedangkan sumber dari siswa dapat secara individu ataupun kelompok. Tindakan pembelajaran kelas antara lain: Penyususunan desain instruksional.  Pembelajaran secara klasikal Pembelajaran klasikal yaitu pembelajaran yang dilaksnakan secara klasikal atau diikuti siswa dalam jumlah berkisar antara 1. Tugas kelompok paralel berarti semua kelompok mempunyai tugas yang sama. (3) pada akhir diskusi guru berperanan sebagai evaluator terhadap hasil diskusi. Sedangkan tugas komplementer bearti masing-masing kelompok mempunyai tugas yang berbeda. maka dalam pembelajaran klasikal diperlukan pelaksanaan dua kegiatan sekaligus. dan pengelolaan kelas. Penciptaan suasana senang dalam belajar.45 orang. papan tulis kotor.Perencanaan tugas kelompok. Tugas yang diberikan dalam kelompok ada dua macam.

Pendekatan Keterampilan Proses Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan yang mengembangkan keterampilan memproseskan pemerolehan. dan menemukan sendiri konsep dan prinsip. dan mampu mengambil keputusan yang 9 . Hal ini dapat dilakukan karena pendekatan keterampilan proses dilakukan sebagaimana layaknya ilmuwan menemukan pengetahuan (menggunakan langkah-langkah metode ilmiah). tetapi juga memperhatikan proses mendapatkan hasil.Pemusatan perhatian pada bahan ajar. Untuk itu pendekatan ini terkesan hanya merupakan pemberian informasi. mampu memecahkan persoalanpersoalan aktual dalam kehidupan. Jenis Pembelajaran berdasarkan Pendekatan Pendekatan Konsep Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mementingkan hasil daripada proses perolehan hasil. sehingga hasilnya kurang bermakna dan bertahan lama. Keterampilan proses ini tidak saja mementingkan hasil. sehingga siswa mampu menemukan dan mengembangkan secara bebas dan kreatif fakta dan konsep serta mengaitkannya dengan sikap dan nilai yang diperlukan. dan pada akhirnya dapat membentuk manusia yang berkualitas. yaitu manusia yang kreatif. Mengikut sertakan siswa aktif belajar. Bagaimanapun pendekatan ini masih pula dibutuhkan dalam pembelajaran.  1. Hal ini disebabkan karena jenis bahan atau mungkin waktu yang tidak memungkinkan dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses semua. Dengan melaksanakan pendekatan ketarmpila proses berarti siswa terlibat seccara aktif dalam kegiatan pengamatan. sehingga materi belajar mudah dikuasai oleh siswa. karena tidak mungkin semua pokok bahasan dapat digunakan pendekatan keterampilan proses. Hanya saja perlu digali bagaimana penerapan pendekatan konsep ini dapat digunakan semaksimal mungkin di dalam pembelajaran. Dengan mengetahui proses diharapkan dapat merangsang daya cipta untuk menemukan sesuatu. 2. Pengorganisasian belajar sesuai kondisi siswa. sehingga kevalidannya dapat diandalkan.

dan sebaginya. merancang eksperimen. dan siswa diharapkan belajar dari informasi yang diterimanya itu. Pengajaran telah diolah oleh guru. Hal ini dapat 10 . Pendekatan ini mengutamakan perkembangan afektif siswa sebagai prasyarat dan sebagai bagian integral dari proses belajar. Pendekatan Humanistik Suatu pendekatan yang berpusat pada siswa (Student centered). melaksanakan eksperimen. yaitu dari khusus ke yang umum. generalisasi. menjelaskan.menjangkau masa depan. yaitu anak harus berperan secara aktif di dalam kelas. Dari sini dapat dilihat bahwa inquiry ini selaras dengan teori belajar yang ditemukan oleh Brunner. 3. hukum atau dalil beserta bukti-bukti yang mendukung. Pendekatan Expository Pada pendekatan expository guru cenderung memberikan informasi yang berupa teori. Perkembangan selanjutnya pendekatan keterampilan proses yang perlu di terapkan terutama dalam pembelajaran IPA adalah pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM). Proses mental itu misalnya mengamati. dan lain sebagainya. Menurut Brunner discovery learning adalah merupakan belajar dengan menemukan sendiri menggunakan prinsip belajar induktif. misalnya merumuskan problem. 5. Berikut akan dibicarakan pendekatan STM. membuat kesimpulan. Sedangkan siswa hanya menerima saja informasi yang diberikan oleh guru. mengelompokkan. Inqury atau penyelidikan mengandung proses mental yang lebih tinggi. Sumber munculnya discovery learning ini adalah teori belajar Piaget. mengumpulkan data. Pendekatan Discovery Discovery atau penemuan adalah proses mental yang dicirikan dengan siswa dapat mengasimilasikan suatu konsep atau prinsip. membuat kesimpulan. menganalisis data. sehingga siap disampaikan kepada siswa. 4.

Tujuan pembelajaran pada jangka panjang sebenarnya akan mencapai pada tujuan pendidikan nasional. dapat dikerjakan. yaitu tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus. dimana merupakan penjabaran dari tujuan instruksional umum. Secara lengkap hierarki tujuan pembelajaran itu adalah sebagai berikut tujuan Pendidikan Nasional. Pendekatan ini ditujukan kepada peningkatan mutu kehidupan individu maupun masyarakat dengan mencari penyelesaian masalah-masalah yang paling mendesak yang dihadapi masyarakat. Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran yang biasanya disebut tujuan instruksional merupakan tujuan yang akan dicapai setelah pembelajaran selesai dilakukan. Rekonstruksionalisme Radikal Pendekatan ini mempunyai tujuan untuk menrombak tata sosial yang ada dan membangun struktur sosial baru. Untuk itu pendekatan ini juga disebut pendekatan rekonstruksi sosisal. Tujuan instruksional umum (TIU) telah tersedia di dalam kurikulum. memahami. Pendekatan Rekonstruksionalisme Suatu pendekatan yang menfokuskan pada masalah-masalah pendting yang dihadapi masyarakat. misalnya mengenal. yang memuat hanya satu pengertian. kebutuhan. Citra tujuan pendidikan nasional adalah terbentuknya manusia pancasila yang utuh dan bertanggungjawab terhadap 11 . 6.  Tujuan dan Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran 1. sehingga mudah diukur keberhasilannya atau dievaluasi. Prioritasnya adalah pengalaman belajar yang diarahkan terhadap tanggapan minat. dan memuat lebih dari satu pengertian. yaitu Rekonstruksionalisme Konservatif. sedangkan tujuan instruksional khusus (TIK) merupakan hasil perencanaan dan perumusan guru.terlaksana apabila kesejahteraan mental dan emosional siswa dipandang sebagai sentral pendidikan. mengerti. Sedangkan TIK menggunakan kata kerja yang bersifat operasional. sehingga sulit diukur keberhasilannya atau dievaluasi. TIU menggunakan kata kerja yang bersifat umum. dan kemampuan siswa. yaitu Pancasila. Pendekatan ini dibagi menjadi dua. Tujuan instruksional ini dibedakan menjadi dua. Tujuan pendidikan nasional didasarkan pada falsafah negara atau way of life nya bangsa Indonesia.

Tujuan tersebut dapat dicapai apabila di dalam pembelajaran berhasil mencapai dua hasil yang diharapkan dari pembelajaran. yang pada akhirnya akat tercapai tujuan pendidikan nasional. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II. biologi. dan dampak pengiring. kesehatan jasmani dan rohani. yaitu terapan pengetahuan dan kemampuan di bidang lain. Secara teoritis memang penjabaran secara struktural tujuan di atas dapat dipertanggungjawabkan. Dampak pengajaran adalah hasil yang dapat diukur (tujuan instruksional khusus). Atau dapat disebut juga tujuan bidang studi. Pasal 4. Tujuan instruksional adalah tujuan yang pencapaiannya dibebankan pada tiap pokok bahasan. yaitu damak pengajaran dan dampak pengiring. kepribadian yang mantab dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. dan seterusnya. Atau dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional merupakan pedoman umum bagi pelaksanaan pendidikan dalam jenis dan jenjang pendidikan. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur. kimia. namun pelaksanaannya sangat sulit. Selanjutnya akan dibahas lebih rinci di bagian lain pada bab ini juga. Rangkaian tujuan pembelajarn di atas mengandung harapan apabila rangkaian tujuan instruksional berhasil. Belum tentu pencapaian tujuan instruksional akan diikuti tercapainya tujuan kurikuler.kesejahteraan masyarakat dan tanah air melalui pembangunan nasional. Dan tujuan pendidikan nasional tersebut akan terwujud dengan dijabarkannya ke dalam tujuan institusional. memiliki pengetahuan dan keterampilan. maka akan berhasil pula tujuan institusionalnya. Tujuan kurikuler ini akan dicapai melalui tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran. Jadi tujuan pendidikan seluruh lembaga pendidikan di Indonesia baik formal maupun non formal mengarah pada tujuan pendidikan nasional tersebut. dan lain sebaginya. Tujuan pendidikan nasional ini tercantum dalam Undang-Undang RI No. 12 . yang berbunyi: Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya. misalnya tujuan sejarah. Tujuan kurikuler adalah tujuan-tujuan yang akan dicapai oleh atau melalui tiap bidang studi.

Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan reduksionisme sebagai berikut :  Pendekatan Pedagogis atau Pedagogisme  Pendekatan Fisolofis atau Filosofisme  Pnedekatan Religius atau Religionisme  Pendekatan Psikologis atau Psikologisme  Pendekatan Negativis atau negativisme  Pendekatan Sosiologis atau Sosilogisme. 1. Faktor internal yang berpengaruh dalam proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi faktor fisiologis dan psikologis. misalnya kecedasan. Lingkungan belajar dapat dibedakan menjadi lingkungan dalam sekolah dan dan lingkungan luar sekolah. Sedangkan faktor psikologis. Teori – teori atau pendekatan reduksionisme sangat banyak dikemukakan didalam khazanah ilmu pendidikan. Bedanya dengan faktor dinamis belajar di atas adalah internal yang dimaksud di dalam pembelajaran adalah dari segi guru (pelaku pembelajaran). Faktor fisiologis misalnya pendengaran. media. bahan ajar. penglihatan. Penjelasannya sama dengan faktor dinamis belajar di atas.2. Sedangkan sistem instruksional antara lain kurikulum. motivasi. dan ingatan. dan kondisi fisik. Sama halnya dengan unsur dinamis belajar. metode. Pendekatan Pedagogisme 13 . Faktor eksternal belajar dapat dibedakan menjadi dua. dan evaluasi. yaitu faktor lingkungan pembelajar dan sistem instruksional. perhatian. berpikir. Unsur-unsur Dinamis Pembelajaran Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran dinamakan unsur-unsur dinamis pembelajaran. maka nnsur dinamis pembelajaran juga dapat mendukung (berpengaruh positif) atau sebaliknya menjadi penghambat (berpengaruh negatif).

anak bukanlah orang dewasa didalam bentuknya yang kecil. namun juga mempunyai berbagai kelemahan karena anak seakan – akan disolasikan dari kehidupan bersama didalam masyarakat. Pedagogisme melahirkan child centered education yang cenderung bahwa anak hidup didalam suatu masyarakat tertentu dan mempunyai cita – cita hidup bersama yang tertentu pula. Dengan demikian pandangan bahwa pendidikan berakhir ketika manusia itu dewasa tidak relevan lagi di dalam dunia informasi dewasa ini dan pendidikan berlaku untuk seumur hidup. Pendekatan Religius Pendekatan religius mengenai hakikat pendidikan menekankan kepada pendidikan untuk mempersiapkan peserta – didik bagi kehidupannya diakhirat. 3. Proses pendidikan yang mempunyai citra religius ini 14 . selain itu manusia itu akan terus – menerus berkembang selama dia hidup. 2. Pandangan ini sudah mulai ditinggalkan oleh karena ternyata manusia tidak pernah akan berhenti untuk memperoleh pendidikan.Pandangan pedagogisme ini memang mempunyai segi – segi yang positif yang sangat menghormati perkembangan anak. Anak manusia mempunyai hakikatnya sendiri dan berbeda dengan hakikat orang dewasa. oleh sebab itu proses pendewasaan anak bertitik – tolak dari anak sebagai anak manusia yang mempunyai tingkat – tingkat perkembangannya sendiri. Anak mempuyai nilai – nilainya sendiri yang akan berkembang menuju kepada nilai – nilai seperti orang dewasa. oleh sebab itu pendidikan agama manjadi yang sentral dalam proses pendidikan. Memang child centered education tersebut antara lain merupakan reaksi terhadap pendidikan yang tidak melihat hakikat anak sebagai makhluk manusia yang hidup didalam dunianya sendiri sehingga perlu memperoleh perlakuan – perlakuan khusus didalam proses mendewasakannya. Pendekatan Fisiolofis Pendekatan fisolofis atau fisiolofisme mengenai pendidikan antara lain bertitik – tolak dari pertentangan mengenai hakikat manusia dan hakikat anak.

Hal tersebut telah mempersempit pandangan para pendidik seakan – akan ilmu pendidikan terbatas pada ilmu mengajar saja. jangan – jangan pendidikan yang sekuler telah ikut memicu berbagai pihak berbagai peperangan serta kemunduran moral manusia dewasa ini. Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan yang sekuler tidak menjawab terhadap kehidupan yang bermoral. didalam pertumbuhan itu perlu disingkirkan hal – hal yang dapat merusak atau yang sifatnya negatif terhadap pertumbuhan itu. dan oleh sebab mengajar merupakan suatu tugas yang setua dengan manusia itu sendiri maka profesi pendidik mendapat penghargaan kurang dari profesi – profesi lainnya. Pendidikan hendaknya berfungsi bukan hanya untuk kehidupan akhirat tetapi juga untuk meningkatkan mutu kehidupan duniawi yang aman dan adil. 2) Ialah yang melihat pendidikan sebagai usaha mangembangkan kepribadian pesert – didik atau dengan kata lain membudayakan 15 .dikenal dalam semua kebudayaan baik di Barat maupun di Timur. Menurut beliau ada tiga teori yang sifatmya negatif yaitu : 1) Teori yang menyatakan bahwa tugas pendidikan ialah menjaga pertumbuhan anak. Di pihak lain kehidupan modern bukan hanya menuntut manusia – manusia yang religius dan bermoral tetapi juga kehidupan yang menuntut penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk memerangi kemiskinan dan kemunduran hidup. Pendekatan Psikologis Psikologisme cenderung mereduksi ilmu pendidikan menjadi ilmu proses belajar dan mengajar. 4. dengan sendiriny pendekatan tersebut lebih memperkuat lagi pandangan pedagogisme seperti yang telah dijelaskan. 5. Pendekatan Negativis Pendekatan negativis atau negativisme didalam urainan ini diambil dari pendapat filosof Bertrand Russel didalm bukunya yang terkenal Education and Social Order.

dengan demikian tidak akan membawa peserta – didik kepada pengambilan keputusan untuk berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Pandangan – pandangan negatif tersebut memang membawa proses pendidikan kepada suatu proses yang defensif atau protektif. 3) Proses pendidikan adalah melatih peserta – didik menjadi warga negara yang berguna. Pandangan sosiologisme cenderung berlawanan arah dengan pedagogisme. peserta – didik dan keseluruhan perbuatan pendidikan termasuk lembaga – lembaga pendidikan telah menampilkan pandangan – pandangan ontologis maupun metafisis tertentu mangenai hakikat pendidikan. 6. Pendekatan Sosiologis Pandangan sosiologisme mengenai hakikat pendidikan terdapat versi yang bermacam – macam. Pandangan ini berarti menghindarkan peserta – didik dari hal – hal yang mengakibatkan dia itu menjadi warga negara yang tidak berguna bagi masyarakatnya.individu. Pendekatan Holistik Integratif Pendekatan – pendekatan reduksionisme melihat proses pendidikan. pada prinsipnya pandangan ini meletakkan hakikat pendiddikan kepada keperluan hidup bersama dalam masyarakat. titik – tolak dari pandangan ini prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada kebutuhan individu. 16 . pandangan ini tidak realistis oleh sebab seseorang didalam masyarakat akan menghadapi kenyataan hidup bermasyarakat yang penuh dengan hal – hal yang positif maupun yang negatif. Pandangan – pandangan tersebut tidak menampilkan hakikat pendidikan secara utuh tetapi sepihak berdasarkan sudut pandangan yang digunakan. Oleh sebab itu proses pendidikan bukanlah suatu proses yang protektif tetapi yang memberikan kesempatan yang seluas – luasnya untuk belajar berdiri sendiri dan mengambil keputusan sendiri secara moral. 7. Pandangan ini di anggap sebagai pandangan yang negatif oleh karena didalam mengembangkan kepribadian anak implisif melindungi dari hal – hal yang negatif yang menghalangi perkembangan kepribadiannya.

Proses tersebut berimplikasikan bahwa di dalam peserta-didik terdapat kemampuan-kemampuan yang immanen sebagai makhluk yang hidup di dalam suatu masyarakat.Tanggung jawab manusia yang ditumbuhkembangkan melalui proses pendidikan bukan hanya mempunyai dimensi lokal tetapi juga berdimensi nasional dan global. Eksistensi manusia yang memasyarakat. membudaya. Pendidikan tidak berhenti ketika peserta-didik menjadi dewasa tetapi akan terus-menerus berkembang selama terdapat interaksi antara manusia dengan lingkungan sesama manusia serta dengan lingkungan alamnya 2. Proses pendidikan yang berkesinambungan berarti bahwa manusia tidak pernah akan selesai. Tidak dapat kita bayangkan apabila interaksi manusia dilumpuhkan.Berdasarkan pengetahuan kita mengenai pendekatan reduksionisme terhadap hakikat khakikat pendidikan maka dapatlah dirumuskan suatu pengertian operasional mengenai hakikat pendidikan sebagai berikut : Hakikat pendidikan adalah suatu proses menumbuhkembangkan eksistensi peserta – didik yang memasyarakat. tujuan atau visi pendidikan adalah kongruen dengan visi masyarakat 17 . 3. Hal ini berarti eksistensi atau keberadaan manusia adalah suatu keberadaan interaktif. Proses pendidikan adalah proses mewujudkan eksistensi manusia yang memasyarakat. Rumusan operasional mengenai hakikat pendidikan tersebut diatas mempunyai komponen – komponen sebagai berikut: Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan 1. Interaksi tersebut bukan hanya interaksi dengan sesama manusia tetapi juga dengan alam dan dunia ide termasuk dengan Tuhannya. Dengan kata lain. nasional dan global. Pendidikan merupakan suatu proses berkesinambungan. dalam tata kehidupan yang berdimensi lokal. Lembagalembaga pendidikan adalah prana sosial masyarakat yang ditugaskan untuk melaksankaan proses pendidikan secara sistematis. Proses pendidikan berarti menumbuhkembangkan eksistensi manusia.

Manusia berpendidikan dan manusia berbudaya. dikembangkan dan dilaksanakan oleh seluruh anggota masyarakatnya. Dengan dimensi waktu. yang menyejarah. Alienasi proses pendidikan dari kebudayaan berarti menjauhkan pendidikan dari perwujudan nilai-nilai moral di dalam kehidupan manusia 6. manusia yang berbudaya. Rumusan ini benar karena lahir dari pengertian bahwa pendidikan adalah aspek dari kebudayaan. kekinian dan visi masa depan. Karena proses pendidikan mengandalkan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat maka dengan sendirinya proses pendidikan adalah penghayatan dan perwujudan nilai-nilai tersebut. adalah kebudayaan Di mana ada kebudayaan di situ ada pendidikan. Dengan demikian scoring yang lelah berkembang sesuai dengan kebudayaannya adalah juga seseorang yang telah memperoleh pendidikan yang bertujuan yang sama dengan perkembangan priadi di dalam kebudayaan di mana pendidikan itu berlangsung. proses tersebut mempunyai aspek historistas. Nilai-nilai tersebut (perlu dihayati. Proses bermasyarakat dan membudaya mempunyai dimensi waktu dan ruang. dilestarikan.di mana pendidikan itu berada. Nilai-nilai tersebut adalah nilai-nilai yang hidup maupun karena inovasi nilai-nilai baru. 5. dan proses pembudayaan adalah proses pendidikan. berarti bawah suatu masyarakat telah berkembang di dalam proses waktu. Di mana ada pendidikan di situ ada kebudayaan. Proses pendidikan dalam masyarakat yang membudaya. Proses pendidikan adalah proses pembudayaan. Menggugurkan pendidikan dari proses pembudayaan merupakan alienasi dari hakikat manusia dan dengan demikian alienasi dari proses humanisasi. 4. Manusia yang berpendidikan adalah sama artinya dengar. Keseluruhan proses tersebut. Inti dari kehidupan bermasyarakat adalah nilai-nilai. Aspek historitas. berarti bahwa kekuatan-kekuatan historis telah menumpukj dan berasimilasi di dalam suatu proses kebudayaan. 18 .

Mencari Konsep Manusia Indonesia. Sebagaimana sulitnya kita menggambarkan mengenai bentuk rupa kebudayaan nasional Indonesia maka begitu pula sulitnya kita merumuskan konsep manusia Indonesia yanr jelas dan dapat disepakati oieh semua orang.  Strategi Pembelajaran Menurut E. Seorang spesialis yang sempit tidak melihat keahliannya itu di dalam keselurhan pola kehidupan yang menyeluruh. Pengembangan Manusia Indonesia Seutuhnya. tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik. Oleh sebab itu manusia akan terus menerus berkembang selama keberadaannya di dunia ini. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yaitu: A. Apabila kita melihat rumusan pakar-pakar tersebut di atas yang tentunya masing-masing dilihat dari dimensi tertentu. Konsep pengembangan manusia seutuhnya muncul untuk mengimbangi konsep pendidikan yang mengarah kepada spesialisasi yagn sempit. Hanyala manusialah makhluk yagn menyerajarah. maka ada kebutuhan untuk melihat manusia itu sebagai keseluruhan. Maka lahirlah suatu tantangan yang ingin merumuskan pendidikan itu sebagai aktivitas untuk pembangunan manusia seutuhnya. sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan seharihari. Kesulitan tersebut disebabkan karena bukan saja masyarakat dan bangsa Indonesia yang bhinneka tetapi juga karena manusia itu sendiri bersifat multi dimensional. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata. Dalam pembelajaran kontekstual.7. dan belum dilihat manusia saeabagai multi dimensional. dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang 19 . 8.

dengan cara: (a) menyusun konsep sementara. 2. Dengan mengutip pemikiran Zahorik. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.2003) menyebutkan indikator pembelajaran partsipatif. Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hapalan. yaitu : 1. Menciptakan suasana yang mendorong peserta didik siap belajar. E. Dengan meminjam pemikiran Knowles. 5. (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan. dan (c) merevisi dan mengembangkan konsep. B.Mulyasa. yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik. (b) melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain.memadai. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus) 3. Membantu peserta didik menyusun kelompok. tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didik belajar. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari. dan evaluasi pembelajaran. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik 2. 4. agar siap belajar dan membelajarkan 20 . (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik. pelaksanaan. Mulyasa (2003) mengemukakan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman. Pengembangan pembelajaran partisipatif dilakukan dengan prosedur berikut: 1. (E.

melalui pengajaran remedial (pengajaran korektif). meliputi tiga bagian. Strategi belajar tuntas dikembangkan oleh Bloom. (2) peserta didik baru dapat melangkah pada pelajaran berikutnya setelah ia benar-benar menguasai bahan pelajaran sebelumnya sesuai dengan patokan yang ditentukan. Membantu peserta didik melakukan kegiatan belajar. Membantu peserta didik menyusun tujuan belajar. 7. Kesistematisan akan tercermin dari strategi pembelajaran yang dilaksanakan.3. yang dilakukan 21 . Tujuan pembelajaran harus diorganisir secara spesifik untuk memudahkan pengecekan hasil belajar. yang meliputi : (1) corrective techniqueyaitu semacam pengajaran remedial. pembelajaran harus dilaksanakan dengan sistematis. Agar semua peserta didik memperoleh hasil belajar secara maksimal. C. terutama dalam mengorganisir tujuan dan bahan belajar. dan (3c) implementasi dalam pembelajaran klasikal dengan memberikan “bumbu” untuk menyesuaikan dengan kemampuan individual. melaksanakan evaluasi dan memberikan bimbingan terhadap peserta didik yang gagal mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Membantu peserta didik untuk mendiagnosis dan menemukan kebutuhan belajarnya. yaitu: (1) mengidentifikasi pra-kondisi. (2) mengembangkan prosedur operasional dan hasil belajar. 6.dan penguasaan bahan yang lengkap untuk semua tujuan setiap satuan belajar dituntut dari para peserta didik sebelum proses belajar melangkah pada tahap berikutnya. 4. bahan perlu dijabarkan menjadi satuan-satuan belajar tertentu. dan (3) pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik yang gagal mencapai taraf penguasaan penuh. Strategi belajar tuntas dapat dibedakan dari pengajaran non belajar tuntas dalam hal berikut : (1) pelaksanaan tes secara teratur untuk memperoleh balikan terhadap bahan yang diajarkan sebagai alat untuk mendiagnosa kemajuan (diagnostic progress test). Belajar Tuntas (Mastery Learning) Belajar tuntas berasumsi bahwa di dalam kondisi yang tepat semua peserta didik mampu belajar dengan baik. dan memperoleh hasil yang maksimal terhadap seluruh materi yang dipelajari. Membantu peserta didik melakukan evaluasi diri terhadap proses dan hasil belajar. Membantu peserta didik merancang pola-pola pengalaman belajar. 5.

Pembelajaran dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut: 1. Setiap modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian tujuan belajar peserta didik. 22 . Dalam setiap modul harus : (1) memungkinkan peserta didik mengalami kemajuan belajar sesuai dengan kemampuannya. Modul meripakan pembelajaran individual. disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. sehingga mengupayakan untuk melibatkan sebanyak mungkin karakteristik peserta didik. dan (2) memberikan tambahan waktu kepada peserta didik yang membutuhkan (sebelum menguasai bahan secara tuntas). terutama untuk memberikan umpan balik bagi peserta didik dalam mencapai ketuntasan belajar. dan (3) memfokuskan peserta didik pada tujuan pembelajaran yang spesifik dan dapat diukur. operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik. dengan prosedur dan metode yang berbeda dari sebelumnya. D. bagaimana melakukan. (2) memungkinkan peserta didik mengukur kemajuan belajar yang telah diperoleh. serta tidak menimbulkan pertanyaaan mengenai apa yang harus dilakukan atau dipelajari. 3. Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran seefektif dan seefisien mungkin. tidak sekedar membaca dan mendengar tapi lebih dari itu. Setiap modul harus memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik. 4. dan sumber belajar apa yang harus digunakan. Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis. 5. sehingga peserta didik dapat menngetahui kapan dia memulai dan mengakhiri suatu modul. Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction) Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis. serta memungkinkan peserta didik untuk melakukan pembelajaran secara aktif.memberikan pengajaran terhadap tujuan yang gagal dicapai peserta didik. simulasi dan berdiskusi. modul memberikan kesempatan untuk bermain peran (role playing). 2.

Tugas utama guru dalam pembelajaran sistem modul adalah mengorganisasikan dan mengatur proses belajar. (2) membantu peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami isi modul atau pelaksanaan tugas. manusia atau peristiwa) secara sistematis. (b) melihat pentingnya masalah dan (c) merumuskan masalah. dan mengevaluasi data. sebagaimana lazimnya dalam pengujian hipotesis. mengumpulkan data. (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban. Merumuskan masalah. Menguji jawaban tentatif. 2. 2005) mengemukakan kondisi. E. kritis.Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen. Pembelajaran Inkuiri Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda. (4) lembar soal. dan merumuskan hipotesis. (2) lembar kerja. kemampuan yang dituntut adalah : (a) merakit peristiwa. antara lain : (1) menyiapkan situasi pembelajaran yang kondusif. dan (3) penggunaan fakta sebagai evidensi dan di dalam proses pembelajaran dibicarakan validitas dan reliabilitas tentang fakta. terdiri dari : mengidentifikasi peristiwa yang dibutuhkan. logis. kemampuan yang dituntut adalah : (a) kesadaran terhadap masalah. analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. 3. yaitu : (1) aspek sosial di dalam kelas dan suasana bebas-terbuka dan permisif yang mengundang siswa berdiskusi.kondisi umum yang merupakan syarat bagi timbulnya kegiatan inkuiri bagi siswa. (2) berfokus pada hipotesis yang perlu diuji kebenarannya. Mengembangkan hipotesis. diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik. (3) kunci lembar kerja. (b) menyusun data. (3) melaksanakan penelitian terhadap setiap peserta didik. terdiri dari : 23 . kemampuan yang dituntut dalam mengembangkan hipotesis ini adalah : (a) menguji dan menggolongkan data yang dapat diperoleh. Joyce (Gulo. Proses inkuiri dilakukan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut: 1. (b) melihat dan merumuskan hubungan yang ada secara logis.

dan mengidentifikasikan trend. kemampuan yang dituntut adalah: (a) mencari pola dan makna hubungan. (c) analisis data. Ia harus dapat membimbing dan merefleksikan pengalaman kelompok.. sekuensi.mentranslasikan data. dan (b) merumuskan kesimpulan 5. mencatat persamaan dan perbedaan. Menarik kesimpulan. Menerapkan kesimpulan dan generalisasi Guru dalam mengembangkan sikap inkuiri di kelas mempunyai peranan sebagai konselor. teman yang kritis dan fasilitator. menginterpretasikan data dan mengkasifikasikan data. dan keteraturan. 24 . 4. konsultan. serta memberi kemudahan bagi kerja kelompok. terdiri dari : melihat hubungan.

Faktor internal yang berpengaruh dalam proses pembelajaran dapat dibedakan menjadi faktor fisiologis dan psikologis. Faktor eksternal belajar dapat dibedakan menjadi dua. 25 . yaitu faktor lingkungan pembelajar dan sistem instruksional. maka nnsur dinamis pembelajaran juga dapat mendukung (berpengaruh positif) atau sebaliknya menjadi penghambat (berpengaruh negatif).PENUTUP Kesimpulan Pembelajaran atau mengajar adalah upaya guru untuk mengubah tingkah laku siswa. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa mengajar bukan upaya guru untuk menyampaikan bahan. Sama halnya dengan unsur dinamis belajar. Sedangkan belajar adalah perubahan tingkah laku siswa. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran dinamakan unsur-unsur dinamis pembelajaran. tetapi bagaimana siswa dapat mempelajari bahan sesuai dengan tujuan. Hal ini disebabkan karena pembelajaran adalah upaya guru untuk supaya siswa mau belajar.

Bandung: Alfabeta. Strategi Belajar Mengajar.Daftar Pustaka Udin S. dkk. http://www. 2003. 2003.html 26 .pikiran-rakyat. Konsep dan Makna Pembelajaran. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka Sagala Syaiful.com/cetak/2007/032007/03/99forumguru. Winataputra.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->