P. 1
metode_penelitian_sastra

metode_penelitian_sastra

|Views: 432|Likes:
Published by Kresna

More info:

Published by: Kresna on Oct 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/02/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik
  • 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian
  • 2.1 Penelitian dan Ilmu
  • 2.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan
  • 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian
  • 2.4 Penggolongan Penelitian
  • 2.5 Metode Kualitatif
  • 2.6 Metode Deskriptif
  • 3.1 Sastra sebagai Sistem
  • 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian
  • 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra
  • 3.4.1. Pengertian Pendekatan
  • 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif
  • 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik
  • 3.4.2.4 Pendekatan Objektif
  • 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan
  • 4.2 Teori Formalisme
  • 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik
  • 4.4 Semiotik
  • 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan
  • 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif
  • 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia
  • 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial
  • 4.5.5 Metode Dialektik
  • 4.6 Naratologi
  • 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya
  • 4.6.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya
  • 4.6.2.1 Vladimir Propp
  • 4.6.2.3 Tzvetan Todorov
  • 4.6.2.4 Greimas
  • 5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian
  • 5.1.1 Latar Belakang Masalah
  • 5.1.2 Identifikasi Masalah
  • 5.1.3 Tujuan Penelitian
  • 5.1.4 Landasan Teori
  • 5.1.5 Metodologi
  • 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian
  • 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis
  • 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode
  • DAFTAR PUSTAKA

METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

...3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.6..........6....1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .4........2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.... 5.1.2........1.... 5.....1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4......2 Identifikasi Masalah ……………………………………….. 83 5.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5...5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ...2..............6. 5..5 Metodologi ………………………………………………… 5.2.........3 Tujuan Penelitian ………………………………………….....4 Greimas ……………………………………………. 5..1....4 Landasan Teori …………………………………………… 5..... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4. ...............1.1....

hakikat. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Selain itu. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. relevansi metode dan penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. i . sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. sastra dalam penelitian ilmiah. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai.

dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. teori. Agustus 2007 Penyusun ii . Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Dengan demikian..Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.

cara.BAB I PENDAHULUAN 1. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . strategi untuk memahami realitas. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Hakikat Metodologi. Dalam pengertian yang lebih luas. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. melalui. Metodologi berasal dari methodos dan logos.1 Pengertian. sedangkan hodos berarti jalan. metode. 2. metode dianggap sebagai cara-cara. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. arah. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. sesudah. yang berarti alat. mengikuti. 3. Teknik berasal dari kata teknikos. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. atau seni menggunakan alat.

2 . Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. (2) sadar teoritik. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. dan (3) sadar teknis. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 1. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. perumusan masalah. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.

kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. misalnya. bukanlah karena perbedaan metode. sama dengan teori. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. sampling. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. dan akhirnya menarik kesimpulan. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. eksplanasi dan interpretasi. mengadakan pengujian teori. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. membangun konsep dan model. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. Sebagai alat. induksi dan deduksi. kuantitatif dan kualitatif. 3 . Klasifikasi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. termasuk ilmu humaniora. deskripsi.Dengan prosedur kerja yang baik. menganalisis data. komparasi. menyusun proposal. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik.

Metode deskripsi. dan sebagainya. Sebagai alat. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. statistik. misalnya: wawancara. bahkan juga dengan teori. tetapi dasar dan cara pemahamannya. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. angket. Sebagai instrumen penelitian. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. struktural. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan.Berbeda dengan metode. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. melalui cara: 1. komparasi. teknik berhubungan dengan data primer. rekaman. teknik bersifat paling kongkret. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Metode sering disebutkan sebagai teknik. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Artinya. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. kuesieoner. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. jelas berbeda. dokumen. teknik kartu data. Dengan demikian.

2. Tetapi sebelumnya. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. teori. struktur disebut sebagai metode. metodologi. 5 . Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. metode. metode dapat menjadi teori. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik.Pada pembicaraan yang berbeda. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. dan teknik. Jadi. 3. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. d. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. 9 .menerus. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. yaitu sintesis itu sendiri.

dan kecerdasan yang memadai. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Jadi. atau pencarian kembali atas suatu objek. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. ilmu dapat hidup.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Hubungannya dengan ilmu. kecermatan. 10 . Sebagai akibatnya.

Dalam menghadapi masalah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. scientific objective. Oleh karena itu. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. practicial objective. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. 1985: 9-15). Kedua. terutama yang berkaitan 11 . dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. sistematis. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Oleh karena itu pula. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Pertama.berkembang.

Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. teori-teori. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. yaitu penelitian sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Urutan umum dari proses 12 . yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan sesuai dengan objeknya. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.dengan pemanfaatan teori dan metode. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Kaitannya dengan kehidupan ilmu. nalar.

manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. analisis data. fakta. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. penelaahan informasi. dan penyajian kesimpulan. emosional. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Oleh karena itu. dan spiritual.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia mencari tahu dan mencari makna. social. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Di samping itu. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . pengumpulan data. Di samping masalah yang dihadapi. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya.

Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. kemudian melakukan proses penemuan. dan menafsirkan apa yang diamati. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. atau penelitian. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. melakukan kegiatan penemuan. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. atau pendapat umum. penyelidikan. atau memperkaya teori yang sudah ada. menggambarkan. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). 14 . otoritas. intuasi. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.

Oleh karena itu. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Pertama. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Dalam hal ini. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya.

pengembangan instrumen. Penelitian akan menghasilkan teori. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.berhubungan). serta membantu dalam menginterpretasi data. pengajuan hipotesis.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. penyusunan design. Teori dapat membantu merumuskan problem. pengumpulan dan analisis data. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 .

yaitu: 1. (5) mengumpulkan data. (6) mengolah data. Dalam kerja penelitian. (4) merumuskan hipotesis. 3. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (3) mengadakan studi pustaka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. menganalisis. (2) bebas prasangka. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. komunikasi. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah.ilmiah. (3) menggunakan prinsip analisis. menginterpretasi. (7) menganalisis dan 17 . Dalam penelitian ilmiah. 2. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. terorganisir. ilmu-ilmu humaniora. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. dituntut langkah-langkah berturut-turut. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dan menyimpulkan.

Demikian pula. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (9) menarik kesimpulan. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. 18 . (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian.menginterpretasi. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.

3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. didukung data empiris 19 .2. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. d. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. sistematis 2. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1.

2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. yaitu : 1. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. dan Whitney. Charters. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 2004. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. (bandingkan Nazir.2. dan Muhadjir. 1885. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Ratna. Berdasarkan desain metodologinya.

penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). 4. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Macam-macam 21 . penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. 3. 5. 6. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 2. content analysis. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel.

memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. buku teks. fotografi. dan majalah. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . sesuai dengan hakikat objek. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. biografi. film. grafik. Dalam ilmu sosial. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. lukisan. buku harian.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. laporan. gambar. 2004: 47-49). Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. 2. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. surat kabar. 22 . yaitu sebagai studi kultural. Sejalan dengan uraian di atas. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Immanuel kant. Dalam ilmu sastra. 2. dan Wilhlem Dilthey (Ratna.

subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. gambaran atau lukisan secara sistematis. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. pandangan-pandangan. Adakalanya peneliti 23 . penelitian bersifat alamiah. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. sikap-sikap. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Menurut Whitney (dalam Nazir. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat.3. 5. suatu set kondisi. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. 2. suatu objek. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. 4.

Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . masalah yang dirumuskan harus patut. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. kriteria umum: 1.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Metode ini dinamakan juga studi status .

B. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. 3. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. variabel dilihat sebagaimana adanya. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.5. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. sifat penelitian adalah ex post facto. kriteria khusus 1. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2.

3. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. membuat tabulasi serta analisis (statistik). metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data.

kelompok. 27 .hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. subjek penelitian dapat saja individu. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Dalam studi komparatif ini. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. lembaga. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. maupun masyarakat.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. dan Teeuw.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. ekonomi. Riffaterre. 29 . Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Plark. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Lotman. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. dan keagamaan. Eagelton. Menurutnya. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah.

Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. di antaranya dari sisi bahan. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Sebagai satu sistem. 30 . Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Melalui sistem sastralah. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. secondary modelling system. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. yaitu berupa bahasa. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya.

ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. dari pembaca saja. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Dalam hal ini. 3. Dengan demikian. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. yaitu pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. kerja yang objektif. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya.

Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. sejumlah peralatan diperlukan. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah.perspektif. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam hal ini. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Namun. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. 32 . seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur.

pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. pola. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. model. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. sebagai berikut: 1. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. Bagi ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. 2004: 21). ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar.3. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Tanpa paradigma. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.

dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di pihak lain. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. sebagai cara pandang. imajinasi. Jadi. Dalam penelitian sastra. 34 . penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. tersistem. maka teori pun juga beraneka ragam.yang relatif sama. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. dan sebagainya. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. bahkan khayalan. Contohnya. Selanjutnya. Di satu pihak.

khususnya sastra. Paradigma dengan demikian mendahului. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. dan teknik. faktor aksiologis. Pada gilirannya. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. 35 . periode. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. penelitian adalah penilaian. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor ontologis. faktor metodologis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. keseluruhan proses penelitian. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. faktor epistemologis. metode. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. teori.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. mengkondisikan ilmuwan sastra. teknik dan proses selanjutnya. dalam ilmu humaniora. termasuk metode. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. secara kualitatif. Keempat faktor tersebut adalah: 1.

demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Keseluruhan unsur. Perbedaannya. aliran. kecuali referensi estetisnya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. novel psikologis. Puisi.generasi. Novel sejarah. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. puisi. psikologis dan ilmu pengetahuan. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. psikologis. Dengan kalimat lain. termasuk tokoh-tokoh. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. 36 . Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. drama bersajak. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. dan berbagai paham yang lain. novel. latar tempat dan waktu. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. dan drama. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan.

Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. menganalisis.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. 2004: 5355). Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Lebih lanjut. 37 . pendekatan berasal dari kata appropio. yaitu metode dan teknik. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu.4 Pendekatan Sastra 3. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.4. dan menyajikan data. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.1. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. 3. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. approach.

Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. mitopoik. Dalam hubungan inilah. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. 3. dan tekniknya.dan sebagainya. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan (4) pendekatan objektif.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. (2) pendekatan mimesis. metode. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. intrinsik dan ekstrinsik. pragmatik. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. teori. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan.4. pendekatan objektif. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. 38 . Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. mimetik. dasarnya. seperti pendekatan sosiologi sastra. (3) pendekatan pragmatik. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Artinya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. ekspresif.

dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. nasionalisme. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. feminisme. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. persepsi. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. komunisme.3. ucapan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. pikiran-pikiran. pikiran dan perasaan. (3) produk pandangan dunia pengarang. Secara metodis. dan 39 . Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.4.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.2. dan hasil-hasil karyanya.

Melalui pandangan ini. 40 . pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. 1958:8). yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. pengalaman. dan ideologi pengarang. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan sebagainya Luxemberg.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 3. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. perasaan.4. sesuai tujuan. pengalaman hidup. persepsi. pikiran. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.2. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. 1989:15). (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. bentuk-bentuk kemasyarakatan.

Secara terminologis. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 .1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. suatu produk akhir.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Segers (2000. Tiruan. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. suatu copy. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Menurutnya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Menurut Baxter. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu proses. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. tetapi penekanannya berbeda. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan".

(3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. dsb. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu.. Secara metodis. Melalui penjabaran di atas. Oleh karena itu.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. sesuai tujuan. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. 42 . ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

menafsirkan. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca.4. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.3. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi.2. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. dan memahami karya sastra. Pembaca dalam 43 . Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. menikmati. Menurutnya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Dalam uraiannya. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. pembacalah yang menilai.

Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. (3) nilai estetik. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. dan (7) sejarah umum. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (5) rangkaian sastra. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. (4) semangat zaman.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (2) horison harapan. Dalam hal ini.

teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Perihal semangat zaman. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Teori menuntut 45 . Dengan kondisi tersebut.informasi. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.

Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. satirik. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Fungsi sosial sastra 46 . Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam.

memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. 1987: 20 dan 54). pembaca. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. rol. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. historis. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. literary repertoire. dan interaksinya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsekuansinya. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder.

langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.2. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Dengan demikian. seperti aspekhistoris. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. 48 . politis. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi.4. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. 3.pembacanya tanpa mendeterminasikannya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. antarhubungan. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. dan totalitas. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. termasuk biografi. sosiologis. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Oleh karena itulah.

Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa.). alur. fakta cerita (tokoh. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. konflik. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. 49 . Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. dan sarana cerita (pusat pengisahan. dan latar). Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). gaya bahasa. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Secara metodologis. dll. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. Adapun terhadap prosa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita.

50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.Pada analisis prosa. Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

Artinya. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. dan Teeuw. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. melainkan rusak sama sekali.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri.BAB IV STRUKTURALISME 4. Faruk. dan Faruk: 1994: 17-18. 1978: 17-18. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. apabila suatu bagian dihilangkan. mekanisme sendiri. melainkan kualitatif. terlepas dari 51 . bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1984: 120139). Selain itu. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. 1995: 4-12. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Hawkes. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. 1999: 1-9. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang.

otonom. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. mekanisme yang baru. Formalisme di Rusia. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. sesuatu yang berstruktur. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Karena itu. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. motivator terjadinya gejala baru.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. antarhubungan merupakan energi. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. dan self-regulatif. Artinya. transformatif. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. sesuatu yang utuh. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Sebagai kualitas totalitas. Dengan kata lain. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Aliran Kritik Baru di Amerika. mengembangkan. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula.

tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. dan sebagainya. seperti kejadian. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Sejalan dengan uraian di atas. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Karya tidak dapat diisolasi.sebagai sistem komunikasi. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Dengan kata lain. Namun demikian. misalnya. Di pihak lain. plot. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Analisis terhadap penokohan. 53 . Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. latar. suatu masyarakat.

dan sebagainya. Meskipun demikian. yaitu: 1. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Sebagai teori modern mengenai sastra. asosiasi. oposisi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. puitika. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Metode yang digunakan metode formal. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. reaksi terhadap studi biografis 2. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. dan psikologi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. sosiologi. Dengan jalan demikian.4. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. 1985: 128-13.

melahirkan strukturalisme.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. dan nilai-nilai. struktur. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2002: 304). 1985: 185-192. dan (3) sebagai teori. Pradopo 2002: 46. Menurutnya. (2) sebagai metode. fakta semiotik. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. karya sastra adalah proses komunikasi. masyarakat yang menghasilkannya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. 4. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Muhadjir. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 2003: 88-96.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 55 . Oleh karena itulah. dan pembaca sebagai penerima. terdiri atas tanda. dan Ratna.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna.

misalnya mengarah pada tema. simbol. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. nada. Artinya. Unsurunsur prosa. di antaranya tema. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . dan enjambemen. puisi. alur. latar atau setting. diksi atau pilihan kata. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. dan gaya bahasa.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Prosa. imajinasi. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. peristiwa atau kejadian. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. dialog. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. ritme atau irama. puisi. Unsur-unsur puisi. tujuan analisis di lain pihak. dan gaya bahasa. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. sudut pandang. stilistika. latar. rima atau persajakan. penokohan. penokohan. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. alur. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. peristiwa.

dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak semau-maunya. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Dalam hubungan ini.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dan pendengar. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. yaitu pencerita. Jadi. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. karya sastra. 57 . Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks.

Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Stout (dalam Makaryk. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. arti bahasa dalam 58 . pengertian tanda ada dua prinsip. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. antara penanda dan petanda. aliran semiotik. yaitu ikon.4. dan simbol. 1993: 183-189). Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. yang merupakan bentuk tanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. indeks. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Menurutnya.4 Semiotik Secara padat Dolezel. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. yaitu persamaan dan sebab akibat. Dalam lapangan semiotik. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).

Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Dalam sistem semiotik. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Jadi. suasana. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. arti tambahan (konotasi). dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. intensitas. Berhubungan dengan hal ini. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Dalam kaya sastra. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. perasaan. daya liris.

yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. (2) semantik semiotik. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . atau yang lain. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Dilihat dari segi cara kerjanya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Menurut pandangan intertektualitas. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. termasuk sastra.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. dan (3) pragmatik semiotik. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. terdapat (1) sintaksis semiotika.

object (designatum. dicent signs. Di antara representamen. legisigns.1. object. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. ikon. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tokens. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. sinsigns. referent). tanda tampak sebagai nalar: proposisi. ground. b. c. 61 . tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. yang paling sering diulas adalah object. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. interpretant. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. b. type. simbol. 2004: 102) di antara ikon. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. argument. yaitu apa yang diacu: a. Menurut Aart van Zoet (Ratna. qualisigns. representamen. 2. denotatum. c. b. dan interpretant. c. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. rheme.

1993: 340-341. Teks sastra kaya dengan ikon. yaitu (a) pengarang (ekspresif). di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi.indeks. Alasannya. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. dan (d) objektif (otonom). Kellner dalam makaryk. 1993: 95-99. sebagai struktur. termasuk karya sastra. yang terpenting adalah ikon. (b) semestaan (mimetik). dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Karena itu. dan simbol. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. (c) pembaca (pragmatik). dan Faruk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. 62 . Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Sebagai strukturalisme. di lain pihak. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur.5. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. 4. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif.

Menurut Marxis. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. yaitu melakukan transformasi atas alam. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Oleh karena itu. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Untuk melakukan transformasi atas alam. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. 4. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Karena itu. Karya-karya kultural yang besar. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. melainkan kelas sosial. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.

Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. seperti kelompok profesi. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. kelompok etnis. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. ras. dan sebagainya. Karena itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pendidikan. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya.

terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. Todorov. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . seperti strukturalisme. bersifat mimetik. Dalam pandangan strukturalisme genetik.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Dengan demikian. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. dan sebagainya. Greimas. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.5. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Hanya beberapa di antaranya. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. Namun. 4.

yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Struktur yang demikian. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.semantik pula. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. menurut strukturalisme genetik. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik.

yang juga berstruktur.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Menurut paham tersebut. Namun. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 .beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.5. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. 4. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.

dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial.6 Naratologi 4. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. dan objek penderita. bukan 72 . seperti model sintaksis. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. demikian juga dengan wacana dan teks. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. hikayat.6. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. 4. Narratio berarti cerita. Dengan demikian. kisah. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.dialektik. atau sebaliknya. perkataan. predikat. subjek secara linguistik. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. logos berarti ilmu. sebagaimana hubungan antara subjek. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan.

Pada pahan pascastruktural. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. semboyan. Revolusi. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Setiap orang. sastra. bukan pengarang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. misalnya. dan ekonomi. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. melainkan melalui bahasa. diceritakan oleh narator. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. dengan pertimbangan 73 . Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. analisis naratif merupakan bagian ideologi. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. politik. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. restorasi. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. akrab dengan cerita Jaka Tarub.person. bukan pengarang. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. dan wacana.

Dilihat dari media yang tersedia. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. 74 . dan teks. Tanpa cerita. baik sebagai penulis. kebudayaan pun tidak ada. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Dalam karya sastra. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. tema. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Di pihak lain. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. sudut pandang. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. pembaca. dan gaya bahasa. Tanpa plot. cerita sebagai tulang punggung karya. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Hampir keseluruhan genre sastra. wacana. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. paling luas. tokoh-tokoh. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. yaitu dunia fiksional. Dalam pembicaraan mengenai naratif. latar. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya.

gongeng. epik. 1993: 110. dan sebagainya. mitos. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). biografi. Mieke Bal (fabula. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. interdisipliner. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Henry James (tokoh dan cerita). puisi naratif. termasuk feminis dan psikoanalisis. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. cerpen. yaitu: 1. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. dan suara). text). Percy Lubbock (teknik naratif). Shlomith Rimmon-Kenan (story. text. lelucon. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). juga roman. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). catatan harian. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Gerald 75 . Para pelopornya. durasi. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. narration). modus. fabula. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. story. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). frequensi. Para pelopornya. Secara historis. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Forster (tokoh bundar dan datar).

Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.2. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Jacques Derrida (dekonstruksi). LeviStrauss. pastiche). Marry Louise Pratt (tindak kata). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Menurutnya. Hayden White (wacana sejarah). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6. yaitu Propp. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. unit terkecil yang membentuk tema. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Todorov. Oleh karena itu. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. 4. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Artinya.6. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Seymoeur Chatman (struktur naratif).Prince (struktur narratee).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Propp 76 .

(5) orang yang menyuruh. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. 77 . yaitu: pelaku. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Bremond. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. (4) putri dan ayahnya. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Dengan kalimat lain. Menurutnya. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan Todorov. (2) donor. persona bertindak sebagai variabel. (3) penolong.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. dan (7) pahlawan palsu. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Di sini. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). perbuatan. (6) pahlawan. Motif dibedakan menjadi tiga macam. yaitu: (1) penjahat.

Dengan kalimat lain. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. Menurutnya. misalnya. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. dilakukan terhadap mitos Oedipus. dan incest. seperti laki-laki perempuan. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. melalui struktural. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. tabu. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. khususnya konsep-konsep oposisi biner. 78 . baik secara bulat maupun fragmentasi. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. mitos adalah naratif itu sendiri. Di satu pihak. dan sebagainya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. bumi langit. Pendekatan antropologi sastra.2. dan harus direkonstruksi melaluinya.6.4.

Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. (2) aspek semantik. dan latar. 4. tokoh. dan sebagainya. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis.6. Oleh karena itulah. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.2.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. secara berdampingan. gaya bahasa. komunikasi. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. yaitu (1) aspek sintaksis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. dan sebaliknya. dan (4) aspek verbal. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. yaitu: kehendak. sebagai hubungan makna dan perlambangan. meneliti tema. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. berkaitan dengan makna dan lambang. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. dan partisipasi. Menurutnya.

antarhubungan adalah kausalitas. Apel adalah sebagai objek. baik sebagai pengirim maupun penerima. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. kritik fenomenologis. Mary sebagai penerima. studi biografi. sosiologi sastra. yaitu tata bahasa naratif universal. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.2. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. 80 . Tidak ada subjek di balik wacana. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 1999: 11-13. Yang ada hanyalah subjek. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. sastra sebagai proyeksi.6. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. seperti: psikologi sastra.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. 4. John dan Paul juga merupakan pengirim. acteurs merupakan kategori umum. yaitu dongeng. tetapi diperluas pada mitos. dll. Greimas (dalam Abdullah.

sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Cerita adalah bahan 81 . actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Sebaliknya. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. religi. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. dan plot. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. struktur yang bersifat penyelenggaraan. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Actans merupakan struktur dalam. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. yaitu subjek dengan objek. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. pelaku. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. dan penolong dengan penentang. dan struktur yang bersifat pemutusan. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. tek. dan ilmu sosial lainnya. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Oleh karena itu.

sebagai model pertama. 82 .kasar. perangkat peristiwa. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. sebagai model kedua. seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.1. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. 5. untuk memisahkan kemenduaan. sistematis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (c) peletak dasar 86 . dan fungsional. Karenanya.

Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). waktu. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (4) masalah harus dapat duji. pikiran. serta dana. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Ciri kedua yang menyangkut fisible. 87 . dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (3) masalah harus merupakan hal penting. Menurut Nazir (1985: 134-135). Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible.

hubungan antarunsur. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. dan totalitas di dalamnya. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Dengan demikian. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. 88 . dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). topik penelitian atau judul penelitian. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. Berhubungan dengan penelitian sastra. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya.1. mengembangkan (develop atau extention). rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4.

Sebaiknya dalam tujuan penelitian. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. 5. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.1. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). 89 . tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. berjumlah tertentu. sistematis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Secara ideal. 2001:2). misalnya. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. lingkup masalah.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian.

Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. baik sebagai teori maupun metode. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Dalam strukturalisme. antarhubungan. Teori adalah alat. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya.Dengan demikian. Sebagai suatu cara pemahaman. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Dalam uraian landasan teori. Penerimaan yang dimaksud 90 . Dalam kerangka strukturalisme. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. teori tidak harus dipahami secara kaku. misalnya. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. dan totalitasnya. khususnya analisis fiksi. diperlukan penerimaan positif. sebagai akumulasi konsep.

Atau dengan kalimat lain. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. 5. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.mengarah kepada keteraturan. Sebaliknya. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.

padu. Sejalan dengan uraian di atas. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Dengan kata lain. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Penentuan data berdasarkan perilaku. demi pemahaman identitas data penelitian. pemilihan. dsb. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. ciri. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. (2) kategori harus lengkap. sistematik. dan hubungan antarunsur.(pendekatan) linguistik. hubungan simetris 92 . Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah.

atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. hubungan saling mempengaruhi. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. 2.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. 3. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. dan faktor kebetulan. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Sejalan dengan uraian di atas. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 .

penelitiannya. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. pemilahan. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. pemilahan.

dan tujuan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. 5. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.

(3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Idealnya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal.

. keinginan.1. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.. Latar Belakang . Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Merujuk pada potensi teks tersebut. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. kepahlawanan dan petualangan. ciri... melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. dsb. waktu pelaksanaan. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. . referensi yang memadai. pengembangan penelitian sejenis..masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. dana yang tersedia. keberanian.

tampak 98 . 2. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. berpikir logis. Namun demikian. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani.

Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. 4. struktur cerita yang terbentuk. dan penelusuran tema dan amanat. alur. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. 99 . peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. latar) 3. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. keterjalinan antarunsur cerita.

misalnya 100 .1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Dalam hal ini .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Cermati contoh berikut: 1. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun.Berdasarkan upaya tersebut. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. 5.

menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. 101 . bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur dinamik. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. Penjabarannya menjadi. antar hubungan. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Paham struktural objektif. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Oleh karena itu. menempatkan teks secara otonom. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). alur. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme.

pemilihan data. Dengan demikian. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. padu. sosial). dll. tempat. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. identifikasi masalah. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. dan analisis data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. pengolahan data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan menyeluruh.

kajian struktural genetik c. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. 5. teoretis. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. sistematis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. dan metode kajian. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan fungsional. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. dan metodologis. kajian struktural naratif d.tingkat kepekaan literer. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural objektif b. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teori.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya.

semendetail. 2003:112). 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. kurang memadai. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. seteliti. Berdasarkan contoh di atas. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. dan tujuan penelitian tertentu. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. Uraian landasan teori tampak 104 . Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. identifikasi masalah.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu.

Kelemahan lain. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . 5. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.

mengklasifikasikan . yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. tema.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dan amanat dapat terungkap secara tepat. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. menyusun. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). unsurunsur karya. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian.1. sejumlah data. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. fenomena. 1980: 139). sifat. menganalisis. sifat. keterjalinan unsur. 106 . fakta. dan menginterpretasikan data (Winarno. Dengan demikian.

(2) struktur cerita. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. b dan c. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. plot/alur.b. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. dan (4) tema dan amanat. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. Dalam hal ini. penyusun UP tersebut cukup 107 . penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan latar. seteliti. semendetail. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel.

Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Namun demikian. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Misalnya saja. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. plot/alur. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.

mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. kepadatan. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. tempat. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. dan sosial? c.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. jumlah. suspense. b. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. seperti pengeplotan. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. Demikian pula pada pembicaraan latar. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. surrise. d. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. kesatupaduan) sebagai instrumen. Pada unsur-unsur cerita lainnya.

hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian.

Imran T.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1987.” Makalah. W. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. 1999.” Makalah. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. dkk.) 1993. “Sastra Lisan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Wlfgang. Chamamah. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Irena R.H. (ed. Hans Robert. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. S. Jakarta: Gramedia.W. Norton & Company Inc. Abrams.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. The Act of Reading. Iser. Jan van. Makaryk. “Strukturalisme-Genetik. New York: The Norton Library. Pengantar Sosiologi Sastra. 1999. ed. 1994. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . 1983. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Luxemburg. Toward an Aesthetic of reseption. Jauss. M. 2001. Pengantar Ilmu Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk.). 1989.

1984. Teori Pengkajian Fiksi. Burhan. 1999. 2001. Yogyakarta: Gama Media Propp. 2004. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Teori Kesusastraan. Diterjemahkan oleh Okke K. Zaimar. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . “Pengantar Penelitian. Kritik Sastra Indonesia Modern. dkk. Metodologi penelitian Kualitatif. Segers.Muhadjir.). Tata Sastra. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 19. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Wellek. Jakarta: Pustaka Jaya T. 1985. 2002. 1985. Bandung: Eresco. 1987. Selangor: Sain Baru Sdn. Sastra dan Ilmu sastra.Bhd. Pradopo. 1995. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 2002. ed. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Metode Penelitian Linguistik. Metode. Tzvetan. Jakarta: Djambatan. dan Teknik. Makalah. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Todorov. Morfologi Cerita Rakyat. Sayuti. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Metode Penelitian. Fatimah Djajasudarma. Rene & Austin Warren. “Strukturalisme”. Rachmat Djoko. Evaluasi Teks Sastra. Jakarta: Gramedia Wuradji. Noeng. 2000. Diterjemahkan oleh Suminto A. Moh.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. ------------------------------. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. A. Rien T. V. 1993.S. Nyoman Kutha.

114 .

115 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->