METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.......2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.3 Tujuan Penelitian …………………………………………......... 83 5....1. 5.....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .2......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5..1....... 5.............. 5...........2 Identifikasi Masalah ……………………………………….4 Greimas …………………………………………….4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5...6.....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ......1.......4...6.5 Metodologi ………………………………………………… 5....1. 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...2....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.1........ 5....1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.........6.2.4 Landasan Teori …………………………………………… 5..

Selain itu. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. relevansi metode dan penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. sastra dalam penelitian ilmiah. hakikat. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini.

teori.. Dengan demikian. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Agustus 2007 Penyusun ii . penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.

Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. sesudah. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. sedangkan hodos berarti jalan. metode.1 Pengertian. Dalam pengertian yang lebih luas. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Teknik berasal dari kata teknikos. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. strategi untuk memahami realitas. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. cara. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. 3. 2. yang berarti alat. Hakikat Metodologi. Metode. arah. Metodologi berasal dari methodos dan logos. metode dianggap sebagai cara-cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. mengikuti.BAB I PENDAHULUAN 1. atau seni menggunakan alat. melalui.

dan (3) sadar teknis. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 1. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. dan kerangka pemikiran penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. (2) sadar teoritik. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. 2 . Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. perumusan masalah.

dan akhirnya menarik kesimpulan. deskripsi. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. termasuk ilmu humaniora. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Sebagai alat. eksplanasi dan interpretasi. komparasi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. membangun konsep dan model. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. 3 . Klasifikasi. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. merumuskan hipotesis dan permasalahan.Dengan prosedur kerja yang baik. menyusun proposal. kuantitatif dan kualitatif. sama dengan teori. menganalisis data. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. misalnya. mengadakan pengujian teori. sampling. bukanlah karena perbedaan metode. induksi dan deduksi. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik.

dan sebagainya. teknik kartu data. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. statistik. teknik bersifat paling kongkret. angket. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Sebagai alat. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. melalui cara: 1. Sebagai instrumen penelitian. Metode deskripsi. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. jelas berbeda. rekaman. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. tetapi dasar dan cara pemahamannya. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu.Berbeda dengan metode. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. komparasi. teknik berhubungan dengan data primer. misalnya: wawancara. Artinya. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. bahkan juga dengan teori. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. struktural. Dengan demikian. dokumen. kuesieoner.

sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. struktur disebut sebagai metode. metode. 5 . memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 3. Tetapi sebelumnya.Pada pembicaraan yang berbeda. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. metode dapat menjadi teori. metodologi. dan teknik. teori. 2. Jadi. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. 9 . Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. d. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.menerus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. dan kecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu. Jadi. Sebagai akibatnya. atau pencarian kembali atas suatu objek. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. ilmu dapat hidup. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. 10 . yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. kecermatan. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.

Dalam menghadapi masalah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam.berkembang. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. scientific objective.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. 1985: 9-15). terutama yang berkaitan 11 . Kedua. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. sistematis. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. Oleh karena itu pula. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Oleh karena itu. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. practicial objective. Pertama. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus.

dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. teori-teori. dan sesuai dengan objeknya. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem).inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra.dengan pemanfaatan teori dan metode. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. nalar. Urutan umum dari proses 12 . Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. yaitu penelitian sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep.

manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Di samping itu. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Di samping masalah yang dihadapi. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. penelaahan informasi. dan penyajian kesimpulan. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. dan spiritual. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. emosional. pengumpulan data. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. fakta. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. analisis data. manusia mencari tahu dan mencari makna. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. social. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Oleh karena itu.

Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. penyelidikan. atau penelitian. 14 . otoritas. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. intuasi. atau pendapat umum. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. kemudian melakukan proses penemuan. dan menafsirkan apa yang diamati. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. melakukan kegiatan penemuan. menggambarkan. atau memperkaya teori yang sudah ada. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu.

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Dalam hal ini. Kedua. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Pertama. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Oleh karena itu. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.

Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . penyusunan design. Penelitian akan menghasilkan teori. pengajuan hipotesis.berhubungan). yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. Teori dapat membantu merumuskan problem. serta membantu dalam menginterpretasi data. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengembangan instrumen.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. pengumpulan dan analisis data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian.

dan menyimpulkan. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. (5) mengumpulkan data. 2. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (3) menggunakan prinsip analisis. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. dituntut langkah-langkah berturut-turut. Dalam kerja penelitian. komunikasi.ilmiah. Dalam penelitian ilmiah. 3. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. ilmu-ilmu humaniora. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (4) merumuskan hipotesis. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. yaitu: 1. (7) menganalisis dan 17 . Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. terorganisir. menganalisis. (2) bebas prasangka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (3) mengadakan studi pustaka. (6) mengolah data. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. menginterpretasi.

Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Demikian pula. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya.menginterpretasi. 18 . dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. (9) menarik kesimpulan. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian.

2. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. d. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. didukung data empiris 19 . Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. menghasilkan pengetahuan yang: a. sistematis 2.

dan Muhadjir.2. Charters. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 2. yaitu : 1. Berdasarkan desain metodologinya. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. (bandingkan Nazir. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2004. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 1885. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Ratna. dan Whitney.

3. 6. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 5. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Macam-macam 21 . Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. content analysis.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 2. 4.

Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Sejalan dengan uraian di atas. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. buku teks. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. grafik. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. lukisan. 2004: 47-49). sesuai dengan hakikat objek. dan majalah. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. 22 . film. Dalam ilmu sastra.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. laporan. buku harian. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. yaitu sebagai studi kultural.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. 2. Dalam ilmu sosial. Immanuel kant. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. surat kabar. fotografi. gambar. 2. biografi. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks.

gambaran atau lukisan secara sistematis. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. 2. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. sikap-sikap. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. 5. pandangan-pandangan. suatu objek. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. suatu set kondisi. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. Adakalanya peneliti 23 . penelitian bersifat alamiah. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. 4. Menurut Whitney (dalam Nazir. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan.3. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.

kriteria umum: 1. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status . Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. masalah yang dirumuskan harus patut. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.

Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. 3. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. B. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . sifat penelitian adalah ex post facto. kriteria khusus 1. variabel dilihat sebagaimana adanya. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2.5. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan.

metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4.3. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . membuat tabulasi serta analisis (statistik).

sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. subjek penelitian dapat saja individu. 27 . kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. maupun masyarakat. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian.

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

Sastra mengandung sifat umum dan khusus. keberadaannya tidak merupakan keharusan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Eagelton. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. dan Teeuw. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Plark. Menurutnya. Lotman. 29 . Riffaterre. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Eliis. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. ekonomi. dan keagamaan. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer.

Sebagai satu sistem.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. 30 . Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Melalui sistem sastralah. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. di antaranya dari sisi bahan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. yaitu berupa bahasa. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. secondary modelling system. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan.

ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dalam hal ini. yaitu pembacanya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Dengan demikian. dari pembaca saja. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Dengan demikian.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. 3. kerja yang objektif. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya.

membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian.perspektif. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. 32 . Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Namun. Dalam hal ini. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. sejumlah peralatan diperlukan.

paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan.3. Tanpa paradigma. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. unsur dalam diri sendiri 2. 2004: 21). Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . pola. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. model. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Bagi ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. sebagai berikut: 1. unsur luar berupa lingkungan fisik 3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan.

imajinasi. 34 . hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Di satu pihak. Dalam penelitian sastra. Jadi. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. dan sebagainya. sebagai cara pandang. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. bahkan khayalan. Selanjutnya. tersistem. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Di pihak lain. Contohnya. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian.yang relatif sama.

baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. keseluruhan proses penelitian. dalam ilmu humaniora. metode. faktor metodologis. faktor ontologis. faktor aksiologis. faktor epistemologis. penelitian adalah penilaian. secara kualitatif.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. termasuk metode. Keempat faktor tersebut adalah: 1. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. khususnya sastra. teori. Paradigma dengan demikian mendahului. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. teknik dan proses selanjutnya. periode. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. 35 . Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Pada gilirannya. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. mengkondisikan ilmuwan sastra. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. dan teknik.

generasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. psikologis dan ilmu pengetahuan. Dengan kalimat lain. psikologis. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. dan berbagai paham yang lain. 36 . Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. termasuk tokoh-tokoh. latar tempat dan waktu. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Novel sejarah. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. kecuali referensi estetisnya. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. drama bersajak. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. aliran. novel. novel psikologis. Keseluruhan unsur. dan drama. puisi. Puisi. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Perbedaannya.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis.1. yaitu metode dan teknik. menganalisis. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. 3. pendekatan berasal dari kata appropio. 37 . maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.4. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori.4 Pendekatan Sastra 3. Lebih lanjut. 2004: 5355). approach. dan menyajikan data. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.

Pada pendekatan mendahului teori dan metode. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. dan (4) pendekatan objektif. dan tekniknya. mimetik. ekspresif. intrinsik dan ekstrinsik. Dalam hubungan inilah. (3) pendekatan pragmatik. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. dasarnya. mitopoik. metode. 38 . teori. pendekatan objektif. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. pragmatik. (2) pendekatan mimesis. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian.dan sebagainya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. seperti pendekatan sosiologi sastra. Artinya. 3.4. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode.

Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme.3. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. dan 39 . dan hasil-hasil karyanya.4. pikiran dan perasaan.2. persepsi. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Secara metodis. feminisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. pikiran-pikiran. (3) produk pandangan dunia pengarang. komunisme. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. nasionalisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. ucapan.

pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 1989:15). Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan sebagainya Luxemberg. perasaan.4. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. Melalui pandangan ini. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 3.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. (2) memetakan sejumlah pikiran. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 1958:8). dan ideologi pengarang. pengalaman. persepsi. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. sesuai tujuan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. bentuk-bentuk kemasyarakatan.2. pengalaman hidup. 40 . secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. pikiran. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial.

91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Menurutnya.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Tiruan. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Segers (2000. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. suatu proses. tetapi penekanannya berbeda. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu produk akhir. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. menyiratkan sesuatu yang statis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. suatu copy. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Menurut Baxter. Secara terminologis. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Adapun John Baxter (dalam Makaryk.

(2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Oleh karena itu. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. sesuai tujuan. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. 42 . Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. Melalui penjabaran di atas.. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Secara metodis.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dsb.

Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Menurutnya. pembacalah yang menilai.3.4. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. dan memahami karya sastra. menafsirkan. Pembaca dalam 43 .2. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. menikmati. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Dalam uraiannya. Menurutnya.

(4) semangat zaman. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (2) horison harapan. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. dan (7) sejarah umum. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (5) rangkaian sastra. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. (3) nilai estetik. Dalam hal ini. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.

teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.informasi. Perihal semangat zaman. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Dengan kondisi tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Teori menuntut 45 .

yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Fungsi sosial sastra 46 . Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. satirik. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. diidealkan.

54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. 1987: 20 dan 54).memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . dan interaksinya. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Konsekuansinya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. pembaca. dan literary strategies Implied reader merupakan model. rol. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. literary repertoire. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Konsep dialektika respon estetik (Iser. historis.

sosiologis. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Oleh karena itulah. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. politis.4. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Dengan demikian.2.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. seperti aspekhistoris.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. 3. termasuk biografi. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. 48 . langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. dan totalitas. antarhubungan. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.

pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. dan sarana cerita (pusat pengisahan. alur. Adapun terhadap prosa. dan latar). fakta cerita (tokoh. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Secara metodologis. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. dll. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. konflik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 49 .Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. gaya bahasa. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi).). Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya.

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 . tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Di dalam analisisnya.Pada analisis prosa.

dan Teeuw. Artinya. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. 1995: 4-12. dan Faruk: 1994: 17-18. Selain itu. terlepas dari 51 . Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Hawkes. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. 1984: 120139). apabila suatu bagian dihilangkan. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. melainkan kualitatif. melainkan rusak sama sekali. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Faruk. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. mekanisme sendiri. 1999: 1-9.BAB IV STRUKTURALISME 4. 1978: 17-18. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya.

antarhubungan merupakan energi. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Formalisme di Rusia. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Artinya. Dengan kata lain. transformatif. sesuatu yang berstruktur. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. dan self-regulatif. sesuatu yang utuh. mengembangkan. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Aliran Kritik Baru di Amerika. Karena itu. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. mekanisme yang baru. motivator terjadinya gejala baru. Sebagai kualitas totalitas. otonom.

Namun demikian. dan sebagainya. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. 53 . latar. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. suatu masyarakat. Dengan kata lain. Sejalan dengan uraian di atas. Analisis terhadap penokohan. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Karya tidak dapat diisolasi. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain.sebagai sistem komunikasi. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Di pihak lain. plot. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. misalnya. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. seperti kejadian.

Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. asosiasi. sosiologi. oposisi. dan psikologi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. 1985: 128-13. dan sebagainya. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Metode yang digunakan metode formal. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas.4. Dengan jalan demikian. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. yaitu: 1. Meskipun demikian. puitika. Sebagai teori modern mengenai sastra. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. reaksi terhadap studi biografis 2.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor.

1985: 185-192.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dan Ratna. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. dan nilai-nilai. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. masyarakat yang menghasilkannya. 2002: 304). Pradopo 2002: 46. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. 55 . terdiri atas tanda. Menurutnya. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. fakta semiotik. Muhadjir. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. dan (3) sebagai teori. melahirkan strukturalisme.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 2003: 88-96. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. Oleh karena itulah. (2) sebagai metode. 4. karya sastra adalah proses komunikasi. dan pembaca sebagai penerima. struktur.

nada. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. imajinasi. dialog. tujuan analisis di lain pihak. peristiwa atau kejadian. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. rima atau persajakan. puisi. Prosa. simbol. diksi atau pilihan kata. stilistika. penokohan. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. dan gaya bahasa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. misalnya mengarah pada tema. peristiwa. latar atau setting. penokohan. alur. dan gaya bahasa. dan enjambemen.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Unsur-unsur puisi. Unsurunsur prosa. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. sudut pandang. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . latar. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. Artinya. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. alur. di antaranya tema. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. ritme atau irama. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas.

dan pendengar. karya sastra. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. yaitu pencerita. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Jadi. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. 57 . Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Dalam hubungan ini. tidak semau-maunya.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art.

untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. latar belakang sejarah pertumbuhannya. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. dan simbol.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Menurutnya. aliran semiotik. yaitu persamaan dan sebab akibat. 1993: 183-189). yaitu ikon. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yang merupakan bentuk tanda. pengertian tanda ada dua prinsip. indeks. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Ada tiga jenis tanda yang pokok.4. arti bahasa dalam 58 . Dalam lapangan semiotik. Stout (dalam Makaryk. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. antara penanda dan petanda.

yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Dalam sistem semiotik. arti tambahan (konotasi). suasana. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dalam kaya sastra. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Jadi. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Berhubungan dengan hal ini. daya liris. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. intensitas. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. perasaan. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna.

dan (3) pragmatik semiotik. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Dilihat dari segi cara kerjanya. Menurut pandangan intertektualitas. Sejalan dengan paham triadik peircean. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. termasuk sastra. (2) semantik semiotik. terdapat (1) sintaksis semiotika. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 .karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. atau yang lain. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya.

tanda tampak sebagai nalar: proposisi. object. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. representamen. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. b. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a.1. tokens. ikon. type. c. Di antara representamen. denotatum. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. object (designatum. rheme. yang paling sering diulas adalah object. b. legisigns. sinsigns. c. dicent signs. 61 . tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. b. c. simbol. 2004: 102) di antara ikon. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. ground. interpretant. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. qualisigns. Menurut Aart van Zoet (Ratna. 2. dan interpretant. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. yaitu apa yang diacu: a. referent). argument.

di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. 4. (c) pembaca (pragmatik). Alasannya. dan Faruk. sebagai struktur. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Teks sastra kaya dengan ikon. Sebagai strukturalisme. Kellner dalam makaryk. 1993: 95-99. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). dan simbol. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk.indeks. 1993: 340-341.5. yang terpenting adalah ikon. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. dan (d) objektif (otonom). di lain pihak. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. (b) semestaan (mimetik). termasuk karya sastra. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Karena itu. 62 . usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif.

Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. yaitu melakukan transformasi atas alam.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Untuk melakukan transformasi atas alam. Menurut Marxis. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. melainkan kelas sosial. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor.5. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. 4. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karena itu.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Karya-karya kultural yang besar. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.

oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. seperti kelompok profesi. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pendidikan. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Karena itu. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. dan sebagainya. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. kelompok etnis. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . ras. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya.

strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Todorov. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. bersifat mimetik. Greimas. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. 4. Hanya beberapa di antaranya. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp.5. Namun. dan sebagainya. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Dengan demikian. seperti strukturalisme. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis.

Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.semantik pula. Struktur yang demikian. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. menurut strukturalisme genetik. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.

5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. 4. Namun. yang juga berstruktur. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.5. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Menurut paham tersebut. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik.

bukan 72 . predikat. hikayat. subjek secara linguistik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. dan objek penderita. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. 4.dialektik. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.6. Narratio berarti cerita. Dengan demikian. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. sebagaimana hubungan antara subjek. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. atau sebaliknya. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. kisah. logos berarti ilmu. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. seperti model sintaksis. demikian juga dengan wacana dan teks.6 Naratologi 4. perkataan.

naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. bukan pengarang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. misalnya. analisis naratif merupakan bagian ideologi. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural.person. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. diceritakan oleh narator. semboyan. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. politik. dan wacana. melainkan melalui bahasa. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Setiap orang. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). dan ekonomi. bukan pengarang. sastra. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. dengan pertimbangan 73 . restorasi. tetapi juga melalui kata-kata. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Pada pahan pascastruktural. Revolusi. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner.

dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. yaitu dunia fiksional. baik sebagai penulis. Hampir keseluruhan genre sastra. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Di pihak lain. kebudayaan pun tidak ada. pembaca.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Tanpa plot. Dilihat dari media yang tersedia. cerita sebagai tulang punggung karya. wacana. tokoh-tokoh. Dalam pembicaraan mengenai naratif. sudut pandang. latar. Tanpa cerita. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. dan gaya bahasa. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. tema. dan teks. 74 . novel juga merupakan objek yang paling memadai. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. paling luas. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dalam karya sastra. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian.

Percy Lubbock (teknik naratif). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. text). story. termasuk feminis dan psikoanalisis. Henry James (tokoh dan cerita). Gerald 75 . Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). frequensi. Tzvetan Todorov (historie dan discours). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. 1993: 110. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Secara historis. puisi naratif. yaitu: 1. durasi. fabula. modus.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. narration). periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). dan suara). Forster (tokoh bundar dan datar). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Claude Bremond (struktur dan fungsi). interdisipliner. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Para pelopornya. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. dan sebagainya. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. epik. text. Shlomith Rimmon-Kenan (story. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. juga roman. gongeng. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. lelucon. cerpen. Mieke Bal (fabula. biografi. catatan harian. mitos. Para pelopornya.

2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4.6. 4. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). LeviStrauss. yaitu Propp. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya.6. Oleh karena itu. Todorov. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). unit terkecil yang membentuk tema.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Hayden White (wacana sejarah). Propp 76 . tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. pastiche). Menurutnya. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh.Prince (struktur narratee). Roland Barthes (Kernels dan satellits). Artinya. Jacques Derrida (dekonstruksi). Marry Louise Pratt (tindak kata). dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah.2. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Jonathan Culler (kompetensi sastra).

Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. 77 . maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. persona bertindak sebagai variabel. Motif dibedakan menjadi tiga macam. Di sini. (6) pahlawan. yaitu: pelaku. (5) orang yang menyuruh. yaitu: (1) penjahat. Dengan kalimat lain. (3) penolong. dan (7) pahlawan palsu. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Bremond. Menurutnya. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. (2) donor. dan Todorov. perbuatan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (4) putri dan ayahnya.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis.

sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan harus direkonstruksi melaluinya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Menurutnya. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Di satu pihak.2. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. 78 . Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. baik secara bulat maupun fragmentasi. khususnya konsep-konsep oposisi biner.6. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. dan incest.4. tabu. Dengan kalimat lain. seperti laki-laki perempuan. Pendekatan antropologi sastra. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. misalnya.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. dan sebagainya. bumi langit. mitos adalah naratif itu sendiri. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. melalui struktural.

(2) aspek semantik. Menurutnya. meneliti tema. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. sebagai hubungan makna dan perlambangan. dan latar. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. komunikasi.2. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. yaitu: kehendak. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. gaya bahasa. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. 4. yaitu (1) aspek sintaksis. berkaitan dengan makna dan lambang. dan partisipasi.6. secara berdampingan. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. dan sebagainya. dan sebaliknya. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. tokoh. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Oleh karena itulah. dan (4) aspek verbal.

dll.2. seperti: psikologi sastra. John dan Paul juga merupakan pengirim. sastra sebagai proyeksi. sosiologi sastra. 80 . 1999: 11-13. studi biografi. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. baik sebagai pengirim maupun penerima. yaitu tata bahasa naratif universal. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama.6. tetapi diperluas pada mitos. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Tidak ada subjek di balik wacana. 4. Mary sebagai penerima.antarhubungan adalah kausalitas. Apel adalah sebagai objek. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. kritik fenomenologis. Yang ada hanyalah subjek. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. acteurs merupakan kategori umum.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. yaitu dongeng. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). Greimas (dalam Abdullah. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal.

Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Actans merupakan struktur dalam. dan penolong dengan penentang. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. pelaku. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan ilmu sosial lainnya. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. religi. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. dan plot. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. yaitu subjek dengan objek. dan struktur yang bersifat pemutusan. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. yaitu struktur berdasarkan perjanjian.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. struktur yang bersifat penyelenggaraan. tek. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Sebaliknya. Oleh karena itu. Cerita adalah bahan 81 .

sebagai model pertama.kasar. 82 . sebagai model kedua. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. perangkat peristiwa. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . seperti ringkasan cerita atau sinopsis.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. (2) kemenduaan arti (ambiguity). sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Karenanya. untuk memisahkan kemenduaan. dan fungsional. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. dan (c) peletak dasar 86 . Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. sistematis. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. 5. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.1.

Menurut Nazir (1985: 134-135). dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. 87 . pikiran. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (3) masalah harus merupakan hal penting. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. waktu. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. serta dana. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). (4) masalah harus dapat duji. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti.

Berhubungan dengan penelitian sastra.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). mengembangkan (develop atau extention). 88 .1. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Dengan demikian. dan totalitas di dalamnya. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. hubungan antarunsur. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. topik penelitian atau judul penelitian. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif.

jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut).1.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. berjumlah tertentu. misalnya. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Jika rumusan masalah yang dihasilkan.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). sistematis. lingkup masalah. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 89 . 5. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. 2001:2). Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. Secara ideal.

dan totalitasnya. Dalam kerangka strukturalisme. teori tidak harus dipahami secara kaku. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. antarhubungan.Dengan demikian. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. khususnya analisis fiksi. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Penerimaan yang dimaksud 90 . sebagai akumulasi konsep. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. misalnya. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Teori adalah alat. Dalam strukturalisme. Sebagai suatu cara pemahaman. baik sebagai teori maupun metode. Dalam uraian landasan teori. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. diperlukan penerimaan positif.

prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Atau dengan kalimat lain. 5. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Sebaliknya.. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.1. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.mengarah kepada keteraturan.

hubungan simetris 92 . Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. demi pemahaman identitas data penelitian. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. padu. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. (3) kategori harus bebas dan terpisah. ciri. Sejalan dengan uraian di atas. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. pemilihan. (2) kategori harus lengkap. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Penentuan data berdasarkan perilaku. Dengan kata lain.(pendekatan) linguistik. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. sistematik. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. dsb. dan hubungan antarunsur.

Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 3. Sejalan dengan uraian di atas. 2.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan saling mempengaruhi. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. dan faktor kebetulan. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik.

penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. dan pengolahan data secara sistematis. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.penelitiannya. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemilahan. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan.

peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.dan tujuan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan.

Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Idealnya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal.

.1. keinginan. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. keberanian. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan. dsb. Merujuk pada potensi teks tersebut. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. ciri. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . pengembangan penelitian sejenis. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif.. Latar Belakang . Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik.. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian.. waktu pelaksanaan..masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. referensi yang memadai. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.

jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Namun demikian.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. tampak 98 . Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. berpikir logis. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. 2.

peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. dan penelusuran tema dan amanat. latar) 3. keterjalinan antarunsur cerita. alur. 4. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. struktur cerita yang terbentuk. 99 . Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1.

mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah. Cermati contoh berikut: 1.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.Berdasarkan upaya tersebut. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. misalnya 100 .1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. 5. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Dalam hal ini . mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2.

menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. menempatkan teks secara otonom. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. antar hubungan. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. 101 . Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. alur. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Penjabarannya menjadi. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Paham struktural objektif. Struktur dinamik. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Oleh karena itu.

tempat. padu. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. Dengan demikian. pengolahan data.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. sosial). dan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. identifikasi masalah. pemilihan data. dan analisis data. dll.

teori. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural genetik c. sistematis. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. dan metode kajian. kajian struktural objektif b. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas).4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya.tingkat kepekaan literer. 5. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. kajian struktural naratif d. teoretis. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . dan metodologis. dan fungsional. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a.

dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Berdasarkan contoh di atas. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. 2003:112). dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. identifikasi masalah. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. seteliti.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. dan tujuan penelitian tertentu. Uraian landasan teori tampak 104 . Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. kurang memadai. semendetail. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu.

penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5. Kelemahan lain. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai.

contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. menganalisis. dan menginterpretasikan data (Winarno. sejumlah data. sifat. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan amanat dapat terungkap secara tepat. sifat. mengklasifikasikan . Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). tema. unsurunsur karya. keterjalinan unsur. Dengan demikian.1. 106 . dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. fakta. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. fenomena. 1980: 139). dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. menyusun.

(3) keterjalinan antarunsur dalam novel. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan.b. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. dan (4) tema dan amanat. b dan c. Dalam hal ini. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. seteliti. penyusun UP tersebut cukup 107 . Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (2) struktur cerita. plot/alur. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. semendetail. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. dan latar.

mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Misalnya saja. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. plot/alur. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Namun demikian. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.

dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. d. tempat. kesatupaduan) sebagai instrumen. seperti pengeplotan. surrise. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Demikian pula pada pembicaraan latar. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. b. jumlah. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. dan sosial? c. suspense. kepadatan. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. Pada unsur-unsur cerita lainnya. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a.

Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Adapun dalam penentuan amanat.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian.

Hans Robert. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . 1994. 1999. Pengantar Ilmu Sastra. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Imran T. Jauss. dkk. Jakarta: Gramedia. Jan van.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1999. W.W. Luxemburg. 1987. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. 2001. S. “Sastra Lisan. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. “Strukturalisme-Genetik. Makaryk. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.). M. 1989. Iser. ed. Toward an Aesthetic of reseption. (ed.” Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Minneapolis: University of Minnesotta Press.” Makalah. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Irena R. Chamamah. New York: The Norton Library.) 1993.H. The Act of Reading. Wlfgang. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Abrams. 1983. Norton & Company Inc. Pengantar Sosiologi Sastra.

Rachmat Djoko. Todorov. Sayuti. Tzvetan. Evaluasi Teks Sastra. Tata Sastra. Metode Penelitian. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: Eresco. 2002. Rien T. Moh. 2001. Nyoman Kutha. dan Teknik. Penelitian Sastra: Teori. 19. 1995. ------------------------------. V. 1993. Diterjemahkan oleh Suminto A. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1985. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Makalah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna.Bhd. 1987.Muhadjir. Kritik Sastra Indonesia Modern. Zaimar. Sastra dan Ilmu sastra. Segers. Morfologi Cerita Rakyat. 2002. Metode. Jakarta: Gramedia Wuradji. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Selangor: Sain Baru Sdn. ed. Yogyakarta: Gama Media Propp. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Metode Penelitian Linguistik. Pradopo.). “Strukturalisme”. Teori Pengkajian Fiksi. 1999. Jakarta: Pustaka Jaya T. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Wellek. 1984. Jakarta: Djambatan. Noeng. 1985. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. A. Burhan. Diterjemahkan oleh Okke K. dkk. “Pengantar Penelitian. Fatimah Djajasudarma.S. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. 2000. Rene & Austin Warren.

114 .

115 .