METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ..6..........6.....6........... .......1......1. 83 5... 5.2.2 Identifikasi Masalah ………………………………………........3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4......2... 5..4............2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.....1..1.......2.3 Tujuan Penelitian …………………………………………... 5......4 Greimas ……………………………………………...1..1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .5 Metodologi ………………………………………………… 5.5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah...........4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5...4 Landasan Teori …………………………………………… 5.. 5.

relevansi metode dan penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. hakikat. Selain itu. sastra dalam penelitian ilmiah. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini.

penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra.. Dengan demikian. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Agustus 2007 Penyusun ii .

Metodologi berasal dari methodos dan logos. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. metode. 2. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. 3. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. sedangkan hodos berarti jalan. Teknik berasal dari kata teknikos. atau seni menggunakan alat. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. metode dianggap sebagai cara-cara. melalui. cara. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1.BAB I PENDAHULUAN 1. Hakikat Metodologi. arah. Metode. yang berarti alat. sesudah. mengikuti. strategi untuk memahami realitas. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Dalam pengertian yang lebih luas.1 Pengertian.

2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. 2 . artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. perumusan masalah.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. dan (3) sadar teknis. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. dan kerangka pemikiran penelitian. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. 1. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. (2) sadar teoritik.

metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. bukanlah karena perbedaan metode. merumuskan hipotesis dan permasalahan. mengadakan pengujian teori. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. menyusun proposal. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. induksi dan deduksi. komparasi. Metodologi jelas mengimplikasikan metode.Dengan prosedur kerja yang baik. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. sama dengan teori. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. dan akhirnya menarik kesimpulan. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. kuantitatif dan kualitatif. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. menganalisis data. 3 . termasuk ilmu humaniora. Klasifikasi. Sebagai alat. deskripsi. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. misalnya. sampling. eksplanasi dan interpretasi. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. membangun konsep dan model.

bahkan juga dengan teori. statistik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. struktural. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. Artinya. misalnya: wawancara. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Metode deskripsi. Sebagai alat. teknik berhubungan dengan data primer. Sebagai instrumen penelitian. jelas berbeda. dokumen. teknik kartu data. melalui cara: 1. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan.Berbeda dengan metode. Dengan demikian. teknik bersifat paling kongkret. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. Metode sering disebutkan sebagai teknik. tetapi dasar dan cara pemahamannya. dan sebagainya. angket. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . rekaman. kuesieoner. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. komparasi. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. teknik dapat dideteksi secara inderawi.

Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus.Pada pembicaraan yang berbeda. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 2. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. 5 . metode. metodologi. metode dapat menjadi teori. struktur disebut sebagai metode. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. dan teknik. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Tetapi sebelumnya. Jadi. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. 3. teori.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. d.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. yaitu sintesis itu sendiri. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. 9 .menerus. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.

Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. dan kecerdasan yang memadai. kecermatan. Jadi. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. 10 .BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. ilmu dapat hidup. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Hubungannya dengan ilmu. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Sebagai akibatnya.

dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Dalam menghadapi masalah. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Pertama. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial.berkembang. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Oleh karena itu pula. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. sistematis. Oleh karena itu. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. 1985: 9-15). Kedua. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. scientific objective. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. terutama yang berkaitan 11 . Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. practicial objective.

Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.dengan pemanfaatan teori dan metode. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. nalar. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Urutan umum dari proses 12 . yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. dan sesuai dengan objeknya. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. yaitu penelitian sastra. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. teori-teori. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods).

Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Di samping masalah yang dihadapi. Di samping itu. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. analisis data. dan spiritual. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. dan penyajian kesimpulan. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Oleh karena itu. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. fakta. social. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. emosional. manusia mencari tahu dan mencari makna. pengumpulan data. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. penelaahan informasi.

orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. atau penelitian.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. atau pendapat umum. intuasi. kemudian melakukan proses penemuan. otoritas. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. 14 . Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. menggambarkan. melakukan kegiatan penemuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. penyelidikan. atau memperkaya teori yang sudah ada. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. dan menafsirkan apa yang diamati. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian.

Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Kedua. Pertama. Oleh karena itu. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Dalam hal ini. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri.

Teori dapat membantu merumuskan problem. pengembangan instrumen. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. pengajuan hipotesis. pengumpulan dan analisis data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. serta membantu dalam menginterpretasi data. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta.berhubungan). sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . Penelitian akan menghasilkan teori. penyusunan design.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu.

2. (3) menggunakan prinsip analisis. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. 3. menginterpretasi. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. menganalisis. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. ilmu-ilmu humaniora. komunikasi. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (5) mengumpulkan data. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. Dalam penelitian ilmiah. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (7) menganalisis dan 17 . (2) bebas prasangka. Dalam kerja penelitian. dan menyimpulkan. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (4) merumuskan hipotesis.ilmiah. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). yaitu: 1. (3) mengadakan studi pustaka. terorganisir. (6) mengolah data. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. dituntut langkah-langkah berturut-turut. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis.

Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (9) menarik kesimpulan. Demikian pula. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.menginterpretasi. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. 18 . (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya.

valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. d. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. menghasilkan pengetahuan yang: a. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3.2. sistematis 2.

Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research).4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. 1885. Ratna. dan Muhadjir.2. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. (bandingkan Nazir. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. yaitu : 1. Berdasarkan desain metodologinya. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. 2004. 2. dan Whitney. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Charters.

Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). ethnography merupakan pendekatan penelitian. 2. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 5. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 4. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. 6. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 3.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. content analysis. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Macam-macam 21 . berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.

5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. Dalam ilmu sosial. fotografi. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. lukisan. dan majalah. sesuai dengan hakikat objek. buku harian. film. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. surat kabar. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. 2004: 47-49). sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. buku teks. Immanuel kant. grafik. Sejalan dengan uraian di atas. biografi. 22 . Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Dalam ilmu sastra. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. 2. 2. laporan. yaitu sebagai studi kultural. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. gambar.

Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. gambaran atau lukisan secara sistematis. penelitian bersifat alamiah. suatu objek. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 4. sikap-sikap. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. suatu set kondisi. 5. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. Menurut Whitney (dalam Nazir. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena.3. 2. pandangan-pandangan. Adakalanya peneliti 23 . subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan.

ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Metode ini dinamakan juga studi status . Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. kriteria umum: 1. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). masalah yang dirumuskan harus patut. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.

kriteria khusus 1. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. variabel dilihat sebagaimana adanya. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. sifat penelitian adalah ex post facto. B. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. 3.5. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan.

dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan.3. membuat tabulasi serta analisis (statistik). mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4.

Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. lembaga. kelompok. 27 . Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Dalam studi komparatif ini. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. maupun masyarakat. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. subjek penelitian dapat saja individu.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Plark. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Lotman. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. 29 . Eagelton. dan keagamaan. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. ekonomi. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Riffaterre. dan Teeuw. Menurutnya. Eliis. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.

Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. di antaranya dari sisi bahan. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. 30 . Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Melalui sistem sastralah. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. secondary modelling system. yaitu berupa bahasa. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan.

Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. yaitu pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dengan demikian. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Dalam hal ini. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. dari pembaca saja. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Dengan demikian. kerja yang objektif. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya.

di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. 32 . Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Dalam hal ini. Namun. sejumlah peralatan diperlukan. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra.perspektif.

Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Tanpa paradigma. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. model. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. pola. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. Bagi ilmuwan. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2.3. 2004: 21). Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. sebagai berikut: 1. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .

Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. bahkan khayalan. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. dan sebagainya. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Dalam penelitian sastra. Di satu pihak. tersistem. maka teori pun juga beraneka ragam. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. sebagai cara pandang. Di pihak lain. Contohnya. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut.yang relatif sama. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. Jadi. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. 34 . imajinasi. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. Selanjutnya.

35 . faktor aksiologis. Keempat faktor tersebut adalah: 1. periode. khususnya sastra. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. dan teknik. termasuk metode. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. penelitian adalah penilaian. dalam ilmu humaniora. teknik dan proses selanjutnya. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. teori. faktor metodologis. metode. keseluruhan proses penelitian. faktor epistemologis. Pada gilirannya. faktor ontologis. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. mengkondisikan ilmuwan sastra. Paradigma dengan demikian mendahului. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. secara kualitatif. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis.

latar tempat dan waktu. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah.generasi. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. kecuali referensi estetisnya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. aliran. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhan unsur. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Dengan kalimat lain. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. drama bersajak. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. 36 . dan drama. puisi. Puisi. novel psikologis. psikologis. Novel sejarah. termasuk tokoh-tokoh. psikologis dan ilmu pengetahuan. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. novel. Perbedaannya. dan berbagai paham yang lain.

4. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. dan menyajikan data.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. approach. Lebih lanjut. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna.1. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. 37 . 3. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. yaitu metode dan teknik. 2004: 5355). Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. pendekatan berasal dari kata appropio.4 Pendekatan Sastra 3. menganalisis. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.

Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. 38 . Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. (2) pendekatan mimesis.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori.4. mimetik. seperti pendekatan sosiologi sastra. ekspresif.dan sebagainya. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. intrinsik dan ekstrinsik. dasarnya. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan tekniknya. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. metode. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. pragmatik. mitopoik. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. (3) pendekatan pragmatik. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. dan (4) pendekatan objektif. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. pendekatan objektif. teori. Artinya. Dalam hubungan inilah. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. 3.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.

dan hasil-hasil karyanya. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. nasionalisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. (3) produk pandangan dunia pengarang.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran dan perasaan. persepsi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan.3. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya.4. dan 39 . dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. komunisme. ucapan. feminisme.2. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. pikiran-pikiran. Secara metodis.

(3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. bentuk-bentuk kemasyarakatan. 3.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. perasaan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. pengalaman. pengalaman hidup. 1958:8).2. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). dan sebagainya Luxemberg. 40 . pikiran. persepsi. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. sesuai tujuan. 1989:15). (2) memetakan sejumlah pikiran.4. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. dan ideologi pengarang. Melalui pandangan ini.

1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. Menurut Baxter. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu proses. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Segers (2000. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. tetapi penekanannya berbeda. Menurutnya. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu copy.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Secara terminologis. menyiratkan sesuatu yang statis. suatu produk akhir. Tiruan.

tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Secara metodis. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. dsb. Oleh karena itu. 42 . sesuai tujuan. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis.. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Melalui penjabaran di atas. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. pembacalah yang menilai.2. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. dan memahami karya sastra. Dalam uraiannya. Menurutnya. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.3. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. menafsirkan. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama.4. menikmati.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pembaca dalam 43 . dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Menurutnya.

Dalam hal ini. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . yaitu: (1) pengalaman pembaca. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (3) nilai estetik.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (4) semangat zaman. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (5) rangkaian sastra. dan (7) sejarah umum. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (2) horison harapan. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis.

Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.informasi. Dengan kondisi tersebut. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Teori menuntut 45 . Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.

tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. satirik. diidealkan. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Fungsi sosial sastra 46 . Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik.

Konsep dialektika respon estetik (Iser. rol. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. historis. literary repertoire.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Konsekuansinya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. 1987: 20 dan 54). dan interaksinya. pembaca. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.

Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. 3. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. antarhubungan. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Dengan demikian. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. dan totalitas. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. sosiologis. Oleh karena itulah. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. politis.2.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. termasuk biografi. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. seperti aspekhistoris.4. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. 48 .

analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. dan latar). dll. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma.). konflik. alur. Secara metodologis. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. fakta cerita (tokoh. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 49 . Adapun terhadap prosa. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. gaya bahasa. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik.

unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya.Pada analisis prosa. 50 . Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.

keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. dan Teeuw. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. mekanisme sendiri. melainkan rusak sama sekali. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. apabila suatu bagian dihilangkan.BAB IV STRUKTURALISME 4. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. Hawkes. melainkan kualitatif. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. 1999: 1-9. 1984: 120139). bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. 1995: 4-12. Artinya. Selain itu. 1978: 17-18. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. dan Faruk: 1994: 17-18. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. terlepas dari 51 . Faruk.

sesuatu yang utuh. Aliran Kritik Baru di Amerika. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. mekanisme yang baru. Formalisme di Rusia. Karena itu. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Sebagai kualitas totalitas. antarhubungan merupakan energi. sesuatu yang berstruktur. mengembangkan. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. otonom. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . transformatif. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. motivator terjadinya gejala baru. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. dan self-regulatif. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Artinya. Dengan kata lain. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya.

misalnya. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Sejalan dengan uraian di atas. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. Namun demikian. seperti kejadian. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. latar. Dengan kata lain. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. 53 . dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Analisis terhadap penokohan. Di pihak lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. plot.sebagai sistem komunikasi. suatu masyarakat. Karya tidak dapat diisolasi. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. dan sebagainya.

dan psikologi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. yaitu: 1. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. sosiologi. Meskipun demikian. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. puitika. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Dengan jalan demikian. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Metode yang digunakan metode formal.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Sebagai teori modern mengenai sastra. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. 1985: 128-13. asosiasi. dan sebagainya. oposisi. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. reaksi terhadap studi biografis 2. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan.4.

) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. (2) sebagai metode. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. dan Ratna. Muhadjir. 4. fakta semiotik. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 55 . Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. melahirkan strukturalisme. Menurutnya. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. struktur. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. 2003: 88-96. dan pembaca sebagai penerima. Oleh karena itulah. masyarakat yang menghasilkannya.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Pradopo 2002: 46. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. terdiri atas tanda. 2002: 304). dan (3) sebagai teori. dan nilai-nilai. karya sastra adalah proses komunikasi. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. 1985: 185-192.

rima atau persajakan. alur. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. alur. ritme atau irama. peristiwa. peristiwa atau kejadian. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. latar atau setting. puisi. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. Unsurunsur prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. misalnya mengarah pada tema. dan enjambemen. simbol. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. tujuan analisis di lain pihak. Unsur-unsur puisi. Prosa. penokohan. Artinya. latar. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. dialog. dan gaya bahasa.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. stilistika. sudut pandang. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan gaya bahasa. diksi atau pilihan kata. penokohan. imajinasi. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. puisi. di antaranya tema. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. nada.

karya sastra. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. tidak semau-maunya. Jadi. 57 . analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. dan pendengar. Dalam hubungan ini. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. yaitu pencerita. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca.

yaitu ikon. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yang merupakan bentuk tanda.4 Semiotik Secara padat Dolezel. 1993: 183-189). indeks. dan simbol. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. yaitu persamaan dan sebab akibat. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. aliran semiotik. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Dalam lapangan semiotik. pengertian tanda ada dua prinsip. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning).4. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. arti bahasa dalam 58 . antara penanda dan petanda. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Menurutnya. Stout (dalam Makaryk.

menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. arti tambahan (konotasi). Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Berhubungan dengan hal ini. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Jadi. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. suasana.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dalam kaya sastra. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. daya liris. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . intensitas. Dalam sistem semiotik. perasaan.

Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. terdapat (1) sintaksis semiotika. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Dilihat dari segi cara kerjanya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. (2) semantik semiotik. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. dan (3) pragmatik semiotik. termasuk sastra. atau yang lain. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Sejalan dengan paham triadik peircean.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Menurut pandangan intertektualitas.

b. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. tokens. legisigns. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. yaitu apa yang diacu: a. Di antara representamen. argument. c. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. dicent signs. 61 . 2. dan interpretant. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. c.1. yang paling sering diulas adalah object. ikon. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. referent). object. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. c. b. Menurut Aart van Zoet (Ratna. sinsigns. interpretant. type. 2004: 102) di antara ikon. ground. qualisigns. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. object (designatum. representamen. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. simbol. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. rheme. denotatum. b. terbentuk oleh kualitas: warna hijau.

usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Kellner dalam makaryk. 4. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 1993: 340-341. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. Teks sastra kaya dengan ikon. Sebagai strukturalisme. (c) pembaca (pragmatik). Alasannya. di lain pihak.5. (b) semestaan (mimetik).indeks. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. 1993: 95-99. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). dan (d) objektif (otonom). Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. sebagai struktur. dan simbol. Karena itu. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. termasuk karya sastra. 62 . Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. dan Faruk. yang terpenting adalah ikon.

mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. Oleh karena itu. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Menurut Marxis. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. yaitu melakukan transformasi atas alam. Untuk melakukan transformasi atas alam. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 .

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. melainkan kelas sosial. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Karena itu. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. 4.5. Karya-karya kultural yang besar. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas.

dan sebagainya. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Karena itu. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. pendidikan. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. Karena itu. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. kelompok etnis. seperti kelompok profesi. ras.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri.

Hanya beberapa di antaranya. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 .terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Greimas. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. dan sebagainya. 4. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. Dengan demikian. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. bersifat mimetik. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. seperti strukturalisme. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. Namun. Todorov. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. Dalam pandangan strukturalisme genetik.

Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis.semantik pula. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. menurut strukturalisme genetik. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Struktur yang demikian. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan.

5. 4. Namun. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Menurut paham tersebut. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yang juga berstruktur.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.

subjek secara linguistik. Narratio berarti cerita. sebagaimana hubungan antara subjek. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. atau sebaliknya. kisah.dialektik. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. perkataan. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. bukan 72 . Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. predikat. 4.6. logos berarti ilmu. demikian juga dengan wacana dan teks. seperti model sintaksis. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. dan objek penderita.6 Naratologi 4. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. Dengan demikian. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. hikayat.

dengan pertimbangan 73 . Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. dan wacana. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. semboyan. diceritakan oleh narator. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. tetapi juga melalui kata-kata. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. misalnya. akrab dengan cerita Jaka Tarub. Setiap orang. analisis naratif merupakan bagian ideologi. sastra. bukan pengarang.person. Pada pahan pascastruktural. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. restorasi. Revolusi. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. politik. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. bukan pengarang. dan ekonomi. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. melainkan melalui bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora).

cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Tanpa plot. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. latar. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. dan gaya bahasa. sudut pandang. cerita sebagai tulang punggung karya. Dilihat dari media yang tersedia. Di pihak lain. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. pembaca. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. kebudayaan pun tidak ada. baik sebagai penulis. tokoh-tokoh. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. yaitu dunia fiksional.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Dalam pembicaraan mengenai naratif. wacana. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Tanpa cerita. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. Dalam karya sastra. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. 74 . Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. paling luas. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. tema. dan teks. Hampir keseluruhan genre sastra. novel juga merupakan objek yang paling memadai.

Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. dan suara). Gerald 75 . Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Mieke Bal (fabula. biografi. narration). text). catatan harian. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. termasuk feminis dan psikoanalisis. durasi. Shlomith Rimmon-Kenan (story. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Para pelopornya. modus. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. interdisipliner. mitos. puisi naratif. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). Percy Lubbock (teknik naratif). lelucon. juga roman. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. text. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Forster (tokoh bundar dan datar).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. dan sebagainya.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. Secara historis. epik. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). gongeng. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). cerpen. frequensi. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). story. yaitu: 1. Henry James (tokoh dan cerita). dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Para pelopornya. Tzvetan Todorov (historie dan discours). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. fabula. 1993: 110.

Jonathan Culler (kompetensi sastra). LeviStrauss. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Hayden White (wacana sejarah). Seymoeur Chatman (struktur naratif). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. pastiche). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Menurutnya. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). Propp 76 . dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Artinya. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Roland Barthes (Kernels dan satellits). 4. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat.6.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Todorov.2. yaitu Propp.6.Prince (struktur narratee). Jean-Francois Lyotard (metanarasi). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. unit terkecil yang membentuk tema. Jacques Derrida (dekonstruksi). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Oleh karena itu.

Menurutnya. dan (7) pahlawan palsu. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. persona bertindak sebagai variabel. (2) donor. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). (3) penolong. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. (6) pahlawan. 77 .memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). dan Todorov. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. perbuatan. (5) orang yang menyuruh. Bremond. (4) putri dan ayahnya. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. yaitu: (1) penjahat. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Di sini. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). yaitu: pelaku. Dengan kalimat lain. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Motif dibedakan menjadi tiga macam.

dan incest. Pendekatan antropologi sastra. Dengan kalimat lain. dan harus direkonstruksi melaluinya. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. misalnya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. bumi langit. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Menurutnya. khususnya konsep-konsep oposisi biner. 78 . mitos adalah naratif itu sendiri. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. seperti laki-laki perempuan.6. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. baik secara bulat maupun fragmentasi. dan sebagainya. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. tabu. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos.4.2. Di satu pihak. dilakukan terhadap mitos Oedipus. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. melalui struktural.

Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. dan sebaliknya.2. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . (2) aspek semantik. dan partisipasi. dan (4) aspek verbal. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. berkaitan dengan makna dan lambang.6. meneliti tema. Oleh karena itulah.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. dan sebagainya. yaitu (1) aspek sintaksis. gaya bahasa. secara berdampingan. dan latar.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. 4. yaitu: kehendak. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. komunikasi. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. tokoh. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Menurutnya. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. sebagai hubungan makna dan perlambangan.

kritik fenomenologis.6. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. sosiologi sastra. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. yaitu dongeng. Apel adalah sebagai objek. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. 4. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Yang ada hanyalah subjek. John dan Paul juga merupakan pengirim.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. baik sebagai pengirim maupun penerima. yaitu tata bahasa naratif universal.2. tetapi diperluas pada mitos. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Greimas (dalam Abdullah. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. studi biografi. Tidak ada subjek di balik wacana. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. 1999: 11-13. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. sastra sebagai proyeksi. seperti: psikologi sastra. dll. Mary sebagai penerima.antarhubungan adalah kausalitas. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 80 . acteurs merupakan kategori umum.

actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Cerita adalah bahan 81 . para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. pelaku. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. yaitu subjek dengan objek. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Oleh karena itu. dan penolong dengan penentang. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. dan plot. tek. Sebaliknya. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. religi. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Actans merupakan struktur dalam. dan struktur yang bersifat pemutusan. dan ilmu sosial lainnya. struktur yang bersifat penyelenggaraan. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .kasar. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. sebagai model pertama. sebagai model kedua. perangkat peristiwa. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. 82 .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. (2) kemenduaan arti (ambiguity). dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. 5. sistematis. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. Karenanya. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan fungsional.1. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. dan (c) peletak dasar 86 . (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. untuk memisahkan kemenduaan.

(2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (3) masalah harus merupakan hal penting. pikiran. Menurut Nazir (1985: 134-135). (4) masalah harus dapat duji.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. waktu. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. 87 . Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. serta dana. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai.

Berhubungan dengan penelitian sastra. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. topik penelitian atau judul penelitian. dan totalitas di dalamnya. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. 88 . masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. hubungan antarunsur. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. Dengan demikian. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian.1.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. mengembangkan (develop atau extention). rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. rumusan hendaklah jelas dan padat 3.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.

89 . sistematis.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. lingkup masalah. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. 5. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. misalnya. 2001:2). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. berjumlah tertentu. Secara ideal. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.1. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.

Penerimaan yang dimaksud 90 . diperlukan penerimaan positif. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. khususnya analisis fiksi. Dalam kerangka strukturalisme. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Dalam strukturalisme. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya.Dengan demikian. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. sebagai akumulasi konsep. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. misalnya. Teori adalah alat. dan totalitasnya. baik sebagai teori maupun metode. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. teori tidak harus dipahami secara kaku. antarhubungan. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Dalam uraian landasan teori. Sebagai suatu cara pemahaman. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya.

5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi.mengarah kepada keteraturan. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Atau dengan kalimat lain. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. 5.. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.1. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Sebaliknya. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.

dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. (2) kategori harus lengkap. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. pemilihan. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Sejalan dengan uraian di atas. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. hubungan simetris 92 . sistematik. dan hubungan antarunsur. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. ciri.(pendekatan) linguistik. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. demi pemahaman identitas data penelitian. Dengan kata lain. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Penentuan data berdasarkan perilaku. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. dsb. padu.

hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. 2. Sejalan dengan uraian di atas. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. 3. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. hubungan saling mempengaruhi. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dan faktor kebetulan. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.

dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. dan pengolahan data secara sistematis. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5.penelitiannya. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemilahan. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 .

padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. 5. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.dan tujuan penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya.

di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Idealnya. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik.

kepahlawanan dan petualangan. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. dana yang tersedia. keinginan.. Merujuk pada potensi teks tersebut. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. Latar Belakang . Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .1. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. referensi yang memadai. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. .. waktu pelaksanaan. keberanian. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. ciri.. dsb. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif... pengembangan penelitian sejenis.

termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tampak 98 . Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. 2. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Namun demikian. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. berpikir logis. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3.

Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. alur. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. 4. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. dan penelusuran tema dan amanat. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. latar) 3. keterjalinan antarunsur cerita. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. 99 .

5. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Dalam hal ini . mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3.Berdasarkan upaya tersebut. misalnya 100 . seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Cermati contoh berikut: 1. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.

Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Oleh karena itu. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. alur. menempatkan teks secara otonom. 101 . unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. antar hubungan. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Struktur dinamik. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Penjabarannya menjadi. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Paham struktural objektif.

pemilihan data. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. dll. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. tempat. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. dan analisis data. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. pengolahan data. dan menyeluruh. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. sosial).(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . identifikasi masalah. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Dengan demikian. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. padu.

Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan metodologis. teoretis. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. pada langkah penyusunan Landasan Teori.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural naratif d. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. kajian struktural genetik c. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan fungsional.tingkat kepekaan literer. 5. sistematis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. kajian struktural objektif b. dan metode kajian. teori.

Uraian landasan teori tampak 104 . Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. 2003:112). identifikasi masalah. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. kurang memadai. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. semendetail. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Berdasarkan contoh di atas. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. dan tujuan penelitian tertentu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. seteliti.identifikasi masalah dan tujuan penelitian.

Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kelemahan lain.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. 5.

Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. keterjalinan unsur. sifat.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. mengklasifikasikan . fenomena. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). menganalisis. tema. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. menyusun. unsurunsur karya. sifat. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). 1980: 139). sejumlah data. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan menginterpretasikan data (Winarno. Dengan demikian.1. 106 . dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. fakta.

dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan (4) tema dan amanat. semendetail. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. penyusun UP tersebut cukup 107 . Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. plot/alur. b dan c.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan latar. (2) struktur cerita. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1.b. seteliti. Dalam hal ini.

Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. plot/alur. Misalnya saja. Namun demikian. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. Kekuarang yang dimaksud adalah: a.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan.

Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. jumlah. dan sosial? c. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. surrise. d. b. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. seperti pengeplotan. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. kepadatan. suspense. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. tempat. Demikian pula pada pembicaraan latar. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. Pada unsur-unsur cerita lainnya. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. kesatupaduan) sebagai instrumen.

Adapun dalam penentuan amanat. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema.

selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. ******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian.

Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. W. Jauss. Imran T.W. “Sastra Lisan. New York: The Norton Library. Pengantar Ilmu Sastra.” Makalah. Jakarta: Gramedia. 1987. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Makaryk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. “Strukturalisme-Genetik. 1994. Luxemburg. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.” Makalah. Toward an Aesthetic of reseption. (ed. ed. Pengantar Sosiologi Sastra. Norton & Company Inc.) 1993. M. Hans Robert. Minneapolis: University of Minnesotta Press.H. Irena R. The Act of Reading. 2001. 1989. Jan van.).” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. 1983. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Wlfgang. Iser. 1999. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Abrams. S.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Chamamah. 1999. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. dkk.

Rachmat Djoko. Jakarta: Pustaka Jaya T. “Strukturalisme”. 1995. Jakarta: Gramedia Wuradji. 2004. Wellek. Noeng.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Penelitian Sastra: Teori. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. V. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Selangor: Sain Baru Sdn. 19. Yogyakarta: Gama Media Propp. 1985. Diterjemahkan oleh Suminto A. Bandung: Eresco. 2001. A. dkk. dan Teknik. 2000. ------------------------------. 2002. Metode. Zaimar. 1993. Metode Penelitian Linguistik. Fatimah Djajasudarma.Muhadjir. 2002. Metode Penelitian. Rien T. 1999. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.S. Moh. Kritik Sastra Indonesia Modern. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Todorov. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Sayuti. Burhan. 1987. Evaluasi Teks Sastra. Rene & Austin Warren. Pradopo. Metodologi penelitian Kualitatif. Jakarta: Djambatan. Segers. Nyoman Kutha. Makalah. 1984. “Pengantar Penelitian. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Sastra dan Ilmu sastra. Morfologi Cerita Rakyat.). Teori Pengkajian Fiksi. Tata Sastra. 1985. Diterjemahkan oleh Okke K. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Teori Kesusastraan. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . ed.Bhd. Tzvetan.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful