METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ...2...4 Landasan Teori …………………………………………… 5........... 5......3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5....... 83 5...1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian .4..2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah..2 Identifikasi Masalah ………………………………………......4 Greimas …………………………………………….. 5.1..1.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.6.........6.2. 5.........6.1.........1.. .3 Tujuan Penelitian …………………………………………....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4...........2.......3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4......5 Metodologi ………………………………………………… 5...........1... 5.

menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. hakikat. relevansi metode dan penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. i . Selain itu. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. sastra dalam penelitian ilmiah.

Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Dengan demikian.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung.. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. Agustus 2007 Penyusun ii . teori.

Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Teknik berasal dari kata teknikos. cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya.1 Pengertian. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.BAB I PENDAHULUAN 1. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. strategi untuk memahami realitas. Dalam pengertian yang lebih luas. mengikuti. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Metode. yang berarti alat. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . 2. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. melalui. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. sedangkan hodos berarti jalan. Metodologi berasal dari methodos dan logos. atau seni menggunakan alat. arah. sesudah. Hakikat Metodologi. metode. metode dianggap sebagai cara-cara. 3.

Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. perumusan masalah. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. dan (3) sadar teknis. 2 . artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. (2) sadar teoritik. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. 1. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati.

sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. mengadakan pengujian teori. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. 3 . merumuskan hipotesis dan permasalahan. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu.Dengan prosedur kerja yang baik. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. kuantitatif dan kualitatif. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. termasuk ilmu humaniora. Sebagai alat. membangun konsep dan model. komparasi. Klasifikasi. induksi dan deduksi. sama dengan teori. eksplanasi dan interpretasi. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. dan akhirnya menarik kesimpulan. deskripsi. misalnya. bukanlah karena perbedaan metode. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. menyusun proposal. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. sampling. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. menganalisis data.

tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. teknik kartu data. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . teknik dapat dideteksi secara inderawi. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. kuesieoner. misalnya: wawancara. Metode deskripsi. melalui cara: 1. dan sebagainya. struktural. teknik berhubungan dengan data primer. tetapi dasar dan cara pemahamannya. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Artinya. statistik. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. angket. jelas berbeda. Dengan demikian.Berbeda dengan metode. dokumen. komparasi. rekaman. bahkan juga dengan teori. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. teknik bersifat paling kongkret. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Sebagai alat. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Sebagai instrumen penelitian. Metode sering disebutkan sebagai teknik.

struktur disebut sebagai metode. metodologi. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Tetapi sebelumnya. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. teori. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 3. metode dapat menjadi teori.Pada pembicaraan yang berbeda. metode. Jadi. 5 . luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. dan teknik. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 2.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

d. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.menerus. yaitu sintesis itu sendiri. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. 9 .

Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. kecermatan. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Sebagai akibatnya. dan kecerdasan yang memadai. Hubungannya dengan ilmu. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. ilmu dapat hidup.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. atau pencarian kembali atas suatu objek. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. 10 . Jadi. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif.

Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Dalam menghadapi masalah.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu.berkembang. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. Kedua. Oleh karena itu. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. practicial objective. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. terutama yang berkaitan 11 . Oleh karena itu pula. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Pertama. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. scientific objective. sistematis. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. 1985: 9-15).

dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. teori-teori. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. dan sesuai dengan objeknya. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. yaitu penelitian sastra. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Urutan umum dari proses 12 . Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu.dengan pemanfaatan teori dan metode. nalar.

maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. dan penyajian kesimpulan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. fakta. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan spiritual. social. Oleh karena itu. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. analisis data. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. penelaahan informasi. manusia mencari tahu dan mencari makna. emosional. pengumpulan data. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Di samping masalah yang dihadapi. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. Di samping itu.

Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). 14 . menggambarkan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. otoritas.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. melakukan kegiatan penemuan. atau penelitian. intuasi. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. dan menafsirkan apa yang diamati. atau pendapat umum. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. penyelidikan. kemudian melakukan proses penemuan. atau memperkaya teori yang sudah ada. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini.

Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Oleh karena itu. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Pertama. Kedua. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Dalam hal ini.

yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. penyusunan design. pengajuan hipotesis. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. pengembangan instrumen. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 .2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu.berhubungan). pengumpulan dan analisis data. Teori dapat membantu merumuskan problem. Penelitian akan menghasilkan teori. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. serta membantu dalam menginterpretasi data. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala.

Dalam kerja penelitian. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (6) mengolah data. ilmu-ilmu humaniora. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. (2) bebas prasangka. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (5) mengumpulkan data. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. terorganisir. yaitu: 1. komunikasi. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. (7) menganalisis dan 17 . menginterpretasi. 3. (4) merumuskan hipotesis. menganalisis. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. (3) mengadakan studi pustaka. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. dituntut langkah-langkah berturut-turut. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah.ilmiah. (3) menggunakan prinsip analisis. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Dalam penelitian ilmiah. dan menyimpulkan. 2. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis.

juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. 18 . Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Demikian pula. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. (9) menarik kesimpulan. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya.menginterpretasi.

analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. sistematis 2. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. didukung data empiris 19 .3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.2. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. d. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. menghasilkan pengetahuan yang: a.

Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. 2004. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 1885. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. 2.2. dan Whitney. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. (bandingkan Nazir. dan Muhadjir.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). yaitu : 1. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . Charters. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Berdasarkan desain metodologinya. Ratna.

Macam-macam 21 . Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 5. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. ethnography merupakan pendekatan penelitian. 6. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. content analysis. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 2. 3. 4. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik.

Dalam ilmu sosial. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. grafik. buku teks. yaitu sebagai studi kultural. buku harian. dan majalah. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. gambar. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. Sejalan dengan uraian di atas. 22 . Dalam ilmu sastra. fotografi. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. biografi. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. lukisan. surat kabar. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. Immanuel kant. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . 2004: 47-49). 2. laporan. 2. film.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. sesuai dengan hakikat objek.

1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. 4. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. suatu objek. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. pandangan-pandangan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Menurut Whitney (dalam Nazir. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. penelitian bersifat alamiah. 5. sikap-sikap. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. 2. suatu set kondisi. gambaran atau lukisan secara sistematis. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian.3. Adakalanya peneliti 23 .

kriteria umum: 1. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status .mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). masalah yang dirumuskan harus patut. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A.

menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. kriteria khusus 1.5. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. sifat penelitian adalah ex post facto. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. B. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. 3. variabel dilihat sebagaimana adanya. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status.

seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9.3. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual.

subjek penelitian dapat saja individu. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. Dalam studi komparatif ini. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. 27 . maupun masyarakat. kelompok. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. lembaga. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Plark. 29 . Eagelton. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. keberadaannya tidak merupakan keharusan. ekonomi. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Menurutnya.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Eliis. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. dan Teeuw. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Riffaterre. dan keagamaan. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Lotman.

Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Sebagai satu sistem. 30 . Melalui sistem sastralah. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. yaitu berupa bahasa. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. secondary modelling system. di antaranya dari sisi bahan. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem.

visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. 3. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. kerja yang objektif. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Dalam hal ini. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. dari pembaca saja. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. Dengan demikian. yaitu pembacanya. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Dengan demikian. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi.

Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. sejumlah peralatan diperlukan. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Dalam hal ini. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. 32 . Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Namun.perspektif. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan.

Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 .3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. sebagai berikut: 1.3. Bagi ilmuwan. Tanpa paradigma. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. 2004: 21). model. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. unsur dalam diri sendiri 2. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. pola. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.

Jadi. bahkan khayalan. 34 . sebagai cara pandang. Dalam penelitian sastra. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. Contohnya. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. tersistem. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. Selanjutnya.yang relatif sama. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. imajinasi. Di pihak lain. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. Di satu pihak. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. dan sebagainya.

ke arah mana penelitian sastra diarahkan. secara kualitatif. Pada gilirannya. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. faktor ontologis. periode. dalam ilmu humaniora. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. faktor aksiologis. termasuk metode. teknik dan proses selanjutnya. metode. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. khususnya sastra.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. dan teknik. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. Paradigma dengan demikian mendahului. Keempat faktor tersebut adalah: 1. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. faktor metodologis. faktor epistemologis. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. mengkondisikan ilmuwan sastra. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. 35 . penelitian adalah penilaian. keseluruhan proses penelitian. teori. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan.

teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Perbedaannya. 36 . melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Novel sejarah. dan berbagai paham yang lain. kecuali referensi estetisnya. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. latar tempat dan waktu. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. novel. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut.generasi. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. psikologis. psikologis dan ilmu pengetahuan. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. drama bersajak. puisi. Dengan kalimat lain. dan drama. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Keseluruhan unsur. aliran. termasuk tokoh-tokoh. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. Puisi. novel psikologis.

Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. 2004: 5355). approach.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Lebih lanjut. yaitu metode dan teknik. 3.4 Pendekatan Sastra 3. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan.1. 37 . Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. pendekatan berasal dari kata appropio. menganalisis. dan menyajikan data.4. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.

Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. teori.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. mimetik. ekspresif. metode. pragmatik. dasarnya. dan tekniknya. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. (2) pendekatan mimesis.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Dalam hubungan inilah. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif.dan sebagainya. Artinya. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. intrinsik dan ekstrinsik. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. (3) pendekatan pragmatik. mitopoik. pendekatan objektif.4. 38 . Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. dan (4) pendekatan objektif. seperti pendekatan sosiologi sastra. 3.

Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Secara metodis. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut.2. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.3. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. ucapan. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. dan 39 . dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan hasil-hasil karyanya. pikiran-pikiran. persepsi.4. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. nasionalisme. feminisme. (3) produk pandangan dunia pengarang. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. pikiran dan perasaan. komunisme.

dan sebagainya Luxemberg. pengalaman. perasaan. (2) memetakan sejumlah pikiran. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. 3. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. 40 .2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. Melalui pandangan ini. 1958:8). seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba.2. bentuk-bentuk kemasyarakatan. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra.4. persepsi. pengalaman hidup. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. pikiran. 1989:15). dan (4) membicarakan secara menyeluruh. dan ideologi pengarang. sesuai tujuan. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya.

Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. tetapi penekanannya berbeda. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. Tiruan. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Secara terminologis. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". suatu copy. Menurut Baxter. menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. suatu produk akhir. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu proses. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Segers (2000. Menurutnya. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 .

misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. sesuai tujuan. 42 .tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. dsb. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Oleh karena itu. Melalui penjabaran di atas. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra.. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. Secara metodis.

Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Dalam uraiannya. menafsirkan. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.2.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. menikmati. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Menurutnya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. dan memahami karya sastra. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi.4. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca.3. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. Menurutnya. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. Pembaca dalam 43 . Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. pembacalah yang menilai.

Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . (2) horison harapan. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. dan (7) sejarah umum. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (3) nilai estetik. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (5) rangkaian sastra. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Dalam hal ini. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. (4) semangat zaman. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula.

Dengan kondisi tersebut. Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Teori menuntut 45 . Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya.informasi. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut.

Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Fungsi sosial sastra 46 . Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. satirik. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang.

54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. literary repertoire. dan literary strategies Implied reader merupakan model. rol. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . pembaca.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Konsekuansinya. historis. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. 1987: 20 dan 54). dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. dan interaksinya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. seperti aspekhistoris. 3. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. sosiologis. dan totalitas. 48 . Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Oleh karena itulah.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Dengan demikian. politis. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya.4. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. termasuk biografi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya.2. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. antarhubungan. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.

).Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. dan latar). analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. 49 . Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. gaya bahasa. dan sarana cerita (pusat pengisahan. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Adapun terhadap prosa. Secara metodologis. konflik. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. alur. dll. fakta cerita (tokoh. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa.

tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 .Pada analisis prosa.

dan Teeuw. melainkan rusak sama sekali. terlepas dari 51 . tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya.BAB IV STRUKTURALISME 4. mekanisme sendiri. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. apabila suatu bagian dihilangkan. Artinya. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. 1995: 4-12. 1978: 17-18. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Hawkes. dan Faruk: 1994: 17-18. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. 1984: 120139). strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. Selain itu. 1999: 1-9. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. melainkan kualitatif. Faruk.

Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. Sebagai kualitas totalitas. mekanisme yang baru. otonom. antarhubungan merupakan energi. dan self-regulatif. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Dengan kata lain. transformatif. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Formalisme di Rusia. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. mengembangkan. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Artinya. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. sesuatu yang berstruktur. sesuatu yang utuh. Karena itu. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Aliran Kritik Baru di Amerika. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. motivator terjadinya gejala baru.

Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. Sejalan dengan uraian di atas. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Analisis terhadap penokohan. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. misalnya. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. dan sebagainya. seperti kejadian. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra.sebagai sistem komunikasi. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. plot. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Karya tidak dapat diisolasi. Dengan kata lain. Di pihak lain. suatu masyarakat. 53 . Namun demikian. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. latar. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya.

penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . dan psikologi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. asosiasi. Dengan jalan demikian. 1985: 128-13. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. Metode yang digunakan metode formal. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. puitika. Sebagai teori modern mengenai sastra. yaitu: 1. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. dan sebagainya. oposisi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. reaksi terhadap studi biografis 2. sosiologi.4. Meskipun demikian.

Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. 2003: 88-96. Muhadjir. dan nilai-nilai.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 55 . Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. masyarakat yang menghasilkannya. (2) sebagai metode. Menurutnya. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. melahirkan strukturalisme. dan (3) sebagai teori. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. 1985: 185-192. terdiri atas tanda.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. fakta semiotik. dan Ratna. 2002: 304). dan pembaca sebagai penerima. struktur. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 4.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Oleh karena itulah. Pradopo 2002: 46. karya sastra adalah proses komunikasi. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw.

penokohan. imajinasi. dan enjambemen. latar. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. dan gaya bahasa. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. simbol.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. alur. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. puisi. peristiwa atau kejadian. ritme atau irama. rima atau persajakan. puisi. tujuan analisis di lain pihak. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. peristiwa. diksi atau pilihan kata. misalnya mengarah pada tema. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Artinya. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. stilistika. dan gaya bahasa. Prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. alur. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. di antaranya tema. latar atau setting. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Unsurunsur prosa. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. sudut pandang. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. penokohan. dialog. nada. Unsur-unsur puisi.

Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. 57 . tidak bertambah dalam penelitian pustaka. karya sastra.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Jadi. tidak semau-maunya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Dalam hubungan ini. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. yaitu pencerita. dan pendengar.

dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. antara penanda dan petanda. dan simbol. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. aliran semiotik. latar belakang sejarah pertumbuhannya. pengertian tanda ada dua prinsip. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. Dalam lapangan semiotik. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian.4. indeks. yaitu persamaan dan sebab akibat. Ada tiga jenis tanda yang pokok. 1993: 183-189). Menurutnya. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. yaitu ikon. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. Stout (dalam Makaryk.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. yang merupakan bentuk tanda. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. arti bahasa dalam 58 . yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai.

yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . intensitas. daya liris. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Berhubungan dengan hal ini. suasana. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. arti tambahan (konotasi).sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Dalam kaya sastra. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. perasaan. Dalam sistem semiotik. Jadi. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa.

Menurut pandangan intertektualitas. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. terdapat (1) sintaksis semiotika. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. atau yang lain. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. dan (3) pragmatik semiotik. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. termasuk sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. (2) semantik semiotik. Sejalan dengan paham triadik peircean. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.

terbentuk oleh kualitas: warna hijau. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. legisigns. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. c. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. object. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. denotatum. rheme. b. b. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. dan interpretant. 61 . yang paling sering diulas adalah object. c. simbol. ground. representamen. object (designatum. qualisigns. ikon.1. 2004: 102) di antara ikon. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. dicent signs. referent). yaitu apa yang diacu: a. sinsigns. Menurut Aart van Zoet (Ratna. 2. type. c. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. Di antara representamen. interpretant. tokens. argument. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api.

4. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. Sebagai strukturalisme. sebagai struktur. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Kellner dalam makaryk. (b) semestaan (mimetik). di lain pihak. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Alasannya. Teks sastra kaya dengan ikon. termasuk karya sastra. dan Faruk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. (c) pembaca (pragmatik). 1993: 95-99. 1993: 340-341. dan (d) objektif (otonom). 62 . yang terpenting adalah ikon. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Karena itu. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. dan simbol.5. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur).indeks.

Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. yaitu melakukan transformasi atas alam. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Menurut Marxis. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Oleh karena itu. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Untuk melakukan transformasi atas alam. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

pengertian marxis yang sudah dikemukakan. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis.5. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. melainkan kelas sosial. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Karena itu. 4.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Karya-karya kultural yang besar.

Karena itu. pendidikan. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. dan sebagainya. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. seperti kelompok profesi. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Dalam pengertian strukturalisme genetik. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. kelompok etnis. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. ras. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Karena itu. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian.

5. 4. Namun. dan sebagainya. Dalam pandangan strukturalisme genetik. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Todorov. seperti strukturalisme. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Hanya beberapa di antaranya. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Dengan demikian. Greimas. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. bersifat mimetik. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.

semantik pula. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . menurut strukturalisme genetik. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Struktur yang demikian. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain.

yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. Namun. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. 4. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yang juga berstruktur.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik.5. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Menurut paham tersebut. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu.

Dengan demikian. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator.6 Naratologi 4. atau sebaliknya. demikian juga dengan wacana dan teks. sebagaimana hubungan antara subjek. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Narratio berarti cerita. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. seperti model sintaksis. hikayat. perkataan. predikat.dialektik. bukan 72 . sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. subjek secara linguistik. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. kisah. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif.6. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. dan objek penderita. 4. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. logos berarti ilmu.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin).

Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. dan wacana. dan ekonomi. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. tetapi juga melalui kata-kata. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. Pada pahan pascastruktural. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. bukan pengarang. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. akrab dengan cerita Jaka Tarub. analisis naratif merupakan bagian ideologi. misalnya. sastra. bukan pengarang. politik. restorasi. melainkan melalui bahasa. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. dengan pertimbangan 73 . semboyan. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. Setiap orang. Revolusi. diceritakan oleh narator.person. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa.

khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. latar. 74 . unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. paling luas. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. cerita sebagai tulang punggung karya. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. kebudayaan pun tidak ada. Hampir keseluruhan genre sastra.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. baik sebagai penulis. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Dalam karya sastra. Dalam pembicaraan mengenai naratif. dan gaya bahasa. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. novel juga merupakan objek yang paling memadai. tokoh-tokoh. pembaca. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. Di pihak lain. Dilihat dari media yang tersedia. Tanpa cerita. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. dan teks. tema. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. yaitu dunia fiksional. wacana. Tanpa plot. sudut pandang.

dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. dan suara). text). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. dan sebagainya. cerpen. Henry James (tokoh dan cerita). Forster (tokoh bundar dan datar). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. fabula. Para pelopornya. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Para pelopornya. narration). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. interdisipliner. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. text. Shlomith Rimmon-Kenan (story. yaitu: 1. modus. 1993: 110. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Secara historis. Percy Lubbock (teknik naratif). periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). catatan harian. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). mitos. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Gerald 75 . biografi. epik. gongeng. puisi naratif. frequensi. Claude Bremond (struktur dan fungsi).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans).114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. lelucon. juga roman. durasi. termasuk feminis dan psikoanalisis. story. Mieke Bal (fabula. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa.

tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. yaitu Propp. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). 4. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Hayden White (wacana sejarah). Menurutnya. unit terkecil yang membentuk tema. Roland Barthes (Kernels dan satellits). Todorov. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Oleh karena itu. pastiche).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet.6. Jonathan Culler (kompetensi sastra). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Propp 76 . Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Artinya.Prince (struktur narratee). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. LeviStrauss. Jacques Derrida (dekonstruksi). Marry Louise Pratt (tindak kata).6. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Umberto Eco (wacana dan kebohongan). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.2.

(2) donor. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). persona bertindak sebagai variabel. Bremond. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. yaitu: pelaku. (4) putri dan ayahnya. Motif dibedakan menjadi tiga macam. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (3) penolong. perbuatan. 77 . dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. (5) orang yang menyuruh. Menurutnya. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah).memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. (6) pahlawan. Dengan kalimat lain. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. dan Todorov. dan (7) pahlawan palsu. Di sini. yaitu: (1) penjahat.

Pendekatan antropologi sastra. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. 78 . sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis. dan harus direkonstruksi melaluinya. Di satu pihak. seperti laki-laki perempuan. Dengan kalimat lain. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat.4. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan incest. tabu. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. melalui struktural. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. misalnya.6. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. dilakukan terhadap mitos Oedipus. mitos adalah naratif itu sendiri. baik secara bulat maupun fragmentasi.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Menurutnya.2. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. khususnya konsep-konsep oposisi biner. dan sebagainya. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. bumi langit.

Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. yaitu (1) aspek sintaksis. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. dan latar. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. gaya bahasa. dan (4) aspek verbal. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. 4. tokoh. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. dan sebagainya. Menurutnya.2. dan partisipasi. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. yaitu: kehendak.6. komunikasi.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. (2) aspek semantik. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Oleh karena itulah. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. secara berdampingan. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. dan sebaliknya. meneliti tema. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. berkaitan dengan makna dan lambang. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . sebagai hubungan makna dan perlambangan.

Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju.antarhubungan adalah kausalitas.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. baik sebagai pengirim maupun penerima. sosiologi sastra. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. yaitu dongeng. yaitu tata bahasa naratif universal. tetapi diperluas pada mitos. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. Tidak ada subjek di balik wacana. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. acteurs merupakan kategori umum. John dan Paul juga merupakan pengirim. Yang ada hanyalah subjek. Apel adalah sebagai objek. seperti: psikologi sastra. 80 . dll. Greimas (dalam Abdullah. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. Mary sebagai penerima. sastra sebagai proyeksi. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku.2. 1999: 11-13. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. 4.6. kritik fenomenologis. studi biografi. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain.

dan penolong dengan penentang. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Oleh karena itu. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Sebaliknya. dan plot.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. dan struktur yang bersifat pemutusan. pelaku. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. Cerita adalah bahan 81 . struktur yang bersifat penyelenggaraan. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. dan ilmu sosial lainnya. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. tek. religi. yaitu subjek dengan objek. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. Actans merupakan struktur dalam. yaitu struktur berdasarkan perjanjian.

Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . sebagai model pertama. perangkat peristiwa.kasar. sebagai model kedua. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. 82 .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. dan (c) peletak dasar 86 . untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan fungsional. (2) kemenduaan arti (ambiguity). Karenanya. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. 5. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. sistematis. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena.1. untuk memisahkan kemenduaan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.

Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). 87 . dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. serta dana. (3) masalah harus merupakan hal penting. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. (4) masalah harus dapat duji. Ciri kedua yang menyangkut fisible. pikiran. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. Menurut Nazir (1985: 134-135). waktu.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan.

Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. mengembangkan (develop atau extention). Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. topik penelitian atau judul penelitian.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. Dengan demikian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. Berhubungan dengan penelitian sastra. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. hubungan antarunsur. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif.1. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. 88 . rumusan hendaklah jelas dan padat 3. dan totalitas di dalamnya.

berjumlah tertentu.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). 5. lingkup masalah. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. misalnya. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. sistematis. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya.1. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. 89 . Secara ideal. 2001:2). Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya.

Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Sebagai suatu cara pemahaman. sebagai akumulasi konsep. Teori adalah alat. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya.Dengan demikian. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. Dalam kerangka strukturalisme. dan totalitasnya. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. teori tidak harus dipahami secara kaku. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. misalnya. baik sebagai teori maupun metode. khususnya analisis fiksi. Dalam strukturalisme. diperlukan penerimaan positif. Dalam uraian landasan teori. antarhubungan. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Penerimaan yang dimaksud 90 .

1. Sebaliknya. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.mengarah kepada keteraturan. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . 5. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. Atau dengan kalimat lain. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu.

Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. (2) kategori harus lengkap. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. hubungan simetris 92 . (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Dengan kata lain. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. dan hubungan antarunsur. (3) kategori harus bebas dan terpisah. Penentuan data berdasarkan perilaku. ciri. dsb. pemilihan.(pendekatan) linguistik. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. Sejalan dengan uraian di atas. padu. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. demi pemahaman identitas data penelitian. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. sistematik. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu.

maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. Sejalan dengan uraian di atas. 2. hubungan saling mempengaruhi. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. dan faktor kebetulan. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. 3.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama.

dan pengolahan data secara sistematis. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. pemilahan. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemilahan. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan.penelitiannya. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya.

dan tujuan penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.

proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. Idealnya. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya.

waktu pelaksanaan..1.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.. keinginan. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif. Latar Belakang . Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. Merujuk pada potensi teks tersebut. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat.. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. dsb. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . keberanian. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. referensi yang memadai. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. pengembangan penelitian sejenis. dana yang tersedia.. . ciri. kepahlawanan dan petualangan.. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian.

fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. 2. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. berpikir logis. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. tampak 98 . Namun demikian. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2.

menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. 4. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. struktur cerita yang terbentuk. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. latar) 3. 99 . menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. keterjalinan antarunsur cerita. dan penelusuran tema dan amanat. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. alur. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya.

mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. Dalam hal ini . Cermati contoh berikut: 1. 5.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. misalnya 100 . Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail.Berdasarkan upaya tersebut. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1.

menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). menempatkan teks secara otonom. Struktur dinamik. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Oleh karena itu. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Paham struktural objektif. alur. antar hubungan. 101 . Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. Penjabarannya menjadi.

(d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. dll. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. dan analisis data. identifikasi masalah.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. sosial). Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. pemilihan data. pengolahan data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. dan menyeluruh. padu. tempat. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. Dengan demikian. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita.

Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas).tingkat kepekaan literer. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . kajian struktural objektif b. sistematis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. pada langkah penyusunan Landasan Teori. dan metode kajian. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. 5. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. dan fungsional. kajian struktural genetik c. kajian struktural naratif d.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. teori. teoretis. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan metodologis.

kurang memadai. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. dan tujuan penelitian tertentu.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. 2003:112). semendetail. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Uraian landasan teori tampak 104 . seteliti. Berdasarkan contoh di atas. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. identifikasi masalah. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional.

terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. 5. Kelemahan lain. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian.

fakta. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dan amanat dapat terungkap secara tepat. dan menginterpretasikan data (Winarno. menyusun. 1980: 139). unsurunsur karya. mengklasifikasikan . Dengan demikian. keterjalinan unsur. sifat. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sifat. tema. menganalisis. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. 106 . sejumlah data.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian.1. fenomena. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas.

metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Dalam hal ini. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. seteliti. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.b. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan latar. dan (4) tema dan amanat. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. penyusun UP tersebut cukup 107 .2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. b dan c. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. semendetail. (2) struktur cerita. plot/alur.

mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Misalnya saja. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Namun demikian. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.

Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. suspense. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. surrise. jumlah. b. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. kepadatan. d. Pada unsur-unsur cerita lainnya. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. Demikian pula pada pembicaraan latar. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. tempat. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. dan sosial? c. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. seperti pengeplotan. kesatupaduan) sebagai instrumen.

seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .

******* 111 . selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud.

Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 .W.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. “Sastra Lisan. Pengantar Ilmu Sastra. New York: The Norton Library. Luxemburg. Wlfgang. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. 2001.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Chamamah. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Irena R. Minneapolis: University of Minnesotta Press. 1989. W. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Imran T. dkk. Norton & Company Inc. Jan van. Hans Robert. Pengantar Sosiologi Sastra. S. Iser. Abrams. Toward an Aesthetic of reseption.” Makalah. (ed. 1999. 1994.” Makalah. Jauss. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.H.). 1987. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. The Act of Reading. 1999.) 1993. Makaryk. ed. M. 1983. Jakarta: Gramedia. “Strukturalisme-Genetik.

Fatimah Djajasudarma. Jakarta: Gramedia Wuradji. dan Teknik. V. Rachmat Djoko. Kritik Sastra Indonesia Modern. “Pengantar Penelitian. Diterjemahkan oleh Okke K. Zaimar.Bhd. Diterjemahkan oleh Suminto A. Pradopo.S. Teori Kesusastraan. 2004. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Rien T. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 2002.Muhadjir. Selangor: Sain Baru Sdn. Sastra dan Ilmu sastra. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Jakarta: Djambatan. Metodologi penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1984. Metode Penelitian. Tata Sastra. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Evaluasi Teks Sastra. dkk. Metode.). 2001. Sayuti. Todorov. Penelitian Sastra: Teori. A. 1987. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Moh. Nyoman Kutha. ed. “Strukturalisme”. Tzvetan. 1985. 1995. ------------------------------.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Wellek. Jakarta: Pustaka Jaya T. 1985. Burhan. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Metode Penelitian Linguistik. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Yogyakarta: Gama Media Propp. Segers. Morfologi Cerita Rakyat. 1993. 1999. 19. Noeng. 2002. Bandung: Eresco. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Rene & Austin Warren. 2000. Makalah.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful