METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

..2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah..4 Landasan Teori …………………………………………… 5....4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5..3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.........1.....5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v . .....3 Tujuan Penelitian ………………………………………….......4.. 83 5. 5..........1.2...2...6...6...... 5.1........1...1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ..1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5.2 Levi’Strauss ………………………………………… 4........ 5....3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4.......2 Identifikasi Masalah ……………………………………….2..........5 Metodologi ………………………………………………… 5... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ........4 Greimas …………………………………………….6..... 5...1...

Selain itu. sastra dalam penelitian ilmiah. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. relevansi metode dan penelitian. i . Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. hakikat.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.

penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. Dengan demikian. Agustus 2007 Penyusun ii ..Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. teori.

Metode. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. metode. sesudah. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. atau seni menggunakan alat. cara.BAB I PENDAHULUAN 1. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. melalui. Hakikat Metodologi. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian.1 Pengertian. 3. sedangkan hodos berarti jalan. 2. strategi untuk memahami realitas. Dalam pengertian yang lebih luas. arah. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. metode dianggap sebagai cara-cara. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. Metodologi berasal dari methodos dan logos. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. yang berarti alat. mengikuti. Teknik berasal dari kata teknikos. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . yaitu filsafat ilmu mengenai metode.

artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. perumusan masalah. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. dan kerangka pemikiran penelitian. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. (2) sadar teoritik. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. 2 . 1. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. dan (3) sadar teknis. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.

Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. eksplanasi dan interpretasi. dan akhirnya menarik kesimpulan. bukanlah karena perbedaan metode. mengadakan pengujian teori. kuantitatif dan kualitatif. deskripsi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. komparasi. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. sampling. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. misalnya. Sebagai alat. menganalisis data. Klasifikasi. merumuskan hipotesis dan permasalahan. sama dengan teori. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami.Dengan prosedur kerja yang baik. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. menyusun proposal. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. induksi dan deduksi. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. membangun konsep dan model. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. 3 . termasuk ilmu humaniora. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi.

Metode deskripsi. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . bahkan juga dengan teori. komparasi. teknik bersifat paling kongkret. jelas berbeda. angket. kuesieoner. tetapi dasar dan cara pemahamannya.Berbeda dengan metode. Dengan demikian. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Artinya. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. Sebagai instrumen penelitian. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. struktural. teknik berhubungan dengan data primer. Sebagai alat. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. teknik kartu data. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. statistik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. dokumen. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. melalui cara: 1. misalnya: wawancara. dan sebagainya. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Metode sering disebutkan sebagai teknik. rekaman.

dan teknik. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. struktur disebut sebagai metode. Tetapi sebelumnya. 5 . Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. metodologi. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. metode. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 3. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. metode dapat menjadi teori. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Jadi. teori.Pada pembicaraan yang berbeda. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. 2.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. d.menerus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. 9 . Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi.

penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. Sebagai akibatnya. kecermatan. Jadi. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. ilmu dapat hidup. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. 10 . yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. dan kecerdasan yang memadai. atau pencarian kembali atas suatu objek. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu.

sistematis. Oleh karena itu. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah.berkembang. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Pertama. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. Oleh karena itu pula. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. terutama yang berkaitan 11 . dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. practicial objective. Kedua. Dalam menghadapi masalah. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. 1985: 9-15). yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. scientific objective.

teori-teori. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. nalar. Urutan umum dari proses 12 . yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. yaitu penelitian sastra. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. Kaitannya dengan kehidupan ilmu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. dan sesuai dengan objeknya. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan.dengan pemanfaatan teori dan metode. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra.

maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . analisis data. penelaahan informasi. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. manusia mencari tahu dan mencari makna. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan spiritual. social. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Di samping itu. fakta. pengumpulan data. Di samping masalah yang dihadapi. Oleh karena itu. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. emosional. dan penyajian kesimpulan. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus.

otoritas. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. melakukan kegiatan penemuan. dan menafsirkan apa yang diamati. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. intuasi. atau penelitian. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. atau memperkaya teori yang sudah ada. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau pendapat umum.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. 14 . Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. penyelidikan. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. menggambarkan. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. kemudian melakukan proses penemuan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.

para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. Oleh karena itu. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Pertama. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Dalam hal ini. Kedua. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 .

yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengumpulan dan analisis data. serta membantu dalam menginterpretasi data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . pengajuan hipotesis. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. Penelitian akan menghasilkan teori. pengembangan instrumen.berhubungan). penyusunan design. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Teori dapat membantu merumuskan problem.

Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. menginterpretasi. (5) mengumpulkan data. (3) menggunakan prinsip analisis. (6) mengolah data. terorganisir. 3. menganalisis. Dalam penelitian ilmiah. dan menyimpulkan. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta.ilmiah. (7) menganalisis dan 17 . (4) merumuskan hipotesis. dituntut langkah-langkah berturut-turut. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. yaitu: 1. (2) bebas prasangka. 2. Dalam kerja penelitian. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. ilmu-ilmu humaniora. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. (3) mengadakan studi pustaka. komunikasi.

(8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. 18 . produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya.menginterpretasi. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian.

d. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. sistematis 2. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. didukung data empiris 19 . (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa.2. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. menghasilkan pengetahuan yang: a.

yaitu : 1. dan Muhadjir. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. 2004.2. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. 1885. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. 2. Ratna. Charters. dan Whitney. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. (bandingkan Nazir.

Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. 4. 6. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. 5. ethnography merupakan pendekatan penelitian. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Macam-macam 21 . penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. content analysis. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 3. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. 2. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.

Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. buku harian. fotografi. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. 2. grafik.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. yaitu sebagai studi kultural. dan Wilhlem Dilthey (Ratna.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. sesuai dengan hakikat objek. dan majalah. buku teks. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . film. Dalam ilmu sastra. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Immanuel kant. Dalam ilmu sosial. lukisan. 2. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. biografi. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. Sejalan dengan uraian di atas. surat kabar. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. laporan. gambar. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. 2004: 47-49). 22 .

serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Adakalanya peneliti 23 . serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Menurut Whitney (dalam Nazir. 2. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. 4. gambaran atau lukisan secara sistematis. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. penelitian bersifat alamiah. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. suatu objek. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. pandangan-pandangan.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. suatu set kondisi. 5.3. sikap-sikap.

data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode ini dinamakan juga studi status . masalah yang dirumuskan harus patut.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). kriteria umum: 1. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2.

menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan.5. B. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. kriteria khusus 1. sifat penelitian adalah ex post facto. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. 3. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. variabel dilihat sebagaimana adanya.

membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6.3. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4.

lembaga. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. maupun masyarakat.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. 27 . subjek penelitian dapat saja individu. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. kelompok. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. keberadaannya tidak merupakan keharusan.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Menurutnya. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Riffaterre. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. dan Teeuw. dan keagamaan. Lotman. ekonomi. 29 . menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Eagelton. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Plark. Eliis. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer.

Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. di antaranya dari sisi bahan. yaitu berupa bahasa. Melalui sistem sastralah. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Sebagai satu sistem. secondary modelling system. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. 30 . Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua.

Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. kerja yang objektif. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. dari pembaca saja. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. 3. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. yaitu pembacanya.

Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. 32 . Dalam hal ini. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian.perspektif. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Namun. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. sejumlah peralatan diperlukan. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu.

model. pola. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. unsur dalam diri sendiri 2.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. 2004: 21). dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. sebagai berikut: 1. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan.3. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Tanpa paradigma. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. Bagi ilmuwan. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama.

imajinasi. Contohnya. sebagai cara pandang. Dalam penelitian sastra. maka teori pun juga beraneka ragam. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Selanjutnya. 34 . Di satu pihak. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut.yang relatif sama. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Jadi. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. dan sebagainya. bahkan khayalan. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. tersistem. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Di pihak lain.

periode. metode. dan teknik. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. Pada gilirannya. teori. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. mengkondisikan ilmuwan sastra. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. khususnya sastra. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. faktor aksiologis. penelitian adalah penilaian. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. dalam ilmu humaniora. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. keseluruhan proses penelitian. 35 . jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. Keempat faktor tersebut adalah: 1. secara kualitatif. faktor ontologis. faktor epistemologis.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. termasuk metode. teknik dan proses selanjutnya. Paradigma dengan demikian mendahului. faktor metodologis. ke arah mana penelitian sastra diarahkan.

Novel sejarah. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. dan drama. latar tempat dan waktu. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. drama bersajak. aliran. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. psikologis. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. 36 . kecuali referensi estetisnya. Keseluruhan unsur. Perbedaannya. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. psikologis dan ilmu pengetahuan. novel. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. termasuk tokoh-tokoh. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. novel psikologis. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas.generasi. dan berbagai paham yang lain. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. Dengan kalimat lain. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. puisi. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. Puisi.

yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. approach. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.4. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. menganalisis. yaitu metode dan teknik. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek.4 Pendekatan Sastra 3. pendekatan berasal dari kata appropio. Lebih lanjut.1. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. 3. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. 2004: 5355). 37 . maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. dan menyajikan data.

38 . Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. pendekatan objektif. intrinsik dan ekstrinsik. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. Dalam hubungan inilah.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. (2) pendekatan mimesis. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. dan tekniknya. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. 3. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. mimetik. Artinya.dan sebagainya. (3) pendekatan pragmatik. teori. dasarnya. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. seperti pendekatan sosiologi sastra. ekspresif. metode. pragmatik. mitopoik. dan (4) pendekatan objektif. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan.4.

langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. pikiran-pikiran.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. persepsi. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. feminisme. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. pikiran dan perasaan.3. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. ucapan. (3) produk pandangan dunia pengarang. komunisme. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang.4. dan 39 . nasionalisme. Secara metodis. dan hasil-hasil karyanya. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.2. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya.

pikiran. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. pengalaman. persepsi. 1989:15). pengalaman hidup. Melalui pandangan ini. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. (2) memetakan sejumlah pikiran. (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. perasaan. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. 40 . dan (4) membicarakan secara menyeluruh. 1958:8). dan sebagainya Luxemberg.4.2. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 3. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. bentuk-bentuk kemasyarakatan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. dan ideologi pengarang. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. sesuai tujuan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman.

Menurutnya. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Segers (2000. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. menyiratkan sesuatu yang statis. Tiruan. Menurut Baxter. tetapi penekanannya berbeda. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Secara terminologis.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu produk akhir. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. suatu copy. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu proses.

(2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. Secara metodis. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. sesuai tujuan. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Oleh karena itu.. dsb. 42 . misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional. Melalui penjabaran di atas.

mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.2. menafsirkan. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik.4. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Pembaca dalam 43 . yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. pembacalah yang menilai.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. Dalam uraiannya. (2) penerapan praktis estetika resepsi. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Menurutnya. Menurutnya. menikmati. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. dan memahami karya sastra.3. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya.

Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . (2) horison harapan. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (4) semangat zaman. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. karya sastra mendapat makna dan fungsinya.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. dan (7) sejarah umum. Dalam hal ini. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. (3) nilai estetik. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. yaitu: (1) pengalaman pembaca. (5) rangkaian sastra. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss.

Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Teori menuntut 45 . Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya.informasi. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut. Dengan kondisi tersebut. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Perihal semangat zaman.

diidealkan. Fungsi sosial sastra 46 . atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. satirik. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik.

historis. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. dan interaksinya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. pembaca. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. literary repertoire. dan literary strategies Implied reader merupakan model. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Konsekuansinya. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. 1987: 20 dan 54). Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. rol. Konsep dialektika respon estetik (Iser. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 .

pembacanya tanpa mendeterminasikannya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. antarhubungan. termasuk biografi. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. dan totalitas. politis.2. 48 . Dengan demikian. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. seperti aspekhistoris. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.4. sosiologis.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. 3. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Oleh karena itulah.

). fakta cerita (tokoh. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. Secara metodologis. Adapun terhadap prosa. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. konflik. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. alur. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). dan sarana cerita (pusat pengisahan. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. gaya bahasa. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. dan latar). mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. dll. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. 49 . Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema.

tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra.Pada analisis prosa. 50 .

1978: 17-18. Faruk. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. Hawkes. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. dan Faruk: 1994: 17-18. melainkan rusak sama sekali. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. 1995: 4-12. mekanisme sendiri. 1999: 1-9. dan Teeuw. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Artinya. melainkan kualitatif. terlepas dari 51 . apabila suatu bagian dihilangkan. Selain itu. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri.BAB IV STRUKTURALISME 4. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. 1984: 120139). Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh.

Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. sesuatu yang utuh. otonom. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. Aliran Kritik Baru di Amerika. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Artinya. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. dan self-regulatif. Sebagai kualitas totalitas. sesuatu yang berstruktur. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. Karena itu. mengembangkan. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Formalisme di Rusia. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. motivator terjadinya gejala baru. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 .berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. antarhubungan merupakan energi. mekanisme yang baru. Dengan kata lain. transformatif. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti.

Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. 53 . Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. dan sebagainya.sebagai sistem komunikasi. seperti kejadian. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Sejalan dengan uraian di atas. Dengan kata lain. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. suatu masyarakat. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. Analisis terhadap penokohan. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Karya tidak dapat diisolasi. plot. Namun demikian. misalnya. latar. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Di pihak lain.

penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. Metode yang digunakan metode formal. Sebagai teori modern mengenai sastra. 1985: 128-13. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. asosiasi. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. yaitu: 1. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. Meskipun demikian.4. dan psikologi. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. reaksi terhadap studi biografis 2. Dengan jalan demikian.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. sosiologi. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. dan sebagainya. oposisi. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. puitika.

tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Menurutnya. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. 2003: 88-96. melahirkan strukturalisme. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. terdiri atas tanda. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. masyarakat yang menghasilkannya. fakta semiotik. (2) sebagai metode. karya sastra adalah proses komunikasi. dan nilai-nilai. Muhadjir. Pradopo 2002: 46. dan (3) sebagai teori.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. dan pembaca sebagai penerima. Oleh karena itulah. 1985: 185-192. 4. 2002: 304).3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. 55 . yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. struktur. dan Ratna.

Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. alur. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. latar. puisi. sudut pandang. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. peristiwa atau kejadian. dan enjambemen. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. ritme atau irama. dan gaya bahasa. nada.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. di antaranya tema. simbol. diksi atau pilihan kata. alur. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. latar atau setting. Unsur-unsur puisi. imajinasi. peristiwa. Artinya. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. penokohan. dialog. tujuan analisis di lain pihak. misalnya mengarah pada tema. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . penokohan. puisi. rima atau persajakan. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. stilistika. dan gaya bahasa. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. Unsurunsur prosa. Prosa.

Jadi. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak semau-maunya. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. dan pendengar. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Dalam hubungan ini. 57 . karya sastra. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. yaitu pencerita. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya.

Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. Stout (dalam Makaryk. Ada tiga jenis tanda yang pokok. aliran semiotik. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. dan simbol.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Dalam lapangan semiotik. arti bahasa dalam 58 . antara penanda dan petanda.4. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yaitu ikon. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Menurutnya. yang merupakan bentuk tanda. 1993: 183-189). indeks. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. latar belakang sejarah pertumbuhannya. yaitu persamaan dan sebab akibat. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. pengertian tanda ada dua prinsip. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya.

dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dalam sistem semiotik. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. daya liris. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. Jadi. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. arti tambahan (konotasi). Berhubungan dengan hal ini. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. perasaan. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 .sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). intensitas. yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. Dalam kaya sastra. suasana.

studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. terdapat (1) sintaksis semiotika. Dilihat dari segi cara kerjanya. Sejalan dengan paham triadik peircean. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. termasuk sastra. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. (2) semantik semiotik. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. dan (3) pragmatik semiotik. Menurut pandangan intertektualitas. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. atau yang lain. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra.

b. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. ground. dicent signs. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. 2. denotatum. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. object (designatum. b. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. yang paling sering diulas adalah object. 2004: 102) di antara ikon. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. b. yaitu apa yang diacu: a. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. ikon. interpretant. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. Menurut Aart van Zoet (Ratna. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. rheme. Di antara representamen. argument. referent). qualisigns. tokens. sinsigns. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. dan interpretant. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. c.1. c. 61 . object. type. legisigns. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. representamen. simbol. c.

maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Alasannya.5. di lain pihak. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Sebagai strukturalisme. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu.indeks. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. dan simbol. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. 1993: 95-99. dan Faruk. 62 . Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. termasuk karya sastra. Kellner dalam makaryk. yang terpenting adalah ikon. Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Teks sastra kaya dengan ikon. 4. (c) pembaca (pragmatik). 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. sebagai struktur. dan (d) objektif (otonom). Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. Karena itu. (b) semestaan (mimetik). 1993: 340-341.

mempunyai kebutuhan tidak terbatas. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. yaitu melakukan transformasi atas alam. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. Menurut Marxis. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Untuk melakukan transformasi atas alam. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Oleh karena itu. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . melainkan kelas sosial.5. 4. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. Karena itu. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karya-karya kultural yang besar. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya.

dan sebagainya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. pendidikan. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. seperti kelompok profesi. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. Dalam pengertian strukturalisme genetik. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. kelompok etnis. ras. Karena itu. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain.

terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. seperti strukturalisme. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya. 4. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . dan sebagainya. Todorov.5. bersifat mimetik. Greimas. Namun. Hanya beberapa di antaranya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Dengan demikian. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan.

terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. Struktur yang demikian. Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. menurut strukturalisme genetik. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya.semantik pula. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian.

5. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. yang juga berstruktur. Namun. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Menurut paham tersebut.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. 4.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian.

Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. 4. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial.6. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. hikayat. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. atau sebaliknya. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. logos berarti ilmu. bukan 72 . metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). Narratio berarti cerita.6 Naratologi 4. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas.dialektik. Dengan demikian. demikian juga dengan wacana dan teks. dan objek penderita. perkataan. sebagaimana hubungan antara subjek. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. predikat. kisah. seperti model sintaksis. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. subjek secara linguistik. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman.

Setiap orang. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa.person. tetapi juga melalui kata-kata. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. bukan pengarang. akrab dengan cerita Jaka Tarub. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. dan ekonomi. bukan pengarang. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. melainkan melalui bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. misalnya. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. semboyan. Revolusi. diceritakan oleh narator. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. restorasi. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. analisis naratif merupakan bagian ideologi. sastra. dan wacana. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. dengan pertimbangan 73 . politik. Pada pahan pascastruktural.

unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. Dalam karya sastra. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. latar. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Dalam pembicaraan mengenai naratif. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. yaitu dunia fiksional. tokoh-tokoh. Dilihat dari media yang tersedia. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. dan teks. baik sebagai penulis. wacana. tema. Di pihak lain. Tanpa plot. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. kebudayaan pun tidak ada. sudut pandang. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. pembaca. novel juga merupakan objek yang paling memadai. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. Hampir keseluruhan genre sastra. 74 . paling luas. dan gaya bahasa. cerita sebagai tulang punggung karya. Tanpa cerita.

Mieke Bal (fabula. Secara historis. narration). Forster (tokoh bundar dan datar). biografi. Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. cerpen. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. termasuk feminis dan psikoanalisis. dan sebagainya. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). juga roman. gongeng. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. lelucon. interdisipliner. modus. mitos. Gerald 75 . fabula. Para pelopornya. epik. text.Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Tzvetan Todorov (historie dan discours). Shlomith Rimmon-Kenan (story. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. story. Henry James (tokoh dan cerita). tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. Para pelopornya. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). dan suara). Percy Lubbock (teknik naratif). 1993: 110. Claude Bremond (struktur dan fungsi). catatan harian.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. frequensi. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). text). yaitu: 1. puisi naratif. durasi.

2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Oleh karena itu.6.2. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Jacques Derrida (dekonstruksi). Propp 76 . Todorov. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen).Prince (struktur narratee). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. Artinya. dan Jean Baudrillad (hiperealitas. unit terkecil yang membentuk tema. Seymoeur Chatman (struktur naratif). LeviStrauss. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis.6. Marry Louise Pratt (tindak kata). yaitu Propp.1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Hayden White (wacana sejarah). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Roland Barthes (Kernels dan satellits). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). 4. pastiche). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Menurutnya.

dan Todorov. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). tidak tergantung dari siapa yang melakukan. (5) orang yang menyuruh. (3) penolong. (4) putri dan ayahnya. (2) donor. dan (7) pahlawan palsu. persona bertindak sebagai variabel. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. 77 . Motif dibedakan menjadi tiga macam. Bremond. (6) pahlawan. perbuatan.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Dengan kalimat lain. Di sini. yaitu: pelaku. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Menurutnya. yaitu: (1) penjahat. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas.

Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Pendekatan antropologi sastra. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. mitos adalah naratif itu sendiri. misalnya. Menurutnya. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.6. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Di satu pihak. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. khususnya konsep-konsep oposisi biner. baik secara bulat maupun fragmentasi. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur.4. Dengan kalimat lain.2. dan harus direkonstruksi melaluinya. melalui struktural. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. seperti laki-laki perempuan. 78 . sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. dan sebagainya.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. bumi langit. dilakukan terhadap mitos Oedipus. tabu. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. dan incest.

dan (4) aspek verbal. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. komunikasi. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. berkaitan dengan makna dan lambang. gaya bahasa.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. dan sebagainya. yaitu (1) aspek sintaksis. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. tokoh. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. dan latar. dan sebaliknya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. yaitu: kehendak.6. secara berdampingan. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . 4. dan partisipasi. sebagai hubungan makna dan perlambangan. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana.2.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. (2) aspek semantik. Oleh karena itulah. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. Menurutnya. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. meneliti tema.

tetapi diperluas pada mitos. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. acteurs merupakan kategori umum. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Mary sebagai penerima. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. kritik fenomenologis. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). 1999: 11-13. baik sebagai pengirim maupun penerima. Apel adalah sebagai objek. John dan Paul juga merupakan pengirim. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. yaitu dongeng.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Yang ada hanyalah subjek. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. sastra sebagai proyeksi. sosiologi sastra. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. studi biografi. 4. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. dll. yaitu tata bahasa naratif universal. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans.6. Greimas (dalam Abdullah. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Tidak ada subjek di balik wacana.2. 80 . seperti: psikologi sastra.antarhubungan adalah kausalitas.

Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Cerita adalah bahan 81 . actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan penolong dengan penentang. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. dan ilmu sosial lainnya. religi. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. tek. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Actans merupakan struktur dalam. Sebaliknya. dan struktur yang bersifat pemutusan. dan plot. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Oleh karena itu. pelaku. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. yaitu subjek dengan objek. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu.

sebagai model kedua. sebagai model pertama. 82 . Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. perangkat peristiwa.kasar. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. dan fungsional. dan (c) peletak dasar 86 .1. 5. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. (2) kemenduaan arti (ambiguity). untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. sistematis.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. untuk memisahkan kemenduaan.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. Karenanya. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis.

dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. 87 . pikiran. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Menurut Nazir (1985: 134-135). dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. serta dana. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. waktu. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. (3) masalah harus merupakan hal penting. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (4) masalah harus dapat duji. Ciri kedua yang menyangkut fisible. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena).

Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. hubungan antarunsur. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). rumusan hendaklah jelas dan padat 3.1. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. topik penelitian atau judul penelitian. dan totalitas di dalamnya. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. 88 . Berhubungan dengan penelitian sastra. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. Dengan demikian. mengembangkan (develop atau extention). rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud.

Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. Secara ideal. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan. misalnya.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). berjumlah tertentu. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. sistematis. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. 5. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal.1. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). 2001:2). Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. 89 . lingkup masalah. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo.

baik sebagai teori maupun metode.Dengan demikian. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. dan totalitasnya. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Sebagai suatu cara pemahaman. Dalam strukturalisme. Dalam kerangka strukturalisme. sebagai akumulasi konsep. teori tidak harus dipahami secara kaku. Teori adalah alat. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. khususnya analisis fiksi. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. diperlukan penerimaan positif. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Dalam uraian landasan teori. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. antarhubungan. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. misalnya.

kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. 5. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu.1. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. Sebaliknya.mengarah kepada keteraturan. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .. Atau dengan kalimat lain. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian.

pemilihan. hubungan simetris 92 . dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Dengan kata lain. ciri. dan hubungan antarunsur. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. demi pemahaman identitas data penelitian. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Sejalan dengan uraian di atas. Penentuan data berdasarkan perilaku. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi.(pendekatan) linguistik. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. padu. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. dsb. (2) kategori harus lengkap. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. (3) kategori harus bebas dan terpisah. sistematik. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis.

3. hubungan saling mempengaruhi. Sejalan dengan uraian di atas. 2. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. dan faktor kebetulan. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional.

penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan pengolahan data secara sistematis. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan.penelitiannya. pemilahan. pemilahan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti.

dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian.dan tujuan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. 5. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra.

pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Idealnya. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.

. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. .1. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . ciri. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. waktu pelaksanaan. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. dana yang tersedia.. keinginan. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1.. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. referensi yang memadai.. dsb. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. keberanian. samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. kepahlawanan dan petualangan. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. Merujuk pada potensi teks tersebut. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Latar Belakang . pengembangan penelitian sejenis. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif..

jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. tampak 98 . berpikir logis. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Namun demikian. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. 2. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3.

4. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 99 . alur. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. latar) 3. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. struktur cerita yang terbentuk. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. dan penelusuran tema dan amanat.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. keterjalinan antarunsur cerita. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan.

Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Cermati contoh berikut: 1. 5. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. misalnya 100 .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah.Berdasarkan upaya tersebut. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. Dalam hal ini .

misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Struktur dinamik. Oleh karena itu. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Penjabarannya menjadi. Paham struktural objektif.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. menempatkan teks secara otonom. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif). antar hubungan. 101 . antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. alur.

padu. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . dan analisis data. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. pemilihan data. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. Dengan demikian. tempat. identifikasi masalah. dan menyeluruh. pengolahan data. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. dll. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. sosial). (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita.

4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. pada langkah penyusunan Landasan Teori. sistematis. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. kajian struktural objektif b. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . teori. dan metodologis. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). dan metode kajian. kajian struktural genetik c. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. teoretis. 5.tingkat kepekaan literer. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural naratif d. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan fungsional.

identifikasi masalah. Berdasarkan contoh di atas. kurang memadai. dan tujuan penelitian tertentu. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. seteliti. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. 2003:112). Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Uraian landasan teori tampak 104 .identifikasi masalah dan tujuan penelitian. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. semendetail. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu.

Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. 5. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. Kelemahan lain. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.

Mengacu kepada definisi metode deskriptif. keterjalinan unsur. dan menginterpretasikan data (Winarno. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. 106 .1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sifat. menganalisis. Dengan demikian. sifat. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. menyusun. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural).1. fenomena. dan amanat dapat terungkap secara tepat. mengklasifikasikan . unsurunsur karya. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. tema. sejumlah data. 1980: 139). Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. fakta.

penyusun UP tersebut cukup 107 . Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. (2) struktur cerita. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. b dan c.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya.b. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Dalam hal ini. semendetail. seteliti. dan (4) tema dan amanat. plot/alur. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. dan latar.

dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini.mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. Misalnya saja. plot/alur. Namun demikian.

Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . surrise.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. seperti pengeplotan. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. b. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. jumlah. dan sosial? c. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. suspense. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. kepadatan. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. kesatupaduan) sebagai instrumen. tempat. Demikian pula pada pembicaraan latar. Pada unsur-unsur cerita lainnya. d.

hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Adapun dalam penentuan amanat. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 .

******* 111 .penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya. Dengan demikian.

Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Chamamah. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Minneapolis: University of Minnesotta Press.). Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Hans Robert. dkk. 1987.H.) 1993. 1999. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. S. Makaryk. 2001. “Strukturalisme-Genetik.W. (ed. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.” Makalah. Iser. The Act of Reading.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Jan van. Jauss. Jakarta: Gramedia. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. M. “Sastra Lisan. Norton & Company Inc. Imran T. Pengantar Ilmu Sastra.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. 1999. Abrams. 1989. ed.” Makalah. W. Wlfgang. Pengantar Sosiologi Sastra. 1983. Toward an Aesthetic of reseption. Irena R. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Luxemburg. 1994. New York: The Norton Library.

Nyoman Kutha. 2000. 2002. Tzvetan. Todorov. 2004.Bhd. Diterjemahkan oleh Suminto A. dan Teknik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. Teori Pengkajian Fiksi.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. ------------------------------. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Teori Kesusastraan. Sayuti. Metode Penelitian Linguistik. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Zaimar. Metode. 1999. Rene & Austin Warren. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Moh. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Pradopo. Metode Penelitian. Wellek. “Pengantar Penelitian. A.Muhadjir. Morfologi Cerita Rakyat. Jakarta: Djambatan. Noeng.). Jakarta: Pustaka Jaya T. Kritik Sastra Indonesia Modern. Makalah. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.S. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Selangor: Sain Baru Sdn. Burhan. Rien T. Fatimah Djajasudarma. Bandung: Eresco. 2001. 2002. Evaluasi Teks Sastra. Tata Sastra. Diterjemahkan oleh Okke K. 1993. 1984. Penelitian Sastra: Teori. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. 19. V. 1985. Rachmat Djoko. Metodologi penelitian Kualitatif. “Strukturalisme”. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dkk. Sastra dan Ilmu sastra. Yogyakarta: Gama Media Propp. Jakarta: Gramedia Wuradji. ed. Segers. 1995. 1985. 1987.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful