METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.....1......5 Metodologi ………………………………………………… 5......1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ...2...3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4...2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.... 5..... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS ....1.. 83 5.6... 5... 5.........2. 5.........4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.1..1.4 Greimas …………………………………………….4.....6..3 Tujuan Penelitian …………………………………………..... ..2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah..............6..5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v .....3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5............4 Landasan Teori …………………………………………… 5...2..1...1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5......2 Identifikasi Masalah ……………………………………….

sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. relevansi metode dan penelitian. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. sastra dalam penelitian ilmiah. hakikat. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Selain itu.

Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori. Dengan demikian. Agustus 2007 Penyusun ii . penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai. dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini..

cara. 3.1 Pengertian. atau seni menggunakan alat. metode dianggap sebagai cara-cara. Teknik berasal dari kata teknikos. strategi untuk memahami realitas. melalui. metode. yang berarti alat. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah.BAB I PENDAHULUAN 1. Metode. sesudah. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. 2. Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. mengikuti. yaitu filsafat ilmu mengenai metode. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Dalam pengertian yang lebih luas. Hakikat Metodologi. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. arah. sedangkan hodos berarti jalan. Metodologi berasal dari methodos dan logos. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi.

dan (3) sadar teknis. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. perumusan masalah. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. dan kerangka pemikiran penelitian. 1. (2) sadar teoritik. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. 2 . Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati.

Sebagai alat. sampling. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. merumuskan hipotesis dan permasalahan. induksi dan deduksi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami. Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. kuantitatif dan kualitatif. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. deskripsi. komparasi. sama dengan teori. menyusun proposal. menganalisis data. dan akhirnya menarik kesimpulan.Dengan prosedur kerja yang baik. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. membangun konsep dan model. Klasifikasi. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. mengadakan pengujian teori. 3 . termasuk ilmu humaniora. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. eksplanasi dan interpretasi. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. bukanlah karena perbedaan metode. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. misalnya.

teknik kartu data. Sebagai alat. teknik bersifat paling kongkret. struktural. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. rekaman.Berbeda dengan metode. Artinya. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. teknik berhubungan dengan data primer. Dengan demikian. teknik dapat dideteksi secara inderawi. bahkan juga dengan teori. komparasi. jelas berbeda. dan sebagainya. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. Metode deskripsi. angket. statistik. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. melalui cara: 1. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. kuesieoner. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. misalnya: wawancara. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Metode sering disebutkan sebagai teknik. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Sebagai instrumen penelitian. dokumen. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret.

struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. dan teknik. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. 3. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. Tetapi sebelumnya.Pada pembicaraan yang berbeda. struktur disebut sebagai metode. metode dapat menjadi teori. metodologi. Jadi. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 2. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. metode. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. teori. 5 .

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

d.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. 9 . misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif. Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus.menerus. Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan. yaitu sintesis itu sendiri.

ilmu dapat hidup. Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis.1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. kecermatan. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. atau pencarian kembali atas suatu objek. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. 10 . yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2. Jadi. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. dan kecerdasan yang memadai. Sebagai akibatnya.

Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. practicial objective. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Dalam menghadapi masalah. Kedua. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Oleh karena itu. Pertama. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Oleh karena itu pula. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. 1985: 9-15). sistematis.berkembang. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. terutama yang berkaitan 11 . yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. scientific objective.Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir.

Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. yaitu penelitian sastra. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis. Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. teori-teori. dan sesuai dengan objeknya. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra.dengan pemanfaatan teori dan metode. Urutan umum dari proses 12 . nalar. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem.

Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. emosional. analisis data. dan penyajian kesimpulan. Di samping masalah yang dihadapi. manusia mencari tahu dan mencari makna. fakta. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. dan spiritual. pengumpulan data. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. social. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. penelaahan informasi. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Oleh karena itu. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. Di samping itu.

kemudian melakukan proses penemuan. melakukan kegiatan penemuan. atau pendapat umum. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. atau penelitian. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. menggambarkan. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. 14 . Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. dan menafsirkan apa yang diamati. intuasi. atau memperkaya teori yang sudah ada. penyelidikan. otoritas. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini.

Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Pertama. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Oleh karena itu. Kedua. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. Dalam hal ini. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua.

Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . penyusunan design.berhubungan). pengajuan hipotesis. pengembangan instrumen. Penelitian akan menghasilkan teori. pengumpulan dan analisis data.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. serta membantu dalam menginterpretasi data. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Teori dapat membantu merumuskan problem. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian.

nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. Dalam penelitian ilmiah. Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). (5) mengumpulkan data. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. dan menyimpulkan. (2) bebas prasangka. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. (3) mengadakan studi pustaka. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis. Dalam kerja penelitian. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. (7) menganalisis dan 17 . dituntut langkah-langkah berturut-turut. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. komunikasi. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (6) mengolah data. yaitu: 1. ilmu-ilmu humaniora. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. 2. terorganisir. menganalisis. 3. (4) merumuskan hipotesis. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian.ilmiah. (3) menggunakan prinsip analisis. menginterpretasi.

18 . (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya.menginterpretasi. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. (9) menarik kesimpulan. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian.

d. sistematis 2. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data.2. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c. (2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. didukung data empiris 19 .3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. menghasilkan pengetahuan yang: a. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.

Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. Ratna. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. yaitu : 1. dan Whitney. 2. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. (bandingkan Nazir. Charters. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). 2004.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben.2. 1885. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. dan Muhadjir. Berdasarkan desain metodologinya. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Penelitian ini bertujuan untuk 20 .

Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Macam-macam 21 .membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau. 6. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. 3. content analysis. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. 4. ethnography merupakan pendekatan penelitian. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 2. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. 5. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan.

fotografi. memberikan perhatian utama pada makna dan pesan. Sejalan dengan uraian di atas. Immanuel kant. 22 . sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. buku teks. laporan. lukisan. 2004: 47-49). Dalam ilmu sastra. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . yaitu sebagai studi kultural. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. dan Wilhlem Dilthey (Ratna.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. film. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. gambar. dan majalah. sesuai dengan hakikat objek. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. 2. Dalam ilmu sosial. surat kabar. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. buku harian.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. grafik. 2. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. biografi.

5. suatu objek. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. Adakalanya peneliti 23 . Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. sikap-sikap.3. 4. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi. Menurut Whitney (dalam Nazir. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. penelitian bersifat alamiah. desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka. suatu set kondisi. gambaran atau lukisan secara sistematis. pandangan-pandangan. 2.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta.

Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain. Metode ini dinamakan juga studi status . masalah yang dirumuskan harus patut. data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . kriteria umum: 1. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3.

jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. sifat penelitian adalah ex post facto. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 .5. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. 3. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel. kriteria khusus 1. B. variabel dilihat sebagaimana adanya. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2.

seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. membuat tabulasi serta analisis (statistik). memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5.3. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1.

lembaga. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. 27 . maupun masyarakat. yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. kelompok. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. Dalam studi komparatif ini. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. subjek penelitian dapat saja individu. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang.

28 .Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.

Eliis.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. keberadaannya tidak merupakan keharusan. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. 29 . Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Eagelton. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Lotman. Menurutnya.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. dan Teeuw. dan keagamaan. Plark. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Riffaterre. ekonomi. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah.

Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). Sebagai satu sistem. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Melalui sistem sastralah. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. 30 . secondary modelling system. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. yaitu berupa bahasa. Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. di antaranya dari sisi bahan.

Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Dengan demikian. dari pembaca saja. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 .Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Dalam hal ini. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. 3. yaitu pembacanya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dengan demikian. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. kerja yang objektif. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi.

Dalam hal ini. Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. sejumlah peralatan diperlukan. pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Namun. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik.perspektif. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. 32 . Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan.

unsur dalam diri sendiri 2. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. 2004: 21). Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu. pola. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan.3.3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. model. unsur luar berupa lingkungan fisik 3. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Tanpa paradigma. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. sebagai berikut: 1. pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. Bagi ilmuwan.

konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. Contohnya. 34 . Di pihak lain. bahkan khayalan. tersistem. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. Jadi. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. dan sebagainya. sebagai cara pandang. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut.yang relatif sama. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. imajinasi. Dalam penelitian sastra. Selanjutnya. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. maka teori pun juga beraneka ragam. Di satu pihak. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas.

metode. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. teori. faktor aksiologis. faktor epistemologis. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. 35 . baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. secara kualitatif. periode. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. Keempat faktor tersebut adalah: 1. teknik dan proses selanjutnya. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. keseluruhan proses penelitian. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. faktor ontologis.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis. Pada gilirannya. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. khususnya sastra. Paradigma dengan demikian mendahului. termasuk metode. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. faktor metodologis. penelitian adalah penilaian. mengkondisikan ilmuwan sastra. objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. dan teknik. dalam ilmu humaniora.

teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. novel psikologis. aliran.generasi. Dengan kalimat lain. puisi. psikologis. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah. novel. dan drama. 36 . termasuk tokoh-tokoh. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. drama bersajak. Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Perbedaannya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. psikologis dan ilmu pengetahuan. latar tempat dan waktu. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya. Novel sejarah. dan berbagai paham yang lain. kecuali referensi estetisnya. Puisi. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhan unsur.

pendekatan berasal dari kata appropio. 2004: 5355). Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.4. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. approach. menganalisis. yaitu metode dan teknik.4 Pendekatan Sastra 3. Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati.1. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. 3. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. 37 . Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit. dan menyajikan data. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Lebih lanjut. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori.

4. kemudian diikuti dengan penentuan masalah. teori. 3. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. 38 . Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. dasarnya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. Artinya. intrinsik dan ekstrinsik. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. metode. (3) pendekatan pragmatik. pendekatan objektif. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian. Pada pendekatan mendahului teori dan metode. dan (4) pendekatan objektif. Dalam hubungan inilah. mimetik. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. seperti pendekatan sosiologi sastra. mitopoik. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. pragmatik. (2) pendekatan mimesis.dan sebagainya. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. dan tekniknya. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. ekspresif.

nasionalisme.4. pikiran dan perasaan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. komunisme. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. persepsi. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. feminisme. pikiran-pikiran. ucapan.3. dan hasil-hasil karyanya. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. (3) produk pandangan dunia pengarang. dan 39 . Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang. Secara metodis. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan.2. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi.

dan ideologi pengarang. 40 . (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. 1958:8). pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. 3. bentuk-bentuk kemasyarakatan. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. dan (4) membicarakan secara menyeluruh.4. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. pikiran. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan. (2) memetakan sejumlah pikiran. perasaan. pengalaman. 1989:15). yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya.2. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. Melalui pandangan ini. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis).perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. sesuai tujuan. pengalaman hidup. dan sebagainya Luxemberg. persepsi.

menyiratkan sesuatu yang statis. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Menurut Baxter. tetapi penekanannya berbeda. suatu copy. Segers (2000.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Adapun John Baxter (dalam Makaryk. suatu proses. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. suatu produk akhir. Secara terminologis. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Menurutnya. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. Tiruan. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita.

misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. sesuai tujuan.. Melalui penjabaran di atas. 42 . Oleh karena itu. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. Secara metodis. dsb. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu.tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

3. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. Menurutnya. menafsirkan.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. pembacalah yang menilai. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra. dan memahami karya sastra. Menurutnya. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Dalam uraiannya. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser.2. Pembaca dalam 43 . yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. (2) penerapan praktis estetika resepsi. baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca.4. menikmati. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.

kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . karya sastra mendapat makna dan fungsinya. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. yaitu: (1) pengalaman pembaca. kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. (5) rangkaian sastra. dan (7) sejarah umum. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. Dalam hal ini. (3) nilai estetik. (2) horison harapan. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing. (4) semangat zaman. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre.

Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan.informasi. Teori menuntut 45 . Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca. Perihal semangat zaman. Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. Dengan kondisi tersebut. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.

Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. diidealkan. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. Fungsi sosial sastra 46 .bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. satirik. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.

Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. Konsekuansinya. dan literary strategies Implied reader merupakan model. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. rol. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. historis. Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. Konsep dialektika respon estetik (Iser. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. literary repertoire. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 . pembaca. 1987: 20 dan 54). tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. dan interaksinya. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya.memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks.

48 . Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. 3. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. Dengan demikian. Oleh karena itulah. antarhubungan.4. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. politis.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya. dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. seperti aspekhistoris. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra.2. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya. sosiologis. dan totalitas.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. termasuk biografi. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik.

Adapun terhadap prosa. dan latar). Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. 2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. alur. dll. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dan sarana cerita (pusat pengisahan. Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. konflik. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.). Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. 49 . mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. fakta cerita (tokoh. Secara metodologis. gaya bahasa. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo.

Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. 50 . Di dalam analisisnya. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra.Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur.

Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. dan Teeuw. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. Faruk. melainkan rusak sama sekali. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. mekanisme sendiri. apabila suatu bagian dihilangkan. 1978: 17-18. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. 1995: 4-12. dan Faruk: 1994: 17-18. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. 1984: 120139). Hawkes. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Selain itu. melainkan kualitatif. terlepas dari 51 . Artinya. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan.BAB IV STRUKTURALISME 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. 1999: 1-9.

yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . sesuatu yang berstruktur. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. Formalisme di Rusia. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. sesuatu yang utuh. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Aliran Kritik Baru di Amerika. transformatif. mekanisme yang baru. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. antarhubungan merupakan energi. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. otonom. Karena itu.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat. mengembangkan. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. dan self-regulatif. motivator terjadinya gejala baru. Dengan kata lain. Sebagai kualitas totalitas. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Artinya. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra.

Analisis terhadap penokohan. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. plot. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. Di pihak lain. antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. latar. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. 53 .sebagai sistem komunikasi. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula. Dengan kata lain. Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. dan sebagainya. suatu masyarakat. Namun demikian. Sejalan dengan uraian di atas. misalnya. Karya tidak dapat diisolasi. seperti kejadian.

dan psikologi. Dengan jalan demikian. Meskipun demikian. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. puitika. sosiologi. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 .2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw.4. yaitu: 1. Metode yang digunakan metode formal. oposisi. reaksi terhadap studi biografis 2. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya. Sebagai teori modern mengenai sastra. dan sebagainya. asosiasi. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. 1985: 128-13.

yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. Muhadjir. dan nilai-nilai. dan (3) sebagai teori. Oleh karena itulah. (2) sebagai metode. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. 1985: 185-192. terdiri atas tanda. dan Ratna. 2002: 304). Menurutnya. Pradopo 2002: 46. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. struktur. 2003: 88-96. fakta semiotik. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme. masyarakat yang menghasilkannya. karya sastra adalah proses komunikasi. 4. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya. 55 . khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. melahirkan strukturalisme. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dan pembaca sebagai penerima.

penokohan. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. diksi atau pilihan kata. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. alur. Unsur-unsur puisi. misalnya mengarah pada tema. Unsurunsur prosa. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. alur. simbol.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. peristiwa. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. stilistika. Prosa. di antaranya tema. latar atau setting. latar. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. dan gaya bahasa. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. nada. imajinasi. penokohan. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. rima atau persajakan. tujuan analisis di lain pihak. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. sudut pandang. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . puisi. dan gaya bahasa. dialog. peristiwa atau kejadian. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. dan enjambemen. Artinya. ritme atau irama.

Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign).sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Jadi. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. 57 . yaitu pencerita. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. dan pendengar. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dalam hubungan ini. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. tidak semau-maunya. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. tidak bertambah dalam penelitian pustaka. karya sastra. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama.

untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. yang merupakan bentuk tanda. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. Menurutnya. Ada tiga jenis tanda yang pokok.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. indeks. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. dan simbol. latar belakang sejarah pertumbuhannya. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. 1993: 183-189). antara penanda dan petanda. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. Dalam lapangan semiotik. Stout (dalam Makaryk. arti bahasa dalam 58 . dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat.4. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna. yaitu ikon. yaitu persamaan dan sebab akibat. aliran semiotik. pengertian tanda ada dua prinsip. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat.

daya liris. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. suasana. Dalam sistem semiotik. intensitas.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. Berhubungan dengan hal ini. Dalam kaya sastra. yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. perasaan. Jadi. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . arti tambahan (konotasi). yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya.

termasuk sastra. Dilihat dari segi cara kerjanya. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. Sejalan dengan paham triadik peircean. dan (3) pragmatik semiotik.karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. terdapat (1) sintaksis semiotika. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. (2) semantik semiotik. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. Menurut pandangan intertektualitas. atau yang lain. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya.

tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. c. dan interpretant. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. referent). simbol. object. legisigns. hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. Di antara representamen. yaitu apa yang diacu: a. 61 . representamen. Menurut Aart van Zoet (Ratna. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. c. argument. object (designatum. type. c. ikon. 2. b. 2004: 102) di antara ikon. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. sinsigns. yang paling sering diulas adalah object. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. denotatum.1. ground. b. tokens. interpretant. qualisigns. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. rheme. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. dicent signs. b. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran.

Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. dan (d) objektif (otonom). yaitu (a) pengarang (ekspresif). dan simbol. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). 1993: 95-99.5. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. dan Faruk. 4. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. Karena itu. 62 . Alasannya. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. Teks sastra kaya dengan ikon. Sebagai strukturalisme. (c) pembaca (pragmatik). Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. yang terpenting adalah ikon. 1993: 340-341. Kellner dalam makaryk. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. di lain pihak. (b) semestaan (mimetik). sebagai struktur. termasuk karya sastra.indeks. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain.

Menurut Marxis. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. yaitu melakukan transformasi atas alam. Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Untuk melakukan transformasi atas alam. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. Oleh karena itu. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. melainkan kelas sosial. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. 4. Karena itu.pengertian marxis yang sudah dikemukakan. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Karya-karya kultural yang besar. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu.5. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.

Dalam pengertian strukturalisme genetik. Karena itu. pendidikan.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. seperti kelompok profesi. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. ras. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . dan sebagainya. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. Karena itu. karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. kelompok etnis.

Hanya beberapa di antaranya. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. bersifat mimetik. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Todorov. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. 4. dan sebagainya. Greimas. seperti strukturalisme. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Dalam pandangan strukturalisme genetik. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Dengan demikian.5. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti. ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. Namun. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas.

Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. menurut strukturalisme genetik.semantik pula. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Struktur yang demikian. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain.

yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik.beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. yang juga berstruktur. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. Namun. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. 4. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra.5. Menurut paham tersebut. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 .

demikian juga dengan wacana dan teks. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. sebagaimana hubungan antara subjek. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. seperti model sintaksis. predikat. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin).dialektik. hikayat. bukan 72 .6. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. atau sebaliknya. Narratio berarti cerita. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. dan objek penderita. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan. kisah.6 Naratologi 4. 4. Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. subjek secara linguistik. perkataan. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. Dengan demikian. logos berarti ilmu. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik.

Pada pahan pascastruktural. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. akrab dengan cerita Jaka Tarub. semboyan. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Revolusi. restorasi. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). bukan pengarang. dan wacana. melainkan melalui bahasa. dan ekonomi. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. sastra. bukan pengarang. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. politik. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Setiap orang. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. analisis naratif merupakan bagian ideologi. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa.person. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. misalnya. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu. diceritakan oleh narator. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. dengan pertimbangan 73 .

Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. paling luas. Dalam karya sastra. Hampir keseluruhan genre sastra. yaitu dunia fiksional. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. Tanpa plot. Dalam pembicaraan mengenai naratif. tokoh-tokoh. dan teks. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot. dan gaya bahasa. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. kebudayaan pun tidak ada. novel juga merupakan objek yang paling memadai.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Tanpa cerita. pembaca. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. latar. cerita sebagai tulang punggung karya. 74 . Dilihat dari media yang tersedia. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. Di pihak lain. baik sebagai penulis. sudut pandang. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. tema. wacana. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan.

Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. puisi naratif. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. narration). Para pelopornya. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. frequensi. Tzvetan Todorov (historie dan discours). 1993: 110. Claude Bremond (struktur dan fungsi). modus. Shlomith Rimmon-Kenan (story. di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). dan suara). story. gongeng. epik. fabula. Mieke Bal (fabula. termasuk feminis dan psikoanalisis. yaitu: 1.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. Secara historis. durasi. Forster (tokoh bundar dan datar). text. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). Gerald 75 . Wilayah tersebut selain menjangkau novel. Henry James (tokoh dan cerita). text). Para pelopornya. Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). juga roman. biografi. mitos. catatan harian. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). dan sebagainya. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. interdisipliner. Percy Lubbock (teknik naratif).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. cerpen. lelucon. periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2.

LeviStrauss. Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet.6. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama. yaitu Propp. Oleh karena itu. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Jacques Derrida (dekonstruksi). Roland Barthes (Kernels dan satellits). melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Propp 76 .6. Umberto Eco (wacana dan kebohongan). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. Menurutnya. 4. Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama.Prince (struktur narratee). pastiche). Artinya. dan Jean Baudrillad (hiperealitas.2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Hayden White (wacana sejarah).2. Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Seymoeur Chatman (struktur naratif). unit terkecil yang membentuk tema. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi. Marry Louise Pratt (tindak kata). Jean-Francois Lyotard (metanarasi).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. Todorov.

(2) donor. (5) orang yang menyuruh. 77 . maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. dan Todorov. (3) penolong. (4) putri dan ayahnya. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. dan (7) pahlawan palsu. Bremond. yaitu: (1) penjahat. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil. Dengan kalimat lain. Di sini. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). Menurutnya. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. Motif dibedakan menjadi tiga macam. (6) pahlawan. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. yaitu: pelaku.memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. perbuatan. persona bertindak sebagai variabel. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah).

Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. dilakukan terhadap mitos Oedipus. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. dan incest. seperti laki-laki perempuan. mitos adalah naratif itu sendiri. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.4. 78 . Pendekatan antropologi sastra.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. Menurutnya. khususnya konsep-konsep oposisi biner. Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. melalui struktural. maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya.6. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Di satu pihak. bumi langit. dan harus direkonstruksi melaluinya. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. misalnya. dan sebagainya. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot. baik secara bulat maupun fragmentasi. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan.2. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. Dengan kalimat lain. tabu. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.

dan partisipasi. Oleh karena itulah. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. tokoh. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. dan sebagainya. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi. sebagai hubungan makna dan perlambangan.6.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Menurutnya. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. dan (4) aspek verbal. yaitu: kehendak. yaitu (1) aspek sintaksis.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. secara berdampingan. komunikasi. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. 4. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas.2. gaya bahasa. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi. berkaitan dengan makna dan lambang. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. meneliti tema. (2) aspek semantik. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. dan sebaliknya. dan latar.

80 . Mary sebagai penerima.6. studi biografi. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. 1999: 11-13. sastra sebagai proyeksi. baik sebagai pengirim maupun penerima. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. sosiologi sastra. Tidak ada subjek di balik wacana. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. kritik fenomenologis. Yang ada hanyalah subjek. acteurs merupakan kategori umum. yaitu tata bahasa naratif universal. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju.antarhubungan adalah kausalitas.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. Greimas (dalam Abdullah. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif.2. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs. seperti: psikologi sastra. Apel adalah sebagai objek. John dan Paul juga merupakan pengirim. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia). tetapi diperluas pada mitos. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. 4. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). yaitu dongeng. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. dll. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi.

yaitu struktur berdasarkan perjanjian. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. dan ilmu sosial lainnya.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Actans merupakan struktur dalam. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. dan penolong dengan penentang. Cerita adalah bahan 81 . dan plot. Oleh karena itu. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. yaitu subjek dengan objek. religi. dan struktur yang bersifat pemutusan. Sebaliknya. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. pelaku. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. tek. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. struktur yang bersifat penyelenggaraan. Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku.

sebagai model pertama. 82 . Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa . seperti ringkasan cerita atau sinopsis.kasar. sebagai model kedua. perangkat peristiwa. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

Karenanya. dan fungsional.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. (2) kemenduaan arti (ambiguity).2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. sistematis. untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. untuk memisahkan kemenduaan. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis. 5. dan (c) peletak dasar 86 . dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu.1. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena.

(4) masalah harus dapat duji. Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian. 87 . (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. serta dana. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Menurut Nazir (1985: 134-135). pikiran. (3) masalah harus merupakan hal penting. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. waktu.

Berhubungan dengan penelitian sastra. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. dan totalitas di dalamnya. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. hubungan antarunsur. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. topik penelitian atau judul penelitian. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4. mengembangkan (develop atau extention). maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis.1. misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian. Dengan demikian. 88 . rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore).

berjumlah tertentu. lingkup masalah. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Sebaiknya dalam tujuan penelitian. 2001:2). Secara ideal. 5. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. misalnya. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut).Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan.1. sistematis. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. 89 . di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis.

sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. khususnya analisis fiksi. Dalam strukturalisme. Dalam uraian landasan teori. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. baik sebagai teori maupun metode. Teori adalah alat.Dengan demikian. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. sebagai akumulasi konsep. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. teori tidak harus dipahami secara kaku. dan totalitasnya. Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. misalnya. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Dalam kerangka strukturalisme. antarhubungan. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. Sebagai suatu cara pemahaman. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. diperlukan penerimaan positif. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Penerimaan yang dimaksud 90 . Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain.

dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.1. kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra. 5. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 . Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya..5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Sebaliknya.mengarah kepada keteraturan. Atau dengan kalimat lain. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku.

Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. (2) kategori harus lengkap. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. pemilihan. dan hubungan antarunsur. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Dengan kata lain. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. sistematik. padu. hubungan simetris 92 . Sejalan dengan uraian di atas. Penentuan data berdasarkan perilaku. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. demi pemahaman identitas data penelitian. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. dsb.(pendekatan) linguistik. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. (3) kategori harus bebas dan terpisah. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. ciri.

tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. dan faktor kebetulan. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. 3. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. 2. hubungan saling mempengaruhi. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. Sejalan dengan uraian di atas. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama.

Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. pemilahan. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan pengolahan data secara sistematis.penelitiannya. pemilahan. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2.

Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). 5. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 . padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya.dan tujuan penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya.

dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Idealnya. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra.

Latar Belakang . penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. keberanian. mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal.... . samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian. keinginan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 .1. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian. dsb. pengembangan penelitian sejenis. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat. waktu pelaksanaan..masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya. ciri. Merujuk pada potensi teks tersebut.. dana yang tersedia. kepahlawanan dan petualangan. referensi yang memadai. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif.

Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci. kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. tampak 98 . 2. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. berpikir logis. tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. Namun demikian. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif.

mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. struktur cerita yang terbentuk.penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. dan penelusuran tema dan amanat. alur. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. 99 . latar) 3. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. 4. keterjalinan antarunsur cerita. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan.

seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian.1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. 5. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail. mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. Dalam hal ini .3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. misalnya 100 . hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik.Berdasarkan upaya tersebut. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya. Cermati contoh berikut: 1. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.

dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. antar hubungan. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan.menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. Struktur dinamik. Penjabarannya menjadi. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. 101 . Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. alur. Oleh karena itu. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. Paham struktural objektif. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks secara otonom. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).

dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . (4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. pengolahan data. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. pemilihan data.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. Dengan demikian. sosial). (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. dan analisis data. identifikasi masalah. dll. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. padu. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. dan menyeluruh. tempat.

teoretis. kajian struktural genetik c. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. dan metode kajian.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. kajian struktural objektif b. teori. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan fungsional. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 . Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. dan metodologis. 5. kajian struktural naratif d.tingkat kepekaan literer. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. sistematis.

6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. 2003:112). Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu. Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Berdasarkan contoh di atas. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. dan tujuan penelitian tertentu. identifikasi masalah. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. kurang memadai. Uraian landasan teori tampak 104 . seteliti. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. semendetail. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural.

metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. 5. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian. tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian. Kelemahan lain. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 .

1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. sifat. contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. unsurunsur karya. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. 1980: 139). tema. keterjalinan unsur. fakta. menyusun. menganalisis. fenomena. mengklasifikasikan . Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. sifat. 106 .1. sejumlah data. dan amanat dapat terungkap secara tepat. Dengan demikian. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. dan menginterpretasikan data (Winarno.

Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. penyusun UP tersebut cukup 107 . plot/alur. (2) struktur cerita.b. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. Dalam hal ini. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. dan (4) tema dan amanat. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita. seteliti. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. b dan c. penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. semendetail. dan latar. (3) keterjalinan antarunsur dalam novel.

mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. Namun demikian. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 . Kekuarang yang dimaksud adalah: a. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. Misalnya saja. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.

dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. Demikian pula pada pembicaraan latar. surrise. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. dan sosial? c. kepadatan. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. jumlah.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. seperti pengeplotan. b. Pada unsur-unsur cerita lainnya. suspense. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. d. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. tempat. kesatupaduan) sebagai instrumen.

Adapun dalam penentuan amanat. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.

******* 111 . selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. Dengan demikian.

Irena R. “Strukturalisme-Genetik. 2001. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko.” Makalah. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. Jauss. Norton & Company Inc. (ed. Hans Robert. New York: The Norton Library. Imran T. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Minneapolis: University of Minnesotta Press. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. S. 1983.” Makalah. Jakarta: Gramedia.W. 1989. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Abrams.) 1993. M. Makaryk. Iser. 1999. Toward an Aesthetic of reseption. Jan van. Wlfgang. 1994. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Luxemburg. Pengantar Sosiologi Sastra. Chamamah. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . “Sastra Lisan. ed.).H. W.DAFTAR PUSTAKA Abdullah. Pengantar Ilmu Sastra. The Act of Reading. 1987. dkk. 1999.

A. ed. 1984. Todorov. Zaimar. 2002. “Pengantar Penelitian. Evaluasi Teks Sastra. “Strukturalisme”. Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Rien T. Wellek. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Moh. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna.S. Diterjemahkan oleh Okke K. 1993. 1987.Muhadjir. 19. Sastra dan Ilmu sastra. Jakarta: Djambatan. Metode Penelitian. dan Teknik. Tata Sastra.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Metodologi penelitian Kualitatif. 2004. Makalah. Jakarta: Pustaka Jaya T. Morfologi Cerita Rakyat. dkk. Rachmat Djoko. ------------------------------. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. 2000. Rene & Austin Warren.). 1985. 2001. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Tzvetan. Jakarta: Gramedia Wuradji. Metode Penelitian Linguistik. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Bandung: Eresco. Selangor: Sain Baru Sdn. Penelitian Sastra: Teori. Noeng. Kritik Sastra Indonesia Modern. Burhan. Fatimah Djajasudarma. Teori Kesusastraan. Metode. Diterjemahkan oleh Suminto A. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. Yogyakarta: Gama Media Propp. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. 2002. Segers. V.Bhd. Pradopo. Nyoman Kutha. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . Sayuti. 1985. 1999.

114 .

115 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful