METODE PENELITIAN SASTRA

Disusun oleh: Asep Yusup Hudayat

Fakultas Satra Universitas Padjadjaran Bandung 2007

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… DAFTAR ISI …………………………………………………………..

i iii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………… 1.1 Pengertian, Hakikat Metodologi, Metode, dan Teknik …………… 1.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian ……………………..

1 1 2

BAB II PENELITIAN ILMIAH ……………………………………… 2.1 Penelitian dan Ilmu ………………………………………………… 2.2 Metode dan Nilai Keilmiahan ……………………………………… 2.3 Asas-asas Dasar Penelitian ………………………………………… 2.4 Penggolongan Penelitian …………………………………………… 2.5 Metode Kualitatif …………………………………………………… 2.6 Metode Deskriptif ………………………………………………….

10 10 16 19 20 22 23

BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH ……………… 3.1 Sastra sebagai Sistem ……………………………………………… 3.2 Sastra sebagai Objek Penelitian …………………………………… 3.3. Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra …………………………

29 29 31 33 iii

3.4 Pendekatan Sastra: Pengertian ……………………………………… 3.4.1 Pengertian Pendekatan ……………………………………….. 3.4.2 Jenis-jenis Pendekatan ……………………………………… 3.4.2.1 Pendekatan Ekspresif ……………………………… 3.4.2.2 Pendekatan Mimeis ………………………………… 3.4.2.3 Pendekatan Pragmatik ……………………………… 3.4.2.4 Pendekatan Objektif …………………………………

37 37 38 39 40 43 48

BAB IV STRUKTURALISME ………………………………………… 51 4.1 Prinsip-prinsip Antarhubungan ……………………………………… 51 4.2 Teori Formalis ……………………………………………………… 4.3 Teori Strukturalisme Dinamik ……………………………………… 4.4 Semiotik …………………………………………………………… 4.5 Struktualisme Genetik ……………………………………………… 4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan …………………… 4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif ……………….. 4.5.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia …………… 4.5.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial …………………… 4.5.5 Metode Dialektik …………………………………………….. 54 55 58 62 65 66 67 69 71

4.6 Naratologi …………………………………………………………… 72 4.6.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya …… 72 4.6.2 Pelopor Naratilogi Periode Strukturalisme dan Pahamnya …… 4.6.2.1 Vladimir Propp ……………………………………… 76 76

iv

.....2 Levi’Strauss ………………………………………… 4.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian …………………… 5.1 Latar belakang Masalah …………………………………… 5..1..4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis ……………………… 5.......4 Greimas …………………………………………….... ...6.......5 Kemampuan Menyajikan Metode ………………………………… 95 100 103 105 83 83 86 88 89 91 DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 112 v ......3 Tvzetan Todorov …………………………………… 4...6..........2.... 78 79 80 BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN: TINJAUAN KRITIS .6........1..5 Metodologi ………………………………………………… 5....2.2 Identifikasi Masalah ………………………………………...4..3 Tujuan Penelitian ………………………………………….....4 Landasan Teori …………………………………………… 5....1.1............ 5... 5....2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah.....2.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian ..1...... 5............. 5. 83 5.

sastra dalam penelitian ilmiah. Pertimbangan utamanya adalah untuk memberikan pengetahuan secara memadai mengenai penelitian sastra yang menuntut sebuah metode penelitian yang khusus di samping tetap berada dalam jangkauan asas-asas penelitian ilmiah secara universal. Selain itu. i . Sasaran utama penulisan modul ini adalah para mahasiswa yang akan menghadapi penyusunan Usulan Penelitian Skripsi atau sedang menempuh masa bimbingan skripsi yang menggunakan pendekatan struktural sebagai objek formalnya.KATA PENGANTAR Metode penelitian sastra merupakan alat penting dalam mewujudkan sebuah penelitian sastra yang memadai. sampai ke uaraian beberapa pendekatan sastra dalam wilayah strukturalisme. menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam modul ini. hakikat. upaya mendeskripsikan masalah sastra yang bersifat unik dan universal sebagai objek penelitian. Materi yang disajikan dalam modul ini bersumber dari beberapa buku dan karangan ilmiah lainnya yang berhubungan dengan metode penelitian. Adapun uraian mengenai tinjauan kritis atas rancangan sejumlah usulan penelitian sastra dimaksudkan untuk melengkapi uraian empiris dari rentang pembahasan metode penelitian sastra menyangkut pengertian. relevansi metode dan penelitian.

dan metode dalam ruang lingkup penelitian sastra. Tentunya modul ini akan menempati fungsinya yang optimal sebagai materi pengetahuan bila dapat menumbuhkan kesadaran para mahasiswa akan filsafat ilmu. penelitian yang baik dengan bekal kemampuan metode yang Bandung. Dengan demikian. Agustus 2007 Penyusun ii . Perbaikan di kemudian hari tentunya perlu penyusun lakukan untuk menjadikan modul ini cukup memadai sesuai kebutuhan para mahasiswa di program strata satu dengan bidang kajian utamanya adalah sastra. teori.Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah ikut serta mewujudkan penyusunan modul ini. penyusun berhadap modul ini dapat membuka jalan bagi tercapainya kegiatan memadai..

2. metode. Upaya memilah dua pengetian tersebut berpangkal dari penyadaran 1 . Metode berasal dari kata methods yang akar katanya adalah meta yang berarti menuju. langkah-langkah sistematis untuk memecahkan rangkaian sebab akibat berikutnya. metode dianggap sebagai cara-cara. atau seni menggunakan alat. sedangkan hodos berarti jalan. strategi untuk memahami realitas. Pengertian mendasar dari masing-masing istilah adalah: 1. Metodologi dengan demikian membahas prosedur intelektual dalam totalitas komunitas ilmiah. melalui. Metode. Perbedaan mendasarnya antara metodologi dan metode adalah metodologi membahas konsep teoritik berbagai metode sedangkan metode mengemukakan secara teknis tentang metode yang digunakan dalam kegiatan penelitian. arah. cara.1 Pengertian. yaitu filsafat ilmu mengenai metode.BAB I PENDAHULUAN 1. yang berarti alat. Hakikat Metodologi. dan Teknik Adakalanya pengertian-pengertian metodologi. Teknik berasal dari kata teknikos. sesudah. mengikuti. dan teknik sering tertukar atau bahkan dicampuradukkan. 3. Dalam pengertian yang lebih luas. Metodologi berasal dari methodos dan logos.

Muhazir (2002: 4) menegaskan bahwa para ilmuwan peneliti perlu menggunakan landasan filsafat ilmu. dan kerangka pemikiran penelitian. artinya dia mampu memilih teknik penelitian yang tepat. dan (3) sadar teknis. artinya dia sadar menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang mana.2 Relevansi Metode dalam Kegiatan Penelitian Lebih jauh Muhazir (2002: 55) menyebutkan bahwa metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. artinya dia sadar teori penelitian atau model mana yang digunakan. Adakalanya para penganut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap bohong. Landasan tersebut digunakan untuk metodologi penelitian.filsafat keilmuan yang kita anut yang berkorelasi dengan metodologi penelitian itu sendiri. Dengan demikian yang bersangutan sadar dalam beberapa hal: (1) sadar filsafati. 2 . Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya. Yang memberi cap tersebut lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian yang berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang berbeda dan menuntut langkah kerja yang berbeda pula. (2) sadar teoritik. 1. munafik pada langkah-langkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan alasan pemilihan judul. perumusan masalah. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologis.

sehingga lebih mudah untuk dipecahkan dan dipahami.Dengan prosedur kerja yang baik. termasuk ilmu humaniora. 3 . Prosedur yang dimaksud dalam bahasan metodologi terjadi sejak peneliti menaruh minat terhadap objek tertentu. menyusun proposal. misalnya. eksplanasi dan interpretasi. membangun konsep dan model. dan akhirnya menarik kesimpulan. dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. sama dengan teori. Sebagai alat. kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik. Klasifikasi. kuantitatif dan kualitatif. sampling. deskripsi. bukanlah karena perbedaan metode. komparasi. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan ilmu pengetahuan memperoleh kebenaran objekif universal yang bukti kebenarannya hanya dapat diuji pada beragam kasus. menganalisis data. dan sebaginya adalah sejumlah metode yang sudah sangat umum penggunaannya. juga bukan deskripsi mengenai metode tersebut. merumuskan hipotesis dan permasalahan. Perbedaan antara ilmu kealaman dengan ilmu kemanusiaan. metode berfungsi untuk menyederhanakan masalah. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis lain atau teori lain. mengadakan pengujian teori. melainkan karena perbedaan paradigma dan perbedaan metodologi. Tetapi metodologi bukanlah kumpulan metode. Metodologi jelas mengimplikasikan metode. baik dalam ilmu kealaman maupun ilmu sosial. induksi dan deduksi.

Berbeda dengan metode. Sebagai alat. dokumen. Dengan demikian. statistik. Sejumlah teknik yang sering dimanfaatkan. struktural. teknik dapat dideteksi secara inderawi. Artinya. Ratna (2004: 37) mengemukakan tiga cara yang dapat membedakan antara metode dengan teknik. tetapi sebagian ciri-cirinya dapat diidentifikasi secara kongkret. Demikian juga statistik dapat dianggap sebagai metode pada saat data sedang dikuantifikasikan sehingga sifatnya masih abstrak 4 . Metode sering disebutkan sebagai teknik. Sampling dapat dianggap sebagai teknik pada saat keseluruhan sampel sudah dimasukkan ke dalam sistem kartu sehingga bersifat kongkret. meskipun secara teoretis metode masih bersifat abstrak. rekaman. Sebagai instrumen penelitian. dan sebagainya. kuesieoner. jelas berbeda. komparasi. melalui cara: 1. teknik berhubungan dengan data primer. membedakan tingkat abstraksinya Abstraksi tertinggi dimiliki teori kemudian diikuti oleh metode dan teknik. metodologi tidak berkaitan dengan teknikteknik penelitian. melainkan dengan konsep-konsep dasar logika secara keseluruhan. tetapi dasar dan cara pemahamannya. Secara definit metode dengan teknik tidak memiliki batas-batas yang jelas. Metode deskripsi. angket. dan sebagainya digunakan dalam kedua bidang ilmu. bahkan juga dengan teori. teknik bersifat paling kongkret. bagaimana prosedur pemahaman tersebut dibangun. teknik kartu data. misalnya: wawancara.

Luasnya teori disebabkan oleh adanya perkembangan secara terus menerus. memperhatikan hubungannya dengan objek Makin dekat dan jelas hubungannya dengan objek maka disebut teknik. metode dapat menjadi teori. dan teknik. Tetapi sebelumnya. struktur bisa menjadi metode atau teori tergantung dari tujuan dan cara pandang peneliti. Jadi. Struktur adalah teori sebab sudah menghasilkan sejumlah konsep dasar dan sudah dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 3. sebaliknya makin jauh dan kurang jelas disebut metode. 2. metode. metodologi. Teknik memiliki ruang lingkup yang lebih sempit dibandingkan metode walaupun keduanya memiliki pengertian yang sama. struktur disebut sebagai metode. luasnya paradigma dan metodologi disebabkan oleh penelusurannya ke masa lampau. Metode yang baik adalah metode yang selalu bersifat teknik. 5 . teori. memperhatikan faktor mana yang lebih luas ruang lingkup pemakaiannya Secara berurutan tingkat keluasan ruang lingkup pemakaian: paradigma.Pada pembicaraan yang berbeda.

Dalam penelitian sastra terdapat dua macam penelitian, yaitu penelitian lapangan dan perpustakaan. Prosedur penelitian lapangan ilmu sastra hampir sama dengan ilmu sosial. Keduanya memanfaatkan instrumen yang sama, dengan metode dan teknik yang sama. Prosedur penelitian pustaka dalam bidang sastra agak berbeda. Pada umumnya penelitian pustaka secara khusus meneliti teks. Teknik yang digunakan adalah kartu data primer maupun sekunder dengan metode yang paling sering digunakan adalah hermeneutik yang disamakan dengan verstehen, interpretasi, dan pemahaman. Dalam bidang ilmu lain, interpretasi disejajarkan dengan metode kualitatif, analisis isi, dan etnografi. Metode lain yang sering digunakan adalah deskriptif analitik, yaitu dengan jalan menguraikan sekaligus menganalisis. Metode yang perlu dibicarakan dalam analisis karya sastra adalah: metode intuitif, hermeneutik, metode formal, analisis isi, dialektika, deskriptif analisis, deskriptif komparatif, dan deskripsif induktif. Sehubungan dengan jangkauan utama pembicaraan ke arah pendekatan struktural, maka metode yang penting untuk dikemukakan pada uraian ini menyangkut: metode hermeneutik, metode formal, metode dialektik, dan metode deskriptif analisis. Perbedaan masing-masing metode (Ratna, 2004: 44-46) tampak pada uraian di bawah ini: a. metode hermeneutik Metode ini dianggap sebagai metode ilmiah paling tua yang sudah ada sejak zama Plato dan Aristoteles. Mula-mula metode ini

6

berfungsi untuk menafsirkan kitab suci. Hermeneutik modern baru berkembang sejak abad ke-19 melalui gagasan Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, Gadamer, Habermas, Ricoeur, dan sebagainya. Dalam sastra dan filsafat, hermeneutik disejajarkan dengan interpretasi, pemahaman, verstehen, dan retroaktif. Dalam ilmuilmu sosial juga disebut metode kualitatif, analisis isi, alamiah, naturalistik, fenomenologi. Metode ini ini tidak mencari makna yang benar melainkan makna yang paling optimal. Untuk menghindarkan keterbatasan proses interpretasi, peneliti harus memiliki titik pijak yang jelas. Penafsiran terjadi karena setiap subjek memandang objek melalui horison dan paradigma yang berbeda-beda. Keragaman tersebut pada gilirannya menimbulkan kekayaan makna dalam kehidupan manusia, studi kasus, etnografi, etnometodologi, dan

menambah kualitas estetika, etika, dan logika.

b. metode formal Metode formal adalah analisis dengan mempertimbangkan aspekaspek formal, aspek-aspek bentuk yang mengarah pada unsur-unsur karya sastra. Tujuan metode formal adalah studi ilmiah mengenai sastra dengan memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik. Ciri-ciri utama metode formal adalah analisis terhadap unsur-unsur karya sastra kemudian mempertalikan hubungan antarunsur tersebut

7

dengan totalitasnya.. Metode ini sama dengan metode struktural yang berkembang menjadi teori strukturalisme. Metode formal memandang bahwa keseluruhan aktivitas kultural memiliki dan terdiri atas unsur-unsur.

c. metode dialektika Mekanisme kerja metode ini adalah tesis, antitesis, dan sintesis.. Prinsip dasarnya adalah unsur yang satu tidak harus lebur ke dalam unsur lainnya. Individualitas Kontradiksi dipertahankan tidak di samping untuk

interdependensinya.

dimaksudkan

menguntungkan secara sepihak. Sintesis bukanlah hasil yang pasti tetapi justru merupakan awal penelusuran gejala berikutnya. Prinsip-prinsip dialektika hampir sama dengan hermeneutik, yaitu gerak spiral eksplorasi makna yang mengarah kepada penelusuran unsur ke dalam totalitas dan sebaliknya. Pada metode ini, kontinuitas operasionalisasi tidak berhenti pada level tertulis tetapi diteruskan pada jaringan kategori sosial sebagai penjaringan makna secara lengkap. Kontradiksi dalam dialektika dianggap sebagai energi pemahaman objek. Metode dialektika digunakan dengan sangat berhasil oleh Goldmann dalam struktural genetik. Secara teoretis, setiap fakta sastra dapat dianggap sebagai tesis kemudian diadakan negasi. Dengan adanya pengingkaran, tesis dan antitesis seolah-olah hilang

8

Metode ini dapat diperoleh melalui gabungan dua metode dengan menitikberatkan kepada metode yang lebih khas yang sesuai dengan tujuan penelitian. yaitu sintesis itu sendiri. misalnya metode deskriptif komparatif atau metode deskriptif induktif.menerus. metode deskriptif analisis Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis.atau berubah menjadi kualitas fakta yang lebih tinggi. d. 9 . Metode ini dapat diaplikasikan ke dalam beberapa jenis lainnya. Sintesis kemudian menjadi tesis kembali dan seterusnya sehingga proses pemahaman terjadi secara terus. Metode ini tidak sematamata hanya menguraikan tetapi juga memberikan pemahaman dan penjelasan.

1 Penelitian dan Ilmu Penelitian merupakan bentuk nomina dari kata kerja: meneliti. dan kecerdasan yang memadai. Pengertian meneliti dimaksudkan sebagai tindakan melakukan kerja penyelidikan secara cermat terhadap suatu sasaran untuk memperoleh hasil tertentu. kecermatan. Kata penelitian yang merupakan bentuk pembendaan dari kata kerja meneliti mengandung makna sebagaimana yang terdapat pada kata meneliti. Jadi. kegiatan penelitian erat kaitannya dengan keberadaan kehidupan ilmu yang bersifat kumulatif. Penelitian dipandang sebagai sinonim riset (reseach) yang menunjukkan arti kegiatan yang diarahkan pada kerja pencarian ulang. Sebagai akibatnya. Kedinamisan ilmu ditopang secara kuat oleh kegiatan penelitian. penelitian mempunyai peran penting bagi keberadaan dan kehidupan ilmu. ilmu dapat hidup. yaitu kegiatan yang memerlukan ketelitian. 10 . Ilmu tidak selalu dalam keadaan mantap dan stabil tetapi sebaliknya bersifat dinamis. yaitu mengembangkan dan mempertajamnya. atau pencarian kembali atas suatu objek. Hubungannya dengan ilmu.BAB II PENELITIAN ILMIAH 2.

Situasi itu memperlihatkan pentingnya peran penelitian bagi pengembangan ilmu. practicial objective. dan menjadi tajam berkat penelitian yang dilakukan secara terus menerus. terutama yang berkaitan 11 .berkembang. dan terorganisasi untuk mendapatkan jawaban secara ilmiah atas suatu masalah (Nazir. upaya penelitian yang dilakukan dalam rangka pengembangan ilmu memerlukan metode yang bersifat ilmiah. yaitu mengembangkan ilmu dengan teori-teori yang sesuai dan relevan. Perbedaan keduanya berhubungan dengan persoalan metodologis. yang selanjutnya melahirkan prinsip-prinsip yang berlaku secara umum. yaitu memecahkan dan menjawab persoalan-persoalan praktis yang mendesak. Gejala yang bersifat umum menjadi indikasi akan suatu kebenaran ilmiah. Dalam menghadapi masalah. penelitian mempunyai tujuan untuk mengungkapkan gejala-gejala yang bersifat umum. Dalam rangka pengembangan ilmu dan eksistensi sosial. sistematis. Dalam kaiatannya dengan sifat ilmu pula. Kedua. kebenaran ilmiah menyimpan kegunaan ganda. Ilmu adalah pengetahuan yang bersistem dan terorganisasi. scientific objective. Chamamah (2001:7) mengemukakan bahwa kata penelitian dapat diinterpretasi dua macam. penelitian yang ilmiah tidak sama dengan penelitian nonilmiah. yaitu kegiatan yang dilakukan secara ilmiah dan kegiatan yang dilakukan secara nonilmiah. kegiatan penelitian yang dikaitkan dengan pengembangan ilmu merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan secara tertata. Oleh karena itu. 1985: 9-15). Pertama. Oleh karena itu pula.

Tersistem berarti menunjukkan adanya hubungan fungsional antara kegiatan yang dilakukan. yaitu penelitian sastra. kegiatan penelitian dituntut untuk memakai metode yang ilmiah pula. Ilmu sastra sebagai satu disiplin akan berkembang berkat penajaman konsep-konsep. Wuradji (2001: 1-2) menyebutkan bahawa penelitian merupakan proses sistematis.dengan pemanfaatan teori dan metode. yaitu sifat-sifat yang ada pada ilmu. Proses yang dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan dengan prosedur yang ditetapkan secara tertata (tersistem). Sesuai dengan sasaran kerja penelitian yang dibahas dalam mata kuiah ini. dan sesuai dengan objeknya. nalar. Penelitian bukan saja merupakan proses sistematis akan tetapi juga dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah (scientific methods). Kaitannya dengan kehidupan ilmu. Penelitian yang dikaitkan dengan ilmu yang disebut penelitian ilmiah. Penelitian adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah dengan dukungan data sebagai landasan dalam mengambil keputusan. di antaranya adalah penggunaan sikap perpikir yang kritis dari si peneliti. Penelitian ilmiah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan metode bersistem. dan metodologi yang dihasilkan melalui penelitian sastra. dapatlah diketahui bahwa melakukan kajian terhadap karya sastra merupakan kegiatan yang penting dalam perkembangan ilmu sastra. Dapat juga dilihat perlunya ilmu sastra dan penelitian sastra untuk perkembangan dan kesempurnaan ilmu sastra. Prosedurnya berarti menggunakan urutan tertentu.inilah yang menjadi sasaran dalam mata kuliah ini. Urutan umum dari proses 12 . teori-teori.

baik yang muncul dari dalam dirinya maupun muncul dari luar dirinya. pengumpulan data. analisis data.sistematis penelitian adalah: perumusan masalah. manusia mencari tahu dan mencari makna. Semua itu merupakan rangkaian rangsangan. Nazir (1985: 9) mengemukakan bahwa ilmu lahir karena manusia diberkahi sifat ingin tahu oleh Tuhan. social. ia ingin tahu pula tentang masalah yang dihadapi orang lain. Usaha mencari tahu dan menemukan makna tidak pernah padam karena manusia senantiasa menghadapi masalah-masalah yang bergantian. Manusia mempunyai kemampuan bernalar dan menggunakan simbol-simbol untuk mengekspresikan pikirannya. dan pengetahuan yang tersusun berupa konsep atau gagasan yang saling berkaitan yang akhirnya memberikan keterangan atau penjelasan mengenai segala sesuatu yang dialaminya. dan penyajian kesimpulan. maka ilmu akan terus berkembang dan membantu kemampuan persepsi serta kemampuan berpikir manusia secara logis yang sering disebut 13 . emosional. Rasa ingin tahu itulah yang menyebabkan manusia secara sengaja menghimbun keterangan yang berupa data. Di samping itu. fakta. Oleh karena itu. Keingintahuan manusia tentang permasalahan yang terjadi di sekelilingnya dapat menjurus kepada keingintahuan ilmiah. manusia senantiasa mencari kesempurnaan dan kebenaran. Banyak hal yang dapat membedakan manusia dengan makhluk hewan. penelaahan informasi. Perbedaan yang paling menonjol adalah manusia selalu mengalami pertumbuhan intelektual. Di samping masalah yang dihadapi. Dengan adanya keingintahuan manusia yang terus- menerus. dan spiritual.

menggambarkan. kemudian melakukan proses penemuan. kegiatan penelitian dengan menggunakan metode tertentu sangat terikat dengan bidang ilmu (sains) tertentu. intuasi. Merujuk kepada pendapat di atas perihal sumber pengetahuan. Pengetahuan yang diperoleh dengan ilmu itu adalah pengetahuan yang telah teruji dengan metodemetode ilmiah. Inilah awal dari rangkaian terjadinya kegiatan yang dinamakan penelitian. Proses memperoleh pengetahuan melalui ilmu berbeda dengan cara-cara memperoleh pengetahuan melalui relevasi (pengelaman secara kebetulan). Terjadilah usaha mencari tahu atau menemukan kebenaran yang lebih sahih dan lebih diyakini. Semua pengetahuan yang telah diperoleh itu rupanya senantiasa pula dipertanyakan keabsahannya. Ilmu mencakup lapangan yang sangat luas. menjangkau semua aspek tentang kemajuan manusia secara menyeluruh. otoritas. 14 . Untuk memverifikasi keabsahan ilmu yang sudah ada atau menjajaki teori baru. atau penelitian. melakukan kegiatan penemuan. penciptaan atau penyusunan cara-cara yang baik untuk membatasi. atau pendapat umum. termasuk ke dalamnya pengetahuan yang telah dirumuskan secara sistematis melalui pengamatan dan percobaan yang terus menerus yang telah menghasilkan penemuan kebenaran yang bersifat umum.penalaran yang mengarah kepada keilmuan tertentu. Sifat ingin tahu yang diperoleh melalui ilmu ini dimulai dengan mengkonseptualisasi gambaran tentang masalah. orang melakukan berbagai usaha seperti perenungan kembali. dan menafsirkan apa yang diamati. penyelidikan. atau memperkaya teori yang sudah ada.

Yang bersangkutan harus mengkaji latar belakang dan proses lahirnya suatu teori. penelitian yang dilakukan dengan berpegang atau bertolak dari teori yang telah ada sebelumnya. Penelitian bertujuan untuk menemukan atau menggali (explore). para ilmuwan selalu berusaha menemukan kesimpulan baru yang barangkali merevisi kesimpulan-kesimpulan terdahulu. adalah penelitian yang sifatnya memperkaya ilmu itu sendiri dengan jalan mencari dan menemukan teori-teori baru yang sesuai atau relevan dengan kondisi dan situasi.Di dalam melakukan kegiatan penelitian itu terdapat dua kemungkinan bentuk kegiatan. Untuk sampai kepada kegiatan penelitian jenis kedua. mengembangkan (develop atau extention) dan menguji (testing) teori. Kedua. memerlukan sikap tanggap yang tinggi sebagai ilmuwan. Para ilmuwan akan selalu tidak puas dengan setiap kesimpulan sementara. Kesimpulan apapun yang dibuat mestilah dinilai sebagai kesimpulan sementara. Adapun yang dimaksud teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling 15 . Ia harus memperlajari dan mendalami perkembangan ilmu yang bersangkutan terutama yang berkenaan dengan pengetahuan mengenai gejala-gejala yang berkait dengan penemuan teori itu sendiri. para ilmuwan tentunya berupaya untuk mengurangi subjektivitas dan mempertinggi objektivitas. Dalam hal ini. Penelitian dengan menggunakan teori itu mungkin bersifat memperkaya teori itu dengan contoh-contoh atau menunjukkan dalam kondisi apa teori tersebut kurang tepat dan perlu dimodifikasi. Oleh karena itu. Begitulah terjadinya penelitian yang tidak pernah henti-hentinya. Pertama.

pengajuan hipotesis. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariable dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala. penyusunan design.berhubungan). Teori dapat membantu merumuskan problem. pengembangan instrumen.2 Metode Dan Nilai Keilmiahan Peneliti ilmuwan yang memanfaatkan nalarnya di dalam bekerja mendasarkan kerjanya atas sifat ideal ilmu. yaitu interrelasi yang sistematis dan terorganisasi antara fakta-fakta. pengumpulan dan analisis data. sebaliknya teori dalam hubungannya dengan kegiatan penelitian dapat memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan penelitian. Hubungan teori dan penelitian digambarkan sebagai berikut: Pengumpulan data Analisis data Penyajian hasil penelitian Kesimpulan dan implikasi Identifikasi masalah Formulasi hipotesis Review informasi yang terkait Teori-teori yang terkait Ilmu pengetahuan yang Eksis body of knowledge Pengembangan/ Perluasan revisi dan teori baru 2. Dengan demikian metodenya pun bersifat 16 . serta membantu dalam menginterpretasi data. Penelitian akan menghasilkan teori.

3. (3) menggunakan prinsip analisis. landasan teori: landasan yang berupa hasil perenungan terdahulu yang berhubungan dengan masalah dalam penelitian dan bertujuan mencari jawaban secara ilmiah. dan skeptisisme yang sistematis dan memerlukan landasan kerja yang ilmiah pula. Dalam kerja penelitian. menginterpretasi. dan menyimpulkan. (2) bebas prasangka. (4) merumuskan hipotesis. dan (5) menggunakan ukuran objektif (jarak metodologis). Landasan kerja yang dimaksud oleh Chamamah (2001: 14) yang sejalan dengan pemahaman Muhajir (2002: 4) dirumuskan dalam tiga hal. bertujuan mempertajam penelitian guna meningkatkan kedekatan hasil penelitian. (7) menganalisis dan 17 .ilmiah. (5) mengumpulkan data. Dalam penelitian ilmiah. landasan kecendikiaan: bekal kemampuan membaca. Suatu kerja yang didasarkan pada metode ilmiah memiliki empat nilai dasar: universalitas. (6) mengolah data. dituntut langkah-langkah berturut-turut. Penelitian ilmiah ketanpapamrihan. menganalisis. yaitu: (1) menetapkan persoalan pokok. 2. yaitu: 1. (3) mengadakan studi pustaka. landasan metodologis: landasan yang berupa tata aturan kerja dalam penelitian dan bertujuan untuk membuktikan jawaban yang dihasilkan. nilai-nilai dasar tersebut dapat dijabarkan dalam kriteria: (1) berdasarkan fakta. (2) merumuskan dan mendefinisikan masalah. terorganisir. ilmu-ilmu humaniora. (4) menggunakan hipoteisis apabila ada. komunikasi. Metode ilmiah bertolak dari kesangsian yang sistematis.

Demikian pula. Pelaksanaan kegiatan yang didasarkan pada metode di atas akan memberikan citra keilmiahan penelitian sastra sesuai dengan karakteristik kesastraannya. Dalam kaitannya dengan keberadaan kondisi produk sastra yang menjadi sasaran kajian. Karya-karya yang tercipta dari latar waktu yang berlainan akan menimbulkan persoalan yang berhubungan dengan pergeseran makna. (9) menarik kesimpulan. Karya-karya tercipta pada masa kini dari latar penciptaan sosial dan word view yang berbeda-beda melahirkan persoalan pembacaan dari peneliti yang berlainan latar pembacaannya. perlu diperhatikan persoalan yang muncul serta jawaban-jawaban yang diperlukan. (10) merumuskan dan melaporkan hasil penelitian. (8) membuat generalisasi sesuai sifatnya. juga persoalan bentuk-bentuk resepsi dalam mentransformasi. 18 . dan (11) mengemukakan implikasi-implikasi penelitian. produk yang tercipta dari proses transformasi karya “asing” menimbulkan pula latar pembacaan yang berbeda dengan latar penciptaannya. Dalam hal inilah pemilihan teori dan metode yang memadai menempati peran yang penting untuk menghasilkan penelitian yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.menginterpretasi.

(2001: 3-4) menjelaskan bahwa secara umum asas-asas dasar penelitian meliputi: 1. validitas internal mengarah kepada ketepatan pemahaman hasil penelitian dan validitas eksternal mengarah kepada penggeneralisasian hasil penelitian c.2. valid : berhubungan dengan sebarapa jauh hasil penelitian dapat diinterpretasi (dimaknai) secara akurat dan seberapa jauh hasilnya dapat digeneralisasi dan diimplemetasikan pada populasi dan situasi yang lain b.3 Asas-asas Dasar Penelitian Wiersma dalam (Wuradji. realibel internal menunjukkan seberapa jauh pengumpulan data. Objektif mengarah kepada penelitian yang terbebas dari campur tangan atau unsur-unsur subjektif 3. realibel eksternal menunjukkan seberapa jauh peneliti lain yang independen dapat mengulang penelitian dan menunjukkan hasil yang sama dalam setting yang serupa. menghasilkan pengetahuan yang: a. d. analisis data dan pemahaman yang dilakukan penelitian konsisten dalam pemaknaan. sistematis 2. didukung data empiris 19 .

2. Charters. (bandingkan Nazir. 2. 2003) penelitian digolongkan menjadi: 1. Salah satu tipe dari penelitian terapan adalah penelitian tindakan (action research). penelitian dasar (basic Reasearch) bertujuan untuk mengembangkan ilmu pegetahuan. Penelitian ini dilakukan oleh guru atau manager atau administrator bertujuan untuk bahan pengambilan keputusan dalam ruang lingkup lokal. Jenis penelitian in tidak berorientasi pada hasil yang dapat dimanfaatkan dengan segera untuk memecahkan problem yang mendesak. 2004. Ratna. dan Whitney. Penelitian ini bertujuan untuk 20 . 1885. dan Muhadjir. Penelitian ini tidak banyak menuntut untuk melakukan generalisasi. penelitian experiment: mengandaikan situasi penelitian di mana peneliti setidaknya memanipulasi satu variabel penelitian untuk mengetahui apakah terdapat hasil yang berbeda dari pengaturan atau perubahan variabel independen tersebut. Berdasarkan desain metodologinya.4 Penggolongan Penelitian Merujuk kepada pendapat Hogben. penelitian terapan (applied Reasearch) bertujuan untuk memecahkan problem mendesak dan hasilnya dapat dimanfaatkan dengan segera dalam kehidupan praktis. Nazir ( 1985: 29-31) menggolongkan penelitian berdasarkan tujuannya ke dalam dua bagian besar. yaitu : 1.

penelitian ethnography: pada umumnya dihubungkan dengan penelitian-penelitian pada antropologi. penelitian historis: merupakan kegiatan penelitian untuk memecahkan masalah di mana peneliti menggali data yang telah terjadi pada masa lampau.membandingkan dan mencari hubungan sebab akibat. Tujuannya untuk mendeskripsikan fakta-fakta pada masa lampau. Karena itu penelitian ini juga dikenal dengan istilah penelitian kausal-komparatif. penelitian ex-post facto: peneliti tidak berusaha mengendalikan atau mengatur/mengontrol/memanipulasi variabel independen karena variabel penelitiannya sudah terjadi. Macam-macam 21 . 6. 2. ethnography merupakan pendekatan penelitian. penelitian survey: mengendalikan variabel penelitian yang dilakukan saat penelitian dilaksanakan. 5. Dari variabel-variabel yang telah muncul secara alami tersebut. peneliti berusaha menemukan hubungan antar variabel. Variabel independen tersebut biasanya muncul atau terjadi dalam setting alami. Untuk penelitian-penelitian kemasuyarakatan. 4. berusaha menganalisis dokumen untuk diketahui isi dan makna yang terkandung dalam dokumen tersebut. 3. Ciri yang membedakan penelitian survey ini dengan penelitian lainnya adalah data pada penelitian survey merupakan current status (present conditions). Penelitian ini merupakan pendeskripsian secara analitik dan mendalam tentang situasi cultural yang spesifik. content analysis.

gambar. Dalam hubungan inilah metode kualitatif dianggap persis sama dengan metode pemahaman atau verstehen. lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah. Ratna menguraikan ciri-ciri terpenting metode kualitatif . 2004: 47-49). memberikan perhatian utama pada makna dan pesan.5 Metode Kualitatif Motode kualitatif memberikan perhatian kepada data alamiah yang berada dalam hubungan konteks keberadaanya. sumber datanya adalah karya sedangkan data penelitiannya teks. Immanuel kant.dokumen yang dijadikan data penelitian di antaranya: karangan tertulis. fotografi. sesuai dengan hakikat objek. buku teks. Penelitian kualitatif mempertahankan nilai-nilai. Dalam ilmu sastra. Objek sosial bukan gejala sosial sebagai bentuk substantif melainkan makna-makna yang terkandung di balik tindakan yang justru mendorong timbulnya gejala sosial tersebut. yaitu sebagai studi kultural. buku harian. Dalam ilmu sosial. dan Wilhlem Dilthey (Ratna. biografi. 2. film. sumber datanya adalah masyarakat sedangkan data penelitiannya adalah tindakan-tindakan. surat kabar. laporan. dan majalah. 22 . lukisan. 2. grafik. Sejalan dengan uraian di atas. Ciri-ciri yang dimaksud adalah: 1. Landasan berpikir metode kualitatif adalah paradigma positivisme Max Weber.

termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan. serta tatacara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu. gambaran atau lukisan secara sistematis. 4. suatu objek. Dalam metode deskripsi peneliti bisa saja membandingkan fenomena-fenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi komparatif. subjek peneliti sebagai instrumen utama sehingga terjadi interaksi langsung di antaranya. sikap-sikap. 2. faktual dan akurat mengenai fakta-fakta. 1985: 63-65) metode dekriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat dekripsi.6 Metode Deskriptif Metode dskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia. Penelitian dskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat. penelitian bersifat alamiah. serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena. tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian. 5.3. Menurut Whitney (dalam Nazir. sifat-sifat serta hubungan antarfenomena yang diselidiki. suatu set kondisi. pandangan-pandangan. suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sakarang. Adakalanya peneliti 23 . desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat terbuka.

tujuan penelitian harus dinyatakan dengan tegas dan tidak terlalu umum 3. kriteria umum: 1.mengadakan klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena dengan menetapkan suatu standar atau suatu norma tertentu sehingga banyak ahli menamakan metode deskriptif ini dengan nama survei normatif (normative survey). data yang digunakan harus fakta-fakta yang terpercaya dan bukan merupakan opini 4. masalah yang dirumuskan harus patut. Metode ini dinamakan juga studi status . ada nilai ilmiah serta tidak terlalu luas 2. Nazir (1985: 72-73) mengurutkan kriteria pokok metode deskriptif adalah: A. Perspektif waktu yang dijangkau dalam penelitian ini adalah waktu sekarang atau sekurang-kurangnya jangka waktu yang masih terjangkau dalam ingatan responden. standar yang digunakan untuk membuat perbandingan harus mempunyai validitas 24 . Dalam metode ini dapat diteliti masalah-masalah normatif bersamasama dengan masalah status dan sekaligus membuat perbandinganperbandingan antarfenomena. Metode deskriptif juga ingin mempelajari norma-norma atau standarstandar. Dengan metode deskriptif ini juga diselidiki kedudukan (status) fenomena atau faktor dan melihat hubungan antara satu faktor dengan faktor lain.

kriteria khusus 1. variabel dilihat sebagaimana adanya. jika kerangka teoretis untuk itu telah dikembangkan. hasil penelitian harus berisi secara detil yang digunakan baik dalam mengumpulkan data maupun dalam menganalisis data serta studi kepustakan yang dilakukan. Adapun langkah-langkah umum dalam metode deskrptif adalah: 1.5. sifat penelitian adalah ex post facto. prinsip-prinsip ataupun data yang digunakan dinyatakan dalam nilai (value) 2. fakta-fakta ataupun prinsip-prinsip yang digunakan adalah mengenai masalah status. tujuan ini harus konsisten dengan rumusan dan definisi dari masalah 25 . 3. Deduksi logis harus jelas hubungannya dengan kerangka teoretis yang digunakan. memilih dan merumuskan masalah yang menghendaki konsepsi ada kegunaan masalah tersebut serta dapat diselidiki dengan sumber yang ada 2. harus ada deskripsi yang terang tentang tempat serta waktu penelitian dilakukan 6. menentukan tujuan dari penelitian yang akan dikerjakan. B. karena itu tidak ada kontrol terhadap variabel dan peneliti tidak mengadakan pengaturan atau manipulasi terhadap variabel.

merumuskan kerangka teori atau kerangka konseptual 5.3. 1985: 65-68) yang perlu dikenal sehubungan dengan praktik analisis terhadap karya sastra adalah: 1. mengadakan generalisasi serta deduksi dari penemuan-penemuan serta hipotesis-hipotesis yang ingin diuji Jenis-jenis penelitian deskriptif (Nazir. memberi limitasi dari area atau scope atau sejauh mana penelitian deskriptif tersebut akan dilaksanakan. gunakan teknik pengumpulan data yang cocok untuk penelitian 8. baik secara eksplisit maupun secara implisit 7. seberapa jauh wilayah penelitian akan dijangkau 4. dilakukan terhadap data yang telah dikumpulkan 9. membuat tabulasi serta analisis (statistik). dikerjakan evaluasi serta perbandingan-perbandingan terhadap 26 . melakukan kerja lapangan untuk mengumpulkan data. memberikan interpretasi dari hasil dalam hubungannya dengan kondisi yang ingin diselidiki dan data yang diperoleh serta referensi khas terhadap masalah yang ingin dipecahkan 10. metode survei: penyelidikan untuk memperoleh fakta-fakta dari gejala-gejala yang ada dan mencari keterangan-keterangan secara faktual. merumuskan hipotesis-hipotesis yang ingin diuji. menelusuri sumber-sumber kepustakaan yang ada hubungannya dengan masalah yang ingin dipecahkan 6.

yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung. lembaga. Dalam studi komparatif ini. subjek penelitian dapat saja individu.hal-hal yang telah dikerjakan orang dalam menangani situasi atau masalah yang serupa 2. sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari kasus ataupun status dari individu yang kemudian dari sifat-sifat khas di atas akan dijadikan suatu hal yang bersifat umun 4. maupun masyarakat. metode deskriptif berkesinambungan: kerja meneliti secara deskriptif yang dilakukan secara terus menerus atas suatu objek penelitian. Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Studi kasus: penelitian tentang status subjek penelitian yang berhubungan dengan suatu fase spesifik atau khas dari keseluruhan personalitas. Tujuan studi kasus adalah untuk memberikan gambaran secara mendetail tentang latar belakang. kelompok. sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol. penelitian dengan menggunakan metode ini bertujuan menjangkau informasi faktual yang mendetail 3. metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto. 27 .

Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia. 28 .

ekonomi. dan keagamaan. Ia mengawali pembicaraanya dari perspektif bahasa sebagai sistem semiotik primer. Selanjutnya sastra dihubungkan dengan konvensi budaya dan konvensi sastra. Riffaterre.1 Sastra sebagai Sistem Chamamah ( 2001: 9-14) yang merujuk beberapa pendapat dari Idema. menjabarkan Istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada semua masyarakat meskipun secara sosial. Akan tetapi suatu fenomena pula bahwa gejala yang universal itu tidak mendapat konsep yang universal pula. Hal ini berarti bahwa sastra meupakan gejala yang universal. Lotman. Secara cermat Teeuw masalah sistem sastra yangbersifat umum sekaligus khusus.BAB III SASTRA DALAM PENELITIAN ILMIAH 3. 29 . dan Teeuw. keberadaannya tidak merupakan keharusan. Sastra mengandung sifat umum dan khusus. Pengertian umum dan khusus di sini dapat diperjelas dengan memahami terlebih dahulu konsep tentang sastra. Eagelton. menguraikan pemahaman sastra sebagai sistem. Plark. Upaya mengungkap konsep tentang sastra pada umumnya dipandang tidak mudah. Hal ini disadari juga oleh para kitikus dan teoretis sastra. Eliis. Kriteria kesastraaan yang ada dalam suatu masyarakat tidak selalu cocok dengan kriteria kesastraan yang ada pada masyarakat lain. Menurutnya.

Sifat-sifat yang diangkat dari corak bahasanya mewujudkan sastra sebagai satu sistem. upaya mengenali konsep sastra dapat dilakukan. Dalam rangka fungsi inilah bahasa sastra mempunyai susunan yang kompleks. sastra merupakan satu kebulatan dalam arti dapat dilihat dari berbagai sisi.Pertanyaan yang berhubungan dengan penjelasan tentang konsep sastra selalu muncul tetapi selalu pula berakhir dengan kesimpulan yang menunjukkan kegagalannya. Melalui sistem sastralah. Fenomena yang terlihat universal dan sekaligus individual itu memperlihatkan sifat-sifat yang dapat ditarik dari berbagai sisinya. Pemakaian bahasa pada kegiatan bersastra berbeda dengan pemakaian bahasa pada kegiatan yang lainnya. Sebagai satu sistem. Wujud ciptaan yang dipandang sebagai hasil kegiatan bersastra pertama-tama dilihat dari sisi bahannya. Sastra tidak ditentukan oleh bentuk strukturnya tetapi oleh bahasa yang digunakan dalam macam cara tertentu oleh masyarakat. Ini menunjukkan pengertian bahwa bahasa yang dipakai mengandung fungsi yang lebih umum. seperti pada pemakaian sehari-hari (natural atau ordinary language). 30 . secondary modelling system. yaitu berupa bahasa. Perbedaan ini memberi kesan akan adanya sifat yang spesial yang dalam banyak hal tidak mengikuti tata aturan bahasa sehingga sering disebut “menyimpang atau yang sering menimbulkan interpretasi ganda. Apabila bahasa dalam kehidupan sehari-hari merupakan sistem pembentuk yang pertama maka sastra merupakan sistem yang kedua. di antaranya dari sisi bahan.

kerja yang objektif. perlu pula diperhatikan situasi pembaca dan pembacaan pada waktu berhadapan dengan karya sastra. membaca bukanlah proses yang berjalan satu arah.2 Sastra sebagai Objek Penelitian Sebagai ilmu. Keduanya bergerak dalam irama yang dinamis. Dalam hal ini.Bahasa yang dipergunakan secara istimewa dalam ciptaan sastra pada hakikatnya untuk menyampaikan informasi. Sastra dipahami sebagai satu sistem yang terbaca pada ciptaan-ciptaan yang oleh masyarakatnya dikategorikan sebagai produk sastra. disadari atau tidak akan menjadi bekal dalam pembacaannya. Dengan demikian. dan terhindar dari unsur prasangka dari 31 . Dalam hal ini penelitian harus memilih metode dan langkah-langkah kerja yang tepat dan sesuai dengan karakteristik objek kajiannya. Terjadilah pembacaan teks yang berstruktur yang menghasilkan dua kutub. yaitu komunikasi dengan penikmatnya atau pembacanya. 3. dari pembaca saja. Dengan demikian. Pembaca yang dibekali sejumlah pengetahuan. Pekerjaan meneliti sastra pada hakikatnya merupakan proses pertemuan antara ciptaan sastra dengan penelitinya. Salah satu yang menarik dalam menggunakan metode penelitian sastra adalah perihal keharusan adanya distansi. ilmu sastra mempunyai karakteristik keilmiahan sendiri. Pemanipulasian bahasa pada hakekatnya dalam rangka mewujudkan sastra sebagai sarana komunikasi yang maksimal. tetapi satu bentuk interaksi dinamis antara teks dan pembacanya. yaitu pembacanya. visi dan fungsi sastra terwujud sebagai sarana komunikasi.

pembacalah yang mewujudkannya menjadi tidak kabur. 32 . Langkah yang bisa dilakukan adalah transferabilitas. sejumlah peralatan diperlukan. Pembaca bertugas menghubungkan berbagai strata yang berbeda-beda pada tempatnya yang betul. Karya sastra adalah wujud kreativitas manusia yang tergolong konvensi-konvensi yang berlaku bagi wujud ciptaannya menjadi kaidah. di antranya hasil renungan orang terdahulu tentang masalah atau berbagai hal yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian.perspektif. generalisasi sebagaimana yang dianjurkan oleh suatu metode penelitian (positivistik) tentu saja tidak dapat dilakukan. Karya sastra terbentuk untuk mengetahui segala sesuatu yang organik. Namun. keunikan karakteristik sastra pada suatu masyarakat. membuat sastra memiliki sifat-sifat yang khusus. Dalam mengungkapkan dan menyibak kekaburan itulah. Karena karya sastra pada mulanya mengandung unsur yang kabur. Dalam hal ini. bahkan keunikan suatu ciptaan sastra. Gejala universal pada sastra membuat sastra memiliki sifat-sifat yang umum. Tugas pembaca untuk mengetahui segala kekaburan elemen-elemen yang berfungsi membentuk kesatuan itu. Gejala dengan situasi kesastraan inilah yang sering menuntut perhatian tersendiri. seperti berbagai teori dan pandangan-pandangan yang pernah ada. Penerapan metode ilmiah seperti yang dikemukakan di atas perlu mempertimbangkan sifat sastra yang memperlihatkan gejala yang universal sekaligus khusus atau unik.

unsur luar berupa lingkungan fisik 3. paradigma di sini dibicarakan dalam kaitannya dengan teori dan metode di satu pihak. Dalam kaitannya dengan karya sastra sebagai objek penelitian. model. Kaitan paradigma dengan teori dan metode tidak banyak menimbulkan masalah sebab komponen-komponen tersebut memiliki ciri-ciri 33 . pandangan dunia yang berfungsi untuk menuntun tindakan-tindakan manusia yang disepakati bersama. dan jenis-jenis permasalahan yang harus dipecahkan. dan di pihak lain berhubungan dengan sifat-sifat dasar karya sastra sebagai objek. Bagi ilmuwan. unsur dalam diri sendiri 2. Terdapat tiga hal yang mempengaruhi perbedaan paradigma seorang ilmuwan. jenis-jenis pertanyan yang harus diajukan. Paradigma berasal dari bahasa Latin: paradigma berarti contoh.3. unsur luar berupa penjelajahan metodologi dan teori. baik dalam kehidupan sehari-hari maupun penelitian ilmiah. 2004: 21).3 Pemanfaatan Teori bagi Penelitian Sastra Pembicaraan paradigma menjadi penting dalam menempatkan teori pada sebuah penelitian (Ratna. pola. Tanpa paradigma. Secara luas paradigma didefinisikan sebagai seperangkat keyakinan mendasar. Paradigmalah yang menentukan jenis-jenis ekspermen yang harus dilakukan oleh para ilmuwan. sebagai berikut: 1. ilmuwan tidak bisa mengumpulkan data. paradigma dianggap sebagai konsep-konsep kunci dalam melaksanakan suatu penelitian tertentu.

Sebagai bentuk kegiatan ilmiah. dan sebagainya. Sesuai dengan beraneka ragam ilmu. antara teori dan penelitian pun terdapat hubungan saling mengembangkan. imajinasi. Jadi. Di pihak lain.yang relatif sama. Di satu pihak. Contohnya. bahkan khayalan. maka teori pun juga beraneka ragam. dan terstruktur terhadap gejala-gejala alam berfungsi sebagai pengarah dalam kegiatan penelitian. tersistem. Dalam penelitian sastra. pemilihan macam teori diarahkan oleh masalah yang akan dijawab oleh penelitian dan oleh tujuan yang akan dicapai oleh penelitian. penelitian sastra memerlukan landasan kerja yang berupa teori. Teori memperlihatkan hubunganhubungan antarfakta yang tampaknya berbeda dan terpisah ke dalam satu persoalan dan menginformasikan proses pertalian yang terjadi di dalam kesatuan tersebut. konsep-konsep dasar yang memungkinkan subjek untuk menganalisis objek penelitian. 34 . Selanjutnya. hasil penelitian dalam arah balik akan memberikan sumbangannya bagi teori. penelitian yang memasalahkan construct suatu wacana akan memanfaatkan teori struktural. sebagai hakikat kreatif karya sastra didominasi oleh subjektivitas. Teori sebagai hasil perenungan yang mendalam. Permasalahan yang agak kompleks akan timbul apabila paradigma dikaitkan dengan objek karya sastra. paradigma secara keseluruhan didasarkan atas asumsi-asumsi ilmiah yang memungkinkan subjek untuk menghadapi masalah secara objektif. sebagai cara pandang.

faktor metodologis. teori. Pada gilirannya. penelitian adalah penilaian. bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan. faktor ontologis. secara kualitatif. Keempat faktor tersebut adalah: 1. baik secara eksplisit maupun implisit paradigma mengkondisikan teori. dalam ilmu humaniora. faktor aksiologis. metode. teknik dan proses selanjutnya. Paradigma ilmu sastra dengan demikian mencoba menjelaskan konsepkonsep yang mendasari pandangan dunia ilmuwan sastra. termasuk model-model pendekatan dalam kaitannya dengan kecenderungan multidisiplin. faktor epistemologis. khususnya sastra. termasuk metode. keberadaan objek yang sendirinya berada di antara masing-masing ilmu. jarak antara subjek dengan objek dipersempit bahkan seolah-olah tidak ada jarak 3. 35 . objek dikonstruksikan oleh individu sebagai peneliti 2. ke arah mana penelitian sastra diarahkan. Perbedaan dan perkembangan paradigma melahirkan angkatan. mengkondisikan ilmuwan sastra. dan teknik. berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bebas nilai 4. keseluruhan proses penelitian. baik dalam kaitannya dengan kaidahkaidah sastra secara keseluruhan maupun sastra sebagai genre. baik dalam kaitannya dengan individu maupun kelompok. jawaban-jawaban apa yang akan diberikan. Paradigma dengan demikian mendahului. periode.Ritzer (dalam Ratna: 2004:26) mengemukakan empat faktor yang berkaitan dengan metode kualitatif secara filosofis.

latar tempat dan waktu. drama bersajak. bahkan juga nama dan tahun yang sama dengan sejarah umum adalah unsur yang diciptakan. Perbedaannya. psikologis dan ilmu pengetahuan. novel. Puisi. gejala kultural sebagai kualitas imajinasi dan kreativitas. dll memperoleh pengertian melalui pengalaman paradigmatis tersebut. teori dan metode tidak berarti apa-apa apabila dibandingkan dengan peranan paradigma. Relevansi pengalaman paradigmatis terhadap hakikat karya secara keseluruhan jelas berkaitan dengan hakikat karya. puisi. kecuali referensi estetisnya. Para ilmuwan sastra sejak semula telah memahami bahwa karya sastra bukan kenyataan sesungguhnya. Keseluruhan unsur. dan drama. Karya sastra tidak menyediakan referensi apa pun yang dapat dijadikan pedoman untuk menjelaskan fakta sejarah. novel psikologis. dan berbagai paham yang lain. psikologis. 36 . Unsur-unsur karya sastra hanya berfungsi dalam totalitas karya. melainkan semata-mata sebagai alternatif terhadap bidang ilmu yang ditunjuknya dengan pertimbangan bahwa ada dunia lain yang seolah-olah sama dengan dunia yang ditunjuknya. aliran. subjek dalam hubungan ini telah memiliki referensi yang digunakan sebagai dasar untuk memahami dan mengembangkan hakikat imajinasi. bukan totalitas alam semesta yang melatarbelakanginya.generasi. Pengalaman paradigmatis terhadap genre-genre sastra sama dengan hakikat tersebut. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspekaspek sejarah. Dengan kalimat lain. Novel sejarah. termasuk tokoh-tokoh. demikian juga novel ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk melegitimasikan aspek-aspek sejarah.

maka perlu dibedakan antara metode dengan pendekatan. approach. dan menyajikan data. sehingga berbeda dengan peneliti lain dengan paradigma dan metodologi yang berbeda. yang diartikan sebagai jalan dan penghampiran. yaitu metode dan teknik. 3. Demikian juga konsep-konsep yang berkaitan dengan metodologi yang tidak pernah dipertimbangkan sebagai butir-butir penelitian.1. sedangkan metode adalah cara-cara mengumpulkan. pendekatan berasal dari kata appropio.4.Penjelajahan terhadap konsep-konsep paradigma sama pentingnya dengan teori. Pengertian Pendekatan Pendekatan adakalanya disamakan dengan metode (Ratna. Paradigma dan metodologi dianggap sebagai komponen-komponen yang secara inklusif mempengaruhi dan mengarahkan peneliti pada suatu kesadaran tertentu. 37 . Dalam hubungan ini dapat dikatakan bahwa paradigma dan metodologi merupakan jiwa dan semangat penelitian yang kemudian diarahkan oleh teori dengan mempertimbangkan cara yang sudah disepakati. Dengan dasar pertimbangan bahwa sebuah penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang tersusun secara sistematis dan metodis. Ratna menguraikan bahwa secara etimologis. Pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri objek. menganalisis. Lebih lanjut. 2004: 5355).4 Pendekatan Sastra 3. tetapi dalam penelitian konsep paradigma tidak muncul secara eksplisit.

dan (4) pendekatan objektif. Empat pendekatan yang dimaksud adalah (1) pendekatan ekspresif. seperti pendekatan sosiologi sastra. Definisi tersebut bersifat relatif sebab yang jauh lebih penting adalah tujuan yang hendak dicapai sehingga sebuah pendekatan pada tahap tertentu bisa menjadi metode. dalam rangka melaksanakan suatu penelitian. mitopoik. dasarnya. Pada pendekatan mendahului teori dan metode.dan sebagainya. pragmatik. pemahaman mengenai pendekatanlah yang seharusnya diselesaikan terlebih dahulu. Penelitian secara keseluruhan ditentukan oleh tujuan. 3. mimetik. ekspresif. teori. Pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri. Pendekatan merupakan langkah pertama dalam mewujudkan tujuan penelitian.4. (2) pendekatan mimesis. (3) pendekatan pragmatik. Artinya.Pendekatan pada dasarnya memiliki tingkat abstraksi yang lebih tinggi baik dengan metode maupun teori. intrinsik dan ekstrinsik. metode. pendekatan disejajarkan dengan bidang ilmu tertentu. dan tekniknya. 38 . pendekatan objektif. Dalam sebuah pendekatan dimungkinkan untuk mengoperasikan sejumlah teori dan metode. Dalam hubungan inilah.2 Jenis-jenis Pendekatan Sastra Empat komponen utama pendekatan sastra yang dikemukakan Abrams menjadi bagian penting dalam teori strukturalisme. Pendekatan mengimplikasikan cara-cara memahami hakikat keilmuan tertentu. kemudian diikuti dengan penentuan masalah.

Seringkali pendekatan ini mencari faktafakta tentang watak khusus dan pengalaman-pengalaman sastrawan yang secara sadar atau tidak telah membukakan dirinya dalam karyanya tersebut. Wilayah studi pendekatan ini adalah diri pengarang. feminisme. dan proyeksi pikiran dan perasaan pengarang. persepsi.4. dan hasil-hasil karyanya. pikiran dan perasaan. komunisme. dan sebagainya dalam karya baik karya sastra individual maupun karya sastra dalam kerangka periodisasi. dan perasaan-perasaan yang dikombinasikan. Menurut Abrams (1958: 22) pendekatan ekspresif ini menempatkan karya sastra sebagai curahan. pikiran-pikiran. Dengan demikian secara konseptual dan metodologis dapat diketahui bahwa pendekatan ekspresif menempatkan karya sastra sebagai: (1) wujud ekspresi pengarang.2.3. nasionalisme. ucapan. Secara metodis. (3) produk pandangan dunia pengarang.1 Pendekatan Ekspresif Pendekatan ekspresif ini tidak semata-mata memberikan perhatian terhadap bagaimana karya itu diciptakan tetapi bentuk-bentuk apa yang terjadi dalam karya sastra yang dihasilkan. Pendekatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggali ciiri-ciri individualisme. (2) produk imajinasi pengarang yang bekerja dengan persepsipersepsi. dan 39 . Pengarang sendiri menjadi pokok yang melahirkan produksi persepsi-persepsi. pikiran-pikiran dan perasaan-perasaannya. langkah kerja yang dapat dilakukan melalui pendekatan ini adalah: (1) memerikan sejumalah pikiran. Praktik analisis dengan pendekatan ini mengarah pada penelusuran kesejatian visi pribadi pengarang yang dalam paham struktur genetik disebut pandangan dunia.

(2) memetakan sejumlah pikiran. dan perasaan pengarang yang ditemukan dalam karyanya ke dalam beberapa kategori faktual teks berupa watak. pikiran. dan ideologi pengarang.4. bentuk-bentuk kemasyarakatan. seperti misalnya benda-benda yang dapat dilihat dan diraba. Kenyataan di sini dipakai dalam arti yang seluas-luasnya. pengalaman hidup. pandangan dunia pengarang dalam konteks individual maupun sosial dengan mempertimbangkan hubungan-hubungan teks karya sastra hasil ciptaannya dengan data biografisnya. dan ideologi pengarang secara faktual luar teks (data sekunder berupa data biografis). yaitu segala sesuatu yang berada di luar karya sastra dan yang diacu oleh karya sastra. perasaan. Melalui pandangan ini. 1989:15). Akan tetapi Marxis dan sosiologi sastra memandang karya seni dianggap sebagai dokumen sosial. dan sebagainya Luxemberg.2 Pendekatan Mimesis Dasar pertimbangan pendekatan mimesis adalah dunia pengalaman. secara hierarkis karya seni berada di bawah kenyataan.perasaan pengarang yang hadir secara langsung atau tidak di dalam karyanya. persepsi. yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai peniruan kenyataan (Abrams. 1958:8). (3) merujukkan data yang diperoleh pada tahap (1) dan (2) ke dalam fakat-fakta khusus menyangkut watak. karya seni sebagai refleksi dan kenyataan di dalamnya sebagai sesuatu yang sudah ditafsirkan. 40 . pengalaman.2. 3. dan (4) membicarakan secara menyeluruh. sesuai tujuan.

norma fiksionalitas mengimplikasikan bahwa tanda-tanda linguistik yang berfungsi dalam teks sastra tidak merujuk secara langsung pada dunia kita. Menurut Baxter.Sehubungan dengan pendekatan mimesis. suatu copy. atau suatu perspektif pada aspek yang riil yang 41 . Secara terminologis. Menurutnya. Menurut konsep ini konsep imitasi harus menjadi norma dasar telaah. Mimesis sering diterjemahkan sebagai "tiruan". Proses tidak berhenti hanya dengan apa pembaca atau penulis mencoba untuk mengetahuinya. Tiruan. Kritik Marxist menyatakan bahwa dunia fiksional teks sastra seharusnya merefleksikan realitas sosial. Segers (2000. mimesis melibatkan sesuatu yang dinamis. mimesis menandakan suatu seni penyajian atau kemiripan. metode terbaik mimesis adalah dengan jalan memperkuat dan memperdalam pemahaman moral. Mungkin rentang batas yang riil dengan yang dihadirkan dapat dikhayalkan walaupun hanya sesaat dalam kondisi riil. menyiratkan sesuatu yang statis. suatu produk akhir. Adapun John Baxter (dalam Makaryk. 91-94) mengungkapkan konsep yang dipakai kaum Maxist. suatu proses. menyelidiki dan menafsirkan semesta yang diterima secara riil. suatu hubungan aktif dengan suatu kenyataan hidup. Lebih jauh Segers mempertimbangkan fiksionalisasi dalam telaah teks sastra yang berhubungan dengan pendekatan mimesis. tetapi pada dunia fiksional teks karya sastra.1993: 591-593) menguraikan bahwa mimesis adalah hubungan dinamis yang berlanjut antara suatu seni karya yang baik dengan alam semesta moral yang nyata atau masuk akal. tetapi penekanannya berbeda.

langkah kerja analisis melalui pendekatan ini dapat disusun ke dalam langkah pokok.. dan (4) produk imajinasi yang utama dengan kesadaran tertinggi atas kenyataan. sesuai tujuan. (3) produk dinamis yang kenyataan di dalamnya tidak dapat dihadirkan dalam cakupan yang ideal. dapat diketahui secara konseptual dan metodologis bahwa pendekatan mimesis menempatkan karya sastra sebagai: (1) produk peniruan kenyataan yang diwujudkan secara dinamis. 42 .tidak bisa dijangkau jika tidak dilihat. dsb. Secara metodis. Oleh karena itu. (2) menghimpun data pokok atau spesifik sebagai variabel untuk dirujukkan ke dalam pembahasan berdasarkan kategori tertentu. dan (4) menelusuri kesadaran tertinggi yang terkandung dalam teks karya sastra yang berhubungan dengan kenyataan yang direpresentasikan dalam karya sastra. Mimesis sama dan sebangun dengan apa yang Coleridge sebut sebagai 'imajinasi yang utama. misalnya menelusuri unsur fiksionalitas sebagai refleksi kenyataan secara dinamis. Melalui penjabaran di atas. kenyataan tidak dapat dihadirkan dalam karya dalam cakupan yang ideal. (3) membicarakan hubungan spesifikasi kenyataan dalam teks karya sastra dengan kenyataan fakta realita. ' yang oleh Whalley disebut sebagai hasil dari kesadaran tertinggi. Kenyataan kadang-kadang digambarkan berbeda karena tak sesuai dengan pandangan kenyataan yang menyeluruh. yaitu: (1) mengungkap dan mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan secara tekstual. (2) representasi kenyataan semesta secara fiksional.

Menurutnya. dan memahami karya sastra. mengawali pembicaraannya dengan uraian seputar estetika resepsi.2. dan (3) kedudukan estetika resepsi dalam tradisi studi sastra.3 Pendekatan Pragmatik Pendekatan pragmatis menurut Abram (1958: 14-21) memberikan perhatian utama terhadap peranan pembaca. pembacalah yang menilai. menikmati.3. Dengan mempertimbangkan indikator karya sastra dan pembaca. Pendekatan pragmatis mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. menafsirkan. (2) penerapan praktis estetika resepsi. secara metodologis estetika resepsi berusaha memulai arah baru dalam studi sastra karena berpandangan bahwa sebuah teks sastra seharusnya dipelajari (terutama) dalam kaitannya dengan reaksi pembaca. yaitu (1) konsep umum estetika resepsi. maka masalah-masalah yang dapat dipecahkan melalui pendekatan pragmatis di antaranya berbagai tanggapan masyarakat atau peneriman pembaca tertentu terhadap sebuah karya sastra.4. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Segers memetakan estetika resepsi ke dalam tiga bagian utama. Segers (2000:35-47) dalam kaitannya dengan pendekatan pragmatik. Pembaca dalam 43 . baik dalam kerangka sinkronis maupun diakronis. Menurutnya. Estetika resepsi yang termasuk ke dalam wilayah pendekatan pragmatik memuat konsep-konsep dasar seperti yang dikemukanan Jauss dan Iser. Kata kunci dari konsep yang diperkenalkan Jauss adalah rezeptions und wirkungsasthetik “ tanggapan dan efek”. Dalam uraiannya.

(2) horison harapan. dan dari oposisi antara puisi dan bahasa praktis. (5) rangkaian sastra.kondisi demikianlah yang mampu menentukan nasib dan peranannya dari segi sejarah sastra dan estetika. (3) nilai estetik. (4) semangat zaman. Baru dalam kaitannya dengan pembaca. karya sastra mendapat makna dan fungsinya. Tujuh bagian penting yang menjadi dasar dari teori estetika resepsi Jauss. dan (7) sejarah umum. Pembacaan yang beragam dalam periode waktu yang berbeda akan menunjukkan efek yang berbeda pula. Horison harapan muncul pada tiap aktivitas pembacaan pembaca untuk masing-masing karya di dalam momen historis melalui bentuk dan pemahaman atas ganre. dari bentuk dan tema karya yang telah dikenal. Karya sastra tidak berada dalam kekosongan 44 . kesejarahan sastra tidak bergantung pada organisasi fakta-fakta literer tetapi dibangun oleh pengalaman kesastraan yang dimiliki pembaca atas pengalaman sebelumnya. (6) perspektif sinkronik dan diakronik. Dalam hal ini. yaitu: (1) pengalaman pembaca. Pengalaman pembaca akan mewujudkan orkestrasi yang padu antara tanggapan baru pembacanya dengan teks yang membawanya hadir dalam aktivitas pembacaan pembacanya. Pengalaman pembaca yang dimaksud mengindikasikan bahwa teks karya sastra menawarkan efek yang bermacam-macam kepada pembaca yang bermacam-macam pula dari sisi pengalamannya pada setiap periode atau zaman pembacaannya. Resepsi sebuah karya dengan pemahaman dan penilaiannya tidak dapat diteliti lepas dari rangka sejarahnya seperti yang terwujud dalam horison harapan pembaca masing-masing.

Dengan kondisi tersebut. Perihal semangat zaman. rekonstruksi horison harapan pada permukaan suatu karya yang telah diciptakan dan diterima di masa lalu memungkinkan pembaca mempertanyakan kembali tentang teks tersebut. Pendekatan ini mengoreksi norma-norma klasikal yang tidak dikenal atau memodernisasi pemahaman seni dan menghindari kesulitan yang menyelimutinya. Penandaan perbedaan jarak estetik antara horison harapan yang diberinya dan tampilan suatu karya baru akan mengarahkan potensi-potensi resepsi yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan horison sampai pada penghilangan pengalaman yang umum dikenal atau sampai pada peningkatan kesadaran pengalaman yang baru saja dicetuskan. Kondisi yang mengindikasikan adanya jarak estetik ini dapat menjadi objektif menurut sejarah sejalan dengan spektrum reaksi pembaca dan pertimbangan kritiknya. Horison harapan atas sebuah karya membuka peluang untuk menentukan karakter artistiknya melalui kesamaan dan tingkat pengaruhnya pada syarat pembaca.informasi. Teori menuntut 45 . Teori estetik resepsi tidak hanya memahami bentuk suatu karya sastra dalam bentangan historis berkenaan dengan pemahamannya. teks karya sastra mampu menstimulus proses psikis pembaca dalam meresepsi teks karya sastra yang dibacanya sehingga bagian dari proses tersebut mengimplikasikan adanya harapanharapan atas karya yang dibacanya. Proses pembacaan diarahkan kepada bagaimana pembaca jaman sekarang bisa memandang dan memahami karya tersebut.

berlawanan dan teratur sehingga diperoleh sistem hubungan yang umum dalam karya sastra pada waktu tertentu. Pembenahan tersebut membuka perubahan dalam perilaku estetik. yang terakhir memanifestasikan dirinya sebagai proses resepsi pasif yang merupakan bagian dari pengarang. Keberhasilan linguistik melalui perbedaan dan hubungan metodologis yang menyeluruh dari analisis sinkronis dan diakronis adalah kesempatan untuk menanggulangi perspektif diakronis yang sebelumnya merupakan satusatunya perspektif yang diberlakukan di dalam sejarah sastra.bahwa sesuatu karya individu menjadi bagian rangkaian karya lain untuk mengetahui arti dan kedudukan historisnya dalam konteks pengalaman kesastrannya. Pada tahapan sejarah resepsi karya sastra terhadap sejarah sastra sangat penting. satirik. Hubungan ini tidak berakhir dengan fakta yang beragam. tetapi hubungannya dapat ditemukan di dalam sastra dari semua waktu. Perspektif sejarah sastra selalu menemukan hubungan fungsional antara pemahaman karya-karya baru dengan makna karya-karya terdahulu. Fungsi sosial sastra 46 . Perspektif ini juga mempertimbangkan pandangan sinkronis guna menyusun dalam kelompok-kelompok yang sama. atau gambaran berupa kayalan tentang keberadaan sosial. Pemahaman berikutnya dapat memecahkan bentuk dan permasalahan moral yang ditinggalkan oleh karya sebelumnya dan pada gilirannya menyajikan permasalahan baru. Tugas sejarah sastra yang utuh tidaklah hanya diwakili kesinkronisan dan kediakronisan di dalam rangkaian sistemnya. diidealkan. tetapi juga melihat seperti ' sejarah khusus' dalam hubungan uniknya terhadap 'sejarah umum'.

Manifestasi tersebut mempunyai dan mempengaruhi perilaku sosialnya. 54) adalah terdapat hubungan dialektis antara teks. Karya sastra ini melahirkan sesuatu yang tidak ada sebelumnya. 1987: 20 dan 54). historis. Konsekuansinya. teori respon estetik dihadapkan pada permasalahan bagaimana suatu situasi yang tidak diformukasikan dapat diproses dan dipahami. pembaca. Iser menyebutnya sebagai respon estetik sebab walaupun pusat perhatiannya sekitar teks. Asumsi dasar dari teori ini adalah teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. Teori ini melihat bahwa karya sastra sebagai suatu yang diformukasikan kembali dari sesuatu yang telah diformukasikan dalam realita. tetapi mengarahkan persepsi dan imajinasi pembaca dalam rangka melakukan penyesuaian dan bahkan membedakan fokusnya. interaksinya dapat dicermati melalui pengertian implied reder. dan standpoint yang membuat pembaca sebagai real reader menyusun makna teksnya. Repertoire merupakan seperangkat norma sosial. Konsep yang dikemukakan Iser (1987: ix-xii. dan budaya yang dipakai untuk membaca yang dihadirkan oleh teks dan merupakan semua wilayah familiar dalam teks berupa acuan kepada karya-karya yang ada lebih dahulu. literary repertoire. Konsep dialektika respon estetik (Iser. rol. dan literary strategies Implied reader merupakan model. Strategi digunakan untuk defamiliarisasi dan untuk mengkomunikasikan teks dengan 47 .memanifetasikan dirinya di dalam kemungkinan riil hanya jika pengalaman kesastraan pembaca masuk ke dalam horison harapannya dari kehidupan praktisnya untuk kemudian pembaca melaksanakan pemahaman atas dunianya. dan interaksinya.

dan unsur-unsur sosiokultural lainnya. Adapun pandangan Iser yang menyatakan bahwa terdapat interaksi antara teks dan pembaca dalam proses pembacaan. dan totalitas. politis.pembacanya tanpa mendeterminasikannya. Melalui strategi ini disajikan primary code kepada pembaca dan membuat pembaca mengaturnya sendiri sehingga lahir makna yang bervariasi. seperti aspekhistoris. 3. sosiologis. 1978: 26-29) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur. Masing-masing toeri di atas (Jauss dan Iser) mengarahkan praktik metodisnya. Deskripsi tentang teks tidak lebih dari pengalaman pembaca yang terbudaya. Teks hanya bisa hadir saat dibaca dan perlu pengujian atas teks tersebut melalui pembaca. pendekatan objektif juga disebut analisis otonomi. Pandangan Jauss dengan tujuh tesisnya memetakan analisis pada aspek estetik dan historisnya.4 Pendekatan Objektif Pendekatan objektif (Abrams. langkah-langkah yang perlu diikuti sehubungan dengan pernyataan di atas adalah dengan jalan langkah (1) menandai adanya kualitas yang khusus atas teks sastra yang mencirikan adanya perbedaan dengan teks lainnya dan (2) memerikan dan meneliti unsur-unsur dasar penyebab tanggapan terhadap karya sastra. 48 . Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah mengabaikan bahkan menolak segala unsur ekstrinsik. Oleh karena itulah. Dengan demikian. antarhubungan. termasuk biografi. Pendekatan ini mengarah pada analisis intrinsik. Ketujuh tesis tersebut merupakan pemodelan yang mengarah tuntutan metodisnya.2.4.

2002: 21) adalah karya sastra merupakan sebuah struktur yang terdiri dari bermacam-macam unsur pembentuk struktur. gaya bahasa. Makna unsur-unsur karya sasatra itu hanya dapat dipahami sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra. Struktur yang dimaksud dijajaki melalui unsur-unsur pembentuknya berupa: tema. analisisnya diarahkan pada struktur ceritanya.). dan latar). fakta cerita (tokoh.Pemahaman dipusatkan pada analisis terhadap unsur-unsur dengan mempertimbangkan keterjalinan antarunsur di satu pihak dan unsur-unsur dengan totalitas di pihak lain. konflik. Analisis sajak berbeda dengan analisis prosa. Secara metodologis. sesuai dengan sifat fiksi yang merupakan struktur cerita. mulai dari lapir bunyi sampai ke lapis metafisik. Analisis yang digunakan terhadap saja misalnya penelusuran lapis norma. dll. alur. Analisis karya sastra melalui pendekatan ini tergantung pada jenis sastranya. Antara unsur-unsur pembentuknya ada jalinan erat (koherensi). Teknik analisisnya pun bisa diarahkan pada pembacaan heuristik sampai ke tingkat pembacaan hermeneutik. Konsep dasar pendekatan ini (Hawkes dalam Pradopo. 49 . Adapun terhadap prosa. Tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya melainkan maknanya ditentukan oleh hubungan dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. dan sarana cerita (pusat pengisahan. pendekatan ini bertujuan melihat karya sastra sebagai sebuah sistem dan nilai yang diberikan kepada sistem itu amat bergantung kepada nilai komponen-komponen yang ikut terlibat di dalamnya.

50 .Pada analisis prosa. unsur-unsur tersebut ditelusuri dan dikemukakan hubungan dan fungsi tiap-tiap unsur. Tema berjalin erat dengan fakta-fakta dan berhubungan erat dengan sarana sastra. tema dan fakta-fakta cerita dipadukan menjadi satu oleh sarana sastra. Di dalam analisisnya.

Hawkes. keutuhan sesuatu itu tidak sekedar berkurang. dan Faruk: 1994: 17-18. untuk menjalankan fungsi-fungsinya sendiri. mekanisme sendiri.BAB IV STRUKTURALISME 4. 1984: 120139).1 Prinsip-prinsip Antarhubungan Strukturalisme adalah sebuah paham atau kepercayaan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini mempunyai struktur (Pieget. apabila suatu bagian dihilangkan. melainkan rusak sama sekali. Sesuatu dikatakan berstruktur apabila ia mempunyai kemampuan untuk mengatakan kemungkinan gangguan dan pengaruh dari luar dengan caranya sendiri. Semua dikatakan berstruktur apabila ia dapat melakukan perubahan. terlepas dari 51 . 1978: 17-18. Artinya. strukturalisme juga percaya bahwa suatu struktur mempunyai daya transformasi dan regulasi diri. bukan merupakan jumlah dari bagian-bagian semata. Sesuatu dikatakan mempunyai struktur apabila ia membentuk suatu kesatuan yang utuh. fungsi utama yang menjadi tujuan atau pusat strukturasinya. 1995: 4-12. 1999: 1-9. dan Teeuw. Hubungan antarbagian di dalam struktur tidak bersifat kuantitatif. melainkan kualitatif. Keseluruhan pengertian tersebut menunjukkan bahwa bagi strukturalisme segala sesuatu di dalam dunia membangun dunianya sendiri. Faruk. tanpa harus kehilangan keutuhan dirinya. Selain itu.

strukturalisme dalam ilmu sastra akan memperlakukan karya sastra atau kesastraan sebagai sesuatu yang mandiri pula. Strukturalisme percaya bahwa sastra dapat dipahami dan dijelaskan atas dasar sistm sastra sendiri yang membentuk semacam kaidah-kaidah bagi penciptaan karya sastra. Karena itu. motivator terjadinya gejala baru. Unsur dapat dipahami semata-mata dalam proses antarhubungannya. dan self-regulatif. mekanisme yang baru.berbagai kemungkinan pengaruh dari luar. mengembangkan. Aliran Kritik Baru di Amerika. transformatif. Sesuatu dipahami sebagai kekuatan yang mampu membangun. Artinya. sesuatu yang berstruktur. percaya bahwa teks sastra dapat dipahami dan dijelaskan berdasarkan bukti-bukti yang terdapat di dalam teks itu sendiri. yaitu dari struktur yang otonom ke arah relevansi fungsi karya 52 . Tanpa antarhubungan sesungguhnya unsur tidak berarti. Unsur tidak memiliki arti dalam dirinya sendiri. strukturalisme cenderung memahami segala sesuatu sebagai sebuah sistem tertutup. antarhubungan merupakan energi. dan mempertahankan dirinya sendiri dengan caranya sendiri pula. Mekanisme antarhubungan tersebut dianggap sebagai pergeseran yang signifikan dan fundamental. Sebagai kualitas totalitas. sesuatu yang utuh. otonom. unsur-unsur sebagai ciri khas teori tersebut dapat berperan secara maksimal semata-mata dengan adanya fungsi. Formalisme di Rusia. Makna total setiap entitas dapat dipahami hanya dalam integritasnya terhadap totalitasnya. Dengan kata lain. Dalam strukturalisme konsep fungsi memegang peranan penting. yaitu dalam rangka menunjukkan antarhubungan unsur-unsur yang terlibat.

Karya dengan demikian tidak dipahami melalui ergon yang terisolasi melainkan selalu dalam kaitannya dengan perubahan realita sosial. dan gejala apa saja memiliki arti yang sesungguhnya. plot. Namun demikian. misalnya. Analisis terhadap penokohan. dan sebagainya. latar. prinsip antarhubungan secara esensial dipertahankan pada setiap teori dibawah naungan strukturalisme. tidak mungkin dilakukan secara terpisah dari unsur-unsur yang lain. Relevansi prinsip-prinsip antarhubungan dalam analisis karya sastra. Dengan kata lain. suatu masyarakat. Sejalan dengan uraian di atas. Di pihak lain. di satu pihak mengarahkan peneliti agar secara terus menerus memperhatikan setiap unsur sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan unsur-unsur yang lain. Karya tidak dapat diisolasi. seperti kejadian. Kesalahpahaman mengenai fungsi-fungsi antarhubungan menyebabkan peneliti hanya meneliti salah satu unsur tertentu yang pada gilirannya berarti memperkosa hakikat suatu totalitas. perubahan menuju pada perkembangan teoretik telah terjadi yang sekaligus mengarahkan pembahasan metodologis secara berbeda pula.sebagai sistem komunikasi. 53 . antarhubunganlah yang menyebabkan sebuah karya sastra. penokohan tidak dapat dipahami tanpa menghubungkannya dengan unsur-unsur yang lain. Karya harus dikondisikan sebagai fakta kemanusiaan sehingga memungkinkan untuk mengoperasikan secara maksimal berbagai saluran komunikasi yang terkandung di dalamnya.

asosiasi. Metode formal menjalankan fungsinya dengan cara merekonstruksi teks melalui pemaksimalan konsep fungsi. puitika. Sebagai teori modern mengenai sastra. Prinsip dan sarana inilah yang mengarahkannya pada konsep sistem dan akhirnya ke konsep struktur. yaitu: 1. dan psikologi. teks menjadi suatu kesatuan yang terorganisasikan. Dengan jalan demikian. Ratna: 2004: 80-87) adalah studi ilmiah tentang sastra dengan cara meneliti unsurunsur kesastraan. Metode yang digunakan metode formal. reaksi terhadap studi biografis 2. Meskipun demikian. dan sebagainya. kecenderungan yang terjadi dalam ilmu humaniora di mana terjadinya pergeseran dari paradigma diakronis ke sinkronis 3.2 Teori Formalisme Tujuan pokok formalisme (bandingkan Teeuw.4. sosiologi. penemuannya mengarahkan pada paradigma baru bahwa karya sastra tidak dapat dipahami secara terisolir 54 . oposisi. 1985: 128-13. formalisme lahir sebagai akibat penolakannya terhadap paradigma positivisme abad ke-19 yang memegang teguh prinsip-prinsip kausalitas. secara historis kelahiran formalisme dipicu oleh paling sedikit tiga faktor. penolakan terhadap pendekatan tradisional yang selalu memberikan perhatian terhadap hubungan karya sastra dengan sejarah. Usaha maksimal kelompok formalis dalam rangka menemukan hakikat karya sastra dengan cara mengeksploitasi sarana bahasa telah mencapai klimaknya.

2002: 304). dan Ratna. dan (3) sebagai teori. masyarakat yang menghasilkannya. karya sastra adalah proses komunikasi. khususnya sebagaimana digemari oleh kelompok formalisme awal ke arah pemahaman sastra secara lebih luas. Menurutnya. 1985: 185-192. 2003: 88-96. karya seni harus dikembalikan pada kompetensi penulis. Pradopo 2002: 46. tetapi juga harus melibatkan keseluruhan faktor yang membentuknya. terdiri atas tanda. yaitu (1) sebagai pergeseran paradigma berpikir. 55 . dan nilai-nilai. (2) sebagai metode. Oleh karena itulah. fakta semiotik. Muhadjir. melahirkan strukturalisme. dinamik mula-mula dikemukakan oleh Mukarovsky dan Felik Vodicka. 2004: 89) menjelaskan keberadaan strukturalisme menjadi tiga tahap. struktur. Pergeseran perhatian dari masalah-masalah teknis. Karya seni adalah petanda yang memperoleh makna dalam kesadaran pembaca.semata-mata melalui akumulasi perangkat-perangkat intrinsiknya. 4. Strukturalisme dinamika (lihat Teeuw.) mencermati bahwa strukturalisme dinamik dimaksudkan sebagai penyempurnaan strukturalisme yang semata-mata memberikan intensitas terhadap struktur intrinsik yang Strukturalisme dengan sendirinya melupakan aspek-aspek ekstrinsiknya.3 Teori Strukturalisme Dinamik Scholes (dalam Ratna. dan pembaca sebagai penerima. Lahirnya strukturalisme dinamik didasarkan atas kelemahan-kelemahan strukturalisme sebagaimana yang dianggap sebagai perkembangan formalisme.

peristiwa. dan gaya bahasa. sudut pandang. dan drama) akan membutuhkan pemusatan analisis yang berbeda pula. Unsur-unsur puisi. Prosa. imajinasi. dan gaya bahasa. unsur-unsur yang dibicarakan tergantung dari dominasi unsur-unsur karya di satu pihak. latar atau setting. dan drama dan sastra jenis klasiknya tidak semata-mata dianalisis 56 . di antaranya tema. latar. dialog. simbol. yaitu totalitas karya itu sendiri dengan unsur-unsur yang diadopsi ke dalam wilayah penelitian. puisi. puisi. diksi atau pilihan kata. Akan tetapi analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosial kultural yang menghasilkannya. misalnya mengarah pada tema. nada. rima atau persajakan. Artinya. alur. penokohan. tujuan analisis di lain pihak. Unsurunsur prosa. stilistika. Dalam analisis akan selalu terjadi tarik menarik antara struktur global. Kondisi tersebut menunjukkan dinamika karya sastra sebagai totalitas sebab proses adopsi mengandaikan terjadinya ciri-ciri transformasi dan regulasi diri sehingga terjadi keseimbangan antara struktur global dengan unsur-unsur yang dianalisis. ritme atau irama. dan enjambemen. Unsur-unsur yang terdapat pada ketiga jenis sastra (prosa. Karya sastra tidak mungkin dan tidak perlu dianalisis secara menyeluruh sebab struktur global bersifat tidak terbatas. penokohan. maka tidak ada aturan yang baku terhadap suatu kegiatan analisis. Atas dasar hakikat otonom karya sastra. peristiwa atau kejadian. Unsur-unsur (teks) drama di antaranya tema. alur.Perbedaan unsur-unsur karya sastra untuk jenis yang berbeda-beda terjadi akibat proses resepsi pembaca. Setiap penilaian akan memberikan hasil yang berbeda.

Metodologi penelitian pun menjadi bertambah kompleks. analisis struktur akan melibatkan paling sedikit tiga komponen utama. melainkan harus dilengkapi dengan penelitian lapangan yang dengan sendirinya juga melibatkan instrumen penelitian lapangan. tidak semau-maunya. Tanda baru mendapat makna sepenuhnya bila sudah melalui tanggapan pembaca. Dengan demikian strukturalisme dinamik adalah pendekatan atas karya sastra dengan menerapkan kerja strukturalisme atas dasar konsep semiotik. Pembaca dalam memberi makna terikat pada konvensi tanda. Strukturalisme dinamik yang dikembangkan Ian Mukarovsky dan Felix Vodicka mencoba memahami karya sastra berdasarkan kesadaran bahwa karya sastra sebagagi struktur pada hakikatnya memiliki ciri khas yaitu sebagai tanda (sign). 57 . Jadi. Dalam hubungan ini.sebagai teks tetapi juga dimungkinkan dalam kaitannya dengan pementasan langsung sebagai performing art. Analisis struktural murni mengasingkan karya sastra dari kerangka kesejarahan dan relevansi eksistensialnya. dan pendengar. dengan kerangka semiotik itu dapat diproduksi makna dalam karya sastra yang merupakan struktur sistem tanda-tanda itu. karya sastra. Dengan demikian ada pengaruh timbal balik antara tanda dan pembacanya. yaitu pencerita. tidak bertambah dalam penelitian pustaka.

4. antara penanda dan petanda. Ada tiga jenis tanda yang pokok. Arti simbol ditentukan oleh konvensi masyarakat. strukturalisme berhubungan erat atau bahkan tidak terpisahkan dengan semiotik sebagai sarana untuk memahami karya sastra. hubungannya bersifat arbitrer berdasarkan konvensi masyarakat. Ikon dan indeks merupakan tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah. dan hubungan semitoik dengan pendekatan lainnya. Dalam sistem ketandaan tingkat pertama ini ditingkatkan menjadi sistem ketandaan tingkat kedua. latar belakang sejarah pertumbuhannya. Simbol adalah tanda yang tidak menunjukkan adanya hubungan almiah antara keduanya. aliran semiotik.4 Semiotik Secara padat Dolezel. Stout (dalam Makaryk. Bahasa merupakan sistem ketandaan tingkat pertama. yang merupakan bentuk tanda. Menurutnya. dan (2) pertanda (signified) atau yang ditanda yang merupakan arti tanda. yaitu persamaan dan sebab akibat. Dalam lapangan semiotik. 1993: 183-189). dan ratna (2004: 96-120) menjelaskan pendekatan semiotik dimulai dari pengertian. indeks. arti bahasa dalam 58 . Arti bahasa tingkat pertama disebut arti (meaning). Sebuah sistem tanda yang utama yang menggunakan simbol adalah bahasa. dan simbol. pengertian tanda ada dua prinsip. yaitu (1) penanda (signifier) atau yang menandai. untuk menangkap makna unsur-unsur struktur karya sastra dalam jalinan dengan keseluruhan karya yang harus memperhatikan sistem tanpa yang dipergunakan dalam karya sastra. yaitu ikon. Karya sastra itu merupakan struktur sistem tanda-tanda yang bermakna.

menghubungkan teks sastra dengan hal-hal di luar dirinya itu dimungkinkan. Berhubungan dengan hal ini. perasaan. suasana. intensitas. Bahasa sebagai sistem semiotik tingkat pertama diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberikan makna dan efek-efek lain dari arti yang diberikan oleh penggunaan bahasa biasa. Jadi.sastra sebagai sistem tanda tingkat kedua biasa disebut makna (significance) yang merupakan arti dari arti (meaning of meaning). yang pemakaiannya tidak lepas dari konvensi dan hal-hal di luar strukturnya. dan segala pengertian tanda-tanda yang ditimbulkan oleh konvensi sastra. Dalam sistem semiotik. Oleh karena memberi makna karya itu dengan jalan mencari tanda-tanda yang memungkinkan timbulnya makna sastra. daya liris. Oleh karena itu yang dimaksud makna (bahasa) sastra itu bukan semata-mata arti bahasanya. Menurut Pradopo (2002: 272) studi sastra bersifat semiotik itu adalah usaha untuk menganalisis karya sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai makna-makna. arti bahasa ditentukan oleh konvensi sastra di samping konvensi bahasa sendiri. maka menganalisis karya sastra itu adalah memburu tanda-tanda. sesuai dengan tanda bahasa yang bermakna. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur karya sastra atau hubungan-dalam (internal relation) antarunsurnya akan dihasilkan bermacam-macam makna. dalam metode sastra semiotik dikenal metode hubungan intertekstual untuk memberi makna lebih penuh kepada sebuah 59 . Dalam kaya sastra. arti tambahan (konotasi). yang dimaksud makna karya sastra itu meliputi arti bahasa.

karya sastra daripada jika karya sastra hanya dianalisis secara struktural murni. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan natara pengirim dan penerima. Menurut pandangan intertektualitas. Dilihat dari faktor yang menentukan adanya tanda. prinsip intertekstualitas ituperlu diterapkan. Prinsip hubungan antarteks ini disebabkan oleh kenyataan bahwa karya sastra itu tidak lahir dalam kekosongan budaya. baik berupa penerusan konvensi sastranya maupun penentangan konvensi ataupun konsep estetik. atau yang lain. Dilihat dari segi cara kerjanya. maka tanda dibedakan sebagai berikut: 60 . diketahui bahwa konsep-konsep triadik tersebut bersifat dinamisme internal. (2) semantik semiotik. yaitu tanda-tanda dalam karya sastra yang memungkinkan diproduksinya makna karya sastra. Sejalan dengan paham triadik peircean. dan (3) pragmatik semiotik. yaitu dengan jalan membandingkan sistem tanda dalam hipogramnya dengan sistem tanda karya sastra yang menanggapi dan mentransformasikannya. terdapat (1) sintaksis semiotika. studi dengan memberikan perhatian pada hubungan tanda dan acuannya. yaitu studi dengan memberikan intensitas hubungan tanda dengan tanda-tanda yang lain. termasuk sastra. Sebuah karya sastra merupakan aktualisasi atau realisasi tertentu dari sebuah sistem konvensi atau kode sastra dan budaya. Untuk memberikan makna atau konkretisasi sebuah karya sastra. Sistem tanda tersebut berupa konvensi-konvensi tambahan dalam sastra. sebuah karya sastra merupakan jawaban terhadap karya sastra yang lain yang lahir sebelumnya.

hubungan tanda dan objek karena kesepakatan: bendera 3. terbentuk oleh kualitas: warna hijau. tanda sebagai fakta: pernyataan deskriptif. tanda-tanda baru yang terjadi dalam batin penerima: a. c. hubungan tanda dan objek karena sebab akibat: asap dan api. referent). c. simbol. yang paling sering diulas adalah object. c.1. tanda itu sendiri sebagai perwujudan gejala umum: a. tanda tampak sebagai nalar: proposisi. ground. dicent signs. legisigns. b. object. representamen. 61 . sinsigns. type. denotatum. tanda sebagai kemungkinan: konsep dicisigns. ikon. object (designatum. hubungan tanda dan objek karena serupa: foto indeks. b. Menurut Aart van Zoet (Ratna. qualisigns. terbentuk melalui realisasi fisik: rambu lalu lintas. tokens. 2. dan interpretant. interpretant. argument. yaitu apa yang diacu: a. berupa hukum: suara wasir dalam pelanggaran. rheme. 2004: 102) di antara ikon. Di antara representamen. b.

Ikonisitas selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. usaha strukturalisme genetik untuk memahami karya sastra secara niscaya terarah pada usaha untuk menemukan struktur karya itu. Cara yang lain seperti yang dikemukakan Abrams (1958: 6-29) dilakukan dengan menggabungkan empat aspek. di satu pihak segala sesuatu merupakan ikon karena segala sesuatu dapat dikaitkan dengan sesuatu yang lain. yang terpenting adalah ikon. Alasannya. Kellner dalam makaryk. dan Faruk. Cara yang paling umum adalah dengan menganalisis karya melalui dua tahapan sebagai mana ditawarkan oleh Wellek dan Warren (1993) yaitu (a) analisis intrinsik (analisis mikrostruktur. Ada banyak cara yang ditawarkan dalam rangka menganalisis karya sastra secara semiotik.5. yaitu (a) pengarang (ekspresif). Karena itu. (b) semestaan (mimetik). dan (d) objektif (otonom). (c) pembaca (pragmatik). 4. 1994: 1-21) merupakan gabungan antara strukturalisme dengan Marxisme. dan (b) analisis ekstrinsik (analisis makrostruktur). Strukturalisme Genetik Struktur genetik (lihat Leenhardt dalam Makaryk. 1993: 95-99. termasuk karya sastra. 62 . dan simbol. Sebagai strukturalisme. sebagai tanda agar dapat mengacu pada sesuatu yang lain di luar dirinya agar ada hubungan yang representatif. strukturalisme genetik memahami segala sesuatu di dalam dunia ini. di lain pihak. sebagai struktur. 1993: 340-341.indeks. maka syarat yang diperlukan adalah adanya kemiripan. Teks sastra kaya dengan ikon.

Karena sumber-sumber bagi pemenuhan kebutuhan itu terbatas. Marxisme beranggapan bahwa manusia pada dasarnya serakah.Marxisme tidak pernah percaya bahwa teks maupun sistem sastra merupakan sesuatu yang otonom. Bagi paham ini sastra merupakan suatu sistem ideologi yang tidak dapat dilepaskan dari pertarungan kekuatankekuatan sosial di dalam masyarakat dalam memperebutkan penguasaan mereka atas sumber-sumber ekonomi yang terdapat di dalam lingkungan sekitar mereka. terjadi persaingan dalam usaha pemenuhan kebutuhan 63 . Menurut Marxis. mempunyai kebutuhan tidak terbatas. marxisme disebut juga sebagai materialisme historis. Oleh karena itu. manusia membutuhkan alat-alat produksi dan bekerja sama dengan manusia lain. yaitu melakukan transformasi atas alam. Pengelompokan sosial atas dasar seperti itulah yang disebut sebagai kelas sosial. Suatu kelompok menguasai kelompok yang lain untuk kepentingan pemuasan kebutuhan materialnya. Hubungan antarkelas sosial di dalam lingkungan produksi tersebut adalah hubungan dominasi. untuk memenuhi kebutuhan materialnya manusia harus bekerja. Untuk melakukan transformasi atas alam. Kepercayaan yang demikian didasarkan pada anggapan bahwa dorongan-dorongan kebutuhan material manusia mendahului dan menentukan kesadaran manusia. Perkembangan sejarah manusia digerakkan oleh pertarungan manusia dalam usaha mereka memenuhi kebutuhan materialnya. pembagian kerja yang didasarkan pada tingkat penguasaan seseorang atau sekelompok orang atas alat-alat dan sumber-sumber produksi. Dalam proses produksi yang demikian terbangunlah pengelompokan sosial.

itu. Persaingan itu menjadikan hubungan antarkelompok sosial yang telah dikemukakan menjadi antagonistik. Di satu pihak, suatu kelompok berusaha menguasai alat-alat dan sumber-sumber produksi yang ada, di lain pihak kelompok yang lain berusaha merebut alat-alat dan sumber-sumber produksi itu dari kelompok lain yang menguasainya. Dalam konteks pertalian yang demikian menjadi penting bagi kelompok yang sedang melakukan reproduksi atas hubungan sosial yang berlaku, yang menempatkan dirinya dalam posisi kekuasaan dan kelompok lain dalam posisi sub-ordinat. Reproduksi sosial itu dilakukan tidak hanya dalam lingkungan produksi, melainkan dalam berbagai situs sosial yang lainnya, dalam berbagai institusi sosial, seperti lingkungan kehidupan keluarga, pendidikan, hukum, politik, agama, dan kesenian. Berbagai lingkungan atau institusi sosial yang menjadi situs reproduksi sosial yang ada di luar lingkungan produksi itu disebut super-struktur atau struktur permukaan, sedangkan hubungan sosial yang berlangsung dalam lingkungan produksi disebut disebut infra-struktur atau struktur dasar. Struktur dasar bersifat material, sedangkan struktur permukaan bersifat ideologis. Namun bagi paham tersebut, segala aktivitas dan hasil aktivitas manusia tidak hanya mempunyai struktur, melainkan juga mempunyai arti. Karena itu, pemahaman terhadap karya sastra tidak dapat hanya berhenti pada perolehan pengetahuan mengenai strukturnya, melainkan harus dilanjutkan hingga mencapai pengetahuan mengenai artinya. Usaha pemahaman terhadap arti dari struktur itu berarti usaha menemukan alasan, faktor-faktor yang

64

menjadi penyebab dari struktur yang besangkutan. Pertanyaan seperti “kenapa suatu karya mempunyai struktur yang begini, tidak begitu”, tidak lagi dapat dijawab hanya dengan mendasarkan diri pada karya sastra itu sendiri, melainkan harus dengan menemukan informasi-informasi yang berada di luar karya sastra itu. Untuk memahami hal demikianlah strukturalisme genetik menggunakan marxisme yang diperkaya dan diperdalam oleh teori psikologi struktural dari Piaget.

4.5.1 Karya Sastra sebagai Fakta Kemanusiaan Menurut strukturalisme genetik, karya sastra merupakan fakta kemanusiaan bukan fakta alamiah. Bila fakta alamiah cukup dipahami hanya sampai pada batas strukturnya, fakta kemanusiaan harus sampai pada batas artinya. Sebuah karya sastra tidak diciptakan begitu saja, melainkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari manusia yang menciptakannya. Kebutuhan yang mendorong diciptakannya karya sastra itu, seperti halnya segala ciptaan manusia yang lain, adalah untuk membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya, baik lingkungan alamiahnya maupun lingkungan manusiawinya. Secara psikologis, ada dua proses dasar yang terarah pada pembangunan keseimbangan tersebut, yaitu proses asimilisi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyesuaian lingkungan eksternal ke dalam skema pikiran manusia, sedangkan akomodasi adalah penyesuaian skema pikiran manusia dengan lingkungan sekitarnya. Menurut strukturalisme genetik, manusia akan

65

selalu cenderung menyesuaikan lingkungan sekitar dengan skema pikirannya. Akan tetapi, apabila lingkungan itu menolak atau tidak dapat disesuaikan dengan skema pikiran itu, manusia menempuh jalan yang sebaliknya, yaitu menyesuaikan skema pikirannya dengan lingkungan sekitarnya tersebut. Kedua proses tersebut menegaskan bahwa manusia memang selalu berusaha membangun keseimbangan dengan lingkungan sekitarnya.

4.5.2 Karya Sastra sebagai Produk Subjek Kolektif Semua manusia berusaha membangun kseimbangan dengan lingkungan sekitarnya dengan melakukan berbagai tindakan. Namun, strukturalisme genetik membedakan tindakan individual dengan tindakan kolektif. Tindakan individual dimaksudkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan individual yang cenderung libidinal, sedangkan tindakan kolektif diarahkan pada pemenuhan kebutuhan kolektif yang bersifat sosial. Subjek tindakan libidinal adalah individu, sedangkan tindakan kolektif adalah kelompok sosial. Lebih jauh, strukturalisme genetik cenderung membedakan tindakan kolektif yang besar dengan tindakan kolektif yang mungkin tidak setara dengan tindakan pertama itu. Tindakan kolektif yang besar tidak hanya terarah untuk memenuhi kebutuhan kolektif tertentu, melainkan dapat menyebabkan terjadinya perubahan dalam sejarah sosial secara keseluruhan. Bahkan, tindakan kolektif yang besar itu dapat pula berpengaruh luas, melampaui batas sosial yang darinya tindakan tersebut berasal. Menurut strukturalisme genetik, subjek dan tindakan kolektif yang besar tersebut adalah kelas sosial dalam

66

Cara pemahaman dan pengalaman yang sama itu pada gilirannya menjadi 67 . merupakan hasil tindakan tidak hanya subjek kolektif. anggota-anggota dari suatu kelas sosial mempunyai pengalaman dan cara pemahaman yang sama mengenai lingkungan sekitarnya dan sekaligus caracara pembangunan keseimbangan dalam hubungan dengan lingkungan itu. Karya-karya kultural yang besar. strukturalisme genetik membedakan karya-karya kultural yang besar dari yang minor. Atas dasar perbedaan tipe-tipe tindakan di atas. Karena itu. Karya yang demikian oleh strukturalisme genetik disifatkan sebagai sebuah karya yang sekaligus bersifat filosofis dan sosiologis. karya-karya itu ikut pula berperan dalam perubahan sejarah sosial bahkan dapat melampaui batas sejarah sosialnya sendiri. kebutuhan-kebutuhan yang terbangun dari hubungan antara klas sosial dengan lingkungan sekitarnya. yang di dalamnya termasuk karya-karya filsafat dan karyakarya sastra yang besar.3 Karya Sastra sebagai Ekspresi Pandangan Dunia Sebagai produk dari tindakan kolektif yang berupa kelas sosial di atas. 4. kebutuhan-kebutuhan yang sekaligus menyangkut usaha-usaha kelas sosial itu untuk membangun hubungan yang seimbang antara dirinya dengan lingkungan yang terkait.5. Sebagai sekelompok manusia yang mempunyai latar belakang yang sama. bukan kelompok sosial lain dalam pengertian yang lain. melainkan kelas sosial. karya sastra mengekspresikan kebutuhan-kebutuhan kelas sosial yang bersangkutan.pengertian marxis yang sudah dikemukakan.

karya-karya mereka menjadi karya-karya besar. Karena itu. Cara pemahaman dan pengalaman yang demikian. pandangan dunia merupakan skema ideologi yang menentukan struktur atau menstrukturasikan bangunan dunia imajiner karya sastra ataupun struktur konseptual karya filsafat yang mengekspresikannya. pandangan dunia itu menjadi konsep kunci yang tidak hanya diperlukan untuk menjadi model struktur bagi pemahaman 68 . kelompok etnis. Hal itu terutama disebabkan oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat yang kompleks setiap individu terjaring ke dalam berbagai bentuk pengelompokan sosial. Para pemikir dan sastrawan yang besar termasuk individu yang demikian. Pandangan dunia merupakan kecenderungan mental kolektif yang implisit yang tidak semua individu anggota kelas sosial pemiliknya dapat menyadarinya. oleh struktural genetik disebut sebagai pandangan dunia. seperti kelompok profesi. ras. Hanya individu yang istimewa yang mampu menerobos batas-batas aneka pengelompokan sosial tersebut dan masuk ke dalam kesadaran kelas sosialnya sendiri. Dalam pengertian strukturalisme genetik.pengikat yang mempersatukan para anggota itu menjadi suatu kelas yang sama dan sekaligus membedakan mereka dari kelas sosial yang lain. Karena itu. karyakarya yang berhasil menangkap dan mengekspresikan pandangan dunia kelas sosialnya sehinga sekaligus dapat berfungsi menjadi alat yang membangkitkan kesadaran kelas pada para individu yang menjadi anggota kelas sosialnya itu. dan sebagainya. pendidikan. Berbagai pengelompokan itu dapat mengaburkan pemahaman individu mengenai kelompok sosial dirinya yang sebenarnya.

ada banyak konsep mengenai struktur karya sastra seperti berasal dari Propp. hubungan antara karya sastra dengan struktur dasarnya tidaklah langsung. Hanya beberapa di antaranya. melainkan mengekspresikan suatu pandangan dunia yang strukturnya homolog dengan struktur sosial ekonomi yangmenjadi dasarnya. Dalam pandangan strukturalisme genetik. seperti strukturalisme. Konsep strukturalisme genetik mengenai struktur karya sastra cenderung bersifat 69 . Namun. bersifat mimetik. Kebanyakan konsep mengenai struktur karya sastra itu mengikuti konsep linguistik mengenai struktur formal bahasa. melainkan secara tidak langsung melalui pandangan dunia yang bersifat ideologis. Todorov. terutama Barthes dan Greimas yang mencoba membangun pula struktur semantiknya dengan mendasarkan diri pada konsep-konsep struktur semantik bahasa. strukturalisme genetik mengakui eksistensi karya sastra sebagai suatu struktur sehingga perlu dipahami secara struktural. melainkan juga menjadi mediator yang mempertalikan karya sastra sebagai superstruktur dengan struktur sosial ekonomi yang menjadi struktur dasarnya.5.terhadap struktur karya sastra atau karya filsafat yang diteliti.4 Struktur Karya Sastra dan Struktur Sosial Seperti sudah dikemukakan. Greimas. Karya sastra tidak mencerminkan apa yang disebut sebagai perjuangan kelas. strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. dan sebagainya. Dengan demikian. 4.

Atas dasar teori sosial ini jelas bahwa dunia sosial dipahami sebagai struktur yang terbangun atas dasar dua kelas sosial yang saling bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi dari satu kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain. Dominasi itu dipelihara dan dipertahankan serta bahkan diperkuat dengan menggunakan berbagai kekuatan ideologis yang 70 . Ada oposisi antara dunia ilmiah dengan dunia sekuler. yang tidak memutlakkan bagian atas nama keseluruhan atau sebaliknya. Dengan menggunakan fonologi sebagai dasarnya. konsep strukturalisme Levi’Strauss ini berpusat pada konsep oposisi biner atau oposisi berpasangan. menurut strukturalisme genetik. Manusia berada di antara keduanya sehingga ia berada sekaligus dalam posisi menerima dan menolak dunia.semantik pula. mengekspresikan pandangan dunia tragis yang berpikir secara dialektik. Struktur yang demikian. Telaah strukturalisme gnetik terhadap karya-karya filsafat Pascal dan drama Racine memperlihatkan kecenderungan demikian. terbangun dari seperangkat satuan yang saling beroposisi satu sama lain. dekat dengan konsep struktur semantik Barthes ataupun Greimas meskipun tidak persis sama. Di antara pasangan yang beroposisi itu dimungkinkan pula adanya satuan antara yang berbeda di antara keduanya. Konsep struktur sosial strukturalisme genetik didasarkan pada teori marxis. Levi’Strauss melihat bangunan dunia sosial dan kultural manusia sebagai sesuatu yang distrukturkan atas dasar prinsip binarisme. Yang tampak amat dekat dengan konsep struktur karya sastra dari strukturalisme genetik adalah strukturalisme Levi’Strauss.

beroperasi dalam lembaga sosial yang ada di dalam masyarakat termasuk karya sastra. yang juga berstruktur. karya sastra sendiri sebenarnya hanya merupakan bagian dari suatu keseluruhan yang lebih besar. dominasi itu tidak sepenuhnya menutup peluang bagi terjadinya perubahan sosial. Selesainya pekerjaan pemahaman yang demikian bukan berarti telah selesai pula kerja pemahaman strukturalisme genetik. Kelas-kelas yang dikuasai berusaha terus-menerus pula untuk mengambil alih kekuasaan dari kelas yang berkuasa untuk kemudian membangun suatu struktur sosial yang baru yang sesuai dengan lingkungannya yang baru pula. pemahaman terhadap struktur dunia sosial itu pun dapat dilakukan secara 71 . Seperti pemahaman terhadap struktur karya sastra. yaitu ketika bagianbagian telah membentuk suatu keseluruhan dan keseluruhan telah dapat digunakan untuk memberikan arti pada bagian-bagian. yaitu dengan bergerak secara bolak-balik dari bagian ke keseluruhan dan dari keseluruhan kembali ke bagian. karya sastra merupakan struktur yang terbangun atas dasar bagian-bagian yang saling bertalian dan mebentuk struktur keseluruhan karya sastra itu. 4.5 Metode Dialektik Menurut strukturalisme genetik. Struktur karya sastra itu hanya dapat dipahami dengan baik dengan cara dialektik. Namun.5. yaitu dunia sosial tempat karya sastra itu berasal. Gerakan bolak-balik itu dianggap selesai jika koherensi antara keseluruhan dengan bagian-bagiannya telah terbangun. Menurut paham tersebut.

Narator atau agen naratif (Mieke Bal dalam Ratna. Konsep-konsep yang berkaitan dengan narasi dan narator. demikian juga dengan wacana dan teks. Baik naratologi maupun teori wacana (teks) naratif diartikan sebagai seperangkat konsep mengenai cerita dan penceritaan.6 Naratologi 4.6.dialektik. logos berarti ilmu. Gerakan bolak-balik itu pun baru dianggap selesai jika telah dibangun koherensi antara struktur karya sastra dengan struktur sosialnya. berbeda-beda sesuai dengan para penggagasnya. perkataan.1 Naratologi dalam Tinjauan Umum dan Perkembangannya Naratologi bersal dari kata narratio dan logos (bahasa Latin). sebagaimana hubungan antara subjek. Naratologi berkembang atas dasar analogi linguistik. atau sebaliknya. sedangkan penempatan bagian itu ke dalam struktur yang lebih besar yang menjadi sumber maknanya sebagai penjelas. Naratologi juga disebut teori wacan (teks) naratif. 4. Struktur genetik menyebut usaha menemukan struktur bagian di atas sebagai pemahaman. metode strukturalisme genetik dapat disebut pula sebagai dialektika atas pemahaman dengan penjelasan. seperti model sintaksis. kisah. dari karya sastra sebagai bagian dunia sosial. predikat. 2004: 128) didefinisikan sebagai pembicara dalam teks. bukan 72 . subjek secara linguistik. Narasi baik sebagai cerita maupun penceritaan didefinisikan sebagai representasi paling sedikit dua peristiwa faktual atau fiksional dalam urutan waktu. Narratio berarti cerita. dan objek penderita. Dengan demikian. hikayat.

Pada pahan pascastruktural. Perbedaan bukan semata-mata diakibatkan oleh perbedaan bahasa. tetapi juga melalui kata-kata. analisis naratif merupakan bagian ideologi. akrab dengan cerita Jaka Tarub. dan wacana. semboyan. restorasi. maka hanya penceritaan yang memiliki identitas yang sama baik dengan wacana atau teks. misalnya. politik. dan afirmasi terhadap kelompok tertentu tidak semata-mata dilakukan melalui kekuatan fisik. Visi sastra kontemporer memandang bahwa sebagai seni waktu.person. melainkan melalui bahasa. dan ekonomi. bukan pengarang. sehingga kajiannya bersifat interdisipliner. tetapi bagaimana cerita ditampilkan kembali. Dikaitkan dengan cerita dan penceritaan. dan budaya yang dengan sendirinya sangat relevan sebagai objek ilmu-ilmu kemanusiaan (humaniora). Aktivitas kebudayaan pun sesungguhnya adalah teks yang dengan sendirinya dapat dianalisis sesuai dengan ciri-ciri teks. diceritakan oleh narator. Cerita dan penceritaan dimanfaatkan untuk melegitimasikan kekuatan dan kekuasaan bagi mereka yang memilikinya. Kajian wacana naratif dalam hubungan ini dianggap telah melibatkan bahasa. tetapi tidak semua orang menikmati cerita tersebut melalui teks yang sama sebab teks tidak diceritakan dalam bahasa. sastra. Revolusi. bukan pengarang. penceritaan menduduki posisi penting dalam memahami aktivitas kultural. Dalam analisis diskursif yang termasuk dalam wilayah pascastruktural. Bal menyebutkan bahwa pembaca membaca wacana dan teks yang berbeda dari cerita yang sama. naratologi tidak membatasi diri pada teks sastra saja melainkan keseluruhan teks sebagai rekaman aktivitas manusia. dengan pertimbangan 73 . Setiap orang.

novel dianggap sebagai genre utama karena pemanfaatan struktur cerita dan penceritaan yang sangat kompleks dengan peralatan yang menyertainya seperti: kejadian. baik sebagai penulis. kebudayaan pun tidak ada. Hampir keseluruhan genre sastra. dan peneliti dapat melukiskan kualitas emosionalitas dan intelektualitasnya. wacana. tanpa adanya kekuatan wacana dan teks. sehingga segala unsur penceritaan dapat dikemukakan. cerita sebagai tulang punggung karya. pembaca. karya sastra hanya berfungsi sebagai fakta mengingat dunia faktual semata-mata merupakan sistem model pertama untuk mengantarkan manusia pada dunia sistem model kedua. Tanpa cerita. khususnya genre yang dikategorikan ke dalam fiksi memanfaatkan unsur cerita dan penceritaan. Dalam hubungan inilah dikatakan bahwa dunia kehidupan itu sendiri dianggap sebagai teks yang dengan sendirinya dapat dipahami melalui paradigma sebuah teks. unsur penceritaanlah yang lebih utama dalam wujud plot.bahwa di satu pihak ceritalah yang menampilkan keseluruhan unsur karya. Dalam pembicaraan mengenai naratif. cerita berfungsi untuk mendokumentasikan seluruh aktivitas manusia sekaligus mewariskannya kepada generasi berikutnya. Di pihak lain. sudut pandang. Novel adalah representasi dunia itu sendiri di mana manusia. 74 . yaitu dunia fiksional. dan teks. latar. novel juga merupakan objek yang paling memadai. Tanpa plot. dalam kaitannya dengan kebudayaan yang lebih luas. dan gaya bahasa. paling luas. suatu media yang sangat tepat dalam kaitannya dengan hakikat manusia sebagai homo faber. tema. Dilihat dari media yang tersedia. Dalam karya sastra. tokoh-tokoh.

Para pelopornya. frequensi. modus. Greimas (tata bahasa naratif dan struktur actans). Secara historis. biografi. cerpen. di antaranya: Gerard Gennet (urutan. story. Tzvetan Todorov (historie dan discours). Naratif tidak dibatasi pada genre sastra. Wilayah tersebut selain menjangkau novel. fabula. 1993: 110. Forster (tokoh bundar dan datar). termasuk feminis dan psikoanalisis. narration). dan sebagainya. durasi.114) menyebutkan bahwa naratologi dapat dibagi menjadi tiga periode. juga roman. dan suara). periode prastrukturalis (hingga tahun 1960-an) 2. Mieke Bal (fabula. periode pascastrukturalis (tahun 1980-an hingga sekarang).Teori sastra kontemporer memberikan wilayah yang sangat luas terhadap eksistensi naratif. dan sjuzhet dengan ciri-ciri naratif nonliterer. Claude Bremond (struktur dan fungsi). Para pelopornya. catatan harian. Naratologi pascastrukturalis pada umumnya mendekonstruksi dikotomi parole dan langue. Henry James (tokoh dan cerita). mitos. Percy Lubbock (teknik naratif). interdisipliner. text). epik. lelucon. gongeng. periode strukturalis (tahun 1960-an hingga tahun 1980-an) 3. Pada umumnya periode strukturalis terlibat ke dalam dikotomi fabula dan sjuzhet (cerita dan plot). di antaranya: Claude Levi-Strauss (struktur mitos). Shlomith Rimmon-Kenan (story. tetapi juga setiap bentuk cerita dalam media massa. text. Awal prkembangan teori narasi dapat dilacak Poetica Aristoteles (cerita dan teks). yaitu: 1. puisi naratif. dan Vladimir Propp (peran dan fungsi). Marie-Laure Ryan dan Ernst van Alphen (Makaryk. Gerald 75 .

Unsur yang dianalisis adalah motif (elemen). Propp (1987: 93-98) menyimpulkan bahwa semua cerita yang diselidiki memiliki struktur yang sama. dalam sebuah cerita para pelaku dan sifat-sifatnya dapat berubah. Jean-Francois Lyotard (metanarasi). seratus dongeng Rusia yang dilakukan tahun 1928 dan baru dibicarakan secara luas tahun 1958. LeviStrauss. Jacques Derrida (dekonstruksi).2 Pelopor Naratologi Periode Struktutralisme dan Pahamnya 4. Artinya. Berikut ini dibicarakan empat ahli naratologi.6. Todorov. dan Greimas sebagai pelopor naratologi periode strukturalis. unit terkecil yang membentuk tema.Prince (struktur narratee). dan Jean Baudrillad (hiperealitas. tetapi perbuatan dan peran-perannya sama.2. dalam struktur naratif yang penting bukanlah tokoh-tokoh. Umberto Eco (wacana dan kebohongan).1 Vladimir Propp Propp dianggap sebagai strukturalis pertama yang membicarakan secara serius struktur naratif. pastiche). 4. Seymoeur Chatman (struktur naratif). Propp 76 .6. sekaligus memberikan makna baru terhadap dikotomi fabula dan sjuzhet. Menurutnya. melainkan aksi tokoh-tokoh yang selanjutnya disebut fungsi. Jonathan Culler (kompetensi sastra). Roland Barthes (Kernels dan satellits). Mikhail Bakhtin (wacana polifonik). Michel Foucault (wacana dan kekuasaan). penelitian Propp disebut sebagai usaha untuk menemukan pola umum plot dongeng Rusia bukan dongeng pada umumnya. Marry Louise Pratt (tindak kata). Objek penelitian Propp adalah cerita rakyat. Oleh karena itu. Hayden White (wacana sejarah). yaitu Propp.

memandang sjuzhet sebagai tema bukan plot seperti yang dipahami oleh kaum formalis. yaitu: pelaku. yaitu: (1) penjahat. tidak tergantung dari siapa yang melakukan. Menurutnya. yaitu unsur tetap (perbuatan) dan unsur yang berubah (pelaku dan penderita). (2) donor. (3) penolong. tujuan Propp bukan tipologi struktur tetapi melalui struktur dasar dapat ditemukan bentuk-bentuk purba. (6) pahlawan. motif merupakan unsur yang penting sebab motiflah yang membentuk tema. dan Todorov. Menurut Propp (1987: 93-94) dan Teeuw (1985: 290-294). dan pendeita yang kemudian dikelompokkan menjadi dua. (5) orang yang menyuruh. persona bertindak sebagai variabel. (4) putri dan ayahnya. Dengan kalimat lain. dengan menggabungkan antara struktur dan genetiknya (struktur mendahului sejarah). maka akan ditemukan proses penyebarannya kemudian. Model Propp mendasari penelitian dari Greimas. Di sini. Bremond. Dalam hubungan ini yang penting adalah unsur yang tetap (perbuatan) yaitu fungsi itu sendiri. perbuatan. dan (7) pahlawan palsu. Sjuzhet dengan demikian hanyalah produk dari serangkaian motif. 77 . Motif dibedakan menjadi tiga macam. Propp menyimpulkan bahwa jumlah fungsi yang terkandung dalam dongeng yang ditelitinya maksimal 31 fungsi yang dikelompokkan ke dalam tujuh ruang tindakan atau peranan. Propp mengemukakan bahwa fungsi merupakan unsur yang stabil.

maka tugas penelitilah untuk menyusun kembali sehingga dikemukakan makna karya yang sesungguhnya. Levi-Strauss menggali gejala di balik material cerita. mitos adalah naratif itu sendiri. dan harus direkonstruksi melaluinya.6. khususnya yang berkaitan dengan aspek-aspek kebudayaan tertentu. sebagaimana tampak melalui bentuk-bentuk yang telah termodifikasikan. Mytheme yang mungkin susunannya tidak teratur. Ia mengembangkan istilah myth dan mytheme melalui jangkauan perhatiannya terhadap mitos yang terkandung dalam setiap dongeng. tabu. bumi langit. Menurutnya. 78 . Pada dasarnya mitos merupakan pesan-pesan kultural terhadap anggota masyarakat. dan sebagainya. seperti laki-laki perempuan. Dengan kalimat lain. dilakukan terhadap mitos Oedipus. Pelarangan perkawinan di antara keluarga secara logis memaksa manusia untuk mencari pasangan di luar keluarga yang pada gilirannya akan membentuk ikatan-ikatan baru.4. dan incest. Pendekatan antropologi sastra. melalui struktural. khususnya konsep-konsep oposisi biner. sebagaimana dekronologisasi kejadian dalam plot.2. oposisi biner didasarkan atas kenyataan bahwa manusia secara kodrati memiliki kecenderungan untuk berpikir secara dikotomis.2 Levi-Strauss Berbeda dengan Propp. misalnya. Levi-Strauss menilai cerita sebagai kualitas logis bukan estetis. sekaligus menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang lain. baik secara bulat maupun fragmentasi. Levi-Strauss lebih memberikan perhataiannya pada mitos. Di satu pihak.

melainkan struktur atau aspek kesastraan yang terkandung dalam wacana. Todorov menyarankan untuk melakukannya melalui tiga dimensi. meneliti sarana-sarana seperti sudut pandang. disebutkan bahwa isi tidak bisa terlepas dari bentuk tersebut. sebagai hubungan konfigurasi atau konstruksi.Berhubungan dengan pembicaraan strukturalisme. Dalam menganalisis tokoh-tokoh. sebagai hubungan makna dan perlambangan. meneliti urutan peristiwa secara kronologis dan logis. dan partisipasi. gaya bahasa.3 Tzvetan Todorov Disamping memperjelas perbedaan antara fabula dan tsuzhet. Menurutnya. Oleh karena itulah. 4. Konsep pertama menyatakan hubungan unsur yang hadir bersama. Struktur dipahaminya sebagai realitas empiris itu sendiri yang tampil sebagai organisasi logis yang disebut sebagai isi.6. yaitu (1) aspek sintaksis. Dalam analisis harus mempertimbangkan tiga aspek. komunikasi. yaitu: kehendak. Levi-Strauss menyatakan bahwa struktur bukanlah representasi atau subtitusi realitas. Todorov (1985: 11-53) mengembangkan konsep historie dan discours yang sejajar dengan fabula dan stuzhet. dan sebagainya. Konsep kedua menyatakan hubungan yang salah satu faktornya tidak hadir. objek formal puitika bukan interpretasi atau makna. dan latar. meneliti tema.2. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya 79 . berkaitan dengan makna dan lambang. dan sebaliknya. tokoh. dan (4) aspek verbal. secara berdampingan. Konsep Todorov yang lain adalah in presentia dan in absentia. (2) aspek semantik.

Tokoh menunjukkan tokoh lain sebagai antitesis (in praesentia). Apel adalah sebagai objek. 80 . sosiologi sastra. Ratna: 2004: 137140) memberikan perhatian pada relasi. John adalah satu acteu yang berfungsi sebagai dua actans. kritik fenomenologis. studi biografi. John dan Paul juga merupakan pengirim. dll.4 Greimas Objek penelitian Greimas tidak terbatas pada genre tertentu. acteurs merupakan kategori umum. Dengan memanfaatkan fungsi-fungsi yang hampir sama. sastra sebagai proyeksi. yaitu tata bahasa naratif universal. Yang ada hanyalah subjek.2. 4. seperti: psikologi sastra. manusia semu yang dibentuk oleh tindakan yang disebut actans dan acteurs.antarhubungan adalah kausalitas. Berbeda dengan actans yang terbatas fungsinya dalam struktur naratif. menawarkan konsep yang lebih tajam dengan tujuan yang lebih universal. Dia mencontohkan: John dan Paul memberikan apel kepada Mary. John dan Paul adalah dua acteurs tetapi satu actans. Tidak ada subjek di balik wacana. Greimas (dalam Abdullah.6. yaitu dongeng. Todorov membedakan antara sastra sebagai ilmu mengenai sastra (puitika) dan sastra dalam kaitannya dengan disiplin yang lain. Dalam kalimat John membelikan dirinya sendiri sebuah baju. Greimas lebih mementingkan aksi dibandingkan dengan pelaku. Mary sebagai penerima. baik sebagai pengirim maupun penerima. tetapi diperluas pada mitos. 1999: 11-13. Sebaliknya tokoh juga dapat menunjuk sesuatu yang lain di luar struktur naratif (in absentia).

Acteurs yang sama pada saat yang berbeda-beda dapat merepresentasikan actans yang berbeda-beda. struktur yang bersifat penyelenggaraan. actans yang sama terbentuk oleh acteur yang berbeda-beda. Penceritaan memiliki identitas yan hampir sama dengan wacana. dan struktur yang bersifat pemutusan. maka dalam kritik sastra Indonesia istilah fabula dan sjuzet sebagai konsep dasar dari naratologi ditafsirkan dengan istilah cerita dan penceritaan. dan plot. Actans merupakan peran-peran abstrak yang dapat dimankan oleh seorang atau sejumlah pelaku. Sebaliknya. kekuasaan dengan orang yang dianugerahi atau pengirim dan penerima. Acteurs merupakan manifestasi kongkret actans. Demikian juga tujuh ruang tindakan disederhanakan menjadi enam actans (peran. Actans merupakan struktur dalam. sedangkan acteurs merupakan struktur luar. para pembuat) yang dikelompokkan menjadi tig pasangan oposisi biner. artikulasi acteurs menentukan dongeng tertentu. Dalam penceritaanlah terkandung wacana dan atau teks. religi. Tiga puluh satu fungsi dasar analisis Propp disederhanakan menjadi dua puluh fungsi yang kemudian dikelompokkan menjadi tiga struktur. yaitu struktur berdasarkan perjanjian. dan ilmu sosial lainnya. Untuk menyederhanakan konsep-konsep tersebut di atas. pelaku. sedangkan struktur actans menentukan genre tententu. yaitu subjek dengan objek.Kemampuan Greimas dalam mengungkap struktur actas dan acteurs menyebabkan teori struktur naratologinya tidak semata-mata bermanfaat dalam menganalisis teks sastra melainkan juga filsafat. Cerita adalah bahan 81 . Oleh karena itu. tek. dan penolong dengan penentang.

susunan kejadian yang didominasi oleh kualitas literer. Wacana adalah cerita yang telah disusun kembali tetapi lebih banyak berkaitan dengan unsur bahasa .kasar. seperti ringkasan cerita atau sinopsis. Adapun teks adalah susunan peristiwa yang sesungguhnya. sebagai model pertama. perangkat peristiwa. 82 . sebagai model kedua.

BAB V RANCANGAN USULAN PENELITIAN SASTRA: TINJAUAN KRITIS

5.1 Langkah-langkah Penyusunan Rancangan Usulan Penelitian Kerja penelitian seorang ilmuwan yang didominasi oleh sikap yang kritis memperlihatkan fase-fase berpikir sebagaimana yang dikemukakan oleh Dewey (dalam Nazir, 1983:73), yaitu: (1) mengetahui adanya masalah, (2) mengidentifikasi masalah, (3) memperkirakan alat untuk memecahkan masalah, seperti teori, (4) inventarisasi dari pengolahan data sebagai bukti, dan penyimpulan.

5.1.1 Latar Belakang Masalah Bagian latar belakang pada dasarnya mengemukakan: (1) alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, (2) relevansi penelitian itu dengan penelitian-penelitian lain, (3) apa perbedaan penelitian itu dengan penelitian serupa yang telah dilaksanakan, dan (4) informasi lain apa yang berkaitan dengan penelitian itu.

83

Hal pertama di atas yang menyangkut alasan mengapa penelitian itu perlu dilaksanakan, mengimplikasikan adanya: 1. ketertarikan peneliti atas objek material (karya sastra) dengan menyebutkan secara spesifik sejumlah fakta dan fenomena teks yang mengarah pada ditemukan dan terhimpunnya sejumlah masalah yang penting untuk diteliti; 2. masalah-masalah penting yang perlu diteliti itu serta

menghubungkannya dengan teori dan metodologi yang dapat digunakan sebagai alat pemecahannya; Hal yang menyangkut relevansi penelitian itu dengan penelitianpenelitian lainnya adalah: 1. kedudukan penelitian itu di antara penelitian-penelitian yang lain dengan jalan menyebutkan apakah penelitian itu dimaksudkan sebagai dasar, terapan, atau pengembangan dari penelitian lainnya yang perlu ditindaklanjuti atau dengan menyebutkan pertimbangan-pertimbangan lain yang berhubungan erat dengan masalah dan tujuan penelitian itu,

2. kesamaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang berbeda
atau perbedaan objek material (karya sastra) dengan kajian yang sama, perlu diuraikan secara jelas sehingga kepentingan penelitian itu dapat diketahui secara jelas pula.

84

Hal yang menyangkut penelitian sebelumnya, diarahkan kepada pembicaraan: 1. uraian singkat mengenai penelitian-penelitian sebelumnya yang penting dan berhubungan di dengan dalamnya penelitian yang akan dilaksanakan; yang

pembicaraan

menyangkut

fokus

penelitian

berhubungan dengan objek penelitian (karya sastra, masalah yang diangkat, teori dan metode yang digunakan) 2. uraian dengan sejumlah alasan sehingga penelitian itu jelas berbeda secara esensial dengan penelitian lainnya; uraian alasan yang dimaksud diarahkan pada penjelasan kekhasan penelitian, fokus penelitian, dan pengemasan metode yang mengarah pada kekhasan fenomena objek material (karya sastra), pemanfaatan teori yang terpilih sebagai alat, dan metode kajian yang digunakan.

Adapun hal yang menyangkut informasi lain yang berkaitan dengan penelitian, biasanya berhubungan dengan: 1. referensi umum menyangkut objek material (karya sastra);

berhubungan dengan pembicaraan umum tentang objek tersebut yang bersumber dari berbagai sumber informasi: media cetak, elektronik, atau multimedia 2. referensi khusus (jika ada) yang bersumber dari laporan-laporan penelitian, buku-buku bacaan atau buku-buku acuan yang menguraikan secara khusus tentang objek tersebut; pembicaraan khusus yang

85

dan (3) dan adanya halangan dan rintangan yang menunjukkan terdapatnya celah antarfenomena. sistematis. Karenanya. Pemecahan masalah yang dirumuskan dalam penelitian sangat berguna untuk membersihkan kebingungan kita akan sesuatu. Kesulitan yang dimaksud menyangkut kemampuan mengorganisasikan masalah secara logis.dimaksud adalah uraian yang relevan dengan kepentingan penelitian yang akan dilaksanakan. Tujuan dari identifikasi masalah (pemilihan dan perumusan) dalam kegiatan penelitian sastra adalah untuk: (a) mengorganisasikan secara logis. Masalah timbul karena adanya: (1) kesangsian ataupun kebingungan peneliti terhadap satu hal atau fenomena. peneliti harus dapat memilih suatu masalah bagi penelitiannya dan merumuskannya untuk memperoleh jawaban terhadap masalah tersebut. untuk memisahkan kemenduaan. sistematis sejumlah masalah yang akan diangkat dalam penelitian sastra untuk dijabarkan dalam tujuan penelitian secara tepat. 5. (2) kemenduaan arti (ambiguity). untuk mengatasi rintangan ataupun untuk menutup celah antarkegiatan atau fenomena. dan (c) peletak dasar 86 .1.2 Identifikasi Masalah Perumusan masalah atau identifikasi masalah adalah pangkal dari penelitian dan merupakan langkah penting yang cukup sulit dalam penelitian ilmiah. (b) pemusatan penelitian atas sejumlah masalah yang dapat dijangkau sesuai dengan kemampuan peneliti yang terimplementasi di dalam tujuan penelitiannya. dan fungsional.

Arinya: (1) data serta metode harus tersedia untuk memecahkan masalah. maksudnya masalah tersebut dapat dipecahkan. (2) masalah yang dipilih harus mempunyai fisible. Ciri kedua yang menyangkut fisible. Ciri pertama yang menyangkut nilai penelitian maksudnya adalah penelitian harus mempunyai kegunaan tertentu serta dapat digunakan untuk suatu keperluan. (2) masalah harus menyatakan suatu hubungan antara dua atau lebih variabel (hubungan antarfenomena). waktu. dan (5) masalah harus dinyatakan dalam bentuk pertanyaan yang mengimplikasikan ke dalam kegiatan pengujian atau pengukuran variabel. (2) masalah yang akan dipecahkan harus sesuai dengan batas-batas kemampuan peneliti dalam hal tenaga. serta dana. Ciri ketiga yang menyangkut kesesuaian dengan kualifikasi peneliti maksudnya adalah masalah yang diangkat merupakan masalah yang menarik bagi peneliti serta sesuai dengan derajat ilmiah yang dimiliki peneliti. (3) masalah harus merupakan hal penting. hubungan di dalamnya harus dapat diukur berdasarkan pendekatan yang sesuai. pikiran. Menurut Nazir (1985: 134-135). dan (3) pemecahan masalah tidak bertentangan dengan norma hukum. dan (3) masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti. 87 . ciri-ciri masalah yang baik adalah: (1) masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian. (4) masalah harus dapat duji. Pertimbangan dari ciri pertama yang harus diperhatikan adalah: (1) masalah harus mempunyai keaslian.untuk memecahkan beberapa penemuan penelitian sebelumnya atau dasar untuk penelitian selanjutnya.

masalah harus menjadi dasar bagi judul penelitian 5. Perumusan masalah merupakan titik tolak bagi perumusan hipotesis. topik penelitian atau judul penelitian. hubungan antarunsur. Metode deskriptif merupakan salah satu sebuah metode yang tepat digunakan untuk mengungkap sedetail mungkin sejumlah fenomena yang dimaksud. tujuan di dalamnya mengimplikasikan juga pilihan metodenya. masalah biasanya dirumuskan dalam bentuk pertanyaan 2. maka kegiatan selanjutnya dalah merumuskan masalah.Setelah masalah diidentifikasi dan dipilih. Umumnya rumusan masalah harus dilakukan dengan kondisi berikut: 1. rumusan masalah harus menjadi dasar dalam membuat hipotesis 5. dan menguji (testing) teori atas sejumlah data yang digunakan dalam penelitian.3 Tujuan Penelitian Tujuan pokok penelitian adalah untuk menemukan atau menggali (explore). misalnya penelitian yang menggunakan pendekatan strukturalisme objektif. 88 . Berhubungan dengan penelitian sastra. rumusan masalah harus berisi implikasi adanya data untuk memecahkan masalah 4.1. tentunya tujuan di dalamnya mengarah kepada upaya pemecahan masalah menyangkut sejumlah fenomena unsur-unsur karya sastra. dan totalitas di dalamnya. Dengan demikian. rumusan hendaklah jelas dan padat 3. mengembangkan (develop atau extention).

dan fungsional sesuai dengan penerapan teori dan metodologinya sehingga antara tujuan yang satu dengan tujuan yang lainnya memiliki hubungan yang erat dan bersifat fungsonal. berjumlah tertentu. Bagian-bagian rumusan masalah diurutkan berdasarkan tipikal. maka tujuan penelitian harus mewakili sejumlah masalah tersebut berdasarkan bagian-bagiannya. Secara ideal. sistematis. disebutkan secara jelas hal-hal pokok yang menyangkut fenomena data yang di dalamnya mengimplikasikan pilihan teori dan metodologi yang digunakan.Tujuan penelitian merupakan penjabaran rill dari rumusan masalah yang akan dipecahkan melalui kegiatan analisis data. lingkup masalah. 89 .1.4 Landasan Teori Teori adalah seperangkat construct (konsep yang saling berhubungan). tujuan penelitian harus mewadahi seluruh masalah yang telah dipilih dan dirumuskan. di dalamnya harus secara runut menunjukkan adanya tahapan yang logis. Deskripsi tujuan penelitian diuraikan dalam bentuk pernyataan yang masingmasing mengeksplisitkan tujuan pemecahan masalahnya. Jika rumusan masalah yang dihasilkan. 2001:2). 5. misalnya. rumusan-rumusan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan yang sistematis suatu fenomena dengan menspesifikasikan hubungan-hubungan antarvariabel dengan tujuan untuk menjelaskan dan memprediksi gejala (Kerlinger dalam Pradopo. Demikian pula dengan penyusunan tujuan penelitian. jangkauan ke arah teknik kajian yang ideal (runut). Sebaiknya dalam tujuan penelitian.

tahapan penyusunan landasan teori dalam rancangan usulan penelitian menjadi penting. circiri yang cukup menonjol dari strukturalisme adalah lahirnya berbagai kerangka dan model analisis. baik sebagai teori maupun metode. Adapun Ratna ( 2004: 94-95) menyatakan. Dalam kerangka strukturalisme. Teori adalah alat. konsep-konsep dasarnya adalah unsur-unsur. Aspek-aspek dinamisnya adalah konsepkonsep dasar itu sendiri sesudah dikaitkan dengan hakikat objeknya. teori harus dijelaskan secara konseptual dengan jalan memberikan deskripsi yang jelas secara operasional bagaimana teori tersebut dapat dijalankan sesuai kebutuhan penelitian. antarhubungan. maka teori harus dipilih sesuai dengan tujuan penelitian. sebagai akumulasi konsep. Kapasitasnya berfungsi untuk mengarahkan sekaligus membantu memahami objek secara maksimal. khususnya analisis fiksi. Sebagai suatu cara pemahaman. Karena teori berfungsi sebagai alat untuk memecahkan masalah. Teori tidak harus dan tidak mungkin diterapkan secara persis sama sebagaimana dikemukakan oleh para penemunya. Teori memiliki fungsi statis sekaligus dinamis. Konsep inilah yang berubah secara terus menerus. Dalam strukturalisme. Penerimaan yang dimaksud 90 . Teori pun dapat ditafsirkan sesuai kemampuan peneliti. dan totalitasnya. Dalam uraian landasan teori. teori tidak harus dipahami secara kaku. sehingga penelitian yang satu berbeda dengan penelitian yang lain. misalnya.Dengan demikian. diperlukan penerimaan positif. Aspek statisnya adalah konsep-konsep dasar yang membangun sekaligus membedakan suatu teori dengan teori yang lain.

kerangka-kerangka dan mode-model analisis yang dikemukakan oleh para kritikus sastra.mengarah kepada keteraturan. dalam analisis sastra kontemporer jelas model analisis yang dimaksud tidak sesuai dan tidak diperlukan sebab prinsipprinsip poststrukturalisme mempersaratkan pemahaman yang tidak harus dilakukan melalui suatu kerangka analisis yang sudah baku. pusat yang akan melahirkan saluran-saluran komunikasi. Sebaliknya. prosedur dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian guna mengumpulkan data.5 Metodologi Yang dimaksud metolodologi dalam kepentingan penyusunan penelitian dan menjadi bagian dari tahap penyusunan tersebut terbagi ke dalam dua wilayah pengertian. Djajasudarma (1993: 57-58) dalam pespektif linguistik menyebutkan bahwa metode kajian adalah cara kerja yang bersistem di dalam bahasa dengan bertolak dari data yang dikumpulkan (secara deskriptif) berdasarkan teori 91 .. dan (2) metode kajian yang mengindikasikan adanya kerja bersistem sekaligus memerikan bagaimana data dipilih dan ditentukan serta dianalisis berdasarkan pendekatan tertentu.1. Pemilihan metode kajian tertentu akan mengarahkan sekaligus teknik pupuan datanya. Atau dengan kalimat lain. 5. Pengertian kedua ini lebih mengarah kepada teknik analisis yang dipergunakan untuk menganalisis data sesuai dengan pendekatan tertentu. teknik pupuan data tertentu dipilih berdasarkan tujuan penelitian yang mengimplikasikan metode kajian tertentu. yaitu (1) metode yang digunakan sebagai alat.

ciri. maka metode dalam kajian sastra pun mengarahkan pada penjelasan teknis bagaimana tujuan penelitian dapat ditempuh berdasarkan pembahasan yang teroganisir. Sejalan dengan uraian di atas. dan (5) tiap kategori harus berada dalam satu level dengan mempertimbangkan mana variabel utama dan mana varabel penunjangnya.(pendekatan) linguistik. Hubungan antar variabel dalam penelitian juga harus diperhatikan. dan pengolahan data secara tepat dan memadai. yaitu: (1) kategori harus dibuat sesuai dengan masalah dan tujuan masalah. Nazir (1985: 422-440) menyebutkan beberapa jenis hubungan yang perlu diketahui dari variabel penelitian. demi pemahaman identitas data penelitian. sistematik. (2) kategori harus lengkap. hubungan simetris 92 . Dengan kata lain. (3) kategori harus bebas dan terpisah. dan hubungan antarunsur. dan menyeluruh melalui teknik pemupuan data. pemilihan. padu. Nazir (1985: 419-422) menyebutkan beberapa ciri dalam membuat kategori secara metodis yang memadai. kajian dalam penelitian bahasa mengandung pemahaman penentuan data berdasarkan pendekatan tertentu melalui tes atau pengujian teknik-teknik tertentu. Metode yang bersistem di dalam kajian data bahasa selalu dengan upaya teori tertentu. tiap variabel harus dipisahkan dalam desain analisis. Metode kajian memerikan bagaimana data dipilah dan diklasifikasi berdasarkan pendekatan yang dianut. (4) kategori harus berasal dari satu kaidah klasifikasi. Penentuan data berdasarkan perilaku. dsb. Hubungan variabel yang dimaksud adalah: 1.

hubungan timbal balik Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua arah secara timbal balik antarvariabel. 2.Hubungan ini adalah hubungan antarvariabel yang tidak disebabkan atau dipengaruhi oleh variabel yang lain. kehadiran dua variabel atau lebih secara beriringan yang disebabkan faktor fungsional. hubungan asimetris Hubungan asimestris yang dimaksud adalah hubungan antara variabel yang satu variabel mempengaruhi variabel lainnya. dapat terjadi dari hubungan antarkonsep. Sejalan dengan uraian di atas. dan faktor kebetulan. atau (3) hubungan yang terjadi bersifat kebetulan saja. tetapi hubungannya tidak bersifat timbal balik. maka langkah penyusunan metodologi dalam rancangan usulan penelitian (skripsi) yang memadai adalah: (1) mendeskripsikan secara jelas perihal metode sebagai teknik pupuan data dan metode sebagai teknik kajian. (2) kedua variabel merupakan indikator dari sebuah konsep yang sama. Hubungan ini dapat terjadi karena (1) kedua variabel merupakan akibat dari suatu faktor yang sama. Hubungan ini dapat berpangkal dari indikator sebuah konsep. (2) menjabarkan secara tepat dan jelas masing masing metode sesuai dengan esensi dan fungsinya yang dibatasi oleh tujuan 93 . 3. hubungan saling mempengaruhi.

dan (5) bila perlu gunakan pula skema dan atau tabel organisasi pengumpulan. pemilahan. dan pengolahan data secara sistematis. Dalam penyusunanya secara keseluruhan akan tergambar sejumlah kemampuan peneliti. kemampuan menentukan dan merumuskan masalah 2. pemahaman pemetaan uraian yang berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian terutama menyangkut identifikasi masalah 94 . Kemampuan yang dimaksud mengarah kepada: 1. kemampuan menjabarkan tujuan penelitian berdasarkan rumusan masalah 3. (3) mengurutkan langkah-langkah pengumpulan. pemilahan. penguasaan teoretis atas teori sastra yang aplicable dalam penelitiannya. kemampuan menyusun dan menyajikan metode berdasarkan landasar teori yang dipilihnya sebagai wujud kemampuan pemahaman peneliti perihal fungsi landasan teori dalam sebuah penelitian. dan pengolahan data secara runut untuk memberikan gambaran yang jelas bahwa penelitian dapat dijangkau berdasarkan derajat kemampuan peneliti dari segi penguasaan teori dan metodologi.penelitiannya. Kemampuan menentukan metode penelitian (teknik pupuan data) dan metode kajian yang digunakan berdasarkan tujuan penelitian yang telah disusun 5. kemampuan memilih landasan teori yang tepat sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disusun 4.

idealnya penelitian diawali dari sejumlah masalah yang ditemukan setelah proses membaca dan memahami objek material (karya sastra). peneliti menentukan begitu saja sebuah kajian yang akan digunakan dalam penelitiannya untuk kemudian menyusun tujuan penelitian dan landasan teoretisnya. padahal di dalamnya peneliti diberi hak penuh untuk menguraikan sejumlah pandangan dan temuan selama berhadapan dengan objek penelitian (karya sastra) menyangkut ketertarikan atas objek sehingga dipilih sebagai objek penelitian. 5. serta pembicaraan singkat landasan teoretis dan metode yang dimungkinkan dapat dijadikan alat 95 .dan tujuan penelitian. Kondisi demikian mengakibatkan peneliti begitu sulit secara esensial menguraikan latar belakang masalah penelitiannya. Masalah-masalah yang dimaksud tentunya berpangkal dari kepekaan literer dan teoritik peneliti saat menghadapi objek penelitian. Tidak mudah bagi peneliti yang kurang peka secara literer dan teoretis untuk menemukan masalah ketika Adakalanya berhadapan dengan objek karya sastra. masalah-masalah yang ditemukan untuk dipecahkan. Dalam menyusun rancangan usulan penelitian.2 Kemampuan Menguraikan Latar Belakang Masalah dan Identifikasi Masalah Pangkal dasar sekaligus kesulitan mendasar yang ditemui peneliti dalam sebuah rancangan usulan penelitian sastra adalah menemukan masalah yang layak diangkat dalam sebuah penelitian sesungguhnya. dan mampu menggunakan teori tersebut untuk merancang instrumen penelitian secara metodis.

peneliti akan mampu mengidentifikasi masalah secara logis dan sistematis yang pada akhirnya dapat dijabarkan dalam tujuan penelitin secara jelas. (3) mengapa pilihan alat pemecahannya jatuh pada landasan teori dan metode tertentu. Akan tetapi bagi peneliti yang memanfaatkan kepekaan literer dan kemampuan teoretiknya secara baik. Dengan bekal kemampuan menemukan dan menghimpun permasalahan. Idealnya. di antaranya: (1) apa saja yang menjadi masalah dasar dan penting untuk ditemukan pemecahannya. Tentunya pembicaraan di dalamnya ditempatkan secara fungsional untuk memberi gambaran umum tentang latar belakang masalah. dan kemampuan praktis menjabarkan permasalahannya dalam wujud penyusunan rancangan usulan penelitiannya. pemahamannya terhadap teori dan metode penelitian sastra. penelitian mengindikasikan kepekaan penelitian terhadap potensi teks karya sastra. dimungkinkan dari hasil pengamatan dan pemahamannya terhadap objek berbentuk karya sastra akan menghasilkan banyak masalah.yang mendasari pengolahan dan penganalisisan data. proses pemahaman dan penemuan masalah diawali dengan proses pembacaan secara cermat dan utuh. Identifikasi masalah yang dimaksud adalah penetapan pilihan beberapa 96 . Langkah ini dimaksudkan untuk memberi peluang kepada mahasiswa guna menemukan permasalahanpermasalahan yang akan diangkat dalam penelitian secara Permasalah-permasalahan yang akan diangkat dalam optimal. (2) bagaimana masalah-masalah tersebut dapat diidentifikasi sehingga tujuan penelitian dapat dijabarkan.

Merujuk pada potensi teks tersebut. Itu sebabnya kenapa kedua cerita ini akan diteliti karena menurut saya cerita itu sangat menarik. melainkan suatu duania yang penuh dengan imajinasi. keinginan.1. kepahlawanan dan petualangan. Potensi teks yang dikatakan menjadi dasar dipilihnya pendekatan struktural objektif.. Penetapan pilihan masalah berpangkal pada kebutuhan utama untuk dapat dijangkau dalam penelitian berdasarkan kemampuan peneliti dalam hal penguasaan teoretik. Berikut ini contoh uraian subbab latar belakang masalah dan identifikasi masalah format usulan penelitian skripsi bidang kajian sastra: 1. fenomena yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP. penulis tergerak untuk melakukan penelitian secara struktural objektif bertalian dengan pengungkapan sifat. dsb. dana yang tersedia. waktu pelaksanaan. Permasalahan yang ditemukan tidak langsung merujuk kepada 97 . mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. . keberanian. Dalam cerita anak MHG dan GKLP secara gamblang berusaha menyampaikan pada pembaca bahwa anak tidak polos dan tidak asal. pengembangan penelitian sejenis.. ciri. referensi yang memadai. apalagi jika dilihat dari tokoh anak dalam kedua cerita ini begitu berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat.masalah dari seluruh masalah yang telah dihimpun untuk dijadikan dasar penelitiannya.. Latar Belakang . samasekali tidak mewakili secara menyeluruh atas kepentingan penelitian yang dieksplisitkan dalam pembatasan masalah dan tujuan penelitian.. Contoh uraian subbab di atas belum menunjukkan dasar permasalahan yang sesuai dengan penjabaran identifikasi masalah dan tujuan penelitian..

kedua novel begitu lekat berbicara mengenai masyarakat yang masih menjungjung tinggi adat dan kebudayaan yang memiliki nilai mitos dalam suatu daerah tertentu Adapun pembatasan masalah yang disusun oleh peneliti sebagai berikut: 1. berpikir logis. tokoh anak ditafsirkan berani menerobos hal-hal yang ditabukan dalam masyarakat karena mereka senang membaca cerita misteri sehingga pola pikir mereka berkembang cukup baik. Bagaimana struktur yang terbentuk dalam kedua novel tersebut? 3. termasuk mendapatkan buku-buku cerita misteri 3. tidak percaya akan hal-hal mstis akibat pengaruh bacaan 4. tampak 98 . tokoh anak yang berasal dari kota ditafsirkan perkembangannya sangat cepat karena kemudahan sarana dan prasarana. 2. Logika masalah yang dijabarkan peneliti sebagai berikut: 1. Namun demikian. jika dijajaki uraian pembatasan masalah secara rinci.fungsi pendekatan struktural objektif yang tepat guna. kesamaan (dari dua cerita) perwatakan tokoh yang berani. Masalah apa saja yang menjadi dasar penceritaan kedua novel tersebut? 2. Bagaimana keterjalinan unsur dalam kedua novel tersebut? 4. Tema dan amanat yang ada dalam kedua novel tersebut? Hal yang tampak menonjol dan mudah dicermati dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah di atas adalah nuansa penelitian deskriptif.

Diakui bahwa pada penjabaran pembatasan masalah. Akan tetapi esensi latar belakang yang seharusnya mengawali atau menjadi rujukan identifikasi masalah seolah terlepas satu dengan lainnnya. alur. peneliti sudah mampu menyusun identifikasi masalah secara logis dan sistematis. 4. 99 .penyusunan identifikasi masalah bukan lagi berdasarkan pemanfaatan latar belakang masalah. mengemukakan kepentingan ditelusurinya tema dan amanat kedua novel tersebut dalam hubungannya denga masalah yang ditemukan dalam teks. keterjalinan antarunsur cerita. Upaya yang seharusnya ditempuh dalam uraian latar belakang masalah sehubungan dengan kepentingan penelitian tersebut adalah: 1. struktur cerita yang terbentuk. membicarakan secara singkat kemungkinan pemilihan teori dan metode yang dapat memberi jalan bagi pemecahannya secara deskrpitif. menguraikan sejumlah besar problematika teks (singkat dan jelas) secara struktural obektif jika penelitian akan difokuskan pada kajian struktural objektif 2. latar) 3. mulai dari masalah (bahan tematik) yang menjadi dasar penceritaan. dan penelusuran tema dan amanat. menguraikan bagian-bagian permasalahan struktural dalam karya beserta hubungannya yang dianggap penting untuk diteliti (tokohpenokohan.

Dalam hal ini . mendeskripsikan struktur yang terbentuk dari kedua novel MHG dan GKLP 3. mengetahui tema dan amanat Penjabaran tujuan penelitian di atas tampak terlalu umum dan belum mengarah kepada kepentingan pendeskripsian secara cermat dan mendetail.Berdasarkan upaya tersebut. Penjabaran tujuan penelitian harus berpangkal pada identifikasi masalah yang telah disusun. mendeskripsikan keterjalinan antarunsur 4. 5. Kepentingan yang dimaksud adalah mengeksplisitkan sejumlah tujuan berdasarkan pembatasan masalah. hal-hal yang harus dicermati: (1) Tujuan pertama yang menyangkut pendeskripsian masalah-masalah yang ada dalam kedua novel harus dieksplisitkan secara spesifik. mendeskripsikan masalah apa saja yang ada dalam kedua novel MHG dan GKLP 2. Cermati contoh berikut: 1. misalnya 100 .1 Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai penulis dalam penelitian ini adalah: 1. penjabaran tujuan penelitian erat kaitannya dengan identifikasi masalah.3 Kemampuan Menjabarkan Tujuan Penelitian Seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. seyogyanya latar belakang masalah dan identifikasi masalah menjadi pijakan utama dalam menentukan tujuan penelitian. Contoh usulan penelitian subbab tujuan penelitian berikut belum memadai jika ditinjau dari kepentingan penelitian sesungguhnya.

dan latar dari kedua novel (jika kajian diarahkan pada struktural objektif).menyebutkan masalah-masalah yang bersumber dari peristiwa-peristiwa penting pada seluruh untaian cerita. bukan peristiwa yang tidak menjiwai sebagian atau seluruh cerita. Struktur dinamik. (2) Tujuan kedua yang menyangkut pendeskripsian struktur yang terbentuk dari kedua novel perlu dieksplisitkan secara spesifik. menempatkan teks secara otonom. alur. Hal ini secara tidak langsung telah mengarahkan pemilihan teoretis dan penyusunan langkah analisisnya secara metodis. Penjabarannya menjadi. Struktur naratif mengarahkan pembicaraan mengenai cerita dan penceritaan. Dengan demikian dapat tergambar bahwa penelitian dengan tujuan pertama ini diarahkan pada penelusuran masalah (bahan tematik) yang bersumber pada penelusuran peristiwaperistiwa penting saja. menempatkan teks dengan konsep dasar unsur-unsur. dan totalitas harus dihubungkan dengan luar teks (aspek ekstrinsik). 101 . Oleh karena itu. misalnya: mendeskripsikan unsur tokoh-penokohan. Penjabaran spesifik ini menjadi penting untuk menghindarkan kesalahpahaman atas beragam teori yang kajiannya berbeda walaupun berada dalam satu naungan pendekatan yang sama yaitu strukturalisme. Struktural genetik menelaah struktur teks sastra sampai ke struktur sosial dan pembicaraan hubungan antarunsur teks sastra dan struktur sosial. unsur-unsur di dalamnya pun diperlakukan secara otonom pula. antara struktur naratif karya sastra dan naratornya. antar hubungan. Paham struktural objektif.

(4) Tujuan keempat yang menyangkut penelusuran tema dan amanat hendaknya dijabarkan pada kepentingan pembicaraan menyeluruh. (d) penelusuran amanat berdasarkan perolehan penafsiran tema. (2) tokoh dalam perjalanan alur cerita. tempat. misalnya (a) pembicaraan pengklasifikasian masalah yang telah ditemukan berdasarkan pencapaian analisis pada tujuan pertama. Dengan demikian.(3) Tujuan ketiga yang menyangkut pengungkapan keterjalinan antarunsur hendaknya dispesifikasikan ke dalam penjabaran. dan analisis data. dll. tiap pencapaian tujuan berhubungan dengan pencapaian tujuan yang lainnya sehingga menghasilkan uraian yang utuh. sosial). (3) pemetaan latar dalam perjalanan alur cerita. padu. misalnya (a) penokohan dengan latar (waktu. identifikasi masalah. dan menyeluruh. pengolahan data. dan tujuan penelitian berpangkal pada 102 . Hal ini diperlukan dalam rangka mengikat secara fungsional pencapaian analisis yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya. (b) penafsiran tema berdasarkan kategori mayor dan minor. pemilihan data. (c) pembicaraan hubungan tema dan unsur-unsur pembentuk cerita. Penjabaran secara spesifik menjadi penting guna mengontrol penerapan teori yang tepat guna beserta penyusunan langkah kerja. Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa kendala terbesar peneliti dalam menjabarkan gagasannya pada tiap subbab latar belakang masalah.

kajian struktural naratif d. Ketersediaan yang dimaksud adalah: a. dan metode kajian. ketersediaan objek formal (kajian struktural) mengarahkan peneliti untuk secara tepat memilih landasan teori yang akan digunakan. pada langkah penyusunan Landasan Teori. Keterbatasan tersebut selanjutnya akan membatasi kemampuan peneliti dalam menyusun rancangan usulan penelitiannya. sistematis.4 Kemampuan Menyajikan Landasan Teoretis Sejalan dengan tanggapan pada tingkat keberhasilan penyusunan rancangan usulan penelitian pada materi sebelumnya. Adakalanya peneliti dengan mudah menentukan tujuan penelitian berdasarkan identifikasi masalah yang disusunnya (cermati kasus yang telah dibahas). teori. kajian struktural genetik c.tingkat kepekaan literer. Keterbatasan kemampuan yang dimaksud dapat dicermati dari ketidakmampuan menjalin in uraian tiap subbab secara logis. kajian struktural objektif b. teoretis. kajian struktural dinamik Terdapat hubungan timbal balik antara tujuan penelitian. dan fungsional. 5. dan metodologis. Peneliti mampu memilih dan menyajikan landasan teorinya. Penentuan tujuan penelitian dihasilkan oleh kemampuan pemahaman penelitian dalam menentukan teori yang diminati dan dikuasai serta praktik metodologisnya. Akan tetapi kemampuan menguraikan secara tepat berdasarkan 103 .

dan tujuan penelitian tertentu. Pendekatan struktural objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan karya sastra sebagai struktur yang otonom yang lebih kurang terlepas dari hal-hal yang berada di luar karya sasatra itu sendiri (Teeuw. Penguasaan teoretis pun belum cukup tergambarkan dalam uraian subbab landasan teori secara aplikatif. kurang memadai. dan tujuan penelitian karena di dalamnya tidak dihimpun pembicaraan yang menghubungkan subbab tersebut dengan subbab lainnya secara fungsional. penyusun UP kurang mengetahui secara pasti fungsi landasan teori struktural objektif dalam sebuah penelitian dengan menggunakan pendekatan struktural. dan semendalam mungkin keterikatan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw.6 Landasan Teori Teori struktural objektif merupakan salah satu pendekatan dalam penelitian karya sastra. seteliti. Begitu juga dengan pemahaman pemetaan uraian yang seharusnya berkesinambungan antarsubbagian rancangan usulan penelitian. identifikasi masalah. Cermati uraian utuh subbab landasan teori (contoh Usulan Penelitian ): 1. latar belakang masalah dan identifikasi masalah tertentu.identifikasi masalah dan tujuan penelitian. Uraian di atas tidak mewakili identitas penelitian secara menyeluruh yang dimiliki oleh sebuah usulan penelitian dengan judul tertentu. 2003:132) Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Uraian subbab di atas tidak menunjukkan korelasi antara latar belakang masalah. Berdasarkan contoh di atas. semendetail. 2003:112). Contoh utuh di atas jelas tampak berdiri sendiri dengan atau tanpa subbab lainnya yang seharusnya berhubungan fungsional dalam pembicaraan yang padu. Uraian landasan teori tampak 104 .

Kekurangan yang dimaksud adalah keterbatasan uraian yang tidak menjangkau ilustrasi metodis menyangkut: a. penyusun UP tersebut kurang mampu memahami konsep atau asumsi dasar (premis) dari teori yang digunakannya. 5.terpisah dan tidak fungsional karena tidak dihubungkan langsung dengan kepentingan menyeluruh penelitian. terutama menyangkut batasan masalah dan tujuan penelitian.5 Kemampuan Menyajikan Metode Kemampuan menguraikan secara tepat di dalam subbab metodologi pun kurang memadai. Bagian-bagian utama teori tidak diaplikasikan langsung pada pembicaraan bagaimana teori tersebut menjadi bagian penting untuk memecahkan masalah dan mencapai tujuan penelitian. Kelemahan lain. metode deskriptif Walaupun secara jelas peneliti mendeskripsikan definisi metode tersebut. Cermati uraian pada subbab metode penelitian (contoh UP skripsi) berikut ini: 105 . tetapi tidak ditindaklanjuti dengan uraian yang mengarah kepada bagaimana metode ini akan dijalankan dalam penelitian dan pencapaian yang dimungkinkan bisa secara nyata menunjukkan hubungan fungsional dengan tujuan penelitian.

contoh uraian UP dalam subbab metode deskriptif di atas cenderung bersifat kutipan tanpa konteks. Mengacu kepada definisi metode deskriptif. 106 . mengklasifikasikan . dan menginterpretasikan data (Winarno. dan amanat dapat terungkap secara tepat. unsurunsur karya. fakta.1.1 Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. dalam uraian subbab di atas tidak dipetakan dan belum diarahkan secara memadai pada pembicaraan bahwa metode tersebut adalah tepat untuk memecahkan masalah seperti yang dieksplisitkan dalam tujuan penelitian. Dengan demikian. Pembicaraan tersebut seharusnya diikuti dengan deskripsi singkat tentang teknik pengumpulan dan pemilihan data (sampel). sifat. fenomena. tema. yaitu cara untuk memecahkan masalah yang aktual dengan jalan mengumpulkan. dan teknik pengklasifikasian data sehingga kerja metode deskriptif dapat tergambarkan dengan jelas. sejumlah data. menganalisis. dan ciri-ciri unsur-unsur pembangun karya sastra (dalam pengutamaan kajian struktural). keterjalinan unsur. menyusun. sifat. Melalui metode deskriptif ini tujuan peneliti dapat tercapai secara memadai karena sejumlah fenomena. dan ciri-ciri data yang menyangkut masalah dasar penciptaan novel. 1980: 139).

(3) keterjalinan antarunsur dalam novel. Cermati contoh uraian yang dimaksud: 1. (2) struktur cerita. Struktural adalah sebuah karya atau peristiwa di dalam masyarakat menjadi keseluruhan karena ada timbal balik antarunsur. dan (4) tema dan amanat. penyusun UP tersebut cukup 107 . penyusun UP kurang mampu menyusun redaksi yang memadai untuk memberi gambaran metodis secara lengkap perihal kajian yang digunakan dalam penelitiannya. dan latar. (b) mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural yang tokoh dan penokohan. dan semendalam mungkin keterkaitan dan keterjalinan semua anasir dan aspek karya sastra yang bersama-sama menghasilkan kemenyeluruhan (Teeuw. plot/alur. seteliti. 2003:112) Adapun data yang dikaji berpusat kepada: (1) masalah (bahan tematik) menjadi dasar penceritaan novel. b dan c. (c) mengungkap atau menelusuri keterjalinan antarunsur sebagai proses untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural. dan (d) mengetahui tema dan amanat dengan didukung oleh hasil penelusuran a. Langkah kerja metode kajian ini secara sistematis dilakukan melalui tahapan: (a) penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan untuk diarahkan pada penelusuran tematik cerita.2 Metode Kajian Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode struktural dengan pendekatan objektif. metode kajian Dalam uraian subbab metode kajian. Bertujuan untuk membongkar dan memaparkan secermat. Metode kajian menyangkut bagaimana sebuah teori secara teknik dapat mengarahkan peneliti kepada cara-cara dan langkah-langkah mengolah dan menganalisis data ke dalam beberapa tahap pengerjaan sesuai dengan pendekatan yang dipilihnya.b. semendetail. Dalam hal ini.

Misalnya saja. Namun demikian. penyusun tidak memerikan tiap unsur cerita (tokoh dan penokohan.? Apakah instrumen yang dimaksud akan diarahkan ke pencermatan peristiwaperistiwa penting dari keseluruhan jalan cerita yang memiliki hubungan sebab akibat? Bagimana halnya dengan pelekatan konflik pada tiap-tiap peristiwa? Apakah setiap konflik mengindikasikan adanya masalah yang dapat dijadikan dasar penelusuran tema? b. mendeskripsikan unsur-unsur cerita secara struktural Pada tahap ini. Kekuarang yang dimaksud adalah: a. plot/alur. Pencermatan tokoh dan penokohan akan terejawantahkan melalui teori yang dipilih sehingga sekaligus akan menggiring pada model analisisnya. penyusun yang memilih teori teknik pelukisan dramatik tokoh 108 .mampu mengejawantahkan tujuan penelitiannya ke dalam pembahasan yang kemungkinan pemecahan masalahnya dapat dicapai melalui penerapan metode kajian yang tepat. kekuarangannya adalah penyusun tidak memberi gambaran secara jelas perihal masing-masing langkah kerjanya yang tentunya dibatasi dan diarahkan secara metodis oleh teori yang digunakan. penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan Pada langkah ini penyusun tidak memberikan langkah nyata yang akan dilakukan dalam penelusuran masalah. dan latar) secara jelas berdasarkan tipikal masing-masing unsur. Instrumen apa yang digunakan sehingga data tertentu dipilih dan ditetapkan sebagai data yang mengandung masalah.

surrise. Bagaimana relevansi tiap-tiap 109 . seperti pengeplotan. tetapi teknik penjabaran riil pemanfaatan hasil penelusuran tesebut tidak disertakan. kepadatan. atau isi? Pemilihan di dalamnya akan menentukan cara kerja yang relevan untuk dilakukan dalam kerja analisis. apakah akan dijajaki melalui pemanfaatan kaidah pengeplotan (plausibilitas. penyusun tidak memberikan gambaran atau bentuk keterjalinan yang dimaksud. mengetahui tema dan amanat Walaupun pada bagian akhir uraian pada subbab metode kajian penyusun menyebutkan bahwa hasil penelusuran a. Bagaimana teknik menentukan jalinan unsur yang dimaksud? Jalinan apa saja atau bentuk jalinan yang bagaimana sehingga jalinan tersebut ditafsirkan sebagai dasar keutuhan novel ? dsb. tempat. kesatupaduan) sebagai instrumen. Demikian pula pada pembicaraan latar. jumlah. Pada unsur-unsur cerita lainnya. atau pengeplotan berdasarkan kriteria urutan waktu. d.menurut Altenbernd & Lewis tentunya akan berbeda dengan pemilihan teori mengenai teknik pelukisan ragaan (showing) tokoh menurut Abrams. suspense. dan sosial? c. langkah apa yang dapat ditempuh secara teknis dalam uraian subbab metode kajian? Langkah apa yang secara tepat dapat mengarahkan penelusuran latar waktu. dan c digunakan untuk mengetahui tema dan amanat. b. mengungkap keterjalinan antarunsur untuk mengetahui keutuhan novel secara struktural Berkaitan dengan hal ini.

Jalan terbaik untuk mencapai hasil rancangan usulan penelitian yang memadai adalah secara bertahap melakukan konsultasi kepada pihak yang berwenang melakukan bimbingan sambil terus mengemukakan masalah-masalah teknis dan non teknis yang dihadapi selama 110 . Masalah-masalah tersebut dihimpun dan selanjutnya dipilah berdasarkan kriteri tertentu yang mengarahkan sebuah interpretasi guna menjangkau tema. Uraian metode yang menyangkut bagian-bagian penelusuran masalah-masalah yang menjadi dasar penceritaan seharusnya menjadi bagian yang sangat potensial untuk menentukan tema.penelusuran tersebut dengan kepentingan pencarian tema dan amanat? Model pemilihan analisis apakah yang menjadikan sejumlah kriteria sebagai variabel penelusuran tema? Metode penelitian yang menyangkut teknik pupuan data dan metode kajian. Adapun dalam penentuan amanat. hasil analisis atas tema hendaknya diramu kembali untuk menghasilkan sebuah penyataan yang mengarah kepada nuansa amat cerita untuk kemudian ditentukan secara memadai amanat yang paling relevan dengan kandungan cerita dari seluruh analisis yang telah dikerjakan. baik tema mayon maupun minor dan sebagainya sesuai dengan batasan teori yang digunakan dalam penelitian. seharusnya sudah cukup jelas digambarkan di bagian-bagian sebelumnya. Kelemahan-kelemahan di atas tentunya perlu dibenahi sebelum proposal penelitian diajukan atau bahkan diseminarkan untuk mendapatkan persetujuan dari tim penguji.

penyusunan rancangan penelitian yang dimaksud. ******* 111 . Dengan demikian. selalu terbuka solusi selama kedua belah pihak (peneliti dan pembimbing) sama-sama aktif dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil terbaiknya.

S. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Imran T. ed. Chamamah. M. W. 1989. 1999.H. Norton & Company Inc.” Makalah. “Sastra Lisan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Faruk. Irena R. Jauss. The Mirror and lamp: Romantic Theory and the Critical Tradition. Minneapolis: University of Minnesotta Press. 1983. 1987. dkk. 2001. “Strukturalisme-Genetik. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah mada. Pengantar Ilmu Sastra. Luxemburg. Toward an Aesthetic of reseption. Abrams. Makaryk.W. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya Faruk. Jan van. “Penelitian sastra Tinjauan Teori dan Metode Sebuah Pengantar. Diterjemahkan oleh Dick Hartoko. Wlfgang. 1994. New York: The Norton Library. Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press. 1999.). Iser. (ed. Enclyclopedia of Contemporary Literary Theory.DAFTAR PUSTAKA Abdullah.) 1993. Hans Robert. Toronto-Buffalo-London: University of Toronto Press 112 . Pengantar Sosiologi Sastra. The Act of Reading.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Jakarta: Gramedia.” Makalah.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Ratna. 1995.” Metodologi Penelitian Sastra (Jabrohim. Diterjemahkan oleh Okke K. Selangor: Sain Baru Sdn. 1987. Tata Sastra. Jakarta: Djambatan. Todorov. 1985. A. Rene & Austin Warren. Metode. 2001. Burhan. Jakarta: Pustaka Jaya T. Segers. Zaimar. Diterjemahkan oleh Suminto A. Teori Pengkajian Fiksi. 19. Noeng. Nyoman Kutha. V. Yogyakarta: Gama Media Propp. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Makalah. dan Teknik. 2002. Evaluasi Teks Sastra. Metode Penelitian Linguistik. “Strukturalisme”. 1985.S. 1984. ed. Yogyakarta: Rake Sarasin Nazir. 2004.Bhd. Yogyakarta: Hanindita Graha Widya 113 . 1993. Rien T. ------------------------------. Jakarta: Gramedia Wuradji. Tzvetan. Yogyakarta: Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada. Fatimah Djajasudarma. 2000. Diterjemahkan oleh Noriah Taslim. Wellek. 1999. Metode Penelitian. 2002. Sastra dan Ilmu sastra. Moh. Yogyakarta: AdiCita Teeuw. Pradopo.). Jakarta: Ghalia Indonesia Nurgiyantoro. Sayuti. Rachmat Djoko. dkk.Muhadjir. Kritik Sastra Indonesia Modern. Diterjemahkan oleh Melani Budianta. Penelitian Sastra: Teori. “Pengantar Penelitian. Metodologi penelitian Kualitatif. Morfologi Cerita Rakyat. Teori Kesusastraan. Bandung: Eresco.

114 .

115 .