P. 1
Dimensi Kajian Filsafat Ilmu

Dimensi Kajian Filsafat Ilmu

|Views: 1,235|Likes:
Published by Agus Sunarya

More info:

Published by: Agus Sunarya on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat. Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya. Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun aksiologi. Maksud dan tujuan kami membahas tentang dimensi kajian filsafat ilmu ini adalah supaya kami khususnya dan setiap orang pada umumnya menyadari bahwyang kita peroleh masih jauh dari cukup. Ilmu itu ada batasnya sedangkan kemampuan manusia terbatas, jadi inilah yang harus disadari dan dihayati oleh semua orang.

BAB II DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU

Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Dengan lain perkataan, tidak menggarap hal-hal yang gaib seperti soal surga atau neraka yang menjadi garapan ilmu keagamaan. Telaah kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya. Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh. Berikut ini digambarkan batasan ruang lingkup atau bidang garapan tahapan Ontologi, Epistimologi, dan Aksiologi A. ONTOLOGI Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Berikut ini pengertian tentang ontologi :

Pengertian menurut Istilah : Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679 – 1754 M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu : a. Term ontologi Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Metafisika Khusus : Kosmologi. yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak 2.1. Teologi . ontologi bisa diartikan : The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan). Metafisika Umum : Ontologi Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Pengertian Ontologi a. b. Menurut Bahasa : Ontologi berasal dari Bahasa Yunani. atau Ilmu tentang yang ada b. Psikologi. Jadi. dan logos = logic atau ilmu. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada. yaitu on / ontos = being atau ada.

Materialisme Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. bukan rohani. 2). Yang ada hanyalah materi/alam. Idealisme . baik yang asal berupa materi ataupun rohani. a. Monoisme Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Pluralisme. tak dapat di hitung dan amat halus. Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan Aliran ini sering juga disebut naturalisme. tidak mungkin dua. Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM).3. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran : 1). Dualisme. Paham –paham dalam Ontologi Didalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Nihilisme. dan Agnotisisme. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Atomatom inilah yang merupkan asal kejadian alam.

dinamakan juga spiritualisme. dan Schelling (1775-1854 M). spiritualisme berarti serba ruh. Hegel (1770-1831 M). Dualisme Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani. . Menurutnya. Idealisme berarti serbacita. memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu. b). benda dan ruh.Idealisme diambil dari kata idea. tiap-tiap yang adadialam mesti ada idenya. Fichte (1762-1814 M). d). b. Idelisme sebagai lawan materialisme. yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang Tokoh aliran ini diantaranya : a). Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya. Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. yaitu konsep universal dari setiap sesuatu. Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M). jasad dan spirit. Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ideide. yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan). Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M). dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M). Aristoteles (384-322 SM). c).

Dalam bukunya The Meaning of Truth. yang berdiri sendiri. sekalipun realits itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. api. tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: 1. Agnotisisme . James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak. Pertama. e. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya. Ketiga. yang berlaku umum.c. Kedua. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur. d. tidak ada sesuatupun yang eksis 2. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno. bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui 3. lepas dari akal yang mengenal. air. Tokoh modern aliran ini diantaranya: IvanTurgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M). yang bersifat tetap. Pluralisme Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Nihilisme Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. yaitu tanah. dan udara. ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.

Jean Paul Sartre (1905-1980 M). Ketika kita membicarakan epistemologi. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. cara. Epistemologi adalah teori pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman 3. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme 2. EPISTEMOLOGI 1. Keterkaitan antara ontologi. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam . epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno artinya know. seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis B. Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan.Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: 1. epistemologi. Soren Kierkegaar (1813-1855 M).

P.Hardono Hadi menyatakan. pengandaian-pengendaian dan dasarnya. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: a. Sedangkan.Suriasumantri. Pengertian Epistemologi Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Dalam Epistemologi. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Pengertian lain. Sedangkan D. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. struktur. Menurut Musa Asy’arie. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. 2005). 2. hal.32). istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. dalam Jujun S. Secara etimologi. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. dan logos berarti teori. 2003. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. 1965. Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu? b.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup . Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh? c.

yaitu hakikat. dari mana asalnya. batas. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Terlebih lagi . bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. dan sasaran pengetahuan. pengertian. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. metode-metode dan validitas pengetahuan. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. apa yang dapat kita ketahui. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok.pengetahuan. unsur. pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan Dagobert D. meliputi hakekat. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. apa hakikatnya. M. Ruang Lingkup Epistemologi M. struktur. dan sampai dimanakah batasannya. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. Sementara itu. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. apa kebenaran itu. sumber dan validitas pengetahuan. macam. Selanjutnya. Amin Abdullah menilai. struktur. A.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. Dia menyatakan. Azyumardi Azra menambahkan. apakah ilmu itu. 3. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Bahkan. apa sumbernya. aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. tumpuan.Runes. Sementara itu. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis.M Saefuddin menyebutkan.

bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. baik yang bercorak positif maupun negatif. sebaliknya tanpa suatu tujuan. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Tanpa suatu sasaran.ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. Landasan Epistemologi . Hal ini menunjukkan. hakikat alam dan hakikat manusia. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yangada). ontologi sebagai objek pemikiran. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. mustahil tujuan bisa terealisir. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. 4. Objek Dan Tujuan Epistemologi Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. 5. Objek material adalah sarwayang-ada.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. apakah saya dapat tahu. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai.

Sesuatu fenomena pengetahuan logis. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”.Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). Secara sederhana dapat dikatakan. batas-batasanya. Hubungan Epistemologi. 6.Senn mengemukakan. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. Pada bagian lain. Implikasinya. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Metode dan Metodologi Lebih jauh lagi Peter R. tetapi tidak empiris. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. sumber-sumbernya. yaitu rasio dan fakta secara integratif. atau pengalaman sehari-hari. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. juga sering disebut ilmu dan sains. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. dan sebagainya. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. sedangkan substansisnya relatif sama. melaikan termasuk wilayah filsafat. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahanpermasalahan yang berkaitan dengan metode. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode- .

melainkan termasuk dalam kajian psikologi. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Dengan demikian. tetapi masalah-masalah ini bukanlah sematamata masalah-masalah filsafat. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. Padahal mestinya dia harus benar-benar memahami. Tidak ada satu pun aspek . Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). 7. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Oleh karena itu. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. the workings of human mind. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. membedakan cabangcabangnya yang pokok. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Jadi. mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok Wina. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. Hakikat Epsitemologi Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. metode merupakan perwujudan dari metodologi. epistemologi mencakup bahasan metodologis. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik.metode yang digunakan dalam penelitian.

sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. sehingga . Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. Honer dan Thomas C. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. Kemudian jika diingat. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Oleh karena itu. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. Sejak semula. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya.filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Selain itu. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. padahal realitasnya banyak sekali. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi.Hunt yang menilai. kecuali psikologi.

Hal ini juga bisa dikatakan. Sebaliknya. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. yaitu masa lampau yang telah dilalui. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. baruk ditarik kesimpulan secara umum. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu . karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. atau deduktif dengan induktif). Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. yakni pikiran dan indera. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. meskipun memungkinkan untuk diketahui. Oleh sebab itu. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris.tidak perlu diketahui. maka tindakannya itu justru merugikan. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Pada bagian lain dikatakan. maka menimbulkan pemahaman. sehingga tidak mungkin bisa diketahui.

yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Suatu peradaban. perangkatperangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. dan sebagainya. Pengaruh Epistemologi Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. . 8. kepercayaan dan sistem nilai mereka.bertumpu pada landasannya. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis.

pantas) dan Logos (Ilmu).C. (Cece Rakhmat. Jujun S. Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak. 2010) . Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. AKSIOLOGI 1. Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu.Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Pengertian Aksiologi Berikut beberapa pendapat tentang pengertian Aksiologi : Menurut Kamus Filsafat. hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan.

baik tanggung jawab terhadap diri sendiri. Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic expression. senang atau tidak senang. Pertama. dalam Bakhtiar Amsal. Selanjutnya nilai itu akan objektif. sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada (Irmayanti Budianto. 2004). 2. nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab. Nilai akan menjadi subjektif. Didalam etika. . yaitu tindakan moral. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka. Dengan demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika.1997) membagi aksiologi dalam tiga bagian. apabila subjek sangat berperan dalam segala hal. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (dalam Bakhtiar Amsal. jika tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. yaitu ekspresi keindahan. norma dan adat istiadat manusia. Kajian etika lebih fokus pada prilaku. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya. atau eksistensinya. Penilaian Aksiologi ilmu yang Bramel (dalam Jalaluddin dan Abdullah. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. masyarakat.Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan. nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul dari filsafat. 2004). Bidang ini melahirkan keindahan. alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta. kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya. moral conduct. maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik.

Dari apa yang dirumuskan diatas dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada. dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap. Ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peradaban manusia. sosio-political life. tapi dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan peradaban manusia yang lain. kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. semua itu terletak pada system nilai dari orang yang menggunakan kekuasaan tersebut. ilmu terus berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? d. Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark Elliot Zuckerberg . Mengutip pendapatnya Francis Bacon dalam Surasumantri (1999) yang mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuasaan”. 3. Selanjutnya Suriasumantri juga mengatakan bahwa kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat. jawabannya adalah sudah tidak terhitung banyaknya manfaat dari ilmu bagi manusia dan makhluk hidup secara keseluruhan. Apa Manfaat Dari Ilmu ? Bila ditanya manfaat dari ilmu. dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh manusia. Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? c. Ilmu itu bersifat netral. Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan. sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam . Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia. Jujun S Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu: a. yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik. Untuk apa ilmu tersebut digunakan? b. Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu. Bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral / professional.Bagian ketiga dari Aksiologi adalah . ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk.

nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum. Secara detail. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Bagi seorang ilmuwan. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Keterkaitan antara ontologi. bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana. BAB III KESIMPULAN Setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. . sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran.usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. epistemologi. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu.

bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun.com Suriasumantri. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. Gramedia Pustaka Utama. Ilmu Dalam Perspektif. Secara detail. PT Raja Grafindo Persada. Jujun. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. (2010) Bandung Suparmanhttp://www.Demikian juga. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). DAFTAR PUSTAKA Bagus Lorens.blogger. Membidik Filsafat Ilmu. Jakarta Rakhmat Cece. Jakarta . Ketiga landasan ini saling berkaitan. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Gaya Media Pratama.Amsal (2006) Filsafat Ilmu. (2005) Kamus Filsafat. Jakarta Bakhtiar . (1999) Yayasan Obor Indonesia. S. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.com/profile/03249547895308622683noreply@blogger. Jakarta Jalaluddin dan Abdullah Idi. (1997) Filsafat Pendidikan. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->