P. 1
Proposal

Proposal

|Views: 1,571|Likes:
Published by fajaru_san

More info:

Published by: fajaru_san on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

PROPOSAL SKRIPSI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SUB

POKOK BAHASAN PERTIDAKSAMAAN SATU VARIABEL SISWA KELAS X 2 SEMESTER I SMA NEGERI 3 REMBANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009

Disusun Oleh:

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA IKIP PGRI SEMARANG 2008

LEMBAR PENGESAHAN Kami selaku Pembimbing I dan Pembimbing II dari mahasiswa IKIP PGRI Semarang: Nama NPM Jurusan : : : Matematika Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Sub Pokok Bahasan Pertidaksamaan Satu Variabel Siswa Kelas X 2 Semester I SMA Negeri 3 Rembang Tahun Pelajaran 2008/2009 Telah disahkan pada: Hari Tanggal : :

Judul Skripsi : Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC untuk

Pembimbing I

Pembimbing II

Mengetahui, Dekan FPMIPA

I.

JUDUL PENELITIAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE CIRC UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA SUB POKOK BAHASAN PERTIDAKSAMAAN SATU VARIABEL SISWA KELAS X 2 SEMESTER I SMA NEGERI 3 REMBANG TAHUN PELAJARAN 2008/2009 A. Latar Belakang Dewasa ini perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

semakin pesat. Bangsa-bangsa yang ingin maju berusaha meningkatkan mutu pendidikan, misalnya dengan menyusun kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat ditunjang oleh keberhasilan dalam dunia pendidikan. Dalam kaitannya dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, peranan matematika sangat membantu. Akan tetapi sampai saat ini pelajaran matematika masih merupakan mata pelajaran yang kurang disukai dan dianggap lebih sulit dibandingkan dengan mata pelajaran yang lain, hal ini dikarenakan pelajaran matematika terlalu abstrak. Siswa membutuhkan waktu yang lama untuk memahami pelajaran matematika yang diajarkan dikelas serta banyak siswa yang tidak memiliki kesiapan belajar ketika akan mulai pelajaran dan malas berlatih untuk menyelesaikan soal-soal matematika. Padahal untuk dapat belajar matematika dengan baik siswa harus lebih banyak berlatih dan membiasakan diri menyelesaikan soal-soal matematika. Menurut Guru Kelas X 2 SMA Negeri 3 Rembang siswanya kesulitan dan kurang biasa memahami pelajaran matematika khususnya pada materi sub pokok bahasan Pertidaksamaan Satu Variabel yang menyebabkan nilai matematika pada siswanya kurang memuaskan. Dalam materi pertidaksamaan satu variabel ini, siswa kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal dan mereka juga kesulitan dalam membuat model matematikanya, jika diberikan suatu soal cerita yang berhubungan dengan

pertidaksamaan satu variabel. Menurut guru kelas X 2 dari pengalaman tahun yang lalu setiap pembelajaran matematika terutama pada pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel, siswanya terlihat bosan dan jenuh. Hal ini disebabkan dalam mengajar, guru cenderung menggunakan metode ekspositori atau ceramah saja sehingga dalam proses pembelajaran tersebut kurang aktif karena siswa hanya mendengarkan dan mencatat saja. Dalam proses pembelajaran matematika tidak lepas dari minat siswa terhadap pelajaran matematika. Setiap individu siswa mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, sehingga menimbulkan respon yang berbeda pula terhadap pelajaran matematika. Dengan menggunakan metode yang tepat diharapkan dapat memacu minat siswa terhadap mata pelajaran matematika, siswa tidak merasa bosan, tetapi sebaliknya merasa menyenangi dan merasa memerlukan sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu cara mengajar yang diprediksi bisa mengatasi persoalan diatas adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) atau disebut juga kooperatif terpadu, membaca dan menulis. Pada awalnya model pembelajaran kooperatif tipe CIRC diterapkan dalam pelajaran bahasa. Dalam kelompok kecil para siswa diberi suatu teks atau bacaan, kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisi dan menulis ikhtisar cerita atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita atau mempersiapkan tugas tertentu dari guru. (Suyitno, 2007: 12). Pembelajaran kooperatif tipe CIRC mampu mengatasi keterbatasan ruang. Hal ini dapat terjadi karena siswa dikoordinasi bekerja berdasarkan kelompok, sehingga akan menghemat tempat. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang dikembangkan melalui kerja kelompok inilah siswa dihadapkan oleh suatu permasalahan yang harus dipecahkan secara bersama-sama. Sedangkan kegiatan guru akan lebih banyak mengawasi dan memantau jalannya kelompok belajar, sehingga siswa dalam

kelompok ikut secara aktif dalam memecahkan suatu permasalahan bukan menyerahkan kepada satu orang saja. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Sub Pokok Bahasan Pertidaksamaan Satu Variabel Siswa Kelas X 2 Semester I SMA Negeri 3 Rembang Tahun Ajaran 2008/2009”. B. Penegasan Istilah 1. Penerapan Dalam kamus besar bahasa Indonesia penerapan dapat diartikan menggunakan, mempraktikkan. Penerapan berarti penggunaan atau pemakaian. (TIM Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1998:935). Yang dimaksud penerapan disini adalah mempraktikkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Model Model adalah suatu struktur konseptual yangtelah berhasil dikembangkan dalam suatu bidang, dan sekarang ditetapkan untuk membimbing penelitian dan berpikir dalam bidang lain, biasanya dalam bidang yang belum begitu berkembang. (Marx, 1976 Dalam buku Ratna Wilis Dahar, 1996: 5). 3. Pembelajaran Kooperatif Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan dalam belajar kelompok dengan tetap memperhatikan perbedaan individu pada diri tiap siswa. (Noor, 2008) 4. Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)

Suatu model pembelajaran dengan kemampuan peserta didik dan dalam proses pembelajarannya membangun kemampuan peserta didik untuk membaca dan menyusun rangkuman berdasarkan materi yang dibacanya (Suyitno, 2007: 12). 5. Meningkatkan Adalah mempertinggi, 1078). Jadi yang dimaksud meningkatkan adalah membuat nilai matematika siswa lebih baik dari nilai yang semula. 6. Hasil Belajar Matematika Hasil adalah sesuatu yang diadakan (dibuat dijadikan dan sebagainya) oleh usaha (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001: 391). Belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001: 17). Jadi hasil belajar matematika adalah hasil yang dicapai setelah melakukan kegiatan belajar khususnya dalam mata pelajaran matematika, hasil belajar dapat berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap dalam bentuk nilai. Hasil belajar juga dipengaruhi oleh pengalaman pelajaran dengan dunia fisik dan lingkungannya. 7. Pertidaksamaan Satu Variabel Setiap pertidaksamaan satu variabel memuat variabel X berpangkat (1) satu dan memakai tanda <, >, ≤ , atau ≥ . Bentuk baku dari pertidaksamaan satu variabel dalam variabel x ada 4 macam yaitu: a. b. c. d. ax + b < 0 ax + b > 0 ax + b ≤ 0 ax + b ≥ 0 menaikkan memperlebar (derajat, (produksi taraf, dan dan sebagainya), (Tim sebagainya).

Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2001:

(Buku Matematika SMA Kelas X, 2006: 125)

Materi penerapan pertidaksamaan satu variabel merupakan suatu sub pokok bahasan pelajaran matematika bagi siswa kelas X semester I untuk SMA dan sederajat. Berdasarkan penegasan istilah diatas, secara keseluruhan maksud dari judul skripsi ini adalah keberhasilan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel ditandai dengan peningkatan hasil belajar siswa berupa kemampuan kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah, keaktifan dan kerja sama dalam mengikuti proses belajar mengajar siswa kelas X 2 SMA Negeri 3 Rembang tahun pelajaran 2008/2009. C. PERMASALAHAN Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah “Apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe circ dapat meningkatkan hasil belajar siswa berupa kemampuan kognitif siswa dalam menyelesaikan masalah, keaktifan dan kerja sama dalam mengikuti proses belajar mengajar pada sub pokok bahasan Pertidaksamaan Satu Variabel siswa kelas X 2 semester I SMA Negeri 3 Rembang Tahun Pelajaran 2008/2009?”. D. RENCANA PEMECAHAN MASALAH Masalah yang dihadapi dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apakah dengan adanya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel siswa kelas X 2 semester I SMA Negeri 3 Rembang Tahun Ajaran 2008/2009? Dengan adanya permasalahan tersebut, maka peneliti akan berusaha untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam penelitian tindakan kelas ini. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah peneliti berusaha menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dimana pembelajaran kooperatif tipe CIRC mampu mengatasi

keterbatasan ruang. Hal ini dapat terjadi karena siswa dikoordinasi bekerja berdasarkan kelompok, sehingga akan menghemat tempat. Pembelajaran kooperatif tipe CIRC yang dikembangkan melalui kerja kelompok inilah siswa dihadapkan oleh suatu permasalahan yang harus dipecahkan secara bersama-sama. Sedangkan kegiatan guru akan lebih banyak mengawasi dan memantau jalannya kelompok belajar, sehingga siswa dalam kelompok ikut secara aktif dalam memecahkan suatu permasalahan bukan menyerahkan kepada satu orang saja. E. 1. Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan mengetahui upaya penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk meningkatkan hasil belajar matematika pada pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel Siswa Kelas X 2 Semester I SMA Negeri 3 Rembang tahun ajaran 2008/2009. 2. a. Bagi Siswa 1) 2) Berlatih memecahkan masalah secara kelompok Dapat mengetahui bagaimana saling berinteraksi dalam Manfaat Penelitian

bekerja sama untuk meningkatkan hasil belajar terutama pelajaran matematika. 3) Belajar menghargai pendapat orang lain dan saling bekerja sama. b. Bagi Guru Untuk c. Bagi Sekolah 1) Dapat memberikan sumbangan yang baik dalam rangka hasil belajar siswa khususnya pelajaran meningkatkan matematika. memperoleh variasi dalam menyusun strategi pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

2)

Menciptakan masyarakat sekolah yang memiliki jiwa

kerjasama. II. A. LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS Pengertian Belajar Belajar dikenal sebagai penambahan pengetahuan, namun ada yang mengartikan belajar sama dengan menghafal, karena orang belajar akan menghafal. Pengertian belajar ini masih sangat sempit, karena belajar bukan hanya membaca dan menghafal tapi membutuhkan juga penalaran. Beberapa pendapat tentang belajar menurut para ahli antara lain: 1. seseorang. 2. Menurut Hilgard dan Bower, belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap suatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalaman yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat (Ngalim, 1990: 84). 3. apabila suatu Menurut Gagne, menyatakan bahwa belajar terjadi situasi stimulus bersama dengan isi ingatan Menurut Sudjana Nana (1989: 5), pengertian belajar adalah suatu proses yang ditandai adanya perubahan pada diri

mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi (Ngalim Purwanto, 1990: 84). 4. Menurut Morgan, belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman (Ngalim Purwanto, 1990: 84). 5. Belajar adalah proses kegiatan yang mengakibatkan suatu perubahan tingkah laku (Herman Hudoyo, 1990: 1).

Dari beberapa pendapat diatas, maka dapat disimpulkan, belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang bersifat menetap pada diri seseorang sehingga akan memperoleh kondisi yang diharapkan. B. Proses Belajar Mengajar Belajar mengajar merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Belajar mengacu pada kegiatan siswa dan mengajar pada kegiatan guru. Menurut Sudjana (1989: 5-7), belajar adalah proses perubahan tingkah laku seseorang berkat pengalaman latihan, sedangkan mengajar adalah usaha memberikan bimbingan kepada siswa dalam mengajar. Pada hakekatnya belajar merupakan suatu proses aktivitas proses mereaksi untuk meningkatkan stimulasi yang ada disekitar individu. Proses belajar merupakan proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung seumur hidup, salah satu pertanda bahwa seseorang telah belajar adalah adanya perubahan yang bersifat kognitif (pengetahuan), psikomotorik (keterampilan), dan afektif (nilai dan sikap). Agar proses belajar mengajar dapat berhasil maka ada beberapa pedoman yang perlu diperhatikan, yaitu siswa terlibat secara aktif dalam setiap pembelajaran, kegiatan belajar harus sistematis serta kreativitas siswa dijadikan tujuan belajar. Proses belajar tersusun dari beberapa kegiatan yang diarahkan dengan aktivitas yang lain, dan berinteraksi dengan orang serta faktor lingkungan. Oleh karena itu, harus diusahakan agar motivasi belajar siswa benar-benar muncul dari siswa itu sendiri. Melalui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC keterlibatan siswa untuk belajar secara aktif merupakan salah satu indikator kefektifan belajar. Dengan demikian siswa tidak hanya menerima saja materi pengajaran yang diberikan guru, melainkan siswa juga berusaha menggali dan mengembangkan sendiri dalam kelompoknya. Belajar dalam kelompok merupakan salah satu sarana dalam melatih ketrampilan berkomunikasi. Ketepatan guru dalam memilih model

pembelajaran diharapkan dapat mengurangi kegagalan siswa dalam memahami materi pelajaran atau menyelesaikan soal secara mandiri. C. Pengertian Hasil Belajar Faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi 2 yaitu faktor yang bersumber dari dalam diri manusia dan faktor yang bersumber dari luar manusia. 1. Faktor yang bersumber dari dalam diri manusia Faktor ini dapat diklasifikasikan menjadi 2 yakni: faktor biologis dan psikologis. Faktor biologis: usia, kematangan dan kesehatan. Sedangkan faktor psikologis: kelelahan, suasana hati, motivasi, minat, dan kebiasaan belajar. 2. Faktor yang bersumber dari luar manusia Faktor manusia dan non manusia seperti alam, benda, hewan dan lingkungan. Melihat beberapa ciri hasil belajar yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. lain. f. Siswa menguasai bahan yang telah dipelajari minimal 80% dari yang seharusnya ia capai. Siswa dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah Siswa dapat memberikan contoh dari konsep dan prinsip Siswa dapat mengklasifikasikan atau menggunakan Siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama. yang telah dipelajari. konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya. mempelajari bahan pelajaran lebih lanjut. Siswa terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerja sama dengan siswa lain, berkomunikasi dengan orang lain dan lain-

D.

Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Usaha-usaha guru dalam membelajarkan siswa merupakan bagian

Learning) yang sangat penting dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan. Oleh karena itu pemilihan berbagai metode, strategi, pendekatan serta teknik pembelajaran merupakan suatu hal yang utama. Model pembelajaran adalah pedoman berupa program atau petunjuk strategi mengajar yang dirancang untuk mencapai suatu pembelajaran. Pedoman itu memuat tanggung jawab guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pembelajaran yang dapat diterapkan dalam belajar kelompok dengan tetap memperhatikan perbedaan individu pada diri tiap siswa. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda tinggi, sedang, dan rendah. (Noor, 2008) Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Tujuan model pembelajaran kooperatif adalah hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai keragaman dari temannya, serta pengembangan keterampilan sosial. Menurut Noor (2008) Prinsip dasar dalam pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya. 2. Setiap anggota kelompok harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama. 3. Setiap anggota kelompok harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya. 4. Setiap anggota kelompok akan dikenai evaluasi

5. Setiap anggota kelompok berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya. 6. Setiap anggota kelompok akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Menurut Noor (2008) Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif sebagai berikut: 1. Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai. 2. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan yang berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. 3. Penghargaan lebih menekankan pada kelompok dari pada masingmasing individu. Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Menurut Roger dan David Johan (Dalam Lie, 2002:31-34) pembelajaran kooperatif dilatar belakangi oleh 5 unsur model pembelajaran yaitu: 1. Saling Ketergantungan Positif Keberhasilan kelompok sangat tergantung pada usaha anggotanya. Untuk menciptakan kelompok kerja yang efektif, pengajar perlu menyusun tugas sedemikian rupa, sehingga setiap anggota kelompok harus menyelesaikan tugas sendiri agar yang lain bisa mencapai tujuan mereka. Setiap siswa mendapat nilainya sendiri dan nilai kelompok. Nilai kelompok dibentuk dari “sumbangan” setiap anggota. 2. Tanggung Jawab perseorangan

Unsur ini merupakan akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap siswa akan merasa bertanggung jawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode kerja kelompok adalah persiapan guru dalam penyusunan tugasnya. 3. Tatap Muka Setiap kelompok harus diberikan kesempatan untuk bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberikan para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota. 4. Komunikasi Antar Anggota Unsur ini juga menghendaki agar para pembelajar dibekali dengan berbagai keterampilan berkomunikasi sebelum menugaskan siswa dalam kelompok, pengajar perlu mengajarkan cara-cara berkomunikasi. 5. Evaluasi Pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan hasil kerja sama mereka agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Waktu evaluasi ini tidak perlu diadakan setiap kali ada kerja kelompok, melainkan bisa diadakan selang beberapa waktu setelah beberapa kali pembelajaran terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif. E. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Model pembelajaran CIRC merupakan salah satu tipe kooperatif. Pada awalnya model CIRC diterapkan dalam pembelajaran bahasa, pada kelompok kecil siswa diberi suatu teks atau bacaan cerita atau novel, kemudian siswa dilatih membaca dan saling membaca, memahami ide Tidak semua siswa mempunyai keahlian mendengarkan dan berbicara.

(Cooperative Integrated Reading and Composition)

pokok, saling merevisi dan menulis ikhtisar cerita atau memberikan tanggapan terhadap isi cerita untuk mempersiapkan tugas tertentu. Kegiatan pokok dalam CIRC untuk memecahkan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yakni salah satu anggota kelompok atau beberapa anggota saling membaca soal, membuat prediksi, atau menafsirkan isi soal termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu, saling membuat ikhtisar atau rencana isi soal cerita, menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut dan saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (Suyitno, 2007: 12). Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC untuk menyelesaikan soal cerita adalah: 1. Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika tertentu kepada para siswa. 2. Guru memberikan latihan soal termasuk cara menyelesaikan soal cerita. 3. Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal cerita melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. 4. Guru siswa. 5. Guru memilih siswa untuk bekerja secara kelompok, melatih kerja sama atas dasar saling menghargai (life together). 6. Guru mempersiapkan 2 soal cerita dan membagikannya kepada siswa dalam kelompok yang sudah terbentuk. 7. Guru memberitahukan agar dalam kegiatan kelompok terjadi kegiatan sebagai berikut: Salah satu anggota kelompok membaca soal cerita tersebut, membuat prediksi atau menafsirkan atas isi soal cerita. Termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan memisalkan membentuk kelompok-kelompok belajar siswa (learing society) yang heterogen. Setiap kelompok terdiri atas 4 atau 5

yang ditanyakan dengan suatu variabel, saling membuat ikhtisar atau rencana penyelesaian soal cerita secara urut (menuliskan komposisi penyelesaiannya). Kemudian saling merevisi dan mengedit pekerjaan dan menyerahkan hasil tugas kelompok kepada guru. 8. Setiap kelompok bekerja berdasarkan serangkaian kegiatan pola CIRC (Teams Study). Guru berkeliling mengawasi kerja kelompok. 9. Guru bertindak sebagai fasilitator atau nara sumber jika diperlukan. 10. Ketua kelompok melaporkan keberhasilan kelompoknya atau melapor kepada guru tentang hambatan yang dialami anggota kelompoknya. Jika diperlukan guru dapat memberikan bantuan kepada kelompok secara proporsional. 11. Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap kelompok telah memahami dan dapat mengerjakan soal cerita yang diberikan guru. 12. Guru meminta kepada perwakilan kelompok tertentu untuk menyajikan temuannya didepan kelas. 13. Guru memberikan umpan balik dan evaluasi atas materi yang telah dipresentasikan oleh siswa secara singkat (Teaching Group). 14. Guru memberikan skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesiakan tugas (Teams scores and teams recognition). 15. Guru memberikan tugas/PR soal cerita secara individual kepada para siswa tentang mareri pokok yang akan dipelajari. 16. Guru membubarkan kelompok yang dibentuk dan siswa kembali ketempat duduk masing-masing. 17. Menjelang akhir waktu pembelajaran guru mengulang secara klasikal tentang strategi pemecahan soal cerita. 18. Siswa bersama guru merangkum pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah (Whole-class Unit).

19. Guru memberikan tes formatif sesuai dengan kompetensi yang ditentukan (Suyitno, 2007:12-13). Kekuatan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC antara lain: 1. kreatif dan menyenangkan. 2. Melatih siswa untuk bekerja secara kelompok, melatih keharmonisan, dalam hidup bersama atas dasar saling menghargai (Life Together). Kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC antara lain: 1. CIRC sangat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal cerita. 2. Dominasi guru dalam proses pembelajaran berkurang. 3. Pelaksanaan program sederhana. 4. Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok. 5. Mengurangi perilaku siswa yang mengganggu. 6. Mengurangi konflik antar pribadi. 7. Membantu siswa yang lemah. 8. Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesiakan soal cerita. 9. Siswa dapat memberikan tanggapannya secara bebas. 10. Dilatih untuk dapat bekerja sama dan menghargai pendapat orang lain. Kelemahan dari model pembelajaran kooperatif tipe CIRC, yaitu pada saat presentasi hanya siswa yang aktif saja yang tampil. F. 1. Linear Tinjauan Materi Pertidaksamaan Satu Variabel Pengertian Selang dan Penyelesaian Pertidaksamaan Menunjang munculnya pembelajaran aktif,

a.

Pengertian Selang Misalkan R adalah himpunan bilangan real. Dari himpunan

bilangan real R itu dapat ditentukan himpunan-himpunan bagian dari R sesuai dengan kebutuhan, sebagai contoh: 1) 2) 3) 4) {x | x < 3, x ∈ R} {x | x ≥ 1, x ∈ R} {x | 2 < x < 4, x ∈ R} {x | - 1 ≤ x ≤ 3, x ∈ R} Himpunan-himpunan bagian dari himpunan bilangan real R seperti contoh diatas dinamakan selang atau interval. Suatu selang dapat digambar pada garis bilangan real berbentu ruas garis atau segmen garis yang menyatakan selang tersebut digambarkan dengan garis yang lebih tebal. Misal, grafik selang pada contoh diatas diperlihatkan pada gambar: -2 -1 0 1 2 3 4 (a) {x | x < 3, x ∈ R} -2 -1 0 1 2 3 4 (b) {x | 2 < x < 4, x ∈ R}

-2 -1 0 1 2 3 4 (c) {x | x ≥ 1, x ∈ R} R}

-2 -1 0 1 2 3 4 (d) {x | - 1 ≤ x ≤ 3, x ∈

Ada 8 macam kemungkinan selang atau interval yang sering dijumpai dalam menyelesaikan suatu pertidaksamaan. Kedelapan macam selang beserta grafiknya disajikan dalam tabel dibawah ini. Dalam tabel itu p dan q masing-masing merupakan bilanganbilangan real dengan p < q. No. 1. 2. 3. Selang atau interval p<x<q p≤x≤q p≤x<q Grafik selang p p p p q q q q

4. 5. 6. 7. 8. b. 1) 2) 3) 4) (satu).

p<x≤q x<q x≤q x>p x≥p Pertidaksamaan Linear 2x – 1 < 0 6x + 4 ≤ 0 3x –6 > 0 2x – 5 ≥ 0 Pertidaksamaan yang berciri demikian dinamakan p p q q

Perhatikan beberapa contoh pertidaksamaan berikut:

Setiap pertidaksamaan tersebut memuat variabel X 2erpangkat 1 pertidaksamaan linear dalam variabel x. Bentuk baku dari pertidaksamaan linear dalam variabel x ada 4 macam yaitu: 1) 2) 3) 4) ax + b < 0 ax + b > 0 ax + b ≤ 0 ax + b ≥ 0 Penyelesaian pertidaksamaan linear satu

Dengan a dan b bilangan real dan a ≠ 0. c. variabel Menyelesaikan sebuah pertidaksamaan linear satu variabel dapat diartikan sebagai mencari bentuk yang paling sederhana dari pertidaksamaan linear itu. Penyelesaian dari suatu pertidaksamaan diperoleh dengan proses manipulasi aljabar untuk menentukan penyelesaian suatu pertidaksamaan digunakan sifat-sifat berikut: 1) Jika kedua ruas suatu pertidaksamaan ditambah atau dikurangi dengan bilangan yang sama, maka tanda pertidaksamaan tetap.

2)

Jika

kedua

ruas

suatu

pertidaksamaan dikali atau dibagi dengan bilangan yang sama, maka tanda pertidaksamaan tetap. 3) Jika kedua ruas suatu pertidaksamaan dikali atau dibagi dengan bilangan negatif yang sama, maka tanda pertidaksamaan berbalik. Sebagai ilustrasi dari sifat-sifat diatas misalkan p, q, dan r adalah bilangan-bilangan real dengan p > q, maka: 1) p ± r > q ± r 2) p . r > q . r untuk r > 0 3) p . r < q . r, untuk r < 0 4) 5)
p q > , untuk r > 0 r r
p q < , untuk r < 0 r r

Contoh: Carilah himpunan penyelesaian dari setiap pertidaksamaan linear berikut. 1) 2x – 1 < 0 2) 3x – 6 > 0 Penyelesaian: 1) 2x – 1 < 0 2x < 1 x<
1 2

Jadi himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah {x | x < 2) 3x – 6 > 0 3x > 6 x>2
1 } 2

Jadi himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah {x | x > 2} d. Pertidaksamaan Pecahan

Tiap pertidaksamaan diatas memuat variabel x pada bagian penyebut dari suatu pecahan. Pertidaksamaan yang berciri demikian disebut pertidaksamaan bentuk pecahan. Ada 4 macam bentuk baku dari pertidaksamaan bentuk pecahan, yaitu: 1) 2) 3) 4)
f ( x) <0 g ( x) f ( x) ≤0 g ( x) f ( x) >0 g ( x) f ( x) ≥0 g ( x)

Dengan f(x) dan g(x) merupakan fungsi-fungsi dalam x dengan g(x) ≠ 0, secara umum penyelesaian atau himpunan penyelesaian pertidaksamaan
f ( x) > 0 dan g ( x)

pecahan

berbentuk

f ( x) <0 , g ( x)

f ( x) ≤0 , g ( x)

f ( x) ≥ 0 dapat ditentukan melalui langkahg ( x)

langkah sebagai berikut: Langkah 1: Carilah nilai-nilai nol bagian pembilang dan bagian penyebut dari bentuk pecahan Langkah 2: Gambarlah nilai-nilai nol itu pada diagram garis bilangan, sehingga diperoleh interval-interval. Langkah 3:
f ( x) , yaitu f(x) = 0 dan g(x) = 0. g ( x)

Tentukan tanda-tanda interval dengan cara mensubstitusikan nilainilai uji yang berada dalam masing-masing interval. Langkah 4: Berdasarkan tanda-tanda interval yang diperoleh pada langkah 3, kita dapat menentukan interval yang memenuhi. Dalam menentukan interval yang memenuhi itu, perlu diingat adanya syarat bahwa bagian penyebut tidak boleh sama dengan nol atau g(x) ≠ 0. Contoh: Carilah himpunan penyelesaian pertidaksamaan pecahan berikut: 1) 2)
2x − 4 ≤0 4x + 4

4 x −1 ≤2 x +2

Penyelesaian: 1) = 0 ⇒x = 2 Nilai nol bagian penyebut : 4x + 4 = 0 ⇒ x = -1 Nilai-nilai nol pembilang dan penyebut serta tanda-tanda interval diperlihatkan pada gambar + + Nilai nol bagian pembilang : 2x – 4

-1 2 Dengan mengingat bahwa bagian penyebut tidak boleh sama dengan nol, maka 4x + 4 ≠ 0 ⇒ x ≠ -1 Jadi himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah { x | -1 < x ≤ 2} 2)
4 x −1 ≤2 x +2

4 x −1 −2 ≤ 0 x +2 4 x −1 2( x + 2) − ≤0 x +2 x +2 4 x −1 − 2 x − 4 ≤0 x +2 2x −5 ≤0 x +2

+ -2

-

+ 2 1/2

nilai nol bagian pembilang: 2x – 5 = 0 → x = 2 ½ nilai nol bagian penyebut: x + 2 = 0 → x = -2 nilai-nilai nol dan tanda-tanda interval diperlihatkan pada gambar Bagian penyebut tidak boleh sama dengan nol, maka x + 2 ≠ 0 → x≠ -2 Jadi himpunan penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah { x | -2 < x ≤ 2 ½ } e. Merancang Model Matematika yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel Masalah pertidaksamaan satu variabel bisa dipecahkan melalui langkah-langkah sebagai berikut: 1) 2) 3) model matematika. 4) hasil yang diperoleh. Untuk memahami bagaimana memecahkan masalah yang berkaitan dengan model matematika yang berbentuk pertidaksamaan satu variabel, simak ilustrasi berikut ini: Jumlah dua buah bilangan asli kurang dari 20. Jika bilangan pertama sama dengan 6, tentukan batas-batas bilangan yang kedua. Berikan tafsiran terhadap Tentukan Rumuskan besaran dalam masalah yang dirancang sebagai variabel pertidaksamaannya. pertidaksamaan yang merupakan model matematika dari masalah. Tentukan penyelesaian dari

Dari kalimat “Jumlah dua buah bilangan asli kurang dari 20” merupakan indikator bahwa masalah tersebut berkaitan dengan model matematika pertidaksamaan satu variabel. Selanjutnya masalah dipecahkan sebagai berikut! 1) sama dengan 6, bilangan kedua degan x 2) Berdasarkan dalam hubungan 3) Penyelesaian model matematika 6 + x < 20 ditentukan sebagai berikut: 6 + x < 20 x < 20 – 6 x < 14 4) Jadi bilangan kedua terletak dalam batas x < 14 5) Contoh: Jumlah dua bilangan tidak kurang dari 100 dan bilangan kedua sama dengan 3 kali bilangan pertama. Tentukan batas-batas nilai dari kedua bilangan tersebut! Jawab: Memberikan tafsiran terhadap hasil yang diperoleh. soal, atau ketentuan diperoleh ekspresi Menentukan penyelesaian dari model matematika dimisalkan sama Merumuskan model matematika dari masalah Menentukan besaran dalam Bilangan pertama diketahui masalah sebagai variabel x

matematika 6 + x < 20

Misalkan bilangan pertama x maka bilangan kedua = 3x Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal, diperoleh model matematika: x + 3x ≥ 100 4x ≥ 100 Model matematika yang berbentuk ketidaksamaan linear satu variabel itu diselesaikan sebagai berikut: 4x ≥ 100 x ≥ 25 Jadi bats-batas nilai bilangan pertama tidak kurang dari 25 dan batas-batas nilai bilangan kedua tidak kurang dari 75. G. Kerangka Berfikir Keberhasilan pembelajaran merupakan dambaan dari setiap guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik. Dengan segala upaya yang diterapkan untuk mencapai keberhasilan dalam melaksanakan pendidikan, guru membimbing siswa sehingga mereka dapat mengembangkan pengetahuannya seuai dengan mata pelajaran yang dipelajarinya. Untuk mencapai keberhasilan guru harus memilih model pembelajaran yang tepat untuk dapat diterapkan dalam pembelajarannya. Dengan mengimplementasikan pembelajaran kooperatif guru berupaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel. Cara yang dipilih dengan mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Pengertian model pembelajaran kooperatif tipe CIRC adalah untuk memecahkan soal cerita meliputi rangkaian kegiatan bersama yang spesifik, yakni salah satu anggota kelompok atau beberapa anggota saling membaca soal, membuat prediksi, atau menafsirkan isi soal termasuk menuliskan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan dengan suatu variabel tertentu, saling membuat ikhtisar atau rencana isi soal cerita,

menuliskan penyelesaian soal cerita secara urut dan saling merevisi dan mengedit pekerjaan atau penyelesaian (Suyitno, 2007:12). Dengan model tersebut diharapkan para siswa dapat meningkatkan daya nalar dan kreatifitas serta rasa sosial yang tinggi. Berdasarkan kerangka berfikir diatas, peneliti beranggapan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat diterapkan dalam sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel. H. Hipotesis Tindakan Berdasarkan uraian kerangka berfikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bahwa melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkan masalah, keaktifan dan kerjasama siswa pada sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel siswa kelas X 2 SMA Negeri 3 Rembang Tahun Pelajaran 2008/2009. III.METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini pada dasarnya merupakan penelitian tindakan kelas, yaitu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa di dalam kelas pada pelajaran matematika dan pemahaman siswa saat mengikuti pelajaran yang dapat dilihat pada nilai harian siswa. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tindakan untuk menyelesaikan masalah dalam pembelajaran dan aplikasi pada situasi pembelajaran matematika. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagaimana tindakan untuk meningkatkan hasil belajar matematika didalam kelas (Suharsimi, 2006:102). B. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam penelitian tindakan kelas X 2 semester I SMA Negeri 3 Rembang tahun pelajaran 2008/2009. Kelas X dipilih

sebagai subjek penelitian berdasarkan perimbangan dari guru matematika, salah satunya adalah untuk meningkatkan hasil belajarnya. C. Variabel Penelitian Agar mampu menjawab permasalahan dalam penelitian ini, ada beberapa variabel yang ingin diselidiki, antara lain yaitu: 1. a. dalam Variabel Siswa Peningkatan hasil belajar matematika siswa soal setelah diterapkannya model menyelesaikan

pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada kelas X 2 semester I SMA Negeri 3 Rembang tahun pelajaran 2008/2009. b. Peningkatan keaktifan dan kerjasama siswa kelas X 2 semester I SMA Negeri 3 Rembang pada saat pembelajaran kooperatif tipe CIRC. 2. Variabel Guru Melihat cara guru merencanakan pembelajaran dan bagaimana pelaksanaan di dalam kelas bila telah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC pada pembelajaran matematika. D. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kelas dengan bentuk penelitian tindakan, karena permasalahan yang dihadapi dialami oleh peneliti, maka solusinya dirancang berdasarkan kajian teori pembelajaran dan input dari lapangan. Adapun rancangan solusi yang dimaksud adalah tindakan berupa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dalam mengajarkan pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel di SMA Negeri 3 Rembang. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus yaitu mencakup 4 tahapan yang meliputi tahap (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi. 1. a. Siklus I Perencanaan

1) 2) 3) 4)

Mengidentifikasi Menentukan pokok bahasan Merancang Menyiapkan membentuk rencana

permasalahan dan merumuskan masalah. yang akan diajarkan pada materi pertidaksamaan satu variabel. kelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 orang. pembelajaran (RP) dengan materi sebagai berikut pernyataan, nilai kebenaran dan kalimat terbuka. 5) diperlukan. 6) siswa (LKS) siklus I. 7) 8) pembelajaran. 9) waktu 40 menit. b. 1) Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 1 Pada pertemuan ini guru menyampaikan materi dilanjutkan dengan pemberian LKS yang harus diselesaikan oleh siswa secara berkelompok dan memberi soal kuis. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Pendahuluan: a) absen. Guru membuka pelajaran dengan salam dan Menyusun kisi-kisi dan soal tes hasil belajar siklus I terdiri dari 10 soal dengan alokasi Membuat lembar pengamatan Mempersiapkan lembar model pembelajaran CIRC untuk guru. observasi siswa untuk mengetahui reaktifan siswa dalam Menyiapkan lembar kerja Menyiapkan prasarana yang

b) c) Kegiatan Inti: a) b) c) d) e)

Menyampaikan tujuan pembelajaran Memberi contoh-contoh latihan Dengan tanya jawab dibahas pengertian Guru meminta siswa untuk membentuk Siswa mengerjakan LKS secara kelompok Guru memantau kerja tiap-tiap kelompok Guru meminta satu atau dua siswa untuk

pertiksamaan satu variabel. kelompok tiap kelompok 4 orang. berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan. mempresentasikan kerja kelompoknya dan kelompok lain menanggapinya. f) Guru mengamati hasil temuan masingmasing kelompok, memberi pujian bagi kelompok yang berhasil dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil. g) h) i) j) k) Penutup: a) b) dirumah. c. Observasi Guru membimbing siswa untuk merangkum Guru memberi soal untuk dikerjakan materi pertidaksamaan satu variabel. Guru mengulang secara klasikal tentang Siswa mengerjakan soal latihan. Beberapa siswa diminta untuk materi yang diajarkan sebelumnya.

mempresentasikan jawabannya. Guru mengamati dan memberi tanggapan Guru memberikan kuis.

1)

Guru

Kinerja guru dalam model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ini meliputi orientasi siswa terhadap pembelajaran, mengkoordinasikan siswa dalam kelompok-kelompok, mengamati siswa dalam kelompok, membimbing siswa dalam kelompok, membimbing siswa dalam menyajikan hasil kelompok serta membimbing untuk membuat rangkuman. 2) Siswa Pengamatan terhadap siswa meliputi perhatian saat diterangkan, mengelompokkan 4 anak, bekerja sama dalam kelompok, mengerjakan LKS secara kelompok, keberanian untuk bertanya, keberanian untuk mempresentasikan, membuat kesimpulan, mampu mengerjakan soal secara individu, dan mengikuti pelajaran dengan tertib. d. Refleksi Merupakan analisis hasil pengamatan dan evaluasi tahapantahapan pada siklus I dan refleksi dilaksanakan setelah pelaksanaan siklus I selesai. Refleksi ini dilakukan dengan kerja sama antara guru dan peneliti yang kemudian hasilnya digunakan sebagai acuan dalam menentukan tindakan selanjutnya dalam siklus II. 2. a. Siklus II Perencanaan Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka diadakan perencanaan ulang, rencana yang dibuat sama dengan rencana pada siklus I, hanya sebagian kelompok yang siswanya tidak aktif diadakan penggeseran dengan kelompok yang sudah aktif, dengan harapan agar siswa dapat menyesuaikan. Adapun tahapan sebagai berikut: 1) variabel. Menyiapkan rencana pelaksanaan siklus II yaitu tentang pertidaksamaan satu

2) 3) berlangsung. 4) 5) 6) b. 1)

Menyusun

skenario

pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui kondisi pada saat proses pembelajaran Membuat LKS untuk

dikerjakan oleh siswa secara kelompok. Guru menyusun kelompok. Menyusun kisi-kisi soal tes. Pelaksanaan Tindakan Pertemuan 2 Pada pertemuan ini guru menyampaikan materi dilanjutkan dengan pemberian LKS yang harus diselesaikan oleh siswa secara berkelompok dan memberi soal kuis. Kegiatan pembelajaran ini dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Pendahuluan: a) absen. b) c) Kegiatan Inti: a) b) c) secara kelompok kooperatif tipe CIRC. Dengan Guru tanya meminta jawab siswa dibahas pengertian pertidaksamaan satu variabel. untuk membentuk kelompok tiap kelompok 4 orang. Siswa mengerjakan LKS berdasarkan model pembelajaran Menyampaikan tujuan pembelajaran Memberi contoh-contoh latihan. Guru membuka pelajaran dengan salam dan

d) tiap-tiap e) kelompok lain menanggapinya. f) kelompok dan mengalami kesulitan.

Guru

memantau siswa

kerja yang

membimbing

Guru meminta satu atau

dua siswa untuk mempresentasikan kerja kelompoknya dan Guru mengamati hasil

temuan masing-masing kelompok, memberi pujian bagi kelompok yang berhasil dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil. g) h) latihan. i) j) memberi tanggapan k) Penutup: a) b) dikerjakan dirumah. c. 1) meliputi mengorientasi siswa Observasi Guru siswa kedalam dalam pembelajaran, Kinerja guru dalam pembelajaran kooperatif tipe CIRC mengorganisasi kelompok-kelompok, Guru membimbing siswa untuk Guru memberi soal untuk merangkum materi pertidaksamaan satu variabel. Guru memberi kuis. Beberapa siswa diminta Guru mengamati dan untuk mempresentasikan jawabannya. Guru mengulang secara Siswa mengerjakan soal klasikal tentang pertidaksamaan satu variabel.

mengamati siswa dalam kerja kelompok, membimbing siswa dalam kelompok, memberi evaluasi individual.

2)

Siswa

Pengamatan terhadap siswa meliputi perhatian terhadap pelajaran saat diterangkan, siswa mengelompok 4 anak, bekerja sama dalam kelompok, berani mempresentasikan, memiliki keberanian untuk bertanya, mampu menarik kesimpulan, mampu mengerjakan soal secara individu, mengikuti pembelajaran dengan tertib. d. Refleksi

Refleksi pada siklus II dilakukan setelah tahap implementasi dan observasi selesai. Refleksi pada siklus II meliputi hasil observasi dan hasil evaluasi siklus II yang digunakan untuk menarik kesimpulan apakah penelitian yang dilakukan sudah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan. Diharapkan setelah akhir siklus II ini, implementasi model pembelajaran kooperatif tipe CIRC dapat meningkatkan hasil belajar.

E. 1.

Metode Pengumpulan Data Metode Tes Tes adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Arikunto, 2002: 53). Metode ini digunakan untuk mengambil data tentang hasil belajar siswa pada pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel. 2. Observasi Observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja, sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejala-gejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Metode ini digunakan untuk mengambil data tentang proses pembelajaran pada saat dilaksanakannya tindakan.

3.

Angket Angket dimanfaatkan untuk mengetahui pendapat siswa setelah

diajarkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC. Angket yang digunakan adalah angket langsung dimana siswa dimintai langsung untuk mengisinya. F. Uji Instrumen Instrumen dalam penelitian ini berupa soal tes berbentuk subjektif (soal uraian). Soal tes tersebut adalah tes yang diberikan setelah materi sub pokok bahasan-bahasan tersebut selesai. Prosedur yang akan ditempuh dalam pengadaan instrumen adalah: 1. 2. 3. 4. Perencanaan Penulisan butir soal Penyulingan yaitu melengkapi instrumen dengan Pengamatan hasil Pembuatan kisi-kisi soal.

petunjuk dan kunci jawaban. Dilakukan dengan cara mengukur validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran dan daya pembeda. a. Untuk Validitas mendapatkan instrumen yang baik peneliti

melakukan validitas butir soal dengan menggunakan rumus korelasi product moment angka kasar, yaitu:

rxy =

{ N ( ∑ X ) − ( X ) } − {N ( ∑ Y ) − ( ∑ Y ) }
2 2 2 2

N ∑ XY − ( ∑ X )( ∑ Y )

Keterangan:
rxy

= Kooefisien korelasi tiap item = Banyaknya objek yang diuji = Jumlah skor item = Jumlah skor total

N
X ∑ Y ∑

∑X
Y ∑

2

= Jumlah kuadrat skor item = Jumlah kuadrat skor total

2

X ∑ Y = Jumlah perkalian skor item dan skor total.

Hasil perhitungan kemudian dikonsultasikan dengan harga r kritis product moment dengan ketentuan rxy > rtabel maka soal dikatakan valid dengan taraf signifikan 5%. Setelah dapat harga
rxy

, lalu dikonsultasikan dengan kriteria: = sangat rendah = rendah = cukup = tinggi = sangat tinggi

Antara 0,00 sampai 0,20 Antara 0,21 sampai 0,40 Antara 0,41 sampai 0,60 Antara 0,61 sampai 0,80 Antara 0,81 sampai 1,00 (Arikunto, 2002: 75)

b.

Reliabilitas Reliabilitas menunjuk pada satu pengertian bahwa sesuatu

instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Suharsimi Arikunto, 1998: 170). Untuk menguji reliabilitas tes akan digunakan rumus Alpha yaitu:
2  k   Σσ b  r11 =  1 − 2   k − 1  σ t   

Keterangan:
r11

: reliabilitas yang dicari : banyaknya butir soal
2

k Σσ b

: jumlah varian skor tiap-tiap butir : varian tabel

σt 2

Rumus varian butir soal:

Σσ b =
2

2 Σ Χ−

( Σ Χ2 )
Ν

Ν

Setelah diperoleh r11 kemudian dikonsultasikan dengan harga r product moment. Instrumen dikatakan reliabel jika
r11 > rtabel .

Klasifikasi reliabilitas: 0,81 ≤ r11 ≤ 1,00 = sangat tinggi 0,61 ≤ r11 ≤ 0,80 = tinggi 0,41 ≤ r11 ≤ 0,60 = cukup 0,21 ≤ r11 ≤ 0,40 = rendah 0,01 ≤ r11 ≤ 0,20 = sangat rendah (Arikunto, 2002: 75)

c.

Taraf Kesukaran Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau

tidak terlalu sukar. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal disebut indeks kesukaran.
Ρ= S × 100 % Ν

Keterangan: P : indeks kesukaran S : banyaknya siswa yang menjawab salah N : jumlah seluruh peserta Dalam penelitian ini kriteria yang digunakan adalah sebagai berikut: 0% < P < 27% = butir soal mudah 27% < P < 72% = butir soal sedang 72% < P < 100% = butir soal sukar

(Arifin, 1991: 135) d. berikut: Daya Pembeda Untuk menentukan daya pembeda digunakan rumus sebagai

t=

Μ Η− ΜL
2 2 Σ Χ+Σ Χ 1 2 ni ( ni − 1)

Keterangan: MH ML : rata-rata dari kelas atas (high group) : rata-rata dari kelas bawah (lower group)

ΣΧ2 : jumlah kuadrat simpangan dari HG 1 ΣΧ2 : jumlah kuadrat simpangan dari LG 2

t ni

: daya pembeda : 27% × N Hasil perhitungan dikonsultasikan dengan tabel dengan

(Arifin, 1991: 141) taraf signifikan 5%. Jika t hit > t tabel dengan dk = ( n1 − 1)( n2 − 1) maka soal mempunyai daya pembeda yang signifikan. G. Metode Analisis Data Analisis data dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar secara individual dan klasikal. 1.
X =

Menghitung nilai rata-rata

∑x
N

Keterangan:
X

= Nilai rata-rata

x ∑ = Jumlah seluruh nilai

N 2.

= Jumlah siswa Menghitung ketuntasan belajar

a.

Ketuntasan belajar individual Data yang diperoleh dari kemamp;uan siswa menyelesaikan

masalah dapat ditentukan ketuntasan belajar individu dengan menggunakan analisis deskriptif. Presentase dengan perhitungan:
jumlah nilai yang diperoleh setiap siswa ×100% jumlah seluruh siswa

b.

Ketuntasan belajar klasikal Data yang diperoleh dari kemampuan siswa menyelesaikan

soal dapat ditentukan ketuntasan belajar klasikal menggunakan analisis presentase dengan perhitungan:
Jumlah nilai yang diperoleh tiap siswa yang tuntas ×100 % Jumlah seluruh siswa

Untuk mengetahui seberapa besar keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar, maka dilakukan analisis pada instrumen lembar observasi dengan rumus: Prosentase (%) = Keterangan: n N Kriteria: > 70% Pemahaman, keaktifan, dan kemampuan siswa sangat baik. 60%-70% Pemahaman, keaktifan dan kemampuan siswa baik 50%-60% Pemahaman, keaktifan dan kemampuan siswa cukup < 50% H. 1. 2. Pemahaman, keaktifan dan kemampuan siswa kurang = Skor yang diperoleh tiap siswa = Jumlah skor maksimal
n × 100 % N

Indikator Keberhasilan Ketuntasan lebih dari atau sama dengan 85% Rata-rata kelas 70,0 (diukur berdasarkan capaian nilai minimal 65).

Indikator

keberhasilan

tersebut

ditetapkan

karena

berdasarkan

pengalaman peneliti, hasil belajar sub pokok bahasan pertidaksamaan satu variabel pada tahun sebelumnya lebih rendah dari indikator tersebut. 3. Siswa dapat meningkatkan keaktifan dalam pembelajaran, siswa yang aktif bertanya tentang hal-hal yang belum jelas kepada guru atau siswa lain mencapai 85% dari keseluruhan jumlah siswa. Kriteria prosentase keaktifan siswa: Rata-rata > 75% Rata-rata < 60% 4. = Keaktifan siswa tinggi = Keaktifan siswa rendah Guru dapat meningkatkan kemampuannya membuat 60% ≤ Rata-rata ≤ 75% = Keaktifan siswa sedang

rencana pelaksanaan pembelajaran sehingga guru mampu menguasai kelas dengan baik, sehingga guru tersebut mendapat skor A yang merupakan penilaian terhadap guru yang mengajar dengan baik. I. Sistematika Penulisan Skripsi HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN ABSTRAK MOTTO DAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN BAB I PENDAHULUAN A. B. C. D. Pemecahan Masalah E. Penelitian Tujuan dan Manfaat Latar Belakang Penegasan Istilah Permasalahan Rumusan

F. Penulisan Skripsi BAB II LANDASAN TEORI A. B. Mengajar C. Belajar D. Pembelajaran Kooperatif E. Pembelajaran Kooperatif tipe CIRC F. G. H. Tindakan BAB III METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. H. A. B. C. BAB V PENUTUP A. Simpulan

Sistematika

Pengertian belajar Proses Pengertian Model Model Tinjauan Materi Kerangka Berfikir Hipotesis Belajar Hasil

Jenis Penelitian Subjek Penelitian Variabel Penelitian Desain Penelitian Metode Pengumpulan Data Uji Istrumen Metode Analisis Data Indikator Keberhasilan Pelaksanaan Penelitian Laporan Data Analisis Hasil Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B.

Saran

DAFTAR PUSTAKA Anita Lie. 2002. Cooperative Learning. Jakarta: PT Grasindo Arifin, Zaenal. 1991. Evaluasi Instruksional. Bandung: PT Remaja Roesdakarya Arikunto, Suharsimi. 2002. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Bumi Aksara Arikunto, Suharsimi, dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Rineka Cipta

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Fatirul, Ahmad Noor. 2008. Cooperative Learning. http://trimanjuniarso.files.wordpress.com/2008/02/c00perative_learning. pdf: 25 Mei 2008

Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang Press Johanes. 2003. Kompetensi Matematika 1B. Jakarta: Yudistira Poerwadarminto, W. J. S. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Purwanto, Ngalim. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosadakarya Rahmat. 2008. Model-Model Pembelajaran yang Efektif. http://ktsp.diknas.go.id/download/ktsp_sma/14.ppt: 25 Mei 2008 Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Suyitno, Amin. 2007. Pemilihan Model-Model Pembelajaran dan Penerapannya di SMP. Semarang: FPMIPA UNNES Wilis Dahar, Ratna. 1996. Teori-Teori Belajar. Bandung: Erlangga Wirodikromo, Sartono. 2006. Matematika Untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG Jl. Lontar No.1 (Sidodadi Timur) Telp. (024) 8316227 Semarang REKAPITULASI PROSES BIMBINGAN SKRIPSI Tanggal Kegiatan Tanda Tangan

Pembimbing I

Semarang, Mengetahui, Pembimbing I Mahasiswa ybs

2008

Drs. Djoko Purnomo, MM. NIP.131 280 607

Yuni Wiwindari NPM. 05310160

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM IKIP PGRI SEMARANG Jl. Lontar No.1 (Sidodadi Timur) Telp. (024) 8316227 Semarang

REKAPITULASI PROSES BIMBINGAN SKRIPSI Tanggal Kegiatan Tanda Tangan Pembimbing II

Semarang, Mengetahui, Pembimbing II

Juni 2008

Mahasiswa ybs

Drs. Sudargo, M.Si NIP. 131 996 657

Yuni Wiwindari NPM. 05310160

KISI-KISI SOAL UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN Mata Pelajaran : Matematika Materi Pokok Bentuk Soal Kompetensi Dasar 2. Merancang matematika yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel, menyelesaikan modelnya, dan menafsirkan b. a. model Menjelaskan masalah variabel. yang karakteristik berbentuk satu 4, 5 : Pertidaksamaan Satu Variabel : Uraian Indikator Banyak Soal 1, 2, 3 Kelas/Semester : X/I

pertidaksamaan

hasil yang diperoleh.

Menentukan masalah sebagai

besaran yang

dalam variabel 6

dirancang

pertidaksamaannya. c. Merumuskan yang d. Menentukan model matematika e. Memberikan tafsiran terhadap solusi dari masalah. f. penyelesaian dari model pertidaksamaan model merupakan

matematika dari masalah.

7,8

9, 10

SOAL UJI COBA ISNTRUMEN PENELITIAN Mata Pelajaran : Matematika Materi Pokok Waktu Petunjuk Umum: 1. Tuliskan terlebih dahulu nama, kelas, dan nomor absen pada lembar jawaban yang tersedia. 2. Semua jawaban dikerjakan dilembar jawaban yang telah tersedia. : Pertidaksamaan Satu Variabel : 2 × 45 Menit Kelas/Semester : X/I

3. Bacalah soal dengan teliti sebelum mengerjakan jawaban. 4. Dahulukan menjawab soal yang kamu anggap mudah. Petunjuk Khusus: Kerjakan soal dibawah ini dengan jawaban yang benar! 1. nilai dari kedua bilangan itu? 2. Jumlah dua bilangan asli tidak kurang dari 40 tetapi tidak lebih dari 90. Diketahui pula bahwa bilangan pertama sama dengan 30. Carilah nilai-nilai batas bagi bilangan kedua? 3. Dari soal nomor dua di atas, jika bilangan kedua ditetapkan merupakan kelipatan dari 10, tentukan bilangan-bilangan kedua itu dan tentukan bilangan kedua yang terkecil dan bilangan kedua yang terbesar? 4. Jumlah dua bilangan asli tidak kurang dari 400 tetapi tidak lebih dari 600. Bilangan kedua sama dengan tiga kali bilangan pertama. Tentukan nilai-nilai batas bagi bilangan pertama dan bilangan kedua? 5. Ali, Badu, dan Carli mengikuti ujian ulangan matematika. Nilai yang diperoleh Badu lebih sedikit dari nilai yang diperoleh Carli, sedangkan jumlah nilai yang diperoleh Ali dan Badu lebih banyak daripada dua kali nilai yang diperoleh Carli. Siapakah yang memperoleh nilai tertinggi? 6. Panjang dan lebar persegi panjang ABCD masing-masing 30 cm dan 20 cm. Bagian tepi-tepi persegi panjang itu dipotong selebar x cm sehingga diperoleh persegi panjang PQRS. Keliling persegi panjang PQRS tidak lebih dari 52 cm. tentukan batas-batas panjang pemotongan yang dapat dilakukan! 7. Pak Ahmad membeli sepeda motor bekas pakai seharga Rp.7.400.000,00. Sepeda motor itu dijual kembali dan pak Jumlah dua bilangan tidak kurang dari 100 dan bilangan kedua sama dengan tiga kali bilangan pertama. tentukan batas-batas

Ahmad mengharap laba yang tidak kurang dari Rp. 600.000,00. Tentukan nilai batas harga jual sepeda motor itu? 8. Seorang pedagang menjual 1 kuintal barang dengan harga Rp. 332.500,00. Ternyata pedagang itu mengalami kerugian, tetapi kerugiannya tidak lebih dari 5% dari harga belinya. Tentukan batasbatas harga jual pembelian beras tiap kg? 9. Panjang sebuah besi beton tidak lebih dari 14 m. Besi beton itu dipotong menjadi dua bagian dengan panjang potongan yang pertama 6 m. Hitunglah batas-batas panjang potongan yang kedua? 10. Pada soal nomor 9 diatas jika panjang yang kedua merupakan kelipatan dari 2 meter, tentukan panjang potongan-potongan kedua yang mungkin dan tentukan panjang potongan kedua yang paling panjang?

Nama Kelas Nomor Induk

: .......................................... : .......................................... : .........................................

LEMBAR JAWAB UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... .................................................................................................................................... RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN SIKLUS I Nama Sekolah : SMA Negeri 3 Rembang

Mata Pelajaran Kelas/Semester Pokok Bahasan Alokasi Waktu I. Kompetensi Dasar

: Matematika : X/II : Pertidaksamaan Satu Variabel : 1 × 45 Menit

Merancang model matematika yang berkaitan dengan pertidaksamaan satu variabel, menyelesaikan modelnya, dan menafsirkan hasil yang diperoleh. II. 1. 2. Indikator Menjelaskan karakteristik masalah yang model matematikanya berbentuk pertidaksamaan satu variabel. Menentukan besaran dalam masalah yang dirancang sebagai variabel pertidaksamaannya III. IV. Strategi Pembelajaran Model pembelajaran kooperatif tipe CIRC Media/Sumber Pembelajaran Media V. 1. : LKS Sumber : Buku Paket Matematika Langkah-Langkah Pembelajaran Kegiatan Awal a. Guru membuka pelajaran dengan salam dan absen. b. Menyampaikan tujuan pembelajaran c. Memberi contoh-contoh 2. Kegiatan Inti: a. Dengan tanya jawab dibahas pengertian pertidaksamaan satu variabel. b. Guru meminta siswa untuk membentuk kelompok tiap kelompok 4 orang. c. Siswa mengerjakan LKS secara kelompok berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.

d. Guru e. Guru mempresentasikan menanggapinya.

memantau meminta kerja

kerja satu

tiap-tiap atau dua dan

kelompok siswa kelompok

dan untuk lain

membimbing siswa yang mengalami kesulitan. kelompoknya

f. Guru mengamati hasil temuan masing-masing kelompok, memberi pujian bagi kelompok yang berhasil dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil. g. Guru mengulang secara klasikal tentang pertidaksamaan satu variabel. h. Siswa mengerjakan soal latihan. i. Beberapa jawabannya. j. Guru mengamati dan memberi tanggapan k. Guru memberi kuis. 3. Kegiatan Akhir a. Guru membimbing siswa untuk merangkum materi pernyataan, nilai kebenaran dan kalimat terbuka. b. Guru memberi soal untuk dikerjakan dirumah. VI. 4. 5. Penilaian Penilaian secara kelompok meliputi bekerja sama dalam kelompok, Penilaian secara individu meliputi keberanian untuk bertanya, mengerjakan LKS secara kelompok. keberanian untuk mempresentasikan, membuat kesimpulan, mampu mengerjakan soal secara individu, dan mengikuti pelajaran dengan tertib. siswa diminta untuk mempresentasikan

Kunci Jawaban Soal

1. 3x.

Misalkan bilangan pertama x maka bilangan kedua sama dengan

Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal, diperoleh model matematika. x + 3x ≥ 100 4x ≥ 100 Model matematika yang berbentuk pertidaksamaan linear satu variabel itu diselesaikan sebagai berikut: 4x ≥ 100 x ≥ 25 Jadi batas-batas nilai bilangan prima pertama tidak kurang dari 25 dan batasbatas nilai bilangan kedua tidak kurang dari 75. 2. x. Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal, diperoleh model matematika. 40 ≤ 30 + x ≤ 90 Model matematika yang berbentuk pertidaksamaan linear satu variabel itu diselesaikan sebagai berikut: 30 + x ≤ 90 x ≤ 90 – 30 x ≤ 60 kurang dari 10. 3. 10x. Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal, diperoleh model matematika. 40 ≤ 30 + 10x ≤ 90 Model matematika yang berbentuk pertidaksamaan linear satu variabel itu diselesaikan sebagai berikut: 30 + 10x ≤ 90 10x ≤ 90 – 30 atau 30 + 10 x ≥ 40 10 x ≥ 40 - 30 Misalkan bilangan pertama 30 maka bilangan kedua sama dengan atau 30 + x ≥ 40 x ≥ 40 - 30 x ≥ 10 Misalkan bilangan pertama 30 maka bilangan kedua sama dengan

Jadi batas-batas nilai bilangan kedua adalah tidak lebih dari 60 atau tidak

10 x ≤ 60 ⇒ x ≤ 6

10x ≥ 10 ⇒ x ≥ 1

Jadi batas-batas nilai bilangan kedua adalah tidak lebih dari 6 atau tidak kurang dari 1. Jadi bilangan kedua yang terkecil adalah 1 dan yang terbesar adalah 6 4. 3x. Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal, diperoleh model matematika. 400 ≤ x + 3x ≤ 600 Model matematika yang berbentuk pertidaksamaan linear satu variabel itu diselesaikan sebagai berikut: x + 3x ≤ 600 4x ≤ 600 x≤ 150 atau x + 3x ≥ 400 4 x ≥ 400 x ≥ 100 Misalkan bilangan pertama x maka bilangan kedua sama dengan

Jadi batas-batas nilai bilangan kedua adalah tidak lebih dari 150 atau tidak kurang dari 100. 5. Misalkan nilai yang diperoleh Ali, Badu, dan Carli berturut-turut adalah x, y, dan z. Berdasarkan ketentuan yang ada dalam soal diperoleh model sebagai berikut: y<z x + y > 2z Model matematika dari pertidaksamaan di atas dapat diselesaikan sebagai berikut: Dari hubungan y < z, maka z – y > 0 Dari hubungan x + y > 2z, diperoleh: x + y > 2z x > (z – y). Karena z – y > 0, maka x >z Karena hubungan x > z, maka x > z > y. Jadi yang memperoleh nilai tertinggi adalah Ali, kemudian disusul oleh Carli, dan yang memperoleh nilai terendah adalah Badu.

6.

Pada persegi panjang PQRS, maka panjang PQ = (30-2x) cm dan

lebar QR = (20-2x) cm. Keliling persegi panjang PQRS: K = 2(PQ+QR) K = 2{(30-2x) + (20-2x)} K = 100 – 8x Berdasarkan ketentuan pada soal, keliling persegi panjang PQRS tidak lebih dari 52 cm. Dengan demikian diperoleh model matematika: K ≤ 52 100 – 8x ≤ 52 Penyelesaian dari model matematika tersebut adalah: 100 – 8x ≤ 52 8x ≥ 48 x ≥ 6 Selain itu ada syarat tambahan bahwa panjang PQ = 30 -2x ≥ 0 dan lebar QR = 20 – 2x ≥ 0 30 -2x ≥ 0 x ≥ 15 20 – 2x ≥ 0 x ≥ 10

Gabungan dari x ≥ 6, x ≥ 15 dan x ≥ 10 memberikan solusi 6 ≤ x ≤ 10. Jadi, batas-batas panjang pemotongan yang dapat dilakukan adalah 6 ≤ x ≤ 10. 7. Misal harga beli Rp. 7.400.000,00 Laba yang diharapkan tidak kurang dari Rp. 600.000,00 Maka dapat ditentukan harga jual dengan menggunakan model matematika: Harga jual – harga beli = laba Misalkan harga jual adalah x, maka: x – 7.400.000 ≥ 600.000 x x ≥ 600.000 + 7.400.000 ≥ 8.000.000

Jadi nilai batas harga jual sepeda motor itu adalah tidak kurang dari Rp. 8.000.000,00. 8. Misal harga beli Rp. 332.500,00, kerugian yang dialami tidak lebih dari 5% dari harga belinya. Dan dimisalkan harga jual adalah x, maka akan didapat model matematika: Harga beli – harga jual ≤ 5% 332.500 – x ≤
5 ×332 .500 100

x ≥ 332.500 - 16.625 x ≥ 315.875 Jadi batas harga jualnya tidak kurang dari Rp. 315.875,00 Jadi batas harga jual tiap kg adalah tidak kurang dari Rp. 3.100,00 9. Misalkan panjang besi beton tidak lebih dari 14 m Potongan yang pertama 6m, dimisalkan panjang potongan yang kedua x. Maka diperoleh model matematika: 6 + x ≤ 14 x ≤ 14 – 6 x≤ 8 Jadi batas-batas panjang potongan yang kedua adalah tidak lebih dari 8 meter. 10. Jika panjang kedua adalah kelipatan dari 2 m yaitu 2x, maka akan didapat model matematika: 6 + 2x ≤ 14 2x ≤ 14 – 6 2x ≤ 8 x ≤ 4 Jadi panjang potongan kedua yang mungkin adalah tidak lebih dari 4 meter dan panjang potongan kedua yang paling panjang adalah tidak lebih dari 8 meter.

LEMBAR OBSERVASI AKTIVITAS DISKUSI KELOMPOK Skor 1 2 3 4

No. 1. 2. 3. 4. 5.

Aspek yang diamati Siswa mau dan mampu berdiskusi dalam kelompok Kelompok mampu mengemukakan pendapat atau menjawab pertanyaan. Kelompok yang saling bertanya Kelompok mampu mengerjakan soal latihan pada LKS Kelompok penuh percaya diri dalam mengerjakan soal latihan pada LKS Jumlah Rata-rata

Penilaian: Skor rata-rata = Jumlah skor : jumlah butir. Kriteria: 1 < skor rata-rata ≤ 1,75 = Tidak aktif 1,75 < skor rata-rata ≤ 2,50 = Cukup aktif 2,50 < skor rata-rata ≤ 3,25 = Aktif 3,25 < skor rata-rata ≤ 4 Keterangan: Skor 1 : Ada anggota kelompok yang tidak bekerja dalam kelompok. Skor 2 : Jika dalam bekerja kelompok, siswa bekerja secara individual. Skor 3 : Jika dalam bekerja kelompok, ada 2-3 siswa yang bekerja sama. Skor 4 : Jika dalam bekerja kelompok, ada 3-4 siswa yang bekerja sama. = Sangat aktif

Skor 1 : Jika tidak ada anggota yang presentasi. Skor 2 : Jika ada 2 anggota yang presentasi Skor 3 : Jika ada 3 anggota yang presentasi Skor 4 : Jika ada 4 anggota yang presentasi Skor 1 : Jika tidak ada anggota kelompok yang bertanya Skor 2 : Jika ada 1-2 anggota kelompok yang bertanya Skor 3 : Jika ada 3 anggota kelompok yang bertanya Skor 4 : Jika ada 4 anggota kelompok yang bertanya Skor 1 : Jika siswa mengumpulkan lembar jawab lebih dari waktu yang ditentukan. Skor 2 : Jika siswa mengumpulkan lembar jawab tepat waktu. Skor 3 : Jika siswa mengumpulkan lembar jawab kurang dari 10 menit. Skor 4 : Jika siswa mengumpulkan lembar jawab kurang dari 15 menit. Skor 1 : Jika tidak ada soal evaluasi yang terselesaikan/soal evaluasi terselesaikan tetapi salah semua. Skor 2 : Jika ada 1-2 soal evaluasi yang terselesaikan dengan benar. Skor 3 : Jika ada 3-4 soal evaluasi yang terselesaikan dengan benar. Skor 4 : Jika ada 5 soal evaluasi yang terselesaikan dengan benar.

LEMBAR OBSERVASI UNTUK GURU Jenis Penelitian Responden Petunjuk Pengisian: 11. dalam kelas. 12. Tuliskan hasil pengamatan dengan memberi tanda cek (√) pada setiap indikator sesuai dengan penilaian: A = 4 = Kinerja guru sangat baik B = 3 = Kinerja guru baik C = 2 = Kinerja guru cukup D = 1 = Kinerja guru kurang No. 1. 2. Item yang diamati PENDAHULUAN a. Apersepsi b. Motivasi KEGIATAN INTI a. Penguasaan materi b. Penggunaan metode c. Keterampilan menyampaikan materi d. Mengarahkan siswa akan tugas dan peranannya e. Menciptakan suasana siswa aktif f. Kesesuaian tugas dengan PTK g. Kesesuaian tugas dengan materi h. Ketuntasan tugas i. Bimbingan terhadap kegiatan siswa j. Membuat skor individu dan kelompok k. Guru memberikan penghargaan 1 Sikap penilaian 2 3 4 Pusatkan perhatian pada perilaku guru di : Penelitian Tindakan Kelas : Siswa Kelas X.2

Tempat Pelaksanaan : SMA Negeri 3 Rembang

3.

PENUTUP a. Rangkuman b. Pemberian tugas c. Evaluasi

Skor : A = 4 = Kinerja guru sangat baik B = 3 = Kinerja guru baik C = 2 = Kinerja guru cukup D = 1 = Kinerja guru kurang Skor maksimal : 64 Jumlah penilaian = Jumlah item maksimal dalam skala penilaian ×100 % Kriteria: 81% - 100% = Kinerja guru sangat baik 71% - 80% = Kinerja guru baik 61% - 70 % = Kinerja guru cukup 51% - 60% = Kinerja guru kurang
Jumlah item skala penilaian

LEMBAR OBSERVASI UNTUK SISWA Jenis Penelitian : Penelitian Tindakan Kelas Tempat Pelaksanaan : SMA Negeri 3 Rembang

Responden Petunjuk Pengisian:

: Siswa Kelas X.2

1. Pusatkan perhatian pada perilaku guru di dalam kelas. 2. Tuliskan hasil pengamatan dengan memberi tanda cek (√) pada setiap indikator sesuai dengan penilaian: A = 4 = Kinerja siswa sangat baik B = 3 = Kinerja siswa baik C = 2 = Kinerja siswa cukup D = 1 = Kinerja siswa kurang No. 1. 2. Item yang diamati Kegiatan siswa selama belajar mengajar Kemampuan siswa dalam merangkai konsep-konsep 3. 4. 5. sederhana untuk memahami konsep yang lebih kompleks Kepedulian siswa dalam mengerjakan tugas rumah Siswa dalam mengevaluasi soal-soal atau masalah yang diberikan guru. Keterampilan berfikir siswa dalam menjawab pertanyaan dan mengerjakan 6. 7. 8. soal Keaktifan siswa dalam bertanya saat penjelasan materi Keaktifan siswa dalam menjawab 1 Sikap penilaian 2 3 4

pertanyaan saat penjelasan materi Kemampuan siswa menganalisis masalah atau soal untuk mencari penyelesian Keruntutan siswa dalam mengerjakan lembar tugas

9.

10.

Semangat/kesungguhan siswa selama pembelajaran kooperatif CIRC berlangsung Tingkat kerjasama dalam kelompok untuk menyelesaikan soal-soal Kesesuaian masing-masing kelompok dalam mengerjakan tugas sesuai dengan jobnya. Kesukaran

11. 12.

13. 14. 15.

siswa

dalam

mengikuti

pembelajaran kooperatif CIRC Kecermatan mengambil langkahlangkah dalam mengerjakan tugas Kelancaran siswa dalam mengerjakan lembar tugas. Jumlah

Skor : A = 4 = Kinerja siswa sangat baik B = 3 = Kinerja siswa baik C = 2 = Kinerja siswa cukup D = 1 = Kinerja siswa kurang Skor maksimal = 60

Penilaian : Skor penilaian = Kriteria: Rata-rata > 75% 60% ≤ rata-rata ≤ 75% rata-rata < 60% = Keaktifan siswa tinggi = Keaktifan siswa sedang = Keaktifan siswa rendah
Jumlah item terbanyak dalam skala penilaian Jumlah keseluruha n n item skala penilaian ×100 %

ANGKET KERJA SISWA DAN REFLEKSI SISWA DALAM PEMBELAJARAN SIKLUS I Banyak siswa yang No. Pertanyaan Kerja sama Apakah dengan pembelajaran kelompok membuat kamu senang? menjawab Ya Tidak

1.

2.

Apakah

pembelajaran

kooperatif

CIRC

dapat

3. 4.

meningkatkan kerja sama dalam timmu? Kemampuan bertanya Dengan adanya pembelajaran kooperatif CIRC, apakah membuat kamu lebih berani untuk bertanya? Dengan adanya pembelajaran kooperatif CIRC apakah kamu lebih berani menanggapi pendapat teman? Penghargaan Dengan penghargaan pada pembelajaran kooperatif CIRC, apakah membuat kamu lebih bersemangat dalam belajar? Apakah kamu

5.

6.

senang

dengan

penghargaan

kelompokmu yang dilakukan dalam pembelajaran kooperatif CIRC? Penguasaan materi Apakah pembelajaran membuat 8. kamu

7.

kooperatif

tipe

CIRC, materi

mudah

memahami

pertidaksamaan satu variabel? Apakah dengan pembelajaran kooperatif CIRC materi pertidaksamaan satu variabel dipahami dengan baik? Motivasi Apakah kamu termotivasi untuk belajar lebih giat dengan adanya pembelajaran kelompok? Dengan presentasi di depan kelas apakah membuat kamu termotivasi dalam belajar? Kuis Apakah dengan adanya kuis yang dilakukan setiap selesai pertemuan membuat kamu bersemangat dalam belajar? Apakah kamu senang dengan adanya kuis, karena dapat mengukur kemampuan dalam pertemuan tersebut? Presentasi Apakah dengan presentasi di depan kelas membuat

9. 10.

11.

12.

13.

14.

kamu lebih paham dengan materi yang diajarkan? Apakah presentasi di depan kelas membuat kamu lebih berani tampil di depan kelas? Menghargai pendapat orang lain Dengan pembelajaran kooperatif CIRC apakah membuat temanmu? kamu lebih menghargai pendapat

15.

Skor: Ya =2 Tidak = 1 Skor maksimal = 30 Skor minimal Skor penilaian = Kriteria: Rata-rata > 75% 60% ≤ rata-rata ≤ 75% rata-rata < 60% = Keaktifan siswa tinggi = Keaktifan siswa sedang = Keaktifan siswa rendah = 15
Jumlah item terbanyak dalam skala penilaian Jumlah keseluruha n n item skala penilaian ×100 %

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->