P. 1
ASFIKSIA 2011- 22 mei 2011

ASFIKSIA 2011- 22 mei 2011

|Views: 3,274|Likes:
Published by Lia Meiliyana
618.920 1 Ind m

MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
UNTUK BIDAN

ACUAN

Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI 2011
i

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI 618.920 1 Ind m Indonesia. Departemen Kesehatan RI Manajemen asfiksia bayi baru lahir untuk bidan : buku panduan. - - Jakarta : Departemen Kesehatan, 2005. I. Judul 1. ASPHYXIA NEONATORUM

KATA PENGANTAR Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi yaitu 34/1.000 kelahiran hidup,
618.920 1 Ind m

MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
UNTUK BIDAN

ACUAN

Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI 2011
i

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI 618.920 1 Ind m Indonesia. Departemen Kesehatan RI Manajemen asfiksia bayi baru lahir untuk bidan : buku panduan. - - Jakarta : Departemen Kesehatan, 2005. I. Judul 1. ASPHYXIA NEONATORUM

KATA PENGANTAR Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi yaitu 34/1.000 kelahiran hidup,

More info:

Published by: Lia Meiliyana on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2013

pdf

text

original

Bidan harus mampu melakukan penilaian untuk mengambil keputusan guna
menentukan tindakan resusitasi.

Lakukan penilaian usia kehamilan dan air ketuban sebelum bayi lahir. Segera setelah
lahir, sambil meletakkan & menyelimuti bayi di atas perut ibu atau dekat perineum,
lakukan penilaian cepat usaha napas dan tonus otot. Penilaian ini menjadi dasar
keputusan apakah bayi perlu resusitasi.

Nilai (skor) APGAR tidak digunakan sebagai dasar keputusan untuk tindakan resusitasi
Penilaian harus dilakukan segera sehingga keputusan resusitasi tidak didasarkan
penilaian APGAR; tetapi cara APGAR tetap dipakai untuk menilai kemajuan kondisi
BBL pada saat 1 menit dan 5 menit setelah kelahiran.

Dalam Manajemen Asfiksia, proses penilaian sebagai dasar pengambilan keputusan
bukanlah suatu proses sesaat yang dilakukan satu kali. Setiap tahapan manajemen
asfiksia, senantiasa dilakukan penilaian untuk membuat keputusan, tindakan apa yang
yang tepat dilakukan.

Dalam Bagan Alur Manajemen Bayi Baru Lahir dapat dilihat alur penatalaksanaan bayi
baru lahir mulai dari persiapan, penilaian dan keputusan serta alternatif tindakan apa
yang sesuai dengan hasil penilaian keadaan bayi baru lahir. Untuk bayi baru lahir yang
langsung menangis atau bernapas spontan dan teratur dilakukan asuhan neonatal
normal (lihat Buku APN Bab IV).

PENILAIAN

Sebelum bayi lahir:
Apakah kehamilan cukup bulan ?
Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium
(warna kehijauan) ?

Segera setelah bayi lahir (jika bayi cukup bulan):
Menilai apakah bayi menangis atau bernapas/tidak megap-
megap ?
Menilai apakah tonus otot bayi baik/bayi bergerak aktif ?

KEPUTUSAN

Memutuskan bayi perlu resusitasi jika:
Bayi tidak cukup bulan dan atau
Air ketuban bercampur mekonium dan atau
Bayi megap-megap/tidak bernapas dan atau
Tonus otot bayi tidak baik atau bayi lemas

TINDAKAN

Mulai lakukan resusitasi jika:

Bayi tidak cukup bulan dan atau bayi megap-megap/tidak
bernapas dan atau tonus otot bayi tidak baik/bayi lemas

(lihat bagan alur)

Air ketuban tercampur mekonium:

(lihat bagan alur)

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

9

BAGAN ALUR:
MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR

PERSIAPAN

Bayi cukup bulan
Ketuban jernih
Bayi menangis atau
bernapas
Tonus otot bayi baik/
bayi bergerak aktif

PENILAIAN:

Sebelum bayi lahir:

1. Apakah kehamilan cukup bulan ?
2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ?

Segera setelah bayi lahir:

3. Apakah bayi menangis atau bernapas/ tidak megap-megap ?
4. Apakah tonus otot bayi baik/ bayi bergerak aktif ?

Bayi tidak cukup bulan dan atau
Air ketuban bercampur mekonium
dan atau
Bayi megap-megap atau tidak
bernapas dan atau
Tonus otot bayi tidak baik/ bayi
lemas

A
Manajemen
Bayi Baru
Lahir
Normal

B
Manajemen
Bayi Baru
Lahir
Dengan Asfiksia

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

10

DASAR ASUHAN BBL:

Dalam setiap persalinan, penataksanaan bayi baru lahir menganut beberapa prinsip
yang penting untuk kelangsungan hidup bayi baru lahir diantaranya:

Kering, bersih dan hangat:

Sangat penting bagi semua bayi baru lahir untuk dijaga agar tetap kering, bersih
dan hangat untuk mencegah bayi kedinginan (hipotermi) yang membahayakan.
Prinsip ini tetap dianut dalam penatalaksanaan resusitasi Bayi Baru Lahir dan
terlebih lagi bayi Asfiksia sangat rentan terhadap hipotermi.

Bebaskan dan Bersihkan Jalan Napas BBL:

Bersihkan jalan napas bayi dengan cara mengusap mukanya dengan kain atau
kasa yang bersih dari darah dan lendir segera setelah kepala bayi lahir (masih di
perineum ibu).

Apabila bayi baru lahir segera dapat bernapas secara spontan atau segera
menangis, jangan lakukan pengisapan secara rutin pada jalan napasnya.

Apabila bayi baru lahir tidak bernapas atau bernapas megap-megap, maka
penghisapan lendir amat penting sebagai bagian mutlak dari langkah awal
resusitasi.

Apabila terdapat air ketuban bercampur mekonium, begitu bayi lahir tidak
bernapas atau bernapas megap-megap maka penghisapan lendir sangat
penting dilakukan segera sebelum melakukan pemotongan tali pusat dan
kemudian dilakukan langkah awal

Posisi kepala bayi baru lahir juga amat penting untuk kelancaran jalan napas
sehingga dapat membantu pernapasan bayi. Pada pola persalinan normal, setelah
lahir bayi diletakkan di atas perut ibu yang telah dilapisi kain dan diusahakan agar
letak kepala setengah tengadah lebih (sedikit ekstensi). Pengaturan posisi sangat
penting pada resusitasi BBL.

Rangsangan Taktil:

Mengeringkan tubuh bayi pada dasarnya adalah tindakan rangsangan. Untuk bayi
yang sehat, prosedur tersebut sudah cukup guna merangsang upaya napas. Akan
tetapi untuk bayi dengan Asfiksia, mungkin belum cukup sehingga perlu dilakukan
rangsangan taktil untuk merangsang pernapasan. Ada beberapa tindakan yang
membahayakan bayi dan perlu dihindari, misalnya menekuk lutut kearah perut,
menepuk bokong, meremas dan mengangkat dada, dilatasi spingter ani,
mengguyur air dingin dan hangat bergantian.

ASI:

Penting sekali untuk melakukan inisiasi menyusu dini dalam satu jam setelah bayi
lahir. Bila bayi sudah bernapas normal, lakukan kontak kulit bayi dan kulit ibu
dengan cara meletakkan bayi di dada ibu dalam posisi bayi tengkurap, kepala bayi
menghadap dada ibu, kepala bayi di tengah antara kedua payudara ibu, lalu
selimuti keduanya untuk menjaga kehangatan. Ibu dianjurkan bersabar selama
sekitar 1 jam mengusap/membelai bayi sambil menunggu bayinya meraih puting
susu secara mandiri. Biasanya bayi berhasil menyusu pada menit ke 30-60.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

11

BAGAN ALUR A :
MANAJEMEN BAYI BARU LAHIR NORMAL

PENILAIAN:

Sebelum bayi lahir:
1. Apakah kehamilan cukup bulan ?
2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekonium ?

Segera setelah bayi lahir:

3. Apakah bayi menangis atau bernapas/ tidak megap-megap ?
4. Apakah tonus otot bayi baik/ bayi bergerak aktif ?

Asuhan Bayi Baru Lahir

1. Jaga bayi tetap hangat
2. Isap lendir dari mulut dan hidung (bila perlu)
3. Keringkan
4. Pemantauan tanda bahaya
5. Klem, potong dan ikat tali pusat tanpa membubuhi
apapun, kira-kira 2 menit* setelah lahir.
6. Lakukan Inisiasi Menyusu Dini
7. Beri suntikan vitamin K1 1 mg intramuskular, di paha
kiri anterolateral setelah Inisiasi Menyusu Dini
8. Beri salep mata antibiotika pada kedua mata.
9. Pemeriksaan
10. Beri imunisasi Hepatitis B 0,5 mL intramuskular, di
paha kanan anteroleteral, kira-kira 1-2 jam setelah
pemberian vitamin K1

* Pemotongan dan pengikatan tali pusat sebaiknya dilakukan sekitar 2 menit setelah lahir (atau setelah bidan
menyuntikkan oksitosin kepada ibu), untuk memberi waktu tali pusat mengalirkan darah (dengan demikian juga
zat besi) kepada bayi.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->