P. 1
ASFIKSIA 2011- 22 mei 2011

ASFIKSIA 2011- 22 mei 2011

|Views: 3,276|Likes:
Published by Lia Meiliyana
618.920 1 Ind m

MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
UNTUK BIDAN

ACUAN

Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI 2011
i

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI 618.920 1 Ind m Indonesia. Departemen Kesehatan RI Manajemen asfiksia bayi baru lahir untuk bidan : buku panduan. - - Jakarta : Departemen Kesehatan, 2005. I. Judul 1. ASPHYXIA NEONATORUM

KATA PENGANTAR Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi yaitu 34/1.000 kelahiran hidup,
618.920 1 Ind m

MANAJEMEN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR
UNTUK BIDAN

ACUAN

Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan RI 2011
i

Katalog Dalam Terbitan. Departemen Kesehatan RI 618.920 1 Ind m Indonesia. Departemen Kesehatan RI Manajemen asfiksia bayi baru lahir untuk bidan : buku panduan. - - Jakarta : Departemen Kesehatan, 2005. I. Judul 1. ASPHYXIA NEONATORUM

KATA PENGANTAR Di Indonesia Angka Kematian Bayi (AKB) masih tinggi yaitu 34/1.000 kelahiran hidup,

More info:

Published by: Lia Meiliyana on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2013

pdf

text

original

LANGKAH I : DEKONTAMINASI

Cara melakukan dekontaminasi:

1. Segera sesudah dipakai, taruhlah alat dalam ember atau panci plastik berisi
larutan klorin 0,5%.
2. Tutuplah ember / panci tersebut.
3. Rendamlah alat selama 10 menit.
4. Angkat alat dari larutan perendam dengan menggunakan sarung tangan.
5. Bilaslah alat dengan air atau keringkan segera.
6. Gantilah larutan perendam:
• setiap pagi hari,
• kapan saja bila larutan sangat terkontaminasi dengan darah atau cairan
tubuh lainnya,
• Bila cairan menjadi keruh.

Catatan:
• Jangan biarkan alat terendam lebih dari 10 menit. Perendaman terlalu
lama dalam larutan klorin dapat merusak alat atau barang lainnya.
Selalu gunakan sarung tangan pelindung setiap kali mengangkat alat dari
larutan klorin.

Bagaimana membuat larutan dekontaminasi ?

Klorin biasanya murah, mudah diperoleh dan merupakah zat kimia yang paling cepat
untuk dibuat sebagai larutan dekontaminasi. Klorin dapat ditemukan dalam bentuk
larutan pemutih (bleach), bubuk atau tablet. Di Indonesia ada bleach dalam klorin aktif
5%. Untuk membuat 0,5% larutan dekontaminasi campur:

Larutan klorin 0,5% diperlukan untuk dekontaminasi. Bila kurang dari 0,5 % terlalu
lemah mungkin tidak membunuh kuman. Bila lebih dari 0,5% (terlalu kuat) akan
memerlukan klorin lebih banyak, menjadi tidak hemat dan dapat merusak alat.

9 bagian air : 1 bagian klorin

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

42

LANGKAH 2: PENCUCIAN

Cara melakukan pencucian:

1. Gunakan sarung tangan (bila alat dan bahan habis pakai terkena
banyak darah atau cairan ketuban, gunakan juga masker dan
pelindung mata).

2. Gunakan sikat yang lembut atau sikat bekas, sabun dan air.

3. Sikatlah alat/barang dengan baik sambil memegangnya di dalam air
(jangan mencoba menyiramkan air). Sikatlah bagian-bagian celah, gigi,
dan sambungan di mana darah dan jaringan melekat.

4. Bilaslah dengan air bersih secara baik untuk menghilangkan semua

sabun.

GUNAKAN DETERJEN DALAM MENCUCI

Deterjen amat penting digunakan agar pencucian efektif. Sebab air saja tidak akan
menghilangkan protein, minyak dan lemak:

• Ketika deterjen larut dalam air akan menghancurkan lemak, minyak dan benda
asing lainya sehingga membuat mudah pencucian.

• JANGAN GUNAKAN SABUN MANDI ATAU SABUN COLEK untuk mencuci
karena asam lemak dalam sabun akan beraksi dengan mineral dalam air. Hal ini
akan meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan.

• Jangan gunakan pembersih abrasif misalnya Vim atau Comet. Materi ini dapat
merusak/menimbulkan goresan/celah pada logam atau stainless steel. Kuman
dapat bersembunyi pada celah ini. Hal tersebut juga dapat merusak alat atau
barang lain.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

43

LANGKAH 3: DISINFEKSI TINGKAT TINGGI

Cara Merebus

1. Pisahkan masing-masing bagian tabung resusitasi dan pipa pengisap lendir.

2. Taruhlah semua alat atau barang lain dalam bak untuk merebus.

3. Semua barang harus terendam dalam air.

4. Tutup dan rebus, tunggu hingga mendidih selama 20 menit.

Catatan:
Jangan menambah barang lainnya bila perebusan telah mulai
Jangan merebus air dengan api yang terlalu besar. Hal ini akan menjaga
alat agar tidak rusak dan menghemat bahan bakar.

5. Angkatlah barang/alat dari bak dengan forsep atau tang pengambil yang
telah didisinfeksi

Catatan: Untuk forsep atau alat pengambil gantungkan forsep/alat
pengambil dengan tali pada bak agar mudah mengambil barang.

6. Letakkan alat atau barang dalam bak yang telah didisinfeksi tingkat tinggi.

Catatan: Untuk bak DTT
Taruhlah bak di atas alat-alat lain yang akan direbus. Angkat terlebih
dahulu ATAU
Isilah bak dengan larutan klorin 0,5% dan biarkan terendam selama 20
menit. Lalu tiriskan dari larutan klorin dan bilas dengan air matang.
Keringkan di udara sebelum dipakai.

7. Keringkan dalam udara sebelum memakai atau menyimpan.

Catatan: Jangan biarkan alat/barang yang telah direbus berada di dalam air
yang sudah tidak mendidih. Alat/barang tersebut dapat terkontaminasi
begitu air dingin

Catatan:

• Butir keputihan dan keras tertinggal dan menempel pada alat/bahan yang telah
sering direbus. Ini merupakan endapan soda (lime) yang disebabkan oleh soda
garam dalam air. Untuk mengurangi endapan soda (lime), tambahkan cuka ke
dalam air.

• Rebus air selama 10 menit agar soda (lime) keluar dari air dan mengendap di
bawah atau di samping panci perebus (lebih baik dari pada menempel pada
alat/instrumen yang direbus) sebelum ditambahkan barang lainnya.
• Gunakan air yang sama sepanjang hari. Tambahkan air secukupnya hanya agar
alat terendam.
• Buang air dan bersihkan panci setiap hari berakhir.
• Membakar (memegang instrumen dalam nyala api) merupakan cara DTT yang
tidak efektif sebab tidak membunuh kuman secara efektif.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

44

LANGKAH 3: DISINFEKSI TINGKAT TINGGI

Cara Mengukus

1. Taruh air di dasar panci penguap.

2. Taruh rak yang berlubang di atas permukaan air.

3. Letakkan semua barang dalam rak (pisahkan semua bagian tabung resusitasi
dan alat lain yang memiliki sambungan) dan tutuplah panci.

4. Panaskan air sampai mendidih.

5. Biarkan mendidih selama 20 menit.

6. Ambil alat/barang dari panci dengan forsep DTT.

7. Letakkan alat/barang dalam bak yang telah didisinfeksi.

8. Keringkan alat/barang di udara terbuka.

9. Bila telah kering gunakan atau simpan alat tersebut.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

45

LANGKAH 4: PENYIMPANAN

Jangan menyimpan alat atau barang lain di dalam cairan. Selalu simpan
dalam keadaan kering. Mikroorganisme dapat tumbuh dan berkembang
biak di dalam cairan antiseptik maupun cairan disinfeksi dan dapat
mencemari alat tersebut.

Rangkai kembali seluruh bagian alat resusitasi. Gunakan sarung tangan
steril pada saat merangkai alat.

Jagalah agar tempat penyimpanan bersih, kering dan bebas debu.

Bungkus dan bak sebaiknya disimpan paling tidak:

20 – 25 cm dari atas lantai
45 – 50 cm dari atap/langit-langit
15 – 20 cm dari dinding luar

Jangan gunakan kotak karton karena dapat berdebu dan berserangga.

Beri tanggal dan rotasikan bahan habis pakai (masuk dulu - keluar dulu).

Berapa lama alat/barang tetap steril atau terDTT tergantung pada:
Kualitas pembungkus atau bak.
Berapa kali bak dibuka.
Berapa kali paket diproses sebelum dipakai.
Apakah alat disimpan dalam lemari yang dapat dibuka atau ditutup.
Keadaan ruang penyimpanan (suhu, kelembaban dan kebersihan).
Gunakan kantong plastik untuk menutup dan usahakan tidak bocor

(rapat).
Barang disimpan dalam keadaan terbungkus.
Dengan penyimpanan yang baik dan sedikit manipulasi, barang yang
dibungkus dengan baik dapat dianggap steril sepanjang tetap utuh
bungkusnya dan kering.

Catatan: Bila anda meragukan sterilitas alat tertentu, anggap telah terkontaminasi dan
lakukan sterilisasi.

Gunakan barang yang tak terbungkus sesegera mungkin atau simpan
dalam bak tertutup yang telah di DTT untuk kurang lebih 2 minggu.

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

46

Formulir Pencatatan

FORMULIR BAYI BARU LAHIR

Pemeriksa (Nama dan Tanda tangan):
_________________________________________________________
Nama bayi: _______________________________ Jenis kelamin: _____ Nama orang tua:
______________________ Alamat:__________________________________

Tanggal & jam lahir : ______________________ Lahir pada umur kehamilan: _______bulan

PEMERIKSAAN

Tanggal …….. Jam ……..

Tanggal …….. Jam ……..

Hasil

Hasil

1. Postur, tonus dan aktivitas

2. Kulit bayi

3. Pernapasan ketika bayi sedang tidak
menangis

4. Detak jantung

5. Suhu ketiak

6. Kepala

7. Mata

8. Mulut (lidah, selaput lendir)

9. Perut dan tali pusat

10. Punggung tulang belakang

11. Lubang anus

12. Alat kelamin

13. Berat badan

14. Panjang badan

15. Lingkar kepala

ASUHAN/KONSELING

Waktu
(tanggal, jam)
dilakukan asuhan

Keterangan

Waktu
(Tanggal, jam)
dilakukan asuhan

Keterangan

1. Inisiasi menyusu dini

2. Salep mata antibiotika profilaksis

3. Suntikan vitamin K1

4. Imunisasi Hepatitis B1

5. Rawat gabung dengan ibu

6. Memandikan bayi

7. Konseling menyusui

8. Tanda-tanda bahaya pada bayi yang
perlu dirujuk

9. Menjelaskan pada ibu tentang perawatan
bayi di rumah

10. Melengkapi catatan medis

Waktu pemeriksaan kembali/ Kunjungan
Neonatal

Tanggal …………..

Tanggal …………..

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

47

FORMULIR PENCATATAN BAYI MUDA UMUR < 2 BULAN

Tanggal kunjungan : _______________
Nama bayi : _____________ L/P Nama orang tua : _____________ Alamat : ____________________
Umur : _________ Berat badan : ________ gram, Panjang badan: ___cm Suhu badan : _____ o

C

Tanyakan: Bayi ibu sakit apa ?_______________ Kunjungan pertama?____ Kunjungan ulang? ____

PENILAIAN (Lingkari semua gejala yang ditemukan)

KLASIFIKASI

TINDAKAN /
PENGOBATAN

MEMERIKSA KEMUNGKINAN PENYAKIT SANGAT BERAT
ATAU INFEKSI BAKTERI

Bayi tidak mau minum atau memuntahkan semuanya.

Ada riwayat kejang.

Bayi bergerak hanya jika dirangsang.

Hitung napas dalam 1 menit ____ kali / menit.

o

Ulangi jika ≥ 60 kali / menit, hitung napas kedua
____ kali/ menit. Napas cepat.

o

Napas lambat ( < 30 kali / menit ).

Tarikan dinding dada ke dalam yang sangat kuat.

Bayi merintih.

Suhu tubuh ≥ 37,5 °C

Suhu tubuh < 35,5 °C

Mata bernanah : apakah sedikit atau banyak ?

Pusar kemerahan meluas sampai dinding perut.

Pusar kemerahan atau bernanah.

Ada pustul di kulit.

APAKAH BAYI DIARE ? Ya ____ Tidak ____
Sudah diare selama ____ hari
Keadaan umum bayi :
• Letargis atau tidak sadar.
• Gelisah / rewel.

Mata cekung.
Cubitan kulit perut kembalinya :

• Sangat lambat ( > 2 detik )
• Lambat.

MEMERIKSA IKTERUS.

Bayi kuning, timbul pada hari pertama setelah lahir ( < 24
jam )

Kuning ditemukan pada umur ≥ 24 jam sampai < 14 hari.

Kuning ditemukan pada umur 14 hari atau lebih.

Kuning sampai lutut atau siku.

Tinja berwarna pucat

Manajemen Asfiksia BBL untuk Bidan

Buku Acuan

48

PENILAIAN (Lingkari semua gejala yang ditemukan)

KLASIFIKASI

TINDAKAN /
PENGOBATAN

MEMERIKSA KEMUNGKINAN BERAT BADAN RENDAH DAN/ ATAU
MASALAH PEMBERIAN ASI.

Apakah inisiasi menyusu dini dilakukan? Ya ____ Tidak ____
Berat badan menurut umur :
• BB/U ≤ -2 SD ____
• BB/U > -2 SD ____
Ibu mengalami kesulitan dalam pemberian ASI?Ya __Tidak_
Apakah bayi diberi ASI ? Ya ____ Tidak ____
Jika ya, berapa kali dalam 24 jam ? ____ kali.
Apakah bayi diberi minuman selain ASI ? Ya ____ Tidak ____
• Jika ya, berapa kali dalam 24 jam ? ____ kali
• Alat apa yang digunakan ? _________________________
Ada luka atau bercak putih (thrush) di mulut.
Ada celah bibir / langit-langit

JIKA BAYI : ada kesulitan pemberian ASI, diberi ASI < 8 kali dalam 24
jam, diberi makanan/ minuman lain selain ASI, atau berat badan rendah
menurut umur DAN tidak ada indikasi di rujuk ke Rumah Sakit.

LAKUKAN PENILAIAN TENTANG CARA MENETEKI :
Apakah bayi diberi ASI dalam 1 jam terakhir ?
• Jika TIDAK, minta ibu meneteki bayinya.
• Jika YA, minta ibu untuk memberitahu saudara jika bayi sudah
mau menyusu lagi.
Amati pemberian ASI dengan seksama.
Bersihkan hidung yang tersumbat, jika menghalangi bayi menyusu.

Lihat apakah bayi menyusu dengan baik.

Lihat apakah posisi bayi benar.
Seluruh badan bayi tersangga dengan baik – kepala dan tubuh bayi lurus
– badan bayi menghadap ke dada ibunya – badan bayi dekat ke ibunya.

Posisi salah – posisi benar

Lihat apakah perlekatan benar.
Dagu bayi menempel payudara ibu – mulut bayi terbuka lebar – bibir
bawah membuka keluar – areola bagian atas tampak lebih banyak.

Tidak melekat sama sekali – tidak melekat dengan baik – melekat
dengan baik

Lihat dan dengar apakah bayi mengisap dalam dan efektif :
Bayi mengisap dalam, teratur, diselingi istirahat – hanya terdengar suara
menelan.

Tidak mengisap sama sekali – tidak mengisap dengan efektif –
mengisap efektif

MEMERIKSA STATUS PENYUNTIKAN VITAMIN K1

Tandai rumput jika sudah diberikan segera setelah lahir

Vit K1 diberikan hari
ini

MEMERIKSA STATUS IMUNISASI (lingkari imunisasi yang dibutuhkan
hari ini)

Hepatitis B 0 ___ BCG ___ Polio 1 ___

Imunisasi

yang

diberikan hari

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->