PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN

DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA

Edy Pramono

Edy Suandi Hamid
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja karyawan terhadap efektifitas layanan penerbitan akta kelahiran dan perkawinan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Hasil uji F dan Uji R2 yang dilakukan menunjukkanbahwa model yang digunakan cukup baik yaitu; gaya kepemimpinan, motivasi kerja karyawan dan efektifitas layanan sudah tepat. Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X 1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta, hal ini berarti bahwa unsur-unsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus, namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Dalam hal kepemimpinan, pemimpin hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya, perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai, pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka, sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Kata Kunci : gaya kepemimpinan, motivasi kerja dan efektifitas layanan.

tetapi pimpinan yang bisa menjadi suri teladan bagi anak buahnya. sikap. Gaya kepemimpinan adalah suatu seni mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam upaya mencapai tujuan dengan setrategi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. dapat menumbuhkan motivasi. tujuan. karena PNS ini sebagai ujung tombak terdepan yang memberi kesan pada pelanggan dan bersentuhan dengan masyarakat setiap harinya. Dalam era globalisasi sekarang ini yang sarat dengan tantangan. Adanya macam-macam motivasi menunjukan adanya tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi dan keinginan yang harus direalisasi dapat mempengaruhi tingginya dorongan seseorang untuk mendapatkan puncak kepuasan tersebut. sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah RI No:100 Tahun 2000 tentang. keunggulan kompetitif. semua itu dimulai dari pimpinan organisasi atau dinas tertentu ketika menyusun program kerja. Membangun kinerja aparat pelayanan yang efektif dan efisien dapat dilakukan dengan menciptakan suatu harmonisasi antara gaya kepemimpinan dan motivasi kerja yang dipimpinnya. budaya kerja. Keberhasilan kepemimpinan dimana semua unsur manajemen itu harus mengarah pada tujuan dan nilainilai yang telah disepakati oleh kelompok atau . mereka dituntut kreativitas dan kepekaan yang tinggi menghadapi tingkat perubahan lingkungan yang cepat. Pengangkatan PNS. Upaya pimpinan menggerakan anak buah untuk lebih semangat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat banyak secara professional dapat dilakukan jika kepemimpinan tersebut dapat diterima bawahannya secara iklas dan senang hati. Antara lain dengan keteladanan. serta memegang penuh etika birokrasi sesuai dengan tingkat kepuasan dan keinginan masyarakat”. namun penggunaan setrategi dalam mencapai tujuan diperlukan pengalaman bahkan pada masa kini pengalaman kurang mencukupi. untuk memberi kepuasan masyarakat. sehigga dapat membawa perubahan sikap dan perilaku manajemen sekaligus akan menumbuhkan motivasi bagi karyawan.A. Gaya kepemimpinan yang demikian secara otomatis akan menimbulkan motivasi kerja bagi anak buahnya. sistem dan lainnya masih sesuai atau tidak. Untuk melihat kecenderungan dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada lingkungan. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penyelenggaraan kantor pemerintahan secara efektifitas dan efisien. setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpuaskan. dan memberikan tanggung jawab serta mengajak dan menghimbau bukan memerintah. akan memotivasi kerja yang baik dan bersedia belajar secara terus menerus serta bergaul akrab dengan bawahan tanpa membedabedakan akan menimbulkan motivasi kerja yang tinggi juga bagi anak buahnya. sebagai hasil penerapan gaya kepemimpinan yang disukai anak buahnya. Kualitas pelayanan publik yang memuaskan menginginkan lebih banyak umpan balik yang seimbang dengan pengorbanan yang diberikan oleh kantor dan pemenuhan kewajiban sebagai masyarakat yang loyal pada pemerintahnya.. Gaya kepemimpinan yang konsultatif dimana dalam kepemimpinan ini lebih banyak mengajak dan menghimbau dari pada menghukum. Pemimpin yang mempunyai jiwa yang bijaksana dan tidak main perintah saja tetapi juga memperhatikan usulan dari karyawan bawahannya. dengan mengadakan peningkatan kualitas profesionalisme. sehingga membuat orang-orang yang terlibat dalam kerjanya merasa termotivasi dan hasil aktifitas pelayanan kesehariannya menjadi lebih efektif dan memuaskan masyarakat pelanggan. persaingan. memberikan dorongan. Gaya kepemimpinan Dinas yang melayani kepentingan masyarakat harus diimbangi dengan motivasi kerja karyawan yang bertugas langsung (customer service). Kondisi lingkungan kerja yang selalu berkembang dan berubah harus dipantau (baik internal maupun eksternal ) secara berkala untuk meyakinkan bahwa setrategi . Gaya kepemimpinan dan motivasi kerja bawahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektifitas layanan terhadap masyarakat. Gaya kepemimpinan dapat dipelajari. Motivasi berprestasi dalam pengerjaaan tugas dan juga menyukai situasi-situasi kerja dimana kinerja antara pemimpin dan bawahannya timbul karena gaya kepemimpinan yang konsultatif demokratis. Pimpinan yang bisa menjadi teladan sebenarnya pada anak buah. PENDAHULUAN Peningkatan kinerja pemimpin yang didasarkan pada kompetensi dan profesionalisme mempunyai peran penting dalam memotivasi bawahan untuk memajukan organisasi dimasa depan yang unggul dan kompetitif. Pimpinan yang baik adalah seorang pimpinan yang tidak hanya memberi contoh saja. dan disiplin pada karyawan dalam melaksanakan tugas layanannya. Hasil layanan menjadi optimal dengan cara kerja yang efektif akan dapat dicapai bilamana diikuti dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan manajemen yang telah disepakatinya.

tetapi bukan berarti terjadi minimalisasi target pekerjaaan. tidak memiliki motivasi dan ketrampilan yang dilandasi kepribadian. dimana motivasi tidak akan berarti kalau ketrampilan tidak cukup. Kepimpinan yang menjamin terjalinnya efektifitas komunikasi dua arah. (2). maka penelitian ini melibatkan semua karyawan PNS di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Dilaksanakan dengan semua pihak. Dengan sekilas memahami konsep-konsep dasar gaya kepemimpinan. B. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek-obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono. berupa perbaikkan atau penyempurnaan secara terus menerus. dianalisa kemudian ditindak lanjuti. 2004:90). motivasi kerja PNS dan tata kerja disuatu organiasasi pemerintahan tersebut. dengan memberikan rangsangan baik yang bersifat materi maupun non materi yang sering disebut motivasi. biasanya lebih banyak menjamin perasaan adil atas keluhankeluhan dan hal-hal in-disipliner bagi aparat yang dibawah pimpinannya. Indikator keberhasilan akan dirancang sendiri oleh pegawai dengan sepengetahuan pimpinan. Selain itu demi tercapainya tujuan organisasi maka hendaknya setiap pegawai didorong semangat kerja dan disiplin kerja yang tinggi. 61 orang tersebut terdiri dari : (1) (2) (3) (4) Bagian tata usaha Bagian bina program Sub Din Kependudukan : 16 orang : 5 orang : 23 orang Sub Din Catatan Sipil : 11 orang (5) Sub Din Dokumentasi & Informasi: 6 orang + JUMLAH : 61 orang . lebih rasional dan fleksibel.. Karena kepemimpinan yang memberdayakan bawahan akan menimbulkan kepercayaan kepada pegawai dalam melakukan pekerjaannya dan kepemimpinan yang demikian secara linier akan mendelegasikan beberapa fungsinya pada pegawai yang dipimpinnya. Pelaksanaan dikendalikan. dan lebih bersifat terdesentralisasi . sehingga penelitian ini tidak menggunakan sampel. karena gaya ini menempatkan kedua belah pihak baik yang memimpin dan yang dipimpin berada pada posisi yang sama hak. yang dapat menjamin terciptanya perilaku yang adil dan kenyamanan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. Proses komunikasi dua arah merupakan suatu hal yang dapat mendukung iklim kerja sebagai upaya untuk mewujudkan motivasi dalam efektifitas pelaksanaan tugas pelayanan. Semua itu tidak akan optimal bilamana tidak memperhatikan faktor manusiawi berupa kejenuhan. METODOLOGI PENELITIAN 1. Dengan demikian para karyawan dapat mengukur kemampuan kemudian dikombinasikan dengan pekerjaannya . Dalam era yang serba terbuka ini maka kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang memberdayakan bawahannya. Unsur yang terkandung efektifitas dan efisiensi memiliki kekuatan motivasi. (3). (4). lebih demokratis dan terbuka. Kritik terhadap instansi pemerintah kemudahan dalam mencapai target sehingga karyawan termotivasi untuk bekerja lebih baik. Untuk mengatasi tantangan globalisasi diperlukan perubahan cara kerja baru yang lebih efektif dan efisien. Untuk itu manajemen perkantoran harus berorientasi pada tujuan agar lebih efektif dan efisien dengan cara seperti. Di banyak lembaga sebenarnya telah memiliki komitmen tinggi juga cenderung terlibat dalam pengaktualisasian praktik-praktik gaya kepemimpinan yang bertujuan untuk menjamin kinerja mereka agar memiliki peluang untuk sepenuhnya menggunakan semua ketrampilan –ketrampilan dan bakatnya. tidak memiliki kepribadian dan nilai-nilai. Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. baik kerjasama maupun koordinasi. Tujuan harus dijabarkan dalam kebijaksanaan dan setrategi yang operasional.Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi pengaruh globalisasi yang akan menerpa semua negara di dunia termasuk Indonesia. Merumuskan tujuan dan sasaran layanan organisasi secara jelas.organisasi dalam menghadapi tantangan atau mencapai tujuan dinas yang dipimpinnya. (Thoha. Kecenderungan para aparat untuk setia kepada pengarahan pimpinan yang berada diatasnya secara strukturalnya. (1). tugas dan kewajibannya. Populasi. 2002: 74-84). Oleh karena banyaknya jumlah karyawan dinas tersebut hanya 61 orang karyawan PNS. maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA”. Sebagai alternatif yang dapat dipilih dan dilakukan seorang pemimpin dewasa ini adalah gaya kepemimpinan yang konsultatif.Sehingga akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. perlu dipelihara dengan adanya komunikasi dua arah .

dan Motivasi karyawan (X2). Angket yang digunakan adalah angket tertutup. semangat yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Gaya Kepemimpinan X 2 adalah : Motivasi Kerja a. maka diadakan uji validitas dan reliabilitas 5. Metode Pengumpulan Data. Definisi Operasional. Pilihan KS = Kurang setuju. Pilihan S = Setuju. dengan skor 3. diperlukan data primer dan data sekunder. (c). Berorientasi pada kepuasan orang lain. Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab/wawancara secara langsung baik dengan responden maupun dengan pimpinan pada Dinas Kependukukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. Penggunaan alat yang berbasis teknologi informasi yang cangih. Alasan pemilihan angket dalam penelitian ini dari segi teknis pelaksanaan angket adalah metode yang paling efetif. Tepat waktu dan disiplin kerja Gaya kepemimpinan (X1) adalah. Untuk membantu analisa obyek penelitian. Angket. Dalam penelitian ini digunakan data rating scale . Wawancara. Motovasi kerja (X2) adalah. Efektiftas layanan ( Y ) adalah. maka jawaban kuesioner dengan mengunakan skala Likert. 1). maksudnya angket yang sudah tersedia jawabanya responden tinggal memilih diantara jawaban yang tersedia. dan variabel merupakan faktor yang mempengaruhi terdiri Gaya kepemimpinan (X1). Pembagian kerja yang jelas. Observasi. Efektifitas Layanan a adalah . dengan skor 4. kerja 3. Setelah instrumen penelitian yang berupa daftar penyataan disusun. (c). dengan skor 1. 3). Untuk keperluan akurasi data digunakan metode bantu wawancara yang dilaksanakan secara acak dan observasi. Fokus pada pelanggan. tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk pengukuran persepsi responden terhadap fenomena lainnya. Penyampaian informasi. 2004:107) Pada penel. Kemampuan mempengaruhi. Data primer ini adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner secara langsung kepada staf maupun pimpinan yang ada di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. serta Kasi Kelahiran Kematian. Pilihan TS = Tidak setuju. (a). 5). Untuk keperluan analisis secara kuantitatif. (a). dengan instrumennya berupa pedoman wawancara. (b). 4.isis Regresi Linier Berganda. Dalam penelitian ini sebagai variabel adalah Efektifitas Layanan (Y). terikat bebas dari . Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan diatas. pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial ( Sugiyono. dengan indikator-indikatornya antara lain . Ana. (d).Oleh karena itu rating scale lebih fleksibel.Si Perkawinan dan Perceraian . tenaga. Hubungan antar teman sejawat dan pimpinan didasarkan rasa persahabatan. Pilihan STS = Sangat tidak setuju. 4).2.. dengan indikator : (a). (b). Pengakuan dan Pengesahan Anak. dengan skor 5. Konstanta X 1 adalah . Jenis data . Instrumen Penelitian. . pemberian jasa dan kepuasan kepada orang lain . efisien dan hemat waktu. (d). Kepuasan kerja. Adapun analisis regresi berganda disusun persamaan regresinya menjadi suatu model empiris. Kemampuan memotivasi. Metode Analisis Data. Metode pengumpulan data yang ditempuh dalam pelaksanaan penelitian ini adalah. 2). sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + e. Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti guna melengkapi informasi yang dibutuhkan. (d). Dimana : Y adalah . Prosedur layanan singkat dan sederhana. (b). Pengambilan keputusan.Dalam rating scale responden menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan . (e). Hubungan kerja yang baik. dan biaya dalam proses penelitian. dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada: Ka. maka untuk mengetahui pengaruh factor Gaya kepemimpinan dan Motivasi kerja sebagai variabel bebas terhadap Efektifitas layanan. Variabel Penelitian. dengan skor 2. Data sekunder ini diperoleh dari studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini. perilaku pimpinan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas yang dilakukan terhadap kerja bawahan. (c). adapun yang menjadi indikatornya adalah. Karena skala Likert dapat digunakan untuk mengukur sikap.itian ini responden diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban sebagai berikut : Pilihan SS = Sangat setuju.

dan jika p lebih dari α. Uji Reliabilitas Konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Uji Asumsi : Untuk memastikan bahwa model yang diestimasi memenuhi ketentuan asumsi klasik. D. Jika ternyata varian dari e tidak konstan artinya bias membesar atau mengecil pada nilai X yang lebih tinggi. Uji F . Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan suatu butir angket dalam penelitian. Nilai koefisien determinasi adalah diantara 0 (nol) dan 1 (satu ). Uji Hipotesis . (3) Uji Heteroskedastisitas. Adapun tahap-tahap pengujian hipotesa terdiri dari uji instrumen yang akan terdiri dari uji validitas dan reliabilitas.6. Jika diantara variabel X1. uji otokorelasi dan uji heteroskedastisitas. Keputusan uji. gaya kepemimpinan. maka kondisi tersebut dikatakan tidak homoskedastisitas atau mengalami heteroskadestisitas. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel independent. 2. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara parsial mempengaruhi Efektifitas Layanan. gaya kepemimpinan. Melihat hasil analisis dapat dijelaskan bahwa angket yang sajikan dapat dipakai pada proses penelitian selanjutnya yaitu uji pengambilan keputusan atau uji hipotesa dan uji asumsi klasik. Uji Validitas Dari hasil analisis data uji validitas diketahui bahwa variabel efektivitas layanan. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. tetapi ikut mempengaruhi efektifitas layanan. d. Multikolinearitas adalah korelasi linear yang “perfect” atau eksak diantara variabel penjelas yang dimasukkan kedalam model. b2 adalah : koefisien regresi pada motivasi kerja karyawan X 2 e adalah : standar error yiatu pengaruh variabel lain diluar model. maka digunakan uji t-statistik. X2. uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas sebaran. sehingga terbukti kebenaran hipotesis yang telah penulis kemukakan pada bab III. terima Ho. Koefisien Determinan ( R 2 ) Koefisien determinasi dilambangkan dengan R2 merupakan proporsi hubungan antara variabel Y dengan variabel X. 1996:291). dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai r Alpha positif dan r Alpha > r tabel (0. maka harus dipenuhi syarat BLUE ( Best Linier Unbiased Estimator) yaitu : (1) Uji Normalitas Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui setelah perlakuan akan berdistribusi normal atau tidak (Sudjana. Hasil uji reabilitas menunjukkan hasil bahwa efektivitas layanan. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara bersamasama mempengaruhi Efektifitas Layanan. c. Uji t .b 1 . sehingga mengakibatkan e juga mengandung trend. Uji Kolmogorov-Smirnov memusatkan perhatian pada penyimpangan atau deviasi maksimum. dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai thitung > ttabel. uji multikolinieritas. b.6 thitung > ttabel variable 0. Analisis Data Tahap berikutnya dalam penelitian ini adalah mendapatkan kesimpulan hasil penelitian yang telah penulis lakukan di Dinas Kependidikan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. (2) Uji Otokorelasi Otokorelasi sering terjadi pada pengamatan pada data runtut waktu (time series) .tolak Ho. untuk tahap pertama adalah sebagai berikut: 1. (4). Ini berarti semua variable lolos uji reliabitas. rumus regresi diperleh dengan asumsi bahwa variabel pengganggu (error) atau e diasumsikan memiliki varian yang konstan (rentangan e kurang lebih sama). Adapun model dalam penelitian ini adalah = Y = a + b 1X1 + b2X2 + e . Uji Instrumen a. Uji Multikoliearitas. b. Untuk uji normalitas data hasil tes digunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan melihat normal probability plot. Sebagaimana dalam uji asumsi klasik.444) atau koefisien Alpha > dari kriteria Nunnally yaitu 0.Otokorelasi adalah keadaan di mana terdapat trend didalam variabel yang diteliti.adalah : koefisien regresi pada gaya kepemimpinan X 1 . jika p sama atau kurang kurang dari α. maka digunakan uji F – Statistik c. ada yang memiliki korelasi tinggi maka hal tersebut mengidetifikasikan adanya problem multikolinear.

933 + 0. β0 = -3.470 X2 + 0.933 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja konstan atau 0 maka variabel efektivitas layanan sebesar 3. 3) Uji F Berdasarkan hasil analisis data maka di dapatkan uraian tentang uji F sebagai berikut: Pengujian variabel independen secara bersama-sama (gaya kepemimpinan dan motivasi kerja) terhadap efektivitas layanan dilakukan dengan menggunakan uji F.15 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. sehingga uji F dan t yang telah dilakukan tidak dapat diterima. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.167)** (4.05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.170 Keterangan: *** = Signifikan pada α: 1%. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung kepemimpinan yaitu sebesar 0. 2) Uji t Uji t digunakan untuk menguji secara parsial atau satu-satu antara variabel independen dengan variabel dependen. Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 3. 4) Uji R2 Berdasarkan hasil analisis data dengan program paket statistik SPSS ver 10 maka di dapatkan uraian tentang uji R² sebagai berikut: . Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 4. 2004: 37).886)*** R2 = 0. X1 = 0.459 DW = 1.167 sedangkan nilai ttabel sebesar 2.880)*** (3.323 + 0.592 F = 26.002 dengan α 5% dan df = 58. d.470 artinya apabila variabel motivasi kerja semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0. Pengaruh variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.307 < 1. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung motivasi kerja yaitu sebesar 0.1) Regresi Berganda Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.415 X1 + 0. c. Pengaruh variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan. artinya secara bersama-sama variabel gaya kepemimpinan dan variabel motivasi kerja berpengaruh terhadap efektivitas layanan. dengan membandingkan hasil uji Fhitung dengan Ftabel.307 Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa nilai DW = 1.525 F = 31.278 Yt_1 + e (3.278 dengan asumsi variabel lain tetap atau variabel efektivitas layanan itu dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa pengaruh dari variabel yang lain.651 lebih besar dari Ftabel yaitu 3.470 satuan dengan asumsi variabel lain tetap. Agar persamaan regresi diatas bebas dari gejala autokorelasi maka perlu dilakukan perbaikan model.651 DW = 2. X2 = 0.523 X1 + 0. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel.278 artinya variabel efektivitas layanan dipengaruhi oleh variabel efektivitas layanan itu sendiri sebesar 0.070 sedangkan nilai ttabel sebesar 2. Berdasarkan hasil analisis data di dapat persamaan regresi sebagai berikut: Y = 12. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan. Yt_1=0. Dengan menggunakan alat bantu program SPSS diperoleh hasil analisis yang baru sebagai berikut: Y = -3. adapun model yang kita gunakan adalah dengan cara memasukkan variabel Yt_1. adapun hasilnya dari analisis regresi sebagai berikut: a.081)** R2 = 0.003 : 0.002 dengan α 1% dan df = 58. b.000 : 0.5 yang berarti bahwa terdapat gejala autokorelasi. b. ** = Signifikan pada α: 5% Interpretasi: a. Jika kita memasukkan variabel Yt_1 maka pengaruh Xt akan mengecil (nilai b1 akan mengecil).415 satuan dengan asumsi variabel lain tetap. Akan tetapi pengaruh Xt sekarang menjadi lebih murni (Setiaji. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 26.933 satuan.070)*** (3.478 X2 + e (3.415 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0.

016 apabila dikalikan dengan N = 60 maka diperoleh hasil 0. Hasil uji ketepatan parameter penduga (Uji t) diketahui bahwa kedua variabel signifikan berpengaruh terhadap variabel efektivitas layanan.369. 3.472 dan untuk X2 sebesar 1.96 yang mana hasil ini lebih kecil dari 9. pendidikan formal dan lainlain. disiplin. c. Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Sedangkan sisanya sebesar 40. baik disadari atau tidak manusia tidak dapat memungkirinya. maka kita tidak dapat melihatnya secara nyata.2 yang berarti tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. kedua nilai VIF tersebut kurang dari 10 maka data yang penulis pergunakan terbebas dari masalah multikolinieritas. Motivasi hanya dapat disimpulkan dari perilaku yang tampak. Pembahasan Hasil uji ketepatan model uji F menunjukkan secara bersama-sama ada pengaruh yang signifikan dari variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan. Uji Asumsi Klasik a. dan merasa tidak berarti. Motivasi adalah suatu dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan baik agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji. b. dari perbuatan seseorang yang didahului oleh adanya sesuatu yang mendorongnya. variabel-variabel tersebut misalnya lingkungan kerja. Uji Autokorelasi Hasil analisis data di dapatkan nilai DW= 2. namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. akibatnya kebijakan yang diberikan menjadi statis mandeg. Jika gaya kepemimpinan tersebut ditolak oleh bawahannya bisa kehilangan harga diri. Motivasi kerja lebih dapat mempengaruhi efektivitas layanan karena adanya penghargaan terhadap prestasi atau pengakuan yang diberikan oleh atasan maupun lingkungan tempat kerja.2%.592 ini menunjukkan bahwa variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja mempunyai kontribusi pengaruh terhadap variabel efektivitas layanan sebesar 59.05. Dikarenakan hasil hitung Durbin-Watson > 1. diberikannya insentiv maupun penghargaan terhadap pegawai sehingga menumbuhkan motivasi dalam bekerja. KESIMPULAN DAN SARAN 1.170. berarti sebaran data yang penulis gunakan berdistribusi normal. . bisa diterapkan pada karyawan bawahannya atau orangorang yang menjadi tanggung jawabnya. Kesimpulan a. 4. faktor individu. Uji Normalitas Dengan melihat hasil analisis data didapatkan hasil analisis terhadap uji normalitas dengan metode Kormogorov-Smirnov yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas = 0. Seorang pemimpin hendaknya memiliki gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya dan iklim kerja kantor yang dipimpinnya.5 dan < 2.Untuk mengetahui persentase besarnya perubahan variabel terikat yang disebabkan oleh variabel bebas. hal ini berarti bahwa unsurunsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus. Uji Multikolinieritas Hasil uji multikolinieritas diperoleh nilai VIF untuk X1 sebesar 1. Variabel dominan kedua adalah variabel gaya kepemimpinan yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan rasa bersemangat demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan secara bersama-sama dan mendorong terciptanya kebersamaan atau perilaku seorang pemimpin dalam menggerakkan aktivitasnya dalam usaha membimbing. Sedangkan gaya kepemimpinan yang diterapkan sering membuat pengawai bekerja dengan sedikit keterpaksaan tidak dengan kesadaran pribadi dari diri pengawai sehingga pengaruh gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan tidak sebesar pengaruh yang ditimbulkan oleh motivasi dari pegawai pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Adapun hasil uji heteroskedastisitas adalah : d.155 > 0. Uji Heteroskedastisitas Hasil analisis data diperoleh nilai R2 = 0. D.8% mendapat kontribusi dari variabel lain yang tidak terdapat di dalam model atau tidak penulis teliti. Dari hasil analisis data diperoleh R² sebesar 0. Untuk variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap efektivitas layanan adalah variabel motivasi kerja karena motivasi merupakan hal yang melatar belakangi tingkah laku manusia. mengarahkan dan menciptakan kesamaan persepsi terhadap satu kebijakan untuk mencapai tujuan.5 maka dapat diketahui bahwa dalam model regresi pada penelitian ini tidak ada masalah otokorelasi.

Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. DAFTAR PUSTAKA Anantanyu. Mengenal Pelayanan Dokter Keluarga. Astuti. 1996. Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. PBIDIKOMPAS. Menyediakan Layanan Efektif bagi Kaum Miskin di Indonesia: Laporan Mekanisme Pembiayaan Kesehatan (JPK-GAKIN) di Kabupaten Sumba Timur. Pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka. 2. Perlaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang: Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK).. R.b. Perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai. M. Rekomendasi a. Azwar. A. 2005. 1995. 1996.. Hal ini dikandung maksud agar para pegawai khususnya di Kecamatan Gatak dapat terus termotivasi sehingga tugas utama mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) dapat terlaksana dengan baik.. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus. d. Argadiredja. Jurnal Epidemiologi Indonesia ISSN:14110-296X Volume 1 Edisi 2-1997 Azwar. Jakarta 22 Juli 1995.. PT. dan Monzona. Peranan IDI Dalam Membuka Peluang Kerja Dokter Pasca PTT . c. camat hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya dan beberapa variabel situasional misalnya kebutuhan-kebutuhan bawahan. Hasil penelitian hendaklah dapat dipergunakan sebagai bahan untuk penelitian berikutnya dengan mempertimbangkan segala keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini. dan Budiyanti.. ESA Indonesia. c. NTT. position power dan kepercayaan bawahan kepada pemimpin. Disampaikan pada Seminar Sehari Tentang Dokter Pegawal Tidak Tetap. Ekonomi Sumber Daya Manusia. mengingat terbukti faktor motivasi dalam penelitian ini mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produktifitas kerja pegawai pada Kecamatan Gatak. S. 2003. 1997. Jakarta: Ikatan Dokter Keluarga . Surakarta: Pusat Studi Kependukan UNS. Y. 2001. Agustono.. Arfida. Surakarta: Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.. 2003. Dalam hal kepemimpinan di lingkungan kecamatan. Jakarta: Sekjen DepKes RI Arifianto. A. 2005. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Efektivitas Penyuluhan Kesehatan Ibu Hamil (Bumil) Di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar: Kajian Pendekatan Model KIE. Program Pembangunan Kesehatan Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Atyastami. sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat. S. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. b. Aseli. B. struktur tugas. dan Ferichani. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU. R. Marianti. A. Pelaksanaan Dana Sehat di Indonesia..

Anderson R. Grossmann. http:/www. The Indonesia Private Health Sector: Opportunities for Reform An Analysis of Obstacles and Constraints to Growth. M.. 1995.A.2005 Johns. Jakarta: World Bank Consultant. Janovitz B. BioMed Central. M. B. Too Many Here: Understanding Geographical Imbalances In The Distribution Of The Health Workforce. A.L.... Mahasiswa S-2 UGM Minat Magister Manajemen Rumahsakit (MMR Husin...F. 2006.com Keputusan Menteri Kesehatan. Bratt J.. Budiarso. J. New York: Prentia Hall. 2000. Pengaruh Program TABULIN dalam gerakan saying Ibu terhadap Kelengkapan Pelayanan Antenatal di Kabupaten PATI. R. 2000 Dussault. Tatham R.E. Direktorat Gizi Masyarakat. 17 (3). Pemetaan Tingkat Kepentingan Dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit Dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor. 1999. M. 2001. Profil Kesehatan Indonesia 2000. Jakarta: Seminar sehari IDI pada tanggal 13 Nopember 1999. Irawan.. 2001...info [Akses: 30-7-2006] . Devargas T. Enhancing the comparability of costing methods: cross-country variability in the prices of non-traded inputs to health programmes. Hair Jr. Alternatif Mekanisme Pembayaran Provider Dalam Asuransi Kesehatan. 2002.resourceallocation. Situasi Kesehatan Dan Gizi Dan Issue Kebijakan Memasuki Milenium Ketiga. dan Franceschini. Bandung: Industrial Engineering and Management Hidayat. Peningkatan Mutu Pelayanan RS dengan Pemberdayaan Problem Solving Mindset. T. Korporasi Rumah Sakit Pemerintah.php?SUB= prog_pemb&SEKTOR=kesra&DATA=kesra_ke sehatan 27. R.B. 2003. Multivariate Data Analysis. Cambridge: National Bureau of Economic Research. Pemetaan Tingkat Kepentingan dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor . S.03. http://www.. 2001.go.. Adam..H. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja RI Lucya. Latief. Journal Health and Family Planning. G. Suren. Sumberdaya Manusia Dan Legal Aspek Tenaga Kerja Asing Khusus di Bidang Kesehatan. 281 – 287. The Human Capital Model of The Demand for Health.com/content/4/1/12 Eko I.. 2005.. Jakarta: Mahasiswa Program Pascasarjana Kajian administrasi Rumah Sakit FKM UI Marzolf.Basov.. http://www.. 2006. Jawa Tengah Sehat 2010.. A.net Dursin. Waver M. J..C.id/framer. Asia Times Southeast Asia. Traditional Birthing Costs Mothers’ Lives. dan Evans. http://www. Surakarta: UNS DepKes RI.go.. D... 1998. 2003. “Heterogenous Human Capital: Life Cycle Investment in Health and Education”.humanresources-health. Jawatengah. Foret J.id. Hermawan. 2006. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah.jawatengah. UU Perlindungan Konsumen Dan Dampaknya Kepada Pelayanan Rumah Sakit. 1999. 2006. 2006. Pendidikan Dokter Menghadapi Masa Depan : “Jumlah Atau Mutu Dan Kemandirian” . 2003. 2002. Block W.C. 2006.. Yogyakarta. 1999. Sesuai dengan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Victoria: University of Melbourne.desentralisasikesehatan. E. http://www.gizi. Upper Saddle River. 2002. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Hendrartini. Darmastuti. June 14. J. Not Enough There. “The Impact of Price Changes on Demand for Family Planning and Reproductive Health in Equador”.

Ekonomi Kesehatan untuk Negara-negara Sedang Berkembang. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama..S.id/info/about. Dian Rakyat bekerjasama dengan Unit Analisa Kebijaksanaan dan Ekonomi Kesehatan (AKEK). B. AO.id/gdl/go. C:/Datafile_2002/Undang/KepMenKes/Kepmenkes_228_MENKES_SK_III _2002. Kirigia. W. d’Almeida. S. Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking Rumah Sakit. http://www. 1995. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Jakarta: PT Asuransi Kesehatan Indonesia. W. Jakarta: BPS Setyawati. Pdpersi. WHO. Bandung: S2 . A.who. Z. 2002. “World Development Report”.. BMC Health Service Research. George.. 2004. BioMed Central.. http://www.id Osei. Gilson L. Jakarta: P. PT. RUMAH SAKIT: Antara Komersialisasi dan Etika.. Prinsip Mendahulukan Kewajiban.. http:/www. Sebuah Pengantar. Mensah. Hong.resource-allocation. Jakarta: Gramedia World Bank. S.. Liberalisasi Profesi Dokter & Sumpah Hippokrates.Industrial Engineering and Management. Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Ori Andari. New York: Oxford University Press..com Sumarno. 27 Juli 2003. Produk Dan Informasi Bukti Dan Informasi Untuk Kebijakan : Bukti Untuk Kebijakan Kesehatan. 2005..php?id=jbptitbpp -gdl-s2-2001-melinaherm-1829&width=400 Mills A. 1987. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan DepKes dan Kesejahteraan Sosial. Tehnical Efficiency of Public district Hospitals and Health Centres in Ghana: a Pilot Study.A. Jamsostek. 2005. Boyolali: RSU Pandan Arang Boyolali PT Askes. Xilong. K. 2006. Jakarta: Seminar Benchmarking Rumah Sakit di Jakarta. K. 2006.go. 2002b. dan Kainyu LH. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 228/Menkes/Sk/Iii/2002 Tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah. Surakarta: UNS.boyolali.T. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia.BioMed_central. H. Winkel.or. Dib. Pedoman Bagi Peserta ASKES Sosial. Service Utilization in community Health Centers in China: a Comparison Analysis with Local Hospitals. Psikologi Pengajaran.. http://www. B..php?id=9 Rahino. 2001. N. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.batan. Xionghang. Murti. Profil RSU Pandan Arang. 1990. C. 2005.tokohindonesia. 2003. http://www. HH.id [Akses: 30-7-2006] SDKI. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.co. 2006. doc Sujudi..go. 2003. MO.. Survai Demografi Kesehatan Indonesia. www. dan Bertens.. Pengaruh Kepesertaan JPS-BK Terhadap Pengeluaran Pelayanan Kesehatan.. 2005. JM. 1997. D.jamsostek co. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama. 2004. 2002. http://digilib. Jacobalis. 2000.Melina. ________. Profil Badan RSU Pandan Arang Kabupaten Boyolali Tahun 2004. Biro Perencanaan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Banyak Gakin Belum Punya Askes.com . ________. 1993. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Aksesibilitas Masyarakat ke Pelayanan Kesehatan.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2002.id Wibisono. Mohamad..com Prayogo.. P. Surakrata: UMS.. http://www. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Wilayah Puskesmas Manahan Surakarta. 1995. Sujudi.

K. Tjivambi. Mutirua. Mandlhate... A.Yuni.. http://www. K.. Central. B. Zere. 2006. 2005. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus.com . dan Kapenambli.. Shangula. T. Technical Efficiency of District Hospitals: Evidence from Nambia Using Data Envelopment Analysis. M. C. W... Mbeeli.resourceallocation. dan Rita. E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful