P. 1
Jurnal_Daya_Saing_4_4

Jurnal_Daya_Saing_4_4

|Views: 114|Likes:
Published by novi rosmita

More info:

Published by: novi rosmita on Oct 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2011

pdf

text

original

PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN

DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA

Edy Pramono

Edy Suandi Hamid
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja karyawan terhadap efektifitas layanan penerbitan akta kelahiran dan perkawinan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Hasil uji F dan Uji R2 yang dilakukan menunjukkanbahwa model yang digunakan cukup baik yaitu; gaya kepemimpinan, motivasi kerja karyawan dan efektifitas layanan sudah tepat. Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X 1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta, hal ini berarti bahwa unsur-unsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus, namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Dalam hal kepemimpinan, pemimpin hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya, perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai, pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka, sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Kata Kunci : gaya kepemimpinan, motivasi kerja dan efektifitas layanan.

Gaya kepemimpinan yang demikian secara otomatis akan menimbulkan motivasi kerja bagi anak buahnya. Adanya macam-macam motivasi menunjukan adanya tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi dan keinginan yang harus direalisasi dapat mempengaruhi tingginya dorongan seseorang untuk mendapatkan puncak kepuasan tersebut. Gaya kepemimpinan dapat dipelajari. budaya kerja. Hasil layanan menjadi optimal dengan cara kerja yang efektif akan dapat dicapai bilamana diikuti dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan manajemen yang telah disepakatinya. Motivasi berprestasi dalam pengerjaaan tugas dan juga menyukai situasi-situasi kerja dimana kinerja antara pemimpin dan bawahannya timbul karena gaya kepemimpinan yang konsultatif demokratis. Pengangkatan PNS.. karena PNS ini sebagai ujung tombak terdepan yang memberi kesan pada pelanggan dan bersentuhan dengan masyarakat setiap harinya. dan disiplin pada karyawan dalam melaksanakan tugas layanannya. Keberhasilan kepemimpinan dimana semua unsur manajemen itu harus mengarah pada tujuan dan nilainilai yang telah disepakati oleh kelompok atau . setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpuaskan. sistem dan lainnya masih sesuai atau tidak. sehigga dapat membawa perubahan sikap dan perilaku manajemen sekaligus akan menumbuhkan motivasi bagi karyawan. Dalam era globalisasi sekarang ini yang sarat dengan tantangan. tetapi pimpinan yang bisa menjadi suri teladan bagi anak buahnya. sikap. Pimpinan yang baik adalah seorang pimpinan yang tidak hanya memberi contoh saja. PENDAHULUAN Peningkatan kinerja pemimpin yang didasarkan pada kompetensi dan profesionalisme mempunyai peran penting dalam memotivasi bawahan untuk memajukan organisasi dimasa depan yang unggul dan kompetitif. Untuk melihat kecenderungan dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada lingkungan. Gaya kepemimpinan Dinas yang melayani kepentingan masyarakat harus diimbangi dengan motivasi kerja karyawan yang bertugas langsung (customer service). sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah RI No:100 Tahun 2000 tentang. akan memotivasi kerja yang baik dan bersedia belajar secara terus menerus serta bergaul akrab dengan bawahan tanpa membedabedakan akan menimbulkan motivasi kerja yang tinggi juga bagi anak buahnya.A. keunggulan kompetitif. Gaya kepemimpinan dan motivasi kerja bawahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektifitas layanan terhadap masyarakat. dapat menumbuhkan motivasi. dengan mengadakan peningkatan kualitas profesionalisme. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penyelenggaraan kantor pemerintahan secara efektifitas dan efisien. Membangun kinerja aparat pelayanan yang efektif dan efisien dapat dilakukan dengan menciptakan suatu harmonisasi antara gaya kepemimpinan dan motivasi kerja yang dipimpinnya. Gaya kepemimpinan adalah suatu seni mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam upaya mencapai tujuan dengan setrategi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Kondisi lingkungan kerja yang selalu berkembang dan berubah harus dipantau (baik internal maupun eksternal ) secara berkala untuk meyakinkan bahwa setrategi . untuk memberi kepuasan masyarakat. semua itu dimulai dari pimpinan organisasi atau dinas tertentu ketika menyusun program kerja. memberikan dorongan. Gaya kepemimpinan yang konsultatif dimana dalam kepemimpinan ini lebih banyak mengajak dan menghimbau dari pada menghukum. sehingga membuat orang-orang yang terlibat dalam kerjanya merasa termotivasi dan hasil aktifitas pelayanan kesehariannya menjadi lebih efektif dan memuaskan masyarakat pelanggan. Pimpinan yang bisa menjadi teladan sebenarnya pada anak buah. Pemimpin yang mempunyai jiwa yang bijaksana dan tidak main perintah saja tetapi juga memperhatikan usulan dari karyawan bawahannya. sebagai hasil penerapan gaya kepemimpinan yang disukai anak buahnya. mereka dituntut kreativitas dan kepekaan yang tinggi menghadapi tingkat perubahan lingkungan yang cepat. serta memegang penuh etika birokrasi sesuai dengan tingkat kepuasan dan keinginan masyarakat”. Antara lain dengan keteladanan. tujuan. Kualitas pelayanan publik yang memuaskan menginginkan lebih banyak umpan balik yang seimbang dengan pengorbanan yang diberikan oleh kantor dan pemenuhan kewajiban sebagai masyarakat yang loyal pada pemerintahnya. dan memberikan tanggung jawab serta mengajak dan menghimbau bukan memerintah. persaingan. namun penggunaan setrategi dalam mencapai tujuan diperlukan pengalaman bahkan pada masa kini pengalaman kurang mencukupi. Upaya pimpinan menggerakan anak buah untuk lebih semangat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat banyak secara professional dapat dilakukan jika kepemimpinan tersebut dapat diterima bawahannya secara iklas dan senang hati.

Dengan demikian para karyawan dapat mengukur kemampuan kemudian dikombinasikan dengan pekerjaannya . Selain itu demi tercapainya tujuan organisasi maka hendaknya setiap pegawai didorong semangat kerja dan disiplin kerja yang tinggi. Proses komunikasi dua arah merupakan suatu hal yang dapat mendukung iklim kerja sebagai upaya untuk mewujudkan motivasi dalam efektifitas pelaksanaan tugas pelayanan. Pelaksanaan dikendalikan. yang dapat menjamin terciptanya perilaku yang adil dan kenyamanan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. tetapi bukan berarti terjadi minimalisasi target pekerjaaan. Dalam era yang serba terbuka ini maka kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang memberdayakan bawahannya. Merumuskan tujuan dan sasaran layanan organisasi secara jelas. dianalisa kemudian ditindak lanjuti.. perlu dipelihara dengan adanya komunikasi dua arah . motivasi kerja PNS dan tata kerja disuatu organiasasi pemerintahan tersebut. maka penelitian ini melibatkan semua karyawan PNS di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta.Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi pengaruh globalisasi yang akan menerpa semua negara di dunia termasuk Indonesia. dimana motivasi tidak akan berarti kalau ketrampilan tidak cukup. (1). Unsur yang terkandung efektifitas dan efisiensi memiliki kekuatan motivasi. Sebagai alternatif yang dapat dipilih dan dilakukan seorang pemimpin dewasa ini adalah gaya kepemimpinan yang konsultatif. Kepimpinan yang menjamin terjalinnya efektifitas komunikasi dua arah. Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. (2). 61 orang tersebut terdiri dari : (1) (2) (3) (4) Bagian tata usaha Bagian bina program Sub Din Kependudukan : 16 orang : 5 orang : 23 orang Sub Din Catatan Sipil : 11 orang (5) Sub Din Dokumentasi & Informasi: 6 orang + JUMLAH : 61 orang . Oleh karena banyaknya jumlah karyawan dinas tersebut hanya 61 orang karyawan PNS. lebih demokratis dan terbuka. (Thoha. maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA”.Sehingga akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. dengan memberikan rangsangan baik yang bersifat materi maupun non materi yang sering disebut motivasi. dan lebih bersifat terdesentralisasi . Semua itu tidak akan optimal bilamana tidak memperhatikan faktor manusiawi berupa kejenuhan. Kecenderungan para aparat untuk setia kepada pengarahan pimpinan yang berada diatasnya secara strukturalnya. Kritik terhadap instansi pemerintah kemudahan dalam mencapai target sehingga karyawan termotivasi untuk bekerja lebih baik. Untuk mengatasi tantangan globalisasi diperlukan perubahan cara kerja baru yang lebih efektif dan efisien. tugas dan kewajibannya. Karena kepemimpinan yang memberdayakan bawahan akan menimbulkan kepercayaan kepada pegawai dalam melakukan pekerjaannya dan kepemimpinan yang demikian secara linier akan mendelegasikan beberapa fungsinya pada pegawai yang dipimpinnya. Populasi. (4). Tujuan harus dijabarkan dalam kebijaksanaan dan setrategi yang operasional. METODOLOGI PENELITIAN 1. Dilaksanakan dengan semua pihak. tidak memiliki motivasi dan ketrampilan yang dilandasi kepribadian. berupa perbaikkan atau penyempurnaan secara terus menerus. tidak memiliki kepribadian dan nilai-nilai. sehingga penelitian ini tidak menggunakan sampel. Dengan sekilas memahami konsep-konsep dasar gaya kepemimpinan. karena gaya ini menempatkan kedua belah pihak baik yang memimpin dan yang dipimpin berada pada posisi yang sama hak. Di banyak lembaga sebenarnya telah memiliki komitmen tinggi juga cenderung terlibat dalam pengaktualisasian praktik-praktik gaya kepemimpinan yang bertujuan untuk menjamin kinerja mereka agar memiliki peluang untuk sepenuhnya menggunakan semua ketrampilan –ketrampilan dan bakatnya. (3). 2002: 74-84).organisasi dalam menghadapi tantangan atau mencapai tujuan dinas yang dipimpinnya. B. Indikator keberhasilan akan dirancang sendiri oleh pegawai dengan sepengetahuan pimpinan. baik kerjasama maupun koordinasi. biasanya lebih banyak menjamin perasaan adil atas keluhankeluhan dan hal-hal in-disipliner bagi aparat yang dibawah pimpinannya. 2004:90). Untuk itu manajemen perkantoran harus berorientasi pada tujuan agar lebih efektif dan efisien dengan cara seperti. lebih rasional dan fleksibel. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek-obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono.

Metode pengumpulan data yang ditempuh dalam pelaksanaan penelitian ini adalah. Metode Pengumpulan Data. . dan Motivasi karyawan (X2). diperlukan data primer dan data sekunder. 5). dengan skor 5. maka jawaban kuesioner dengan mengunakan skala Likert. adapun yang menjadi indikatornya adalah. Karena skala Likert dapat digunakan untuk mengukur sikap. 2). Metode Analisis Data. Pengakuan dan Pengesahan Anak. Dalam penelitian ini digunakan data rating scale . maka untuk mengetahui pengaruh factor Gaya kepemimpinan dan Motivasi kerja sebagai variabel bebas terhadap Efektifitas layanan. 2004:107) Pada penel. 4). sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + e. 4. Untuk keperluan analisis secara kuantitatif.2. pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial ( Sugiyono. perilaku pimpinan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas yang dilakukan terhadap kerja bawahan.Oleh karena itu rating scale lebih fleksibel. 1). 3). Penggunaan alat yang berbasis teknologi informasi yang cangih. tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk pengukuran persepsi responden terhadap fenomena lainnya. dengan indikator-indikatornya antara lain .. dengan skor 3. (d). (d). semangat yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. Definisi Operasional. Jenis data . dengan indikator : (a). Hubungan antar teman sejawat dan pimpinan didasarkan rasa persahabatan. Kemampuan mempengaruhi. Tepat waktu dan disiplin kerja Gaya kepemimpinan (X1) adalah. Dalam penelitian ini sebagai variabel adalah Efektifitas Layanan (Y). Fokus pada pelanggan. Angket yang digunakan adalah angket tertutup. (c). Hubungan kerja yang baik.Dalam rating scale responden menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan . Wawancara. Untuk membantu analisa obyek penelitian. pemberian jasa dan kepuasan kepada orang lain . Berorientasi pada kepuasan orang lain. dengan skor 1. kerja 3. Motovasi kerja (X2) adalah. Pilihan KS = Kurang setuju. dengan instrumennya berupa pedoman wawancara. serta Kasi Kelahiran Kematian. Untuk keperluan akurasi data digunakan metode bantu wawancara yang dilaksanakan secara acak dan observasi. tenaga. Alasan pemilihan angket dalam penelitian ini dari segi teknis pelaksanaan angket adalah metode yang paling efetif. Instrumen Penelitian. Dimana : Y adalah . Penyampaian informasi. dengan skor 2. Variabel Penelitian. Konstanta X 1 adalah . efisien dan hemat waktu. terikat bebas dari . (c).itian ini responden diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban sebagai berikut : Pilihan SS = Sangat setuju. Efektifitas Layanan a adalah . maka diadakan uji validitas dan reliabilitas 5.isis Regresi Linier Berganda. dan biaya dalam proses penelitian. (b). Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti guna melengkapi informasi yang dibutuhkan. Pilihan S = Setuju. Setelah instrumen penelitian yang berupa daftar penyataan disusun. Efektiftas layanan ( Y ) adalah. Observasi. Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan diatas. Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab/wawancara secara langsung baik dengan responden maupun dengan pimpinan pada Dinas Kependukukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. dengan skor 4. (c). Kepuasan kerja. Data sekunder ini diperoleh dari studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini. (d). (b). Ana. dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada: Ka. Pengambilan keputusan. (b). (a). Pilihan STS = Sangat tidak setuju. Kemampuan memotivasi. Prosedur layanan singkat dan sederhana. Gaya Kepemimpinan X 2 adalah : Motivasi Kerja a.Si Perkawinan dan Perceraian . (a). dan variabel merupakan faktor yang mempengaruhi terdiri Gaya kepemimpinan (X1). Angket. maksudnya angket yang sudah tersedia jawabanya responden tinggal memilih diantara jawaban yang tersedia. (e). Adapun analisis regresi berganda disusun persamaan regresinya menjadi suatu model empiris. Pilihan TS = Tidak setuju. Data primer ini adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner secara langsung kepada staf maupun pimpinan yang ada di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. Pembagian kerja yang jelas.

1996:291). c. 2. Koefisien Determinan ( R 2 ) Koefisien determinasi dilambangkan dengan R2 merupakan proporsi hubungan antara variabel Y dengan variabel X.Otokorelasi adalah keadaan di mana terdapat trend didalam variabel yang diteliti. gaya kepemimpinan. maka kondisi tersebut dikatakan tidak homoskedastisitas atau mengalami heteroskadestisitas. Uji t . d. Untuk uji normalitas data hasil tes digunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan melihat normal probability plot. rumus regresi diperleh dengan asumsi bahwa variabel pengganggu (error) atau e diasumsikan memiliki varian yang konstan (rentangan e kurang lebih sama). Multikolinearitas adalah korelasi linear yang “perfect” atau eksak diantara variabel penjelas yang dimasukkan kedalam model. Ini berarti semua variable lolos uji reliabitas. (4). dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai r Alpha positif dan r Alpha > r tabel (0. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara parsial mempengaruhi Efektifitas Layanan. Uji F . uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas sebaran. Analisis Data Tahap berikutnya dalam penelitian ini adalah mendapatkan kesimpulan hasil penelitian yang telah penulis lakukan di Dinas Kependidikan dan Catatan Sipil Kota Surakarta.444) atau koefisien Alpha > dari kriteria Nunnally yaitu 0. Uji Instrumen a. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara bersamasama mempengaruhi Efektifitas Layanan. Jika ternyata varian dari e tidak konstan artinya bias membesar atau mengecil pada nilai X yang lebih tinggi. b2 adalah : koefisien regresi pada motivasi kerja karyawan X 2 e adalah : standar error yiatu pengaruh variabel lain diluar model.6 thitung > ttabel variable 0. b. maka digunakan uji F – Statistik c. Adapun model dalam penelitian ini adalah = Y = a + b 1X1 + b2X2 + e .tolak Ho. Uji Kolmogorov-Smirnov memusatkan perhatian pada penyimpangan atau deviasi maksimum. maka harus dipenuhi syarat BLUE ( Best Linier Unbiased Estimator) yaitu : (1) Uji Normalitas Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui setelah perlakuan akan berdistribusi normal atau tidak (Sudjana. Melihat hasil analisis dapat dijelaskan bahwa angket yang sajikan dapat dipakai pada proses penelitian selanjutnya yaitu uji pengambilan keputusan atau uji hipotesa dan uji asumsi klasik. sehingga mengakibatkan e juga mengandung trend. uji multikolinieritas. Uji Reliabilitas Konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Jika diantara variabel X1.6. dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai thitung > ttabel. Adapun tahap-tahap pengujian hipotesa terdiri dari uji instrumen yang akan terdiri dari uji validitas dan reliabilitas. D.dan jika p lebih dari α. Nilai koefisien determinasi adalah diantara 0 (nol) dan 1 (satu ).b 1 . maka digunakan uji t-statistik. uji otokorelasi dan uji heteroskedastisitas. tetapi ikut mempengaruhi efektifitas layanan. Uji Multikoliearitas. jika p sama atau kurang kurang dari α. Uji Validitas Dari hasil analisis data uji validitas diketahui bahwa variabel efektivitas layanan. X2. terima Ho. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel independent. ada yang memiliki korelasi tinggi maka hal tersebut mengidetifikasikan adanya problem multikolinear. (2) Uji Otokorelasi Otokorelasi sering terjadi pada pengamatan pada data runtut waktu (time series) .adalah : koefisien regresi pada gaya kepemimpinan X 1 . Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan suatu butir angket dalam penelitian. Uji Asumsi : Untuk memastikan bahwa model yang diestimasi memenuhi ketentuan asumsi klasik. Keputusan uji. untuk tahap pertama adalah sebagai berikut: 1. sehingga terbukti kebenaran hipotesis yang telah penulis kemukakan pada bab III. Hasil uji reabilitas menunjukkan hasil bahwa efektivitas layanan. gaya kepemimpinan. Uji Hipotesis . (3) Uji Heteroskedastisitas. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Sebagaimana dalam uji asumsi klasik. b.

Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 4. Dengan menggunakan alat bantu program SPSS diperoleh hasil analisis yang baru sebagai berikut: Y = -3. sehingga uji F dan t yang telah dilakukan tidak dapat diterima.05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.415 X1 + 0.070 sedangkan nilai ttabel sebesar 2.278 artinya variabel efektivitas layanan dipengaruhi oleh variabel efektivitas layanan itu sendiri sebesar 0.002 dengan α 1% dan df = 58.278 dengan asumsi variabel lain tetap atau variabel efektivitas layanan itu dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa pengaruh dari variabel yang lain.5 yang berarti bahwa terdapat gejala autokorelasi. adapun hasilnya dari analisis regresi sebagai berikut: a. c.278 Yt_1 + e (3. Pengaruh variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan. Yt_1=0.15 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.523 X1 + 0. ** = Signifikan pada α: 5% Interpretasi: a. 3) Uji F Berdasarkan hasil analisis data maka di dapatkan uraian tentang uji F sebagai berikut: Pengujian variabel independen secara bersama-sama (gaya kepemimpinan dan motivasi kerja) terhadap efektivitas layanan dilakukan dengan menggunakan uji F.525 F = 31. Pengaruh variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan. Jika kita memasukkan variabel Yt_1 maka pengaruh Xt akan mengecil (nilai b1 akan mengecil).651 DW = 2.170 Keterangan: *** = Signifikan pada α: 1%.886)*** R2 = 0.002 dengan α 5% dan df = 58.003 : 0. b. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel. 4) Uji R2 Berdasarkan hasil analisis data dengan program paket statistik SPSS ver 10 maka di dapatkan uraian tentang uji R² sebagai berikut: .05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.651 lebih besar dari Ftabel yaitu 3. X1 = 0.167)** (4.933 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja konstan atau 0 maka variabel efektivitas layanan sebesar 3.470 X2 + 0. β0 = -3.307 Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa nilai DW = 1. artinya secara bersama-sama variabel gaya kepemimpinan dan variabel motivasi kerja berpengaruh terhadap efektivitas layanan. b. X2 = 0.070)*** (3.167 sedangkan nilai ttabel sebesar 2. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung kepemimpinan yaitu sebesar 0. Berdasarkan hasil analisis data di dapat persamaan regresi sebagai berikut: Y = 12.459 DW = 1.933 + 0.081)** R2 = 0. adapun model yang kita gunakan adalah dengan cara memasukkan variabel Yt_1. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan. 2004: 37).307 < 1.478 X2 + e (3.880)*** (3.415 satuan dengan asumsi variabel lain tetap.470 satuan dengan asumsi variabel lain tetap.000 : 0.415 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0.323 + 0. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan. d. Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 3. Akan tetapi pengaruh Xt sekarang menjadi lebih murni (Setiaji.1) Regresi Berganda Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.592 F = 26. Agar persamaan regresi diatas bebas dari gejala autokorelasi maka perlu dilakukan perbaikan model. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel. dengan membandingkan hasil uji Fhitung dengan Ftabel. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 26.470 artinya apabila variabel motivasi kerja semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0. 2) Uji t Uji t digunakan untuk menguji secara parsial atau satu-satu antara variabel independen dengan variabel dependen.933 satuan. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung motivasi kerja yaitu sebesar 0.

faktor individu. variabel-variabel tersebut misalnya lingkungan kerja. Motivasi hanya dapat disimpulkan dari perilaku yang tampak. kedua nilai VIF tersebut kurang dari 10 maka data yang penulis pergunakan terbebas dari masalah multikolinieritas. Dari hasil analisis data diperoleh R² sebesar 0. dan merasa tidak berarti.472 dan untuk X2 sebesar 1. Dikarenakan hasil hitung Durbin-Watson > 1. hal ini berarti bahwa unsurunsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus. c. disiplin. Jika gaya kepemimpinan tersebut ditolak oleh bawahannya bisa kehilangan harga diri.2%.2 yang berarti tidak terdapat gejala heteroskedastisitas.8% mendapat kontribusi dari variabel lain yang tidak terdapat di dalam model atau tidak penulis teliti. Motivasi kerja lebih dapat mempengaruhi efektivitas layanan karena adanya penghargaan terhadap prestasi atau pengakuan yang diberikan oleh atasan maupun lingkungan tempat kerja. bisa diterapkan pada karyawan bawahannya atau orangorang yang menjadi tanggung jawabnya. namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. KESIMPULAN DAN SARAN 1. 4. Untuk variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap efektivitas layanan adalah variabel motivasi kerja karena motivasi merupakan hal yang melatar belakangi tingkah laku manusia. Pembahasan Hasil uji ketepatan model uji F menunjukkan secara bersama-sama ada pengaruh yang signifikan dari variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.5 maka dapat diketahui bahwa dalam model regresi pada penelitian ini tidak ada masalah otokorelasi.369. Adapun hasil uji heteroskedastisitas adalah : d. mengarahkan dan menciptakan kesamaan persepsi terhadap satu kebijakan untuk mencapai tujuan. D. maka kita tidak dapat melihatnya secara nyata.170. pendidikan formal dan lainlain. Uji Multikolinieritas Hasil uji multikolinieritas diperoleh nilai VIF untuk X1 sebesar 1. diberikannya insentiv maupun penghargaan terhadap pegawai sehingga menumbuhkan motivasi dalam bekerja.96 yang mana hasil ini lebih kecil dari 9. Motivasi adalah suatu dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan baik agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji. . Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Sedangkan gaya kepemimpinan yang diterapkan sering membuat pengawai bekerja dengan sedikit keterpaksaan tidak dengan kesadaran pribadi dari diri pengawai sehingga pengaruh gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan tidak sebesar pengaruh yang ditimbulkan oleh motivasi dari pegawai pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta.592 ini menunjukkan bahwa variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja mempunyai kontribusi pengaruh terhadap variabel efektivitas layanan sebesar 59. b.05.016 apabila dikalikan dengan N = 60 maka diperoleh hasil 0. 3. Hasil uji ketepatan parameter penduga (Uji t) diketahui bahwa kedua variabel signifikan berpengaruh terhadap variabel efektivitas layanan. Uji Asumsi Klasik a.155 > 0.5 dan < 2. akibatnya kebijakan yang diberikan menjadi statis mandeg. Variabel dominan kedua adalah variabel gaya kepemimpinan yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan rasa bersemangat demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan secara bersama-sama dan mendorong terciptanya kebersamaan atau perilaku seorang pemimpin dalam menggerakkan aktivitasnya dalam usaha membimbing. Uji Autokorelasi Hasil analisis data di dapatkan nilai DW= 2.Untuk mengetahui persentase besarnya perubahan variabel terikat yang disebabkan oleh variabel bebas. dari perbuatan seseorang yang didahului oleh adanya sesuatu yang mendorongnya. Uji Heteroskedastisitas Hasil analisis data diperoleh nilai R2 = 0. Kesimpulan a. Sedangkan sisanya sebesar 40. berarti sebaran data yang penulis gunakan berdistribusi normal. baik disadari atau tidak manusia tidak dapat memungkirinya. Uji Normalitas Dengan melihat hasil analisis data didapatkan hasil analisis terhadap uji normalitas dengan metode Kormogorov-Smirnov yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas = 0. Seorang pemimpin hendaknya memiliki gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya dan iklim kerja kantor yang dipimpinnya.

mengingat terbukti faktor motivasi dalam penelitian ini mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produktifitas kerja pegawai pada Kecamatan Gatak. c. Program Pembangunan Kesehatan Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. Pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka. Arfida. 2003. 1997. 1996. 1996. A. M. struktur tugas. PBIDIKOMPAS. Pelaksanaan Dana Sehat di Indonesia. Jurnal Epidemiologi Indonesia ISSN:14110-296X Volume 1 Edisi 2-1997 Azwar. Azwar. dan Monzona. Peranan IDI Dalam Membuka Peluang Kerja Dokter Pasca PTT . Hal ini dikandung maksud agar para pegawai khususnya di Kecamatan Gatak dapat terus termotivasi sehingga tugas utama mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) dapat terlaksana dengan baik. 2005. Jakarta 22 Juli 1995.. S.. A. 2005. Menyediakan Layanan Efektif bagi Kaum Miskin di Indonesia: Laporan Mekanisme Pembiayaan Kesehatan (JPK-GAKIN) di Kabupaten Sumba Timur. c. 2003. Y.b. B. Surakarta: Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Agustono. Hasil penelitian hendaklah dapat dipergunakan sebagai bahan untuk penelitian berikutnya dengan mempertimbangkan segala keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini. b.. Ekonomi Sumber Daya Manusia. 2.. dan Ferichani. Mengenal Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU. R. R.. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Efektivitas Penyuluhan Kesehatan Ibu Hamil (Bumil) Di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar: Kajian Pendekatan Model KIE. ESA Indonesia. Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Surakarta: Pusat Studi Kependukan UNS. Perlaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang: Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai. Dalam hal kepemimpinan di lingkungan kecamatan. Jakarta: Sekjen DepKes RI Arifianto. 1995. Aseli. DAFTAR PUSTAKA Anantanyu. NTT. S. dan Budiyanti. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus. 2001.. Jakarta: Ikatan Dokter Keluarga .. PT. sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat. A. Rekomendasi a. d. Atyastami. position power dan kepercayaan bawahan kepada pemimpin. Astuti. Marianti.. Argadiredja. Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. Disampaikan pada Seminar Sehari Tentang Dokter Pegawal Tidak Tetap. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. camat hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya dan beberapa variabel situasional misalnya kebutuhan-kebutuhan bawahan.

“The Impact of Price Changes on Demand for Family Planning and Reproductive Health in Equador”. 17 (3). 2006. Hair Jr.jawatengah. D. Sesuai dengan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.net Dursin.H. 2003. Cambridge: National Bureau of Economic Research. 1999. Devargas T. T.id/framer.. 2000. 2002. Direktorat Gizi Masyarakat. G.. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.com Keputusan Menteri Kesehatan. Hendrartini. http://www. Situasi Kesehatan Dan Gizi Dan Issue Kebijakan Memasuki Milenium Ketiga. M. http://www... 2006. Irawan. Not Enough There.resourceallocation. The Indonesia Private Health Sector: Opportunities for Reform An Analysis of Obstacles and Constraints to Growth. New York: Prentia Hall. Pemetaan Tingkat Kepentingan dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor . Adam. Darmastuti. Hermawan. June 14. Pengaruh Program TABULIN dalam gerakan saying Ibu terhadap Kelengkapan Pelayanan Antenatal di Kabupaten PATI. Asia Times Southeast Asia. J. 281 – 287. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja RI Lucya. 1998. 2002...L. Victoria: University of Melbourne. 2006. E. R.C.desentralisasikesehatan. 2006. Multivariate Data Analysis. B. Sumberdaya Manusia Dan Legal Aspek Tenaga Kerja Asing Khusus di Bidang Kesehatan. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Traditional Birthing Costs Mothers’ Lives. Suren. “Heterogenous Human Capital: Life Cycle Investment in Health and Education”.. 2000 Dussault.info [Akses: 30-7-2006] . Grossmann.. 2001. A. dan Evans. 1999.. 2001. A. Anderson R.id.03.. Upper Saddle River.A. Jakarta: Mahasiswa Program Pascasarjana Kajian administrasi Rumah Sakit FKM UI Marzolf. Profil Kesehatan Indonesia 2000. Block W. Bandung: Industrial Engineering and Management Hidayat.. 2003. M. Mahasiswa S-2 UGM Minat Magister Manajemen Rumahsakit (MMR Husin. http://www.. 2006. J. Too Many Here: Understanding Geographical Imbalances In The Distribution Of The Health Workforce..humanresources-health. Journal Health and Family Planning.C. Bratt J. R.E. Latief.go. Pendidikan Dokter Menghadapi Masa Depan : “Jumlah Atau Mutu Dan Kemandirian” .. http:/www.go.. Korporasi Rumah Sakit Pemerintah. Jawa Tengah Sehat 2010. J. Jakarta: World Bank Consultant. BioMed Central. Tatham R.2005 Johns.. S. M.com/content/4/1/12 Eko I. The Human Capital Model of The Demand for Health.gizi.... Waver M. 1999. 2005. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah. 2006. Alternatif Mekanisme Pembayaran Provider Dalam Asuransi Kesehatan..php?SUB= prog_pemb&SEKTOR=kesra&DATA=kesra_ke sehatan 27. dan Franceschini. Jawatengah. Janovitz B. 2001.F. Peningkatan Mutu Pelayanan RS dengan Pemberdayaan Problem Solving Mindset.. Surakarta: UNS DepKes RI. Foret J. Yogyakarta. UU Perlindungan Konsumen Dan Dampaknya Kepada Pelayanan Rumah Sakit.B. http://www.Basov. 2002. Pemetaan Tingkat Kepentingan Dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit Dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor.. 1995. Budiarso. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 2003.. Enhancing the comparability of costing methods: cross-country variability in the prices of non-traded inputs to health programmes. Jakarta: Seminar sehari IDI pada tanggal 13 Nopember 1999.

BioMed Central. http://www. B. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Wilayah Puskesmas Manahan Surakarta. 2002. doc Sujudi. HH. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan DepKes dan Kesejahteraan Sosial. 27 Juli 2003. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. P. S. Hong. Jakarta: BPS Setyawati.. 2006. Mensah. George..boyolali. Jakarta: Gramedia World Bank. Surakrata: UMS.id Osei. Jakarta: Seminar Benchmarking Rumah Sakit di Jakarta.or. AO. Biro Perencanaan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.T. Ekonomi Kesehatan untuk Negara-negara Sedang Berkembang. Dian Rakyat bekerjasama dengan Unit Analisa Kebijaksanaan dan Ekonomi Kesehatan (AKEK).. 1997. Profil Badan RSU Pandan Arang Kabupaten Boyolali Tahun 2004. B. 2006. New York: Oxford University Press. 1995..php?id=9 Rahino. Z. Survai Demografi Kesehatan Indonesia.Melina. Ori Andari.tokohindonesia. 2006. D. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama.id [Akses: 30-7-2006] SDKI. Xionghang. Winkel. Murti. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama. W.. Profil RSU Pandan Arang. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. MO.com .Industrial Engineering and Management. N. Psikologi Pengajaran. H. http:/www..A. 2002. Xilong. Jaminan Sosial Tenaga Kerja. K.php?id=jbptitbpp -gdl-s2-2001-melinaherm-1829&width=400 Mills A. Jakarta: P. “World Development Report”. Jamsostek.who. Service Utilization in community Health Centers in China: a Comparison Analysis with Local Hospitals. Pedoman Bagi Peserta ASKES Sosial. W. 2002b.. 2005..batan.BioMed_central. 2003. S.. C:/Datafile_2002/Undang/KepMenKes/Kepmenkes_228_MENKES_SK_III _2002. http://www. Boyolali: RSU Pandan Arang Boyolali PT Askes.com Prayogo. K...com Sumarno. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Pdpersi.. http://digilib..id/gdl/go. dan Kainyu LH. dan Bertens. 1995.resource-allocation. ________. 2000. 2002. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia... BMC Health Service Research. RUMAH SAKIT: Antara Komersialisasi dan Etika.id/info/about. 2005. 1993.go. Jacobalis.. Prinsip Mendahulukan Kewajiban. 2005.. Produk Dan Informasi Bukti Dan Informasi Untuk Kebijakan : Bukti Untuk Kebijakan Kesehatan. Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking Rumah Sakit. 1987.. 2004. PT. Aksesibilitas Masyarakat ke Pelayanan Kesehatan. Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Gilson L. Sujudi.co. Liberalisasi Profesi Dokter & Sumpah Hippokrates. www. Banyak Gakin Belum Punya Askes.id Wibisono. 2005. WHO. Kirigia. http://www. 1990. Pengaruh Kepesertaan JPS-BK Terhadap Pengeluaran Pelayanan Kesehatan. 2001. A. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 228/Menkes/Sk/Iii/2002 Tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Surakarta: UNS. http://www. Tehnical Efficiency of Public district Hospitals and Health Centres in Ghana: a Pilot Study. Bandung: S2 . d’Almeida. Jakarta: PT Asuransi Kesehatan Indonesia.. 2004.S. Dib. 2003.jamsostek co. JM. http://www. C. Mohamad.go. ________.

C.. Mbeeli. http://www.com .. 2005. B. Mandlhate. W.. dan Rita. A. Zere. Central. E.. Tjivambi.resourceallocation. K. Mutirua. dan Kapenambli. Technical Efficiency of District Hospitals: Evidence from Nambia Using Data Envelopment Analysis. Shangula. T. 2006. M. K. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus....Yuni.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->