PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA KARYAWAN TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN

DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA

Edy Pramono

Edy Suandi Hamid
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja karyawan terhadap efektifitas layanan penerbitan akta kelahiran dan perkawinan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Hasil uji F dan Uji R2 yang dilakukan menunjukkanbahwa model yang digunakan cukup baik yaitu; gaya kepemimpinan, motivasi kerja karyawan dan efektifitas layanan sudah tepat. Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X 1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta, hal ini berarti bahwa unsur-unsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus, namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Dalam hal kepemimpinan, pemimpin hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya, perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai, pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka, sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat.

Kata Kunci : gaya kepemimpinan, motivasi kerja dan efektifitas layanan.

Kondisi lingkungan kerja yang selalu berkembang dan berubah harus dipantau (baik internal maupun eksternal ) secara berkala untuk meyakinkan bahwa setrategi . akan memotivasi kerja yang baik dan bersedia belajar secara terus menerus serta bergaul akrab dengan bawahan tanpa membedabedakan akan menimbulkan motivasi kerja yang tinggi juga bagi anak buahnya. PENDAHULUAN Peningkatan kinerja pemimpin yang didasarkan pada kompetensi dan profesionalisme mempunyai peran penting dalam memotivasi bawahan untuk memajukan organisasi dimasa depan yang unggul dan kompetitif. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut penyelenggaraan kantor pemerintahan secara efektifitas dan efisien. Motivasi berprestasi dalam pengerjaaan tugas dan juga menyukai situasi-situasi kerja dimana kinerja antara pemimpin dan bawahannya timbul karena gaya kepemimpinan yang konsultatif demokratis. untuk memberi kepuasan masyarakat. setelah kebutuhan yang lebih rendah telah terpuaskan. Upaya pimpinan menggerakan anak buah untuk lebih semangat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat banyak secara professional dapat dilakukan jika kepemimpinan tersebut dapat diterima bawahannya secara iklas dan senang hati.A. Gaya kepemimpinan adalah suatu seni mengerahkan segala sumber daya yang dimiliki dalam upaya mencapai tujuan dengan setrategi yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan. sistem dan lainnya masih sesuai atau tidak. Gaya kepemimpinan yang demikian secara otomatis akan menimbulkan motivasi kerja bagi anak buahnya. Pemimpin yang mempunyai jiwa yang bijaksana dan tidak main perintah saja tetapi juga memperhatikan usulan dari karyawan bawahannya. Adanya macam-macam motivasi menunjukan adanya tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi dan keinginan yang harus direalisasi dapat mempengaruhi tingginya dorongan seseorang untuk mendapatkan puncak kepuasan tersebut. Untuk melihat kecenderungan dan mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi pada lingkungan. Pengangkatan PNS. mereka dituntut kreativitas dan kepekaan yang tinggi menghadapi tingkat perubahan lingkungan yang cepat. Gaya kepemimpinan dan motivasi kerja bawahan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap efektifitas layanan terhadap masyarakat. Keberhasilan kepemimpinan dimana semua unsur manajemen itu harus mengarah pada tujuan dan nilainilai yang telah disepakati oleh kelompok atau . tujuan. sebagai hasil penerapan gaya kepemimpinan yang disukai anak buahnya. serta memegang penuh etika birokrasi sesuai dengan tingkat kepuasan dan keinginan masyarakat”. Antara lain dengan keteladanan. karena PNS ini sebagai ujung tombak terdepan yang memberi kesan pada pelanggan dan bersentuhan dengan masyarakat setiap harinya. persaingan. sehingga membuat orang-orang yang terlibat dalam kerjanya merasa termotivasi dan hasil aktifitas pelayanan kesehariannya menjadi lebih efektif dan memuaskan masyarakat pelanggan. memberikan dorongan. sebagaimana yang dimaksud dalam Peraturan Pemerintah RI No:100 Tahun 2000 tentang. dengan mengadakan peningkatan kualitas profesionalisme. Membangun kinerja aparat pelayanan yang efektif dan efisien dapat dilakukan dengan menciptakan suatu harmonisasi antara gaya kepemimpinan dan motivasi kerja yang dipimpinnya.. namun penggunaan setrategi dalam mencapai tujuan diperlukan pengalaman bahkan pada masa kini pengalaman kurang mencukupi. dan memberikan tanggung jawab serta mengajak dan menghimbau bukan memerintah. keunggulan kompetitif. dan disiplin pada karyawan dalam melaksanakan tugas layanannya. Gaya kepemimpinan dapat dipelajari. Pimpinan yang baik adalah seorang pimpinan yang tidak hanya memberi contoh saja. Hasil layanan menjadi optimal dengan cara kerja yang efektif akan dapat dicapai bilamana diikuti dengan gaya kepemimpinan yang sesuai dengan manajemen yang telah disepakatinya. sikap. Kualitas pelayanan publik yang memuaskan menginginkan lebih banyak umpan balik yang seimbang dengan pengorbanan yang diberikan oleh kantor dan pemenuhan kewajiban sebagai masyarakat yang loyal pada pemerintahnya. dapat menumbuhkan motivasi. tetapi pimpinan yang bisa menjadi suri teladan bagi anak buahnya. budaya kerja. Dalam era globalisasi sekarang ini yang sarat dengan tantangan. sehigga dapat membawa perubahan sikap dan perilaku manajemen sekaligus akan menumbuhkan motivasi bagi karyawan. semua itu dimulai dari pimpinan organisasi atau dinas tertentu ketika menyusun program kerja. Gaya kepemimpinan Dinas yang melayani kepentingan masyarakat harus diimbangi dengan motivasi kerja karyawan yang bertugas langsung (customer service). Pimpinan yang bisa menjadi teladan sebenarnya pada anak buah. Gaya kepemimpinan yang konsultatif dimana dalam kepemimpinan ini lebih banyak mengajak dan menghimbau dari pada menghukum.

organisasi dalam menghadapi tantangan atau mencapai tujuan dinas yang dipimpinnya. tugas dan kewajibannya. maka penelitian ini melibatkan semua karyawan PNS di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Unsur yang terkandung efektifitas dan efisiensi memiliki kekuatan motivasi. maka penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul : “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP EFEKTIFITAS LAYANAN PENERBITAN AKTA KELAHIRAN DAN PERKAWINAN DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL KOTA SURAKARTA”. Di banyak lembaga sebenarnya telah memiliki komitmen tinggi juga cenderung terlibat dalam pengaktualisasian praktik-praktik gaya kepemimpinan yang bertujuan untuk menjamin kinerja mereka agar memiliki peluang untuk sepenuhnya menggunakan semua ketrampilan –ketrampilan dan bakatnya. Populasi.Sehingga akan menghasilkan kinerja yang lebih baik. (2). Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta.. baik kerjasama maupun koordinasi. Untuk mengatasi tantangan globalisasi diperlukan perubahan cara kerja baru yang lebih efektif dan efisien. dan lebih bersifat terdesentralisasi . motivasi kerja PNS dan tata kerja disuatu organiasasi pemerintahan tersebut. Kepimpinan yang menjamin terjalinnya efektifitas komunikasi dua arah. Karena kepemimpinan yang memberdayakan bawahan akan menimbulkan kepercayaan kepada pegawai dalam melakukan pekerjaannya dan kepemimpinan yang demikian secara linier akan mendelegasikan beberapa fungsinya pada pegawai yang dipimpinnya. (Thoha. 61 orang tersebut terdiri dari : (1) (2) (3) (4) Bagian tata usaha Bagian bina program Sub Din Kependudukan : 16 orang : 5 orang : 23 orang Sub Din Catatan Sipil : 11 orang (5) Sub Din Dokumentasi & Informasi: 6 orang + JUMLAH : 61 orang . Proses komunikasi dua arah merupakan suatu hal yang dapat mendukung iklim kerja sebagai upaya untuk mewujudkan motivasi dalam efektifitas pelaksanaan tugas pelayanan.Hal itu dimaksudkan untuk mengantisipasi pengaruh globalisasi yang akan menerpa semua negara di dunia termasuk Indonesia. B. biasanya lebih banyak menjamin perasaan adil atas keluhankeluhan dan hal-hal in-disipliner bagi aparat yang dibawah pimpinannya. (3). Sebagai alternatif yang dapat dipilih dan dilakukan seorang pemimpin dewasa ini adalah gaya kepemimpinan yang konsultatif. tidak memiliki motivasi dan ketrampilan yang dilandasi kepribadian. perlu dipelihara dengan adanya komunikasi dua arah . Dilaksanakan dengan semua pihak. Kecenderungan para aparat untuk setia kepada pengarahan pimpinan yang berada diatasnya secara strukturalnya. 2004:90). Pelaksanaan dikendalikan. Selain itu demi tercapainya tujuan organisasi maka hendaknya setiap pegawai didorong semangat kerja dan disiplin kerja yang tinggi. sehingga penelitian ini tidak menggunakan sampel. yang dapat menjamin terciptanya perilaku yang adil dan kenyamanan dalam menjalankan tugas dan pekerjaan. dimana motivasi tidak akan berarti kalau ketrampilan tidak cukup. Dengan demikian para karyawan dapat mengukur kemampuan kemudian dikombinasikan dengan pekerjaannya . berupa perbaikkan atau penyempurnaan secara terus menerus. (4). Dalam era yang serba terbuka ini maka kepemimpinan yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang memberdayakan bawahannya. dianalisa kemudian ditindak lanjuti. Kritik terhadap instansi pemerintah kemudahan dalam mencapai target sehingga karyawan termotivasi untuk bekerja lebih baik. lebih demokratis dan terbuka. Dengan sekilas memahami konsep-konsep dasar gaya kepemimpinan. dengan memberikan rangsangan baik yang bersifat materi maupun non materi yang sering disebut motivasi. 2002: 74-84). Merumuskan tujuan dan sasaran layanan organisasi secara jelas. (1). tetapi bukan berarti terjadi minimalisasi target pekerjaaan. Untuk itu manajemen perkantoran harus berorientasi pada tujuan agar lebih efektif dan efisien dengan cara seperti. Tujuan harus dijabarkan dalam kebijaksanaan dan setrategi yang operasional. METODOLOGI PENELITIAN 1. tidak memiliki kepribadian dan nilai-nilai. Oleh karena banyaknya jumlah karyawan dinas tersebut hanya 61 orang karyawan PNS. lebih rasional dan fleksibel. karena gaya ini menempatkan kedua belah pihak baik yang memimpin dan yang dipimpin berada pada posisi yang sama hak. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek-obyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono. Indikator keberhasilan akan dirancang sendiri oleh pegawai dengan sepengetahuan pimpinan. Semua itu tidak akan optimal bilamana tidak memperhatikan faktor manusiawi berupa kejenuhan.

Variabel Penelitian. Instrumen Penelitian. (c). diperlukan data primer dan data sekunder. Karena skala Likert dapat digunakan untuk mengukur sikap. Definisi Operasional. Adapun analisis regresi berganda disusun persamaan regresinya menjadi suatu model empiris. maka diadakan uji validitas dan reliabilitas 5. Pengakuan dan Pengesahan Anak. 5). Gaya Kepemimpinan X 2 adalah : Motivasi Kerja a. Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan tanya jawab/wawancara secara langsung baik dengan responden maupun dengan pimpinan pada Dinas Kependukukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. Prosedur layanan singkat dan sederhana. Pilihan TS = Tidak setuju. Observasi. Konstanta X 1 adalah . tenaga.isis Regresi Linier Berganda. Efektiftas layanan ( Y ) adalah. maka untuk mengetahui pengaruh factor Gaya kepemimpinan dan Motivasi kerja sebagai variabel bebas terhadap Efektifitas layanan. kerja 3. Tepat waktu dan disiplin kerja Gaya kepemimpinan (X1) adalah. Dalam penelitian ini digunakan data rating scale . Kemampuan mempengaruhi. Jenis data . Dimana : Y adalah . dengan instrumennya berupa pedoman wawancara. dan variabel merupakan faktor yang mempengaruhi terdiri Gaya kepemimpinan (X1). Hubungan kerja yang baik. Fokus pada pelanggan. (d). (a). Pengambilan keputusan. Data sekunder ini diperoleh dari studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian ini. 1). Ana. Angket yang digunakan adalah angket tertutup.Dalam rating scale responden menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan . serta Kasi Kelahiran Kematian. 4.. dengan skor 5. (b). pemberian jasa dan kepuasan kepada orang lain . Berdasarkan kajian teoritis yang telah diuraikan diatas. pendapat dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial ( Sugiyono. efisien dan hemat waktu. Kepuasan kerja. (b). Penggunaan alat yang berbasis teknologi informasi yang cangih. dengan indikator : (a). dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada: Ka.Si Perkawinan dan Perceraian . Hubungan antar teman sejawat dan pimpinan didasarkan rasa persahabatan. (a). tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja tetapi untuk pengukuran persepsi responden terhadap fenomena lainnya. semangat yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab. sebagai berikut : Y = a + b1X1 + b2X2 + e. Adalah pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung pada obyek yang diteliti guna melengkapi informasi yang dibutuhkan. 2004:107) Pada penel. dan biaya dalam proses penelitian. dengan indikator-indikatornya antara lain . Data primer ini adalah data yang diperoleh dari hasil kuesioner secara langsung kepada staf maupun pimpinan yang ada di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil di Kota Surakarta. dengan skor 3. dengan skor 2. terikat bebas dari . (c). maksudnya angket yang sudah tersedia jawabanya responden tinggal memilih diantara jawaban yang tersedia. Metode Pengumpulan Data. Alasan pemilihan angket dalam penelitian ini dari segi teknis pelaksanaan angket adalah metode yang paling efetif. dan Motivasi karyawan (X2). Dalam penelitian ini sebagai variabel adalah Efektifitas Layanan (Y). Untuk membantu analisa obyek penelitian. Penyampaian informasi. Pilihan STS = Sangat tidak setuju. dengan skor 1.Oleh karena itu rating scale lebih fleksibel. 4). adapun yang menjadi indikatornya adalah. Efektifitas Layanan a adalah . 3). Motovasi kerja (X2) adalah. Pilihan S = Setuju. Angket.2. Untuk keperluan akurasi data digunakan metode bantu wawancara yang dilaksanakan secara acak dan observasi. (b). . Pilihan KS = Kurang setuju. (c). Pembagian kerja yang jelas.itian ini responden diminta memilih salah satu dari lima alternatif jawaban sebagai berikut : Pilihan SS = Sangat setuju. perilaku pimpinan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan tugas yang dilakukan terhadap kerja bawahan. (e). Wawancara. (d). (d). Berorientasi pada kepuasan orang lain. Setelah instrumen penelitian yang berupa daftar penyataan disusun. Kemampuan memotivasi. 2). Untuk keperluan analisis secara kuantitatif. maka jawaban kuesioner dengan mengunakan skala Likert. Metode pengumpulan data yang ditempuh dalam pelaksanaan penelitian ini adalah. Metode Analisis Data. dengan skor 4.

Ini berarti semua variable lolos uji reliabitas. rumus regresi diperleh dengan asumsi bahwa variabel pengganggu (error) atau e diasumsikan memiliki varian yang konstan (rentangan e kurang lebih sama). Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui keandalan suatu butir angket dalam penelitian.adalah : koefisien regresi pada gaya kepemimpinan X 1 . Uji Instrumen a. ada yang memiliki korelasi tinggi maka hal tersebut mengidetifikasikan adanya problem multikolinear.dan jika p lebih dari α.6 thitung > ttabel variable 0. Keputusan uji. dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai r Alpha positif dan r Alpha > r tabel (0. Jika diantara variabel X1. 2. D. jika p sama atau kurang kurang dari α. (3) Uji Heteroskedastisitas. Uji Asumsi : Untuk memastikan bahwa model yang diestimasi memenuhi ketentuan asumsi klasik. Multikolinearitas adalah korelasi linear yang “perfect” atau eksak diantara variabel penjelas yang dimasukkan kedalam model. sehingga mengakibatkan e juga mengandung trend. terima Ho. Sebagaimana dalam uji asumsi klasik. Uji Hipotesis . gaya kepemimpinan. Untuk uji normalitas data hasil tes digunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan melihat normal probability plot. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel independent. Analisis Data Tahap berikutnya dalam penelitian ini adalah mendapatkan kesimpulan hasil penelitian yang telah penulis lakukan di Dinas Kependidikan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. uji multikolinieritas. Melihat hasil analisis dapat dijelaskan bahwa angket yang sajikan dapat dipakai pada proses penelitian selanjutnya yaitu uji pengambilan keputusan atau uji hipotesa dan uji asumsi klasik.6. (2) Uji Otokorelasi Otokorelasi sering terjadi pada pengamatan pada data runtut waktu (time series) . maka kondisi tersebut dikatakan tidak homoskedastisitas atau mengalami heteroskadestisitas. Jika ternyata varian dari e tidak konstan artinya bias membesar atau mengecil pada nilai X yang lebih tinggi. dan motivasi kerja mempunyai item dengan nilai thitung > ttabel. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara bersamasama mempengaruhi Efektifitas Layanan. Hasil uji reabilitas menunjukkan hasil bahwa efektivitas layanan. Nilai koefisien determinasi adalah diantara 0 (nol) dan 1 (satu ). maka digunakan uji t-statistik. 1996:291). b. tetapi ikut mempengaruhi efektifitas layanan. Uji Kolmogorov-Smirnov memusatkan perhatian pada penyimpangan atau deviasi maksimum. Adapun tahap-tahap pengujian hipotesa terdiri dari uji instrumen yang akan terdiri dari uji validitas dan reliabilitas.444) atau koefisien Alpha > dari kriteria Nunnally yaitu 0.b 1 . Uji F . Koefisien Determinan ( R 2 ) Koefisien determinasi dilambangkan dengan R2 merupakan proporsi hubungan antara variabel Y dengan variabel X. Uji Multikoliearitas. X2. Uji t . maka digunakan uji F – Statistik c. Uji Reliabilitas Konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Untuk membuktikan bahwa variabel Gaya Kepemimpinan dan Motivasi Kerja secara parsial mempengaruhi Efektifitas Layanan. Adapun model dalam penelitian ini adalah = Y = a + b 1X1 + b2X2 + e . untuk tahap pertama adalah sebagai berikut: 1.Otokorelasi adalah keadaan di mana terdapat trend didalam variabel yang diteliti. uji otokorelasi dan uji heteroskedastisitas. sehingga terbukti kebenaran hipotesis yang telah penulis kemukakan pada bab III. b2 adalah : koefisien regresi pada motivasi kerja karyawan X 2 e adalah : standar error yiatu pengaruh variabel lain diluar model. d. maka harus dipenuhi syarat BLUE ( Best Linier Unbiased Estimator) yaitu : (1) Uji Normalitas Uji normalitas ini bertujuan untuk mengetahui setelah perlakuan akan berdistribusi normal atau tidak (Sudjana. gaya kepemimpinan. Uji Validitas Dari hasil analisis data uji validitas diketahui bahwa variabel efektivitas layanan.tolak Ho. b. (4). c. uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas sebaran. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.

886)*** R2 = 0. Akan tetapi pengaruh Xt sekarang menjadi lebih murni (Setiaji. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel.880)*** (3.000 : 0.070)*** (3.167)** (4.002 dengan α 1% dan df = 58. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.415 satuan dengan asumsi variabel lain tetap. adapun hasilnya dari analisis regresi sebagai berikut: a.525 F = 31.415 X1 + 0.478 X2 + e (3.278 dengan asumsi variabel lain tetap atau variabel efektivitas layanan itu dapat tumbuh dengan sendirinya tanpa pengaruh dari variabel yang lain. Agar persamaan regresi diatas bebas dari gejala autokorelasi maka perlu dilakukan perbaikan model.278 artinya variabel efektivitas layanan dipengaruhi oleh variabel efektivitas layanan itu sendiri sebesar 0. Dengan menggunakan alat bantu program SPSS diperoleh hasil analisis yang baru sebagai berikut: Y = -3.081)** R2 = 0.05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan. b. dengan membandingkan hasil uji Fhitung dengan Ftabel. β0 = -3.15 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.170 Keterangan: *** = Signifikan pada α: 1%. ** = Signifikan pada α: 5% Interpretasi: a. 4) Uji R2 Berdasarkan hasil analisis data dengan program paket statistik SPSS ver 10 maka di dapatkan uraian tentang uji R² sebagai berikut: . X2 = 0.307 < 1.278 Yt_1 + e (3.167 sedangkan nilai ttabel sebesar 2.5 yang berarti bahwa terdapat gejala autokorelasi.523 X1 + 0. artinya secara bersama-sama variabel gaya kepemimpinan dan variabel motivasi kerja berpengaruh terhadap efektivitas layanan.592 F = 26. dengan demikian nilai thitung lebih besar dari ttabel.070 sedangkan nilai ttabel sebesar 2. adapun model yang kita gunakan adalah dengan cara memasukkan variabel Yt_1. Pengaruh variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.003 : 0. Jika kita memasukkan variabel Yt_1 maka pengaruh Xt akan mengecil (nilai b1 akan mengecil). Berdasarkan hasil analisis data di dapat persamaan regresi sebagai berikut: Y = 12.933 + 0. b.05 karena nilai probabilitas < nilai alfa maka ada pengaruh yang signifikan antara variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.933 satuan. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung kepemimpinan yaitu sebesar 0. Dapat juga disimpulkan dengan cara yang lebih mudah yaitu membandingkan nilai probabilitas/signifikansi thitung motivasi kerja yaitu sebesar 0. Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 3. Dari hasil analisis didapatkan nilai thitung sebesar 4. Pengaruh variabel motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.470 artinya apabila variabel motivasi kerja semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0.651 lebih besar dari Ftabel yaitu 3. sehingga uji F dan t yang telah dilakukan tidak dapat diterima.459 DW = 1.470 X2 + 0.933 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja konstan atau 0 maka variabel efektivitas layanan sebesar 3. Yt_1=0.415 artinya apabila variabel gaya kepemimpinan semakin baik maka variabel efektivitas layanan akan meningkat pula sebesar 0. 3) Uji F Berdasarkan hasil analisis data maka di dapatkan uraian tentang uji F sebagai berikut: Pengujian variabel independen secara bersama-sama (gaya kepemimpinan dan motivasi kerja) terhadap efektivitas layanan dilakukan dengan menggunakan uji F. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa nilai Fhitung sebesar 26.470 satuan dengan asumsi variabel lain tetap. c.323 + 0.002 dengan α 5% dan df = 58.1) Regresi Berganda Analisis ini dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.651 DW = 2. X1 = 0. 2004: 37). 2) Uji t Uji t digunakan untuk menguji secara parsial atau satu-satu antara variabel independen dengan variabel dependen. d.307 Hasil analisis diatas menunjukkan bahwa nilai DW = 1. maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis null ditolak artinya ada pengaruh yang signifikan antara variabel gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan.

hal ini berarti bahwa unsurunsur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta sudah mencapai tingkatan yang bagus. Hasil persamaan regresi dari penelitian ini menunjukkan variabel independen yaitu gaya kepemimpinan (X1) dan motivasi kerja (X2) mempunyai nilai pengaruh yang kuat serta arah positif terhadap variabel efektivitas layanan (Y) pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta.96 yang mana hasil ini lebih kecil dari 9. pendidikan formal dan lainlain. Motivasi hanya dapat disimpulkan dari perilaku yang tampak. Jika gaya kepemimpinan tersebut ditolak oleh bawahannya bisa kehilangan harga diri. D. mengarahkan dan menciptakan kesamaan persepsi terhadap satu kebijakan untuk mencapai tujuan. Dikarenakan hasil hitung Durbin-Watson > 1. baik disadari atau tidak manusia tidak dapat memungkirinya.2 yang berarti tidak terdapat gejala heteroskedastisitas. Variabel dominan kedua adalah variabel gaya kepemimpinan yaitu kemampuan untuk mempengaruhi orang lain dengan rasa bersemangat demi tercapainya tujuan yang telah ditentukan secara bersama-sama dan mendorong terciptanya kebersamaan atau perilaku seorang pemimpin dalam menggerakkan aktivitasnya dalam usaha membimbing. namun untuk kedepannya harus lebih ditingkatkan intensitasnya agar lebih meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat. bisa diterapkan pada karyawan bawahannya atau orangorang yang menjadi tanggung jawabnya.369.5 dan < 2. Sedangkan gaya kepemimpinan yang diterapkan sering membuat pengawai bekerja dengan sedikit keterpaksaan tidak dengan kesadaran pribadi dari diri pengawai sehingga pengaruh gaya kepemimpinan terhadap efektivitas layanan tidak sebesar pengaruh yang ditimbulkan oleh motivasi dari pegawai pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta. Seorang pemimpin hendaknya memiliki gaya kepemimpinan yang sesuai dengan budaya dan iklim kerja kantor yang dipimpinnya.016 apabila dikalikan dengan N = 60 maka diperoleh hasil 0. Uji Normalitas Dengan melihat hasil analisis data didapatkan hasil analisis terhadap uji normalitas dengan metode Kormogorov-Smirnov yang menunjukkan bahwa nilai probabilitas = 0. Sedangkan sisanya sebesar 40. b. variabel-variabel tersebut misalnya lingkungan kerja.5 maka dapat diketahui bahwa dalam model regresi pada penelitian ini tidak ada masalah otokorelasi. disiplin. Hasil uji ketepatan parameter penduga (Uji t) diketahui bahwa kedua variabel signifikan berpengaruh terhadap variabel efektivitas layanan. Dari hasil analisis data diperoleh R² sebesar 0. 3. Kesimpulan a. Uji Heteroskedastisitas Hasil analisis data diperoleh nilai R2 = 0.472 dan untuk X2 sebesar 1.170.05.8% mendapat kontribusi dari variabel lain yang tidak terdapat di dalam model atau tidak penulis teliti. . faktor individu. Untuk variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap efektivitas layanan adalah variabel motivasi kerja karena motivasi merupakan hal yang melatar belakangi tingkah laku manusia. 4.592 ini menunjukkan bahwa variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja mempunyai kontribusi pengaruh terhadap variabel efektivitas layanan sebesar 59. dari perbuatan seseorang yang didahului oleh adanya sesuatu yang mendorongnya. dan merasa tidak berarti. c. akibatnya kebijakan yang diberikan menjadi statis mandeg. maka kita tidak dapat melihatnya secara nyata. Pembahasan Hasil uji ketepatan model uji F menunjukkan secara bersama-sama ada pengaruh yang signifikan dari variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja terhadap efektivitas layanan.Untuk mengetahui persentase besarnya perubahan variabel terikat yang disebabkan oleh variabel bebas. Motivasi adalah suatu dorongan dalam diri pegawai untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas dengan baik agar mampu mencapai prestasi kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.155 > 0. Uji Multikolinieritas Hasil uji multikolinieritas diperoleh nilai VIF untuk X1 sebesar 1. Uji Autokorelasi Hasil analisis data di dapatkan nilai DW= 2. Motivasi kerja lebih dapat mempengaruhi efektivitas layanan karena adanya penghargaan terhadap prestasi atau pengakuan yang diberikan oleh atasan maupun lingkungan tempat kerja. KESIMPULAN DAN SARAN 1. kedua nilai VIF tersebut kurang dari 10 maka data yang penulis pergunakan terbebas dari masalah multikolinieritas. Adapun hasil uji heteroskedastisitas adalah : d. Uji Asumsi Klasik a. diberikannya insentiv maupun penghargaan terhadap pegawai sehingga menumbuhkan motivasi dalam bekerja. berarti sebaran data yang penulis gunakan berdistribusi normal.2%.

A.. Argadiredja. S. A. c.. Disampaikan pada Seminar Sehari Tentang Dokter Pegawal Tidak Tetap.. Program Pembangunan Kesehatan Dalam Upaya Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. 1995. camat hendaknya memahami betul karakteristik dari para bawahan yang dipimpinnya dan beberapa variabel situasional misalnya kebutuhan-kebutuhan bawahan. Surakarta: Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Jakarta: Sekjen DepKes RI Arifianto.. Hal ini dikandung maksud agar para pegawai khususnya di Kecamatan Gatak dapat terus termotivasi sehingga tugas utama mereka memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service) dapat terlaksana dengan baik. Atyastami. 2003. DAFTAR PUSTAKA Anantanyu. ESA Indonesia. 2003. dan Monzona. Jakarta: Ikatan Dokter Keluarga . Astuti. Arfida. Agustono. mengingat terbukti faktor motivasi dalam penelitian ini mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap produktifitas kerja pegawai pada Kecamatan Gatak. NTT. Menyediakan Layanan Efektif bagi Kaum Miskin di Indonesia: Laporan Mekanisme Pembiayaan Kesehatan (JPK-GAKIN) di Kabupaten Sumba Timur. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia. Peranan IDI Dalam Membuka Peluang Kerja Dokter Pasca PTT . Dari hasil uji serentak (Uji F) maka seluruh variabel baik variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja memang mempunyai peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi tingkat efektivitas layanan pada Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Surakarta..b. Perlunya penanganan secara komprehensif terhadap faktor motivasi pegawai. Surakarta: Pusat Studi Kependukan UNS. Mengenal Pelayanan Dokter Keluarga.. B. Pimpinan agar lebih meningkatkan komunikasi guna memberikan motivasi terhadap para pegawai secara langsung dan tatap muka. sekaligus mampu mengadaptasikan kepemimpinan dan perilaku masing-masing dalam menghadapi berbagai tipe atau karakteristik dari bawahannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang tepat. Hasil penelitian hendaklah dapat dipergunakan sebagai bahan untuk penelitian berikutnya dengan mempertimbangkan segala keterbatasan-keterbatasan dalam penelitian ini. Azwar. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Efektivitas Penyuluhan Kesehatan Ibu Hamil (Bumil) Di Kecamatan Jaten Kabupaten Karanganyar: Kajian Pendekatan Model KIE. 2005. 1996. Jakarta 22 Juli 1995. Rekomendasi a.. position power dan kepercayaan bawahan kepada pemimpin. Ekonomi Sumber Daya Manusia. dan Ferichani. Dari hasil analisis data yang dihasilkan bahwa variabel motivasi kerja mempunyai pengaruh yang paling dominan dibandingkan dengan gaya kepemimpinan hal ini disebabkan karena motivasi kerja merupakan penentu seseorang untuk bekerja lebih giat dan meningkatkan produktivitasnya sehingga efektivitas layanan sangat dipengaruhi oleh motivasi kerja. d. 2001. Y. Dalam hal kepemimpinan di lingkungan kecamatan. Perlaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1992 Tentang: Program Jaminan Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). b. R. Aseli. Marianti. R. Pelaksanaan Dana Sehat di Indonesia. dan Budiyanti.. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus. Jakarta: Lembaga Penelitian SMERU. A. S. c. PBIDIKOMPAS. M. 2. 2005. PT. Jurnal Epidemiologi Indonesia ISSN:14110-296X Volume 1 Edisi 2-1997 Azwar. 1996. 1997. struktur tugas.

Situasi Kesehatan Dan Gizi Dan Issue Kebijakan Memasuki Milenium Ketiga. Yogyakarta. http://www. M. 2006. Pengaruh Program TABULIN dalam gerakan saying Ibu terhadap Kelengkapan Pelayanan Antenatal di Kabupaten PATI.gizi.. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 1999. Grossmann.desentralisasikesehatan.B. 2002. Irawan. 2006.com Keputusan Menteri Kesehatan. Waver M. 1998. Traditional Birthing Costs Mothers’ Lives.. http://www.php?SUB= prog_pemb&SEKTOR=kesra&DATA=kesra_ke sehatan 27.resourceallocation. 281 – 287.. http://www..net Dursin. 2006. E. Multivariate Data Analysis.. http://www. Suren. Alternatif Mekanisme Pembayaran Provider Dalam Asuransi Kesehatan.go. Jakarta: World Bank Consultant. A. Pemetaan Tingkat Kepentingan dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor . dan Franceschini. Tatham R. Peningkatan Mutu Pelayanan RS dengan Pemberdayaan Problem Solving Mindset.C. Surakarta: UNS DepKes RI. 1999. June 14.Basov. BioMed Central. New York: Prentia Hall.go. G. S.H. B. 2002.jawatengah. The Human Capital Model of The Demand for Health. 2001. 2005. Pemetaan Tingkat Kepentingan Dan Kinerja Atas Atribut Jasa Rumah Sakit Dan Implikasinya Terhadap Kepuasan Pasien Rawat Inap Rumah Sakit Umum Palang Merah Indonesia Bogor.03. 17 (3). R. Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah. http:/www.info [Akses: 30-7-2006] . 2001. D. 2000 Dussault.. 2002... J. Jawatengah. Hermawan. dan Evans. Devargas T.... Adam..com/content/4/1/12 Eko I.. Block W. Latief. R. “Heterogenous Human Capital: Life Cycle Investment in Health and Education”.. Jawa Tengah Sehat 2010. 2000. Cambridge: National Bureau of Economic Research. Darmastuti..A. M. Enhancing the comparability of costing methods: cross-country variability in the prices of non-traded inputs to health programmes. 1995. J. Bratt J.C.L. Sumberdaya Manusia Dan Legal Aspek Tenaga Kerja Asing Khusus di Bidang Kesehatan. Jakarta: Menteri Tenaga Kerja RI Lucya. 2003. 2001. 2006. Jakarta: Mahasiswa Program Pascasarjana Kajian administrasi Rumah Sakit FKM UI Marzolf.E. Pendidikan Dokter Menghadapi Masa Depan : “Jumlah Atau Mutu Dan Kemandirian” . J. Janovitz B.. A. UU Perlindungan Konsumen Dan Dampaknya Kepada Pelayanan Rumah Sakit. Bandung: Industrial Engineering and Management Hidayat.2005 Johns. 2003. Korporasi Rumah Sakit Pemerintah. Budiarso. 1999. “The Impact of Price Changes on Demand for Family Planning and Reproductive Health in Equador”. Hendrartini. Anderson R. Not Enough There. 2006. T. 2003. The Indonesia Private Health Sector: Opportunities for Reform An Analysis of Obstacles and Constraints to Growth. M. Direktorat Gizi Masyarakat..id/framer.humanresources-health. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Too Many Here: Understanding Geographical Imbalances In The Distribution Of The Health Workforce..id. Mahasiswa S-2 UGM Minat Magister Manajemen Rumahsakit (MMR Husin. Foret J. Journal Health and Family Planning..F.. Jakarta: Seminar sehari IDI pada tanggal 13 Nopember 1999. Victoria: University of Melbourne. Upper Saddle River.. Hair Jr. Profil Kesehatan Indonesia 2000. 2006. Asia Times Southeast Asia.. Sesuai dengan Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah.

Jakarta: BPS Setyawati. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 228/Menkes/Sk/Iii/2002 Tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Yang Wajib Dilaksanakan Daerah. H. MO. ________. Peran Asuransi Kesehatan dalam Benchmarking Rumah Sakit. Prinsip Mendahulukan Kewajiban. Pedoman Bagi Peserta ASKES Sosial. C:/Datafile_2002/Undang/KepMenKes/Kepmenkes_228_MENKES_SK_III _2002. 2003. 1993..id/info/about. http://www. C. Psikologi Pengajaran. Mohamad. S. dan Bertens. 1987.. d’Almeida.php?id=9 Rahino. K.who.. RUMAH SAKIT: Antara Komersialisasi dan Etika. http://digilib.Melina. http:/www. Dib.go. George. 2004. Bandung: S2 . Surakarta: UNS. Kirigia. 2005.. 2002. BioMed Central. 2002b.php?id=jbptitbpp -gdl-s2-2001-melinaherm-1829&width=400 Mills A.id/gdl/go.jamsostek co.. Ori Andari. Jakarta: P.. 1995.. 1997.id [Akses: 30-7-2006] SDKI. W. Gilson L. Jakarta: Gramedia World Bank. 2002. Faktor-faktor yang berhubungan dengan Pemanfaatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Wilayah Puskesmas Manahan Surakarta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Produk Dan Informasi Bukti Dan Informasi Untuk Kebijakan : Bukti Untuk Kebijakan Kesehatan.S. ________. Tehnical Efficiency of Public district Hospitals and Health Centres in Ghana: a Pilot Study... 2006.. http://www. 2006. Jacobalis.tokohindonesia.BioMed_central. doc Sujudi.id Wibisono. Boyolali: RSU Pandan Arang Boyolali PT Askes. Sujudi. 2004. BMC Health Service Research. Hong. Profil Badan RSU Pandan Arang Kabupaten Boyolali Tahun 2004.boyolali. 2000. http://www. www. dan Kainyu LH. K. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1995.. WHO. 2005. Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Pengaruh Kepesertaan JPS-BK Terhadap Pengeluaran Pelayanan Kesehatan. New York: Oxford University Press. 1990. Analisa Kebijakan Penetapan Tarif Kelas Rawat Inap Rumah Sakit Swasta Di Bandung. Pdpersi..com Sumarno. 2006. http://www. 27 Juli 2003. P.resource-allocation. “World Development Report”. Liberalisasi Profesi Dokter & Sumpah Hippokrates. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama.. Xionghang. 2001.A. AO.id Osei. D. Dian Rakyat bekerjasama dengan Unit Analisa Kebijaksanaan dan Ekonomi Kesehatan (AKEK). Winkel. Desain dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. 2002.T.. Z. Profil RSU Pandan Arang. Surakrata: UMS.. Banyak Gakin Belum Punya Askes. Xilong..batan. 2003. 2005. Jakarta: Seminar Benchmarking Rumah Sakit di Jakarta. Ekonomi Kesehatan untuk Negara-negara Sedang Berkembang. W.or. Jakarta: PT Asuransi Kesehatan Indonesia. B. JM. Sebuah Pengantar. Murti. http://www. Jamsostek.Industrial Engineering and Management. A. Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi (Edisi Kedua) Jilid Pertama. Aksesibilitas Masyarakat ke Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia.co. 2005. HH. PT. N. Survai Demografi Kesehatan Indonesia. S.go.. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.com .. Mensah. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan DepKes dan Kesejahteraan Sosial. B.. Service Utilization in community Health Centers in China: a Comparison Analysis with Local Hospitals.com Prayogo. Biro Perencanaan Kesehatan Departemen Kesehatan RI.

http://www.. A. 2005.Yuni. T. K. Mandlhate. 2006. Central. Tjivambi. C.. K. Technical Efficiency of District Hospitals: Evidence from Nambia Using Data Envelopment Analysis...com . dan Rita. Mutirua... dan Kapenambli. Shangula. Mbeeli. B.resourceallocation. W. M. Peran Pimpinan Rumah Sakit dalam Customer Focus. Zere. E..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful