P. 1
Berbicara Tentang Pembangunan Desa

Berbicara Tentang Pembangunan Desa

|Views: 167|Likes:
Published by Akbar Mayday

More info:

Published by: Akbar Mayday on Oct 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2015

pdf

text

original

Sections

  • Apa Arti Kehidupan Sebenarnya? Hidup Adalah Permainan Jadilah Pemain Kehidupan.
  • Nilai Kehidupan Menurut Al-Quran

Berbicara tentang pembangunan desa, selama ini sebagian diantara kita terlalu terpaku pada
pembangunan berskala besar (atau proyek pembangunan) di wilayah pedesaan. Padahal pembangunan
desa yang sesungguhnya tidaklah terbatas pada pembangunan berskala “proyek” saja, akan tetapi
pembangunan dalam lingkup atau cakupan yang lebih luas. Pembangunan yang berlangsung di desa
dapat saja berupa berbagai proses pembangunan yang dilakukan di wilayah desa dengan menggunakan
sebagian atau seluruh sumber daya (biaya, material, sumber daya manusia) bersumber dari pemerintah
(pusat atau daerah), selain itu dapat pula berupa sebagian atau seluruh sumber daya pembangunan
bersumber dari desa. Apa sesungguhnya pembangunan desa ?
Sesungguhnya, ada atau tidak ada bantuan pemerintah terhadap desa, denyut nadi kehidupan dan
proses pembangunan di desa tetap berjalan. Masyarakat desa memiliki kemandirian yang cukup tinggi
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, mengembangkan potensi diri dan keluarganya, serta membangun
sarana dan prasarana di desa. Namun demikian, tanpa perhatian dan bantuan serta stimulan dari pihak-
pihak luar desa dan pemerintah proses pembangunan di desa berjalan dalam kecepatan yang relatif
rendah. Kondisi ini yang menyebabkan pembangunan di desa terkesan lamban dan cenderung
terbelakang.
Jika melihat fenomena pembangunan masyarakat desa pada masa lalu, terutama di era orde baru,
pembangunan desa merupakan cara dan pendekatan pembangunan yang diprogramkan negara secara
sentralistik. Dimana pembangunan desa dilakukan oleh pemerintah baik dengan kemampuan sendiri
(dalam negeri) maupun dengan dukungan negara-negara maju dan organisasi-organisasi internasional.
Pembangunan desa pada era orde baru dikenal dengan sebutan Pembangunan Masyarakat Desa (PMD),
dan Pembangunan Desa (Bangdes). Kemudian di era reformasi peristilahan terkait pembangunan desa
lebih menonjol “Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD)”. Dibalik semua itu, persoalan peristilahan
tidaklah penting, yang terpenting adalah substansinya terkait pembangunan desa.
Pada masa orde baru secara substansial pembangunan desa cenderung dilakukan secara seragam
(penyeragaman) oleh pemerintah pusat. Program pembangunan desa lebih bersifat top-down. Pada era
reformasi secara substansial pembangunan desa lebih cenderung diserahkan kepada desa itu sendiri.
Sedangkan pemerintah dan pemerintah daerah cenderung mengambil posisi dan peran sebagai
fasilitator, memberi bantuan dana, pembinaan dan pengawasan. Program pembangunan desa lebih
bersifat bottom-up atau kombinasi buttom-up dan top-down.

Top-down Planning. Perencanaan pembangunan yang lebih merupakan inisiatif pemerintah (pusat atau
daerah). Pelaksanaannya dapat dilakukan oleh pemerintah atau dapat melibatkan masyarakat desa di
dalamnya. Namun demikian, orientasi pembangunan tersebut tetap untuk masyarakat desa.
Bottom-up Planning. Perencanaan pembangunan dengan menggali potensi riil keinginan atau kebutuhan
masyarakat desa. Dimana masyarakat desa diberi kesempatan dan keleluasan untuk membuat
perencanaan pembangunan atau merencanakan sendiri apa yang mereka butuhkan. Masyarakat desa
dianggap lebih tahu apa yang mereka butuhkan. Pemerintah memfasilitasi dan mendorong agar
masyarakat desa dapat memberikan partisipasi aktifnya dalam pembangunan desa.
Kombinasi Bottom-up dan Top-dowm Planning. Pemerintah (pusat atau daerah) bersama-sama dengan
masyarakat desa membuat perencanaan pembangunan desa. Ini dilakukan karena masyarakat masih
memiliki berbagai keterbatasan dalam menyusun suatu perencanaan dan melaksanakan pembangunan
yang baik dan komprehensif. Pelaksanaan pembangunan dengan melibatkan dan menuntut peran serta
aktif masyarakat desa dan pemerintah.
Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa yang harus diperhatikan adalah harus bertolak dari
kondisi existing desa tersebut. Esensi dari pembangunan desa adalah “bagaimana desa dapat
membangun/ memanfaatkan/ mengeksploitasi dengan tepat (optimal, efektif dan efisien) segala potensi
dan sumber daya yang dimiliki desa untuk memberikan rasa aman, nyaman, tertib serta dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Pembangunan desa berkaitan erat dengan permasalahan sosial, ekonomi, politik, ketertiban, pertahanan
dan keamanan dalam negeri. Dimana masyarakat dinilai masih perlu diberdayakan dalam berbagai aspek
kehidupan dan pembangunan. Oleh karena itu, perlu perhatian dan bantuan negara (dalam hal ini
pemerintah) dan masyarakat umumnya untuk menstimulans percepatan pembangunan desa di berbagai
aspek kehidupan masyarakat. Bantuan masyarakat dapat berasal dari masyarakat dalam negeri maupun
masyarakat internasional. Meskipun demikian, bantuan internasional melalui organisasi-organisasi
internasional bukanlah yang utama, tetapi lebih bersifat bantuan pelengkap. Semua bentuk bantuan, baik
yang bersumber dari pemerintah, swasta (dalam bentuk Corporate Social Responsibility, hibah dan
sebagainya), maupun organisasi-organisasi non-pemerintah (Lembaga Sosial Masyarakat) dalam negeri
maupun internasional adalah merupakan stimulus pembangunan di daerah pedesaan. Semestinya yang
dikedepankan adalah kemampuan swadaya masyarakat desa itu sendiri.
Pembangunan desa pada hakikatnya adalah segala bentuk aktivitas manusia (masyarakat dan
pemerintah) di desa dalam membangun diri, keluarga, masyarakat dan lingkungan di wilayah desa baik
yang bersifat fisik, ekonomi, sosial, budaya, politik, ketertiban, pertahanan dan keamanan, agama dan
pemerintahan yang dilakukan secara terencana dan membawa dampak positif terhadap kemajuan desa.
Dengan demikian, pembangunan desa sesungguhnya merupakan upaya-upaya sadar dari masyarakat
dan pemerintah baik dengan menggunakan sumberdaya yang bersumber dari desa, bantuan pemerintah
maupun bantuan organisasi-organisasi/lembaga domestik maupun internasional untuk menciptakan
perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Perubahan-perubahan yang dilakukan manusia pada awalnya didorong oleh keinginan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Semakin maju suatu peradaban dan semakin kompleksnya kebutuhan hidup
manusia akan mendorong umat manusia menggunakan kecerdasannya untuk melakukan upaya-upaya
tertentu guna pemenuhan kebutuhannya. Upaya-upaya tersebut ditujukan untuk mencapai sesuatu yang
lebih baik dalam pemenuhan kebutuhan.
Berbicara tentang pembangunan desa terdapat dua aspek penting yang menjadi objek pembangunan.
Secara umum, pembangunan desa meliputi dua aspek utama, yaitu :
(1) Pembangunan desa dalam aspek fisik, yaitu pembangunan yang objek utamanya dalam aspek fisik
(sarana, prasarana dan manusia) di pedesaan seperti jalan desa, bangunan rumah, pemukiman,
jembatan, bendungan, irigasi, sarana ibadah, pendidikan (hardware berupa sarana dan prasarana
pendidikan, dan software berupa segala bentuk pengaturan, kurikulum dan metode pembelajaran),
keolahragaan, dan sebagainya. Pembangunan dalam aspek fisik ini selanjutnya disebut Pembangunan
Desa.
(2) Pembangunan dalam aspek pemberdayaan insani, yaitu pembangunan yang objek utamanya aspek
pengembangan dan peningkatan kemampuan, skill dan memberdayakan masyarakat di daerah pedesaan
sebagai warga negara, seperti pendidikan dan pelatihan, pembinaan usaha ekonomi, kesehatan, spiritual,
dan sebagainya. Tujuan utamanya adalah untuk membantu masyarakat yang masih tergolong marjinal
agar dapat melepaskan diri dari berbagai belenggu keterbelakangan sosial, ekonomi, politik dan
sebagainya. Pembangunan dalam aspek pemberdayaan insani ini selanjutnya disebut sebagai
Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Pembangunan Desa

Keterbelakangan pembangunan di daerah pedesaan turut berkontribusi terhadap terjadinya migrasi
penduduk dari desa ke kota. Daerah perkotaan, terutama kota-kota besar di Indonesia mulai kewalahan
menghadapi arus migrasi penduduk dari daerah pedesaan. Pemerintah pada berbagai kota besar setiap
tahunnya dipusingkan oleh permasalahan yang muncul sebagai dampak dari tingginya arus masyarakat
desa yang pindah ke kota. Memang perpindahan penduduk dari desa ke kota menimbulkan berbagai
dampak di daerah perkotaan. Kedatangan penduduk desa di daerah perkotaan secara permanen selain
membawa dampak positif juga menimbulkan dampak negatif. Permasalahan yang perlu mendapat
perhatian adalah timbulnya dampak negatif akibat migrasi penduduk dari daerah pedesaan ke daerah
perkotaan. Dampak negatif yang ditimbulkan akan menambah permasalahan di daerah perkotaan, antara
lain terjadi peledakan jumlah penduduk, munculnya berbagai masalah sosial seperti peningkatan
pengangguran, peningkatan masyarakat miskin, gelandangan, tingginya kejadian kriminal dan
sebagainya.
Banyak pakar telah membicarakan tentang kecenderungan urbanisasi di Indonesia, diantaranya Parulian
Sidabutar pada tahun 1993 mengemukakan bahwa meskipun derajat urbanisasi (persentase jumlah
penduduk yang tinggal di daerah

perkotaan) di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan standard dunia yang secara umum tingkat
pertumbuhan penduduk perkotaan tinggi. Pada tahun 1985 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan
berjumlah 40,2 juta orang atau 27 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Sekitar 73 persen penduduk
masih bertempat tinggal di pedesaan. Pada tahun 2000 jumlah penduduk yang tinggal di perkotaan
meningkat menjadi 76 juta orang atau sekitar 36 persen dari seluruh penduduk. Ada kecenderungan
jumlah penduduk yang berdomisili di daerah perkotaan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Data penduduk Indonesia pada tahun 2005 menunjukkan proporsi yang bertempat tinggal di pedesaan
dibandingkan dengan yang bertempat tinggal di perkotaan tidak lagi berbeda jauh yakni 113,7 juta jiwa di
pedesaan, dan 106,2 juta jiwa di perkotaan. Namun perbandingan tingkat kesejahteraan masyarakat dan
pembangunan Sumber Daya Manusia di daerah pedesaan relatif jauh tertinggal dibanding dengan daerah
perkotaan. Kenyataan ini diperkuat dengan pernyataan resmi dari pemerintah pada bulan Agustus 2006
bahwa angka kemiskinan telah mencapai 39,1 juta jiwa atau 17,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia
(BPS, 2005).
Beberapa komponen penyumbang tingginya pertumbuhan penduduk di perkotaan adalah tingkat
kelahiran yang relatif tinggi, dan tingkat perpindahan penduduk dari pedesaan ke perkotaan yang relatif
tinggi. Fokus perhatian di sini adalah masih tingginya tingkat perpindahan penduduk dari daerah
pedesaan ke daerah perkotaaan. Perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan
tidak terjadi begitu saja, akan tetapi didorong oleh berbagai faktor baik yang bersumber dari perkotaan
maupun yang bersumber dari pedesaan. Secara umum, faktor-faktor yang menyebabkan atau mendorong
perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu : (1).
Faktor yang bersumber dari daerah perkotaan, dan (2). Faktor yang bersumber dari daerah pedesaan.
Faktor-faktor yang bersumber dari daerah perkotaan sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan
pembangunan di daerah perkotaan yang sangat dahsyat. Faktor yang bersumber dari daerah perkotaan
disebut sebagai faktor penarik, dimana pindahnya penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan
disebabkan oleh adanya daya tarik daerah perkotaan yang mempesona. Daya tarik kuat daerah
perkotaan, antara lain :
a. Kota sebagai pusat pemerintahan

Sebagai pusat pemerintahan, kota memiliki lembaga-lembaga pemerintahan yang menjadi bagian utama
dari kota sebagai pusat pemerintahan. Mereka yang bekerja di sektor pemerintahan tidak semuanya
merupakan warga asli perkotaan, sebagian besar dari karyawan sektor pemerintahan adalah berasal dari
penduduk pedesaan. Biasanya posisi kota sebagai pusat pemerintahan akan diikuti dengan munculnya
berbagai lembaga lain di luar pemerintahan seperti organisasi, lembaga atau badan-badan non
pemerintah (LSM), yayasan-yayasan, badan-badan swasta yang bergerak di berbagai bidang.
Organisasi, lembaga atau badan-badan tersebut memiliki anggota, pengurus dan pegawai yang tidak
hanya berasal dari penduduk asli perkotaan, tetapi juga

penduduk yang berasal dari pedesaan. Selain itu, kota sebagai pusat pemerintahan dilengkapi dengan
berbagai sarana dan prasana pendukung yang diikuti pula tumbuhnya sektor lain seperti sektor informal,
misalnya warung makanan dan minuman, warung rokok, fotocopy, dan sebagainya. Secara langsung
maupun tidak langsung menarik orang untuk mengambil peran dan memanfaatkan peluang yang ada.
Dengan demikian, kota sebagai pusat pemerintahan menjadi salah satu daya tarik penduduk daerah
pedesaan untuk pindah ke daerah perkotaan.
b. Kota sebagai pusat perekonomian

Pertumbuhan kota sebagai pusat perekonomian terkait erat dengan berkembangnya berbagai aktivitas
ekonomi di wilayah perkotaan.

Pusat Perdagangan

Sebagian terbesar penduduk yang bertempat tinggal di daerah perkotaan bermatapencaharian bukan
sebagai petani. Untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari mereka membeli dari para pedagang.
Kondisi ini mendorong tumbuh dan berkembangnya pusat-pusat perbelanjaan, pasar, toko, warung dan
bahkan pedagang keliling. Mereka yang bekerja atau berprofesi di sektor perdagangan ini bukan hanya
penduduk asli daerah perkotaan, sebagian dari mereka adalah penduduk yang berasal dari daerah
pedesaan. Penduduk daerah pedesaan tertarik untuk pindah ke daerah perkotaan untuk mencari
pekerjaan atau bekerja di sektor jasa perdagangan atau mengadu peruntungan dengan berprofesi
sebagai pedagang.

Pusat Industri

Kebutuhan hidup manusia baik yang berdomisili di daerah perkotaan maupun yang berdomisili di daerah
pedesaan tidak hanya terbatas pada makan dan minum, tetapi seiring perkembangan peradaban manusia
kebutuhan hidup semakin berkembang dan beragam. Pada masa lalu, orang sudah sangat senang jika
telah tercukupi kebutuhan pangan, sandang dan papan. Kebutuhan pangan, sandang dan papan-pun
tidak berlebihan, dengan terpenuhi kebutuhan minimal atau sedikit di atas kebutuhan minimal orang
sudah merasa puas.
Kondisi tersebut kini sudah jauh berbeda, dimana tuntutan dan kebutuhan hidup sudah sangat beragam
dan tidak lagi hanya berorientasi pada pemenuhan pangan, sandang dan papan yang sederhana saja.
Pada masa lalu tidak ada televisi, handphone, sepeda motor, mobil, gedung mewah, sepatu ber-merk,
pakaian yang penuh sensasi fashion, makanan siap saji, minuman kemasan, makanan instant yang dapat
dibawa jauh dan disimpan lama, berbagai barang aksesoris (jam tangan, kalung, gelang, anting, cincin),
dan sebagainya. Kini barang-barang tersebut sudah menjadi kebutuhan, tuntutan dan bahkan menjadi
simbol modernisasi dalam kehidupan dan pergaulan masyarakat daerah perkotaan. Cara dan gaya hidup
yang demikian telah pula masuk dan melanda kehidupan dan pergaulan masyarakat di daerah pedesaan.

Barang-barang yang dikategorikan sebagai simbol modernisasi tersebut diproduksi oleh pabrik-pabrik
atau industri manufaktur yang umumnya berada di daerah perkotaan. Mereka yang bekerja di sektor ini
bukan saja orang-orang yang asli berdomilisi di daerah perkotaan, melainkan juga orang-orang yang
berasal dari daerah pedesaan. Dengan demikian, kota sebagai pusat industri telah menjadi daya tarik
kuat penduduk dari daerah pedesaan untuk pindah ke daerah perkotaan dalam mengadu peruntungan
untuk bekerja di sektor perindustrian.

Pusat Industri Jasa dan Hiburan

Seiring dengan semakin besarnya tuntutan dan kebutuhan masyarakat, maka tumbuh dan berkembang
pula berbagai industri yang berupaya memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat tersebut, diantaranya
industri jasa dan hiburan. Industri jasa tumbuh pesat di kawasan perkotaan untuk membantu dalam
pemenuhan keinginan-keinginan dan kebutuhan masyarakat daerah perkotaan seperti pelayanan
angkutan (darat, laut dan udara), jasa penitipan dan pengiriman barang, jasa konsultasi, perbankan dan
sebagainya.
Selain itu, pola hidup masyarakat perkotaan yang seolah berpacu dengan waktu (time is money)
menuntut masyarakat kota untuk bekerja lebih giat dengan tuntutah jam kerja yang tinggi. Mereka yang
tidak mampu memanfaat waktu dan peluang yang tersedia akan terlindas oleh waktu dan persaingan. Itu
artinya tuntutan kerja keras menjadi hal utama. Sehingga di daerah perkotaan muncul fenomena pada
jam-jam tertentu terjadi kepadatan arus lalu lintas (saat berangkat ke lokasi kerja pada pagi hari, dan saat
pulang kerja pada sore dan menjelang malam hari). Kondisi ini berlangsung secara terus-menerus dari
hari ke hari sepanjang tahun. Kesibukan warga kota yang begitu tinggi, memunculkan tuntutan dan
kebutuhan akan hiburan (refreshing). Kebutuhan akan hiburan ini membuka peluang dan lapangan
pekerjaan baru dalam bentuk industri hiburan seperti bar, tempat karaoke, tempat wisata, kafetaria,
pertunjukan film, televisi yang menawarkan beragam acara hiburan, panti pijat, dan sebagainya.
Mereka yang bekerja di sektor industri jasa dan hiburan ini bukan hanya berasal dari masyarakat yang
asli berdomisili di daerah perkotaan, tetapi juga berasal dari daerah pedesaan. Dengan demikian, kota
sebagai pusat industri jasa dan hiburan turut pula menjadi salah satu faktor yang menarik penduduk dari
daerah pedesaan pindah ke daerah perkotaan.
c. Kota sebagai pusat perkembangan peradaban

Perkembangan peradaban manusia tidak terlepas dari perkembangan dan kemampuan olah pikir yang
dimiliki manusia. Sentral dari aktivitas ini adalah kemajuan intektualitas manusia yang terus mengalami
perkembangan yang pesat. Hal ini tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kamajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri bersumber dari berkembangnya dunia pendidikan
yang berkualitas. Terkait dengan pendidikan yang berkualitas, tidak diragukan lagi bahwa pendidikan
yang berkualitas erat kaitannya dengan proses pembelajaran yang berkualitas, dukungan fasilitas yang
memadai, sumber daya

manusia fasilitator pembelajaran yang berkualitas dan lingkungan yang egaliter. Semuanya secara
meyakinkan tersedia di daerah perkotaan.
Kondisi tersebut mendorong pertumbuhan lembaga pendidikan di daerah perkotaan menjadi jauh lebih
cepat dan lebih maju daripada daerah pedesaan. Sehingga generasi muda di daerah pedesaan
berlomba-lomba meninggalkan desanya menuju kota untuk memperoleh tempat menimba ilmu (sekolah
atau perguruan tinggi) yang ternama atau terkenal. Kondisi ini memicu terjadinya perpindahan penduduk
dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan dalam jumlah yang cukup besar. Lebih jauh lagi, kelompok
muda yang bermigrasi dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan ini hanya sebagian kecil yang kembali
lagi ke desa untuk hidup dan menetap di desa. Sebagian besar lainnya memilih mencari kerja atau
penghidupan di daerah perkotaan dan menetap di daerah perkotaan. Dengan demikian, kota sebagai
pusat perkembangan peradaban turut pula menjadi salah satu faktor yang menarik penduduk dari daerah
pedesaan pindah ke daerah perkotaan.
Perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan selain disebabkan daya tarik magnet
kota sebagaimana diuraikan di atas, terdapat pula faktor lain. Faktor lain yang dimaksud adalah faktor
pendorong. Faktor yang menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk dari daerah pedesaan ke
daerah perkotaan yang bersumber dari kondisi internal daerah pedesaan itu sendiri. Faktor-faktor yang
bersumber dari internal daerah pedesaan inilah yang disebut sebagai faktor pendorong. Pindahnya
penduduk daerah pedesaan ke daerah perkotaan didorong oleh kondisi ketertinggalan daerah pedesaan
dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai faktor internal daerah pedesaan yang mendorong penduduk
dari daerah pedesaan untuk berhijrah atau pindah ke daerah perkotaan, antara lain :
a. Keterbelakangan perekonomian di pedesaan

Jika di daerah perkotaan geliat perekonomian begitu fenomenal dan pantastis. Sebaliknya, hal yang
berbeda terjadi di daerah pedesaan, dimana geliat perekonomian berjalan lamban dan hampir tidak
menggairahkan. Roda perekonomian di daerah pedesaan didominasi oleh aktivitas produksi. Aktivitas
produksi yang relatif kurang beragam dan cenderung monoton pada sektor pertanian (dalam arti luas :
perkebunan, perikanan, petanian tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, kehutanan, dan produk
turunannya). Kalaupun ada aktivitas di luar sektor pertanian jumlah dan ragamnya masih relatif sangat
terbatas.
Aktivitas perekonomian yang ditekuni masyarakat di daerah pedesaan tersebut sangat rentan terhadap
terjadinya instabilitas harga. Pada waktu dan musim tertentu produk (terutama produk pertanian) yang
berasal dari daerah pedesaan dapat mencapai harga yang begitu tinggi dan pantastik. Namun pada
waktu dan musim yang lain, harga produk pertanian yang berasal dari daerah pedesaan dapat anjlok ke
level harga yang sangat rendah. Begitu rendahnya harga produk pertanian menyebabkan para petani di
daerah pedesaan enggan untuk memanen hasil pertaniannya, karena biaya panen lebih besar
dibandingkan dengan harga jual produknya. Kondisi seperti ini menimbulkan kerugian yang luar biasa
bagi petani.

Kondisi seperti ini hampir selalu terjadi sampai saat ini. Namun demikian, suatu ironi bagi pemerintah,
karena belum dapat memberikan solusi tepat. Masih segar dalam ingatan kita, pada tahun 2010, cabai
mencapai harga di atas Rp.100.000,- per kilogram dan merupakan harga tertinggi sepanjang sejarah.
Kondisi berbalik terjadi pada bulan-bulan di awal tahun 2011, dimana harga cabai mengalami penurunan
secara drastis. Beberapa daerah harga cabai mencapai di bawah Rp. 10.000,- per kilogram. Kasus yang
mirip terjadi beberapa tahun sebelumnya, petani tomat mengalami masa-masa pahit. Harga buah tomat
sangat rendah, sehingga biaya produksi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual hasil panen
tomat. Petani enggan memanen tomatnya dan lebih memilih untuk membiarkan buah tomat membusuk di
kebun atau melakukan pemusnahan tanaman tomat dan menggantikan dengan tanaman lain yang
berbeda. Kejadian serupa pada produk pertanian lainnya seringkali terjadi dan menerpa kehidupan para
petani di daerah pedesaan.
Meskipun penduduk di daerah pedesaan mayoritas bermatapencaharian sebagai petani, namun tidak
semua petani di daerah pedesaan memiliki lahan pertanian yang memadai. Banyak diantara mereka
memiliki lahan pertanian kurang dari 0,5 hektar, yang disebut dengan istilah petani gurem. Lebih ironis
lagi, sebagian dari penduduk di daerah pedesaan yang malah tidak memiliki lahan pertanian garapan
sendiri. Mereka berstatus sebagai petani penyewa, penggarap atau sebagai buruh tani. Petani penyewa
adalah para petani yang tidak memiliki lahan pertanian garapan milik sendiri melainkan menyewa lahan
pertanian milik orang lain. Petani penggarap adalah para petani yang tidak memiliki lahan pertanian
garapan milik sendiri melainkan menggarap lahan pertanian milik orang lain dengan sistem bagi hasil
atau lainnya. Buruh tani adalah petani yang tidak memiliki lahan pertanian garapan milik sendiri
melainkan bekerja sebagai buruh yang menggarap lahan pertanian milik orang lain dengan memperoleh
upah atas pekerjaannya.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap hidup dan penghidupan keluarga petani di daerah pedesaan.
Perekonomian masyarakat di daerah pedesaan yang kurang menguntungkan ini mendorong penduduk
daerah pedesaan untuk pindah dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan. Keluarga petani terdorong
untuk mencari sumber penghidupan yang lain di luar desanya. Daerah yang banyak menjadi tujuan
mereka adalah daerah perkotaan. Mereka nekad keluar dari desanya untuk mencari pekerjaan dan
mengadu nasib di daerah perkotaan. Meskipun di daerah perkotaan mereka belum tentu memperoleh
pekerjaan yang lebih baik.
b. Minimnya sarana dan prasarana di pedesaan

Salah satu keterbelakangan yang dialami daerah pedesaan di Indonesia dapat dilihat dari aspek
pembangunan sarana dan prasarana. Beberapa sarana dan prasarana pokok dan penting di daerah
pedesaan, antara lain :

Prasarana dan sarana transportasi

Salah satu prasarana dan sarana pokok dan penting untuk membuka isolasi daerah pedesaan dengan
daerah lainnya adalah prasarana transportasi (seperti jalan raya, jembatan, prasarana transportasi laut,
danau, sungai dan udara), dan sarana transportasi (seperti mobil, sepeda motor, kapal laut, perahu

mesin, pesawat udara dan sebagainya). Ketersediaan parasarana dan sarana transportasi yang memadai
akan mendukung arus orang dan barang yang keluar dan masuk ke daerah pedesaan. Untuk mendorong
peningkatan dinamika masyarakat daerah pedesaan akan arus transportasi orang dan barang keluar dan
masuk dari dan ke daerah pedesaan, diperlukan prasarana dan sarana transportasi yang memadai.
Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal, Syaifulah Yusuf, dalam seminar tentang “Strategi
Pembangunan Desa” di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa 12 September 2006, mengemukakan bahwa
sekitar 45 persen atau sebanyak 32.379 Desa di Indonesia termasuk dalam kategori Desa Tertinggal
(Ken Yunita, 2006).
Salah satu penyebab daerah pedesaan masih terisolasi atau tertinggal adalah masih minimnya prasarana
dan sarana transportasi yang membuka akses daerah pedesaan dengan daerah lainnya. Kondisi
prasarana dan sarana transportasi yang minim berkontribusi terhadap keterbelakangan ekonomi daerah
pedesaan. Secara umum, masyarakat daerah pedesaan menghasilkan jenis produk yang relatif sama,
sehingga transaksi jual beli barang atau produk antar sesama penduduk di suatu desa relatif kecil. Dalam
kondisi prasarana dan sarana transportasi yang minim, produk yang dihasilkan masyarakat daerah
pedesaan sulit untuk diangkut dan dipasarkan ke daerah lain. Jika dalam kondisi seperti itu, masyarakat
daerah pedesaan menghasilkan produk pertanian dan non pertanian dalam skala besar, maka produk
tersebut tidak dapat diangkut dan dipasarkan ke luar desa dan akan menumpuk di desa. Penumpukan
dalam waktu yang lama akan menimbulkan kerusakan dan kerugian. Kondisi seperti ini sangat tidak
menguntungkan bagi warga masyarakat di daerah pedesaan. Sebaliknya, hal tersebut akan mendorong
sebagian warga masyarakat di daerah pedesaan untuk merantau atau berpindah ke daerah lain terutama
daerah perkotaan yang dianggap lebih menawarkan masa depan yang lebih baik.

Prasarana dan sarana pendidikan yang kurang memadai

Sebagian dari masyarakat di daerah pedesaan telah memiliki kesadaran untuk mendidik anak-anaknya ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Keadaan prasarana pendidikan seperti lembaga pendidikan dan
gedung sekolah di daerah pedesaan relatif terbatas. Ketersediaan prasarana pendidikan di daerah
pedesaan yang masih kurang memadai dapat terlihat dari terbatasnya jumlah lembaga pendidikan serta
kondisi fisik bangunan sekolah yang kurang representatif (rusak, tidak terawat dengan baik, kekurangan
jumlah ruang kelas dan sebagainya). Selain itu, sarana pendidikan di daerah pedesaan juga sangat
terbatas seperti kurangnya ketersediaan buku-buku ajar, kondisi kursi dan meja belajar yang seadanya,
tidak tersedianya sarana belajar elektronik, tidak tersedianya alat peraga dan sebagainya. Keterbatasan
prasarana dan sarana pendidikan di daerah pedesaan mendorong sebagian masyarakat daerah
pedesaan untuk menyekolahkan anak-anaknya ke luar desa terutama ke daerah perkotaan. Hal ini turut
mendorong laju migrasi penduduk dari daerah pedesaan ke daerah perkotaan.

c. Terbatasnya lapangan pekerjaan di pedesaan

Indonesia sebagai negara agraris sampai saat ini dapat dilihat dari besarnya jumlah penduduk yang
masih mengandalkan penghasilannya serta menggantungkan harapan hidupnya pada sektor pertanian.
Dominasi sektor pertanian sebagai matapencaharian penduduk dapat terlihat nyata di daerah pedesaan.
Sampai saat ini lapangan kerja yang tersedia di daerah pedesaan masih didominasi oleh sektor usaha bidang
pertanian. Kegiatan usaha ekonomi produktif di daerah pedesaan masih sangat terbatas ragam dan
jumlahnya, yang cenderung terpaku pada bidang pertanian (agribisnis). Aktivitas usaha dan matapencaharian
utama masyarakat di daerah pedesaan adalah usaha pengelolaan/ pemanfaatan sumber daya alam yang
secara langsung atau tidak langsung ada kaitannya dengan pertanian. Bukan berarti bahwa lapangan kerja di
luar sektor pertanian tidak ada, akan tetapi masih sangat terbatas. Peluang usaha di sektor non-pertanian
belum mendapat sentuhan yang memadai dan belum berkembang dengan baik. Kondisi ini mendorong
sebagian penduduk di daerah pedesaan untuk mencari usaha lain di luar desanya, sehingga mendorong
mereka untuk berhijrah/migrasi dari daerah pedesaan menuju daerah lain terutama daerah perkotaan. Daerah
perkotaan dianggap memiliki lebih banyak pilihan dan peluang untuk bekerja dan berusaha.
Upaya untuk mendorong dan melepaskan daerah pedesaan dari berbagai ketertinggalan atau
keterbelakangan, maka pembangunan desa dalam aspek fisik perlu mendapat perhatian serius dari
pemerintah dan komponen masyarakat lainnya. Pembangunan desa dalam aspek fisik, selanjutnya dalam
tulisan ini disebut Pembangunan Desa, merupakan upaya pembangunan sarana, prasarana dan manusia
di daerah pedesaan yang merupakan kebutuhan masyarakat daerah pedesaan dalam mendukung
aktivitas dan kehidupan masyarakat pedesaan.
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa betapa daerah pedesaaan memerlukan adanya ketersediaan
prasarana dan sarana fisik dalam hidup dan kehidupan masyarakat desa. Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang dimaksud dengan Desa adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hak untuk mengurus
kepentingan daerahnya sendiri (dalam istilah modern disebut “hak otonomi”). Hak otonomi sifatnya sangat
luas. Hampir semua hal yang menyangkut urusan di desa. Hanya saja tingkat materi dan cara
pelaksanaan atau pengerjaannya masih sangat sederhana, termasuk hal-hal yang berkaitan dengan
pembangunan desa.
Bercermin dari masa lalu, di era orde baru pemerintahan bersifat sangat sentralistik yang mengusung
konsep filosofi keseragaman. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pembangunan diseragamkan, diatur
dan dikendalikan dari pusat. Sementara bangsa Indonesia terdiri dari beragam suku bangsa, lebih dari
70.000 buah desa dengan karakter, budaya dan tradisi yang berbeda satu sama lain. Konsep
keseragaman yang diusung dan dipaksakan pada masa lalu, kini sudah tidak tepat lagi. Oleh karenanya,
konsep pembangunan desa ke depan tidak dapat dilakukan dengan pola keseragaman.
Seiring dengan perubahan paradigma pemerintahan sentralistik ke paradigma pemerintahan
desentralistik, maka seyogyanya pembangunan desa lebih

mengedepankan konsep keanekaragaman dalam kesatuan dan bukan konsep keseragaman.
Pembangunan desa dengan konsep keanekaragam dalam kesatuan, diharapkan mampu mendorong
dinamika pembangunan desa yang berbasis budaya dan karakteristik lokal yang pada akhirnya akan
memperkaya keragaman nuansa etnik dalam pembangunan bangsa. Masyarakat dan pemerintah desa
diberi kekeluasaan untuk memperkaya warna dan model pembangunan desanya dengan kekayaan etnik
yang mereka miliki. Upaya tersebut diharpakan akan menumbuhkan dan memupuk partisipasi aktif dan
rasa tanggung jawab masyarakat dalam membangun desa.
Peran pemerintah (pusat dan daerah) dalam pembangunan desa ditempatkan pada posisi yang tepat.
Pemerintah diharapkan berperan dalam memberi motivasi, stimulus, fasilitasi, pembinaan, pengawasan
dan hal-hal yang bersifat bantuan terhadap pembanguan desa. Untuk kepentingan dan tujuan tertentu,
intervensi pemerintah terhadap pembangunan desa dapat saja dilakukan setelah melalui kajian dan
pertimbangan yang matang dan komprehensif. Intervensi yang dimaksudkan di sini adalah turut campur
secara aktif dan bertanggungjawab pemerintah dalam proses pembangunan desa, seperti membuka
keterisolasian desa (karena ketiadaan biaya, desa tidak mampu melepaskan diri dari keterisolasian),
membangun fasilitas jalan, jembatan, gedung sekolah, puskesmas dan sebagainya. Meskipun pemerintah
melakukan intervensi terhadap proses pembangunan fasilitas tertentu di daerah pedesaan, pemerintah
tidak boleh mengabaikan potensi setempat, jangan sampai pemerintah mengabaikan keberadaan
masyarakat setempat, dan masyarakat jangan sampai hanya diposisikan sebagai penonton. Keterlibatan
masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan desa. Karena proses pembangunan desa bukan
hanya sebatas membangun prasarana dan sarana yang diperlukan, tetapi proses pembangunan desa
memerlukan waktu yang panjang, banyak pengorbanan, dan bertalian dengan banyak pihak dalam
masyarakat termasuk masyarakat di daerah pedesaan. Proses pembangunan desa dimulai dari tahap
pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Seyogyanya pada semua tahapan
pembangunan desa ini terjadi keterlibatan partisipasi aktif masyarakat daerah pedesaan.
Bertolak dari konsep dan praktik pembangunan desa pada masa lalu yang bersifat sentralistik. Potensi
masyarakat lokal seringkali dikesampingkan oleh pelaksana di lapangan. Hal ini yang menyebabkan hasil
pembangunan yang telah dilakukan tidak memberikan dampak dan manfaat yang luas bagi masyarakat.
Seringkali terjadi kerusakan bahkan hancur sebelum usia pakainya habis. Karena tidak muncul
kepedulian dan rasa tanggung jawab pada masyarakat dalam memelihara atau menjaga prasarana dan
sarana yang telah dibangun oleh pemerintah. Meskipun sesungguhnya prasarana dan sarana yang
dibangun oleh pemerintah ditujukan untuk kepentingan masyarakat di daerah pedesaan itu sendiri.
Sebaliknya, jika suatu proyek pembangunan prasarana dan sarana yang muncul dari masyarakat daerah
pedesaan, direncanakan, dan dilaksanakan secara bersama oleh masyarakat daerah pedesaan, maka
kepedulian dan rasa memiliki dari masyarakat sangat tinggi. Masyarakat secara sadar dan tanpa pamrih
turut berpartisipasi aktif untuk mensukseskan pembangunan tersebut. Hal ini berdampak pula pada
munculnya rasa tanggung jawab yang tinggi untuk menjaga keberlangsungan pembangunan dan hasil
pembangunannya.

Oleh karena itu, perlu diingat bahwa pembangunan desa dalam aspek pembangunan fisik, pembangunan
prasarana dan sarana di daerah pedesaan semestinya menempatkan penduduk atau masyarakat desa
sebagai subjek pembangunan. Sebagai subjek pembangunan menunjukkan bahwa masyarakat daerah
pedesaan berperan sebagai pelaku pembangunan. Sudah semestinya masyarakat sebagai pelaku
pembangunan mengambil posisi untuk berperan secara aktif dalam proses pembangunan. Peran aktif
masyarakat dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk keterlibatan atau pelibatan masyarakat dalam
proses pembangunan, apakah pada tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan atau
pada semua tahap proses pembangunan tersebut. Di masa mendatang pola pembangunan yang
mengedepankan peran masyarakat lebih didorong untuk menjadi ujung tombak dalam pembangunan
desa. Pola bottom-up planning mungkin menjadi salah satu alternatif yang mengedepan. Pemerintah
menempatkan diri sebagai motivator dan fasilitator aktif (tentunya tidak berpangku tangan hanya
menunggu dari masyarakat). Pemerintah memotivasi masyarakat untuk membangun daerahnya seraya
pemerintah menyiapkan bantuan prasarana, sarana dan dana yang dibutuhkan. Pemerintah juga dapat
melemparkan ide-ide pembangunan desa kepada masyarakat. Namun dalam tahap berikutnya
masyarakat dilibatkan dalam menentukan keputusan mengenai apa yang akan dibangun, membuat dan
menyusun rencana pembangunan, dalam pelaksanaan pembangunan sampai pada pemeliharaan hasil
pembangunan.
Berkaitan dengan manusia (penduduk daerah pedesaan) sebagai subjek pembangunan, maka dituntut
berbagai hal terhadap kapasitas dan kualitas manusia itu sendiri. Salah satu tuntutan peran sebagai
subjek (pelaku) pembangunan yang semestinya dapat dan mampu dipenuhi oleh masyarakat di daerah
pedesaan adalah kemampuan menciptakan atau daya cipta. Soedjatmoko (1995) mengemukakan bahwa
pengembangan (pemekaran) daya cipta suatu bangsa bukan saja suatu kemampuan serta kejadian
individual, melainkan juga suatu proses sosial yang ditentukan oleh kondisi-kondisi sosial pula.
Maksudnya adalah adanya lembaga dan kebijaksanaan yang diperlukan untuk mencapai perkembangan
daya cipta dalam pembangunan masyarakat.
Bahwasanya untuk lebih menggerakkan dan memacu pembangunan desa secara lebih berdaya guna dan
berhasil guna, maka yang pertama dan utama perlu dibangun adalah manusia sebagai pelaku dan calon
pelaku pembangunan itu sendiri. Kritik bagi model pembangunan kita selama ini adalah bangsa kita lebih
cenderung mengedepankan pembangunan fisik daripada pembangunan manusianya.
Soedjatmoko (1995) mengemukakan bahwa pada pembangunan ekonomi ada kecenderungan
mengaggap esensi pertumbuhan ekonomi ialah besarnya penanaman modal untuk keperluan produksi.
Ini dianggap faktor paling menentukan untuk mencapai suatu tingkat ekonomi yang lebih tinggi.
Peneropongan teoritis, lebih berkisar pada soal penentuan besar kecilnya penanaman modal yang
diperlukan untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih pesat. Penanaman modal dipandang lebih
menentukan daripada cacah jiwanya., sehingga kurang mendapat perhatian dan berjalan sendiri.
Kalaupun faktor seperti pendidikan, stabilitas politik dan faktor sosial lainnya turut ditinjau, peninjauan
itupun tetap berporos pada investasi modal.
Berdasarkan kondisi tersebut, maka ke depan kita perlu menata ulang format pembangunan desa.
Bangsa ini harus memilah, memilih dan menata secara lebih arif.

Tidak mungkin lagi membuat kebijakan pembangunan yang seragam untuk semua desa. Akan tetapi, kita
perlu secara arif dan bijaksana melihat desa per desa dari berbagai aspek. Bagi desa yang sudah
memiliki manusia (penduduk) yang berkualitas, maka perlu didorong dan distimulir untuk memacu
percepatan pembangunan desa dalam semua aspek. Sebaliknya, jika suatu desa yang belum memiliki
kualitas dan kuantitas manusia yang mumpuni, maka perlu didorong untuk lebih mengedepankan
pembangunan manusianya, seperti pendidikan, pembimbingan, pelatihan dan sebagainya. Pembangunan
manusia dalam konteks pengembangan daya cipta. Daya cipta dalam perspektif yang luas, termasuk
melakukan pembaharuan dan penemuan atas berbagai hal terkait kehidupan manusia seperti menambah
dan mengembangkan berbagai macam alat (instrument) dan cara (metode/teknik) yang berguna dalam
menunjang atau mendukung kehidupan masyarakat di daerah pedesaan atau masyarakat luas.
Tulisan ini cuplikan dari isi BUKU
Penulis :
Dr. Ir. Ali Hanapiah Muhi, MP
Institut Pemerintahan Dalam Negeri, Jatinangor, Jawa Barat, 2011.

i

Very Poor

Desa merupakan salah satu bagian terkecil dari rangkaian urut-urutan sebuah Negara (di Indonesia). Desa dari
dulu kala selalu identik dengan ketertinggalan, kotor, udik dan hal-hal lain yang selalu diidentikan dengannya.
Dan desa pun senantiasa selalu tertinggal dari pembangunan-pembangunan nasional di Indonesia, baik
pembangunan dalam bentuk infrastruktur maupun dalam hal pembangunan sumber daya manusia sebagai aset
terbesar.
Orang desa harus berjuang sendiri untuk membangun desanya. Sebab, bantuan dari pemerintah pusat maupun
dari pemerintah Kabupaten tidak pernah menyentuh pembangunan di desa. Entah berhenti dimana, dan
dipegang siapa.
Pembangunan infrastruktur di pedesaan sangatlah jauh dari apa yang diharapkan untuk bisa menaikkan taraf
hidup masyarakat desa dan menggenjot perekonomian di pedesaan. Satu contoh kecil yang tidak bisa
terbantahkan adalah masalah jalan, jalan merupakan sebuah instrument yang sangat vital dalam pembangunan
baik di perkotaan maupun di pedesaan.
Jalan menjadi sangat vital karena ketika jalan bagus maka masyarakat desa secara langsung dapat menjual atau
mengirimkan hasil hutan mereka ke kota. Disini akan ada transaksi dan salah satu aspek perekonomian telah
terpenuhi yaitu terjadinya transaksi, selain itu dengan bagusnya jalan maka mobilitas masyarakat desa akan
tinggi dengan tingginya tingkat mobilitas masyarakat desa maka akan ikut menggenjot perekonomian pedesaan.
Dengan bergeraknya seseorang keluar dari tempat tinggalnya (desanya) ia akan dapat menaikan pendapatan
orang lain, sebagai contoh Ibu A dari kota AZ hendak pergi ke kota ZA, ketika ia berangkat dari rumah ia
menggunakan angkutan umum sampai kota ZA. Sesampainya di kota ZA ia berbelanja dan kembali pulang ke
kota AZ. Kita uraikan satu persatu, ketika ibu A berangkat ia menggunakan kendaraan umum, pasti ia bayar
ongkos kan? Nah, dengan membayar ongkos tersebut ia telah menambah penghasilan Sang Sopir dan Sang
Kondekturnya. Sang Sopir dan Sang Kondektur pun pasti akan menambah pendapatan orang lain yaitu
pedagang bensin di SPBU, Sang pemilik SPBU pun ikut menaikkan pendapatan oranglain yaitu karyawannya,
Sopir Pengantar bensin, Pegawai di depo Pertamina, bahkan menambah pendapatan Negara dengan Pajak.
Sesampainya di kota ZA Ibu A berbelanja, saat ibu ini berbelanja ia telah menambah penghasilan Pemilik Toko,
Pelayan Toko, Distibutor (Agen) Produk-produk dan Produsen produk yang dibeli.

Bayangkan perputaran uang dan pertambahan penghasilan yang didapat hanya dari satu orang desa yang
berangkat ke kota. Apalagi seandainya lebih banyak lagi orang yang berangkat ke kota. Itulah kenapa peran
jalan sangat vital dalam pembangunan. Saya pernah berbincang dengan salah seorang pegawai kelurahan di
desa saya, saya bertanya kenapa ya pembangunan jalan ke desa kita tidak pernah terlaksana? Sudah beberapa
periode pemerintahan masih sama, tidak ada perubahan.
Beliau menjawab bahwa di desa kita tidak ada yang menonjol dan tidak ada yang bisa dijual ke Pemerintah
Kabupaten. Alasan yang menurut saya sangat tidak fair, kenapa? Karena desa kami tidak ada yang menonjol
karena memang infrastruktur kita masih sanagt minim, salah satunya jalan. Bagaimana kita mau menonjolkan
desa kita jika sarananya saja tidak mendukung?. Desa kami cukup menonjol andai saja sarana dan prasaranya
memadai. Kita bisa menonjolkan keindahan alam seperti: Air Terjun, Gua-Gua, Wisata Ekologi dan lain-lain.
Cuma permasalahannya bagaimana orang mau berkunjung kalo akses jalan saja sangat sulit.
Hal lain yang cukup vital dalam pembangunan pedesaan adalah penyediaan sarana dan prasarana untuk publik
seperti sarana olahraga, dikebanyakan desa di daerah saya sedikit sekali desa yang memiliki sarana untuk
berolahraga, seperti lapangan voli, lapangan sepak bola apalagi GOR. Kalau pun ada keadaannya sangat
memprihatinkan atau seadanya. Keberadaan sarana seperti ini jelas sangat penting, selain untuk menjaga
kebugaran biasanya sarana olahraga dimanfaatkan warga desa untuk bercengkrama dan berkumpul untuk
mempererat tali persaudaraan dan solidaritas diantara mereka setelah mereka dari pagi bergelut dengan
pekerjaan masing-masing.
Hal lain yang sangat diperlukan bagi masyarakat desa adalah taman baca atau paling tidak perpustakaan
keliling. Kenapa demikian? Ingat bahwa didesa semuanya sangat terbatas, baik informasi maupun sarana-sarana
untuk mereka mendapat informasi tambahan.
Paling-paling sarana yang ada hanya TV dan radio, kita tahu bahwa kebanyakan stasiun TV saat ini sedikit
sekali yang bisa memberikan informasi yang akurat, acara-acara televis sekarang dibanjiri oleh acara-acara yang
kurang edukatif seperti sinetron yang membuat orang desa jadi pengkhayal, acara-acara gossip yang membuat
ibu-ibu di pedesaan malas bekerja dan seabreg acara lainnya yang sungguh tidak mendidik sama sekali.
Jadi sarana seperti taman baca/ perpustakaan keliling menurut saya strategis untuk memberikan informasi
tambahan, penambah pengetahuan bagi masyarakat desa, juga untuk merangsang minat baca masyarakat desa.
Karena survey-survey yang ada menyatakan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah.
Pembangunan pedesaan selain masalah infrastruktur yang tak kalah penting adalah masalah sumber daya
manusia (SDM). Sumber daya manusia merupakan aset yang sangat berharga dan sangat vital bagi setiap
bangsa. Perusahaan-perusahaan dalam mencari calon karyawannya pasti akan mencari karyawan (sumber daya
manusia) yang berkualitas. Salah satu syarat untuk menjadikan SDM berkualitas adalah mendapatkan
Pendidikan dan Pelatihan untuk memperoleh keterampilan dan keahlian.
Pendidikan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia masyarakat di pedesaan khususnya adalah sesuatu yang
sangat mahal, kalimat ini tentu tidak salah. Realitanya memang seperti itu, pendidikan di Indonesia cukup
Mahal. Meski saat ini sudah ada program Sekolah Gratis, namun hal itu tetap saja tidak menjadikan Sekolah itu
benar-benar tidak berbayar. Sekolah gratis yang ada saat ini hanya sampai jenjang SMP/SLTP atau yang
sederajat.
Jenjang pendidikan ini tentu saja masih kurang untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas.
Sedangkan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya biayanya ‘selangit’ bagi mereka tinggal di desa
melanjutkan pendidikan ke jenjang SMU/SMK sanagtlah mahal harganya, kenapa? Karena selain harus
membiayai sekolah (iuran, praktikum, beli buku, seragam, study tour, dll) juga harus membiayai biaya
kehidupan sehari-hari yang otomatis akan jauh lebih besar karena biasanya anak-anak mereka harus mengontrak
rumah atau paling tidak nge-kost.
Tentu biaya hidup akan jauh lebih tinggi di banding dengan pendapatan di desa yang tidak ‘seberapa’. Hal ini
dikarenakan di desa-desa belum ada sekolah dengan jenjang yang lebih tinggi.
Saya jadi teringat cerita orang-orang di kampung saya, pada tahun 80-an sampai awal tahun 90-an kebetulan di
desa saya belum ada SMP/ SLTP, yang ada baru SD. Ketika mereka lulus dari SD dan hendak melanjutkan
pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi yaitu SLTP/SMP mereka harus berjuang karena paa waktu itu di daerah
kami belum mengenal dan belum ada yang namaya nge-kost atau pun kost-kotan.

Selain ke desa kami belum ada listrik, jalan masih kecil, sepanjang jalan yang dilewati belum ada penduduk,
jarak yang ditempuh lebih dari 10 kilo sehingga mereka harus berangkat dari rumah untuk mencapai sekolah
sebelum subuh atau sekitar pukul 4.00, selain itu mereka pun harus melintasi sungai besar (Ciwulan) yang
airnya sangat deras karena pada waktu itu belum ada jembatan, sebuah perjuangan yang luar biasa dan berat
untuk mendapatkan sebuah pengajaran dan pendidikan.
Setelah pada sekitar tahun 1992-an dibangun sebuah SLTP negeri di desa kami, peristiwa perjuangan seperti di
atas tak terjadi lagi. Namun tetap jadi permasalahan ketika mereka hendak melanjutkan ke jenjang SLTA/
SMU. Ini tentu harus menjadi perhatian dari pemerintah dan menjadi prioritas bagi pemerintah. Bukankah
anggaran pendidikan sudah naik 20% dari APBN? Memang benar desa di Indonesia tidak hanya satu.
Namun paling tidak political will dari pemerintah akan bisa mewujudkan mimpi besar masayarakat desa untuk
bisa mendapat pendidikan dan pengajaran, sehingga mereka memperoleh keterampilan supaya mereka menjadi
manusia yang berkualitas. Serhingga mereka dapat meningkatkan taraf hidup mereka, dan memberikan andil
dalam pembangunan.
Selain pendidikan formal di desa-desa biasanya ada pendidikan in-formal yang diadakan atas inisiatif dari
warga untuk menambah edukasi ataupun pengetahuan dari anak-anak mereka. Baik pendidikan keagamaan
maupun pendidikan keterampilan lainnya.
Pendidikan-pendidikan in-formal seperti ini jarang sekali mempeoleh perhatian apalagi pendidikan yang berbau
agama, banyak orang beranggapan pendidikan agama memang penting namun bagi yang mengajarnya biarkan
Tuhan yang memberrikan pahala atas jasa-jasanya dalam mendidik dan mengajarkan ilmu pada anak-anak
mereka/ pada mereka sendiri.
Ini memang tidak sepenuhnya salah, namun untuk saat ini kita harus realistis bahwa hidup kita/ para
ulama/ustadz sekalipun tidak hanya mengandalkan ‘pahala’ dari Tuhan. Bahwa mungkin mereka bekerja atas
panggilan jiwa, itu hal lain. Ulama, ustadz, kyai juga punya hidup, punya keluarga, mereka butuh makan, butuh
sandang dan memiliki kebutuhan lain yang sama dengan manusia lainnya.
Memang benar kita tidak benarkan menjual ayat (dalil-dalil) untuk kebutuhan hidup, namun saat ini kita harus
realistis. Minggu lalu saat saya kebetulan pulang kampung, saya berbincang dengan salah seorang Pengurus
DKM (Pengurus Mesjid). Saya menanyakan tentang perkembangan Madrasah Diniyah di kampung saya,
jawabannya sungguh menyedihkan dan menghenyakan saya.
Saat ini di Madrasah Diniyah kampung kami ada 100 lebih siswa, dengan pengajar ada 3 orang. Pengajar ini
bukanlah Pegawai Negeri, status yang selalu membuat orang tua di kampung saya bangga, mereka petani biasa.
Hidup mereka hanya dari hasil bertani itu.
Setiap bulan menurut kesepakatan antara orang tua murid dengan tokoh masyarakat setiap siswa akan dipungut
biaya sebesar Rp. 2.500;. Selain untuk meng’gaji’ guru ngaji juga untuk biaya operasional, seperti membeli
kapur tulis (karena di Madrasah Diniyyah kampung saya papan tulisnya masih pakai black-board),
memperbaiki bangku-bangku yang sudah rusak, juga untuk keperluan lainnya. Seharusnya setiap bulan jika
semua siswa membayar iuran bulanan sebesar Rp. 2.500; persiswa maka dari 100 siswa, setiap bulan akan
terkumpul uang sebesar Rp. 250.000;. ini tentu jumlah yang sangat sedikit jika dibagi-bagi untuk gaji, beli
kapur tulis dan keperluan lain. Mirisnya setiap bulan Madrasah Diniyyah hanya mendapat pendapatan dari iuran
rata-rata perbulan sebesar Rp. 40.000; ini berarti tiap bulan hanya sebanyak 16 orang siswa saja yang mampu
membayar iuran tersebut.
Satu realita kemiskinan di pedesaan yang memang nyata, dan tidak bisa disangkal. Maksud saya disini, betapa
menyedihkannya nasib dunia pendidikan kita. Kita sebenarnya masih beruntung memiliki orang-orang yang
mau berjuang demi pendidikan. Mereka inilah yang pantas disebut pahlawan.
Ingat bahwa untuk meningkatkan taraf hidup kita perlu pendidikan yang layak supaya kita memiliki
keterampilan dan kemampuan yang mumpuni. Sedangkan untuk mendapatkan pendiikan tersebut sudah pasti
bahwa kita memerlukan biaya, dari sini kita tahu bahwa keduanya merupakan rantai yang tidak diputus.
Kenyataan yang ada bahwa banyak orang-orang yang memiliki ‘otak yang encer’ (pintar), harus terhenti
pendidikannya karena alas an materi atau biaya tersebut.

Satu hal lagi yang tak kalah penting dibandingkan dengan Infrastruktur dan Pendidikan adalah Sektor
Kesehatan, Sarana kesehatan bagi masyarakat di pedesaan selama ini masih sekedar wacana dan mimpi. Sarana
yang diberikan pemerintah sangatlah kurang, bahkan bisa dikatakan tidaak ada.
Di desa saya sampai saat ini belum ada 1 pun Puskesmas ataupun Puskesmas pembantu, jika warga ada yang
sakit ya harus beli eceran yang dijual oleh seseorang, jelas ini menyalahi aturan sebab obat-obatan seperti itu
selayaknya didapat dengan menggunakan resep dokter.
Sektor keseshatan merupakan salah satu sektor yang sangat krusial bagi pembangunan masyarakat desa, karena
pada dasarnya kesehatan adalah modal awal bagi tiap-tiap individu untuk bisa beraktivitas dan menjalankan
kegiatan-kegiatan lainnya.
Inti dari semua tulisan saya adalah bahwa pembangunan dipedesaan perlu ditekankan pada dua hal yaitu
pembangunan infrastruktur dan pembangunan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa serta
pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.
Salah satu cara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah dengan meningkatkan taraf
kesehatannya. Tentunya pembangunan diantara tiga aspek tersebut harus seimbang dan sejalan, agar tidak ada
ketimpangan.
Pembangunan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, namun tanggung jawab kita sebagai
generasi muda, tanggung jawab putra daerah untuk memajukan kampung halamannya, tanggung jawab anak
bangsa untuk membangun negeri.
Diperlukan sinergi yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah di desa agar pembangunan yang akan
dilakukan tepat sasaran dan tidak sia-sia belaka.
Menjadi tanggung jawab masayarakat untuk memeliharanya ketika pembangunan itu sudah dilakukan.
Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pembangunan masyarakat desa, baik dalam segi pendidikan
maupun infrastruktur. Dari itu, mari kita tingkatkan partisipasi kita dalam pembangunan, baik melalui
pemikiran (asal jangan omdo), tenaga, maupun secara financial.
“Semoga Bermanfaat

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto

Aufie’s scripts
1

TEORI PEMBANGUNAN MASYARAKAT
TEORI
ungkapan mengenai hubungan kausal (sebab akibat)
yang logis diantara berbagai gejala/perubahan (variabel) dalam
bidang tertentu (ex. Pembangunan) sehingga teori dapat
digunakan sebagai kerangka berfikir (frame of thinking) dalam
memahami serta menanggapi permasalahan yang timbul dalam
bidang tertentu (ex. Pembangunan)
Teori dapat dianggap batal/gagal karena tidak terbukti/teruji
kebenarannya
Ex. Teori Darwin manusia beasal dari manusia sejenis kera
yang mengalami evolusi menjadi manusia modern
Agama ukuran kebenarannya berdasarkan keyakinan
Science ukuran kebenarnnya berdasarkan empiris (ada
bukti/nyata) dan logis (masuk akal)
STRATEGI: rangkaian kebijakan dan pelaksanaan dalam rangka
mencapai tujuan/memecahkan persoalan tertentu (ex.
Kemiskinan)
VARIABEL: konsep yang mempunyai variasi nilai

1st meet ** R. A9
Sabtu, 15 April 2006

Agama/Keyakinan X Science/Empiris & logis

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto

Aufie’s scripts
2

Hubungan Teori & Strategi
Ex.
Ex.
• Spidol konsep
manakala menjadi “manfaat” spidol: untuk menulis etc.
menjadi variabel
• Pendidikan
manakala menjadi “jenis” pendidikan: formal,

nonformal, informal
menjadi variabel

Keterbatasan
pendapatan
Tingkat
Kemiskinan
di Pedesaan
IDT,
Raskin,
JPS,
Kompensasi
Keterbatasan
modal
Keterbatasan
keterampilan
variabel
Teori
=konsep= strategi

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
3

PENGERTIAN PEMBANGUNAN
MASYARAKAT
Menurut PBB:

Pembangunan Masyarakat/Pembangunan
Komunitas adalah suatu

proses melalui usaha dan prakarsa
masyarakat sendiri maupun
kegiatan pemerintahan dalam rangka
memperbaiki kondisi
ekonomi, sosial dan budaya.
Pembangunan Masyarakat Desa = Rural
Community Development
Komunitas / community = masyarakat yang
berada dalam batasbatas
wilayah tertentu
Menurut Sanders, PM dapat dipandang pada:
1. Proses
2. Program, ext. Raskin, BLT
3. Gerakan, ex. KB untuk pembatasan
kalahiran
4. Metode

Menurut Jim Ife: Enam Dimensi PM

PM dari aspek spiritual ex. Program kerja
KKN dengan
mengadakan pengajian di lokasi KKN
PM dari aspek lingkungan ex. Penanaman
pohon dalam lingkup RW,
kerja bakti pembersihan lingk. etc.
2nd meet ** R. A9
Sabtu, 22 April 2006
SOSIAL
POLITIK
LINGK. BUDAYA

SPIRITUAL
EKONOMI
PEMB.
MASY.
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
4

Fokus Perhatian Pembangunan Masyarakat
Menurut Soetomo:

PM adalah proses perubahan yang bersifat
multi dimensi menuju
kondisi semakin terwujudnya hubungan yang
serasi antara
NEEDS and RESOURCES melalui
pengembangan kapasitas
masyarakat untuk membangun.
Ex. Daerah Kasongan mempunyai sumber
daya berupa tanah liat,
sedangkan di masyarakat dibuthkan produk
gerabah. Berarti
dalam hal ini terjadilah pembangunan
masyarakat dari produksi
tanah liat (gerabah) untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.

Fokus
perhatian
PM

masyarakat
Terfokus pada aspek
ekonomi yakni
meningkatkan pendapatan,
mengentaskan kemiskinan,
meningkatkan produksi
Terfokus pada aspek
masyarakat yakni
mengelola, membina,
melayani masyarakat
COMMUNITY BASED
DEVELOPMENT

Kebutuhan Sumberdaya
Pemb. Masy.

pembangunan
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
5
Awal tahun 1951 PM dimaknai sebagai
pendidikan, karena
dengan pendidikan diharapkan dapat
terwujudnya pembangunan
bagi masyarakat.

Proses PM:

1. Rendahnya modal finansial
2. Minimnya sarana infrastruktur (jalan,
sarana transport)
3. Rendahnya kesadaran masyarakat
(kedisiplinan kurang)
4. Rendahnya kualitas SDM
5. Rendahnya komunikasi, informasi dan
koordinasi
6. Berkurangnya tokoh panutan (tokoh
masyarakat)

Keberhasilan pembangunan dapat diukur
dari:

1. Terberantasnya pengangguran
2. Terberantasnya kemiskinan
Bank Dunia memberikan ukuran
pendapatan
minimal $2 per hari per kepala
3. Pemerataan pembangunan dan hasil-
hasilnya
Bacaan tambahan:
Kompas 12 November 2001: Tabel Utang
Luar Negeri
Kompas 20 Feberuari 2005: mengenai
Multinational Corporation
“Republik Kapling”
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
6

Pengertian Pembangunan:

• Pembangunan adalah proses perubahan
dari suatu kondisi
tertentu ke kondisi yang lebih baik
• Tetapi tidak setiap perubahan dapat
disebut
pembangunan
• Maka diagram yang benar adalah:
Penjelasan:
Perubahan
Jadi:
Perubahan
Pembangun
an
Pembangunan
Perubahan
OA PB
Dari kondisi tertentu ke kondisi yang
lebih baik atau ke arah positif
disebut PEMBANGUNAN
Dari kondisi tertentu ke kondisi tidak
baik atau ke arah negatif
disebut PERUSAKAN, BENCANA, dll.
+
-
Perubahan
+ -
Perubahan
+
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
7

5 Prinsip PM:

1. PM merupakan proses perubahan yang
disengaja dan
terarah
i
2. PM bertujuan untuk meningkatkan taraf
hidup
warga masyarakat
– individu
- seluruh

ex. Pendapatan warga dengan jumlah 100
orang
1 orang 22 jt/bln 2,2 jt/bln
99 orang 100 rb/bln 9,9 jt/bln
75,9 jt/bln
Pendapatan rata-rata= 75,9 jt : 100 warga =
7,5 jt/bln.
ini merupakan perhitungan secara
global /gebyah uyah
tidak relevan
3. PM mengutamakan pendayagunaan potensi
dan sumbersumber
setempat
4. PM mengutamkan kreativitas dan inisiatif
masyarakat
5. PM mengutamakan partisipasi masyarakat
VISI
impian
MISSION
aksi
impian tidak sama/berbeda dengan impian
vision without mission is a dream
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
8

TEORI PEMBANGUNAN

1. Teori Modernisasi
2. Teroi Ketergantungan
3. Teori Pasca Ketergantungan
4. Teori Alternatif

Teori Modernisasi

sebuah negara mengakui bahwa negara
berjalan secara linear
dari tradisional menuju kearah modernisasi
ex.
Sekarang RPJM & PPJP
Tetapi, ada suatu negara yang arahnya
seperti di bawah ini:
ex.
tradisional APBN
Repelita

(5thn)
1969-1994
PJP 1994-1998/Orde Reformasi
tradisional
3rd meet ** R. A9
Minggu, 21 Mei 2006
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
9

Teori Ketergantungan

meyakini bahwa sebuah negar tidak akan
lepas dari negar lain

Teori Pasca Ketergantungan

negara yang kecil dimungkinkan lepas dari
negara adidaya
melejit sendiri

Teori Alternatif

berharap negara-negara yang selama ini
salaing berkompetisi
dalam hal persenjataan bergerak ma seakan-
akan tidak ada
perang

Contoh-Contoh Teori Modernisasi
1. Harrod Domar è menekankan aspek
ekonomi
= Teori TABUNGAN & INVESTASI

menekankan bahwa pembangunan
masyarakat hanya
merupakan masalah penyediaan modal dan
investasi
Pembangunan tidak lain adalah
investasi/invest/penanaman
modal.
Pembangunan
Investasi
Produksi
Income
Kesejateraan
Tabungan
Utang LN
Investor

Masyarakat
Negara
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
10
Keterangan:
Dengan investasi maka menghasilkan
produksi
Untuk bisa berproduksi diperlukan tenaga
kerja
Dengan adanya produksi maka ada
income/pendapatan
Income untuk tenaga kerja dan negara dalam
bentuk pajak
Karena ada income maka ada kesejahteraan
Baca: Sragen Birokrasi
Lembaga PMA penanaman modal asing
PMDN Penanaman modal dalam negeri
Pasca reformasi krisis terjadi capital
flight
Capital Flight larinya modal ke luar negeri.
Modal tidak
ditanamkan di Indoneisa tetapi di luar negeri
Disebabkan beberapa masalah:
- Buruh
• banyak buruh yang tidak dibutuhkan
• banyak buruh yang banyak tuntutan
ex. SONY (Jepang) Maret 2004 hijrah ke
Malaysia
karena adanya permaslahan tersebut
sehingga menjadi
masalah bagi investor
- Perijinan
- Pungutan liar
Sehingga untuk memecahkan persoalan
keterbelakangan pada
negara-negara dunia ketiga adalah dengan
mencari tambahan
modal dari dalam maupun luar melalui
penanaman modal atau
utang luar negeri.

Utang LN Indonesia dari 1969 s.d. 2001
dapat dlihat dalam
Kompas 12 Nov 2001 hal. 8
Bahkan dalam rangka utang dibentuk
konsorsium (Kompas, 9
Nov. 2001)
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
11

2. David McCleland è menekankan aspek
psikologi individu
= DORONGAN BERPRESTASI
= n-ACH = NEED FOR ACHIEVEMENT

bagi McCleland mendorong proses
pembangnan berarti
membentuk manusia wiraswasta dengan n-
Ach-nya yang
tinggi.
Ex. Yang duduk di kelas ini berorientasi
untuk berprestasi
Human capital theory: semakin tinggi
tingkat pendidikan
maka akan semakin tinggi tingkat
pendapatan.
Semakin tinggi tingkat pendapatan maka
semakin tinggi
keterampilan dan pengetahuan
Dengan semakin tinggi keterampilan dan
pengetahuan maka
semakin tinggi tingkat produktivitas
Dengan adanya keterampilan dan
pengetahuan yang tinggi
maka mendorong tingginya tingkat
pendapatan
Tk. Pendidikan
Dalam data monografi dinding biasanya
tingkat pendidikan
non formal dan informal tidak ada karena
sulit untuk
pendataan.

HUMAN CAPITAL THEORY

Tk Pendidikan Tk Pendapatan
Tk keteramp.
& penget.
Tk
produktivitas
pendapatan tinggi
Formal: SD, SMA, PT
Non Formal: kursus jahit, masak,
kIonmfoprumteasrl: nonton TV, baca koran,
diskusi,
pendidikan keluarga
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
12
Formal: ada aturan yang ketat/jenjang
Nonformal: ex. pagi kursus rias, siang kursus
jahit, malam
kursus komputer, dsb. bisa dilakukan
bareng, tidak harus
menunggu satu kurus selesai sampai lulus
dulu
Informal: ex. belajar jahit sambil nonton TV
Kalau manusia wiraswasta ini dapat dibentuk
dalam jumlah
yang banyak, proses pembangunan dalam
masyarakat tersebut
akan menjadi kenyataan.
Ex. Norwegia memiliki banyak lahan
pertambangan
Penduduknya disekolahkan (belajar, mencari
ilmu
pengetahuan), setelah selesai baru
‘menambang’
Kesimpulan:
Cara pembentukannya adalah melalui
pendidikan dan pelatihan
individual misalnya ketika mereka ini masih
anak-anak di
lingkungan keluarga
Investasi
SDM

Sekolah Bayar 6 jt Tamat
Berapa investasi yang diperoleh setelah
lulus?
Misal pertambahan 500 rb/th 1 th = 500
rb x 12 bl = 6 jt balik modal
Tahun berikutnya dapat menikmati hasilnya
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
13
SDM ----------------- SDA
Lebih penting SDM ex.
• Singapura tidak punya tambang minyak,
tetapi bisa
mengolah minyak kemudian dijual jadi mahal.
• Tasbih Tulungagung dibawa ke Singapura
diganti made in
Singapore, kemudian dijual di Saudi Arabia,
jadi mahal

3. Max Weber = ETIKA PROTESTAN

teori Weber tentang peran agama dalam
pembentukan
kapitalisme merupakan sumber aliran ini.
Apabila nilai-nilai yang hisup dalam
masyarakat (agama) dapat
diarahkan kepada sikap yang positif
terhadap pertumbuhan
ekonomi maka proses pembangunan dalam
mayarakat tersebut
dapat terlaksana.
Etika Protestan lahir di Eropa melalui agama
Protestan oleh
Calvin, mengatakan bahwa seseorang setelah
mati akan masuk
surga atau neraka. Tetapi manusia tidak
mengetahui sehingga
mereka menjadi tidak tenang, cemas karena
ketidakjelasan
nasibnya.
Indikatornya dapat dilihat pada saat hidup di
dunia:

• jika seseorang sukses/berhasil di dunia
tanda-tanda
masuk surga
• jika seseorang gagal di dunia tanda-
tanda masuk
neraka
Dengan indikator tersebut maka pengikutnya
belajar/berjuang untuk mencapai indikator
masuk surga.
Agama + Ekonomi = Pembangunan
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
14

4. Rostow = LIMA TAHAP
PEMBANGUNAN

proses pembangunan bergerak dalam
sebuah garis lurus
yakni masyarakat yang terbelakang ke
masyarakat yang maju.

Lima tahap pembangunan:

1. Masyarakat Tradisional
2. Prakondisi untuk Lepas Landas
3. Lepas Landas
4. Bergerak ke Kedewasaan
5. Jaman Konsumsi Masal yang Tinggi

5. Bert F. Hoselitz = FAKTOR-FAKTOR
NON EKONOMI

membahas faktor-faktor non ekonomi
yang ditinggalkan
Rostow yang disebut sebagai Faktor Kondisi
Lingkungan yang
dapat dicari dalam masyarakat ex.
keterampilan tertentu
menekankan adanya lembaga-lembaga
sosial dan politik
yang mendukung proses pembangunan
sebelum lepas landas

6. Alex Inkeles & David H. Smith =
MANUSIA MODERN

menekankan lingkungan material, dalam
hal ini lingkungan

pekerjaan sebagai salah satu cara terbaik
untuk membentuk
manusia modern yang bisa membangun.
Petani subsistem:
orientasi keamanan
pangan keluarga
yg ditanam adl padi
Petani komersial
orientasi pasar
yang ditanam adl yg
sdg tren sekarang ini
agraris modern
transisi
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
15

BEBERAPA MODEL PEMBANGUNAN
1. Model Pembangunan yang Berorientasi
pada Pertumbuhan
è ECONOMIC GROWTH

yakni kenaikan pendapatan nasional dalam
jangka waktu
misal per tahun. Tingkat pertumbuhan
ekonomi mempengaruhi
penyerapan Tenaga Kerja.
Oleh karena itu, proses pembangunan
menjadi terpusat pada
produksi, antara lain melalui:
a. akumulasi modal termasuk semua investasi
baru dalam
bentuk tanah, peralatan fisik dan SDM
b. peningkatan tenaga kerja baik secara
kuantitas maupun
kualitas
c. kemajuan teknologi yakni cara baru untuk
menggantikan
pekerjaan-pekarjaan yang bersifat
tradisional

2. Model Pembangunan Kebutuhan
Dasar/Kesejateraan
è BASIC NEEDS

Lahir dari prakarsa Gunnar Myrdall
Model ini mencoba memecahkan masalah
kemiskinan secara
langsung dengan memenuhi segala kebutuhan
dasar
masyarakat khususnya masyarkat miskin
misal dengan
memenuhi kebuthan sandang, pangan,
perumahan, serta akses
terhadap pelayanan publik seperti
pendidikan, kesehatan, air
bersih, transportasi, dll.
Perumahan ex. KPR BTN
Pendidikan ex. Wajib belajar 9 tahun
SD Inpres (imbas
dari top Down)
Kesehatan ex. Puskesmas
Subsidi pemerintah
Disisni peran pemerintah seperti
SINTERKLAS
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
16
Kelebihan:
target terpenuhi
target segera tercapai
memecahkan masalah tanpa masalah
Kelemahan:
pemerintah harus banyak uang
masyarakat menjadi manja, tergantung,
tidak mempunyai
kreativitas ex. Menunggu bantuan

3. Model Pembangunan yang Berpusat pada
Manusia
è PEOPLE CENTERED

fokus sentral proses pembangunanadalah
peningkatan
perkembangan manusia dan kesejahteraan
manusia,
persamaan dan sustainability sehingga model
ini berwawasan

lebih jauh dari sekedar angka pertumbuhan
GNP atau
pengadaan pelayanan sosial.
Ex. Empowering/pemberdayaan
Peranan pemerintah sebagai fasilitator
Peranan pemerintah dalam hal ini adalah
menciptakan
lingkungan sosial yang memungkinkan manusia
untuk
berkembang, yaitu lingkungan sosial yang
mendorong
perkembangan manusia dan aktualisasi
potensi manusia secara
lebih besar.
Economic Growth trickle down effect:
rembesan
kemakmuran ke bawah

Ex. Edi Tansil diberi privillage/fasilitas
kredit atau keringanan
pajak setelah mencapai kemakmuran
diharapkan
luberan/tetesan/rembesan kemakmuran
sampai ke bawah.
(tetapi yang terjadi adalah investment
flight)
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
17

With Redistribution

pemrt. Soeharto pengusaha
dikumpulkan
2% pendapatan dimasukkan Yayasan
Kesejahteraan Mandiri
dalam bentuk Takesra/Kukesra
Di negara maju redistribusi melalui pajak
progresive yang
didistribusikan dalam bentuk santunan untuk
masyarakat
miskin.
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto

Aufie’s scripts
18

PERBEDAAN 3 model:
Karakteristik Strategi
Economic
Growth
Basic
Needs
People Centered
Fokus
Industri Pelayanan
Public
Service
Manusia
Empowering
Nilai Berpusat pada
industri
Berkiblat
pada manusia
Berpusat pada
manusia
Indikator Ekonomi
makro
(pertumb.nya
brp %)
Indikator
sosial
Hub. manusia dg
sumber daya

Peran
Pemerintah

Entrepreneur Service
provider
Enabler/Facilitator

Sumber
Utama

Modal
(tab.
masyarakat)
Kemampuan
administratif
& anggaran
Kreativitas &

komitmen
Kendala Konsentrai &
marginalisasi
• konsentrasi
pada fasilitas
beberapa
konglomerat
• dehumanisai:
tidak
memanusiakan
manusia
Keterbatasan
anggaran &
inkompetensi
aparat
Struktur &
prosedure yg
mendukung
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
19

UKURAN KEBERHASILAN
PEMBANGUNAN
(Dudley Seers)

1. Berkurangnya Kemiskinan
Miskin (Sayogyo): kemiskinan diukur dari
jumlah pendapatan
setara dengan beras
• paling miskin bila pendapatan perkapita
pertahun setara
beras < 240 kg
• miskin sekali bila pendapatan perkapita
pertahun setara
beras = 240 – 360 kg
• miskin bila pendapatan perkapita pertahun
setara beras :
< 480 kg
ex. 480 kg X 5.000,- = 2.400.000,-/th per
kepala
ex.
Pendapatan per bulan 175.000,-

Harga beras 3.500
Miskin atau tidak?
175.000 : 3.500 = 50 kg./bulan
50 kg X 12 bln. = 600 kg./th
Jawab tidak miskin
2. Berkurangnya Pengangguran
3. Berkurangnya Ketimpangan
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
20
KONGLOMERASI
agregrat dalam tanah
konglomerat tetapi group
ex. Jakob Utama pemilik kompas,
• setiap hari butuh kertas dibangun
pabrik kertas
• perlu percetakan didirikan percetakan
• wartawannya kalau sedang meliput ke luar
kota butuh
penginapan dibangun Hotel Santika
• pemasaran terbitan Toko Buku
Gramedia
Dampak:
(-) dari hulu sampai hilir dikuasau 1 orang
(kekayaan diakumulasi
oleh 1 orang)
(+) merekrut tenaga kerja
Ketimpangan:
Antara Jakarta ======Jogja
Antara Papua ======== Jakarta
Dst.

Keberhasilan pembangunan (Arief Budiman)

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi
Pembangunan
yang berhasil Berkesinambungan
tidak ada kerusakan sosial
tidak ada kerusakan alam
Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
21

KCM, Senin, 14 Februari 2005

Republik Kapling

Oleh Tamrin Amal Tomagola

PARA nasionalis-fanatik Indonesia, khususnya
mereka yang mengacu
pada paham state nationalism, cenderung
dengan mata mendelik
mempertahankan bentuk Negara Kesatuan
Republik Indonesia atau NKRI
sebagai wujud final yang haram untuk ditawar,
baik sebagai sekadar
gagasan maupun dalam gerakan separatis
secara damai, apalagi
bersenjata.
Sambil menabuh genderang perang terhadap
setiap gerakan pemecah
belah, khususnya para separatis dan aktivis
LSM yang dinilai tidak
nasionalis-almarhum Munir misalnya-mereka
terus berilusi bahwa tubuh
Ibu Pertiwi NKRI itu masih utuh.

Maraknya pengaplingan

Mereka cenderung menutup mata terhadap
kenyataan yang telah mulai
mengeras sejak masa Orde Baru bahwa
sesungguhnya setiap jengkal dan
petak bumi Nusantara ini telah dipecah-pecah
dalam satuan kapling
ekonomi-politik. Ukuran kapling-kapling itu
bervariasi sesuai dengan skala
modal yang ditanam dan jumlah upeti yang
diselundupkan ke rekening
pejabat negara dan daerah serta para anggota
DPR pusat dan daerah.

Bukit-bukit Timika untuk Freeport, Lhok
Seumawe untuk Exon Mobil,
beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan untuk
Monsanto, Buyat-
Minahasa dan Sumbawa untuk Newmont
International, Teluk Bintun di
Papua Barat untuk British Petroleum,
Kalimantan Timur untuk PT Kaltim
Prima Coal, hutan Papua untuk sejumlah
jenderal pensiunan. Bahkan,
Pulau Dewata kebanggaan Indonesia di Bali
nyaris menjadi negara bagian
ke-9 Australia. Semakin banyak usaha
ekonomi-kesenian skala menengah
dan besar di Bali dan Jepara, Jawa Tengah,
berpindah tangan ke pemodal
asing. Satu-satunya Taman Burung di Bali pun
berada di tangan pemodal
asing.

Teori Pembangunan Masyarakat

Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
22

Tidak hanya tubuh Ibu Pertiwi yang sudah
centang-perenang dikapling,
birokrasi negara-sipil dan militer-baik pada
tingkat nasional dan daerah
sudah lama tercabik-cabik dikapling-kapling
oleh berbagai satuan mafia
birokrat dengan sistem sel berjenjang yang
rumit merata di seluruh
Nusantara tanpa kecuali. Bila Direktorat
Jenderal Pajak, Bea dan Cukai,
serta Ditjen Anggaran Depkeu belum telanjur
diduduki oleh satuan-satuan
tikus berseragam, kita masih dapat berharap
bahwa pajak yang dibayar
oleh perusahaan asing maupun nasional masih
dapat diselamatkan dan
digunakan untuk sebesar-besarnya
kemaslahatan rakyat.
Bila di departemen yang dulu bernama
Pekerjaan Umum (PU) juga sunyi
dari pemalak-pemalak berseragam, maka kita
masih dapat berharap
bahwa jalan-jalan tidak berlubang-lubang. Bila
di Departemen
Perhubungan tidak terjadi pengaplingan
proyek, maka kita tentu saja layak
bermimpi punya pelabuhan-pelabuhan-darat,
laut, udara, dan sungai-yang
mampu beroperasi lebih lama dari seumur
jagung. Bila Departemen
Pendidikan Nasional mampu menghentikan
lagu lama Love Me Tender
tentu saja anak-anak dapat diselamatkan dari
kebingungan gonta-ganti
buku pelajaran dan pemaksaan ujian nasional
yang beruang 45 miliar
rupiah
Dan yang paling tragis adalah Departemen
Sosial dengan seluruh
jajarannya di daerah-daerah di mana dana
pengungsi bermiliar rupiah
ludes tanpa dapat dilacak. Di wilayah konflik
dan bencana malah danadana
itu dipakai untuk tim sukses meraih suatu
jabatan tertentu seperti
yang dilaporkan Sdr Arianto Sangaji dalam
tulisannya berjudul "Proyek
Kekerasan di Sulawesi Tengah" (Kompas,
14/12/2004). Begitu haus dan

rakusnya para pejabat sipil adigang-adigung ini
melahap semua lahanlahan
finansial ini sampai-sampai lapangan parkir,
termasuk di kampuskampus
(sic!) telah dikapling-kapling.
Aparat penegak hukum dan keamanan juga
tidak mau ketinggalan dalam
pesta nasional mengkapling-kapling bumi
pertiwi dan birokrasi negara
serta daerah. Setiap perempatan jalan dan
tempat-tempat hiburan di kotakota
serta pangkalan ojek secara teratur
mempersembahkan upeti dalam
jumlah berkali-kali lipat gaji seorang kepala
polres. Suatu perkara dapat
ditelantarkan bertahun-tahun tanpa kabar
(kasus pembobolan BNI
misalnya) bila ada intervensi kekuasaan uang
atau politik-administratif.
Lembaga Kejaksaan, menurut seorang
pengamat kepolisian, malah jauh
lebih parah dalam memeras para tersangka.
Porsi upeti sebanding dengan

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
23

luasnya kapling otoritas jaksa tertentu. Para
hakim juga setali tiga uang
dengan rekan-rekan mereka di Kejaksaan.
Beberapa faksi militer menjadi
pelindung dan bahkan pelaku dalam illegal
logging, pencurian ikan laut,
perkebunan, dan perdagangan ganja.
Keamanan menjadi komoditas yang
dapat direkayasa sedemikian rupa sehingga
para aparat keamanan selalu
tampil sebagai pahlawan pengawal dan
pembela NKRI dan penjamin
keamanan rakyat. Dalam kenyataannya,
mereka lebih sibuk menjaga
keamanan kapling-kapling satuan kepentingan,
baik finansial maupun
promosi kenaikan pangkat mereka sendiri.

Negara semakin impoten

Keadaan NKRI yang sudah sedemikian
dikeroposi dan digembosi dari
dalam oleh aparat birokrasinya sendiri nyaris
memustahilkan efektifnya
pelaksanaan setiap kebijakan maupun
perangkat perundang-undangan

yang ada. Bagaimana bisa suatu kebijakan
nasional ditegakkan bila daftar
isi dokumen kebijakan (Propenas misalnya)
juga sudah dikapling-kapling.
Bab sekian untuk departemen A. Subbab
sekian sampai sekian untuk
Ditjen A1, sedangkan subbab sisanya untuk
Ditjen A2 dan A3.
Adalah menarik menyaksikan bagaimana para
wakil setiap bagian dari
birokrasi itu berdebat berjam-jam tentang
penggunaan istilah tertentu.
Ternyata tiap istilah yang digunakan punya
implikasi di bagian mana
sebuah proyek berikut dananya akan
dialokasikan. Belum lagi bila bagian
birokrasi tertentu harus berhadapan baik
dengan aparat Ditjen Anggaran,
Depkeu, maupun Bappenas dalam suatu
dagang sapi proyek yang sangat
merendahkan martabat bangsa.
Pengeroposan negara ini dari dalam tubuh
birokrasinya sendiri adalah
sebab utama dan pertama mengapa gonta-
ganti presiden lima kali dalam
enam tahun terakhir tidak membawa
perubahan apa-apa dibandingkan
dengan Thailand yang satu kali pergantian
perdana menteri telah banyak
mengubah nasib rakyat kecilnya (The
Economist, 5/2/2005).
Sebab kedua semakin impotennya negara
adalah semakin
berjalinkelindannya keterkaitan berbagai
masalah nasional dengan
setumpuk faktor-faktor penyebab yang berada
di lingkup tataran regional
bahkan global. Masalah-masalah utama dan
mendasar, seperti masalah
perdagangan narkoba, perdagangan teknologi
radioaktif dan nuklir,
kerusakan lingkungan, perdagangan senjata,
perdagangan anak dan

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts
24

perempuan, tenaga kerja tak berdokumen,
pencucian uang, dan terorisme
semakin mustahil diselesaikan secara sendiri-
sendiri oleh tiap negara.

Diperlukan sistem dan mekanisme regional
seperti ASEAN dan sejenisnya
untuk menangani hal-hal tersebut di atas.
Otoritas dan wewenang bahkan
kedaulatan suatu negara nyaris menjadi klaim-
klaim usang yang perlu
ditinjau kembali secara komprehensif.
Faktor ketiga yang semakin membuat
kemampuan negara menangani
masalah mendekati titik nadir ini adalah
gencarnya proses desentralisasi
sebagai dampak bawaan yang tak
terhindarkan dari tuntutan
demokratisasi. Daerah-daerah otonom
semakin asertif menarik garis batas

pembagian kekuasaan politik-administratif
serta anggaran antara pusat
dan daerah. Hal ini diperparah dengan
semakin merajalelanya
keserakahan aparat birokrasi berwatak Orde
Baru yang mulai
mengkapling-kapling berbagai lahan dana
anggaran potensial. Lebih jauh,
beberapa pemerintah kota besar dan
menengah malah mulai merintis kerja
sama regional dan internasional dengan
melangkahi pemerintah nasional.
Hasil akhir dari gempuran tiga faktor pelemah
negara-bangsa ini adalah
pada satu pihak pemerintah pusat tidak
mampu menangani masalahmasalah
yang berdimensi regional-terkini, TKI tak
berdokumen di
Malaysia-di lain pihak pemerintah pusat juga
tidak berdaya memberikan
pelayanan dasar dalam bidang pendidikan dan
kesehatan.
Alhasil, seperti dirumuskan oleh Manuel
Castells dalam karyanya The
Power of Identity (1997:273): "…national
governments in the Information
Age are too small to handle global forces, yet
too big to manage people’s
lives".

Tamrin Amal Tomagola Sosiolog

http://www.kompas.co.id/kompas-
cetak/0502/14/opini/1553516.htm
Download: Kamis, 8 Juni 2006

Teori Pembangunan Masyarakat
Dosen: Suharyanto
Aufie’s scripts

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->