P. 1
MULTICULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

MULTICULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

5.0

|Views: 3,018|Likes:
Published by Khairul Umami
Pendidikan multikultur masih baru dan belum menjadi isu yang menarik di Aceh. Meski sebenarnya pendidikan multikultur sangat penting hadir di tengah kondisi mewabahnya sikap intoleran terhadap sesama di semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari konflik SARA yang terjadi, perusakan balai pengajian karena dianggap sesat dan berbagai kasus lain yang mengacu pada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai keragaman dan perbedaan yang hidup dalam masyarakat.
Tulisan para guru ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keragaman yang telah hidup dan berkembang di Aceh. Misalnya, tulisan tentang keragaman suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat di Aceh. Sampai saat ini keragaman suku bangsa dan etnik penduduk di Aceh masih dapat dilihat, yaitu Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jame, Singkil, Pasee, Simeulu, Tionghoa, Karo, Haloban dan lain sebagainya. Mereka memiliki kekhasan budaya sendiri yang tidak boleh digeneralisasi menjadi “Aceh”. Kekhasan itu harus dihormati sebagai sebuah kekayaan dan keunikan bersama.
Pendidikan multikultur masih baru dan belum menjadi isu yang menarik di Aceh. Meski sebenarnya pendidikan multikultur sangat penting hadir di tengah kondisi mewabahnya sikap intoleran terhadap sesama di semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari konflik SARA yang terjadi, perusakan balai pengajian karena dianggap sesat dan berbagai kasus lain yang mengacu pada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai keragaman dan perbedaan yang hidup dalam masyarakat.
Tulisan para guru ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keragaman yang telah hidup dan berkembang di Aceh. Misalnya, tulisan tentang keragaman suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat di Aceh. Sampai saat ini keragaman suku bangsa dan etnik penduduk di Aceh masih dapat dilihat, yaitu Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jame, Singkil, Pasee, Simeulu, Tionghoa, Karo, Haloban dan lain sebagainya. Mereka memiliki kekhasan budaya sendiri yang tidak boleh digeneralisasi menjadi “Aceh”. Kekhasan itu harus dihormati sebagai sebuah kekayaan dan keunikan bersama.

More info:

Published by: Khairul Umami on Oct 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/08/2014

Makhdalena, S.Pd.I

Guru SMA Negeri 1 Peukan Baro, Lampoihsaka, Pidie.

Pendidikan multikultural adalah gejala baru dalam pergaulan
umat manusia yang mendambakan persamaan hak, termasuk hak
untuk mendapatkan pendidikan bagi semua orang. Pendidikan
multikultural berjalan seiring proses demokratisasi di tengah
kehidupan masyarakat. Demokratisasi dipicu oleh pengakuan
terhadap hak asasi manusia yang tidak membedakan manusia atas
warna kulit, bahasa, agama, ideologi, dan gender.
Pendidikan multikultural sudah menjadi kebutuhan
masyarakat modern karena dapat menata dunia yang aman dan
sejahtera, di mana suku bangsa dalam suatu negara atau bangsa-
bangsa dunia dapat duduk bersama, saling menghargai, dan
membantu. Pendidikan multikultural diperlukan untuk meluaskan
pandangan seseorang bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh
dirinya sendiri atau kelompoknya tetapi kebenaran dapat pula
dimiliki oleh kelompok lain.
Tujuan pendidikan multikultural berupaya mengajak kita
untuk menerima perbedaan yang ada pada sesama manusia sebagai
hal-hal alamiah. Menanamkan kesadaran keragaman (plurality),
kesetaraan (equality), kemanusiaan (humanity), keadilan (justice)

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

2

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

dan nilai-nilai demokrasi (democration values) yang diperlukan
dalam beragam aktivitas sosial.

Al-Qur’an dan Pendidikan Mutikultural

Pendidikan multikultural pada dasarnya tidak bertentangan
dengan ajaran Islam, khususnya al-Qur’an yang menjadi sumber
syariat Islam. Keanekaragaman yang ada justru menjadi kekayaan
intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an
yang menjelaskan hal tersebut. Melalui pendidikan multikultural
diharapkan setiap individu atau kelompok bisa menerima dan
menghargai setiap perbedaan, hidup berdampingan secara damai
dan tenang. Sehingga akan terbentuk sebuah negara dan bangsa
yang damai dan sejahtera.
Kitab suci al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW. adalah landasan pokok agama Islam dalam semua sisi
kehidupan umatnya. Al-Qur’an memberikan hujjah dan bukti
penjelasan tentang prinsip-prinsip Islam yang menjadi intisari
dakwah. Dengan redaksi yang jelas dan akurat, memberi petunjuk
kepada manusia tentang kekuasaan Allah, agar manusia menjadi
masyarakat ideal di dunia.
Islam merupakan agama universal yang sangat menjunjung
tinggi nilai-nilai kemanusiaan, persamaan hak dan mengakui
keragaman latar belakang budaya dan kemajemukan. Multikultural,
menurut Islam, adalah aturan Tuhan (sunnatullah) yang tidak
akan berubah, juga tidak mungkin dilawan atau diingkari. Setiap
orang akan menghadapi kemajemukan di manapun dan dalam

Makhdalena, S.Pd.I I

3

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

hal apapun. Ungkapan ini menggambarkan bahwa Islam sangat
menghargai multikultural karena Islam adalah agama yang dengan
tegas mengakui perbedaan setiap individu untuk hidup bersama
dan saling menghormati satu sama lain.
Allah SWT. menciptakan manusia dengan bermacam-
macam perbedaan agar bisa saling berinteraksi mengenal antara
satu dengan yang lain. Perbedaan bangsa dan suku tentu akan
melahirkan bermacam budaya di masyarakat. Berangkat dari
perbedaan tersebut, maka setiap budaya mempunyai norma
atau standar-standar tingkah laku dalam masyarakat bermacam-
macam. Sedikit banyak norma-norma itu berlainan antara satu
individu atau kelompok dengan individu atau kelompok yang lain,
karena sistem nilai dan keyakinan yang berkembang di tengah
masyarakat tertentu. Ditinjau dari sudut kebudayaan, memisahkan
masyarakat-masyarakat itu dari masyarakat-masyarakat lain
sehingga berkembang nilai-nilai dan keyakinan yang berbeda. Ini
menjadi kenyataan yang melatarbelakangi timbulnya bermacam
perbedaan dan keragaman budaya.
Kita perlu kembali merenung berbagai ajaran yang telah
disampaikan Allah melalui para Rasul-Nya, yang terdapat dalam
kitab Suci Al-Qur’an. Kita hendaknya mampu mengoptimalkan
peran agama sebagai faktor integrasi dan pemersatu. Al-Qur’an,
misalnya, memuat banyak sekali ayat yang bisa dijadikan referensi
untuk menghormati dan melakukan rekonsiliasi di antara sesama
manusia.

Al Qur’an menyatakan bahwa; dulu manusia adalah umat yang

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

4

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi,
sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Allah
menurunkan kitab yang benar, untuk memberikan keputusan di
antara manusia tentang perkara yang diperselisihkan.

“Tidak berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang
telah didatangkan kepada mereka kitab, yaitu setelah datang
kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena
dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk
orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal
yang mereka perselisihkan itu dengan kehendakNya. Dan Allah
selalu memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki
kepada jalan yang lurus
,” (QS Al-Baqarah: 213).

Dalam ayat ini, Al-Qur’an menegaskan konsep kemanusiaaan
universal Islam yang mengajarkan bahwa umat manusia pada
mulanya adalah satu. Perselisihan terjadi karena timbul berbagai
vested interest masing-masing kelompok manusia. Masing-masing
mereka mengadakan penafsiran yang berbeda tentang suatu
hakekat kebenaran menurut keinginannya sendiri.
Meskipun asal mereka adalah satu, pola hidupnya menganut
hukum tentang kemajemukan, antara lain karena Allah menetapkan
jalan dan pedoman hidup yang berbeda untuk berbagai golongan
manusia. Perbedaan itu seharusnya tidak menjadi penyebab
perselisihan dan permusuhan, melainkan pangkal tolak bagi
perlombaan untuk melakukan berbagai kebaikan. Al Qur’an
menyebutkan:

Makhdalena, S.Pd.I I

5

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

“….. Untuk tiap-tiap manusia di antara kamu, Kami berikan
jalan dan pedoman hidup. Sekiranya Allah menghendaki,
niscaya kamu dijadikannya satu umat saja. Tetapi Allah
hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu,
maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. Hanya kepada
Allah-lah kembali kamu semua, lalu diberitahukan-Nya
kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu
.”

Dari kedua ayat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa betapapun
perbuatan manusia di bumi ini, namun hakekat kemanusiaan tetap
dan tidak akan berubah. Yaitu fitrahnya yang hanif, sebagai wujud
perjanjian primordial (azali) antara Tuhan dan manusia. Responsi
atau timbal balik manusia pada ajaran tentang kemanusiaan
universal adalah kelanjutan dan eksisitensialisme dari perjanjian
primordial dalam hidup di dunia.
Pada proses interaksi yang berlangsung baik secara individu
atau kelompok ternyata banyak menimbulkan masalah tersendiri.
Permasalahan yang muncul di tengah kehidupan mempunyai latar
belakang beraneka ragam. Orang-orang yang berkompeten dalam
bidangnya, semisal pemuka agama, tokoh masyarakat bahkan
birokrasi pemerintah telah berupaya dengan berbagai cara agar
tercipta harmonisasi kehidupan baik dalam tataran mikro maupun
makro melalui saling menghargai dan menghormati setiap
perbedaan.

Tapi, fakta yang terjadi di masyarakat ternyata belum sesuai
dengan harapan. Acap kali terjadi gesekan karena perbedaan yang

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

6

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

mengakibatkan permasalahan tidak mudah diselesaikan. Banyak
faktor yang melatarbelakangi permasalahan muncul ke permukaan,
menjadi konflik yang bermuara pada perbedaan individu dan
kelompok.

Pendidikan adalah wahana paling tepat untuk membangun
kesadaran multikulturalisme. Melalui pendidikan yang terintegrasi
dalam kurikulum, maka pemahaman masyarakat terhadap setiap
perbedaan menjelma menjadi perilaku untuk saling menghargai
dan menghormati keragaman identitas dalam kerangka penciptaan
harmonisasi kehidupan.
Berdasarkan konflik yang terjadi, keberadaan pendidikan
multikultural sangat diperlukan. Pendidikan multikultural
adalah strategi pendidikan yang diterapkan pada semua jenis
mata pelajaran dengan cara menggunakan perbedaan-perbedaan
kultural yang ada pada diri siswa seperti perbedaan etnis, agama,
bahasa, gender, klas sosial, ras, kemampuan, dan umur agar proses
belajar menjadi lebih efektif dan mudah. Hal tersebut sekaligus
juga untuk melatih dan membangun karakter siswa agar terbiasa
bersikap demokratis, humanis dan pluralis dalam lingkungannya.
Selanjutnya akan terbentuk masyarakat bangsa yang lebih
berbudaya dengan banyak keanekaragaman.
Keberadaan dan asal usul manusia yang multikultural menjadi
kekayaan ilmu pengetahuan bagi umat Islam untuk dikaji lebih
mendalam. Perbedaan-perbedaan yang ada di sekitar kehidupan
manusia telah tertulis dalam al-Qur’anul Karim sebagaimana
firman Allah SWT:

Makhdalena, S.Pd.I I

7

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa–bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui
lagi Maha Mengenal.”
(QS. al-Hujurat, 49: 13).

Kurangnya pemahaman dan penerapan secara praktis firman
Allah SWT itu menyebabkan orang Islam terjebak dalam hal-hal
merugikan. Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya konflik yang
tidak pernah berhenti. Makanya, konsep pedidikan multikultural
perlu secara terus-menerus untuk disampaikan kepada masyarakat
melalui berbagai forum atau media. Hal tersebut bertujuan agar
tumbuh dalam diri setiap orang kesadaran hidup dalam satu
bangsa yang mempunyai keragaman budaya, sehingga akhirnya
bisa saling menghargai dan menghormati setiap perbedaan.
Namun, multikulturalisme dalam pengertian yang lebih
sesuai dan diterima untuk kebutuhan kontemporer adalah
bahwa orang-orang dari berbagai kebudayaan secara permanen
dapat hidup berdampingan satu dengan yang lain. Banyak versi
multikulturalisme menekankan pentingnya belajar tentang
kebudayaan-kebudayaan lain, mencoba memahami mereka secara
penuh dan empatik. Multikulturalisme juga mengimplikasikan
suatu keharusan untuk mengapresiasi kebudayaan-kebudayaan
lain. Multikulturalisme muncul kapan dan dimanapun ketika

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

8

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

perdagangan dan kaum diaspora yang hidup darinya menjadi
penting, dan ini menghendaki saling adaptasi sehingga semua
kelompok memperoleh kemajuan dari pertukaran yang sifatnya
material dan manufaktural maupun kultural berupa gagasan-
gagasan dari berbagai penjuru dunia.
Karekteristik pendidikan multikultural itu meliputi tujuh
komponen yaitu belajar hidup dalam perbedaan, membangun tiga
aspek mutual (saling percaya, pengertian, dan menghargai), terbuka
dalam berfikir, apresiasi dan interdependensi, serta resolusi
konflik dan rekonsiliasi nirkekerasan. Dari beberapa karakteristik
itu, diformulasikan dengan ayat-ayat al-Qur’an sebagai dalil, bahwa
konsep pendidikan multikultural ternyata selaras dengan ajaran
Islam dalam mengatur tatanan hidup manusia di muka bumi ini,
terutama dalam konteks pendidikan.

1. Belajar Hidup dalam Perbedaan.
Pendidikan selama ini lebih diorientasikan pada tiga pilar,
yaitu menambah pengetahuan, pembekalan keterampilan hidup
(life skill), dan menekankan cara menjadi orang sesuai kerangka
berfikir peserta didik. Realitasnya dalam kehidupan yang terus
berkembang, ketiga pilar tersebut kurang berhasil menjawab kondisi
masyarakat yang semakin mengglobal. Makanya, diperlukan satu
pilar strategis yaitu belajar saling menghargai akan perbedaan,
sehingga akan terbangun relasi antara personal dan intra personal.
Dalam terminologi Islam, realitas akan perbedaan tak dapat
dipungkiri lagi, sesuai Q.S. Al-Hujurat, 49 :13 yang menekankan

Makhdalena, S.Pd.I I

9

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

bahwa Allah SWT menciptakan manusia yang terdiri dari berbagai
jenis kelamin, suku, bangsa, dan interpretasi berbeda-beda dengan
tujuan lita’arafu – untuk saling mengenal.

2. Membangun Tiga Aspek Mutual.
Ketiga hal itu yaitu membangun saling percaya (mutual
trust), memahami saling pengertian (mutual understanding), dan
menjunjung sikap saling menghargai (mutual respect). Ketiga
hal tersebut sebagai konsekuensi logis akan kemajemukan dan
kehegemonikan, maka diperlukan pendidikan berorientasi kepada
kebersamaan dan penanaman sikap toleran, demokratis, serta
kesetaraan hak.

Implementasi menghargai perbedaan dimulai dari sikap saling
menghargai dan menghormati dengan tetap menjunjung tinggi
rasa persatuan dan persaudaraan. Hal tersebut dalam Islam lazim
disebut tasamuh (toleransi).
Banyak ayat al-Qur’an yang menekankan tentang pentingnya
saling percaya, pengertian, dan menghargai orang lain. Di antaranya
ayat yang menganjurkan untuk menjauhi sifat berburuk sangka dan
mencari kesalahan orang lain seperti terdapat dalam Q.S. al-Hujurat,
49: 12 yaitu “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah
dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain
.”
Tidak mudah menjatuhkan vonis dan mengedepankan
klarifikasi (tabayyun) termaktub dalam Q.S. al-Hujurat, 49: 6 yakni

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

10

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang
fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar
kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas
perbuatanmu itu
.”

Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, QS. al-
Baqarah (1): 256 yang berbunyi: “Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang salah
.”

3. Keterbukaan dalam Berpikir.
Pendidikan seyogyanya memberikan pengetahuan baru
tentang bagaimana berfikir dan bertindak, bahkan mengadopsi
dan beradaptasi terhadap kultur baru yang berbeda, lalu direspons
dengan fikiran terbuka dan tak terkesan eksklusif. Peserta didik
didorong untuk mengembangkan kemampuan berfikir sehingga
tidak terkekang dalam berfikir. Penghargaan al-Qur’an bagi mereka
yang mempergunakan akal, bisa dijadikan bukti representatif
bahwa konsep ajaran Islam sangat responsif terhadap konsep
berfikir. Salah satunya ayat yang menerangkan betapa tingginya
derajat orang yang berilmu yaitu Q.S. al-Mujaadillah, 58: 11 yaitu
Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu:
“Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah,
niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: “Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-

Makhdalena, S.Pd.I I11

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan
.”
Ayat yang menjelaskan Islam tidak mengenal kejumudan
dan dogmatisme, dijelaskan dalam Q.S. al-Baqarah (1):170 yang
berbunyi: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa
yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan)
nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa
pun, dan tidak mendapat petunjuk?
”.

4. Apresiasi dan Interdependensi.
Karakteristik ini mengedepankan tatanan sosial yang
care (peduli), dimana semua anggota masyarakat dapat saling
menunjukkan apresiasi dan memelihara relasi, keterikatan,
kohesi, dan keterkaitan sosial yang rekat, karena bagaimanapun
juga manusia tidak bisa survive tanpa ikatan sosial yang dinamis.
Konsep seperti ini banyak termaktub dalam al-Qur’an. Salah
satunya terdapat dalam Q.S. al-Maidah, 5: 2 yang menerangkan
betapa pentingnya prinsip tolong menolong dalam kebajikan,
memelihara solidaritas dan ikatan sosial (takwa), dan menghindari
tolong menolong dalam kejahatan. “Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah
kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya
.”
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa tolong menolong dapat

I Al-Quran dan Pendidikan Multikultural

12

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

mengantarkan manusia, baik sebagai individu atau kelompok, kepada
sebuah tatanan masyarakat yang kokoh dalam bingkai persatuan
dan kebersamaan dalam kebaikan, kejujuran dan ketaatan.

5. Resolusi Konflik dan Rekonsiliasi.
Konflik dalam berbagai hal harus dihindari. Pendidikan
harus memungsikan diri sebagai satu cara dalam resolusi konflik.
Adapun resolusi konflik belum cukup tanpa rekonsiliasi, yakni
upaya perdamaian melalui pengampunan atau memaafkan
(forgiveness). Pemberian ampun atau maaf dalam rekonsiliasi
adalah tindakan tepat dalam situasi konflik komunal. Dalam ajaran
Islam, seluruh umat manusia harus mengedepankan perdamaian,
cinta damai dan rasa aman bagi seluruh makhluk. Al-Qur’an secara
tegas menganjurkan untuk memberi maaf, membimbing ke arah
kesepakatan damai dengan cara musyawarah, duduk satu meja
dengan prinsip kasih sayang. Hal tersebut terdapat dalam Q.S.
asy-Syuura, 42: 40 yang berbunyi “Dan balasan suatu kejahatan
adalah kejahatan yang serupa, maka Barangsiapa memaafkan
dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim
.”
Apabila terjadi perselisihan, Islam menawarkan jalur
perdamaian melalui dialog untuk mencapai mufakat dengan tidak
membedakan ras, warna kulit, etnik, kebudayaan dan bahkan agama.
Kesadaran terhadap kehidupan multikultural pada akhirnya akan
menjelma menjadi suatu kesatuan harmonis yang memberikan
corak persamaan dalam spirit dan mental. Untuk merealisasikan

Makhdalena, S.Pd.I I13

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

tujuan mulia itu yaitu perdamaian dan persaudaraan abadi di
antara orang-orang yang pada realitasnya memang memiliki
agama dan iman berbeda, perlulah kiranya ada keberanian untuk
mengajak pihak-pihak berkompenten melakukan perubahan di
bidang pendidikan, terutama melalui kurikulumnya yang berbasis
keanekaragaman.

Paradigma pendidikan multikultural dan upaya-upaya untuk
menerapkannya di Indonesia kini mendapat perhatian serius karena
relevansi dan urgensinya yang tinggi. Pengembangan pendidikan
multikultural itu diharapkan dapat mewujudkan masyarakat
multikultural, yaitu suatu masyarakat majemuk dari latar belakang
etnis, budaya, agama dan sebagainya, namun mempunyai tekad
dan cita-cita yang sama dalam membangun bangsa dan negara.
Dari uraian di atas, menjadi jelas bagi kita betapa
keanekaragaman budaya merupakan keniscayaan dalam hidup.
Kehidupan yang tenang dan damai di antara bermacam perbedaan
dalam bermasyarakat perlu disosialisasikan agar benar-benar
terwujud, salah satunya melalui pendidikan multikultural.
Pendidikan multikultural pada intinya tak bertentangan
dengan ajaran Islam. Keanekaragaman justru menjadi kekayaan
intelektual untuk dikaji, sebagaimana beberapa ayat al-Qur’an yang
menjelaskan hal itu. Melalui pendidikan multikultural diharapkan
setiap individu atau kelompok bisa menerima dan menghargai
perbedaan, hidup berdampingan secara damai dan tenang meski
banyak perbedaan, sehingga akan terbentuk sebuah negara dan
bangsa yang damai dan sejahtera.[]

15

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->