P. 1
MULTICULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

MULTICULTURALISME: Menuju Pendidikan Berbasis Multikulturalisme

5.0

|Views: 3,018|Likes:
Published by Khairul Umami
Pendidikan multikultur masih baru dan belum menjadi isu yang menarik di Aceh. Meski sebenarnya pendidikan multikultur sangat penting hadir di tengah kondisi mewabahnya sikap intoleran terhadap sesama di semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari konflik SARA yang terjadi, perusakan balai pengajian karena dianggap sesat dan berbagai kasus lain yang mengacu pada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai keragaman dan perbedaan yang hidup dalam masyarakat.
Tulisan para guru ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keragaman yang telah hidup dan berkembang di Aceh. Misalnya, tulisan tentang keragaman suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat di Aceh. Sampai saat ini keragaman suku bangsa dan etnik penduduk di Aceh masih dapat dilihat, yaitu Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jame, Singkil, Pasee, Simeulu, Tionghoa, Karo, Haloban dan lain sebagainya. Mereka memiliki kekhasan budaya sendiri yang tidak boleh digeneralisasi menjadi “Aceh”. Kekhasan itu harus dihormati sebagai sebuah kekayaan dan keunikan bersama.
Pendidikan multikultur masih baru dan belum menjadi isu yang menarik di Aceh. Meski sebenarnya pendidikan multikultur sangat penting hadir di tengah kondisi mewabahnya sikap intoleran terhadap sesama di semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari konflik SARA yang terjadi, perusakan balai pengajian karena dianggap sesat dan berbagai kasus lain yang mengacu pada hilangnya rasa dan sikap saling menghargai keragaman dan perbedaan yang hidup dalam masyarakat.
Tulisan para guru ini memberikan gambaran yang cukup jelas tentang keragaman yang telah hidup dan berkembang di Aceh. Misalnya, tulisan tentang keragaman suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat di Aceh. Sampai saat ini keragaman suku bangsa dan etnik penduduk di Aceh masih dapat dilihat, yaitu Gayo, Alas, Tamiang, Kluet, Aneuk Jame, Singkil, Pasee, Simeulu, Tionghoa, Karo, Haloban dan lain sebagainya. Mereka memiliki kekhasan budaya sendiri yang tidak boleh digeneralisasi menjadi “Aceh”. Kekhasan itu harus dihormati sebagai sebuah kekayaan dan keunikan bersama.

More info:

Published by: Khairul Umami on Oct 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

10/08/2014

Rahmi Fhonna, MA

Guru Honorer MAN Darussalam Tungkop, Aceh Besar

Pendahuluan

Indonesia belakangan ini menghadapi berbagai tantangan terkait
aspek multikultural. Kurangnya pemahaman terhadap aspek
tersebut hampir terjadi pada seluruh komunitas warga negara.
Maka tak mengherankan jika kondisi sosial kemasyarakatan dari
hari ke hari semakin diwarnai dengan berbagai masalah.
Hadirnya sikap intoleran terhadap sesama seakan mewabah
dan menyentuh semua lapisan masyarakat. Ini terlihat dari
munculnya terorisme, konflik SARA (suku, agama, dan ras),
tawuran pelajar, tidak menghargai perbedaan, diskriminasi serta
berbagai kasus lain yang mengacu kepada hilangnya rasa dan
sikap saling menghargai terhadap keanekaragaman yang hidup
dan berkembang di tengah masyarakat.
Permasalahan ini merupakan tantangan besar bagi seluruh
stakeholder untuk mencari alternatif penyelesaian agar setiap anak
bangsa dapat menghargai keberagaman. Karena keberagaman
itu dilihat dari konteks historis merupakan modal besar bangsa
Indonesia dalam meraih cita-cita kemerdekaan.
Tapi, modal besar itu apabila tak dikelola dengan baik akan

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

32

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

menciptakan lingkungan bangsa yang disorientasi kebhinekaan
sehingga dapat memunculkan fanatisme etnis, agama, kelompok
dan budaya yang mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara
serta hilangnya ikatan emosional sosial dalam berbagai lapisan
masyarakat yang multikultural (Yaqin, 2005:4). Karena itu prinsip
kesetaraan, keadilan, keterbukaan, pengakuan terhadap perbedaan
adalah nilai-nilai yang dibutuhkan dalam kehidupan negara yang
multikultur serta perlu dilestarikan di tengah himpitan budaya
global agar tercabut dari pola pikir dan watak anak bangsa pada
masa mendatang.

Salah satu upaya dan alternatif penyelesaian masalah itu
adalah melalui pengenalan lebih mendalam dan komprehensif
terhadap makna multikultural. Konsep multikulturalisme menjadi
penting untuk dikembangkan dan diinternalisasikan dalam proses
transformasi nilai-nilai bagi masyarakat.
Prinsip-prinsip dasar multikulturalisme mengakui dan
menghargai keberagaman kelompok masyarakat demi terwujudnya
perubahan pola perilaku sosial yang kondusif tanpa diskriminatif,
sehingga terbentuknya bangsa yang lebih berbudaya dengan
keanekaragaman. Makanya, untuk mencegah dan meminimalkan
berbagai konflik dan menghilangkan sikap diskriminatif perlu
dikembangkan pendidikan multikultural.

Urgensi

Multikultural adalah suatu paham atau situasi kondisi masyarakat
yang tersusun dari banyak kebudayaan. Menurut Liliweri (2005:

Rahmi Fhonna, MA I33

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

68), multikulturalisme merupakan konsep yang menjelaskan
dua perbedaan dengan makna saling berkaitan. Pertama,
multikulturalisme sebagai kondisi kemajemukan kebudayaan dari
suatu masyarakat, kondisi ini diasumsikan dapat membentuk
sikap toleransi. Kedua, multikulturalisme merupakan seperangkat
kebijakan pemerintah yang dirancang agar seluruh masyarakat
dapat memberikan perhatian kepada kebudayaan dari semua etnik
atau suku bangsa karena mereka telah memberi kontribusi bagi
pembentukan pembangunan suatu bangsa.
Bila dikaitkan dengan pendidikan, multikuklturalisme
merupakan strategi pendidikan yang memanfaatkan keragaman
latar belakang kebudayaan siswa sebagai salah satu kekuatan untuk
membentuk sikap multikultural. Hal ini sesuai dengan Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab 3 Pasal 4 Ayat 1 bahwa
pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan
serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi
manusia, nilai keagamaan, nilai kultural dan kemajemukan bangsa.
Upaya ini dapat diwujudkan melalui pendidikan, karena
pendidikanlah yang dapat membentuk watak dasar, intelektual
dan emosional seseorang dalam melihat realitas yang ada di
sekelilingnya. Ini dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan
proses mentransmisikan kebudayaan dan sekaligus pembelajaran
norma-norma kemasyarakatan (Chakim, 2005: 106), melalui
metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan,
pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan
kebutuhan (Syah, 2002: 10).

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

34

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Karenanya, implementasi pendidikan multikultural harus
dapat membentuk watak dasar dan sikap siswa agar dapat hidup
dengan berbagai keanekaragaman melalui penerimaan terhadap
keunikan manusia tanpa membedakan ras, budaya, jenis kelamin,
kondisi jasmaniah dan status ekonomi seseorang (Ibrahim, 2008:
121).

Asy’arie (2008: 1-2) menambahkan bahwa pemahamann
multikulturalisme penting diwujudkan sejak dini karena berkaitan
dengan proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan
toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah
masyarakat plural. Atas dasar itu, diharapkan adanya kelenturan
mental bangsa dalam menghadapi berbagai benturan konflik
sosial sehingga dapat menjaga keutuhan dan persatuan bangsa.
Lebih jauh, Gollnick (dalam Banks, 1993: 29) menyebutkan,
pentingnya pendidikan multikultural dilatarbelakangi oleh tiga
faktor. Pertama, setiap budaya dapat berinteraksi dengan budaya
lain yang berbeda. Kedua, keadilan sosial dan kesempatan yang
setara bagi semua orang merupakan hak bagi semua warga
negara. Ketiga, sistem pendidikan dapat memberikan fungsi kritis
terhadap kebutuhan kerangka sikap dan nilai demi kelangsungan
masyarakat demokratis. Faktor-faktor itu dapat dijadikan landasan
untuk mengembangkan konsep pendidikan multikulturalisme yang
sangat penting karena dapat meningkatkan pemahaman terhadap
keberagaman budaya serta dapat mewujudkan kesempatan yang
sama bagi semua orang dalam rangka menghilangkan stereotip
yang telah melekat pada seseorang terhadap budaya orang lain.

Rahmi Fhonna, MA I35

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Selaras dengan hal itu, pendidikan multikulturalisme tidak
hanya penting pada suatu negara atau daerah tertentu, tetapi
ia telah menjadi komitmen secara global. Hal ini sesuai dengan
rekomendasi yang dikeluarkan UNESCO pada Oktober 1994 di
Jenewa. Rekomendasi tersebut memuat empat hal. Pertama,
pendidikan hendaknya mengembangkan kemampuan untuk
mengakui dan menerima nilai-nilai yang ada dalam kebhinnekaan.
Kedua, pendidikan hendaknya meneguhkan jati diri dan mendorong
konvergensi gagasan dan penyelesaian yang dapat memperkokoh
perdamaian, serta solidaritas antara pribadi dan masyarakat.
Ketiga, pendidikan hendaknya meningkatkan kemampuan
mengelola konflik secara damai tanpa kekerasan. Keempat,
pendidikan hendaknya meningkatkan pengembangan kedamaian
dalam pikiran siswa sehingga mereka mampu membangun lebih
kokoh kualitas toleransi, kesabaran, kemauan untuk berbagi dan
memelihara (Sanusi, 2009: 3).
Lalu, kenapa internalisasi nilai-nilai multikultural perlu
diwujudkan sejak dini melalui pendidikan? Setidaknya terdapat
empat alasan yang dapat dikemukakan. Pertama, pendidikan
multikulturalisme dapat memberikan terobosan baru pembelajaran
yang mampu meningkatkan empati dan mengurangi prasangka
siswa sehingga terciptanya warga negara yang mampu mengelola
konflik tanpa kekerasan (nonviolent). Kedua, penerapan pendekatan
dan strategi pembelajaran potensial dalam mengedepankan
proses interaksi sosial memiliki afeksi yang kuat. Ketiga, model
pembelajaran multikultural membantu pendidik dalam mengelola

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

36

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

proses pembelajaran menjadi lebih efisien dan efektif, sehingga
memberikan kemampuan siswa dalam membangun kolaboratif
dan memiliki komitmen nilai tinggi dalam kehidupan masyarakat
yang beragam. Keempat, memberikan kontribusi bagi bangsa
Indonesia dalam penyelesaian dan mengelola konflik bernuansa
SARA yang timbul dalam masyarakat dengan cara meningkatkan
empati dan mengurangi prasangka.
Melihat pentingnya penanaman konsep multikulturalisme,
maka sudah seharusnya sekolah, pendidik, dan berbagai pengambil
kebijakan mempersiapkan berbagai aspek yang mencakup materi,
metode, serta sarana dan prasarana dalam menunjang proses
pembelajaran multikulturalisme di lembaga pendidikan.

Upaya Internalisasi

Tujuan pendidikan multikultural adalah untuk mengubah
seluruh lingkungan atau suasana pendidikan, sehingga dapat
meningkatkan perhatian terhadap kelompok-kelompok budaya
yang luas atau berbeda untuk mendapatkan pendidikan yang
sama. Pendidikan multikultural juga merupakan tujuan utama
pembelajaran seumur hidup (life long learning) (Ibrahim,
2008:121-122). Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai yang dapat
mendukung terwujudnya sikap saling menghargai dan dapat
hidup berdampingan secara damai perlu ditanamkan sejak dini
dalam berbagai jenjang pendidikan, karena pendidikan tak hanya
sebagai transfer of knowledge dan transfer of skill, namun juga
perlu memprioritaskan pada pengembangan transfer of social

Rahmi Fhonna, MA I37

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

values yang dapat mendukung kehidupan harmonis antara
seluruh masyarakat, tanpa membedakan etnis, ras, suku dan
agama (Abdullah, 2005: 121).
Pola penerapan pendidikan multikultural di tingkat nasional
maupun lokal perlu dikaji secara lebih mendalam, mengingat
pemahaman konsep multikulturalisme masih terbatas hanya pada
beberapa golongan tertentu dan belum menyentuh semua lapisan
masyarakat, termasuk pendidik dan pengambil kebijakan dalam
bidang pendidikan.

Untuk itu, ada beberapa aspek yang dapat dijadikan acuan untuk
mengembangkan pendidikan multikultural. Pertama, menyusun
rancangan pembelajaran berbasis multikultural. Penyusunan
rancangan pembelajaran bernuansa multikultural dapat dilakukan
melalui lima tahapan utama, yaitu analisis isi (content analysis),
analisis latar kultural (setting analysis), pemetaan materi (maping
contents
), pengorganisasian materi (contents organizing), dan
menuangkan dalam format pembelajaran ketika tahapan proses
tindakan dilakukan dalam mengembangkan pembelajaran berbasis
multikultural.

Kedua, perlu adanya sebuah kurikulum yang dapat
dijadikan pegangan bagi pendidik dalam mengajarkan konsep
multikulturalisme. Kurikulum ini perlu dikembangkan sebagai
bagian dari pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan
Pendidikan Agama. Saat ini kurikulum pada dua mata pelajaran
tersebut belum terintegrasi secara utuh dengan nilai-nilai
multikulturalisme yang sangat dibutuhkan untuk memberikan

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

38

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

pemahaman kepada anak didik tentang penghargaan terhadap
keanekaragaman di sekitarnya. Dalam hal ini, pemerintah lokal
(daerah) tidak harus menunggu adanya kurikulum tingkat nasional,
tetapi dapat menyusun kurikulum berdasarkan konteks lokal
yang lebih dinamis dan sesuai pola kehidupan daerah yang penuh
dengan nilai-nilai kearifan lokal (local value) untuk dikembangkan
dalam sebuah materi yang utuh sehingga menjadi bahan ajar dalam
memberikan pemahaman tentang konsep multikulturalisme kepada
siswa. Dengan begitu, mereka dapat memahami keanekaragaman di
sekelilingnya dalam konteks lokal yang berdimensi global. Dan ini
dapat menjadi salah satu materi untuk mengisi kurikulum muatan
lokal. Perspektif lokal penting diwujudkan, karena inti konsep
multikulturalisme bukan suatu paksaan dengan menghilangkan
keanekaragaman budaya lokal tetapi upaya memahami berbagai
keanekaragaman sebagai sebuah bangsa yang dapat hidup saling
berdampingan dengan berbagai perbedaan tersebut.
Ketiga, perlu adanya strategi pembelajaran berbasis
multikultural, antara lain melalui penerapan pembelajaran
bersama-sama (cooperative learning) yang dipadu dengan strategi
pencapaian konsep (concept attainment), analisis nilai (value
analysis
), dan analisis sosial (social investigation). Strategi ini bisa
diterapkan pada semua mata pelajaran, tidak hanya terbatas pada
mata pelajaran tertentu yang hanya memperkenalkan konsep
multikulturalisme. Penggunaan strategi ini diharapkan mampu
meningkatkan partisipasi siswa dalam melakukan rekomendasi
nilai-nilai lokal serta membangun cara pandang kebangsaan yang

Rahmi Fhonna, MA I39

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

multikultur. Dari kemampuan ini, siswa akan memiliki ketrampilan
dalam mengembangkan kecakapan hidup untuk menghormati dan
empati yang tinggi terhadap perbedaan budaya, toleransi pada
perbedaan serta mampu mengelola konflik tanpa kekerasan.
Keempat, adanya sistem pemberdayaan budaya sekolah dan
struktur sosial (empowering school culture and social structure). Hal
ini penting dalam memberdayakan budaya siswa untuk berpartisipasi
dalam kegiatan olahraga, berinteraksi dengan seluruh staf dan
siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya
akademik. Interaksi non-formal ini diharapkan akan terwujudnya
pemahaman terhadap keanekaragaman melalui kegiatan-kegiatan
bersifat ekstrakulikuler yang dapat diikuti oleh semua siswa dengan
latar belakang agama, budaya, dan etnis yang berbeda.
Kelima, untuk mengembangkan model pendidikan
multikultural dibutuhkan berbagai sarana dan prasarana yang
mendukung. Salah satunya adalah audio visual untuk menonton
film-film bertema multikultural, dan berbagai media pembelajaran
lain yang dapat meningkatkan minat siswa untuk memahami konsep
multikulturalisme. Penggunaan media pembelajaran seperti audio
visual sepeti telah dikembangkan di Madrasah Pembangunan UIN
cukup menarik minat belajar serta sangat menyenangkan siswa,
karena tak hanya mendengar teori dari pendidik tapi sekaligus
melihat dan melakukan praktik selama proses pembelajaran
berlangsung. Upaya ini akan berdampak terhadap semakin
meningkatnya sikap toleransi, solidaritas dan penyelesaian konflik
tanpa kekerasan serta menempuh jalan musyawarah.

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

40

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

Dalam rangka mengimplementasikan hal-hal itu, baik
pemerintah pusat, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder
pengambil kebijakan terhadap pengembangan pendidikan perlu
mengkaji secara teliti dan lebih mendalam untuk menerapkan
konsep pendidikan multikultural di lingkungan sekolah. Harus ada
kebijakan yang tepat dan terarah mulai dari pengembangan materi,
metode pengajaran, penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif
dan berbasis budaya serta pembinaan terhadap pendidik-pendidik
yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam upaya
internalisasi nilai-nilai multikultural tersebut.
Dalam penerapannya, pendidikan multikultural bukanlah
mata pelajaran yang berdiri sendiri, tapi terintegrasi ke dalam mata
pelajaran lain, sehingga dalam implementasinya perlu dilakukan
oleh pendidik sebagai salah satu komponen pembelajaran. Karena
itu, pendidikan multikultural tidak hanya menjadi tanggung jawab
pendidik mata pelajaran tertentu, tetapi perlu diimplementasikan
secara integral ke dalam berbagai materi pembelajaran yang
relevan dengan mata pelajaran bersangkutan.
Tapi, melihat materi dari konsep multikulturalisme, peran
guru mata pelajaran PKn dan Pendidikan Agama menjadi titik
sentral untuk pengembangan konsep multikulturalisme. Sehingga
dalam implementasinya, para pendidik perlu lebih kreatif, inovatif
serta mampu mengelola dan menciptakan desain pembelajaran
yang sesuai, termasuk memberikan dan membangkitkan motivasi
belajar siswa. Tetapi fakta yang ada berbicara lain, hasil penelitian
baru-baru ini yang dilakukan di Jakarta dan Tangerang menemukan

Rahmi Fhonna, MA I41

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

fakta bahwa kebanyakan guru mata pelajaran PKn tidak terlalu
mengerti tentang multikulturalisme (Harian Republika, 14 Juni
2011).

Untuk menjawab problema itu, kebijakan khusus mengenai
peningkatan kapasitas dan kualitas pendidik harus segera
diwujudkan. Peran pendidik dalam mengimplementasikan
pendidikan multikultural sangat penting, di mana pendidik harus
mampu mengelola dan mengorganisir isi, proses, situasi dan
kegiatan sekolah secara multikultural di mana setiap siswa dengan
latar belakang yang berbeda berkesempatan untuk mengembangkan
dirinya dan saling menghargai perbedaan yang tidak mungkin
dihindari di lingkungan sekolah. Dengan kapasitas pendidik yang
kreatif dan inovatif serta adanya dukungan dari seluruh komponen
sekolah diharapkan akan muncul pemahaman dan afeksi siswa
akan nilai-nilai multikultural yang dikembangkan seperti toleransi,
solidaritas, musyawarah, dan pengungkapan diri.
Akhirnya, pendidikan multikultural seyogyanya mampu
menfasilitasi proses belajar mengajar yang mengubah perspektif
monokultural, penuh prasangka dan diskriminatif ke perspektif
multikulturalis menghargai keragaman dan perbedaan, toleran
dan sikap terbuka terhadap orang lain. Perubahan paradigma ini
menuntut transformasi yang tidak terbatas pada dimensi kognitif
belaka. Dunia pendidikan tidak boleh terasing dari perbincangan
realitas multikultural. Dengan demikian, sudah saatnya
menginternalisasikan nilai-nilai multikultural dalam pendidikan,
khususnya pada proses pembelajaran dengan tanpa mengabaikan

I Internalisasi Nilai-nilai Multikultural

42

m u l t i k u l t u r a l i s m e­

realitas kebudayaan yang beragam, sehingga melahirkan suatu
generasi masa depan yang cerdas, terbuka, toleran, saling
menghargai, mandiri dan tidak gamang menghadapi masa depan.
[]

Rahmi Fhonna, MA I43

menuju­pendidikan­berbasis­multikultur

Daftar Pustaka

Abdullah, M. Amin. 2005. Pendidikan Agama Era Multikultural
Multi Religious.
Cet 1. Jakarta: PSAP.
Asy’ary, Musa. Pedidikan Multikultural dan Konflik Bangsa. www.
kompas,co.id
Banks, J.A. 1993. “Multicultural Educatian: Historical Development,
Dimentions and Practice
” In Review of Research in Education,
vol. 19, edited by L. Darling-Hammond. Washington, D.C.:
American Educational Research Association.
Chakim, Abdullah. 2005. Pendidikan Multikultural, Jurnal Ta’allum.
STAIN Tulungagung vol 28. No 2. Hal 99-109.
Ibrahim, Ruslan. 2008. Pendidikan Multikultural; Upaya
Meminimalisir Konflik Dalam Era Pluralitas Agama. Jurnal
Pendidikan Islam el Tarbawi.
No 1. Vol 1 tahun 2008. Hal
115-127.
Liliweri, Alo. 2005. Prasangka dan Konflik; Komunikasi Lintas
Budaya Masyarakat Multikultural
, cet I. Yogyakarta: Lkis.
Harian Republika, 14 Juni 2011.
Redaksi Sinar Grafika. 2005. UU SISDIKNAS (Siatem Pendidikan
Nasional)2003 (UU RI NO 20 Tahun 2003)
, cet II. Jakarta:
Sinar Grafika.
Sanusi, A. Effendi. 2009. Pendidikan Multikultural dan Implikasinya
http://blog.unila.ac.id/effendisanusi/?p=412
Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan, cet. VII. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Yaqin, Ainul. 2005. Pendidikan Multikultural; Cross-Cultural
Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan
, cet I.
Yogyakarta: Pilar Media.

45

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->