Muhkam dan Mutasyabih dalam Alquran

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada hambanya agar ia menjadi pemberi peringatan bagi semesta alam. Ia menggariskan bagi makhlukNya itu aqidah yang benar dan prinsipprinsip yang lurus dalam ayat-ayat yang tegas keterangannya dan jelas cirri-cirinya. Itu semua merupakan karuniaNya kepada umat manusia. Dimana ia menetapkan bagi mereka pokok-pokok agama untuk menyelamatkan aqidah mereka dan menerangkan jalan lurus yang harus mereka tempuh. Pokok-pokok agama tersebut dibeberapa tempat dalam Al-Qur’an terkadang datang dengan lafazh, ungkapan dan uslub (gaya bahasa) yang berbeda-beda tetapi maknanya tetap satu. Maka sebagiannya serupa dengan sebagian yang lain, tetapi maknanya cocok dan serasi. Tidak ada kontradiktif di dalamnya. Adapun mengenai masalah cabang (furu’) agama yang bukan masalah pokok, ayat-ayatnya ada yang bersifat umum dan juga mutasyabih (samar-samar) yang memberikan peluang bagi para mujtahid yang handal dan dalam ilmunya untuk dapat mengembalikan maknanya kepada yang muhkam. Dengan cara mengembalikan yang furu’ (cabang) kepada masalah ushul (pokok), dan yang bersifat juz’I (parsial) kepada yang bersifat kulli (universal). Ibn Habib An-Naisaburi pernah mengemukakan tiga pendapat kaitan ayat-ayat Al-Qur’an dan muhkam-mutasyabih. Pertama, seluruh ayat Al-Qur’an adalah muhkam berdasarkan firman Allah dalam QS. Hud: 1 yang artinya: “Alim lam raa, inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci yang diturunkan dari sisi Allah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui “. Kedua, seluruh ayat Al-Qur’an adalah mutasayabih berdasarkan firman-Nya: “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa (mutu ayatayatnya) lagi berulang-ulang.” (QS. Az Zumar : 23) Ketiga, pendapat yang paling tepat, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi dalam dua bagian, yaitu muhkam dan mutasyabih berdasarkan firman Allah: “Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Diantara isisnya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokokpokok kitab Al-Qur’an dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam batinnya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasayabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mengetahui ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih, semuanya

Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah hukum-hukum yang wajib. serta yang harus diimani dan diamalkan. seperti terjadinya hari kiamat. ketentuan-ketentuan (hudud). Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang berdiri sendiri. Adapun ayat-ayat mutasyabih adalah ayat yang dihapus (mansukh. sumpah (aqsam). Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya melainkan orang-orang yang berakal. 2. Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang hanya dapat ditakwilkan dengan satu pentakwilan saja. dan yang harus diimani. Ini adalah pendapat Al-Mawardi. berbicara tentang halal haram. Dan yang mutasyabih adalah antonimnya. Adapun mutasyabih adalah ungkapan yang maksud makna lahirnya samar. Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang maksudnya dapat diketahui dengan gamblang.” (QS. 8. Ali Imran : 7) A. Pengertian Muhkam dan Mutasyabih Secara etimologi (bahasa). Adapun menurut pengertian terminologi (istilah). tetapi tidak harus diamalkan. 6. huruf-huruf yang terputus-putus yang terdapat pada awal surat-surat. muhkam berarti suatu ungkapan yang maksud makna lahirnya tidak mungkin diganti atau diubah (ma ahkam Al-murad bib’an al-tabdil wa at-taghyir). pengkhususan bulan Ramadhan sebagai bulan yang diwajibkan untuk berpuasa. 7. janji dan ancaman. Dan yang mutasyabih terdapat pada kisah-kisah dan perumpamaan-perumpamaan. Ibn Abi Hatim mengeluarkan sebuah riwayat dari “Ali bin Abi Thalib dari Ibn “Abbas yang mengatakan bahwa ayat-ayat muhkam adalah ayat yang menghapus (nasikh). kafarduan. Dan yang mutasyabih tidak dapat berdiri sendiri. baik melalui takwil (metafora) ataupun tidak. bukan Sya’ban. Dan yang mutasyabih adalah yang mungkin ditakwilkan dengan beberapa takwil. keluarnya Dajjal. 4. seperti jumlah bilangan shalat . Dan yang mutasyabih adalah yang tidak dapat diketahui kecuali dengan takwil. Dan yang mutasyabih adalah antonimnya. 3. . 5. muhkam dan mutasyabih diungkapkan para ulama seperti berikut ini : 1. Dan yang mutasyabih adalah yang hanya diketahui oleh Allah. Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah dimana takwilnya merupakan penurunannya. tetapi harus dikembalikan kepada yang lainnya. Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang logis maknanya.itu dari sisi Tuhan kami. Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang telah jelas maknanya dan yang mutasyabih adalah antonimnya. yang berbicara tentang perumpamaan-perumpamaan (amtsal). Ada yang mengatakan bahwa yang muhkam adalah yang tidak berulang-ulang lafadz-lafadznya.

Contoh-Contoh Ayat Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengertian di atas. agar kamu bertaqwa. tidak samar lagi. Contoh ayat muhkam ٌ ْ ِ َ ٌ ْ ِ َ َ ّ ِ ْ ُ َ ِ َ ْ ِ ْ ُ َ َ ْ َ ّ ِ ْ ُ َ َ َ ِ َ ِ َ َ ً ْ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ْ َُ ٍ َ َ ْ ِ ْ ُ َ َ ّ ِ ُ َ ّ َ ‫يايهاالناس انا خلقنكم من ذكر وانثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا ان اكرمكم عندال اتقكم ان ال عليم خبير‬ 13 : ‫))الحجرات‬ Artinya : Hai manusia sesaungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Berikut akan diuraikan beberapa contoh ayat Al-Qur’an yang termasuk ayat muhkam dan mutasyabih. daging babi. (Al-Hujarat : 13) 21 : ‫)يايهاالناس اعبدوا ربكم الذي خلقكم والذين من قبلكم لعلكم تتقون )البقرة‬ َ ْ ْ ُ َ َ ْ ُ ِْ ْ ِ َ ْ ّ َ ْ ُ َ ْ ّ ُ ّ َ ْ ُ ُ ْ ُ َ ّ َ Artinya : Hai manusia. (Al-Maidah : 3) 2. Yang masuk ke dalam kategori muhkam adalah nash (kata yang menunjukkan sesuatu yang dimaksud dengan terang dan tegas. Adapun mutasyabih adalah ayat-ayat yang maknanya belum jelas. B.Dari pengertian-pengertian di atas. bahwa ayat-ayat muhkam berisi tentang halal. dan memang untuk makna itu ia disebutkan). haram. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal. hudud. (AlBaqarah : 275) 3 : ‫…)حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير ومااه ّ لغير ال به )المائدة‬ ِ ِ ِ ْ ِ ‫ُ ّ ْ َ َ ْ ُ ُ ْ َ ْ ُ َ ّ َ َ ْ ُ ْ ِ ْ ِ ْ ِ َ َ ُ ِل‬ Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. 1. Sedangkan ayat-ayat mutasyabih berisi tentang asma Allah dan sifat-sifatNya. Contoh ayat mutasyabih 5 : ‫)الرحمن على العرش استوى )طه‬ َ ْ ِ ْ َ ْ ََ ُ ْ ّ َ Artinya : Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayan diatas Arsy ( Thaha : 5 ) . (daging hewan) yang disenbelih atas nama selain Allah. (Al-Baqarah : 21) 275 : ‫…)واحل ال البيع وحرم الربوا )البقرة‬ ّ ّ َ َ َ ْ َ ْ ُ ّ َ ََ Artinya : Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu. darah. kewajiban janji dan ancaman. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang bertaqwa. dapat disimpulkan bahwa inti muhkam adalah ayatayat yang maknanya sudah jelas.

Ibnu Mas’ud. mengatakan “isti’naf”. ِ ِْ ْ ِ َ ْ ُ ّ َ Pendapat pertama. Sumber perbedaan pendapat itu berpangkal pada masalah waqaf (berhenti) dalam ayat berikut : …7 : ‫)وما يعلم تاءويله الال والراسخون فى العلم يقولون امنا به… )ال عمران‬ ِ َ َ َ ْ ُْ ُ َ ِ ْ ِ ْ ِ َ ْ ُ ّ َ ُ ِ َ ْ ِ ْ َ ُ َ ْ َ َ َ Apakah kedudukan lafazh ‫ والراسخون فى العلم‬ini sebagai mubtada’ yang khabarnya adalah ِ ِْ ْ ِ َ ْ ُ ّ َ َ ْ ُْ ُ َ ‫ يقولون‬dengan wawu diperlakukan sebagai huruf isti’naf (permulaan) dan waqaf dilakukan pada lafazh ‫ وما يعلم تاءويله الال‬ataukah ia ma’thuf ? Sedang lafazh ‫ يقولون‬menjadi hal dan ُ ِ َْ ِ ْ َ ُ َْ َ َ َ َ ْ ُْ ُ َ waqafnya pada lafazh ‫ والراسخون فى العلم‬Dalam hal ini ada dua pendapat. bersumber dari Ibnu Abbas. bahwa ia membaca. Pendapat ini didukung oleh sejumlah tokoh seperti Ubay bin Ka’ab. “Wa inna ta’wilahu ‘indallahi wa ar-rasikhuna fi al-‘ilmi yaquluna amanna bihi. Perbedaan Ulama tentang Muhkam dan mutasyabih serta Argumentasi MasingMasing Sebagaimana terjadi perbedaan pendapat tentang defenisi muhkam dan mutasyabih dalam maknanya secara terminology. .” dan dengan ayat itu sendiri yang menyatakan celaan terhadap orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dan menyifatinya sebagai oarng-orang yang hatinya condong kepada kesesatan dan berusaha menimbulkan fitnah. “wa ma ya’lamu ta’wilahu illa Allah. perbedaan pendapat juga terjadi dalam masalah ayat yang mutasyabih. sejumlah sahabat tabi’in dan lainnya. tapi kedua-dua tangan Allah terbuka ( Al Maidah : 64 ) C. Ibnu Abbas.” Juga dengan qira’at Ibnu Mas’ud.88 : ‫)كل شيء هالك ال وجهه )القصص‬ َ ْ َ ِ ٌ َِ ٍ ْ ّ ُ Artinya : Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali wajah Allah ( Al Qashash : 88 ) 27 : ‫)ويبقى وجه ربك ذوالجلل والكرام )الرحمن‬ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ْ ُ َّ ُ ْ َ ْ ََ Artinya : Dan tetap kekal wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan ( Arrahman : 27 ) 10 : ‫)يدال فوق ايديهم )الفتح‬ ْ ِ َِْْ ْ ِ َُ Artinya : Tangan Allah diatas tangan mereka ( Al Fath : 10) 64 : ‫)بل يده مبسوطتان )المائدة‬ ِ ْ ُ َْ ُ َ ْ َ Artinya : Tidak demikian. wa ar-rasikhuna fil ‘ilmi yaquluna amanna bihi. Mereka beralasan antara lain dengan keterangan yang diberikan oleh Al-Hakim dalam mustadrakNya.

Takwil dengan makna tafsir (menerangkan. Dalam Syarahnya ia menegaskan. 3. Sebaliknya. bahwa takwil dalam ayat ini ialah takwil dengan pengertian yang ketiga. .” Pendapat kedua. karena lafazh “takwil” digunakan untuk menunjukkan tiga makna: 1. yaitu pembicaraan untuk menafsirkan lafazh-lafazh agar maknanya dapat dipahani. maka akan jelaslah bahwa antara kedua pendapat di atas tidak terdapat pertentangan. “Pendapat inilah yang paling shahih karena tidak mungkin Allah menyeru hambahambaNya dengan uraian yang tidak ada jalan untuk mengetahuinya. Memaknai kata takwil tersebut dengan makna yang kedua yakni tafsir. Saya pelajari sampai paham setiap ayatnya dan saya tanyakan kepadanya tentang tafsirannya. Karena itu hakekat zat Allah. Golongan yang berpendapat bahwa waqaf dilakukan pada lafazh “Wama ya’lamu ta’wilahu illallah” dan menjadikan “War-rasikhuna fil “ilmi” sebagai isti’naf (kalimat permulaan) mengatakan. menjelaskan). takwil tentang zat dan sifat-sifat Allah ialah tentang hakekat zatNya itu sendiri yang kudus dan hakekat sifat-sifatNya. mengatakan bahwa “wawu” sebagai huruf “athaf.Dari Aisyah.” Ulama lain yang mendukung pendapat ini adalah Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abu Ishaq Asy-Syirazy (476 H).” Kemudian beliau bersabda: “Apabila kamu melihat orang yang suka mengikuti ayat-ayat mutasayabihat. makna nama dan sifatNya serta hakekat hari kemudian tidak ada yang mengetahui selain Allah. “Jika dikatakan ia mengetahui. ia berkata: Rasulullah membaca ayat ini “huwalladzi anzala “alaika al – kitab” sampai dengan “ulul albab. Inilah pengertian takwil yang dimaksudkan oleh mayoritas ulama muta’akhirin.” Para ulama sesungguhnya juga mengetahuinya.” Pendapat ini juga didukung oleh Imam An-Nawawi. yakni hakekat yang dimaksud dari sesuatu perkataan. maka mereka itulah yang disinyalir Allah. Jika tidak. ia mengetahui yang mutasyabih. Takwil adalah pembicaraan tentang substansi (hakekat) suatu lafazh. Maka. “Saya telah membacakan mushaf kepada Ibnu Abbas mulai dari Al-Fatihah sampai tamat. Mengenai Mujahid ini Ats-Tsauri berkata. Memalingkan sebuah lafazh dari makna yang kuat (rajih) kepada makna yang lemah (marjuh) karena ada suatu dalil yang menghendakinya. Maka waspadalah terhadap mereka. Dan takwil tentang hari kemudian yang diberitakan Allah adalah substansi yang ada pada hari kemudian itu sendiri. maksudnya ialah bahwa ia mengetahui tafsirannya. “Tidak ada tu ayatpun yang maksudnya hanya diketaui Allah. Sebagaimana dikemukakan Mujahid (seorang ahli tafsir terkemuka). Asy_syirazy berkata. Ini dipilih oleh segolongan ulama lain yang dipelopori oleh Mujahid. 2. katanya. apa bedanya mereka dengan orang awam ?” Dengan merujuk kepada makna takwil (at-ta’wil). esensiNya. Diriwayatkan dari Mujahid. golongan yang mengatakan waqaf pada lafazh ”War-rasikhuna fil ‘ilmi” dengan menjadikan “wawu” sebagai huruf athaf. bukan isti’naf.

D. Jika tidak dikenal oleh lisan Arab.”kedatangan Allah” ditakwilkan dengan kedatangan perintahnya.Dengan demikian jelaslah bahwa pada hakekatnya tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut. “sisi Allah” ditakwilkan dengan hak Allah. 2. bukan menunjukkakn bahwa Dia menempati suatu tempat. Kesan-kesan pada ayat Al-Qur’an ditakwilkan dengan arti yang cocok dengan kesucian Allah. arti yang dipilih dikenal oleh bahasa Arab klasik. Ibn Ad-Daqiq Al-‘Id mengatakan bahwa apabila pentakwilan yang dilakukan terhadap ayat-ayat mutasyabih dikenal oleh lisan Arab. “Allah berada di atas hambaNya” menunjukkan kemahatinggianNya. Kedua. dan “diri” ditakwilkan dengan siksaNya. Mazdhab Salaf. 1. Adapun hikmahnya adalah sebagai berikut. Berbeda dengan ulama salaf yang menyucikan Allah dari pengertian lahir ayat-ayat mutasyabih itu. mengimani hal-hal ghaib sebagaimana dituturkan Al-Qur’an. ulama khalaf memberikan pentakwilan terhadap ayat-ayat mutasyabih. Mereka menyucikan Allah dari pengertian-pengertian lahir yang mustahil bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan Al-Qur’an. yaitu para ulama yang berpendapat perlunya mentakwilkan ayat-ayat mutasyabih yang sifat Allah sehingga melahirkan arti yang sesuai dengan keluhuran Allah. . Dan masalahnya hanya berkisar pada arti takwil. Demikianlah prinsip penafsiran ulama khalaf. pentakwilan itu tidak perlu diingkari. Mazdhab Khalaf. kita harus mengambil sikap tawaqquf(tidak membenarkan dan tidak pula menyalahkan) dan mengimani maknanya sesuai apa yang dimaksud ayat-ayat itu dalam rangka menyucikan Allah. makna yang dipilih sesuai dengan hakekat kebenaran yang diakui oleh mereka yang otoritas. Rahasia Muhkam dan Mutasyabih dalam Al-Qur’an Rahasia muhkam dan mutasyabih dalam Al-Qur’an adalah agar kita dapat memetik hikmah dibalik keberadaan ayat-ayat yang terdapat yang terdapat dalam Al-Qur’an. “wajah dan mata Allah” ditakwilkan pengawasanNya. (Tafwidh ilallah). Ibnu Quthaibah (276 H) menentukan dua syarat bagi absahnya sebuah pentakwilan. Istiwa’ ditakwilkan dengan keluhuran yang abstrak. Argumentasi Para ulama terhadap ayat muhkam dan mutasyabih Secara umum penulis telah menguraikan argumentasi para ulama terhadap perbedaan ayat-ayat muhkam dan mutasyabih. Pertama. yaitu para ulam yang mempercayai dan mengimani ayat-ayat mutasyabih dan menyerahkan sepenuhnya kepada Allah sendiri. berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kesusahan. Namun dalam hal ini penulis mencoba mengkerujutkan lagi argumentasi ulama tersebut dalam dua kelompok yaitu. dan myerahkan bulat-bulat pengertian itu kepada Allah. Untuk menengahi kedua mazhab yang kontradiktif itu.

Bandung: CV Pustaka Setia. Manna’. Surabaya: PT Bina ILmu. yakni orangorang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk mengotak-atik ayat—ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana latuzigh qulubana. tentunya seseorang yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada naluri kehambaan. Ash-Shalih. Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. jilid 3. Allah menyebutkan wa ma yadzdzakkaru illa ulu Al. 2007. Bandung : 2004. Jumanatul ‘Ali. Jalaluddin. 2008. Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharapkan ilmu ladunni. Allah menegaskan bahwa diriNya tidak sama dengan hambaNya dalam hal pemilikan anggota badan. Mabahits fi ulum Al-Qur’an. 3. 2009. (Oleh: Zubaidah Khan) (***) DAFTAR PUSTAKA Al-Qaththan. Memperlihatkan kelemahan akal manusia Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah. Teguran bagi orang-orang yang mengotak-atik ayat mutasyabih Pada penghujung surat Al-Imran ayat 7. Bersamaan dengan itu. Samudera Ulumul Qur’an. Beirut: Dar Al-Qalam li Al-Malayyin. Sebagaimana diketahui bahwa pemahaman diperoleh manusia tatkala ia diberi gambaran indrawi terlebih dahulu. Subhi. Memberikan pemahaman abstrak-ilahiah kepada manusia melalui pengalaman indrawi yang biasa disaksikannya.1. sengaja Allah memberikan gambaran fisik agar manusia dapat lebih mengenal sifat-sifatNya. . Sebaliknya. Al-Qur’an dan Terjemahnya. 2. Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji.albab sebagi cercaan terhadap orang-orang yang mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap Allah karena kesadarannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat mutasyabih itu. Anwar. Dalam kasus sifat-sifat Allah. memberikan pujian pada orang-orang yang mendalami ilmunya. As Sayuti. Ulum Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.Rosihon. 1988.

Quraish.1999. Manna’. Shihab. Mutiara Ilmu-Ilmu Al-qur’an. Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasan. Jakarta: Litera AntarNusa.Khalil al-Qattan. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. . Bandung: Pustaka Setia. 1992. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan. Rosihon Anwar. 1992. terj.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful