MAKALAH LANDASAN SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN Diposkan oleh ochino kurosaki di 01:55 BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang

Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan adalah mahasiswa yang dididik dan disiapkan untuk menjadi calon guru sekaligus calon pendidik. Oleh karena itu, mahasiswa fakultas Tarbiyah dan Keguruan pasti tak akan lepas dengan dunia pendidikan. Dunia pendidikan sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial budaya. Dilihat dari fenomena yang ada, banyak guru yang hanya sekedar menjadi guru, tidak menjadi pendidik. Hal itu dikarenakan kebanyakan guru tidak memahami aspek sosial budaya yang mempunyai peranan penting dalam proses mendidik. Guru yang tidak menguasai aspek sosial budaya dalam mendidik peserta didik, tidak akan mungkin menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Oleh karena itu, agar menghasilkan peserta didik yang berkulitas, guru/pendidik harus menguasai dan menyadari bahwa aspek sosial budaya sangat berpengaruh dan berperan penting terhadap jalannya proses pendidikan. Pemaparan di atas, kami jadikan latar belakang untuk menyusun makalah ini yang hasilnya diharapkan mampu meningkatkan pemahaman para calon pendidik untuk mempersiapkan diri menjadi pendidik yang berkualitas. Dengan demikian, makalah Landasan Sosial Budaya Pendidikan ini, kami persembahkan untuk kami dan mereka para calon guru masa depan yang berkualitas dan akan menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Karena peserta didik yang berkualitas hanya akan dihasilkan dari para pendidik yang berkualitas. Dalam hal ini, pendidik yang berkulaitas adalah pendidik yang menguasai dan menyadari akan pentingnya aspek sosial budaya dalam pendidikan. A. Rumusan Masalah

Apa pengertian sosiologi pendidikan? Apa tujuan sosiologi pendidikan? Apa yang di maksud dengan sosiologi sebagai landasan pendidikan? Apa fungsi sosial budaya terhadap pendidikan? Apa dampak konsep pendidikan? BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN Pada dasarnya, sosiologi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sosiologi umum dan sosiologi khusus. Sosiologi umum menyelidiki gejala sosio-kultural secara umum. Sedangkan Sosiologi khusus, yaitu pengkhususan dari sosiologi umum, yaitu menyelidiki suatu aspek kehidupan sosio kultural secara mendalam. Misalnya: sosiologi masyarakat desa, sosiologi masyarakat kota, sosiologi agama, sosiologi hukum, sosiologi pendidikan dan sebagainya. Jadi sosiologi pendidikan merupakan salah satu sosiologi khusus. Beberapa defenisi sosiologi pendidikan menurut beberapa ahli: 1. Menurut F.G. Robbins, sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki

struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengan tata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian, dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan. 2. Menurut H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi

pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.

5. gejala keluarga. kedua ini menjadi satu kesatuan yang terpisahkan. dinamika.G Robbins dan Brown.M. Menurut E. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsipprinsip untuk mengontrolnya. sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala nonsosial.A. dan yang terakhir. namun dalam sejarah hidup dan kehidupan serta budaya manusia. sosiologi dan pendidikan. dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan. dan gejala moral). Kedua istilah ini dari segi etimologi tentu saja berbeda maksudnya. DR S. Gunawan. Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Menurut George Payne. ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis. Nasution. baik itu struktur. 6.3. Dari beberapa defenisi di atas. Terutama dalam sistem memberdayakan manusia. Sosiologi pendidikan terdiri dari dua kata. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial (misalnya gejala ekonomi. dimana sampai saat ini memanfaatkan pendidikan sebagai instrument pemberdayaan tersebut. Menurut F. Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Menurut Prof. Beberapa pemikiran pakar mengenai sosiologi pendidikan yang dikemukakan oleh Ahmadi (1991). Sosiologi Pendidikan dalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.. yang kerap disebut sebagai bapak sosiologi pendidikan. 4.G Payne. Ary H. Menurut Drs. masalah-masalah pendidikan. Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan. mengemukakan . sosiologi adalah ilmu yang mempelajari ciri-ciri umum semua jenis gejalagejala sosial lain.

sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban untuk menganalisa evolusi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia. di dalam lembaga-lembaga.G Robbins dan Brown mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalamannya. Charles A. Bagi Payne sosiologi pendidikan tidak hanya meliputi segala sesuatu dalam bidang sosiologi yang dapat dikenakan analisis sosiologis. Jadi prinsipnya antara individu dengan lembaga-lembaga sosial itu selalu saling pengaruh mempengaruhi (process social interaction).B Reuter.secara konsepsional yang dimaksud dengan sosiolgi pendidikan adalah by educational sosiologi we the science whith desribes andexlains the institution. para peneliti dan orang lain yang menaruh . sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari menuju untuk melahirkan maksud hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial. proses sosial. F. and social processes. E. social group. Tujuan utamanya ialah memberikan guru-guru. terdapatlah apa yang yang dinamakan sosial itu individu memproleh dan mengorganisir pengalamannya-pengalamannya. Menurut E. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakukan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya. Ellwood mengemukakan bahwa Education Sosiologi is the sciense aims to reveld the connetion at all points between the cdukative process and the social. Payne menegaskan bahwa. dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari tiaptiap individu. kelompok-kelompok sosial. that is the spcial relationships in which or through which the individual gains and organizes experiences”. Inilah yang merupakan asepek-aspek atau prinsip-prinsip sosiologisnya.G Payne secara spesifik memandang sosiolgi pendidikan sebagai studi yang konfrenhensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu yang diterapkan.

DR. TUJUAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN Francis Broun mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memperoleh dan mengorganisasi pengalamannya. anak yang terdidik . Sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang bertugas menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. yaitu sebagai berikut: 1. maupun masyarakat.S.perhatian akan pendidikan latihan yang serasi dan efektif dalam sosiologi yang dapat memberikan sumbangannya kepada pemahaman yang lebih mendalam tentang pendidikan. Menurut Prof. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak. Robbins. Dengan berbagai definisi tersebut diatas menunjukkan bahwa sosiologi pendidikan merupakan bagian dari matakuliah dasar-dasar kependidikan di lembaga pendidikan tenaga kependidikan dan sifatnya wajib diberikan kepada seluruh peserta didik. Sosiologi pendidikan ialah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.Nasution. Menurut F. Dalam hal ini harus diperhatiakan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak. Sedang S. sosiologi pendidikan ialah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Nasution mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah Ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk memproleh perkembangan kepribadian individu yang lebih baik.G. Sosiologi pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis. Menurut penulis. Misalnya. Dari kedua pengertian dan beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat disebutkan beberapa konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan. Menurut Dictionary of Socialogy. baik dalam keluarga. B. sekolah.

3. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat. setelah dewasa/tua akan cendrung menjadi manusia yang religius pula. dan sebagainya. 4. Banyak orang/pakar yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan masyarakat. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial. Peranan/aktivitas warga yang berpendidikan / intelektual sering menjadi ukuan tentang maju dan berkembang kehidupan masyarakat. Anak yang terdidik dalam keluarga intelektual akan cendrung memilih/mengutamakan jalur intlektual pula. Misalnya.segan berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial. karena dengan memiliki ijazah yang semakin tinggi akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi pula (serta penghasilan yang lebih banyak pula. Pancasila sebagai filsafat hidup dan kepribadian bangsa Indonesia harus menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan Nasional serta tujuan pendidikan lainnya. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tujuan pendidikan nasional harus bertolak dan dapat dipulangkan kepada filsafat hidup bangsa tersebut. perguruan tinggi bisa didirikan di tingkat propinsi atau minimal kabupaten yang cukup animo mahasiswanya serta tersedianya dosen yang bonafid. terutama dalam memajukan kepentingan / kebutuhan masyarakat. Seperti di Indonesia.dengan baik dalam keluarga yang religius. Disamping itu dengan pengetahuan dan keterampilan yang banyak dapat mengembangkan aktivitas serta kreativitas sosial. 2. Ia harus menjadi motor penggerak dari peningkatan taraf hidup sosial. Sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan sosial. Sebaiknya warga yang berpendidikan tidak segan. guna menambah kesejahteraan sosial). Berdirinya suatu lembaga pendidikan dalam masyarakat sering disesuaikan dengan tingkatan daerah di mana lembaga pendidikan itu berada. Dinamika tujuan pendidikan nasional terletak pada keterkaitanya dengan . 5.

pendidikan mengutamakan penciptaan manusia yang humanistis. dan sebagainya. Menurut E. pendidikannya lebih mengutamakan penciptaan manusia sebagai pemikir. 6. juga bermanfaat untuk memahami hubungan antara manusia di sekolah serta struktur masyarakat. sosiologi pendidikan bertujuan utama memberi kepada guru. sosiologi pendidikan tidak hanya berkenaan dengan proses belajar dan sosialisasi yang terkait dengan sosiologi saja. pendidikan mengutamakan menjadikan manusia sebagai pengabdi Khalik (baik versi Islam maupun versi Kristiani). Pada zaman Romawi. Sosiologi pendidikan tidak hanya mempelajari masalah – masalah sosial dalam pendidikan saja. Menurut Nasution (1999:2-4) ada beberapa konsep tentang tujuan Sosiologi Pendidikan. melahirkan teori Nativisme (Rousseau. bermain peranan (role playing) dan sebagainya. Semuanya cendrung kepada nilai individu anak sebagai manusia yang memiliki karakteristik yang unik. tetapi juga segala sesuatu dalam bidang pendidikan yang dapat dianalis sosiologi. serta kebutuhan masyarakat dan kebutuhan manusia. Sosiologi pendidikan ialah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola. kemudian sebagai ksatria dan penguasa. sarana belajar. Empirisme oleh Locke (1632-1704) dan konvergensi oleh Stern (1871-1939).pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan.guru (termasuk para peneliti dan siapa pun yang terkait dalam bidang pendidikan) latihan – latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan. seperti masa kehidupan Cicero (106-43 BC). yang tiap 5 (lima) tahun sekali ditetapkan dalam Sidang Umum MPR. strategi belajar. dan disesuaikan dengan era pembangunan yang ditempuh. Pada abad pertengahan (1600-an-1800-an). Pada abad pertengahan. antara lain sebagai berikut: .dengan demikian sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik. melainkan juga hal – hal pokok lain. seperti tujuan pendidikan. Seperti sosiologi yang digunakan untuk meningkatkan teknik mengajar yaitu metode sosiodrama. Jika dilihat zaman peradaban yunani pada masa Plato (427-327 BC). G Payne.GBHN. 1712-1778). bahan kurikulum. Menurut pendapatnya. selain berharga untuk mengalisis pendidikan.

Pada sisi yang lain. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “ untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu . Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan.1. Namun demikian. analisis proses sosiologi analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat. Konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat dalam pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrument oleh individu untuk dapat berintraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. 3. apakah fenomena tersebut merupakan sesuatu yang harus terjadi. sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya. Itulah sebabnya sistem pendidikan nasional menurut UUSPN No. 6. Pendidikan tugasnya tentu saja memberi penjelasan mengapa suatu fenomena terjadi. sekaligus memelihara implikasi dari berbagai fenomena yang ada. 7. sosiologi pendidikan tidak akan keluar dari upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. 4. sosiologi pendidikan akan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat. analisis intraksi social di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat. Secara universal tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. dan bagaimana mengatasi segala implikasi yang bersifat buruk dari berkembangnya fenomena tersebut. dan latihan bagi petugas pendidikan. 2. pertumbuhan dan perkembangan masyarakat merupakan bentuk lain dari pola budaya yang dibentuk oleh suatu masyarakat. alat kemajuan dan perkembangan sosial. dasar untuk menentukan tujuan pendidikan. 5. sosiologi terapan. Karena itu.

3. menyelinap masuk kedalam nilai-nilai baru dan membantu menegakkannya”. . demokratis. meningkatkan mutu kehidupan. yang sadar akan hak dan kewajibannya. meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesiam meningkatkan martabat manusia Indonesia. Dengan demikian proses pendidikan yang berlangsung haruslah menciptakan arah yang segaris dengan upaya-upaya pencapaian masyarakat madani tersebut. Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri. budaya dan agama (Tilaar. tetapi dalam waktu yang bersamaan dapat melihat bagaimana nilai-nilai lama itu. Saat ini kita mengalami perubahan yang begitu cepat dan drastis. sedang kelompok kedua melihat keruntuhan nilai-nilai lama itu. 1999). 2. sehingga terjadi perubahan nilai dan menciptakan perbedaan dalam melihat berbagai nilai yang berkembang dalam masyarakat. yaitu suatu masyarakat yang berperadaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. bertanggungjawab. Menurut pandangan Nurcholis Majid mengemukakan bahwa masyarakat madani itu adalah masyarakat yang berindikasi seperti termaktub dalam piagam madinah pada zaman Rasulullah Muhammad SAW (Tilaar.kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujaun nasional”. Menurut Langgulung (1993:389) “kelompokpertama melihat nilai-nilai lama mulai runtuh sedangkan nilai-nilai baru belum muncul yntuk menggantikan yang lama. menguasai sumber informasi dalam bidang iptek dan seni. mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-manusia Indonesia. Menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalan: 1. 2000). 4. untuk mengembangkan kemampuan manusia Indonesia. meninggikan martabat dalam rangka mencapai tujuan nasional. Upaya pencapaian tujuan nasional tersebut adalah untuk menciptakan masyarakat madani. berdisiplin.

Perubahan nilai-nilai dalam masyarakat bukan berarti tidak terperhatikan oleh masyarakat. Kegiatan pendidikan yang sistematis . dua generasi yang memungkinkan generasi muda mengembangkan dirinya. Tidak semua masyarakat secara terarah memahami arah dan tujuan hidup secara benar. Dapat pula dikatakan ilmu ini merupakan analisa ilmiah terhadap proses sosial dan polapola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. jika diberikan melalui pendidikan. artinya aspek ini telah ada sejak . SOSIOLOGI SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN Sosial mengacu pada hubungan antar individu. memihak kepada kebenaran dan tahap terakhir adalah berbuat ikhsan secara dan secara individual maupun sosial yangb terealisasi dalam laku ibadah”. Maka dari itu perlu di kembangkan agar menjadi matang Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. antar masyarakat. Tahap pertama. arah yang menjadi anutan antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya tidaklah sama. Sampai saat ini pendidikan dianggap dapat dijadikan sebagai sarana yang efektif dalam menyadarkan manusia baik sebagai individu maupun sebagai anggota komunitas dan masyarakat. Namun dalam memperhatikan nilai-nilai yang berkembang tersebut.manusia dilahirkan. mengenai kebenaran. Arah dan tujuan yang benar menurut Mulkham (1993:195) adalah “secara garis besar arah dan tujuan hidup manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga tahap. Kegiatan pendidikan merupakan proses interaksi antara dua individu. dan individu dengan masyarakat. selain mempelajari cara manusia berhubungan satu dengan yang lain dalam kelompoknya serta susunan dan keterkaitan unit-unit masyarakat atau unit sosial dalam suatu wilayah. pada sisi yang lain agama akan semakin popular dan terinternalisasi dalam diri setiap pemeluknya. C. tahap kedua. Pendidikan akan mengembangkan kecerdasan dan penguasaan ilmu pengetahuan. Unsur sosial merupakan aspek individu secara alami.

Hubungan kemanusiaan. pembentukan karakter manusia melalui interaksi sosial ditambahkan menjadi : Empati Introspeksi Interaksi antar individu. . 2. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya. pembentukan karakter berdasarkan interaksi sosial melalui empat bentuk : 1. 3. 4. Sekolah dalam komunitas. Imitasi (peniruan) Sugesti (meniru melalui himbauan atau paksaan) Identifikasi (meniru berdasarkan hal-hal kecocokan dalam diri subyek) Simpati (meniru berdasarkan kesenangan) Menurut Karyono. terjadi karena ada aksi dan reaksi (dalam fisika dinyatakan sebagai Hukum 3 Newton). kebutuhan dan karakteristik masayarakat. Menurut Made Pidarta. antar kelompok. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.Sosiologi pendidikan merupakan analisis ilmiah tentang proses sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan meliputi empat bidang: 1. Interaksi ini terjadi dalam dunia persekolahan sebagai bagian kecil dari masyarakat pendidikan yang membentuk karakter peserta didik. yaitu hubungan antara gaya dua benda yang besarnya sama namun arahnya berlawanan. 2. Sekolah sengaja dibentuk oleh masyarakat agar pola dan kegiatan pendidikan semakin intensif Dasar sosiologis berkenaan dengan perkembangan. 4.terjadi dalam lembaga yang disebut SEKOLAH. 3.

budaya berkarakter. Aspek-aspek benturan antara nilai-nilai barat dan timur tidak dapat dihindari lagi. Sistem pendidikan Barat sangat menginginkan adanya pluralisme. biarpun berbeda-beda tetapi tetap satu jua. namun perkembangan kemajuan. Hingga zaman modern. Secara normatif benturan-benturan sosiokultural dapat di-asimilasi dalam Budaya Pancasila sebagaimana butir-butir sila yang ada dan sudah dijalan sejak dulu kala. seperti : budaya berpakaian. budaya mengajar. Bhin eka Tunggal Ika. budaya bertingkah laku. Nah. aturan. Sementara menurut falsafah negara Republik Indonesia. global menuntut adanya peningkatan hubungan tersebut. untuk diselaraskan sebagian dengan nilai-nilai adat. serta budaya-budaya yang lain yang terjadi dari interaksi sosial tersebut. menggambarkan adanya masyarakat pluralistis (memiliki sifat-sifat kemajemukan). perkembangan pergaulan masyarakat lokal. peran dan pandangan sosial budaya dari kacamata Islam dan Kristen ~ sebagaimana aturan atau norma agama termasuk aturan yang mengikat keteraturan harmonisasi hubungan antar individu dan antar kelompok yang perlu dibahas serta dipertajam keberadaannya agar berbagai macam budaya dan latar belakang sosial yang dibawa oleh peserta didik tidak berbenturan. Adat istiadat dan budaya yang terserap dalam pluralisme itu yang perlu diantisipasi. keberanekaan aspek kehidupan boleh-boleh saja tetapi tetap satu saja tujuannya bahkan ada yang menyatakan Agama itu berbedabeda tetapi tetap saja sama hakikatnya. (Nah. budaya mendengarkan. bersatu. perkembangan zaman. Sebagai landasan pendidikan. namun dapat disaring dan disesuaikan agar beresonansi dengan aspek sosial budaya yang sudah berakar dan berkembang di masyarakat Indonesia terutama dalam kaitannya dengan dunia pendidikan ini. budaya menulis. norma yang sudah lama berlaku di masyarakat. nasional. inilah bahaya pluralisme tersebut). bergabung membentuk cikal-bakal Negara Indonesia. Sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. yang menjadi permasalahannya. pemeluk agama Hindu dan Buddha serta Islam dapat bergandengan tangan.Dari interaksi sosial ini akan memunculkan budaya-budaya. regional. Negara Republik Indonesia menyatakan di . budaya belajar.

Karena itu. adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang bisa disimpan dalam waktu lama dan dapat diwariskan pada generasi muda. aspek sosial melekat pada diri individu yang perlu dikembangkan dalam perjalanan hidup peserta didik agar menjadi matang.dalam UUD 1945 melindungi keberagaman agama dan aliran kepercayaan di Indonesia dengan berbagai macam perbedaan ritual. Maka segi sosial ini perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. salah satunya sebagai landasan sosial budaya pendidikan dipandang secara Islam dan Kristen. Juga memberikan jaminan keamanan kepada berbagai suku daerah di Indonesia untuk berkembang dan mengembangkan budayanya dengan tetap menjaga stabilitas dan harmonisasi tanpa benturan yang mengarah pada konflik fisik dan cenderung kriminalis. antarmasyarakat. hanya norma Agama yang memiliki ikatan dan belengu yang kuat untuk tetap mempererat kebersatuan masyarakat Indonesia dalam keBhinneka-an tersebut. Dari sekian banyak norma yang berlaku di masyarakat. Teoretis. A. Sosiologi dan Pendidikan Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur sosialnya. Unsur sosial ini merupakan aspek individu secara alami. Sosial mengacu kepada hubungan antar individu. adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu. . dan lain-lain. dan individu dengan masyarakat. Sosilogi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1. aspek itu sendiri sangat berperan dalam membantu anak dalam mengembangkan dirinya. adat. Di samping tugas pendidikan mengembangkan aspek sosial. Komulatif. budaya. yang membuat teori-teori itu akan berkomulasi mengarah kepada teori yang lebih baik. artinya aspek itu telah ada sejak manusia dilahirkan. Empiris. sebagai akibat dari penciptaan terus-menerus sebagai konsekuensi dari terjadinya perubahan di masyarakat.

dan sistem-sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan. struktur dan fungsi sistem pendidikan. adat. dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah. bersahabat. B. Wuradji mengatakan 1. yaitu untuk memperbaiki kebiasaan-kebiasaan jelek pada anak-anak kala di rumah maupun di masyarakat dan 2.Nonetis. kepercayaan. dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat (Imran Manan. agama. sekolah sebagai pengubah sosial. Sosiologi berpandangan bahwa perilaku itu tidak bebas. Secara garis besar ada empat sumber nilai. tidak menilai apakah hal itu baik atau buruk. Sekolah-sekolah harus memperhatikan pengembangan nilai-nilai ini pada anak-anak di sekolah. karena teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat beserta individu-individu di dalamnya. Kebudayaan dan Pendidikan Kebudayaan menurut Taylor adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan. sekolah sebagai kontrol sosial. moral. seni. hukum. Untuk mewujudkan cita-cita pendidikan sangat membutuhkan bantuan sosiologi.1989) . dan pengetahuan. Sosiologi pendidikan meliputi interaksi guru-siswa. yaitu norma-norma. dan akrab sesama teman. Konsep atau teori sosiologi memberi petunjuk kepada guru-guru tentang bagaimana seharusnya mereka membina para siswa agar mereka bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis. dan menciptakan ilmu serta teknologi baru. Dalam sosiologi. yaitu untuk menyeleksi nilai-nilai. melainkan mengikuti pola yang kontinu dan pola itu yang sebagai pengatur perilaku adalah nilai-nilai yang ada di masyarakat. menghasilkan warga negara yang baik. peraturan dan perundang-undangan. perilaku manusia bertalian dengan nilai-nilai.

. khususnya pendidikan anak-anak. Masyarakat dan Sekolah Sekolah tidak dapat dipisahkan dari masyarakat : Sekolah milik masyarakat Sekolah sebagai mercu penerang dan pusat kebudayaan Sekolah bermanfaat bagi kemajuan budaya masyarakat.Fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia : Penerus keturunan dan pengasuh anak Pengembangan kehidupan berekonomi Transmisi budaya Meningkatkan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha esa Pengendalian social Rekreasi Perubahan kebudayaan disebabkan oleh Originasi atau penemua-penemua baru Difusi atau percampuran budaya baru dengan budaya lama Reinterpretasi atau modifikasi kebudayaan agar sesuai dengan keadaan zaman C. asumsi mereka adalah makin tinggi ijazah yang dapat diraih makin cepat dapat pekerjaan serta makin besar gaji yang diterima. Mengapa masyarakat atau para remaja bersikap seperti itu. Masyarakat memberi dukungan kepada sejumlah sekolah Perlu ada badan kerjasama antara sekolah dengan masyarakat dalam menyukseskan pendidikan. Masyarakat Indonesia dan Pendidikan Sebagian besar masyarakat Indonesia sekarang sudah sadar akan pentingnya pendidikan untuk meningkatkan hidup dan kehidupan.

paling sedikit sama intensitasnya dengan penanganan pendidikan jalur formal. Kebudayaan. terutama tayangan televisi. keluarga. FUNGSI SOSIAL BUDAYA PENDIDIKAN Dalam perkembangan landasan sosial budaya memiliki fungsi yang amat penting dalam dunia pendidikan yaitu : . Selanjutnya untuk membuat anak menjadi mandiri dan berkompetensi. 4. ditangani secara serius. menjadi wadah proses belajar sehingga anak dapat berkembang wajar sejak awal. D. yaitu : 1. perlu : 1.Untuk membuat kebudayaan. Beberapa kali mengadakan survei di masyarakat tentang berbagai kebudayaan. Metode belajar yang mengaktifkan siswa baik individual maupun kelompok. 3. 2. Kebudayaan-kebudayaan negatif yang lain perlu dihilangkan dengan berbagai cara. masyarakat. membutuhkan sejumlah pembenahan. termasuk pendidikan di masyarakat. dan pemerintah dalam memperbaiki pendidikanditingkatkan. 4. dalam masa transisi ini kalau pendidikan akan dierorganisasi. 2. Bila dalam belajar mereka sering atau selalu dihadapkan pada masalah yang nyata terjadi di masyarakat dan diberi kesempatan untuk memecahkannya. Ikut memecahkan masalah masyarakat dan keluarga. Pendidikan nonformal dan pendidikan informal. tentu tujuan itu lama-lama akan tercapai. perlu ditangani dengan. merupakan persoalan metodologi belajar dan mengajar. sebagai sesuatu yang tidak selalu disadari olehh pendidik. yang paling banyak pengaruhnya terhadap perkembangan anak dan remaja. Memberi kesempatan berinovasi atau kreatif menciptakan sesuatu yang baru yang Memasukkan materi pelajaran yang diambil dari keadaan nyata di masyarakat atau lebih baik tentang hidup dan kehidupan. Kerjasama orang tua. 3. 5. yang sebetulnya juga merupakan cita-cita pendidikan yang telah digariskan. Untuk itu.

c. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik simbiosis mutualisme. Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME Pendidikan sebagai budaya haruslah dapat membuat anak-anak mengembangkan kata hati dan perasaannya taat terhadap ajaran-ajaran agama yang dipeluknya. Pengendalian Sosial Pengendalian sosial berfungsi memberantas atau memperbaiki suatu perilaku menyimpang dan menyimpang terjadinya perilaku menyimpang. Pada sekolahsekolah yang lebih rendah. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyrakat. E. Sekolah berfungsi sebagai reproduksi budaya menempatkan sekolah sebagai pusat penelitian dan pengembangan. fungsi ini tidak setinggi pada tingkat pendidikan tinggi. d. Mewujudkan masyarakat yang cerdas Yaitu masyarakat yang pancasilais yang memiliki cita-cita dan harapan dapat demokratis dan beradab. DAMPAK KONSEP PENDIDIKAN Konsep pendidikan mengangkat derajat manusia sebagai mahluk budaya yaitu mahluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan kemampuan untuk menciptakan nilai kebudayaan dan .a. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. e. menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan bertanggung jawab dan berakhlak mulia tertib dan sadar hukum. Analisis Kedudukan Pendidikan dalam Masyarakat Hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dianalogikan sebagai selembar kain batik. Transmisi budaya ngsa. kooperatif dan kompetitif serta memiliki kesadaran dan solidaritas antar generasi dan antara ba b. Fungsi semacam ini merupakan fungsi pada perguruan tinggi. Pengendalian sosial juga berfungsi melindungi kesejahteraan masyarakat seperti lembaga pemasyarakatan dan lembaga pendidikan.

Nilai-nilai sosial budaya bangsa adalah nilai-nilai yang kita jungjung tinggi. 2. Perlu dibentuk badan kerjasama antara sekolah dengan tokoh-tokoh masyarakat termasuk wakil-wakil orang tua siswa untuk memajukan pendidikan. cita-cita nasional. Keberadaan sekolah tidak dapat dipisah dengan masyarakat sekitarnya. 1998:156) sesudah membahas sosiologi. Sebaliknya pendidikan juga dapat mengubah kebudayaan anak. Dinamika kelompok dimanfaatkan untuk belajar. nilai persatuan. Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kebudayaan manusia yang diciptakan oleh manusia ikut mempengaruhi pendidikan atau pengembangan anak. Proses sosialisasi anak-anak perlu ditingkatkan. kebudayaan masyarakat jika dikaitkan dengan pendidikan maka ditemukan sejumlah konsep pendidikan. c. Ketiga hal di atas sangat erat hubungan dengan kegiatan pendidikan dimanapun pendidikan itu dilaksanakan(tim dosen IKIP Malang. kita amalkan. dan tanggung jawab pendidikan) merupakan kunci pokok dari keberhasilan usaha mencapai tujuan. kita amankan adalah nilai-nilai yang taat dalam pancasila. Kesadaran aspirasi pandangan hidup. cita-cita nasional dan tanggung jawab pendidikan merupakan adanya kesadaran terhadap semua hal (aspirasi pandangan hidup. b. a. Dengan demikian nilai-nilai hidup kita adalah nilai keagamaan nilai kemanusiaan. nilai kerakyatan. dan nilai keadilan sosial. 3. keduanya saling menunjang sekolah seharusnya menjadi agen pembangunan di masyarakat.fungsi budaya dan pendidikan adalah kegiatan melontarkan niali-nilai kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi yang berikutnya. Pendidikan sebagai proses adalah suatu kegiatan memperoleh dan menyampaikan: 1. Dinamika ilmu pengetahuan teknologi dan ekonomi. d. BAB III .

4. Kesimpulan Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari seluruh aspek pendidikan. Sebaliknya pendidikan juga dapat mengubah kebudayaan anak Konsep pendidikan mengangkat derajat manusia sebagai mahluk budaya yaitu mahluk yang diberkati kemampuan untuk menciptakan kemapuan untuk menciptakan nilai kebudayaan dan . dinamika. perkembangan dan kemajuan sosial.PENUTUP A. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak. antar masyarakat. Unsur social merupakan aspek individu secara alami.manusia dilahirkan. partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial. masalah-masalah pendidikan. 5. Mewujudkan masyarakat yang cerdas Transmisi budaya 3. baik itu struktur. Maka dari itu perlu di kembangkan agar menjadi matang Fungsi sosial budaya pendidikan: 1. dan individu dengan masyarakat. Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Sosial mengacu pada hubungan antar individu. Pengendalian Sosial Meningkatkan Iman dan Taqwa kepada Tuhan YME Analisis Kedudukan Pendidikan dalam Masyarakat Kebudayaan menyangkut seluruh cara hidup dan kebudayaan manusia yang diciptakan oleh manusia ikut mempengaruhi pendidikan atau pengembangan anak. artinya aspek ini telah ada sejak . ataupun aspek-aspek lainnya secara mendalam melalui analisis atau pendekatan sosiologis.

Online (http://www. Insan . dalam makalah ini. Akan tetapi. Uus. Nurhamzah. Bandung: CV. Sutikno Sobry. kekurangan sudah menjadi barang tentu.fungsi budaya dan pendidikan adalah kegiatan melontarkan niali-nilai kebudayaan dari generasi yang satu ke generasi yang berikutnya. diakses 20 Maret 2008). Jika lautan dijadikan tinta. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Gunawan. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Hermaw Mandiri. Saran Alangkah luas ilmu Allah. Jakarta: Yudhistira. Untuk menutupi kekurangan sekaligus menjawab kebutuhan yang tidak terpenuhi dengan makalah ini. an Heris. Bandung: Prospect. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. wordpress. 2008. M. Karena ini hanyalah sedikit dari ilmu Allah.com. Landasan Pendidikan. 2003. Itulah ilmu Alah. Landasan Pendidikan. telah kami kumpulkan dan kami jadikan bahan dalam menyusun makalah ini. 2000 Ruswandi. Ary. dan seluruh tumbuhan yang ada di muka bumi ini dijadikan pena. Untuk itu. 2008. Pidarta.fatamorghana. Hartoto. maka tidak akan cukup untuk menuliskannya. H. kami menyarankan sekaligus merekomendasikan agar pembaca langsung membaca dan merujuk pada sumber yang kami gunakan. kami sertakan daftar pustaka. B. Tim Sosiologi. 2006. A. Beberapa referensi. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. sumber dan literatur. DAFTAR PUSTAKA Made. Defenisi Sosiologi Pendidikan.

 .

.

           [_SWZYSUa\SVSaTaZYSZSZ`S^ZVbVaSZ`S^S_ S^SS`VSZZVbVaVWZYSZS_ S^SS` Z_a^ _[_S W^a\SSZ S_\W ZVbVa _WUS^S SS S^`Z S S_\W Z `WS SVS _WS SZa_S VS^SZ SSVS^`a\W^aVWTSZYSZSYS^WZSVS`SZY [_[[YSVSSa SZYW\WSS^aTaZYSZSZ`S^SSZa_SVSSW[\[W[\[VSZ _`^a`a^ _[_SZ S _WSZ W\WSS^ US^S SZa_S TW^aTaZYSZ _S`a VWZYSZ SZY SZ VSS W[\[Z S _W^`S _a_aZSZ VSZ W`W^S`SZ aZ`aZ` S_ S^SS` S`Sa aZ` _[_S VSS _aS`a cS SS\S`\aSVS`SSZaZW^a\SSZSZS_SS`W^SVS\\^[_W__[_SVSZ\[S \[SZ`W^S__[_SVVSS__`W\WZVVSZ WYS`SZ \WZVVSZ W^a\SSZ \^[_W_ Z`W^S_ SZ`S^S VaS ZVbVa VaS YWZW^S_ SZY WaZYZSZ YWZW^S_ aVS WZYWTSZYSZ V^Z S WYS`SZ \WZVVSZ SZY __`WS`_ .

`W^SVVSSWTSYS SZYV_WTa` .

 W[S_WZYSSVTWZ`a[WS_ S^SS`SYS^\[S VSZWYS`SZ\WZVVSZ_WSZZ`WZ_X S_S^ _[_[[Y_ TW^WZSSZ VWZYSZ \W^WTSZYSZ WTa`aSZ VSZ S^S`W^_` S_S S^SS`[_[[Y \WZVVSZ W^a\SSZ SZS__ S `WZ`SZY \^[_W_ _[_S VSZ \[S\[S Z`W^S_ _[_S V VSS __`W \WZVVSZ aSZY ZYa\ SZY V\WSS^ [W _[_[[Y \WZVVSZW\a`W\S`TVSZY  aTaZYSZ__`W\WZVVSZVWZYSZS_\WS_ S^SS`SZ  aTaZYSZWSZa_SSZ  WZYS^a_W[S\SVS\W^SaSZYY[`SZ S     W[S VSS [aZ`S_ SZY W\WSS^ \[S Z`W^S_ SZ`S^S _W[S VWZYSZ W[\[ _[_SSZVVSS[aZ`S_Z S WZa^a` SVW VS^`S\WTWZ`aSZS^S`W^TW^VS_S^SZZ`W^S__[_SWSaW\S`TWZ`a  `S_\WZ^aSZ aYW_`WZ^aWSaTSaSZS`Sa\S_SSZ  VWZ`XS_WZ^aTW^VS_S^SZSSWU[U[SZVSSV^_aT W \S`WZ^aTW^VS_S^SZW_WZSZYSZ WZa^a` S^ [Z[\WTWZ`aSZS^S`W^SZa_SWSaZ`W^S__[_SV`STSSZWZSV \S` Z`^[_\W_ Z`W^S_ SZ`S^ ZVbVa SZ`S^ W[\[ `W^SV S^WZS SVS S_ VSZ ^WS_ VSS X_S VZ S`SSZ_WTSYS aa  Wc`[Z S`aaTaZYSZSZ`S^SYS SVaSTWZVS SZYTW_S^Z S_SS ZSaZ S^SZ S TW^ScSZSZ Z`W^S_ Z `W^SV VSS VaZS \W^_W[SSZ _WTSYS TSYSZ WU VS^S_ S^SS`\WZVVSZ SZYWTWZ`aS^S`W^\W_W^`SVV .

S^ Z`W^S_ _[_S Z SSZ WaZUaSZ TaVS STaVS S _W\W^`  TaVS S TW^\SSSZ TaVS S TW^`ZYS Sa TaVS S TW^S^S`W^ TaVS S TWSS^ TaVS S WZa_ TaVS S WZVWZYS^SZ TaVS SWZYSS^_W^`STaVS STaVS S SZYSZ SZY`W^SVVS^Z`W^S__[_S`W^_WTa` S SZY WZSV \W^S_SSSZZ S WTSYS SZVS_SZ \WZVVSZ \W^SZ VSZ \SZVSZYSZ _[_S TaVS SVS^SUSS`S _SVSZ ^_`WZ _WTSYSSZSS`a^SZS`SaZ[^SSYSS`W^S_aS`a^SZ SZY WZYS` W`W^S`a^SZ S^[Z_S_ aTaZYSZSZ`S^ ZVbVaVSZ SZ`S^ W[\[ SZY\W^a VTSS_ _W^`S V\W^`SS WTW^SVSSZZ S SYS^ TW^TSYS SUS TaVS S VSZ S`S^ TWSSZY _[_S SZYVTScS[W\W_W^`SVV`VSTW^TWZ`a^SZ WUS^S Z[^S`X TWZ`a^SZTWZ`a^SZ _[_[a`a^S VS\S` VS_S_ VSS aVS S SZUS_S _WTSYSSZS Ta`^Ta`^ _S SZY SVS VSZ _aVS VSSZ _WS Vaa SS ZSaZ \W^WTSZYSZ WSaSZ \W^WTSZYSZ SSZ \W^WTSZYSZ \W^YSaSZ S_ S^SS` [S ZS_[ZS ^WY[ZS Y[TSWZaZ`a`SVSZ S\WZZYS`SZaTaZYSZ`W^_WTa` _\WS_\W TWZ`a^SZ SZ`S^S ZSZS TS^S` VSZ `a^ `VS VS\S` VZVS^ SY ZSaZ VS\S` V_S^ZY VSZ V_W_aSSZ SYS^ TW^W_[ZSZ_ VWZYSZ S_\W _[_S TaVS S SZY _aVS TW^SS^ VSZ TW^WTSZYVS_ S^SS` ZV[ZW_S`W^a`SSVSSS`SZZ SVWZYSZVaZS\WZVVSZZ _`W\WZVVSZS^S`_SZYS`WZYZYZSZSVSZ S\a^S_WWTW^SZWSSZS_\WWVa\SZ T[WT[W_SS`W`S\`W`S\_S`a_SS`aaSZZ STSSZSVS SZYWZ S`SSZYSS`aTW^TWVS TWVS`W`S\`W`S\_SS_SSSS`Z S SZSTSS S\a^S_W`W^_WTa`VS`_`SVS`VSZ TaVS S SZY `W^_W^S\ VSS \a^S_W `a SZY \W^a VSZ`_\S_ aZ`a V_WS^S_SZ _WTSYSZ VWZYSZZSZSSVS`S`a^SZZ[^S SZY_aVSSSTW^SaVS_ S^SS` WWZ`S^S WZa^a` XS_SXS ZWYS^S W\aT ZV[ZW_S Z WSaZYYS STS^\aZTW^TWVSTWVS`W`S\`W`S\_S`aaS WZYYSTS^SZSVSZ S S_ S^SS` \a^S_`_W_XS`_XS`WSWaSZWS SSZW^SSSZW^SSSZ a_SZ`S^S\WWa SYSS ZVaVSZaVVS_W^`S _SVS\S`TW^YSZVWZYSZ`SZYSZTW^_S`aTW^YSTaZYWTWZ`a USTSS WYS^S ZV[ZW_S ZYYS SSZ [VW^Z  WYS^S W\aT ZV[ZW_S WZ S`SSZ V .

VSS  %  WZVaZY WTW^SYSSZ SYSS VSZ S^SZ W\W^US SSZ V ZV[ZW_S VWZYSZ TW^TSYSSUS\W^TWVSSZ^`aSSVS`TaVS SVSZSZSZ aYSWTW^SZSZSZWSSZSZ W\SVS TW^TSYS _aa VSW^S V ZV[ZW_S aZ`a TW^WTSZY VSZ WZYWTSZYSZ TaVS SZ S VWZYSZ`W`S\WZSYS_`ST`S_VSZS^[Z_S_`SZ\STWZ`a^SZ SZYWZYS^S\SVS[ZXX_ VSZUWZVW^aZY^ZS_ S^_WSZTSZ SZ[^S SZYTW^SaVS_ S^SS`SZ SZ[^SYSS SZYWS`SZ VSZ TWWZYa SZY aS` aZ`a `W`S\ W\W^W^S` WTW^_S`aSZ S_ S^SS` ZV[ZW_S VSS W ZZWSSZ`W^_WTa`_SS_S`aZ S_WTSYSSZVS_SZ_[_STaVS S\WZVVSZV\SZVSZY_WUS^S _SVSZ ^_`WZ [_S WZYSUa W\SVS aTaZYSZ SZ`S^ ZVbVa SZ`S^S_ S^SS` VSZ ZVbVa VWZYSZ S_ S^SS` Z_a^ _[_S Z W^a\SSZ S_\W ZVbVa _WUS^S SS S^`Z S S_\W `a `WS SVS _WS SZa_S VS^SZ S^WZS `a S_\W _[_S WWS` \SVS V^ ZVbVa SZY \W^a VWTSZYSZ VSS \W^SSZSZ Va\ \W_W^`S VV SYS^ WZSV S`SZY  _S\ZY `aYS_ \WZVVSZWZYWTSZYSZS_\W_[_SS_\W`a_WZV^_SZYS`TW^\W^SZVSSWTSZ`aSZS VSSWZYWTSZYSZV^Z S SS_WY_[_SZ\W^aV\W^S`SZVSS\^[_W_\WZVVSZ [_[[YVSZ WZVVSZ [_[[YSVSSa SZYW\WSS^aTaZYSZSZ`S^SSZa_SVSSW[\[W[\[VSZ _`^a`a^_[_SZ S[_[YW\aZ SU^U^_WTSYSTW^a` \^_SVSSU^a`SS_[_[[Y_WTSYSa W[^W`_SVSS\WZZYS`SZXS_W\WZU\`SSZ`SV SZYWZSV_SS_S`aTWZ`aTaVS S SZYT_S V_\SZVSScS`aSSVSZVS\S`VcS^_SZ\SVSYWZW^S_aVS [aS`X _WTSYS STS` VS^ \WZU\`SSZ `W^a_WZW^a_ _WTSYS [Z_WaWZ_ VS^ `W^SVZ S \W^aTSSZVS_ S^SS` SZYWTaS``W[^`W[^`aSSZTW^[aS_WZYS^SW\SVS`W[^ SZYWTTS .

[ZW`_S^WZS`W[^`aWZUW^`SSZS\SSVSZ S`WZ`SZYS_ S^SS`TW_W^`SZVbVaZVbVaV VSSZ S`VSWZSS\SSS`aTSS`SaTa^a Z`a WcaaVSZ U`SU`S \WZVVSZ _SZYS` WTa`aSZ TSZ`aSZ _[_[[Y [Z_W\ S`Sa `W[^ _[_[[Y WTW^ \W`aZa W\SVS Ya^aYa^a `WZ`SZY TSYSSZS _WS^a_Z S W^WS WTZS \S^S __cS SYS^ W^WS T_S W WTS_SSZ Va\ SZY S^[Z_ TW^_SSTS` VSZ S^ST_W_SS`WSZ [_[[Y\WZVVSZW\a` Z`W^S_Ya^a__cS VZSSW[\[VWS_VSZV[^YSZ_S_Z`^S_W[S _`^a`a^VSZXaZY___`W\WZVVSZVSZ __`W__`WS_ S^SS`VSZ\WZYS^aZ S`W^SVS\\WZVVSZ SS _[_[[Y \W^Sa SZa_S TW^`SSZ VWZYSZ ZSZS [_[[Y TW^\SZVSZYSZ TScS \W^Sa`a`VSTWTS_WSZSZWZYa`\[S SZY[Z`ZaVSZ\[S`a SZY_WTSYS\WZYS`a^ \W^SaSVSSZSZS SZYSVSVS_ S^SS`WUS^SYS^_TW_S^SVSW\S`_aTW^ZS S`a Z[^SZ[^S SYSS \W^S`a^SZ VSZ \W^aZVSZYaZVSZYSZ VSZ \WZYW`SaSZ W[S_W[S S^a_ W\W^S`SZ \WZYWTSZYSZ ZSZS Z \SVS SZSSZS V _W[S a^SV WZYS`SSZ          _W[S _WTSYS [Z`^[ _[_S S`a aZ`a W\W^TS WTS_SSZWTS_SSZ WW \SVS SZSSZSSSV^aSSa\aZVS_ S^SS`VSZ          _W[S _WTSYS \WZYaTS _[_S S`a aZ`a WZ WW_ ZSZS WZYS_SZ cS^YS ZWYS^S SZYTSVSZWZU\`SSZa_W^`S`WZ[[YTS^a  WTaVS SSZVSZ WZVVSZ WTaVS SSZ WZa^a` S [^ SVSS `[`S`S_ SZY [\W_ SZY WZUSa\ \WZYW`SaSZ W\W^US SSZ _WZ aa [^S SVS` VSZ WS\aSZWS\aSZ _W^`S WTS_SSZWTS_SSZ SZYV\W^[W[^SZY_WTSYSSZYY[`SS_ S^SS` ^SZ SZSZ %%% .

 aZY_WTaVS SSZVSSWVa\SZSZa_S WZW^a_W`a^aZSZVSZ\WZYS_aSZS WZYWTSZYSZWVa\SZTW^W[Z[ ^SZ__TaVS S WZZYS`SZSZVSZ`ScSW\SVSaSZSZY SSW_S WZYWZVSSZ_[US W^WS_  W^aTSSZWTaVS SSZV_WTSTSZ[W .

^YZS_S`Sa\WZWaS\WZWaSTS^a Xa_S`Sa\W^US\a^SZTaVS STS^aVWZYSZTaVS SSS WZ`W^\^W`S_S`Sa[VXS_WTaVS SSZSYS^_W_aSVWZYSZWSVSSZ SSZ  S_ S^SS`VSZW[S W[S`VSVS\S`V\_SSZVS^S_ S^SS` W[SS_ S^SS` W[S_WTSYSW^Ua\WZW^SZYVSZ\a_S`WTaVS SSZ W[STW^SZXSS`TSYWSaSZTaVS SS_ S^SS`a_a_Z S\WZVVSZSZSSZS S_ S^SS`WTW^VaaZYSZW\SVS_WaS_W[S W^aSVSTSVSZW^S_SSSZ`S^S_W[SVWZYSZS_ S^SS`VSSWZ a_W_SZ\WZVVSZ S_ S^SS` ZV[ZW_SVSZ WZVVSZ WTSYSZ TW_S^ S_ S^SS` ZV[ZW_S _WS^SZY _aVS _SVS^ SSZ \WZ`ZYZ S \WZVVSZ aZ`a WZZYS`SZ Va\ VSZ WVa\SZ WZYS\S S_ S^SS` S`Sa \S^S ^WSS TW^_S\ _W\W^` `a S_a_ W^WS SVSS SZ `ZYY S S SZY VS\S` V^S SZ UW\S` VS\S` \WW^SSZ _W^`S SZTW_S^YS SZYV`W^S .

Z`a WTaS` WTaVS SSZ `W^S_a \WZVVSZ V S_ S^SS` _WTSYS _W_aS`a SZY `VS _WSa V_SVS^ [W \WZVV WZSV cSVS \^[_W_ TWSS^ _WZYYS SZS VS\S` TW^WTSZY cSS^_WSScSWTa`aSZ_WaS\WTWZSSZ S`a  W^S_SS[^SZY`aSS_ S^SS`VSZ\WW^Z`SVSSW\W^TS\WZVVSZV`ZYS`SZ   WZVVSZ Z[ZX[^S VSZ \WZVVSZ ZX[^S V`SZYSZ _WUS^S _W^a_ \SZY _WV` _SS Z`WZ_`S_Z SVWZYSZ\WZSZYSZSZ\WZVVSZSa^X[^S   WTaVS SSZ `W^a`SS `S SZYSZ `WWb_ SZY \SZY TSZ S \WZYS^aZ S `W^SVS\ \W^WTSZYSZSZSVSZ^WSS\W^aV`SZYSZVWZYSZ   WTaVS SSZWTaVS SSZZWYS`X SZYSZ\W^aVSZYSZVWZYSZTW^TSYSUS^S WSZa`Z SaZ`aWTaS`SZSWZSVSZV^VSZTW^[\W`WZ_ SZY_WTW`aZ SaYS W^a\SSZ U`SU`S \WZVVSZ SZY `WS VYS^_SZ W^a\SSZ \W^_[SSZ W`[V[[Y TWSS^ VSZWZYSS^SVSS TWSS^W^WS_W^ZYS`Sa_WSaVSVS\SZ\SVSS_SS SZYZ S`S `W^SV V S_ S^SS` VSZ VTW^ W_W\S`SZ aZ`a WWUSSZZ S `WZ`a `aaSZ `a SSSS SSZ`W^US\S Z`a`aVSSS_S`^SZ__ZSSa\WZVVSZSSZVW^[^YSZ_S_\W^a  WS_aSZS`W^\WSS^SZ SZYVSTVS^WSVSSZZ S`SVS_ S^SS`S`Sa WaS^YS  W`[VWTWSS^ SZYWZYS`XSZ__cSTSZVbVaSSa\aZW[\[ WTW^S\SSWZYSVSSZ_a^bWVS_ S^SS``WZ`SZYTW^TSYSWTaVS SSZ  a`WWUSSZS_SSS_ S^SS`VSZWaS^YS  WTW^W_W\S`SZTW^Z[bS_S`Sa^WS`XWZU\`SSZ_W_aS`a SZYTS^a SZY WTTS`WZ`SZYVa\VSZWVa\SZ    .

        SS \W^WTSZYSZ SZVS_SZ _[_S TaVS S W XaZY_ SZY SS` \WZ`ZY VSS VaZS \WZVVSZ S`a .

S WcaaVSZS_ S^SS` SZYUW^VS_ S`a S_ S^SS` SZY \SZUS_S_ SZY W U`SU`S VSZ S^S\SZ VS\S` VW[^S`_ VSZ TW^SVST WZaZaZY `ZYY SS S_S_ SZa_S VSZ TW^`SZYYaZY ScST VSZ TW^SS aS `W^`TVSZ_SVS^aa[[\W^S`XVSZ[\W``X_W^`SWW_SVS^SZVSZ_[VS^`S_SZ`S^ YWZW^S_VSZSZ`S^STSZY_S T^SZ__TaVS S W[STW^XaZY__WTSYS^W\^[Va_TaVS SWZW\S`SZ_W[S_WTSYS\a_S`\WZW`SZVSZ \WZYWTSZYSZ aZY_ _WSUS Z W^a\SSZ XaZY_ \SVS \W^Ya^aSZ `ZYY SVS _W[S _W[S SZYWT^WZVSXaZY_Z`VS_W`ZYY\SVS`ZYS`\WZVVSZ`ZYY U WZYWZVSSZ[_S WZYWZVSSZ _[_S TW^XaZY_ WTW^SZ`S_ S`Sa W\W^TS _aS`a \W^Sa WZ \SZY VSZ WZ \SZY `W^SVZ S \W^Sa WZ \SZY WZYWZVSSZ _[_S aYS TW^XaZY_ WZVaZY W_WS`W^SSZS_ S^SS`_W\W^`WTSYS\WS_ S^SS`SZVSZWTSYS\WZVVSZ V WZZYS`SZ SZVSZS]cSW\SVSaSZ  WZVVSZ _WTSYS TaVS S S^a_S VS\S` WTaS` SZSSZS WZYWTSZYSZ S`S S` VSZ \W^S_SSZZ S`SS``W^SVS\SS^SZSS^SZSYSS SZYV\WaZ S WZS__ WVaVaSZ WZVVSZVSS S_ S^SS` aTaZYSZ SZ`S^S WTSYS \WZVVSZ VWZYSZ S_ S^SS` VS\S` VSZS[YSZ _WTSYS _WWTS^ SZ TS` SS S Z [`X[`X S`Sa \[S\[S YSTS^Z S SVSS WTSYS \WZVVSZ VSZ SZS`S^Z SSVSSS_ S^SS`Z`S^SWTSYS\WZVVSZVWZYSZS_ S^SS``W^SVaTaZYSZ `TSTS_T[__a`aS_W WZVVSZS`Sa_W[SWTW^SZXSS`aZ`aWZZYS`SZ \W^SZSZW^WS_WTSYScS^YSS_ ^SS`    .

       [Z_W\ \WZVVSZ WZYSZYS` VW^SS` SZa_S _WTSYS Sa TaVS S S`a Sa SZY VTW^S` WS\aSZ aZ`a WZU\`SSZ WS\aSZ aZ`a WZU\`SSZ ZS WTaVS SSZ VSZ .

XaZY_ TaVS S VSZ \WZVVSZ SVSS WYS`SZ W[Z`S^SZ ZSZS WTaVS SSZ VS^ YWZW^S_ SZY _S`a W YWZW^S_ SZY TW^a`Z S WZVVSZ _WTSYS \^[_W_ SVSS _aS`a WYS`SZ W\W^[WVSZWZ S\SSZ  SZS_[_STaVS STSZY_SSVSSZSZS SZY`SaZYaZY`ZYY`SSSSZ`S SSZSZ SVSS ZSZS SZY  `SS` VSS \SZUS_S WZYSZ VWSZ ZSZS Va\ `S SVSS ZS WSYSSSZ ZS WSZa_SSZ ZS \W^_S`aSZ ZS W^S S`SZ VSZ ZS WSVSZ _[_S       W_SVS^SZ S_\^S_ \SZVSZYSZ Va\ U`SU`S ZS_[ZS VSZ `SZYYaZY ScST \WZVVSZ W^a\SSZ SVSZ S W_SVS^SZ `W^SVS\ _WaS S S_\^S_ \SZVSZYSZ Va\ U`SU`S ZS_[ZS VSZ `SZYYaZY ScST \WZVVSZ W^a\SSZ aZU \[[ VS^ WTW^S_SZ a_SS WZUS\S `aaSZ ZSSa\WZYW`SaSZ`WZ[[YVSZW[Z[ W`YS S V S`S_ _SZYS` W^S` aTaZYSZ VWZYSZ WYS`SZ \WZVVSZ VSZS\aZ \WZVVSZ `a VS_SZSSZ` V[_WZ  SSZY %%%  _W_aVS WTSS_ _[_[[Y WTaVS SSZ S_ S^SS`SVS`SZVWZYSZ\WZVVSZSSV`WaSZ_WaS[Z_W\\WZVVSZ S       WTW^SVSSZ _W[S `VS VS\S` V\_S VWZYSZ S_ S^SS` _W`S^Z S WVaSZ S _SZY WZaZSZY_W[S_WS^a_Z SWZSVSYWZ\WTSZYaZSZVS_ S^SS` T      W^a VTWZ`a TSVSZ W^S_SS SZ`S^S _W[S VWZYSZ `[[`[[ S_ S^SS` `W^S_a cScS[^SZY`aS__cSaZ`aWSaSZ\WZVVSZ U ^[_W__[_S_S_SZSSZS\W^aV`ZYS`SZ VZSSW[\[VSZXSS`SZaZ`aTWSS^ WTaVS SSZ WZ SZYa` _Wa^a US^S Va\ VSZ WTaVS SSZ SZa_S SZY VU\`SSZ [W SZa_S a` W\WZYS^a \WZVVSZ S`Sa \WZYWTSZYSZ SZS WTSZ S \WZVVSZ aYS VS\S`WZYaTSWTaVS SSZSZS   .

     W_\aSZ [_[[Y \WZVVSZ SVSS a SZY W\WSS^ _Wa^a S_\W \WZVVSZ TS `a _`^a`a^ VZSS S_SSS_SS \WZVVSZ S`Sa\aZ S_\WS_\W SZZ S _WUS^S WZVSS WSa SZS__S`Sa\WZVWS`SZ_[_[[Y_ [_[[Y\WZVVSZTW^`aaSZWZYSZS__\^[_W__[_S_S_SZS\W^WTSZYSZVSZWSaSZ _[_S \S^`_\S_ [^SZY[^SZY `W^VVÈTW^\WZVVSZ VSS WYS`SZ _[_S aaSZ _[_[[Y \WZVVSZ \SVS VS_S^Z S aZ`a W\W^UW\S` VSZ WZZYS`SZ \WZUS\SSZ `aaSZ \WZVVSZ _WUS^SW_Wa^aSZ [_SWZYSUa\SVSaTaZYSZSZ`S^ZVbVaSZ`S^S_ S^SS`VSZZVbVaVWZYSZS_ S^SS` Z_a^ _[US W^a\SSZ S_\W ZVbVa _WUS^S SS S^`Z S S_\W Z `WS SVS _WS SZa_S VS^SZ SSVS^`a\W^aVWTSZYSZSYS^WZSVS`SZY aZY__[_STaVS S\WZVVSZ  WcaaVSZS_ S^SS` SZYUW^VS_ ^SZ__TaVS S  WZYWZVSSZ[_S  WZZYS`SZ SZVSZS]cSW\SVSaSZ  ZS__ WVaVaSZ WZVVSZVSS S_ S^SS` WTaVS SSZ WZ SZYa` _Wa^a US^S Va\ VSZ WTaVS SSZ SZa_S SZY VU\`SSZ [W SZa_S a` W\WZYS^a \WZVVSZ S`Sa \WZYWTSZYSZ SZS WTSZ S \WZVVSZ aYS VS\S`WZYaTSWTaVS SSZSZS [Z_W\ \WZVVSZ WZYSZYS` VW^SS` SZa_S _WTSYS Sa TaVS S S`a Sa SZY VTW^S` WS\aSZ aZ`a WZU\`SSZ WS\aSZ aZ`a WZU\`SSZ ZS WTaVS SSZ VSZ .

XaZY_ TaVS S VSZ \WZVVSZ SVSS WYS`SZ W[Z`S^SZ ZSZS WTaVS SSZ VS^ YWZW^S_ SZY_S`aWYWZW^S_ SZYTW^a`Z S S^SZ SZYSaS_aS SSa`SZVSVSZ`Z`SVSZ_Wa^a`aTaSZ SZYSVSVaSTa ZVSVSZ\WZSSS`VSSSZUaa\aZ`aWZa_SZZ S `aSaS WTW^S\S ^WXW^WZ_ _aTW^ VSZ `W^S`a^ `WS S a\aSZ VSZ S SVSZ TSSZ VSS WZ a_aZSSSZSZ`W`S\Wa^SZYSZ_aVSWZSVTS^SZY`WZ`a S^WZSZSZ SS _WV`VS^aS Z`aWZa`a\Wa^SZYSZ_WSYa_WZScSTWTa`aSZ SZY`VS`W^\WZaVWZYSZSSS Z S WZ S^SZSZ _WSYa_ W^W[WZVS_SZ SYS^ \WTSUS SZY_aZY WTSUS VSZ W^aa \SVS _aTW^ SZY S YaZSSZ Z`a `a VSS SSS Z S _W^`SSZ VSX`S^ \a_`SS       SVW VS^`S SZVS_SZ W\WZVVSZ `aa_ a WZVVSZ W^U[^S ZV[ZW_S SS^`S ZWS\`S  a_cSZVa_ W^Sc    SZ W^_ a^S S SZVS_SZ WZVVSZSZVaZY Z_SZ SZV^ % %  a`Z[[T^   SZVS_SZ WZVVSZSZVaZY ^[_\WU` [_[[Y[_[[YaS`a SSZ WVa\SZ S_ S^SS` SS^`SaV_`^S  aZScSZ ^   [_[[Y WZVVSZ aS`a ZS__ [_[[Y `WZ`SZY WTSYS ^[TW WZVVSZ SS^`SZWS\`S S^`[`[ VS_W_ % WXWZ_ [_[[Y WZVVSZ .

ZZW ``\ÈÈcccXS`S[^YSZS c[^V\^W__U[  S^W` % .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful