UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi di POLRES MALANG

)

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-syarat Untuk Memperoleh Gelar Kesarjanaan Dalam Ilmu Hukum Oleh : M SHODIK AVIANO NIM.0410113123

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS HUKUM MALANG 2008

LEMBAR PERSETUJUAN

Upaya Polri dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor hasil Pencurian (studi kasus di POLRES Malang)
Oleh :

M. SHODIK AVIANO NIM. 0410113123

Disetujui pada tanggal :

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Eny. Haryati, S.H., M.H NIP : 131573925

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669

Mengetahui, Ketua Bagian Hukum Pidana

Setiawan Noerdajasakti, S.H.,MH NIP : 131839360

LEMBAR PENGESAHAN
UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi Kasus di POLRES Malang)

Disusun oleh: M. SHODIK AVIANO NIM. 0410113123

Skripsi ini telah disahkan oleh dosen pembimbing pada tanggal:

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Eny. Haryati, S.H., M.H NIP : 131573925 Ketua Majelis

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669 Ketua Bagian Hukum Pidana

Abdul Madjid, S.H., M.Hum NIP : 131652669 Mengetahui,

Setiawan Noerdajasakti,S.H, MH NIP : 131839360

Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya

Herman Suryokumoro, SH, MS NIP : 131472741

H. Haryati. . bimbingan.Hum.. 2. Hidayat serta Inayah-Nya kepada Penulis sehingga Penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul Upaya Polri Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian (Studi di Polres Malang) dapat terselesaikan dengan baik.M. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam rangka memperoleh gelar kesarjanaan dalam bidang Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Kepala Satuan Reskrim Polres Malang. 4. Tuhan semesta alam. Bapak Abdul Majid. 3. Ibu Eny. selaku Dosen Pembimbing II atas Bimbingan serta motivasinya.W.MH. Dengan Limpahan Rahmat. petunjuk.H. S.M. pengarahan. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan. kesabaran didalam membimbing penulis.H. Bapak Herman Suryokumoro SH. petunjuk. Bapak Setiawan Nurdajasakti. ilmu. ilmu. Seluruh dosen dan staf pengajaran Fakultas Hukum yang telah banyak membantu penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. SH. 5.A. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada Rasulullah S. serta memberikan dorongan semangat. atas bimbingan dan arahanya. Adapun pihak-pihak tersebut adalah sebagai berikut : 1.H.Hum. S.KATA PENGANTAR Tiada kata yang patut penulis ucapkan selain puja dan puji syukur bagi Allah SWT. 6. Bapak AKP Sunardi Riyono S.M. selaku Dosen Pembimbing I atas bimbingan serta motivasinya. kesabaran didalam membimbing penulis. selaku Ketua Bagian Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.

Bapak dan Ibu yang tiada henti-hentinya memberi semangat dan motivasi kepada penulis. Keluarga tercinta. Malang.7. Kanit Sidik I Bapak Aiptu Sutiyo S. 8. bimbingan serta petunjuknya. yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu. atas informasi. 11 September 2008 Penulis . 9. Semoga penulisan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak. Semoga Tuhan Yang Maha Esa mengampuni kesalahan kita dan berkenan menunjukkan jalan yang benar. Pihak-pihak lain yang turut membantu selesainya skripsi ini.H. Penulis yakin skripsi ini masih sangat jauh dari kata sempurna sehingga masukan dan kritik membangun akan selalu penulis harapkan untuk memperbaiki skripsi ini. Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam proses pembuatan skripsi ini penulis melakukan kesalahan baik yang disengaja maupun tidak disengaja.

Sistematika Penulisan………………………………. Kata Pengantar……………………………………………………………… Daftar Isi…………………………………………………………………....... C.........DAFTAR ISI Lembar Persetujuan…………………………………………………….. Jenis .... 1 6 6 6 7 i ii iii v viii ix x xi Bab II TINJAUAN PUSTAKA A... Tindak pidana penadahan………………………… a.... D......……………………… 4..jenis Tindak Pidana. Daftar Lampiran …………………………………………………………… Abstraksi………………………………………………………………….. Pengertian Modus Operandi……………………....... b... Pengertian Tindak Pidana.......... Tinjauan Umum Tentang Peranan Polri Dalam Tindak Pidana ………….………… 1.. Daftar Tabel……………………………………………………………….... Tindak pidana pencurian…………………………. 5... …………………………………… 1.... Tujuan Penelitian……………………………………. Manfaat Penelitian…………………………………........ 2................. Pengertian Polisi…………………………………… 2.............……………………… 3...... Latar Belakang……………………………………… Rumusan Masalah………………………………….... E. 6 Faktor-faktor timbulnya pelanggaan hukum……… B. Penadahan Biasa………………………………....... Daftar Bagan .. Bab I PENDAHULUAN A...... Tinjauan Umum Tentang Tindak pidana ... Penadahan Sebagai Kebiasaan…………………...... Satuan Fungsi Polri………………………………… 23 23 24 9 9 9 10 13 17 18 21 22 ... B. Lembar pengesahan……………………………………………………...

.. upaya pencegahan Preventif…………………........ F.......................................... B......... C.................. c.... Metode Pendekatan.......... Penyidikan Tindak Pidana…………………… b............................. Lokasi Penelitian........... Kendala yang dihadapi Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasli . 49 50 50 51 52 43 Bab IV HASIL DAN PEMBAHASAN A....... b.. upaya pencegahan Represif…………………............... Teknik pengumpulan Data........ Teori Upaya Penanggulangan Kejahatan……………............... D..............................3....... d............................... a........................... Jenis Dan Sumber Data...... Populasi Sample dan Responden............ D Upaya Polres malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian ............ Kegiatan Penyidikan………………………… c... E..... C............................ 4.................. Tugas Polri Dalam Tindak Pidana ………………......... 26 28 34 35 38 42 43 46 47 48 Bab III METODE PENELITIAN A............ upaya pencegahan Reformatif………………...... upaya pencegahan Pre-emptif……………….... Realita tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian........... B Gambaran Umum Tentang Polres Malang ....................... Modus-modus dalam melakukan tindak pidana Penadahan.......... Tugas dan Wewenang Polri……………………….......................................... a. 79 73 65 54 E... Penanganan Kasus…………………………… C...... Teknik Analisis Data.......

..................pencurian……………………………………………....... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Kesimpulan......... B.............................................. Saran........ 84 86 87 ... Bab V PENUTUP A...............................................

........................ Bagan II.............DAFTAR BAGAN Bagan I........................ 56 64 . Struktur Organisasi Polres Malang .......... Struktur Organisasi Reskrim Polres Malang ....

.............. Tentang tindak pidana pencurian kendaan bermotor roda dua Tahun 2008 ...... Tabel 2............................................ Tentang tindak pidana penadahan kendaan bermotor roda dua Tahun 2008.. Tentang penjualan sepeda motor di wilayah kabupaten malang 2008....................................... …………… Tabel 3...............DAFTAR TABEL Tabel 1................ 71 69 67 ...

Surat Penetapan Pembimbing Skripsi………….………………………… 91 90 .. Surat Keterangan Telah Melakukan Survey (POLRES MALANG)…………………….…………………… 2.DAFTAR LAMPIRAN Halaman A.. SURAT – SURAT 1.

Hal ini dilatarbelakangi banyaknya kepemilikan kendaraan bermotor khusunya roda dua dan kurangnya kewaspadaan masyarakat mengakibatkan tingginya pencurian kendaraan bermotor yang berdampak pada timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian tersebut. maka perlu kiranya Polri untuk memberikan pengarahan dan pemahaman hukum serta peningkatan kewaspadaan masyarakat terhadap praktikk. Berdasarkan hasil penelitian.Hum.H. Abdul majid. Kendala – kendala yang dihadapi adalah sulitnya menemukan barang bukti hasil kejahatan pencurian yang kemudian dijual kepenadah dikarenakan barang bukti sudah tidak seperti semula hal ini menyulitkan Polri dalam melakukan pemeriksaan. S. Haryati. penulis memperoleh jawaban atas permasalahan an yang ada.praktik tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian guna meminimalisir tindak pidana penadahan tersebut. Uapaya yang dilakukan oleh polri dalam menanggulangi tindak pidana tersebut adalah dengan uapaya yang bersifat preventif berupa penyuluhan hukum terhadap masyarakat dan upaya yang bersifat represif yaitu melakukan razia temapat-temapat yang disinyalir sebagai tempat penjualan sepeda motor hasil curian. Kemudian menganalisa seluruh data yang ada secara diskriptif analitis. .M. yaitu adanya modus – modus yang mengakibatkan timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. S.. Dalam skripsi ini penulis membahas mengenai upaya Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.. Polri berusaha memberikan pemahaman hukum kepada masyarakat tentang hal – hal yang berkaitan dengan timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Permasalahan yang muncul adalah modus – modus apa saja yang dilakukan oleh pelaku kejahatan yang menimbulkan adanya praktek – praktek penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian serta upaya – upaya yang dilakukan oleh polri dalam meminimalisir tingkat penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. SHODIK AVIANO. dimana pendahan timbul akibat tindak pidana yang dilakukan oleh pelaku pencurian kendaraan bermotor dan penadahan yang timbul akibat niat dari penadah kendaraan bermotor yang memang berproofesi sebagai penadah. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. Dalam upaya menjawab permasalahan an tersebut maka metode pendekatan yang digunakan adalah yuridis sosiologis.M. Hukum Pidana. serta kendala – kendala yang dihadapi oleh polri dalam rangka penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor.H . SEPTEMBER 2008. Eny. “Upaya Polri Dalam Menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian” (Studi Kasus Di Polres Malang ).H. Mengkaji dan menganalisa permasalahan yang ditetapkan secara yuridis dengan melihat fakta sosiologis.ABSTRAKSI M. Menyikapi permasalahan – permasalahan tersebut diatas.

Oleh karena ketertiban merupakan kepentingan umum dan ketentraman merupakan kepentingan pribadi.BAB I LATAR BELAKANG Negara kita adalah Negara hukum dimana hal ini mempunyai arti bahwa setiap anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran terhadap hukum tersebut harus dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya dimata hukum. politik. Keberadaan hukum ini dimaksudkan agar tercipta suatu keadaan yang tentram dan terciptanya suatu ketertiban di masyarakat. maka selururh . Sedangkan ketentraman lebih dititikberatkan pada hak-hak masyarakat. budaya dan sebagainya ini telah diatur oleh hukum baik itu secara tertulis maupun tidak tertulis. Oleh karena itu hukum itu sendiri harus bisa mengakomodir dan mencerminkan perlindungan terhadap hak-hak dan kewajiban masyarakat. ekonomi. Dalam mewujudkan kestabilan nasional yang bertujuan agar tercapainya suatu pembangunan nasional yang optimal harus tercipta keserasian antara ketentraman dan ketertiban. Terciptanya ketertiban tidak lepas pada peran serta masyarakat atau boleh dikatakan lebih dititikberatkan pada kewajiban masyarakat. Tidak dapat dipungkiri dalam menjalankan kehidupannya manusia memerlukan kedua hal tersebut. Bahwa setiap aspek kehidupan yang terdapat dalam masyarakat yakni aspek sosial. Dari hal tersebut akan menghindarkan dari sikap yang totaliter akibat terlalu mengedepankan kewajiban dan sikap yang cenderung akan membuka jalan menuju anarki akibat dari sikap yang terlalu mengedepankan hak. harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban.

yang mempunyai akibat hukum bagi pelaku. dimana tingkat pengangguran meningkat sedangkan lapangan pekerjaan sangat terbatas. pelaku penyimpangan tersebut dalam memenuhi kebutuhannya dengan jalan pintas terkadang tidak menghiraukan bahwa tindakannya tersebut telah melanggar hukum.masyarakat harus mengerti akan hak dan kewajibannya sesuai dengan normanorma yang berlaku. Sekarang ini hampir di setiap jalan-jalan di kota maupun kabupaten disesaki oleh kendaraan-kendaraan bermotor. sering terjadi penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma hidupnya terutama yang dikenal sebagai norma hukum. Terlebih dimasa yang sulit ini. . individu maupun kelompok. diantaranya adalah dengan merampas hak orang lain. Suatu kenyataan dalam pergaulan hidup manusia. Hal tersebut termasuk sebagai suatu tindak pidana. Kemajuan pertumbuhan sosial dimasyarakat ditandai pula dengan tingkat konsumtif masyarakat yang naik pula. serta masalah ketidakmampuan ekonomi sering kali ini dijadikan alasan dan dikaitkan dengan perilaku-perilaku yang menyimpang tersebut. kendaraan roda empat dan khususnya kendaraan roda dua. Semakin terjangkaunya harga dari kendaraan bermotor serta banyaknya lembaga-lembaga pembiayaan yang memudahkan masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor dengan waktu yang cepat menjadi salah satu faktor yang menunjang banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang ada di kota dan kabupaten. mencuri atau bahkan menadah hasil dari kejahatan tersebut. salah satunya adalah dengan banyaknya masyarakat yang mempunyai kendaaraan bermotor.

serta tindak pidana kepemilikan senjata api ilegal sebanyak 10 %. semakin banyaknya kendaraan bermotor tersebut timbul pula masalalah sosial tersendiri dikalangan masyarakat yang perlu perhatian yaitu semakin banyaknya pula kesempatan bagi pelaku tindak pidana terhadap harta benda seseorang dalam hal ini adalah kendaraan bermotor yaitu tindak pidana pencurian dan khususnya dalam hal ini adalah tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Dari data Polri tersebut jelas terlihat tindak pidana terhadap kendaraan bermotor sangatlah rawan tejadi di kalangan masyarakat. hal ini di karenakan Tingkat Kejahatan tahun 2007 http://www. Tingkat kejahatan pencurian kendaraan bermotor yang tinggi tersebut kemudian memunculkan adanya suatu peran dari penadah. pencurian dengan kekerasan. Faktor lain yang mengakibatkan tindak pidana tersebut yang sering dijadikan alasan pihak pelaku adalah masalah kebutuhan hidup yang mana pelaku memang tidak mempunyai mata pencaharian.polri.id/index. penculikan. diakses pada tanggal 19 maret 2008 1 . 1 Polri mencatat tindak pidana pencurian kendaraan bermotor menempati tingkat tertinggi yaitu dengan prosentase 30 % kemudian tindak pidana pembunuhan yang menduduki peringkat kedua dengan prosentase 20% serta tindak pidana yang lain seprti penganiayaan berat.Tetapi disisi lain.php?opstatistik2007. Dari data polri yang tecatat dalam tahun 2007 tindak pidana pencurian ranmor adalah tindak pidana dengan prosentase tertinggi dibanding dengan tindak pidana yang lain . Hal itulah yang melatarbelakangi meningkatnya jumlah pencurian kendaraan bermotor yang kemudian berpotensi kepada meningkatnya jumlah penadahan kendaraan bermotor.go.

Diamana pelaku melakukan tindak kejahatan pencurian kendaraan bermotor bernomor polisi N 3178 KJ milik Abdul Rosyid 17 tahun warga Dusun Karangasem Gondanglegi Wetan karena faktor ekonomi. yaitu mendapatkan uang dari hasil kejahtannya itu dengan menjulanya kepada para penadah. .pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor kebanyakan menjual hasil kejahatannya itu kepada para penadah. Karena himpitan ekonomi. Sehingga dalam hal ini terlihat bahwa peran penadah sangat penting bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor. dikutip dalam http://www. Maling Kedungkandang Dibekuk. serta tidak punya mata pencaharian pelaku melakukan tindak pidana pencurian untuk mendapatkan uang dari hasil penjualnnya kepada penadah kendaraan bermotor. dimana pelaku mencuri kendaraan tersebut untuk kemudian dijual ke daerah Kedungkandang. 19 tahun warga Perum Citra Pesona Buring Raya Blok C-6/5 Wonokoyo Kedungkandang. selasa 17 April 200. 2 Di sini bisa dilihat bahwa indikasinya adalah pelaku menjulanya kepada penadah. Bisa dikatakan bahwa pencurian kendaraan bermotor timbul karena adanya peran dari para penadah atau bisa juga penadahan timbul kerana adanya pelaku pencurian kendaraan bermotor yang kemudian mencari penadah sebagai media untuk menghilangkan barang bukti serta memperoleh keuntungan dari kejahatan pencurian kendaraan tersebut.google. Malang Post. Contoh kasus dalam hal ini adalah kasus pencurian sepeda motor yang dilakukan oleh pelaku bernama Agung Prayogo.com (25 April 2008) 2 . selain untuk menghilangkan barang bukti hasil kejahatannya para pelaku pencurian kendaraan bermotor memang sengaja mencuri kendaraan bermotor untuk keuntungan ekonomis.

Disamping itu karena kendaraan bermotor merupakan benda yang bernama dan ada kewajiban pendaftaran untuk Penerbitan Bukti Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). maka biasanya pelaku atau pihak lain yang akan memanfaatkan kendaraan tadi berupaya menegelabuhi petugas yang berwenang atau surat-surat yang terkait agar kejahatan yang berantai tersebut tidak terbongkar.Jika dilihat tindak pidana dalam hal ini penadahan kendaraan bermotor sangat berhubungan dengan apa yang sudah dijelaskan diatas. Berangkat dari uraian di atas. Ketika jumlah kendaraan meningkat jumlah tindak pidana terhadap hal tersebut juga meningkat yaitu dengan pencurian yang kemudian menimbulkan suatu tindak pidana yang terkait dengan hal tersebut yaitu tindak pidana penadahan terhadap kendaraan hasil pencurian. penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam bentuk skripsi dengan judul : UPAYA POLRI DALAM MENANGGULANGI TINDAK PIDANA PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR HASIL PENCURIAN (Studi Kasus di Polres Malang) .

Bagaimana upaya POLRI dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian? 3. Bagaimana modus operandi tindak pidana penadahan kendaraan hasil pencurian? 2. D. . Apa saja kendala bagi POLRI dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian? C. Untuk mengetahui dan menganalisis kendala dalam penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. b. Manfaat Penelitian 1. Rumusan Masalah 1. Teoritis a. Untuk mengetahui dan menganalisis upaya apa yang dilakukan Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana modus operandi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian 2.B. Tujuan Penelitian 1. Bagi akademisi untuk menambah wawasan keilmuan demi perkembangan ilmu hukum khususnya yang terkait dengan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Bagi mahasiswa untuk pengetahuan tambahan bagaimana penangganan kasus tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

dan manfaat penelitian. penulis menggunakan sistematika penulisan yang sistematis untuk membahas permasalahan yang telah ditetapkan. diharapkan dapat memberikan sumbangsih pemikiran bagi aparat penegak hukum khususnya pihak kepolisian dalam upaya penanggulangankasus penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. E. Tindak Pidana Penadahan. tujuan penelitian. diharapkan dapat memberikan wacana baru bagi masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesadaran hukum dan kewaspadaannya terhadap tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. b. Faktor Timbulnya Pealnggaran Hukum. Jenis – jenis Tindak Pidana. Pengertian Tindak Pidana. Praktis a. Sistematika Penelitian Dalam penelitian ini.2. yaitu: Bab I : PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisikan mengenai latar belakang permasalahan. Tindak Pidana Pencurian. Adapun sistematika penulisan ini dibagi menjadi 5 (lima) bagian. rumusan masalah . Bab II : TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tinjauan pustaka mengenai Tinjauan Umum Tentang Tindak Pidana. Bagi Aparat Penegak Hukum. Bagi masyarakat. Peranan Polri . Pengertian Modus Operandi.

teknik analisis data. realita tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian .Berdasarkan UU no. . 2 tahun 2002 serta Teori Upaya Penanggulangan Kejahatan. teknik pengumpulan data. populasi dan sampel. BAB V : PENUTUP Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran dari pembahasan yang telah dilakukan oleh penulis. Bab III : METODE PENELITIAN Pada bab ini berisi metode pendekatan. dan upayaupaya serta kendala Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. jenis dan sumber data. lokasi penelitian. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bab ini merupakan pembahasan dari rumusan masalah sebagaimana yang diuraikan pada bab I yaitu berupa data yang meliputi gambaran umum lokasi penelitian.

Depdikbud. Tindak Pidana Perbankan. atau karena M. Tindak pidana adalah merupakan hasil interaksi sosial yang dimungkinkan terjadi karena kondisi kemapanan sosial yang bergeser. P. Tim Penyusun Kamus Pusat pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 3 Adapun pengertian lain “modus operandi”. Modus operandi sendiri mempunyai pengertian yaitu. menurut kamus besar bahasa Indonesia yaitu. Pengertian Modus Operandi Istilah “modus operandi” memang cukup sering didengar dan sangat erat dan tidak terlepas apabila dikaitkan dengan proses terjadinya kejahatan atau suatu tindak pidana baik yang dilakukan individu atau perorangan maupun yang yang dilakukan oleh beberapa orang yang biasanya dilakukan secara terkoordinir. 1997. Jakarta. 1995. cara atau teknik berciri khusus dari seseorang penjahat dalam melakukan perbuatan jahatnya. Kamus Besar Bahasa Indonesia.T Grafindo Persada. hal 662. metode operasional suatu perbuatan yang mungkin saja terjadi dari satu atau lebih bahkan merupakan kombinasi dari bebrapa perbuatan. hal 11.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 4 3 . 4 2. Balai Pustaka. Jakarta. Sholehuddin. Pengertian Tindak Pidana Tindak pidana merupakan masalah sosial yaitu masalah yang timbul dikalangan masyarakat dimana pelaku dan korbanya merupakan anggota masyarakat. TINJAUAN UMUM TENTANG TINDAK PIDANA 1.

Asas-Asas Hukum Pidana .hal 21 5 . Bina Aksara.UB. dalam bahasa belanda disebut straftbaarfeit. 8 Definisi yang diberikan oleh Wirjono ”tindak pidana pencurian” www. hal 54 7 Masruchin rubai. 5 Menurut Moeljanto bahwa : Perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. 6 3. Malang 2001.com diakses pada tanggal 19 maret 2008 6 Moeljanto. Asas-Asas Hukum Pidana. sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejadian itu. Asal saja dari pada itu diingat bahwa larangan itu ditujukan kepada perbuatan (yaitu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang).com/http//hukum online.jenis Tindak Pidana Tindak pidana merupakan salah satu istilah untuk menggambarkan suatu perbuatan yang dapat dipidana. 1987. larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu.mekanisme aparatur yang lemah atau keadaan hukum yang tertinggal oleh kepesatan perubahan sosial. bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. istilah lain yang pernah digunakan untuk menggambarkan perbuatan yang dapat dipidana adalah : 1) Peristiwa pidana 2) Perbuatan pidana 3) Pelanggaran pidana 4) Perbuatan yang dapat dihukum. kerjasama penerbit UM Press dan FH. Dapat juga dikatan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan diancam pidana. 7 Sedangkan menurut Wirjono Projodikoro tindak pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dipidana. Jenis. Jakarta.google.

Pompe. Contohnya : Tindak pidana penipuan. hal 213. Sinar Baru. tindak pidana commmissionis per omissionem comissa. Dasar-Dasar Hukum Pidana Di Indonesia. Suatu tindak pidana itu dapat terdiri dari suatu pelanggaran terhadap suatu larangan atau dapat juga terdiri dari suatu pelanggaran terhadap suatu keharusan. 8 9 Ibid.A.lebih sederhana jika dibandingkan dengan definisi yang diberikan oleh Prof. Bandung. Tindak pidana dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu : a. Sedangkan tindak pidana omissionis adalah tindak pidana berupa pelanggaran-pelanggaran terhadap keharusan-keharusan menurut undang-undang. . b. sedangkan tindak pidana materiil yaitu tindak pidana yang perumusanya dititik beratkan pada akibat yang dilarang conntohnya Pasal 338 KUHP yaitu mengenai tindak pidana pembunuhan. pembunuhan. hal 22 P. Pada Pasal 338 tersebut dititik beratkan pada akibatnya yaitu hilangnya nyawa seseorang . Tindak pidana commisionis. 1984. Tindak pidana formil dan tindak pidana materiil Tindak pidana formil adalah tindak pidana yang perumusanya dititik beratkan pada perbuatan yang dilarang misalnya mengenai Pasal 362 KUHP yaitu mengenai tindak pidana pencurian. Pengklasifikasian dari tindak pidana ini didasarkan pada cara mewujudkan tindak pidana tersebut. tindak pidana omissionis.F Lamintang. 9 Definisi dari tindak pidana commisionis adalah tindak pidana yang berupa pelanggaran terhadap larangan yaitu dengan jalan melakukan perbuatan yang dilarang.

Tindak pidana commisionis per omissionem commissa yaitu tindak pidana yang berupa pelanggaran terhadap larangan. d. Tindak pidana aduan ini dibagi menjadi dua yaitu tindak pidana aduan absolut dan tindak pidana aduan relatif.loc cit. Tindak pidana aduan dan bukan aduan Dasar pembedaan tindak pidana ini adalah berkaitan dengan dasar penuntutan. dalam tindak pidana ini yang dituntut adalah peristiwanya atau perbuatanya. 10 c. Tindak pidana aduan absolut tidak dapat dipecah. .Contohnya tidak menghadap sebagai saksi dimuka pengadilan (Pasal 224 KUHP). tetapi dilakukan dengan cara tidak berbuat . Tindak pidana aduan relatif yaitu tindak pidana yang pada dasarnya bukan tindak pidana aduan akan tetapi berubah menjadi tindak pidana aduan karena ada 10 Masruchin Ruba‘i . Definisi dari tindak pidana aduan ini adalah tindak pidana yang baru dilakukan penuntutan apabila terdapat pengaduan dari korban. contohnya Pasal 284 KUHP tentang perzinahan.hal 27. Sedangkan culpooze delicten adalah delik-delik yang oleh pembentuk undangundang telah dinyatakan bahwa delik-delik tersebut cukup terjadi dengan tidak sengaja agar pelakunya dapat dihukum. Opzettelijke delicten adalah delik-delik yang oleh pembuat undang-undang telah disyaratkan bahwa delik-delik tersebut harus dilakukan dengan ”sengaja”. Tindak pidana aduan absolut adalah tindak pidana yang menurut sifatnya baru dapat dituntut apabila ada pengaduan dari korban . contohnya seorang ibu yang berniat untuk membunuh anaknya dengan jalan tidak memberikan air susu kepada anaknya. Tindak pidana dolus dan culpa/ opzettelijke delicten dan culpooze delicten Pembedaan tindak pidana ini didasarkan pada sikap batin petindak.

4.F lamintang. militer. loc cit. Istilah dalam Bahasa Belanda dengan sebutan delict mempunyai makna yang sama dengan strafbaar feit. pelanggaran pidana atau kejahatan. 11 11 P. yaitu sebagai suatu perilaku manusia yang pada suatu saat tertentu telah ditolak di dalam suatu pergaulan hidup tertentu dan dianggap sebagai perilaku yang harus di tiadakan oleh hukum pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang bersifat memaksa yang terdapat di dalamnya.hubungan khusus antara petindak dengan korban. Contohnya pencurian dalam lingkungan keluarga yaitu Pasal 367 KUHP. Selain digunakan istilah tindak pidana strafbaar feit juga diterjemahahkan sebagai perbuatan pidana. Delik umum dan delik-delik khusus Delik umum adalah tindak pidana yang dapat dilakukan oleh siapa pun sedangkan delik khusus adalah tindak pidana yang hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memenuhi kualifikasi atau memiliki kualitas tertentu. Pendapat Hazewinkel-Suringa seperti yang dikutip oleh P. yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan delik. peristiwa pidana. Pengertian Tindak Pidana Pencurian Istilah tindak pidana adalah salah satu istilah yang digunakan untuk menterjemahkan istilah dari Bahasa Belanda yaitu strafbaar feit. misalnya pegawai negeri. e.A. Adapun definisi mengenai tindak pidana bukan aduan adalah tindak pidana yang penuntutanya selalu dapat dilaksanakan walaupun tidak ada pengaduan dari korban. pelaut.F Lamintang tentang suatu rumusan yang bersifat umum dari “strafbaar feit”.A. hal 172 .

F Lamintang yaitu : suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap tertib hukum) yang dengan segaja atau tidak sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku. hal 173 . Pengertian pencurian menurut hukum beserta unsur-unsurnya dirumuskan dalam Pasal 362 KUHP.A. Sebelum terjadinya suatu tindak pidana penadahan kendaraan bermotor faktor yang mempengaruhi adanya penadahan itu sendiri adalah diawali dengan adanya tindak pidana pencurian terhadap kendaraan bermotor (curanmor). dimana penjatuhan hukuman terhadap pelaku tersebut adalah perlu demi terpeliharanya tertib hukum dan terjaminnya kepentingan umum. 12 Berdasarkan beberapa pengertian tersebut diatas. Masalah yang kemudian muncul adalah kemana para pelaku curanmor tersebut menghilangkan atau menjual barang hasil pencuriannya tersebut. Adapun perumusan terhadap tindak pidana ini adalah merupakan kebijakan pemerintah yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan harus disesuaikan dengan perasaan hukum yang hidup di dalam masyarakat. adalah berupa rumusan pencurian dalam bentuk pokok yang berbunyi: “Barang siapa mengambil sesuatu benda yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain dengan maksud untuk dimiliki secara mealawan hukum. yang tertuju dalam masalah ini adalah pelaku penadahan kendaraan bermotor.Pompe mengemukakan pengertian tindak pidana secara teoritis sebagaimana dikutip oleh P. maka pada dasarnya tindak pidana adalah serangkaian dari suatu perbuatan yang dapat dipidana karena perbuatan tersebut telah dirumuskan dalam undang-undang. sedangkan ancaman dan penjatuhan pidana adalah jalan yang utama untuk mencegah dilanggarnya larangan-larangan yang dimuat dalam ketentuan-ketentuan undang-undang tersebut. 12 Ibid.

Mengambil adalah suatu tingkah laku positif / perbuatan materiil. terdiri dari : a. yaitu benda tersebut atau sepenuhnya milik orang lain 2. Unsur-unsur obyektif. Unsur-unsur subyektif.00”. Adanya maksud b.diancam dengan pencurian. terdiri dari : a. Unsur-unsur obyektif : a. Dengan melawan hukum. Malang. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen) Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. Bayumedia. Kejahatan Terhadap Harta Benda . dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda paling banyak Rp. Objeknya suatu benda c. 2004. yang dilakukan dengan gerakan-gerakan 13 14 Adami chazawi. Perbuatan mengambil b. hal 5. Ibid . unsur kaeadaan yang menyertai/melekat pada benda. 900. 13 Suatu perbuatan atau peristiwa. Apabila diperinci rumusan itu terdiri dari unsur-unsur yakni: 1. baru dapat dikualifisir sebagai pencurian apabila terdapat semua unsur-unsur tersebut. 14 1. Yang ditujukan untuk memiliki c.

memegangnya. Maksud untuk memiliki b. Karena memiliki benda yang berarti menjadikan dirinya pemilik adalah harus menurut hukum. Melawan hukum Macam-macam tindak pidana pencurian menurut KUHP dalam bab XXII.otot yang disengaja yang pada umumnya dengan menggunakan jari-jari dan tangan kemudian diarahkan kepada suatu benda. dan mengangkatnya dalam kekuasaannya. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain 2. unsur memiliki benda adalah kontradiksi dengan unsur melanggar hukum. Pencurian biasa 15 Ibid. yaitu : a. 15 Sehubungan dengan hal ini. Dilihat dari hal tersebut maka yang menjadi syarat terjadinya pencurian adalah bukan beralihnya hak milik atas sesuatu benda. Projodikoro menyampaikan bahwa. ditunjukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. maka tidak mungkin memiliki benda orang lain dengan melanggar hukum itu. hal 6 . Unsur benda c. Unsur-unsur subjektif a. tetapi sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri petindak sudah terkandung suatu kehendak untuk menjadikan benda tersebut sebagai miliknya. menyentuhnya. b. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif.

b. Aliran Monistis Suatu aliaran yang memandang semua syarat untuk menjatuhkan pidana sebagai unsur tindak pidana. hal 15. Pencurian ringan d. Unsur subyektif Unsur ini terdiri dari atas suatu kehendak atau tujuan. Unsur obyektif : Pada umumnya ini terdiri atas suatu perbuatan atau suatu akibat b. 5. 16 Terdapat dua aliran dalam mengkaji tentang unsur-unsur tindak pidana. yaitu : a. Alumni. Bandung. Pencurian dengan kekerasan. Pencurian dengan pemberatan c. yaitu : 1. maka perlu dipahami dulu unsur-unsur yang melekat dalam setiap pasalnya. . Aliran ini tidak memisahkan antara unsur yang 16 H. atau maksud. Anwar. terlebih dahulu mengetahui bahwa rumusan hukum dari setiap tindak pidana sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). yang terdapat dalam jiwa pelaku.A.K Moch. Tindak Pidana Penadahan (helling) Sebelum menentukan unsur – unsur yang terdapat pada tindak pidana penadahan (helling). 1980. (Dading) Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP buku II). Unsur ini dirumusakan dengan istilah sengaja. Setiap tindak pidana umumnya memiliki dua (2) unsur yang pokok. niat.

Wirjono Prodjodikoro. Terdapat rumusan penadahan yang pertama mempunyai unsur-unsur sebagai berikut : 17 Masruchin Ruba’I. menukarkan. menerima gadai.P. bahwa barang itu diperoleh dengan jalan kejahatan .J. menerima sebagai hadiah. 1989. Aliran Dualistis Suatu aliran yang memisahkan antara perbuatan pidana (criminal act) dengan pertanggungjawaban hukum pidana (criminal responsibility). menyewakan. atau menyembunyikan suatu barang. dan Moeljanto. Malang. menjual. menyimpan. Sarjana yang termasuk dalam kelompok dualistis ini antara lain : HB. FH-UB. mengangkut.melekat pada perbuatan pidana (criminal act) dengan pertanggungjawaban hukum pidana (criminal responsibility). 17 a. menukari. W. menyewa. Yang menjadi unsur tindak pidana hanyalah unsur yang melekat pada perbuatan pidana (criminal act). Pompe. Hamel. Ke-2 : barang siapa mengambil untung dari hasil suatu barang yang diketahuinya atau pantas harus disangkanya bahwa barang itu diperoleh dengan jalan kejahatan. menggadaikan. 2. Hukum Pidana I. . yang diketahuinya atau pantas disangkanya. Mezger Karni. Sarjana yang termasuk dalam aliran antara lain : Simon. Penadahan Biasa Jika dilihat dari kedua aliran tersebut maka apabila dikaji unsur-unsur yang terdapat dalam Pengertian tindak pidana penadahan yang terdapat pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu Pasal 480 yang berbunyi : Ke-1 : karena melakukan penadahan (heling) barang siapa membeli. hal 35-36. atau dengan maksud mendapat untung. Vos.

dan 7) Menyembunyikan b. 2. Untuk menarik keuntungan . ialah : 1) Membeli 2) Menyewa 3) Menukar 4) Menerima gadai 5) Menerima hadiah. 1) Menjual 2) Menyewakan 3) Menukarkan 4) Menggadaikan 5) Mengangkut 6) Menyimpan.1. Perbuatan kelompok 1. Unsur-unsur obyektif . Yang diperolehnya dari suatu kejahatan. a. Objeknya : suatu benda. Unsur-unsur subyektif : . c. atau kelompok 2.

Unsur-unsur obyektif : a. Yang diperolehnya dari suatu kejahatan.Cit. menggadaikan. Yang sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari kejahatan. dan menyembunyikan. Yang diketahuinya b. Bentuk pertama adalah unsur perbuatannya terdiri dari membeli. dan menerima hadiah. dan motif ini harus dibuktikan. Sedangkan bentuk pertama tidak diperlukan motif apapun juga. 18 Dari rumusan diatas penadahan dapat dibagi menjadi dua bentuk (perhatikan rumusan perbuatannya). menyewakan. c. perbuatannya didorong oleh suatu motif untuk menarik keuntungan. Yang diketahuinya. Objeknya : hasil suatu benda. Op. hal 202 Ibid . menyimpan. menerima gadai. Perbedaannya antara bentuk pertama dan kedua adalah pada bentuk kedua. 2. Unsur-unsur subyektif : a. atau 18 19 Adami chazawi. mengangkut. menyewa. 19 Sedangkan pada ayat kedua (2) dirumuskan bahwa penadahan terdiri dari unsur-unsur: 1. Perbuatan : menarik keuntungan dari : b. Sedangkan bentuk yang kedua adalah unsur perbuatannya terdiri dari menjual.a. menukarakan. menukarkan.

atau menyembunyikan yang diperoleh dari suatu kejahatan. Bandung. penggelapan. diancam. pemerasan.b. Penadahan Sebagai Kebiasaan Penadahan yang dijadikan sebagi kebiasaan dimuat dalam Pasal 481 Kitab Undang-Undang hukum Pidana (KUHP) yang rumusannya adalah sebagai berikut : 1) Barang siapa menjadikan kebiasaan untuk sengaja membeli. yaitu apabila – misalnya . menyimpan. 20 Dalam hal barang yang diperoleh dari kejahatan terdapat dua jenis yaitu ialah : 1. Barang sebagai hasil kejahatan terhadap kekayaan. sedangkan barang yang ke-1 ada kemungkinan berhenti dapat dinamakan barang yang diperoleh dengan kejahatan. penipuan dan penadahan . atau surat palsu. menukar. menerima gadai. yaitu pencurian. 21 20 . Barang sebagai hasil kejahatan pemalsuan seperti uang palsu. dengan penjara paling lama 7 tahun. Refika aditama. 2003. Hal 60. Tindak-tindak Pidana Tertentu di Indonesia. pengancaman.barang yang dicuri atau digelapkan dengan pertolongan polisi sudah kembali ke tangan si korban pencurian atau penggelapan. 21 Perbedaan antara barang ke-1 dan ke-2 adalah bagaimanapun barang ke-2 akan tetap merupakan barang yang diperoleh dari suatu kejahatan. b. Ibid Wirjono Prodjodikoro. Patut menduga benda itu hasil kejahatan. 2. cap palsu.

Perbuatan : 1. hal 206 .4 dan haknya untuk melakukan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. d. Membeli . b. 4. Menyimpan . Yang diperoleh dari suatu kejahatan. Menukar .2) Yang bersalah dapat dicabut haknya tersebut dalam pasal 35 No. Objeknya suatu benda. Pengertian Faktor. 2. Unsur-unsur kejahatan yang dirumuskan tersebut diatas adalah : 1. Unsur-unsur subyektif : sengaja. 2. 5. jika di lihat secara sosiologis dan psikologis. 1. Unsur obyektif a. Op. Menjadikan sebagai kebiasaan. penyebabnya adalah : 22 Adami chazawi. Menerima gadai .Faktor Timbulnya Pelanggaran Hukum Menurut Soerjono Soekanto menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya suatu tindakan pelanggaran terhadap hukum. 3. c.Cit. Menyembunyikan . 22 6.

kelemahan tersebut hanya dapat diatasi. para pengawas mempunyai mental yang baik dan mampu untuk mengendalikan dirinya. Ini hanya mungkin terjadi apabila mereka terdidik dan kebutuhan – kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Pameran kekayaan materiel Kejahatan timbul akibat adanya kesempatan bagi pelaku kejahatan untuk melakukan tindakan melanggar hukum diakibatkan pameran kekayaan material oleh seseorang. 23 B. sebenarnya justru memberikan petunjuk mengenai adanya peluang – peluang tertentu untuk melakukan pelanggaran hukum. Artinya ada kelemahan – kelemahan di dalam mekanisme pengawasan ( yang konsekuen ). Seolah – olah dengan pameran tersebut diberikan kesempatan yang “mudah” untuk mengambil dengan paksa. . 1982. Alumni. Jakarta. yang dimaksudkan adalah kejahatan timbula karena adanya kesempatan yang membuat orang menjadi pencuri. apabila ada pengawasan ketat t5anpa kompromi. Artinya. Hal 9. Pengawasan yang dilakukan setengah – setengah. PERANAN POLRI BERDASARKAN UU NO 2 TAHUN 2002 1. Dari hal – hal semacam itulah timbulnya perbuatan – perbuatan melawan hukum. Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial. Adanya kesempatan atau peluang.1. yang bersumber pada kekayaan material tersebut. Pengertian Polisi 23 Soerjono Soekanto. 2. Keadaan semcam itu menimbulkan hasrat atau keinginan yang besar untuk juga memiliki kekayan material tersebut.

dan istilah ”kepolisian” adalah sebagai organ dan sebagai fungsi. sedangkan sebagai fungsi yakni tugas dan wewenang serta tanggung jawab lembaga atas kuasa undang-undang untuk menyelenggarakan fungsinya. yaitu antara lain pemeliharaan keamanan dan 24 Andi munawarman . merupakan suatu badan pemerintahan ( pegawai negara yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban ). maka politea atau polis diartikan sebagai semua usaha dan kegiatan Negara. Sebagai organ yakni suatu lembaga pemerintah yang terorganisasi dan terstruktur dalam organisasi negara. balai pustaka .J Poerwadarmita .hukum online. Istilah polisi adalah sebagai organ atau lembaga pemerintah yang ada dalam negara. kemudian pengertian itu berkembang menjadi “kota” dan kemudian dipakai untuk menyebut “semua usaha kota”. 25 Pada undang-undang no. Oleh karena pada yaman itu kota-kota merupakan negara yang berdiri sendiri. 2008 25 . Sejarah Singkat Polri (www. juga termasuk kegiatan keagamaan. Kata ini pada awalnya digunakan untuk menyebut “orang yang menjadi warga negara dari kota Athene”.Kata Polisi berasal dari bahasa Yunani yaitu politea. Kamus Besar Bahasa Indonesia. arti kata polisi adalah “suatu badan yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum ( menangkap orang yang melanggar hukum ). Yang disebut juga polis.com) diakses tanggal 16 maret W. Jakarta. 1989. hal 320. 24 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Beranjak dari pengertian-pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa istilah ”polisi” dan ”kepolisian” mengandung pengertian yang berbeda.2 tahun 2002 tentang Polri yaitu pada Pasal 1 angka 1 disebutkan mengenai pengertian Kepolisian yaitu ”Kepolisian adalah segala hal ihwal yang berkaitan dengan fungsi dan lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan’.

pelindungan. satuan penunjang. satuan fungsi ini diserahi bidang kerja tertentu atau fungsi tertentu sesuai dengan lingkup tugas dan kewenangannya guna mendukung keberhasilan pencapaian secara keseluruhan. 2. 26 Lebih lanjut Sutarto menjelaskan bahwa satuan organisasi dikelompokan menurut pembagian fungsi umum dan dalam organisasi diantaranya disebut satuan pimpinan. Satuan Fungsi Polri Seperti diungkapkan Sutarto dalam bukunya bukunya Dasar-dasar Organisasi bahwa dengan fungsi adalah “ sekelompok aktifitas sejenis berdasarkan atas kesamaan sifatnya atau pelaksanaanya”.ketertiban masyarakat. penegakan hukum. Satuan-satuan tersebut malakukan komunikasi secara vertical dan horizontal sesuai dengan kedudukanya dalam organisasi. hal 45 .1988. Satu kesatuan haluan adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas untuk 26 27 Sutarto. satuan haluan. Gunung Aksara. secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang bersifat saling mendukung dan saling melengkapi satu sama lain dibawah satu koordinasi kendali pimpinan tertinggi dalm organisasi tersebut. satuan kontrol dan satuan konsultasi. 27 Satuan pimpinan adalah wewenang tertinggi serta penanggung jawab terakhir organisasi. pengayoman. dinamakan satuan pimpinan apabila terdiri dari beberapa orang pejabat sebagai kesatuan dan disebut pimpinan apabila hanya terdiri dari seorang pejabat. dan pelayanan masyarakat. Dasar-Dasar Organisasi. satuan komersil. hal 23 . Fungsi tertentu merupakan bagian dari suatu organisasi yang kedudukannya berada dibawah pucuk pimpinan atau satuan utama organisasi dimaksud. Ibid. Jakarta.

menerapkan norma. serta berbagai ketentuan lain yang sudah ditetapkan. . Satuan operasi adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas pokok yang langsung berhubungan dengan tercapainya tujuan yang pengurusanya mendasarkan pada berbagi azas ekonomi. saran atau pertimbangan tentang masalah tertentu kepada satuan lain. kebijaksanaan. dilaksanakan oleh satuan kerja kepolisian sesuai dengan tingkat organisasi yang mewilayahi suatu daerah tertentu sebagai wilayah hukum. Dalam Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No Pol : Kep / 54/ X / 2002. Polsek mewilayahi daerah setingkat kecamatan. Satuan kontrol adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas mengkontrol satuan lain agar sesuai dengan perencanaan. Polres mewilayahi daerah setingkat kabupaten. pedoman. Satuan konsultasi adalah satuan organisasi yang melakukan aktifitas memberikan bantuan keahlian dengan jalan memberikan nasehat. Mabes Polri melaksanakan tugas pengawasan dan pembinaan meliputi keseluruhan wilayah Negara kesatuan republik Indonesia. Polda mewilayahi suatu daerah setingkat propinsi. peraturan. kebijaksanaan pokok serta menampung pendapat pendapat masyarakat di lingkungannya. Dalam pelaksanaan tugas operasional untuk menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat. tentang Organisasi Tata Kerja Satuan-Satuan Organisasi Polri pada tingkat kewilayahan telah diatur oraganisasi tata kerja mulai dari tingkat Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) sebagi kesatuan pusat nasional secara berjenjang ke bawah baik di tingkat Kepolisian Daerah (Polda) sampai Ketingkat Kepolisian Resort (Polres) dan Kepolisian Sector (Polsek).

Di dalam pasal 13 UU no 2 tahun 2002 di sebutkan bahwa Tugas Pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah : a. pengayoman. Tugas dan Wewenang Polri Berdasarkan Undang-undang no. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat. Menegakkan hukum. Rumusan ketiga tugas pokok tersebut diatas bukan menggambarkan adanya suatu hierarkhi.3. dan pelayanan kepada masyarakat hal ini sebagai suatu bentuk konsekuensi POLRI sebagai fungsinya yaitu sebagai salah satu fungsi pemerintahan negara yang pada hakekatnya bersifat pelayanan .2 tahun 2002 yaitu tentang Kepolisian Negara Tugas dan Wewenang POLRI adalah : Tugas POLRI berdasarkan pasal 13 UU no 2 tahun 2002. Memberikan perlindungan. sedangkan substansi tugas pokok menegakkan hukum bersumber dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang memuat tugas pokok POLRI dalam kaitannya dengan peradilan pidana contohnya saja KUHP.dan c. b. Substansi tugas pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat bersumber dari kewajiban umum kepolisian untuk menjamin keamanan umum. pengayoman. KUHAP dan berbagai peraturan perundang-undangan yang lain. namun demikian ketiga-tiganya sama penting. Berkaitan dengan substansi tugas pokok POLRI yang lainya yaitu memberikan perlindungan. dan pelayanan kepada masyarakat.

serta l. serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan. kepolisian negara Republik Indonesia bertugas : a. Melindungi keselamatan jiwa raga. Pada pasal 14 UU no 2 tahun 2002 disebutkan mengenai tugas yang harus dilaksanakan oleh POLRI . Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan. pengawasan. penjagaan. Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum. patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan. Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/ atau pihak yang berwenang. dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia. ketertiban. d. Turut serta dalam pembinaan hukum nasional. laboratorium forensik dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian. b. Melaksanakan pengaturan. dan kelancaran lalu lintas di jalan. Menyelenggarakan identifikasi kepolisian. kesadaran hukum masyarakat. g. h. dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus. pengawalan. f. c. penyidik pegawai negeri sipil. Dalam pasal 14 disebutkan bahwa : (1).publik (public service). k. i. Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentinganya dalam lingkup tugas kepolisian. Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud pasal 13 . dan bentuk pengamanan swakarsa. Pasal 14 UU no 2 tahun 2002 merupakan kelompok tugas POLRI yang bersumber dari substansi tugas pokok ”memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat” dan menggambarkan fungsi-fungsi teknis dalam rangka pelaksanaan kewajiban umum kepolisian. . masyarakat. e. Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya. harta benda. kedokteran kepolisian. j. Melakukan koordinasi.

penggeledahan. . 1. Melarang setiap orang untuk memasuki atau meninggalkan tempat kejadian perkara guna kepentingan penyidikan. penahanan. e. Menyerahkan berkas perkara pada jaksa penuntut umum. g. Membawa dan menghadapkan orang kepada penyidik dalam rangka penyidikan. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum yang bertanggung jawab. terlebih dahulu perlu ditentukan secara cermat berdasarkan segala data hasil penyelidikan bahwa peristiwa yang semula diduga sebagai suatu tindak pidana. Kepolisian Republik Indonesia berwenang untuk : a. Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri. i.4. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. l. Pengertian penyidik Sebelum suatu penyidikan dimulai dengan konsekuensi penggunaan upaya paksa. Terhadap tindak pidana yang terjadi itu dapat dilakukan penyidikan. Melakukan penangkapan. c. Mengadakan penghentian penyidikan. Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi dalam keadaan mendesak untuk mencegah dan menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana. f. j. h. Tugas Polri Dalam Tindak Pidana Dalam rangka menyelenggarakan tugas di bidang proses tindak pidana. k. d. dan penyitaan. Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dalam pemeriksaan perkara. b. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. Memberikan petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidik pegawai negeri sipil itu untuk diserahkan kepada jaksa penuntut umum.

.dengan demikian penyelidikan merupakan tindak pidana lanjut dari suatu penyelidikan. wewenang penunjukan tersebut dapat dilimpahkan kepada kepala pejabat kepolisian lain. karena jabatannya adalah penyidik. Dalam pelaksanaan lebih lanjut pada pasal 2 PP nomer 27 1983. tentang syarat-syarat penyidikan adalah sebagai berikut : 1) Polisi Negara Republik Indonesia yang berpangakat sekurang-kurangnya pembantu letnan dua polisi yang sekarang disebut Ajun Inspektur Dua Polisi (AIPDA). Dalam Pasal 1 angka 1 KUHAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidik adalah pejabat polisi Negara atau pejabat negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang untuk melakukan penyidikan. 3) Apabila di satu sektor kepolisian tidak ada pejabat penyidik maka komandan sektor kepolisian yang berpangkat bintara dibawah pembantu AIPDA. 4) Penyidik polisi Negara ditunjuk oleh kepala kepolisian Republik Indonesia. Pelaksanaan tugas-tugas penyidikan ditangani oleh pejabat penyidik atau penyidik pembantu sesuai dengan kewenangan masing-masing sebagai mana diatur dalam Pasal 7 dan Pasal 11 KUHAP. 2) Pejabat pegawi negri sipil tertentu dengan pangkat sekurang-kurangnya pengatur muda tingkat 1 (Golongan 11/b) atau yang disamakan dengan itu.

Menerima laporan atau pengaduan dari seseorang tentang adanya tindak pidana.5) Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) ditunjuk oleh mentri kehakiman dengan pertimbangan dari jaksa agung dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Mendatangkan seorang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksa perkara. 8. 4. 10. Menyuruh berhenti tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang. 5. penahanan. Mengadakan tindakan lain yang menurut hukum yang bertanggung jawab. Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. Melakukan penangkapan. Mengadakan penghentian penyidikan. 2. Sesuai dengan ketentuan Pasal 3 PP nomor 27 tahun 1983 ditentukan bahwa penyidik pembantu adalah : . Dalam pelaksanaan tugas seorang penyidik memiliki kewenangan sesuai dengan Pasal 7 KUHAP yang mana dijelaskan bahwa seorang penyidik memiliki kewenangan sebagai berikut : 1. 6. Disamping pejabat penyidik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 10 KUHAP ditantukan juga tentang pejabat penyidik pembantu. 7. dan penyitaan. 9. penggeledahan. Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. 3. Menerima tindakan pertama pada saat ditempat kejadian.

. 2. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia tertentu yang sekurang-kurangnya berpangkat sersan dua polisi yang sekarang diganti Brigadir Polisi dua (BRIPDA). Penyidik sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1 huruf a dan b diangkat oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia atas usul komandan atau pimpinan kesatuan masing-masing. yang mana dapat dijelaskan bahwa penyelidikan menurut Pasal 1 angka 5 KUHAP adalah “ serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna menemukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan menurut cara yang diatur dalam undang-undang”. 3. Mencari dan mengumpulkan informasi berkenaan dengan laporan atau pengaduan tentang benar dan tidaknya telah terjadi tindak pidana. Penyidik pembantu merupakan pejabat kepolisian Negara Republik Indonesia yang karena diberi wewenang tertentu dapat melakukan tugas penyidikan yang diatur dalam undang-undang. Pejabat pegawai negri sipil tertentu yang diungkapkan Kepolisian Negara Republik Indonesia sekurang-kurangnya berpangkat pengatur muda ( gol 11/a ).1. Dalam pelaksanaan penyidikan terhadap suatu perkara pidana yang ditangani oleh serorang penyidik pembantu dibutuhkan penyelidikan yang terkait dengan tindak pidana yang terjadi. Kegiatan yang dilaksanakan penyelidik adalah sebagai berikut : 1.

29 Untuk menggambarkan pengertian kata penyidikan A. Hal . Orang yang melakukan penyelidikan atau dengan kata lain penyidik adalah orang yang melakukan menyelidiki suatu peristiwa atau kejadian guna mendapatkan kejelasan mengenai peristiwa atau kejadian. penyidikan sejajar dengan opsporing atau investigation.2. Yahya Harahap “Pembahasan Permasalahan Dan Penerapan KUHP”. Mendapatkan keterangan kejelasan tersangka dan atau barang bukti dan saksi secara lengkap supaya dapat diadakan penindakan dan pemeriksaan. 837 30 A. balai pustaka. dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik yang diatur oleh undang-undang untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti pelaku tindak pidana. 29 Kamus besar bahasa Indonesia. 28 . 1988. Hamzah “Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia”. 30 Kalau dilihat secara yuridis bahwa penyidikan sesuai dalam Pasal 1 ayat 2 KU HAP dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal menurut cara yang diatur dalam Undang-undang ini untuk mencari serta M. 1989. 28 Sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia. Galia Indonesia. Hal 121. Sedang menururt M. Hal 99. 1978.Pustaka kartini. pengertian biasa menunjukan bahwa penyidikan berasal dari kata SIDIK yang mendapat sisipan EL menjadi selidik artinya sama dengan SIDIK hanya pengertiannya banyak menyidik”. Jakarta. Yahya Harahap mengatakan bahwa penyelidikan merupakan tindakan tahap pertama permulaan penyelidikan. Pembedaan kedua istilah tersebut rupanya tidak didasarkan kepada pengertian biasa. Hamzah mengatakan “KUHAP membedakan penyidikan dan penyelidikan.

2. Untuk dapat menentukan suatu tindak pidana bukan merupakan hal yang mudah untuk menetapkan suatu peristiwa atau perbuatan sebagai suatu kegiatan tindak pidana seseorang penyidik disamping memiliki pengetahuan dan pengalaman dari segi teknis Reserse kriminal ia harus pula memiliki pengetahuan dan hukum pidana yang cukup memadai sesuai dengan bidang tugasnya sebagai seorang penyidik. benar-benar merupakan suatu tindak pidana sehingga dapat dilakukan penyidikan secara singkat dapat dikatakan bahwa pada tahap penyidikan segala data dan fakta yang diperlukan sebagai penyidikan tindak pidana tersebut harus dapat dikumpulkan sedemikian rupa. setelah seseorang penyidik mendapat kepastian bahwa suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana. sebagaimana kita ketahui bahwa tidak semua peristiwa yang tampak sebagai tidak pidana. Penyelidikan sebagai rangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan menemukan suatu peristiwa sebagai suatu tindak pidana atau bukan merupakan suatu tindak pidana memerlukan pengetahuan yang memadai.mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan menemukan tersangka. sehingga hasil penyelidikan itu didapatkan kepastian tentang bahwa peristiwa semula diduga sebagai tindak pidana adalah benar-benar merupakan . Penyidik sebagai suatu usaha untuk menentukan dapat tidaknya dilakukan terhadap suatu tindak pidana. Mengingat pentingnya penyidikan dalam kaitannya penyidikan segala konsekuensinya (terutama ganti rugi dan rehabilitasi) maka harus mendapat perhatian dan ketelitian dari pejabat penyelidik dalam melaksanakan tugas–tugas penyelidikan dimaksud : 1.

3. kepada pelapor diberikan surat tanda penerimaan laporan. Dalam hal tertangkap tangan. Laporan Yang mana laporan diterima dari seseorang baik tertulis maupun lisan yang dicatat oleh penyidik pembantu atau juga oleh penyidik dan setelah selesai permainan laporan.suatu tindak pidana dan terhadap tindak pidana tersebut dapat dilakukan penyelidikan tindak pidana telah terkumpul melalui usaha penyelidikan. Penyidikan Tindakan Pidana Dalam melaksanakan penyidikan suatu tindak pidana yang mana tindak pidana dapat dilaksanakan penyidikanya setelah diketahui bahwa suatu peristiwa yang terjadi merupakan tindak pidana. Pengaduan Pengaduan bisa dilakukan baik secara lisan atau tertulis kepada Polri yang disertai dengan permintaan untuk menindak menurut hukum terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana aduan (delik aduan relative) dari pihak yang dirugikan. Dengan adanya pejabat penyelidikan dalam pelaksanaan tugas penyelidikan itu penyidikan yang akan dilakukan nantinya akan mudah karena sejak dini pejabat penyidik telah memperoleh gambaran tentang tindak pidana yang akan disidik. 2. a. sedangkan suatu peristiwa dan tindak pidana dapat diketahui melalui : 1. setiap petugas Polri tanpa surat perintah dapat dilakukan tindakan : . Tertangkap Tangan a.

2. penindakan pemeriksaan serta penyelesaian dan penyerahan berkas perkara. segera dilakukan penyidikan melalui kegiatan-kegiatan penyidikan. b. Segera melakukan tindakan pertama di TKP dan setelah itu memberitahukan dan atau menyerahkan tersangka beserta atau tanpa barang bukti kepada petugas Polri yang berwenang melakukan penanganan selanjutnya. Penangkapan. Membuat laporan polisi Mendatangi TKP dan melakukan tindakan yang diperlukan Membuat berita acara pemeriksaan atas setiap yang dilakukan Jika diketahui langsung oleh petugas Polri dalam satu tindakan pidana diketahui langsung oleh petugas Polri tersebut wajib segera melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan wewenang masing-masing kemudian membuat laporan polisi dan berita acara tentang tindakan-tindakan yang dilakukannya guna penyelesaian selanjutnya. Kegiatan Penyidikan Setelah diketahui bahwa suatu peristiwa yang terjadi diduga merupakan tindak pidana. penyitaan dan melakukan tindakan lain menurut hukum yang tanggung jawab. 3. 2. Penyelidikan : . b. Petugas Polri yang berwenang apabila menerima penyerahan tersangka beserta atau tanpa barang bukti dan anggota Polri masyarakat wajib : 1. penggeledahan.1. 4. 1.

agar menjadi jelas sebelum dilakukan penindakan selanjutnya. Berita Acara Pemeriksaan Tersangka Dan Saksi. Dalam penyelidikan yang dilakukan oleh petugas Polri tersebut bertujuan untuk mencari keterangan-keterangan dan bukti guna menentukan apakah melakukan tindakan pidana atau bukan. dan juga untuk melengkapi keterangan dan bukti-bukti yang telah diperoleh. tempat (termasuk rumah dan tempat tertutup lain). undercover. benda atau barang. survelaince yang benar . dalam pelaksanaan penyelidikan secara terbuka penyelidik wajib menunjukkan tanda pengenal serta menggunakan tehnik wawancara yang benar dan begitu juga dalam melaksanakan penyelidikan secara tertutup penyelidik menggunakan tehnik-tehnik observasi. Berbagai informasi atau laporan yang diterima maupun diketahui langsung oleh penyelidik atau penyidik b.Dalam proses penyidikan yang berwenang melakukan penyelidikan adalah setiap pejabat Polisi Negara Republik Indonesia yang khusus di tugaskan untuk itu. Laporan Polisi c. disamping itu penyelidikan dapat dilakukan dengan cara terbuka sepanjang hal tersebut menghasilkan keterangan-keterangan yang diperlukan dan dilakukan secara tertutup apabila terdapat kesulitan dalam mendapatkan. dan disamping itu juga merupakan persiapan pelaksanaan penindakan dan atau pemeriksaan dan yang menjadi sasaran penyelidikan dalam suatu perkara pidana adalah orang. penyelidikan dilaksanakan berdasarkan pada : a. Berita Acara Pemeriksaan TKP d.

penahanan penggeledahan dan penyitaan. Penangkapan. berita Acara Pemeriksaan di TKP. dalam hal saksi atau tersangka berada di luar wilayah hukum penyidik pembantu dari kesatuan dimana saksi atau tersangka berada. penahanan. yang mana tindakan hukum tersebut diantaranya berupa : pemanggilan tersangka dan saksi-saksi. kejelasan dan keindentikan tersangka dan atau saksi dan atau barang bukti didalam tindak pidana tersebut menjadi jelas dan dituangkan dalam berita acara pemeriksaan. penangkapan. Penindakan Penindakan adalah setiap tindakan hukum yang dilakukan oleh penyelidik atau penyidik pembantu terhadap orang atau benda atau barang yang ada hubungannya dengan tindak pidana yang terjadi. Pemeriksaan dilakukan atas dasar : Laporan Polisi. laporan hasil penyelidikan yang dibuat oleh petugas atas perintah penyidik atau penyidik pembantu. penggeledahan. petunjuk dari penuntut umum untuk melakukan pemeriksaan tambahan.hindarkan sikap dan tindakan yang dapat merugikan pelaksanaan penyelidikan selanjutnya. Penyelesaian dan penyerahan berkas perkara merupakan kegiatan akhir dari proses penyidikan tindak pidana yang dilakukan oleh penyidik atau penyidik pembantu. 2. Pemeriksaan Pemeriksaan merupakan kegiatan untuk mendapatkan keterangan. 3. dan penyitaan. yang mana kegiatan dalam penyelesaian dan penyerahan berkas perkara meliputi : pembuatan resume yang mana resume merupakan kegiatan . dan dalam pemeriksaan ini yang berwenang melakukan pemeriksaan adalah penyidik atau penyidik pembantu. 4.

c. 31 Setelah semua unsur terpenuhi sehingga dilanjutkan dengan pemberkasan yang mana pemberkasan merupakan kegiatan untuk memberkas isi berkas perkara dengan susunan dan syarat-syarat pengikatan serta penyegelan tertentu dan siap berkas tersebut diserahkan kepada jaksa penuntut umum untuk dilakukan penuntutan. Setelah kita ketahui beberapa pengertian penyelidik dan penyidik pembantu yang telah terurai diatas secara umum kita lanjutkan dengan pengertian tindak pidana dan kejahatan menurut Miljinto yang dimaksud dengan pengertian tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum. Rineka Cipta. larangan yang mana disertai dengan ancaman (saksi) yang berupa pidana tertentu. Tindakan Preventif Harun M Husein “Penyidikan dan Penuntutan dalam tindak pidana”.penyidik untuk menyusun isi dan kesimpulan berdasarkan hasil penyelidik tindakan pidana yang terjadi dan dalam pembuatan resume tersebut harus memenuhi persyaratan formal dan persyaratan materiil serta persyaratan penulisan yang telah ditentukan. Penanganan Kasus Tentang bentuk penanganan permasalahan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat dapat dilakukan melalui tindakan-tindakan sebagai berikut : a. h 180-182 31 . bagi barang siapa melanggar larangan tersebut dapat juga dikatakan bahwa perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang atau diancam dengan pidana asal saja dalam larangan di tunjukkan dalam perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang) sedangkan pidananya ditentukan pada orang yang menimbulkan kejadian itu. Jakarta. Th 1991.

Merupakan usaha dan tindakan awal yang dilakukan dengan maksud untuk menghindarkan terjadinya suatu kejahatan, peristiwa kejahatan dan pelanggaran hukum / peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan gangguan terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat. Usaha dan kegiatan dilakukan adalah untuk memelihara keselamatan orang, benda, masyarakat termasuk memberikan perlindungan dan pertolongan serta mengusahakan ketaatan warga masyarakat terhadap peraturan yang berlaku. b. Tindakan Represif : Merupakan upaya untuk melakukan tindakan pada setiap gelatan ancaman yang terjadi, membuat terang setiap tindak pelanggaran / kejahatan untuk ditangani sesuai dengan tata cara ketentuan hukum yang berlaku. Tindakan represif tiada lain merupakan upaya untuk melakukan identifikasi terhadap setiap gelagat ancaman, membuat terang suatu idikasi perbuatan pelanggaran pidana atau kejahatan, mengamankan hal-hal yang berkaitan dengan orang, benda ataupun informasi, melakukan penggalangan berkaitan dengan orang, benda ataupun informasi, melakukan penggalangan terhadap potensi yang mendukung atau yang akan merugikan tugas-tugas Polri serta melakukan tindakan untuk mengungkapkan setiap bentuk pelanggaran beserta mata rantainya melalui kegiatan penyidikan perkara sesuai dengan ketentuan dan tata cara yang diatur oleh Undang-Undang. Kegiatan tugas yang bersifat represif dilakukan dalam bentuk : 1. Penyidikan yaitu kegiatan-kegiatan mencari dan mengumpulkan bahan keterangan / informasi serta mendapatkan kejelasan suatu laporan / pengaduan

atau suatu gelagat terjadinya tindak pidana / pelanggaran sehingga dapat dilakukan penindakan hukum dan pemeriksaan. Yang menjadi sasaran penyelidikan adalah : a. b. Orang, sebagai saksi atau tersangka Benda / barang yang memiliki kaitan secara langsung atau tidak

langsung terhadap peristiwa pidana atau pelanggan. c. Tempat yang merupakan lokasi dimana terjadinya kejahatan atau

pelanggaran serta tempat-tempat lain yang berkaitan dengan peristiwa kejahatan / pelanggaran tersebut. 2. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari dan mengumpulkan bukti-bukti itu akan membuat terang a.Tindakan Pertama Di Tempat Kejadian Dalam praktek tindakan pertama di tempat kejadian tersebut di kenal dengan istilah tindakan pertama di TKP (tempat kejadian perkara). Menurut PAF. Lamintang yang dimaksud dengan tempat kejadian itu adalah dimana telah dilakukan sesuatu tindak pidana, yang dimaksud tindakan pertama di tempat kejadian melakukan segala macam tindakan pertama di tempat kejadian melakukan segala macam tindakan yang oleh penyidik telah dipandang perlu. b. Pemanggilan Yaitu pemanggilan tersangka dan saksi di Kantor polisi dengan maksud untuk dimintai keterangan berkaitan dengan suatu perkara pidana / pelanggaran dalam suatu pemeriksaan penyidik.

c. Penangkapan Penangkapan hanya dapat dikenakan kepada seseorang yang berdasarkan bukti permulaan yang cukup telah disangkal telah melakukan tidak pidana. Dengan kata lain penangkapan hanya dikenakan terhadap seseorang yang berdasarkan bukti permulaan yang cukup diduga telah melakukan tindak pidana. d. Penahanan Untuk kepentingan penyidikan suatu tindak pidana penyidik atau penyidik pembantu atas perintah penyidik dapat melakukan penahanan, penahan yang dilakukan oleh penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 20 ayat 1 KUHAP berlaku paling lama 20 hari. e. Penggeledahan : Dalam pasal 32 KUHAP ditentukan untuk kepentingan-kepentingan penyidik, penyidik dapat melakukan penggeledahan rumah atau penggeledahan pakaian atau badan menurut tata cara yang ditentukan Undang-Undang. f. Penyitaan Adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mengambil alih dan untuk menyimpan dibawah penguasaannya benda bergerak maupun tidak bergerak, benda berwujud maupun tidak berwujud untuk kepentingan pembuktian dalam penyidikan, penuntutan dan peradilan. 32 Dalam rumusan Bab II Pasal 13 Undang-Undang Republik Indonesia No. Tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia, ditetapkan tentang tugas wewenang Polri yaitu : tugas pokok Kepolisian Negara Republik Indonesia

adalah (a). memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, (b). menegakkan
32

Ibid, hal 104-145

pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat. Tindakan dengan orang asing. baik terhadap orang Indonesia sendiri maupun orang asing yang di wilayah Indonesia. Lebih lanjut dalam hal penegakan hukum dijelaskan dalam Pasal 14 ayat (1) point g. 33 Dari esensi pengertian dalam uraian dan pasal-pasal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penanganan kasus yang berupa penegakan hukum adalah tugas wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 untuk melakukan penegakan hukum melalui tindakan tugas penyelidikan terhadap semua tindakan pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. cara perbuatan menanggulangi Undang-Undang No 2 Th 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia Departemen pendidikan dan kebudayaan . memberikan perlindungan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. dijelaskan bahwa : “Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan lainnya berwenang untuk melakukan pengawasan fungsional kepolisian terhadap orang asing yang berada di wilayah Indonesia dengan koordinasi instansi terkait.hukum dan (c). 34 33 . Jakarta 1996. dalam Pasal 15 ayat (2) point i. C. 34 Jadi penanggulangankejahatan adalah proses. TEORI UPAYA PENANGGULANGAN KEJAHATAN Penanggulangan adalah proses. Hal 1005. Balai Pustaka. cara perbuatan menanggulangi. yaitu “dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dalam Pasal 13 Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas untuk melakukan penyidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

hal 157 Moh. 37 Keiser memberikan batasan tentang pencegahan kejahatan: sebagai sesuatu usaha yang meliputi segala tindakan yang mempunyai tujuan yang khusus untuk meprkecil luas lingkup dan kekerasan suatu pelanggaran. pengawasan dan pencegahan yang terkoordinir. 36 Walter C. Citra Aditya Bakti. 1994. Kemal Darmawan. Sinopsis Kriminologi. Bandung. Penanggulangan kejahatan meliputi kegiatan mencegah timbulnya kejahatan sebelum terjadi. Soedjono Dirdjosisworo (I). Strategi Pencegahan Kejahatan. Bandung.kejahatan. Bandung. Reckless meletakkan jajaran kepolisian di urutan pertama agar penanggulangan kejahatan oleh pemerintah dapat berhasil. mandar maju. 1984. hukum yang berwibawa. dengan pembentukan sistem dan organisasi kepolisian yang baik. Sosiologi Kriminologi. Sinar Baru. 1973. Selanjutnya diikuti pelaksanaan peradilan yang efektif. di Indonesia diprakarsai oleh Kepolisian Republik Indonesia. serta partisipasi masyarakat. baik melalui pengurangi kesempatan-kesempatan untuk melakukan kejahatan ataupun melalui usaha-usaha pemberian pengaruh terhadap orang-orang yang secara potensial dapat menjadi 35 36 Soedjono Dirdjosisworo (III). 35 Namun efektifitas penanggulangankejahatan menurut Perry yang dikutip Kemal Darmawan hanya akan mungkin dapat dicapai jika terdapat keikutsertaan masyarakat secara luas yang meliputi kesadaran dan keterlibatan nyata. ha l38 Hal 102 37 . Penanggulangan kejahatan itu tidak semata-mata menghukum atau menjatuhkan sanksi pidana terhadap pelaku pelanggaran hukum pidana melainkan untuk memberikan perlindungan hak masyarakat dari gangguan apapun bentuknya termasuk kejahatan.

38 Sehingga upaya pencegahan pada dasarnya terdiri dari 4 metode yakni preventif. b. Sistem Obolisionistik 38 39 Mohammad Kemal Darmawan. hal 12 Soedjono Dirdjosisworo (V). Sistem Moralistik Dilakukan dengan pendekatan melalui penyuluhan dan penerangan agar warga masyarakat tidak berbuat kejahatan atau menjadi korban kejahatan. yang bisa dilakukan oleh ulama. Op. Upaya pencegahan secara preventif Cara ini diarahkan kepada usaha pencegahan terhadap kejahatan yang pertama kali mencegah supaya kejahatan tidak terulang. hal 55 40 Soedjono dirdjosisworo (III). kegiatan sosial yang dilakukan oleh organisasi keagamaan dan lembaga sosial lainnya. Penanggulangan Kejahatan. Misalnya wajib kunjung yang dilakukan aparat penegak hukum untuk memberikan informasi dan memberikan penyuluhan.Cit.pelanggaran serta kepada masyarakat umum. Contohnya melalui proses keluarga sadar hukum yang dilakukan oleh kejaksaan. dakwah kuliah subuh. reformatif dan pre-emptif. Bandung. hal 157 .Cit. 39 Upaya pencegahan kejahatan yang ditunjukan kepada factor-faktor yang memungkinkan timbulnya kejahatan terbagi 2 yakni : 40 a. Dengan pembianaan mental spiritual. juru penerang hukum dan lain-lain. Upaya ini dilakukan dengan cara menyesuaikan cara pencegahan dengan jenis kejahatan dan penyebab kejahatan yang mendorong terjadinya kejahatan. 1975. Op. 1. represif. pendidik. Alumni. Departemen Kehakiman.

hal 157 Mohammad Kemal Darmawan.kondisi yang sangat memberikan harapan bagi keberhasilan sosialisasi untuk setiap anggota masyarakat. ketenagakerjaan. Dapat ditmbahkan bahwa pencegahan umum dan pencegahan khusus meliputi identifikasi dini dari kondisi kriminogenik dan pemberian pengaruh pada kondisi-kondisi tersebut. perumahan. Pencegahan Sekunder Hal yang mendasar dalam metode pencegahan ini dapat ditemui dalam kebijakan pidana dan pelaksanaanya. Peran 41 42 Ibid. Contohnya melauai pendidikan. Dengan target masyarakat secara keseluruhan. hal 12 . ekonomi dan bidang-bidang lain dari kebijakan umum.Cit. Pencegahan Primer Yakni strategi pencegahan kejahatan melalui bidang sosial.Pendekatan penanggulangankriminalitas dengan upaya-upaya lanjutan yang bersifat konsepsiaonal yang harus dilakukan dengan dasar penelitian ilmu pengetahuan seperti kriminologi. Op. Dan menggali sebab musabab timbulnya suatu kejahatan tertentu dari berbagai faktor yang berhubungan misalnya mekanisme peradilan dan partisipasi masyarakat untuk menanggulangi juvenile-deliquency. 41 Keiser dalam dalam bukunya Kemal Dermawan membagi strategi pencegahan ke dalam 3 kelompok berdasar pada model pencegahan kejahatan umum : 42 1. sosiologi dan lain-lain. rekreasi 2. Khususnya sebagai usaha untuk mempengaruhi situasi-situasi kriminogenik dan sebab-sebab dasar dari kejahatan. Tujuan utamanya untuk menciptakan kondisi.

hal 17 . Bebrapa ahli berpendapat bahwa pencegahan kejahatan haruslah lebih bersifat teoritis praktis.preventive dalam pencegahan sekunder dilakukan oleh polisi. antara lain: 43 a. 3. Pendekatan situsional atau situsional crime prevention Perhatian utamanya adalah mengurangi kesempatan seseorang atau kelompok untuk melakukan pelanggaran. Pencegahan Tertier Pencegahan ini memberikan perhatian pada pencegahan terhadap residivisme melalui polisi dan agen-agen lain dalam sistem peradilan pidana. kemudian diputuskan untuk membagi pencegahan kejahatan kedalam 3 pendekatan yang saling berhubungan dan saling melengkapi satu sama lain. Pendekatan kemasyarakatan atau community based crime prevention 43 Ibid. begitu pula pengawasan dari mass media. Segala tindakan pidana berkisar dari sanksi – sanksi peradilan informal dan bayar utang bagi korban atau juga sebagai perbaikan pelanggar atau hukuman penjara. b. Target utamanya orang-orang telah melanggar hukum. c. Pendekatan sosial atau sosial crime prevention Segala kegiatannya bertujuan untuk menumpas akar segala penyebab kejahatan dan kesempatan untuk melakukan pelanggaran. Sasarannya masyarakat atau kelompok – kelompok yang secara khusus mempunyai resiko untuk melakukan pelanggaran. Dengan sasaran utama orang-orang yang sangat mungkin melakukan pelanggaran.

Reckless sebagaimana dikutip oleh Soejono. 2. Tujuannya untuk mengembalikan ketertiban. Perilaku Organisasi Polri. Disamping untuk memberantas kejahatan yang terjadi di masyarakat. pengadilan. mengawal dan patroli. Op. 1997. Pelaksanaan preventif polisi meliputi 2 hal. Jakarta. hal 55 .Cit. konsepsi umum dalam penanggulangan kriminalitas yang berhubungan dengan mekanisme peradilan pidana dan partisipasi masyarakat secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut : 44 45 Kunarto. Misalnya dengan memberikan arahan. Pihak yang dominan melaksanakan pemberantasan ini adalah para penegak hukum antara lain kepolisian.Tujuannya untuk meperbaiki kapsitas masyarakat untuk mengurangi kejahatan dengan jalan meningkatkan kapasitas mereka untuk menggunakan control sosial informal. ketentraman dimasyarakat setelah terganggu dengan kejahatan yang telah terjadi. masukan tentang kesadaran hukum kepada pelaku kejahatan. 45 Menurut Walter C. juga diarahkan kepada pelaku kejahatan tersebut. sambung. Cipta Manuggal. pencegahan yang bersifat pembinaan dilakukan dengan kegiatan penyuluhan. bimbingan. 2. Upaya pencegahan secara represif Dilakukan apabila kejahatan ini sudah terjadi dimasyarakat. hal 112 Soedjono Dirdjosisworo (V). pencegahan yang bersifat phisik dilakukan dengan 4 kegiatan pokok yakni mengatur. kejaksaan. menjaga. yakni : 44 1. arahan. anjangsana untuk mewujudkan masyarakat yang sadar dan taat hukum serta memiliki daya cegah – tangkal atas kejahatan.

Sebab pembinaan narapidana tidak selalu harus dilakukan di Lembaga Permasyarakatan. Mekanisme peradilan pidana yang efektif dan memenuhi syarat – syarat cepat. Sosiologi Kriminalitas.a. tepat. e. Peningkatan dan pemantapan aparatur penegak hukum. 46 Abdulsyani. 1987. Bentuknya berupa penjatuhan pidana yang tepat bagi pelaku tindak pidana. Upaya pencegahan secara reformatif Upaya peanggulangan yang ditujukan untuk merubah. Bandung. misalnya pembinaan terhadap pelaku kejahatan yang mengalami kejiwaan sebaiknya dilakukan di rumah sakit jiwa. b. c. d. meliputi pemantapan organisasi. Reformatif Klinis Upaya klinis berkaitan dengan pengobatan pelaku kejahatan yang disesuaikan dengan jenis kejahatannya. hal 135 . Koordinasi antara penegak hukum dan aparatur pemerintahan lainnya yang berhubungan untuk meningkatkan dayaguna dalam penanggulangankriminalitas. misalnya dengan menggunakan cara moralistik serta pemberian pendidikan formal untuk narapidana di lembaga permasyarakatan. Perundang – undangan yang dapat berfungsi menganalisa dan membendung kejahatan dan mempunyai jangkauan ke masa depan. memperbaiki perilaku penjahat dan kejahatan. Reformatif Dinamis Upaya dinamis berkaitan dengan bagaimana merubah penjahat dari kebiasaan yang tidak baik. Remadja Karya. Ada 2 upaya penanggulanganyang bersifat reformatif : a. b. 46 3. murah dan sederhana. Partisipasi masyarakat untuk membantu kelancaran pelaksanaan penanggulangankriminalitas. personil dan sarana – sarana untuk menyelesaaikan perkara pidana.

4.kanak). . Misalnya dengan mealakukan sosialisasi rambu – lalu lintas di playgroup atau di TK (taman kanak . Tujuannya untuk mencegah sedini mungkin agar orang tidak melakukan kejahatan. dengan memasuki tatanan atau materi pendidikan. Upaya pencegahan secara pre-emptif Ialah bentuk upaya penanggulangan yang sifatnya edukatif.

Sedangkan pendekatan sosiologis dalam penelitian ini adalah suatu penelitian yang dilakukan terhadap keadaan nyata di masyarakat atau lingkungan masyarakat dengan maksud dan tujuan untuk menemukan fakta (fact-finding) yang kemudian dilanjutkan dengan menemukan masalah (problem-finding) yang menuju pada identifikasi masalah (problem-identification) 48 . Metodologi Penelitian Hukum dan Jumetri. dan untuk mengetahui upaya-upaya serta kendala Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Pendekatan yuridis mempunyai arti bahwa penelitian ini akan menggunakan pendekatan-pendekatan dalam segi hukum dan sistematika lisan 47 .BAB III METODE PENELITIAN A. 48 47 Soerjono Soekanto. Jakarta. 1989. Ghalia Indonesia. hal 34. hal 10. Pendekatan sosiologis dilakukan untuk mengetahui secara jelas modus-modus yang digunakan dalam melakukan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Ronny Hanintijo Soemitro. Pengantar Penelitian Hukum. Dalam hal ini menelaah peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana penadahan dan POLRI kemudian dihubungkan dengan realita penanggulangan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian yang dilakukan oleh POLRI sebagi upaya untuk meminimalisir tindak pidana penadahan tersebut. UI (UI Press). Metode pendekatan Penulisan skripsi ini didasarkan pada metode pendekatan yuridis sosiologis. . Semarang. 1986.

Yaitu suatu informasi yang sesuai dengan masalah yang diteliti diperoleh dari studi 49 50 Sumadi Surya Subrata. 1984. Metodologi Penelitian. Data Sekunder Merupakan data pendukung dan pelengkap bagi data primer 50 . 2. Ibid. Data Primer Merupakan data yang berupa informasi yang diperoleh langsung oleh peneliti dari responden. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Kepolisian Resor (Polres) Malang. C.B. Selain itu juga ada indikasi di wilayah Polres Malang merupakan tempat bagi para pelaku pencurian kendaraan bermotor roda dua untuk menjualnya ke penadah yang terdapat di wilayah Hukum Polres Malang. Jenis dan sumber data Jenis data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis yaitu : 1. dalam wilayah hukum Polres Malang merupakan wilayah yang rawan akan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. upaya-upaya serta kendalakendala polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian tersebut. . 49 Data tersebut berupa informasi mengenai modus-modus apa saja yang digunakan dalam tindak pidana penadahan. CV Rajawali. sesuai dengan hasil pra survey yang sudah dilakukan di wilayah Polres Malang mencatat setidaknya lebih dari 50 (lima puluh) kasus pencurian telah terjadi tiap tahunnya. hal 24. Jakarta. Sebab.

hasil penelitian. desertasi. Teknik pengumpulan data primer Teknik pengumpulan data primer dilakukan dengan cara wawancara. D. Biasanya komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling . Data Sekunder Sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya Malang. skripsi. Sumber Data a. Pusat Dokumentasi Ilmu Hukum (PDIH) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang. Cara-cara yang dipergunakan untuk memperoleh data menggunakan dua cara antara lain : 1. Teknik pengumpulan data Dalam penelitian ini. b. Dalam wawancara pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Jadi semacam percakapan yang bertujuan untuk memperoleh informasi.kepustakaaan dan dokumentasi antara lain data statistik yang terdapat di Polres Malang mengenai tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. data yang digunakan diperoleh penulis dikumpulkan dengan cara terjun langsung pada obyek penelitian (field research) dimana dengan cara ini diharapkan diperoleh data yang obyektif. Data Primer Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari Polres Malang khususnya di bagian satuan Reskrim. Situs-situs internet. tesis. literatur pustaka Polres Malang. yaitu suatu bentuk komunikasi verbal.

berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilakukan melalui telepon 51 . Teknik wawancara dilakukan dengan menggunakan teknik gabungan, yaitu wawancara berencana dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) dan wawancara bebas yang tetap menggunakan pedoman wawancara namun dengan

pengembangan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian ini. Wawancara dilakukan dengan Petugas Reskrim Polres Malang. 2. Teknik pengumpulan data sekunder Teknik memperoleh data sekunder dilakukan dengan cara studi kepustakaan (library research), yaitu suatu kegiatan yang berusaha mengumpulkan berbagai buku-buku, artikel, makalah, internet, serta peraturan perundang-undangan dan hasil-hasil penelitian lainnya yang berasal dari perpustakaan (Pusat Dokumentasi dan Informasi Hukum), Perpustakaan Pusat Brawijaya. Bahan-bahan tersebut berkaitan langsung dengan permasalahan mengenai tindak pidana peandahan kendaraan bermotor hasil pencurian . E. Populasi, Sampel dan Responden 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan atau himpunan obyek dengan ciri yang sama 52 . Populasi dalam penelitian ini adalah pihak-pihak yang terkait dengan penelitian mengenai modus-modus tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian yang dalam hal ini adalah seluruh anggota polisi Polres Malang. 2. Sampel

S. Nasution, Metode Research Edisi Pertama, Jemmars, Bandung, 1992, hal 131. Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum (suatu pengantar), PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal 121.
52

51

Sampel adalah himpunan bagian atau sebagian dari populasi 53 .

Dalam

penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yaitu penarikan sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subyek didasarkan pada tujuan tertentu. Adapun yang menjadi sampel, yaitu : a. Petugas Reskrim Polres Malang b. Petugas Polantas Polres Malang Dalam sample penelitian ini diambil beberapa responden yaitu : a. Petugas Reskrim Polres Malang yaitu sebanyak 2 responden Dalam hal ini adalah Kasat Reskrim Polres Malang atau yang mewakili Wakasat Reskrim Polres Malang. b. Petugas Polantas Polres Malang sebanyak 1 responden Dalam hal ini adalah Kasat Lantas Polres Malang atau yang mewakili Wakasat Lantas Polres Malang. F. Teknik Analisis Data Dalam melakukan teknik analisis data, peneliti menggunakan metode diskriptif analitis yang digunakan untuk mempermudah pembahasan mengenai modus tindak pidana penadahan kendaraan bernotor hasil pencurian, upaya serta kendala yang dihadapi Polri dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian, guna mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian dilapangan.

53

Ibid, hal 36

BAB IV PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Polres Malang Pada penelitain ini penulis melakukan penelitian Polres Malang. Polres Malang merupakan Kepolisian Resor (Polres) yang terletak di pusat Kabupaten Malang yaitu di Jl. A. Yani No 1 Kepanjen Malang diamana Kabupaten Malang sendiri terletak antara 112017’, 10,90” Bujur Timur dan 1120,57’,00,00” Bujur Timur dan diantara 7044’,55,11” Lintang Selatan dan 8026’,35,45” Lintang Selatan. Dengan batas wilayah sekitar 3.347,8 Km2 Kabupaten Malang merupakan kabupaten terbesar kedua setelah Kabupatan Banyuwangi. Polres Malang sendiri membawahi 26 institusi Kepolisian Sektor yang berada di setiap kota kecamatan. Sejalan dengan dinamika perkembangan sejarah negara Indonesia dalam era reformasi terjadi perubahan paradigma ketatanegaraan yang menyangkut kedudukan Kepolisian Republik Indonesia yang telah berdiri sendiri berada langsung di bawah presiden. Gagasan itu menjadi wacana pernyataan resmi sejak tanggal 1 April 1999 yang selanjutnya ditetapkan dengan keputusan Majelais Permusyawaratan Rakyat Nomer : VI/MPR/2000 tentang pemisahan Tentara Nasional Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Momentum ini yang kemudian dimanfaatkan sebagai landasan mengoptimalisasikan dan mendinamiskan peran dan fungsi Polri sebagai pelindung pengayom dan pelayan masyarakat.

e. Di tingkat wilayah tertentu dalam suatu wilayah Propinsi dibentuk Kesatuan Kepolisian Wilayah (Polwil) mewilayahi beberapa wilayah hukum Polres dalam satu Polda. d. Di tingkat Propinsi disebut Kepolisian Daerah (Polda) mewilayahi seluruh wilayah propinsi.Susunan organisasi Polri secara hirarkhis organisasi dan pembagian wilayah lingkungan kerja sesuai dengan pasal 6 dan 7 BAB II Undang – undang nomer 2 tahun 2002. unsur pembantu. Di tingkat pusat disebut Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri) yang mewilayahi seluruh wilayah Negara Republik Indonesia. pimpinan / staf pelaksana. Di tingkat kecamatan disebut Kepolisian Sektor (Polsek) yang mewilayahi seluruh wilayah kecamatan. Di tingkat wilayah kota atau kabupaten disebut Kepolisian Resor (polres) dan Kepolisian Resor Kota (Polresta). b. unsur pelaksana staf khusus dan pelayanan serta unsur pelaksana utama. Struktur Organisasi Polres Malang Organisasi Polres Malang disusun dalam komposisi yang tergabung dalam unsur pimpinan. Adapun struktur organisasi Polres Malang sesuai dengan keputusan kapolri No. 1. c. tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia diatur mulai di tingkat pusat sampai ke daerah adalah : a. Pol : / 54 / X / 2002 tanggal 17 oktober 2002 di jelaskan melalui bagan sebagai berikut : .

Bagan I. Struktur Organisasi Polres Malang KAPOLRES WAKAPOLRES BAG OPS BAG BINAMITRA BAG MIN UNIT P3D BAG BINA MITRA UR DOKKES TAUD SPK SAT INTEL KAM SAT RESK RIM SAT NAR KOB SAT SAMA PTA SAT PAM OPSU SAT LAN TAS POLSEK Sumber : Kantor Taud Polres Malang .

Unsur pelaksana staf khusus dan pelayanan : a. Unsur pimpinan a. Bagian Pembina kemitraan disingkat Bina mitra c. 3. dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut : a. Unsur pembantu pimpinan dan pelasana staf : a. Wakil kepala polres disingkat Waka Polres 2. Kepala polres disingkat Kapolres b. Bagian administrasi disingkat Bagmin. Unit pelaksanaan dan pengaduan dan penegakan disiplin disingkat Unit P3D . Bagian operasi disingkat Bagops b. Pol : Kep / 54 / X / 2002 tanggal 17 Oktober tentang Organisasi tata kerja kepolisian Negara republik Indonesia. Kedudukan Tugas Dan Fungsi Lebih lanjut penjelasan yang dituangkan pada lampiran C keputusan Kapolri No. Tingkat Markas Kepolisisn Negara Rerublik Indonesia resor disingkat Mapolres terdiri dari : 1. Unsur telekomunikasi dan informatika disingkat Ur Telematika b. gambaran umum tentang diskripsi organisasi polri setingkat polres termasuk Polres Malang.2.

adalah kepolisian Negara Republik Indonesia Sektor. 2. Tata usaha dan urusan dalam disingkat Taud. Satuan lalu lintas disingkat satlantas. b. Kapolres bertugas memimpin. disingkat Polsek.c. 4. c. b. Pada unsur pelaksanaan Staf Khusus dan pelayanan urusan kedokteran dan kesehatan disingkat Urdokkes. Pada wilayah tertentu susunan organisasi polres dapat dikembangkan dengan pembentukan satuan fungsi sebagai berikut : 1. Satuan reserse kriminal di singkat satreskrim d. Pada unsur pelaksan Utama : a. Unsur pelaksana Utama : a. Satuan narkotika dan obat berbahaya lainnya disingkat Sat Narkoba 3. Tugas Dan Tanggung Jawab a. Sentra pelayanan kepolisisn disingkat SPK. meminta dan mengawasi / mengendalikan satuan – satuan organisasi dalam lingkungan . Satuan intelejen keamanan disingkat Intelkam c. Unsur Pimpinan 1) Kapolres adalah pimpinan polres yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kapolda. Unsur pelaksana utama kewilayahan Polres.

2) Bag ops dipimpin oleh kepala Bag Ops disingkat Kabag Ops yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam Pelaksanaan tugas sehari – hari di bawah kendali Waka Polres.Kepala Sub Pembinaan operasional Kassubag binops. Unsur pembantu Pimpinan dan Pelaksanaan Staf 1) Bag Ops adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksanaan staf polres yang berada di bawah Kapolres.Polres serta memberikan saran pertimbangan dan melaksanakan tugas lain sesuai dengan perintah Kapolda. Wakapolres bertugas membantu kapolres dalam melaksasnakan tugasnya dengan mengendalikan pelaksanaan tugas – tugas staf seluruh satuan organisasi dalam jajaran Polres. dan dalam batas kewenanganya memimpin Polres dalam hal berhalangan serta melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolres. Dalam melaksanakan tugas kabagops dibantu oleh . . perencanaan dan pengendalian operasi Kepolisian Pelayanan fasilitas dan perawatan dan pelayanan atau permintan perlidungan saksi / korban kejahatan dan permintaan pengamanan proses peradilan dan pengamanan kasus lainya. 2) Waka Polres adalah pembantu utama kapolres yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kapolres. b. Bag Ops bertugas menyelenggarakan administrasi dan pengawasan operasional.

pengembangan pengamanan swakarsa dan pembinaan hubungan Polri masyarakat yang kondusif bagi pelaksanaan tugas Polri. Bertugas menyelenggarakan penyusunan rencana / program dan anggaran.Kepala Sub bagian Perawatan tahanan disingkat Kasubag Wattah 3) Bag bina mitra adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksanaan staf Polres yang berada di bawah Kapolres. pembinaan dan administrasi personil. pelatihan serta pembinaan dan administrasi logistic. Dalam melaksanakan tugasnya Kabag Min dibantu oleh : . dalam rangka peningkatan kesadaran dan ketaatan warga masyarakat pada hukum dan peraturan perundang – undangan. Dipimpin oleh kabag min yang bertaggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari – hari dibawah kendali Waka Polres. Bag Bina Mitra dipimpin oleh Kabag Bina Mitra yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari – hari dibawah kendali Waka Polres.. Bag Bina Mitra bertugas mengatur penyelenggaraan dan mengawasi / mengarahkan pelaksanaan penyuluhan masyarakat dan pembinaan bentuk – bentuk pengamanan swakarsa oleh satuan – satuan fungsi yang berkompeten membina hubungan kerjasama dengan organisasi / lembaga / tokoh sosial / kemasyarakatan dan instansi pemerintah khususnya instansi Polsus / PPNS dan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi Daerah. 4) Bag Min adalah unsur pembantu pimpinan dan pelaksana staf Polres yang berada di bawah Kapolres.

Kepala Sub Bagian Perncanaan disingkat Kasubag Ren. Urtelematika dipimpin oleh Kepala Urtelematika disingkat Kaur Telematika yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dibawah kendali Waka Polres. . c.Kepala Sub Bagian Logistik disingkat Kasubag Log.Kepala Sub Bagian Pelatihan disingkat Kasubag Pel. termasuk pengamanan internal dalam rangka penegakkan dan pemuliaan profesi. . 2) Unit P3D adalah unsur pelaksanaan Staf Khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. . Unsur Pelaksanaan Staf Khusus dan Pelayanan 1) Urelematika adalah unsur pelaksana staf Khusus Polres yang berada di bawah Kapolres. Bertugas menyelenggarakan pelayanan pengaduan masyarakat tentang penyimpangan perlakuan tindakan anggota Polri dan pembinaan disiplin. 3) Ur Dokkers adalah unsur pelaksanaan staf khusus polres yang berada di bawah Kapolres yang pembentukannya ditetapkan dengan surat Keputusan kapolda setelah memperoleh persetujuan pejabat yang bertanggung jawab . pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi termasuk informasi kriminal an pelayanan multi media. tata tertib.. Unit ini dipimpin oleh Kepala Unit P3D disingkat Kanit P3D.Kepala Sub Bagian Personal disingkat Kasubag Pers. Bertugas menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi.

baik dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia maupun kerja sama dengan pihak lain. pelayanan permintan bantuan / peertolongan kepolisian. kearsipan. Unsur Pelaksana Utama 1) SPK adalah pelaksana utama polres yang terdiri dari tiga Unit dan disusun berdasarkan pertimbangan waktu (plug/shift) yang berada di bawah Kapolres. dalam bentuk penerimaan dan penanganan pertama laporan / pengaduan. dokumentasi. d. penyelenggaraan rapat. sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan / .dalam pembinaan organisasi Polri. ketatausahaan perkantoran. Ur dokkers bertugas menyelenggarakan fungsi kedokteran kepolisian dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas operasional Polri dan pelayanan kesehatan personil. apel / upacara dan ketertiban. SPK bertugas memberikan pelayanan kepolisian kepda masyarakat yang membutuhkan. Taud dipimpin kepala taud disingkat Kataud yang bertanggung jawab kepada Kapolres yang dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dibawah kendali Waka Polres. 4) Taud adalah Unsur pelayanan Polres yang berada dibawah Kapolres. Ur Dokkers dipimpi oleh kepala Ur Dokkers disingkat Kaur Dokkers yang bertanggung jawab kepada Kapolres yang dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dibawah kendali Waka Polres. penjagaan markas termasuk penjagaan tahanan dan pengamanan barang bukti yang berbeda di Mapolres dan penyelesaian perkara ringan / perselisihan antar warga. Taud bertugas melaksanakan ketatausahaan dan urusan meliputi korespondensi.

anak dan wanita serta menyelenggarkan fungsi identifikasi. senjata api dan bahan peledak.kebijakan dalam organisasi Polri. pengawasan operasional dan administrasi penyidikan PPNS. Bertugas menyelenggarakan / membina fungsi penyelidikan dan penyidik tindak pidana dengan memberikan pelayanan / perlindungan khusus kepada korban / pelaku remaja. kegiatan sosial / politik masyarakat dan surat keterangan rekaman kejahatan (SKRK / Crime Record) kepada warga masyarakat yang membutuhkan serta melakukan pengawasan / pengamanan atas pelaksanaanya. Sat Intelkam dipimpin oleh kepala Sat Intelkam disingkat Kasat Intelkam yang bertanggung Jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan tugas sehari – hari dibawah kendali Waka Polres. Sat Intelkam terdiri dari urusan administrasi dan ketatausahaan serta sejumlah unit. Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan serta sejumlah unit. Sat Reskrim dipimpin oleh Kepala Sat Reskrim disingkat Kasat Reskrim. 2) Sat Intelkam bertugas menyelenggarakan / membina fungsi intelejen bidang keamanan termasuk persediaan dan pemberian pelayanan dalam bentuk surat ijin / keterangan yang menyangkut orang asing. sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang – undangan. baik untuk kepentingan penyidikan maupun kepentingan umum dan penyelenggaran koordinasi. 3) Sat Reskrim adalah unsur pelaksana utama pada Polres yang berada dibawah kapolres. . Masing – masing Unit SPK dipimpin oleh Kepala SPK disingkat Ka SPK yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaa sehari – hari dibawah Kendali Kabag Ops.

serta sejumlah unit. disingkat Kasat Samapta. disingkat Kasat Narkoba. Sat Lantas dipimpin oleh Kepala Sat Lantas disingkat . pengaturan. 6) Sat Lantas adalah Unsur Utama Polres yang berada dibawah Kapolres. Sat Samapta terdiri dari Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan. satuan setingkat kompi atau peleton pengendalian masa.4) Sat Narkoba adalah unsur pelaksana pada Polres. Sat Narkoba bertugas menyelenggarakan / membina fungsi penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotik dan obat berbahaya (narkoba). patrol. pengendalian masa dan pemberdayaan bentuk – bentuk pengamanan swakarsa masyarakat dalam rangka pemeliharaan dan ketertiban masyarakat. termsuk penyuluhan dan pembinaan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba. ketertiban dan kelancaran lalu lintas. penyidikan kecelakaan lalu lintas dan penegakkan hukum dalam bidang lalu lintas guna memelihara keamanan. yang merupakan pemekaran dari Sat Reskrim yang dibawah Kapolres. pengawalan. Sat Narkoba terdiri dari Sat Reskrim terdiri dari urusan administrasi ketatausahaan serta sejumlah unit. pendidikan pengemudi / kendaraan bermotor. Sat Samapta dipimpin oleh Kepala Sat Samapta. Sat Narkoba dipimpin oleh Kepala Sat Narkoba. 5) Sat Samapta bertugas menyelenggarakan / membina fungsi kesempatan kepolisian / tugas polisi umum dan pengamanan obyek khusus termasuk pengembalian tindakan pertama di tempat kejadian perkara dan penanganan tindak pidana ringan. Bertugas menyelenggaraan / membina fungsi lalu lintas Kepolisian yang meliputi penjagaan.

Sat Lantas terdiri dari urusan administrasi dan ketatusahaan serta sejumlah unit. Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Struktur Organisasi Reskrim Polres Malang .hari di bawah kendali Waka Polres. Separti dalam bagan dibawah ini : Bagan II. yang bertanggung jawab kepada Kapolres dan dalam pelaksanaan sehari . Satuan Reskrim bertugas melakukan penyidikan terhadap tindak pidana yang terjadi di seluruh wilayah Polres Malang. Polres Malang mempunyai satuan yang salah satunya adalah Reskrim. Untuk kelancaran dalam melaksanakan tugas dan fungsinya satuan Reskrim dibantu oleh beberapa unit.Kasat Lantas.

. menangani masalah yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap kendaraan bermotor. b. c. menangani masalah yang berkaitan dengan tindak pidana yang bersifat umum. Unit I : Unit Ranmor ( Kendaraan bermotor ). Unit III : Unit Harda ( Harta Benda ). Unit II : Unit Resum ( Reserse Umum ).KASAT RESKRIM KAUR BIN OPS PAUR YANMIN PAUR IDENT BAHTATI BANUM UNIT SIDIK I UNIT SIDIK II UNIT SIDIK III UNIT SIDIK IV RPK UNIT OPSNAL V UNIT OPSNAL Sumber : Bag min Reskrim Polres Malang a. menangani masalah yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap harta benda.

Kedua tindak pidana ini mempunyai hubungan yang erat dikarenakan keduanya merupakan bentuk pidana yang satu sama lain membutuhkan.d. Tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua yang tinggi mengakibatkan timbulnya praktik – praktik penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian. Hal ini sangat berkaitan erat. Unit Opsnal V : Bertugas menyelenggarakan pengawasan operasional dan administrasi Reskrim. f. yang timbul kemudian adalah bagaimana hasil pencurian tersebut dapat menghasilkan materi. B. menangani masalah yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap perjudian dan kesusilaan. RPK : Ruang Pelayanan Khusus. Unit Opsnal VI : Bertugas melakukan Perencanaan dan pengendalian operasi dan permintan perlidungan saksi / korban kejahatan. dimana pelaku tindak pidana pencurian kerap kali menjual barang curian mereka kepada pihak kedua yang disebut sebagai penadah. Ketika pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua melakukan tindakannya. menangani masalah – masalah tindak pidana yang berkaitan dengan perempuan dan anak – anak. e. Dari data yang didapat tiap tahunnya tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua di wilayah hukum Polres Malang sangatlah tinggi (Tabel 2). g. Unit III : Unit Judisusila ( perjudian dan kesusilaan ). Realita Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Hasil Pencurian Tindak pidana penadahan kendaraan bermotor merupakan bentuk tindak pidana yang muncul akibat adanya tindak pidana pencurian. Disisi lain pihak penadah juga memanfaatkan .

pedagang. pegawai negri serta mahasiswa. Dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum masyarakat lebih cenderung memilih kendaraan pribadi roda dua. Pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua sangatlah rawan terjadi.hal itu dengan membeli barang hasil pencurian tersebut dengan harga yang murah untuk kemudian di jual kembali dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang diiginkan. yang mampu merambah kesemua kalangan di masyarakat mulai pekerja perkantoran. Selain faktor efisiensi dengan menggunakan kendaraan roda dua masyarkat lebih sedikit menggeluarkan uang hanya sekedar untuk kebutuhan transportasi untuk melakukan kegiatannya sehari hari. Beranjak dari kebutuhan akan alat transportasi itulah masyarakat semakin konsumtif untuk memilki atau membeli kendaraan bermotor khususnya roda dua. Selain itu saat ini semakin maraknya lembaga pembiayaan yang memberikan uang muka rendah untuk memperoleh motor baru dengan cara mengkredit. Dari data yang diperoleh oleh peneliti menyebutkan bahwa setiap tahunnya tingkat pembelian sepeda motor dengan cara mengkredit mengalami peningkatan bisa kita lihat dari tabel berikut : . Hal ini sangat realistis mengingat pada saat ini sangat dituntut untuk selalu tepat waktu dalam melakukan setiap aktifitas. Selain itu alat transportasi ini sangat efisien untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekarang. hal ini disebabkan karena semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan roda dua sebagai sarana bagi merka untuk melakukan segala aktifitasnya. hal itu menambah minat masyarakat untuk semakin ingin memilki kemudian membeli kendaraan roda dua.

Pada tahun 2005 banyaknya orang yang membeli sepeda motor adalah sebanyak 545 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer motor tersebut pada tahun 2005 sebanyak 600 unit. diolah Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa secara garis besar dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. 2008. Tabel penjualan sepeda motor di wilayah Kabupaten Malang Tahun Jumlah sepeda motor Keterangan Cash ( lgsg Melalui lembaga Di dealer ) pembiayaan 80 465 96 87 578 630 2005 2006 2007 600 unit 700 unit 800 unit Sumber data : Panji Motor Kepanjen.Tabel 1 . terjadi sebuah peningkatan penjualan yang berakibat semakin banyaknya masyarakat khususnya di wilayah hukum Polres Malang yang mempunyai kendaraan pribadi roda dua. sepeda motor dibeli dengan cara kontan (80 . Dengan segala kemudahannya para masyarakat dapat memiliki sepeda motor baru dengan cara cash atau mengkredit. Dari tahun 2005 hingga 2007 tingkat pembelian masyarakat mengalami suatu peningkatan. Hal ini terjadi karena saat ini banyak dealer sepeda motor yang bekerja sama dengan lembaga pembiayaan (PT Adira Multi Dinamika Finance) bertujuan agar masyarakat mendapat kemudahan untuk membeli sepeda motor.

dengan keterangan 87 unit dibeli dengan cara kontak melalui dealer dan 700 unit dibeli dengan cara mengkredit melalui lembaga pembiayaan. Selain masalah keruwetan lalu lintas. pencurian terhadap kendaraan bermotor terjadi karena memang adanya kesempatan bagi para pelaku kejahatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kanit Sidik I AIPTU Sutiyo S.unit) atau cash serta dibeli dengan melalui lembaga pembiayaan sebanyak 465. Disatu sisi hal ini sangat menggembirakan bagi masyarakat tapi disisi lain juga memunculkan suatu masalah baru yang mungkin tidak disadari oleh masayarakat. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap keamanan lingkungan serta kecerobohan . dengan keterangan 96 unit dibeli dengan cara kontak melalui dealer dan 578 unit dibeli dengan cara mengkredit melalui lembaga pembiayaan.H disamping hal tersebut diatas. khususnya roda dua. Diawali dengan terjadinya suatu tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang kemudian menimbulkan kejahatan lain yaitu penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian tersebut. Kemudian pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2006 jumlah masyarakat yang membeli kendaraan bermotor roda dua meningkat yaitu sebanyak 674 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer pada tahun 2006 sebanyak 700 unit. kecelakan lalu lintas dan masalah yang paling buruk terjadi adalah semakin terbukanya peluang bagi pelaku – pelaku tindak kenjahatan terhadap kendaraan bermotor. polusi akibat asap knalpot. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah masyarakat yang membeli kendaraan bermotor roda dua meningkat yaitu sebanyak 787 unit sepeda motor dari jumlah sepeda motor yang tersedia di dealer pada tahun 2007 sebanyak 800 unit.

artinya adalah bahwa pelanggaran atau kejahatan terjadi karena adanya kelemahan – kelemahan dalam mekanisme pengawasan ( yang konsekuen ). Hal 10. dimana dapat kita lihat di tabel berikut Tabel 2 : Tindak Pidana Pencurian Kendaraan Bermotor roda dua di wilayah hukum Polres Malang Tahun TINDAK PIDANA PENCURIAN KENDRAAN BERMOTOR Laporan Selesai 59 44 72 52 68 60 75 59 79 57 86 68 94 71 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 (hingga bulan juli) Jumlah 533 411 Sumber data sekunder : Bagian adminstrasi Reskrim Polres Malang. tahun 2008 Jika dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi didalam wilayah hukum Polres Malang mengenai tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua sangatlah mungkin bila di kawasan Polres Malang juga banyak terjadi Wawancara dengan bapak Sutiyo S. Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial. 55 Dari data yang ada jumlah pencurian kendaraan bermotor di wilayah hukum Polres Malang tiap tahunnya menunjukkan angka yang sangat signifikan. Alumni. Jakarta. 54 Terjadinya perbuatan melanggar hukum semacam ini secara sosiologis terjadi diantaranya karena adanya kesempatan atau peluang. Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang. 55 54 .masyarakat sendiri. tanggal Soerjono Soekanto. Pengawasan yang setengah – setengah malah memberikan petunjuk mengenai adanya peluang – peluang tertentu untuk melakukan pelanggaran atau kejahatan. 1982.H.

praktik – praktik penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian ini. Dalam kenyataan yang terjadi tingkat tindak pidana penadahan yang terjadi dalam wilayah hukum Polres Malang dapat kita lihat di tabel berikut : . Secara umum bisa disimpulkan bahwa semakin tingginya tingkat pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua ini maka mempengaruhi pula kepada tingginya tingkat tindak pidana penadahan. dari 533 kasus tersebut telah ditangani dan diselesaikan oleh Polres Malang sebanyak 411 kasus. Jika mengacu dari data diatas dapat dianalisa bahwa rata – rata terjadi 76 kasus tindak pidana pencurian kendaraan bermotor tiap tahunnya dengan jumlah penanganan kasus hingga selesai sebanyak 58 kasus tiap tahunnya. dapat danalisa dan ditealaah lebih jauh bahwa hal tersebut dapat mengakibatkan atau menimbulkan efek yang secara tidak langsung kepada terjadinya praktek – praktek tindak pidana lain yaitu tindak pidana penadahan. Dari tingginya jumlah pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua yang terjadi dalam kurun waktu 6 tahun tersebut. Jika dilihat dari data diatas dalam kurun waktu 6 (enam) tahun yaitu periode tahun 2002 hingga 2008 telah terjadi 533 kasus mengenai tindak pidana pencurian kendaraan bermotor khususnya roda dua.

Bisa kita lihat dalam kurun waktu 6 (enam) tahun terakhir telah terjadi 75 kasus penadahan kendaraan bermotor yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang. Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bernotor Roda Dua Di Wilayah Hukum Polres Malang TAHUN 2002 2003 2004 2005 2006 2007 JUMLAH PENADAHAN KENDARAAN BERMOTOR LAPORAN SELESAI 6 4 8 8 13 16 6 4 5 3 9 12 2008 (hingga 20 19 bln juli) Jumlah 75 58 Sumber data sekunder : Bagian adminstrasi Reskrim Polres Malang. mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dari jumlah kasus di tahun 2002 sebanyak 6 (enam) kasus turun menjadi 4 (empat) kasus saja yang terjadi dalam satu tahun dan semua kasus itu juga selesai ditangani. jumlah penadahan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 8 (delapan) kasus pada tahun 2004.Tabel 3. Pada tahun 2002 telah terjadi 6 (enam) kasus penadahan dan kasus tersebut bisa ditangani sampai selesai. tahun 2008 Dari tabel tersebut secara umum yang terjadi adalah bahwa setiap tahunnya tindak pidana penadahan ini mengalami peningkatan. Begitu juga pada tahun 2003. Berikutnya adalah tahun 2004. Begitu . Bila kita telaah pada periode tahun 2002 hingga periode tahun 2005 tingkat penadahan tidak begitu mengalami peningkatan yang signifikan.

Kemudia pada tahun 2007 terjadi 16 kasus penadahan dalam kurun waktu 1 tahun. Dari data yang ada tersebut peneliti mencoba mengkaji bahwa tingkat penadahan terjadi seiriing dengan semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor yang mengakibatkan tingginya pula tingkat pencurian kendaraan bermotor. Menginjak pada periode 2006 . Sebaliknya apabila kurangnya objek atau bahkan tidak adanya objek . Pada tahun 2006 telah terjadi 13 kasus penadahan dalam 1 tahun. Dari hal tersebut dapat kita analisa bahwa semakin banyaknya objek bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yaitu khusunya roda dua maka semakin terbuka pula peluang mereka untuk dapat memperoleh kendaraan bermotor roda dua dengan melakukan pencurian. Jumalah paling banyak adalah pada tahun 2008 yang hingga bulan Juli telah terjadi 20 kasus.pula dengan tahun 2005 yang juga terjadi adalah sebanyak 8 (delapan) kasus penadahan.2008 jumlah atau tingkat tindak pidana kendaraan bermotor ini mengalami penigkatan yang sangat tajam dibandingkan dengan periode tahun 2002 – 2005. Jika di rata – rata tiap tahunnya telah terjadi peningkatan sejumlah 15 % dari jumlah kasus yang terjadi. Tanpa disadari oleh masyarakat bahwa semakin banyaknya masyarakat yang memiliki kendaraan bermotor khususnya roda dua dan kurangnya kewaspadaan masyarakat dapat menimbulkan akibat lain. Jadi sekitar 10 kasus tindak pindana penadahan terjadi tiap satu tahunnya. yaitu semakin terbukanya peluang bagi para pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor untuk melakukan tindak pidana pencuriaan. Jika kita lihat pada periode tahun 2006 hingga 2008 sampai bulan juli saja tiap tahun mengalami peningkatan.

menggadaikannya kepada pihak kedua yang kemudian disebut penadah yang mana pelaku penadahan tidak tahu dari mana asal sepeda motor tersebut apakah dari pencurian atau bukan. Penadahan yang timbul dari pihak pelaku pencurian kendaraan bermotor. yaitu : 1.tersebut maka pelaku tindak pidana pencurian kendaraan bermotor sendiri tidak akan bisa melakukan tindakannya. C. Jika dilihat dari rangkaian modus – modus atau cara – cara yang dilakukan oleh pelaku kejahatan pencurian. menjual. melainkan timbulnya dari pelaku pencurian itu sendiri yang menawarkan. Jika dianalisa dari modus operandi seperti ini ada indikasi bahwa seharusnya apa yang dilakukan oleh pihak kedua selaku pembeli sepeda motor penadahan kendaraan . Modus – Modus Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Berawal dari tingginya pencurian tersebut kemudian berakibat kepada munculnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Dalam hal ini bahwa tindak pidana penadahan ini timbul bukan karena kehendak atau semata – mata ada niat dari pelaku penadahan. Para pelaku pancurian kendaraan bermotor setelah mereka melakukan pencurian mereka selalu menjual hasil kejahatannya tersebut kepada pihak lain guna memperoleh keuntungan materi dari hasil pencurian tersebut. hingga kemudian muncul tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Yang dimaksudkan adalah tingginya tingkat pencurian kendaraan mengakibatka kepada timbulnya tindak pidana penadahan. maka terdapat dua bentuk terjadinya suatu bermotor.

H. Dengan begitu pihak yang membeli motor tersebut tidak akan curiga kepada pelaku dengan menanyakan dari mana asal motor tersebut apakah hasil pencurian atau bukan. Akan tetapi hal ini bisa di dikenakan Pasal 480 KUHP dikarenakan pada ketentuan pasal tersebut disebutkan bahwa “sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari kejahatan”. tanggal 17 Juli 2008.tersebut adalah sebagai korban dan bukan murni sebagai penadah kendaraan bermotor hasil pencurian. sebagai gantinya ia menjaminkan motor tersebut untuk kemudian mendapatkan pinjaman uang dari pihak kedua. kemudian karena kebutuhan ekonomi pelaku menjualnya. Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang. Modus – modusnya adalah sebagai berikut : 56 1) Mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil pembelian dari dealer motor. Dalam hal ini pihak kedua selaku pembeli sepeda motor tersebut juga merupakan pihak yang seharusnya menduga bahwa sepeda motor tersebut adalah merupakan hasil dari kejahatan. . 56 Wawancara dengan bapak Sutiyo S. 2) Mengatakan kepada pihak kedua (pelaku penadah) bahwa dia (pelaku pencurian) membutuhkan uang. Pelaku pencurian tersebut tidak mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil kejahatan melainkan merupakan motor miliknya sendiri. Untuk meyakinkan kepada pihak kedua sebagai penerima motor hasil pencurian tersebut pelaku memberikan janji bahwa dalam kurun waktu tertentu yaitu antara 1 sampai 2 minggu uang tersebut akan dilunasi untuk kemudian mengambil motornya kembali.

3) Menjual langsung kepada pihak kedua yang berminat dengan motor hasil pencurian tersebut. Dalam hal ini pihak kedua sebagai pembeli tidak tahu bahwa motor tersebut adalah merupakan hasil pencurian. Solikin (24 tahun) dan H. Kasus penadahan kendaraan bermotor ini terjadi di desa Ampel gading Kabupaten Malang. Awal mula kejadian. Dalam melakukan modus seperti ini pelaku menjual kepada pembeli dengan cara – cara yang tidak sewajarnya sebagai sebuah transaksi jual beli. Kap 21/ XI / 2007/ Reskrim. Ketika di perjalanan pelaku menemui seseorang yang berada di pinggir jalan ia langsung menawari orang tersebut motor hasil pencuriannya dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga di pasaran. Manap (36 tahun) keduanya warga Dusun Lokjati Desa Baturetno serta Harmono (29 tahun) warga dusun Bodean Patuk desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang. Selain dengan cara tersebut biasanya pelaku menjual motor hasil curiannya tersebut pada saat malam hari. menurut penuturan pelaku yang berjumlah 4 orang yaitu Suradi (21 tahun) warga Desa Toyomarto. Pada penelitian ini peneliti mencontohkan seperti kasus yang terjadi sesuai dengan berkas pemeriksaan menganai tindak pidana penadahan kendaraan bermotor denagan NO : POL/SP. Hal tersebut dilakukan di pinggir jalan yaitu pada saat pelaku berhasil mencuri dan membawa lari motor hasil curian tersebut. Mereka menuturkan bahwa sepeda motor hasil curian mereka tersebut dijual kepada penadah yang awlanya tidak disebutkan oleh para . Kasus ini merupakan pengembangan dari kasus pencurian yang terjadi di Dusun Wendit. desa Mangliawan Kecamatan Pakis Kabupaten Malang.

Tersangka solikin menjualnya kepada Buari karena terdesak kebutuhan ekonomi. dia akhirnya menggungkapkan bahwa sepeda motor itu adalah sepeda motor yang dibeli dari tersangka Solikin 3 (tiga) hari sebelumnya. selain itu tersangka juga berjanji akan melunasi sisa cicilan tersebut ke dealer dari hasil penjualan motor tersebut tanpa harus membebani tersangka penadah Buari. yaitu pelaku pencurian sepeda motor tersebut menjual kepada pihak kedua dengan mengatakan bahwa motor tersebut adalah merupakan pembelian dari . Dilihat dari contoh kasus tersebut penadahan yang dilakukan oleh tersangka Buari adalah merupakan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor sesuai dengan modus yang terpapar di awal yaitu modus penadahan pada angka 1 (satu). dengan menyisahkan 1 (satu) kali cicilan lagi. Mendapat tawaran yang semcam itu dari tersangka Solikin tersebut selanjutnya tersangka penadah Buari mau membeli sepeda motor tersebut. Pada saat itu tersangka Buari mengelak ditangkap oleh Polisi karena ia tidak merasa bahwa telah melakukan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Pada saat dilakukan penangkapan polisi menemukan sepeda motor hasil pencurian tersebut masih dalam kondisi yang bagus dan tanpa ada perubahan pada fisik sepeda motor tersebut. Pada saat menjualnya tersangka Solikin mengatakan bahwa motor hasil curian tersebut adalah motor yang dibelinya dari dealer secara kredit.tersangka. Pada mulanya ia mengelak bahwa ia membeli sepeda motor hasil pencurian tapi pada saat tersangka penadah Buari ditemukan dengan salah satu tersangka pencurian yaitu Solikin yang selaku penjual kepada Buari. dimana lokasi penadah tersebut adalah di desa Ampel Gading dengan tersangka penadah yaitu Buari.

) Membeli : Tersangka Bari didatangi oleh Solikin selaku tersangka pencurian sepeda motor di rumahnya yang menawarkan sepeda motor kepadanya.) Yang sepatutnya dapat diduga bahwa benda itu diperoleh dari hasil kejahatan : tersangka Buari seharusnya bisa lebih teliti dan bisa menduga bahwa sepeda motor tersebut adalah merupakan hasil kejahatan karena tersangka tidak dapat memberikan kelengkapan surat – surat kepemilikan . Bila dikaitkan dengan pasal yang terdapat pada Kitab Undang. b. pekerjaan buruh tani.4 juta c. d. umur 52 tahun. 16 april 1956. lahir di Dampit. dengan alasan karena kebutuhan ekonomi dan tawaran yang sangat menggiurkan dari Solikin kemudian tersangka membeli sepeda motor dari tersangka pencuriaan sepeda motor yaitu Solikin pada hari rabu tanggal 14 maret 2008 dengan harga yang Rp 5. dan dengan dalih terdesak kebutuhan ekonomi ia menjualnya ke pihak kedua selaku penadah.undang Hukum Pidana kasus yang terjadi tersebut adalah merupakan kasus penadahan yang termasuk dalam pasal 480 ayat 1. Kabupaten Malang. Jika dianalisa secara yuridis kasus tersebut dapat dianalisa sesuai dengan Pasal 480 ayat 1 KUHP karena terpenuhinya unsur – unsur sesuai dengan yang terdapat pada pasal tersebut sebagai berikut : a. kecamatan Ampelgading.dealer.) Sesuatu benda : Tersangka membeli sebuah sepeda motor Honda Supra dari tersangka Solikin.) Barang Siapa : Tersangka Buari. alamat Dusun gunung kelop.

H. menyewakan. Yang dimaksud adalah bahwa tindak pidana penadahan kendaraan ini muncul akibat dari penadah yang memang mempunyai niat untuk menadah kendaraan bermotor hasil pencurian. mengingat pada pasal tersebut menyebutkan bahwa tindak pidana penadahan dapat disangkakan kepada seseorang yang melakukan tindakan pembelian. 57 Jika dihubungkan dengan aturan yang ada yaitu Pasal 480 ayat 1 dan 2 KUHP dengan fakta yang terjadi dilapangan kesadaran hukum masyarakat memang sangat diperlukan. . Secara garis besar faktor yang sering terjadi dilapangan adalah bahwa tingkat kesadaran hukum terhadap masalah penadahan ini juga kurang dipahami betul oleh masyarakat. menerima gadai. menukarkan. 2. tanggal 17 Juli 2008. menyembunyikan suatu benda yang diketahuinya atau sepatutnya adalah merupakan hasil dari sebuah kejahatan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang AIPTU Sutiyo S. menawarkan. Masyarakat kurang waspada pada saat melakukan pembelian terhadap suatu benda dalam hal ini adalah kendaraan bermotor roda dua. menjual. menerima hadiah atau mengambila keuntungan. menggadaikan. Berkaitan dengan ini pasal yang berlaku adalah 57 Wawancara dengan bapak Sutiyo S. untuk kemudian memperoleh keuntungan dengan menjualnya kepada orang lain. mengangkut.H. meskipun dengan alasan bahwa BPKB belum dapat diambil dari dealer sebab masih menyisahkan 1 (satu) kali angsuran lagi. Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang. Masyarakat hanya berpikir sesaat saja.sepeda motor tersebut. Tindak penadahan yang memang timbul dari pelaku penadahan sendiri.

Modus yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1) Pihak kedua selaku penadah kendaraan bermotor memang sengaja memberikan sejumlah uang kepada pihak pertama selaku pencuri kendaraan bermotor.Pasal 481 KUHP yaitu penadahan sebagai kebiasaan. Biasanya motor yang dipesan oleh penadah kepada pencuri berharga murah yaitu motor dengan haraga dipasaran sekitar 8 – 10 jutaan mereka beli dari pencuri dengan harga 1 juta hingga 2 juta rupiah kemudian dijual dengan harga diatas harga pembelian tersebut yaitu antara 2 juta hingga 3 juta rupiah. Penadah menyuruh pihak pertama selaku pancuri kendaraan bermotor untuk mencarikan atau dengan kata lain memesan motor dengan merek – merek tertentu dengan cara mencuri untuk kemudian ditadah dengan tujuan untuk mencari keuntungan. Cara yang digunakan oleh penadah untuk mencari keuntungan tersebut adalah dengan cara : a) Mempreteli motor hasil curian tersebut untuk dijual secara terpisah b) Mempreteli serta merubah nomer rangka dan nomer mesin kemudian dirangkai untuk membuat sebuah motor baru dengan bentuk fisik yang baru dengan nomer rangka dan nomer mesin palsu. dimana pembayaran uang tersebut adalah dengan cara penadah pertama kali memberikan setengah dari jumlah uang yang sudah disepakati antara penadah dengan pencuri kemudian setelah pencuri berhasil mencuri kemudian menyerahkan motor hasil curian tersebut maka penadah meberikan sisa uang yang sudah disepakati. .

2. Upaya Polres Malang dalam menanggulangi Tindak Pidana Penadahan Kendaraan Bermotor Tingginya tingkat penadahan kendaraan bermotor yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang tersebut ditanggapi dengan adanya upaya – upaya yang dilakukan oleh jajaran Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Upaya preventif atau upaya pencegahan yaitu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu tindak pidana penadahan kendaraan bernotor khusunya roda dua. maka yang termasuk dalam pasal – pasal tersebut adalah : 1. Upaya Preventif ( pencegahan ). menindak lanjutinya dengan melakukan upaya – upaya meliputi : 1. Jika dikaitkan dengan Pasal 481.Dari modus – modus yang sudah dipaparkan tersebut diatas dapat dianlisa dengan mengaitkannya sesuai dengan pasal yang ada pada Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP) yaitu Pasal 480 dan Pasal 481 tentang tindak pidana penadahan. maka yang termasuk penadahan sebagai kebiasaan adalah penadahan yang memang timbul dari pelaku penadahan sendiri. D. Hal ini sesuai dengan UU No 2 tahun 2002 pasal 13 dan 14 Berdasar dari hal tersebut kepolisian Resor Malang. Jika dikaitkan dengan Pasal 480 ayat 1 dan 2 KUHP maka yang termasuk penadahan biasa adalah penadahan yang timbul dari pihak pelaku pencurian kendaraan bermotor. Hal ini dilakukan oleh Babinkantibmas. .

Memberikan penerangan kepada masyarakat apabila terjadi tindak pidana pencurian kendaraan bermotor masyarakat dihimbau untuk segera melaporkan bahwa telah terjadi peristiwa pencurian. Hal ini bertujuan agar Polisi dapat dengan cepat ditangani dan ditindak lanjuti agar jangan sampai sepeda motor hasil curian tersebut jatuh ke penadah. selalu mengkunci rumah apabila ditinggal dan meninggalkan sepeda motor dirumahnya. Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang. yaitu dengan cara jangan membeli sepeda motor bekas kepada orang yang tidak dikenal sebelumnya.H. c. Meningkatkan kewaspadaan masyarkat untuk menghindari terjadinya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor khusunya roda dua. Hal itu bisa dilakukan di kantor samsat.Penanggulangan preventif atas tindak pidana penadahan kendaraan bermotor ini meliputi : 58 a. b. Memberikan penyuluhan atau himbauan kepada masyarakat akan pentingnya saling mejaga dan melindungi antar warga. 58 . diolah. Wawancara dengan bapak Sutiyo S. tanggal 17 Juli 2008. e. Mensosialisasikan kepada masyarakat akan pentingnya cek fisik sebelum membeli kendaraan roda dua. Meningkatkan langkah – langkah praktis dalam pengamanan diri dari hal – hal yang dapat menimbulkan suatu kejahatan dalam hal ini adalah tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang mempunyai dampak kepada timbulnya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. d. Bagi semua warga masyarkat agar selalu waspada bila memarkir kendaraan baik di rumah maupun di luar rumah.

Hal in mempunyai tujuan agar apa yang telah disosialisasikan oleh polisi dapat dijalankan oleh masyarakat. 2.f. Pendekatan kepada tokoh – tokoh masyarakat dan agama setempat agar terjalin suatu hubungan yang baik antara polisi dengan masyarakat. ketertiban hukum. Kamampuan membimbing dan menyuluh masyarakat tentang hal – hal yang berkaitan dengan masalah – masalah kesadaran hukum dan penegakan kamtibmas. ketertiban sosial dan keamanan. Kemampuan menertibkan masyarkat. . Dari upaya – upaya tersebut dapat dilihat bahwa perlu adanya suatu kerja sama yang baik antara Polisi dengan masyarakat. Kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat. terutama masalah – masalah penegakan hukum dan penegakan kamtibmas. Kemampuan memberi pelayanan dan bantuan kepada masayarkat tentnag hal – hal yang berkaitan dengan penyeleasian dengan penyesuaian perkara. 3. 4. Kemampuan mendidik dan melatih potensi – potensi kamtibmas. Kaitannya antara pentingnya polisi bekerja sama baik dengan masyarakat dalam menanggulangi kejahatan seperti ditulis oleh Kemal Darmawan bahwa anggota polisi yang mengemban tugas dan fungsi bimbingan masyarakat harus dibekali kemampuan antar lain : 1. tentang cara – cara melapor. manjadi saksi dan membantu polisi dalam tugas – tugas preventif dan penegakan hukum ( penyelidikan dan penyidikan ) 5.

59 . bencana dan pencemaran lingkungan serta dampak negatif dari suatu tindak pidana.H. Upaya represif tersebut meliputi : 59 1. Upaya yang pertama yang dilakukan adalah upaya penindakan berdasarkan laporan dari masyarakat atau keterangan dari pelaku pencurian yang tertangkap mengenai kemana pelaku pencurian tersebut menjual hasil curiannya. Dalam hal kerja sama antara Polri dengan masyarakat yang perlu ditekankan adalah menangani pembagian kerja yang jelas diantara polisi dan masyarakat. 2. Upaya ini dilakukan agar diperoleh bukti – bukti yang falid (sempurna) karena dimungkinkan bukti – bukti yang ada masih Wawancara dengan bapak Sutiyo S.6. Satuan Reserse melakukan upaya penindakan terhadap semua tindaka pidana termasuk tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. Masyarakat harus diberi penjelasan tentang sejauh mana masyarakat mempunyai wewenang untuk terlibat dalam pencegahan terjadinya tindak pidana penadahan. Kemampuan melakukan rehabilitasi dan resosialisasi terhadap penyandang masalah yang mempunyai kerawanan kamtibnas dan terhadap situasi yang rusak. tanggal 17 Juli 2008. diolah. Upaya represif ( penindakan ) Upaya repersif atau biasa dikenal dengan upaya penindakan oleh satuan reserse. hal ini tentunya untuk mencegah adanya reaksi yang berlebihan dari masyarakat seperti contohnya adalah main hakim sendiri yang dilakukan oleh masyarkat. Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang.

Pagelaran. Kring Gondanglegi. mendata tempat – tempat penjualan sepeda motor pretelan yang ada di kawasan hukum Polres Malang kemudian terjun langsung ke tempat – temapat tersebut. UKL tersebut ditempatkan di setiap ”Kring – kring” yang ada di wilayah Polres Malang. Gondanglegi. Berkaitan dengan masalah ini anggota Reserse melakukan tertutup yaitu dengan menggunakan pakaian biasa. Membentuk UKL ( Unit Kecil Lengkap ) yang terdiri dari anggota Reserse Polres Malang dimana setiap unit berjumlah 6 orang anggota Reserse. meliputi : Panjen. Sumber Manjing Wetan. Nagajum. Tirtoyudo. Pagak. Kring – kring tersebut anatara lain : Kring Kepanjen.utuh yang memudahkan penyidik dalam melakukan penaganan lebih lanjut. 2. Kring Dampit. Wonosari. Kalipare. Pujon. meliputi : Kasembon. Gedangan. Langkah yang diambil oleh anggota Reskrim Polres Malang yaitu. Pakishaji. Nagantang. . Kring adalah semacam daerah – daerah kecil dalam wilayah yang dekat mengingat Kabupaten Malang mempunyai wilayah yang luas. Kring Ngantang. maliputi : Dampit. Turen. Sumberpucung. Penyidik langsung menyikapi dengan langsung terjun ke tempat – tempat yang di sinyalir menjadi tempat – tempat yang digunakan oleh pelaku tindak pidana pencurian sebagai tempat menjual atau menadah hasil kejahannya. Kromengan. 3. meliputi : Bantur. Ampel Gading.

Kanit Sidik I Reskrim Polres Malang. . tanggal 17 Juli 2008. meliputi : Jabung. Singosari. Dengan begitu memudahkan Polisi untuk langsung menuju ke tempat residivis tersebut tinggal dimana hal itu sesuai dengan data yang ada sebelumnya yang telah dicatat oleh pihak Polres. Mendata daftar – daftar residivis terutama terutama penadahan kendaraan bermotor. sepeda motor hasil curian tersebut sudah sulit sekali dicari dan hal ini menyulitkan polisi untuk melakukan pembuktian apakah seseorang tersebut menadah atau tidak 60 Wawancara dengan bapak Sutiyo S. Kring lawang. Kendala yang dihadapi oleh Polres Malang adalah sebagai berikut : 60 1.- Kring Tumpang. meliputi : Lawang. Dari upaya – upaya tersebut diharapkan kedepannya Polres Malang dapat menanggulangi tingginya tingkat penadahan kendaraan bermotor khususnya roda dua hasil pencurian mengingat masih adanya tindak pidana penadahan kendaraan bermotor ini. Poncokusumo. Korban tidak segera melapor sepeda motor yang hilang. Tumpang. Polisi kesulitan mencari barang bukti dikarenakan ketika terjadi pencurian yang kemudian hasil curian tersebut dilempar ke penadah. Wajak. E. Dalam upaya menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bemotor khusunya roda dua di wilayah Polres Malang ini jajaran Polres Malang dihadapkan dengan kendala – kendala.H. 4. Kendala yang dihadapi Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.

dikarenakan lamanya laporan yang diterima dari korban pencurian yang menimbulkan adanya waktu bagi penadah untuk segera minghilangkan barang bukti kejahatannya. Sehingga ia tidak dapat terbukti sebagai penadah. 4. Sepeda motor hasil curian yang kemudian dilempar kepenadah kemudian oleh penadah dibongkar dan dipisah – pisah kemudian chasisnya dibuang atau dikubur. 3. Dengan kata laian banyak bukti penadahan tetapi laporan kehilangan tidak ada. Terhadap sepeda motor asuransi biasanya korban tidak melapor karena sudah merasa diganti oleh pihak asuransi. Dijual keluar Jawa. sehingga menyulitkan pihak kepolisian dalam mengumpulkan bukti secara utuh. Hal ini menyulitkan sebab motor – motor tersebut tidak bisa digunakan sebagai bukti dikarenakantidak adanya laporan kehilangan. Kendala ini merupakan kendala yang paling sulit dihadapi oleh Polres Malang. Selain itu pada umumnya pelaku penadah merusak no mesin dn nomer rangka sepeda motor. Dalam penangkapan yang dilakukan polisi menemukan sejumlah sepeda motor hasil curian tapi ada juga sepeda motor yang disita sebagai barang bukti tersebut yang tidak bertuan dikarenakan tidak adanya laporan kehilangan. 2. hal ini dikarenakan jauhnya jarak yang harus ditemepuh dimana itu memerlukan biaya yang tidak sedikit. Sepeda yang sudah didapat dipreteli sehingga sulit dikenali lagi. Hal ini menimbulkan . Selain itu belum tentu barang bukti yang dicari tersebut masih utuh atau ditemukan.

pertanyaan apakah sepeda motor tersebut hasil pencurian yang kemudian ditadah atau sama sekali bukan hasil pencurian dan peadahan. .

modusnya adalah : a menjual kepada pihak kedua tanpa memberitahukan asal – usul sepeda motor tersebut. pihak penadah memberikan sejumlah uang kepada pelaku pencurian untuk memcarikan sepeda motor dengan merek – merek tertentu . dan yang kedua adalah penadahan yang timbul akibat adanya niat dari penadah yang memang berprofesi sebagai penadah. menjual langsung kepada pihak kedua pada saat bertemu di jalan setelah pelaku pencurian berhasil melakukan kejahatannya. Tidak pidana penadahan yang terjadi di wilayah hukum Polres Malang secara umum masih banyak terjadi. modusnya adalah : a. Ada dua modus timbulnya kejahatan penadahan ini yaitu yang pertama adalah penadahan yang timbul akibat pelaku pencurian yang kemudian memunculkan tindak pidana penadahan kendaraan bermotor. menggadaikan kepada pihak kedua yang kemudain sengaja tidak ditebus dimana kemudaian pihak kedua disebut sebagai penadah. c. b. Kesimpulan Dari beberapa uraian pada bab IV diatas maka dapat kita simpulakan sebagai berikut : 1.BAB V PENUTUP A.

. Menambah intensitas razia terhadap kendaraan bermotor khususnya roda dua yang dilakukan oleh Polri guna meminimalisir terjadinya penadahan kendaraan bermotor hasil pencurian.kendala yang dihadapai oleh Polres Malang dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor hasil curian ini adalah faktor dari barang bukti itu sendiri yaitu sepeda motor yang sudah ditadah tersebut tidak dalam keadaan yang sama saat kendaraan tersebut dicuri sehinnga menyulitkan polisi dalam mengusut keberadaan barang bukti tersebut. 2.2. B. Masyarakat harus lebih memahami akan pentingnya kewaspadaan apabila akan membeli sepeda motor bekas dari pihak lain. kendala. Masyarakat harus lebih waspada tehadap terjadinya tindak pidana pencurian kendaraan bermotor yang berakibat kepada timbulnya tindak pidana penadahan. 3. Dalam menanggulangi tindak pidana penadahan kendaraan bermotor khusunya roda dua ini pihak Polres Malang melakukan penanggulanganyang bersifat preventif (pencegahan) dan penanggulanganyang bersifat represif (penindakan) 3. Saran 1.

. Strategi Pencegahan Kejahatan. (Dading) Hukum Pidana Bagian Khusus (KUHP buku II). 1996 Harun M. Anwar. Bandung. Jakarta. 2003. Citra Aditya Bakati. Jogjakarta. 1984 Remelink Jan. Kejahatan Terhadap Harta Benda . Balai Pustaka. 2004 Bambang Sunggono. FH-UB. Rineka Cipta.A. 1989 Sadjijono. Mohammad Kemal Darmawan. Bandung. Laksbang. Malang. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indoesia.F lamintang. Gramedia. Rineka Cipta. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sinar Baru. Metode Penelitian Hukum (suatu pengantar). Jakarta. Jakarta. Hukum Kepolisian Prespektif Kedudukan dan Hubunganya Dalam Hukum Administratif.K Moch. Metodologi Penelitian Hukum dan Jumetri. Cipta Manunggal.A. 1991 H. Jakarta. Hukum Pidana. P. Bandung. Remadja karya. Penyidikan dan Penuntutan Dalam Proses Pidana. Sosiologi Kriminologi. Bandung. Sinar Baru. PT. 2002 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hukum Pidana I.Husein. Semarang. 1994.1989 Moeljatno. 1997. Bandung. Perilaku Organisasi Polri. Jakarta. Masruchin Ruba’I. Adami chazawi. 1987. malang. Ronny Hanintijo Soemitro. Bayumedia. Jakarta. Ghalia Indonesia. 1980 Kunarto.DAFTAR PUSTAKA Buku-buku : Abdulsyani. Asas-Asas Hukum Pidana. PT Raja Grafindo Persada. Alumni. Sosiologi Kriminalitas.2006 Soedjono Dirdjosiworo . 1984. 2002.

1984. 1975.J Poerwadarmita . Balai Pustaka. Dasar-Dasar Organisasi.com/http//hukum online.. Sumadi Surya Subrata. Sejarah Singkat Polri (www. Maling Kedungkandang Dibekuk.php?opstatistik2007 . Kebijaksanaan Pembangunan 2006 //www. 1982. Metodologi Penelitian. gunung aksara.hukum online. Suatu Tinjauan Sosiologi Hukum Terhadap Masalah-Masalah Sosial. Penanggulangan Kejahatan. Nasution. Sutarto. Jakarta. Bandung.go. Malang Post.1988 W. 1984.2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. Soerjono Soekanto. Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum. Jemmars. Alumni. S.com) Bappenas. Bandung. . Alumni.com/ tindak pidana penadahan. jakrta.polri. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Peraturan perundang-undangan : UU no. Metode Research Edisi Pertama. 1984. . . KUHAP (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana) KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) Penelusuran situs internet : Andi munawarman . UI (UI Press).id/index. hal 131. Ruang Lingkup Kriminologi . Bandung. Mandar Maju. 1989.google. Sinopsis Kriminologi Indonesia. 1986. Remadja Karya.google. 1992.com Tingkat Kejahatan tahun 2007 http://www. Jakarta. Bandung. Jakarta. Selasa 17 April 2007. 1994. Pengantar Penelitian Kriminologi. dikutip dalam http://www. Bandung.google.com Tindak pidana pencurian www. Remadja Karya. CV Rajawali. Jakarta.