P. 1
Laporan Kasus-tumor Serebri

Laporan Kasus-tumor Serebri

|Views: 1,705|Likes:
Published by Dian Vera W

More info:

Published by: Dian Vera W on Oct 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/03/2013

pdf

text

original

Laporan Kasus TUMOR SEREBRI

OLEH : Dian Vera Widiawaty H1A 005 014 PEMBIMBING : Dr. Bambang Priyanto. Sp. BS

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA DI LAB/SMF BEDAH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB 2011

Kasus
I. Identitas Pasien Nama Umur Jenis kelamin Alamat : Tn. A : 70 tahun : Laki - Laki : Ampenan

Status perkawinan : Menikah Pekerjaan MRS : Pensiunan PNS : 5 Agustus 2011

II. Anamnesis • • Keluhan utama : penurunan kesadaran Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD RSUP NTB dengan keluhan tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran sejak pagi tanggal 5 Agustus 2011. Keluarga pasien baru sadar bahwa pasien tidak sadarkan diri karena pasien tidak bisa dibangunkan pagi hari itu. Riwayat mual-muntah disangkal. Sebelumnya os mengeluh tidak bisa melihat sejak ± 5 bulan yang lalu. Pasien saat itu mengeluh tiba-tiba tidak dapat melihat sama sekali pada kedua mata. Penglihatan pasien sudah terganggu sejak beberapa tahun yang lalu dan sudah tidak dapat melihat sama sekali sejak 5 bulan yang lalu. Pasien kemudian disarankan untuk operasi katarak tetapi batal dioperasi dan hanya rawat di poliklinik. Pasien mengeluh nyeri kepala sebelah kanan seperti ditekan dan tidak menjalar, nyeri dirasakan hilang timbul pada waktu-waktu tidak tentu. Nyeri tidak dipengaruhi oleh aktifitas, posisi, dan makanan. Sakit kepala hilang setelah minum obat. Riwayat demam disangkal, riwayat kejang disangkal. Pasien mengeluh mengalami kelemahan pada anggota gerak sebelah kiri sejak ± 2 bulan yang lalu. Keluhan ini dimulai dengan lemah pada tangan kiri

kemudian kaki kiri. Akhirnya tangan dan kaki kiri pasien tidak bisa digerakkan sama sekali sejak 2 bulan yang lalu, sementara keluhan nyeri kepala sebelah kanan masih dirasakan hilang timbul. Pasien kemudian mendapatkan pemeriksaan CT-Scan dan didiagnosis menderita abses pada otak. Pasien disarankan untuk operasi tetapi keluarga menolak. Riwayat muntah (-), riwayat kejang (-), riwayat tidak bisa bicara (-), riwayat gangguan emosi (-). Pasien juga mengeluh batuk sejak seminggu yang lalu. Batuk terasa seperti ada dahak di tenggorokan tetapi tidak dapat keluar. Riwayat sesak nafas (-), nyeri dada (-), penurunan berat badan (-), nafsu makan baik. Riwayat trauma kepala (-), riwayat infeksi telinga (-), riwayat sinusitis (-). Pasien 3 hari yang lalu sudah menjalani operasi dengan diagnosis postoperasi tumor serebri. Saat ini pasien mengeluh masih sulit menggerakkan tangan dan kaki kiri, sedangkan keluhan nyeri kepala sudah tidak dikeluhkan lagi. Penglihatan pasien juga membaik. Keluhan batuk masih dirasakan dengan dahak berwarna putih, kental, darah (-). Keluhan sesak nafas (-), nyeri dada (-).

Riwayat Penyakit Dahulu :

Pasien sejak kecil mengalami sakit kepala sebelah kanan yang hilang timbul setiap beberapa minggu hingga beberapa bulan sekali setelah mengalami trauma di kepala. Riwayat HT (-), riwayat DM (-), riwayat asma (-), riwayat batuk darah (-),riwayat penyakit jantung (-). • Riwayat Penyakit Keluarga :

Tidak terdapat keluarga pasien yang mengalami hal serupa. Riwayat TB (-),riwayat HT (-), riwayat DM (-), riwayat asma (-), riwayat batuk darah (-),riwayat penyakit jantung (-). • Riwayat Alergi :

Pasien menyangkal adanya alergi terhadap obat atau makanan tertentu. • Riwayat pengobatan:

Pasien hampir setiap bulan kontrol ke dokter spesialis saraf untuk mendapatkan obat sakit kepala

visus OD 2/60 (bed side). III. Status present : Keadaan umum : Sedang GCS: E4V5M6 Tanda vital : Tekanan darah : 110/70 mmHg Nadi : 80 x/menit. terpasang drainage di regio parietal dekstra berisi cairan+darah jumlah ± 3cc. kuat angkat Pernafasan : 24 x/menit Suhu axilla : 36. kering. tidak terdapat pembesaran KGB. refleks pupil (+). deformitas (-).• Riwayat sosial dan kebiasaan: Pasien memiliki kebiasaan merokok sejak remaja. Kepala – Leher Kepala : Normochepali.7ᵒC b. Pasien dapat menghabiskan kirakira 2 bungkus rokok setiap hari. otot SCM tidak . 2. Pemeriksaan Fisik (tanggal 13/08/2011) a. teratur. arcus senilis (+). Thoraks – Kardiovaskuler THT : tidak ditemukan kelainan Leher : massa (-). sklera ikterus +/+. pus (-) Mata : Konjungtiva palpebra anemis -/-. luka operasi baik. pupil isokor. tanda radang pada kulit kepala (-). Pemeriksaan fisik umum : 1. perdarahan aktif (-). visus OS 2/60 (bed side) aktif.

Anal – perianal Anus (+). Palpasi : Teraba pergerakan dinding thorak simetris. batas kiri bawah pada ICS V midclavicular line. fokal premitus +/+. tidak teraba massa pada ke empat kuadran abdomen 4. tunggal. tidak tampak massa.S2. 5. wheezing -/-. Abdomen Inspeksi : kulit tampak normal. rhonki -/Jantung: S1. pembesaran KGB (-). mukosa anus tampak licin. Sela iga simetris. o o Auskultasi : Paru: vesikuler +/+. distensi (-). massa (-). scar (-). abses (-) . Perkusi : Paru : sonor pada daerah dinding thorak sinistra dan dekstra Jantung : pekak dengan batas kanan atas ICS II parasternalis dekstra. iktus kordis teraba pada ICS V midclavicular line. hepar dan lien tidak teraba. regular. batas kiri atas pada ICS II parasternalis sinistra. tampak pergerakan dinding thoraks simetris. scar (-). M (-). massa (-). G(-) 3. venektasi (-). Pelvic-inguinal Tidak tampak adanya massa. iktus kordis tidak tampak. batas hepar pada ICS VI sampai subcostalis dektra. Palpasi : nyeri tekan (-).- Inspeksi : venektasi (-). Auskultasi : bising usus (+) Normal Perkusi : timpani pada lapang abdomen.

Ekstrimitas bawah Edema -/-.XII: dalam batas normal Sensorik: Normal Motorik:  Reflex fisiologis: .Visus . Pembesaran KGB -/- 7.APR +/+  Reflex patologis: . Pemeriksaan neurologis • • GCS: E4V5M6 N. Ekstrimitas atas – Axilla Edema -/-.KPR +/+ .Gordon: -/. deformitas -/-.Scaefer: -/- . kranialis:   Nervus I (olfaktorius): dalam batas normal Nervus II (optikus): .Openheim: -/.6.Lapang pandang  • • OD 2/60 (bedsite) normal OS 2/60 (bedsite) normal Nervus III .Chadok: -/.Babinski: -/.biseps +/+ .triseps +/+ . deformitas -/- c.

tanda radang pada kulit kepala (-). Pemeriksaan neurologis Nervus kranialis I-XII: dalam batas normal Motorik: pergerakan ekstremitas superior dan inferior sinistra menurun. Keluhan batuk masih dirasakan dengan dahak berwarna putih. Anamnesis Laki – laki. sedangkan nyeri kepala sudah tidak dikeluhkan lagi. terpasang drainage di regio parietal dekstra. kental. berisi cairan+darah jumlah ± 3cc. kering. Pasien sejak ±5 bulan yang lalu mengalami gangguan penglihatan dan mengalami lemas anggota gerak sebelah kiri sejak ± 2 bulan yang lalu. Keluhan sesak nafas (-).• • Motorik Pergerakan Kekuatan Tonus otot Bentuk otot IV. b. Pasien sebelumnya sering mengeluh nyeri kepala yang terasa seperti ditekan. luka operasi baik. 70 tahun. c. Pasien sudah menjalani operasi 3 hari yang lalu dengan diagnosis post-operasi tumor serebri. nyeri dada (-). Pemeriksaan fisik Status lokalis: Kepala : Normochepali. darah (-). Saat ini pasien mengeluh masih sulit menggerakkan tangan dan kaki kiri. datang dengan penurunan kesadaran sejak pagi hari. hilang timbul sejak kecil. deformitas (-). Penglihatan pasien juga membaik. kekuatan otot: 2 Motorik Pergerakan Kekuatan Superior Dextra Sinistra N 5 2 Inferior Sinistra 2 Dextra N 5 . Resume Kaku kuduk: (-) Kernig’s sign: (-) Superior Dextra Sinistra N 5 2 N Hipotoni N N Dextra N 5 N N Inferior Sinistra 2 Hipotoni N a.

Problem post operasi a. Diagnosis Diagnosis klinis: penurunan kesadaran + hemiplegi sinistra + cephalgia + penurunan visus + batuk Diagnosis etiologi: Tumor serebri Diagnosis topis: intracranial supratentorial VI. Batuk berdahak c. Curiga suatu tumor metastase VII. Usulan pemeriksaan • • • Ct scan thorax USG abdomen Pemeriksaan PA tumor . Hemiparesis sinistra b.Tonus otot Bentuk otot N N Hipotoni N N N Hipotoni N V.

9 cm (tanda panah merah) dengan perifokal edema yang luas di occipital kanan.Hasil ct-scan kepala preoperasi: Gambar 1. Tampak massa hipodens bulat oval ukuran 3.5 x 3. .

Pada post kontras tampak ring enhancement. Deviasi sign midline ke kiri. Ventrikel lateralis kanan menyempit.Gambar 2. .

Hasil foto thorax: .

.

Tampak massa padat (radiopaque) pada paru kanan atas (tanda panah merah) VIII. keluhan Perbaikan penglihatan Motorik .Gambar 3. • Planning Rencana Terapi       •     IVFD D5 ½ NS 20 tpm Dexamethasone 1 A/8 jam Piracetam 3 g/8 jam Ceftriaxone 1 g/12 jam Ketorolac 3% / 8 jam Kutoin 100 g/ 8 jam Monitoring Kesadaran Vital sign.

 •     Status neurologis pasien Edukasi Diagnosis pasien Terapi yang diberikan Latihan mobilisasi sedikit demi sedikit Kontrol ke poli paru IX. Prognosis Dubia .

Di Indonesia data tentang tumor susunan saraf pusat belum dilaporkan. angka kejadian tumor otak adalah 2.8 Kira-kira 10% dari semua proses neoplasmatik di seluruh tubuh ditemukan pada susunan saraf dan selaputnya.4 per 100. 8% berlokasi diruang intrakranial dan 2% di ruang kanalis spinalis.000 anak. sedang menurut Bertelone. (3) adenoa hipofisis (13%). (4) neurilemoma (12%). Tumor ini lebih dikenal sebagai “neoplasma intrakranial” . tumor primer susunan saraf pusat dijumpai 10% dari seluruh penyakit neurologi yang ditemukan di Rumah Sakit Umum. Pada anak dibawah 16 tahun. Pada semua autopsi yang dilakukan oleh bernat & Vincent (1987) dijumpai 2% tumor otak. kecepatan pertumbuhan masa tumor dan cepatnya timbul gejala tekanan tinggi intrakranial serta efek dari masa tumor ke jaringan otak yang dapat menyebabkan kompresi. membentuk massa dalam ruang tengkorak kepala (intrakranial) atau di sumsum tulang belakang (medulla spinalis). (5) neplasma metastatik dan (6) neoplasma pembuluh darah serebral. Tidak diketahui secara pasti perbedaan angka kejadian menurut ras. 4. tempat tinggal maupun iklim. Di Amerika didapat 35. Urutan frekuensi neoplasma di dalam ruang tengkorak adalah sebagai berikut: (1) glioma (41%). Tampaknya angka kejadian tumor cenderung naik dengan bertambahnya umur.TINJAUAN PUSTAKA Pendahuluan Angka kejadian tumor intrakanial berkisar antara 4. karena gejala klinis yang ditemukan tergantung dari lokasi tumor. (2) meningioma (17%).000 penduduk.000 kasus baru dari tumor otak setiap tahun. 9 Tumor otak Tumor otak adalah suatu lesi ekspansif yang bersifat jinak (benigna) ataupun ganas (maligna). invasi dan destruksi dari jaringan otak.2-5. sedang pada dewasa pada usia 30-70 dengan puncak usia 40-65 tahun.4 per 100. Angka kejadian tumor otak pada anak-anak terbanyak pada dekade pertama.9 Proses neoplasmatik atau proses malignansi di susunan saraf mencakup neoplasma saraf primer dan non-saraf atau metastatik. 9 Diagnosa tumor otak ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan radiologi dan patologi anatomi. Dengan pemeriksaan klinis kadang sulit menegakkan diagnosa tumor otak apalagi membedakan yang benigna dan yang maligna.

Sel di dalam otak atau sel yang sudah mencapai kedewasaan. Selain jenisjenis neoplasma tersebut di atas. Tumor primer bisa timbul dari jaringan otak. Akan tetapi. bisa berasal dari paru-paru. Sklerosis tuberose. prostat. Sklerosis tuberose dan neurofibroma merupakan penyakit sindrom neurokutaneus yang etiologinya tidak diketahui. yang dapat menyebabkan abnormalitas kulit dan susunan saraf pusat yang bervariasi. yaitu dengan melalui foramina basis kranii. 4 Tumor atau neoplasma susunan saraf pusat dibedakan menjadi tumor primer dan tumor sekunder atau metastatik.karena beberapa tumor bukan tumbuh dari jaringan otak (misalnya meningioma dan lymphoma). seperti misalnya pada infiltrasi karsinoma anaplastik dari nasofaring. pendekatan diagnostik dan pengobatan yang sama. Tetapi dosis . antara lain: 12. hipofisis dan selaput myelin. dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional yang tertinggal itu dapat menjadi ganas.11. Degenerasi atau perubahan neoplasmatik Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. 3. mamma. 2. Radiasi Efek radiasi terhadap dura memang dapat menimbulkan pertumbuhan sel dura. tiroid atau digestivus. teratoma intrakranial dan kordoma. Tumor sekunder adalah suatu metastasis yang tumor primernya berada di luar susunan saraf pusat. meningen. sebagian besar tumor otak memberikan gambaran klinis.12 Etiologi Asal usul neoplasma belum banyak diketahui walaupun telah banyak penelitian yang dilakukan. astrositoma. Terdapat beberapa faktor etiologi yang diperkirakan berperan dalam timbulnya suatu neoplasma. karena pertumbuhan terus dan merusak bangunan disekitarnya. 4.11 1. Bawaan Meningioma. Tumor ganas itu dapat pula masuk ke ruang tengkorak secara perkontinuitatum. Perkembangan abnormal itu dijumpai pada kraniofaringoma. tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk mengatakan bahwa ada faktor herediter yang memegang peranan pada pertumbuhan neoplasma saraf. Maka dari itu radiasi digunakan untuk pemberantasan pertumbuhan sel neoplasmatik. ginjal. pada umumnya agak kurang peka terhadap efek sinar radiasi di banding sel neoplasma.

1. Trauma kepala Trauma kepala telah lama diduga sebagai salah satu faktor resiko terjadinya tumor otak dan masih menjadi kontroversi. Pada penelitian prospektif yang dilakukan oleh Annegers. Astrositoma derajat 3-4 (glioblastoma multiforme) 2. 4. 6. Glioma 1. Meduloblastoma . Beberapa penelitian menunjukkan ada hubungan antara riwayat trauma dengan kejadian meningioma. Hasil ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Gurney JG. baik oleh karena tindakan forcep atau penyebab lain.7 Klasifikasi Terdapat bermacam-macam klasifikasi tumor otak. Zat-zat karsinogen Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dilakukan. Astrositoma derajat 1-2 ii. tetapi patofisiologinya belum sepenuhnya dimengerti. tidak ditemukan adanya peningkatan resiko trauma dengan angka kejadian tumor otak. dkk di Amerika Serikat yaitu tidak ada hubungan antara riwayat trauma kepala. misalnya methylchloranthrone dan nitroso-ethyl-urea. Virus Belakangan ini telah cukup banyak bukti yang terkumpul bahwa ada virus yang berperan dalam genesisnya suatu neoplasma. JF dkk pada 3000 pasien dengan trauma kepala. Ependimoma derajat 1-4 3. Oligodendroglioma 4. Perhatian terpusat pada virus Eipstein Barr yang disangka berperan besar dalam genesisnya “Burkitt’s lymphoma” dan pula pada genesis karsinoma anaplastik dari nasofaring.subterapeutik dapat merangsang pertumbuhan sel mesenkimal sehingga masih banyak penyelidik yang menekankan pada radiasi sebagai faktor etiologi neoplasma saraf. dengan angka kejadian tumor otak pada anak. 5. Ependimoma i. Astrositoma i. Kini telah diakui bahwa ada substansi-sibstansi karsinogenik. baik atas dasar jaringan asal tumor maupun atas dasar lokasi tumor. Suatu pembagian praktis dari neoplasma susunan saraf pusat adalah sebagai berikut: 12 A.

ginjal.9 Embryonal Tumors . kraniofaringioma.8 Pineal parencymal Tumors 1. Neuroastrositoma B. Khordoma.5 Choroid Plexus Tumors 1. kista dermoid.4 Mixed Gliomas 1. Hemangioblastoma 5. papiloma dan pinealoma C. kista parafisis (kista koloid). Meningioma 2.2 Oligodendroglial Tumors 1. Neoplasma metastatik intrakranium Neoplasma yang dapat bermetastase ke susunan saraf pusat adalah (menurut frekuensinya): karsinoma bronkus. epidermoid.5. Non-glioma 1. lambung. prostat dan tiroid. Adeno hipofisis 3.1 Astrocytic Tumors 1.3 Ependymal Tumors 1. 1.7 Neuronal and Mixed Neuronal-glial Tumors 1.6 Neuroepithelial Tumors of uncertain origin 1. mammae. Klasifikasi menurut WHO 13 WHO Classification of Tumors of the Central Nervous System Tumors of Neuroepithelial Tissue Tumors of the Cranial and Spinal Nerves Tumors of the Meninges Lymphomas and Hemopoeitic neoplasms Germ Cell Tumors Cysts and Tumor-like lesions Tumors of the sellar region Local extensions from regional tumors Metastatic Tumors WHO Classification of Tumors of Neuroepithelial Tissue. Neurilemoma (neurofibroma) 4.

11.1.6.1 Astrocytoma 1.12 .1.1. Protoplasmic 1. Progresifitas ini bergantung pada lokasi.1.5.3. Glioblastoma 1. Pilocytic Astrocytoma 1.2.4.3.1.1. Anaplastic Astrocytoma 1.1.1.1.1. Gemistocytic 1.Giant Cell Glioblastoma 1. Subependymal Giant Cell Astrocytoma WHO classification of Cerebral Gliomas Grade I : Circumscribed Astrocytomas: Pilocytic Astrocytoma/ PXA /Subependymal Giant Cell Astrocytoma WHO Classification of Diffuse Cerebral Gliomas Grade II : low-grade Grade III: Anaplastic Grade IV: Glioblastoma Gejala klinis Pembagian tumor dalam kelompok benigna dan maligna tidak berlaku secara mutlak bagi tumor intrakanial. kecepatan pertumbuhan tumor dan edema di sekitarnya.WHO Classification of Astrocytic Tumors 1. Fibrillary 1.1. oleh karena tumor yang benigna secara histologik dapat menduduki tempat yang vital sehingga menimbulkan kematian dalam waktu singkat. Oleh karena itu maka tepatlah pendirian para ahli yang mengatakan bahwa setiap tumor serebri haruslah dianggap “ganas secara klinis”. Tanda penting dari tumor otak ialah adanya gejala neurologis yang progresif.3. Pleomorphic xanthoastrocytoma 1.3.1. 12 Gambaran klinik ditentukan oleh lokasi tumor dan peningkatan tekanan intrakanial.1.1. Gambaran klinik tumor intrakranial dapat dibagi dalam: 4.2.1. Gliosarcoma 1.1 Astrocytic Tumors 1.1.2.

b. Pada anak-anak tekanan intrakranial yang meningkat dapat menimbulkan diastase sutura kranii c. parkinsonism. kejang fokal. yang didahului dengan aura atau halusinasi. Bila menekan permukaan media dapat menyebabkan inkontinentia. Bila tumor menekan jaras motorik menimbulkan hemiparese kontra lateral. Bila tumor terletak pada basis frontal menimbulkan sindrom foster kennedy. • Lobus oksipital Menimbulkan bangkitan kejang yang dahului dengan gangguan penglihatan.1. Nyeri kepala Muntah Kejang fokal Gangguan mental 2. dengan konfabulasi dan Witzelsucht (suka membadut). Gangguan penglihatan yang permulaan bersifat quadranopia berkembang menjadi hemianopsia. Tanda-tanda fisis diagnostik a. Tumor lobus oksipitalis biasanya . Bila letak tumor lebih dalam menimbulkan gejala afasia dan hemiparese. Papiledema b. Bila terletak dekat area motorik dapat timbul kejang fokal dan pada girus angularis menimbulkan gejala sindrom gerstmann’s • Lobus temporal Akan menimbulkan gejala hemianopsi. c. objekagnosia. Gejala umum tekanan intrakranial yang meninggi a. d. Pada tumor yang terletak sekitar basal ganglia dapat diketemukan gejala choreoathetosis. Gejala-gejala fokal Gejala spesifik tumor otak yang berhubungan dengan lokasi: • Lobus frontal Menimbulkan gejala perubahan kepribadian dengan fungsi intelektual yang menurun. bangkitan psikomotor. Pada lobus dominan menimbulkan gejala afasia • Lobus parietal Dapat menimbulkan gejala modalitas sensori kortikal hemianopsi homonym. Penipisan (destruksi) atau penebalan (hyperostosis) tulang tengkorak 3. Bradikardi dan irama dan frekuensi pernafasan berubah d.

Gejala lain timbul bila tumor telah membesar dan keluar dari daerah pontin angel • Tumor Hipotalamus Menyebabkan gejala peningkatan TIK akibat oklusi dari foramen Monroe. Gangguan endokrin f. agnosia visual dan aleksia. Dapat dibedakan dengan tumor jenis lain karena gejala awalnya berupa gangguan fungsi pendengaran.dwarfism. hemianopsia. Tanda lokalisatorik yang menyesatkan a. Nyeri kepala khas didaerah oksipital yang menjalar keleher dan spasme dari otot-otot servikal 4. dan penurunan kesadaran • Tumor di cerebello pontin angle Tersering berasal dari N VIII yaitu acustic neurinoma. IV b. • Tumor di ventrikel ke III Tumor biasanya bertangkai sehingga pada pergerakan kepala menimbulkan obstruksi dari cairan serebrospinal dan terjadi peninggian tekanan intrakranial mendadak.III c. jaringan otak menjadi edema akibat penimbunan katabolit disekitar jaringan neoplasma atau karena penekanan pada vena.menimbulkan rasa nyeri dibelakang kepala. penglihatan kabur. gangguan cairan dan elektrolit. Gangguan mental e. Selain itu. Gangguan fungsi hipotalamus menyebabkan gejala: gangguan perkembangan seksuil pada anak-anak. Babinski yang positif di kedua sisi d. Gangguan kesadaran akibat tekanan intrakranial yang meninggi Proses desak ruang tidak saja memenuhi rongga tengkorak yang merupakan runag yang tertutup. ensefalomalasi 5. amenorrhoe. akan tetapi proses neoplasmatik sendiri dapat menimbulkan perdarahan setempat. . bangkitan • Tumor di cerebelum Umumnya didapat gangguan berjalan dan gejala TTIK akan cepat erjadi disertai dengan papil udem. Kelumpuhan N. Kelumpuhan N. pasen tiba-tiba nyeri kepala.

Pada pemeriksaan menggunakan MRI tidak terjadi paparan radiasi dan bahan kontras yag diinjeksikan. tidak meluas dan tidak dikelilingi oleh edema otak. terjadi bila peningkatan TIK sudah lama. pinealoma MRI dengan gadolinium adalah pemeriksaan penunjang pilihan dalam • • 2. Suatu tumor kista akan . atau hematoma) maka pemeriksaan lanjut yang dapat kita lakukan adalah sebagai berikut: 1. kecuali pada astrositoma maligna dimana gambaran khasnya adalah berupa massa dengan perluasan yang ireguler dan tampak seperti cincin. dapat timbul oleh meningioma Pengapuran terutama pada glioma. edema otak dan bagian otak yang normal. Sindrom kompresi sentral rostrokaudal terhadap batang otak. MRI dengan kontras lebih sensitif dibandingkan CT-scan dalam mengidentifikasi suatu lesi dan batas abnormal suatu tumor glioma. Sutura sagital dan koronal adalah yang paling mudah melebar. dapat memasuki sawar darah otak sehingga dapat memperlihatkan batas antara perluasan tumor. Herniasi serebelum di foramen magnum Pemeriksaan penunjang Apabila kita telah mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi proses desak ruang intrakranium (dapat tumor. Sindrom unkus atau sindrom kompresi diensefalon ke lateral b. Hal yang diharapkan dapat terlihat adalah : • Pelebaran sutura. dan c. Foto kepala 12 Foto kepala sekurang-kurangnya dari 2 arah yakni AP dan lateral. makin muda usia anak makin cepat serta makin lebar sutura. Karakteristik gambaran tumor astrositoma pada MRI berupa massa yang difus. • Impressiones digitate. terjadi pada anak. Magnetic Resonance Imaging (MRI) 6. sehingga gambaran kranium tampak “aspek berawan” Pelebaran fossa hipofisis dan destruksi endositosis. abses.Tekanan intrakranial yang meningkat secara progresif menimbulkan gangguan kesadaran dan manifestasi disfungsi batang otak yang dinamakan: a. gadolinium.3 menegakkan diagnosis tumor otak. lesi juga dikelilingi oleh edema otak.

Dapat mendeteksi kira-kira 70% tumor supratentorial. Dalam klinik. Kelemahan CT Scan yaitu kurang mengetahui adanya tumor yang berpenampang < 1. . MRI juga sulit dilakukan pada pasien yang memiliki klaustrofobia. C. atau alat-alat magnetik lain di dalam rongga atau kranium. Tumor glioma grade rendah akan tampak sebagai gambaran hipodens pada MRI atau bisa juga isodens. 5. Pemeriksaan penunjang MRI tidak bisa dilakukan pada pasien-pasien yang menggunakan pacemaker. Ekoensefalografi 12. 3.T (Computed Axial Tomography/CT scan) 6.5 cm dan yang terletak pada basis kranii. paramagnetic aneurysma clips. Angiografi 12 Dapat memperlihatkan kelainan arsitektur pembuluh darah di sekitar tumor. perdarahan atau invasi mudah dibedakan dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya yang hiperdens. Misalnya bila terdapat suatu peranjakan ke kiri (> 3 mm) maka dapatlah disimpulkan bahwa terdapat suatu proses desak ruang di dalam rongga tengkorak di sisi kanan.9 Gambaran CT Scan pada tumor otak. dan adanya penggeseran struktur garis tangah (midline). dan penting untuk membedakan malformasi pembuluh darah dengan neoplasma. akan terlihat kontras enhancement dimana tumor mungkin terlihat sebagai daerah hiperdens. sedangkan untuk tumor infratentorial hanya sedikit kegunaannya. 6.14 Dapat diperoleh informasi mengenai suatu proses desak ruang intrakranial yang menimbulkan pergeseran ventrikel lateralis dan ventrikel III. umumnya tampak sebagai lesi abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. angiografi hanya dilakukan bila ada rencana untuk tindakan bedah saraf. Perekaman EEG di atas suatu tumor dapat memperlihatkan gelombang delta (0. EEG berguna untuk membedakan apakah kejang disebabkan oleh proses metabolik atau suatu tumor lokal.tampak sebagai area homogen. Setelah pemberian kontras. Elektro-ensefalografi (EEG) 12. benda asing lain di tubuh yang terbuat dari metal.14 Biasanya dikerjakan kalau ada kejang-kejang. 4. Biasanya tumor otak dikelilingi jaringan udem yang terlihat jelas karena densitasnya lebih rendah.5-4 siklus per detik).A. Beberapa jenis tumor akan terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT Scan disertai dengan pemberian zat kontras. Adanya kalsifikasi.

meningitis kronis. dan traktus digestivus penderita diperiksa dengan teliti.12 a. ginjal. hipertensi intrakranial benigna. Mekanisme kerja kortikosteroid belum diketahui secara jelas. tuberkuloma b. Mungkin pula material itu didapat dengan “needle biopsy”. Ventrikulografi 12 Tumor serebri merupakan suatu kontraindikasi untuk melakukan lumbal pungsi. stroke infark. Melalui pemeriksaan ini dapat diketahui apakah suatu tumor terletak di bawah atau dia atas tentorium.7. kejang dan tanda defisit neurologik fokal yang progresif. Setiap proses desak ruang di otak dapat menimbulkan gejala di atas. Untuk mengenyampingkan kemungkinan tumor sekunder maka hendaknya paru. trauma primer otak. Melalui lubang trefin ini lantas dilakukan pungsi kornu oksipitalis vntrikulus lateralis. tiroid. Penyakit kongenital: hidrosefalus Penatalaksanaan 1. Beberapa hipotesis yang dikemukakan: meningkatkan transportasi dan resorbsi cairan serta memperbaiki permeabilitas pembuluh darah. sehingga agak sukar membedakan tumor otak dengan beberapa hal berikut: 4. Non-sitostatika Langkah pertama pada pengobatan metastasis tumor otak (MTO) ialah pemberian kortikosteroid yang bertujuan untuk memberantas edema otak. alzeimer d. di samping itu mempunyai . mammae. Medikamentosa 14 Pengobatan medikamentosa terdiri dari obat non-sitistatika dan sitostatika. Penyakit degeneratif: stroke hemoragik. 12 Diagnosa banding Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial. Bila melakukan ventrikulografi maka kita terlebih dahulu membuat suatu lubang trefin (trephin-opening) di daerah oksipital. Pengaruh kortikosteroid terutama dapat dilihat pada keadaankeadaan seperti nyeri kepala yang hebat.6. a. Bahan untuk pemeriksaan PA didapat bila tumor dapat diangkat seluruhnya atau sebagian. multiple sklerosis c. Non infeksi: epidural hematom. prostat. satu di sisi kanan dan satu di sisi kiri. Infeksi: abses intraserebral. defisit motorik. afasia dan kesadaran yang menurun.

Dosis deksametason yang biasa dipakai 0. Obat-obat antineoplasma yang lain masih dalam taraf percobaan.5 Temozolomide adalah agen alkylating generasi kedua imidazotetrazine yang merupakan obat kemoterapi baru yang dapat masuk ke dalam cairan serebrospinal dan tidak perlu diaktivasi melalui metabolisme hepar. sifatsifat molekuler obat. dibagi dalam 4-6 kali pemberian secara intravena. distribusi obat ke dalam lingkungan tumor. kinetik sel tumor. • Temozolomide 2. Methotrexate diberikan intratekal atau intraventrikuler karena obat ini tidak dapat menembus sawar darah otak. Dapat juga diberikan gliserol 5% per os 1 gram/kgBB/hari dibagi dalam 4 kali pemberian. dan reaksi otak terhadap tumor dan obat.25-1 mg/kgBB/hari. Obat ini mampu didistrubusikan ke semua jaringan termasuk otak sehingga efektif melawan berbagai jenis kanker seperti melanoma metastasis. antara lain: manitol 20%. Obat antitumor yang sering dipakai terhadap tumor otak antara lain : • Methotrexate Methotrexate bekerja dengan menghambat metabolisme DNA. . metabolisme dan ekskresi. Sitostatika Ada 13 faktor yang mempengaruhi hasil sitostatika terhadap tumor otak. yaitu: cara pemberiannya. Kalau perlu dapat diberikan antikonvulsan. brain sink effect. Keduanya larut dalam lemak dan dapat menembus sawar darah otak. BCNU diberikan intravena. Kombinasi dengan radioterapi memberikan efek sinergistik terhadap MTO. • 1. intramuscular atau per os. glioblastoma multiforme. Selain kortikosteroid. dan tumor solid lainnya. ikatan protein. 1-2 gram/kgBB dalam waktu 15-30 menit melalui infus atau intravena. Kerjanya menghambat pembentukan DNA. CCNU per os. Perbaikan sudah ada dalam 24-48 jam. aliran darah. selain itu dapat diberikan prednison atau prednisolon. permeabilitas vaskuler.3 Bis(2-chloroethyl)-1-nitrosourea (BCNU) dan 1-(2-chloroethyl)-3-cy clohexy/-1 -n itro sourea (CCNU). volume rongga ekstraseluler. yang paling banyak dipakai ialah deksametason. dapat juga diberikan zat-zat hiperosmolar.efek onkolitik terhadap MTO. Jenis kortikosteroid yang dipilih yaitu glukokortikoid. dan pada umumnya hasilnya tidak memuaskan. b.

dekompresi dan pembuatan shunt (bypass) untuk melancarkan aliran likuor. Kontraindikasi pemberian temozolomide adalah pada orang yang hipersensitif terhadap kandungan obat tersebut. pasien yang menderita penyakit myelosupresi berat. biopsi.Temozolomide bisa ditoleransi dengan baik dengan efek myelosuppresi minimal dan tanpa efek toksik dalam darah sehingga efek samping berupa mual-muntah dapat diatasi dengan antiemetik biasa. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu pembedahan tumor otak yakni: diagnosis yang tepat. Suatu tumor supratentorial dapat diangkat melalui suatu kraniotomi. teknik neuroanastesi yang baik. Stabilitas dan solubilitas yang baik membuat temozolomide dapat didistribusikan ke semua jaringan dengan bioavailabilitas kira-kira 100%. kecermatan dan keterampilan dalam pengangkatan tumor. Pada suatu tumor infratentorial usaha ini dilakukan melalui suatu kraniektomi. serta ibu hamil dan menyusui karena temozolomide bersifat teratogenik dan fetotoksik. Temozolomide telah disahkan sebagai terapi medikamentosa pasien dewasa dengan astrositoma anaplastik (glioblastoma multiforme) yang sulit disembuhkan di Amerika Serikat dan di Eropa. Insiden mual dan muntah berat hanya terjadi pada kirakira 4% kasus. serta perawatan pasca bedah yang baik. Efeks samping temozolomide biasanya berupa mual dan muntah ringan sampai sedang yang dapat hilang sendiri atau dapat diatasi dengan pemberian obat antiemetic biasa. Berbagai cara dan teknik operasi dengan menggunakan kemajuan teknologi seperti mikroskop. 2. Metastasis infratentorial biasanya tidak dibedah karena mortalitas operasinya sangat tinggi. rinci dan seksama.14 Indikasi eksisi pada MTO apabila tumor soliter. realtime ultrasound yang membantu ahli bedah saraf mengeluarkan massa tumor otak dengan aman. ultrasound aspirator. . sinar laser.12. bipolar coagulator. terletak supratentorial dan aktivitas tumor primernya sudah tidak ada atau tinggal sedikit. Untuk mencegah efek samping tersebut maka temozolomide dapat diberikan satu jam sebelum makan. Tindakan pembedahan 4. perencanaan dan persiapan pra bedah yang lengkap. Tindakan operasi lain yang dapat dianjurkan sesuai dengan keperluan ialah: pengangkatan sebagian.

terdapat banyak gambaran mitosis. dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi. Radioterapi 4. perbaikan fungsi motorik. Beberapa hal yang merupakan prognosis buruk tumor otak metastase adalah usia lanjut. Bila tumor itu tidak dapat diangkat maka akan dilakukan dekompresi. dan adanya penurunan kesadaran.14 Biasanya dilakukan setelah eksisi total atau parsial terhadap tumor yang radiosensitif. Tujuan radioterapi di sini sebagai pengobatan paliatif (mengurangi nyeri kepala. terdiri atas sel yang undifferentiated. terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif. Berdasarkan data di Negara-negara maju.3. angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka ketahanan hidup 10 tahun (10 years survival) berkisar 30-40%. Untuk mengurangi tekanan intrakranialdapat pula dipasang suatu “ventrikulocaval shunt”. Kriteria tumor yang radiosensitif. gejala-gejala muncul kurang dari 1 minggu. Pada tumortumor tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak. 4. 4. Kegunaan dari radioterapi ini didasarkan pada alasan bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel tumor dengan dosis tersebut. Suatu pembedahan kemudian disusul dengan suatu terapi sinar atau kimia. Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total sebesar 5000-6000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. kemoterapi tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam.12. gangguan bicara dan lain-lain).6 .12 Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan. banyak vaskularisasi terutama terdiri atas kapiler halus. Prognosis Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Yang ideal adalah bila tumor itu dapat diangkat secara menyeluruh. dan jumlah substansi intersel sedikit atau hampir tidak ada. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan kemoterapi intensif. Bila hal ini tidak mungkin maka sebanyak mungkin tumor diangkat. atau lesi yang soliter tapi tumor primer di tempat lain dalam tubuh masih aktif. Kemoterapi 4. Radioterapi diberikan juga pada MTO apabila lesinya multipel.

Pada pasien ini keluhan nyeri kepala yang dirasakan semakin berat pada pagi hari disangkal. Keluhan nyeri kepala pada pasien ini kemungkinan disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial otak oleh karena tumor intrakranial yang dialaminya. kejang disangkal. muntah disangkal. Pasien memiliki riwayat nyeri kepala kronis sejak kecil dan rajin kontrol ke dokter spesialis saraf tiap beberapa bulan sekali. Gejala hemiparesis biasanya merupakan tanda lokalisatorik tumor di daerah presentral. Pasien juga mengeluhkan adanya nyeri kepala yang hilang timbul pada waktu-waktu yang tidak tentu. Gejala seperti hemiparesis. keluhan tersebut disebabkan oleh riwayat trauma yang pernah dialami pasien saat kecil.PEMBAHASAN KASUS Tumor otak adalah neoplasma yang lebih dikenal dengan tumor intrakranial. Sejak 2 bulan yang lalu pasien juga mengeluhkan adanya kelemahan anggota gerak sebelah kiri yang kemudian menjadi tidak bisa digerakkan sama sekali. Keluhan nyeri kepala sejak kecil yang dikeluhkan pasien kemungkinan tidak berhubungan dengan tumor otak yang dialami pasien saat ini. Tumor otak bisa primer dan bisa merupakan metastasis dari suatu neoplasma di tempat lain. Pada tumor otak biasanya gangguan penglihatan disebabkan oleh karena terjadinya papiledema atau karena pendesakan oleh tumor itu sendiri. tetapi bilamana tekanan intrakranial . tuberkulosis. pada kasus ini seorang pasien laki-laki umur 71 tahun datang ke RSUP NTB dikeluhkan mengalami penurunan kesadaran secara mendadak pagi hari (tanggal 5 Agustus 2011). penyakit infeksi di telinga atau sinus sebelumnya. Keluhan demam disangkal. tidak dipengaruhi posisi. afasia bisa merupakan tanda-tanda lokalisatorik atau simptomp fokal dari suatu tumor. perubahan emosi disangkal. makanan maupun cuaca. riwayat tidak bisa atau kesulitan berbicara disangkal. Pasien tidak memiliki riwayat penyakit hipertensi. Sebelumnya pasien mengeluhkan penglihatan yang perlahan-lahan menurun dan akhirnya tidak dapat melihat sama sekali sejak 5 bulan yang lalu. diabetes mellitus. Nyeri biasanya paling berat dipagi hari karena selama tidur malam PCO2 serebral meningkat sehingga mengakiatkan peningkatan aliran darah otak yang demikian meningkatkan tekanan intrakranial. sesak nafas. Ketika tumor di eksisi maka penglihatanpun perlahan-lahan membaik. Gangguan penglihatan yang terjadi pada pasien ini kemungkinan disebabkan peningkatan tekanan intrakranial hingga mendesak khiasma optikum sehingga terjadi gangguan penglihatan berupa penurunan visus pada kedua mata. monoparesis. Nyeri kepala merupakan gejala dini tumor intrakranial pada kira-kira 20% dari para penderita.

b) Sindrom kompresi sentral rostrokaudal terhadap batang otak. Sebelum dilakukan tindakan operasi. dan lainlain. bedanya pada abses serebri biasanya ada riwayat demam dan riwayat infeksi di tempat lain misalnya otitis media supuratif kronis. Penentuan diagnosis ini kemungkinan didasarkan atas gambaran CT Scan dimana pada tampak massa hipodens yang dikelilingi oleh lingkaran atau ring sign yang merupakan gambaran mirip abses serebri. dan lain-lain. Monitoring pasien post operasi adalah berupa monitoring kesadaran. motorik. ketorolac 3% untuk mengurangi nyeri dan kutoin sebagai obat anti kejang. infeksi di paru-paru atau jantung. keluhan. Oleh karena tumor otak yang dialami pasien berada di daerah oksipitalis maka dapat disimpulkan bahwa gejala hemiparesis yang dialami oleh pasien juga disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial yang cukup tinggi sehingga terjadi pendesakan pada area presentralis yang merupakan area motorik. sendorik. sinusitis. Kecurigaan ini berdasarkan gambaran foto thorax pasien pre-operasi yang menunjukkan adanya massa padat pada paru kanan atas. piracetam sebagai metabolik aktivator. dan c) Herniasi serebelum di foramen magnum. maka hemiparesis atau gejala lain yang bangkit atau baru muncul tidak mempunyai arti lokalisatorik. sedangkan keluhan nyeri kepala sudah tidak dikeluhkan lagi dan penglihatan sudah membaik. pasien ini sempat di diagnosis abses serebri di daerah oksipitalis.sudah cukup tinggi dan membangkitkan gejala dan tanda tersebut. Peningkatan tekanan intrakranial ini juga akhirnya dapat menyebabkan penurunan kesadaran seperti yang terjadi pada pasien ini. Proses desak ruang suatu tumor hingga menyebabkan penurunan kesadaran merupakan proses yang kompleks dimana manifestasinya berupa a) Sindrom unkus atau sindrom kompresi diensefalon ke lateral. ceftriaxone sebagai antibiotik profilaksis post operasi. mastoiditis. Abses serebri sendiri adalah salah satu diagnosis banding tumor serebri. Terbukti dari hasil pemeriksaan fisik neurologis dimana visus pasien ODS 2/60 (bedsite) dan dengan lapang pandang yang baik. Penatalaksanaan pada pasien ini adalah pertama dengan medikamentosa yang bertujuan untuk menurunkan tekanan intrakranial pasien yaitu dengan pemberian dexamethason. vital sign. Problem post operasi yang masih ditemui pada pasien ini adalah berupa hemiparesis sinistra dan batuk berdahak. Problem lain yang ditemukan adalah adanya kecurigaan bahwa tumor serebri yang dialami oleh pasien merupakan tumor sekunder atau metastasis. status neurologis pasien seperti perbaikan penglihatan. Oleh karena itu disarankan pasien untuk melakukan pemeriksaan penunjang yaitu .

usus atau prostat. gejala-gejala muncul kurang dari 1 minggu.Ct Scan thorax dan USG abdomen. dimana seperti yang telah disebutkan dalam tinjauan pustaka beberapa hal yang merupakan prognosis buruk tumor otak metastase adalah usia lanjut. Dengan penanganan yang baik maka persentase angka ketahahan hidup diharapkan dapat meningkat. Usia juga menentukan prognosis dimana usia lanjut biasanya memiliki prognosis yang kurang baik dibanding usia muda. dan adanya penurunan kesadaran. Jadi prognosis pasien ini adalah dubia. Pada umumnya pasien dengan tumor otak metastase single memiliki prognosis yang lebih baik dari pada tumor otak metastase multiple. Pemeriksaan USG abdomen bertujuan untuk memastikan apakah tumor primer berasal dari organ abdomen seperti gaster. Keluarga pasien disarankan untuk kontrol ke poli paru untuk memeriksakan dan untuk memperoleh penanganan lebih lanjut masalah paru yang ditemukan pada pemeriksaan foto thorax yang dicurigai sebagai tumor primer pada pasien ini. Prognosis pasien dengan tumor otak metastase pada umumnya adalah buruk. .

344. Japardi. Brain Tumors. 11. 36.DAFTAR PUSTAKA 1. 1996. Sitepu. 2008. USU digital library. Brain tumor. Available (Accessed at: from: 2011. Vol.. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Deangelis. http://www. Japardi. Neurologi Klinis Dasar. Grabow JD. 1999. Jakarta. 2002. Head trauma and subsequent brain tumors. Hal 201-207 7. USU digital library. Metastasis Tumor di Otak. Head Injury as a isk Factor for Brain Tumor in Children: Result from Multicenter Control Study. Cermin Dunia Kedokteran No. 2006. Harry S. 2009. 2. 2001. William F.jstor. Firman. Howard M.org/eng/services_brain_tumors. Gambaran CT-Scan pada Tumor Otak Benigna. 1985.. Brain Tumors. 8. Yogyakarta. Nara. Buku Ajar Neurologi Klinis. No. Greenberg.1985 41 . I Gst Ng Gd. Dian Rakyat. Iskandar. September 3) 4. Kurland LT. Hal 390-396 10. Annegers JF. N Engl J Med. Harsono. 1979. Tumor Otak (Brain Tumor). 2008. Gajah Mada University Press. Neurosurgery. (Accessed at: 2011. Enggariani. 2 3. 19 September) 6. Airlangga University Press. Gurney JG. Tekanan Tinggi Intrakranial. Sandler. 2002. mahar. Oxford University Press: New York 5. Prem. (Accessed at: 2011.htm. Laws ER Jr. et al. Ngoerah. 1991. P.org/pss/3702147. Available from: http://belibis- a17. Sumatera Utara. Mardjono. 9. Surabaya. Chandler.com/2008/10/23/602/. Lisa M. Pillay. Iskandar.drprempillay. Available from: http://www. 4: 203-206.. September 3) 12. Sumatera Utara. Hal 332-345.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->