P. 1
Makalah Dirjen Bimas Islam Hukum Keluarga Kontemporer Di Negara Muslim

Makalah Dirjen Bimas Islam Hukum Keluarga Kontemporer Di Negara Muslim

|Views: 1,470|Likes:
Published by haniyk99

More info:

Published by: haniyk99 on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/01/2013

pdf

text

original

HUKUM KELUARGA KONTEMPORER DI NEGARA-NEGARA MUSLIM* Oleh: Prof. Dr. H.

Nasaruddin Umar, MA Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam A. Pendahuluan Hukum keluarga mempunyai posisi yang penting dalam Islam. Hukum keluarga dianggap sebagai inti syari’ah. Hal ini berkaitan dengan asumsi umat Islam yang memandang hukum keluarga sebagai pintu gerbang untuk masuk lebih jauh ke dalam agama Islam. Turki mempunyai peran penting dalam sejarah hukum Islam, terutama di Asia Barat. Hukum perdata Turki pada awalnya didasarkan pada mazhab Hanafi, namun kemudian juga menampung mazhab-mazhab lain, seperti dalam Majallah al-ahkâm al-adhiya yang telah dipersiapkan sejak tahun 1876, namun di dalamnya tidak terdapat aturan tentang hukum keluarga. Salah satu potret pembaruan hukum keluarga di Turki yang mengalami beberapa kali amandemen adalah aturan-aturan hukum tentang perceraian dalam perundang-undangan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan dengan fiqh konvensional. Penerapan hukum Islam dalam konteks kenegaraan secara serius dan sistematis dimulai pada masa Umar bin Abdul Aziz. Negara pada saat itu merupakan lembaga eksekutif yang menerapkan hukum Islam sebagaimana dirumuskan oleh otorita hukum setempat di masing-masing daerah. Kumpulan hukum (fiqh) yang mengatur hal-hal pokok dilaksanakan secara seragam. Namun berkaitan dengan hal-hal yang detail banyak terjadi perbedaan karena praktek-praktek setempat dan variasi-variasi yang berbeda sebagai hasil ijtihad para ulama (Fazlur Rahman :2000). Pembaruan hukum Islam dalam format perundang-undangan hukum keluarga dimulai pada tahun 1917 dengan disahkannya the ottoman law of family rights (Undangundang tentang hak-hak keluarga) oleh Pemerintah Turki. Pembaruan hukum keluarga di Turki merupakan tonggak sejarah pembaruan hukum keluarga di dunia Islam dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan hukum keluarga di negara-negara lain. B. Sejarah Pembaharuan Hukum Keluarga Turki Eksistensi hukum keluarga di dunia sebagai hukum positif mempunyai bentuk yang berbeda-beda. Tahir Mahmood membagi tiga kategori negara berdasarkan hukum keluarga yang dianut : (Tahir Mahmood:1972) 1. Negara yang menerapkan hukum keluarga tradisional Jumlah negara yang masuk kategori ini adalah Saudi Arabia. Yaman, Kuwait, Afganistan, Mali, Mauritania, Nigeria, Sinegal, Somalia, dan lain-lain.
Disampaikan pada acara Seminar Nasional Hukum Materiil Peradilan Agama, antara Cita, Realita dan Harapan, Hotel Red Top Jakarta, 19 Februari 2010
*

1

Undang-undang ini bersumber pada berbagai mazhab sunni. Malaysia dan Indonesia juga masuk kategori ini. diikuti Lebanon dan Mesir. pencatatan perkawinan. Aturan hukum yang berkaitan dengan perkawinan dan perceraian mulai dirintis tahun 1915. minoritas muslim Philiphina dan Uni Sovyet (almarhum). Negara Brunei. maka masing-masing pihak mempunyai hak untuk mengajukan cerai di pengadilan. Materi yang menonjol dalam hukum perdata Turki tahun 1926 adalah ketentuanketentuan tentang pertunangan (terutama masalah taklik talak). seorang suami atau isteri yang hendak bercerai diperbolehkan melakukan pisah ranjang. dalam rangka menolong para isteri yang ditinggalkan suaminya secara resmi didasarkan pada mazhab Hambali (juga ajaran mazhab Maliki sebagai alasan pendukung). Kedua. 1912) dengan beberapa perubahan yang disesuaikan dengan kondisi Turki dan diundangkan dalam hukum perdata Turki tahun 1926 (The Turkish civil code of 1926). larangan menikah. Tanzania. Jika setelah pisah ranjang dijalani pada waktu tertentu tidak ada perbaikan kondisi rumah tangga. dalam rangka memenuhi tuntutan perceraian dari pihak isteri dengan alasan suaminya mengidap penyakit tertentu yang membahayakan kelangsungan rumah tangga. Hukum tentang hak-hak keluarga tahun 1917 yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Turki Usmani mengatur tentang hukum perorangan dan hukum keluarga (tidak termasuk waris. Tahun 1912 Pemerintah Turki mengadopsi hukum perdata Swiss (The civil code of Switzerland. seperti ketentuan waris dan wasiat yang mengacu pada hukum perdata Swiss tahun 1912. 2 . Hukum tentang hak-hak keluarga tahun 1917 dalam bagian tertentu berlaku bagi golongan minoritas Yahudi dan Nasrani. batas usia minimal untuk kawin.2. Pada tahun yang sama dikeluarkan dua ketetapan umum. Materi perubahan pada tahun tersebut adalah kewenangan (hak) untuk menuntut cerai yang menurut mazhab Hanafi hanya menjadi otoritas suami. Pembaruan hukum keluarga Islam untuk pertama kalinya dilakukan di Turki. namun munculnya undang-undang ini memberikan inspirasi bagi negara lain untuk mengadopsinya dengan beberapa modifikasi. poligami. Albania. perceraian. Dalam beberapa hal ketentuan dalam hukum perdata Turki tahun 1926 sangat menyimpang dari hukum Islam tradisonal. karena undang-undang tersebut dimaksudkan untuk menyatukan yurisdiksi hukum pada pengadilan-pengadilan nasional. Hukum tentang hak-hak keluarga (The Ottoman Law of Family Rights / Qanûn al-huqûq al Aila) yang dirintis sejak tahun 1915 kemudian diundangkan pada tahun 1917 adalah hukum keluarga yang diundangkan pertama kali di dunia Islam. Pertama. Negara yang menerapkan hukum keluarga yang diperbarui Kategori ketiga ini adalah negara yang melakukan pembaruan substantif dan atau pembaruan peraturan. Menurut hukum perdata Turki tahun 1926. Seorang isteri yang ditinggal pergi oleh suaminya selama bertahun-tahun atau suaminya mengidap penyakit jiwa ataupun cacat badan tidak dapat dijadikan dasar bagi isteri untuk meminta cerai dari suaminya. 3. pembatalan perkawinan. wasiat dan hibah). Undang-undang yang terdiri dari 156 pasal ini hanya berlaku singkat selama dua tahun. dan lain-lain. Negara yang menerapkan hukum keluarga sekuler Termasuk dalam kategori ini adalah Turki.

Di samping itu pembayaran ganti kerugian terhadap pihak yang dirugikan akibat perceraian dapat dilaksanakan jika didukung dengan fakta dan keadaan kuat. 2. Amandemen tahun 1990 berkaitan dengan pertunangan. Proses amandemen kedua terhadap Hukum Perdata Turki tahun 1926 berlangsung pada tahun 1988-1992. 2. 5. 4. Para ulama sepakat bahwa hak talak berada pada pihak suami yang berakal. Salah satu pihak melakukan percobaan pembunuhan atau penganiayaan berat terhadap pihak lainnya.Ketentuan tentang perceraian diatur pada Pasal 129 – 138 Hukum Perdata Turki tahun 1926. Materi amandemen tahun 1990 yang berkaitan dengan perceraian. Pihak yang tidak bersalah dan menderita berhak mengajukan cerai dan meminta ganti rugi yang layak dari pihak lain. Terjadi ketegangan antara suami isteri secara serius yang mengakibatkan penderitaan. Talak dibagi dua. ila’ 3 . serta tersedianya perceraian di pengadilan yang didasarkan pada kehendak masing-masing pihak (Pasal 125-132). Perceraian Dalam Kajian Fiqh Konvensional Talak. pasangan suami isteri diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan ketika pisah ranjang. pasca perceraian dan adopsi. juga penghapusan segala bentuk perceraian di luar pengadilan. ila’ dan zhihar adalah istilah-istilah yang berkaitan dengan putusnya perkawinan. khulu’. Pihak yang tidak bersalah dan menjadi miskin berhak mengajukan cerai dan meminta nafkah dari pihak lain selama setahun. Salah satu pihak meninggalkan tempat kediaman bersama (rumah) tiga bulan atau lebih dengan sengaja dan tanpa alasan yang jelas yang mengakibatkan kerugian di pihak lain. Salah satu pihak melakukan kejahatan atau perbuatan tidak terpuji yang mengakibatkan penderitaan yang berat dalam kehidupan rumah tangga. antara lain : 1. yaitu talak raj’i yaitu suami mempunyai hak untuk merujuk isterinya. Perceraian dalam terma Islam merupakan sesuatu yang diperbolehkan namun sangat dibenci oleh Allah. nafkah istri dan penetapan sementara selama proses perceraian berlangsung. Amandemen tahun 1988 memberlakukan perceraian atas kesepakatan bersama (divorce by mutual consents). dispensasi kawin. Proses amandemen yang dilakukan oleh legislative tersebut berakhir tahun 1992. Seiring dengan perkembangan zaman Hukum Perdata Turki tahun 1926 mengalami dua kali proses amandemen. dan talak bain yang meniadakan hak rujuk sebagaimana berlaku pada khulu’. Hal ini menunjukkan bahwa perceraian merupakan alternatif terakhir yang harus ditempuh ketika upaya-upaya untuk menyatukan suami isteri dalam ikatan perkawinan mengalami jalan buntu. hasil amandemen ini antara lain berkaitan dengan ganti kerugian. Suami atau isteri yang terikat dalam sebuah ikatan perkawinan dapat mengajukan perceraian kepada pengadilan dengan alasan-alasan yang telah ditentukan sebagai berikut : 1. Salah satu pihak dapat mengajukan cerai atas dasar perwujudan dari ketidakcocokan tabiat yang berakibat pada rumah tangga yang tidak bahagia. Salah satu pihak menderita penyakit jiwa sekurang-kurangnya 3 tahun atau lebih yang mengganggu kehidupan rumah tangga dan dibuktikan dengan surat keterangan ahli medis (dokter). 3. 6. Amandemen tahap pertama terjadi pada kurun waktu 1933 – 1956. 3. C. Salah satu pihak berbuat zina.

kecuali ada penyerahan atau pemberian kuasa dari suami kepada kedua hakam tersebut. seperti: kemaluan isteri tersumbat atau sobek. D. (2) Watak organisasi ulama atau kepemimpinan. membiarkan sendirian di tempat tidur atau memukul. Imam Syafi’i dan Abu Hanifah melarang kedua hakam tersebut untuk melakukan pemisahan. Kedua. kebijakan-kebijakan pemerintah dalam hukum keluarga diikuti oleh penduduk Turki. namun tidak sampai pada taraf antipati. maka pemutusan perkawinan dengan talak. Hal ini diantaranya disebabkan oleh watak organisasi ulama di Turki yang tidak mempunyai institusi keagamaan yang kuat seperti di Mesir (al-Azhar). para ulama sepakat tentang kebolehan mengirim hakam (juru damai) masing-masing dari pihak keluarga suami dan isteri. Penyakit yang dijadikan alasan fasakh menurut Ibnu Qudaimah sebagaimana dikutip Khoiruddin Nasution adalah penyakit yang menghalangi terjadinya hubungan seksual. Apabila terjadi perselisihan tentang boleh tidaknya perkawinan (seperti perempuan yang mengawinkan dirinya sendiri tanpa wali atau perkawinan orang yang ihram.dan lian. Walaupun terdapat perbedaan antara modernis dan tradisonalis. seperti lemah syahwat atau terpotong kemaluannya. menurut Imam Malik diperbolehkan mengadakan pemisahan tanpa persetujuan suami isteri tersebut. 4 . (4) sifat kebijakan kolonial dari negara-negara penjajah. Materi dan Metode Pembaruan Hukum Keluarga Turki Perkembangan hukum keluarga kontemporer di dunia Islam disebabkan oleh empat faktor: (1) apakah suatu negara tetap mempertahankan kedudukannya atau didominasi oleh negara eropa. Pembaruan hukum Islam di Turki dapat berjalan lancar. Apabila terjadi kesepakatan untuk menceraikan suami isteri tersebut. apabila nusyuz dilakukan oleh suami maka penyelesaiannya menurut al-Nisa (4):128 adalah berdamai (islah). Jika terjadi perbedaan pendapat diantara kedua hakam tersebut maka pendapat keduanya tidak dapat dilaksanakan. Pertama. penyakit yang berkaitan dengan suami. Ketiga. Walaupun begitu dimungkinkan untuk mengirimkan orang lain yang bukan dari keluarga suami isteri dengan pertimbangan kepantasan untuk menjadi hakam. Fasakh dapat disebabkan oleh penyakit-penyakit tertentu. (3) Perkembangan pendidikan Islam. penyakit yang berhubungan dengan istri. Apabila nusyuz dilakukan oleh isteri maka jalan keluarnya menurut al-Nisa’ (4): 34 adalah menasehati. penyakit yang mungkin mengenai kedua pasangan. keadaan apabila suami isteri hendak melanjutkan perkawinannya tidak sah karena sebab itu masih ada (seperti mengawini orang yang sesusuan atau kawin pada masa iddah) maka pemutusan kerkawinannya dengan fasakh. Apabila terjadi perselisihan (siqaq) antara suami isteri. seperti: gila dan lepra/kusta. bukan fasakh. Hal ini sebagai akibat dari sekularisasi yang diterapkan di Turki. Akibat dari talak bain adalah harus adanya akad nikah baru jika mantan suami ingin kembali bersama isterinya. Penyakit tersebut secara global dibagi menjadi tiga kelompok. Berkaitan dengan nusyuz. Imam Malik membedakan talak dengan fasakh. Jika putusnya perkawinan bukan dari pihak suami isteri.

5. 8. 3. 4. Pihak suami isteri mempunyai hak yang seimbang dalam pengajuan cerai dengan mendasarkan pada ketentuan perundang-undangan (Pasal 129-138 Hukum Perdata Turki 1926 dan Pasal 134-144 Hasil Amandemen Tahun 1990). Pembaharuan hukum keluarga di Turki dalam perspektif kategorisasi metode pembaruan. kemudian memunculkan solusi alternatif perceraian dari pihak isteri yang ditinggal suaminya yang lebih mengacu pada mazhab Hambali dan 5 . Keseimbangan hak antara suami isteri dalam pengajuan cerai dengan alasan-alasan yang mendasarinya juga dimaksudkan untuk menghindari kesewenangwenangan salah satu pihak (suami) yang mengakibatkan kerugian dipihak lain dan mengembalikan posisi isteri yang sering termarjinalkan oleh konstruksi pemahaman hukum Islam. dapat dikemukakan bahwa metode pembaruan extra doctriner reform nampak pada masa-masa awal pembaharuan ditandai dengan munculnya protes kaum istri yang merasa terkekang oleh mazhab Hanafi. Masing-masing pihak yang merasa dirugikan pihak lain sebagai akibat perceraian diperbolehkan mengajukan tuntutan ganti rugi yang layak (Pasal 143 Hasil Amandemen tahun 1990). Perceraian dilakukan di pengadilan yang didahului dengan permohonan cerai dari pihak suami atau isteri (Hasil Amandemen Pasal 129-135). kemaslahatan yang diperoleh adalah sikap kehati-hatian dan kepastian hukum. sedang dalam fiqh konvensional berkaitan dengan fasakh. Suami atau isteri yang nusyuz (dalam hal ini zina yang dijadikan alasan perceraian) maka perlakuan terhadap suami yang zina sama dengan isteri yang zina. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari uraian berikut : 1. 7.Aturan-aturan hukum yang mengatur tentang perceraian dalam perundang-undangan Turki telah mengalami perkembangan yang cukup pesat jika dibandingkan dengan fiqh konvensional. Otoritas pengajuan cerai yang sebelumnya mutlak berada di pihak suami. 6. Hukum perdata Turki tahun 1926 mengatur dan membolehkan pisah ranjang. Perundang-undangan Turki memberlakukan perceraian atas kesepakataan bersama (suami isteri) berdasar hasil Amandemen tahun 1988. 2. Metode pembaruan hukum keluarga yang dominan terutama berkaitan dengan perceraian adalah maslahah mursalah. Penyakit jiwaa dalam perundang-undangan Turki termasuk dalam alasan perceraian. Aplikasi metode takhayyur dalam perundang-undangan Turki menurut Anderson seperti pada aturan ta’lik talak yang dicantumkan pada Pasal 38 Hukum tentang Hak-hak keluarga tahun 1917 bahwa seorang isteri berhak mencantumkan dalam ta’lik talak bahwa poligami suami dapat menjadi alasan perceraian. sedangkan istri tidak mempunyai hak sedikitpun untuk dan dengan alasan apapun. Hal ini nampak dari ketentuan yang mewajibkan perceraian di Pengadilan. Hal ini dapat dilihat pada kodifikasi hukum majallat alahkam al-adhiya tahun 1876 dengan memilih salah satu dari sekian pendapat mazhab fiqh yang ada. Metode pembaruan hukum Islam yang digunakan di Turki pada tahap awal menggunakan metode takhayyur. Dalam maslah perceraian menurut fiqh konvensional tidak dikenal istilah pisah ranjang (juditial separation). sejak munculnya hukum tentang hak-hak keluarga tahun 1917 pihak istri diperbolehkan mengajukan perceraian.

Di Pakistan. Pemberlakuan sanksi hukum menjadi salah satu ciri dalam UU hukum keluarga di negara-negara Muslim modern. Adalah menarik jika pemberian sanksi poligami di Indonesia juga dapat ditelaah lebih dekat. Sedangkan terhadap setiap pihak (pria) yang enggan mematuhi keputusan yang dikeluarkan Pengadilan (terkait pernikahan di bawah 6 . atau memimpin pernikahan mempelai di bawah umur (nikah). perceraian. Metode intra doctriner reform lebih mewarnai pembaruan hukum keluarga di Turki seperti penghapusan segala bentuk perceraian di luar pengadilan dengan hanya mengakui perceraian yang terjadi dalam sidang di pengadilan. Secara umum sanksi hukum tersebut terkait dengan pelanggaran berbagai masalah seputar perkawinan. khususnya hukum keluarga Negara Muslim modern. kemudian dikomparasikan satu sama lain dalam konteks doktrin Hukum Islam konvensional. hak perempuan pasca cerai. Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas. Dalam hal poligami misalnya. nafkah. memerintahkan. seseorang yang menikahi anak di bawah umur dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 1 bulan. Yaman (Selatan). atau kedua sekaligus. atau denda maksimal 1000 rupee. perlakuan terhadap istri. Hukum Keluarga yang berlaku di keempat negara tersebut secara eksplisit memberlakuan sanksi hukum terhadap pelanggaran masalah ini. atau mengizinkan dilangsungkannya pernikahan. Sanksi yang sama juga akan dijatuhkan kepada pihak yang menyelenggarakan. namun keberadaannya semakin dipertimbangkan dan tetap menjadi salah satu topik hangat masyarakat Muslim Dunia saat ini. misalnya. siapa pun yang menikahi atau menikahkan seseorang yang di bawah usia nikah minimal dapat dikenakan hukuman penjara 6 bulan hingga 2 tahun. yakni Bangladesh. berikut ini rincian sejumlah persoalan tersebut: 1. beralih kepada aturan-aturan dan hukum produk negara yang tidak saja membatasi dan mempersulit. antar negara. Pemberlakuan Sanksi Hukum dalam Hukum Keluarga Negara Muslim Salah satu trend reformasi hukum keluarga di Dunia Islam modern adalah diberlakukannya sanksi hukum. dan hak waris. dan posisinya sebagai salah satu citra dinamisasi dalam hukum Islam. meskipun diberlakukannya sanksi hukum poligami belum menjadi potret umum dari hukum/undang-undang yang berlaku di negara-negara Muslim. Di Bangladesh. dapat dihukum penjara maksimal 1 bulan. dan melihat bagaimana sebagian negara Muslim lain memberlakukannya. Demikian pula jika dibandingkan dengan kebijakan hukum di negara-negara non-Muslim (negara Barat). Demikian pula terhadap mereka (setiap pria baik sebagai orang tua atau wali atau pihak lain yang punya kapasitas/ berhak menurut hukum atau tidak) yang menganjurkan. Sedangkan di Iran. terhadap pria (berumur di atas 18 tahun) yang menikahi anak di bawah usia nikah.Maliki. Pakistan. namun bahkan melarang dan mengategorikan suatu masalah seputar hukum keluarga sebagai perbuatan kriminal. atau keduanya sekaligus. atau denda maksimal 1000 taka. atau lalai mencegah terjadinya pernikahan di bawah umur. Pembaruan ini merupakan bentuk kepastian hukum bagi masyarakat Turki. Keberanjakan dari hukum klasik yang cenderung tidak memiliki sanksi hukum. E. Iran. Perkawinan di bawah umur (masalah batasan usia nikah) Masalah ini setidaknya mendapatkan perhatian dari 4 negara Muslim.

Perkawinan secara paksa Irak dan Malaysia merupakan negara yang mencantumkan sanksi hukum dalam Hukum Keluarga mereka dalam persoalan ini. Sebagai contoh. atau mengizinkan untuk berhubungan badan dengan pria yang dilarang syara‘ untuk menikahinya. atau telah atau berupaya untuk mendapatkan (hak) berhubungan badan dengan perempuan-perempuan yang dilarang syara‘ untuk dinikahi. Perkawinan yang dilarang Jika pada Hukum Keluarga negara-negara Muslim yang lain cenderung hanya memuat sejumlah bentuk perkawinan yang dilarang dan menetapkan batalnya perkawinan tersebut. berdasarkan Hukum Keluarga yang berlaku di Yaman (Selatan) semua pelaku/pihak yang terkait pelanggaran (pendukung) melakukan perkawinan yang bertentangan dengan UU No.umur) sementara ia tahu keputusan tersebut melarang perbuatan yang dilakukannya dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 3 bulan. Berdasarkan Hukum Keluarga di sana. terkecuali jika calon istri telah mencapai usia 25 tahun). Srilanka memberlakukan hukuman penjara maksimal 3 tahun bagi setiap pria muslim yang secara sengaja melakukan perkawinan. jika pelakunya adalah pihak keluarga garis pertama maka hukumannya adalah penjara maksimal 3 tahun tanpa denda. 2. menurut Hukum Keluarga Malaysia. Sanksi yang kelihatannya sedikit lebih ringan di berlakukan oleh Malaysia. siapa saja yang memaksa seseorang untuk menikah di luar alasan yang diizinkan hukum syara‘ dapat dikenakan hukuman denda maksimal 1000 ringgit atau penjara maksimal 6 bulan atau kedua sekaligus. apabila pelakunya adalah salah satu calon mempelai maka dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 10 tahun atau kurungan minimal 3 tahun. Siapapun yang mencegah seseorang untuk menikah di luar alasan yang diizinkan hukum syara‘. 7 . 4. setiap pihak yang mengawinkan secara paksa. dapat dijatuhi hukuman denda maksimal 200 dinar. atau penjara maksimal 2 tahun. selain keluarga garis pertama. ketentuan hukum dirinci menurut pelakunya. pelaku (pria) yang menikahi kembali mantan istri yang dicerai talak tiga. atau keduanya sekaligus. Dalam pada itu. dengan menetapkan kriminalisasi terhadap pelanggaran atas hal tersebut. Pencegahan terhadap perkawinan yang dibolehkan syara’ Tampaknya hanya Malaysia yang secara eksplisit menerapkan hukuman dalam masalah yang satu ini. Di Somalia. 3. sebelum mantan istri tersebut menyelesaikan masa iddahnya dari perceraiannya dengan pria (suami) lain dan sudah pernah berhubungan biologis dengan suami yang menceraikannya tersebut. Hukuman yang sama juga berlaku bagi wanita muslim (berusia di atas 12 tahun) yang secara sengaja melakukan perkawinan. dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 6 bulan dan denda maksimal 1000 SO Sh. dapat dijatuhi hukuman denda maksimal 1000 ringgit atau penjara maksimal 6 bulan atau keduaduanya. 1974 (antara lain mengenai usia minimal kawin: 18 (pria) dan 16 (perempuan) dan selisih usia maksimal 20 tahun.1. Somalia dan Srilanka tampaknya mengambil langkah yang lebih maju. dapat dijerat dengan hukuman penjara maksimal 3 tahun beserta denda. Di Irak.

b. kecuali qadi atau petugas pencatatan.. mempelai (yang melangsungkan pernikahan). Menarik untuk dicatat bahwa Srilanka. Minimal tercatat ada 5 Hukum Keluarga yang mencantumkan ketentuan tentang masalah ini. Qadi. meskipun penduduk Muslimnya bukanlah mayoritas. menyimpan buku..1/ 1974. atau Ps. berkas terkait. dan Srilanka. Di Indonesia. Yaman (Selatan). Pendaftaran dan pencatatan perkawinan Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa masalah ini merupakan salah satu hal yang paling banyak diatur dalam Hukum Keluarga negara-negara Muslim. yakni Indonesia. Yordania. dokumen. Dalam hal ini hukumannya adalah penjara/kurungan maksimal 3 bulan atau denda maksimal Rp. Hal tersebut tercermin dalam ketentuan-ketentuan berikut: a. dokumen. sanksi hukuman dapat dijatuhkan terhadap petugas (pencatatan) yang melakukan pencatatan perkawinan seorang suami yang akan berpoligami tanpa izin Pengadilan. Melanggar ketentuan Ps.500. pihak pelaksana dan para saksi terkait perkawinan yang tak terdaftar (tanpa registrasi pihak berwenang) dapat dikenakan hukuman penjara berdasarkan ketentuan Jordanian Penal Code (UU Hukum Pidana Yordania) dan denda maksimal 1000 dinar. buku. Pihak bersangkutan (pria yang menikah) diancam hukuman penjara 1 – 6 bulan. 3 tahun. 7. 56 (4) tentang larangan. atau kedua sekaligus terhadap semua pelaku/pihak yang terkait pelanggaran (pelaku & pendukung) melakukan perkawinan atau mendaftarkan perkawinan yang bertentangan dengan UU No. izin. salinan (copy) sekitar perkawinan dan perceraian dapat dikenakan hukuman penjara maks. Para pelaku tersebut dapat dijatuhi hukuman denda maksimal 100 rupee. atau penjara maksimal 2 tahun. atau catatan yang dimaksudkan sebagai daftar suatu perkawinan atau 8 . petugas pencatatan yang lalai atau enggan mencatatkan pernikahannya. dan pihak yang turut andil (berpartisipasi) melanggar berbagai aturan dalam Ps.Sedangkan di Iran sanksi hukum diberlakukan dalam kasus perkawinan yang dilakukan tanpa registrasi. Sementara di Yordania. Siapa saja yang mendukung atau membantu seorang laki-laki Muslim untuk memperoleh atau mempengaruhi atau mendaftarkan suatu perceraian di luar (tidak sesuai dengan) ketentuan dalam UU ini atau bersekongkol melanggar melalui cara lain. malah cenderung lebih banyak memasukkan aturan kriminalisasi dalam Hukum Keluarga Muslim yang diberlakukan di sana. Iran. atau lalai/enggan melaksanakan tugas pencatatan suatu pernikahan. 56 ayat (1) tentang larangan bagi qadi atau petugas pencatatan mengizinkan orang lain untuk menempati posisi mereka dan menjaga semua buku. Membuat data palsu pada pencatatan. 5.Hukum Srilanka juga memberlakukan sanksi terhadap setiap wanita muslimah yang selama masa iddahnya mengikat tali pernikahan atau ikut serta sebagai pengantin dalam suatu upacara perkawinan. Yaman (Selatan) memberlakukan hukuman denda maksimal 200 dinar. daftar. 81: Mempelai pria. dan setiap orang yang mendukung atau membantu terselenggaranya ikatan perkawinan atau perlaksanaan upacara perkawinan tersebut. petugas pencatatan.

atau hukuman penjara maksimal 6 bulan. 6. 3) Melakukan pencatatan suatu perkawinan yang melanggar kondisi-kondisi atau batasan yang terdapat pada surat tugasnya. atau penjara maks. pria yang melakukan perkawinan di luar pengadilan dapat dijatuhi hukuman Penjara minimal 6 bulan & maksimal 1 tahun. Melakukan perkawinan di luar pengadilan saat perkawinan sebelumnya masih berlangsung/terjalin dapat diganjar hukuman penjara minimal 3 tahun & maksimal 5 tahun. atau keduanya sekaligus Setiap pihak yang sengaja atau mengetahui membuat keterangan palsu dalam suatu pernyataan yang ditandatanganinya berdasarkan Ps. 7. f. sedangkan hukuman untuk yang kedua /selanjutnya maksimal 100 rupee atau penjara maksimal 6 bulan atau keduanya sekaligus (denda dan penjara). 4) Mencatat suatu perkawinan yang tidak dihadirinya. 18 ayat (1) (tentang pengisian dan penandatangan formulir registrasi perkawinan oleh pasangan pengantin dan wali pihak perempuan) dapat dikenakan denda maks. perceraian orang Muslim. dan pihak lain yang mendukung atau membantu pencatatan suatu perkawinan yang bertentangan dengan aturan Pasal 22 (kawin pada masa iddah). melakukan pencatatan atau menyatakan akan mencatat suatu perkawinan berdasarkan UU ini dapat dijatuhi denda 100 rupee. e. Hal 9 .c. atau rekaman berita acara mengenai perceraian yang diakibatkan atau mengaku diakibatkan oleh pihak lain. 6) Sengaja melanggar / menentang berbagai aturan dalam UU ini dapat dikenakan hukuman Denda maksimal 100 rupee. atau 24 ayat (4) (berpoligami melalui izin Hakim) dapat dijatuhi hukuman denda maksimal 100 rupee. sebagai akibat masih kuatnya pengaruh tradisi (non Islamis) yang berlaku di masyarakat. Mas kawin dan biaya perkawinan Di kawasan Asia Selatan (anak Benua India) persoalan mas kawin. 23 (Perkawinan di bawah umur). melakukan pencatatan suatu perkawinan yang diadakan di luar wilayah tugasnya. atau keduanya sekaligus. Mereka di atas akan dijatuhi hukuman untuk pertama kali adalah denda maksimal 100 rupee. Petugas pencatatan yang sengaja melakukan pencatatan. 5) Sengaja menolak untuk melaksanakan atau yang terkait dengan pencatatan suatu Perkawinan. Perkawinan diluar Pengadilan Di Irak. Setiap petugas pencatatan: 1) Lalai atau menolak tanpa sebab/alasan yang sah melakukan pencatatan perkawinan. 19. d. 58. suatu kewajiban yang dibebankan kepadanya oleh Pasal 18. 6 bulan. atau penjara maksimal 6 bulan. bukan seorang qadi (hakim). 100 rupee. atau pihak yang bukan petugas pencatatan. atau keduanya sekaligus. hantaran dan biaya perkawinan sering menjadi isu kritis dan menimbulkan persoalan sosial. Setiap pihak. 2) Kecuali dalam kasus yang terdapat pada Pasal 11. denda minimal 300 dinar & maksimal 1000 dinar. atau ps. yang mengeluarkan atau menyatakan untuk mengeluarkan izin atau daftar/catatan sebuah perceraian berdasarkan UU ini.

100 1985 Pasal 23 A. atau penjara maksimal 6 bulan. Irak. atau keduanya sekaligus. izin. berbagai barang hantaran dan hadiah yang diberi atau diterima tidak sesuai dengan ketentuan UU ini maka akan diserahkan kepada Pemerintah federal untuk digunakan bagi perkawinan gadis-gadis miskin sebagaimana diatur dalam UU ini. Mesir. Yordania memberlakukan hukuman menurut UU Hukum Pidana negara itu terhadap suami yang menceraikan istri (di luar Pengadilan) tanpa melakukan langkah registrasi. Di Iran. Uraian lebih lanjut mengenai ketentuan kriminalisasi praktik poligami ini akan dipaparkan secara khusus dalam bahasan mendatang. Sedangkan di Mesir. suami yang tidak melakukan pendaftaran perceraian dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 6 bulan. Pakistan. Yordania. pelanggaran atas UU dalam masalah mas kawin/mahar. Turki. Di luar negaranegara yang memberlakukan aturan yang mempersulit ruang gerak poligami tanpa menjatuhkan sanksi hukum terhadap pelakunya. membuat data palsu pada pencatatan. Di Pakistan. buku. dan Srilanka mencantunkan sanksi hukum dalam pasal-pasal Hukum Keluarga mereka terkait persoalan ini. 8. atau keduanya sekaligus. dapat dihukum penjara maksimal 1 tahun. memberi atau mengambil atau bersekongkol memberi atau mengambil hantaran kawin diancam dengan hukuman penjara maksimal 1 tahun. Dalam pada itu apabila mas kawin. misalnya. 9. Sementara di Srilanka. atau keduanya sekaligus. atau keduanya sekaligus. Hukuman yang sama juga berlaku bagi siapa pun yang meminta hantaran kawin kepada orang tua atau wali dari pihak mempelai wanita atau pria. salinan (copy) sekitar perceraian dapat dikenakan hukuman penjara maksimal 3 tahun. Yaman (Selatan). Di Bangladesh.inilah yang kelihatan memotivasi Bangladesh dan Pakistan memberi perhatian khusus dan menggariskan aturan sanksi hukum dalam masalah ini. atau denda maksimal 1000 rupee. menceraikan istri tanpa mengajukan permohonan tertulis ke Pejabat (chairman) berwenang. Tunisia. dokumen. atau denda maksimal 5000 taka. setidaknya 8 negara Muslim telah memberlakukan penjatuhan sanksi hukum terhadap masalah poligami dalam Hukum Keluarga mereka. Malaysia. Malaysia. Begitu pula petugas pencatatan yang menolak atau tidak melaksanakan tugas pencatatan perceraian dapat dikenakan sanksi penjara maksimal 1 bulan & denda minimal 50 pound Mesir. Menurut ketentuan Hukum Keluarga di Malaysia. penjatuhan talak di luar dan tanpa izin pengadilan dapat dikenakan denda 1000 ringgit. Dalam pada itu. biaya dan hadiah (hantaran) perkawinan (Dowry and Bridal Gifts [Restriction] Act 1976) dapat dihukum penjara maksimal 6 bulan. atau keduanya sekaligus. Talak/cerai di muka pengadilan dan pendaftaran perceraian Iran. para suami yang melakukan perceraian atau menarik kembali penjatuhan talak/cerai yang dilakukan tanpa registrasi dapat diancam hukuman penjara 1 – 6 bulan. Kedelapan negara tersebut adalah Iran. atau denda 200 pound. atau dan tanpa memberikan salinan (copy)nya kepada istri. Poligami & hak istri dalam poligami Poligami merupakan masalah yang paling banyak dikenakan pemberlakuan sanksi hukum oleh Hukum Keluarga di negara-negara Muslim modern. Pakistan. Sedangkan di Pakistan. atau denda minimal setara batas maksimum yang diatur UU ini. 10 . berdasarkan Law on Personal Status 1929 yang dipertegas lagi dalam amandemennya UU No. dan Indonesia.

Srilanka tercatat sebagai negara terbanyak mencantumkan sanksi hukum dalam Hukum Keluarga Muslim (sekitar 11 masalah). Meskipun bersifat relatif. Meskipun secara umum sanksi yang dijatuhkan masih diarahkan kepada si pelaku pelanggaran. setiap pelanggaran di luar pasal-pasal tersebut dapat dijatuhi hukuman denda maksimal 100 rupee. Sanksi yang diberikan pada umumnya berupa hukuman penjara/kurungan.Pelanggaran terhadap UU Hukum keluarga yang berlaku (diluar pasal-pasal yang sudah ditentukan sanksi hukumnya) Jika dalam Hukum Keluarga mayoritas negara-negara Muslim hanya mencantumkan sanksi hukum dalam beberapa pasalnya. Berdasarkan UU yang berlaku di Libya. hukuman tertinggi terdapat di Irak yakni 10 tahun & minimal 3 tahun penjara dalam kasus perkawinan secara paksa. tidak demikian keadaannya dengan Hukum Keluarga Muslim Srilanka. namun di beberapa negara selain pelaku. penyelenggara. Masalah hak waris perempuan Harus diakui. Teori gerak ganda 11 . hanya Libya yang secara khusus memberikan perhatian dalam masalah ini. Dari keterangan di atas dapat ditarik sejumlah catatan sebagai berikut: a. 12. Sedangkan sanksi paling rendah ada di Mesir yakni 1 bulan penjara dalam kasus petugas pencatat yang menolak/tidak melaksanakan tugas pencatatan. mungkin. bahkan petugas berwenang yang terkait dengan pelanggaran. Menurut UU Tunisia. Hak-hak istri yang dicerai suaminya Tunisia tampaknya bergerak sendiri dalam masalah yang satu ini. d. Bahwa poligami menempati urutan teratas (8 negara) dalam daftar persoalan Hukum Keluarga yang diancam dengan sanksi hukum (kriminalisasi poligami). F. menyusul masalah perceraian di luar pengadilan/ tanpa registrasi (6 negara). pengabaian (tidak memberi) hak warisan wanita dapat diancam dengan hukuman penjara sampai hak warisan wanita bersangkutan diberikan/dipenuhi. dan berikutnya adalah masalah pendaftaran dan pencatatan perkawinan (5 negara). atau denda. b. atau keduanya sekaligus.10. sedangkan Libya (tentang hak waris wanita) dan Somalia (larangan menikahi mantan istri yang ditalak tiga sebelum dipenuhi persyaratannya) sejauh ini menjadi negara yang paling sedikit meletakkan sanksi dalam Hukum Keluarga mereka. suami yang menghindar dari kewajiban memberi nafkah atau kompensasi selama 1 bulan dapat dikenakan hukuman penjara 3 hingga 12 bulan dan denda antara 100 hingga 1000 dinar. Di luar pasal-pasal tertentu yang sudah ditentukan sanksi hukumnya. c. hukuman juga dijatuhkan kepada pihak pendukung. 11. Metode Pembaharuan dalam Hukum Keluarga Kontemporer Metode pembaharuan hukum khususnya hukum keluarga muslim kontemporer diantaranya dengan menggunakan teori gerak ganda (Fazlur Rahman) dan teori batas (Muhammad Shahrur).

Pada gerak pertamanya Rahman mencoba mengangkat aspek historis ayat dengan latar belakang sosial budaya yang berlaku tentang status wanita pada waktu turunnya ayat.Contoh sederhana dari teori gerak gandanya Rahman dalam hal hak istri untuk bercerai dalam keadaan tertentu (khulu’) dalam analisisnya terhadapa ayat yang digunakan mayoritas ulama dalam peniadaan hak wanita ini adalah ayat al-Qur’an IV :3 dan II :28. Konsep ini memukul rata semua kasus dan berpijak pada konsep yang lahir dari pemahaman ayat diatas “satu bagi anak laki-laki dan setengah bagi anak perempuan” Sedangkan 12 . berkewajiban mengurus kepentingan anggota-anggota suku yang tidak mampu. Gerakan pertama Rahman dalam hal ini dengan pendekatan historisnya mengemukakan bahwa prinsip waris semacam itu besar kemungkinannya berasal dari praktek suku-suku Arab pada masa pra Islam. atau masyarakat abad pertengahan pada umumnya. Konsep hukum waris klasik samasekali tidak memeberi bagian kepada cucu yatim yang ditinggal wafat oleh kakeknya karena terhalang pamannya. Menurut Rahman. Dengan mengambil nilai yang lebih universal dari gerak pertamanya yaitu tentang persamaan kedudukan antara laki-laki dan perempuan Rahman beranjak ke gerakan kedua. adalah sangat pelik untuk mempertahankan keadaan berdasarkan ayatayat tersebut bahwa masyarakat harus tetap seperti masyrakat Arab abad ke-7 M. Setelah mendapatkan nilai Normatif universal dan temporalnya koteks ketentuan ayat diatas gerak kedua Rahman adalah mengkontekstualkannya pada zaman kekinian. sehingga anak yatim itu tidak memperoleh bagian warisan dari kakeknya. Pada sistem patriarkal abad pertengahan. Contoh kedua yaitu tentang kedudukan cucu selaku pengganti orangtuanya dalam menerima warisan dari kakeknya. karena pamanpaman semakin tidak menyukai tanggung jawabnya untuk mengurus keponakannya yang yatim dan terhalang oleh mereka dalam menerima waris. yang menerangkan superioritas lelaki atas wanita. dia berpandangan bahwa anggapan mayoritas ulama tentang monopoli kaum laki-laki atas hak cerai sama sekali tidak dicuatkan dari al-Qur’an dan bahwa ketentuan mengenai hak cerai kaum wanita adalah positif. tetua-tetua suku. Pada zaman modern ini situasi telah jauh berbeda dan semakin akut. Contoh terbaik dalam hal ini adalah firman Allah: li Adhdhakari mitshlu hazzi al-unthayayni. Kebanyakan para ahli fiqih menganggap bahwa firman ini adalah batasan yang telah ditentukan dan tidak boleh keluar darinya dalam seluruh kasus yang dialami anak-anak. atau suku itu secara keseluruhan. paman-paman berkewajiban mengurus keponakannya yang ditinggal wafat oleh ayahnya. Dalam masyarakat kesukuan. Menurutnya masyarakat Arab ketika itu didominasi oleh kaum lelaki dan posisi kaum wanita sangat lah rendah sehingga wajar saja ketika bunyi teks al-Qur’an menyesuaikan dengan kondisi zaman dan konteks turunnya ayat dan hal ini dirasakan sangat bersifat temporal. Teori batas Beralih pada contoh aplikasi teori batasnya Shahrur dalam bidang hukum keluarga dalam hal ini hukum kewarisan. Berdasarkan pertimbangan ini Rahman berpendapat bahwa jika seorang kakek wafat dan hanya meninggalkan seorang anak lelaki serta seorang cucu dari anak lelaki lainnya yang telah wafat maka ia memeperoleh bagian warisan yang sama dengan pamannya karena ia menempati kedudukan ayahnya saat menerima waris.

Menurut Shahrur Jika diperhatikan pihak laki-laki pada batas kedua yang termasuk dalam kategori rumus ini tidak mengambil bagiannya berdasarkan ketentuan batas yang pertama. Pada saat yang bersamaan ini merupakan kriteria yang bisa diterapkan pada semua kasus dimana jumlah perempuan dua kali lipat jumlah laki-laki. Batas hukum ini membatasi seorang laki-laki dan tiga perempuan dan selebihnya (lebih dari dua). maka bagi laki-laki adalah 1/3 dan bagi pihak perempuan adalah 2/3 berapapun jumlah mereka (diatas dua). Batas hukum ketiga ini membatasi jatah warisan anak-anak dalam kondisi ketika jumlah pihak laki-laki sama dengan jumlah pihak perempuan. Satu orang laki-laki+perempuan lebih dari dua. Batas ketiga: wa in kanat wahidatan fa laha an-nisfu (lk=1: Pr=1). jadi masing masing anak mendapatkan separuh dari harta peninggalan. Batasan ini berlaku pada seluruh kondisi ketika jumlah perempuan lebih dari dua kali jumlah lakilaki. karena hukum batasan pertama hanya dapat diberlakukan pada kasus yang telah ditetapkan Allah dan tidak dapat diterapkan pada kasus lainnya. Adapun formulasi teori batasnya adalah sebagai berikut: Batas pertama: li Adhdhakari mitshlu hazzi al-unthayayni (laki-laki=1: Perempuan=1/2). 13 . dan tidak melulu terpaku pada konsep “satu bagi anak laki-laki dan setengah bagi anak perempuan” sebagaimana yang digeneralkan mayoritas ulama fiqh. Mengenai kewarisan anak ini lebih jauh Shahrur merumuskan teori batasnya berangkat dari ayat al-Qur’an Surah an-nisa ayat 11 kemudian Shahrur memberikan rumusan batas dimana setiap konteks hubungan antara anak laki-laki dan perempuan bisa saja berubah sesuai dengan jumlah perbandingan anak. Ini adalah batasan hukum yang membatasi jatah-jatah atau bagian-bagiana (huzuz) bagi anak-anak si mayit jika mereka terdiri dari seorang laki-laki dan dua anak perempuan. Batas kedua: fa ini kunna nisa’an fawqa ithnatayni (Lk=1/3: Pr= 2/3).menurut Shahrur batasan tersebut adalah batasan khusus yang hanya bisa diterapkan dalam kasus ketika jumlah perempuan dua kali lipat jumlah laki-laki. Pada dasaranya pembagian ini sangat alami.

Yogyakarta. 2000.. Bombay:N. 10. Ar-Ruzz. Hubungan Internasional. Ensiklopedi Oxford Dunia Islam. Status Wanita di Asia Tenggara:Studi Terhadap Perundangundangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. 2002. Status of Personal Law in Islamic Countries:History. cet IV. David and Werner Menski.. Jendela. Abdullah Ahmad An-Naim: Paradigma Baru Hukum Publik Islam. Khoiruddin. Pemikiran Islam Kontemporer. alih bahasa Ahsin Mohammad. Tahir. 2001. Tahir Azhary. Semarang:asSyifa’. Jendela. L. Muhyar Fanani. third edition. Amin Abdullah. 2002. Hilman Latief. alih bahasa MA Abdurrahman dan A. alih bahasa Eva Yn. dalam Khudori Soleh dkk. M.. Rahman. Nasution. alih bahasa Ahsin Muhammad. 1997. HAM dan. II. John. As-Sabiq. Hanif A. Noor Ahmad dkk. Ghufran A. 2002. Rajawali Press. Asmuni. Ar-Ruz. LKiS.1995. Yogyakarta 2003. Taupik Adnan Amal. Bandung:Pustaka. Paradigma Alternatif Pengembangan Ushul Fiqh dan Dampaknya pada Fiqh Kontemporer. Bandung:Mizan. Nasr hamid Abu Zaid: Kritik Teks Keagamaan. Bandung 1989. 1995. M. 14 . Islam dan Tantangan modernitas. Yogyakarta. Penerjemah: Ahmad Suaedy dan Amiruddin ar-Rany. alih bahasa Machnun Husein. Jendela. 17. vol.DAFTAR KEPUSTAKAAN Buku-buku: Anderson.TRIPATHI PVT.D. cet. Islam dan Modernitas Tentang Transformasi Intentelektual. London:Sweet and Maxwell. dalam Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushul Fiqh kontemporer. Mizan. Mas’adi: Pemikiran Fazlur rahman tentang metodologi Pembaharuan Hukum Islam. Rusyd. fiqh as-Sunnah. Surabaya: Amar Press. Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam Islam. Elsaq Press. Hukum Islam di Dunia Modern. Pearl. In’am Esha. Dekontruksi Syari’ah: Wacana Kebebasan Sipil. Syahrur: Teori Batas dalam Khudori Soleh dkk. Revised Edition. 1990. Yogyakarta 2003. 1972. --------. Pengembangan Metode Penelitian Hukum Islam. USA:The world book Inc. Epistemologi Syara’: Mencari Format Baru Fiqh Indonesia. Mahmood. Semarang:Toha Putera. Islam. 19 Abdullah Ahmed An-Naim. 1997. 2003 Yogyakarta M. as-Sayyid. Pemikiran Islam Kontemporer. Yusron. Hukum Keluarga dan kewarisan Islam Dalam Masyrakat Modern Indonesia. Yogyakarta 2003. dalam Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushul Fiqh Kontemporer. Fazlur. 1998.. Jakarta:LSIK dan Raja Grafindo Persada. J. studi atas pemikiran Hukum Fazlur Rahman. The Wold Book of Encyclopedia. 1993. tt. M. 2000.M. Muslim Family Law. Bidayatul Mujtahid. dkk. Bandung:Pustaka. Syamsul Anwar. LTD. Family Law Reform in the Moslem World. Mimbar Hukum No. Haris Abdullah. ---------. Nasr Hamid Abu Zayd dalam Khudori Soleh dkk.N. Texts and Analysis. Esposito. 1990. New Delhi:ALR. Ibnu. 1990. Pemikiran Islam Kontemporer. Jakarta:INIS.

The Federation Press. The Haque. Beirut. studi atas pemikiran Hukum Fazlur Rahman. Muhammad Shahrur. Syamsul Anwar.Muhammad Shahrur. „Abdurrahman. CV. 1997. Leichhardt.). Dâr al-Fikr. Hukum Keluarga dan kewarisan Islam Dalam Masyrakat Modern Indonesia. Andi. „Abd al-Qâdir. (Penerjemah: Shahiron Syamsuddin) eLSAQ Press. 1991. 2004. Beirut. Ensiklopedi Hukum Islam. No. Abdul Aziz (Ed. Timothy (Ed.. The Athlone Press. Surabaya.).t. 1995. Jld. Amarpress. Yogyakarta. 1968 Dahlan. Kartanegara. Jakarta. Ar-Ruzz. Ahkâm al-Qur‘ân. 1994. dalam International and Comparative Law Quarterly. Martinus Nijhoff. al-Jazîrî. Jawad. IV.D). Beirut. jld. London. New York. Buxbaum. jld. Kitâb al-Fiqh ‘ala al-Mazâhib al-Arba‘ah. Lindsey. (Penerjemah: Shahiron Syamsuddin) eLSAQ Press. Machnun Husein. 1991. Abû Dâwud. at-Tasyrî‘ al-Jinâ’ al-Islam Muqâranan bi al-Qânûn al-Wad‘i. Tahrîr al-Mar’ah. 2 Thaun 1992. (terjemahan). Beirut. Law Reform in the Muslim World.N. Sejarah Teori Hukum Islam: Pengantar untuk Ushul Fiqh Mazhab Sunni. terj.). Ibn Rusyd. David C. Bandung. James Norman Dalrymple (J. I. Yogyakarta. Anderson. John L. Mimbar Hukum No. The Oxford Encyclopaedia of the Modern Islamic World. Satochid. Martin‟s Press. juz I. 15 . dalam Mazhab Jogja: Menggagas Paradigma Ushul Fiqh kontemporer. Qasim. 7 April 1985. Amin. The Right of Women in Islam: An Authentic Approach. 1990. Penerbit Sinar Baru. 1997. Taupik Adnan Amal. juz II. Tunisia. Jakarta. 1999. 2004. Family Law and Customary Law in Asia: a Contemporary Legal Perspective. V. Rajawali Pers.). Rineka Cipta. Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah. Hallaq. Bidâyat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqta¡id. Sunan Abû Dâwud. (Ed. Edisi Indonesia: Hukum Islam di Dunia Moderen. Inc. 1999. Dâr al-Fikr. (terjemahan). Gupta. t. 1988. “Polygamy Law Reform in Modern Status” dalam Islamic Law and Comparative Law. Jakarta. Dasar-Dasar Hukum Pidana. “The Tunisian Law of Personal Status”. (Ed. Metodologi Fiqih Islam Kontemporer. St. 1998. Oxford University Press. „Audah. Rajawali Pers. Hamzah. Wael B. Yogyakarta. Dâr al-Kutub al. 2002. Bandung 1989. Islam dan Tantangan modernitas. Metodologi Fiqih Islam Kontemporer. 2000. Anderson. Ibn al-„Arabî. Pengembangan Metode Penelitian Hukum Islam. Wael B. Norman. _______________ . Mu‟assat ar-Risâlah. Haifaa. Jakarta. Islamic law in the Modern World. Tahir Azhary.„Ilmiyyah. Indonesia: Law and Society. Ichtiar Baru van Houve. Mizan. 10. Dâr al-Ma„arif. Asas-Asas Hukum Pidana. Esposito. vol XVIII. 2000. 1993. Hallaq. 1976. Sejarah Teori Hukum Islam: Pengantar untuk Ushul Fiqh Mazhab Sunni. Oxford. Kiran.

Yeshua. London. Tafsîr al-Manâr. Academy of Law and Religion New Delhi. az-Zajjâj. 1972. Family Law Reform in the Muslim World. Reeva S. Beirut. 1996. 1988. Texs and Comparative Analysis). al-Wâlibî.4. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh. 2003. Simon & Schuster Macmillan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. vol. ______________ . Nahw U¡-l Jadîdah li al-Fiqh al-Islamî. New York. II. Shihab. Tahir. 2003. Santa Barbara California. juz IV. Rahman. t. Edisi III. Boston. Republic of 16 . Asbâb an-Nuzûl. 1995. Encyclopedia of the Modern Middle East. juz I. 1996. az-Zuhailî. Jakarta. Ridha. Mahmood. Hawes. Data internet: Iraq. Wahbah. 1999. 2001. Tim Depdikbud. Damaskus. M.. Balai Pustaka. Ilan (CEO). Kairo. al-Kasysyâf ‘an Haqâiq Gawâmi« at-tanzîl wa ‘Aun al-Aqâwîl fî Wujûh at-Ta’wîl (Tafsir alKasysyâf). al-Qurtûbî. The Encyclopedia Americana. Quraish. Tafsir Al-Mishbah: Pesan. ABCCLIO. 2000. az-Zamakhsyarî. Muhammad. Dâr al-Fikr. Grolier Incorporated. juz V. Lentera Hati. Encylopaedia Britannica. Inc. Dâr al-¦arm li at-Turâts. Mustaf± al-B±b³ al-¦alab³ wa Aul±duh. 1996. al-Maragi. 1988. Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah. 1993.. Chibli. Tafs³r al-Mar±g³. The Family in a America an Encyclopedia. terj. Simon. Edisi Indonesia: Metodologi Fiqh Islam Kontemporer. t. Bernard (Ed. Islamic Family Law. XV. 22.. Ltd. Fazlur..s). Philip Mattar.). Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap Perundang-undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia. M. Bandung. Jakarta. vol. Ma‘ânî al-Qur’ân wa I’râbuhu. INIS. Muhammad Rasyîd.s). 2004. The Heritage Illustrated Dictionary of the English Language. & Jane Connors. Muhammad Ibn Jarîr. II. Beirut. 1997. Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Graham & Trotman. Dâr al-Kutub al-„Ilmiyyah. Morris. Al-Thabârî. Kairo. J±mi‘ al-Bayân ‘an Ta’wîl ²yi al-Qur’ân. Chicago. Bulliet (Ed. The New Encylopaedia Britannica.t. Alam al-Kutub. Mudzhar. Ciputat Press. Edisi Indonesia: Tema-tema Pokok Al-Qur’an. N..s).Tripathi PVT. juz IV. Anas Mahyuddin. A¥mad Mu¡taf±. 1979. William. vol. Edisi. 1974. al-Jâmi‘ li Ahkâm al-Qur’ân. Major Themes of the Qur’an. Jakarta. D±r al-Fikr. terj. II. Beirut. al-Wâhidî. Mallat. Vol. juz VII. Nasution. Joseph & Elizabeth F. Inc. Houghton Mifflin Campany. Sahiron Syamsuddin dan Burhanudin. elSAQ Press. 2001. Shahrur.p. New York. Bombay. Beirut. New Delhi.M. S. Shores (Ed. Cayne. Richard W. Khoiruddin. juz III. Atho‟ dan Khairuddin Nasution (Ed. 1996 & 2001. 2002. Yogyakarta. 1987. juz II. Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern: Studi Perbandingan dan Keberanjakan UU Modern dari Kitab-kitab Fikih. Leiden-Jakarta. Penerbit Pustaka.M. vol. Personal Law in Islamic Countries (History.

edu http://www.emory.org/cathen/12564a.doc. Sharia/Muslim Law Project.newadvent. dalam Catholic Encyclopedia.edu/IFL/legal/iraq.htm Jurisprudence)”.harvard. pfournie@law. “Bigamy (in Civil http://www. 30/09/2004.ccmw. Pascale Fournier.com/Position%20Papers/Pascale%20Paper. Sloane.htm Charles W. 17 . “The Reception of Muslim Family Law in Western Liberal States” dalam Canadian Council of Muslim Women.http://www.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->