P. 1
Makalah Metodelogi Pengajaran Pai Tentang Hakikat Mengajar Dan Tujuan Pembelajran Islam

Makalah Metodelogi Pengajaran Pai Tentang Hakikat Mengajar Dan Tujuan Pembelajran Islam

|Views: 205|Likes:
Published by Tanzil Al Khair

More info:

Published by: Tanzil Al Khair on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/06/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

“Yakni orang-orang yang senantiasa mengajarkan … Dan orang-orang yang senantiasa mempelajarinya …” MENGAJAR merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. Zamroni (2000:74) mengatakan “guru adalah kreator proses belajar mengajar”. Ia adalah orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang

ditegakkan secara konsisten. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa orientasi pengajaran dalam konteks belajar mengajar diarahkan untuk pengembangan aktivitas siswa dalam belajar. Gambaran aktivitas itu tercermin dari adanya usaha yang dilakukan guru dalam kegiatan proses belajar mengajar yang memungkinkan siswa aktif belajar. Oleh karena itu mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan informasi yang sudah jadi dengan menuntut jawaban verbal melainkan suatu upaya integratif ke arah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam konteks ini guru tidak hanya sebagai penyampai informasi tetapi juga bertindak sebagai director and facilitator of learning.

1

BAB II PEMBAHASAN A. HAKIKAT MENGAJAR 1. Pengertian Mengajar

Nasution (1982:8) mengemukakan kegiatan mengajar diartikan sebagai segenap aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar. Dengan demikian proses dan keberhasilan belajar siswa turut ditentukan oleh peran yang

dibawakan guru selama interaksi proses belajar mengajar berlangsung. Usman (1994:3) mengemukakan mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan terjadinya proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang terhadap kegiatan belajar mengajar. Burton (dalam Usman, 1994:3) menegaskan “teaching is the guidance of learning activities”. Hamalik (2001:44-53) mengemukakan, mengajar dapat diartikan sebagai (1) menyampaikan pengetahuan kepada siswa, (2) mewariskan kebudayaan kepada generasi muda, (3) usaha mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa, (4) memberikan bimbingan belajar kepada murid, (5) kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga negara yang baik, (6) suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari. Tardif (dalam Adrian, 2004)

mendefinisikan, mengajar adalah any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs (dalam Adrian, 2004) seorang pakar psikologi membagi konsep mengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu (1) Pengertian Kuantitatif. Mengajar diartikan sebagai the transmission of knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa
2

dengan sebaik-baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar. (2) Pengertian institusional. Mengajar berarti the efficient orchestration of teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam hal ini guru dituntut untuk selalu siap mengadaptasikan berbagai teknik mengajar terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat, kemampuan dan kebutuhannya. (3) Pengertian kualitatif. Mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning, yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan pemahamannya sendiri. Burton (dalam Sagala, 2003:61) mengemukakan mengajar adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar. Berdasarkan definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa mengajar adalah aktivitas kompleks yang dilakukan guru dalam menyampaikan pengetahuan kepada siswa, sehingga terjadi proses belajar. Aktivitas kompleks yang dimaksud antara lain adalah (1) mengatur kegiatan belajar siswa, (2) memanfaatkan lingkungan, baik ada di kelas maupun yang ada di luar kelas, dan (3) memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada siswa. Kemuadian Ada beberapa pengertian lain yang digunakan untuk mendefinisikan kegiatan mengajar. Antara lain : 1. Definisi klasik menyatakan bahwa mengajar diartikan sebagai

penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa – apa. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa. 2. Definisi modern menolak Pandangan klasik seperti diatas, oleh

sebab itu pandangan tersebut kini mulai ditinggalkan. Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat tersebut antara lain : Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar mengajar.
3

3.

Menurut Tyson dan Caroll menyatakan bahwa mengajar adalah

sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang sama – sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar. Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki. Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif Hubungan Antara Belajar Dan Mengajar Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relative mantap berkat latihan dan pengalaman. Belajar sesungguhnya adalah ciri khas manusia dan yang membedakan dengan binatang. Belajar yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari hidupnya, berlangsung seumur hidup, kapan saja, dan dimana saja, baik disekolah, dikelas, dijalanan dalam waktu yang tak ditentukan sebelumnya. Namun demikian, satu hal sudah pasti bahwa belajar dilakukan manusia senantiasa oleh iktikad dan maksud tertentu ( Oemar Hamalik: 2004 : 154) Belajar adalah mengalami dalam arti belajar terjadi dalam interaksi antara individu dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan fisik, contohnya buku, alat peraga, alam sekitar. Lingkungan pembelajaran yang baik adalah lingkungan yang merangsang dan menantang siswa belajar ( Udin S. Winata Putra, dk : 2002 : 2.3) Skiner ( dalam Mumamad Tohri : 2007 : 4) berpadangan … bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi kuat, bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut : 1) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar, 2) Respon Pembelajaran, dan 3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut.

4

Sama halnya dengan belajar, mengajar pun pada hakikatnya adalah suatu proses yaitu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitar anak didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong anak didik melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada anak didik dalam melakukan proses belajar. Akhirnya, bila hakikat belajar adalah perubahan maka hakikat belajar mengajar adalah proses pengaturan yang dilakukan oleh guru. Dalam kegiatan belajar mengajar guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individu anak didik, yaitu pada aspek biologis, intelektual, dan psikologis. Kerangka berpikir demikian dimaksud agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada anak didik secara individual. Pemahaman terhadap ketiga aspek tersebut dapat merapatkan hubungan guru dengan anak didik, sehingga memudahkan melakukan pendekatan masteru learning dalam mengajar. Masteri learning adalah salah satu strategi belajar mengajar pendekatan individual. Mastery learning adalah kegiatan yang meliputi dua kegiatan yaitu program pengayaan dan program perbaikan ( Suharsimi Arikunto : 1998 : 31) Ny. Dr. Roestiyah. N.K ( dalam Syaful Bahri Djamarah : 2002 : 49) menyatakan … bahwa suatu tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan perilaku muridmurid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan, suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil yang kita harapkan dari proses pengajaran itu sendiri B. TUJUAN PENGAJARAN DALAM ISLAM 1. Pengertian Tujuan artinya suatu yang dituju, yaitu yang akan dicapai dengan suatu kegiatan atau usaha. Sesuatu kegiatan akan berakhir, bila suatu tujuan telah dicapai. Kalau tujuan itu bukan tujuan akhir, kegiatan berikutnya akan langsung dimulai untuk mencapai tujuan tujuan selanjutnya dan terus begitu sampai tujuan akhir. Tujuan pendidikan Islam adalah keribadian muslim, yaitu suatu kepribadianyang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian Islam dalam AlQur’an disebut juga “muttaqin”. Karena itu Pendidikana Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertaqwa. Ini sesuai benar dengar pendidikan nasional kita yang dituangkan

5

dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia Pancasilais yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Meskipun lingkungan umum dan alam sekitar yang tidak diorganisir dapat mendidik orang, namun orang sangat membutuhkan pendidikan formal melalui sekolah, karena pendidikan formallah yang mempunyai tujuan yang jelas. Dalam pendidikan formal direncanakan dan diatur segala sesuatu yang berhubungan dengan tujuan, cara dan alat utnuk mencapai tujuan itu, waktu dan tempat mencapai tujuan itu. Karena itu tujuan pendidikan Islam dapat dicapai dengan pendidikan formal. Sedangkan pendidikan formal itu dicapai dengan pengajaran. Ini berarti bahwa tujuan pengajaran adalah untuk mencapai tujuan pendidikan. Tujuan pengajaran Islam adalah untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, yaitu kepribadian muslim. Membicarakan pengajaran Islam berarti juga membicarakan pendidikan Islam. Pendidikan Islam itu sulit dicapai kalau bukan dengan pengajaran Islam. Sedangkan Pendidikan Islam tidak ada artinya kalau tidak mencapai tujuan pendidikan Islam. 2. Fungsi Tujuan Kegiatan pengajaran harus mempunyai tujuan, karena setiap kegiatan yang tidak mempunyai tujuan akan berjalan meraba-raba, tak tahu arah tujuan. Tujuan yang jelas dan berguna akan membuat orang lebih giat, terarah dan sungguh-sungguh. Semua kegiatan harus berorientasi pada tujuannya. Segala daya dan upaya pengajaran harus dipusatkan pada pencapaian tujuan itu. Karena itu tujuan pengajaran harus berfungsi sebagai: 1. Titik pusat perhatian dan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pengajaran, 2. Penentu arah kegiatan pengajaran, 3. Titik pusat latihan dan pedoman dalam menyusun rencana kegiatan pengajaran, 4. Bahan pokok yang akan dikembngkan dalam memperdalam dan memperluas ruang lingkup pengajaran, 5. Pedoman untuk mencegah atau menghindari penyimpangan kegiatan. 3. Sumber Tujuan Pengajaran Tujuan pengajaran ialah rumusan keinginan yang akan dicapai dengan pengajaran. Rumusan ini bukanlah didapat sambil lau, tetapi setelah melalui berbagai pertimbangan kepentingan. Yang jelas tujuan pengajaran ini ialah pengembangan dan penjabaran dari tujuan pendidikan; dalam tulisan ini tentu tujuan pendidikan Islam. Ini berarti bahwa

6

tujuan pendidikan Islam itu bersumber pada ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Pengertian sumber disini juga mengandung arti sesuai dengan. Bagi orang Islam, ajaran Islam merupakan filsafat dan pandangan hidup. Selaku warga negara Indonesia, maka pancasilalah yang menjadi filsafat dan pandangan hidup itu dan dari sinilah bersumber tujuan pendidikan nasional kita yang dirumuskan dalam TAP MPR dan UU Pendidikan. Dengan demikian berarti bahwa secara tegas tujuan pengajaran agama Islam di negara kita ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah Nabi yang didukung oleh Pancasila.

4. Prinsip dan Ciri Tujuan Pengajaran Agama Islam Berbagai jenis lembaga pendidikan Islam dengan tingkat yang berbeda, dapat merumuskan tujuan pendidikan dan pengajarannya dengan berpedoman kepada kedua filsafat dan pedoman hidup tadi. Dalam merumuskan tujuan pendidikan pengajaran itu orang tidak boleh menyimpang atau menentang prinsip pokok ajaran Islam yang terkandung dalam maksud-maksud syari’at yang dalam istilah syari’at Islam ”muqashid as syari’ah” . Muqashid as syari’ah itu ialah: 1. Memelihara kebutuhan pokok hidup yang daruri (vital); yaitu sesuatu yang mestia ada dalam kehidupan yang normal; dalam arti bila semua atau salah satunya saja tidak ada atau rusak, akan rusaklah kehidupan. Sesuatu yang harus itu ialah; agama, jiwa raga, keturunan, harta serta akal dan kehormatan. 2. Menyempurnakan dan melengkapi kebutuhan hidup, sehingga yang diperlukan mudah didapa, kesulitan dapat diatasi dan dihilangkan. Untuk itu digunakan istilah haji (haji, hajat = kebutuhan). 3. Mewujudkan keindahan, keberesan dan kesempurnaandalam suatu kebutuhan. Untuk itu digunkan istilah tahsini (tahsini = membuat lebih baik, lebih indah). Demikianlah prinsip pokok ajaran Islamyang juga harus menjadi prinsip tujuan pendidikan dan pengajaran Islam. Ini berarti bahwa dalam tujuan pengajaran agama Islam harus berisi pemeliharaan yang daruri mewujudkan yang haji dan tahsini. Tujuan ini harus berisi sesuatu yang menumbuhkan, menyuburkan dan mengmbngkan keyakinan beragam, mengamalkan ajarannya, memelihara dan menyalurkan pertumbuhan dan

7

perkembangan rohani dan jasmani, membina dan menjaga kesejahteraan jiwa dan raga menurut norma-norma yang digariskan oleh ajaran Islam. Adapun ciri tujuan pendidikan dan pengajaran secara pada umumnya adalah; 1. Mudah dipahami, dapat dilaksanakan untuk menumbuhkan dan memperkuat iman, isi dan caranya harus bersifat manusiawi; sesuai dengan kodrat manusia menurut umur dan tingkatannya, 2. Tidak bertentangan dengan logika dan pertumbuhan rasa keimanan seseorang, 3. Sesuai dengan umur dan kecerdasan dan tingkat perkembangan keyakinan terhadap ajaran Islam. 4. Mendukung terlaksananya ajaran Islam yang amaliah, 5. Untuk mencapai tujuan itu tidak menggunkan alat atau penjelasan yang merusak atau mengurangi citra kesucian Islam. 5. Kandungan Tujuan Tujuan pengajaran agama Islam harus berisi hal-hal yang dapat menumbuhkan dan memperkuat iman serta mendorang pada kesenangan mengamalkan ajaran agama Islam. Proses pencapaian itu hendaknya sekaligus membina keterampilan mengamalkan ajaran islam itu. Untuk itu diperlukan usaha pembentukan materiil yang akan memperkaya murid dengan sejumlah pengetahuan, membaut mereka dapat menghayatidan mengembangkan ilmu itu, juga membuat ilmu yang mereka pelajarai itu berguna bagi mereka. Tujuan ini hendaknya mengandung sifat pemberian dan penanaman ilmu agama (kognitif) dan keterampilan mengamalkan ajaran agama (psikomotor). Untuk itu tujuan pengajaran agama Islam itu harus mengandung bahan pelajaran yang bersifat; 1. Menumbuh dan memperkuat iman, 2. Membekali dan memperkaya ilmu agama, 3. Membina keterampilan beramal, 4. Menuntun dan mengembangkan potensi yang dibawa sejak lahir sebagai manusia secara utuh (individual), 5. Menumbuhkan dan memupuk rasa sosial dan sifat-sifat terpuji, 6. Pemberian pengetahuan dan keterampilan yang dapat diamalakan dan

dikembangkandalam berbagai lapangan pekerjaan untuk mencari nafkah (tenaga profesional).

8

Secara umum dan ringkas dapat dikatakan bahwa tujuan pengajaran agama Islam itu harus mengandung berbagai aspek pembinaan manusia seutuhnya, sehingga nantinya ia dapat hidup dengan baik sebagai manusia Pancasilaias yang bertaqwa kepada Allah dalam ajaran Islam. 6. Jenjang Tujuan Tujuan dan pengajaran itu secara utuh dan lengkap tidak dapat dicapai dengan dengan pengajaran sekaligus dalam waktu yang singkat, tetapi harus melalui tahap-tahap periodisasi, sesuai dengan kondisi, situasi dan umur kecerdasan, yang perwujudannya dikembangkan dalam tingkatan-tingkatan pendidikan (pra-sekolah, rendah (dasar), menengah, tinggi). Penjenjangan tujuan ini disesuaikan dengan jenjang pendidikan formal yang berlaku dinegara kita. Setiap tahap dari jenjang tujuan itu harus berisi unsur yang meliputi kandungan tujuan secara penuh dengan bobot dan mutu yang semakin meningkat sesuai dengan tingkatan pengajaran. Setiap orang yang telah menyelesaikan satu tahap tingkatan pengajaran, hendaknya ia dapat hidup di tengah masyarakat dengan baik, sebagai manusia yang bertaqwa kepada Allah menurut ajaran Islam, sebagai warga negara yang Pancasilais, punya pekerjaan yang pantas untuk tingkatan dengan penghasilan yang cukup. Untuk itu ia harus berilmu, harus punya keterampilan, baik untuk mencari nafkah atau untuk mengabdi kepada Allah sebagai hamba Allah yang taat, punya sikap mental setia kepada negara dan yakin kepada ajaran Islam yang dianutnya. 7. Tujuan Bidang Studi Tujuan bidang studi artinya sesuatu yang akan dicapai setelah mempelajari sejumlah materi pelajaran yang tergabung dalam satu bidang studi itu. Agama Islam itu sebenarnya bukanlah suatu mata pelajaran, bukan suatu bidang studi. Agama Islam itu adalah suatu kepercayaan. Dari segi ini kita lihat bahwa agama Islam itu bukan suatu ilmu yang materinya dikelompokan dalam bidang studi; tetapi ajaran itu dapat dipelajari dan diamalkan. Karena itu pengajaran agama Islam itu berarti kegiatan mempelajari ajaran agama Islam. Tujuannya tentu saja supaya orang mempunya pengetahuan tentang ajaran Islam itu untuk diyakini dan diamalkan sehingga ia menjadi seorang muslim dan selanjutnya berkepribadian muslim.

9

Untuk memudahkan mempelajarinya, orang membagi dan memperinci pelajaran agama itu kedalam beberapa bidang studi, sesuai dengan sifat dan ruang lingkup bahan (materi) yang akan dipelajari. Materi pelajaran yang berisi ajaran tentang tingkah laku atau adab sopan santun dirumuskan dalam bidang studi akhlak. Materi pelajaran yang berisi ajaran tentang ibadah; bila digabungkan dengan masalah muamalat, munakahat, jinayat dan sebagainya, dikumpulkan dalam bidang studi ibadah-syari’ah atau Fiqih. Begitulah selanjutnya pengembangan kelompok bahan mata pelajaran itu disusun dalam berbagai bidang studi yang sesuai dengan materi pelajarannya. Masing-masing bidang studi itu mempunyai tujuan pengajaran tersendiri. Tujuan ini merupakan pengembangan dan penjabaran dari butir-butir tujuan pengajaran agama secara umum yang dituangkan dalam rumusan tujuan instruksional khusus, inilah yang harus dicapai dengan proses kegiatan belajar mengajar dalam satu pokok bahasan. Perpaduan keseluruhan dari tujuan instruksional khusus inilah yang diusahakan untuk mencapai tujuan bidang studi. Bila tujuan bidang studi tidak tercapai, sebab utamanya mungkin kekeliruan merumuskan tujuan instruksional khusus atau ketidakmampuan pengajar melaksanakan proses belajarmengajarnya; dan juga mungkin disebabkan kondisi dan situasi proses pelaksanaan kegiatan itu dan mungkin juga lingkungan hidup anak dan sekolah.

10

BAB III PENUTUP a. Kesimpulan Tujuan pendidikan Islam adalah keribadian muslim, yaitu suatu kepribadianyang seluruh aspeknya dijiwai oleh ajaran Islam. Orang yang berkepribadian Islam dalam Al-Qur’an disebut juga “muttaqin”. Karena itu Pendidikan Islam berarti juga pembentukan manusia yang bertaqwa. Ini sesuai benar dengar pendidikan nasional kita yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional yang akan membentuk manusia Pancasilais yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu mari kita sama-sama membangun sikap professionalisme dalam pembalajaran sesuai dengan ajaran islam.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Adrian. (2004). Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa. [Online] Tersedia: http://www. artikel.us_art05-65.html [18 Maret 2006] 2. Hamalik, Oemar. (2001). Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi Aksara 3. Nasution, S. (1982). Azas-azas Kurikulum. Bandung: Jemars. 4. Sagala, Syaiful. (2003). Konsep dan Makna Pembelajaran: Untuk Membantu Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta.
5. Muhammad Tohri, 2007. Belajar dan Pembelajaran : STKIP Hamzanwadi 6. Roestiyah, 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta

12

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->