P. 1
Makalah Tarikh Tasri' Tentang Keberadaan Ushul Fiqh Dan Qawaid Fiqh

Makalah Tarikh Tasri' Tentang Keberadaan Ushul Fiqh Dan Qawaid Fiqh

|Views: 173|Likes:
Published by Tanzil Al Khair

More info:

Published by: Tanzil Al Khair on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Masalah Sudah menjadi kesepakatan para Ulama’ dari berbagai mazhab, bahwasanya segala hal yang dilakukan oleh manusia mulai dari perkataan, perbuatan, baik yang berhubungan dengan ibadah ataupun mu’amalah memiliki hukum tersendiri, dalam hal ini al-Quran dan al-Hadits sebagai rujukan utama hukum islam terkadang menjelaskan secara nyata dan terkadang samar. Akan tetapi para ulama’ mujtahid mampu mengolah dalil dalil syara’ yang masih mujmal tersebut sebagai bahan untuk merumuskan dan menetapkan suatu hukum. B. Identifikasi Masalah Paparan singkat mengenai Definisi, Ruang Lingkup, Fungsi dan Tujuan dari : ¬ Ushul al Fiqh ¬ Dan sejauh manakah pengertian dan Urgensi Qawa’id al Fiqh dan Perkembangan dan pertumbuhan masing masing dari Fiqh, Ushul al Fiqh serta Qawa’id al Fiqh serta perbedaan antara Ushul al Fiqh dan Qawa’id al Fiqh C. Tujuan Pembahasan agar mahasiswa mampu mengetahui dengan jelas dan ringkas mengenai keberadaan ilmu Ushul al Fiqh serta Qawa’id al Fiqh beserta sejarah ringkas pertumbuhan dan perkembangannya.

BAB II PEMBAHASAN Keberdaan Ushul Fiqh dan Qawaid Fiqh A. Ushul Fiqh Ushul Fiqh muncul sebagai respon sekaligus solusi atas problematika yang terjadi di masanya. Dan, sebagai disilpin ilmu pengetahuan yang independen, ilmu ushul fiqh tidak hadir serta merta dalam bangunannya yang telah dianggap sempurna seperti saat ini, melainkan melewati beberapa fase; lahir, tumbuh, dan berkembang dalam beberapa periode. Telah menjadi maklum adanya, bahwa pembahawan ushul fiqh adalah kaidahkaidah bahasa Arab, implikasi-implikasinya, metodologi dedukasi hukum dari dalil-dalil tersebut saling berlawanan, serta pengetahuan tentang sifat-sifat seorang mujtahid. Pada periode awal Islam, mengkaji dan mempelajari ushul fiqh masih belum terasa dibutuhkan. Karena , disamping para mujtahid waktu itu adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan berbahasa dan budaya Arab yang tentunya, pemahaman tentang kaidah-kaidah bahasa Arab bukan merupakan hal yang sulit, juga karena ajaran Islam pada waktu itu, belum tercampur kebudayaan dan peradaban luar. Sehingga kaidah ushuliah yang ada pada waktu itu, hanya dapat ditemukan dalam praktek mujtahid ketika berijtihad. Berbeda dengan periode-periode setelahnya, dimana bahasa Arab telah mengalami percampuran dengan bahasa non Arab. Di samping itu, akulturasi budaya memunculkan sederetan persoalan yang hukumnya belum pernah terumuskan sebelumnya. Sebagai konsekuensinya, pintu masuk ijtihad menjadi semakin lebar yang berarti ruang munculnya kontroversi juga semakin luas. Praktis, ushul fiqh dalam keadaan seperti ini, sangat dibutuhkan; bukan hanya melalui kaidah praktis, tapi juga teoritis agar bisa dipahami oleh seluruh kalangan. 1. Defenisi dan Ruang Lingkup Ushul Fiqh Ditinjau dari aspek bahasa, ushul fiqh bermakna sebagai; dasar, dalil, atau sember-sumber hukum fiqh. Pengertian ini dihasilkan dari dua kata yang membentuk “Ushul al-Fiqh”, yaitu “Ushul” dan “Fiqh”. Ushul adalah bentuk

plural dari kata al-Ashl yang dalam bahasa Arab berarti dalil, dasar, atau sumber. Sedangkan “Fiqh” berarti paham atau mengerti. Salah satu contoh aplikasi term fiqh dengan makna ini adalah sabda Nabi Muhammad saw, “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah untuk mendapat kebaikan, maka ia akan diberi pemahaman (fiqh) dalam hal agama.” Ditinjau dari aspek terminologi, ushul fiqh berarti dalil atau ilmu pengetahuan yang mempelajari sumber-sumber hukum fiqh yang bersifat global, metode interpretasi, deduksi hukum (kaifiyah al-istinbath), serta kriteria atau sifat-sifat seorang mujtahid. Pengertian ini adalah definisi ushul fiqh yang secara kolektif telah dirumuskan oleh mayoritas lama Syafi’iah, sedangan ulama madzhab lain, seperti Malikiyah dan Hanafiyah, mengartikan ushul fiqh sebagai kaidah-kaidah umum untuk menformulasikan hukum-hukum syariat dari sumber atau dalil-dalil parsialnya. Maksud “ dalil hukum yang bersifat global” dalam pengertian di atas, ialah bentuk-bentuk umum suatu daslil. Dalil-dalil fiqh secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam dua tipe; pertama, dalil yang dilegitimasi keabsahannya (Muttafaq alaih); Kedua, dalil yang masih diperdebatkan keabsahannya (mukhtalaf fiha). Termasuk dalam kategori pertama adalah al-Quran, Hadits, Ijma’ (konsensus), dan qiyas (analogi). Sedangan dalam kategori kedua, yang paling terkenal ada tujuh metode; istihsan (preferensi juristik), al-maslahah almursalah (pertimbangan kemaslahatan), istihshhab (kontinuitas), ‘urf (adat), mazhab al-shihabi (pendapat shahabat), syar’ man qablana (syariat pra Islam), dan sadd al-dzara’I (upaya preventif atas timbulnya tindak ilegal). Selain ketujuh metode tersebut, masih ada metode-metode lain yang dipakai dalam kategori kedua. Diantaranya adalah metode yang dipakai Syafi’I tapi tidak disepakati oleh ulama lainnya, yaitu istiqra’(riset). Jika dicermati, nash al-Quran dan sunnah terdiri dari bentuk dan ragam bahasa yang variatif. Diantaranya ada yang berbentuk amri (perintah), nahy (larangan), ‘amm (umum), khashsh (khusus), muqayyad (dibatasi), muthlaq (tidak dibatasi), mubayyan (jelas), mujmal (tidak jelas), dan lain-lain. Bentuk-bentuk

global serta implikasinya, seperti hukum wajib, haram, sunah, makruh, mubah, sah, batal atau fasid, itulah diantaranya yang menjadi fokus utama itu, ushul fiqh juga membahas metode interpretasi dari nash-nash yang berbentuk majaz dan haqiqah, juga metode penahaman baik secara eksplisit (manthuq) maupun implisit (mafhum). Denga demikian, disiplin ilmu ini terkait erat dengan bidang bahasa yang sudah barang tentu dalam memahaminya diperlukan pengetahuan tentang gramatika Arab yang meliputi arti setiap kata (mufrodat), arti konvensional dari setiap ungkapan-ungkapan tunggal atau gabungan, serta kaidah-kaidah bahasa Arab. Norma–norma filologis yang digunakan sehubungan dengan persoalan tersebut, terdapat di dalam ilmu gramatika Arab (nahw), infeksi (tashrif), dan tata bahasa serta gaya bahasa (bayan atau balaghahI). Pembahasan tentang kaidah-kaidah bahasa di atas dikenal juga dengan istilah kaidah interpretasi. Pengetahuan tentang kaidah ini mutlak diperlukan dan sangat penting guna memahami secara tepat kandungan hukum nash. Sebab, tidak mungkin didapatkan hukum yang didedukdsi dari nash tersebut tidak terlebih dulu dupahami secara tepat. Dalam wilayah hadits, ilmu ushul fiqh juga membahas kriteria-kriteria hadits yang dijadkan pedoman atau sumber hukum fiqh. Tidak semua hadits dapat dijadikan pedoman, melainkan hanya hadits yang berkapasitas taawtur dan mashur saja. Sedangkan hadits ahad, bisa dijadikan pedoman dengan beberapa ketentuan, diantaranya harus diriwayatkan oleh orang-orang terpercaya (‘adl, tsiqah), redaksi (matn) hadits tidak melenceng dengan nash shahih lainnya, dan lain-lain. Dari ketiga macam kategori ii, kemudian muncul istilah hadits shahih, hasan dan dlaif. Dengan demikian, tampak sekali adanya korelasi antara ilmu ushl fiqh dan ilmu hadits (musthalah hadits) Sementara itu, fokus kajian ushul fiqh dalam ijma dan qiyas adalah legitimasi atau pengakuan bahwa keduanya dapat dijadikan pedoman hukum setelah al-Quran dan sunnah, dengan menampilkan argumen-argumen (hujjah) baik yang naqliyah (rasional). Lebih lanjut, ushul fiqh membahas klasifikasi dan komponen-komponen dasar intruksi ijma’ secara konseptual, ketentuan dan syarat-syarat khusus yang harus dimiliki kedua metode tersebut, juga otoritas keduanya baik bersama maupun ketika tidak ditemukan dalil lain. Misalnya,

syarat ijma’harus diperoleh dari seluruh mujtahid yang hidup pada masa itu, juga syarat adanya kesamaan illat hukum dalam qiyas, dan lain-lain. Selain itu ushul fiqh juga membahas mengenai metode istinbath (penggalian hukum), yaitu metode-metode yang digunakan dalam proses perumusan hukum ketika secar eksplisit terjadi kontradiksi diantara dalil-dalil, atau tidak ditemukannya dalil hukum untuk kasus tertentu. Pembahasan ini meliputi teoriteori tentang qiyas, istihshha, istihsan, maslahah mursalah, ‘urf, dan lain-lain. Semuanya bermuara pada formulasi hukum fiqh yang pada hakikatnya merupakan hasil akhir dari ushul fiqh. Dengan demikian, tampak jelas hubungan antara keduanya, yatiu fiqh sebagai produk hukum dan ushul fiqh sebagai metodologi istinbath al-ahkam (penggalian hukum). Hubungan antara keduanya sama persis dengan hubungan antara kaidah-kaidah mantiqihah (logika) dan filsafat. 2. Fungsi Ushul Fiqh Secara umum, ushul fiqh berfungsi sebagai media penggalian hukum melalui proses transfer dalil, yang emudian melahirkan apa yang disebut ilmu fiqh. Melaui proses ijtihad dan elaborasi berbagai dalail, maka laihirlah rumusanrumusan hukum fiqh. Pada titik puncaknya, ushul fiqh berbepran melahirkan disiplin ilmu baru, yaitu formulasi hukum fiqh dan kaidah-kaidah furu’iahnya (qawaid al-fiqhiyah). Diantara urgensi memahami ushul fiqh, selain sebagai transformasi memahami dan mendeduksi hukum syariat dari sumber asalnya, ushul fiqh juga berguna untuk menyelaraskan hukum-hukum syariat dengan perilaku kehidupan manusia, baik ucapan maupun tindakannya. Semua itu adalah fungsi umum ilmu ushul fiqh. Sementara funsi khususnya adalah menyelaraskan kaidah-kaidah dan teori-teori ushul dengan dalil-dalil yang terperinci, agar sampai kepada formulasi hukum syariat yang ditunjukkannya. Hanya melalui perantara kaidah dan pembahasan ushul lah, pesan-pesan nashsh mudah dipahami, dan segala sesuatu yang ditunjukkan oelh hukum-hukum yang terkandung didalamnya dapat diketahui.

Ushul fiqh juga berfungsi untuk mengetahui kesamaran kandungan nashhs, selain juga berfungsi sebagai pentarjih ketika –secara eksplisit- terjadi pertentangan antara sebagian nashsh dengan sebagian nashsh yang lain. Contoh dalam hal ini adalah ayat dan hadits yang menjelaskan hukuman pezina. Dalam al-Quran, siapa saja yang melakukan perbuatan zina akan mendapat uhkuman dera (ijild) seratus kali (QS, al-Nur: 2). Tanpa ada kejelasan apakah dia sudah menikah atau belum. Sementara dalam hadits-hadits Nabi terdapat klasifikasi; jika yang melkukan zina adalah orang yang telah menikah dengan pernikahan yang sah (muhsan), maka ia dihukum mati dengan dera rajam; dan apabila yang melakukannya belum menikah (ghair muhsan), maka disamping mendapat deraan seratus kali, juga diasingkan selama setahun. Kedua nash ini, secara eksplisit, tampak saling bertentangan, dan butuh takhrij atas salah satunya. Akhirnya, ushul fiqh lah yang berbicara. Ushul fiqh memposisikan hadits tersebut sebagai penjelas, pelengkap, dan penguat al-Quran. Sementara fungsi ushul fiqh yang berhubungan langsung dengan lapangan ijtihad adalah pengguannya sebagai media istinbath melalui metode qiyas, istihsan, istihsahab, ataupun lainnya, yang berpangkal pada kejadian-kejadian yang belum ditemukan nash hukumnya. Dengan begitu, seorang mujtahid tidak akan mengalami kesulitan dan mampu menimbang pendapat-pendapat yang berbeda-beda. Jika ditinjau dari aspek manfaatnya, ushul fiqh memberi manfaat kepada dua objek hukum; pertama, kepada para mujtahid (imam madzhab); kedua, kepada para pengikut mazhab (Muqallid). Fungsi yang pertama menunjukkan bahwa, ushul fiqh berperan sebagai jembatan untuk mendeduksi hukum dari dalil-dalil asal dengan metode-metode tertentu. Ketika seorang mujtahid sudah mengetahui dalil-dalil secara universal, sebagaimana dilalah “amr” adalah wajib selama tidak adanya indikasi yang mengarahkan pada fungsi yang lain, maka mereka bisa mendeduksi hukum wajib dari al-Quran atau hadits. Sebaliknya, ketika tidak memahami ushul fiqh, maka seseorang tidak akan mampu mendeduksi hukum; kedua, adalah fungsi ushul yang bisa diimplementasikan ketika seorang pengikut mazhab tidak menemukan solusi hukum atas permasalahan yang dihadapi. Dalam

kondisi seperti ini, dia bisa melakukan pendeduksian hukum melalui penelusuran ushul atau kaidah-kaidah imam mazhabnya. 3. Kemunculan Ilmu Ushul Fiqh Dengan melihat gugusan istilah “Ushu al-Fiqh”, sepintas kita akan berasumsi bahwa ushul fiqh pasti telah ada sebelum adanya fiqh. Sebab, bagaimana mungkin ushul fiqh ada tanpa didsari sebuah metodologi dalam perumusannya? Asumsi ini memang benar. Lagipula, sejarah telah membuktikan bahwa diskursus ushul fiqh sudah kerap kali diperdebatkan sejak periode awal Islam. Namun, perlu ditegaskan di sini, bahwa yang dimaksud kemunculan di atas adalah kemuunculan ushul fiqh sebagai sebuah displin ilmu yang independen. Dikatakan ilmu, karena pada periode sebelumnya (periode shahabat ), ushul fiqh hanya merupakan keahlian yang diperoleh secara natural. Sebab tokoh ushul fiqh periode shahabat sangat dekat dengan Nabi, didukung oleh penyaksian langsung terhadap proses turunnya wahyu, sehingga hal ini memberikan kepada mereka pengetahuan dan pemahaman mendasar tentang syariat Islam. Berbeda dengan periode setelahnya (tani’in), perdebatan-perdebatan ushul fiqh masih diikutkan dalam mateeri-materi kajian fiqh. Dengan kata lain, saat itu ushul fiqh tidak bisa lepas dari fuqh. Ushul fiqh periode itu belum menjadi disiplin ilmu yang independen. Lagipula pembahasan ushul fiqh dilakukan secara parsial, tidsak menyeluruh atas semua materi-materi yang menjadi pokok kajiannya, disamping belum ditemuakannya tulisan-tulisan yang secara komprehensif menjelaskan materi-materi tersebut. Namun demikian, patut dikatakan bahwa ilmu ushul fiqh yang lahir pada abad ke dua hijrah tidsak lain merupakan lanjutan proses alamiah dari permikiran sebelumnya. Atau dengan ungkapan lain, ilmu ushul fiqh ibarat sebuah pohon yang tumbuh subur dari sebuah benih yang sebelumnya tertanam di atas lahan yang subur pula. Lalu bagaimana kemunculannya?

Perbedaan pendapat mengenai implementasi metode fiqh yang terjadi di antara mazhab-mazhab Hijaz dan Irak, telah menginspirasi ulama untuk merumuskan dasar-dasar serta metodologi istinbath yang valid. Pada saat itu, keberadaan batasan-batasan pasti mangenai dalil atau sumber-sumber hukum fiqh mulai terasa dibutuhkan. Hal ini, antara lain dipicu oleh kontroversi fuqaha seputar penggunaan hadits. Seperti tampak pada aplikasi hadits oleh ulama Hijaz. Mereka lebih suka bergelut pada hadits-hadits yang ada, bahkan terkesan memaksakan pengunaan sebuah hadits, meskipun secara rasional tidak bisa diterima. Sebagaimana perdebatan antara Sai’d ibn al-Musayyab dengan Rabi’ah al-Ra’y tentang permasalah sangsi pemotongan jari. Selain itu, kekhawatiran mengenai timbulnya manipulas ijtihad oleh oknumoknum tertentu, mengharuskan adanya batasan pasti tentang kriteria tau syaratsyarat mujtahid. Hal ini dimaksudkan agar hukum fiqh yang diformulasikan benar-benar merupakan hasil usaha maksimal (Ijtihad) dari orang-orang yang benar-benar ahli dibidang hukum, tanpa dipengerahui oleh unsur lain. Materi-materi itulah diantaranya yang menjadi fokus kajian pada masa ini. Dan hasilnya, disusunlah klasifikasi mengenai dalil-dalil fiqh, metodologi istinbath, kriteria-kriteria mujtahid, dan argumentasi ‘aqliyah (rasional) maupun naqliyah (literer) dalam proses perumusan hukum, yang kemudian dikenal dengan nama ushul fiqh. Selain materi-materi di atas, kekhawatiran mengenai tercemarnya bahasa Arab dengan bahasa non Arab, juga menjadi kajian dan pembahasan yang mengsinspirasi ulama untuk melakukan kajian dan pembahasan mendalam tentang struktur bahasa Arab serta indikasi-indikasinya. Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman bahasa Arab mutlak diperlukan, sebab kedua sumber primer Islam, al-Quran dan hadits, semuanya menggunakan bahasa Arab. Hal ini dimaksudkan agar hukum fiqh yang diformulasikan dari dua sumber tersebut tidak melenceng dari maksud atau nilai yang terkandung di dalamnya.

B. Qawa’id al Fiqh 1. Definisi Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad warson menambahkan bahwa, kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), alQanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Sedangkan dalam tinjauan terminologi kaidah punya beberapa arti, menurut Dr. Ahmad asy-syafi’i dalam buku Usul Fiqh Islami, mengatakan bahwa kaidah itu adalah : ”Hukum yang bersifat universal (kulli) yangh diakui oleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak”. Sedangkan mayoritas Ulama Ushul mendefinisikan kaidah dengan : ”Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagiannya”. Sedangkan arti fiqh secara etimologi lebih dekat dengan ilmu, sebagaimana yang banyak dipahami, yaitu : ”Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama” (Q.S. At-Taubat : 122) Dan juga Sabda Nabi SAW, yaitu : Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya diberikan kepadanya kepahaman dalam agama. Sedangkan menurut istilah, Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukumhukum syara’ yang bersifat amaliyah (praktis) yang diambilkan dari dalil-dalil yang tafsili (terperinci) Jadi, dari semua uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Qawaidul fiqhiyah adalah : ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang banyak yang dengannya diketahui hukum-hukum cabang itu”. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa setiap kaidah fiqhiyah telah mengatur beberapa masalah fiqh dari berbagai bab. 2. Manfaat dan Urgensi Qawa’id al Fiqhiyah Manfaat dari kaidah Fiqh (Qawaidul Fiqh) adalah : Dengan kaidah-kidah fiqh kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi

titik temu dari masalah-masalah fiqh, dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi, dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat yang berbeda, untuk keadaan dan adaptasi yang berbeda, Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama, pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Qur’an dan alSunnah, hanya saja dengan cara yang tidak langsung Menurut Imam Ali al-Nadawi (1994) Mempermudah dalam menguasai materi hukum, membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan,Mendidik orang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk memahami permasalahan-permasalahnan baru, mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hukum dengan mengeluarkannya dari tema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topik. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar. Pengetahuan tentang kaidah fiqh merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu’ yang bermacam-macam. Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut : Dari sudut sumber, kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai maqasid al-Syari’at, karena dengan mendalami beberapa nash, ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan. Dari segi istinbath al-ahkam, kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. Oleh karena itu, kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya. Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya berkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hukum terhadap berbagai macam undang-undang, baik

mengenai perdata, pidana, ekonomi dan undang-undang dasar telah sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanunqanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang, karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas, maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu’ menjadi beberapa kelompok. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah, para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abdis Salam

menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jalan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah, karena jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu’-furu’ itu. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu’nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. C. Pertumbuhan dan perkembangan Fiqh dan Ushul al Fiqh dan Qawa’id al Fiqh a. Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Fiqh

Ilmu fiqh berkembang seiring perkembangan islam, hal ini dikarenakan islam adalah kumpulan dari akidah, etika dan hukum hukum amali. Dan Hal ini sudah terjadi mulai zaman rasulullah saw. yang bersumber langsung dari al Qur’an dan juga dari sabda sabda beliau yang sesuai dengan kondisi pada saat itu, seperti kejadian yang dialami para sahabat atau pertentangan, ataupun jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah saw. Maka dari itu hukum hukum fiqih pada awalnya adalah hanya terbentuk dari al Qur’an dan dawuh dawuh rasulullah saja.

Sedangkan pada masa sahabat mulai timbul permasalahan, mereka dihadapkan pada permasalahan yang baru yang sebelumnya tidak terjadi pada masa rasulullah saw. Maka sebagian dari sahabat melakukan ijtihad dan merekapun berfatwa dan memutuskan hukum hukum yang berdasarkan ijtihad dari al qur’an dan al hadits. Bisa dikatakan Fiqh pada masa ini Fiqh bersumber dari tiga unsur yaitu al qur’an al Sunnah dan ijtihad para sahabat yang bersumber dari al qur’an dan al hadits, melewati dua masa ini Fiqh belum berupa disiplin ilmu yang nyata karena hukumnya hanya timbul diakarenakan adanya kejadian kejadian dan belum munculnnya budaya tulis menulis dan kodifikasi, sehingga pada saat itu istilah ilmu fiqh dan Fuqoha’ belum muncul. Fiqh memulai babak awal perkembangan pada masa tabi’in dan tabi’ al tabi’in dan juga masa para imam mujtahid, masa ini terjadi sekitar abad ke dua setelah hijrah, dimana pemerintahan islam pada masa itu sudah sangat berkembang ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali bangsa selain arab sehingga umat islam pada masa itu sudah mulai dihadapkan pada hukum dan masalah baru serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendorong para ulama’ mujtahid untuk memperluas ilmu pengetahuan dan syari’at demi menjawab tantangan dan permasalahan permasalahan, merekapun mulai membuka majelis pembahasan dan perdebatan ilmiah sehingga munculah hukum hukum syariat untuk menjawab permasalahan atau kejadian yang mungkin terjadi dimasa mendatang, dan semua itu bersumber dari al Qur’an al sunnah, fatwa sahabat dan ijtihad para ulama’, maka pada masa ketiga inilah mulai muncul pemikiran dan ide pembukuan as sunnah, dan hukum syara’ pada masa itu sudah memiliki identitas ilmiah sendiri karena rumusan hukum sudah dilengkapi dengan dalil dalil dan illat illat serta cabang cabang permasalahan, al Fiqh pada masa itu sudah menjadi sebuah disiplin ilmu yang kemudian dikenal dengan sebutan ilmu fiqh dan orang orang yang bergelut dibidang ini dikenal dengan sebutan al Fuqoha’. Yang termasuk dalam catatan sejarah pembukuan ilmu fiqh pertama kali dan sampai pada kita hingga hari ini ialah kitab al Muwattha’ karya monumental dari Imam al A’dham Malik bin Anas ra. Beliau mendapat perintah langsung dari

Khalifah al Manshur untuk mengelompokkan hadits hadits shahih dan pendapat pendapat para sahabat tabi’in dan ulama’ setelah mereka. Al Muwattha’ merupakan kitab kombinasi antara Fiqh dan Hadits yang kemudian menjadi dasar dari fqhnya ulama’ ahli hijaz, kemudian diikuti oleh imam abu yusuf pengikut imam abu hanifah yang menulis banyak kitab fiqh sebagai acuan fiqh ulama’ Iraq, tak ketinggalan Imam syafi’I, beliau juga mengarang kitab al Umm ketika beliau masih bermukim di Mesir yang kemudian kitab tersebut menjadi dasar pokok mazhab syafi’i . b. Pertumbuhan dan Perkembangan Ushul al Fiqh

Ilmu Ushul al Fiqh pertama kali muncul pada masa kurun ke 2 Hijriyah, karena pada masa kurun pertama hijriyah belum ada kebutuhan untuk disiplin ilmu satu ini, karena pada masa itu rasululllahlah yang langsung berfatwa dan memutuskan hukum dari apa yang diwahyukan oleh Allah swt. Dan sabda sabda beliau, dengan tanpa meletakkan suatu dasar dan kaidah dalam merumuskan hukum dan ijtihad, pun juga para sahabat mereka menfatwakan dari apa yang mereka peroleh langsung dari sang Rasul saw. tanpa sebuah kaidah bahasa mereka mampu merumuskan hukum hukum fiqh yang tidak dijelaskan oleh al Qur’an atau al sunnah dengan kemampuan (malakah) yang sudah mendarah daging pada mereka disamping pengalaman mereka selama bersama sang Rasul saw. Akan tetapi ketika islam telah berkembang dengan pesat dan luas dan percampuran bangsa selain arab yang masuk ke arab, maka terjadilah pembauran antar mereka sehingga masuklah mufradat selain bahasa arab dan mulai berkurangnya malakah dari mereka seiring berjalannya waktu, maka sangat diperlukan sebuah kaidah kaidah bahasa untuk memahami nash al quran dan al hadits yang memakai bahasa arab secara benar dan tepat, hal ini sama juga dengan diciptakannya kaidah ilmu nahwu untuk meluruskan ucapan dan perkataan agar benar. Imam ibnu Nadim mengatakan : Orang yang pertama kali menulis kaidah kaidah ushul dalam sebuah buku ialah al Imam Abu Yusuf pengikut Imam Abu Hanifah akan tetapi tulisan tersebut tidak sampai kita hingga hari ini. al Imam

A’dhom as Syafi’I yang wafat pada tahun 204 H. adalah orang yang pertama kali membukukan kaidah ushul dengan dilengkapi dalil dalil. Yang kemudian dikenal dengan kitab “ar Risalah” sehingga sudah masyhur dikalangan para ulama bahwa as Syafi’I lah yang pertama kali meletakkan kaidah kaidah ushul al fiqh. c. Pertumbuhan dan Perkembangan Qawa’id al Fiqh

Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah diklarifikasikan menjadi 3 fase, yaitu : • Fase pertumbuhan dan pembentukan.

Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 hijriah. Periode ini dari segi fase sejarah hukum islam, dapat dibagi menjadi tiga zaman Nabi muhammad SAW, yang berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H / 12 SH-10 H), dan zaman tabi’in serta tabi’ tabi’in yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H). Tahun 351 H / 1974 M, dianggap sebagai zaman kejumudan, karena tidak ada lagi ulama pendiri maazhab. Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir alThabari (310 H / Dengan demikian, ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan, kaidah fiqh baru dibentuk dan ditumbuhkan. Ciri-ciri kaidah fiqh yuang dominan adalah Jawami al-Kalim (kalimat ringkas tapi cakupan maknnya sangat luas). Atas dasar ciri dominan tersebut, ulama menetapkan bahwa hadits yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. Oleh karena itulah periodesasi sejarah kaidah fiqih dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Generasi berikutnya adalah generasi sahabat, sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh, karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu mereka adalah murid Rasulullah SAW dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka. Generasi berikutnya adalah tabi’in dan tabi’ tabi’in selama 250 tahun. Diantara ulama yang mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabi’in adalah

Abu Yusuf Ya’kub ibn Ibrahim (113-182), dengan karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj. Ulama berikutnya yang mengembangkan kaidah fiqh adalah Imam AsySyafi’i, yang hidup pada fase kedua abad kedua hijriah (150-204 H), salah satu kaidah yang dibentuknya, yaitu : ”Sesuatu yang dibolehkan dalam keadaan terpaksa adalah tidak

diperbolehkan ketika tidak terpaksa” Ulama berikutnya yaitu Imam Ahmad bin Hambal (W. 241 H), diantara kaidah yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hambal, yaitu :”Setiap yang dibolehkan untuk dijual, maka dibolehkan untuk dihibahkan dan digadaikan” • Fase perkembangan dan kodifikasi

Dalah sejarah hukum islam, abad IV H, dikenal sebagai zaman taqlid. Pada zaman ini, sebagian besar ulama melakukan tarjih (penguatan-penguatan) pendapat imam mazhabnya masing-masing. Usaha kodifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar kaidah-kaidah itu bisa berguna bagi perkembangan ilmu fiqh pada masa-masa berikutnya. Pada abad VIII H, dikenal sebagai zaman keemasan dalam kodifikasi kaidah fiqh, karena perkembangan kodifikasi kaidah • Fase kematangan dan penyempurnaan

Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh, meskipun demikian tidak berarti tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. Salah satu kaidah yang disempurnakan di abad XIII H adalah “seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain, kecuali ada izin dari pemiliknya” Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata-kata idznih menjadi idzn. Oleh karena itu kaidah fiqh tersebut adalah : “seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin”

D. Perbedaan antara Kaidah Ushul al Fiqh dan Kaidah al Fiqh Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara’ yang praktis. Sedangkan kaidah fiqh adalah kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama. Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu’ (cabang). Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah furu’. Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam dalil yang rinci yang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil tersebut. Sedangkan kaidah fiqh menjelaskan masalah fiqh yang terhimpun di dalam kaidah.

DAFTAR PUSTAKA Ref. KH. Maimoen Zubair, “Sejarah Tasyri’ Islam” , Khalista, Surabaya. Forum Pengembangan Intelektual Lirboyo 2006 Khallaf, Abdul Wahab, 2004, Ushul al Fiqh, Cet ke 2, al Syarbaji, Ali Dkk, Surabaya Fiqh al Manhaji, Al Fithrah. al Khadori Bik, Muhammad, 2004, Beirut, Ushul al Fiqh, dar al fikr. al Syafi’I, Muhammad bin Idris, al Risalah, dar al Fikr, Beirut al Kajini, Ahmad Sahal bin Mahfud, 2000, Thariqatu al Husul ila Ghayati al Wushul, Diyantama, cet ke 1.

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah B. Identifikasi Masalah C. Tujuan Pembahasan BAB II PEMBAHASAN A. Ushul Fiqh 1. 2. 3. Defenisi dan Ruang Lingkup Ushul Fiqh Fungsi Ushul Fiqh Kemunculan Ilmu Ushul Fiqh 1. Definisi 9 2. Manfaat dan Urgensi Qawa’id al Fiqhiyah 9 C. Pertumbuhan dan perkembangan Fiqh dan Ushul al Fiqh dan Qawa’id al Fiqh D. Perbedaan antara Kaidah Ushul al Fiqh dan Kaidah al Fiqh DAFTAR PUSTAKA 16 11 2 2 4 7 1 1 1

B. Qawaid Fiqh

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->