GALUH KIRANA

BERBAGI KATA BERBAGI MAKNA

Kamis, 03 Februari 2011
Analisis Sosiologi Sastra
REALITAS SOSIAL KUMPULAN CERPEN AIR KALDERA KARYA JONI ARIADINATA (Analisis Sosiologi Sastra sebagai Upaya Memilih Bahan Ajar Sastra di SMA/MA) Adi Dwi Rianto* Abstrak Penelitian ini dilakukan karena penulis melihat dalam karya sastra banyak menyajikan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial yang ditemui dan dialami oleh tokoh dalam karya sastra. Kenyataan yang ada, banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian terhadap realitas sosial yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut dan bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan prosedur pengkategorian, pembacaan, dan pencatatan terhadap subjek yang ditemukan, selanjutnya dipertimbangkan dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra. Hasil analisis data menunjukan bahwa realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan bahan ajar sastra di SMA/MA. Kata kunci: realitas sosial, cerpen, sosiologi sastra, bahan ajar sastra

Pendahuluan Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kenyataan bahwa pengarang senantiasa hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Ruang dan waktu tertentu itu adalah sebuah kondisi sosial atau masyarakat. Di dalamnya, pengarang senantiasa akan terlibat dengan beraneka permasalahan, maka dalam proses penciptaan karya sastra, seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Ratna (2003:35) mengatakan “pada dasarnya, seluruh kejadian dalam karya, bahkan karya-karya yang termasuk ke dalam genre yang paling absurd pun merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari”. Dari pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa pengarang pada hakikatnya adalah seorang anggota masyarakat. Oleh karena itu ia

perkataan. dan logi (logos) berarti sabda. Cerpen-cerpen yang dianggap mengungkapkan realitas sosial terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. Nurgiyantoro (2000:68) menungkapkan bahwa “tema merupakan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan”. banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. tema. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen. sarana. Sebagai sebuah karya fiksi. Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Akan tetapi. Dari kenyataan tersebut muncul rumusan masalah. 2000:25) membedakan unsur intrinsik menjadi tiga bagian. teman. Dalam pembelajaran sastra di sekolah. antara lain: 1) Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek . dan sarana cerita. kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. siswa diharapkan memiliki pengalaman dan pengetahuan sastra dan lebih jauh lagi siswa diharapkan mampu menemukan pengalaman-pengalaman dalam karya sastra untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka. plot. psikologi. suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel”. 2000:10) mengatakan bahwa “cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. Akhiran tra berarti alat. Hal ini diduga karena bacaan sastra berbentuk fiksi dianggap sebagai karya imajinasi yang tidak berhubungan dengan realitas sosial. kawan. yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sarana cerita antara lain berupa sudut pandang penceritaan dan gaya bahasa. cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan imajinatif yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. Stanton (dalam Nurgiyantoro. Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra adalah unsur yang menyangkut aspek sosiologi. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama. adalah cerita yang pendek. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif bahan ajar sastra yang menghubungkan karya sastra dengan realitas sosial. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan. Nurgiyantoro (2000:23) mengungkapkan bahwa “unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya. biografi pengarang dan lain-lain. Fakta cerita meliputi karakter (tokoh cerita dan penokohan).terikat oleh status sosial tertentu. sesuai dengan namanya. dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari realitas sosial. perumpamaan. Cerpen sebagai salah satu karya sastra mampu mengungkapkan realitas sosial dalam aspek-aspek kehidupan yang dapat digunakan sebagai sarana bagi pembaca untuk lebih memahami masalahmasalah realitas sosial dalam kehidupan. Sarana cerita adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Tema cerita merupakan dasar pemikiran dari sebuah karangan. berapa ukuran panjang pendek cerpen memang tidak ada aturannya. mengajarkan. tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra”. Sosiologi Sastra Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. bersatu. dan setting. yaitu fakta. Karya sastra yang dihasilkan pengarang menyajikan gambaran kehidupan. yaitu 1) Realitas sosial apa saja yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut? 2) Bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Cerpen Cerpen. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang utuh. Kumpulan cerpen ini banyak mengandung realitas sosial sehingga dapat dijadikan bahan pemikiran bagi pembacanya dalam memandang kehidupan. Kenyataan yang ada di lapangan. memberi petunjuk dan instruksi. Edgar Allan Poe (dalam Nurgiyantoro.

hal itu disebabkan karena unsur-unsur dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan”. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran sastra dalam kurikulum SMA/MA. dan birokrasi. yang menitikberatkan pada sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri. yaitu kemiskinan. kejahatan. Ian Watt (dalam Damono. dan menganalisis cerpen serta dapat menghubungkan isi cerpen dengan relitas sosial” (Depdiknas. hidup dan kehidupan. Selanjutnya. beberapa aspek perlu dipertimbangkan. Karya sastra lahir tidak bisa lepas dari masyarakat karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat” (2001:89). Selanjutnya. Selanjutnya. Aspek tersebut adalah bahasa. akan tetapi ada beberapa persoalan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya.kemasyarakatannya. disorganisasi keluarga. Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Sastra Kedudukan pembelajaran cerpen dalam Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA/MA tahun 2004 sangat strategis. sastra sebagai cermin masyarakat. . 2) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya. dan (2) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. masalah lingkungan hidup. 4) Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat. Pembelajaran cerpen dalam kurikulum 2004 menyebutkan bahwa “peserta didik diantaranya diarahkan untuk membaca. bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia tetap ada”. Sumardjo (2001:64) mengungkapkan bahwa “sebuah karya cerpen yang baik ibarat pengalaman hidup yang kita alami dan sulit melupakannya”. 3) Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakangi. bergantung dari sistem nilai-nilai sosial masyarakat tersebut. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. yaitu konteks sosial pengarang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya sastra akan tetap menampilkan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat. Selanjutnya Rahmanto (1988) mengemukakan agar dapat memilih bahan pengajaran sastra dengan tepat. Masalah Sosial dalam Karya Sastra Sebagai sebuah karya yang imajiner. Rahmanto (1988:26) mengemukakan bahwa bahan pengajaran yang disajikan kepada para siswa harus sesuai dengan kemampuan siswanya pada suatu tahapan pengajaran tertentu. Dengan demikian pengarang akan memperlihatkan sikap dan pandangannya tentang berbagai unsur kehidupan manusia. Soekanto (1982:378-395) mengemukakan kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai problema sosial oleh masyarakat. Kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat terdiri dari berbagai macam permasalahan. dan latar belakang budaya. Menurut Soekanto (1982:368) yang dimaksud masalah sosial adalah “gejala-gejala abnormal yang terjadi di masyarakat. pelanggaran terhadap normanorma masyarakat. 2003:7). masalah generasi muda. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. Hubungan antara sosiologi dan sastra juga dikemukakan oleh Damono (1978:6) bahwa “sosiologi adalah telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. Damono (1978:7) mengungkapkan bahwa “sosiologi mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan. 1978:3-4) mengemukakan tiga macam klasifikasi masalah sosiologi sastra. yaitu (1) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. Klasifikasi sosiologi sastra dari Ian Watt inilah yang akan digunakan dalam penelitian tentang realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. telaah tentang lembaga dan proses sosial”. dan fungsi sosial sastra. memahami. dan 5) Sosiologi sastra berusaha menemukan kualits interdependensi antara sastra dengan masyarakat. Sumarjo mengungkapkan “Sastra menyajikan pengalaman kehidupan. memperluas wawasan kehidupan. fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. psikologi.

Keadaan sepi tersebut bukan karena tidak adanya penduduk namun karena penduduk di kampung tersebut sibuk dengan kegiatan pertaniannya. dan 3) menyimpulkan hasil analisis yang didasarkan pada analisis data secara keseluruhan. yaitu norma agama. (KMKM:19) Karena kemiskinan inilah timbul dendam kesumat dalam hati orang-orang Lembah Asmaketek terhadap Kampung Hitut yang kaya. Kemiskinan yang dirasakan orang-orang Lembah Asmaketek akhirnya melahirkan sebuah kejahatan berupa pembunuhan terhadap seorang kiai yang dianggap memiliki kesaktian sama dengan Kiai Bledek Kingking yang dimakamkan di Kampung Hitut. Lingkungan hidup pedesaan dengan tempat tinggal pertanian menjadi masalah yang sangat besar ketika keseimbangan antara kehidupan duniawi tidak seimbang dengan kehidupan akhirat. dokumen. Hal ini tercermin dalam kutipan. Agama mewajibkan pemeluknya untuk melakukan ibadah. Seperti biasa. Jangankan surau. Bahkan anak-anak. kewajiban sekolah bagi anak-anak juga telah dilanggar. Hal ini telah dilanggar oleh penduduk. Hal tersebut tercermin dalam kutipan berikut ini. anak . 2) Cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat Realitas sosial yang terefleksikan melalaui masalah sosial yang tedapat dalam cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat adalah masalah kemiskinan dan masalah kejahatan. Orang-orang kampung telah melanggar norma yang hidup di masyarakat. Hasil dan Pembahasan Realitas Sosial Terefleksikan Melalui Masalah Sosial dalam Kumpulan Cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata 1) Cerpen Dongeng Penunggu Surau Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Penunggu Surau adalah keadaan surau yang sepi pengunjung. baik yang dipaparkan pengarang maupun dialog lisan dan pikiran yang terdapat dalam diri tokoh cerpen. 2) pendeskripsian dilakukan dengan memberikan beberapa contoh kutipan. Tanah kering. Kemiskinan dirasakan oleh orang-orang Lembah Asmaketek. Kesenjangan sosial yang terjadi anatar Lembah Asmaketek dan Kampung Hitut membuat adanya rasa ketidakadilan sosial dalam diri orang-orang Lembah Asmaketek. Akar-akar ketela sebesar kelingking. Astaga! Ada apa dengan Lembah Asmaketek? Kampung melarat di utara. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2002:135) yang mengungkapkan bahwa di dalam melaksanakan metode dokumentasi. Pemberian contoh tersebut bertujuan untuk memperjelas dan memperkuat masalah yang dikaji. jika hujan. gaplek. bahkan sekolah selalu kosong (DPS:3). 3) Cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan adalah masalah disorganisasi keluarga. Tak ada sisa. Bukan hanya agama. air berlomba amblas. Mereka telah disibukkan oleh kegiatan bertani. dan sebagainya. peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. Perpecahan keluarga terjadi pada keluarga Markonah.Metode Analisis Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Tompel. Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Makan tiwul. Metode dokumentasi dipilih karena yang menjadi fokus kajian penelitian adalah realitas sosial kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. Ketidakseimbangan tersebut dirasakan oleh Imam Mathori dan Muadzin Ali. Dalam penelitian ini analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dengan langkah-langkah 1) pembacaan terhadap subjek yang diteliti untuk menemukan data-data yang berupa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. majalah. Lelaki dan perempuan.

Markonah nyaris tobat mendengar anaknya malah jadi ‘wali’. Ada dua kejahatan yang terjadi dalam cerpen ini. Tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita.’tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata’. Namun. Oleh karena itu. bunuh diri dapat dimasukan ke dalam tindak kejahatan. Kejahatan pembunuhan dilakukan secara tidak langsung oleh Wardoyo dan Rantawi terhadap Abah Marta. Perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dahulu. Markonah kurang begitu senang dengan perubahan yang terjadi dengan anaknya. Dia pun sudah berani menyeru kebenaran kepada ibunya bahkan ia telah menikahkan anak perempuan Markonah tanpa sepengetahuannya. konon. Saat ini kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia. Di kampung tersebut hanya ada satu keluarga yang namanya tidak pernah diumumkan di corong speaker setiap hari jumat.yang dibanggakan Markonah meninggalkan kuliahnya di Amerika dan menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran. Haji . memiliki dua shaf orang-orang yang diakui fasih oleh Haji Kadhib. “Heh?! Yang betul saja kamu itu ngomong. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang menunaikan ibadah haji. yaitu kejahatan bunuh diri dan kejahatan pembunuhan. jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…”(TLBYMT:32-33) Pendapat Markonah tentang kehidupan sangat bertentangan dengan pendapat Tompel. Hal ini tercermin dalam kutipan: Kampung Jahlun. Mereka lah yang akan menjadi pengatur dalam kegiatan beragama. Ijah?” (TLBYMT:32) Kutipan di atas adalah reaksi pertama Markonah ketika mendengar Tompel. 5) Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati menceritakan tentang perbandingan dalam menunaikan ibadah haji jaman dulu dengan jaman sekarang. Wardoyo jelas menyuruh Abah Marta untuk meminum segelas racun babi dan rantawi jelas menyuruh Wardoyo untuk percaya pada ceritanya dan mencobakannya pada Abah Marta. Cerpen ini bercerita tentang lingkungan di sebuah kampung yang sedang membangun mesjid. Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah masalah lingkungan hidup. Seiring kemajuan zaman. 6) Cerpen Pencuri Malaikat Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Pencuri Malaikat adalah masalah lingkungan sosial dan masalah kemiskinan. (JLMM:53) Kutipan di atas memperlihatkan adanya masalah dalam lingkungan sosial. Nilai-nilai perjuangan seakan berkurang bahkan hilang. Dan hal ini diharamkan oleh agama. Bunuh diri merupakan dosa besar bagi pemeluk agama Islam. sambutan masyarakat terhadap orang yang menunaikan ibadah haji semakin tinggi. Bolehkah Kami Bunuh Diri Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tuhan. menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran. lingkungan sosial pun semakin berkembang. Hal inilah yang menyebabkan Wardoyo dan rantawi ditangkap polisi. yaitu lingkungan sosial. Kejahatan bunuh diri dilakukan oleh Abah Marta dan Rantawi. Alasan Markonah kurang senang dengan pilihan hidup anaknya tercermin dalam kutipan: Andaikan leluhur-leluhur kita semua. Berlayar ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat. Bolehkah Kami Bunuh Diri? adalah masalah kejahatan. yaitu kejahatan terhadap diri sendiri. Tompel berpendapat bahwa tidak ada ilmu yang lebih bermanfaat kecuali ilmu agama. Status masyarakat telah menimbulkan kelas-kelas dalam masyarakat. Dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan. anaknya. betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri. seperti kata Wak haji. Perpecahan keluarga semakin terlihat ketika Tompel tidak mau lagi dipanggil Tompel. 4) Cerpen Tuhan. hingga mendapat jatah istimewa untuk selalu menempati shaf pertama dan shaf kedua baik dalam sembahyang Jumat maupun sembahyang jamaah biasa. Keluarga tersebut adalah keluarga Haji Bako. Bayangkan.

Cerpen ini bercerita tentang keluarga Basuki. Kehidupan ekonomi rumah tangga Oto dan Wiwik semakin sulit. Dari pemaparan di atas. Hal tersebut dianggap melanggar norma agama oleh jamaah Haji Johar. artinya murtad. Senasib dengan Haji bako. Selanjutnya kehidupan rumah tangga Oto dan Wiwik mulai memasuki masalah-masalah rumah tangga. Bahkan hampir bunuh diri. juga paling membingungkan…” (KSIBK:78) Kutipan-kutipan di atas menunjukan bahwa kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh jamaah Haji Johar bertentangan dengan ajaran agama Islam. Oto dan Wiwik adalah sepasang muda-mudi yang menikah dalam usia muda. Hartanya dihabiskan oleh seorang pencuri. Bukan itu saja. kehidupan Haji Bako semakin membaik. Haji Bako telah menyedekahkan seluruh hartanya untuk membangun mesjid tanpa sepengetahuan siapapun. Semua masalah tersebut berakhir pada sebuah rencana yang tidak terealisasikan. seluruh hartanya dicuri oleh pencuri. dan memiliki seorang anak bernama Monik. Basuki telah bercerai dengan Astuti. Orang tersebut dikatakan murtad. Pada awalnya. Mereka meninggalkan bangku sekolah dan memilih hidup berumah tangga. Kegiatan keagamaan yang dilakukan jamaah Haji Johar sangat bertentangan dengan norma agama yang sesungguhnya. Haji Bako. Haji Rofiq pun terkena masalah kemiskinan.Rofiq dan penduduk lainnya tidak menyukai keluarga ini. Namun seorang Kiai menolongnya dan menunjukan kebenaran bahwa semua itu hanya ujian dari Allah. Astuti hamil lagi dari laki-laki . 7) Cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami adalah masalah pelanggaran norma agama. kehidupan Oto dan Wiwik berjalan biasa. terlihat adanya masalah lingkungan sosial. Sebenarnya. Siapa peduli? Keluar dari jamaah. Masalah kemiskinan juga menjadi masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Pencuri Malaikat. 8) Cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik Masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik sebagai refleksi realitas sosial adalah masalah generasi muda yaitu pernikahan dini. Dik Koma. yang kelak bersama “orang-orang terdekat” dipergunakan untuk menghindarkan sehalus mungkin azab sakaratul maut. (KSIBK:80) Kutipan di atas menunjukan bahwa orang yang melawan Haji Johar dan keluar dari jamaah adalah orang yang telah melanggar agama. Pada akhir cerita. Titik. Ritus apakah itu? Seratus kali surat Al-Ikhlas dibaca beruntun dengan gumaman keras. Keberanian Abah Haji Johar untuk menderetkan Attakah dengan lemparan Jumrotul Aqobah. Pelanggaran norma agama dalam cerpen ini dilakukan oleh Kurnaedi dan Abah Haji Johar dan jamaahnya. Keluarga Haji bako menjadi korban dari masalah tersebut. Dia dan istrinya dikucilkan dari kehidupan masyarakat dan dianggap orang yang bersalah karean tidak pernah bersedekah. Mereka kehabisan perbekalan dalam mengarungi rumah tangga. 9) Cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama adalah disorganisasi keluarga. Sebaliknya. Kurnaedi melanggar dan keluar dari jamaah yang dipimpin Haji Johar. Haji bako pun bertobat. Awalnya kemiskinan membuat Haji Bako mengutuk Tuhan. Mulai dari masalah rumah sampai ke pekerjaan. Berjalan layaknya sepasang muda-mudi yang baru saja menikah. Dalam kemiskinan tersebut. Haji Rofiq menjadi sangat dihormati karena perjuangannya dalam membangun mesjid. Namun lagi-lagi pencuri mencuri hartanya sampai tidak tersisa. Hal tersebut terlihat dalam kutipan: Attakah. dihitung dari jumlah kerikil. Sebenarnya. mereka meninggal dunia dengan segala kasih layaknya Romeo dan Juliet. Setelah bertobat. (KSIBK:76) “Betul. pada masa lampau adalah orang yang miskin. mantan istrinya. Tak peduli Komaruddin hanya satu dari sekian alasan. Abah Haji Johar dan jamaahnya lah yang telah melanggar norma agama. Abah Johar tak boleh ditentang gegabah. Termasuk istrinya.

majikannya. Udara pengap lantaran polusi ledakan. Semakin lama Kopral Fauzi menjadikan rumah Abah menjadi tempat pelacuran. Ah. … Dua penjaga kurus abadi. menceritakan segala peristiwa antara Astuti dan lelaki barunya. Indah dipaksa menikahi seorang kopral bernama Fauzi Amin oleh abahnya. Polusi udara. Selain masalah lingkungan hidup. polusi suara. Realitas sosial lainnya yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah terefleksikan dalam masalah kemiskinan. 11) Cerpen Indah Mencuri Kabut Realitas sosial yang terefleksikan oleh masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah masalah disorganisasi keluarga dan masalah kemiskinan. Lingkungan biologis dan lingkungan sosial terganggu. angina kerontang. Obat Lia tinggal enam. delapan sopir yang masing-masing juga tak lebih dari prajurit satu itu . 10) Cerpen Serdadu Palsu Cerita pendek Serdadu Palsu mengangkat masalah lingkungan hidup dan kemiskinan sebagai refleksi dari realitas sosial. Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya latihan perang. Hal inilah yang membuat Basuki pusing. Namun. “Dua puluh delapan tahun!!” Begitu di sela-sela penjaga itu menyumpah.lain. seorang sopir memiliki tugas dan kewajiban yang sangat berat. Bahkan ibadah pun dapat ditinggalkan.tentu saja gajinya hanya dua ratus ribu … (SP : 115). Lia. Masalah birokrasi dalam cerpen Jembatan Langit terlihat dari penokohan Sarman yang menjadi sopir pribadi Satrio. Indah adalah perempuan yang dipaksa melayani setiap kawan Fauzi yang datang. Masalah lingkungan hidup dalam cerpen ini mempermasalahkan lingkungan biologis dan lingkungan sosial yang terganggu oleh latihan perang. Kehidupan Abah dan keluarganya sangat kekurangan. (SP : 120). dan masalah birokrasi. Masalah kemiskinan terjadi pada tokoh Sarman dan istrinya.. Dua bulan lalu hawa racun mencekik nyawa Samiri diperbatasan. sehingga Monik dititipkan pada Basuki. Monik pun ikut sakit bahkan tidak mau keluar dari kamarnya. Setiap anggota keluarga Indah menyalahkan Abah yang telah menikahkan Indah dengan Kopral fauzi Amin.. Hanya cukup untuk hari ini. Klotokan baling-baling pesawat tempur menerbangkan atap Sadiman. Anak Bardokir dan Mustajab tewas disambar peluru nyasar. Seorang sopir harus delalu siap kemanapun majikan ingin pergi. Namun setelah menikahkan Indah dengan Kopral Fauzi kehidupan Abah semakin baik. Inilah masalah disorganisasi keluarga yang menyebabkan anak menjadi korbannya. Malam. “Besok hari Rabu. Subuh. adalah bukti dari kerusakan lingkungan biologis. Abang. Kutipan di atas mencerminkan akibat-akibat dari latihan perang. Tak ada berita.. Tanpa bertanya. “Pangkatku tetap kopral dan janji tetap gaji tetap saja tiga ratus ribu!” Dan. 13) Cerpen Guillotine . cerpen Serdadu Palsu mengungkapkan masalah kemiskinan. Lelaki yang menghamili Astuti kabur sehingga Astuti jatuh sakit. Kerusakan lingkungan biologis menjadi faktor penyebab terganggunya lingkungan sosial. Masalah kemiskinan tercermin dalam tokoh-tokoh cerita pendek ini. 12) Cerpen Jembatan Langit Realitas sosial yang terefleksikan melalalui masalah sosial dalam cerpen Jembatan Langit adalah masalah kemiskinan.” (JL:146) Kutipan di atas menunjukan bahwa Sarman adalah orang yang kekurangan.. ketika Monik tidak ada di samping Basuki. dia merasakan kesepian. masalah kejahatan. dia tidak bisa membelikan obat untuk istrinya. Di dalam aturan birokrasi. tak pernah diganti. Mulut Monik sangat cerewet. Kehidupan keluarga Indah menjadi berantakan. Disorganisasi sosial yang terjadi dalam cerpen ini terjadi pada keluarga Indah. Pagi. Masalah kejahatan dalam cerpen ini dilakukan Sarman dengan membunuh Bapak Satrio. Sakit jasmani dan juga rohaninya.

dan (3) aspek latar belakang budaya. Dan yang paling penting. (G:154) 14) Cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden Realitas sosial dalam cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden yang terefleksikan melalui masalah sosial adalah masalah kejahatan. Dalam masa kekuasaannya. Joni Ariadinata tidak menerapkan prinsip-prinsip tata bahasa yang baku.gadis terhormat tanpa muka diseret keluarga: “Tolong.. Kejahatan dilakukan oleh Tuan Presiden sehingga dia dimasukan ke penjara dan dikenai hukuman mati. hal ini menjadi alat yang digunakan Joni untuk mengangkat sebuah realitas sosial yang sangat nyata dalam cerpen karena cerpen-cerpen Joni Ariadinata adalah cerpen-cerpen yang mengangkat masyarakat kelas bawah yang tidak mengenal tata bahasa baku. Kejahatan yang sama. Kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Presiden adalah kejahatan ketika dia masih menjadi penguasa. 2) Aspek Psikologis Kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak menyuguhkan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial. Politik tak akan pernah mengorbankan sejuta kepala hanya untuk menjaga seratus biji nyawa. Penggunaan bahasa yang sangat berbeda dengan tata bahasa yang baik dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. pelacur tanda kutip. ya Tuhan. Hal ini tercermin dalam kutipan: “Keparat. spontan. Aset-aset negara diberikan kepada anakanaknya. kolusi dan nepotisme. delapan perempuan menggantung. histeris: hamil muda. dan tidak dibuat-buat. Tuan Presiden? Sedang berkali kau perintahkan aku. empat belas mati.. Masalah-masalah tersebut sangat dekat dengan . Ketiga aspek yang dimaksud adalah (1) aspek bahasa. selamatkan dia Dokter! Korban hubungan tolol. Apakah tempat ini sudah demikian busuk? Menit. Kalimat-kalimat yang digunakan pendek-pendek. membentur tembok. Data statistik pasien Februari melonjak 40 prosen dari Januari -entah. Keuntungan lainnya. 1) Aspek Bahasa Bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata adalah bahasa bertentangan dengan tata bahasa Indonesia. Hal inilah yang menjadi penyebab utama kejahatan Tuan Presiden. tembak batok-batok pembangkang dengan mata dingin. SMA. 48 bayi.. pelajar. menurut Rahmanto (1988:27) ada tiga aspek. Korupsi.. itu ajaranmu yang pertama!” (PJDTTP:176) Kesesuaian Kumpulan Cerpen Air Kaldera Karya Joni Ariadinata dengan Bahan Ajar Sastra di SMA/MA Hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam memilih bahan ajar sastra. umur tiga belas. Masalah-masalah sosial yang tedapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat beragam. Siswa SMA/MA sangat mengenal bahasa-bahasa kelas bawah dengan ciri-ciri khasnya yang singkat. bahasa yang terdapat dalam cerpen Air Kaldera akan terasa sangat dekat dengan siswa karena menggunakan bahasa yang biasa siswa temui dalam kehidupan sehari-harinya. detik. jadi kau pun sadar betapa najis menyongsong maut. (2) aspek psikologi. kadang kasar.. juga akan merangsang siswa untuk menemukan perbedaan bahasa sastra dengan bahasa Indonesia yang mereka pelajari dalam linguistik. Hal ini menunjukkan ciri khas tersendiri dari gaya kepenulisan Joni. Penggunaan bahasa komunikasi yang sesuai dengan latar dan penokohan dalam cerpen mampu membuat siswa lebih menghayati penokohan yang ada di dalam cerpen. Tuan Presiden sering menghukum lawan-lawan politiknya dengan cara yang sama dengan apa yang dia rasakan saat ini. Kejahatan dalam cerpen ini berupa praktik aborsi yang dilakukan dokter dan perawat di sebuah yayasan. dan jam menyergap pada ketakutan mengumpati kepala demi kepala.Masalah kejahatan adalah realitas sosial yang direfleksikan dalam cerpen Guillotine.

Mereka akan lebih mudah memahami cerita karena telah mengenal budaya yang terdapat dalam cerpen. 2002. Jakarta: Rineka Cipta. Dar pernyataan-pernyataan tersebut. Nurgiyantoro. Teori Pengkajian Fiksi. Oleh karena itu. Damono. dan ibu rumah tangga. Penggunaaan tema. kejahatan. sebuah rumah kontrakan. latar tempat yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera adalah lingkungan sosial kelas bawah. Bagian kedua yang berjudul Indah mencuri Kabut pada umumnya mengambil tema sosial dengan tokoh-tokoh masyarakat kelas bawah seperti kopral. Departemen Pendidikan Nasioanal. Burhan. Berdasarkan tingkatan perkembangan psikologi yang diungkapkan oleh Rahmanto. Bagian pertama buku kumpulan cerpen Air Kaldera yang berjudul Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami pada umumnya mengambil tema religius dengan tokoh-tokoh yang religius seperti kiai. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Siswa SMA/MA pada umunya berumur 16 tahun ke atas. prajurit. seperti sebuah kampung. Pada umumnya. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. dan sebaginya. Metode Pengajaran Sastra. Kumpulan cerpen Air Kaldera menghadirkan tokoh dan latar yang berasal dari lingkungan sehari-hari siswa sehinggga sangat erat hubngannya dengan latar belakang budaya siswa. Pada akhirnya. Yogyakarta: Kanisius . Suharsimi. Hal ini disebabkan oleh adanya perasaan kedekatan siswa dengan cerita yang dibaca. Hal ini terlihat dari pembagian yang dilakukan Joni Ariadinata dalam bukunya. Masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat sesuai dengan tingkatan psikologi siswa SMA/MA yang berminat untuk menemukan konsep dan menganalisis suatu fenomena. 1988. Hal ini akan menjadi bahan bagi siswa untuk menemukan konsep-konsep sosial dengan menganalisis realitas sosial yang terdapat dalam cerpen. generasi muda. tokoh. perawat. Sosiologi Sastra Sebuah pengantar Ringkas. Daftar Pustaka Arikunto. B.. dan sebuah yayasan. 1979. Jakarta. sebuah tempat kumuh. pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat. haji. disorganisasi keluarga. Sapardi Djoko. realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera akan menarik minat siswa untuk menemukan dan merumuskan penyebab munculnya masalah-masalah sosial tersebut. Simpulan Penelitian ini telah menunjukan bahwa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. dan latar seperti tersebut di atas akan mampu menarik minat siswa untuk mempelajari sastra. umur 16 tahun dan selanjutnya adalah tahap generalisasi. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan MA.kehidupan siswa. sopir pribadi. Dari penelitian ini tampak bahwa bahasa yang digunakan dalam cerpen Air Kaldera adalah bahasa komunikasi yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Yogyakarta: Gadjah Mada Press Rahmanto. kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra di SMA/MA. lingkungan hidup dan birokrasi. 2003. 2000. 3) Aspek Latar Belakang Budaya Tema-tema cerpen dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak mengambil tema sosial dan religius. sebuah surau. adalah masalah kemiskinan. siswa akan menemukan sebuah keputusan moral tentang baik dan buruknya suatu tingkah laku atau peristiwa dalam cerpen dan menghubungkannnya dengan kehidupan sehari-hari. Tema dan pemilihan tokoh yang digunakan oleh pengarang sangat sesuai dengan latar belakang budaya siswa SMA/MA yang pada umumnya adalah umat beragama dan hidup dalam lingkungan sosial yang tidak jauh berbeda dengan lingkungan sosial dalam cerpen.

Kesombongan seorang individualis yang merasa tidak memerlukan orang lain dalam keberagamaannya. Hubungan vertikal antara dia dan Tuhan adalah satu-satunya tiket masuk surga. Teori. Soerjono. Bagi Ajo Sidi. Cerita Haji Saleh digunakan untuk mendekonstruksi keberagamaan yang berorientasi pada kesalehan ritual. Cerita Ajo Sidi memutarbalikkan perkara tersebut. . Nyoman Kutha. dan dapat dijadikan tiket masuk surga. dan Teknik Penelitian Sastra. Keberagamaan si kakek menjadi bahan olok-olok oleh si pembual Ajo Sidi. Kakek tersebut hidup dengan penuh pengabdian terhadap agama yang diwujudkan dengan kesetiaannya menjaga surau seorang diri. Diposkan oleh Adi Dwi Rianto di 00:54 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Esei Sastra KONTESTASI KESALEHAN RITUAL VERSUS SOSIAL (Kritik Sosial terhadap Praktik Keberagamaan) Oleh Siswo Harsono Kajian sosiologis cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis memerlukan beberapa lapis analisis. 2001. Paradigma Sosiologi Sastra. Metode. Keusangan tersebut seiring dengan ketuaan si kakek penjaga surau. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. analisis yang berkaitan dengan tokoh Haji Saleh sebagai seorang ahli ibadah yang masuk neraka menurut cerita Ajo Sidi pada si kakek. Robohnya surau berhubungan dengan ketuaan secara fisik bagunannya. Kesalehan sosial diwujudkan dengan bekerja. Pertama. Pekerjaan mengasah pisau ini bermanfaat bagi para wanita dan pria yang memerlukan ketajaman pisau-pisaunya. 2004. *Penulis dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Galuh Ciamis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kedua. Dengan cerita tersebut. Ketiga. tidak menguntungkan secara finansial. Baginya. Ketiga lapis analisis tersebut berkaitan deangan beberapa persoalan sosial. Soekanto. yang paling penting adalah kesalehan sosial. Ketaatannya dalam beragama lebih mementingkan beribadah daripada bekerja. Rajawali Sumardjo. Hubungan horisontal antara sesama manusia itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Fisik bangunan surau yang sudah usang menunjukkan ketidakpedulian umat terhadap rumah ibadah tersebut. namun secara sosial dia hanyalah seorang pengasah pisau bagi masyarakat di sekitarnya. dan secara ritual yang anti-sosial. Kesombongan seorang yang saleh yang merasa pasti masuk surga. Sosiologi Suatu Pengantar. 2003.Ratna. Jakarta: CV. Dengan kata lain. analisis yang berkaitan dengan surau itu sendiri sebagai tempat ibadah. analisis yang berkaitan dengan tokoh kakek sebagai marbot atau penjaga surau yang mati bunuh diri. Dia memperolok-olok si kakek dengan menceritakan kisah Haji Saleh yang konon walaupun saleh secara ritual tetap dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan karena dia selama hidupnya tidak memiliki kesalehan sosial sama sekali. Pada intinya kesalehan ritual Haji Saleh tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka karena dia tidak memiliki kesalehan sosial. Secara ritual kakek itu seorang yang saleh. Namun pekerjaan tersebut hanya menjadi mata pencaharian yang ala kadarnya. secara personal penjaganya. Kesalehan ritual bahkan menjadikan Haji Saleh sombong dan individualis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar __________________. Jakob. 1982. bekerja lebih utama daripada beribadah.

cerita keagamaan merupakan tuntunan kehidupan. Konghucu. Dalam kontestasi kedua habitus itulah masyarakat Minangkabau yang ritual dikalahkan oleh yang sosial. Meskipun demikian. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang. Kontestasi kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dimenangkan oleh yang terakhir. Sebaliknya kematian si kakek merupakan kekalahan kesalehan ritual di dunia. Bagi masyarakat religius. Dalam segi konsumsi sastra. beribadah dikalahkan oleh bekerja. Si kakek penjaga surau hidup dalam habitus (meminjam istilah Bourdieu) religius yang selalu beribadah secara ritual.kesalehan sosial yang diwujudkan dengan bekerja menjadi lebih utama. Buddha. Adapun kata “Kami” mengacu pada komunitas pemilik surau tersebut. dan dimasukkannya Haji Saleh ke dalam neraka merupakan kekalahan kesalehan ritual di akherat. Si kakek mati bunuh diri setelah mendengar kisah Haji Saleh masuk neraka. Kesalehan rutual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. Tentu saja sasaran kritik AA Navis tidak terbatas pada masyarakat Minangkabau saja. Sebagai orang Padang. cerpen “Robohnya Surau Kami” tentu saja ditujukan untuk konsumsi nasional karena menggunakan Bahasa Indonesia. Inilah isu sosial yang penting dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis. cerita dari berbagai tempat yang identik dengan bualan menjadi bahan hiburan.*** . Dari sisi produksi. atau Yahudi. Di satu pihak masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang religius. Keberlangsungan hidup dengan terus bekerja merupakan simbol kemenangan kesalehan sosial. persoalan sosiologi sastra tidak berhenti pada level tekstual saja. sosiologi sastra perlu melibatkan kajian penulis dan penerbit. Bagi masyarakat perantau. Sedangkan Ajo Sidi tetap bekerja pada hari si kakek meninggal. Kata “Surau” mengacu pada tempat ibadah masyarakat kampung Islam. AA Navis sebagai seorang juru dakwah secara naratif menggunakan kisah Haji Saleh sebagai kritik sosial terhadap kehidupan keberagamaan yang hanya mementingkan kehidupan ritual tetapi mengabaikan kehidupan sosial. di pihak lain. Sedangkan Ajo Sidi yang selalu merantau hidup dalam habitus sosial yang selalu bekerja. AA Navis sebagai penulis cerpen tersebut juga terikat dengan lingkungan sosio-kulturalnya. alusi latar yang menyangkut Indonesia menunjukkan sasaran kritik kehidupan keberagamaan dalam sekala nasional. namun berlanjut pada level kontekstual yang berkaitan dengan persoalan produksi-konsumsi sastra. dia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya Minangkabau. bukan Hindu. Dengan demikian tidak terjadi totalisasi terhadap keruntuhan tempat ibadah dan praktik keberagamaan secara universal. masyarakat tersebut juga memiliki budaya perdagangan yang selalu merantau. Hal tersebut akan berbeda jika cerpen itu ditulis dalam Bahasa Minangkabau. Kristen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful