P. 1
analisis cerpen

analisis cerpen

|Views: 1,298|Likes:
Published by Judge Casarunk

More info:

Published by: Judge Casarunk on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2012

pdf

text

original

GALUH KIRANA

BERBAGI KATA BERBAGI MAKNA

Kamis, 03 Februari 2011
Analisis Sosiologi Sastra
REALITAS SOSIAL KUMPULAN CERPEN AIR KALDERA KARYA JONI ARIADINATA (Analisis Sosiologi Sastra sebagai Upaya Memilih Bahan Ajar Sastra di SMA/MA) Adi Dwi Rianto* Abstrak Penelitian ini dilakukan karena penulis melihat dalam karya sastra banyak menyajikan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial yang ditemui dan dialami oleh tokoh dalam karya sastra. Kenyataan yang ada, banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian terhadap realitas sosial yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut dan bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan prosedur pengkategorian, pembacaan, dan pencatatan terhadap subjek yang ditemukan, selanjutnya dipertimbangkan dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra. Hasil analisis data menunjukan bahwa realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan bahan ajar sastra di SMA/MA. Kata kunci: realitas sosial, cerpen, sosiologi sastra, bahan ajar sastra

Pendahuluan Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kenyataan bahwa pengarang senantiasa hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Ruang dan waktu tertentu itu adalah sebuah kondisi sosial atau masyarakat. Di dalamnya, pengarang senantiasa akan terlibat dengan beraneka permasalahan, maka dalam proses penciptaan karya sastra, seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Ratna (2003:35) mengatakan “pada dasarnya, seluruh kejadian dalam karya, bahkan karya-karya yang termasuk ke dalam genre yang paling absurd pun merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari”. Dari pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa pengarang pada hakikatnya adalah seorang anggota masyarakat. Oleh karena itu ia

Fakta cerita meliputi karakter (tokoh cerita dan penokohan). Cerpen sebagai salah satu karya sastra mampu mengungkapkan realitas sosial dalam aspek-aspek kehidupan yang dapat digunakan sebagai sarana bagi pembaca untuk lebih memahami masalahmasalah realitas sosial dalam kehidupan. Cerpen-cerpen yang dianggap mengungkapkan realitas sosial terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata.terikat oleh status sosial tertentu. dan setting. Nurgiyantoro (2000:68) menungkapkan bahwa “tema merupakan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan”. sarana. berapa ukuran panjang pendek cerpen memang tidak ada aturannya. Edgar Allan Poe (dalam Nurgiyantoro. Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra adalah unsur yang menyangkut aspek sosiologi. Dari kenyataan tersebut muncul rumusan masalah. Sarana cerita adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Kenyataan yang ada di lapangan. yaitu 1) Realitas sosial apa saja yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut? 2) Bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Cerpen Cerpen. dan logi (logos) berarti sabda. Hal ini diduga karena bacaan sastra berbentuk fiksi dianggap sebagai karya imajinasi yang tidak berhubungan dengan realitas sosial. Karya sastra yang dihasilkan pengarang menyajikan gambaran kehidupan. Dalam pembelajaran sastra di sekolah. bersatu. perumpamaan. memberi petunjuk dan instruksi. Stanton (dalam Nurgiyantoro. Nurgiyantoro (2000:23) mengungkapkan bahwa “unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya. Sosiologi Sastra Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Tema cerita merupakan dasar pemikiran dari sebuah karangan. kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. teman. Sebagai sebuah karya fiksi. perkataan. Akhiran tra berarti alat. kawan. 2000:25) membedakan unsur intrinsik menjadi tiga bagian. mengajarkan. dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari realitas sosial. tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra”. cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan imajinatif yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif bahan ajar sastra yang menghubungkan karya sastra dengan realitas sosial. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama. suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel”. biografi pengarang dan lain-lain. yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan. dan sarana cerita. psikologi. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang utuh. 2000:10) mengatakan bahwa “cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. plot. banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. antara lain: 1) Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek . yaitu fakta. tema. adalah cerita yang pendek. Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen. siswa diharapkan memiliki pengalaman dan pengetahuan sastra dan lebih jauh lagi siswa diharapkan mampu menemukan pengalaman-pengalaman dalam karya sastra untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka. Kumpulan cerpen ini banyak mengandung realitas sosial sehingga dapat dijadikan bahan pemikiran bagi pembacanya dalam memandang kehidupan. sesuai dengan namanya. Akan tetapi. Sarana cerita antara lain berupa sudut pandang penceritaan dan gaya bahasa.

dan fungsi sosial sastra. Selanjutnya Rahmanto (1988) mengemukakan agar dapat memilih bahan pengajaran sastra dengan tepat. akan tetapi ada beberapa persoalan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya. Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Sastra Kedudukan pembelajaran cerpen dalam Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA/MA tahun 2004 sangat strategis. dan latar belakang budaya. disorganisasi keluarga. dan (2) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.kemasyarakatannya. beberapa aspek perlu dipertimbangkan. Hubungan antara sosiologi dan sastra juga dikemukakan oleh Damono (1978:6) bahwa “sosiologi adalah telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. yang menitikberatkan pada sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri. hal itu disebabkan karena unsur-unsur dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan”. . serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Klasifikasi sosiologi sastra dari Ian Watt inilah yang akan digunakan dalam penelitian tentang realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. kejahatan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya sastra akan tetap menampilkan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran sastra dalam kurikulum SMA/MA. Sumarjo mengungkapkan “Sastra menyajikan pengalaman kehidupan. Rahmanto (1988:26) mengemukakan bahwa bahan pengajaran yang disajikan kepada para siswa harus sesuai dengan kemampuan siswanya pada suatu tahapan pengajaran tertentu. Damono (1978:7) mengungkapkan bahwa “sosiologi mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan. 3) Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakangi. Selanjutnya. yaitu konteks sosial pengarang. dan 5) Sosiologi sastra berusaha menemukan kualits interdependensi antara sastra dengan masyarakat. Menurut Soekanto (1982:368) yang dimaksud masalah sosial adalah “gejala-gejala abnormal yang terjadi di masyarakat. 4) Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat. Karya sastra lahir tidak bisa lepas dari masyarakat karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat” (2001:89). Pembelajaran cerpen dalam kurikulum 2004 menyebutkan bahwa “peserta didik diantaranya diarahkan untuk membaca. Masalah Sosial dalam Karya Sastra Sebagai sebuah karya yang imajiner. Ian Watt (dalam Damono. yaitu (1) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. masalah generasi muda. Soekanto (1982:378-395) mengemukakan kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai problema sosial oleh masyarakat. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. 1978:3-4) mengemukakan tiga macam klasifikasi masalah sosiologi sastra. 2003:7). Aspek tersebut adalah bahasa. Dengan demikian pengarang akan memperlihatkan sikap dan pandangannya tentang berbagai unsur kehidupan manusia. hidup dan kehidupan. telaah tentang lembaga dan proses sosial”. masalah lingkungan hidup. memperluas wawasan kehidupan. memahami. pelanggaran terhadap normanorma masyarakat. Sumardjo (2001:64) mengungkapkan bahwa “sebuah karya cerpen yang baik ibarat pengalaman hidup yang kita alami dan sulit melupakannya”. 2) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya. bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia tetap ada”. Selanjutnya. dan birokrasi. Selanjutnya. yaitu kemiskinan. psikologi. bergantung dari sistem nilai-nilai sosial masyarakat tersebut. Kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat terdiri dari berbagai macam permasalahan. dan menganalisis cerpen serta dapat menghubungkan isi cerpen dengan relitas sosial” (Depdiknas. sastra sebagai cermin masyarakat.

peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. Kesenjangan sosial yang terjadi anatar Lembah Asmaketek dan Kampung Hitut membuat adanya rasa ketidakadilan sosial dalam diri orang-orang Lembah Asmaketek. Hal tersebut tercermin dalam kutipan berikut ini. Tanah kering. yaitu norma agama. bahkan sekolah selalu kosong (DPS:3). gaplek. Lelaki dan perempuan. (KMKM:19) Karena kemiskinan inilah timbul dendam kesumat dalam hati orang-orang Lembah Asmaketek terhadap Kampung Hitut yang kaya. Ketidakseimbangan tersebut dirasakan oleh Imam Mathori dan Muadzin Ali. Kemiskinan dirasakan oleh orang-orang Lembah Asmaketek. Mereka telah disibukkan oleh kegiatan bertani. anak . Bahkan anak-anak. Akar-akar ketela sebesar kelingking. Keadaan sepi tersebut bukan karena tidak adanya penduduk namun karena penduduk di kampung tersebut sibuk dengan kegiatan pertaniannya. Kemiskinan yang dirasakan orang-orang Lembah Asmaketek akhirnya melahirkan sebuah kejahatan berupa pembunuhan terhadap seorang kiai yang dianggap memiliki kesaktian sama dengan Kiai Bledek Kingking yang dimakamkan di Kampung Hitut. Hal ini telah dilanggar oleh penduduk. baik yang dipaparkan pengarang maupun dialog lisan dan pikiran yang terdapat dalam diri tokoh cerpen. dokumen. Makan tiwul. Lingkungan hidup pedesaan dengan tempat tinggal pertanian menjadi masalah yang sangat besar ketika keseimbangan antara kehidupan duniawi tidak seimbang dengan kehidupan akhirat. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2002:135) yang mengungkapkan bahwa di dalam melaksanakan metode dokumentasi. 2) Cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat Realitas sosial yang terefleksikan melalaui masalah sosial yang tedapat dalam cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat adalah masalah kemiskinan dan masalah kejahatan. 2) pendeskripsian dilakukan dengan memberikan beberapa contoh kutipan. dan 3) menyimpulkan hasil analisis yang didasarkan pada analisis data secara keseluruhan. Tak ada sisa.Metode Analisis Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Hal ini tercermin dalam kutipan. Metode dokumentasi dipilih karena yang menjadi fokus kajian penelitian adalah realitas sosial kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. Tompel. jika hujan. majalah. dan sebagainya. Agama mewajibkan pemeluknya untuk melakukan ibadah. kewajiban sekolah bagi anak-anak juga telah dilanggar. Astaga! Ada apa dengan Lembah Asmaketek? Kampung melarat di utara. Jangankan surau. Seperti biasa. air berlomba amblas. Hasil dan Pembahasan Realitas Sosial Terefleksikan Melalui Masalah Sosial dalam Kumpulan Cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata 1) Cerpen Dongeng Penunggu Surau Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Penunggu Surau adalah keadaan surau yang sepi pengunjung. Dalam penelitian ini analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dengan langkah-langkah 1) pembacaan terhadap subjek yang diteliti untuk menemukan data-data yang berupa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. Bukan hanya agama. Pemberian contoh tersebut bertujuan untuk memperjelas dan memperkuat masalah yang dikaji. 3) Cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan adalah masalah disorganisasi keluarga. Orang-orang kampung telah melanggar norma yang hidup di masyarakat. Perpecahan keluarga terjadi pada keluarga Markonah.

Markonah kurang begitu senang dengan perubahan yang terjadi dengan anaknya. Hal inilah yang menyebabkan Wardoyo dan rantawi ditangkap polisi. Hal ini tercermin dalam kutipan: Kampung Jahlun. yaitu kejahatan bunuh diri dan kejahatan pembunuhan. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang menunaikan ibadah haji. Dia pun sudah berani menyeru kebenaran kepada ibunya bahkan ia telah menikahkan anak perempuan Markonah tanpa sepengetahuannya. yaitu kejahatan terhadap diri sendiri. 5) Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati menceritakan tentang perbandingan dalam menunaikan ibadah haji jaman dulu dengan jaman sekarang. konon. betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri. Bunuh diri merupakan dosa besar bagi pemeluk agama Islam. Namun. Status masyarakat telah menimbulkan kelas-kelas dalam masyarakat. Dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan. “Heh?! Yang betul saja kamu itu ngomong.’tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata’. Perpecahan keluarga semakin terlihat ketika Tompel tidak mau lagi dipanggil Tompel. menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran. Wardoyo jelas menyuruh Abah Marta untuk meminum segelas racun babi dan rantawi jelas menyuruh Wardoyo untuk percaya pada ceritanya dan mencobakannya pada Abah Marta. Ijah?” (TLBYMT:32) Kutipan di atas adalah reaksi pertama Markonah ketika mendengar Tompel. jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…”(TLBYMT:32-33) Pendapat Markonah tentang kehidupan sangat bertentangan dengan pendapat Tompel. 4) Cerpen Tuhan. Bayangkan. seperti kata Wak haji. Di kampung tersebut hanya ada satu keluarga yang namanya tidak pernah diumumkan di corong speaker setiap hari jumat. Perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dahulu. Haji . Ada dua kejahatan yang terjadi dalam cerpen ini. Berlayar ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat. anaknya. Seiring kemajuan zaman. yaitu lingkungan sosial. Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah masalah lingkungan hidup. Keluarga tersebut adalah keluarga Haji Bako.yang dibanggakan Markonah meninggalkan kuliahnya di Amerika dan menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran. Mereka lah yang akan menjadi pengatur dalam kegiatan beragama. Oleh karena itu. 6) Cerpen Pencuri Malaikat Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Pencuri Malaikat adalah masalah lingkungan sosial dan masalah kemiskinan. (JLMM:53) Kutipan di atas memperlihatkan adanya masalah dalam lingkungan sosial. Nilai-nilai perjuangan seakan berkurang bahkan hilang. memiliki dua shaf orang-orang yang diakui fasih oleh Haji Kadhib. Tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita. Alasan Markonah kurang senang dengan pilihan hidup anaknya tercermin dalam kutipan: Andaikan leluhur-leluhur kita semua. Kejahatan bunuh diri dilakukan oleh Abah Marta dan Rantawi. hingga mendapat jatah istimewa untuk selalu menempati shaf pertama dan shaf kedua baik dalam sembahyang Jumat maupun sembahyang jamaah biasa. Tompel berpendapat bahwa tidak ada ilmu yang lebih bermanfaat kecuali ilmu agama. Dan hal ini diharamkan oleh agama. Bolehkah Kami Bunuh Diri? adalah masalah kejahatan. bunuh diri dapat dimasukan ke dalam tindak kejahatan. Markonah nyaris tobat mendengar anaknya malah jadi ‘wali’. Kejahatan pembunuhan dilakukan secara tidak langsung oleh Wardoyo dan Rantawi terhadap Abah Marta. Cerpen ini bercerita tentang lingkungan di sebuah kampung yang sedang membangun mesjid. lingkungan sosial pun semakin berkembang. Saat ini kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia. Bolehkah Kami Bunuh Diri Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tuhan. sambutan masyarakat terhadap orang yang menunaikan ibadah haji semakin tinggi.

Hal tersebut terlihat dalam kutipan: Attakah. dan memiliki seorang anak bernama Monik. Masalah kemiskinan juga menjadi masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Pencuri Malaikat. Dari pemaparan di atas. Oto dan Wiwik adalah sepasang muda-mudi yang menikah dalam usia muda. Mulai dari masalah rumah sampai ke pekerjaan. Selanjutnya kehidupan rumah tangga Oto dan Wiwik mulai memasuki masalah-masalah rumah tangga. Astuti hamil lagi dari laki-laki . Siapa peduli? Keluar dari jamaah. (KSIBK:76) “Betul. Abah Johar tak boleh ditentang gegabah. juga paling membingungkan…” (KSIBK:78) Kutipan-kutipan di atas menunjukan bahwa kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh jamaah Haji Johar bertentangan dengan ajaran agama Islam. Haji Rofiq menjadi sangat dihormati karena perjuangannya dalam membangun mesjid. Keberanian Abah Haji Johar untuk menderetkan Attakah dengan lemparan Jumrotul Aqobah. Orang tersebut dikatakan murtad. mereka meninggal dunia dengan segala kasih layaknya Romeo dan Juliet. dihitung dari jumlah kerikil. Pada akhir cerita. Mereka kehabisan perbekalan dalam mengarungi rumah tangga. Namun lagi-lagi pencuri mencuri hartanya sampai tidak tersisa. mantan istrinya. Abah Haji Johar dan jamaahnya lah yang telah melanggar norma agama. 7) Cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami adalah masalah pelanggaran norma agama. Tak peduli Komaruddin hanya satu dari sekian alasan. 9) Cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama adalah disorganisasi keluarga. Hartanya dihabiskan oleh seorang pencuri. Pelanggaran norma agama dalam cerpen ini dilakukan oleh Kurnaedi dan Abah Haji Johar dan jamaahnya. pada masa lampau adalah orang yang miskin. Haji Bako. Haji Rofiq pun terkena masalah kemiskinan. seluruh hartanya dicuri oleh pencuri. Dik Koma. Awalnya kemiskinan membuat Haji Bako mengutuk Tuhan. Haji bako pun bertobat. Setelah bertobat. Bukan itu saja. kehidupan Haji Bako semakin membaik. Basuki telah bercerai dengan Astuti. Haji Bako telah menyedekahkan seluruh hartanya untuk membangun mesjid tanpa sepengetahuan siapapun. Ritus apakah itu? Seratus kali surat Al-Ikhlas dibaca beruntun dengan gumaman keras. Kegiatan keagamaan yang dilakukan jamaah Haji Johar sangat bertentangan dengan norma agama yang sesungguhnya. Cerpen ini bercerita tentang keluarga Basuki. kehidupan Oto dan Wiwik berjalan biasa. Titik. Sebenarnya. Dalam kemiskinan tersebut. Termasuk istrinya. Sebaliknya. 8) Cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik Masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik sebagai refleksi realitas sosial adalah masalah generasi muda yaitu pernikahan dini. Namun seorang Kiai menolongnya dan menunjukan kebenaran bahwa semua itu hanya ujian dari Allah. Dia dan istrinya dikucilkan dari kehidupan masyarakat dan dianggap orang yang bersalah karean tidak pernah bersedekah. Hal tersebut dianggap melanggar norma agama oleh jamaah Haji Johar. Sebenarnya. Berjalan layaknya sepasang muda-mudi yang baru saja menikah.Rofiq dan penduduk lainnya tidak menyukai keluarga ini. Keluarga Haji bako menjadi korban dari masalah tersebut. (KSIBK:80) Kutipan di atas menunjukan bahwa orang yang melawan Haji Johar dan keluar dari jamaah adalah orang yang telah melanggar agama. Pada awalnya. Senasib dengan Haji bako. terlihat adanya masalah lingkungan sosial. Bahkan hampir bunuh diri. yang kelak bersama “orang-orang terdekat” dipergunakan untuk menghindarkan sehalus mungkin azab sakaratul maut. Kurnaedi melanggar dan keluar dari jamaah yang dipimpin Haji Johar. Semua masalah tersebut berakhir pada sebuah rencana yang tidak terealisasikan. Mereka meninggalkan bangku sekolah dan memilih hidup berumah tangga. artinya murtad. Kehidupan ekonomi rumah tangga Oto dan Wiwik semakin sulit.

“Besok hari Rabu. dan masalah birokrasi.lain. masalah kejahatan.. Pagi. Masalah kemiskinan tercermin dalam tokoh-tokoh cerita pendek ini. Realitas sosial lainnya yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah terefleksikan dalam masalah kemiskinan. “Pangkatku tetap kopral dan janji tetap gaji tetap saja tiga ratus ribu!” Dan. Monik pun ikut sakit bahkan tidak mau keluar dari kamarnya. Tanpa bertanya.tentu saja gajinya hanya dua ratus ribu … (SP : 115). Kutipan di atas mencerminkan akibat-akibat dari latihan perang. Lia. Sakit jasmani dan juga rohaninya. 12) Cerpen Jembatan Langit Realitas sosial yang terefleksikan melalalui masalah sosial dalam cerpen Jembatan Langit adalah masalah kemiskinan. Disorganisasi sosial yang terjadi dalam cerpen ini terjadi pada keluarga Indah. Bahkan ibadah pun dapat ditinggalkan. Lingkungan biologis dan lingkungan sosial terganggu.” (JL:146) Kutipan di atas menunjukan bahwa Sarman adalah orang yang kekurangan. ketika Monik tidak ada di samping Basuki. Seorang sopir harus delalu siap kemanapun majikan ingin pergi. Masalah kejahatan dalam cerpen ini dilakukan Sarman dengan membunuh Bapak Satrio. … Dua penjaga kurus abadi. delapan sopir yang masing-masing juga tak lebih dari prajurit satu itu . Selain masalah lingkungan hidup. angina kerontang. Di dalam aturan birokrasi. Masalah birokrasi dalam cerpen Jembatan Langit terlihat dari penokohan Sarman yang menjadi sopir pribadi Satrio. 11) Cerpen Indah Mencuri Kabut Realitas sosial yang terefleksikan oleh masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah masalah disorganisasi keluarga dan masalah kemiskinan. Namun setelah menikahkan Indah dengan Kopral Fauzi kehidupan Abah semakin baik. “Dua puluh delapan tahun!!” Begitu di sela-sela penjaga itu menyumpah. (SP : 120). Semakin lama Kopral Fauzi menjadikan rumah Abah menjadi tempat pelacuran. Ah. Subuh. Polusi udara. Kehidupan keluarga Indah menjadi berantakan. Tak ada berita. Setiap anggota keluarga Indah menyalahkan Abah yang telah menikahkan Indah dengan Kopral fauzi Amin. Indah adalah perempuan yang dipaksa melayani setiap kawan Fauzi yang datang. Dua bulan lalu hawa racun mencekik nyawa Samiri diperbatasan. sehingga Monik dititipkan pada Basuki. Masalah lingkungan hidup dalam cerpen ini mempermasalahkan lingkungan biologis dan lingkungan sosial yang terganggu oleh latihan perang. Inilah masalah disorganisasi keluarga yang menyebabkan anak menjadi korbannya. Lelaki yang menghamili Astuti kabur sehingga Astuti jatuh sakit.. Abang. menceritakan segala peristiwa antara Astuti dan lelaki barunya.. Udara pengap lantaran polusi ledakan. Indah dipaksa menikahi seorang kopral bernama Fauzi Amin oleh abahnya. tak pernah diganti. dia tidak bisa membelikan obat untuk istrinya. Hanya cukup untuk hari ini. Malam. Mulut Monik sangat cerewet. seorang sopir memiliki tugas dan kewajiban yang sangat berat. polusi suara.. Klotokan baling-baling pesawat tempur menerbangkan atap Sadiman. 13) Cerpen Guillotine . Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya latihan perang. Namun. cerpen Serdadu Palsu mengungkapkan masalah kemiskinan. Anak Bardokir dan Mustajab tewas disambar peluru nyasar. majikannya. adalah bukti dari kerusakan lingkungan biologis. Hal inilah yang membuat Basuki pusing. 10) Cerpen Serdadu Palsu Cerita pendek Serdadu Palsu mengangkat masalah lingkungan hidup dan kemiskinan sebagai refleksi dari realitas sosial. Kehidupan Abah dan keluarganya sangat kekurangan. dia merasakan kesepian. Kerusakan lingkungan biologis menjadi faktor penyebab terganggunya lingkungan sosial. Masalah kemiskinan terjadi pada tokoh Sarman dan istrinya. Obat Lia tinggal enam.

SMA. Penggunaan bahasa yang sangat berbeda dengan tata bahasa yang baik dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. Kejahatan dalam cerpen ini berupa praktik aborsi yang dilakukan dokter dan perawat di sebuah yayasan. ya Tuhan.. Joni Ariadinata tidak menerapkan prinsip-prinsip tata bahasa yang baku. Kejahatan dilakukan oleh Tuan Presiden sehingga dia dimasukan ke penjara dan dikenai hukuman mati. spontan. 48 bayi. kolusi dan nepotisme. Hal ini tercermin dalam kutipan: “Keparat. Masalah-masalah sosial yang tedapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat beragam. Tuan Presiden sering menghukum lawan-lawan politiknya dengan cara yang sama dengan apa yang dia rasakan saat ini. 1) Aspek Bahasa Bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata adalah bahasa bertentangan dengan tata bahasa Indonesia. bahasa yang terdapat dalam cerpen Air Kaldera akan terasa sangat dekat dengan siswa karena menggunakan bahasa yang biasa siswa temui dalam kehidupan sehari-harinya. membentur tembok. Kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Presiden adalah kejahatan ketika dia masih menjadi penguasa. jadi kau pun sadar betapa najis menyongsong maut. Kalimat-kalimat yang digunakan pendek-pendek. detik.Masalah kejahatan adalah realitas sosial yang direfleksikan dalam cerpen Guillotine. Data statistik pasien Februari melonjak 40 prosen dari Januari -entah. Dalam masa kekuasaannya. Ketiga aspek yang dimaksud adalah (1) aspek bahasa.. Korupsi. dan tidak dibuat-buat. delapan perempuan menggantung. empat belas mati.. pelajar.. pelacur tanda kutip. Penggunaan bahasa komunikasi yang sesuai dengan latar dan penokohan dalam cerpen mampu membuat siswa lebih menghayati penokohan yang ada di dalam cerpen. umur tiga belas. kadang kasar. Kejahatan yang sama. Hal ini menunjukkan ciri khas tersendiri dari gaya kepenulisan Joni. histeris: hamil muda. menurut Rahmanto (1988:27) ada tiga aspek.gadis terhormat tanpa muka diseret keluarga: “Tolong. Masalah-masalah tersebut sangat dekat dengan . Politik tak akan pernah mengorbankan sejuta kepala hanya untuk menjaga seratus biji nyawa. juga akan merangsang siswa untuk menemukan perbedaan bahasa sastra dengan bahasa Indonesia yang mereka pelajari dalam linguistik. hal ini menjadi alat yang digunakan Joni untuk mengangkat sebuah realitas sosial yang sangat nyata dalam cerpen karena cerpen-cerpen Joni Ariadinata adalah cerpen-cerpen yang mengangkat masyarakat kelas bawah yang tidak mengenal tata bahasa baku. itu ajaranmu yang pertama!” (PJDTTP:176) Kesesuaian Kumpulan Cerpen Air Kaldera Karya Joni Ariadinata dengan Bahan Ajar Sastra di SMA/MA Hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam memilih bahan ajar sastra. dan jam menyergap pada ketakutan mengumpati kepala demi kepala. (2) aspek psikologi. Dan yang paling penting. 2) Aspek Psikologis Kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak menyuguhkan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial. dan (3) aspek latar belakang budaya. Keuntungan lainnya. selamatkan dia Dokter! Korban hubungan tolol. Aset-aset negara diberikan kepada anakanaknya. (G:154) 14) Cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden Realitas sosial dalam cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden yang terefleksikan melalui masalah sosial adalah masalah kejahatan. Hal inilah yang menjadi penyebab utama kejahatan Tuan Presiden. Tuan Presiden? Sedang berkali kau perintahkan aku. Siswa SMA/MA sangat mengenal bahasa-bahasa kelas bawah dengan ciri-ciri khasnya yang singkat.. Apakah tempat ini sudah demikian busuk? Menit. tembak batok-batok pembangkang dengan mata dingin.

sebuah surau. latar tempat yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera adalah lingkungan sosial kelas bawah. sopir pribadi. realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera akan menarik minat siswa untuk menemukan dan merumuskan penyebab munculnya masalah-masalah sosial tersebut. kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra di SMA/MA. Hal ini terlihat dari pembagian yang dilakukan Joni Ariadinata dalam bukunya. Teori Pengkajian Fiksi. 2002. umur 16 tahun dan selanjutnya adalah tahap generalisasi. 2003. lingkungan hidup dan birokrasi. Yogyakarta: Gadjah Mada Press Rahmanto. Jakarta: Rineka Cipta. Yogyakarta: Kanisius . sebuah rumah kontrakan. 1988. Kumpulan cerpen Air Kaldera menghadirkan tokoh dan latar yang berasal dari lingkungan sehari-hari siswa sehinggga sangat erat hubngannya dengan latar belakang budaya siswa. Siswa SMA/MA pada umunya berumur 16 tahun ke atas. generasi muda. Metode Pengajaran Sastra. Masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat sesuai dengan tingkatan psikologi siswa SMA/MA yang berminat untuk menemukan konsep dan menganalisis suatu fenomena. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan MA. Jakarta. Hal ini akan menjadi bahan bagi siswa untuk menemukan konsep-konsep sosial dengan menganalisis realitas sosial yang terdapat dalam cerpen. Damono. perawat. Suharsimi. Pada akhirnya. haji.kehidupan siswa. pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat. Nurgiyantoro. Tema dan pemilihan tokoh yang digunakan oleh pengarang sangat sesuai dengan latar belakang budaya siswa SMA/MA yang pada umumnya adalah umat beragama dan hidup dalam lingkungan sosial yang tidak jauh berbeda dengan lingkungan sosial dalam cerpen. siswa akan menemukan sebuah keputusan moral tentang baik dan buruknya suatu tingkah laku atau peristiwa dalam cerpen dan menghubungkannnya dengan kehidupan sehari-hari. Dar pernyataan-pernyataan tersebut. Mereka akan lebih mudah memahami cerita karena telah mengenal budaya yang terdapat dalam cerpen. Sosiologi Sastra Sebuah pengantar Ringkas. dan ibu rumah tangga. kejahatan. 2000.. Bagian pertama buku kumpulan cerpen Air Kaldera yang berjudul Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami pada umumnya mengambil tema religius dengan tokoh-tokoh yang religius seperti kiai. Penggunaaan tema. Simpulan Penelitian ini telah menunjukan bahwa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. 1979. dan sebuah yayasan. tokoh. Hal ini disebabkan oleh adanya perasaan kedekatan siswa dengan cerita yang dibaca. sebuah tempat kumuh. Sapardi Djoko. Pada umumnya. Burhan. Berdasarkan tingkatan perkembangan psikologi yang diungkapkan oleh Rahmanto. B. Dari penelitian ini tampak bahwa bahasa yang digunakan dalam cerpen Air Kaldera adalah bahasa komunikasi yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. seperti sebuah kampung. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. adalah masalah kemiskinan. disorganisasi keluarga. 3) Aspek Latar Belakang Budaya Tema-tema cerpen dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak mengambil tema sosial dan religius. dan sebaginya. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. dan latar seperti tersebut di atas akan mampu menarik minat siswa untuk mempelajari sastra. Daftar Pustaka Arikunto. Departemen Pendidikan Nasioanal. prajurit. Bagian kedua yang berjudul Indah mencuri Kabut pada umumnya mengambil tema sosial dengan tokoh-tokoh masyarakat kelas bawah seperti kopral. Oleh karena itu.

Dengan cerita tersebut. Jakob. . Ketaatannya dalam beragama lebih mementingkan beribadah daripada bekerja. Dengan kata lain. Metode. Bagi Ajo Sidi. Fisik bangunan surau yang sudah usang menunjukkan ketidakpedulian umat terhadap rumah ibadah tersebut. bekerja lebih utama daripada beribadah. Nyoman Kutha. Soekanto. Cerita Haji Saleh digunakan untuk mendekonstruksi keberagamaan yang berorientasi pada kesalehan ritual. Pada intinya kesalehan ritual Haji Saleh tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka karena dia tidak memiliki kesalehan sosial. yang paling penting adalah kesalehan sosial. Hubungan vertikal antara dia dan Tuhan adalah satu-satunya tiket masuk surga. Jakarta: CV. Cerita Ajo Sidi memutarbalikkan perkara tersebut. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. 2001. Robohnya surau berhubungan dengan ketuaan secara fisik bagunannya. analisis yang berkaitan dengan tokoh kakek sebagai marbot atau penjaga surau yang mati bunuh diri. 1982. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Soerjono. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. analisis yang berkaitan dengan tokoh Haji Saleh sebagai seorang ahli ibadah yang masuk neraka menurut cerita Ajo Sidi pada si kakek.Ratna. Paradigma Sosiologi Sastra. Pertama. Diposkan oleh Adi Dwi Rianto di 00:54 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Esei Sastra KONTESTASI KESALEHAN RITUAL VERSUS SOSIAL (Kritik Sosial terhadap Praktik Keberagamaan) Oleh Siswo Harsono Kajian sosiologis cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis memerlukan beberapa lapis analisis. Ketiga lapis analisis tersebut berkaitan deangan beberapa persoalan sosial. 2003. Dia memperolok-olok si kakek dengan menceritakan kisah Haji Saleh yang konon walaupun saleh secara ritual tetap dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan karena dia selama hidupnya tidak memiliki kesalehan sosial sama sekali. Ketiga. tidak menguntungkan secara finansial. Kesalehan ritual bahkan menjadikan Haji Saleh sombong dan individualis. Keusangan tersebut seiring dengan ketuaan si kakek penjaga surau. Kesalehan sosial diwujudkan dengan bekerja. Kesombongan seorang individualis yang merasa tidak memerlukan orang lain dalam keberagamaannya. Rajawali Sumardjo. Secara ritual kakek itu seorang yang saleh. Kesombongan seorang yang saleh yang merasa pasti masuk surga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar __________________. Keberagamaan si kakek menjadi bahan olok-olok oleh si pembual Ajo Sidi. dan Teknik Penelitian Sastra. Kakek tersebut hidup dengan penuh pengabdian terhadap agama yang diwujudkan dengan kesetiaannya menjaga surau seorang diri. analisis yang berkaitan dengan surau itu sendiri sebagai tempat ibadah. Namun pekerjaan tersebut hanya menjadi mata pencaharian yang ala kadarnya. dan secara ritual yang anti-sosial. Kedua. secara personal penjaganya. namun secara sosial dia hanyalah seorang pengasah pisau bagi masyarakat di sekitarnya. dan dapat dijadikan tiket masuk surga. Teori. Pekerjaan mengasah pisau ini bermanfaat bagi para wanita dan pria yang memerlukan ketajaman pisau-pisaunya. Sosiologi Suatu Pengantar. Hubungan horisontal antara sesama manusia itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka. 2004. *Penulis dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Galuh Ciamis. Baginya.

beribadah dikalahkan oleh bekerja. Dengan demikian tidak terjadi totalisasi terhadap keruntuhan tempat ibadah dan praktik keberagamaan secara universal. Keberlangsungan hidup dengan terus bekerja merupakan simbol kemenangan kesalehan sosial. atau Yahudi. namun berlanjut pada level kontekstual yang berkaitan dengan persoalan produksi-konsumsi sastra. Dari sisi produksi.*** . cerpen “Robohnya Surau Kami” tentu saja ditujukan untuk konsumsi nasional karena menggunakan Bahasa Indonesia. Adapun kata “Kami” mengacu pada komunitas pemilik surau tersebut. Hal tersebut akan berbeda jika cerpen itu ditulis dalam Bahasa Minangkabau. Sedangkan Ajo Sidi yang selalu merantau hidup dalam habitus sosial yang selalu bekerja. Inilah isu sosial yang penting dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis.kesalehan sosial yang diwujudkan dengan bekerja menjadi lebih utama. persoalan sosiologi sastra tidak berhenti pada level tekstual saja. alusi latar yang menyangkut Indonesia menunjukkan sasaran kritik kehidupan keberagamaan dalam sekala nasional. cerita keagamaan merupakan tuntunan kehidupan. Bagi masyarakat perantau. Meskipun demikian. Sebaliknya kematian si kakek merupakan kekalahan kesalehan ritual di dunia. Sebagai orang Padang. sosiologi sastra perlu melibatkan kajian penulis dan penerbit. Si kakek mati bunuh diri setelah mendengar kisah Haji Saleh masuk neraka. Si kakek penjaga surau hidup dalam habitus (meminjam istilah Bourdieu) religius yang selalu beribadah secara ritual. Bagi masyarakat religius. dan dimasukkannya Haji Saleh ke dalam neraka merupakan kekalahan kesalehan ritual di akherat. bukan Hindu. Di satu pihak masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang religius. Kesalehan rutual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. Tentu saja sasaran kritik AA Navis tidak terbatas pada masyarakat Minangkabau saja. AA Navis sebagai seorang juru dakwah secara naratif menggunakan kisah Haji Saleh sebagai kritik sosial terhadap kehidupan keberagamaan yang hanya mementingkan kehidupan ritual tetapi mengabaikan kehidupan sosial. Kata “Surau” mengacu pada tempat ibadah masyarakat kampung Islam. Kontestasi kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dimenangkan oleh yang terakhir. AA Navis sebagai penulis cerpen tersebut juga terikat dengan lingkungan sosio-kulturalnya. di pihak lain. Sedangkan Ajo Sidi tetap bekerja pada hari si kakek meninggal. masyarakat tersebut juga memiliki budaya perdagangan yang selalu merantau. dia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya Minangkabau. cerita dari berbagai tempat yang identik dengan bualan menjadi bahan hiburan. Dalam kontestasi kedua habitus itulah masyarakat Minangkabau yang ritual dikalahkan oleh yang sosial. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang. Dalam segi konsumsi sastra. Konghucu. Kristen. Buddha.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->