GALUH KIRANA

BERBAGI KATA BERBAGI MAKNA

Kamis, 03 Februari 2011
Analisis Sosiologi Sastra
REALITAS SOSIAL KUMPULAN CERPEN AIR KALDERA KARYA JONI ARIADINATA (Analisis Sosiologi Sastra sebagai Upaya Memilih Bahan Ajar Sastra di SMA/MA) Adi Dwi Rianto* Abstrak Penelitian ini dilakukan karena penulis melihat dalam karya sastra banyak menyajikan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial yang ditemui dan dialami oleh tokoh dalam karya sastra. Kenyataan yang ada, banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. Tulisan ini melaporkan hasil penelitian terhadap realitas sosial yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut dan bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan prosedur pengkategorian, pembacaan, dan pencatatan terhadap subjek yang ditemukan, selanjutnya dipertimbangkan dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra. Hasil analisis data menunjukan bahwa realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan bahan ajar sastra di SMA/MA. Kata kunci: realitas sosial, cerpen, sosiologi sastra, bahan ajar sastra

Pendahuluan Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kenyataan bahwa pengarang senantiasa hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Ruang dan waktu tertentu itu adalah sebuah kondisi sosial atau masyarakat. Di dalamnya, pengarang senantiasa akan terlibat dengan beraneka permasalahan, maka dalam proses penciptaan karya sastra, seorang pengarang tidak terlepas dari pengaruh lingkungannya. Ratna (2003:35) mengatakan “pada dasarnya, seluruh kejadian dalam karya, bahkan karya-karya yang termasuk ke dalam genre yang paling absurd pun merupakan prototipe kejadian yang pernah dan mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari”. Dari pemaparan tersebut, dapat dikatakan bahwa pengarang pada hakikatnya adalah seorang anggota masyarakat. Oleh karena itu ia

Sosiologi Sastra Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. bersatu. Nurgiyantoro (2000:23) mengungkapkan bahwa “unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya. cerpen menawarkan sebuah model kehidupan atau bangunan imajinatif yang berdiri dengan unsur-unsur pendukungnya. tema. dan kehidupan itu sendiri sebagian besar terdiri dari realitas sosial. perkataan. Karya sastra yang dihasilkan pengarang menyajikan gambaran kehidupan. Tema cerita merupakan dasar pemikiran dari sebuah karangan. Hal ini diduga karena bacaan sastra berbentuk fiksi dianggap sebagai karya imajinasi yang tidak berhubungan dengan realitas sosial. Stanton (dalam Nurgiyantoro. berapa ukuran panjang pendek cerpen memang tidak ada aturannya. kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam. Unsur ekstrinsik sebuah karya sastra adalah unsur yang menyangkut aspek sosiologi. memberi petunjuk dan instruksi. antara lain: 1) Pemahaman terhadap karya sastra dengan pertimbangan aspek . dan sarana cerita. yaitu fakta. 2000:10) mengatakan bahwa “cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk. sesuai dengan namanya. Kumpulan cerpen ini banyak mengandung realitas sosial sehingga dapat dijadikan bahan pemikiran bagi pembacanya dalam memandang kehidupan. Sebagai sebuah karya fiksi. Cerpen sebagai salah satu karya sastra mampu mengungkapkan realitas sosial dalam aspek-aspek kehidupan yang dapat digunakan sebagai sarana bagi pembaca untuk lebih memahami masalahmasalah realitas sosial dalam kehidupan.terikat oleh status sosial tertentu. dan logi (logos) berarti sabda. kawan. dan setting. adalah cerita yang pendek. siswa diharapkan memiliki pengalaman dan pengetahuan sastra dan lebih jauh lagi siswa diharapkan mampu menemukan pengalaman-pengalaman dalam karya sastra untuk direnungkan dan diaplikasikan dalam kehidupan mereka. psikologi. Fakta cerita meliputi karakter (tokoh cerita dan penokohan). sarana. yaitu 1) Realitas sosial apa saja yang terkandung dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen tersebut? 2) Bagaimana kesesuaian kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata dengan bahan ajar sastra di SMA/MA? Cerpen Cerpen. perumpamaan. Sosiologi berasal dari kata sos (Yunani) yang berarti bersama. banyak siswa hanya mampu membaca karya sastra dari unsur intrinsiknya saja tetapi kurang mampu membaca hubungan karya sastra dengan realitas sosial. Oleh karena itu dibutuhkan alternatif bahan ajar sastra yang menghubungkan karya sastra dengan realitas sosial. Sarana cerita antara lain berupa sudut pandang penceritaan dan gaya bahasa. Kenyataan yang ada di lapangan. Sarana cerita adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Ada dua unsur utama yang terdapat dalam cerpen. Dalam pembelajaran sastra di sekolah. Menurut Ratna (2003: 2) ada sejumlah definisi mengenai sosiologi sastra yang perlu dipertimbangkan dalam rangka menemukan objektivitas hubungan antara karya sastra dengan masyarakat. Akan tetapi. Edgar Allan Poe (dalam Nurgiyantoro. Dari kenyataan tersebut muncul rumusan masalah. teman. plot. tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra”. Akhiran tra berarti alat. Cerpen-cerpen yang dianggap mengungkapkan realitas sosial terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian penting yang membuat jalinan cerita sehingga menghasilkan sebuah cerita yang utuh. mengajarkan. 2000:25) membedakan unsur intrinsik menjadi tiga bagian. Nurgiyantoro (2000:68) menungkapkan bahwa “tema merupakan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantik dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan-perbedaan”. suatu hal yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel”. biografi pengarang dan lain-lain. Sastra dari akar kata sas (Sansekerta) berarti mengarahkan.

yaitu konteks sosial pengarang. masalah lingkungan hidup. akan tetapi ada beberapa persoalan yang sama yang dihadapi oleh masyarakat pada umumnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karya sastra akan tetap menampilkan kejadian-kejadian yang ada di masyarakat. Karya sastra lahir tidak bisa lepas dari masyarakat karena sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat” (2001:89). 1978:3-4) mengemukakan tiga macam klasifikasi masalah sosiologi sastra. memahami. yaitu kemiskinan. Selanjutnya Rahmanto (1988) mengemukakan agar dapat memilih bahan pengajaran sastra dengan tepat. Sumardjo (2001:64) mengungkapkan bahwa “sebuah karya cerpen yang baik ibarat pengalaman hidup yang kita alami dan sulit melupakannya”. masalah generasi muda. dan birokrasi. psikologi. Hal ini sesuai dengan tujuan pengajaran sastra dalam kurikulum SMA/MA. dan 5) Sosiologi sastra berusaha menemukan kualits interdependensi antara sastra dengan masyarakat. yang menitikberatkan pada sastra yang mempermasalahkan karya sastra itu sendiri. kejahatan. beberapa aspek perlu dipertimbangkan. yaitu (1) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian. Aspek tersebut adalah bahasa. dan fungsi sosial sastra. Kejadian-kejadian yang terjadi di masyarakat terdiri dari berbagai macam permasalahan. Selanjutnya. Ian Watt (dalam Damono. bagaimana ia berlangsung dan bagaimana ia tetap ada”. fiksi menawarkan berbagai permasalahan manusia dan kemanusiaan. Hubungan antara sosiologi dan sastra juga dikemukakan oleh Damono (1978:6) bahwa “sosiologi adalah telaah objektif dan ilmiah tentang manusia dalam masyarakat. 2) Pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya. sastra sebagai cermin masyarakat. 2003:7). 3) Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakangi. Klasifikasi sosiologi sastra dari Ian Watt inilah yang akan digunakan dalam penelitian tentang realitas sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. dan (2) siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. bergantung dari sistem nilai-nilai sosial masyarakat tersebut. Rahmanto (1988:26) mengemukakan bahwa bahan pengajaran yang disajikan kepada para siswa harus sesuai dengan kemampuan siswanya pada suatu tahapan pengajaran tertentu. disorganisasi keluarga. hal itu disebabkan karena unsur-unsur dalam masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan”. Masalah Sosial dalam Karya Sastra Sebagai sebuah karya yang imajiner. Selanjutnya. Sumarjo mengungkapkan “Sastra menyajikan pengalaman kehidupan. Pembelajaran cerpen dalam kurikulum 2004 menyebutkan bahwa “peserta didik diantaranya diarahkan untuk membaca.kemasyarakatannya. Selanjutnya. dan latar belakang budaya. Soekanto (1982:378-395) mengemukakan kepincangan-kepincangan yang dianggap sebagai problema sosial oleh masyarakat. 4) Sosiologi sastra adalah hubungan dua arah (dialektik) antara sastra dengan masyarakat. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. hidup dan kehidupan. Damono (1978:7) mengungkapkan bahwa “sosiologi mencari tahu bagaimana masyarakat dimungkinkan. . pelanggaran terhadap normanorma masyarakat. memperluas wawasan kehidupan. telaah tentang lembaga dan proses sosial”. Pengarang menghayati berbagai permasalahan tersebut dengan penuh kesungguhan kemudian diungkapkannya kembali melalui sarana fiksi sesuai dengan pandangannya. dan menganalisis cerpen serta dapat menghubungkan isi cerpen dengan relitas sosial” (Depdiknas. Kriteria Pemilihan Bahan Ajar Sastra Kedudukan pembelajaran cerpen dalam Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA/MA tahun 2004 sangat strategis. Dengan demikian pengarang akan memperlihatkan sikap dan pandangannya tentang berbagai unsur kehidupan manusia. Menurut Soekanto (1982:368) yang dimaksud masalah sosial adalah “gejala-gejala abnormal yang terjadi di masyarakat.

Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto (2002:135) yang mengungkapkan bahwa di dalam melaksanakan metode dokumentasi. Bahkan anak-anak. Keadaan sepi tersebut bukan karena tidak adanya penduduk namun karena penduduk di kampung tersebut sibuk dengan kegiatan pertaniannya. Tompel. Seperti biasa. Agama mewajibkan pemeluknya untuk melakukan ibadah. Hal ini tercermin dalam kutipan. Tanah kering. Astaga! Ada apa dengan Lembah Asmaketek? Kampung melarat di utara. yaitu norma agama. Hasil dan Pembahasan Realitas Sosial Terefleksikan Melalui Masalah Sosial dalam Kumpulan Cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata 1) Cerpen Dongeng Penunggu Surau Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Penunggu Surau adalah keadaan surau yang sepi pengunjung. dokumen. Ketidakseimbangan tersebut dirasakan oleh Imam Mathori dan Muadzin Ali. anak . Kemiskinan yang dirasakan orang-orang Lembah Asmaketek akhirnya melahirkan sebuah kejahatan berupa pembunuhan terhadap seorang kiai yang dianggap memiliki kesaktian sama dengan Kiai Bledek Kingking yang dimakamkan di Kampung Hitut. (KMKM:19) Karena kemiskinan inilah timbul dendam kesumat dalam hati orang-orang Lembah Asmaketek terhadap Kampung Hitut yang kaya. majalah. Jangankan surau. Pemberian contoh tersebut bertujuan untuk memperjelas dan memperkuat masalah yang dikaji. 2) pendeskripsian dilakukan dengan memberikan beberapa contoh kutipan. Hal tersebut tercermin dalam kutipan berikut ini. Akar-akar ketela sebesar kelingking. bahkan sekolah selalu kosong (DPS:3). peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku. Hal ini telah dilanggar oleh penduduk. Mereka telah disibukkan oleh kegiatan bertani.Metode Analisis Metode analisis data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. gaplek. kewajiban sekolah bagi anak-anak juga telah dilanggar. Lingkungan hidup pedesaan dengan tempat tinggal pertanian menjadi masalah yang sangat besar ketika keseimbangan antara kehidupan duniawi tidak seimbang dengan kehidupan akhirat. baik yang dipaparkan pengarang maupun dialog lisan dan pikiran yang terdapat dalam diri tokoh cerpen. Makan tiwul. Kemiskinan dirasakan oleh orang-orang Lembah Asmaketek. Musim tanam selalu membuat seluruh kampung sibuk. Metode dokumentasi dipilih karena yang menjadi fokus kajian penelitian adalah realitas sosial kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. Tak ada sisa. 3) Cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tentang Lelaki Bergamis yang Mencintai Tuhan adalah masalah disorganisasi keluarga. Orang-orang kampung telah melanggar norma yang hidup di masyarakat. Bukan hanya agama. Kesenjangan sosial yang terjadi anatar Lembah Asmaketek dan Kampung Hitut membuat adanya rasa ketidakadilan sosial dalam diri orang-orang Lembah Asmaketek. Dalam penelitian ini analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif dengan langkah-langkah 1) pembacaan terhadap subjek yang diteliti untuk menemukan data-data yang berupa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. Lelaki dan perempuan. dan sebagainya. jika hujan. air berlomba amblas. Perpecahan keluarga terjadi pada keluarga Markonah. 2) Cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat Realitas sosial yang terefleksikan melalaui masalah sosial yang tedapat dalam cerpen Kita Mengadu Kepada Mayat adalah masalah kemiskinan dan masalah kejahatan. dan 3) menyimpulkan hasil analisis yang didasarkan pada analisis data secara keseluruhan.

Di kampung tersebut hanya ada satu keluarga yang namanya tidak pernah diumumkan di corong speaker setiap hari jumat. Oleh karena itu. Perpecahan keluarga semakin terlihat ketika Tompel tidak mau lagi dipanggil Tompel. Ada dua kejahatan yang terjadi dalam cerpen ini. yaitu kejahatan bunuh diri dan kejahatan pembunuhan. Perjalanan ke tanah suci tidak lagi seberat dahulu. bunuh diri dapat dimasukan ke dalam tindak kejahatan. lingkungan sosial pun semakin berkembang. Alasan Markonah kurang senang dengan pilihan hidup anaknya tercermin dalam kutipan: Andaikan leluhur-leluhur kita semua. Berlayar ke tanah suci merupakan perjuangan yang sangat berat. Mereka lah yang akan menjadi pengatur dalam kegiatan beragama. (JLMM:53) Kutipan di atas memperlihatkan adanya masalah dalam lingkungan sosial. Bolehkah Kami Bunuh Diri Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Tuhan. “Heh?! Yang betul saja kamu itu ngomong. seperti kata Wak haji. Bayangkan. yaitu lingkungan sosial. jika semua konsep keilmuan berdiri di atas nama kalimat syahadat…”(TLBYMT:32-33) Pendapat Markonah tentang kehidupan sangat bertentangan dengan pendapat Tompel. Dan hal ini diharamkan oleh agama. Tompel berpendapat bahwa tidak ada ilmu yang lebih bermanfaat kecuali ilmu agama. Hal inilah yang menyebabkan Wardoyo dan rantawi ditangkap polisi. 6) Cerpen Pencuri Malaikat Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Pencuri Malaikat adalah masalah lingkungan sosial dan masalah kemiskinan. anaknya. Hal ini tercermin dalam kutipan: Kampung Jahlun.’tidak terjebak dan berhenti pada masalah syariat semata’. Markonah kurang begitu senang dengan perubahan yang terjadi dengan anaknya. Keluarga tersebut adalah keluarga Haji Bako. Kejahatan pembunuhan dilakukan secara tidak langsung oleh Wardoyo dan Rantawi terhadap Abah Marta. Dia pun sudah berani menyeru kebenaran kepada ibunya bahkan ia telah menikahkan anak perempuan Markonah tanpa sepengetahuannya. yaitu kejahatan terhadap diri sendiri. Haji . Nilai-nilai perjuangan seakan berkurang bahkan hilang. memiliki dua shaf orang-orang yang diakui fasih oleh Haji Kadhib. Kejahatan bunuh diri dilakukan oleh Abah Marta dan Rantawi. betapa kita akan memiliki kebanggaan dan harga diri. Bunuh diri merupakan dosa besar bagi pemeluk agama Islam. 5) Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati Cerpen Jalan Lurus Menuju Mati menceritakan tentang perbandingan dalam menunaikan ibadah haji jaman dulu dengan jaman sekarang. Namun. Ijah?” (TLBYMT:32) Kutipan di atas adalah reaksi pertama Markonah ketika mendengar Tompel. sambutan masyarakat terhadap orang yang menunaikan ibadah haji semakin tinggi. Orang kampung telah meninggikan derajat orang yang menunaikan ibadah haji. Tidak terpojok dan tersisih sebagaimana orang-orang maju melecehkan kita. Dan orang tersebut dijadikan imam dalam kehidupan. Seiring kemajuan zaman. menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran.yang dibanggakan Markonah meninggalkan kuliahnya di Amerika dan menjadi seorang khalifah penyeru kebenaran. 4) Cerpen Tuhan. Status masyarakat telah menimbulkan kelas-kelas dalam masyarakat. Markonah nyaris tobat mendengar anaknya malah jadi ‘wali’. Cerpen ini bercerita tentang lingkungan di sebuah kampung yang sedang membangun mesjid. Bolehkah Kami Bunuh Diri? adalah masalah kejahatan. Wardoyo jelas menyuruh Abah Marta untuk meminum segelas racun babi dan rantawi jelas menyuruh Wardoyo untuk percaya pada ceritanya dan mencobakannya pada Abah Marta. konon. Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen ini adalah masalah lingkungan hidup. hingga mendapat jatah istimewa untuk selalu menempati shaf pertama dan shaf kedua baik dalam sembahyang Jumat maupun sembahyang jamaah biasa. Saat ini kemudahan-kemudahan dalam menunaikan ibadah haji telah tersedia.

Mereka kehabisan perbekalan dalam mengarungi rumah tangga. 7) Cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami adalah masalah pelanggaran norma agama. Haji Rofiq pun terkena masalah kemiskinan. (KSIBK:76) “Betul. Berjalan layaknya sepasang muda-mudi yang baru saja menikah. Cerpen ini bercerita tentang keluarga Basuki. Hartanya dihabiskan oleh seorang pencuri. Haji bako pun bertobat. Hal tersebut terlihat dalam kutipan: Attakah.Rofiq dan penduduk lainnya tidak menyukai keluarga ini. Basuki telah bercerai dengan Astuti. seluruh hartanya dicuri oleh pencuri. Abah Haji Johar dan jamaahnya lah yang telah melanggar norma agama. Pelanggaran norma agama dalam cerpen ini dilakukan oleh Kurnaedi dan Abah Haji Johar dan jamaahnya. pada masa lampau adalah orang yang miskin. Ritus apakah itu? Seratus kali surat Al-Ikhlas dibaca beruntun dengan gumaman keras. 8) Cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik Masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Kisah Kasih Oto dan Wiwik sebagai refleksi realitas sosial adalah masalah generasi muda yaitu pernikahan dini. Selanjutnya kehidupan rumah tangga Oto dan Wiwik mulai memasuki masalah-masalah rumah tangga. Termasuk istrinya. Dari pemaparan di atas. Pada akhir cerita. Bahkan hampir bunuh diri. Orang tersebut dikatakan murtad. Haji Bako telah menyedekahkan seluruh hartanya untuk membangun mesjid tanpa sepengetahuan siapapun. Mulai dari masalah rumah sampai ke pekerjaan. dihitung dari jumlah kerikil. Dik Koma. 9) Cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama Masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Dongeng Monik dan Balon di Perut Mama adalah disorganisasi keluarga. Siapa peduli? Keluar dari jamaah. kehidupan Oto dan Wiwik berjalan biasa. Haji Bako. Kehidupan ekonomi rumah tangga Oto dan Wiwik semakin sulit. Senasib dengan Haji bako. Mereka meninggalkan bangku sekolah dan memilih hidup berumah tangga. mantan istrinya. Astuti hamil lagi dari laki-laki . Sebenarnya. mereka meninggal dunia dengan segala kasih layaknya Romeo dan Juliet. Namun lagi-lagi pencuri mencuri hartanya sampai tidak tersisa. Sebenarnya. (KSIBK:80) Kutipan di atas menunjukan bahwa orang yang melawan Haji Johar dan keluar dari jamaah adalah orang yang telah melanggar agama. Pada awalnya. Setelah bertobat. Oto dan Wiwik adalah sepasang muda-mudi yang menikah dalam usia muda. juga paling membingungkan…” (KSIBK:78) Kutipan-kutipan di atas menunjukan bahwa kegiatan ritual keagamaan yang dilakukan oleh jamaah Haji Johar bertentangan dengan ajaran agama Islam. Abah Johar tak boleh ditentang gegabah. Keberanian Abah Haji Johar untuk menderetkan Attakah dengan lemparan Jumrotul Aqobah. Kegiatan keagamaan yang dilakukan jamaah Haji Johar sangat bertentangan dengan norma agama yang sesungguhnya. yang kelak bersama “orang-orang terdekat” dipergunakan untuk menghindarkan sehalus mungkin azab sakaratul maut. Tak peduli Komaruddin hanya satu dari sekian alasan. Bukan itu saja. dan memiliki seorang anak bernama Monik. kehidupan Haji Bako semakin membaik. Hal tersebut dianggap melanggar norma agama oleh jamaah Haji Johar. Awalnya kemiskinan membuat Haji Bako mengutuk Tuhan. Sebaliknya. Namun seorang Kiai menolongnya dan menunjukan kebenaran bahwa semua itu hanya ujian dari Allah. artinya murtad. Semua masalah tersebut berakhir pada sebuah rencana yang tidak terealisasikan. Kurnaedi melanggar dan keluar dari jamaah yang dipimpin Haji Johar. terlihat adanya masalah lingkungan sosial. Dia dan istrinya dikucilkan dari kehidupan masyarakat dan dianggap orang yang bersalah karean tidak pernah bersedekah. Titik. Haji Rofiq menjadi sangat dihormati karena perjuangannya dalam membangun mesjid. Masalah kemiskinan juga menjadi masalah sosial yang diangkat dalam cerpen Pencuri Malaikat. Keluarga Haji bako menjadi korban dari masalah tersebut. Dalam kemiskinan tersebut.

Masalah kemiskinan terjadi pada tokoh Sarman dan istrinya. menceritakan segala peristiwa antara Astuti dan lelaki barunya. majikannya.. Subuh. Namun. Di dalam aturan birokrasi. 12) Cerpen Jembatan Langit Realitas sosial yang terefleksikan melalalui masalah sosial dalam cerpen Jembatan Langit adalah masalah kemiskinan. Realitas sosial lainnya yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah terefleksikan dalam masalah kemiskinan. … Dua penjaga kurus abadi.. dia tidak bisa membelikan obat untuk istrinya. masalah kejahatan. Masalah birokrasi dalam cerpen Jembatan Langit terlihat dari penokohan Sarman yang menjadi sopir pribadi Satrio. Malam. “Besok hari Rabu.lain. polusi suara. “Dua puluh delapan tahun!!” Begitu di sela-sela penjaga itu menyumpah.. sehingga Monik dititipkan pada Basuki. Indah dipaksa menikahi seorang kopral bernama Fauzi Amin oleh abahnya. Udara pengap lantaran polusi ledakan. Mulut Monik sangat cerewet. Obat Lia tinggal enam. Dua bulan lalu hawa racun mencekik nyawa Samiri diperbatasan. Monik pun ikut sakit bahkan tidak mau keluar dari kamarnya. delapan sopir yang masing-masing juga tak lebih dari prajurit satu itu . Namun setelah menikahkan Indah dengan Kopral Fauzi kehidupan Abah semakin baik. Lingkungan biologis dan lingkungan sosial terganggu. Tanpa bertanya. Masyarakat menjadi terganggu dengan adanya latihan perang. Masalah lingkungan hidup dalam cerpen ini mempermasalahkan lingkungan biologis dan lingkungan sosial yang terganggu oleh latihan perang. 13) Cerpen Guillotine . (SP : 120). Lia. Polusi udara. Inilah masalah disorganisasi keluarga yang menyebabkan anak menjadi korbannya. Ah. Selain masalah lingkungan hidup. Klotokan baling-baling pesawat tempur menerbangkan atap Sadiman. Kehidupan keluarga Indah menjadi berantakan.tentu saja gajinya hanya dua ratus ribu … (SP : 115). 11) Cerpen Indah Mencuri Kabut Realitas sosial yang terefleksikan oleh masalah sosial yang terdapat dalam cerpen Indah Mencuri Kabut adalah masalah disorganisasi keluarga dan masalah kemiskinan. Abang. Sakit jasmani dan juga rohaninya. Pagi. dia merasakan kesepian. Kehidupan Abah dan keluarganya sangat kekurangan. Seorang sopir harus delalu siap kemanapun majikan ingin pergi. dan masalah birokrasi. Kutipan di atas mencerminkan akibat-akibat dari latihan perang. angina kerontang. Masalah kejahatan dalam cerpen ini dilakukan Sarman dengan membunuh Bapak Satrio. Lelaki yang menghamili Astuti kabur sehingga Astuti jatuh sakit. Semakin lama Kopral Fauzi menjadikan rumah Abah menjadi tempat pelacuran. 10) Cerpen Serdadu Palsu Cerita pendek Serdadu Palsu mengangkat masalah lingkungan hidup dan kemiskinan sebagai refleksi dari realitas sosial. Anak Bardokir dan Mustajab tewas disambar peluru nyasar. Masalah kemiskinan tercermin dalam tokoh-tokoh cerita pendek ini. Hal inilah yang membuat Basuki pusing. Kerusakan lingkungan biologis menjadi faktor penyebab terganggunya lingkungan sosial. ketika Monik tidak ada di samping Basuki. adalah bukti dari kerusakan lingkungan biologis. Disorganisasi sosial yang terjadi dalam cerpen ini terjadi pada keluarga Indah. Tak ada berita. cerpen Serdadu Palsu mengungkapkan masalah kemiskinan. Hanya cukup untuk hari ini. “Pangkatku tetap kopral dan janji tetap gaji tetap saja tiga ratus ribu!” Dan. tak pernah diganti. seorang sopir memiliki tugas dan kewajiban yang sangat berat. Setiap anggota keluarga Indah menyalahkan Abah yang telah menikahkan Indah dengan Kopral fauzi Amin. Indah adalah perempuan yang dipaksa melayani setiap kawan Fauzi yang datang.. Bahkan ibadah pun dapat ditinggalkan.” (JL:146) Kutipan di atas menunjukan bahwa Sarman adalah orang yang kekurangan.

gadis terhormat tanpa muka diseret keluarga: “Tolong. Siswa SMA/MA sangat mengenal bahasa-bahasa kelas bawah dengan ciri-ciri khasnya yang singkat. menurut Rahmanto (1988:27) ada tiga aspek. dan jam menyergap pada ketakutan mengumpati kepala demi kepala. Dalam masa kekuasaannya. Joni Ariadinata tidak menerapkan prinsip-prinsip tata bahasa yang baku.Masalah kejahatan adalah realitas sosial yang direfleksikan dalam cerpen Guillotine. (2) aspek psikologi. Kejahatan yang sama. bahasa yang terdapat dalam cerpen Air Kaldera akan terasa sangat dekat dengan siswa karena menggunakan bahasa yang biasa siswa temui dalam kehidupan sehari-harinya. kadang kasar. 48 bayi. dan tidak dibuat-buat. pelacur tanda kutip. SMA. jadi kau pun sadar betapa najis menyongsong maut. hal ini menjadi alat yang digunakan Joni untuk mengangkat sebuah realitas sosial yang sangat nyata dalam cerpen karena cerpen-cerpen Joni Ariadinata adalah cerpen-cerpen yang mengangkat masyarakat kelas bawah yang tidak mengenal tata bahasa baku. spontan.. kolusi dan nepotisme. Dan yang paling penting. Masalah-masalah sosial yang tedapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat beragam.. itu ajaranmu yang pertama!” (PJDTTP:176) Kesesuaian Kumpulan Cerpen Air Kaldera Karya Joni Ariadinata dengan Bahan Ajar Sastra di SMA/MA Hal yang harus diperhatikan seorang guru dalam memilih bahan ajar sastra. selamatkan dia Dokter! Korban hubungan tolol. detik. 1) Aspek Bahasa Bahasa yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata adalah bahasa bertentangan dengan tata bahasa Indonesia. dan (3) aspek latar belakang budaya.. Kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Presiden adalah kejahatan ketika dia masih menjadi penguasa. pelajar. Penggunaan bahasa yang sangat berbeda dengan tata bahasa yang baik dalam kumpulan cerpen Air Kaldera. Penggunaan bahasa komunikasi yang sesuai dengan latar dan penokohan dalam cerpen mampu membuat siswa lebih menghayati penokohan yang ada di dalam cerpen. Politik tak akan pernah mengorbankan sejuta kepala hanya untuk menjaga seratus biji nyawa. umur tiga belas. Hal inilah yang menjadi penyebab utama kejahatan Tuan Presiden. Keuntungan lainnya. Tuan Presiden? Sedang berkali kau perintahkan aku. tembak batok-batok pembangkang dengan mata dingin. 2) Aspek Psikologis Kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak menyuguhkan realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial. Hal ini tercermin dalam kutipan: “Keparat. ya Tuhan. empat belas mati.. Hal ini menunjukkan ciri khas tersendiri dari gaya kepenulisan Joni. Korupsi. Kalimat-kalimat yang digunakan pendek-pendek. juga akan merangsang siswa untuk menemukan perbedaan bahasa sastra dengan bahasa Indonesia yang mereka pelajari dalam linguistik. (G:154) 14) Cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden Realitas sosial dalam cerpen Puteri Jelita dan Terbunuhnya Tuan Presiden yang terefleksikan melalui masalah sosial adalah masalah kejahatan. histeris: hamil muda. Aset-aset negara diberikan kepada anakanaknya. Ketiga aspek yang dimaksud adalah (1) aspek bahasa. Kejahatan dilakukan oleh Tuan Presiden sehingga dia dimasukan ke penjara dan dikenai hukuman mati. Apakah tempat ini sudah demikian busuk? Menit. membentur tembok. Kejahatan dalam cerpen ini berupa praktik aborsi yang dilakukan dokter dan perawat di sebuah yayasan.. Masalah-masalah tersebut sangat dekat dengan . Tuan Presiden sering menghukum lawan-lawan politiknya dengan cara yang sama dengan apa yang dia rasakan saat ini. delapan perempuan menggantung. Data statistik pasien Februari melonjak 40 prosen dari Januari -entah.

Sapardi Djoko. Kumpulan cerpen Air Kaldera menghadirkan tokoh dan latar yang berasal dari lingkungan sehari-hari siswa sehinggga sangat erat hubngannya dengan latar belakang budaya siswa. lingkungan hidup dan birokrasi. disorganisasi keluarga. sebuah tempat kumuh. Hal ini terlihat dari pembagian yang dilakukan Joni Ariadinata dalam bukunya. dan latar seperti tersebut di atas akan mampu menarik minat siswa untuk mempelajari sastra. Dar pernyataan-pernyataan tersebut. adalah masalah kemiskinan. Yogyakarta: Kanisius . Dari penelitian ini tampak bahwa bahasa yang digunakan dalam cerpen Air Kaldera adalah bahasa komunikasi yang sering ditemui siswa dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya. pelanggaran terhadap norma-norma masyarakat. Penggunaaan tema. Yogyakarta: Gadjah Mada Press Rahmanto. Daftar Pustaka Arikunto. generasi muda. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. Departemen Pendidikan Nasioanal. 2002. sopir pribadi. Metode Pengajaran Sastra. Mereka akan lebih mudah memahami cerita karena telah mengenal budaya yang terdapat dalam cerpen. Hal ini akan menjadi bahan bagi siswa untuk menemukan konsep-konsep sosial dengan menganalisis realitas sosial yang terdapat dalam cerpen. sebuah rumah kontrakan. Siswa SMA/MA pada umunya berumur 16 tahun ke atas. Tema dan pemilihan tokoh yang digunakan oleh pengarang sangat sesuai dengan latar belakang budaya siswa SMA/MA yang pada umumnya adalah umat beragama dan hidup dalam lingkungan sosial yang tidak jauh berbeda dengan lingkungan sosial dalam cerpen. 1979. dan sebaginya. haji. Damono. 2000. Masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan cerpen Air Kaldera sangat sesuai dengan tingkatan psikologi siswa SMA/MA yang berminat untuk menemukan konsep dan menganalisis suatu fenomena. Teori Pengkajian Fiksi. Oleh karena itu. seperti sebuah kampung. 2003. kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata sesuai dengan kriteria pemilihan bahan ajar sastra di SMA/MA. Hal ini disebabkan oleh adanya perasaan kedekatan siswa dengan cerita yang dibaca. Jakarta: Rineka Cipta. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi Mata Pelajran Bahasa dan Sastra Indonesia SMA dan MA. realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera akan menarik minat siswa untuk menemukan dan merumuskan penyebab munculnya masalah-masalah sosial tersebut.kehidupan siswa. dan ibu rumah tangga. Nurgiyantoro. tokoh. perawat. B. 1988. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Simpulan Penelitian ini telah menunjukan bahwa realitas sosial yang terefleksikan melalui masalah-masalah sosial dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata. umur 16 tahun dan selanjutnya adalah tahap generalisasi. Burhan. Sosiologi Sastra Sebuah pengantar Ringkas. sebuah surau. Pada umumnya. siswa akan menemukan sebuah keputusan moral tentang baik dan buruknya suatu tingkah laku atau peristiwa dalam cerpen dan menghubungkannnya dengan kehidupan sehari-hari. Suharsimi. Bagian kedua yang berjudul Indah mencuri Kabut pada umumnya mengambil tema sosial dengan tokoh-tokoh masyarakat kelas bawah seperti kopral. latar tempat yang digunakan dalam kumpulan cerpen Air Kaldera adalah lingkungan sosial kelas bawah.. prajurit. kejahatan. Berdasarkan tingkatan perkembangan psikologi yang diungkapkan oleh Rahmanto. 3) Aspek Latar Belakang Budaya Tema-tema cerpen dalam kumpulan cerpen Air Kaldera karya Joni Ariadinata banyak mengambil tema sosial dan religius. Bagian pertama buku kumpulan cerpen Air Kaldera yang berjudul Kanjeng Sunan Ikut Bersama Kami pada umumnya mengambil tema religius dengan tokoh-tokoh yang religius seperti kiai. dan sebuah yayasan. Jakarta.

Robohnya surau berhubungan dengan ketuaan secara fisik bagunannya. Pekerjaan mengasah pisau ini bermanfaat bagi para wanita dan pria yang memerlukan ketajaman pisau-pisaunya. Dia memperolok-olok si kakek dengan menceritakan kisah Haji Saleh yang konon walaupun saleh secara ritual tetap dimasukkan ke dalam neraka oleh Tuhan karena dia selama hidupnya tidak memiliki kesalehan sosial sama sekali. Paradigma Sosiologi Sastra. Jakob. analisis yang berkaitan dengan surau itu sendiri sebagai tempat ibadah. Ketaatannya dalam beragama lebih mementingkan beribadah daripada bekerja. Kesalehan ritual bahkan menjadikan Haji Saleh sombong dan individualis. analisis yang berkaitan dengan tokoh Haji Saleh sebagai seorang ahli ibadah yang masuk neraka menurut cerita Ajo Sidi pada si kakek. Diposkan oleh Adi Dwi Rianto di 00:54 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Esei Sastra KONTESTASI KESALEHAN RITUAL VERSUS SOSIAL (Kritik Sosial terhadap Praktik Keberagamaan) Oleh Siswo Harsono Kajian sosiologis cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis memerlukan beberapa lapis analisis. Nyoman Kutha. dan Teknik Penelitian Sastra. Sosiologi Suatu Pengantar. Keberagamaan si kakek menjadi bahan olok-olok oleh si pembual Ajo Sidi. analisis yang berkaitan dengan tokoh kakek sebagai marbot atau penjaga surau yang mati bunuh diri. Teori. Pertama. Kesombongan seorang yang saleh yang merasa pasti masuk surga. Soerjono. Dengan cerita tersebut. Kakek tersebut hidup dengan penuh pengabdian terhadap agama yang diwujudkan dengan kesetiaannya menjaga surau seorang diri. Hubungan vertikal antara dia dan Tuhan adalah satu-satunya tiket masuk surga. Rajawali Sumardjo. secara personal penjaganya. . Kesalehan sosial diwujudkan dengan bekerja. Namun pekerjaan tersebut hanya menjadi mata pencaharian yang ala kadarnya. Metode. *Penulis dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Universitas Galuh Ciamis. Kesombongan seorang individualis yang merasa tidak memerlukan orang lain dalam keberagamaannya. namun secara sosial dia hanyalah seorang pengasah pisau bagi masyarakat di sekitarnya. 1982. Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Keusangan tersebut seiring dengan ketuaan si kakek penjaga surau. Soekanto. bekerja lebih utama daripada beribadah. Cerita Haji Saleh digunakan untuk mendekonstruksi keberagamaan yang berorientasi pada kesalehan ritual. Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar __________________. tidak menguntungkan secara finansial. yang paling penting adalah kesalehan sosial. Baginya. dan dapat dijadikan tiket masuk surga. Bagi Ajo Sidi. dan secara ritual yang anti-sosial. 2001.Ratna. Catatan Kecil Tentang Menulis Cerpen. Dengan kata lain. Secara ritual kakek itu seorang yang saleh. Ketiga lapis analisis tersebut berkaitan deangan beberapa persoalan sosial. Hubungan horisontal antara sesama manusia itulah yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa neraka. Fisik bangunan surau yang sudah usang menunjukkan ketidakpedulian umat terhadap rumah ibadah tersebut. Cerita Ajo Sidi memutarbalikkan perkara tersebut. Pada intinya kesalehan ritual Haji Saleh tidak dapat menyelamatkan dirinya dari siksa neraka karena dia tidak memiliki kesalehan sosial. 2003. Jakarta: CV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2004.

Hal tersebut akan berbeda jika cerpen itu ditulis dalam Bahasa Minangkabau. Di satu pihak masyarakat Minangkabau adalah masyarakat yang religius. di pihak lain.kesalehan sosial yang diwujudkan dengan bekerja menjadi lebih utama. Adapun kata “Kami” mengacu pada komunitas pemilik surau tersebut. Bagi masyarakat religius.*** . cerpen “Robohnya Surau Kami” tentu saja ditujukan untuk konsumsi nasional karena menggunakan Bahasa Indonesia. Dari sisi produksi. masyarakat tersebut juga memiliki budaya perdagangan yang selalu merantau. Meskipun demikian. cerita dari berbagai tempat yang identik dengan bualan menjadi bahan hiburan. Dalam kontestasi kedua habitus itulah masyarakat Minangkabau yang ritual dikalahkan oleh yang sosial. Kata “Surau” mengacu pada tempat ibadah masyarakat kampung Islam. Tentu saja sasaran kritik AA Navis tidak terbatas pada masyarakat Minangkabau saja. Kontestasi kesalehan ritual dengan kesalehan sosial dimenangkan oleh yang terakhir. Kristen. sosiologi sastra perlu melibatkan kajian penulis dan penerbit. Si kakek mati bunuh diri setelah mendengar kisah Haji Saleh masuk neraka. alusi latar yang menyangkut Indonesia menunjukkan sasaran kritik kehidupan keberagamaan dalam sekala nasional. Bagi masyarakat perantau. Kesalehan rutual merupakan representasi dari masyarakat Minangkabau yang religius. AA Navis sebagai seorang juru dakwah secara naratif menggunakan kisah Haji Saleh sebagai kritik sosial terhadap kehidupan keberagamaan yang hanya mementingkan kehidupan ritual tetapi mengabaikan kehidupan sosial. Inilah isu sosial yang penting dalam cerpen “Robohnya Surau Kami” karya AA Navis. Si kakek penjaga surau hidup dalam habitus (meminjam istilah Bourdieu) religius yang selalu beribadah secara ritual. bukan Hindu. dan dimasukkannya Haji Saleh ke dalam neraka merupakan kekalahan kesalehan ritual di akherat. AA Navis sebagai penulis cerpen tersebut juga terikat dengan lingkungan sosio-kulturalnya. Sedangkan Ajo Sidi yang selalu merantau hidup dalam habitus sosial yang selalu bekerja. atau Yahudi. cerita keagamaan merupakan tuntunan kehidupan. Keberlangsungan hidup dengan terus bekerja merupakan simbol kemenangan kesalehan sosial. persoalan sosiologi sastra tidak berhenti pada level tekstual saja. Dalam segi konsumsi sastra. Buddha. Sebagai orang Padang. Sedangkan Ajo Sidi tetap bekerja pada hari si kakek meninggal. Konghucu. Sedangkan kesalehan sosial yang diwujudkan dalam bekerja merupakan representasi dari masyarakat pedagang. Dengan demikian tidak terjadi totalisasi terhadap keruntuhan tempat ibadah dan praktik keberagamaan secara universal. Sebaliknya kematian si kakek merupakan kekalahan kesalehan ritual di dunia. beribadah dikalahkan oleh bekerja. dia hidup dalam lingkungan sosial dan budaya Minangkabau. namun berlanjut pada level kontekstual yang berkaitan dengan persoalan produksi-konsumsi sastra.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful