P. 1
Aqad Dan Hubungan Interdependensi

Aqad Dan Hubungan Interdependensi

|Views: 28|Likes:
Published by Huda Surabaya

More info:

Published by: Huda Surabaya on Oct 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/28/2011

pdf

text

original

Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’

)

1

Relativitas Hubungan Interdependensi dan Pemberlakuan ‘Aqad dalam Kehidupan Bermasyarakat dan Bernegara1
Defny Holidin defny@ui.edu

Derajat Independensi dalam Hubungan Interdependensi Fakta bahwa manusia merupakan makhluk sosial mensyaratkan adanya interaksi sosial terhadap sesama mereka dalam koridor nilai dan norma yang berlaku. Meskipun sejatinya mereka memiliki kadar independensi (kemandirian, kemerdekaan) secara sepihak, kadar ini mengalami transformasi menjadi hubungan interdependensi (saling bergantung) ketika suatu interaksi sosial diwujudkan. Perlu dipahami pula bahwa interaksi tersebut melahirkan suatu kesepakatan yang kemudian mengakibatkan adanya pemenuhan suatu biaya sebagai hasil dari dibentuknya kesepakatan tersebut. Disebut biaya karena dalam pemenuhan kesepakatan-kesepakatan tadi dibutuhkan pengorbanan dan penyesuaian kepentingan, maksud, serta tindakan, antarpihak yang terlibat sehingga kesepakatan tersebut dapat tertunaikan sesuai dengan muatan dan tujuan awal suatu kesepakatan itu dibuat. Tercapainya pengorbanan dan penyesuaian yang dimaksud sebagai biaya transaksi (transactional cost) menunjukkan bahwa hubungan interdependensi pun terwujud. Namun, hubungan interdependensi dalam pemberlakuan suatu kesepakatan (’aqad) memiliki logika relativitasnya tersendiri sesuai jenis ’aqad yang diberlakukan. Disebut relatif karena setiap pihak yang terlibat memiliki kadar independensi dan interdependensi tersendiri yang berbanding terbalik. Jika kadar independensi suatu pihak dominan, kadar interdependensi pihak tersebut menempati ruang sisa (residu), demikian sebaliknya. Independensi (kemandirian) seseorang atau lembaga memiliki modal utama berupa kejelasan identitas individu atau lembaga yang bersangkutan beserta tujuan dan tugastugas strategis yang harus dikerjakan sehingga suatu individu atau lembaga tersebut memiliki sejumlah koridor sebagai bahan kontrol dan antisipasi dari segenap potensi penyimpangan2. Kejelasan tujuan dan tugas strategis juga mempermudah dirinya dalam menyusun prioritas kerja secara mandiri3. Jadi, independensi amat berkenaan dengan kemampuannya untuk menjalankan tugasnya sendiri dan memenuhi kebutuhan dirinya (self-sufficiency) secara mandiri tanpa memiliki ketergantungan yang sangat kepada pihak lain4. Independensi juga berkenaan dengan kemampuan pengambilan keputusan, terutama dalam pencanangan tujuan kemudian mengarahkan semua potensi yang dimilikinya dalam wujud tindakan untuk mencapai tujuan-tujuannya tersebut. Satu kata kunci yang berperan signifikan dalam menentukan derajat independensi seorang individu atau sebuah lembaga adalah pengaruh. Pengaruh pada gilirannya akan mendapatkan manifestasi secara nyata dalam hubungan seorang individu atau suatu lembaga dengan pihak lain untuk selanjutnya mengalami pembakuan melalui proses

1

Kajian ini merupakan satu di antara tiga submateri yang tak terpisahkan satu sama lain dalam Materi Tatsqif Pelajar Paket 2, yakni Kajian Sosial-Kemasyarakatn Islam Strategis. 2 Defny, “Independensi Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) dalam Penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (Pilkadasung): Studi Kasus KPUD Kota D epok dalam Pilkadasung Tahun 2005”, Skripsi Program Sarjana Ilmu Administrasi Negara, tidak dipublikasikan, Depok, 2005, hlm. 46. 3 Steve Leach, John Stewart, dan Kieron Walsh, The Changing Organization and Management of Local Government. London: Macmillan Press, 1994, hlm. 87. 4 Op.cit.

Tatsqif Pelajar-Paket 2

ibnu_kholidin@telkom.net

hal-hal strategis biasa diputuskan oleh banyak pihak yang berkepentingan dan hal ini cenderung menurunkan derajat independensi7. Oleh karena itu. 27. yakni ’aqad bai’ah dan aqad wakalah. 1991). variabel tak terkontrol akan semakin banyak dan masa depan keputusan tersebut menjadi sulit diprediksikan. Dalam kondisi turunnya derajat independensi itulah dan ditambah dengan kebutuhan adanya pengambilan keputusan untuk merealisasikan kepentingan masing-masing pihak. Lihat Steve Cooke dan Nigel Slack. Pertama. dll. dependensi terlihat dalam pengambilan keputusan untuk hal-hal strategis karena menyangkut banyak pihak. dapat diklasifikasi menjadi dua jenis ’aqad.6. pengambilan keputusan cukup ditangani oleh satu pihak yang memiliki otonomi penuh. ” 6 Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. 5 Ibid. tidak membentuk hubungan hirarkis dengan dikotomi atas-bawah atau relasi superior-inferior. hlm. Kedudukan masing-masing pihak yang relatif setara meniscayakan posisi tawar yang seimbang dan menepis hubungan hirarkis yang satu pihak menyubordinasi pihak lainnya (pihak mitra). Independensi masing-masing pihak yang terlibat dalam pembuatan ’aqad sebenarnya cenderung terkikis sejak mereka mulai mengajukan pembuatan ’aqad yang bersangkutan karena pada dasarnya pihak-pihak tersebut harus rela mengompromikan sejumlah hal yang sebagiannya menjadi kepentingan masingmasing. hubungan interdependensi meningkat dan berjalan seiring dengan implementasi kesepakatan (’aqad) yang telah dibuat. skala yang memperlihatkan pengaruh keputusan masa lampau dan kemungkinan yang terjadi di masa depan terhadap suatu keputusan yang akan diambil. setiap organisasi yang saling berhubungan memiliki pembagian tugas dan kerangka kerja yang jelas sehingga mereka hanya bertindak dan bersikap menurut batasan koridor pekerjaannya itu. Pertama. 1) ’Aqad Bai’ah (Agreement Principle) Meminjam karakter yang dimiliki dalam transaksi jual-beli. ekonomi. Pengambilan keputusan menurut derajat independensi terbagi atas dua skala. International (UK) Ltd. Dengan demikian. skala yang memperlihatkan pengaruh pihak lain dalam suatu pengambilan keputusan6.net . 21 dan 25. Dengan kondisi seperti itu. hubungan antarorganisasi memenuhi format hubungan yang setara dan berimbang. hlm. Kedua. misalnya dalam hal politik. Kedua. 7 Lihat Figure 1.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 2 pengambilan keputusan5. Making Management Decisions (Hertfordshire: Prentice Hall . interaksi di antara organisasi tersebut harus memiliki sumber daya yang berbeda. diperlukan pewujudan tiga prasyarat kunci sebagai berikut agar independensi tidak terkikis dalam format hubungan interdependensi. Ketiga. Sebaliknya. Dengan kondisi seperti ini. Pemberlakuan ’Aqad dalam Hubungan Interdependensi Dari keseluruhan ’aqad yang diberlakukan. 47. “The Effect of The Type of Decision on Its Elements dalam ibid. Independensi dalam pengambilan keputusan biasanya terdapat dalam pengambilan keputusan untuk hal-hal operasional dengan variabel-variabel tak terkontrolnya sedikit sehingga mudah diprediksikan. SDM. hlm. ’aqad bai’ah merujuk pada dibuatnya kesepakatan antarpihak yang memiliki kedudukan relatif setara (egaliter) sehingga kadar independensi dalam pembuatan keputusan untuk menjalin kesepakatan tersebut menunjukkan posisi tawar (bargaining position) yang dimiliki.

. 1999). Konsensus demikian menjadi rusak. hlm. 2004. Efek domino yang potensial terjadi adalah penguatan independensi dalam implementasi seorang individu atau suatu lembaga yang bersangkutan. 51. ’aqad bai’ah memiliki lima rukun: (1) adanya pihak yang mengajukan tawaran kerjasama. Abu Bakr Jabir Al-Jazairi memasukkan kerelaan sebagai satu rangkaian rukun jual-beli menjadi landasan utama dijalankannya keempat rukun lainnya dalam transaksi jual-beli yang dilakukan. perlu diberi catatan bahwa konsensus sendiri bisa problematik ketika pihak-pihak yang tak sepakat dengan konsensus tersebut memilih sikap diam akibat tekanan tertentu yang menimpa mereka. Ensiklopedi Muslim (Jakarta: Darul Falah. . Namun. Balla. Yang terakhir inilah yang melahirkan stabilitas di tengah perubahan kondisi/ lingkungan beserta turbulensi yang sewaktu-waktu dapat terjadi.Comparative Politics: Nations and Theories in a Changing World. Inc. Selain itu. Hal ini sama dengan mengaktifkan bom waktu yang sewaktu -waktu meledak bila menemui lingkungan dan keadaan yang kondusif dan provokatif. hlm. Nabi saw bersabda. konsensus mendorong terciptanya solidaritas dan bobot otoritas secara moral yang memadai sehingga secara esensial akan memunculkan sifat mengikat9 antara pihakpihak terkait.net . . dalam banyak literatur fiqh Islam adanya kerelaan tidak disertakan sebagai salah satu dari serangkaian rukun jual beli meskipun tetap masuk dalam pembahasan dalam prasyarat dilakukannya jual-beli. Sebenarnya. 1993). ditambah dengan tindakan indisipliner sebagian pihak yang terlibat. 145. hlm. (Englewood Cliffs. 492. serta (5) secara esensial. 2003).R. (3) tersedianya materi kerjasama yang nantinya dituangkan dalam kesepakatan. sebagaimana karakter fiqh yang tidak menyentuh area substansi.: CQ Press. Burnetts. Sifat mengikat dari konsensus yang melahirkan stabilitas tersebut hanya dapat dijalankan bila konsensus tadi dituangkan dalam formatnya yang formal dan diimplementasikan secara terstruktur dan sistemik10 sehingga tidak mudah goyah ketika timbul tindakan indisipliner sebagian pihak yang terlibat dalam konsensus tersebut. 9 Lihat uraian pembentuk tesis ini dalam Helena Catt. Lihat Lawyer C. John H. Democracy in Practice. dan Suzanne Ogdan. Dalam hal ini. hlm.C. ”Sesungguhnya jual-beli itu dengan kerelaan (innama al-bai’u ’an taraadh. 65. Adanya kepentingan dalam pembuatan konsensus menandakan ciri politis dalam realisasi kepentingan itu. Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. Sebagaimana transaksi jual-beli. Pemahaman ini menegaskan kembali bahwa konsensus membutuhkan penguatan aspek struktural suatu organisasi atau kekuatan hukum yang dimiliki individu. ’Aqad ba’iah memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dengan ’aqad wakalah. tak ketinggalan aspek formal yang baku dan tidak bias demi melanggengkan pelaksanaan konsensus yang dibuat di tengah konstelasi tindakan politik dalam pembuatannya. Bureaucracy and Democracy: Accountability and Performance Washington D. (London: Routledge. H. New Jersey: Prentice Hall. (4) pernyataan kesepakatan (ijab-qabul) yang dibakukan menjadi konsensus. Penempatan ini menjadi penting mengingat kecenderungan sebagian orang yang sering melupakan atau menafikkan aspek esensial ini. Khiyar ini pula yang menuntut tanggung jawab si pengolah khiyar atas keputusan penentuan pilihan dari segenap alternatif yang tersedia sebab penentuan itu didasarkan adanya kerelaan sekaligus ketiadaan paksaan dari pihak mana pun. Ibnu Majah dengan sanad hasan) Kedudukan antarpihak yang setara dan kerelaan yang secara esensial harus hadir dalam pembuatan ’aqad bai’ah mempersyaratkan adanya khiyar (hak untuk mempertimbangkan alternatif atau pilihan). dihadirkannya kerelaan11 yang menepis keterpaksaan dan penindasan kehendak dalam pembuatan konsensus. Namun. Khiyar dalam menentukan pilihan dari segenap alternatif menuntut tersedianya prakondisi tertentu dari obyek kerjasama sehingga prakondisi ini menjadi persyaratan-persyaratan obyektif yang melandasi dilakukannya khiyar dan 8 Lihat penjelasan tesis ini dalam William T. Gormley dan Steven J.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 3 Konsensus menjadi hal utama yang menjadikan tiga persyaratan kunci tadi berjalan sehingga menghasilkan independensi dan akuntabilitas sekaligus8. 10 Stabilitas sendiri diterjemahkan sebagai “controlling change within the confines of existing structure ”. (2) adanya pihak yang menjadi penerima tawaran kerjasama. Mayer. 11 Lihat Abu Bakr Jabir Al-Jazairi.

13 Abu Bakr Jabir Al-Jazairi. orang-orang miskin. (2) Adanya pelanggaran terhadap muatan-muatan prinsipil dalam ’aqad yang dilakukan salah satu. Nabi saw bersabda. Ibnu Hajar Al-Asqalani mengetengahkan empat syarat keterpaksaan. yakni (a) pihak pemaksa berkuasa untuk melaksanakan ancamannya sedangkan pihak yang dipaksa tidak sanggup menolak. Justifikasi syariah diberlakukannya ’aqad wakalah termuat dalam dalil-dalil berikut14. sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. pengurus-pengurus zakat. 535. tidak harus berupa satu orang tetapi bisa sekelompok orang yang terlibat dalam ’aqad. dan (d) tidak ada alternatif/ pilihan lain bagi pihak yang dipaksa untuk terkena mudharat yang lebih ringan atau bahkan terbebas sama sekali darinya12. Cit. H. hlm. 2) ’Aqad Wakalah (Mandatory Principle) Al-Jazairi mendefinisikan wakalah sebagai ”permintaan perwakilan oleh seseorang kepada orang yang bisa menggantikan dirinya dalam hal-hal yang perwakilan dibolehkan di dalamnya”13. 311 – 312. dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. beberapa.. untuk jalan Allah. 14 Lihat representasi dalil yang digunakan ini dalam ibid. yakni muwakkal (orang yang diwakili) sebagai pihak pertama dan wakil (orang yang mewakili) sebagai pihak yang kedua.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 4 pembuatan kesepakatan (’aqad).S.R. amanat organisasi atau instruksi struktur jamaah yang lebih tinggi bukanlah pemaksaan melainkan keharusan. ”Sesungguhnya zakat zakat itu hanyalah untuk orang -orang faqir. Batasan keterpaksaan di sini adalah ketika adanya ancaman kemudharatan yang hendak ditimpakan atas pihak yang bersangkutan jika ia tidak menyepakati tawaran ’aqad yang ditawarkan. untuk (memerdekakan) budak. Dengan demikian. Baik muwakkal maupun wakil. (1) Kedua belah pihak bersepakat secara bersama-sama untuk mengakhiri ’aqad. para mu’allaf yang dibujuk hatinya.” Taubah: 60) 12 Lihat Ibnu Hajar Al-Asqalani. hlm. terdapat dua aktor dalam ’aqad wakalah. orang-orang yang berhutang. Prasyarat inilah yang menjadikan konsensus dalam ’aqad mengikat terhadap kedua belah pihak dan tidak bisa dibatalkan. terutama disebabkan tekanan/ ancaman pihak lain. Op. Fathul Baari: Syarh Shahih al Bukhori. (4) Muatan yang terkandung dalam ’aqad diketahui melanggar hukum-hukum syara’ yang qath’i dan tidak masuk dalam wilayah ikhtilaf murni. Merujuk pada batasan tersebut. hlm. pembatalan ’aqad bai’ah tidak bisa dilakukan secara sepihak. Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. (3) Adanya salah satu pihak yang terlibat dalam ’aqad melakukan kesepakatan ’aqad secara terpaksa.net . Tetap dibutuhkan proses klarifikasi secara terbuka (transparan) dan akuntabel (bisa dipertanggungjawabkan) beserta rekonfirmasi antara satu pihak dengan pihak mitranya. ”Kaum muslimin itu berada di atas persyaratan-persyaratan mereka (al-muslimuuna ’alaa syuruuthihim. 534. Lebih lanjut. 1960). kecuali salah satu dari keempat kondisi berikut terjadi. (Mesir: As-Salafiyyah. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana (Q. At. (c) realisasi ancaman itu bersifat sesegera mungkin. Abu Dawud dan Al-Hakim dengan sanad shahih). (b) orang yang dipaksa yakin bahwa dengan penolakannya itu ia akan terkena ancaman tersebut. atau seluruh pihak yang terlibat dalam kesepakatan. Dengan demikian.

(2) dilakukan pada hal-hal yang berkenaan dengan hak-hak manusia selama tidak ada isyarat harus dikerjakan langsung oleh seorang hamba. (3) dilakukan terhadap hak-hak Allah swt dalam hal pelaksanaan ibadah mahdhah yang diperbolehkan syariah dikerjakan dengan perwakilan.S. nadzar. misalnya pelaksanaan ibadah shalat dan shaum. mintalah darinya 15 wasaq (1 wasaq = 60 gantang)dan jika ia meminta tanda darimu. Maka suruhlah salah seorang di antara kalian pergi ke kota dengan membawa uang perak kalian ini dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik. Al-Kahfi: 19) Nabi saw bersabda. dzihar. dan pengelola waqaf. Berkatalah salah seorang di antara mereka. tidak ada teks kalimat yang khusus. kepada wanita tersebut. (4) memverifikasi hukuman beserta pelaksanaannya.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 5 ”Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. orang yang mewakili orang lain untuk melakukan jual-beli. ’Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari’. Bukhori. dan nepotisme. sumpah. serta dalil-dalil lain yang senada. Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. atau orang-orang yang ia tidak boleh menjadi saksi bagi mereka. Jika ia mengakui perbuatan (zina)-nya. Ketiga. Kedua. wakalah hukumnya sah untuk (1) dilakukan dengan perkataan dan tulisan apa pun yang menunjukkan adanya perizinan. Jika terlanjur terjadi. bisa digariskan sejumlah hukum bagi terjadinya wakalah15. sebagaimana ketentuan syariah. ”Jika engkau bertemu dengan wakilku. misalnya ibadah haji dan penunaian zakat. Abu Dawud dan Ad-Daruquthni. sekutu.R. dan kesaksian. tidak boleh membeli atau mengerjakan hal yang berbeda dengan amanat perwakilan yang ia terima. Mereka menjawab. Keempat.maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kalian dan hendaklah dia berlaku lemah lembut serta janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorang pun’. rajamlah ia!” (H. Pertama. sanad shahih) Rasulullah saw bersabda kepada Jabir ra. letakkan tanganmu di tulang selangkamu” (H. tidak boleh membeli atau menjual kepada diri sendiri. baik barangnya lain/ cacat maupun 15 Ibid. wahai Unais. hakim. wakalah hukumnya haram untuk (1) semua kegiatan yang diharamkan Allah swt. isteri.” (Q. ’Sudah berapa lamakah kalian berada (di sini)?’. anak. Termasuk dalam hal ini pula adalah wakil yang menjalankan tugas sebagai penerima wasiat. orang yang mewakili orang lain untuk membeli sesuatu atau mengerjakan suatu hal. Berkata (yang lain lagi). (2) pelaksanaan ibadah mahdhah yang oleh syariat tidak diperbolehkan adanya tindakan perwakilan. 535 – 537. kolusi. sebagan redaksi ada pada Al -Bukhori) Beranjak pada muatan dalil-dalil syara’ di atas.R. karena dikhawatirkan terjadi korupsi. sanad hasan. hlm. ”Pergilah. (5) dilakukan berkenaan dengan pelaksanaan hak-hak pribadi orang yang diwakilinya (6) diberikan upah atau sejumlah bayaran atas pelaksanaannya dengan penjelasan/ keterangan tertentu. karena tidak ada isyarat apa pun dalam syariah bahwa aktivitas-aktivitas tersebut boleh diwakilkan.net . misalnya. (3) kasus-kasus li’an. ’Rabb kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini).

ada satu pihak yang lebih tinggi kedudukannya dibandingkan pihak kedua sehingga pihak kedua melaksanakan suatu pekerjaan yang dilimpahkan dalam batasan/ koridor ketentuan pihak pertama itu. Kelima. perizinan dari muwakkal kepada wakil harus ada sebagai modal berlangsungnya ’aqad. dengan/ tanpa sanksi atas wakil Pembatalan Akibat Pelanggaran ’Aqad dalam Terminologi Siyasah Syar’iyyah Kedua jenis ’aqad tadi lazim ditemui dalam kehidupan masyarakat secara umum. tidak ada keharusan untuk menjatuhkannya. Jadi. muwakkal bisa menjatuhkan sanksi terhadapnya dengan catatan: (a) wakil mengajukan pembatalan setelah ’aqad disepakati dan atau dalam ’aqad tertuang ketentuan pemberian sanksi atas pembatalan dan atau keteledoran dalam pelaksanaannya. Pembatalan ’aqad.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 6 masih bagus. atau telah terjadi pola relasi superior-inferior. Sebaliknya. amanat. (c) sanksi dijatuhkan atas wakil selama dalam batas kemampuan wakil menerima sanksi tersebut. selama muatan ketentuannya tidak melanggar hukum syara’. atau perizinan kepada wakil untuk mengerjakan pekerjaan yang sejatinya dikerjakan oleh muwakkal sendiri secara langsung. kedua jenis ’aqad tidak membutuhkan karakteristik khusus. Jadi. Dengan demikian. Keberadaan muwakkal sebagai pihak pertama dan wakil sebagai pihak kedua dan adanya perizinan atau pemberian amanat/ mandat dari pihak pertama kepada pihak kedua menunjukkan bahwa hubungan antara kedua pihak ini bersifat hirarkis. Wakil dapat menerima ’aqad yang ditawarkan selama ia memiliki kapabilitas atau kemampuan dalam menjalankan tugas yang dilimpahkan kepadanya atau tertuang dalam ’aqad. atau.net . Dalam terminologi ilmu ekonomi yang. dengan demikian. terutama dalam kegiatan ekonomi dan politik. Indikator Pembeda Hubungan antarpihak Modal utama Prakondisi ’Aqad Bai’ah Setara (egaliter) Adanya khiyar Persyaratan obyektif kedua belah pihak yang bisa dikompromikan (negotiable) Tidak bisa secara sepihak Batalnya ’aqad secara otomatis ’Aqad Wakalah Hirarkis/ subordinatif Adanya perizinan dari muwakkal Kapabilitas wakil yang diakui (legitimate) oleh muwakkal Bisa secara sepihak oleh muwakkal Bisa diterima atau ditolak oleh muwakkal. berakar pada ilmu sosial. yang satu menyubordinasi pihak lain. bila diajukan oleh wakil. Perbedaan antara ’aqad bai’ah dan ’aqad wakalah disajikan secara ringkas dalam tabel berikut. wakil tidak berkewajiban mengganti kehilangan atau kerusakan barang yang dikelola selama ia tidak lalai/ teledor atau tetap pada prosedur yang ditetapkan (on the track). baik pekerjaan yang dikerjakan keliru maupun sesuai prosedur. (b) tidak alasan khusus dalam hukum syara’ bagi wakil itu atau berkenaan dengan batas kemampuan wakil sehingga dibenarkan seorang wakil yang bersangkutan untuk membatalkan ’aqad. sebagaimana ilmu politik. hanya bisa dilakukan oleh muwakkal sebagai pemberi mandat. pihak muwakkal (yang diwakili) berhak untuk menolak atau tetap menerimanya. bahkan para ulama rajin sekali mengemukakan pelbagai aktivitas Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. wakil bisa menolak ’aqad jika di luar kapabilitas tetapi hal ini harus dikomunikasikan terlebih dulu atau sejak awal kepada muwakkal. Perlu diingat pula bahwa pemberian sanksi hanya bersifat pilihan bagi muwakkal.

Utsman menerima persyaratan yang melandasi pengangkatannya itu. 54 – 62. baik Utsman ra maupun Ali ra saat mengemukakan visi-misi dan program kerjanya. (Jakarta: Robbani Press. Namun. Jadi. meliputi muslim. pengangkatan khalifah biasa dinamakan bai’at dalam terminologi (istilah definitif) yang menjadi istilah khusus syariah. 188. Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. Bakal calon khalifah di satu pihak bersedia atau mengajukan diri sebagai kandidat tanpa paksaan. 2002).net . orang yang ditetapkan sebagai kandidat khalifah haruslah memiliki sejumlah persyaratan yang. kedua jenis ’aqad membutuhkan penjelasan yang lebih detail yang tak terpisahkan dari akar pemahaman mengenai kedua jenis ’aqad ini. baligh. selama menjalankan pemerintahannya dalam rangka merealisasikan persyaratan pengangkatannya sebagai khalifah. pemberani.cit. beliau menjalankan Kitab. meliputi keutamaan/ keunggulan seseorang di luar syuruut in’iqad yang dijelaskan oleh nash-nash yang tidak secara tegas mengisyaratkan wajibnya persyaratan yang bersangkutan. Sunnah. bahwa mereka tidak akan 16 Syarat pengangkatan khalifah ada dua macam: syuruut in’iqad (pengangkatan) dan syuruut afdhaliyah (keutamaan). 17 Lihat kesimpulan ini dan proses pem-bai’at-an Utsman ra dan Ali ra dalam Yusuf Al-Qaradhawi. Syuruut afdhaliyah. jika datang kepadamu perempuan -perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia (yubaayi’naka). Sistem Pemerintahan Islam (Bangil: Al-Izzah. (1) Pem-bai’at-an Khalifah Dalam pengangkatan seorang khalifah. politisi ulung. Persyaratan juga berlaku dalam proses pengangkatan khalifah itu sendiri untuk kemudian direalisasikan selama tampuk pemerintahannya17. kaum muslimin sebagai pengaju tawaran pengangkatan khalifah atau seseorang yang mengajukan diri sebagai kandidat khalifah. dalam ranah ilmu politik. dan Kebijakan Syaikhain. Sunnah. sementara Ali ra ketika menjadi khalifah tidak memiliki kewajiban menjalankan kebijakan Syaikhain sehingga memiliki peluang besar untuk memberlakukan kebijakannya sendiri. sepeninggal Umar bin Khaththab ra. Adanya khiyar yang dimiliki kandidat khalifah dan kaum muslimin. menurut syariah. Baik khalifah maupun kaum muslimin melakukan hubungan hingga tercapainya kesepakatan mengenai pengangkatan khalifah dengan disertai pilihan-pilihan sebelumnya dan dilakukan dengan sukarela. adil. Sebagai contoh. memiliki kemampuan menjalankan tugas/ amanat kekhalifahan. serta persyaratan-persyaratan yang dinilai secara obyektif.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 7 ekonomi sebagai ilustrasi dalam menjelaskan prosedur pemberlakuan ’aqad berdasarkan hukum-hukum syara’. dan Kebijakan yang ditetapkan oleh Syaikhain (Abu Bakar ra dan Umar ra). merdeka. atau ancaman apa pun. menunjukkan bahwa proses pengangkatan khalifah masuk dalam kategori ’aqad bai’ah. tekanan. . Abdurrahman bin ’Auf selaku anggota Ahlu al-Halli wa al-Aqdi menawarkan kepada keduanya untuk diangkat sebagai khalifah berdasarkan Kitab. hlm. tanpa keharusan menjalankan Kebijakan Syaikhain. dll. laki -laki. sementara ummat mengangkat khalifah juga dilakukan dengan kerelaan. sedangkan kaum muslimin memiliki khiyar untuk memilih orang yang akan diangkat sebagai khalifah. Fiqih Negara. kandidat khalifah memiliki khiyar terhadap pilihan untuk tetap diajukan dan diangkat sebagai khalifah atau tidak. Lihat pula analisis lain dalam Abdul Qadim Zallum. mujtahid. Oleh karena itu. Syuruut in’iqad. Lihat uraian ini dalam Abdul Qadim Zallum. sah untuk nantinya diangkat sebagai khalifah16. 93 – 94. hlm. yakni kandidat khalifah dan kaum muslimin. berakal. sementara Ali ra hanya bersedia diangkat berdasarkan Kitab dan Sunnah saja. 1999). Namun. Op. Ketika Utsman ra menjadi khalifah. disyaratkan adanya dua pihak yang terlibat. terutama dalam persoalan bai’at kepada khalifah dan perwakilan dalam majelis syura’. hlm. ”Wahai Nabi. ekonom yang handal. misalnya dari suku Quraisy.

S. ’Kembalika bai’at-ku padaku!’. ini merupakan pelanggaran ’aqad sehingga ’aqad secara otomatis batal demi hukum. dalam keadaan yang kami senangi maupun tidak kami senangi. tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik. bertawakallah kepada Allah. matinya orang tersebut (seperti) mati jahiliyah” (H.R. Al-Mumtahanah: 12) Bahwasanya orang -orang yang berjanji setia kepadamu (yubaayi’uunaka)..R. kaum muslimin sebagai pihak yang terlibat dalam ’aqad bai’ah tidak berhak menarik bai’at-nya secara sepihak. sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah (yubaayi’uunallah).” (H. baik dalam keadaan yang kami senangi maupun tidak kami senangi. kemudian berkata. kemudian beliau mengajarkan kami bagaimana harus mem-bai’at. Suatu ketika ia menderita sakit. Bukhari. Ternyata beliau saw menolaknya.S. Bukh ari dan Muslim..Kemudian jika kamu telah membulatkan tekad.. ’Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata dan dapat dibuktikan berdasarkan keterangan (burhan) dari Allah’. ia berkata. Bukhari. ”Kami telah mem-bai’at Rasulullah saw untuk setia mendengarkan dan menaati perintahnya. juga agar kami menegakkan atau mengatakan ya haq ng di mana pun kami berada dan kami tidak takut karena Allah terhadap celaan orang-orang yang suka mencela” (H. Khusus bagi pelanggaran syariat dalam bentuk kekufuran yang nyata. lalu kami pun membai’at beliau.” (Q. Ali ’Imran: 159) Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. Tangan Allah di atas tangan mereka. tidak akan berzina.R. ”Nabi saw mengajak kami. ’Kembalikan bai’at-ku!’... dari Ummu ’Athiyyah. ”Kami mem-bai’at Rasulullah saw lalu beliau memerintahkan kepada kami. dan (beliau) melarang kami melakukan niyahah (histeris menangisi mayat).” (H. sanad shahih) Lebih dari itu.S. ”Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tersebut. lalu ia datang dan berkata. shahih) (2) Perwakilan dalam Majelis Syura’ Lembaga perwakilan ummat mendapatkan perhatian tersendiri dalam syariah dan erat hubungannya dengan mekanisme musyawarah dalam pengambilan keputusan (majelis syura’). ”Siapa saja yang mati sedangkan di atas pundaknya tidak ada bai’at. tidak akan membunuh anak-anaknya. ’Janganlah menyekutukan Allah dengan sesuatu!’. Bukhari dengan sanad shahih) Dari Ayyub.net . Al-Fath: 10) Nabi saw berabda.” (Q. shahih) Jabir bin Abdillah ra memberitakan. Beliau tetap menolak kemudian orang itu pergi.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 8 mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah. Ubadah bin Shamit ra berkata.. beliau bersabda. serta tidak mengutamakan urusan kami. syariah juga mengetengahkan ketentuan bahwa setelah sempurna pengangkatan seorang khalifah. terimalah janji setia mereka (fabaayi’hunn)!” (Q.R. tidak akan mencuri. Lalu kami mem-bai’at beliau untuk mendengar dan menaati perintahnya baik . ”Seorang badui mem-bai’at Rasulullah saw untuk menetapi Islam. dari Hafshah. dan agar kami tidak merebut kekuasaan dari seoarng pemimpin.R. kecuali jika khalifah tidak lagi memenuhi persyaratan obyektif yang tertuang dalam ’aqad dan atau melanggar syariah dalam bentuk kekufuran yang nyata.” (H. Muslim dari Abdullah bin Umar dengan sanad shahih) Ubadah bin Shamit berkata. juga agar kami tidak merebut kekuasaan dari yang berhak.

net . beliau ditanya tentang tekad yang dimaksud dalam ayat tersebut kemudian dijawab.S. bicameral system). mewakili anggota kabilahnya dalam pengemukaan pendapat. Dalam Hadits yang dibawakan oleh Ka’ab bin Malik ra di atas. terutama untuk memilih wakil -wakil rakyat. Beliau mengutip dari Ibnu Mardawaih dari Ali bin Abi Thalib ra. Nabi saw bersabda. 20 Ibid. Manhaj Haraki. Dengan demikian.” (H. hlm. hlm. Kalangan kedua adalah wakil dari masing-masing elemen masyarakat (majelis ummat). keduanya terlibat dalam setiap musyawarah untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan tertentu yang bukan bersifat legislasi (penetapan hukum) karena legislasi hanyalah hak Allah swt. keanggotan majelis syura’ terdiri dari dua kalangan (lembaga perwakilan dengan sistem dua kamar. telah jelas dalil menunjukkan bahwa terjadi ’aqad wakalah. Lihat Yusuf Al-Qaradhawi. 177 – 178. Mendirikan Negara. ”Pilihkanlah untukku dua belas pemimpin (naqib) di antara kalian agar mereka bisa bertanggung jawab (menjadi wakil) atas kaumnya dalam urusan mereka. Op. terutama berkenaan dengan urusan kabilah mereka masing-masing. tentunya atas dasar bertawakkal kepada Allah swt dan tidak melanggar hukumhukum-Nya. dalil-dalil yang menunjukkan keberadaan ’aqad wakalah 18 Yusuf Al-Qaradhawi. Yusuf: 67) Berkenaan dengan terpilihnya orang-orang tersebut. orang yang memiliki keahlian tertentu (ahlu al-halli wa al-aqdi). diketengahkan oleh Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyah -nya dan Ibnu Hajar AlAsqalani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al-Bukhari) Merujuk pada kedua dalil di atas. 22 Lebih tegas. Op. 2000). bukan ’aqad bai’ah. pemilihan merupakan mekanisme yang harus ditempuh karena dalam skala masyarakat yang lebih luas tidak semua calon wakil rakyat dikenal oleh rakyat itu sendiri.” (Q. Disebut menyerahkan keputusan karena anggota kabilah itulah yang berhak menentukan naqib/ wakil berdasarkan perizinan mereka untuk melaksanakan mandat tertentu. Bukhari. 276. Kalangan ini teridentifikasi berdasarkan uraian Ibnu Katsir dalam menafsirkan Surah Ali ’Imran: 159. 275. serta menerima tugas perwakilan tersebut dalam kapasitas yang dimilikinya. Rasulullah saw meminta masing-masing kabilah yang ada di Madinah untuk memilih wakil mereka untuk menjalankan tugas penyampaian aspirasi anggota kabilah.cit.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 9 Dari Ka’ab bin Malik ra. ’aqad wakalah bisa dilakukan dengan berbagai asalib (caracara teknis-operasional). shahih. yang masing-masing naqib dalam dalil tersebut mewakili kaum (kabilah)-nya dalam melaksanakan segenap aktivitas21. Pertama. bahkan. Lihat ibid. ”Bermusyawarahlah dengan para ahli kemudian mengikuti pendapat mereka”18. Abdul Qadim Zallum. (Jakarta: Rabbani Press. tanpa pertimbangan yang terbatas pada keahliannya20. Bab. Hal ini beranjak pada dua argumentasi. misalnya melalui pemilihan umum22 dengan semua wasail (sarana-sarana) yang memungkinkan dan akuntabel. 276. hlm. anggota masing-masing kabilah merupakan muwakkal dan pemimpin (naqib) kabilah yang terpilih dan diajak bermusyawarah dengan Nabi saw adalah wakil mereka. Merujuk pada dalil itu pula. serta menyampaikan koreksi (muhasabah) terhadap tindakan khalifah19.R. hlm. Pertama. 19 Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. Baik ahlu al-halli wa al-aqdi maupun majelis ummat.cit. Al-Qardhawi. 21 Lihat Munir Muhammad Al-Ghadban. mengasumsikan mekanisme pemilihan masuk dalam kategori persaksian yang dibenarkan dalam Islam. Op.cit. Nabi saw menyerahkan keputusan untuk mengangkat orang yang menjadi wakil kepada anggota kabilah tersebut. Para naqib dalam menjalankan tugasnya mewakili dan mengatasnamakan elemen masyarakat yang diwakilinya. ”Keputusan menetapkan suatu hukum hanyalah hak Allah. Dalam skala masyarakat yang lebih luas dan dalam konteks lembaga perwakilan yang bersifat formal.

Tatsqif Pelajar-Paket 2 ibnu_kholidin@telkom. Kedua. sehingga isyarat apa pun hukumnya sah untuk menyatakan perizinan/ pemberian mandat perwakilan dari muwakkal kepada wakil. ’aqad wakalah tidak membutuhkan redaksi atau teks khusus.Kajian Sosial-Kemasyarakatan Islam Strategis (Fiqh al-Ijtima’) 10 hanya bersifat umum dan tidak menyentuh pembahasan pada hal-hal teknis (uslub). sebagaimana dalil-dalil yang dikemukakan Al-Jazairi pada pembahasan sebelumnya.net . baik lisan maupun tulisan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->