BADAN PERENCANAAN DAERAH KOTA DEPOK Tahun 2007

Kajian Perencanaan Partisipatif

Perbagai peluang pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Depok, menghendaki inovasi dan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan gagasan-gagasan kreatif. Bagaimana pun berbagai perubahan dimulai dari gagasan / ide. Karena itu, gagasan tentang partisipasi warga untuk menciptakan kondisi kota yang lebih baik, seperti yang diprakarsai oleh “Imagine Chicago”, atau gagasan Charles Landry (2002) tentang Kota Kreatif (The Creative City), mungkin harus mulai didiskusikan secara meluas dan pengembangan gagasannya dikelola secara lebih serius. Konsep inti dibalik gagasan-gagasan itu adalah bahwa masa depan suatu kota merupakan masa depan bersama seluruh warga kota. Kenyamanan, kebanggaan, produktivitas, dan daya saing suatu kota merupakan produk bersama warga kotanya. Karena itu perlu ditumbuhkan milieu kreatif yang memungkinkan setiap individu warga kota, termasuk organisasiorganisasi yang ada, untuk dapat memberikan gagasan kreatif dan kontribusi terbaiknya bagi penciptaan kota yang diinginkan bersama. Dari perspektif itu, maka perencanaan partisipatif harus dilihat tidak semata-mata sebagai pelaksanaan suatu prosedur perencanaan yang melibatkan masyarakat semata, seperti yang dilakukan selama ini, tapi harus dimulai dengan proses imajinatif yang melibatkan sebanyak mungkin warga kota untuk merumuskan bersama tentang kota seperti apa yang diinginkan bersama di masa depan. Semakin detil kondisi yang diinginkan, dan semakin banyak warga kota yang memahami tentang kondisi detil kota yang diinginkan itu, maka akan semakin memudahkan bagi semua pihak untuk merealisasikannya. Depok, Desember 2007
BAPEDA KOTA DEPOK

i

Kajian Perencanaan Partisipatif

BAPEDA KOTA DEPOK

ii

2. 414. Konsep Pembangunan…………………………………… 2. Konsep Perencanaan……………………………………… 2. Forum Warga………. UU NO.……………………………… 2.1. Srt Mendagri No.……… 1.………………………………………… 2.1. UUD 1945……………………………………………………… 4.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal KATA PENGANTAR………………………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1. Modal Sosial……………………. 25/2004…………………………………………… 4.4..2/2435/SJ (2005) ……… 4. Metodelogi kajian…………………………………………… 1. Kep.4. Pendekatan Apreciative Inquiri……………………… KEBIJAKAN DAERAH 3.4.2.3.5.2. Sistematika Penulisan Kajian………………………… TINJUAN PUSTAKA 2.6. 02/2004………………… i ii iv v 1 7 7 8 BAB II 10 16 22 51 55 57 60 65 BAB III 72 75 75 BAB IV 82 85 90 92 94 BAPEDA KOTA DEPOK ii .1. Tujuan………………………………………………………. Latar Belakang………………………………………. Partisipasi Masyarakat…………………………………… 2. SE Bersama Bappenas dan Mendagri…………… 4.8. Konsep Biaya Transaksi………………………………… 2. Misi Pembangunan Daerah…………………………… 3. Perencanaan Partisipatif………………………………… 2.5.2.3. Kebijakan Umum…………………………………………… LANDASAN KONSTITUSIONAL..7.1.…… 1. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4. Walikota Depok No. Visi Pembangunan Daerah…………………………… 3.3.3.

Pembahasan…………………………………………………… 107 SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6.1. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi… 98 5. Tolok ukur pengembangan modal sosial……… 98 5.3.3..……………… 6. Forum SKPD…………………………………………………… 126 7..2.3. Saran……………………………………………………………… 131 DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK iii . Memenuhi aturan + kemitraan……. Memenuhi aturan/pedoman yg ada……………… 6. Kemitraan + pendekatan apresiatif……………… BAB VI 116 118 120 122 BAB VII REKOMENDASI SKENARIO Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7. Tanpa perubahan berarti (status quo) ………… 6.3. Musrenbang Kelurahan…………………………………… 125 7.1. 124 Masyarakat……………………………………………………… 7.4.2. Kesimpulan……………………………………………………… 128 8.2.5.…………………… 5.4.1. Tinjauan evaluatif…………………………………………… 99 5. Musrenbang Kecamatan………………………………… 126 7.Kajian Perencanaan Partisipatif BAB V KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF Tolok ukur peraturan perundangan dan 5. Musrenbang Kota…………………………………………… 127 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8. 97 juknis (petunjuk teknis) ………….1.5.2.

Tangga Partisipasi menurut Arnstein………………………………………… Gambar 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Gambar 1. Roda Partisipasi oleh Davidson………………………………………………… 4 8 44 BAPEDA KOTA DEPOK iv . Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok………………… Gambar 3.

……… 42 Tabel 7. Bonger & Specht……………. Tipologi roda partisipasi. Perbedaan pendekatan problem solving dan KPA……………. Tipologi partisipasi. Parkers dan Panelli………………………….. Hak-hak warga Negara berdasarkan UUD 1945………………. Tingkatan partisipasi. Tahapan partisipasi. Tangga pemberdayaan warga. 69 Tabel 11.. Mayer……………………………………………………. Tipologi partisipasi. Pretty………………………………………………………… Tabel 5. Istilah-istilah didalam proses perencanaan berdasarkan proses perencanaan yang dikandungnya………………………………… Tabel 3.………… 43 Tabel 8. Davidson…………………………………………… 45 Tabel 9. Tiga model pendekatan pemberdayaan masyarakat………………. Wates………………………………………………. 16 17 34 40 41 Tabel 6. Tabel 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Tabel 1. Burns……………………………………… Tabel 4.……… 46 Tabel 10.……… 82 BAPEDA KOTA DEPOK v .……. Tangga partisipasi masyarakat.

Tugas.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 12. 85 99 BAPEDA KOTA DEPOK vi . Tinjauan evaluatif proses perencanaan di kota Depok……………. tanggung jawab dan kewajiban Negara/pemerintah…… Tabel 14. Kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945………………….… 84 Tabel 13.

Latar Belakang Dewasa ini telah berkembang pendapat pakar dan praktisi tentang Perencanaan Participatif sebagai teknik dan metode yang tepat sasaran untuk menganalisis persoalan pembangunan sosial masyarakat di lingkungannya. Memang benar bahwa Perencanaan Partisipatif lebih khusus untuk mengkaji persoalan di daerah.1. BAPEDA KOTA DEPOK 1 . Tidak berlebihan kalau pada akhirnya hasil Perencanaan Partisipatif merupakan data dasar atau rujukan untuk melakukan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat bersangkutan (dimana Perencanaan Partisipatif itu diterapkan). Perencanaan Partisipatif dapat pula dilakukan untuk kepentingan umum yang berkaitan dengan persoalan pembangunan masyarakat. Perencanaan Partisipatif telah diakui keunggulannya melalui pendekatan partisipatif. penganekaragaman lokal. akan tetapi melihat ciri dan cara kerjanya. maka dalam Perencanaan Partisipatif posisi orang luar hanya sebatas Fasilitator atau Pemandu. dan pemberdayaan masyarakat. Perencanaan Partisipatif menjadi pantas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung pergeseran paradigma pembangunan ke arah desentralisasi. Kelebihan lain adalah karena orang luar yang biasanya lebih aktif bekerja sendiri dengan bekal pengetahuan dan keahliannya.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. transparan dan aspiratif.

Jawaban dari mereka yang secara rutin mengikuti Musrenbang di tingkat kelurahan atau mereka yang aktif di LPM kelurahan. misalnya. ideologi. namun istilah partisipasi itu sendiri masih dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. dan malahan mungkin melahirkan sikap apatis. pembatasan masa jabatan kepala pemerintahan / kepala daerah. dapat berbeda-beda jawabannya jika ditanyakan apakah proses pembangunan di Kota Depok. atau dari kalangan akademisi. dan paradigma yang berbeda. Apalagi jika istilah itu digunakan dalam konteks / setting yang berbeda. serta terdapat lembagalembaga yang menggambarkan sebuah negara yang demokratis. Berbagai stakeholders di Kota Depok. dapat berbeda dengan jawaban dari pihak birokrasi. karena telah terdapat berbagai prosedur yang menggambarkan sebuah negara demokrasi seperti diadakannya pemilu secara rutin. Seperti halnya dengan debat tentang penerapan demokrasi di Indonesia. misalnya. sebagian pihak menganggap bahwa Indonesia sudah demokratis. Namun sebagian pihak berpendapat bahwa beberapa substansi demokrasi seperti penghargaan yang tulus terhadap keragaman (pandangan. BAPEDA KOTA DEPOK 2 . sudah dapat dikategorikan partisipatif atau belum. juga dapat berbeda dengan jawaban dari kalangan LSM. termasuk proses perencanaannya. frustasi. konsep.Kajian Perencanaan Partisipatif Meski banyak pihak sepakat bahwa pembangunan partisipatif atau pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan merupakan sebuah keharusan. kalangan dunia usaha. Ketiadaan kerangka definisi yang sama tentang konsep pembangunan yang partisipatif ini membuat berbagai pihak yang mendiskusikannya dapat terjebak pada debat yang tak berujung dan kerap kali berakhir dengan kekecewaan. putus asa. Ini disebabkan karena masing-masing pihak mungkin menggunakan tolok ukur. asumsi.

berapa persen usulan yang disepakati di Musrenbang diakomodir dalam APBD? Kemudian secara prosedural kelompok-kelompok masyarakat sudah diundang dalam forum SKPD. dapat berbeda dengan derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh APBD Kota Depok. dalam banyak kasus belum sepenuhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia.Kajian Perencanaan Partisipatif agama) dan penyelesaian perbedaan pendapat / konflik secara beradab. sudah Secara prosedural untuk ikut masyarakat memang diundang Musrenbang. Salah satu hal yang perlu disadari sejak awal adalah bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri memiliki derajat yang berbeda-beda pada setiap komunitas dan pada setiap konteks kegiatan tertentu. misalnya. Tanpa kesepakatan itu. atau Proyek BAPEDA KOTA DEPOK 3 . di antara para stakeholders konsep pembangunan partisipatif yang akan diterapkan di Kota Depok. maka bagi sebagian pihak. partisipasi masyarakat di Kota Depok barulah terbatas pada partisipasi yang prosedural. terutama kesepakatan bersama. Analog dengan hal itu. Derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh lembaga dana di luar Pemerintahan Kota Depok. maka kajian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok dan skenario penguatannya ke depan hanya dan tentang dapat dilakukan secara utuh jika terdapat pemahaman bersama. masing-masing pihak akan melihat perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Kota Depok dengan aksentuasi sudut pandang yang berbeda-beda. tapi apakah terdapat simetrisitas informasi sebagai basis pengambilan keputusan tentang sebuah rencana? Dari perspektif ini. tapi belum tercipta di partisipasi kelurahan yang substansial. Pada Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Tapi apakah semua warga telah diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti / memberikan masukan pada forum Musrenbang kelurahan tersebut? Lalu.

derajat partisipasinya dapat berbeda dengan derajat partisipasi pada proyek pengentasan kemiskinan yang didanai oleh APBD Kota Depok dan dilaksanakan oleh SKPD. dan bagaimana memelihara hasilnya. Tangga partisipasi menurut Arnstein (1969) empowerment disempowerment mengalami (surplus) pihak-pihak yang selama ini kelebihan power. wewenang) dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang direncanakan. maka dapat proses untuk yang yang jika maka empowerment diartikan sebagai (pemberdayaan) masyarakat “menambah” memutuskan terbaik bagi apa dirinya bahwa rencana itu dilaksanakan. Menurut Asrnstein (1969): “citizen participation is citizen kekuasaan pada masyarakat secara kolektif.Kajian Perencanaan Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat Squatter (PPMS). bagaimana power. BAPEDA KOTA DEPOK 4 .” Berdasarkan tolok ukur ini. kemampuan. daya. kekuatan. derajat / tingkatan partisipasi masyarakat itu tergantung pada seberapa besar masyarakat / warga memiliki power (kekuasaan. dilakukan kepada Gambar 1. Bahkan ada berpendapat ingin perlu membangun masyarakat. Yang menjadi pertanyaan adalah tolok ukur apa yang membedakan derajat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan? Dalam berbagai kepustakaan (referensi). misalnya.

Asumsi awal yang ingin ditegaskan dalam kajian ini adalah pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di Kota Depok merupakan bentuk operasional dari “pilihan” tahapan / jenjang / tangga partisipasi masyarakat yang dipilih ada. of citizen misalnya. Pretty (1995). yaitu tahapan kontrol / pengendalian oleh masyarakat (citizen control). mungkin baru pada tahapan konsultasi. Sedangkan pada “tangga partisipasi” tertinggi. Jika naik ke “tangga partisipasi” yang lebih tinggi. seperti melalui mekanisme Musrenbang. pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan masyarakat. Pada tahap ini masyarakat memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangan. yang diusulkan melalui kajian ini adalah bagaimana proses BAPEDA KOTA DEPOK 5 . dan Mayer (1997). Donaldson (1998). Jika mengacu yang pada tangga participation) dikemukakan oleh berdasarkan tipologi yang (ladder (1969). yaitu tahapan kemitraan (partnership).Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan tolok ukur ini terdapat beberapa tipologi partisipasi masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). Pertanyaannya adalah apakah mungkin partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kota Depok naik ke tangga kemitraan (partnership) atau bahkan ke pengendalian oleh masyarakat berdasarkan tipologi Arnstein itu? Kajian ini juga akan mencoba mengaitkan antara proses perencanaan partisipatif dengan pembentukan modal sosial. Meski baru bersifat rintisan. pemerintah dan masyarakat terlibat secara sejajar dalam proses pengambilan keputusan. Burns (1994). Tapi masyarakat tidak berada dalam posisi menentukan dalam proses pengambilan keputusan akhir tentang sebuah rencana. apsirasi dan usulannya. partisipasi Arsntein partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok.

Kajian Perencanaan Partisipatif pembangunan di Kota Depok senantiasa mempertimbangkan aspek peningkatan modal sosial. Bagaimana keterkaitan antara perencanaan partisipatif dan pengembangan modal sosial? BAPEDA KOTA DEPOK 6 . yuridis. maka kajian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: a. Kendala-kendala institusional. politis apa saja yang mungkin dihadapi untuk meningkatkan derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Berdasarkan tipologi yang ada. Fukuyama sampai pada kesimpulan bahwa kinerja ekonomi yang tinggi terdapat pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi pula. Prasyarat apa yang dibutuhkan agar skenario itu bisa terlaksana? f. d. Bagaimana skenario proses perencanaan di Kota Depok dengan derajat partisipasi masyarakat pada level yang optimal? e. Dengan mengemukakan beberapa studi kasus. partisipasi masyarakat yang ada di Kota Depok dalam proses perencanaan berada pada level apa? b. Ia membagi masyarakat di dunia ini dengan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah (low trust society) dan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high trust society). Apakah mungkin derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan ditingkatkan (naik ke tangga yang lebih tinggi)? c. Kajian yang dilakukan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Trust sampai pada kesimpulan betapa modal sosial ini akan ikut menentukan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Pertanyaannya adalah proses perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Depok telah memberikan andil untuk penciptakan kategori dengan tingkat kepercayaan sesama yang mana? Apakah di Kota menambah Depok atau rekening malah kepercayaan stakeholders membuatnya semakin defisit sejalan dengan berjalannya waktu? Berdasarkan paparan tersebut di atas.

2. Kajian ini akan BAPEDA KOTA DEPOK 7 . Melakukan tinjauan evaluatif pelaksanaan proses perencanaan partisipasi ditinjau dari : (a) sisi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan partisipatif. dan politis dalam upaya peningkatan derajat partisipasi dalam perencanaan di Kota Depok. Menyusun skenario penguatan perencanaan partisipatif di Kota Depok. kualitatif yang yaitu ada dari menjawab studi serta berbagai pertanyaan-pertanyaan dokumen-dokumen rumusan masalah termasuk dengan pandangan kalangan yang terekam di media masa. yuridis. Mengidentifikasi kendala-kendala institusional. (b) dari sisi derajat partisipasi warga berdasarkan tipologi yang ada. 3.2. Tujuan Tujuan pelaksanaan kajian ini adalah: 1. Metodologi Kajian Kajian ini menggunakan yang pendekatan ada. wawancara mendalam dengan beberapa informan. 1. serta (c) dari sisi kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. mengikuti alur sebagai berikut : studi kepustakaan.3.

5.1. Sistematika Penulisan Kajian Kajian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok 1.3. Forum Warga BAB II BAPEDA KOTA DEPOK 8 .7. Tujuan 1.4. Konsep Pembangunan 2. Konsep Biaya Transaksi 2.4.2. Partisipasi Masyarakat 2. Metodelogi kajian 1. Latar Belakang 1.5. Tujuan 1.6. Perencanaan Partisipatif 2. Modal Sosial 2. Sistematika Penulisan Kajian TINJUAN PUSTAKA 2.4.1. Konsep Perencanaan 2.2.3.Kajian Perencanaan Partisipatif Tinjauan Peraturan Perundangan tentang Perencanaan Partisipatif Deskripsi Pelaksanaan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Tolok Ukur Peraturan Perundangan Kajian Evaluatif Perencanaan Partisipatif di Kota Depok • Tipologi Partisipasi • Modal Sosial Kajian Skenario Penguatan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Gambar 2.

3.3.Kajian Perencanaan Partisipatif 2.1.1. 414.5.2. Memenuhi aturan + kemitraan 6. Kebijakan Umum LANDASAN KONSTITUSIONAL. Musrenbang Kelurahan 7.1.4. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4. Kemitraan + pendekatan apresiatif SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7. Kep.1. SE Bersama Bappenas dan Mendagri 4. partisipasi 5.2. Tinjauan evaluatif 5.5. Tolok ukur pengembangan modal sosial 5.2/2435/SJ (2005) 4.3. UU NO. Musrenbang Kota BAB IV BAB V BAB VI BAB VII DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK 9 . UUD 1945 4.2. Memenuhi aturan/pedoman yg ada 6. Pembahasan SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6. Musrenbang Kecamatan 7.4.2. Walikota Depok No.1. BAB III Pendekatan Apreciative Inquiri KEBIJAKAN DAERAH 3. Misi Pembangunan Daerah 3.3.8. Visi Pembangunan Daerah 3. Srt Mendagri No.2. Tolok ukur peraturan dan juknis Tolok ukur berdasarkan tipologi 5.5. Masyarakat 7. 25/2004 4. Forum SKPD 7.4.3. 02/2004 KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF 5.3. Tanpa perubahan berarti (status quo) 6.

Ungkapan menggugat yang sering muncul berkaitan dengan istilah ini adalah: “Pembangunan itu untuk siapa?”. telah terbentuk perspesi bahwa untuk mendapat manfaat dari kegiatan pembangunan yang bersumber dari anggaran negara harus melalui KKN (dekat dengan kekuasaan). misalnya. Pengertian Pembangunan Kegiatan perencanaan bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Konsep Pembangunan 2. fisik puskesmas.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. tanggul. Kesan yang juga muncul di masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 10 . istilah pembangunan ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda. Jika mempelajari usulanusulan pembangunan yang muncul dari forum Musrenbang di kelurahan. Pada berbagai level status sosial masyarakat.1. malah mungkin dirugikan (berkorban). Aktifitas ini ada dalam konteks siklus proses pembangunan (perencanaan. pembangunan dimaknai sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. jembatan. Sedangkan bagi para penggiat HAM (hak asasi manusia). saluran. pelaksanaan. fisik sekolah. Bahkan. pengendalian. dan sejenisnya.1. pembangunan lebih banyak identik dengan pembangunan fisik: jalan. Gugatan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sebagian warga masyarakat mempersepsikan terdapat pihak-pihak yang sangat diuntungkan dengan proses pembangunan dan ada pihak-pihak yang seolah-olah ”tidak mendapat apa-apa”. monitoring dan evaluasi).1.

“Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan. Yang dituju adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa semua pihak memperoleh benefit (keuntungan) yang adil dari setiap proses pembangunan. sosial.1. Mereka adalah kelompok-kelompok memiliki akses dalam pengambilan keputusan. Pembangunan sebagai Pemenuhan Hak-Hak Warga Negara Dalam dokumen “Deklarasi tentang Hak atas Pembangunan” yang disetujui dengan resolusi Majelis Umum 41/28 tanggal 4 Desember 1986 ditegaskan bahwa: “pembangunan adalah proses ekonomi. Dari sudut pandang ini. hak atas pembangunan merupakan salah satu hak asasi manusia. Meskipun tentu saja kesan dan persepsi seperti ini belum tentu selalu benar.2. dan berarti dalam pembangunan dan dalam distribusi keuntungan yang adil yang timbul darinya. budaya dan politik yang komprehensif yang ditujukan pada perbaikan yang tetap mengenai kesejahteraan seluruh penduduk dan semua individu atas dasar partisipasi mereka yang aktif. Persoalannya adalah bagaimana dengan kelompok-kelompok yang masyarakat tidak yang selama ini tidak proses diuntungkan / terpinggirkan dalam proses pembangunan. adalah untuk menjamin bahwa akan terdapat distribusi keuntungan yang adil dari proses pembangunan. Bagaimana agar suara mereka didengar dalam proses perencanaan tersebut? 2.” Menurut deklarasi itu. maka proses perencanaan yang melibatkan masyarakat.” (Pasal 1 ayat 2) BAPEDA KOTA DEPOK 11 . yang dilakukan secara iteratif (berulang).Kajian Perencanaan Partisipatif adalah kelompok yang paling diuntungkan dari proses pembangunan di era reformasi ini adalah kalangan eksekutif dan legislatif. bebas.

cara. Lebih lanjut dijelaskan.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga negara yang paling humanistik”. sikap-sikap masyarakat. bukan alat. UNDP mendefisinikan pembangunan. atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital). Dengan rumusan seperti ini maka pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia (Rustiadi et al. kebutuhan meningkatkan rasa harga diri atau jatidiri (self esteem). Dalam konsep tersebut. serta kebebasan (freedom) untuk memilih. disamping BAPEDA KOTA DEPOK 12 . 2006). institusi-institusi. pengertian “pemilihan alternatif yang sah” dalam definisi pembangunan di atas diartikan bahwa upaya pencapaian aspirasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku atau dalam suatu tatanan kelembagaan atau tatanan budaya yang dapat diterima. pembangunan harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang yaitu kecukupan (substenance) memenuhi paling hakiki pokok. penduduk (manusia) dilihat sebagai tujuan akhir (the ultimate end). khususnya pembangunan manusia. sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). Tadaro berpendapat bahwa pembangunan harus dipandang sebagai proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial. Menurut Tadaro (2000). Pembangunan juga dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi.

dan ekologi. pada KTT Bumi di Rio de Jenairo. Selanjutnya Spangenber (1999) menambahkan dimensi kelembagaan (institution) sebagai dimensi keempat. dimana mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. penanganan ketimpangan pendapatan.H. 2. serta pengentasan kemiskinan.1. BAPEDA KOTA DEPOK 13 . secara sosial pembangunan itu dapat diterima dan adil (termasuk adil terhadap generasi mendatang). Serageldin (1996).Kajian Perencanaan Partisipatif tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi. pentingnya pendekatan pembangunan secara berkelanjutan semakin dipertegas.3. Bruntland di tahun 1988. Pembangunan Berkelanjutan Keterbatasan sumber daya alam baik akibat degradasi maupun eksploitasi yang berlebihan telah melahirkan apa yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). dan secara ekologi tidak merusak alam (sehingga dapat digunakan oleh generasi mendatang). sosial. sehingga keempat dimensi tersebut membentuk sebuah prisma keberlanjutan (prism of sustainability). Emil Salim. diacu dalam Rustiadi et al (2006) mengajukan tiga dimensi keberlanjutan yang dikenal sebagai “triangular framework” yaitu keberlanjutan secara ekonomi. Inti dari konsep ini adalah bahwa pemanfaatan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. Pada tahun 1992. menjadi salah satu anggotanya. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi konsep yang populer terutama sejak dipublikannya laporan “Our Common Future” sebagai laporan World Commission on Environmental and Development yang dipimpin oleh G. Ungkapan yang populer tentang makna pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi menguntungkan.

5. 1978.1. disebabkan oleh inefisiensi dari sistem / struktur politik yang asimetrik. 1978.4. disebabkan karena terhenti atau tersendatnya kegiatan pelayanan masyarakat yang berakibat inefisiensi. memaparkan bagaimana sebuah proses dalam pembangunan dilakukan terutama dikaitkan tiga kategori. 1. intervensi pemerintah dalam sektor ”rent seeking” selalu disertai dengan kepentingan pribadi dan kelompok. bersama yaitu: (1) development dan (3) degan praktek for community of pemberdayaan masyarakat (community development) dan membaginya (pembangunan untuk masyarakat). perencanaan. terutama untuk pemenangan pemilu yang akan datang.. Pembangunan untuk masyarakat (development for community) adalah bentuk pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif. namun penyebab kegagalan tersebut dibagi dalam tiga faktor utama (Rustiadi et. antara lain : Pertama.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan Terdapat beberapa teori tentang tipologi kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang pernah dikemukakan (O’Dowd. Ketiga. 1997).1. development community (pembangunan masyarakat). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).al. Kedua. dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan oleh BAPEDA KOTA DEPOK 14 . 2. 2006). Weisbrod. sehingga tidak memikirkan kepentingan dan perbaikan kondisi-kondisi kemasyarakatan. dalam hal ini pemerintah lebih bertindak sebagai ”rent seeker”. Dollery dan Wallis. (2) development with community (pembangunan masyarakat). dimana para politisi lebih mementingkan kelompok. Hal ini disebut juga ”constitutional failure” atau ”legislative failure”. sering disebut sebagai ”bureauratic failure”.

Dasar pemikiran pola ini adalah dapat berkembangnya sinergi dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan yang dikuasai oleh aktor luar. 2. Hal ini dapat terjadi bila masyarakat merupakan komunitas yang kesadaran dan budayanya terdominasi. melakukan konsultasi. adalah dan Dapat pembangunan dilaksanakan dikatakan masyarakat menjadi pemilik dari proses pembangunan. namun dalam kenyatannya belum banyak komunitas yang mampu membangun dirinya sendiri. Keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan juga diharapkan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap inisiatif pembangunan yang ada sekaligus membuat proyek pembangunan menjadi lebih efisien. Model ini paling populer dan banyak diaplikasikan oleh berbagai pihak. Untuk mengarah ke model ini diperlukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk masyarakat lokal. masyarakat. 3. dan melibatkan tokoh setempat. Pembangunan proses pelaksanaannya masyarakat (development yang inisiatif. Ini merupakan model yang diidealkan oleh berbagai pihak. BAPEDA KOTA DEPOK 15 . Pembangunan bersama masyarakat (development with community) secara khusus ditandai dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. Namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek. Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian. Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak.Kajian Perencanaan Partisipatif aktor dari luar. sendiri oleh of community) perencanaan. Peran aktor luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan.

perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. demikian. 2. Tiga Model Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Development for Community (Pembangunan untuk masyarakat) Aktor dari luar Sosialisasi dan Konsultasi Aktor dari luar Aktor dari luar Proyek Development with Community (Pembangunan bersama masyarakat) Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Kolaborasi Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Proyek dan Program Development of Community (Pembangunan masyarakat) Masyarakat lokal Pemberdayan dan pengerahan potensi sendiri Masyarakat lokal Masyarakat lokal Pengembangan sistem dan penguatan kelembagaan Aktor Utama Bentuk Hubungan Pengambil keputusan Pelaksana Bentuk kegiatan Sumber : Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 1. kemudian memilih arah-arah terbaik dan memilih langkah-langkah untuk mencapainya. Pengertian Perencanaan Perencanaan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh para ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing. Namun dalam pengertian yang paling sederhana. Dengan ada.1. BAPEDA KOTA DEPOK 16 . diacu dalam Rustiadi et. proses perencanaan (kapasitas) dilakukan kita dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang mengukur kemampuan untuk mencapainya. perencanaan sebenarnya adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan.2.2. al (2006). Konsep Perencanaan 2. Menurut Kay dan Alder (1999).

program. misi. Misi dan aktivitas adalah istilah-istilah mengenai unsur-unsur perencanaan yang kedua (cara mencapainya). al. yakni: (1) unsur hal yang ingin dicapai. proyek. Sedangkan strategi. Istilah-istilah di dalam proses perencanaan berdasarkan unsur perencanaan yang dikandungnya Unsur Perencanaan Hal yang ingin dicapai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Normatif Normatif Terukur Terukur Normatif/terukur Terukur Terukur Terukur Terukur Cara untuk mencapai Istilah (nomenklatur) Visi (vision) Misi (mission) Tujuan (goal) Sasaran (objective) Strategi (strategy) Kebijakan (policy) Program (program) Pryek (project) Aktifitas (action) Keterangan Sumber: Rustiadi et. Tabel 2. serta aktivitas. (2006) BAPEDA KOTA DEPOK 17 . secara umum selalu terdapat dua unsur penting. sasaran. sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai suatu kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Istilah-istilah itu sering saling dipertukarkan dengan tidak konsisten dan bahkan cenderung dapat membingungkan sehingga dapat mengganggu proses pembangunan akibat perencanaan yang tidak jelas. Visi. dan proyek merupakan suatu kumpulan komponen perencanaan yang mencakup kedua unsur perencanaan dalam suatu struktur tertentu. dan (2) unsur cara untuk mencapainya. Dalam implementasi proses perencanaan. tujuan dan sasaran adalah istilah-istilah yang menjelaskan mengenai unsur perencanaan yang pertama (hal yang ingin dicapai). Dari berbagai pendapat dan definisi yang dikembangkan mengenai perencanaan. program. tujuan.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagian berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktivitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu. kebijakan. strategi. dikenal berbagai nomenklatur seperti visi.

Proyek (project): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan/target/sasaran tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu dalam waktu tertentu dengan sumberdaya (biaya) tertentu. BAPEDA KOTA DEPOK 18 . 5. 8. beberapa istilah ini juga diberikan definisinya. 6. untuk pelaksanaan-pelaksanaan pencapaian jangka pendek. Sasaran merupakan kondisi minimum yang harus dicapai dalam mencapai tujuan dalam waktu tertentu. 7. 9. 3. Strategi (strategy): sekumpulan sasaran-sasaran dengan metodemetode untuk mencapainya. Tujuan-tujuan (goals): hal-hal yang ingin dicapai secara umum. khususnya menyangkut fisik dan biaya. 4. Setiap bentuk tujuan (goals) bersifat dapat dimaksimumkan atau diminimumkan. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Misi (mission): cara normatif untuk mencapai visi. Sasaran (objectives): bentuk operasional dari tujuan. Program (program): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu. • • • Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Aktivitas (actions): kegiatan pelaksanaan.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan. Dalam Undang-Undang No. Kebijakan (policy): sekumpulan aktivitas (actions). Visi (vision): suatu kondisi ideal (cita-cita) normatif yang ingin dicapai di masa datang 2. disertai target pencapaiannya. biasanya lebih terukur. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi.Kajian Perencanaan Partisipatif 1.

2. Perencanaan dengan basis pendekatan ini dilaksanakan dengan berdasarkan kecenderungan umum yang terjadi. Beberapa pendekatan perencanaan yang umum dilakukan berdasarkan basis (pijakan) utamanya (Kelly dan Becker. Kecenderungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini bukan pendekatan yang ideal untuk kepentingan publik jangka panjang. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. (2) Berbasis kesempatan / peluang (opprotunity-driven). atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Adanya peluang (opprtunity) dianggap harus dimanfaatkan sebesar-besanya. diacu dalam Rustiadi et. Perencanaan dilakukan berdasarkan isu atau masalah-masalah yang ada. Pendekatan ini sering dilakukan oleh institusi-institusi yang belum matang dan mandiri dimana pendekatan yang termudah adalah dengan meniru atau mengikuti kecenderungan dari institusi-institusi yang lebih berpengalaman. Beranjak dari permasalahan atau BAPEDA KOTA DEPOK 19 . 2000. mengingat adanya peluang-peluang yang langka. 2006) adalah: (1) Berbasis kecenderungan (trends-driven).al.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Pendekatan ini sering dilakukan terutama karena alasan-alasan pragmatis. Tapi secara teknis pendekatan ini setidaknya dapat memberikan informasi bagi pendekatan-pendekatan lainnya.2. Pendekatan / Basis Perencanaan Perencanaan umumnya dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi pendekatan. 2. (3) Berbasis isu (issue-driven).

rupa dan mereduksi terlalu cakupan (scope) dan biaya pengumpulan informasi dan analisis. 2006). atau perbaikan dari kebijakan yang ada (status quo).3. dan partisipatif (Rustiadi et al. yang sangat berorientasi sangat panjang dan tidak memiliki target-target spesifik jangka pendek. Proses Perencanaan Berdasarkan prosesnya. rasional. (4) Berdasarkan tujuan (goal-driven). Berbeda dengan pendekatan berbasis tujuan. 2. Komponen utama dari pendekatan ini adalah: (a) pilihan-pilihan diturunkan dari kebijakan dan perencanaan yang merupakan peningkatan.Kajian Perencanaan Partisipatif isu disusun langkah-langkah untuk menanggulangi dan menjawab isu dan tantangan tersebut. 1. Perencanaan seperti ini lebih sesuai untuk gerakan-gerakan sosial. dilakukan sedemikian agar tidak menyimpang dari kondisi saat ini (status quo). (c) hanya sejumlah kecil konsekuensi yang diinvestigasi. (b) hanya sejumlah kecil pilihan yang dipertimbangkan. spiritual/keagamaan. Perencanaan inkremental. Namun proses tersulit adalah menetapkan tujuan itu sendiri seringkali bukanlah proses yang mudah apalagi jika dilakukan melalui proses lintas stakeholders. (5) Berbasis visi (vision-driven). Proses perencanaan ini dilakukan akibat terbatasnya Pendekatan kapasitas ini pengambilan keputusan. pendidikan. Ini merupakan pendekatan perencanaan yang paling klasik. pendekatan berbasis visi sangat menekankan nilai-nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuantujuan yang spesifik dan terukur. adaptif. perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan ikremental. penambahan.2. (d) tujuan dan pendekatan yang BAPEDA KOTA DEPOK 20 .

Kajian Perencanaan Partisipatif

dipilih didasarkan atas pertimbangan yang mudah dilakukan, (e) keputusan dibuat dari proses analisis iteratif dan evaluasi. 2. Perencanaan Adaptif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Holling (1978), yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman. Begitu didapat informasi baru segera dilakukan review atas pengelolaan yang sedang berjalan dan pendekatan-pendekatan baru dirumuskan. Pendekatan ini selalu menghadapi kendala terutama akibat adanya penolakan (resistensi) dari pihak-pihak yang harus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap hal-hal yang bagi mereka masih penuh ketidakpastian. Perencanaan adaptif yang terlalu longgar akan banyak menimbulkan berbagai bentuk inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang. 3. Perencanaan Rasional. Rasionalitas adalah cara utama yang

dikembangkan masyarakat dan para pemikir barat sejak zaman renaisan. Rasionalitas dapat diartikan sebagai suatu cara memilih pendekatan menyeluruh terbaik dengan berpikir untuk tertib (sistematis) tujuan dan (komprehensif) mencapai tertentu.

Pendekatan rasional membutuhkan sejumlah pengetahuan, berbagai alat (tools) berupa analisis ilmiah, untuk dapat membuat keputusankeputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif yang ada. Kesempurnaan dari pendekatan ini adalah terletak pada ketersediaan informasi yang “sempurna”. Secara umum tahapan proses dalam kerangka perencaan rasional adalah: (a) identifikasi masalah, (b) menetapkan tujuan/sasaran, (c) identifikasi peluang dan hambatan, (d) pengajuan alternatif-alternatif, (e) menetapkan alternatif pilihan dan melaksanakannya. 4. Perencanaan partisipatif / konsensus. Dalam perencanaan

rasional dituntut adanya pengetahuan / informasi yang “sempurna”. Kondisi ini merupakan suatu kondisi
BAPEDA KOTA DEPOK

yang sangat sulit dipenuhi

21

Kajian Perencanaan Partisipatif

karena kapasitas, pengetahuan, pengalaman, informasi, dan teknologi yang dimiliki perencana cenderung terbatas dibandingkan dengan kompleksitas kepentingan permasalahan yang yang ada. pula. Di sisi lain, informasi sifat sebenarnya tersebar beragam di masing-masing stakeholders dengan berbeda-beda Dengan demikian, komprehensif dari suatu perencanaan pada dasarnya dapat dipenuhi dengan membangun partisipasi seluruh stakeholders agar diperoleh informasi yang lengkap dan dipahami bersama untuk kemudian dibangun keputusan yang terbaik. 5. Perencanaan Rasional – Partisipatif. Dengan perencanaan secara terintegrasi ini, maka pendekatan partisipatif akan menutupi berbagai kelemahan pendekatan perencanaan rasional terutama kelemahan akibat terbatasnya informasi. Pendekatan partisipatif juga akan lebih menjamin penerimaan (acceptability) dari pihak-pihak yang berkepentingan.

2.3. Partisipasi Masyarakat
2.3.1. Pengertian Masyarakat Sebelum membahas partisipasi masyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai konsep tentang masyarakat atau komunitas (community). Dari berbagai referensi di Indonesia kedua istilah ini kerap kali dipertukarkan atau diangap sama. Ada yang menerjemahkan community sebagai ”masyarakat” namun ada yang lebih suka menerjemahkannya sebagai ”komunitas”. Dalam realitas, komunitas itu sendiri mulai dari level dengan lingkup geografis yang relatif kecil, seperti komunitas RT / RW sampai pada komunitas negara-negara seperti European Community (Masyarakat Eropa). Bahkan dengan informasi yang tak terbatas, akibat kemajuan
BAPEDA KOTA DEPOK

22

Kajian Perencanaan Partisipatif

teknologi informasi (internet), terjadi perubahan yang radikal tentang tempat (space) dan waktu (time). Komunitas dalam masyarakat informasi menjadi tak berbatas ruang (spaceless) dan tak terbatas

waktu (timeless). Komunitas seperti ini di kota-kota modern membentuk apa yang disebut sebagai cyber culture (budaya siber) atau networking culture (kultur jejaring). Burns (1994) memberikan beberapa makna tentang komunitas sebagai berikut: 1. Masyarakat / komunitas sebagai warisan identitas. Makna ini merupakan ekspresi tradisi budaya atau identitas bersama, sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan sejarah. 2. Masyarakat hubungan / komunitas sebagai hubungan sosial. dan Pola antar direfleksikan dalam kekeluargaan ketetanggaan,

dimana interaksi sosial dan dukungan satu satu sama lain seringkali digerakkan oleh faktor tempat tinggal. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan tradisi sosiologi dan antropologi. 3. Masyarakat / komunitas sebagai basis konsumsi kolektif, yakni suatu kesatuan kelompok atau ketetanggaan yang memiliki kebutuhan atau permintaan yang sama terhadap barang publik (public goods), seperti perpustakaan, transportasi, kualitas lingkungan dan lainnya. Ini merupakan 4. Masyarakat itu dapat sebuah / konsep masyarakat basis yang untuk menggambarkan produksi dan legitimasi berdasarkan ekonomi. komunitas sebagai penyediaan barang-barang barang publik lokal. Barang-barang publik disediakan oleh swasta, masyarakat umum, atau pihakpihak relawan (termasuk masyarakat itu sendiri). Ini merupakan konsep masyarakat yang menggambarkan legitimasi berdasarkan ekonomi dan penyediaan pelayanan teknologi.

BAPEDA KOTA DEPOK

23

Ciri-ciri komunitas. Sekelompok orang yang memiliki visi bersama Sukarelawan yang terorganisir Orang-orang yang melakukan langkah kecil bersama untuk tujuan yang besar. Sekelompok orang yang saling menghormati satu dengan lainnya. masyarakat adalah langsung sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu secara atau tidak langsung saling berhubungan dalam usaha pemenuhan kebutuhannya. politik dan kebudayaan.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. BAPEDA KOTA DEPOK 24 . yang diacu dalam Ahmad (2004) adalah: • • • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang Sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu Orang-orang yang disatukan oleh isu bersama Orang-orang yang bekerja sama Sekelompok orang yang mengkonsolidasikan sumberdaya bersama (pool resources). Ciri-ciri komunitas dapat ditentukan oleh beberapa hal. apakah melalui saluran representasi atau partisipasi formal atau informal dari aksi politik. Sekelompok orang yang merasa aman bersama Sekelompok orang yang memiliki rasa ketetanggaan. terikat sebagai suatu kesatuan sosial melalui perasaan solidaritas oleh karena latar belakang sejarah. Menurut Moelyadi dan Simanjuntak (1993). Orang-orang yang terorganisir Orang-orang yang mempertahankan dan membina kegiatan Orang-orang yang membuat kemitraan Orang-orang yang fokus pada kebutuhan dari kelompoknya. Masyarakat / komunitas sebagai sumber pengaruh dan kekuatan / kekuasaan yang berasal dari hasil pemberdayaan (empowerment) atau keterwakilan. menurut Community Speaker Series (2001).

partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dapat dipilah meliputi. 2. Komunitas berbasis area / wilayah ini dapat diidentifikasi dalam pengertian sebagai batasan wilayah pelayan administratif. Wilayah komunitas seperti itu dapat bervariasi dalam hal ukuran meskipun batasan yang paling umum adalah ukurannya relatif kecil dan lokal. (1) partisipasi dalam / melalui kontak dengan pihak lain sebagai awal perubahan sosial. kejamaahan / jemaat. berbagi manfaat dari program pembangunan dan evaluasi program pembangunan. dalam pembuatan pelaksanaan program dan pengambilan keputusan untuk berkontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. dan tidak selalu dihubungkan dengan batas wilayah tertentu. partisipasi dan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan keputusan tentang apa yang dilakukan. blok. Community of interest adalah perkumpulan komunitas /masyarakat berdasarkan isu dan kepentingan tertentu baik pada lokasi tertentu atau tidak. Pengelompokan ini dijelaskan oleh Burns (1994) sebagai berikut: 1.2. Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Cohen dan Uphoff (1977). perkampungan.3. 2. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 25 . yang diacu dalam Harahap (2001).Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan berbagai konsep tersebut. dsb. ketetanggaan. Community of place yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan wilayah / lokasi tertentu. Kategori masyarakat tempat berdasarkan diidentifikasi tinggal seperti jalan. Sedangkan menurut Ndraha (1990). dan dan status sosial tempat ekonomi ini lebih atau berdasarkan atau dalam pengertian karakter politik. sesungguhnya pengertian masyarakat dapat dikelompok menjadi dua kategori yaitu community of place dan community of interest.

6.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi dalam memperhatikan / menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi. partisipasi adalah proses pemberian peran kepada individu bukan hanya sebagai subyek melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan. Korten (1988) dalam pembahasannya tentang berbagai paradigma pembangunan mengungkapkan bahwa dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. dan mengembangkan hasil pembangunan. 7. mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. baik dalam arti menerima. 2. 5. Masyarakat harus memiliki suara dalam keputusan tentang tindakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Sedangkan Migley (1986) BAPEDA KOTA DEPOK 26 . Proses partisipasi masyarakat memberi partisipan informasi yang mereka butuhkan dengan cara bermakna. (3) partisipasi dalam perencanaan termasuk pengambilan keputusan. memelihara. (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional. maupun dalam arti menolaknya. 3. Proses partisipasi masyarakat berupaya dan memfasilitasi keterlibatan mereka yang berpotensi untuk terpengaruh. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan dan memenuhi kebutuhan proses semua partisipan. 4. 1997). yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai tingkat pelaksanaan pembangunan. (5) partisipasi dalam menerima. yang diacu dalam Daniels dan Walker (2005): 1. Proses partisipasi masyarakat melibatkan partisipan dalam mendefinisikan bagaimana mereka berpartisipasi. menerima dengan syarat. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan kepada partisipan bagaimana input mereka digunakan atau tidak digunakan. Survey partisipasi oleh The International Association of Public Participation telah mengidentifikasi nilai inti partisipasi sebagai berikut (Delli Priscolli. Partisipasi masyarakat meliputi jaminan bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi keputusan.

2. 10. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapatturut masyarakat. 7. 11. 5. Partisipasi akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat. 8. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan. 4. Partisipasi menopang pembangunan Partisipasi Partisipasi menyediakan merupakan lingkungan lingkungan yang yang kondusif kondusif baik baik bagi bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia. Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif melihat partisipasi sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan masyarakat untuk mendorong mereka dalam menyelesaikan permasalan yang mereka hadapi. diacu dalam Hasibuan (2003). Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap. Tjokrowinoto (1987). Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal. kebutuhan. 9. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalampembangunan mereka sendiri. serta dalam keputusan penting yang menyangkut BAPEDA KOTA DEPOK 27 . Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan. aspirasi. Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari dimana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki. dan kondisi lokal yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. menyatakan alasan pembenar partisipasi masyarakat dalam pembangunan: 1. partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. 6. 3.

2000. khususnya kelompok yang selama ini termarjinalisasikan.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. Blumenthal.3. Partisipasi membantu terbangunannya transparansi komunikasi dan hubungan-hubungan kekuasaan di antara para stakeholders. 2000. (c) mengakomodir pengetahuan lokal. serta UNDP. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan. Dengan membuka kesempatan dalam proses keputusan. 2000. (b) membangun perspektif yang beragam yang berasal dari beragam stakeholders. 3. memperluas pengalaman masyarakat dan akan memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas. 2. Dovers. 2001. pengalaman. maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompok-kelompok komunitas. Keuntungan dari partisipasi masyarakat adalah: 1. 2000). dan kreatifitas. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek. Thomsen (2003) memaparkan keuntungan dan kerugian dari partisipasi masyarakat. BAPEDA KOTA DEPOK 28 . sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. Kapoor. Keuntungan dan Kerugian Partisipasi Masyarakat Dengan mengacu pada berbagai referensi (Anon. Partisipasi dapat meningkatkan pendekatan iteratif dan siklikal dan menjamin pengambilan bahwa solusi didasarkan maka para pada pembuat pemahaman keputusan dan dapat pengetahuan lokal. hal itu dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah. Dengan demikian.3. kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif.

melakukan proses (b) ini Partisipasi secara sadar atau tidak sadar memanipulasi tidak partisipasi publik untuk dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang kepentingannya.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial. komitmen dan akuntabilitas. jika direncanakan secara hati-hati. Partisipasi hasil akan mendorong yang kepemilikan berkelanjutan lokal. Partisipasi dapat menyebabkan konflik. Proses partisipasi dapat digunakan untuk memanipulasi sejumlah besar warga masyarakat. Pelibatan masyarakat lokal dapat membantu terciptanya (outcomes) dengan menfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung. Sedangkan kerugian yang mungkin muncul dari pendekatan partisipatif adalah: 1. Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. 2. partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata. 5. Proses partisipasi seringkali menyebabkan ketidakstabilan hubungan sosial politik yang ada dan menyebabkan konflik yang dapat mengancam terlaksananya proyek. BAPEDA KOTA DEPOK 29 . Hasil yang diperoleh dari usaha-usaha kolaboratif lebih mungkin untuk diterima oleh seluruh stakeholders.

Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969). tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek. (b) untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan (c) untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan kinerja dari pihak-pihak yang melakukan pelibatan masyarakat. Kegunaan dari adanya tipologi partisipasi ini adalah: (a) untuk membantu memahami praktek dari proses pelibatan masyarakat. 4.4. Jika proses partisipasi dimanipulasi.1. padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar. 2. maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut. 2.3. kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih. Partisipasi dapat menjadi mahal dalam pengertian bahwa waktu dan biaya yang dikeluarkan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat lokal. proses partisipasi akan dilihat sebagai sesuatu yang mewah dan pengeluaran-pengeluaran untuk proses itu tidak dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan kemiskinan yang akut. Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat.3.4. Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency). Pada wilayah-wilayah dimana di dalamnya terdapat ketidakadilan sosial. Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 30 . Tipologi Partisipasi Tipologi partisipasi menggambarkan derajat keterlibatan masyarakat dalam proses partisipasi yang didasarkan pada seberapa besar kekuasaan (power) yang dimiliki masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.Kajian Perencanaan Partisipatif 3.

Kemudian (4) diikuti dengan tangga (3) dan menginformasikan (5) penentraman konsultasi (consultation). Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership). tapi hadir dalam forum). dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control). Terapi (therapy). berupa upaya superfisial (dangkal. dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of tokenism). Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation). (informing). keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya. Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan. Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas.Kajian Perencanaan Partisipatif (citizen partisipation is citizen power). tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan. tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka BAPEDA KOTA DEPOK 31 . (placation). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya. meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguhsungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. Manipulasi (manipulation). Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog. Tangga ketiga. 2. 1. (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power).

Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back). telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan. pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. Kemitraan (partnership). Pada tangga partisipasi ini. 3. saran atau usulan Masyarakat kewenangan tersebut. Konsultasi (consultation). Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan. Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. 4. 5. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses dipersilahkan untuk menilai memberikan dan merencanakan usulan kegiatan. Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah. baik dalam hal perencanaan. Namun pemerintah tetap menahan kelayakan keberadaan BAPEDA KOTA DEPOK 32 . tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi. tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. telah ada aturan pengajuan usulan. Penentraman (placation). 6. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. maupun monitoring dan evaluasi. Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara untuk masyarakat dan pemerintah. Informasi (information). Sudah ada penjaringan aspirasi. pelaksanaan.

Ini disebabkan adanya karakteristik yang bisa diasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu jenjang pada saat BAPEDA KOTA DEPOK 33 . maka harus diketahui terlebih dahulu sampai sejauh mana jenjang proses partsipasi yang telah ada. dan perubahan tata kelola pemerintahan di daerah. pemberdayaan.Kajian Perencanaan Partisipatif untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan. 8. 7. Dalam menggunakan tipologi ini. monitoring dan mulai evaluasi. Untuk itu Burns memodifikasi model Arnstein yang dirasakan lebih tepat terhadap kebutuhan publik (kewenangan masyarakat lokal) dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. dan Hogget meningkatkan partisipasi masyarakat. Burns menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan untuk menambah jenjang antara tangga partisipasi yang satu dengan yang lainnya meski terkesan lebih rumit dan memberikan kebebasan untuk menghapus atau menambah jenjang menurut situasi yang ada.2 Tipologi (1994) Burns et al (1994) berpendapat bahwa bila pemerintah hendak Partisipasi Burns.3. Pendelegasian mengurus kekuasaan (delegated power). 2. Hambleton. Dalam tangga partisipasi ini. masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri. sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program. pelaksanaan. Ini berarti dari bahwa proses pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk sendiri beberapa kepentingannya. perencanaan. yang disepakati bersama. dan tanpa campur tangan pemerintah.4. Pengendalian warga (citizen control). Dia mengakui bahwa terdapat permasalahan yang kompleks dalam penentuan jenjang partisipasi.

Semua harus didasarkan pada situasi dan kondisi masyarakat. 10. 11. 8. 6. Berdasarkan hasil kajian terhadap delapan tangga partisipasi Arnstein. 3. 5. serta pemetaannya terhadap ruang kekuasaan dan yang ada tata dalam kelola masyarakat. Tabel 3 menggambarkan No. dengan menambahkan ruang pada jenjang partisipasi satu dengan yang lainnya serta menjabarkan kemungkinan adanya perbedaan pembagian ruang jenjang partisipasi Tangga Pemberdayaan Warga dari Burns. Burns juga mengingatkan bahwa kualitas partisipasi masyarakat tidak harus menempati tangga tertinggi dalam waktu yang sangat cepat. 9. Burns memodifikasi konsep Arsntein tersebut dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat perubahan pemerintahan daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif bersamaan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di setiap tangga membutuhkan cara yang berbeda-beda. Tangga Pemberdayaan Warga oleh Burns et al (1994) pada penilaian oleh pemerintah daerah atau institusi lainnya. Tabel 3. 1. 12. Burns dan koleganya memberi nama untuk tangga partisipasi mereka dengan A Ladder of Citizen Empowerment (Tangga Pemberdayaan Warga). 7. Jenjang Partisipasi Civic hype Cynical Consultation Poor Information Customer care High Quality Information Genuine Information Effective Advisory Body Limited decentralised decision making Partnership Delegated Control Enrusted Control Independent Control Kategori Citizen Non Participation Citizen Participation Citizen Control BAPEDA KOTA DEPOK 34 . 4. 2.

seperti perencanannya. baik kepada masyarakat maupun keluar. Peranan pemerintah dalam kondisi ini terlalu besar. Misalnya. 3. 1. Masyakat tidak diberikan informasi kebijakan dan permasalahan legislatif. menguasai hampir seluruh segi kehidupan. Tanpa Partisipasi Warga. Poor informasi. tidak bisa Informasi tersebut lebih untuk konsumsi pemerintah sendiri atau jenjang masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 35 . 2. berbentuk propaganda dan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisi obyektif daerahnya. Pada jenjang ini. Pada kondisi ini partisipasi masyarakat customer care. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat untuk memutuskan nama dari satu jalan yang akan dibangun. dari foor information. Pada yang berkaitan ini dengan kehidupan sulit atau masyarakat. Pada jenjang ini pemerintah daerah melakukan sosialisasi informasi. Keempat jenjang dimana warga dikategorikan tidak berpartisipasi (citizen non participation) karena adalah civic hype. Cynical consultation.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara garis besar penjelasan terhadap jenjang partisipasi tersebut adalah sebagai berikut : A. namun informasi yang diberikan bersifat manipulatif. sehingga masyarakat tidak mempunyai peranan dan bersifat pasif. keadaan ini. Jenjang-jenjang ini tidak boleh manipulasi informasi berkembang keempat cenderung rendah tapi pemerintah daerah telah membuka diri untuk menerima kritik dari masyarakat. namun dalam pertemuan tersebut tidak menyentuh topik-topik yang substantif. Civic hype. cynical consultation. dan diabaikan. tujuan serta pembiayaannya. bukannya membahas hal-hal yang bersifat strategis. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat tentang suatu masalah atau program tertentu.

maka pada jenjang ini dapat digolongkan dalam partisipasi. Jika pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai buruknya pelayanan pemerintah melalui unit pelayanan itu diabaikan. Customer care. Pada jenjang ini pemerintah daerah membentuk sejenis unit pelayanan pengaduan. Program awalnya ditujukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. masyarakat dapat memberikan input yang signifikan bagi pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 36 . High quality information. Namun sebaliknya jika pengaduan masyarakat tersebut ditindaklanjuti dan membuahkan hasil. Dengan proses konsultasi seperti itu. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukannya penerbitan data atau informasi masyarakat untuk mendapatkan informasi tersebut. Keterbukaan pemerintah daerah dalam hal ini telah memberikan peluang yang luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemerintahan. Sosialisasi informasi-informasi tersebut akan mendorong terjadinya proses dialog atau konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat setempat yang lebih menyentuh substansi permasalahan. maka pada jenjang ini terjadi konsultasi palsu (pseudo consultation). pengajuan daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif mendapatkan informasi atau data-data yang akurat. baik dilihat dari proses maupun materi yang disampaikan pemerintah daerah kepada masyarakat setempat. 4. valid. Pada jenjang ini terjadi sosialisasi informasi yang berkualitas tinggi. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat customer memiliki care ini informasi pada yang cukup mengenai untuk berbagai meredam kegiatan pemerintah atau mulai dilakukannya transparansi. B. evaluasi. dan obyektif mengenai daerahnya atau hal-hal apa saja yang dilakukan dan juga disebabkan oleh sulitnya oleh pemerintah daerah. baik dalam hal pemantauan. misalnya terjadi perbaikan dalam pelayanan pemerintah. maupun tuntutan-tuntutan. Dengan Partisipasi Warga 5.

Diskusi antara pemerintah dengan masyarakat telah ada dan sebenarnya telah berjalan. Limited decentralised decision making. 7. sehingga dapat berfungsi efektif dan akan mendorong partisipasi badan atau komite tersebut dalam pembuatan kebijakan yang menyangkut operasional. Dalam diskusi ini. Sebagai hasil dari peningkatan kualitas konsultasi ini dapat menghasilkan perubahan struktural misalnya pembentukan berbagai badan atau komite masyarakat yang berfungsi sebagai penasehat (advisory) bagi pemerintah daerah dalam rangka membuat kebijakan atau melaksanakan program-program pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. Namun tidak ada satu ketentuan pun bagi pemerintah daerah untuk memasukan pendapat komite masyarakat tersebut ke dalam kebijakan yang akan dibuat. Genuine Consultation.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Pada meningkatkan kualitas konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dilihat dari substansi pembahasan maupun prosesnya. Misalnya. masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah sebelum suatu kebijakan diambil jenjang genuine walaupun tidak ada kepastian pemerintah akan consultation ini. dilakukan proses konsultasi antara pemerintah dengan masyarakat sebelum merancang suatu peraturan atau sebelum merancang program. Artinya. hasil dialog tersebut tidak mengikat pemerintah daerah. penggunaan sumber daya bahkan dapat menyentuh tataran strategis. Organisasi BAPEDA KOTA DEPOK 37 . Pada jenjang ini terjadi peningkatan keberadaan badan atau komite penasehat masyarakat. 8. dilakukan improvisasi untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan masukan tersebut. Pada tahap ini masyarakat telah menunjukan inisiatif mereka dan telah ada transfer atau setidaknya pemberian wewenang untuk mempengaruhi pemerintah. Effective advisory bodies. Telah ada organisasi / perkumpulan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam pengambilan keputusan.

Pada tahap ini operasional pengambilan keputusan telah dibedakan secara internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat). apa yang ini terjadi juga saat ini. mendiskusikan persamaan persepsi bagaimana pelayanan beroperasi. Disamping itu. namun harus tetap mengacu pada kebijakan strategis. negosiasi antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya. dan kemudian berkembang pada pembagian kekuasaan antara pemerintah daerah atau unit-unit pemerintah daerah dengan unit-unit kelompok masyarakat dalam kerangka yang spesifik. 9. Selain itu pemerintah daerah membangun strategi bottom-up 10. Pada jenjang ini pemerintah daerah dan masyarakat menjadi mitra sejajar. memberikan masukan apa yang dapat dan harus dilakukan untuk Organisasi mengambil keputusan untuk langkah aksi. dimana masyarakat memiliki maupun pengaruh yang signifikan terhadap terutama proses melalui pembuatan mekanisme pelaksanaan kebijakan. Limited Partnership. Pada jenjang ini keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan telah meningkat ke arah kontrol masyarakat terhadap operasional maupun pengelolaan sumber daya dengan kerangka yang spesifik dan terbatas. memperbaiki memberi keadaan pandangan saat ini.Kajian Perencanaan Partisipatif tersebut melaksanakan hal-hal seperti mengajak masyarakat untuk bersatu. setidak-tidaknya terjadi proses transfer kekuasaan (kewenangan).Delegated control. Pemerintah daerah mulai melakukan pengalihan manajerial pengelolaan program pemerintah kepada masyarakat. memonitor aksi yang dilakukan dan merencanakan langkah aksi selanjutnya. dimana pemerintah memisahkan kewenangan tertentu untuk didelegasikan kepada masyarakat. seperti standarisasi yang BAPEDA KOTA DEPOK 38 . Secara umum dalam jenjang ini kontrol yang substansial didelegasikan kepada masyarakat daerah atau pembuatan kebijakan maupun pelaksanaannya.

institusinya tidak bergantung pada pemerintah daerah atau badan lainnya. BAPEDA KOTA DEPOK 39 .Entrust Control. 11. Pada jenjang ini. Masyarakat memiliki kekuasaan dan kapasitas untuk mengatur sebuah program. Pada jenjang ini peningkatan pengendalian / kontrol masyarakat telah mewujud dengan terbentuknya suatu institusi atau organisasi yang otonom secara legal untuk menguasai pembuatan maupun implementasi kebijakan terhadap suatu atau beberapa bidang tertentiu. namun institusi ini masih tergantung pada alokasi dana dari pemerintah daerah yang hanya berperan pada tataran strategis. area dan institusi. 12. C. Kekuataan tidak berada pada pasar. institusi yang diprakarsai masyarakat yang terlibat dalam menguasai (mengontrol) pembuatan kebijakan maupun implementasinya secara penuh mendapatkan otonomi.Kajian Perencanaan Partisipatif ditetapkan pemerintah daerah serta kerangka pendelegasian kontrol yang ditentukan secara terpusat. baik legal maupun finansial dari pemerintah daerah. Hubungan dengan pemerintah daerah dilakukan melalui koordinasi dengan jaringan kerjasama. tapi berdasarkan bentuk-bentuk demokrasi dalam semua sisi kehidupan. Kedudukan pemerintah dan masyarakat sederajat. Hubungan pemerintah dengan masyarakat meningkat berdasarkan kepercayaan dan saling ketergantungan. masyarakat telah memiliki kekuasaan untuk mengatur program. Pada jenjang ini dipertimbangkan transformasi fundamental antara negara dan ekonomi pasar di satu sisi dan anggota masyarakat di sisi lain.Independent Control. Pengendalian / Kontrol oleh Masyarakat Pada jenjang kesebelas dan keduabelas.

Mereka mengembangkan kontak dengan institusi luar untuk mengakses sumber daya dan bantuan teknis yang mereka butuhkan. Warga berpartisipasi dalam analisis bersama.4. Informasi yang dibagi pun hanya untuk kalangan profesional. Pretty (1995). mengembangkan pendekatan yang berbeda berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana pada Tabel 4.3. Masyarakat lokal tidak berkewajiban melanjutkan praktek yang diintrodusir ketika insentif berakhir. khususnya untuk mengurangi biaya. Warga berpartisipasi melalui konsultasi atau dengan menjawab pertanyaan dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Warga berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara independen (tanpa campur tangan dari institusi luar) untuk mengubah sistem. uang tunai atau insentif material lainnya. Metodologi pembelajaran dipakai untuk menemukenali perspektif yang beragam. Warga berpartisipasi untuk mendapatkan makanan. Warga mungkin berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan sebelumnya berkaitan dengan proyek tersebut. dan kelompok menentukan bagaimana sumberdaya yang tersedia digunakan. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Dengan mengadaptasi tipologi partisipasi Arnstein. Tabel 4. Partisipasi fungsional Partisipasi interaktif Mobilisasi sendiri dan berdikari Sumber : Pretty (1995) diacu dalam Thomsen (2004) BAPEDA KOTA DEPOK 40 . Warga berpartisipasi dengan diberitahukan apa yang telah diputuskan atau yang telah dilaksanakan. tapi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap bagaimana sumberdaya itu digunakan. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Tipologi Partisipasi manipulatif Partisipasi pasif Partisipasi dengan konsultasi Partisipasi yang dibeli Karakteristik Setiap Tipe Partisipasi dilakukan hanya dengan berpura-pura.Kajian Perencanaan Partisipatif 2.3. Partisipasi dilihat oleh badan eksternal sebagai sebuah langkah untuk mencapai tujuan proyek. mengembangkan rencana aksi bersama dan pembentukan atau penguatan kelompok atau institusi lokal. diacu dalam Ahmad (2004).

belajar berdemokrasi Ko-Produksi Koordinasi Mediasi Antisipasi Konsultasi InformasiEdukasi Sumber : Mayer (1997). dan cara pencapaian Untuk mendamaikan konflik. diacu dalam Ahmad (2004). Tabel 5. Terdapat perubahan kelembagaan (pengetahuan. dan keberlanjutan proyek). kemitraan. kepercayaan dan sikap-kebiasaan) Melihat hubungan antara berbagai permasalahan di setiap tahapan proses yang ada di berbagai pihak dan berbagi tanggung jawab untuk penyelesaian yang mungkin dicapai Mengajak para pihak untuk melihat sumberdaya yang mereka miliki dan menginisiasi kerjasama Mengajak para pihak untuk mengetahui tentang nilai-nilai dan kepentingan yang saling menguntungkan Memberikan kesempatan pada para pihak untuk membuat antisipasi permasalahan yang muncul di masa depan Bertanya kepada para pihak tentang apa yang mereka tahu tentang permasalahan mereka dan apa yang dapat mereka lakukan terhadap permasalahan tersebut Memberikan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat umum Tujuan Para pihak dapat menggali dan membuat pendekatan yang fleksibel dan kontekstual dengan perubahan yang cepat Identifikasi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam berbagai aktivitas / proyek Mengkoordinasi sumberdaya.4. tujuan. Tahapan partisipasi yang dikembangkan oleh Wates (2000) berdasarkan tingkat keterlibatan masyarakat (kemandirian.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) dan Wates (2000) Tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Mayer (1997) dan Wates (2000) adalah salah satu instrumen untuk melihat tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah proyek atau proses perencanaan. implementasi. konsultasi. mencapai kompromi. perencanaan. BAPEDA KOTA DEPOK 41 .3.4. dan informasi) pada masing-masing tahapan proyek (inisiasi proyek. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) Tahapan Pembelajaran Cara Para pihak dapat menentukan kerjasama yang akan dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang sudah dipelajari. memperkuat penerimaan dan legitimasi. pemahaman bersama sampai membuat konsensus Menggali proyeksi kemungkinan perubahan di masa depan Membuat kebijakan atas dasar informasi relevan yang didapat di lapangan Memperkaya pemahaman kepada para pihak.

Tahapan Partisipasi Wates (2000) INISIASI KEMANDIRIAN Kontrol ada pada komunitas KEMITRAAN Berbagi tugas dan ikut serta dalam pengambilan keputusan Komunitas melakukan inisiasi PERENCANAAN Komunitas merencanakan kegiatannya sendiri Otoritas dan komunitas secara bersama-sama merencanakan kegiatan Otoritas membuat perncanaan setelah berkiomunikasi dengan komunitas IMPLEMENTASI Komunitas mengimplementa sikan rencananya sendiri Otoritas dan komuniotas bersama-sama mengimplementa sikan perencanaan KEBERLANJUTAN Komunitas menjaga hasil-hasil pembangunan Otoritas dan komunitas saling menjaga hasil pembangunan Otoritas dan komunitas bersamasama melakukan inisiasi kegiatan KONSULTASI Otoritas Dilakukan menginisiasi dengan kegiatan pendekatan setelah dialog berdialog dengan komunitas Otoritas INFORMASI menginisiasi Komunikasi dilakukan searah kegiatan Sumber : Wates (2000) Otoritas mengimplementa sikan perencanaannya dengan berkonsultasi pada komunitas Otoritas membuat Otoritas mengimplementa perencanaan sikan sendiri perencanaannya sendiri Otoritas menjaga hasil pembangunan dengan bertanya kepada komunitas Otoritas menjaga hasil pembangunannya sendiri 2. Tipologi Partisipasi Parkers and Panelli (2001).3. BAPEDA KOTA DEPOK 42 .4.5. Tipologi ini esensinya istilah sama yang dengan lain tipologi sebelumnya partisipasi namun yang menggunakan adalah tipologi dikemukakan oleh Parkers dan Panneli (2001).Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 6.

Roda Partisipasi Davidson (1998) Sebenarnya Davidson tidak membuat tipologi partisipasi yang sama sekali baru. Ia sepenuhnya mengadopsi tipologi yang dikemukakan oleh Burns. BAPEDA KOTA DEPOK 43 .6. tapi pihak luar yang menganalisis dan memutuskan pilihan kegiatan yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Masyarakat lokal dan pihak luar berbagai pengetahuan mereka untuk menciptakan pemahaman baru dan mereka bekerja sama untuk membentuk rencana aksi dengan fasilitasi dari pihak luar Collective action (aksi bersama) Masyarakat lokal menyusun sendiri agenda mereka dan mengerahkan diri mereka sendiri untuk mencapainya tanpa inisiatif dari pihak luar dan dengan atau tanpa kehadiran fasilitator dari luar. 2.3. Davidson memodifikasi metode dan strategi pendekatan yang digunakan dalam tiap jenjang partisipasi yang dikemukakan oleh Burns.4. Tugas ditetapkan dengan insentif tapi pihak luar memutuskan agenda dan aksi apa yang harus dilakukan Pendapat masyarakat lokal dicari / diminta.Karena itu dalam artikelnya ”Engaging Community”.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 7. Tipologi Partisipasi Parkers dan Pannelli (2001) Tipe partisipasi Co-option (pilihan bersama) Compliance (kerelaan) Consultation (konsultasi) Cooperation (kerjasama) Co-learning (belajar bersama) Keterlibatan Masyarakat lokal Perwakilan masyarakat dipilih untuk ikut dalam prosespartisipasi tapi tanpa input yang nyata atau tanpa pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan. Hanya saja menurut Davidson (1998). tiap jenjang partisipasi masyarakat itu membutuhkan metode dan strategi pendekatan yang berbeda. dan sebagian besar menggunakan istilah yang digunakan oleh Burns. Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas tapi tanggungjawab tetap berada di tangan pihak luar untuk mengarahkan proses tersebut.

Kajian Perencanaan Partisipatif Gambar 3. Roda Partisipasi oleh Davidson BAPEDA KOTA DEPOK 44 .

Kajian Perencanaan Partisipatif

Tabel 8. Tipologi Roda Partisipasi Davidson No. Jenjang Partisipasi
1. Minimal Communication

Karakteristik
Badan pemerintah memutuskan seluruh hal / materi tanpa konsultasi (kecuali ketika aturan mengharuskan melakukan konsultasi), seperti melalui laporan dari komite. Menjelaskan kepada publik apa yang diinginkan oleh badan pemerintah, bukan tentang apa yang ingin diketahui oleh publik. Ini dilakukan dengan pendekatan yang menjangkau publik yang lebih luas Memberikan informasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kertas kerja untuk didiskusikan atau pameran untuk pengembangan rencana atau catatan panduan untuk pengembangan area konservasi Pemberian informasi dalam cara yang terbatas dengan beban diletakan pada masyarakat untuk memberikan respon seperti dalam bentuk poster atau leaflet. Memiliki pelayanan yang berorientasi pada publik sebagai pelanggan (customer), seperti memperkenalkan kebijakan yang peduli pada pelanggan atau menyediakan sebuah skema untuk pengaduanpengaduan atau komentar-komentar Badan pemerintah secara aktif mendiskusikan berbagaiisu dengan masyarakat berkaitan dengan apa yang dipikirkan tentang aksi yang akan dilakukan terlebih dahulu. Sebagai contoh, berhubungan dengan kelompok penyewa atau survey kepuasan publik. Mengundang keterlibatan masyarakat untuk mengajukan proposal / usulan yang akan menjadi bahan pertimbangan badan pemerintah. Memecahkan masalah melalui kemitraan dengan masyarakat seperti kemitraan formal Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat keputusannya sendiri tentang beberapa isu, seperti pengelolaan tempat permuan warga. Mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusan secara terbatas dalam wilayah atau proyek tertentu, seperti organisasi pengelolaan penyewa dan dewan sekolah. Badan pemerintah diharuskan unrtuk menyediakan pelayanan tapi memilih pelaksanannya dengan menfasilitasi kelompok masyarakat dan / atau badan lainnya untuk memberikan pelayanan atas nama pemerintah, seperti pemberian kontrak pelayanan perawatan oleh sektor volunter / relawan Memindahkan kekuasaan pembuatan keputusan yang substansial kepada masyarakat, seperti organisiasi pengelolaan penyewaan.

Contoh Teknik
Catatan publik

2.

Limited Information

Press release, newsletter, dan kampanye Leaflet

3.

High Quality Information

4. 5.

Limited Consultation Customer Care

Pertemuan publik dan survey Kartu komentar, wawancara perorangan.

6.

Genuine Consultation

7. 8.

Effective Advisory Body Partnership

9.

Limited Decentralized Decision-Making Delegated Control

10.

Panel warga, lingkaran diskusi di tingkat distrik, diskusi kelompok terarah, pengukuran pendapat, panelpengguna, dan kelompok stakeholder Perencanaan nyata (planning for real), Dewan juri warga, pencarian prioritas Pilihan bersama (co-option), Kelompok-kelompok stakeholder, permainan disain Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang

11.

Independent Control

12.

Enrusted Control

BAPEDA KOTA DEPOK

45

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.7.

Tipologi Partisipasi Brager & Specht (1973).

Brager & Specht mengembangkan tipologi partisipasi tidak dalam bentuk jenjang tapi dalam bentuk kontinum, dilihat dari sisi pengendalian masyarakat / partisipan dalam proses perencanaan. Pada tingkat pengendalian yang tinggi, masyarakat memiliki dalam pelaksanaan kegiatan, sedangkan pada tingkat pengendalian masyarakat yang rendah boleh dikatakan tidak afda partisipasi samasekali. Tabel 9 . Tangga Partisipasi Masyarakat Brager & Specht (1973).
Pengendalian Tinggi Aksi Partisipan Has control (memiliki kontrol) Contoh Organisiasi / badan pemerintah meminta masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan membuat seluruh keputusan penting terhadap tujuan-tujuan dan langkah-langkah mencapainya. Badan pemerintah berkeinginan untuk membantu masyarakat pada tiap tahap untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Badan pemerintah mengidentifikasi dan menyodorkan sebuah masalah kepada masyarakat. Pemerintah menetapkan batasan masalah dan meminta masyarakat untuk membuat serangkaian keputusan yang dapat ditambahkan dalam sebuah rencana sehingga rencana itu dapat diterima. Badan pemerintah menyodorkan rencana tentatif (sementara) dan terbuka untuk perubahan dari mereka yang dipengaruhi oleh rencana itu. Badan pemerintah mempresentasikan sebuah saran dan mengundang pertanyaan. Disiapkan untuk perubahan rencana hanya jika betul-betul dibutuhkan. Badan pemerintah mencoba untuk mempromosikan sebuah rencana dan berkonsultasi dengan masyarakat sekadar untuk mengembangkan dukungan agar rencana itu dapat diterima, sehingga pemenuhan administraif dapat diharapkan Badan pemerintah membuat rencana dan mengumumkannya. Masyarakat diajak mengikuti pertemuan / rapat untuk tujuan mendapatkan informasi. Masyarakat tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun.

Has delegated authority (memiliki kewenangan yang didelegasikan)

Plans jointly (merencanakan bersama) Advises (pemberian saran ) Is consulted (dikonsultasikan)

Receives information (menerima informasi) None (tidak ada)

Rendah

Sumber : Brager & Specht (1973), diacu dalam WHO (2002).

BAPEDA KOTA DEPOK

46

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.8. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992) diacu dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut kemauan Sahidu (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi adalah motif, tingkat harapan,

masyarakat

untuk

berpartisipasi

kebutuhan (needs), imbalan (rewards), dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki. Jika berpartisipasi bisa dianggap sebagai sebuah perilaku dari

masyarakat, dan partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan perilaku pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, maka setidaknya terdapat dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku masyarakat dan pemerintah ini. Yaitu, teori pilihan rasional (rational choices theory) theory). Menurut teori pilihan rasional, perilaku individu atau sebuah kelompok merupakan respon terhadap aturan (rules) dan insentif yang ada. Aturan ini dapat berupa aturan formal (peraturan perundang-undangan) maupun aturan non formal (misalnya, kesepakatan-kesepakatan warga), dapat dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Insentif pun beragam mulai dari yang kasat mata dan bersifat ekonomi maupun yang tidak kasat mata dan teori normatif (normative

BAPEDA KOTA DEPOK

47

(3) adanya peraturan-peraturan pemerintah yang menghambat kemauan rakyat untuk berpartisipasi. Sementara Abe (2001) mengidentifikasi setidaknya enam faktor penghambat masyarakat untuk berpartisipasi.3. Sedangkan menurut teori normatif. maka perilaku itu merupakan pilihan rasional bagi yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap aturan main atau insentif yang ada. Menurut Soetrisno (1995).Kajian Perencanaan Partisipatif dan bersifat non ekonomi. Partisipasi dipahami sebagai kemauan rakyat untuk mendukung program pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. 2. seorang berperilaku tertentu karena perilaku itu merupakan sesuatu yang memang patut dilakukan. faktor-faktor penghambat itu adalah: (1) belum dipahaminya konsep partisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan. Ini merupakan hasil dari pendidikan (formal. yaitu: (1) keterbatasan BAPEDA KOTA DEPOK 48 . (2) adanya reaksi yang menghambat proses pembangunan seperti keengganan masyarakat untuk ikut berperan serta seperti mengevaluasi proses pembangunan secara kritis dan terbuka (budaya diam). Logika ini merupakan hasil dari proses internalisasi yang memakan waktu yang relatif lama dalam diri seorang individu atau kelompok. aparat bersikap otoriter. jika seseorang atau sebuah kelompok berperilaku partisipatif. Jadi. Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Para ahli telah mengidentifikasi hal-hal yang menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. atau melalui kampanye-kampanye publik melalui berbagai media. dan kurang terbuka terhadap aspirasi masyarakat (budaya mencari selamat). nonformal. Jadi yang menjadi pertimbangan adalah logika kepatutan (logic of approriateness). dan informal) pada berbagai tingkatan.5.

karena manfaat atau tujuan pembangunan masih kurang jelas bagi masyarakat. (2) masyarakat atau tokoh terpercaya belum sanggup atau kurang berani mengajukan bentuk atau cara pemecahan masalah yang diterima (acceptable) yang secara teknis dan keuangan dapat dilaksanakan. (3) rakyat berada dalam represi ideologi dimana kesadaran politik rakyat diduga merupakan kesadaran hasil bentukan negara. Hamijoyo (1993) mengidentifikasi beberapa faktor pengambat partisipasi masyarakat yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. Hambat-hambatan untuk berpartisipasi itu juga dapat dilihat dari sisi hambatan struktural. (2) masyarakat berada dalam politik sentralistik – otoriter sehingga membudaya politik ”mengekor”. Sedangkan hambatan sosial adalah masih terdapatnya mental ketergantungan dimana pada umumnya terdapat dominasi dari kelompok elit lokal. Hambatan administrasi adalah berupa prosedur perencanaan program dan proyek pembangunan yang tersentralisasi mengurangi keterlibatan lokal. Hambatan struktural berasal dari lingkungan politik negara.Kajian Perencanaan Partisipatif pengetahuan masyarakat sehingga secara teknis sulit berpartisipasi (misalnya pendidikan yang rendah dan kemampuan baca tulis). sebagai akibat dari tekanan politik elit. sehingga rakyat tidak terbiasa jujur mengatakan apa adanya meskipun bertentangan dengan pemerintah. 1991). yaitu: (1) masyarakat belum dapat menghayati atau merasakan masalah atau kepentingannya. (3) tujuan partisipasi masyarakat kurang jelas. (6) langkanya kepercayaan diri. (4) karena sebab-sebab terdahulu. (5) rakyat telah kehilangan institusi lokal. dan sistem politiknya tersentralisasi. (4) aspirasi yang disampaikan rakyat adalah aspirasi pantulan (refleksi) aspirasi negara. pasif. dimana ideologi yang dianut kurang mendukung keterbukaan. hambatan administrasi dan hambatan sosial (Okley. maka di antara masyarakat belum BAPEDA KOTA DEPOK 49 . takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. kurang respon terhadap suara rakyat.

Pembagian peran dan tanggung jawab dianggap kurang adil dan terbuka. (8) kebanyakan warga lokal belum melihat hasil pembangunan melalui partisipasi mereka. (3) di kebanyakan negara. (7) tidak ada peran yang cukup merata atau banyak peran terlalu diborong oleh orang-orang tertentu. sedangkan tahap-tahap lainnya seperti pengalihan modal untuk poemanfaatan mungkin akan lebih singkat. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan partisipasi masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan untuk menjamin adanya partisipasi tersebut. masyarakat tidak atau belum merasakan ada kegiatan yang cocok ataupun bermanfaat baginya. (2) harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran (toleransi) kenyataan bahwa beberapa tahap harus diberikan untuk seperti konsultasi perencanaan. dapat dilihat bahwa faktorfaktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dapat dalam bentuk: (a) faktor internal masyarakat. (5) di wilayahnya sendiri. (9) tidak ada organisasi yang cukup handal untuk mengelola partisipasi masyarakat. atau pimpinan kurang menunjukan hasil yang sebenarnya ada. (6) tidak ada semacam reference group yang merupakan fokus atau panutan bagi warga setempat. tentang suatu rancangan mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama atau berlarut-larut. ”perlengkapan khusus” untuk memperkenalkan dan BAPEDA KOTA DEPOK 50 . Uphoff dan Cernea (1988) mengidentifikasi beberapa cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif ada atau bahkan tidak ada rasa keterikatan batin. rasa senasib sepenanggungan. Jika ditelaah berbagai pendapat tersebut. yaitu: (1) taraf partisipasi yang dikehendaki mesti diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak yang bersangkutan. dan (c) faktor luar / eksternal. sehingga aspirasi dan potensi warga kurang tersalur secara efektif dan efisien. (b) faktor internal pemerintah.

dan suatu mekanisme dimana seluruh stakeholders dapat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan. Dengan demikian. (2) masyarakat yang merupakan target merasa lebih memiliki dan memberikan kontribusi secara signifikan guna kesuksesan kegiatan. Demikian halnya berkaitan dengan pembangunan skala kota (yang terdiri dari banyak program / proyek). 2. maka pihak yang seharusnya berkepentingan adalah stakeholders yang ada di kota itu. yaitu: (1) hasilnya bersifat alamiah dan tidak merupakan rekayasa. Perencanaan Partisipatif Pelaksanaan perencanaan partisipatif dapat dilakukan dalam pelaksanaan sebuah program atau proyek tertentu. Selanjutnya Bock (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga keuntungan jika menggunakan proses partisipatif dalam perencanaan dan disain suatu kegiatan. tingkat pengetahuan. atau dengan kata lain kemauan baik saja belum cukup. karena sebagaimana dikemukakan oleh Warner (1997). monitoring dan evaluasi. serta motivasi aspirasi. Karena itu perlu dibangun pelaksanaan. BAPEDA KOTA DEPOK 51 .Kajian Perencanaan Partisipatif mendukung partisipasi memang diperlukan.4. sehingga partisipasi menjadi isu yang sangat penting dalam perencanaan dan implementasi suatu program / proyek. Salah satu alasan mengapa melakukan perencanaan partisipatif sebelum mendisian sebuah program / proyek adalah bahwa sesungguhnya banyak pihak (stakeholders) yang berkepentingan di dalamnya. dan dapat juga dalam konteks pembangunan skala kota. para stakeholders berbeda dalam beberapa hal yakni keinginan. diacu dalam Abbas (2005). konsep stakeholders menjadi penting. kebutuhan dan tata nilai. (4) mesti ada komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi.

Informasi dapat berupa publikasi media.Kajian Perencanaan Partisipatif dan (3) pemantauan kegiatan lebih mudah dilaksanakan dan lebih transparan. Peran informasi sangat esensial sebagai wahana untuk menfasilitasi partisipasi. Dalam kaitan itu terdapat empat elemen kunci menuju kesuksesan perencanaan partisipatif oleh stakeholders (Takeda 2001. Perencanaan partisipatif juga penting untuk dapat mengetahui kebutuhan dan opini stakeholder terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. melakukan stakeholders konsultasi dan negosiasi. kapan. 2. Tanpa informasi masyarakat tidak akan mengetahui berpartisipasi ”apa. Mekanisme partisipasi harus diinstitusionalisasikan. regulasi. informasi siapa dan bagaimana” dan dapat dan tidak dalam proses perencanaan kebijakan implementasinya. Intermediasi. atau kebijakan dapat menfasilitasi di antara partisipasi kesediaan pemerintah. BAPEDA KOTA DEPOK 52 . Institusionalisasi partisipasi (forum) stakeholders. Informasi yang baik dan tepat sasaran seringkali menjadi pionir bagi keberhasilan suatu program. maka hak-hak dan proses partisipasi harus didefinisikan dalam pedoman teknis. Guna mencapainya. 3. bagaimana. Prinsip pokoknya agar stakeholders untuk adalah dibutuhkan koordinasi. dimana dan merumuskan kebijakan pengembangan implementasinya. Intermediasi berguna untuk menfasilitasi partisipasi sehingga di dalamnya membutuhkan individu atau organisiasi guna memainkan fungsi intermediasi. untuk pemerintah mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan dan isu. dan akses yang terbuka terhadap pertemuan maupun dokumen-dokumen. Tanpa dimana. diacu dalam Abbas 2005): 1. Informasi.

Sepanjang tahun dalam siklus anggaran partisipatif dari Porto Alegre telah mendapatkan perhatian untuk dicermati. 2003). Inisiatif stakeholders untuk tersebut. kekayaan ekonominya sekitar US$ 7 miliar. sebuah kota industri di Rio Grande do Sul. mendiskusikan usulan-usulan baru dan memilih delegasi untuk pertemuan putaran kedua. Dalam kegiatan ini tidak ada intervensi dari eksekutif (pejabat kantor walikota).3 juta jiwa. Kota ini juga memiliki reputasi sebagai persatuan buruh serta berpengalaman memobilisasi rumah masyarakat madani progresif yang dipimpin oleh intelektual dan partisipasi masyarakat. Dengan penduduk 1. Siklus anggaran yang dimulai pada Maret – April. misalnya dengan mengkondisikan berinisiatif.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Kota ini secara konsisten menikmati satu dari standar kehidupan yang sangat tinggi dan tuan pendapatan perkapita yang tinggi dibandingkan dengan kota-kota di Brazil pada umumnya. • April: Sidang Pleno pertama dilaksanakan antara masyarakat dan para pejabat kantor walikota untuk menilai proyek-proyek tahun sebelumnya. pertemuan informal lingkungan yang kondusif untuk masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 53 . Inisiatif. berlangsung degan jadual sebagai berikut: • Maret: pertemuan informal antar warga untuk menentukan kebutuhan. • April sampai dengan Juni: Pertemuan Antara bagi delegasi untuk mempelajari prioritas kriteria teknis dan mendiskusikan Persiapan kebutuhan dan untuk setiap daerah. Dalam hal ini berpartisipasi dalam aktivitas harus menyediakan dan pembangunan sangat krusial kaitannya dengan proses pembangunan pemerintah memberdayakan stakeholders (terutama masyarakat) agar mampu menempatkan perannya dalam membuat inisiatif. Salah satu model best practice tentang perencanaan dan penganggaran partisipatif dilakukan di Porto Alegre. Brazil (World Bank.

kebutuhan masyarakat. demikian seterusnya.Kajian Perencanaan Partisipatif dilaksanakan dengan masyarakat dan asosiaisi masyarakat untuk menetapkan peringkat kebutuhan. (e) 30 km jalan diperbaiki setiap tahun. (c) persentase penduduk yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah meningkat dari 46% menjadi 85%. (c) antara 1989 dan 1996 persentase rumah tangga dengan kemudahan mendapatkan pelayanan air bersih meningkat dari 80% menjadi 98%. Partai Buruh yang mengusulkan penganggaran partisipatif telah memenangkan tiga kali berturut-turut dalam pemilihan daerah di Porto Alegre. (b) jumlah penduduknya. Eksekutif mengumpulkan semua usulan berdasarkan dua kriteria yaitu: (a) seberapa jauh akses ke daerah yang harus dilayani. (f) karena transparansi menghasilkan sikap patuh membayar BAPEDA KOTA DEPOK 54 . dua dari masing-masing tema ditambah dua lainnya dari legislatif. (d) jumlah anak-anak yang diterima di sekolah pemerintah menjadi dua kali lipat. September sampai dengan Desember: COP menindaklanjuti debat dengan anggota legislatif. • • Juni: pleno kedua dilaksanakan ketika para Konselor dipilih dan prioritas daerah sudah ditetapkan. (b) sebuah jurnal bisnis yang berpengaruh telah menetapkan Porto Alegre sebagai masyarakat Brazil dengan ‘best quality of life” selama 4 tahun sejak 1989. aturan-aturan yang disepakati dan mengatur pertemuan selanjutnya. maka hal-hal yang telah dicapai antara lain: (a) sejak 1989. • • September: Anggaran baru disahkan oleh COP dan dikirim kepada legislatif untuk diadakan debat dan dikuasakan. melobi. Juli: 44 Konselor membentuk The Council of Participatory Budgeting (COP) – dua dari masing-masing 16 daerah. alokasi sumber daya sebagaimana yang diusulkan pejabat kantor walikota. dan bekerja secara terpisah pada rencana investasi untuk masing-masing daerah. Dengan pendekatan seperti itu. • Juli – September: legislatif menjumpai setidaknya selama dua jam per minggu untuk mendiskusikan kriteria.

Konsep modal sosial telah dipopulerkan oleh Putnam (1993) walaupun sebelumnya terlebih dahulu dikembangkan oleh Coleman (1988). dan (g) lebih dari 80 kota di Brazil mengikuti model Porto Alegre untuk penganggaran partisipatif. 2. (b) norma-norma yang saling berinteraksi / timbal balik (norms of generalized reciprocity).al (2006). Modal Sosial Konsep modal sosial antara lain sering digunakan untuk menjelaskan mengapa satu kelompok masyarakat dapat bekerjasama untuk mencapai kemaslahatan / kepentingan bersama. yang kemudian akan menekan biaya transaksi antar mereka yang bekerja sama dan kemudian berarti menghemat penggunaan sumber daya. Akibat adanya saling percaya.al. maka penerimaan meningkat mendekati 50%. 2006). Putnam (1993). mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. saling percaya akan menghemat waktu dan biaya. diacu dalam Rustiadi et. Artinya. sementara kelompok masyarakat lainnya tidak dapat melakukannya. serta oleh Knack dan Keefer (1997) adalah: (a) jaringan pertemuan / dialog masyarakat (network of civic engangement). BAPEDA KOTA DEPOK 55 . Komponen-komponen kunci dari modal sosial yang diidentifikasi Putnam (1993).Kajian Perencanaan Partisipatif pajak.5. dan (c) kepercayaan (Rustiadi et. Fukuyama (1995). Hubungan saling percaya (social trust) akan membangun kerjasama. maka para pihak tidak membutuhkan upaya untuk memonitor atau mengawasi pihak lain agar berperilaku seperti yang diharapkan.

norma dan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). ekspektasi (expectations). yang diacu dalam Yustika (2006) menjelaskan tiga bentuk modal sosial: Pertama. Pada level yang paling minimal. Ketiga. Informasi sangatlah penting sebagai basis tindakan. Konsep modal sosial berkaitan erat dengan konsep aksi kolektif (collective action). bahwa informasi selalu terbatas. BAPEDA KOTA DEPOK 56 . Tentu saja individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperolah informasi sehingga dapat dikatakan modal sosialnya tinggi. Dalam konteks ini. struktur kewajiban (obligation). Kedua.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut Coleman (1988). Norma dan sanksi efektif akan membangun dan menjaga perilaku yang diharapkan secara sosial sebagai upaya untuk mempertahankan level modal sosial yang terbentuk. dan kepercayaan (trustworthiness). jaringan informasi (information channels). demikian pula sebaliknya. individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi yang sebaliknya. aksi kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok. Menurut Marshall (1998). Dari perspektif ini. bentuk modal sosial tergantung pada dua elemen kunci yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. yang diacu dalam Knox dan Gupta (2000). Aksi kolektif dilaksanakan secara sukarela oleh partisipannya yang membedakannya dengan usaha-usaha kolektif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pekerja yang dibayar. dan ini yang perlu mendapat perhatian. dalam mencapai apa yang oleh anggota kelompok itu dianggap sebagai kepentingan bersama. baik secara langsung atau atas nama organisasi.

6. karena berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan akan senantiasa membutuhkan biaya.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut dijelaskan. diacu dalam Rustiadi 2. Konsep Biaya Transaksi Konsep biaya transaksi dipaparkan dalam kajian ini. menggalang proses partisipasi. Keengganan berbagai pihak di pemerintahan untuk menerapkan proses partisipatif antara lain dilatarbelakangi oleh faktor biaya ini. dan menegakkan aturan-aturan yang telah diterima. masalah-masalah individu penting dalam aksi kolektif adalah: (a) munculnya perilaku free ridding (penunggang gratis) sehubungan keinginan untuk memaksimumkan utilitasnya. kegiatan (provider) menjadi katalisator. namun terdapat banyak yang kemunculan berbagai aksi kolektif. BAPEDA KOTA DEPOK 57 . dan pelaksana 2006). yang dianggap akan memberikan manfaat bagi kelompok. (b) biaya aksi kolektif (collective action cost) sehubungan dengan pembuatan dan penegakan kesepakatan. dalam arti perannya harus bergeser dari yang semula sebagai pengontrol (controller). (d) masalah koordinasi antar pelaku. Untuk membangun modal sosial secara efektif sehingga memunculkan aksi kolektif. bukti bahwa manfaat Meskipun terdapat banyak manfaat non bersifat material juga mempengaruhi material yang diperoleh dari aksi-aksi kolektif. bahwa setiap aksi kolektif senantiasa melibatkan organisasi untuk mendisain aturan-aturan main dan melaksanakan aksiaksi yang disepakati. Menurut Eggertsson dengan (1990). maka instansi pemerintah harus berbagi otonomi / peran dengan masyarakat. penyelenggara pertemuan (convener) dan fasilitator (Crocker et al. (c) ukuran kelompok (group size). pembuat aturan (regulator).

Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam ilmu ekonomi kelembagaan. kompetisi. diacu dalam Yustika (2006). pengukuran. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga. BAPEDA KOTA DEPOK 58 . berpendapat bahwa biaya untuk mencari informasi merupakan kunci dari biaya transaksi. sebaliknya. Namun pada kenyataannya. Semakin tinggi biaya transaksi untuk mewujudkan disain kelembagaan. sehingga menghasilkan biaya yang rendah. Karena itu biaya transaksi didefinikasi sebagai biaya-biaya untuk melakukan negosiasi. dan pemaksanaan pertukaran (Yustika. North (1990). biaya transaksi biasanya rendah. maka kian tidak efisien kelembagaan yang didisain itu. North memberikan isustrasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara berkembang. Awalnya konsep biaya transaksi ini diterapkan dalam transaksi ekonomi (jual beli). sistem kontrak dan proses transaksi jual beli dapat sangat asimetris. yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan yang pengukuran dan perlengkapanongkos untuk perlengkapan (atributes) dipertukarkan melindungi hak-hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan kesepakatan (enforcing agreements). Inilah yang menimbulkan biaya transaksi. 2006). dimana informasi. biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya suatu disain kelembagaan. tetangga). Pandangan ekonomi neoklasik didasarkan pada anggapan bahwa pasar berjalan sempurna tanpa biaya apapun (costless) karena pembeli (consumers) dianggap memiliki informasi yang sempurna dan penjual fakta yang ada menunjukan (producers) saling berkompetisi. Namun konsep ini kemudian digunakan juga untuk menjadi ukuran dalam proses-proses membangun kesepakatan dalam rangka peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan.

pengawasan.Kajian Perencanaan Partisipatif sehingga informasi tentang aktifitas-aktifitas dalam komunitas tersedia secara luas dan bebas. usaha. Meskipun awalnya muncul untuk menelaah aktifivitas yang murni ekonomi. Schroeder dan Waynne 1993. Komponen-komponen biaya transaksi menurut Ostrom. dan penegakan kesepakatan di antara pelaku. agar kegiatan ekonomi terus berlanjut dan dalam jangkauan yang luas. yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan BAPEDA KOTA DEPOK 59 . Sementara itu. masyarakat harus berdagang / bertransaksi dengan orang lain di luar komunitas desanya. dan pada jarak yang semakin jauh. dan biaya finansial yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah keputusan. modal. Ini mencakup berbagai biaya yang dibutuhkan untuk membangun aturan main dan sampai bagaimana aturan main itu diterima. 2006). Mereka berpendapat bahwa biaya transaksi adalah berkaitan dengan waktu. definisi biaya transaksi yang dapat digunakan adalah sebagaimana yang dikemukakan Thomson dan Freudenberger (1997). Semakin kompleks dan impersonal jaringan perdagangan. Tetapi. diacu dalam Nugroho 2006 adalah: (a) biaya koordinasi (coordinating costs). struktur sosial (orang tua dan figur kepemimpinan lain yang dihormati) memberikan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan resolusi apabila ada konflik di antara anggota komunitas. Berkenaan dengan itu. (b) biaya informasi (information costs). maka semakin tinggi biaya transaksi yang muncul (Yustika. material. yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu. konsep biaya transaksi saat yang dibutuhkan ini telah digunakan membangun untuk dan menganalisis biaya untuk mengimplementasikan kesepakatan di sektor non ekonomi. seperti penegakan kesepakatan-kesepakatan pada tingkat stakeholders. dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi. serta biaya yang dibutuhkan untuk resolusi konflik-konflik yang timbul akibat penerapan dari aturan main tersebut.

menjadi pembuat dan penentu keputusan. dan suimberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku. Temuan ini menimbulkan pertanyaan partisipasi kunci warga bagaimana dan caranya agar peningkatan yang kualitas bisa penciptaan pemerintahan efektif berlangsung secara bersamaan? Menurut Cornwall & Gaventa (2000). kekuasaan. dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan negara yang kuat. dengan mendudukan warga sebagai aktor kunci pembuat kebijakan. Konsep tentang Warga (Citizen) Penelitian yang dilakukan di 47 negara-negara Commenwealth (bekas jajahan Inggris) menemukan bahwa warga negara menginginkan peran yang lebih besar dalam sistem kepemerintahan. partisipasi warga tidak terbatas pada partisipasi politik yang terbatas pada kampanye dan pemilihan umum. dan (c) biaya strategi (strategic costs). merencanakan dan melaksanakan program. umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free riding. Dengan demikian. termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan.7. melalui perwakilan yang penuh dalam proses pemerintahan. tapi juga mencakup akses warga untuk mengidentifikasi prioritas lokal.1.Kajian Perencanaan Partisipatif mengorganisasikan data. rent seeking. di mana pun dan siapa pun dia. BAPEDA KOTA DEPOK 60 . yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi. yang diacu dalam Zakaria et al (2001). dan korupsi. formasi pemerintahan yang mengaitkan warga secara langsung menuntut sebuah pendekatan partisipasi warga yang memungkinkan warga. Forum Warga 2.7. 2.

misalnya. 2000). yang secara historis aksesnya telah diabaikan dalam realita pembuatan kebijakan publik. Namun. Cornwall membedakan antara partisipasi yang dipaksakan dan partisipasi karena diundang (induced and invited participation) melalui kelompok pemanfaat. Akibatnya. ketimbang konsep warga sebagai kumpulan hak. Berkaitan dengan demokrasi partisipatif. Pemberian saluran dan strategi yang meningkatkan akses dari non-elit kepada pembuatan kebijakan dan implementasinya. BAPEDA KOTA DEPOK 61 .Kajian Perencanaan Partisipatif Dengan mengamati sejarah partisipasi sejak tahun 1970-an hingga saat ini. dengan partisipasi warga dimana warga masyarakat datang untuk membangun ruangnya sendiri dan melakukan perubahan menurut strateginya sendiri (Cornwall. yang diacu dalam Zakaria et al 2001). dan sebagai ruang beraktifitas. proyek penelitian the Comenwealth Foundation menyimpulkan bahwa demokrasi perwakilan dan institusi-institusi negara dan pemerintahan yang dikenal dewasa ini tidak mampu lagi melayani warga negara atau memastikan pemerintahan yang baik (good governance) di masa depan. Selayaknya warga dapat terkait dengan pemerintahan lokal melalui wakil-wakilnya dan juga melalui sistem demokrasi partisipatif. perlu menjadi salah satu agenda utama. agar dapat mengatur tata hubungan yang baru yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan kerjasama untuk maju. Lebih jauh Cornwall menyatakan. 2001. konsultasi. Pemahaman baru partisipasi warga sebagai hak. aturan dan mekanisme untuk keterkaitan langsung ini perlu dimantapkan. ingin dilibatkan (Fung & Wright. Pemaknaan kewargaan sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ ini menjadi dasar dari sebuah pendekatan yang lebih inklusif dengan sejumlah hak yang dikembangkan oleh warga itu sendiri. dan sejenisnya. rekonseptualisasi kewargaan akhirnya menempatkan warga sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ (as the exercise of agency). khususnya jika sektor masyarakat. juga menuntut pemahaman baru tentang apa yang dimaksud dengan tata kelola kepemerintahan (governance).

Mulai dari forum warga yang merupakan forum yang berbasiskan ketetanggaan sampai forum stakeholders yang keanggotaannya skala kota. Menyusun program kegiatan dan alokasi dana operasional dewan ketetanggaan. Mewajibkan aparat dewan ketetanggaan mengundang pemerintah untuk menghadiri forum ketetanggaan untuk melaporkan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan.Kajian Perencanaan Partisipatif warga negara dan petugas-petugas pemerintahan yang progresif harus mencari terobosan untuk menghubungkan kembali warga negara dengan negara (Zakaria et al 2001). Membantu asosiasi / perkumpulan / lembaga ketetanggaan dalam menentukan skala prioritas pembangunan serta mengontrol kualitas pelayanan di wilayahnya. pemberian insiatif. Menurut Burns (1994). Sebagai wahana diskusi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. 3. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan diadakannya forum warga berbasiskan ketetanggaan adalah: 1. BAPEDA KOTA DEPOK 62 . 4.7. 2. 5. Menyelenggarakan kerangka kerja dalam memberikan kesempatan yang sama. Untuk menyelaraskan keinginan dan pandangan masyarakat dengan program kegiatan. 6. 2. forum warga yang berbasiskan ketetanggaan merupakan suatu forum diskusi antara masyarakat dalam pengambilan keputusan termasuk dalam hal penegakan hukum. Pengertian Forum Warga Forum warga dapat memiliki skala cakupan geografis yang beragam.2. pengembangan kreatifitas dan dalam pemberikan masukan atau nasehat dalam forum tersebut.

Dari pandangan Burns tersebut. pengangkatan / penunjukan dari kelompok ataupun campuran dari keduanya. Selanjutnya diharapkan forum warga tersebut dapat memberikan peran kepada demokrasi lokal dengan meningkatkan jaringan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk terlibat dalam politik daerah (Burns. Anggota forum warga adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.Kajian Perencanaan Partisipatif Tugas dari organisasi forum warga adalah membentuk prakondisi untuk menjamin bahwa bentuk dasar dari proses pemberdayaan dapat berlangsung. juga untuk meningkatkan menghargai secara mengurangi kegelisahan. Setiap kelompok masyarakat mempunyai perwakilan dalam forum. 1994). 2. Pendekatan ini tidak hanya kapasitas masyarakat untuk untuk membangun kebiasaan perbedaan pendapat. BAPEDA KOTA DEPOK 63 . nampak bahwa ia menekankan sistem perwakilan dimana wakil-wakil dari kelompok masyarakat tersebut dipilih melalui tiga metode antara lain melalui pemilihan. antara lain: 1. dan melaksanakan pembangunan sektoral. Burns mengusulkan beberapa hal yang dapat menjadi ketentuan dalam pelaksanaan forum komunikasi ketetanggaan tersebut. antara lain: kelompok muda di bawah 21 tahun etnis minoritas kelompok orang cacat baik secara fisik ataupun mental perkumpulan wanita kelompok orang yang telah pensiun. 3. ketidakpercayaan terhadap orang lain. Pelaksana kegiatan forum warga adalah aparat / pimpinan yang bekerja pada asosiasi / perkumpulan / lembaga forum ketetanggaan tersebut. tetapi tidak mempunyai hak suara dalam forum. dapat masyarakat lokal dalam kegiatan sosial.

Kajian Perencanaan Partisipatif Forum warga juga merujuk pada forum perencanaan pembangunan skala kota. 3. Berdasarkan hasil workshop ”Pedoman Penyelenggaraan Rakorbang 2002 dan Repetada 2003” yang dirangkum oleh Perform Project dan USAID. Sebagai media komunikasi dan konsultasi. menjembatani. perencanaan. Rencana Srategis). dimana forum penanganan didorong untuk menghasilkan konsensus tentang isu-isu strategis dan menghasilkan kesepakatan (agreements) dan komitmen di antara pada pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan. dan kesepakatan. dan yang bersifat vertikal (Popenas. dimana suasana forum perlu diusahakan sekondusif mungkin bagi terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku pembangunan. Media meningkatkan keterlibatan para pelaku pembangunan dalam pengambilan keputusan. pengertian forum warga adalah rapat pertemuan untuk mengkonsultasikan dan mensikronkan program pembangunan daerah. Renstra Lmbaga. dimana forum merupakan instrumen untuk meningkatkan 4. 2. mempertemukan. dimana penggunaan kata forum ditujukan untuk lebih mengedepankan suasana konsultatif dan dialog yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. dan memadukan berbagai alur perencanaan baik yang bersifat horisontal (Rencana Tata Ruang Wilayah. Media untuk demokratisasi memadukan perencanaan berbagai alur yaitu meningkatkan forum keterlibatan para pelaku untuk secara aktif mengambil keputusan. Propeda Propinsi) serta perencanaan yang bottom up (Repetada Kecamatan / Kelurahan). Lebih lanjut workshop itu juga menyepakati bahwa peranan dan fungsi forum koordinasi pembangunan di era desentralisasi di Indonesia antara lain: 1. konsensus. BAPEDA KOTA DEPOK 64 . Media mengembangkan komitmen.

Media resolusi konflik kepentingan. politikus. adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas. disingkat AI. Forum warga merupakan badan yang bertanggung jawab menetapkan dan mengawasi struktur dan mekanisme pelayanan masyarakat di wilayah masyarakat tersebut. Refleksi mempunyai peran penting dalam mewujudkan BAPEDA KOTA DEPOK 65 . dimana forum berfungsi sebagai wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antar pelaku pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. Pendekatan Appreciative Inquiry 2. dimana hal tersebut sebaiknya dipercayakan kepada organisasi pembangunan tertentu. Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai cerita sukses.8. tokoh agama dan organisasi sosial yang dilaksanakan secara reguler. 2.1. kelompok kepentingan tertentu dan pebisnis lokal. Senada dengan itu. keahlian dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Refleksi diri atas relasi sosial yang bermakna dan penciptaan impian bersama bersifat fundamental dan mendasar dalam pendekatan ini. Pengertian Appreciative Inquiry. untuk mendiskusikan permasalahan dan kegiatan lokal dan membangun jaringan antar pelaku secara berkelanjutan Manifesto ini mengingatkan bahwa keberadaan forum ini tidak baik apabila mengubah fokus diskusi menjadi pelaksana.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. 2. terdapat beberapa fungsi forum warga menurut Labour Party Manifesto sebagaimana diacu dalam Burns (1994): 1. Forum warga merupakan pertemuan masyarakat yang terdiri dari aktivis masyarakat.8. bakat.

Nepal. BAPEDA KOTA DEPOK 66 . Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas. Cina dan Afrika (Mc Oddel. Appreciative inquiry merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khasanah pengembangan komunitas dan juga pengentasan kemiskinan di Indonesia. antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. sementara pendekatan Appreciative inquiry terfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. perancangan tindakan. 2001). Penggerak program justru berasal dari jaringan lokal dan akan terus berperan sebagai fasilitator dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial di kemudian hari. Sebagaimana efek yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka. dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif. mampu Fasilitasi dilakukan dalam rangka melakukan pengorganisasian bersama didasarkan pandangan mengorganisasikan dirinya sendiri dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap komunitasnya. 2002. Bila pendekatan lama berbasis pada motif untuk keluar dari masalah. Charles Elliott. penciptaan impian komunitas.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi yang aktif komunitas pada dalam memberdayakan bahwa semua dirinya orang sendiri. Berbagai untuk pengalaman dalam penerapan kecil appreciative yang inquiry ini dalam menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif melakukan langkah-langkah bermakna mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan. Efek dari Appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri.

Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat. Langkah Dasar Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Discovery. a. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat. Dream. c. e.8. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). b. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. Design.2. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. d. 2004). Definition. Discovery. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan menciptakan Tahapan ini masyarakat proses untuk membangun dan anggota harapan. Dream. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat. pekerjaan dan komunitasnya. Destiny. BAPEDA KOTA DEPOK 67 . proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada. menyesuaikan setiap berimprovisasi. untuk dan belajar. Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney. melakukan memberdayakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat. 2001 & der Haar dan Hosking.

Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena: a. A. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati. 2003). berbasiskelebihan. kepercayaan.3. dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah. Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan. suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. e. Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil? Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia. Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. c. BAPEDA KOTA DEPOK 68 . Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi. d.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney.8. dan kearifannya lewat kisahkisah yang dituturkan. Manusia menyampaikan berbagai nilai. daripada karena peran yang dibawakannya. Manusia memiliki rasa ingin tahu. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain. D & Trosten-Bloom. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. b. Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak.

Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang telah dikenal selama ini yaitu pendekatan hadap masalah (problem posing) atau penyelesaian masalah (problem solving) dimana fokus perhatian dari pendampingan adalah membantu rakyat mengatasi masalah yang mereka hadapi. 2. Upaya penyelesaian masalah ini diawali dengan identifikasi masalah yang diikuti dengan analisa dan perumusan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry.8.Kajian Perencanaan Partisipatif f. Problem Solving • Menemukan masalah apa yang dihadapi rakyat • Menganalisis masalah untuk menemukan akar masalah • Merancang langkah-langkah untuk menjawab akar masalah • Melaksanakan kegiatan yang sesuai Sumber : Puska Bina Swadaya (2007). lingkungan. baik dalam organisasi. Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif. Pusat Kajian Bina Swadaya (2007) memperkenalkan Model Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA). maupun komunitas. BAPEDA KOTA DEPOK 69 . Perbedaan Pendekatan Problem Solving dengan KPA KPA • Menemukan apa yang baik dan positif dari rakyat • Merumuskan apa yang ingin diwujudkan rakyat ke depan • Merancang langkah-langkah untuk mewujudkan keinginan / harapan rakyat • Mewujudkan keinginan / harapan dengan mendampingi rakyat melaksanakan kegiatan yang sesuai.4. Tabel 10. Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara pendekatan pemecahan masalah dengan PKA. Ini merupakan proses mengkaji bersama yang dilandasi oleh sikap mental berpikir positif dan terbukti sangat efektif untuk melakukan perubahan dan transformasi secara positif.

Mengimpikan (dream). penerapan KPA dilakukan melalui tahapan mendefinisikan (define). Pada tahap menemukan ini. merancang (design). Masyarakat dapat mengubah situasi yang dihadapi dengan situasi yang lebih baik. keunggulan-keunggulan dan prestasi-prestasi kelompok. setiap orang diberi kesempatan untuk membagikan (sharing) pengalaman-pengalaman terbaik yang pernah dicapai dan kapan terjadi. Tahap mendefinisikan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip. Mendefinisikan (define). penerimaan. saling menghormati perbedaan. mengimpikan (dream). menemukan (discover).Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam pemberdayaan masyarakat. Dalam tahap ini adalah penting untuk membangun pemahaman dan kesadaran terhadap pendekatan KPA bagi setiap anggota kelompok (kondisi pembelajaran yang diinginkan adalah: setiap orang aktif untuk belajar dan berkontribusi. kepercayaan. Fokus tahap rancangan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. Kelompok akan bekerja sesuai dengan tujuan dan arah yang telah ditetapkan Menemukan (discover). bagaimana kelompok didefinisikan (berdasarkan geografis. suatu proses idealisasi. Kelompok mendiskusikan apa yang ingin mereka wujudkan. Kelompok menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan jangka pendek dan panjang. dan sumber – sumber kekuatan mereka. dan mewujudkan (deliver). kesamaan kepentingan. Kebutuhan imajinasi dan daya kreasi sangat penting ditumbuhkan pada tahap ini. Tahap ini diawali dengan penentuan kelompok. yaitu sesuatu yang mengimajinasikan menggetarkan. keterbukaan). dll). Tahap ini dapat disebut suatu konstruksi dari bangun sosial yang akan diciptakan. BAPEDA KOTA DEPOK 70 . Merancang (design).

Kajian Perencanaan Partisipatif Mewujudkan (deliver). BAPEDA KOTA DEPOK 71 . Kelompok memobilisasi sumberdaya. memperoleh ketrampilan-ketrampilan baru dan mengimplementasikan rencana aksi mereka. mengembangkan hubunganhubungan baru. Pada tahap ini kelompok merealisiasikan rencana aksi.

pencari kerja dan sebagainya. Dimasa depan diprediksikan bahwa tumpuan utama ekonomi Kota Depok akan bertumpu ke sektor tersier. 3. Kondisi ekonomi dan sumber daya alam Kota Depok saat ini sudah mengarah pada struktur ekonomi tertentu.1. 2. Prediksi kondisi demografi dimasa mendatang mengindikasikan adanya peningkatan intensitas terhadap permasalahan-permasalahan demografis tersebut. Kondisi demografi Kota Depok saat ini dihadapkan dengan jumlah permasalahan kepadatan penduduk. sumber daya air dan sumber daya lainnya. Visi Pembangunan Daerah Analisis kondisi umum daerah saat ini dan prediksi kondisi umum ke depan mengemukakan hal-hal berikut : 1. jumlah angkatan kerja. Diprediksikan dimasa depan tekanan terhadap lingkungan hidup akan semakin berat. yaitu struktur ekonomi modern yang bertumpu pada sektor tersier dan didukung sektor Sekunder. BAPEDA KOTA DEPOK 72 .Kajian Perencanaan Partisipatif 3. sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok. Kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini sudah mengalami tekanan yang sangat berat akibat pertumbuhan penduduk dan persaingan untuk mendapatkan sumberdaya lahan.

Diprediksikan dimasa depan tuntutan terhadap kinerja pemerintahan akan semakin tinggi dengan kinerja pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan prima.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Sumber Daya Sosial. tantangan dan prediksi yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar berupa Sumber Daya Manusia. Budaya dan Ekonomi yang dimiliki. Kondisi sarana dan prasarana Kota Depok saat ini cukup baik dalam segi kualitas. Kondisi pemerintahan Kota Depok saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang berkualitas. Kondisi sosial budaya Kota Depok saat ini sudah mengarah pada budaya metropolis yang multi etnis dan dengan latarbelakang beragam tingkat intelektualitas. maka Visi Pembangunan Kota Depok 2006-2025 adalah : “ DEPOK KOTA NIAGA DAN JASA. YANG RELIGIUS DAN tahun akan semakin kecil akibat tidak sebandingnya pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan jumlah sarana BERWAWASAN LINGKUNGAN “ Visi pembangunan Kota Depok tahun 2006-2025 ini merupakan komitmen politis yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional seperti tertuang dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia dan tujuan pembangunan Provinsi Jawa Barat yang menetapkan Kota Depok sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 73 . terutama rasio rumah sakit umum per penduduk. Dimasa depan. 6. Di masa depan diprediksikan rasio jumlah sarana dan prasarana per penduduk di Kota Depok dan prasarana. kondisi sosial budaya yang ada akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Berdasarkan kondisi diatas. 5. walaupun masih kurang dalam segi rasio kuantitas per penduduk.

kenyamanan mencari penghidupan. terpelihara termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. Kota Religius Terwujudnya masyarakat Depok yang menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya. Kota Berwawasan Lingkungan Terwujudnya Depok sebagai kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang. Sebagai gambaran kualitatif. c. dan perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Visi Kota Depok mengarahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Depok untuk fokus kepada bidang-bidang ekonomi yang menjadi tumpuan utama Kota Depok saat ini dan dimasa mendatang. kenyamanan dalam memperoleh pendidikan. yang didukung oleh basis pendidikan dan potensi lokal. Kota Niaga dan Jasa Terwujudnya Kota Depok sebagai kota yang menjamin akses dan mobilitas kegiatan niaga dan jasa yang kompetitif.Kajian Perencanaan Partisipatif Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan salah satu kawasan andalan/kegiatan utama berupa Jasa dan Sumberdaya Manusia. dengan memperhatikan kenyamanan kegiatan lingkungan. kenyamanan melaksanakan keagamaan. Dari penjelasan diatas. yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman. serta kemulian dalam akhlak. peningkatan kenyamanan kota. moral dan etika. Visi Kota Depok mengandung makna sebagai berikut : a. yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. kenyamanan menggunakan sarana dan prasarana umum. BAPEDA KOTA DEPOK 74 . kegiatan sosial ekonomi serta dan upaya konservasi. b.

dengan 2. 1. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan. efisien dan efektif. bersih. 3. dan bertanggung jawab.3. baik. demokratis. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal seluruh potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkungan. 3. Membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing di lingkungan nasional dan internasional melalui peningkatan kualitas pendidikan. Pembangunan perekonomian diarahkan dalam rangka penguatan pereknomian lokal serta berorientasi dan berdaya saing regional dan BAPEDA KOTA DEPOK 75 . maka ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut : 1. 5. mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan tertinggi. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah diatas.Kajian Perencanaan Partisipatif serta kenyamanan dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah. Mengelola perekonomian daerah secara fokus. 4. Menata sistem pemerintahan yang profesional. hukum dan sosial budaya. Kebijakan Umum Mengeloa perekonomian daerah secara fokus. efisien dan efektif dengan mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan yang tinggi. 3. transparan. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang.2 Misi Pembangunan Daerah.

Peningkatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkugan. transportasi propinsi. pusat ke kawasan-kawasan simpul atau beberapa internasional. 3. regulator dan katalisator pembangunan ekonomi yang efisien dan efektif terutama dalam pelayanan publik. Menangkap peluang sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi daerah. pengolahan. sekala pelayanan nasional BAPEDA KOTA DEPOK 76 . Dalam kaitan ini.Kajian Perencanaan Partisipatif global. 2. sektor sekunder dan tersier merupakan unggulan 2. penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar. 5. Perekonomian dikembnagkan dalam rangka perluasan kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapaianya penanggulangan kemiskinan 3. Peningkatan investasi daerah dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik. Pemanfaatan sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara rasional. dan meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai. yaitu sebagai sabagai dengan pintu pusat gerbang jasa. atau motor penggerak yang perlu mendapat fokus perhatian. Memanfaatkan letak geografis yang berdekatan dengan ibukota negara sebagai pasar produk ekonomi yang terbuka luas. 4. 1. yang didukung oleh sektor primer unggulan. serta peluang berusaha/ekonomi sebagai limpahan kegiatan ekonomi ibukota.

hukum dan sosial budaya. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan. 1. 3. kesehatan dan agama yang bermutu. pengendalian 2.Kajian Perencanaan Partisipatif optimal dan bertanggungjawab. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berharkat. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagaman. disesuaikan dengan pembangunan sosial ekonomi masa depan dan perkembangan iptek sehingga bisa besaing dalam era global. pemberdayaan perempuan dan anak serta pemuda. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. BAPEDA KOTA DEPOK 77 . berakhlak mulia. Pembangunan sumberdaya manusia yang berdaya saing diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pembangunan pendidikan. menghargai prestasi. dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan spiritual. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang guna mendapatkan kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat dalam mewujudkan produktivitas dan kemampuan daya saing. memupuk etos kerja. yaitu dengan menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. Membangun lingkungan sumberdaya nasional dan manusia yang berdaya melalui saing di internasional peningkatan kualitas pendidikan. jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. membina akhlak mulia. 4. khususnya sumberdaya air dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan.

serta penyusunan produk hukum yang dinamis dengan memperhatikan pengaruh globalisasi. peningkatan ketertiban BAPEDA KOTA DEPOK 78 .Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Pengembangan budaya diarahkan untuk mewujudkan budaya kreatif. air. pembangunan jalan dan terminal dan lain-lain). menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis. agar perlu tercapai dilakukan keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar wilayah. Pembangunan hukum terutama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berkesadaran dan berbudaya hukum tinggi. inovatif dan produktif yang berorientasi iptek sehingga mampu bersaing secara regional maupun global. Untuk wilayah itu. 1. Selain itu juga penting diiringi dengan pembangunan kesenian. integrasi berbagai moda angkutan. 6. Pembangunan sarana dan prasarana diarahkan untuk pembangunan sektor transportasi. unik. Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendudkung kegiatan ekonomi. peningkatan pelayanan angkutan umum. sosial dan budaya serta lingkungan. permukiman. kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah. pendidikan. perdagangan. kesehatan. dikembangkan melalui pendekatan struktur pengembangan ruang. sumber daya 2. modern dan unggul. sehingga tercipta keseimbangan material dan emosional. energi dan kelistrikan serta sarana/prasarana pemerintahan. dan pembentukan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas pergerakan lalu lintas jalan (melalui peningkatan manajemen transportasi.

Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air ditunjukan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumberdaya sosial dan ekonomi sehingga dapat menjamin kebutuhan pokok hiidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 7. antara lain melalui partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman diarahkan untuk penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. dengan mengarahkan terwujudnya kawasan pendidikan terpadu dan layanan kesehatan tingkat nasional. 1. Pengembangan sarana dan prasarana energi dan kelistrikan diarahkan untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. drainase yang baik. Penataan sistem pemerintahan kualitas daerah diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraaan administrasi BAPEDA KOTA DEPOK 79 . pelayanan perdagangan yang berkualitas yang memiliki jangkauan pelayanan sub kota dan wilayah kota. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. layak. bersih. Menata sistem pemerintahan yang profesional. pengembangan sistem 6. 8. demokratis dan bertanggungjawab. memadai. Selain itu. baik. bermutu. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diarahkan untuk memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang 4. 3. pemerataan pelayanan penerangan jalan umum. dan kegiatan ekonomi. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan diarahkan untuk mendukung terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif dan keselamatan lalu lintas. rencana pembangunan jalan dan terminal layanan lokal dan nasional. transparan. Pembangunan sarana dan prasarana perdagangan diarahkan untuk mewujudkan 5.

Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan diarahkan untuk mengefektifkan fungsi-fungsi kelembagaan pemerintah. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dasar/umum dan pelayanan unggulan. menata dan meningkatkan kapasitas sumberdaya aparatur agar lebih profesional dan berorentasi kepada pelayanan. meningkatkan pelayanan dalam rangka keberdayaan masyarakat dalam pembangunan. peningkatan akses dan sebaran informasi. BAPEDA KOTA DEPOK 80 . 3.Kajian Perencanaan Partisipatif pemerintahan. meningkatkan efektifitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pelayanan. serta peningkatan transparansi. dan mengurangi serta mencegah penyalahgunaan kewenangan. 2.

22/1999 dan UU No. Inisiatif reformasi kebijakan perencanaan dan penganggaran daerah muncul sejak ditetapkannya UU No. Inisiatif tersebut kemudian menguat bersamaan dengan lahirnya UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. nyata partisipatif bentuk penerapan prinsip demokrasi dalam alokasi sumberdaya publik. munculnya dukungan kerangka hukum yang memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur urusan daerahnya. dan UU No. Keseluruhan peraturan tersebut memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerapkan proses perencanaan dan penganggaran BAPEDA KOTA DEPOK 81 .Kajian Perencanaan Partisipatif Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa perencanaan partisipatif menjadi wacana penting dan merupakan agenda reformasi di banyak daerah. UU No. Kedua. 25/1999. Pertama. UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah. secara paradigmatik diyakini bahwa perencanaan partisipatif adalah bentuk kongkret dari pelaksanaan desentralisasi administrasi pemerintahan Perencanaan dan dan prinsip-prinsip penganggaran tata pemerintahan adalah yang baik. termasuk di dalamnya urusan perencanaan dan pengalokasian anggaran.

1. Dalam UUD 1945 inilah tersirat semangat para pendiri republik ini untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. terutama pihak pengelola negara. yang seharusnya menjadi landasan moral dan menginspirasi berbagai pihak. alokasi anggaran yang pro terhadap kepentingan orang miskin (pro-poor) dan responsif gender (gender budget responsiveness). amandemen UUD 1945 telah memasukan aspek hak asasi manusia (HAM). dimana setiap warga negara memiliki sejumlah hak.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipatif. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi BAPEDA KOTA DEPOK 82 . justru kerap kali dilupakan. aspek landasan konstitusional ini. Dalam berbagai kegiatan pembangunan di berbagai tempat di Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 Jika menggunakan definisi pembangunan sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Tabel 11. Disamping itu. dalam hal hal ini pemerintah. tumbuh. 4. maka UUD 1945 hasil empat kali amandemen secara tegas merinci hak-hak warga negara yang menjadi kewajiban negara dalam hal ini pemerintah untuk menfasilitasi agar hak-hak itu bisa terpenuhi. Hak-Hak Warga Negara berdasarkan UUD 1945 Pasal Pasal 27 ayat 2 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28A Pasal 28B ayat 1 Pasal 28B ayat 2 Jenis hak Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. penyusunan anggaran berbasis kinerja. Negara. memiliki kewajiban untuk menfasilitasi agar hak-hak warga negara itu bisa terpenuhi.

Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. mengolah. 83 BAPEDA KOTA DEPOK . memilih pendidikan dan pengajaran. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. perlindungan. keluarga. martabat. bangsa dan negaranya Setiap orang berhak atas pengakuan. berkumpul.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28C ayat 1 Pasal 28C ayat 2 Pasal 28D ayat 1 Pasal 28D ayat 2 Pasal 28D ayat 3 Pasal 28E ayat 1 Pasal 28E ayat 2 Pasal 28E ayat 3 Pasal 28F Pasal 28G ayat 1 Pasal 28G ayat 2 Pasal 28H ayat 1 Pasal 28H ayat 2 Pasal 28H ayat 3 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. serta berhak kembali Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. memiliki. menyimpan. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. menyatakan pikiran dan sikap. kehormatan. dan mengeluarkan pendapat. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat. memperoleh. jaminan. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. seni dan budaya. serta berhak untuk mencari. memilih pekerjaan. bertempat tinggal. memilih kewarganegaraan. sesuai dengan hati nuraninya.

Hak untuk hidup. hak untuk tidak disiksa. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban Perlindungan. penegakan. Tabel 12. dan bernegara.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28H ayat 4 Pasal 28I ayat 1 Pasal 28I ayat 2 Pasal 28I ayat 3 Pasal 28I ayat 4 Pasal 28I ayat 5 Pasal 30 ayat 1 Pasal 31 ayat 1 Pasal 34 ayat 1 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. keamanan. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. hak untuk tidak diperbudak. hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. BAPEDA KOTA DEPOK 84 . terutama pemerintah. Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. berbangsa. Kewajiban Warga Negara Menurut UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28J ayat 1 Pasal 28J ayat 2 Pasal 30 ayat1 Pasal 31 ayat 2 Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. nilai-nilai agama. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara. diatur. dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. pemajuan. Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. hak beragama. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.

Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.25 Tahun 2004 Berdasarkan Undang-Undang rencana yaitu: No. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. setiap Kota / Kabupaten perlu memiliki dokumen BAPEDA KOTA DEPOK 85 . yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. yang diatur dengan undang-undang. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional.2. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhanpenyelenggaraan pendidikan nasional. 4. Undang-Undang No.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 13. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. landasan konstitusional itu nampaknya harus selalu dijadikan acuan utama. Tanggung Jawab. Baik dari segi proses maupun output sebuah perencanaan. Tugas. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilainilai budayanya. dan Kewajiban Negara / Pemerintah Pasal 29 ayat 2 Pasal 31 ayat 3 Pasal 31 ayat 4 Pasal 31 ayat 5 Pasal 31 ayat 1 Pasal 31 ayat 2 Pasal 34 ayat 2 Pasal 34 ayat 3 Pasal 31 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. karena itulah aturan main dan kesepakatan kita dalam berbangsa dan bernegara.

5. 4.2. RPJP Daerah memuat visi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. (Pasal 10 ayat 2). 4. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1) Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah • • • • RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. misi.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 12 ayat 2) RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13).2. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJP dan diikuti • • • oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 11 ayat 1). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. 4. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 11 ayat 3). yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3.2. BAPEDA KOTA DEPOK 86 . • RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.

memuat arah kebijakan keuangan Daerah. misi.Kajian Perencanaan Partisipatif • RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. • Kepala Bappeda menyusun rancangan RPJM Daerah dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD dan berpedoman pada RPJP Daerah (Pasal 15 ayat 4). dan program Kepala Daerah ke dalam strategi pembangunan Daerah. Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. dan arah kebijakan keuangan Daerah (Pasal 14 ayat 2). Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RPJM Daerah sebagai penjabaran dari visi. (Pasal 17 ayat 2) Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJM Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 18 ayat 2) RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3). Satuan dan dan Kerja Perangkat program dalam Daerah. BAPEDA KOTA DEPOK 87 . • • Rancangan RPJM Daerah menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah. program Perangkat strategi Satuan pembangunan Kerja dan kerja Daerah. kebijakan umum. • • • • Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 16 ayat 4). Daerah. program prioritas Kepala Daerah. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. (Pasal 16 ayat 1) Musrenbang Jangka Menengah diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJM diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 16 ayat 2). kebijakan lintas umum. misi. kewilayahan regulasi disertai dengan kerangka rencana-rencana • kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 2).

BAPEDA KOTA DEPOK 88 . 4. • • RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.3. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RKPD berdasarkan hasil Musrenbang (Pasal 24 ayat 2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25 ayat 2). disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).2. Rencana Kerja Tahunan Daerah.2. • • • • • • • • • Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJM Daerah (Pasal 20 ayat 2) Kepala Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD (Pasal 21 ayat 4) Rancangan RKPD menjadi bahan bagi Musrenbang (Pasal 22 ayat 1). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) • Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2). dan pendanaannya.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.4. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. rencana kerja. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang penyusunan RKPD (Pasal 22 ayat 4). Musrenbang penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret (Pasal 23 ayat 2). prioritas pembangunan Daerah. RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (Pasal 26 ayat 2). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat.

Kajian Perencanaan Partisipatif • Renstra-SKPD memuat visi. kebijakan. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD (Pasal 21 ayat 3). Dari berbagai ketentuan dalam pasal-pasal UU keharusan bagi penyelenggara negara masyarakat dalam proses penyusunan rencana.2. strategi. Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP. memuat kebijakan. Renstra-SKPD. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah • maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah. RPJM Daerah. ini. Rencana Pembangunan Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) • • Renja-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. RKPD.5. program. nampak adanya mengikutsertakan untuk BAPEDA KOTA DEPOK 89 . dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1). Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Pasal 27 ayat 2). program. • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah (Pasal 15 ayat 3) • Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4) 4. tujuan. misi.

Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Dan Menteri Dalam Negeri Sesuai dengan UU No. dan dalam proses penyusunan Renstra-SKPD menciptakan proses yang lebih partisipatif.PPN/I/2005 – 050/166/SJ tanggal 20 Januari 2005 dan pada tahun 2007 diterbitkan Surat Edaran Bersama No: 0008/M.3. 4. Jika mengacu pada pada SEB tersebut. untuk tidak ada bagi Pemerintah mengikutsertakan masyarakat dalam dan Renja-SKPD. pelaksanaan Musrenbang 2007 berkaitan dengan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menyusun rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2008 sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 90 .PPN/01/2007 – 050/264A/SJ tanggal 12 Januari 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007. Pada tahun 2005 diterbitkan Surat Edaran Bersama kedua Menteri tersebut No: 0259/M. namun jika ada proses Musrenbang penyusunan kesepakatan di daerah untuk RKPD (Pasal 22 ayat 2). maka sejak tahun 2005 dikeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang pada tahun yang bersangkutan. maka hal itu dapat dilakukan. perlu diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Namun karena PP tersebut belum ada.Kajian Perencanaan Partisipatif Dari ketentuan Pasal 27 ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kepada setiap Daerah diberikan keleluasaan untuk mengatur sendiri tentang meskipun tata cara pengikutsertaan keharusan masyarakat tersebut. 25 Tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Tata Cara Penyusunan. Daerah Bahkan.

kecuali bagian V. Pengertian B. Tahap Persiapan 2. Masing-masing bagian itu. SEB itu mengatur waktu pelaksanaan Musrenbang Desa/kelurahan pada bulan Januari. berisi penjelasan yang rinci dengan muatan materi sebagai berikut: A. Forum Satuan kerja Perangkat Daerah (Forum SKPD) IV. Musrenbang Kota / Kabupaten V. Musrenbang Desa / Kelurahan Tahun 2007 Musrenbang Kecamatan III. Musrenbang Kecamatan pada bulan Pebruari dan Musrenbang Kota pada bulan Maret.Kajian Perencanaan Partisipatif landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2008. Peserta G. II. Tahap Pelaksanaan E. Tugas Delegasi Desa / Kelurahan BAPEDA KOTA DEPOK 91 . Paska – Musrenbang Kabupaten / Kota. Narasumber H. Keluaran F. Mekanisme 1. Tujuan C. Masukan D. Sistematika Pedoman itu adalah: I. Tugas Tim Penyelenggara I.

desa / kelurahan dalam pengelolaan pembangunan partisipatif sesuai potensi BAPEDA KOTA DEPOK 92 . Sedangkan pada tataran kemasyarakatan dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang partisipasi warga masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama.2/2435/SJ tertanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Umum Pengelolaan pembangunan Partisipatif. dan demokratis (good governance). Semangat dari Pedoman ini adalah ingin menjadikan paradigma pemberdayaan dalam pengelolaan pembangunan. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di yang desa / kelurahan. Ketua DPRD Provinsi.” Untuk dapat melaksanakan pembangunan yang partisipatif. Pedoman ini hanya ditujukan untuk penguatan pengelolaan pembangunan partisipatif di desa / kelurahan dan kecamatan. Surat Mendagri No: 414. Memberikan acuan terhadap para pemeran pembangunan dalam rangka melakukan fasilitasi proses pembangunan partisipatif. pelaksanaan dan pengendalian belum melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. Bupati / Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten / Kota. 3. sehingga secara sistem belum mencerminkan pembangunan partisipatif yang berbasis masyarakat. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.4. Secara spesifik. Pedoman ini juga mensyaratkan: ”Pada tataran pemerintah perlu ditambahkan perilaku kepemerintahan yang jujur. Membangun kemitraan melalui jejaring kerja lintas sektor terkait.” Tujuan dari Pedoman ini adalah: 1. Surat yang ditujukan kepada Gubernur. Secara terbuka diakui bahwa: ”Pengelolaan pembangunan yang ada saat ini kurang bisa menjawab tuntutan pemberdayaan.2/2435/Sj (2005) Surat Mendagri No: 414. bertanggung jawab. Hal ini dapat dilihat dari proses perencanaan. terbuka.

Prinsip-prinsip pembangunan partisipatif yang dimuat dalam Pedoman ini adalah: 1. 5. BAPEDA KOTA DEPOK 93 . Akuntabilitas (accountability). berbangsa dan bernegara. kemampuan masyarakatdalam rangka meningkatkan pengetahuan. yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. (sustainability). (4) Metoda Focus Group Discusion (Kelompok Diskusi Terarah). yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan 2. (3) Metode Partisipasi dalam perencanaan Sosial Participatory Rural Appraisal (PRA). setiap dan perencanaan. Pemberdayaan (empowerment). dan pengendalian secara benar. dan (5) Metode ZOPP (Ziel Oriented Project Planning). (transparancy). dan ketrampilan dalam melakukan pembangunan Pedoman ini menyarankan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengelolaan pembangunan partisipatif yaitu: (1) Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD).Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Keterbukaan dan kemandirian masyarakat setiap dalam dan kehidupan tahapan bermasyarakat. pelaksanaan. Penguatan partisipatif. Keberlanjutan pemerintah tahapan maupun warga masyarakat. (2) Metode Partisipatif dalam Identifikasi Kebutuhan melalui Pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA). yaitu proses perencanaan. pelaksanaan. pelaksanaan. yaitu pembangunan baik kepada proses dapat dipertanggungjawabkan 4. dan pengendalian pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan. dan pengendalian pembangunan secara terbuka yang bisa diakses seluruh masyarakat. 3. yaitu proses dan tahapan perencanaan. sikap. Partisipasi (participatory).

Terwujudnya penguatan lembaga kemasyarakatan di desa/kelurahan sehingga berperan secara aktif dalam pengelolaan pembangunan partisipatif. 6. Aspirasi. hasil dan manfaat yang diharapkan dari pengelolaan pembangunan yang partisipatif adalah: 1. manajemen penguatan dukungan lembaga kemasyarakatan di desa / kelurahan. dan sejahtera. Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 Sebelum diterbitkannya Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri BAPEDA KOTA DEPOK 94 .Kajian Perencanaan Partisipatif 6. yaitu pengelolaan kegiatan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi dan kebutuhannya. dan penggalian. 2. perencanaan.5. Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktifitas kajian keadaan dusun/rukun dan warga desa/kelurahan. Menurut Pedoman ini. Tumbuhnya kecamatan sebagai wilayah pengembangan. 4. yaitu pelaksanaan dan pemanfaatan kegiatan sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia dan pengelolaan sesuai dengan perencanaan. pemanfaatan pelestarian program menuju masyarakatyang madani. Terwujudnya proses pembelajaran bagi masyarakatdan aparat pemerintah dalam pengambilan keputusan secara demokratis. pelaksanaan.perluasan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui pengembangan potensi lokal. Terwujudnya peningkatan produktivitas ekonomi dalambentuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Terwujudnya peningkatan modal sosial. keberdayaan. Efisien dan Efektif. 3.mandiri. 4. Terwujudnya pengelolaan pembangunan yang partisipatif 7. 5. 7.pemilihan serta pengembangan tindakan untuk mengatasi masalah.

Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. dan (b) peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan (Pasal 8). (b) meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan. Sedangkan pelaksanaan FKPP dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan meliputi: Sosialisasi Pembangunan. FKPP adalah media secara guna untuk menampung dengan Keputusan Walikota Depok Komunikasi aspirasi masyarakat para prioritas yang pelaku dilaksanakan pembangunan 6). yaitu: (a) Lurah untuk FKPP tingkat Kelurahan. Sedangkan fungsi FKPP adalah: (a) pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan para pelaku pembangunan. serta FKPP Kota (Pasal 5 ayat 1). Sedangkan penanggung jawab tahapan lainnya BAPEDA KOTA DEPOK 95 . Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. Tujuan dari dibentuknya FKPP adalah untuk: (a) meningkatkan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. partisipatif.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam Negeri pada tahun 2005 di yang tingkat Forum mengatur Kota tentang Teknis Penyelenggaraan No: 02 Tahun Musrenbang. Keputusan Walikota ini juga mengatur penanggung jawab untuk masingmasing tahapan. Survey Teknis Perencanaan. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. melibatkan merumuskan indikasi kegiatan pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran tertentu (Pasal 1 ayat FKPP dilaksanakan secara berjenjang dengan nama FKPP Kelurahan. FKPP Kelurahan. FKPP Kecamatan dan FKPP Kota (Pasal 3). FKPP Kecamatan. (b) Camat untuk FKPP tingkatKecamatan. (c) meningkatkan kualitas pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Pasal 7). dan (c) Walikota untuk FKPP tingkat Kota (Pasal 9). Pemantapan Perencanaan Partisipatif. 2004 Depok. mekanisme Perencanaan perencanaan partisipatif ditetapkan melalui tentang Pembangunan (FKPP).

Survey Teknis Perencanaan. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. (4) mekanisme. Pada Lampiran Surat Keputusan Walikota ini dipaparkan mekanisme dari setiap tahapan dan memuat: (1) tujuan. BAPEDA KOTA DEPOK 96 . serta (5) waktu dan tempat. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. dan (b) Kepala Unit Kerja Perangkat Darah untuk Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. (3) materi. (2) pihak yang terlibat.Kajian Perencanaan Partisipatif yang mendukung FKPP adalah: (a) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Sosialisasi Pembangunan. Pemantapan Perencanaan Partisipatif.

25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 5. Kategori evaluasinya adalah sesuai dan belum sesuai. masing-masing sebuah UU yaitu UU No. (b) tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi untuk melihat pada level mana derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Setidaknya terdapat tiga aturan yang ada. yaitu SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. dan (c) tolok ukur pengembangan modal sosial untuk melihat sejauh mana pelaksanaan proses perencanaan partisipatif dikaitkan dengan pengembangan modal sosial. Tolok ukur peraturan perundang-undangan termasuk terhadap petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan partisipatif yang ada di Kota Depok sesuai dengan aturan atau petunjuk teknis yang ada. BAPEDA KOTA DEPOK 97 .1. serta Keputusan Walikota Depok No. Tolok ukur peraturan perundangan dan juknis (petunjuk teknis). 2 Tahun 2004 tentang FKPP.Kajian Perencanaan Partisipatif Tolok ukur yang akan digunakan untuk melakukan penilaian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok adalah: (a) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk melihat seberapa taat proses yang terjadi dikaitkan dengan aturan yang ada. sebuah Surat Edaran Bersama (SEB).

seorang mantan birokrat. ketika Presiden Amerika Lyndon Johnson memulai Program Kota Model pada tahun 1966. Dalam berbagai kepustakaan terakhir tentang pengembangan partisipasi warga. dan menggunakan dana publik. Pilihan terhadap tipologi Arnstein ini adalah karena kesederhanaan konsepnya. Tolok ukur pengembangan modal sosial Tolok ukur kontribusi proses perencanaan terhadap pengembangan modal sosial merupakan langkah awal untuk memasukan aspek pengembangan modal sosial dalam setiap proses pembangunan. serta telah menggambarkan derajat partisipasi yang ada dalam proses perencanaan di lingkungan pemerintahan. 21 Teknik Partisipasi Masyarakat untuk Abad 21” terbitan The British Council. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi Tolok ukur tipologi partisipasi adalah untuk mengetahui derajat partisipasi dari proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok telah berada pada jejang / tangga partisipassi yang mana. 5. Itu artinya.3.2. setiap aktivitas yang dilakukan. sehingga relatif mudah untuk dipahami. tipologi Arsntein ini yang digunakan. terdapat banyak kegiatan pemerintah yang didanai oleh anggaran publik yang justru mengikis modal sosial yang ada. namun aspek kepercayaan (saling percaya) merupakan faktor yang paling menentukan dalam menentukan tinggi rendahnya modal sosial. seperti dalam buku ”Mewujudkan partisipasi.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Dalam banyak kasus. Artinya jika suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 98 . terutama oleh pemerintah. Meskipun aspek modal sosial ini memiliki banyak dimensi. Arnstein adalah penasehat utama tentang partisipasi warga pada Departemen pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat. perlu mempertimbangkan aspek memupuk modal sosial ini. Tipologi yang digunakan adalah tipologi partisipasi yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969).

mengurangi kepercayaan Sebaliknya jika kegiatan itu malah kepada pemerintah. sedang. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. maka masyarakat kontribusi kegiatan itu pada pembentukan modal sosial bersifat negatif. dan tinggi.Kajian Perencanaan Partisipatif menambah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan sebalikya. UU No. Tinjauan Evaluatif Proses Perencanaan di Kota Depok Peraturan Perundang-undangan / Kebijakan I. • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah BAPEDA KOTA DEPOK 99 . maka evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel Tabel 14. Derajat kontribusi positif dapat bervariasi dari rendah. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan.4. Penyusunan RPJP • Musrenbang Penyusunan RPJP yang melibatkan masyarakat (Pasal 11 ayat 1) No. Pelaksanaan di Kota Depok Catatan Evaluatif Pemerintah menyiapkan draft RPJP dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. Penyusunan RPJM • Musrenbang Penyusunan RPJM yang melibatkan masyarakat (Pasal 16 ayat 2) Pemerintah menyiapkan draft RPJM dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. perlu senantiasa mempertimbangkan aspek modal 5. maka kontribusi kegiatan itu terhadap pembentukan modal sosial bersifat netral. sosial ini. 2. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap perencana dan pelaksana kegiatan pembangunan di Kota Depok ke depan.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 1. maka itu artinya kegiatan itu memberikan kontribusi positif pada pembentukan modal sosial. Sedangkan jika kegiatan itu tidak mengubah sama sekali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Tinjauan Evaluatif Berdasarkan ketiga tolok ukur tersebut di atas.

RenjaSKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah. kemiskinan. RPJM Daerah. RKPD.Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah kelurahan .Hasil evaluasi kegiatan pembangunan kelurahan tahun sebelumnya • Masukan dari Kecamatan / Kota .Daftar prioritas masalah RW dan kelompok-kelompok masyarakat .Daftar permasalahan kelurahan seperti kerawanan.Daftar masalah dan usulan kegiatan prioritas kelurahan .Informasi dari pemerintah Kota tentang indikasi jumlah alokasi BAPEDA KOTA DEPOK Belum ada Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah (Pasal 27 ayat 2). Penyusunan Renstra-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Pemerintah kota menyiapkan RKPD dan dibahas oleh unsur-unsur pemerintah. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri 1. Penyusunan RKPD • Musrenbang Penyusunan RKPD hanya melibatkan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2) 4. RKPD. Masing-masing SKPD telah memiliki Renstra. • Sesuai dengan aturan • Derajat Partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Belum sesuai dengan aturan Masukan dari kelurahan: . penyusunannya tanpa keterlibatan masyarakat 5. Penyusunan Renja-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Masing-masing SKPD menyusun Renja-SKPD tanpa melibatkan masyarakat 6. Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Pemberian informasi dari kecamatan dan kota belum dilaksanakan 100 .Daftar prioritas dari RW umumnya belum ada . Musrenbang Kelurahan • Masukan dari Kelurahan . RPJM Daerah. pengangguran .Hasil evaluasi pemerintah kota dan kecamatan .Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Renstra-SKPD. Renstra-SKPD.Belum ada dokumen Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) Kelurahan .Hasil evaluasi belum dipaparkan • Kesesuaian dengan Jukius : Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral Masukan dari Kecamatan . II.

wakil kelompokpemuda.5) yang berisi prioritas kegiatan pembangunan skala desa (form 1. pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. pengusaha.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Tahunan dari BAPEDA KOTA DEPOK Mekanisme: . tokoh agama.1. dan 1. • Keluaran . pemaparan lurah. komite sekolah dll.Musrenbang di RW dan kelompok masyarakat belum dilaksanakan . pemisahan kegiatan yang diselesaikan di kelurahan dan yang akan menjadi tanggung jawab SKPD. musyawarah di RW dan kelompok-kelompok masyarakat. Musrenbang Kecamatan • Masukan dari Kelurahan .Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kelurahan (form 1. pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Kajian Perencanaan Partisipatif dana kelurahan . organisasi masyarakat.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang • Mekanisme .Belum sepenuhnya mewakili kelompokkelompok yang ada di kelurahan Masukan dari kelurahan .Dokumen RKPT dari masing-masing kelurahan • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis 101 .Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke musrenbang kecamatan. kelompok tani. wakil kelompok perempuan.Tahap Persiapan (penetapan tim fasilitator musrenbang.Sesuai dengan Juknis Peserta: . 2. • Peserta Peserta adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok): ketua RT/RW.2) dan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan melalui SKPD (form 1. penetapan perwakilan ke musrenbang kecamatan.3) .Pengumuman terbuka dan pendaftaran terbuka belum dilaksanakan Keluaran: .

Keluaran: Peserta: .Daftar nama delegasi dari kelurahan dan wakilkelompok fungsional / organisasi sosial kemasyarakatan. koperasi. • Masukan dari Kecamatan / Kota .Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan yang akan dibiayai oleh anggaran kecamatan .Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota.Daftarkegiatan prioritas yang akan dilaksanakan melalui SKPD . pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat.Prioritas kegiatan tahun mendatang dari SKPD tersedia / tidak tersedia Mekanisme: . pemaparan kepala cabang SKPD setempat atau pejabat SKPD Kota. pemaparan Tim Penyelenggara Musrenbang. • Peserta Peserta Musrenbang Kecamatan BAPEDA KOTA DEPOK tersedia / tidka tersedia • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah Masukan dari Kec. • Keluaran .Penjelasan nama dan jumlah Forum SKPD dan Forum Gabungan SKPD • Mekanisme .Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang yang dirinci berdasarkan SKPD .Pengumuman terbuka 7 hari sebelumnya dan pendaftaran terbuka belum dilakukan. penetapan perwakilan ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota. LSM yang bekerja di kecamatan. /Kota .Kajian Perencanaan Partisipatif masing-masing kelurahan . Verifikasi dari delegasi kelurahan.Belum semua perwakilan 102 . kesepakatan kegiatan prioritas pembangunan kecamatan berdasarkan masing-masing SKPD.

Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Forum SKPD. Peserta datang karena diundang. verifikasi kegiatan prioritas dari kecamatan.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Kajian Perencanaan Partisipatif adalah perwakilan dari kelurahan dan dari kelompok-kelompok masyarakat yang beroperasi dalam skala kecamatan.Kegiatan prioritas yang sudah BAPEDA KOTA DEPOK kelompok masyarakat di kecamatan hadir • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif .Tahap pelaksanaan (pemaparan oleh Kepala SKPD. • Keluaran .Rancangan Renja – SKPD .Rancangan Renja-SKPD . Forum SKPD • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Sedang Masukan dari Provinsi dan kementerian Negara: . perguruan tinggi. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Tersedia Mekanisme: .Pengumuman terbuka dan pendaftaran tidak dilakukan. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) .Di beberapa SKPD dilaksanakan Masukan dari Kota Masukan dari kecamatan: . LSM. .Sesuai dengan Juknis 103 . • Masukan dari Kota: . 3.Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. penetapan perwakilan Forum SKPD ke Musrenbang Kota.Rekomendasi regulasi belum banyak dieksplorasi Keluaran: . menetapkan kegiatan prioritas.Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD . menyusun rekomendasi regulasi.

.Dilakukan penyederhanaan proses dibandingkan dengan Juknis.Masukan hanya dari Provinsi Masukan dari Kota: • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah. perguruan tinggi. 104 . • Peserta Peserta adalah delegasi kecamatan dan dari kelompokkelompok masyarakat yang berkaitan dengan SKPD atau gabungan SKPD. LSM. dan plafon anggaran.Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Kajian Perencanaan Partisipatif dipilah berdasar sumber pendanaan. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .Belum semua kelompok yang berkaitan dengan SKPD hadir Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Rancangan Renja – SKPD . pemaparan hasil kompilasi dan BAPEDA KOTA DEPOK Peserta: .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. • Masukan dari Kota: . Masukan dari Kecamatan: . Musrenbang Kota • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Tahap pelaksanaan (pemaparan Rancangan RKPD.Telah sesuai Juknis Mekanisme: . . serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran belum dilakukan.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kota.Berita Acara dan Daftar nama delegasi dari Forum SKPD ke musrenbang Kota. 4.

Sosialisasi Pembangunan .aparatur perencana di setiap unit kerja perangkat daerah Pemantapan Perencanaan Partisipatif BAPEDA KOTA DEPOK 105 .Sesuai dengan aturan • Kesesuaian dengan Juknis: Sudah sesuai sesuai atuan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral III. delegasi kecamatan. pembahasan kriteria untuk kegiatan prioritas. juga dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili organisasi-organisasi skala kota. penetapan prioritas. Sosialisasi Pembangunan • Materi: APBD Kota Depok tahun yang bersangkutan • Mekanisme Pemaparan oleh Kepala Bappeda dan dialog interaktif pihak eksekutif (Walikota / Wakil Walikota / Sekda) dengan peserta • Peserta Peserta adalah elemen masyarakat kecamatan dan kelurahan. Pemantapan Perencanaan partisipatif • Peserta: Pengurus LPM Kelurahan dan FKA LPM Kecamatan.2 Tahun 2004 1. • Peserta Peserta adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD Keluaran: . dan delegasi forum SKPD. pemerintah daerah dan anggota DPRD dari daerah pemilihan yang bersangkutan.Kajian Perencanaan Partisipatif verifikasi oleh SKPD.Kesepakatan untuk pemutakhiran rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD.Sesuai dengan Juknis Peserta: Peserta bukan hanya delegasi Musrenbang Kecamatan dan Forum SKPD. pemutakhiran rancangan RKPD dan pembahasan kebijakan pendukung) • Keluaran . Keputusan Walikota No. 2.

Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja . tanya jawab. FKA LPM Kecamatan dan BAPEDA KOTA DEPOK Survey Teknis Perencanaan Kompilasi dan Restrukturisasi Program 106 . simulasi dan praktekl penyusunan rencana 3.Teknik Penyusunan Dokumen Usulan Perencanaan • Mekanisme . Kompilasi dan Restrukturisasi Program • Pihak yang terlibat: Bappeda dan unit peranghkat kerja.Konsep dan mekanisme perencanaan partisipatif .Teknik Penyusunan Anggaran Biaya .Persiapan .Penilaian hasilsurvey 5.Metode Penjaringan Aspirasi Masyarakat .Metode: kuliah umum.Pelaksanaan survey .Penetapan tim survey .Kajian Perencanaan Partisipatif • Fasilitator: Bappeda dan unsur perguruan tinggi / tenaga ahli / NGOs yang memiliki kompetensi dalam perencanaan partisipatif • Materi: .Tim Survey Bappeda dan Unit Kerja Perangkat Daerah .Penetapan mekanisme dan penilaian hasil oleh tim survey .Pendamping dari perwakilan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan • Materi Hasil kesepakatan diskusi terfokus • Mekanisme . Survey Teknis Perencanaan • Pihak yang terlibat .

hal ini dapat dilihat dari sisi input materi dan input peserta yang terlibat dalam proses perencanaan. proses dan output. meskipun masih terdapat beberapa yang belum sesuai dengan aturan / kebijakan yang ada. Input materi adalah bahan-bahan tertulis / dokumen serta materi berupa bahan BAPEDA KOTA DEPOK 107 . Sebagai sebuah proses. Dari segi peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang perencanaan. Evaluasi Kesesuaian Proses Berdasarkan Aturan.Kajian Perencanaan Partisipatif perwakilan diskusi stakeholders terfokus.5. Pembahasan 5. Dari segi masukan (input). evaluasi terhadap perencanaan yang dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. hasil FKPP Kecamatan dan hasil diskusi terfokus yang telah disurvey. IV Lain-lain 1. Workshop Isu Strategis Workshop Isu Strategis 5. • Mekanisme . yaitu berkaitan dengan input.5.1. proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok secara garis besar telah sesuai dengan prosedur yang ada.Tim melakukan sinkronisasi program yang diusulkan tiap unit kerja sebagai hasildiskusi terfokus dan hasil survey • Materi Usulan program kegiatan unit kerja.Tim kompilasi dan restrukturisasi program melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan mekanisme .

SKPD. proses yang ada malah memberikan kontribusi negatif bagi pengembangan modal sosial.Kajian Perencanaan Partisipatif pemaparan dari berbagai unit birokrasi yang perlu diterima oleh peserta. Idealnya. Artinya. Berkaitan dengan penyediaan dokumen-dokumen sebagai bahan bagi peserta dalam proses perencanaan. yang sangat menyolok adalah ketiadaan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. Karena ketiadaan dana untuk penggandaan materi. Kemudian evaluasi terhadap hasil pembangunan tahun tidak dapat sebelumnya pada masing-masing tingkatan. beberapa dokumen yang seharusnya dimiliki peserta Musyawarah juga umumnya tidak tersedia. maka tidak ada insentif untuk mengadakannya. sebagai basis untuk menyepakati rencana di level masing-masing. disediakan. seluruh dokumen yang dibutuhkan telah menjadi acuan bagi peserta musyawarah untuk membuat perencanaan diterima peserta beberapa hari sebelumnya. Di level kelurahan. Namun dengan adanya Peraturan yang mengakui Kelurahan sebagai SKPD. Pemerintah Kota Depok tampaknya belum merasa urgen terutama dikaitkan belum diakuinya Kelurahan sebagai SKPD di masa lalu. pada level Kecamatan. serta program-program yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. Padahalkondisi ini. sehingga bisa dipelajari lebih awal. maka pengadaan RPJM atau Renstra Kelurahan harus menjadi prioritas di masa datang yang segera. Yang kerap kali muncul adalah ketergesa-gesaan dalam persiapan pelaksanannya. Kemudian. Berkaitan dengan penyusunan RPJM Kelurahan. alasan klasiknya adalah keterbatasan dana untuk penggandaan berbagai dokumen. secara tidak disadari. BAPEDA KOTA DEPOK 108 . Padahal evaluasi terhadap hasil pembangunan pada tahun selanjutnya. dan Musrenbang Kota. berpotensi menurunkan kepercayaan warga kepada pemerintah.

Jika hal ini tidak dimungkinkan karena alasan klasik keterbatasan dana.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diidentifikasi oleh Uphoff dan Cernea (1988). Dalam Petunjuk Teknis yang ada. musyawarah perencanaan itu dapat ikut mendaftar? Pendaftaran secara ini penting untuk mengukur keseriusan warga untuk mengikuti kegiatan Musrenbang atau Forum SKPD. kepada Tim Penyelenggara Musrenbang atau Forum SKPD diharuskan mengumumkan secara terbuka jadual. gagasan. selambatlambatnya 7 hari sebelum pelaksanaan. yang aktif mungkin memiliki Acuan ini memang dapat ditafsirkan dan berminat mengikuti forum berbeda-beda tentang apakah apakah jika ada warga Depok yang peduli. Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam penyusunan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam proses perencanaan. model yang dilaksanakan selama ini adalah peserta hadir dalam berbagai forum musyawarah perencanaan karena diundang. BAPEDA KOTA DEPOK 109 . Dapat dikatakan sangat sedikit. maka setidaknya dibuka pemberian kesempatan untuk mengajukan usulan tertulis yang dikirim melalui faksimili atau melalui e-mail. Kemudian Tim Penyelenggara membuka pendaftaran dan atau tentang kegiatan itu dan karena kepeduliannya datang mengundang para peserta. Sehubungan dengan itu diperlukan studi tentang biaya transaksi yang dibutuhkan untuk pencapaian kesepakatan / keputusan pada forum musyawarah perencanaan pada berbagai tingkatan. agenda pembahasan. atau bahkan mungkin tidak ada peserta yang hadir di forum perencanaan karena mendapatkan informasi mendaftar. karena kemauan baik saja belum cukup. salah satu cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan adalah adanya komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. dan tempat penyelenggaraan acara. Dari sisi input peserta.

dianggap sebagai proses belajar (social learning) sekaligus membangun modal sosial di antara sesama warga. Dari segi proses (mekanisme). hanya dianggap kegiatan ritual semata tanpa makna yang berarti untuk kemajuan kotanya. Dari sisi keluaran (output). berbagai pihak kesempatan mempersiapkan materi yang akan dibawa ke forum tersebut. kendala yang umum terjadi adalah kendala waktu. mengkritisi usulan. mengklarifikasi usulan serta berbagai aspek dari hal-hal yang direncanakan.Kajian Perencanaan Partisipatif Disamping sehingga itu pemberitahuan selambat-lambatnya kepada 7 hari sebelum untuk diadakan Musrenbang atau memberikan Forum SKPD seharusnya dapat dilakukan. bahkan setengah hari di Musrenbang Kelurahan. Ini antara lain untuk menjamin kualitas pelaksanaan dari Musrenbang atau Forum SKPD. menyampaikan usulan. bagi sebagian warga. Hal ini tidak memberikan kesempatan yang luas kepada para peserta untuk mendiskusikan. Disamping itu belum utuhnya pemahaman terhadap peran sebagai warga negara yang memiliki hak untuk ikut menentukan tentang apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya memberikan kontribusi pada sikap apatisme masyarakat dalam proses-proses perencanaan. dibanding dengan Musrenbang di tingkat Padahal Musrenbang dan dapat Kelurahan merupakan ruang terbesar bagi masyarakat yang terlibat selanjutnya. Disamping itu ada keengganan dari para peserta musyawarah untuk berdiskusi secara lebih rinci karena telah terbentuk persepsi bahwa belum tentu apa yang diusulkan dapat diakomodir dan dibiayai oleh dana APBD. Musrenbang atau Forum SKPD. Pelaksanaannya umumnya hanya sehari. Akhirnya. yang terjadi adalah masih kuatnya cara-cara lama dengan berlomba-lomba membuat semacam “shoping list” atau BAPEDA KOTA DEPOK 110 .

Dari sisi output akhir pun (dalam bentuk APBD). prioritas. dan ketersediaan anggaran. merasa percuma datang musrenbang. 2. Masyarakat kurang menguasai substansi dari program-program yang diusulkan oleh dinas-dinas. maka ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat tentang kemungkinan berperan serta dalam membuat keputusan dalam forum sejenis di masa datang. sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk mengkritisi maupun mengklarifikasi usulannya. tidak ada informasi balik segera kepada warga tentang ”nasib” dari usulan-usulan mereka. politis. terdapat beberapa fakta berkaitan dengan pelaksanaan proses perencanaan (Musrenbang dan Forum SKPD). dan egoisme sektoral. sulit dihindari. pengentasan kemiskinan. Masyarakat kurang memahami proses musrenbang 4. 5. Usulan yang terdahulu pun direalisasikan. Waktu pelaksanaan musrenbang sangat singkat. yaitu (Rudiyanto dan Setiawan 2007): 1. Disamping itu. dan lingkungan hidup. dan provinsi BAPEDA KOTA DEPOK 111 . kota/kabupaten. 3. Pemahaman partisipasi dari pemerintah daerah yang muncul dalam Musrenbang adalah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat kelurahan. Menurut Kajian Bappenas. kesan bahwa program masih didominasi untuk kepentingan pemerintah.Kajian Perencanaan Partisipatif “daftar belanja” yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kebutuhan. terbukti dengan kecilnya alokasi anggaran untuk sektor-sektor ekonomi kerakyatan. Masyarakat belum enggan karena Jadi usulannya belum saja tentu dapat ke mempengaruhi proses penganggaran. kecamatan.

Dari segi proses. Namun tidak ada umpan balik dan mekanisme bagi warga untuk mengetahui apakah berbagai usulan itu benar-benar diakomodir dalam rancangan rencana untuk pembahasan selanjutnya atau hanya sekadar dicatat dalam notulen pertemuan. dan dalam beberapa aspek ikut mengubah hal-hal kecil dari draft rencana yang ada. tanpa mengetahui apakah berbagai usulan warga diakomodir atau tidak. strategis. Yang terjadi adalah. dan masukan dari masyarakat hanya sekadar didengar atau dicatat. BAPEDA KOTA DEPOK consultation (konsultasi). Istilah tokenisme ini bermakna bahwa langkah yang dilakukan merupakan kebijakan sekadarnya yang berupa upaya artifisial (dangkal. Derajat tokenisme ini meliputi jenjang mulai dari dan informing placation (menginformasikan). Namun output yang dihasilkan dari proses seperti ini memiliki derajat legitimasi dan akseptabilitas yang relatif lebih rendah. usulan. maka pendapat. menurut Tipologi Partisipasi Arnstein.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. proses Musrenbang dan Forum SKPD masih berkisar pada. pandangan. yaitu dengan mengakomodir hal-hal yang kecil dan tidak 112 .5. Evaluasi Derajat Partisipasi Dari sisi derajat partisipasi.2. Keengganan besar. warga kemudian telah diajak lagi untuk mengikuti proses sejenis (Musrenbang dan Forum SKPD) untuk proses perencanaan tahun berikutnya. (penentraman). pemerintah untuk melibatkan masyarakat karena memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya yang relatif cukup 5. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. perencanaan dengan jenjang derajat tokenisme ini memang memberikan hasil. derajat tokenisme. Pada derajat tokenisme ini. dibandingkan dengan jika prosesnya dilaksanakan secara kemitraan (partnership).

Kontribusi proses perencanaan bersifat negatif.5. netral dan positif tingkat rendah. Malahan muncul kegiatan yang justru tidak diusulkan semakin menambah ketidakpercayaan itu. sehingga dokumen hasil musrenbang dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada sanksi khusus yang jelas ketika Pemerintah tidak mengakomodir hasilhasil musrenbang secara layak. dan Musrenbang Kota. Di masa mendatang. Evaluasi Kontribusi terhadap Modal Sosial Sebagai akibat dari proses yang dipaparkan pada bagian terdahulu. Namun faktor proses perencanaan memang bukan faktor tunggal yang memberikan kontribusi terhadap kondisi ini. Forum SKPD. perlu aturan yang jelas tentang hal ini. karena secara tidak disadari proses yang dilaksanakan justru mengurangi kepercayaan warga kepada pemerintah. terhadap pengembangan modal sosial berkisar antara negatif. maka proses kontribusi proses perencanaan Kota Depok melalui Musrenbang kelurahan. Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan itu biasanya muncul dalam kegiatan Sosialisasi Pembangunan ketika Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan APBD yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. Faktor lainnya adalah masih adanya dualisme antara proses perencanaan yang melibatkan BAPEDA KOTA DEPOK 113 . Kontribusi negatif.3. namun kesan bahwa pelaksanaan kegiatan itu hanya sekadar ritual tahunan merupakan indikator berkurangnya kepercayaan masyarakat. Seoptimal dan sekeras apa pun upaya pemerintah untuk melaksanakan proses perencanaan dengan melibatkan masyarakat. Belum lagi usulan-usulan dari kelurahan dan kecamatan yang ternyata tidak diakomodir sama sekali dalam APBD.Kajian Perencanaan Partisipatif Kondisi seperti itu terjadi karena musrenbang hanya dipandang sebagai kegiatan bermusyawarah belaka. Musrenbang kecamatan. 5.

Kajian Perencanaan Partisipatif

masyarakat dengan proses penganggaran yang sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hal ini menyebabkan usulan yang disepakati dalam proses perencanaan banyak yang tereduksi di proses penganggaran. Usulan dari masyarakat terhenti hanya sampai pada penyusunan RKPD. Proses selanjutnya dilakukan oleh panitia anggaran eksekutif, panitia anggaran legislatif, dan masing-masing SKPD. Peran masyarakat tidak ada sama sekali dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. Hal ini yang menyebabkan usulan dari masyarakat hasil musrenbang bisa tidak diperhatikan. Di samping itu, proses penyusunan dan penetapan anggaran ini sudah diwarnai oleh kepentingan politik baik dari pihak DPRD maupun eksekutif (Rudiyanto dan Setiawan, 2007). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa tidak tuntasnya proses partisipasi

masyarakat sampai ke tingkat perencanaan anggaran menyebabkan masyarakat tidak mengetahui seberapa banyak program dalam APBD mengakomodasi hasil-hasil musrenbang. Dengan kata lain sering terjadi adanya inkonsistensi antara APBD yang ditetapkan pemerintah dengan hasil kesepakatan dalam musrenbang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi bahwa pendekatan partisipatif pada akhirnya hanya sekedar mobilisasi masyarakat saja untuk melegalkan proses perencanaan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu pembenahan dalam proses penyelenggaraan musrenbang termasuk ketersediaan informasi, waktu, keterwakilan pemangku kepentingan dalam pembahasan, kejelasan kriteria dalam penetapan hasil, serta pemanfaatan hasil musrenbang secara langsung dalam penetapan prioritas kebijakan, program dan kegiatan dalam Renja-SKPD dan RKA-SKPD, dan penetapan RAPBD. Kontribusi netral. Kontribusi proses perencanaan dapat bersifat netral

terhadap modal sosial karena proses yang ada tidak mengubah apa-apa
BAPEDA KOTA DEPOK

114

Kajian Perencanaan Partisipatif

dari sisi pengembangan modal sosial. Proses yang ada tidak menambah atau mengurangi posisi tingkat kepercayaan masyarakat yang ada terhadap pemerintah. Ini dapat terjadi karena bagi kelompok ini telah terbentuk persepsi bahwa mungkin seperti itulah proses perencanaan yang seharusnya ada. Proses itulah yang optimal bisa dijalankan, meskipun ada ketidakpuasan-ketidakpuasan. Kontribusi positif. Proses perencanaan dapat memberikan kontribusi positif pada modal sosial, jika proses itu memberikan hasil yang nyata berupa usulan-usulan yang disampaikan dalam proses perencanaan di musrenbang itu diterima, dan mereka bisa terlibat dalam kegiatankegiatan kontribusi yang mereka usulkan yang didanai tidak oleh cukup APBD. besar Namun dalam positif proses perencanaan

pengembangan modal sosial, karena kesan umum yang muncul adalah bahwa secara keseluruhan proses perencanaan belum separtisipatif yang mereka bayangkan. Artinya, kualitas partisipasi dari proses perencanaan yang ada di Kota Depok sesungguhnya masih dapat ditingkatkan.

BAPEDA KOTA DEPOK

115

Kajian Perencanaan Partisipatif

Berdasarkan tinjauan evaluatif yang dilakukan, maka penguatan proses perencanaan di Kota Depok ke depan setidaknya memenuhi tiga kriteria: (1) sesuai dengan aturan yang ada, (2) derajat partisipasinya mencapai level kemitraan (partnership) menurut Tipologi Arnstein, (3) memberikan kontribusi positif pada pengembangan modal sosial. Dengan menggunakan ketiga kriteria itu, maka setidaknya terdapat empatskenario untuk penguatan proses perencanaan partisipatif di Kota Depok, yaitu: (1) Skenario Status Quo, (2) Skenario Taat Aturan, (3) Skenario Kemitraan, dan (4) Skenario Kemitraan-Apresiatif.

6.1. Skenario I : Tanpa perubahan berarti (status quo)
Skenario pertama ini dapat disebut sebagai ”Skenario Status Quo”. Mempertahankan ”status quo” atau pendekatan ”tidak mengubah apa pun” berarti melaksanakan proses dan mekanisme perencanaan pembangunan seperti yang sudah dilakukan selama ini. Penerapan proses itu sendiri merupakan interpretasi Pemerintah Kota Depok, yakni Bapeda, terhadap Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang sebagaimana yang tertuang dalam lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.

BAPEDA KOTA DEPOK

116

sebagai basis untuk penyusunan RAPBD. (3) telah terbangun mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perbedaaan-perbedaaan. 6.1.Kajian Perencanaan Partisipatif Meskipun masih muncul kekecewaan terutama dari masyarakat (LPM dan LSM) mengenai proses perencanaan tersebut. sesama pemerintah. Kelebihan ”Skenario Status Quo” Kelebihan dari skenario ini adalah dapat mempertahankan hal-hal positif yang sudah terbentuk melalui proses yang sudah dilaksanakan dan kebutuhan biaya untuk pelaksanaannya telah diketahui. peserta. (3) dari perspektif pengembangan modal sosial. (2) jika mengacu pada tipologi partisipasi yang ada.2. (5) 6.1. proses yang ada berpotensi untuk membangun ketidakpercayaan warga (distrust) BAPEDA KOTA DEPOK 117 . terutama dari segi masukan. baik antara sesama warga. dan perbedaana antara warga dan pemerintah. maka telah terbentuk persepsi bahwa memang seperti itulah proses perencanaan di sebuah kota berlangsung. dibutuhkan yaitu menghasilkan Rencana namun secara prosedur kepemerintahan proses yang ada itu telah menghasilkan output yang Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). (2) karena sudah berlangsung beberapa tahun dengan proses yang relatif sama. Hal-hal positif yang ada dari proses yang sudah dijalani selama ini antara lain: (1) berbagai pihak yang terlibat dalam proses itu (pemerintah dan warga) sudah memiliki pengalaman bersama tentang bagaimana proses perencanaan itu dijalankan. (4) membutuhkan biaya yang relatif tidak besar dan besarannya sudah diketahui. warga sehingga terhadap memunculkan output yang ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dihasilkan. proses yang ada saat ini masih berada pada derajat tokenisme. Kekurangan ”Skenario Status Quo” Kekurangan dari skenario status quo ini adalah: (1) jika mengacu pada Petunjuk Teknis yang ada masih terdapat beberapa hal yang masih harus dipenuhi. terutama berkaitan dengan penetapan prioritas.1. dan mekanisme.

gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing RW/Kelompok untuk diajukan ke Musrenbang Kelurahan. kelompok perempuan. dll). Skenario II : Memenuhi aturan / pedoman yang ada Skenario kedua ini bisa disebut sebagai ”Skenario Taat Aturan / Pedoman Pusat”. Dengan skenario kedua ini.2. daftar masalah dan kebutuhan b. maka beberapa hal yang sehaharusnya ada adalah: 1. Keluaran dari musyawarah di tingkat RW / kelompok masyarakat ini adalah: a. Pada Tahap Persiapan Musrenbang Kelurahan perlu dilakukan musyawarah pada level masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) dan kelompok-kelompok masyarakat seperti: kelompok tani. tentang proses perencanaan level RW. maka pemerintah kota perlu membuat pedoman-pedoman dan pelatihan capacity building. kelompok-kelompok masyarakat. kelompok pemuda.Kajian Perencanaan Partisipatif kepada pemerintah. proses perencanaan pembangunan yang ada diupayakan untuk semaksimal mungkin mengikuti peraturan perundangan dan petunjuk teknis yang ada. Disamping itu. (5). c. dan di level kelurahan. terutama bagaimana bagi pemerintah kelurahan di dan masyarakat. 6. agar semua pihak yang terlibat dapat semaksimal mungkin mengikuti proses perencanaan sesuai dengan aturan yang ada. (4) tidak terbangun kemandirian warga untuk membangun wilayahnya sendiri. Wakil / delegasi RW / kelompok yang akan hadir di Musrenbang kelurahan. Jika Petunjuk Teknis Musrenbang 2007 dijadikan acuan. BAPEDA KOTA DEPOK 118 . dan sepenuhnya bergantung pada sumber daya terutama dana dari luar yaitu APBD.

termasuk pelatihan bagi tenaga fasilitator untuk pelaksanaan musyawarah pada level ini. Alasan yang kerap dikemukakan adalah biaya yang terbatas dan ketidaktersediaan tempat yang memadai untuk menampung peserta yang banyak. dari sekian banyak hal yang harus dilakukan. Bahkan acuan untuk penyusunan RPJM Kelurahan pun belum tersedia. RW-RW dan kelompok-kelompok masyarakat belum secara rutin melakukan melakukan musyawarah sebagaimana yang diminta dalam Petunjuk Teknis itu. Kepada warga kelurahan belum diberikan kesempatan terbuka bagi siapa saja yang peduli yang ingin mengikuti Musrenbang. belum terlaksana. 3. Kelebihan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) semua dokumen untuk proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan proses perencanaan akan tersedia. maka Pemerintah Kota antara lain perlu menyediakan berbagai pedoman tertulis bagi warga RW dan kelompokkelompok masyarakat tentang bagaimana melakukan musyawarah. (2) akan terbentuk kepuasan secara psikologis terutama di pun yang terlewatkan. Perlu tersedia dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. Jika skenario ini yang dipilih.2. tanpa ada satu pedoman-pedoman untuk musyawarah RW dan kelompok-kelompok BAPEDA KOTA DEPOK 119 .1.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. 6. serta pedoman penyusunan RPJM Kelurahan dan pelatihan bagi tim penyusunnya. ketiga hal tersebut di atas sebagai contoh. Di Kota Depok. Kemudian belum tersedia dokumen RPJM Kelurahan pada masing-masing kelurahan. (3) jika aparat perencana bahwa seluruh proses perencanaan telah mengikuti aturan yang ada. Membuka pendaftaran bagi warga kelurahan yang peduli dan berkeinginan untuk hadir.

Kecamatan.Kajian Perencanaan Partisipatif masyarakat tersedia. (5) akan terjadi proses belajar bersama (social learning) di tingkat lokal. dan Kota). sehingga secara tidak disadari memunculkan mentalitas ketergantungan. kelurahan. maka dokumen-dokumen perencanaan di berbagai level (Kelurahan. Skenario III : Memenuhi Aturan + Kemitraan Skenario ketiga ini dapat disebut ”Skenario Kemitraan”. sehingga berpotensi menimbulkan kekecewaan dan berkontribusi negatif terhadap pengembangan modalsosial. (3) skenario ini masih menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). kegiatan munculnya warga kemungkinan besar tidak dapat diakomodir oleh anggaran yang tersedia. (4) pemberian kesempatan kepada pihak-pihak yang peduli dan ingin hadir sebagai peserta Musrenbang (Kelurahan. Melalui skenario ini.2. kemudian BAPEDA KOTA DEPOK 120 .3. (6). (5) 6. serta biaya dan kemungkinan diusulkan adalah: (1) akan ada biaya tambahan bagi di fasilitator level dimana musyawarah (2) yang untuk melaksanakan semua proses yang ada. Kekurangan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kekurangan dari skenario ini pedoman-pedoman. 6. maka itu akan memunculkan persepsi positif tentang keseriusan pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan.2. (4) derajat partisipasi yang ada tidak beranjak dari derajat tokenisme. SKPD. draftnya dihasilkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. termasuk pengadaan pelatihan-pelatihan tim penyusunan ledakan RPJM harapan. dan berpotensi membangun modal sosial di level lokal. Kecamatan dan Kota) dan Forum SKPD akan meningkatkan legitimasi dan akseptibilitas terhadap hasil dari proses perencanaan.

6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Depok 3. Pada level kota difasilitasi pembentukan Forum Stakleholders Kota 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) 4. Dokumen-dokumen rencana itu adalah: 1. Dengan demikian. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).Kajian Perencanaan Partisipatif pembahasan draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam forum stakeholders pada setiap level. Pada level kecamatan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan 3. 1. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 121 . Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan 7. Pada tiap SKPD difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD 4. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). 6.3. 5. Pada level kelurahan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. maka pemilihan dan penetapan individu yang akan duduk dalam Tim Penyusun draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam masing-masing forum stakeholders secara terbuka dan demokratis.1. Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) Model kemitraan dalam penyusunan dokumen rencana ini mengharuskan adanya pelembagaan stakeholders (semacam forum warga) pada berbagai level. Kelebihan ”Skenario Kemitraan” Kelebihan dari skenario kemitraan ini adalah: (1) keluaran dokumen akan lebih aspiratif dan mengakomodir kepentingan dan cara pandang pemerintah serta kepentingan dan cara pandang masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok 2.

kecamatan. Melalui skenario ini. (2) dibutuhkan forum-forum menfasilitasi pelembagaan stakehodlers pada berbagai level. dan Kota. 6. serta berbagai biaya transaksi untuk biaya informasi. inisiatif. dan biaya lainnya untuk mencapai kesepakatan. SKPD.4. (5) 6. SKPD.2. sehingga memunculkan kemandirian. pemecahan (3) pendekatan (problem yang dilakukan masih pendekatan tidak masalah solving approach). (3) karena terjadi proses belajar bersama (social learning process). di Kecamatan. (4) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif keluaran dokumen akan memiliki legitimasi dan akseptabilitas yang tinggi. Skenario IV : Kemitraan + Pendekatan Apresiatif Skenario keempat bisa disebut ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. terutama berbagai tambahan peran biaya yang setara untuk di pemerintahan (SKPD). biaya koordinasi. Kekurangan ”Skenario Kemitraan” Kekurangan dari Skenario Kemitraan ini adalah: (1) akan ada resistensi dari pihak-pihak. (4) akan terjadi pengembangan kapasitas dari sektor masyarakat. dan energi kolektif warga secara optimal. mulai di level kelurahan. dan kota.3. maka akan terbangun modal sosial pada berbagai level pemerintahan. mulai dari level RT/RW dan kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan. BAPEDA KOTA DEPOK 122 . karena harus dengan masyarakat. maka proses perencaan mengintegrasikan antara pendekatan kemitraan seperti pada Skenario III dan dipadukan dengan pendekatan apresiatif pada berbagai level.

2. (4). Kelurahan. mulai dari RT/RW. yang harus berbagi peran secara setara dengan masyarakat. (3) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat.4. Kekurangan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kekurangan dari Skenario Kemitraan – Apresiatif adalah: (1) resistensi dari pihak-pihak tertentu. digunakan BAPEDA KOTA DEPOK 123 . serta pedoman-pedoman perencanaan. Kelebihan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) akan terbangun energi positif kolektif pada berbagai level.4. sebagai upaya untuk mewujudkan mimpi / harapan bersama. (2) membutuhkan tambahan biaya untuk melatih fasilitator yang mampu menfasilitasi pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif.1. SKPD. serta membuat pedoman-pedoman yang dapat digunakan pada berbagai level. dan Kota untuk melaksanakan pembangunan di masing-masing level. Kecamatan. potensi.Kajian Perencanaan Partisipatif Untuk dapat terlaksana yang skenario dapat ini dibutuhkan oleh fasilitator berbagai yang level memahami pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. yang perwujudan prakarsa-prakarsa lokal itu akan lebih menggunakan sumber daya. terutama dari pemerintahan. (2) dokumen perencanaan yang dihasilkan pada masing-masing level merupakan rencana aksi bersama. 6. dan kearifan lokal. sehingga akan memunculkan insiatif-insiatif dan kemandirian pada masing-masing level. (3) ledakan harapan dapat dikurangi karena pendekatan apresiatif akan memunculkan prakarsa-prakarsa pada masing-masing level. tarutama pada level lokal. 6.

dimana skenario itu diasumsikan akan memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari berbagai sudut. Renstra-SKPD. setiap Pemerintah Daerah perlu membuat Peraturan Daerah yang mengatur Tata Cara Pnyusunan RPJP Daerah. Output dari fasilitasi ini adalah dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif BAPEDA KOTA DEPOK 124 . UU No. maka skenario yang direkomendasikan untuk muatan Perda adalah ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. Musrenbang RW dan Kelompok-Kelompok Masyarakat • Fasilitasi warga RW atau Kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat 2. RPJM Daerah.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RKPD. Adapun garis besar teknis pelaksanaan musrenbang berdasarkan skenario ini adalah mengikuti mekanisme yang ada sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musrenbang dengan modifikasi sebagai berikut : 7. Penyusunan Peraturan Daerah seperti itu membutuhkan kajian ilmiah dalam bentuk draft akademis dan setidaknya membutuhkan disain skenario.1. RenjaSKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah. Berdasarkan hasil kajian ini.

(4) • Fasilitasi untuk menghasilkan: (a) dokumen rencana yang akan dilaksanakan oleh komunitas RW atau kelompok masyarakat yang bersangkutan dalam mewujudkan kondisi ideal yang diimpikan bersama.Kajian Perencanaan Partisipatif (KPA) RW yang memuat: (1) identifikasi prestasi-prestasi yang pernah dicapai oleh RW / Kelompok masyarakat bersangkutan di masa lalu. dan (b) rencana yang akan diusulkan (diteruskan) ke Musrenbang Kelurahan untuk mendukung terwujudnya kondisi ideal yang diimpikan bersama. BAPEDA KOTA DEPOK 125 . Siapa pun warga kelurahan yang peduli terhadap pembangunan kelurahan yang • bersangkutan warga dapat bergabung dalam Forum tersebut dengan mendaftar.2. (2) kondisi yang diinginkan bersama di masa datang sebagai wujud dari mimpi bersama. 7. Keanggotaan Forum Stakeholders Kelurahan dilakukan secara proaktif dan stelsel aktif. Output: dokumen KPA Kelurahan. Masukan untuk proses ini adalah dokumen KPA RW / Kelompok Masyarakat. (3) rancangan langkahlangkah dan rencana-rencana aksi yang akan dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan tersebut. 13 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan RT. • Penetapan tim penyusun draft RPJM Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga kelurahan yang dipilih dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Fasilitasi yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. Musrenbang Kelurahan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Forum ini dapat juga dianggap sebagai forum Musyawarah Anggota menurut Perda Kota Depok No. RW dan LPM.

Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders SKPD menggunakan pendekatan apresiatif. Keikutsertaan dalam Forum ini bersifat stelsel aktif. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Kecamatan.4. Individu atau organisasi • yang peduli terhadap bidang tugas SKPD dapat mendaftar menjadi anggota Forum tersebut. Keikutsertaan dalam Forum Stakeholders SKPD bersifat stelselaktif. • Draft RKPK dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kelurahan 7. • Fasilitasi kegiatan warga ini yang tergabung hasil dalam Forum Stakeholders apresiatif di Kecamatan menggunakan pendekatan apresiatif. Warga kecamatan yang peduli terhadap pembangunan kecamatan dapat menjadi anggota Forum ini. Masukan untuk adalah fasilitasi pendekatan kelurahan. Forum SKPD • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD. 7.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Draft RPJM Kelurahan di bahas dalam Forum Stakeholders Kelurahan Untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) dibentuk tim penyusun draft RKPK Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif (KPA) SKPD.3. BAPEDA KOTA DEPOK 126 . Musrenbang Kecamatan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan.

Musrenbang Kota • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kota. BAPEDA KOTA DEPOK 127 . RPJM. RPJM. Individu dari unsur masyarakat dipilih secara terbuka dan demokratis dalam Forum Stakeholders Kota. draftnya disusun oleh Tim yang beranggotakan unsur masyarakat dan unsur pemerintah Kota Depok.5. 7. Masukan untuk kegiatan ini adalah dokumen KPA Kecamatan dan SKPD. draftnya disiapkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah / SKPD dan unsur masyarakat. • Draft Renstra-SKPD dan draft Renja-SKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders SKPD. Keanggotaan dalam Forum ini bersifat terbuka dan stelsel aktif. dan RKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kota Depok. • Dalam penyusunan RPJP. dan RKPD. Individu dan organisasi yang peduli pada Pembangunan Kota Depok dapat mendaftar menjadi anggota Forum. • Draft-draft RPJP. Output dari kegiatan ini adalah: dokumen KPA Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif • Dalam penyusunan Renstra-SKPD dan Renja-SKPD. Individu unsur masyarakat yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders SKPD. • Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kota menggunakan pendekatan apresiatif.

yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2.1. • Evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilakukan melalui 3 tolok ukur: (1) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk menilai seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan dengan aturan / pedoman yang ada. 5. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. dan (3) tolok ukur kontribusi pada pengembangan modal sosial untuk menilai kontribusi proses perencanaan pembangunan di Kota Depok terhadap BAPEDA KOTA DEPOK 128 .Kajian Perencanaan Partisipatif 8. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). (2) tolok ukur tipologi partisipasi untuk menilai derajat partisipasi yang tercipta dalam proses perencanaan perencanaan pembangunan di Kota Depok. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari dari: 1. 4. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Kesimpulan • Proses perencanaan pembangunan di Kota Depok adalah untuk menghasilkan dokumen rencana yang menurut UU No.

tapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah. pengoptimalan masukan (input) baik berupa input materi maupun input peserta pada semua tingkatan forum musrenbang dan forum SKPD dengan ikhtiar untuk semaksimal mungkin mengikuti aturan / pedoman yang ada. terutama dalammembangun kepercayaan (trust) warga kepada pemerintah. yaitu UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. pengoptimalan mekanisme pelaksanaan forum musrenbang dan forum SKPD dengan semaksimal mungkin mengikuti mekanisme yang diatur dalam aturan / pedoman yang ada. jika mengacu pada tipologi yang yang dikemukakan di Kota oleh Sherry barulah Arnstein pada (1969). • Berdasarkan tolok ukur tipologi partisipasi. 2. BAPEDA KOTA DEPOK 129 . Pada taraf ini kepada warga memang telah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan.Kajian Perencanaan Partisipatif pengembangan modal sosial. maka pelaksanaan proses perencanaan di Kota Depok secara umum telah sesuai dengan aturan yang ada. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman dari pusat. hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 1. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. Taraf partisipasi ini ini berpotensi menimbulkan kekecewaan warga dan berpotensi juga menurunkan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. dan SK Walikota Depok Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 tentang Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan (FKPP). taraf proses perencanaan Depok konsultasi (consultation). • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman.

namun diintegrasikan dengan pendekatan apresiatif. maupun output (keluaran). BAPEDA KOTA DEPOK 130 . • Terdapat empat skenario penguatan proses perencanaan di Kota Depok. dan kontribusi positif tingkat rendah. maka disain proses perencanaan yang dilaksakanan belum secara sadar mempertimbangkan aspek ini. Dengan demikian dkumen rencana merupakan hasil kesepakatan stakeholders. netral.Kajian Perencanaan Partisipatif • Berdasarkan tolok ukur kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial. baik dari segi input (masukan). Skenario Status Quo yaitu skenario dimana proses perencanaan dilakukan tanpa perubahan yang berarti atau sama seperti tahuntahun sebelumnya. Dalam skenario ini proses perencanaan dengan dilakukan dengan mengikuti semaksimal mungkin peraturan perundangan dan pedoman dari Pusat. Skenario ini sama dengan Skenario Kemitraan. Skenario Kemitraan-Apresiatif. 3. Dalam skenario ini. mekanisme. mengikuti pendekatan Appreciative Inquiry yang dikemukakan oleh David Cooperrider. yaitu: 1. (define). setiap draft dokumen rencana disiapkan oleh tim penyusun draft yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur warga. dan pembahasan draftnya dilaksanakan dalam forum stakeholders. Berbagai tahapan proses perencanaan pembangunan di Kota Depok memberikan kontribusi yang berkisar dari negatif (menurunkan tingkat kepercayaan). merancang mengimpikan (discover). 4. 2. Skenario Kemitraan adalah skenario dimana derajat partisipasi yang diinginkan adalah derajat kemitraan (partnership). KPA dilakukan menemukan Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan melalui tahapan mendefinisikan (dream). (design). dan mewujudkan (deliver). Skenario Taat Aturan Pusat.

Pemerintah Kota Depok sebaiknya dapat segera menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.2. • Substansi dan semangat Peraturan Daerah tersebut hendaknya dapat mengakomodir Skenario Kemitraan – Apresiatif dari hasil kajian ini. RenstraSKPD. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang.Kajian Perencanaan Partisipatif 8. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (Pasal 27 ayat 2). RKPD. RPJM Daerah. Saran • Berdasarkan Undang-Undang No. BAPEDA KOTA DEPOK 131 .

Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. A Ladder of Citizen Participation. A. D. R. Korten DC. 2004. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bpogor. Tadaro M P. Jakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Buku 1. Jakarta: yayasan Obor Indonesia. Juli 1969. Ahmad W T. 2004. Arnstein S. Alih bahasa Han Munandar. An Opportunity for Collaboration and Social Change. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. Rustiadi E. Hogget. Edisi Januari 2006. London: Mac Millan Press. 4. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. 1994. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). Jakarta: Pusat kajian Bina Swadaya.R.Abbas. 2003. 2003. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Tesis. Pusat Kajian Bina Swadaya 2007. Sjahrir. The Politics of Decentralisation: Revitalising Local Democracy. Bogor: Sekolah pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. JAIP. 2006. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 2000. Thomsen. Jakarta: Penerbit Erlangga. Rudiyanto. Panuju DR. Pembangunan yang Diprakarsai Masyarakat (Community Driven Development). Tesis. Diktat Perencanaan Pengembangan Wilayah. Relevansi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam Memperkuat Perencanaan Partisipatif. Vol 35. Jenjang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan pembangunan Melalui Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan di Kota Depok. Universitas Indonesia. A dan Setiawan. Saefulhakim S. Community-Based Research. Bogor:Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Lugiarti E. Thesis. Hasibuan FD. Burns D. 2005. Tesis. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalamproses Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat di Komunitas Desa Cijayanti. Submitted ini fulfilment of requirements . 1988. 2007. 1969. Hambleton. No.

2001. World Bank. 2003. Dalam Annotated Bibliography on Citizen Participation and Local Governance. Kota-Kota dalam Transisi: Tinjauan Sektor Perkotaanm Pada Era Desentralisasi di Indonesia. Faculty of Environmental Sciences. Definisi. WHO Regional Offfice for Europe. 2006.Teori & Strategi. Jakarta: The World Bank Office. Seputar Partisipasi Warga dan Pemerintahan Lokal. Australian School ofEnvironmental Studies. Zakaria. 2002. . RY et al. Approach and Techniques. Yustika AE. Ekonomi Kelembagaan. Malang: Bayumedia Publishing. Griffith University. Brighton: Logo Link.of the degree of Doctor of Philosophy. Community Participation in Local Health and Sustainable Development.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful