BADAN PERENCANAAN DAERAH KOTA DEPOK Tahun 2007

Kajian Perencanaan Partisipatif

Perbagai peluang pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Depok, menghendaki inovasi dan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan gagasan-gagasan kreatif. Bagaimana pun berbagai perubahan dimulai dari gagasan / ide. Karena itu, gagasan tentang partisipasi warga untuk menciptakan kondisi kota yang lebih baik, seperti yang diprakarsai oleh “Imagine Chicago”, atau gagasan Charles Landry (2002) tentang Kota Kreatif (The Creative City), mungkin harus mulai didiskusikan secara meluas dan pengembangan gagasannya dikelola secara lebih serius. Konsep inti dibalik gagasan-gagasan itu adalah bahwa masa depan suatu kota merupakan masa depan bersama seluruh warga kota. Kenyamanan, kebanggaan, produktivitas, dan daya saing suatu kota merupakan produk bersama warga kotanya. Karena itu perlu ditumbuhkan milieu kreatif yang memungkinkan setiap individu warga kota, termasuk organisasiorganisasi yang ada, untuk dapat memberikan gagasan kreatif dan kontribusi terbaiknya bagi penciptaan kota yang diinginkan bersama. Dari perspektif itu, maka perencanaan partisipatif harus dilihat tidak semata-mata sebagai pelaksanaan suatu prosedur perencanaan yang melibatkan masyarakat semata, seperti yang dilakukan selama ini, tapi harus dimulai dengan proses imajinatif yang melibatkan sebanyak mungkin warga kota untuk merumuskan bersama tentang kota seperti apa yang diinginkan bersama di masa depan. Semakin detil kondisi yang diinginkan, dan semakin banyak warga kota yang memahami tentang kondisi detil kota yang diinginkan itu, maka akan semakin memudahkan bagi semua pihak untuk merealisasikannya. Depok, Desember 2007
BAPEDA KOTA DEPOK

i

Kajian Perencanaan Partisipatif

BAPEDA KOTA DEPOK

ii

Konsep Biaya Transaksi………………………………… 2. 414.3. Modal Sosial…………………….Kajian Perencanaan Partisipatif Hal KATA PENGANTAR………………………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1. UU NO.8.2..1.……………………………… 2. Konsep Pembangunan…………………………………… 2.2/2435/SJ (2005) ……… 4.…… 1. Tujuan………………………………………………………. Forum Warga………. Konsep Perencanaan……………………………………… 2. Kep.3.2.2.7.5.………………………………………… 2.……… 1. Perencanaan Partisipatif………………………………… 2. Srt Mendagri No. Kebijakan Umum…………………………………………… LANDASAN KONSTITUSIONAL. Partisipasi Masyarakat…………………………………… 2. SE Bersama Bappenas dan Mendagri…………… 4.2. Latar Belakang……………………………………….3.5. UUD 1945……………………………………………………… 4.1.3. Sistematika Penulisan Kajian………………………… TINJUAN PUSTAKA 2. Misi Pembangunan Daerah…………………………… 3. 25/2004…………………………………………… 4. Metodelogi kajian…………………………………………… 1.1. Walikota Depok No.4.4.4.. Pendekatan Apreciative Inquiri……………………… KEBIJAKAN DAERAH 3.6. Visi Pembangunan Daerah…………………………… 3. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.1. 02/2004………………… i ii iv v 1 7 7 8 BAB II 10 16 22 51 55 57 60 65 BAB III 72 75 75 BAB IV 82 85 90 92 94 BAPEDA KOTA DEPOK ii .

2. 97 juknis (petunjuk teknis) ………….1..5. Musrenbang Kecamatan………………………………… 126 7. Forum SKPD…………………………………………………… 126 7.2. Kemitraan + pendekatan apresiatif……………… BAB VI 116 118 120 122 BAB VII REKOMENDASI SKENARIO Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7.Kajian Perencanaan Partisipatif BAB V KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF Tolok ukur peraturan perundangan dan 5. 124 Masyarakat……………………………………………………… 7.1. Memenuhi aturan + kemitraan……. Kesimpulan……………………………………………………… 128 8. Musrenbang Kelurahan…………………………………… 125 7. Pembahasan…………………………………………………… 107 SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6.2.……………… 6. Tinjauan evaluatif…………………………………………… 99 5.3.5.3. Tolok ukur pengembangan modal sosial……… 98 5.4. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi… 98 5. Saran……………………………………………………………… 131 DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK iii . Musrenbang Kota…………………………………………… 127 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8.2.…………………… 5..1.1. Memenuhi aturan/pedoman yg ada……………… 6.3. Tanpa perubahan berarti (status quo) ………… 6.3.4.

Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Gambar 1. Roda Partisipasi oleh Davidson………………………………………………… 4 8 44 BAPEDA KOTA DEPOK iv . Tangga Partisipasi menurut Arnstein………………………………………… Gambar 2. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok………………… Gambar 3.

Tangga pemberdayaan warga. 69 Tabel 11. Tahapan partisipasi. Tipologi partisipasi. Parkers dan Panelli…………………………. Tipologi partisipasi. Tabel 2.……… 46 Tabel 10. Tangga partisipasi masyarakat.……… 42 Tabel 7... Bonger & Specht……………. Tingkatan partisipasi.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Tabel 1.……… 82 BAPEDA KOTA DEPOK v . Burns……………………………………… Tabel 4. Wates………………………………………………. Perbedaan pendekatan problem solving dan KPA……………. 16 17 34 40 41 Tabel 6. Pretty………………………………………………………… Tabel 5.………… 43 Tabel 8. Mayer……………………………………………………. Hak-hak warga Negara berdasarkan UUD 1945……………….……. Davidson…………………………………………… 45 Tabel 9. Tiga model pendekatan pemberdayaan masyarakat………………. Tipologi roda partisipasi. Istilah-istilah didalam proses perencanaan berdasarkan proses perencanaan yang dikandungnya………………………………… Tabel 3.

Kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945………………….Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 12. tanggung jawab dan kewajiban Negara/pemerintah…… Tabel 14. Tugas. 85 99 BAPEDA KOTA DEPOK vi . Tinjauan evaluatif proses perencanaan di kota Depok…………….… 84 Tabel 13.

BAPEDA KOTA DEPOK 1 . Latar Belakang Dewasa ini telah berkembang pendapat pakar dan praktisi tentang Perencanaan Participatif sebagai teknik dan metode yang tepat sasaran untuk menganalisis persoalan pembangunan sosial masyarakat di lingkungannya. transparan dan aspiratif. Memang benar bahwa Perencanaan Partisipatif lebih khusus untuk mengkaji persoalan di daerah. maka dalam Perencanaan Partisipatif posisi orang luar hanya sebatas Fasilitator atau Pemandu. Tidak berlebihan kalau pada akhirnya hasil Perencanaan Partisipatif merupakan data dasar atau rujukan untuk melakukan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat bersangkutan (dimana Perencanaan Partisipatif itu diterapkan).1. Kelebihan lain adalah karena orang luar yang biasanya lebih aktif bekerja sendiri dengan bekal pengetahuan dan keahliannya.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. dan pemberdayaan masyarakat. penganekaragaman lokal. akan tetapi melihat ciri dan cara kerjanya. Perencanaan Partisipatif menjadi pantas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung pergeseran paradigma pembangunan ke arah desentralisasi. Perencanaan Partisipatif dapat pula dilakukan untuk kepentingan umum yang berkaitan dengan persoalan pembangunan masyarakat. Perencanaan Partisipatif telah diakui keunggulannya melalui pendekatan partisipatif.

Kajian Perencanaan Partisipatif Meski banyak pihak sepakat bahwa pembangunan partisipatif atau pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan merupakan sebuah keharusan. Namun sebagian pihak berpendapat bahwa beberapa substansi demokrasi seperti penghargaan yang tulus terhadap keragaman (pandangan. Ketiadaan kerangka definisi yang sama tentang konsep pembangunan yang partisipatif ini membuat berbagai pihak yang mendiskusikannya dapat terjebak pada debat yang tak berujung dan kerap kali berakhir dengan kekecewaan. Berbagai stakeholders di Kota Depok. BAPEDA KOTA DEPOK 2 . dapat berbeda-beda jawabannya jika ditanyakan apakah proses pembangunan di Kota Depok. dan malahan mungkin melahirkan sikap apatis. kalangan dunia usaha. atau dari kalangan akademisi. misalnya. Ini disebabkan karena masing-masing pihak mungkin menggunakan tolok ukur. juga dapat berbeda dengan jawaban dari kalangan LSM. asumsi. serta terdapat lembagalembaga yang menggambarkan sebuah negara yang demokratis. sudah dapat dikategorikan partisipatif atau belum. dan paradigma yang berbeda. dapat berbeda dengan jawaban dari pihak birokrasi. konsep. Seperti halnya dengan debat tentang penerapan demokrasi di Indonesia. karena telah terdapat berbagai prosedur yang menggambarkan sebuah negara demokrasi seperti diadakannya pemilu secara rutin. namun istilah partisipasi itu sendiri masih dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. sebagian pihak menganggap bahwa Indonesia sudah demokratis. putus asa. Apalagi jika istilah itu digunakan dalam konteks / setting yang berbeda. pembatasan masa jabatan kepala pemerintahan / kepala daerah. frustasi. Jawaban dari mereka yang secara rutin mengikuti Musrenbang di tingkat kelurahan atau mereka yang aktif di LPM kelurahan. misalnya. termasuk proses perencanaannya. ideologi.

sudah Secara prosedural untuk ikut masyarakat memang diundang Musrenbang. tapi apakah terdapat simetrisitas informasi sebagai basis pengambilan keputusan tentang sebuah rencana? Dari perspektif ini. di antara para stakeholders konsep pembangunan partisipatif yang akan diterapkan di Kota Depok. partisipasi masyarakat di Kota Depok barulah terbatas pada partisipasi yang prosedural. tapi belum tercipta di partisipasi kelurahan yang substansial. maka bagi sebagian pihak. Derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh lembaga dana di luar Pemerintahan Kota Depok. Tapi apakah semua warga telah diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti / memberikan masukan pada forum Musrenbang kelurahan tersebut? Lalu. Pada Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Tanpa kesepakatan itu. atau Proyek BAPEDA KOTA DEPOK 3 . misalnya. Salah satu hal yang perlu disadari sejak awal adalah bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri memiliki derajat yang berbeda-beda pada setiap komunitas dan pada setiap konteks kegiatan tertentu. maka kajian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok dan skenario penguatannya ke depan hanya dan tentang dapat dilakukan secara utuh jika terdapat pemahaman bersama. dapat berbeda dengan derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh APBD Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif agama) dan penyelesaian perbedaan pendapat / konflik secara beradab. terutama kesepakatan bersama. dalam banyak kasus belum sepenuhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Analog dengan hal itu. berapa persen usulan yang disepakati di Musrenbang diakomodir dalam APBD? Kemudian secara prosedural kelompok-kelompok masyarakat sudah diundang dalam forum SKPD. masing-masing pihak akan melihat perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Kota Depok dengan aksentuasi sudut pandang yang berbeda-beda.

” Berdasarkan tolok ukur ini. kekuatan. wewenang) dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang direncanakan. bagaimana power. derajat / tingkatan partisipasi masyarakat itu tergantung pada seberapa besar masyarakat / warga memiliki power (kekuasaan. Yang menjadi pertanyaan adalah tolok ukur apa yang membedakan derajat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan? Dalam berbagai kepustakaan (referensi). derajat partisipasinya dapat berbeda dengan derajat partisipasi pada proyek pengentasan kemiskinan yang didanai oleh APBD Kota Depok dan dilaksanakan oleh SKPD. daya. BAPEDA KOTA DEPOK 4 . Tangga partisipasi menurut Arnstein (1969) empowerment disempowerment mengalami (surplus) pihak-pihak yang selama ini kelebihan power. misalnya. kemampuan. Bahkan ada berpendapat ingin perlu membangun masyarakat. dan bagaimana memelihara hasilnya.Kajian Perencanaan Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat Squatter (PPMS). Menurut Asrnstein (1969): “citizen participation is citizen kekuasaan pada masyarakat secara kolektif. dilakukan kepada Gambar 1. maka dapat proses untuk yang yang jika maka empowerment diartikan sebagai (pemberdayaan) masyarakat “menambah” memutuskan terbaik bagi apa dirinya bahwa rencana itu dilaksanakan.

yaitu tahapan kontrol / pengendalian oleh masyarakat (citizen control). partisipasi Arsntein partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Tapi masyarakat tidak berada dalam posisi menentukan dalam proses pengambilan keputusan akhir tentang sebuah rencana.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan tolok ukur ini terdapat beberapa tipologi partisipasi masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan masyarakat. yaitu tahapan kemitraan (partnership). yang diusulkan melalui kajian ini adalah bagaimana proses BAPEDA KOTA DEPOK 5 . Meski baru bersifat rintisan. Donaldson (1998). Burns (1994). Pretty (1995). Pertanyaannya adalah apakah mungkin partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kota Depok naik ke tangga kemitraan (partnership) atau bahkan ke pengendalian oleh masyarakat berdasarkan tipologi Arnstein itu? Kajian ini juga akan mencoba mengaitkan antara proses perencanaan partisipatif dengan pembentukan modal sosial. Pada tahap ini masyarakat memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangan. of citizen misalnya. Jika mengacu yang pada tangga participation) dikemukakan oleh berdasarkan tipologi yang (ladder (1969). Sedangkan pada “tangga partisipasi” tertinggi. Asumsi awal yang ingin ditegaskan dalam kajian ini adalah pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di Kota Depok merupakan bentuk operasional dari “pilihan” tahapan / jenjang / tangga partisipasi masyarakat yang dipilih ada. dan Mayer (1997). pemerintah dan masyarakat terlibat secara sejajar dalam proses pengambilan keputusan. Jika naik ke “tangga partisipasi” yang lebih tinggi. mungkin baru pada tahapan konsultasi. seperti melalui mekanisme Musrenbang. apsirasi dan usulannya.

partisipasi masyarakat yang ada di Kota Depok dalam proses perencanaan berada pada level apa? b. Apakah mungkin derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan ditingkatkan (naik ke tangga yang lebih tinggi)? c. Bagaimana keterkaitan antara perencanaan partisipatif dan pengembangan modal sosial? BAPEDA KOTA DEPOK 6 .Kajian Perencanaan Partisipatif pembangunan di Kota Depok senantiasa mempertimbangkan aspek peningkatan modal sosial. Fukuyama sampai pada kesimpulan bahwa kinerja ekonomi yang tinggi terdapat pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi pula. Prasyarat apa yang dibutuhkan agar skenario itu bisa terlaksana? f. Bagaimana skenario proses perencanaan di Kota Depok dengan derajat partisipasi masyarakat pada level yang optimal? e. politis apa saja yang mungkin dihadapi untuk meningkatkan derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Pertanyaannya adalah proses perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Depok telah memberikan andil untuk penciptakan kategori dengan tingkat kepercayaan sesama yang mana? Apakah di Kota menambah Depok atau rekening malah kepercayaan stakeholders membuatnya semakin defisit sejalan dengan berjalannya waktu? Berdasarkan paparan tersebut di atas. d. yuridis. Ia membagi masyarakat di dunia ini dengan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah (low trust society) dan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high trust society). Dengan mengemukakan beberapa studi kasus. Kajian yang dilakukan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Trust sampai pada kesimpulan betapa modal sosial ini akan ikut menentukan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Berdasarkan tipologi yang ada. maka kajian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: a. Kendala-kendala institusional.

3. serta (c) dari sisi kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial di Kota Depok. kualitatif yang yaitu ada dari menjawab studi serta berbagai pertanyaan-pertanyaan dokumen-dokumen rumusan masalah termasuk dengan pandangan kalangan yang terekam di media masa.3. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 1. Melakukan tinjauan evaluatif pelaksanaan proses perencanaan partisipasi ditinjau dari : (a) sisi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan partisipatif. Mengidentifikasi kendala-kendala institusional. Metodologi Kajian Kajian ini menggunakan yang pendekatan ada. Tujuan Tujuan pelaksanaan kajian ini adalah: 1. mengikuti alur sebagai berikut : studi kepustakaan.2. dan politis dalam upaya peningkatan derajat partisipasi dalam perencanaan di Kota Depok. Kajian ini akan BAPEDA KOTA DEPOK 7 . wawancara mendalam dengan beberapa informan. (b) dari sisi derajat partisipasi warga berdasarkan tipologi yang ada. yuridis. Menyusun skenario penguatan perencanaan partisipatif di Kota Depok.

Partisipasi Masyarakat 2. Perencanaan Partisipatif 2. Modal Sosial 2.4.Kajian Perencanaan Partisipatif Tinjauan Peraturan Perundangan tentang Perencanaan Partisipatif Deskripsi Pelaksanaan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Tolok Ukur Peraturan Perundangan Kajian Evaluatif Perencanaan Partisipatif di Kota Depok • Tipologi Partisipasi • Modal Sosial Kajian Skenario Penguatan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Gambar 2.3.4.6. Sistematika Penulisan Kajian TINJUAN PUSTAKA 2. Konsep Perencanaan 2. Sistematika Penulisan Kajian Kajian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1.2. Latar Belakang 1.5.1.3. Tujuan 1.2. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok 1. Konsep Pembangunan 2.4.1.7. Forum Warga BAB II BAPEDA KOTA DEPOK 8 .5. Konsep Biaya Transaksi 2. Tujuan 1. Metodelogi kajian 1.

Kebijakan Umum LANDASAN KONSTITUSIONAL.2/2435/SJ (2005) 4.2. Misi Pembangunan Daerah 3.3.5. Tolok ukur pengembangan modal sosial 5. Walikota Depok No.5.8. Musrenbang Kecamatan 7. 25/2004 4.1. Musrenbang Kelurahan 7. Tolok ukur peraturan dan juknis Tolok ukur berdasarkan tipologi 5.2. Kemitraan + pendekatan apresiatif SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7. UUD 1945 4.1.4. Kep.3.4. 02/2004 KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF 5. SE Bersama Bappenas dan Mendagri 4.3. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.2. BAB III Pendekatan Apreciative Inquiri KEBIJAKAN DAERAH 3. Forum SKPD 7. Tinjauan evaluatif 5. Srt Mendagri No. Tanpa perubahan berarti (status quo) 6. Memenuhi aturan/pedoman yg ada 6.3.1.Kajian Perencanaan Partisipatif 2.2. partisipasi 5. Memenuhi aturan + kemitraan 6.3.5. UU NO. Masyarakat 7. Visi Pembangunan Daerah 3.1. Musrenbang Kota BAB IV BAB V BAB VI BAB VII DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK 9 .1.2.3. Pembahasan SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6. 414.4.

Bahkan.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. fisik puskesmas. pelaksanaan.1. Aktifitas ini ada dalam konteks siklus proses pembangunan (perencanaan. telah terbentuk perspesi bahwa untuk mendapat manfaat dari kegiatan pembangunan yang bersumber dari anggaran negara harus melalui KKN (dekat dengan kekuasaan).1. Konsep Pembangunan 2. Gugatan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sebagian warga masyarakat mempersepsikan terdapat pihak-pihak yang sangat diuntungkan dengan proses pembangunan dan ada pihak-pihak yang seolah-olah ”tidak mendapat apa-apa”. malah mungkin dirugikan (berkorban). saluran. pembangunan dimaknai sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Kesan yang juga muncul di masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 10 . fisik sekolah. Jika mempelajari usulanusulan pembangunan yang muncul dari forum Musrenbang di kelurahan. monitoring dan evaluasi). misalnya. Ungkapan menggugat yang sering muncul berkaitan dengan istilah ini adalah: “Pembangunan itu untuk siapa?”. pembangunan lebih banyak identik dengan pembangunan fisik: jalan. tanggul. istilah pembangunan ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda. Pengertian Pembangunan Kegiatan perencanaan bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Pada berbagai level status sosial masyarakat.1. pengendalian. dan sejenisnya. jembatan. Sedangkan bagi para penggiat HAM (hak asasi manusia).

budaya dan politik yang komprehensif yang ditujukan pada perbaikan yang tetap mengenai kesejahteraan seluruh penduduk dan semua individu atas dasar partisipasi mereka yang aktif. Meskipun tentu saja kesan dan persepsi seperti ini belum tentu selalu benar.Kajian Perencanaan Partisipatif adalah kelompok yang paling diuntungkan dari proses pembangunan di era reformasi ini adalah kalangan eksekutif dan legislatif. bebas. Yang dituju adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa semua pihak memperoleh benefit (keuntungan) yang adil dari setiap proses pembangunan. “Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan.1. maka proses perencanaan yang melibatkan masyarakat. Dari sudut pandang ini. Mereka adalah kelompok-kelompok memiliki akses dalam pengambilan keputusan. yang dilakukan secara iteratif (berulang). Persoalannya adalah bagaimana dengan kelompok-kelompok yang masyarakat tidak yang selama ini tidak proses diuntungkan / terpinggirkan dalam proses pembangunan.” Menurut deklarasi itu. adalah untuk menjamin bahwa akan terdapat distribusi keuntungan yang adil dari proses pembangunan. Pembangunan sebagai Pemenuhan Hak-Hak Warga Negara Dalam dokumen “Deklarasi tentang Hak atas Pembangunan” yang disetujui dengan resolusi Majelis Umum 41/28 tanggal 4 Desember 1986 ditegaskan bahwa: “pembangunan adalah proses ekonomi.” (Pasal 1 ayat 2) BAPEDA KOTA DEPOK 11 . sosial. dan berarti dalam pembangunan dan dalam distribusi keuntungan yang adil yang timbul darinya. Bagaimana agar suara mereka didengar dalam proses perencanaan tersebut? 2. hak atas pembangunan merupakan salah satu hak asasi manusia.2.

penduduk (manusia) dilihat sebagai tujuan akhir (the ultimate end). Dengan rumusan seperti ini maka pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia (Rustiadi et al. atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital). bukan alat. Lebih lanjut dijelaskan. sikap-sikap masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga negara yang paling humanistik”. cara. pengertian “pemilihan alternatif yang sah” dalam definisi pembangunan di atas diartikan bahwa upaya pencapaian aspirasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku atau dalam suatu tatanan kelembagaan atau tatanan budaya yang dapat diterima. Tadaro berpendapat bahwa pembangunan harus dipandang sebagai proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial. serta kebebasan (freedom) untuk memilih. Menurut Tadaro (2000). institusi-institusi. kebutuhan meningkatkan rasa harga diri atau jatidiri (self esteem). pembangunan harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang yaitu kecukupan (substenance) memenuhi paling hakiki pokok. khususnya pembangunan manusia. Dalam konsep tersebut. Pembangunan juga dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. 2006). sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). disamping BAPEDA KOTA DEPOK 12 . UNDP mendefisinikan pembangunan.

dan ekologi. Selanjutnya Spangenber (1999) menambahkan dimensi kelembagaan (institution) sebagai dimensi keempat. Inti dari konsep ini adalah bahwa pemanfaatan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. secara sosial pembangunan itu dapat diterima dan adil (termasuk adil terhadap generasi mendatang). Pembangunan Berkelanjutan Keterbatasan sumber daya alam baik akibat degradasi maupun eksploitasi yang berlebihan telah melahirkan apa yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Emil Salim.1. 2. dimana mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Ungkapan yang populer tentang makna pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi menguntungkan.3. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi konsep yang populer terutama sejak dipublikannya laporan “Our Common Future” sebagai laporan World Commission on Environmental and Development yang dipimpin oleh G. pada KTT Bumi di Rio de Jenairo. Pada tahun 1992.H. Bruntland di tahun 1988. sehingga keempat dimensi tersebut membentuk sebuah prisma keberlanjutan (prism of sustainability). pentingnya pendekatan pembangunan secara berkelanjutan semakin dipertegas. BAPEDA KOTA DEPOK 13 . serta pengentasan kemiskinan. menjadi salah satu anggotanya. diacu dalam Rustiadi et al (2006) mengajukan tiga dimensi keberlanjutan yang dikenal sebagai “triangular framework” yaitu keberlanjutan secara ekonomi.Kajian Perencanaan Partisipatif tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi. dan secara ekologi tidak merusak alam (sehingga dapat digunakan oleh generasi mendatang). sosial. Serageldin (1996). penanganan ketimpangan pendapatan.

antara lain : Pertama. Pembangunan untuk masyarakat (development for community) adalah bentuk pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif. terutama untuk pemenangan pemilu yang akan datang.1. disebabkan oleh inefisiensi dari sistem / struktur politik yang asimetrik. Dollery dan Wallis. dimana para politisi lebih mementingkan kelompok.1. sering disebut sebagai ”bureauratic failure”. Hal ini disebut juga ”constitutional failure” atau ”legislative failure”. bersama yaitu: (1) development dan (3) degan praktek for community of pemberdayaan masyarakat (community development) dan membaginya (pembangunan untuk masyarakat).5. memaparkan bagaimana sebuah proses dalam pembangunan dilakukan terutama dikaitkan tiga kategori. perencanaan. Weisbrod.4. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan Terdapat beberapa teori tentang tipologi kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang pernah dikemukakan (O’Dowd. 1978. dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan oleh BAPEDA KOTA DEPOK 14 . dalam hal ini pemerintah lebih bertindak sebagai ”rent seeker”. Ketiga. 1978. disebabkan karena terhenti atau tersendatnya kegiatan pelayanan masyarakat yang berakibat inefisiensi.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. namun penyebab kegagalan tersebut dibagi dalam tiga faktor utama (Rustiadi et. sehingga tidak memikirkan kepentingan dan perbaikan kondisi-kondisi kemasyarakatan. development community (pembangunan masyarakat). 2006). 2. Kedua. (2) development with community (pembangunan masyarakat). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).al. 1.. intervensi pemerintah dalam sektor ”rent seeking” selalu disertai dengan kepentingan pribadi dan kelompok. 1997).

BAPEDA KOTA DEPOK 15 . Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak. adalah dan Dapat pembangunan dilaksanakan dikatakan masyarakat menjadi pemilik dari proses pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif aktor dari luar. Ini merupakan model yang diidealkan oleh berbagai pihak. Dasar pemikiran pola ini adalah dapat berkembangnya sinergi dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan yang dikuasai oleh aktor luar. 2. Pembangunan bersama masyarakat (development with community) secara khusus ditandai dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. Pembangunan proses pelaksanaannya masyarakat (development yang inisiatif. Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian. Keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan juga diharapkan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap inisiatif pembangunan yang ada sekaligus membuat proyek pembangunan menjadi lebih efisien. melakukan konsultasi. dan melibatkan tokoh setempat. Namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek. masyarakat. namun dalam kenyatannya belum banyak komunitas yang mampu membangun dirinya sendiri. Untuk mengarah ke model ini diperlukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk masyarakat lokal. Hal ini dapat terjadi bila masyarakat merupakan komunitas yang kesadaran dan budayanya terdominasi. 3. Model ini paling populer dan banyak diaplikasikan oleh berbagai pihak. Peran aktor luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan. sendiri oleh of community) perencanaan.

kemudian memilih arah-arah terbaik dan memilih langkah-langkah untuk mencapainya. Konsep Perencanaan 2. Pengertian Perencanaan Perencanaan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh para ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing.1.2. Namun dalam pengertian yang paling sederhana. Menurut Kay dan Alder (1999).2.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 1. BAPEDA KOTA DEPOK 16 . 2. demikian. perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. perencanaan sebenarnya adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan. proses perencanaan (kapasitas) dilakukan kita dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang mengukur kemampuan untuk mencapainya. Dengan ada. diacu dalam Rustiadi et. al (2006). Tiga Model Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Development for Community (Pembangunan untuk masyarakat) Aktor dari luar Sosialisasi dan Konsultasi Aktor dari luar Aktor dari luar Proyek Development with Community (Pembangunan bersama masyarakat) Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Kolaborasi Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Proyek dan Program Development of Community (Pembangunan masyarakat) Masyarakat lokal Pemberdayan dan pengerahan potensi sendiri Masyarakat lokal Masyarakat lokal Pengembangan sistem dan penguatan kelembagaan Aktor Utama Bentuk Hubungan Pengambil keputusan Pelaksana Bentuk kegiatan Sumber : Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).

dan (2) unsur cara untuk mencapainya.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagian berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktivitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu. secara umum selalu terdapat dua unsur penting. tujuan. strategi. misi. Dari berbagai pendapat dan definisi yang dikembangkan mengenai perencanaan. Tabel 2. proyek. program. Sedangkan strategi. Visi. program. dikenal berbagai nomenklatur seperti visi. yakni: (1) unsur hal yang ingin dicapai. (2006) BAPEDA KOTA DEPOK 17 . Istilah-istilah itu sering saling dipertukarkan dengan tidak konsisten dan bahkan cenderung dapat membingungkan sehingga dapat mengganggu proses pembangunan akibat perencanaan yang tidak jelas. kebijakan. Istilah-istilah di dalam proses perencanaan berdasarkan unsur perencanaan yang dikandungnya Unsur Perencanaan Hal yang ingin dicapai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Normatif Normatif Terukur Terukur Normatif/terukur Terukur Terukur Terukur Terukur Cara untuk mencapai Istilah (nomenklatur) Visi (vision) Misi (mission) Tujuan (goal) Sasaran (objective) Strategi (strategy) Kebijakan (policy) Program (program) Pryek (project) Aktifitas (action) Keterangan Sumber: Rustiadi et. sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai suatu kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. sasaran. serta aktivitas. tujuan dan sasaran adalah istilah-istilah yang menjelaskan mengenai unsur perencanaan yang pertama (hal yang ingin dicapai). al. Misi dan aktivitas adalah istilah-istilah mengenai unsur-unsur perencanaan yang kedua (cara mencapainya). Dalam implementasi proses perencanaan. dan proyek merupakan suatu kumpulan komponen perencanaan yang mencakup kedua unsur perencanaan dalam suatu struktur tertentu.

BAPEDA KOTA DEPOK 18 . Dalam Undang-Undang No. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 3. 4. 6. 7. biasanya lebih terukur. disertai target pencapaiannya. • • • Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Sasaran merupakan kondisi minimum yang harus dicapai dalam mencapai tujuan dalam waktu tertentu. Visi (vision): suatu kondisi ideal (cita-cita) normatif yang ingin dicapai di masa datang 2. 8. Strategi (strategy): sekumpulan sasaran-sasaran dengan metodemetode untuk mencapainya. Kebijakan (policy): sekumpulan aktivitas (actions). untuk pelaksanaan-pelaksanaan pencapaian jangka pendek. 9. khususnya menyangkut fisik dan biaya. Setiap bentuk tujuan (goals) bersifat dapat dimaksimumkan atau diminimumkan. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Misi (mission): cara normatif untuk mencapai visi. 5. Sasaran (objectives): bentuk operasional dari tujuan. Tujuan-tujuan (goals): hal-hal yang ingin dicapai secara umum. beberapa istilah ini juga diberikan definisinya. Program (program): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. Proyek (project): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan/target/sasaran tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu dalam waktu tertentu dengan sumberdaya (biaya) tertentu. Aktivitas (actions): kegiatan pelaksanaan.

Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Kecenderungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini bukan pendekatan yang ideal untuk kepentingan publik jangka panjang. Pendekatan / Basis Perencanaan Perencanaan umumnya dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi pendekatan. Tapi secara teknis pendekatan ini setidaknya dapat memberikan informasi bagi pendekatan-pendekatan lainnya. diacu dalam Rustiadi et. Pendekatan ini sering dilakukan terutama karena alasan-alasan pragmatis.al.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Beranjak dari permasalahan atau BAPEDA KOTA DEPOK 19 . (2) Berbasis kesempatan / peluang (opprotunity-driven). 2. Beberapa pendekatan perencanaan yang umum dilakukan berdasarkan basis (pijakan) utamanya (Kelly dan Becker.2. mengingat adanya peluang-peluang yang langka. 2000. (3) Berbasis isu (issue-driven). atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Perencanaan dengan basis pendekatan ini dilaksanakan dengan berdasarkan kecenderungan umum yang terjadi.2. Pendekatan ini sering dilakukan oleh institusi-institusi yang belum matang dan mandiri dimana pendekatan yang termudah adalah dengan meniru atau mengikuti kecenderungan dari institusi-institusi yang lebih berpengalaman. Perencanaan dilakukan berdasarkan isu atau masalah-masalah yang ada. Adanya peluang (opprtunity) dianggap harus dimanfaatkan sebesar-besanya. 2006) adalah: (1) Berbasis kecenderungan (trends-driven).

1. Komponen utama dari pendekatan ini adalah: (a) pilihan-pilihan diturunkan dari kebijakan dan perencanaan yang merupakan peningkatan. penambahan. Perencanaan inkremental. atau perbaikan dari kebijakan yang ada (status quo).2. Proses perencanaan ini dilakukan akibat terbatasnya Pendekatan kapasitas ini pengambilan keputusan. 2. (c) hanya sejumlah kecil konsekuensi yang diinvestigasi. pendidikan. spiritual/keagamaan. rupa dan mereduksi terlalu cakupan (scope) dan biaya pengumpulan informasi dan analisis. 2006). rasional. (d) tujuan dan pendekatan yang BAPEDA KOTA DEPOK 20 . dan partisipatif (Rustiadi et al. Berbeda dengan pendekatan berbasis tujuan. adaptif. dilakukan sedemikian agar tidak menyimpang dari kondisi saat ini (status quo). Namun proses tersulit adalah menetapkan tujuan itu sendiri seringkali bukanlah proses yang mudah apalagi jika dilakukan melalui proses lintas stakeholders.3. Ini merupakan pendekatan perencanaan yang paling klasik.Kajian Perencanaan Partisipatif isu disusun langkah-langkah untuk menanggulangi dan menjawab isu dan tantangan tersebut. yang sangat berorientasi sangat panjang dan tidak memiliki target-target spesifik jangka pendek. Proses Perencanaan Berdasarkan prosesnya. (5) Berbasis visi (vision-driven). (b) hanya sejumlah kecil pilihan yang dipertimbangkan. Perencanaan seperti ini lebih sesuai untuk gerakan-gerakan sosial. (4) Berdasarkan tujuan (goal-driven). perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan ikremental. pendekatan berbasis visi sangat menekankan nilai-nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuantujuan yang spesifik dan terukur.

Kajian Perencanaan Partisipatif

dipilih didasarkan atas pertimbangan yang mudah dilakukan, (e) keputusan dibuat dari proses analisis iteratif dan evaluasi. 2. Perencanaan Adaptif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Holling (1978), yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman. Begitu didapat informasi baru segera dilakukan review atas pengelolaan yang sedang berjalan dan pendekatan-pendekatan baru dirumuskan. Pendekatan ini selalu menghadapi kendala terutama akibat adanya penolakan (resistensi) dari pihak-pihak yang harus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap hal-hal yang bagi mereka masih penuh ketidakpastian. Perencanaan adaptif yang terlalu longgar akan banyak menimbulkan berbagai bentuk inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang. 3. Perencanaan Rasional. Rasionalitas adalah cara utama yang

dikembangkan masyarakat dan para pemikir barat sejak zaman renaisan. Rasionalitas dapat diartikan sebagai suatu cara memilih pendekatan menyeluruh terbaik dengan berpikir untuk tertib (sistematis) tujuan dan (komprehensif) mencapai tertentu.

Pendekatan rasional membutuhkan sejumlah pengetahuan, berbagai alat (tools) berupa analisis ilmiah, untuk dapat membuat keputusankeputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif yang ada. Kesempurnaan dari pendekatan ini adalah terletak pada ketersediaan informasi yang “sempurna”. Secara umum tahapan proses dalam kerangka perencaan rasional adalah: (a) identifikasi masalah, (b) menetapkan tujuan/sasaran, (c) identifikasi peluang dan hambatan, (d) pengajuan alternatif-alternatif, (e) menetapkan alternatif pilihan dan melaksanakannya. 4. Perencanaan partisipatif / konsensus. Dalam perencanaan

rasional dituntut adanya pengetahuan / informasi yang “sempurna”. Kondisi ini merupakan suatu kondisi
BAPEDA KOTA DEPOK

yang sangat sulit dipenuhi

21

Kajian Perencanaan Partisipatif

karena kapasitas, pengetahuan, pengalaman, informasi, dan teknologi yang dimiliki perencana cenderung terbatas dibandingkan dengan kompleksitas kepentingan permasalahan yang yang ada. pula. Di sisi lain, informasi sifat sebenarnya tersebar beragam di masing-masing stakeholders dengan berbeda-beda Dengan demikian, komprehensif dari suatu perencanaan pada dasarnya dapat dipenuhi dengan membangun partisipasi seluruh stakeholders agar diperoleh informasi yang lengkap dan dipahami bersama untuk kemudian dibangun keputusan yang terbaik. 5. Perencanaan Rasional – Partisipatif. Dengan perencanaan secara terintegrasi ini, maka pendekatan partisipatif akan menutupi berbagai kelemahan pendekatan perencanaan rasional terutama kelemahan akibat terbatasnya informasi. Pendekatan partisipatif juga akan lebih menjamin penerimaan (acceptability) dari pihak-pihak yang berkepentingan.

2.3. Partisipasi Masyarakat
2.3.1. Pengertian Masyarakat Sebelum membahas partisipasi masyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai konsep tentang masyarakat atau komunitas (community). Dari berbagai referensi di Indonesia kedua istilah ini kerap kali dipertukarkan atau diangap sama. Ada yang menerjemahkan community sebagai ”masyarakat” namun ada yang lebih suka menerjemahkannya sebagai ”komunitas”. Dalam realitas, komunitas itu sendiri mulai dari level dengan lingkup geografis yang relatif kecil, seperti komunitas RT / RW sampai pada komunitas negara-negara seperti European Community (Masyarakat Eropa). Bahkan dengan informasi yang tak terbatas, akibat kemajuan
BAPEDA KOTA DEPOK

22

Kajian Perencanaan Partisipatif

teknologi informasi (internet), terjadi perubahan yang radikal tentang tempat (space) dan waktu (time). Komunitas dalam masyarakat informasi menjadi tak berbatas ruang (spaceless) dan tak terbatas

waktu (timeless). Komunitas seperti ini di kota-kota modern membentuk apa yang disebut sebagai cyber culture (budaya siber) atau networking culture (kultur jejaring). Burns (1994) memberikan beberapa makna tentang komunitas sebagai berikut: 1. Masyarakat / komunitas sebagai warisan identitas. Makna ini merupakan ekspresi tradisi budaya atau identitas bersama, sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan sejarah. 2. Masyarakat hubungan / komunitas sebagai hubungan sosial. dan Pola antar direfleksikan dalam kekeluargaan ketetanggaan,

dimana interaksi sosial dan dukungan satu satu sama lain seringkali digerakkan oleh faktor tempat tinggal. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan tradisi sosiologi dan antropologi. 3. Masyarakat / komunitas sebagai basis konsumsi kolektif, yakni suatu kesatuan kelompok atau ketetanggaan yang memiliki kebutuhan atau permintaan yang sama terhadap barang publik (public goods), seperti perpustakaan, transportasi, kualitas lingkungan dan lainnya. Ini merupakan 4. Masyarakat itu dapat sebuah / konsep masyarakat basis yang untuk menggambarkan produksi dan legitimasi berdasarkan ekonomi. komunitas sebagai penyediaan barang-barang barang publik lokal. Barang-barang publik disediakan oleh swasta, masyarakat umum, atau pihakpihak relawan (termasuk masyarakat itu sendiri). Ini merupakan konsep masyarakat yang menggambarkan legitimasi berdasarkan ekonomi dan penyediaan pelayanan teknologi.

BAPEDA KOTA DEPOK

23

BAPEDA KOTA DEPOK 24 . menurut Community Speaker Series (2001). Menurut Moelyadi dan Simanjuntak (1993).Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Sekelompok orang yang memiliki visi bersama Sukarelawan yang terorganisir Orang-orang yang melakukan langkah kecil bersama untuk tujuan yang besar. Masyarakat / komunitas sebagai sumber pengaruh dan kekuatan / kekuasaan yang berasal dari hasil pemberdayaan (empowerment) atau keterwakilan. masyarakat adalah langsung sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu secara atau tidak langsung saling berhubungan dalam usaha pemenuhan kebutuhannya. Ciri-ciri komunitas. Ciri-ciri komunitas dapat ditentukan oleh beberapa hal. yang diacu dalam Ahmad (2004) adalah: • • • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang Sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu Orang-orang yang disatukan oleh isu bersama Orang-orang yang bekerja sama Sekelompok orang yang mengkonsolidasikan sumberdaya bersama (pool resources). Sekelompok orang yang merasa aman bersama Sekelompok orang yang memiliki rasa ketetanggaan. Orang-orang yang terorganisir Orang-orang yang mempertahankan dan membina kegiatan Orang-orang yang membuat kemitraan Orang-orang yang fokus pada kebutuhan dari kelompoknya. terikat sebagai suatu kesatuan sosial melalui perasaan solidaritas oleh karena latar belakang sejarah. politik dan kebudayaan. Sekelompok orang yang saling menghormati satu dengan lainnya. apakah melalui saluran representasi atau partisipasi formal atau informal dari aksi politik.

Pengelompokan ini dijelaskan oleh Burns (1994) sebagai berikut: 1. partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dapat dipilah meliputi. berbagi manfaat dari program pembangunan dan evaluasi program pembangunan. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 25 . Komunitas berbasis area / wilayah ini dapat diidentifikasi dalam pengertian sebagai batasan wilayah pelayan administratif. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan berbagai konsep tersebut. Community of interest adalah perkumpulan komunitas /masyarakat berdasarkan isu dan kepentingan tertentu baik pada lokasi tertentu atau tidak. (1) partisipasi dalam / melalui kontak dengan pihak lain sebagai awal perubahan sosial. blok. Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Cohen dan Uphoff (1977).3. dalam pembuatan pelaksanaan program dan pengambilan keputusan untuk berkontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. Wilayah komunitas seperti itu dapat bervariasi dalam hal ukuran meskipun batasan yang paling umum adalah ukurannya relatif kecil dan lokal. ketetanggaan. Community of place yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan wilayah / lokasi tertentu. dan dan status sosial tempat ekonomi ini lebih atau berdasarkan atau dalam pengertian karakter politik. kejamaahan / jemaat. sesungguhnya pengertian masyarakat dapat dikelompok menjadi dua kategori yaitu community of place dan community of interest. dsb. yang diacu dalam Harahap (2001). perkampungan. 2. dan tidak selalu dihubungkan dengan batas wilayah tertentu.2. Kategori masyarakat tempat berdasarkan diidentifikasi tinggal seperti jalan. partisipasi dan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan keputusan tentang apa yang dilakukan. Sedangkan menurut Ndraha (1990).

yang diacu dalam Daniels dan Walker (2005): 1. (3) partisipasi dalam perencanaan termasuk pengambilan keputusan. (5) partisipasi dalam menerima. yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai tingkat pelaksanaan pembangunan. maupun dalam arti menolaknya. 1997). 4. 5. Proses partisipasi masyarakat berupaya dan memfasilitasi keterlibatan mereka yang berpotensi untuk terpengaruh. Proses partisipasi masyarakat memberi partisipan informasi yang mereka butuhkan dengan cara bermakna. (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional. Survey partisipasi oleh The International Association of Public Participation telah mengidentifikasi nilai inti partisipasi sebagai berikut (Delli Priscolli. partisipasi adalah proses pemberian peran kepada individu bukan hanya sebagai subyek melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan. mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. 3. dan mengembangkan hasil pembangunan. menerima dengan syarat. Korten (1988) dalam pembahasannya tentang berbagai paradigma pembangunan mengungkapkan bahwa dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. baik dalam arti menerima. 7.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi dalam memperhatikan / menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi. 6. Masyarakat harus memiliki suara dalam keputusan tentang tindakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan dan memenuhi kebutuhan proses semua partisipan. Proses partisipasi masyarakat melibatkan partisipan dalam mendefinisikan bagaimana mereka berpartisipasi. Partisipasi masyarakat meliputi jaminan bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi keputusan. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan kepada partisipan bagaimana input mereka digunakan atau tidak digunakan. memelihara. Sedangkan Migley (1986) BAPEDA KOTA DEPOK 26 . 2.

7. serta dalam keputusan penting yang menyangkut BAPEDA KOTA DEPOK 27 . partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalampembangunan mereka sendiri. kebutuhan. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapatturut masyarakat. 5. Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari dimana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki. Partisipasi menopang pembangunan Partisipasi Partisipasi menyediakan merupakan lingkungan lingkungan yang yang kondusif kondusif baik baik bagi bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia. 3. Tjokrowinoto (1987). Partisipasi akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan. dan kondisi lokal yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. 11. 4.Kajian Perencanaan Partisipatif melihat partisipasi sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan masyarakat untuk mendorong mereka dalam menyelesaikan permasalan yang mereka hadapi. 8. diacu dalam Hasibuan (2003). 10. 6. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal. Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap. 2. aspirasi. 9. menyatakan alasan pembenar partisipasi masyarakat dalam pembangunan: 1.

kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif. maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompok-kelompok komunitas. 3. 2001. hal itu dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah. sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. Thomsen (2003) memaparkan keuntungan dan kerugian dari partisipasi masyarakat. Blumenthal. 2000. BAPEDA KOTA DEPOK 28 . Dovers. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek.3.3. 2000. Dengan membuka kesempatan dalam proses keputusan. serta UNDP. memperluas pengalaman masyarakat dan akan memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas. pengalaman. Keuntungan dari partisipasi masyarakat adalah: 1. dan kreatifitas. 2000).Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan. Keuntungan dan Kerugian Partisipasi Masyarakat Dengan mengacu pada berbagai referensi (Anon. (c) mengakomodir pengetahuan lokal. 2. Partisipasi membantu terbangunannya transparansi komunikasi dan hubungan-hubungan kekuasaan di antara para stakeholders. Partisipasi dapat meningkatkan pendekatan iteratif dan siklikal dan menjamin pengambilan bahwa solusi didasarkan maka para pada pembuat pemahaman keputusan dan dapat pengetahuan lokal. 2000. Kapoor. Dengan demikian. Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. (b) membangun perspektif yang beragam yang berasal dari beragam stakeholders. khususnya kelompok yang selama ini termarjinalisasikan.

jika direncanakan secara hati-hati. melakukan proses (b) ini Partisipasi secara sadar atau tidak sadar memanipulasi tidak partisipasi publik untuk dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang kepentingannya. 2. Pelibatan masyarakat lokal dapat membantu terciptanya (outcomes) dengan menfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung. Proses partisipasi seringkali menyebabkan ketidakstabilan hubungan sosial politik yang ada dan menyebabkan konflik yang dapat mengancam terlaksananya proyek. partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata. Proses partisipasi dapat digunakan untuk memanipulasi sejumlah besar warga masyarakat. Hasil yang diperoleh dari usaha-usaha kolaboratif lebih mungkin untuk diterima oleh seluruh stakeholders. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial. Partisipasi hasil akan mendorong yang kepemilikan berkelanjutan lokal. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. Sedangkan kerugian yang mungkin muncul dari pendekatan partisipatif adalah: 1. komitmen dan akuntabilitas.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. BAPEDA KOTA DEPOK 29 . 5. Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. Partisipasi dapat menyebabkan konflik.

Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency).3. maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut. Tipologi Partisipasi Tipologi partisipasi menggambarkan derajat keterlibatan masyarakat dalam proses partisipasi yang didasarkan pada seberapa besar kekuasaan (power) yang dimiliki masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. (b) untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan (c) untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan kinerja dari pihak-pihak yang melakukan pelibatan masyarakat. Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 30 . kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih.Kajian Perencanaan Partisipatif 3.1. Partisipasi dapat menjadi mahal dalam pengertian bahwa waktu dan biaya yang dikeluarkan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat lokal.4. padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar. Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat. 4.4.3. tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek. Pada wilayah-wilayah dimana di dalamnya terdapat ketidakadilan sosial. 2. 2. proses partisipasi akan dilihat sebagai sesuatu yang mewah dan pengeluaran-pengeluaran untuk proses itu tidak dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan kemiskinan yang akut. Kegunaan dari adanya tipologi partisipasi ini adalah: (a) untuk membantu memahami praktek dari proses pelibatan masyarakat. Jika proses partisipasi dimanipulasi.

Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog. Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguhsungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. Kemudian (4) diikuti dengan tangga (3) dan menginformasikan (5) penentraman konsultasi (consultation). dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of tokenism). Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation). Manipulasi (manipulation). Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah.Kajian Perencanaan Partisipatif (citizen partisipation is citizen power). Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya. (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power). Tangga ketiga. berupa upaya superfisial (dangkal. Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan. Tiga tangga terakhir ini menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya. 2. dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control). tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan. Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership). tapi hadir dalam forum). 1. meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). (informing). tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka BAPEDA KOTA DEPOK 31 . Terapi (therapy). (placation).

tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. baik dalam hal perencanaan. 3. 6. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat. 4. pelaksanaan. maupun monitoring dan evaluasi. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan. Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara untuk masyarakat dan pemerintah. telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan. Pada tangga partisipasi ini. Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi.Kajian Perencanaan Partisipatif akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses dipersilahkan untuk menilai memberikan dan merencanakan usulan kegiatan. Kemitraan (partnership). Sudah ada penjaringan aspirasi. Namun pemerintah tetap menahan kelayakan keberadaan BAPEDA KOTA DEPOK 32 . Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah. saran atau usulan Masyarakat kewenangan tersebut. Informasi (information). 5. Konsultasi (consultation). pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. Penentraman (placation). telah ada aturan pengajuan usulan. Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back).

Hambleton. sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program.2 Tipologi (1994) Burns et al (1994) berpendapat bahwa bila pemerintah hendak Partisipasi Burns. pemberdayaan. Dalam tangga partisipasi ini. 7. Dalam menggunakan tipologi ini. monitoring dan mulai evaluasi. 2. masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri. Ini berarti dari bahwa proses pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk sendiri beberapa kepentingannya. Untuk itu Burns memodifikasi model Arnstein yang dirasakan lebih tepat terhadap kebutuhan publik (kewenangan masyarakat lokal) dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. Pendelegasian mengurus kekuasaan (delegated power).Kajian Perencanaan Partisipatif untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan. Dia mengakui bahwa terdapat permasalahan yang kompleks dalam penentuan jenjang partisipasi. dan Hogget meningkatkan partisipasi masyarakat. Ini disebabkan adanya karakteristik yang bisa diasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu jenjang pada saat BAPEDA KOTA DEPOK 33 .4. maka harus diketahui terlebih dahulu sampai sejauh mana jenjang proses partsipasi yang telah ada. pelaksanaan. yang disepakati bersama. Pengendalian warga (citizen control). Burns menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan untuk menambah jenjang antara tangga partisipasi yang satu dengan yang lainnya meski terkesan lebih rumit dan memberikan kebebasan untuk menghapus atau menambah jenjang menurut situasi yang ada. dan tanpa campur tangan pemerintah. dan perubahan tata kelola pemerintahan di daerah.3. perencanaan. 8.

Burns memodifikasi konsep Arsntein tersebut dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat perubahan pemerintahan daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif bersamaan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di setiap tangga membutuhkan cara yang berbeda-beda. 10. 1. Tabel 3. 11. 7. dengan menambahkan ruang pada jenjang partisipasi satu dengan yang lainnya serta menjabarkan kemungkinan adanya perbedaan pembagian ruang jenjang partisipasi Tangga Pemberdayaan Warga dari Burns. 6. 12. Jenjang Partisipasi Civic hype Cynical Consultation Poor Information Customer care High Quality Information Genuine Information Effective Advisory Body Limited decentralised decision making Partnership Delegated Control Enrusted Control Independent Control Kategori Citizen Non Participation Citizen Participation Citizen Control BAPEDA KOTA DEPOK 34 . 5. Burns juga mengingatkan bahwa kualitas partisipasi masyarakat tidak harus menempati tangga tertinggi dalam waktu yang sangat cepat. 2. serta pemetaannya terhadap ruang kekuasaan dan yang ada tata dalam kelola masyarakat. 9. Tabel 3 menggambarkan No. Berdasarkan hasil kajian terhadap delapan tangga partisipasi Arnstein. Tangga Pemberdayaan Warga oleh Burns et al (1994) pada penilaian oleh pemerintah daerah atau institusi lainnya. 4. 3. 8. Semua harus didasarkan pada situasi dan kondisi masyarakat. Burns dan koleganya memberi nama untuk tangga partisipasi mereka dengan A Ladder of Citizen Empowerment (Tangga Pemberdayaan Warga).

pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat tentang suatu masalah atau program tertentu. Keempat jenjang dimana warga dikategorikan tidak berpartisipasi (citizen non participation) karena adalah civic hype. Tanpa Partisipasi Warga. tujuan serta pembiayaannya. tidak bisa Informasi tersebut lebih untuk konsumsi pemerintah sendiri atau jenjang masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 35 . Civic hype. Jenjang-jenjang ini tidak boleh manipulasi informasi berkembang keempat cenderung rendah tapi pemerintah daerah telah membuka diri untuk menerima kritik dari masyarakat. Poor informasi. sehingga masyarakat tidak mempunyai peranan dan bersifat pasif. cynical consultation. Masyakat tidak diberikan informasi kebijakan dan permasalahan legislatif. bukannya membahas hal-hal yang bersifat strategis. namun dalam pertemuan tersebut tidak menyentuh topik-topik yang substantif. 2. keadaan ini. menguasai hampir seluruh segi kehidupan. Cynical consultation. Pada kondisi ini partisipasi masyarakat customer care. 1.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara garis besar penjelasan terhadap jenjang partisipasi tersebut adalah sebagai berikut : A. Pada yang berkaitan ini dengan kehidupan sulit atau masyarakat. Pada jenjang ini pemerintah daerah melakukan sosialisasi informasi. dari foor information. baik kepada masyarakat maupun keluar. berbentuk propaganda dan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisi obyektif daerahnya. Peranan pemerintah dalam kondisi ini terlalu besar. Misalnya. seperti perencanannya. namun informasi yang diberikan bersifat manipulatif. Pada jenjang ini. 3. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat untuk memutuskan nama dari satu jalan yang akan dibangun. dan diabaikan.

pengajuan daerah. Customer care. B. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat customer memiliki care ini informasi pada yang cukup mengenai untuk berbagai meredam kegiatan pemerintah atau mulai dilakukannya transparansi. High quality information. baik dalam hal pemantauan. valid. Namun sebaliknya jika pengaduan masyarakat tersebut ditindaklanjuti dan membuahkan hasil. Pada jenjang ini terjadi sosialisasi informasi yang berkualitas tinggi. Pada jenjang ini pemerintah daerah membentuk sejenis unit pelayanan pengaduan. Jika pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai buruknya pelayanan pemerintah melalui unit pelayanan itu diabaikan. maupun tuntutan-tuntutan. maka pada jenjang ini terjadi konsultasi palsu (pseudo consultation). Keterbukaan pemerintah daerah dalam hal ini telah memberikan peluang yang luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemerintahan. dan obyektif mengenai daerahnya atau hal-hal apa saja yang dilakukan dan juga disebabkan oleh sulitnya oleh pemerintah daerah. Dengan proses konsultasi seperti itu. maka pada jenjang ini dapat digolongkan dalam partisipasi. Dengan Partisipasi Warga 5. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukannya penerbitan data atau informasi masyarakat untuk mendapatkan informasi tersebut. evaluasi. 4. masyarakat dapat memberikan input yang signifikan bagi pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 36 . Sosialisasi informasi-informasi tersebut akan mendorong terjadinya proses dialog atau konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat setempat yang lebih menyentuh substansi permasalahan.Kajian Perencanaan Partisipatif mendapatkan informasi atau data-data yang akurat. Program awalnya ditujukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. misalnya terjadi perbaikan dalam pelayanan pemerintah. baik dilihat dari proses maupun materi yang disampaikan pemerintah daerah kepada masyarakat setempat.

Telah ada organisasi / perkumpulan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam pengambilan keputusan. Dalam diskusi ini. Effective advisory bodies. Artinya. Pada jenjang ini terjadi peningkatan keberadaan badan atau komite penasehat masyarakat. hasil dialog tersebut tidak mengikat pemerintah daerah. Limited decentralised decision making. penggunaan sumber daya bahkan dapat menyentuh tataran strategis. masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah sebelum suatu kebijakan diambil jenjang genuine walaupun tidak ada kepastian pemerintah akan consultation ini. Misalnya. dilakukan proses konsultasi antara pemerintah dengan masyarakat sebelum merancang suatu peraturan atau sebelum merancang program. Diskusi antara pemerintah dengan masyarakat telah ada dan sebenarnya telah berjalan. 7. Pada tahap ini masyarakat telah menunjukan inisiatif mereka dan telah ada transfer atau setidaknya pemberian wewenang untuk mempengaruhi pemerintah. dilakukan improvisasi untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan masukan tersebut. 8. Pada meningkatkan kualitas konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dilihat dari substansi pembahasan maupun prosesnya. Organisasi BAPEDA KOTA DEPOK 37 . Sebagai hasil dari peningkatan kualitas konsultasi ini dapat menghasilkan perubahan struktural misalnya pembentukan berbagai badan atau komite masyarakat yang berfungsi sebagai penasehat (advisory) bagi pemerintah daerah dalam rangka membuat kebijakan atau melaksanakan program-program pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. sehingga dapat berfungsi efektif dan akan mendorong partisipasi badan atau komite tersebut dalam pembuatan kebijakan yang menyangkut operasional.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Genuine Consultation. Namun tidak ada satu ketentuan pun bagi pemerintah daerah untuk memasukan pendapat komite masyarakat tersebut ke dalam kebijakan yang akan dibuat.

seperti standarisasi yang BAPEDA KOTA DEPOK 38 . namun harus tetap mengacu pada kebijakan strategis. Pemerintah daerah mulai melakukan pengalihan manajerial pengelolaan program pemerintah kepada masyarakat. mendiskusikan persamaan persepsi bagaimana pelayanan beroperasi. setidak-tidaknya terjadi proses transfer kekuasaan (kewenangan). Selain itu pemerintah daerah membangun strategi bottom-up 10. Pada jenjang ini keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan telah meningkat ke arah kontrol masyarakat terhadap operasional maupun pengelolaan sumber daya dengan kerangka yang spesifik dan terbatas. Pada tahap ini operasional pengambilan keputusan telah dibedakan secara internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat). dimana pemerintah memisahkan kewenangan tertentu untuk didelegasikan kepada masyarakat. memberikan masukan apa yang dapat dan harus dilakukan untuk Organisasi mengambil keputusan untuk langkah aksi. dimana masyarakat memiliki maupun pengaruh yang signifikan terhadap terutama proses melalui pembuatan mekanisme pelaksanaan kebijakan. Limited Partnership. Pada jenjang ini pemerintah daerah dan masyarakat menjadi mitra sejajar.Delegated control. Secara umum dalam jenjang ini kontrol yang substansial didelegasikan kepada masyarakat daerah atau pembuatan kebijakan maupun pelaksanaannya. memonitor aksi yang dilakukan dan merencanakan langkah aksi selanjutnya. memperbaiki memberi keadaan pandangan saat ini. 9.Kajian Perencanaan Partisipatif tersebut melaksanakan hal-hal seperti mengajak masyarakat untuk bersatu. Disamping itu. dan kemudian berkembang pada pembagian kekuasaan antara pemerintah daerah atau unit-unit pemerintah daerah dengan unit-unit kelompok masyarakat dalam kerangka yang spesifik. negosiasi antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya. apa yang ini terjadi juga saat ini.

tapi berdasarkan bentuk-bentuk demokrasi dalam semua sisi kehidupan. Pada jenjang ini dipertimbangkan transformasi fundamental antara negara dan ekonomi pasar di satu sisi dan anggota masyarakat di sisi lain. Masyarakat memiliki kekuasaan dan kapasitas untuk mengatur sebuah program. Pada jenjang ini. namun institusi ini masih tergantung pada alokasi dana dari pemerintah daerah yang hanya berperan pada tataran strategis.Independent Control. 12.Kajian Perencanaan Partisipatif ditetapkan pemerintah daerah serta kerangka pendelegasian kontrol yang ditentukan secara terpusat. institusi yang diprakarsai masyarakat yang terlibat dalam menguasai (mengontrol) pembuatan kebijakan maupun implementasinya secara penuh mendapatkan otonomi. area dan institusi. Kekuataan tidak berada pada pasar. Kedudukan pemerintah dan masyarakat sederajat. BAPEDA KOTA DEPOK 39 . Pengendalian / Kontrol oleh Masyarakat Pada jenjang kesebelas dan keduabelas. 11. Hubungan dengan pemerintah daerah dilakukan melalui koordinasi dengan jaringan kerjasama. masyarakat telah memiliki kekuasaan untuk mengatur program. institusinya tidak bergantung pada pemerintah daerah atau badan lainnya. C. Pada jenjang ini peningkatan pengendalian / kontrol masyarakat telah mewujud dengan terbentuknya suatu institusi atau organisasi yang otonom secara legal untuk menguasai pembuatan maupun implementasi kebijakan terhadap suatu atau beberapa bidang tertentiu. baik legal maupun finansial dari pemerintah daerah. Hubungan pemerintah dengan masyarakat meningkat berdasarkan kepercayaan dan saling ketergantungan.Entrust Control.

Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Dengan mengadaptasi tipologi partisipasi Arnstein. diacu dalam Ahmad (2004). Partisipasi fungsional Partisipasi interaktif Mobilisasi sendiri dan berdikari Sumber : Pretty (1995) diacu dalam Thomsen (2004) BAPEDA KOTA DEPOK 40 .4. Masyarakat lokal tidak berkewajiban melanjutkan praktek yang diintrodusir ketika insentif berakhir.3. Warga berpartisipasi untuk mendapatkan makanan. Warga berpartisipasi dengan diberitahukan apa yang telah diputuskan atau yang telah dilaksanakan. Tabel 4. tapi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap bagaimana sumberdaya itu digunakan. Pretty (1995). dan kelompok menentukan bagaimana sumberdaya yang tersedia digunakan. Warga berpartisipasi melalui konsultasi atau dengan menjawab pertanyaan dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Metodologi pembelajaran dipakai untuk menemukenali perspektif yang beragam. Warga berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara independen (tanpa campur tangan dari institusi luar) untuk mengubah sistem. Mereka mengembangkan kontak dengan institusi luar untuk mengakses sumber daya dan bantuan teknis yang mereka butuhkan. Warga berpartisipasi dalam analisis bersama. khususnya untuk mengurangi biaya. Partisipasi dilihat oleh badan eksternal sebagai sebuah langkah untuk mencapai tujuan proyek.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Tipologi Partisipasi manipulatif Partisipasi pasif Partisipasi dengan konsultasi Partisipasi yang dibeli Karakteristik Setiap Tipe Partisipasi dilakukan hanya dengan berpura-pura. mengembangkan pendekatan yang berbeda berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana pada Tabel 4. Warga mungkin berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan sebelumnya berkaitan dengan proyek tersebut.3. uang tunai atau insentif material lainnya. mengembangkan rencana aksi bersama dan pembentukan atau penguatan kelompok atau institusi lokal. Informasi yang dibagi pun hanya untuk kalangan profesional.

implementasi. diacu dalam Ahmad (2004). dan informasi) pada masing-masing tahapan proyek (inisiasi proyek. perencanaan.3. dan cara pencapaian Untuk mendamaikan konflik.4. kepercayaan dan sikap-kebiasaan) Melihat hubungan antara berbagai permasalahan di setiap tahapan proses yang ada di berbagai pihak dan berbagi tanggung jawab untuk penyelesaian yang mungkin dicapai Mengajak para pihak untuk melihat sumberdaya yang mereka miliki dan menginisiasi kerjasama Mengajak para pihak untuk mengetahui tentang nilai-nilai dan kepentingan yang saling menguntungkan Memberikan kesempatan pada para pihak untuk membuat antisipasi permasalahan yang muncul di masa depan Bertanya kepada para pihak tentang apa yang mereka tahu tentang permasalahan mereka dan apa yang dapat mereka lakukan terhadap permasalahan tersebut Memberikan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat umum Tujuan Para pihak dapat menggali dan membuat pendekatan yang fleksibel dan kontekstual dengan perubahan yang cepat Identifikasi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam berbagai aktivitas / proyek Mengkoordinasi sumberdaya. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) Tahapan Pembelajaran Cara Para pihak dapat menentukan kerjasama yang akan dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang sudah dipelajari. konsultasi. memperkuat penerimaan dan legitimasi.4. Tahapan partisipasi yang dikembangkan oleh Wates (2000) berdasarkan tingkat keterlibatan masyarakat (kemandirian. Terdapat perubahan kelembagaan (pengetahuan.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tabel 5. kemitraan. dan keberlanjutan proyek). BAPEDA KOTA DEPOK 41 . belajar berdemokrasi Ko-Produksi Koordinasi Mediasi Antisipasi Konsultasi InformasiEdukasi Sumber : Mayer (1997). Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) dan Wates (2000) Tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Mayer (1997) dan Wates (2000) adalah salah satu instrumen untuk melihat tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah proyek atau proses perencanaan. tujuan. pemahaman bersama sampai membuat konsensus Menggali proyeksi kemungkinan perubahan di masa depan Membuat kebijakan atas dasar informasi relevan yang didapat di lapangan Memperkaya pemahaman kepada para pihak. mencapai kompromi.

Tahapan Partisipasi Wates (2000) INISIASI KEMANDIRIAN Kontrol ada pada komunitas KEMITRAAN Berbagi tugas dan ikut serta dalam pengambilan keputusan Komunitas melakukan inisiasi PERENCANAAN Komunitas merencanakan kegiatannya sendiri Otoritas dan komunitas secara bersama-sama merencanakan kegiatan Otoritas membuat perncanaan setelah berkiomunikasi dengan komunitas IMPLEMENTASI Komunitas mengimplementa sikan rencananya sendiri Otoritas dan komuniotas bersama-sama mengimplementa sikan perencanaan KEBERLANJUTAN Komunitas menjaga hasil-hasil pembangunan Otoritas dan komunitas saling menjaga hasil pembangunan Otoritas dan komunitas bersamasama melakukan inisiasi kegiatan KONSULTASI Otoritas Dilakukan menginisiasi dengan kegiatan pendekatan setelah dialog berdialog dengan komunitas Otoritas INFORMASI menginisiasi Komunikasi dilakukan searah kegiatan Sumber : Wates (2000) Otoritas mengimplementa sikan perencanaannya dengan berkonsultasi pada komunitas Otoritas membuat Otoritas mengimplementa perencanaan sikan sendiri perencanaannya sendiri Otoritas menjaga hasil pembangunan dengan bertanya kepada komunitas Otoritas menjaga hasil pembangunannya sendiri 2. BAPEDA KOTA DEPOK 42 .Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 6.4. Tipologi ini esensinya istilah sama yang dengan lain tipologi sebelumnya partisipasi namun yang menggunakan adalah tipologi dikemukakan oleh Parkers dan Panneli (2001).3.5. Tipologi Partisipasi Parkers and Panelli (2001).

2.6. dan sebagian besar menggunakan istilah yang digunakan oleh Burns. tiap jenjang partisipasi masyarakat itu membutuhkan metode dan strategi pendekatan yang berbeda. Ia sepenuhnya mengadopsi tipologi yang dikemukakan oleh Burns. Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas tapi tanggungjawab tetap berada di tangan pihak luar untuk mengarahkan proses tersebut.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 7. Hanya saja menurut Davidson (1998). Roda Partisipasi Davidson (1998) Sebenarnya Davidson tidak membuat tipologi partisipasi yang sama sekali baru. Davidson memodifikasi metode dan strategi pendekatan yang digunakan dalam tiap jenjang partisipasi yang dikemukakan oleh Burns. Tugas ditetapkan dengan insentif tapi pihak luar memutuskan agenda dan aksi apa yang harus dilakukan Pendapat masyarakat lokal dicari / diminta. Tipologi Partisipasi Parkers dan Pannelli (2001) Tipe partisipasi Co-option (pilihan bersama) Compliance (kerelaan) Consultation (konsultasi) Cooperation (kerjasama) Co-learning (belajar bersama) Keterlibatan Masyarakat lokal Perwakilan masyarakat dipilih untuk ikut dalam prosespartisipasi tapi tanpa input yang nyata atau tanpa pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan. tapi pihak luar yang menganalisis dan memutuskan pilihan kegiatan yang dianggap terbaik untuk dilakukan.3. Masyarakat lokal dan pihak luar berbagai pengetahuan mereka untuk menciptakan pemahaman baru dan mereka bekerja sama untuk membentuk rencana aksi dengan fasilitasi dari pihak luar Collective action (aksi bersama) Masyarakat lokal menyusun sendiri agenda mereka dan mengerahkan diri mereka sendiri untuk mencapainya tanpa inisiatif dari pihak luar dan dengan atau tanpa kehadiran fasilitator dari luar.Karena itu dalam artikelnya ”Engaging Community”.4. BAPEDA KOTA DEPOK 43 .

Roda Partisipasi oleh Davidson BAPEDA KOTA DEPOK 44 .Kajian Perencanaan Partisipatif Gambar 3.

Kajian Perencanaan Partisipatif

Tabel 8. Tipologi Roda Partisipasi Davidson No. Jenjang Partisipasi
1. Minimal Communication

Karakteristik
Badan pemerintah memutuskan seluruh hal / materi tanpa konsultasi (kecuali ketika aturan mengharuskan melakukan konsultasi), seperti melalui laporan dari komite. Menjelaskan kepada publik apa yang diinginkan oleh badan pemerintah, bukan tentang apa yang ingin diketahui oleh publik. Ini dilakukan dengan pendekatan yang menjangkau publik yang lebih luas Memberikan informasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kertas kerja untuk didiskusikan atau pameran untuk pengembangan rencana atau catatan panduan untuk pengembangan area konservasi Pemberian informasi dalam cara yang terbatas dengan beban diletakan pada masyarakat untuk memberikan respon seperti dalam bentuk poster atau leaflet. Memiliki pelayanan yang berorientasi pada publik sebagai pelanggan (customer), seperti memperkenalkan kebijakan yang peduli pada pelanggan atau menyediakan sebuah skema untuk pengaduanpengaduan atau komentar-komentar Badan pemerintah secara aktif mendiskusikan berbagaiisu dengan masyarakat berkaitan dengan apa yang dipikirkan tentang aksi yang akan dilakukan terlebih dahulu. Sebagai contoh, berhubungan dengan kelompok penyewa atau survey kepuasan publik. Mengundang keterlibatan masyarakat untuk mengajukan proposal / usulan yang akan menjadi bahan pertimbangan badan pemerintah. Memecahkan masalah melalui kemitraan dengan masyarakat seperti kemitraan formal Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat keputusannya sendiri tentang beberapa isu, seperti pengelolaan tempat permuan warga. Mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusan secara terbatas dalam wilayah atau proyek tertentu, seperti organisasi pengelolaan penyewa dan dewan sekolah. Badan pemerintah diharuskan unrtuk menyediakan pelayanan tapi memilih pelaksanannya dengan menfasilitasi kelompok masyarakat dan / atau badan lainnya untuk memberikan pelayanan atas nama pemerintah, seperti pemberian kontrak pelayanan perawatan oleh sektor volunter / relawan Memindahkan kekuasaan pembuatan keputusan yang substansial kepada masyarakat, seperti organisiasi pengelolaan penyewaan.

Contoh Teknik
Catatan publik

2.

Limited Information

Press release, newsletter, dan kampanye Leaflet

3.

High Quality Information

4. 5.

Limited Consultation Customer Care

Pertemuan publik dan survey Kartu komentar, wawancara perorangan.

6.

Genuine Consultation

7. 8.

Effective Advisory Body Partnership

9.

Limited Decentralized Decision-Making Delegated Control

10.

Panel warga, lingkaran diskusi di tingkat distrik, diskusi kelompok terarah, pengukuran pendapat, panelpengguna, dan kelompok stakeholder Perencanaan nyata (planning for real), Dewan juri warga, pencarian prioritas Pilihan bersama (co-option), Kelompok-kelompok stakeholder, permainan disain Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang

11.

Independent Control

12.

Enrusted Control

BAPEDA KOTA DEPOK

45

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.7.

Tipologi Partisipasi Brager & Specht (1973).

Brager & Specht mengembangkan tipologi partisipasi tidak dalam bentuk jenjang tapi dalam bentuk kontinum, dilihat dari sisi pengendalian masyarakat / partisipan dalam proses perencanaan. Pada tingkat pengendalian yang tinggi, masyarakat memiliki dalam pelaksanaan kegiatan, sedangkan pada tingkat pengendalian masyarakat yang rendah boleh dikatakan tidak afda partisipasi samasekali. Tabel 9 . Tangga Partisipasi Masyarakat Brager & Specht (1973).
Pengendalian Tinggi Aksi Partisipan Has control (memiliki kontrol) Contoh Organisiasi / badan pemerintah meminta masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan membuat seluruh keputusan penting terhadap tujuan-tujuan dan langkah-langkah mencapainya. Badan pemerintah berkeinginan untuk membantu masyarakat pada tiap tahap untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Badan pemerintah mengidentifikasi dan menyodorkan sebuah masalah kepada masyarakat. Pemerintah menetapkan batasan masalah dan meminta masyarakat untuk membuat serangkaian keputusan yang dapat ditambahkan dalam sebuah rencana sehingga rencana itu dapat diterima. Badan pemerintah menyodorkan rencana tentatif (sementara) dan terbuka untuk perubahan dari mereka yang dipengaruhi oleh rencana itu. Badan pemerintah mempresentasikan sebuah saran dan mengundang pertanyaan. Disiapkan untuk perubahan rencana hanya jika betul-betul dibutuhkan. Badan pemerintah mencoba untuk mempromosikan sebuah rencana dan berkonsultasi dengan masyarakat sekadar untuk mengembangkan dukungan agar rencana itu dapat diterima, sehingga pemenuhan administraif dapat diharapkan Badan pemerintah membuat rencana dan mengumumkannya. Masyarakat diajak mengikuti pertemuan / rapat untuk tujuan mendapatkan informasi. Masyarakat tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun.

Has delegated authority (memiliki kewenangan yang didelegasikan)

Plans jointly (merencanakan bersama) Advises (pemberian saran ) Is consulted (dikonsultasikan)

Receives information (menerima informasi) None (tidak ada)

Rendah

Sumber : Brager & Specht (1973), diacu dalam WHO (2002).

BAPEDA KOTA DEPOK

46

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.8. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992) diacu dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut kemauan Sahidu (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi adalah motif, tingkat harapan,

masyarakat

untuk

berpartisipasi

kebutuhan (needs), imbalan (rewards), dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki. Jika berpartisipasi bisa dianggap sebagai sebuah perilaku dari

masyarakat, dan partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan perilaku pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, maka setidaknya terdapat dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku masyarakat dan pemerintah ini. Yaitu, teori pilihan rasional (rational choices theory) theory). Menurut teori pilihan rasional, perilaku individu atau sebuah kelompok merupakan respon terhadap aturan (rules) dan insentif yang ada. Aturan ini dapat berupa aturan formal (peraturan perundang-undangan) maupun aturan non formal (misalnya, kesepakatan-kesepakatan warga), dapat dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Insentif pun beragam mulai dari yang kasat mata dan bersifat ekonomi maupun yang tidak kasat mata dan teori normatif (normative

BAPEDA KOTA DEPOK

47

Sedangkan menurut teori normatif. Jadi. 2. Logika ini merupakan hasil dari proses internalisasi yang memakan waktu yang relatif lama dalam diri seorang individu atau kelompok. dan informal) pada berbagai tingkatan. Sementara Abe (2001) mengidentifikasi setidaknya enam faktor penghambat masyarakat untuk berpartisipasi. yaitu: (1) keterbatasan BAPEDA KOTA DEPOK 48 . Jadi yang menjadi pertimbangan adalah logika kepatutan (logic of approriateness). (2) adanya reaksi yang menghambat proses pembangunan seperti keengganan masyarakat untuk ikut berperan serta seperti mengevaluasi proses pembangunan secara kritis dan terbuka (budaya diam). Ini merupakan hasil dari pendidikan (formal.3.Kajian Perencanaan Partisipatif dan bersifat non ekonomi. seorang berperilaku tertentu karena perilaku itu merupakan sesuatu yang memang patut dilakukan. dan kurang terbuka terhadap aspirasi masyarakat (budaya mencari selamat). faktor-faktor penghambat itu adalah: (1) belum dipahaminya konsep partisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan.5. Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Para ahli telah mengidentifikasi hal-hal yang menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. jika seseorang atau sebuah kelompok berperilaku partisipatif. maka perilaku itu merupakan pilihan rasional bagi yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap aturan main atau insentif yang ada. (3) adanya peraturan-peraturan pemerintah yang menghambat kemauan rakyat untuk berpartisipasi. Menurut Soetrisno (1995). nonformal. Partisipasi dipahami sebagai kemauan rakyat untuk mendukung program pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. atau melalui kampanye-kampanye publik melalui berbagai media. aparat bersikap otoriter.

(2) masyarakat atau tokoh terpercaya belum sanggup atau kurang berani mengajukan bentuk atau cara pemecahan masalah yang diterima (acceptable) yang secara teknis dan keuangan dapat dilaksanakan. Hambat-hambatan untuk berpartisipasi itu juga dapat dilihat dari sisi hambatan struktural. (5) rakyat telah kehilangan institusi lokal. (3) rakyat berada dalam represi ideologi dimana kesadaran politik rakyat diduga merupakan kesadaran hasil bentukan negara. yaitu: (1) masyarakat belum dapat menghayati atau merasakan masalah atau kepentingannya. (2) masyarakat berada dalam politik sentralistik – otoriter sehingga membudaya politik ”mengekor”. (4) karena sebab-sebab terdahulu.Kajian Perencanaan Partisipatif pengetahuan masyarakat sehingga secara teknis sulit berpartisipasi (misalnya pendidikan yang rendah dan kemampuan baca tulis). (6) langkanya kepercayaan diri. Hambatan struktural berasal dari lingkungan politik negara. (3) tujuan partisipasi masyarakat kurang jelas. maka di antara masyarakat belum BAPEDA KOTA DEPOK 49 . Hambatan administrasi adalah berupa prosedur perencanaan program dan proyek pembangunan yang tersentralisasi mengurangi keterlibatan lokal. sehingga rakyat tidak terbiasa jujur mengatakan apa adanya meskipun bertentangan dengan pemerintah. kurang respon terhadap suara rakyat. hambatan administrasi dan hambatan sosial (Okley. dimana ideologi yang dianut kurang mendukung keterbukaan. Sedangkan hambatan sosial adalah masih terdapatnya mental ketergantungan dimana pada umumnya terdapat dominasi dari kelompok elit lokal. takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. karena manfaat atau tujuan pembangunan masih kurang jelas bagi masyarakat. sebagai akibat dari tekanan politik elit. dan sistem politiknya tersentralisasi. Hamijoyo (1993) mengidentifikasi beberapa faktor pengambat partisipasi masyarakat yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. pasif. (4) aspirasi yang disampaikan rakyat adalah aspirasi pantulan (refleksi) aspirasi negara. 1991).

sehingga aspirasi dan potensi warga kurang tersalur secara efektif dan efisien. rasa senasib sepenanggungan. Pembagian peran dan tanggung jawab dianggap kurang adil dan terbuka. masyarakat tidak atau belum merasakan ada kegiatan yang cocok ataupun bermanfaat baginya. (5) di wilayahnya sendiri. (6) tidak ada semacam reference group yang merupakan fokus atau panutan bagi warga setempat. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan partisipasi masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan untuk menjamin adanya partisipasi tersebut. dan (c) faktor luar / eksternal. Uphoff dan Cernea (1988) mengidentifikasi beberapa cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan. (9) tidak ada organisasi yang cukup handal untuk mengelola partisipasi masyarakat. (3) di kebanyakan negara. (8) kebanyakan warga lokal belum melihat hasil pembangunan melalui partisipasi mereka. Jika ditelaah berbagai pendapat tersebut. (7) tidak ada peran yang cukup merata atau banyak peran terlalu diborong oleh orang-orang tertentu. (b) faktor internal pemerintah. sedangkan tahap-tahap lainnya seperti pengalihan modal untuk poemanfaatan mungkin akan lebih singkat. yaitu: (1) taraf partisipasi yang dikehendaki mesti diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak yang bersangkutan. atau pimpinan kurang menunjukan hasil yang sebenarnya ada. (2) harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran (toleransi) kenyataan bahwa beberapa tahap harus diberikan untuk seperti konsultasi perencanaan. dapat dilihat bahwa faktorfaktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dapat dalam bentuk: (a) faktor internal masyarakat. ”perlengkapan khusus” untuk memperkenalkan dan BAPEDA KOTA DEPOK 50 . tentang suatu rancangan mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama atau berlarut-larut.Kajian Perencanaan Partisipatif ada atau bahkan tidak ada rasa keterikatan batin.

kebutuhan dan tata nilai. atau dengan kata lain kemauan baik saja belum cukup. Dengan demikian. dan suatu mekanisme dimana seluruh stakeholders dapat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif mendukung partisipasi memang diperlukan. serta motivasi aspirasi. Salah satu alasan mengapa melakukan perencanaan partisipatif sebelum mendisian sebuah program / proyek adalah bahwa sesungguhnya banyak pihak (stakeholders) yang berkepentingan di dalamnya. Karena itu perlu dibangun pelaksanaan. monitoring dan evaluasi. Demikian halnya berkaitan dengan pembangunan skala kota (yang terdiri dari banyak program / proyek). karena sebagaimana dikemukakan oleh Warner (1997). sehingga partisipasi menjadi isu yang sangat penting dalam perencanaan dan implementasi suatu program / proyek. tingkat pengetahuan. yaitu: (1) hasilnya bersifat alamiah dan tidak merupakan rekayasa. (2) masyarakat yang merupakan target merasa lebih memiliki dan memberikan kontribusi secara signifikan guna kesuksesan kegiatan. BAPEDA KOTA DEPOK 51 .4. diacu dalam Abbas (2005). maka pihak yang seharusnya berkepentingan adalah stakeholders yang ada di kota itu. (4) mesti ada komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. Selanjutnya Bock (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga keuntungan jika menggunakan proses partisipatif dalam perencanaan dan disain suatu kegiatan. 2. dan dapat juga dalam konteks pembangunan skala kota. konsep stakeholders menjadi penting. para stakeholders berbeda dalam beberapa hal yakni keinginan. Perencanaan Partisipatif Pelaksanaan perencanaan partisipatif dapat dilakukan dalam pelaksanaan sebuah program atau proyek tertentu.

informasi siapa dan bagaimana” dan dapat dan tidak dalam proses perencanaan kebijakan implementasinya.Kajian Perencanaan Partisipatif dan (3) pemantauan kegiatan lebih mudah dilaksanakan dan lebih transparan. Mekanisme partisipasi harus diinstitusionalisasikan. Intermediasi. Informasi yang baik dan tepat sasaran seringkali menjadi pionir bagi keberhasilan suatu program. maka hak-hak dan proses partisipasi harus didefinisikan dalam pedoman teknis. regulasi. untuk pemerintah mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan dan isu. diacu dalam Abbas 2005): 1. kapan. Intermediasi berguna untuk menfasilitasi partisipasi sehingga di dalamnya membutuhkan individu atau organisiasi guna memainkan fungsi intermediasi. Tanpa informasi masyarakat tidak akan mengetahui berpartisipasi ”apa. Informasi. melakukan stakeholders konsultasi dan negosiasi. Peran informasi sangat esensial sebagai wahana untuk menfasilitasi partisipasi. Perencanaan partisipatif juga penting untuk dapat mengetahui kebutuhan dan opini stakeholder terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Informasi dapat berupa publikasi media. 2. 3. dimana dan merumuskan kebijakan pengembangan implementasinya. BAPEDA KOTA DEPOK 52 . Prinsip pokoknya agar stakeholders untuk adalah dibutuhkan koordinasi. Dalam kaitan itu terdapat empat elemen kunci menuju kesuksesan perencanaan partisipatif oleh stakeholders (Takeda 2001. Guna mencapainya. dan akses yang terbuka terhadap pertemuan maupun dokumen-dokumen. bagaimana. atau kebijakan dapat menfasilitasi di antara partisipasi kesediaan pemerintah. Institusionalisasi partisipasi (forum) stakeholders. Tanpa dimana.

Dalam hal ini berpartisipasi dalam aktivitas harus menyediakan dan pembangunan sangat krusial kaitannya dengan proses pembangunan pemerintah memberdayakan stakeholders (terutama masyarakat) agar mampu menempatkan perannya dalam membuat inisiatif. misalnya dengan mengkondisikan berinisiatif. • April: Sidang Pleno pertama dilaksanakan antara masyarakat dan para pejabat kantor walikota untuk menilai proyek-proyek tahun sebelumnya. • April sampai dengan Juni: Pertemuan Antara bagi delegasi untuk mempelajari prioritas kriteria teknis dan mendiskusikan Persiapan kebutuhan dan untuk setiap daerah. pertemuan informal lingkungan yang kondusif untuk masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 53 . 2003). Kota ini juga memiliki reputasi sebagai persatuan buruh serta berpengalaman memobilisasi rumah masyarakat madani progresif yang dipimpin oleh intelektual dan partisipasi masyarakat.3 juta jiwa.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Inisiatif. berlangsung degan jadual sebagai berikut: • Maret: pertemuan informal antar warga untuk menentukan kebutuhan. Brazil (World Bank. mendiskusikan usulan-usulan baru dan memilih delegasi untuk pertemuan putaran kedua. Dalam kegiatan ini tidak ada intervensi dari eksekutif (pejabat kantor walikota). Dengan penduduk 1. Sepanjang tahun dalam siklus anggaran partisipatif dari Porto Alegre telah mendapatkan perhatian untuk dicermati. Inisiatif stakeholders untuk tersebut. Siklus anggaran yang dimulai pada Maret – April. sebuah kota industri di Rio Grande do Sul. Salah satu model best practice tentang perencanaan dan penganggaran partisipatif dilakukan di Porto Alegre. kekayaan ekonominya sekitar US$ 7 miliar. Kota ini secara konsisten menikmati satu dari standar kehidupan yang sangat tinggi dan tuan pendapatan perkapita yang tinggi dibandingkan dengan kota-kota di Brazil pada umumnya.

(c) persentase penduduk yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah meningkat dari 46% menjadi 85%. Dengan pendekatan seperti itu. dua dari masing-masing tema ditambah dua lainnya dari legislatif. dan bekerja secara terpisah pada rencana investasi untuk masing-masing daerah. Juli: 44 Konselor membentuk The Council of Participatory Budgeting (COP) – dua dari masing-masing 16 daerah. alokasi sumber daya sebagaimana yang diusulkan pejabat kantor walikota. (b) jumlah penduduknya. September sampai dengan Desember: COP menindaklanjuti debat dengan anggota legislatif. (c) antara 1989 dan 1996 persentase rumah tangga dengan kemudahan mendapatkan pelayanan air bersih meningkat dari 80% menjadi 98%. • • Juni: pleno kedua dilaksanakan ketika para Konselor dipilih dan prioritas daerah sudah ditetapkan. (f) karena transparansi menghasilkan sikap patuh membayar BAPEDA KOTA DEPOK 54 . • • September: Anggaran baru disahkan oleh COP dan dikirim kepada legislatif untuk diadakan debat dan dikuasakan.Kajian Perencanaan Partisipatif dilaksanakan dengan masyarakat dan asosiaisi masyarakat untuk menetapkan peringkat kebutuhan. • Juli – September: legislatif menjumpai setidaknya selama dua jam per minggu untuk mendiskusikan kriteria. Partai Buruh yang mengusulkan penganggaran partisipatif telah memenangkan tiga kali berturut-turut dalam pemilihan daerah di Porto Alegre. kebutuhan masyarakat. Eksekutif mengumpulkan semua usulan berdasarkan dua kriteria yaitu: (a) seberapa jauh akses ke daerah yang harus dilayani. (b) sebuah jurnal bisnis yang berpengaruh telah menetapkan Porto Alegre sebagai masyarakat Brazil dengan ‘best quality of life” selama 4 tahun sejak 1989. aturan-aturan yang disepakati dan mengatur pertemuan selanjutnya. (d) jumlah anak-anak yang diterima di sekolah pemerintah menjadi dua kali lipat. maka hal-hal yang telah dicapai antara lain: (a) sejak 1989. (e) 30 km jalan diperbaiki setiap tahun. demikian seterusnya. melobi.

sementara kelompok masyarakat lainnya tidak dapat melakukannya.5. dan (g) lebih dari 80 kota di Brazil mengikuti model Porto Alegre untuk penganggaran partisipatif. Fukuyama (1995). Komponen-komponen kunci dari modal sosial yang diidentifikasi Putnam (1993). 2006). dan (c) kepercayaan (Rustiadi et. diacu dalam Rustiadi et. (b) norma-norma yang saling berinteraksi / timbal balik (norms of generalized reciprocity). Putnam (1993). yang kemudian akan menekan biaya transaksi antar mereka yang bekerja sama dan kemudian berarti menghemat penggunaan sumber daya. saling percaya akan menghemat waktu dan biaya.al (2006). Akibat adanya saling percaya. Konsep modal sosial telah dipopulerkan oleh Putnam (1993) walaupun sebelumnya terlebih dahulu dikembangkan oleh Coleman (1988). Artinya. Hubungan saling percaya (social trust) akan membangun kerjasama. mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Modal Sosial Konsep modal sosial antara lain sering digunakan untuk menjelaskan mengapa satu kelompok masyarakat dapat bekerjasama untuk mencapai kemaslahatan / kepentingan bersama.al.Kajian Perencanaan Partisipatif pajak. BAPEDA KOTA DEPOK 55 . serta oleh Knack dan Keefer (1997) adalah: (a) jaringan pertemuan / dialog masyarakat (network of civic engangement). 2. maka para pihak tidak membutuhkan upaya untuk memonitor atau mengawasi pihak lain agar berperilaku seperti yang diharapkan. maka penerimaan meningkat mendekati 50%.

norma dan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). Aksi kolektif dilaksanakan secara sukarela oleh partisipannya yang membedakannya dengan usaha-usaha kolektif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pekerja yang dibayar. Menurut Marshall (1998). yang diacu dalam Knox dan Gupta (2000).Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut Coleman (1988). Pada level yang paling minimal. Ketiga. Dari perspektif ini. Tentu saja individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperolah informasi sehingga dapat dikatakan modal sosialnya tinggi. Konsep modal sosial berkaitan erat dengan konsep aksi kolektif (collective action). Kedua. dan kepercayaan (trustworthiness). demikian pula sebaliknya. baik secara langsung atau atas nama organisasi. Norma dan sanksi efektif akan membangun dan menjaga perilaku yang diharapkan secara sosial sebagai upaya untuk mempertahankan level modal sosial yang terbentuk. individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi yang sebaliknya. aksi kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok. BAPEDA KOTA DEPOK 56 . dalam mencapai apa yang oleh anggota kelompok itu dianggap sebagai kepentingan bersama. Informasi sangatlah penting sebagai basis tindakan. bahwa informasi selalu terbatas. jaringan informasi (information channels). dan ini yang perlu mendapat perhatian. struktur kewajiban (obligation). yang diacu dalam Yustika (2006) menjelaskan tiga bentuk modal sosial: Pertama. ekspektasi (expectations). bentuk modal sosial tergantung pada dua elemen kunci yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. Dalam konteks ini.

Menurut Eggertsson dengan (1990).6. karena berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan akan senantiasa membutuhkan biaya. yang dianggap akan memberikan manfaat bagi kelompok. menggalang proses partisipasi. (b) biaya aksi kolektif (collective action cost) sehubungan dengan pembuatan dan penegakan kesepakatan. bukti bahwa manfaat Meskipun terdapat banyak manfaat non bersifat material juga mempengaruhi material yang diperoleh dari aksi-aksi kolektif. pembuat aturan (regulator). kegiatan (provider) menjadi katalisator. bahwa setiap aksi kolektif senantiasa melibatkan organisasi untuk mendisain aturan-aturan main dan melaksanakan aksiaksi yang disepakati. Keengganan berbagai pihak di pemerintahan untuk menerapkan proses partisipatif antara lain dilatarbelakangi oleh faktor biaya ini. penyelenggara pertemuan (convener) dan fasilitator (Crocker et al. Untuk membangun modal sosial secara efektif sehingga memunculkan aksi kolektif. dalam arti perannya harus bergeser dari yang semula sebagai pengontrol (controller). BAPEDA KOTA DEPOK 57 . namun terdapat banyak yang kemunculan berbagai aksi kolektif. (c) ukuran kelompok (group size). Konsep Biaya Transaksi Konsep biaya transaksi dipaparkan dalam kajian ini. diacu dalam Rustiadi 2. dan pelaksana 2006). maka instansi pemerintah harus berbagi otonomi / peran dengan masyarakat. (d) masalah koordinasi antar pelaku.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut dijelaskan. dan menegakkan aturan-aturan yang telah diterima. masalah-masalah individu penting dalam aksi kolektif adalah: (a) munculnya perilaku free ridding (penunggang gratis) sehubungan keinginan untuk memaksimumkan utilitasnya.

dan pemaksanaan pertukaran (Yustika. Namun konsep ini kemudian digunakan juga untuk menjadi ukuran dalam proses-proses membangun kesepakatan dalam rangka peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. North memberikan isustrasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara berkembang. Pandangan ekonomi neoklasik didasarkan pada anggapan bahwa pasar berjalan sempurna tanpa biaya apapun (costless) karena pembeli (consumers) dianggap memiliki informasi yang sempurna dan penjual fakta yang ada menunjukan (producers) saling berkompetisi. berpendapat bahwa biaya untuk mencari informasi merupakan kunci dari biaya transaksi. Karena itu biaya transaksi didefinikasi sebagai biaya-biaya untuk melakukan negosiasi. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga. sebaliknya. Semakin tinggi biaya transaksi untuk mewujudkan disain kelembagaan. 2006). tetangga). North (1990). Namun pada kenyataannya. diacu dalam Yustika (2006). Inilah yang menimbulkan biaya transaksi. Awalnya konsep biaya transaksi ini diterapkan dalam transaksi ekonomi (jual beli). sistem kontrak dan proses transaksi jual beli dapat sangat asimetris. biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya suatu disain kelembagaan. dimana informasi. maka kian tidak efisien kelembagaan yang didisain itu. BAPEDA KOTA DEPOK 58 . biaya transaksi biasanya rendah. pengukuran. sehingga menghasilkan biaya yang rendah. yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan yang pengukuran dan perlengkapanongkos untuk perlengkapan (atributes) dipertukarkan melindungi hak-hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan kesepakatan (enforcing agreements). kompetisi.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam ilmu ekonomi kelembagaan.

dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi. diacu dalam Nugroho 2006 adalah: (a) biaya koordinasi (coordinating costs). 2006). (b) biaya informasi (information costs). yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan BAPEDA KOTA DEPOK 59 . Semakin kompleks dan impersonal jaringan perdagangan. Sementara itu. modal. masyarakat harus berdagang / bertransaksi dengan orang lain di luar komunitas desanya. dan biaya finansial yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah keputusan. Ini mencakup berbagai biaya yang dibutuhkan untuk membangun aturan main dan sampai bagaimana aturan main itu diterima. dan pada jarak yang semakin jauh. Meskipun awalnya muncul untuk menelaah aktifivitas yang murni ekonomi.Kajian Perencanaan Partisipatif sehingga informasi tentang aktifitas-aktifitas dalam komunitas tersedia secara luas dan bebas. serta biaya yang dibutuhkan untuk resolusi konflik-konflik yang timbul akibat penerapan dari aturan main tersebut. Berkenaan dengan itu. material. struktur sosial (orang tua dan figur kepemimpinan lain yang dihormati) memberikan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan resolusi apabila ada konflik di antara anggota komunitas. usaha. Schroeder dan Waynne 1993. yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu. seperti penegakan kesepakatan-kesepakatan pada tingkat stakeholders. Komponen-komponen biaya transaksi menurut Ostrom. konsep biaya transaksi saat yang dibutuhkan ini telah digunakan membangun untuk dan menganalisis biaya untuk mengimplementasikan kesepakatan di sektor non ekonomi. definisi biaya transaksi yang dapat digunakan adalah sebagaimana yang dikemukakan Thomson dan Freudenberger (1997). Tetapi. dan penegakan kesepakatan di antara pelaku. pengawasan. agar kegiatan ekonomi terus berlanjut dan dalam jangkauan yang luas. maka semakin tinggi biaya transaksi yang muncul (Yustika. Mereka berpendapat bahwa biaya transaksi adalah berkaitan dengan waktu.

dan suimberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku. menjadi pembuat dan penentu keputusan. kekuasaan. Dengan demikian. di mana pun dan siapa pun dia. 2. Temuan ini menimbulkan pertanyaan partisipasi kunci warga bagaimana dan caranya agar peningkatan yang kualitas bisa penciptaan pemerintahan efektif berlangsung secara bersamaan? Menurut Cornwall & Gaventa (2000). dan korupsi.7. BAPEDA KOTA DEPOK 60 . yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi. termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan. rent seeking. dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan negara yang kuat.Kajian Perencanaan Partisipatif mengorganisasikan data. melalui perwakilan yang penuh dalam proses pemerintahan. Konsep tentang Warga (Citizen) Penelitian yang dilakukan di 47 negara-negara Commenwealth (bekas jajahan Inggris) menemukan bahwa warga negara menginginkan peran yang lebih besar dalam sistem kepemerintahan. partisipasi warga tidak terbatas pada partisipasi politik yang terbatas pada kampanye dan pemilihan umum.1.7. merencanakan dan melaksanakan program. umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free riding. tapi juga mencakup akses warga untuk mengidentifikasi prioritas lokal. yang diacu dalam Zakaria et al (2001). Forum Warga 2. formasi pemerintahan yang mengaitkan warga secara langsung menuntut sebuah pendekatan partisipasi warga yang memungkinkan warga. dan (c) biaya strategi (strategic costs). dengan mendudukan warga sebagai aktor kunci pembuat kebijakan.

ketimbang konsep warga sebagai kumpulan hak. perlu menjadi salah satu agenda utama. yang secara historis aksesnya telah diabaikan dalam realita pembuatan kebijakan publik. dengan partisipasi warga dimana warga masyarakat datang untuk membangun ruangnya sendiri dan melakukan perubahan menurut strateginya sendiri (Cornwall. Cornwall membedakan antara partisipasi yang dipaksakan dan partisipasi karena diundang (induced and invited participation) melalui kelompok pemanfaat. Akibatnya. Pemberian saluran dan strategi yang meningkatkan akses dari non-elit kepada pembuatan kebijakan dan implementasinya. Namun. misalnya. Selayaknya warga dapat terkait dengan pemerintahan lokal melalui wakil-wakilnya dan juga melalui sistem demokrasi partisipatif. Berkaitan dengan demokrasi partisipatif. BAPEDA KOTA DEPOK 61 . khususnya jika sektor masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif Dengan mengamati sejarah partisipasi sejak tahun 1970-an hingga saat ini. ingin dilibatkan (Fung & Wright. dan sebagai ruang beraktifitas. yang diacu dalam Zakaria et al 2001). Pemaknaan kewargaan sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ ini menjadi dasar dari sebuah pendekatan yang lebih inklusif dengan sejumlah hak yang dikembangkan oleh warga itu sendiri. rekonseptualisasi kewargaan akhirnya menempatkan warga sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ (as the exercise of agency). 2001. konsultasi. dan sejenisnya. aturan dan mekanisme untuk keterkaitan langsung ini perlu dimantapkan. Pemahaman baru partisipasi warga sebagai hak. proyek penelitian the Comenwealth Foundation menyimpulkan bahwa demokrasi perwakilan dan institusi-institusi negara dan pemerintahan yang dikenal dewasa ini tidak mampu lagi melayani warga negara atau memastikan pemerintahan yang baik (good governance) di masa depan. Lebih jauh Cornwall menyatakan. juga menuntut pemahaman baru tentang apa yang dimaksud dengan tata kelola kepemerintahan (governance). agar dapat mengatur tata hubungan yang baru yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan kerjasama untuk maju. 2000).

pengembangan kreatifitas dan dalam pemberikan masukan atau nasehat dalam forum tersebut. Mewajibkan aparat dewan ketetanggaan mengundang pemerintah untuk menghadiri forum ketetanggaan untuk melaporkan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan. pemberian insiatif. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan diadakannya forum warga berbasiskan ketetanggaan adalah: 1. Menurut Burns (1994). Mulai dari forum warga yang merupakan forum yang berbasiskan ketetanggaan sampai forum stakeholders yang keanggotaannya skala kota. Sebagai wahana diskusi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Untuk menyelaraskan keinginan dan pandangan masyarakat dengan program kegiatan. Membantu asosiasi / perkumpulan / lembaga ketetanggaan dalam menentukan skala prioritas pembangunan serta mengontrol kualitas pelayanan di wilayahnya. 4. forum warga yang berbasiskan ketetanggaan merupakan suatu forum diskusi antara masyarakat dalam pengambilan keputusan termasuk dalam hal penegakan hukum. 5. Menyelenggarakan kerangka kerja dalam memberikan kesempatan yang sama.7. 2. BAPEDA KOTA DEPOK 62 .2.Kajian Perencanaan Partisipatif warga negara dan petugas-petugas pemerintahan yang progresif harus mencari terobosan untuk menghubungkan kembali warga negara dengan negara (Zakaria et al 2001). 6. Menyusun program kegiatan dan alokasi dana operasional dewan ketetanggaan. Pengertian Forum Warga Forum warga dapat memiliki skala cakupan geografis yang beragam. 3. 2.

tetapi tidak mempunyai hak suara dalam forum. 1994). juga untuk meningkatkan menghargai secara mengurangi kegelisahan. Dari pandangan Burns tersebut. dan melaksanakan pembangunan sektoral. 3. ketidakpercayaan terhadap orang lain. Pelaksana kegiatan forum warga adalah aparat / pimpinan yang bekerja pada asosiasi / perkumpulan / lembaga forum ketetanggaan tersebut. dapat masyarakat lokal dalam kegiatan sosial. antara lain: kelompok muda di bawah 21 tahun etnis minoritas kelompok orang cacat baik secara fisik ataupun mental perkumpulan wanita kelompok orang yang telah pensiun. Pendekatan ini tidak hanya kapasitas masyarakat untuk untuk membangun kebiasaan perbedaan pendapat. nampak bahwa ia menekankan sistem perwakilan dimana wakil-wakil dari kelompok masyarakat tersebut dipilih melalui tiga metode antara lain melalui pemilihan. antara lain: 1. pengangkatan / penunjukan dari kelompok ataupun campuran dari keduanya.Kajian Perencanaan Partisipatif Tugas dari organisasi forum warga adalah membentuk prakondisi untuk menjamin bahwa bentuk dasar dari proses pemberdayaan dapat berlangsung. 2. Setiap kelompok masyarakat mempunyai perwakilan dalam forum. Burns mengusulkan beberapa hal yang dapat menjadi ketentuan dalam pelaksanaan forum komunikasi ketetanggaan tersebut. Anggota forum warga adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut. BAPEDA KOTA DEPOK 63 . Selanjutnya diharapkan forum warga tersebut dapat memberikan peran kepada demokrasi lokal dengan meningkatkan jaringan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk terlibat dalam politik daerah (Burns.

perencanaan. dan kesepakatan. 2. Media untuk demokratisasi memadukan perencanaan berbagai alur yaitu meningkatkan forum keterlibatan para pelaku untuk secara aktif mengambil keputusan. konsensus. Media meningkatkan keterlibatan para pelaku pembangunan dalam pengambilan keputusan. dimana forum merupakan instrumen untuk meningkatkan 4. dimana forum penanganan didorong untuk menghasilkan konsensus tentang isu-isu strategis dan menghasilkan kesepakatan (agreements) dan komitmen di antara pada pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan. dan yang bersifat vertikal (Popenas. dan memadukan berbagai alur perencanaan baik yang bersifat horisontal (Rencana Tata Ruang Wilayah. pengertian forum warga adalah rapat pertemuan untuk mengkonsultasikan dan mensikronkan program pembangunan daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif Forum warga juga merujuk pada forum perencanaan pembangunan skala kota. mempertemukan. Rencana Srategis). dimana penggunaan kata forum ditujukan untuk lebih mengedepankan suasana konsultatif dan dialog yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Propeda Propinsi) serta perencanaan yang bottom up (Repetada Kecamatan / Kelurahan). Renstra Lmbaga. Sebagai media komunikasi dan konsultasi. BAPEDA KOTA DEPOK 64 . dimana suasana forum perlu diusahakan sekondusif mungkin bagi terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku pembangunan. Lebih lanjut workshop itu juga menyepakati bahwa peranan dan fungsi forum koordinasi pembangunan di era desentralisasi di Indonesia antara lain: 1. 3. Berdasarkan hasil workshop ”Pedoman Penyelenggaraan Rakorbang 2002 dan Repetada 2003” yang dirangkum oleh Perform Project dan USAID. Media mengembangkan komitmen. menjembatani.

dimana hal tersebut sebaiknya dipercayakan kepada organisasi pembangunan tertentu. politikus. disingkat AI. bakat. Forum warga merupakan badan yang bertanggung jawab menetapkan dan mengawasi struktur dan mekanisme pelayanan masyarakat di wilayah masyarakat tersebut. adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai cerita sukses. terdapat beberapa fungsi forum warga menurut Labour Party Manifesto sebagaimana diacu dalam Burns (1994): 1. keahlian dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Media resolusi konflik kepentingan. dimana forum berfungsi sebagai wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antar pelaku pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. 2. kelompok kepentingan tertentu dan pebisnis lokal. 2. Pendekatan Appreciative Inquiry 2.1. untuk mendiskusikan permasalahan dan kegiatan lokal dan membangun jaringan antar pelaku secara berkelanjutan Manifesto ini mengingatkan bahwa keberadaan forum ini tidak baik apabila mengubah fokus diskusi menjadi pelaksana. Senada dengan itu. tokoh agama dan organisasi sosial yang dilaksanakan secara reguler.8. Forum warga merupakan pertemuan masyarakat yang terdiri dari aktivis masyarakat. Refleksi diri atas relasi sosial yang bermakna dan penciptaan impian bersama bersifat fundamental dan mendasar dalam pendekatan ini.8. Refleksi mempunyai peran penting dalam mewujudkan BAPEDA KOTA DEPOK 65 . Pengertian Appreciative Inquiry.

Efek dari Appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri. Charles Elliott. mampu Fasilitasi dilakukan dalam rangka melakukan pengorganisasian bersama didasarkan pandangan mengorganisasikan dirinya sendiri dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap komunitasnya. perancangan tindakan. Bila pendekatan lama berbasis pada motif untuk keluar dari masalah. Cina dan Afrika (Mc Oddel. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas. antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Appreciative inquiry merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khasanah pengembangan komunitas dan juga pengentasan kemiskinan di Indonesia.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi yang aktif komunitas pada dalam memberdayakan bahwa semua dirinya orang sendiri. dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif. 2001). sementara pendekatan Appreciative inquiry terfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. Sebagaimana efek yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka. 2002. Nepal. Penggerak program justru berasal dari jaringan lokal dan akan terus berperan sebagai fasilitator dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial di kemudian hari. penciptaan impian komunitas. Berbagai untuk pengalaman dalam penerapan kecil appreciative yang inquiry ini dalam menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif melakukan langkah-langkah bermakna mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan. BAPEDA KOTA DEPOK 66 .

Dream. melakukan memberdayakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat. pekerjaan dan komunitasnya. proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada. Destiny. Discovery.2. untuk dan belajar. 2004). Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. 2001 & der Haar dan Hosking. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan menciptakan Tahapan ini masyarakat proses untuk membangun dan anggota harapan. Langkah Dasar Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition. Definition. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. b. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat. Design. Dream. e. BAPEDA KOTA DEPOK 67 . Discovery. menyesuaikan setiap berimprovisasi. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. d. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang. c. a.8. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat.

kepercayaan. berbasiskelebihan. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain. daripada karena peran yang dibawakannya. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian. dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena: a.3. suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. 2003). Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak. Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Manusia memiliki rasa ingin tahu. b. d. e. D & Trosten-Bloom. Manusia menyampaikan berbagai nilai. A. Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil? Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. dan kearifannya lewat kisahkisah yang dituturkan. c. BAPEDA KOTA DEPOK 68 .8. serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney. Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan.

4. Tabel 10. Pusat Kajian Bina Swadaya (2007) memperkenalkan Model Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA). Perbedaan Pendekatan Problem Solving dengan KPA KPA • Menemukan apa yang baik dan positif dari rakyat • Merumuskan apa yang ingin diwujudkan rakyat ke depan • Merancang langkah-langkah untuk mewujudkan keinginan / harapan rakyat • Mewujudkan keinginan / harapan dengan mendampingi rakyat melaksanakan kegiatan yang sesuai. BAPEDA KOTA DEPOK 69 . Problem Solving • Menemukan masalah apa yang dihadapi rakyat • Menganalisis masalah untuk menemukan akar masalah • Merancang langkah-langkah untuk menjawab akar masalah • Melaksanakan kegiatan yang sesuai Sumber : Puska Bina Swadaya (2007). Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang telah dikenal selama ini yaitu pendekatan hadap masalah (problem posing) atau penyelesaian masalah (problem solving) dimana fokus perhatian dari pendampingan adalah membantu rakyat mengatasi masalah yang mereka hadapi.Kajian Perencanaan Partisipatif f. lingkungan. baik dalam organisasi. Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara pendekatan pemecahan masalah dengan PKA. 2. Upaya penyelesaian masalah ini diawali dengan identifikasi masalah yang diikuti dengan analisa dan perumusan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif. maupun komunitas.8. Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry. Ini merupakan proses mengkaji bersama yang dilandasi oleh sikap mental berpikir positif dan terbukti sangat efektif untuk melakukan perubahan dan transformasi secara positif.

Kelompok akan bekerja sesuai dengan tujuan dan arah yang telah ditetapkan Menemukan (discover). Pada tahap menemukan ini. yaitu sesuatu yang mengimajinasikan menggetarkan. Merancang (design). Masyarakat dapat mengubah situasi yang dihadapi dengan situasi yang lebih baik. dan mewujudkan (deliver). Kelompok menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan jangka pendek dan panjang. penerapan KPA dilakukan melalui tahapan mendefinisikan (define). Mengimpikan (dream). Mendefinisikan (define). Kelompok mendiskusikan apa yang ingin mereka wujudkan. Dalam tahap ini adalah penting untuk membangun pemahaman dan kesadaran terhadap pendekatan KPA bagi setiap anggota kelompok (kondisi pembelajaran yang diinginkan adalah: setiap orang aktif untuk belajar dan berkontribusi. Tahap ini dapat disebut suatu konstruksi dari bangun sosial yang akan diciptakan. keunggulan-keunggulan dan prestasi-prestasi kelompok. mengimpikan (dream). Tahap ini diawali dengan penentuan kelompok. merancang (design). BAPEDA KOTA DEPOK 70 . suatu proses idealisasi. Kebutuhan imajinasi dan daya kreasi sangat penting ditumbuhkan pada tahap ini.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam pemberdayaan masyarakat. Fokus tahap rancangan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. dll). keterbukaan). penerimaan. menemukan (discover). kepercayaan. kesamaan kepentingan. dan sumber – sumber kekuatan mereka. Tahap mendefinisikan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip. saling menghormati perbedaan. bagaimana kelompok didefinisikan (berdasarkan geografis. setiap orang diberi kesempatan untuk membagikan (sharing) pengalaman-pengalaman terbaik yang pernah dicapai dan kapan terjadi.

BAPEDA KOTA DEPOK 71 .Kajian Perencanaan Partisipatif Mewujudkan (deliver). mengembangkan hubunganhubungan baru. Kelompok memobilisasi sumberdaya. memperoleh ketrampilan-ketrampilan baru dan mengimplementasikan rencana aksi mereka. Pada tahap ini kelompok merealisiasikan rencana aksi.

Kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini sudah mengalami tekanan yang sangat berat akibat pertumbuhan penduduk dan persaingan untuk mendapatkan sumberdaya lahan. Prediksi kondisi demografi dimasa mendatang mengindikasikan adanya peningkatan intensitas terhadap permasalahan-permasalahan demografis tersebut. sumber daya air dan sumber daya lainnya. jumlah angkatan kerja. Kondisi ekonomi dan sumber daya alam Kota Depok saat ini sudah mengarah pada struktur ekonomi tertentu. yaitu struktur ekonomi modern yang bertumpu pada sektor tersier dan didukung sektor Sekunder. Kondisi demografi Kota Depok saat ini dihadapkan dengan jumlah permasalahan kepadatan penduduk. Visi Pembangunan Daerah Analisis kondisi umum daerah saat ini dan prediksi kondisi umum ke depan mengemukakan hal-hal berikut : 1. BAPEDA KOTA DEPOK 72 . pencari kerja dan sebagainya. 3.1. Dimasa depan diprediksikan bahwa tumpuan utama ekonomi Kota Depok akan bertumpu ke sektor tersier.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Diprediksikan dimasa depan tekanan terhadap lingkungan hidup akan semakin berat. sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok. 2.

Kajian Perencanaan Partisipatif 4. maka Visi Pembangunan Kota Depok 2006-2025 adalah : “ DEPOK KOTA NIAGA DAN JASA. Dimasa depan. walaupun masih kurang dalam segi rasio kuantitas per penduduk. Kondisi pemerintahan Kota Depok saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang berkualitas. kondisi sosial budaya yang ada akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. Sumber Daya Sosial. Di masa depan diprediksikan rasio jumlah sarana dan prasarana per penduduk di Kota Depok dan prasarana. YANG RELIGIUS DAN tahun akan semakin kecil akibat tidak sebandingnya pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan jumlah sarana BERWAWASAN LINGKUNGAN “ Visi pembangunan Kota Depok tahun 2006-2025 ini merupakan komitmen politis yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional seperti tertuang dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia dan tujuan pembangunan Provinsi Jawa Barat yang menetapkan Kota Depok sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 73 . 6. tantangan dan prediksi yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar berupa Sumber Daya Manusia. terutama rasio rumah sakit umum per penduduk. Berdasarkan kondisi diatas. Kondisi sarana dan prasarana Kota Depok saat ini cukup baik dalam segi kualitas. 5. Diprediksikan dimasa depan tuntutan terhadap kinerja pemerintahan akan semakin tinggi dengan kinerja pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan prima. Budaya dan Ekonomi yang dimiliki. Kondisi sosial budaya Kota Depok saat ini sudah mengarah pada budaya metropolis yang multi etnis dan dengan latarbelakang beragam tingkat intelektualitas.

b. Visi Kota Depok mengarahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Depok untuk fokus kepada bidang-bidang ekonomi yang menjadi tumpuan utama Kota Depok saat ini dan dimasa mendatang. yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman. kenyamanan melaksanakan keagamaan. Kota Berwawasan Lingkungan Terwujudnya Depok sebagai kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang. kegiatan sosial ekonomi serta dan upaya konservasi. kenyamanan dalam memperoleh pendidikan. kenyamanan mencari penghidupan. Visi Kota Depok mengandung makna sebagai berikut : a. Dari penjelasan diatas. dengan memperhatikan kenyamanan kegiatan lingkungan. kenyamanan menggunakan sarana dan prasarana umum.Kajian Perencanaan Partisipatif Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan salah satu kawasan andalan/kegiatan utama berupa Jasa dan Sumberdaya Manusia. BAPEDA KOTA DEPOK 74 . moral dan etika. yang didukung oleh basis pendidikan dan potensi lokal. peningkatan kenyamanan kota. terpelihara termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. dan perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. serta kemulian dalam akhlak. Sebagai gambaran kualitatif. c. Kota Niaga dan Jasa Terwujudnya Kota Depok sebagai kota yang menjamin akses dan mobilitas kegiatan niaga dan jasa yang kompetitif. Kota Religius Terwujudnya masyarakat Depok yang menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya.

Mengelola perekonomian daerah secara fokus. transparan.Kajian Perencanaan Partisipatif serta kenyamanan dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah. 4. 1. Membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing di lingkungan nasional dan internasional melalui peningkatan kualitas pendidikan. efisien dan efektif. mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan tertinggi. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan. bersih. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal seluruh potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkungan. dan bertanggung jawab. Kebijakan Umum Mengeloa perekonomian daerah secara fokus. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah diatas. 5. hukum dan sosial budaya.2 Misi Pembangunan Daerah. Pembangunan perekonomian diarahkan dalam rangka penguatan pereknomian lokal serta berorientasi dan berdaya saing regional dan BAPEDA KOTA DEPOK 75 . maka ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut : 1. dengan 2. 3.3. efisien dan efektif dengan mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan yang tinggi. 3. Menata sistem pemerintahan yang profesional. baik. demokratis. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang. 3.

penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar. Menangkap peluang sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN). 5. sekala pelayanan nasional BAPEDA KOTA DEPOK 76 . dan meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai. yaitu sebagai sabagai dengan pintu pusat gerbang jasa. 3. Dalam kaitan ini. Pemanfaatan sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara rasional. Peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi daerah. Perekonomian dikembnagkan dalam rangka perluasan kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapaianya penanggulangan kemiskinan 3. regulator dan katalisator pembangunan ekonomi yang efisien dan efektif terutama dalam pelayanan publik. pusat ke kawasan-kawasan simpul atau beberapa internasional.Kajian Perencanaan Partisipatif global. Peningkatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator. atau motor penggerak yang perlu mendapat fokus perhatian. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkugan. 4. yang didukung oleh sektor primer unggulan. sektor sekunder dan tersier merupakan unggulan 2. 1. transportasi propinsi. Memanfaatkan letak geografis yang berdekatan dengan ibukota negara sebagai pasar produk ekonomi yang terbuka luas. pengolahan. serta peluang berusaha/ekonomi sebagai limpahan kegiatan ekonomi ibukota. 2. Peningkatan investasi daerah dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik.

menghargai prestasi. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berharkat. pemberdayaan perempuan dan anak serta pemuda. berakhlak mulia. BAPEDA KOTA DEPOK 77 . pengendalian 2. disesuaikan dengan pembangunan sosial ekonomi masa depan dan perkembangan iptek sehingga bisa besaing dalam era global. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan spiritual. memupuk etos kerja. membina akhlak mulia. kesehatan dan agama yang bermutu. Membangun lingkungan sumberdaya nasional dan manusia yang berdaya melalui saing di internasional peningkatan kualitas pendidikan. 3. 4. hukum dan sosial budaya. khususnya sumberdaya air dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang guna mendapatkan kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat dalam mewujudkan produktivitas dan kemampuan daya saing. yaitu dengan menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan. jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. Pembangunan sumberdaya manusia yang berdaya saing diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pembangunan pendidikan. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagaman. 1.Kajian Perencanaan Partisipatif optimal dan bertanggungjawab.

Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendudkung kegiatan ekonomi. menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis. integrasi berbagai moda angkutan. unik. modern dan unggul. inovatif dan produktif yang berorientasi iptek sehingga mampu bersaing secara regional maupun global. permukiman. peningkatan ketertiban BAPEDA KOTA DEPOK 78 . peningkatan pelayanan angkutan umum.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Selain itu juga penting diiringi dengan pembangunan kesenian. Pembangunan sarana dan prasarana diarahkan untuk pembangunan sektor transportasi. sumber daya 2. dan pembentukan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas pergerakan lalu lintas jalan (melalui peningkatan manajemen transportasi. sosial dan budaya serta lingkungan. energi dan kelistrikan serta sarana/prasarana pemerintahan. Pengembangan budaya diarahkan untuk mewujudkan budaya kreatif. kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar. kesehatan. Untuk wilayah itu. 6. pembangunan jalan dan terminal dan lain-lain). perdagangan. air. pendidikan. Pembangunan hukum terutama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berkesadaran dan berbudaya hukum tinggi. 1. sehingga tercipta keseimbangan material dan emosional. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah. dikembangkan melalui pendekatan struktur pengembangan ruang. agar perlu tercapai dilakukan keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar wilayah. serta penyusunan produk hukum yang dinamis dengan memperhatikan pengaruh globalisasi.

bermutu. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. 3. bersih. dengan mengarahkan terwujudnya kawasan pendidikan terpadu dan layanan kesehatan tingkat nasional. Pembangunan sarana dan prasarana perdagangan diarahkan untuk mewujudkan 5. pelayanan perdagangan yang berkualitas yang memiliki jangkauan pelayanan sub kota dan wilayah kota. memadai. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan diarahkan untuk mendukung terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat. pemerataan pelayanan penerangan jalan umum. 7. Pengembangan sarana dan prasarana energi dan kelistrikan diarahkan untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diarahkan untuk memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang 4. drainase yang baik. pengembangan sistem 6. Penataan sistem pemerintahan kualitas daerah diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraaan administrasi BAPEDA KOTA DEPOK 79 . baik. layak. Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air ditunjukan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumberdaya sosial dan ekonomi sehingga dapat menjamin kebutuhan pokok hiidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Menata sistem pemerintahan yang profesional.Kajian Perencanaan Partisipatif dan keselamatan lalu lintas. transparan. demokratis dan bertanggungjawab. Selain itu. dan kegiatan ekonomi. 1. rencana pembangunan jalan dan terminal layanan lokal dan nasional. antara lain melalui partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman diarahkan untuk penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. 8.

BAPEDA KOTA DEPOK 80 . peningkatan akses dan sebaran informasi. 2. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan diarahkan untuk mengefektifkan fungsi-fungsi kelembagaan pemerintah. serta peningkatan transparansi. menata dan meningkatkan kapasitas sumberdaya aparatur agar lebih profesional dan berorentasi kepada pelayanan.Kajian Perencanaan Partisipatif pemerintahan. meningkatkan efektifitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pelayanan. 3. meningkatkan pelayanan dalam rangka keberdayaan masyarakat dalam pembangunan. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dasar/umum dan pelayanan unggulan. dan mengurangi serta mencegah penyalahgunaan kewenangan.

32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pertama. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah. Inisiatif tersebut kemudian menguat bersamaan dengan lahirnya UU No. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. nyata partisipatif bentuk penerapan prinsip demokrasi dalam alokasi sumberdaya publik. termasuk di dalamnya urusan perencanaan dan pengalokasian anggaran. Inisiatif reformasi kebijakan perencanaan dan penganggaran daerah muncul sejak ditetapkannya UU No.Kajian Perencanaan Partisipatif Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa perencanaan partisipatif menjadi wacana penting dan merupakan agenda reformasi di banyak daerah. Kedua. UU No. dan UU No. UU No. munculnya dukungan kerangka hukum yang memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur urusan daerahnya. 22/1999 dan UU No. 25/1999. Keseluruhan peraturan tersebut memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerapkan proses perencanaan dan penganggaran BAPEDA KOTA DEPOK 81 . secara paradigmatik diyakini bahwa perencanaan partisipatif adalah bentuk kongkret dari pelaksanaan desentralisasi administrasi pemerintahan Perencanaan dan dan prinsip-prinsip penganggaran tata pemerintahan adalah yang baik.

Dalam berbagai kegiatan pembangunan di berbagai tempat di Indonesia. memiliki kewajiban untuk menfasilitasi agar hak-hak warga negara itu bisa terpenuhi. Tabel 11. Disamping itu. terutama pihak pengelola negara. alokasi anggaran yang pro terhadap kepentingan orang miskin (pro-poor) dan responsif gender (gender budget responsiveness).1. amandemen UUD 1945 telah memasukan aspek hak asasi manusia (HAM). justru kerap kali dilupakan. Negara. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi BAPEDA KOTA DEPOK 82 . maka UUD 1945 hasil empat kali amandemen secara tegas merinci hak-hak warga negara yang menjadi kewajiban negara dalam hal ini pemerintah untuk menfasilitasi agar hak-hak itu bisa terpenuhi. dalam hal hal ini pemerintah. 4. aspek landasan konstitusional ini. Hak-Hak Warga Negara berdasarkan UUD 1945 Pasal Pasal 27 ayat 2 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28A Pasal 28B ayat 1 Pasal 28B ayat 2 Jenis hak Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. yang seharusnya menjadi landasan moral dan menginspirasi berbagai pihak. Dalam UUD 1945 inilah tersirat semangat para pendiri republik ini untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. Undang-Undang Dasar 1945 Jika menggunakan definisi pembangunan sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. dimana setiap warga negara memiliki sejumlah hak. tumbuh.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipatif. penyusunan anggaran berbasis kinerja.

berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. memiliki. berkumpul. kehormatan. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. menyimpan. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. memilih pendidikan dan pengajaran. 83 BAPEDA KOTA DEPOK . demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. mengolah. serta berhak kembali Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. memilih kewarganegaraan. bertempat tinggal. jaminan. seni dan budaya. sesuai dengan hati nuraninya. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. serta berhak untuk mencari. menyatakan pikiran dan sikap. memilih pekerjaan. keluarga. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. memperoleh. bangsa dan negaranya Setiap orang berhak atas pengakuan. martabat. perlindungan.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28C ayat 1 Pasal 28C ayat 2 Pasal 28D ayat 1 Pasal 28D ayat 2 Pasal 28D ayat 3 Pasal 28E ayat 1 Pasal 28E ayat 2 Pasal 28E ayat 3 Pasal 28F Pasal 28G ayat 1 Pasal 28G ayat 2 Pasal 28H ayat 1 Pasal 28H ayat 2 Pasal 28H ayat 3 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya. dan mengeluarkan pendapat.

Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. dan bernegara. Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. nilai-nilai agama. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. hak untuk tidak disiksa. Hak untuk hidup. terutama pemerintah. keamanan. berbangsa. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. hak beragama. penegakan. BAPEDA KOTA DEPOK 84 . diatur. Kewajiban Warga Negara Menurut UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28J ayat 1 Pasal 28J ayat 2 Pasal 30 ayat1 Pasal 31 ayat 2 Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. Tabel 12. hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum. pemajuan. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban Perlindungan.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28H ayat 4 Pasal 28I ayat 1 Pasal 28I ayat 2 Pasal 28I ayat 3 Pasal 28I ayat 4 Pasal 28I ayat 5 Pasal 30 ayat 1 Pasal 31 ayat 1 Pasal 34 ayat 1 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. hak untuk tidak diperbudak. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara.

Baik dari segi proses maupun output sebuah perencanaan. karena itulah aturan main dan kesepakatan kita dalam berbangsa dan bernegara. yang diatur dengan undang-undang. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. landasan konstitusional itu nampaknya harus selalu dijadikan acuan utama. 4. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Undang-Undang No.25 Tahun 2004 Berdasarkan Undang-Undang rencana yaitu: No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. dan Kewajiban Negara / Pemerintah Pasal 29 ayat 2 Pasal 31 ayat 3 Pasal 31 ayat 4 Pasal 31 ayat 5 Pasal 31 ayat 1 Pasal 31 ayat 2 Pasal 34 ayat 2 Pasal 34 ayat 3 Pasal 31 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilainilai budayanya. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Tugas. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhanpenyelenggaraan pendidikan nasional. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.2. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. setiap Kota / Kabupaten perlu memiliki dokumen BAPEDA KOTA DEPOK 85 . Tanggung Jawab.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 13. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.

4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJP dan diikuti • • • oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 11 ayat 1). • RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun.2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah • • • • RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. RPJP Daerah memuat visi. 4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. (Pasal 10 ayat 2). misi.2.1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 11 ayat 3). 5. BAPEDA KOTA DEPOK 86 . dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1) Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 12 ayat 2) RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13). 4. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif 1.

program prioritas Kepala Daerah. kebijakan umum. Satuan dan dan Kerja Perangkat program dalam Daerah. kewilayahan regulasi disertai dengan kerangka rencana-rencana • kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 2). dan arah kebijakan keuangan Daerah (Pasal 14 ayat 2). misi. dan program Kepala Daerah ke dalam strategi pembangunan Daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif • RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. kebijakan lintas umum. Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. • • Rancangan RPJM Daerah menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah. • • • • Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 16 ayat 4). dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. (Pasal 17 ayat 2) Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJM Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 18 ayat 2) RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3). (Pasal 16 ayat 1) Musrenbang Jangka Menengah diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJM diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 16 ayat 2). program Perangkat strategi Satuan pembangunan Kerja dan kerja Daerah. BAPEDA KOTA DEPOK 87 . • Kepala Bappeda menyusun rancangan RPJM Daerah dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD dan berpedoman pada RPJP Daerah (Pasal 15 ayat 4). memuat arah kebijakan keuangan Daerah. Daerah. misi. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RPJM Daerah sebagai penjabaran dari visi.

4. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. • • RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.2. memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. prioritas pembangunan Daerah.3.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.2. rencana kerja. Musrenbang penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret (Pasal 23 ayat 2).4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) • Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. • • • • • • • • • Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJM Daerah (Pasal 20 ayat 2) Kepala Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD (Pasal 21 ayat 4) Rancangan RKPD menjadi bahan bagi Musrenbang (Pasal 22 ayat 1). disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RKPD berdasarkan hasil Musrenbang (Pasal 24 ayat 2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25 ayat 2). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2). Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang penyusunan RKPD (Pasal 22 ayat 4). RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (Pasal 26 ayat 2). Rencana Kerja Tahunan Daerah. BAPEDA KOTA DEPOK 88 . dan pendanaannya.

Rencana Pembangunan Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) • • Renja-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. kebijakan. Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP. • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah (Pasal 15 ayat 3) • Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4) 4. nampak adanya mengikutsertakan untuk BAPEDA KOTA DEPOK 89 . RPJM Daerah. Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Pasal 27 ayat 2). tujuan. ini. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD (Pasal 21 ayat 3). dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1).2. strategi. memuat kebijakan. program.5. misi. Renstra-SKPD. Dari berbagai ketentuan dalam pasal-pasal UU keharusan bagi penyelenggara negara masyarakat dalam proses penyusunan rencana.Kajian Perencanaan Partisipatif • Renstra-SKPD memuat visi. program. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah • maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2). RKPD. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah.

Kajian Perencanaan Partisipatif Dari ketentuan Pasal 27 ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kepada setiap Daerah diberikan keleluasaan untuk mengatur sendiri tentang meskipun tata cara pengikutsertaan keharusan masyarakat tersebut. maka sejak tahun 2005 dikeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. Jika mengacu pada pada SEB tersebut. Daerah Bahkan.PPN/I/2005 – 050/166/SJ tanggal 20 Januari 2005 dan pada tahun 2007 diterbitkan Surat Edaran Bersama No: 0008/M. pelaksanaan Musrenbang 2007 berkaitan dengan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menyusun rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2008 sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 90 . Namun karena PP tersebut belum ada. untuk tidak ada bagi Pemerintah mengikutsertakan masyarakat dalam dan Renja-SKPD. maka hal itu dapat dilakukan. Pada tahun 2005 diterbitkan Surat Edaran Bersama kedua Menteri tersebut No: 0259/M. perlu diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan. 25 Tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. namun jika ada proses Musrenbang penyusunan kesepakatan di daerah untuk RKPD (Pasal 22 ayat 2).PPN/01/2007 – 050/264A/SJ tanggal 12 Januari 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007.3. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang pada tahun yang bersangkutan. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. dan dalam proses penyusunan Renstra-SKPD menciptakan proses yang lebih partisipatif. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Dan Menteri Dalam Negeri Sesuai dengan UU No. Tata Cara Penyusunan. 4.

Kajian Perencanaan Partisipatif landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2008. Forum Satuan kerja Perangkat Daerah (Forum SKPD) IV. Musrenbang Kecamatan pada bulan Pebruari dan Musrenbang Kota pada bulan Maret. Musrenbang Kota / Kabupaten V. Peserta G. Pengertian B. Sistematika Pedoman itu adalah: I. SEB itu mengatur waktu pelaksanaan Musrenbang Desa/kelurahan pada bulan Januari. II. Tugas Tim Penyelenggara I. Masukan D. Tujuan C. kecuali bagian V. Mekanisme 1. Tahap Pelaksanaan E. Narasumber H. Paska – Musrenbang Kabupaten / Kota. Keluaran F. Tahap Persiapan 2. Masing-masing bagian itu. Tugas Delegasi Desa / Kelurahan BAPEDA KOTA DEPOK 91 . Musrenbang Desa / Kelurahan Tahun 2007 Musrenbang Kecamatan III. berisi penjelasan yang rinci dengan muatan materi sebagai berikut: A.

Bupati / Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten / Kota. desa / kelurahan dalam pengelolaan pembangunan partisipatif sesuai potensi BAPEDA KOTA DEPOK 92 . Ketua DPRD Provinsi. bertanggung jawab.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.2/2435/Sj (2005) Surat Mendagri No: 414. Secara terbuka diakui bahwa: ”Pengelolaan pembangunan yang ada saat ini kurang bisa menjawab tuntutan pemberdayaan. Semangat dari Pedoman ini adalah ingin menjadikan paradigma pemberdayaan dalam pengelolaan pembangunan. Membangun kemitraan melalui jejaring kerja lintas sektor terkait. Pedoman ini hanya ditujukan untuk penguatan pengelolaan pembangunan partisipatif di desa / kelurahan dan kecamatan. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di yang desa / kelurahan. dan demokratis (good governance).” Untuk dapat melaksanakan pembangunan yang partisipatif. Pedoman ini juga mensyaratkan: ”Pada tataran pemerintah perlu ditambahkan perilaku kepemerintahan yang jujur. Secara spesifik. Sedangkan pada tataran kemasyarakatan dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang partisipasi warga masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama.” Tujuan dari Pedoman ini adalah: 1. Memberikan acuan terhadap para pemeran pembangunan dalam rangka melakukan fasilitasi proses pembangunan partisipatif. Hal ini dapat dilihat dari proses perencanaan. 2.2/2435/SJ tertanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Umum Pengelolaan pembangunan Partisipatif. terbuka.4. Surat Mendagri No: 414. pelaksanaan dan pengendalian belum melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. sehingga secara sistem belum mencerminkan pembangunan partisipatif yang berbasis masyarakat. Surat yang ditujukan kepada Gubernur. 3.

pelaksanaan. Pemberdayaan (empowerment). setiap dan perencanaan. yaitu pembangunan baik kepada proses dapat dipertanggungjawabkan 4. dan pengendalian pembangunan secara terbuka yang bisa diakses seluruh masyarakat. yaitu proses dan tahapan perencanaan. berbangsa dan bernegara. Akuntabilitas (accountability). BAPEDA KOTA DEPOK 93 . pelaksanaan. Keberlanjutan pemerintah tahapan maupun warga masyarakat. yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. (3) Metode Partisipasi dalam perencanaan Sosial Participatory Rural Appraisal (PRA). (4) Metoda Focus Group Discusion (Kelompok Diskusi Terarah). pelaksanaan. dan pengendalian secara benar. Prinsip-prinsip pembangunan partisipatif yang dimuat dalam Pedoman ini adalah: 1.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Penguatan partisipatif. (transparancy). yaitu proses perencanaan. dan (5) Metode ZOPP (Ziel Oriented Project Planning). dan pengendalian pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan. sikap. yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan 2. 3. Partisipasi (participatory). 5. dan ketrampilan dalam melakukan pembangunan Pedoman ini menyarankan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengelolaan pembangunan partisipatif yaitu: (1) Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD). kemampuan masyarakatdalam rangka meningkatkan pengetahuan. (sustainability). (2) Metode Partisipatif dalam Identifikasi Kebutuhan melalui Pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA). Keterbukaan dan kemandirian masyarakat setiap dalam dan kehidupan tahapan bermasyarakat.

Aspirasi.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Terwujudnya pengelolaan pembangunan yang partisipatif 7. Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktifitas kajian keadaan dusun/rukun dan warga desa/kelurahan. pelaksanaan. Terwujudnya peningkatan produktivitas ekonomi dalambentuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. hasil dan manfaat yang diharapkan dari pengelolaan pembangunan yang partisipatif adalah: 1. 4. Tumbuhnya kecamatan sebagai wilayah pengembangan. perencanaan. keberdayaan.perluasan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui pengembangan potensi lokal. 7. dan sejahtera. dan penggalian. yaitu pengelolaan kegiatan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi dan kebutuhannya. 5. manajemen penguatan dukungan lembaga kemasyarakatan di desa / kelurahan. 6. yaitu pelaksanaan dan pemanfaatan kegiatan sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia dan pengelolaan sesuai dengan perencanaan. pemanfaatan pelestarian program menuju masyarakatyang madani.pemilihan serta pengembangan tindakan untuk mengatasi masalah. Terwujudnya proses pembelajaran bagi masyarakatdan aparat pemerintah dalam pengambilan keputusan secara demokratis. Efisien dan Efektif. Terwujudnya peningkatan modal sosial. Terwujudnya penguatan lembaga kemasyarakatan di desa/kelurahan sehingga berperan secara aktif dalam pengelolaan pembangunan partisipatif. 4. 2.5. 3. Menurut Pedoman ini. Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 Sebelum diterbitkannya Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri BAPEDA KOTA DEPOK 94 .mandiri.

(b) Camat untuk FKPP tingkatKecamatan. Tujuan dari dibentuknya FKPP adalah untuk: (a) meningkatkan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. Survey Teknis Perencanaan. FKPP adalah media secara guna untuk menampung dengan Keputusan Walikota Depok Komunikasi aspirasi masyarakat para prioritas yang pelaku dilaksanakan pembangunan 6). FKPP Kecamatan dan FKPP Kota (Pasal 3). Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. Sedangkan fungsi FKPP adalah: (a) pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan para pelaku pembangunan. melibatkan merumuskan indikasi kegiatan pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran tertentu (Pasal 1 ayat FKPP dilaksanakan secara berjenjang dengan nama FKPP Kelurahan. dan (b) peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan (Pasal 8). Sedangkan penanggung jawab tahapan lainnya BAPEDA KOTA DEPOK 95 . yaitu: (a) Lurah untuk FKPP tingkat Kelurahan. mekanisme Perencanaan perencanaan partisipatif ditetapkan melalui tentang Pembangunan (FKPP). 2004 Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam Negeri pada tahun 2005 di yang tingkat Forum mengatur Kota tentang Teknis Penyelenggaraan No: 02 Tahun Musrenbang. Sedangkan pelaksanaan FKPP dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan meliputi: Sosialisasi Pembangunan. FKPP Kecamatan. (b) meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan. partisipatif. FKPP Kelurahan. serta FKPP Kota (Pasal 5 ayat 1). Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. Keputusan Walikota ini juga mengatur penanggung jawab untuk masingmasing tahapan. dan (c) Walikota untuk FKPP tingkat Kota (Pasal 9). Kompilasi dan Restrukturisasi Program. Pemantapan Perencanaan Partisipatif. (c) meningkatkan kualitas pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Pasal 7).

Pada Lampiran Surat Keputusan Walikota ini dipaparkan mekanisme dari setiap tahapan dan memuat: (1) tujuan. Survey Teknis Perencanaan. Pemantapan Perencanaan Partisipatif. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. dan (b) Kepala Unit Kerja Perangkat Darah untuk Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. (3) materi. serta (5) waktu dan tempat.Kajian Perencanaan Partisipatif yang mendukung FKPP adalah: (a) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Sosialisasi Pembangunan. (2) pihak yang terlibat. (4) mekanisme. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. BAPEDA KOTA DEPOK 96 .

(b) tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi untuk melihat pada level mana derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok.1. Tolok ukur peraturan perundangan dan juknis (petunjuk teknis).Kajian Perencanaan Partisipatif Tolok ukur yang akan digunakan untuk melakukan penilaian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok adalah: (a) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk melihat seberapa taat proses yang terjadi dikaitkan dengan aturan yang ada. Tolok ukur peraturan perundang-undangan termasuk terhadap petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan partisipatif yang ada di Kota Depok sesuai dengan aturan atau petunjuk teknis yang ada. serta Keputusan Walikota Depok No. Setidaknya terdapat tiga aturan yang ada. Kategori evaluasinya adalah sesuai dan belum sesuai. yaitu SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. 5. dan (c) tolok ukur pengembangan modal sosial untuk melihat sejauh mana pelaksanaan proses perencanaan partisipatif dikaitkan dengan pengembangan modal sosial. sebuah Surat Edaran Bersama (SEB). masing-masing sebuah UU yaitu UU No.25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. BAPEDA KOTA DEPOK 97 . 2 Tahun 2004 tentang FKPP.

Artinya jika suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 98 . seperti dalam buku ”Mewujudkan partisipasi. seorang mantan birokrat. Itu artinya. sehingga relatif mudah untuk dipahami. serta telah menggambarkan derajat partisipasi yang ada dalam proses perencanaan di lingkungan pemerintahan. ketika Presiden Amerika Lyndon Johnson memulai Program Kota Model pada tahun 1966. terutama oleh pemerintah.Kajian Perencanaan Partisipatif 5.2. Pilihan terhadap tipologi Arnstein ini adalah karena kesederhanaan konsepnya. Dalam banyak kasus. 5.3. 21 Teknik Partisipasi Masyarakat untuk Abad 21” terbitan The British Council. namun aspek kepercayaan (saling percaya) merupakan faktor yang paling menentukan dalam menentukan tinggi rendahnya modal sosial. Tolok ukur pengembangan modal sosial Tolok ukur kontribusi proses perencanaan terhadap pengembangan modal sosial merupakan langkah awal untuk memasukan aspek pengembangan modal sosial dalam setiap proses pembangunan. setiap aktivitas yang dilakukan. Arnstein adalah penasehat utama tentang partisipasi warga pada Departemen pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat. Meskipun aspek modal sosial ini memiliki banyak dimensi. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi Tolok ukur tipologi partisipasi adalah untuk mengetahui derajat partisipasi dari proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok telah berada pada jejang / tangga partisipassi yang mana. tipologi Arsntein ini yang digunakan. terdapat banyak kegiatan pemerintah yang didanai oleh anggaran publik yang justru mengikis modal sosial yang ada. Dalam berbagai kepustakaan terakhir tentang pengembangan partisipasi warga. dan menggunakan dana publik. perlu mempertimbangkan aspek memupuk modal sosial ini. Tipologi yang digunakan adalah tipologi partisipasi yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969).

Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. Penyusunan RPJM • Musrenbang Penyusunan RPJM yang melibatkan masyarakat (Pasal 16 ayat 2) Pemerintah menyiapkan draft RPJM dan dibahas dalam lokakarya stakeholders.4. UU No. Tinjauan Evaluatif Berdasarkan ketiga tolok ukur tersebut di atas. Pelaksanaan di Kota Depok Catatan Evaluatif Pemerintah menyiapkan draft RPJP dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. maka masyarakat kontribusi kegiatan itu pada pembentukan modal sosial bersifat negatif. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap perencana dan pelaksana kegiatan pembangunan di Kota Depok ke depan. Penyusunan RPJP • Musrenbang Penyusunan RPJP yang melibatkan masyarakat (Pasal 11 ayat 1) No.Kajian Perencanaan Partisipatif menambah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan sebalikya. Sedangkan jika kegiatan itu tidak mengubah sama sekali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. maka itu artinya kegiatan itu memberikan kontribusi positif pada pembentukan modal sosial. mengurangi kepercayaan Sebaliknya jika kegiatan itu malah kepada pemerintah. Tinjauan Evaluatif Proses Perencanaan di Kota Depok Peraturan Perundang-undangan / Kebijakan I. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 1. Derajat kontribusi positif dapat bervariasi dari rendah. maka evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel Tabel 14. • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah BAPEDA KOTA DEPOK 99 . sedang. maka kontribusi kegiatan itu terhadap pembentukan modal sosial bersifat netral. dan tinggi. perlu senantiasa mempertimbangkan aspek modal 5. 2. sosial ini.

Penyusunan Renstra-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Pemerintah kota menyiapkan RKPD dan dibahas oleh unsur-unsur pemerintah. Penyusunan Renja-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Masing-masing SKPD menyusun Renja-SKPD tanpa melibatkan masyarakat 6.Hasil evaluasi belum dipaparkan • Kesesuaian dengan Jukius : Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral Masukan dari Kecamatan . Renstra-SKPD. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri 1.Kajian Perencanaan Partisipatif 3.Hasil evaluasi kegiatan pembangunan kelurahan tahun sebelumnya • Masukan dari Kecamatan / Kota . Musrenbang Kelurahan • Masukan dari Kelurahan . RenjaSKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah. Renstra-SKPD. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah (Pasal 27 ayat 2). pengangguran .Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah kelurahan . Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Hasil evaluasi pemerintah kota dan kecamatan . RKPD. kemiskinan. RKPD.Daftar masalah dan usulan kegiatan prioritas kelurahan . Masing-masing SKPD telah memiliki Renstra. RPJM Daerah. Penyusunan RKPD • Musrenbang Penyusunan RKPD hanya melibatkan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2) 4. • Sesuai dengan aturan • Derajat Partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Belum sesuai dengan aturan Masukan dari kelurahan: . II. RPJM Daerah.Pemberian informasi dari kecamatan dan kota belum dilaksanakan 100 . penyusunannya tanpa keterlibatan masyarakat 5.Informasi dari pemerintah Kota tentang indikasi jumlah alokasi BAPEDA KOTA DEPOK Belum ada Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Daftar permasalahan kelurahan seperti kerawanan.Daftar prioritas dari RW umumnya belum ada .Daftar prioritas masalah RW dan kelompok-kelompok masyarakat .Belum ada dokumen Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) Kelurahan .

wakil kelompokpemuda. organisasi masyarakat. pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan. tokoh agama.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang • Mekanisme .Tahap Persiapan (penetapan tim fasilitator musrenbang. pemaparan lurah. pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Tahunan dari BAPEDA KOTA DEPOK Mekanisme: . kelompok tani. musyawarah di RW dan kelompok-kelompok masyarakat.2) dan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan melalui SKPD (form 1. pengusaha.Sesuai dengan Juknis Peserta: . pemisahan kegiatan yang diselesaikan di kelurahan dan yang akan menjadi tanggung jawab SKPD. komite sekolah dll.Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke musrenbang kecamatan. penetapan perwakilan ke musrenbang kecamatan.Pengumuman terbuka dan pendaftaran terbuka belum dilaksanakan Keluaran: .Musrenbang di RW dan kelompok masyarakat belum dilaksanakan . • Keluaran .1.Belum sepenuhnya mewakili kelompokkelompok yang ada di kelurahan Masukan dari kelurahan .5) yang berisi prioritas kegiatan pembangunan skala desa (form 1.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kelurahan (form 1.Kajian Perencanaan Partisipatif dana kelurahan . wakil kelompok perempuan. 2.3) .Tahap pelaksanaan (pemaparan camat.Dokumen RKPT dari masing-masing kelurahan • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis 101 . • Peserta Peserta adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok): ketua RT/RW. Musrenbang Kecamatan • Masukan dari Kelurahan . dan 1.

Kajian Perencanaan Partisipatif masing-masing kelurahan . LSM yang bekerja di kecamatan.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. • Keluaran . Verifikasi dari delegasi kelurahan. • Peserta Peserta Musrenbang Kecamatan BAPEDA KOTA DEPOK tersedia / tidka tersedia • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah Masukan dari Kec.Daftarkegiatan prioritas yang akan dilaksanakan melalui SKPD . kesepakatan kegiatan prioritas pembangunan kecamatan berdasarkan masing-masing SKPD.Belum semua perwakilan 102 .Prioritas kegiatan tahun mendatang dari SKPD tersedia / tidak tersedia Mekanisme: . Keluaran: Peserta: .Penjelasan nama dan jumlah Forum SKPD dan Forum Gabungan SKPD • Mekanisme . • Masukan dari Kecamatan / Kota .Daftar nama delegasi dari kelurahan dan wakilkelompok fungsional / organisasi sosial kemasyarakatan.Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota. penetapan perwakilan ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota. /Kota . pemaparan kepala cabang SKPD setempat atau pejabat SKPD Kota.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan yang akan dibiayai oleh anggaran kecamatan . pemaparan Tim Penyelenggara Musrenbang.Pengumuman terbuka 7 hari sebelumnya dan pendaftaran terbuka belum dilakukan.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang yang dirinci berdasarkan SKPD . koperasi. pengumuman terbuka dan pendaftaran) .

perguruan tinggi. Forum SKPD • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi. menyusun rekomendasi regulasi.Rancangan Renja – SKPD . • Keluaran .Kegiatan prioritas yang sudah BAPEDA KOTA DEPOK kelompok masyarakat di kecamatan hadir • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif . Peserta datang karena diundang.Rancangan Renja-SKPD . verifikasi kegiatan prioritas dari kecamatan.Pengumuman terbuka dan pendaftaran tidak dilakukan. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: . 3.Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Forum SKPD.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Tahap pelaksanaan (pemaparan oleh Kepala SKPD.Sesuai dengan Juknis 103 . penetapan perwakilan Forum SKPD ke Musrenbang Kota.Di beberapa SKPD dilaksanakan Masukan dari Kota Masukan dari kecamatan: . • Masukan dari Kota: .Sedang Masukan dari Provinsi dan kementerian Negara: .Kajian Perencanaan Partisipatif adalah perwakilan dari kelurahan dan dari kelompok-kelompok masyarakat yang beroperasi dalam skala kecamatan.Tersedia Mekanisme: . menetapkan kegiatan prioritas. LSM. . pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi.Rekomendasi regulasi belum banyak dieksplorasi Keluaran: .

dan plafon anggaran.Dilakukan penyederhanaan proses dibandingkan dengan Juknis. Musrenbang Kota • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Kajian Perencanaan Partisipatif dipilah berdasar sumber pendanaan. • Peserta Peserta adalah delegasi kecamatan dan dari kelompokkelompok masyarakat yang berkaitan dengan SKPD atau gabungan SKPD.Telah sesuai Juknis Mekanisme: .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) .Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme . pemaparan hasil kompilasi dan BAPEDA KOTA DEPOK Peserta: .Tahap pelaksanaan (pemaparan Rancangan RKPD. 4.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kota. . LSM. perguruan tinggi. Masukan dari Kecamatan: . pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .Pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran belum dilakukan. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: . 104 .Masukan hanya dari Provinsi Masukan dari Kota: • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah.Rancangan Renja – SKPD .Belum semua kelompok yang berkaitan dengan SKPD hadir Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: . • Masukan dari Kota: .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. .Berita Acara dan Daftar nama delegasi dari Forum SKPD ke musrenbang Kota.

2. juga dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili organisasi-organisasi skala kota.2 Tahun 2004 1.Sesuai dengan Juknis Peserta: Peserta bukan hanya delegasi Musrenbang Kecamatan dan Forum SKPD. Pemantapan Perencanaan partisipatif • Peserta: Pengurus LPM Kelurahan dan FKA LPM Kecamatan. pemutakhiran rancangan RKPD dan pembahasan kebijakan pendukung) • Keluaran . dan delegasi forum SKPD. pemerintah daerah dan anggota DPRD dari daerah pemilihan yang bersangkutan.aparatur perencana di setiap unit kerja perangkat daerah Pemantapan Perencanaan Partisipatif BAPEDA KOTA DEPOK 105 .Sesuai dengan aturan • Kesesuaian dengan Juknis: Sudah sesuai sesuai atuan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral III.Kesepakatan untuk pemutakhiran rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD. • Peserta Peserta adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD Keluaran: .Kajian Perencanaan Partisipatif verifikasi oleh SKPD. delegasi kecamatan. Sosialisasi Pembangunan • Materi: APBD Kota Depok tahun yang bersangkutan • Mekanisme Pemaparan oleh Kepala Bappeda dan dialog interaktif pihak eksekutif (Walikota / Wakil Walikota / Sekda) dengan peserta • Peserta Peserta adalah elemen masyarakat kecamatan dan kelurahan. Keputusan Walikota No. pembahasan kriteria untuk kegiatan prioritas. penetapan prioritas. Sosialisasi Pembangunan .

Penetapan mekanisme dan penilaian hasil oleh tim survey .Metode Penjaringan Aspirasi Masyarakat .Penilaian hasilsurvey 5.Teknik Penyusunan Anggaran Biaya . FKA LPM Kecamatan dan BAPEDA KOTA DEPOK Survey Teknis Perencanaan Kompilasi dan Restrukturisasi Program 106 .Teknik Penyusunan Dokumen Usulan Perencanaan • Mekanisme .Penetapan tim survey . Kompilasi dan Restrukturisasi Program • Pihak yang terlibat: Bappeda dan unit peranghkat kerja. simulasi dan praktekl penyusunan rencana 3.Pendamping dari perwakilan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan • Materi Hasil kesepakatan diskusi terfokus • Mekanisme .Metode: kuliah umum. tanya jawab. Survey Teknis Perencanaan • Pihak yang terlibat .Kajian Perencanaan Partisipatif • Fasilitator: Bappeda dan unsur perguruan tinggi / tenaga ahli / NGOs yang memiliki kompetensi dalam perencanaan partisipatif • Materi: .Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja .Konsep dan mekanisme perencanaan partisipatif .Pelaksanaan survey .Tim Survey Bappeda dan Unit Kerja Perangkat Daerah .Persiapan .

hal ini dapat dilihat dari sisi input materi dan input peserta yang terlibat dalam proses perencanaan.Tim kompilasi dan restrukturisasi program melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan mekanisme .Tim melakukan sinkronisasi program yang diusulkan tiap unit kerja sebagai hasildiskusi terfokus dan hasil survey • Materi Usulan program kegiatan unit kerja. Dari segi masukan (input). Workshop Isu Strategis Workshop Isu Strategis 5. Pembahasan 5. Dari segi peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang perencanaan.5. proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok secara garis besar telah sesuai dengan prosedur yang ada. • Mekanisme . Evaluasi Kesesuaian Proses Berdasarkan Aturan. IV Lain-lain 1.5.1. meskipun masih terdapat beberapa yang belum sesuai dengan aturan / kebijakan yang ada. evaluasi terhadap perencanaan yang dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. proses dan output. yaitu berkaitan dengan input. Sebagai sebuah proses.Kajian Perencanaan Partisipatif perwakilan diskusi stakeholders terfokus. Input materi adalah bahan-bahan tertulis / dokumen serta materi berupa bahan BAPEDA KOTA DEPOK 107 . hasil FKPP Kecamatan dan hasil diskusi terfokus yang telah disurvey.

Berkaitan dengan penyusunan RPJM Kelurahan. maka tidak ada insentif untuk mengadakannya. Di level kelurahan. sebagai basis untuk menyepakati rencana di level masing-masing. disediakan. Idealnya. Pemerintah Kota Depok tampaknya belum merasa urgen terutama dikaitkan belum diakuinya Kelurahan sebagai SKPD di masa lalu. SKPD. pada level Kecamatan. Karena ketiadaan dana untuk penggandaan materi. yang sangat menyolok adalah ketiadaan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. BAPEDA KOTA DEPOK 108 . alasan klasiknya adalah keterbatasan dana untuk penggandaan berbagai dokumen. seluruh dokumen yang dibutuhkan telah menjadi acuan bagi peserta musyawarah untuk membuat perencanaan diterima peserta beberapa hari sebelumnya. sehingga bisa dipelajari lebih awal. Kemudian. Yang kerap kali muncul adalah ketergesa-gesaan dalam persiapan pelaksanannya. Kemudian evaluasi terhadap hasil pembangunan tahun tidak dapat sebelumnya pada masing-masing tingkatan. Artinya. maka pengadaan RPJM atau Renstra Kelurahan harus menjadi prioritas di masa datang yang segera. proses yang ada malah memberikan kontribusi negatif bagi pengembangan modal sosial. Namun dengan adanya Peraturan yang mengakui Kelurahan sebagai SKPD. beberapa dokumen yang seharusnya dimiliki peserta Musyawarah juga umumnya tidak tersedia. Berkaitan dengan penyediaan dokumen-dokumen sebagai bahan bagi peserta dalam proses perencanaan. Padahalkondisi ini. dan Musrenbang Kota. secara tidak disadari. serta program-program yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan.Kajian Perencanaan Partisipatif pemaparan dari berbagai unit birokrasi yang perlu diterima oleh peserta. berpotensi menurunkan kepercayaan warga kepada pemerintah. Padahal evaluasi terhadap hasil pembangunan pada tahun selanjutnya.

Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam penyusunan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam proses perencanaan. maka setidaknya dibuka pemberian kesempatan untuk mengajukan usulan tertulis yang dikirim melalui faksimili atau melalui e-mail. Jika hal ini tidak dimungkinkan karena alasan klasik keterbatasan dana. yang aktif mungkin memiliki Acuan ini memang dapat ditafsirkan dan berminat mengikuti forum berbeda-beda tentang apakah apakah jika ada warga Depok yang peduli. salah satu cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan adalah adanya komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. Dalam Petunjuk Teknis yang ada. karena kemauan baik saja belum cukup. selambatlambatnya 7 hari sebelum pelaksanaan. agenda pembahasan. Sehubungan dengan itu diperlukan studi tentang biaya transaksi yang dibutuhkan untuk pencapaian kesepakatan / keputusan pada forum musyawarah perencanaan pada berbagai tingkatan. musyawarah perencanaan itu dapat ikut mendaftar? Pendaftaran secara ini penting untuk mengukur keseriusan warga untuk mengikuti kegiatan Musrenbang atau Forum SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diidentifikasi oleh Uphoff dan Cernea (1988). Kemudian Tim Penyelenggara membuka pendaftaran dan atau tentang kegiatan itu dan karena kepeduliannya datang mengundang para peserta. Dari sisi input peserta. gagasan. kepada Tim Penyelenggara Musrenbang atau Forum SKPD diharuskan mengumumkan secara terbuka jadual. BAPEDA KOTA DEPOK 109 . dan tempat penyelenggaraan acara. model yang dilaksanakan selama ini adalah peserta hadir dalam berbagai forum musyawarah perencanaan karena diundang. atau bahkan mungkin tidak ada peserta yang hadir di forum perencanaan karena mendapatkan informasi mendaftar. Dapat dikatakan sangat sedikit.

Dari segi proses (mekanisme). dianggap sebagai proses belajar (social learning) sekaligus membangun modal sosial di antara sesama warga. bahkan setengah hari di Musrenbang Kelurahan. Ini antara lain untuk menjamin kualitas pelaksanaan dari Musrenbang atau Forum SKPD. hanya dianggap kegiatan ritual semata tanpa makna yang berarti untuk kemajuan kotanya. Akhirnya. Disamping itu ada keengganan dari para peserta musyawarah untuk berdiskusi secara lebih rinci karena telah terbentuk persepsi bahwa belum tentu apa yang diusulkan dapat diakomodir dan dibiayai oleh dana APBD. Dari sisi keluaran (output).Kajian Perencanaan Partisipatif Disamping sehingga itu pemberitahuan selambat-lambatnya kepada 7 hari sebelum untuk diadakan Musrenbang atau memberikan Forum SKPD seharusnya dapat dilakukan. berbagai pihak kesempatan mempersiapkan materi yang akan dibawa ke forum tersebut. yang terjadi adalah masih kuatnya cara-cara lama dengan berlomba-lomba membuat semacam “shoping list” atau BAPEDA KOTA DEPOK 110 . mengkritisi usulan. dibanding dengan Musrenbang di tingkat Padahal Musrenbang dan dapat Kelurahan merupakan ruang terbesar bagi masyarakat yang terlibat selanjutnya. mengklarifikasi usulan serta berbagai aspek dari hal-hal yang direncanakan. Pelaksanaannya umumnya hanya sehari. menyampaikan usulan. Disamping itu belum utuhnya pemahaman terhadap peran sebagai warga negara yang memiliki hak untuk ikut menentukan tentang apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya memberikan kontribusi pada sikap apatisme masyarakat dalam proses-proses perencanaan. Hal ini tidak memberikan kesempatan yang luas kepada para peserta untuk mendiskusikan. kendala yang umum terjadi adalah kendala waktu. Musrenbang atau Forum SKPD. bagi sebagian warga.

Masyarakat kurang memahami proses musrenbang 4. politis. Waktu pelaksanaan musrenbang sangat singkat. dan lingkungan hidup. Disamping itu. sulit dihindari. tidak ada informasi balik segera kepada warga tentang ”nasib” dari usulan-usulan mereka. kota/kabupaten. Masyarakat kurang menguasai substansi dari program-program yang diusulkan oleh dinas-dinas. dan egoisme sektoral. merasa percuma datang musrenbang. Pemahaman partisipasi dari pemerintah daerah yang muncul dalam Musrenbang adalah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat kelurahan. kesan bahwa program masih didominasi untuk kepentingan pemerintah. Dari sisi output akhir pun (dalam bentuk APBD). terdapat beberapa fakta berkaitan dengan pelaksanaan proses perencanaan (Musrenbang dan Forum SKPD). sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk mengkritisi maupun mengklarifikasi usulannya.Kajian Perencanaan Partisipatif “daftar belanja” yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kebutuhan. prioritas. maka ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat tentang kemungkinan berperan serta dalam membuat keputusan dalam forum sejenis di masa datang. pengentasan kemiskinan. Menurut Kajian Bappenas. Masyarakat belum enggan karena Jadi usulannya belum saja tentu dapat ke mempengaruhi proses penganggaran. Usulan yang terdahulu pun direalisasikan. 5. yaitu (Rudiyanto dan Setiawan 2007): 1. dan provinsi BAPEDA KOTA DEPOK 111 . terbukti dengan kecilnya alokasi anggaran untuk sektor-sektor ekonomi kerakyatan. dan ketersediaan anggaran. 2. kecamatan. 3.

Istilah tokenisme ini bermakna bahwa langkah yang dilakukan merupakan kebijakan sekadarnya yang berupa upaya artifisial (dangkal. Namun tidak ada umpan balik dan mekanisme bagi warga untuk mengetahui apakah berbagai usulan itu benar-benar diakomodir dalam rancangan rencana untuk pembahasan selanjutnya atau hanya sekadar dicatat dalam notulen pertemuan. dan masukan dari masyarakat hanya sekadar didengar atau dicatat. Keengganan besar. perencanaan dengan jenjang derajat tokenisme ini memang memberikan hasil. derajat tokenisme. warga kemudian telah diajak lagi untuk mengikuti proses sejenis (Musrenbang dan Forum SKPD) untuk proses perencanaan tahun berikutnya. Dari segi proses. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. maka pendapat. Derajat tokenisme ini meliputi jenjang mulai dari dan informing placation (menginformasikan). Namun output yang dihasilkan dari proses seperti ini memiliki derajat legitimasi dan akseptabilitas yang relatif lebih rendah.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. dan dalam beberapa aspek ikut mengubah hal-hal kecil dari draft rencana yang ada. pandangan. proses Musrenbang dan Forum SKPD masih berkisar pada.2. Evaluasi Derajat Partisipasi Dari sisi derajat partisipasi. (penentraman). yaitu dengan mengakomodir hal-hal yang kecil dan tidak 112 . dibandingkan dengan jika prosesnya dilaksanakan secara kemitraan (partnership). Pada derajat tokenisme ini. Yang terjadi adalah. pemerintah untuk melibatkan masyarakat karena memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya yang relatif cukup 5. BAPEDA KOTA DEPOK consultation (konsultasi). strategis. tanpa mengetahui apakah berbagai usulan warga diakomodir atau tidak. menurut Tipologi Partisipasi Arnstein.5. usulan.

Kontribusi negatif. Malahan muncul kegiatan yang justru tidak diusulkan semakin menambah ketidakpercayaan itu. karena secara tidak disadari proses yang dilaksanakan justru mengurangi kepercayaan warga kepada pemerintah. Musrenbang kecamatan. Evaluasi Kontribusi terhadap Modal Sosial Sebagai akibat dari proses yang dipaparkan pada bagian terdahulu. maka proses kontribusi proses perencanaan Kota Depok melalui Musrenbang kelurahan. Namun faktor proses perencanaan memang bukan faktor tunggal yang memberikan kontribusi terhadap kondisi ini. 5. namun kesan bahwa pelaksanaan kegiatan itu hanya sekadar ritual tahunan merupakan indikator berkurangnya kepercayaan masyarakat. Di masa mendatang. Faktor lainnya adalah masih adanya dualisme antara proses perencanaan yang melibatkan BAPEDA KOTA DEPOK 113 . dan Musrenbang Kota. Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan itu biasanya muncul dalam kegiatan Sosialisasi Pembangunan ketika Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan APBD yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. Kontribusi proses perencanaan bersifat negatif.5. Seoptimal dan sekeras apa pun upaya pemerintah untuk melaksanakan proses perencanaan dengan melibatkan masyarakat. sehingga dokumen hasil musrenbang dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada sanksi khusus yang jelas ketika Pemerintah tidak mengakomodir hasilhasil musrenbang secara layak. Forum SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif Kondisi seperti itu terjadi karena musrenbang hanya dipandang sebagai kegiatan bermusyawarah belaka. netral dan positif tingkat rendah. perlu aturan yang jelas tentang hal ini. terhadap pengembangan modal sosial berkisar antara negatif. Belum lagi usulan-usulan dari kelurahan dan kecamatan yang ternyata tidak diakomodir sama sekali dalam APBD.3.

Kajian Perencanaan Partisipatif

masyarakat dengan proses penganggaran yang sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hal ini menyebabkan usulan yang disepakati dalam proses perencanaan banyak yang tereduksi di proses penganggaran. Usulan dari masyarakat terhenti hanya sampai pada penyusunan RKPD. Proses selanjutnya dilakukan oleh panitia anggaran eksekutif, panitia anggaran legislatif, dan masing-masing SKPD. Peran masyarakat tidak ada sama sekali dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. Hal ini yang menyebabkan usulan dari masyarakat hasil musrenbang bisa tidak diperhatikan. Di samping itu, proses penyusunan dan penetapan anggaran ini sudah diwarnai oleh kepentingan politik baik dari pihak DPRD maupun eksekutif (Rudiyanto dan Setiawan, 2007). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa tidak tuntasnya proses partisipasi

masyarakat sampai ke tingkat perencanaan anggaran menyebabkan masyarakat tidak mengetahui seberapa banyak program dalam APBD mengakomodasi hasil-hasil musrenbang. Dengan kata lain sering terjadi adanya inkonsistensi antara APBD yang ditetapkan pemerintah dengan hasil kesepakatan dalam musrenbang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi bahwa pendekatan partisipatif pada akhirnya hanya sekedar mobilisasi masyarakat saja untuk melegalkan proses perencanaan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu pembenahan dalam proses penyelenggaraan musrenbang termasuk ketersediaan informasi, waktu, keterwakilan pemangku kepentingan dalam pembahasan, kejelasan kriteria dalam penetapan hasil, serta pemanfaatan hasil musrenbang secara langsung dalam penetapan prioritas kebijakan, program dan kegiatan dalam Renja-SKPD dan RKA-SKPD, dan penetapan RAPBD. Kontribusi netral. Kontribusi proses perencanaan dapat bersifat netral

terhadap modal sosial karena proses yang ada tidak mengubah apa-apa
BAPEDA KOTA DEPOK

114

Kajian Perencanaan Partisipatif

dari sisi pengembangan modal sosial. Proses yang ada tidak menambah atau mengurangi posisi tingkat kepercayaan masyarakat yang ada terhadap pemerintah. Ini dapat terjadi karena bagi kelompok ini telah terbentuk persepsi bahwa mungkin seperti itulah proses perencanaan yang seharusnya ada. Proses itulah yang optimal bisa dijalankan, meskipun ada ketidakpuasan-ketidakpuasan. Kontribusi positif. Proses perencanaan dapat memberikan kontribusi positif pada modal sosial, jika proses itu memberikan hasil yang nyata berupa usulan-usulan yang disampaikan dalam proses perencanaan di musrenbang itu diterima, dan mereka bisa terlibat dalam kegiatankegiatan kontribusi yang mereka usulkan yang didanai tidak oleh cukup APBD. besar Namun dalam positif proses perencanaan

pengembangan modal sosial, karena kesan umum yang muncul adalah bahwa secara keseluruhan proses perencanaan belum separtisipatif yang mereka bayangkan. Artinya, kualitas partisipasi dari proses perencanaan yang ada di Kota Depok sesungguhnya masih dapat ditingkatkan.

BAPEDA KOTA DEPOK

115

Kajian Perencanaan Partisipatif

Berdasarkan tinjauan evaluatif yang dilakukan, maka penguatan proses perencanaan di Kota Depok ke depan setidaknya memenuhi tiga kriteria: (1) sesuai dengan aturan yang ada, (2) derajat partisipasinya mencapai level kemitraan (partnership) menurut Tipologi Arnstein, (3) memberikan kontribusi positif pada pengembangan modal sosial. Dengan menggunakan ketiga kriteria itu, maka setidaknya terdapat empatskenario untuk penguatan proses perencanaan partisipatif di Kota Depok, yaitu: (1) Skenario Status Quo, (2) Skenario Taat Aturan, (3) Skenario Kemitraan, dan (4) Skenario Kemitraan-Apresiatif.

6.1. Skenario I : Tanpa perubahan berarti (status quo)
Skenario pertama ini dapat disebut sebagai ”Skenario Status Quo”. Mempertahankan ”status quo” atau pendekatan ”tidak mengubah apa pun” berarti melaksanakan proses dan mekanisme perencanaan pembangunan seperti yang sudah dilakukan selama ini. Penerapan proses itu sendiri merupakan interpretasi Pemerintah Kota Depok, yakni Bapeda, terhadap Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang sebagaimana yang tertuang dalam lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.

BAPEDA KOTA DEPOK

116

6.2. peserta. terutama dari segi masukan. warga sehingga terhadap memunculkan output yang ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dihasilkan. baik antara sesama warga. dibutuhkan yaitu menghasilkan Rencana namun secara prosedur kepemerintahan proses yang ada itu telah menghasilkan output yang Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).Kajian Perencanaan Partisipatif Meskipun masih muncul kekecewaan terutama dari masyarakat (LPM dan LSM) mengenai proses perencanaan tersebut. (2) jika mengacu pada tipologi partisipasi yang ada. (5) 6. maka telah terbentuk persepsi bahwa memang seperti itulah proses perencanaan di sebuah kota berlangsung.1. sesama pemerintah. Kekurangan ”Skenario Status Quo” Kekurangan dari skenario status quo ini adalah: (1) jika mengacu pada Petunjuk Teknis yang ada masih terdapat beberapa hal yang masih harus dipenuhi. terutama berkaitan dengan penetapan prioritas. sebagai basis untuk penyusunan RAPBD. dan perbedaana antara warga dan pemerintah. proses yang ada saat ini masih berada pada derajat tokenisme. Kelebihan ”Skenario Status Quo” Kelebihan dari skenario ini adalah dapat mempertahankan hal-hal positif yang sudah terbentuk melalui proses yang sudah dilaksanakan dan kebutuhan biaya untuk pelaksanaannya telah diketahui. (2) karena sudah berlangsung beberapa tahun dengan proses yang relatif sama. (3) telah terbangun mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perbedaaan-perbedaaan. (4) membutuhkan biaya yang relatif tidak besar dan besarannya sudah diketahui. Hal-hal positif yang ada dari proses yang sudah dijalani selama ini antara lain: (1) berbagai pihak yang terlibat dalam proses itu (pemerintah dan warga) sudah memiliki pengalaman bersama tentang bagaimana proses perencanaan itu dijalankan.1. (3) dari perspektif pengembangan modal sosial. dan mekanisme.1. proses yang ada berpotensi untuk membangun ketidakpercayaan warga (distrust) BAPEDA KOTA DEPOK 117 .

6. Pada Tahap Persiapan Musrenbang Kelurahan perlu dilakukan musyawarah pada level masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) dan kelompok-kelompok masyarakat seperti: kelompok tani. c. gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing RW/Kelompok untuk diajukan ke Musrenbang Kelurahan. Wakil / delegasi RW / kelompok yang akan hadir di Musrenbang kelurahan.2. Keluaran dari musyawarah di tingkat RW / kelompok masyarakat ini adalah: a. tentang proses perencanaan level RW. agar semua pihak yang terlibat dapat semaksimal mungkin mengikuti proses perencanaan sesuai dengan aturan yang ada. proses perencanaan pembangunan yang ada diupayakan untuk semaksimal mungkin mengikuti peraturan perundangan dan petunjuk teknis yang ada. kelompok pemuda. Disamping itu. (5). Skenario II : Memenuhi aturan / pedoman yang ada Skenario kedua ini bisa disebut sebagai ”Skenario Taat Aturan / Pedoman Pusat”.Kajian Perencanaan Partisipatif kepada pemerintah. dan sepenuhnya bergantung pada sumber daya terutama dana dari luar yaitu APBD. dan di level kelurahan. daftar masalah dan kebutuhan b. terutama bagaimana bagi pemerintah kelurahan di dan masyarakat. Dengan skenario kedua ini. BAPEDA KOTA DEPOK 118 . Jika Petunjuk Teknis Musrenbang 2007 dijadikan acuan. maka pemerintah kota perlu membuat pedoman-pedoman dan pelatihan capacity building. dll). maka beberapa hal yang sehaharusnya ada adalah: 1. kelompok-kelompok masyarakat. (4) tidak terbangun kemandirian warga untuk membangun wilayahnya sendiri. kelompok perempuan.

Membuka pendaftaran bagi warga kelurahan yang peduli dan berkeinginan untuk hadir. Bahkan acuan untuk penyusunan RPJM Kelurahan pun belum tersedia. ketiga hal tersebut di atas sebagai contoh. Di Kota Depok. Kepada warga kelurahan belum diberikan kesempatan terbuka bagi siapa saja yang peduli yang ingin mengikuti Musrenbang.Kajian Perencanaan Partisipatif 2.1. (3) jika aparat perencana bahwa seluruh proses perencanaan telah mengikuti aturan yang ada. termasuk pelatihan bagi tenaga fasilitator untuk pelaksanaan musyawarah pada level ini. Kemudian belum tersedia dokumen RPJM Kelurahan pada masing-masing kelurahan. RW-RW dan kelompok-kelompok masyarakat belum secara rutin melakukan melakukan musyawarah sebagaimana yang diminta dalam Petunjuk Teknis itu.2. serta pedoman penyusunan RPJM Kelurahan dan pelatihan bagi tim penyusunnya. (2) akan terbentuk kepuasan secara psikologis terutama di pun yang terlewatkan. dari sekian banyak hal yang harus dilakukan. 6. Kelebihan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) semua dokumen untuk proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan proses perencanaan akan tersedia. tanpa ada satu pedoman-pedoman untuk musyawarah RW dan kelompok-kelompok BAPEDA KOTA DEPOK 119 . Perlu tersedia dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. belum terlaksana. 3. Jika skenario ini yang dipilih. maka Pemerintah Kota antara lain perlu menyediakan berbagai pedoman tertulis bagi warga RW dan kelompokkelompok masyarakat tentang bagaimana melakukan musyawarah. Alasan yang kerap dikemukakan adalah biaya yang terbatas dan ketidaktersediaan tempat yang memadai untuk menampung peserta yang banyak.

3.2. (4) pemberian kesempatan kepada pihak-pihak yang peduli dan ingin hadir sebagai peserta Musrenbang (Kelurahan. sehingga berpotensi menimbulkan kekecewaan dan berkontribusi negatif terhadap pengembangan modalsosial. sehingga secara tidak disadari memunculkan mentalitas ketergantungan. SKPD. dan berpotensi membangun modal sosial di level lokal. kelurahan. (5) akan terjadi proses belajar bersama (social learning) di tingkat lokal. (3) skenario ini masih menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). kegiatan munculnya warga kemungkinan besar tidak dapat diakomodir oleh anggaran yang tersedia. 6.2.Kajian Perencanaan Partisipatif masyarakat tersedia. (5) 6. Kekurangan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kekurangan dari skenario ini pedoman-pedoman. termasuk pengadaan pelatihan-pelatihan tim penyusunan ledakan RPJM harapan. maka itu akan memunculkan persepsi positif tentang keseriusan pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. Skenario III : Memenuhi Aturan + Kemitraan Skenario ketiga ini dapat disebut ”Skenario Kemitraan”. (4) derajat partisipasi yang ada tidak beranjak dari derajat tokenisme. dan Kota). Kecamatan. maka dokumen-dokumen perencanaan di berbagai level (Kelurahan. kemudian BAPEDA KOTA DEPOK 120 . Kecamatan dan Kota) dan Forum SKPD akan meningkatkan legitimasi dan akseptibilitas terhadap hasil dari proses perencanaan. Melalui skenario ini. (6). serta biaya dan kemungkinan diusulkan adalah: (1) akan ada biaya tambahan bagi di fasilitator level dimana musyawarah (2) yang untuk melaksanakan semua proses yang ada. draftnya dihasilkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat.

Kajian Perencanaan Partisipatif pembahasan draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam forum stakeholders pada setiap level. maka pemilihan dan penetapan individu yang akan duduk dalam Tim Penyusun draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam masing-masing forum stakeholders secara terbuka dan demokratis. 6.1. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Depok 3. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 121 . 6. Pada level kecamatan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan 3. 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok 2. Dokumen-dokumen rencana itu adalah: 1. Dengan demikian.3. Pada tiap SKPD difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD 4. Pada level kota difasilitasi pembentukan Forum Stakleholders Kota 2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan 7. Pada level kelurahan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Kelebihan ”Skenario Kemitraan” Kelebihan dari skenario kemitraan ini adalah: (1) keluaran dokumen akan lebih aspiratif dan mengakomodir kepentingan dan cara pandang pemerintah serta kepentingan dan cara pandang masyarakat. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) 4. 5. Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) Model kemitraan dalam penyusunan dokumen rencana ini mengharuskan adanya pelembagaan stakeholders (semacam forum warga) pada berbagai level.

pemecahan (3) pendekatan (problem yang dilakukan masih pendekatan tidak masalah solving approach). Skenario IV : Kemitraan + Pendekatan Apresiatif Skenario keempat bisa disebut ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. dan kota. BAPEDA KOTA DEPOK 122 . maka proses perencaan mengintegrasikan antara pendekatan kemitraan seperti pada Skenario III dan dipadukan dengan pendekatan apresiatif pada berbagai level. sehingga memunculkan kemandirian. (4) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. dan biaya lainnya untuk mencapai kesepakatan. (3) karena terjadi proses belajar bersama (social learning process).2. 6. mulai dari level RT/RW dan kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan. dan Kota. di Kecamatan. SKPD. (2) dibutuhkan forum-forum menfasilitasi pelembagaan stakehodlers pada berbagai level. mulai di level kelurahan. serta berbagai biaya transaksi untuk biaya informasi. maka akan terbangun modal sosial pada berbagai level pemerintahan.3. Melalui skenario ini. kecamatan.Kajian Perencanaan Partisipatif keluaran dokumen akan memiliki legitimasi dan akseptabilitas yang tinggi. Kekurangan ”Skenario Kemitraan” Kekurangan dari Skenario Kemitraan ini adalah: (1) akan ada resistensi dari pihak-pihak. terutama berbagai tambahan peran biaya yang setara untuk di pemerintahan (SKPD). karena harus dengan masyarakat. SKPD. inisiatif. dan energi kolektif warga secara optimal.4. biaya koordinasi. (4) akan terjadi pengembangan kapasitas dari sektor masyarakat. (5) 6.

dan Kota untuk melaksanakan pembangunan di masing-masing level. (2) membutuhkan tambahan biaya untuk melatih fasilitator yang mampu menfasilitasi pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. digunakan BAPEDA KOTA DEPOK 123 . (4). terutama dari pemerintahan. sehingga akan memunculkan insiatif-insiatif dan kemandirian pada masing-masing level. 6. Kecamatan.1. potensi. Kelurahan. yang perwujudan prakarsa-prakarsa lokal itu akan lebih menggunakan sumber daya. dan kearifan lokal. mulai dari RT/RW. SKPD.4. (3) ledakan harapan dapat dikurangi karena pendekatan apresiatif akan memunculkan prakarsa-prakarsa pada masing-masing level. (3) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. (2) dokumen perencanaan yang dihasilkan pada masing-masing level merupakan rencana aksi bersama.Kajian Perencanaan Partisipatif Untuk dapat terlaksana yang skenario dapat ini dibutuhkan oleh fasilitator berbagai yang level memahami pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. tarutama pada level lokal. yang harus berbagi peran secara setara dengan masyarakat. 6. Kelebihan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) akan terbangun energi positif kolektif pada berbagai level. serta membuat pedoman-pedoman yang dapat digunakan pada berbagai level.4. Kekurangan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kekurangan dari Skenario Kemitraan – Apresiatif adalah: (1) resistensi dari pihak-pihak tertentu.2. sebagai upaya untuk mewujudkan mimpi / harapan bersama. serta pedoman-pedoman perencanaan.

UU No.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat 2. Penyusunan Peraturan Daerah seperti itu membutuhkan kajian ilmiah dalam bentuk draft akademis dan setidaknya membutuhkan disain skenario. maka skenario yang direkomendasikan untuk muatan Perda adalah ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. Output dari fasilitasi ini adalah dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif BAPEDA KOTA DEPOK 124 . setiap Pemerintah Daerah perlu membuat Peraturan Daerah yang mengatur Tata Cara Pnyusunan RPJP Daerah. RKPD. Musrenbang RW dan Kelompok-Kelompok Masyarakat • Fasilitasi warga RW atau Kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. Renstra-SKPD. Adapun garis besar teknis pelaksanaan musrenbang berdasarkan skenario ini adalah mengikuti mekanisme yang ada sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musrenbang dengan modifikasi sebagai berikut : 7.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RPJM Daerah. Berdasarkan hasil kajian ini. dimana skenario itu diasumsikan akan memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari berbagai sudut.1. RenjaSKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah.

Musrenbang Kelurahan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Output: dokumen KPA Kelurahan.2. Fasilitasi yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif.Kajian Perencanaan Partisipatif (KPA) RW yang memuat: (1) identifikasi prestasi-prestasi yang pernah dicapai oleh RW / Kelompok masyarakat bersangkutan di masa lalu. (2) kondisi yang diinginkan bersama di masa datang sebagai wujud dari mimpi bersama. (4) • Fasilitasi untuk menghasilkan: (a) dokumen rencana yang akan dilaksanakan oleh komunitas RW atau kelompok masyarakat yang bersangkutan dalam mewujudkan kondisi ideal yang diimpikan bersama. BAPEDA KOTA DEPOK 125 . 7. (3) rancangan langkahlangkah dan rencana-rencana aksi yang akan dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan tersebut. • Penetapan tim penyusun draft RPJM Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga kelurahan yang dipilih dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Keanggotaan Forum Stakeholders Kelurahan dilakukan secara proaktif dan stelsel aktif. dan (b) rencana yang akan diusulkan (diteruskan) ke Musrenbang Kelurahan untuk mendukung terwujudnya kondisi ideal yang diimpikan bersama. Masukan untuk proses ini adalah dokumen KPA RW / Kelompok Masyarakat. Forum ini dapat juga dianggap sebagai forum Musyawarah Anggota menurut Perda Kota Depok No. RW dan LPM. 13 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan RT. Siapa pun warga kelurahan yang peduli terhadap pembangunan kelurahan yang • bersangkutan warga dapat bergabung dalam Forum tersebut dengan mendaftar.

Forum SKPD • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif (KPA) SKPD. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Kecamatan. BAPEDA KOTA DEPOK 126 . Keikutsertaan dalam Forum ini bersifat stelsel aktif. • Draft RKPK dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kelurahan 7. Warga kecamatan yang peduli terhadap pembangunan kecamatan dapat menjadi anggota Forum ini. Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders SKPD menggunakan pendekatan apresiatif. Keikutsertaan dalam Forum Stakeholders SKPD bersifat stelselaktif.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Draft RPJM Kelurahan di bahas dalam Forum Stakeholders Kelurahan Untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) dibentuk tim penyusun draft RKPK Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Masukan untuk adalah fasilitasi pendekatan kelurahan. Individu atau organisasi • yang peduli terhadap bidang tugas SKPD dapat mendaftar menjadi anggota Forum tersebut.3. 7. Musrenbang Kecamatan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan.4. • Fasilitasi kegiatan warga ini yang tergabung hasil dalam Forum Stakeholders apresiatif di Kecamatan menggunakan pendekatan apresiatif.

dan RKPD. Musrenbang Kota • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kota. RPJM. draftnya disiapkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah / SKPD dan unsur masyarakat. Individu unsur masyarakat yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders SKPD. BAPEDA KOTA DEPOK 127 .Kajian Perencanaan Partisipatif • Dalam penyusunan Renstra-SKPD dan Renja-SKPD. dan RKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kota Depok. Keanggotaan dalam Forum ini bersifat terbuka dan stelsel aktif. • Draft-draft RPJP. Individu dan organisasi yang peduli pada Pembangunan Kota Depok dapat mendaftar menjadi anggota Forum. Individu dari unsur masyarakat dipilih secara terbuka dan demokratis dalam Forum Stakeholders Kota. • Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kota menggunakan pendekatan apresiatif.5. • Draft Renstra-SKPD dan draft Renja-SKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders SKPD. RPJM. draftnya disusun oleh Tim yang beranggotakan unsur masyarakat dan unsur pemerintah Kota Depok. Masukan untuk kegiatan ini adalah dokumen KPA Kecamatan dan SKPD. Output dari kegiatan ini adalah: dokumen KPA Kota Depok. 7. • Dalam penyusunan RPJP.

(2) tolok ukur tipologi partisipasi untuk menilai derajat partisipasi yang tercipta dalam proses perencanaan perencanaan pembangunan di Kota Depok. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Kesimpulan • Proses perencanaan pembangunan di Kota Depok adalah untuk menghasilkan dokumen rencana yang menurut UU No.1. dan (3) tolok ukur kontribusi pada pengembangan modal sosial untuk menilai kontribusi proses perencanaan pembangunan di Kota Depok terhadap BAPEDA KOTA DEPOK 128 . 4.Kajian Perencanaan Partisipatif 8. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). 5. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari dari: 1. • Evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilakukan melalui 3 tolok ukur: (1) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk menilai seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan dengan aturan / pedoman yang ada. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2.

jika mengacu pada tipologi yang yang dikemukakan di Kota oleh Sherry barulah Arnstein pada (1969). • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman. dan SK Walikota Depok Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 tentang Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan (FKPP). Taraf partisipasi ini ini berpotensi menimbulkan kekecewaan warga dan berpotensi juga menurunkan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah. taraf proses perencanaan Depok konsultasi (consultation).Kajian Perencanaan Partisipatif pengembangan modal sosial. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman dari pusat. 2. pengoptimalan masukan (input) baik berupa input materi maupun input peserta pada semua tingkatan forum musrenbang dan forum SKPD dengan ikhtiar untuk semaksimal mungkin mengikuti aturan / pedoman yang ada. BAPEDA KOTA DEPOK 129 . • Berdasarkan tolok ukur tipologi partisipasi. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. pengoptimalan mekanisme pelaksanaan forum musrenbang dan forum SKPD dengan semaksimal mungkin mengikuti mekanisme yang diatur dalam aturan / pedoman yang ada. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. maka pelaksanaan proses perencanaan di Kota Depok secara umum telah sesuai dengan aturan yang ada. terutama dalammembangun kepercayaan (trust) warga kepada pemerintah. yaitu UU No. tapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah. Pada taraf ini kepada warga memang telah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan. hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 1.

maupun output (keluaran). dan pembahasan draftnya dilaksanakan dalam forum stakeholders. baik dari segi input (masukan). Dalam skenario ini proses perencanaan dengan dilakukan dengan mengikuti semaksimal mungkin peraturan perundangan dan pedoman dari Pusat. mekanisme. 3. • Terdapat empat skenario penguatan proses perencanaan di Kota Depok. (define). yaitu: 1. 4. dan kontribusi positif tingkat rendah. Dengan demikian dkumen rencana merupakan hasil kesepakatan stakeholders. Skenario ini sama dengan Skenario Kemitraan. netral. dan mewujudkan (deliver). Skenario Kemitraan-Apresiatif. KPA dilakukan menemukan Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan melalui tahapan mendefinisikan (dream). namun diintegrasikan dengan pendekatan apresiatif. setiap draft dokumen rencana disiapkan oleh tim penyusun draft yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur warga. maka disain proses perencanaan yang dilaksakanan belum secara sadar mempertimbangkan aspek ini. BAPEDA KOTA DEPOK 130 . Skenario Kemitraan adalah skenario dimana derajat partisipasi yang diinginkan adalah derajat kemitraan (partnership). Dalam skenario ini.Kajian Perencanaan Partisipatif • Berdasarkan tolok ukur kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial. merancang mengimpikan (discover). 2. (design). Skenario Status Quo yaitu skenario dimana proses perencanaan dilakukan tanpa perubahan yang berarti atau sama seperti tahuntahun sebelumnya. Berbagai tahapan proses perencanaan pembangunan di Kota Depok memberikan kontribusi yang berkisar dari negatif (menurunkan tingkat kepercayaan). Skenario Taat Aturan Pusat. mengikuti pendekatan Appreciative Inquiry yang dikemukakan oleh David Cooperrider.

Kajian Perencanaan Partisipatif 8. RenstraSKPD. RKPD. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (Pasal 27 ayat 2). Saran • Berdasarkan Undang-Undang No. RPJM Daerah. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang. • Substansi dan semangat Peraturan Daerah tersebut hendaknya dapat mengakomodir Skenario Kemitraan – Apresiatif dari hasil kajian ini.2. BAPEDA KOTA DEPOK 131 . Pemerintah Kota Depok sebaiknya dapat segera menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.

A. 2004. Hogget. Jakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. The Politics of Decentralisation: Revitalising Local Democracy. JAIP. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Alih bahasa Han Munandar. Juli 1969. 2003. Saefulhakim S. Rustiadi E. Buku 1. D. Korten DC. 4. Relevansi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam Memperkuat Perencanaan Partisipatif. 1969. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). Jakarta: yayasan Obor Indonesia. Thomsen. Hasibuan FD. Burns D. R. Panuju DR. Diktat Perencanaan Pengembangan Wilayah. Tesis. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Edisi Januari 2006. London: Mac Millan Press. Community-Based Research. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bpogor. Tesis. 2000. 2006. A dan Setiawan. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. 1994. Tadaro M P. Jenjang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan pembangunan Melalui Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan di Kota Depok. Tesis. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. 2003. Pusat Kajian Bina Swadaya 2007.Abbas. Submitted ini fulfilment of requirements . No. A Ladder of Citizen Participation. 2007. Lugiarti E. Arnstein S. 2004. Bogor:Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 2005. Hambleton. An Opportunity for Collaboration and Social Change.R. Vol 35. Sjahrir. Rudiyanto. Ahmad W T. 1988. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalamproses Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat di Komunitas Desa Cijayanti. Jakarta: Penerbit Erlangga. Jakarta: Pusat kajian Bina Swadaya. Pembangunan yang Diprakarsai Masyarakat (Community Driven Development). Thesis. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Universitas Indonesia. Bogor: Sekolah pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Yustika AE. Faculty of Environmental Sciences. 2006. Brighton: Logo Link.Teori & Strategi. World Bank. 2001. Approach and Techniques. Australian School ofEnvironmental Studies. 2003. Jakarta: The World Bank Office. Seputar Partisipasi Warga dan Pemerintahan Lokal. . RY et al. Ekonomi Kelembagaan. Zakaria. Dalam Annotated Bibliography on Citizen Participation and Local Governance. Community Participation in Local Health and Sustainable Development. WHO Regional Offfice for Europe.of the degree of Doctor of Philosophy. Definisi. Griffith University. Kota-Kota dalam Transisi: Tinjauan Sektor Perkotaanm Pada Era Desentralisasi di Indonesia. Malang: Bayumedia Publishing. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful