BADAN PERENCANAAN DAERAH KOTA DEPOK Tahun 2007

Kajian Perencanaan Partisipatif

Perbagai peluang pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Depok, menghendaki inovasi dan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan gagasan-gagasan kreatif. Bagaimana pun berbagai perubahan dimulai dari gagasan / ide. Karena itu, gagasan tentang partisipasi warga untuk menciptakan kondisi kota yang lebih baik, seperti yang diprakarsai oleh “Imagine Chicago”, atau gagasan Charles Landry (2002) tentang Kota Kreatif (The Creative City), mungkin harus mulai didiskusikan secara meluas dan pengembangan gagasannya dikelola secara lebih serius. Konsep inti dibalik gagasan-gagasan itu adalah bahwa masa depan suatu kota merupakan masa depan bersama seluruh warga kota. Kenyamanan, kebanggaan, produktivitas, dan daya saing suatu kota merupakan produk bersama warga kotanya. Karena itu perlu ditumbuhkan milieu kreatif yang memungkinkan setiap individu warga kota, termasuk organisasiorganisasi yang ada, untuk dapat memberikan gagasan kreatif dan kontribusi terbaiknya bagi penciptaan kota yang diinginkan bersama. Dari perspektif itu, maka perencanaan partisipatif harus dilihat tidak semata-mata sebagai pelaksanaan suatu prosedur perencanaan yang melibatkan masyarakat semata, seperti yang dilakukan selama ini, tapi harus dimulai dengan proses imajinatif yang melibatkan sebanyak mungkin warga kota untuk merumuskan bersama tentang kota seperti apa yang diinginkan bersama di masa depan. Semakin detil kondisi yang diinginkan, dan semakin banyak warga kota yang memahami tentang kondisi detil kota yang diinginkan itu, maka akan semakin memudahkan bagi semua pihak untuk merealisasikannya. Depok, Desember 2007
BAPEDA KOTA DEPOK

i

Kajian Perencanaan Partisipatif

BAPEDA KOTA DEPOK

ii

Srt Mendagri No. Kep. UU NO.2. Latar Belakang……………………………………….2. UUD 1945……………………………………………………… 4. Modal Sosial……………………. Konsep Pembangunan…………………………………… 2.. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.2.2/2435/SJ (2005) ……… 4.3.5.1.………………………………………… 2.1. Pendekatan Apreciative Inquiri……………………… KEBIJAKAN DAERAH 3.4. Sistematika Penulisan Kajian………………………… TINJUAN PUSTAKA 2. Perencanaan Partisipatif………………………………… 2. Partisipasi Masyarakat…………………………………… 2.8..……………………………… 2. Forum Warga……….6. Metodelogi kajian…………………………………………… 1.…… 1.4. Misi Pembangunan Daerah…………………………… 3.5. 414.1. 25/2004…………………………………………… 4.3. SE Bersama Bappenas dan Mendagri…………… 4.3. Walikota Depok No.3.1.4.2.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal KATA PENGANTAR………………………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1. Kebijakan Umum…………………………………………… LANDASAN KONSTITUSIONAL. Konsep Perencanaan……………………………………… 2. Konsep Biaya Transaksi………………………………… 2. Tujuan……………………………………………………….7. 02/2004………………… i ii iv v 1 7 7 8 BAB II 10 16 22 51 55 57 60 65 BAB III 72 75 75 BAB IV 82 85 90 92 94 BAPEDA KOTA DEPOK ii .……… 1. Visi Pembangunan Daerah…………………………… 3.

Kajian Perencanaan Partisipatif BAB V KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF Tolok ukur peraturan perundangan dan 5. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi… 98 5.5.. Musrenbang Kecamatan………………………………… 126 7.2. 124 Masyarakat……………………………………………………… 7.…………………… 5. Tinjauan evaluatif…………………………………………… 99 5.3. Forum SKPD…………………………………………………… 126 7. Saran……………………………………………………………… 131 DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK iii . Kesimpulan……………………………………………………… 128 8.……………… 6.3. 97 juknis (petunjuk teknis) …………. Tolok ukur pengembangan modal sosial……… 98 5.2. Memenuhi aturan/pedoman yg ada……………… 6. Kemitraan + pendekatan apresiatif……………… BAB VI 116 118 120 122 BAB VII REKOMENDASI SKENARIO Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7. Pembahasan…………………………………………………… 107 SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6. Tanpa perubahan berarti (status quo) ………… 6.1.4. Musrenbang Kota…………………………………………… 127 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8. Musrenbang Kelurahan…………………………………… 125 7.3.1..3.1.5.4.1. Memenuhi aturan + kemitraan…….2.2.

Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Gambar 1. Tangga Partisipasi menurut Arnstein………………………………………… Gambar 2. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok………………… Gambar 3. Roda Partisipasi oleh Davidson………………………………………………… 4 8 44 BAPEDA KOTA DEPOK iv .

Tipologi partisipasi. Perbedaan pendekatan problem solving dan KPA……………. Davidson…………………………………………… 45 Tabel 9.……. Parkers dan Panelli…………………………. Istilah-istilah didalam proses perencanaan berdasarkan proses perencanaan yang dikandungnya………………………………… Tabel 3..Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Tabel 1.………… 43 Tabel 8. 16 17 34 40 41 Tabel 6. Bonger & Specht……………. Pretty………………………………………………………… Tabel 5.……… 42 Tabel 7. Burns……………………………………… Tabel 4. Wates………………………………………………. 69 Tabel 11. Mayer……………………………………………………. Tingkatan partisipasi. Tabel 2. Tahapan partisipasi. Tangga pemberdayaan warga. Hak-hak warga Negara berdasarkan UUD 1945……………….……… 46 Tabel 10.……… 82 BAPEDA KOTA DEPOK v . Tipologi roda partisipasi. Tipologi partisipasi. Tiga model pendekatan pemberdayaan masyarakat………………. Tangga partisipasi masyarakat..

85 99 BAPEDA KOTA DEPOK vi .… 84 Tabel 13. Tinjauan evaluatif proses perencanaan di kota Depok……………. Kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945………………….Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 12. tanggung jawab dan kewajiban Negara/pemerintah…… Tabel 14. Tugas.

1. Perencanaan Partisipatif dapat pula dilakukan untuk kepentingan umum yang berkaitan dengan persoalan pembangunan masyarakat. akan tetapi melihat ciri dan cara kerjanya. Memang benar bahwa Perencanaan Partisipatif lebih khusus untuk mengkaji persoalan di daerah. Tidak berlebihan kalau pada akhirnya hasil Perencanaan Partisipatif merupakan data dasar atau rujukan untuk melakukan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat bersangkutan (dimana Perencanaan Partisipatif itu diterapkan). dan pemberdayaan masyarakat. Latar Belakang Dewasa ini telah berkembang pendapat pakar dan praktisi tentang Perencanaan Participatif sebagai teknik dan metode yang tepat sasaran untuk menganalisis persoalan pembangunan sosial masyarakat di lingkungannya. Perencanaan Partisipatif menjadi pantas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung pergeseran paradigma pembangunan ke arah desentralisasi. Perencanaan Partisipatif telah diakui keunggulannya melalui pendekatan partisipatif. penganekaragaman lokal. maka dalam Perencanaan Partisipatif posisi orang luar hanya sebatas Fasilitator atau Pemandu.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. transparan dan aspiratif. Kelebihan lain adalah karena orang luar yang biasanya lebih aktif bekerja sendiri dengan bekal pengetahuan dan keahliannya. BAPEDA KOTA DEPOK 1 .

asumsi. serta terdapat lembagalembaga yang menggambarkan sebuah negara yang demokratis. sudah dapat dikategorikan partisipatif atau belum. karena telah terdapat berbagai prosedur yang menggambarkan sebuah negara demokrasi seperti diadakannya pemilu secara rutin. dan paradigma yang berbeda. Namun sebagian pihak berpendapat bahwa beberapa substansi demokrasi seperti penghargaan yang tulus terhadap keragaman (pandangan. BAPEDA KOTA DEPOK 2 . dapat berbeda dengan jawaban dari pihak birokrasi. atau dari kalangan akademisi. misalnya. misalnya. putus asa. termasuk proses perencanaannya. pembatasan masa jabatan kepala pemerintahan / kepala daerah. kalangan dunia usaha. namun istilah partisipasi itu sendiri masih dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. ideologi. Jawaban dari mereka yang secara rutin mengikuti Musrenbang di tingkat kelurahan atau mereka yang aktif di LPM kelurahan. dapat berbeda-beda jawabannya jika ditanyakan apakah proses pembangunan di Kota Depok. dan malahan mungkin melahirkan sikap apatis.Kajian Perencanaan Partisipatif Meski banyak pihak sepakat bahwa pembangunan partisipatif atau pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan merupakan sebuah keharusan. sebagian pihak menganggap bahwa Indonesia sudah demokratis. Berbagai stakeholders di Kota Depok. konsep. Apalagi jika istilah itu digunakan dalam konteks / setting yang berbeda. Ketiadaan kerangka definisi yang sama tentang konsep pembangunan yang partisipatif ini membuat berbagai pihak yang mendiskusikannya dapat terjebak pada debat yang tak berujung dan kerap kali berakhir dengan kekecewaan. frustasi. juga dapat berbeda dengan jawaban dari kalangan LSM. Seperti halnya dengan debat tentang penerapan demokrasi di Indonesia. Ini disebabkan karena masing-masing pihak mungkin menggunakan tolok ukur.

masing-masing pihak akan melihat perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Kota Depok dengan aksentuasi sudut pandang yang berbeda-beda. Derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh lembaga dana di luar Pemerintahan Kota Depok. partisipasi masyarakat di Kota Depok barulah terbatas pada partisipasi yang prosedural. Tanpa kesepakatan itu. dapat berbeda dengan derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh APBD Kota Depok. di antara para stakeholders konsep pembangunan partisipatif yang akan diterapkan di Kota Depok. terutama kesepakatan bersama. maka kajian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok dan skenario penguatannya ke depan hanya dan tentang dapat dilakukan secara utuh jika terdapat pemahaman bersama. Salah satu hal yang perlu disadari sejak awal adalah bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri memiliki derajat yang berbeda-beda pada setiap komunitas dan pada setiap konteks kegiatan tertentu. tapi belum tercipta di partisipasi kelurahan yang substansial. tapi apakah terdapat simetrisitas informasi sebagai basis pengambilan keputusan tentang sebuah rencana? Dari perspektif ini. berapa persen usulan yang disepakati di Musrenbang diakomodir dalam APBD? Kemudian secara prosedural kelompok-kelompok masyarakat sudah diundang dalam forum SKPD. Analog dengan hal itu. maka bagi sebagian pihak.Kajian Perencanaan Partisipatif agama) dan penyelesaian perbedaan pendapat / konflik secara beradab. Tapi apakah semua warga telah diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti / memberikan masukan pada forum Musrenbang kelurahan tersebut? Lalu. Pada Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). misalnya. sudah Secara prosedural untuk ikut masyarakat memang diundang Musrenbang. atau Proyek BAPEDA KOTA DEPOK 3 . dalam banyak kasus belum sepenuhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia.

derajat / tingkatan partisipasi masyarakat itu tergantung pada seberapa besar masyarakat / warga memiliki power (kekuasaan. Bahkan ada berpendapat ingin perlu membangun masyarakat. kekuatan. bagaimana power. Yang menjadi pertanyaan adalah tolok ukur apa yang membedakan derajat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan? Dalam berbagai kepustakaan (referensi). dan bagaimana memelihara hasilnya. maka dapat proses untuk yang yang jika maka empowerment diartikan sebagai (pemberdayaan) masyarakat “menambah” memutuskan terbaik bagi apa dirinya bahwa rencana itu dilaksanakan. daya. kemampuan. Menurut Asrnstein (1969): “citizen participation is citizen kekuasaan pada masyarakat secara kolektif. wewenang) dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang direncanakan.Kajian Perencanaan Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat Squatter (PPMS). Tangga partisipasi menurut Arnstein (1969) empowerment disempowerment mengalami (surplus) pihak-pihak yang selama ini kelebihan power. derajat partisipasinya dapat berbeda dengan derajat partisipasi pada proyek pengentasan kemiskinan yang didanai oleh APBD Kota Depok dan dilaksanakan oleh SKPD.” Berdasarkan tolok ukur ini. BAPEDA KOTA DEPOK 4 . misalnya. dilakukan kepada Gambar 1.

Jika naik ke “tangga partisipasi” yang lebih tinggi.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan tolok ukur ini terdapat beberapa tipologi partisipasi masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). Pada tahap ini masyarakat memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangan. Tapi masyarakat tidak berada dalam posisi menentukan dalam proses pengambilan keputusan akhir tentang sebuah rencana. Pretty (1995). Sedangkan pada “tangga partisipasi” tertinggi. Jika mengacu yang pada tangga participation) dikemukakan oleh berdasarkan tipologi yang (ladder (1969). Donaldson (1998). apsirasi dan usulannya. pemerintah dan masyarakat terlibat secara sejajar dalam proses pengambilan keputusan. of citizen misalnya. partisipasi Arsntein partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Asumsi awal yang ingin ditegaskan dalam kajian ini adalah pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di Kota Depok merupakan bentuk operasional dari “pilihan” tahapan / jenjang / tangga partisipasi masyarakat yang dipilih ada. dan Mayer (1997). Meski baru bersifat rintisan. seperti melalui mekanisme Musrenbang. yaitu tahapan kontrol / pengendalian oleh masyarakat (citizen control). Pertanyaannya adalah apakah mungkin partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kota Depok naik ke tangga kemitraan (partnership) atau bahkan ke pengendalian oleh masyarakat berdasarkan tipologi Arnstein itu? Kajian ini juga akan mencoba mengaitkan antara proses perencanaan partisipatif dengan pembentukan modal sosial. yang diusulkan melalui kajian ini adalah bagaimana proses BAPEDA KOTA DEPOK 5 . yaitu tahapan kemitraan (partnership). pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan masyarakat. Burns (1994). mungkin baru pada tahapan konsultasi.

Kendala-kendala institusional. Bagaimana keterkaitan antara perencanaan partisipatif dan pengembangan modal sosial? BAPEDA KOTA DEPOK 6 . Ia membagi masyarakat di dunia ini dengan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah (low trust society) dan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high trust society). Prasyarat apa yang dibutuhkan agar skenario itu bisa terlaksana? f. maka kajian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: a. Kajian yang dilakukan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Trust sampai pada kesimpulan betapa modal sosial ini akan ikut menentukan kemajuan ekonomi suatu bangsa. partisipasi masyarakat yang ada di Kota Depok dalam proses perencanaan berada pada level apa? b. Apakah mungkin derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan ditingkatkan (naik ke tangga yang lebih tinggi)? c.Kajian Perencanaan Partisipatif pembangunan di Kota Depok senantiasa mempertimbangkan aspek peningkatan modal sosial. Bagaimana skenario proses perencanaan di Kota Depok dengan derajat partisipasi masyarakat pada level yang optimal? e. d. Berdasarkan tipologi yang ada. Dengan mengemukakan beberapa studi kasus. Pertanyaannya adalah proses perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Depok telah memberikan andil untuk penciptakan kategori dengan tingkat kepercayaan sesama yang mana? Apakah di Kota menambah Depok atau rekening malah kepercayaan stakeholders membuatnya semakin defisit sejalan dengan berjalannya waktu? Berdasarkan paparan tersebut di atas. politis apa saja yang mungkin dihadapi untuk meningkatkan derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. yuridis. Fukuyama sampai pada kesimpulan bahwa kinerja ekonomi yang tinggi terdapat pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi pula.

2.Kajian Perencanaan Partisipatif 1.3. 3. Tujuan Tujuan pelaksanaan kajian ini adalah: 1. serta (c) dari sisi kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial di Kota Depok. Menyusun skenario penguatan perencanaan partisipatif di Kota Depok. dan politis dalam upaya peningkatan derajat partisipasi dalam perencanaan di Kota Depok. 1. mengikuti alur sebagai berikut : studi kepustakaan. Kajian ini akan BAPEDA KOTA DEPOK 7 .2. wawancara mendalam dengan beberapa informan. Melakukan tinjauan evaluatif pelaksanaan proses perencanaan partisipasi ditinjau dari : (a) sisi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan partisipatif. Mengidentifikasi kendala-kendala institusional. Metodologi Kajian Kajian ini menggunakan yang pendekatan ada. (b) dari sisi derajat partisipasi warga berdasarkan tipologi yang ada. kualitatif yang yaitu ada dari menjawab studi serta berbagai pertanyaan-pertanyaan dokumen-dokumen rumusan masalah termasuk dengan pandangan kalangan yang terekam di media masa. yuridis.

Sistematika Penulisan Kajian TINJUAN PUSTAKA 2. Perencanaan Partisipatif 2. Forum Warga BAB II BAPEDA KOTA DEPOK 8 .4.7. Tujuan 1. Metodelogi kajian 1.3.5.1. Konsep Biaya Transaksi 2. Partisipasi Masyarakat 2. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok 1.3. Konsep Pembangunan 2. Tujuan 1.5.4. Sistematika Penulisan Kajian Kajian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1. Modal Sosial 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Tinjauan Peraturan Perundangan tentang Perencanaan Partisipatif Deskripsi Pelaksanaan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Tolok Ukur Peraturan Perundangan Kajian Evaluatif Perencanaan Partisipatif di Kota Depok • Tipologi Partisipasi • Modal Sosial Kajian Skenario Penguatan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Gambar 2.2.2.4. Konsep Perencanaan 2.6.1. Latar Belakang 1.

5. Musrenbang Kota BAB IV BAB V BAB VI BAB VII DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK 9 .2. Misi Pembangunan Daerah 3. Walikota Depok No. UUD 1945 4.3.2. 02/2004 KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF 5. Tanpa perubahan berarti (status quo) 6. partisipasi 5.1. Kemitraan + pendekatan apresiatif SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7.1.1. Musrenbang Kecamatan 7. Pembahasan SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6.2/2435/SJ (2005) 4.2. UU NO.3. Srt Mendagri No.3. Forum SKPD 7. Masyarakat 7. Visi Pembangunan Daerah 3.3.2. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4. 25/2004 4.1. 414.8. Memenuhi aturan/pedoman yg ada 6.5.3. Tolok ukur peraturan dan juknis Tolok ukur berdasarkan tipologi 5.3.1. Tolok ukur pengembangan modal sosial 5.Kajian Perencanaan Partisipatif 2.4.4. Musrenbang Kelurahan 7.2. Kebijakan Umum LANDASAN KONSTITUSIONAL.4. Tinjauan evaluatif 5. Kep. Memenuhi aturan + kemitraan 6. BAB III Pendekatan Apreciative Inquiri KEBIJAKAN DAERAH 3. SE Bersama Bappenas dan Mendagri 4.5.

monitoring dan evaluasi). saluran. jembatan. istilah pembangunan ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda. Konsep Pembangunan 2. Gugatan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sebagian warga masyarakat mempersepsikan terdapat pihak-pihak yang sangat diuntungkan dengan proses pembangunan dan ada pihak-pihak yang seolah-olah ”tidak mendapat apa-apa”. Kesan yang juga muncul di masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 10 . pengendalian. tanggul. malah mungkin dirugikan (berkorban). Jika mempelajari usulanusulan pembangunan yang muncul dari forum Musrenbang di kelurahan. pembangunan dimaknai sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Pengertian Pembangunan Kegiatan perencanaan bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. dan sejenisnya.1. fisik sekolah. fisik puskesmas. Pada berbagai level status sosial masyarakat. telah terbentuk perspesi bahwa untuk mendapat manfaat dari kegiatan pembangunan yang bersumber dari anggaran negara harus melalui KKN (dekat dengan kekuasaan). misalnya. pembangunan lebih banyak identik dengan pembangunan fisik: jalan.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Aktifitas ini ada dalam konteks siklus proses pembangunan (perencanaan. Sedangkan bagi para penggiat HAM (hak asasi manusia). pelaksanaan.1. Bahkan. Ungkapan menggugat yang sering muncul berkaitan dengan istilah ini adalah: “Pembangunan itu untuk siapa?”.1.

dan berarti dalam pembangunan dan dalam distribusi keuntungan yang adil yang timbul darinya. Pembangunan sebagai Pemenuhan Hak-Hak Warga Negara Dalam dokumen “Deklarasi tentang Hak atas Pembangunan” yang disetujui dengan resolusi Majelis Umum 41/28 tanggal 4 Desember 1986 ditegaskan bahwa: “pembangunan adalah proses ekonomi. adalah untuk menjamin bahwa akan terdapat distribusi keuntungan yang adil dari proses pembangunan. yang dilakukan secara iteratif (berulang). bebas. sosial. Meskipun tentu saja kesan dan persepsi seperti ini belum tentu selalu benar.” Menurut deklarasi itu. Persoalannya adalah bagaimana dengan kelompok-kelompok yang masyarakat tidak yang selama ini tidak proses diuntungkan / terpinggirkan dalam proses pembangunan. “Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan.” (Pasal 1 ayat 2) BAPEDA KOTA DEPOK 11 . Mereka adalah kelompok-kelompok memiliki akses dalam pengambilan keputusan. hak atas pembangunan merupakan salah satu hak asasi manusia. budaya dan politik yang komprehensif yang ditujukan pada perbaikan yang tetap mengenai kesejahteraan seluruh penduduk dan semua individu atas dasar partisipasi mereka yang aktif.Kajian Perencanaan Partisipatif adalah kelompok yang paling diuntungkan dari proses pembangunan di era reformasi ini adalah kalangan eksekutif dan legislatif. Yang dituju adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa semua pihak memperoleh benefit (keuntungan) yang adil dari setiap proses pembangunan. Bagaimana agar suara mereka didengar dalam proses perencanaan tersebut? 2. maka proses perencanaan yang melibatkan masyarakat.2.1. Dari sudut pandang ini.

sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). institusi-institusi.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga negara yang paling humanistik”. disamping BAPEDA KOTA DEPOK 12 . Pembangunan juga dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital). Lebih lanjut dijelaskan. khususnya pembangunan manusia. penduduk (manusia) dilihat sebagai tujuan akhir (the ultimate end). sikap-sikap masyarakat. kebutuhan meningkatkan rasa harga diri atau jatidiri (self esteem). cara. Menurut Tadaro (2000). Dengan rumusan seperti ini maka pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia (Rustiadi et al. pengertian “pemilihan alternatif yang sah” dalam definisi pembangunan di atas diartikan bahwa upaya pencapaian aspirasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku atau dalam suatu tatanan kelembagaan atau tatanan budaya yang dapat diterima. Dalam konsep tersebut. bukan alat. serta kebebasan (freedom) untuk memilih. UNDP mendefisinikan pembangunan. pembangunan harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang yaitu kecukupan (substenance) memenuhi paling hakiki pokok. Tadaro berpendapat bahwa pembangunan harus dipandang sebagai proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial. 2006).

sosial. BAPEDA KOTA DEPOK 13 . 2. dan ekologi. pentingnya pendekatan pembangunan secara berkelanjutan semakin dipertegas.3. Inti dari konsep ini adalah bahwa pemanfaatan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. dan secara ekologi tidak merusak alam (sehingga dapat digunakan oleh generasi mendatang). pada KTT Bumi di Rio de Jenairo. dimana mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Selanjutnya Spangenber (1999) menambahkan dimensi kelembagaan (institution) sebagai dimensi keempat.Kajian Perencanaan Partisipatif tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi.H. menjadi salah satu anggotanya. secara sosial pembangunan itu dapat diterima dan adil (termasuk adil terhadap generasi mendatang).1. Serageldin (1996). diacu dalam Rustiadi et al (2006) mengajukan tiga dimensi keberlanjutan yang dikenal sebagai “triangular framework” yaitu keberlanjutan secara ekonomi. Emil Salim. penanganan ketimpangan pendapatan. sehingga keempat dimensi tersebut membentuk sebuah prisma keberlanjutan (prism of sustainability). serta pengentasan kemiskinan. Bruntland di tahun 1988. Pembangunan Berkelanjutan Keterbatasan sumber daya alam baik akibat degradasi maupun eksploitasi yang berlebihan telah melahirkan apa yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi konsep yang populer terutama sejak dipublikannya laporan “Our Common Future” sebagai laporan World Commission on Environmental and Development yang dipimpin oleh G. Ungkapan yang populer tentang makna pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi menguntungkan. Pada tahun 1992.

dalam hal ini pemerintah lebih bertindak sebagai ”rent seeker”. Pembangunan untuk masyarakat (development for community) adalah bentuk pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. terutama untuk pemenangan pemilu yang akan datang.1. dimana para politisi lebih mementingkan kelompok. sering disebut sebagai ”bureauratic failure”. 1978. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).5. dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan oleh BAPEDA KOTA DEPOK 14 . memaparkan bagaimana sebuah proses dalam pembangunan dilakukan terutama dikaitkan tiga kategori.1. 2. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan Terdapat beberapa teori tentang tipologi kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang pernah dikemukakan (O’Dowd. (2) development with community (pembangunan masyarakat). 1997). sehingga tidak memikirkan kepentingan dan perbaikan kondisi-kondisi kemasyarakatan. disebabkan karena terhenti atau tersendatnya kegiatan pelayanan masyarakat yang berakibat inefisiensi. disebabkan oleh inefisiensi dari sistem / struktur politik yang asimetrik. development community (pembangunan masyarakat). Dollery dan Wallis. 1978. namun penyebab kegagalan tersebut dibagi dalam tiga faktor utama (Rustiadi et. Weisbrod. 2006). antara lain : Pertama.al. perencanaan.. Ketiga. 1. bersama yaitu: (1) development dan (3) degan praktek for community of pemberdayaan masyarakat (community development) dan membaginya (pembangunan untuk masyarakat). intervensi pemerintah dalam sektor ”rent seeking” selalu disertai dengan kepentingan pribadi dan kelompok. Kedua.4. Hal ini disebut juga ”constitutional failure” atau ”legislative failure”.

3. masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif aktor dari luar. sendiri oleh of community) perencanaan. Untuk mengarah ke model ini diperlukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk masyarakat lokal. Peran aktor luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan. 2. Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak. Keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan juga diharapkan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap inisiatif pembangunan yang ada sekaligus membuat proyek pembangunan menjadi lebih efisien. Pembangunan bersama masyarakat (development with community) secara khusus ditandai dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. melakukan konsultasi. Hal ini dapat terjadi bila masyarakat merupakan komunitas yang kesadaran dan budayanya terdominasi. Pembangunan proses pelaksanaannya masyarakat (development yang inisiatif. Dasar pemikiran pola ini adalah dapat berkembangnya sinergi dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan yang dikuasai oleh aktor luar. Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian. Model ini paling populer dan banyak diaplikasikan oleh berbagai pihak. adalah dan Dapat pembangunan dilaksanakan dikatakan masyarakat menjadi pemilik dari proses pembangunan. Namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek. BAPEDA KOTA DEPOK 15 . namun dalam kenyatannya belum banyak komunitas yang mampu membangun dirinya sendiri. Ini merupakan model yang diidealkan oleh berbagai pihak. dan melibatkan tokoh setempat.

Konsep Perencanaan 2. 2. Menurut Kay dan Alder (1999).Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 1.2. demikian. al (2006).2. diacu dalam Rustiadi et.1. Tiga Model Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Development for Community (Pembangunan untuk masyarakat) Aktor dari luar Sosialisasi dan Konsultasi Aktor dari luar Aktor dari luar Proyek Development with Community (Pembangunan bersama masyarakat) Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Kolaborasi Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Proyek dan Program Development of Community (Pembangunan masyarakat) Masyarakat lokal Pemberdayan dan pengerahan potensi sendiri Masyarakat lokal Masyarakat lokal Pengembangan sistem dan penguatan kelembagaan Aktor Utama Bentuk Hubungan Pengambil keputusan Pelaksana Bentuk kegiatan Sumber : Pusat Kajian Bina Swadaya (2007). Namun dalam pengertian yang paling sederhana. kemudian memilih arah-arah terbaik dan memilih langkah-langkah untuk mencapainya. BAPEDA KOTA DEPOK 16 . perencanaan sebenarnya adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan. perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya. Dengan ada. Pengertian Perencanaan Perencanaan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh para ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing. proses perencanaan (kapasitas) dilakukan kita dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang mengukur kemampuan untuk mencapainya.

secara umum selalu terdapat dua unsur penting. dan proyek merupakan suatu kumpulan komponen perencanaan yang mencakup kedua unsur perencanaan dalam suatu struktur tertentu. Sedangkan strategi. Tabel 2. Istilah-istilah di dalam proses perencanaan berdasarkan unsur perencanaan yang dikandungnya Unsur Perencanaan Hal yang ingin dicapai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Normatif Normatif Terukur Terukur Normatif/terukur Terukur Terukur Terukur Terukur Cara untuk mencapai Istilah (nomenklatur) Visi (vision) Misi (mission) Tujuan (goal) Sasaran (objective) Strategi (strategy) Kebijakan (policy) Program (program) Pryek (project) Aktifitas (action) Keterangan Sumber: Rustiadi et.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagian berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktivitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu. yakni: (1) unsur hal yang ingin dicapai. dan (2) unsur cara untuk mencapainya. dikenal berbagai nomenklatur seperti visi. tujuan dan sasaran adalah istilah-istilah yang menjelaskan mengenai unsur perencanaan yang pertama (hal yang ingin dicapai). sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai suatu kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. kebijakan. Istilah-istilah itu sering saling dipertukarkan dengan tidak konsisten dan bahkan cenderung dapat membingungkan sehingga dapat mengganggu proses pembangunan akibat perencanaan yang tidak jelas. program. (2006) BAPEDA KOTA DEPOK 17 . tujuan. Visi. misi. proyek. al. Misi dan aktivitas adalah istilah-istilah mengenai unsur-unsur perencanaan yang kedua (cara mencapainya). program. strategi. Dari berbagai pendapat dan definisi yang dikembangkan mengenai perencanaan. Dalam implementasi proses perencanaan. sasaran. serta aktivitas.

Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 8. disertai target pencapaiannya. Tujuan-tujuan (goals): hal-hal yang ingin dicapai secara umum. 6.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan. Kebijakan (policy): sekumpulan aktivitas (actions). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 3. biasanya lebih terukur. Setiap bentuk tujuan (goals) bersifat dapat dimaksimumkan atau diminimumkan. Dalam Undang-Undang No. • • • Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. untuk pelaksanaan-pelaksanaan pencapaian jangka pendek. 5. Visi (vision): suatu kondisi ideal (cita-cita) normatif yang ingin dicapai di masa datang 2. BAPEDA KOTA DEPOK 18 . khususnya menyangkut fisik dan biaya. Sasaran (objectives): bentuk operasional dari tujuan. Aktivitas (actions): kegiatan pelaksanaan. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Sasaran merupakan kondisi minimum yang harus dicapai dalam mencapai tujuan dalam waktu tertentu. Strategi (strategy): sekumpulan sasaran-sasaran dengan metodemetode untuk mencapainya. Program (program): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu. 9. Misi (mission): cara normatif untuk mencapai visi. beberapa istilah ini juga diberikan definisinya. Proyek (project): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan/target/sasaran tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu dalam waktu tertentu dengan sumberdaya (biaya) tertentu. 7. 4.

mengingat adanya peluang-peluang yang langka.2.2. Perencanaan dengan basis pendekatan ini dilaksanakan dengan berdasarkan kecenderungan umum yang terjadi. Pendekatan ini sering dilakukan terutama karena alasan-alasan pragmatis. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Beberapa pendekatan perencanaan yang umum dilakukan berdasarkan basis (pijakan) utamanya (Kelly dan Becker. Kecenderungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini bukan pendekatan yang ideal untuk kepentingan publik jangka panjang.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. Pendekatan / Basis Perencanaan Perencanaan umumnya dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi pendekatan. Beranjak dari permasalahan atau BAPEDA KOTA DEPOK 19 . diacu dalam Rustiadi et. (2) Berbasis kesempatan / peluang (opprotunity-driven). 2000. Tapi secara teknis pendekatan ini setidaknya dapat memberikan informasi bagi pendekatan-pendekatan lainnya. Perencanaan dilakukan berdasarkan isu atau masalah-masalah yang ada. 2. 2006) adalah: (1) Berbasis kecenderungan (trends-driven). Pendekatan ini sering dilakukan oleh institusi-institusi yang belum matang dan mandiri dimana pendekatan yang termudah adalah dengan meniru atau mengikuti kecenderungan dari institusi-institusi yang lebih berpengalaman. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. (3) Berbasis isu (issue-driven).al. Adanya peluang (opprtunity) dianggap harus dimanfaatkan sebesar-besanya.

2. Proses Perencanaan Berdasarkan prosesnya. atau perbaikan dari kebijakan yang ada (status quo). (5) Berbasis visi (vision-driven). (c) hanya sejumlah kecil konsekuensi yang diinvestigasi. adaptif. perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan ikremental. (d) tujuan dan pendekatan yang BAPEDA KOTA DEPOK 20 . yang sangat berorientasi sangat panjang dan tidak memiliki target-target spesifik jangka pendek. (4) Berdasarkan tujuan (goal-driven). Berbeda dengan pendekatan berbasis tujuan. 2006). dilakukan sedemikian agar tidak menyimpang dari kondisi saat ini (status quo). rasional. Perencanaan seperti ini lebih sesuai untuk gerakan-gerakan sosial. pendidikan. dan partisipatif (Rustiadi et al.Kajian Perencanaan Partisipatif isu disusun langkah-langkah untuk menanggulangi dan menjawab isu dan tantangan tersebut. penambahan. 2. spiritual/keagamaan.3. 1. Namun proses tersulit adalah menetapkan tujuan itu sendiri seringkali bukanlah proses yang mudah apalagi jika dilakukan melalui proses lintas stakeholders. Ini merupakan pendekatan perencanaan yang paling klasik. Perencanaan inkremental. Proses perencanaan ini dilakukan akibat terbatasnya Pendekatan kapasitas ini pengambilan keputusan. (b) hanya sejumlah kecil pilihan yang dipertimbangkan. pendekatan berbasis visi sangat menekankan nilai-nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuantujuan yang spesifik dan terukur. Komponen utama dari pendekatan ini adalah: (a) pilihan-pilihan diturunkan dari kebijakan dan perencanaan yang merupakan peningkatan. rupa dan mereduksi terlalu cakupan (scope) dan biaya pengumpulan informasi dan analisis.

Kajian Perencanaan Partisipatif

dipilih didasarkan atas pertimbangan yang mudah dilakukan, (e) keputusan dibuat dari proses analisis iteratif dan evaluasi. 2. Perencanaan Adaptif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Holling (1978), yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman. Begitu didapat informasi baru segera dilakukan review atas pengelolaan yang sedang berjalan dan pendekatan-pendekatan baru dirumuskan. Pendekatan ini selalu menghadapi kendala terutama akibat adanya penolakan (resistensi) dari pihak-pihak yang harus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap hal-hal yang bagi mereka masih penuh ketidakpastian. Perencanaan adaptif yang terlalu longgar akan banyak menimbulkan berbagai bentuk inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang. 3. Perencanaan Rasional. Rasionalitas adalah cara utama yang

dikembangkan masyarakat dan para pemikir barat sejak zaman renaisan. Rasionalitas dapat diartikan sebagai suatu cara memilih pendekatan menyeluruh terbaik dengan berpikir untuk tertib (sistematis) tujuan dan (komprehensif) mencapai tertentu.

Pendekatan rasional membutuhkan sejumlah pengetahuan, berbagai alat (tools) berupa analisis ilmiah, untuk dapat membuat keputusankeputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif yang ada. Kesempurnaan dari pendekatan ini adalah terletak pada ketersediaan informasi yang “sempurna”. Secara umum tahapan proses dalam kerangka perencaan rasional adalah: (a) identifikasi masalah, (b) menetapkan tujuan/sasaran, (c) identifikasi peluang dan hambatan, (d) pengajuan alternatif-alternatif, (e) menetapkan alternatif pilihan dan melaksanakannya. 4. Perencanaan partisipatif / konsensus. Dalam perencanaan

rasional dituntut adanya pengetahuan / informasi yang “sempurna”. Kondisi ini merupakan suatu kondisi
BAPEDA KOTA DEPOK

yang sangat sulit dipenuhi

21

Kajian Perencanaan Partisipatif

karena kapasitas, pengetahuan, pengalaman, informasi, dan teknologi yang dimiliki perencana cenderung terbatas dibandingkan dengan kompleksitas kepentingan permasalahan yang yang ada. pula. Di sisi lain, informasi sifat sebenarnya tersebar beragam di masing-masing stakeholders dengan berbeda-beda Dengan demikian, komprehensif dari suatu perencanaan pada dasarnya dapat dipenuhi dengan membangun partisipasi seluruh stakeholders agar diperoleh informasi yang lengkap dan dipahami bersama untuk kemudian dibangun keputusan yang terbaik. 5. Perencanaan Rasional – Partisipatif. Dengan perencanaan secara terintegrasi ini, maka pendekatan partisipatif akan menutupi berbagai kelemahan pendekatan perencanaan rasional terutama kelemahan akibat terbatasnya informasi. Pendekatan partisipatif juga akan lebih menjamin penerimaan (acceptability) dari pihak-pihak yang berkepentingan.

2.3. Partisipasi Masyarakat
2.3.1. Pengertian Masyarakat Sebelum membahas partisipasi masyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai konsep tentang masyarakat atau komunitas (community). Dari berbagai referensi di Indonesia kedua istilah ini kerap kali dipertukarkan atau diangap sama. Ada yang menerjemahkan community sebagai ”masyarakat” namun ada yang lebih suka menerjemahkannya sebagai ”komunitas”. Dalam realitas, komunitas itu sendiri mulai dari level dengan lingkup geografis yang relatif kecil, seperti komunitas RT / RW sampai pada komunitas negara-negara seperti European Community (Masyarakat Eropa). Bahkan dengan informasi yang tak terbatas, akibat kemajuan
BAPEDA KOTA DEPOK

22

Kajian Perencanaan Partisipatif

teknologi informasi (internet), terjadi perubahan yang radikal tentang tempat (space) dan waktu (time). Komunitas dalam masyarakat informasi menjadi tak berbatas ruang (spaceless) dan tak terbatas

waktu (timeless). Komunitas seperti ini di kota-kota modern membentuk apa yang disebut sebagai cyber culture (budaya siber) atau networking culture (kultur jejaring). Burns (1994) memberikan beberapa makna tentang komunitas sebagai berikut: 1. Masyarakat / komunitas sebagai warisan identitas. Makna ini merupakan ekspresi tradisi budaya atau identitas bersama, sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan sejarah. 2. Masyarakat hubungan / komunitas sebagai hubungan sosial. dan Pola antar direfleksikan dalam kekeluargaan ketetanggaan,

dimana interaksi sosial dan dukungan satu satu sama lain seringkali digerakkan oleh faktor tempat tinggal. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan tradisi sosiologi dan antropologi. 3. Masyarakat / komunitas sebagai basis konsumsi kolektif, yakni suatu kesatuan kelompok atau ketetanggaan yang memiliki kebutuhan atau permintaan yang sama terhadap barang publik (public goods), seperti perpustakaan, transportasi, kualitas lingkungan dan lainnya. Ini merupakan 4. Masyarakat itu dapat sebuah / konsep masyarakat basis yang untuk menggambarkan produksi dan legitimasi berdasarkan ekonomi. komunitas sebagai penyediaan barang-barang barang publik lokal. Barang-barang publik disediakan oleh swasta, masyarakat umum, atau pihakpihak relawan (termasuk masyarakat itu sendiri). Ini merupakan konsep masyarakat yang menggambarkan legitimasi berdasarkan ekonomi dan penyediaan pelayanan teknologi.

BAPEDA KOTA DEPOK

23

Ciri-ciri komunitas dapat ditentukan oleh beberapa hal. Sekelompok orang yang merasa aman bersama Sekelompok orang yang memiliki rasa ketetanggaan. yang diacu dalam Ahmad (2004) adalah: • • • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang Sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu Orang-orang yang disatukan oleh isu bersama Orang-orang yang bekerja sama Sekelompok orang yang mengkonsolidasikan sumberdaya bersama (pool resources). Masyarakat / komunitas sebagai sumber pengaruh dan kekuatan / kekuasaan yang berasal dari hasil pemberdayaan (empowerment) atau keterwakilan.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Orang-orang yang terorganisir Orang-orang yang mempertahankan dan membina kegiatan Orang-orang yang membuat kemitraan Orang-orang yang fokus pada kebutuhan dari kelompoknya. BAPEDA KOTA DEPOK 24 . politik dan kebudayaan. menurut Community Speaker Series (2001). terikat sebagai suatu kesatuan sosial melalui perasaan solidaritas oleh karena latar belakang sejarah. Menurut Moelyadi dan Simanjuntak (1993). masyarakat adalah langsung sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu secara atau tidak langsung saling berhubungan dalam usaha pemenuhan kebutuhannya. Sekelompok orang yang memiliki visi bersama Sukarelawan yang terorganisir Orang-orang yang melakukan langkah kecil bersama untuk tujuan yang besar. apakah melalui saluran representasi atau partisipasi formal atau informal dari aksi politik. Ciri-ciri komunitas. Sekelompok orang yang saling menghormati satu dengan lainnya.

(2) BAPEDA KOTA DEPOK 25 . Community of interest adalah perkumpulan komunitas /masyarakat berdasarkan isu dan kepentingan tertentu baik pada lokasi tertentu atau tidak. Kategori masyarakat tempat berdasarkan diidentifikasi tinggal seperti jalan. dsb. Pengelompokan ini dijelaskan oleh Burns (1994) sebagai berikut: 1.2. Komunitas berbasis area / wilayah ini dapat diidentifikasi dalam pengertian sebagai batasan wilayah pelayan administratif.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan berbagai konsep tersebut. berbagi manfaat dari program pembangunan dan evaluasi program pembangunan. dalam pembuatan pelaksanaan program dan pengambilan keputusan untuk berkontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. kejamaahan / jemaat. partisipasi dan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan keputusan tentang apa yang dilakukan. 2. Wilayah komunitas seperti itu dapat bervariasi dalam hal ukuran meskipun batasan yang paling umum adalah ukurannya relatif kecil dan lokal. blok. partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dapat dipilah meliputi.3. yang diacu dalam Harahap (2001). ketetanggaan. dan tidak selalu dihubungkan dengan batas wilayah tertentu. dan dan status sosial tempat ekonomi ini lebih atau berdasarkan atau dalam pengertian karakter politik. perkampungan. sesungguhnya pengertian masyarakat dapat dikelompok menjadi dua kategori yaitu community of place dan community of interest. Community of place yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan wilayah / lokasi tertentu. Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Cohen dan Uphoff (1977). (1) partisipasi dalam / melalui kontak dengan pihak lain sebagai awal perubahan sosial. Sedangkan menurut Ndraha (1990). 2.

1997). Proses partisipasi masyarakat melibatkan partisipan dalam mendefinisikan bagaimana mereka berpartisipasi. (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional. (3) partisipasi dalam perencanaan termasuk pengambilan keputusan. 3. menerima dengan syarat. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan dan memenuhi kebutuhan proses semua partisipan. Partisipasi masyarakat meliputi jaminan bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi keputusan. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan kepada partisipan bagaimana input mereka digunakan atau tidak digunakan. maupun dalam arti menolaknya. yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai tingkat pelaksanaan pembangunan. Masyarakat harus memiliki suara dalam keputusan tentang tindakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Proses partisipasi masyarakat memberi partisipan informasi yang mereka butuhkan dengan cara bermakna. dan mengembangkan hasil pembangunan. 4. partisipasi adalah proses pemberian peran kepada individu bukan hanya sebagai subyek melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan. 2. Proses partisipasi masyarakat berupaya dan memfasilitasi keterlibatan mereka yang berpotensi untuk terpengaruh. mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. (5) partisipasi dalam menerima. Sedangkan Migley (1986) BAPEDA KOTA DEPOK 26 . Korten (1988) dalam pembahasannya tentang berbagai paradigma pembangunan mengungkapkan bahwa dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. 7. baik dalam arti menerima. yang diacu dalam Daniels dan Walker (2005): 1. Survey partisipasi oleh The International Association of Public Participation telah mengidentifikasi nilai inti partisipasi sebagai berikut (Delli Priscolli. 5. 6. memelihara.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi dalam memperhatikan / menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi.

Partisipasi menopang pembangunan Partisipasi Partisipasi menyediakan merupakan lingkungan lingkungan yang yang kondusif kondusif baik baik bagi bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia. Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan. aspirasi. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap. menyatakan alasan pembenar partisipasi masyarakat dalam pembangunan: 1. 4. Tjokrowinoto (1987). Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapatturut masyarakat. partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari dimana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki. 9. diacu dalam Hasibuan (2003). 6. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif melihat partisipasi sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan masyarakat untuk mendorong mereka dalam menyelesaikan permasalan yang mereka hadapi. kebutuhan. 5. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal. 8. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan. dan kondisi lokal yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. 2. 3. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalampembangunan mereka sendiri. 7. 10. Partisipasi akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat. 11. serta dalam keputusan penting yang menyangkut BAPEDA KOTA DEPOK 27 .

maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompok-kelompok komunitas.3. dan kreatifitas. pengalaman. Dovers. Partisipasi dapat meningkatkan pendekatan iteratif dan siklikal dan menjamin pengambilan bahwa solusi didasarkan maka para pada pembuat pemahaman keputusan dan dapat pengetahuan lokal. 2. hal itu dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah. Blumenthal. Keuntungan dan Kerugian Partisipasi Masyarakat Dengan mengacu pada berbagai referensi (Anon. Dengan membuka kesempatan dalam proses keputusan. 2000. memperluas pengalaman masyarakat dan akan memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas. 2000). Dengan demikian. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan. (b) membangun perspektif yang beragam yang berasal dari beragam stakeholders. BAPEDA KOTA DEPOK 28 . 3.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. serta UNDP. 2000. Partisipasi membantu terbangunannya transparansi komunikasi dan hubungan-hubungan kekuasaan di antara para stakeholders.3. Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. Keuntungan dari partisipasi masyarakat adalah: 1. (c) mengakomodir pengetahuan lokal. khususnya kelompok yang selama ini termarjinalisasikan. kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif. Kapoor. 2001. Thomsen (2003) memaparkan keuntungan dan kerugian dari partisipasi masyarakat. sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. 2000.

Sedangkan kerugian yang mungkin muncul dari pendekatan partisipatif adalah: 1. Partisipasi hasil akan mendorong yang kepemilikan berkelanjutan lokal. Proses partisipasi seringkali menyebabkan ketidakstabilan hubungan sosial politik yang ada dan menyebabkan konflik yang dapat mengancam terlaksananya proyek. Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. Hasil yang diperoleh dari usaha-usaha kolaboratif lebih mungkin untuk diterima oleh seluruh stakeholders. komitmen dan akuntabilitas. jika direncanakan secara hati-hati. 5. Partisipasi dapat menyebabkan konflik. partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Pelibatan masyarakat lokal dapat membantu terciptanya (outcomes) dengan menfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung. melakukan proses (b) ini Partisipasi secara sadar atau tidak sadar memanipulasi tidak partisipasi publik untuk dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang kepentingannya. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. BAPEDA KOTA DEPOK 29 . Proses partisipasi dapat digunakan untuk memanipulasi sejumlah besar warga masyarakat. 2.

4. Kegunaan dari adanya tipologi partisipasi ini adalah: (a) untuk membantu memahami praktek dari proses pelibatan masyarakat. Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif 3.3. (b) untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan (c) untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan kinerja dari pihak-pihak yang melakukan pelibatan masyarakat.4. Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 30 . Tipologi Partisipasi Tipologi partisipasi menggambarkan derajat keterlibatan masyarakat dalam proses partisipasi yang didasarkan pada seberapa besar kekuasaan (power) yang dimiliki masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih. Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency). 2. Jika proses partisipasi dimanipulasi.1. proses partisipasi akan dilihat sebagai sesuatu yang mewah dan pengeluaran-pengeluaran untuk proses itu tidak dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan kemiskinan yang akut. padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar. maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut. tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek. Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969).4. 2.3. Partisipasi dapat menjadi mahal dalam pengertian bahwa waktu dan biaya yang dikeluarkan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat lokal. Pada wilayah-wilayah dimana di dalamnya terdapat ketidakadilan sosial.

meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. (placation). Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya. Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah. Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation). Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog. (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power). tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka BAPEDA KOTA DEPOK 31 . 1. Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan. tapi hadir dalam forum). Tangga ketiga. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. 2. tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan. (informing). Terapi (therapy). dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of tokenism). berupa upaya superfisial (dangkal. Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya. Manipulasi (manipulation). Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership).Kajian Perencanaan Partisipatif (citizen partisipation is citizen power). Kemudian (4) diikuti dengan tangga (3) dan menginformasikan (5) penentraman konsultasi (consultation). Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguhsungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control).

3. 4. telah ada aturan pengajuan usulan. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Sudah ada penjaringan aspirasi. 5. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses dipersilahkan untuk menilai memberikan dan merencanakan usulan kegiatan. Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah. Penentraman (placation). Informasi (information). Pada tangga partisipasi ini. 6. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan. Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara untuk masyarakat dan pemerintah. saran atau usulan Masyarakat kewenangan tersebut. pelaksanaan. pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. Kemitraan (partnership). Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back). baik dalam hal perencanaan. tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi. Konsultasi (consultation). maupun monitoring dan evaluasi. Namun pemerintah tetap menahan kelayakan keberadaan BAPEDA KOTA DEPOK 32 . telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan. Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan.Kajian Perencanaan Partisipatif akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan.

monitoring dan mulai evaluasi.Kajian Perencanaan Partisipatif untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan.2 Tipologi (1994) Burns et al (1994) berpendapat bahwa bila pemerintah hendak Partisipasi Burns. dan tanpa campur tangan pemerintah. Burns menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan untuk menambah jenjang antara tangga partisipasi yang satu dengan yang lainnya meski terkesan lebih rumit dan memberikan kebebasan untuk menghapus atau menambah jenjang menurut situasi yang ada. sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program. pemberdayaan. yang disepakati bersama. masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri. Ini berarti dari bahwa proses pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk sendiri beberapa kepentingannya. Dia mengakui bahwa terdapat permasalahan yang kompleks dalam penentuan jenjang partisipasi. maka harus diketahui terlebih dahulu sampai sejauh mana jenjang proses partsipasi yang telah ada. dan Hogget meningkatkan partisipasi masyarakat. dan perubahan tata kelola pemerintahan di daerah. pelaksanaan. 2. Ini disebabkan adanya karakteristik yang bisa diasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu jenjang pada saat BAPEDA KOTA DEPOK 33 . perencanaan.4. 8. Hambleton. Dalam menggunakan tipologi ini. Dalam tangga partisipasi ini. Pengendalian warga (citizen control).3. 7. Untuk itu Burns memodifikasi model Arnstein yang dirasakan lebih tepat terhadap kebutuhan publik (kewenangan masyarakat lokal) dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. Pendelegasian mengurus kekuasaan (delegated power).

1. 3. Tangga Pemberdayaan Warga oleh Burns et al (1994) pada penilaian oleh pemerintah daerah atau institusi lainnya. 8. 12. 10. serta pemetaannya terhadap ruang kekuasaan dan yang ada tata dalam kelola masyarakat. Burns dan koleganya memberi nama untuk tangga partisipasi mereka dengan A Ladder of Citizen Empowerment (Tangga Pemberdayaan Warga). Burns memodifikasi konsep Arsntein tersebut dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat perubahan pemerintahan daerah. 9. Tabel 3 menggambarkan No. Semua harus didasarkan pada situasi dan kondisi masyarakat. Tabel 3. 7. Berdasarkan hasil kajian terhadap delapan tangga partisipasi Arnstein. 2. Burns juga mengingatkan bahwa kualitas partisipasi masyarakat tidak harus menempati tangga tertinggi dalam waktu yang sangat cepat. Jenjang Partisipasi Civic hype Cynical Consultation Poor Information Customer care High Quality Information Genuine Information Effective Advisory Body Limited decentralised decision making Partnership Delegated Control Enrusted Control Independent Control Kategori Citizen Non Participation Citizen Participation Citizen Control BAPEDA KOTA DEPOK 34 . 6. 5.Kajian Perencanaan Partisipatif bersamaan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di setiap tangga membutuhkan cara yang berbeda-beda. dengan menambahkan ruang pada jenjang partisipasi satu dengan yang lainnya serta menjabarkan kemungkinan adanya perbedaan pembagian ruang jenjang partisipasi Tangga Pemberdayaan Warga dari Burns. 11. 4.

Misalnya. tujuan serta pembiayaannya. Civic hype. Masyakat tidak diberikan informasi kebijakan dan permasalahan legislatif. berbentuk propaganda dan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisi obyektif daerahnya. bukannya membahas hal-hal yang bersifat strategis.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara garis besar penjelasan terhadap jenjang partisipasi tersebut adalah sebagai berikut : A. Poor informasi. namun informasi yang diberikan bersifat manipulatif. Tanpa Partisipasi Warga. dan diabaikan. Pada yang berkaitan ini dengan kehidupan sulit atau masyarakat. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat untuk memutuskan nama dari satu jalan yang akan dibangun. seperti perencanannya. tidak bisa Informasi tersebut lebih untuk konsumsi pemerintah sendiri atau jenjang masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 35 . baik kepada masyarakat maupun keluar. sehingga masyarakat tidak mempunyai peranan dan bersifat pasif. 3. 2. Cynical consultation. Pada jenjang ini. Peranan pemerintah dalam kondisi ini terlalu besar. keadaan ini. dari foor information. Pada kondisi ini partisipasi masyarakat customer care. 1. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat tentang suatu masalah atau program tertentu. namun dalam pertemuan tersebut tidak menyentuh topik-topik yang substantif. Pada jenjang ini pemerintah daerah melakukan sosialisasi informasi. Keempat jenjang dimana warga dikategorikan tidak berpartisipasi (citizen non participation) karena adalah civic hype. menguasai hampir seluruh segi kehidupan. cynical consultation. Jenjang-jenjang ini tidak boleh manipulasi informasi berkembang keempat cenderung rendah tapi pemerintah daerah telah membuka diri untuk menerima kritik dari masyarakat.

B. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukannya penerbitan data atau informasi masyarakat untuk mendapatkan informasi tersebut. maupun tuntutan-tuntutan. Program awalnya ditujukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. maka pada jenjang ini dapat digolongkan dalam partisipasi. baik dalam hal pemantauan. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat customer memiliki care ini informasi pada yang cukup mengenai untuk berbagai meredam kegiatan pemerintah atau mulai dilakukannya transparansi. pengajuan daerah. misalnya terjadi perbaikan dalam pelayanan pemerintah.Kajian Perencanaan Partisipatif mendapatkan informasi atau data-data yang akurat. dan obyektif mengenai daerahnya atau hal-hal apa saja yang dilakukan dan juga disebabkan oleh sulitnya oleh pemerintah daerah. Sosialisasi informasi-informasi tersebut akan mendorong terjadinya proses dialog atau konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat setempat yang lebih menyentuh substansi permasalahan. Dengan proses konsultasi seperti itu. Pada jenjang ini pemerintah daerah membentuk sejenis unit pelayanan pengaduan. baik dilihat dari proses maupun materi yang disampaikan pemerintah daerah kepada masyarakat setempat. Pada jenjang ini terjadi sosialisasi informasi yang berkualitas tinggi. 4. masyarakat dapat memberikan input yang signifikan bagi pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 36 . Namun sebaliknya jika pengaduan masyarakat tersebut ditindaklanjuti dan membuahkan hasil. valid. Dengan Partisipasi Warga 5. evaluasi. maka pada jenjang ini terjadi konsultasi palsu (pseudo consultation). Keterbukaan pemerintah daerah dalam hal ini telah memberikan peluang yang luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemerintahan. Jika pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai buruknya pelayanan pemerintah melalui unit pelayanan itu diabaikan. Customer care. High quality information.

Artinya. Organisasi BAPEDA KOTA DEPOK 37 . sehingga dapat berfungsi efektif dan akan mendorong partisipasi badan atau komite tersebut dalam pembuatan kebijakan yang menyangkut operasional. Dalam diskusi ini. dilakukan improvisasi untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan masukan tersebut. Sebagai hasil dari peningkatan kualitas konsultasi ini dapat menghasilkan perubahan struktural misalnya pembentukan berbagai badan atau komite masyarakat yang berfungsi sebagai penasehat (advisory) bagi pemerintah daerah dalam rangka membuat kebijakan atau melaksanakan program-program pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. hasil dialog tersebut tidak mengikat pemerintah daerah. penggunaan sumber daya bahkan dapat menyentuh tataran strategis. Pada jenjang ini terjadi peningkatan keberadaan badan atau komite penasehat masyarakat. Diskusi antara pemerintah dengan masyarakat telah ada dan sebenarnya telah berjalan. 7. Pada meningkatkan kualitas konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dilihat dari substansi pembahasan maupun prosesnya. Pada tahap ini masyarakat telah menunjukan inisiatif mereka dan telah ada transfer atau setidaknya pemberian wewenang untuk mempengaruhi pemerintah. Limited decentralised decision making. dilakukan proses konsultasi antara pemerintah dengan masyarakat sebelum merancang suatu peraturan atau sebelum merancang program. 8. Effective advisory bodies. masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah sebelum suatu kebijakan diambil jenjang genuine walaupun tidak ada kepastian pemerintah akan consultation ini.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Misalnya. Genuine Consultation. Telah ada organisasi / perkumpulan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam pengambilan keputusan. Namun tidak ada satu ketentuan pun bagi pemerintah daerah untuk memasukan pendapat komite masyarakat tersebut ke dalam kebijakan yang akan dibuat.

memperbaiki memberi keadaan pandangan saat ini.Kajian Perencanaan Partisipatif tersebut melaksanakan hal-hal seperti mengajak masyarakat untuk bersatu. dimana masyarakat memiliki maupun pengaruh yang signifikan terhadap terutama proses melalui pembuatan mekanisme pelaksanaan kebijakan. namun harus tetap mengacu pada kebijakan strategis. apa yang ini terjadi juga saat ini. Pemerintah daerah mulai melakukan pengalihan manajerial pengelolaan program pemerintah kepada masyarakat. memonitor aksi yang dilakukan dan merencanakan langkah aksi selanjutnya. dimana pemerintah memisahkan kewenangan tertentu untuk didelegasikan kepada masyarakat. setidak-tidaknya terjadi proses transfer kekuasaan (kewenangan). negosiasi antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya. seperti standarisasi yang BAPEDA KOTA DEPOK 38 . 9. mendiskusikan persamaan persepsi bagaimana pelayanan beroperasi. Selain itu pemerintah daerah membangun strategi bottom-up 10. Pada tahap ini operasional pengambilan keputusan telah dibedakan secara internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat).Delegated control. Limited Partnership. Pada jenjang ini keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan telah meningkat ke arah kontrol masyarakat terhadap operasional maupun pengelolaan sumber daya dengan kerangka yang spesifik dan terbatas. Disamping itu. dan kemudian berkembang pada pembagian kekuasaan antara pemerintah daerah atau unit-unit pemerintah daerah dengan unit-unit kelompok masyarakat dalam kerangka yang spesifik. Pada jenjang ini pemerintah daerah dan masyarakat menjadi mitra sejajar. Secara umum dalam jenjang ini kontrol yang substansial didelegasikan kepada masyarakat daerah atau pembuatan kebijakan maupun pelaksanaannya. memberikan masukan apa yang dapat dan harus dilakukan untuk Organisasi mengambil keputusan untuk langkah aksi.

Hubungan pemerintah dengan masyarakat meningkat berdasarkan kepercayaan dan saling ketergantungan. baik legal maupun finansial dari pemerintah daerah. Pada jenjang ini. namun institusi ini masih tergantung pada alokasi dana dari pemerintah daerah yang hanya berperan pada tataran strategis. institusinya tidak bergantung pada pemerintah daerah atau badan lainnya. masyarakat telah memiliki kekuasaan untuk mengatur program. 12. Masyarakat memiliki kekuasaan dan kapasitas untuk mengatur sebuah program.Independent Control. Hubungan dengan pemerintah daerah dilakukan melalui koordinasi dengan jaringan kerjasama. BAPEDA KOTA DEPOK 39 .Entrust Control. tapi berdasarkan bentuk-bentuk demokrasi dalam semua sisi kehidupan.Kajian Perencanaan Partisipatif ditetapkan pemerintah daerah serta kerangka pendelegasian kontrol yang ditentukan secara terpusat. Pengendalian / Kontrol oleh Masyarakat Pada jenjang kesebelas dan keduabelas. Kekuataan tidak berada pada pasar. Pada jenjang ini peningkatan pengendalian / kontrol masyarakat telah mewujud dengan terbentuknya suatu institusi atau organisasi yang otonom secara legal untuk menguasai pembuatan maupun implementasi kebijakan terhadap suatu atau beberapa bidang tertentiu. C. Pada jenjang ini dipertimbangkan transformasi fundamental antara negara dan ekonomi pasar di satu sisi dan anggota masyarakat di sisi lain. 11. institusi yang diprakarsai masyarakat yang terlibat dalam menguasai (mengontrol) pembuatan kebijakan maupun implementasinya secara penuh mendapatkan otonomi. Kedudukan pemerintah dan masyarakat sederajat. area dan institusi.

Warga berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara independen (tanpa campur tangan dari institusi luar) untuk mengubah sistem. khususnya untuk mengurangi biaya. Informasi yang dibagi pun hanya untuk kalangan profesional. Warga berpartisipasi dalam analisis bersama. mengembangkan rencana aksi bersama dan pembentukan atau penguatan kelompok atau institusi lokal. Partisipasi dilihat oleh badan eksternal sebagai sebuah langkah untuk mencapai tujuan proyek. uang tunai atau insentif material lainnya.4.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. mengembangkan pendekatan yang berbeda berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana pada Tabel 4. Metodologi pembelajaran dipakai untuk menemukenali perspektif yang beragam. Warga berpartisipasi untuk mendapatkan makanan.3. tapi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap bagaimana sumberdaya itu digunakan. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Tipologi Partisipasi manipulatif Partisipasi pasif Partisipasi dengan konsultasi Partisipasi yang dibeli Karakteristik Setiap Tipe Partisipasi dilakukan hanya dengan berpura-pura. Partisipasi fungsional Partisipasi interaktif Mobilisasi sendiri dan berdikari Sumber : Pretty (1995) diacu dalam Thomsen (2004) BAPEDA KOTA DEPOK 40 . dan kelompok menentukan bagaimana sumberdaya yang tersedia digunakan. Pretty (1995). diacu dalam Ahmad (2004). Warga mungkin berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan sebelumnya berkaitan dengan proyek tersebut. Tabel 4. Warga berpartisipasi melalui konsultasi atau dengan menjawab pertanyaan dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Dengan mengadaptasi tipologi partisipasi Arnstein. Warga berpartisipasi dengan diberitahukan apa yang telah diputuskan atau yang telah dilaksanakan. Masyarakat lokal tidak berkewajiban melanjutkan praktek yang diintrodusir ketika insentif berakhir. Mereka mengembangkan kontak dengan institusi luar untuk mengakses sumber daya dan bantuan teknis yang mereka butuhkan.3.

dan cara pencapaian Untuk mendamaikan konflik.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. konsultasi.4. belajar berdemokrasi Ko-Produksi Koordinasi Mediasi Antisipasi Konsultasi InformasiEdukasi Sumber : Mayer (1997). Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) Tahapan Pembelajaran Cara Para pihak dapat menentukan kerjasama yang akan dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang sudah dipelajari. tujuan. memperkuat penerimaan dan legitimasi. dan keberlanjutan proyek). implementasi.3. mencapai kompromi. Tahapan partisipasi yang dikembangkan oleh Wates (2000) berdasarkan tingkat keterlibatan masyarakat (kemandirian. Tabel 5. diacu dalam Ahmad (2004). pemahaman bersama sampai membuat konsensus Menggali proyeksi kemungkinan perubahan di masa depan Membuat kebijakan atas dasar informasi relevan yang didapat di lapangan Memperkaya pemahaman kepada para pihak. Terdapat perubahan kelembagaan (pengetahuan.4. kemitraan. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) dan Wates (2000) Tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Mayer (1997) dan Wates (2000) adalah salah satu instrumen untuk melihat tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah proyek atau proses perencanaan. BAPEDA KOTA DEPOK 41 . perencanaan. dan informasi) pada masing-masing tahapan proyek (inisiasi proyek. kepercayaan dan sikap-kebiasaan) Melihat hubungan antara berbagai permasalahan di setiap tahapan proses yang ada di berbagai pihak dan berbagi tanggung jawab untuk penyelesaian yang mungkin dicapai Mengajak para pihak untuk melihat sumberdaya yang mereka miliki dan menginisiasi kerjasama Mengajak para pihak untuk mengetahui tentang nilai-nilai dan kepentingan yang saling menguntungkan Memberikan kesempatan pada para pihak untuk membuat antisipasi permasalahan yang muncul di masa depan Bertanya kepada para pihak tentang apa yang mereka tahu tentang permasalahan mereka dan apa yang dapat mereka lakukan terhadap permasalahan tersebut Memberikan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat umum Tujuan Para pihak dapat menggali dan membuat pendekatan yang fleksibel dan kontekstual dengan perubahan yang cepat Identifikasi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam berbagai aktivitas / proyek Mengkoordinasi sumberdaya.

Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 6. Tipologi ini esensinya istilah sama yang dengan lain tipologi sebelumnya partisipasi namun yang menggunakan adalah tipologi dikemukakan oleh Parkers dan Panneli (2001).5.3. Tipologi Partisipasi Parkers and Panelli (2001). Tahapan Partisipasi Wates (2000) INISIASI KEMANDIRIAN Kontrol ada pada komunitas KEMITRAAN Berbagi tugas dan ikut serta dalam pengambilan keputusan Komunitas melakukan inisiasi PERENCANAAN Komunitas merencanakan kegiatannya sendiri Otoritas dan komunitas secara bersama-sama merencanakan kegiatan Otoritas membuat perncanaan setelah berkiomunikasi dengan komunitas IMPLEMENTASI Komunitas mengimplementa sikan rencananya sendiri Otoritas dan komuniotas bersama-sama mengimplementa sikan perencanaan KEBERLANJUTAN Komunitas menjaga hasil-hasil pembangunan Otoritas dan komunitas saling menjaga hasil pembangunan Otoritas dan komunitas bersamasama melakukan inisiasi kegiatan KONSULTASI Otoritas Dilakukan menginisiasi dengan kegiatan pendekatan setelah dialog berdialog dengan komunitas Otoritas INFORMASI menginisiasi Komunikasi dilakukan searah kegiatan Sumber : Wates (2000) Otoritas mengimplementa sikan perencanaannya dengan berkonsultasi pada komunitas Otoritas membuat Otoritas mengimplementa perencanaan sikan sendiri perencanaannya sendiri Otoritas menjaga hasil pembangunan dengan bertanya kepada komunitas Otoritas menjaga hasil pembangunannya sendiri 2. BAPEDA KOTA DEPOK 42 .4.

Tugas ditetapkan dengan insentif tapi pihak luar memutuskan agenda dan aksi apa yang harus dilakukan Pendapat masyarakat lokal dicari / diminta. Ia sepenuhnya mengadopsi tipologi yang dikemukakan oleh Burns.Karena itu dalam artikelnya ”Engaging Community”. tiap jenjang partisipasi masyarakat itu membutuhkan metode dan strategi pendekatan yang berbeda. Tipologi Partisipasi Parkers dan Pannelli (2001) Tipe partisipasi Co-option (pilihan bersama) Compliance (kerelaan) Consultation (konsultasi) Cooperation (kerjasama) Co-learning (belajar bersama) Keterlibatan Masyarakat lokal Perwakilan masyarakat dipilih untuk ikut dalam prosespartisipasi tapi tanpa input yang nyata atau tanpa pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan. BAPEDA KOTA DEPOK 43 .4.3. 2. dan sebagian besar menggunakan istilah yang digunakan oleh Burns. Hanya saja menurut Davidson (1998). tapi pihak luar yang menganalisis dan memutuskan pilihan kegiatan yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Davidson memodifikasi metode dan strategi pendekatan yang digunakan dalam tiap jenjang partisipasi yang dikemukakan oleh Burns.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 7.6. Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas tapi tanggungjawab tetap berada di tangan pihak luar untuk mengarahkan proses tersebut. Masyarakat lokal dan pihak luar berbagai pengetahuan mereka untuk menciptakan pemahaman baru dan mereka bekerja sama untuk membentuk rencana aksi dengan fasilitasi dari pihak luar Collective action (aksi bersama) Masyarakat lokal menyusun sendiri agenda mereka dan mengerahkan diri mereka sendiri untuk mencapainya tanpa inisiatif dari pihak luar dan dengan atau tanpa kehadiran fasilitator dari luar. Roda Partisipasi Davidson (1998) Sebenarnya Davidson tidak membuat tipologi partisipasi yang sama sekali baru.

Kajian Perencanaan Partisipatif Gambar 3. Roda Partisipasi oleh Davidson BAPEDA KOTA DEPOK 44 .

Kajian Perencanaan Partisipatif

Tabel 8. Tipologi Roda Partisipasi Davidson No. Jenjang Partisipasi
1. Minimal Communication

Karakteristik
Badan pemerintah memutuskan seluruh hal / materi tanpa konsultasi (kecuali ketika aturan mengharuskan melakukan konsultasi), seperti melalui laporan dari komite. Menjelaskan kepada publik apa yang diinginkan oleh badan pemerintah, bukan tentang apa yang ingin diketahui oleh publik. Ini dilakukan dengan pendekatan yang menjangkau publik yang lebih luas Memberikan informasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kertas kerja untuk didiskusikan atau pameran untuk pengembangan rencana atau catatan panduan untuk pengembangan area konservasi Pemberian informasi dalam cara yang terbatas dengan beban diletakan pada masyarakat untuk memberikan respon seperti dalam bentuk poster atau leaflet. Memiliki pelayanan yang berorientasi pada publik sebagai pelanggan (customer), seperti memperkenalkan kebijakan yang peduli pada pelanggan atau menyediakan sebuah skema untuk pengaduanpengaduan atau komentar-komentar Badan pemerintah secara aktif mendiskusikan berbagaiisu dengan masyarakat berkaitan dengan apa yang dipikirkan tentang aksi yang akan dilakukan terlebih dahulu. Sebagai contoh, berhubungan dengan kelompok penyewa atau survey kepuasan publik. Mengundang keterlibatan masyarakat untuk mengajukan proposal / usulan yang akan menjadi bahan pertimbangan badan pemerintah. Memecahkan masalah melalui kemitraan dengan masyarakat seperti kemitraan formal Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat keputusannya sendiri tentang beberapa isu, seperti pengelolaan tempat permuan warga. Mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusan secara terbatas dalam wilayah atau proyek tertentu, seperti organisasi pengelolaan penyewa dan dewan sekolah. Badan pemerintah diharuskan unrtuk menyediakan pelayanan tapi memilih pelaksanannya dengan menfasilitasi kelompok masyarakat dan / atau badan lainnya untuk memberikan pelayanan atas nama pemerintah, seperti pemberian kontrak pelayanan perawatan oleh sektor volunter / relawan Memindahkan kekuasaan pembuatan keputusan yang substansial kepada masyarakat, seperti organisiasi pengelolaan penyewaan.

Contoh Teknik
Catatan publik

2.

Limited Information

Press release, newsletter, dan kampanye Leaflet

3.

High Quality Information

4. 5.

Limited Consultation Customer Care

Pertemuan publik dan survey Kartu komentar, wawancara perorangan.

6.

Genuine Consultation

7. 8.

Effective Advisory Body Partnership

9.

Limited Decentralized Decision-Making Delegated Control

10.

Panel warga, lingkaran diskusi di tingkat distrik, diskusi kelompok terarah, pengukuran pendapat, panelpengguna, dan kelompok stakeholder Perencanaan nyata (planning for real), Dewan juri warga, pencarian prioritas Pilihan bersama (co-option), Kelompok-kelompok stakeholder, permainan disain Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang

11.

Independent Control

12.

Enrusted Control

BAPEDA KOTA DEPOK

45

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.7.

Tipologi Partisipasi Brager & Specht (1973).

Brager & Specht mengembangkan tipologi partisipasi tidak dalam bentuk jenjang tapi dalam bentuk kontinum, dilihat dari sisi pengendalian masyarakat / partisipan dalam proses perencanaan. Pada tingkat pengendalian yang tinggi, masyarakat memiliki dalam pelaksanaan kegiatan, sedangkan pada tingkat pengendalian masyarakat yang rendah boleh dikatakan tidak afda partisipasi samasekali. Tabel 9 . Tangga Partisipasi Masyarakat Brager & Specht (1973).
Pengendalian Tinggi Aksi Partisipan Has control (memiliki kontrol) Contoh Organisiasi / badan pemerintah meminta masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan membuat seluruh keputusan penting terhadap tujuan-tujuan dan langkah-langkah mencapainya. Badan pemerintah berkeinginan untuk membantu masyarakat pada tiap tahap untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Badan pemerintah mengidentifikasi dan menyodorkan sebuah masalah kepada masyarakat. Pemerintah menetapkan batasan masalah dan meminta masyarakat untuk membuat serangkaian keputusan yang dapat ditambahkan dalam sebuah rencana sehingga rencana itu dapat diterima. Badan pemerintah menyodorkan rencana tentatif (sementara) dan terbuka untuk perubahan dari mereka yang dipengaruhi oleh rencana itu. Badan pemerintah mempresentasikan sebuah saran dan mengundang pertanyaan. Disiapkan untuk perubahan rencana hanya jika betul-betul dibutuhkan. Badan pemerintah mencoba untuk mempromosikan sebuah rencana dan berkonsultasi dengan masyarakat sekadar untuk mengembangkan dukungan agar rencana itu dapat diterima, sehingga pemenuhan administraif dapat diharapkan Badan pemerintah membuat rencana dan mengumumkannya. Masyarakat diajak mengikuti pertemuan / rapat untuk tujuan mendapatkan informasi. Masyarakat tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun.

Has delegated authority (memiliki kewenangan yang didelegasikan)

Plans jointly (merencanakan bersama) Advises (pemberian saran ) Is consulted (dikonsultasikan)

Receives information (menerima informasi) None (tidak ada)

Rendah

Sumber : Brager & Specht (1973), diacu dalam WHO (2002).

BAPEDA KOTA DEPOK

46

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.8. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992) diacu dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut kemauan Sahidu (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi adalah motif, tingkat harapan,

masyarakat

untuk

berpartisipasi

kebutuhan (needs), imbalan (rewards), dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki. Jika berpartisipasi bisa dianggap sebagai sebuah perilaku dari

masyarakat, dan partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan perilaku pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, maka setidaknya terdapat dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku masyarakat dan pemerintah ini. Yaitu, teori pilihan rasional (rational choices theory) theory). Menurut teori pilihan rasional, perilaku individu atau sebuah kelompok merupakan respon terhadap aturan (rules) dan insentif yang ada. Aturan ini dapat berupa aturan formal (peraturan perundang-undangan) maupun aturan non formal (misalnya, kesepakatan-kesepakatan warga), dapat dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Insentif pun beragam mulai dari yang kasat mata dan bersifat ekonomi maupun yang tidak kasat mata dan teori normatif (normative

BAPEDA KOTA DEPOK

47

maka perilaku itu merupakan pilihan rasional bagi yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap aturan main atau insentif yang ada. (2) adanya reaksi yang menghambat proses pembangunan seperti keengganan masyarakat untuk ikut berperan serta seperti mengevaluasi proses pembangunan secara kritis dan terbuka (budaya diam). dan kurang terbuka terhadap aspirasi masyarakat (budaya mencari selamat). aparat bersikap otoriter. yaitu: (1) keterbatasan BAPEDA KOTA DEPOK 48 . Menurut Soetrisno (1995).5. Jadi yang menjadi pertimbangan adalah logika kepatutan (logic of approriateness). jika seseorang atau sebuah kelompok berperilaku partisipatif. Ini merupakan hasil dari pendidikan (formal. faktor-faktor penghambat itu adalah: (1) belum dipahaminya konsep partisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan. seorang berperilaku tertentu karena perilaku itu merupakan sesuatu yang memang patut dilakukan.3.Kajian Perencanaan Partisipatif dan bersifat non ekonomi. Partisipasi dipahami sebagai kemauan rakyat untuk mendukung program pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. Jadi. atau melalui kampanye-kampanye publik melalui berbagai media. Sementara Abe (2001) mengidentifikasi setidaknya enam faktor penghambat masyarakat untuk berpartisipasi. (3) adanya peraturan-peraturan pemerintah yang menghambat kemauan rakyat untuk berpartisipasi. Logika ini merupakan hasil dari proses internalisasi yang memakan waktu yang relatif lama dalam diri seorang individu atau kelompok. 2. Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Para ahli telah mengidentifikasi hal-hal yang menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Sedangkan menurut teori normatif. dan informal) pada berbagai tingkatan. nonformal.

(5) rakyat telah kehilangan institusi lokal. kurang respon terhadap suara rakyat. maka di antara masyarakat belum BAPEDA KOTA DEPOK 49 . Hambat-hambatan untuk berpartisipasi itu juga dapat dilihat dari sisi hambatan struktural. dimana ideologi yang dianut kurang mendukung keterbukaan. (6) langkanya kepercayaan diri. (3) rakyat berada dalam represi ideologi dimana kesadaran politik rakyat diduga merupakan kesadaran hasil bentukan negara. sehingga rakyat tidak terbiasa jujur mengatakan apa adanya meskipun bertentangan dengan pemerintah. pasif. karena manfaat atau tujuan pembangunan masih kurang jelas bagi masyarakat. takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. Hambatan administrasi adalah berupa prosedur perencanaan program dan proyek pembangunan yang tersentralisasi mengurangi keterlibatan lokal. Sedangkan hambatan sosial adalah masih terdapatnya mental ketergantungan dimana pada umumnya terdapat dominasi dari kelompok elit lokal. (2) masyarakat atau tokoh terpercaya belum sanggup atau kurang berani mengajukan bentuk atau cara pemecahan masalah yang diterima (acceptable) yang secara teknis dan keuangan dapat dilaksanakan.Kajian Perencanaan Partisipatif pengetahuan masyarakat sehingga secara teknis sulit berpartisipasi (misalnya pendidikan yang rendah dan kemampuan baca tulis). (4) karena sebab-sebab terdahulu. Hamijoyo (1993) mengidentifikasi beberapa faktor pengambat partisipasi masyarakat yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. 1991). dan sistem politiknya tersentralisasi. sebagai akibat dari tekanan politik elit. Hambatan struktural berasal dari lingkungan politik negara. (2) masyarakat berada dalam politik sentralistik – otoriter sehingga membudaya politik ”mengekor”. yaitu: (1) masyarakat belum dapat menghayati atau merasakan masalah atau kepentingannya. (4) aspirasi yang disampaikan rakyat adalah aspirasi pantulan (refleksi) aspirasi negara. (3) tujuan partisipasi masyarakat kurang jelas. hambatan administrasi dan hambatan sosial (Okley.

(3) di kebanyakan negara. Pembagian peran dan tanggung jawab dianggap kurang adil dan terbuka. (5) di wilayahnya sendiri. atau pimpinan kurang menunjukan hasil yang sebenarnya ada. (6) tidak ada semacam reference group yang merupakan fokus atau panutan bagi warga setempat. dapat dilihat bahwa faktorfaktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dapat dalam bentuk: (a) faktor internal masyarakat. dan (c) faktor luar / eksternal.Kajian Perencanaan Partisipatif ada atau bahkan tidak ada rasa keterikatan batin. (2) harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran (toleransi) kenyataan bahwa beberapa tahap harus diberikan untuk seperti konsultasi perencanaan. (9) tidak ada organisasi yang cukup handal untuk mengelola partisipasi masyarakat. rasa senasib sepenanggungan. sehingga aspirasi dan potensi warga kurang tersalur secara efektif dan efisien. (7) tidak ada peran yang cukup merata atau banyak peran terlalu diborong oleh orang-orang tertentu. sedangkan tahap-tahap lainnya seperti pengalihan modal untuk poemanfaatan mungkin akan lebih singkat. (8) kebanyakan warga lokal belum melihat hasil pembangunan melalui partisipasi mereka. masyarakat tidak atau belum merasakan ada kegiatan yang cocok ataupun bermanfaat baginya. (b) faktor internal pemerintah. Jika ditelaah berbagai pendapat tersebut. Uphoff dan Cernea (1988) mengidentifikasi beberapa cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan. ”perlengkapan khusus” untuk memperkenalkan dan BAPEDA KOTA DEPOK 50 . tentang suatu rancangan mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama atau berlarut-larut. yaitu: (1) taraf partisipasi yang dikehendaki mesti diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak yang bersangkutan. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan partisipasi masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan untuk menjamin adanya partisipasi tersebut.

dan dapat juga dalam konteks pembangunan skala kota. 2. Selanjutnya Bock (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga keuntungan jika menggunakan proses partisipatif dalam perencanaan dan disain suatu kegiatan. (4) mesti ada komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. karena sebagaimana dikemukakan oleh Warner (1997). BAPEDA KOTA DEPOK 51 . Perencanaan Partisipatif Pelaksanaan perencanaan partisipatif dapat dilakukan dalam pelaksanaan sebuah program atau proyek tertentu. tingkat pengetahuan. atau dengan kata lain kemauan baik saja belum cukup. yaitu: (1) hasilnya bersifat alamiah dan tidak merupakan rekayasa. para stakeholders berbeda dalam beberapa hal yakni keinginan. konsep stakeholders menjadi penting. maka pihak yang seharusnya berkepentingan adalah stakeholders yang ada di kota itu. monitoring dan evaluasi. (2) masyarakat yang merupakan target merasa lebih memiliki dan memberikan kontribusi secara signifikan guna kesuksesan kegiatan. dan suatu mekanisme dimana seluruh stakeholders dapat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif mendukung partisipasi memang diperlukan. serta motivasi aspirasi. Demikian halnya berkaitan dengan pembangunan skala kota (yang terdiri dari banyak program / proyek). Salah satu alasan mengapa melakukan perencanaan partisipatif sebelum mendisian sebuah program / proyek adalah bahwa sesungguhnya banyak pihak (stakeholders) yang berkepentingan di dalamnya. sehingga partisipasi menjadi isu yang sangat penting dalam perencanaan dan implementasi suatu program / proyek. kebutuhan dan tata nilai.4. Dengan demikian. diacu dalam Abbas (2005). Karena itu perlu dibangun pelaksanaan.

dan akses yang terbuka terhadap pertemuan maupun dokumen-dokumen. Tanpa informasi masyarakat tidak akan mengetahui berpartisipasi ”apa. maka hak-hak dan proses partisipasi harus didefinisikan dalam pedoman teknis. melakukan stakeholders konsultasi dan negosiasi. diacu dalam Abbas 2005): 1. BAPEDA KOTA DEPOK 52 . Guna mencapainya. 2. Tanpa dimana. Intermediasi. atau kebijakan dapat menfasilitasi di antara partisipasi kesediaan pemerintah. Perencanaan partisipatif juga penting untuk dapat mengetahui kebutuhan dan opini stakeholder terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Informasi yang baik dan tepat sasaran seringkali menjadi pionir bagi keberhasilan suatu program. regulasi. informasi siapa dan bagaimana” dan dapat dan tidak dalam proses perencanaan kebijakan implementasinya. 3. Informasi. dimana dan merumuskan kebijakan pengembangan implementasinya. Dalam kaitan itu terdapat empat elemen kunci menuju kesuksesan perencanaan partisipatif oleh stakeholders (Takeda 2001. Institusionalisasi partisipasi (forum) stakeholders. bagaimana. untuk pemerintah mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan dan isu. Mekanisme partisipasi harus diinstitusionalisasikan. kapan. Informasi dapat berupa publikasi media. Prinsip pokoknya agar stakeholders untuk adalah dibutuhkan koordinasi. Intermediasi berguna untuk menfasilitasi partisipasi sehingga di dalamnya membutuhkan individu atau organisiasi guna memainkan fungsi intermediasi. Peran informasi sangat esensial sebagai wahana untuk menfasilitasi partisipasi.Kajian Perencanaan Partisipatif dan (3) pemantauan kegiatan lebih mudah dilaksanakan dan lebih transparan.

Salah satu model best practice tentang perencanaan dan penganggaran partisipatif dilakukan di Porto Alegre. Dengan penduduk 1. mendiskusikan usulan-usulan baru dan memilih delegasi untuk pertemuan putaran kedua. • April sampai dengan Juni: Pertemuan Antara bagi delegasi untuk mempelajari prioritas kriteria teknis dan mendiskusikan Persiapan kebutuhan dan untuk setiap daerah. Inisiatif stakeholders untuk tersebut. sebuah kota industri di Rio Grande do Sul. Siklus anggaran yang dimulai pada Maret – April. berlangsung degan jadual sebagai berikut: • Maret: pertemuan informal antar warga untuk menentukan kebutuhan. Brazil (World Bank.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. kekayaan ekonominya sekitar US$ 7 miliar. Dalam hal ini berpartisipasi dalam aktivitas harus menyediakan dan pembangunan sangat krusial kaitannya dengan proses pembangunan pemerintah memberdayakan stakeholders (terutama masyarakat) agar mampu menempatkan perannya dalam membuat inisiatif. Dalam kegiatan ini tidak ada intervensi dari eksekutif (pejabat kantor walikota). Inisiatif. pertemuan informal lingkungan yang kondusif untuk masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 53 . Kota ini juga memiliki reputasi sebagai persatuan buruh serta berpengalaman memobilisasi rumah masyarakat madani progresif yang dipimpin oleh intelektual dan partisipasi masyarakat. misalnya dengan mengkondisikan berinisiatif.3 juta jiwa. 2003). • April: Sidang Pleno pertama dilaksanakan antara masyarakat dan para pejabat kantor walikota untuk menilai proyek-proyek tahun sebelumnya. Sepanjang tahun dalam siklus anggaran partisipatif dari Porto Alegre telah mendapatkan perhatian untuk dicermati. Kota ini secara konsisten menikmati satu dari standar kehidupan yang sangat tinggi dan tuan pendapatan perkapita yang tinggi dibandingkan dengan kota-kota di Brazil pada umumnya.

(d) jumlah anak-anak yang diterima di sekolah pemerintah menjadi dua kali lipat. maka hal-hal yang telah dicapai antara lain: (a) sejak 1989. dua dari masing-masing tema ditambah dua lainnya dari legislatif. • Juli – September: legislatif menjumpai setidaknya selama dua jam per minggu untuk mendiskusikan kriteria. demikian seterusnya. (c) antara 1989 dan 1996 persentase rumah tangga dengan kemudahan mendapatkan pelayanan air bersih meningkat dari 80% menjadi 98%. Partai Buruh yang mengusulkan penganggaran partisipatif telah memenangkan tiga kali berturut-turut dalam pemilihan daerah di Porto Alegre. September sampai dengan Desember: COP menindaklanjuti debat dengan anggota legislatif. Dengan pendekatan seperti itu.Kajian Perencanaan Partisipatif dilaksanakan dengan masyarakat dan asosiaisi masyarakat untuk menetapkan peringkat kebutuhan. (c) persentase penduduk yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah meningkat dari 46% menjadi 85%. (f) karena transparansi menghasilkan sikap patuh membayar BAPEDA KOTA DEPOK 54 . aturan-aturan yang disepakati dan mengatur pertemuan selanjutnya. (e) 30 km jalan diperbaiki setiap tahun. Juli: 44 Konselor membentuk The Council of Participatory Budgeting (COP) – dua dari masing-masing 16 daerah. Eksekutif mengumpulkan semua usulan berdasarkan dua kriteria yaitu: (a) seberapa jauh akses ke daerah yang harus dilayani. kebutuhan masyarakat. dan bekerja secara terpisah pada rencana investasi untuk masing-masing daerah. • • Juni: pleno kedua dilaksanakan ketika para Konselor dipilih dan prioritas daerah sudah ditetapkan. alokasi sumber daya sebagaimana yang diusulkan pejabat kantor walikota. melobi. (b) jumlah penduduknya. • • September: Anggaran baru disahkan oleh COP dan dikirim kepada legislatif untuk diadakan debat dan dikuasakan. (b) sebuah jurnal bisnis yang berpengaruh telah menetapkan Porto Alegre sebagai masyarakat Brazil dengan ‘best quality of life” selama 4 tahun sejak 1989.

Konsep modal sosial telah dipopulerkan oleh Putnam (1993) walaupun sebelumnya terlebih dahulu dikembangkan oleh Coleman (1988).Kajian Perencanaan Partisipatif pajak. sementara kelompok masyarakat lainnya tidak dapat melakukannya. Akibat adanya saling percaya.5. mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. dan (g) lebih dari 80 kota di Brazil mengikuti model Porto Alegre untuk penganggaran partisipatif. (b) norma-norma yang saling berinteraksi / timbal balik (norms of generalized reciprocity). yang kemudian akan menekan biaya transaksi antar mereka yang bekerja sama dan kemudian berarti menghemat penggunaan sumber daya. Putnam (1993).al (2006). diacu dalam Rustiadi et. Modal Sosial Konsep modal sosial antara lain sering digunakan untuk menjelaskan mengapa satu kelompok masyarakat dapat bekerjasama untuk mencapai kemaslahatan / kepentingan bersama. Fukuyama (1995). BAPEDA KOTA DEPOK 55 .al. serta oleh Knack dan Keefer (1997) adalah: (a) jaringan pertemuan / dialog masyarakat (network of civic engangement). maka para pihak tidak membutuhkan upaya untuk memonitor atau mengawasi pihak lain agar berperilaku seperti yang diharapkan. Hubungan saling percaya (social trust) akan membangun kerjasama. 2006). Komponen-komponen kunci dari modal sosial yang diidentifikasi Putnam (1993). maka penerimaan meningkat mendekati 50%. dan (c) kepercayaan (Rustiadi et. saling percaya akan menghemat waktu dan biaya. 2. Artinya.

aksi kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok. Tentu saja individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperolah informasi sehingga dapat dikatakan modal sosialnya tinggi. ekspektasi (expectations). struktur kewajiban (obligation). bentuk modal sosial tergantung pada dua elemen kunci yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. Aksi kolektif dilaksanakan secara sukarela oleh partisipannya yang membedakannya dengan usaha-usaha kolektif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pekerja yang dibayar. yang diacu dalam Yustika (2006) menjelaskan tiga bentuk modal sosial: Pertama. baik secara langsung atau atas nama organisasi. Ketiga. demikian pula sebaliknya. Menurut Marshall (1998). Norma dan sanksi efektif akan membangun dan menjaga perilaku yang diharapkan secara sosial sebagai upaya untuk mempertahankan level modal sosial yang terbentuk. dan ini yang perlu mendapat perhatian. individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi yang sebaliknya. Pada level yang paling minimal. jaringan informasi (information channels). Konsep modal sosial berkaitan erat dengan konsep aksi kolektif (collective action). Kedua. Informasi sangatlah penting sebagai basis tindakan. yang diacu dalam Knox dan Gupta (2000). Dari perspektif ini.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut Coleman (1988). dan kepercayaan (trustworthiness). dalam mencapai apa yang oleh anggota kelompok itu dianggap sebagai kepentingan bersama. Dalam konteks ini. norma dan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). bahwa informasi selalu terbatas. BAPEDA KOTA DEPOK 56 .

(b) biaya aksi kolektif (collective action cost) sehubungan dengan pembuatan dan penegakan kesepakatan. Untuk membangun modal sosial secara efektif sehingga memunculkan aksi kolektif. masalah-masalah individu penting dalam aksi kolektif adalah: (a) munculnya perilaku free ridding (penunggang gratis) sehubungan keinginan untuk memaksimumkan utilitasnya. BAPEDA KOTA DEPOK 57 . dalam arti perannya harus bergeser dari yang semula sebagai pengontrol (controller). karena berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan akan senantiasa membutuhkan biaya. penyelenggara pertemuan (convener) dan fasilitator (Crocker et al. Konsep Biaya Transaksi Konsep biaya transaksi dipaparkan dalam kajian ini. dan pelaksana 2006). namun terdapat banyak yang kemunculan berbagai aksi kolektif. (c) ukuran kelompok (group size). maka instansi pemerintah harus berbagi otonomi / peran dengan masyarakat. yang dianggap akan memberikan manfaat bagi kelompok. bukti bahwa manfaat Meskipun terdapat banyak manfaat non bersifat material juga mempengaruhi material yang diperoleh dari aksi-aksi kolektif. dan menegakkan aturan-aturan yang telah diterima.6. pembuat aturan (regulator). menggalang proses partisipasi. Keengganan berbagai pihak di pemerintahan untuk menerapkan proses partisipatif antara lain dilatarbelakangi oleh faktor biaya ini. (d) masalah koordinasi antar pelaku. kegiatan (provider) menjadi katalisator. Menurut Eggertsson dengan (1990).Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut dijelaskan. diacu dalam Rustiadi 2. bahwa setiap aksi kolektif senantiasa melibatkan organisasi untuk mendisain aturan-aturan main dan melaksanakan aksiaksi yang disepakati.

Namun pada kenyataannya. maka kian tidak efisien kelembagaan yang didisain itu. Pandangan ekonomi neoklasik didasarkan pada anggapan bahwa pasar berjalan sempurna tanpa biaya apapun (costless) karena pembeli (consumers) dianggap memiliki informasi yang sempurna dan penjual fakta yang ada menunjukan (producers) saling berkompetisi. 2006). dan pemaksanaan pertukaran (Yustika. sistem kontrak dan proses transaksi jual beli dapat sangat asimetris. North memberikan isustrasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara berkembang. Karena itu biaya transaksi didefinikasi sebagai biaya-biaya untuk melakukan negosiasi. North (1990). diacu dalam Yustika (2006). tetangga). kompetisi. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga. biaya transaksi biasanya rendah. dimana informasi. sehingga menghasilkan biaya yang rendah. sebaliknya. Namun konsep ini kemudian digunakan juga untuk menjadi ukuran dalam proses-proses membangun kesepakatan dalam rangka peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya suatu disain kelembagaan. Awalnya konsep biaya transaksi ini diterapkan dalam transaksi ekonomi (jual beli). BAPEDA KOTA DEPOK 58 . pengukuran. Semakin tinggi biaya transaksi untuk mewujudkan disain kelembagaan.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam ilmu ekonomi kelembagaan. yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan yang pengukuran dan perlengkapanongkos untuk perlengkapan (atributes) dipertukarkan melindungi hak-hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan kesepakatan (enforcing agreements). Inilah yang menimbulkan biaya transaksi. berpendapat bahwa biaya untuk mencari informasi merupakan kunci dari biaya transaksi.

Schroeder dan Waynne 1993. masyarakat harus berdagang / bertransaksi dengan orang lain di luar komunitas desanya. usaha. pengawasan. dan penegakan kesepakatan di antara pelaku. seperti penegakan kesepakatan-kesepakatan pada tingkat stakeholders. dan pada jarak yang semakin jauh. dan biaya finansial yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah keputusan. diacu dalam Nugroho 2006 adalah: (a) biaya koordinasi (coordinating costs). Meskipun awalnya muncul untuk menelaah aktifivitas yang murni ekonomi. agar kegiatan ekonomi terus berlanjut dan dalam jangkauan yang luas. yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu. konsep biaya transaksi saat yang dibutuhkan ini telah digunakan membangun untuk dan menganalisis biaya untuk mengimplementasikan kesepakatan di sektor non ekonomi. serta biaya yang dibutuhkan untuk resolusi konflik-konflik yang timbul akibat penerapan dari aturan main tersebut. Tetapi. Ini mencakup berbagai biaya yang dibutuhkan untuk membangun aturan main dan sampai bagaimana aturan main itu diterima. Berkenaan dengan itu. Mereka berpendapat bahwa biaya transaksi adalah berkaitan dengan waktu. modal. struktur sosial (orang tua dan figur kepemimpinan lain yang dihormati) memberikan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan resolusi apabila ada konflik di antara anggota komunitas. Komponen-komponen biaya transaksi menurut Ostrom. Semakin kompleks dan impersonal jaringan perdagangan. dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi. Sementara itu. definisi biaya transaksi yang dapat digunakan adalah sebagaimana yang dikemukakan Thomson dan Freudenberger (1997). maka semakin tinggi biaya transaksi yang muncul (Yustika. material. (b) biaya informasi (information costs). yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan BAPEDA KOTA DEPOK 59 .Kajian Perencanaan Partisipatif sehingga informasi tentang aktifitas-aktifitas dalam komunitas tersedia secara luas dan bebas. 2006).

partisipasi warga tidak terbatas pada partisipasi politik yang terbatas pada kampanye dan pemilihan umum. Dengan demikian.7.Kajian Perencanaan Partisipatif mengorganisasikan data. di mana pun dan siapa pun dia. Konsep tentang Warga (Citizen) Penelitian yang dilakukan di 47 negara-negara Commenwealth (bekas jajahan Inggris) menemukan bahwa warga negara menginginkan peran yang lebih besar dalam sistem kepemerintahan. kekuasaan. termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan. yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi. yang diacu dalam Zakaria et al (2001). dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan negara yang kuat. formasi pemerintahan yang mengaitkan warga secara langsung menuntut sebuah pendekatan partisipasi warga yang memungkinkan warga. melalui perwakilan yang penuh dalam proses pemerintahan. BAPEDA KOTA DEPOK 60 . dan korupsi. rent seeking. merencanakan dan melaksanakan program.1. tapi juga mencakup akses warga untuk mengidentifikasi prioritas lokal. dan (c) biaya strategi (strategic costs). menjadi pembuat dan penentu keputusan.7. Temuan ini menimbulkan pertanyaan partisipasi kunci warga bagaimana dan caranya agar peningkatan yang kualitas bisa penciptaan pemerintahan efektif berlangsung secara bersamaan? Menurut Cornwall & Gaventa (2000). umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free riding. dengan mendudukan warga sebagai aktor kunci pembuat kebijakan. dan suimberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku. Forum Warga 2. 2.

BAPEDA KOTA DEPOK 61 . Lebih jauh Cornwall menyatakan. Cornwall membedakan antara partisipasi yang dipaksakan dan partisipasi karena diundang (induced and invited participation) melalui kelompok pemanfaat. Selayaknya warga dapat terkait dengan pemerintahan lokal melalui wakil-wakilnya dan juga melalui sistem demokrasi partisipatif. juga menuntut pemahaman baru tentang apa yang dimaksud dengan tata kelola kepemerintahan (governance). dan sebagai ruang beraktifitas. khususnya jika sektor masyarakat. konsultasi. agar dapat mengatur tata hubungan yang baru yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan kerjasama untuk maju. yang secara historis aksesnya telah diabaikan dalam realita pembuatan kebijakan publik. ingin dilibatkan (Fung & Wright. Akibatnya. dan sejenisnya. Berkaitan dengan demokrasi partisipatif. ketimbang konsep warga sebagai kumpulan hak. misalnya. Pemahaman baru partisipasi warga sebagai hak. Pemberian saluran dan strategi yang meningkatkan akses dari non-elit kepada pembuatan kebijakan dan implementasinya. rekonseptualisasi kewargaan akhirnya menempatkan warga sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ (as the exercise of agency). 2001. 2000). perlu menjadi salah satu agenda utama. Pemaknaan kewargaan sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ ini menjadi dasar dari sebuah pendekatan yang lebih inklusif dengan sejumlah hak yang dikembangkan oleh warga itu sendiri. yang diacu dalam Zakaria et al 2001).Kajian Perencanaan Partisipatif Dengan mengamati sejarah partisipasi sejak tahun 1970-an hingga saat ini. dengan partisipasi warga dimana warga masyarakat datang untuk membangun ruangnya sendiri dan melakukan perubahan menurut strateginya sendiri (Cornwall. Namun. proyek penelitian the Comenwealth Foundation menyimpulkan bahwa demokrasi perwakilan dan institusi-institusi negara dan pemerintahan yang dikenal dewasa ini tidak mampu lagi melayani warga negara atau memastikan pemerintahan yang baik (good governance) di masa depan. aturan dan mekanisme untuk keterkaitan langsung ini perlu dimantapkan.

2. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan diadakannya forum warga berbasiskan ketetanggaan adalah: 1. Menyusun program kegiatan dan alokasi dana operasional dewan ketetanggaan.Kajian Perencanaan Partisipatif warga negara dan petugas-petugas pemerintahan yang progresif harus mencari terobosan untuk menghubungkan kembali warga negara dengan negara (Zakaria et al 2001). Sebagai wahana diskusi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.7. pemberian insiatif. forum warga yang berbasiskan ketetanggaan merupakan suatu forum diskusi antara masyarakat dalam pengambilan keputusan termasuk dalam hal penegakan hukum. 3. Mulai dari forum warga yang merupakan forum yang berbasiskan ketetanggaan sampai forum stakeholders yang keanggotaannya skala kota. 4. Untuk menyelaraskan keinginan dan pandangan masyarakat dengan program kegiatan. 2. Menyelenggarakan kerangka kerja dalam memberikan kesempatan yang sama. Membantu asosiasi / perkumpulan / lembaga ketetanggaan dalam menentukan skala prioritas pembangunan serta mengontrol kualitas pelayanan di wilayahnya. Mewajibkan aparat dewan ketetanggaan mengundang pemerintah untuk menghadiri forum ketetanggaan untuk melaporkan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan. 2. 6. 5. Menurut Burns (1994). pengembangan kreatifitas dan dalam pemberikan masukan atau nasehat dalam forum tersebut. Pengertian Forum Warga Forum warga dapat memiliki skala cakupan geografis yang beragam. BAPEDA KOTA DEPOK 62 .

Anggota forum warga adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut. dan melaksanakan pembangunan sektoral. Pelaksana kegiatan forum warga adalah aparat / pimpinan yang bekerja pada asosiasi / perkumpulan / lembaga forum ketetanggaan tersebut. juga untuk meningkatkan menghargai secara mengurangi kegelisahan. nampak bahwa ia menekankan sistem perwakilan dimana wakil-wakil dari kelompok masyarakat tersebut dipilih melalui tiga metode antara lain melalui pemilihan. tetapi tidak mempunyai hak suara dalam forum. 1994). dapat masyarakat lokal dalam kegiatan sosial. ketidakpercayaan terhadap orang lain. 3. pengangkatan / penunjukan dari kelompok ataupun campuran dari keduanya. Dari pandangan Burns tersebut.Kajian Perencanaan Partisipatif Tugas dari organisasi forum warga adalah membentuk prakondisi untuk menjamin bahwa bentuk dasar dari proses pemberdayaan dapat berlangsung. antara lain: kelompok muda di bawah 21 tahun etnis minoritas kelompok orang cacat baik secara fisik ataupun mental perkumpulan wanita kelompok orang yang telah pensiun. antara lain: 1. Burns mengusulkan beberapa hal yang dapat menjadi ketentuan dalam pelaksanaan forum komunikasi ketetanggaan tersebut. 2. Pendekatan ini tidak hanya kapasitas masyarakat untuk untuk membangun kebiasaan perbedaan pendapat. BAPEDA KOTA DEPOK 63 . Setiap kelompok masyarakat mempunyai perwakilan dalam forum. Selanjutnya diharapkan forum warga tersebut dapat memberikan peran kepada demokrasi lokal dengan meningkatkan jaringan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk terlibat dalam politik daerah (Burns.

konsensus. dimana forum merupakan instrumen untuk meningkatkan 4. BAPEDA KOTA DEPOK 64 . dimana suasana forum perlu diusahakan sekondusif mungkin bagi terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku pembangunan. 2. dan yang bersifat vertikal (Popenas. Sebagai media komunikasi dan konsultasi. Renstra Lmbaga. Propeda Propinsi) serta perencanaan yang bottom up (Repetada Kecamatan / Kelurahan). pengertian forum warga adalah rapat pertemuan untuk mengkonsultasikan dan mensikronkan program pembangunan daerah. dimana penggunaan kata forum ditujukan untuk lebih mengedepankan suasana konsultatif dan dialog yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Rencana Srategis). mempertemukan. Media untuk demokratisasi memadukan perencanaan berbagai alur yaitu meningkatkan forum keterlibatan para pelaku untuk secara aktif mengambil keputusan. dan kesepakatan. Lebih lanjut workshop itu juga menyepakati bahwa peranan dan fungsi forum koordinasi pembangunan di era desentralisasi di Indonesia antara lain: 1. menjembatani. Media mengembangkan komitmen. Media meningkatkan keterlibatan para pelaku pembangunan dalam pengambilan keputusan. dan memadukan berbagai alur perencanaan baik yang bersifat horisontal (Rencana Tata Ruang Wilayah. perencanaan. 3. Berdasarkan hasil workshop ”Pedoman Penyelenggaraan Rakorbang 2002 dan Repetada 2003” yang dirangkum oleh Perform Project dan USAID. dimana forum penanganan didorong untuk menghasilkan konsensus tentang isu-isu strategis dan menghasilkan kesepakatan (agreements) dan komitmen di antara pada pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan.Kajian Perencanaan Partisipatif Forum warga juga merujuk pada forum perencanaan pembangunan skala kota.

bakat. untuk mendiskusikan permasalahan dan kegiatan lokal dan membangun jaringan antar pelaku secara berkelanjutan Manifesto ini mengingatkan bahwa keberadaan forum ini tidak baik apabila mengubah fokus diskusi menjadi pelaksana. Forum warga merupakan pertemuan masyarakat yang terdiri dari aktivis masyarakat. adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas. disingkat AI.8. terdapat beberapa fungsi forum warga menurut Labour Party Manifesto sebagaimana diacu dalam Burns (1994): 1. Pendekatan Appreciative Inquiry 2. dimana hal tersebut sebaiknya dipercayakan kepada organisasi pembangunan tertentu. dimana forum berfungsi sebagai wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antar pelaku pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. Refleksi mempunyai peran penting dalam mewujudkan BAPEDA KOTA DEPOK 65 . keahlian dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Senada dengan itu.1.Kajian Perencanaan Partisipatif 5.8. Media resolusi konflik kepentingan. Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai cerita sukses. 2. politikus. tokoh agama dan organisasi sosial yang dilaksanakan secara reguler. 2. Refleksi diri atas relasi sosial yang bermakna dan penciptaan impian bersama bersifat fundamental dan mendasar dalam pendekatan ini. kelompok kepentingan tertentu dan pebisnis lokal. Forum warga merupakan badan yang bertanggung jawab menetapkan dan mengawasi struktur dan mekanisme pelayanan masyarakat di wilayah masyarakat tersebut. Pengertian Appreciative Inquiry.

Penggerak program justru berasal dari jaringan lokal dan akan terus berperan sebagai fasilitator dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial di kemudian hari. antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. BAPEDA KOTA DEPOK 66 . Charles Elliott. Appreciative inquiry merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khasanah pengembangan komunitas dan juga pengentasan kemiskinan di Indonesia. perancangan tindakan. 2002. dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif. penciptaan impian komunitas. Sebagaimana efek yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka. Efek dari Appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri. mampu Fasilitasi dilakukan dalam rangka melakukan pengorganisasian bersama didasarkan pandangan mengorganisasikan dirinya sendiri dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap komunitasnya.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi yang aktif komunitas pada dalam memberdayakan bahwa semua dirinya orang sendiri. 2001). Nepal. Berbagai untuk pengalaman dalam penerapan kecil appreciative yang inquiry ini dalam menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif melakukan langkah-langkah bermakna mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan. Cina dan Afrika (Mc Oddel. sementara pendekatan Appreciative inquiry terfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas. Bila pendekatan lama berbasis pada motif untuk keluar dari masalah.

Discovery. melakukan memberdayakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat. pekerjaan dan komunitasnya. b. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Destiny. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan menciptakan Tahapan ini masyarakat proses untuk membangun dan anggota harapan. menyesuaikan setiap berimprovisasi. Definition. untuk dan belajar. d. 2004). BAPEDA KOTA DEPOK 67 . e. Dream. Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney. proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. 2001 & der Haar dan Hosking. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang.2. a. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Design. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat.8. Dream. Langkah Dasar Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition. c. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat. Discovery.

kepercayaan. Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil? Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia. daripada karena peran yang dibawakannya. BAPEDA KOTA DEPOK 68 . Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi.8. berbasiskelebihan. Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak. Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena: a. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan. c. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati. Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan. dan kearifannya lewat kisahkisah yang dituturkan. 2003). D & Trosten-Bloom. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain.3. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. e. b. Manusia memiliki rasa ingin tahu. d. dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah. A.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Manusia menyampaikan berbagai nilai.

maupun komunitas.4. Ini merupakan proses mengkaji bersama yang dilandasi oleh sikap mental berpikir positif dan terbukti sangat efektif untuk melakukan perubahan dan transformasi secara positif. Pusat Kajian Bina Swadaya (2007) memperkenalkan Model Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA). lingkungan. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang telah dikenal selama ini yaitu pendekatan hadap masalah (problem posing) atau penyelesaian masalah (problem solving) dimana fokus perhatian dari pendampingan adalah membantu rakyat mengatasi masalah yang mereka hadapi. Upaya penyelesaian masalah ini diawali dengan identifikasi masalah yang diikuti dengan analisa dan perumusan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara pendekatan pemecahan masalah dengan PKA. Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry. Problem Solving • Menemukan masalah apa yang dihadapi rakyat • Menganalisis masalah untuk menemukan akar masalah • Merancang langkah-langkah untuk menjawab akar masalah • Melaksanakan kegiatan yang sesuai Sumber : Puska Bina Swadaya (2007).8. baik dalam organisasi. Tabel 10. Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif.Kajian Perencanaan Partisipatif f. 2. Perbedaan Pendekatan Problem Solving dengan KPA KPA • Menemukan apa yang baik dan positif dari rakyat • Merumuskan apa yang ingin diwujudkan rakyat ke depan • Merancang langkah-langkah untuk mewujudkan keinginan / harapan rakyat • Mewujudkan keinginan / harapan dengan mendampingi rakyat melaksanakan kegiatan yang sesuai. BAPEDA KOTA DEPOK 69 .

Tahap ini dapat disebut suatu konstruksi dari bangun sosial yang akan diciptakan. bagaimana kelompok didefinisikan (berdasarkan geografis. keterbukaan). Kebutuhan imajinasi dan daya kreasi sangat penting ditumbuhkan pada tahap ini.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam pemberdayaan masyarakat. menemukan (discover). Kelompok mendiskusikan apa yang ingin mereka wujudkan. Kelompok menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan jangka pendek dan panjang. dan sumber – sumber kekuatan mereka. Fokus tahap rancangan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. penerapan KPA dilakukan melalui tahapan mendefinisikan (define). Kelompok akan bekerja sesuai dengan tujuan dan arah yang telah ditetapkan Menemukan (discover). setiap orang diberi kesempatan untuk membagikan (sharing) pengalaman-pengalaman terbaik yang pernah dicapai dan kapan terjadi. Tahap mendefinisikan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip. kesamaan kepentingan. Pada tahap menemukan ini. dan mewujudkan (deliver). yaitu sesuatu yang mengimajinasikan menggetarkan. Masyarakat dapat mengubah situasi yang dihadapi dengan situasi yang lebih baik. Merancang (design). merancang (design). dll). Tahap ini diawali dengan penentuan kelompok. keunggulan-keunggulan dan prestasi-prestasi kelompok. BAPEDA KOTA DEPOK 70 . suatu proses idealisasi. Mendefinisikan (define). Mengimpikan (dream). mengimpikan (dream). penerimaan. saling menghormati perbedaan. Dalam tahap ini adalah penting untuk membangun pemahaman dan kesadaran terhadap pendekatan KPA bagi setiap anggota kelompok (kondisi pembelajaran yang diinginkan adalah: setiap orang aktif untuk belajar dan berkontribusi. kepercayaan.

Kajian Perencanaan Partisipatif Mewujudkan (deliver). Kelompok memobilisasi sumberdaya. Pada tahap ini kelompok merealisiasikan rencana aksi. mengembangkan hubunganhubungan baru. BAPEDA KOTA DEPOK 71 . memperoleh ketrampilan-ketrampilan baru dan mengimplementasikan rencana aksi mereka.

Visi Pembangunan Daerah Analisis kondisi umum daerah saat ini dan prediksi kondisi umum ke depan mengemukakan hal-hal berikut : 1. Kondisi demografi Kota Depok saat ini dihadapkan dengan jumlah permasalahan kepadatan penduduk. Diprediksikan dimasa depan tekanan terhadap lingkungan hidup akan semakin berat.1. 2. pencari kerja dan sebagainya. Kondisi ekonomi dan sumber daya alam Kota Depok saat ini sudah mengarah pada struktur ekonomi tertentu.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok. Kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini sudah mengalami tekanan yang sangat berat akibat pertumbuhan penduduk dan persaingan untuk mendapatkan sumberdaya lahan. 3. jumlah angkatan kerja. sumber daya air dan sumber daya lainnya. Dimasa depan diprediksikan bahwa tumpuan utama ekonomi Kota Depok akan bertumpu ke sektor tersier. Prediksi kondisi demografi dimasa mendatang mengindikasikan adanya peningkatan intensitas terhadap permasalahan-permasalahan demografis tersebut. yaitu struktur ekonomi modern yang bertumpu pada sektor tersier dan didukung sektor Sekunder. BAPEDA KOTA DEPOK 72 .

YANG RELIGIUS DAN tahun akan semakin kecil akibat tidak sebandingnya pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan jumlah sarana BERWAWASAN LINGKUNGAN “ Visi pembangunan Kota Depok tahun 2006-2025 ini merupakan komitmen politis yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional seperti tertuang dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia dan tujuan pembangunan Provinsi Jawa Barat yang menetapkan Kota Depok sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 73 .Kajian Perencanaan Partisipatif 4. 5. kondisi sosial budaya yang ada akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. tantangan dan prediksi yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar berupa Sumber Daya Manusia. Kondisi pemerintahan Kota Depok saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang berkualitas. Di masa depan diprediksikan rasio jumlah sarana dan prasarana per penduduk di Kota Depok dan prasarana. terutama rasio rumah sakit umum per penduduk. walaupun masih kurang dalam segi rasio kuantitas per penduduk. Kondisi sosial budaya Kota Depok saat ini sudah mengarah pada budaya metropolis yang multi etnis dan dengan latarbelakang beragam tingkat intelektualitas. Sumber Daya Sosial. Dimasa depan. 6. Diprediksikan dimasa depan tuntutan terhadap kinerja pemerintahan akan semakin tinggi dengan kinerja pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan prima. Kondisi sarana dan prasarana Kota Depok saat ini cukup baik dalam segi kualitas. maka Visi Pembangunan Kota Depok 2006-2025 adalah : “ DEPOK KOTA NIAGA DAN JASA. Berdasarkan kondisi diatas. Budaya dan Ekonomi yang dimiliki.

Kota Religius Terwujudnya masyarakat Depok yang menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya. yang didukung oleh basis pendidikan dan potensi lokal. yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman. peningkatan kenyamanan kota. kegiatan sosial ekonomi serta dan upaya konservasi.Kajian Perencanaan Partisipatif Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan salah satu kawasan andalan/kegiatan utama berupa Jasa dan Sumberdaya Manusia. dengan memperhatikan kenyamanan kegiatan lingkungan. Kota Niaga dan Jasa Terwujudnya Kota Depok sebagai kota yang menjamin akses dan mobilitas kegiatan niaga dan jasa yang kompetitif. kenyamanan melaksanakan keagamaan. kenyamanan menggunakan sarana dan prasarana umum. kenyamanan mencari penghidupan. BAPEDA KOTA DEPOK 74 . Visi Kota Depok mengandung makna sebagai berikut : a. serta kemulian dalam akhlak. c. moral dan etika. Kota Berwawasan Lingkungan Terwujudnya Depok sebagai kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang. terpelihara termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. b. yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Visi Kota Depok mengarahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Depok untuk fokus kepada bidang-bidang ekonomi yang menjadi tumpuan utama Kota Depok saat ini dan dimasa mendatang. dan perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Dari penjelasan diatas. kenyamanan dalam memperoleh pendidikan. Sebagai gambaran kualitatif.

transparan. mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan tertinggi. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan. 3. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah diatas.2 Misi Pembangunan Daerah. Pembangunan perekonomian diarahkan dalam rangka penguatan pereknomian lokal serta berorientasi dan berdaya saing regional dan BAPEDA KOTA DEPOK 75 . 5.3. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal seluruh potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkungan. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang. demokratis. dan bertanggung jawab. hukum dan sosial budaya. 3. 3.Kajian Perencanaan Partisipatif serta kenyamanan dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah. Mengelola perekonomian daerah secara fokus. bersih. efisien dan efektif. 4. Menata sistem pemerintahan yang profesional. dengan 2. 1. baik. Membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing di lingkungan nasional dan internasional melalui peningkatan kualitas pendidikan. efisien dan efektif dengan mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan yang tinggi. Kebijakan Umum Mengeloa perekonomian daerah secara fokus. maka ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut : 1.

Peningkatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator. yaitu sebagai sabagai dengan pintu pusat gerbang jasa. dan meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai. yang didukung oleh sektor primer unggulan. Peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi daerah. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkugan. 2. 5. Perekonomian dikembnagkan dalam rangka perluasan kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapaianya penanggulangan kemiskinan 3. pengolahan. regulator dan katalisator pembangunan ekonomi yang efisien dan efektif terutama dalam pelayanan publik. Peningkatan investasi daerah dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik. penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar. transportasi propinsi. serta peluang berusaha/ekonomi sebagai limpahan kegiatan ekonomi ibukota. Menangkap peluang sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN). 4. sekala pelayanan nasional BAPEDA KOTA DEPOK 76 . Dalam kaitan ini. sektor sekunder dan tersier merupakan unggulan 2. Memanfaatkan letak geografis yang berdekatan dengan ibukota negara sebagai pasar produk ekonomi yang terbuka luas.Kajian Perencanaan Partisipatif global. atau motor penggerak yang perlu mendapat fokus perhatian. 3. 1. pusat ke kawasan-kawasan simpul atau beberapa internasional. Pemanfaatan sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara rasional.

1. berakhlak mulia. Pembangunan sumberdaya manusia yang berdaya saing diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pembangunan pendidikan. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang guna mendapatkan kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat dalam mewujudkan produktivitas dan kemampuan daya saing. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan. disesuaikan dengan pembangunan sosial ekonomi masa depan dan perkembangan iptek sehingga bisa besaing dalam era global. menghargai prestasi. 4.Kajian Perencanaan Partisipatif optimal dan bertanggungjawab. jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. 3. BAPEDA KOTA DEPOK 77 . Pembangunan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berharkat. Membangun lingkungan sumberdaya nasional dan manusia yang berdaya melalui saing di internasional peningkatan kualitas pendidikan. kesehatan dan agama yang bermutu. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagaman. memupuk etos kerja. dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan spiritual. pengendalian 2. khususnya sumberdaya air dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. membina akhlak mulia. yaitu dengan menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. hukum dan sosial budaya. pemberdayaan perempuan dan anak serta pemuda.

dan pembentukan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas pergerakan lalu lintas jalan (melalui peningkatan manajemen transportasi. kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar. sosial dan budaya serta lingkungan. Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendudkung kegiatan ekonomi. permukiman. Pembangunan hukum terutama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berkesadaran dan berbudaya hukum tinggi. Pengembangan budaya diarahkan untuk mewujudkan budaya kreatif. unik. energi dan kelistrikan serta sarana/prasarana pemerintahan. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah. peningkatan pelayanan angkutan umum. kesehatan. 6.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. perdagangan. pendidikan. Pembangunan sarana dan prasarana diarahkan untuk pembangunan sektor transportasi. Untuk wilayah itu. sehingga tercipta keseimbangan material dan emosional. menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis. sumber daya 2. agar perlu tercapai dilakukan keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar wilayah. inovatif dan produktif yang berorientasi iptek sehingga mampu bersaing secara regional maupun global. integrasi berbagai moda angkutan. Selain itu juga penting diiringi dengan pembangunan kesenian. peningkatan ketertiban BAPEDA KOTA DEPOK 78 . serta penyusunan produk hukum yang dinamis dengan memperhatikan pengaruh globalisasi. dikembangkan melalui pendekatan struktur pengembangan ruang. air. modern dan unggul. pembangunan jalan dan terminal dan lain-lain). 1.

memadai. Penataan sistem pemerintahan kualitas daerah diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraaan administrasi BAPEDA KOTA DEPOK 79 . antara lain melalui partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan. bermutu. baik. pelayanan perdagangan yang berkualitas yang memiliki jangkauan pelayanan sub kota dan wilayah kota. Selain itu. pemerataan pelayanan penerangan jalan umum. 8. 3. transparan.Kajian Perencanaan Partisipatif dan keselamatan lalu lintas. rencana pembangunan jalan dan terminal layanan lokal dan nasional. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman diarahkan untuk penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. demokratis dan bertanggungjawab. Pembangunan sarana dan prasarana perdagangan diarahkan untuk mewujudkan 5. Menata sistem pemerintahan yang profesional. Pengembangan sarana dan prasarana energi dan kelistrikan diarahkan untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air ditunjukan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumberdaya sosial dan ekonomi sehingga dapat menjamin kebutuhan pokok hiidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan diarahkan untuk mendukung terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diarahkan untuk memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang 4. pengembangan sistem 6. 1. 7. drainase yang baik. bersih. dengan mengarahkan terwujudnya kawasan pendidikan terpadu dan layanan kesehatan tingkat nasional. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. layak. dan kegiatan ekonomi.

BAPEDA KOTA DEPOK 80 . dan mengurangi serta mencegah penyalahgunaan kewenangan. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan diarahkan untuk mengefektifkan fungsi-fungsi kelembagaan pemerintah.Kajian Perencanaan Partisipatif pemerintahan. menata dan meningkatkan kapasitas sumberdaya aparatur agar lebih profesional dan berorentasi kepada pelayanan. peningkatan akses dan sebaran informasi. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dasar/umum dan pelayanan unggulan. 2. serta peningkatan transparansi. meningkatkan efektifitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pelayanan. meningkatkan pelayanan dalam rangka keberdayaan masyarakat dalam pembangunan. 3.

22/1999 dan UU No. dan UU No.Kajian Perencanaan Partisipatif Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa perencanaan partisipatif menjadi wacana penting dan merupakan agenda reformasi di banyak daerah. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Pertama. 25/1999. Inisiatif reformasi kebijakan perencanaan dan penganggaran daerah muncul sejak ditetapkannya UU No. secara paradigmatik diyakini bahwa perencanaan partisipatif adalah bentuk kongkret dari pelaksanaan desentralisasi administrasi pemerintahan Perencanaan dan dan prinsip-prinsip penganggaran tata pemerintahan adalah yang baik. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. munculnya dukungan kerangka hukum yang memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur urusan daerahnya. Kedua. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Keseluruhan peraturan tersebut memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerapkan proses perencanaan dan penganggaran BAPEDA KOTA DEPOK 81 . UU No. termasuk di dalamnya urusan perencanaan dan pengalokasian anggaran. Inisiatif tersebut kemudian menguat bersamaan dengan lahirnya UU No. UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah. nyata partisipatif bentuk penerapan prinsip demokrasi dalam alokasi sumberdaya publik.

amandemen UUD 1945 telah memasukan aspek hak asasi manusia (HAM). maka UUD 1945 hasil empat kali amandemen secara tegas merinci hak-hak warga negara yang menjadi kewajiban negara dalam hal ini pemerintah untuk menfasilitasi agar hak-hak itu bisa terpenuhi. penyusunan anggaran berbasis kinerja. 4. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi BAPEDA KOTA DEPOK 82 .1. Dalam berbagai kegiatan pembangunan di berbagai tempat di Indonesia. aspek landasan konstitusional ini. tumbuh. Hak-Hak Warga Negara berdasarkan UUD 1945 Pasal Pasal 27 ayat 2 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28A Pasal 28B ayat 1 Pasal 28B ayat 2 Jenis hak Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup. dalam hal hal ini pemerintah.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipatif. dimana setiap warga negara memiliki sejumlah hak. alokasi anggaran yang pro terhadap kepentingan orang miskin (pro-poor) dan responsif gender (gender budget responsiveness). Negara. Undang-Undang Dasar 1945 Jika menggunakan definisi pembangunan sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. justru kerap kali dilupakan. terutama pihak pengelola negara. Tabel 11. Dalam UUD 1945 inilah tersirat semangat para pendiri republik ini untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia. yang seharusnya menjadi landasan moral dan menginspirasi berbagai pihak. memiliki kewajiban untuk menfasilitasi agar hak-hak warga negara itu bisa terpenuhi. Disamping itu.

Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. memilih pendidikan dan pengajaran. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya. keluarga. memilih kewarganegaraan. bertempat tinggal. dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. bangsa dan negaranya Setiap orang berhak atas pengakuan. dan mengeluarkan pendapat. memiliki. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. berkumpul. serta berhak kembali Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. memilih pekerjaan. serta berhak untuk mencari. menyimpan. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat. memperoleh. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. 83 BAPEDA KOTA DEPOK . menyatakan pikiran dan sikap. jaminan. mengolah.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28C ayat 1 Pasal 28C ayat 2 Pasal 28D ayat 1 Pasal 28D ayat 2 Pasal 28D ayat 3 Pasal 28E ayat 1 Pasal 28E ayat 2 Pasal 28E ayat 3 Pasal 28F Pasal 28G ayat 1 Pasal 28G ayat 2 Pasal 28H ayat 1 Pasal 28H ayat 2 Pasal 28H ayat 3 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. sesuai dengan hati nuraninya. kehormatan. seni dan budaya. Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. perlindungan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. martabat. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat.

dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. dan bernegara. dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan. Tabel 12. Kewajiban Warga Negara Menurut UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28J ayat 1 Pasal 28J ayat 2 Pasal 30 ayat1 Pasal 31 ayat 2 Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. hak beragama. diatur. nilai-nilai agama.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28H ayat 4 Pasal 28I ayat 1 Pasal 28I ayat 2 Pasal 28I ayat 3 Pasal 28I ayat 4 Pasal 28I ayat 5 Pasal 30 ayat 1 Pasal 31 ayat 1 Pasal 34 ayat 1 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban Perlindungan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. BAPEDA KOTA DEPOK 84 . keamanan. penegakan. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. pemajuan. hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum. terutama pemerintah. hak untuk tidak disiksa. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. berbangsa. hak untuk tidak diperbudak. Hak untuk hidup.

Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilainilai budayanya. Baik dari segi proses maupun output sebuah perencanaan. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. setiap Kota / Kabupaten perlu memiliki dokumen BAPEDA KOTA DEPOK 85 . Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.2. dan Kewajiban Negara / Pemerintah Pasal 29 ayat 2 Pasal 31 ayat 3 Pasal 31 ayat 4 Pasal 31 ayat 5 Pasal 31 ayat 1 Pasal 31 ayat 2 Pasal 34 ayat 2 Pasal 34 ayat 3 Pasal 31 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Tugas. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 13. landasan konstitusional itu nampaknya harus selalu dijadikan acuan utama. yang diatur dengan undang-undang. 4.25 Tahun 2004 Berdasarkan Undang-Undang rencana yaitu: No. Undang-Undang No. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Tanggung Jawab. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhanpenyelenggaraan pendidikan nasional. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. karena itulah aturan main dan kesepakatan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah • • • • RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. 5.2. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1) Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Rencana Pembangunan Tahunan Daerah.1. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. misi.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2.2. BAPEDA KOTA DEPOK 86 . 4. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 11 ayat 3). 4. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJP dan diikuti • • • oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 11 ayat 1).2. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. (Pasal 10 ayat 2). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. • RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. RPJP Daerah memuat visi. 4. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 12 ayat 2) RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13).

Daerah. kebijakan lintas umum. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RPJM Daerah sebagai penjabaran dari visi. dan program Kepala Daerah ke dalam strategi pembangunan Daerah. misi. (Pasal 16 ayat 1) Musrenbang Jangka Menengah diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJM diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 16 ayat 2).Kajian Perencanaan Partisipatif • RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. Satuan dan dan Kerja Perangkat program dalam Daerah. dan arah kebijakan keuangan Daerah (Pasal 14 ayat 2). BAPEDA KOTA DEPOK 87 . • • • • Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 16 ayat 4). kebijakan umum. • Kepala Bappeda menyusun rancangan RPJM Daerah dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD dan berpedoman pada RPJP Daerah (Pasal 15 ayat 4). program Perangkat strategi Satuan pembangunan Kerja dan kerja Daerah. Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. (Pasal 17 ayat 2) Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJM Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 18 ayat 2) RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3). memuat arah kebijakan keuangan Daerah. kewilayahan regulasi disertai dengan kerangka rencana-rencana • kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 2). program prioritas Kepala Daerah. • • Rancangan RPJM Daerah menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. misi.

memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. dan pendanaannya.2. disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. 4. Musrenbang penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret (Pasal 23 ayat 2). Rencana Kerja Tahunan Daerah. • • RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. BAPEDA KOTA DEPOK 88 .4. RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (Pasal 26 ayat 2).2. prioritas pembangunan Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) • Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. • • • • • • • • • Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJM Daerah (Pasal 20 ayat 2) Kepala Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD (Pasal 21 ayat 4) Rancangan RKPD menjadi bahan bagi Musrenbang (Pasal 22 ayat 1). Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang penyusunan RKPD (Pasal 22 ayat 4). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RKPD berdasarkan hasil Musrenbang (Pasal 24 ayat 2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25 ayat 2). rencana kerja. Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2).3.

dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah • maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2). dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1). RPJM Daerah. kebijakan. memuat kebijakan. ini. Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Pasal 27 ayat 2). nampak adanya mengikutsertakan untuk BAPEDA KOTA DEPOK 89 .2. RKPD. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD (Pasal 21 ayat 3). strategi. Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP. Rencana Pembangunan Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) • • Renja-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. misi. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah. Renstra-SKPD. program. • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah (Pasal 15 ayat 3) • Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4) 4.Kajian Perencanaan Partisipatif • Renstra-SKPD memuat visi. Dari berbagai ketentuan dalam pasal-pasal UU keharusan bagi penyelenggara negara masyarakat dalam proses penyusunan rencana. tujuan.5. program.

4. maka hal itu dapat dilakukan. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Dan Menteri Dalam Negeri Sesuai dengan UU No. perlu diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan. namun jika ada proses Musrenbang penyusunan kesepakatan di daerah untuk RKPD (Pasal 22 ayat 2).Kajian Perencanaan Partisipatif Dari ketentuan Pasal 27 ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kepada setiap Daerah diberikan keleluasaan untuk mengatur sendiri tentang meskipun tata cara pengikutsertaan keharusan masyarakat tersebut. Pada tahun 2005 diterbitkan Surat Edaran Bersama kedua Menteri tersebut No: 0259/M. Namun karena PP tersebut belum ada. pelaksanaan Musrenbang 2007 berkaitan dengan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menyusun rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2008 sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 90 . Daerah Bahkan. maka sejak tahun 2005 dikeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.3. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Tata Cara Penyusunan. Jika mengacu pada pada SEB tersebut. untuk tidak ada bagi Pemerintah mengikutsertakan masyarakat dalam dan Renja-SKPD.PPN/I/2005 – 050/166/SJ tanggal 20 Januari 2005 dan pada tahun 2007 diterbitkan Surat Edaran Bersama No: 0008/M.PPN/01/2007 – 050/264A/SJ tanggal 12 Januari 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang pada tahun yang bersangkutan. 25 Tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan dalam proses penyusunan Renstra-SKPD menciptakan proses yang lebih partisipatif.

Forum Satuan kerja Perangkat Daerah (Forum SKPD) IV.Kajian Perencanaan Partisipatif landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2008. kecuali bagian V. Tahap Persiapan 2. Musrenbang Kota / Kabupaten V. Masing-masing bagian itu. SEB itu mengatur waktu pelaksanaan Musrenbang Desa/kelurahan pada bulan Januari. II. Musrenbang Desa / Kelurahan Tahun 2007 Musrenbang Kecamatan III. Sistematika Pedoman itu adalah: I. Keluaran F. Pengertian B. Musrenbang Kecamatan pada bulan Pebruari dan Musrenbang Kota pada bulan Maret. Tahap Pelaksanaan E. Tujuan C. Paska – Musrenbang Kabupaten / Kota. Masukan D. Mekanisme 1. Peserta G. berisi penjelasan yang rinci dengan muatan materi sebagai berikut: A. Tugas Tim Penyelenggara I. Narasumber H. Tugas Delegasi Desa / Kelurahan BAPEDA KOTA DEPOK 91 .

Bupati / Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten / Kota.” Untuk dapat melaksanakan pembangunan yang partisipatif. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di yang desa / kelurahan. 3. Ketua DPRD Provinsi. sehingga secara sistem belum mencerminkan pembangunan partisipatif yang berbasis masyarakat.2/2435/Sj (2005) Surat Mendagri No: 414.4. Hal ini dapat dilihat dari proses perencanaan.” Tujuan dari Pedoman ini adalah: 1. Secara spesifik. Membangun kemitraan melalui jejaring kerja lintas sektor terkait. desa / kelurahan dalam pengelolaan pembangunan partisipatif sesuai potensi BAPEDA KOTA DEPOK 92 . Sedangkan pada tataran kemasyarakatan dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang partisipasi warga masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama. Semangat dari Pedoman ini adalah ingin menjadikan paradigma pemberdayaan dalam pengelolaan pembangunan. terbuka. dan demokratis (good governance). Pedoman ini juga mensyaratkan: ”Pada tataran pemerintah perlu ditambahkan perilaku kepemerintahan yang jujur. Secara terbuka diakui bahwa: ”Pengelolaan pembangunan yang ada saat ini kurang bisa menjawab tuntutan pemberdayaan. pelaksanaan dan pengendalian belum melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. Memberikan acuan terhadap para pemeran pembangunan dalam rangka melakukan fasilitasi proses pembangunan partisipatif. bertanggung jawab. Surat Mendagri No: 414. Surat yang ditujukan kepada Gubernur. Pedoman ini hanya ditujukan untuk penguatan pengelolaan pembangunan partisipatif di desa / kelurahan dan kecamatan.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. 2.2/2435/SJ tertanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Umum Pengelolaan pembangunan Partisipatif.

yaitu pembangunan baik kepada proses dapat dipertanggungjawabkan 4. berbangsa dan bernegara. (4) Metoda Focus Group Discusion (Kelompok Diskusi Terarah). sikap. (2) Metode Partisipatif dalam Identifikasi Kebutuhan melalui Pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA). setiap dan perencanaan. 3. dan (5) Metode ZOPP (Ziel Oriented Project Planning). Akuntabilitas (accountability). yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan 2. pelaksanaan. BAPEDA KOTA DEPOK 93 . pelaksanaan. kemampuan masyarakatdalam rangka meningkatkan pengetahuan. 5. dan pengendalian pembangunan secara terbuka yang bisa diakses seluruh masyarakat. (transparancy). Keberlanjutan pemerintah tahapan maupun warga masyarakat. Partisipasi (participatory). pelaksanaan. dan ketrampilan dalam melakukan pembangunan Pedoman ini menyarankan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengelolaan pembangunan partisipatif yaitu: (1) Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD). yaitu proses perencanaan. Penguatan partisipatif. yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Prinsip-prinsip pembangunan partisipatif yang dimuat dalam Pedoman ini adalah: 1.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. dan pengendalian secara benar. (sustainability). Pemberdayaan (empowerment). dan pengendalian pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan. yaitu proses dan tahapan perencanaan. Keterbukaan dan kemandirian masyarakat setiap dalam dan kehidupan tahapan bermasyarakat. (3) Metode Partisipasi dalam perencanaan Sosial Participatory Rural Appraisal (PRA).

Aspirasi. Terwujudnya penguatan lembaga kemasyarakatan di desa/kelurahan sehingga berperan secara aktif dalam pengelolaan pembangunan partisipatif. Tumbuhnya kecamatan sebagai wilayah pengembangan. perencanaan. 4. 4.perluasan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui pengembangan potensi lokal. yaitu pengelolaan kegiatan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi dan kebutuhannya. 3. manajemen penguatan dukungan lembaga kemasyarakatan di desa / kelurahan. Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktifitas kajian keadaan dusun/rukun dan warga desa/kelurahan. Terwujudnya proses pembelajaran bagi masyarakatdan aparat pemerintah dalam pengambilan keputusan secara demokratis. Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 Sebelum diterbitkannya Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri BAPEDA KOTA DEPOK 94 . Efisien dan Efektif. 6. Terwujudnya peningkatan modal sosial.5. pelaksanaan. dan sejahtera.mandiri. pemanfaatan pelestarian program menuju masyarakatyang madani. keberdayaan. 7.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Terwujudnya peningkatan produktivitas ekonomi dalambentuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Menurut Pedoman ini. Terwujudnya pengelolaan pembangunan yang partisipatif 7. 5. yaitu pelaksanaan dan pemanfaatan kegiatan sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia dan pengelolaan sesuai dengan perencanaan. 2. hasil dan manfaat yang diharapkan dari pengelolaan pembangunan yang partisipatif adalah: 1.pemilihan serta pengembangan tindakan untuk mengatasi masalah. dan penggalian.

Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam Negeri pada tahun 2005 di yang tingkat Forum mengatur Kota tentang Teknis Penyelenggaraan No: 02 Tahun Musrenbang. Tujuan dari dibentuknya FKPP adalah untuk: (a) meningkatkan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. Sedangkan penanggung jawab tahapan lainnya BAPEDA KOTA DEPOK 95 . yaitu: (a) Lurah untuk FKPP tingkat Kelurahan. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. mekanisme Perencanaan perencanaan partisipatif ditetapkan melalui tentang Pembangunan (FKPP). FKPP Kecamatan dan FKPP Kota (Pasal 3). 2004 Depok. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. FKPP Kelurahan. (c) meningkatkan kualitas pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Pasal 7). melibatkan merumuskan indikasi kegiatan pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran tertentu (Pasal 1 ayat FKPP dilaksanakan secara berjenjang dengan nama FKPP Kelurahan. Survey Teknis Perencanaan. Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. (b) Camat untuk FKPP tingkatKecamatan. dan (c) Walikota untuk FKPP tingkat Kota (Pasal 9). serta FKPP Kota (Pasal 5 ayat 1). dan (b) peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan (Pasal 8). FKPP Kecamatan. Keputusan Walikota ini juga mengatur penanggung jawab untuk masingmasing tahapan. (b) meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan. Sedangkan pelaksanaan FKPP dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan meliputi: Sosialisasi Pembangunan. Sedangkan fungsi FKPP adalah: (a) pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan para pelaku pembangunan. partisipatif. Pemantapan Perencanaan Partisipatif. FKPP adalah media secara guna untuk menampung dengan Keputusan Walikota Depok Komunikasi aspirasi masyarakat para prioritas yang pelaku dilaksanakan pembangunan 6).

Kompilasi dan Restrukturisasi Program. serta (5) waktu dan tempat.Kajian Perencanaan Partisipatif yang mendukung FKPP adalah: (a) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Sosialisasi Pembangunan. (4) mekanisme. BAPEDA KOTA DEPOK 96 . Pada Lampiran Surat Keputusan Walikota ini dipaparkan mekanisme dari setiap tahapan dan memuat: (1) tujuan. (2) pihak yang terlibat. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. Survey Teknis Perencanaan. dan (b) Kepala Unit Kerja Perangkat Darah untuk Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. (3) materi. Pemantapan Perencanaan Partisipatif.

serta Keputusan Walikota Depok No. Tolok ukur peraturan perundangan dan juknis (petunjuk teknis). sebuah Surat Edaran Bersama (SEB). Setidaknya terdapat tiga aturan yang ada. yaitu SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. Kategori evaluasinya adalah sesuai dan belum sesuai.1. Tolok ukur peraturan perundang-undangan termasuk terhadap petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan partisipatif yang ada di Kota Depok sesuai dengan aturan atau petunjuk teknis yang ada. (b) tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi untuk melihat pada level mana derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. 2 Tahun 2004 tentang FKPP. dan (c) tolok ukur pengembangan modal sosial untuk melihat sejauh mana pelaksanaan proses perencanaan partisipatif dikaitkan dengan pengembangan modal sosial.Kajian Perencanaan Partisipatif Tolok ukur yang akan digunakan untuk melakukan penilaian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok adalah: (a) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk melihat seberapa taat proses yang terjadi dikaitkan dengan aturan yang ada. BAPEDA KOTA DEPOK 97 . masing-masing sebuah UU yaitu UU No. 5.25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

3. perlu mempertimbangkan aspek memupuk modal sosial ini. seperti dalam buku ”Mewujudkan partisipasi.2. dan menggunakan dana publik. setiap aktivitas yang dilakukan. 21 Teknik Partisipasi Masyarakat untuk Abad 21” terbitan The British Council. serta telah menggambarkan derajat partisipasi yang ada dalam proses perencanaan di lingkungan pemerintahan. Dalam banyak kasus. seorang mantan birokrat. terdapat banyak kegiatan pemerintah yang didanai oleh anggaran publik yang justru mengikis modal sosial yang ada. ketika Presiden Amerika Lyndon Johnson memulai Program Kota Model pada tahun 1966. namun aspek kepercayaan (saling percaya) merupakan faktor yang paling menentukan dalam menentukan tinggi rendahnya modal sosial. 5. terutama oleh pemerintah. Tolok ukur pengembangan modal sosial Tolok ukur kontribusi proses perencanaan terhadap pengembangan modal sosial merupakan langkah awal untuk memasukan aspek pengembangan modal sosial dalam setiap proses pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Artinya jika suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 98 . Pilihan terhadap tipologi Arnstein ini adalah karena kesederhanaan konsepnya. Itu artinya. Tipologi yang digunakan adalah tipologi partisipasi yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). Arnstein adalah penasehat utama tentang partisipasi warga pada Departemen pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat. sehingga relatif mudah untuk dipahami. tipologi Arsntein ini yang digunakan. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi Tolok ukur tipologi partisipasi adalah untuk mengetahui derajat partisipasi dari proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok telah berada pada jejang / tangga partisipassi yang mana. Dalam berbagai kepustakaan terakhir tentang pengembangan partisipasi warga. Meskipun aspek modal sosial ini memiliki banyak dimensi.

25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 1. Sedangkan jika kegiatan itu tidak mengubah sama sekali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Tinjauan Evaluatif Proses Perencanaan di Kota Depok Peraturan Perundang-undangan / Kebijakan I. UU No. Penyusunan RPJP • Musrenbang Penyusunan RPJP yang melibatkan masyarakat (Pasal 11 ayat 1) No. sosial ini. maka itu artinya kegiatan itu memberikan kontribusi positif pada pembentukan modal sosial. Derajat kontribusi positif dapat bervariasi dari rendah. dan tinggi. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. maka kontribusi kegiatan itu terhadap pembentukan modal sosial bersifat netral. 2. Pelaksanaan di Kota Depok Catatan Evaluatif Pemerintah menyiapkan draft RPJP dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. perlu senantiasa mempertimbangkan aspek modal 5. Penyusunan RPJM • Musrenbang Penyusunan RPJM yang melibatkan masyarakat (Pasal 16 ayat 2) Pemerintah menyiapkan draft RPJM dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan.4. Tinjauan Evaluatif Berdasarkan ketiga tolok ukur tersebut di atas. maka evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel Tabel 14. sedang. • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah BAPEDA KOTA DEPOK 99 . maka masyarakat kontribusi kegiatan itu pada pembentukan modal sosial bersifat negatif. mengurangi kepercayaan Sebaliknya jika kegiatan itu malah kepada pemerintah. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap perencana dan pelaksana kegiatan pembangunan di Kota Depok ke depan.Kajian Perencanaan Partisipatif menambah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan sebalikya.

penyusunannya tanpa keterlibatan masyarakat 5.Daftar prioritas dari RW umumnya belum ada .Hasil evaluasi belum dipaparkan • Kesesuaian dengan Jukius : Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral Masukan dari Kecamatan . Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri 1. kemiskinan.Daftar masalah dan usulan kegiatan prioritas kelurahan . Renstra-SKPD.Hasil evaluasi pemerintah kota dan kecamatan . Penyusunan Renja-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Masing-masing SKPD menyusun Renja-SKPD tanpa melibatkan masyarakat 6. Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. Penyusunan RKPD • Musrenbang Penyusunan RKPD hanya melibatkan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2) 4. • Sesuai dengan aturan • Derajat Partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Belum sesuai dengan aturan Masukan dari kelurahan: .Informasi dari pemerintah Kota tentang indikasi jumlah alokasi BAPEDA KOTA DEPOK Belum ada Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Hasil evaluasi kegiatan pembangunan kelurahan tahun sebelumnya • Masukan dari Kecamatan / Kota . RKPD.Daftar permasalahan kelurahan seperti kerawanan. RPJM Daerah. Renstra-SKPD. RPJM Daerah. RKPD.Pemberian informasi dari kecamatan dan kota belum dilaksanakan 100 . Musrenbang Kelurahan • Masukan dari Kelurahan .Kajian Perencanaan Partisipatif 3. II.Belum ada dokumen Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) Kelurahan .Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah kelurahan . pengangguran .Daftar prioritas masalah RW dan kelompok-kelompok masyarakat . Masing-masing SKPD telah memiliki Renstra. RenjaSKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah. Penyusunan Renstra-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Pemerintah kota menyiapkan RKPD dan dibahas oleh unsur-unsur pemerintah. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah (Pasal 27 ayat 2).

Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang • Mekanisme . organisasi masyarakat.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kelurahan (form 1.Dokumen RKPT dari masing-masing kelurahan • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis 101 . wakil kelompok perempuan.3) . • Keluaran .Musrenbang di RW dan kelompok masyarakat belum dilaksanakan . pemaparan lurah. penetapan perwakilan ke musrenbang kecamatan. pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan. dan 1. musyawarah di RW dan kelompok-kelompok masyarakat. kelompok tani. wakil kelompokpemuda. pengusaha. tokoh agama.Kajian Perencanaan Partisipatif dana kelurahan .2) dan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan melalui SKPD (form 1. komite sekolah dll.Tahap Persiapan (penetapan tim fasilitator musrenbang. pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Tahap pelaksanaan (pemaparan camat.Sesuai dengan Juknis Peserta: .Belum sepenuhnya mewakili kelompokkelompok yang ada di kelurahan Masukan dari kelurahan .5) yang berisi prioritas kegiatan pembangunan skala desa (form 1. • Peserta Peserta adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok): ketua RT/RW. 2. Musrenbang Kecamatan • Masukan dari Kelurahan .Pengumuman terbuka dan pendaftaran terbuka belum dilaksanakan Keluaran: .1.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Tahunan dari BAPEDA KOTA DEPOK Mekanisme: .Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke musrenbang kecamatan. pemisahan kegiatan yang diselesaikan di kelurahan dan yang akan menjadi tanggung jawab SKPD.

pemaparan Tim Penyelenggara Musrenbang.Prioritas kegiatan tahun mendatang dari SKPD tersedia / tidak tersedia Mekanisme: . penetapan perwakilan ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota.Kajian Perencanaan Partisipatif masing-masing kelurahan . pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Daftarkegiatan prioritas yang akan dilaksanakan melalui SKPD .Penjelasan nama dan jumlah Forum SKPD dan Forum Gabungan SKPD • Mekanisme . • Masukan dari Kecamatan / Kota .Belum semua perwakilan 102 . /Kota .Daftar nama delegasi dari kelurahan dan wakilkelompok fungsional / organisasi sosial kemasyarakatan. • Keluaran .Pengumuman terbuka 7 hari sebelumnya dan pendaftaran terbuka belum dilakukan. Verifikasi dari delegasi kelurahan. kesepakatan kegiatan prioritas pembangunan kecamatan berdasarkan masing-masing SKPD. • Peserta Peserta Musrenbang Kecamatan BAPEDA KOTA DEPOK tersedia / tidka tersedia • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah Masukan dari Kec.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. Keluaran: Peserta: . LSM yang bekerja di kecamatan.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan yang akan dibiayai oleh anggaran kecamatan . pemaparan kepala cabang SKPD setempat atau pejabat SKPD Kota.Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang yang dirinci berdasarkan SKPD . koperasi.

Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Tahap pelaksanaan (pemaparan oleh Kepala SKPD.Rancangan Renja – SKPD .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi.Di beberapa SKPD dilaksanakan Masukan dari Kota Masukan dari kecamatan: .Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme . serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: . • Masukan dari Kota: . menyusun rekomendasi regulasi. penetapan perwakilan Forum SKPD ke Musrenbang Kota. • Keluaran .Kajian Perencanaan Partisipatif adalah perwakilan dari kelurahan dan dari kelompok-kelompok masyarakat yang beroperasi dalam skala kecamatan.Kegiatan prioritas yang sudah BAPEDA KOTA DEPOK kelompok masyarakat di kecamatan hadir • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif .Pengumuman terbuka dan pendaftaran tidak dilakukan. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) . 3.Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) . menetapkan kegiatan prioritas. verifikasi kegiatan prioritas dari kecamatan. perguruan tinggi.Sesuai dengan Juknis 103 .Rancangan Renja-SKPD .Tersedia Mekanisme: .Rekomendasi regulasi belum banyak dieksplorasi Keluaran: .Sedang Masukan dari Provinsi dan kementerian Negara: . Peserta datang karena diundang.Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Forum SKPD. . Forum SKPD • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi. LSM.

Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) . 104 .Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Masukan hanya dari Provinsi Masukan dari Kota: • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah.Pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran belum dilakukan. .Kajian Perencanaan Partisipatif dipilah berdasar sumber pendanaan. Musrenbang Kota • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi. dan plafon anggaran. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Telah sesuai Juknis Mekanisme: .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kota. . • Masukan dari Kota: .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) . 4.Belum semua kelompok yang berkaitan dengan SKPD hadir Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Dilakukan penyederhanaan proses dibandingkan dengan Juknis. LSM. perguruan tinggi.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme . Masukan dari Kecamatan: . • Peserta Peserta adalah delegasi kecamatan dan dari kelompokkelompok masyarakat yang berkaitan dengan SKPD atau gabungan SKPD.Rancangan Renja – SKPD .Tahap pelaksanaan (pemaparan Rancangan RKPD.Berita Acara dan Daftar nama delegasi dari Forum SKPD ke musrenbang Kota. pemaparan hasil kompilasi dan BAPEDA KOTA DEPOK Peserta: .

2 Tahun 2004 1.Kesepakatan untuk pemutakhiran rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD.aparatur perencana di setiap unit kerja perangkat daerah Pemantapan Perencanaan Partisipatif BAPEDA KOTA DEPOK 105 . Sosialisasi Pembangunan • Materi: APBD Kota Depok tahun yang bersangkutan • Mekanisme Pemaparan oleh Kepala Bappeda dan dialog interaktif pihak eksekutif (Walikota / Wakil Walikota / Sekda) dengan peserta • Peserta Peserta adalah elemen masyarakat kecamatan dan kelurahan.Sesuai dengan Juknis Peserta: Peserta bukan hanya delegasi Musrenbang Kecamatan dan Forum SKPD.Sesuai dengan aturan • Kesesuaian dengan Juknis: Sudah sesuai sesuai atuan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral III. juga dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili organisasi-organisasi skala kota. dan delegasi forum SKPD. Keputusan Walikota No. pemutakhiran rancangan RKPD dan pembahasan kebijakan pendukung) • Keluaran . Sosialisasi Pembangunan . 2. pemerintah daerah dan anggota DPRD dari daerah pemilihan yang bersangkutan. Pemantapan Perencanaan partisipatif • Peserta: Pengurus LPM Kelurahan dan FKA LPM Kecamatan.Kajian Perencanaan Partisipatif verifikasi oleh SKPD. delegasi kecamatan. • Peserta Peserta adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD Keluaran: . penetapan prioritas. pembahasan kriteria untuk kegiatan prioritas.

FKA LPM Kecamatan dan BAPEDA KOTA DEPOK Survey Teknis Perencanaan Kompilasi dan Restrukturisasi Program 106 .Pelaksanaan survey .Penetapan tim survey .Persiapan .Metode Penjaringan Aspirasi Masyarakat .Tim Survey Bappeda dan Unit Kerja Perangkat Daerah .Kajian Perencanaan Partisipatif • Fasilitator: Bappeda dan unsur perguruan tinggi / tenaga ahli / NGOs yang memiliki kompetensi dalam perencanaan partisipatif • Materi: . Survey Teknis Perencanaan • Pihak yang terlibat .Teknik Penyusunan Anggaran Biaya .Metode: kuliah umum.Penetapan mekanisme dan penilaian hasil oleh tim survey .Pendamping dari perwakilan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan • Materi Hasil kesepakatan diskusi terfokus • Mekanisme .Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja . Kompilasi dan Restrukturisasi Program • Pihak yang terlibat: Bappeda dan unit peranghkat kerja.Konsep dan mekanisme perencanaan partisipatif . tanya jawab.Teknik Penyusunan Dokumen Usulan Perencanaan • Mekanisme .Penilaian hasilsurvey 5. simulasi dan praktekl penyusunan rencana 3.

meskipun masih terdapat beberapa yang belum sesuai dengan aturan / kebijakan yang ada.Tim melakukan sinkronisasi program yang diusulkan tiap unit kerja sebagai hasildiskusi terfokus dan hasil survey • Materi Usulan program kegiatan unit kerja. proses dan output. Sebagai sebuah proses.5. Dari segi masukan (input).Kajian Perencanaan Partisipatif perwakilan diskusi stakeholders terfokus.1. hal ini dapat dilihat dari sisi input materi dan input peserta yang terlibat dalam proses perencanaan. Workshop Isu Strategis Workshop Isu Strategis 5. • Mekanisme . evaluasi terhadap perencanaan yang dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Pembahasan 5. proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok secara garis besar telah sesuai dengan prosedur yang ada. Evaluasi Kesesuaian Proses Berdasarkan Aturan. hasil FKPP Kecamatan dan hasil diskusi terfokus yang telah disurvey. Input materi adalah bahan-bahan tertulis / dokumen serta materi berupa bahan BAPEDA KOTA DEPOK 107 .5. Dari segi peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang perencanaan. IV Lain-lain 1.Tim kompilasi dan restrukturisasi program melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan mekanisme . yaitu berkaitan dengan input.

Kemudian evaluasi terhadap hasil pembangunan tahun tidak dapat sebelumnya pada masing-masing tingkatan. disediakan. Berkaitan dengan penyusunan RPJM Kelurahan. Namun dengan adanya Peraturan yang mengakui Kelurahan sebagai SKPD. Di level kelurahan. seluruh dokumen yang dibutuhkan telah menjadi acuan bagi peserta musyawarah untuk membuat perencanaan diterima peserta beberapa hari sebelumnya. yang sangat menyolok adalah ketiadaan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. Karena ketiadaan dana untuk penggandaan materi. Padahal evaluasi terhadap hasil pembangunan pada tahun selanjutnya. sebagai basis untuk menyepakati rencana di level masing-masing. Yang kerap kali muncul adalah ketergesa-gesaan dalam persiapan pelaksanannya. BAPEDA KOTA DEPOK 108 . serta program-program yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. Berkaitan dengan penyediaan dokumen-dokumen sebagai bahan bagi peserta dalam proses perencanaan. beberapa dokumen yang seharusnya dimiliki peserta Musyawarah juga umumnya tidak tersedia. Artinya. maka pengadaan RPJM atau Renstra Kelurahan harus menjadi prioritas di masa datang yang segera.Kajian Perencanaan Partisipatif pemaparan dari berbagai unit birokrasi yang perlu diterima oleh peserta. Pemerintah Kota Depok tampaknya belum merasa urgen terutama dikaitkan belum diakuinya Kelurahan sebagai SKPD di masa lalu. proses yang ada malah memberikan kontribusi negatif bagi pengembangan modal sosial. alasan klasiknya adalah keterbatasan dana untuk penggandaan berbagai dokumen. Idealnya. Kemudian. dan Musrenbang Kota. SKPD. sehingga bisa dipelajari lebih awal. berpotensi menurunkan kepercayaan warga kepada pemerintah. pada level Kecamatan. maka tidak ada insentif untuk mengadakannya. Padahalkondisi ini. secara tidak disadari.

Kemudian Tim Penyelenggara membuka pendaftaran dan atau tentang kegiatan itu dan karena kepeduliannya datang mengundang para peserta. kepada Tim Penyelenggara Musrenbang atau Forum SKPD diharuskan mengumumkan secara terbuka jadual. dan tempat penyelenggaraan acara. atau bahkan mungkin tidak ada peserta yang hadir di forum perencanaan karena mendapatkan informasi mendaftar. Dari sisi input peserta. Sehubungan dengan itu diperlukan studi tentang biaya transaksi yang dibutuhkan untuk pencapaian kesepakatan / keputusan pada forum musyawarah perencanaan pada berbagai tingkatan. Dapat dikatakan sangat sedikit. yang aktif mungkin memiliki Acuan ini memang dapat ditafsirkan dan berminat mengikuti forum berbeda-beda tentang apakah apakah jika ada warga Depok yang peduli. Jika hal ini tidak dimungkinkan karena alasan klasik keterbatasan dana. maka setidaknya dibuka pemberian kesempatan untuk mengajukan usulan tertulis yang dikirim melalui faksimili atau melalui e-mail. gagasan. musyawarah perencanaan itu dapat ikut mendaftar? Pendaftaran secara ini penting untuk mengukur keseriusan warga untuk mengikuti kegiatan Musrenbang atau Forum SKPD. Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam penyusunan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam proses perencanaan. selambatlambatnya 7 hari sebelum pelaksanaan. Dalam Petunjuk Teknis yang ada. model yang dilaksanakan selama ini adalah peserta hadir dalam berbagai forum musyawarah perencanaan karena diundang. agenda pembahasan. karena kemauan baik saja belum cukup. salah satu cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan adalah adanya komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. BAPEDA KOTA DEPOK 109 .Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diidentifikasi oleh Uphoff dan Cernea (1988).

Dari sisi keluaran (output). Disamping itu belum utuhnya pemahaman terhadap peran sebagai warga negara yang memiliki hak untuk ikut menentukan tentang apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya memberikan kontribusi pada sikap apatisme masyarakat dalam proses-proses perencanaan. mengkritisi usulan. dianggap sebagai proses belajar (social learning) sekaligus membangun modal sosial di antara sesama warga. Pelaksanaannya umumnya hanya sehari. bagi sebagian warga. berbagai pihak kesempatan mempersiapkan materi yang akan dibawa ke forum tersebut. dibanding dengan Musrenbang di tingkat Padahal Musrenbang dan dapat Kelurahan merupakan ruang terbesar bagi masyarakat yang terlibat selanjutnya. Akhirnya. Dari segi proses (mekanisme). Disamping itu ada keengganan dari para peserta musyawarah untuk berdiskusi secara lebih rinci karena telah terbentuk persepsi bahwa belum tentu apa yang diusulkan dapat diakomodir dan dibiayai oleh dana APBD. Musrenbang atau Forum SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif Disamping sehingga itu pemberitahuan selambat-lambatnya kepada 7 hari sebelum untuk diadakan Musrenbang atau memberikan Forum SKPD seharusnya dapat dilakukan. menyampaikan usulan. yang terjadi adalah masih kuatnya cara-cara lama dengan berlomba-lomba membuat semacam “shoping list” atau BAPEDA KOTA DEPOK 110 . kendala yang umum terjadi adalah kendala waktu. Ini antara lain untuk menjamin kualitas pelaksanaan dari Musrenbang atau Forum SKPD. bahkan setengah hari di Musrenbang Kelurahan. hanya dianggap kegiatan ritual semata tanpa makna yang berarti untuk kemajuan kotanya. mengklarifikasi usulan serta berbagai aspek dari hal-hal yang direncanakan. Hal ini tidak memberikan kesempatan yang luas kepada para peserta untuk mendiskusikan.

kesan bahwa program masih didominasi untuk kepentingan pemerintah. Dari sisi output akhir pun (dalam bentuk APBD). sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk mengkritisi maupun mengklarifikasi usulannya. dan lingkungan hidup. terbukti dengan kecilnya alokasi anggaran untuk sektor-sektor ekonomi kerakyatan. Waktu pelaksanaan musrenbang sangat singkat. kota/kabupaten. yaitu (Rudiyanto dan Setiawan 2007): 1. politis. pengentasan kemiskinan. dan egoisme sektoral. Masyarakat belum enggan karena Jadi usulannya belum saja tentu dapat ke mempengaruhi proses penganggaran. sulit dihindari. terdapat beberapa fakta berkaitan dengan pelaksanaan proses perencanaan (Musrenbang dan Forum SKPD).Kajian Perencanaan Partisipatif “daftar belanja” yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kebutuhan. prioritas. Disamping itu. merasa percuma datang musrenbang. 5. Masyarakat kurang menguasai substansi dari program-program yang diusulkan oleh dinas-dinas. Usulan yang terdahulu pun direalisasikan. Menurut Kajian Bappenas. 2. dan ketersediaan anggaran. maka ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat tentang kemungkinan berperan serta dalam membuat keputusan dalam forum sejenis di masa datang. Pemahaman partisipasi dari pemerintah daerah yang muncul dalam Musrenbang adalah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat kelurahan. tidak ada informasi balik segera kepada warga tentang ”nasib” dari usulan-usulan mereka. Masyarakat kurang memahami proses musrenbang 4. dan provinsi BAPEDA KOTA DEPOK 111 . 3. kecamatan.

derajat tokenisme. maka pendapat. dan dalam beberapa aspek ikut mengubah hal-hal kecil dari draft rencana yang ada. BAPEDA KOTA DEPOK consultation (konsultasi). pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan. Derajat tokenisme ini meliputi jenjang mulai dari dan informing placation (menginformasikan). pandangan. Keengganan besar. Yang terjadi adalah. pemerintah untuk melibatkan masyarakat karena memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya yang relatif cukup 5. Istilah tokenisme ini bermakna bahwa langkah yang dilakukan merupakan kebijakan sekadarnya yang berupa upaya artifisial (dangkal. dan masukan dari masyarakat hanya sekadar didengar atau dicatat. proses Musrenbang dan Forum SKPD masih berkisar pada. Evaluasi Derajat Partisipasi Dari sisi derajat partisipasi. Namun tidak ada umpan balik dan mekanisme bagi warga untuk mengetahui apakah berbagai usulan itu benar-benar diakomodir dalam rancangan rencana untuk pembahasan selanjutnya atau hanya sekadar dicatat dalam notulen pertemuan. Dari segi proses. tanpa mengetahui apakah berbagai usulan warga diakomodir atau tidak. usulan.5. Namun output yang dihasilkan dari proses seperti ini memiliki derajat legitimasi dan akseptabilitas yang relatif lebih rendah.2. strategis. dibandingkan dengan jika prosesnya dilaksanakan secara kemitraan (partnership). yaitu dengan mengakomodir hal-hal yang kecil dan tidak 112 . (penentraman). perencanaan dengan jenjang derajat tokenisme ini memang memberikan hasil. menurut Tipologi Partisipasi Arnstein.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. warga kemudian telah diajak lagi untuk mengikuti proses sejenis (Musrenbang dan Forum SKPD) untuk proses perencanaan tahun berikutnya. Pada derajat tokenisme ini.

Kontribusi negatif.3. Belum lagi usulan-usulan dari kelurahan dan kecamatan yang ternyata tidak diakomodir sama sekali dalam APBD. dan Musrenbang Kota. Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan itu biasanya muncul dalam kegiatan Sosialisasi Pembangunan ketika Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan APBD yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. sehingga dokumen hasil musrenbang dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada sanksi khusus yang jelas ketika Pemerintah tidak mengakomodir hasilhasil musrenbang secara layak. Di masa mendatang. Seoptimal dan sekeras apa pun upaya pemerintah untuk melaksanakan proses perencanaan dengan melibatkan masyarakat. Kontribusi proses perencanaan bersifat negatif. Malahan muncul kegiatan yang justru tidak diusulkan semakin menambah ketidakpercayaan itu. Faktor lainnya adalah masih adanya dualisme antara proses perencanaan yang melibatkan BAPEDA KOTA DEPOK 113 . Evaluasi Kontribusi terhadap Modal Sosial Sebagai akibat dari proses yang dipaparkan pada bagian terdahulu. perlu aturan yang jelas tentang hal ini. netral dan positif tingkat rendah. karena secara tidak disadari proses yang dilaksanakan justru mengurangi kepercayaan warga kepada pemerintah. maka proses kontribusi proses perencanaan Kota Depok melalui Musrenbang kelurahan. Musrenbang kecamatan. namun kesan bahwa pelaksanaan kegiatan itu hanya sekadar ritual tahunan merupakan indikator berkurangnya kepercayaan masyarakat. terhadap pengembangan modal sosial berkisar antara negatif.Kajian Perencanaan Partisipatif Kondisi seperti itu terjadi karena musrenbang hanya dipandang sebagai kegiatan bermusyawarah belaka.5. Forum SKPD. Namun faktor proses perencanaan memang bukan faktor tunggal yang memberikan kontribusi terhadap kondisi ini. 5.

Kajian Perencanaan Partisipatif

masyarakat dengan proses penganggaran yang sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hal ini menyebabkan usulan yang disepakati dalam proses perencanaan banyak yang tereduksi di proses penganggaran. Usulan dari masyarakat terhenti hanya sampai pada penyusunan RKPD. Proses selanjutnya dilakukan oleh panitia anggaran eksekutif, panitia anggaran legislatif, dan masing-masing SKPD. Peran masyarakat tidak ada sama sekali dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. Hal ini yang menyebabkan usulan dari masyarakat hasil musrenbang bisa tidak diperhatikan. Di samping itu, proses penyusunan dan penetapan anggaran ini sudah diwarnai oleh kepentingan politik baik dari pihak DPRD maupun eksekutif (Rudiyanto dan Setiawan, 2007). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa tidak tuntasnya proses partisipasi

masyarakat sampai ke tingkat perencanaan anggaran menyebabkan masyarakat tidak mengetahui seberapa banyak program dalam APBD mengakomodasi hasil-hasil musrenbang. Dengan kata lain sering terjadi adanya inkonsistensi antara APBD yang ditetapkan pemerintah dengan hasil kesepakatan dalam musrenbang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi bahwa pendekatan partisipatif pada akhirnya hanya sekedar mobilisasi masyarakat saja untuk melegalkan proses perencanaan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu pembenahan dalam proses penyelenggaraan musrenbang termasuk ketersediaan informasi, waktu, keterwakilan pemangku kepentingan dalam pembahasan, kejelasan kriteria dalam penetapan hasil, serta pemanfaatan hasil musrenbang secara langsung dalam penetapan prioritas kebijakan, program dan kegiatan dalam Renja-SKPD dan RKA-SKPD, dan penetapan RAPBD. Kontribusi netral. Kontribusi proses perencanaan dapat bersifat netral

terhadap modal sosial karena proses yang ada tidak mengubah apa-apa
BAPEDA KOTA DEPOK

114

Kajian Perencanaan Partisipatif

dari sisi pengembangan modal sosial. Proses yang ada tidak menambah atau mengurangi posisi tingkat kepercayaan masyarakat yang ada terhadap pemerintah. Ini dapat terjadi karena bagi kelompok ini telah terbentuk persepsi bahwa mungkin seperti itulah proses perencanaan yang seharusnya ada. Proses itulah yang optimal bisa dijalankan, meskipun ada ketidakpuasan-ketidakpuasan. Kontribusi positif. Proses perencanaan dapat memberikan kontribusi positif pada modal sosial, jika proses itu memberikan hasil yang nyata berupa usulan-usulan yang disampaikan dalam proses perencanaan di musrenbang itu diterima, dan mereka bisa terlibat dalam kegiatankegiatan kontribusi yang mereka usulkan yang didanai tidak oleh cukup APBD. besar Namun dalam positif proses perencanaan

pengembangan modal sosial, karena kesan umum yang muncul adalah bahwa secara keseluruhan proses perencanaan belum separtisipatif yang mereka bayangkan. Artinya, kualitas partisipasi dari proses perencanaan yang ada di Kota Depok sesungguhnya masih dapat ditingkatkan.

BAPEDA KOTA DEPOK

115

Kajian Perencanaan Partisipatif

Berdasarkan tinjauan evaluatif yang dilakukan, maka penguatan proses perencanaan di Kota Depok ke depan setidaknya memenuhi tiga kriteria: (1) sesuai dengan aturan yang ada, (2) derajat partisipasinya mencapai level kemitraan (partnership) menurut Tipologi Arnstein, (3) memberikan kontribusi positif pada pengembangan modal sosial. Dengan menggunakan ketiga kriteria itu, maka setidaknya terdapat empatskenario untuk penguatan proses perencanaan partisipatif di Kota Depok, yaitu: (1) Skenario Status Quo, (2) Skenario Taat Aturan, (3) Skenario Kemitraan, dan (4) Skenario Kemitraan-Apresiatif.

6.1. Skenario I : Tanpa perubahan berarti (status quo)
Skenario pertama ini dapat disebut sebagai ”Skenario Status Quo”. Mempertahankan ”status quo” atau pendekatan ”tidak mengubah apa pun” berarti melaksanakan proses dan mekanisme perencanaan pembangunan seperti yang sudah dilakukan selama ini. Penerapan proses itu sendiri merupakan interpretasi Pemerintah Kota Depok, yakni Bapeda, terhadap Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang sebagaimana yang tertuang dalam lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.

BAPEDA KOTA DEPOK

116

(4) membutuhkan biaya yang relatif tidak besar dan besarannya sudah diketahui. sebagai basis untuk penyusunan RAPBD. warga sehingga terhadap memunculkan output yang ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dihasilkan. terutama dari segi masukan. 6. proses yang ada saat ini masih berada pada derajat tokenisme. dan perbedaana antara warga dan pemerintah. terutama berkaitan dengan penetapan prioritas. Kelebihan ”Skenario Status Quo” Kelebihan dari skenario ini adalah dapat mempertahankan hal-hal positif yang sudah terbentuk melalui proses yang sudah dilaksanakan dan kebutuhan biaya untuk pelaksanaannya telah diketahui.1. proses yang ada berpotensi untuk membangun ketidakpercayaan warga (distrust) BAPEDA KOTA DEPOK 117 . baik antara sesama warga. (3) telah terbangun mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perbedaaan-perbedaaan. maka telah terbentuk persepsi bahwa memang seperti itulah proses perencanaan di sebuah kota berlangsung. sesama pemerintah. (5) 6.1. dan mekanisme. (2) karena sudah berlangsung beberapa tahun dengan proses yang relatif sama. peserta. (3) dari perspektif pengembangan modal sosial. (2) jika mengacu pada tipologi partisipasi yang ada.Kajian Perencanaan Partisipatif Meskipun masih muncul kekecewaan terutama dari masyarakat (LPM dan LSM) mengenai proses perencanaan tersebut. Kekurangan ”Skenario Status Quo” Kekurangan dari skenario status quo ini adalah: (1) jika mengacu pada Petunjuk Teknis yang ada masih terdapat beberapa hal yang masih harus dipenuhi. dibutuhkan yaitu menghasilkan Rencana namun secara prosedur kepemerintahan proses yang ada itu telah menghasilkan output yang Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Hal-hal positif yang ada dari proses yang sudah dijalani selama ini antara lain: (1) berbagai pihak yang terlibat dalam proses itu (pemerintah dan warga) sudah memiliki pengalaman bersama tentang bagaimana proses perencanaan itu dijalankan.2.1.

Kajian Perencanaan Partisipatif kepada pemerintah. agar semua pihak yang terlibat dapat semaksimal mungkin mengikuti proses perencanaan sesuai dengan aturan yang ada. kelompok perempuan. kelompok-kelompok masyarakat. dan sepenuhnya bergantung pada sumber daya terutama dana dari luar yaitu APBD. Pada Tahap Persiapan Musrenbang Kelurahan perlu dilakukan musyawarah pada level masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) dan kelompok-kelompok masyarakat seperti: kelompok tani. proses perencanaan pembangunan yang ada diupayakan untuk semaksimal mungkin mengikuti peraturan perundangan dan petunjuk teknis yang ada. Skenario II : Memenuhi aturan / pedoman yang ada Skenario kedua ini bisa disebut sebagai ”Skenario Taat Aturan / Pedoman Pusat”. Jika Petunjuk Teknis Musrenbang 2007 dijadikan acuan. c. BAPEDA KOTA DEPOK 118 .2. dll). Disamping itu. maka pemerintah kota perlu membuat pedoman-pedoman dan pelatihan capacity building. dan di level kelurahan. Keluaran dari musyawarah di tingkat RW / kelompok masyarakat ini adalah: a. terutama bagaimana bagi pemerintah kelurahan di dan masyarakat. (4) tidak terbangun kemandirian warga untuk membangun wilayahnya sendiri. (5). 6. gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing RW/Kelompok untuk diajukan ke Musrenbang Kelurahan. Wakil / delegasi RW / kelompok yang akan hadir di Musrenbang kelurahan. tentang proses perencanaan level RW. maka beberapa hal yang sehaharusnya ada adalah: 1. Dengan skenario kedua ini. kelompok pemuda. daftar masalah dan kebutuhan b.

Perlu tersedia dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. Membuka pendaftaran bagi warga kelurahan yang peduli dan berkeinginan untuk hadir. maka Pemerintah Kota antara lain perlu menyediakan berbagai pedoman tertulis bagi warga RW dan kelompokkelompok masyarakat tentang bagaimana melakukan musyawarah. tanpa ada satu pedoman-pedoman untuk musyawarah RW dan kelompok-kelompok BAPEDA KOTA DEPOK 119 . dari sekian banyak hal yang harus dilakukan. serta pedoman penyusunan RPJM Kelurahan dan pelatihan bagi tim penyusunnya. 6. RW-RW dan kelompok-kelompok masyarakat belum secara rutin melakukan melakukan musyawarah sebagaimana yang diminta dalam Petunjuk Teknis itu. Kepada warga kelurahan belum diberikan kesempatan terbuka bagi siapa saja yang peduli yang ingin mengikuti Musrenbang. 3. (2) akan terbentuk kepuasan secara psikologis terutama di pun yang terlewatkan. belum terlaksana. (3) jika aparat perencana bahwa seluruh proses perencanaan telah mengikuti aturan yang ada. Kemudian belum tersedia dokumen RPJM Kelurahan pada masing-masing kelurahan. ketiga hal tersebut di atas sebagai contoh. Jika skenario ini yang dipilih. Di Kota Depok. termasuk pelatihan bagi tenaga fasilitator untuk pelaksanaan musyawarah pada level ini.2. Alasan yang kerap dikemukakan adalah biaya yang terbatas dan ketidaktersediaan tempat yang memadai untuk menampung peserta yang banyak. Kelebihan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) semua dokumen untuk proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan proses perencanaan akan tersedia.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Bahkan acuan untuk penyusunan RPJM Kelurahan pun belum tersedia.1.

Kecamatan. Kekurangan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kekurangan dari skenario ini pedoman-pedoman. (5) 6. maka dokumen-dokumen perencanaan di berbagai level (Kelurahan. maka itu akan memunculkan persepsi positif tentang keseriusan pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. draftnya dihasilkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. dan berpotensi membangun modal sosial di level lokal. dan Kota). Skenario III : Memenuhi Aturan + Kemitraan Skenario ketiga ini dapat disebut ”Skenario Kemitraan”.3. (4) pemberian kesempatan kepada pihak-pihak yang peduli dan ingin hadir sebagai peserta Musrenbang (Kelurahan. (5) akan terjadi proses belajar bersama (social learning) di tingkat lokal.2. Kecamatan dan Kota) dan Forum SKPD akan meningkatkan legitimasi dan akseptibilitas terhadap hasil dari proses perencanaan. kelurahan.2. sehingga secara tidak disadari memunculkan mentalitas ketergantungan. Melalui skenario ini. termasuk pengadaan pelatihan-pelatihan tim penyusunan ledakan RPJM harapan. sehingga berpotensi menimbulkan kekecewaan dan berkontribusi negatif terhadap pengembangan modalsosial. 6. (4) derajat partisipasi yang ada tidak beranjak dari derajat tokenisme. serta biaya dan kemungkinan diusulkan adalah: (1) akan ada biaya tambahan bagi di fasilitator level dimana musyawarah (2) yang untuk melaksanakan semua proses yang ada. kemudian BAPEDA KOTA DEPOK 120 . SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif masyarakat tersedia. kegiatan munculnya warga kemungkinan besar tidak dapat diakomodir oleh anggaran yang tersedia. (3) skenario ini masih menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). (6).

Dengan demikian. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) 4. Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) Model kemitraan dalam penyusunan dokumen rencana ini mengharuskan adanya pelembagaan stakeholders (semacam forum warga) pada berbagai level. Pada level kecamatan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan 3. Pada level kelurahan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok 2. 5. Pada level kota difasilitasi pembentukan Forum Stakleholders Kota 2.1. Kelebihan ”Skenario Kemitraan” Kelebihan dari skenario kemitraan ini adalah: (1) keluaran dokumen akan lebih aspiratif dan mengakomodir kepentingan dan cara pandang pemerintah serta kepentingan dan cara pandang masyarakat. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). 6. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 121 .3. maka pemilihan dan penetapan individu yang akan duduk dalam Tim Penyusun draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam masing-masing forum stakeholders secara terbuka dan demokratis.Kajian Perencanaan Partisipatif pembahasan draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam forum stakeholders pada setiap level. Dokumen-dokumen rencana itu adalah: 1. Pada tiap SKPD difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD 4. 1. 6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan 7. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Depok 3.

di Kecamatan. kecamatan. inisiatif.3.4. BAPEDA KOTA DEPOK 122 . Melalui skenario ini. maka akan terbangun modal sosial pada berbagai level pemerintahan. pemecahan (3) pendekatan (problem yang dilakukan masih pendekatan tidak masalah solving approach). (5) 6. dan Kota. Skenario IV : Kemitraan + Pendekatan Apresiatif Skenario keempat bisa disebut ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. sehingga memunculkan kemandirian. 6. mulai di level kelurahan. (3) karena terjadi proses belajar bersama (social learning process). (4) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. SKPD. mulai dari level RT/RW dan kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan. serta berbagai biaya transaksi untuk biaya informasi. biaya koordinasi. dan energi kolektif warga secara optimal. Kekurangan ”Skenario Kemitraan” Kekurangan dari Skenario Kemitraan ini adalah: (1) akan ada resistensi dari pihak-pihak. dan biaya lainnya untuk mencapai kesepakatan. dan kota.Kajian Perencanaan Partisipatif keluaran dokumen akan memiliki legitimasi dan akseptabilitas yang tinggi. maka proses perencaan mengintegrasikan antara pendekatan kemitraan seperti pada Skenario III dan dipadukan dengan pendekatan apresiatif pada berbagai level. SKPD.2. (4) akan terjadi pengembangan kapasitas dari sektor masyarakat. (2) dibutuhkan forum-forum menfasilitasi pelembagaan stakehodlers pada berbagai level. terutama berbagai tambahan peran biaya yang setara untuk di pemerintahan (SKPD). karena harus dengan masyarakat.

Kelebihan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) akan terbangun energi positif kolektif pada berbagai level. (2) dokumen perencanaan yang dihasilkan pada masing-masing level merupakan rencana aksi bersama. potensi. dan kearifan lokal.4.Kajian Perencanaan Partisipatif Untuk dapat terlaksana yang skenario dapat ini dibutuhkan oleh fasilitator berbagai yang level memahami pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. tarutama pada level lokal. (3) ledakan harapan dapat dikurangi karena pendekatan apresiatif akan memunculkan prakarsa-prakarsa pada masing-masing level. sehingga akan memunculkan insiatif-insiatif dan kemandirian pada masing-masing level. dan Kota untuk melaksanakan pembangunan di masing-masing level. Kekurangan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kekurangan dari Skenario Kemitraan – Apresiatif adalah: (1) resistensi dari pihak-pihak tertentu. yang perwujudan prakarsa-prakarsa lokal itu akan lebih menggunakan sumber daya.1. 6. SKPD. Kecamatan. (2) membutuhkan tambahan biaya untuk melatih fasilitator yang mampu menfasilitasi pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. sebagai upaya untuk mewujudkan mimpi / harapan bersama. mulai dari RT/RW. digunakan BAPEDA KOTA DEPOK 123 .4. 6. terutama dari pemerintahan.2. serta membuat pedoman-pedoman yang dapat digunakan pada berbagai level. yang harus berbagi peran secara setara dengan masyarakat. (4). serta pedoman-pedoman perencanaan. Kelurahan. (3) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat.

Penyusunan Peraturan Daerah seperti itu membutuhkan kajian ilmiah dalam bentuk draft akademis dan setidaknya membutuhkan disain skenario. Output dari fasilitasi ini adalah dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif BAPEDA KOTA DEPOK 124 .25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Berdasarkan hasil kajian ini. dimana skenario itu diasumsikan akan memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari berbagai sudut.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat 2. RPJM Daerah. UU No. Renstra-SKPD. RKPD. RenjaSKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah. Musrenbang RW dan Kelompok-Kelompok Masyarakat • Fasilitasi warga RW atau Kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif.1. Adapun garis besar teknis pelaksanaan musrenbang berdasarkan skenario ini adalah mengikuti mekanisme yang ada sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musrenbang dengan modifikasi sebagai berikut : 7. setiap Pemerintah Daerah perlu membuat Peraturan Daerah yang mengatur Tata Cara Pnyusunan RPJP Daerah. maka skenario yang direkomendasikan untuk muatan Perda adalah ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”.

RW dan LPM. • Penetapan tim penyusun draft RPJM Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga kelurahan yang dipilih dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Masukan untuk proses ini adalah dokumen KPA RW / Kelompok Masyarakat. Forum ini dapat juga dianggap sebagai forum Musyawarah Anggota menurut Perda Kota Depok No.Kajian Perencanaan Partisipatif (KPA) RW yang memuat: (1) identifikasi prestasi-prestasi yang pernah dicapai oleh RW / Kelompok masyarakat bersangkutan di masa lalu. BAPEDA KOTA DEPOK 125 . Siapa pun warga kelurahan yang peduli terhadap pembangunan kelurahan yang • bersangkutan warga dapat bergabung dalam Forum tersebut dengan mendaftar.2. 7. 13 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan RT. (3) rancangan langkahlangkah dan rencana-rencana aksi yang akan dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan tersebut. Keanggotaan Forum Stakeholders Kelurahan dilakukan secara proaktif dan stelsel aktif. dan (b) rencana yang akan diusulkan (diteruskan) ke Musrenbang Kelurahan untuk mendukung terwujudnya kondisi ideal yang diimpikan bersama. Fasilitasi yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. (2) kondisi yang diinginkan bersama di masa datang sebagai wujud dari mimpi bersama. (4) • Fasilitasi untuk menghasilkan: (a) dokumen rencana yang akan dilaksanakan oleh komunitas RW atau kelompok masyarakat yang bersangkutan dalam mewujudkan kondisi ideal yang diimpikan bersama. Musrenbang Kelurahan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Output: dokumen KPA Kelurahan.

Kajian Perencanaan Partisipatif • • Draft RPJM Kelurahan di bahas dalam Forum Stakeholders Kelurahan Untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) dibentuk tim penyusun draft RKPK Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Kecamatan. Forum SKPD • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD. 7. Warga kecamatan yang peduli terhadap pembangunan kecamatan dapat menjadi anggota Forum ini. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif (KPA) SKPD. • Draft RKPK dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kelurahan 7. BAPEDA KOTA DEPOK 126 . Keikutsertaan dalam Forum ini bersifat stelsel aktif. Individu atau organisasi • yang peduli terhadap bidang tugas SKPD dapat mendaftar menjadi anggota Forum tersebut. Masukan untuk adalah fasilitasi pendekatan kelurahan. Musrenbang Kecamatan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan.3. Keikutsertaan dalam Forum Stakeholders SKPD bersifat stelselaktif. Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders SKPD menggunakan pendekatan apresiatif. • Fasilitasi kegiatan warga ini yang tergabung hasil dalam Forum Stakeholders apresiatif di Kecamatan menggunakan pendekatan apresiatif.4.

Output dari kegiatan ini adalah: dokumen KPA Kota Depok. RPJM. Individu dari unsur masyarakat dipilih secara terbuka dan demokratis dalam Forum Stakeholders Kota. RPJM. • Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kota menggunakan pendekatan apresiatif. Individu unsur masyarakat yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders SKPD. • Dalam penyusunan RPJP. • Draft Renstra-SKPD dan draft Renja-SKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders SKPD. Individu dan organisasi yang peduli pada Pembangunan Kota Depok dapat mendaftar menjadi anggota Forum. • Draft-draft RPJP. dan RKPD. Keanggotaan dalam Forum ini bersifat terbuka dan stelsel aktif. Musrenbang Kota • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kota.Kajian Perencanaan Partisipatif • Dalam penyusunan Renstra-SKPD dan Renja-SKPD. draftnya disusun oleh Tim yang beranggotakan unsur masyarakat dan unsur pemerintah Kota Depok. dan RKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kota Depok. draftnya disiapkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah / SKPD dan unsur masyarakat. Masukan untuk kegiatan ini adalah dokumen KPA Kecamatan dan SKPD. BAPEDA KOTA DEPOK 127 . 7.5.

Kesimpulan • Proses perencanaan pembangunan di Kota Depok adalah untuk menghasilkan dokumen rencana yang menurut UU No. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). 5. (2) tolok ukur tipologi partisipasi untuk menilai derajat partisipasi yang tercipta dalam proses perencanaan perencanaan pembangunan di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif 8. • Evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilakukan melalui 3 tolok ukur: (1) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk menilai seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan dengan aturan / pedoman yang ada. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari dari: 1. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. dan (3) tolok ukur kontribusi pada pengembangan modal sosial untuk menilai kontribusi proses perencanaan pembangunan di Kota Depok terhadap BAPEDA KOTA DEPOK 128 . Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. 4.1. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).

tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. jika mengacu pada tipologi yang yang dikemukakan di Kota oleh Sherry barulah Arnstein pada (1969). 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. dan SK Walikota Depok Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 tentang Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan (FKPP). yaitu UU No. hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 1. • Berdasarkan tolok ukur tipologi partisipasi. BAPEDA KOTA DEPOK 129 . pengoptimalan masukan (input) baik berupa input materi maupun input peserta pada semua tingkatan forum musrenbang dan forum SKPD dengan ikhtiar untuk semaksimal mungkin mengikuti aturan / pedoman yang ada. terutama dalammembangun kepercayaan (trust) warga kepada pemerintah. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman dari pusat. Taraf partisipasi ini ini berpotensi menimbulkan kekecewaan warga dan berpotensi juga menurunkan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman. maka pelaksanaan proses perencanaan di Kota Depok secara umum telah sesuai dengan aturan yang ada. 2. pengoptimalan mekanisme pelaksanaan forum musrenbang dan forum SKPD dengan semaksimal mungkin mengikuti mekanisme yang diatur dalam aturan / pedoman yang ada. tapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah. Pada taraf ini kepada warga memang telah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan. taraf proses perencanaan Depok konsultasi (consultation).Kajian Perencanaan Partisipatif pengembangan modal sosial.

mekanisme. dan pembahasan draftnya dilaksanakan dalam forum stakeholders. • Terdapat empat skenario penguatan proses perencanaan di Kota Depok. maka disain proses perencanaan yang dilaksakanan belum secara sadar mempertimbangkan aspek ini.Kajian Perencanaan Partisipatif • Berdasarkan tolok ukur kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial. BAPEDA KOTA DEPOK 130 . mengikuti pendekatan Appreciative Inquiry yang dikemukakan oleh David Cooperrider. namun diintegrasikan dengan pendekatan apresiatif. 3. (define). Dalam skenario ini. setiap draft dokumen rencana disiapkan oleh tim penyusun draft yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur warga. Skenario ini sama dengan Skenario Kemitraan. Dengan demikian dkumen rencana merupakan hasil kesepakatan stakeholders. dan mewujudkan (deliver). Skenario Kemitraan adalah skenario dimana derajat partisipasi yang diinginkan adalah derajat kemitraan (partnership). 4. merancang mengimpikan (discover). baik dari segi input (masukan). Berbagai tahapan proses perencanaan pembangunan di Kota Depok memberikan kontribusi yang berkisar dari negatif (menurunkan tingkat kepercayaan). (design). yaitu: 1. Skenario Status Quo yaitu skenario dimana proses perencanaan dilakukan tanpa perubahan yang berarti atau sama seperti tahuntahun sebelumnya. 2. maupun output (keluaran). Skenario Taat Aturan Pusat. Skenario Kemitraan-Apresiatif. dan kontribusi positif tingkat rendah. netral. KPA dilakukan menemukan Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan melalui tahapan mendefinisikan (dream). Dalam skenario ini proses perencanaan dengan dilakukan dengan mengikuti semaksimal mungkin peraturan perundangan dan pedoman dari Pusat.

Saran • Berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (Pasal 27 ayat 2).2. • Substansi dan semangat Peraturan Daerah tersebut hendaknya dapat mengakomodir Skenario Kemitraan – Apresiatif dari hasil kajian ini. Pemerintah Kota Depok sebaiknya dapat segera menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. RKPD. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang. RenstraSKPD. BAPEDA KOTA DEPOK 131 .Kajian Perencanaan Partisipatif 8. RPJM Daerah.

No. 1969. An Opportunity for Collaboration and Social Change. Alih bahasa Han Munandar. 1994. Rustiadi E. Universitas Indonesia. 2000. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Pembangunan yang Diprakarsai Masyarakat (Community Driven Development). Tadaro M P. Buku 1. Vol 35. R. Hogget. Tesis. Bogor: Sekolah pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Rudiyanto.R. Tesis. D. 1988. 2004. 2003. London: Mac Millan Press. Submitted ini fulfilment of requirements . A dan Setiawan. The Politics of Decentralisation: Revitalising Local Democracy. Bogor:Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. 2006. Ahmad W T. 2007. Juli 1969. Jakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. 2005. Edisi Januari 2006. Community-Based Research. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. JAIP. 2003. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalamproses Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat di Komunitas Desa Cijayanti. A. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga. Pusat Kajian Bina Swadaya 2007. Thesis. Korten DC. Hambleton. Saefulhakim S. 2004. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bpogor. Diktat Perencanaan Pengembangan Wilayah. Sjahrir. Arnstein S. Jakarta: Pusat kajian Bina Swadaya. Jakarta: yayasan Obor Indonesia. A Ladder of Citizen Participation. 4. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD).Abbas. Lugiarti E. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Hasibuan FD. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. Burns D. Panuju DR. Tesis. Jenjang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan pembangunan Melalui Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan di Kota Depok. Relevansi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam Memperkuat Perencanaan Partisipatif. Thomsen.

Malang: Bayumedia Publishing. Community Participation in Local Health and Sustainable Development. WHO Regional Offfice for Europe. Faculty of Environmental Sciences. Jakarta: The World Bank Office. Yustika AE. Ekonomi Kelembagaan. Griffith University. Australian School ofEnvironmental Studies. 2003. 2002. Brighton: Logo Link. Seputar Partisipasi Warga dan Pemerintahan Lokal. Dalam Annotated Bibliography on Citizen Participation and Local Governance. RY et al. Zakaria.of the degree of Doctor of Philosophy. . Definisi.Teori & Strategi. Kota-Kota dalam Transisi: Tinjauan Sektor Perkotaanm Pada Era Desentralisasi di Indonesia. 2001. World Bank. 2006. Approach and Techniques.