BADAN PERENCANAAN DAERAH KOTA DEPOK Tahun 2007

Kajian Perencanaan Partisipatif

Perbagai peluang pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Depok, menghendaki inovasi dan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan gagasan-gagasan kreatif. Bagaimana pun berbagai perubahan dimulai dari gagasan / ide. Karena itu, gagasan tentang partisipasi warga untuk menciptakan kondisi kota yang lebih baik, seperti yang diprakarsai oleh “Imagine Chicago”, atau gagasan Charles Landry (2002) tentang Kota Kreatif (The Creative City), mungkin harus mulai didiskusikan secara meluas dan pengembangan gagasannya dikelola secara lebih serius. Konsep inti dibalik gagasan-gagasan itu adalah bahwa masa depan suatu kota merupakan masa depan bersama seluruh warga kota. Kenyamanan, kebanggaan, produktivitas, dan daya saing suatu kota merupakan produk bersama warga kotanya. Karena itu perlu ditumbuhkan milieu kreatif yang memungkinkan setiap individu warga kota, termasuk organisasiorganisasi yang ada, untuk dapat memberikan gagasan kreatif dan kontribusi terbaiknya bagi penciptaan kota yang diinginkan bersama. Dari perspektif itu, maka perencanaan partisipatif harus dilihat tidak semata-mata sebagai pelaksanaan suatu prosedur perencanaan yang melibatkan masyarakat semata, seperti yang dilakukan selama ini, tapi harus dimulai dengan proses imajinatif yang melibatkan sebanyak mungkin warga kota untuk merumuskan bersama tentang kota seperti apa yang diinginkan bersama di masa depan. Semakin detil kondisi yang diinginkan, dan semakin banyak warga kota yang memahami tentang kondisi detil kota yang diinginkan itu, maka akan semakin memudahkan bagi semua pihak untuk merealisasikannya. Depok, Desember 2007
BAPEDA KOTA DEPOK

i

Kajian Perencanaan Partisipatif

BAPEDA KOTA DEPOK

ii

Kajian Perencanaan Partisipatif Hal KATA PENGANTAR………………………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1.8. Tujuan………………………………………………………. Srt Mendagri No. 02/2004………………… i ii iv v 1 7 7 8 BAB II 10 16 22 51 55 57 60 65 BAB III 72 75 75 BAB IV 82 85 90 92 94 BAPEDA KOTA DEPOK ii .4. Modal Sosial……………………. Sistematika Penulisan Kajian………………………… TINJUAN PUSTAKA 2.1. Kep.………………………………………… 2. Partisipasi Masyarakat…………………………………… 2. 414.1.7.…… 1. Konsep Biaya Transaksi………………………………… 2. UU NO. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.2.1.3. Metodelogi kajian…………………………………………… 1. Kebijakan Umum…………………………………………… LANDASAN KONSTITUSIONAL.2. Konsep Perencanaan……………………………………… 2. Walikota Depok No.……… 1. Visi Pembangunan Daerah…………………………… 3.4.3. SE Bersama Bappenas dan Mendagri…………… 4. Forum Warga……….6.1.3. Perencanaan Partisipatif………………………………… 2. Pendekatan Apreciative Inquiri……………………… KEBIJAKAN DAERAH 3.2.2..3.2/2435/SJ (2005) ……… 4.5.……………………………… 2. Konsep Pembangunan…………………………………… 2.. Latar Belakang………………………………………. Misi Pembangunan Daerah…………………………… 3. UUD 1945……………………………………………………… 4.5.4. 25/2004…………………………………………… 4.

1.1. Tolok ukur pengembangan modal sosial……… 98 5. Memenuhi aturan/pedoman yg ada……………… 6. 97 juknis (petunjuk teknis) ………….5. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi… 98 5. Forum SKPD…………………………………………………… 126 7.1.……………… 6.3..3.5.3. Kesimpulan……………………………………………………… 128 8. Pembahasan…………………………………………………… 107 SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6.4.2.Kajian Perencanaan Partisipatif BAB V KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF Tolok ukur peraturan perundangan dan 5.2.1. Musrenbang Kecamatan………………………………… 126 7.2..2.…………………… 5. 124 Masyarakat……………………………………………………… 7.3. Saran……………………………………………………………… 131 DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK iii . Tanpa perubahan berarti (status quo) ………… 6. Musrenbang Kelurahan…………………………………… 125 7. Tinjauan evaluatif…………………………………………… 99 5.4. Memenuhi aturan + kemitraan……. Musrenbang Kota…………………………………………… 127 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8. Kemitraan + pendekatan apresiatif……………… BAB VI 116 118 120 122 BAB VII REKOMENDASI SKENARIO Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7.

Tangga Partisipasi menurut Arnstein………………………………………… Gambar 2. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok………………… Gambar 3. Roda Partisipasi oleh Davidson………………………………………………… 4 8 44 BAPEDA KOTA DEPOK iv .Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Gambar 1.

Davidson…………………………………………… 45 Tabel 9. Tabel 2. Tingkatan partisipasi.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Tabel 1.……. Tangga pemberdayaan warga. Tipologi roda partisipasi.……… 46 Tabel 10. Hak-hak warga Negara berdasarkan UUD 1945………………. Wates………………………………………………. Tahapan partisipasi. Perbedaan pendekatan problem solving dan KPA……………. Burns……………………………………… Tabel 4. 16 17 34 40 41 Tabel 6. Parkers dan Panelli…………………………. Bonger & Specht…………….……… 42 Tabel 7. Tipologi partisipasi. Tiga model pendekatan pemberdayaan masyarakat………………. Istilah-istilah didalam proses perencanaan berdasarkan proses perencanaan yang dikandungnya………………………………… Tabel 3. Tipologi partisipasi. Tangga partisipasi masyarakat.……… 82 BAPEDA KOTA DEPOK v . Pretty………………………………………………………… Tabel 5. Mayer…………………………………………………….………… 43 Tabel 8.. 69 Tabel 11..

Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 12. Tugas. Kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945………………….… 84 Tabel 13. 85 99 BAPEDA KOTA DEPOK vi . tanggung jawab dan kewajiban Negara/pemerintah…… Tabel 14. Tinjauan evaluatif proses perencanaan di kota Depok…………….

Tidak berlebihan kalau pada akhirnya hasil Perencanaan Partisipatif merupakan data dasar atau rujukan untuk melakukan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat bersangkutan (dimana Perencanaan Partisipatif itu diterapkan). Perencanaan Partisipatif dapat pula dilakukan untuk kepentingan umum yang berkaitan dengan persoalan pembangunan masyarakat. akan tetapi melihat ciri dan cara kerjanya.1. maka dalam Perencanaan Partisipatif posisi orang luar hanya sebatas Fasilitator atau Pemandu. Perencanaan Partisipatif menjadi pantas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung pergeseran paradigma pembangunan ke arah desentralisasi. dan pemberdayaan masyarakat. penganekaragaman lokal. BAPEDA KOTA DEPOK 1 . Latar Belakang Dewasa ini telah berkembang pendapat pakar dan praktisi tentang Perencanaan Participatif sebagai teknik dan metode yang tepat sasaran untuk menganalisis persoalan pembangunan sosial masyarakat di lingkungannya. transparan dan aspiratif. Memang benar bahwa Perencanaan Partisipatif lebih khusus untuk mengkaji persoalan di daerah. Perencanaan Partisipatif telah diakui keunggulannya melalui pendekatan partisipatif. Kelebihan lain adalah karena orang luar yang biasanya lebih aktif bekerja sendiri dengan bekal pengetahuan dan keahliannya.Kajian Perencanaan Partisipatif 1.

juga dapat berbeda dengan jawaban dari kalangan LSM. serta terdapat lembagalembaga yang menggambarkan sebuah negara yang demokratis. pembatasan masa jabatan kepala pemerintahan / kepala daerah. dapat berbeda-beda jawabannya jika ditanyakan apakah proses pembangunan di Kota Depok. Namun sebagian pihak berpendapat bahwa beberapa substansi demokrasi seperti penghargaan yang tulus terhadap keragaman (pandangan. atau dari kalangan akademisi. sudah dapat dikategorikan partisipatif atau belum. Berbagai stakeholders di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif Meski banyak pihak sepakat bahwa pembangunan partisipatif atau pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan merupakan sebuah keharusan. sebagian pihak menganggap bahwa Indonesia sudah demokratis. ideologi. Apalagi jika istilah itu digunakan dalam konteks / setting yang berbeda. namun istilah partisipasi itu sendiri masih dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. misalnya. asumsi. karena telah terdapat berbagai prosedur yang menggambarkan sebuah negara demokrasi seperti diadakannya pemilu secara rutin. termasuk proses perencanaannya. BAPEDA KOTA DEPOK 2 . frustasi. dan malahan mungkin melahirkan sikap apatis. dapat berbeda dengan jawaban dari pihak birokrasi. Seperti halnya dengan debat tentang penerapan demokrasi di Indonesia. Ini disebabkan karena masing-masing pihak mungkin menggunakan tolok ukur. konsep. Jawaban dari mereka yang secara rutin mengikuti Musrenbang di tingkat kelurahan atau mereka yang aktif di LPM kelurahan. putus asa. misalnya. kalangan dunia usaha. dan paradigma yang berbeda. Ketiadaan kerangka definisi yang sama tentang konsep pembangunan yang partisipatif ini membuat berbagai pihak yang mendiskusikannya dapat terjebak pada debat yang tak berujung dan kerap kali berakhir dengan kekecewaan.

dapat berbeda dengan derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh APBD Kota Depok. Tanpa kesepakatan itu. tapi belum tercipta di partisipasi kelurahan yang substansial. atau Proyek BAPEDA KOTA DEPOK 3 . maka bagi sebagian pihak. terutama kesepakatan bersama. Analog dengan hal itu. masing-masing pihak akan melihat perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Kota Depok dengan aksentuasi sudut pandang yang berbeda-beda. maka kajian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok dan skenario penguatannya ke depan hanya dan tentang dapat dilakukan secara utuh jika terdapat pemahaman bersama. tapi apakah terdapat simetrisitas informasi sebagai basis pengambilan keputusan tentang sebuah rencana? Dari perspektif ini. berapa persen usulan yang disepakati di Musrenbang diakomodir dalam APBD? Kemudian secara prosedural kelompok-kelompok masyarakat sudah diundang dalam forum SKPD. Pada Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). misalnya. Salah satu hal yang perlu disadari sejak awal adalah bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri memiliki derajat yang berbeda-beda pada setiap komunitas dan pada setiap konteks kegiatan tertentu.Kajian Perencanaan Partisipatif agama) dan penyelesaian perbedaan pendapat / konflik secara beradab. Derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh lembaga dana di luar Pemerintahan Kota Depok. sudah Secara prosedural untuk ikut masyarakat memang diundang Musrenbang. di antara para stakeholders konsep pembangunan partisipatif yang akan diterapkan di Kota Depok. dalam banyak kasus belum sepenuhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia. Tapi apakah semua warga telah diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti / memberikan masukan pada forum Musrenbang kelurahan tersebut? Lalu. partisipasi masyarakat di Kota Depok barulah terbatas pada partisipasi yang prosedural.

dilakukan kepada Gambar 1. bagaimana power. kemampuan. kekuatan. Yang menjadi pertanyaan adalah tolok ukur apa yang membedakan derajat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan? Dalam berbagai kepustakaan (referensi).” Berdasarkan tolok ukur ini. wewenang) dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang direncanakan. derajat partisipasinya dapat berbeda dengan derajat partisipasi pada proyek pengentasan kemiskinan yang didanai oleh APBD Kota Depok dan dilaksanakan oleh SKPD. derajat / tingkatan partisipasi masyarakat itu tergantung pada seberapa besar masyarakat / warga memiliki power (kekuasaan. maka dapat proses untuk yang yang jika maka empowerment diartikan sebagai (pemberdayaan) masyarakat “menambah” memutuskan terbaik bagi apa dirinya bahwa rencana itu dilaksanakan. Tangga partisipasi menurut Arnstein (1969) empowerment disempowerment mengalami (surplus) pihak-pihak yang selama ini kelebihan power. daya. BAPEDA KOTA DEPOK 4 . Bahkan ada berpendapat ingin perlu membangun masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat Squatter (PPMS). misalnya. Menurut Asrnstein (1969): “citizen participation is citizen kekuasaan pada masyarakat secara kolektif. dan bagaimana memelihara hasilnya.

pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan masyarakat. Donaldson (1998). Jika mengacu yang pada tangga participation) dikemukakan oleh berdasarkan tipologi yang (ladder (1969). Burns (1994). yaitu tahapan kontrol / pengendalian oleh masyarakat (citizen control). mungkin baru pada tahapan konsultasi. pemerintah dan masyarakat terlibat secara sejajar dalam proses pengambilan keputusan. dan Mayer (1997). yang diusulkan melalui kajian ini adalah bagaimana proses BAPEDA KOTA DEPOK 5 . of citizen misalnya. Pada tahap ini masyarakat memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangan. Sedangkan pada “tangga partisipasi” tertinggi.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan tolok ukur ini terdapat beberapa tipologi partisipasi masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). Tapi masyarakat tidak berada dalam posisi menentukan dalam proses pengambilan keputusan akhir tentang sebuah rencana. Meski baru bersifat rintisan. seperti melalui mekanisme Musrenbang. Asumsi awal yang ingin ditegaskan dalam kajian ini adalah pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di Kota Depok merupakan bentuk operasional dari “pilihan” tahapan / jenjang / tangga partisipasi masyarakat yang dipilih ada. Pertanyaannya adalah apakah mungkin partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kota Depok naik ke tangga kemitraan (partnership) atau bahkan ke pengendalian oleh masyarakat berdasarkan tipologi Arnstein itu? Kajian ini juga akan mencoba mengaitkan antara proses perencanaan partisipatif dengan pembentukan modal sosial. yaitu tahapan kemitraan (partnership). apsirasi dan usulannya. Jika naik ke “tangga partisipasi” yang lebih tinggi. partisipasi Arsntein partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Pretty (1995).

maka kajian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: a. Dengan mengemukakan beberapa studi kasus. partisipasi masyarakat yang ada di Kota Depok dalam proses perencanaan berada pada level apa? b. Fukuyama sampai pada kesimpulan bahwa kinerja ekonomi yang tinggi terdapat pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi pula. d. Prasyarat apa yang dibutuhkan agar skenario itu bisa terlaksana? f. Ia membagi masyarakat di dunia ini dengan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah (low trust society) dan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high trust society). politis apa saja yang mungkin dihadapi untuk meningkatkan derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. yuridis.Kajian Perencanaan Partisipatif pembangunan di Kota Depok senantiasa mempertimbangkan aspek peningkatan modal sosial. Kendala-kendala institusional. Bagaimana skenario proses perencanaan di Kota Depok dengan derajat partisipasi masyarakat pada level yang optimal? e. Bagaimana keterkaitan antara perencanaan partisipatif dan pengembangan modal sosial? BAPEDA KOTA DEPOK 6 . Kajian yang dilakukan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Trust sampai pada kesimpulan betapa modal sosial ini akan ikut menentukan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Pertanyaannya adalah proses perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Depok telah memberikan andil untuk penciptakan kategori dengan tingkat kepercayaan sesama yang mana? Apakah di Kota menambah Depok atau rekening malah kepercayaan stakeholders membuatnya semakin defisit sejalan dengan berjalannya waktu? Berdasarkan paparan tersebut di atas. Berdasarkan tipologi yang ada. Apakah mungkin derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan ditingkatkan (naik ke tangga yang lebih tinggi)? c.

Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 1. 3. Mengidentifikasi kendala-kendala institusional. 2. Melakukan tinjauan evaluatif pelaksanaan proses perencanaan partisipasi ditinjau dari : (a) sisi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan partisipatif. dan politis dalam upaya peningkatan derajat partisipasi dalam perencanaan di Kota Depok. mengikuti alur sebagai berikut : studi kepustakaan.2. wawancara mendalam dengan beberapa informan. Tujuan Tujuan pelaksanaan kajian ini adalah: 1. kualitatif yang yaitu ada dari menjawab studi serta berbagai pertanyaan-pertanyaan dokumen-dokumen rumusan masalah termasuk dengan pandangan kalangan yang terekam di media masa. serta (c) dari sisi kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial di Kota Depok.3. Metodologi Kajian Kajian ini menggunakan yang pendekatan ada. (b) dari sisi derajat partisipasi warga berdasarkan tipologi yang ada. Menyusun skenario penguatan perencanaan partisipatif di Kota Depok. Kajian ini akan BAPEDA KOTA DEPOK 7 . yuridis.

Tujuan 1. Sistematika Penulisan Kajian Kajian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok 1.2. Latar Belakang 1. Konsep Pembangunan 2. Sistematika Penulisan Kajian TINJUAN PUSTAKA 2. Konsep Perencanaan 2.6.4.4. Konsep Biaya Transaksi 2.5.7.1.3. Tujuan 1. Partisipasi Masyarakat 2.3.2. Perencanaan Partisipatif 2.4. Forum Warga BAB II BAPEDA KOTA DEPOK 8 .5. Modal Sosial 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Tinjauan Peraturan Perundangan tentang Perencanaan Partisipatif Deskripsi Pelaksanaan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Tolok Ukur Peraturan Perundangan Kajian Evaluatif Perencanaan Partisipatif di Kota Depok • Tipologi Partisipasi • Modal Sosial Kajian Skenario Penguatan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Gambar 2.1. Metodelogi kajian 1.

Memenuhi aturan/pedoman yg ada 6. Visi Pembangunan Daerah 3.2. Memenuhi aturan + kemitraan 6. Tinjauan evaluatif 5. BAB III Pendekatan Apreciative Inquiri KEBIJAKAN DAERAH 3. Forum SKPD 7. Tanpa perubahan berarti (status quo) 6. Musrenbang Kecamatan 7.3.2/2435/SJ (2005) 4. Tolok ukur pengembangan modal sosial 5.2. 02/2004 KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF 5.1. partisipasi 5. Musrenbang Kelurahan 7.2.4. Walikota Depok No. 414.3.2.8.5. UU NO. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4. 25/2004 4.4. SE Bersama Bappenas dan Mendagri 4. Srt Mendagri No.3.1. Kemitraan + pendekatan apresiatif SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7.5. UUD 1945 4. Tolok ukur peraturan dan juknis Tolok ukur berdasarkan tipologi 5.2.1. Musrenbang Kota BAB IV BAB V BAB VI BAB VII DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK 9 . Kebijakan Umum LANDASAN KONSTITUSIONAL.1. Pembahasan SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6. Masyarakat 7. Misi Pembangunan Daerah 3.1.5.3.3.3.4.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Kep.

Konsep Pembangunan 2. telah terbentuk perspesi bahwa untuk mendapat manfaat dari kegiatan pembangunan yang bersumber dari anggaran negara harus melalui KKN (dekat dengan kekuasaan).1. misalnya. fisik puskesmas. pengendalian. Aktifitas ini ada dalam konteks siklus proses pembangunan (perencanaan. Ungkapan menggugat yang sering muncul berkaitan dengan istilah ini adalah: “Pembangunan itu untuk siapa?”. monitoring dan evaluasi). Sedangkan bagi para penggiat HAM (hak asasi manusia). Kesan yang juga muncul di masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 10 .1. Gugatan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sebagian warga masyarakat mempersepsikan terdapat pihak-pihak yang sangat diuntungkan dengan proses pembangunan dan ada pihak-pihak yang seolah-olah ”tidak mendapat apa-apa”. pembangunan lebih banyak identik dengan pembangunan fisik: jalan. jembatan. Bahkan. pembangunan dimaknai sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. saluran.1. pelaksanaan. tanggul. istilah pembangunan ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda. Pada berbagai level status sosial masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Pengertian Pembangunan Kegiatan perencanaan bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. dan sejenisnya. fisik sekolah. malah mungkin dirugikan (berkorban). Jika mempelajari usulanusulan pembangunan yang muncul dari forum Musrenbang di kelurahan.

Bagaimana agar suara mereka didengar dalam proses perencanaan tersebut? 2. hak atas pembangunan merupakan salah satu hak asasi manusia. Dari sudut pandang ini. Mereka adalah kelompok-kelompok memiliki akses dalam pengambilan keputusan. Yang dituju adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa semua pihak memperoleh benefit (keuntungan) yang adil dari setiap proses pembangunan. sosial. adalah untuk menjamin bahwa akan terdapat distribusi keuntungan yang adil dari proses pembangunan. dan berarti dalam pembangunan dan dalam distribusi keuntungan yang adil yang timbul darinya. “Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif adalah kelompok yang paling diuntungkan dari proses pembangunan di era reformasi ini adalah kalangan eksekutif dan legislatif.” Menurut deklarasi itu. budaya dan politik yang komprehensif yang ditujukan pada perbaikan yang tetap mengenai kesejahteraan seluruh penduduk dan semua individu atas dasar partisipasi mereka yang aktif.1. yang dilakukan secara iteratif (berulang). Pembangunan sebagai Pemenuhan Hak-Hak Warga Negara Dalam dokumen “Deklarasi tentang Hak atas Pembangunan” yang disetujui dengan resolusi Majelis Umum 41/28 tanggal 4 Desember 1986 ditegaskan bahwa: “pembangunan adalah proses ekonomi.” (Pasal 1 ayat 2) BAPEDA KOTA DEPOK 11 . Meskipun tentu saja kesan dan persepsi seperti ini belum tentu selalu benar. maka proses perencanaan yang melibatkan masyarakat.2. bebas. Persoalannya adalah bagaimana dengan kelompok-kelompok yang masyarakat tidak yang selama ini tidak proses diuntungkan / terpinggirkan dalam proses pembangunan.

atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital). pengertian “pemilihan alternatif yang sah” dalam definisi pembangunan di atas diartikan bahwa upaya pencapaian aspirasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku atau dalam suatu tatanan kelembagaan atau tatanan budaya yang dapat diterima. khususnya pembangunan manusia. UNDP mendefisinikan pembangunan. pembangunan harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang yaitu kecukupan (substenance) memenuhi paling hakiki pokok. cara. kebutuhan meningkatkan rasa harga diri atau jatidiri (self esteem).Kajian Perencanaan Partisipatif Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga negara yang paling humanistik”. Pembangunan juga dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi. bukan alat. Lebih lanjut dijelaskan. sikap-sikap masyarakat. sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). Dengan rumusan seperti ini maka pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia (Rustiadi et al. 2006). disamping BAPEDA KOTA DEPOK 12 . institusi-institusi. Tadaro berpendapat bahwa pembangunan harus dipandang sebagai proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial. penduduk (manusia) dilihat sebagai tujuan akhir (the ultimate end). serta kebebasan (freedom) untuk memilih. Menurut Tadaro (2000). Dalam konsep tersebut.

H. 2. Selanjutnya Spangenber (1999) menambahkan dimensi kelembagaan (institution) sebagai dimensi keempat. dimana mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi konsep yang populer terutama sejak dipublikannya laporan “Our Common Future” sebagai laporan World Commission on Environmental and Development yang dipimpin oleh G. pada KTT Bumi di Rio de Jenairo. Pada tahun 1992. menjadi salah satu anggotanya. secara sosial pembangunan itu dapat diterima dan adil (termasuk adil terhadap generasi mendatang). pentingnya pendekatan pembangunan secara berkelanjutan semakin dipertegas.Kajian Perencanaan Partisipatif tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi. sosial. penanganan ketimpangan pendapatan. Inti dari konsep ini adalah bahwa pemanfaatan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. sehingga keempat dimensi tersebut membentuk sebuah prisma keberlanjutan (prism of sustainability). serta pengentasan kemiskinan.3.1. Pembangunan Berkelanjutan Keterbatasan sumber daya alam baik akibat degradasi maupun eksploitasi yang berlebihan telah melahirkan apa yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Ungkapan yang populer tentang makna pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi menguntungkan. BAPEDA KOTA DEPOK 13 . Bruntland di tahun 1988. diacu dalam Rustiadi et al (2006) mengajukan tiga dimensi keberlanjutan yang dikenal sebagai “triangular framework” yaitu keberlanjutan secara ekonomi. dan secara ekologi tidak merusak alam (sehingga dapat digunakan oleh generasi mendatang). Serageldin (1996). Emil Salim. dan ekologi.

5. Ketiga. (2) development with community (pembangunan masyarakat). Dollery dan Wallis.al. Pembangunan untuk masyarakat (development for community) adalah bentuk pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif. 1978.1. Weisbrod. dimana para politisi lebih mementingkan kelompok. bersama yaitu: (1) development dan (3) degan praktek for community of pemberdayaan masyarakat (community development) dan membaginya (pembangunan untuk masyarakat).1. sehingga tidak memikirkan kepentingan dan perbaikan kondisi-kondisi kemasyarakatan. antara lain : Pertama. disebabkan karena terhenti atau tersendatnya kegiatan pelayanan masyarakat yang berakibat inefisiensi. Hal ini disebut juga ”constitutional failure” atau ”legislative failure”. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pusat Kajian Bina Swadaya (2007). memaparkan bagaimana sebuah proses dalam pembangunan dilakukan terutama dikaitkan tiga kategori.4. namun penyebab kegagalan tersebut dibagi dalam tiga faktor utama (Rustiadi et. Kedua. dalam hal ini pemerintah lebih bertindak sebagai ”rent seeker”. 1. 2. 1997). dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan oleh BAPEDA KOTA DEPOK 14 .Kajian Perencanaan Partisipatif 2. development community (pembangunan masyarakat). disebabkan oleh inefisiensi dari sistem / struktur politik yang asimetrik. terutama untuk pemenangan pemilu yang akan datang.. intervensi pemerintah dalam sektor ”rent seeking” selalu disertai dengan kepentingan pribadi dan kelompok. sering disebut sebagai ”bureauratic failure”. 1978. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan Terdapat beberapa teori tentang tipologi kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang pernah dikemukakan (O’Dowd. perencanaan. 2006).

Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian. 3. Pembangunan proses pelaksanaannya masyarakat (development yang inisiatif. masyarakat. melakukan konsultasi. Untuk mengarah ke model ini diperlukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk masyarakat lokal.Kajian Perencanaan Partisipatif aktor dari luar. dan melibatkan tokoh setempat. sendiri oleh of community) perencanaan. Peran aktor luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan. 2. Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak. Pembangunan bersama masyarakat (development with community) secara khusus ditandai dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. adalah dan Dapat pembangunan dilaksanakan dikatakan masyarakat menjadi pemilik dari proses pembangunan. Hal ini dapat terjadi bila masyarakat merupakan komunitas yang kesadaran dan budayanya terdominasi. Model ini paling populer dan banyak diaplikasikan oleh berbagai pihak. Keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan juga diharapkan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap inisiatif pembangunan yang ada sekaligus membuat proyek pembangunan menjadi lebih efisien. Namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek. Dasar pemikiran pola ini adalah dapat berkembangnya sinergi dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan yang dikuasai oleh aktor luar. namun dalam kenyatannya belum banyak komunitas yang mampu membangun dirinya sendiri. BAPEDA KOTA DEPOK 15 . Ini merupakan model yang diidealkan oleh berbagai pihak.

Menurut Kay dan Alder (1999). diacu dalam Rustiadi et. demikian. Namun dalam pengertian yang paling sederhana. BAPEDA KOTA DEPOK 16 . Konsep Perencanaan 2. Dengan ada.2. Pengertian Perencanaan Perencanaan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh para ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing. perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya.1. 2. proses perencanaan (kapasitas) dilakukan kita dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang mengukur kemampuan untuk mencapainya. Tiga Model Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Development for Community (Pembangunan untuk masyarakat) Aktor dari luar Sosialisasi dan Konsultasi Aktor dari luar Aktor dari luar Proyek Development with Community (Pembangunan bersama masyarakat) Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Kolaborasi Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Proyek dan Program Development of Community (Pembangunan masyarakat) Masyarakat lokal Pemberdayan dan pengerahan potensi sendiri Masyarakat lokal Masyarakat lokal Pengembangan sistem dan penguatan kelembagaan Aktor Utama Bentuk Hubungan Pengambil keputusan Pelaksana Bentuk kegiatan Sumber : Pusat Kajian Bina Swadaya (2007). kemudian memilih arah-arah terbaik dan memilih langkah-langkah untuk mencapainya.2. perencanaan sebenarnya adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan. al (2006).Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 1.

Istilah-istilah itu sering saling dipertukarkan dengan tidak konsisten dan bahkan cenderung dapat membingungkan sehingga dapat mengganggu proses pembangunan akibat perencanaan yang tidak jelas. dikenal berbagai nomenklatur seperti visi. serta aktivitas.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagian berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktivitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu. program. program. tujuan dan sasaran adalah istilah-istilah yang menjelaskan mengenai unsur perencanaan yang pertama (hal yang ingin dicapai). secara umum selalu terdapat dua unsur penting. Sedangkan strategi. sasaran. Dari berbagai pendapat dan definisi yang dikembangkan mengenai perencanaan. Istilah-istilah di dalam proses perencanaan berdasarkan unsur perencanaan yang dikandungnya Unsur Perencanaan Hal yang ingin dicapai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Normatif Normatif Terukur Terukur Normatif/terukur Terukur Terukur Terukur Terukur Cara untuk mencapai Istilah (nomenklatur) Visi (vision) Misi (mission) Tujuan (goal) Sasaran (objective) Strategi (strategy) Kebijakan (policy) Program (program) Pryek (project) Aktifitas (action) Keterangan Sumber: Rustiadi et. dan (2) unsur cara untuk mencapainya. dan proyek merupakan suatu kumpulan komponen perencanaan yang mencakup kedua unsur perencanaan dalam suatu struktur tertentu. sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai suatu kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. kebijakan. yakni: (1) unsur hal yang ingin dicapai. Tabel 2. misi. Visi. al. tujuan. Misi dan aktivitas adalah istilah-istilah mengenai unsur-unsur perencanaan yang kedua (cara mencapainya). (2006) BAPEDA KOTA DEPOK 17 . Dalam implementasi proses perencanaan. strategi. proyek.

3. Aktivitas (actions): kegiatan pelaksanaan. Program (program): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu. • • • Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Dalam Undang-Undang No. 6. Setiap bentuk tujuan (goals) bersifat dapat dimaksimumkan atau diminimumkan.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan. BAPEDA KOTA DEPOK 18 . 4. biasanya lebih terukur. Kebijakan (policy): sekumpulan aktivitas (actions). 8. Sasaran merupakan kondisi minimum yang harus dicapai dalam mencapai tujuan dalam waktu tertentu. 5. untuk pelaksanaan-pelaksanaan pencapaian jangka pendek. Sasaran (objectives): bentuk operasional dari tujuan. Strategi (strategy): sekumpulan sasaran-sasaran dengan metodemetode untuk mencapainya. khususnya menyangkut fisik dan biaya. Misi (mission): cara normatif untuk mencapai visi. 9. 7. Tujuan-tujuan (goals): hal-hal yang ingin dicapai secara umum.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. Visi (vision): suatu kondisi ideal (cita-cita) normatif yang ingin dicapai di masa datang 2. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. disertai target pencapaiannya. Proyek (project): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan/target/sasaran tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu dalam waktu tertentu dengan sumberdaya (biaya) tertentu. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. beberapa istilah ini juga diberikan definisinya.

Perencanaan dengan basis pendekatan ini dilaksanakan dengan berdasarkan kecenderungan umum yang terjadi. Tapi secara teknis pendekatan ini setidaknya dapat memberikan informasi bagi pendekatan-pendekatan lainnya. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Kecenderungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini bukan pendekatan yang ideal untuk kepentingan publik jangka panjang. diacu dalam Rustiadi et. Beberapa pendekatan perencanaan yang umum dilakukan berdasarkan basis (pijakan) utamanya (Kelly dan Becker.2. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Beranjak dari permasalahan atau BAPEDA KOTA DEPOK 19 . 2000. (2) Berbasis kesempatan / peluang (opprotunity-driven). Pendekatan ini sering dilakukan terutama karena alasan-alasan pragmatis. Perencanaan dilakukan berdasarkan isu atau masalah-masalah yang ada. 2006) adalah: (1) Berbasis kecenderungan (trends-driven).Kajian Perencanaan Partisipatif • • Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan. (3) Berbasis isu (issue-driven). mengingat adanya peluang-peluang yang langka. Pendekatan ini sering dilakukan oleh institusi-institusi yang belum matang dan mandiri dimana pendekatan yang termudah adalah dengan meniru atau mengikuti kecenderungan dari institusi-institusi yang lebih berpengalaman.2. Pendekatan / Basis Perencanaan Perencanaan umumnya dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi pendekatan.al. 2. Adanya peluang (opprtunity) dianggap harus dimanfaatkan sebesar-besanya.

pendidikan. Perencanaan seperti ini lebih sesuai untuk gerakan-gerakan sosial. yang sangat berorientasi sangat panjang dan tidak memiliki target-target spesifik jangka pendek.3. 1. rupa dan mereduksi terlalu cakupan (scope) dan biaya pengumpulan informasi dan analisis. (4) Berdasarkan tujuan (goal-driven). perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan ikremental.Kajian Perencanaan Partisipatif isu disusun langkah-langkah untuk menanggulangi dan menjawab isu dan tantangan tersebut.2. Perencanaan inkremental. (5) Berbasis visi (vision-driven). rasional. 2006). dilakukan sedemikian agar tidak menyimpang dari kondisi saat ini (status quo). pendekatan berbasis visi sangat menekankan nilai-nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuantujuan yang spesifik dan terukur. Proses perencanaan ini dilakukan akibat terbatasnya Pendekatan kapasitas ini pengambilan keputusan. penambahan. 2. (c) hanya sejumlah kecil konsekuensi yang diinvestigasi. Berbeda dengan pendekatan berbasis tujuan. (b) hanya sejumlah kecil pilihan yang dipertimbangkan. spiritual/keagamaan. Proses Perencanaan Berdasarkan prosesnya. dan partisipatif (Rustiadi et al. Ini merupakan pendekatan perencanaan yang paling klasik. atau perbaikan dari kebijakan yang ada (status quo). Namun proses tersulit adalah menetapkan tujuan itu sendiri seringkali bukanlah proses yang mudah apalagi jika dilakukan melalui proses lintas stakeholders. adaptif. (d) tujuan dan pendekatan yang BAPEDA KOTA DEPOK 20 . Komponen utama dari pendekatan ini adalah: (a) pilihan-pilihan diturunkan dari kebijakan dan perencanaan yang merupakan peningkatan.

Kajian Perencanaan Partisipatif

dipilih didasarkan atas pertimbangan yang mudah dilakukan, (e) keputusan dibuat dari proses analisis iteratif dan evaluasi. 2. Perencanaan Adaptif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Holling (1978), yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman. Begitu didapat informasi baru segera dilakukan review atas pengelolaan yang sedang berjalan dan pendekatan-pendekatan baru dirumuskan. Pendekatan ini selalu menghadapi kendala terutama akibat adanya penolakan (resistensi) dari pihak-pihak yang harus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap hal-hal yang bagi mereka masih penuh ketidakpastian. Perencanaan adaptif yang terlalu longgar akan banyak menimbulkan berbagai bentuk inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang. 3. Perencanaan Rasional. Rasionalitas adalah cara utama yang

dikembangkan masyarakat dan para pemikir barat sejak zaman renaisan. Rasionalitas dapat diartikan sebagai suatu cara memilih pendekatan menyeluruh terbaik dengan berpikir untuk tertib (sistematis) tujuan dan (komprehensif) mencapai tertentu.

Pendekatan rasional membutuhkan sejumlah pengetahuan, berbagai alat (tools) berupa analisis ilmiah, untuk dapat membuat keputusankeputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif yang ada. Kesempurnaan dari pendekatan ini adalah terletak pada ketersediaan informasi yang “sempurna”. Secara umum tahapan proses dalam kerangka perencaan rasional adalah: (a) identifikasi masalah, (b) menetapkan tujuan/sasaran, (c) identifikasi peluang dan hambatan, (d) pengajuan alternatif-alternatif, (e) menetapkan alternatif pilihan dan melaksanakannya. 4. Perencanaan partisipatif / konsensus. Dalam perencanaan

rasional dituntut adanya pengetahuan / informasi yang “sempurna”. Kondisi ini merupakan suatu kondisi
BAPEDA KOTA DEPOK

yang sangat sulit dipenuhi

21

Kajian Perencanaan Partisipatif

karena kapasitas, pengetahuan, pengalaman, informasi, dan teknologi yang dimiliki perencana cenderung terbatas dibandingkan dengan kompleksitas kepentingan permasalahan yang yang ada. pula. Di sisi lain, informasi sifat sebenarnya tersebar beragam di masing-masing stakeholders dengan berbeda-beda Dengan demikian, komprehensif dari suatu perencanaan pada dasarnya dapat dipenuhi dengan membangun partisipasi seluruh stakeholders agar diperoleh informasi yang lengkap dan dipahami bersama untuk kemudian dibangun keputusan yang terbaik. 5. Perencanaan Rasional – Partisipatif. Dengan perencanaan secara terintegrasi ini, maka pendekatan partisipatif akan menutupi berbagai kelemahan pendekatan perencanaan rasional terutama kelemahan akibat terbatasnya informasi. Pendekatan partisipatif juga akan lebih menjamin penerimaan (acceptability) dari pihak-pihak yang berkepentingan.

2.3. Partisipasi Masyarakat
2.3.1. Pengertian Masyarakat Sebelum membahas partisipasi masyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai konsep tentang masyarakat atau komunitas (community). Dari berbagai referensi di Indonesia kedua istilah ini kerap kali dipertukarkan atau diangap sama. Ada yang menerjemahkan community sebagai ”masyarakat” namun ada yang lebih suka menerjemahkannya sebagai ”komunitas”. Dalam realitas, komunitas itu sendiri mulai dari level dengan lingkup geografis yang relatif kecil, seperti komunitas RT / RW sampai pada komunitas negara-negara seperti European Community (Masyarakat Eropa). Bahkan dengan informasi yang tak terbatas, akibat kemajuan
BAPEDA KOTA DEPOK

22

Kajian Perencanaan Partisipatif

teknologi informasi (internet), terjadi perubahan yang radikal tentang tempat (space) dan waktu (time). Komunitas dalam masyarakat informasi menjadi tak berbatas ruang (spaceless) dan tak terbatas

waktu (timeless). Komunitas seperti ini di kota-kota modern membentuk apa yang disebut sebagai cyber culture (budaya siber) atau networking culture (kultur jejaring). Burns (1994) memberikan beberapa makna tentang komunitas sebagai berikut: 1. Masyarakat / komunitas sebagai warisan identitas. Makna ini merupakan ekspresi tradisi budaya atau identitas bersama, sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan sejarah. 2. Masyarakat hubungan / komunitas sebagai hubungan sosial. dan Pola antar direfleksikan dalam kekeluargaan ketetanggaan,

dimana interaksi sosial dan dukungan satu satu sama lain seringkali digerakkan oleh faktor tempat tinggal. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan tradisi sosiologi dan antropologi. 3. Masyarakat / komunitas sebagai basis konsumsi kolektif, yakni suatu kesatuan kelompok atau ketetanggaan yang memiliki kebutuhan atau permintaan yang sama terhadap barang publik (public goods), seperti perpustakaan, transportasi, kualitas lingkungan dan lainnya. Ini merupakan 4. Masyarakat itu dapat sebuah / konsep masyarakat basis yang untuk menggambarkan produksi dan legitimasi berdasarkan ekonomi. komunitas sebagai penyediaan barang-barang barang publik lokal. Barang-barang publik disediakan oleh swasta, masyarakat umum, atau pihakpihak relawan (termasuk masyarakat itu sendiri). Ini merupakan konsep masyarakat yang menggambarkan legitimasi berdasarkan ekonomi dan penyediaan pelayanan teknologi.

BAPEDA KOTA DEPOK

23

Sekelompok orang yang merasa aman bersama Sekelompok orang yang memiliki rasa ketetanggaan. Sekelompok orang yang memiliki visi bersama Sukarelawan yang terorganisir Orang-orang yang melakukan langkah kecil bersama untuk tujuan yang besar. BAPEDA KOTA DEPOK 24 . Sekelompok orang yang saling menghormati satu dengan lainnya. Ciri-ciri komunitas dapat ditentukan oleh beberapa hal. Menurut Moelyadi dan Simanjuntak (1993).Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Masyarakat / komunitas sebagai sumber pengaruh dan kekuatan / kekuasaan yang berasal dari hasil pemberdayaan (empowerment) atau keterwakilan. Ciri-ciri komunitas. apakah melalui saluran representasi atau partisipasi formal atau informal dari aksi politik. masyarakat adalah langsung sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu secara atau tidak langsung saling berhubungan dalam usaha pemenuhan kebutuhannya. politik dan kebudayaan. menurut Community Speaker Series (2001). terikat sebagai suatu kesatuan sosial melalui perasaan solidaritas oleh karena latar belakang sejarah. yang diacu dalam Ahmad (2004) adalah: • • • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang Sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu Orang-orang yang disatukan oleh isu bersama Orang-orang yang bekerja sama Sekelompok orang yang mengkonsolidasikan sumberdaya bersama (pool resources). Orang-orang yang terorganisir Orang-orang yang mempertahankan dan membina kegiatan Orang-orang yang membuat kemitraan Orang-orang yang fokus pada kebutuhan dari kelompoknya.

Wilayah komunitas seperti itu dapat bervariasi dalam hal ukuran meskipun batasan yang paling umum adalah ukurannya relatif kecil dan lokal. dan tidak selalu dihubungkan dengan batas wilayah tertentu. Community of place yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan wilayah / lokasi tertentu. dan dan status sosial tempat ekonomi ini lebih atau berdasarkan atau dalam pengertian karakter politik. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 25 . 2. ketetanggaan.3. dalam pembuatan pelaksanaan program dan pengambilan keputusan untuk berkontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. (1) partisipasi dalam / melalui kontak dengan pihak lain sebagai awal perubahan sosial. Kategori masyarakat tempat berdasarkan diidentifikasi tinggal seperti jalan.2. Sedangkan menurut Ndraha (1990). dsb. berbagi manfaat dari program pembangunan dan evaluasi program pembangunan. perkampungan. yang diacu dalam Harahap (2001). Pengelompokan ini dijelaskan oleh Burns (1994) sebagai berikut: 1. sesungguhnya pengertian masyarakat dapat dikelompok menjadi dua kategori yaitu community of place dan community of interest. partisipasi dan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan keputusan tentang apa yang dilakukan. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan berbagai konsep tersebut. Komunitas berbasis area / wilayah ini dapat diidentifikasi dalam pengertian sebagai batasan wilayah pelayan administratif. kejamaahan / jemaat. Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Cohen dan Uphoff (1977). blok. partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dapat dipilah meliputi. Community of interest adalah perkumpulan komunitas /masyarakat berdasarkan isu dan kepentingan tertentu baik pada lokasi tertentu atau tidak.

6. 5. Partisipasi masyarakat meliputi jaminan bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi keputusan. menerima dengan syarat. Masyarakat harus memiliki suara dalam keputusan tentang tindakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. baik dalam arti menerima. memelihara. Proses partisipasi masyarakat memberi partisipan informasi yang mereka butuhkan dengan cara bermakna. yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai tingkat pelaksanaan pembangunan. dan mengembangkan hasil pembangunan. Proses partisipasi masyarakat melibatkan partisipan dalam mendefinisikan bagaimana mereka berpartisipasi. yang diacu dalam Daniels dan Walker (2005): 1. (3) partisipasi dalam perencanaan termasuk pengambilan keputusan. maupun dalam arti menolaknya. 2. Sedangkan Migley (1986) BAPEDA KOTA DEPOK 26 . 4. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan dan memenuhi kebutuhan proses semua partisipan. partisipasi adalah proses pemberian peran kepada individu bukan hanya sebagai subyek melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan. Korten (1988) dalam pembahasannya tentang berbagai paradigma pembangunan mengungkapkan bahwa dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional. mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya. Proses partisipasi masyarakat berupaya dan memfasilitasi keterlibatan mereka yang berpotensi untuk terpengaruh.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi dalam memperhatikan / menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi. 3. (5) partisipasi dalam menerima. Survey partisipasi oleh The International Association of Public Participation telah mengidentifikasi nilai inti partisipasi sebagai berikut (Delli Priscolli. 7. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan kepada partisipan bagaimana input mereka digunakan atau tidak digunakan. 1997).

Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari dimana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki. 7. Tjokrowinoto (1987). 3. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan. 10. partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. serta dalam keputusan penting yang menyangkut BAPEDA KOTA DEPOK 27 . dan kondisi lokal yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. 5. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalampembangunan mereka sendiri. aspirasi. diacu dalam Hasibuan (2003). Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapatturut masyarakat. 8.Kajian Perencanaan Partisipatif melihat partisipasi sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan masyarakat untuk mendorong mereka dalam menyelesaikan permasalan yang mereka hadapi. Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan. 2. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan. Partisipasi akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat. 9. Partisipasi menopang pembangunan Partisipasi Partisipasi menyediakan merupakan lingkungan lingkungan yang yang kondusif kondusif baik baik bagi bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap. 4. menyatakan alasan pembenar partisipasi masyarakat dalam pembangunan: 1. kebutuhan. 6. 11.

BAPEDA KOTA DEPOK 28 . Keuntungan dan Kerugian Partisipasi Masyarakat Dengan mengacu pada berbagai referensi (Anon.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Dengan membuka kesempatan dalam proses keputusan. 2001. (b) membangun perspektif yang beragam yang berasal dari beragam stakeholders. kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif. Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. Kapoor. 2.3. maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompok-kelompok komunitas.3. 3. khususnya kelompok yang selama ini termarjinalisasikan. 2000). dan kreatifitas. 2000. Dengan demikian. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan. Dovers. hal itu dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah. memperluas pengalaman masyarakat dan akan memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas. Partisipasi membantu terbangunannya transparansi komunikasi dan hubungan-hubungan kekuasaan di antara para stakeholders. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek. 2000. 2000. serta UNDP. Thomsen (2003) memaparkan keuntungan dan kerugian dari partisipasi masyarakat. Blumenthal. sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. pengalaman. Partisipasi dapat meningkatkan pendekatan iteratif dan siklikal dan menjamin pengambilan bahwa solusi didasarkan maka para pada pembuat pemahaman keputusan dan dapat pengetahuan lokal. (c) mengakomodir pengetahuan lokal. Keuntungan dari partisipasi masyarakat adalah: 1.

Partisipasi dapat menyebabkan konflik. melakukan proses (b) ini Partisipasi secara sadar atau tidak sadar memanipulasi tidak partisipasi publik untuk dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang kepentingannya. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. BAPEDA KOTA DEPOK 29 . Proses partisipasi dapat digunakan untuk memanipulasi sejumlah besar warga masyarakat. partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial. 5. Pelibatan masyarakat lokal dapat membantu terciptanya (outcomes) dengan menfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung. Proses partisipasi seringkali menyebabkan ketidakstabilan hubungan sosial politik yang ada dan menyebabkan konflik yang dapat mengancam terlaksananya proyek. Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. Partisipasi hasil akan mendorong yang kepemilikan berkelanjutan lokal. jika direncanakan secara hati-hati. komitmen dan akuntabilitas.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Hasil yang diperoleh dari usaha-usaha kolaboratif lebih mungkin untuk diterima oleh seluruh stakeholders. Sedangkan kerugian yang mungkin muncul dari pendekatan partisipatif adalah: 1. 2.

Jika proses partisipasi dimanipulasi. tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek. kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency). (b) untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan (c) untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan kinerja dari pihak-pihak yang melakukan pelibatan masyarakat. Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969). proses partisipasi akan dilihat sebagai sesuatu yang mewah dan pengeluaran-pengeluaran untuk proses itu tidak dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan kemiskinan yang akut. Pada wilayah-wilayah dimana di dalamnya terdapat ketidakadilan sosial. Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat. maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut. Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 30 . Partisipasi dapat menjadi mahal dalam pengertian bahwa waktu dan biaya yang dikeluarkan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat lokal.3.4. Tipologi Partisipasi Tipologi partisipasi menggambarkan derajat keterlibatan masyarakat dalam proses partisipasi yang didasarkan pada seberapa besar kekuasaan (power) yang dimiliki masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.1.4. padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar. 2. 2. Kegunaan dari adanya tipologi partisipasi ini adalah: (a) untuk membantu memahami praktek dari proses pelibatan masyarakat.3. 4.

dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control). Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation). Kemudian (4) diikuti dengan tangga (3) dan menginformasikan (5) penentraman konsultasi (consultation). dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of tokenism). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan. Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog. (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power). (placation). tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka BAPEDA KOTA DEPOK 31 . (informing). 1. keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya. Terapi (therapy).Kajian Perencanaan Partisipatif (citizen partisipation is citizen power). Manipulasi (manipulation). tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan. Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya. tapi hadir dalam forum). Tangga ketiga. 2. Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah. berupa upaya superfisial (dangkal. Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguhsungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership). pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan.

Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara untuk masyarakat dan pemerintah. Sudah ada penjaringan aspirasi. Penentraman (placation). baik dalam hal perencanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. 3. Konsultasi (consultation). pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. Kemitraan (partnership). Pada tangga partisipasi ini. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back). 5. Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah. 4. saran atau usulan Masyarakat kewenangan tersebut. pelaksanaan. telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan. maupun monitoring dan evaluasi. Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses dipersilahkan untuk menilai memberikan dan merencanakan usulan kegiatan. telah ada aturan pengajuan usulan. 6. Informasi (information). Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan. Namun pemerintah tetap menahan kelayakan keberadaan BAPEDA KOTA DEPOK 32 .

7. monitoring dan mulai evaluasi. Hambleton. maka harus diketahui terlebih dahulu sampai sejauh mana jenjang proses partsipasi yang telah ada. Pendelegasian mengurus kekuasaan (delegated power). dan tanpa campur tangan pemerintah. Dalam tangga partisipasi ini. Ini berarti dari bahwa proses pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk sendiri beberapa kepentingannya.4. dan Hogget meningkatkan partisipasi masyarakat. sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program. masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri. 2. Ini disebabkan adanya karakteristik yang bisa diasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu jenjang pada saat BAPEDA KOTA DEPOK 33 . pemberdayaan.2 Tipologi (1994) Burns et al (1994) berpendapat bahwa bila pemerintah hendak Partisipasi Burns. dan perubahan tata kelola pemerintahan di daerah.3. perencanaan. Untuk itu Burns memodifikasi model Arnstein yang dirasakan lebih tepat terhadap kebutuhan publik (kewenangan masyarakat lokal) dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. pelaksanaan. Burns menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan untuk menambah jenjang antara tangga partisipasi yang satu dengan yang lainnya meski terkesan lebih rumit dan memberikan kebebasan untuk menghapus atau menambah jenjang menurut situasi yang ada.Kajian Perencanaan Partisipatif untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan. 8. Dia mengakui bahwa terdapat permasalahan yang kompleks dalam penentuan jenjang partisipasi. Pengendalian warga (citizen control). yang disepakati bersama. Dalam menggunakan tipologi ini.

Burns memodifikasi konsep Arsntein tersebut dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat perubahan pemerintahan daerah. 11. 2. Tangga Pemberdayaan Warga oleh Burns et al (1994) pada penilaian oleh pemerintah daerah atau institusi lainnya. 7. Semua harus didasarkan pada situasi dan kondisi masyarakat. 10. 3. Berdasarkan hasil kajian terhadap delapan tangga partisipasi Arnstein. Burns juga mengingatkan bahwa kualitas partisipasi masyarakat tidak harus menempati tangga tertinggi dalam waktu yang sangat cepat. 6. Jenjang Partisipasi Civic hype Cynical Consultation Poor Information Customer care High Quality Information Genuine Information Effective Advisory Body Limited decentralised decision making Partnership Delegated Control Enrusted Control Independent Control Kategori Citizen Non Participation Citizen Participation Citizen Control BAPEDA KOTA DEPOK 34 . Tabel 3 menggambarkan No. Tabel 3. 5. 1. Burns dan koleganya memberi nama untuk tangga partisipasi mereka dengan A Ladder of Citizen Empowerment (Tangga Pemberdayaan Warga). serta pemetaannya terhadap ruang kekuasaan dan yang ada tata dalam kelola masyarakat. 8. 4. dengan menambahkan ruang pada jenjang partisipasi satu dengan yang lainnya serta menjabarkan kemungkinan adanya perbedaan pembagian ruang jenjang partisipasi Tangga Pemberdayaan Warga dari Burns. 9. 12.Kajian Perencanaan Partisipatif bersamaan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di setiap tangga membutuhkan cara yang berbeda-beda.

pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat tentang suatu masalah atau program tertentu. dan diabaikan. Pada kondisi ini partisipasi masyarakat customer care. tujuan serta pembiayaannya. Cynical consultation. Pada jenjang ini. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat untuk memutuskan nama dari satu jalan yang akan dibangun. namun informasi yang diberikan bersifat manipulatif. berbentuk propaganda dan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisi obyektif daerahnya. Civic hype. Jenjang-jenjang ini tidak boleh manipulasi informasi berkembang keempat cenderung rendah tapi pemerintah daerah telah membuka diri untuk menerima kritik dari masyarakat. bukannya membahas hal-hal yang bersifat strategis. tidak bisa Informasi tersebut lebih untuk konsumsi pemerintah sendiri atau jenjang masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 35 . menguasai hampir seluruh segi kehidupan. Tanpa Partisipasi Warga. Peranan pemerintah dalam kondisi ini terlalu besar. 1. Masyakat tidak diberikan informasi kebijakan dan permasalahan legislatif.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara garis besar penjelasan terhadap jenjang partisipasi tersebut adalah sebagai berikut : A. Pada yang berkaitan ini dengan kehidupan sulit atau masyarakat. seperti perencanannya. 2. baik kepada masyarakat maupun keluar. keadaan ini. cynical consultation. Keempat jenjang dimana warga dikategorikan tidak berpartisipasi (citizen non participation) karena adalah civic hype. namun dalam pertemuan tersebut tidak menyentuh topik-topik yang substantif. 3. dari foor information. Poor informasi. Pada jenjang ini pemerintah daerah melakukan sosialisasi informasi. Misalnya. sehingga masyarakat tidak mempunyai peranan dan bersifat pasif.

maka pada jenjang ini dapat digolongkan dalam partisipasi. pengajuan daerah. Customer care. maupun tuntutan-tuntutan. Program awalnya ditujukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. Pada jenjang ini terjadi sosialisasi informasi yang berkualitas tinggi. 4. Sosialisasi informasi-informasi tersebut akan mendorong terjadinya proses dialog atau konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat setempat yang lebih menyentuh substansi permasalahan. dan obyektif mengenai daerahnya atau hal-hal apa saja yang dilakukan dan juga disebabkan oleh sulitnya oleh pemerintah daerah. Jika pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai buruknya pelayanan pemerintah melalui unit pelayanan itu diabaikan. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukannya penerbitan data atau informasi masyarakat untuk mendapatkan informasi tersebut. baik dilihat dari proses maupun materi yang disampaikan pemerintah daerah kepada masyarakat setempat. masyarakat dapat memberikan input yang signifikan bagi pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 36 . maka pada jenjang ini terjadi konsultasi palsu (pseudo consultation). evaluasi. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat customer memiliki care ini informasi pada yang cukup mengenai untuk berbagai meredam kegiatan pemerintah atau mulai dilakukannya transparansi. Namun sebaliknya jika pengaduan masyarakat tersebut ditindaklanjuti dan membuahkan hasil. misalnya terjadi perbaikan dalam pelayanan pemerintah. Dengan Partisipasi Warga 5. baik dalam hal pemantauan. Pada jenjang ini pemerintah daerah membentuk sejenis unit pelayanan pengaduan. B. valid.Kajian Perencanaan Partisipatif mendapatkan informasi atau data-data yang akurat. Keterbukaan pemerintah daerah dalam hal ini telah memberikan peluang yang luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemerintahan. High quality information. Dengan proses konsultasi seperti itu.

Artinya. masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah sebelum suatu kebijakan diambil jenjang genuine walaupun tidak ada kepastian pemerintah akan consultation ini. penggunaan sumber daya bahkan dapat menyentuh tataran strategis. Sebagai hasil dari peningkatan kualitas konsultasi ini dapat menghasilkan perubahan struktural misalnya pembentukan berbagai badan atau komite masyarakat yang berfungsi sebagai penasehat (advisory) bagi pemerintah daerah dalam rangka membuat kebijakan atau melaksanakan program-program pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. Telah ada organisasi / perkumpulan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam pengambilan keputusan. Dalam diskusi ini. Namun tidak ada satu ketentuan pun bagi pemerintah daerah untuk memasukan pendapat komite masyarakat tersebut ke dalam kebijakan yang akan dibuat. 7. Diskusi antara pemerintah dengan masyarakat telah ada dan sebenarnya telah berjalan. dilakukan improvisasi untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan masukan tersebut.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Limited decentralised decision making. 8. Pada tahap ini masyarakat telah menunjukan inisiatif mereka dan telah ada transfer atau setidaknya pemberian wewenang untuk mempengaruhi pemerintah. Organisasi BAPEDA KOTA DEPOK 37 . Misalnya. sehingga dapat berfungsi efektif dan akan mendorong partisipasi badan atau komite tersebut dalam pembuatan kebijakan yang menyangkut operasional. hasil dialog tersebut tidak mengikat pemerintah daerah. dilakukan proses konsultasi antara pemerintah dengan masyarakat sebelum merancang suatu peraturan atau sebelum merancang program. Pada jenjang ini terjadi peningkatan keberadaan badan atau komite penasehat masyarakat. Pada meningkatkan kualitas konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dilihat dari substansi pembahasan maupun prosesnya. Genuine Consultation. Effective advisory bodies.

Pada jenjang ini pemerintah daerah dan masyarakat menjadi mitra sejajar. mendiskusikan persamaan persepsi bagaimana pelayanan beroperasi.Kajian Perencanaan Partisipatif tersebut melaksanakan hal-hal seperti mengajak masyarakat untuk bersatu. memberikan masukan apa yang dapat dan harus dilakukan untuk Organisasi mengambil keputusan untuk langkah aksi. Pada jenjang ini keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan telah meningkat ke arah kontrol masyarakat terhadap operasional maupun pengelolaan sumber daya dengan kerangka yang spesifik dan terbatas. seperti standarisasi yang BAPEDA KOTA DEPOK 38 . Selain itu pemerintah daerah membangun strategi bottom-up 10. namun harus tetap mengacu pada kebijakan strategis. apa yang ini terjadi juga saat ini. dimana pemerintah memisahkan kewenangan tertentu untuk didelegasikan kepada masyarakat. Limited Partnership. dan kemudian berkembang pada pembagian kekuasaan antara pemerintah daerah atau unit-unit pemerintah daerah dengan unit-unit kelompok masyarakat dalam kerangka yang spesifik. memonitor aksi yang dilakukan dan merencanakan langkah aksi selanjutnya. Disamping itu. memperbaiki memberi keadaan pandangan saat ini. Pada tahap ini operasional pengambilan keputusan telah dibedakan secara internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat). dimana masyarakat memiliki maupun pengaruh yang signifikan terhadap terutama proses melalui pembuatan mekanisme pelaksanaan kebijakan. setidak-tidaknya terjadi proses transfer kekuasaan (kewenangan). negosiasi antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya. 9. Secara umum dalam jenjang ini kontrol yang substansial didelegasikan kepada masyarakat daerah atau pembuatan kebijakan maupun pelaksanaannya. Pemerintah daerah mulai melakukan pengalihan manajerial pengelolaan program pemerintah kepada masyarakat.Delegated control.

Kajian Perencanaan Partisipatif ditetapkan pemerintah daerah serta kerangka pendelegasian kontrol yang ditentukan secara terpusat. Masyarakat memiliki kekuasaan dan kapasitas untuk mengatur sebuah program. area dan institusi. C. Pada jenjang ini peningkatan pengendalian / kontrol masyarakat telah mewujud dengan terbentuknya suatu institusi atau organisasi yang otonom secara legal untuk menguasai pembuatan maupun implementasi kebijakan terhadap suatu atau beberapa bidang tertentiu. namun institusi ini masih tergantung pada alokasi dana dari pemerintah daerah yang hanya berperan pada tataran strategis. institusi yang diprakarsai masyarakat yang terlibat dalam menguasai (mengontrol) pembuatan kebijakan maupun implementasinya secara penuh mendapatkan otonomi. Pada jenjang ini dipertimbangkan transformasi fundamental antara negara dan ekonomi pasar di satu sisi dan anggota masyarakat di sisi lain. BAPEDA KOTA DEPOK 39 . institusinya tidak bergantung pada pemerintah daerah atau badan lainnya. baik legal maupun finansial dari pemerintah daerah. 11. Hubungan pemerintah dengan masyarakat meningkat berdasarkan kepercayaan dan saling ketergantungan. tapi berdasarkan bentuk-bentuk demokrasi dalam semua sisi kehidupan. Kekuataan tidak berada pada pasar. masyarakat telah memiliki kekuasaan untuk mengatur program.Entrust Control.Independent Control. 12. Kedudukan pemerintah dan masyarakat sederajat. Hubungan dengan pemerintah daerah dilakukan melalui koordinasi dengan jaringan kerjasama. Pengendalian / Kontrol oleh Masyarakat Pada jenjang kesebelas dan keduabelas. Pada jenjang ini.

Masyarakat lokal tidak berkewajiban melanjutkan praktek yang diintrodusir ketika insentif berakhir. Mereka mengembangkan kontak dengan institusi luar untuk mengakses sumber daya dan bantuan teknis yang mereka butuhkan. Warga berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara independen (tanpa campur tangan dari institusi luar) untuk mengubah sistem. Tabel 4. khususnya untuk mengurangi biaya. Informasi yang dibagi pun hanya untuk kalangan profesional. Metodologi pembelajaran dipakai untuk menemukenali perspektif yang beragam. Warga mungkin berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan sebelumnya berkaitan dengan proyek tersebut.3. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Tipologi Partisipasi manipulatif Partisipasi pasif Partisipasi dengan konsultasi Partisipasi yang dibeli Karakteristik Setiap Tipe Partisipasi dilakukan hanya dengan berpura-pura. Pretty (1995). dan kelompok menentukan bagaimana sumberdaya yang tersedia digunakan. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Dengan mengadaptasi tipologi partisipasi Arnstein. Warga berpartisipasi melalui konsultasi atau dengan menjawab pertanyaan dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Warga berpartisipasi dengan diberitahukan apa yang telah diputuskan atau yang telah dilaksanakan. tapi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap bagaimana sumberdaya itu digunakan. Warga berpartisipasi untuk mendapatkan makanan. mengembangkan rencana aksi bersama dan pembentukan atau penguatan kelompok atau institusi lokal. Partisipasi dilihat oleh badan eksternal sebagai sebuah langkah untuk mencapai tujuan proyek.3. Partisipasi fungsional Partisipasi interaktif Mobilisasi sendiri dan berdikari Sumber : Pretty (1995) diacu dalam Thomsen (2004) BAPEDA KOTA DEPOK 40 . uang tunai atau insentif material lainnya. diacu dalam Ahmad (2004).Kajian Perencanaan Partisipatif 2.4. Warga berpartisipasi dalam analisis bersama. mengembangkan pendekatan yang berbeda berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana pada Tabel 4.

Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) dan Wates (2000) Tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Mayer (1997) dan Wates (2000) adalah salah satu instrumen untuk melihat tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah proyek atau proses perencanaan. Tabel 5. belajar berdemokrasi Ko-Produksi Koordinasi Mediasi Antisipasi Konsultasi InformasiEdukasi Sumber : Mayer (1997). Terdapat perubahan kelembagaan (pengetahuan. dan keberlanjutan proyek).3. memperkuat penerimaan dan legitimasi.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. perencanaan. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) Tahapan Pembelajaran Cara Para pihak dapat menentukan kerjasama yang akan dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang sudah dipelajari. konsultasi. dan cara pencapaian Untuk mendamaikan konflik. pemahaman bersama sampai membuat konsensus Menggali proyeksi kemungkinan perubahan di masa depan Membuat kebijakan atas dasar informasi relevan yang didapat di lapangan Memperkaya pemahaman kepada para pihak. implementasi. Tahapan partisipasi yang dikembangkan oleh Wates (2000) berdasarkan tingkat keterlibatan masyarakat (kemandirian. BAPEDA KOTA DEPOK 41 . tujuan. kepercayaan dan sikap-kebiasaan) Melihat hubungan antara berbagai permasalahan di setiap tahapan proses yang ada di berbagai pihak dan berbagi tanggung jawab untuk penyelesaian yang mungkin dicapai Mengajak para pihak untuk melihat sumberdaya yang mereka miliki dan menginisiasi kerjasama Mengajak para pihak untuk mengetahui tentang nilai-nilai dan kepentingan yang saling menguntungkan Memberikan kesempatan pada para pihak untuk membuat antisipasi permasalahan yang muncul di masa depan Bertanya kepada para pihak tentang apa yang mereka tahu tentang permasalahan mereka dan apa yang dapat mereka lakukan terhadap permasalahan tersebut Memberikan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat umum Tujuan Para pihak dapat menggali dan membuat pendekatan yang fleksibel dan kontekstual dengan perubahan yang cepat Identifikasi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam berbagai aktivitas / proyek Mengkoordinasi sumberdaya. kemitraan.4. diacu dalam Ahmad (2004). mencapai kompromi.4. dan informasi) pada masing-masing tahapan proyek (inisiasi proyek.

4. Tahapan Partisipasi Wates (2000) INISIASI KEMANDIRIAN Kontrol ada pada komunitas KEMITRAAN Berbagi tugas dan ikut serta dalam pengambilan keputusan Komunitas melakukan inisiasi PERENCANAAN Komunitas merencanakan kegiatannya sendiri Otoritas dan komunitas secara bersama-sama merencanakan kegiatan Otoritas membuat perncanaan setelah berkiomunikasi dengan komunitas IMPLEMENTASI Komunitas mengimplementa sikan rencananya sendiri Otoritas dan komuniotas bersama-sama mengimplementa sikan perencanaan KEBERLANJUTAN Komunitas menjaga hasil-hasil pembangunan Otoritas dan komunitas saling menjaga hasil pembangunan Otoritas dan komunitas bersamasama melakukan inisiasi kegiatan KONSULTASI Otoritas Dilakukan menginisiasi dengan kegiatan pendekatan setelah dialog berdialog dengan komunitas Otoritas INFORMASI menginisiasi Komunikasi dilakukan searah kegiatan Sumber : Wates (2000) Otoritas mengimplementa sikan perencanaannya dengan berkonsultasi pada komunitas Otoritas membuat Otoritas mengimplementa perencanaan sikan sendiri perencanaannya sendiri Otoritas menjaga hasil pembangunan dengan bertanya kepada komunitas Otoritas menjaga hasil pembangunannya sendiri 2.5. Tipologi ini esensinya istilah sama yang dengan lain tipologi sebelumnya partisipasi namun yang menggunakan adalah tipologi dikemukakan oleh Parkers dan Panneli (2001).Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 6. Tipologi Partisipasi Parkers and Panelli (2001).3. BAPEDA KOTA DEPOK 42 .

3. Hanya saja menurut Davidson (1998). Roda Partisipasi Davidson (1998) Sebenarnya Davidson tidak membuat tipologi partisipasi yang sama sekali baru. Tipologi Partisipasi Parkers dan Pannelli (2001) Tipe partisipasi Co-option (pilihan bersama) Compliance (kerelaan) Consultation (konsultasi) Cooperation (kerjasama) Co-learning (belajar bersama) Keterlibatan Masyarakat lokal Perwakilan masyarakat dipilih untuk ikut dalam prosespartisipasi tapi tanpa input yang nyata atau tanpa pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan. dan sebagian besar menggunakan istilah yang digunakan oleh Burns. BAPEDA KOTA DEPOK 43 . Masyarakat lokal dan pihak luar berbagai pengetahuan mereka untuk menciptakan pemahaman baru dan mereka bekerja sama untuk membentuk rencana aksi dengan fasilitasi dari pihak luar Collective action (aksi bersama) Masyarakat lokal menyusun sendiri agenda mereka dan mengerahkan diri mereka sendiri untuk mencapainya tanpa inisiatif dari pihak luar dan dengan atau tanpa kehadiran fasilitator dari luar.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 7. Ia sepenuhnya mengadopsi tipologi yang dikemukakan oleh Burns.Karena itu dalam artikelnya ”Engaging Community”. Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas tapi tanggungjawab tetap berada di tangan pihak luar untuk mengarahkan proses tersebut.6. tapi pihak luar yang menganalisis dan memutuskan pilihan kegiatan yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Tugas ditetapkan dengan insentif tapi pihak luar memutuskan agenda dan aksi apa yang harus dilakukan Pendapat masyarakat lokal dicari / diminta. 2.4. Davidson memodifikasi metode dan strategi pendekatan yang digunakan dalam tiap jenjang partisipasi yang dikemukakan oleh Burns. tiap jenjang partisipasi masyarakat itu membutuhkan metode dan strategi pendekatan yang berbeda.

Roda Partisipasi oleh Davidson BAPEDA KOTA DEPOK 44 .Kajian Perencanaan Partisipatif Gambar 3.

Kajian Perencanaan Partisipatif

Tabel 8. Tipologi Roda Partisipasi Davidson No. Jenjang Partisipasi
1. Minimal Communication

Karakteristik
Badan pemerintah memutuskan seluruh hal / materi tanpa konsultasi (kecuali ketika aturan mengharuskan melakukan konsultasi), seperti melalui laporan dari komite. Menjelaskan kepada publik apa yang diinginkan oleh badan pemerintah, bukan tentang apa yang ingin diketahui oleh publik. Ini dilakukan dengan pendekatan yang menjangkau publik yang lebih luas Memberikan informasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kertas kerja untuk didiskusikan atau pameran untuk pengembangan rencana atau catatan panduan untuk pengembangan area konservasi Pemberian informasi dalam cara yang terbatas dengan beban diletakan pada masyarakat untuk memberikan respon seperti dalam bentuk poster atau leaflet. Memiliki pelayanan yang berorientasi pada publik sebagai pelanggan (customer), seperti memperkenalkan kebijakan yang peduli pada pelanggan atau menyediakan sebuah skema untuk pengaduanpengaduan atau komentar-komentar Badan pemerintah secara aktif mendiskusikan berbagaiisu dengan masyarakat berkaitan dengan apa yang dipikirkan tentang aksi yang akan dilakukan terlebih dahulu. Sebagai contoh, berhubungan dengan kelompok penyewa atau survey kepuasan publik. Mengundang keterlibatan masyarakat untuk mengajukan proposal / usulan yang akan menjadi bahan pertimbangan badan pemerintah. Memecahkan masalah melalui kemitraan dengan masyarakat seperti kemitraan formal Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat keputusannya sendiri tentang beberapa isu, seperti pengelolaan tempat permuan warga. Mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusan secara terbatas dalam wilayah atau proyek tertentu, seperti organisasi pengelolaan penyewa dan dewan sekolah. Badan pemerintah diharuskan unrtuk menyediakan pelayanan tapi memilih pelaksanannya dengan menfasilitasi kelompok masyarakat dan / atau badan lainnya untuk memberikan pelayanan atas nama pemerintah, seperti pemberian kontrak pelayanan perawatan oleh sektor volunter / relawan Memindahkan kekuasaan pembuatan keputusan yang substansial kepada masyarakat, seperti organisiasi pengelolaan penyewaan.

Contoh Teknik
Catatan publik

2.

Limited Information

Press release, newsletter, dan kampanye Leaflet

3.

High Quality Information

4. 5.

Limited Consultation Customer Care

Pertemuan publik dan survey Kartu komentar, wawancara perorangan.

6.

Genuine Consultation

7. 8.

Effective Advisory Body Partnership

9.

Limited Decentralized Decision-Making Delegated Control

10.

Panel warga, lingkaran diskusi di tingkat distrik, diskusi kelompok terarah, pengukuran pendapat, panelpengguna, dan kelompok stakeholder Perencanaan nyata (planning for real), Dewan juri warga, pencarian prioritas Pilihan bersama (co-option), Kelompok-kelompok stakeholder, permainan disain Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang

11.

Independent Control

12.

Enrusted Control

BAPEDA KOTA DEPOK

45

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.7.

Tipologi Partisipasi Brager & Specht (1973).

Brager & Specht mengembangkan tipologi partisipasi tidak dalam bentuk jenjang tapi dalam bentuk kontinum, dilihat dari sisi pengendalian masyarakat / partisipan dalam proses perencanaan. Pada tingkat pengendalian yang tinggi, masyarakat memiliki dalam pelaksanaan kegiatan, sedangkan pada tingkat pengendalian masyarakat yang rendah boleh dikatakan tidak afda partisipasi samasekali. Tabel 9 . Tangga Partisipasi Masyarakat Brager & Specht (1973).
Pengendalian Tinggi Aksi Partisipan Has control (memiliki kontrol) Contoh Organisiasi / badan pemerintah meminta masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan membuat seluruh keputusan penting terhadap tujuan-tujuan dan langkah-langkah mencapainya. Badan pemerintah berkeinginan untuk membantu masyarakat pada tiap tahap untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Badan pemerintah mengidentifikasi dan menyodorkan sebuah masalah kepada masyarakat. Pemerintah menetapkan batasan masalah dan meminta masyarakat untuk membuat serangkaian keputusan yang dapat ditambahkan dalam sebuah rencana sehingga rencana itu dapat diterima. Badan pemerintah menyodorkan rencana tentatif (sementara) dan terbuka untuk perubahan dari mereka yang dipengaruhi oleh rencana itu. Badan pemerintah mempresentasikan sebuah saran dan mengundang pertanyaan. Disiapkan untuk perubahan rencana hanya jika betul-betul dibutuhkan. Badan pemerintah mencoba untuk mempromosikan sebuah rencana dan berkonsultasi dengan masyarakat sekadar untuk mengembangkan dukungan agar rencana itu dapat diterima, sehingga pemenuhan administraif dapat diharapkan Badan pemerintah membuat rencana dan mengumumkannya. Masyarakat diajak mengikuti pertemuan / rapat untuk tujuan mendapatkan informasi. Masyarakat tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun.

Has delegated authority (memiliki kewenangan yang didelegasikan)

Plans jointly (merencanakan bersama) Advises (pemberian saran ) Is consulted (dikonsultasikan)

Receives information (menerima informasi) None (tidak ada)

Rendah

Sumber : Brager & Specht (1973), diacu dalam WHO (2002).

BAPEDA KOTA DEPOK

46

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.8. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992) diacu dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut kemauan Sahidu (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi adalah motif, tingkat harapan,

masyarakat

untuk

berpartisipasi

kebutuhan (needs), imbalan (rewards), dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki. Jika berpartisipasi bisa dianggap sebagai sebuah perilaku dari

masyarakat, dan partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan perilaku pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, maka setidaknya terdapat dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku masyarakat dan pemerintah ini. Yaitu, teori pilihan rasional (rational choices theory) theory). Menurut teori pilihan rasional, perilaku individu atau sebuah kelompok merupakan respon terhadap aturan (rules) dan insentif yang ada. Aturan ini dapat berupa aturan formal (peraturan perundang-undangan) maupun aturan non formal (misalnya, kesepakatan-kesepakatan warga), dapat dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Insentif pun beragam mulai dari yang kasat mata dan bersifat ekonomi maupun yang tidak kasat mata dan teori normatif (normative

BAPEDA KOTA DEPOK

47

seorang berperilaku tertentu karena perilaku itu merupakan sesuatu yang memang patut dilakukan. Sementara Abe (2001) mengidentifikasi setidaknya enam faktor penghambat masyarakat untuk berpartisipasi. faktor-faktor penghambat itu adalah: (1) belum dipahaminya konsep partisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan. jika seseorang atau sebuah kelompok berperilaku partisipatif.5. Menurut Soetrisno (1995). maka perilaku itu merupakan pilihan rasional bagi yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap aturan main atau insentif yang ada. (2) adanya reaksi yang menghambat proses pembangunan seperti keengganan masyarakat untuk ikut berperan serta seperti mengevaluasi proses pembangunan secara kritis dan terbuka (budaya diam). nonformal. aparat bersikap otoriter. atau melalui kampanye-kampanye publik melalui berbagai media. Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Para ahli telah mengidentifikasi hal-hal yang menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Logika ini merupakan hasil dari proses internalisasi yang memakan waktu yang relatif lama dalam diri seorang individu atau kelompok. (3) adanya peraturan-peraturan pemerintah yang menghambat kemauan rakyat untuk berpartisipasi.3.Kajian Perencanaan Partisipatif dan bersifat non ekonomi. Sedangkan menurut teori normatif. 2. dan informal) pada berbagai tingkatan. Jadi. Ini merupakan hasil dari pendidikan (formal. yaitu: (1) keterbatasan BAPEDA KOTA DEPOK 48 . Partisipasi dipahami sebagai kemauan rakyat untuk mendukung program pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. dan kurang terbuka terhadap aspirasi masyarakat (budaya mencari selamat). Jadi yang menjadi pertimbangan adalah logika kepatutan (logic of approriateness).

(6) langkanya kepercayaan diri. Sedangkan hambatan sosial adalah masih terdapatnya mental ketergantungan dimana pada umumnya terdapat dominasi dari kelompok elit lokal. (4) karena sebab-sebab terdahulu. (4) aspirasi yang disampaikan rakyat adalah aspirasi pantulan (refleksi) aspirasi negara. (3) rakyat berada dalam represi ideologi dimana kesadaran politik rakyat diduga merupakan kesadaran hasil bentukan negara. yaitu: (1) masyarakat belum dapat menghayati atau merasakan masalah atau kepentingannya. takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. Hambat-hambatan untuk berpartisipasi itu juga dapat dilihat dari sisi hambatan struktural. Hamijoyo (1993) mengidentifikasi beberapa faktor pengambat partisipasi masyarakat yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. (2) masyarakat berada dalam politik sentralistik – otoriter sehingga membudaya politik ”mengekor”. sebagai akibat dari tekanan politik elit. Hambatan struktural berasal dari lingkungan politik negara. (3) tujuan partisipasi masyarakat kurang jelas. dan sistem politiknya tersentralisasi. kurang respon terhadap suara rakyat. sehingga rakyat tidak terbiasa jujur mengatakan apa adanya meskipun bertentangan dengan pemerintah. hambatan administrasi dan hambatan sosial (Okley. (2) masyarakat atau tokoh terpercaya belum sanggup atau kurang berani mengajukan bentuk atau cara pemecahan masalah yang diterima (acceptable) yang secara teknis dan keuangan dapat dilaksanakan. dimana ideologi yang dianut kurang mendukung keterbukaan. 1991). karena manfaat atau tujuan pembangunan masih kurang jelas bagi masyarakat. Hambatan administrasi adalah berupa prosedur perencanaan program dan proyek pembangunan yang tersentralisasi mengurangi keterlibatan lokal. maka di antara masyarakat belum BAPEDA KOTA DEPOK 49 . pasif.Kajian Perencanaan Partisipatif pengetahuan masyarakat sehingga secara teknis sulit berpartisipasi (misalnya pendidikan yang rendah dan kemampuan baca tulis). (5) rakyat telah kehilangan institusi lokal.

yaitu: (1) taraf partisipasi yang dikehendaki mesti diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak yang bersangkutan. sehingga aspirasi dan potensi warga kurang tersalur secara efektif dan efisien. Uphoff dan Cernea (1988) mengidentifikasi beberapa cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan. (7) tidak ada peran yang cukup merata atau banyak peran terlalu diborong oleh orang-orang tertentu. Jika ditelaah berbagai pendapat tersebut. (3) di kebanyakan negara. dan (c) faktor luar / eksternal. (5) di wilayahnya sendiri. (9) tidak ada organisasi yang cukup handal untuk mengelola partisipasi masyarakat. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan partisipasi masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan untuk menjamin adanya partisipasi tersebut. atau pimpinan kurang menunjukan hasil yang sebenarnya ada. tentang suatu rancangan mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama atau berlarut-larut. dapat dilihat bahwa faktorfaktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dapat dalam bentuk: (a) faktor internal masyarakat. (b) faktor internal pemerintah. (8) kebanyakan warga lokal belum melihat hasil pembangunan melalui partisipasi mereka. Pembagian peran dan tanggung jawab dianggap kurang adil dan terbuka.Kajian Perencanaan Partisipatif ada atau bahkan tidak ada rasa keterikatan batin. sedangkan tahap-tahap lainnya seperti pengalihan modal untuk poemanfaatan mungkin akan lebih singkat. ”perlengkapan khusus” untuk memperkenalkan dan BAPEDA KOTA DEPOK 50 . masyarakat tidak atau belum merasakan ada kegiatan yang cocok ataupun bermanfaat baginya. rasa senasib sepenanggungan. (2) harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran (toleransi) kenyataan bahwa beberapa tahap harus diberikan untuk seperti konsultasi perencanaan. (6) tidak ada semacam reference group yang merupakan fokus atau panutan bagi warga setempat.

Salah satu alasan mengapa melakukan perencanaan partisipatif sebelum mendisian sebuah program / proyek adalah bahwa sesungguhnya banyak pihak (stakeholders) yang berkepentingan di dalamnya. Karena itu perlu dibangun pelaksanaan. kebutuhan dan tata nilai. serta motivasi aspirasi. (4) mesti ada komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. diacu dalam Abbas (2005). Dengan demikian. sehingga partisipasi menjadi isu yang sangat penting dalam perencanaan dan implementasi suatu program / proyek. Perencanaan Partisipatif Pelaksanaan perencanaan partisipatif dapat dilakukan dalam pelaksanaan sebuah program atau proyek tertentu. Demikian halnya berkaitan dengan pembangunan skala kota (yang terdiri dari banyak program / proyek). konsep stakeholders menjadi penting. monitoring dan evaluasi. yaitu: (1) hasilnya bersifat alamiah dan tidak merupakan rekayasa. tingkat pengetahuan.4. dan suatu mekanisme dimana seluruh stakeholders dapat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan. maka pihak yang seharusnya berkepentingan adalah stakeholders yang ada di kota itu. atau dengan kata lain kemauan baik saja belum cukup. para stakeholders berbeda dalam beberapa hal yakni keinginan. karena sebagaimana dikemukakan oleh Warner (1997). (2) masyarakat yang merupakan target merasa lebih memiliki dan memberikan kontribusi secara signifikan guna kesuksesan kegiatan. Selanjutnya Bock (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga keuntungan jika menggunakan proses partisipatif dalam perencanaan dan disain suatu kegiatan. dan dapat juga dalam konteks pembangunan skala kota. BAPEDA KOTA DEPOK 51 . 2.Kajian Perencanaan Partisipatif mendukung partisipasi memang diperlukan.

dan akses yang terbuka terhadap pertemuan maupun dokumen-dokumen. Informasi. regulasi. maka hak-hak dan proses partisipasi harus didefinisikan dalam pedoman teknis. Institusionalisasi partisipasi (forum) stakeholders. atau kebijakan dapat menfasilitasi di antara partisipasi kesediaan pemerintah. Mekanisme partisipasi harus diinstitusionalisasikan. Tanpa dimana. BAPEDA KOTA DEPOK 52 . diacu dalam Abbas 2005): 1. bagaimana. kapan. informasi siapa dan bagaimana” dan dapat dan tidak dalam proses perencanaan kebijakan implementasinya. Perencanaan partisipatif juga penting untuk dapat mengetahui kebutuhan dan opini stakeholder terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Dalam kaitan itu terdapat empat elemen kunci menuju kesuksesan perencanaan partisipatif oleh stakeholders (Takeda 2001.Kajian Perencanaan Partisipatif dan (3) pemantauan kegiatan lebih mudah dilaksanakan dan lebih transparan. 2. 3. Intermediasi. Peran informasi sangat esensial sebagai wahana untuk menfasilitasi partisipasi. Guna mencapainya. dimana dan merumuskan kebijakan pengembangan implementasinya. Tanpa informasi masyarakat tidak akan mengetahui berpartisipasi ”apa. Prinsip pokoknya agar stakeholders untuk adalah dibutuhkan koordinasi. Informasi yang baik dan tepat sasaran seringkali menjadi pionir bagi keberhasilan suatu program. untuk pemerintah mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan dan isu. Intermediasi berguna untuk menfasilitasi partisipasi sehingga di dalamnya membutuhkan individu atau organisiasi guna memainkan fungsi intermediasi. melakukan stakeholders konsultasi dan negosiasi. Informasi dapat berupa publikasi media.

misalnya dengan mengkondisikan berinisiatif. Inisiatif. Dalam hal ini berpartisipasi dalam aktivitas harus menyediakan dan pembangunan sangat krusial kaitannya dengan proses pembangunan pemerintah memberdayakan stakeholders (terutama masyarakat) agar mampu menempatkan perannya dalam membuat inisiatif. pertemuan informal lingkungan yang kondusif untuk masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 53 . Dengan penduduk 1. 2003). kekayaan ekonominya sekitar US$ 7 miliar.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.3 juta jiwa. Dalam kegiatan ini tidak ada intervensi dari eksekutif (pejabat kantor walikota). mendiskusikan usulan-usulan baru dan memilih delegasi untuk pertemuan putaran kedua. sebuah kota industri di Rio Grande do Sul. Kota ini juga memiliki reputasi sebagai persatuan buruh serta berpengalaman memobilisasi rumah masyarakat madani progresif yang dipimpin oleh intelektual dan partisipasi masyarakat. • April: Sidang Pleno pertama dilaksanakan antara masyarakat dan para pejabat kantor walikota untuk menilai proyek-proyek tahun sebelumnya. Inisiatif stakeholders untuk tersebut. Brazil (World Bank. Kota ini secara konsisten menikmati satu dari standar kehidupan yang sangat tinggi dan tuan pendapatan perkapita yang tinggi dibandingkan dengan kota-kota di Brazil pada umumnya. Siklus anggaran yang dimulai pada Maret – April. berlangsung degan jadual sebagai berikut: • Maret: pertemuan informal antar warga untuk menentukan kebutuhan. Salah satu model best practice tentang perencanaan dan penganggaran partisipatif dilakukan di Porto Alegre. Sepanjang tahun dalam siklus anggaran partisipatif dari Porto Alegre telah mendapatkan perhatian untuk dicermati. • April sampai dengan Juni: Pertemuan Antara bagi delegasi untuk mempelajari prioritas kriteria teknis dan mendiskusikan Persiapan kebutuhan dan untuk setiap daerah.

(e) 30 km jalan diperbaiki setiap tahun. (f) karena transparansi menghasilkan sikap patuh membayar BAPEDA KOTA DEPOK 54 . • Juli – September: legislatif menjumpai setidaknya selama dua jam per minggu untuk mendiskusikan kriteria. (c) antara 1989 dan 1996 persentase rumah tangga dengan kemudahan mendapatkan pelayanan air bersih meningkat dari 80% menjadi 98%. • • September: Anggaran baru disahkan oleh COP dan dikirim kepada legislatif untuk diadakan debat dan dikuasakan. (b) sebuah jurnal bisnis yang berpengaruh telah menetapkan Porto Alegre sebagai masyarakat Brazil dengan ‘best quality of life” selama 4 tahun sejak 1989. alokasi sumber daya sebagaimana yang diusulkan pejabat kantor walikota. kebutuhan masyarakat. September sampai dengan Desember: COP menindaklanjuti debat dengan anggota legislatif. demikian seterusnya. dua dari masing-masing tema ditambah dua lainnya dari legislatif. (b) jumlah penduduknya. Partai Buruh yang mengusulkan penganggaran partisipatif telah memenangkan tiga kali berturut-turut dalam pemilihan daerah di Porto Alegre. (c) persentase penduduk yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah meningkat dari 46% menjadi 85%. melobi. aturan-aturan yang disepakati dan mengatur pertemuan selanjutnya. (d) jumlah anak-anak yang diterima di sekolah pemerintah menjadi dua kali lipat. Eksekutif mengumpulkan semua usulan berdasarkan dua kriteria yaitu: (a) seberapa jauh akses ke daerah yang harus dilayani. Dengan pendekatan seperti itu.Kajian Perencanaan Partisipatif dilaksanakan dengan masyarakat dan asosiaisi masyarakat untuk menetapkan peringkat kebutuhan. • • Juni: pleno kedua dilaksanakan ketika para Konselor dipilih dan prioritas daerah sudah ditetapkan. dan bekerja secara terpisah pada rencana investasi untuk masing-masing daerah. maka hal-hal yang telah dicapai antara lain: (a) sejak 1989. Juli: 44 Konselor membentuk The Council of Participatory Budgeting (COP) – dua dari masing-masing 16 daerah.

Hubungan saling percaya (social trust) akan membangun kerjasama. mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. yang kemudian akan menekan biaya transaksi antar mereka yang bekerja sama dan kemudian berarti menghemat penggunaan sumber daya. Konsep modal sosial telah dipopulerkan oleh Putnam (1993) walaupun sebelumnya terlebih dahulu dikembangkan oleh Coleman (1988).Kajian Perencanaan Partisipatif pajak. BAPEDA KOTA DEPOK 55 . maka para pihak tidak membutuhkan upaya untuk memonitor atau mengawasi pihak lain agar berperilaku seperti yang diharapkan. dan (g) lebih dari 80 kota di Brazil mengikuti model Porto Alegre untuk penganggaran partisipatif. Artinya. maka penerimaan meningkat mendekati 50%. 2006).al (2006). diacu dalam Rustiadi et. dan (c) kepercayaan (Rustiadi et. serta oleh Knack dan Keefer (1997) adalah: (a) jaringan pertemuan / dialog masyarakat (network of civic engangement). (b) norma-norma yang saling berinteraksi / timbal balik (norms of generalized reciprocity). sementara kelompok masyarakat lainnya tidak dapat melakukannya. Putnam (1993).5. saling percaya akan menghemat waktu dan biaya.al. Komponen-komponen kunci dari modal sosial yang diidentifikasi Putnam (1993). Modal Sosial Konsep modal sosial antara lain sering digunakan untuk menjelaskan mengapa satu kelompok masyarakat dapat bekerjasama untuk mencapai kemaslahatan / kepentingan bersama. 2. Fukuyama (1995). Akibat adanya saling percaya.

Dalam konteks ini. Aksi kolektif dilaksanakan secara sukarela oleh partisipannya yang membedakannya dengan usaha-usaha kolektif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pekerja yang dibayar. jaringan informasi (information channels). aksi kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut Coleman (1988). dan kepercayaan (trustworthiness). ekspektasi (expectations). bahwa informasi selalu terbatas. bentuk modal sosial tergantung pada dua elemen kunci yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. Konsep modal sosial berkaitan erat dengan konsep aksi kolektif (collective action). demikian pula sebaliknya. Tentu saja individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperolah informasi sehingga dapat dikatakan modal sosialnya tinggi. Menurut Marshall (1998). Informasi sangatlah penting sebagai basis tindakan. Kedua. Ketiga. yang diacu dalam Knox dan Gupta (2000). Dari perspektif ini. individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi yang sebaliknya. norma dan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). struktur kewajiban (obligation). dalam mencapai apa yang oleh anggota kelompok itu dianggap sebagai kepentingan bersama. baik secara langsung atau atas nama organisasi. yang diacu dalam Yustika (2006) menjelaskan tiga bentuk modal sosial: Pertama. Pada level yang paling minimal. Norma dan sanksi efektif akan membangun dan menjaga perilaku yang diharapkan secara sosial sebagai upaya untuk mempertahankan level modal sosial yang terbentuk. BAPEDA KOTA DEPOK 56 . dan ini yang perlu mendapat perhatian.

bukti bahwa manfaat Meskipun terdapat banyak manfaat non bersifat material juga mempengaruhi material yang diperoleh dari aksi-aksi kolektif. Untuk membangun modal sosial secara efektif sehingga memunculkan aksi kolektif. (b) biaya aksi kolektif (collective action cost) sehubungan dengan pembuatan dan penegakan kesepakatan. yang dianggap akan memberikan manfaat bagi kelompok. penyelenggara pertemuan (convener) dan fasilitator (Crocker et al. menggalang proses partisipasi. namun terdapat banyak yang kemunculan berbagai aksi kolektif. Keengganan berbagai pihak di pemerintahan untuk menerapkan proses partisipatif antara lain dilatarbelakangi oleh faktor biaya ini. dalam arti perannya harus bergeser dari yang semula sebagai pengontrol (controller). kegiatan (provider) menjadi katalisator. masalah-masalah individu penting dalam aksi kolektif adalah: (a) munculnya perilaku free ridding (penunggang gratis) sehubungan keinginan untuk memaksimumkan utilitasnya.6. dan pelaksana 2006). diacu dalam Rustiadi 2. maka instansi pemerintah harus berbagi otonomi / peran dengan masyarakat. Konsep Biaya Transaksi Konsep biaya transaksi dipaparkan dalam kajian ini. karena berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan akan senantiasa membutuhkan biaya. (c) ukuran kelompok (group size). bahwa setiap aksi kolektif senantiasa melibatkan organisasi untuk mendisain aturan-aturan main dan melaksanakan aksiaksi yang disepakati.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut dijelaskan. (d) masalah koordinasi antar pelaku. BAPEDA KOTA DEPOK 57 . Menurut Eggertsson dengan (1990). pembuat aturan (regulator). dan menegakkan aturan-aturan yang telah diterima.

dimana informasi. North (1990). Karena itu biaya transaksi didefinikasi sebagai biaya-biaya untuk melakukan negosiasi. diacu dalam Yustika (2006). berpendapat bahwa biaya untuk mencari informasi merupakan kunci dari biaya transaksi. North memberikan isustrasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara berkembang. Awalnya konsep biaya transaksi ini diterapkan dalam transaksi ekonomi (jual beli). sehingga menghasilkan biaya yang rendah.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam ilmu ekonomi kelembagaan. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga. yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan yang pengukuran dan perlengkapanongkos untuk perlengkapan (atributes) dipertukarkan melindungi hak-hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan kesepakatan (enforcing agreements). Namun pada kenyataannya. biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya suatu disain kelembagaan. Inilah yang menimbulkan biaya transaksi. Pandangan ekonomi neoklasik didasarkan pada anggapan bahwa pasar berjalan sempurna tanpa biaya apapun (costless) karena pembeli (consumers) dianggap memiliki informasi yang sempurna dan penjual fakta yang ada menunjukan (producers) saling berkompetisi. sebaliknya. dan pemaksanaan pertukaran (Yustika. BAPEDA KOTA DEPOK 58 . 2006). Semakin tinggi biaya transaksi untuk mewujudkan disain kelembagaan. maka kian tidak efisien kelembagaan yang didisain itu. kompetisi. sistem kontrak dan proses transaksi jual beli dapat sangat asimetris. biaya transaksi biasanya rendah. Namun konsep ini kemudian digunakan juga untuk menjadi ukuran dalam proses-proses membangun kesepakatan dalam rangka peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. tetangga). pengukuran.

Kajian Perencanaan Partisipatif sehingga informasi tentang aktifitas-aktifitas dalam komunitas tersedia secara luas dan bebas. struktur sosial (orang tua dan figur kepemimpinan lain yang dihormati) memberikan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan resolusi apabila ada konflik di antara anggota komunitas. (b) biaya informasi (information costs). dan biaya finansial yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah keputusan. modal. material. Komponen-komponen biaya transaksi menurut Ostrom. yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan BAPEDA KOTA DEPOK 59 . maka semakin tinggi biaya transaksi yang muncul (Yustika. dan pada jarak yang semakin jauh. Meskipun awalnya muncul untuk menelaah aktifivitas yang murni ekonomi. Tetapi. Mereka berpendapat bahwa biaya transaksi adalah berkaitan dengan waktu. seperti penegakan kesepakatan-kesepakatan pada tingkat stakeholders. Semakin kompleks dan impersonal jaringan perdagangan. Berkenaan dengan itu. diacu dalam Nugroho 2006 adalah: (a) biaya koordinasi (coordinating costs). Schroeder dan Waynne 1993. dan penegakan kesepakatan di antara pelaku. 2006). Ini mencakup berbagai biaya yang dibutuhkan untuk membangun aturan main dan sampai bagaimana aturan main itu diterima. serta biaya yang dibutuhkan untuk resolusi konflik-konflik yang timbul akibat penerapan dari aturan main tersebut. definisi biaya transaksi yang dapat digunakan adalah sebagaimana yang dikemukakan Thomson dan Freudenberger (1997). masyarakat harus berdagang / bertransaksi dengan orang lain di luar komunitas desanya. dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi. Sementara itu. usaha. konsep biaya transaksi saat yang dibutuhkan ini telah digunakan membangun untuk dan menganalisis biaya untuk mengimplementasikan kesepakatan di sektor non ekonomi. pengawasan. agar kegiatan ekonomi terus berlanjut dan dalam jangkauan yang luas. yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu.

dan (c) biaya strategi (strategic costs). BAPEDA KOTA DEPOK 60 .Kajian Perencanaan Partisipatif mengorganisasikan data. dan korupsi. yang diacu dalam Zakaria et al (2001). dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan negara yang kuat. termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan. Dengan demikian. melalui perwakilan yang penuh dalam proses pemerintahan. formasi pemerintahan yang mengaitkan warga secara langsung menuntut sebuah pendekatan partisipasi warga yang memungkinkan warga. dengan mendudukan warga sebagai aktor kunci pembuat kebijakan.7. Temuan ini menimbulkan pertanyaan partisipasi kunci warga bagaimana dan caranya agar peningkatan yang kualitas bisa penciptaan pemerintahan efektif berlangsung secara bersamaan? Menurut Cornwall & Gaventa (2000). kekuasaan. rent seeking. merencanakan dan melaksanakan program. Forum Warga 2. yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi. tapi juga mencakup akses warga untuk mengidentifikasi prioritas lokal. dan suimberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku.7. 2. di mana pun dan siapa pun dia.1. Konsep tentang Warga (Citizen) Penelitian yang dilakukan di 47 negara-negara Commenwealth (bekas jajahan Inggris) menemukan bahwa warga negara menginginkan peran yang lebih besar dalam sistem kepemerintahan. menjadi pembuat dan penentu keputusan. partisipasi warga tidak terbatas pada partisipasi politik yang terbatas pada kampanye dan pemilihan umum. umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free riding.

Lebih jauh Cornwall menyatakan. misalnya. Pemahaman baru partisipasi warga sebagai hak. aturan dan mekanisme untuk keterkaitan langsung ini perlu dimantapkan. dan sejenisnya. agar dapat mengatur tata hubungan yang baru yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan kerjasama untuk maju. 2001. Selayaknya warga dapat terkait dengan pemerintahan lokal melalui wakil-wakilnya dan juga melalui sistem demokrasi partisipatif. yang diacu dalam Zakaria et al 2001). BAPEDA KOTA DEPOK 61 . 2000). konsultasi. Pemberian saluran dan strategi yang meningkatkan akses dari non-elit kepada pembuatan kebijakan dan implementasinya. Namun. Akibatnya. dan sebagai ruang beraktifitas. Cornwall membedakan antara partisipasi yang dipaksakan dan partisipasi karena diundang (induced and invited participation) melalui kelompok pemanfaat. proyek penelitian the Comenwealth Foundation menyimpulkan bahwa demokrasi perwakilan dan institusi-institusi negara dan pemerintahan yang dikenal dewasa ini tidak mampu lagi melayani warga negara atau memastikan pemerintahan yang baik (good governance) di masa depan. yang secara historis aksesnya telah diabaikan dalam realita pembuatan kebijakan publik. Berkaitan dengan demokrasi partisipatif. rekonseptualisasi kewargaan akhirnya menempatkan warga sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ (as the exercise of agency). Pemaknaan kewargaan sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ ini menjadi dasar dari sebuah pendekatan yang lebih inklusif dengan sejumlah hak yang dikembangkan oleh warga itu sendiri. ketimbang konsep warga sebagai kumpulan hak. perlu menjadi salah satu agenda utama.Kajian Perencanaan Partisipatif Dengan mengamati sejarah partisipasi sejak tahun 1970-an hingga saat ini. khususnya jika sektor masyarakat. dengan partisipasi warga dimana warga masyarakat datang untuk membangun ruangnya sendiri dan melakukan perubahan menurut strateginya sendiri (Cornwall. ingin dilibatkan (Fung & Wright. juga menuntut pemahaman baru tentang apa yang dimaksud dengan tata kelola kepemerintahan (governance).

3. pengembangan kreatifitas dan dalam pemberikan masukan atau nasehat dalam forum tersebut. Mewajibkan aparat dewan ketetanggaan mengundang pemerintah untuk menghadiri forum ketetanggaan untuk melaporkan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan. 2. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan diadakannya forum warga berbasiskan ketetanggaan adalah: 1.Kajian Perencanaan Partisipatif warga negara dan petugas-petugas pemerintahan yang progresif harus mencari terobosan untuk menghubungkan kembali warga negara dengan negara (Zakaria et al 2001). Membantu asosiasi / perkumpulan / lembaga ketetanggaan dalam menentukan skala prioritas pembangunan serta mengontrol kualitas pelayanan di wilayahnya. Mulai dari forum warga yang merupakan forum yang berbasiskan ketetanggaan sampai forum stakeholders yang keanggotaannya skala kota. 4. 2. Menurut Burns (1994). Sebagai wahana diskusi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan. Untuk menyelaraskan keinginan dan pandangan masyarakat dengan program kegiatan. 6. Pengertian Forum Warga Forum warga dapat memiliki skala cakupan geografis yang beragam. 5. Menyusun program kegiatan dan alokasi dana operasional dewan ketetanggaan. BAPEDA KOTA DEPOK 62 .7. Menyelenggarakan kerangka kerja dalam memberikan kesempatan yang sama. pemberian insiatif. forum warga yang berbasiskan ketetanggaan merupakan suatu forum diskusi antara masyarakat dalam pengambilan keputusan termasuk dalam hal penegakan hukum.2.

dan melaksanakan pembangunan sektoral. 2. BAPEDA KOTA DEPOK 63 . Selanjutnya diharapkan forum warga tersebut dapat memberikan peran kepada demokrasi lokal dengan meningkatkan jaringan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk terlibat dalam politik daerah (Burns. antara lain: 1. Dari pandangan Burns tersebut. 1994). tetapi tidak mempunyai hak suara dalam forum. Burns mengusulkan beberapa hal yang dapat menjadi ketentuan dalam pelaksanaan forum komunikasi ketetanggaan tersebut. pengangkatan / penunjukan dari kelompok ataupun campuran dari keduanya. Setiap kelompok masyarakat mempunyai perwakilan dalam forum. Anggota forum warga adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut. ketidakpercayaan terhadap orang lain. juga untuk meningkatkan menghargai secara mengurangi kegelisahan. antara lain: kelompok muda di bawah 21 tahun etnis minoritas kelompok orang cacat baik secara fisik ataupun mental perkumpulan wanita kelompok orang yang telah pensiun. nampak bahwa ia menekankan sistem perwakilan dimana wakil-wakil dari kelompok masyarakat tersebut dipilih melalui tiga metode antara lain melalui pemilihan. dapat masyarakat lokal dalam kegiatan sosial. Pendekatan ini tidak hanya kapasitas masyarakat untuk untuk membangun kebiasaan perbedaan pendapat.Kajian Perencanaan Partisipatif Tugas dari organisasi forum warga adalah membentuk prakondisi untuk menjamin bahwa bentuk dasar dari proses pemberdayaan dapat berlangsung. Pelaksana kegiatan forum warga adalah aparat / pimpinan yang bekerja pada asosiasi / perkumpulan / lembaga forum ketetanggaan tersebut. 3.

mempertemukan. dimana forum penanganan didorong untuk menghasilkan konsensus tentang isu-isu strategis dan menghasilkan kesepakatan (agreements) dan komitmen di antara pada pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan. Rencana Srategis). menjembatani. dan yang bersifat vertikal (Popenas. dan memadukan berbagai alur perencanaan baik yang bersifat horisontal (Rencana Tata Ruang Wilayah. perencanaan. dan kesepakatan. 2. Media untuk demokratisasi memadukan perencanaan berbagai alur yaitu meningkatkan forum keterlibatan para pelaku untuk secara aktif mengambil keputusan. Sebagai media komunikasi dan konsultasi. Renstra Lmbaga. 3. Berdasarkan hasil workshop ”Pedoman Penyelenggaraan Rakorbang 2002 dan Repetada 2003” yang dirangkum oleh Perform Project dan USAID. BAPEDA KOTA DEPOK 64 . dimana penggunaan kata forum ditujukan untuk lebih mengedepankan suasana konsultatif dan dialog yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. Lebih lanjut workshop itu juga menyepakati bahwa peranan dan fungsi forum koordinasi pembangunan di era desentralisasi di Indonesia antara lain: 1. dimana suasana forum perlu diusahakan sekondusif mungkin bagi terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku pembangunan. Propeda Propinsi) serta perencanaan yang bottom up (Repetada Kecamatan / Kelurahan).Kajian Perencanaan Partisipatif Forum warga juga merujuk pada forum perencanaan pembangunan skala kota. dimana forum merupakan instrumen untuk meningkatkan 4. konsensus. Media meningkatkan keterlibatan para pelaku pembangunan dalam pengambilan keputusan. Media mengembangkan komitmen. pengertian forum warga adalah rapat pertemuan untuk mengkonsultasikan dan mensikronkan program pembangunan daerah.

Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai cerita sukses. untuk mendiskusikan permasalahan dan kegiatan lokal dan membangun jaringan antar pelaku secara berkelanjutan Manifesto ini mengingatkan bahwa keberadaan forum ini tidak baik apabila mengubah fokus diskusi menjadi pelaksana. adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. 2.1. terdapat beberapa fungsi forum warga menurut Labour Party Manifesto sebagaimana diacu dalam Burns (1994): 1. Refleksi diri atas relasi sosial yang bermakna dan penciptaan impian bersama bersifat fundamental dan mendasar dalam pendekatan ini.8. dimana forum berfungsi sebagai wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antar pelaku pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. dimana hal tersebut sebaiknya dipercayakan kepada organisasi pembangunan tertentu. Forum warga merupakan badan yang bertanggung jawab menetapkan dan mengawasi struktur dan mekanisme pelayanan masyarakat di wilayah masyarakat tersebut. Media resolusi konflik kepentingan. Pendekatan Appreciative Inquiry 2. Senada dengan itu. 2. tokoh agama dan organisasi sosial yang dilaksanakan secara reguler. disingkat AI. Forum warga merupakan pertemuan masyarakat yang terdiri dari aktivis masyarakat. Pengertian Appreciative Inquiry. bakat.8. kelompok kepentingan tertentu dan pebisnis lokal. politikus. Refleksi mempunyai peran penting dalam mewujudkan BAPEDA KOTA DEPOK 65 . keahlian dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Charles Elliott. mampu Fasilitasi dilakukan dalam rangka melakukan pengorganisasian bersama didasarkan pandangan mengorganisasikan dirinya sendiri dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap komunitasnya. 2001). Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi yang aktif komunitas pada dalam memberdayakan bahwa semua dirinya orang sendiri. antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Nepal. Appreciative inquiry merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khasanah pengembangan komunitas dan juga pengentasan kemiskinan di Indonesia. Penggerak program justru berasal dari jaringan lokal dan akan terus berperan sebagai fasilitator dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial di kemudian hari. Sebagaimana efek yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka. Efek dari Appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri. Bila pendekatan lama berbasis pada motif untuk keluar dari masalah. Berbagai untuk pengalaman dalam penerapan kecil appreciative yang inquiry ini dalam menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif melakukan langkah-langkah bermakna mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan. BAPEDA KOTA DEPOK 66 . dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif. penciptaan impian komunitas. Cina dan Afrika (Mc Oddel. perancangan tindakan. sementara pendekatan Appreciative inquiry terfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. 2002.

menyesuaikan setiap berimprovisasi. Design. Langkah Dasar Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition. Discovery. melakukan memberdayakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat. Dream. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan menciptakan Tahapan ini masyarakat proses untuk membangun dan anggota harapan. a. 2001 & der Haar dan Hosking. BAPEDA KOTA DEPOK 67 . Destiny. Dream. untuk dan belajar. e. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat.2. c. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat. b. Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. pekerjaan dan komunitasnya.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat. d. 2004). Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang. Discovery. Definition. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada.8. Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud.

Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain. b. Manusia memiliki rasa ingin tahu. Manusia menyampaikan berbagai nilai. d. 2003). e. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena: a. dan kearifannya lewat kisahkisah yang dituturkan. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan. serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi. kepercayaan. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati.3. daripada karena peran yang dibawakannya. Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak. suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. berbasiskelebihan.8. c. D & Trosten-Bloom. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian. BAPEDA KOTA DEPOK 68 . dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah. A. Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan. Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil? Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia.

Problem Solving • Menemukan masalah apa yang dihadapi rakyat • Menganalisis masalah untuk menemukan akar masalah • Merancang langkah-langkah untuk menjawab akar masalah • Melaksanakan kegiatan yang sesuai Sumber : Puska Bina Swadaya (2007). Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif. Pusat Kajian Bina Swadaya (2007) memperkenalkan Model Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA). lingkungan.Kajian Perencanaan Partisipatif f. 2.8. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang telah dikenal selama ini yaitu pendekatan hadap masalah (problem posing) atau penyelesaian masalah (problem solving) dimana fokus perhatian dari pendampingan adalah membantu rakyat mengatasi masalah yang mereka hadapi. Ini merupakan proses mengkaji bersama yang dilandasi oleh sikap mental berpikir positif dan terbukti sangat efektif untuk melakukan perubahan dan transformasi secara positif. Upaya penyelesaian masalah ini diawali dengan identifikasi masalah yang diikuti dengan analisa dan perumusan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara pendekatan pemecahan masalah dengan PKA. Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry. baik dalam organisasi. BAPEDA KOTA DEPOK 69 . maupun komunitas. Perbedaan Pendekatan Problem Solving dengan KPA KPA • Menemukan apa yang baik dan positif dari rakyat • Merumuskan apa yang ingin diwujudkan rakyat ke depan • Merancang langkah-langkah untuk mewujudkan keinginan / harapan rakyat • Mewujudkan keinginan / harapan dengan mendampingi rakyat melaksanakan kegiatan yang sesuai. Tabel 10.4.

BAPEDA KOTA DEPOK 70 . Tahap ini dapat disebut suatu konstruksi dari bangun sosial yang akan diciptakan. Masyarakat dapat mengubah situasi yang dihadapi dengan situasi yang lebih baik. suatu proses idealisasi. bagaimana kelompok didefinisikan (berdasarkan geografis. Tahap ini diawali dengan penentuan kelompok. dan mewujudkan (deliver). Fokus tahap rancangan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. saling menghormati perbedaan. Merancang (design). Kebutuhan imajinasi dan daya kreasi sangat penting ditumbuhkan pada tahap ini. Dalam tahap ini adalah penting untuk membangun pemahaman dan kesadaran terhadap pendekatan KPA bagi setiap anggota kelompok (kondisi pembelajaran yang diinginkan adalah: setiap orang aktif untuk belajar dan berkontribusi. kesamaan kepentingan. dan sumber – sumber kekuatan mereka. mengimpikan (dream). Kelompok akan bekerja sesuai dengan tujuan dan arah yang telah ditetapkan Menemukan (discover).Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam pemberdayaan masyarakat. setiap orang diberi kesempatan untuk membagikan (sharing) pengalaman-pengalaman terbaik yang pernah dicapai dan kapan terjadi. Mendefinisikan (define). kepercayaan. keunggulan-keunggulan dan prestasi-prestasi kelompok. Kelompok menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan jangka pendek dan panjang. Mengimpikan (dream). yaitu sesuatu yang mengimajinasikan menggetarkan. Kelompok mendiskusikan apa yang ingin mereka wujudkan. keterbukaan). Pada tahap menemukan ini. menemukan (discover). Tahap mendefinisikan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip. merancang (design). dll). penerimaan. penerapan KPA dilakukan melalui tahapan mendefinisikan (define).

Kelompok memobilisasi sumberdaya. Pada tahap ini kelompok merealisiasikan rencana aksi. memperoleh ketrampilan-ketrampilan baru dan mengimplementasikan rencana aksi mereka. mengembangkan hubunganhubungan baru.Kajian Perencanaan Partisipatif Mewujudkan (deliver). BAPEDA KOTA DEPOK 71 .

Kondisi demografi Kota Depok saat ini dihadapkan dengan jumlah permasalahan kepadatan penduduk. Visi Pembangunan Daerah Analisis kondisi umum daerah saat ini dan prediksi kondisi umum ke depan mengemukakan hal-hal berikut : 1. yaitu struktur ekonomi modern yang bertumpu pada sektor tersier dan didukung sektor Sekunder. Kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini sudah mengalami tekanan yang sangat berat akibat pertumbuhan penduduk dan persaingan untuk mendapatkan sumberdaya lahan. pencari kerja dan sebagainya. 3. Dimasa depan diprediksikan bahwa tumpuan utama ekonomi Kota Depok akan bertumpu ke sektor tersier. sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok. BAPEDA KOTA DEPOK 72 . Kondisi ekonomi dan sumber daya alam Kota Depok saat ini sudah mengarah pada struktur ekonomi tertentu. sumber daya air dan sumber daya lainnya. jumlah angkatan kerja.1.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Diprediksikan dimasa depan tekanan terhadap lingkungan hidup akan semakin berat. Prediksi kondisi demografi dimasa mendatang mengindikasikan adanya peningkatan intensitas terhadap permasalahan-permasalahan demografis tersebut. 2.

Kondisi pemerintahan Kota Depok saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang berkualitas. 6. Kondisi sarana dan prasarana Kota Depok saat ini cukup baik dalam segi kualitas. tantangan dan prediksi yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar berupa Sumber Daya Manusia. walaupun masih kurang dalam segi rasio kuantitas per penduduk. Di masa depan diprediksikan rasio jumlah sarana dan prasarana per penduduk di Kota Depok dan prasarana. Diprediksikan dimasa depan tuntutan terhadap kinerja pemerintahan akan semakin tinggi dengan kinerja pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan prima. Dimasa depan. YANG RELIGIUS DAN tahun akan semakin kecil akibat tidak sebandingnya pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan jumlah sarana BERWAWASAN LINGKUNGAN “ Visi pembangunan Kota Depok tahun 2006-2025 ini merupakan komitmen politis yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional seperti tertuang dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia dan tujuan pembangunan Provinsi Jawa Barat yang menetapkan Kota Depok sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 73 . Budaya dan Ekonomi yang dimiliki. Kondisi sosial budaya Kota Depok saat ini sudah mengarah pada budaya metropolis yang multi etnis dan dengan latarbelakang beragam tingkat intelektualitas. Berdasarkan kondisi diatas. Sumber Daya Sosial. maka Visi Pembangunan Kota Depok 2006-2025 adalah : “ DEPOK KOTA NIAGA DAN JASA. 5. terutama rasio rumah sakit umum per penduduk.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. kondisi sosial budaya yang ada akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman.

Dari penjelasan diatas. kenyamanan dalam memperoleh pendidikan. dengan memperhatikan kenyamanan kegiatan lingkungan. peningkatan kenyamanan kota. yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman. kenyamanan menggunakan sarana dan prasarana umum. dan perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. Kota Niaga dan Jasa Terwujudnya Kota Depok sebagai kota yang menjamin akses dan mobilitas kegiatan niaga dan jasa yang kompetitif. yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. serta kemulian dalam akhlak. Kota Berwawasan Lingkungan Terwujudnya Depok sebagai kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang. moral dan etika. kenyamanan mencari penghidupan. terpelihara termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan. Kota Religius Terwujudnya masyarakat Depok yang menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya. BAPEDA KOTA DEPOK 74 .Kajian Perencanaan Partisipatif Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan salah satu kawasan andalan/kegiatan utama berupa Jasa dan Sumberdaya Manusia. b. Sebagai gambaran kualitatif. yang didukung oleh basis pendidikan dan potensi lokal. kenyamanan melaksanakan keagamaan. c. Visi Kota Depok mengandung makna sebagai berikut : a. kegiatan sosial ekonomi serta dan upaya konservasi. Visi Kota Depok mengarahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Depok untuk fokus kepada bidang-bidang ekonomi yang menjadi tumpuan utama Kota Depok saat ini dan dimasa mendatang.

Pembangunan perekonomian diarahkan dalam rangka penguatan pereknomian lokal serta berorientasi dan berdaya saing regional dan BAPEDA KOTA DEPOK 75 . dan bertanggung jawab. Membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing di lingkungan nasional dan internasional melalui peningkatan kualitas pendidikan. mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan tertinggi. hukum dan sosial budaya. transparan. 5. Menata sistem pemerintahan yang profesional.2 Misi Pembangunan Daerah. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal seluruh potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkungan. Kebijakan Umum Mengeloa perekonomian daerah secara fokus. 3. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah diatas. dengan 2. baik. 3. 4. 3. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan. maka ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut : 1. bersih.Kajian Perencanaan Partisipatif serta kenyamanan dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah.3. demokratis. efisien dan efektif dengan mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan yang tinggi. efisien dan efektif. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang. Mengelola perekonomian daerah secara fokus. 1.

sekala pelayanan nasional BAPEDA KOTA DEPOK 76 . pengolahan. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkugan. regulator dan katalisator pembangunan ekonomi yang efisien dan efektif terutama dalam pelayanan publik. Dalam kaitan ini. sektor sekunder dan tersier merupakan unggulan 2. penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar. atau motor penggerak yang perlu mendapat fokus perhatian. 4. Peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi daerah. yaitu sebagai sabagai dengan pintu pusat gerbang jasa. 3. Memanfaatkan letak geografis yang berdekatan dengan ibukota negara sebagai pasar produk ekonomi yang terbuka luas. pusat ke kawasan-kawasan simpul atau beberapa internasional.Kajian Perencanaan Partisipatif global. 5. serta peluang berusaha/ekonomi sebagai limpahan kegiatan ekonomi ibukota. Peningkatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator. dan meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai. Menangkap peluang sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Perekonomian dikembnagkan dalam rangka perluasan kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapaianya penanggulangan kemiskinan 3. 1. 2. Peningkatan investasi daerah dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik. yang didukung oleh sektor primer unggulan. Pemanfaatan sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara rasional. transportasi propinsi.

khususnya sumberdaya air dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. memupuk etos kerja. 3. 4. 1. yaitu dengan menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. berakhlak mulia.Kajian Perencanaan Partisipatif optimal dan bertanggungjawab. BAPEDA KOTA DEPOK 77 . disesuaikan dengan pembangunan sosial ekonomi masa depan dan perkembangan iptek sehingga bisa besaing dalam era global. membina akhlak mulia. menghargai prestasi. jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. Membangun lingkungan sumberdaya nasional dan manusia yang berdaya melalui saing di internasional peningkatan kualitas pendidikan. dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan spiritual. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagaman. Pembangunan sumberdaya manusia yang berdaya saing diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pembangunan pendidikan. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berharkat. pengendalian 2. pemberdayaan perempuan dan anak serta pemuda. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. kesehatan dan agama yang bermutu. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang guna mendapatkan kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat dalam mewujudkan produktivitas dan kemampuan daya saing. hukum dan sosial budaya.

sehingga tercipta keseimbangan material dan emosional. menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis. integrasi berbagai moda angkutan.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Pembangunan hukum terutama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berkesadaran dan berbudaya hukum tinggi. energi dan kelistrikan serta sarana/prasarana pemerintahan. peningkatan ketertiban BAPEDA KOTA DEPOK 78 . Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah. unik. peningkatan pelayanan angkutan umum. Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendudkung kegiatan ekonomi. air. pembangunan jalan dan terminal dan lain-lain). Pembangunan sarana dan prasarana diarahkan untuk pembangunan sektor transportasi. pendidikan. perdagangan. sumber daya 2. Pengembangan budaya diarahkan untuk mewujudkan budaya kreatif. agar perlu tercapai dilakukan keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar wilayah. modern dan unggul. Untuk wilayah itu. kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar. dikembangkan melalui pendekatan struktur pengembangan ruang. dan pembentukan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas pergerakan lalu lintas jalan (melalui peningkatan manajemen transportasi. kesehatan. serta penyusunan produk hukum yang dinamis dengan memperhatikan pengaruh globalisasi. 1. permukiman. Selain itu juga penting diiringi dengan pembangunan kesenian. 6. sosial dan budaya serta lingkungan. inovatif dan produktif yang berorientasi iptek sehingga mampu bersaing secara regional maupun global.

drainase yang baik. dan kegiatan ekonomi. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan diarahkan untuk mendukung terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat. 7. antara lain melalui partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan. dengan mengarahkan terwujudnya kawasan pendidikan terpadu dan layanan kesehatan tingkat nasional. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman diarahkan untuk penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. 3. demokratis dan bertanggungjawab. bermutu. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. 8. Selain itu. pemerataan pelayanan penerangan jalan umum. pengembangan sistem 6. bersih. Pembangunan sarana dan prasarana perdagangan diarahkan untuk mewujudkan 5. layak. 1. Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air ditunjukan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumberdaya sosial dan ekonomi sehingga dapat menjamin kebutuhan pokok hiidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penataan sistem pemerintahan kualitas daerah diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraaan administrasi BAPEDA KOTA DEPOK 79 . transparan. pelayanan perdagangan yang berkualitas yang memiliki jangkauan pelayanan sub kota dan wilayah kota.Kajian Perencanaan Partisipatif dan keselamatan lalu lintas. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diarahkan untuk memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang 4. Menata sistem pemerintahan yang profesional. memadai. rencana pembangunan jalan dan terminal layanan lokal dan nasional. baik. Pengembangan sarana dan prasarana energi dan kelistrikan diarahkan untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

meningkatkan efektifitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pelayanan. 3. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dasar/umum dan pelayanan unggulan. BAPEDA KOTA DEPOK 80 . Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan diarahkan untuk mengefektifkan fungsi-fungsi kelembagaan pemerintah. menata dan meningkatkan kapasitas sumberdaya aparatur agar lebih profesional dan berorentasi kepada pelayanan.Kajian Perencanaan Partisipatif pemerintahan. dan mengurangi serta mencegah penyalahgunaan kewenangan. peningkatan akses dan sebaran informasi. meningkatkan pelayanan dalam rangka keberdayaan masyarakat dalam pembangunan. 2. serta peningkatan transparansi.

25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. dan UU No. 22/1999 dan UU No. UU No. nyata partisipatif bentuk penerapan prinsip demokrasi dalam alokasi sumberdaya publik. Pertama. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Inisiatif tersebut kemudian menguat bersamaan dengan lahirnya UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah. UU No. Inisiatif reformasi kebijakan perencanaan dan penganggaran daerah muncul sejak ditetapkannya UU No. secara paradigmatik diyakini bahwa perencanaan partisipatif adalah bentuk kongkret dari pelaksanaan desentralisasi administrasi pemerintahan Perencanaan dan dan prinsip-prinsip penganggaran tata pemerintahan adalah yang baik. termasuk di dalamnya urusan perencanaan dan pengalokasian anggaran.Kajian Perencanaan Partisipatif Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa perencanaan partisipatif menjadi wacana penting dan merupakan agenda reformasi di banyak daerah. 25/1999. Kedua. munculnya dukungan kerangka hukum yang memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur urusan daerahnya. Keseluruhan peraturan tersebut memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerapkan proses perencanaan dan penganggaran BAPEDA KOTA DEPOK 81 .

penyusunan anggaran berbasis kinerja. dalam hal hal ini pemerintah. terutama pihak pengelola negara. yang seharusnya menjadi landasan moral dan menginspirasi berbagai pihak. Hak-Hak Warga Negara berdasarkan UUD 1945 Pasal Pasal 27 ayat 2 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28A Pasal 28B ayat 1 Pasal 28B ayat 2 Jenis hak Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipatif. Negara. Tabel 11. 4. dimana setiap warga negara memiliki sejumlah hak. tumbuh.1. dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi BAPEDA KOTA DEPOK 82 . memiliki kewajiban untuk menfasilitasi agar hak-hak warga negara itu bisa terpenuhi. justru kerap kali dilupakan. maka UUD 1945 hasil empat kali amandemen secara tegas merinci hak-hak warga negara yang menjadi kewajiban negara dalam hal ini pemerintah untuk menfasilitasi agar hak-hak itu bisa terpenuhi. Dalam berbagai kegiatan pembangunan di berbagai tempat di Indonesia. alokasi anggaran yang pro terhadap kepentingan orang miskin (pro-poor) dan responsif gender (gender budget responsiveness). Undang-Undang Dasar 1945 Jika menggunakan definisi pembangunan sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Disamping itu. amandemen UUD 1945 telah memasukan aspek hak asasi manusia (HAM). aspek landasan konstitusional ini. Dalam UUD 1945 inilah tersirat semangat para pendiri republik ini untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.

menyimpan. kehormatan. martabat. berkumpul. serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya. seni dan budaya. serta berhak untuk mencari. menyatakan pikiran dan sikap. bangsa dan negaranya Setiap orang berhak atas pengakuan. Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. dan mengeluarkan pendapat. dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. memilih pendidikan dan pengajaran. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. perlindungan.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28C ayat 1 Pasal 28C ayat 2 Pasal 28D ayat 1 Pasal 28D ayat 2 Pasal 28D ayat 3 Pasal 28E ayat 1 Pasal 28E ayat 2 Pasal 28E ayat 3 Pasal 28F Pasal 28G ayat 1 Pasal 28G ayat 2 Pasal 28H ayat 1 Pasal 28H ayat 2 Pasal 28H ayat 3 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. bertempat tinggal. memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. 83 BAPEDA KOTA DEPOK . memilih kewarganegaraan. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. memilih pekerjaan. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat. memiliki. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. serta berhak kembali Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan. mengolah. keluarga. memperoleh. sesuai dengan hati nuraninya. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. jaminan. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.

hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum. Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. diatur. hak untuk tidak disiksa. hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. Tabel 12. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28H ayat 4 Pasal 28I ayat 1 Pasal 28I ayat 2 Pasal 28I ayat 3 Pasal 28I ayat 4 Pasal 28I ayat 5 Pasal 30 ayat 1 Pasal 31 ayat 1 Pasal 34 ayat 1 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. Kewajiban Warga Negara Menurut UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28J ayat 1 Pasal 28J ayat 2 Pasal 30 ayat1 Pasal 31 ayat 2 Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. nilai-nilai agama. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. berbangsa. dan bernegara. dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan. hak beragama. BAPEDA KOTA DEPOK 84 . dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. penegakan. Hak untuk hidup. hak untuk tidak diperbudak. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. terutama pemerintah. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara. keamanan. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara. pemajuan. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban Perlindungan.

setiap Kota / Kabupaten perlu memiliki dokumen BAPEDA KOTA DEPOK 85 . Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhanpenyelenggaraan pendidikan nasional. karena itulah aturan main dan kesepakatan kita dalam berbangsa dan bernegara. Tugas. Undang-Undang No. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.2. yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. dan Kewajiban Negara / Pemerintah Pasal 29 ayat 2 Pasal 31 ayat 3 Pasal 31 ayat 4 Pasal 31 ayat 5 Pasal 31 ayat 1 Pasal 31 ayat 2 Pasal 34 ayat 2 Pasal 34 ayat 3 Pasal 31 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Baik dari segi proses maupun output sebuah perencanaan. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. yang diatur dengan undang-undang. 4.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 13. landasan konstitusional itu nampaknya harus selalu dijadikan acuan utama. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Tanggung Jawab.25 Tahun 2004 Berdasarkan Undang-Undang rencana yaitu: No. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilainilai budayanya.

yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. misi. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 11 ayat 3).1. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1) Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah. (Pasal 10 ayat 2). 5. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).2. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). • RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 4. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 12 ayat 2) RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13). 4.2. 4. RPJP Daerah memuat visi. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. BAPEDA KOTA DEPOK 86 . Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah • • • • RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun.2. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJP dan diikuti • • • oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 11 ayat 1).

• Kepala Bappeda menyusun rancangan RPJM Daerah dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD dan berpedoman pada RPJP Daerah (Pasal 15 ayat 4). misi.Kajian Perencanaan Partisipatif • RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. program prioritas Kepala Daerah. kebijakan lintas umum. kebijakan umum. Daerah. memuat arah kebijakan keuangan Daerah. (Pasal 17 ayat 2) Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJM Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 18 ayat 2) RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3). misi. (Pasal 16 ayat 1) Musrenbang Jangka Menengah diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJM diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 16 ayat 2). Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. dan arah kebijakan keuangan Daerah (Pasal 14 ayat 2). BAPEDA KOTA DEPOK 87 . • • • • Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 16 ayat 4). program Perangkat strategi Satuan pembangunan Kerja dan kerja Daerah. dan program Kepala Daerah ke dalam strategi pembangunan Daerah. kewilayahan regulasi disertai dengan kerangka rencana-rencana • kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 2). Satuan dan dan Kerja Perangkat program dalam Daerah. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RPJM Daerah sebagai penjabaran dari visi. • • Rancangan RPJM Daerah menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah.

Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2). disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). BAPEDA KOTA DEPOK 88 . memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. prioritas pembangunan Daerah. 4. Rencana Kerja Tahunan Daerah.4. RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (Pasal 26 ayat 2).2.3. Musrenbang penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret (Pasal 23 ayat 2). Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang penyusunan RKPD (Pasal 22 ayat 4). • • RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. dan pendanaannya.2. • • • • • • • • • Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJM Daerah (Pasal 20 ayat 2) Kepala Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD (Pasal 21 ayat 4) Rancangan RKPD menjadi bahan bagi Musrenbang (Pasal 22 ayat 1). RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RKPD berdasarkan hasil Musrenbang (Pasal 24 ayat 2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25 ayat 2). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) • Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. rencana kerja.Kajian Perencanaan Partisipatif 4.

ini.2. program. strategi.Kajian Perencanaan Partisipatif • Renstra-SKPD memuat visi. Renstra-SKPD. RKPD. tujuan.5. misi. memuat kebijakan. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD (Pasal 21 ayat 3). RPJM Daerah. nampak adanya mengikutsertakan untuk BAPEDA KOTA DEPOK 89 . kebijakan. program. Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP. Dari berbagai ketentuan dalam pasal-pasal UU keharusan bagi penyelenggara negara masyarakat dalam proses penyusunan rencana. Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Pasal 27 ayat 2). dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1). Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah. • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah (Pasal 15 ayat 3) • Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4) 4. dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah • maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2). Rencana Pembangunan Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) • • Renja-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun.

Namun karena PP tersebut belum ada. Daerah Bahkan. namun jika ada proses Musrenbang penyusunan kesepakatan di daerah untuk RKPD (Pasal 22 ayat 2). tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang pada tahun yang bersangkutan.Kajian Perencanaan Partisipatif Dari ketentuan Pasal 27 ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kepada setiap Daerah diberikan keleluasaan untuk mengatur sendiri tentang meskipun tata cara pengikutsertaan keharusan masyarakat tersebut. dan dalam proses penyusunan Renstra-SKPD menciptakan proses yang lebih partisipatif. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Dan Menteri Dalam Negeri Sesuai dengan UU No. perlu diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan.PPN/I/2005 – 050/166/SJ tanggal 20 Januari 2005 dan pada tahun 2007 diterbitkan Surat Edaran Bersama No: 0008/M. pelaksanaan Musrenbang 2007 berkaitan dengan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menyusun rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2008 sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 90 . Tata Cara Penyusunan. 25 Tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.PPN/01/2007 – 050/264A/SJ tanggal 12 Januari 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007. maka hal itu dapat dilakukan.3. maka sejak tahun 2005 dikeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. untuk tidak ada bagi Pemerintah mengikutsertakan masyarakat dalam dan Renja-SKPD. 4. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Jika mengacu pada pada SEB tersebut. Pada tahun 2005 diterbitkan Surat Edaran Bersama kedua Menteri tersebut No: 0259/M.

II. Tahap Pelaksanaan E. Musrenbang Kecamatan pada bulan Pebruari dan Musrenbang Kota pada bulan Maret. Masukan D. Keluaran F. SEB itu mengatur waktu pelaksanaan Musrenbang Desa/kelurahan pada bulan Januari. Tugas Tim Penyelenggara I. Pengertian B. Mekanisme 1. kecuali bagian V. Forum Satuan kerja Perangkat Daerah (Forum SKPD) IV. Peserta G. Narasumber H. Sistematika Pedoman itu adalah: I. berisi penjelasan yang rinci dengan muatan materi sebagai berikut: A. Paska – Musrenbang Kabupaten / Kota. Tujuan C. Musrenbang Desa / Kelurahan Tahun 2007 Musrenbang Kecamatan III. Musrenbang Kota / Kabupaten V.Kajian Perencanaan Partisipatif landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2008. Tugas Delegasi Desa / Kelurahan BAPEDA KOTA DEPOK 91 . Tahap Persiapan 2. Masing-masing bagian itu.

bertanggung jawab.2/2435/Sj (2005) Surat Mendagri No: 414. Memberikan acuan terhadap para pemeran pembangunan dalam rangka melakukan fasilitasi proses pembangunan partisipatif. Surat Mendagri No: 414. terbuka. 2. Semangat dari Pedoman ini adalah ingin menjadikan paradigma pemberdayaan dalam pengelolaan pembangunan. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di yang desa / kelurahan. Pedoman ini juga mensyaratkan: ”Pada tataran pemerintah perlu ditambahkan perilaku kepemerintahan yang jujur. Ketua DPRD Provinsi. Surat yang ditujukan kepada Gubernur.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Hal ini dapat dilihat dari proses perencanaan. Pedoman ini hanya ditujukan untuk penguatan pengelolaan pembangunan partisipatif di desa / kelurahan dan kecamatan. 3. dan demokratis (good governance).” Untuk dapat melaksanakan pembangunan yang partisipatif.” Tujuan dari Pedoman ini adalah: 1. Secara terbuka diakui bahwa: ”Pengelolaan pembangunan yang ada saat ini kurang bisa menjawab tuntutan pemberdayaan. Sedangkan pada tataran kemasyarakatan dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang partisipasi warga masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama. Membangun kemitraan melalui jejaring kerja lintas sektor terkait. sehingga secara sistem belum mencerminkan pembangunan partisipatif yang berbasis masyarakat. Bupati / Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten / Kota. desa / kelurahan dalam pengelolaan pembangunan partisipatif sesuai potensi BAPEDA KOTA DEPOK 92 . Secara spesifik. pelaksanaan dan pengendalian belum melibatkan peran serta masyarakat secara aktif.4.2/2435/SJ tertanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Umum Pengelolaan pembangunan Partisipatif.

Penguatan partisipatif. BAPEDA KOTA DEPOK 93 . Partisipasi (participatory). Prinsip-prinsip pembangunan partisipatif yang dimuat dalam Pedoman ini adalah: 1. (4) Metoda Focus Group Discusion (Kelompok Diskusi Terarah). Keterbukaan dan kemandirian masyarakat setiap dalam dan kehidupan tahapan bermasyarakat. Akuntabilitas (accountability). pelaksanaan. dan pengendalian pembangunan secara terbuka yang bisa diakses seluruh masyarakat. dan (5) Metode ZOPP (Ziel Oriented Project Planning). berbangsa dan bernegara. yaitu pembangunan baik kepada proses dapat dipertanggungjawabkan 4. 5. dan pengendalian secara benar. (transparancy). 3. yaitu proses dan tahapan perencanaan. pelaksanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. yaitu proses perencanaan. dan pengendalian pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan. pelaksanaan. yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Keberlanjutan pemerintah tahapan maupun warga masyarakat. (3) Metode Partisipasi dalam perencanaan Sosial Participatory Rural Appraisal (PRA). setiap dan perencanaan. dan ketrampilan dalam melakukan pembangunan Pedoman ini menyarankan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengelolaan pembangunan partisipatif yaitu: (1) Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD). yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan 2. sikap. (sustainability). (2) Metode Partisipatif dalam Identifikasi Kebutuhan melalui Pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA). Pemberdayaan (empowerment). kemampuan masyarakatdalam rangka meningkatkan pengetahuan.

3. 4. Menurut Pedoman ini. 7. 5.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. 4. Tumbuhnya kecamatan sebagai wilayah pengembangan. perencanaan.5. yaitu pengelolaan kegiatan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi dan kebutuhannya. Aspirasi.mandiri. 2. Terwujudnya proses pembelajaran bagi masyarakatdan aparat pemerintah dalam pengambilan keputusan secara demokratis. pemanfaatan pelestarian program menuju masyarakatyang madani. Terwujudnya peningkatan modal sosial. Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 Sebelum diterbitkannya Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri BAPEDA KOTA DEPOK 94 . Terwujudnya penguatan lembaga kemasyarakatan di desa/kelurahan sehingga berperan secara aktif dalam pengelolaan pembangunan partisipatif. dan sejahtera. 6. Terwujudnya peningkatan produktivitas ekonomi dalambentuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat.pemilihan serta pengembangan tindakan untuk mengatasi masalah. yaitu pelaksanaan dan pemanfaatan kegiatan sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia dan pengelolaan sesuai dengan perencanaan. Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktifitas kajian keadaan dusun/rukun dan warga desa/kelurahan. hasil dan manfaat yang diharapkan dari pengelolaan pembangunan yang partisipatif adalah: 1. Terwujudnya pengelolaan pembangunan yang partisipatif 7.perluasan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui pengembangan potensi lokal. dan penggalian. keberdayaan. pelaksanaan. Efisien dan Efektif. manajemen penguatan dukungan lembaga kemasyarakatan di desa / kelurahan.

yaitu: (a) Lurah untuk FKPP tingkat Kelurahan. (c) meningkatkan kualitas pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Pasal 7). 2004 Depok. mekanisme Perencanaan perencanaan partisipatif ditetapkan melalui tentang Pembangunan (FKPP). (b) Camat untuk FKPP tingkatKecamatan. dan (c) Walikota untuk FKPP tingkat Kota (Pasal 9). partisipatif. dan (b) peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan (Pasal 8). (b) meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan. Tujuan dari dibentuknya FKPP adalah untuk: (a) meningkatkan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. serta FKPP Kota (Pasal 5 ayat 1).Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam Negeri pada tahun 2005 di yang tingkat Forum mengatur Kota tentang Teknis Penyelenggaraan No: 02 Tahun Musrenbang. Sedangkan penanggung jawab tahapan lainnya BAPEDA KOTA DEPOK 95 . Pemantapan Perencanaan Partisipatif. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. FKPP Kecamatan. FKPP Kecamatan dan FKPP Kota (Pasal 3). Keputusan Walikota ini juga mengatur penanggung jawab untuk masingmasing tahapan. FKPP adalah media secara guna untuk menampung dengan Keputusan Walikota Depok Komunikasi aspirasi masyarakat para prioritas yang pelaku dilaksanakan pembangunan 6). Kompilasi dan Restrukturisasi Program. Sedangkan fungsi FKPP adalah: (a) pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan para pelaku pembangunan. Survey Teknis Perencanaan. melibatkan merumuskan indikasi kegiatan pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran tertentu (Pasal 1 ayat FKPP dilaksanakan secara berjenjang dengan nama FKPP Kelurahan. FKPP Kelurahan. Sedangkan pelaksanaan FKPP dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan meliputi: Sosialisasi Pembangunan.

(2) pihak yang terlibat. Pemantapan Perencanaan Partisipatif. BAPEDA KOTA DEPOK 96 . dan (b) Kepala Unit Kerja Perangkat Darah untuk Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. Survey Teknis Perencanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif yang mendukung FKPP adalah: (a) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Sosialisasi Pembangunan. serta (5) waktu dan tempat. (3) materi. Pada Lampiran Surat Keputusan Walikota ini dipaparkan mekanisme dari setiap tahapan dan memuat: (1) tujuan. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. (4) mekanisme. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait.

Tolok ukur peraturan perundang-undangan termasuk terhadap petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan partisipatif yang ada di Kota Depok sesuai dengan aturan atau petunjuk teknis yang ada. serta Keputusan Walikota Depok No.25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.Kajian Perencanaan Partisipatif Tolok ukur yang akan digunakan untuk melakukan penilaian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok adalah: (a) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk melihat seberapa taat proses yang terjadi dikaitkan dengan aturan yang ada. yaitu SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. (b) tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi untuk melihat pada level mana derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. dan (c) tolok ukur pengembangan modal sosial untuk melihat sejauh mana pelaksanaan proses perencanaan partisipatif dikaitkan dengan pengembangan modal sosial. Kategori evaluasinya adalah sesuai dan belum sesuai. BAPEDA KOTA DEPOK 97 . 2 Tahun 2004 tentang FKPP. Tolok ukur peraturan perundangan dan juknis (petunjuk teknis). Setidaknya terdapat tiga aturan yang ada. masing-masing sebuah UU yaitu UU No. sebuah Surat Edaran Bersama (SEB). 5.1.

Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi Tolok ukur tipologi partisipasi adalah untuk mengetahui derajat partisipasi dari proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok telah berada pada jejang / tangga partisipassi yang mana. Dalam banyak kasus. sehingga relatif mudah untuk dipahami. dan menggunakan dana publik. terutama oleh pemerintah. Tipologi yang digunakan adalah tipologi partisipasi yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). ketika Presiden Amerika Lyndon Johnson memulai Program Kota Model pada tahun 1966. 21 Teknik Partisipasi Masyarakat untuk Abad 21” terbitan The British Council. serta telah menggambarkan derajat partisipasi yang ada dalam proses perencanaan di lingkungan pemerintahan. Arnstein adalah penasehat utama tentang partisipasi warga pada Departemen pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat. Itu artinya. 5. Meskipun aspek modal sosial ini memiliki banyak dimensi. perlu mempertimbangkan aspek memupuk modal sosial ini. Pilihan terhadap tipologi Arnstein ini adalah karena kesederhanaan konsepnya. seperti dalam buku ”Mewujudkan partisipasi. terdapat banyak kegiatan pemerintah yang didanai oleh anggaran publik yang justru mengikis modal sosial yang ada. Tolok ukur pengembangan modal sosial Tolok ukur kontribusi proses perencanaan terhadap pengembangan modal sosial merupakan langkah awal untuk memasukan aspek pengembangan modal sosial dalam setiap proses pembangunan. tipologi Arsntein ini yang digunakan. namun aspek kepercayaan (saling percaya) merupakan faktor yang paling menentukan dalam menentukan tinggi rendahnya modal sosial.Kajian Perencanaan Partisipatif 5.3. seorang mantan birokrat. setiap aktivitas yang dilakukan.2. Artinya jika suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 98 . Dalam berbagai kepustakaan terakhir tentang pengembangan partisipasi warga.

perlu senantiasa mempertimbangkan aspek modal 5. sosial ini. UU No. 2. • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah BAPEDA KOTA DEPOK 99 . Tinjauan Evaluatif Proses Perencanaan di Kota Depok Peraturan Perundang-undangan / Kebijakan I.Kajian Perencanaan Partisipatif menambah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan sebalikya. maka kontribusi kegiatan itu terhadap pembentukan modal sosial bersifat netral. Pelaksanaan di Kota Depok Catatan Evaluatif Pemerintah menyiapkan draft RPJP dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. Sedangkan jika kegiatan itu tidak mengubah sama sekali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.4. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap perencana dan pelaksana kegiatan pembangunan di Kota Depok ke depan. sedang. mengurangi kepercayaan Sebaliknya jika kegiatan itu malah kepada pemerintah. Penyusunan RPJP • Musrenbang Penyusunan RPJP yang melibatkan masyarakat (Pasal 11 ayat 1) No. maka itu artinya kegiatan itu memberikan kontribusi positif pada pembentukan modal sosial.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 1. Tinjauan Evaluatif Berdasarkan ketiga tolok ukur tersebut di atas. maka evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel Tabel 14. maka masyarakat kontribusi kegiatan itu pada pembentukan modal sosial bersifat negatif. Penyusunan RPJM • Musrenbang Penyusunan RPJM yang melibatkan masyarakat (Pasal 16 ayat 2) Pemerintah menyiapkan draft RPJM dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. dan tinggi. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. Derajat kontribusi positif dapat bervariasi dari rendah.

Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah (Pasal 27 ayat 2). Renstra-SKPD. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri 1. Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. RPJM Daerah. RKPD. penyusunannya tanpa keterlibatan masyarakat 5.Hasil evaluasi belum dipaparkan • Kesesuaian dengan Jukius : Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral Masukan dari Kecamatan .Daftar prioritas dari RW umumnya belum ada . RKPD.Informasi dari pemerintah Kota tentang indikasi jumlah alokasi BAPEDA KOTA DEPOK Belum ada Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Pemberian informasi dari kecamatan dan kota belum dilaksanakan 100 . pengangguran .Daftar masalah dan usulan kegiatan prioritas kelurahan .Daftar prioritas masalah RW dan kelompok-kelompok masyarakat .Belum ada dokumen Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) Kelurahan . kemiskinan. II. Penyusunan RKPD • Musrenbang Penyusunan RKPD hanya melibatkan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2) 4. Renstra-SKPD. RPJM Daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. RenjaSKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah.Hasil evaluasi kegiatan pembangunan kelurahan tahun sebelumnya • Masukan dari Kecamatan / Kota .Hasil evaluasi pemerintah kota dan kecamatan . • Sesuai dengan aturan • Derajat Partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Belum sesuai dengan aturan Masukan dari kelurahan: . Masing-masing SKPD telah memiliki Renstra.Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah kelurahan . Musrenbang Kelurahan • Masukan dari Kelurahan . Penyusunan Renja-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Masing-masing SKPD menyusun Renja-SKPD tanpa melibatkan masyarakat 6.Daftar permasalahan kelurahan seperti kerawanan. Penyusunan Renstra-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Pemerintah kota menyiapkan RKPD dan dibahas oleh unsur-unsur pemerintah.

pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan.Sesuai dengan Juknis Peserta: .Belum sepenuhnya mewakili kelompokkelompok yang ada di kelurahan Masukan dari kelurahan .1. 2. kelompok tani.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang • Mekanisme . musyawarah di RW dan kelompok-kelompok masyarakat.Musrenbang di RW dan kelompok masyarakat belum dilaksanakan . wakil kelompok perempuan. pengusaha. komite sekolah dll. • Keluaran .3) .Tahap pelaksanaan (pemaparan camat.Dokumen RKPT dari masing-masing kelurahan • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis 101 .5) yang berisi prioritas kegiatan pembangunan skala desa (form 1.Pengumuman terbuka dan pendaftaran terbuka belum dilaksanakan Keluaran: .Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kelurahan (form 1. Musrenbang Kecamatan • Masukan dari Kelurahan . pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Tahap Persiapan (penetapan tim fasilitator musrenbang. organisasi masyarakat. • Peserta Peserta adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok): ketua RT/RW.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Tahunan dari BAPEDA KOTA DEPOK Mekanisme: .Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke musrenbang kecamatan. pemisahan kegiatan yang diselesaikan di kelurahan dan yang akan menjadi tanggung jawab SKPD. wakil kelompokpemuda. penetapan perwakilan ke musrenbang kecamatan. tokoh agama. pemaparan lurah. dan 1.2) dan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan melalui SKPD (form 1.Kajian Perencanaan Partisipatif dana kelurahan .

Verifikasi dari delegasi kelurahan. • Keluaran .Daftarkegiatan prioritas yang akan dilaksanakan melalui SKPD .Daftar nama delegasi dari kelurahan dan wakilkelompok fungsional / organisasi sosial kemasyarakatan. pemaparan kepala cabang SKPD setempat atau pejabat SKPD Kota. penetapan perwakilan ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota. pengumuman terbuka dan pendaftaran) . pemaparan Tim Penyelenggara Musrenbang.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan.Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota. Keluaran: Peserta: .Belum semua perwakilan 102 .Penjelasan nama dan jumlah Forum SKPD dan Forum Gabungan SKPD • Mekanisme . koperasi.Pengumuman terbuka 7 hari sebelumnya dan pendaftaran terbuka belum dilakukan.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. LSM yang bekerja di kecamatan.Prioritas kegiatan tahun mendatang dari SKPD tersedia / tidak tersedia Mekanisme: . /Kota . • Masukan dari Kecamatan / Kota .Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan yang akan dibiayai oleh anggaran kecamatan .Kajian Perencanaan Partisipatif masing-masing kelurahan .Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang yang dirinci berdasarkan SKPD . kesepakatan kegiatan prioritas pembangunan kecamatan berdasarkan masing-masing SKPD. • Peserta Peserta Musrenbang Kecamatan BAPEDA KOTA DEPOK tersedia / tidka tersedia • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah Masukan dari Kec.

Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Forum SKPD.Sedang Masukan dari Provinsi dan kementerian Negara: .Rekomendasi regulasi belum banyak dieksplorasi Keluaran: .Rancangan Renja – SKPD .Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Tahap pelaksanaan (pemaparan oleh Kepala SKPD.Pengumuman terbuka dan pendaftaran tidak dilakukan.Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. • Keluaran . menyusun rekomendasi regulasi. penetapan perwakilan Forum SKPD ke Musrenbang Kota.Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD . Forum SKPD • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Di beberapa SKPD dilaksanakan Masukan dari Kota Masukan dari kecamatan: .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) . 3. Peserta datang karena diundang. menetapkan kegiatan prioritas. • Masukan dari Kota: .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Rancangan Renja-SKPD .Kegiatan prioritas yang sudah BAPEDA KOTA DEPOK kelompok masyarakat di kecamatan hadir • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif . . LSM. verifikasi kegiatan prioritas dari kecamatan. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Tersedia Mekanisme: .Sesuai dengan Juknis 103 . perguruan tinggi.Kajian Perencanaan Partisipatif adalah perwakilan dari kelurahan dan dari kelompok-kelompok masyarakat yang beroperasi dalam skala kecamatan. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .

LSM. Musrenbang Kota • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Rancangan Renja – SKPD .Belum semua kelompok yang berkaitan dengan SKPD hadir Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: .Masukan hanya dari Provinsi Masukan dari Kota: • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme . • Peserta Peserta adalah delegasi kecamatan dan dari kelompokkelompok masyarakat yang berkaitan dengan SKPD atau gabungan SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif dipilah berdasar sumber pendanaan.Pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran belum dilakukan.Berita Acara dan Daftar nama delegasi dari Forum SKPD ke musrenbang Kota.Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) . . pemaparan hasil kompilasi dan BAPEDA KOTA DEPOK Peserta: .Dilakukan penyederhanaan proses dibandingkan dengan Juknis.Tahap pelaksanaan (pemaparan Rancangan RKPD. • Masukan dari Kota: .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi.Telah sesuai Juknis Mekanisme: . serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan . dan plafon anggaran. 4. .Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD . 104 . perguruan tinggi. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kota. Masukan dari Kecamatan: .

Pemantapan Perencanaan partisipatif • Peserta: Pengurus LPM Kelurahan dan FKA LPM Kecamatan. penetapan prioritas. juga dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili organisasi-organisasi skala kota. 2.aparatur perencana di setiap unit kerja perangkat daerah Pemantapan Perencanaan Partisipatif BAPEDA KOTA DEPOK 105 .Sesuai dengan aturan • Kesesuaian dengan Juknis: Sudah sesuai sesuai atuan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral III. Sosialisasi Pembangunan • Materi: APBD Kota Depok tahun yang bersangkutan • Mekanisme Pemaparan oleh Kepala Bappeda dan dialog interaktif pihak eksekutif (Walikota / Wakil Walikota / Sekda) dengan peserta • Peserta Peserta adalah elemen masyarakat kecamatan dan kelurahan. delegasi kecamatan. Sosialisasi Pembangunan . pemutakhiran rancangan RKPD dan pembahasan kebijakan pendukung) • Keluaran .Kajian Perencanaan Partisipatif verifikasi oleh SKPD.2 Tahun 2004 1. pembahasan kriteria untuk kegiatan prioritas. • Peserta Peserta adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD Keluaran: .Sesuai dengan Juknis Peserta: Peserta bukan hanya delegasi Musrenbang Kecamatan dan Forum SKPD.Kesepakatan untuk pemutakhiran rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD. pemerintah daerah dan anggota DPRD dari daerah pemilihan yang bersangkutan. dan delegasi forum SKPD. Keputusan Walikota No.

Metode: kuliah umum.Tim Survey Bappeda dan Unit Kerja Perangkat Daerah .Teknik Penyusunan Anggaran Biaya .Penetapan mekanisme dan penilaian hasil oleh tim survey . tanya jawab.Persiapan .Pendamping dari perwakilan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan • Materi Hasil kesepakatan diskusi terfokus • Mekanisme .Teknik Penyusunan Dokumen Usulan Perencanaan • Mekanisme . Kompilasi dan Restrukturisasi Program • Pihak yang terlibat: Bappeda dan unit peranghkat kerja. simulasi dan praktekl penyusunan rencana 3.Pelaksanaan survey . FKA LPM Kecamatan dan BAPEDA KOTA DEPOK Survey Teknis Perencanaan Kompilasi dan Restrukturisasi Program 106 .Kajian Perencanaan Partisipatif • Fasilitator: Bappeda dan unsur perguruan tinggi / tenaga ahli / NGOs yang memiliki kompetensi dalam perencanaan partisipatif • Materi: .Penetapan tim survey .Metode Penjaringan Aspirasi Masyarakat .Penilaian hasilsurvey 5. Survey Teknis Perencanaan • Pihak yang terlibat .Konsep dan mekanisme perencanaan partisipatif .Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja .

5. Input materi adalah bahan-bahan tertulis / dokumen serta materi berupa bahan BAPEDA KOTA DEPOK 107 .5. proses dan output. Dari segi masukan (input). yaitu berkaitan dengan input.Kajian Perencanaan Partisipatif perwakilan diskusi stakeholders terfokus. • Mekanisme . hal ini dapat dilihat dari sisi input materi dan input peserta yang terlibat dalam proses perencanaan. Dari segi peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang perencanaan. proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok secara garis besar telah sesuai dengan prosedur yang ada.Tim melakukan sinkronisasi program yang diusulkan tiap unit kerja sebagai hasildiskusi terfokus dan hasil survey • Materi Usulan program kegiatan unit kerja.Tim kompilasi dan restrukturisasi program melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan mekanisme . Pembahasan 5. Workshop Isu Strategis Workshop Isu Strategis 5. Evaluasi Kesesuaian Proses Berdasarkan Aturan. hasil FKPP Kecamatan dan hasil diskusi terfokus yang telah disurvey. IV Lain-lain 1.1. meskipun masih terdapat beberapa yang belum sesuai dengan aturan / kebijakan yang ada. evaluasi terhadap perencanaan yang dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok. Sebagai sebuah proses.

Berkaitan dengan penyediaan dokumen-dokumen sebagai bahan bagi peserta dalam proses perencanaan. serta program-program yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. yang sangat menyolok adalah ketiadaan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. maka tidak ada insentif untuk mengadakannya. maka pengadaan RPJM atau Renstra Kelurahan harus menjadi prioritas di masa datang yang segera. Di level kelurahan. sebagai basis untuk menyepakati rencana di level masing-masing. Karena ketiadaan dana untuk penggandaan materi. Artinya. alasan klasiknya adalah keterbatasan dana untuk penggandaan berbagai dokumen.Kajian Perencanaan Partisipatif pemaparan dari berbagai unit birokrasi yang perlu diterima oleh peserta. Idealnya. sehingga bisa dipelajari lebih awal. berpotensi menurunkan kepercayaan warga kepada pemerintah. proses yang ada malah memberikan kontribusi negatif bagi pengembangan modal sosial. Kemudian. Kemudian evaluasi terhadap hasil pembangunan tahun tidak dapat sebelumnya pada masing-masing tingkatan. Yang kerap kali muncul adalah ketergesa-gesaan dalam persiapan pelaksanannya. Pemerintah Kota Depok tampaknya belum merasa urgen terutama dikaitkan belum diakuinya Kelurahan sebagai SKPD di masa lalu. seluruh dokumen yang dibutuhkan telah menjadi acuan bagi peserta musyawarah untuk membuat perencanaan diterima peserta beberapa hari sebelumnya. Berkaitan dengan penyusunan RPJM Kelurahan. SKPD. dan Musrenbang Kota. beberapa dokumen yang seharusnya dimiliki peserta Musyawarah juga umumnya tidak tersedia. disediakan. Padahalkondisi ini. Padahal evaluasi terhadap hasil pembangunan pada tahun selanjutnya. BAPEDA KOTA DEPOK 108 . secara tidak disadari. Namun dengan adanya Peraturan yang mengakui Kelurahan sebagai SKPD. pada level Kecamatan.

Dalam Petunjuk Teknis yang ada. model yang dilaksanakan selama ini adalah peserta hadir dalam berbagai forum musyawarah perencanaan karena diundang. musyawarah perencanaan itu dapat ikut mendaftar? Pendaftaran secara ini penting untuk mengukur keseriusan warga untuk mengikuti kegiatan Musrenbang atau Forum SKPD. kepada Tim Penyelenggara Musrenbang atau Forum SKPD diharuskan mengumumkan secara terbuka jadual. yang aktif mungkin memiliki Acuan ini memang dapat ditafsirkan dan berminat mengikuti forum berbeda-beda tentang apakah apakah jika ada warga Depok yang peduli. Dari sisi input peserta. Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam penyusunan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam proses perencanaan. maka setidaknya dibuka pemberian kesempatan untuk mengajukan usulan tertulis yang dikirim melalui faksimili atau melalui e-mail. gagasan. Jika hal ini tidak dimungkinkan karena alasan klasik keterbatasan dana. salah satu cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan adalah adanya komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. Kemudian Tim Penyelenggara membuka pendaftaran dan atau tentang kegiatan itu dan karena kepeduliannya datang mengundang para peserta. karena kemauan baik saja belum cukup. atau bahkan mungkin tidak ada peserta yang hadir di forum perencanaan karena mendapatkan informasi mendaftar. agenda pembahasan. BAPEDA KOTA DEPOK 109 .Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diidentifikasi oleh Uphoff dan Cernea (1988). Sehubungan dengan itu diperlukan studi tentang biaya transaksi yang dibutuhkan untuk pencapaian kesepakatan / keputusan pada forum musyawarah perencanaan pada berbagai tingkatan. selambatlambatnya 7 hari sebelum pelaksanaan. Dapat dikatakan sangat sedikit. dan tempat penyelenggaraan acara.

Kajian Perencanaan Partisipatif Disamping sehingga itu pemberitahuan selambat-lambatnya kepada 7 hari sebelum untuk diadakan Musrenbang atau memberikan Forum SKPD seharusnya dapat dilakukan. hanya dianggap kegiatan ritual semata tanpa makna yang berarti untuk kemajuan kotanya. Disamping itu ada keengganan dari para peserta musyawarah untuk berdiskusi secara lebih rinci karena telah terbentuk persepsi bahwa belum tentu apa yang diusulkan dapat diakomodir dan dibiayai oleh dana APBD. dibanding dengan Musrenbang di tingkat Padahal Musrenbang dan dapat Kelurahan merupakan ruang terbesar bagi masyarakat yang terlibat selanjutnya. kendala yang umum terjadi adalah kendala waktu. bagi sebagian warga. Pelaksanaannya umumnya hanya sehari. berbagai pihak kesempatan mempersiapkan materi yang akan dibawa ke forum tersebut. mengklarifikasi usulan serta berbagai aspek dari hal-hal yang direncanakan. Musrenbang atau Forum SKPD. Ini antara lain untuk menjamin kualitas pelaksanaan dari Musrenbang atau Forum SKPD. Akhirnya. menyampaikan usulan. Hal ini tidak memberikan kesempatan yang luas kepada para peserta untuk mendiskusikan. yang terjadi adalah masih kuatnya cara-cara lama dengan berlomba-lomba membuat semacam “shoping list” atau BAPEDA KOTA DEPOK 110 . dianggap sebagai proses belajar (social learning) sekaligus membangun modal sosial di antara sesama warga. mengkritisi usulan. Dari sisi keluaran (output). bahkan setengah hari di Musrenbang Kelurahan. Disamping itu belum utuhnya pemahaman terhadap peran sebagai warga negara yang memiliki hak untuk ikut menentukan tentang apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya memberikan kontribusi pada sikap apatisme masyarakat dalam proses-proses perencanaan. Dari segi proses (mekanisme).

Dari sisi output akhir pun (dalam bentuk APBD). 5. Masyarakat belum enggan karena Jadi usulannya belum saja tentu dapat ke mempengaruhi proses penganggaran. dan ketersediaan anggaran. kesan bahwa program masih didominasi untuk kepentingan pemerintah. Masyarakat kurang memahami proses musrenbang 4.Kajian Perencanaan Partisipatif “daftar belanja” yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kebutuhan. 3. Disamping itu. politis. Waktu pelaksanaan musrenbang sangat singkat. dan lingkungan hidup. Usulan yang terdahulu pun direalisasikan. terdapat beberapa fakta berkaitan dengan pelaksanaan proses perencanaan (Musrenbang dan Forum SKPD). dan egoisme sektoral. merasa percuma datang musrenbang. maka ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat tentang kemungkinan berperan serta dalam membuat keputusan dalam forum sejenis di masa datang. sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk mengkritisi maupun mengklarifikasi usulannya. prioritas. terbukti dengan kecilnya alokasi anggaran untuk sektor-sektor ekonomi kerakyatan. Menurut Kajian Bappenas. pengentasan kemiskinan. Pemahaman partisipasi dari pemerintah daerah yang muncul dalam Musrenbang adalah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat kelurahan. 2. kecamatan. sulit dihindari. dan provinsi BAPEDA KOTA DEPOK 111 . kota/kabupaten. yaitu (Rudiyanto dan Setiawan 2007): 1. Masyarakat kurang menguasai substansi dari program-program yang diusulkan oleh dinas-dinas. tidak ada informasi balik segera kepada warga tentang ”nasib” dari usulan-usulan mereka.

Yang terjadi adalah. Derajat tokenisme ini meliputi jenjang mulai dari dan informing placation (menginformasikan). usulan. warga kemudian telah diajak lagi untuk mengikuti proses sejenis (Musrenbang dan Forum SKPD) untuk proses perencanaan tahun berikutnya. Namun tidak ada umpan balik dan mekanisme bagi warga untuk mengetahui apakah berbagai usulan itu benar-benar diakomodir dalam rancangan rencana untuk pembahasan selanjutnya atau hanya sekadar dicatat dalam notulen pertemuan. maka pendapat. BAPEDA KOTA DEPOK consultation (konsultasi). perencanaan dengan jenjang derajat tokenisme ini memang memberikan hasil. pemerintah untuk melibatkan masyarakat karena memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya yang relatif cukup 5. Pada derajat tokenisme ini.2.5. Evaluasi Derajat Partisipasi Dari sisi derajat partisipasi. menurut Tipologi Partisipasi Arnstein. strategis. (penentraman). tanpa mengetahui apakah berbagai usulan warga diakomodir atau tidak. pandangan. dan dalam beberapa aspek ikut mengubah hal-hal kecil dari draft rencana yang ada. yaitu dengan mengakomodir hal-hal yang kecil dan tidak 112 . dibandingkan dengan jika prosesnya dilaksanakan secara kemitraan (partnership). Istilah tokenisme ini bermakna bahwa langkah yang dilakukan merupakan kebijakan sekadarnya yang berupa upaya artifisial (dangkal. derajat tokenisme. dan masukan dari masyarakat hanya sekadar didengar atau dicatat. Namun output yang dihasilkan dari proses seperti ini memiliki derajat legitimasi dan akseptabilitas yang relatif lebih rendah. Keengganan besar. Dari segi proses. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. proses Musrenbang dan Forum SKPD masih berkisar pada.

Kontribusi negatif. Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan itu biasanya muncul dalam kegiatan Sosialisasi Pembangunan ketika Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan APBD yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. terhadap pengembangan modal sosial berkisar antara negatif. Belum lagi usulan-usulan dari kelurahan dan kecamatan yang ternyata tidak diakomodir sama sekali dalam APBD. Seoptimal dan sekeras apa pun upaya pemerintah untuk melaksanakan proses perencanaan dengan melibatkan masyarakat. perlu aturan yang jelas tentang hal ini. Forum SKPD. sehingga dokumen hasil musrenbang dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada sanksi khusus yang jelas ketika Pemerintah tidak mengakomodir hasilhasil musrenbang secara layak.Kajian Perencanaan Partisipatif Kondisi seperti itu terjadi karena musrenbang hanya dipandang sebagai kegiatan bermusyawarah belaka. Kontribusi proses perencanaan bersifat negatif. Musrenbang kecamatan. Di masa mendatang. 5. namun kesan bahwa pelaksanaan kegiatan itu hanya sekadar ritual tahunan merupakan indikator berkurangnya kepercayaan masyarakat. maka proses kontribusi proses perencanaan Kota Depok melalui Musrenbang kelurahan. dan Musrenbang Kota. Evaluasi Kontribusi terhadap Modal Sosial Sebagai akibat dari proses yang dipaparkan pada bagian terdahulu.3.5. Faktor lainnya adalah masih adanya dualisme antara proses perencanaan yang melibatkan BAPEDA KOTA DEPOK 113 . Namun faktor proses perencanaan memang bukan faktor tunggal yang memberikan kontribusi terhadap kondisi ini. netral dan positif tingkat rendah. karena secara tidak disadari proses yang dilaksanakan justru mengurangi kepercayaan warga kepada pemerintah. Malahan muncul kegiatan yang justru tidak diusulkan semakin menambah ketidakpercayaan itu.

Kajian Perencanaan Partisipatif

masyarakat dengan proses penganggaran yang sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hal ini menyebabkan usulan yang disepakati dalam proses perencanaan banyak yang tereduksi di proses penganggaran. Usulan dari masyarakat terhenti hanya sampai pada penyusunan RKPD. Proses selanjutnya dilakukan oleh panitia anggaran eksekutif, panitia anggaran legislatif, dan masing-masing SKPD. Peran masyarakat tidak ada sama sekali dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. Hal ini yang menyebabkan usulan dari masyarakat hasil musrenbang bisa tidak diperhatikan. Di samping itu, proses penyusunan dan penetapan anggaran ini sudah diwarnai oleh kepentingan politik baik dari pihak DPRD maupun eksekutif (Rudiyanto dan Setiawan, 2007). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa tidak tuntasnya proses partisipasi

masyarakat sampai ke tingkat perencanaan anggaran menyebabkan masyarakat tidak mengetahui seberapa banyak program dalam APBD mengakomodasi hasil-hasil musrenbang. Dengan kata lain sering terjadi adanya inkonsistensi antara APBD yang ditetapkan pemerintah dengan hasil kesepakatan dalam musrenbang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi bahwa pendekatan partisipatif pada akhirnya hanya sekedar mobilisasi masyarakat saja untuk melegalkan proses perencanaan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu pembenahan dalam proses penyelenggaraan musrenbang termasuk ketersediaan informasi, waktu, keterwakilan pemangku kepentingan dalam pembahasan, kejelasan kriteria dalam penetapan hasil, serta pemanfaatan hasil musrenbang secara langsung dalam penetapan prioritas kebijakan, program dan kegiatan dalam Renja-SKPD dan RKA-SKPD, dan penetapan RAPBD. Kontribusi netral. Kontribusi proses perencanaan dapat bersifat netral

terhadap modal sosial karena proses yang ada tidak mengubah apa-apa
BAPEDA KOTA DEPOK

114

Kajian Perencanaan Partisipatif

dari sisi pengembangan modal sosial. Proses yang ada tidak menambah atau mengurangi posisi tingkat kepercayaan masyarakat yang ada terhadap pemerintah. Ini dapat terjadi karena bagi kelompok ini telah terbentuk persepsi bahwa mungkin seperti itulah proses perencanaan yang seharusnya ada. Proses itulah yang optimal bisa dijalankan, meskipun ada ketidakpuasan-ketidakpuasan. Kontribusi positif. Proses perencanaan dapat memberikan kontribusi positif pada modal sosial, jika proses itu memberikan hasil yang nyata berupa usulan-usulan yang disampaikan dalam proses perencanaan di musrenbang itu diterima, dan mereka bisa terlibat dalam kegiatankegiatan kontribusi yang mereka usulkan yang didanai tidak oleh cukup APBD. besar Namun dalam positif proses perencanaan

pengembangan modal sosial, karena kesan umum yang muncul adalah bahwa secara keseluruhan proses perencanaan belum separtisipatif yang mereka bayangkan. Artinya, kualitas partisipasi dari proses perencanaan yang ada di Kota Depok sesungguhnya masih dapat ditingkatkan.

BAPEDA KOTA DEPOK

115

Kajian Perencanaan Partisipatif

Berdasarkan tinjauan evaluatif yang dilakukan, maka penguatan proses perencanaan di Kota Depok ke depan setidaknya memenuhi tiga kriteria: (1) sesuai dengan aturan yang ada, (2) derajat partisipasinya mencapai level kemitraan (partnership) menurut Tipologi Arnstein, (3) memberikan kontribusi positif pada pengembangan modal sosial. Dengan menggunakan ketiga kriteria itu, maka setidaknya terdapat empatskenario untuk penguatan proses perencanaan partisipatif di Kota Depok, yaitu: (1) Skenario Status Quo, (2) Skenario Taat Aturan, (3) Skenario Kemitraan, dan (4) Skenario Kemitraan-Apresiatif.

6.1. Skenario I : Tanpa perubahan berarti (status quo)
Skenario pertama ini dapat disebut sebagai ”Skenario Status Quo”. Mempertahankan ”status quo” atau pendekatan ”tidak mengubah apa pun” berarti melaksanakan proses dan mekanisme perencanaan pembangunan seperti yang sudah dilakukan selama ini. Penerapan proses itu sendiri merupakan interpretasi Pemerintah Kota Depok, yakni Bapeda, terhadap Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang sebagaimana yang tertuang dalam lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.

BAPEDA KOTA DEPOK

116

dan mekanisme. warga sehingga terhadap memunculkan output yang ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dihasilkan. proses yang ada berpotensi untuk membangun ketidakpercayaan warga (distrust) BAPEDA KOTA DEPOK 117 .2. baik antara sesama warga. Kelebihan ”Skenario Status Quo” Kelebihan dari skenario ini adalah dapat mempertahankan hal-hal positif yang sudah terbentuk melalui proses yang sudah dilaksanakan dan kebutuhan biaya untuk pelaksanaannya telah diketahui. peserta. dan perbedaana antara warga dan pemerintah. sesama pemerintah. Hal-hal positif yang ada dari proses yang sudah dijalani selama ini antara lain: (1) berbagai pihak yang terlibat dalam proses itu (pemerintah dan warga) sudah memiliki pengalaman bersama tentang bagaimana proses perencanaan itu dijalankan. 6. terutama berkaitan dengan penetapan prioritas. (3) telah terbangun mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perbedaaan-perbedaaan. dibutuhkan yaitu menghasilkan Rencana namun secara prosedur kepemerintahan proses yang ada itu telah menghasilkan output yang Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).1.Kajian Perencanaan Partisipatif Meskipun masih muncul kekecewaan terutama dari masyarakat (LPM dan LSM) mengenai proses perencanaan tersebut. Kekurangan ”Skenario Status Quo” Kekurangan dari skenario status quo ini adalah: (1) jika mengacu pada Petunjuk Teknis yang ada masih terdapat beberapa hal yang masih harus dipenuhi. (3) dari perspektif pengembangan modal sosial.1. terutama dari segi masukan. (2) karena sudah berlangsung beberapa tahun dengan proses yang relatif sama. maka telah terbentuk persepsi bahwa memang seperti itulah proses perencanaan di sebuah kota berlangsung. (4) membutuhkan biaya yang relatif tidak besar dan besarannya sudah diketahui. proses yang ada saat ini masih berada pada derajat tokenisme.1. sebagai basis untuk penyusunan RAPBD. (5) 6. (2) jika mengacu pada tipologi partisipasi yang ada.

(5).2. agar semua pihak yang terlibat dapat semaksimal mungkin mengikuti proses perencanaan sesuai dengan aturan yang ada.Kajian Perencanaan Partisipatif kepada pemerintah. maka pemerintah kota perlu membuat pedoman-pedoman dan pelatihan capacity building. dan sepenuhnya bergantung pada sumber daya terutama dana dari luar yaitu APBD. gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing RW/Kelompok untuk diajukan ke Musrenbang Kelurahan. 6. proses perencanaan pembangunan yang ada diupayakan untuk semaksimal mungkin mengikuti peraturan perundangan dan petunjuk teknis yang ada. kelompok pemuda. Keluaran dari musyawarah di tingkat RW / kelompok masyarakat ini adalah: a. dan di level kelurahan. terutama bagaimana bagi pemerintah kelurahan di dan masyarakat. Disamping itu. Skenario II : Memenuhi aturan / pedoman yang ada Skenario kedua ini bisa disebut sebagai ”Skenario Taat Aturan / Pedoman Pusat”. Jika Petunjuk Teknis Musrenbang 2007 dijadikan acuan. Dengan skenario kedua ini. dll). kelompok perempuan. BAPEDA KOTA DEPOK 118 . Wakil / delegasi RW / kelompok yang akan hadir di Musrenbang kelurahan. Pada Tahap Persiapan Musrenbang Kelurahan perlu dilakukan musyawarah pada level masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) dan kelompok-kelompok masyarakat seperti: kelompok tani. c. daftar masalah dan kebutuhan b. kelompok-kelompok masyarakat. tentang proses perencanaan level RW. (4) tidak terbangun kemandirian warga untuk membangun wilayahnya sendiri. maka beberapa hal yang sehaharusnya ada adalah: 1.

1. Bahkan acuan untuk penyusunan RPJM Kelurahan pun belum tersedia. dari sekian banyak hal yang harus dilakukan. ketiga hal tersebut di atas sebagai contoh.2. Perlu tersedia dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. (2) akan terbentuk kepuasan secara psikologis terutama di pun yang terlewatkan. Kemudian belum tersedia dokumen RPJM Kelurahan pada masing-masing kelurahan. 3. tanpa ada satu pedoman-pedoman untuk musyawarah RW dan kelompok-kelompok BAPEDA KOTA DEPOK 119 . (3) jika aparat perencana bahwa seluruh proses perencanaan telah mengikuti aturan yang ada. Jika skenario ini yang dipilih. 6. RW-RW dan kelompok-kelompok masyarakat belum secara rutin melakukan melakukan musyawarah sebagaimana yang diminta dalam Petunjuk Teknis itu. Di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Kelebihan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) semua dokumen untuk proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan proses perencanaan akan tersedia. maka Pemerintah Kota antara lain perlu menyediakan berbagai pedoman tertulis bagi warga RW dan kelompokkelompok masyarakat tentang bagaimana melakukan musyawarah. belum terlaksana. Alasan yang kerap dikemukakan adalah biaya yang terbatas dan ketidaktersediaan tempat yang memadai untuk menampung peserta yang banyak. Kepada warga kelurahan belum diberikan kesempatan terbuka bagi siapa saja yang peduli yang ingin mengikuti Musrenbang. termasuk pelatihan bagi tenaga fasilitator untuk pelaksanaan musyawarah pada level ini. serta pedoman penyusunan RPJM Kelurahan dan pelatihan bagi tim penyusunnya. Membuka pendaftaran bagi warga kelurahan yang peduli dan berkeinginan untuk hadir.

dan Kota). kemudian BAPEDA KOTA DEPOK 120 . (4) pemberian kesempatan kepada pihak-pihak yang peduli dan ingin hadir sebagai peserta Musrenbang (Kelurahan. SKPD. (6). (5) 6. sehingga berpotensi menimbulkan kekecewaan dan berkontribusi negatif terhadap pengembangan modalsosial. 6.3. sehingga secara tidak disadari memunculkan mentalitas ketergantungan.2. dan berpotensi membangun modal sosial di level lokal. Kekurangan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kekurangan dari skenario ini pedoman-pedoman. kelurahan. kegiatan munculnya warga kemungkinan besar tidak dapat diakomodir oleh anggaran yang tersedia. (4) derajat partisipasi yang ada tidak beranjak dari derajat tokenisme. maka dokumen-dokumen perencanaan di berbagai level (Kelurahan. Melalui skenario ini.Kajian Perencanaan Partisipatif masyarakat tersedia. draftnya dihasilkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. Kecamatan dan Kota) dan Forum SKPD akan meningkatkan legitimasi dan akseptibilitas terhadap hasil dari proses perencanaan.2. Kecamatan. termasuk pengadaan pelatihan-pelatihan tim penyusunan ledakan RPJM harapan. serta biaya dan kemungkinan diusulkan adalah: (1) akan ada biaya tambahan bagi di fasilitator level dimana musyawarah (2) yang untuk melaksanakan semua proses yang ada. (5) akan terjadi proses belajar bersama (social learning) di tingkat lokal. maka itu akan memunculkan persepsi positif tentang keseriusan pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. Skenario III : Memenuhi Aturan + Kemitraan Skenario ketiga ini dapat disebut ”Skenario Kemitraan”. (3) skenario ini masih menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach).

Pada level kota difasilitasi pembentukan Forum Stakleholders Kota 2. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).Kajian Perencanaan Partisipatif pembahasan draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam forum stakeholders pada setiap level.3. 6. Pada level kelurahan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) Model kemitraan dalam penyusunan dokumen rencana ini mengharuskan adanya pelembagaan stakeholders (semacam forum warga) pada berbagai level. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) 4. Pada tiap SKPD difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD 4. Kelebihan ”Skenario Kemitraan” Kelebihan dari skenario kemitraan ini adalah: (1) keluaran dokumen akan lebih aspiratif dan mengakomodir kepentingan dan cara pandang pemerintah serta kepentingan dan cara pandang masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Depok 3. Dokumen-dokumen rencana itu adalah: 1. 6.1. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Dengan demikian. Pada level kecamatan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan 3. maka pemilihan dan penetapan individu yang akan duduk dalam Tim Penyusun draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam masing-masing forum stakeholders secara terbuka dan demokratis. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan 7. 5. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 121 . Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok 2. 1.

biaya koordinasi. dan kota. pemecahan (3) pendekatan (problem yang dilakukan masih pendekatan tidak masalah solving approach). dan biaya lainnya untuk mencapai kesepakatan. BAPEDA KOTA DEPOK 122 . (2) dibutuhkan forum-forum menfasilitasi pelembagaan stakehodlers pada berbagai level. SKPD. serta berbagai biaya transaksi untuk biaya informasi. mulai di level kelurahan. 6. maka proses perencaan mengintegrasikan antara pendekatan kemitraan seperti pada Skenario III dan dipadukan dengan pendekatan apresiatif pada berbagai level. karena harus dengan masyarakat. terutama berbagai tambahan peran biaya yang setara untuk di pemerintahan (SKPD). inisiatif. (4) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. mulai dari level RT/RW dan kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan. SKPD.4. sehingga memunculkan kemandirian. (3) karena terjadi proses belajar bersama (social learning process). (5) 6. maka akan terbangun modal sosial pada berbagai level pemerintahan. Skenario IV : Kemitraan + Pendekatan Apresiatif Skenario keempat bisa disebut ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”.Kajian Perencanaan Partisipatif keluaran dokumen akan memiliki legitimasi dan akseptabilitas yang tinggi. Kekurangan ”Skenario Kemitraan” Kekurangan dari Skenario Kemitraan ini adalah: (1) akan ada resistensi dari pihak-pihak.3. (4) akan terjadi pengembangan kapasitas dari sektor masyarakat. di Kecamatan. dan energi kolektif warga secara optimal.2. kecamatan. dan Kota. Melalui skenario ini.

2. yang perwujudan prakarsa-prakarsa lokal itu akan lebih menggunakan sumber daya.4.Kajian Perencanaan Partisipatif Untuk dapat terlaksana yang skenario dapat ini dibutuhkan oleh fasilitator berbagai yang level memahami pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. dan Kota untuk melaksanakan pembangunan di masing-masing level. sebagai upaya untuk mewujudkan mimpi / harapan bersama. Kekurangan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kekurangan dari Skenario Kemitraan – Apresiatif adalah: (1) resistensi dari pihak-pihak tertentu. (3) ledakan harapan dapat dikurangi karena pendekatan apresiatif akan memunculkan prakarsa-prakarsa pada masing-masing level.1. dan kearifan lokal. SKPD. serta membuat pedoman-pedoman yang dapat digunakan pada berbagai level. terutama dari pemerintahan. digunakan BAPEDA KOTA DEPOK 123 . mulai dari RT/RW. Kecamatan. Kelurahan. serta pedoman-pedoman perencanaan. Kelebihan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) akan terbangun energi positif kolektif pada berbagai level. (2) dokumen perencanaan yang dihasilkan pada masing-masing level merupakan rencana aksi bersama. (3) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. (4). sehingga akan memunculkan insiatif-insiatif dan kemandirian pada masing-masing level. (2) membutuhkan tambahan biaya untuk melatih fasilitator yang mampu menfasilitasi pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. tarutama pada level lokal. 6. potensi.4. 6. yang harus berbagi peran secara setara dengan masyarakat.

setiap Pemerintah Daerah perlu membuat Peraturan Daerah yang mengatur Tata Cara Pnyusunan RPJP Daerah. RPJM Daerah. Adapun garis besar teknis pelaksanaan musrenbang berdasarkan skenario ini adalah mengikuti mekanisme yang ada sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musrenbang dengan modifikasi sebagai berikut : 7. UU No. Berdasarkan hasil kajian ini.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. RKPD. Renstra-SKPD. Output dari fasilitasi ini adalah dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif BAPEDA KOTA DEPOK 124 . maka skenario yang direkomendasikan untuk muatan Perda adalah ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat 2.1. Musrenbang RW dan Kelompok-Kelompok Masyarakat • Fasilitasi warga RW atau Kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. RenjaSKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah. dimana skenario itu diasumsikan akan memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari berbagai sudut. Penyusunan Peraturan Daerah seperti itu membutuhkan kajian ilmiah dalam bentuk draft akademis dan setidaknya membutuhkan disain skenario.

Masukan untuk proses ini adalah dokumen KPA RW / Kelompok Masyarakat. Forum ini dapat juga dianggap sebagai forum Musyawarah Anggota menurut Perda Kota Depok No. Fasilitasi yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. 7. BAPEDA KOTA DEPOK 125 . (3) rancangan langkahlangkah dan rencana-rencana aksi yang akan dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan tersebut. (4) • Fasilitasi untuk menghasilkan: (a) dokumen rencana yang akan dilaksanakan oleh komunitas RW atau kelompok masyarakat yang bersangkutan dalam mewujudkan kondisi ideal yang diimpikan bersama. • Penetapan tim penyusun draft RPJM Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga kelurahan yang dipilih dalam Forum Stakeholders Kelurahan. dan (b) rencana yang akan diusulkan (diteruskan) ke Musrenbang Kelurahan untuk mendukung terwujudnya kondisi ideal yang diimpikan bersama. Output: dokumen KPA Kelurahan.2. (2) kondisi yang diinginkan bersama di masa datang sebagai wujud dari mimpi bersama. Musrenbang Kelurahan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. Keanggotaan Forum Stakeholders Kelurahan dilakukan secara proaktif dan stelsel aktif.Kajian Perencanaan Partisipatif (KPA) RW yang memuat: (1) identifikasi prestasi-prestasi yang pernah dicapai oleh RW / Kelompok masyarakat bersangkutan di masa lalu. RW dan LPM. Siapa pun warga kelurahan yang peduli terhadap pembangunan kelurahan yang • bersangkutan warga dapat bergabung dalam Forum tersebut dengan mendaftar. 13 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan RT.

Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif (KPA) SKPD. Keikutsertaan dalam Forum ini bersifat stelsel aktif. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Kecamatan. BAPEDA KOTA DEPOK 126 . 7.3.4. • Fasilitasi kegiatan warga ini yang tergabung hasil dalam Forum Stakeholders apresiatif di Kecamatan menggunakan pendekatan apresiatif. Forum SKPD • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Draft RPJM Kelurahan di bahas dalam Forum Stakeholders Kelurahan Untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) dibentuk tim penyusun draft RKPK Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders Kelurahan. Keikutsertaan dalam Forum Stakeholders SKPD bersifat stelselaktif. Individu atau organisasi • yang peduli terhadap bidang tugas SKPD dapat mendaftar menjadi anggota Forum tersebut. Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders SKPD menggunakan pendekatan apresiatif. Musrenbang Kecamatan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan. Masukan untuk adalah fasilitasi pendekatan kelurahan. Warga kecamatan yang peduli terhadap pembangunan kecamatan dapat menjadi anggota Forum ini. • Draft RKPK dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kelurahan 7.

dan RKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kota Depok. dan RKPD. Keanggotaan dalam Forum ini bersifat terbuka dan stelsel aktif. • Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kota menggunakan pendekatan apresiatif.Kajian Perencanaan Partisipatif • Dalam penyusunan Renstra-SKPD dan Renja-SKPD. Masukan untuk kegiatan ini adalah dokumen KPA Kecamatan dan SKPD. Individu dari unsur masyarakat dipilih secara terbuka dan demokratis dalam Forum Stakeholders Kota. 7. BAPEDA KOTA DEPOK 127 . • Draft Renstra-SKPD dan draft Renja-SKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders SKPD. Individu dan organisasi yang peduli pada Pembangunan Kota Depok dapat mendaftar menjadi anggota Forum. draftnya disusun oleh Tim yang beranggotakan unsur masyarakat dan unsur pemerintah Kota Depok. RPJM.5. Output dari kegiatan ini adalah: dokumen KPA Kota Depok. Individu unsur masyarakat yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders SKPD. Musrenbang Kota • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kota. RPJM. • Draft-draft RPJP. draftnya disiapkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah / SKPD dan unsur masyarakat. • Dalam penyusunan RPJP.

yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari dari: 1. dan (3) tolok ukur kontribusi pada pengembangan modal sosial untuk menilai kontribusi proses perencanaan pembangunan di Kota Depok terhadap BAPEDA KOTA DEPOK 128 . (2) tolok ukur tipologi partisipasi untuk menilai derajat partisipasi yang tercipta dalam proses perencanaan perencanaan pembangunan di Kota Depok. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).Kajian Perencanaan Partisipatif 8. 4. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Kesimpulan • Proses perencanaan pembangunan di Kota Depok adalah untuk menghasilkan dokumen rencana yang menurut UU No. • Evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilakukan melalui 3 tolok ukur: (1) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk menilai seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan dengan aturan / pedoman yang ada.1. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. 5.

Taraf partisipasi ini ini berpotensi menimbulkan kekecewaan warga dan berpotensi juga menurunkan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah. terutama dalammembangun kepercayaan (trust) warga kepada pemerintah. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.Kajian Perencanaan Partisipatif pengembangan modal sosial. BAPEDA KOTA DEPOK 129 . jika mengacu pada tipologi yang yang dikemukakan di Kota oleh Sherry barulah Arnstein pada (1969). tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. pengoptimalan mekanisme pelaksanaan forum musrenbang dan forum SKPD dengan semaksimal mungkin mengikuti mekanisme yang diatur dalam aturan / pedoman yang ada. Pada taraf ini kepada warga memang telah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan. • Berdasarkan tolok ukur tipologi partisipasi. yaitu UU No. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman dari pusat. pengoptimalan masukan (input) baik berupa input materi maupun input peserta pada semua tingkatan forum musrenbang dan forum SKPD dengan ikhtiar untuk semaksimal mungkin mengikuti aturan / pedoman yang ada. 2. dan SK Walikota Depok Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 tentang Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan (FKPP). • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman. taraf proses perencanaan Depok konsultasi (consultation). tapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. maka pelaksanaan proses perencanaan di Kota Depok secara umum telah sesuai dengan aturan yang ada. hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 1.

netral. dan pembahasan draftnya dilaksanakan dalam forum stakeholders. 2. 4. (design). maka disain proses perencanaan yang dilaksakanan belum secara sadar mempertimbangkan aspek ini. mengikuti pendekatan Appreciative Inquiry yang dikemukakan oleh David Cooperrider. Dalam skenario ini proses perencanaan dengan dilakukan dengan mengikuti semaksimal mungkin peraturan perundangan dan pedoman dari Pusat. 3. setiap draft dokumen rencana disiapkan oleh tim penyusun draft yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur warga. yaitu: 1. dan mewujudkan (deliver). dan kontribusi positif tingkat rendah. Skenario Kemitraan adalah skenario dimana derajat partisipasi yang diinginkan adalah derajat kemitraan (partnership). Skenario Status Quo yaitu skenario dimana proses perencanaan dilakukan tanpa perubahan yang berarti atau sama seperti tahuntahun sebelumnya. BAPEDA KOTA DEPOK 130 . namun diintegrasikan dengan pendekatan apresiatif. mekanisme. • Terdapat empat skenario penguatan proses perencanaan di Kota Depok. Skenario ini sama dengan Skenario Kemitraan. merancang mengimpikan (discover). baik dari segi input (masukan). Berbagai tahapan proses perencanaan pembangunan di Kota Depok memberikan kontribusi yang berkisar dari negatif (menurunkan tingkat kepercayaan). Skenario Kemitraan-Apresiatif. maupun output (keluaran). KPA dilakukan menemukan Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan melalui tahapan mendefinisikan (dream). Skenario Taat Aturan Pusat. Dengan demikian dkumen rencana merupakan hasil kesepakatan stakeholders. (define).Kajian Perencanaan Partisipatif • Berdasarkan tolok ukur kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial. Dalam skenario ini.

Pemerintah Kota Depok sebaiknya dapat segera menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. RKPD. BAPEDA KOTA DEPOK 131 . 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (Pasal 27 ayat 2).Kajian Perencanaan Partisipatif 8. Saran • Berdasarkan Undang-Undang No.2. • Substansi dan semangat Peraturan Daerah tersebut hendaknya dapat mengakomodir Skenario Kemitraan – Apresiatif dari hasil kajian ini. RenstraSKPD. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang. RPJM Daerah.

1994. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2004. Thomsen. Arnstein S. An Opportunity for Collaboration and Social Change. Burns D. Pusat Kajian Bina Swadaya 2007. A.Abbas. Saefulhakim S. Bogor:Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. The Politics of Decentralisation: Revitalising Local Democracy. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Alih bahasa Han Munandar. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Vol 35. Lugiarti E. Edisi Januari 2006. Jenjang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan pembangunan Melalui Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan di Kota Depok. Sjahrir. Jakarta: yayasan Obor Indonesia. JAIP. Panuju DR. Buku 1. Community-Based Research. 2006. Hambleton. D. Korten DC. 2007. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). A Ladder of Citizen Participation. Bogor: Sekolah pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Hogget. 2003. Juli 1969. Thesis. Ahmad W T. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bpogor. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalamproses Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat di Komunitas Desa Cijayanti. 2005. No. 2003. Universitas Indonesia. Rustiadi E. Rudiyanto. 4. Pembangunan yang Diprakarsai Masyarakat (Community Driven Development). Hasibuan FD. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Tesis. London: Mac Millan Press. 2004. 2000. Tadaro M P. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. A dan Setiawan. Relevansi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam Memperkuat Perencanaan Partisipatif. 1988. Diktat Perencanaan Pengembangan Wilayah. Jakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tesis. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. Submitted ini fulfilment of requirements . R. 1969.R. Tesis. Jakarta: Pusat kajian Bina Swadaya.

Malang: Bayumedia Publishing. Griffith University. Yustika AE. Kota-Kota dalam Transisi: Tinjauan Sektor Perkotaanm Pada Era Desentralisasi di Indonesia. 2006. 2003. 2001. Community Participation in Local Health and Sustainable Development. Jakarta: The World Bank Office. Faculty of Environmental Sciences. Brighton: Logo Link. Zakaria. Definisi. WHO Regional Offfice for Europe. . World Bank. RY et al.Teori & Strategi. Seputar Partisipasi Warga dan Pemerintahan Lokal. Ekonomi Kelembagaan. 2002. Dalam Annotated Bibliography on Citizen Participation and Local Governance. Australian School ofEnvironmental Studies.of the degree of Doctor of Philosophy. Approach and Techniques.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful