BADAN PERENCANAAN DAERAH KOTA DEPOK Tahun 2007

Kajian Perencanaan Partisipatif

Perbagai peluang pengembangan kota-kota di Indonesia, termasuk di Kota Depok, menghendaki inovasi dan pendekatan-pendekatan baru untuk menghasilkan gagasan-gagasan kreatif. Bagaimana pun berbagai perubahan dimulai dari gagasan / ide. Karena itu, gagasan tentang partisipasi warga untuk menciptakan kondisi kota yang lebih baik, seperti yang diprakarsai oleh “Imagine Chicago”, atau gagasan Charles Landry (2002) tentang Kota Kreatif (The Creative City), mungkin harus mulai didiskusikan secara meluas dan pengembangan gagasannya dikelola secara lebih serius. Konsep inti dibalik gagasan-gagasan itu adalah bahwa masa depan suatu kota merupakan masa depan bersama seluruh warga kota. Kenyamanan, kebanggaan, produktivitas, dan daya saing suatu kota merupakan produk bersama warga kotanya. Karena itu perlu ditumbuhkan milieu kreatif yang memungkinkan setiap individu warga kota, termasuk organisasiorganisasi yang ada, untuk dapat memberikan gagasan kreatif dan kontribusi terbaiknya bagi penciptaan kota yang diinginkan bersama. Dari perspektif itu, maka perencanaan partisipatif harus dilihat tidak semata-mata sebagai pelaksanaan suatu prosedur perencanaan yang melibatkan masyarakat semata, seperti yang dilakukan selama ini, tapi harus dimulai dengan proses imajinatif yang melibatkan sebanyak mungkin warga kota untuk merumuskan bersama tentang kota seperti apa yang diinginkan bersama di masa depan. Semakin detil kondisi yang diinginkan, dan semakin banyak warga kota yang memahami tentang kondisi detil kota yang diinginkan itu, maka akan semakin memudahkan bagi semua pihak untuk merealisasikannya. Depok, Desember 2007
BAPEDA KOTA DEPOK

i

Kajian Perencanaan Partisipatif

BAPEDA KOTA DEPOK

ii

2.4. Konsep Perencanaan……………………………………… 2. 02/2004………………… i ii iv v 1 7 7 8 BAB II 10 16 22 51 55 57 60 65 BAB III 72 75 75 BAB IV 82 85 90 92 94 BAPEDA KOTA DEPOK ii . Latar Belakang……………………………………….4.1.…… 1. Pendekatan Apreciative Inquiri……………………… KEBIJAKAN DAERAH 3. Misi Pembangunan Daerah…………………………… 3. Kep.1. 25/2004…………………………………………… 4. UUD 1945……………………………………………………… 4. Srt Mendagri No.2. SE Bersama Bappenas dan Mendagri…………… 4. Forum Warga……….5.3. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.3.1.………………………………………… 2. Sistematika Penulisan Kajian………………………… TINJUAN PUSTAKA 2.4. Modal Sosial…………………….……………………………… 2. Konsep Biaya Transaksi………………………………… 2. Walikota Depok No. Partisipasi Masyarakat…………………………………… 2. UU NO. Tujuan……………………………………………………….3. Perencanaan Partisipatif………………………………… 2.3.7. Konsep Pembangunan…………………………………… 2..2.8.……… 1.6.2.1. Kebijakan Umum…………………………………………… LANDASAN KONSTITUSIONAL.. Visi Pembangunan Daerah…………………………… 3.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal KATA PENGANTAR………………………………………………………………… DAFTAR ISI……………………………………………………………………………… DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………… DAFTAR TABEL………………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1.5. 414. Metodelogi kajian…………………………………………… 1.2/2435/SJ (2005) ……… 4.

Musrenbang Kelurahan…………………………………… 125 7. Musrenbang Kota…………………………………………… 127 BAB VIII KESIMPULAN DAN SARAN 8..3. Memenuhi aturan + kemitraan……. Pembahasan…………………………………………………… 107 SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6. Tinjauan evaluatif…………………………………………… 99 5.3. Tolok ukur pengembangan modal sosial……… 98 5.2.. Kemitraan + pendekatan apresiatif……………… BAB VI 116 118 120 122 BAB VII REKOMENDASI SKENARIO Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7. Musrenbang Kecamatan………………………………… 126 7.5. Saran……………………………………………………………… 131 DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK iii . Memenuhi aturan/pedoman yg ada……………… 6.1. Forum SKPD…………………………………………………… 126 7.1.1.…………………… 5.5.Kajian Perencanaan Partisipatif BAB V KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF Tolok ukur peraturan perundangan dan 5. 97 juknis (petunjuk teknis) ………….3. Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi… 98 5.3.2.4.4. Tanpa perubahan berarti (status quo) ………… 6.1. 124 Masyarakat……………………………………………………… 7. Kesimpulan……………………………………………………… 128 8.2.2.……………… 6.

Tangga Partisipasi menurut Arnstein………………………………………… Gambar 2.Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Gambar 1. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok………………… Gambar 3. Roda Partisipasi oleh Davidson………………………………………………… 4 8 44 BAPEDA KOTA DEPOK iv .

Istilah-istilah didalam proses perencanaan berdasarkan proses perencanaan yang dikandungnya………………………………… Tabel 3. Tipologi partisipasi.………… 43 Tabel 8.……. Tabel 2. Hak-hak warga Negara berdasarkan UUD 1945………………. Pretty………………………………………………………… Tabel 5. Tingkatan partisipasi. Tipologi roda partisipasi. Perbedaan pendekatan problem solving dan KPA…………….. Tangga pemberdayaan warga.. Bonger & Specht…………….Kajian Perencanaan Partisipatif Hal Tabel 1. Mayer……………………………………………………. 69 Tabel 11. Tipologi partisipasi.……… 46 Tabel 10. Tiga model pendekatan pemberdayaan masyarakat………………. Parkers dan Panelli………………………….……… 82 BAPEDA KOTA DEPOK v . Tahapan partisipasi. Tangga partisipasi masyarakat. Davidson…………………………………………… 45 Tabel 9. Wates………………………………………………. Burns……………………………………… Tabel 4.……… 42 Tabel 7. 16 17 34 40 41 Tabel 6.

Kewajiban warga Negara berdasarkan UUD 1945………………….… 84 Tabel 13. 85 99 BAPEDA KOTA DEPOK vi . Tinjauan evaluatif proses perencanaan di kota Depok……………. Tugas. tanggung jawab dan kewajiban Negara/pemerintah…… Tabel 14.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 12.

Perencanaan Partisipatif dapat pula dilakukan untuk kepentingan umum yang berkaitan dengan persoalan pembangunan masyarakat. Kelebihan lain adalah karena orang luar yang biasanya lebih aktif bekerja sendiri dengan bekal pengetahuan dan keahliannya.1.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. transparan dan aspiratif. Latar Belakang Dewasa ini telah berkembang pendapat pakar dan praktisi tentang Perencanaan Participatif sebagai teknik dan metode yang tepat sasaran untuk menganalisis persoalan pembangunan sosial masyarakat di lingkungannya. dan pemberdayaan masyarakat. penganekaragaman lokal. BAPEDA KOTA DEPOK 1 . Tidak berlebihan kalau pada akhirnya hasil Perencanaan Partisipatif merupakan data dasar atau rujukan untuk melakukan berbagai program pembangunan dan pemberdayaan di lingkungan masyarakat bersangkutan (dimana Perencanaan Partisipatif itu diterapkan). Perencanaan Partisipatif telah diakui keunggulannya melalui pendekatan partisipatif. Perencanaan Partisipatif menjadi pantas untuk dikembangkan sebagai upaya untuk mendukung pergeseran paradigma pembangunan ke arah desentralisasi. akan tetapi melihat ciri dan cara kerjanya. maka dalam Perencanaan Partisipatif posisi orang luar hanya sebatas Fasilitator atau Pemandu. Memang benar bahwa Perencanaan Partisipatif lebih khusus untuk mengkaji persoalan di daerah.

sudah dapat dikategorikan partisipatif atau belum. Apalagi jika istilah itu digunakan dalam konteks / setting yang berbeda. serta terdapat lembagalembaga yang menggambarkan sebuah negara yang demokratis. Ini disebabkan karena masing-masing pihak mungkin menggunakan tolok ukur. dapat berbeda dengan jawaban dari pihak birokrasi. dan malahan mungkin melahirkan sikap apatis. asumsi. juga dapat berbeda dengan jawaban dari kalangan LSM. Namun sebagian pihak berpendapat bahwa beberapa substansi demokrasi seperti penghargaan yang tulus terhadap keragaman (pandangan. misalnya.Kajian Perencanaan Partisipatif Meski banyak pihak sepakat bahwa pembangunan partisipatif atau pelibatan masyarakat dalam proses pembangunan merupakan sebuah keharusan. Seperti halnya dengan debat tentang penerapan demokrasi di Indonesia. karena telah terdapat berbagai prosedur yang menggambarkan sebuah negara demokrasi seperti diadakannya pemilu secara rutin. dan paradigma yang berbeda. pembatasan masa jabatan kepala pemerintahan / kepala daerah. Jawaban dari mereka yang secara rutin mengikuti Musrenbang di tingkat kelurahan atau mereka yang aktif di LPM kelurahan. Berbagai stakeholders di Kota Depok. putus asa. termasuk proses perencanaannya. namun istilah partisipasi itu sendiri masih dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. misalnya. Ketiadaan kerangka definisi yang sama tentang konsep pembangunan yang partisipatif ini membuat berbagai pihak yang mendiskusikannya dapat terjebak pada debat yang tak berujung dan kerap kali berakhir dengan kekecewaan. frustasi. atau dari kalangan akademisi. kalangan dunia usaha. dapat berbeda-beda jawabannya jika ditanyakan apakah proses pembangunan di Kota Depok. sebagian pihak menganggap bahwa Indonesia sudah demokratis. BAPEDA KOTA DEPOK 2 . ideologi. konsep.

atau Proyek BAPEDA KOTA DEPOK 3 . berapa persen usulan yang disepakati di Musrenbang diakomodir dalam APBD? Kemudian secara prosedural kelompok-kelompok masyarakat sudah diundang dalam forum SKPD. misalnya. Derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh lembaga dana di luar Pemerintahan Kota Depok. maka kajian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok dan skenario penguatannya ke depan hanya dan tentang dapat dilakukan secara utuh jika terdapat pemahaman bersama. tapi belum tercipta di partisipasi kelurahan yang substansial. maka bagi sebagian pihak. partisipasi masyarakat di Kota Depok barulah terbatas pada partisipasi yang prosedural. Analog dengan hal itu. masing-masing pihak akan melihat perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Kota Depok dengan aksentuasi sudut pandang yang berbeda-beda. Tanpa kesepakatan itu. tapi apakah terdapat simetrisitas informasi sebagai basis pengambilan keputusan tentang sebuah rencana? Dari perspektif ini. Salah satu hal yang perlu disadari sejak awal adalah bahwa partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan itu sendiri memiliki derajat yang berbeda-beda pada setiap komunitas dan pada setiap konteks kegiatan tertentu.Kajian Perencanaan Partisipatif agama) dan penyelesaian perbedaan pendapat / konflik secara beradab. dalam banyak kasus belum sepenuhnya dimiliki oleh bangsa Indonesia. dapat berbeda dengan derajat partisipasi masyarakat pada proyek-proyek yang didanai oleh APBD Kota Depok. terutama kesepakatan bersama. Pada Proyek Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). sudah Secara prosedural untuk ikut masyarakat memang diundang Musrenbang. Tapi apakah semua warga telah diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti / memberikan masukan pada forum Musrenbang kelurahan tersebut? Lalu. di antara para stakeholders konsep pembangunan partisipatif yang akan diterapkan di Kota Depok.

Bahkan ada berpendapat ingin perlu membangun masyarakat. dan bagaimana memelihara hasilnya. BAPEDA KOTA DEPOK 4 . Yang menjadi pertanyaan adalah tolok ukur apa yang membedakan derajat partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan? Dalam berbagai kepustakaan (referensi). wewenang) dalam proses pengambilan keputusan tentang apa yang direncanakan. derajat partisipasinya dapat berbeda dengan derajat partisipasi pada proyek pengentasan kemiskinan yang didanai oleh APBD Kota Depok dan dilaksanakan oleh SKPD. derajat / tingkatan partisipasi masyarakat itu tergantung pada seberapa besar masyarakat / warga memiliki power (kekuasaan. maka dapat proses untuk yang yang jika maka empowerment diartikan sebagai (pemberdayaan) masyarakat “menambah” memutuskan terbaik bagi apa dirinya bahwa rencana itu dilaksanakan. kekuatan. kemampuan. bagaimana power. misalnya. Tangga partisipasi menurut Arnstein (1969) empowerment disempowerment mengalami (surplus) pihak-pihak yang selama ini kelebihan power. daya. Menurut Asrnstein (1969): “citizen participation is citizen kekuasaan pada masyarakat secara kolektif.Kajian Perencanaan Partisipatif Pemberdayaan Masyarakat Squatter (PPMS).” Berdasarkan tolok ukur ini. dilakukan kepada Gambar 1.

of citizen misalnya. apsirasi dan usulannya.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan tolok ukur ini terdapat beberapa tipologi partisipasi masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Arnstein (1969). mungkin baru pada tahapan konsultasi. Pada tahap ini masyarakat memang diberikan kesempatan untuk mengemukakan pandangan. Meski baru bersifat rintisan. pemerintah dan masyarakat terlibat secara sejajar dalam proses pengambilan keputusan. Pertanyaannya adalah apakah mungkin partisipasi masyarakat dalam proses pelaksanaan pembangunan di Kota Depok naik ke tangga kemitraan (partnership) atau bahkan ke pengendalian oleh masyarakat berdasarkan tipologi Arnstein itu? Kajian ini juga akan mencoba mengaitkan antara proses perencanaan partisipatif dengan pembentukan modal sosial. seperti melalui mekanisme Musrenbang. dan Mayer (1997). Jika mengacu yang pada tangga participation) dikemukakan oleh berdasarkan tipologi yang (ladder (1969). partisipasi Arsntein partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Burns (1994). Jika naik ke “tangga partisipasi” yang lebih tinggi. Donaldson (1998). yaitu tahapan kemitraan (partnership). Pretty (1995). Asumsi awal yang ingin ditegaskan dalam kajian ini adalah pelaksanaan partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan di Kota Depok merupakan bentuk operasional dari “pilihan” tahapan / jenjang / tangga partisipasi masyarakat yang dipilih ada. yaitu tahapan kontrol / pengendalian oleh masyarakat (citizen control). Sedangkan pada “tangga partisipasi” tertinggi. yang diusulkan melalui kajian ini adalah bagaimana proses BAPEDA KOTA DEPOK 5 . pengambilan keputusan sepenuhnya berada di tangan masyarakat. Tapi masyarakat tidak berada dalam posisi menentukan dalam proses pengambilan keputusan akhir tentang sebuah rencana.

politis apa saja yang mungkin dihadapi untuk meningkatkan derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok. Ia membagi masyarakat di dunia ini dengan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang rendah (low trust society) dan masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi (high trust society). Bagaimana skenario proses perencanaan di Kota Depok dengan derajat partisipasi masyarakat pada level yang optimal? e. Kajian yang dilakukan oleh Francis Fukuyama dalam bukunya Trust sampai pada kesimpulan betapa modal sosial ini akan ikut menentukan kemajuan ekonomi suatu bangsa. Kendala-kendala institusional. partisipasi masyarakat yang ada di Kota Depok dalam proses perencanaan berada pada level apa? b. yuridis. Apakah mungkin derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan ditingkatkan (naik ke tangga yang lebih tinggi)? c. Prasyarat apa yang dibutuhkan agar skenario itu bisa terlaksana? f. Dengan mengemukakan beberapa studi kasus. d.Kajian Perencanaan Partisipatif pembangunan di Kota Depok senantiasa mempertimbangkan aspek peningkatan modal sosial. Berdasarkan tipologi yang ada. Pertanyaannya adalah proses perencanaan partisipatif yang dilaksanakan di Depok telah memberikan andil untuk penciptakan kategori dengan tingkat kepercayaan sesama yang mana? Apakah di Kota menambah Depok atau rekening malah kepercayaan stakeholders membuatnya semakin defisit sejalan dengan berjalannya waktu? Berdasarkan paparan tersebut di atas. Fukuyama sampai pada kesimpulan bahwa kinerja ekonomi yang tinggi terdapat pada masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi pula. maka kajian ini akan mencoba menjawab beberapa pertanyaan berikut: a. Bagaimana keterkaitan antara perencanaan partisipatif dan pengembangan modal sosial? BAPEDA KOTA DEPOK 6 .

Tujuan Tujuan pelaksanaan kajian ini adalah: 1. (b) dari sisi derajat partisipasi warga berdasarkan tipologi yang ada. Mengidentifikasi kendala-kendala institusional. mengikuti alur sebagai berikut : studi kepustakaan. kualitatif yang yaitu ada dari menjawab studi serta berbagai pertanyaan-pertanyaan dokumen-dokumen rumusan masalah termasuk dengan pandangan kalangan yang terekam di media masa. yuridis. serta (c) dari sisi kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial di Kota Depok. dan politis dalam upaya peningkatan derajat partisipasi dalam perencanaan di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 3. Kajian ini akan BAPEDA KOTA DEPOK 7 . Menyusun skenario penguatan perencanaan partisipatif di Kota Depok.2.3. Melakukan tinjauan evaluatif pelaksanaan proses perencanaan partisipasi ditinjau dari : (a) sisi peraturan perundang-undangan dan kebijakan yang berkaitan dengan perencanaan partisipatif. Metodologi Kajian Kajian ini menggunakan yang pendekatan ada. 2. wawancara mendalam dengan beberapa informan. 1.

3. Konsep Pembangunan 2. Sistematika Penulisan Kajian Kajian ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN 1.5.Kajian Perencanaan Partisipatif Tinjauan Peraturan Perundangan tentang Perencanaan Partisipatif Deskripsi Pelaksanaan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Tolok Ukur Peraturan Perundangan Kajian Evaluatif Perencanaan Partisipatif di Kota Depok • Tipologi Partisipasi • Modal Sosial Kajian Skenario Penguatan Perencanaan Partisipatif di Kota Depok Gambar 2.1.1. Sistematika Penulisan Kajian TINJUAN PUSTAKA 2. Forum Warga BAB II BAPEDA KOTA DEPOK 8 .2.5.4. Konsep Perencanaan 2. Konsep Biaya Transaksi 2. Metodelogi kajian 1.4.2. Perencanaan Partisipatif 2.7.3. Tujuan 1.6. Alur Kajian Perencanaan Partisipatif di Kota Depok 1. Partisipasi Masyarakat 2. Tujuan 1.4. Modal Sosial 2. Latar Belakang 1.

1.3. Musrenbang Kelurahan 7. Musrenbang Kota BAB IV BAB V BAB VI BAB VII DAFTAR PUSTAKA BAPEDA KOTA DEPOK 9 . 414. Kep.2. Visi Pembangunan Daerah 3.4. Masyarakat 7.3.8.2. Walikota Depok No. Tinjauan evaluatif 5. Kemitraan + pendekatan apresiatif SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF Musrenbang RW dan Kelompok-kelompok 7.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tolok ukur pengembangan modal sosial 5.4.5. Misi Pembangunan Daerah 3. UUD 1945 4. Srt Mendagri No. 25/2004 4. Memenuhi aturan/pedoman yg ada 6.1. SE Bersama Bappenas dan Mendagri 4.2.2/2435/SJ (2005) 4. partisipasi 5. UU NO.3.3. Tanpa perubahan berarti (status quo) 6. BAB III Pendekatan Apreciative Inquiri KEBIJAKAN DAERAH 3. Tolok ukur peraturan dan juknis Tolok ukur berdasarkan tipologi 5.1.5. Musrenbang Kecamatan 7. Memenuhi aturan + kemitraan 6.5. Kebijakan Umum LANDASAN KONSTITUSIONAL. YURIDIS DAN KEBIJAKAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 4.2. Pembahasan SKENARIO PENGUATAN PERENCANAAN PARTISIPATIF 6.3.1.1. Forum SKPD 7.2.4.3. 02/2004 KAJIAN EVALUATIF PERENCANAAN PARTISIPATIF 5.

Pada berbagai level status sosial masyarakat. monitoring dan evaluasi). Pengertian Pembangunan Kegiatan perencanaan bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Gugatan ini secara tidak langsung menggambarkan bahwa sebagian warga masyarakat mempersepsikan terdapat pihak-pihak yang sangat diuntungkan dengan proses pembangunan dan ada pihak-pihak yang seolah-olah ”tidak mendapat apa-apa”. Konsep Pembangunan 2. Kesan yang juga muncul di masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 10 .Kajian Perencanaan Partisipatif 2. pengendalian. saluran. pembangunan dimaknai sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Sedangkan bagi para penggiat HAM (hak asasi manusia). Ungkapan menggugat yang sering muncul berkaitan dengan istilah ini adalah: “Pembangunan itu untuk siapa?”. tanggul.1.1. fisik sekolah.1. Bahkan. Jika mempelajari usulanusulan pembangunan yang muncul dari forum Musrenbang di kelurahan. fisik puskesmas. Aktifitas ini ada dalam konteks siklus proses pembangunan (perencanaan. pembangunan lebih banyak identik dengan pembangunan fisik: jalan. dan sejenisnya. jembatan. malah mungkin dirugikan (berkorban). misalnya. istilah pembangunan ini dapat memiliki makna yang berbeda-beda. telah terbentuk perspesi bahwa untuk mendapat manfaat dari kegiatan pembangunan yang bersumber dari anggaran negara harus melalui KKN (dekat dengan kekuasaan). pelaksanaan.

sosial. budaya dan politik yang komprehensif yang ditujukan pada perbaikan yang tetap mengenai kesejahteraan seluruh penduduk dan semua individu atas dasar partisipasi mereka yang aktif.2. Persoalannya adalah bagaimana dengan kelompok-kelompok yang masyarakat tidak yang selama ini tidak proses diuntungkan / terpinggirkan dalam proses pembangunan. Meskipun tentu saja kesan dan persepsi seperti ini belum tentu selalu benar. bebas.” Menurut deklarasi itu. maka proses perencanaan yang melibatkan masyarakat. Bagaimana agar suara mereka didengar dalam proses perencanaan tersebut? 2. “Pribadi manusia adalah pelaku utama pembangunan dan harus merupakan peserta aktif dan pewaris hak atas pembangunan. dan berarti dalam pembangunan dan dalam distribusi keuntungan yang adil yang timbul darinya. Dari sudut pandang ini. hak atas pembangunan merupakan salah satu hak asasi manusia. Pembangunan sebagai Pemenuhan Hak-Hak Warga Negara Dalam dokumen “Deklarasi tentang Hak atas Pembangunan” yang disetujui dengan resolusi Majelis Umum 41/28 tanggal 4 Desember 1986 ditegaskan bahwa: “pembangunan adalah proses ekonomi. Mereka adalah kelompok-kelompok memiliki akses dalam pengambilan keputusan.1.Kajian Perencanaan Partisipatif adalah kelompok yang paling diuntungkan dari proses pembangunan di era reformasi ini adalah kalangan eksekutif dan legislatif.” (Pasal 1 ayat 2) BAPEDA KOTA DEPOK 11 . Yang dituju adalah munculnya persepsi di masyarakat bahwa semua pihak memperoleh benefit (keuntungan) yang adil dari setiap proses pembangunan. yang dilakukan secara iteratif (berulang). adalah untuk menjamin bahwa akan terdapat distribusi keuntungan yang adil dari proses pembangunan.

penduduk (manusia) dilihat sebagai tujuan akhir (the ultimate end). Pembangunan juga dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu proses perbaikan yang berkesinambungan atas suatu masyarakat atau suatu sistem sosial secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik atau lebih manusiawi.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara filosofis suatu proses pembangunan dapat diartikan sebagai “upaya yang sistematik dan berkesinambungan untuk menciptakan keadaan yang dapat menyediakan berbagai alternatif yang sah bagi pencapaian aspirasi setiap warga negara yang paling humanistik”. atau instrumen pembangunan sebagaimana yang dilihat oleh model formasi modal manusia (human capital). serta kebebasan (freedom) untuk memilih. sebagai suatu proses untuk memperluas pilihan-pilihan bagi penduduk (a process of enlarging people’s choices). Dengan rumusan seperti ini maka pembangunan pada dasarnya merupakan upaya untuk memanusiakan manusia (Rustiadi et al. Menurut Tadaro (2000). sikap-sikap masyarakat. Tadaro berpendapat bahwa pembangunan harus dipandang sebagai proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial. bukan alat. Dalam konsep tersebut. cara. 2006). institusi-institusi. pengertian “pemilihan alternatif yang sah” dalam definisi pembangunan di atas diartikan bahwa upaya pencapaian aspirasi tersebut dilaksanakan sesuai dengan hukum yang berlaku atau dalam suatu tatanan kelembagaan atau tatanan budaya yang dapat diterima. khususnya pembangunan manusia. kebutuhan meningkatkan rasa harga diri atau jatidiri (self esteem). Lebih lanjut dijelaskan. UNDP mendefisinikan pembangunan. pembangunan harus memenuhi tiga komponen dasar yang dijadikan sebagai basis konseptual dan pedoman praktis dalam memahami pembangunan yang yaitu kecukupan (substenance) memenuhi paling hakiki pokok. disamping BAPEDA KOTA DEPOK 12 .

Pembangunan Berkelanjutan Keterbatasan sumber daya alam baik akibat degradasi maupun eksploitasi yang berlebihan telah melahirkan apa yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Inti dari konsep ini adalah bahwa pemanfaatan sumber daya untuk pemenuhan kebutuhan generasi saat ini tidak boleh mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi yang akan datang. diacu dalam Rustiadi et al (2006) mengajukan tiga dimensi keberlanjutan yang dikenal sebagai “triangular framework” yaitu keberlanjutan secara ekonomi. pada KTT Bumi di Rio de Jenairo. Emil Salim. secara sosial pembangunan itu dapat diterima dan adil (termasuk adil terhadap generasi mendatang). serta pengentasan kemiskinan. Bruntland di tahun 1988. BAPEDA KOTA DEPOK 13 . Selanjutnya Spangenber (1999) menambahkan dimensi kelembagaan (institution) sebagai dimensi keempat. menjadi salah satu anggotanya. pentingnya pendekatan pembangunan secara berkelanjutan semakin dipertegas. dan secara ekologi tidak merusak alam (sehingga dapat digunakan oleh generasi mendatang). Ungkapan yang populer tentang makna pembangunan berkelanjutan adalah secara ekonomi menguntungkan.Kajian Perencanaan Partisipatif tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi. 2. dan ekologi. sosial. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi konsep yang populer terutama sejak dipublikannya laporan “Our Common Future” sebagai laporan World Commission on Environmental and Development yang dipimpin oleh G. Serageldin (1996).1.H.3. sehingga keempat dimensi tersebut membentuk sebuah prisma keberlanjutan (prism of sustainability). Pada tahun 1992. dimana mantan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup. penanganan ketimpangan pendapatan.

1. 1. Hal ini disebut juga ”constitutional failure” atau ”legislative failure”. sehingga tidak memikirkan kepentingan dan perbaikan kondisi-kondisi kemasyarakatan. terutama untuk pemenangan pemilu yang akan datang. 1978. perencanaan. dalam hal ini pemerintah lebih bertindak sebagai ”rent seeker”. 1997). development community (pembangunan masyarakat). Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Pusat Kajian Bina Swadaya (2007).. Dollery dan Wallis. sering disebut sebagai ”bureauratic failure”. Pembangunan untuk masyarakat (development for community) adalah bentuk pemberdayaan masyarakat dimana masyarakat pada dasarnya menjadi objek pembangunan karena berbagai inisiatif. disebabkan oleh inefisiensi dari sistem / struktur politik yang asimetrik. Ketiga. Weisbrod. Kegagalan Pemerintah dalam Pembangunan Terdapat beberapa teori tentang tipologi kegagalan pemerintah dalam proses pembangunan yang pernah dikemukakan (O’Dowd. Kedua. namun penyebab kegagalan tersebut dibagi dalam tiga faktor utama (Rustiadi et.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. intervensi pemerintah dalam sektor ”rent seeking” selalu disertai dengan kepentingan pribadi dan kelompok. antara lain : Pertama.1.al.4. dan pelaksanaan kegiatan pembangunan dilakukan oleh BAPEDA KOTA DEPOK 14 . disebabkan karena terhenti atau tersendatnya kegiatan pelayanan masyarakat yang berakibat inefisiensi. bersama yaitu: (1) development dan (3) degan praktek for community of pemberdayaan masyarakat (community development) dan membaginya (pembangunan untuk masyarakat). 2006). dimana para politisi lebih mementingkan kelompok.5. 1978. 2. (2) development with community (pembangunan masyarakat). memaparkan bagaimana sebuah proses dalam pembangunan dilakukan terutama dikaitkan tiga kategori.

Peran aktor luar dalam kondisi ini lebih sebagai sistem pendukung bagi proses pembangunan. Keputusan yang diambil merupakan keputusan bersama dan sumber daya yang dipakai berasal dari kedua belah pihak. Pembangunan bersama masyarakat (development with community) secara khusus ditandai dengan kuatnya pola kolaborasi antara aktor luar dan masyarakat setempat. Pembangunan proses pelaksanaannya masyarakat (development yang inisiatif. Model ini paling populer dan banyak diaplikasikan oleh berbagai pihak. Namun apabila keputusan dan sumber daya pembangunan berasal dari luar maka pada dasarnya masyarakat tetap menjadi objek. adalah dan Dapat pembangunan dilaksanakan dikatakan masyarakat menjadi pemilik dari proses pembangunan. Dasar pemikiran pola ini adalah dapat berkembangnya sinergi dari potensi yang dimiliki oleh masyarakat lokal dengan yang dikuasai oleh aktor luar. Aktor luar ini dapat saja telah melakukan penelitian. melakukan konsultasi.Kajian Perencanaan Partisipatif aktor dari luar. 2. sendiri oleh of community) perencanaan. Keterlibatan masyarakat dalam upaya pembangunan juga diharapkan dapat mengembangkan rasa memiliki terhadap inisiatif pembangunan yang ada sekaligus membuat proyek pembangunan menjadi lebih efisien. Hal ini dapat terjadi bila masyarakat merupakan komunitas yang kesadaran dan budayanya terdominasi. Ini merupakan model yang diidealkan oleh berbagai pihak. masyarakat. namun dalam kenyatannya belum banyak komunitas yang mampu membangun dirinya sendiri. Untuk mengarah ke model ini diperlukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk masyarakat lokal. BAPEDA KOTA DEPOK 15 . dan melibatkan tokoh setempat. 3.

2.2.1. Konsep Perencanaan 2. perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa yang akan datang serta menetapkan tahapan-tahapan yang dibutuhkan untuk mencapainya.2. BAPEDA KOTA DEPOK 16 . demikian. kemudian memilih arah-arah terbaik dan memilih langkah-langkah untuk mencapainya. proses perencanaan (kapasitas) dilakukan kita dengan menguji berbagai arah pencapaian serta mengkaji berbagai ketidakpastian yang mengukur kemampuan untuk mencapainya.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 1. Pengertian Perencanaan Perencanaan telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh para ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing. Menurut Kay dan Alder (1999). al (2006). Namun dalam pengertian yang paling sederhana. Tiga Model Pendekatan Pemberdayaan Masyarakat Development for Community (Pembangunan untuk masyarakat) Aktor dari luar Sosialisasi dan Konsultasi Aktor dari luar Aktor dari luar Proyek Development with Community (Pembangunan bersama masyarakat) Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Kolaborasi Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Aktor dari luar bersama masyarakat lokal Proyek dan Program Development of Community (Pembangunan masyarakat) Masyarakat lokal Pemberdayan dan pengerahan potensi sendiri Masyarakat lokal Masyarakat lokal Pengembangan sistem dan penguatan kelembagaan Aktor Utama Bentuk Hubungan Pengambil keputusan Pelaksana Bentuk kegiatan Sumber : Pusat Kajian Bina Swadaya (2007). perencanaan sebenarnya adalah suatu cara “rasional” untuk mempersiapkan masa depan. diacu dalam Rustiadi et. Dengan ada.

program. (2006) BAPEDA KOTA DEPOK 17 . dikenal berbagai nomenklatur seperti visi. Tabel 2. strategi. Misi dan aktivitas adalah istilah-istilah mengenai unsur-unsur perencanaan yang kedua (cara mencapainya). sasaran. tujuan dan sasaran adalah istilah-istilah yang menjelaskan mengenai unsur perencanaan yang pertama (hal yang ingin dicapai). secara umum selalu terdapat dua unsur penting. Istilah-istilah itu sering saling dipertukarkan dengan tidak konsisten dan bahkan cenderung dapat membingungkan sehingga dapat mengganggu proses pembangunan akibat perencanaan yang tidak jelas. al. Sedangkan strategi. Dari berbagai pendapat dan definisi yang dikembangkan mengenai perencanaan. Istilah-istilah di dalam proses perencanaan berdasarkan unsur perencanaan yang dikandungnya Unsur Perencanaan Hal yang ingin dicapai √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ Normatif Normatif Terukur Terukur Normatif/terukur Terukur Terukur Terukur Terukur Cara untuk mencapai Istilah (nomenklatur) Visi (vision) Misi (mission) Tujuan (goal) Sasaran (objective) Strategi (strategy) Kebijakan (policy) Program (program) Pryek (project) Aktifitas (action) Keterangan Sumber: Rustiadi et. tujuan. dan proyek merupakan suatu kumpulan komponen perencanaan yang mencakup kedua unsur perencanaan dalam suatu struktur tertentu.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagian berpendapat bahwa perencanaan adalah suatu aktivitas yang dibatasi oleh lingkup waktu tertentu. dan (2) unsur cara untuk mencapainya. yakni: (1) unsur hal yang ingin dicapai. kebijakan. sehingga perencanaan lebih jauh diartikan sebagai suatu kegiatan terkoordinasi untuk mencapai suatu tujuan tertentu dalam jangka waktu tertentu. Visi. program. misi. Dalam implementasi proses perencanaan. proyek. serta aktivitas.

BAPEDA KOTA DEPOK 18 . • • • Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Tujuan-tujuan (goals): hal-hal yang ingin dicapai secara umum. Setiap bentuk tujuan (goals) bersifat dapat dimaksimumkan atau diminimumkan. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Misi (mission): cara normatif untuk mencapai visi. 4. 8. Program (program): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu. Dalam Undang-Undang No. Proyek (project): sekumpulan aktivitas (actions) untuk mencapai suatu tujuan/target/sasaran tertentu yang dilakukan oleh suatu institusi tertentu dalam waktu tertentu dengan sumberdaya (biaya) tertentu.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan. biasanya lebih terukur. Sasaran merupakan kondisi minimum yang harus dicapai dalam mencapai tujuan dalam waktu tertentu. khususnya menyangkut fisik dan biaya. beberapa istilah ini juga diberikan definisinya. disertai target pencapaiannya. 5. Strategi (strategy): sekumpulan sasaran-sasaran dengan metodemetode untuk mencapainya. 7. Aktivitas (actions): kegiatan pelaksanaan. Sasaran (objectives): bentuk operasional dari tujuan. 9. 6. untuk pelaksanaan-pelaksanaan pencapaian jangka pendek. Visi (vision): suatu kondisi ideal (cita-cita) normatif yang ingin dicapai di masa datang 2. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. Kebijakan (policy): sekumpulan aktivitas (actions).Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 3.

Pendekatan / Basis Perencanaan Perencanaan umumnya dilakukan berdasarkan berbagai kombinasi pendekatan. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran. Perencanaan dengan basis pendekatan ini dilaksanakan dengan berdasarkan kecenderungan umum yang terjadi. (3) Berbasis isu (issue-driven).2. (2) Berbasis kesempatan / peluang (opprotunity-driven).Kajian Perencanaan Partisipatif • • Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan.2. 2. 2000. 2006) adalah: (1) Berbasis kecenderungan (trends-driven). Tapi secara teknis pendekatan ini setidaknya dapat memberikan informasi bagi pendekatan-pendekatan lainnya. mengingat adanya peluang-peluang yang langka. atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah. Beberapa pendekatan perencanaan yang umum dilakukan berdasarkan basis (pijakan) utamanya (Kelly dan Becker. Pendekatan ini sering dilakukan terutama karena alasan-alasan pragmatis.al. Adanya peluang (opprtunity) dianggap harus dimanfaatkan sebesar-besanya. Perencanaan dilakukan berdasarkan isu atau masalah-masalah yang ada. diacu dalam Rustiadi et. Kecenderungan selalu berubah-ubah sehingga pendekatan ini bukan pendekatan yang ideal untuk kepentingan publik jangka panjang. Pendekatan ini sering dilakukan oleh institusi-institusi yang belum matang dan mandiri dimana pendekatan yang termudah adalah dengan meniru atau mengikuti kecenderungan dari institusi-institusi yang lebih berpengalaman. Beranjak dari permasalahan atau BAPEDA KOTA DEPOK 19 .

Namun proses tersulit adalah menetapkan tujuan itu sendiri seringkali bukanlah proses yang mudah apalagi jika dilakukan melalui proses lintas stakeholders. yang sangat berorientasi sangat panjang dan tidak memiliki target-target spesifik jangka pendek. Proses perencanaan ini dilakukan akibat terbatasnya Pendekatan kapasitas ini pengambilan keputusan. dan partisipatif (Rustiadi et al. adaptif. atau perbaikan dari kebijakan yang ada (status quo). perencanaan dapat diklasifikasikan menjadi perencanaan ikremental.3. penambahan. Komponen utama dari pendekatan ini adalah: (a) pilihan-pilihan diturunkan dari kebijakan dan perencanaan yang merupakan peningkatan. 2006). Proses Perencanaan Berdasarkan prosesnya. dilakukan sedemikian agar tidak menyimpang dari kondisi saat ini (status quo). Ini merupakan pendekatan perencanaan yang paling klasik. rupa dan mereduksi terlalu cakupan (scope) dan biaya pengumpulan informasi dan analisis. Berbeda dengan pendekatan berbasis tujuan. pendidikan. Perencanaan inkremental. (c) hanya sejumlah kecil konsekuensi yang diinvestigasi. (d) tujuan dan pendekatan yang BAPEDA KOTA DEPOK 20 . (5) Berbasis visi (vision-driven). pendekatan berbasis visi sangat menekankan nilai-nilai normatif di dalam gerakan atau aktivitasnya dan tidak ada tujuantujuan yang spesifik dan terukur. 1. (4) Berdasarkan tujuan (goal-driven).2.Kajian Perencanaan Partisipatif isu disusun langkah-langkah untuk menanggulangi dan menjawab isu dan tantangan tersebut. rasional. Perencanaan seperti ini lebih sesuai untuk gerakan-gerakan sosial. (b) hanya sejumlah kecil pilihan yang dipertimbangkan. 2. spiritual/keagamaan.

Kajian Perencanaan Partisipatif

dipilih didasarkan atas pertimbangan yang mudah dilakukan, (e) keputusan dibuat dari proses analisis iteratif dan evaluasi. 2. Perencanaan Adaptif. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Holling (1978), yaitu suatu pendekatan yang berfokus pada pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman. Begitu didapat informasi baru segera dilakukan review atas pengelolaan yang sedang berjalan dan pendekatan-pendekatan baru dirumuskan. Pendekatan ini selalu menghadapi kendala terutama akibat adanya penolakan (resistensi) dari pihak-pihak yang harus melakukan penyesuaianpenyesuaian terhadap hal-hal yang bagi mereka masih penuh ketidakpastian. Perencanaan adaptif yang terlalu longgar akan banyak menimbulkan berbagai bentuk inkonsistensi dalam perspektif jangka panjang. 3. Perencanaan Rasional. Rasionalitas adalah cara utama yang

dikembangkan masyarakat dan para pemikir barat sejak zaman renaisan. Rasionalitas dapat diartikan sebagai suatu cara memilih pendekatan menyeluruh terbaik dengan berpikir untuk tertib (sistematis) tujuan dan (komprehensif) mencapai tertentu.

Pendekatan rasional membutuhkan sejumlah pengetahuan, berbagai alat (tools) berupa analisis ilmiah, untuk dapat membuat keputusankeputusan yang logis dalam menelaah semua alternatif yang ada. Kesempurnaan dari pendekatan ini adalah terletak pada ketersediaan informasi yang “sempurna”. Secara umum tahapan proses dalam kerangka perencaan rasional adalah: (a) identifikasi masalah, (b) menetapkan tujuan/sasaran, (c) identifikasi peluang dan hambatan, (d) pengajuan alternatif-alternatif, (e) menetapkan alternatif pilihan dan melaksanakannya. 4. Perencanaan partisipatif / konsensus. Dalam perencanaan

rasional dituntut adanya pengetahuan / informasi yang “sempurna”. Kondisi ini merupakan suatu kondisi
BAPEDA KOTA DEPOK

yang sangat sulit dipenuhi

21

Kajian Perencanaan Partisipatif

karena kapasitas, pengetahuan, pengalaman, informasi, dan teknologi yang dimiliki perencana cenderung terbatas dibandingkan dengan kompleksitas kepentingan permasalahan yang yang ada. pula. Di sisi lain, informasi sifat sebenarnya tersebar beragam di masing-masing stakeholders dengan berbeda-beda Dengan demikian, komprehensif dari suatu perencanaan pada dasarnya dapat dipenuhi dengan membangun partisipasi seluruh stakeholders agar diperoleh informasi yang lengkap dan dipahami bersama untuk kemudian dibangun keputusan yang terbaik. 5. Perencanaan Rasional – Partisipatif. Dengan perencanaan secara terintegrasi ini, maka pendekatan partisipatif akan menutupi berbagai kelemahan pendekatan perencanaan rasional terutama kelemahan akibat terbatasnya informasi. Pendekatan partisipatif juga akan lebih menjamin penerimaan (acceptability) dari pihak-pihak yang berkepentingan.

2.3. Partisipasi Masyarakat
2.3.1. Pengertian Masyarakat Sebelum membahas partisipasi masyarakat, perlu dipahami terlebih dahulu berbagai konsep tentang masyarakat atau komunitas (community). Dari berbagai referensi di Indonesia kedua istilah ini kerap kali dipertukarkan atau diangap sama. Ada yang menerjemahkan community sebagai ”masyarakat” namun ada yang lebih suka menerjemahkannya sebagai ”komunitas”. Dalam realitas, komunitas itu sendiri mulai dari level dengan lingkup geografis yang relatif kecil, seperti komunitas RT / RW sampai pada komunitas negara-negara seperti European Community (Masyarakat Eropa). Bahkan dengan informasi yang tak terbatas, akibat kemajuan
BAPEDA KOTA DEPOK

22

Kajian Perencanaan Partisipatif

teknologi informasi (internet), terjadi perubahan yang radikal tentang tempat (space) dan waktu (time). Komunitas dalam masyarakat informasi menjadi tak berbatas ruang (spaceless) dan tak terbatas

waktu (timeless). Komunitas seperti ini di kota-kota modern membentuk apa yang disebut sebagai cyber culture (budaya siber) atau networking culture (kultur jejaring). Burns (1994) memberikan beberapa makna tentang komunitas sebagai berikut: 1. Masyarakat / komunitas sebagai warisan identitas. Makna ini merupakan ekspresi tradisi budaya atau identitas bersama, sebagai sesuatu yang diwariskan turun temurun. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan sejarah. 2. Masyarakat hubungan / komunitas sebagai hubungan sosial. dan Pola antar direfleksikan dalam kekeluargaan ketetanggaan,

dimana interaksi sosial dan dukungan satu satu sama lain seringkali digerakkan oleh faktor tempat tinggal. Ini merupakan sebuah konsep yang menggambarkan legitimasi berdasarkan tradisi sosiologi dan antropologi. 3. Masyarakat / komunitas sebagai basis konsumsi kolektif, yakni suatu kesatuan kelompok atau ketetanggaan yang memiliki kebutuhan atau permintaan yang sama terhadap barang publik (public goods), seperti perpustakaan, transportasi, kualitas lingkungan dan lainnya. Ini merupakan 4. Masyarakat itu dapat sebuah / konsep masyarakat basis yang untuk menggambarkan produksi dan legitimasi berdasarkan ekonomi. komunitas sebagai penyediaan barang-barang barang publik lokal. Barang-barang publik disediakan oleh swasta, masyarakat umum, atau pihakpihak relawan (termasuk masyarakat itu sendiri). Ini merupakan konsep masyarakat yang menggambarkan legitimasi berdasarkan ekonomi dan penyediaan pelayanan teknologi.

BAPEDA KOTA DEPOK

23

Sekelompok orang yang merasa aman bersama Sekelompok orang yang memiliki rasa ketetanggaan. masyarakat adalah langsung sekelompok orang yang menempati wilayah tertentu secara atau tidak langsung saling berhubungan dalam usaha pemenuhan kebutuhannya. yang diacu dalam Ahmad (2004) adalah: • • • • • • • • • • • • • • • Sekelompok orang Sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu Orang-orang yang disatukan oleh isu bersama Orang-orang yang bekerja sama Sekelompok orang yang mengkonsolidasikan sumberdaya bersama (pool resources). Menurut Moelyadi dan Simanjuntak (1993). Ciri-ciri komunitas dapat ditentukan oleh beberapa hal. Orang-orang yang terorganisir Orang-orang yang mempertahankan dan membina kegiatan Orang-orang yang membuat kemitraan Orang-orang yang fokus pada kebutuhan dari kelompoknya. Ciri-ciri komunitas. politik dan kebudayaan.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. terikat sebagai suatu kesatuan sosial melalui perasaan solidaritas oleh karena latar belakang sejarah. Sekelompok orang yang saling menghormati satu dengan lainnya. apakah melalui saluran representasi atau partisipasi formal atau informal dari aksi politik. BAPEDA KOTA DEPOK 24 . Masyarakat / komunitas sebagai sumber pengaruh dan kekuatan / kekuasaan yang berasal dari hasil pemberdayaan (empowerment) atau keterwakilan. menurut Community Speaker Series (2001). Sekelompok orang yang memiliki visi bersama Sukarelawan yang terorganisir Orang-orang yang melakukan langkah kecil bersama untuk tujuan yang besar.

2.2. dalam pembuatan pelaksanaan program dan pengambilan keputusan untuk berkontribusi sumberdaya atau bekerjasama dalam organisasi atau kegiatan khusus. perkampungan. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 25 . partisipasi dan adalah keterlibatan masyarakat dalam proses perencanaan keputusan tentang apa yang dilakukan. dan dan status sosial tempat ekonomi ini lebih atau berdasarkan atau dalam pengertian karakter politik. dan tidak selalu dihubungkan dengan batas wilayah tertentu. (1) partisipasi dalam / melalui kontak dengan pihak lain sebagai awal perubahan sosial. berbagi manfaat dari program pembangunan dan evaluasi program pembangunan.Kajian Perencanaan Partisipatif Berdasarkan berbagai konsep tersebut. dsb. Kategori masyarakat tempat berdasarkan diidentifikasi tinggal seperti jalan. partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan dapat dipilah meliputi. Komunitas berbasis area / wilayah ini dapat diidentifikasi dalam pengertian sebagai batasan wilayah pelayan administratif. sesungguhnya pengertian masyarakat dapat dikelompok menjadi dua kategori yaitu community of place dan community of interest. ketetanggaan. blok. Community of interest adalah perkumpulan komunitas /masyarakat berdasarkan isu dan kepentingan tertentu baik pada lokasi tertentu atau tidak. Pengertian Partisipasi Masyarakat Menurut Cohen dan Uphoff (1977). kejamaahan / jemaat. Pengelompokan ini dijelaskan oleh Burns (1994) sebagai berikut: 1. yang diacu dalam Harahap (2001). Wilayah komunitas seperti itu dapat bervariasi dalam hal ukuran meskipun batasan yang paling umum adalah ukurannya relatif kecil dan lokal. Community of place yaitu pengelompokan masyarakat berdasarkan wilayah / lokasi tertentu. Sedangkan menurut Ndraha (1990). 2.3.

yang diacu dalam Daniels dan Walker (2005): 1. Partisipasi masyarakat meliputi jaminan bahwa kontribusi masyarakat akan mempengaruhi keputusan. 1997). 3. 7. Sedangkan Migley (1986) BAPEDA KOTA DEPOK 26 . 6. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan kepada partisipan bagaimana input mereka digunakan atau tidak digunakan. 5. Proses partisipasi masyarakat mengkomunikasikan dan memenuhi kebutuhan proses semua partisipan. menerima dengan syarat. mengendalikan sumber daya dan mengarahkan proses yang mempengaruhi kehidupannya.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi dalam memperhatikan / menyerap dan memberi tanggapan terhadap informasi. Masyarakat harus memiliki suara dalam keputusan tentang tindakan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Proses partisipasi masyarakat melibatkan partisipan dalam mendefinisikan bagaimana mereka berpartisipasi. memelihara. Survey partisipasi oleh The International Association of Public Participation telah mengidentifikasi nilai inti partisipasi sebagai berikut (Delli Priscolli. baik dalam arti menerima. Proses partisipasi masyarakat memberi partisipan informasi yang mereka butuhkan dengan cara bermakna. dan mengembangkan hasil pembangunan. (5) partisipasi dalam menerima. Korten (1988) dalam pembahasannya tentang berbagai paradigma pembangunan mengungkapkan bahwa dalam paradigma pembangunan yang berpusat pada rakyat. 4. yaitu keterlibatan masyarakat dalam menilai tingkat pelaksanaan pembangunan. 2. partisipasi adalah proses pemberian peran kepada individu bukan hanya sebagai subyek melainkan sebagai aktor yang menetapkan tujuan. Proses partisipasi masyarakat berupaya dan memfasilitasi keterlibatan mereka yang berpotensi untuk terpengaruh. (3) partisipasi dalam perencanaan termasuk pengambilan keputusan. (4) partisipasi dalam pelaksanaan operasional. maupun dalam arti menolaknya.

8. Partisipasi dipandang sebagai pencerminan hak-hak demokratis individu untuk dilibatkan dalampembangunan mereka sendiri. 6. 5. Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari dimana rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki. 2. partisipasi merupakan akibat logis dari dalil tersebut. 4. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kemampuan pribadi untuk dapatturut masyarakat. 9. Partisipasi merupakan cara yang efektif membangun kemampuan masyarakat untuk pengelolaan program pembangunan guna memenuhi kebutuhan lokal. Partisipasi memperluas wawasan penerima proyek pembangunan. kebutuhan. dan kondisi lokal yang tanpa keberadaannya akan tidak terungkap. 3. Partisipasi akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada seluruh lapisan masyarakat. Partisipasi menopang pembangunan Partisipasi Partisipasi menyediakan merupakan lingkungan lingkungan yang yang kondusif kondusif baik baik bagi bagi aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia. Rakyat adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan. 11. aspirasi. serta dalam keputusan penting yang menyangkut BAPEDA KOTA DEPOK 27 . 7. diacu dalam Hasibuan (2003).Kajian Perencanaan Partisipatif melihat partisipasi sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan masyarakat untuk mendorong mereka dalam menyelesaikan permasalan yang mereka hadapi. Tjokrowinoto (1987). menyatakan alasan pembenar partisipasi masyarakat dalam pembangunan: 1. 10. Arus informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya pembangunan. Partisipasi menciptakan suatu lingkungan umpan balik arus informasi tentang sikap.

Kajian Perencanaan Partisipatif 2. 2. serta UNDP. 2000.3. dan kreatifitas. pengalaman. Partisipasi dapat meningkatkan pendekatan iteratif dan siklikal dan menjamin pengambilan bahwa solusi didasarkan maka para pada pembuat pemahaman keputusan dan dapat pengetahuan lokal. sehingga memperluas kisaran ketersediaan pilihan alternatif. kegiatan yang dilakukan akan lebih relevan dengan kepentingan masyarakat lokal dan akan lebih efektif. Blumenthal. 3. Partisipasi membantu terbangunannya transparansi komunikasi dan hubungan-hubungan kekuasaan di antara para stakeholders. Dengan mengajak masyarakat dengan spektrum yang lebih luas dalam proses pembuatan keputusan. 2000. 2000. khususnya kelompok yang selama ini termarjinalisasikan. maka partisipasi dapat: (a) meningkatkan representasi dari kelompok-kelompok komunitas. 2001. Dovers. BAPEDA KOTA DEPOK 28 . Partisipasi memperluas basis pengetahuan dan representasi. 2000). Dengan demikian. hal itu dapat menghindari ketidakpastian dan kesalahan interpretasi tentang suatu isu / masalah. (b) membangun perspektif yang beragam yang berasal dari beragam stakeholders. Thomsen (2003) memaparkan keuntungan dan kerugian dari partisipasi masyarakat. Kapoor. Dengan melibatkan stakeholders dan berdiskusi dengan pihak-pihak yang akan menerima atau berpotensi menerima akibat dari suatu kegiatan / proyek.3. Keuntungan dan Kerugian Partisipasi Masyarakat Dengan mengacu pada berbagai referensi (Anon. memperluas pengalaman masyarakat dan akan memperoleh umpan balik dari kalangan yang lebih luas. Keuntungan dari partisipasi masyarakat adalah: 1. (c) mengakomodir pengetahuan lokal. Dengan membuka kesempatan dalam proses keputusan.

komitmen dan akuntabilitas. 2. Partisipasi dapat menyebabkan konflik. BAPEDA KOTA DEPOK 29 . Partisipasi hasil akan mendorong yang kepemilikan berkelanjutan lokal. Proses partisipasi dapat digunakan untuk memanipulasi sejumlah besar warga masyarakat. Sedangkan kerugian yang mungkin muncul dari pendekatan partisipatif adalah: 1.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Pengetahuan ini dan ditambah dengan peningkatan interaksi antar sesama stakeholders akan meningkatkan kepercayaan diantara para stakeholders dan memberikan kontribusi yang positif bagi peningkatan modal sosial. Partisipasi dapat membangun kapasitas masyarakat dan modal sosial. jika direncanakan secara hati-hati. Pendekatan partisipatif akan meningkatkan pengetahuan dari tiap stakeholders tentang kegiatan / aksi yang dilakukan oleh stakholders lain. Pelibatan masyarakat lokal dapat membantu terciptanya (outcomes) dengan menfasilitasi kepemilikan masyarakat terhadap proyek dan menjamin bahwa aktivitas-aktivitas yang mengarah pada keberlanjutan akan terus berlangsung. Proses partisipasi seringkali menyebabkan ketidakstabilan hubungan sosial politik yang ada dan menyebabkan konflik yang dapat mengancam terlaksananya proyek. melakukan proses (b) ini Partisipasi secara sadar atau tidak sadar memanipulasi tidak partisipasi publik untuk dapat merugikan kepada mereka yang terlibat jika: (a) para ahli yang kepentingannya. 5. partisipasi dapat menambah biaya dan waktu dari sebuah proyek tanpa ada jaminan bahwa partisipasi itu akan memberikan hasil yang nyata. Hasil yang diperoleh dari usaha-usaha kolaboratif lebih mungkin untuk diterima oleh seluruh stakeholders.

4. Tipologi Tangga Partisipasi Arnstein (1969). Partisipasi dapat menjadi mahal dalam pengertian bahwa waktu dan biaya yang dikeluarkan dipersepsikan sebagai sesuatu yang mahal bagi masyarakat lokal. Pada wilayah-wilayah dimana di dalamnya terdapat ketidakadilan sosial. padahal usaha yang dilakukan oleh masyarakat telah cukup besar.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Partisipasi dapat memperlemah (disempower) masyarakat. Tipologi Partisipasi Tipologi partisipasi menggambarkan derajat keterlibatan masyarakat dalam proses partisipasi yang didasarkan pada seberapa besar kekuasaan (power) yang dimiliki masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. tidak dikembangkan dalam kerangka kerja institusional yang mendukung atau terjadi kekurangan sumber daya untuk penyelesaian atau keberlanjutan suatu proyek. Sherry Arnstein adalah yang pertama kali mendefinisikan strategi partisipasi yang didasarkan pada distribusi kekuasaan antara masyarakat (komunitas) dengan badan pemerintah (agency). 2. kecewa karena hanya sedikit hasil yang diraih.1. maka partisipan dapat meninggalkan proses tersebut.3.3. Dengan pernyataannya bahwa partisipasi masyarakat identik dengan kekuasaan masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 30 . 2. Jika proses partisipasi dimanipulasi. (b) untuk mengetahui sampai sejauh mana upaya peningkatan partisipasi masyarakat dan (c) untuk menilai dan mengevaluasi keberhasilan kinerja dari pihak-pihak yang melakukan pelibatan masyarakat. 4.4. Kegunaan dari adanya tipologi partisipasi ini adalah: (a) untuk membantu memahami praktek dari proses pelibatan masyarakat. proses partisipasi akan dilihat sebagai sesuatu yang mewah dan pengeluaran-pengeluaran untuk proses itu tidak dapat dibenarkan ketika berhadapan dengan kemiskinan yang akut.

1. dimana ketiga tangga itu digambarkan sebagai tingkatan tokenisme (degree of tokenism). (7) pendelegasian wewenang / kekuasaan (delegated power). Kemudian (4) diikuti dengan tangga (3) dan menginformasikan (5) penentraman konsultasi (consultation). dan (8) pengendalian masyarakat (citizen control). Manipulasi (manipulation). Tangga selanjutnya adalah (6) kemitraan (partnership). keempat dan kelima dikategorikan sebagai derajat tokenisme dimana peran serta masyarakat diberikan kesempatan untuk berpendapat dan didengar pendapatnya. Pada level ini telah ada komunikasi namun bersifat terbatas. Tangga terbawah merepresentasikan kondisi tanpa partisipasi (non participation). Terapi (therapy). Tangga ketiga. tapi mereka tidak memiliki kemampuan untuk mendapatkan jaminan bahwa pandangan mereka BAPEDA KOTA DEPOK 31 . Arnstein menggunakan metafora tangga partisipasi dimana tiap anak tangga mewakili strategi partisipasi yang berbeda yang didasarkan pada distribusi kekuasaan. Pada tangga partisipasi ini bisa diartikan relatif tidak ada komunikasi apalagi dialog.Kajian Perencanaan Partisipatif (citizen partisipation is citizen power). (placation). tapi hadir dalam forum). berupa upaya superfisial (dangkal. Tokenisme dapat diartikan sebagai kebijakan sekadarnya. Jadi sekadar menggugurkan kewajiban belaka dan bukannya usaha sungguhsungguh untuk melibatkan masyarakat secara bermakna. Inisiatif datang dari pemerintah dan hanya satu arah. 2. (informing). tujuan sebenarnya bukan untuk melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan program tapi untuk mendidik atau ”menyembuhkan” partisipan (masyarakat tidak tahu sama sekali terhadap tujuan. meliputi: (1) manipulasi (manipulation) dan (2) terapi (therapy). Tiga tangga terakhir ini menggambarkan perubahan dalam keseimbangan kekuasaan yang oleh Arnstein dianggap sebagai bentuk sesungguhnya dari partisipasi masyarakat. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan.

Informasi telah diberikan kepada masyarakat tetapi masyarakat tidak diberikan kesempatan melakukan tangapan balik (feed back). telah ada aturan pengajuan usulan. Tiga tangga teratas dikategorikan sebagai bentuk yang sesungguhnya dari partisipasi dimana masyarakat memiliki pengaruh dalam proses pengambilan keputusan. Pada tangga partisipasi ini komunikasi telah bersifat dua arah. Kemitraan (partnership). Pada level ini komunikasi telah berjalan baik dan sudah ada negosiasi antara untuk masyarakat dan pemerintah. Konsultasi (consultation). Informasi (information). 3. 6. pemerintah dan masyarakat merupakan mitra sejajar. Peran serta pada jenjang ini memiliki kemungkinan yang sangat kecil untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat. Namun pemerintah tetap menahan kelayakan keberadaan BAPEDA KOTA DEPOK 32 . maupun monitoring dan evaluasi. Sudah ada penjaringan aspirasi. 5. tapi belum ada jaminan apakah aspirasi tersebut akan dilaksanakan ataupun perubahan akan terjadi. Pada tangga partisipasi ini. saran atau usulan Masyarakat kewenangan tersebut. baik dalam hal perencanaan. 4. Pada jenjang ini komunikasi sudah mulai banyak terjadi tapi masih bersifat satu arah dan tidak ada sarana timbal balik. Penentraman (placation). tapi masih bersifat partisipasi yang ritual. Kepada masyarakat yang selama ini tidak memiliki akses dipersilahkan untuk menilai memberikan dan merencanakan usulan kegiatan.Kajian Perencanaan Partisipatif akan dipertimbangkan oleh pemegang keputusan. Kekuasaan telah diberikan dan telah ada negosiasi antara masyarakat dan pemegang kekuasaan. pelaksanaan. telah ada harapan bahwa aspirasi masyarakat akan didengarkan.

masyarakat sepenuhnya mengelola berbagai kegiatan untuk kepentingannya sendiri. Ini berarti dari bahwa proses pemerintah memberikan kewenangan kepada masyarakat untuk sendiri beberapa kepentingannya. Burns menjelaskan bahwa terdapat kemungkinan untuk menambah jenjang antara tangga partisipasi yang satu dengan yang lainnya meski terkesan lebih rumit dan memberikan kebebasan untuk menghapus atau menambah jenjang menurut situasi yang ada.Kajian Perencanaan Partisipatif untuk proses pengambilan keputusan diberikan kesempatan untuk bernegosiasiai dan melakukan kesepakatan. dan Hogget meningkatkan partisipasi masyarakat.3. dan perubahan tata kelola pemerintahan di daerah. Pengendalian warga (citizen control). 7. monitoring dan mulai evaluasi. Hambleton. dan tanpa campur tangan pemerintah.2 Tipologi (1994) Burns et al (1994) berpendapat bahwa bila pemerintah hendak Partisipasi Burns. Pendelegasian mengurus kekuasaan (delegated power). pemberdayaan. 8. maka harus diketahui terlebih dahulu sampai sejauh mana jenjang proses partsipasi yang telah ada. yang disepakati bersama. perencanaan. 2.4. Untuk itu Burns memodifikasi model Arnstein yang dirasakan lebih tepat terhadap kebutuhan publik (kewenangan masyarakat lokal) dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. sehingga masyarakat memiliki kekuasaan yang jelas dan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap keberhasilan program. Dalam menggunakan tipologi ini. Dalam tangga partisipasi ini. pelaksanaan. Dia mengakui bahwa terdapat permasalahan yang kompleks dalam penentuan jenjang partisipasi. Ini disebabkan adanya karakteristik yang bisa diasumsikan bahwa terdapat lebih dari satu jenjang pada saat BAPEDA KOTA DEPOK 33 .

Burns dan koleganya memberi nama untuk tangga partisipasi mereka dengan A Ladder of Citizen Empowerment (Tangga Pemberdayaan Warga). 8. 9. 7. 5. Burns memodifikasi konsep Arsntein tersebut dalam rangka pengembangan partisipasi masyarakat perubahan pemerintahan daerah. serta pemetaannya terhadap ruang kekuasaan dan yang ada tata dalam kelola masyarakat. 12. Jenjang Partisipasi Civic hype Cynical Consultation Poor Information Customer care High Quality Information Genuine Information Effective Advisory Body Limited decentralised decision making Partnership Delegated Control Enrusted Control Independent Control Kategori Citizen Non Participation Citizen Participation Citizen Control BAPEDA KOTA DEPOK 34 . Tangga Pemberdayaan Warga oleh Burns et al (1994) pada penilaian oleh pemerintah daerah atau institusi lainnya. 3. dengan menambahkan ruang pada jenjang partisipasi satu dengan yang lainnya serta menjabarkan kemungkinan adanya perbedaan pembagian ruang jenjang partisipasi Tangga Pemberdayaan Warga dari Burns. Tabel 3 menggambarkan No. 6. 1. 11. 4. 2. Burns juga mengingatkan bahwa kualitas partisipasi masyarakat tidak harus menempati tangga tertinggi dalam waktu yang sangat cepat.Kajian Perencanaan Partisipatif bersamaan dan upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di setiap tangga membutuhkan cara yang berbeda-beda. Tabel 3. Berdasarkan hasil kajian terhadap delapan tangga partisipasi Arnstein. Semua harus didasarkan pada situasi dan kondisi masyarakat. 10.

Jenjang-jenjang ini tidak boleh manipulasi informasi berkembang keempat cenderung rendah tapi pemerintah daerah telah membuka diri untuk menerima kritik dari masyarakat. berbentuk propaganda dan pada dasarnya tidak sesuai dengan kondisi obyektif daerahnya. Pada jenjang ini pemerintah daerah melakukan sosialisasi informasi. cynical consultation. namun dalam pertemuan tersebut tidak menyentuh topik-topik yang substantif. Pada jenjang ini.Kajian Perencanaan Partisipatif Secara garis besar penjelasan terhadap jenjang partisipasi tersebut adalah sebagai berikut : A. Civic hype. dan diabaikan. sehingga masyarakat tidak mempunyai peranan dan bersifat pasif. Pada yang berkaitan ini dengan kehidupan sulit atau masyarakat. namun informasi yang diberikan bersifat manipulatif. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat untuk memutuskan nama dari satu jalan yang akan dibangun. baik kepada masyarakat maupun keluar. Misalnya. dari foor information. Poor informasi. tidak bisa Informasi tersebut lebih untuk konsumsi pemerintah sendiri atau jenjang masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 35 . 3. 1. Keempat jenjang dimana warga dikategorikan tidak berpartisipasi (citizen non participation) karena adalah civic hype. pemerintah daerah melakukan pertemuan konsultasi dengan masyarakat tentang suatu masalah atau program tertentu. menguasai hampir seluruh segi kehidupan. Pada kondisi ini partisipasi masyarakat customer care. Cynical consultation. keadaan ini. Tanpa Partisipasi Warga. tujuan serta pembiayaannya. bukannya membahas hal-hal yang bersifat strategis. seperti perencanannya. Masyakat tidak diberikan informasi kebijakan dan permasalahan legislatif. Peranan pemerintah dalam kondisi ini terlalu besar. 2.

evaluasi. misalnya terjadi perbaikan dalam pelayanan pemerintah. masyarakat dapat memberikan input yang signifikan bagi pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 36 . baik dilihat dari proses maupun materi yang disampaikan pemerintah daerah kepada masyarakat setempat. maupun tuntutan-tuntutan.Kajian Perencanaan Partisipatif mendapatkan informasi atau data-data yang akurat. Program awalnya ditujukan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah. 4. maka pada jenjang ini dapat digolongkan dalam partisipasi. Hal ini disebabkan karena tidak dilakukannya penerbitan data atau informasi masyarakat untuk mendapatkan informasi tersebut. Dengan Partisipasi Warga 5. baik dalam hal pemantauan. Customer care. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat customer memiliki care ini informasi pada yang cukup mengenai untuk berbagai meredam kegiatan pemerintah atau mulai dilakukannya transparansi. Jika pengaduan-pengaduan masyarakat mengenai buruknya pelayanan pemerintah melalui unit pelayanan itu diabaikan. High quality information. maka pada jenjang ini terjadi konsultasi palsu (pseudo consultation). Sosialisasi informasi-informasi tersebut akan mendorong terjadinya proses dialog atau konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat setempat yang lebih menyentuh substansi permasalahan. Keterbukaan pemerintah daerah dalam hal ini telah memberikan peluang yang luas kepada masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemerintahan. B. pengajuan daerah. Pada jenjang ini pemerintah daerah membentuk sejenis unit pelayanan pengaduan. dan obyektif mengenai daerahnya atau hal-hal apa saja yang dilakukan dan juga disebabkan oleh sulitnya oleh pemerintah daerah. Pada jenjang ini terjadi sosialisasi informasi yang berkualitas tinggi. Dengan proses konsultasi seperti itu. valid. Namun sebaliknya jika pengaduan masyarakat tersebut ditindaklanjuti dan membuahkan hasil.

penggunaan sumber daya bahkan dapat menyentuh tataran strategis. Dalam diskusi ini. Telah ada organisasi / perkumpulan masyarakat yang bekerjasama dengan pemerintah dalam pengambilan keputusan. Pada jenjang ini terjadi peningkatan keberadaan badan atau komite penasehat masyarakat. Namun tidak ada satu ketentuan pun bagi pemerintah daerah untuk memasukan pendapat komite masyarakat tersebut ke dalam kebijakan yang akan dibuat. Pada meningkatkan kualitas konsultasi antara pemerintah daerah dengan masyarakat dilihat dari substansi pembahasan maupun prosesnya. Effective advisory bodies. Diskusi antara pemerintah dengan masyarakat telah ada dan sebenarnya telah berjalan. Organisasi BAPEDA KOTA DEPOK 37 . Limited decentralised decision making. Pada tahap ini masyarakat telah menunjukan inisiatif mereka dan telah ada transfer atau setidaknya pemberian wewenang untuk mempengaruhi pemerintah. sehingga dapat berfungsi efektif dan akan mendorong partisipasi badan atau komite tersebut dalam pembuatan kebijakan yang menyangkut operasional.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Genuine Consultation. 8. Misalnya. Sebagai hasil dari peningkatan kualitas konsultasi ini dapat menghasilkan perubahan struktural misalnya pembentukan berbagai badan atau komite masyarakat yang berfungsi sebagai penasehat (advisory) bagi pemerintah daerah dalam rangka membuat kebijakan atau melaksanakan program-program pemerintah yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat yang bersangkutan. 7. Artinya. dilakukan improvisasi untuk melaksanakan atau tidak melaksanakan masukan tersebut. masyarakat memberikan masukan kepada pemerintah sebelum suatu kebijakan diambil jenjang genuine walaupun tidak ada kepastian pemerintah akan consultation ini. hasil dialog tersebut tidak mengikat pemerintah daerah. dilakukan proses konsultasi antara pemerintah dengan masyarakat sebelum merancang suatu peraturan atau sebelum merancang program.

namun harus tetap mengacu pada kebijakan strategis.Delegated control. Disamping itu. memberikan masukan apa yang dapat dan harus dilakukan untuk Organisasi mengambil keputusan untuk langkah aksi. Pada jenjang ini keterlibatan masyarakat dalam pembuatan kebijakan telah meningkat ke arah kontrol masyarakat terhadap operasional maupun pengelolaan sumber daya dengan kerangka yang spesifik dan terbatas. 9. memperbaiki memberi keadaan pandangan saat ini.Kajian Perencanaan Partisipatif tersebut melaksanakan hal-hal seperti mengajak masyarakat untuk bersatu. dimana masyarakat memiliki maupun pengaruh yang signifikan terhadap terutama proses melalui pembuatan mekanisme pelaksanaan kebijakan. apa yang ini terjadi juga saat ini. Secara umum dalam jenjang ini kontrol yang substansial didelegasikan kepada masyarakat daerah atau pembuatan kebijakan maupun pelaksanaannya. dimana pemerintah memisahkan kewenangan tertentu untuk didelegasikan kepada masyarakat. setidak-tidaknya terjadi proses transfer kekuasaan (kewenangan). dan kemudian berkembang pada pembagian kekuasaan antara pemerintah daerah atau unit-unit pemerintah daerah dengan unit-unit kelompok masyarakat dalam kerangka yang spesifik. Selain itu pemerintah daerah membangun strategi bottom-up 10. Limited Partnership. Pemerintah daerah mulai melakukan pengalihan manajerial pengelolaan program pemerintah kepada masyarakat. seperti standarisasi yang BAPEDA KOTA DEPOK 38 . mendiskusikan persamaan persepsi bagaimana pelayanan beroperasi. memonitor aksi yang dilakukan dan merencanakan langkah aksi selanjutnya. Pada tahap ini operasional pengambilan keputusan telah dibedakan secara internal (pemerintah) dan eksternal (masyarakat). negosiasi antara masyarakat dengan pemerintah daerahnya. Pada jenjang ini pemerintah daerah dan masyarakat menjadi mitra sejajar.

Independent Control. tapi berdasarkan bentuk-bentuk demokrasi dalam semua sisi kehidupan. Hubungan dengan pemerintah daerah dilakukan melalui koordinasi dengan jaringan kerjasama. namun institusi ini masih tergantung pada alokasi dana dari pemerintah daerah yang hanya berperan pada tataran strategis. institusinya tidak bergantung pada pemerintah daerah atau badan lainnya. area dan institusi. Pada jenjang ini peningkatan pengendalian / kontrol masyarakat telah mewujud dengan terbentuknya suatu institusi atau organisasi yang otonom secara legal untuk menguasai pembuatan maupun implementasi kebijakan terhadap suatu atau beberapa bidang tertentiu.Entrust Control. Kedudukan pemerintah dan masyarakat sederajat. masyarakat telah memiliki kekuasaan untuk mengatur program. Pada jenjang ini. Pada jenjang ini dipertimbangkan transformasi fundamental antara negara dan ekonomi pasar di satu sisi dan anggota masyarakat di sisi lain. 12. Hubungan pemerintah dengan masyarakat meningkat berdasarkan kepercayaan dan saling ketergantungan. C. baik legal maupun finansial dari pemerintah daerah. Masyarakat memiliki kekuasaan dan kapasitas untuk mengatur sebuah program. Kekuataan tidak berada pada pasar. Pengendalian / Kontrol oleh Masyarakat Pada jenjang kesebelas dan keduabelas. BAPEDA KOTA DEPOK 39 .Kajian Perencanaan Partisipatif ditetapkan pemerintah daerah serta kerangka pendelegasian kontrol yang ditentukan secara terpusat. institusi yang diprakarsai masyarakat yang terlibat dalam menguasai (mengontrol) pembuatan kebijakan maupun implementasinya secara penuh mendapatkan otonomi. 11.

3. khususnya untuk mengurangi biaya. mengembangkan pendekatan yang berbeda berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam sebagaimana pada Tabel 4. Warga mungkin berpartisipasi dengan membentuk kelompok untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan sebelumnya berkaitan dengan proyek tersebut. Warga berpartisipasi dengan diberitahukan apa yang telah diputuskan atau yang telah dilaksanakan. tapi memiliki kontrol sepenuhnya terhadap bagaimana sumberdaya itu digunakan. Warga berpartisipasi melalui konsultasi atau dengan menjawab pertanyaan dan tidak terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Warga berpartisipasi untuk mendapatkan makanan. uang tunai atau insentif material lainnya. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Dengan mengadaptasi tipologi partisipasi Arnstein. diacu dalam Ahmad (2004). Warga berpartisipasi dengan mengambil inisiatif secara independen (tanpa campur tangan dari institusi luar) untuk mengubah sistem.3. Tipologi Partisipasi Pretty (1995) Tipologi Partisipasi manipulatif Partisipasi pasif Partisipasi dengan konsultasi Partisipasi yang dibeli Karakteristik Setiap Tipe Partisipasi dilakukan hanya dengan berpura-pura. Partisipasi dilihat oleh badan eksternal sebagai sebuah langkah untuk mencapai tujuan proyek. dan kelompok menentukan bagaimana sumberdaya yang tersedia digunakan. Metodologi pembelajaran dipakai untuk menemukenali perspektif yang beragam. Tabel 4. Warga berpartisipasi dalam analisis bersama.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Mereka mengembangkan kontak dengan institusi luar untuk mengakses sumber daya dan bantuan teknis yang mereka butuhkan. Pretty (1995). mengembangkan rencana aksi bersama dan pembentukan atau penguatan kelompok atau institusi lokal. Masyarakat lokal tidak berkewajiban melanjutkan praktek yang diintrodusir ketika insentif berakhir.4. Informasi yang dibagi pun hanya untuk kalangan profesional. Partisipasi fungsional Partisipasi interaktif Mobilisasi sendiri dan berdikari Sumber : Pretty (1995) diacu dalam Thomsen (2004) BAPEDA KOTA DEPOK 40 .

4. mencapai kompromi. Terdapat perubahan kelembagaan (pengetahuan.4. Tahapan partisipasi yang dikembangkan oleh Wates (2000) berdasarkan tingkat keterlibatan masyarakat (kemandirian. pemahaman bersama sampai membuat konsensus Menggali proyeksi kemungkinan perubahan di masa depan Membuat kebijakan atas dasar informasi relevan yang didapat di lapangan Memperkaya pemahaman kepada para pihak. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) dan Wates (2000) Tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh Mayer (1997) dan Wates (2000) adalah salah satu instrumen untuk melihat tingkat keterlibatan masyarakat dalam sebuah proyek atau proses perencanaan. konsultasi. dan cara pencapaian Untuk mendamaikan konflik. belajar berdemokrasi Ko-Produksi Koordinasi Mediasi Antisipasi Konsultasi InformasiEdukasi Sumber : Mayer (1997). kepercayaan dan sikap-kebiasaan) Melihat hubungan antara berbagai permasalahan di setiap tahapan proses yang ada di berbagai pihak dan berbagi tanggung jawab untuk penyelesaian yang mungkin dicapai Mengajak para pihak untuk melihat sumberdaya yang mereka miliki dan menginisiasi kerjasama Mengajak para pihak untuk mengetahui tentang nilai-nilai dan kepentingan yang saling menguntungkan Memberikan kesempatan pada para pihak untuk membuat antisipasi permasalahan yang muncul di masa depan Bertanya kepada para pihak tentang apa yang mereka tahu tentang permasalahan mereka dan apa yang dapat mereka lakukan terhadap permasalahan tersebut Memberikan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat umum Tujuan Para pihak dapat menggali dan membuat pendekatan yang fleksibel dan kontekstual dengan perubahan yang cepat Identifikasi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam berbagai aktivitas / proyek Mengkoordinasi sumberdaya.3. dan keberlanjutan proyek).Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Tingkatan Partisipasi Mayer (1997) Tahapan Pembelajaran Cara Para pihak dapat menentukan kerjasama yang akan dilakukan dengan pendekatan-pendekatan yang sudah dipelajari. diacu dalam Ahmad (2004). implementasi. perencanaan. tujuan. memperkuat penerimaan dan legitimasi. Tabel 5. kemitraan. dan informasi) pada masing-masing tahapan proyek (inisiasi proyek. BAPEDA KOTA DEPOK 41 .

Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 6. Tipologi Partisipasi Parkers and Panelli (2001).5. Tipologi ini esensinya istilah sama yang dengan lain tipologi sebelumnya partisipasi namun yang menggunakan adalah tipologi dikemukakan oleh Parkers dan Panneli (2001). BAPEDA KOTA DEPOK 42 .4. Tahapan Partisipasi Wates (2000) INISIASI KEMANDIRIAN Kontrol ada pada komunitas KEMITRAAN Berbagi tugas dan ikut serta dalam pengambilan keputusan Komunitas melakukan inisiasi PERENCANAAN Komunitas merencanakan kegiatannya sendiri Otoritas dan komunitas secara bersama-sama merencanakan kegiatan Otoritas membuat perncanaan setelah berkiomunikasi dengan komunitas IMPLEMENTASI Komunitas mengimplementa sikan rencananya sendiri Otoritas dan komuniotas bersama-sama mengimplementa sikan perencanaan KEBERLANJUTAN Komunitas menjaga hasil-hasil pembangunan Otoritas dan komunitas saling menjaga hasil pembangunan Otoritas dan komunitas bersamasama melakukan inisiasi kegiatan KONSULTASI Otoritas Dilakukan menginisiasi dengan kegiatan pendekatan setelah dialog berdialog dengan komunitas Otoritas INFORMASI menginisiasi Komunikasi dilakukan searah kegiatan Sumber : Wates (2000) Otoritas mengimplementa sikan perencanaannya dengan berkonsultasi pada komunitas Otoritas membuat Otoritas mengimplementa perencanaan sikan sendiri perencanaannya sendiri Otoritas menjaga hasil pembangunan dengan bertanya kepada komunitas Otoritas menjaga hasil pembangunannya sendiri 2.3.

Davidson memodifikasi metode dan strategi pendekatan yang digunakan dalam tiap jenjang partisipasi yang dikemukakan oleh Burns.Karena itu dalam artikelnya ”Engaging Community”. Tugas ditetapkan dengan insentif tapi pihak luar memutuskan agenda dan aksi apa yang harus dilakukan Pendapat masyarakat lokal dicari / diminta. BAPEDA KOTA DEPOK 43 . Hanya saja menurut Davidson (1998). Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas tapi tanggungjawab tetap berada di tangan pihak luar untuk mengarahkan proses tersebut. Masyarakat lokal dan pihak luar berbagai pengetahuan mereka untuk menciptakan pemahaman baru dan mereka bekerja sama untuk membentuk rencana aksi dengan fasilitasi dari pihak luar Collective action (aksi bersama) Masyarakat lokal menyusun sendiri agenda mereka dan mengerahkan diri mereka sendiri untuk mencapainya tanpa inisiatif dari pihak luar dan dengan atau tanpa kehadiran fasilitator dari luar. 2.6. tiap jenjang partisipasi masyarakat itu membutuhkan metode dan strategi pendekatan yang berbeda.3.4. Tipologi Partisipasi Parkers dan Pannelli (2001) Tipe partisipasi Co-option (pilihan bersama) Compliance (kerelaan) Consultation (konsultasi) Cooperation (kerjasama) Co-learning (belajar bersama) Keterlibatan Masyarakat lokal Perwakilan masyarakat dipilih untuk ikut dalam prosespartisipasi tapi tanpa input yang nyata atau tanpa pembagian kekuasaan dalam pengambilan keputusan. dan sebagian besar menggunakan istilah yang digunakan oleh Burns.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 7. Ia sepenuhnya mengadopsi tipologi yang dikemukakan oleh Burns. tapi pihak luar yang menganalisis dan memutuskan pilihan kegiatan yang dianggap terbaik untuk dilakukan. Roda Partisipasi Davidson (1998) Sebenarnya Davidson tidak membuat tipologi partisipasi yang sama sekali baru.

Roda Partisipasi oleh Davidson BAPEDA KOTA DEPOK 44 .Kajian Perencanaan Partisipatif Gambar 3.

Kajian Perencanaan Partisipatif

Tabel 8. Tipologi Roda Partisipasi Davidson No. Jenjang Partisipasi
1. Minimal Communication

Karakteristik
Badan pemerintah memutuskan seluruh hal / materi tanpa konsultasi (kecuali ketika aturan mengharuskan melakukan konsultasi), seperti melalui laporan dari komite. Menjelaskan kepada publik apa yang diinginkan oleh badan pemerintah, bukan tentang apa yang ingin diketahui oleh publik. Ini dilakukan dengan pendekatan yang menjangkau publik yang lebih luas Memberikan informasi tentang apa yang diinginkan atau dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kertas kerja untuk didiskusikan atau pameran untuk pengembangan rencana atau catatan panduan untuk pengembangan area konservasi Pemberian informasi dalam cara yang terbatas dengan beban diletakan pada masyarakat untuk memberikan respon seperti dalam bentuk poster atau leaflet. Memiliki pelayanan yang berorientasi pada publik sebagai pelanggan (customer), seperti memperkenalkan kebijakan yang peduli pada pelanggan atau menyediakan sebuah skema untuk pengaduanpengaduan atau komentar-komentar Badan pemerintah secara aktif mendiskusikan berbagaiisu dengan masyarakat berkaitan dengan apa yang dipikirkan tentang aksi yang akan dilakukan terlebih dahulu. Sebagai contoh, berhubungan dengan kelompok penyewa atau survey kepuasan publik. Mengundang keterlibatan masyarakat untuk mengajukan proposal / usulan yang akan menjadi bahan pertimbangan badan pemerintah. Memecahkan masalah melalui kemitraan dengan masyarakat seperti kemitraan formal Memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk membuat keputusannya sendiri tentang beberapa isu, seperti pengelolaan tempat permuan warga. Mendelegasikan kekuasaan pembuatan keputusan secara terbatas dalam wilayah atau proyek tertentu, seperti organisasi pengelolaan penyewa dan dewan sekolah. Badan pemerintah diharuskan unrtuk menyediakan pelayanan tapi memilih pelaksanannya dengan menfasilitasi kelompok masyarakat dan / atau badan lainnya untuk memberikan pelayanan atas nama pemerintah, seperti pemberian kontrak pelayanan perawatan oleh sektor volunter / relawan Memindahkan kekuasaan pembuatan keputusan yang substansial kepada masyarakat, seperti organisiasi pengelolaan penyewaan.

Contoh Teknik
Catatan publik

2.

Limited Information

Press release, newsletter, dan kampanye Leaflet

3.

High Quality Information

4. 5.

Limited Consultation Customer Care

Pertemuan publik dan survey Kartu komentar, wawancara perorangan.

6.

Genuine Consultation

7. 8.

Effective Advisory Body Partnership

9.

Limited Decentralized Decision-Making Delegated Control

10.

Panel warga, lingkaran diskusi di tingkat distrik, diskusi kelompok terarah, pengukuran pendapat, panelpengguna, dan kelompok stakeholder Perencanaan nyata (planning for real), Dewan juri warga, pencarian prioritas Pilihan bersama (co-option), Kelompok-kelompok stakeholder, permainan disain Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang Penerapan teknik-teknik partisipatif dengan dukungan politis untuk mendelegasikan wewenang

11.

Independent Control

12.

Enrusted Control

BAPEDA KOTA DEPOK

45

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.7.

Tipologi Partisipasi Brager & Specht (1973).

Brager & Specht mengembangkan tipologi partisipasi tidak dalam bentuk jenjang tapi dalam bentuk kontinum, dilihat dari sisi pengendalian masyarakat / partisipan dalam proses perencanaan. Pada tingkat pengendalian yang tinggi, masyarakat memiliki dalam pelaksanaan kegiatan, sedangkan pada tingkat pengendalian masyarakat yang rendah boleh dikatakan tidak afda partisipasi samasekali. Tabel 9 . Tangga Partisipasi Masyarakat Brager & Specht (1973).
Pengendalian Tinggi Aksi Partisipan Has control (memiliki kontrol) Contoh Organisiasi / badan pemerintah meminta masyarakat untuk mengidentifikasi masalah dan membuat seluruh keputusan penting terhadap tujuan-tujuan dan langkah-langkah mencapainya. Badan pemerintah berkeinginan untuk membantu masyarakat pada tiap tahap untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Badan pemerintah mengidentifikasi dan menyodorkan sebuah masalah kepada masyarakat. Pemerintah menetapkan batasan masalah dan meminta masyarakat untuk membuat serangkaian keputusan yang dapat ditambahkan dalam sebuah rencana sehingga rencana itu dapat diterima. Badan pemerintah menyodorkan rencana tentatif (sementara) dan terbuka untuk perubahan dari mereka yang dipengaruhi oleh rencana itu. Badan pemerintah mempresentasikan sebuah saran dan mengundang pertanyaan. Disiapkan untuk perubahan rencana hanya jika betul-betul dibutuhkan. Badan pemerintah mencoba untuk mempromosikan sebuah rencana dan berkonsultasi dengan masyarakat sekadar untuk mengembangkan dukungan agar rencana itu dapat diterima, sehingga pemenuhan administraif dapat diharapkan Badan pemerintah membuat rencana dan mengumumkannya. Masyarakat diajak mengikuti pertemuan / rapat untuk tujuan mendapatkan informasi. Masyarakat tidak mendapatkan pemberitahuan apa pun.

Has delegated authority (memiliki kewenangan yang didelegasikan)

Plans jointly (merencanakan bersama) Advises (pemberian saran ) Is consulted (dikonsultasikan)

Receives information (menerima informasi) None (tidak ada)

Rendah

Sumber : Brager & Specht (1973), diacu dalam WHO (2002).

BAPEDA KOTA DEPOK

46

Kajian Perencanaan Partisipatif

2.3.4.8. Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Partisipasi Masyarakat Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi adanya tiga faktor utama yang mendukungnya, yaitu (1) kemauan, (2) kemampuan, dan (3) kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi (Slamet, 1992) diacu dalam Sumardjo dan Saharudin (2003). Menurut kemauan Sahidu (1998), faktor-faktor yang mempengaruhi adalah motif, tingkat harapan,

masyarakat

untuk

berpartisipasi

kebutuhan (needs), imbalan (rewards), dan penguasaan informasi. Faktor yang memberikan kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi adalah pengaturan dan pelayanan, kelembagaan, struktur dan stratifikasi sosial, budaya lokal, kepemimpinan, sarana dan prasarana. Sedangkan faktor yang mendorong adalah pendidikan, modal dan pengalaman yang dimiliki. Jika berpartisipasi bisa dianggap sebagai sebuah perilaku dari

masyarakat, dan partisipasi masyarakat juga berkaitan dengan perilaku pemerintah untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, maka setidaknya terdapat dua teori yang dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku masyarakat dan pemerintah ini. Yaitu, teori pilihan rasional (rational choices theory) theory). Menurut teori pilihan rasional, perilaku individu atau sebuah kelompok merupakan respon terhadap aturan (rules) dan insentif yang ada. Aturan ini dapat berupa aturan formal (peraturan perundang-undangan) maupun aturan non formal (misalnya, kesepakatan-kesepakatan warga), dapat dalam bentuk tertulis atau tidak tertulis. Insentif pun beragam mulai dari yang kasat mata dan bersifat ekonomi maupun yang tidak kasat mata dan teori normatif (normative

BAPEDA KOTA DEPOK

47

Faktor-Faktor Penghambat Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Para ahli telah mengidentifikasi hal-hal yang menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan. Sementara Abe (2001) mengidentifikasi setidaknya enam faktor penghambat masyarakat untuk berpartisipasi. yaitu: (1) keterbatasan BAPEDA KOTA DEPOK 48 . Logika ini merupakan hasil dari proses internalisasi yang memakan waktu yang relatif lama dalam diri seorang individu atau kelompok. dan kurang terbuka terhadap aspirasi masyarakat (budaya mencari selamat). (2) adanya reaksi yang menghambat proses pembangunan seperti keengganan masyarakat untuk ikut berperan serta seperti mengevaluasi proses pembangunan secara kritis dan terbuka (budaya diam). Sedangkan menurut teori normatif.3. dan informal) pada berbagai tingkatan. (3) adanya peraturan-peraturan pemerintah yang menghambat kemauan rakyat untuk berpartisipasi. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif dan bersifat non ekonomi.5. Jadi. Jadi yang menjadi pertimbangan adalah logika kepatutan (logic of approriateness). seorang berperilaku tertentu karena perilaku itu merupakan sesuatu yang memang patut dilakukan. atau melalui kampanye-kampanye publik melalui berbagai media. Partisipasi dipahami sebagai kemauan rakyat untuk mendukung program pembangunan yang dirancang dan ditentukan tujuannya oleh pemerintah. Ini merupakan hasil dari pendidikan (formal. Menurut Soetrisno (1995). faktor-faktor penghambat itu adalah: (1) belum dipahaminya konsep partisipasi oleh pihak perencana dan pelaksana pembangunan. maka perilaku itu merupakan pilihan rasional bagi yang bersangkutan dalam memberikan respon terhadap aturan main atau insentif yang ada. aparat bersikap otoriter. jika seseorang atau sebuah kelompok berperilaku partisipatif. nonformal.

pasif. Hambat-hambatan untuk berpartisipasi itu juga dapat dilihat dari sisi hambatan struktural. (2) masyarakat atau tokoh terpercaya belum sanggup atau kurang berani mengajukan bentuk atau cara pemecahan masalah yang diterima (acceptable) yang secara teknis dan keuangan dapat dilaksanakan. dimana ideologi yang dianut kurang mendukung keterbukaan. Hamijoyo (1993) mengidentifikasi beberapa faktor pengambat partisipasi masyarakat yang bersumber dari masyarakat itu sendiri. karena manfaat atau tujuan pembangunan masih kurang jelas bagi masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif pengetahuan masyarakat sehingga secara teknis sulit berpartisipasi (misalnya pendidikan yang rendah dan kemampuan baca tulis). (5) rakyat telah kehilangan institusi lokal. kurang respon terhadap suara rakyat. (3) tujuan partisipasi masyarakat kurang jelas. (3) rakyat berada dalam represi ideologi dimana kesadaran politik rakyat diduga merupakan kesadaran hasil bentukan negara. (6) langkanya kepercayaan diri. Hambatan struktural berasal dari lingkungan politik negara. sebagai akibat dari tekanan politik elit. hambatan administrasi dan hambatan sosial (Okley. yaitu: (1) masyarakat belum dapat menghayati atau merasakan masalah atau kepentingannya. (4) karena sebab-sebab terdahulu. (4) aspirasi yang disampaikan rakyat adalah aspirasi pantulan (refleksi) aspirasi negara. 1991). Hambatan administrasi adalah berupa prosedur perencanaan program dan proyek pembangunan yang tersentralisasi mengurangi keterlibatan lokal. sehingga rakyat tidak terbiasa jujur mengatakan apa adanya meskipun bertentangan dengan pemerintah. takut mengambil inisiatif dan hidup dalam budaya petunjuk. (2) masyarakat berada dalam politik sentralistik – otoriter sehingga membudaya politik ”mengekor”. Sedangkan hambatan sosial adalah masih terdapatnya mental ketergantungan dimana pada umumnya terdapat dominasi dari kelompok elit lokal. maka di antara masyarakat belum BAPEDA KOTA DEPOK 49 . dan sistem politiknya tersentralisasi.

(7) tidak ada peran yang cukup merata atau banyak peran terlalu diborong oleh orang-orang tertentu. (3) di kebanyakan negara. atau pimpinan kurang menunjukan hasil yang sebenarnya ada. (8) kebanyakan warga lokal belum melihat hasil pembangunan melalui partisipasi mereka. masyarakat tidak atau belum merasakan ada kegiatan yang cocok ataupun bermanfaat baginya. (2) harus ada tujuan yang realistis untuk partisipasi dan kelonggaran (toleransi) kenyataan bahwa beberapa tahap harus diberikan untuk seperti konsultasi perencanaan. sehingga aspirasi dan potensi warga kurang tersalur secara efektif dan efisien. (9) tidak ada organisasi yang cukup handal untuk mengelola partisipasi masyarakat. Uphoff dan Cernea (1988) mengidentifikasi beberapa cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan. Pembagian peran dan tanggung jawab dianggap kurang adil dan terbuka. ”perlengkapan khusus” untuk memperkenalkan dan BAPEDA KOTA DEPOK 50 . (b) faktor internal pemerintah. dan (c) faktor luar / eksternal. dapat dilihat bahwa faktorfaktor yang dapat menghambat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan dapat dalam bentuk: (a) faktor internal masyarakat. yaitu: (1) taraf partisipasi yang dikehendaki mesti diperjelas sejak semula dan dengan cara yang dapat diterima oleh semua pihak yang bersangkutan. (6) tidak ada semacam reference group yang merupakan fokus atau panutan bagi warga setempat. Jika ditelaah berbagai pendapat tersebut. tentang suatu rancangan mungkin membutuhkan waktu yang relatif lama atau berlarut-larut. (5) di wilayahnya sendiri. sedangkan tahap-tahap lainnya seperti pengalihan modal untuk poemanfaatan mungkin akan lebih singkat. rasa senasib sepenanggungan.Kajian Perencanaan Partisipatif ada atau bahkan tidak ada rasa keterikatan batin. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan partisipasi masyarakat dibutuhkan beberapa persyaratan untuk menjamin adanya partisipasi tersebut.

tingkat pengetahuan.4. kebutuhan dan tata nilai. Salah satu alasan mengapa melakukan perencanaan partisipatif sebelum mendisian sebuah program / proyek adalah bahwa sesungguhnya banyak pihak (stakeholders) yang berkepentingan di dalamnya. Perencanaan Partisipatif Pelaksanaan perencanaan partisipatif dapat dilakukan dalam pelaksanaan sebuah program atau proyek tertentu. serta motivasi aspirasi. 2. dan suatu mekanisme dimana seluruh stakeholders dapat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan. diacu dalam Abbas (2005). maka pihak yang seharusnya berkepentingan adalah stakeholders yang ada di kota itu. (4) mesti ada komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. Dengan demikian. sehingga partisipasi menjadi isu yang sangat penting dalam perencanaan dan implementasi suatu program / proyek. yaitu: (1) hasilnya bersifat alamiah dan tidak merupakan rekayasa. Karena itu perlu dibangun pelaksanaan. BAPEDA KOTA DEPOK 51 . Demikian halnya berkaitan dengan pembangunan skala kota (yang terdiri dari banyak program / proyek).Kajian Perencanaan Partisipatif mendukung partisipasi memang diperlukan. konsep stakeholders menjadi penting. dan dapat juga dalam konteks pembangunan skala kota. monitoring dan evaluasi. (2) masyarakat yang merupakan target merasa lebih memiliki dan memberikan kontribusi secara signifikan guna kesuksesan kegiatan. atau dengan kata lain kemauan baik saja belum cukup. Selanjutnya Bock (2001) menyatakan bahwa terdapat tiga keuntungan jika menggunakan proses partisipatif dalam perencanaan dan disain suatu kegiatan. karena sebagaimana dikemukakan oleh Warner (1997). para stakeholders berbeda dalam beberapa hal yakni keinginan.

Informasi. regulasi.Kajian Perencanaan Partisipatif dan (3) pemantauan kegiatan lebih mudah dilaksanakan dan lebih transparan. Informasi yang baik dan tepat sasaran seringkali menjadi pionir bagi keberhasilan suatu program. Tanpa informasi masyarakat tidak akan mengetahui berpartisipasi ”apa. untuk pemerintah mengetahui dan mengidentifikasi kebutuhan dan isu. dan akses yang terbuka terhadap pertemuan maupun dokumen-dokumen. Institusionalisasi partisipasi (forum) stakeholders. Intermediasi berguna untuk menfasilitasi partisipasi sehingga di dalamnya membutuhkan individu atau organisiasi guna memainkan fungsi intermediasi. melakukan stakeholders konsultasi dan negosiasi. kapan. Intermediasi. Perencanaan partisipatif juga penting untuk dapat mengetahui kebutuhan dan opini stakeholder terhadap program pembangunan yang akan dilaksanakan. Prinsip pokoknya agar stakeholders untuk adalah dibutuhkan koordinasi. Informasi dapat berupa publikasi media. 2. maka hak-hak dan proses partisipasi harus didefinisikan dalam pedoman teknis. 3. bagaimana. BAPEDA KOTA DEPOK 52 . Peran informasi sangat esensial sebagai wahana untuk menfasilitasi partisipasi. Mekanisme partisipasi harus diinstitusionalisasikan. diacu dalam Abbas 2005): 1. Dalam kaitan itu terdapat empat elemen kunci menuju kesuksesan perencanaan partisipatif oleh stakeholders (Takeda 2001. dimana dan merumuskan kebijakan pengembangan implementasinya. atau kebijakan dapat menfasilitasi di antara partisipasi kesediaan pemerintah. informasi siapa dan bagaimana” dan dapat dan tidak dalam proses perencanaan kebijakan implementasinya. Guna mencapainya. Tanpa dimana.

Dalam hal ini berpartisipasi dalam aktivitas harus menyediakan dan pembangunan sangat krusial kaitannya dengan proses pembangunan pemerintah memberdayakan stakeholders (terutama masyarakat) agar mampu menempatkan perannya dalam membuat inisiatif. Kota ini juga memiliki reputasi sebagai persatuan buruh serta berpengalaman memobilisasi rumah masyarakat madani progresif yang dipimpin oleh intelektual dan partisipasi masyarakat. Dalam kegiatan ini tidak ada intervensi dari eksekutif (pejabat kantor walikota). Brazil (World Bank.3 juta jiwa. • April sampai dengan Juni: Pertemuan Antara bagi delegasi untuk mempelajari prioritas kriteria teknis dan mendiskusikan Persiapan kebutuhan dan untuk setiap daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Siklus anggaran yang dimulai pada Maret – April. Inisiatif stakeholders untuk tersebut. kekayaan ekonominya sekitar US$ 7 miliar. berlangsung degan jadual sebagai berikut: • Maret: pertemuan informal antar warga untuk menentukan kebutuhan. pertemuan informal lingkungan yang kondusif untuk masyarakat BAPEDA KOTA DEPOK 53 . Kota ini secara konsisten menikmati satu dari standar kehidupan yang sangat tinggi dan tuan pendapatan perkapita yang tinggi dibandingkan dengan kota-kota di Brazil pada umumnya. • April: Sidang Pleno pertama dilaksanakan antara masyarakat dan para pejabat kantor walikota untuk menilai proyek-proyek tahun sebelumnya. Dengan penduduk 1. Salah satu model best practice tentang perencanaan dan penganggaran partisipatif dilakukan di Porto Alegre. mendiskusikan usulan-usulan baru dan memilih delegasi untuk pertemuan putaran kedua. sebuah kota industri di Rio Grande do Sul. Inisiatif. Sepanjang tahun dalam siklus anggaran partisipatif dari Porto Alegre telah mendapatkan perhatian untuk dicermati. misalnya dengan mengkondisikan berinisiatif. 2003).

aturan-aturan yang disepakati dan mengatur pertemuan selanjutnya. • • September: Anggaran baru disahkan oleh COP dan dikirim kepada legislatif untuk diadakan debat dan dikuasakan. dua dari masing-masing tema ditambah dua lainnya dari legislatif. (e) 30 km jalan diperbaiki setiap tahun. (d) jumlah anak-anak yang diterima di sekolah pemerintah menjadi dua kali lipat. Juli: 44 Konselor membentuk The Council of Participatory Budgeting (COP) – dua dari masing-masing 16 daerah. Dengan pendekatan seperti itu. • • Juni: pleno kedua dilaksanakan ketika para Konselor dipilih dan prioritas daerah sudah ditetapkan. Partai Buruh yang mengusulkan penganggaran partisipatif telah memenangkan tiga kali berturut-turut dalam pemilihan daerah di Porto Alegre. dan bekerja secara terpisah pada rencana investasi untuk masing-masing daerah. maka hal-hal yang telah dicapai antara lain: (a) sejak 1989. September sampai dengan Desember: COP menindaklanjuti debat dengan anggota legislatif. (c) antara 1989 dan 1996 persentase rumah tangga dengan kemudahan mendapatkan pelayanan air bersih meningkat dari 80% menjadi 98%. melobi. Eksekutif mengumpulkan semua usulan berdasarkan dua kriteria yaitu: (a) seberapa jauh akses ke daerah yang harus dilayani. • Juli – September: legislatif menjumpai setidaknya selama dua jam per minggu untuk mendiskusikan kriteria.Kajian Perencanaan Partisipatif dilaksanakan dengan masyarakat dan asosiaisi masyarakat untuk menetapkan peringkat kebutuhan. demikian seterusnya. alokasi sumber daya sebagaimana yang diusulkan pejabat kantor walikota. (f) karena transparansi menghasilkan sikap patuh membayar BAPEDA KOTA DEPOK 54 . (c) persentase penduduk yang mendapatkan pelayanan sistem pembuangan air limbah meningkat dari 46% menjadi 85%. kebutuhan masyarakat. (b) jumlah penduduknya. (b) sebuah jurnal bisnis yang berpengaruh telah menetapkan Porto Alegre sebagai masyarakat Brazil dengan ‘best quality of life” selama 4 tahun sejak 1989.

al. Komponen-komponen kunci dari modal sosial yang diidentifikasi Putnam (1993). serta oleh Knack dan Keefer (1997) adalah: (a) jaringan pertemuan / dialog masyarakat (network of civic engangement). dan (g) lebih dari 80 kota di Brazil mengikuti model Porto Alegre untuk penganggaran partisipatif. BAPEDA KOTA DEPOK 55 . mendefinisikan modal sosial sebagai gambaran kehidupan sosial yang memungkinkan para partisipan bertindak bersama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. Artinya. Modal Sosial Konsep modal sosial antara lain sering digunakan untuk menjelaskan mengapa satu kelompok masyarakat dapat bekerjasama untuk mencapai kemaslahatan / kepentingan bersama. 2. Akibat adanya saling percaya.Kajian Perencanaan Partisipatif pajak.5. Hubungan saling percaya (social trust) akan membangun kerjasama. maka para pihak tidak membutuhkan upaya untuk memonitor atau mengawasi pihak lain agar berperilaku seperti yang diharapkan. (b) norma-norma yang saling berinteraksi / timbal balik (norms of generalized reciprocity). saling percaya akan menghemat waktu dan biaya. dan (c) kepercayaan (Rustiadi et. yang kemudian akan menekan biaya transaksi antar mereka yang bekerja sama dan kemudian berarti menghemat penggunaan sumber daya.al (2006). Putnam (1993). 2006). Konsep modal sosial telah dipopulerkan oleh Putnam (1993) walaupun sebelumnya terlebih dahulu dikembangkan oleh Coleman (1988). maka penerimaan meningkat mendekati 50%. sementara kelompok masyarakat lainnya tidak dapat melakukannya. Fukuyama (1995). diacu dalam Rustiadi et.

dalam mencapai apa yang oleh anggota kelompok itu dianggap sebagai kepentingan bersama. Informasi sangatlah penting sebagai basis tindakan. Ketiga. baik secara langsung atau atas nama organisasi. Menurut Marshall (1998). dan ini yang perlu mendapat perhatian. yang diacu dalam Yustika (2006) menjelaskan tiga bentuk modal sosial: Pertama. Kedua.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut Coleman (1988). Tentu saja individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah) untuk memperolah informasi sehingga dapat dikatakan modal sosialnya tinggi. Konsep modal sosial berkaitan erat dengan konsep aksi kolektif (collective action). Dari perspektif ini. aksi kolektif adalah aksi yang dilakukan oleh sebuah kelompok. yang diacu dalam Knox dan Gupta (2000). struktur kewajiban (obligation). demikian pula sebaliknya. norma dan sanksi yang efektif (norms and effective sanctions). Pada level yang paling minimal. BAPEDA KOTA DEPOK 56 . bahwa informasi selalu terbatas. ekspektasi (expectations). dan kepercayaan (trustworthiness). bentuk modal sosial tergantung pada dua elemen kunci yaitu kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari kewajiban yang sudah dipenuhi. jaringan informasi (information channels). Aksi kolektif dilaksanakan secara sukarela oleh partisipannya yang membedakannya dengan usaha-usaha kolektif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pekerja yang dibayar. individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi yang sebaliknya. Norma dan sanksi efektif akan membangun dan menjaga perilaku yang diharapkan secara sosial sebagai upaya untuk mempertahankan level modal sosial yang terbentuk. Dalam konteks ini.

Konsep Biaya Transaksi Konsep biaya transaksi dipaparkan dalam kajian ini. Keengganan berbagai pihak di pemerintahan untuk menerapkan proses partisipatif antara lain dilatarbelakangi oleh faktor biaya ini. maka instansi pemerintah harus berbagi otonomi / peran dengan masyarakat. kegiatan (provider) menjadi katalisator. (c) ukuran kelompok (group size). penyelenggara pertemuan (convener) dan fasilitator (Crocker et al.6. BAPEDA KOTA DEPOK 57 . Untuk membangun modal sosial secara efektif sehingga memunculkan aksi kolektif. pembuat aturan (regulator). dalam arti perannya harus bergeser dari yang semula sebagai pengontrol (controller). diacu dalam Rustiadi 2. bukti bahwa manfaat Meskipun terdapat banyak manfaat non bersifat material juga mempengaruhi material yang diperoleh dari aksi-aksi kolektif. masalah-masalah individu penting dalam aksi kolektif adalah: (a) munculnya perilaku free ridding (penunggang gratis) sehubungan keinginan untuk memaksimumkan utilitasnya. (d) masalah koordinasi antar pelaku. bahwa setiap aksi kolektif senantiasa melibatkan organisasi untuk mendisain aturan-aturan main dan melaksanakan aksiaksi yang disepakati. dan menegakkan aturan-aturan yang telah diterima. dan pelaksana 2006). Menurut Eggertsson dengan (1990). yang dianggap akan memberikan manfaat bagi kelompok. namun terdapat banyak yang kemunculan berbagai aksi kolektif. menggalang proses partisipasi. (b) biaya aksi kolektif (collective action cost) sehubungan dengan pembuatan dan penegakan kesepakatan.Kajian Perencanaan Partisipatif Lebih lanjut dijelaskan. karena berbagai ikhtiar untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan akan senantiasa membutuhkan biaya.

Karena itu biaya transaksi didefinikasi sebagai biaya-biaya untuk melakukan negosiasi. Hal ini dapat terjadi karena kedekatan hubungan di dalam komunitas (keluarga. dimana informasi. biaya transaksi merupakan salah satu alat analisis yang sering digunakan untuk mengukur efisien tidaknya suatu disain kelembagaan. BAPEDA KOTA DEPOK 58 . North (1990). biaya transaksi biasanya rendah. Semakin tinggi biaya transaksi untuk mewujudkan disain kelembagaan. sebaliknya.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam ilmu ekonomi kelembagaan. berpendapat bahwa biaya untuk mencari informasi merupakan kunci dari biaya transaksi. sehingga menghasilkan biaya yang rendah. dan pemaksanaan pertukaran (Yustika. maka kian tidak efisien kelembagaan yang didisain itu. tetangga). Pandangan ekonomi neoklasik didasarkan pada anggapan bahwa pasar berjalan sempurna tanpa biaya apapun (costless) karena pembeli (consumers) dianggap memiliki informasi yang sempurna dan penjual fakta yang ada menunjukan (producers) saling berkompetisi. Namun pada kenyataannya. North memberikan isustrasi bahwa dalam komunitas pedesaan di negara berkembang. Inilah yang menimbulkan biaya transaksi. Namun konsep ini kemudian digunakan juga untuk menjadi ukuran dalam proses-proses membangun kesepakatan dalam rangka peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Awalnya konsep biaya transaksi ini diterapkan dalam transaksi ekonomi (jual beli). yang terdiri atas biaya untuk mengerjakan yang pengukuran dan perlengkapanongkos untuk perlengkapan (atributes) dipertukarkan melindungi hak-hak kepemilikan (property rights) dan menegakkan kesepakatan (enforcing agreements). kompetisi. diacu dalam Yustika (2006). pengukuran. 2006). sistem kontrak dan proses transaksi jual beli dapat sangat asimetris.

konsep biaya transaksi saat yang dibutuhkan ini telah digunakan membangun untuk dan menganalisis biaya untuk mengimplementasikan kesepakatan di sektor non ekonomi. modal. Semakin kompleks dan impersonal jaringan perdagangan. serta biaya yang dibutuhkan untuk resolusi konflik-konflik yang timbul akibat penerapan dari aturan main tersebut. seperti penegakan kesepakatan-kesepakatan pada tingkat stakeholders. Schroeder dan Waynne 1993. (b) biaya informasi (information costs). Meskipun awalnya muncul untuk menelaah aktifivitas yang murni ekonomi. diacu dalam Nugroho 2006 adalah: (a) biaya koordinasi (coordinating costs). dan biaya finansial yang dibutuhkan untuk mencapai sebuah keputusan. pengawasan. Ini mencakup berbagai biaya yang dibutuhkan untuk membangun aturan main dan sampai bagaimana aturan main itu diterima. yaitu biaya-biaya yang diperlukan untuk mencari dan BAPEDA KOTA DEPOK 59 .Kajian Perencanaan Partisipatif sehingga informasi tentang aktifitas-aktifitas dalam komunitas tersedia secara luas dan bebas. usaha. Komponen-komponen biaya transaksi menurut Ostrom. struktur sosial (orang tua dan figur kepemimpinan lain yang dihormati) memberikan mekanisme yang sangat penting bagi penegakan kesepakatan dan memberikan resolusi apabila ada konflik di antara anggota komunitas. Tetapi. yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk waktu. 2006). definisi biaya transaksi yang dapat digunakan adalah sebagaimana yang dikemukakan Thomson dan Freudenberger (1997). Sementara itu. dan personil yang diinvestasikan dalam negosiasi. material. masyarakat harus berdagang / bertransaksi dengan orang lain di luar komunitas desanya. Berkenaan dengan itu. dan penegakan kesepakatan di antara pelaku. Mereka berpendapat bahwa biaya transaksi adalah berkaitan dengan waktu. agar kegiatan ekonomi terus berlanjut dan dalam jangkauan yang luas. dan pada jarak yang semakin jauh. maka semakin tinggi biaya transaksi yang muncul (Yustika.

BAPEDA KOTA DEPOK 60 .7.Kajian Perencanaan Partisipatif mengorganisasikan data. dan dalam waktu yang sama juga membutuhkan negara yang kuat. yang diacu dalam Zakaria et al (2001). tapi juga mencakup akses warga untuk mengidentifikasi prioritas lokal. melalui perwakilan yang penuh dalam proses pemerintahan.1. 2. Konsep tentang Warga (Citizen) Penelitian yang dilakukan di 47 negara-negara Commenwealth (bekas jajahan Inggris) menemukan bahwa warga negara menginginkan peran yang lebih besar dalam sistem kepemerintahan. dan (c) biaya strategi (strategic costs). merencanakan dan melaksanakan program. kekuasaan. dan suimberdaya lainnya yang tidak sepadan di antara pelaku.7. Temuan ini menimbulkan pertanyaan partisipasi kunci warga bagaimana dan caranya agar peningkatan yang kualitas bisa penciptaan pemerintahan efektif berlangsung secara bersamaan? Menurut Cornwall & Gaventa (2000). rent seeking. dan korupsi. Dengan demikian. dengan mendudukan warga sebagai aktor kunci pembuat kebijakan. formasi pemerintahan yang mengaitkan warga secara langsung menuntut sebuah pendekatan partisipasi warga yang memungkinkan warga. termasuk biaya atas kesalahan informasi sebagai akibat kesenjangan pengetahuan. Forum Warga 2. yaitu biaya yang dikeluarkan sebagai akibat informasi. di mana pun dan siapa pun dia. menjadi pembuat dan penentu keputusan. partisipasi warga tidak terbatas pada partisipasi politik yang terbatas pada kampanye dan pemilihan umum. umumnya berupa pengeluaran untuk membiayai aktivitas free riding.

dengan partisipasi warga dimana warga masyarakat datang untuk membangun ruangnya sendiri dan melakukan perubahan menurut strateginya sendiri (Cornwall. Pemberian saluran dan strategi yang meningkatkan akses dari non-elit kepada pembuatan kebijakan dan implementasinya. perlu menjadi salah satu agenda utama. agar dapat mengatur tata hubungan yang baru yang dilandasi oleh rasa saling percaya dan kerjasama untuk maju. yang diacu dalam Zakaria et al 2001). Lebih jauh Cornwall menyatakan. Cornwall membedakan antara partisipasi yang dipaksakan dan partisipasi karena diundang (induced and invited participation) melalui kelompok pemanfaat. BAPEDA KOTA DEPOK 61 . rekonseptualisasi kewargaan akhirnya menempatkan warga sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ (as the exercise of agency). yang secara historis aksesnya telah diabaikan dalam realita pembuatan kebijakan publik. juga menuntut pemahaman baru tentang apa yang dimaksud dengan tata kelola kepemerintahan (governance).Kajian Perencanaan Partisipatif Dengan mengamati sejarah partisipasi sejak tahun 1970-an hingga saat ini. dan sejenisnya. Namun. 2001. Pemahaman baru partisipasi warga sebagai hak. khususnya jika sektor masyarakat. proyek penelitian the Comenwealth Foundation menyimpulkan bahwa demokrasi perwakilan dan institusi-institusi negara dan pemerintahan yang dikenal dewasa ini tidak mampu lagi melayani warga negara atau memastikan pemerintahan yang baik (good governance) di masa depan. ingin dilibatkan (Fung & Wright. misalnya. aturan dan mekanisme untuk keterkaitan langsung ini perlu dimantapkan. dan sebagai ruang beraktifitas. Berkaitan dengan demokrasi partisipatif. 2000). Pemaknaan kewargaan sebagai ’pihak yang dapat bertindak’ ini menjadi dasar dari sebuah pendekatan yang lebih inklusif dengan sejumlah hak yang dikembangkan oleh warga itu sendiri. Akibatnya. Selayaknya warga dapat terkait dengan pemerintahan lokal melalui wakil-wakilnya dan juga melalui sistem demokrasi partisipatif. konsultasi. ketimbang konsep warga sebagai kumpulan hak.

pengembangan kreatifitas dan dalam pemberikan masukan atau nasehat dalam forum tersebut.7. Menyusun program kegiatan dan alokasi dana operasional dewan ketetanggaan. Mulai dari forum warga yang merupakan forum yang berbasiskan ketetanggaan sampai forum stakeholders yang keanggotaannya skala kota. 4.2. forum warga yang berbasiskan ketetanggaan merupakan suatu forum diskusi antara masyarakat dalam pengambilan keputusan termasuk dalam hal penegakan hukum. Membantu asosiasi / perkumpulan / lembaga ketetanggaan dalam menentukan skala prioritas pembangunan serta mengontrol kualitas pelayanan di wilayahnya. 3. Untuk menyelaraskan keinginan dan pandangan masyarakat dengan program kegiatan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tujuan diadakannya forum warga berbasiskan ketetanggaan adalah: 1. 2. 6. 2. pemberian insiatif. Mewajibkan aparat dewan ketetanggaan mengundang pemerintah untuk menghadiri forum ketetanggaan untuk melaporkan kegiatankegiatan yang telah dilaksanakan. Menurut Burns (1994). Menyelenggarakan kerangka kerja dalam memberikan kesempatan yang sama. BAPEDA KOTA DEPOK 62 . Pengertian Forum Warga Forum warga dapat memiliki skala cakupan geografis yang beragam. 5.Kajian Perencanaan Partisipatif warga negara dan petugas-petugas pemerintahan yang progresif harus mencari terobosan untuk menghubungkan kembali warga negara dengan negara (Zakaria et al 2001). Sebagai wahana diskusi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan.

BAPEDA KOTA DEPOK 63 . Dari pandangan Burns tersebut. Setiap kelompok masyarakat mempunyai perwakilan dalam forum. nampak bahwa ia menekankan sistem perwakilan dimana wakil-wakil dari kelompok masyarakat tersebut dipilih melalui tiga metode antara lain melalui pemilihan. 1994). juga untuk meningkatkan menghargai secara mengurangi kegelisahan. antara lain: kelompok muda di bawah 21 tahun etnis minoritas kelompok orang cacat baik secara fisik ataupun mental perkumpulan wanita kelompok orang yang telah pensiun. 2. ketidakpercayaan terhadap orang lain. tetapi tidak mempunyai hak suara dalam forum. Burns mengusulkan beberapa hal yang dapat menjadi ketentuan dalam pelaksanaan forum komunikasi ketetanggaan tersebut. Selanjutnya diharapkan forum warga tersebut dapat memberikan peran kepada demokrasi lokal dengan meningkatkan jaringan kesempatan kepada masyarakat daerah untuk terlibat dalam politik daerah (Burns. Pendekatan ini tidak hanya kapasitas masyarakat untuk untuk membangun kebiasaan perbedaan pendapat.Kajian Perencanaan Partisipatif Tugas dari organisasi forum warga adalah membentuk prakondisi untuk menjamin bahwa bentuk dasar dari proses pemberdayaan dapat berlangsung. 3. antara lain: 1. pengangkatan / penunjukan dari kelompok ataupun campuran dari keduanya. Pelaksana kegiatan forum warga adalah aparat / pimpinan yang bekerja pada asosiasi / perkumpulan / lembaga forum ketetanggaan tersebut. dapat masyarakat lokal dalam kegiatan sosial. dan melaksanakan pembangunan sektoral. Anggota forum warga adalah masyarakat yang bertempat tinggal di wilayah tersebut.

BAPEDA KOTA DEPOK 64 . Renstra Lmbaga. pengertian forum warga adalah rapat pertemuan untuk mengkonsultasikan dan mensikronkan program pembangunan daerah. dan yang bersifat vertikal (Popenas. dan kesepakatan. Rencana Srategis). perencanaan. Media untuk demokratisasi memadukan perencanaan berbagai alur yaitu meningkatkan forum keterlibatan para pelaku untuk secara aktif mengambil keputusan. dimana forum merupakan instrumen untuk meningkatkan 4. menjembatani. 2. Propeda Propinsi) serta perencanaan yang bottom up (Repetada Kecamatan / Kelurahan). Berdasarkan hasil workshop ”Pedoman Penyelenggaraan Rakorbang 2002 dan Repetada 2003” yang dirangkum oleh Perform Project dan USAID. mempertemukan.Kajian Perencanaan Partisipatif Forum warga juga merujuk pada forum perencanaan pembangunan skala kota. Media mengembangkan komitmen. Lebih lanjut workshop itu juga menyepakati bahwa peranan dan fungsi forum koordinasi pembangunan di era desentralisasi di Indonesia antara lain: 1. dimana penggunaan kata forum ditujukan untuk lebih mengedepankan suasana konsultatif dan dialog yang diperlukan dalam proses pengambilan keputusan. dimana forum penanganan didorong untuk menghasilkan konsensus tentang isu-isu strategis dan menghasilkan kesepakatan (agreements) dan komitmen di antara pada pelaku pembangunan untuk mengimplementasikan usulan-usulan. konsensus. Media meningkatkan keterlibatan para pelaku pembangunan dalam pengambilan keputusan. dan memadukan berbagai alur perencanaan baik yang bersifat horisontal (Rencana Tata Ruang Wilayah. dimana suasana forum perlu diusahakan sekondusif mungkin bagi terwujudnya komunikasi dan konsultasi yang efektif di antara para pelaku pembangunan. 3. Sebagai media komunikasi dan konsultasi.

Senada dengan itu. kelompok kepentingan tertentu dan pebisnis lokal. bakat.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Refleksi diri atas relasi sosial yang bermakna dan penciptaan impian bersama bersifat fundamental dan mendasar dalam pendekatan ini. 2. keahlian dan sumber daya di dalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri. Refleksi mempunyai peran penting dalam mewujudkan BAPEDA KOTA DEPOK 65 . Pengertian Appreciative Inquiry.8. tokoh agama dan organisasi sosial yang dilaksanakan secara reguler. dimana hal tersebut sebaiknya dipercayakan kepada organisasi pembangunan tertentu. 2.8. Media resolusi konflik kepentingan. politikus. Forum warga merupakan pertemuan masyarakat yang terdiri dari aktivis masyarakat. disingkat AI. Pendekatan ini berpijak pada asumsi bahwa selalu terdapat berbagai cerita sukses. dimana forum berfungsi sebagai wadah mediasi untuk mengatasi berbagai konflik kepentingan antar pelaku pembangunan untuk menghasilkan solusi yang optimal. adalah sebuah pendekatan yang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas. Forum warga merupakan badan yang bertanggung jawab menetapkan dan mengawasi struktur dan mekanisme pelayanan masyarakat di wilayah masyarakat tersebut.1. Pendekatan Appreciative Inquiry 2. untuk mendiskusikan permasalahan dan kegiatan lokal dan membangun jaringan antar pelaku secara berkelanjutan Manifesto ini mengingatkan bahwa keberadaan forum ini tidak baik apabila mengubah fokus diskusi menjadi pelaksana. terdapat beberapa fungsi forum warga menurut Labour Party Manifesto sebagaimana diacu dalam Burns (1994): 1.

Penggerak program justru berasal dari jaringan lokal dan akan terus berperan sebagai fasilitator dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosial di kemudian hari. 2001). sementara pendekatan Appreciative inquiry terfokus pada pencarian kekuatan dan inti positif komunitas untuk membangun visi yang harus diraih bersama. mampu Fasilitasi dilakukan dalam rangka melakukan pengorganisasian bersama didasarkan pandangan mengorganisasikan dirinya sendiri dan mampu memberikan kontribusi positif terhadap komunitasnya. Aktivitas diawali dengan mengapresiasi apa yang terbaik dalam komunitas. BAPEDA KOTA DEPOK 66 . Efek dari Appreciative inquiry adalah masyarakat yang percaya diri. antusias dan semangat positif untuk selalu mewujudkan impian bersama. Berbagai untuk pengalaman dalam penerapan kecil appreciative yang inquiry ini dalam menemukan bahwa penerapannya melahirkan sebuah semangat positif melakukan langkah-langkah bermakna mewujudkan kondisi masa depan yang diidamkan. Charles Elliott. 2002.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipasi yang aktif komunitas pada dalam memberdayakan bahwa semua dirinya orang sendiri. Nepal. penciptaan impian komunitas. dan melakukan tindakan yang berbasis pada inti positif. Bila pendekatan lama berbasis pada motif untuk keluar dari masalah. Appreciative inquiry merupakan sebuah pendekatan yang sangat baru dalam khasanah pengembangan komunitas dan juga pengentasan kemiskinan di Indonesia. perancangan tindakan. Sebagaimana efek yang muncul ketika Appreciative Inquiry diterapkan di Srilanka. Cina dan Afrika (Mc Oddel.

Dream. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. 2004). Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan menciptakan Tahapan ini masyarakat proses untuk membangun dan anggota harapan. proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang ada.2. 2001 & der Haar dan Hosking. Dream. Tujuannya adalah berimajinasi (envision) tentang masyarakat yang ideal di masa depan. Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney. Design. a. b. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan masyarakat. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang. pekerjaan dan komunitasnya. e. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud. menyesuaikan setiap berimprovisasi. melakukan memberdayakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan masyarakat. Discovery. Discovery.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. Destiny. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak baik pada level individu maupun level masyarakat. c. d. BAPEDA KOTA DEPOK 67 . Definition.8. Langkah Dasar Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition. untuk dan belajar. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain struktur masyarakat.

suka menceritakan dan mendengarkan berbagai kisah. Appreciative Inquiry menciptakan kesempatan bagi setiap orang untuk didengarkan. Manusia menyampaikan berbagai nilai. Dan manusia merasa senang ketika melakukan sesuatu dengan baik di hadapan orang-orang yang disayangi dan dihormati.3. BAPEDA KOTA DEPOK 68 . c. b. Appreciative Inquiry memungkinkan para pemimpin untuk menciptakan berbagai organisasi manusia yang alami— yakni sarat-pengetahuan. A. Appreciative Inquiry menciptakan lingkungan tempat setiap orang dapat memilih cara dalam memberikan kontribusi. dan kearifannya lewat kisahkisah yang dituturkan. daripada karena peran yang dibawakannya.8.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. kepercayaan. serta mampu melakukan pembelajaran organisasi secara adaptif (Whitney. Appreciative Inquiry membangun hubungan yang memungkinkan orang untuk dikenal karena hubungannya dengan orang lain. Appreciative Inquiry memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk bermimpi dan berbagi impian. berbasiskelebihan. Manusia suka belajar dan menggunakan apa yang dipelajari untuk meraih yang terbaik. D & Trosten-Bloom. 2003). Appreciative Inquiry memberikan keleluasaan dan dukungan untuk bertindak. d. Manusia memiliki rasa ingin tahu. e. Manusia menjalin hubungan dengan orang lain dan menciptakan identitas dan pengetahuannya dalam kesalinghubungan dengan orang lain. Mengapa Appreciative Inquiry Berhasil? Appreciative Inquiry dapat berjalan karena pendekatan ini memperlakukan manusia sebagai manusia. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Whitney dan Tristen-Bloom (2003) menunjukkan bahwa Appreciative Inquiry dapat berhasil karena: a. dan bukan sebagai kumpulan angka (misalnya sebagai persentasi jumlah orang miskin) dan bukan pula sebagai kumpulan pembuat masalah.

Appreciative Inquiry mendorong dan memungkinkan orang bersikap positif. BAPEDA KOTA DEPOK 69 . baik dalam organisasi. Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan yang telah dikenal selama ini yaitu pendekatan hadap masalah (problem posing) atau penyelesaian masalah (problem solving) dimana fokus perhatian dari pendampingan adalah membantu rakyat mengatasi masalah yang mereka hadapi. Pusat Kajian Bina Swadaya (2007) memperkenalkan Model Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA). Upaya penyelesaian masalah ini diawali dengan identifikasi masalah yang diikuti dengan analisa dan perumusan rencana tindakan untuk mengatasi masalah. Tabel 10. Tabel berikut menjelaskan perbedaan antara pendekatan pemecahan masalah dengan PKA. Perbedaan Pendekatan Problem Solving dengan KPA KPA • Menemukan apa yang baik dan positif dari rakyat • Merumuskan apa yang ingin diwujudkan rakyat ke depan • Merancang langkah-langkah untuk mewujudkan keinginan / harapan rakyat • Mewujudkan keinginan / harapan dengan mendampingi rakyat melaksanakan kegiatan yang sesuai.8.Kajian Perencanaan Partisipatif f. Problem Solving • Menemukan masalah apa yang dihadapi rakyat • Menganalisis masalah untuk menemukan akar masalah • Merancang langkah-langkah untuk menjawab akar masalah • Melaksanakan kegiatan yang sesuai Sumber : Puska Bina Swadaya (2007). 2. Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry. maupun komunitas. lingkungan.4. Ini merupakan proses mengkaji bersama yang dilandasi oleh sikap mental berpikir positif dan terbukti sangat efektif untuk melakukan perubahan dan transformasi secara positif.

dan mewujudkan (deliver). Kelompok menyusun strategi dan langkah-langkah untuk mewujudkan tujuan jangka pendek dan panjang. suatu proses idealisasi. setiap orang diberi kesempatan untuk membagikan (sharing) pengalaman-pengalaman terbaik yang pernah dicapai dan kapan terjadi. Masyarakat dapat mengubah situasi yang dihadapi dengan situasi yang lebih baik. Fokus tahap rancangan adalah menentukan apa yang akan dilakukan. dll). kesamaan kepentingan. penerimaan. menemukan (discover). yaitu sesuatu yang mengimajinasikan menggetarkan. Tahap mendefinisikan berkaitan erat dengan prinsip-prinsip. Kebutuhan imajinasi dan daya kreasi sangat penting ditumbuhkan pada tahap ini. bagaimana kelompok didefinisikan (berdasarkan geografis.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam pemberdayaan masyarakat. Mendefinisikan (define). dan sumber – sumber kekuatan mereka. BAPEDA KOTA DEPOK 70 . saling menghormati perbedaan. keterbukaan). Kelompok akan bekerja sesuai dengan tujuan dan arah yang telah ditetapkan Menemukan (discover). Dalam tahap ini adalah penting untuk membangun pemahaman dan kesadaran terhadap pendekatan KPA bagi setiap anggota kelompok (kondisi pembelajaran yang diinginkan adalah: setiap orang aktif untuk belajar dan berkontribusi. keunggulan-keunggulan dan prestasi-prestasi kelompok. Tahap ini diawali dengan penentuan kelompok. mengimpikan (dream). kepercayaan. Mengimpikan (dream). Tahap ini dapat disebut suatu konstruksi dari bangun sosial yang akan diciptakan. Kelompok mendiskusikan apa yang ingin mereka wujudkan. Merancang (design). merancang (design). penerapan KPA dilakukan melalui tahapan mendefinisikan (define). Pada tahap menemukan ini.

BAPEDA KOTA DEPOK 71 .Kajian Perencanaan Partisipatif Mewujudkan (deliver). Pada tahap ini kelompok merealisiasikan rencana aksi. memperoleh ketrampilan-ketrampilan baru dan mengimplementasikan rencana aksi mereka. Kelompok memobilisasi sumberdaya. mengembangkan hubunganhubungan baru.

Diprediksikan dimasa depan tekanan terhadap lingkungan hidup akan semakin berat. Kondisi geomorfologi dan lingkungan hidup Kota Depok saat ini sudah mengalami tekanan yang sangat berat akibat pertumbuhan penduduk dan persaingan untuk mendapatkan sumberdaya lahan. jumlah angkatan kerja. yaitu struktur ekonomi modern yang bertumpu pada sektor tersier dan didukung sektor Sekunder. 2. Kondisi demografi Kota Depok saat ini dihadapkan dengan jumlah permasalahan kepadatan penduduk. Kondisi ekonomi dan sumber daya alam Kota Depok saat ini sudah mengarah pada struktur ekonomi tertentu. pencari kerja dan sebagainya. BAPEDA KOTA DEPOK 72 . sumber daya air dan sumber daya lainnya. Visi Pembangunan Daerah Analisis kondisi umum daerah saat ini dan prediksi kondisi umum ke depan mengemukakan hal-hal berikut : 1.Kajian Perencanaan Partisipatif 3. Dimasa depan diprediksikan bahwa tumpuan utama ekonomi Kota Depok akan bertumpu ke sektor tersier. Prediksi kondisi demografi dimasa mendatang mengindikasikan adanya peningkatan intensitas terhadap permasalahan-permasalahan demografis tersebut.1. 3. sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Kota Depok.

kondisi sosial budaya yang ada akan terus berkembang mengikuti perkembangan zaman. YANG RELIGIUS DAN tahun akan semakin kecil akibat tidak sebandingnya pertumbuhan jumlah penduduk dengan pertumbuhan jumlah sarana BERWAWASAN LINGKUNGAN “ Visi pembangunan Kota Depok tahun 2006-2025 ini merupakan komitmen politis yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional seperti tertuang dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia dan tujuan pembangunan Provinsi Jawa Barat yang menetapkan Kota Depok sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 73 . Diprediksikan dimasa depan tuntutan terhadap kinerja pemerintahan akan semakin tinggi dengan kinerja pelayanan yang diharapkan adalah pelayanan prima. 5. Budaya dan Ekonomi yang dimiliki. Sumber Daya Sosial. Kondisi sosial budaya Kota Depok saat ini sudah mengarah pada budaya metropolis yang multi etnis dan dengan latarbelakang beragam tingkat intelektualitas. Dimasa depan. walaupun masih kurang dalam segi rasio kuantitas per penduduk. Di masa depan diprediksikan rasio jumlah sarana dan prasarana per penduduk di Kota Depok dan prasarana.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Berdasarkan kondisi diatas. Kondisi pemerintahan Kota Depok saat ini semakin dituntut untuk meningkatkan kinerja pelayanan yang berkualitas. tantangan dan prediksi yang akan dihadapi dalam 20 tahun mendatang serta dengan mempertimbangkan modal dasar berupa Sumber Daya Manusia. 6. Kondisi sarana dan prasarana Kota Depok saat ini cukup baik dalam segi kualitas. terutama rasio rumah sakit umum per penduduk. maka Visi Pembangunan Kota Depok 2006-2025 adalah : “ DEPOK KOTA NIAGA DAN JASA.

Kota Niaga dan Jasa Terwujudnya Kota Depok sebagai kota yang menjamin akses dan mobilitas kegiatan niaga dan jasa yang kompetitif. c. BAPEDA KOTA DEPOK 74 . kenyamanan mencari penghidupan. Kota Berwawasan Lingkungan Terwujudnya Depok sebagai kota yang memanfaatkan sumber daya alam secara optimal dengan mengindahkan kelestarian dan kelangsungannya untuk generasi yang akan datang. serta kemulian dalam akhlak. b. yang tercermin dalam peningkatan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dari penjelasan diatas. Kota Religius Terwujudnya masyarakat Depok yang menjalankan kewajiban agama bagi masing-masing pemeluknya. dengan memperhatikan kenyamanan kegiatan lingkungan. moral dan etika. Visi Kota Depok mengarahkan kepada masyarakat dan Pemerintah Daerah Kota Depok untuk fokus kepada bidang-bidang ekonomi yang menjadi tumpuan utama Kota Depok saat ini dan dimasa mendatang. kenyamanan melaksanakan keagamaan. kenyamanan dalam memperoleh pendidikan. dan perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.Kajian Perencanaan Partisipatif Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan salah satu kawasan andalan/kegiatan utama berupa Jasa dan Sumberdaya Manusia. kenyamanan menggunakan sarana dan prasarana umum. Visi Kota Depok mengandung makna sebagai berikut : a. peningkatan kenyamanan kota. Sebagai gambaran kualitatif. kegiatan sosial ekonomi serta dan upaya konservasi. yang didukung oleh basis pendidikan dan potensi lokal. yang tercermin dalam pemanfaatan ruang yang serasi antara untuk permukiman. terpelihara termanfaatkannya keanekaragaman hayati sebagai modal dasar pembangunan.

3. Mengelola perekonomian daerah secara fokus. baik. mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan tertinggi. efisien dan efektif. 3. 3. Dalam mewujudkan visi pembangunan daerah diatas. 4. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal seluruh potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkungan. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang. 5. Membangun sumberdaya manusia yang berdaya saing di lingkungan nasional dan internasional melalui peningkatan kualitas pendidikan.2 Misi Pembangunan Daerah.Kajian Perencanaan Partisipatif serta kenyamanan dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah daerah. maka ditempuh melalui 5 (lima) misi pembangunan daerah sebagai berikut : 1. Pembangunan perekonomian diarahkan dalam rangka penguatan pereknomian lokal serta berorientasi dan berdaya saing regional dan BAPEDA KOTA DEPOK 75 . dengan 2. Kebijakan Umum Mengeloa perekonomian daerah secara fokus. Menata sistem pemerintahan yang profesional. demokratis. efisien dan efektif dengan mengutamakan perhatian kepada sektor-sektor yang memberikan nilai tambah dan pertumbuhan yang tinggi. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagamaan. hukum dan sosial budaya. transparan. 1. dan bertanggung jawab.3. bersih.

Peningkatan investasi daerah dengan mewujudkan iklim investasi yang menarik.Kajian Perencanaan Partisipatif global. 5. Pemanfaatan sumberdaya alam dan kegiatan ekonomi diarahkan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya secara rasional. transportasi propinsi. Perekonomian dikembnagkan dalam rangka perluasan kesempatan berusaha dan bekerja bagi seluruh masyarakat dan mendorong tercapaianya penanggulangan kemiskinan 3. Peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga menjadi bagian integral dari keseluruhan kegiatan ekonomi daerah. 3. penciptaan lingkungan usaha yang kondusif dan terjaganya keberlangsungan mekanisme pasar. pusat ke kawasan-kawasan simpul atau beberapa internasional. sektor sekunder dan tersier merupakan unggulan 2. yaitu sebagai sabagai dengan pintu pusat gerbang jasa. 2. Menangkap peluang sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Memanfaatkan letak geografis yang berdekatan dengan ibukota negara sebagai pasar produk ekonomi yang terbuka luas. 4. yang didukung oleh sektor primer unggulan. pengolahan. sekala pelayanan nasional BAPEDA KOTA DEPOK 76 . Peningkatan peran pemerintah daerah sebagai fasilitator. Dalam kaitan ini. atau motor penggerak yang perlu mendapat fokus perhatian. regulator dan katalisator pembangunan ekonomi yang efisien dan efektif terutama dalam pelayanan publik. serta peluang berusaha/ekonomi sebagai limpahan kegiatan ekonomi ibukota. 1. Memanfaatkan dan mengelola secara optimal potensi letak geografis sesuai dengan daya dukung lingkugan. dan meningkatkan kapasitas infrastruktur fisik dan pendukung yang memadai.

khususnya sumberdaya air dan mencegah terjadinya pencemaran dan kerusakan lingkungan. memupuk etos kerja. yang dilandasi oleh nilai-nilai keagaman. jumlah dan laju pertumbuhan penduduk. 1. menghargai prestasi. berakhlak mulia. Penekanan diberikan pada peningkatan perilaku dan kemandirian masyarakat serta upaya promotif dan preventif. kesehatan dan agama yang bermutu. membina akhlak mulia. Membangun lingkungan sumberdaya nasional dan manusia yang berdaya melalui saing di internasional peningkatan kualitas pendidikan. pemberdayaan perempuan dan anak serta pemuda. 3. 4. Pembangunan pendidikan diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berharkat. dan menjadi kekuatan pendorong guna mencapai kemajuan dalam pembangunan spiritual. hukum dan sosial budaya. disesuaikan dengan pembangunan sosial ekonomi masa depan dan perkembangan iptek sehingga bisa besaing dalam era global.Kajian Perencanaan Partisipatif optimal dan bertanggungjawab. BAPEDA KOTA DEPOK 77 . pengendalian 2. yaitu dengan menjaga dan melestarikan sumberdaya alam. Pembangunan sumberdaya manusia yang berdaya saing diarahkan untuk menciptakan sumberdaya manusia yang berkualitas melalui pembangunan pendidikan. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang guna mendapatkan kesehatan yang setinggi-tingginya sebagai prasyarat dalam mewujudkan produktivitas dan kemampuan daya saing. Pembangunan agama diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika dalam pembangunan.

perdagangan. unik. Menyediakan sarana dan prasarana kota dalam jumlah dan kualitas yang memadai dan diselaraskan dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah. sehingga tercipta keseimbangan material dan emosional. Pembangunan transportasi diarahkan untuk mendudkung kegiatan ekonomi. inovatif dan produktif yang berorientasi iptek sehingga mampu bersaing secara regional maupun global. peningkatan pelayanan angkutan umum. integrasi berbagai moda angkutan. permukiman. agar perlu tercapai dilakukan keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar wilayah. serta penyusunan produk hukum yang dinamis dengan memperhatikan pengaruh globalisasi. kebudayaan dan pembentukan karakter bangsa dan sistem sosial yang berakar. pendidikan. air. modern dan unggul. Untuk wilayah itu.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Selain itu juga penting diiringi dengan pembangunan kesenian. pembangunan jalan dan terminal dan lain-lain). sosial dan budaya serta lingkungan. 1. 6. kesehatan. Pengembangan budaya diarahkan untuk mewujudkan budaya kreatif. Pembangunan hukum terutama diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang berkesadaran dan berbudaya hukum tinggi. dikembangkan melalui pendekatan struktur pengembangan ruang. menciptakan kehidupan masyarakat yang adil dan demokratis. sumber daya 2. peningkatan ketertiban BAPEDA KOTA DEPOK 78 . energi dan kelistrikan serta sarana/prasarana pemerintahan. dan pembentukan peningkatan efisiensi dan aksesibilitas pergerakan lalu lintas jalan (melalui peningkatan manajemen transportasi. Pembangunan sarana dan prasarana diarahkan untuk pembangunan sektor transportasi.

Pengembangan sarana dan prasarana energi dan kelistrikan diarahkan untuk pengembangan jaringan transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. baik. dan terjangkau oleh daya beli masyarakat. bersih. Pembangunan sarana dan prasarana pemerintahan diarahkan untuk mendukung terwujudnya pelayanan prima kepada masyarakat. Selain itu. memadai. pemerataan pelayanan penerangan jalan umum. layak. 8. Menata sistem pemerintahan yang profesional. transparan. 3. dan kegiatan ekonomi. drainase yang baik. Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air ditunjukan untuk mewujudkan fungsi air sebagai sumberdaya sosial dan ekonomi sehingga dapat menjamin kebutuhan pokok hiidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. rencana pembangunan jalan dan terminal layanan lokal dan nasional. pelayanan perdagangan yang berkualitas yang memiliki jangkauan pelayanan sub kota dan wilayah kota. dengan mengarahkan terwujudnya kawasan pendidikan terpadu dan layanan kesehatan tingkat nasional. Pembangunan sarana dan prasarana perdagangan diarahkan untuk mewujudkan 5. Pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dan kesehatan diarahkan untuk memenuhi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang 4.Kajian Perencanaan Partisipatif dan keselamatan lalu lintas. bermutu. pengembangan sistem 6. demokratis dan bertanggungjawab. Pembangunan sarana dan prasarana pemukiman diarahkan untuk penyelenggaraan pembangunan perumahan yang berkelanjutan. antara lain melalui partisipasi masyarakat dan kemitraan diantara pemangku kepentingan. Penataan sistem pemerintahan kualitas daerah diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraaan administrasi BAPEDA KOTA DEPOK 79 . 7. 1.

meningkatkan pelayanan dalam rangka keberdayaan masyarakat dalam pembangunan. meningkatkan efektifitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pelayanan. serta peningkatan transparansi.Kajian Perencanaan Partisipatif pemerintahan. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi pemerintahan diarahkan untuk mengefektifkan fungsi-fungsi kelembagaan pemerintah. peningkatan akses dan sebaran informasi. 3. Peningkatan pelayanan kepada masyarakat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan dasar/umum dan pelayanan unggulan. dan mengurangi serta mencegah penyalahgunaan kewenangan. BAPEDA KOTA DEPOK 80 . menata dan meningkatkan kapasitas sumberdaya aparatur agar lebih profesional dan berorentasi kepada pelayanan. 2.

Inisiatif reformasi kebijakan perencanaan dan penganggaran daerah muncul sejak ditetapkannya UU No. nyata partisipatif bentuk penerapan prinsip demokrasi dalam alokasi sumberdaya publik. Keseluruhan peraturan tersebut memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk menerapkan proses perencanaan dan penganggaran BAPEDA KOTA DEPOK 81 . Kedua. 22/1999 dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Pemerintah Daerah. secara paradigmatik diyakini bahwa perencanaan partisipatif adalah bentuk kongkret dari pelaksanaan desentralisasi administrasi pemerintahan Perencanaan dan dan prinsip-prinsip penganggaran tata pemerintahan adalah yang baik. Pertama. termasuk di dalamnya urusan perencanaan dan pengalokasian anggaran. dan UU No. UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 25/1999. munculnya dukungan kerangka hukum yang memberikan peluang bagi daerah untuk mengatur urusan daerahnya. 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. UU No. Inisiatif tersebut kemudian menguat bersamaan dengan lahirnya UU No.Kajian Perencanaan Partisipatif Terdapat beberapa faktor pendorong mengapa perencanaan partisipatif menjadi wacana penting dan merupakan agenda reformasi di banyak daerah. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

memiliki kewajiban untuk menfasilitasi agar hak-hak warga negara itu bisa terpenuhi. terutama pihak pengelola negara. 4. yang seharusnya menjadi landasan moral dan menginspirasi berbagai pihak. dalam hal hal ini pemerintah. tumbuh. alokasi anggaran yang pro terhadap kepentingan orang miskin (pro-poor) dan responsif gender (gender budget responsiveness). dimana setiap warga negara memiliki sejumlah hak. Undang-Undang Dasar 1945 Jika menggunakan definisi pembangunan sebagai proses pemenuhan hak-hak warga negara. Dalam UUD 1945 inilah tersirat semangat para pendiri republik ini untuk mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia.Kajian Perencanaan Partisipatif partisipatif. amandemen UUD 1945 telah memasukan aspek hak asasi manusia (HAM). dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi BAPEDA KOTA DEPOK 82 . Negara. justru kerap kali dilupakan. penyusunan anggaran berbasis kinerja. maka UUD 1945 hasil empat kali amandemen secara tegas merinci hak-hak warga negara yang menjadi kewajiban negara dalam hal ini pemerintah untuk menfasilitasi agar hak-hak itu bisa terpenuhi. aspek landasan konstitusional ini. Dalam berbagai kegiatan pembangunan di berbagai tempat di Indonesia. Disamping itu.1. Tabel 11. Hak-Hak Warga Negara berdasarkan UUD 1945 Pasal Pasal 27 ayat 2 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28A Pasal 28B ayat 1 Pasal 28B ayat 2 Jenis hak Tiap tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup.

kehormatan. memilih pekerjaan. Setiap orang mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan keadilan. dan medapatkan lingkungan hidup baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. berkumpul. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin. seni dan budaya. dan mengeluarkan pendapat. dan harta benda yang dibawah kekuasaannya. sesuai dengan hati nuraninya. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat. jaminan. memilih kewarganegaraan. perlindungan. berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi. memperoleh. menyatakan pikiran dan sikap. demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia. serta berhak untuk mencari. martabat. Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat. dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. menyimpan. 83 BAPEDA KOTA DEPOK . serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi. Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat. Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi. mengolah. keluarga. memilih pendidikan dan pengajaran. memilih tempat tinggal diwilayah negara dan meninggalkannya. Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. bertempat tinggal. memiliki. Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan dan perlakuan yang merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari negara lain. bangsa dan negaranya Setiap orang berhak atas pengakuan.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28C ayat 1 Pasal 28C ayat 2 Pasal 28D ayat 1 Pasal 28D ayat 2 Pasal 28D ayat 3 Pasal 28E ayat 1 Pasal 28E ayat 2 Pasal 28E ayat 3 Pasal 28F Pasal 28G ayat 1 Pasal 28G ayat 2 Pasal 28H ayat 1 Pasal 28H ayat 2 Pasal 28H ayat 3 Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya. serta berhak kembali Setiap orang atas kebebasan meyakini kepercayaan. dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya.

penegakan. BAPEDA KOTA DEPOK 84 . hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani. hak untuk tidak disiksa. Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan perkembangan zaman dan peradaban Perlindungan. hak untuk tidak diperbudak. Tabel 12. setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Untuk menegakan dan melindungi hak assi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis. dan bernegara. diatur. Dalam menjalankan hak dan kebebasannya. dan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung jawab negara. pemajuan. Kewajiban Warga Negara Menurut UUD 1945 Pasal 27 ayat 3 Pasal 28J ayat 1 Pasal 28J ayat 2 Pasal 30 ayat1 Pasal 31 ayat 2 Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat. Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan Fakir miskin dan anak anak terlantar dipelihara oleh negara.Kajian Perencanaan Partisipatif Pasal 28H ayat 4 Pasal 28I ayat 1 Pasal 28I ayat 2 Pasal 28I ayat 3 Pasal 28I ayat 4 Pasal 28I ayat 5 Pasal 30 ayat 1 Pasal 31 ayat 1 Pasal 34 ayat 1 Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenangwenang oleh siapa pun. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis. keamanan. maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin. dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. dan dituangkan dalam peraturan perundanganundangan. berbangsa. terutama pemerintah. hak beragama. hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum. nilai-nilai agama. Setiap orang berhak bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu. Hak untuk hidup.

Tugas. dan Kewajiban Negara / Pemerintah Pasal 29 ayat 2 Pasal 31 ayat 3 Pasal 31 ayat 4 Pasal 31 ayat 5 Pasal 31 ayat 1 Pasal 31 ayat 2 Pasal 34 ayat 2 Pasal 34 ayat 3 Pasal 31 ayat 2 Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. Baik dari segi proses maupun output sebuah perencanaan. Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dalam mengembangkan nilainilai budayanya. yang diatur dengan undang-undang. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional. Negara mengembangkan sistim jaminan sosial bagi seluruah rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari aggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhanpenyelenggaraan pendidikan nasional.2. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional.Kajian Perencanaan Partisipatif Tabel 13. Negara bertanggungjawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Negara menghormati dan memelihara bahasa daerah sebagai kekayaan budaya nasional.25 Tahun 2004 Berdasarkan Undang-Undang rencana yaitu: No. 4. setiap Kota / Kabupaten perlu memiliki dokumen BAPEDA KOTA DEPOK 85 . yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. karena itulah aturan main dan kesepakatan kita dalam berbangsa dan bernegara. Undang-Undang No. landasan konstitusional itu nampaknya harus selalu dijadikan acuan utama. Tanggung Jawab.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah • • • • RPJP Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 20 (dua puluh) tahun. RPJP Daerah memuat visi.2. Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah. 4. misi. dan arah pembangunan Daerah yang mengacu pada RPJP Nasional (Pasal 5 ayat 1) Kepala Bappeda menyiapkan rancangan RPJP Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 11 ayat 3).Kajian Perencanaan Partisipatif 1. 5. Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. BAPEDA KOTA DEPOK 86 . Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. 4. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. • RPJM Daerah adalah dokumen perencanaan untuk periode 5 (lima) tahun. 4. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD).2.2. Musrenbang diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJP dan diikuti • • • oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dengan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 11 ayat 1). (Pasal 10 ayat 2). Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJP Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Panjang Daerah (Pasal 12 ayat 2) RPJP Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Pasal 13). yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD.1.

• • • • Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 16 ayat 4). memuat arah kebijakan keuangan Daerah. misi. kebijakan lintas umum. Satuan dan dan Kerja Perangkat program dalam Daerah. kewilayahan regulasi disertai dengan kerangka rencana-rencana • kerangka pendanaan yang bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 2). Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RPJM Daerah sebagai penjabaran dari visi. program prioritas Kepala Daerah. kebijakan umum. (Pasal 17 ayat 2) Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RPJM Daerah berdasarkan hasil Musrenbang Jangka Menengah Daerah (Pasal 18 ayat 2) RPJM Daerah ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Kepala Daerah dilantik (Pasal 19 ayat 3). • Kepala Bappeda menyusun rancangan RPJM Daerah dengan menggunakan rancangan Renstra-SKPD dan berpedoman pada RPJP Daerah (Pasal 15 ayat 4).Kajian Perencanaan Partisipatif • RPJM Daerah merupakan penjabaran dari visi. program Perangkat strategi Satuan pembangunan Kerja dan kerja Daerah. Daerah. misi. Musrenbang Jangka Menengah Daerah dilaksanakan paling lambat 2 (dua) bulan setelah Kepala Daerah dilantik. dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional. (Pasal 16 ayat 1) Musrenbang Jangka Menengah diselenggarakan dalam rangka menyusun RPJM diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara Negara dan mengikutsertakan masyarakat (Pasal 16 ayat 2). BAPEDA KOTA DEPOK 87 . dan program Kepala Daerah ke dalam strategi pembangunan Daerah. dan arah kebijakan keuangan Daerah (Pasal 14 ayat 2). • • Rancangan RPJM Daerah menjadi bahan bagi Musrenbang Jangka Menengah.

memuat rancangan kerangka ekonomi Daerah. prioritas pembangunan Daerah.3. Rencana Kerja Tahunan Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) • Renstra-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 5 (lima) tahun. RKPD merupakan penjabaran dari RPJM Daerah dan mengacu pada RKP. BAPEDA KOTA DEPOK 88 .2. Kepala Bappeda menyelenggarakan Musrenbang penyusunan RKPD (Pasal 22 ayat 4). rencana kerja. Musrenbang dalam rangka penyusunan RKPD diikuti oleh unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2). • • RKPD adalah dokumen perencanaan Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. dan pendanaannya. disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). baik yang dilaksanakan langsung oleh pemerintah maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. • • • • • • • • • Kepala Bappeda menyiapkan rancangan awal RKPD sebagai penjabaran dari RPJM Daerah (Pasal 20 ayat 2) Kepala Bappeda mengkoordinasikan penyusunan rancangan RKPD dengan menggunakan Renja-SKPD (Pasal 21 ayat 4) Rancangan RKPD menjadi bahan bagi Musrenbang (Pasal 22 ayat 1). Kepala Bappeda menyusun rancangan akhir RKPD berdasarkan hasil Musrenbang (Pasal 24 ayat 2) RKPD menjadi pedoman penyusunan RAPBD (Pasal 25 ayat 2).4.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Musrenbang penyusunan RKPD dilaksanakan paling lambat bulan Maret (Pasal 23 ayat 2).2. RKPD ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah (Pasal 26 ayat 2). 4.

dan kegiatan pembangunan baik yang dilaksanakan langsung oleh Pemerintah Daerah • maupun yang ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat (Pasal 7 ayat 2).Kajian Perencanaan Partisipatif • Renstra-SKPD memuat visi. ini. RPJM Daerah. Renstra-SKPD. Dari berbagai ketentuan dalam pasal-pasal UU keharusan bagi penyelenggara negara masyarakat dalam proses penyusunan rencana. program. • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan rancangan Renstra-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan berpedoman pada rancangan awal RPJM Daerah (Pasal 15 ayat 3) • Renstra-SKPD ditetapkan dengan peraturan pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah setelah disesuaikan dengan RPJM Daerah (Pasal 19 ayat 4) 4. program. strategi. nampak adanya mengikutsertakan untuk BAPEDA KOTA DEPOK 89 . Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan RPJP Daerah. Renja-SKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah diatur dengan Peraturan Daerah (Pasal 27 ayat 2). Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyiapkan Renja-SKPD sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya dengan mengacu kepada rancangan awal RKPD dan berpedoman pada Renstra-SKPD (Pasal 21 ayat 3). tujuan. Renja-SKPD disusun dengan berpedoman kepada Renstra SKPD dan mengacu kepada RKP. memuat kebijakan. Rencana Pembangunan Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) • • Renja-SKPD adalah dokumen perencanaan Satuan Kerja Perangkat Daerah untuk periode 1 (satu) tahun. misi. kebijakan.5. dan kegiatan pembangunan yang disusun sesuai dengan tugas dan fungsi Satuan Kerja Perangkat Daerah serta berpedoman kepada RPJM Daerah dan bersifat indikatif (Pasal 7 ayat 1).2. RKPD.

Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. dan dalam proses penyusunan Renstra-SKPD menciptakan proses yang lebih partisipatif. Pada tahun 2005 diterbitkan Surat Edaran Bersama kedua Menteri tersebut No: 0259/M. untuk tidak ada bagi Pemerintah mengikutsertakan masyarakat dalam dan Renja-SKPD. maka sejak tahun 2005 dikeluarkan Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. perlu diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tahapan. maka hal itu dapat dilakukan. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang pada tahun yang bersangkutan.3.PPN/I/2005 – 050/166/SJ tanggal 20 Januari 2005 dan pada tahun 2007 diterbitkan Surat Edaran Bersama No: 0008/M.PPN/01/2007 – 050/264A/SJ tanggal 12 Januari 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007. pelaksanaan Musrenbang 2007 berkaitan dengan kewajiban Pemerintah Daerah untuk menyusun rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2008 sebagai BAPEDA KOTA DEPOK 90 . Daerah Bahkan.Kajian Perencanaan Partisipatif Dari ketentuan Pasal 27 ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa kepada setiap Daerah diberikan keleluasaan untuk mengatur sendiri tentang meskipun tata cara pengikutsertaan keharusan masyarakat tersebut. Namun karena PP tersebut belum ada. Jika mengacu pada pada SEB tersebut. Tata Cara Penyusunan. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Dan Menteri Dalam Negeri Sesuai dengan UU No. 25 Tahun 24 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 4. namun jika ada proses Musrenbang penyusunan kesepakatan di daerah untuk RKPD (Pasal 22 ayat 2).

Tahap Persiapan 2. Musrenbang Desa / Kelurahan Tahun 2007 Musrenbang Kecamatan III. Forum Satuan kerja Perangkat Daerah (Forum SKPD) IV. SEB itu mengatur waktu pelaksanaan Musrenbang Desa/kelurahan pada bulan Januari. Narasumber H. Tugas Tim Penyelenggara I.Kajian Perencanaan Partisipatif landasan penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2008. Paska – Musrenbang Kabupaten / Kota. Musrenbang Kota / Kabupaten V. Mekanisme 1. berisi penjelasan yang rinci dengan muatan materi sebagai berikut: A. Sistematika Pedoman itu adalah: I. Peserta G. Tugas Delegasi Desa / Kelurahan BAPEDA KOTA DEPOK 91 . Tujuan C. Keluaran F. kecuali bagian V. Masukan D. Tahap Pelaksanaan E. II. Masing-masing bagian itu. Musrenbang Kecamatan pada bulan Pebruari dan Musrenbang Kota pada bulan Maret. Pengertian B.

sehingga secara sistem belum mencerminkan pembangunan partisipatif yang berbasis masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. Secara terbuka diakui bahwa: ”Pengelolaan pembangunan yang ada saat ini kurang bisa menjawab tuntutan pemberdayaan. pelaksanaan dan pengendalian belum melibatkan peran serta masyarakat secara aktif. bertanggung jawab. Pedoman ini hanya ditujukan untuk penguatan pengelolaan pembangunan partisipatif di desa / kelurahan dan kecamatan. Ketua DPRD Provinsi. 2. Sedangkan pada tataran kemasyarakatan dikembangkan mekanisme yang memberikan peluang partisipasi warga masyarakat dalam proses pengambilan keputusan bagi kepentingan bersama. dan demokratis (good governance). terbuka.2/2435/SJ tertanggal 21 September 2005 tentang Pedoman Umum Pengelolaan pembangunan Partisipatif. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di yang desa / kelurahan. Membangun kemitraan melalui jejaring kerja lintas sektor terkait. Memberikan acuan terhadap para pemeran pembangunan dalam rangka melakukan fasilitasi proses pembangunan partisipatif. 3. Hal ini dapat dilihat dari proses perencanaan.” Untuk dapat melaksanakan pembangunan yang partisipatif.2/2435/Sj (2005) Surat Mendagri No: 414. Surat yang ditujukan kepada Gubernur.4. Bupati / Walikota dan Ketua DPRD Kabupaten / Kota. desa / kelurahan dalam pengelolaan pembangunan partisipatif sesuai potensi BAPEDA KOTA DEPOK 92 . Pedoman ini juga mensyaratkan: ”Pada tataran pemerintah perlu ditambahkan perilaku kepemerintahan yang jujur.” Tujuan dari Pedoman ini adalah: 1. Semangat dari Pedoman ini adalah ingin menjadikan paradigma pemberdayaan dalam pengelolaan pembangunan. Surat Mendagri No: 414. Secara spesifik.

pelaksanaan. berbangsa dan bernegara. yaitu pembangunan baik kepada proses dapat dipertanggungjawabkan 4. kemampuan masyarakatdalam rangka meningkatkan pengetahuan. (transparancy). 5. setiap dan perencanaan. (4) Metoda Focus Group Discusion (Kelompok Diskusi Terarah). dan pengendalian pembangunan secara terbuka yang bisa diakses seluruh masyarakat. (2) Metode Partisipatif dalam Identifikasi Kebutuhan melalui Pendekatan Rapid Rural Appraisal (RRA). (sustainability). Pemberdayaan (empowerment). pelaksanaan. yaitu proses perencanaan. 3. yaitu upaya untuk mewujudkan kemampuan 2. pelaksanaan. yaitu proses dan tahapan perencanaan. Partisipasi (participatory). dan ketrampilan dalam melakukan pembangunan Pedoman ini menyarankan beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengelolaan pembangunan partisipatif yaitu: (1) Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa (P3MD). dan (5) Metode ZOPP (Ziel Oriented Project Planning). Keberlanjutan pemerintah tahapan maupun warga masyarakat. Keterbukaan dan kemandirian masyarakat setiap dalam dan kehidupan tahapan bermasyarakat. Akuntabilitas (accountability). sikap. (3) Metode Partisipasi dalam perencanaan Sosial Participatory Rural Appraisal (PRA). BAPEDA KOTA DEPOK 93 . Penguatan partisipatif.Kajian Perencanaan Partisipatif 4. dan pengendalian secara benar. dan pengendalian pembangunan harus berjalan secara berkelanjutan. yaitu keikutsertaan dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam proses pembangunan. Prinsip-prinsip pembangunan partisipatif yang dimuat dalam Pedoman ini adalah: 1.

Terwujudnya peningkatan partisipasi masyarakat dalam aktifitas kajian keadaan dusun/rukun dan warga desa/kelurahan.mandiri. Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 Sebelum diterbitkannya Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri BAPEDA KOTA DEPOK 94 . yaitu pengelolaan kegiatan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi dan kebutuhannya. keberdayaan. hasil dan manfaat yang diharapkan dari pengelolaan pembangunan yang partisipatif adalah: 1. Tumbuhnya kecamatan sebagai wilayah pengembangan. Terwujudnya proses pembelajaran bagi masyarakatdan aparat pemerintah dalam pengambilan keputusan secara demokratis. Terwujudnya peningkatan modal sosial.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. Aspirasi. Efisien dan Efektif. 4. 5.5. 6. pemanfaatan pelestarian program menuju masyarakatyang madani.perluasan kesempatan kerja serta peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat secara merata melalui pengembangan potensi lokal. 4. dan sejahtera. Menurut Pedoman ini. dan penggalian. 2. manajemen penguatan dukungan lembaga kemasyarakatan di desa / kelurahan. pelaksanaan. Terwujudnya pengelolaan pembangunan yang partisipatif 7. 7. yaitu pelaksanaan dan pemanfaatan kegiatan sesuai dengan sumber daya alam yang tersedia dan pengelolaan sesuai dengan perencanaan. Terwujudnya peningkatan produktivitas ekonomi dalambentuk pengembangan usaha ekonomi masyarakat. Terwujudnya penguatan lembaga kemasyarakatan di desa/kelurahan sehingga berperan secara aktif dalam pengelolaan pembangunan partisipatif. 3. perencanaan.pemilihan serta pengembangan tindakan untuk mengatasi masalah.

Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. FKPP Kecamatan dan FKPP Kota (Pasal 3). dan (b) peningkatan kualitas pengelolaan pembangunan (Pasal 8). FKPP Kecamatan. dan (c) Walikota untuk FKPP tingkat Kota (Pasal 9). Kompilasi dan Restrukturisasi Program. FKPP Kelurahan.Kajian Perencanaan Partisipatif Dalam Negeri pada tahun 2005 di yang tingkat Forum mengatur Kota tentang Teknis Penyelenggaraan No: 02 Tahun Musrenbang. serta FKPP Kota (Pasal 5 ayat 1). (b) meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan. Sedangkan pelaksanaan FKPP dilakukan melalui tahapan-tahapan kegiatan meliputi: Sosialisasi Pembangunan. (c) meningkatkan kualitas pembangunan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (Pasal 7). Survey Teknis Perencanaan. Tujuan dari dibentuknya FKPP adalah untuk: (a) meningkatkan partisipasi seluruh pelaku pembangunan. FKPP adalah media secara guna untuk menampung dengan Keputusan Walikota Depok Komunikasi aspirasi masyarakat para prioritas yang pelaku dilaksanakan pembangunan 6). Pemantapan Perencanaan Partisipatif. Keputusan Walikota ini juga mengatur penanggung jawab untuk masingmasing tahapan. Sedangkan penanggung jawab tahapan lainnya BAPEDA KOTA DEPOK 95 . (b) Camat untuk FKPP tingkatKecamatan. Sedangkan fungsi FKPP adalah: (a) pengambilan keputusan dalam perencanaan pembangunan yang melibatkan para pelaku pembangunan. melibatkan merumuskan indikasi kegiatan pembangunan daerah untuk satu tahun anggaran tertentu (Pasal 1 ayat FKPP dilaksanakan secara berjenjang dengan nama FKPP Kelurahan. 2004 Depok. yaitu: (a) Lurah untuk FKPP tingkat Kelurahan. mekanisme Perencanaan perencanaan partisipatif ditetapkan melalui tentang Pembangunan (FKPP). partisipatif.

(2) pihak yang terlibat. (3) materi. Diskusi Terfokus Antar Bidang Kewenangan Terkait. Kompilasi dan Restrukturisasi Program. serta (5) waktu dan tempat. dan (b) Kepala Unit Kerja Perangkat Darah untuk Diskusi Terfokus Bidang Kewenangan. BAPEDA KOTA DEPOK 96 . (4) mekanisme. Pemantapan Perencanaan Partisipatif. Pada Lampiran Surat Keputusan Walikota ini dipaparkan mekanisme dari setiap tahapan dan memuat: (1) tujuan.Kajian Perencanaan Partisipatif yang mendukung FKPP adalah: (a) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Sosialisasi Pembangunan. Survey Teknis Perencanaan.

sebuah Surat Edaran Bersama (SEB).Kajian Perencanaan Partisipatif Tolok ukur yang akan digunakan untuk melakukan penilaian evaluatif terhadap proses perencanaan partisipatif di Kota Depok adalah: (a) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk melihat seberapa taat proses yang terjadi dikaitkan dengan aturan yang ada. Tolok ukur peraturan perundangan dan juknis (petunjuk teknis). masing-masing sebuah UU yaitu UU No. Kategori evaluasinya adalah sesuai dan belum sesuai. 5. BAPEDA KOTA DEPOK 97 . 2 Tahun 2004 tentang FKPP. Tolok ukur peraturan perundang-undangan termasuk terhadap petunjuk teknis yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat dimaksudkan untuk mengetahui seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan partisipatif yang ada di Kota Depok sesuai dengan aturan atau petunjuk teknis yang ada. serta Keputusan Walikota Depok No.25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.1. dan (c) tolok ukur pengembangan modal sosial untuk melihat sejauh mana pelaksanaan proses perencanaan partisipatif dikaitkan dengan pengembangan modal sosial. yaitu SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. Setidaknya terdapat tiga aturan yang ada. (b) tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi untuk melihat pada level mana derajat partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan di Kota Depok.

serta telah menggambarkan derajat partisipasi yang ada dalam proses perencanaan di lingkungan pemerintahan. Tipologi yang digunakan adalah tipologi partisipasi yang dikemukakan oleh Sherry Arnstein (1969). Tolok ukur berdasarkan tipologi partisipasi Tolok ukur tipologi partisipasi adalah untuk mengetahui derajat partisipasi dari proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok telah berada pada jejang / tangga partisipassi yang mana.3. sehingga relatif mudah untuk dipahami. namun aspek kepercayaan (saling percaya) merupakan faktor yang paling menentukan dalam menentukan tinggi rendahnya modal sosial. Dalam banyak kasus. dan menggunakan dana publik.2. seperti dalam buku ”Mewujudkan partisipasi. Artinya jika suatu kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah BAPEDA KOTA DEPOK 98 . Meskipun aspek modal sosial ini memiliki banyak dimensi.Kajian Perencanaan Partisipatif 5. Tolok ukur pengembangan modal sosial Tolok ukur kontribusi proses perencanaan terhadap pengembangan modal sosial merupakan langkah awal untuk memasukan aspek pengembangan modal sosial dalam setiap proses pembangunan. 5. ketika Presiden Amerika Lyndon Johnson memulai Program Kota Model pada tahun 1966. Arnstein adalah penasehat utama tentang partisipasi warga pada Departemen pengembangan Perumahan dan Perkotaan Amerika Serikat. seorang mantan birokrat. perlu mempertimbangkan aspek memupuk modal sosial ini. terdapat banyak kegiatan pemerintah yang didanai oleh anggaran publik yang justru mengikis modal sosial yang ada. Pilihan terhadap tipologi Arnstein ini adalah karena kesederhanaan konsepnya. Dalam berbagai kepustakaan terakhir tentang pengembangan partisipasi warga. terutama oleh pemerintah. 21 Teknik Partisipasi Masyarakat untuk Abad 21” terbitan The British Council. tipologi Arsntein ini yang digunakan. setiap aktivitas yang dilakukan. Itu artinya.

2. • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi pada modal sosial: Positif – Rendah BAPEDA KOTA DEPOK 99 . dan tinggi. Tinjauan Evaluatif Proses Perencanaan di Kota Depok Peraturan Perundang-undangan / Kebijakan I. Derajat kontribusi positif dapat bervariasi dari rendah. maka masyarakat kontribusi kegiatan itu pada pembentukan modal sosial bersifat negatif.Kajian Perencanaan Partisipatif menambah kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan sebalikya. mengurangi kepercayaan Sebaliknya jika kegiatan itu malah kepada pemerintah. maka itu artinya kegiatan itu memberikan kontribusi positif pada pembentukan modal sosial. sedang. Penyusunan RPJP • Musrenbang Penyusunan RPJP yang melibatkan masyarakat (Pasal 11 ayat 1) No. Penyusunan RPJM • Musrenbang Penyusunan RPJM yang melibatkan masyarakat (Pasal 16 ayat 2) Pemerintah menyiapkan draft RPJM dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. Sedangkan jika kegiatan itu tidak mengubah sama sekali kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. sosial ini.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional 1.4. Pendekatan ini dimaksudkan agar setiap perencana dan pelaksana kegiatan pembangunan di Kota Depok ke depan. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. Pendapat stakeholders hanya dianggap sebagai masukan. perlu senantiasa mempertimbangkan aspek modal 5. Tinjauan Evaluatif Berdasarkan ketiga tolok ukur tersebut di atas. UU No. Pelaksanaan di Kota Depok Catatan Evaluatif Pemerintah menyiapkan draft RPJP dan dibahas dalam lokakarya stakeholders. maka evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilihat pada Tabel Tabel 14. maka kontribusi kegiatan itu terhadap pembentukan modal sosial bersifat netral.

II. RenjaSKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah. Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.Daftar prioritas dari RW umumnya belum ada .Daftar permasalahan kelurahan seperti kerawanan. Penyusunan Renstra-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Pemerintah kota menyiapkan RKPD dan dibahas oleh unsur-unsur pemerintah. RKPD.Daftar masalah dan usulan kegiatan prioritas kelurahan . • Sesuai dengan aturan • Derajat Partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Sesuai dengan aturan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi pada modal sosial: Netral • Belum sesuai dengan aturan Masukan dari kelurahan: .Kajian Perencanaan Partisipatif 3. RKPD. RPJM Daerah.Pemberian informasi dari kecamatan dan kota belum dilaksanakan 100 . Penyusunan Renja-SKPD • Tidak ada ketentuan pelibatan masyarakat Masing-masing SKPD menyusun Renja-SKPD tanpa melibatkan masyarakat 6.Hasil evaluasi belum dipaparkan • Kesesuaian dengan Jukius : Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral Masukan dari Kecamatan . Musrenbang Kelurahan • Masukan dari Kelurahan . Renstra-SKPD.Hasil evaluasi kegiatan pembangunan kelurahan tahun sebelumnya • Masukan dari Kecamatan / Kota .Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah kelurahan . kemiskinan. RPJM Daerah. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang Daerah (Pasal 27 ayat 2). Renstra-SKPD. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri Dalam Negeri 1.Daftar prioritas masalah RW dan kelompok-kelompok masyarakat . pengangguran . Penyusunan RKPD • Musrenbang Penyusunan RKPD hanya melibatkan unsur-unsur penyelenggara pemerintahan (Pasal 22 ayat 2) 4.Hasil evaluasi pemerintah kota dan kecamatan .Belum ada dokumen Rencana Pembangunan Jangka menengah (RPJM) Kelurahan . penyusunannya tanpa keterlibatan masyarakat 5. Masing-masing SKPD telah memiliki Renstra.Informasi dari pemerintah Kota tentang indikasi jumlah alokasi BAPEDA KOTA DEPOK Belum ada Perda tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah.

tokoh agama. organisasi masyarakat.Musrenbang di RW dan kelompok masyarakat belum dilaksanakan .Tahap Persiapan (penetapan tim fasilitator musrenbang. wakil kelompok perempuan.Belum sepenuhnya mewakili kelompokkelompok yang ada di kelurahan Masukan dari kelurahan . pemaparan lurah.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang • Mekanisme . penetapan perwakilan ke musrenbang kecamatan.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Tahunan dari BAPEDA KOTA DEPOK Mekanisme: .3) .5) yang berisi prioritas kegiatan pembangunan skala desa (form 1.Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. komite sekolah dll.1. • Keluaran .Kajian Perencanaan Partisipatif dana kelurahan . 2. dan 1.2) dan prioritas kegiatan yang akan dilaksanakan melalui SKPD (form 1.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kelurahan (form 1. pengumuman terbuka dan pendaftaran) . wakil kelompokpemuda. musyawarah di RW dan kelompok-kelompok masyarakat. pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan. pemisahan kegiatan yang diselesaikan di kelurahan dan yang akan menjadi tanggung jawab SKPD.Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke musrenbang kecamatan. Musrenbang Kecamatan • Masukan dari Kelurahan .Dokumen RKPT dari masing-masing kelurahan • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis 101 .Sesuai dengan Juknis Peserta: . kelompok tani.Pengumuman terbuka dan pendaftaran terbuka belum dilaksanakan Keluaran: . pengusaha. • Peserta Peserta adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok): ketua RT/RW.

Verifikasi dari delegasi kelurahan. penetapan perwakilan ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota.Penjelasan nama dan jumlah Forum SKPD dan Forum Gabungan SKPD • Mekanisme .Daftar nama delegasi dari kelurahan dan wakilkelompok fungsional / organisasi sosial kemasyarakatan.Kajian Perencanaan Partisipatif masing-masing kelurahan .Daftarkegiatan prioritas yang akan dilaksanakan melalui SKPD .Prioritas kegiatan tahun mendatang dari SKPD tersedia / tidak tersedia Mekanisme: . kesepakatan kegiatan prioritas pembangunan kecamatan berdasarkan masing-masing SKPD. pengumuman terbuka dan pendaftaran) .Tahap pelaksanaan (pemaparan camat. • Masukan dari Kecamatan / Kota . /Kota .Pengumuman terbuka 7 hari sebelumnya dan pendaftaran terbuka belum dilakukan. • Keluaran . LSM yang bekerja di kecamatan.Kegiatan prioritas pembangunan daerah tahun mendatang yang dirinci berdasarkan SKPD . • Peserta Peserta Musrenbang Kecamatan BAPEDA KOTA DEPOK tersedia / tidka tersedia • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah Masukan dari Kec. pemaparan Tim Penyelenggara Musrenbang.Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Kecamatan yang akan dibiayai oleh anggaran kecamatan .Berita Acara dan Daftar nama delegasi ke Forum SKPD dan Musrenbang Kota.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kecamatan. koperasi.Belum semua perwakilan 102 . Keluaran: Peserta: . pemaparan kepala cabang SKPD setempat atau pejabat SKPD Kota.

Sedang Masukan dari Provinsi dan kementerian Negara: . . menyusun rekomendasi regulasi. Peserta datang karena diundang.Tersedia Mekanisme: .Kajian Perencanaan Partisipatif adalah perwakilan dari kelurahan dan dari kelompok-kelompok masyarakat yang beroperasi dalam skala kecamatan. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) . menetapkan kegiatan prioritas.Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi. serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: .Pengumuman terbuka dan pendaftaran tidak dilakukan. LSM. Forum SKPD • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Forum SKPD. 3.Rancangan Renja – SKPD .Tahap pelaksanaan (pemaparan oleh Kepala SKPD. perguruan tinggi. verifikasi kegiatan prioritas dari kecamatan.Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan . • Keluaran .Sesuai dengan Juknis 103 .Rancangan Renja-SKPD . penetapan perwakilan Forum SKPD ke Musrenbang Kota. • Masukan dari Kota: .Rekomendasi regulasi belum banyak dieksplorasi Keluaran: .Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) .Kegiatan prioritas yang sudah BAPEDA KOTA DEPOK kelompok masyarakat di kecamatan hadir • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif .Di beberapa SKPD dilaksanakan Masukan dari Kota Masukan dari kecamatan: .

Daftar kegiatan prioritas yang bersumber dari Renstra SKPD .Kajian Perencanaan Partisipatif dipilah berdasar sumber pendanaan.Belum semua kelompok yang berkaitan dengan SKPD hadir Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: . dan plafon anggaran.Daftar delegasi kecamatan • Mekanisme .Telah sesuai Juknis Mekanisme: . • Masukan dari Kota: . Masukan dari Kecamatan: . . 4. pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran) . .Daftar individu /organisasi masyarakat skalakota seperti asosiasi profesi.Berita Acara dan Daftar nama delegasi dari Forum SKPD ke musrenbang Kota. 104 . perguruan tinggi. • Peserta Peserta adalah delegasi kecamatan dan dari kelompokkelompok masyarakat yang berkaitan dengan SKPD atau gabungan SKPD.Dilakukan penyederhanaan proses dibandingkan dengan Juknis.Tahap Persiapan (penetapan Tim Penyelenggara Musrenbang Kota.Tahap pelaksanaan (pemaparan Rancangan RKPD.Daftar kegiatan prioritas pembangunan hasil Musrenbang Kecamatan .Rancangan Renja – SKPD .Masukan hanya dari Provinsi Masukan dari Kota: • Kesesuaian dengan Jukius: Belum sepenuhnya sesuai dengan Juknis • Derajat partisipasi: Konsultasi • Kontribusi terhadap modal sosial: Netral sampai Positif-Rendah. pemaparan hasil kompilasi dan BAPEDA KOTA DEPOK Peserta: . LSM.Pengumuman terbuka dan pembukaan pendaftaran belum dilakukan.Kegiatan prioritas pembangunan / rancangan RKPD (jika ada) . serta ahli yang berkaitan dengan SKPD yang bersangkutan • Masukan dari Kecamatan: . Musrenbang Kota • Masukan dari Provinsi dan Kementerian Negara: informasi kegiatan dan sumber pendanannya dari APBN dan APBD Provinsi.

2.Sesuai dengan aturan • Kesesuaian dengan Juknis: Sudah sesuai sesuai atuan • Derajat partisipasi: Menginformasikan • Kontribusi terhadap modal sosial: Negatif sampai Netral III. dan delegasi forum SKPD. juga dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mewakili organisasi-organisasi skala kota.aparatur perencana di setiap unit kerja perangkat daerah Pemantapan Perencanaan Partisipatif BAPEDA KOTA DEPOK 105 . Keputusan Walikota No.Kesepakatan untuk pemutakhiran rancangan RKPD dan rancangan Renja-SKPD. • Peserta Peserta adalah delegasi dari Musrenbang Kecamatan dan delegasi dari Forum SKPD Keluaran: .Sesuai dengan Juknis Peserta: Peserta bukan hanya delegasi Musrenbang Kecamatan dan Forum SKPD. Sosialisasi Pembangunan • Materi: APBD Kota Depok tahun yang bersangkutan • Mekanisme Pemaparan oleh Kepala Bappeda dan dialog interaktif pihak eksekutif (Walikota / Wakil Walikota / Sekda) dengan peserta • Peserta Peserta adalah elemen masyarakat kecamatan dan kelurahan. Pemantapan Perencanaan partisipatif • Peserta: Pengurus LPM Kelurahan dan FKA LPM Kecamatan. delegasi kecamatan. Sosialisasi Pembangunan . penetapan prioritas. pemerintah daerah dan anggota DPRD dari daerah pemilihan yang bersangkutan. pembahasan kriteria untuk kegiatan prioritas. pemutakhiran rancangan RKPD dan pembahasan kebijakan pendukung) • Keluaran .Kajian Perencanaan Partisipatif verifikasi oleh SKPD.2 Tahun 2004 1.

Tim Survey Bappeda dan Unit Kerja Perangkat Daerah .Pendamping dari perwakilan masyarakat dan organisasi kemasyarakatan • Materi Hasil kesepakatan diskusi terfokus • Mekanisme .Pelaksanaan survey .Teknik Penyusunan Anggaran Biaya . FKA LPM Kecamatan dan BAPEDA KOTA DEPOK Survey Teknis Perencanaan Kompilasi dan Restrukturisasi Program 106 . Survey Teknis Perencanaan • Pihak yang terlibat .Konsep dan mekanisme perencanaan partisipatif .Teknik Penyusunan Dokumen Usulan Perencanaan • Mekanisme .Kajian Perencanaan Partisipatif • Fasilitator: Bappeda dan unsur perguruan tinggi / tenaga ahli / NGOs yang memiliki kompetensi dalam perencanaan partisipatif • Materi: .Persiapan . tanya jawab.Penetapan mekanisme dan penilaian hasil oleh tim survey .Penetapan tim survey .Metode: kuliah umum. Kompilasi dan Restrukturisasi Program • Pihak yang terlibat: Bappeda dan unit peranghkat kerja. simulasi dan praktekl penyusunan rencana 3.Penilaian hasilsurvey 5.Metode Penjaringan Aspirasi Masyarakat .Konsep dan Teknik Penyusunan Anggaran Berbasis Kinerja .

Sebagai sebuah proses. yaitu berkaitan dengan input. hasil FKPP Kecamatan dan hasil diskusi terfokus yang telah disurvey. Dari segi masukan (input). evaluasi terhadap perencanaan yang dilakukan dapat dibagi menjadi tiga kelompok.1. Evaluasi Kesesuaian Proses Berdasarkan Aturan. Pembahasan 5.5. • Mekanisme . proses dan output. IV Lain-lain 1. hal ini dapat dilihat dari sisi input materi dan input peserta yang terlibat dalam proses perencanaan. Workshop Isu Strategis Workshop Isu Strategis 5.Kajian Perencanaan Partisipatif perwakilan diskusi stakeholders terfokus.Tim melakukan sinkronisasi program yang diusulkan tiap unit kerja sebagai hasildiskusi terfokus dan hasil survey • Materi Usulan program kegiatan unit kerja. Dari segi peraturan perundang-undangan dan kebijakan tentang perencanaan. proses perencanaan yang dilakukan di Kota Depok secara garis besar telah sesuai dengan prosedur yang ada.5. Input materi adalah bahan-bahan tertulis / dokumen serta materi berupa bahan BAPEDA KOTA DEPOK 107 . meskipun masih terdapat beberapa yang belum sesuai dengan aturan / kebijakan yang ada.Tim kompilasi dan restrukturisasi program melakukan rapat koordinasi untuk menetapkan mekanisme .

Padahal evaluasi terhadap hasil pembangunan pada tahun selanjutnya. beberapa dokumen yang seharusnya dimiliki peserta Musyawarah juga umumnya tidak tersedia. Karena ketiadaan dana untuk penggandaan materi. Yang kerap kali muncul adalah ketergesa-gesaan dalam persiapan pelaksanannya. berpotensi menurunkan kepercayaan warga kepada pemerintah. sebagai basis untuk menyepakati rencana di level masing-masing. Padahalkondisi ini. Kemudian evaluasi terhadap hasil pembangunan tahun tidak dapat sebelumnya pada masing-masing tingkatan. maka pengadaan RPJM atau Renstra Kelurahan harus menjadi prioritas di masa datang yang segera. proses yang ada malah memberikan kontribusi negatif bagi pengembangan modal sosial. yang sangat menyolok adalah ketiadaan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. SKPD. Pemerintah Kota Depok tampaknya belum merasa urgen terutama dikaitkan belum diakuinya Kelurahan sebagai SKPD di masa lalu. sehingga bisa dipelajari lebih awal. serta program-program yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan. Berkaitan dengan penyediaan dokumen-dokumen sebagai bahan bagi peserta dalam proses perencanaan. alasan klasiknya adalah keterbatasan dana untuk penggandaan berbagai dokumen. disediakan. seluruh dokumen yang dibutuhkan telah menjadi acuan bagi peserta musyawarah untuk membuat perencanaan diterima peserta beberapa hari sebelumnya. maka tidak ada insentif untuk mengadakannya. Idealnya. Berkaitan dengan penyusunan RPJM Kelurahan. Kemudian. secara tidak disadari. BAPEDA KOTA DEPOK 108 . Namun dengan adanya Peraturan yang mengakui Kelurahan sebagai SKPD. Artinya. Di level kelurahan. dan Musrenbang Kota.Kajian Perencanaan Partisipatif pemaparan dari berbagai unit birokrasi yang perlu diterima oleh peserta. pada level Kecamatan.

Sehubungan dengan itu diperlukan studi tentang biaya transaksi yang dibutuhkan untuk pencapaian kesepakatan / keputusan pada forum musyawarah perencanaan pada berbagai tingkatan. dan tempat penyelenggaraan acara. yang aktif mungkin memiliki Acuan ini memang dapat ditafsirkan dan berminat mengikuti forum berbeda-beda tentang apakah apakah jika ada warga Depok yang peduli. Kemudian Tim Penyelenggara membuka pendaftaran dan atau tentang kegiatan itu dan karena kepeduliannya datang mengundang para peserta. atau bahkan mungkin tidak ada peserta yang hadir di forum perencanaan karena mendapatkan informasi mendaftar. selambatlambatnya 7 hari sebelum pelaksanaan.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diidentifikasi oleh Uphoff dan Cernea (1988). karena kemauan baik saja belum cukup. Jika hal ini tidak dimungkinkan karena alasan klasik keterbatasan dana. salah satu cara untuk menjamin partisipasi masyarakat (penerima manfaat) dalam perencanaan pembangunan adalah adanya komitmen keuangan yang terpisah untuk menfasilitasi proses partisipasi. agenda pembahasan. Dari sisi input peserta. musyawarah perencanaan itu dapat ikut mendaftar? Pendaftaran secara ini penting untuk mengukur keseriusan warga untuk mengikuti kegiatan Musrenbang atau Forum SKPD. Dalam Petunjuk Teknis yang ada. BAPEDA KOTA DEPOK 109 . model yang dilaksanakan selama ini adalah peserta hadir dalam berbagai forum musyawarah perencanaan karena diundang. Dapat dikatakan sangat sedikit. kepada Tim Penyelenggara Musrenbang atau Forum SKPD diharuskan mengumumkan secara terbuka jadual. maka setidaknya dibuka pemberian kesempatan untuk mengajukan usulan tertulis yang dikirim melalui faksimili atau melalui e-mail. gagasan. Hasil studi ini akan menjadi masukan dalam penyusunan anggaran biaya yang dibutuhkan dalam proses perencanaan.

yang terjadi adalah masih kuatnya cara-cara lama dengan berlomba-lomba membuat semacam “shoping list” atau BAPEDA KOTA DEPOK 110 . dibanding dengan Musrenbang di tingkat Padahal Musrenbang dan dapat Kelurahan merupakan ruang terbesar bagi masyarakat yang terlibat selanjutnya. dianggap sebagai proses belajar (social learning) sekaligus membangun modal sosial di antara sesama warga. menyampaikan usulan. mengkritisi usulan. Pelaksanaannya umumnya hanya sehari. Dari segi proses (mekanisme). Disamping itu ada keengganan dari para peserta musyawarah untuk berdiskusi secara lebih rinci karena telah terbentuk persepsi bahwa belum tentu apa yang diusulkan dapat diakomodir dan dibiayai oleh dana APBD. berbagai pihak kesempatan mempersiapkan materi yang akan dibawa ke forum tersebut. bahkan setengah hari di Musrenbang Kelurahan. hanya dianggap kegiatan ritual semata tanpa makna yang berarti untuk kemajuan kotanya. mengklarifikasi usulan serta berbagai aspek dari hal-hal yang direncanakan. Dari sisi keluaran (output).Kajian Perencanaan Partisipatif Disamping sehingga itu pemberitahuan selambat-lambatnya kepada 7 hari sebelum untuk diadakan Musrenbang atau memberikan Forum SKPD seharusnya dapat dilakukan. Hal ini tidak memberikan kesempatan yang luas kepada para peserta untuk mendiskusikan. Ini antara lain untuk menjamin kualitas pelaksanaan dari Musrenbang atau Forum SKPD. Disamping itu belum utuhnya pemahaman terhadap peran sebagai warga negara yang memiliki hak untuk ikut menentukan tentang apa yang terbaik bagi diri dan lingkungannya memberikan kontribusi pada sikap apatisme masyarakat dalam proses-proses perencanaan. Musrenbang atau Forum SKPD. kendala yang umum terjadi adalah kendala waktu. Akhirnya. bagi sebagian warga.

pengentasan kemiskinan. dan lingkungan hidup. terdapat beberapa fakta berkaitan dengan pelaksanaan proses perencanaan (Musrenbang dan Forum SKPD). terbukti dengan kecilnya alokasi anggaran untuk sektor-sektor ekonomi kerakyatan. dan egoisme sektoral. yaitu (Rudiyanto dan Setiawan 2007): 1. dan ketersediaan anggaran. Disamping itu. Masyarakat belum enggan karena Jadi usulannya belum saja tentu dapat ke mempengaruhi proses penganggaran. Waktu pelaksanaan musrenbang sangat singkat. Masyarakat kurang menguasai substansi dari program-program yang diusulkan oleh dinas-dinas. sulit dihindari. 2. dan provinsi BAPEDA KOTA DEPOK 111 . merasa percuma datang musrenbang. maka ini berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat tentang kemungkinan berperan serta dalam membuat keputusan dalam forum sejenis di masa datang. Menurut Kajian Bappenas. sehingga masyarakat tidak mempunyai kesempatan untuk mengkritisi maupun mengklarifikasi usulannya. Usulan yang terdahulu pun direalisasikan. tidak ada informasi balik segera kepada warga tentang ”nasib” dari usulan-usulan mereka. 5. 3. prioritas. kota/kabupaten. Masyarakat kurang memahami proses musrenbang 4. Dari sisi output akhir pun (dalam bentuk APBD). politis.Kajian Perencanaan Partisipatif “daftar belanja” yang sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan kebutuhan. kecamatan. kesan bahwa program masih didominasi untuk kepentingan pemerintah. Pemahaman partisipasi dari pemerintah daerah yang muncul dalam Musrenbang adalah menempatkan masyarakat sebagai pihak yang harus mendukung kebijakan yang telah ditetapkan oleh pemerintah mulai dari tingkat kelurahan.

pandangan.2. menurut Tipologi Partisipasi Arnstein. perencanaan dengan jenjang derajat tokenisme ini memang memberikan hasil.5. Pada derajat tokenisme ini. Istilah tokenisme ini bermakna bahwa langkah yang dilakukan merupakan kebijakan sekadarnya yang berupa upaya artifisial (dangkal. Namun tidak ada umpan balik dan mekanisme bagi warga untuk mengetahui apakah berbagai usulan itu benar-benar diakomodir dalam rancangan rencana untuk pembahasan selanjutnya atau hanya sekadar dicatat dalam notulen pertemuan. dan masukan dari masyarakat hanya sekadar didengar atau dicatat. warga kemudian telah diajak lagi untuk mengikuti proses sejenis (Musrenbang dan Forum SKPD) untuk proses perencanaan tahun berikutnya.Kajian Perencanaan Partisipatif 6. dan dalam beberapa aspek ikut mengubah hal-hal kecil dari draft rencana yang ada. (penentraman). Dari segi proses. yaitu dengan mengakomodir hal-hal yang kecil dan tidak 112 . usulan. maka pendapat. Evaluasi Derajat Partisipasi Dari sisi derajat partisipasi. derajat tokenisme. tanpa mengetahui apakah berbagai usulan warga diakomodir atau tidak. Yang terjadi adalah. strategis. Derajat tokenisme ini meliputi jenjang mulai dari dan informing placation (menginformasikan). proses Musrenbang dan Forum SKPD masih berkisar pada. BAPEDA KOTA DEPOK consultation (konsultasi). Namun output yang dihasilkan dari proses seperti ini memiliki derajat legitimasi dan akseptabilitas yang relatif lebih rendah. dibandingkan dengan jika prosesnya dilaksanakan secara kemitraan (partnership). pemerintah untuk melibatkan masyarakat karena memerlukan waktu yang cukup panjang dan biaya yang relatif cukup 5. Keengganan besar. pada permukaan) atau tindakan simbolis dalam pencapaian suatu tujuan.

Ungkapan-ungkapan ketidakpercayaan itu biasanya muncul dalam kegiatan Sosialisasi Pembangunan ketika Pemerintah Kota Depok mensosialisasikan APBD yang akan dilaksanakan pada tahun yang sedang berjalan.5. maka proses kontribusi proses perencanaan Kota Depok melalui Musrenbang kelurahan. Faktor lainnya adalah masih adanya dualisme antara proses perencanaan yang melibatkan BAPEDA KOTA DEPOK 113 . Evaluasi Kontribusi terhadap Modal Sosial Sebagai akibat dari proses yang dipaparkan pada bagian terdahulu. Di masa mendatang. terhadap pengembangan modal sosial berkisar antara negatif. sehingga dokumen hasil musrenbang dengan sendirinya tidak mempunyai kekuatan hukum dan tidak ada sanksi khusus yang jelas ketika Pemerintah tidak mengakomodir hasilhasil musrenbang secara layak. 5. karena secara tidak disadari proses yang dilaksanakan justru mengurangi kepercayaan warga kepada pemerintah. Seoptimal dan sekeras apa pun upaya pemerintah untuk melaksanakan proses perencanaan dengan melibatkan masyarakat.3. Malahan muncul kegiatan yang justru tidak diusulkan semakin menambah ketidakpercayaan itu. Kontribusi negatif. netral dan positif tingkat rendah. Kontribusi proses perencanaan bersifat negatif. dan Musrenbang Kota. namun kesan bahwa pelaksanaan kegiatan itu hanya sekadar ritual tahunan merupakan indikator berkurangnya kepercayaan masyarakat. Namun faktor proses perencanaan memang bukan faktor tunggal yang memberikan kontribusi terhadap kondisi ini. perlu aturan yang jelas tentang hal ini. Forum SKPD. Musrenbang kecamatan.Kajian Perencanaan Partisipatif Kondisi seperti itu terjadi karena musrenbang hanya dipandang sebagai kegiatan bermusyawarah belaka. Belum lagi usulan-usulan dari kelurahan dan kecamatan yang ternyata tidak diakomodir sama sekali dalam APBD.

Kajian Perencanaan Partisipatif

masyarakat dengan proses penganggaran yang sepenuhnya merupakan kewenangan pemerintah. Hal ini menyebabkan usulan yang disepakati dalam proses perencanaan banyak yang tereduksi di proses penganggaran. Usulan dari masyarakat terhenti hanya sampai pada penyusunan RKPD. Proses selanjutnya dilakukan oleh panitia anggaran eksekutif, panitia anggaran legislatif, dan masing-masing SKPD. Peran masyarakat tidak ada sama sekali dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran. Hal ini yang menyebabkan usulan dari masyarakat hasil musrenbang bisa tidak diperhatikan. Di samping itu, proses penyusunan dan penetapan anggaran ini sudah diwarnai oleh kepentingan politik baik dari pihak DPRD maupun eksekutif (Rudiyanto dan Setiawan, 2007). Lebih lanjut dijelaskan, bahwa tidak tuntasnya proses partisipasi

masyarakat sampai ke tingkat perencanaan anggaran menyebabkan masyarakat tidak mengetahui seberapa banyak program dalam APBD mengakomodasi hasil-hasil musrenbang. Dengan kata lain sering terjadi adanya inkonsistensi antara APBD yang ditetapkan pemerintah dengan hasil kesepakatan dalam musrenbang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan persepsi bahwa pendekatan partisipatif pada akhirnya hanya sekedar mobilisasi masyarakat saja untuk melegalkan proses perencanaan pembangunan. Oleh sebab itu, perlu pembenahan dalam proses penyelenggaraan musrenbang termasuk ketersediaan informasi, waktu, keterwakilan pemangku kepentingan dalam pembahasan, kejelasan kriteria dalam penetapan hasil, serta pemanfaatan hasil musrenbang secara langsung dalam penetapan prioritas kebijakan, program dan kegiatan dalam Renja-SKPD dan RKA-SKPD, dan penetapan RAPBD. Kontribusi netral. Kontribusi proses perencanaan dapat bersifat netral

terhadap modal sosial karena proses yang ada tidak mengubah apa-apa
BAPEDA KOTA DEPOK

114

Kajian Perencanaan Partisipatif

dari sisi pengembangan modal sosial. Proses yang ada tidak menambah atau mengurangi posisi tingkat kepercayaan masyarakat yang ada terhadap pemerintah. Ini dapat terjadi karena bagi kelompok ini telah terbentuk persepsi bahwa mungkin seperti itulah proses perencanaan yang seharusnya ada. Proses itulah yang optimal bisa dijalankan, meskipun ada ketidakpuasan-ketidakpuasan. Kontribusi positif. Proses perencanaan dapat memberikan kontribusi positif pada modal sosial, jika proses itu memberikan hasil yang nyata berupa usulan-usulan yang disampaikan dalam proses perencanaan di musrenbang itu diterima, dan mereka bisa terlibat dalam kegiatankegiatan kontribusi yang mereka usulkan yang didanai tidak oleh cukup APBD. besar Namun dalam positif proses perencanaan

pengembangan modal sosial, karena kesan umum yang muncul adalah bahwa secara keseluruhan proses perencanaan belum separtisipatif yang mereka bayangkan. Artinya, kualitas partisipasi dari proses perencanaan yang ada di Kota Depok sesungguhnya masih dapat ditingkatkan.

BAPEDA KOTA DEPOK

115

Kajian Perencanaan Partisipatif

Berdasarkan tinjauan evaluatif yang dilakukan, maka penguatan proses perencanaan di Kota Depok ke depan setidaknya memenuhi tiga kriteria: (1) sesuai dengan aturan yang ada, (2) derajat partisipasinya mencapai level kemitraan (partnership) menurut Tipologi Arnstein, (3) memberikan kontribusi positif pada pengembangan modal sosial. Dengan menggunakan ketiga kriteria itu, maka setidaknya terdapat empatskenario untuk penguatan proses perencanaan partisipatif di Kota Depok, yaitu: (1) Skenario Status Quo, (2) Skenario Taat Aturan, (3) Skenario Kemitraan, dan (4) Skenario Kemitraan-Apresiatif.

6.1. Skenario I : Tanpa perubahan berarti (status quo)
Skenario pertama ini dapat disebut sebagai ”Skenario Status Quo”. Mempertahankan ”status quo” atau pendekatan ”tidak mengubah apa pun” berarti melaksanakan proses dan mekanisme perencanaan pembangunan seperti yang sudah dilakukan selama ini. Penerapan proses itu sendiri merupakan interpretasi Pemerintah Kota Depok, yakni Bapeda, terhadap Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang sebagaimana yang tertuang dalam lampiran Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri.

BAPEDA KOTA DEPOK

116

baik antara sesama warga. (5) 6. warga sehingga terhadap memunculkan output yang ungkapan-ungkapan ketidakpuasan dihasilkan.Kajian Perencanaan Partisipatif Meskipun masih muncul kekecewaan terutama dari masyarakat (LPM dan LSM) mengenai proses perencanaan tersebut. sesama pemerintah. terutama dari segi masukan. Hal-hal positif yang ada dari proses yang sudah dijalani selama ini antara lain: (1) berbagai pihak yang terlibat dalam proses itu (pemerintah dan warga) sudah memiliki pengalaman bersama tentang bagaimana proses perencanaan itu dijalankan. Kekurangan ”Skenario Status Quo” Kekurangan dari skenario status quo ini adalah: (1) jika mengacu pada Petunjuk Teknis yang ada masih terdapat beberapa hal yang masih harus dipenuhi. (3) telah terbangun mekanisme-mekanisme untuk mengatasi perbedaaan-perbedaaan. (3) dari perspektif pengembangan modal sosial. terutama berkaitan dengan penetapan prioritas.1. maka telah terbentuk persepsi bahwa memang seperti itulah proses perencanaan di sebuah kota berlangsung. (4) membutuhkan biaya yang relatif tidak besar dan besarannya sudah diketahui. sebagai basis untuk penyusunan RAPBD. (2) karena sudah berlangsung beberapa tahun dengan proses yang relatif sama. proses yang ada saat ini masih berada pada derajat tokenisme. Kelebihan ”Skenario Status Quo” Kelebihan dari skenario ini adalah dapat mempertahankan hal-hal positif yang sudah terbentuk melalui proses yang sudah dilaksanakan dan kebutuhan biaya untuk pelaksanaannya telah diketahui. dan mekanisme.1. 6. dan perbedaana antara warga dan pemerintah.1. (2) jika mengacu pada tipologi partisipasi yang ada.2. peserta. dibutuhkan yaitu menghasilkan Rencana namun secara prosedur kepemerintahan proses yang ada itu telah menghasilkan output yang Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). proses yang ada berpotensi untuk membangun ketidakpercayaan warga (distrust) BAPEDA KOTA DEPOK 117 .

kelompok-kelompok masyarakat. terutama bagaimana bagi pemerintah kelurahan di dan masyarakat. Wakil / delegasi RW / kelompok yang akan hadir di Musrenbang kelurahan. maka pemerintah kota perlu membuat pedoman-pedoman dan pelatihan capacity building. Jika Petunjuk Teknis Musrenbang 2007 dijadikan acuan. Dengan skenario kedua ini. tentang proses perencanaan level RW. proses perencanaan pembangunan yang ada diupayakan untuk semaksimal mungkin mengikuti peraturan perundangan dan petunjuk teknis yang ada. dan sepenuhnya bergantung pada sumber daya terutama dana dari luar yaitu APBD. maka beberapa hal yang sehaharusnya ada adalah: 1. Keluaran dari musyawarah di tingkat RW / kelompok masyarakat ini adalah: a.2.Kajian Perencanaan Partisipatif kepada pemerintah. BAPEDA KOTA DEPOK 118 . agar semua pihak yang terlibat dapat semaksimal mungkin mengikuti proses perencanaan sesuai dengan aturan yang ada. (5). (4) tidak terbangun kemandirian warga untuk membangun wilayahnya sendiri. 6. Pada Tahap Persiapan Musrenbang Kelurahan perlu dilakukan musyawarah pada level masyarakat di tingkat Rukun Warga (RW) dan kelompok-kelompok masyarakat seperti: kelompok tani. kelompok pemuda. Disamping itu. Skenario II : Memenuhi aturan / pedoman yang ada Skenario kedua ini bisa disebut sebagai ”Skenario Taat Aturan / Pedoman Pusat”. gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing RW/Kelompok untuk diajukan ke Musrenbang Kelurahan. kelompok perempuan. c. daftar masalah dan kebutuhan b. dll). dan di level kelurahan.

Jika skenario ini yang dipilih.1. Bahkan acuan untuk penyusunan RPJM Kelurahan pun belum tersedia. Perlu tersedia dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan. 6. maka Pemerintah Kota antara lain perlu menyediakan berbagai pedoman tertulis bagi warga RW dan kelompokkelompok masyarakat tentang bagaimana melakukan musyawarah. RW-RW dan kelompok-kelompok masyarakat belum secara rutin melakukan melakukan musyawarah sebagaimana yang diminta dalam Petunjuk Teknis itu. termasuk pelatihan bagi tenaga fasilitator untuk pelaksanaan musyawarah pada level ini. belum terlaksana.2. Kepada warga kelurahan belum diberikan kesempatan terbuka bagi siapa saja yang peduli yang ingin mengikuti Musrenbang. dari sekian banyak hal yang harus dilakukan. Kelebihan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) semua dokumen untuk proses pengambilan keputusan dalam setiap tahapan proses perencanaan akan tersedia. (2) akan terbentuk kepuasan secara psikologis terutama di pun yang terlewatkan. Alasan yang kerap dikemukakan adalah biaya yang terbatas dan ketidaktersediaan tempat yang memadai untuk menampung peserta yang banyak. (3) jika aparat perencana bahwa seluruh proses perencanaan telah mengikuti aturan yang ada. Kemudian belum tersedia dokumen RPJM Kelurahan pada masing-masing kelurahan. Di Kota Depok.Kajian Perencanaan Partisipatif 2. tanpa ada satu pedoman-pedoman untuk musyawarah RW dan kelompok-kelompok BAPEDA KOTA DEPOK 119 . Membuka pendaftaran bagi warga kelurahan yang peduli dan berkeinginan untuk hadir. serta pedoman penyusunan RPJM Kelurahan dan pelatihan bagi tim penyusunnya. ketiga hal tersebut di atas sebagai contoh. 3.

kegiatan munculnya warga kemungkinan besar tidak dapat diakomodir oleh anggaran yang tersedia. sehingga berpotensi menimbulkan kekecewaan dan berkontribusi negatif terhadap pengembangan modalsosial. Skenario III : Memenuhi Aturan + Kemitraan Skenario ketiga ini dapat disebut ”Skenario Kemitraan”. kelurahan. (5) akan terjadi proses belajar bersama (social learning) di tingkat lokal. serta biaya dan kemungkinan diusulkan adalah: (1) akan ada biaya tambahan bagi di fasilitator level dimana musyawarah (2) yang untuk melaksanakan semua proses yang ada. kemudian BAPEDA KOTA DEPOK 120 . sehingga secara tidak disadari memunculkan mentalitas ketergantungan. (4) pemberian kesempatan kepada pihak-pihak yang peduli dan ingin hadir sebagai peserta Musrenbang (Kelurahan. maka dokumen-dokumen perencanaan di berbagai level (Kelurahan. (4) derajat partisipasi yang ada tidak beranjak dari derajat tokenisme.2. draftnya dihasilkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur masyarakat. Kecamatan dan Kota) dan Forum SKPD akan meningkatkan legitimasi dan akseptibilitas terhadap hasil dari proses perencanaan. termasuk pengadaan pelatihan-pelatihan tim penyusunan ledakan RPJM harapan.Kajian Perencanaan Partisipatif masyarakat tersedia. Kecamatan. (6). Melalui skenario ini. dan berpotensi membangun modal sosial di level lokal.3.2. Kekurangan ”Skenario Taat Pedoman Pusat” Kekurangan dari skenario ini pedoman-pedoman. (3) skenario ini masih menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach). (5) 6. dan Kota). maka itu akan memunculkan persepsi positif tentang keseriusan pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan. SKPD. 6.

Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah atau Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). 6.1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD) 4. Dengan demikian. Pada level kota difasilitasi pembentukan Forum Stakleholders Kota 2. Pada level kecamatan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan 3. Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) Model kemitraan dalam penyusunan dokumen rencana ini mengharuskan adanya pelembagaan stakeholders (semacam forum warga) pada berbagai level. Pada level kelurahan difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. maka pemilihan dan penetapan individu yang akan duduk dalam Tim Penyusun draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam masing-masing forum stakeholders secara terbuka dan demokratis. Kelebihan ”Skenario Kemitraan” Kelebihan dari skenario kemitraan ini adalah: (1) keluaran dokumen akan lebih aspiratif dan mengakomodir kepentingan dan cara pandang pemerintah serta kepentingan dan cara pandang masyarakat. Pada tiap SKPD difasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD 4. (2) BAPEDA KOTA DEPOK 121 . Rencana Pembangunan Tahunan Daerah atau Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Depok 3. Dokumen-dokumen rencana itu adalah: 1. 1.Kajian Perencanaan Partisipatif pembahasan draft dokumen rencana itu dilaksanakan dalam forum stakeholders pada setiap level. 5. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Kota Depok 2. 6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kelurahan 7.3.

biaya koordinasi. SKPD. dan kota. mulai dari level RT/RW dan kelompok-kelompok masyarakat di Kelurahan. (2) dibutuhkan forum-forum menfasilitasi pelembagaan stakehodlers pada berbagai level. 6. BAPEDA KOTA DEPOK 122 . Melalui skenario ini. serta berbagai biaya transaksi untuk biaya informasi.4. mulai di level kelurahan. maka proses perencaan mengintegrasikan antara pendekatan kemitraan seperti pada Skenario III dan dipadukan dengan pendekatan apresiatif pada berbagai level. (4) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. sehingga memunculkan kemandirian. maka akan terbangun modal sosial pada berbagai level pemerintahan. (5) 6. dan biaya lainnya untuk mencapai kesepakatan. inisiatif.2. karena harus dengan masyarakat. dan Kota. di Kecamatan. pemecahan (3) pendekatan (problem yang dilakukan masih pendekatan tidak masalah solving approach). kecamatan. terutama berbagai tambahan peran biaya yang setara untuk di pemerintahan (SKPD). (4) akan terjadi pengembangan kapasitas dari sektor masyarakat.Kajian Perencanaan Partisipatif keluaran dokumen akan memiliki legitimasi dan akseptabilitas yang tinggi. Kekurangan ”Skenario Kemitraan” Kekurangan dari Skenario Kemitraan ini adalah: (1) akan ada resistensi dari pihak-pihak.3. (3) karena terjadi proses belajar bersama (social learning process). Skenario IV : Kemitraan + Pendekatan Apresiatif Skenario keempat bisa disebut ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. dan energi kolektif warga secara optimal. SKPD.

6. Kelebihan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kelebihan dari skenario ini adalah: (1) akan terbangun energi positif kolektif pada berbagai level.2. 6. sebagai upaya untuk mewujudkan mimpi / harapan bersama. (4). digunakan BAPEDA KOTA DEPOK 123 . (2) membutuhkan tambahan biaya untuk melatih fasilitator yang mampu menfasilitasi pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif. dan kearifan lokal. serta membuat pedoman-pedoman yang dapat digunakan pada berbagai level. Kecamatan. serta pedoman-pedoman perencanaan. Kelurahan. potensi. (3) membutuhkan dukungan politis dalam bentuk payung hukum yang jelas tentang pembentukan forum-forum stakleholders dan pemberian peran yang lebih besar dari unsur masyarakat. Kekurangan ”Skenario Kemitraan-Apresiatif” Kekurangan dari Skenario Kemitraan – Apresiatif adalah: (1) resistensi dari pihak-pihak tertentu.4. yang perwujudan prakarsa-prakarsa lokal itu akan lebih menggunakan sumber daya. (3) ledakan harapan dapat dikurangi karena pendekatan apresiatif akan memunculkan prakarsa-prakarsa pada masing-masing level. yang harus berbagi peran secara setara dengan masyarakat. terutama dari pemerintahan.Kajian Perencanaan Partisipatif Untuk dapat terlaksana yang skenario dapat ini dibutuhkan oleh fasilitator berbagai yang level memahami pendekatan kemitraan dan pendekatan apresiatif.1. SKPD. (2) dokumen perencanaan yang dihasilkan pada masing-masing level merupakan rencana aksi bersama. mulai dari RT/RW. dan Kota untuk melaksanakan pembangunan di masing-masing level.4. sehingga akan memunculkan insiatif-insiatif dan kemandirian pada masing-masing level. tarutama pada level lokal.

Renstra-SKPD. RenjaSKPD dan pelaksanaan Musrenbang Daerah. Berdasarkan hasil kajian ini.Kajian Perencanaan Partisipatif Sebagaimana diatur dalam Pasal 27 ayat 2. Adapun garis besar teknis pelaksanaan musrenbang berdasarkan skenario ini adalah mengikuti mekanisme yang ada sesuai dengan Petunjuk Teknis Pelaksanaan Musrenbang dengan modifikasi sebagai berikut : 7. dimana skenario itu diasumsikan akan memberikan hasil yang terbaik ditinjau dari berbagai sudut. Penyusunan Peraturan Daerah seperti itu membutuhkan kajian ilmiah dalam bentuk draft akademis dan setidaknya membutuhkan disain skenario. RPJM Daerah.25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Musrenbang RW dan Kelompok-Kelompok Masyarakat • Fasilitasi warga RW atau Kelompok-kelompok masyarakat di kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. maka skenario yang direkomendasikan untuk muatan Perda adalah ”Skenario Kemitraan-Apresiatif”. setiap Pemerintah Daerah perlu membuat Peraturan Daerah yang mengatur Tata Cara Pnyusunan RPJP Daerah. UU No. RKPD.1. Output dari fasilitasi ini adalah dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif BAPEDA KOTA DEPOK 124 .

Fasilitasi yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kelurahan dengan menggunakan pendekatan apresiatif. dan (b) rencana yang akan diusulkan (diteruskan) ke Musrenbang Kelurahan untuk mendukung terwujudnya kondisi ideal yang diimpikan bersama. Musrenbang Kelurahan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kelurahan. (4) • Fasilitasi untuk menghasilkan: (a) dokumen rencana yang akan dilaksanakan oleh komunitas RW atau kelompok masyarakat yang bersangkutan dalam mewujudkan kondisi ideal yang diimpikan bersama.2. Siapa pun warga kelurahan yang peduli terhadap pembangunan kelurahan yang • bersangkutan warga dapat bergabung dalam Forum tersebut dengan mendaftar. Forum ini dapat juga dianggap sebagai forum Musyawarah Anggota menurut Perda Kota Depok No. 7. 13 Tahun 2002 tentang Pedoman Pembentukan RT. BAPEDA KOTA DEPOK 125 . RW dan LPM. Masukan untuk proses ini adalah dokumen KPA RW / Kelompok Masyarakat. • Penetapan tim penyusun draft RPJM Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga kelurahan yang dipilih dalam Forum Stakeholders Kelurahan. (3) rancangan langkahlangkah dan rencana-rencana aksi yang akan dilakukan untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan tersebut. Output: dokumen KPA Kelurahan. (2) kondisi yang diinginkan bersama di masa datang sebagai wujud dari mimpi bersama. Keanggotaan Forum Stakeholders Kelurahan dilakukan secara proaktif dan stelsel aktif.Kajian Perencanaan Partisipatif (KPA) RW yang memuat: (1) identifikasi prestasi-prestasi yang pernah dicapai oleh RW / Kelompok masyarakat bersangkutan di masa lalu.

4. 7. Musrenbang Kecamatan • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kecamatan. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan secara Apresiatif (KPA) Kecamatan. Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders SKPD menggunakan pendekatan apresiatif. • Draft RKPK dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kelurahan 7.3. Forum SKPD • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders SKPD. Individu atau organisasi • yang peduli terhadap bidang tugas SKPD dapat mendaftar menjadi anggota Forum tersebut. Masukan untuk adalah fasilitasi pendekatan kelurahan. Output: Dokumen Kajian dan Pendekatan Apresiatif (KPA) SKPD. Keikutsertaan dalam Forum Stakeholders SKPD bersifat stelselaktif.Kajian Perencanaan Partisipatif • • Draft RPJM Kelurahan di bahas dalam Forum Stakeholders Kelurahan Untuk penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kelurahan (RKPK) dibentuk tim penyusun draft RKPK Kelurahan yang terdiri dari unsur pemerintah kelurahan dan unsur warga yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders Kelurahan. BAPEDA KOTA DEPOK 126 . Warga kecamatan yang peduli terhadap pembangunan kecamatan dapat menjadi anggota Forum ini. • Fasilitasi kegiatan warga ini yang tergabung hasil dalam Forum Stakeholders apresiatif di Kecamatan menggunakan pendekatan apresiatif. Keikutsertaan dalam Forum ini bersifat stelsel aktif.

7. Individu dari unsur masyarakat dipilih secara terbuka dan demokratis dalam Forum Stakeholders Kota. • Draft Renstra-SKPD dan draft Renja-SKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders SKPD. Individu unsur masyarakat yang dipilih dan ditetapkan dalam Forum Stakeholders SKPD. dan RKPD dibahas dan disepakati dalam Forum Stakeholders Kota Depok. RPJM. • Fasilitasi warga yang tergabung dalam Forum Stakeholders Kota menggunakan pendekatan apresiatif. Masukan untuk kegiatan ini adalah dokumen KPA Kecamatan dan SKPD. Keanggotaan dalam Forum ini bersifat terbuka dan stelsel aktif. Musrenbang Kota • Fasilitasi pembentukan Forum Stakeholders Kota. RPJM. • Draft-draft RPJP. Output dari kegiatan ini adalah: dokumen KPA Kota Depok. Individu dan organisasi yang peduli pada Pembangunan Kota Depok dapat mendaftar menjadi anggota Forum. draftnya disusun oleh Tim yang beranggotakan unsur masyarakat dan unsur pemerintah Kota Depok. BAPEDA KOTA DEPOK 127 .Kajian Perencanaan Partisipatif • Dalam penyusunan Renstra-SKPD dan Renja-SKPD. draftnya disiapkan oleh Tim yang beranggotakan unsur pemerintah / SKPD dan unsur masyarakat. dan RKPD. • Dalam penyusunan RPJP.5.

Rencana Pembangunan Tahunan Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Satuan Kerja Perangkat Daerah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2. • Evaluasi terhadap proses perencanaan di Kota Depok dapat dilakukan melalui 3 tolok ukur: (1) tolok ukur peraturan perundang-undangan untuk menilai seberapa sesuai pelaksanaan proses perencanaan dengan aturan / pedoman yang ada. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD). 4. yang selanjutnya disebut Renstra-SKPD. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 3. 5. yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD). Kesimpulan • Proses perencanaan pembangunan di Kota Depok adalah untuk menghasilkan dokumen rencana yang menurut UU No.Kajian Perencanaan Partisipatif 8. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional terdiri dari dari: 1. (2) tolok ukur tipologi partisipasi untuk menilai derajat partisipasi yang tercipta dalam proses perencanaan perencanaan pembangunan di Kota Depok. dan (3) tolok ukur kontribusi pada pengembangan modal sosial untuk menilai kontribusi proses perencanaan pembangunan di Kota Depok terhadap BAPEDA KOTA DEPOK 128 . Rencana Pembangunan Tahunan Satuan Kerja Perangkat Daerah.1.

pengoptimalan masukan (input) baik berupa input materi maupun input peserta pada semua tingkatan forum musrenbang dan forum SKPD dengan ikhtiar untuk semaksimal mungkin mengikuti aturan / pedoman yang ada. Taraf partisipasi ini ini berpotensi menimbulkan kekecewaan warga dan berpotensi juga menurunkan tingkat kepercayaan warga kepada pemerintah. Surat Edaran Bersama (SEB) Menteri Negara Perencanaan pembangunan Nasional / Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri. Pada taraf ini kepada warga memang telah diberikan kesempatan untuk memberikan masukan. terutama dalammembangun kepercayaan (trust) warga kepada pemerintah. dan SK Walikota Depok Keputusan Walikota Depok No: 02 Tahun 2004 tentang Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan (FKPP). BAPEDA KOTA DEPOK 129 . 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. yaitu UU No. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman. tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang. tapi keputusan akhir tetap berada di pemerintah. 2.Kajian Perencanaan Partisipatif pengembangan modal sosial. jika mengacu pada tipologi yang yang dikemukakan di Kota oleh Sherry barulah Arnstein pada (1969). • Berdasarkan tolok ukur tipologi partisipasi. taraf proses perencanaan Depok konsultasi (consultation). hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah: 1. • Berdasarkan tolok ukur peraturan perundang-undangan / pedoman dari pusat. maka pelaksanaan proses perencanaan di Kota Depok secara umum telah sesuai dengan aturan yang ada. pengoptimalan mekanisme pelaksanaan forum musrenbang dan forum SKPD dengan semaksimal mungkin mengikuti mekanisme yang diatur dalam aturan / pedoman yang ada.

Kajian Perencanaan Partisipatif • Berdasarkan tolok ukur kontribusi proses perencanaan dalam pengembangan modal sosial. • Terdapat empat skenario penguatan proses perencanaan di Kota Depok. Dengan demikian dkumen rencana merupakan hasil kesepakatan stakeholders. netral. (design). yaitu: 1. maupun output (keluaran). Dalam skenario ini. dan kontribusi positif tingkat rendah. namun diintegrasikan dengan pendekatan apresiatif. Skenario Status Quo yaitu skenario dimana proses perencanaan dilakukan tanpa perubahan yang berarti atau sama seperti tahuntahun sebelumnya. Skenario ini sama dengan Skenario Kemitraan. 3. dan pembahasan draftnya dilaksanakan dalam forum stakeholders. maka disain proses perencanaan yang dilaksakanan belum secara sadar mempertimbangkan aspek ini. dan mewujudkan (deliver). 4. Skenario Kemitraan adalah skenario dimana derajat partisipasi yang diinginkan adalah derajat kemitraan (partnership). BAPEDA KOTA DEPOK 130 . mekanisme. KPA dilakukan menemukan Pendekatan ini dilakukan melalui penerapan melalui tahapan mendefinisikan (dream). baik dari segi input (masukan). setiap draft dokumen rencana disiapkan oleh tim penyusun draft yang beranggotakan unsur pemerintah dan unsur warga. mengikuti pendekatan Appreciative Inquiry yang dikemukakan oleh David Cooperrider. 2. (define). Skenario Taat Aturan Pusat. Skenario Kemitraan-Apresiatif. Dalam skenario ini proses perencanaan dengan dilakukan dengan mengikuti semaksimal mungkin peraturan perundangan dan pedoman dari Pusat. Berbagai tahapan proses perencanaan pembangunan di Kota Depok memberikan kontribusi yang berkisar dari negatif (menurunkan tingkat kepercayaan). merancang mengimpikan (discover).

Kajian Perencanaan Partisipatif 8. Pemerintah Kota Depok sebaiknya dapat segera menyusun dan menetapkan Peraturan Daerah tentang Tata Cara Penyusunan RPJP Daerah. Renja-SKPD dan Pelaksanaan Musrenbang. RPJM Daerah. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional (Pasal 27 ayat 2). Saran • Berdasarkan Undang-Undang No. RenstraSKPD. RKPD. • Substansi dan semangat Peraturan Daerah tersebut hendaknya dapat mengakomodir Skenario Kemitraan – Apresiatif dari hasil kajian ini.2. BAPEDA KOTA DEPOK 131 .

Bogor:Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Thesis. 2003. 2006. A dan Setiawan. Jakarta: Penerbit Erlangga. Jakarta: Program Pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tesis. D.Abbas. Bogor: Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jakarta: Pusat kajian Bina Swadaya. Saefulhakim S. Ahmad W T. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalamproses Perencanaan Program Pengembangan Masyarakat di Komunitas Desa Cijayanti. 1988. No. Vol 35. Submitted ini fulfilment of requirements . Bogor: Sekolah pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Jenjang Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan pembangunan Melalui Forum Komunikasi Perencanaan Pembangunan di Kota Depok. A. Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD). Tadaro M P. Pembangunan yang Diprakarsai Masyarakat (Community Driven Development). 2004. Burns D. London: Mac Millan Press. Community-Based Research. Hasibuan FD.R. Arnstein S. Edisi Januari 2006. JAIP. Pusat Kajian Bina Swadaya 2007. An Opportunity for Collaboration and Social Change. Diktat Perencanaan Pengembangan Wilayah. 2000. Lugiarti E. Rudiyanto. Buku 1. Rustiadi E. Sjahrir. Juli 1969. 1994. R. 2003. Jakarta: yayasan Obor Indonesia. 4. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bpogor. Alih bahasa Han Munandar. Thomsen. Relevansi Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam Memperkuat Perencanaan Partisipatif. 2007. Pembangunan Berdimensi Kerakyatan. Tesis. A Ladder of Citizen Participation. 1969. Universitas Indonesia. 2005. Evaluasi Tingkat Partisipasi Pembangunan di Tingkat Komunitas. Hogget. The Politics of Decentralisation: Revitalising Local Democracy. Panuju DR. Mekanisme Perencanaan Partisipasi Stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. Korten DC. Hambleton. Tesis. 2004.

Zakaria. 2006. Community Participation in Local Health and Sustainable Development. . Kota-Kota dalam Transisi: Tinjauan Sektor Perkotaanm Pada Era Desentralisasi di Indonesia. Ekonomi Kelembagaan. Yustika AE. Definisi. Brighton: Logo Link. World Bank. Australian School ofEnvironmental Studies. Griffith University.of the degree of Doctor of Philosophy.Teori & Strategi. Faculty of Environmental Sciences. Jakarta: The World Bank Office. 2003. RY et al. 2002. Malang: Bayumedia Publishing. WHO Regional Offfice for Europe. Dalam Annotated Bibliography on Citizen Participation and Local Governance. 2001. Approach and Techniques. Seputar Partisipasi Warga dan Pemerintahan Lokal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful