BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

• Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. F. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. Jerome Bruner menyatakan. dibenarkan atau dikendalikan. Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. 2. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. setiap materi dapat diajarkan kepada 7 . Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain.E. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1.

Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Semiawan melalui bermain. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. 1. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Melalui permainan. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. pada permainan atau bermain. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Menurut Conny R. Oleh karena itu. G. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Dunia anak adalah dunia bermain.

9 . meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat.2. Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. mendengar. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Dalam proses belajar. mendengan.

TeknikPengumpulan Data. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Bab V. I. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. kegunaan penelitian.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. pertanyaan penelitian. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. Bab II. anggapan dasar. Instrumen Penelitian. Metode Penelitian. Teknik Analisis Data. 10 . tentang prosedur penelitian yang berisi. perumusan dan pembatasan masalah. berisi latar belakang masalah. Sumber dan Jenis Data. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. Bab III. identifikasi masalah. Bab I. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. tujuan penelitian. subjek Penelitian. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian.

Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 . Dalam proses belajar. mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. berbagai pekerjaan terwujud. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Penerapan Konsep Bermain 1. Bruner dalam Hurlock Elizabeth. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Melalui aktivitas bermain.BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. Bagi anak. mendengar. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. Bagi anak. (2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Sedang menurut Conny R. (1990 : 234). Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”.

kegiatannya pura-pura. menggunakan perasaannya. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi. yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3. Kelenturan. tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya.”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. 2. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. Pengaruh positif. yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. menyenangkan 12 . dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. sukarela dan dengan imajinatif. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. Bukan dikerjakan sambil lalu. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. Motivasi instrinsik. Cara/tujuan .

Bahkan.bagi dirinya. balita hingga masa remaja. Dengan memahami arti bermain bagi anak. adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. maka makin mampu ia berpikir logis. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI). a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja.” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. maka dapat dikatakan ia sedang bermain. aktif dan konstruktif.

bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris. 1986) terhadap. maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. Clark. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat. dan linier. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4. kiri dan kanan. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget. Yaitu. tahun adalah suatu conditio sine qua non.. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak. Seperti diketahui. Makin lama maka usai fase operasi konkret. Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda.suasana yang diakrabi secara alamiah. ciri dan respons untuk berfikir logis. belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . 1986). 2. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. memiliki fungsi yang berbeda-beda.7. berkaitan dengan fungsi otak. Sebaliknya. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan. imajinatif dan kreatif. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris. sesama teman atau orang lain. Akibatnya menurut penelitian (Clark. teratur. bila mau tumbuh secara mental. maka yang diperlukan seperti itu. Belahan otak kiri memiliki fungsi. kedua belahan otak.

mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. menendang. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit. menangkap. melompat. Mereka dapat melempar. Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya. Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga.” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . dan lain-lain. atau memalu paku kedalam kayu. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. dan meloncat sementara bermain. mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah.

anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur. Kira-kira pada akhir tahun pertama. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. biasanya tertarik pada game-game dengan aturan. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Sebagai contoh. sebuah balok. Sebagai contoh. Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak. daripada produk bermain mereka. Mereka lebih memfokuskan pada proses. c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian.dan tujuan bermain yang berbeda. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. dan bukan pada hasil lukisannya.

Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. dan atletik. seperti memperagakan cerita atau adegan. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . Pada usia ini. Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. papan. seperti “petugas polisi”. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. game-game komputer.inginkan. bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat. Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun. yaitu membangun atau membuat sesuatu. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. seperti sepak bola dan baseball. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan.

Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah. atau ruang tamu memanjat. membangun balok. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga. Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur. Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi. dll 18 . g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah.

penjelas. Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. Jika 19 . 1978). maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain.Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka. model. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. Guru harus menjadi pengamat. evaluator dan perencana bermain (Bjorkland. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain.

Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain.anak lain terlibat dalam mempelajari serangga. dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum. maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. Ketika melakukan 20 . dan mengevaluasi. lingkungan. 5) Perencana Akhirnya. menjelaskan. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain. guru harus berfungsi sebagai perencana. 3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain. Evaluasi berarti bahwa materi. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak.

Pantaulah kemajuan bermain. Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan.perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri.” Waktu. atau menjadi monster. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka. Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya. 4. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. 3. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. maka ini bukanlah bermain. maka ini dikatakan bermain. 21 . anak-anak mungkin berpura-pura terbang. Pilihlah mainan-mainan yang tepat. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas.

proses. adalah yang paling penting. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. 5. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan.Dalam bermain. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. 7. 6. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. Sebagai contoh. atau cara bukanlah hasil akhir. tetapi ketika bermain. 22 . tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain.

seperti menonton televisi.  Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. keterlibatan aktif. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. dan berinteraksi dengan lingkungan. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. mengatur. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. maka ini biasanya bermain. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. Jika keterlibatan itu pasif. Bermain bukanlah aktifitas pasif. makna yang diberikan oleh pemain. Agar suatu aktifitas disebut bermain. makna nonliteral. Ini termasuk motivasi personal. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. 23 . Selain berpikir mengenai jenis bermain. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. merencanakan.

Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. Ketika anak-anak matang. atau bermain fungsional. b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek. paralel. termasuk bermain sosial. dan bermain sosiodrama. Dalam studi klasiknya. (3) Dalam game dengan aturan. adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. onlooker. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni. (2) Bermain simbolis. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. dan koperatif. bermain dengan objek. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. asosiatif. anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak. 24 . a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain.

dan skill-skill sosial. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar. Menurut Vygotsky.c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. 8. Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 . Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak. jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya. pertumbuhan intelektual.

Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif. membuat prediksi. sosial dan intelektual dasar. membantu perkembangan sosial dan emosional. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi. Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. menarik kesimpulan. mengklasifikasikan. Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. Begitu pula dalam suasana bermain aktif.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. mengurutkan. mengamati. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. dan penting untuk perkembangan fisik. mendiskriminasikan. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan. Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik.” Baik bermain eksplorasi. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak.

Anak-anak diterima apa adanya. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini. dan sebagainya. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. menemukan hubungan yang 27 . Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. dan tidak terlalu cepat dievaluasi.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. akan merasa aman secara psikologis. bermain konstruktif. dihargai keunikannya. mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. karena menambah bumbu dalam permainannya. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. drama.

naik sepeda sendiri. a) Bermain memiliki berbagai arti. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. berenang. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. unsur resiko itu selalu ada. Bila anak bermain secara bebas. maka ia melatih kemampuannya. ataupun meloncat. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. 9. Jadi. Betapa pun sederhana permainannya. Dengan pengulangan. di mana si anak mencobakan diri. sampai mampu melakukannya. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. Bermain adalah medium. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. bermain adalah suatu kegiatan yang serius. b) Unsur lain adalah pengulangan. berbagai pekerjaanya terwujud. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . Melalui aktivitas bermain. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. tetapi mengasyikan. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya.

Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. takut. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks. anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 . d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran. ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. Sesudah pengulangan itu berlangsung. Melalui berbagai permainan yang diulang. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. dan gangguan emosional. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja.

tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. kuantitas dan sebagainya . 30 . sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. ruang. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga.

anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 . Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. memperoleh hasil kerja yang baik. c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games.

sehingga guru harus waspada dalam 32 .Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan. baik kognitif.mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. . maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini. melibatkan peran aktif anak. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. 10. dan perasaan gembira. afektif. Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda. mengembangkan skill-skill bahasa oral. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. ruang. Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu. dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan.

Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. Sebagai contoh. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda. adalah yang paling berguna.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok. a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain. Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan. pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. guru dapat menyediakan kotak. Balok. bola. b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak.

guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. 34 .  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. Melalui kerja mereka. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca. Pembelajaran di RA antara laian harus : a. Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. Oleh karena itu. Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. 11. Oleh karena itu.

Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki. c. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak.Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya.b. e. kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual). h. Dengan demikian. daya cipta. g. perilaku serta agama). agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 . khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan. Artinya. f. dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. 35ember-emosional (sikap.Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. intelegensi (daya 35embe. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA.Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu. (Balitbang.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik. 2002 : 4 – 5). d. maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak. kejenuhan.

Bagi anak. Melalui aktivitas bermain. mendengar. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. yaitu.optimal. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. Dalam proses belajar. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. dalam Hartati S. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Selain dengan pemahaman tersebut. Bagi anak. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Prasetyono. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif. belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). berangkat dari potensi yang dimiliki anak. dan pola 36 . pola jiwa. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. berbagai pekerjaan terwujud. afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan.

tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. kajian penelitian. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas.perilaku guru sebagai pendidik. Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. kuantitas dan sebagainya . Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. ruang. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu.

d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. memperoleh hasil kerja yang baik. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang.diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.

Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. melibatkan peran aktif anak. dan perasaan gembira. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. memiliki hubungan 39 .Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. d. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. c. b. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas.

. 12. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 . walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. maka ini biasanya bermain. a. Jika keterlibatan itu pasif. Ini termasuk motivasi personal. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. afektif. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. mengatur.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. keterlibatan aktif. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. dan berinteraksi dengan lingkungan. Bermain bukanlah aktifitas pasif. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. Agar suatu aktifitas disebut bermain. b. d. makna nonliteral. merencanakan. baik kognitif. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. seperti menonton televisi. makna yang diberikan oleh pemain.

mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. Sebagai contoh. 41 . f. g. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin.” Waktu. Dalam bermain. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. anak-anak mungkin berpura-pura terbang.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. adalah yang paling penting. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. tetapi ketika bermain. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. atau cara bukanlah hasil akhir. maka ini bukanlah bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. maka ini dikatakan bermain. proses. e. atau menjadi monster. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa.

Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. ide-ide baru. 42 . produk. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi. atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. B. Kreativitas Anak Usia Dini 1. Drevdal dalam Hurlock (1999). Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru. dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.

maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya.al. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. Sokolova. Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. (2008: 261). Dengan kata lain. 1999). al. setelah melakukan penelitian yang mendalam. produk ilmiah. mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu. berarti dan bermanfaat. Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. Bagaimanapun. cerdik luar biasa. kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana. Sokolova. jika seseorang mengisi bensin di jalan.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni. agung. kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru. 43 . seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. dan melampaui pemahaman. informasi. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan. kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar.. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. (2008: 262-263). data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Seringkali. tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. Jadi menurut ahli ini. asosiasi baru berdasarkan bahan. kesusasteraan.. atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. at. at.

Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil. Contoh sederhana. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’. Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. 44 . Akhirnya. produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna. Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. Dr. Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh.

mendefenisikan kreativitas pada orang. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta). akan sedikit mengalami kesulitan. Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. proses kreativitas pun menjadi berbeda. perbedaan dalam orang. Dari penjelasan di atas.Sedangkan Ward. dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original. alat. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. misalnya. motivasi dan atau proses. Pada akhirnya. 45 . namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. dan proses di belakang kreativitas. Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. Namun. berbagai tekanan yang memotivasi. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. Finke. dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan. orang. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas.

Aktifitas ini bersifat kompleks. penalaran. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas. “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas. Sokolova. Aktifitas berpikir. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi. Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak. ingatan..al. imajeri. pengambilan keputusan. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan.al. atensi. at. imajinasi.Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami.“oris Malaguzzi“. (Aristoteles). maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak. 2. at. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental. Irina V. (2008:263). Dalam Irina V. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Sokolova. dan pemecahan masalah. 46 .. (2008 : 265). Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto.

Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. c. Produk yang berguna atau bernilai. dan belum pernah ada sebelumnya. (1) aktifitas berpikir. memperlancar. mendidik. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. Sifat baru atau orisinal. mempermudah. memecahkan masalah. Sejak kecil hingga dewasa. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan. kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali. (3) baru atau orisinal. bersifat luar biasa.b. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. 2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. (1984). (2) menemukan atau menciptakan. Mencermati uraian di atas. dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. mengurangi hambatan. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . (4) berguna atau bernilai. lebih mudah dipakai. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. d. mendorong. seperti lebih enak.

dan orisinalitas dalam 48 . Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius. berupa ide-ide baru. Uraian diatas mengandung makna. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. perilaku kreatif produktif. penemuan –penemuan baru. di mana penekanannya adalah pada kuantitas. dan keragaman jawaban". berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru.dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. keluwesan (fleksibilitas). Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. sikap. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. Untuk mencapai hal itu. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). serta pemikiran. berdasarkan data. informasi. ketepatgunaan. atau unsur-unsur yang ada.

berpikir. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas. hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat). mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta. yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. sebagaimana 49 . Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Hal-hal tersebut. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. merupakan data. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. memperkaya. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. informasi.

berbeda. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. bahwa berdasarkan analisis faktor.  Kreativitas merupakan suatu cara berpikir. yang sangat diharapkan dimasa mendatang.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah. Artinya. maupun konkret atau abstrak. membangun dengan balok. tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir.  3. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu.  Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi. bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini. misalnya melukis. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. baik itu berbentuk lisan atau tulisan. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. tidak bergantung pada usia. dan karenanya unik bagi orang itu. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan. jenis kelamin. 50 .

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. orisinalitas. Tingkat 1. pemerincian. Semua ciri-ciri tersebut diatas. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools. Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang. Makin kreatif seseorang. Dengan ciri kognitif : kelancaran.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. dalam hal ini termasuk anak usia dini. dengan kemampuan berpikir kreatif. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. ciri tersebut makin dimiliki. 54 . Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. practice with process. working real problems. kelenturan.

imajinasi dan fantasi. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif. simulasi dan studi kasus. practice with process. teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. tenggang rasa terhadap kesamaan. kedwiartian. evaluasi.pengenalan dan ingatan. kepekaan terhadap masalah. keberanian mengambil resiko. working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis. keterbukaan terhadap pengalaman. Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. Tingkat 2. percaya diri. 55 . Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran. kesediaan untuk menjawab. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. Tingkat 3. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya.

Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi. Metode biasa disebut juga metode analitik.analisis dan klasifikasi. Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang. karena pada awalnya 56 . baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis.” Senada dengan pendapat di atas. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting).factual dan akurat mengenai data.di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan.BAB III PROSEDUR PENELITIAN A.

pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. ide-ide. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. memotret. Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. diminta memberikan data. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas. yaitu peneliti itu sendiri. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Untuk dapat menjadi instrument. informasi. menganalisis. karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. persepsinya. pendapat pemikiran. keyakinan. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. Disebut sebagai metode kualitatif. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. sehingga mampu bertanya. Di samping itu.Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan.2006:16). diobservasi. peristiwa. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya.

Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). tetapi lebih menekankan pada makna. (Sugiyono.nilai di balik data yang tampak. dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi. jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati. sumber data tertulis. B. peserta didik. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling. Moleong (2000: 3) menegaskan. dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. Perlu ditegaskan. tulisan. dokumen dan data statistik. foto dan statistik. guru-guru. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif.

Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. C. data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai. sedangkan tulisan. Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl. Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain. Dengan kata lain. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Pedoman wawancara (terlampir) 2. Pedoman kepustakaan (terlampir) E. instrumen penelitian ini adalah : 1. Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. Pedoman observasi (terlampir) 3.sebagai data utama (primer). D. 2002: 59 . foto. dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder).

mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). Dengan teknik observasi pertisipatif. yaitu: 1.122). Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. Menurut Nawawi (1995: 100). peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. Oleh karena itu. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya. pada situasi yang sama atau berbeda. Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan. peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. Subagyo (2004: 63). Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. pada tahap ini. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . bahwa observasi merupakan suatu proses komplek.

wawancara relatif tertutup. Berdasarkan strukturnya. bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. dan ketiga. 2002: 124). dan lain-lain. kedua. keperilakuan. keadaan fisik sekolah. pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum. 61 . perilaku siswa. Pewawancara pun bekerja. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. Pada wawancara ini. Pertama. keadaan fisik sekolah. 2. seperti interaksi antar warga sekolah. Pada wawancara dengan format ini. pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. Panduan wawancara dibuat cukup rinci. peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. wawancara yang terbuka. Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list). Kedua.pekerjaan subyek penelitian. berupa kondisi lingkungan sekolah. dan lain-lain.

transkip. Dalam hal ini. keyakinan-keyakinan. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). tindakan. Selanjutnya. membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. a. dan sebagainya. Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). majalah. melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain. prasasti. surat kabar. Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. dan pengalaman-pengalamannya. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. lengger. notulen rapat. Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. 62 . metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim. Danim (2002: 175).Pada wawancara dengan format terbuka. 2002: 132). 3. buku. agenda.

atau bahkan mungkin bertolak belakang. potensi material lembaga. seperti sistem dan mekanisme kerja. peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu. F. Adapun tahapan yang dimaksud. saling melengkapi. Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang. bukan mengawalinya dengan judul. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan. dan lain sebagainya. melainkan dapat tumpang tindih. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik. jumlah personal. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi.b. Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. yaitu sebagai berikut: 1. 63 . meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. dan masih banyak alasan-alasan lain. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan.

peneliti menggunakan tiga teknik.2. Dalam pengembangan instrumen. mengenai psikologi perkembangan anak. Hurlock. Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. Melaporkan hasil penelitian 64 . peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian. Psikologi Perkembangan anak dan remaja.. Dalam hal ini. dan dokumentasi. karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. peneliti tidak menuntut instrumen baku. seperti bukunya Elizabeth B. 1988. 4. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. 3. tahap selanjutnya adalah penafsiran data. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. Syamsu Yusuf. 6. wawancara terbuka. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. yaitu observasi partisipatif. 5.

mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian. Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan. Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian. analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 .1 Prosedur Penelitian G. Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3. atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. memprediksi. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan.

2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). Analisis dilakukan untuk menemukan pola. dan hubungan terhadap keseluruhannya.dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. dilakukan coding atau pengkodean. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. Kemudian. penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication). Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. kelengkapannya. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian. hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. dirangkum. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. hubungan antar kajian. 1. Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi. Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan. dipilih hal-hal yang pokok.

hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. 2. yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table. tabulasi atau pentabelan. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. H. hubungan persamaan. tema. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh. 3. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . Dengan kata lain.dalam ketegori yang sama. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. Dan selanjutnya. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. hal-hal yang sering timbul.

2. Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. 3. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1. 6. Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. 4.161 : A. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.1. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. 5. 2. 68 .Nurlailah : Swasta : Jl.

tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif . Nurlailah 69 .Berilmu dan Berakhlak.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1. Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H.Meningkatkan rasa kemandirian.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Misi : . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A.

Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3.

Kecamatan th. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot . c) Alat peraga di luar. puzzle. pohon hitung.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD .2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. balok. 6. th. prosotan.2007) 5. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga. juara 3 guru berprestasi Tk. puteran.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4. bak pasir. dan junkitan. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. Prestasi a) Guru : Upi Supinah. ayunan. Sistem Rekruitmen 71 .

Secara operasional.1. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. pelaksanaan 72 . Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor. Dengan brosur 2. prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program. Data Hasil Penelitian 1. organisasi. Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. meningkatkan kualitas. kuantitas guru serta penyetaraan standar. Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome. Memasang spanduk B.

penyelenggara pendidikan. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. tanggal 12 Maret 2011. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian. Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. pukul 10. yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik. Guru. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah.00 WIB). kepala sekolah. Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru. ketersediaan kurikulum. pengawas. (wawancara di ruang kepala. semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. yaitu pendidikan.

00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan. Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus. 74 . karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite. Keterangan di atas. Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar. di depan ruang kelompok B.” (Wawancara dengan ketua komite. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada. pukul 12. tanggal 3 Maret 2011. pukul 09. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan.” (Wawancara dengan Upi Supinah. jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia. guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya. guru dan komite sekolah. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran.

ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat. terbitan Depag. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD.30). program semester. mingguan serta harian para 75 .30). Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan. kemudian dari program tahunan ini. karena TK ini mdi bawah naungan Depag. Kami merasa itu suatu keharusan. Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester. Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. pukul 11. Ibu A. di ruang kelompok B. pembelajaran menjadi terencana dan tertib. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari. tanggal 15 Maret 2011. dibuat program semester. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. program mingguan serta program harian. tanggal 15 Maret 2011.2. pukul 11.” (Wawancara di ruang kelompok B. karena dengan program tersebut. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. program mingguan serta program harian. “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru. pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya.

20) Dari keterangan di atas. yaitu setiap hari Sabtu. dan yang jelas mereka membuat atau tidak. sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku. pukul 10. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar. di ruang kepala sekolah. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. yaitu hari Sabtu. sebelum pulang sekolah. mingguan ataupun harian. semester. pukul 10. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu. sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah.guru. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 . (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari.” (Wawancara 4 Maret 2011. Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. baik itu tahunan. meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program. menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam.20).

Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. Mendengar kata bermain.30 di ruang kelas). Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar. memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. Setelah anak dewasa. padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak. “Ayo kita bermain anak-anak!”.” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya. 10 Maret 2011.mengembangkan kreativitas anak. ingatan anak akan dapat bertahan. Terlihat senang. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. anak-anak merasa antusias. Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. pukul 11. Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. pembelajaran lebih mengutamakan permainan. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru. 3. di PAUD. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan. Pada masa ini. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya.

“Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat.30).” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A. di ruang kelas. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Nurlailah.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011. Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak. pukul 11. Penerapan 78 . Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa. Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. tanggal 10 Maret 2011. 4. yaitu konsep bermain. Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain. pukul 09.“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut. Dengan adanya guru yang berkualifikasi. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya.

“Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A. Dengan adanya alat bermain seperti balok. pukul 12. dapat melatih kreativitas anak. Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain. Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. lego.15 WIB). Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. 3 Maret 2011.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah. 79 . aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut. Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya. ataupun puzzle. dari sinilah kreativitas anak muncul. PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. di ruang kepala. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar. Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang.

Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. Berdasarkan teori ini. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain. Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego. environmental input. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral. B. tanggal 12 April 2011. environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut. Hal ini membuktikan mereka kreativ. instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. dan sebagainya). 1989 : 17). meski usia mereka masih kecil. sub-sub sistem itu adalah raw input. instrumental input. 5. Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung. dan out put (Syamsuddin. Dengan melihat kondisi itulah. dan sebagainya). masyarakat. teman. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik. 1989 : 17). metode. sarana. dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai. di klp.” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin. media.30 WIB).Mereka jadi anak yang kreativ.pukul 12. Selain itu 80 . Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a.

pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran. Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD.30).” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. “saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman. tanggal 4 Maret 2011. tanggal 21 Maret 2011. “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART. di ruang kepala sekolah. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar. Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja.Nurlailah selaku kepala PAUD.” (Wawancara dengan kepala PAUD. Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw. serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan. yang merupakan faktor instrumental input. di ruang kelompok B. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini. pukul 10. “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan.20).

“Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan. tanggal 24 Maret 2011. Dari keterangan di atas. tanggal 18 Maret 2011. gurunya. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. tanggal 4 Maret 2011. alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas.00). Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu. faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung. (Wawancara dengan ibu A. Anak akan terbiasa dengan kita. oleh sebab itu 82 . seperti anggaran biaya. akan sulit nantinya. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B.00 di ruang kepala). Nurlailah. di depan ruang kelompok A. pukul 13. pukul 11. dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif. Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. b. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar.Supinah. yang mengatakan. jam 11. Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna.30). soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita.

Kadang suka ikut campur dan sulit diatur. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite. bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya. Kepala PAUD Ibu A.00).00). Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada. di ruang kelas.” (Wawancara di ruang kantor.saya suka ngobrol dengan mereka. Namun. Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak. maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. Terkadang mereka suka mengatur. tanggal 24 Maret 2011. wawancara. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. dan dokumenter. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya. jam 11. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya. Dari keterangan di atas. ketika istirahat. pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Eem. C. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . tanggal 18 Maret 2011.

Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. 84 .yayasan. kegiatan spontan. 2. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. kegiatan teladan/contoh. Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. a. Sesuai dengan anjuran pemerintah. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. kegiatan terprogram. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin.

Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. telinga. dan lain-lain. Mau menerima dan menyelesaikan tugas. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. o o o Berbaris dengan rapi. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. rambut. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. mau memakai pakaian seragam. 85 . Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar.o o o Sabar menunggu giliran. dan sebagainya. Sikap saling hormat menghormati. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain. antara lain: o o o o o Sopan santun. Menciptakan suasana keakraban. Berdiri tegap saat berbaris. gigi. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan.

berpakaian dan bekerja. Rapih dalam bertindak. 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. Rapih dalam berdoa. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman. Mengendalikan emosi. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. Mengembangkan kreativitas anak.o o Melatih keberanian. Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan. 86 . Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. Menjaga keamanan diri. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menjaga kebersihan lingkungan. dan sebagainya. Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan. o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan.

Mengenal kebersihan dan kesehatan. Tolong menolong sesama teman. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Menyimpan alat permainan setelah digunakan.o o Sopan santun. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. Menjaga keamanan diri. o o o o o o o o o o o o o b. Mau dan dapat makan sendiri. Kegiatan spontan 87 . Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain. berpakaian dan bekerja. Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Meminta tolong dengan baik. Rapih dalam bertindak. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. Mengucapkan terima kasih dengan baik. Sabar menunggu giliran. Mengurus diri sendiri. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Membuang sampah pada tempatnya. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan.

dan lain sebagainya. hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 .Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan. meminta sesuatu dengan berteriak. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik.

dan lain-lain. akan lebih baik lagi kalau dirapikan. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. berjabat tangan. o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik. Misalnya “Bagus. misalnya menepuk pundak anak. misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba. dan lain-lain. memberikan acungan jempol. misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak. dan lain-lain. dan lain-lain. antara lain: 89 .o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. o Memberikan sentuhan kepada anak. Misalnya anggukan kepala. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik.

” O.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. o Menghindari respon yang negatif. anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. dan mau meminta maaf. “Kenapa kakinya?”. serta tidak akan mengulangi lagi. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. seperti pincang. Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. Mengucapkan terima kasih. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. Mengendalikan emosi. Aril menjawab. Tiba-tiba Aril berteriak. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. Membanggakan hasil karya sendiri. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik. bicaralah yang baik kepada bu guru. Bu guru bertanya. Menghargai orang lain dan sportif. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu. dan lain-lain. Coba. Aril 90 . Aril tidak bisa memasang tali sepatu.

Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Melalui permainan. Menurut Conny R. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. melakukan latihan berkelompok. bertanya. Melalui bermain. Semiawan (Jalal. Di taman kanak-kanak. 3. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. terutama dalam kosa kata. baik 91 . menirukan. Hal yang menarik. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. melakukan penjelajahan. dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. dan menciptakan sesuatu.minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. bukan karena hadiah atau pujian. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain.

1998). kemampuan dan kebutuhan anak.potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung. bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU.2001. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan. Bernyanyi 92 . Oleh karena itu. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Depdikbud. diantaranya yaitu: a. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. b. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. membaca.

mendengar. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. 93 . kemudian ditirukan anak-anak. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. dan peran-peran tertentu sekitar anak. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. benda-benda. c. pantai. kebun. sawah. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar. merasakan.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. Dengan bermain peran. e. dan lainnya. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. d. Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya.

g. 4. Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. 2002: 40). Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. 94 . Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.f. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak.

meliputi aspek fisik. dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. namun belum dapat menggunakan logika. sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 . Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini. diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. UT.Sayangnya. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. 2002: 40). Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun. Lev Vygotsky. serta emosinya. kognitif. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. 2008). Selain Piaget. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. sosial. motorik.

kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. 5. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Memberikan pemahaman kepada 96 . Menurut JH Flavell. Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood). Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak.sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. maksudnya. Otomatis. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. karena nantinya anak akan merasa bosan. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas.

Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. kantor departemen agama. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga.masyarakat bahwa pada masa usia PAUD. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. guru. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. orang tua. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). dan menginkan anak-anaknya cerdas. selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Seperti pada hasil temuan di atas. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. mampu membaca dan aspek lainnya. kepala sekolah. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. dinas pendidikan.

Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama. BAB V Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan 1.PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya. Kesimpulan Umum 98 . Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya.

menemukan. Hal yang menarik. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan. motorik. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Melalui bermain maka 99 . yaitu intelektual. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. memanfaatkan. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Di PAUD. bertanya. dan menciptakan sesuatu. melakukan penjelajahan. dan sosio emosional. 3. bahasa. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. menirukan. melakukan latihan berkelompok. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. 2. terutama dalam kosa kata.

Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. 2.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. 2. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . 1. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Sesuai dengan anjuran pemerintah. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut.

Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. Melalui permainan. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. bukan karena hadiah atau pujian. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. kegiatan terprogram. pemberian tugas. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. Melalui bermain. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. kegiatan spontan. bermain peran. kegiatan teladan/contoh. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. berdarmawisata. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Oleh karena itu. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. peragaan/demonstrasi. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. latihan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. dilaksanakan bercerita. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. sebab 101 . Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua.

Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan.itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. 102 . kepala sekolah. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. dinas pendidikan. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. dan menginkan anak-anaknya cerdas. kantor departemen agama. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. orang tua. guru. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. 3.

atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik. 103 . Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. 3. tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini. Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB). Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1. sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan. sarana pasarana. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B. Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. 2. Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar.mampu membaca dan aspek lainnya. Selain itu memberikan dana operasional. Saran Berdasarkan uraian di atas. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat.

Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. Biarkan anak dengan keinginannya.4. 6. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua. 104 . Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik. guru. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. 5. bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini. Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. orang tua hanya memberikan arahan. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A.mbeproject.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh. Jakarta : PT. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. Holt. Jakarta: Ghalia Indonesia. dkk. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. Athiyah. 2006.G. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Anggani Sudono. Grasindo. Online:http://h4mm4d. Medan : BPPLSP Regional I Farihen. Robert.R.M.id/buletin/read. Online: http://elangjava.go. Nazir.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne. Moleong LJ. Sumber Belajar dan Alat Permainan. 2000.umj.F Arief. Rinehart and Winston. Bandung: Alfabeta. New York. J. Ramadhan. & Messick.net M. H. Muhammad Surya. 2004.php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI). R.ac.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan.multiply.Si. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya. M. Online: http://www. (1992). http://www.id/index.F. 1988. Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah.wordpress. S. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika. The Conditions of Learning.bpplsp-reg-. 2007. New York: Longman Dewi Gustini. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran. Chaplin. 1950. 1977 MBE. Metode Penelitian. Elementary Social Studies: A Practical Guide. 2003.fai. 1999. http://www. Metodologi Penelitian Kualitatif. 2006. Belajar Matematika lewat Permainan Dakon.Al-Abrasyi. 106 . 2009.

Psikologi Belajar.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. Jakarta.blogspot.sobrycenter.html http://kumpulantipspilihan. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno. http://kumpulantipspilihan. “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.htm http://www.co.com l B.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 .blogspot.com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian. Strategi Pembelajaran. 2002.html http://darmosusianto.indomedia.com/intisari/2000/agst/matematika8. Berorientasikan Standar Proses Pendidikan. Jakarta : PT.Sugiyono. 2007. (2005). Asdi Mahasatya Wina Sanjaya. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.blogspot. Kencana. www.republika. 2007. Djamarah.html http://www.

161 : A. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman. Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. Misi : . Struktur Organisasi 108 .Meningkatkan rasa kemandirian.PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605.Nurlailah : Swasta : Jl. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan . Berilmu dan Berakhlak.

Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 .1. Yayasan Ketua Yayasan H. Sekolah Kepala Sekolah B. Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2.

Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4. Prestasi 110 . Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2. Personil dan Sumber Dana 1. Siswa Berjumlah 28 orang 3.3. Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D.

2007) E. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD . G. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot . juara 3 guru berprestasi Tk. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. prosotan. pohon hitung. Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. balok. puzzle.Kecamatan th. Sistem Rekruitmen 1. ayunan. puteran. Dengan brosur 111 .2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. bak pasir. dan junkitan.c) Guru : Upi Supinah. th. f) Alat peraga di luar.

Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.2. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Gambaran Umum 1. Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4.

Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 . Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E.6. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

Berapa jumlah ruang belajar? 3. Adakah ruang perpustakaan? 6. Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 . Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Potensi di sekitar lokasi: 1. Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8.2. Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Berapa jumlah guru dan karyawan? 7. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A. Adakah bangunan mesjid? 4. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4.

Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. 5. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . 4. Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D. 3. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.C. 6.

pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 6. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2.2. Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 . 5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. 4. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4.

5. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E.

118 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful