BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

setiap materi dapat diajarkan kepada 7 . F.E. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. dibenarkan atau dikendalikan. Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah. 2. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. Jerome Bruner menyatakan. • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini.

bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. G.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. pada permainan atau bermain. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. 1. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . Melalui permainan. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Oleh karena itu. Dunia anak adalah dunia bermain. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Menurut Conny R. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Semiawan melalui bermain. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru.

Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat. 9 . meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain.2. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. mendengar. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Dalam proses belajar. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. mendengan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain.

perumusan dan pembatasan masalah. subjek Penelitian. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. Teknik Analisis Data.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. tujuan penelitian. Instrumen Penelitian. TeknikPengumpulan Data. Bab I. identifikasi masalah. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak. berisi latar belakang masalah. Bab II. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. Bab V. penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. Bab III. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. anggapan dasar. tentang prosedur penelitian yang berisi. kegunaan penelitian. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian. 10 . pertanyaan penelitian. I. Metode Penelitian. Sumber dan Jenis Data.

Bruner dalam Hurlock Elizabeth. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Dalam proses belajar.BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. (1990 : 234). tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. berbagai pekerjaan terwujud. Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”. Melalui aktivitas bermain. mendengar. Bagi anak. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. Bagi anak. Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. Sedang menurut Conny R. Penerapan Konsep Bermain 1. (2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 . anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat.

Bukan dikerjakan sambil lalu. karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. Motivasi instrinsik. sukarela dan dengan imajinatif. menggunakan perasaannya. Pengaruh positif. Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi. yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya. Cara/tujuan .”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). Kelenturan. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5. sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. 2. kegiatannya pura-pura. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. menyenangkan 12 .

Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain. maka makin mampu ia berpikir logis. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja. Bahkan. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education.bagi dirinya. Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. aktif dan konstruktif. adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. maka dapat dikatakan ia sedang bermain. dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”.” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. Dengan memahami arti bermain bagi anak. balita hingga masa remaja. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI).

bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris. dan linier. Belahan otak kiri memiliki fungsi. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak.suasana yang diakrabi secara alamiah. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris. Sebaliknya. 1986) terhadap. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4.. Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda. bila mau tumbuh secara mental. Yaitu. kedua belahan otak. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . teratur. Clark. 1986). Akibatnya menurut penelitian (Clark. maka yang diperlukan seperti itu. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget. tahun adalah suatu conditio sine qua non. Makin lama maka usai fase operasi konkret. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude.7. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. ciri dan respons untuk berfikir logis. imajinatif dan kreatif. kiri dan kanan. maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. memiliki fungsi yang berbeda-beda. belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. berkaitan dengan fungsi otak. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. 2. Seperti diketahui. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat. sesama teman atau orang lain.

melompat. Mereka dapat melempar. Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga. mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme. dan meloncat sementara bermain. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya.mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . menendang. menangkap. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. atau memalu paku kedalam kayu. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit.” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. dan lain-lain.

Kira-kira pada akhir tahun pertama. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi. biasanya tertarik pada game-game dengan aturan. daripada produk bermain mereka. c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. Mereka lebih memfokuskan pada proses. dan bukan pada hasil lukisannya. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak. Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian. Sebagai contoh. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . sebuah balok. Sebagai contoh.dan tujuan bermain yang berbeda. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut. anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur.

Pada usia ini. atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. seperti memperagakan cerita atau adegan. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. papan. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. game-game komputer. yaitu membangun atau membuat sesuatu. bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat. Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. dan atletik. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. seperti sepak bola dan baseball. Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. seperti “petugas polisi”. Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek.inginkan.

atau ruang tamu memanjat. keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur. membangun balok. Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga. dll 18 . g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal. Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi.

Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. model. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. Jika 19 . 1978). evaluator dan perencana bermain (Bjorkland. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut. Guru harus menjadi pengamat.Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. penjelas. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain.

dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum.anak lain terlibat dalam mempelajari serangga. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain. Ketika melakukan 20 . maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. 5) Perencana Akhirnya. guru harus berfungsi sebagai perencana. lingkungan. Evaluasi berarti bahwa materi. 3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak. menjelaskan. Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. dan mengevaluasi.

Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. 4. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. 21 . Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan. atau menjadi monster. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan. Pilihlah mainan-mainan yang tepat. maka ini bukanlah bermain. 3. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya.” Waktu. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Pantaulah kemajuan bermain.perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka. maka ini dikatakan bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad.

tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. 6. 5.Dalam bermain. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. 7. anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. atau cara bukanlah hasil akhir. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. adalah yang paling penting. proses. Sebagai contoh. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. tetapi ketika bermain. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. 22 .

walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. mengatur. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. makna yang diberikan oleh pemain. Bermain bukanlah aktifitas pasif. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. seperti menonton televisi. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. dan berinteraksi dengan lingkungan. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Jika keterlibatan itu pasif. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. maka ini biasanya bermain. makna nonliteral. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. Ini termasuk motivasi personal.  Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. 23 . merencanakan. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. keterlibatan aktif. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. Selain berpikir mengenai jenis bermain.

termasuk bermain sosial. a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain.Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. dan koperatif. 24 . adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. (3) Dalam game dengan aturan. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak. paralel. Ketika anak-anak matang. asosiatif. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni. anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek. atau bermain fungsional. dan bermain sosiodrama. onlooker. bermain dengan objek. maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. Dalam studi klasiknya. (2) Bermain simbolis.

Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. dan skill-skill sosial. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. 8. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya. Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri. pertumbuhan intelektual.c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. Menurut Vygotsky. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 . Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar.

Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. mengamati. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi. membantu perkembangan sosial dan emosional. mengurutkan. membuat prediksi. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. sosial dan intelektual dasar.” Baik bermain eksplorasi. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. mengklasifikasikan. yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan. Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. mendiskriminasikan. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. dan penting untuk perkembangan fisik. menarik kesimpulan. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik. Begitu pula dalam suasana bermain aktif. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif.

Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. drama. bermain konstruktif. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. dan sebagainya. Anak-anak diterima apa adanya. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. dihargai keunikannya. mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. dan tidak terlalu cepat dievaluasi. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. akan merasa aman secara psikologis. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini. ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. karena menambah bumbu dalam permainannya. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. menemukan hubungan yang 27 . Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan.

Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. a) Bermain memiliki berbagai arti. Dengan pengulangan. Melalui aktivitas bermain. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. Bermain adalah medium. unsur resiko itu selalu ada. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. berenang. b) Unsur lain adalah pengulangan. tetapi mengasyikan. Jadi. Betapa pun sederhana permainannya. di mana si anak mencobakan diri. ataupun meloncat. berbagai pekerjaanya terwujud. maka ia melatih kemampuannya. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. Bila anak bermain secara bebas. naik sepeda sendiri. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . bermain adalah suatu kegiatan yang serius. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak. sampai mampu melakukannya. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. 9.

ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. dan gangguan emosional. Sesudah pengulangan itu berlangsung. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 . anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang. Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja. Melalui berbagai permainan yang diulang. takut. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks. d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.

tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus.Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. ruang. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. kuantitas dan sebagainya . d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. 30 . Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya.

anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. memperoleh hasil kerja yang baik. d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 .

Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu. 10. Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini. afektif. anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan. dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. sehingga guru harus waspada dalam 32 . . Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut.mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum. ruang. mengembangkan skill-skill bahasa oral. materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. dan perasaan gembira. baik kognitif. melibatkan peran aktif anak.

Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan. adalah yang paling berguna. atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok. Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. Balok.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. guru dapat menyediakan kotak. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . bola. Sebagai contoh. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak. pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda. a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain. Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik.

guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca.  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. Pembelajaran di RA antara laian harus : a. Oleh karena itu. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak. 34 . Oleh karena itu. 11. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. Melalui kerja mereka.

kejenuhan. perilaku serta agama). maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. h. (Balitbang. kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja. intelegensi (daya 35embe.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut. e. dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki.Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan.Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu. f. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain. daya cipta. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak. 2002 : 4 – 5). sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA. kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual). g. 35ember-emosional (sikap. Artinya. c. agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 .Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya.b. Dengan demikian. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak. d.

Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. dan pola 36 . belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. berbagai pekerjaan terwujud. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. Bagi anak. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif. berangkat dari potensi yang dimiliki anak. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. pola jiwa.optimal. Melalui aktivitas bermain. Dalam proses belajar. afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan. Bagi anak. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. Selain dengan pemahaman tersebut. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. Prasetyono. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. dalam Hartati S. mendengar. yaitu. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran.

Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. ruang. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. kajian penelitian. Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas.perilaku guru sebagai pendidik. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. kuantitas dan sebagainya .

diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. memperoleh hasil kerja yang baik. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang.

memiliki hubungan 39 . Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. d. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. tidak memiliki tujuan ekstrinsik.Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. dan perasaan gembira. c. b. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. melibatkan peran aktif anak. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah.

makna yang diberikan oleh pemain. merencanakan. Ini termasuk motivasi personal.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). dan berinteraksi dengan lingkungan. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. b. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. makna nonliteral. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. seperti menonton televisi. afektif. a. Jika keterlibatan itu pasif. baik kognitif. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. keterlibatan aktif. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. . maka ini biasanya bermain. d. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. mengatur. Bermain bukanlah aktifitas pasif. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. 12. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 .

Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. f. maka ini bukanlah bermain.” Waktu. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. Dalam bermain. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. atau menjadi monster. adalah yang paling penting. Sebagai contoh. atau cara bukanlah hasil akhir. 41 . proses. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. maka ini dikatakan bermain. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. tetapi ketika bermain. e. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. g.

dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. Drevdal dalam Hurlock (1999). mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. B. Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. Kreativitas Anak Usia Dini 1.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi. 42 . Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. ide-ide baru. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi. produk. Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.

mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley. tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. (2008: 262-263). kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana.. Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. setelah melakukan penelitian yang mendalam. (2008: 261). Dengan kata lain. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu. seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. Sokolova. 43 . atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. agung. jika seseorang mengisi bensin di jalan. cerdik luar biasa. produk ilmiah. Sokolova.. maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya. al. berarti dan bermanfaat. kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar. Jadi menurut ahli ini. Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. kesusasteraan. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. at. data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan. informasi. Bagaimanapun. at. 1999). Seringkali. kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. dan melampaui pemahaman.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni.al. asosiasi baru berdasarkan bahan.

produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil. Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih. Akhirnya. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. Dr. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh. 44 . Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh. Contoh sederhana.

orang. alat. Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. akan sedikit mengalami kesulitan. dan proses di belakang kreativitas. perbedaan dalam orang. Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. Pada akhirnya. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta). dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan. Dari penjelasan di atas. Finke. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. berbagai tekanan yang memotivasi. proses kreativitas pun menjadi berbeda. misalnya.Sedangkan Ward. motivasi dan atau proses. Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. 45 . dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original. Namun. mendefenisikan kreativitas pada orang.

Dalam Irina V. imajinasi. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. penalaran. (2008 : 265). “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. imajeri. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang.“oris Malaguzzi“. 2. Sokolova. at. atensi. Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas. pengambilan keputusan. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi. Irina V. 46 .Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami.. at. Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak.. (Aristoteles). 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a. (2008:263). Sokolova. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan. Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto. Aktifitas berpikir. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental. ingatan.al. dan pemecahan masalah. maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak.al. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas. Aktifitas ini bersifat kompleks.

mengurangi hambatan. (4) berguna atau bernilai. dan belum pernah ada sebelumnya. Mencermati uraian di atas. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. mendorong.b. Produk yang berguna atau bernilai. memperlancar. Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. 2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali. memecahkan masalah. Sifat baru atau orisinal. (1984). dan dapat dinikmati oleh masyarakat. (3) baru atau orisinal. seperti lebih enak. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . d. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan. c. Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. (2) menemukan atau menciptakan. mempermudah. 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. lebih mudah dipakai. dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu. Sejak kecil hingga dewasa. mendidik. (1) aktifitas berpikir. kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. bersifat luar biasa.

sikap. yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran. serta pemikiran. keluwesan (fleksibilitas). atau unsur-unsur yang ada. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. dan keragaman jawaban". informasi. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius.dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). di mana penekanannya adalah pada kuantitas. ketepatgunaan. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. dan orisinalitas dalam 48 . penemuan –penemuan baru. Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. berupa ide-ide baru. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru. perilaku kreatif produktif. Untuk mencapai hal itu. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. Uraian diatas mengandung makna. berdasarkan data. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya.

pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat). merupakan data. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas. Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. informasi. mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru.berpikir. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. Hal-hal tersebut. yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta. sebagaimana 49 . memperkaya.

 Kreativitas merupakan suatu cara berpikir. bahwa berdasarkan analisis faktor. misalnya melukis. jenis kelamin. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan. tidak bergantung pada usia.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi. maupun konkret atau abstrak. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan.  Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. baik itu berbentuk lisan atau tulisan. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu. dan karenanya unik bagi orang itu. yang sangat diharapkan dimasa mendatang. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja. membangun dengan balok. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini. berbeda. Artinya.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah.  3. 50 .

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. ciri tersebut makin dimiliki. Dengan ciri kognitif : kelancaran. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. orisinalitas. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. working real problems. dalam hal ini termasuk anak usia dini. kelenturan. basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. 54 . practice with process. Makin kreatif seseorang. pemerincian. Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Tingkat 1. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. dengan kemampuan berpikir kreatif. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. Semua ciri-ciri tersebut diatas. merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang.

Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran.pengenalan dan ingatan. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis. Tingkat 2. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif. keberanian mengambil resiko. kedwiartian. tenggang rasa terhadap kesamaan. practice with process. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. kesediaan untuk menjawab. Tingkat 3. kepekaan terhadap masalah. keterbukaan terhadap pengalaman. simulasi dan studi kasus. evaluasi. teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. 55 . working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. imajinasi dan fantasi. percaya diri.

Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang.factual dan akurat mengenai data.di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. karena pada awalnya 56 . Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting).analisis dan klasifikasi. Metode biasa disebut juga metode analitik. Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi.” Senada dengan pendapat di atas. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis.BAB III PROSEDUR PENELITIAN A.

karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. Disebut sebagai metode kualitatif. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. persepsinya.Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan. Di samping itu. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. menganalisis. pendapat pemikiran. dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. Untuk dapat menjadi instrument. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. peristiwa.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini. memotret. diobservasi. ide-ide. informasi. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya. pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas.2006:16). yaitu peneliti itu sendiri. Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. keyakinan. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument. diminta memberikan data. sehingga mampu bertanya. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.

tetapi lebih menekankan pada makna. jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian. maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. (Sugiyono. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif. Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. foto dan statistik. peserta didik. Perlu ditegaskan. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling.nilai di balik data yang tampak. Moleong (2000: 3) menegaskan. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. sumber data tertulis. guru-guru. tulisan. B. dokumen dan data statistik. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati.

data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai. D. foto. C. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. instrumen penelitian ini adalah : 1. 2002: 59 . dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder). Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. Pedoman observasi (terlampir) 3.sebagai data utama (primer). Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. Dengan kata lain. sedangkan tulisan. Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. Pedoman wawancara (terlampir) 2. Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl. Pedoman kepustakaan (terlampir) E.

Menurut Nawawi (1995: 100). sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. pada tahap ini. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. Dengan teknik observasi pertisipatif. Subagyo (2004: 63). dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. bahwa observasi merupakan suatu proses komplek. Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan.122). peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. pada situasi yang sama atau berbeda. Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. yaitu: 1. peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. Oleh karena itu. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya.

Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list). berupa kondisi lingkungan sekolah. Kedua. pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. 61 . dan lain-lain. wawancara relatif tertutup. keadaan fisik sekolah. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. Pertama. Pada wawancara ini. seperti interaksi antar warga sekolah. Panduan wawancara dibuat cukup rinci. Pewawancara pun bekerja. 2002: 124). bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. wawancara yang terbuka. pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum.pekerjaan subyek penelitian. keadaan fisik sekolah. Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. keperilakuan. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. Pada wawancara dengan format ini. sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. dan ketiga. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. kedua. dan lain-lain. 2. interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. Berdasarkan strukturnya. perilaku siswa.

notulen rapat. agenda.Pada wawancara dengan format terbuka. subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim. meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. 2002: 132). surat kabar. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain. lengger. membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). 3. a. transkip. Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). tindakan. metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Danim (2002: 175). 62 . Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. Dalam hal ini. Selanjutnya. dan sebagainya. dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. majalah. buku. yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. prasasti. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). dan pengalaman-pengalamannya. keyakinan-keyakinan.

peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). potensi material lembaga. Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. dan lain sebagainya. dan masih banyak alasan-alasan lain. yaitu sebagai berikut: 1. Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi. bukan mengawalinya dengan judul. yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. Adapun tahapan yang dimaksud. berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. melainkan dapat tumpang tindih. F. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan. seperti sistem dan mekanisme kerja. 63 . Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang.b. saling melengkapi. atau bahkan mungkin bertolak belakang. jumlah personal. kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu.

Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. Syamsu Yusuf. wawancara terbuka. peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian. tahap selanjutnya adalah penafsiran data. Hurlock. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. 5. mengenai psikologi perkembangan anak. karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. yaitu observasi partisipatif. Dalam hal ini. Dalam pengembangan instrumen. peneliti menggunakan tiga teknik. 4. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. Melaporkan hasil penelitian 64 . seperti bukunya Elizabeth B. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. peneliti tidak menuntut instrumen baku. 3. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya.2. 2005.. dan dokumentasi. 6. 1988.

memprediksi. Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian. Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan. analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 . atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya.1 Prosedur Penelitian G. mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian. Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3.

dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . 1. Analisis dilakukan untuk menemukan pola. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. dan hubungan terhadap keseluruhannya. data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan. hubungan antar kajian. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. dirangkum. 2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi. dipilih hal-hal yang pokok. difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. dilakukan coding atau pengkodean. hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian. Kemudian. kelengkapannya. Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication).

hubungan persamaan. yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table. Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. tema. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. hal-hal yang sering timbul. hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . H. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. 3. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola.dalam ketegori yang sama. Dengan kata lain. tabulasi atau pentabelan. 2. Dan selanjutnya. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh.

161 : A. 2. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1. 4. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. 68 . Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 6.1. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.Nurlailah : Swasta : Jl. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman. 5. 2. 3.

Berilmu dan Berakhlak. Nurlailah 69 .Meningkatkan rasa kemandirian.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1. Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Misi : .

Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2.

2007) 5.2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot .Kecamatan th. c) Alat peraga di luar. Sistem Rekruitmen 71 . th. balok.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD . juara 3 guru berprestasi Tk. 6. ayunan. pohon hitung. puteran. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga. bak pasir. puzzle. prosotan.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4. Prestasi a) Guru : Upi Supinah. dan junkitan.

Memasang spanduk B. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. organisasi. pelaksanaan 72 . Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor. Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. kuantitas guru serta penyetaraan standar. Secara operasional. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. Dengan brosur 2. prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program.1. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome. Data Hasil Penelitian 1. Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. meningkatkan kualitas.

kepala sekolah.00 WIB). yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik. Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian. pengawas. Guru. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru. Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. (wawancara di ruang kepala. Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola. yaitu pendidikan. fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik. Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. ketersediaan kurikulum. penyelenggara pendidikan. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. pukul 10. tanggal 12 Maret 2011. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah.

pukul 12.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia. 74 .” (Wawancara dengan ketua komite. tanggal 3 Maret 2011. guru dan komite sekolah. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain. Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar. Keterangan di atas. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan. Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada.00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran. di depan ruang kelompok B. karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. pukul 09. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini.” (Wawancara dengan Upi Supinah. guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD.

kemudian dari program tahunan ini. “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru. karena TK ini mdi bawah naungan Depag. Kami merasa itu suatu keharusan. pembelajaran menjadi terencana dan tertib. Ibu A. Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. program mingguan serta program harian. dibuat program semester. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya. di ruang kelompok B. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. terbitan Depag.” (Wawancara di ruang kelompok B.30). tanggal 15 Maret 2011. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari. Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester.30). mingguan serta harian para 75 . tanggal 15 Maret 2011. Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”.2. pukul 11. program semester. pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. pukul 11. program mingguan serta program harian. karena dengan program tersebut. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD.

20). semester. menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari.20) Dari keterangan di atas. yaitu setiap hari Sabtu.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih. di ruang kepala sekolah. yaitu hari Sabtu. pukul 10.guru. meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya. baik itu tahunan. sebelum pulang sekolah. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 . mingguan ataupun harian. sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku.” (Wawancara 4 Maret 2011. Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh. sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah. dan yang jelas mereka membuat atau tidak. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar. pukul 10. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program. (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah.

“Ayo kita bermain anak-anak!”. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya. Mendengar kata bermain. Terlihat senang. ingatan anak akan dapat bertahan. pembelajaran lebih mengutamakan permainan. Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar.mengembangkan kreativitas anak. Setelah anak dewasa. Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya. 10 Maret 2011. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. 3. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. di PAUD. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru. Pada masa ini.” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah. pukul 11. anak-anak merasa antusias.30 di ruang kelas). padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak.

yaitu konsep bermain. Nurlailah. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak. Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak.” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. Penerapan 78 . pukul 09.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa. 4. pukul 11.30). Dengan adanya guru yang berkualifikasi. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat.“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011. Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain. Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut. “Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A. tanggal 10 Maret 2011. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. di ruang kelas. Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.

79 . Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain. lego. Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. dari sinilah kreativitas anak muncul. dapat melatih kreativitas anak. Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut. Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah. di ruang kepala. pukul 12. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. ataupun puzzle. Dengan adanya alat bermain seperti balok. “Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak. aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A.15 WIB). PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan. 3 Maret 2011. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini.

dan sebagainya). 1989 : 17).pukul 12. Berdasarkan teori ini. Dengan melihat kondisi itulah. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin. Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. environmental input. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a. instrumental input.” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. meski usia mereka masih kecil. dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai. sub-sub sistem itu adalah raw input. teman. sarana. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. tanggal 12 April 2011. dan sebagainya). B. dan out put (Syamsuddin. 1989 : 17).30 WIB). environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain. Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego. Selain itu 80 . 5. Hal ini membuktikan mereka kreativ. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral. tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut.Mereka jadi anak yang kreativ. metode. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. masyarakat. Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung. di klp. media.

Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran.” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan. “saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A.20). “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . di ruang kelompok B.30). serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut. yang merupakan faktor instrumental input. tanggal 21 Maret 2011. Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini.” (Wawancara dengan kepala PAUD.Nurlailah selaku kepala PAUD. tanggal 4 Maret 2011. pukul 10. di ruang kepala sekolah. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD. pukul 11. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar. Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw.

00). Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. pukul 13. pukul 11. “Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan. b. tanggal 24 Maret 2011. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B. tanggal 18 Maret 2011. Nurlailah.00 di ruang kepala).30). (Wawancara dengan ibu A. seperti anggaran biaya. jam 11. gurunya. faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung. soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita. yang mengatakan. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. Dari keterangan di atas.Supinah. Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna. Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu. di depan ruang kelompok A. dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif. akan sulit nantinya. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar. oleh sebab itu 82 . alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas. tanggal 4 Maret 2011. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. Anak akan terbiasa dengan kita.

Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya. Kadang suka ikut campur dan sulit diatur. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya. tanggal 24 Maret 2011. di ruang kelas.” (Wawancara dengan ibu Eem.00). maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . jam 11.saya suka ngobrol dengan mereka. C. dan dokumenter. ketika istirahat. Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak. Dari keterangan di atas. wawancara.” (Wawancara di ruang kantor. Kepala PAUD Ibu A. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. Terkadang mereka suka mengatur. bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada. Namun. kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya. pukul 11. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya. tanggal 18 Maret 2011. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1.00).

seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. kegiatan spontan. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. kegiatan terprogram. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. a. 2. kegiatan teladan/contoh. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. 84 .yayasan. Sesuai dengan anjuran pemerintah.

o o o Berbaris dengan rapi. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain.o o o Sabar menunggu giliran. gigi. telinga. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. Berdiri tegap saat berbaris. 85 . Mau menerima dan menyelesaikan tugas. mau memakai pakaian seragam. Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. dan sebagainya. Sikap saling hormat menghormati. Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menciptakan suasana keakraban. antara lain: o o o o o Sopan santun. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. dan lain-lain. rambut.

Mengendalikan emosi. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan. Rapih dalam bertindak. o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. 86 . Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengembangkan kreativitas anak. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menjaga kebersihan lingkungan. Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan. berpakaian dan bekerja. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan.o o Melatih keberanian. dan sebagainya. Menjaga keamanan diri. Rapih dalam berdoa.

Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. Menjaga keamanan diri. Tolong menolong sesama teman. Mengurus diri sendiri. Meminta tolong dengan baik. Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. berpakaian dan bekerja. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Kegiatan spontan 87 . Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Membuang sampah pada tempatnya.o o Sopan santun. Menyimpan alat permainan setelah digunakan. Mau dan dapat makan sendiri. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain. Mengucapkan terima kasih dengan baik. Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain. Sabar menunggu giliran. o o o o o o o o o o o o o b. Mengenal kebersihan dan kesehatan. Rapih dalam bertindak.

hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 . Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. meminta sesuatu dengan berteriak. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. dan lain sebagainya. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan. Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih.

o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. Misalnya anggukan kepala. o Memberikan sentuhan kepada anak. misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak. dan lain-lain. dan lain-lain. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik.o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama. misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba. dan lain-lain. Misalnya “Bagus. berjabat tangan. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. dan lain-lain. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik. antara lain: 89 . memberikan acungan jempol. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik. misalnya menepuk pundak anak. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain. akan lebih baik lagi kalau dirapikan.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak.

o Menghindari respon yang negatif. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. Membanggakan hasil karya sendiri. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. dan mau meminta maaf. Aril menjawab. Mengendalikan emosi. “Kenapa kakinya?”. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. Mengucapkan terima kasih. Menghargai orang lain dan sportif. Tiba-tiba Aril berteriak. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. Aril 90 . serta tidak akan mengulangi lagi. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain.” O. bicaralah yang baik kepada bu guru. dan lain-lain. Aril tidak bisa memasang tali sepatu. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu. anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. seperti pincang. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. Coba. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. Bu guru bertanya. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan.

Di taman kanak-kanak. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. bukan karena hadiah atau pujian. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. melakukan latihan berkelompok. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. bertanya. terutama dalam kosa kata. Hal yang menarik. Melalui bermain. dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. baik 91 .minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Semiawan (Jalal. Menurut Conny R. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. menirukan. dan menciptakan sesuatu. Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Melalui permainan. melakukan penjelajahan. 3.

Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung. bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya.potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. 1998). membaca. diantaranya yaitu: a. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. kemampuan dan kebutuhan anak.2001. Bernyanyi 92 . Oleh karena itu. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. Depdikbud. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. b. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan.

pantai. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. mendengar. dan lainnya. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. Dengan bermain peran. merasakan. 93 . Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. kemudian ditirukan anak-anak. e. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. kebun. d. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. benda-benda. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. dan peran-peran tertentu sekitar anak. c. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar. sawah.

setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. 2002: 40). g. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. 4. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri.f. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. 94 . Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak.

sosial. 2002: 40).Sayangnya. serta emosinya. Selain Piaget. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. namun belum dapat menggunakan logika. Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini. motorik. Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA. meliputi aspek fisik. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun. sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. UT. kognitif. dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 . diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. Lev Vygotsky. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. 2008).

Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood). sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. maksudnya. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. 5. Memberikan pemahaman kepada 96 . Menurut JH Flavell. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. karena nantinya anak akan merasa bosan.sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. Otomatis. Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran. kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak.

masyarakat bahwa pada masa usia PAUD. kantor departemen agama. orang tua. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. dan menginkan anak-anaknya cerdas. dinas pendidikan. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. guru. Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. Seperti pada hasil temuan di atas. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). mampu membaca dan aspek lainnya. kepala sekolah. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah.

Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain. Kesimpulan Umum 98 . BAB V Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan 1.PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama. Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya.

melakukan penjelajahan. melakukan latihan berkelompok. Hal yang menarik. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. menemukan. dan sosio emosional. Melalui bermain maka 99 . yaitu intelektual. motorik. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Di PAUD.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. dan menciptakan sesuatu. 3. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. bertanya. terutama dalam kosa kata. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. bahasa. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. memanfaatkan. menirukan. 2. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain.

adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut. Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. 2. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Sesuai dengan anjuran pemerintah. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. 2. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. 1.

sebab 101 . Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. bermain peran. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Melalui permainan. kegiatan spontan. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. peragaan/demonstrasi. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. latihan. bukan karena hadiah atau pujian.Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu. Melalui bermain. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. kegiatan terprogram. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. pemberian tugas. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. kegiatan teladan/contoh. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. dilaksanakan bercerita. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. berdarmawisata. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan.

Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). kantor departemen agama.itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. 102 . dinas pendidikan. 3. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. guru. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. dan menginkan anak-anaknya cerdas. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. orang tua. kepala sekolah.

padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B. Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet. Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB). sarana pasarana. Selain itu memberikan dana operasional. Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. Saran Berdasarkan uraian di atas. Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan. 3. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat.mampu membaca dan aspek lainnya. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1. atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik. 103 . 2. tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah.

guru. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya. 6.4. bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya. 104 . Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. 5. serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. orang tua hanya memberikan arahan. Biarkan anak dengan keinginannya. Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

Jakarta : PT. 2009. Online:http://h4mm4d.Si.wordpress. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran. 1988. New York. Jakarta: Ghalia Indonesia. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI). Metode Penelitian. Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A. H.G. 1950. Sumber Belajar dan Alat Permainan.net M.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan. The Conditions of Learning. M. 2000. 1977 MBE. Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah.M. Chaplin.fai. http://www. Belajar Matematika lewat Permainan Dakon. Bandung: Alfabeta. Online: http://www. R. 2003. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika.bpplsp-reg-.mbeproject. Anggani Sudono.multiply. Grasindo. Robert. (1992). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. 2006.go. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. Medan : BPPLSP Regional I Farihen. Muhammad Surya.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh. Athiyah. 2004. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.id/index. 2006.R.ac. http://www. & Messick.F. Online: http://elangjava. Rinehart and Winston. 1999.F Arief. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya. Nazir.id/buletin/read. Elementary Social Studies: A Practical Guide. Holt. Ramadhan. 106 .php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. New York: Longman Dewi Gustini. dkk. 2007.umj.Al-Abrasyi. J.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne. S. Moleong LJ.

www.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 .Sugiyono.html http://darmosusianto. 2007.htm http://www. 2007.com/intisari/2000/agst/matematika8.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.blogspot. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.com l B.com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian. Berorientasikan Standar Proses Pendidikan. Jakarta : PT.indomedia. 2002.republika. (2005). “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”.blogspot. Psikologi Belajar.html http://www.co. Jakarta.blogspot. Strategi Pembelajaran.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. http://kumpulantipspilihan. Kencana. Djamarah.sobrycenter. Asdi Mahasatya Wina Sanjaya.html http://kumpulantipspilihan.

Nurlailah : Swasta : Jl. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan . Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B.PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Berilmu dan Berakhlak. Struktur Organisasi 108 . Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No.Meningkatkan rasa kemandirian. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Misi : .161 : A. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605.

Sekolah Kepala Sekolah B. Yayasan Ketua Yayasan H. Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2.1. Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 .

Prestasi 110 . Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D. Personil dan Sumber Dana 1. Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4. Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2.3. Siswa Berjumlah 28 orang 3.

G. dan junkitan.2007) E. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD . Sistem Rekruitmen 1.2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai.c) Guru : Upi Supinah. ayunan. f) Alat peraga di luar. puteran. 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. Dengan brosur 111 . bak pasir. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. th. Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. puzzle. juara 3 guru berprestasi Tk. prosotan.Kecamatan th. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot . pohon hitung. balok.

Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Gambaran Umum 1. Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A.2. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5.

Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6.6. Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 . Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.

Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A. Potensi di sekitar lokasi: 1. Adakah ruang perpustakaan? 6. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 .2. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Adakah bangunan mesjid? 4. Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Berapa jumlah guru dan karyawan? 7. Berapa jumlah ruang belajar? 3. Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5.

Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . 3. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 4. Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 6. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D.C. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. 5.

Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. 4. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. 6. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 . pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C.2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. 5. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3.

Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.5. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.

118 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful