BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain. setiap materi dapat diajarkan kepada 7 .E. • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini. 2. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Jerome Bruner menyatakan. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. dibenarkan atau dikendalikan. F. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah.

Menurut Conny R. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Melalui permainan.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Oleh karena itu. 1. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Dunia anak adalah dunia bermain. G. pada permainan atau bermain. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Semiawan melalui bermain. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H. 9 . meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain. Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat. mendengar. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. mendengan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain.2. Dalam proses belajar. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat.

berisi latar belakang masalah. Teknik Analisis Data. perumusan dan pembatasan masalah. I. TeknikPengumpulan Data. kegunaan penelitian. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. pertanyaan penelitian. Bab I. identifikasi masalah. anggapan dasar. Bab V. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian. Metode Penelitian. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. Bab II. penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. Instrumen Penelitian. 10 . tentang prosedur penelitian yang berisi. Bab III.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. tujuan penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. Sumber dan Jenis Data. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. subjek Penelitian. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak.

(2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 . Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. (1990 : 234). Bagi anak. Melalui aktivitas bermain. Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Penerapan Konsep Bermain 1. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat.BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Bruner dalam Hurlock Elizabeth. Bagi anak. Sedang menurut Conny R. mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak. Dalam proses belajar. berbagai pekerjaan terwujud. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. mendengar. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan.

Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3. Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. menyenangkan 12 . sukarela dan dengan imajinatif. kegiatannya pura-pura. Cara/tujuan . yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi. Pengaruh positif. karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. 2.”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya. yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. Motivasi instrinsik. Bukan dikerjakan sambil lalu. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. menggunakan perasaannya. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. Kelenturan. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5.

kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. aktif dan konstruktif. Dengan memahami arti bermain bagi anak.” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. maka dapat dikatakan ia sedang bermain. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya. maka makin mampu ia berpikir logis. dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret.bagi dirinya. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI). adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education. Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain. Bahkan. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak. balita hingga masa remaja.

sesama teman atau orang lain. Makin lama maka usai fase operasi konkret. teratur.suasana yang diakrabi secara alamiah. Seperti diketahui. Sebaliknya. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . 1986). belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris.. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat. Yaitu. maka yang diperlukan seperti itu. maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak. Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda. Belahan otak kiri memiliki fungsi. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan. kiri dan kanan. berkaitan dengan fungsi otak. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude. 2. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. imajinatif dan kreatif. bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris.7. 1986) terhadap. bila mau tumbuh secara mental. kedua belahan otak. dan linier. Akibatnya menurut penelitian (Clark. tahun adalah suatu conditio sine qua non. ciri dan respons untuk berfikir logis. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget. Clark. memiliki fungsi yang berbeda-beda.

” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . Mereka dapat melempar.mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. dan meloncat sementara bermain. dan lain-lain. menendang. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari. menangkap. melompat. mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme. atau memalu paku kedalam kayu. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya.

daripada produk bermain mereka. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. Kira-kira pada akhir tahun pertama. c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak. Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi. Mereka lebih memfokuskan pada proses. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur. dan bukan pada hasil lukisannya. Sebagai contoh. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut. Sebagai contoh. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. sebuah balok. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.dan tujuan bermain yang berbeda. Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . biasanya tertarik pada game-game dengan aturan.

inginkan. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. seperti memperagakan cerita atau adegan. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. seperti “petugas polisi”. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. game-game komputer. Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. yaitu membangun atau membuat sesuatu. atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan. dan atletik. papan. seperti sepak bola dan baseball. menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun. Pada usia ini. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat.

Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah. dll 18 . Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah. Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. membangun balok. atau ruang tamu memanjat. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga. g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal. keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur.

evaluator dan perencana bermain (Bjorkland. Guru harus menjadi pengamat. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut. Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. 1978).Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka. model. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain. penjelas. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain. Jika 19 .

anak lain terlibat dalam mempelajari serangga. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain. Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. menjelaskan. Ketika melakukan 20 . guru harus berfungsi sebagai perencana. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain. 5) Perencana Akhirnya. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak. Evaluasi berarti bahwa materi. 3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain. maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. lingkungan. dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum. dan mengevaluasi. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan.

biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. maka ini bukanlah bermain. maka ini dikatakan bermain. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan.” Waktu. 21 . Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya. atau menjadi monster. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Pilihlah mainan-mainan yang tepat.perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. 3. Pantaulah kemajuan bermain. Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. 4.

anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. 7. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. Sebagai contoh. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. 22 . 6. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. atau cara bukanlah hasil akhir. proses. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. tetapi ketika bermain.Dalam bermain. adalah yang paling penting. 5. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain.

 Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. merencanakan. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. maka ini biasanya bermain. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. Ini termasuk motivasi personal. dan berinteraksi dengan lingkungan. 23 . Agar suatu aktifitas disebut bermain. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. mengatur. Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. makna nonliteral. Bermain bukanlah aktifitas pasif. Jika keterlibatan itu pasif. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. makna yang diberikan oleh pemain. Selain berpikir mengenai jenis bermain. keterlibatan aktif. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. seperti menonton televisi.

b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek. asosiatif. Dalam studi klasiknya. (3) Dalam game dengan aturan. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. 24 . (2) Bermain simbolis. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak.Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. atau bermain fungsional. termasuk bermain sosial. onlooker. dan bermain sosiodrama. Ketika anak-anak matang. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni. adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. paralel. dan koperatif. bermain dengan objek.

dan skill-skill sosial. Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. 8. Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 . Menurut Vygotsky. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar. Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri.c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. pertumbuhan intelektual. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya.

Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. membantu perkembangan sosial dan emosional. Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. sosial dan intelektual dasar.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak. dan penting untuk perkembangan fisik. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan. mendiskriminasikan. Begitu pula dalam suasana bermain aktif. menarik kesimpulan. Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif. mengamati. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . mengklasifikasikan. Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak. membuat prediksi. mengurutkan. yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi.” Baik bermain eksplorasi.

mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru. dihargai keunikannya. bermain konstruktif. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan. menemukan hubungan yang 27 . Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. drama. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. akan merasa aman secara psikologis. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. dan sebagainya. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. dan tidak terlalu cepat dievaluasi. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. karena menambah bumbu dalam permainannya. Anak-anak diterima apa adanya.

tetapi mengasyikan. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. Bermain adalah medium. maka ia melatih kemampuannya. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. unsur resiko itu selalu ada. a) Bermain memiliki berbagai arti.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. Dengan pengulangan. berbagai pekerjaanya terwujud. Melalui aktivitas bermain. berenang. Bila anak bermain secara bebas. 9. di mana si anak mencobakan diri. Jadi. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . naik sepeda sendiri. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. ataupun meloncat. sampai mampu melakukannya. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak. b) Unsur lain adalah pengulangan. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. bermain adalah suatu kegiatan yang serius. Betapa pun sederhana permainannya. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak.

anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks. Melalui berbagai permainan yang diulang. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 . Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran. dan gangguan emosional. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks. takut. Sesudah pengulangan itu berlangsung. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang. Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain.

c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Seringkali anak hanya sekedar bertanya.Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. ruang. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. kuantitas dan sebagainya . 30 . d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga.

Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. memperoleh hasil kerja yang baik. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 . d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya.

anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. 10. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum.mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. sehingga guru harus waspada dalam 32 . afektif. mengembangkan skill-skill bahasa oral. baik kognitif. memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. ruang. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. melibatkan peran aktif anak. dan perasaan gembira. materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. .

atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain. b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak. adalah yang paling berguna. Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda. Sebagai contoh. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik. guru dapat menyediakan kotak. bola. pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. Balok.

Oleh karena itu. Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. 34 .  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. Pembelajaran di RA antara laian harus : a. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Melalui kerja mereka. 11. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Oleh karena itu. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca.

perilaku serta agama). kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual). g.Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki.Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya. maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak. Dengan demikian. agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 . Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain. 35ember-emosional (sikap.Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu. khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan. sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. f. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik. dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. 2002 : 4 – 5). c.b. kejenuhan. d.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik. h. Artinya. (Balitbang.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut. kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak. daya cipta. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). e. intelegensi (daya 35embe.

bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. dalam Hartati S. mendengar. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. pola jiwa. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Prasetyono. berbagai pekerjaan terwujud. belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. berangkat dari potensi yang dimiliki anak.optimal. Dalam proses belajar. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. dan pola 36 . Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. Melalui aktivitas bermain. Selain dengan pemahaman tersebut. yaitu. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif. Bagi anak. Bagi anak.

Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. kajian penelitian. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. kuantitas dan sebagainya . sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. ruang. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka.perilaku guru sebagai pendidik. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas.

memperoleh hasil kerja yang baik. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang.diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak.

Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan.Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. d. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. melibatkan peran aktif anak. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. dan perasaan gembira. memiliki hubungan 39 . Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. c. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. b.

d. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. makna nonliteral. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. mengatur. b. afektif. dan berinteraksi dengan lingkungan. Ini termasuk motivasi personal. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. merencanakan. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). Bermain bukanlah aktifitas pasif. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. baik kognitif. . 12. maka ini biasanya bermain. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. seperti menonton televisi. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. a. makna yang diberikan oleh pemain.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. keterlibatan aktif. Jika keterlibatan itu pasif. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 . tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi.

e. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. f. maka ini bukanlah bermain. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain.” Waktu. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. 41 . Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. atau menjadi monster. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. Sebagai contoh. maka ini dikatakan bermain. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. tetapi ketika bermain. g. adalah yang paling penting. Dalam bermain. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. atau cara bukanlah hasil akhir. proses.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas.

produk. Kreativitas Anak Usia Dini 1. mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Drevdal dalam Hurlock (1999). 42 . sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. B.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru. ide-ide baru.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain.

agung. (2008: 261). al. maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya. atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. at. jika seseorang mengisi bensin di jalan. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. (2008: 262-263). Jadi menurut ahli ini. dan melampaui pemahaman. berarti dan bermanfaat. Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. Sokolova. Dengan kata lain. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. Sokolova. informasi. at.. Bagaimanapun. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan.al. kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar. Seringkali. mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley. produk ilmiah. kesusasteraan. kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru. 43 . setelah melakukan penelitian yang mendalam. data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni. 1999).. kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana. asosiasi baru berdasarkan bahan. cerdik luar biasa. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu.

Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih. Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil. 44 . Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. Dr. Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh. produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. Akhirnya. Contoh sederhana. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’.

Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta).Sedangkan Ward. Dari penjelasan di atas. Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. misalnya. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. dan proses di belakang kreativitas. akan sedikit mengalami kesulitan. Pada akhirnya. alat. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. Namun. orang. dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. motivasi dan atau proses. 45 . Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. perbedaan dalam orang. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan. dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original. berbagai tekanan yang memotivasi. Finke. namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. proses kreativitas pun menjadi berbeda. mendefenisikan kreativitas pada orang. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas.

maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak. at. dan pemecahan masalah. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi. Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas. (2008 : 265).Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami. Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto. (Aristoteles). 2.. 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a.“oris Malaguzzi“. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. imajinasi. Aktifitas ini bersifat kompleks.al. Aktifitas berpikir. Sokolova. at. imajeri.. 46 . ingatan. (2008:263). Dalam Irina V.al. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas. penalaran. pengambilan keputusan. Sokolova. Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. atensi. Irina V. “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental.

dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. Mencermati uraian di atas. Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. c. mendorong. 2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali. dan dapat dinikmati oleh masyarakat. (3) baru atau orisinal. mengurangi hambatan. 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan.b. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. mempermudah. bersifat luar biasa. dan belum pernah ada sebelumnya. Sifat baru atau orisinal. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. (2) menemukan atau menciptakan. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. d. (1) aktifitas berpikir. mendidik. memecahkan masalah. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. seperti lebih enak. (1984). Sejak kecil hingga dewasa. Produk yang berguna atau bernilai. (4) berguna atau bernilai. memperlancar. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu. lebih mudah dipakai.

dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. dan keragaman jawaban". Untuk mencapai hal itu. yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran. Uraian diatas mengandung makna. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. informasi. seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru. Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. perilaku kreatif produktif. Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius. serta pemikiran. di mana penekanannya adalah pada kuantitas. sikap. berupa ide-ide baru. berdasarkan data. ketepatgunaan. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. atau unsur-unsur yang ada. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. keluwesan (fleksibilitas). dan orisinalitas dalam 48 . penemuan –penemuan baru.

Hal-hal tersebut. mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. memperkaya. Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. sebagaimana 49 . informasi. hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. merupakan data. memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas.berpikir. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta. Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat).

dan karenanya unik bagi orang itu. baik itu berbentuk lisan atau tulisan. misalnya melukis.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah. yang sangat diharapkan dimasa mendatang. 50 . membangun dengan balok.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi.  Kreativitas merupakan suatu cara berpikir. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan. tidak bergantung pada usia. tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu. bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. bahwa berdasarkan analisis faktor. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. jenis kelamin. berbeda. Artinya.  Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima.  3. maupun konkret atau abstrak.

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

dengan kemampuan berpikir kreatif. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Makin kreatif seseorang. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. kelenturan. Dengan ciri kognitif : kelancaran. Tingkat 1. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. practice with process. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. pemerincian. ciri tersebut makin dimiliki.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. orisinalitas. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu. basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang. Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. 54 . dalam hal ini termasuk anak usia dini. Semua ciri-ciri tersebut diatas. working real problems.

kedwiartian. 55 . simulasi dan studi kasus. evaluasi. working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. practice with process. keberanian mengambil resiko. teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya. kesediaan untuk menjawab. Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. tenggang rasa terhadap kesamaan. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. kepekaan terhadap masalah. Tingkat 2. Tingkat 3. Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif.pengenalan dan ingatan. percaya diri. keterbukaan terhadap pengalaman. imajinasi dan fantasi.

di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan. Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi. Metode biasa disebut juga metode analitik.analisis dan klasifikasi.factual dan akurat mengenai data. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting). karena pada awalnya 56 . Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis.BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada.” Senada dengan pendapat di atas. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.

maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas.2006:16).Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. Di samping itu. diobservasi. ide-ide. sehingga mampu bertanya. Disebut sebagai metode kualitatif. Untuk dapat menjadi instrument. pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. menganalisis. memotret. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini. yaitu peneliti itu sendiri. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. peristiwa. pendapat pemikiran. diminta memberikan data. keyakinan. persepsinya. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. informasi. karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa.

maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. guru-guru. dokumen dan data statistik. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. Perlu ditegaskan. dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi.nilai di balik data yang tampak. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. tetapi lebih menekankan pada makna. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling. jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian. Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). peserta didik. B. tulisan. foto dan statistik. sumber data tertulis. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif. dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . Moleong (2000: 3) menegaskan. (Sugiyono.

Pedoman kepustakaan (terlampir) E. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). 2002: 59 . Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain. tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. Dengan kata lain. foto. dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder). Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. Pedoman observasi (terlampir) 3. Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl. Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai. instrumen penelitian ini adalah : 1. C. sedangkan tulisan. Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Pedoman wawancara (terlampir) 2.sebagai data utama (primer). D.

Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa.122). Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). pada situasi yang sama atau berbeda. pada tahap ini. peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan. Subagyo (2004: 63). Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . Oleh karena itu. mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. Menurut Nawawi (1995: 100). Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. bahwa observasi merupakan suatu proses komplek. Dengan teknik observasi pertisipatif. peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. yaitu: 1. peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.

Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). Panduan wawancara dibuat cukup rinci. Pertama. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. Pada wawancara dengan format ini. Pada wawancara ini. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. Pewawancara pun bekerja. Kedua. perilaku siswa. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. 2. wawancara yang terbuka. peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. seperti interaksi antar warga sekolah. Berdasarkan strukturnya. pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. dan lain-lain. Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. berupa kondisi lingkungan sekolah. dan lain-lain. sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. kedua. wawancara relatif tertutup. keadaan fisik sekolah. 2002: 124). pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list). pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum. keperilakuan. 61 . interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula.pekerjaan subyek penelitian. bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. keadaan fisik sekolah. dan ketiga.

surat kabar. melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain. 2002: 132). yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. Selanjutnya. meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim. dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. lengger. Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). buku. Dalam hal ini. Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. dan sebagainya. transkip. Danim (2002: 175). membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. prasasti. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). a. majalah.Pada wawancara dengan format terbuka. Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. keyakinan-keyakinan. 3. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). 62 . dan pengalaman-pengalamannya. tindakan. notulen rapat. Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. agenda.

63 . Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan. saling melengkapi. bukan mengawalinya dengan judul. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). seperti sistem dan mekanisme kerja.b. Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. Adapun tahapan yang dimaksud. jumlah personal. Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang. yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi. yaitu sebagai berikut: 1. kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu. dan masih banyak alasan-alasan lain. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. melainkan dapat tumpang tindih. dan lain sebagainya. berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. atau bahkan mungkin bertolak belakang. F. potensi material lembaga.

Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. peneliti tidak menuntut instrumen baku. tahap selanjutnya adalah penafsiran data. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. wawancara terbuka.. mengenai psikologi perkembangan anak. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Dalam pengembangan instrumen. Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Syamsu Yusuf. seperti bukunya Elizabeth B. peneliti menggunakan tiga teknik. Melaporkan hasil penelitian 64 .2. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian. karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. 6. dan dokumentasi. Dalam hal ini. yaitu observasi partisipatif. 2005. 1988. 3. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. 4. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. Hurlock. 5.

Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan. analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 . Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. memprediksi. atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya.1 Prosedur Penelitian G. mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian. Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan.

data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. dan hubungan terhadap keseluruhannya. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian. Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi. Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. Analisis dilakukan untuk menemukan pola. hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan.dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. Kemudian. dilakukan coding atau pengkodean. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication). difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. kelengkapannya. Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan. 1. hubungan antar kajian. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. dirangkum. 2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). dipilih hal-hal yang pokok.

Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. tabulasi atau pentabelan. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola. hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. 2. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. hal-hal yang sering timbul. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. H. Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. 3. Dengan kata lain. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . hubungan persamaan.dalam ketegori yang sama. Dan selanjutnya. tema. yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh.

4.Nurlailah : Swasta : Jl. 3. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.161 : A. Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1. 6.1. Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. 2. 2. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. 68 . 5.

tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .Meningkatkan rasa kemandirian.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif . Misi : . Nurlailah 69 .Berilmu dan Berakhlak. Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini .Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1. Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A.

Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2.

halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot . Prestasi a) Guru : Upi Supinah. puzzle. bak pasir. balok.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4. juara 3 guru berprestasi Tk. pohon hitung. prosotan. 6.2007) 5.Kecamatan th. ayunan. th.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD .2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. Sistem Rekruitmen 71 . c) Alat peraga di luar. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. puteran. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga. dan junkitan.

kuantitas guru serta penyetaraan standar. Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. meningkatkan kualitas. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. organisasi. Memasang spanduk B. prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program. Data Hasil Penelitian 1. Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. pelaksanaan 72 .1. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Dengan brosur 2. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome. Secara operasional. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor.

yaitu pendidikan. Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan. penyelenggara pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru. yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik. pukul 10. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. Guru. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah. tanggal 12 Maret 2011. ketersediaan kurikulum. (wawancara di ruang kepala. pengawas. Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola.00 WIB). fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. kepala sekolah. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun.

jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. pukul 12. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan. tanggal 3 Maret 2011. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran.” (Wawancara dengan Upi Supinah. Keterangan di atas. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD.00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara. karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar. guru dan komite sekolah. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan. 74 . Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus.” (Wawancara dengan ketua komite. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini. di depan ruang kelompok B. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. pukul 09. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya.

Ibu A. pukul 11. pukul 11. tanggal 15 Maret 2011. mingguan serta harian para 75 . program mingguan serta program harian. “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD. dibuat program semester. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari.” (Wawancara di ruang kelompok B. ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat. Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan.30). karena TK ini mdi bawah naungan Depag.2. program mingguan serta program harian. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya.30). Kami merasa itu suatu keharusan. di ruang kelompok B. kemudian dari program tahunan ini. program semester. karena dengan program tersebut. Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester. pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. terbitan Depag. tanggal 15 Maret 2011. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. pembelajaran menjadi terencana dan tertib.

dan yang jelas mereka membuat atau tidak. meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya. menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam. semester. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih. di ruang kepala sekolah. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu.guru. pukul 10. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar. yaitu setiap hari Sabtu.20) Dari keterangan di atas. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 . sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah. sebelum pulang sekolah. sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku. (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah. Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. baik itu tahunan. pukul 10. yaitu hari Sabtu. mingguan ataupun harian.20).” (Wawancara 4 Maret 2011.

Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan. Mendengar kata bermain. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. anak-anak merasa antusias. memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . Setelah anak dewasa. 3. 10 Maret 2011. pukul 11. Terlihat senang. “Ayo kita bermain anak-anak!”. Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak. di PAUD. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya.30 di ruang kelas). Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar.mengembangkan kreativitas anak. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru. ingatan anak akan dapat bertahan. Pada masa ini. pembelajaran lebih mengutamakan permainan. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya.” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah.

Dengan adanya guru yang berkualifikasi.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa. Nurlailah. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age.“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar. “Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini. pukul 09. Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain.” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut. Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini. Penerapan 78 . yaitu konsep bermain. 4. tanggal 10 Maret 2011. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. di ruang kelas.30). pukul 11. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A.

Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. ataupun puzzle. Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya. 79 . Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A. lego. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. 3 Maret 2011. dapat melatih kreativitas anak. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan. “Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan. di ruang kepala. Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain.15 WIB). Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar. karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang. dari sinilah kreativitas anak muncul. Dengan adanya alat bermain seperti balok. pukul 12. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain.

dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai.pukul 12. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain.” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. di klp. sarana. masyarakat. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik. Berdasarkan teori ini. dan sebagainya). Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung.30 WIB). 5. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. instrumental input. dan sebagainya). 1989 : 17). Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego.Mereka jadi anak yang kreativ. teman. meski usia mereka masih kecil. metode. media. dan out put (Syamsuddin. tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin. environmental input. Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. Dengan melihat kondisi itulah. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral. sub-sub sistem itu adalah raw input. Selain itu 80 . tanggal 12 April 2011. 1989 : 17). instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. Hal ini membuktikan mereka kreativ. B.

yang merupakan faktor instrumental input.20). Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini. “saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. di ruang kelompok B.30). pukul 10. di ruang kepala sekolah. pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan.” (Wawancara dengan kepala PAUD. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A. tanggal 21 Maret 2011. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD.” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan. “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan. Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw. tanggal 4 Maret 2011. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini. Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran.Nurlailah selaku kepala PAUD.

(Wawancara dengan ibu A. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. Nurlailah. gurunya.Supinah. akan sulit nantinya. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B. Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna. seperti anggaran biaya.00 di ruang kepala). faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung. dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif. di depan ruang kelompok A. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar. Dari keterangan di atas. b. tanggal 18 Maret 2011. pukul 11. alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas. jam 11. yang mengatakan. “Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan.00). oleh sebab itu 82 . soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita. pukul 13.30). tanggal 4 Maret 2011. Anak akan terbiasa dengan kita. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. tanggal 24 Maret 2011. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu.

ketika istirahat. bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. dan dokumenter. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. tanggal 24 Maret 2011. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . tanggal 18 Maret 2011. wawancara. di ruang kelas. jam 11. maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya. Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada. kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya. C.” (Wawancara dengan ibu Eem.00). Terkadang mereka suka mengatur.saya suka ngobrol dengan mereka. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya.” (Wawancara di ruang kantor. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1.00). pukul 11. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. Namun. Kadang suka ikut campur dan sulit diatur. Dari keterangan di atas. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini. Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak. Kepala PAUD Ibu A.

kegiatan teladan/contoh. kegiatan spontan. seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. a. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. 84 . bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin.yayasan. Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. 2. kegiatan terprogram. Sesuai dengan anjuran pemerintah. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain.

Sikap saling hormat menghormati. dan lain-lain. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. Menciptakan suasana keakraban. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD. mau memakai pakaian seragam. Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. antara lain: o o o o o Sopan santun. rambut. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. o o o Berbaris dengan rapi. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. telinga. Berdiri tegap saat berbaris. 85 . Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. gigi. Mau menerima dan menyelesaikan tugas. dan sebagainya.o o o Sabar menunggu giliran. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain. Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar.

o o Melatih keberanian. Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rapih dalam bertindak. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Mengembangkan kreativitas anak. Menjaga keamanan diri. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. dan sebagainya. Menjaga kebersihan lingkungan. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. 86 . o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Mengendalikan emosi. Rapih dalam berdoa. berpakaian dan bekerja. Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan.

Tolong menolong sesama teman. o o o o o o o o o o o o o b. Mengurus diri sendiri. Mengenal kebersihan dan kesehatan. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. Meminta tolong dengan baik. Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Mau dan dapat makan sendiri. Sabar menunggu giliran. Menyimpan alat permainan setelah digunakan. Menjaga keamanan diri. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Mengucapkan terima kasih dengan baik. Membuang sampah pada tempatnya. Kegiatan spontan 87 . Rapih dalam bertindak. berpakaian dan bekerja. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain.o o Sopan santun. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain.

anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan. Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan. hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 . meminta sesuatu dengan berteriak. dan lain sebagainya.

dan lain-lain. berjabat tangan. memberikan acungan jempol. o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik. o Memberikan sentuhan kepada anak. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik.o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. Misalnya “Bagus. misalnya menepuk pundak anak. akan lebih baik lagi kalau dirapikan.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak. Misalnya anggukan kepala. dan lain-lain. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama. dan lain-lain. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. dan lain-lain. misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. antara lain: 89 . misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba.

Mengendalikan emosi. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan. anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik. Aril 90 . seperti pincang. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. o Menghindari respon yang negatif. Tiba-tiba Aril berteriak. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. Aril menjawab. Bu guru bertanya. bicaralah yang baik kepada bu guru.” O. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. dan mau meminta maaf. serta tidak akan mengulangi lagi. Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. Menghargai orang lain dan sportif. Membanggakan hasil karya sendiri. Coba. “Kenapa kakinya?”.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. Mengucapkan terima kasih. Aril tidak bisa memasang tali sepatu. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. dan lain-lain.

Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. Hal yang menarik. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Di taman kanak-kanak. Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Melalui permainan. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Semiawan (Jalal. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Menurut Conny R. 3. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. melakukan penjelajahan. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. melakukan latihan berkelompok. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. Melalui bermain. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. bertanya. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain.minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. dan menciptakan sesuatu. Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. baik 91 . menirukan. dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. terutama dalam kosa kata. bukan karena hadiah atau pujian.

potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. membaca.2001. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. diantaranya yaitu: a. Depdikbud. 1998). kemampuan dan kebutuhan anak. Bernyanyi 92 . bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung. Oleh karena itu. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. b. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi.

e. d. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. 93 . kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. pantai. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. kebun. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. Dengan bermain peran. benda-benda. dan peran-peran tertentu sekitar anak. dan lainnya. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. kemudian ditirukan anak-anak. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. c. mendengar. Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. merasakan. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. sawah.

dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. 94 . Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. 4. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain.f. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. g. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. 2002: 40). setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan.

2002: 40). menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. UT. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini. Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun.Sayangnya. sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 . Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA. Lev Vygotsky. serta emosinya. kognitif. motorik. Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. namun belum dapat menggunakan logika. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. meliputi aspek fisik. 2008). sosial. Selain Piaget.

sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. maksudnya. Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran. kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Menurut JH Flavell. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. Otomatis. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Memberikan pemahaman kepada 96 . Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. 5. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. karena nantinya anak akan merasa bosan. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood).

dinas pendidikan. kepala sekolah.masyarakat bahwa pada masa usia PAUD. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. Seperti pada hasil temuan di atas. dan menginkan anak-anaknya cerdas. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga. mampu membaca dan aspek lainnya. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). orang tua. guru. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. kantor departemen agama.

PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama. BAB V Kesimpulan dan Saran A. Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya. Kesimpulan Umum 98 . Kesimpulan 1. Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain.

melakukan penjelajahan. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. memanfaatkan. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. yaitu intelektual. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. dan menciptakan sesuatu. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. Di PAUD. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. 2. menirukan. motorik. Hal yang menarik. bertanya. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. dan sosio emosional. melakukan latihan berkelompok. bahasa. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. 3. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. terutama dalam kosa kata. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. menemukan. Melalui bermain maka 99 .

Sesuai dengan anjuran pemerintah. adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut. 2. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. 2.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. 1.

dilaksanakan bercerita. Melalui permainan. bukan karena hadiah atau pujian. Oleh karena itu. Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. kegiatan terprogram. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. bermain peran. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. sebab 101 . semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan.Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. kegiatan spontan. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. berdarmawisata. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. peragaan/demonstrasi. pemberian tugas. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. Melalui bermain. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. kegiatan teladan/contoh. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. latihan.

Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. kantor departemen agama. orang tua. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. dinas pendidikan. 3. dan menginkan anak-anaknya cerdas.itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). guru. kepala sekolah. Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. 102 . Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya.

Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat. sarana pasarana. atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik.mampu membaca dan aspek lainnya. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1. Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB). Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet. 2. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah. Selain itu memberikan dana operasional. sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan. 3. Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. 103 . Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B. tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini. Saran Berdasarkan uraian di atas.

Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini. serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. orang tua hanya memberikan arahan. bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua.4. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. 6. 104 . Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya. Biarkan anak dengan keinginannya. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya. guru. Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. 5.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

F. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI). Robert. 2004. http://www. Chaplin.F Arief. Elementary Social Studies: A Practical Guide. Muhammad Surya. Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A. & Messick.umj. Bandung : PT Remaja Rosda Karya. Bandung: Alfabeta.M. 2006. 2006. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran. Online: http://elangjava.Al-Abrasyi.php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. Moleong LJ.net M.Si. 1977 MBE. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.ac.id/index. Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah.mbeproject. 106 . Anggani Sudono. Metode Penelitian. Sumber Belajar dan Alat Permainan. dkk. Medan : BPPLSP Regional I Farihen. H. Rinehart and Winston.go. J.multiply. Jakarta: Ghalia Indonesia. Belajar Matematika lewat Permainan Dakon. Nazir. Grasindo. R. 1999. http://www.wordpress. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. Holt. Metodologi Penelitian Kualitatif. S.id/buletin/read.R. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne.bpplsp-reg-. (1992). M. 2009. 2000. 2003. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika. 2007. The Conditions of Learning.G. Athiyah. Jakarta : PT. Online:http://h4mm4d. New York: Longman Dewi Gustini.fai.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan. 1988. 1950.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh. New York. Online: http://www. Ramadhan.

html http://kumpulantipspilihan. Psikologi Belajar.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.Sugiyono.html http://darmosusianto. Jakarta : PT. 2007. 2002.blogspot.com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian.htm http://www.html http://www. Strategi Pembelajaran. Djamarah. Asdi Mahasatya Wina Sanjaya. Jakarta. “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”. www.blogspot. Berorientasikan Standar Proses Pendidikan.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.co.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 . http://kumpulantipspilihan.com l B. Kencana. (2005).com/intisari/2000/agst/matematika8. 2007.blogspot.sobrycenter. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.republika. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno.indomedia.

Nurlailah : Swasta : Jl. Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No.PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. Misi : .Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Berilmu dan Berakhlak. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B.161 : A. Struktur Organisasi 108 .Meningkatkan rasa kemandirian.

Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2. Sekolah Kepala Sekolah B.1. Yayasan Ketua Yayasan H.

Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D. Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2. Personil dan Sumber Dana 1. Prestasi 110 .3. Siswa Berjumlah 28 orang 3. Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4.

pohon hitung. puzzle. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot . prosotan. puteran. 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. G. Dengan brosur 111 . th.c) Guru : Upi Supinah. Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD . setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. dan junkitan. f) Alat peraga di luar. Sistem Rekruitmen 1. bak pasir. ayunan. juara 3 guru berprestasi Tk.2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. balok.Kecamatan th.2007) E.

r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.2. Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . Gambaran Umum 1. Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5.

Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5.6. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 . Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E.

Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 . Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Adakah bangunan mesjid? 4. Berapa jumlah guru dan karyawan? 7. Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8. Adakah ruang perpustakaan? 6. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A.2. Potensi di sekitar lokasi: 1. Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5. Berapa jumlah ruang belajar? 3. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B.

5. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B.C. Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 4. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. 6. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D. 3.

Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3.2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2. 5. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3. 6. 4. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3. pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 .

5. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.

118 .