BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

F. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. 2. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah. Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain. • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini.E. Jerome Bruner menyatakan. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini. dibenarkan atau dikendalikan. setiap materi dapat diajarkan kepada 7 . Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya.

baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Oleh karena itu. G. pada permainan atau bermain. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Dunia anak adalah dunia bermain. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Melalui permainan. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Menurut Conny R. Semiawan melalui bermain. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . 1. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal.

Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H. Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat. meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain. mendengar. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. mendengan. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. 9 . Dalam proses belajar.2.

penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. Teknik Analisis Data. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. pertanyaan penelitian. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak. 10 . berisi latar belakang masalah. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. Sumber dan Jenis Data. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. TeknikPengumpulan Data. tentang prosedur penelitian yang berisi. tujuan penelitian. kegunaan penelitian. Bab III. Instrumen Penelitian. I. perumusan dan pembatasan masalah. subjek Penelitian. identifikasi masalah. Metode Penelitian. Bab I. Bab II. anggapan dasar. Bab V.

Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Penerapan Konsep Bermain 1. Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”. mendengar. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 .BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. Sedang menurut Conny R. (1990 : 234). anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. Dalam proses belajar. Bagi anak. Bruner dalam Hurlock Elizabeth. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. (2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. berbagai pekerjaan terwujud. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Bagi anak. Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. Melalui aktivitas bermain. mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak.

yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. kegiatannya pura-pura. Bukan dikerjakan sambil lalu. sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. Motivasi instrinsik. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5. Pengaruh positif. Kelenturan.”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya. sukarela dan dengan imajinatif. yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. menyenangkan 12 . Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). Cara/tujuan . 2. menggunakan perasaannya. tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3.

Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain.” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. maka makin mampu ia berpikir logis. Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI). Dengan memahami arti bermain bagi anak. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja. kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Bahkan. maka dapat dikatakan ia sedang bermain. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. balita hingga masa remaja. adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”. aktif dan konstruktif. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education. dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya.bagi dirinya. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak.

Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda. Yaitu.suasana yang diakrabi secara alamiah. tahun adalah suatu conditio sine qua non. Sebaliknya. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat.. ciri dan respons untuk berfikir logis. 2. kiri dan kanan. Belahan otak kiri memiliki fungsi. dan linier. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude. Seperti diketahui. maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. 1986) terhadap. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. Clark. bila mau tumbuh secara mental. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris. kedua belahan otak. bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris. belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . maka yang diperlukan seperti itu. imajinatif dan kreatif. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan. Akibatnya menurut penelitian (Clark. 1986).7. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. berkaitan dengan fungsi otak. Makin lama maka usai fase operasi konkret. sesama teman atau orang lain. teratur. memiliki fungsi yang berbeda-beda.

menendang.mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga.” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. Mereka dapat melempar. menangkap. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit. Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. melompat. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya. dan lain-lain. dan meloncat sementara bermain. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah. atau memalu paku kedalam kayu. mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme.

Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi. daripada produk bermain mereka. Mereka lebih memfokuskan pada proses. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. sebuah balok. biasanya tertarik pada game-game dengan aturan. Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian. Sebagai contoh. dan bukan pada hasil lukisannya. anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak.dan tujuan bermain yang berbeda. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. Sebagai contoh. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. Kira-kira pada akhir tahun pertama. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut.

bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. seperti memperagakan cerita atau adegan. yaitu membangun atau membuat sesuatu. Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek. Pada usia ini. papan. atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. dan atletik.inginkan. menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. seperti “petugas polisi”. game-game komputer. seperti sepak bola dan baseball. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun.

keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur. Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga. Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal. membangun balok. atau ruang tamu memanjat.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah. Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah. dll 18 .

Guru harus menjadi pengamat. Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. Jika 19 . maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut. model. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. evaluator dan perencana bermain (Bjorkland. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. penjelas. 1978).Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka.

3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain.anak lain terlibat dalam mempelajari serangga. dan mengevaluasi. menjelaskan. Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. Evaluasi berarti bahwa materi. Ketika melakukan 20 . lingkungan. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan. 5) Perencana Akhirnya. guru harus berfungsi sebagai perencana. maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain. dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain.

perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. maka ini dikatakan bermain. 21 .” Waktu. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka. Pantaulah kemajuan bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. 3. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. atau menjadi monster. 4. Pilihlah mainan-mainan yang tepat. maka ini bukanlah bermain. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas.

5. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. adalah yang paling penting. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. tetapi ketika bermain. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. Sebagai contoh.Dalam bermain. proses. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. atau cara bukanlah hasil akhir. 22 . Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. 6. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. 7.

makna nonliteral. mengatur. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. Ini termasuk motivasi personal. maka ini biasanya bermain. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. dan berinteraksi dengan lingkungan. merencanakan. seperti menonton televisi. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik.  Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. makna yang diberikan oleh pemain. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. keterlibatan aktif. Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Jika keterlibatan itu pasif. 23 . Selain berpikir mengenai jenis bermain. Bermain bukanlah aktifitas pasif.

paralel. asosiatif. (3) Dalam game dengan aturan. b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek. onlooker. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak.Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. atau bermain fungsional. dan koperatif. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. 24 . anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. bermain dengan objek. dan bermain sosiodrama. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. Dalam studi klasiknya. adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. (2) Bermain simbolis. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni. a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain. Ketika anak-anak matang. maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. termasuk bermain sosial.

Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri. Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar. 8. Menurut Vygotsky. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 .c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek. dan skill-skill sosial. jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. pertumbuhan intelektual.

Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. membantu perkembangan sosial dan emosional. dan penting untuk perkembangan fisik. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak. mengklasifikasikan. Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. Begitu pula dalam suasana bermain aktif. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. mendiskriminasikan. mengurutkan. Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif. membuat prediksi. menarik kesimpulan. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. mengamati.” Baik bermain eksplorasi. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik. Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. sosial dan intelektual dasar. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi.

karena menambah bumbu dalam permainannya. drama. bermain konstruktif. dan tidak terlalu cepat dievaluasi. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan. menemukan hubungan yang 27 . mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. akan merasa aman secara psikologis. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. dan sebagainya. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. dihargai keunikannya. Anak-anak diterima apa adanya. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya.

sampai mampu melakukannya. unsur resiko itu selalu ada. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. berbagai pekerjaanya terwujud. Betapa pun sederhana permainannya.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. Dengan pengulangan. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. bermain adalah suatu kegiatan yang serius. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. tetapi mengasyikan. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. maka ia melatih kemampuannya. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. Melalui aktivitas bermain. b) Unsur lain adalah pengulangan. ataupun meloncat. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. Jadi. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . a) Bermain memiliki berbagai arti. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. Bila anak bermain secara bebas. Bermain adalah medium. 9. berenang. di mana si anak mencobakan diri. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak. naik sepeda sendiri.

umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. takut. d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran. dan gangguan emosional. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang. Melalui berbagai permainan yang diulang. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. Sesudah pengulangan itu berlangsung. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 .

Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. kuantitas dan sebagainya . d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. ruang. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. 30 . c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus.

d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 . Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. memperoleh hasil kerja yang baik.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa.

Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. ruang. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini. mengembangkan skill-skill bahasa oral. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. . memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. 10. Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda.mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. sehingga guru harus waspada dalam 32 . dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. dan perasaan gembira. materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. melibatkan peran aktif anak. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum. afektif. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu. anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan. baik kognitif.

bola. Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . adalah yang paling berguna. guru dapat menyediakan kotak. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda. b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak. Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. Balok. atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok. Sebagai contoh.

Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca. guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. Oleh karena itu. 34 . Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. Pembelajaran di RA antara laian harus : a. anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. Oleh karena itu.  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. 11. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Melalui kerja mereka.

Dengan demikian. agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 . intelegensi (daya 35embe. dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA. e. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). kejenuhan. kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual).b.Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. Artinya. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik. khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan. Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak. g. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. 35ember-emosional (sikap. d. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak. (Balitbang. c. h. sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki.Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu. f. maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. 2002 : 4 – 5). daya cipta. kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain. perilaku serta agama).Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik.

mendengar. Melalui aktivitas bermain. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Bagi anak. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. pola jiwa. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. yaitu. berangkat dari potensi yang dimiliki anak. Prasetyono. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya.optimal. berbagai pekerjaan terwujud. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Selain dengan pemahaman tersebut. Bagi anak. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Dalam proses belajar. dan pola 36 . dalam Hartati S. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif.

sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . kajian penelitian. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas. maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. kuantitas dan sebagainya . ruang.perilaku guru sebagai pendidik. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori.

Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. memperoleh hasil kerja yang baik. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak.diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.

mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. dan perasaan gembira. memiliki hubungan 39 . Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. d. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. b. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. tidak memiliki tujuan ekstrinsik.Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. c. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. melibatkan peran aktif anak. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.

tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. baik kognitif. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. keterlibatan aktif. merencanakan. Ini termasuk motivasi personal. 12. makna nonliteral. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. b. makna yang diberikan oleh pemain. d. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 . dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. . Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. seperti menonton televisi. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. Jika keterlibatan itu pasif. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. Bermain bukanlah aktifitas pasif. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. a. afektif.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). maka ini biasanya bermain. dan berinteraksi dengan lingkungan. mengatur.

anak-anak mungkin berpura-pura terbang. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. Sebagai contoh. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan.” Waktu. g. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. 41 . Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. atau menjadi monster. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. maka ini bukanlah bermain. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. atau cara bukanlah hasil akhir. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. proses. tetapi ketika bermain.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. adalah yang paling penting. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. f. maka ini dikatakan bermain. e. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. Dalam bermain. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas.

dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru. 42 . ide-ide baru. mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. produk. Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Drevdal dalam Hurlock (1999). dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi. sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. Kreativitas Anak Usia Dini 1. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. B. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi.

al. berarti dan bermanfaat. kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar. informasi. Seringkali. kesusasteraan. asosiasi baru berdasarkan bahan. cerdik luar biasa. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. (2008: 262-263). 1999). jika seseorang mengisi bensin di jalan.. Dengan kata lain.. at. Sokolova. maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya. Bagaimanapun.al.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni. atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. (2008: 261). Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu. mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley. setelah melakukan penelitian yang mendalam. agung. Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana. dan melampaui pemahaman. at. kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan. Sokolova. Jadi menurut ahli ini. 43 . produk ilmiah. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat.

Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. 44 . Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil. Contoh sederhana. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih. produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. Dr. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Akhirnya. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh.

45 . alat. akan sedikit mengalami kesulitan. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta). Finke. Pada akhirnya. misalnya. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas. motivasi dan atau proses. dan proses di belakang kreativitas. orang. Namun. perbedaan dalam orang. Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. Dari penjelasan di atas. dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. mendefenisikan kreativitas pada orang.Sedangkan Ward. namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. proses kreativitas pun menjadi berbeda. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. berbagai tekanan yang memotivasi. Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original.

dan pemecahan masalah. maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak. Irina V. Dalam Irina V. at. ingatan. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi.al. (Aristoteles). 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a. 46 . Aktifitas berpikir. “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak. penalaran.. Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. Sokolova. Aktifitas ini bersifat kompleks. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental. (2008 : 265). Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. atensi. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang.Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami. imajinasi. Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto.al. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan.“oris Malaguzzi“. 2.. Sokolova. imajeri. pengambilan keputusan. at. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas. (2008:263).

2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. (3) baru atau orisinal. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. Sejak kecil hingga dewasa. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. mendidik. (1) aktifitas berpikir. yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. memecahkan masalah. mempermudah. seperti lebih enak. (4) berguna atau bernilai. lebih mudah dipakai. c.b. Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. (2) menemukan atau menciptakan. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. mendorong. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. Produk yang berguna atau bernilai. Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. d. Mencermati uraian di atas. bersifat luar biasa. (1984). sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali. Sifat baru atau orisinal. dan dapat dinikmati oleh masyarakat. mengurangi hambatan. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu. dan belum pernah ada sebelumnya. dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. memperlancar.

Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius. ketepatgunaan. yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru. Untuk mencapai hal itu. sikap. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. perilaku kreatif produktif. atau unsur-unsur yang ada. Uraian diatas mengandung makna. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. dan keragaman jawaban". di mana penekanannya adalah pada kuantitas. penemuan –penemuan baru. serta pemikiran. dan orisinalitas dalam 48 . Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. berupa ide-ide baru. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. keluwesan (fleksibilitas). informasi. berdasarkan data.dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah.

sebagaimana 49 . yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta.berpikir. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. Hal-hal tersebut. mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan. memperkaya. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. merupakan data. pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat). informasi. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan.

 Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima. Artinya.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja. membangun dengan balok. bahwa berdasarkan analisis faktor. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. tidak bergantung pada usia. baik itu berbentuk lisan atau tulisan.  Kreativitas merupakan suatu cara berpikir. berbeda. bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. misalnya melukis. jenis kelamin.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan. maupun konkret atau abstrak. yang sangat diharapkan dimasa mendatang. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. dan karenanya unik bagi orang itu. 50 . tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir.  3.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan.

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

dalam hal ini termasuk anak usia dini. Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. orisinalitas. practice with process. working real problems. Makin kreatif seseorang. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). kelenturan. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu. Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. Dengan ciri kognitif : kelancaran. pemerincian. Tingkat 1. basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. dengan kemampuan berpikir kreatif. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. ciri tersebut makin dimiliki. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. Semua ciri-ciri tersebut diatas. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. 54 . Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools. merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang.

teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. kepekaan terhadap masalah. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya.pengenalan dan ingatan. Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. kesediaan untuk menjawab. working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. percaya diri. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif. keberanian mengambil resiko. simulasi dan studi kasus. Tingkat 2. 55 . evaluasi. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis. practice with process. keterbukaan terhadap pengalaman. Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran. Tingkat 3. kedwiartian. imajinasi dan fantasi. tenggang rasa terhadap kesamaan.

di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan. Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi. Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang.analisis dan klasifikasi. karena pada awalnya 56 .” Senada dengan pendapat di atas. Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis.factual dan akurat mengenai data.BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode biasa disebut juga metode analitik. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting).

sehingga mampu bertanya.2006:16). Di samping itu. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. menganalisis. Disebut sebagai metode kualitatif. Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. informasi. keyakinan. maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas. diobservasi. ide-ide. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. memotret. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. persepsinya. pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. diminta memberikan data. Untuk dapat menjadi instrument. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . pendapat pemikiran. yaitu peneliti itu sendiri. dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. peristiwa.Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan.

Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi. tetapi lebih menekankan pada makna. (Sugiyono. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling. peserta didik.nilai di balik data yang tampak. foto dan statistik. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif. tulisan. B. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. dokumen dan data statistik. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati. maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. Moleong (2000: 3) menegaskan. sumber data tertulis. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . Perlu ditegaskan. guru-guru. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian.

dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder). Dengan kata lain. instrumen penelitian ini adalah : 1. foto. C. 2002: 59 . data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai. Pedoman observasi (terlampir) 3. sedangkan tulisan. Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. Pedoman wawancara (terlampir) 2. Pedoman kepustakaan (terlampir) E. Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. D. Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain.sebagai data utama (primer). Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl.

pada tahap ini. Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. Menurut Nawawi (1995: 100). Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis.122). Dengan teknik observasi pertisipatif. bahwa observasi merupakan suatu proses komplek. peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya. Subagyo (2004: 63). Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan. yaitu: 1. pada situasi yang sama atau berbeda. Oleh karena itu. Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.

perilaku siswa. dan ketiga. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. keperilakuan. Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. 2. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. seperti interaksi antar warga sekolah. berupa kondisi lingkungan sekolah. keadaan fisik sekolah. Kedua. bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. kedua. interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. 61 . wawancara relatif tertutup. Pada wawancara ini. 2002: 124).pekerjaan subyek penelitian. Pada wawancara dengan format ini. Pewawancara pun bekerja. Panduan wawancara dibuat cukup rinci. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. Pertama. Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). keadaan fisik sekolah. sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. dan lain-lain. wawancara yang terbuka. peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum. Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list). Berdasarkan strukturnya. dan lain-lain.

Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. majalah. transkip. Selanjutnya. dan sebagainya. membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. agenda. lengger. Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. buku. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. keyakinan-keyakinan. Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. Danim (2002: 175). meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. tindakan. a. surat kabar. notulen rapat. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. prasasti. Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). 2002: 132). 3. melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). dan pengalaman-pengalamannya. Dalam hal ini. 62 . subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim.Pada wawancara dengan format terbuka.

meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. melainkan dapat tumpang tindih. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. Adapun tahapan yang dimaksud. F. saling melengkapi. potensi material lembaga. Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi. relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang. bukan mengawalinya dengan judul. 63 . dan masih banyak alasan-alasan lain. yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. yaitu sebagai berikut: 1.b. peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan. jumlah personal. Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan. kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu. Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. seperti sistem dan mekanisme kerja. dan lain sebagainya. atau bahkan mungkin bertolak belakang. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik.

karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. mengenai psikologi perkembangan anak. Syamsu Yusuf. Hurlock. 6. 3. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. seperti bukunya Elizabeth B. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. peneliti menggunakan tiga teknik. dan dokumentasi. 4. Dalam pengembangan instrumen. wawancara terbuka.2. Dalam hal ini. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. tahap selanjutnya adalah penafsiran data. peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian.. 2005. yaitu observasi partisipatif. 5. peneliti tidak menuntut instrumen baku. Melaporkan hasil penelitian 64 . 1988. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif.

analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 . Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian. memprediksi. Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3. atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan. mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian.1 Prosedur Penelitian G. Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan.

Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. 2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). hubungan antar kajian. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. Analisis dilakukan untuk menemukan pola. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. kelengkapannya. Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi. dirangkum. yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. dipilih hal-hal yang pokok.dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. Kemudian. 1. dilakukan coding atau pengkodean. data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian. penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication). dan hubungan terhadap keseluruhannya. bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan.

2. hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. hal-hal yang sering timbul. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. tema. Dan selanjutnya. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola.dalam ketegori yang sama. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. 3. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. hubungan persamaan. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. Dengan kata lain. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . H. Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. tabulasi atau pentabelan. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh. yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table.

3. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605.1. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 5. Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No.Nurlailah : Swasta : Jl. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1.161 : A. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman. 68 . 4. 2. 2. Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. 6. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.

tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan . Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H. Nurlailah 69 .Meningkatkan rasa kemandirian. Misi : .Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Berilmu dan Berakhlak.

Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2.

c) Alat peraga di luar. puteran. bak pasir. balok.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD . ayunan. dan junkitan. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga.Kecamatan th. Prestasi a) Guru : Upi Supinah.2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. th. 6. puzzle. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot . pohon hitung.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4.2007) 5. prosotan. juara 3 guru berprestasi Tk. Sistem Rekruitmen 71 .

Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Data Hasil Penelitian 1. kuantitas guru serta penyetaraan standar. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang.1. meningkatkan kualitas. pelaksanaan 72 . Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Dengan brosur 2. Secara operasional. organisasi. Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. Memasang spanduk B. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome.

Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun. ketersediaan kurikulum.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola. Guru. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru. kepala sekolah. Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik. semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. tanggal 12 Maret 2011. fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik.00 WIB). Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan. pukul 10. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah. penyelenggara pendidikan. pengawas. yaitu pendidikan. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. (wawancara di ruang kepala.

guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD. guru dan komite sekolah. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya.” (Wawancara dengan Upi Supinah. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite.” (Wawancara dengan ketua komite. pukul 12. jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. di depan ruang kelompok B. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan. Keterangan di atas. Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar. tanggal 3 Maret 2011. pukul 09. karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan. 74 .00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia.

pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. pukul 11. pukul 11. dibuat program semester. program semester. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. pembelajaran menjadi terencana dan tertib. Ibu A. di ruang kelompok B. Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD. kemudian dari program tahunan ini. tanggal 15 Maret 2011. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester. ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat. Kami merasa itu suatu keharusan. tanggal 15 Maret 2011.2.” (Wawancara di ruang kelompok B.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. karena TK ini mdi bawah naungan Depag. “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. karena dengan program tersebut. terbitan Depag.30). Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”.30). mingguan serta harian para 75 . Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. program mingguan serta program harian. Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan. program mingguan serta program harian.

yaitu hari Sabtu. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari. sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh. sebelum pulang sekolah. semester. menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam.guru.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih. baik itu tahunan. sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah.” (Wawancara 4 Maret 2011. Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. yaitu setiap hari Sabtu. mingguan ataupun harian. (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program. pukul 10.20). meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar. di ruang kepala sekolah. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. pukul 10. dan yang jelas mereka membuat atau tidak. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 .20) Dari keterangan di atas.

memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. ingatan anak akan dapat bertahan. Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya. Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar.30 di ruang kelas). Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. di PAUD. 10 Maret 2011.” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah. Pada masa ini. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru. pukul 11. “Ayo kita bermain anak-anak!”. Mendengar kata bermain. Setelah anak dewasa. 3. Terlihat senang. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak.mengembangkan kreativitas anak. padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . anak-anak merasa antusias. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya. pembelajaran lebih mengutamakan permainan.

Nurlailah. Penerapan 78 . Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011. pukul 09. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya. “Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini.30). pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A. Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age. tanggal 10 Maret 2011. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat. Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain. 4. Dengan adanya guru yang berkualifikasi. yaitu konsep bermain.“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar. di ruang kelas. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak.

Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain. pukul 12. lego. Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah. di ruang kepala. karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain. dari sinilah kreativitas anak muncul. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A. “Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. 79 . aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. 3 Maret 2011. Dengan adanya alat bermain seperti balok. Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. ataupun puzzle. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan. PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut.15 WIB). Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya. dapat melatih kreativitas anak.

dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai. instrumental input. media. meski usia mereka masih kecil. metode. di klp. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a. Hal ini membuktikan mereka kreativ. dan sebagainya).” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. teman. 1989 : 17).30 WIB). dan out put (Syamsuddin. instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. Dengan melihat kondisi itulah. environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain. Berdasarkan teori ini.pukul 12. Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung. sarana. tanggal 12 April 2011. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik. dan sebagainya). 1989 : 17). Selain itu 80 .Mereka jadi anak yang kreativ. sub-sub sistem itu adalah raw input. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego. B. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin. 5. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral. Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut. environmental input. masyarakat.

“saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman. pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . di ruang kelompok B. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A. “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan. “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan. tanggal 4 Maret 2011. Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini.” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri.” (Wawancara dengan kepala PAUD. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan. di ruang kepala sekolah.30). tanggal 21 Maret 2011. pukul 10. Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART.20).Nurlailah selaku kepala PAUD. yang merupakan faktor instrumental input. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut. Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw. Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran.

tanggal 18 Maret 2011. tanggal 24 Maret 2011. pukul 13. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. Anak akan terbiasa dengan kita. yang mengatakan. di depan ruang kelompok A. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. oleh sebab itu 82 . pukul 11. Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. akan sulit nantinya. seperti anggaran biaya. Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu.Supinah. jam 11. Nurlailah. Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar. alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas. (Wawancara dengan ibu A.30). tanggal 4 Maret 2011. gurunya. b. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B. faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung.00 di ruang kepala). dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif. Dari keterangan di atas. soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita. “Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan.00).

C. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak.00). Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada. tanggal 24 Maret 2011. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya. ketika istirahat. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dari keterangan di atas.” (Wawancara di ruang kantor. kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya.” (Wawancara dengan ibu Eem. maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. di ruang kelas. wawancara. Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya. dan dokumenter. Namun. tanggal 18 Maret 2011. Terkadang mereka suka mengatur. bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. jam 11. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini.saya suka ngobrol dengan mereka. pukul 11. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite.00). Kepala PAUD Ibu A. Kadang suka ikut campur dan sulit diatur. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya.

Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. kegiatan terprogram.yayasan. a. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. kegiatan teladan/contoh. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. 2. didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. Sesuai dengan anjuran pemerintah. kegiatan spontan. Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. 84 .

Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan. dan sebagainya.o o o Sabar menunggu giliran. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain. Sikap saling hormat menghormati. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD. Mau menerima dan menyelesaikan tugas. rambut. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menciptakan suasana keakraban. antara lain: o o o o o Sopan santun. mau memakai pakaian seragam. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. telinga. dan lain-lain. Berdiri tegap saat berbaris. 85 . o o o Berbaris dengan rapi. gigi.

Rapih dalam bertindak. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. berpakaian dan bekerja. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan. o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Menjaga keamanan diri. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman.o o Melatih keberanian. Rapih dalam berdoa. dan sebagainya. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengembangkan kreativitas anak. 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. Mengendalikan emosi. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. 86 . Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan.

Sabar menunggu giliran. Menyimpan alat permainan setelah digunakan. Mengurus diri sendiri. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan.o o Sopan santun. Membuang sampah pada tempatnya. Mau dan dapat makan sendiri. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Tolong menolong sesama teman. Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. o o o o o o o o o o o o o b. Meminta tolong dengan baik. Rapih dalam bertindak. Mengucapkan terima kasih dengan baik. Mengenal kebersihan dan kesehatan. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain. Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Kegiatan spontan 87 . Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. berpakaian dan bekerja. Menjaga keamanan diri. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain.

Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik. dan lain sebagainya. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. meminta sesuatu dengan berteriak. Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 . seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak.

misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak. misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba. Misalnya “Bagus. berjabat tangan. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. antara lain: 89 . Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik. dan lain-lain.o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik. dan lain-lain. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak. misalnya menepuk pundak anak. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu. Misalnya anggukan kepala. dan lain-lain. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama. o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. dan lain-lain. memberikan acungan jempol. o Memberikan sentuhan kepada anak. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. akan lebih baik lagi kalau dirapikan.

” O. Aril 90 . dan lain-lain. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. Menghargai orang lain dan sportif. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu. Membanggakan hasil karya sendiri. Coba.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. Mengendalikan emosi. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. Tiba-tiba Aril berteriak. dan mau meminta maaf. Aril menjawab. Bu guru bertanya. bicaralah yang baik kepada bu guru. o Menghindari respon yang negatif. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan. “Kenapa kakinya?”. Aril tidak bisa memasang tali sepatu. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. serta tidak akan mengulangi lagi. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. Mengucapkan terima kasih. Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. seperti pincang.

2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Hal yang menarik. baik 91 . Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Menurut Conny R. dan menciptakan sesuatu. Di taman kanak-kanak. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. melakukan latihan berkelompok.minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. bertanya. menirukan. Melalui permainan. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. terutama dalam kosa kata. Semiawan (Jalal. bukan karena hadiah atau pujian. 3. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Melalui bermain. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. melakukan penjelajahan.

Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. kemampuan dan kebutuhan anak. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. Depdikbud. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. 1998). b. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. membaca. Bernyanyi 92 . dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU.potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Oleh karena itu.2001. diantaranya yaitu: a. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya.

Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. kemudian ditirukan anak-anak. sawah. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. dan lainnya. 93 . c. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. d. benda-benda. dan peran-peran tertentu sekitar anak. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. mendengar. Dengan bermain peran. Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. pantai. merasakan. e. kebun. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya.

g. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. 4. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual.f. 94 . Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. 2002: 40). Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan.

Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. kognitif. diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. namun belum dapat menggunakan logika. Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA. Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. 2008). menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. 2002: 40). sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini. motorik.Sayangnya. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun. serta emosinya. Selain Piaget. UT. Lev Vygotsky. Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. meliputi aspek fisik. sosial. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 .

Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Otomatis. Memberikan pemahaman kepada 96 . sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. 5. kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas.sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood). karena nantinya anak akan merasa bosan. selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. maksudnya. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Menurut JH Flavell. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain.

Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. mampu membaca dan aspek lainnya. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. orang tua. dinas pendidikan. guru. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. kantor departemen agama. dan menginkan anak-anaknya cerdas. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . kepala sekolah. namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga. Seperti pada hasil temuan di atas. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan.masyarakat bahwa pada masa usia PAUD.

Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain. Kesimpulan 1. BAB V Kesimpulan dan Saran A. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama.PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya. Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya. Kesimpulan Umum 98 .

melakukan penjelajahan. 3. Di PAUD. yaitu intelektual. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. melakukan latihan berkelompok. terutama dalam kosa kata. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. motorik. memanfaatkan. Hal yang menarik. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. bertanya. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. dan sosio emosional.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. menemukan. dan menciptakan sesuatu. 2. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. menirukan. Melalui bermain maka 99 . bahasa.

sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. 1. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. 2. Sesuai dengan anjuran pemerintah. 2. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas.

berdarmawisata. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. bermain peran. bukan karena hadiah atau pujian.Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. latihan. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Melalui bermain. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. kegiatan terprogram. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. sebab 101 . Oleh karena itu. kegiatan teladan/contoh. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Melalui permainan. dilaksanakan bercerita. peragaan/demonstrasi. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. kegiatan spontan. pemberian tugas.

Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. kepala sekolah. 3. orang tua. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. guru. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah.itu dapat berakibat buruk bagi si anak. dinas pendidikan. dan menginkan anak-anaknya cerdas. kantor departemen agama. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. 102 . Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya.

sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan.mampu membaca dan aspek lainnya. Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat. Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB). tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini. atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik. Saran Berdasarkan uraian di atas. Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. 103 . Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. 2. Selain itu memberikan dana operasional. Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. sarana pasarana. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah. 3. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B.

5. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya. orang tua hanya memberikan arahan. bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. Biarkan anak dengan keinginannya. 6. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya. Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. 104 . serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik.4. guru.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh.go. Online: http://elangjava. Online:http://h4mm4d. Anggani Sudono.mbeproject. Belajar Matematika lewat Permainan Dakon. 2003. 1988. Bandung: Alfabeta. Elementary Social Studies: A Practical Guide. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. dkk. Medan : BPPLSP Regional I Farihen. Grasindo. Robert. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.Al-Abrasyi.multiply. S. The Conditions of Learning. Rinehart and Winston. M. Sumber Belajar dan Alat Permainan. 1950. 2006. Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A.fai.M. Muhammad Surya. Nazir.G. Metode Penelitian. Holt. 2006.F. (1992). R. Ramadhan.ac.id/buletin/read. 2009. & Messick. 106 . H. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan. Metodologi Penelitian Kualitatif.php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran. http://www. Jakarta: Ghalia Indonesia. 1977 MBE. Jakarta : PT. New York: Longman Dewi Gustini.net M. 2007. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne. Chaplin.bpplsp-reg-. http://www. 1999.Si. Moleong LJ.umj.id/index.R.wordpress. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI).F Arief. 2004. Online: http://www. New York. J. 2000. Athiyah. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika.

html http://darmosusianto. Strategi Pembelajaran.htm http://www. Jakarta. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.republika.blogspot.html http://www.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”. Djamarah. http://kumpulantipspilihan. (2005). 2007.com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian. 2007. Kencana.com/intisari/2000/agst/matematika8.html http://kumpulantipspilihan.blogspot. 2002.com l B.sobrycenter.blogspot.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 . Berorientasikan Standar Proses Pendidikan. Jakarta : PT.Sugiyono. Psikologi Belajar. Asdi Mahasatya Wina Sanjaya.co.indomedia. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. www.

Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman. Struktur Organisasi 108 .Meningkatkan rasa kemandirian. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp.Nurlailah : Swasta : Jl.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif . Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B. Berilmu dan Berakhlak. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605.161 : A. Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Misi : .

Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2.1. Yayasan Ketua Yayasan H. Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 . Sekolah Kepala Sekolah B.

Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2.3. Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4. Siswa Berjumlah 28 orang 3. Prestasi 110 . Personil dan Sumber Dana 1. Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D.

ayunan. puzzle. prosotan. 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. Sistem Rekruitmen 1. bak pasir. th. puteran. balok.2007) E. Dengan brosur 111 . dan junkitan. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot .2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. juara 3 guru berprestasi Tk. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD . f) Alat peraga di luar.Kecamatan th. Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. G.c) Guru : Upi Supinah. pohon hitung.

Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A.2. Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Gambaran Umum 1.

Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.6. Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3. Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 .

Berapa jumlah guru dan karyawan? 7. Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Potensi di sekitar lokasi: 1. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Berapa jumlah ruang belajar? 3.2. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 . Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5. Adakah bangunan mesjid? 4. Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah ruang perpustakaan? 6.

Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. 6. 3. 5. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 4. Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B.C. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. 6. 5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3. Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. 4. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 . Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3.2. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E.

118 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful