BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

dibenarkan atau dikendalikan. setiap materi dapat diajarkan kepada 7 . 2. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini. Jerome Bruner menyatakan. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. F. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini.E. Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain.

Semiawan melalui bermain. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. 1. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. Menurut Conny R. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. pada permainan atau bermain. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Melalui permainan. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. G.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya.

tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat.2. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. mendengar. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. 9 . Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain. Dalam proses belajar. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. mendengan. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H.

Bab I. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. Bab II. 10 . I. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. berisi latar belakang masalah. anggapan dasar. tujuan penelitian. Instrumen Penelitian. Teknik Analisis Data. Metode Penelitian. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. perumusan dan pembatasan masalah. Sumber dan Jenis Data. kegunaan penelitian. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. TeknikPengumpulan Data. identifikasi masalah. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian. pertanyaan penelitian. subjek Penelitian. penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak. Bab III. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. tentang prosedur penelitian yang berisi.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. Bab V.

berbagai pekerjaan terwujud. Sedang menurut Conny R. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Bruner dalam Hurlock Elizabeth. Penerapan Konsep Bermain 1.BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. mendengar. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Bagi anak. mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. Dalam proses belajar. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”. (1990 : 234). Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 . bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. (2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Melalui aktivitas bermain. Bagi anak. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak.

menggunakan perasaannya. tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. Kelenturan. menyenangkan 12 . sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. 2. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5. Motivasi instrinsik. Bukan dikerjakan sambil lalu. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. kegiatannya pura-pura. sukarela dan dengan imajinatif. Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). Pengaruh positif. Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3. Cara/tujuan . yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya.”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi.

kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. Dengan memahami arti bermain bagi anak. dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya. Bahkan. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI).bagi dirinya. balita hingga masa remaja.” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. maka dapat dikatakan ia sedang bermain. a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”. adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja. aktif dan konstruktif. maka makin mampu ia berpikir logis. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini.

maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. Makin lama maka usai fase operasi konkret. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget.7. teratur. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4. bila mau tumbuh secara mental. maka yang diperlukan seperti itu. kiri dan kanan.. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude. belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. Akibatnya menurut penelitian (Clark. Belahan otak kiri memiliki fungsi. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . sesama teman atau orang lain. dan linier. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat. tahun adalah suatu conditio sine qua non. 1986). Yaitu. Sebaliknya. 2. imajinatif dan kreatif. Clark. berkaitan dengan fungsi otak. Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda. ciri dan respons untuk berfikir logis. 1986) terhadap.suasana yang diakrabi secara alamiah. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris. memiliki fungsi yang berbeda-beda. kedua belahan otak. Seperti diketahui. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan.

Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat. menangkap. melompat. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. menendang. atau memalu paku kedalam kayu.” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah. Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. dan meloncat sementara bermain. Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari.mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . Mereka dapat melempar. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. dan lain-lain. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga.

c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. Sebagai contoh. daripada produk bermain mereka. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. Sebagai contoh. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . sebuah balok. Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian.dan tujuan bermain yang berbeda. Mereka lebih memfokuskan pada proses. anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur. dan bukan pada hasil lukisannya. Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi. biasanya tertarik pada game-game dengan aturan. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. Kira-kira pada akhir tahun pertama.

inginkan. Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek. papan. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. seperti sepak bola dan baseball. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. seperti memperagakan cerita atau adegan. dan atletik. yaitu membangun atau membuat sesuatu. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat. Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun. Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. Pada usia ini. game-game komputer. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan. seperti “petugas polisi”.

membangun balok. Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah. atau ruang tamu memanjat. Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur. dll 18 . g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal. Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi.

Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. 1978). Guru harus menjadi pengamat. maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. evaluator dan perencana bermain (Bjorkland. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut.Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka. Jika 19 . model. penjelas. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain.

dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain. Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. dan mengevaluasi. Evaluasi berarti bahwa materi. 5) Perencana Akhirnya. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak. guru harus berfungsi sebagai perencana. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain. maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. 3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain. lingkungan. Ketika melakukan 20 . menjelaskan.anak lain terlibat dalam mempelajari serangga.

Pilihlah mainan-mainan yang tepat. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri.perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. 21 . Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Pantaulah kemajuan bermain. Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka.” Waktu. maka ini bukanlah bermain. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. atau menjadi monster. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. 4. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan. maka ini dikatakan bermain. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. 3.

tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. 6. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. 22 . Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. proses. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. atau cara bukanlah hasil akhir. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. tetapi ketika bermain. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. 7.Dalam bermain. Sebagai contoh. adalah yang paling penting. 5.

 Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. makna nonliteral. mengatur. Selain berpikir mengenai jenis bermain.  Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. dan berinteraksi dengan lingkungan. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. 23 . keterlibatan aktif. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. Ini termasuk motivasi personal. Jika keterlibatan itu pasif. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. makna yang diberikan oleh pemain. maka ini biasanya bermain. Bermain bukanlah aktifitas pasif. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. merencanakan. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. seperti menonton televisi. Agar suatu aktifitas disebut bermain. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya.

maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. atau bermain fungsional. (3) Dalam game dengan aturan. dan koperatif. dan bermain sosiodrama. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek.Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. termasuk bermain sosial. asosiatif. a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain. (2) Bermain simbolis. onlooker. Dalam studi klasiknya. adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak. paralel. 24 . Ketika anak-anak matang. bermain dengan objek. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni.

Menurut Vygotsky. pertumbuhan intelektual. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 . Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri. 8. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek.c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya. Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. dan skill-skill sosial. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak.

Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik. Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. membuat prediksi.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. membantu perkembangan sosial dan emosional. Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. mengurutkan. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . dan penting untuk perkembangan fisik. Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak. mengklasifikasikan. mendiskriminasikan. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif. Begitu pula dalam suasana bermain aktif. sosial dan intelektual dasar.” Baik bermain eksplorasi. mengamati. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi. menarik kesimpulan.

Anak-anak diterima apa adanya. akan merasa aman secara psikologis. dan sebagainya. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan. mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. drama. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. bermain konstruktif. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. dihargai keunikannya. menemukan hubungan yang 27 . ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak. karena menambah bumbu dalam permainannya. dan tidak terlalu cepat dievaluasi. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini.

di mana si anak mencobakan diri. Bila anak bermain secara bebas. berenang. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. ataupun meloncat. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak. berbagai pekerjaanya terwujud. 9. unsur resiko itu selalu ada. Jadi. Betapa pun sederhana permainannya. sampai mampu melakukannya. a) Bermain memiliki berbagai arti. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak. maka ia melatih kemampuannya. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. Dengan pengulangan.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. Bermain adalah medium. bermain adalah suatu kegiatan yang serius. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. tetapi mengasyikan. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. Melalui aktivitas bermain. naik sepeda sendiri. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. b) Unsur lain adalah pengulangan. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak.

Sesudah pengulangan itu berlangsung. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 . umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. takut. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja. d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran. anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Melalui berbagai permainan yang diulang. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. dan gangguan emosional. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation.

d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain.Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. 30 . Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. kuantitas dan sebagainya . mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. ruang. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan.

Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. memperoleh hasil kerja yang baik. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 . c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar.

baik kognitif. materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. dan perasaan gembira. sehingga guru harus waspada dalam 32 . tidak memiliki tujuan ekstrinsik. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. 10. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini.mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan. ruang. mengembangkan skill-skill bahasa oral. Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan. dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda. . afektif. memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. melibatkan peran aktif anak. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut.

b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak. a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain. Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan. Balok. adalah yang paling berguna. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda. Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. bola. Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik. atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. Sebagai contoh.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. guru dapat menyediakan kotak.

Oleh karena itu. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. Pembelajaran di RA antara laian harus : a. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca. 34 . Melalui kerja mereka. 11.  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. Oleh karena itu. anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak.

kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja. daya cipta. (Balitbang. kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual). e. maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. 35ember-emosional (sikap.Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu.Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya. perilaku serta agama). Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). f. h. Dengan demikian. khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA. 2002 : 4 – 5). kejenuhan. agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 .Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain.b. d. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. g. c. Artinya.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut. Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki. intelegensi (daya 35embe. sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak.

dan pola 36 . tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan. Prasetyono. belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). Melalui aktivitas bermain. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. berbagai pekerjaan terwujud. pola jiwa. Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. mendengar. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain.optimal. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Bagi anak. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. yaitu. Selain dengan pemahaman tersebut. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. Dalam proses belajar. berangkat dari potensi yang dimiliki anak. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif. Bagi anak. dalam Hartati S.

Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. kajian penelitian. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. kuantitas dan sebagainya . Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain.perilaku guru sebagai pendidik. ruang. maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam.

Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan.diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. memperoleh hasil kerja yang baik. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.

Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. d. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. memiliki hubungan 39 . tidak memiliki tujuan ekstrinsik. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. c. b. dan perasaan gembira.Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. melibatkan peran aktif anak.

b. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. merencanakan. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. mengatur. Bermain bukanlah aktifitas pasif. 12. d. makna yang diberikan oleh pemain. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. dan berinteraksi dengan lingkungan. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. seperti menonton televisi. afektif. baik kognitif. a. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 . . keterlibatan aktif. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. maka ini biasanya bermain.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). makna nonliteral. Ini termasuk motivasi personal. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. Jika keterlibatan itu pasif. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik.

maka ini dikatakan bermain. adalah yang paling penting. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. proses. Dalam bermain.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. atau menjadi monster. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. g. Sebagai contoh. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. 41 . atau cara bukanlah hasil akhir. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. e.” Waktu. f. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. tetapi ketika bermain. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. maka ini bukanlah bermain. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya.

produk. 42 . Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi. Drevdal dalam Hurlock (1999). Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman. Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. B. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi. ide-ide baru. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi. Kreativitas Anak Usia Dini 1. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru.

tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. asosiasi baru berdasarkan bahan. (2008: 262-263). mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. 1999). Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. produk ilmiah.al. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya. agung. Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru. jika seseorang mengisi bensin di jalan. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. setelah melakukan penelitian yang mendalam. kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana. atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. at. Dengan kata lain. Seringkali. Sokolova. informasi.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni. dan melampaui pemahaman. cerdik luar biasa. (2008: 261). Sokolova. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu. seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. at. 43 . kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru.. Jadi menurut ahli ini. data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. al. Bagaimanapun. kesusasteraan. kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar. berarti dan bermanfaat.. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan.

Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh. Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. 44 . Akhirnya. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna. Contoh sederhana. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih. Dr. produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil.

motivasi dan atau proses. Namun. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta).Sedangkan Ward. Pada akhirnya. dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. misalnya. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. Dari penjelasan di atas. perbedaan dalam orang. dan proses di belakang kreativitas. 45 . proses kreativitas pun menjadi berbeda. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original. akan sedikit mengalami kesulitan. berbagai tekanan yang memotivasi. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas. Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. orang. alat. mendefenisikan kreativitas pada orang. Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. Finke. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan.

Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. ingatan. pengambilan keputusan. imajeri. penalaran. dan pemecahan masalah. 2. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental. (2008:263). atensi. Sokolova. imajinasi. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan.. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan.al. at. maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak.. Irina V. at. “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto. 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Aktifitas ini bersifat kompleks. (2008 : 265). (Aristoteles). Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas.Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami. Dalam Irina V. 46 . Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang.“oris Malaguzzi“. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas.al. Aktifitas berpikir. Sokolova.

suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. bersifat luar biasa. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. 2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. lebih mudah dipakai. Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. (1984). yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. (2) menemukan atau menciptakan. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan. (3) baru atau orisinal. Sejak kecil hingga dewasa. (4) berguna atau bernilai. Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. c. mengurangi hambatan. dan belum pernah ada sebelumnya. d. Mencermati uraian di atas. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu. Produk yang berguna atau bernilai. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. memperlancar. mendidik. sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali.b. dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. mempermudah. (1) aktifitas berpikir. dan dapat dinikmati oleh masyarakat. seperti lebih enak. Sifat baru atau orisinal. memecahkan masalah. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. mendorong.

seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran.dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. sikap. Uraian diatas mengandung makna. atau unsur-unsur yang ada. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. dan keragaman jawaban". Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. berdasarkan data. perilaku kreatif produktif. dan orisinalitas dalam 48 . Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. Untuk mencapai hal itu. penemuan –penemuan baru. keluwesan (fleksibilitas). ketepatgunaan. informasi. serta pemikiran. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. di mana penekanannya adalah pada kuantitas. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. berupa ide-ide baru. berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru.

merupakan data. hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. sebagaimana 49 . pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat). memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan. informasi. memperkaya. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Hal-hal tersebut. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan.berpikir. yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya.

bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini.  3.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. dan karenanya unik bagi orang itu.  Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi. 50 . tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. misalnya melukis. jenis kelamin. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. Artinya. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. bahwa berdasarkan analisis faktor. membangun dengan balok. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. baik itu berbentuk lisan atau tulisan. yang sangat diharapkan dimasa mendatang. tidak bergantung pada usia.  Kreativitas merupakan suatu cara berpikir. berbeda.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah. maupun konkret atau abstrak.

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. ciri tersebut makin dimiliki. Semua ciri-ciri tersebut diatas. working real problems. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. Makin kreatif seseorang. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu. Tingkat 1. Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools. Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. pemerincian. dengan kemampuan berpikir kreatif. practice with process. 54 . dalam hal ini termasuk anak usia dini. kelenturan. orisinalitas.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. Dengan ciri kognitif : kelancaran. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud.

simulasi dan studi kasus. teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. keterbukaan terhadap pengalaman. working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. kedwiartian. kesediaan untuk menjawab. practice with process. kepekaan terhadap masalah. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis.pengenalan dan ingatan. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. percaya diri. keberanian mengambil resiko. evaluasi. Tingkat 2. 55 . Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. imajinasi dan fantasi. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif. Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran. Tingkat 3. tenggang rasa terhadap kesamaan. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya.

Metode biasa disebut juga metode analitik.BAB III PROSEDUR PENELITIAN A.factual dan akurat mengenai data. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting). Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada.di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan.analisis dan klasifikasi. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis. Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi. Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. karena pada awalnya 56 .” Senada dengan pendapat di atas.

pendapat pemikiran. informasi. diminta memberikan data.Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya. pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. Untuk dapat menjadi instrument. yaitu peneliti itu sendiri. peristiwa.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya. persepsinya. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas. dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. menganalisis. ide-ide. karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. sehingga mampu bertanya. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. diobservasi. Di samping itu. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument. Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna.2006:16). Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. keyakinan. Disebut sebagai metode kualitatif. memotret.

nilai di balik data yang tampak. Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. dokumen dan data statistik. dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. Moleong (2000: 3) menegaskan. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. foto dan statistik. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi. yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). peserta didik. Perlu ditegaskan. sumber data tertulis. B. tetapi lebih menekankan pada makna. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif. (Sugiyono. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. guru-guru. tulisan. dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian.

sedangkan tulisan. Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl. dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder). Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. Pedoman observasi (terlampir) 3. tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. D.sebagai data utama (primer). C. instrumen penelitian ini adalah : 1. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. 2002: 59 . Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Pedoman wawancara (terlampir) 2. foto. Pedoman kepustakaan (terlampir) E. Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. Dengan kata lain. Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai.

Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis.122). Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan. yaitu: 1. Menurut Nawawi (1995: 100). bahwa observasi merupakan suatu proses komplek. sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan. Subagyo (2004: 63). sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. Dengan teknik observasi pertisipatif. pada situasi yang sama atau berbeda. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya. mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. pada tahap ini. Oleh karena itu. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian.

61 . pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. perilaku siswa. Pertama. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. wawancara yang terbuka. dan lain-lain. berupa kondisi lingkungan sekolah.pekerjaan subyek penelitian. dan ketiga. 2002: 124). sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula. Panduan wawancara dibuat cukup rinci. peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. Pewawancara pun bekerja. wawancara relatif tertutup. seperti interaksi antar warga sekolah. 2. keadaan fisik sekolah. bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. keperilakuan. pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. dan lain-lain. Pada wawancara dengan format ini. kedua. Pada wawancara ini. keadaan fisik sekolah. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. Kedua. Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. Berdasarkan strukturnya. Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list).

keyakinan-keyakinan. metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. agenda. notulen rapat. Selanjutnya. Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. dan pengalaman-pengalamannya. Danim (2002: 175).Pada wawancara dengan format terbuka. 2002: 132). 3. Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. a. Dalam hal ini. tindakan. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. dan sebagainya. membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim. dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain. majalah. yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. surat kabar. prasasti. Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. buku. lengger. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). 62 . Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). transkip.

yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. Adapun tahapan yang dimaksud. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik. Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu. 63 . bukan mengawalinya dengan judul. dan masih banyak alasan-alasan lain. berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan. relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. jumlah personal. peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. potensi material lembaga. dan lain sebagainya.b. melainkan dapat tumpang tindih. seperti sistem dan mekanisme kerja. Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi. Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan. F. yaitu sebagai berikut: 1. atau bahkan mungkin bertolak belakang. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). saling melengkapi.

Hurlock.2. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. Melaporkan hasil penelitian 64 . 6. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. 1988. dan dokumentasi. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. yaitu observasi partisipatif. wawancara terbuka. seperti bukunya Elizabeth B. 4. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. Dalam hal ini. peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian. 3. 2005. tahap selanjutnya adalah penafsiran data. Dalam pengembangan instrumen.. peneliti menggunakan tiga teknik. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. mengenai psikologi perkembangan anak. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. peneliti tidak menuntut instrumen baku. karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. Syamsu Yusuf. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. 5.

mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian. Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan.1 Prosedur Penelitian G. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan. Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3. memprediksi.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian. atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya. analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 .

penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication). kelengkapannya. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. dilakukan coding atau pengkodean.dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. Kemudian. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. hubungan antar kajian. dipilih hal-hal yang pokok. dirangkum. Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. Analisis dilakukan untuk menemukan pola. 2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). dan hubungan terhadap keseluruhannya. 1. Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi.

Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. hal-hal yang sering timbul. yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. 3. tabulasi atau pentabelan. Dengan kata lain.dalam ketegori yang sama. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . hubungan persamaan. hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. Dan selanjutnya. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh. 2. H. tema.

2. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. 68 . Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. 6. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp.161 : A.Nurlailah : Swasta : Jl. 2. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. 4. 5. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. 3. Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.1.

Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H. Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A.Meningkatkan rasa kemandirian. Misi : .Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Berilmu dan Berakhlak.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1. Nurlailah 69 .Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .

Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3.

2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. juara 3 guru berprestasi Tk.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4. puteran.Kecamatan th. bak pasir. dan junkitan. ayunan. Prestasi a) Guru : Upi Supinah. pohon hitung. puzzle. prosotan. c) Alat peraga di luar. th.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD . Sistem Rekruitmen 71 . setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot .2007) 5. 6. balok. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga.

Data Hasil Penelitian 1. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor. kuantitas guru serta penyetaraan standar. Memasang spanduk B. Dengan brosur 2. Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. pelaksanaan 72 . prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran.1. meningkatkan kualitas. Secara operasional. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome. Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. organisasi.

pukul 10. pengawas. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru. kepala sekolah. (wawancara di ruang kepala. yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik. ketersediaan kurikulum. tanggal 12 Maret 2011.00 WIB). Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. yaitu pendidikan.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. penyelenggara pendidikan. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik. Guru. Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.

74 . tanggal 3 Maret 2011. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran. pukul 09. Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia. jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain.00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua.” (Wawancara dengan Upi Supinah. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada. pukul 12. Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar. di depan ruang kelompok B.” (Wawancara dengan ketua komite. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. guru dan komite sekolah. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. Keterangan di atas. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite. guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini.

Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester. di ruang kelompok B. karena TK ini mdi bawah naungan Depag. terbitan Depag. tanggal 15 Maret 2011. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD. ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat.2.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. program mingguan serta program harian. pukul 11. Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”. Ibu A. program mingguan serta program harian.30). tanggal 15 Maret 2011.” (Wawancara di ruang kelompok B. dibuat program semester. pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. Kami merasa itu suatu keharusan. Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan. karena dengan program tersebut. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru. pembelajaran menjadi terencana dan tertib. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester.30). program semester. pukul 11. kemudian dari program tahunan ini. mingguan serta harian para 75 .

menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam.” (Wawancara 4 Maret 2011. semester. sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah. meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya.20) Dari keterangan di atas. sebelum pulang sekolah.20). pukul 10. yaitu setiap hari Sabtu. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar.guru. (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah. yaitu hari Sabtu. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh. dan yang jelas mereka membuat atau tidak. pukul 10. sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku. mingguan ataupun harian. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu. di ruang kepala sekolah. baik itu tahunan.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 . Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program.

Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar. padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak. Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. ingatan anak akan dapat bertahan. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru. Setelah anak dewasa.” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah. Mendengar kata bermain. “Ayo kita bermain anak-anak!”. pukul 11. Terlihat senang. pembelajaran lebih mengutamakan permainan. anak-anak merasa antusias. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak. 3. Pada masa ini. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . 10 Maret 2011. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan.30 di ruang kelas).mengembangkan kreativitas anak. memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. di PAUD.

Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak.“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011. Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini.” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. Dengan adanya guru yang berkualifikasi. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa. di ruang kelas. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. pukul 09. Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain. tanggal 10 Maret 2011. Penerapan 78 . Nurlailah. pukul 11.30). “Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut. 4. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak. yaitu konsep bermain.

79 . lego. ataupun puzzle.15 WIB). aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan. 3 Maret 2011. di ruang kepala. Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. “Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang. Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut. Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. dari sinilah kreativitas anak muncul. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A. PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar. Dengan adanya alat bermain seperti balok. pukul 12. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah. Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. dapat melatih kreativitas anak.

” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. sarana. dan sebagainya).pukul 12. Selain itu 80 . 1989 : 17). masyarakat. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin. 5. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. 1989 : 17). tanggal 12 April 2011. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung. dan sebagainya). Dengan melihat kondisi itulah. Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego. Hal ini membuktikan mereka kreativ. di klp. instrumental input. metode. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral. instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik.Mereka jadi anak yang kreativ. Berdasarkan teori ini. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain. teman. dan out put (Syamsuddin. tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut. B. sub-sub sistem itu adalah raw input. environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. media. dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai. environmental input. meski usia mereka masih kecil.30 WIB).

Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw. “saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A. yang merupakan faktor instrumental input. tanggal 21 Maret 2011. di ruang kelompok B. pukul 11.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . tanggal 4 Maret 2011.” (Wawancara dengan kepala PAUD. Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran. “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan. Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan.Nurlailah selaku kepala PAUD. pukul 10.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini.20). Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar.30). di ruang kepala sekolah.” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan.

“Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan. Nurlailah. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B.30). akan sulit nantinya. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif. di depan ruang kelompok A. (Wawancara dengan ibu A. yang mengatakan. Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu. faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung. b. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. pukul 13. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar. tanggal 24 Maret 2011. tanggal 18 Maret 2011. Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna. oleh sebab itu 82 . seperti anggaran biaya. pukul 11. gurunya.00). jam 11. alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas. soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita.00 di ruang kepala).Supinah. Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. tanggal 4 Maret 2011. Dari keterangan di atas. Anak akan terbiasa dengan kita.

ketika istirahat. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite. Dari keterangan di atas. pukul 11. Kepala PAUD Ibu A. Terkadang mereka suka mengatur. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. C.saya suka ngobrol dengan mereka. Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak. Kadang suka ikut campur dan sulit diatur.00). maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya. di ruang kelas. dan dokumenter. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . wawancara.00). bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya.” (Wawancara di ruang kantor. tanggal 18 Maret 2011. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. jam 11.” (Wawancara dengan ibu Eem. Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya. Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Namun. tanggal 24 Maret 2011. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini. kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya.

Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. 84 . Sesuai dengan anjuran pemerintah. kegiatan teladan/contoh. kegiatan spontan. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. a. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. 2.yayasan. kegiatan terprogram. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku.

o o o Berbaris dengan rapi. Sikap saling hormat menghormati. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. mau memakai pakaian seragam. dan sebagainya. Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar.o o o Sabar menunggu giliran. Mau menerima dan menyelesaikan tugas. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan. gigi. telinga. Menciptakan suasana keakraban. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. dan lain-lain. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. Berdiri tegap saat berbaris. rambut. antara lain: o o o o o Sopan santun. Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. 85 .

86 . 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. Menjaga kebersihan lingkungan. Mengendalikan emosi. berpakaian dan bekerja. dan sebagainya.o o Melatih keberanian. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Rapih dalam berdoa. Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan. Menjaga keamanan diri. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Mengembangkan kreativitas anak. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Rapih dalam bertindak.

Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Menjaga keamanan diri. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. o o o o o o o o o o o o o b. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain. Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan. Membuang sampah pada tempatnya. Menyimpan alat permainan setelah digunakan. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. Meminta tolong dengan baik. Tolong menolong sesama teman. Mau dan dapat makan sendiri. Mengucapkan terima kasih dengan baik. Mengenal kebersihan dan kesehatan. Sabar menunggu giliran. berpakaian dan bekerja. Mengurus diri sendiri.o o Sopan santun. Rapih dalam bertindak. Kegiatan spontan 87 .

Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif. meminta sesuatu dengan berteriak. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. dan lain sebagainya. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 . Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak.

misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik. berjabat tangan. o Memberikan sentuhan kepada anak. memberikan acungan jempol. akan lebih baik lagi kalau dirapikan. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain. misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. Misalnya anggukan kepala. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik. dan lain-lain. o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak. dan lain-lain. dan lain-lain. dan lain-lain. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. misalnya menepuk pundak anak. Misalnya “Bagus.o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama. antara lain: 89 .

Tiba-tiba Aril berteriak.” O. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. Membanggakan hasil karya sendiri. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan. seperti pincang. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik. “Kenapa kakinya?”. Aril tidak bisa memasang tali sepatu. dan mau meminta maaf. Aril 90 . Mengendalikan emosi. Menghargai orang lain dan sportif.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. serta tidak akan mengulangi lagi. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. bicaralah yang baik kepada bu guru. Bu guru bertanya. anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. Coba. Mengucapkan terima kasih. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. Aril menjawab. dan lain-lain. Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu. o Menghindari respon yang negatif. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain.

Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. melakukan penjelajahan. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. baik 91 . Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. dan menciptakan sesuatu. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Hal yang menarik. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Di taman kanak-kanak. bertanya. Melalui bermain. Melalui permainan. Semiawan (Jalal. menirukan. melakukan latihan berkelompok. dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. Menurut Conny R. Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal.minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. terutama dalam kosa kata. bukan karena hadiah atau pujian. 3.

1998). diantaranya yaitu: a. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. b. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan.2001. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU. membaca. kemampuan dan kebutuhan anak. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung.potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Oleh karena itu. Bernyanyi 92 . Depdikbud.

Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. d. benda-benda. c. e. kebun. 93 . mendengar. Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. sawah. dan peran-peran tertentu sekitar anak. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. kemudian ditirukan anak-anak. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. merasakan. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. dan lainnya. pantai. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar. Dengan bermain peran. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya.

dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain.f. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. 4. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak. 2002: 40). Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan. setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. g. 94 .

2002: 40). sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. 2008). menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional. Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). kognitif. serta emosinya. namun belum dapat menggunakan logika. Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. Lev Vygotsky.Sayangnya. UT. meliputi aspek fisik. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. sosial. motorik. dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 . Selain Piaget. Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun. Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA.

sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. 5. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Menurut JH Flavell. kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Otomatis. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. karena nantinya anak akan merasa bosan. Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood). sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Memberikan pemahaman kepada 96 . maksudnya. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les.

Seperti pada hasil temuan di atas. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan.masyarakat bahwa pada masa usia PAUD. orang tua. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. dinas pendidikan. dan menginkan anak-anaknya cerdas. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. guru. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. kantor departemen agama. selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. kepala sekolah. mampu membaca dan aspek lainnya.

Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya.PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya. Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain. Kesimpulan 1. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama. BAB V Kesimpulan dan Saran A. Kesimpulan Umum 98 .

motorik. Melalui bermain maka 99 . terutama dalam kosa kata. menirukan. 2. yaitu intelektual. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. memanfaatkan. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. dan sosio emosional.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. melakukan latihan berkelompok. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. dan menciptakan sesuatu. 3. bertanya. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. menemukan. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. melakukan penjelajahan. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. bahasa. Hal yang menarik. Di PAUD. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain.

Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. 1. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . Sesuai dengan anjuran pemerintah.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. 2. adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. 2. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada.

peragaan/demonstrasi. Oleh karena itu. latihan. bukan karena hadiah atau pujian. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. dilaksanakan bercerita. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. pemberian tugas. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. bermain peran. kegiatan teladan/contoh. sebab 101 . berdarmawisata. Melalui permainan. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. kegiatan terprogram. Melalui bermain. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua.Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. kegiatan spontan.

dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan). Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. orang tua. kantor departemen agama. dinas pendidikan. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. 102 .itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. 3. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. kepala sekolah. guru. dan menginkan anak-anaknya cerdas. Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan.

Saran Berdasarkan uraian di atas. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1.mampu membaca dan aspek lainnya. Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan. 103 . Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB). sarana pasarana. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B. Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah. 2. atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik. 3. Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat. Selain itu memberikan dana operasional. tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini. Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet.

4. 6. 104 . serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya. guru. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. orang tua hanya memberikan arahan. 5. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua. Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. Biarkan anak dengan keinginannya.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

New York: Longman Dewi Gustini. Nazir. Muhammad Surya. Jakarta : PT. R.net M.Si. Rinehart and Winston. 1988. 1977 MBE.mbeproject.umj.php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.F Arief.bpplsp-reg-. Elementary Social Studies: A Practical Guide. S. Chaplin.ac. New York. H. 2000. & Messick. Anggani Sudono. Robert. Online: http://www.id/buletin/read.Al-Abrasyi. Metode Penelitian.G. J. M.wordpress.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan. 1999. 2006. http://www. (1992). Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya.R. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI). Belajar Matematika lewat Permainan Dakon. Ramadhan. Holt. Sumber Belajar dan Alat Permainan. 2004.M. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran.go. Athiyah. 2007. 1950. 106 .id/index. Medan : BPPLSP Regional I Farihen.fai. 2003. Jakarta: Ghalia Indonesia.multiply. Moleong LJ. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh. dkk.F.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne. 2009. 2006. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Grasindo. Online: http://elangjava. Online:http://h4mm4d. Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A. The Conditions of Learning. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. http://www.

Jakarta.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.indomedia.html http://www. 2007. Asdi Mahasatya Wina Sanjaya.co. Strategi Pembelajaran.sobrycenter.blogspot.republika.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno.html http://kumpulantipspilihan. http://kumpulantipspilihan. Kencana.blogspot.htm http://www.com/intisari/2000/agst/matematika8.html http://darmosusianto. www. Djamarah. 2002. 2007. Psikologi Belajar.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 . Berorientasikan Standar Proses Pendidikan.com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian. Jakarta : PT.blogspot. “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. (2005).com l B.Sugiyono.

Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif . Berilmu dan Berakhlak. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp.PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A.161 : A. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.Meningkatkan rasa kemandirian.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Struktur Organisasi 108 . Misi : . tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan .Nurlailah : Swasta : Jl.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini .

Yayasan Ketua Yayasan H. Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2. Sekolah Kepala Sekolah B.1.

Siswa Berjumlah 28 orang 3. Prestasi 110 .3. Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D. Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4. Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2. Personil dan Sumber Dana 1.

Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. juara 3 guru berprestasi Tk. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan.2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. f) Alat peraga di luar. prosotan.2007) E. pohon hitung. Sistem Rekruitmen 1. puteran. bak pasir. th.Kecamatan th. dan junkitan. Dengan brosur 111 . ayunan. puzzle. balok. G.c) Guru : Upi Supinah. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot . 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD .

Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.2. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A. Gambaran Umum 1. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3.

Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 .6. Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

Berapa jumlah ruang belajar? 3. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 . Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Potensi di sekitar lokasi: 1. Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8. Adakah ruang perpustakaan? 6.2. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Adakah bangunan mesjid? 4. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Berapa jumlah guru dan karyawan? 7.

Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . 5. 6.C. 3. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 4. Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B.

Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C.2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 . Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. 4. 5. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3. 6. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3.

Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.5.

118 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful