P. 1
SKRIPSI....UNINUS

SKRIPSI....UNINUS

|Views: 835|Likes:
Published by Iwa Kertapati

More info:

Published by: Iwa Kertapati on Oct 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/02/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan salah satu dari Pendidikan Luar Sekolah, yang mana pendidikan tersebut diberikan kepada anak sebelum masa sekolah dasar yang diwajibkan oleh negara Republik Indonesia (SD dan SMP) mulai usia kelahiran, sampai 5½ tahun, maka salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah sebagai pendidik harus dapat memahami secara lebih baik tentang kemampuan-kemampuan dan kecakapan anak. Banyak orang dewasa yang gagal memahami anak kecil sebagai mahluk yang mempunyai kecerdasan, dalam kemampuan belajar, penemuan terbaru dalam hal dunia pendidikan pada saat ini sedang hangat-hangatnya membahas dan meneliti tentang pendidikan anak usia dini, mulai dari proses sampai pada hasil akhir dari pendidikan usia dini. Perlu ditekankan bahwa pendidikan anak usia dini sangatlah berbeda dengan pendidikan anak usia remaja dan usia dewasa, bahkan berhasil tidaknya pendidikan anak remaja maupun dewasa terletak pada pendidikan usia dini. Usia di bawah lima tahun (balita) adalah usia yang paling kritis atau paling menentukan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Termasuk juga pengembangan intelegensi hampir seluruhnya terjadi pada usia di bawah lima tahun. Kalau seseorang sudah terlanjur menjadi pencuri atau penjahat, maka pendidikan Universitas bagi orang tersebut boleh dikatakan tidak berarti apa-apa. Sebagaimana halnya sebatang pohon bambu, setelah tua susah dibengkokkan.
1

Anak-anak pada usia di bawah lima tahun memiliki intelegensi laten (potential intelegence) yang luar biasa. Namun pada umumnya para orangtua dan guru hanya bisa mengajarkan sedikit hal pada anak-anak. Sesungguhnya anakanak usia muda tidak “complicated” (ruwet) dalam belajar, tetapi orangtua atau guru yang bermasalah. Pada umumnya orang tua selalu menyalahkan anak-anak apabila tingkah laku mereka tidak seperti yang diinginkan. Hal ini lebih banyak disebabkan karena jiwa kurangnya anak, pengetahuan sering dan pemahaman terhadap dengan

perkembangan

sehingga

memperlakukannya

tidak/kurang tepat. Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa dan kemampuan untuk menyerap informasi sangat tinggi. Kebanyakan orang tidak mengenali dan memahami kemampuan ‘magic’ yang ada pada anak-anak. Mereka hanya bisa berkata, “Saya tahu anak-anak belajar lebih cepat”, tetapi mereka tidak tahu seberapa cepat anak-anak bisa belajar. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan orang tua dan guru-guru maka potensi luar biasa yang ada pada setiap anak sebagian besar tersia-siakan. Penelitian di bidang neurologi yang dilakukan Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, Penelitian tersebut mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 4 tahun mencapai 50%, hingga usia 8 tahun mencapai 80%. Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Pada dasawarsa kedua yaitu usia 18 tahun perkembangan jaringan otak telah mencapai 100%.

2

Oleh sebab itu masa kanak-kanak dari usia 0 - 8 tahun disebut masa emas (Golden Age) yang hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia sehingga sangatlah penting untuk merangsang pertumbuhan otak anak dengan memberikan perhatian terhadap kesehatan anak, penyediaan gizi yang cukup, dan pelayanan pendidikan. Data memperlihatkan bahwa layanan pendidikan anak usia dini di Indonesia masih termasuk sangat memprihatinkan. Sampai dengan tahun 2001, jumlah anak usia 0 - 6 tahun di Indonesia yang telah mendapatkan layanan pendidikan baru sekitar 28% (7.347.240 anak). Khusus untuk anak usia 4 - 6 tahun, masih terdapat sekitar 10,2 juta (83,8%) yang belum mendapatkan layanan pendidikan. Masih banyaknya jumlah anak usia dini yang belum mendapatkan layanan pendidikan tersebut disebabkan terbatasnya jumlah lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini. Bermain menjadi sangat penting untuk ditelaah ketika pendidikan anak usia dini dibicarakan. Bermain dengan anak usia dini semisal pemain sepak bola dengan stadionnya. Para ahli memandang bahwa melalui bermain anak dapat menguasai banyak skil, konsep fisik dan sosial serta intelektual dasar. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa bermain adalah perilaku dinamis aktif, dan konstruktif yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanak-kanak, balita hingga masa remaja. Vigotsky (1962) meyakini bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi pekembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan khayalan suatu permainan, sebagaimana ketika seorang anak menirukan tongkat sebagai kuda dan mengendarai tongkat seolah-olah seekor kuda.

3

Jenis bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai sesuatu yang kontinu mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu. Jenis bermain tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut: (1). Bermain bebas, yaitu bermain yang memberi banyak pilihan kepada anak untuk memilih dan menggunakan materi yang diinginkan; (2). Bermain dipandu, bermain yang materinya telah dipilih guru agar anak menemukan konsep-konsep tertentu; (3). Bermain diarahkan yaitu bermain atas instruksi guru seperti menyanyikan lagu dan lain-lain. Bermain memiliki karakteristik; (1). Aktivitas yang termotivasi secara personal; (2). Aktif (tidak pasif); (3). Sering beresifat nonliteral (berpura-pura); (4). Tidak memiliki tujuan ekstrinsik (tujuan dari perintah orang); (5). Tidak memiliki aturan-aturan ekstrinsik (tekanan dari luar); (6). Pemain memberikan makna pada bermain. Bermain berkontribusi pada perkembangan kognitif, sosial, emosional dan fisik anak yaitu: (1). Pada perkembangan kognitif dimaksudkan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. (2). Pada peningkatan dan sosial dan emosional anak-anak terdorong keluar dari pola-pola berpikir egosentris. Mereka dirangsang untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka.(3). Pada perkembangan fisik mereka dapat terlatih skill gerak halus dan gerak berat (kasar). Peran guru dalam bermain pada latar kelas sangatlah penting. Bjorkland (1978) mengurutkan peran tersebut sebagai pengamat, penjelas, model, evaluator

4

dan perencana bermain. Bermain yang dimaksud baik bermain indoor (di dalam ruangan) ataupun outdoor (di luar ruangan). Agar dapat menjadi produktif, bermain outdoor membutuhkan perencanaan, observasi dan evaluasi yang berdasarkan pada bermain indoor. Semua anak dapat diuntungkan ketika guru memberikan materi-materi yang tepat dan mendorong mereka untuk

mengeksplorasi apa yang dapat mereka lakukan dengan tubuh mereka. Oleh karenanya guru harus benar-benar memahami kondisi setiap anak yang normal atau yang berkebutuhan khusus. Bagi guru pendidikan anak usia dini tugas dan kewajiban sebagaimana menjadi pendidik merupakan amanat yang harus diterima oleh guru atas dasar pilihannya untuk memangku jabatan guru. Amanat tersebut wajib dilakukan dengan penuh tanggung jawab. Dari uraian di atas, maka dapatlah dibuat suatu penelitian tentang konsep bermain untuk meningkatkan kemampuan kreativitas dengan judul : Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini oleh Guru di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Perencanaan penerapan konsep bermain anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah

Kebonpedes Kabupaten Sukabumi oleh guru masih perlu ditingkatkan.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi, belum optimal.
5

3. 4.

Sarana bermain untuk anak masih perlu penambahan. Perencanaan dan pengembangan kegiatan yang dibuat oleh guru masih perlu ditingkatkan.

C. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah, maka dapat dirumuskan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut; Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Berdasarkan perumusan masalah diatas, serta agar penelitian ini tidak meluas, maka penulis batasi permasalahannya pada; Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
1. Kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes

Kabupaten Sukabumi.
2. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di

PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi.
3. Faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep

bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi

6

Pembelajaran di kelompok bermain jelas sangat berbeda dengan di sekolah. 2. Jerome Bruner menyatakan. Membantu guru memotivasi siswa menggunakan konsep bermain. meningkatkan kreativitas dengan • Membantu siswa untuk dapat aktif dan dinamis belajar dengan penuh kesenangan dan kenyamanan di bawah pengawasan dan bimbingan guru. F. Sementara itu Abdulhak menjelaskan bahwa proses pembelajaran adalah interaksi edukatif antara peserta didik dengan komponen-komponen pembelajaran lainnya. dimana pembelajaran dilakukan dalam suasana bermain yang menyenangkan. setiap materi dapat diajarkan kepada 7 . Secara praktis • • Membantu guru untuk memilih metode pembelajaran terutama bermain. berarti akan memperkaya teori-teori tentang kajian anak usia dini. • Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada para guru dalam menerapkan konsep bermain pada anak usia dini. Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. dibenarkan atau dikendalikan. Secara teoritis Dengan membahas konsep bermain dalam penelitian ini. Anggapan Dasar Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini Berdasarkan definisi Konsensus Knowles dalam pembelajaran merupakan suatu proses di dalam mana perilaku diubah.E.

G. Dunia anak adalah dunia bermain. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. Oleh karena itu.setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 8 . bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spiritual. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. Pertanyaan Penelitian Pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Menurut Supriadi bahwa Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. 1. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. pada permainan atau bermain. dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Semiawan melalui bermain. Melalui permainan. Menurut Conny R. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini.

Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? H.2. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. mendengan. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Kreatifitas Adalah kemampuan anak dalam mengepresikan sesuatu berdasarkan dari hasil melihat. meraba dan merasakan melalui kegiatan bermain. mendengar. Meningkatkan Yang dimaksud dengan meningkatkan dalam tulisan ini adalah kemampuan anak menjadi bertambah setelah mengikuti kegitan bermain. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Dalam proses belajar. Penjelasan Istilah Konsep Bermain Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. 9 .

pertanyaan penelitian. perumusan dan pembatasan masalah. mengetengahkan tentang teori yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. berisi latar belakang masalah. 10 . penjelasan istilah dan sistimatika penulisan. Tempat dan Waktu Penelitian Bab IV. Sumber dan Jenis Data. Metode Penelitian. Bab II. TeknikPengumpulan Data. Instrumen Penelitian. tujuan penelitian. Sistimatika Penulisan Sistimatika penelitian ini terdiri dari. Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan. kegunaan penelitian. Bab I. tentang prosedur penelitian yang berisi. identifikasi masalah. diantaranya teori tentang konsep bermain dan kreatifitas anak. Teknik Analisis Data. Bab V. mengetengahkan tentang kesimpulan dan saran. penyajian data hasil penelitian dan pengolahan data penelitian.Anak Usia Dini Adalah anak-anak yang berusia dibawah 5 tahun yang mengikuti proses pendidikan di PAUD Al-Fitriyah PAUD Al-Fitriyah Tempat pelaksanaan proses pendidikan anak usia dini. subjek Penelitian. I. Bab III. anggapan dasar.

tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru didalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak. Sedang menurut Conny R. Melalui aktivitas bermain. mendengar. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Dalam proses belajar. Penerapan Konsep Bermain 1. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Dalam bermain anak akan belajar untuk melakukan improvisasi dan kombinasi yang akan digunakan untuk mempelajari sesuatu yang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan dewasa”.BAB II PENERAPAN KONSEP BERMAIN UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS ANAK USIA DINI A. Bagi anak. Bermain juga menurut Gallahue (1989 : 212) adalah : 11 . mengatakan: “bahwa bermain dalam periode anak dini usia merupakan “kegiatan yang serius” yang merupakan bagian yang paling penting dalam perkembangan anak. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. (2007) menyatakan bahwa : ”Bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. Pengertian Bermain Menurut Prasetyono. Bruner dalam Hurlock Elizabeth. (1990 : 234). bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. Bagi anak. berbagai pekerjaan terwujud.

yaitu tingkah laku bermain dimotivasi dari dalam diri anak itu sendir. Cara/tujuan . karena itu tidak mengikuti urutan yang sebenarnya melainkan lebih bersifat pura-pura 4. mengemukakan sedikitnya ada lima kriteria dalam bermain yakni 1. yakni bermain itu perilaku yang lentur yang ditujukan baik dalam bentuk maupun hubungan serta berlaku dalam setiap situasi. Bukan karena adanya tuntutan dari dalam diri anak itu sendiri. menggunakan perasaannya. Pengaruh positif. Jika menggunakan kelima kriteria tersebut. kegiatannya pura-pura.”Suatu aktivitas yang langsung dan spontan dimana seorang anak menggunakan orang lain atau benda-benda disekitarnya dengan senang. cara bermain lebih diutamakan daripada tujuannya karena anak lebih tertarik pada tingkah laku itu sendiri daripada keluaran yang dihasilkan 5. Kelenturan. dan mereka melakukannya bukan karena ingin dipuji atau karena ingi diberi hadiah. Bukan dikerjakan sambil lalu. Anak-anak bermain karena bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan bagi mereka. sukarela dan dengan imajinatif. Motivasi instrinsik. Biasanya anak melakukan permainan dengan alasan untuk mengetahui dan bereksperimen tentang dunia sekitarnya dalam rangka mengembangkan hubungan dengan dunia sekitarnya. yaitu tingkah laku yang menyenangkan untuk dilakukan 3. 2. maka dapat dikatakan bahwa bila seseorang anak menggunakan mainan boneka dengan cara yang fleksibel tanpa tujuan yang jelas dalam pikirannya. Dworetzy dikutip dalam Moeslihatun (1995 : 24). tangannya atau seluruh anggota tubuhnya”. Bukan karena tuntutan dari orang-orang disekitarnya atau karena kebutuhan akan fungsi-fungsi tubuhnya. sebagai mediumdimana anak mencobakan diri bukan saja hanya dalam fantasinya tetapi dilakukan secara nyata. Bermain merupakan alat utama untuk mencapai pertumbuhannya. menyenangkan 12 .

” ACEI juga menegaskan bahwa guru harus mengartikulasikan kebutuhan untuk bermain dalam kehidupan anakanak. meskipun segala sesuatu pelajaran yang bersifat formal belum menjadi 13 . kalau kebutuhan tersebut tidak terpenuhi. aktif dan konstruktif. maka akan belajar sesuai dengan tuntutan taraf perkembangannya. maka makin mampu ia berpikir logis. Dengan merancang pelajaran tertentu untuk dilakukan sambil bermain. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain adalah suatu kebutuhan bagi anak. melainkan baru kelak bila ia sudah menjadi remaja. maka dapat dikatakan ia sedang bermain.bagi dirinya. Dengan memahami arti bermain bagi anak. balita hingga masa remaja. yang merupakan bagian penting dan integral dari masa kanakkanak. Ciri-ciri dari tahap perkembangan yang ditandai oleh Childhood education. Ada 2 hal yang terkait dengan masalah ini. Bahkan. adalah perkembangan bahasa dan kemampuan berpikir memecahkan persoalan dengan menggunakan lambang tertentu. Dalam paper yang disetujui oleh Association for Childhood Education International (ACEI). Makin ia memasuki tahap perkembangan operasi konkret. Almy (1984) menulis bahwa : “membedakan karakteristik-karakteristrik bermain membuatnya penting untuk perkembangan anak. a) Perkembangan kognitif anak pada umur ini menunjukkan bahwa ia berada pada taraf praoperasional sampai pada tahap operasi konkret. Isenberg dan Quisenberry (1988) menyatakan bahwa “bermain adalah prilaku dinamis. dan melakukan kegiatan hanya untuk kesenggangan. ada satu tahap perkembangan yang berfungsi kurang baik dan ini tidak akan terlihat secara nyata segera. terutama sebagai bagian dari kehidupan sekolah mereka”.

memiliki fungsi yang berbeda-beda. 1986) terhadap. Latar Belakang Konsep Bermain Dalam pandangan Piaget. Sebaliknya. belahan fungsi otak kanan terutama dikembangkan untuk mampu berpikir holistik. b) Hal kedua terkait dengan yang dikatakan dimuka. bila mau tumbuh secara mental. 1986). sesama teman atau orang lain. maka yang diperlukan seperti itu. anak-anak dalam situasi-situasi bermain didorong untuk mempertimbangkan titik-titik pandang teman bermain mereka dan oleh karena itu menjadi kurang egosentris. secara bertahap ia memasuki fase operasi formal. imajinatif dan kreatif. maka belahan otak kiri yang berfungsi linier logis. Makin lama maka usai fase operasi konkret. berkaitan dengan fungsi otak. teratur. Seperti diketahui.suasana yang diakrabi secara alamiah. Hal tersebut menunjuk pada suatu pertumbuhan mental yang kurang sehat. 14 Anak-anak belajar bekerjasama untuk . bermain mendorong anak-anak keluar dari polapola berpikir egosentris. tahun adalah suatu conditio sine qua non. kiri dan kanan. kedua belahan otak. Jadi belajar sambil bermain bagi anak umur kurang lebih 4. dan linier. Belahan otak kiri memiliki fungsi.7. kelak akan tumbuh sering dengan memiliki sikap yang cenderung bermusuhan (hostile attitude. dan teratur amat dipentingkan dalam perkembangannya dan sering berakibat bahwa fungsi belahan otak kanan yang banyak digunakan dalam berbagai permainan terabaikan. bahkan sampai dengan umur 13 atau 14 tahun bermain adalah penting bagi anak. ciri dan respons untuk berfikir logis. Clark.. 2. Akibatnya menurut penelitian (Clark. Bila anak belajar formal (seperti banyak hafal-menghafal) pada umur muda. Yaitu.

mengangkut dan berjalan atau bergerak sebagai respon terhadap ritme. dipelihara dengan paling baik pada anak-anak kecil melalui sosiodrama dan bermain pura-pura dengan teman-teman sebayanya. menangkap. interaksi sosial dalam latarlatar kelompok kecil. Mereka juga dapat melatih skill-skill gerak halus ketika mereka menyatukan puzzle. Tidak hanya anak-anak kecil yang membutuhkan bermain aktif. dan meloncat sementara bermain. atau memalu paku kedalam kayu. Mereka juga memiliki kesempatan selama bermain untuk belajar menunda kepuasan mereka sendiri selama beberapa menit. melompat. dan lain-lain. anak-anak yang lebih besarpun harus berpartisipasi dalam jenis bermain ini juga. Mereka dapat melempar. Anak-anak ketika bermain dapat didorong untuk mengangkat.” a) Perkembangan Fisik Anak-anak mencapai kontrol gerak halus dan besar melalui bermain.mencapai beberapa tujuan kelompok selama bermain. menendang. b) Perkembangan Perilaku-Perilaku Bermain Perilaku bermain anak-anak berkembang dari masa kanak-kanak awal hingga masa kanak-kanak menengah. Stegelin (2005) meringkas keuntungan bermain dalam perkembangan sosial: “Kompetensi sosial yang secara luas berkembang pada usia enam tahun. dan asimilasi keterlibatan rutin dan resiprok dengan temanteman sebaya dan orang dewasa yang peduli. Setiap periode dicirikan oleh jenis-jenis 15 . Mereka dapat melatih semua skill gerak besar seperti berlari.

dan tujuan bermain yang berbeda. tetapi biasanya mereka memfokuskan pada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. dan mereka bermain tanpa membutuhkan objek-objek yang mereka gunakan menjadi begitu nyata. Mereka lebih memfokuskan pada proses. Sebagai contoh. tetapi mereka lebih tertarik pada apa yang terjadi dengan bahanbahan tersebut. d) Pra Sekolah Anak-anak pra sekolah menghabiskan banyak waktu bermain mereka dalam bermain eksplorasi atau praktek. Oleh sebab itu seorang guru atau pendidik sudah selayaknya memahami tahapan atau fase-fase perkembangan anak. mereka mungkin mencampur warna-warna cat. dapat menjadi apapun yang mereka Mereka juga 16 . anak-anak mulai memperlihatkan prilaku-prilaku bermain seperti berpura-pura makan atau tidur. e) Kelas-Kelas Sekolah Dasar Awal Anak taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu terlibat dalam bermain sosiodrama yang melibatkan beberapa anak dalam episode bermain. daripada produk bermain mereka. c) Masa Kanak-Kanak Awal Bermain pada periode ini adalah sensorimotor: mereka mengeksplorasi benda-benda dan orang-orang dan menyelidiki efek-efek tindakan mereka terhadap benda-benda dan orang-orang tersebut. Sebagai contoh. dan bukan pada hasil lukisannya. sebuah balok. Kira-kira pada akhir tahun pertama. Mereka juga dapat memulai interaksi bermain dengan orang lain seperti bermain sembunyi-sembunyian. biasanya tertarik pada game-game dengan aturan. Anak-anak pra sekolah seringkali terlibat dalam bermain sosiodrama atau fantasi.

yaitu membangun atau membuat sesuatu. Game-game dengan aturan menjadi lebih penting dalam bemain siswa-siswa kelas dasar. Bermain praktek menjadi lebih kognitif ketika anak-anak belajar menggunakan skill-skill literasi mereka untuk membuat cerita atau mempelajari informasi. menjadi bagian-bagian penting dari pengalaman bermain mereka. dan atletik.inginkan. f) Masa Kanak-Kanak Pertengahan Lebih sedikit bermain konstruksif yang diamati pada anak-anak usia ini karena mereka lebih sedikit memiliki akses untuk materi-materi konstruksi dalam kelas. Game-game dengan aturan Game-game mendominasi bermain anak-anak usia tujuh dan delapan tahun. game-game komputer. Kebanyakan anakanak kelas sekolah dasar memainkan bermain konstruksif. seperti “petugas polisi”. Anak-anak usia ini mungkin memperagakan adegan-adegan historis atau menciptakan drama untuk membantu mereka memahami fakta-fakta ilmiah. seperti memperagakan cerita atau adegan. Bermain praktek dan waktu yang dihabiskan untuk mengeksplorasi benda-benda baru berkurang selama kelas-kelas sekolah dasar awal hingga hanya sekitar 15 persen bermain dapat dinamakan sebagai praktek. seperti sepak bola dan baseball. bermain fantasi kemungkinan kurang memfokuskan pada peran-peran rumah dan lebih memfokuskan pada peran-peran yang diamati dalam masyarakat. Pada usia ini. Bermain sosiodrama cenderung menghilang dan digantikan dengan drama kreatif. Anak-anak usia ini dapat menggunakan aturan-aturan game secara lebih fleksibel dan dapat 17 . atau cerita-cerita yang didengar atau dibacakan. papan.

Memikirkan bermain di rumah dan di sekolah sepanjang dimensi-dimensi ini akan membantu guru menjelaskan kepada orangtua mengapa bermain di sekolah itu penting dan bukanlah duplikasi dari bermain di rumah. ruang Ruang-ruang lebih luas untuk keluarga. keluarga peralatan “Go play” adalah petunjuk Evaluasi pengalaman umum Ruang Biasanya ruang tidur.mengintegrasikan pengetahuan kognitif mereka dan kemampuan sosial secara lebih mudah. atau ruang tamu memanjat. Tabel 1 Perbedaan-Perbedaan antara Bermain di Rumah dan di Sekolah BERMAIN RUMAH SEKOLAH Teman-teman Usia campuran Usia sebaya sebaya Dipilih sendiri Pemilihan dalam kelompok Ukuran Sendiri atau kelompok kecil Kelompok besar kelompok Materi dan Terbatas Pemilihan lebih besar peralatan Kurang dibatasi Bimbingan dan Seringkali difokuskan pada Memandu pengembangan pengawasan keselamatan konsep-konsep tertentu Mencontohkan prilaku-prilaku bermain Bertanya tentang belajar Interaksi orang Membelikan materi-materi Memfasilitasi bermain dewasa-anak Mendengarkan permintaan Berinteraksi dengan anak-anak anak perorangan Memahami isu-isu Menentukan tujuan anak keselamatan Komitmen waktu Harus sesuai dengan skedul Waktu yang dijadwal secara keluarga teratur Periode lebih pendek Periode lebih lama Perencanaan Dipandu oleh anggaran Pilihan-pilihan materi. membangun balok. dll 18 . Beberapa perbedaan antara keduanya diringkas pada Tabel dibawah ini. g) Bermain dalam Latar Sekolah Bermain di sekolah biasanya berbeda dari bermain di rumah dalam beberapa hal.

maka guru harus terlibat dalam observasi yagn sistematis terhadap anak-anak yang sedang bermain. Peran-peran guru dalam bermain dalam latar kelas sangatlah penting. Berikut adalah peran guru di sekolah : 1) Pengamat Ketika mengamati. evaluator dan perencana bermain (Bjorkland.Guru akan memilih pengalaman-pengalaman bermain yang sesuai dengan tujuan program-program mereka. dan harus mencari anak-anak yang memiliki kesulitan bermain atau bergabung dengan kelompok-kelompok bermain. memberikan Phyfe-Perkins (1980) menyimpulkan bahwa jika latar akan dukungan untuk aktifitas-aktifitas yang sesuai dengan perkembangan. model. Jika 19 . Guru mungkin memberikan ilustrasi majalah yang akan membantu anak-anak membuat salon kecantikan. 1978). Guru harus menjadi pengamat. membuat keputusan-keputusan mengenai situasi bermain. Dia harus mengamati lamanya waktu anak-anak dapat mempertahankan episode bermain. guru harus mengawasi interaksi anak-anak dengan anak lainnya dan dengan benda-benda. dan membuat asesmen bermain terhadap anak perorangan. Jika anak-anak sedang memainkan “menjadi penata rambut” maka guru mungkin membantu mereka mengumpulkan item-item yang dapat digunakan untuk menggambarkan bendabenda yang ditemukan di tempat penata rambut. 2) Penjelas Aspek lainnya dari peran guru adalah penjelas. Pengamatan ini harus digunakan nantinya dalam merencanakan pengalaman-pengalaman bermain tambahan. penjelas.

maka guru mungkin menyediakan kaset video tentang serangga sehingga anak dapat meciptakan kembali gerakan serangga dalam permainan mereka. Perencanaan melibatkan semua pembelajaran yang dihasilkan dari mengamati. Guru harus merencanakan pengalaman-pengalaman baru yang akan mendorong atau memperluas ketertarikan anak-anak. dan aktifitas harus dipertimbangkan secara cermat berdasarkan tujuan kurikulum. guru harus menjadi pengamat yang cermat dan ahli diagnosa untuk menentukan bagaimana peristiwa-peristiwa bermain yang berbeda memenuhi kebutuhan-kebutuhan anak-anak perorangan dan apakah pembelajaran yang sedang terjadi ketika anak-anak berpartisipasi dalam bermain. guru harus berfungsi sebagai perencana. Evaluasi berarti bahwa materi. 5) Perencana Akhirnya. Ketika melakukan 20 . 3) Pemberi contoh Guru yang menghargai bermain seringkali menjadi pemberi contoh prilaku-prilaku yang tepat dalam situasi-situasi bermain. lingkungan. dan perubahan-perubahan harus dibuat ketika dibutuhkan.anak lain terlibat dalam mempelajari serangga. Guru mungkin memilih untuk bergabung dengan permainan drama untuk dapat mencontohkan prilakuprilaku yang berguna ketika memasuki kelompok bermain dan respon-respon yang berguna untuk membantu berlanjutnya bermain 4) Evaluator Sebagai evaluator bermain. dan mengevaluasi. menjelaskan.

Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. Pantaulah kemajuan bermain. guru harus mempertimbangkan pedoman-pedoman berikut ini: • • • • • • • • Yakinkan anak-anak memiliki cukup waktu untuk bermain. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. Bantulah anak-anak merencanakan bermain mereka. maka ini bukanlah bermain. 21 . Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. Latihlah orang-orang yang membutuhkan bantuan. 4. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. Berikan tema-tema yang dapat diperluas dari satu hari ke hari berikutnya. 3. maka ini dikatakan bermain. Contohkan cara-cara yang tepat untuk menyelesailkan perselisihan. anak-anak mungkin berpura-pura terbang.perencanaan yang berkonstribusi pada perkembangan. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. Contohkan bagaimana tema-tema dapat saling berkaitan.” Waktu. Pilihlah mainan-mainan yang tepat. atau menjadi monster.

proses.Dalam bermain. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balo untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. Ruang Lingkup dan Jenis Bermain Bermain dalam latar sekolah dapat digambarkan sebagai suatu kontinum mulai dari bermain bebas hingga bermain yang dipandu:  Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai bermain dimana anak-anak memiliki sebanyak mungkin pilihan materi dan dimana mereka dapat memilih bagaimana menggunakan materi tersebut. 5. Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. atau cara bukanlah hasil akhir. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. 7. anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. 22 . 6. Sebagai contoh. adalah yang paling penting. tetapi ketika bermain.

walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. Bermain bukanlah aktifitas pasif. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. a) Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. Agar suatu aktifitas disebut bermain. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. maka ini biasanya bermain. bermain game-game lingkaran adalah contoh-contohnya. b) Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. 23 . merencanakan. Jika keterlibatan itu pasif. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. Selain berpikir mengenai jenis bermain. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. keterlibatan aktif. makna nonliteral. seperti menonton televisi. Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. Ini termasuk motivasi personal. makna yang diberikan oleh pemain. Bermain dipandu didefinisikan sebagai bermain dimana guru telah memilih materi-materi yang dapat dipilih anak-anak agar mereka dapat menemukan konsep-konsep tertentu. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. atau anak bagaimaan untuk memenuhi tugas tertentu. dan berinteraksi dengan lingkungan.  Bermain diarahkan adalah bermain dimana guru menginstruksikan anakMenyanyikan lagi. mengatur.

Dalam studi klasiknya. (2) Bermain simbolis. adalah bermain dimana anak-anak mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan materi. dan koperatif. a) Bermain Sosial Guru-guru yang mengamati anak-anak bermain akan memperhatikan beberapa level keterlibatan yang berbeda dengan anak-anak lainnya dalam episode bermain. atau bermain fungsional. Ketika anak-anak matang. (3) Dalam game dengan aturan. Level-level bermain objek tergantung pada kematangan dan pengalaman anak-anak. asosiatif. adalah bermain dimana anak-anak mungkin mulai menggunakan bermain untuk menggambarkan sesuatu yang lain. maka mereka menjadi lebih mampu untuk menggunakan materi-materi secara simbolis dan memainkan game dengan aturan-aturan yang diterima. bermain dengan objek. onlooker. paralel. dan bermain sosiodrama. termasuk bermain sosial. anak-anak mungkin bermain berdasarkan aturan-aturan yang telah mereka buat sendiri atau yang telah secara umum disepakati. (4) Game-game konstruksi digambarkan sebagai game yang berkembang dari bermain simbolis tetapi nantinya cenderung membentuk adaptasi murni. 24 .Bermain dapat didefinisikan dengan mempertimbangkan berbagai level dimana anak-anak terlibat didalamnya. Parten menggambarkan level-level ini sebagai soliter. b) Bermain dengan Objek Piaget telah menggambarkan jenis-jenis bermain dengan objek yang berbedabeda: (1) Bermain praktek.

jenis bermain ini memungkinkan anak-anak untuk terlibat secara intelektual dengan banyak aspek kehidupan mereka sendiri. Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa bermain merupakan suatu cara dalam memberikan rangsangan kepada anak untuk melakukan aktivitas yang disebut dengan belajar. Menurut Vygotsky. Kemampuan untuk mengambil peran orang lain dan merubah perspektif adalah skill-skill dasar yang penting untuk pembelajaran akademik. bahwa dirinya memiliki teman serta harus mampu bertanggung jawab dalam permainan yang dilakukannya. Melalui bermain anak akan memiliki konsep diri. Disebut oleh beberapa orang sebagai bermain fantasi.c) Bermain Sosiodrama Bermain sosiodrama melibatkan sekelompok kecil partisipan yang memainkan peran-peran tertentu yang telah mereka pilih. Bermain memfasilitasi pemisahan pikiran dari tindakan dan objek. Tujuan Memahami Konsep Bermain 25 . Vygostky yakin bahwa bermain sangatlah penting untuk perkembangan anak dalam tiga cara: • • • Bermain menciptakan zona perkembangan proksimal pada diri anak. Bermain memfasilitasi pengembangan regulasi diri. dan skill-skill sosial. 8. bermain berkembang dari bermain manipulatif anak- anak kecil yang baru belajar berjalan menjadi bermain yang berorientasi secara sosial dari anak-anak pra sekolah dan taman kanak-kanak dan akhirnnya menjadi permainan. Bermain sosiodrama terutama penting dalam perkembangan kreatifitas. pertumbuhan intelektual.

sosial dan intelektual dasar. yaitu bermain dimana anak tidak memiliki tujuan kecuali eksplorasi. Bermain merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan dan spontan sehingga hal ini memberikan rasa aman secara psikologis pada anak. mengamati. menarik kesimpulan. membandingkan dan menentukan hubungan sebab akibat. mendiskriminasikan. membuat prediksi. yang terjadi sebagai hasil dari pengalaman-pengalaman dengan benda-benda dan manusia. membantu perkembangan sosial dan emosional. dan bermain yang ditentukan oleh aturan. Bermain juga membantu anak-anak mengembangkan kemampuan mengatur dan pemecahan masalah. Anak-anak yang bermain secara pasti memperlihatkan berpikir kreatif dan pemecahan masalah kreatif.” Baik bermain eksplorasi. Banyak studi melaporkan hubungan positif antara pengalaman bermain dan perkembangan kemampuan kognitif anak-anak. Begitu pula dalam suasana bermain aktif.Bermain berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. dimana anak memperoleh kesempatan yang luas 26 . mengklasifikasikan. berkontribusi untuk pertumbuhan kognitif. yaitu bermain dimana anak memiliki tujuan seperti menemukan solusi untuk masalah. Ehart dan Leavitt (1985) menyatakan bahwa bermain memberikan anak-anak kecil kesempatan “untuk menguasai banyak skill-skill dan konsep fisik. dan penting untuk perkembangan fisik. Pertumbuhan kognitif didefinisikan sebagai suatu peningkatan dalam simpanan dasar pengetahuan anak. Kemampuan intelektual ini mendasari keberhasilan anak-anak dalam semua area akademik. mengurutkan. Kemampuan kognitif termasuk mengidentifikasikan.

menemukan hubungan yang 27 . dan sebagainya. untuk menemukan penggunaan suatu hal secara berbeda. dan tidak terlalu cepat dievaluasi. Begitu pula anak yang diberikan kebebasan untuk mengekspresikan gagasannya. drama. dihargai keunikannya. Anak-anak diterima apa adanya. ia akan melakukan kembali pada situasi yang lain. Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengembangkan kreativitasannya. Sekali anak merasa mampu menciptakan sesuatu yang baru dan unik. bermain konstruktif. Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak usia dini. Kreativitas memberi anak kesenangan dan kepuasan pribadi yang sangat besar dan penghargaan yang memiliki pengaruh nyata pada perkembangan pribadinya. akan merasa aman secara psikologis. Maka dalam hal ini memungkinkan anak untuk mengembangkan perasaan bebas secara psikologis Rasa aman dan bebas secara psikologis merupakan kondisi yang penting bagi tumbuhnya kreativitas. Jika kreativitas dapat membuat permainan menjadi menyenangkan. anak bebas mengekspresikan gagasannya memalui khayalan. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan-gagasan barunya baik yang menggunakan alat bermain atau tidak.untuk melakukan eksplorasi guna memenuhi rasa ingin tahunya. karena menambah bumbu dalam permainannya. Keadaan bermain yang demikian berkaitan erat dengan upaya pengembangan kreativitas anak. mereka akan merasa bahagia dan puas Bermain memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan dorongan-dorongan kreatifnya sebagai kesempatan untuk merasakan obyek-obyek dan tantangan untuk menemukan sesuatu dengan cara-cara baru.

unsur resiko itu selalu ada. Bermain adalah salah satu alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya. Bermain adalah medium. karena menyenangkan bukan karena akan memperoleh hadiah atas pujian. bermain mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan perkembangan kehidupan sehari-hari seorang anak. Betapa pun sederhana permainannya. dari yang tidak ia kenali sampai pada yang ia ketahui dan dari yang tidak dapat diperbuatnya. berenang. ataupun meloncat. Selain itu bermain memberikan kesempatan pada individu untuk berpikir dan bertindak imajinatif. a) Bermain memiliki berbagai arti. naik sepeda sendiri. maka ia melatih kemampuannya. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak. bukan saja dalam fantasinya tetapi juga benar nyata secara aktif. Permainan adalah alat bagi anak untuk menjelajahi dunianya. tetapi mengasyikan. sesuai kemauan maupun sesuai kecepatannya sendiri. Urgensi Memahami Konsep Bermain Anak Usia Dini Bagi anak. Pada permulaan setiap pengalaman bermain memiliki unsur resiko. bermain adalah suatu kegiatan yang serius. berbagai pekerjaanya terwujud. serta penuh daya khayal yang erat hubungannya dengan perkembangan kreativitas anak. Bila anak bermain secara bebas. Melalui aktivitas bermain.baru antara sesuatu dengan sesuatu yang lain serta mengartikannya dalam banyak alternatif cara. b) Unsur lain adalah pengulangan. di mana si anak mencobakan diri. Dengan pengulangan. Jadi. anak memperoleh kesempatan mengkonsolidasikan keterampilannya yang harus diwujudkannya 28 . sampai mampu melakukannya. Ada resiko bagi anak untuk belajar berjalan sendiri. 9.

Sesudah pengulangan itu berlangsung. Melalui berbagai permainan yang diulang. umpama: la bisa bermain peran sebagai ibu atau bapak yang galak. takut. ia memperoleh kemampuan tambahan untuk melakukan aktivitas lain. c) Fakta bahwa aktivitas permainan sederhana dapat menjadi kendaraan (vehicle) untuk menjadi hajat permainan yang begitu kompleks. atau sebagai bayi atau anak yang mendambakan kasih sayang.dalam berbagai permainan dengan berbagai nuansa yang berbeda. anak akan meningkatkan keterampilannya yang lebih kompleks. dan gangguan emosional. d) Melalui bermain anak secara aman dapat menyatakan kebutuhannya tanpa dihukum atau terkena teguran. Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Di dalam semua permainan itu ia dapat menyatakan rasa benci. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) 29 . Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. dapat dilihat dan terbukti pada kala mereka menjadi remaja.

Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. tidak terlalu memperdulikan jawaban yang diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. ruang. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. 30 . kuantitas dan sebagainya . Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan.

memperoleh hasil kerja yang baik. b) Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. d) Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan 31 . Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a) Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya.Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. c) Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games.

mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. Ketika anak-anak mendapatkan pengalaman dan kematangan. melibatkan peran aktif anak. anakanak dapat mempelajari skill-skill pengaturan. memiliki hubungan sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). materi dan sangsi untuk aktifitas-aktifitas bermain. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. mengembangkan skill-skill bahasa oral. bermain dalam kelas harus mencerminkan perubahan-perubahan ini. Anak-anak dengan usia yang berbeda dan level-level perkembangan yang berbeda menggunakan materi-materi dalam cara berbeda. dan perasaan gembira. afektif. ruang. . dan belajar mengambil resiko dalam memecahkan masalah. Penerapan Konsep Bermain dalam Pendidikan Anak Usia Dini Ketika bermain diterima sebagai alat untuk memenuhi kurikulum. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. Bermain yang dapat membantu anak-anak dalam perkembangan mereka dapat dicapai di sekolah jika guru memberikan waktu. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. baik kognitif. tidak memiliki tujuan ekstrinsik. 10. sehingga guru harus waspada dalam 32 .

Contoh-contoh berikut ini mengilustrasikan tujuan yang dapat dengan cepat dicapai melalui bermain: 33 . a) Memilih Materi untuk Bermain Guru memiliki banyak pilihan ketika memilih materi-materi untuk bermain.menyediakan materi-materi yang akan menantang anak-anak untuk berkembang lebih banyak dalam bermain. Balok. Sebagai contoh. Materi-materi open-ended (terbuka) yaitu yang memungkinkan banyak hasil dan penggunaan unik dalam setiap pertemuan. Oleh karena itu bersifat kondusif untuk berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada anak-anak. guru dapat menyediakan kotak. adalah yang paling berguna. Materi-materi tersebut mungkin berupa materi yang tidak memiliki struktur seperti pasir dan air. Materi-materi yang memungkinkan anak-anak membuat pilihan bermain dan memungkinkan banyak hasil penting untuk lingkungan bermain yang paling baik. b) Bermain sebagai Strategi Mengajar Bermain adalah salah satu strategi mengajar yang tersedia bagi para guru ketika mereka merencanakan pembelajaran anak-anak. atau materi yang memiliki struktur seperti berbagai bentuk balok. atau roller yang akan membantu anak-anak mengembangkan konsep-konsep dalam ilmu fisika. pasir atau air tidak membatasi hasil-hasil bermain anak-anak. bola. Banyak materi dapat dianggap terbuka jika memungkinkan anak-anak untuk menggunakannya dalam cara-cara berbeda.

anakanak mengembangkan dan menikmati tema yang dipilih. Oleh karena itu. Menggunakan pengalaman bermain sebagai strategi mengajar mengharuskan guru untuk mengamati bagaimana anak-anak menggunakan materi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memandu berpikir dan refleksi anak-anak. guru harus cermat ketika mengintervensi bermain anak-anak dan hindarilah mencoba memaksakan agenda mereka pada anak-anak. Untuk mendorong anak-anak belajar tentang pakaian yang tepat untuk cuaca. Melalui kerja mereka. 11. Memilih bermain yang dipandu sebagai strategi mengajar tidak menyiratkan bahwa bermain itu diberikan. Cooper dan Dever (2001) menemukan bahwa bermain sosiodrama adalah alat yang unggul untuk mengintegrasikan kurikulum. perlulah kiranya guru dan orang tua mengetahui hakikat pembelajaran di RA. sumber belajar dan pendidik dalam suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. 34 . Pembelajaran di RA antara laian harus : a. Proses pembelajaran bagi anak usia dini adalah proses interaksi antar anak. namun berarti bahwa pemikiran yang cermat ditekankan pada pemilihan materi-materi dan intervensi dalam bermain anak.  Untuk mendorong anak-anak belajar bagaimana membuat warna-warna sekunder. Tahapan Pembelajaran Bermain Kegiatan pembelajaran pada anak Raudhatul Athfal harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Oleh karena itu.

Sesuai dengan sifat perkembangan anak usia dini proses pembelajarannya di laksanakan secara terpadu. Mereka memperlakukan anak-anak usia dini dengan tuntutan-tuntutan kemampuan yang sering tidak tepat dan melebihi dari batas kemampuan yang dimiliki. khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran dan pelatihan. intelegensi (daya 35embe. Uraian di atas kiranya dapat dipahami oleh pendidik. Artinya.Keberhasilan proses pembelajaran anak usia dini ditandai dengan pencapaian pertumbuhan dan perkembangan anak-anak usia secara optimal dan dengan hasil pembelajaran yang mampu menjadi jembatan bagi anak usia dini untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perkembangan selanjutnya. g. sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual). e. Belajar sambil bermain ditekankan pada pengembangan potensi di bidang fisik (koordinasi motorik halus dan kasar). perilaku serta agama). dan yang sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan serta kehidupan anak RA. Demikian pentingnya keberadaan RA sehingga pembelajaran harus berpusat pada anak.Proses pembelajaran pada anak usia dini akan terjadi apabila anak tersebut secara aktif berinteraksi dengan lingkungan belajar yang diatur pendidik. c. agar anak dapat mencapai tahapan perkembangan yang 35 . d. daya cipta. f. bahasa dan komunikasi menjadi kompetensi/ kemampuan yang secara 35ember dimiliki anak. 35ember-emosional (sikap.Program belajar mengajar bagi anak usia dini dirancang dan dilaksanakan sebagai suatu sistem yang dapat menciptakan kondisi yang menggugah dan 35ember kemudahan bagi anak usia dini untuk belajar sambil bermain melalui berbagai aktifitas yang bersifat konkrit. h. 2002 : 4 – 5). Dengan demikian. Sesuai dengan karakteristik anak usia dini yang bersifat aktif melakukan berbagai eksplorasi dalam kegiatan bermain. (Balitbang.Penyelenggaraan pembelajaran bagi anak usia dini perlu memberikan rasa aman bagi anak usia tersebut.b. maka proses pembelajarannya ditekankan pada aktifitas anak dalam bentuk belajar sambil bermain. karena cukup banyak pendidik yang tidak sabar menghadapi anak-anak usia dini dalam hal ini RA. Cukup banyak pelajaran dan pelatihan yang hanya membawa kebosanan. kejenuhan. kelelahan dan akhirnya menghasilkan kegagalan entah pada masa kanak-kanaknya entah ketika tumbuh sebagai remaja.

Pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan anak pra sekolah berlandaskan ajaran Islam memiliki tantangan tersendiri. anak-anak mengenalnya melalui permainan karena tidak ada cara yang lebih baik untuk merangsang perkembangan kecerdasan anak melalui kegiatan melihat. Pemahaman guru tentang ajaran Islam yang komprehensif dan melibatkan seluruh domain yaitu kognitif. belajar harus bermakna dan belajar dilakukan sambil bermain (Hartati: 2007). afektif dan psikomotor perlu ditingkatkan. Semiawan dalam Buletin PADU (2003): ”Bermain sangat berperan dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam bermain anak dapat menerima banyak rangsangan. mendengar. tetapi bermain merupakan salah satu bagian dari proses pembelajaran. Kreativitas belajar anak melalui bermain sangat penting sekali untuk di pahami oleh orang tua dan guru di dalam memberikan stimulasi (rangsangan) kepada anak sedini mungkin sesuai dengan periodesasi perkembangannya. berbagai pekerjaan terwujud. Bagi anak. dalam Hartati S. Selain dengan pemahaman tersebut. berangkat dari potensi yang dimiliki anak. Bagi anak. maka proses pembelajaran yang dilakukan harus memenuhi prinsipprinsip pembelajaran. Melalui aktivitas bermain. dan pola 36 . Dalam proses belajar. Prasetyono. Sebagaimana diungkapkan pula oleh Conny R. Selain dapat membuat diri anak senang juga dapat menambah pengetahuan anak.optimal. yaitu. bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan bukan karena akan mendapat hadiah atau alat utama yang menjadi latihan untuk pertumbuhannya”. bermain adalah suatu kegiatan yang serius namun mengasyikkan. Islam harus menjadi landasan dalam pola pikir. meraba dan merasakan yang kesemuanya itu dapat dilakukan melalui kegiatan bermain”. (2007) menyatakan bahwa : ”bermain bagi anak-anak bukan sekedar bermain. pola jiwa.

tidak terlalu memperdulikan jawaban yang 37 . Kegiatan ini hanya merupakan kelanjutan kenikmatan yang diperoleh seperti kegiatan makan atau mengganti sesuatu. Pada masa ini anak lebih banyak bertanya dan menjawab pertanyaan. Jadi merupakan pengulangan dari hal-hal sebelumnya dan disebut reproductive assimilation. Seringkali anak hanya sekedar bertanya. b) Permainan Simbolik (± 2-7 tahun) Merupakan ciri periode pra operasional yang ditemukan pada usia 2-7 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura. Adanya pemberlakuan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan kemudian KTSP termasuk untuk RA dan PAUD. Adapun tahapan kegiatan bermain sebagai berikut: a) Permainan Sensori Motorik (± 3/4 bulan – ½ tahun) Bermain diambil pada periode perkembangan kognitif sensori motor. Pada umumnya para ahli hanya membedakan atau mengkatergorikan kegiatan bermain tanpa secara jelas mengemukakan bahwa suatu jenis kegiatan bermain lebih tinggi tingkatan perkembangannya dibandingkan dengan jenis kegiatan lainnya. kajian penelitian. sebelum 3-4 bulan yang belum dapat dikategorikan sebagai kegiatan bermain. mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka. serta pendekatan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk merupakan bentuk reformasi pendidikan nasional yang menambah wawasan guru dalam pembelajaran di kelas. kuantitas dan sebagainya . maupun contoh pelaksanaan pembelajaran pada anak di lapangan yang berbasis ajaran Islam. Para guru juga memerlukan informasi yang terbaru tentang teori-teori. ruang.perilaku guru sebagai pendidik.

d) Permainan yang Memiliki Aturan dan Olahraga (11 tahun keatas) Kegiatan bermain lain yang memiliki aturan adalah olahraga. Kegiatan bermain ini menyenangkan dan dinikmati anak-anak meskipun aturannya jauh lebih ketat dan diberlakukan secara kaku dibandingkan dengan permainan yang tergolong games seperti kartu atau kasti.diberikan dan walaupun sudah dijawab anak akan bertanya terus. Setiap hal yang berkesan bagi anak akan dilakukan kembali dalam kegiatan bermainnya. Tahapan Penjelajahan (Exploratory stage) 38 . sobekan kertas sebagai uang dan lain-lain. Bermain simbolik juga berfungsi untuk mengasimilasikan dan mengkonsolidasikan pengalaman emosional anak. Anak senang melakukan berulang-ulang dan terpacu mencapai prestasi yang sebaikbaiknya. Sedang tahapan perkembangan bermain yang lain adalah sebagai berikut: a. memperoleh hasil kerja yang baik. c) Permainan Sosial yang Memiliki Aturan (± 8-11 tahun) Pada usia 8-11 tahun anak lebih banyak terlibat dalam kegiatan games with rules dimana kegiatan anak lebih banyak dikendalikan oleh peraturan permainan. Jika dilihat tahapan perkembangan bermain maka dapat disimpulkan bahwa bermain yang tadinya dilakukan untuk kesenangan lambat laun mempunyai tujuan untuk hasil tertantu seperti ingin menang. Misalnya sapu sebagai kuda-kudaan. Anak sudah menggunakan berbagai simbol atau representasi benda lain.

Tahapan Mainan (Toy stage) Tahap ini mencapai puncaknya pada usia 5-6 tahun. Penjelajahan semakin luas saat anak sudah dapat merangkak dan berjalan sehingga anak akan mengamati setiap benda yang diraihnya. dimana anak mulai kurang berminat terhadap kegiatan bermain yang tadinya mereka sukai dan mulai menghabiskan waktu untuk melamun dan berkhayal. d. memiliki hubungan 39 . tidak memiliki tujuan ekstrinsik. dan perasaan gembira. b. Tahap Melamun (Daydream stage) Tahap ini diawali ketika anak mendekati masa pubertas. anak-anak di Taman Kanak-Kanak biasanya bermain dengan boneka dan mengajaknya bercakap atau bermain seperti layaknya teman bermainnya. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa bermain merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh anak dengan spontan. olah raga dan bentuk permainan lain yang dilakukan oleh orang dewasa. Antara 2-3 tahun anak biasanya hanya mengamati alat permainannya.Berupa kegiatan mengenai objek atau orang lain. c. Pada masa ini jenis permainan anak semakin bertambah banyak dan bermain dengan alat permainan yang lama kelamaan berkembang menjadi games. Biasanya terjadi pada usia pra sekolah. Tahap Bermain (Play stage) Biasanya terjadi bersamaan dengan mulai masuk ke sekolah dasar. melibatkan peran aktif anak. mencoba menjangkau atau meraih benda disekelilingnya lalu mengamatinya. Biasanya khayalannya mengenai perlakuan kurang adil dari orang lain atau merasa kurang dipahami oleh orang lain.

Bermain harus selalu menjadi menyenangkan bagi partisipannya. kita dapat mendefinisikan bermain berdasarkan karakteristiknya. Bermain adalah Aktif Semua pengalaman bermain membutuhkan beberapa keterlibatan aktif pada pemainnya. dan merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya.sistematik dengan hal-hal diluar bermain (seperti perkembangan kreativitas). Jika keterlibatan itu pasif. dan tidak adanya aturan-aturan ekstrinsik. Anak-anak yang bermain terlibat dalam berpikir. dan berinteraksi dengan lingkungan. Jika seorang anak memilih suatu aktifitas. keterlibatan aktif.Masa bermain pada anak memiliki tahap-tahap yang sesuai dengan perkembangan anak. Ini termasuk motivasi personal. Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Bermain Selain berpikir mengenai jenis bermain. seperti menonton televisi. serta memungkinkan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya tersebut. 12. maka ini biasanya bermain. makna nonliteral. makna yang diberikan oleh pemain. Bermain Seringkali Bersifat Nonliteral 40 . merencanakan. baik kognitif. mengatur. b. a. maka pemainnya harus memilih untuk berpartisipasi. walaupun bermain tidak membutuhkan keterlibatan fisik aktif. . afektif. maka aktifitas itu kemungkinan bukanlah bermain. walaupun apa yang dilakukannya mungkin tampak sebagai kerja. tujuan-tujuan tidak ekstrinsik. Agar suatu aktifitas disebut bermain. Bermain adalah Aktifitas yang Termotivasi secara Personal. maupun psikomotor dan sejalan juga dengan usia anak. d. Bermain bukanlah aktifitas pasif.

Hasil dari bermain tidaklah sepenting partisipasi didalamnya. atau menjadi monster. Jika tugas ini telah diberikan untuk tujuan membantu mereka mempelajari urutan abjad. Bermain Tidak Memiliki Aturan-Aturan Ekstrinsik Jika suatu aktifitas akan dianggap sebagai bermain. proses. Jika anak menyusun huruf-huruf berdasarkan tujuannya sendiri. Sebagai contoh. biasanya dengan kata-kata magis “Mari kita berpura-pura. g. e. tetapi ketika bermain. maka pemainnya harus dapat merubah aturan-aturan aktifitas ketika dibutuhkan. 41 . atau cara bukanlah hasil akhir. maka dia mungkin menggunakannya untuk membuat rumah-rumahan atau jalanan. Pemain Memberikan Makna pada Bermain Anak-anak terkadang mengeksplorasi atau menggunakan materi-materi dalam cara-cara yang dispesifikasikan oleh orang lain. Seorang anak mungkin menggunakan 10 balok untuk membangun model-model angka jika diarahkan untuk melakukan hal tersebut oleh seorang dewasa. Bermain Tidak Memiliki Tujuan Ekstrinsik Seandainya seorang anak sedang menyusun serangkaian huruf diatas papan magnetis. Bermain juga tidak perlu menjadi mungkin. latar dan karakter yang terlibat dalam bermain dapat dinegosiasikan dan tidak terikat pada realitas. mereka memberikan penafsiran mereka sendiri terhadap materi.Anak-anak ketika bermain dapat menangguhkan realitas. Dalam bermain.” Waktu. adalah yang paling penting. f. maka ini dikatakan bermain. Namun jika dia dibiarkan untuk menggunakan materi secara bebas. anak-anak mungkin berpura-pura terbang. maka ini bukanlah bermain.

Istilah kreativitas dalam kehidupan sehari-hari selalu dikaitkan dengan prestasi yang istimewa dalam menciptakan sesuatu yang baru. ide-ide baru. Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya perangkuman.anak-anak yang bermain dengan balok mungkin membuat aturan-aturan mengenai ruang untuk bangunan. tetapi aturan-aturan tersebut dirundingkan dengan pemain. dan melihat adanya berbagai kemungkinan Menurut Solso (Csikszentmihalyi. B. menemukan cara-cara pemecahan masalah yang tidak dapat ditemukan oleh kebanyakan orang. Kreativitas dapat didefinisikan dalam beranekaragam pernyataan tergantung siapa dan bagaimana menyorotinya. Drevdal dalam Hurlock (1999). atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru. menjelaskan kreativitas sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi.1996) kreativitas adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi. produk. dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. 42 . Kreativitas Anak Usia Dini 1. mungkin mencakup pembentukan pola-pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya serta pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. sikap atau keadaan yang sangat khusus sifatnya dan hampir tidak mungkin dirumuskan secara tuntas. Pengertian Kreativitas Kreativitas adalah suatu kondisi.

atau mungkin juga bersifat prosedural atau metodologis. Lalu apakah kreativitas itu? Morgan (1999) dalam Irina V. produk ilmiah. at. seperti memformulasikan sebuah solusi terhadap suatu masalah sehari-hari. setelah melakukan penelitian yang mendalam. 43 . maka orang itu harus memikirkan suatu cara untuk mendapatkan tujuannya. Bagaimanapun. kreativitas dianggap sebagai sesuatu yang artistik. Bahwa kreativitas bukan menemukan sesuatu.. Sokolova. berarti dan bermanfaat. jika seseorang mengisi bensin di jalan. (2008: 261).. Dengan kata lain. dan melampaui pemahaman.al. Sesuatu yang baru harus mencerminkan keaslian dan kebaruan. agung. dan ini memerlukan kreativitas meskipun hal itu dalam bentuk yang paling sederhana. al. asosiasi baru berdasarkan bahan. Sokolova. tapi membuat sesuatu darinya setelah ia ditemukan. cerdik luar biasa. kreativitas merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya menjadi hal yang baru. Sedangkan pendapat James Russell Lowel dalam Irina V. data atau elemen-elemen yang sudah ada sebelumnya menjadi hal-hal yang bermakna dan bermanfaat. (2008: 262-263). kreativitas ini harus menciptakan suatu ide baru yang segar. at. kreativitas muncul dalam bentuk yang paling sederhana. 1999). informasi. Jadi menurut ahli ini. Munandar (1995) mendefinisikan kreativitas sebagai kemampuan untuk membuat kombinasi-kombinasi baru.Bentuk-bentuk kreativitas mungkin berupa produk seni. Seringkali. kesusasteraan. mendaftar faktor kreativitas universal untuk menjadi sesuatu yang baru (Cropley.

produk ini dianggap kreatif karena penggunaan alat-alatnya yang kreatif. kreativitas juga dapat dianggap dalam pengertian “Proses’’. Akhirnya. Banyak orang tidak mengakui faktor kelayakan dalam karya Hirst tersebut dan menganggapnya tidak berguna. Gunter von Hagens beberapa tahun yang lalu telah melakukan pertunjukkan tubuh-tubuh manusia yang telah di potong-potong dan transfigurasi. 44 . Contoh sederhana. tapi banyak orang tidak menganggap hal itu sebagai tindakan kreatif meski telah menghasilkan sesuatu yang baru dan orisinil. Weisberg (1986) menunjukkan bahwa kreativitas bisa juga didefenisikan sebagai pengunaan alat-alat baru dalam memecahkan masalah atau pemecahan masalah baru. Meski kreativitas dapat dilihat dari hasil yang diperoleh.Sedang Stenberg dan Lubert (1995) menunjukkan bahwa sesuatu yang baru itu harus dianggap layak agar bisa dianggap kreatif. Damienhirst adalah seniman kontroversial yang ingin dianggap kreatif dengan mengiris binatang menjadi potongan-potongan kecil. Dr. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh manusia. Sesuatu yang baru bisa berupa perpaduan antara dua pemikiran yang berbeda atau lebih. Ini adalah penggunaan alat yang baru untuk memecahkan masalah yang untuk memecahkan masalah tentang kebusukan dan terdistorsinya tubuh ketika menggunakan metode lama dalam mempertahankan jaringan tubuh. Profesor von Hagens adalah seorang Profesor medis di University of Heidelberg yang menyempurnakan injeksi plastik ke dalam jaringan tubuh.

Hasil yang dibuat haruslah baru dan segar serta merupakan contoh kreativitas yang paling jelas. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas (yakni. Finke. Sebagian orang menyendirikan diri mereka. maka ada pula motivasi-motivasi berbeda dalam hal kreativitas. motivasi dan atau proses. orang. Pada akhirnya.Sedangkan Ward. 45 . dan Smith (1995) mendefenisikan kreativitas dalam hasil yang dibuat. Disamping perbedaan-perbedaan yang inheren dalam setiap orang dalam melahirkan kreativitas. proses kreativitas pun menjadi berbeda. sebagian orang dianggap lebih kreatif daripada orang lain. alat. berbagai tekanan yang memotivasi. mendefenisikan kreativitas pada orang. orang yang memang selalu diarahkan untuk mencipta). perbedaan dalam orang. sedangkan sebagian yang lain mencari bimbingan dan nasehat. Namun. Dari penjelasan di atas. dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau suatu kombinasi baru berdasarkan unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi sesuatu yang bermakna atau bermanfaat dan harus mencerminkan keasliannya atau dengan kata lain baru dan layak serta original. misalnya. namun dua hal ini merupakan dua unsur yang sangat penting. maka yang paling layak untuk dijadikan patokan suatu karya itu kreatif adalah: sesuatu yang baru dan layak. dan proses di belakang kreativitas. Dua hal ini mungkin dipandang dalam hasil. Ketika ada perdebatan tentang bagaimana memutuskan kreatif tidaknya suatu pekerjaan. akan sedikit mengalami kesulitan.

Ada sebuah perdebatan besar tentang apa yang membuat seseorang menjadi kreatif dan apa yang tidak. Vincent Van Gogh telah dianggap sebagai seorang mad genius (orang jenius yang gila) berkenaan dengan eksperimennya dalam memutilasi diri sendiri (yakni memotong telinganya sendiri) dan juga dengan karya seninya yang mengagumkan. (Aristoteles). imajeri. 1999) mengatakan bahwa terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebagai berikut: a.al. at. Disebabkan karena misteri yang terkandung dalam kreativitas. “Tidak akan pernah ada orang yang jenius tanpa ada larutan kegilaan“. yang sebagian percaya bahwa orang yang jenius dan kreatif adalah tergantung pada penyakit gila atau penyakit mental. Hanya Arisrtoteles yang berkata dalam kutipan di atas. dan pemecahan masalah. maka orang tidak bisa memastikan sifat-sifat dasar apa yang membuat seseorang itu dianggap sebagai orang kreatif atau tidak. Sokolova. (2008 : 265). Dalam Irina V. dan hanya dirasakan oleh orang yang bersangkutan. Irina V.al. kreativitas selalu melibatkan proses berpikir di dalam diri seseorang. Komponen Pokok Kreativitas Suharnan (dalam Nursisto.. (2008:263). imajinasi..“oris Malaguzzi“. at. penalaran. Sokolova.Kreativitas menjadi lebih mudah dilihat ketika orang dewasa mencoba untuk lebih perhatian pada proses kognitif anak daripada menghasilkan apa yang mereka capai dalam lapangan yang berbeda yang mereka lakukan dan pahami. pengambilan keputusan. 2. Aktifitas ini bersifat kompleks. ingatan. karena melibatkan sejumlah kemampuan kognitif seperti persepsi. 46 . Aktifitas ini merupakan suatu proses mental yang tidak tampak oleh orang lain. Aktifitas berpikir. atensi.

dan belum pernah ada sebelumnya. (4) berguna atau bernilai. memperlancar. d. sifat baru yang dimiliki oleh kreativitas memiliki ciri sebagai berikut: 1) Produk yang memiliki sifat baru sama sekali. dapat disimpulkan bahwa komponen pokok kreativitas adalah. Sejak kecil hingga dewasa.b. seperti lebih enak. c. yaitu proses mental yang hanya dapat dirasakan oleh individu yang bersangkutan. dan kemampuan menciptakan suatu kombinasi baru berdasarkan konsepkonsep yang telah ada dalam pikiran. lebih mudah dipakai. Menemukan atau menciptakan sesuatu yang mencakup kemampuan menghubungkan dua gagasan atau lebih yang semula tampak tidak berhubungan. yaitu aktivitas yang bertujuan untuk menemukan sesuatu atau menciptakan hal-hal baru. mendorong. mempermudah. mendidik. dan mendatangkan hasil lebih baik atau lebih banyak. dan dapat dinikmati oleh masyarakat. Sifat baru atau orisinal. mengurangi hambatan. (1) aktifitas berpikir. yaitu karya yang dihasilkan dari kreativitas harus memiliki kegunaan atau manfaat tertentu. Produk ini biasanya akan dianggap sebagai karya kreativitas bila belum pernah diciptakan sebelumnya. perangsangan kreativitas sangat diperlukan 47 . (1984). bersifat luar biasa. Produk yang berguna atau bernilai. 2) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil kombinasi beberapa produk yang sudah ada sebelumnya. Mencermati uraian di atas. suatu karya yang di hasilkan dari kreativitas harus mengandung komponen yang baru dalam satu atau beberapa hal dan. Umumnya kreativitas dilihat dari adanya suatu produk baru. 3) Produk yang memiliki sifat baru sebagai hasil pembaharuan (inovasi) dan pengembangan (evolusi) dari hal yang sudah ada. Menurut Feldman dalam Semiawan dkk. (3) baru atau orisinal. Aktifitas menemukan sesuatu berarti melibatkan proses imajinasi yaitu kemampuan memanipulasi sejumlah objek atau situasi di dalam pikiran sebelum sesuatu yang baru diharapkan muncul. kemampuan mengubah pandangan yang ada dan menggantikannya dengan cara pandang lain yang baru. (2) menemukan atau menciptakan. memecahkan masalah. suatu karya yang dihasilkan dari proses kreatif harus memiliki kegunaan tertentu.

bahwa kreativitas yang dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini sangat penting dalam hidup manusia untuk dapat mewujudkan diri. dan teknologi baru dari anggota masyarakatnya. berikut ini dikemukakan beberapa perumusan yang merupakan kesimpulan para ahli mengenai kreativitas menurut Munandar (1992: 47 ) bahwa: "Kreativitas adalah kemampuan untuk membuat kombinasi baru. atau unsur-unsur yang ada. Uraian diatas mengandung makna. bahwa: ”Kreativitas yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini tidak dapat dipungkiri bahwa kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif. dan orisinalitas dalam 48 . serta pemikiran. perlulah sikap dan prilaku kreatif dipupuk sejak dini. Hal ini menandakan bahwa kreativitas penting untuk dipupuk dan dikembangkan sejak usia dini. penemuan –penemuan baru. berupa ide-ide baru. karena merupakan suatu kekuatan sumber daya insani. Jadi secara operasional kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan yang mencerminkan kelancaran. seperti yang dikemukakan oleh Munandar (1992:46). keluwesan (fleksibilitas). dan keragaman jawaban". perilaku kreatif produktif. ketepatgunaan. Untuk lebih menjelaskan pengertian kreativitas. Masa Golden Age merupakan masa yang memerlukan perhatian yang serius. Untuk mencapai hal itu. berdasarkan data. yang sangat diperlukan kelak dikemudian hari baik dalam pemikiran logis dan penalaran. agar anak didik kelak tidak hanya menjadi konsumen pengetahuan baru dan pencari kerja. di mana penekanannya adalah pada kuantitas.dan bisa dilakukan melalui pendidikan sekolah maupun pendidikan luar sekolah. tetapi mampu menciptakan pekerjaan baru (wiraswasta)”. sikap. Kreativitas (berpikir kreatif atau berpikir divergen) adalah kemampuan berdasarkan data atau informasi yang tersedia-menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah. informasi.

hal ini memungkinkan seseorang untuk menjadi kreatif. Pengetahuan dan pengalaman memungkinkan untuk mencipta. memperinci) suatu gagasan" Pengertian kreativitas di atas. merupakan data. serta kemampuan untuk mengelaborasi (mengembangkan.berpikir. memperkaya. lebih dari seseorang yang tidak mempunyai pengalaman dan pendidikan. sebagaimana 49 . Hurlock mengemukakan bahwa kreativitas dipandang sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan. Yang sesungguhnya apa yang diciptakan itu tidak perlu hal-hal yang baru sama sekali. atau unsur-unsur yang sudah ada sebelumnya. Semua data (pengalaman) memungkinkan seseorang mencipta. yaitu dengan menggabungkan (mengkombinasi) unsur-unsurnya menjadi sesuatu yang baru dan salah satu hal yang menentukan sejauh mana seseorang itu kreatif adalah kemampuannya untuk dapat membuat kombinasi baru dari hal-hal yang sudah ada. masa persiapan (masa seorang anak duduk di bangku sekolah) karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah. Hal-hal tersebut. tetapi merupakan gabungan (kombinasi) dari hal-hal yang sudah ada sebelumnya. mengandung makna bahwa kreativitas merupakan daya cipta sebagai kemampuan untuk menciptakan hal-hal yang baru. Artinya unsur-unsur seperti : pengalaman yang diperoleh seseorang selama hidupnya. informasi. Pendidikan selayaknya dapat membantu anak dalam mempersiapkan serta menyongsong masa depannya dengan penuh rasa percaya diri dan mempunyai keberanian dalam mengambil suatu resiko. pengetahuan yang pernah diperoleh (baik di bangku sekolah maupun yang dipelajarinya dalam keluarga dan masyarakat).

dan karenanya unik bagi orang itu. membangun dengan balok.seorang anak yang bermain dengan balok-balok kayu membangun tumpukan yang menyerupai rumah kemudian menyebutnya rumah. Hurlock mengemukakan unsur karakteristik kreativitas sebagai berikut: Kreativitas mengarah ke penciptaan sesuatu yang baru. Hal ini menunjukkan jika ditinjau dari segi pendidikan. tidak sinonim dengan kecerdasan yang mencakup kemampuan mental selain berpikir. jenis kelamin. maupun konkret atau abstrak. keadaan sosio-ekonomi atau tingkat pendidikan tertentu.  3.  Kreativitas merupakan suatu cara berpikir.  Kemampuan untuk mencipta bergantung pada perolehan pengetahuan yang diterima. misalnya melukis.  Kreativitas merupakan bentuk imajinasi yang dikendalikan yang menjurus kearah beberapa bentuk prestasi. 50 . bahwa bakat kreatif itu perlu dilatih serta dapat dikembangkan dan perlu dipupuk sejak dini.  Kreativitas timbul dari pemikiran devergen. Disini terdapat banyak jawaban yang mungkin mengenai persoalan dan fikiran didorong untuk menyebar jauh dan meluas dalam mencari untuk memecahkan persoalan. Artinya. berbeda. yang sangat diharapkan dimasa mendatang. masa usia dini merupakan masa yang paling tepat untuk memupuk dan mengembangkan kreativitas agar dapat menjadi seorang manusia kreatif. tidak bergantung pada usia. Supriadi (1994 : 7) mengemukakan. Berfikir kreatif dinamakan berfikir divergen atau lateral. bahwa berdasarkan analisis faktor. baik itu berbentuk lisan atau tulisan. sedangkan konformitas dan pemecahan masalah sehari-hari timbul dari pemikiran konvergen. Ciri-ciri kreativitas Kreativitas sebenamya dapat terwujud dimana saja dan oleh siapa saja.

Guilford menemukan bahwa ada lima sifat yang menjadi ciri kemampuan berfikir kreatif: (1) Kelancaran (fluency), (2)Keluwesan (flexibility), (3)Keaslian (originality), (3)Penguraian (elaboration),(4)Perumusan kembali (redefinition). Yang dimaksud dengan kelancaran adalah kemampuan untuk menghasilkan banyak gagasan. Keluwesan adalah kemampuan untuk mengemukakan bermacam-macam pemecahan atau pendekatan terhadap masalah. Orisinalitas adalah kemampuan untuk mencetuskan gagasan dengan cara-cara yang asli, tidak klise. Elaborasi adalah kemampuan untuk menguraikan sesuatu secara terinci. Redefinisi adalah kemampuan untuk meninjau suatu persoalan berdasarkan perspektif yang berbeda dengan apa yang sudah diketahui oleh banyak orang. Sedangkan karakteristik kreativitas ada lima sebagai berikut: 1) Kelancaran Kelancaran yaitu kemampuan untuk memberikan jawaban dan

mengemukakan pendapat atau ide-ide dengan lancar, 2) Kelenturan Kelenturan yaitu kemampuan untuk mengemukakan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah, 3) Keaslian Yaitu kemampuan untuk menghasilkan berbagai ide atau karya yang asli hasil pemikiran sendiri, 4) Elaborasi Kemampuan untuk memperluas ide dan aspek-aspek yang mungkin tidak terpikirkan atau terlihat oleh orang lain,

51

5) Keuletan dan Kesabaran Keuletan dalam menghadapi rintangan, dan kesabaran dalam menghadapi suatu situasi yang tidak menentu merupakan aspek yang mempengaruhi kreativitas. Karakteristik kepribadian menjadi kriteria untuk mengidentifikasikan orang-orang kreatif . Kepribadian menurut Guilford, dalam (Supriadi, 1994: 13), meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu minat, sikap dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri kepribadian yang secara signiftkan berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Dalam kaitannya dengan unsur aptitude dan non aptitude, (Semiawan, 1984) dalam (Akbar et.al., 2001 : 4), mengemukakan bahwa : “Kreativitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkannya dalam pemecahan masalah. Kreativitas meliputi, baik ciri-ciri aptitude seperti kelancaran (fluency), keluwesan (flexibility) dan keaslian (originality) dalam pemikiran iniupun ciri-ciri (nonaptitude), seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan selalu ingin mencari pengalaman-pengalaman baru”. Uraian diatas, mengemukakan bahwa ciri-ciri kreativitas dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir atau berpikir kreatif (berpikir divergen) adalah kemampuan menemukan banyak kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah, yang penekanannya pada kuantitas, ketepatgunaan dan keragaman jawaban. Ciri lainnya adalah ciri-ciri yang menyangkut sikap dan perasaan seseorang yang disebut dengan ciri afektif dan kreativitas. Lebih lanjut Munandar (1992: 34), mengemukakan ciri-ciri kreativitas
52

adalah sebagai berikut :  Dorongan ingin tahu besar  Sering mengajukan pertanyaan yang baik  Memberikan banyak gagasan dan usul terhadap suatu masalah  Bebas dalam menyatakan pendapat  Mempunyai rasa keindahan  Menonjol dalam satu bidang seni
 Mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya tidak mudah terpengaruh orang lain  Rasa humor tinggi  Daya imajinasi kuat  Keabsahan (orisinalitas) tinggi (tampak claim ungkapan gagasan, karangan, dan sebagainya; dalam pemecahan masalah menggunakan cara-cara orisinal, yang jarang diperlihatkan anak-anak lain).  Dapat bekerja sendiri  Senang mencoba hal-hal baru  Kemampuan mengembangkan atau memerinci suatu gagasan (kemampuan elaborasi)".

Lebih lanjut (Munandar, 1992: 51), mengemukakan ciri-ciri afektif yang sangat esensial dalam menentukan prestasi kreatif seseorang adalah : ”Rasa ingin tahu, tertarik terhadap tugas-tugas majemuk yang dirasakan sebagai suatu tantangan, berani mengambil resiko untuk membuat kesalahan atau dikritik oleh orang lain, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, mempunyai rasa humor, ingin mencari pengalamanpengalaman baru, dapat menghargai baik diri sendiri maupun orang lain dan sebagainya”. Yang dimaksud dengan rasa ingin tahu adalah mengajukan banyak pertanyaan, selalu terdorong untuk mengetahui lebih banyak. Bersifat imajinatif yaitu mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi. Merasa tertantang oleh kemajemukan yaitu lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Sifat berani mengambil resiko yaitu berani memberikan jawaban meskipun belum tentu benar. Sifat menghargai yaitu menghargai

53

practice with process. Ciri-ciri yang nenyangkut sikap dan perasaan seseorang disebut ciri afektif dari kreativitas. dengan kemampuan berpikir kreatif. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut : basic tools. meliputi keterampilan berpikir divergen dan teknik kreatif. Dengan ciri kognitif : kelancaran. working real problems. pemerincian. Model Treffinger menggambarkan susunan tiga tingkat yang dimulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Makin kreatif seseorang. Ciri-ciri kreativitas di atas merupakan ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir seseorang. dalam hal ini termasuk anak usia dini. Ciri lain yang berkaitan dengan perkembangan afektif seseorang sama pentingnya agar bakat kreatif seseorang dapat terwujud. Namun memiliki ciri-ciri berpikir tersebut belum menjamin perwujudan kreativitas seseorang. pengabdian atau pengikatan diri terhadap suatu tugas termasuk ciri afektif kreativitas. Tingkat 1. basic tools atau teknik kreativitas tingkat I. 54 . ciri tersebut makin dimiliki. Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak dikembangkan dalam kebanyakan program untuk anak. orisinalitas. Model Treffinger merupakan salah satu model untuk mendorong belajar kreatif dalam (Munandar 1999: 173). merupakan hal yang menentukan dalam mewujudkan kreativitas seseorang. Semua ciri-ciri tersebut diatas. kelenturan.kemampuan dan bakat sendiri yang sedang berkembang. Keterampilan dan teknik ini mengembangkan kelancaran dan kelenturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pernikiran kreatif kepada orang lain. Motivasi atau dorongan dari dalam untuk berbuat sesuatu.

evaluasi. imajinasi dan fantasi. percaya diri. Untuk tujuan ini maka digunakan strategi seperti bermain peran. teknik ini memberi kesempatan kepada anak untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. 55 . Tingkat 3. Sedangkan ciri afektif : rasa ingin tahu. Kemahiran dalam berpikir kreatif menuntut anak memiliki keterampilan untuk melakukan fimgsi seperti analisis. kedwiartian. practice with process. kesediaan untuk menjawab. simulasi dan studi kasus. kepekaan terhadap masalah. Anak menggunakan kemampuannya dengan cara yang bermakna untuk kehidupannya. keberanian mengambil resiko. tenggang rasa terhadap kesamaan. tetapi juga bagaimana menggunakan informasi ini dalam kehidupan mereka. working with real problems menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata. keterbukaan terhadap pengalaman. Tingkat 2.pengenalan dan ingatan. Anak tidak hanya belajar keterampilan berpikir kreatif.

BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Sebagian ahli menyebut juga sebagai metode etnografi. Sukmadinata (2005:72) menjelaskan bahwa”penelitian dengan metode deskriptif ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada. baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia.analisis dan klasifikasi. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif kualitatif yaitu penggambaran atau pemberian makna secara sistimatis. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistic karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah(natural setting).di antaranya adanya penyelidikan dengan penuturan.” Senada dengan pendapat di atas. Metode biasa disebut juga metode analitik. Surachmad(1990:134)menyebutkan bahwa penyelidikan dengan memakai metode deskriptif bertujuan untuk memecahkan permasalahan pada masa sekarang. karena pada awalnya 56 .factual dan akurat mengenai data.

dan melalui penguraian”pemaknaan partisipan”tentang situasi-situasi dan peristiwa-peristiwa. Disebut sebagai metode kualitatif. persepsinya. diobservasi. diminta memberikan data. keyakinan. Pemaknaan partisipan meliputi perasaan. Data yang pasti yang merupakan suatu 57 . Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara. maka peneliti harus memiliki bekal teori dan wawasan yang luas.Menurut Sukmadinata(2008:94)bahwa”pemahaman diperoleh melalui analisis berbagai keterkaitan dari partisipan. memotret. data yang didapat lebih mendalam dan lebih sebenarnya. pendapat pemikiran. menganalisis. sehingga mampu bertanya.metode ini lebih banyak digunakan untuk penelitian bidang antropologi budaya.2006:16). Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. akan lebih tepat bila diungkap dalam bentuk kata-kata. Di samping itu. peristiwa. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang aatau human instrument. Penggunaan metode deskkriptif dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini dipilih karena gejala-gejala. dan mengkonstruksi situasi sosial yang diteliti menjadi lebih jelas dan bermakna. ide-ide. pemikiran dan kegiatan dari partisipan”. keteranganketerangan dari hasil pengamatan selama berlangsungnya proses penelitian mengenai “manajemen kebijakan publik bidang keagamaan di tengah kompleksitas perubahan sosial-budaya di kabupaten Sukabumi” ini. informasi. karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiono. Untuk dapat menjadi instrument. yaitu peneliti itu sendiri.

dalam penelitian kualitatif dijadikan 58 . tulisan. dokumen dan data statistik. Oleh karena itu dalam penelitian kualitatif tidak menekankan pada generalisasi. Penentuan sampel didasarkan teknik purposive sampling. Data lain adalah orang tua dan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian. Yaitu data-data yang dikumpulkan lebih cenderung dalam bentuk kata-kata daripada angka-angka. Sumber data dalam penelitian kualitatif meliputi kata-kata dan tindakan (sumber data utama). tetapi lebih menekankan pada makna.nilai di balik data yang tampak. dan pelaksanaan pembelajaran di PAUD tersebut. bahwa keterangan berupa kata-kata atau cerita dari informan penelitian yang diwawancari dan tindakan yang diamati. Perlu ditegaskan. bahwa sesuai dengan data yang dipilih. peserta didik. jadi hasil penilitian dan analisisnya berupa uraian. (Sugiyono. 2007 : 218) Sumber data penelitian ini adalah Kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. B. yaitu teknik pengembilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Moleong (2000: 3) menegaskan. Jenis-jenis data tersebut di atas semuanya dapat digunakan sebagai informasi yang diperlukan. Sumber dan Jenis Data Data dalam penelitian tergolong kepada data kualitatif. maka jenis data dalam penelitian kualitatif dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan. sumber data tertulis. Pertimbangan tertentu ini didasarkan pada orang tersebut yang dianggap paling mengetahui tentang apa yang diharapkan dari penelitian ini. foto dan statistik. guru-guru.

Sedangkan data sekunder merupakan data primer yang yang telah diolah lebih lanjut dan telah disajikan oleh pihak lain. peneliti menggunakan metode kualitatif partisipatif (fieldwork relation). sedangkan tulisan. data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber utama atau informan yang diwawancarai. Pedoman kepustakaan (terlampir) E. 2002: 59 . dan data statistik dari berbagai dokumen yang relevan dengan fokus penelitian dijadikan sebagai data pelengkap (sekunder). tidak cukup meminta bantuan orang atau sebatas mendengar penuturan secara jarak jauh (Danim. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Instrumen Penelitian Instrumen adalah alat dari sebuah penelitian. Dengan kata lain. Tempat Penelitian Tempat dari penelitian ini adalah PAUD Al-Fitriyah yang berlokasi di Jl. Cikabonpedes Kabupaten Sukabumi. Pedoman wawancara (terlampir) 2. Di sinilah diperlukan kehadiran peneliti untuk tahu langsung kondisi dan fenomena di lapangan. C. D. instrumen penelitian ini adalah : 1. foto.sebagai data utama (primer). Teknik Pengumpulan Data Dalam teknik pengumpulan data ini. Pedoman observasi (terlampir) 3.

yaitu: 1. bahwa observasi merupakan suatu proses komplek. Observasi sebagai alat pengumpulan data dapat dilakukan secara spontan. Oleh karena itu. Observasi ini langsung dilakukan terhadap obyek di tempat terjadi atau berlangsungnya peristiwa. mengemukakan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan secara sengaja. Dua di antara yang terpenting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan. Observasi Partisipatif Menurut Margono (2004:158). peneliti bisa berperan serta dalam kegiatan-kegiatan subyek itu. Peneliti yang terlalu terlibat atau berperan serta akan larut dalam 60 . Sedangkan Sugiono dalam Hariwijaya (2008: 63) menjelaskan. Pada saat tercipta hubungan baik antara peneliti dan subyek. Dengan teknik observasi pertisipatif. Kemudian peneliti bisa menarik diri lagi dari peran sertanya sehingga ia tidak kehilangan tujuan utamanya. Menurut Nawawi (1995: 100). dapat pula dengan daftar isian yang telah disiapkan. peneliti menggunakan tiga macam metode atau teknik pengumpulan data. pada tahap ini. Subagyo (2004: 63). pada situasi yang sama atau berbeda. sehingga observer berada bersama obyek yang diselidiki. observasi adalah pengamatan dan pencatatan yang sistematis terhadap gejala yang tampak pada obyek penelitian. peneliti harus banyak memainkan peran selayaknya yang dilakukan oleh subyek penelitian. suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis. sistematis mengenai fenomena sosial dengan gejalagejala psikis untuk kemudian dilakukan pencatatan.122).

Interview atau Wawancara Menurut Margono (2004: 165). pada penelitian kualitatif ada dua jenis wawancara. wawancara yang terbuka. Wawancara dipergunakan sebagai cara untuk memperoleh data dengan jalan mengadakan wawancara dengan nara sumber atau responden. Berdasarkan strukturnya.pekerjaan subyek penelitian. peneliti memberikan kebebasan diri dan mendorongnya untuk berbicara secara luas dan mendalam. Panduan wawancara dibuat cukup rinci. 2002: 124). Hariwijaya (2008: 64) menjelaskan. 2. bisa kehilangan tujuan utamanya (Danim. 61 . pertanyaan-pertanyaan difokuskan pada topik-topik khusus atau umum. keperilakuan. keadaan fisik sekolah. wawancara relatif tertutup. Pada wawancara dengan format ini. Kedua. Aspek yang diobservasi antara lain: pertama. interview dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun menggunakan telepon. dan ketiga. sebagian besar dipandu oleh item-item yang dibuatnya meskipun tetap terbuka berpikir divergen. perilaku siswa. dan lain-lain. Pewawancara pun bekerja. dan lain-lain. keadaan fisik sekolah. seperti interaksi antar warga sekolah. Pada wawancara ini. berupa kondisi lingkungan sekolah. Pedoman yang digunakan oleh peneliti adalah dengan daftar cek (chek list). Pertama. pertumbuhan dan perkembangan guru dan siswa. kedua. interview adalah alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula.

Isinya dapat berupa ungkapan perasaan. Danim (2002: 175). dan membuka kemungkinan peneliti menerima jawaban panjang. kedua dokumen ini berbeda bentuk dan sifatnya. yang dalam konteks ini bersifat milik atau melekat pada pribadi. Dokumentasi/Studi Kepustakaan Menurut Arikunto (2002: 206). notulen rapat. dan pengalaman-pengalamannya. prasasti. keyakinan-keyakinan. tindakan. Selanjutnya. 2002: 132). Dokumen pribadi Dokumen tidak selalu berbentuk tulisan. lengger.Pada wawancara dengan format terbuka. yaitu dokumen pribadi (personal document) dan dokumen resmi (official document). a. transkip. 62 . dan sebagainya. Peneliti hanya mengajukan sejumlah pertanyaan atau pertanyaan-pertanyaan yang mengundang jawaban atau komentar subyek secara bebas. peneliti lebih banyak menggunakan wawancara tidak berstruktur (terbuka). agenda. majalah. 3. metode dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan. meskipun pada umumnya saling mengisi atau saling melengkapi. membagi secara umum dokumen tersebut menjadi dua macam. subyek penelitian lebih kuat pengaruhnya dalam menentukan isi wawancara (Danim. Dokumen pribadi memuat catatan yang dibuat sendiri oleh subyek yang bersangkutan. buku. Pedoman wawancara pun hanya berupa pertanyaan-pertanyaan singkat. Dalam hal ini. surat kabar. melainkan dapat juga berupa foto atau rekaman lain.

peneliti memulai penelitian dengan perumusan masalah (problem statement). Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perkembangan sosioemosional anak didik. Prakteknya keenam tahap ini tidak diikuti secara formal. melainkan dapat tumpang tindih. dan masih banyak alasan-alasan lain. potensi material lembaga. yaitu dokumen-dokumen komunikasi dengan pihak luar. Dokumen resmi ini ada yang berupa dokumen internal kelembagaan.b. Masalah penelitian ini dipilih karena mengandung rasa ingin tahu baik peneliti sendiri maupun pihak luar. 63 . Tahap-tahap Penelitian dan Pelaksanaan Menurut Danim (2002: 85). Isinya dapat memuat data subyek dalam konteks formal dan dapat juga memuat data mengenai pribadi seseorang. Dokumen resmi adalah dokumen Instansi. jumlah personal. yaitu sebagai berikut: 1. Adapun tahapan yang dimaksud. Tahap memilih masalah Dalam tahap ini. seperti sistem dan mekanisme kerja. berikut keterlibatannya dalam organisasi di tempat bekerja. meskipun dilihat dari keperluan penelitian sifatnya dapat saling mengisi. Dokumen resmi Dokumen resmi berbeda dengan dokumen pribadi. Dan juga bisa berupa dokumen eksternal kelembagaan. dan lain sebagainya. atau bahkan mungkin bertolak belakang. F. saling melengkapi. bukan mengawalinya dengan judul. relatif belum terlalu banyak yang diteliti orang lain. kegiatan penelitian secara umum dapat dibagi dalam enam tahap (steps) tertentu.

yaitu observasi partisipatif. Syamsu Yusuf. Sumber pustaka tersebut antara lain: pertama. Tahap mengumpulkan bahan yang relevan Pada tahap ini. Manafsirkan data Setelah data terkumpul. peneliti tidak menuntut instrumen baku. peneliti menentukan terlebih dahulu prosedur kerja atau metode penelitian.2. 6. 5. Dengan cara memberikan makna yang mendalam atas peristiwa atau fenomena yang diteliti. peneliti mengumpulkan data dengan tujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian dalam perumusan masalah yang telah ditentukan sebelumnya. dan dokumentasi. Dalam hal ini. 4. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. sumber pustaka yang dikumpulkan untuk dirujuk hanya benar-benar sangat erat kaitannya dengan masalah pokok penelitian. Di sinilah ukuran bobot hasil penelitian kualitatif bisa lebih unggul dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. 2005. Psikologi Perkembangan anak dan remaja. peneliti menggunakan tiga teknik. mengenai psikologi perkembangan anak. seperti bukunya Elizabeth B. Hurlock. Tahap mengumpulkan data Pada tahap ini. Tahap menentukan strategi dan pengembangan instrumen Pada tahap ini. wawancara terbuka.. Melaporkan hasil penelitian 64 . karena instrumen utamanya adalah peneliti sendiri. Dalam pengembangan instrumen. 1988. 3. tahap selanjutnya adalah penafsiran data.

atau bahkan dapat berupa pengetahuan baru yang belum ditemukan sebelumnya. analisis adalah penelaahan untuk mencari pola (patterns) pada tahap ini peneliti banyak terlihat 65 . Teknik Analisis Data Spradley dalam Moleong (2000: 91) mengartikan. Tahapan penelitian di atas dapat disajikan dalam bagan sebagai berikut: Memilih masalah penelitian Mengumpulkan bahan yang relevan Menentukan strategi Mengumpulkan data Menafsirkan dan analisis Data Laporan hasil penelitian Bagan 3. Hasil penelitian ini berfungsi menjelaskan. mulai dari prosedur penelitian hingga hasil dan kesimpulan penelitian.Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian. memprediksi.1 Prosedur Penelitian G. Dalam laporan penelitian ini memuat seluruh kegiatan penelitian.

yaitu pemberian tanda atau simbol atau kode bagi tiap-tiap jawaban yang termasuk 66 . Laporan lapangan oleh peneliti akan direduksi. 2008: 246) yang terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction). hubungan antar kajian. yaitu diperiksa atau dilakukan pengecekan tentang kebenaran responden yang menjawab. dirangkum. dilakukan coding atau pengkodean. data yang diperoleh dari lokasi penelitian (data lapangan) dituangkan dalam uraian atau laporan yang lengkap dan terinci. dipilih hal-hal yang pokok. dan hubungan terhadap keseluruhannya. Untuk dapat menemukan pola tersebut peneliti akan melakukan penelusuran melalui catatan-catatan lapangan. Caranya dengan melakukan pengujian sistematik untuk menetapkan bagian-bagian.dalam kegiatan penyajian dan penampilan (display) dari data yang dikumpulkan. 1. Kemudian. difokuskan pada hal-hal yang penting kemudian dicari tema atau polanya dengan cara: diedit atau disunting. Analisis dilakukan untuk menemukan pola. apakah ada jawaban yang tidak sesuai atau tidak konsisten. Reduksi Data (data reduction) Pada tahap ini. Di dalam melakukan analisis data peneliti mengacu kepada tahapan yang dijelaaskan Miles dan Huberman (dalam Sugiyono. hasil wawancara dan bahan-bahan yang dikumpulkan untuk meningkatkan pemahaman terhadap semua hal yang dikumpulkan dan memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan. Proses analisis data ini peneliti lakukan secara terus menerus. kelengkapannya. penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication). bersamaan dengan pengumpulan data dan kemudian dilanjutkan setelah pengumpulan data dilakukan.

yaitu jawaban-jawaban yang serupa dikelompokkan dalam suatu table. Penarikan Kesimpulan (Verifikasi) Dalam penelitian kualitatif. Dan selanjutnya. maka akan diperoleh kesimpuan yang bersifat grounded. akan tetapi dengan bertambahnya data melalui proses verifikasi secara terus menerus. setiap kesimpulan senantiasa terus dilakukan verifikasi selama penelitian berlangsung yang melibatkan interprestasi peneliti. tema. Penyajian Data (data display) Penyajian data atau display data dimaksudkan untuk memudahkan peneliti dalam melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari penelitian.dalam ketegori yang sama. Dengan kata lain merupakan pengorganisasian data ke dalam bentuk tertentu sehingga kelihatan dengan sosoknya lebih utuh. Reduksi data ini dilakukan secara terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Tempat dan Waktu Penelitian 67 . 2. H. penarikan kesimpulan dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. hipotesis dan sebagainya yang dituangkan dalam kesimpulan yang masih bersifat tentatif. peneliti berusaha untuk menganalisis dan mencari makna dari data yang dikumpulkan yaitu dengan cara mencari pola. 3. tabulasi atau pentabelan. hal-hal yang sering timbul. Sejak awal memasuki lapangan dan selama proses pengumpulan data. hubungan persamaan. Dengan kata lain.

5. Tempat Penelitian : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. 2.1.161 : A. 4. Waktu Penelitian : bulan Maret sampai Mei 2011 Berikut jadwal waktu penelitian : No 1. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. 3. 2. 6. Jenis Kegiatan Observasi awal Observasi lanjutan Wawancara Pengumpulan dokumen Pengolahan data hasil penelitian Draf skripsi Waktu Maret 2011 April 2011 Maret – Mei 2011 Maret – April 2011 April – Mei 2011 Mei 2011 Keterangan BAB IV DATA HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Paud Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No.Nurlailah : Swasta : Jl. 68 . Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.

Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar 1.Berilmu dan Berakhlak.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini .Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Meningkatkan rasa kemandirian. tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan . Misi : . Nurlailah 69 . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri b) Sekolah Kepala Sekolah A. Struktur Organisasi a) Yayasan Ketua Yayasan H.

Tenaga pendidik dan siswa a) Tenaga Pendidikan a) Kepala Sekolah : 1 orang b) Guru b) Siswa Berjumlah 28 orang 3. Keuangan/Administrasi : 3 orang Bendahara Ais 70 .Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang d) Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah 2.

balok. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 2) Ruang Kelas : a) 2 ruang kelas b) 1 ruang kantor c) 1 dapur d) 2 WC (Guru dan Anak) e) Gudang f) Ruang tunggu 3) Perabot . juara 3 guru berprestasi Tk. ayunan.Buku Kas Umum (SPP) Buku Tabungan RAPBS 4.2007 b) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. th. dan junkitan. puteran. c) Alat peraga di luar. puzzle. setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan.2007) 5. pohon hitung. 4) Buku dan Alat Peraga a) Perpustakaan untuk guru dan anak b) Alat peraga. Sistem Rekruitmen 71 . Prestasi a) Guru : Upi Supinah. bak pasir.Sarana dan Prasarana 1) Halaman PAUD . 6. prosotan.Kecamatan th.

meningkatkan kualitas. Pelaksanaan atau implementasi kebijakan merupakan tahap yang paling penting dalam proses kebijakan. dan merupakan tahap dari proses kebijakan segera setelah penetapan undang-undang. Pelaksanaan kebijakan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi idealnya melibatkan badan-badan kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan pembelajaran. Meter (1975 : 447) menyatakan bahwa implementasi dipandang secara luas mempunyai makna pelaksanaan undang-undang di mana berbagai aktor. Dengan brosur 2. Implementasi pada sisi lain dipandang sebagai fenomena yang kompleks yang mungkin dapat dipahami sebagai suatu proses. Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Kebijakan pendidikan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja Kabupaten Sukabumi adalah pembinaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. pelaksanaan 72 .1. suatu output maupun sebagai suatu dampak atau outcome. Suatu program kebijakan dipandnag dalam pengertian yang luas. organisasi. prosedur dan teknik bekerja bersama-sama untuk menjalankan kebijakan dalam upaya meraih tujuan kebijakan atau program. kuantitas guru serta penyetaraan standar. Data Hasil Penelitian 1. Memasang spanduk B. Secara operasional.

Guru. (wawancara di ruang kepala. Pelaksanaan pendidikan yang dijadikan sebagai program pembelajaran telah disepakati bersama oleh berbagai pihak baik pengelola. Kemudian diadakan pertemuan dengan ketua yayasan serta komite sekolah. Dalam pertemuan ini diagendakan mengenai program sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan kepala sekolah harus memberikan contoh teladan yang dapat dijadikan panutan oleh guru dan peserta didik. yaitu pendidikan. semua pihak yang terkait dalam pendidikan merupakan pemimpin pendidikan. pukul 10. penyelenggara pendidikan. Hal ini dimaksudkan untuk mengevaluasi program yang telah dilaksanakan dan membuat program yang baru.kebijakan pendidikan tersebut berupa pelaksanaan proses pendidikan dalam hal ini pembelajaran yang telah diprogramkan. Kepala sekolah merupakan pemimpin pendidikan. tanggal 12 Maret 2011. kepala sekolah. agar semua tahu program tersebut dan dijadikan bahan diskusi serta dapat mencari solusi terbaik guna mencapai tujuan yang sesuai dengan visi dan misi sekolah. yaitu melaksanakan administrasi sekolah juga melaksanakan supervisi sehingga kemampuan guruguru meningkat dalam membimbing peserta didik.00 WIB). Tingkah laku serta ucapan harus diselaraskan dengan 73 . pengawas. Manajemen kepemimpinan merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian dalam pengelolaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Nurlailah : “Saya mengundang guru-guru untuk mengikuti pertemuan yang dilakukan sebelum kegiatan pembelajaran atau awal tahun. Hal tersebut sesuai dengan apa yang dituturkan kepala PAUD ibu A. guru sebagai pelaksana pendidikan serta adanya evaluasi atau penilaian. ketersediaan kurikulum. Kepala sekolah memiliki fungsi ganda. fungsi utama kepala sekolah adalah menciptakan situasi belajar mengajar sehingga guru-guru dapat mengajar dan peserta didik dapat belajar dengan baik.

Tapi Alhamdulillah kami merasakan kebijakan tersebut membuat kami betah mengajar.” (Wawancara dengan Upi Supinah. jadi kami sebagai komite selalu diajak berdiskusi guna memajukan pendidikan di PAUD Islam ini. 74 .” (Wawancara dengan ketua komite. Keterangan di atas.00) Pembentukan komite merupakan salah satu upaya adanya kerja sama yang harus terjalin antara pihak sekolah dengan pihak orang tua. Setiap ada kegiatan atau hal-hal yang perlu diketahui oleh komite. Kebijakan ketua yayasan dan pengurusnya cukup bagus. di depan ruang kelompok B. mengatakan bahwa: “Saya selalu diundang untuk mengikuti pertemuan baik di awal tahun ajaran maupun di akhir tahun ajaran.pelaksanaan pendidikan yang disesuaikan dengan peraturan Bupati tentang 10 pembiasaan akhlak mulia. guru dan komite sekolah. guru serta pihak yayasan dalam memajukan program di PAUD. karena memiliki keinginan untuk terus memajukan yayasannya. Dengan peran serta orang tua dalam hal ini diwakili oleh komite akan tercipta kualitas lulusan yang sesuai dengan harapan. pukul 09. pukul 12. Kerja sama ini sangat penting guna kelancaran visi. dapat dianalisa bahwa ada kerja sama antara komite. tanggal 3 Maret 2011. “Kebijakan-kebijakan yang dibuat disesuaikan dengan kondisi di sini. tanggal 15 Maret 2011 di depan kelas kelompok A. pihak sekolah dan yayasan selalu membicarakannya. jadi segala sesuatu harus diketahui oleh ketua dan pengurus yayasan yang lain. Kebijakan yang diambil selalu merupakan hasil dari diskusi atau rapat antara pihak yayasan. Hal ini memungkinkan program pendidikan yang diterapkan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan terus meningkat dan berkembang sesuai dengan visi dan misi serta tujuan yang ada.00) Sementara itu menurut ketua komite Iis/Mamah Tiara. misi serta tujuan dari program yang merupakan kebijakan ketua yayasan serta kepala sekolah. Karena PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini merupakan milik yayasan.

ini memungkinkan guru mengajar sesuai dengan acuan yang dibuat. Program ini merupakan program yang terdiri dari 2 semester. Program-program yang dibuat itu tidak terlepas dari kurikulum yang ada”. pukul 11. jadi mengajarnya sudah ada rambu-rambu yang telah ada. karena dengan program tersebut. Kami merasa itu suatu keharusan. di ruang kelompok B. pelaksanaan serta evaluasi pun dapat berjalan sesuai dengan program. Yang masing-masing program dibuat ke dalam format yang telah disediakan dan dilaksanakan oleh tiap-tiap guru sesuai dengan program yang dibuatnya.30). Saya juga selalu memotivasi para guru untuk membuat program dan kemudian mengevaluasi setiap program semester. pembelajaran menjadi terencana dan tertib. program mingguan serta program harian.” (Wawancara di ruang kelompok B. terbitan Depag. pukul 11. tanggal 15 Maret 2011. Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Ibu A. kemudian dari program tahunan ini. program mingguan serta program harian. (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. program semester. mingguan serta harian para 75 . Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Sukaraja direalisasikan ke dalam bentuk program tahunan. “Program tahunan merupakan program untuk satu tahun. Sementara itu ibu Upi Supinah mengatakan. tanggal 15 Maret 2011.30). “Pembuatan program tersebut merupakan kewajiban kami selaku guru.2. dibuat program semester.Nurlailah mengatakan : “Kurikulum yang digunakan di PAUD Islam ini adalah kurikulum terbitan Depag. karena TK ini mdi bawah naungan Depag. Program harian merupakan program yang khusus untuk satu hari. Program pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mengacu kepada pedoman pelaksanaan kurikulum PAUD.

sebelum pulang sekolah. pukul 10. yaitu setiap hari Sabtu. semester. Menurut kepala yang diwawancara pada tanggal 22 Maret 2011 di ruang kepala mengatakan bahwa : “Kegiatan yang dilakukan di PAUD hanyalah bermain dengan menggunakan alat-alat bermain edukatif. Selanjutnya kepala PAUD mengatakan bahwa untuk lebih meningkatkan pendidikan dilaksanakan kegiatan tambahan diantaranya iqro. pukul 10.guru. sehingga mereka menandatangankan program tersebut setiap akhir sekolah. meningkatkan dan mengembangkan kreativitas yang dimilikinya.20) Dari keterangan di atas. Karena pada usia inilah kemampuan anak dalam segala hal sedang diasah” Kreativitas anak akan muncul apabila mereka diberikan kesempatan dalam belajar. yaitu hari Sabtu. dan yang jelas mereka membuat atau tidak. di ruang kepala sekolah. Konsep bermain yang dilaksanakan pada pembelajaran di PAUD adalah salah satu cara dalam 76 . sesuai tidak dengan kurikulum yang berlaku.20). mingguan ataupun harian. baik itu tahunan. menulis serta membaca setiap hari selama 1 jam. dapat dianalisa bahwa guru yang mengajar harus membuat program.Dengan bermain ini anak diharapkan akan dapat melatih.” (Wawancara 4 Maret 2011. Karena program seperti SKM itu harus dibuat perminggu dan SKH perhari. Belajar yang lebih mengutamakan konsep perkembangan anak sesuai dengan tahapan yang harus dilaluinya akan mampu menciptakan peserta didik yang memiliki kecerdasan serta kepribadian utuh. (Wawancara 4 April di ruang kepala sekolah. Program-program tersebut terus dievaluasi dan dipantau oleh kepala sekolah setiap minggu.

Ciri tersebut adalah belajar sambil bermain. Anak yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi diharapkan akan mampu menciptakan berbagai peluang dalam perkembangan selanjutnya. Mendengar kata bermain. Begitu pun dengan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi sebagai lembaga prasekolah menggunakan metode pembelajaran bermain sambil belajar. tingkat kreativitas yang dimiliki sejak usia dini akan meningkat sesuai dengan proses pendewasaan. Anak akan lebih kreatif dalam belajar dan kritis serta memiliki pribadi yang unik antara satu dengan lainnya. Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pembelajaran pada TK/RA serta PAUD. padahal sebetulnya muatan belajarnya banyak. sehingga dapat dikatakan pada usia dini inilah merupakan pondasi yang sangat baik untuk membentuk anak. memiliki ciri yang berbeda dengan pembelajaran yang dilakukan di sekolah dasar. ingatan anak akan dapat bertahan. 3. “Ayo kita bermain anak-anak!”. pembelajaran lebih mengutamakan permainan. di PAUD.30 di ruang kelas).” (Wawancara dengan ibu Upi Supinah. anak-anak merasa antusias. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengemukakan bahwa : 77 . Pada masa ini. pukul 11. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu guru.mengembangkan kreativitas anak. “Pembelajaran apapun selalu diawali dengan kata. Setelah anak dewasa. 10 Maret 2011. Pengembangan kreativitas sangat perlu dilatih dan dikembangkan melalui proses belajar mengajar. Terlihat senang.

Oleh sebab itu pemahaman tentang pentingnya bermain pada masa ini sedikitnya saya tahu selain dari sumber-sumber lain. pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi menekankan pembelajaran bermain sesuai dengan tahap perkembangan anak. Saya tahu banyak tentang anak usia dini karena saya sering membaca bukubuku yang berhubungan dengan anak usia dini. Hal tersebut dibenarkan oleh kepala sekolah ibu A. Belajar melalui bermain sudah pasti dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan-kemampuan lain yang dimiliki anak.30 di ruang kepala sekolah) Paparan di atas dapat dianalisa bahwa.30). yaitu konsep bermain.” (Wawancara tanggal 10 Maret 2011.” (Wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. Dengan adanya guru yang berkualifikasi. Oleh sebab itu pada masa ini dinamakan masa golden age. pukul 11. Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Proses pembelajaran di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi seperti telah dibahas di atas sesuai dengan konsep dan aturan. maka mutu lulusan serta pendidikan akan semakin baik dan meningkat. Konsep bermain telah ditanamkan dalam pembelajaran tersebut. “Memang benar guru-guru di sini alhamdulillah memahami konsep dasar pembelajaran bagi anak usia dini. tanggal 10 Maret 2011. Nurlailah. kepala sekolah beserta guru telah menerapkan konsep bermain yang sesuai dengan perkembangan anak usia dini. 4. pukul 09. Karena kalau guru tidak sesuai dengan kualifikasinya nantinya akan kesulitan dalam menghadapi anak-anak. di ruang kelas. Penerapan 78 .“Sangat penting memberikan pembelajaran tidak seperti halnya belajar. karena pada usia ini anak sedang membangun potensi kecerdasan serta kepribadiannya.

Pembelajaran dengan memakai alat bermain edukatif diharapkan dapat memotivasi siswa. Dengan melakukan kegiatan dalam bermain. aspek-aspek atau kemampuan yang dimiliki anak akan berkembang. Kurikulum pendidikan pun mengacu pada kurikulum yang ada. 79 . karena kami ingin anak-anak tersebut memiliki kemampuan dalams egala bidang. Upaya mengembangkan agar anak memiliki kreativitas dalam berbagai hal terus dilakukan. Konsep bermain dengan menggunakan alat atau sumber belajar inilah yang terus dikembangkan oleh PAUD tersebut. Penerapan konsep bermain baik di dalam kelas maupun luar kelas diharapkan dapataupun luar kelas diharapkan dapat menambah semangat siswa dalam berkreasi. Anak akan berkreasi sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Nurlailah : “Dengan bermain anak akan dapat meningkatkan kreativitasnya. lego. dapat melatih kreativitas anak. Kami merasa tertantang dalam menerapkan konsep bermain. Hal ini seperti diungkapkan oleh kepala PAUD ibu A. dari sinilah kreativitas anak muncul. pukul 12. Alat-alat tersebut dibuat dari bahan-bahan bekas sekitar.konsep bermain dalam belajar bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. “Kami mencoba berkreasi dalam menciptakan mainan untuk dibuat media atau alat belajar anak.”(Wawancara dengan kepala PAUD Al-Fitriyah. ataupun puzzle. Dengan alat permainan dan kondisi belajar yang sesuai dengan perkembangan anak terus dikembangkan.15 WIB). PAUD Al-Fitriyah sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki program pembelajaran yang hampir sama dengan lembaga lain. di ruang kepala. Dalam pembelajaran di kelas atau pun di luar kelas lebih mengutamakan metode bermain. Dengan adanya alat bermain seperti balok. 3 Maret 2011.

Hal ini membuktikan mereka kreativ. seperti faktor lingkungan yang berupa orang tua. environmental input. tanggal 12 April 2011. di klp.Mereka jadi anak yang kreativ. Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi a. media. faktor-faktor pendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi akan dapat berjalan dengan baik. sarana. dan out put (Syamsuddin. sub-sub sistem itu adalah raw input. Salah satu anak ada yang sudah mampu menyusun balok/lego. Ketika subsub ini berjalan dengan baik maka pendidikan akan efektif dan produktif (Syamsuddin.30 WIB). environmental input adalah lingkungan yang ada di sekitar proses (keluarga. meski usia mereka masih kecil. metode. dan sebagainya). B. Raw-input adalah peserta didik dengan karakteristiknya. 5. masyarakat. 1989 : 17). instrumental input. Dengan melihat kondisi itulah. 1989 : 17). tokoh masyarakat serta aparat yang berada di lingkungan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi mendukung adanya pendidikan yang diterapkan di sekolah tersebut.pukul 12. Berdasarkan teori ini. teman. instrumental input adalah semua kondisi yang dimanipulasi untuk menunjang pendidikan (seperti guru. dan sebagainya). Faktor Pendukung Menurut analisis sistem pelaksanaan pendidikan. Selain itu 80 . dan out put adalah hasil yang diinginkan atau dicapai. kami sangat yakin bahwa kreativitas mereka dapat berkembangan dengan bermain atau belajar melalui bermain. bahwa pendidikan dapat berjalan efektif jika terpenuhi sub-sub sistem yang saling mendukung satu sama lain secara integral.” (Wawancara dengan Ibu Ema Ratnapuri. Pelaksanaan tersebut didukung oleh beberapa faktor pendukung.

” (Wawancara dengan kepala PAUD. Suasana tenang dan nyaman itulah yang akan membuat para guru dapat berkreasi dan mengajar dengan semangat. Faktor-faktor pendukung tersebut akan dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terus diterapkan dan dikembangkan. Mereka menyadari pentingnya pendidikan sejak dini. Saya merasa seperti keluarga dan bersemangat dalam mengajar. tanggal 21 Maret 2011. Atas dasar inilah semua pihak bekerjasama saling bantu. Hal tersebut dibenarkan oleh ibu A.” (Wawancara dengan ibu Upi 81 . Orang tua dan guru merupakan mitra yang baik dalam proses pembelajaran.Nurlailah selaku kepala PAUD. “saya berusaha menciptakan suasana yang nyaman. di ruang kepala sekolah. “Ibu kepala sering mengatakan kalau ada masalah dibicarakan sehingga tidak ada ganjalan dan masalah tersebut cepat terselesaikan. tanggal 4 Maret 2011.20). “Dukungan dari berbagai pihak demi kelancaran pembelajaran di PAUD ini sangat diperlukan. di ruang kelompok B. pukul 10. kondusif sehingga para guru nyaman dan merasa ada ketenangan ketika mengajar ataupun bekerja di PAUD ini.dukungan anggaran yang dialokasikan di dalam AD/ART. Dukungan dari berbagai pihak adalah motivasi untuk peserta didik dalam meningkatkan perilaku yang sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw.30). yang merupakan faktor instrumental input. Suasana kekeluargaan yang dapat memberi ketenangan bagi para guru untuk bekerja. serta sesuai dengan harapan orang tua dan masyarakat di lingkungan PAUD tersebut.” (wawancara dengan ibu Ema Ratnapuri. Inilah yang membuat saya bangga menjadi guru PAUD. pukul 11.

soalnya kalau terus menyerahkan pendidikan anak pada kita. dapat dianalisa bahwa faktor lain yang mendukung pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini adalah lingkungan yang kondusif.30). tanggal 24 Maret 2011. Selanjutnya ibu Ema Ratnapuri mengatakan bahwa : “Saya selaku guru suka memberitahukan kepada orang tua akan keadaan anaknya di kelas. Faktor Penghambat Menurut kepala PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi yang diwawancara pada tanggal 18 Maret 2011 yang telah lalu.Supinah. alat peraga edukatif serta masih adanya pemahaman orang tua siswa yang selalu mengatakan bahwa guru di sekolah lebih berperan dalam memberikan pendidikan terutama kreativitas. gurunya. tanggal 4 Maret 2011. Kondisi tersebut diperjelas oleh salah satu guru yang mengajar. b. (Wawancara dengan ibu A. lingkungan dapat membuat suasana pembelajaran lebih baik lagi. pukul 11. pukul 13. Yang dikhawatirkan nanti orang tua tidak peduli dengan kondisi anak ” (Wawancara di ruang kelompok B. “Komunikasi dengan orang tua sangat diperlukan.00 di ruang kepala). seperti anggaran biaya. akan sulit nantinya. tanggal 18 Maret 2011. sementara dia tidak akan mendengar apa kata orang tuanya. oleh sebab itu 82 . yang mengatakan. Nurlailah.00). Karena dengan lingkungan yang kondusif suasana pembelajaran akan lebih bermakna. di depan ruang kelompok A. jam 11. Padahal justru orang tua yang lebih banyak memiliki waktu di rumah bersama anak. faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan pendidikan diantaranya adalah kurangnya sarana pendukung. Anak akan terbiasa dengan kita. Dari keterangan di atas.

Kepala PAUD Ibu A. Realitas Kebijakan Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan memberikan gambaran bahwa kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan 83 . C. tanggal 18 Maret 2011. pukul 11. bahwa data ini diperoleh dari hasil observasi partisipatif. maka dapat dianalisa bahwa masih ada faktor yang menjadi penghambat dari pelaksanaan pendidikan. Dari keterangan di atas. ketika istirahat. Terkadang mereka suka mengatur. Pembelajaran melalui konsep bermain terus dikembangakan guna menciptakan peserta didik yang memiliki kreativitas yang tinggi sesuai dengan kompetensi yang dimiliki anak. hal ini sesuai dengan kanyataan yang sebenarnya di lapangan. Setelah dilakukan pengecekan ulang tentang kevalidannya.00). kemudian diinterpretasikan sebagai jawaban dan tanggapan terhadap apa yang dipaparkan sebelumnya. Adapun diskusi dan interpretasi tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pembahasan Hasil Penelitian Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Bab sebelumnya.saya suka ngobrol dengan mereka. kondisi tersebut terus dibenahi dan dicari jalan keluarnya. Kadang suka ikut campur dan sulit diatur. dan dokumenter. Selanjutnya pada pembahasan ini akan didiskusikan apa yang menjadi temuan dalam penelitian ini. Namun. wawancara.00). tanggal 24 Maret 2011.” (Wawancara dengan ibu Eem. jam 11.” (Wawancara di ruang kantor. di ruang kelas. dan sepertinya tidak mempercayai kami selaku pengajar. namun dapat dikatakan salah satu yang menjadi penghambat pelaksanaan program pendidikan adalah dari komite. Nurlailah mengatakan bahwa: “Kalau faktor penghambat secara khusus tidak ada.

Di bawah ini akan dijelaskan kegiatan-kegiatan tersebut. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. kegiatan teladan/contoh. seperti: 1) Berbaris memasuki ruangan kelas sebelum memulai kegiatan belajar akan membiasakan beberapa perilaku anak. 84 . didapat bahwa pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Sesuai dengan anjuran pemerintah. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin.yayasan. Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada. kegiatan spontan. 2. Realitas Program Pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Dari hasil temuan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi tentang program pendidikan. Kegiatan rutin Kegiatan rutin adalah kegiatan yang dilakukan diPAUD setiap hari. a. antara lain: o o Untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. kegiatan terprogram.

telinga. mau memakai pakaian seragam. gigi. Selain perilaku di atas dapat pula ditanamkan pembiasaan tentang hal-hal sebagai berikut: o o Berpakaian yang bersih dan rapi. Sikap saling hormat menghormati. antara lain: o o o o o Sopan santun. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. dan sebagainya. Menciptakan suasana keakraban. Berdiri tegap saat berbaris. o Kebersihan badan termasuk kerapihan dan kebersihan kuku. o o o Berbaris dengan rapi. Pada waktu mengucapkan salam ditanamkan pembiasaan. dan lain-lain. datang tepat pada waktunya atau datang tidak terlambat. 2) Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain. 85 . Menunjukkan reaksi dan emosi yang wajar. Tolong menolong sesama teman dalam merapikan diri dan teman. rambut.o o o Sabar menunggu giliran. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Mau menerima dan menyelesaikan tugas. Mau mengikuti peraturan dan tata tertib di PAUD.

o o o o Bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. antara lain: o Memusatkan perhatian dalam jangka waktu tertentu. berpakaian dan bekerja. 4) Kegiatan belajar mengajar menanamkan pembiasaan antara lain: o o Tolong menolong sesama teman. Berani dan mempunyai rasa ingin tahu yang besar. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan. 3) Berdo’a sebelum dan sesudah kegiatan. Rapih dalam berdoa. dan sebagainya. Sikap saling menghormati dan tidak mengganggu dalam kegiatan ibadah. 86 . Merasa puas atas prestasi yang dicapai dan ingin terus o o o meningkatkan. Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan.o o Melatih keberanian. o o o o o Khusu’ (bersungguh-sungguh) dalam berdoa. Dengan berdo’a ditanamkan pembiasaan. Rapih dalam bertindak. Mengembangkan kreativitas anak. Menjaga keamanan diri. Mengendalikan emosi. Menjaga kebersihan lingkungan.

Tolong menolong sesama teman. Pada Waktu istirahat/makan/bermain dapat ditanamkan pembiasaan. Membuang sampah pada tempatnya. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Sabar menunggu giliran. o o o o o o o o o o o o o b.o o Sopan santun. Mengenal kebersihan dan kesehatan. antara lain: o o o Berdo’a sebelum dan sesudah makan. berpakaian dan bekerja. Meminta tolong dengan baik. Rapih dalam bertindak. o 5) Waktu istirahat/makan/bermain. Mau membersihkan dan merapihkan tempat makan. Menjaga keamanan diri. Kegiatan spontan 87 . Memusatkan perhatian pada waktu guru menjelaskan. Menyimpan alat permainan setelah digunakan. Dapat membedakan milik sendiri dan orang lain. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Mengurus diri sendiri. Mau dan dapat makan sendiri. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. Mengucapkan terima kasih dengan baik.

dan lain sebagainya. anak dengan anak sehingga tidak ada perasaan tertekan atau rasa takut anak kepada guru sehingga anak merasa nyaman di RA dan mau melaksanakan tugas yang diberikan guru. seperti seorang anak menerima atau memberikan sesuatu kepada orang lain dengan tangan kiri. Misalnya kalau menerima atau memberi sesuatu harus dengan tangan kanan dan mengucapkan terima kasih. Demikian juga kalau meminta sesuatu hendaknya dengan sopan dan tidak berteriak. Misalnya Ani mau berbagi makanan terhadap temannya yang tidak membawa makanan. 2) Memberikan hadiah atau penghargaan berupa: 88 . meminta sesuatu dengan berteriak. antara lain: 1) Menciptakan suasana belajar mengajar yang aman dan menyenangkan yaitu dengan mengadakan hubungan baik antara guru dengan anak. Apabila guru mengetahui sikap/perilaku anak yang demikian. Sikap guru adalah memberikan pujian kepada Ani dan merupakan sikap yang terpuji. Kegiatan spontan tidak saja berkaitan dengan perilaku anak yang negatif.Kegiatan spontan adalah kegiatan yang dilakukan secara spontan pada saat itu juga. tetapi pada sikap/perilaku yang positif pun perlu ditanggapi oleh guru. sehingga dapat dijadikan teladan bagi teman-temannya. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mempertahankan sikap/ perilaku anak yang sudah baik. sebagai penguat bahwa sikap/perilaku tersebut sudah baik dan perlu dipertahankan. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat guru mengetahui sikap/tingkah laku anak yang kurang baik. hendaknya secara spontan diberikan pengertian atau diberitahu bagaimana sikap/perilaku yang baik.

Misalnya “Bagus. misalnya memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti lomba. dan lain-lain. Noval mau menolong temanmu yang jatuh!“ atau Hasil guntingan gambarmu sudah baik. antara lain: 89 . misalnya menepuk pundak anak. o Memberi stimulus pada anak agar mampu menghargai hasil karyanya sendiri dan hasil karya orang lain. memberikan acungan jempol. misalnya pada anak yang sedang bekerja dengan tekun dan rapi didekati sebagai tanda pengakuan atas prestasinya atau guru berdiri di samping anak. akan lebih baik lagi kalau dirapikan. memberi kesempatan memimpin kegiatan tertentu. memberi prioritas untuk melakukan kegiatan pada giliran pertama.o Kata-kata atau kalimat yang diucapkan guru setelah melihat sikap/perilaku anak yang baik. Misalnya anggukan kepala. o Memberikan simbol/tanda tertentu pada hasil karya anak yang bagus. o Memberikan kegiatan yang menyenangkan. o Memberikan sentuhan kepada anak. dan lain-lain. Guru hendaknya bersikap wajar dan adil dalam memberikan pujian pada anak yang bersikap/bertingkah laku baik. dan lain-lain.” o Dalam bentuk ekspresi wajah atau gerakan anggota badan yang memberikan kesan kepada anak. Beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mencegah Sikap/tingkah laku yang tidak baik. dan lain-lain. o Mendekati anak untuk menyatakan perhatian guru terhadap sikap/perilaku. berjabat tangan.

anak-anak RA memakai sepatu sendiri karena akan pulang sekolah. Aril tidak bisa memasang tali sepatu. o Tanamkan kebiasaan berani mengakui kesalahan sendiri apabila berbuat salah. Mengucapkan terima kasih. bicaralah yang baik kepada bu guru. “Kenapa kakinya?”. “Aku tidak bisa memasang tali sepatu. Coba. Tiba-tiba Aril berteriak. Bu guru bertanya. Menghargai orang lain dan sportif. Aril menjawab. serta tidak akan mengulangi lagi. Mengendalikan emosi. antara lain : o o o Cara meminta tolong dengan baik. dan mau meminta maaf. o Berikan pengertian-pengertian melalui cerita-cerita apabila ada anak yang suka mengejek/mencela temannya yang kurang beruntung. Tenggang rasa terhadap keadaan orang lain. “ Bu guru tolong ikatkan tali sepatu!” Setelah itu. dan lain-lain. Mengingatkan teman yang melanggar peraturan. “Bu Guru” sambil mengangkat kakinya. o o o o Contoh Kegiatan Spontan Pada saat selesai kegiatan. seperti pincang. o Menghindari respon yang negatif.o Memberikan perhatian/pelayanan yang adil sesuai dengan kebutuhan kepada masing-masing anak. Aril 90 . Pembiasaan yang ditanamkan pada kegiatan spontan. Membanggakan hasil karya sendiri. agar tidak menimbulkan rasa iri atau cemburu.” O.

Realitas Penerapan Konsep Bermain Anak Usia Dini di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Anak taman kanak-kanak termasuk dalam kelompok umum prasekolah. 3. Menurut Conny R. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. Dengan senang hati bu guru membantu Aril mengikat tali sepatu. Keterangan: Apabila anak mengucapkan kata-kata yang tidak benar. bertanya.minta tolong seperti yang dikatakan bu guru. Semiawan (Jalal. guru langsung menegur secara spontan dan membetulkannya. dan menciptakan sesuatu. 2002: 16) bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. Melalui permainan. bukan karena hadiah atau pujian. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan. baik 91 . dan Aril mengucapkan terima kasih bu guru. terutama dalam kosa kata. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Di taman kanak-kanak. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. melakukan penjelajahan. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. Melalui bermain. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Hal yang menarik. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. melakukan latihan berkelompok. menirukan.

bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnya semua aspek. 2002: 41) meletakkan titik berat pada “pendinian” belajar pada anak dengan memilih cara-cara yang sesuai. Kritik yang ditujukan kepada sejumlah PAUD bukan karena mereka mengajarkan berhitung.2001. dan menulis melainkan caranya yang salah seakan-akan menjadikan TK sebagai miniatur SD. kemampuan dan kebutuhan anak. Belajar Quantum dari De Porter & Hernacki serta revolusi belajar yang dibawakan oleh Dryden & Vos (Supriadi. Bercerita Bercerita adalah menceritakan atau membacakan cerita yang mengandung nilai-nilai pendidikan. diantaranya yaitu: a. b. Bercerita dapat disertai gambar maupun dalam bentuk lainnya seperti panggung boneka. Pembelajaran pada anak usia dini dapat dilaksanakan dengan menggunakan beberapa metode (Direktorat PADU. Cerita sebaiknya diberikan secara menarik dan membuka kesempatan bagi anak untuk bertanya dan memberikan tanggapan setelah cerita selesai. membaca. Melalui cerita daya imajinasi anak dapat ditingkatkan.potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. Depdikbud. Cerita tersebut akan lebih bermanfaat jika dilaksanakan sesuai dengan minat. Oleh karena itu. 1998). bukan pengakademikan belajar pada usia dini – dua hal yang sangat besar perbedaannya. Padahal PAUD itu sesuatu yang lain dengan landasan psikologis dan pedagogis yang berbeda. Bernyanyi 92 .

Berdarmawisata Darmawisata adalah kunjungan secara langsung ke obyek-obyek yang sesuai dengan bahan kegiatan yang sedang dibahas di lingkungan kehidupan anak. Hal ini dapat diwujudkan antara lain melalui darmawisata ke pasar.Bernyanyi adalah kegiatan dalam melagukan pesan-pesan yang mengandung unsur pendidikan. mendengar. dan peran-peran tertentu sekitar anak. kemudian ditirukan anak-anak. c. Peragaan/Demonstrasi Peragaan/demonstrasi adalah kegiatan dimana tenaga pendidik/tutor memberikan contoh terlebih dahulu. 93 . kebun. Bermain peran Bermain peran adalah permainan yang dilakukan untuk memerankan tokohtokoh. benda-benda. Bermain peran merupakan kegiatan menirukan perbuatan orang lain di sekitarnya. d. mengalami langsung berbagai keadaan atau peristiwa di lingkungannya. Kegiatan tersebut dilakukan di luar ruangan terutama untuk melihat. Dengan bermain peran. Dengan bernyanyi anak dapat terbawa kepada situasi emosional seperti sedih dan gembira. sawah. Bernyanyi juga dapat menumbuhkan rasa estetika. merasakan. pantai. kebiasaan dan kesukaan anak untuk meniru akan tersalurkan serta dapat mengembangkan daya khayal (imajinasi) dan penghayatan terhadap bahan kegiatan yang dilaksanakan. e. dan lainnya. Peragaan/demonstrasi ini sesuai untuk melatih keterampilan dan cara-cara yang memerlukan contoh yang benar.

dan pembelajaran itu sebagian besar diperoleh dari bermain. Bruner dan Donalson dari telaahnya menemukan bahwa sebagian pembelajaran terpenting dalam kehidupan diperoleh dari masa kanak-kanak yang paling awal. Pemberian Tugas Pemberian tugas merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada anak untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk langsung yang telah dipersiapkan sehingga anak dapat mengalami secara nyata dan melaksanakan tugas secara tuntas. Tugas dapat diberikan secara berkelompok ataupun individual.f. Ia sebagai media sekaligus sebagai substansi pendidikan itu sendiri. Kuncinya adalah pada permainan atau bermain. Permainan atau bermain adalah kata kunci pada pendidikan anak usia dini. 2002: 40). g. setiap materi dapat diajarkan kepada setiap kelompok umur dengan cara-cara yang sesuai dengan perkembangannya (Supriadi. 94 . Latihan diberikan sesuai dengan langkah-langkah secara berurutan. 4. Dunia anak adalah dunia bermain dan belajar dilakukan dengan atau sambil bermain yang melibatkan semua indra anak. Realitas Penerapan Konsep Bermain untuk Meningkatkan Kreativitas Anak Usia Dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Jerome Bruner menyatakan. Latihan Latihan adalah kegiatan melatih anak untuk menguasai khususnya kemampuan psikomotorik yang menuntut koordinasi antara otot-otot dengan mata dan otak.

Selain Piaget. motorik. menurut Samples bermain sebagai gagasan yang dikaitkan dengan pembelajaran kurang mendapatkan apresiasi dalam berbagai lingkungan budaya (Supriadi. Pada masa ini anak sudah dapat berpikir dalam simbol. Menurut Mayke Sugianto (modul 4 PPA. meliputi aspek fisik. UT. seperti yang diharapkan (terjadi) pada anak di atas usia 6 tahun. Sementara Jean Piaget menilai pada usia 3-6 tahun anak berada pada masa praoperasional.Sayangnya. sosial. Menurut modul Psikologi Perkembangan Anak (PPA) terbitan Universitas Terbuka (UT). dan Jerome Bruner juga menekankan pentingnya bermain 95 . Sedangkan Elkind dan Sutton-Smith mengingatkan agar jangan sampai terjadi miseducation. serta emosinya. 2002: 40). Mereka belum mampu untuk duduk diam serta mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam waktu yang lama. dimana anak-anak prasekolah (TK) diberikan kegiatan akademis yang terlampau abstrak. proses pembelajaran yang dilakukan sambil bermain dan terarah akan memberikan hasil yang optimal dalam perkembangan anak. ahli psikologi perkembangan anak lain seperti Sigmund Freud. Lev Vygotsky. kognitif. 2008). sehingga tidak ada lagi keluhan bahwa anak TK sudah dibebani kegiatan belajar yang tidak proporsional. Melalui bermain mereka akan belajar tentang banyak hal dan melalui bermain keterampilan anak akan berkembang. diterangkan bahwa anak usia Balita (dalam konteks anak TK) belum mampu belajar secara formal. namun belum dapat menggunakan logika. Seharusnya bermain merupakan pekerjaan bagi anak usia usia dini.

selain banyaknya faktor pendukung juga terdapat faktor penghambat dalam pelaksanaan tersebut. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. Menurut JH Flavell. Melalui bermain maka secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Otomatis. kemampuan numerik tidak harus diajarkan dengan waktu khusus seperti les. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. karena nantinya anak akan merasa bosan. Memberikan pemahaman kepada 96 .sebagai bentuk pembelajaran pada anak usia dini. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Sedangkan DE Papalia menyebut bermain sebagai urusan anak usia dini (the business of early childhood). Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. kemampuan numerik atau kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. 5. maksudnya. Diantara faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Realitas Faktor Pendukung dan Penghambat Pendidikan di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Pelaksanaan pendidikan di RA PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Konsep belajar sambil bermain ini harusnya disosialisasikan kepada orang tua (masyarakat) supaya masyarakat memahami pentingnya bahwa anak tidak harus diberikan banyak pembelajaran.

Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. dinas pendidikan. TK/RA ini anak sedang membentuk kecerdasan serta pribadinya. selain faktor pendukung ada juga faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan konsep bermaian dalam upaya meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. mampu membaca dan aspek lainnya. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. Selain itu anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. Serta memberikan pemahaman bahwa pada usia 97 . Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. kepala sekolah. guru. kantor departemen agama. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi Dengan memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa pendidikan tidak hanya dilakukan di sekolah oleh guru. Seperti pada hasil temuan di atas. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. dan menginkan anak-anaknya cerdas. orang tua. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan).masyarakat bahwa pada masa usia PAUD. namun harus ada campur tangan pihak lain terutama keluarga. salah satunya adalah kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan.

Pelaksanaan konsep bermaian dalam meningkatkan kreativitas akan berjalan dengan baik apabila faktor pendukung terus memberikan dukungannya sementara yang menjadi penghambat dicari solusi terbaiknya. Kesimpulan Umum 98 . Kesimpulan 1. Membiarkan anak belajar sesuai dengan perkembangannya akan menjadikan anak berkepribadian serta memiliki kecerdasan yang tahan lama. BAB V Kesimpulan dan Saran A. Dengan demikian maka peningkatan kreativitas dengan konsep bermain yang diterapkan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ini akan menjadi percontohan bagi PAUD-PAUD yang lain.PAUD anak belum harus diberikan materi yang tidak sesuai dnegan perkembangannya.

2. motorik. namun tetap memegang konsep bermain sambil belajar. bertanya. Seluruh sistem geraknya sudah lentur. Bermain merupakan saran belajar anak usia dini. Melalui bermain maka 99 . yaitu intelektual. anak-anak juga ingin mandiri dan tak banyak lagi mau tergantung pada orang lain. Kegiatan pembelajaran pada anak harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak. Anak usia dini termasuk dalam kelompok umum prasekolah. maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. anak juga mengalami kemajuan pesat dalam penguasaan bahasa. terutama dalam kosa kata. bahasa. 3. Pada masa ini anak mengalami kemajuan pesat dalam keterampilan menolong dirinya sendiri dan dalam keterampilan bermain. menemukan. Di PAUD. melakukan latihan berkelompok. Pengembangan kreativitas merupakan salah satu proses yang dipelajari anak secara otomatis dalam periode masa kanak-kanak. memanfaatkan. Penerapan konsep bermain dalam meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dilaksanakan. Pada umur 2-4 tahun anak ingin bermain. Melalui bermain anak diajak untuk bereksplorasi. Hal yang menarik. Anak usia dini adalah anak yang sedang membutuhkan upaya-upaya pendidikan untuk mencapai optimalisasi semua aspek perkembangan baik perkembangan fisik maupun psikis. dan sosio emosional. dan menciptakan sesuatu. sering mengulangi perbuatan yang diminatinya dan melakukan secara wajar tanpa rasa malu. melakukan penjelajahan.Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan. dan mengambil kesimpulan mengenai benda di sekitarnya. menirukan.

Meskipun demikian yayasan selalu memperhatikan kondisi guru-guru yang ada.secara alamiah anak akan menggunakan kemampuannya (dan bertanya) dalam meningkatkan kreativitas. Kebijakan yang diberikan yaitu kebijakan mengenai program yang harus disesuaikan dengan pedoman kurikulum serta menekankan akan pentingnya pendidikan akhlak mulia. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain. 2. Sesuai dengan anjuran pemerintah. bahwa pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi disesuaikan dengan konsep bermaian anak usia dini dan penting diberikan sejak masa usia dini. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. adapun kesimpulan khusus penelitian ini sebagai berikut. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. 2. Bagaimana penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 100 . Kesimpulan Khusus Kesimpulan khusus merupakan jawaban akan pertanyaan penelitian. Bagaimana kebijakan program anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Kebijakan yang diambil oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi merupakan kebijakan yayasan. 1. Karena pada masa ini anak akan dengan mudah menyerap apapun yang dilihat dan didengar. sebab itu dapat berakibat buruk bagi si anak.

bermain peran. kegiatan spontan. Bermain adalah aktivitas yang dipilih sendiri oleh anak karena menyenangkan. Melalui bermain. Dengan bermain secara bebas anak dapat berekspresi dan bereksplorasi untuk memperkuat hal-hal yang sudah diketahui dan menemukan hal-hal baru. Oleh karena itu. semua aspek perkembangan anak dapat ditingkatkan.Pelaksanaan program dilakukan dengan beberapa tahap sesuai dengan pedoman kurikulum yang berlaku. Melalui permainan. baik potensi fisik maupun mental intelektual dan spritual. kegiatan terprogram. bermain bagi anak usia dini merupakan jembatan bagi berkembangnyasemuaaspek. dengan beberapa metode diantaranya bernyanyi. Pembelajaran menggunakan pada anak usia dini dapat yaitu. Jangan bebani anak dengan ambisi orang tua. Pelaksanaan kegiatan pendidikan akhlak mulia dapat dilakukan dengan cara kegiatan rutin. sebab 101 . bukan karena hadiah atau pujian. dilaksanakan bercerita. Bermain bagi anak adalah kegiatan yang serius tetapi menyenangkan. Jangan bebani otak anak dengan pelajaran yang belum sesuai dengan perkembangan kognitif anak. berdarmawisata. pemberian tugas. kegiatan teladan/contoh. peragaan/demonstrasi. anak-anak juga dapat mengembangkan semua potensinya secara optimal. latihan. Pengajaran di PAUD harus dikembalikan pada pembelajaran sambil bermain.

dinas pendidikan. Monitoring dilaksanakan oleh semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan pembelajaran dengan konsep bermain agar kompetensi kreativitas semakian meningkat dengan pembelajaran melalui konsep kreativitas di sekolah. Apa yang menjadi faktor pendorong dan penghambat pelaksanaan dalam penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Faktor penghambat atau yang menjadi kendala pelaksanaan pendidikan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi antara lain adalah masih adanya masyarakat yang kurang memahami pentingnya pembelajaran melalui bermain. kantor departemen agama. 3. guru. 102 . dan menginkan anak-anaknya cerdas. orang tua. kepala sekolah. Kurang pahamnya orang tua terhadap proses pendidikan. Pelaksana monitoring tersebut antara lain komite sekolah. dan pihak-pihak yang masih ada hubungannya dengan masalah pendidikan (pemerhati pendidikan).itu dapat berakibat buruk bagi si anak. Belum adanya program yang khsusus dalam pelaksanaan pendidikan yang mengarah kepada kompetensi kreativitas dengan konsep bermaian serta pengawasan yang kurang dalam pembinaan yang seharusnya dilakukan kepada peserta didik. Anggaran dalam mengembangkan sarana prasarana sekolah yang masih belum sesuai dengan harapan. Orang tua hanya menyerahkan pendidikan di sekolah. Akibat yang terdekat adalah anak akan kehilangan keceriaan masa kanak-kanaknya.

Seperti kebijakan dalam kegiatan penerimaan siswa baru (PSB).mampu membaca dan aspek lainnya. Untuk yayasan diharapkan memberikan kebijakan yang dapat meningkatkan kualitas lulusan PAUD yang lebih baik. Mengadakan promosi berupa penyebaran pamflet. sehingga tercipta iklim belajar yang menyenangkan. Pemerintah Kabupaten Sukabumi seharusnya mengembangkan tujuan dan program kebijakan dalam bidang pendidikan anak usia dini dengan menkreativitaskan pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan perkembangan anak secara selaras dengan visi dan misi kabupaten untuk mencapai taraf efektivitas tujuan kebijakan. sarana pasarana. Kepada komite diharap memberikan kepercayaan kepada para guru dalam melaksanakan tugas mengajar. 3. Memberikan dukungan serta motivasi guna terciptanya proses pembelajaran yang sesuai dengan program sekolah. karena pada pendidikan di masa inilah dasar-dasar kepribadian serta kecerdasannya sedang dibangun dan akan tertanam kuat. Saran Berdasarkan uraian di atas. penulis memandang perlu untuk mengungkapkan saran-saran seperti berikut : 1. atau pun kreativitas ke rumah-rumah untuk menambah peserta didik. padahal pada masa ini belum wajar apabila anak diajarkan berbagai macam materi B. Selain itu memberikan dana operasional. 2. 103 . tenaga kependidikan dan terutama lebih memperhatikan pendidikan anak usia dini.

bimbingan serta fasilitas untuk anak ketika anak memerlukan bantuan orang tua. Hendaknya para guru lebih memperhatikan susunan interior kelas yang juga berpengaruh dalam proses pembelajaran dalam peningkatan potensi kecerdasan serta kepribadian peserta didik. Memberikan keleluasaan kepada anak dan memahami taraf perkembangan anak adalah sikap yang bijak dan memberikan peluang untuk anak lebih kreatif serta termotivasi ke arah yang lebih baik. Kepada para guru hendaknya terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pendidikan yang sesuai dengan tempat mengajar. 5. Guru sebagai pendidik hendaknya lebih mendorong potensi-potensi yang dimiliki oleh para peserta didik agar nantinya mereka dapat mengembangkan kecerdasan serta kepribadiannya. Biarkan anak dengan keinginannya. 104 . Orang tua juga dituntut untuk berperan aktif dalam memberikan pendidikan di rumah. guru. 6. Kerja sama tersebut dibangun atas dasar harapan dan keinginan tercapainya tujuan menciptakan anak yang memiliki kualitas yang baik. Harus adanya kerjasama dengan berbagai pihak seperti orang tua. serta masyarakat pemerhati pendidikan agar pendidikan anak usia dini di sekolah terutama di PAUD sebagai tempat yang paling penting dalam menanamkan kepribadian serta kecerdasan sejak dini.4. orang tua hanya memberikan arahan. Memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai akan lebih meningkatkan kualitas pembelajaran. serta tidak memaksakan kehendak kepada anak. Dengan demikian mereka akan lebih berkembang dengan kemampuan yang dimilikinya.

DAFTAR PUSTAKA 105 .

Nazir. 2006.com/2009/03/02/keunikandibalik-teka-teki matematika permainan matematika Riduwan.umj.com/journal/item/237/Belajar_Matematika_lewat _Permainan_Dakon Moh.php?id=85&dir= 6&idStatus= 0&PHPSESSID=mymzcnyftwksa -----------. http://www.multiply. Asyik Belajar dengan PAKEM: Matematika untuk sekolah dasar (SD-MI). Metode Penelitian.F Arief. Mesir: Isa AlAbabil Al-Halal wa Syirkah. & Messick. Grasindo. Jakarta: Ghalia Indonesia.net M. The Conditions of Learning. Belajar Matematika lewat Permainan Dakon. 2009. Bandung : PT Remaja Rosda Karya.php?option=com_content&task= view&id= 40&Itemid=54 Gagne. Online: http://elangjava. Psikologi Pembelajaran dan pengajaran. 2003. 2000.fai. http://www.go. Muhammad Surya.Al-Abrasyi. 1950.R.M. Bandung: Alfabeta. Ruh Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lim. 2006. 2007. 1977 MBE. 1988. Bandung: Yayasan Bhina Bakti Winaya. S. Online: http://www. Robert. Chaplin.F. Belajar mudah Penelitian untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula.Si. Online:http://h4mm4d. Sumber Belajar dan Alat Permainan. Ramadhan. J. Keunikan dibalik Teka-teki Matematika/Permainan Matematika. dkk.mbeproject.id/buletin/read. Rinehart and Winston.bpplsp-reg-. Medan : BPPLSP Regional I Farihen. New York: Longman Dewi Gustini.wordpress. Moleong LJ. Elementary Social Studies: A Practical Guide. Model Pembelajaran Bidang Studi Matematika melalui Permainan di Kejar Paket A.G. Holt.id/index. (1992). R. Anggani Sudono. M. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT. 106 .ac. 2004. New York. H. Athiyah. 1999.

Jakarta : PT.html http://www. Psikologi Belajar.html http://darmosusianto.com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak. “Peran Guru dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa”. 2002. Strategi Pembelajaran. Jakarta.Sugiyono. Djamarah. 2007.sobrycenter.id/berita/23842/Belajar_Sains_Matematika_dari_Games _Online Lampiran 1 107 .com/2007/08/matematika-bukan-mati-matian. Asdi Mahasatya Wina Sanjaya. http://kumpulantipspilihan.html http://kumpulantipspilihan. (2005).com/2008/03/permainan-matematika-untukanak-anak.htm http://www.republika.com/intisari/2000/agst/matematika8.com l B.co.blogspot. Bandung: Alfabeta Syaifu Sutikno.indomedia.blogspot. www. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D.blogspot. Kencana. 2007. Berorientasikan Standar Proses Pendidikan.

PROFIL PAUD AL-FITRIYAH KEBONPEDES KABUPATEN SUKABUMI A.161 : A. Cikawung Kecamatan Kebonpedes Kabupaten Sukabumi. Berilmu dan Berakhlak.Meningkatkan rasa kemandirian.Memperkenalkan pendidikan agama secara dini . Identitas Sekolah Nama Sekolah : PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi No. Statistik Nama Kepala Sekolah Status Sekolah Alamat Sekolah : 022020605.Mengkondisikan sekolah sebagai wahana tempat bermain dan belajar B.Menumbuhkembangkan kreativitas imajinatif dan apresiatif .Nurlailah : Swasta : Jl. Bojonggaling Desa Sasagaran Kp. Misi : . Struktur Organisasi 108 . tanggung jawab dan bersosialisasi dengan lingkungan . Tahun Berdiri Visi : 2006 : Menyiapkan Generasi Islam yang Beriman.

1. Nurlailah Guru Upi Supinah Guru Eem Suhaemah Guru Ema Ratnapuri Penjaga Sekolah Dadang 109 . Acep Saripudin Sekretaris Neng Fitri Bendahara Deden Eri 2. Sekolah Kepala Sekolah B. Yayasan Ketua Yayasan H.

Personil dan Sumber Dana 1. Tenaga Pendidikan c) Kepala Sekolah : 1 orang d) Guru 2. Komite Sekolah Ketua Komite Sekolah Iis Sekretaris Siti Saadah Bendahara Ais D. Keuangan/Administrasi e) Buku Kas Umum (SPP) f) Buku Tabungan : 3 orang g) RAPBS 4.3. Prestasi 110 . Siswa Berjumlah 28 orang 3.

Dengan brosur 111 . G. balok.c) Guru : Upi Supinah.2007) E. Sarana dan Prasarana 5) Halaman PAUD . Kurikulum dan Sumber Pemberdayaan Kurikulum 2004 F. pohon hitung. puteran. dan junkitan. f) Alat peraga di luar. bak pasir. halaman cukup luas untuk gerak dan bermain anak didik 6) Ruang Kelas : g) 2 ruang kelas h) 1 ruang kantor i) j) 1 dapur 2 WC (Guru dan Anak) k) Gudang l) Ruang tunggu 7) Perabot . setiap ruang kelas dilengkapi perabot sesuai dengan keperluan. ayunan. prosotan. 8) Buku dan Alat Peraga d) Perpustakaan untuk guru dan anak e) Alat peraga. juara 3 guru berprestasi Tk. Sistem Rekruitmen 1.Kecamatan th. puzzle.2007 d) Siswa : Tasya (juara lomba menghias bingkai. th.

Apa tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Apa latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana latar belakang sejarah berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Apa tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. r hukum penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Siapa pendiri PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Bagaimana strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? 112 . Gambaran Umum 1. Potensi di sekitar lokasi a) Bagaimana keadaan orang tua murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Berapa luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Bagaimana keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Tahun berapa berdirinya PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Memasang spanduk Lampiran 2 PEDOMAN WAWANCARA A.2. Bagaimana keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 7. Apa visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 5. Kebijakan pengembangan konsep bermain di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

Bagaimana strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. Bagaimana proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Bagaimana upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? Al-Fitriyah C. Program apa saja yang dilaksanakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Kebijakan apa saja yang diimplementasikan dalam pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Faktor pendudkung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Apa tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Aspek/sasaran apa yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4.6. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 113 . Apa saja faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Apa saja faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana penjelasan rinci mengenai masing-masing aspek tersebut? 5. Bagaimana pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Bagaimana implementasi kebijakan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Siapakah yang melakukan penyusunan perencanaan dan program konsep bermain pada kreativitas tersebut? 3.

Gambaran umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten 114 . Berapa jumlah siswa kelompok A dan B? 8. Adakah bangunan mesjid? 4. Berapa jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Berapa jumlah ruang belajar? 3. Bagaimana keadaan orang tua siswa PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Berapa luas tanah yang dimiliki PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. Adakah ruang perpustakaan? 6. Fasilitas permainan apa yang tersedia? 5. Berapa jumlah guru dan karyawan? 7. Bagaimana letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. Potensi di sekitar lokasi: 1. Berapa jumlah bangunan seluruhnya? 2. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Lampiran 3 PEDOMAN OBSERVASI A.2.

Faktor pendukung dan penghambat bagi pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas Kabupaten Sukabumi di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes D.C. Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan pendirian PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan sarana dan prasarana PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan guru dan karyawan PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang keadaan murid PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Potensi di sekitar lokasi a) Adakah dokumen sekolah tentang keadaan orang tua murid PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? b) Adakah dokumen sekolah tentang letak geografis PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? c) Adakah dokumen sekolah tentang luas tanah yang dimiliki oleh PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? d) Adakah dokumen sekolah tentang jumlah bangunan yang ada di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? B. Kebijakan pengembangan pendidikan akhlak mulia di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 5. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang sejarah berdirinya PAUD 2. 4. Gambaran Umum PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al- Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi Lampiran 4 PEDOMAN DOKUMENTASI (STUDI KEPUSTAKAAN) A. 6. Adakah dokumen sekolah tentang latar belakang kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 115 . 3.

2. Implementasi kebijakan dan pelaksanaan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. 4. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang kesiswaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 116 . Adakah dokumen sekolah tentang penjelasan rinci mengenai masingmasing aspek tersebut? 5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi pada bidang kurikulum? 2. Adakah dokumen sekolah tentang tujuan perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 6. Adakah dokumen sekolah tentang proses penyusunan perencanaan dan program di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang ketenagaan di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi ? 4. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program kelembagaan dan sarana pendidikan di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 3. 6. Adakah dokumen sekolah tentang dasar hukum penyusunan kebijakan 3. Adakah dokumen sekolah tentang Siapa saja yang melakukan penyusunan perencanaan dan program tersebut? 3. Adakah dokumen sekolah tentang strategi yang disusun dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? D. pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang tujuan penyusunan kebijakan pengembangan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang visi dan misi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? Adakah dokumen sekolah tentang strategi PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam menjalankan visi dan misi tersebut ? Adakah dokumen sekolah tentang upaya untuk mewujudkan tujuan PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi dalam 4 tahun ke depan? C. Adakah dokumen sekolah tentang aspek/sasaran yang dilakukan dalam perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 4. 5. Perencanaan dan program konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1.

Faktor pendukung dan penghambat konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi penghambat bagi konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? F.5. Adakah dokumen sekolah tentang implementasi kebijakan dan pelaksanaan program pendidikan bidang humas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? E. Bagaimana tingkat keberhasilan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 117 . Penerapan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD AlFitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi 1. Bagaimana pelaksanaan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2. Adakah dokumen sekolah tentang faktor yang menjadi pendukung bagi pengembangan pendidikan konsep bermain untuk meningkatkan kreativitas di PAUD Al-Fitriyah Kebonpedes Kabupaten Sukabumi? 2.

118 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->