Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . terlambat sampainya ditempat tujuan. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. memuat janji yang seperti itu. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. atau sama sekali tidak. c. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. 2. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. tidak boleh menariknya kembali. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu. Pihak b. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. bukan pada pihak yang dirugikan. Bagaimanapun juga. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang.

Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. Bagian Pasal 85 – 90. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. Bab V. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD). sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. paling banter dia dapat menjadi saksi. Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. D. jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. dll. C. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). Menurut Purwosutjipto. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. E. Diatur dalam KUHD Buku I. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. miring. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. B. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. F. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . Pasal 1245 KUH Per menentukan. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. b. orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian. pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. c. Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal.

Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. gunung es. penyimpanan. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. perampasan. 3. misalnya karena menjadi . serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. d. lebih lama dalam perjalanan. pengukuran. sortasi. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. lazim disebut "deviation". penawanan. pemogokan. gdombang. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. 2 Tahun 1969. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". pengepakan kembali. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. kilat. b. pemberontakan. perampok. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". pencoleng. kerusuhan. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. e. sayur dan pada binatang. angin. antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing"). c. yang dapat merugikan dan merusak muatan. Misalnya buah. binatang penggerek dan hama lainnya. pengepakan. adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. pencuri. penandaan. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". Per-veeman. ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. lapangan-lapangan. penyamun. Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. 2. pulau karang. Sifat-sifat dari muatan sendiri. tabrakan kapal. dll. kapal kandas. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. misalnya bajak laut. kutu. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. dll. mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. kabut.

yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. yang ahli dibidang yang bersangkutan. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. 2. kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain. Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD. Buku I. yaitu : 1. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. khusus: kerugian 2." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. 3. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. baik menutupnya. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan. pasal 86 sampai dengan 90. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. . sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. yang meliputi kapal saja atau barang saja. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). Bagian II. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring. Di sini jelas. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya. maupun melaksanakan. Bab V. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. misalnya. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama.

hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. Di antara para perantara pengangkutan. sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. tetapi provisi. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Jadi. terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi. yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. yaitu ekspeditur insidentil." . bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap. Kemungkinan juga ada.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). hanya kadang kala saja. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas. karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim. maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving).

f. Untuk melaksanakan amanat pengirim. d. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas. KUHPER. pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER). yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER). Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). Kecuali register harian tersebut di atas. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. penyelenggara urusan (menurut arrest H. pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. Sebagai yang telah diketahui. e. dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. Register dan surat muatan. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. KUHPER. c. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. Sebagai pengusaha. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER). Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. Sebagai penyimpan barang. e. maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. d. Sebagai pemegang kuasa. barang-barang tersebut. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. Hak retensi. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. KUHD). juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD). bea cukai dan lain-lain. TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. Sebagai komisioner. c. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka. Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a.R. pasal 1694 dsl. b. bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. b. Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer).

maka sebagai juga pengangkut. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut. Polak dan Dorhout Mees. Dan selanjutnya. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. maka. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. Tetapi dalam praktek. Dia harus membayar uang angkutan. Misalnya. atau dia menolak untuk menerimanya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan. karena ada kerusakan atau kekurangan. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. . dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. Tetapi menurut pasal 88 KUHD. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara. Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. d. bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). Kecuali itu. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. b. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur.

kesulitan itu tidak akan terjadi. maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. . Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer). Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. maka disitulah letak kepentingannya. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. bila penerima tidak menggunakan haknya. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. Jadi. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. jadi. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. Kesulitan persoalan ini ditambah pula. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. Untung juga. sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. yang pada umumnya bukan si pengirim. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium. Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. sedangkan si pengirim adalah sl penjual. Pada pengangkutan dengan konosemen. Dalam hal inikesulitan hanya ada. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan.

R. Sudah tentu. Mengenai pengusaha jenis ini. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. Jadi. bila ada yang membutuhkan. b. Kecuali sifat pelayanan berkala. tetapi tidak. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan. Poerwadarminta. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD. H. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Purwosutjipto memperkirakan. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. 2. Selanjutnya.d. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut." Kecuali itu. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor. Menurut Dorhout Mees. perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala.pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan. maupun di luarnya. perbedaan antara ekspeditur. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. 1616 KUHPER. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. misalnya: pasal 93. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi. halaman 1089). SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. yaitu: Pemberian kuasa. 1. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. Pemberian jasa itu diberikan.. a. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri. Dari itu. sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan. karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan. cetakan tahun 1976. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. Persoalan lain timbul. yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer).Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. dalam hal isi itu tidak ada. sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua. Jadi. sebab perbuatan itu baru dilakukan. ditambah lagi dengan uang provisi. yang dilakukan oleh pengangkut lain. maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. LN 1969-2). Persoalan timbul. . di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. terletak dalam trayeknya. yaitu : a. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. yang terjadi dari pengangkutan pertama. b. KUHPER). baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. perbuatan itu kadang kala saja. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut. apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. PP No 2 Tahun 1969. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. kita menghadapi seorang pengusaha transpor. di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama. Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. pelayanan berkala. apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. paling banter dia dapat menjadi saksi. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian. maka di sini timbul persoalan. pemegang kuasa. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. maka terletak dalam maksud mereka. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b.

tidak termasuk perusahaan kapal. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. ada yang mudah pecah dan lain- . SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. b. maka mereka kembali ke induk perusahaannya. Jadi. tetapi kalau sudah ada dalam kapal. dan pengatur muatan. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap.dan uitklaring". pelayanan berkala. makelar. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). apakah pengusaha kapal. tergantung siapa yang memberi amanat. Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup. bila dibutuhkan. pemilik barang. Jadi. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. hanya kadang kala saja. kapal. makelar. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. agen duane. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. pemberi kuasa. pengusaha transpor. KUHD). pencarter atau lain-lainnya. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). Dengan ini lain. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. sebab dia bertindak sebagai makelar. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain.

Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969. di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. b. penyimpanan. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengepakan.jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengepakan. tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. pengepakan kembali. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 . tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. 1969. Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut". tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". misalnya di bidang pengangkutan udara. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur. pengukuran. Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan.I. pengukuran. penyimpanan. yang memiliki izin impor/ekspor. pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. lapangan-lapangan. sortasi. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. perusahaan-perusahaan milik warga negara R. yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. pengepakan kembali. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja. sortasi. PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). pasal 32). Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). No 122/Kp/VI/70. yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. pengusaha transpor dan agenduane. lapangan-lapangan.

c. e. tanggai 8 Juni 1970). yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas. penyimpanan. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. pengepakan kembali. tanggal 8 Juni 1970).I. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan.- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan. perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3. pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2.000. yang pengangkutan. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ . Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969). diangkut b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Rp 3.000.000. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud.000. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan. boomzaken dan lain-lain. d. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b.Rp 2. No 122/Kp/VI/70. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70. c.000. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang. SK Menteri Perdagangan R. alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. Pengepakan. ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang.000. barang. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 . 5. Lalu lintas adalah gerak kendaraan. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. 3. 6. 1. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. dan hewan di jalan.H.. M. yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. orang. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. S.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi.S. 4. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Angkutan Darat  UU No. 2. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. d. untuk menunjang pemerataan. marka jalan. jalan komplek Unsoed. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. alat pemberi isyarat lalu lintas. keamanan. kapasitas lalu lintas. cepat. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan kelas jalan. lancar. Pasal 4 1. yaitu jalan inspeksi minyak gas. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. e. c. peranan. menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. jalan perkebunan. misalnya jalan inspeksi pengairan. fungsi. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. dll. pertambangan. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. yang berada di jalan dan di luar jalan. 2. alat pengawasan dan pengamanan jalan. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. baik untuk angkutan orang maupun barang. 2. mampu memadukan moda transportasi lainnya. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. 2. Untuk keselamatan. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. jalan dibagi dalam beberapa kelas. b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. aman. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi. 9. tertib dan teratur. nyaman dan efisien. Pasal 8 1. 8. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. 2.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. 22 f. rambu-rambu. Penjelasan: .Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. jalan wajib dilengkapi dengan : a. 10.

Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi. larangan. 3. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. ayat (2).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. 3. tata ruang. 2. b. ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. yang digunakan untuk memberikan peringatan. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. d. dan delinator e. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. angka. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. parkir dan halte. Pasal 10 1. garis melintang. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). agar f. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan. 2. c. untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan. kapasitas. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. huruf. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. 2. ketertiban. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. 3. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2. badan hukum Indonesia. tata cara pengujian. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. 2. atau warga negara Indonesia. misalnya katup penyelamat. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. kereta tempelan. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. . 3. Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. Setiap kendaraan bermotor. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pada umumnya. kereta gandengan. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. keamanan. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. 4. masa berlaku. 3. Persyaratan. Setiap kendaraan bermotor. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. kereta gandengan. 2. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. Untuk menunjang keselamatan. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1.

maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 .Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. keamanan. Pasal 14. wajib memiliki surat izin mengemudi. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. 2. perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. b. 2. dan lain-lain yang diperlukan. 2. surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. 2. 3. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. Penggolongan. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. Pasal 18. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. Pemerintah. persyaratan. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. keamanan. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. masa berlaku. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. Pasal 19 1. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi. 2. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pemeriksaan tanda bukti lulus uji. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pengemudi kendaraan bermotor. Untuk keselamatan. pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor.

wajib : a. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. 2.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. c. b. alat pemberi isyarat lalu lintas. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. menghentikan kendaraannya. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. atau tanda bukti lain yang sah. b. tata cara mengangkut orang dan barang. kendaraan bermotor di jalan. peringatan dengan bunyi dan sinar. surat izin mengemudi. tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. gerakan lalu lintas.Pengemudi a. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. 2. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. kecepatan maksimum dan/atau minimum. berhenti dan parkir. penggunaan kendaraan bermotor. c. . wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. d. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. Pasal 23 1. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah. dan tanda bukti lulus uji. rambu-rambu dan marka jalan. e.

Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. 2. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. 2. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. pemilik. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 31 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. Pasal 33 1. Pasal 44 . Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. Apabila korban meninggal. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. 2. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Setiap pengemudi. ditetapkan oleh Pemerintah. c. Pasal 30 1.

Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. Jalan umum adalah jalan yang dibuat. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. 4. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 3. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). diselenggarakan oleh pemerintah. karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 48 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pasal 46 1. adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 28 . Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. Pasal 45 1. apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. 2. pengirim barang atau pihak ketiga. 2. di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. pengangkut tidak punya hak retensi. pengirim barang atau pihak ketiga. jalan kabupaten. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi.

Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No. Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. jalan tol.  Dalam pasal 3 UU No. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. 29 . as jalan. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung.  angkut dilunasi.  Dalam UU tersebut. yang dimaksud adalah jalan umum. ia naik kerete sampai di jakarta.   berada di permukaan jalan). Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense). badan. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan). selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. Contohnya sebra cross. o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal. jalan pedesaan. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. Contoh: jalan inspeksi pengairan.   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi.  Jalan untuk kelancaran.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. dsb. kaca tanggul cembung. kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. 14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”. misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan. contohnya adalah jalan arteri. kompleks perumahan.

Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. V = 20 km /jam. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). lalin lokal atau kegiatan lokal.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam .  tujuan yang sama. Jalan masuk dibatasi. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer.  = 5m . Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. V ≥ 40 /jam.  = 7 m . Jalan arteri sekunder. Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada. lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat. Jalan kolektor sekunder. lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. V = 10 km /jam. rata-rata.  = 8m . tidak putus walaupun masuk /jam. tidak putus walaupun masuk kota. 2.  = 8m . kapasitas > dari volume lalin rata-rata. Jalan lokal primer. maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. jalan masuk Atas usul Menteri. Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada. 3.  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi. Pasal 14 30 .  ≥ 7 m . Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol.  = 5m . Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. Menhub. km Jalan lokal sekunder. kapasitas > dari volume kota. Jalan Tol   UU No. tidak putus walaupun masuk kota. harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada. V = 30 km lalin rata-rata. untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. V = 20 /jam. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. termasuk jalan desa.

peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. Petugas Jalan Tol. 2. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. 2. 3. yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel. Dilarang memasuki Jalan Tol. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. 3. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. diserahkan penyelenggaraannya. ayat (2). BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. 4.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Pembinaan perkretaapian. Pasal 19 1. 3. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 4. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. 2. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 3. . 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. dalam pasal 4. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. prasarana. dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. 2. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem.

dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. 3. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pertanian. Pasal 12  Prasarana dan sarana. pertambangan. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. 3. Contohnya: westing house. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). . 2. 2. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. Pasal 9 1. Pasal 7 1. 2. membuat tembok. Pasal 14 1. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 1. Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB V 1. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. 2. tanggul dan bangunan lainnya. Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Dilarang membangun gedung. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. 3. dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 32 Pasal 8 1. terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 2. pagar. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. daerah milik jalan. Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut oleh Menteri. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 19 1. berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. 2. saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. 33 . Pasal 15 1. jalur kereta api khusus. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. 2. 2. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. 3. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. Pasal 17 1. Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain. b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). selain untuk angkutan kereta api. Pembangunan jalan. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun. Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang. Pasal 18  Biaya Angkutan. terusan. e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus. Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. diberikan dengan ketentuan: a. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara. c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. mengganggu perjalanan kereta api. badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. 2. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 28 1. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. 34 . wajib diangkut oleh badan penyelenggara. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. 2. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. b. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah.

Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri.   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 . bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. POS   UU No. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport.  diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati. dengan cek pos. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. POS Weselpos. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan.  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. sama dengan pengusaha angkutan. demikain juga berdasarkan PP no. 5 Tahun 1995. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih).  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. Hal ini hanya merupakan alasan teknis. Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. kereta tersebut menempuh jarak 200m. pendiriannya dibuat oleh notaris. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT.  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan. dasarnya pasal 1320 BW. Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. dan kartupos untuk pihak ketiga. surat-kabar. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. 8. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. 2. 4. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. 10. 7. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. 2. Pos diselenggarakan oleh negara. 3. 5. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. 12. 2. 6. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. 3. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. paket. barang. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. uang. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. kartupos. 11. membawa dan/atau menyampaikan surat. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. 13. 2. yang menerima. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. sekogram. badan yang bertugas menerima. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. 4. warkatpos. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. barang-cetakan. warkatpos. 3. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. termasuk perwakilan atau pegawainya. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 36 . warkatpos. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. 9. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. membawa dan/atau menyampaikan surat. dan bungkusan kecil.

BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam. Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5. b. 10. 2. 3. 2. 11. 2. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut. laut.persyaratan dan 1. 2. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1. . 4.tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3).klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. 3. dan isi kiriman. udara. pemeriksaan. 7. 4. Pembukaan. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. keadaan darurat. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. 9. 8. atau yang buntu karena sesuatu sebab.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Pasal 10 37 prangko. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat.pembebasan tarif pos.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. 6. Pasal 5 1. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan media telekomunikasi untuk umum. berat. Setiap perusahaan angkutan darat. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang. laut. Menteri menetapkan : a.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara.batas ukuran.perincian penyelenggaraan pos.

Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini. dilarang. dan 12. kiriman-pos. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam. 2. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. 2. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. keadaan darurat. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. 4. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. b. ditetapkan oleh Menteri. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. 6. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. c. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali. c. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. tanggungan. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. atau keselamatan orang. Pasal 12 1. 3. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. 5. sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . b. manusia. c. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. 7.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. b. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim. dikirim dengan harga tanggungan.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. dan 3.

mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. dan 2. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. 1936 No. seperti penerbangan. Stb. pesawat udara. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara. 2. sudah tidak berlaku sejak ada UU No. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. menerima setoran. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. keamanan Pengangkutan Udara  1. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. 15 Tahun 1992.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1. mengatur personil. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. 1936 No. Stb. Peraturan  UU No. . 1939 No. 1939 No. 2. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. angkutan udara.  Perjanjian Roma 29 Mei 1933. namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya).  Verordening Toesicht Luchtvaart. 5 Tahun 1985. Stb. Stb. 1939 No.  Luchtvaartquorantieue ordonantie. 3. syaratsyarat jasmani rokhani. Ilmu Pengetahuan. 15 Tahun 1992  Pasal 1. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. 149 Jo. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. UU No. bandar udara. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1.

Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara. dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 8. dapat terbang dengan sayap berputar. dan pos untuk satu . Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. naik turun penumpang. kargo. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. 12. 10. 2. bersayap tetap. dan bergerak dengan tenaganya sendiri.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. 14. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 7. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. 4. 6. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. 3. 11. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 15. 13. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 5. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara. dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 9. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. 2. b. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. hukum Indonesia. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). 2. . pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. Dalam penjelasan ayat 1. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. d. 2. Pasal 11 1. c.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. 3. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. 3. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dimiliki oleh instansi Pemerintah. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. 2. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. Pasal 19 1. 1. 3. 3. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. penumpang dan barang. Pasal 15 1. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. 2. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. 3. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. . 4. 2.

Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. perencanaan. pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. Pasal 22 1. Selama bersangkutan terbang. dll karena lokasinya yang dekat gunung. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. 2. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen. pembuatan rancang bangun. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. boing 747.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. 2. . bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. 2. perakitan. keselamatan penerbangan. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. 3. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. perawatan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. meteorologi. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. pembuatan. Menurut penjelasan pasal ini. Air Bus. Demikian juga di medan. 2. Pasal 23 1. pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). Penentuan lokasi. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun. Misalnya. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. Dalam rangka keselamatan penerbangan.

jasa perawatan pada umumnya. 3. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. hanggar. kargo/pas dibandara lain hotel. Pasal 27 1. jasa boga. bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 . Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. 3. Pasal 33 1. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara. toko gudang. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. ayat (2). Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. Pengadaan. 2. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. parkir. 4. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. pengoperasian. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bandara Milik Misionaris.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. naiuk-turunya pesawat haji. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

ditetapkan oleh Pemerintah. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. 2. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Pasal 37 1. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. wajib mengangkut orang dan/atau barang. 45 . mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. 3. Pasal 38 1. 2. Pasal 41 1. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. 2. setelah disepakati perjanjian pengangkutan. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. mengubah letak pesawat udara. 3. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. Perusahaan angkutan udara niaga. 2. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. 3. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1.

. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan. diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. dianggap sebagai satu pengangkutan udara. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 44 1. 2. Pasal 43 1. Pasal 45 Pasal 42 1. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ditinjau secara yuridis. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. musnah. c. b. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). hilang atau rusaknya barang yang diangkut. 2.

maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat. 4. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita. sistem ini berlaku untuk penumpang. seperti dompet. 2. . Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. bagasi tangan. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. barang gasi dan barang kiriman. tustel. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. pengangkutan barang dan bagasi. kesalahan navigasi. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. 2. tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. barang kiriman. 2. Penumpang dengan bukti angkutan tiket. barang bagasi. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. tas wanita. untuk penerbangan perintis 15 kg. ia hanya mengirimkan baranag. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). sejak pengangkut cek in di Bandara. 3.

Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. 2. kesalahan pengangkut. a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1. dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas. secara limit b. 2. Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. lebih dari itu didenda 1% tiket. memperlambat. baru kereta boleh jalan. berat 5 kg. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. b) Prinsip Non limitation of liabilities. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. macam transportasi). • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada. dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. Contohnya barang bagasi tangan. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. Masinis kereta hanya menjalankan. 48 . Balita hanya berhak atas bagasi tangan. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. kesalagan dari penumpang juga. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Barang bagasi berat antara 20-30 kg. berlaku pada saat overmacht. kemungkinan: a. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .