Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. c. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. Bagaimanapun juga. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. Pihak b. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. terlambat sampainya ditempat tujuan. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. tidak boleh menariknya kembali. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. bukan pada pihak yang dirugikan. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. memuat janji yang seperti itu. atau sama sekali tidak. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. 2.

orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. F. Menurut Purwosutjipto. apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. miring. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). E. Diatur dalam KUHD Buku I. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. dll. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. Pasal 1245 KUH Per menentukan. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. b. paling banter dia dapat menjadi saksi. B. D. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. Bagian Pasal 85 – 90. Bab V. c. C.

yang dapat merugikan dan merusak muatan. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. dll. pengepakan. 2. pengepakan kembali. pencoleng. dll. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". Per-veeman. penyimpanan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing"). 2 Tahun 1969. c. baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. kabut. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai. gdombang. misalnya bajak laut. serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. kerusuhan. Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. pulau karang. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. kutu. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. angin. Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". perampok. perampasan. lebih lama dalam perjalanan. d. penandaan. pemberontakan. Sifat-sifat dari muatan sendiri. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. b. kapal kandas. gunung es. 3. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. pengukuran. tabrakan kapal. mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. sayur dan pada binatang. pemogokan. pencuri. misalnya karena menjadi . dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. lapangan-lapangan. binatang penggerek dan hama lainnya. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. e. kilat. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. Misalnya buah. lazim disebut "deviation". penyamun. penawanan. sortasi. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga. ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1.

2. yang meliputi kapal saja atau barang saja. barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. 3. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). Bab V. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. Di sini jelas. baik menutupnya. Buku I. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama. PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya. yaitu : 1. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. pasal 86 sampai dengan 90. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. misalnya. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. yang ahli dibidang yang bersangkutan. Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. . Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain. Bagian II. sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. khusus: kerugian 2. maupun melaksanakan. Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring.

Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. hanya kadang kala saja. 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi. terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap. sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving)." . pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. Kemungkinan juga ada. mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Jadi. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. Di antara para perantara pengangkutan. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. tetapi provisi. yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim. Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim. yaitu ekspeditur insidentil. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur.

Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer). Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. pasal 1694 dsl. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. bea cukai dan lain-lain. KUHPER. Untuk melaksanakan amanat pengirim. d. Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas. Hak retensi. Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER). Kecuali register harian tersebut di atas. Sebagai penyimpan barang. seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim. maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). penyelenggara urusan (menurut arrest H. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER).R. KUHD). pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. c. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. b. Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. KUHPER. Register dan surat muatan. Sebagai yang telah diketahui. ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. b. pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER). e. Sebagai pemegang kuasa. Sebagai pengusaha. d. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka. barang-barang tersebut. begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. c. Sebagai komisioner. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. f. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. e.

bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. . Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. karena ada kerusakan atau kekurangan. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). Tetapi menurut pasal 88 KUHD. Tetapi dalam praktek. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. maka. kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. Dan selanjutnya. Misalnya. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat. Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). maka sebagai juga pengangkut. Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. Kecuali itu. Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. Dia harus membayar uang angkutan. Polak dan Dorhout Mees. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. atau dia menolak untuk menerimanya. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. d. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. b.

. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. yang pada umumnya bukan si pengirim. sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. kesulitan itu tidak akan terjadi. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. bila penerima tidak menggunakan haknya. Untung juga. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). sedangkan si pengirim adalah sl penjual. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan. Pada pengangkutan dengan konosemen. Dalam hal inikesulitan hanya ada. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. Jadi. maka disitulah letak kepentingannya. bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. jadi. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967. apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. Kesulitan persoalan ini ditambah pula. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum.

dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT." Kecuali itu. H. Dari itu. Jadi. pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim.pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Pemberian jasa itu diberikan. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi. Mengenai pengusaha jenis ini. bila ada yang membutuhkan. Poerwadarminta. a. b. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. tetapi tidak. karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s. halaman 1089). maupun di luarnya. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. Menurut Dorhout Mees. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Selanjutnya. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. misalnya: pasal 93. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. 1616 KUHPER. perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala.R. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. Sudah tentu. 2. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. perbedaan antara ekspeditur. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain. 1. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri.d. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri. Kecuali sifat pelayanan berkala. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. yaitu: Pemberian kuasa. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. cetakan tahun 1976. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui . Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor.. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia. Purwosutjipto memperkirakan. sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). Jadi. sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. . PP No 2 Tahun 1969. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. yaitu : a. dalam hal isi itu tidak ada. LN 1969-2). yang dilakukan oleh pengangkut lain. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. pelayanan berkala. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. maka terletak dalam maksud mereka. sebab perbuatan itu baru dilakukan. perbuatan itu kadang kala saja. apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. Persoalan timbul. b. ditambah lagi dengan uang provisi. terletak dalam trayeknya. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut. yang terjadi dari pengangkutan pertama. pemegang kuasa. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. paling banter dia dapat menjadi saksi. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor. maka di sini timbul persoalan. Persoalan lain timbul.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. KUHPER). di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama.Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. kita menghadapi seorang pengusaha transpor. baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl.

Jadi. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap. tidak termasuk perusahaan kapal. maka mereka kembali ke induk perusahaannya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. dan pengatur muatan. PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. tetapi kalau sudah ada dalam kapal. sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. tergantung siapa yang memberi amanat. KUHD). PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. pemberi kuasa. hanya kadang kala saja. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. Jadi. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya. makelar. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. makelar. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. b. kapal. agen duane. pelayanan berkala. ada yang mudah pecah dan lain- . Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. Dengan ini lain. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan. pencarter atau lain-lainnya. sebab dia bertindak sebagai makelar. pengusaha transpor. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. pemilik barang. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. apakah pengusaha kapal. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). bila dibutuhkan. SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain.dan uitklaring".

Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. pengepakan kembali. Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. b. tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". pasal 32). yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. pengukuran.I. misalnya di bidang pengangkutan udara. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 .jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. pengusaha transpor dan agenduane. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. 1969. pengukuran. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. No 122/Kp/VI/70. yang memiliki izin impor/ekspor. lapangan-lapangan. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. pengepakan kembali. Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. penyimpanan. tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. pengepakan. sortasi. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. perusahaan-perusahaan milik warga negara R. maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur. lapangan-lapangan. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. penyimpanan. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. pengepakan. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut". PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. sortasi. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran.

Pengepakan. perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang. Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a. pengepakan kembali. yang pengangkutan. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang.I. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan.000. No 122/Kp/VI/70. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang. barang. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b. c. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ . alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas. tanggai 8 Juni 1970). pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. tanggal 8 Juni 1970).000. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud.Rp 2. SK Menteri Perdagangan R. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan.000. ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. c. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2. diangkut b. Rp 3. penyimpanan. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang.000.- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an. e.000. d. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969). boomzaken dan lain-lain.000.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

orang. 1. 6. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. 2. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum.. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. Angkutan Darat  UU No. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. dan hewan di jalan. 3. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi.H. 5. M. Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 . S. Lalu lintas adalah gerak kendaraan. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.S.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi. 4. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.

Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. baik untuk angkutan orang maupun barang. e. dll. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. 2. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. rambu-rambu. tertib dan teratur. misalnya jalan inspeksi pengairan. jalan komplek Unsoed. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan. b.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. 2. jalan dibagi dalam beberapa kelas. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. 2. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. nyaman dan efisien. jalan wajib dilengkapi dengan : a. c.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. aman.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. lancar. Pasal 8 1. Pasal 4 1. 9. Untuk keselamatan. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. yaitu jalan inspeksi minyak gas. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pertambangan. menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. 2. 10. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. d. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. marka jalan. 22 f. yang berada di jalan dan di luar jalan. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. 8. cepat. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. alat pemberi isyarat lalu lintas. fungsi. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. kapasitas lalu lintas. mampu memadukan moda transportasi lainnya. jalan perkebunan. peranan. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. alat pengawasan dan pengamanan jalan. untuk menunjang pemerataan. Penjelasan: . keamanan. penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. dan kelas jalan.

kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. larangan. agar f. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. huruf. tata ruang. ayat (2). Pasal 10 1. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. c. angka. 2. 3. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. dan delinator e. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. garis melintang. yang digunakan untuk memberikan peringatan. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . b. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. 3. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. kapasitas. parkir dan halte. 2. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. d. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan. di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan.

2. 3. Persyaratan. kereta gandengan. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. keamanan. masa berlaku. kereta tempelan. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. 3. 2. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. . Setiap kendaraan bermotor. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. ketertiban. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. 3. atau warga negara Indonesia. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap kendaraan bermotor. tata cara pengujian. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. badan hukum Indonesia. 2. 3. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. pada umumnya. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. kereta gandengan. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. misalnya katup penyelamat. Untuk menunjang keselamatan. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. 4.

pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. Setiap pengemudi kendaraan bermotor. 3. keamanan. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. pemeriksaan tanda bukti lulus uji. Pasal 19 1. Penggolongan. dan lain-lain yang diperlukan. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi. persyaratan. 2. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. Untuk keselamatan. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Pasal 14. dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 . Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. wajib memiliki surat izin mengemudi. b. 2. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. masa berlaku. 2. Pasal 18. keamanan. Pemerintah. 2. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. 2. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan.

d. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan. dan tanda bukti lulus uji. gerakan lalu lintas. . memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. kecepatan maksimum dan/atau minimum. wajib : a. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. 2. berhenti dan parkir. menghentikan kendaraannya. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. tata cara mengangkut orang dan barang. atau tanda bukti lain yang sah. peringatan dengan bunyi dan sinar. rambu-rambu dan marka jalan. surat izin mengemudi. c. alat pemberi isyarat lalu lintas. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. penggunaan kendaraan bermotor. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor. menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. 2.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. e. wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. b.Pengemudi a. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. b. kendaraan bermotor di jalan. Pasal 23 1.

Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. ditetapkan oleh Pemerintah. c. Pasal 31 1. Pasal 33 1. 2. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Apabila korban meninggal. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. Pasal 30 1. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. 2. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. pemilik. 2. Setiap pengemudi. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan. Pasal 44 . 2. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pengirim barang atau pihak ketiga. Pasal 48 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). 28 . Jalan umum adalah jalan yang dibuat. jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. 2. apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 45 1. jalan kabupaten. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. diselenggarakan oleh pemerintah. 3. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 3. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 46 1. 2. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pengangkut tidak punya hak retensi. karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. 4. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. pengirim barang atau pihak ketiga. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi.

14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok. contohnya adalah jalan arteri.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense).   berada di permukaan jalan). 29 . badan. ia naik kerete sampai di jakarta.   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi. Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung.  Jalan untuk kelancaran. Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal. Contoh: jalan inspeksi pengairan. jalan pedesaan.  Dalam pasal 3 UU No.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan).  angkut dilunasi. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. kaca tanggul cembung. dsb. jalan tol.  Dalam UU tersebut. misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten. Contohnya sebra cross. as jalan. yang dimaksud adalah jalan umum. kompleks perumahan.

 tujuan yang sama. Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada. 2.  = 8m . Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol. termasuk jalan desa. Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. tidak putus walaupun masuk /jam. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada. V ≥ 40 /jam. tidak putus walaupun masuk kota.  = 8m . km Jalan lokal sekunder. untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. lalin lokal atau kegiatan lokal. V = 20 /jam.  ≥ 7 m . Jalan arteri sekunder. tidak putus walaupun masuk kota.  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi. V = 10 km /jam. V = 30 km lalin rata-rata.  = 5m . rata-rata. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2).  = 7 m . Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol. harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. jalan masuk Atas usul Menteri. V = 20 km /jam. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.  = 5m . 13 Tahun 1980 tentang Jalan. kapasitas > dari volume kota. kapasitas > dari volume lalin rata-rata.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. Jalan Tol   UU No. Jalan masuk dibatasi. Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam . Menhub. 3. Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. Pasal 14 30 . maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. Jalan lokal primer. Jalan kolektor sekunder.

Petugas Jalan Tol. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. prasarana. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. Dilarang memasuki Jalan Tol. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. . yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. 3. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak. peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. 2. 3. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. 2. Pasal 19 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. 3. 4. ayat (2). dalam pasal 4. diserahkan penyelenggaraannya. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya.”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. 2. 3. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. 4. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. Pembinaan perkretaapian.

dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). . BAB V 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. 2. Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dilaksanakan oleh badan penyelenggara. terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 3. Pasal 7 1. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. 3. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. 2. 3. daerah milik jalan. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. Dilarang membangun gedung. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. pagar. dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. 2. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 32 Pasal 8 1. Pasal 14 1. tanggul dan bangunan lainnya. dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. 1. pertanian. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. pertambangan. dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). membuat tembok. dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. Pasal 9 1. Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Contohnya: westing house. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 12  Prasarana dan sarana. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. 2. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 15 1. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun. e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. 2. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang. terusan. Pasal 19 1. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. 2. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. 33 . Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. diatur lebih lanjut oleh Menteri. Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. jalur kereta api khusus. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. Pasal 17 1. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. Pembangunan jalan. Pasal 18  Biaya Angkutan. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus. 3. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. selain untuk angkutan kereta api. 2. Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara.diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. 2.

3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. Pasal 28 1. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a. mengganggu perjalanan kereta api. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. 2. badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. diberikan dengan ketentuan: a. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara. b. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 34 . wajib diangkut oleh badan penyelenggara. 2.

Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. demikain juga berdasarkan PP no.  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. POS Weselpos. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri. Hal ini hanya merupakan alasan teknis. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. kereta tersebut menempuh jarak 200m.   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. pendiriannya dibuat oleh notaris. dasarnya pasal 1320 BW. bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. POS   UU No. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank.  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih). Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang. 5 Tahun 1995. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT. sama dengan pengusaha angkutan. dengan cek pos. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 .  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara.  diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi.

Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. 13. 12. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. yang menerima. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. barang. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. warkatpos. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. warkatpos. Pos diselenggarakan oleh negara. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. paket. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. barang-cetakan. sekogram. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. 36 . 7. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. badan yang bertugas menerima. termasuk perwakilan atau pegawainya. 4. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. 11. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 8. 5. 2. membawa dan/atau menyampaikan surat. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. membawa dan/atau menyampaikan surat. 10. 3. 6. dan kartupos untuk pihak ketiga. 9. 2. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. surat-kabar. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. dan bungkusan kecil. 2. 3. uang. 3. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. 4. warkatpos. kartupos. 2. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos.

3. udara. 11. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang. 2. 4. 2. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara. 2. dan media telekomunikasi untuk umum.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia. Setiap perusahaan angkutan darat. . dan isi kiriman. 7.tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 3. 9. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya.batas ukuran. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 2. Pembukaan. laut.pembebasan tarif pos.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim. atau yang buntu karena sesuatu sebab. Pasal 10 37 prangko.persyaratan dan 1.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim. udara. Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima. berat.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 5. 4. laut. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. 6. 10. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. 8. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1. keadaan darurat.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Menteri menetapkan : a. b. pemeriksaan.klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Pasal 5 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5.perincian penyelenggaraan pos.

sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . manusia. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. 2. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan. b. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. c. 3. 4. atau keselamatan orang. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan. b. keadaan darurat.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. dikirim dengan harga tanggungan. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini. tanggungan. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b. 2.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. kiriman-pos. 6. c. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. c. Pasal 12 1. dan 12. b. 5. dan 3. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. 7. ditetapkan oleh Menteri. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. dilarang.

2. UU No. pesawat udara. 15 Tahun 1992. menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1.  Perjanjian Roma 29 Mei 1933. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. 1936 No. 149 Jo. Peraturan  UU No. pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. 1939 No. Stb. Ilmu Pengetahuan. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. menerima setoran. syaratsyarat jasmani rokhani. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. 5 Tahun 1985. keamanan Pengangkutan Udara  1. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. dan 2. 1936 No. 3. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan.  Verordening Toesicht Luchtvaart.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia. namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. 2. Stb. . dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. seperti penerbangan. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sudah tidak berlaku sejak ada UU No. Stb. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. 1939 No. 3. mengatur personil. 15 Tahun 1992  Pasal 1. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. bandar udara. Stb. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan.  Luchtvaartquorantieue ordonantie. angkutan udara. 1939 No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan.

dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. 9. 4. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. 2. 5. 8. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan bergerak dengan tenaganya sendiri. dan pos untuk satu . dapat terbang dengan sayap berputar. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. 7. kargo. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). naik turun penumpang. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. 6. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 11. 15. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. bersayap tetap. 3. serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. 12. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 10. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. 14. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. 13.

Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. c. b. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. 2. 3. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. 3. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. dimiliki oleh instansi Pemerintah. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hukum Indonesia.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. d. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). . Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam penjelasan ayat 1. sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. Pasal 11 1. 2. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. 2. pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1.

Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2. 2. Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. . Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 2. 1. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. Pasal 19 1. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. 3. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. penumpang dan barang. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. 2. Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. Pasal 15 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. 4. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. 3.

Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. Pasal 23 1. 2. boing 747. meteorologi. Air Bus. bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. pembuatan rancang bangun. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun. . Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. 3. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. Pasal 22 1. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Selama bersangkutan terbang. keselamatan penerbangan. Penentuan lokasi. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. Misalnya. 2. pembuatan. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. 2. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. Demikian juga di medan. Dalam rangka keselamatan penerbangan. Menurut penjelasan pasal ini. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. dll karena lokasinya yang dekat gunung. perawatan. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. perakitan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. perencanaan. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. 3. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi).

dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 . 2. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. 3. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU. 4. bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pengoperasian. ayat (2). bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 33 1. hanggar. parkir. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. jasa boga. Pasal 27 1. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. toko gudang. 3. mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. jasa perawatan pada umumnya. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. Bandara Milik Misionaris. naiuk-turunya pesawat haji. Pengadaan. 2. kargo/pas dibandara lain hotel. 2.

Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. 3. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. 3. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. 2. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. Pasal 37 1. lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. Perusahaan angkutan udara niaga. Pasal 41 1. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. 45 . mengubah letak pesawat udara. setelah disepakati perjanjian pengangkutan. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pasal 38 1. 3. wajib mengangkut orang dan/atau barang. 2. 2.

Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. musnah. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya. 2. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. Pasal 45 Pasal 42 1. Pasal 43 1. Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. 3. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. dianggap sebagai satu pengangkutan udara. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). b. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. c. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. . Pasal 44 1. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. hilang atau rusaknya barang yang diangkut. Ditinjau secara yuridis.

untuk penerbangan perintis 15 kg.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. 3. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. barang kiriman. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. barang gasi dan barang kiriman. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. sejak pengangkut cek in di Bandara. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. pengangkutan barang dan bagasi. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. tas wanita. kesalahan navigasi. 2. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. sistem ini berlaku untuk penumpang. bagasi tangan. ia hanya mengirimkan baranag. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat. Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. seperti dompet. tustel. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita. 4. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. barang bagasi. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. . Penumpang dengan bukti angkutan tiket.

dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. kesalahan pengangkut. b) Prinsip Non limitation of liabilities. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. berlaku pada saat overmacht. memperlambat. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab. berat 5 kg. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. lebih dari itu didenda 1% tiket. kesalagan dari penumpang juga. kemungkinan: a. Masinis kereta hanya menjalankan. secara limit b. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada. baru kereta boleh jalan. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. 48 . 2. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. Barang bagasi berat antara 20-30 kg. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas. Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. Contohnya barang bagasi tangan. • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. macam transportasi). • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. 2.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful