Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. 2. atau sama sekali tidak. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. memuat janji yang seperti itu. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . tidak boleh menariknya kembali. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. bukan pada pihak yang dirugikan. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu. c. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang. terlambat sampainya ditempat tujuan. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. Bagaimanapun juga. Pihak b.

Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD). Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. F. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. Pasal 1245 KUH Per menentukan. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal. dll. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. miring. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. B. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. Bab V. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. c. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. Diatur dalam KUHD Buku I. pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. E. D. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). C. b. Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. paling banter dia dapat menjadi saksi. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Menurut Purwosutjipto. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Bagian Pasal 85 – 90.

Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga. tabrakan kapal. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. Misalnya buah. pemberontakan. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. c. penyamun. penawanan. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. kutu. perampasan. 2. pengepakan kembali. mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. angin. penyimpanan. dll. lebih lama dalam perjalanan. lazim disebut "deviation". Sifat-sifat dari muatan sendiri. kapal kandas. pengepakan. sortasi. lapangan-lapangan. kerusuhan. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". gdombang. b. pencoleng. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. yang dapat merugikan dan merusak muatan. gunung es. serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). 3. kabut. pulau karang. Per-veeman. pengukuran. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. dll. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. pemogokan. binatang penggerek dan hama lainnya. segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. e. pencuri. penandaan. misalnya bajak laut. Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. perampok. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing"). Bencana alam Hal ini antara lain karena badai. sayur dan pada binatang. d. misalnya karena menjadi . yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. 2 Tahun 1969. dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. kilat.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice".

Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. yaitu : 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. 2. pasal 86 sampai dengan 90. yang meliputi kapal saja atau barang saja. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. Bab V. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. Bagian II. khusus: kerugian 2. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. misalnya. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring. yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. baik menutupnya. maupun melaksanakan. Di sini jelas. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. yang ahli dibidang yang bersangkutan. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain. 3. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. . Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD. segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). Buku I. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama.

bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. hanya kadang kala saja. Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi." . maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving). kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan. Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas. dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim. yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. Jadi. Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. yaitu ekspeditur insidentil. tetapi provisi. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Di antara para perantara pengangkutan. bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). Kemungkinan juga ada. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim.

c. bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. f. yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. barang-barang tersebut. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. Sebagai penyimpan barang. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER). Sebagai pemegang kuasa. Sebagai yang telah diketahui. pasal 1694 dsl. Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer). KUHD). Sebagai pengusaha. b. Register dan surat muatan. ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). b. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER). KUHPER.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. Untuk melaksanakan amanat pengirim. bea cukai dan lain-lain. pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD). KUHPER. Hak retensi. Sebagai komisioner. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. Kecuali register harian tersebut di atas. e. c. maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. d. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. penyelenggara urusan (menurut arrest H. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka.R. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. e. d. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim. Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER).

kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. Dia harus membayar uang angkutan. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur. bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. maka. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). b. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. karena ada kerusakan atau kekurangan. sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. Tetapi dalam praktek. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi. Tetapi menurut pasal 88 KUHD. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. . artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). Kecuali itu. Polak dan Dorhout Mees. d.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. atau dia menolak untuk menerimanya. Dan selanjutnya. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. maka sebagai juga pengangkut. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. Misalnya. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat.

maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer). apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. . sedangkan si pengirim adalah sl penjual. Kesulitan persoalan ini ditambah pula. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri. Dalam hal inikesulitan hanya ada. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. maka disitulah letak kepentingannya. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. yang pada umumnya bukan si pengirim. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. Untung juga. Jadi. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. bila penerima tidak menggunakan haknya. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. jadi. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967. kesulitan itu tidak akan terjadi.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan. (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum. Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. Pada pengangkutan dengan konosemen. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri.

Selanjutnya. 1616 KUHPER. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. 1. sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan." Kecuali itu. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD. Dari itu.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. perbedaan antara ekspeditur.. cetakan tahun 1976. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. halaman 1089). karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. bila ada yang membutuhkan. Kecuali sifat pelayanan berkala. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. Purwosutjipto memperkirakan. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain.d. H. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. misalnya: pasal 93. perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. Sudah tentu. a. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi. Menurut Dorhout Mees. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. Pemberian jasa itu diberikan. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri. Mengenai pengusaha jenis ini. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui . tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri.R. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. maupun di luarnya. Poerwadarminta. pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan. b. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s.pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. yaitu: Pemberian kuasa. Jadi. 2. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap. tetapi tidak. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan.

sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. KUHPER). apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. yaitu : a. maka di sini timbul persoalan. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian. Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. dalam hal isi itu tidak ada. Persoalan timbul. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi.Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. LN 1969-2). sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. yang dilakukan oleh pengangkut lain. . sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. pelayanan berkala. Jadi. di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. ditambah lagi dengan uang provisi. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. yang terjadi dari pengangkutan pertama. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. perbuatan itu kadang kala saja. terletak dalam trayeknya. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). paling banter dia dapat menjadi saksi. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. kita menghadapi seorang pengusaha transpor. b. maka terletak dalam maksud mereka. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor. baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. pemegang kuasa. sebab perbuatan itu baru dilakukan. di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. PP No 2 Tahun 1969. Persoalan lain timbul. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua.

agen duane. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. apakah pengusaha kapal. tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. tetapi kalau sudah ada dalam kapal. Jadi. dan pengatur muatan. perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya. per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. Dengan ini lain. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. pengusaha transpor. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. hanya kadang kala saja. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. Jadi. ada yang mudah pecah dan lain- . sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. b. Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup. PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. tidak termasuk perusahaan kapal. kapal. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. maka mereka kembali ke induk perusahaannya.dan uitklaring". pemilik barang. pencarter atau lain-lainnya. pelayanan berkala.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. pemberi kuasa. sebab dia bertindak sebagai makelar. KUHD). SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). bila dibutuhkan. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya. makelar. makelar. tergantung siapa yang memberi amanat. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan.

misalnya di bidang pengangkutan udara. sortasi. penyimpanan. Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengepakan kembali. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. 1969. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja.jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. perusahaan-perusahaan milik warga negara R.I. pengukuran. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. pasal 32). yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. pengepakan. pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 . pengukuran. di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. lapangan-lapangan. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). No 122/Kp/VI/70. pengusaha transpor dan agenduane. b. pengepakan. pengepakan kembali. PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur. sortasi. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. lapangan-lapangan. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969. tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. yang memiliki izin impor/ekspor. penyimpanan. Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut".

boomzaken dan lain-lain. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan. tanggal 8 Juni 1970).000. alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. d. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan. barang. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. diangkut b. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3.000. perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang. SK Menteri Perdagangan R. No 122/Kp/VI/70.- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan.Rp 2. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan. Pengepakan. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang. Rp 3.000. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas.000. e. pengepakan kembali. c. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969). c. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ . penyimpanan. ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang. Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a.000.000. tanggai 8 Juni 1970). Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas. yang pengangkutan. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b.I.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

5. Lalu lintas adalah gerak kendaraan.S. 3. 1.H. 2. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. orang. 4. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 . Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. dan hewan di jalan. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi. M. S. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Angkutan Darat  UU No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 6..

Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. nyaman dan efisien. jalan perkebunan. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. dll. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. e. Pasal 4 1. 2. untuk menunjang pemerataan. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. peranan. Pasal 8 1. yaitu jalan inspeksi minyak gas. 2. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. 22 f.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. 9.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. d. b. jalan dibagi dalam beberapa kelas. alat pengawasan dan pengamanan jalan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. keamanan. Untuk keselamatan. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. 2. fungsi. 8. tertib dan teratur. jalan komplek Unsoed. kapasitas lalu lintas. yang berada di jalan dan di luar jalan. lancar. mampu memadukan moda transportasi lainnya. 10. alat pemberi isyarat lalu lintas. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. c. rambu-rambu. Penjelasan: . menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. baik untuk angkutan orang maupun barang. marka jalan. aman. 2. jalan wajib dilengkapi dengan : a. dan kelas jalan. cepat. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi. pertambangan. misalnya jalan inspeksi pengairan. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu.

kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. tata ruang. c. di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. agar f. parkir dan halte. kapasitas. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki. 2. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Pasal 10 1. d. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. huruf. dan delinator e. serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. yang digunakan untuk memberikan peringatan. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. angka. 3. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ayat (2). Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . 3. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. garis melintang. untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. larangan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan.

3. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. 4. badan hukum Indonesia. 3. . Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. Setiap kendaraan bermotor. keamanan. kereta gandengan. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. masa berlaku. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. tata cara pengujian. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. atau warga negara Indonesia. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ketertiban. kereta tempelan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Untuk menunjang keselamatan. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. pada umumnya. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. misalnya katup penyelamat. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. Setiap kendaraan bermotor. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. kereta gandengan. 3. 3. Persyaratan. 2. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1.

2. dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Pasal 19 1. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. 3. Pasal 18. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. wajib memiliki surat izin mengemudi. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Setiap pengemudi kendaraan bermotor. 2. dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. 2. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. keamanan. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. Penggolongan. keamanan. 2. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14. Pemerintah. pemeriksaan tanda bukti lulus uji. persyaratan. maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 . perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. dan lain-lain yang diperlukan. b. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Untuk keselamatan. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. masa berlaku.

tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. d. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. menghentikan kendaraannya. c. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. alat pemberi isyarat lalu lintas. b. penggunaan kendaraan bermotor. c. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. gerakan lalu lintas. wajib : a. rambu-rambu dan marka jalan. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. Pasal 23 1.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. e. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat.Pengemudi a. atau tanda bukti lain yang sah. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. dan tanda bukti lulus uji. 2. b. kendaraan bermotor di jalan. 2. surat izin mengemudi. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. berhenti dan parkir.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. tata cara mengangkut orang dan barang. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan. . peringatan dengan bunyi dan sinar. wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. kecepatan maksimum dan/atau minimum. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 33 1. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban. Setiap pengemudi. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan. 2. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. 2. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. ditetapkan oleh Pemerintah. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. Pasal 31 1. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. c. 2. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. Pasal 44 . Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. Pasal 30 1. 2. pemilik. Apabila korban meninggal. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang.

dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. pengirim barang atau pihak ketiga. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. jalan kabupaten. 3. Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. diselenggarakan oleh pemerintah. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. Pasal 46 1. 4. di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. pengangkut tidak punya hak retensi. Pasal 48 1. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. Pasal 45 1. Jalan umum adalah jalan yang dibuat. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. 28 . Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. 2. Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No. pengirim barang atau pihak ketiga. 3. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

 Dalam pasal 3 UU No. Contohnya sebra cross.   berada di permukaan jalan). Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. Contoh: jalan inspeksi pengairan. yang dimaksud adalah jalan umum. Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense). o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. kompleks perumahan. kaca tanggul cembung. ia naik kerete sampai di jakarta. as jalan.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan).  Jalan untuk kelancaran. dsb. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. contohnya adalah jalan arteri. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten.  Dalam UU tersebut. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. jalan pedesaan. 14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”. badan.  angkut dilunasi. kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita. 29 . Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No. selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. jalan tol.   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi. misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan.

Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1. Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol. tidak putus walaupun masuk /jam. kapasitas > dari volume lalin rata-rata. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.  = 8m .  = 5m .  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi.  tujuan yang sama. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres. Menhub. harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. V = 30 km lalin rata-rata. tidak putus walaupun masuk kota. lalin lokal atau kegiatan lokal. Jalan lokal primer. V = 20 km /jam. Jalan kolektor sekunder. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada. km Jalan lokal sekunder. V = 10 km /jam. Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. Jalan arteri sekunder.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada. jalan masuk Atas usul Menteri. tidak putus walaupun masuk kota. Jalan Tol   UU No. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam . V ≥ 40 /jam. kapasitas > dari volume kota. 3.  = 5m . untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. termasuk jalan desa. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada.  ≥ 7 m . V = 20 /jam. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol. 2.  = 7 m . Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. Pasal 14 30 . lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. rata-rata.  = 8m . Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jalan masuk dibatasi. maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol.

”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. Dilarang memasuki Jalan Tol. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel. 4. . 2. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 4. Pasal 19 1. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. 3. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. prasarana. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No. 3. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. diserahkan penyelenggaraannya. 2. dalam pasal 4. Pembinaan perkretaapian. ayat (2). Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. 3. 3. 2. Petugas Jalan Tol. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. 2.

dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Pasal 9 1. daerah milik jalan. dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. Pasal 7 1. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. 2. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. 2. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Contohnya: westing house. Pasal 12  Prasarana dan sarana. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Dilarang membangun gedung. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. 2. BAB V 1. Pasal 14 1. Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. . Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. 1. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. 3. pertambangan. pagar. membuat tembok. pertanian.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api. 32 Pasal 8 1. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. tanggul dan bangunan lainnya.

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. Pasal 15 1. b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. terusan. 2. 2. 33 . berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut oleh Menteri. jalur kereta api khusus. Pembangunan jalan. 2. Pasal 17 1. Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. Pasal 18  Biaya Angkutan. BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun.diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. selain untuk angkutan kereta api. 2. 3. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. Pasal 19 1. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain.

Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. mengganggu perjalanan kereta api.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. 34 . Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. 2. b. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. 2. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. Pasal 28 1. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a. badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. wajib diangkut oleh badan penyelenggara. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diberikan dengan ketentuan: a.

bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan. 5 Tahun 1995.  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian. demikain juga berdasarkan PP no. Hal ini hanya merupakan alasan teknis.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. kereta tersebut menempuh jarak 200m. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. POS Weselpos. Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. dasarnya pasal 1320 BW. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT.  diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain. POS   UU No. Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang. pendiriannya dibuat oleh notaris.  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. sama dengan pengusaha angkutan. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 .   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. dengan cek pos. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih). 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan.

BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. dan bungkusan kecil. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. 11. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos. surat-kabar. 3. dan kartupos untuk pihak ketiga. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. sekogram. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. warkatpos. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. 4. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. paket. 5. 7. warkatpos. 10. barang-cetakan. uang. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. termasuk perwakilan atau pegawainya. yang menerima. 4. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. 6. 8. 2. badan yang bertugas menerima. 9. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. 2. membawa dan/atau menyampaikan surat. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. barang. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. kartupos. 12. 13. membawa dan/atau menyampaikan surat. 36 . Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. 3. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. warkatpos. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. 2. 2. 3. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. Pos diselenggarakan oleh negara. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu.

Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1. Setiap perusahaan angkutan darat. 3.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan. berat. Pasal 5 1.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 3.tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. 11. Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2. 8. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 4. 4. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut. 2. atau yang buntu karena sesuatu sebab. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara. 10. laut. pemeriksaan. 7.klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. dan isi kiriman. Menteri menetapkan : a.pembebasan tarif pos.perincian penyelenggaraan pos. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam. Pasal 10 37 prangko. b. keadaan darurat.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. 5.batas ukuran. dan media telekomunikasi untuk umum.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim. laut. udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5. 9. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim. udara. atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia. 6. 2. .persyaratan dan 1. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Pembukaan.

dilarang. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. c. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. 3. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim. c. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. 4. b.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. atau keselamatan orang. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b. ditetapkan oleh Menteri. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. b. dan 3. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. dan 12. dikirim dengan harga tanggungan. 7. 2. b. 5. Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. tanggungan. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos. manusia. c. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. keadaan darurat.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. 6. 2. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. Pasal 12 1. kiriman-pos.

Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. 15 Tahun 1992  Pasal 1. Ilmu Pengetahuan.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia. 5 Tahun 1985. 15 Tahun 1992. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1. 1939 No. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara. mengatur personil. Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. Stb. 149 Jo. pesawat udara. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan. 3. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan. 2. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. 2. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. seperti penerbangan. angkutan udara. 1939 No.  Luchtvaartquorantieue ordonantie. pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain.  Perjanjian Roma 29 Mei 1933. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan. dan 2. menerima setoran. UU No.  Verordening Toesicht Luchtvaart. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. sudah tidak berlaku sejak ada UU No. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. Stb. mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. . namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). 1936 No. menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. Stb. Peraturan  UU No. 1939 No. 1936 No. syaratsyarat jasmani rokhani. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. keamanan Pengangkutan Udara  1. Stb. 3. bandar udara.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 7. dapat terbang dengan sayap berputar. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. 5. dan pos untuk satu . 9. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 4. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. 15. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 3. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 6. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. 13. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. 12. dan bergerak dengan tenaganya sendiri. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 8. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 2. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara. 11. 14. naik turun penumpang. kargo. bersayap tetap. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. 10. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara.

dimiliki oleh instansi Pemerintah. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. 2. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. 2. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. 3. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. Pasal 11 1. c. hukum Indonesia. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. d. . sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. 2. b. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. Dalam penjelasan ayat 1. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. 2. pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan.

Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Pasal 19 1. 2. Pasal 15 1. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. . Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. 3. BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. 4. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. 3. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah. 3. penumpang dan barang. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. 2. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 2. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 1. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah.

Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. Pasal 23 1. meteorologi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. . Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. perakitan. Air Bus. pembuatan rancang bangun. perencanaan. Demikian juga di medan. keselamatan penerbangan. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. 2. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen. 2. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. Selama bersangkutan terbang. pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. boing 747. bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. 3. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Menurut penjelasan pasal ini. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. 3. Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. Pasal 22 1. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. pembuatan. perawatan. dll karena lokasinya yang dekat gunung. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. Dalam rangka keselamatan penerbangan. Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. Penentuan lokasi. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. Misalnya. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun.

mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. jasa perawatan pada umumnya. 2. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. hanggar. Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. 2. Pengadaan. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. 4. kargo/pas dibandara lain hotel. ayat (2). Bandara Milik Misionaris. 2. Pasal 27 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Pasal 33 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 . Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. pengoperasian. parkir. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. 3. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. toko gudang. jasa boga. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. naiuk-turunya pesawat haji.

wajib mengangkut orang dan/atau barang. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. mengubah letak pesawat udara. 2. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. Perusahaan angkutan udara niaga. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. ditetapkan oleh Pemerintah. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. 45 . 2. 3. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. setelah disepakati perjanjian pengangkutan. Pasal 41 1. 2. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. 2. Pasal 37 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. 3. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. Pasal 38 1.

keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). dianggap sebagai satu pengangkutan udara. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. Ditinjau secara yuridis. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. 2. Pasal 44 1. 2. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 43 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. . Pasal 45 Pasal 42 1. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. hilang atau rusaknya barang yang diangkut. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. c. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. 2. b. musnah. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan.

sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. ia hanya mengirimkan baranag. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. 3. sejak pengangkut cek in di Bandara. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. pengangkutan barang dan bagasi. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. kesalahan navigasi. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. barang bagasi. untuk penerbangan perintis 15 kg. 2. . tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. tustel. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. tas wanita. 2. 4. Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. bagasi tangan. seperti dompet. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita. barang gasi dan barang kiriman. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. Penumpang dengan bukti angkutan tiket. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. sistem ini berlaku untuk penumpang. 2. barang kiriman. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat.

b) Prinsip Non limitation of liabilities.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. 48 . • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang. Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. 2. memperlambat. o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. macam transportasi). Barang bagasi berat antara 20-30 kg. a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. Masinis kereta hanya menjalankan. • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. kemungkinan: a. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). baru kereta boleh jalan. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. Contohnya barang bagasi tangan. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab. lebih dari itu didenda 1% tiket. kesalagan dari penumpang juga. kesalahan pengangkut. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. berat 5 kg. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. secara limit b. berlaku pada saat overmacht. 2. dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful