Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

c. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. Pihak b. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. atau sama sekali tidak. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. bukan pada pihak yang dirugikan. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. 2. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. Bagaimanapun juga. memuat janji yang seperti itu. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. tidak boleh menariknya kembali. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. terlambat sampainya ditempat tujuan.

Menurut Purwosutjipto. F. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. dll. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. Bagian Pasal 85 – 90. E. b. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. Bab V. miring. Diatur dalam KUHD Buku I. paling banter dia dapat menjadi saksi. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian. B. pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. Pasal 1245 KUH Per menentukan. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. c. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal. Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD). Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. D. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. C.

pemogokan. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. 2 Tahun 1969. c. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. e. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. b. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". sayur dan pada binatang. Sifat-sifat dari muatan sendiri. penandaan. pengukuran. Misalnya buah. serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. kabut. perampok. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. perampasan. sortasi. misalnya karena menjadi . Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. pencuri. misalnya bajak laut. lazim disebut "deviation". termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. lapangan-lapangan. pulau karang. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga. Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. kutu.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. 3. angin. segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. penyamun. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". d. gunung es. lebih lama dalam perjalanan. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. pengepakan. penyimpanan. Per-veeman. gdombang. kerusuhan. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. binatang penggerek dan hama lainnya. pengepakan kembali. dll. kilat. dll. pemberontakan. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. pencoleng. antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing"). yang dapat merugikan dan merusak muatan. mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. tabrakan kapal. dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. 2. penawanan. kapal kandas. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. 2. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan. misalnya. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja. Bab V. pasal 86 sampai dengan 90. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Di sini jelas. Buku I. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. maupun melaksanakan. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). baik menutupnya. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. Bagian II. . bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. 3. yang ahli dibidang yang bersangkutan. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. khusus: kerugian 2. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. yaitu : 1. Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring. barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. yang meliputi kapal saja atau barang saja. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain.

kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan. yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). Di antara para perantara pengangkutan. Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving). sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas. yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). yaitu ekspeditur insidentil. Kemungkinan juga ada. Jadi. SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim. biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi. di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). tetapi provisi. karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur." . 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. hanya kadang kala saja. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut.

Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. c. yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). d. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas. barang-barang tersebut. Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. KUHPER. Register dan surat muatan. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka. penyelenggara urusan (menurut arrest H. Hak retensi. d. Sebagai pemegang kuasa. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. c. maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. b. Untuk melaksanakan amanat pengirim. f. Sebagai penyimpan barang. e. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD).R. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER). Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer). pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. bea cukai dan lain-lain. Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. Sebagai komisioner. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim. b. juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER). Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER). KUHPER. KUHD).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. e. pasal 1694 dsl. Kecuali register harian tersebut di atas. Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. Sebagai yang telah diketahui. Sebagai pengusaha. bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl.

pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. b. dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. Tetapi dalam praktek. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. Misalnya. Kecuali itu. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). maka sebagai juga pengangkut. Polak dan Dorhout Mees. Tetapi menurut pasal 88 KUHD. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). Dia harus membayar uang angkutan. maka. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. . artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. atau dia menolak untuk menerimanya. bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). Berbeda dengan pengangkut laut dan udara. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut. kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. Dan selanjutnya. d. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. karena ada kerusakan atau kekurangan. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat. maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan.

Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. sedangkan si pengirim adalah sl penjual.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. maka disitulah letak kepentingannya. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967. Untung juga. maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. kesulitan itu tidak akan terjadi. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. Jadi. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. . sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. jadi. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. bila penerima tidak menggunakan haknya. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. Dalam hal inikesulitan hanya ada. yang pada umumnya bukan si pengirim. Kesulitan persoalan ini ditambah pula. bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Pada pengangkutan dengan konosemen. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer).

1. perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. Kecuali sifat pelayanan berkala. Sudah tentu." Kecuali itu. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. maupun di luarnya. Jadi. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. 1616 KUHPER. karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. bila ada yang membutuhkan. pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri.d. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. Dari itu. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. tetapi tidak. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan. perbedaan antara ekspeditur. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. 2." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. Mengenai pengusaha jenis ini. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT. Pemberian jasa itu diberikan. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui . Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan.R. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor. b. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD. cetakan tahun 1976. a. Purwosutjipto memperkirakan. yaitu: Pemberian kuasa. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Poerwadarminta. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain. sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan. halaman 1089).pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan. Selanjutnya. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap.. Menurut Dorhout Mees. misalnya: pasal 93. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. H. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala.

yaitu : a. PP No 2 Tahun 1969. Persoalan lain timbul. yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama. sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). b. terletak dalam trayeknya. kita menghadapi seorang pengusaha transpor. sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. dalam hal isi itu tidak ada. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. ditambah lagi dengan uang provisi.Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. Persoalan timbul. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. pemegang kuasa. sebab perbuatan itu baru dilakukan. maka terletak dalam maksud mereka. sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. KUHPER). Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. LN 1969-2). apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). yang terjadi dari pengangkutan pertama. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. perbuatan itu kadang kala saja. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. yang dilakukan oleh pengangkut lain.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua. maka di sini timbul persoalan. .Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. paling banter dia dapat menjadi saksi. ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. Jadi. pelayanan berkala. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor.

kapal. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. hanya kadang kala saja. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. pencarter atau lain-lainnya. sebab dia bertindak sebagai makelar. makelar. Jadi. sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. KUHD). Dengan ini lain. maka mereka kembali ke induk perusahaannya. tetapi kalau sudah ada dalam kapal. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar. agen duane. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain. apakah pengusaha kapal. pemberi kuasa. PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup. Jadi. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. makelar. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut.dan uitklaring". perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. pemilik barang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. dan pengatur muatan. b. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan. tidak termasuk perusahaan kapal. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. tergantung siapa yang memberi amanat. ada yang mudah pecah dan lain- . pengusaha transpor. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap. bila dibutuhkan. pelayanan berkala. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a.

pengukuran. PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). pengepakan. penyimpanan. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. pengepakan kembali. yang memiliki izin impor/ekspor. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969.I. sortasi. pengepakan kembali. di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api.jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. b. No 122/Kp/VI/70. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 . pengepakan. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. penyimpanan. misalnya di bidang pengangkutan udara. Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. pasal 32). 1969. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengukuran. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. lapangan-lapangan. perusahaan-perusahaan milik warga negara R. maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur. yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. lapangan-lapangan. tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. sortasi. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengusaha transpor dan agenduane. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut".

- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. diangkut b. tanggai 8 Juni 1970). pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5.000. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. e. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang.000. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan. Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a.Rp 2.000. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas. ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang. No 122/Kp/VI/70. barang.I. boomzaken dan lain-lain. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. Pengepakan. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan. SK Menteri Perdagangan R. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969).000. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70.000. Rp 3. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ . perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan. penyimpanan. pengepakan kembali. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas. d. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b. c. c. yang pengangkutan. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang.000. tanggal 8 Juni 1970).

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. M. orang. yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi.H. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. Lalu lintas adalah gerak kendaraan. Angkutan Darat  UU No. 6. dan hewan di jalan. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. 4. 2. 1. S. Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 . Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan.. 5. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor.S. 3. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.

dll. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. alat pengawasan dan pengamanan jalan. cepat. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. Pasal 8 1. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. misalnya jalan inspeksi pengairan. mampu memadukan moda transportasi lainnya. 10. c. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan. penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. 2. nyaman dan efisien. aman. jalan wajib dilengkapi dengan : a. baik untuk angkutan orang maupun barang. 22 f. tertib dan teratur. Penjelasan: . jalan dibagi dalam beberapa kelas. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. pertambangan. yang berada di jalan dan di luar jalan. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. 8. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. 9. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. jalan komplek Unsoed. untuk menunjang pemerataan. yaitu jalan inspeksi minyak gas. alat pemberi isyarat lalu lintas. e. dan kelas jalan. 2. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. kapasitas lalu lintas. menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. marka jalan. keamanan. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 4 1. d. 2.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. Untuk keselamatan. 2. fungsi. jalan perkebunan. peranan. b. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. rambu-rambu.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. lancar. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air.

c. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. tata ruang. 3. serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . larangan. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. d. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. 2. kapasitas. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. b. huruf. garis melintang. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. 2. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. Pasal 10 1. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. 3. ayat (2). untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. angka. ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. parkir dan halte. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. agar f. yang digunakan untuk memberikan peringatan. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki. dan delinator e. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan.

Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. Setiap kendaraan bermotor. atau warga negara Indonesia. masa berlaku. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. tata cara pengujian. 3. Untuk menunjang keselamatan. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. Persyaratan. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. kereta tempelan. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. 2. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor. 2. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. ketertiban. 3. 3. kereta gandengan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pada umumnya. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. keamanan. Setiap kendaraan bermotor. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. 4. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. 2. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. . misalnya katup penyelamat. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. kereta gandengan. 3. badan hukum Indonesia.

Pasal 14. surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Untuk keselamatan. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 . Pasal 18. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. keamanan. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. persyaratan. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. wajib memiliki surat izin mengemudi. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. Penggolongan. 2. masa berlaku. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. keamanan. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi. Pasal 19 1. dan lain-lain yang diperlukan. 2. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). 2. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. pemeriksaan tanda bukti lulus uji. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pemerintah. perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. 3. dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. 2. b. Setiap pengemudi kendaraan bermotor.

wajib : a. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat. peringatan dengan bunyi dan sinar. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor. alat pemberi isyarat lalu lintas. 2. surat izin mengemudi. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. rambu-rambu dan marka jalan. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. c. tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. b. d. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 23 1. c.Pengemudi a. . mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. penggunaan kendaraan bermotor. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. e. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. kecepatan maksimum dan/atau minimum. atau tanda bukti lain yang sah. wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. berhenti dan parkir. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. kendaraan bermotor di jalan. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. menghentikan kendaraannya. dan tanda bukti lulus uji. 2. menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. tata cara mengangkut orang dan barang. gerakan lalu lintas. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah.

2. pemilik. c. 2. ditetapkan oleh Pemerintah. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. 2. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. Pasal 31 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. 2. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 44 . 2. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. Pasal 33 1. Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pengemudi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Pasal 30 1. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. Apabila korban meninggal.

14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 2. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. 2. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Pasal 45 1. Jalan umum adalah jalan yang dibuat. pengangkut tidak punya hak retensi. pengirim barang atau pihak ketiga. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 48 1. jalan kabupaten. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. 3. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. 28 . apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. pengirim barang atau pihak ketiga. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. 4. diselenggarakan oleh pemerintah. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. Pasal 46 1. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No. adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang.

misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan. Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. ia naik kerete sampai di jakarta. contohnya adalah jalan arteri.  Dalam pasal 3 UU No. yang dimaksud adalah jalan umum. jalan tol. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense).   berada di permukaan jalan). as jalan. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan). dsb. Contoh: jalan inspeksi pengairan. o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal. selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni.  Jalan untuk kelancaran. Contohnya sebra cross. jalan pedesaan. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. kompleks perumahan. kaca tanggul cembung. kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita. Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. badan. 14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”.  Dalam UU tersebut. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok.  angkut dilunasi. 29 .   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi.

 = 8m . Jalan Tol   UU No. Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada.  = 5m . termasuk jalan desa. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer. Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam . V ≥ 40 /jam.  = 5m . Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. Jalan masuk dibatasi. 13 Tahun 1980 tentang Jalan.  tujuan yang sama. tidak putus walaupun masuk /jam. tidak putus walaupun masuk kota. tidak putus walaupun masuk kota. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. 2. Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada. lalin lokal atau kegiatan lokal. Pasal 14 30 . kapasitas > dari volume kota. maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. km Jalan lokal sekunder.  = 8m . V = 20 /jam. Jalan arteri sekunder. V = 20 km /jam. Jalan kolektor sekunder. lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. Menhub. jalan masuk Atas usul Menteri. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol. 3.  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. V = 30 km lalin rata-rata. Jalan lokal primer.  ≥ 7 m . Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat.  = 7 m . rata-rata. V = 10 km /jam. kapasitas > dari volume lalin rata-rata. Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada.

4. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. prasarana. Dilarang memasuki Jalan Tol. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. dalam pasal 4. . diserahkan penyelenggaraannya. Petugas Jalan Tol. 4.”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. 3. Pembinaan perkretaapian. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. 2. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. 2. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak. 3. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. ayat (2). Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. 3. Pasal 19 1. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. 2. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya.

Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. pertambangan. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. 3. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 7 1. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Contohnya: westing house. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. 3. Pasal 14 1. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. . Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. BAB V 1. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. 2. pagar. Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). daerah milik jalan. Dilarang membangun gedung. Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. pertanian. membuat tembok. 1. 32 Pasal 8 1. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. tanggul dan bangunan lainnya. terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. 2. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. 3. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api. 2. 2. Pasal 9 1. Pasal 12  Prasarana dan sarana.

2. Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. Pasal 18  Biaya Angkutan. 33 . 2. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). terusan. Pasal 15 1. selain untuk angkutan kereta api. 2. diatur lebih lanjut oleh Menteri. saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang. BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. jalur kereta api khusus. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. Pasal 17 1. Pasal 19 1. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun. Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara. c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain. e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. Pembangunan jalan. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3.

penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. diberikan dengan ketentuan: a. 2. Pasal 28 1. wajib diangkut oleh badan penyelenggara. 2. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati. c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. mengganggu perjalanan kereta api. 34 . Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. b. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a.

 diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. kereta tersebut menempuh jarak 200m. sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain.  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan. namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan. POS Weselpos. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. sama dengan pengusaha angkutan. pendiriannya dibuat oleh notaris. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Hal ini hanya merupakan alasan teknis.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih).  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. demikain juga berdasarkan PP no. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 . 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank. POS   UU No.  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang. 5 Tahun 1995. dengan cek pos.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api.   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. dasarnya pasal 1320 BW. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian.

warkatpos. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. dan bungkusan kecil. 8. badan yang bertugas menerima. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. barang-cetakan. warkatpos. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. 13.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. yang menerima. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. barang. 2. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. 9. 10. 6. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. 12. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. 5. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. Pos diselenggarakan oleh negara. sekogram. uang. warkatpos. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 4. 36 . membawa dan/atau menyampaikan surat. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. 2. 3. 2. 3. paket. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. 11. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. membawa dan/atau menyampaikan surat. 3. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. 2. termasuk perwakilan atau pegawainya. kartupos. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. surat-kabar. 4. Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. dan kartupos untuk pihak ketiga. 7. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos.

tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. berat. udara. 4.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat. 3. 5. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. udara. Pembukaan. 2. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. Setiap perusahaan angkutan darat.pembebasan tarif pos. 2. 11.batas ukuran.perincian penyelenggaraan pos. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3).klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. keadaan darurat. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang. 4. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam. dan isi kiriman.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim. 6. atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 7. 2. 10. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. laut. pemeriksaan. . Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima. dan media telekomunikasi untuk umum. Menteri menetapkan : a. 8. atau yang buntu karena sesuatu sebab. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5. Pasal 10 37 prangko. 2. laut. 9.persyaratan dan 1. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut. 3.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). b. Pasal 5 1. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan.

untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. c. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim. tanggungan. ditetapkan oleh Menteri. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan. c. sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini. b. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. dilarang. melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. 7. manusia. dan 12. dan 3. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. b. kiriman-pos. 5.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan. 2. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. 4. 2. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali. dikirim dengan harga tanggungan. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. atau keselamatan orang. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. b. Pasal 12 1. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. 6. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. 3. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. c. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. keadaan darurat.

 Perjanjian Roma 29 Mei 1933. 3. 149 Jo. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia.  Luchtvaartquorantieue ordonantie.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. keamanan Pengangkutan Udara  1. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. Stb. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. . sudah tidak berlaku sejak ada UU No. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. mengatur personil. 5 Tahun 1985. 1939 No. bandar udara. pesawat udara. 15 Tahun 1992. 1939 No. angkutan udara. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. seperti penerbangan. menerima setoran. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. 1939 No. Stb. Stb. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. 1936 No. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan. Ilmu Pengetahuan. pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. 15 Tahun 1992  Pasal 1. namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. dan 2. 1936 No. Stb. UU No. 2.  Verordening Toesicht Luchtvaart. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara. dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. syaratsyarat jasmani rokhani. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. Peraturan  UU No. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan. 3.

Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. naik turun penumpang. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. 6. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 3. 5. 4. dapat terbang dengan sayap berputar. 7. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. 12. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. bersayap tetap.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. 8. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 11. dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. 2. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 13. 15. kargo. dan bergerak dengan tenaganya sendiri. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. 14. dan pos untuk satu . 10. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 9.

Dalam penjelasan ayat 1. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. 2. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. 2. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. b. 3. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. hukum Indonesia. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. dimiliki oleh instansi Pemerintah. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. . Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. d. Pasal 11 1. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. c. pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata.

BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. 1. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2. 4. . Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. 3.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. 3. 2. Pasal 15 1. penumpang dan barang. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. 2. Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. Pasal 19 1. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

boing 747. pembuatan. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pembuatan rancang bangun. . 2. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. Demikian juga di medan. perencanaan. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. 2. perakitan. Pasal 23 1. Menurut penjelasan pasal ini. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Misalnya. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). Air Bus. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. Selama bersangkutan terbang. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. perawatan. Dalam rangka keselamatan penerbangan. 2. Penentuan lokasi. Pasal 22 1. meteorologi. Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. 2. 3.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. 3. pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. keselamatan penerbangan. Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. dll karena lokasinya yang dekat gunung. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen.

3. Bandara Milik Misionaris. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kargo/pas dibandara lain hotel. Pasal 33 1. bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. 2. Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. jasa boga.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. toko gudang. 3. bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. ayat (2). hanggar. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Pengadaan. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. 4. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pasal 27 1. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU. parkir. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. naiuk-turunya pesawat haji. pengoperasian. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. jasa perawatan pada umumnya. bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 .

2. lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. Pasal 38 1. Pasal 37 1. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. Perusahaan angkutan udara niaga. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. 2. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. mengubah letak pesawat udara. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. ditetapkan oleh Pemerintah. 2. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. wajib mengangkut orang dan/atau barang. mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. 3. 3. Pasal 41 1. setelah disepakati perjanjian pengangkutan. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. 3. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 45 . 2. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 44 1. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. 2. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. c. 2. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. b. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya. hilang atau rusaknya barang yang diangkut. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. dianggap sebagai satu pengangkutan udara. Pasal 45 Pasal 42 1. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya. musnah. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. 3. . ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. Pasal 43 1. 2. Ditinjau secara yuridis.

barang gasi dan barang kiriman. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. bagasi tangan. barang kiriman. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). tustel. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. 2. untuk penerbangan perintis 15 kg. kesalahan navigasi. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat. sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. seperti dompet. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. 3. barang bagasi. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. sejak pengangkut cek in di Bandara. maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. pengangkutan barang dan bagasi. 2. sistem ini berlaku untuk penumpang. ia hanya mengirimkan baranag. Penumpang dengan bukti angkutan tiket. tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. 2. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. . 4. tas wanita.

Barang bagasi berat antara 20-30 kg. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. macam transportasi). dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. b) Prinsip Non limitation of liabilities. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. kesalahan pengangkut. Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1. Contohnya barang bagasi tangan. 2. • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang. 2. kemungkinan: a. baru kereta boleh jalan. kesalagan dari penumpang juga. lebih dari itu didenda 1% tiket. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). memperlambat. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. 48 . a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. secara limit b. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada. Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. berlaku pada saat overmacht.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Masinis kereta hanya menjalankan. mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. berat 5 kg. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful