Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. terlambat sampainya ditempat tujuan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1. c. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. 2. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. Pihak b. Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. tidak boleh menariknya kembali. memuat janji yang seperti itu. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. Bagaimanapun juga. bukan pada pihak yang dirugikan. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. atau sama sekali tidak. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut.

sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. D. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. paling banter dia dapat menjadi saksi. Bab V. dll. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal. b. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. miring. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. Pasal 1245 KUH Per menentukan. apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. B. E. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD). F. c. Menurut Purwosutjipto. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. Diatur dalam KUHD Buku I. C. pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. Bagian Pasal 85 – 90. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian.

pencuri. Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. perampasan. 2 Tahun 1969. pengepakan kembali. Per-veeman. Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. e. lebih lama dalam perjalanan. kilat. gunung es. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". kutu. adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. Sifat-sifat dari muatan sendiri. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. sortasi. 3. gdombang. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average". misalnya bajak laut. kerusuhan. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. lapangan-lapangan. pencoleng. penyimpanan. kabut. angin. misalnya karena menjadi . Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. perampok. Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. pulau karang. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. pemberontakan. kapal kandas. penawanan. binatang penggerek dan hama lainnya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. pengepakan. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga. penyamun. pemogokan. dll. d. baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. penandaan. dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing"). yang dapat merugikan dan merusak muatan. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. sayur dan pada binatang. Misalnya buah. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. dll. c. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. b. tabrakan kapal. lazim disebut "deviation". pengukuran. 2.

Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. 3. misalnya. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. khusus: kerugian 2. baik menutupnya. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. yang meliputi kapal saja atau barang saja." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. Bagian II. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). pasal 86 sampai dengan 90. sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. 2. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. yang ahli dibidang yang bersangkutan. Di sini jelas. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama. maupun melaksanakan. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. . Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. yaitu : 1. Buku I. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor). Bab V. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya. Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring.

Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. Jadi. Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap." . yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur. Di antara para perantara pengangkutan. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim. Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). hanya kadang kala saja. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. Kemungkinan juga ada. yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). tetapi provisi. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi. sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD. kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving). bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). yaitu ekspeditur insidentil. pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut). bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya.

barang-barang tersebut. Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. KUHPER. KUHPER. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka. bea cukai dan lain-lain. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). d. bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. c. Sebagai komisioner. yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. Sebagai pengusaha. c. TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). Sebagai penyimpan barang. pasal 1694 dsl. b. Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. Sebagai pemegang kuasa. begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD). Sebagai yang telah diketahui. seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . f.R. penyelenggara urusan (menurut arrest H. ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. KUHD). pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. Hak retensi. Untuk melaksanakan amanat pengirim. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER). Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer). Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER). Kecuali register harian tersebut di atas. Register dan surat muatan. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. e. e. d. b. Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER).

sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan. Tetapi dalam praktek. pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. Tetapi menurut pasal 88 KUHD. Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. b. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). Dia harus membayar uang angkutan. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat. atau dia menolak untuk menerimanya. Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. maka. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. . bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut. Misalnya. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. Kecuali itu. karena ada kerusakan atau kekurangan. pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. Polak dan Dorhout Mees. bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur. d. maka sebagai juga pengangkut. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Dan selanjutnya. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja.

maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. jadi. Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. . bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium. bila penerima tidak menggunakan haknya. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. maka disitulah letak kepentingannya. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri. (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. Pada pengangkutan dengan konosemen. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. Dalam hal inikesulitan hanya ada. sedangkan si pengirim adalah sl penjual. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer). Jadi. yang pada umumnya bukan si pengirim. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. Untung juga. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. kesulitan itu tidak akan terjadi. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri. di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu. Kesulitan persoalan ini ditambah pula. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967.

tetapi tidak. Sudah tentu. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim." Kecuali itu.. Selanjutnya. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Mengenai pengusaha jenis ini. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi. halaman 1089). perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan.pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui . sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. perbedaan antara ekspeditur. 2. a. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. Menurut Dorhout Mees. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri. H. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. Poerwadarminta. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. yaitu: Pemberian kuasa. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor.d. misalnya: pasal 93. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan. 1. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan. 1616 KUHPER. karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. Purwosutjipto memperkirakan. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. Dari itu. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap. maupun di luarnya. bila ada yang membutuhkan. Pemberian jasa itu diberikan.R. cetakan tahun 1976. Jadi. Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT. Kecuali sifat pelayanan berkala.

ditambah lagi dengan uang provisi. yang dilakukan oleh pengangkut lain. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. pemegang kuasa. PP No 2 Tahun 1969. Persoalan timbul. di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. yaitu : a. yang terjadi dari pengangkutan pertama. sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. . baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. dalam hal isi itu tidak ada. yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). Jadi. sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. KUHPER).Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. paling banter dia dapat menjadi saksi. pelayanan berkala. maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. Persoalan lain timbul. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. maka terletak dalam maksud mereka. di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor. apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. maka di sini timbul persoalan. apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. sebab perbuatan itu baru dilakukan.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama. perbuatan itu kadang kala saja. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. LN 1969-2). kita menghadapi seorang pengusaha transpor. b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. terletak dalam trayeknya. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut.

Dengan ini lain. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. pemberi kuasa. Jadi. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. Jadi. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. sebab dia bertindak sebagai makelar. pencarter atau lain-lainnya. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. bila dibutuhkan. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. makelar. perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. b. per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. tidak termasuk perusahaan kapal. sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. kapal. SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. KUHD). pemilik barang. makelar. Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. maka mereka kembali ke induk perusahaannya. dan pengatur muatan. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. agen duane. tetapi kalau sudah ada dalam kapal. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal. apakah pengusaha kapal. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. hanya kadang kala saja. pengusaha transpor. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. tergantung siapa yang memberi amanat. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar.dan uitklaring". Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. pelayanan berkala. sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. ada yang mudah pecah dan lain- .

tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. b. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969. Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan.I. pengepakan kembali. Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. pengusaha transpor dan agenduane. di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. penyimpanan. pengukuran. tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969. pengepakan. yang memiliki izin impor/ekspor. pasal 32). pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. 1969. penyimpanan. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 . yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). misalnya di bidang pengangkutan udara. pengukuran.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut". perusahaan-perusahaan milik warga negara R. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. sortasi. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur.jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur. lapangan-lapangan. pengepakan kembali. pengepakan. Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. sortasi. yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. lapangan-lapangan. yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. No 122/Kp/VI/70. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .000. penyimpanan. pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5. No 122/Kp/VI/70.000. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b. perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang.000. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan. yang pengangkutan. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud.000.000. tanggai 8 Juni 1970). Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a.I. c. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas. d. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. Rp 3.Rp 2. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. barang.000. diangkut b. Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. tanggal 8 Juni 1970). alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. e. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan. boomzaken dan lain-lain. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang. Pengepakan.- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969). ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2. pengepakan kembali. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan. c. SK Menteri Perdagangan R. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 . yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi. orang. 4.S. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. 6. M. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. Angkutan Darat  UU No.. 5. dan hewan di jalan. S. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. 3. 2. Lalu lintas adalah gerak kendaraan. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum. 1.H.

fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. Pasal 8 1. Pasal 4 1. baik untuk angkutan orang maupun barang. jalan wajib dilengkapi dengan : a. keamanan. Untuk keselamatan. c. pertambangan. jalan perkebunan. 2. yang berada di jalan dan di luar jalan. mampu memadukan moda transportasi lainnya. rambu-rambu. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. fungsi. yaitu jalan inspeksi minyak gas. 10. 2. 22 f. penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. nyaman dan efisien. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. 2. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. Penjelasan: . tertib dan teratur. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. e. peranan. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. alat pengawasan dan pengamanan jalan. b. jalan komplek Unsoed. alat pemberi isyarat lalu lintas. untuk menunjang pemerataan. dan kelas jalan. cepat.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. d. 9. 2. kapasitas lalu lintas. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. marka jalan. aman. lancar. dll. jalan dibagi dalam beberapa kelas. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. misalnya jalan inspeksi pengairan. 8. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan.

agar f. garis melintang. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan. huruf. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Pasal 10 1. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. 2. larangan. parkir dan halte. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki. untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. tata ruang. ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . kapasitas. yang digunakan untuk memberikan peringatan. b. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. d. 2. c. Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan. dan delinator e. 3. angka. serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. 3.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. ayat (2).

kereta gandengan. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. 2. 3. 3. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. ketertiban. 3. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. pada umumnya. kereta gandengan. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1. Setiap kendaraan bermotor. 2. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. atau warga negara Indonesia. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. kereta tempelan. 2. Untuk menunjang keselamatan. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. Persyaratan. misalnya katup penyelamat. .Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. masa berlaku. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. Setiap kendaraan bermotor. keamanan. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. 4. tata cara pengujian. badan hukum Indonesia. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor.

Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. persyaratan. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. Pemerintah. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. masa berlaku. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi. dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. dan lain-lain yang diperlukan. 2. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. keamanan. Pasal 18. maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 . Penggolongan. 2. Untuk keselamatan. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. Pasal 19 1. pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor. keamanan. 2. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. 2. surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. 3. 2. Setiap pengemudi kendaraan bermotor. dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. Pasal 14. b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. wajib memiliki surat izin mengemudi. pemeriksaan tanda bukti lulus uji.

b. rambu-rambu dan marka jalan. berhenti dan parkir. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat. gerakan lalu lintas. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. menghentikan kendaraannya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. b. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. Pasal 23 1. e. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. surat izin mengemudi. . kendaraan bermotor di jalan. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. kecepatan maksimum dan/atau minimum. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. dan tanda bukti lulus uji. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. penggunaan kendaraan bermotor. wajib : a. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. atau tanda bukti lain yang sah. c. peringatan dengan bunyi dan sinar. 2. d. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. tata cara mengangkut orang dan barang. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor.Pengemudi a. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor. alat pemberi isyarat lalu lintas. menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. 2.

Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 31 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. c. Pasal 44 . setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. ditetapkan oleh Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. pemilik. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. Setiap pengemudi. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1. 2. disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. Apabila korban meninggal. Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban. 2. 2. Pasal 30 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. 2. Pasal 33 1. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman.

di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. 2. 3. pengirim barang atau pihak ketiga. Pasal 46 1. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. 2. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. diselenggarakan oleh pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan. jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. Pasal 48 1. 2. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 28 . pengangkut tidak punya hak retensi. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. Pasal 45 1. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. jalan kabupaten. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. 4. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No. Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang. Jalan umum adalah jalan yang dibuat. pengirim barang atau pihak ketiga. dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi.

Contoh: jalan inspeksi pengairan. as jalan. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten. ia naik kerete sampai di jakarta.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan). misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung. 29 .  angkut dilunasi. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. contohnya adalah jalan arteri. yang dimaksud adalah jalan umum. Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense).  Dalam UU tersebut. Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung. badan. kaca tanggul cembung. selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. 14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”. jalan tol. kompleks perumahan. o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal.  Dalam pasal 3 UU No.   berada di permukaan jalan).  Jalan untuk kelancaran. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok. dsb. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita.   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi. jalan pedesaan. Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No. Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. Contohnya sebra cross.

rata-rata. Pasal 14 30 . harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. Jalan arteri sekunder.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. tidak putus walaupun masuk kota.  = 8m . Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada. tidak putus walaupun masuk /jam. termasuk jalan desa. jalan masuk Atas usul Menteri. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada.  = 7 m . 2. kapasitas > dari volume lalin rata-rata. Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam . Jalan kolektor sekunder.  ≥ 7 m . diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. Jalan lokal primer. maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. lalin lokal atau kegiatan lokal. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  tujuan yang sama. V = 20 /jam. Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol. Jalan Tol   UU No. Menhub. Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1.  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi. km Jalan lokal sekunder. lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat. kapasitas > dari volume kota. Jalan masuk dibatasi. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer. V = 10 km /jam. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. V ≥ 40 /jam. Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. V = 30 km lalin rata-rata. V = 20 km /jam. 3. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. tidak putus walaupun masuk kota.  = 8m .  = 5m .  = 5m .

dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. prasarana. 2. dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. dalam pasal 4. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. 3. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. . 3. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. 4. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. Pembinaan perkretaapian. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. 3. diserahkan penyelenggaraannya. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak. Pasal 19 1. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. Petugas Jalan Tol. 2. 4. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dilarang memasuki Jalan Tol. yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel. 2. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. ayat (2). Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. pertambangan. Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dilaksanakan oleh badan penyelenggara. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. BAB V 1. pagar. Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 14 1. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. Pasal 7 1. . 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. pertanian. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. Pasal 9 1. Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. 3. 2. Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api. terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Contohnya: westing house. Dilarang membangun gedung. 3. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. daerah milik jalan. membuat tembok. Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 32 Pasal 8 1. dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. 3. tanggul dan bangunan lainnya. 1. Pasal 12  Prasarana dan sarana. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. 2. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2.

Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). 2. saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus. pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 33 . 2. Pasal 17 1. Pasal 19 1. 3. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. jalur kereta api khusus. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. selain untuk angkutan kereta api.diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. terusan. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. 2. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. Pembangunan jalan. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang. Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara. Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. Pasal 18  Biaya Angkutan. diatur lebih lanjut oleh Menteri. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. Pasal 15 1. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1.

Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. 34 . besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. diberikan dengan ketentuan: a. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 28 1. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. mengganggu perjalanan kereta api. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara. b. 2. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. wajib diangkut oleh badan penyelenggara. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a. penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. 2.

dengan cek pos. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. 5 Tahun 1995. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank. pendiriannya dibuat oleh notaris. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih). Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 .  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. POS   UU No.  diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati. namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan. bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. sama dengan pengusaha angkutan.  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan.  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. dasarnya pasal 1320 BW. Hal ini hanya merupakan alasan teknis. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian. kereta tersebut menempuh jarak 200m. sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. POS Weselpos. demikain juga berdasarkan PP no.   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT.

dan kartupos untuk pihak ketiga. 5. barang-cetakan. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. surat-kabar. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. 9. 12. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. 8. 3. 4. 2. Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. 3. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. dan bungkusan kecil. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. uang. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. 2. termasuk perwakilan atau pegawainya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. 4. 36 . Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. yang menerima. barang. 2. paket. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. 3. warkatpos. membawa dan/atau menyampaikan surat. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. 11. 7. sekogram. membawa dan/atau menyampaikan surat. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6. badan yang bertugas menerima. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. kartupos. 2. Pos diselenggarakan oleh negara. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 10. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. warkatpos. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. 13. warkatpos.

laut. Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima.tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5. pemeriksaan. 3. Pasal 5 1. udara. atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 10 37 prangko. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 10. 11. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1. berat. 9. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam. 7.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 2.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3).batas ukuran. 4. .penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. 2.perincian penyelenggaraan pos.klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. b. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang. 8.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan. 5.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 6. 3. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. Setiap perusahaan angkutan darat. keadaan darurat. dan isi kiriman.pembebasan tarif pos. 2.cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim.tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut.persyaratan dan 1. laut. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara. dan media telekomunikasi untuk umum. 4. atau yang buntu karena sesuatu sebab. udara. 2. Pembukaan. Menteri menetapkan : a. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. dilarang. kiriman-pos. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. b. c. dan 12. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali. b. Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam. 7. atau keselamatan orang. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya. dan 3. tanggungan. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan. Pasal 12 1. 2. manusia. 2. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. b. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri. c. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. keadaan darurat. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos. dikirim dengan harga tanggungan. 5. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim. c. 3. 4. sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. ditetapkan oleh Menteri. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. 6.

pesawat udara. namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. 3.  Verordening Toesicht Luchtvaart. Ilmu Pengetahuan. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan. 15 Tahun 1992  Pasal 1. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia. 3. dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. 149 Jo. angkutan udara.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. 5 Tahun 1985. keamanan Pengangkutan Udara  1. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan. UU No. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. 1939 No. 15 Tahun 1992.  Luchtvaartquorantieue ordonantie. mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. menerima setoran. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. 2. Stb. seperti penerbangan. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara. syaratsyarat jasmani rokhani. 1939 No.  Perjanjian Roma 29 Mei 1933. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. 1939 No. Stb. 1936 No. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1. Stb. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. . Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. Peraturan  UU No. 2. Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. 1936 No. sudah tidak berlaku sejak ada UU No. mengatur personil. Stb. bandar udara. dan 2.

dan bergerak dengan tenaganya sendiri. dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. dan pos untuk satu . Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. bersayap tetap. dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. 5. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 4. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. 7. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. 12. 13. dapat terbang dengan sayap berputar. serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. 14. naik turun penumpang. 9. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. kargo. 6. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 2. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 11. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 15. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara. 8. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. 10. 3.

Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. Pasal 11 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. 2. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. dimiliki oleh instansi Pemerintah. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. 2. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. 2. d. hukum Indonesia. 2. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. c. pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. Dalam penjelasan ayat 1. Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. . dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. 3. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. b. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a.

Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. 3. 2. 2. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. 3. Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. 4. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. 2. Pasal 15 1. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. 1. . BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. Pasal 19 1. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. penumpang dan barang.

Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. perakitan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Selama bersangkutan terbang. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. pembuatan. Demikian juga di medan. pembuatan rancang bangun. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun. Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. perawatan. Air Bus. perencanaan. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara. Misalnya. pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. boing 747. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. . Penentuan lokasi. 2. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. 2. 3. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. Menurut penjelasan pasal ini.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. Pasal 23 1. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). meteorologi. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 22 1. dll karena lokasinya yang dekat gunung. 2. bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. 3. Dalam rangka keselamatan penerbangan. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. 2. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. keselamatan penerbangan. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya.

mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU. bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 . Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 33 1. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. toko gudang. Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. parkir. bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. Pengadaan. Bandara Milik Misionaris. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. 3. 2. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. 2. naiuk-turunya pesawat haji. jasa boga. kargo/pas dibandara lain hotel. jasa perawatan pada umumnya. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. Pasal 27 1. bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. ayat (2). 4. pengoperasian. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). 3. hanggar.

3. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. 2. Perusahaan angkutan udara niaga. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 37 1. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. mengubah letak pesawat udara. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. wajib mengangkut orang dan/atau barang. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. ditetapkan oleh Pemerintah. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. 2. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. Pasal 38 1. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. 3. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. 45 . 3. lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. Pasal 41 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. 2. setelah disepakati perjanjian pengangkutan. 2. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. Pasal 44 1. 2. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). Ditinjau secara yuridis. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. c. . Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. b. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. dianggap sebagai satu pengangkutan udara. musnah. Pasal 45 Pasal 42 1. hilang atau rusaknya barang yang diangkut. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. Pasal 43 1. kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya.

Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. sejak pengangkut cek in di Bandara. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat. kesalahan navigasi. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. barang bagasi. Penumpang dengan bukti angkutan tiket. . Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. seperti dompet. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. 3. maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. 2. pengangkutan barang dan bagasi. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. sistem ini berlaku untuk penumpang. tas wanita. tustel. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. untuk penerbangan perintis 15 kg. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. 4. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita. barang kiriman. tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. barang gasi dan barang kiriman. ia hanya mengirimkan baranag. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. 2. sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. bagasi tangan. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. 2.

Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). kesalahan pengangkut. memperlambat. • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. baru kereta boleh jalan. b) Prinsip Non limitation of liabilities. lebih dari itu didenda 1% tiket. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. 2. Contohnya barang bagasi tangan. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas. • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang. berat 5 kg. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. 48 . dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku. secara limit b.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. berlaku pada saat overmacht. Masinis kereta hanya menjalankan. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. kemungkinan: a. Barang bagasi berat antara 20-30 kg. tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. kesalagan dari penumpang juga. a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. 2. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. macam transportasi). o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful