P. 1
hukumpengangkutan

hukumpengangkutan

|Views: 1,519|Likes:

More info:

Published by: Spurs Cyberseventh Pirates on Oct 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2013

pdf

text

original

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dozen: Suyadi 7 Maret 2006/I Literatur Abdul Kadir Sri Rejeki

Hartono Wirjono Sujono Soekardono : Hk Pengangkutan darat, laut : Pengangkutan dan hk pengangkutan darat : Pengangkutan laut : Hk Dagang Indonesia jilid II selamat/sedangkan pengirim angkutan. Purwosutjipto (Pasal 1313 BW) “…….dengan selamat, sedangkan pengirim mengikatkan diri untuk membayar uang angkutan.” Kata “selamat” bersifat mutlak karena jika tidak selamat maka hukum mengatur apa yang akan dilakukan selanjutnya, misalnya kerugian akan ditanggung bersama oleh pengirim dan pengangkut. Pengangkutan selalu ada dalam lalu lintas perdagangan. Dengan adanya pengangkutan maka nilai guna dan daya gunanya bertambah. Dengan demikian Definisi Pengangkutan maka pengangkutan bersifat mutlak. Karena dalam pengangkutan mengandung risiko maka perlu ada aturan mengenai pengangkutan, maka lahirlah hukum pengangkutan. Aspek-aspek yang terkait dengan pengangkutan 1. Pelaku, Yaitu orang yang melakukan pengangkutan. Dapat berupa Badan Usaha/spt perusahaan pengangkutan/ dapat, berupa manusia pribadi, seperti buruh pengangkutan di pelabuhan. 2. Alat Pengangkutan, Alat yang digunakan untuk pengangkutan/Alat ini digerakkan secara mekanik dan memenuhi syarat undang-undang/seperti kendaraan bermotor, kapal laut/dan darat. mengikatkan diri untuk membayar uang

UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 15 Tahun 1992, UU No. 19 tahun 1992.

1. Abdul Kadir Muhammad :
Pengangkutan adalah proses kegiatan memuat barang atau penumpang ke dalam alat pengangkutan, membawa barang atau penumpang dari tempat pemuatan ke tempat tujuan/ dan menurunkan barang atau penumpang dari alat pengangkutan ke tempat yang ditentukan. 2. Soekardono: Pengangkutan adalah keseluruhannya peraturan-peraturan , di dalam dan di luar kodifikasi (KUH Per, KUHD) yang berdasarkan asas dan tujuan untuk mengatur hubungan-hubungan hukum yang terbit karena keperluan pemindahan barang-barang dan/atau orang- orang dari suatu ke lain tempat untuk memenuhi perikatan-perikatan yang lahir dari perjanjian-perjanjian tertentu, termasuk juga peijanjian untuk memberikan perantaraan mendapatkan pengangkutan. 3. Purwosutjipto : Perjanjian timbal balik antara pengangkut dari pengirim dimana pengangkut mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang tertentu dengan dan/atau orang dari satu tempat ketempat tujuan

3. Barang/Penumpang, Yaitu muatan yang diangkut. Barang perdagangan
yang sah menurut undang-undang. Dlam pengertian barang termasuk juga hewan.

4. Perbuatan, Yaitu kegiatan mengangkut barang atau penumpang sejak
pemuatan sampai dengan penurunan di tempat tujuan yang ditentukan.

5. Fungsipengangkutan, Meningkatkan kegunaan, dan nilai barang atau
penumpang

1

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 6. Tujuan pengangkutan, Yaitu sampai ditempat tujuan yang ditentukan dengan selamat, biaya pengangkutan lunas. Sumber hukum Pengangkutan: 1. sumber hukum yang bersifat umum: buku III KUHPerdata tentang perikatan 2. sumber hukum yang khusus: a. i. ii. iii. b. c. KUHD KUHD buku II bab V tentang Perjanjian Carter Kapal (pasal 453-465) __________, bab VA tentang Pengangkutan barangbarang (pasal 466-520) __________, bab VB tentang Pengangkutan Orang (pasal 521-533) Ordonansi pengangkutan (OPU) UU No. 13 Tahun 1992, UU No. 14 Tahun 1992, UU No. 25 Perikatan menurut J. Satrio adalah hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan antara dua pihak, dimana pihak yang satu ada hak dan pihak yang lain ada kewajiban. Saat terjadinya perjanjian antara para pihak, ada beberapa teori yaitu : 1. Teori kehendak (wilstheorie) Mengajarkan bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak pihak penerima dinyatakan, misalnya dengan menuliskan surat. 2. Teori pengiriman (verzentheorie) Bahwa kesepakatan terjadi pada saat kehendak yang dinyatakan itu dikirim oleh pihak yang menerima penawaran. 3. Teori Pengetahuan(Vernemingtlieone) Alasan yang melatarbelakangi beragai UU mengatur pengangkutan: 1. sejarah perkembangan KUD (lahir 1838, hanya mengatur mengenai pengangkutan dara, aut) 2. perkembangan semakin cepat 3. kemajuan iptek, memeperluas jangkauan sehingga diperlukan aturan yang lebih menjamin aturan hukum. Perjanjian Pengangkutan 2 Definisi Perjanjian Pengangkutan 1. Soemarti Hartono masyarakat, ingin melengkapi kebutuhan dengan Bahwa pihak yang menawarkan seharusnya sudah mengetahui bahwa tawarannya diterima. 4. Teori Kepercayaan (vertrournenttheorie) Bahwa kesepakat itu terjadi pada saat pernyataan kehendak dianggap layak diterima oleh pihak yang menawarkan. Perjanjian itu menimbulkan perikatan diantara dua orang yang membuatnya. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena kedua pihak itu setuju untuk melakukan sesuatu. Mengenai definisi atau pengertian perikatan, tidak ada ketentuannya dalam buku III KUH Perdata. Menurut Ilmu Pengetahuan hukum, perikatan adalah hubungan yang terjadi diantara dua orang atau lebih yang terletak dalam lapangan harta kekayaan, dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi itu.

Tahun 1992 (pelayaran) 3. yurisprudensi 4. kebiasaan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Perjanian pengangkutan adalah suatu peijanjian dimana satu pjhak menyanggupi untuk dengan aman membawa orang atau barang dari satu ke lain tempat, sedangkan pihak yang lain menyanggupi akan membayar ongkos. 2. Abdul Kadir Muhammad ' Perjanjian Pengangkutan adalah persetujuan dengan mana pengangkut menyediakan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan barang dan atau atau penumpang dari satu tempat ketempat tujuan dengan sejamat, dan pengirim atau penumpang mengikatkan diriuntuk membayar biaya pengangkutan Asas-asas Perjanjian Pengangkutan 1. Asas konsensual Asas ini tidak mensyaratkan bentuk perjanjian pengangkutan secara tertulis, sudah cukup apabila ada persetujuan kehendak antara pihak-pihak Penggunaan hak retensi dalam peijanjian pengangkutan tidak dibenarkan. Penggunaan hak retensi itu bertentangan dengan fungsi dan tujuan pengangkutan. Mengenai cara terjadinya perjanjian Pengangkutan ini menunjuk pada serangkaian perbuatan tentang penawaran dan penerimaan yang dilakukan oleh pengangkut dan pengirim atau penumpang secara tiinbal balik. Serangkaian perbutan semacam ini tidak ada pengaturannya dalam undang-undang melainkan ada dalam kebiasaan yang hidup dalam praktek pengangkutan. Kebiasaan yang dimaksud adalah apabila dalam undang-undang tidak diatur mengenai kewajiban dan hak yang dikehendaki pihak-pihak maka pihak-pihak mengikuti kebiasaan yang telah berlaku dalam praktek pengangkutan. Menurut Abdul Kadir Muhammad, kebiasaan yang hidup dalam praktik pengangkutan adalah kebiasaan yang berderajat hukum keperdataan yaitu berupa perilaku atau perbuatan yang meemnuhi ciri-ciri: 1. Tidak tertuIis yang hidup dalam praktik pengangkutan 2. Berisi kewajjban bagaimana seharusnya pihak-pihak berbuat dalam pada 3. Tidak bertentangan dengan UU atau kepatutan 4. Diterima oleh pihak2 karena adil dan masuk akal/logis 5. menuju kepada akibat hukum yang dikehendaki pihak-pihak Cara terjadinya perjanjian pengangkutan ada dua: 1. Penawaran dari pihak pengangkut. Cara tejadinya perjanjian Pengangkutan dapat secara langsung dari pihakpihak, atau tidak langsung dengan menggunakan jasa perantara (ekspedisi, biro perjalanan). Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan dilakukan secara langsung, maka penawaran pihak pengangkutan dilakukan dengan menghubungi langsung pihak pengirim atau penumpang, atau melalui media masa. ini berarti pengangkut mencari sendiri muatan atau penumpang untuk

2. Asas koodinasi
Asas ini mensyaratkan kedudukan yang sejajar antara pihak "pelayanan jasa", asas subordinasi antara buruh dan majikan perjanjian perburuhan 3. Asas Campuran Perjanjian Pengangkutan merupakan campuran dari tiga jenis perjanjian yaitu pemberian kuasa dari pengirim kepada pengangkut, penyimpanan barang dari pengirim kepada pengangkut, dan melakukan pekerjaan pengangkutan. Dengan demikian, ketentuan dari 3 jenis perjanjian itu berlaku jika dalam perjanjian Pengangkutan, kecuali jika perjanjian pengangkutan mengatur lain. 4. Asas tidak ada hak retensi 3 tidak berlaku pada peranjian pengangkutan. perjanjian pengangkutan. Walaupun perjanjian pengangkutan merupakan

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan diangkut. Jika penawaran pihak pengangkut dilakukan melalui media masa, pengangkut hanya menunggu permintaan dari pengirim atau penumpang. buruh. Kedudukan tersebut disebut Subordinasi (gesubordineerd), sedangkan dalam penanjian pengangkutan adalah kedudukan sama tinggi atau koordmasi(Geeoordineerd). dilakukan secra lansung, berarti pengirim atau Pasal 1601 KUH Perdata menentukan, selain persetujuan-persetujuan untuk melakukaan sementara jasa-jasa yang diatur oleh.ketentuan-ketentuan yang khusus untuk itu dan oleh syarat-syarat yang diperjanjikan, dan jika itu tidak ada oleh kebiasaan, maka adalah dua macam persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk melakukan pekerjaan bagi pihak yang lainnya dengan menerima persetujuan perburuhan dan pemborongan pekerjaan. Berdasarkan hai di atas, ada beberapa pendapat mengenai sifat hukum perjanjian pengangkutan, yaitu : 1. Pelayanan berkala Dalam meiaksanakan perjanjian itu, hubungan kerja antara pengirim dengan pengangkut tidak terus-menerus, tetapi hanya kadangkala, kalau pengirim membutuhkan pengangkutan untuk pengiriman barang. Hubungan semacam ini disebut pelayanan berkala, sebab pelayanan itu tidak bersifat tetap, hanya kadangkala saja, bila pengirim membutuhkan pengangkutan 2. Pemborongan Seperti yang ditentukan dalam Pasal 1601 (b) KUH Perdata yang menentukan, Pemborongan pekerjaan adalah persetujuan, dengan mana pihak yang satu sipemborong, mengikatkan diri untuk menyelenggarakan suatu persetujuan bagi pihak yang lain, dengan menerima suatu harga yang ditentukan. 3. Campuran Pada pengangkutan ada unsur melakuka pekerjaan (pelayanan berkala) dan unsur penyimpanan, karena pengangkut berkewajiban untuk menyelenggarakan pengangkutan dan menyimpan barang-barang yang diserahkan kepadanya untuk diangkut (Pasal 466, 468 ayat (1) KUHD). 4

2. Penawam dari pihak pengirim, penumpang
Apabila pembuatan perjanjian Pengangkutan maka penawaran pihak pengirim pihak menghubungi langsung pengangkut.Ini atau penumpang diiakukan dengan

penumpang mencari sendiri pengangkut untuknya. Hal ini terjadi setelah pengirim atau penumpang mendengar atau membaca pengumuman dari pengangkut. Jika penawaran melalui perantara (ekspedisi, biro peijalanan), maka Perantara, menghubungi pengangkut atas nama pengirim atau penumpang, pengirim menyerahkan barang pada untuk djangkut. Penumpang pemberangkatannya. Berakhirnya Perjanjian Pengangkutan untuk mengetahui berakhirnya pemajian pengangkutan perlu dibedakan dua keadaan yaitu: perantara (ekspeditur) pada biro perjalanan yang menyiapkan

1. Dalam keadaan tidak terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian,
maka perbuatan yang dijadikan ukuran ialah saat penyerahan dan pembayaran biaya pengangkuan ditempat tujuan yang disepakati.  siapa yang bertanggung jawab dan berapa besar

2. Dalam keadaan terjadi peristiwa yang menimbulkan kerugian, maka
perbuatan yang dijadikan ukuran ialah pemberesan kewajiban membayar ganti kerugian. SifatHukum Perjanjian Pengangkutan Dalam perjanjian pengangkutan, kedudukan para pihak, yaitu pengangkut dan pengirim sama tinggi, tidak seperti dalam perjanjian perburuhan, dimana para pihak tidak sama tinggi yakni, majikan mempunyai kedudukan lebih tinggi dari si

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Purwosutjipto setuju apabila perjanjian pengangkutan itu, merupakan perjanjian campuran, karena mengandung unsur: 1. Pelayanan berkala (Pasal 1601 (b) KUH Perdata) Karena pasal ini adalah satu-satunya pasal yang khusus mengenai pelayanan berkala, yang berarti tidak ada pasal lain yang ada pada pada perjanjian pengangkutan. 2. Penyimpanan Terbukti adanya ketetapan daSarn Pasal 468 ayat (1) KUHDdan Pasal 346 KUHD. Pasa 346 KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan merawat barang-barang seorang penumpang yang meninggal selama perjalanan, yang berada di kapal dan dari barang-barang itu harus dibuatnya atau disuruh membuatnya suatu daftar perincian dihadapan dua orang penumpang, daftar mana harus ditandatangani oleh dua orang penumpang oleh dua orang penumpang itu 3. Pemberian kuasa Terbukti dengan adanya ketetapan dalam Pasal 371 ayat (1) dan(3) KUHD. Pasa 371 ayat (1) KUHD menentukan, Nakhoda diwajibkan seJama perjalanan menjaga kepentingan para pemilik muatan, mengambil tindakan2 yang diperlukan untuk itu dan jika perlu untuk itu menghadap di muka Hakim.  jika terjadi peristiwa Sedangkan Pasal 371 ayat (3) menentukan, Dalam keadaan yang mendesak ia diperbolehkan menjual barang muatan atau sebagian dari itu, atau guna membiayai pengeluran-pengeluaran yang telah dilakukan guna kepentingan muatan tersebut, meminjam uang dengan mempertaruhkan muatan itu sebagai jaminan. Pihak-pihak Dalam Perjanjian Pengangkutan Purwosutjipto ada dua yaitu: 5 Penghitungan Jumlah Biaya Pengangkutan Menurut A.K. Muhammad ditentukan oleh beberapa hal : 1. Jenis Pengangkutan, yaitu pengangkutan darat, laut, dan udara. Tiap jenis' pengangkutan mempunyai biaya pengangkutan yang tidak sama. 2. Jenis alat angkutan, yaitu Bus, K.A, kapal Laut, Pesawat udara. Tiap jenis alat pengangkutan mempunyai pelayanan dan kenikmatan yang berbeda, sehingga berbeda pula tarif yang diterapkan. 3. JarakPengangkutan, yaitu jarak jauh dan dekat. Jarak jauh makan biaya pengangkutan lebih banyak dlbandingkan dengan jarak dekat. 4. Waktu Pengangkutan, yaitu cepat atau lambat, pengangkutan yang cepat lebih besar biayanya dibandingkan dengan yang lambat. 5. Sifat muatan, yaitu berbahaya, mudah busuk, mudah pecah. Sifat ini mempunyai kemungkinan kerugian lebih besar daripada sifat yang tidak berbahaya. Di samping pengangkut dan pengirim yang merupakan pihak-pihak dalam perjanjian pengangkutan, masih ada pihak yang terkait yaitu penerima. Dalam perjanjian Pengangkutan Penerima mungkin pengirim sendiri, mungkin juga pihak ketiga yang berkepentingan. Dalam hal penerima adalah pengirim, maka penerima adalah pihak dalam perjanjian pengangkutan. Penerima sebagai pihak ketiga, diatur dalam Pasal 1317 ayat (1) KUH Perdata yang menentukan, Lagipun diperbolehkan juga untuk meminta ditetepkan suatu janji guna kepentingan seorang pihak ketiga, apabila suatu penetapan janji, yang 1. Pengangkut adalah pihak yang yang mengikatkantdiri untuk

menyeJenggarakan pengangkutan barang dan atau penumpang dari suatu tempat ke tempat tujuan tertentu dengan selamat. (lihat Pasal 91 KU.HD)

2. Pengirim, adalah pihak yang mengikatkan diri untuk membayar biaya
pengangkutan. Pengirim dalam bahasa Inggris disebut “consigner” tetapi khusus untuk pengangkutan laut disebut “shipper” (A.K.Muhammad)

Prinsip ini tidak mengenal beban pembuktian tentang kesalahan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan dibuat oleh seorang untuk dirinya atau suatu pemberian yang dilakukannya kepada seorang lain. Sejak saat inilah sipengirim tidak wenang lagi mengubah tujuan pengiriman barang-barang itu. sipengangkut selalu berhak menuntut pembayaran ongkos pengangkutan itu kepada kedua-duanya. Sehingga Undang-undang memperkenankan kepada pengangkut untuk membuktikan bahwa kurangnya kesempurnaan a. atau sama sekali tidak. Cacad yang lekat pada barang atau barang-barangnya sendiri . Bagaimanapun juga. Pihak yang dirugikan cukup menunjukkan adanya kerugian yang diderita dalam pengangkutan yang diselenggarakan oleh pengangkut. Yang dimaiksud dengan tidak bersalah adalah tidak melakukan kelalaian. bukan pada pihak yang dirugikan. tetapi ada kalanya juga dibayar oleh orang yang dialamatkan. Pengangkut tidak dimungkinkan membebaskan diri dari tanggung jawab dengan alasan apapun yang menimbulkan kerugian itu. maka pada saat itu si penerima mulai mendapatkan haknya sesuai dengan janji (khusus dalam perjanjian pengangkutan yang dibuat oleh sipengirim. (Lihat Pasal 1365 BW) berdasarkan praduga (presumtion prestasi (barang-barang berkurang pada saat penyerahan) atau prestasinya yang tidak wajar atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan waktu penyelesaaian pengangkutan (beb barang ternyata rusak atau bercacad yang terlihat dari luar. Prinsip Tanggung jawab berdasarkan kesalahan (fault liability) Menurut prinsip ini setiap pengangkut yang melakukan kesalahan dalam penyelenggaraan pengangkutan harus bertanggung jawab membayar ganti kerugian atas kerugian yang timbul akibat dari kesalahannya itu. Bedasarkan rumusan pada Pasai 1317 ayat (2) KUHPerdata dapatlah dikatakan bahwa. yaitu kepada sipengirim atau sipenerima barang. Dengan adanya tanggung jawab dari pengirim yaitu membayar uang angkutan. c. Pihak b. Prinsip Tanggung jawab mutlak (Absolute Itabilily) setiap kerugian yang timbul dari pengangkutan yang Pengangkut harus bertanggung jawab nnembayar ganti kerugian terhadap diselenggarakan tanpa keharusan pembuktian ada tidaknya kesalahan pengangkut. Sedangkan ayat (2) nya menentukan siapa yang telah memperjanjikan sesuatu seperti itu. maka hal tersebut merupakan pembatasan dan pengurangan tangungjawab pengangkut. terlambat sampainya ditempat tujuan. Tanggung Jawab Pengangkut Saefullah Wirapradja beirpendapat bahwa. Tanggung jawab pengirim Biasanya ongkos pengangkutan dibayar oleh sipengirim barang. maka ia dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian. sejak penerima menyatakan kehendaknya untuk menerima barang2 kiriman itu. setidak-tidaknya ada 3 prinsip tanggung jawab pengangkut dalam perjanjian pengangkutan : peristiwa yang menimbulkan kerugian itu beban pembuktian ada pada pengangkut. Unsur kesalahan tidak relevan untuk dipermasalahkan apakah pada kenyataannya ada atau tidak. liability) Pengangkut (diangga selalu bertanggung jawab atas kerugian yang timbul dari pengangkutan yang diselenggarakannya. memuat janji yang seperti itu. telah mengambil tindakan yang perlu untuk menghindari kerugian atau atau 6 yang Prinsip menderita tanggung kerugian jawab harus membuktikan kesalahan pengangkut itu. tak dapat dipergunakan sama sekali) semuanya itu disebabkan : a. apabila pihak ketiga tersebut telah menyatakan hendak mempergunakannya. Tetapi jika pengangkut dapat rnembuktikan bahwa ia tidak bersalah. tidak boleh menariknya kembali. 2. Tanggung jawab para pihak dalam pengangkutan 1.

Bab V. Misalnya benda-benda pengiriman yang ternyata kurang kokoh/atau peti-peti yang ternyata kurang rapat dan mudah dimasuki air dsb. Bagian Pasal 85 – 90. dll. Kesalahan peti-peti dan/atau berisikan kelalaian sendiri pada pengiriim/ekspeditur. makelar tidak berwenang mengurus ganti kerugian. Menurut Purwosutjipto. Pasal 1245 KUH Per menentukan. jika hal ini disebabkan karena keadaan yang memaksa. C. 7 Per-Veem-an menyelenggarakan dagangan dan barang-barang lainnya rnelalui daratan atau pengairan. atau lantaran hal-hal yang sama telah melakukan perbuatan yang terlarang. miring.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pembawaan dari barang-barang tertentu yang menyebabkan kerusakan pada benda atau ini jadi terbakar dalam perjaianan. E. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. apabila lantaran keadaan memaksa atau lantaran suatu kejadian tak disengaja si berhutang beralangan memberikan atau berbuat sesuatu yang diwajibkan. b. D. Sekarang tugasnya adalah mengusahakan dokumen kapal. Yaitu Agen Duane perantara perkapalan/ yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal/konvoi tertentu. Keadaan Memaksa (Overmacht) Terdapat dalam Pasal 91. paling banter dia dapat menjadi saksi. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng. hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya. c. 92 KUHD dan 1245 BW Pasal 92 KUHD menentukan. Makelar kapal mengusahakan seIanjutnya agar kapal dimuati. Yaitu Ekspeditur orang yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk (1) KUHD). pengangkut atau juragan perahu tak bertanggung jawab atas terlambatnya pengangkutan. Perjanjian Pengangkutan : perjanjian Antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut. Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. F. tidaklah biaya rugi dan bungan harus digantinya. TINJAUAN MENGENAI PENGANGKUTAN LAUT PERANTARA PENGANGKUTAN A. Jadi ekspeditur menurut Undang-undang (Psl 86 ayat . orang yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahli yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifatnya. dibongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. Sedangkan Ekspeditur (Psl 86 KUHD). Jadi apabila dibedakan dengan Pengangkut (Psl 466 KUEHD). Makelar Kapal Yaitu perantara di bidang jual beli kapal atau carter mencarter kapal. Pengatur Muatan atau Juni Padat Yaitu orang yang tugasnya menetapkan tempat dimana suatu barang liiarus disimpan dalani ruangan kapal. Diatur dalam KUHD Buku I. Pengusaha Transport Orang yang bersedia menyelenggarakan seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. Perjanjian Ekspedisi : perjanjian Yang dibuat antara ekspeditur dengan pengirim. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. B. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lain-lain pekerjaan kepelabuhan.

gdombang. sayur dan pada binatang. binatang penggerek dan hama lainnya. kilat. pencoleng. angin. Penyimpangan tujuan pelayaran tanpa sebab yang memaksa. JENIS KERUSAKAN ATAU KERUGIAN DALAM PENGANGKUTAN LAUT Dalam proses pengangkutan setiap saat kapal beserta isinya dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan adanya bahaya yang akhirnya dapat menimbulkan kerugian baik kerugian pada kapal maupun barang. lazim disebut "deviation". perampasan. penandaan. kabut. kutu. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. 3. sengaja menimbulkan kebakaran serta perbuatan lainnya yang tercela dan melanggar hukum yang akan merugikan pemilik kapal maupun pemilik muatan yang lazim disebut "Barratry". Lazimnya dikenal dengan istilah "inherent vice". b. dll. pengepakan. misalnya bajak laut. yang dapat merugikan dan merusak muatan. mutan seperti buah-buahan menjadi membusuk dan binatang ternak yang diangkut lebih banyak mati. Per-veeman. pengepakan kembali. selama waktu yang di dalam bagian ketiga dari bab kesembilan ditetapkan 8 yang a. Misalnya buah. Bencana yang ditimbulkan oleh pemilik barang sendiri. perampok. misalnya karena menjadi . yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. Pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. ataupun karena perbuatan lain yang JENIS BENCANA PADA PENGANGKUTAN LAUT Jenis bencana pada pengangkutan laut pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga bagian : 1. Awak kapal dengan sengaja memusnahkan atau. kerusuhan. pemogokan. Perbuatan tercela dari awak kapal dengan merusakkan kapal maupun muatan. adalah usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). pencuri. Pada umumnya barang yang diangkut melalui laut akan selalu mengalami kerusakan kecil maupnn penyusutan bagaimanapun baiknya pengepakan. pulau karang. segala kerugian yang menimpa kapal dan barang-barang tersebut. baik biaya tadi dikeluarkan bersama-sama atau sendirisendiri. serta barang besi akan sedikit berkarat karena oksidasi ataupun udara laut yang mengandung garam. membuang ke laut sebagian dari muatan untuk mengurangi muatan kapal dalam keadaan bahaya yang lazimnya dikenal dengan istilah "jettison". Perbuatan manusia sengaja dilakukan dengan itikad buruk. penyimpanan. gunung es. sewenang-wenang dalam mengemudikan kapal. 2 Tahun 1969. c. Bencana alam Hal ini antara lain karena badai. pemberontakan. tabrakan kapal. termasuk dalam hal ini kerusakan yang disebabkan oleh tikus. Bencana yang ditimbulkan oleh pihak ketiga. sortasi. lapangan-lapangan. Sifat-sifat dari muatan sendiri. penyamun. kapal kandas. dimana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. pengukuran. Pasal 696 KUHD menentukan tentang averij ini. penawanan. e. lebih lama dalam perjalanan. d. 2. antara lain kelalaian pemilik dalam menyelenggarakan pengepakan yang tidak layakk laut (“unseaworthy packing").Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Menurut Pasal 1 PP No. Pasal ini menentukan segala biaya luar biasa yang dikeluarkan guna kepentingan sebuah kapal dan barangbarang yang dimuatnya. dll. Kerugian yang timbul selama pengankutan di laut lazim disebut kerugian laut atau "averij" atau "average".

Convooiloper atau agen duane (fungsi ini sekarang dikerjakan oleh EMKL) mengusahakan in dan uitklaring. Kerugian laut khusus ("bijzonder avarij"). kebanyakan kalinya diserahkan kepada orang lain. yang ahli dibidang yang bersangkutan. PURWOSUTJIPTO EKSPEDITUR PENGANTAR 9 Perjanjian yang dibuat antara ekspeditur dan pengirim disebut perjanjian ekspedisi. BUKU PENGERTIAN POKOK HUKUM DAGANG INDONESIA JILID 3 BAB II. SIAPA EKSPEDITUR ITU Bila ada seorang perantara yang bersedia untuk mencarikan pengangkut yang untuk baik bagi seorang pengirim itu namanya "ekspeditur. Begitulah misalnya pada waktu menutup perjanjian pengangkutan atau perjanjian carter kapal. Buku I. Dari kedua pasal tersebut dapat dilihat adanya perbedaan antara avarij umum dan khusus. Bab V. baik untuk kepentingan bersama atau sendiri-sendiri. pasal 86 sampai dengan 90. Dalam avarij Limum: kerugian pengangkutan dipikul secara bersama-sama. Perbedaan keduanya akan tampak apabila membandingkan Pasal 699 KUHD dengan Pasal 701 KUHD. yang meliputi kapal saja atau barang saja. bahwa ekspeditur menurut undang-undang hanya seorang perantara yang bersedia mencarikan pengangkut bagi pengirim dan tidak mengangkut sendiri barang-barang yang telah diserahkan kepadanya itu. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan mengenai saat mulai berlakunya dan berakhirnya bahaya. untuk yang pertama diserahkan kepada ekspeditur. sedangkan averij khusus: kerugian dipikul sendiri-sendiri atas kapal saja atau barangsaja. maupun melaksanakan. Dalam avarij umum: terdapat kepentingan bersama. Berdasarkan macam-macam kerugian tadi undang-undang merumuskan menjadi 2 macam kerugian lautyaitu: Pada perjanjian pengangkutan. sedang avarij khusus tidak terdapat hal demikian. Pasal 86 ayat (1) KUHD berbunyi: (Ekspeditur adalah orang. 3. Kecuali pasal 86 sampai dengan 90 KUHD Juga pasal 95 KUHD. . barang dan biaya pengangkutan secara bersama-sama. sedangkan bagi yang kedua kepada makelar kapal (cargadoor)." Mengenai ekspeditur ini diatur dalam KUHD. sedang perusahaan lain berfungsi sebagai pemuatan (stuwadoor) dan pembongkaran muatan. yang pekerjaannya menyuruh orang lain untuk menyelenggarakan pengangkutan barang-barang dagangan dan barang-barang atas kapal. makelar kapal dan agen duane atau convooiloper. Di sini jelas. Fungsi-fungsi ini terkadang bersatu dalam satu atau dua perusahaan. Sedangkan Avarij tersebut diderita untuk keperluan kapal saja atau barang saja. misalnya. sedangkan perjanjian antara ekspeditur atas nama pengirim dengan pengangkut disebut perjanjian pengangkutan. Secara singkat dapat dikatakan bahwa kerugian laul adalah segala biaya luar biasa yang dikeluarkan untuk kepentingan kapal dan barang serta segala kerugian yang menerima kapal dan barang tersebut. ada perusahaan EMKL yang berfungsi sebagai ekspeditur. Kerugian laut umum ("avarij grosse") yaitu : yang meliputi kapal. segala sesuatu tadi harus dianggap sebagai kerugian laut (avary). khusus: kerugian 2. mengenai persoalan daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur dan lain-lain berlaku bagi 1. barang dan biaya lainnya melalui daratan atau perairan). yaitu : 1. baik menutupnya. Bagian II. Dalam avarij umum: kerugian tersebut sengaja ditimbulkan menyelamatkan kapal dan barang. Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru-padat mengusahakan tentang pemuatan dan pembongkaran.

yakni bila si pengirim membutuhkan seorang pengangkut untuk mengirim barangnya. 10 TUGAS EKSPEDITUR Dalam merumuskan tugas ekspeditur. Sifat hukum perjanjian ekspedisi “pemberian kuasa" ini jelas ada. Sifat hukum "pemberian kuasa" ini ada karena si pengirim telah memberikan kuasa kepada si ekspeditur untuk . karena hubungan hukum antara ekspeditur dan si pengirim tidak tetap. Perjanjian ekspedisi ini mempunyai sifat hukum rangkap. SIFAT HUKUM PERRJANJIAN EKSPEDISI Perjanjian ekspedisi adalah perjanjian timbal-balik antara ekspeditur dengan pengirim. sedangkan si pengirim mengikatkan diri untuk membayar provisi kepada ekspeditur. maka sifat perjanjian ekspeditur itu bertambah dengan unsur "penyimpanan" (bewaargeving). walaupun untuk kepentingan dan atas tanggung jawab pengirim (lihat pasal 455 KUHD). Di antara para perantara pengangkutan. pembentuk undang-undang memakai istilah "doen vervoeren" (menyuruh mengangkut).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ekspeditur." . Sedang "menyelenggarakan pengangkutan" adalah tugas pengangkut. hanya kadang kala saja. kecuali apabila pada waktu membuat perjanjian tersebut dia bertindak dalam batas-batas kuasanya dan menyebutkan nama si pemberi kuasa yang bersang-kutan. bagi ekspeditur berlakulah pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. Pasal 455 KUHD berbunyi: "Barang siapa membuat perjanjian carter kapal untuk orang lain. Daluwarsa bagi gugatan terhadap ekspeditur hanya satu tahun bagi pengiriman-pengiriman dalam wilayah Indonesia dan dua tahun terhadap pengiriman dari Indonesia ke luar negeri. menurut pembentuik undang-undang tugas ekspeditur adalah terpisah dengan tugas pengangkut. Seperti yang sudah Purwosutjipto katakan di atas. Kedudukan kedua belah pihak dalam perjanjian ekspedisi ini sama tinggi. dan tidak menyelenggarakan pengangkutan itu sendiri. Di samping itu berlaku juga pasal 95 KUHD tentang daluwarsa gugatan hukum terhadap ekspeditur. yaitu "pelayanan berkala" (pasal 1601 KUHPER) dan "pemberian kuasa" (pasal l792 dsl KUHPER) Sifat hukum "pelayanan berkala" ada. Mungkin pula perjanjian ekspeditur itu mempunyai unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming). terikatlah dia untuk diri sendiri terhadap pihak lawannya. yakni kedudukan yang koordinatif (geoordmeerd). Dalam usaha mencarikan pengangkut yang baik dan cocok dengan barang yang akan diangkut. tetapi kalau ekspeditur menutup perjanjiap pengangkutan itu atas nama sendiri untuk tanggungan pengirim. Peraturan ini semua adalah peraturan pelengkap dan berlaku juga bagi ekspeditur yang tidak tetap. bila siekspeditur mengadakan perjanjian pengangkutan dengan pengapgkut atas nama pengirim. yaitu ekspeditur insidentil. sebagai yang dilakukan dalam pasal 86 ayat (1) KUHD. dari itu kontra prestasi yang diberikan kepada ekspeditur bukan upah atau gaji. biasanya ekspeditur bertindak atas nama sendiri. maka perjanjian ekspedisi itu mempunyai sifat "hubungan komisi" (pasal 76 KUHD). tetapi provisi. mencarikan seorang pengangkut yang baik baginya. Jadi. di mana ekspeditur mengikatkan diri untuk mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. bila ekspeditur untuk barang-barang itu harus berhadapan dengan pihak ketiga atas nama pengirim (pasall354KUHPER). Tugas ekspeditur hanya mencarikan pengangkut yang baik bagi si pengirim. hanya ekspeditur sajalah yang mendapat pengaturannya dalam undang-undang. bahwa ekspeditur harus menyimpan barang-barang yang diserahkan oleh pengirim itu lebih dulu dalam gudang ekspeditur. Kemungkinan juga ada.

maka berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai komisioner (pasal 76 dsl. begitu pula harganya (pasal 86 ayat (2) KUHD). bila perlu penyimpanan di gudang ekspeditur. Ekspeditur melakukan perbuatan hukum atas nama pengirim. Sebagai pengusaha. Register dan surat muatan. Sebagai pemegang kuasa. menyelenggarakan pengiriman selekas-lekasnya dengan rapi mengindahkan segala upaya untuk meiyamin keselamatan pada barang-barang yang telah diterimanya dari pengirim. maka sering juga ekspeditur terpaksa harus menyimpan dulu barang-barang pengirim digudangnya. KEWAJIBAN DAN HAK EKSPEDITUR Berhubung dengan perjanjian ekspedisi itu mempunyai banyak sifat hukumnya seperti yang sudah Purwosutjipto uraikan di muka. Sebagai penyimpan barang. Sebagai penyelenggara urusan (zaakwaarnemer). pemegang kuasa mempunyai hak retensi (pasal 1812 KUHPER). Untuk ini berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai penyimpanan barang (bewaargeving). penyelenggara urusan (menurut arrest H. e. dia harus membuat surat muatan (vrachtbrief — pasal 90 KUHD) pada tiap-tiap barang yang akan diangkut. d. b. tanggal 10 Desember 1948) maka menurut Purwosutjipto ekspediturpun mempunyai hak retensi. barang-barang tersebut. yang biasanya bertindak atas nama diri sendiri (pasal 76 KUHD). seorang ekspeditur harus memelihara register harian tentang macam dan jumlah 11 . Kecuali tanggung jawab seperti tersebut di atas.R. KUHPER. begitu juga komisioner (pasal 85 KUHD). Dengan ini maka dia tunduk pada ketentuanketentuan mengenai pemberian kuasa (pasal 1792 sampai dengan 1819KUHPER). Sebagai komisioner. ekspeditur banyak sekali harus berurusan dengan pihak ketiga untuk kepentingan barang-barang tersebut. bea cukai dan lain-lain. Sebelum ekspeditur Pasal 87 KUHD menetapkan tanggung jawab ekspeditur terhadap barang-barang yang telah diserahkan pengirim kepadanya untuk: a. d.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Kedudukan ekspeditur ini adalah sama dengan komisioner. misalnya: melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang pengeluaran dan pemasukan barang-barang di pelabuhan. penyimpan barang (pasal 1729 KUHPER). f. Hak retensi. pengambilan barang-barang muatan dari tempat (pelabuhan) tujuan untuk diserahkan kepada penerima yang berhak atau kepada pengangkut selanjutnya. maka sebagai akibatnya ekspeditur dapat mempunyai kewajiban-kewajiban dan hak-hak sebagai berikut: barang-barang dagangan dan barang lainnya yang harus diangkut. c. Berdasarkan fungsi-fungsi atau sifat-sifat perjanjian ekspedisi tersebut di atas. Kalau ekspeditur berbuat atas namanya sendiri. juga hal-hal di bawah ini menjadi tanggungjawabnya: mendapat/menemukan pengangkut yang memenuhi syarat. Kecuali register harian tersebut di atas. maka menjadi persoalan apakah ekspeditur mempunyai hak retensi. Di sini ada unsur "penyelenggaraan urusan" (zaakwaarneming) dan untuk ini berlakulah pasal 1354 dsl. c. Untuk melaksanakan amanat pengirim. KUHD). b. TANGGUNG JAWAB EKSPEDITUR a. KUHPER. e. Hal ini erat hubungannya dengan pasal 6 KUHD. pasal 1694 dsl. Sebagai yang telah diketahui. pengambilan barang-barang dari gudang pengirim.

Perbedaan yang besar ialah pasal 89 KUHD tanpa syarat. Tetapi dalam praktek. Tanggung jawab ekspeditur seperti ditentukan dalam pasal 89 KUHD ini sifatnya lebih luas 12 EKSPEDITUR TIDAK TETAP Di samping adanya ekspeditur sebagai pengusaha yang bersifat tetap. Hak sendiri yang dimiliki oleh daripada tanggung jawab seorang pemegang kuasa menurut pasal 1803 KUHPER yang berbunyi sebagai berikut: "Si pemegang kuasa bertanggung jawab a. artinya penyimpangan dari ketentuan-ketentuan pasal 86 dan 87 KUHD diperbolehkan. tidak sesuai dengan maksud pasal 86 KUHD tersebut. kekuasaan itu telah diberikan kepadanya tanpa penyebutan seorang tertentu. untuk orang yang telah ditunjuk sebagai penggantinya dalam melaksanakan tugasnya. BATAS TANGGUNG JAWAB EKSPKDITUR Menurut pasal 87 KUHD. bila: dia tidak diberikan kekuasaan untuk menunjuk orang lain sebagai penggantinya. Sesuai (analogi) dengan kedudukan komisioner insidentil. Dia harus membayar uang angkutan. Kecuali itu. karena ada kerusakan atau kekurangan. tanggung jawab ekspeditur berhenti pada saat barangbarang dari pengirim itu telah diterima oleh pengangkut. HUBUNGAN PENERIMA DENGAN PERJANJIAN EKSPEDISI Kalau penerima telah menerima barang muatan. Misalnya. kecuali ketertiban umum dan kesusilaan. atau dia menolak untuk menerimanya. kerugian-kerugian sesudah saat tersebut. Berbeda dengan pengangkut laut dan udara. dalam praktek ada ekspeditur yang tidak tetap (insidentil). d. yang diatur dalam pasal 85-a KUHD. maka kerugian itu dapat dibebankan kepadaekspeditur. sedangkan orang yang dipilihnya untuk itu ternyata seorang yang tidak cakap atau tidak mampu. yang jasanya dipergunakannya (pasal 89 KUHD). Ekspeditur macam ini tidak diatur dalam KUHD. bila ditentukan demikian dalam perjanjian (pasal 491 KUHD). . Dan selanjutnya. b. di sini undang-undang tidak memberi pembatasan. maka. Berhubung pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. bila dapat dibuktikan bersumber pada kesalahan atau kelalaian ekspeditur. pasal 86 dan 87 KUHD adalah peraturan pelengkap. banyak juga seorang ekspeditur yang merangkap menjadi pengangkut. Penerima mempunyai hak sendiri yang bersangkutan dengan perjanjian ekspedisi dan juga dengan perjanjian pengangkutan. maka sebagai juga pengangkut. dan e hanya dilakukan bila tegas-tegas telah ditetapkan dalam perjanjian ekspedisi yang bersangkutan PASAL 86 DAN 87 KUHD ADALAH PERATURAN PELENGKAP Menurut Molengraaff. tidak menimbulkan kesulitan-kesulitan hukum. ekspeditur dapat mengurangi tanggung jawabnya sedemikian rupa sehingga hampir dapat dikatakan tidak mempunyai tanggung jawab. Tetapi menurut pasal 88 KUHD. yang diatur dalam pasal 86 sampai dengan 90 KUHD. dia tidak hanya bersangkutan dengan perjanjian pengangkutan saja. tetapi juga dengan perjanjian ekspedisi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Tugas tersebut dalam huruf c. maka bagi ekspeditur insidentil juga berlaku ketentuanketentuan bagi ekspeditur tetap. ekspeditur juga harus bertanggung jawab atas ekspeditur antara (tussen-expediteur). Polak dan Dorhout Mees. sedang-kan pasal 1803 KUHPER dengan syarat. pasal 86 KUHD menetapkan bahwa tugas ekspeditur hanya "mencarikan pengangkut" bagi pengirim yang mempergunakan jasanya. sejauh dapat diketahui dari dokumen-dokumen yang ada. artinya dia bertindak sebagai ekspeditur hanya kadang kala saja. Meniadakan tanggung jawab untuk kesengajaan dan kelalaian yang besar pada hemat Purwosutjipto tidak diperkenankan. Bila seorang ekspeditur yang tugasnya merangkap menjadi pengangkut.

Kesulitan persoalan ini ditambah pula. Kalau ekspeditur menutup perjanjian pengangkutan atas nama pengirim. bila dia menerima barang-barang tertentu untuk diangkut dengan uang angkutan tertentu pula. Biasanya si penerima adalah pihak pembeli dalam perjanjian jual-beli yang dibuatnya lebih dulu. maka disitulah letak kepentingannya. (pasal 1357 KUHPER) dengan cara mengganti semua uang muka yang telat dikeluarkan ekspeditur. Kalau dia bertanggung jawab atas kerugian itu. maka orang dapat berkata: kerugian barang-barang tidak mengenainya. di mana ditetapkan bahwa kepada ekspeditur yang berbuat atas namanya sendiri diberi hak khusus untuk menuntut ganti kerugian. pada mana dia harus dapat membuktikan sifat melawan hukumnya perbuatan pengangkut. maka beralihlah hak milik atas barang-barang tersebut. Mengenai soal ini praktek membutuhkan penyelesaian yang praktis. bila penerima tidak menggunakan haknya. dia tidak mempunyai kepentingan terhadap tun-tutan ganti rugi. Pada pengangkutan dengan konosemen. Kepentingan atas tuntutannya itu merupakan suatu jasa servis bagi pemberi kuasanya untuk memasukkan ganti kerugian. Jadi. Dalam hal inikesulitan hanya ada. apakah ekspeditur berbuat atas namanya pengirim atau atas namanya sendiri. kesulitan itu tidak akan terjadi. Dengan penyerahan barang-barang oleh ekspeditur tersebut kepada penerima. Tetapi bila ekspe-ditur menutup perjanjian pengangkutan atas namanya sendiri. maka hanya ekspeditur yang berhak menuntut ganti kerugian dan bukan pengirim. tidak menimbulkan hak atas provisi (pasal 1358 KUHPER). Termasuk tugas ekspeditur ialah menerima barang-barang dari pengangkut yang selanjutnya diserahkan kepada penerima. Mengenai penyelenggaraan urusan (zaakwaarneming) sendiri. maka hak apa yang dapat dipergunakan oleh ekspeditur terhadap pengangkut yang bersangkutan. jadi. sedangkan si pengirim adalah sl penjual. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang pengirim dapat langsung menuntut ganti kerugian kepada pengangkut. KEWAJIBANPENERIMATERHADAP PENYELENGGARAAN URUSAN Pengirim sebagai pemberi kuasa memberi perintah kepada ekspeditur yang selanjutnya harus dilaksanakao oleh ekspeditur. Karena ekspeditur berbuat atas tanggungan pengirim. sebab di sini hanya pemegang konosemen sajalah yang berhak bertindak dalam penuntutan kepada pengangkut. Terhadap penyelenggaraan urusan untuk kepentingannya ini penerima wajib memberi honorarium.jadi dia tidak bisa menuntut ganti rugi berdasar perjanjian pengangkutan. dan untuk ini ekspeditur mempunyai hak retensi. Penyelesaian ini dapat dipakai juga bagi seorang pengangkut yang bertindak sebagai ekspeditur bagi suatu transport yang bersambungan dengan trayeknya sendiri. . bila dalam perjanjian pengang-kutan itu tidak jelas benar. ada keputusan pengadilan HofsGravenhage 26 Januari 1967. Kalau hak milik sudah beralih sebelum barang diserahkan. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. Dengan ini penerima tidak secara otomatis terikat pada perjanjian ekspedisi. tetapi dapat menuntut berdasarkan perbuatan melawan hukum. Orang juga dapat berkata: pengirim tidak ada hu-bungan kontfaktuil dengan pengangkut. maka 13 PENGERTIAN Orang bertindak sebagai pengusaha transpor (transportondernemer). yang pada umumnya bukan si pengirim.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan penerima inilah yang menjadi dasar ketentuan pasal 93 dan 94 KUHD. maka ekspeditur mulai saat itu harus menjadi penyelenggara urusan (zaakwaarneming) terhadap barang-barang untuk kepentingan si penerima. Untung juga. PENGUSAHA TRANSPOR HAK GUGAT EKSPEDITUR TERHADAP PENGANGKUT Kalau seorang pengangkut melakukan perbuatan melawan hukum dan menurut pasal 91 KUHD dia bertanggung jawab atas kerugian itu. sebab pengirim tidak mempunyai hubungan kontraktuil dengan pengangkut.

pengangkut dan pengusaha transpor dapat diuraikan sebagaiberikut: pengangkutan yang aman sampai di tempat tujuan. misalnya: pasal 93. Dari itu." Kecuali itu. perbuatan pengusaha transpor juga mengandung sifat lain. Uang angkutan bagi pengangkutan yang melalui . Menurut Dorhout Mees. 2. Dengan istilah "pengusaha transpor" itu. baik yang dapat diangkut melalui trayeknya sendiri. dalam arrest-nya tanggal 17 Juni 1921. Perbuatan pengusaha transpor itu bukan pemborongan pekerjaan. Pemberian jasa itu diberikan. Purwosutjipto memperkirakan. baik bagi pengangkut umum maupun bagi pengusaha transpor. 94 dan 493 dan selanjutnya KUHD berlaku. Pengusaha transpor adalah orang bersedia menyelenggarakan Seluruh pengangkutan dengan satu jumlah uang angkutan yang ditetapkan sekaligus untuk semuanya. sifat perbuatan pengusaha transpor itu adalah pelayanan berkala. SIFAT HUKUM PERBUATAN PENGUSAHA TRANSPOR Meskipun pengusaha transpor itu menerima pekerjaan pengangkutan tertentu. 1. maupun di luarnya. yaitu: Pemberian kuasa. EKSPEDITUR DAN PENGUSAHA TRANSPOR Kalau kita berpedoman pada pasal 466 KUHD. Mengenai pengusaha jenis ini. tanpa mengikatkan diri untuk melakukan pengangkutan itu sendiri. pengusaha transpor menerima seluruh pengangkutan.. menetapkan bahwa pasal 95 KUHD tidak berlaku bagi pengusaha transpor. halaman 1089). Dalam hal ini si pengusaha transpor diberi kuasa oleh pengirim untuk melakukan segala macam pekerjaan bagi terselenggaranya 14 PERBEDAAN ANTARA PENGANGKUT. Perbuatan pengusaha transpor lebih-lebih bersifat pemberian jasa yang tidak terus-menerus. Baginya berlaku hukum kebiasaan perniagaan dan yurisprudensi.pada hal yang terakhir ini pengusaha transpor mempergunakan pengangkut lain. Jadi. H. Dari itu Purwosutjipto berpendapat bahwa sifat hukum perbuatan pengusaha transpor adalah rangkap.d. atau hanya sebagian saja yang diangkutnya sendiri. perbuatan pengusaha transpor itu hanya bersifat pelayanan berkala. Poerwadarminta. Perbedaan antara pengangkut dengan pengusaha transpor dapat pengangkut menerima pengangkutan yang dapat diangkut dalam dijelaskan sebagaiberikut: trayeknya sendiri. Perbedaan antara ekspeditur di satu pihak dengan pengangkut dan pengusaha transpor di lain pihak adalah: ekspeditur hanya bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim." sebab kata "pengangkutan" di sini menimbulkan kecenderungan orang menganggap bahwa pengusaha pengangkutan itu sama saja dengan "pengangkut. 1616 KUHPER. sebagai yang diatur dalam pasal 1604 s.R. Sudah tentu. yang selanjutnya harus diserahkan kepada penerima yang ditunjuk oleh pengirim. perbedaan antara ekspeditur. orang akan beranggapan bahwa pengusaha transpor berbeda dengan pengangkut. kata "transpor" sudah menjadi istilah bahasa Indonesia (Uhat Kamus Umum Bahasa Indonesia. karena tidak menimbulkan barang baru seperti halnya pada pemborongan. b. Purwosutjipto tidak mempergunakan istilah "pengusaha pengangkutan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan angkutan untuk seluruhnya. maka yang disebut pengangkut adalah orang yang mengikatkan diri untuk menyelenggarakan pengangkutan. yaitu pelayanan berkala dan pemberian kuasa. Sedangkan ekspeditu rmenurut pasal 86 KUHD adalah orang yang bersedia untuk mencarikan pengangkut bagi pengirim. tetapi tidak berarti bahwa dia melakukan pemborongan pekerjaan. Selanjutnya. sedangkan pengangkut dan pengusaha transpor bersedia untuk menyelenggarakan pengangkutan. a. tetapi tidak. Kecuali sifat pelayanan berkala. bila ada yang membutuhkan. Tentang pengusaha transpor ini tidak diatur dalam KUHD atau undang-undang lain. cetakan tahun 1976.

tetapi kalau jumlah dalam kwitansi itu diperinci yang terdiri dari sejumlah uang angkutan untuk pengangkutan pertama. MAKELAR KAPAL PENGERTIAN MAKELAR KAPAL Makelar kapal (cargadoor of scheepsmakelaar) adalah perantara di bidang jualbeli kapal atau carter-mencarter kapal. Kalau dalam kwitansi itu ditetapkan satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan terusan itu sekaligus. sebab pemilikan atas alat pengangkutan dan trayek tidaklah menjadi syarat bagi seorang pengusaha transpor. yakni bila jasanya dibutuhkan oleh pengusaha kapal atau oleh pencarter (pasal 1601 KUHPER). terletak dalam trayeknya. PP No 2 Tahun 1969. Makelar kapal mengusahakan selanjutnya agar kapal dimuati. baik dari pengusaha kapal atau pencarter (pasal 1792 dsl. . di bongkar dan diserahkan kembali kepada pengusaha kapal. pelayanan berkala. yang terjadi dari pengangkutan pertama. maka di sini timbul persoalan.Untuk fungsi yang terakhir ini makelar kapal bertindak atas nama pengusaha kapal. apakah pengangkut tersebut dalam menjalankan pengangkutan kedua bertindak sebagai ekspeditur. yang dilakukan oleh pengangkut lain. sedangkan pengangkutan kedua terletak di luar trayeknya. paling banter dia dapat menjadi saksi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan trayeknya sendiri. 15 SIFAT HUKUM PERBUATAN MAKELAR KAPAL Pada hemat Purwosutjipto. Begitu pula kalau seorang pengusaha transpor menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). maupun melalui trayek orang lain diperhitungkan sekaligus dan merupakan satu jumlah yang tidak diperinci lagi. Jadi. Hal yang terakhir inilah yang menjadi ciri khas dari pengusaha transpor. sebab dia bertindak bila ada amanat dari pemberi kuasa. maka terletak dalam maksud mereka. pemegang kuasa. Satu jumlah uang angkutan untuk seluruh pengangkutan di sini juga merupakan suatu tanda kita menghadapi pengusaha transpor. ataukah dia bagi seluruh pengangkutan bertindak sebagai pengusaha transpor? Jawaban dari persoalan ini dapat diberikan melalui penelitian terhadap kwitansi penerimaan uang angkutan. ditambah dengan uang angkutan bagi pengangkutan kedua. Tetapi pengangkut laut Indonesia diwajibkan memiliki alat pengangkutan (kapal) lebih dari satu unit dengan jumlah minimal 3. apakah dia dalam melakukan pengangkutan kedua ini dapat dikatakan bertindak sebagai ekspeditur atau tetap sebagai pengusaha transpor? Jawabannya tergantung dari isi perjanjian yang dibuat antara pengirim dengan pengusaha transpor tersebut. dalam hal isi itu tidak ada. b. di mana sebagian dari pengangkutan itu dilaksanakan sendiri. Persoalan timbul. yaitu : a. bilamana ada amanat dari pemberi kuasa. sifat hukum perbuatan makelar kapal itu rangkap. Perbedaan antara pengangkut dan pengusaha transpor dapat lebih jelas kalau diterapkan dalam suatu kasus sebagai berikut: Seorang pengangkut menerima suatu pengangkutan terusan (doorgaandvervoer). ditambah lagi dengan uang provisi. apakah mungkin seorang pengusaha transpor sama sekali tidak mempunyai alat pengangkutan dan juga tidak mempunyai trayeknya sendiri? Pada hemat Purwosutjipto hal yang demikian mungkin saja. sebab dia bukan pihak dalam perjanjian carter kapal. kita menghadapi seorang pengusaha transpor.000 m3 isi kotor (pasal 15 ayat (2) huruf b. sebab perbuatan itu baru dilakukan. LN 1969-2). Dorhout Mees membimbangkan apakah pengurusan ganti kerugian menjadi wewenang makelar. sedangkan selebihnya diserahkan kepada pengangkut lain. KUHPER). Persoalan lain timbul. maka kita menghadapi bagi pengangkutan yang pertama seorang pengangkut dan bagi pengangkutan kedua seorang ekspeditur. perbuatan itu kadang kala saja. Pada hemat Purwosutjipto makelar tidak berwenang mengurus persoalan ganti kerugian.

per-veem-an dan ekspedisi muatan laut pengaturannya dipersatukan dengan perusahaan laut. perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh pengatur kapal dan/ atau anak buahnya. tergantung siapa yang memberi amanat. makelar. menyelesaikan dan membayar bea cukai dan lairrlain pekerjaan kepelabuhanan. kapal. Jadi. pengusaha transpor. sebab dia bertindak sebagai makelar. pemberi kuasa. Jadi. HUBUNGAN KERJA PENGATUR MUATAN Pengatur muatan biasanya merupakan pengusaha tersendiri. pelayanan berkala. tidak termasuk perusahaan kapal. Orang ahli pengatur muatan di kapal itu disebut pengatur muatan atau juru padat atau stuwadoor. Untuk mengatur barang-barang dalam ruangan kapal yang terbatas itu dibutuhkan ahlinya yang pandai menempatkan barang-barang sesuai dengan sifat nya. dan pengatur muatan. ada pula yang mempunyai sifat yang mudah terbakar. Meskipun pengatur muatan itu merupakan perusahaan tersendiri. ada yang mudah pecah dan lain- . tetapi kalau sudah ada dalam kapal. pengatur muatan itu biasanya yang melakukan pemuatan dan pembongkaran barang. Siapa yang menjadi pemberi kuasanya.dan uitklaring". pencarter atau lain-lainnya. jangan sampai mudah bergerak kalau kapal kebetulan oleng dan lainlain. PER-VEEM-AN DAN EKSPEDISI MUATAN PENGERTIAN TENTANG PER-VEEM-AN Sampai di sini Purwosutjipto sudah membicarakan jenis-jenis perantara pengangkutan yang terdiri dari : ekspeditur. SIFAT HUKUM PERBUATAN AGEN-DUANE Sebagai juga pada perantara perkapalan yang lain. AGEN DUANE TUGAS AGEN DUANE Agen duane (convooiloper ot Douane-agent) ini adalah perantara perkapalan. maka mereka kembali ke induk perusahaannya. sebab agen-duane itu bertindak atas nama kuasanya tidak tetap. Sebagai perusahaan perantara pengangkutan laut. KUHD). b. Kalau pengatur muatan beserta anak buahnya. bila dibutuhkan. hanya kadang kala saja. Sekarang tugasnya ialah mengusahakan dokumen kapal yang dikenal dengan nama in. menjadi tanggung jawab pengusaha kapal. yang dulu tugasnya mengusahakan sebuah kapal masuk dalam rombongan kapal (convooi) tertentu. agen duane. maka segala perbuatannya tunduk pada aturan yang berlaku di kapal (pasal 321 KUHD). tentang berlakulah ketentuan-ketentuan mengenai makelar (pasal 62 dsl. misalnya pada per-veem-an dan ekspedisi muatan kapal laut. pemilik barang. Dengan ini lain. yakni dalam Peraturan 16 Pemerintah Nomor 2 Tahun 1969 (LN 1969-2). Dalam praktek di Indonesia beberapa fungsi perantara pengangkutan tersebut dipersatukan dalam sebuah perusahaan tertentu. Dua perusahaan tersebut terakhir ini adalah lazim di bidang pengangkutan laut. yang bersedia melakukan tugas pemuatan dan pembongkaran muatan dan untuk itu mempunyai anak buah sendiri. makelar. bila sudah tidak ada tugas lagi dalam kapal. sifat hukum pernyatan agenduane (convooiloper of douane agent) adalah : a. sebab hubungan kerja dengan pemberi pemberian kuasa. PENGATUR MUATAN PENGATURMUATAN Pengatur muatan (stuwadoor) atau juru padat adalah orang yang tugasnya menetapkan tempat di mana suatu barang harus disimpan dalam ruangan kapal.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan c. apakah pengusaha kapal. Sifat kodrat barang itu ada yang rnembutuhkan ventilasi yang cukup.

pengepakan. sortasi. TUGAS EKSPEDISI MUATAN KAPAL LAUT Menurut pasal 1 PP No 2 Tahur. penandaan can lain-lain pekerjaan yangbersifat teknis ekonomis yang diperlukan perdagangan dan pelayaran. pengepakan kembali. yaitu : Surat Keputusan Menteri Perdagangan tanggal 8 Juni 1970. PERINCIAN TUGAS PER-VEEM-AN DAN SIFAT-SIFATNYA Telah Purwosutjipto bicarakan tugas per-veem-an seperti yang ditentukan dalam PP No 2/1969 yaitu usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). yakni perusahaan tersendiri terpisah dari perusahaan per-veem-an. pengusaha transpor dan agenduane. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 yang dimaksud dengan per-veem-an ialah : usaha yang ditujukan pada penampungan dan penumpukan barang-barang (warehousing). yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. Menurut pasal 1 PP No 2 Tahun 1969 tersebut di atas. maka ekspedisi muatan kapal laut dapat mengandung sifat-sifat sebagai: ekspeditur.I. tugas ekspedisi muatan kapal laut ialah: usaha yang ditujukan kepada pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan yang menyangkut penerimaan/penyerahan muatan yang diangkut melalui lautan untuk diserahkan kepada/diterima dari perusahaan pelayaran untuk kepentingan pemilik barang. 1969. yang memiliki izin impor/ekspor. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-banng yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. perusahaan-perusahaan milik warga negara R. perusahaan pelayaraa atau perusahaan per-veem-an yang memiliki izin usaha berdasarkan PP No 2 Tahun 1969. sortasi. pengukuran. yang dilakukan dengan mengusahakan gudang-gudang. Izin penyelenggaraan dan pengusahaan ekspedisi muatan laut diberikan oleh Menteri Perhubungan kepada: a. Pasal 28 ayat (1) PP ini menetapkan bahwa persyaratan usaha per-veem-an dan prosedur memperoleh izin ditetapkan oleh Menteri Perdagangan. penandaan dan lain-lain pekerjaan yang bersifat teknis ekonomis diperlukan perdagangan dan pelayaran. perusahaan perdagangan antar pulau berdasarkan rekomendasi dari Menteri Perdagangan (pasal 32 PP No 2/1969). penyimpanan. penyimpanan. Sungguhpun demikian peraturan tersebut tidak menutup kemungkinan untuk mendirikan usaha ekspedisi muatan kapal secara spesialisasi. pengepakan kembali. lapangan-lapangan. pengukuran. perusahaan pelayaran atau perusahaan lainnya seperli disebut dalam pasal 32 PP No 2 Tahun 1969.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan "Penyelenggaraan dan Pengusahaan Angkutan Laut". pengepakan. Dimaksudkan oleh PP No 2/1969 agar perusahaan ekspedisi muatan kapal laut yang berdiri sendiri ini harus diarahkan kepada peningkatannya menjadi usaha per-veem-an (penjelasan pasal demi pasal PP No 2/1969. tugas ekspedisi muatan kapal laut termasuk tugas per-veem-an. di bidang pengangkutan jenis lain pun ada. Kegiatan ekspedisi muatan ini tidak hanya terdapat pada pengangkutan laut saja. pasal 32). Dari itu sebaiknya kita mengerti dulu apa yang men. tentang "Persyaratan dan Prosedur Memperoleh Izin Usaha (Per-veem-an)". yang dilakukan dengan mengusahakan gudanggudang. Tugas tersebut dapat diperinci sebagai berikut: 17 .jadi tugas ekspedisi muatan kapal laut itu. misalnya di bidang pengangkutan udara. lapangan-lapangan. yang meliputi antara lain kegiatan: ekspedisi muatan. pengangkutan jalan raya dan pada pengangkutan kereta api. No 122/Kp/VI/70. di mana dikerjakan dan disiapkan barang-barang yang diterima dari kapal untuk peredaran selanjutnya atau disiapkan untuk diserahkan kepada perusahaan pelayaran untuk dikapalkan. Memperhatikan tugas ekspedisi muatan kapal laut seperti ditetapkan dalam pasal 1 PP No 2/1969 tersebut di atas. b.

penyimpanan. dapat disimpulkan bahwa kegiatan perveem-an melip'iiti juga kegiatan ekspedisi muatan. SK Menteri Perdagangan R. Dari ketentuan-ketentuan fersebut di atas. perlengkapan mana sekurang-kurangnya sesuai untuk keperluan pengurusan kurang lebih 50 m3/ton barang. ruangan-ruangan terbuka dan tertutup serta lapangan-lapangan untuk penyimpanan barang-barang. tanggal 8 Juni 1970). Pengepakan. yang didirikan berdasar undang-undang Indonesia dan tidak bertujuan untuk melakukan kegiatan perdagangan (pasal 3. Mengenai syarat-syarat untuk dapat diberi izin berusaha di bidang per-veem-an adalah sebagai berikut: Sortasi daripada barang-barang untuk kepentingan pemilik b. atau selanjutnya disampaikan kepada pemilik barang. pelabuhan laut sebagai mainport pelabuhan laut lainnya pelabuhan pantai Rp 5. 2) Perlengkapan perusahaan berupa ruangan- ruangan kerja untuk melakukan pekerjaan.000. boomzaken dan lain-lain. sedangkan dalam wilayah pelabuhan diberikan oleh Menteri Perhubungan (pasal 28 ayat (2) PP No 2/1969). Lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. No 122/Kp/VI/70. lapangan-lapangan yang diusahakan untuk itu. c. agen duane dan lain-lain pekerjaan yang lazim dalam tata niaga barang-barang. 18 tambahan_________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .Rp 2. 1) Tenaga ahli untuk melakukan penyusunan. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an.000. penandaan barang-barang untuk kepentingan lain pemilik barang dan pengiriman selanjutnya dari barang-barang dimaksud dengan alat-alat angkutan laut. Rp 3.- menyangkut penerimaan dan penyerahan barang-barang muatan.000. c. alat pengangkut untuk pemindahan barang-barang dan perlengkapan yang diperlukan untuk menyusun barang-barang dengan baik. yang dilakukan oleh usaha-usaha per-veem-an (pasal 2. pengepakan kembali.000. barang.000.000. d. diangkut b.I. e. SK Menteri Perdagangan No 122/Kp/VI/70. Penerimaan dan penyimpanan barang-barang dalam gudanggudang. pemindahan dan penerimaan serta pengepakan barangbarang dagangan untuk kepentingan pihak ketiga dan juga tenaga-tenaga ahli dalam bidang administrasi seperti pembukuan. dengan atau tanpa mengerjakan perubahan yang bersifat teknis pada barang-barang dimaksud. yang pengangkutan. kepada perusahaan nasional yang berbentuk perseroan terbatas.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. tanggai 8 Juni 1970). Pengurusan dokumen-dokumen dan pekerjaan-pekerjaan yang melalui lautan untuk diserahkan kepada perusahaan 3) Mempunyai modal kerja: a. izin usaha penyelenggaraan kegiatan per-veem-an diberikan oleh Menteri Perdagangan.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ __________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 19 ____________________________________________________________ ______ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 20 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 21 .. 6. Kendaraan adalah satu alat yang dapat bergerak di jalan. Jaringan transportasi jalan adalah serangkaian simpul dan/atau ruang kegiatan yang dihubungkan oleh ruang lalu lintas sehingga membentuk satu kesatuan sistem jaringan untuk keperluan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan. Angkutan Darat  UU No. S.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ____________________________________________________________ ___________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ Dozen: Hendro Punto AdJi. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. 1.S. orang. 3. Terminal adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum. M. Jalan adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum.H. 2. dan hewan di jalan. yang merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi. terdiri dari kendaraan bermotor atau kendaraan tidak bermotor. 4. 5. Lalu lintas adalah gerak kendaraan. Angkutan adalah pemindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan kendaraan.

nyaman dan efisien. lancar. rambu-rambu. fungsi. marka jalan. tertib dan teratur. 9. Kendaraan bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang berada pada kendaraan itu. dan kelas jalan. Lalu lintas dan angkutan jalan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh pemerintah. b. keamanan. d. 2. peranan. alat pengendali dan alat pengaman pemakai jalan. 22 f. penggerak dan penunjang pembangunan nasional dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat. 2. Pengaturan kelas jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penjelasan: . Pasal 8 1. kapasitas lalu lintas. alat pengawasan dan pengamanan jalan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 7. jalan jalan yang tidak diperuntukan bagi lalu lintas umum. jalan dibagi dalam beberapa kelas. 2. 2. 10. Pasal 3 Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dll. yaitu jalan inspeksi minyak gas.  Pengertian jalan (pasal 1 angka 4) tidak termasuk jalan khusus. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran. Bagian Kedua Kelas Jalan dan Penggunaan Jalan Pasal 7 1. pertambangan. baik untuk angkutan orang maupun barang. Untuk pengaturan penggunaan jalan dan pemenuhan kebutuhan angkutan. Untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang terpadu dengan moda transportasi lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ditetapkan jaringan transportasi jalan yang menghubungkan seluruh wilayah tanah air. Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan dilaksanakan bcrdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. c. Penetapan jaringan transportasi jalan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan pada kebutuhan transportasi. menjangkau scluruh pelosok wilayah daratan. alat pemberi isyarat lalu lintas. ketertiban dan kelancaran lalu lintas serta kemudahan bagi pemakai jalan. jalan wajib dilengkapi dengan : a.Pengguna jasa adalah setiap orang dan/atau badan hukum yang menggunakan jasa angkutan. yang berada di jalan dan di luar jalan. e. jalan perkebunan. aman. pertumbuhan dan stabilitas sebagai pendorong. fasilitas pendukung kegiatan lalu lintas dan angkutan jalan Pasal 6 1. cepat. misalnya jalan inspeksi pengairan. untuk menunjang pemerataan. jalan komplek Unsoed. Pasal 4 1. Perusahaan angkutan umum adalah perusahaan yang menyediakan jasa angkutan orang dan/atau barang dengan kendaraan umum di jalan. 8. mampu memadukan moda transportasi lainnya. Untuk keselamatan.

untuk pengendalian lalu lintas dan angkutan kendaraan umum. Pengertian marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan atau di atas permukaan jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur. huruf. Kegiatan usaha penunjang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dilakukan oleh badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan a. Pengertian alat pengaman pemakai jalan adalah alat tertentu yang berfungsi sebagai alat pengaman dan pemberi arah bagi pemakai jalan misalnya pagar pengaman jalan. Pengertian rambu-rambu adalah salah satu alat 1. yang digunakan untuk memberikan peringatan. angka. perintah dan petunjuk bagi pemakai jalan. Pengertian fasilitas pendukung dimaksud mencakup antara lain fasilitas pejalan kaki. dan delinator e. Pengertian alat pemberi isyarat lalu lintas adalah peralatan teknis berupa isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan bunyi untuk memberi peringatan atau mengatur lalu lintas orang dan/atau kendaraan di persimpangan. kapasitas. 3. ayat (2). 3. Pengertian alat pengawasan dan pengamanan jalan adalah dapat dicegah kerusakan jalan yang diakibatkan oleh alat tertentu yang diperuntukkan guna mengawasi penggunaan jalan pengoperasian kendaraan di jalan yang melebihi ketentuan. larangan. Pembangunan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan oleh pemerintah dan dapat mengikutsertakan badan hukum Indonesia. 23 perlengkapan jalan dalam bentuk tertentu yang memuat lambang. kalimat dan/atau perpaduan diantaranya. Untuk menunjang kelancaran mobilitas orang maupun arus barang dan untuk terlaksananya keterpaduan intra dan antar moda secara lancar dan tertib. Pada terminal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang. 2. agar f. Pada hakekatnya terminal merupakan simpul dalam sistem jaringan transportasi jalan yang berfungsi pokok sebagai pelayanan umum antara lain berupa tempat untuk naik turun penumpang dan/atau bongkar muat barang. Pengertian alat pengendali adalah alat tertentu yang berfungsi antara lain untuk mengendalikan kecepatan. parkir dan halte. tata ruang. dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. garis melintang. kepadatan lalu lintas dan keterpaduan dengan moda transportasi lain. d. Penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan oleh pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. garis serong serta lambang lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan daerah kepentingan lalu lintas. c. (4)Ketentuan mengenai pembangunan dan penyelenggaraan terminal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Sesuai dengan fungsi tersebut maka dalam pembangunan terminal perlu mempertimbangkan antara lain lokasi. Pasal 10 1. di tempat-tempat tertentu dapat dibangun dan diselenggarakan terminal. Bagian Ketiga Terminal Pasal 9 . b. ukuran dan beban muatan kendaran pada ruas-ruas jalan tertentu. persilangan sebidang ataupun pada ruas jalan.

Setiap kendaraan bermotor. Untuk menunjang keselamatan. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan harus sesuai dengan peruntukannya. Fasilitas parkir untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat diselenggarakan oleh Pemerintah. kereta tempelan dan kendaraan khusus yang dibuat dan/atau dirakit di dalam negeri serta diimpor. atau warga negara Indonesia. Bagian Keempat Fasilitas Parkir Untuk Umum Pasal 11 1. ketertiban. memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan serta sesuai dengan kelas jalan yang dilalui. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. misalnya katup penyelamat. termasuk persyaratan ambang batas emisi gas buang dan kebisingan yang harus dipenuhi.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Ketentuan ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia berperan serta dalam kegiatan usaha penunjang terminal dalam rangka memberikan kemudahan kepada para pengguna jasa. dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan dapat diadakan fasilitas parkir untuk umum. 24 Bagian Ketiga Pendaftaran Kendaraan Bermotor Pasal 14 1. Pengujian dimaksudkan agar kendaraan bermotor yang akan digunakan di jalan memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Kendaraan yang dinyatakan lulus uji sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diberikan tanda bukti. kereta gandengan. Sebagai tanda bukti pendaftaran diberikan bukti pendaftaran kendaraan bermotor. 3. Setiap kendaraan bermotor yang dioperasikan di jalan wajib didaftarkan. Kendaraan-kendaraan khusus harus diuji secara khusus. kereta gandengan. kereta tempelan. masa berlaku. Pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi uji tipe dan/atau uji berkala. keamanan. 4. badan hukum Indonesia. dan pemberian tanda bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pada umumnya. kendaraan khusus memiliki peralatan tambahan yang bersifat khusus untuk penggunaan khusus. tata cara pengujian. Setiap kendaraan bermotor. dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan wajib diuji. Bagian Kedua Pengujian Kendaraan Bermotor Pasal 13 1. 2. tangki bertekanan dan lain sebagainya 2. 2. karena di samping memiliki peralatan standar yang dipersyaratkan untuk kendaraan bermotor BAB V KENDARAAN Bagian Pertama Persyaratan Teknis dan Laik Jalan Kendaraan Bermotor Pasal 12 1. . 2. 3. 3. 3. Persyaratan. Syarat-syarat dan tata cara pendaftaran. bentuk dan jenis tanda bukti pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai fasilitas parkir sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. harus sesuai dengan peruntukan dan kelas jalan yang akan dilaluinya serta wajib memenuhi pcrsyaratan teknis dan laik jalan.

dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. Untuk menjamin keselamatan lalu lintas dan angkutan di jalan. Bagian Kelima Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan Pasal 16 1. dan lain-lain yang diperlukan. Pasal 19 1. keamanan. pemeriksaan persyaratan teknis dan laik jalan. keamanan. Persyaratan keselamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pendaftaran atau surat tanda coba kendaraan bermotor.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Bagian Keenam Persyaratan Kendaraan Tidak Bermotor Bagian Keempat Bengkel Umum Kendaraan Bermotor Pasal 15 1. Agar kendaraan bermotor tetap memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. dan tata cara memperoleh surat izin mengemudi. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pasal 17 1. dan ketertiban lalu lintas dan angkutan jalan. perusahaan angkutan umum wajib mematuhi ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi pengemudi. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap kendaraan tidak bermotor yang dioperasikan di jalan wajib memenuhi persyaratan keselamatan. maka pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ini dilakukan tidak pada satu tempat tertentu dan tidak secara terus menerus 25 . Pasal 18. Bagian Kedua Pergantian Pengemudi Pasal 20 1. Pemeriksaan kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi : a. setelah memperoleh pendidikan dan latihan mengemudi. persyaratan. Untuk mendapatkan surat izin mengemudi yang pertama kali pada setiap golongan. Setiap pengemudi kendaraan bermotor. Penggolongan. Ketentuan mengenai persyaratan dan tata cara penyelenggaraan bengkel umum kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. masa berlaku. dapat dilakukan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan. b. wajib memiliki surat izin mengemudi. 2. dapat diselenggarakan bengkel umum kendaraan bermotor. Sesuai dengan tujuannya yaitu untuk keselamatan. 2. 2. 2. Pemerintah. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai syarat-syarat dan tata cara pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). dan surat izin mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. 3. surat tanda bukti BAB VI PENGEMUDI Bagian Pertama Persyaratan Pengemudi Pasal 18 1. Untuk keselamatan. 2. Pasal 14. pemeriksaan tanda bukti lulus uji. calon pengemudi wajib mengikuti ujian mengemudi.

c. mematuhi ketentuan tentang kelas jalan. menolong orang yang menjadi korban kecelakaan. wajib : a. berhenti dan parkir. 2. e. Pasal 29 Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 tidak berlaku dalam hal : a. surat izin mengemudi. atau tanda bukti lain yang sah.Penumpang kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang duduk di samping pengemudi wajib memakai sabuk keselamatan. Apabila pengemudi kendaraan bermotor sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) oleh karena keadaan memaksa tidak dapat melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b. Pasal 28 Pengemudi kendaraan bermotor bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pemilik barang dan/atau pihak ketiga. Pengemudi kendaraan bermotor yang terlibat peristiwa kecelakaan lalu lintas. peringatan dengan bunyi dan sinar. dalam hal dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16. menghentikan kendaraannya. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. alat pemberi isyarat lalu lintas. dan tanda bukti lulus uji. waktu kerja dan waktu istirahat pengemudi. persyaratan teknis dan laik jalan kendaraan bermotor. d. Pasal 23 1. rambu-rambu dan marka jalan. kendaraan bermotor di jalan. dan mempergunakan helm bagi pengemudi kendaraan bermotor roda dua atau bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah. Pasal 27 kendaraan bermotor pada waktu mengemudikan 1. menunjukkan surat tanda bukti pendaftaran kendaraan bermotor. gerakan lalu lintas. memakai sabuk keselamatan bagi pengemudi kendaraan bermotor roda empat atau lebih. tata cara penggandengan dan penempelan dengan kendaraan lain. kecepatan maksimum dan/atau minimum. c. b.Pengemudi a. Ketentuan mengenai waktu kerja dan waktu istirahat bagi penumpang kendaraan bermotor roda dua atau kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang tidak dilengkapi dengan rumah-rumah wajib memakai helm. kepadanya tetap diwajibkan segera melaporkan diri kepada pejabat polisi negara Republik Indonesia terdekat. wajib : mampu mengemudikan kendaraannya dengan wajar. . melaporkan kecelakaan tersebut kepada pejabat polisi pengemudi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. yang timbul karena kelalaian atau kesalahan pengemudi dalam mengemudikan kendaraan bermotor. b. atau surat tanda coba kendaraan bermotor. tata cara mengangkut orang dan barang.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. mengutamakan keselamatan pejalan kaki. adanya keadaan memaksa yang tidak dapat dielakkan atau di luar kemampuan. dan bagi 26 negara Republik Indonesia terdekat. penggunaan kendaraan bermotor.

disebabkan perilaku korban sendiri atau pihak ketiga. Bagian Kelima Asuransi Pasal 32 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan b. Pasal 30 1. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan orang yang dipekerjakannya sebagai awak kendaraan terhadap resiko terjadinya kecelakaan. Pengusaha angkutan umum wajib mengangkut orang dan/atau barang. Meskipun ada kesepatakan namun pengemudi atau pengusaha tidak dapat seenaknya menentukan tarif. c. ditetapkan oleh Pemerintah. 2. dan/atau pengusaha angkutan umum bertanggung jawab terhadap kerusakan jalan dan jembatan atau fasilitas lalu lintas yang merupakan bagian dari jalan itu yang diakibatkan oleh kendaraan bermotor yang dioperasikannya. bantuan yang diberikan kepada korban berupa biaya pengobatan. 2. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti telah terjadinya perjanjian angkutan dan pembayaran biaya angkutan. 2. 2. Apabila terjadi cedera terhadap badan atau kesehatan korban. Pasal 42 Struktur dan golongan tarif angkutan dengan kendaraan umum. disebabkan gerakan orang dan/atau hewan walaupun telah diambil tindakan pencegahan. pemilik. Pasal 44 . Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam hal adanya keadaan memaksa sebagaimana dimksud dalam Pasal 29 huruf a. 2. Pasal 33 1. setelah disepakatinya perjanjian pengangkutan dan/atau dilakukan pembayaran biaya angkutan oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Apabila korban meninggal. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Setiap pengemudi. pengemudi dan/atau pemilik dan/atau pengusaha angkutan umum wajib memberi bantuan kepada ahli waris dari korban berupa biaya pengobatan dan/atau biaya pemakaman. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 27 Bagian Keenam Tanggung Jawab Pengangkut Pasal 43 1. Pasal 31 1. Setiap kendaraan umum wajib diasuransikan terhadap kendaraan itu sendiri maupun terhadap kerugian yang diderita pihak ketiga sebagai akibat pengoperasian kendaraan.

2. adalah sebesar kerugian yang secara nyata diderita oleh penumpang. pengirim barang atau pihak ketiga. Pengemudi kendaraan umum dapat menurunkan penumpang dan/atau barang yang diangkut pada tempat pemberhentian terdekat. 3. Pengusaha angkutan umum dapat mengenakan tambahan biaya penyimpanan barang kepada pengirim dan/atau penerima barang yang tidak mengambil barangnya. dimulai sejak diangkutnya penumpang sampai di tempat tujuan pengangkutan yang telah disepakati. dimulai sejak diterimanya barang yang akan diangkut sampai diserahkannya barang kepada pengirim dan/atau penerima barang. Yang menjadi objek adalah jalan angkutan umum bukan jalan khusus. Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 45 1. 2. Pengusaha angkutan umum wajib mengasuransikan Angkutan jalan raya   UU No. 2. tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (1). apabila temyata penumpang dan/atau barang yang diangkut dapat membahayakan keamanan dan keselamatan angkutan. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap penumpang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Besarnya ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 3. 28 . diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. jika terjadi pembatalan pemberangkatan kendaraan umum. karena kelalaiannya dalam melaksanakan pelayanan angkutan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pengusaha angkutan umum wajib mengembalikan biaya angkutan yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pengusaha angkutan umum bertanggungjawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang. Pasal 46 1. 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. pengangkut tidak punya hak retensi. Ketentuan ayat 2 bertentangan dengan KUHD pasal 493 (1) dalam pengangkutan laut. Tanggung jawab pengusaha angkutan umum terhadap pemilik barang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 4. Pasal 47  Contoh: jalan propinsi. namun dalam pengangkutan darat pengangkut punya hak retensi. pengirim barang atau pihak ketiga. Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. di tempat tujuan dan dalam waktu yang telah disepakati. jalan kabupaten. Pasal 48 1. Jalan umum adalah jalan yang dibuat. diselenggarakan oleh pemerintah.

o o o o o  Marka jalan Rambu  sebra cross  dilarang parkir Pulau jalan Alat pengendali  terminal. selanjutnya dia naik kapal sampai di Pelabuhan Baka Heuni. dsb. Kemudian ia naik bus sampai kota lampung.   Exgratia  santunan (meskipun orang tersebut salah tapi tetap diberi Pengusaha angkutan umum bertanggung jawab atas kerugian dari Pengirim atau penerima barang baru diberikan barangnya jika ongkos santunan). 29 . kelalaian dalam pekerjaan sebesar yang nyata-nyata diderita.  angkut dilunasi. Kemudian ia naik bus sampai di pelabuhan Tanjung Priok. jalan tol. badan.   Kewenangn LLAJR yaitu uji type dan uji berkala Angakutan darat memiliki hak retensi. kompleks perumahan. contohnya adalah jalan arteri. ia naik kerete sampai di jakarta. Contoh: jalan inspeksi pengairan. misalnya atau pada umumnya adalah jalan Jalan untuk kenyamanan. kaca tanggul cembung. yang dimaksud adalah jalan umum. Untuk keselamatan di jalan maka dibuat marka jalan (tanda-tanda yang  Jalan Arteri  PP No.  Dalam UU tersebut. Fasilitas pendukung  halte bus Fungsi terminal  alat pengendali lalu lintas karena kendaraan yang Gambar jalan arteri keluar masuk ke terminal adalah kendaraan yang mempunyai izin. Alat pengaman  deni motor diberi fosfor (floresense).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Jalan khusus adalah jalan yang dibuat bukan oleh pemerintah bisa oleh pribadi. as jalan.   berada di permukaan jalan). Contohnya: orang dari jogja mau ke lampung. Dengan adanya istilah jalan umum dari UU tersebut juga berarti ada apa yang disebut dengan jalan khusus namun bukan menjadi objek yang dibicarakan dalam matakuliah ini. Contohnya sebra cross. dan diatur waktu keluar-masuknya terminal. 26 Tahun 1985 gang tanggul marka kabupaten. 14 Tahun 1992 menyebutkan “…antarmoda transportasi…”.  Dalam pasal 3 UU No. jalan pedesaan.  Jalan untuk kelancaran.

 tujuan yang sama. harus ada lintas jalan umum lain yang mempunyai asal dan tujuan yang sama sehingga para pemakai jalan bebas menentukan pilihan untuk menggunakan atau tidak menggunakan Jalan Tol. kapasitas ≥ volume lalin Jalan Tol merupakan alternatif lintas jalan umum yang ada.  = 8m . Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Jalan kolektor sekunder. lalin lokal atau kegiatan lokal. Jalan arteri sekunder. Pemerintah menyerahkan wewenang penyelenggaraan Jalan Tol kepada Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol.  = 7 m . 3. Jalan lokal primer. V = 30 km lalin rata-rata. V ≥ 40 /jam. Berdasarkan hak penyelenggaraan Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. kapasitas > dari volume lalin rata-rata. kapasitas > dari volume kota. V = 10 km /jam. Bagian Ketiga Wewenang Penyelenggaraan Jalan Tol Pasal 17 1. lalin jarak jauh tidak boleh terganggu oleh lalin ulang alik. V = 20 /jam. rata-rata.  = 5m . termasuk jalan desa. 2. untuk kendaraan bermotor roda 3 atau lebih harus punya lebar. Pasal 15 km      Jalan kolektor primer. Menhub. maka Jalan Tol dengan sendirinya menjadi jalan lintas umum tanpa tol. Penjelasan: Yang dimaksud dengan merupakan alternatif adalah bahwa selain Jalan Tol. Jalan masuk dibatasi. 13 Tahun 1980 tentang Jalan. Pasal 14 30 . Jalan Tol harus memberikan keandalan yang lebih tinggi kepada para pemakainya daripada lintas jalan umum yang ada.  Jalan arteri primer didesain untuk V = 60 km dibatasi. Jalan tol harus dibuat dengan Kepres.  Bagian Pertama Jalan Tol Pasal 13 Pemilikan dan hak penyelenggaraan Jalan Tol ada pada Pemerintah. tidak putus walaupun masuk kota. Presiden menetapkan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol. tidak putus walaupun masuk kota.  = 8m . Bagian Kedua Syarat-syarat Jalan Tol Pasal 16 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. lalin cepat tidak boleh terganggu lalin lambat.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan /jam . Jalan Tol harus mempunyai spesifikasi yang lebih tinggi daripada lintas jalan umum yang ada. yang mengusulkan adalah Jalan bisa ditolkan jika lebih dari satu jalan dan mempunyai arah dan Dipungut bayaran perkilometer. Jalan Tol   UU No. km Jalan lokal sekunder. V = 20 km /jam. Dalam hal lintas alternatif jalan umum tidak berfungsi sebagaimana mestinya.  ≥ 7 m .  = 5m . jalan masuk Atas usul Menteri. tidak putus walaupun masuk /jam.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol wajib mengganti kerugian yang diderita oleh Pemakai Jalan Tol sebagai akibat kesalahan dalam penyelenggaraan Jalan Tol. Pemakaian Jalan Tol selain sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Jalan Tol hanya diperuntukkan bagi pemakai jalan yang Perkretaapian   1 1. Dilarang memasuki Jalan Tol. Kereta api adalah kendaraan dengan tenaga gerak. baik berjalan sendiri maupun dirangkaikan dengan kendaraan lainnya. peraturan perundangundangan tentang Jalan serta peraturan perundang-undangan lainnya. 3. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB VII PERBUATAN-PERBUATAN YANG DILARANG 31  UU No. 13 Tahun 1992 tentang Perkretaapian Pengertian perkretaapian lebih luas dari pada pengertian kretaapi. ayat (2). 2. diserahkan penyelenggaraannya. dalam pasal 4. dan fasilitas penunjang kereta api untuk penyelenggaraan angkutan kereta api yang disusun dalam satu sistem. Dilarang menyelenggarakan wewenang pembinaan jalan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Jenis kendaraan bermotor dan besarnya tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden. 2. Pasal 19 1. yang akan ataupun sedang bergerak di jalan rel.”  Penyelenggaraan: Pasal 6 1. 4. 2. Badan Hukum Usaha Negara Jalan Tol sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. prasarana. Pemakai Jalan Tol wajib mentaati peraturan perundang-undangan tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya. dapat dilakukan dengan persetujuan Presiden. Pasal menggunakan kendaraan bermotor dengan membayar tol. 3. 3. Perkeretaapian adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan sarana. “Perkeretaapian dikuasai oleh Negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. Dilarang menyelenggarakan suatu ruas jalan sebagai Jalan Tol tanpa Keputusan Presiden. Perkeretaapian diselenggarakan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya diserahkan kepada badan penyelenggara yang dibentuk untuk itu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penyerahan melepaskan wewenang jawab penyelenggaraan Pemerintah Jalan Tol jalan tidak yang tanggung terhadap Pasal 20 1. kecuali Pemakai Jalan Tol dan *4979 Bagian Keempat Pemakaian Jalan Tol Pasal 18 1. 4. . Dilarang melakukan perbuatan yang dapat mengakibatkan terganggunya peranan jalan di dalam Daerah Milik Jalan dan Daerah Pengawasan Jalan. 3. Petugas Jalan Tol. Pembinaan perkretaapian. 2.

Persyaratan keahlian dan tata cara mendapatkan kualifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. dapat dilimpahkan kepada badan penyelenggara. Contohnya: westing house. 3. daerah milik jalan. Pengusahaan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 32 Pasal 8 1. 2. Pasal 14 1. . Badan usaha lain selain badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Dalam penjelasannya: Pelaksanaan penyelenggaraan angkutan kereta api oleh badan penyelenggara tidak mengurangi tanggung jawab Pemerintah dalam penyediaan prasarana dan sarana serta kualitas pelayanan kereta api. Pasal 7 1. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. dilaksanakan oleh badan penyelenggara. Pasal 10 Pasal 11 Pemerintah mengembangkan rancang bangun dan rekayasa perkeretaapian. 2. 2. Badan penyelenggara menyediakan dan merawat sarana kereta api. Pengusahaan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). BAB V 1. maupun dapat membahayakan keselamatan kereta api. dapat dilakukan oleh badan usaha lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2). Untuk menunjang kegiatan badan usaha di bidang industri. Prasarana dan sarana kereta api yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keselamatan. Pemerintah menyediakan dan merawat prasarana kereta api. Untuk memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). pertanian. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. dengan cara kerjasama dengan badan penyelenggara. 1. Pemerintah menetapkan pengaturan mengenai jalur kereta api yang meliputi daerah manfaat jalan. tanggul dan bangunan lainnya. 3. 3. menanam jenis pohon yang tinggi serta *6557 menempatkan barang pada jalur kereta api baik yang dapat mengganggu pandangan bebas. dan daerah pengawasan jalan termasuk bagian bawahnya serta ruang bebas di atasnya. Penyediaan dan perawatan prasarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan kepariwisataan oleh badan usaha yang bersangkutan dapat digunakan kereta api khusus. terhadap setiap prasarana dan sarana kereta api dilakukan pemeriksaan dan pengujian. Syarat keselamatan dan tata cara pemeriksaan serta pengujian diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 13 Untuk kelancaran dan keselamatan pengoperasian kereta api. dapat diikutsertakan dalam kegiatan perkeretaapian atas dasar kerjasama dengan badan penyelenggara. Dilarang membangun gedung. Penyediaan dan perawatan sarana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pengoperasian prasarana dan sarana kereta api hanya dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga yang telah memenuhi kualifikasi keahlian. Pasal 12  Prasarana dan sarana. pertambangan. Pasal 9 1. pagar. membuat tembok.

diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. d) berada di luar tempat yang disediakan untuk angkutan penumpang dan/atau barang. Perlintasan antara jalur kereta api dengan jalan dibuat dengan prinsip tidak sebidang. 2. Pengecualian terhadap prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). 2. naik turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang hanya dapat dilakukan di stasiun.diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai larangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Ketentuan mengenai pelaksanaan pembangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 18  Biaya Angkutan. b) menyeret barang di atas atau melintasi jalur kereta api. 2. diatur lebih lanjut oleh Menteri. 33 . pemotongan atau penyinggungan dengan jalur kereta api. Ketentuan mengenai perpotongan dan pengecualiannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Kecuali dalam hal-hal tertentu yang ditetapkan oleh badan penyelenggara. Pasal 17 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB VI Pasal 25 Pasal 20 1. dilaksanakan dengan cara yang tidak membahayakan keselamatan perjalanan kereta api. terusan. c) menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain. Pasal 16 Dalam hal terjadi perpotongan jalur kereta api dengan jalan yang digunakan untuk lalu lintas umum atau lalu lintas khusus. Pasal 15 1. baik perjalanan kereta api maupun lalu lintas di jalan. di stasiun dapat dilakukan kegiatan usaha penunjang angkutan kereta api. Stasiun merupakan tempat kereta api berangkat dan berhenti untuk melayani naik dan turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang dan/atau untuk keperluan operasi kereta api. Pembangunan jalan. 3. pemakai jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. saluran air dan/atau prasarana lain yang menimbulkan atau memerlukan persambungan. selain untuk angkutan kereta api. hanya dimungkinkan dengan tetap mempertimbangkan keselamatan dan kelancaran. e) mengganggu ketertiban dan/atau pelayanan umum. Pasal 19 1. jalur kereta api khusus. Badan penyelenggara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1). berwenang melarang siapapun: a) berada di daerah manfaat jalan kereta api. 2. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Selain berfungsi sebagai tempat naik atau turunnya penumpang dan/atau bongkar muat barang.

badan penyelenggara wajib mengembalikan jumlah biaya yang telah dibayar oleh penumpang dan/atau pengirim barang. Pasal 29 Badan penyelenggara diberi wewenang untuk: a) melaksanakan pemeriksaan terhadap pemenuhan syarat-syarat umum angkutan bagi penumpang dan/atau barang. Badan penyelenggara bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh pengguna jasa dan/atau pihak ketiga yang timbul dari Pasal 32 1) Pengirim barangnya dan/atau dari penerima barang yang yang tidak mengambil badan tempat penyimpanan ditetapkan penyelenggaraan pelayanan angkutan kereta api. diberikan dengan ketentuan: a. Pasal 30 Struktur dan golongan tarif angkutan kereta api ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 31 Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. b) melaksanakan penindakan atas pelanggaran terhadap syarat-syarat umum angkutan tersebut huruf a. Penyelenggaraan pelayanan angkutan orang atau barang dilakukan setelah dipenuhinya syarat-syarat umum angkutan yang ditetapkan badan penyelenggara berdasarkan Undang-undang ini. dikenakan biaya pcnyimpanan barang. sumber kerugian berasal dari pelayanan angkutan dan harus dibuktikan adanya kelalaian petugas. 34 . 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. mengganggu perjalanan kereta api. Karcis penumpang atau surat angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian angkutan. 2) Pengirim dan/atau penerima barang hanya dapat mengambil barang setelah biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilunasi. c) membatalkan d) menertibkan perjalanan penumpang kereta kereta api api apabila atau dianggap masyarakat dapat yang membahayakan ketertiban dan kepentingan umum. atau pihak lain yang dipekerjakan oleh badan penyelenggara. dinyatakan sebagai barang tak bertuan dan dapat dijual secara lelang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. penyelenggara dalam jangka waktu yang ditetapkan sesuai dengan syarat-syarat umum angkutan. dimulai sejak diangkutnya penumpang dan/atau diterimanya barang dan berakhir di tempat tujuan yang disepakati. wajib diangkut oleh badan penyelenggara. b. Tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). besarnya ganti rugi dibatasi sejumlah maksimum asuransi yang ditutup oleh badan penyelenggara dalam hal penyelenggaraan kegiatannya. 2. 3) Barang yang tidak diambil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) lebih dari waktu tertentu. Pasal 26 Penumpang dan/atau barang yang telah memenuhi syarat-syarat umum angkutan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25. Pasal 28 1. Pasal 27 Jika terjadi pembatalan pemberangkatan perjalanan kereta api oleh badan penyelenggara.

POS Weselpos. pendiriannya dibuat oleh notaris. Pengangkutan laut tidak mengenal hak retensi. giro pos tidak ada hubungannya dengan bank. Dosen tidak sepakat bahwa karcis sebagai tanda bukti terjadinya perjanian. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksudkan dengan: 35 . sedangkan pengusaha transport mengusahakan angkutan dengan alat sendiri ataupun bukan dan trayek sendiri ataupun orang lain.  digunakan lalu lintas umum/lalu lintas khusus pemakai jalan wajib mendahulukan kereta api. kereta tersebut menempuh jarak 200m.  Dalam pasal 25 ayat 2 disebutkan bahwa karcis penumpang/angkutan barang merupakan tanda bukti terjadinya perjanjian pengangkutan. 5 Tahun 1995. bahwa untuk bisa berhenti setelah kereta di rem. Pasal 35 1) Penderita cacat dan/atau orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam bidang angkutan kereta api. dengan ongkos angkut dibayar sekaligus. dasarnya pasal 1320 BW. namun pada saat ini  pembayaran angkutan laut dilakukan di depan. dengan cek pos. sama dengan pengusaha angkutan. 2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).  diperoleh dan biaya atas pelayanan yang udah dinikmati. Hal ini hanya merupakan alasan teknis. Pasal 34 Badan penyelenggara wajib mengasuransikan tanggung jawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28. 6 Tahun 1984 tentang POS POS termasuk pengusaha transport. KA) dan sebagai alat bukti (tidak mempunyai hak tagih).   Badan yang diserahi tugas penyelenggaraan POS adalah PT. Pengusaha angkutan menyelenggarakan angkutan dengan alat sendiri dan trayek sendiri.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan  Pasal 33 Pengangkutan barang berbahaya dilaksanakan sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku. POS   UU No. Pada prinsipnya perkretaapian diselenggarakan oleh negara Perlintasan kereta api dengan jalan raya dibuat dengan prinsip tidak Dalam hal terjadi perpotongan jalan kereta api dengan jalan yang Karcis kereta api merupakan surat yang berharga karena: tidak dapat diperjual belikan (hanya PT. demikain juga berdasarkan PP no.  Pengirim dan penerima barang mempunyai hak retensi  penafsiran pasal 32 ayat 2. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.  Ganti rugi yang diberikan adalah sebesar asuransi yang ditutup badan Pengertian kerugian yang diderita tidak termasuk keuntungan yang akan penyelenggara. Pengusaha transport serupa tapi tak   sebidang.

Suratpos adalah nama himpunan untuk surat. 36 . 2. Menteri melimpahkan tugas dan wewenang pengusahaan pos kepada badan yang oleh negara ditugasi mengelola pos dan giro yang dibentuk sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menteri adalah menteri yang bertanggung jawab di bidang penyelenggaraan pos. Surat adalah berita atau pemberitahuan secara tertulis atau terekam yang dikirim dalam sampul tertutup. Kiriman adalah satuan suratpos atau paketpos dalam proses pertukaran. 11. 2. dan kartupos untuk pihak ketiga. 3. 3. Kiriman-pos adalah kantong atau wadah lain yang berisi himpunan surat-pos dan/atau paketpos untuk dipertukarkan. Cekpos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang untuk pembayaran dengan cek melalui pos. 12. Pos diselenggarakan dengan memberikan perlakuan yang sama kepada masyarakat tanpa perbedaan. termasuk perwakilan atau pegawainya. 2. Ketentuan ayat (2) tidak berlaku. dan bungkusan kecil. 6. Weselpos adalah sarana pelayanan pengiriman uang melalui pos. paket. badan yang bertugas menerima. barang-cetakan. 9. Kuitansi-pos adalah sarana pelayanan penagihan uang melalui pos. 4. Kartupos adalah surat yang ditulis di atas kartu dengan bentuk dan ukuran tertentu. dianggap telah melakukannya dengan memungut biaya. Perusahaan yang melakukan usaha pengiriman suratpos jenis tertentu. Paketpos adalah kemasan yang berisi barang dengan bentuk dan ukuran tertentu. 8. 13. yang menerima. warkatpos. kartupos. 3. BAB II PEMBINAAN POS Pasal 2 1. uang. 10. Giropos adalah sarana pelayanan lalu-lintas uang dengan pemindahbukuan melalui pos. kesatuan dan keutuhan kehidupan bangsa dan Pasal 4 1. Pos adalah pelayanan lalu lintas suratpos. serta kartupos dengan memungut Pasal 3 1. Pos diselenggarakan oleh negara. yang diselenggarakan oleh badan yang ditugasi menyelenggarakan pos dan giro. Setiap perusahaan angkutan dan media telekomunikasi untuk umum. 7. 4. Menteri bertindak sebagai penyelenggara Administrasi Pos Indonesia yang pelaksanaannya dilakukan oleh pejabat atau badan yang ditunjuk untuk itu. warkatpos. Warkatpos adalah surat yang memenuhi persyaratan tertentu. apabila pengiriman surat tersebut dilakukan untuk keperluan perusahaan yang bersangkutan. Pos diselenggarakan guna mendukung pembangunan serta memperkuat persatuan. 5. membawa dan/atau menyampaikan surat. 2. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) adalah satusatunya biaya. sekogram. barang. dan pelayanan jasa lainnya yang ditetapkan oleh Menteri. negara dengan memberikan pelayanan yang sebaik mungkin ke seluruh wilayah Indonesia dan dalam hubungan antar bangsa. warkatpos. membawa dan/atau menyampaikan surat. surat-kabar.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. dan uang harus mendapat izin berdasarkan persyaratan yang diatur oleh Menteri.

tarif pos yang sejalan dengan peningkatan dan pengembangan pos. pemeriksaan.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 5.batas ukuran. Pembukaan. berat. 4. 2. laut. laut. Kewajiban mengangkut kiriman-pos sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dapat berlaku juga bagi semua pihak yang menyelenggarakan angkutan darat. Pasal 6 Pemeriksaan atas kiriman-pos wajib didahulukan oleh instansi yang berwenang. dan media telekomunikasi untuk umum. 2.penerbitan dan penjualan Pasal 9 1. 3. Setiap perusahaan angkutan darat. Pasal 10 37 prangko. atau yang buntu karena sesuatu sebab. udara. 6.klasifikasi suratpos dan paketpos untuk menentukan prioritas pengiriman dan penyampaiannya. Pasal 5 1. Untuk keperluan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) setiap perusahaan angkutan umum wajib menyampaikan jadwal perjalanannya dan media telekomunikasi untuk umum wajib menyampaikan jadwal hubungannya kepada Menteri atau badan yang ditunjuknya. 2. 5.pengiriman dengan perhitungan kemudian melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). 2.pembebasan tarif pos. atau hal-hal lain di luar kemampuan manusia.jenis benda yang dilarang pengirimannya melalui badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3).tata cara meminta kembali kiriman atau mengubah alamatnya oleh pengirim. sebagaimana yang ditentukan oleh yang berwenang. Pengecualian terhadap ketentuan sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 9. wajib mengangkut kiriman-pos yang diserahkan kepadanya oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3). Pasal 7 Kiriman masih tetap merupakan milik pengirim selama belum diserahkan kepada penerima.persyaratan dan 1. Menteri menetapkan : a. udara. keadaan darurat. 8. Susunan tarif pos diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan penyitaan atas surat serta kiriman dilakukan berdasarkan undang-undang.pelaksanaan tugas pelayanan dan penyampaian suratpos untuk daerah kecamatan dan pedesaan. 7. Rahasia surat yang dikirim melalui pos dijamin oleh negara.pekerjaan lain yang diserahkan kepada badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3).cara menangani kiriman yang ditolak oleh penerima yang dituju dan yang tidak dapat dikembalikan kepada pengirim.perincian penyelenggaraan pos. 3. . 11. b. 4. Pengangkut bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan kiriman-pos yang diserahkan kepadanya untuk diangkut. dan telekomunikasi bukan untuk umum dengan menerima imbalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 11 Dengan Peraturan Pemerintah ditetapkan ketentuan-ketentuan tentang: 1. 10. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan isi kiriman. BAB III PENYELENGGARAAN POS Pasal 8 Menteri dapat melakukan pembatasan penyelenggaraan pos jika terjadi bencana alam.

b. Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) bertanggung jawab kepada pengirim apabila terjadi: a. kehilangan atau kerusakan isi surat atau isi paketpos yang b. 6. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf b untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf c adalah ditetapkan oleh Menteri. melakukan penagihan dan pembayaran uang melalui kuitansipos. untuk peristiwa menurut ketentuan ayat (1) huruf a adalah sebesar jumlah yang dipertanggungkan dengan ketentuan bahwa jika isi kiriman itu hanya sebagian yang hilang. atau hal lain di luar kemampuan berwenang. keadaan darurat. Ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (2) tidak diberikan jika: a. c.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan biaya yang berhubungan dengan angkutan kiriman-pos serta tanggung jawab pengangkutannya. atau yang disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian pengirim.kerusakan isi paketpos tanpa harga tanggungan. 5. menerima setoran dan simpanan serta melakukan pembayaran uang tabungan. Pasal 15 sebanding dengan kerusakan yang diderita dengan memperhatikan jumlah maksimum yang ditetapkan. tanggungan. Tuntutan ganti rugi tidak berlaku jika peristiwa kehilangan atau kerusakan terjadi karena bencana alam. Ganti rugi tidak diberikan untuk kerugian yang tidak langsung atau untuk keuntungan yang tidak jadi diperoleh. Pasal 13 Pengiriman benda yang dapat membahayakan kiriman. 7. 3. dikirim dengan harga tanggungan. surat atau paketpos ternyata dipertanggungkan dengan harga tanggungan yang melebihi harga sebenarnya.hal-hal lain yang perlu guna menjamin kelancaran penyelenggaraan pos. Pasal 14 Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan lalu lintas uang untuk: 1. menerima setoran dan melakukan pembayaran uang melalui wesel-pos.kehilangan suratpos tercatat atau paketpos tanpa harga c. 2. Ganti rugi yang diberikan oleh badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3): a. b. 4. yang disebabkan oleh kekeliruan dalam penyelenggaraan pos. c. dan 3. ditetapkan oleh Menteri. c. dan 12. maka ganti rugi diberikan untuk bagian yang hilang itu. dilarang. b. atau keselamatan orang. Tuntutan ganti rugi terhadap kiriman hanya dapat diajukan *5523 berdasarkan ketentuan Undang-undang ini. sebagaimana yang ditentukan oleh yang 38 . kiriman-pos. 2. Pasal 12 1. kerusakan terjadi karena sifat atau keadaan barang yang kerusakan terjadi karena pengepakan yang kurang memadai dikirimkan. Tenggang waktu dan persyaratan yang harus dipenuhi untuk memperoleh ganti rugi sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) dan ketentuan tentang barang yang hilang dan yang ditemukan kembali. manusia.

pesawat udara. selain uang Kantor Perbendaharaan Negara. seperti penerbangan. Wilayah udara adalah ruang udara di atas wilayah daratan dan perairan Republik Indonesia. 2. dan 2. diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Keuangan dengan mengindahkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pesawat udara adalah setiap alat yang dapat terbang di atmosfer karena daya angkat dari reaksi udara. 149 Jo. . Perjanjian Internasional  Perjanjian Warsawa 12 Oktober 1929 dengan Stb. namun kemungkinan Ppnya amsih berlaku sepanjang tidak bertentangan (katanya). pemeriksaan sebab-sebab kecelakaan dan lain-lain. 39 Dasar Hukum Penerbangan Nasional Indonesia dan keselamatan penerbangan. 1939 No. 15 Tahun 1992 tentang Penerbangan. tanda-tanda isyarat yang harus dipergunakan di dalam penrbangan. bandar udara.  Verordening Toesicht Luchtvaart. 15 Tahun 1992  Pasal 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Badan sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 3 ayat (3) memberikan pelayanan giropos untuk: 1.  Perjanjian Roma 29 Mei 1933. Stb. 3. 2. 1936 No. 15 Tahun 1992. Penerbangan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan wilayah udara.  OPU sudah tidak berlaku setelah UU No. Perjanjian ini telah diperbaharui pada tahun 1952. syaratsyarat jasmani rokhani. serta kegiatan dan fasilitas penunjang lain yang terkait. menerima setoran. 1939 No. keamanan Pengangkutan Udara  1. dalam UU ini yang dimaksud dengan: 1. 50yang mengatur pencegahan penyakit menular bagi penumpang. menerima dan melakukan pembayaran dengan cara-cara lain. 1939 No. Stb. 3. UU No. 1936 No. 344 yang membahas tentang pengangkutan udara internasional. mengatur personil.  Luchtvaartquorantieue ordonantie. 5 Tahun 1985. Pasal 18 Penyelenggaraan hubungan pos internasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan dalam "Akta tentang Pos Internasional" yang berlaku  Luchtverkeersverordening. sudah tidak berlaku sejak ada UU No. angkutan udara. 426 yang mengatur pengawasan atas penerbangan. Stb. Ilmu Pengetahuan. Stb. Peraturan  UU No. melakukan pembayaran dengan pemindahbukuan atau dengan cekpos. Pasal 17 Penyelenggaraan pos untuk Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur oleh Menteri bersama-sama dengan Menteri Pertahanan Keamanan. 425 yang mengatur tentang lalu lintas undara. mengatur tentang tanggung jawab udara mengenai kerusakan atau kerugian yang dialami pihak ke-3 di muka bumi. Pasal 16 Pemanfaatan uang yang tidak segera diperlukan.

4. Pesawat terbang adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. 3. Pangkalan udara adalah kawasan di daratan dan/atau di perairan dalam wilayah Republik Indonesia yang dipergunakan untuk kegiatan penerbangan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Bandar udara adalah lapangan terbang yang dipergunakan untuk mendarat dan lepas landas pesawat udara. Pesawat udara Indonesia adalah pesawat udara yang didaftarkan dan mempunyai tanda pendaftaran Indonesia. 7. sumber daya manusia yang profesional serta didukung industri pesawat terbang nasional yang tangguh. dan dapat terbang dengan tenaganya sendiri. 15. 9. 14. dan bergerak dengan tenaganya sendiri. 8. 12. Penyelenggaraan penerbangan dilaksanakan berdasarkan ketentuan dalam Undang-undang ini. 13. BAB IV PEMBINAAN Pasal 7 1. terwujudnya sarana dan prasarana penerbangan yang andal. Helikopter adalah pesawat udara yang lebih berat dari udara. dengan memperhatikan seluruh aspek kehidupan masyrakat untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. serta dilengkapi dengan fasilitas keselamatan penerbangan dan sebagai tempat perpindahan antar moda transportasi. Kelaikan udara adalah terpenuhinya persyaratan minimum kondisi pesawat udara dan/atau komponen-komponennya untuk menjamin keselamatan penerbangan dan mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. dan/atau bongkar muat kargo dan/atau pos. Pesawat udara negara adalah pesawat udara yang dipergunakan oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dan pesawat udara instansi Pemerintah tertentu yang diberi fungsi dan kewenangan untuk menegakkan hukum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pembinaan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). dapat terbang dengan sayap berputar. Pesawat udara sipil asing adalah pesawat udara yang didaftarkan dan/atau mempunyai tanda pendaftaran negara bukan Indonesia. kargo. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Angkutan udara niaga adalah angkutan udara untuk umum dengan memungut pembayaran. 2. naik turun penumpang. Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang. 40 perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara. Pesawat udara sipil adalah pesawat udara selain pesawat udara negara. Pembinaan penerbangan diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan penerbangan dalam keseluruhan moda transportasi secara terpadu. bersayap tetap. 10. dan pos untuk satu . 5.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 4. 11. Pasal 8 Prasarana dan sarana penerbangan yang dioperasikan wajib mempunyai keandalan dan memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. Pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia adalah pesawat udara negara yang dipergunakan dalam dinas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Penerbangan dikuasai oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. 6.

hukum Indonesia. dan dioperasikan oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia untuk jangka waktu pemakaiannya minimal dua tahun secara terus menerus berdasarkan suatu perjanjian sewa beli. Pembebanan hipotek pada pesawat terbang dan helikopter sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didaftarkan. terhadap hipotik pesawat terbang dan helikopter berlaku ketentuan KUHPerdata. Dalam penjelasan ayat 1. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh dan mencabut tanda BAB V PENDAFTARAN DAN KEBANGSAAN PESAWAT UDARA *6616 SERTA PENGGUNAANNYA SEBAGAI JAMINAN Pasal 9 1. dimiliki oleh warga negara Indonesia atau dimiliki oleh badan dimiliki oleh warga negara asing atau badan hukum asing Pasal 12 1. 3. kebangsaan Indonesia sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan jenisjenis pesawat terbang dan helikopter tertentu yang dapat dibebaskan dari kewajiban memiliki tanda kebangsaan. Selain tanda pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Tanda kebangsaan Indonesia hanya diberikan kepada pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran Indonesia.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. Pesawat terbang dan helikopter yang telah mempunyai tanda pendaftaran dan kebangsaan Indonesia dapat dibebani hipotek. 2. Pasal 11 1. Pesawat udara yang dapat digunakan di wilayah Republik *6617 Indonesia hanya pesawat udara Indonesia. 3. 2. Ketentuan dalam pasal ini tidak menutup pembenahan pesawat terbang dan helikopter dengan hak jaminan lain sesuai dengan peraturan yang berlaku Pasal 10 1. pesawat terbang dan helikopter yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda kebangsaan. b. 2. dimiliki oleh lembaga tertentu yang diizinkan Pemerintah. c. . Dilarang memberi atau mengubah tanda-tanda pada pesawat udara sipil sedemikian rupa sehingga menyerupai pesawat udara negara. 41 BAB VI PENGGUNAAN PESAWAT UDARA Pasal 13 1. Pesawat udara sipil yang dapat memperoleh tanda pendaftaran Indonesia adalah pesawat udara yang tidak didaftarkan di negara lain dan memenuhi salah satu ketentuan sebagai berikut : a. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. sewa guna usaha atau bentuk perjanjian lainnya. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pesawat udara yang dioperasikan di Indonesia wajib mempunyai tanda pendaftaran. d. Ketentuan mengenai pendaftaran pesawat udara sipil sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan pendaftaran pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dimiliki oleh instansi Pemerintah.

. 3. Setiap pesawat udara sipil Indonesia atau asing yang tiba di atau berangkat dari Indonesia. penumpang dan barang. Dilarang melakukan perekaman dari udara dengan menggunakan pesawat udara kecuali atas izin Pemerintah. Pasal 14 Jenis dan penggunaan pesawat udara sipil dan pesawat udara negara diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. 3. Setiap personil penerbangan wajib memiliki sertifikat kecakapan. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara serta ketentuan mengenai pemeriksaan dan pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hanya dapat mendarat di atau tinggal landas dari bandar udara yang ditetapkan untuk itu. 4. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. hanya dapat dilakukan berdasarkan izin khusus Pemerintah. 3. Sertifikat kecakapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan. Penggunaan pesawat udara sipil asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. Setiap pesawat udara yang dipergunakan untuk terbang wajib memiliki sertifikat kelaikan udara. Penggunaan pesawat udara negara asing dari dan ke atau melalui wilayah Republik Indonesia. 2. 2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak berlaku dalam keadaan darurat. 1. Untuk memperoleh sertifikat kelaikan udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan pemeriksaan dan pengujian. dan/atau penduduk atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain. Izin khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 19 1. 3. Pasal 15 1. hanya dapat dilakukan berdasarkan perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral atau izin khusus Pemerintah.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Pasal 16 Dilarang menerbangkan pesawat udara yang dapat membahayakan keselamatan pesawat udara. 2. BAB VII KEAMANAN DAN KESELAMATAN PENERBANGAN Pasal 18 1. Pasal 17 42 Pasal 20 Setiap fasilitas dan/atau peralatan penunjang penerbangan wajib memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan. 2.

2. 3. Penentuan lokasi. Selama bersangkutan terbang. Pasal 22 1. boing 747. Jenis dan bentuk tindakan yang dapat diambil untuk keamanan dan keselamatan penerbangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Kewenangan yang diatur dalam UU ini untuk memberikan landasan hukum bagi tindakan yang diambil oleh kapten penerbangan dalam rangka keamanan dan keselamatan penumpang. Pengertian selama penerbangan ialah sejak saat pintu keluar pesawat udara ditutup setelah naiknya penumpang (embarkasi) sampai saat pintu dibuka untuk penurunan penumpang (debarkasi). pesawat udara yang terbang di wilayah Republik Indonesia diberikan pelayanan navigasi penerbangan. kapten penerbang pesawat udara yang untuk mempunyai wewenang mengambil tindakan BAB VIII BANDAR UDARA Pasal 25 1. dan pembangunan bandar udara termasuk kawasan di sekelilingnya wajib memperhatikan ketentuan keamanan penerbangan. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya berlaku terhadap pesawat terbang dan helikopter. Misalnya. perawatan. gedung bertingkat dengan ketinggian 25 m harus dibongkar demi keselamatan lalu lintas penerbangan. bandara Agi sutjipto jogja tidak dapat diperluas untuk mendarat pesawat berbadan lebar seperti DC 10. Pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan biaya. perencanaan. 2. 2. Pendapatan dari biaya navigasi penerbangan dikelola sesuai UU. Dalam rangka keselamatan penerbangan. sehingga untuk pembuatan bandara internasional dipilih bandara solo. Demikian juga di medan. pembuatan. . pelayanan anvigasi penerbangan meliputi antara lain pelayanan lalulintas udara. perakitan. keselamatan penerbangan. 2. 3. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Air Bus. meteorologi. pembuatan rancang bangun. Pasal 26 43 keamanan dan keselamatan penerbangan. dan suku cadangnya ditetapkan oleh Pemerintah. Pemerintah menetapkan bagian wilayah darat dan/atau perairan Republik Indonesia untuk dipergunakan sebagai bandar udara. dll karena lokasinya yang dekat gunung. Persyaratan dan tata cara pemberian pelayanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Persyaratan keselamatan penerbangan dalam kegiatan rancang bangun. Pasal 23 1.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 21 1. dan penyimpanan pesawat udara termasuk komponen-komponen. Menurut penjelasan pasal ini. komunikasi penerbangan dari fasilitas bantu navigasi penerbangan. dan kelestarian lingkungan kawasan bandar udara.

hanggar. toko gudang. mendirikan bangunan atau melakukan kegiatan-kegiatan lain di dalam maupun di sekitar bandar udara yang dapat membahayakan keamanan dan keselamatan penerbangan. ayat (2). dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2). Pasal 28 Dilarang berada di bandar udara. Badan hukum Indonesia dapat diikutsertakan dalam penyelenggaraan bandar udara untuk umum sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) atas dasar kerja sama dengan badan usaha milik negara yang melaksanakan penyelenggaraan bandar udara untuk umum. bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta untuk penerbangan Haji dan TNI AU. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib membantu usaha pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan pesawat udara. bandara Juanda Surabaya untuk penerbangan sipil dan TNI AL. 3. Penyelenggaraan bandar udara untuk umum dan pelayanan navigasi penerbangan dilakukan oleh Pemerintah dan pelaksanaannya dapat dilimpahkan kepada badan usaha milik negara yang didirikan untuk maksud tersebut berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. naiuk-turunya pesawat haji. jasa perawatan pada umumnya. bandar udara khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan izin 44 . Dalam PP dapat diatur mengenai penggunaan bersama bandara atau pangkalan udara untuk penrbangan sipil dan penerbangan Angkatan Bersenjata RI. dan perawatan fasilitas penunjang bandar udara untuk umum dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia atau warga negara Indonesia. BAB IX PENCARIAN DAN PERTOLONGAN KECELAKAAN SERTA PENELITIAN SEBAB-SEBAB KECELAKAAN PESAWAT UDARA Pasal 32 Pemerintah wajib melakukan pencarian dan pertolongan terhadap setiap pesawat udara yang mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Bandara Milik Misionaris. jasa boga. 2. Pengaturan mengenai pencarian dan pertolongan terhadap pesawat udara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pembangunan dan/atau pengoperasian Pemerintah. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 27 1. Pasal 33 1. perawatan dan pengoperasian serta pelayanan navigasi penerbangan di bandar udara khusus diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. Pengadaan. parkir. kargo/pas dibandara lain hotel. 2. Fasilitas penumpang bandara adalah fasilitas yang diperlukan untuk memperlancar arus lalu lintas penumpang. 4. Contoh: Halim Perdana Kusuma adalah untuk penerbangan pendaratan pesawat tamu kenegaraan atau acara kenegaraan. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. pengoperasian. Dalam rangka menunjang kegiatan tertentu dapat diselenggarakan bandar udara khusus. Contoh: bandara Adi Sutjipto Jogja digunakan oleh penerbangan sipil dan TNI AU.

2. Pemerintah menyelenggarakan angkutan udara perintis untuk melayani jaringan dan rute penerbangan yang menghubungkan daerahdaerah terpencil dan pedalaman atau yang sukar terhubungi oleh moda transportasi lain. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 3. 2. Penyelenggaraan angkutan udara perintis sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 39 Perusahaan angkutan udara asing dilarang melakukan angkutan udara niaga di dalam negeri. Kegiatan angkutan udara niaga yang melayani angkutan di dalam negeri atau ke luar negeri hanya dapat diusahakan oleh badan hukum Indonesia yang telah mendapat izin. 2. 3. 45 . lembaga tertentu atau perorangan warga negara Indonesia yang telah mendapat izin. Pasal 35 Dalam hal pesawat udara asing mengalami kecelakaan di wilayah Republik Indonesia. Kegiatan angkutan udara bukan niaga dapat dilakukan oleh Pemerintah atau badan hukum Indonesia. Usaha angkutan udara niaga dilakukan secara berjadwal dan tidak berjadwal. Pasal 37 1. Pasal 41 1. Penetapan jaringan dan rute penerbangan international diatur oleh Pemerintah berdasarkan perjanjian antar negara. mengubah letak pesawat udara. BAB X ANGKUTAN UDARA Pasal 36 1. 3. mengambil bagian pesawat udara atau barang lainnya yang tersisa akibat dari kecelakaan pesawat udara sebelum dilakukan penelitian terhadap penyebab kecelakaan tersebut. Ketentuan mengenai penelitian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 38 1. Ketentuan mengenai penetapan jaringan dan rute penerbangan dalam negeri untuk angkutan udara niaga berjadwal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dengan mempertimbangkan keterpaduan antar moda angkutan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan Pasal 34 1. dan wakil pabrik pesawat udara yang bersangkutan dapat disertakan sebagai peninjau dalam penelitian. ditetapkan oleh Pemerintah. wakil perusahaan angkutan udara yang bersangkutan. Pemerintah melakukan penelitian mengenai penyebab setiap kecelakaan pesawat udara yang terjadi di wilayah Republik Indonesia. wakil pemerintah tempat pesawat udara didaftarkan. Pasal 40 Struktur dan golongan tarif angkutan udara niaga. Perusahaan angkutan udara niaga. wajib mengangkut orang dan/atau barang. Setiap orang dilarang merusak atau menghilangkan bukti-bukti. setelah disepakati perjanjian pengangkutan.

Pasal 43 1. 2. dianggap sebagai satu pengangkutan udara. 2. apabila oleh pihak-pihak yang bersangkutan diperjanjikan sebagai satu perjanjian pengangkutan udara. hilang atau rusaknya barang yang diangkut. 3. Perusahaan angkutan udara yang melakukan kegiatan angkutan udara niaga bertanggungjawab atas : a. Batas jumlah ganti rugi terhadap tanggung jawab pengangkut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 45 Pasal 42 1. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. diangkut apabila terbukti hal tersebut merupakan kesalahan pengangkut. Ditinjau secara yuridis. ketentuan dalam Undang-undang ini hanya berlaku untuk tanggung jawab dalam rangka pengangkutan udara. 2. musnah. keterlambatan angkutan penumpang dan/atau barang yang Pasal 47 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan tanggungjawabnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 dan Pasal 44 ayat (1). Pasal 44 1. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. c. ketiga yang diakibatkan oleh pengoperasian pesawat udara atau kecelakaan pesawat udara atau jatuhnya benda-benda lain dari pesawat udara yang dioperasikan. Tiket penumpang atau tiket bagasi merupakan tanda bukti telah disepakati perjanjian pengangkutan dan pembayaran biaya angkutan. Pasal 48 Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara wajib mengasuransikan awak pesawat udara yang dipekerjakannya. . kematian atau lukanya penumpang yang diangkut. betulkah tiket penumpang sebagai bukti perjanjian udara? Karena tiket hanya ditandatangani pengangkut maka ini merupakan tanda buktyi pembayaran ongkos angkut. Penyandang cacat dan orang sakit berhak memperoleh pelayanan berupa perlakuan khusus dalam angkutan udara niaga.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 2. Setiap orang atau badan hukum yang mengoperasikan pesawat udara bertanggungjawab terhadap kerugian yang diderita oleh pihak 46 Pasal 49 Pengangkutan udara yang dilakukan berturut-turut oleh beberapa perusahaan angkutan udara. Persyaratan dan tata cara untuk memperoleh ganti rugi dan batas jumlah ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemernitah. b. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 46 Dalam pengangkutan campuran yang sebagian dilaksanakan melalui angkutan udara dan sebagian melalui moda angkutan lainnya.

barang gasi dan barang kiriman. 2. sejak pengangkut cek in di Bandara. 3. Dalam keadaan tertentu pesawat udara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dapat dipergunakan untuk keperluan angkutan udara sipil dan sebaliknya. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerusakan timbul karena kesalahan dalam mengemudikan pesawat. 2. b) Limitation of Liability Yaitu tanggung jawab terbatas. Prinsip I a) Presumtion of Liabilities Dugaan pengankut selalu bertanggung jawab. . barang bagasi. seperti dompet. Tanggung jawab pengangkut atas barang bagasi barang dimulai saat barang diterima pengangkut hingga barang diambil penumpang saat cek out di tempat tujuan. Yang Diangkut oleh Pengngkut (4 jenis objek yang diangkut): 1. pengangkut bertanggung jawab terhadap penumpang sejak naik tangga pesawat hingga keluar pintu pesawat melalui tangga pesawat di tempat tujuan. untuk penerbangan perintis 15 kg. ia hanya mengirimkan baranag. tanggung jawab atas barang bagasi tangan ada di tangan penumpang. dalam arti sebagian ada di bawah pengawasan dan tanggung jawab penumpang pemilik barang seperti bagasi  barang. dengan bukti angkutan bilyet barang bagasi diserahkan penumpang pada pengangkut. maka hal ini menimbulkan adanya sistem tanggung jawab yang berbeda. dia telah mengambil semua tindakan yang diperlukan lain yang beratnya maksimal 5 kg. Untuk barang ini biasanya pemilik barang tidak ikut naik pesawat. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa ia menghindarkan timbulnya kerugian atau baginya tidak mungkin mengambil tindakan tersebut.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 1. barang kiriman. Karena jenis yang diangkut berbeda-neda dan tanggung jawab masingmasing yang diangkut tidak sama. Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pengangkut maka pengangkut bebas dari tanggung jawab dalam hal: 1. 4. tas kantor dan lain47  Prinsip tanggung jawab dalam OPU 1. bagasi tangan. sistem ini berlaku untuk penumpang. Bagasi tangan adalah baranag-baranag pribadi yang selalu di bawa penumpang. tas wanita. tustel. sebagai imbalannya ditetapkan suatu limit ganti rugi. Tanggung jawab pengangkut sejak barang diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. dengan bukti angkutan surat muatan udara (Luchtvrochtrieft). Berat barang maksimal 20 kg untuk penerbangan dalam negeri dan 30 kg untuk penerbangan keluar negeri. Dalam keadaan biasa pengangkut dianggap selalu bertanggung jawab. pengangkutan barang dan bagasi. untuk penumpang yang telah membeli tiket pesawat udara. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 2. Untuk barang ini biasanya pemilik baranag diserahkan pengirim pada pengangkut sampai dengan diambil ditempat tujuan. tidak ada bukti surat angkutan tetapi hanya diberikan struk sebagai tanda inisial pemilik yang diikatkan pada bagasi tangan. kesalahan navigasi. Penumpang dengan bukti angkutan tiket. tanpa perlu dibuktikan apakah ada suatu perbuatan melawan hukum atau ada kesalahan apapun. merupakan hak setiap penumpang kecuali balita.

tanpa limit pengangkut bertanggung jawab pengangkut bertanggung jawab dalam keadaan biasa pengangkut dianggap tidak bertanggung jawab. kesalahan pengangkut. berlaku pada saat overmacht. • Jalan tol jalan tol dibuat melalui Kepres atas usulan Menhub. Balita hanya berhak atas bagasi tangan. bila pengangkut dapat membuktikan bahwa kerugian disebabkan atau disebabkan karena kelalaian pihak yang dirugikan. a) Prinsip Preseumtion of non liability yaitu prinsip dugaan tidak bertanggung jawab. Kriteria overmacht adalah sudah melakukan usaha penanganan namun tidak mampu (asalkan sudah melakukan usaha). memperlambat. Prinsip II • • Prinsip OPU mengenai limitaion of liability dianggap sudah tidak sesuai Prinsip tanggung jawab hanya berlaku pada keadaan normal dan tidak lagi karena saat ini pengangkut lebih kuat daripada penumpang. 48 . Masinis kereta hanya menjalankan. kemungkinan: a. dalam keadaan dimana terdapat hal-hal luar biasa yang harus dibuktikan penumpang. Lengkapnya baca penjelasan tentang jalan tol. secara limit b. 2. negara) Pengelolaan terminal harus oleh badan hukum negara. o o o • Angkutan laut  tidak ada Angkutan darat  ada Angkutan udara  tidak ada. • Barang bagasi adalah hak setiap penumpang kecuali balita. c) Dalam keadaan luar biasa yang harus dibuktikan pihak yang dirugikan. • • • Terminal berfungsi untuk memadukan antarmoda transportasi (berbagai Pembangunan terminal adalah oleh badan hukum (swasta. 2. Contohnya barang bagasi tangan. dalam hal ini dikarenakan Hak retensi: dibawa oleh penumpang. macam transportasi). mempercepat dan STRESSING menghentikan kereta. Jalan tol bukan merupakan satu-satunya jalan. b) Prinsip Non limitation of liabilities. karena dalam hal ini ada unsur Prinsip tanggung jawab tidak terbatas. Sehingga tanggung jawab tidak berlaku.Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan 3. lebih dari itu didenda 1% tiket. kesalagan dari penumpang juga. berat 5 kg. baru kereta boleh jalan. maka tanggung jawab pengangkut dikurangi. selalu dibawa oleh penumpang sehingga jika terjadi sesuatu maka pengangkut tidak bertanggung jawab. Berlaku untuk barang bagasi tangan: 1. • Barang bagasi tangan adalah hak setiap penumpang. Dan harus dengan perintah pimpinan perjalanan KA. Barang bagasi berat antara 20-30 kg. maka ada dua • • • • Prinsip presumption of non liability terjadi karena barang-barang tersebut Prinsip tanggung jawab terbatas.

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ tambahan_________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 49 ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ 50 ____________________________________________________________ __________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ ____________________________________________________________ .

Vicky Laura Sanjaya E1A006156 Hukum Pengangkutan ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ _______ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___________________________________________________________ ___ 51 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->