P. 1
Penerapan Konseling Pada Anak Yang Suka Membolos

Penerapan Konseling Pada Anak Yang Suka Membolos

|Views: 1,424|Likes:

More info:

Published by: Al Farabi Imam Baskoro on Oct 29, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

Hampir di setiap sekolah kita bisa menjumpai program Bimbingan dan Konseling.

Hal ini bukan semata terletak pada landasan atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan BK di sekolah saat ini sangat dibutuhkan. Hal ini menyangkut tugas dan perannya terhadap peserta didik seperti yang dikemukakan di atas. Lebih dari itu iklim dan lingkungan yang “tidak sehat” membuat keberadaan BK menjadi sangat urgen dan mutlak ada. Kenakalan siswa, misalnya. Itu merupakan salah satu faktor penyebab lingkungan / iklim menjadi rusak. Dan siswa merupakan aktor utama dalam peristiwa tersebut. Kalau ditanya mengapa terjadi kenakalan remaja? Tentu jawabannya akan dikaitkan dengan tokoh pemainnya, yaitu para siswa itu sendiri, mengapa mereka bisa berbuat demikian. Nah, di sinilah peran BK untuk mencari tahu. Kenakalan siswa merupakan suatu bentuk perilaku siswa yang menyimpang dari aturan sekolah. Kenakalan siswa banyak macamnya. Salah satunya ialah membolos atau masuk tidak teratur. Disebut kenakalan remaja karena membolos merupakan perilaku yang melanggar aturan sekolah. Bimbingan (guide / guidance) dapat disama artikan dengan mengarahkan, memandu (guide). Jadi bimbingan adalah kegiatan memandu / mengarahkan siswa untuk menemukan jati dirinya atau membantu siswa menemukan jalan keluar yang terbaik dalam hidupnya dengan mempertimbangkan segi positif dan negatif bagi siswa itu sendiri. Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak hadiran tanpa alasan yang jelas. Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan / dicari solusinnya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu penanganan terhadap siswa yang suka membolos menjadi perhatian yang sangat serius. Penanganan tidak saja dilakukan oleh sekolah, tetapi pihak keluarga juga perlu dilibatkan. Malah terkadang penyebab utama siswa membolos lebih sering berasal dari dalam keluarga itu sendiri. Jadi komunikasi antara pihak sekolah dengan pihak keluarga menjadi sangat penting dalam pemecahan masalah siswa tersebut. Anak yang dapat ke sekolah tapi sering membolos, akan mengalami kegagalan dalam pelajaran. Meskipun dalam teori guru harus bersedia membantu anak mengejar pelajaran yang ketinggalan, tetapi dalam prakteknya hal ini sukar dilaksanakan. Kelas berjalan terus. Bahkan meskipun ia hadir, ia tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru, karena ia tidak mempelajari dasar-dasar dari mata pelajaran-mata pelajaran yang ddiperlukan untuk mengerti apa yang diajarkan. Selain mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga akan mengalami marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Hal ini kadang terjadi

tidak mau menceritakan permasalahan mengapa ia membolos. Sehingga jika terjadi suatu permasalahan pada siswa. Memberi nasehat dan arahan yang baik akan lebih mengena dari pada membentak dan memarahinya. harapannya siswa dapat lebih terbuka dengan pemasalahannya. Hal yang tidak mungkin terlewatkan ketika siswa membolos ialah hilangnya rasa disiplin. juga berusaha membentuk pribadi anak menjadi manusia yang berwatak baik. Sudah pasti ini juga akan berpengaruh pada nilai ulangannya. Begitu semua informasi yang diperlukan telah diperoleh. maka pembimbing menggunakan cara lain yaitu menanyakan pada teman dekatnya. Kewajiban sekolah. mudah tersinggung dan mudah sekali marah. Sebab siswa remaja merupakan masa kondisi emosi yang tidak labil. tetapi lebih kepada usaha untuk membentuk pribadi santun dan mampu berdiri sendiri. berusaha mencarikan jalan keluar. Ibaratnya tulang rusuk. Bisa jadi hal tersebut malah menjadikan anak lebih bengal dan lebih susah ditangani. Kita mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri bagaimana rasanya dihukum karena membolos. Oleh karena itu penanganannya harus hatihati. Masalah akan muncul manakala ia tidak memahami materi bahasan. Padahal menghukum bukanlah satu-satunya jalan untuk membuat siswa jera dalam melakukan perbuatannya. pembimbing sedikit tahu bagaimana kondisi permasalahan siswa. Lalu karena tidak masuk. siswa akan acuh tak acuh pada urusan sekolahnya. Tetapi usaha untuk meminimalisisir kebiasaan tidak baik tersebut tentu ada. pendidik / pihak sekolah juga turut memikirkannya. pembimbing langsung mengambil tindakan preventif dan pengobatan. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Mengajar tidak sekedar transfer pengetahuan. Sebagai sarana untuk mencari solusi. Melalui pendekatan personal. Akhirnya ia harus belajar sendiri untuk mengejar ketertinggalannya. ketaatan terhadap peraturan sekolah berkurang. Dan yang lebih parah siswa dapat dikeluarkan dari sekolah. Dan salah satu usaha dari pihak sekolah ialah dengan program Bimbingan Konseling (BK). sehingga pembimbing dapat memahami dan mendapat gambaran secara jelas apa yang sedang dihadapi siswa. selain mengajar (dalam arti hanya mengisi otak anak-anak dengan berbagai ilmu pengetahuan). jika dipaksakan untuk lurus maka ia akan patah.manakala siswa tersebut sudah begitu “parah” keadaannya sehingga anggapan temantemannya ia anak nakal dan perlu menjaga jarak dengannya. Menghentikan sepenuhnya kebiasaan membolos memang tidaklah mudah dan sangatlah minim kemungkinannya. Langkah selanjutnya ialah melalui pendekatan supaya siswa yang membolos mau menerima arahan dari pembimbing. fungsi BK cukup efisien. Bila diteruskan. . pencegahan tidak harus melalui hukuman. Dalam menghadapi anak tersebut peran BK sangatlah penting. Seperti yang telah dikemukakan di atas. secara otomatis ia tidak mengikuti pelajaran yang disampaikan guru. Adapun jika siswa masih bersikap tertutup.

. Ada faktor dari luar yang juga turut andil dalam pembolosan tersebut. Ada banyak sebab yang terletak di luar kekuasaan anak.Tidak teraturnya anak masuk sekolah tidak sepenuhnya terletak pada siswa. tugas BK selain memberi arahan pada siswa juga mengkondisikan lingkungan sekolahnya sebaik mungkin supaya siswa merasa betah berada di sekolah. Oleh karena itu. atau yang kurang dikuasai anak Jadi kegiatan membolos siswa tidak sepenuhnya kesalahan siswa. Selain itu pembimbing juga selalu menjalin komunikasi dengan keluarga siswa ada kesepakatan dalam usaha mengatasi masalah anak.

walaupun secara tak langsung itu juga sebenarnya bukan jawaban yang baik. Sebab masa remaja adalah masa yang penuh gelora dan semangat kreatifitas. atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika. tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Makanya. Justru sebaliknya. Bukan saja pihak sekolah tetapi juga orang tua. Dan tentu saja sistem pendidikan yang ketat tanpa diimbangi dengan pola pengajaran yang ' menyejukkan ' membuat anak tidak lagi betah di sekolah. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Mereka yang tidak tahan itulah yang kemudian mencari pelarian dengan membolos. Terbukti.Prilaku Membolos Dikalangan Pelajar Minggu. anak-anak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Unsur-unsur yang ada disekolah bisa saja menjadi alasan anak bisa membolos. Terbukti. Bayak siswa yang sering membolos bukan hanya disekolah sini saja tetapi banyak sekalah mengalami hal yang sama kesemua di sebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal dari anak itu sendiri. 22 November 2009 jam 01:37 BAB I PENDAHULUAAN A. sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan. jangan heran jika akhirakhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. Prilaku membolos sangat merugikan dan bahkan itu bisa saja sumber masalah baru. Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. Anehnya lagi ketika kemudian fenomena membolos. Tumpuan kesalahan prilaku membolos kebanyakan di bebankan kepada anak didik yang terlibat membolos. . pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anakanak ‘nakal’. teman dan pemerintah. bahkan di daerah-daerah pun prilaku membolos sudah menjadi kegemaran. Buntutnya memang akan menjadi fenomena yang jelas-jelas mencoreng lembaga persekolahan itu sendiri. Sikap hunanis dan saling introspeksi diri itu adalah hal yang mendukung untuk menyelesaikan masalah prilaku membolos. Bila ini terusn dibiarkan bukan saja anak itu sendiri tetapi juga sekolah dan guru yang menjadi orang tua di sekolah yang menangungnya. Seperti fenomena yang telah di paparkan di atas bukan saja anak yang menjadi tumpuan dan beban kesalahan. Tidak hanya di kota-kota besar saja siswa yang terlihat sering membolos. Ketika kasus demi kasus dapapat terungkap anak didiklah yang menjadi benban kesalahan. Menurut pandangan psikologis usia 15-21 tahun adalah usia pencarian jati diri. sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Ini adalah sikap yang tidak mendukung justru akan menambah masalah. siswa yang suka membolos seringkali terlibat dengan hal-hal yang cenderung merugikan. Bagi siswa yang kebanyakan remaja dan penuh dengan jiwa yang mementingkan kebebasan dalam berfikir dan berkatifitas itu sangat mengganggu sekali. Dan biasanya kerap tak terkendali. Memang hal itu benar adanya. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. Banyak kasus-kasus yang diakibatkan oleh membolos seperti yang telah diuraikan di atas. Faktor eksternal yang kadang kala menjadikan alasan membolos adalah mata pelajaran yang yang tidak diminati. Betapa seriusnya prilaku membolos ini perlu mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. Latar Belakang Prilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi banyak pelajarsetidaknya mereka yang pernah mengenyam pendidikan-sebab prilaku membolos itu sendiri telah ada sejak dulu. Dalihnya.

menetapkan dan memberikan perlakuan dalam menangani kasus. B. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Studi Kasus. Penelitian yang praktikan lakukan adalah di SMP Kanisius. Agar mahasiswa matakuliah Bimbingan dan jurusan Dharma Acariya memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman dalam menangani kasus dan mempertanggung jawabkan studi kasus yang ditangani. Agar mahasiswa memahami ciri-ciri dan jenis-jenis masalah yang dialami individu atau kelompok. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi. c. Untuk itulah mestinya para guru melakukan sebuah refleksi tentang fenomena bolos tersebut. Dapat menguasai situasi dengan baik. Mempelajari dan memahami masalah psikologis siswa SMP ini c. d. 2. intergrasi dan komprehensif. d. serta mampu merancang. Saran penulis. berkembang secara optimal dan mampu mengembangkan potensinya sesuai dengan kelemahandan kelebihan . e. d. Tujuan Khusus a. Mampu menerapkan ilmu-ilmu dan pengetahuan psikologi serta konseling secara praktis. Menimbulkan semangat dan suasana hati yang rilek dan tidak tegang. Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain. Dapat mengambil keputusan setelah diadakan proses konseling. Dari situ praktikan mencari klien dan medapatkan sumber atau data-data yang kemudian prktikan klarifikasi sebelum praktikan ambil kasusnya. 1. Bagi Klien a. merekalah generasi-generasi penerus yang akan mengenggam kayu estafet kemajuan bangsa ini. Manfaat Studi Kasus 1. c. C. f. baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien. sehingga mampu menumbuhkan perkembangan bagi kondisi psikologis yang dinamis. b. school without wall (sekolah tanpa dinding). b. Dapat memahami bahwa dirinya sebenarnya mampu berkembang dan mampu memperoleh potensi diri yang lebih maju. hampir tak ada pengekangan dengan kurikulum. Atau yang sekarang diterapkan di kali code hasil garapan romo Mangun wijaya yaitu. Dapat mengatasi kecemasan yang sedang dihadapi. b. Penyebutan sekolah awalnya berasal dari Yunani yatiu scholl yang artinya waktu luang. mampu mendiagnosis kasus-kasus dangan berbagai teknik. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah. apabila sutuasi yang tidak baik datang dan mengganggu kondisi psikologisnya. mampu menganalisis sebab-sebab internal dan eksternal tingkah laku menyimpang. Disana mereka berbagi banyak hal. Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya.Pemuda adalah aset bangsa. Tujuan Umum a. Pada zaman itu sekolah adalah tempat bermain dan berbagi antara guru dan murid. Mempunyai gambaran strategis untuk mengubah perilaku yang tidak menentu sehingga menimbulkan kecemasan. mengapa kita tidak kembali pada esensi dari sekolah itu sendiri. Sehingga diperoleh perubahan tingkah laku yang well justice bagi klien yang memperoleh usaha bantuan melalui konseling.

Melatih diri untuk menerima. Memperoleh sejumlah tambahan pengetahuan dari kasus yang ditangani. c. Identitas Klien Nama : Karjono Umur : 12 Tahun Tempat Tgl Lahir : Pentur. Membaca Nama Orang Tua Ayah : Sugito Pekerjaan : Buruh/Tani Ibu : Romelah Pekerjaan : Buruh/Tani Adik : smol Yadi 2. Keluarga a. c. Identitas 1. b. Keharmonisan suasana kehidupan rumah tangga bersama anak. 3. sehingga kelak memberikan wacana dan pengetahuan. 14 September 1982 Jenis Kelamin : Laki-laki Alamt : Payak. Peneliti a. sikap dan ketrampilan dalam menggunakan bagi kegiatan konseling yang akan dilakukan. d. Identitas Praktikan Nama : Suwono Umur : 26 Tahun Tempat Tgl Lahir : Payak. Mampu memberikan pendidikan bagi klien demi masa depannya sehingga memberikan rasa aman bagi perkembangan psikologisnya. 2. Mampu memberikan pendidikan berupa tingkah laku sesuai dengan per-kembangannya.yang dimilikinya. mendengar klien secara baik apa adanya sebagaimana ia adalah individu yang mempunyai potensi untuk berkembang. Pati Agama : Buddha . Mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam rangka melatih diri menghadapi kenyataan di lapangan untuk memperoleh gambaran bagaimana bentuk-bentuk riil konseling. Situasi dalam keluarga menjadi tenang dan tentram dan memberikan pola asuh yang dapat membawa perkembangan psikologis anggota keluarga menjadi well justice. Cluwak. Mengaplikasikan teknik-teknik konseling pada masalah yang dihadapi oleh klien dalam usahanya mengentaskan permasalahan untuk mengambil keputusan oleh klien bagi perkembangan dirinya. 12 Januari 1996 Jenis Kelamin : Laki-laki Alamt : Pentur Sampetan Agama : Islam Pendidikan : SMP Kanisius Ampel Kelas : I Hobi : Monton TV. b. BAB II IDENTIVIKASI KASUS A. d.

pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. Anaknya juga sering terlambat sekolah karena ketinggalan Bus. BAB III TINJAUAN TEORITIS A. Sipnosis (Keadaan Psikologis Klien) Klien dalam studi kasus yang praktikan kembangan ini klien Sering tidak masuk sekolah walaupun hanya satu minggu sekali bahkan tidak jagang pula satu minggu dua kali. Orang tuanya setiap tiga bulan sekali pulang kerumah di Sampetan. Batasan pengertian Pengertian prilaku adalah suatu bentuk tingkah laku yang agresif yang sering dilakukan individu (Monks. norm agama yang bersifat negatif atau suatu prilaku emosional yang menonjol dan mengacu ke hal-hal yang bersifat criminal. Dalam proses pembelajaran akan ini juga mengalami permasalahan ini terbukti bahwa anak ini menyukai beberapa mata pelajaran saja dan pelajran yang paling disukai adalah bahasa Indonesia. In berarti . Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya. Alasan yang dialami klien untuk tidak berangkat sekolah dikarenakan malas untuk berangkat sekolah dan klien pada waktu tidak berangkat sekolah dia menonton TV di rumah. Remaja ini mengalami perkembagan mental dan pertumbuhan fisik yang belum stabil. Pada waktu hujan turun nanaknya tidak mau sekolah dikarenakan bajunya hanya meniliki 2 set biru putih.369). Pendekatan Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. Jenis Dan Nama Kasus Dari hasil observasi dan data-data yang praktikan dapatkan selama obervasi yang kemidian parktikan identifikasi. Dalam hal aktualisasi diri juga mengalami permasalahan ini terbukti ketika dalam proses wawancara anaknya susah diajak komonikasi. Membolos sekolah adalah tidak masuk sekolah atau tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Sementara menurut dari sudut perkembangan fisik. praktikan merumuskan dan menyimpulan untuk mengkaji tentang “SETUDI KASUS PRILAKU MEMBOLOS DIKALANGAN PELAJAR KARENA MALAS” D. Remaja biasannya biasanya melakukan perbuatan untuk mencari identitas diri. C. Membolos berarti tidak masuk atau absent. Sedangkan prilaku yang menyimpang adalah suatu bentuk tingkah laku yang menyimpang dari norma susila. Jadi prilaku membolos adalah suatu bentuk tingkah laku yang menonjol yang dilakukan individu yaitu tidak masuk sekolah.2001.Pendidikan : Mahasiswa Semester VI Matakuliah Bimbingan konsling jurusan Dharma Acariya B. remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Sejalan dengan hal itu remaja perlu sekali mendapatkan bimbingan dan arahan untuk menemukan jati dirinya dan meminimalkan prilaku yang menyimpang. Anaknya dalam proses pembelajaran kurang menguasai apa yang disampaikan oleh gurunya serta jarang memperhatikan gurunya dalam pelajaran. ingin menunjukan kemampuannya pada orang lain. pingin membantu nemek ke ladang serta menyusul orang tuanya ketempat kerja di Salatiga. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu.

sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan. sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Justru sebaliknya. Dan biasanya kerap tak terkendali Menurut Fine Benyian kenakalan remaja adalah satu contoh dari sejumlah tingkah laku yang dilakukan oleh seorang pemuda yang berumur sekitar 18 tahun. 2. Mereka ini akan merasa tertekan bila harus dicampurkan dengan anak-anak pada umumnya. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) mempunyai arti yang khusus dan terbatas pada suatu masa tertentu yaitu masa remaja sekitar umur 13-21 tahun. B. Kelainan ini baik secara inferior maupun superior bila anak yang taraf kecerdasanya inferior akan sangat tersiksa bila dikumpulkan dalam kelas pada umumnya. Liengukngan keluarga diakui oleh semua ahli pendidikan maupun psikologi sebagai lingkungan yang sangat menentukan bagi perkembagan anak selanjutnya (Mustaqim.140). (Sarlito Wirawan.1957. Sebab internal Sebab internal adalah sebab prilaku individu yang timbulnya dari dalam kondisi dalam anak itu sendiri. pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anak-anak ‘nakal’.1997: 6-7) Prilaku membolos merupakan suatu bentuk kenakalan remaja yang terjadi pada masa pertumbuhan mereka. atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika. Masa puber bagi lelaki adalah ketika bermimpi basah yang pertama dan pada perempuan setelah haid. Prilaku membolos. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Kenakalan remaja adalah jenis nyata dari penyimpangan prilaku yang melawn hokum/peraturan (Fine Benyian. Sebagai kebalikan dari daerah hokum dan telah diterima oleh umum dan itu adalah karakter di dalam kelompok anti social. salah satu atau pengalaman hidup yang tak emneynangkan.keadaan bentuk tubuh pada umumnya memperoleh bentuk yang sempurna dimana pada akhir peran perkembangan fisik seorang pria yang berotot dan mampu menghasilkan spermatozoa setiap kali berejakulasi dan bagi wanita bentuk badan juga sudah kelihatan terbentuk dengan perubahan pada payu dara serta berpinggul besar setiap bulan mengeluarkan sel telur yang tidak disenyawakan. b. jangan heran jika akhir-akhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar.1990. Terbukti. Sebab eksternal ini berpangkal dari keluarga. Pola asih yang keliru dapat menjadikan sebab yang buruk terhadap . Maka demi masa depanya diselenggarakan pendidikan khusus bagi mereka. Sebab eksternal Sebab eksternal adalah sebab-sebab yang timbul dari luar diri seseorang. Anak mulai menerima nilai-nilai baru dari dalam keluarga dan dari keluarga inilah anak mulai mensosialisasikan diri. tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Makanya. anakanak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Memang hal itu benar adanya. a. Kelainan fisik Anak-anak menderita kelainan fisik akan merasa tertolak untuk hadir di tengah-tengah temenya yang normal. Ini di sebabkan beberapa faktor. Benyebap-penyebab prilaku 1. Dan anak yang mempunyai tingkat kecerdasan superior dalam arti memiliki kecerdasan yang sangat cerdas sekali. Keluarga Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali di kenal oleh anak. Kelainan Psikis Kelainan psikis adalah kelainan yang terjadi pada kemampuan berfikir (kecerdasan) seorang individu. Alternatif terbaik bag mereka yaitu dengan mengumpulkan mereka sesuai dengan kecerdasanya masing-masing. pergaulan. a. Dalihnya.22).

C. Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan anak remaja/siswa dapat dibagi menjadi dua sifat yaitu: 1. Artinya bahwa segala seseuatu yang terjadi di dalam hidupnya tidak akan pernah terlupakan. sehingga mendapat pengaruh yang besar pula bagi pembentukan pribadinya. beringas dan perilaku-perilaku lain yang bisa menarik perhatian orng lain. bentuk prilaku yang menyimpang misalnya: suka menyendiri. Tidak kepada hukuman yang akan diberikan. Tidak jarang juga dari status ekonomi keluarga dalam masyarakat. Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dari gurunya senantiasa membuat keonaran untuk mendapatkan perhatian yang khusus baignya. remaja hidup dalam iteraksi dengan lingkungan. c. Anak ini dihadapkan pada dua pilihan. Anak dididik jujur akan merasa jengkel bila teryata temantemanya suka bohong. membikin onar. teman dan masyarakat. Karena membolos yang dilakukan pasti mempunyai penyebabnya. Pergaulan Lingkungan masyarakat atau lingkungan pergaulan anak-anak yang telah dididiknya baik oleh orang tuanya anak mendapatkan kesulitan untuk menembangkan diri di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik. 2. Inilah sebab yang melatar belakangi masalahmasalah pada siswa yang menyebakan suatu perilaku yang menyimpang dimana perilaku ini termasuk pada kenakalan remaja. Pencegahan dan penanggulangan Sebab suatu perilaku yang menyimpang teryata mempunyai latar belakang lingkungan dan kehidupan social yang buruk. Pengalaman hidup Pengalaman hidup mengajarkan pada masa lalu tak akan pernah hilang. jika lingkungan cenderung baik maka anak cenderung baik begitu pula sebaliknya (Mustaim. Bersifat Regresif Perilaku yang bersifat regresif biasanya ditunjukkan anak-anak dengan kepribadian introvert. Bentuk-bentuk masalah Masalah-maslah yang dihadapi oleh anak remaja sebagai akibat dari adanya sebab-sebab diatas. Padahal itu salah. Contoh : seorang anak yang mempunyai prilaku membolos sekolah perhatian yang perlu kita berikan adalah perhatian kepada kenapa dia membolos. Keadaan keluarga. Pemahaman terhadap factor-faktor penyebab akan memudahkan dalam penyelesaian masah (mustaqim. 1990:143) D. Usaha penanggulangan masalah kenakalan ini adalah dengan Studi kasus menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. tidak mau masuk sekolah. Pemahaman keduanya akan membuat penanganan terhadap masalah menjadi semakin mudah. sekolah dan masyarakat menentukan pula kemungkinan berkembangnya pribadi tersebut. Faktor eksogen.perkembangan anak. memeras temanya. b. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang .141). Bersifat Agresif Prilaku agresif biasanya ditunjukkan oleh anak yang erkepribadiannya extrovert. pemalu. mengantuk.1990. antara jujur dan berbohong karena sesuai dengan teman-temannya. Bila disingkronkan antara bentuk-bentuk kenakalan dan factor-faktor penyebabnya maka akan didapati ada hubungan yang korelatif antara keduanya. Untuk menjadi dewasa anak telah memiliki kebiasaan yang didapat dari orang tua yang dirasa benar. penakut. Perbuatan yang dilakukan misalnya : berbohong. Lingkungan yang sehat dengan menanamkan pendidikan yang benar dan ada hbungan yang harmonis memungkinkan seseorang dapat menjadikan lebih dewasa dan matang dalam kepribadian. Ini bisa dari lingkungan keluarga. Lingkungan pergaulan mempunyai andil bagian yang berarti bagi perkembagan psikis anak.

guru yang berada di sekitar klien itu sendiri. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama. Sikap humanis ini ditujukan untuk memberikan gambara dan bimbingan yang menghargai hak-haknya dan mengarahkan untuk pemenuhan kewajiban-keajiban yang harus dijalankan.sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. Dalam hal ini juga tidak semata-mata bisa di lakukan oleh konselor tetapi juga oleh pihak keluarga. pekerjaan orang tua. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Penelitian tidak dilakukan sekali tetapi beberapa kali. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. kepada klien yang sedang diteliti (responden). seklah dan masyarakat harus juga berpartisipasi mengembangkan bakat dan kemampuanya secara seimbang baik dalam bidang non material maupu dalam bidang spiritual agar tidak terjadi prilaku yang menyimpang. Klien sering tidak masuk sekolah karena pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar. Ini dimungkinkan untuk mempermudah dalam pengklarifikasian dan pengembangan kasus yang dihadapi. Dan sebagai pedukung data praktikan juga mencari data-data dari teman dekat klien. Penelitian ini mendapatkan hasil dari wawancara dengan klien yaitu yang berhubungan dengan kasus yang dihadapi klien. Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. Klien mempunyai prilaku yang kurang baik dimana klien sering membolos tidak mengikuti pelajaran tanpa keterangan yang jelas. Wawancara ditujukan kepada klien yang merupakan sumber utama. yaitu wawancara dan observasi. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin. Pertemuan pertama Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Wawancara merupakan situasi peran antar pribadi bersama (face to face). kurang percaya diri. 2. Kurang mengerti tentang hak dan kewajibannya secara benar. sakit dan tanpa keterangan. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. Data utama ini yang menjadi sumber utama dalam kasus ini. Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya. Pertemuan kedua Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Pertemuan ketiga Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. Data penelitian Penelitian ini digunakan untuk mengumpulan data peneliti menggunakan data non tes. ketika seseorang atau pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang berhubungan dengan masalah penelitian. keluarga. BAB IV DATA A. Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri. Klien sering . 3. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien. Hasil dari wawancara peneliti yang diperoleh dari klien adalah sebagai berikut : 1.

Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah.sekali di tinggal keluarga mencari nafkah. Selain itu juga klien jarang sekali berkumpul dengan pelajar justru kadang malah hanya berkumpul dengan teman sebaya. kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. Pertemuan kelima Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV. Dia tidak mempunyai kakak justru dia mempunyai adek satu. 5. Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. kurang percaya pada diri sendiri apabila forum umum dia kurang percaya diri. Dia cenderung diam. 4. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya. bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. ketidak kesadaran dan ada hambatan dalam perkembangan atau mentalnya. Klien juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tua karena pekerjaan orang tuanya di luar daerah yang kadang hanya tiga bulan sekali pulang kerumah. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh. emosinya mudah bergerak. B. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV. orang tuanya pulang tiga bulan sekali. tertarik pada hal-hal yang nyata. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik. Pertemuan keempat Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. Kehidupannya didasarkan pada ketidak sadaran. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama. memperbaiki prestasinya. klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya. sensualitas. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. sensitif. Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. Sehingga kasih sayang kurang yang diapatkan dari kedua orang tuanya . Data pendukung Data pendukung yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data mengenai klien adalah berupa pertanyaan-pertanyaan serta keterbukaan anak dalam melakukan kejujuranya dalam wawancara serta tanya jawab setelah selesei jam pelajaran pada saat pulang dari sekalah serta dari teman-teman dekatnya tepanya di SMP “Kanisius” Ampel-Boyolali yang menengah. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. membantu nenek ke ladang. 6. Data ini juga diperoleh untuk melihat perkembangan akibat gangguan kecemasan yang ditimbulkan pada masa kanak-kanak. Merasa rendah diri. Pertemuan keenam Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah. Data yang penulis peroleh dari nilai raport. Klien menunjukkan orang intelegensinya kurang. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. Keluarga kurang memperhatian tentang pendidikan klien.

dimana saat klien malas untuk berangkat sekolah sehingga klien ketinggalan pelajaran dan dapat merugikan sendiri. Prilaku membolos membuat klien mengalami ketinggalan pelajaran. sehingga prestasi klien menurun dan nilai rapornya rendah. Faktor Internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam atau dari diri klien sendiri. Analisis Prilaku yang dialami klien sekarang adalah dampak dari eksternal yaitu kurangnya peran keluarga yang kurang dalam keseharianya klien mencoba untuk mengatasi segala permasalahanya sendiri dalam hal moral dan spiritual. Klien kadang tidak masuk sekolah hanya di rumah dan membantu orang tua. Efisiensi Kasus Kasus yang dihadapi klien yaitu prilaku membolos sekolah yang mana prilaku merugikan dirinya sendiri karena ketinggalan pelajaran dari teman-temanya. Klien tidak mengerti hal utama yang harus dilakukan oleh seorang murid. Klein tak jarang pergi ke ladang membantu pekerjaan orang tua menggarap ladang. Dalam hal ini praktikan melihat bahwa klien juga mempunyai rasa bhakti teradap keluarga. Faktor-faktor efektif yang dialami klein yaitu prilaku membolos sekolah. dimana juga klien mencari jati dirinya terpengaruh oleh teman-temannya yang membuat klien suka membolos sekolah. Latar Belakang kasus Masalah yang dialami klien merupakan prilaku perlu dihindari klien karena membawa pada ketinggalan pelajaran. Dalam hal kegiatan yang lain tidak begitu malas. Tidakan ini tidak salah namun yang menjadi tidak baik karena penempatan yang keliru.mendorong dirinya untuk mencari perlindungan di luar. Prilaki tersebut tidak terlepas dari latar belakang masalah yang dihadapinya. Selain dari pada itu ia saat ini tinggal di lingkungan yang religius. B. Dalam penelitian praktikan juga menemukan data-data yang bersifat negatif tetapi juga menemukan data-data yang positif dari tindakan-tidakan klien yang tetep harus dikembangkan juga. Diagnosis 1. Prilaku yang menyimpang dilakukan karena keinginanya sendiri dan pengaruh dari luar yaitu dari pergaulannya dengan teman-teman serta lingkungan yang kurang mendukung. BAB V ANALISIS DAN DIAGNOSIS A. Klien sering tidak masuk sekolah karena hanya ingin melakukan sebuah kegiatan yang disenangi oleh klien. Kemalasan yang dimiliki oleh klien karena klien kurang memahami kewajibanya sebagai seorang anak yaitu belajar. a. Karena usianya yang sekarang dalam masa pubertas. b. Klien selalu mempunyai keinginan untuk dirumah lihat TV dan bermain bersama teman-temannya yang mana saat tidak msuk sekolah dan bahkan hanya membantu orang tua pergi ke ladang sampai-smpai klien sendiri sering mengalami malas untuk berangkat sekolah. Didikan yang keras dari keluarga kakeknyalah yang menyebabkan ia berhasil. Faktor eksternal . klien juga sering membantu keluarga dalam bekerja. 2. Malas karena ada beberapa pelajaran yang tidak disukai dan bahkan guru yang tidak disukai. Masalah klien pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor. Prilaku dikarenakan faktor internal dan eksternal. Klien membolos karena malas berangkat sekolah. Kemalasan klien tidak terlalu begitu parah karena hanya malas berangkat sekolah. sehingga sering mendapat nilai rendah. Yaitu seperti hanya kacena pengen membantu keluarga klien sampai mengabaikan kewajibannya yaitu belajar. yaitu faktor internal dan eksternal.

dimana dimana klien malas masuk sekolah. C. orang tuanya. Selain dari lingkungan masyarakat klien juga mempunyai keluarga. Klien akan mengalami kekewatiran dimana saat membolos sekolah takut kalau diketahui pihak sekolah dan dan orang tuanya. Walaupu kedua orang tuanya sudah merasa diperhatikan tatapi klien merasa kurang adanya perhatian. D. Metode. Kehadiran teman-teman yang memiliki kebebasan dan tidak memiliki tanggjung jawab sebagi seorang murid membuat klien ikut-ikutan. Sebab Timbulnya Kasus Masalah yang dihadapi klien bermulai dari pertengahan masuk sekolola SMP Kanisius. klien dapat mengerti dari prilakunya yang menyimpang dimana klien dapat memahami prilaku yang dilakukannya tidak membawa kemajuan baginya. Sasaran Dan Tujuan Perlakuan. dimana suka membolos sekolah yang mengakibatkan ketingalan perlajaran sehingga prestasinya menurun dan mendapatkan nilai rendah.Faktor eksternal adalah faktor yang bersal dari luar klien. yang mana klien merasa kurang diperhatikan oleh ayah dan ibu yang pergi untuk melakukan ternak ayam di Salatiga. Metode Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan meote reality therapy atau . Dampak negatif Prilaku membolos yang dilakukan oleh klien bila tidak segera di atasi maka akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya. serta arahan. Dan klien dapat lebih rajin untuk berangkat sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran dan mendapat nilai raport yang lebih baik BAB VII TREATHMENT A. Teknik. pihak sekolah dan lingkungannya juga. Selain itu klien juga mengalami malas untuk datang karena pingin lihat TV dan pingin bermain bersama teman-temannya serta pingin membantu neneknya keladang. 2. 1. sekolah dan keluarga dan bahkan sampai ke lingkungan sekitarnya. Membolos menjadikan klien ketinggalan pelajaran sehingga membuat indek prestasinya dalam kelas menurun. Dampak-dampak kasus 1. Alternatif Pemecahan Kasus Dengan adanya studi kasus ini. Sebab dari prilaku yang menyimpang dengan membolos sekolah berawal dari kemalasan untuk tidak masuk sekolah agar dapat lihat TV serta bermain bersama teman-teman. Orang tua jarang memberikan bimbingan. Dampak positif Dari data-data permasalahan yang peraktikan dapatkan menyimpulan bahwa klien tidak masuk kadang karena tidak suka dengan guru sehingga mengarah juga ke mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut. BAB VI PROGNOSIS A. Dinamika Psikis Klien Dinamika Psikis Negatif Klien memiliki prilaku yang kurang baik. Sehingga dengan adanya studi kasus ini klien tahu prilaku membolos sekolah tidak ada manfatnya. Jika klien dibiarkan dalam keadaan ini. B. prilaku yang dilakukan klien akan menggangu dirinya sendiri.

Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dengan rilek. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. Waktu Dan Proses Pemberian Perlakuan Waktu dan pelaksanaan perlakuan yang peneliti laksanakan bersama-bersama dengan klien. Kesuksesan peribadi dicapi dengan nilai-nilai adanya keinginan individu. misalnya. rencana herus dibuat realistik dalam arti dapat diwujutkan dalam tingkah laku yang nyata dan merupakan harapan yang dapat dicapi atas kemampuan yang dimiliki klien. 2. misalnya berupa teguran secara langsung atau tiba-tiba terhadap tingkah lakunya atau janji yang tak dapat dipertanggungjawabkan h) Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Tingkah laku yang sukses yang dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. d. jadi perlakuan yang peneliti lakukan ditujukan kepada subyek. Tanggung jawab yang dimintakan klien sesuai dengan kemampuaan dan keinginnya c. Menolong individu agar mampumengurus diri sendiri dengan kata lain individu dapat membuat keputusan yang tepat dari tingkah laku yang dibuatnya untuk mencapai masa datang yang lebih baik (memandirikan klien) b. Tujuan a. 1. f) Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya g) Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejakan yang pantas untuk menkanfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tak pantas. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. Teknik Teknik-teknik yang digunakan adalah : a) Menggunakan role playing dengan klien. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. Metode ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya. Mengembangkan rencana-rencana nyata dalam mencapi tujuan. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggungjawab atas kesadaran sendiri B. Sasaran Dalam menangani kasus ini sasaran yang utama hendak dicapai adalah subyek sendiri. e. 4. untuk mengubahnya sendiri jadi tanggungjawab yang penuh atas kesadaran sendiri. dengan menggunakan metode tingkah laku desensitisasi sitematis secara bertahap-tahap dari waktu ke waktu dan beberapa metode yang lain sesuai dengan kondisi klien.terapi realitas. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. c) Tidak menjanjikan kepada klien maaf apapun. dengan merencanakan model belajar atau sekolah yang langsung dalam kehidupan dilakukan. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. d) Menolong klien utnuk merumuskan tingkah apa yang akan diperbuatnya. e) Membuat modal-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 2. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Mendorng klien untuk bertanggung jawab serta memikul segala resiko. karena telah terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan tingkah lakut tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. 3. Pertemuan pertama (6 Maret 2008) Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Pertemuan kedua (14 Maret 2008) .

Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri. kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah. 6. memperbaiki prestasinya. Sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan perlakukan terhadap subyek. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya. pekerjaan orang tua. termasuk dengan anggota keluarga yang lain. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit. klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya. Evaluasi treatment Subyek telah peneliti kenal cukup lama dan sadar bahwa masalah yang dihadapai membutuhkan bantuan konseling. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat. Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. orang tuanya pulang tiga bulan sekali. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama.Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik. Pertemuan kelima (26 Mei 2008) Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. Pertemuan keenam (30 Mei 2008) Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran. Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. dari awal pengumpulan data sampai dengan . 5. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. Pertemuan ketiga (21 Maret 2008) Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. 3. Klien sering sekali di tinggal keluarga mencari nafkah. membantu nenek ke ladang. klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. C. Pertemuan keempat (12 Maret 2008) Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. Subyek menunjukkan sikap yang senang apabila peneliti datang menemuinya. 4. sikap awal pada pertemuan-pertemuan dengan peneliti lebih menunjukkan hubungan yang mempunyai perhatian yang lebih besar dalam suasana keakraban. Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah. sakit dan tanpa keterangan.

Anak-anak merasa diperhatikan dan mendapatkan tempat untuk mengutarakan semua perasaannya dibandingkan sebelumnya. namun demikian orang tua justru manambah memberikan beban terhadap subyek (karena keberadaan yang tidak memungkinkan). Dan subyek cukup potesial untuk mengatasi masalah. Sekarang merasa lebih santai dan lebih mantap dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul. Subyek terbawa pada pengalaman-pengalam masa lalu yang traumatik dan kehilangan fugur orangg yang peling dekat. Setelah perlakukan dikenakan pada subyek. Tetapi sekalipun studi kasus ini telah berakhir. baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien. Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya B. Gangguan kecemasan yang dialami subyek masih dalam batas rasional dan hal ini akan sangat terasa bila subyek sedang banyak mengalami masalah. Subyek sebenarnya sangat membutuhkan dorongan dan dukungan dari pihak orang tua. namun tetap peneliti menekan kepada subyek untuk tetap latihan-latihan releksasi dan sewaktu-waktu subyek membutuhkan bantuan peneliti bersedia dan dengan senang hati. diagnosis dan kesimpulan di atas. membuat subyek mempunyai ketergantungan yang tinggi. Pemahaman rasional baik sedang . BAB VIII KESIMPULAN. PENDAPAT DAN SARAN A. Namun demikian perlakuan terhadap ibu baru sekali dan belum banyak peneliti laksanakan lebih banyak karena ibunya (ibu pulang ke ayahnya tanpa minta ijin subyek. Saran Saran untuk mengurangi kemalasan yang dialami oleh klien dalam masalah kasus ini khusus ditujukan kepada klien untuk membiasakan latihan-latihan atau melakukan kegiatan yang bersifat kecil sekalipun dan belajar menghargai waktu. karena membawa/menghabiskan sejumlah uang subyek yang cukub banyak) tidak ada di rumah sejak awal treatment ini diperlakukan. C. Pendapat Berdasarkan pada analisa. nampak ada perubahan. Kurang menerima kenyataan terhadap apa yang dihadapi saat sekarang. Dapat dikatakan bahwa treatment yang dikenakan pada subyek telah berhasil 80%. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah.pelakuan pada treatment-treatment. Kesimpulan Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain. yaitu adanya kepribadian subyek yang mudah sekali emosional (kurang adanya kestabilan emosional) dalam menghadapi berbagai masalah. menunjukkan perkembangan yang menggembira¬kan. penulis berpendapat: Subyek mengalami gangguan kecemasan yang di sebabkan oleh faktor psikologis. Sebaliknya disisi lain subyek harus berperan sebagai figur ibu dan sekalugus ayah. Artinya bahwa subyek mengalami perkembangan yang baik dibandingkan sebelumnya. Jadi selama perlakuan treatment yang peneliti perlakukan dalam waktu yang singkat yaitu kurang lebih satu setengah bulan. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi.

DAFTAR PUSTAKA Molyono. . 1984. Drs. Pendekatan Analisis kenakalan Remaja dan penanggulangannya. Kemudian kepada orang tua dan saudara-saudara yang berada dalam lingkungan keluarga klien memberikan dukungan dan dorongan secara psikologis terhadap klien dengan memperikan perhatian dan bimbigan secara teratur sehingga anak merasa di perhatikan dan merasa mendapat dukungan setiap apa yang dilakukan. Dinamika Psikologi Sosial. Penerbit Erlangga Jakarta Mustaqim. 1983. Kepada sanak famili khususnya pamannya untuk mengerti dan sadar bahwa sebagai klien adalah remaja yang sedang belajar dan menjalani tugas-tugas perkembangannya maka di harapkan untuk memberikan dukungan bagi perubahan klien dalam menjalani latihan-latihan terapi yang baik. Penerbit Rineka Cipta. Perkembangan Peserta Didik. Penerbit IKIP Yogyakarta FIP. Penerbit Kanisius. Penerbit IKIP Semarang Press. 1983 Berbagai Pendekatan Dalam Konsling. Bambang Y .mengalami suatu masalah atau tidak sendang menglami masalah. Drs. Drs. 1990. Jakarta Hariyadi Sugeng. Semarang Pujosuwarno Sayekil. Membangun suasana iklim yang yang baik terhadap hubungan komunikasi kelurga. Memberikan gambaran-gambaran tentang hal-hal yang terbaik dan hal-hal yang harus dilalukan. Drs. Yogyakarta. Dan Wahid Abdul. MS. Drs. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta Partowisastro Kuestuer. 1993.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->