Hampir di setiap sekolah kita bisa menjumpai program Bimbingan dan Konseling.

Hal ini bukan semata terletak pada landasan atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik agar mampu mengembangkan potensi dirinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan BK di sekolah saat ini sangat dibutuhkan. Hal ini menyangkut tugas dan perannya terhadap peserta didik seperti yang dikemukakan di atas. Lebih dari itu iklim dan lingkungan yang “tidak sehat” membuat keberadaan BK menjadi sangat urgen dan mutlak ada. Kenakalan siswa, misalnya. Itu merupakan salah satu faktor penyebab lingkungan / iklim menjadi rusak. Dan siswa merupakan aktor utama dalam peristiwa tersebut. Kalau ditanya mengapa terjadi kenakalan remaja? Tentu jawabannya akan dikaitkan dengan tokoh pemainnya, yaitu para siswa itu sendiri, mengapa mereka bisa berbuat demikian. Nah, di sinilah peran BK untuk mencari tahu. Kenakalan siswa merupakan suatu bentuk perilaku siswa yang menyimpang dari aturan sekolah. Kenakalan siswa banyak macamnya. Salah satunya ialah membolos atau masuk tidak teratur. Disebut kenakalan remaja karena membolos merupakan perilaku yang melanggar aturan sekolah. Bimbingan (guide / guidance) dapat disama artikan dengan mengarahkan, memandu (guide). Jadi bimbingan adalah kegiatan memandu / mengarahkan siswa untuk menemukan jati dirinya atau membantu siswa menemukan jalan keluar yang terbaik dalam hidupnya dengan mempertimbangkan segi positif dan negatif bagi siswa itu sendiri. Membolos dapat diartikan sebagai perilaku siswa yang tidak masuk sekolah dengan alasan yang tidak tepat. Atau bisa juga dikatakan ketidak hadiran tanpa alasan yang jelas. Membolos merupakan salah satu bentuk dari kenakalan siswa, yang jika tidak segera diselesaikan / dicari solusinnya dapat menimbulkan dampak yang lebih parah. Oleh karena itu penanganan terhadap siswa yang suka membolos menjadi perhatian yang sangat serius. Penanganan tidak saja dilakukan oleh sekolah, tetapi pihak keluarga juga perlu dilibatkan. Malah terkadang penyebab utama siswa membolos lebih sering berasal dari dalam keluarga itu sendiri. Jadi komunikasi antara pihak sekolah dengan pihak keluarga menjadi sangat penting dalam pemecahan masalah siswa tersebut. Anak yang dapat ke sekolah tapi sering membolos, akan mengalami kegagalan dalam pelajaran. Meskipun dalam teori guru harus bersedia membantu anak mengejar pelajaran yang ketinggalan, tetapi dalam prakteknya hal ini sukar dilaksanakan. Kelas berjalan terus. Bahkan meskipun ia hadir, ia tidak mengerti apa yang diajarkan oleh guru, karena ia tidak mempelajari dasar-dasar dari mata pelajaran-mata pelajaran yang ddiperlukan untuk mengerti apa yang diajarkan. Selain mengalami kegagalan belajar, siswa tersebut juga akan mengalami marginalisasi atau perasaan tersisihkan oleh teman-temannya. Hal ini kadang terjadi

Melalui pendekatan personal. Masalah akan muncul manakala ia tidak memahami materi bahasan. juga berusaha membentuk pribadi anak menjadi manusia yang berwatak baik. berusaha mencarikan jalan keluar. Memberi nasehat dan arahan yang baik akan lebih mengena dari pada membentak dan memarahinya. Dan yang lebih parah siswa dapat dikeluarkan dari sekolah. Seperti yang telah dikemukakan di atas. pendidik / pihak sekolah juga turut memikirkannya. siswa akan acuh tak acuh pada urusan sekolahnya. Tetapi usaha untuk meminimalisisir kebiasaan tidak baik tersebut tentu ada. . tidak mau menceritakan permasalahan mengapa ia membolos. Akhirnya ia harus belajar sendiri untuk mengejar ketertinggalannya. Sebab siswa remaja merupakan masa kondisi emosi yang tidak labil. Bisa jadi hal tersebut malah menjadikan anak lebih bengal dan lebih susah ditangani. Langkah selanjutnya ialah melalui pendekatan supaya siswa yang membolos mau menerima arahan dari pembimbing. Hal yang tidak mungkin terlewatkan ketika siswa membolos ialah hilangnya rasa disiplin. sehingga pembimbing dapat memahami dan mendapat gambaran secara jelas apa yang sedang dihadapi siswa. Sebagai sarana untuk mencari solusi. maka pembimbing menggunakan cara lain yaitu menanyakan pada teman dekatnya. ketaatan terhadap peraturan sekolah berkurang. Sudah pasti ini juga akan berpengaruh pada nilai ulangannya. harapannya siswa dapat lebih terbuka dengan pemasalahannya. Dan salah satu usaha dari pihak sekolah ialah dengan program Bimbingan Konseling (BK). tetapi lebih kepada usaha untuk membentuk pribadi santun dan mampu berdiri sendiri. pembimbing sedikit tahu bagaimana kondisi permasalahan siswa. Mengajar tidak sekedar transfer pengetahuan. Dengan mengetahui faktor-faktor penyebabnya. Lalu karena tidak masuk. jika dipaksakan untuk lurus maka ia akan patah. pencegahan tidak harus melalui hukuman. Kita mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri bagaimana rasanya dihukum karena membolos. mudah tersinggung dan mudah sekali marah. Adapun jika siswa masih bersikap tertutup. fungsi BK cukup efisien. Oleh karena itu penanganannya harus hatihati. Dalam menghadapi anak tersebut peran BK sangatlah penting. Bila diteruskan. pembimbing langsung mengambil tindakan preventif dan pengobatan.manakala siswa tersebut sudah begitu “parah” keadaannya sehingga anggapan temantemannya ia anak nakal dan perlu menjaga jarak dengannya. Menghentikan sepenuhnya kebiasaan membolos memang tidaklah mudah dan sangatlah minim kemungkinannya. Sehingga jika terjadi suatu permasalahan pada siswa. Ibaratnya tulang rusuk. Begitu semua informasi yang diperlukan telah diperoleh. secara otomatis ia tidak mengikuti pelajaran yang disampaikan guru. Padahal menghukum bukanlah satu-satunya jalan untuk membuat siswa jera dalam melakukan perbuatannya. Kewajiban sekolah. selain mengajar (dalam arti hanya mengisi otak anak-anak dengan berbagai ilmu pengetahuan).

Ada faktor dari luar yang juga turut andil dalam pembolosan tersebut. Selain itu pembimbing juga selalu menjalin komunikasi dengan keluarga siswa ada kesepakatan dalam usaha mengatasi masalah anak. tugas BK selain memberi arahan pada siswa juga mengkondisikan lingkungan sekolahnya sebaik mungkin supaya siswa merasa betah berada di sekolah.Tidak teraturnya anak masuk sekolah tidak sepenuhnya terletak pada siswa. Oleh karena itu. Ada banyak sebab yang terletak di luar kekuasaan anak. . atau yang kurang dikuasai anak Jadi kegiatan membolos siswa tidak sepenuhnya kesalahan siswa.

teman dan pemerintah. sekolah seakan-akan ingin lepas tangan. Buntutnya memang akan menjadi fenomena yang jelas-jelas mencoreng lembaga persekolahan itu sendiri.Prilaku Membolos Dikalangan Pelajar Minggu. Unsur-unsur yang ada disekolah bisa saja menjadi alasan anak bisa membolos. Ini adalah sikap yang tidak mendukung justru akan menambah masalah. Betapa seriusnya prilaku membolos ini perlu mendapat perhatian penuh dari berbagai pihak. siswa yang suka membolos seringkali terlibat dengan hal-hal yang cenderung merugikan. jangan heran jika akhirakhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. walaupun secara tak langsung itu juga sebenarnya bukan jawaban yang baik. pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anakanak ‘nakal’. Bagi siswa yang kebanyakan remaja dan penuh dengan jiwa yang mementingkan kebebasan dalam berfikir dan berkatifitas itu sangat mengganggu sekali. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. Tumpuan kesalahan prilaku membolos kebanyakan di bebankan kepada anak didik yang terlibat membolos. bahkan di daerah-daerah pun prilaku membolos sudah menjadi kegemaran. Terbukti. Tindakan membolos dikedepankan sebagai sebuah jawaban atas kejenuhan yang sering dialami oleh banyak siswa terhadap kurikulum sekolah. anak-anak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. Memang hal itu benar adanya. Faktor eksternal yang kadang kala menjadikan alasan membolos adalah mata pelajaran yang yang tidak diminati. Bayak siswa yang sering membolos bukan hanya disekolah sini saja tetapi banyak sekalah mengalami hal yang sama kesemua di sebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal dari anak itu sendiri. atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika. Tidak hanya di kota-kota besar saja siswa yang terlihat sering membolos. Prilaku membolos sangat merugikan dan bahkan itu bisa saja sumber masalah baru. Sebab masa remaja adalah masa yang penuh gelora dan semangat kreatifitas. Bila ini terusn dibiarkan bukan saja anak itu sendiri tetapi juga sekolah dan guru yang menjadi orang tua di sekolah yang menangungnya. Dalihnya. Bukan saja pihak sekolah tetapi juga orang tua. Sikap hunanis dan saling introspeksi diri itu adalah hal yang mendukung untuk menyelesaikan masalah prilaku membolos. Menurut pandangan psikologis usia 15-21 tahun adalah usia pencarian jati diri. Latar Belakang Prilaku membolos sebenarnya bukan merupakan hal yang baru lagi bagi banyak pelajarsetidaknya mereka yang pernah mengenyam pendidikan-sebab prilaku membolos itu sendiri telah ada sejak dulu. Seperti fenomena yang telah di paparkan di atas bukan saja anak yang menjadi tumpuan dan beban kesalahan. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. . Terbukti. Banyak kasus-kasus yang diakibatkan oleh membolos seperti yang telah diuraikan di atas. Anehnya lagi ketika kemudian fenomena membolos. Makanya. Ketika kasus demi kasus dapapat terungkap anak didiklah yang menjadi benban kesalahan. tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Mereka yang tidak tahan itulah yang kemudian mencari pelarian dengan membolos. Justru sebaliknya. sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan. 22 November 2009 jam 01:37 BAB I PENDAHULUAAN A. Dan tentu saja sistem pendidikan yang ketat tanpa diimbangi dengan pola pengajaran yang ' menyejukkan ' membuat anak tidak lagi betah di sekolah. Dan biasanya kerap tak terkendali.

mengapa kita tidak kembali pada esensi dari sekolah itu sendiri. Saran penulis. B. d. c. Dapat memahami bahwa dirinya sebenarnya mampu berkembang dan mampu memperoleh potensi diri yang lebih maju. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi. Penyebutan sekolah awalnya berasal dari Yunani yatiu scholl yang artinya waktu luang. Tujuan Umum dan Tujuan Khusus Studi Kasus. Penelitian yang praktikan lakukan adalah di SMP Kanisius. f. Tujuan Khusus a. Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya. Atau yang sekarang diterapkan di kali code hasil garapan romo Mangun wijaya yaitu. Dapat mengatasi kecemasan yang sedang dihadapi. Mampu menerapkan ilmu-ilmu dan pengetahuan psikologi serta konseling secara praktis. C. Tujuan Umum a. Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain. b. baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien. Bagi Klien a. d.Pemuda adalah aset bangsa. Mempunyai gambaran strategis untuk mengubah perilaku yang tidak menentu sehingga menimbulkan kecemasan. apabila sutuasi yang tidak baik datang dan mengganggu kondisi psikologisnya. sehingga mampu menumbuhkan perkembangan bagi kondisi psikologis yang dinamis. Agar mahasiswa memahami ciri-ciri dan jenis-jenis masalah yang dialami individu atau kelompok. Untuk itulah mestinya para guru melakukan sebuah refleksi tentang fenomena bolos tersebut. e. merekalah generasi-generasi penerus yang akan mengenggam kayu estafet kemajuan bangsa ini. Dari situ praktikan mencari klien dan medapatkan sumber atau data-data yang kemudian prktikan klarifikasi sebelum praktikan ambil kasusnya. 1. berkembang secara optimal dan mampu mengembangkan potensinya sesuai dengan kelemahandan kelebihan . mampu menganalisis sebab-sebab internal dan eksternal tingkah laku menyimpang. Menimbulkan semangat dan suasana hati yang rilek dan tidak tegang. hampir tak ada pengekangan dengan kurikulum. Dapat mengambil keputusan setelah diadakan proses konseling. b. b. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah. Disana mereka berbagi banyak hal. Dapat menguasai situasi dengan baik. Pada zaman itu sekolah adalah tempat bermain dan berbagi antara guru dan murid. serta mampu merancang. intergrasi dan komprehensif. Mempelajari dan memahami masalah psikologis siswa SMP ini c. d. mampu mendiagnosis kasus-kasus dangan berbagai teknik. Manfaat Studi Kasus 1. 2. c. Sehingga diperoleh perubahan tingkah laku yang well justice bagi klien yang memperoleh usaha bantuan melalui konseling. school without wall (sekolah tanpa dinding). Agar mahasiswa matakuliah Bimbingan dan jurusan Dharma Acariya memiliki bekal pengetahuan dan pengalaman dalam menangani kasus dan mempertanggung jawabkan studi kasus yang ditangani. menetapkan dan memberikan perlakuan dalam menangani kasus.

14 September 1982 Jenis Kelamin : Laki-laki Alamt : Payak. b. Keluarga a. d. Peneliti a. sikap dan ketrampilan dalam menggunakan bagi kegiatan konseling yang akan dilakukan. Melatih diri untuk menerima. Mengaplikasikan teknik-teknik konseling pada masalah yang dihadapi oleh klien dalam usahanya mengentaskan permasalahan untuk mengambil keputusan oleh klien bagi perkembangan dirinya. Mampu memberikan pendidikan bagi klien demi masa depannya sehingga memberikan rasa aman bagi perkembangan psikologisnya. Mampu mengaplikasikan pengetahuan dalam rangka melatih diri menghadapi kenyataan di lapangan untuk memperoleh gambaran bagaimana bentuk-bentuk riil konseling. Mampu memberikan pendidikan berupa tingkah laku sesuai dengan per-kembangannya. d. b. c. BAB II IDENTIVIKASI KASUS A. Memperoleh sejumlah tambahan pengetahuan dari kasus yang ditangani. Keharmonisan suasana kehidupan rumah tangga bersama anak.yang dimilikinya. 12 Januari 1996 Jenis Kelamin : Laki-laki Alamt : Pentur Sampetan Agama : Islam Pendidikan : SMP Kanisius Ampel Kelas : I Hobi : Monton TV. Identitas Praktikan Nama : Suwono Umur : 26 Tahun Tempat Tgl Lahir : Payak. 2. sehingga kelak memberikan wacana dan pengetahuan. 3. Membaca Nama Orang Tua Ayah : Sugito Pekerjaan : Buruh/Tani Ibu : Romelah Pekerjaan : Buruh/Tani Adik : smol Yadi 2. c. mendengar klien secara baik apa adanya sebagaimana ia adalah individu yang mempunyai potensi untuk berkembang. Identitas 1. Identitas Klien Nama : Karjono Umur : 12 Tahun Tempat Tgl Lahir : Pentur. Situasi dalam keluarga menjadi tenang dan tentram dan memberikan pola asuh yang dapat membawa perkembangan psikologis anggota keluarga menjadi well justice. Cluwak. Pati Agama : Buddha .

Pada waktu hujan turun nanaknya tidak mau sekolah dikarenakan bajunya hanya meniliki 2 set biru putih. Sejalan dengan hal itu remaja perlu sekali mendapatkan bimbingan dan arahan untuk menemukan jati dirinya dan meminimalkan prilaku yang menyimpang. Sementara menurut dari sudut perkembangan fisik. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Sipnosis (Keadaan Psikologis Klien) Klien dalam studi kasus yang praktikan kembangan ini klien Sering tidak masuk sekolah walaupun hanya satu minggu sekali bahkan tidak jagang pula satu minggu dua kali. Batasan pengertian Pengertian prilaku adalah suatu bentuk tingkah laku yang agresif yang sering dilakukan individu (Monks. pingin membantu nemek ke ladang serta menyusul orang tuanya ketempat kerja di Salatiga. Sedangkan prilaku yang menyimpang adalah suatu bentuk tingkah laku yang menyimpang dari norma susila. Jenis Dan Nama Kasus Dari hasil observasi dan data-data yang praktikan dapatkan selama obervasi yang kemidian parktikan identifikasi. In berarti . Membolos berarti tidak masuk atau absent. Anaknya dalam proses pembelajaran kurang menguasai apa yang disampaikan oleh gurunya serta jarang memperhatikan gurunya dalam pelajaran. C. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. praktikan merumuskan dan menyimpulan untuk mengkaji tentang “SETUDI KASUS PRILAKU MEMBOLOS DIKALANGAN PELAJAR KARENA MALAS” D. Alasan yang dialami klien untuk tidak berangkat sekolah dikarenakan malas untuk berangkat sekolah dan klien pada waktu tidak berangkat sekolah dia menonton TV di rumah. Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya. Remaja biasannya biasanya melakukan perbuatan untuk mencari identitas diri. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Pendekatan Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. Orang tuanya setiap tiga bulan sekali pulang kerumah di Sampetan. Remaja ini mengalami perkembagan mental dan pertumbuhan fisik yang belum stabil.369). Dalam hal aktualisasi diri juga mengalami permasalahan ini terbukti ketika dalam proses wawancara anaknya susah diajak komonikasi. remaja dikenal sebagai suatu tahap perkembangan fisik dimana alat-alat kelamin manusia mencapai kematangannya. Anaknya juga sering terlambat sekolah karena ketinggalan Bus. BAB III TINJAUAN TEORITIS A.2001.Pendidikan : Mahasiswa Semester VI Matakuliah Bimbingan konsling jurusan Dharma Acariya B. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. norm agama yang bersifat negatif atau suatu prilaku emosional yang menonjol dan mengacu ke hal-hal yang bersifat criminal. ingin menunjukan kemampuannya pada orang lain. Jadi prilaku membolos adalah suatu bentuk tingkah laku yang menonjol yang dilakukan individu yaitu tidak masuk sekolah. Membolos sekolah adalah tidak masuk sekolah atau tidak mengikuti kegiatan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran akan ini juga mengalami permasalahan ini terbukti bahwa anak ini menyukai beberapa mata pelajaran saja dan pelajran yang paling disukai adalah bahasa Indonesia.

Kelainan ini baik secara inferior maupun superior bila anak yang taraf kecerdasanya inferior akan sangat tersiksa bila dikumpulkan dalam kelas pada umumnya. b.1957. Makanya.1997: 6-7) Prilaku membolos merupakan suatu bentuk kenakalan remaja yang terjadi pada masa pertumbuhan mereka. Keluarga Lingkungan keluarga adalah lingkungan yang pertama kali di kenal oleh anak. Ini di sebabkan beberapa faktor.140). Anak mulai menerima nilai-nilai baru dari dalam keluarga dan dari keluarga inilah anak mulai mensosialisasikan diri. Liengukngan keluarga diakui oleh semua ahli pendidikan maupun psikologi sebagai lingkungan yang sangat menentukan bagi perkembagan anak selanjutnya (Mustaqim. Sebab internal Sebab internal adalah sebab prilaku individu yang timbulnya dari dalam kondisi dalam anak itu sendiri. sex bebas hingga tawuran terkuak ke permukaan. Mereka ini akan merasa tertekan bila harus dicampurkan dengan anak-anak pada umumnya.22). Maka demi masa depanya diselenggarakan pendidikan khusus bagi mereka. Terbukti. tekanan pendidikan dengan kurikulum yang cukup ketat justru menciptakan keresahan secaraara psikologis. Tetapi bukan berarti mereka yang taat di sekolah terselamatkan. a. Hal itu dikarenakan luapan emosi tak terkendali melalui alam bawah sadar. Kelainan fisik Anak-anak menderita kelainan fisik akan merasa tertolak untuk hadir di tengah-tengah temenya yang normal. Dalihnya. Prilaku membolos. Kenakalan remaja (juvenile delinquency) mempunyai arti yang khusus dan terbatas pada suatu masa tertentu yaitu masa remaja sekitar umur 13-21 tahun. Pola asih yang keliru dapat menjadikan sebab yang buruk terhadap . 2. Benyebap-penyebab prilaku 1. pergaulan. (Sarlito Wirawan. B. Alternatif terbaik bag mereka yaitu dengan mengumpulkan mereka sesuai dengan kecerdasanya masing-masing.keadaan bentuk tubuh pada umumnya memperoleh bentuk yang sempurna dimana pada akhir peran perkembangan fisik seorang pria yang berotot dan mampu menghasilkan spermatozoa setiap kali berejakulasi dan bagi wanita bentuk badan juga sudah kelihatan terbentuk dengan perubahan pada payu dara serta berpinggul besar setiap bulan mengeluarkan sel telur yang tidak disenyawakan. Masa puber bagi lelaki adalah ketika bermimpi basah yang pertama dan pada perempuan setelah haid. Justru sebaliknya. Sebagai kebalikan dari daerah hokum dan telah diterima oleh umum dan itu adalah karakter di dalam kelompok anti social. Kenakalan remaja adalah jenis nyata dari penyimpangan prilaku yang melawn hokum/peraturan (Fine Benyian. salah satu atau pengalaman hidup yang tak emneynangkan. Memang hal itu benar adanya. a. Kelainan Psikis Kelainan psikis adalah kelainan yang terjadi pada kemampuan berfikir (kecerdasan) seorang individu. Sebab eksternal Sebab eksternal adalah sebab-sebab yang timbul dari luar diri seseorang. anakanak yang patuh lebih banyak dibandingkan anak-anak yang suka membolos. atau fenomena pelajar yang terlibat narkotika. Dan anak yang mempunyai tingkat kecerdasan superior dalam arti memiliki kecerdasan yang sangat cerdas sekali. Dan biasanya kerap tak terkendali Menurut Fine Benyian kenakalan remaja adalah satu contoh dari sejumlah tingkah laku yang dilakukan oleh seorang pemuda yang berumur sekitar 18 tahun.1990. jangan heran jika akhir-akhir ini siswa-siswi kita sering mengalami hysteria missal. pihak sekolah masih menganggap mereka yang terlibat hal itu adalah anak-anak ‘nakal’. Sebab eksternal ini berpangkal dari keluarga. sekolah seakan-akan ingin lepas tangan.

Pergaulan Lingkungan masyarakat atau lingkungan pergaulan anak-anak yang telah dididiknya baik oleh orang tuanya anak mendapatkan kesulitan untuk menembangkan diri di tengah-tengah lingkungan yang tidak baik. Pemahaman keduanya akan membuat penanganan terhadap masalah menjadi semakin mudah. beringas dan perilaku-perilaku lain yang bisa menarik perhatian orng lain. 2. tidak mau masuk sekolah. Anak ini dihadapkan pada dua pilihan. Pemahaman terhadap factor-faktor penyebab akan memudahkan dalam penyelesaian masah (mustaqim. Bila disingkronkan antara bentuk-bentuk kenakalan dan factor-faktor penyebabnya maka akan didapati ada hubungan yang korelatif antara keduanya. Contoh : seorang anak yang mempunyai prilaku membolos sekolah perhatian yang perlu kita berikan adalah perhatian kepada kenapa dia membolos. antara jujur dan berbohong karena sesuai dengan teman-temannya. Untuk menjadi dewasa anak telah memiliki kebiasaan yang didapat dari orang tua yang dirasa benar. 1990:143) D. Tidak jarang juga dari status ekonomi keluarga dalam masyarakat.1990. Anak dididik jujur akan merasa jengkel bila teryata temantemanya suka bohong. b. pemalu. jika lingkungan cenderung baik maka anak cenderung baik begitu pula sebaliknya (Mustaim. penakut. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang . C. Bersifat Agresif Prilaku agresif biasanya ditunjukkan oleh anak yang erkepribadiannya extrovert. mengantuk. Padahal itu salah. Artinya bahwa segala seseuatu yang terjadi di dalam hidupnya tidak akan pernah terlupakan. Usaha penanggulangan masalah kenakalan ini adalah dengan Studi kasus menggunakan pendekatan reality therapy atau terapi realitas. Lingkungan yang sehat dengan menanamkan pendidikan yang benar dan ada hbungan yang harmonis memungkinkan seseorang dapat menjadikan lebih dewasa dan matang dalam kepribadian. Anak-anak kurang mendapatkan perhatian dari gurunya senantiasa membuat keonaran untuk mendapatkan perhatian yang khusus baignya. Inilah sebab yang melatar belakangi masalahmasalah pada siswa yang menyebakan suatu perilaku yang menyimpang dimana perilaku ini termasuk pada kenakalan remaja. c. teman dan masyarakat. Ini bisa dari lingkungan keluarga. Bentuk-bentuk masalah Masalah-maslah yang dihadapi oleh anak remaja sebagai akibat dari adanya sebab-sebab diatas. Perbuatan yang dilakukan misalnya : berbohong. Lingkungan pergaulan mempunyai andil bagian yang berarti bagi perkembagan psikis anak. Pencegahan dan penanggulangan Sebab suatu perilaku yang menyimpang teryata mempunyai latar belakang lingkungan dan kehidupan social yang buruk. Bersifat Regresif Perilaku yang bersifat regresif biasanya ditunjukkan anak-anak dengan kepribadian introvert.141).perkembangan anak. sekolah dan masyarakat menentukan pula kemungkinan berkembangnya pribadi tersebut. membikin onar. remaja hidup dalam iteraksi dengan lingkungan. sehingga mendapat pengaruh yang besar pula bagi pembentukan pribadinya. Tidak kepada hukuman yang akan diberikan. memeras temanya. Pengalaman hidup Pengalaman hidup mengajarkan pada masa lalu tak akan pernah hilang. Bentuk-bentuk masalah yang dihadirkan anak remaja/siswa dapat dibagi menjadi dua sifat yaitu: 1. Karena membolos yang dilakukan pasti mempunyai penyebabnya. bentuk prilaku yang menyimpang misalnya: suka menyendiri. Faktor eksogen. Keadaan keluarga.

Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. Klien mempunyai prilaku yang kurang baik dimana klien sering membolos tidak mengikuti pelajaran tanpa keterangan yang jelas. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien. sakit dan tanpa keterangan. guru yang berada di sekitar klien itu sendiri. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Penelitian tidak dilakukan sekali tetapi beberapa kali. yaitu wawancara dan observasi. Wawancara merupakan situasi peran antar pribadi bersama (face to face). Kurang mengerti tentang hak dan kewajibannya secara benar. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama.sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. ketika seseorang atau pewawancara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memperoleh jawaban-jawaban yang berhubungan dengan masalah penelitian. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya. Dalam hal ini juga tidak semata-mata bisa di lakukan oleh konselor tetapi juga oleh pihak keluarga. Pertemuan kedua Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Dan sebagai pedukung data praktikan juga mencari data-data dari teman dekat klien. Klien sering tidak masuk sekolah karena pengaruh keluarga dan lingkungan sekitar. kurang percaya diri. Data penelitian Penelitian ini digunakan untuk mengumpulan data peneliti menggunakan data non tes. klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin. Sikap humanis ini ditujukan untuk memberikan gambara dan bimbingan yang menghargai hak-haknya dan mengarahkan untuk pemenuhan kewajiban-keajiban yang harus dijalankan. Ini dimungkinkan untuk mempermudah dalam pengklarifikasian dan pengembangan kasus yang dihadapi. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. Pertemuan pertama Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Pendekatan ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya. Pertemuan ketiga Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. Data utama ini yang menjadi sumber utama dalam kasus ini. Hasil dari wawancara peneliti yang diperoleh dari klien adalah sebagai berikut : 1. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. Klien sering . 2. 3. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri. seklah dan masyarakat harus juga berpartisipasi mengembangkan bakat dan kemampuanya secara seimbang baik dalam bidang non material maupu dalam bidang spiritual agar tidak terjadi prilaku yang menyimpang. Penelitian ini mendapatkan hasil dari wawancara dengan klien yaitu yang berhubungan dengan kasus yang dihadapi klien. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini. keluarga. Wawancara ditujukan kepada klien yang merupakan sumber utama. pekerjaan orang tua. kepada klien yang sedang diteliti (responden). BAB IV DATA A.

sensitif. sensualitas. Sehingga kasih sayang kurang yang diapatkan dari kedua orang tuanya . membantu nenek ke ladang. 4. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh. Pertemuan kelima Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya. Pertemuan keenam Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran. ketidak kesadaran dan ada hambatan dalam perkembangan atau mentalnya. Data ini juga diperoleh untuk melihat perkembangan akibat gangguan kecemasan yang ditimbulkan pada masa kanak-kanak. Dia cenderung diam. Klien menunjukkan orang intelegensinya kurang. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat. memperbaiki prestasinya. bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik. Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV. Data pendukung Data pendukung yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data mengenai klien adalah berupa pertanyaan-pertanyaan serta keterbukaan anak dalam melakukan kejujuranya dalam wawancara serta tanya jawab setelah selesei jam pelajaran pada saat pulang dari sekalah serta dari teman-teman dekatnya tepanya di SMP “Kanisius” Ampel-Boyolali yang menengah. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. Keluarga kurang memperhatian tentang pendidikan klien. Selain itu juga klien jarang sekali berkumpul dengan pelajar justru kadang malah hanya berkumpul dengan teman sebaya. emosinya mudah bergerak. Pertemuan keempat Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah. Dia tidak mempunyai kakak justru dia mempunyai adek satu. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. 5. orang tuanya pulang tiga bulan sekali. Data yang penulis peroleh dari nilai raport. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama.sekali di tinggal keluarga mencari nafkah. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit. Kehidupannya didasarkan pada ketidak sadaran. klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. kurang percaya pada diri sendiri apabila forum umum dia kurang percaya diri. Merasa rendah diri. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. B. 6. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. Klien juga kurang mendapatkan perhatian dari orang tua karena pekerjaan orang tuanya di luar daerah yang kadang hanya tiga bulan sekali pulang kerumah. Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. tertarik pada hal-hal yang nyata.

Diagnosis 1. Efisiensi Kasus Kasus yang dihadapi klien yaitu prilaku membolos sekolah yang mana prilaku merugikan dirinya sendiri karena ketinggalan pelajaran dari teman-temanya. sehingga prestasi klien menurun dan nilai rapornya rendah. Prilaku membolos membuat klien mengalami ketinggalan pelajaran. Tidakan ini tidak salah namun yang menjadi tidak baik karena penempatan yang keliru. Malas karena ada beberapa pelajaran yang tidak disukai dan bahkan guru yang tidak disukai. b. Klien membolos karena malas berangkat sekolah. Kemalasan yang dimiliki oleh klien karena klien kurang memahami kewajibanya sebagai seorang anak yaitu belajar. sehingga sering mendapat nilai rendah. Faktor eksternal . Karena usianya yang sekarang dalam masa pubertas. dimana saat klien malas untuk berangkat sekolah sehingga klien ketinggalan pelajaran dan dapat merugikan sendiri. klien juga sering membantu keluarga dalam bekerja. Klien selalu mempunyai keinginan untuk dirumah lihat TV dan bermain bersama teman-temannya yang mana saat tidak msuk sekolah dan bahkan hanya membantu orang tua pergi ke ladang sampai-smpai klien sendiri sering mengalami malas untuk berangkat sekolah. Dalam hal kegiatan yang lain tidak begitu malas.mendorong dirinya untuk mencari perlindungan di luar. BAB V ANALISIS DAN DIAGNOSIS A. Klien kadang tidak masuk sekolah hanya di rumah dan membantu orang tua. Prilaku yang menyimpang dilakukan karena keinginanya sendiri dan pengaruh dari luar yaitu dari pergaulannya dengan teman-teman serta lingkungan yang kurang mendukung. dimana juga klien mencari jati dirinya terpengaruh oleh teman-temannya yang membuat klien suka membolos sekolah. Selain dari pada itu ia saat ini tinggal di lingkungan yang religius. Didikan yang keras dari keluarga kakeknyalah yang menyebabkan ia berhasil. Latar Belakang kasus Masalah yang dialami klien merupakan prilaku perlu dihindari klien karena membawa pada ketinggalan pelajaran. Faktor Internal Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam atau dari diri klien sendiri. Klein tak jarang pergi ke ladang membantu pekerjaan orang tua menggarap ladang. B. Prilaki tersebut tidak terlepas dari latar belakang masalah yang dihadapinya. yaitu faktor internal dan eksternal. Dalam hal ini praktikan melihat bahwa klien juga mempunyai rasa bhakti teradap keluarga. Masalah klien pada dasarnya disebabkan oleh dua faktor. Klien tidak mengerti hal utama yang harus dilakukan oleh seorang murid. Kemalasan klien tidak terlalu begitu parah karena hanya malas berangkat sekolah. Analisis Prilaku yang dialami klien sekarang adalah dampak dari eksternal yaitu kurangnya peran keluarga yang kurang dalam keseharianya klien mencoba untuk mengatasi segala permasalahanya sendiri dalam hal moral dan spiritual. Prilaku dikarenakan faktor internal dan eksternal. Faktor-faktor efektif yang dialami klein yaitu prilaku membolos sekolah. Dalam penelitian praktikan juga menemukan data-data yang bersifat negatif tetapi juga menemukan data-data yang positif dari tindakan-tidakan klien yang tetep harus dikembangkan juga. a. Klien sering tidak masuk sekolah karena hanya ingin melakukan sebuah kegiatan yang disenangi oleh klien. Yaitu seperti hanya kacena pengen membantu keluarga klien sampai mengabaikan kewajibannya yaitu belajar. 2.

Selain itu klien juga mengalami malas untuk datang karena pingin lihat TV dan pingin bermain bersama teman-temannya serta pingin membantu neneknya keladang. Sebab dari prilaku yang menyimpang dengan membolos sekolah berawal dari kemalasan untuk tidak masuk sekolah agar dapat lihat TV serta bermain bersama teman-teman. Sebab Timbulnya Kasus Masalah yang dihadapi klien bermulai dari pertengahan masuk sekolola SMP Kanisius. B. Jika klien dibiarkan dalam keadaan ini. Metode Studi kasus prilaku membolos dikalangan pelajar ini menggunakan meote reality therapy atau . Sasaran Dan Tujuan Perlakuan. Dampak negatif Prilaku membolos yang dilakukan oleh klien bila tidak segera di atasi maka akan menimbulkan dampak negatif bagi dirinya. Dinamika Psikis Klien Dinamika Psikis Negatif Klien memiliki prilaku yang kurang baik. dimana dimana klien malas masuk sekolah. Kehadiran teman-teman yang memiliki kebebasan dan tidak memiliki tanggjung jawab sebagi seorang murid membuat klien ikut-ikutan. serta arahan. C. 2. Membolos menjadikan klien ketinggalan pelajaran sehingga membuat indek prestasinya dalam kelas menurun. Dampak positif Dari data-data permasalahan yang peraktikan dapatkan menyimpulan bahwa klien tidak masuk kadang karena tidak suka dengan guru sehingga mengarah juga ke mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut. Orang tua jarang memberikan bimbingan. 1. Alternatif Pemecahan Kasus Dengan adanya studi kasus ini. dimana suka membolos sekolah yang mengakibatkan ketingalan perlajaran sehingga prestasinya menurun dan mendapatkan nilai rendah. sekolah dan keluarga dan bahkan sampai ke lingkungan sekitarnya. D. BAB VI PROGNOSIS A. orang tuanya. pihak sekolah dan lingkungannya juga. Klien akan mengalami kekewatiran dimana saat membolos sekolah takut kalau diketahui pihak sekolah dan dan orang tuanya. Selain dari lingkungan masyarakat klien juga mempunyai keluarga. Metode. Walaupu kedua orang tuanya sudah merasa diperhatikan tatapi klien merasa kurang adanya perhatian. Teknik. Dan klien dapat lebih rajin untuk berangkat sekolah agar tidak ketinggalan pelajaran dan mendapat nilai raport yang lebih baik BAB VII TREATHMENT A. klien dapat mengerti dari prilakunya yang menyimpang dimana klien dapat memahami prilaku yang dilakukannya tidak membawa kemajuan baginya.Faktor eksternal adalah faktor yang bersal dari luar klien. prilaku yang dilakukan klien akan menggangu dirinya sendiri. Dampak-dampak kasus 1. yang mana klien merasa kurang diperhatikan oleh ayah dan ibu yang pergi untuk melakukan ternak ayam di Salatiga. Sehingga dengan adanya studi kasus ini klien tahu prilaku membolos sekolah tidak ada manfatnya.

Tujuan a. 2. 4. Pertemuan pertama (6 Maret 2008) Peneliti memulai penelitian ini pada tanggal 6 maret 2008 yang merupakan pertemuan pertama. Dari situ pepenliti kemudian melanjutkan perkenalan yang lebih dalam agar menjadi akrab dan saling membantu. dengan merencanakan model belajar atau sekolah yang langsung dalam kehidupan dilakukan. jadi perlakuan yang peneliti lakukan ditujukan kepada subyek. untuk mengubahnya sendiri jadi tanggungjawab yang penuh atas kesadaran sendiri. rencana herus dibuat realistik dalam arti dapat diwujutkan dalam tingkah laku yang nyata dan merupakan harapan yang dapat dicapi atas kemampuan yang dimiliki klien. Menggunakan humor yang mendorong suasana yang segar dengan rilek. karena telah terlebih dahulu diadakan perjanjian untuk melakukan tingkah lakut tertentu yang sesuai dengan keberadaan klien. Peneliti kemudian mengadakan konrak pertemuan untuk selanjutnya dan begitu seterusnya. d. Terapi ditekankan pada disiplin dan tanggungjawab atas kesadaran sendiri B. Mendorng klien untuk bertanggung jawab serta memikul segala resiko. Dalam pertemuan pertaman peneliti menemui guru BK yang kemudian peneliti dikenalkan kepada klien. Konsep dasarnya adalah kenyataan yang sebenarnya yang akan dihadapi tanpa memandang jauh ke masa lalu. Waktu Dan Proses Pemberian Perlakuan Waktu dan pelaksanaan perlakuan yang peneliti laksanakan bersama-bersama dengan klien. Metode ini akan membimbing anak mampu menghadapi apa yang akan dihadapinya.terapi realitas. 2. Dalam pertemuan pertama ini juga peneliti langsung mendapat sinopsis dari guru BK tentang tingkah laku dan masalah yang dihadapi klien. mampu mengambil keputusan yang tepat untuk kedepannya. Tingkah laku yang sukses yang dapat dihubungkan dengan pencapaian kepribadian yang sukses. misalnya. Pada pertemuan pertama peneliti menayakan kepada klien untuk menjadi klien dalam study kasus dan klien mau menjadi klien dalam penelitian ini. c) Tidak menjanjikan kepada klien maaf apapun. Pendekatan ini lebih bersifat humanis. Pertemuan kedua (14 Maret 2008) . f) Membuat batas-batas yang tegas dari struktur dan situasi terapinya g) Menggunakan terapi kejutan verbal atau ejakan yang pantas untuk menkanfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tak pantas. Sasaran Dalam menangani kasus ini sasaran yang utama hendak dicapai adalah subyek sendiri. e. misalnya berupa teguran secara langsung atau tiba-tiba terhadap tingkah lakunya atau janji yang tak dapat dipertanggungjawabkan h) Ikut terlibat mencari hidup yang lebih efektif. Menolong individu agar mampumengurus diri sendiri dengan kata lain individu dapat membuat keputusan yang tepat dari tingkah laku yang dibuatnya untuk mencapai masa datang yang lebih baik (memandirikan klien) b. dengan menggunakan metode tingkah laku desensitisasi sitematis secara bertahap-tahap dari waktu ke waktu dan beberapa metode yang lain sesuai dengan kondisi klien. e) Membuat modal-model peranan terapis sebagai guru yang lebih bersifat mendidik. 1. d) Menolong klien utnuk merumuskan tingkah apa yang akan diperbuatnya. Teknik Teknik-teknik yang digunakan adalah : a) Menggunakan role playing dengan klien. Mengembangkan rencana-rencana nyata dalam mencapi tujuan. Kesuksesan peribadi dicapi dengan nilai-nilai adanya keinginan individu. Tanggung jawab yang dimintakan klien sesuai dengan kemampuaan dan keinginnya c. 3. pendekatan ini juga bisa dikatakan atau menekankan pada masa kini.

dari awal pengumpulan data sampai dengan . Evaluasi treatment Subyek telah peneliti kenal cukup lama dan sadar bahwa masalah yang dihadapai membutuhkan bantuan konseling. Klien sekarang masih tinggal bersama orang tua walaupun setiap harinya dia tinggal bersama neneknya. Klien menceritakan keadaan keluarga meliputi alamat rumah. Subyek menunjukkan sikap yang senang apabila peneliti datang menemuinya. membantu nenek ke ladang. Klien merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Klien sebagai anak pertama mendapatkan perhatian yang khusus dari ayah. Pertanyaan ini berdasarkan sinopsis masalah yang telah diberikan oleh guru BK yang diberikan pada pertemuan pertama. memperbaiki prestasinya. Di rumah jarang sekali bermain bersama dengan teman atau saudara ini terbukti dari hobinya yang hanya menonton TV. sikap awal pada pertemuan-pertemuan dengan peneliti lebih menunjukkan hubungan yang mempunyai perhatian yang lebih besar dalam suasana keakraban. Selama membolos klien jarang sekali main keluar atau masih memakai seragam sekolah karena klien membolos sejak jam pertama atau memang sengaja tidak masuk sekolah. 5. Klien bercerita bila bolos kadang hanya di rumah tidur atau nonton TV. 3. 6. C. Kadang juga membuat surat izin dengan tanda tangan sendiri. orang tuanya pulang tiga bulan sekali. Pertemuan keempat (12 Maret 2008) Dalam pertemuan ke empat peneliti mengajukan pertannyaan tentang kondisi lingkungan tempat tinggal dan tentang pergaulannya. Di rumah jarang sekali mendapatkan pendidikan dari keluarga. Peneliti juga menanyakan tentang kondisi fisiknya karena klien kadang tidak masuk dengan alansan sakit. pekerjaan orang tua. Klien jarang sekali membolos karena ajakan teman atau siapa tapi karena kehendak sendiri. Ini peneliti berikan atas dasar data-data yang peneliti dapatkan dari masalah dan hasil wawancara yang selama peneliti dengan klien berkerja sama. Klien juga berjanji kepada peneliti untuk berubah berusaha memperbaiki sikapnya. Orang tuanya bekerja di Salatiga selama satu minggu penuh. Pertemuan ketiga (21 Maret 2008) Pertetemuan ketiga ini peneliti mendapatkan data dari klien tentang keadaan keluarga. Waktu musim hujan klien punya keinginan sebuah payung untuk sebagai pelindung pada waktu hujann namun sekarang belum kesampaian. 4. Tentang prestasi disekolah klien biasa-biasa saja jarang mendapat peringkat. termasuk dengan anggota keluarga yang lain. Kehidupan keluarga dapat dikatakan cukup baik. Klien sering sekali di tinggal keluarga mencari nafkah. Pertemuan keenam (30 Mei 2008) Petemuan keenam merupakan pertemuan terakhir dengan klien dalam peremuan terakhir peneliti memberikan gambaran permasalahan dan memberikan saran-saran. Dalam keseharian klien senang membaca walaupun dia dalam keseharian harus membantu orang tua atau neneknya. Klien hidup di lingkungan keluarga petani. Dalam pertemuan kedua ini klien menceritakan masalah yang dihadapinya. kadang-kadang juga hanya main-main di tempat tetangga. klien bercerita bahwa ia sering sekali tidak masuk sekolah baik izin. klien di rumah sehari-harinya hanya dengan neneknya. dan berusaha selalu masuk sekolah kecuali memang tidak mendukung untuk tidak masuk sekoah.Pertemuan kedua peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada klien tentang masalah yang dihadapi. Pertemuan kelima (26 Mei 2008) Peneliti mendapatkan data dari teman di sekolah bahwa klien sering tidak masuk satu kali dalam seminggu kadang juga sampai dua kali. sakit dan tanpa keterangan. bantuan dan solusi atas permasalahn yang dihadapinya. Sehingga memudahkan peneliti dalam melakukan perlakukan terhadap subyek.

Memberikan perlakuan terhadap klien supaya memperoleh tingkah laku yang diterima masyarakat dan mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya untuk perkembangan diri yang optimal dalam menggunakan segala kelemahan dan kelebihannya B. namun demikian orang tua justru manambah memberikan beban terhadap subyek (karena keberadaan yang tidak memungkinkan). Kesimpulan Mempelajari dan memahami masalah psikologis terhadap kasus yangdisebabkan adanya bentukan baik dari dalam diri individu maupun keluarga serta faktor eksternal yang lain. namun tetap peneliti menekan kepada subyek untuk tetap latihan-latihan releksasi dan sewaktu-waktu subyek membutuhkan bantuan peneliti bersedia dan dengan senang hati. penulis berpendapat: Subyek mengalami gangguan kecemasan yang di sebabkan oleh faktor psikologis. membuat subyek mempunyai ketergantungan yang tinggi. Kurang menerima kenyataan terhadap apa yang dihadapi saat sekarang. Memberikan perlakuan yang tepat sehingga kecemasan yang di alami klien dapat teratasi. Subyek terbawa pada pengalaman-pengalam masa lalu yang traumatik dan kehilangan fugur orangg yang peling dekat. karena membawa/menghabiskan sejumlah uang subyek yang cukub banyak) tidak ada di rumah sejak awal treatment ini diperlakukan. Setelah perlakukan dikenakan pada subyek. Saran Saran untuk mengurangi kemalasan yang dialami oleh klien dalam masalah kasus ini khusus ditujukan kepada klien untuk membiasakan latihan-latihan atau melakukan kegiatan yang bersifat kecil sekalipun dan belajar menghargai waktu. BAB VIII KESIMPULAN. Subyek sebenarnya sangat membutuhkan dorongan dan dukungan dari pihak orang tua. Namun demikian perlakuan terhadap ibu baru sekali dan belum banyak peneliti laksanakan lebih banyak karena ibunya (ibu pulang ke ayahnya tanpa minta ijin subyek. Pendapat Berdasarkan pada analisa. Artinya bahwa subyek mengalami perkembangan yang baik dibandingkan sebelumnya. Pemahaman rasional baik sedang . Sekarang merasa lebih santai dan lebih mantap dalam menghadapi berbagai masalah yang muncul. Jadi selama perlakuan treatment yang peneliti perlakukan dalam waktu yang singkat yaitu kurang lebih satu setengah bulan. menunjukkan perkembangan yang menggembira¬kan. Gangguan kecemasan yang dialami subyek masih dalam batas rasional dan hal ini akan sangat terasa bila subyek sedang banyak mengalami masalah. diagnosis dan kesimpulan di atas. Dan subyek cukup potesial untuk mengatasi masalah. Dapat dikatakan bahwa treatment yang dikenakan pada subyek telah berhasil 80%. nampak ada perubahan. C. Mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan timbulnya masalah. PENDAPAT DAN SARAN A. baik itu latar kasus maupun pencetus kasus yang berasal dari lingkungan internal maupun eksternal yang mempengaruhi dinamika psikis (gejala-gejala psikis) klien. yaitu adanya kepribadian subyek yang mudah sekali emosional (kurang adanya kestabilan emosional) dalam menghadapi berbagai masalah. Anak-anak merasa diperhatikan dan mendapatkan tempat untuk mengutarakan semua perasaannya dibandingkan sebelumnya. Tetapi sekalipun studi kasus ini telah berakhir.pelakuan pada treatment-treatment. Sebaliknya disisi lain subyek harus berperan sebagai figur ibu dan sekalugus ayah.

Penerbit Erlangga Jakarta Mustaqim. Drs. Drs. Membangun suasana iklim yang yang baik terhadap hubungan komunikasi kelurga. Psikologi Pendidikan. Memberikan gambaran-gambaran tentang hal-hal yang terbaik dan hal-hal yang harus dilalukan. Drs. Yogyakarta. 1983. DAFTAR PUSTAKA Molyono. Bambang Y . 1990. . Penerbit Kanisius.mengalami suatu masalah atau tidak sendang menglami masalah. Dan Wahid Abdul. Penerbit IKIP Semarang Press. 1993. Drs. Yogyakarta Partowisastro Kuestuer. 1983 Berbagai Pendekatan Dalam Konsling. Drs. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta Hariyadi Sugeng. 1984. MS. Kepada sanak famili khususnya pamannya untuk mengerti dan sadar bahwa sebagai klien adalah remaja yang sedang belajar dan menjalani tugas-tugas perkembangannya maka di harapkan untuk memberikan dukungan bagi perubahan klien dalam menjalani latihan-latihan terapi yang baik. Penerbit IKIP Yogyakarta FIP. Kemudian kepada orang tua dan saudara-saudara yang berada dalam lingkungan keluarga klien memberikan dukungan dan dorongan secara psikologis terhadap klien dengan memperikan perhatian dan bimbigan secara teratur sehingga anak merasa di perhatikan dan merasa mendapat dukungan setiap apa yang dilakukan. Penerbit Rineka Cipta. Dinamika Psikologi Sosial. Pendekatan Analisis kenakalan Remaja dan penanggulangannya. Semarang Pujosuwarno Sayekil.